Jurnal Namira Edisi 5 (Vol. II No.4 - Nov-Des 2012)
Jurnal Pendidikan yang diterbitkan Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik
Jurnal Pendidikan yang diterbitkan Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik
Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!
Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.
<strong>Vol</strong>.2 <strong>No.4</strong>/ Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong> ISSN: 2089-1024<br />
NAMIRA<br />
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan<br />
Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik<br />
Penerapan Strategi Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa<br />
untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Geografi<br />
Imron<br />
Uji Coba Terbatas Chemistry Student Worksheet Berbasis SETS<br />
(Science Environment Technology and Society) pada Materi Koloid<br />
untuk Rintisan Sekolah Menengah Atas Bertaraf Internasional<br />
Dewi Rahmawati & Kusumawati Dwiningsih<br />
Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam<br />
melalui Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Berbasis Masalah<br />
A. Madlan<br />
Implementasi Metode Tutor Sebaya untuk Meningkatkan Partisipasi Siswa<br />
pada Pembelajaran IPS Ekonomi di SMP Negeri 2 Benjeng Gresik<br />
Supriyono<br />
Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Melalui OGKATS<br />
dengan Teknik “AIR RAKSA” Siswa Kelas V<strong>II</strong>C SMP NU 1 Gresik<br />
Mahmudiono<br />
Peningkatan Keterampilan Menulis <strong>Des</strong>kriptif<br />
dengan Menggunakan Metode Words Wall<br />
M. Ali Erfan<br />
Penerapan Pembelajaran Direct Instruction dengan Modelling Hardvard and Step<br />
untuk Meningkatkan Hasil Pembelajaran<br />
Suswanto<br />
Penerapan Metode Inkuiri Termodifikasi untuk Meningkatkan Kecakapan Akademik<br />
dan Hasil Belajar Kimia Kelas XI TITL.3 SMKN 1 Cerme<br />
Mujayanah
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan<br />
NAMIRA<br />
<strong>Vol</strong>.2 <strong>No.4</strong>/Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
Diterbitkan oleh:<br />
Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik<br />
ISSN:2089-1024<br />
Dewan Pelindung:<br />
Dr. Ir. H. Sambari Halim Radianto, S.T., M.Si.<br />
Drs. H. Moh. Qosim, M.Si.<br />
Ir. Moh. Nadjib, M.M.<br />
Pembina:<br />
Drs. Nadlif, M.Si.<br />
Penanggungjawab:<br />
Drs. Sumardi, M.M.<br />
Pimpinan Redaksi:<br />
Dra. Lilik Suharti, M.Si.<br />
Wakil Pimpinan Redaksi:<br />
Menthik, S.Pd.<br />
Dewan Redaksi:<br />
Mustakim, S.S, M.Si.<br />
Mahfud Aly, S.Pd.<br />
Ahmad Faizin Karimi, S.Th.I., M.Si.<br />
Nurul Wahyu Purwaningtyas, S.Pd.<br />
Redaktur Tamu:<br />
Dr. Dwi Ilham Raharjo, M.Pd.<br />
Drs. Syaiful Khafid, M.Pd.<br />
Bendahara:<br />
Anis Lailaturrohmah, S.Pd.<br />
Distribusi:<br />
Musholi Akbar, S.H.<br />
Drs. Mat Salim<br />
Suwarno, S.Pd.<br />
Dra. Choiroh<br />
KATA PENGANTAR<br />
KEPALA DINAS PENDIDIKAN<br />
KABUPATEN GRESIK<br />
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat<br />
karunia, serta hidayah-Nya sehingga Dinas Pendidikan<br />
Kabupaten Gresik dapat kembali menerbitkan <strong>Jurnal</strong><br />
Pendidikan NAMIRA edisi kelima ini. Shalawat dan<br />
salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi<br />
Muhammad SAW penutup para nabi.<br />
Alhamdulillah, berbagai perbaikan yang dilakukan<br />
menjadikan <strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA semakin<br />
diterima oleh masyarakat. Kesadaran akan pentingnya<br />
keberadaan jurnal ilmiah untuk mendorong inovasiinovasi<br />
dalam pendidikan semakin terbentuk, ikut<br />
meningkatkan kesadaran pelaku dan pemerhati<br />
pendidikan untuk bersama-sama mengembangkan<br />
pendidikan demi kemajuan bangsa. Penerimaan yang<br />
makin luas ini ditandai oleh tingkat persebaran pembaca<br />
dan jumlah penulis yang lebih besar dari edisi-edisi<br />
selanjutnya.<br />
Dalam konteks komunikasi ilmiah, <strong>Jurnal</strong> NAMIRA<br />
berusaha memainkan tiga peran: pertama, Peran Sosial<br />
yakni untuk mengembangkan dan menjaga kekayaan<br />
intelektual sehingga karya ilmiah dari seorang peneliti<br />
bisa diketahui sekaligus mendapatkan pengakuan.<br />
Kedua, Peran Arsip yaitu memberikan penilaian bahwa<br />
sebuah karya ilmiah telah dievaluasi dan terdokumentasi<br />
dengan baik, dan Ketiga peran Diseminasi Informasi<br />
yakni agar publikasi ilmiah bisa diinformasikan<br />
sehingga pengetahuan menjadi terakumulasi.<br />
Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik mengajak para<br />
pelaku dan pemerhati pendidikan untuk ikut dalam<br />
usaha perbaikan pendidikan melalui publikasi penelitian<br />
ilmiah.<br />
Semoga niat mulia ini bisa tercapai.<br />
Gresik, 1 Oktober <strong>2012</strong><br />
Plt. Kepala Dinas Pendidikan<br />
Kabupaten Gresik<br />
Drs. Nadlif, M.Si.<br />
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN GRESIK<br />
Jl. Arif Rahman Hakim Gresik- Jatim<br />
Telp/Fax: 031-3981315 / 031-3978404<br />
E-Mail: dispendik@gresik.go.id | Website: http://dispendik.gresik.go.id
<strong>Vol</strong>. 2 No. 4/Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong> ISSN: 2089-1024<br />
DAFTAR ISI<br />
Penerapan Strategi Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa untuk Meningkatkan<br />
Prestasi Belajar Geografi<br />
Imron…1<br />
Uji Coba Terbatas Chemistry Student Worksheet Berbasis SETS (Science Environment<br />
Technology and Society) pada Materi Koloid untuk Rintisan Sekolah Menengah Atas<br />
Bertaraf Internasional<br />
Dewi Rahmawati & Kusumawati Dwiningsih …11<br />
Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam melalui Penerapan Model<br />
Pembelajaran Kontekstual Berbasis Masalah<br />
A. Madlan…19<br />
Implementasi Metode Tutor Sebaya untuk Meningkatkan Partisipasi Siswa pada<br />
Pembelajaran IPS Ekonomi di SMP Negeri 2 Benjeng Gresik<br />
Supriyono…27<br />
Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Melalui OGKATS dengan Teknik “AIR<br />
RAKSA” Siswa Kelas V<strong>II</strong>C SMP NU 1 Gresik<br />
Mahmudiono…41<br />
Peningkatan Keterampilan Menulis <strong>Des</strong>kriptif dengan Menggunakan Metode Words<br />
Wall<br />
M. Ali Erfan…49<br />
Penerapan Pembelajaran Direct Instruction dengan Modelling Hardvard and Step<br />
untuk Meningkatkan Hasil Pembelajaran<br />
Suswanto…57<br />
Penerapan Metode Inkuiri Termodifikasi untuk Meningkatkan Kecakapan Akademik<br />
dan Hasil Belajar Kimia Kelas XI TITL.3 SMKN 1 Cerme<br />
Mujayanah…69
PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN BERORIENTASI AKTIVITAS SISWA<br />
UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR GEOGRAFI<br />
Imron<br />
Pengawas Dikmen Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik<br />
Abstrak: Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui implementasi<br />
penerapan strategi pembelajaran berorientasi aktivitas siswa dapat meningkatkan:<br />
(1) minat belajar geografi, (2) prestasi belajar geografi. Prosedur PTK ini meliputi<br />
tiga siklus, dan setiap siklus terdiri atas perencanaan tindakan, pelaksanaan<br />
tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian tindakan ini dilaksanakan di SMP<br />
Negeri 1 Duduksampeyan, dengan subjek siswa kelas V<strong>II</strong>I-B berjumlah 32 yang<br />
terdiri atas 16 laki-laki dan 16 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa<br />
penerapan strategi pembelajaran berorientasi aktivitas siswa dapat meningkatkan:<br />
(1) minat mengikuti palajaran geografi, dan (2) penerapan strategi pembelajaran<br />
berorientasi aktivitas siswa dapat meningkatkan prestasi belajar geografi.<br />
Kata kunci : pembelajaran berorientasi aktivitas siswa, minat belajar, prestasi<br />
belajar geografi.<br />
D<br />
alam menghadapi era globalisasi,<br />
yang disertai dengan perkembangan<br />
ilmu pengetahuan, teknologi,<br />
dan seni yang sangat pesat, maka<br />
seseorang dituntut untuk mampu memanfaatkan<br />
informasi dengan baik dan cepat.<br />
Untuk itu, dibutuhkan sumber daya<br />
manusia yang bermutu dan bernalar tinggi<br />
serta memiliki kemampuan untuk memproses<br />
informasi sehingga dapat digunakan<br />
mengembangkan iptek. Oleh sebab itu,<br />
Unesco (1998) menetapkan empat pilar<br />
utama pembelajaran untuk menghadapi<br />
abad XXI, yaitu: (1) learning to know, (2)<br />
learning to do, (3) learning to be, dan (4)<br />
learning to live together in peace, and<br />
harmony.<br />
Dalam proses belajar mengajar,<br />
menurut Slameto (2003:36) bahwa guru<br />
perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam<br />
berpikir maupun berbuat. Penerimaan<br />
pelajaran jika dengan aktivitas siswa<br />
sendiri, kesan itu tidak akan berlalu begitu<br />
saja, tetapi dipikirkan, diolah kemudian<br />
dikeluarkan lagi dalam bentuk yang<br />
berbeda. Atau siswa akan bertanya,<br />
mengajukan pendapat menimbulkan diskusi<br />
dengan guru.<br />
Kegiatan belajar mengajar di kelas,<br />
menurut Degeng (2001: 34) bahwa guru<br />
sangat mengharapkan semuanya siswanya<br />
memiliki minat yang tinggi terhadap mata<br />
pelajaran yang dibinanya, dan yang paling<br />
diharapkan guru ialah semua memiliki<br />
prestasi belajar yang tinggi. Dalam konteks<br />
ini, Djaali (2004: 121) berpendapat bahwa<br />
minat yang telah disadari terhadap bidang<br />
pelajaran, mungkin sekali akan menjaga<br />
pikiran siswa sehingga mereka mampu<br />
menguasai pelajarannya. Pada gilirannya,<br />
prestasi yang berhasil akan menambah<br />
minatnya, yang bisa berlanjut sepanjang<br />
hayat, terutama dalam mempelajari<br />
geografi. Namun dalam kenyataan, di<br />
lapangan terdapat cukup banyak siswa yang<br />
tidak menyukai geografi, bahkan membenci<br />
geografi. Dalam benak mereka, geografi itu<br />
meruapakan momok dan mata pelajaran<br />
yangt sangat sulit dimengerti. Hal ini<br />
menjadi dilema bagi guru geografi, karena<br />
di satu pihak geografi itu sangat dibutuhkan<br />
untuk meningkatkan nalar siswa dan dapat<br />
melatih siswa agar mampu berpikir logis,
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
kritis, sistematis, dan kreatif. Sedangkan di<br />
pihak lain, banyak siswa tidak menyenangi<br />
pembelajaran geografi. Akibat nyata yang<br />
ditemui adalah nilai rapor dan hasil tes<br />
formatif yang rendah. Hal ini ditemui juga<br />
di kelas V<strong>II</strong>I SMP Negeri 1 Duduksampeyan<br />
nilai ulangan harian dan hasil<br />
tes formatif sebagian besar siswa belum<br />
memenuhi kriteria ketuntasan minaml<br />
(KKM 75).<br />
Prestasi belajar merupakan hasil yang<br />
diperoleh dari serangkaian usaha siswa<br />
untuk memperoleh perubahan tingkah laku<br />
secara keseluruhan sebagai hasil interaksi<br />
dengan lingkungannya (Heriyanto, 1989:<br />
31). Banyak faktor yang menjadi penyebab<br />
rendahnya minat, dan prestasi belajar siswa.<br />
Akan tetapi, faktor strategi penyajian materi<br />
pelajaran kurang menarik patut dicatat<br />
sebagai faktor penyebab rendahnya minat<br />
mengikuti pelajaran dan prestasi belajar<br />
geografi. Strategi penyajian pelajaran<br />
cenderung bersifat eksplanatori misalnya<br />
metode ceramah, sangat kuat ditengarai<br />
sebagai faktor penyebabnya. Karena itu<br />
agar minat siswa dalam mengikuti pelajaran<br />
dan prestasi belajar geografi meningkat,<br />
guru geografi perlu mengadakan perubahan<br />
strategi penyajian pelajaran. (Enoh, 1995:<br />
2). Strategi penyajian pelajaran inquiri yang<br />
lebih menekankan aktivitas siswa, salah<br />
satunya ialah metode penugasan dengan<br />
worksheet, cukup beralasan jika dipilih<br />
sebagai salah satu cara untuk mengatasi<br />
masalah tersebut sehingga dengan menerapkan<br />
metode penugasan siswa dapat<br />
dengan leluasa mengekspresikan semua<br />
kemampuan yang dimilikinya untuk<br />
melaksanakan dan menyelesaikan tugas<br />
yang dibebankan kepadanya berupa worksheet.<br />
Tindakan tersebut dipilih berdasarkan<br />
beberapa argumentasi teoretik bahwa<br />
perubahan strategi penyampaian bahan<br />
pembelajaran akan bisa meningkatkan<br />
prestasi dan minat belajar siswa dalam<br />
mengikuti pelajaran geografi. Hal ini<br />
sebagaimana pendapat Walgito (1998: 24)<br />
minat adalah “suatu keadaan di mana<br />
2<br />
seseorang mempunyai perhatian terhadap<br />
sesuatu dan disertai keinginan untuk<br />
mengetahui dan mempelajari lebih lanjut”.<br />
Berdasarkan pengertian tersebut dapat<br />
diketahui bahwa seseorang yang memiliki<br />
minat terhadap sesuatu termasuk terhadap<br />
mata pelajaran geografi, selalu ditandai<br />
dengan adanya perhatian dari yang<br />
bersangkutan. Adanya perhatian tersebut<br />
membuat siswa akan terdorong rasa ingin<br />
tahunya dan mempelajarinya lebih lanjut.<br />
Minat terhadap suatu mata pelajaran<br />
sangat dipengaruhi oleh seberapa besar<br />
siswa dilibatkan dalam proses belajar<br />
mengajar. Jika siswa kurang dilibatkan,<br />
maka siswa akan cenderung pasif, tidak<br />
bergairah, dan kurang perhatian. Gie (1985)<br />
mengemukakan bahwa suatu mata pelajaran<br />
dapat dipelajari dengan baik apabila siswa<br />
dapat memusatkan perha-tiannya terhadap<br />
pelajaran itu. Dari sini kita dapat<br />
mengetahui bahwa pemusatan perhatian<br />
siswa dapat menyebabkan pelajaran tersebut<br />
bisa dipelajari dengan baik. Karena itu,<br />
maka pelajaran yang disajikan tanpa<br />
melibatkan siswa secara aktif akan mempengaruhi<br />
kurang terpusatnya perhatian<br />
siswa sehingga mempengaruhi minat siswa<br />
untuk mempelajarinya lebih lanjut. Sebab<br />
menurut Walgito (1998: 38) minat adalah<br />
“suatu keadaan seorang siswa mempunyai<br />
perhatian terhadap sesuatu dan disertai<br />
keinginan untuk mengetahui dan mempelajari<br />
lebih lanjut”. Unsur minat meliputi<br />
perhatian, kekuatan dorong, dan perasaan<br />
senang sehingga membuat individu<br />
cenderung terlibat aktif dalam mempelajari<br />
bahan ajar, khususnya geografi.<br />
Strategi pembelajaran berorientasi<br />
aktivitas siswa merupakan metode belajar<br />
mengajar yang mengutamakan peran siswa<br />
secara aktif baik fisik, mental, maupun<br />
sosialnya. Peran aktif siswa terutama secara<br />
mental dan sosial akan memenentukan<br />
fokus strategi penyampaian bahan pembelajaran.<br />
Aktif secara mental berarti fokusnya<br />
pada aktivitas pikiran (kognitif) siswa<br />
secara perseorangan, sedangkan aktif secara<br />
sosial berarti lebih menekankan aktivitas
kerja siswa secara berkelompok. Dengan<br />
menerapkan metode penugasan yang<br />
memanfaatkan worksheet dapat juga<br />
dirancang untuk memenuhi kedua fokus<br />
peran aktif siswa tersebut yaitu meminta<br />
siswa (dalam rincian kegiatan) untuk<br />
menyelesaikan worksheet tersebut dengan<br />
cara individu atau dengan cara melakukan<br />
diskusi untuk menyelesaikannya. Oleh<br />
karena, siswa diminta untuk menyelesaikan<br />
tugas, berarti intensitas kegiatan dan<br />
keterlibatan siswa tinggi, siswa akan lebih<br />
per-hatian, bergairah, dan lebih berminat<br />
mengikuti pelajaran. Kondisi minat yang<br />
mi- nat yang demikian itu mendorong siswa<br />
belajar lebih baik lagi sehingga hasilnya<br />
Imron<br />
akan lebih baik pula, sebagaimana yang<br />
dikemukakan Koetoer (1994) “minat yang<br />
kurang mengakibatkan kurangnya intensitas<br />
kegiatan, kurangnya intensitas kegiatan ini<br />
akan menimbulkan hasil yang kurang pula”.<br />
Pendapat tersebut diperkuat Effendi<br />
(1995:122) bahwa belajar dengan minat<br />
akan lebih baik hasilnya daripada tanpa<br />
minat.<br />
Hubungan penerapan strategi pembelajaran<br />
yang menekankan aktivitas siswa<br />
dengan peningkatan minat dan prestasi<br />
belajar siswa pada mata pelajaran geografi<br />
dapat dirangkum berupa kerangka berpikir<br />
sebagai berikut.<br />
Gambar 1. Hubungan strategi pembelajaran dengan minat dan prestasi belajar Geografi<br />
dalam kerangka rekayasa pedagogis guru dan emansipasi kemandirian siswa sepanjang hayat.<br />
Sumber: (Dimyati dan Mudjiono, 1999: 95 dengan penambahan)<br />
Permasalahan penelitian tindakan kelas<br />
ini dirumuskan sebagai berikut; (1) apakah<br />
penerapan strategi pembelajaran yang<br />
berorientasi aktivitas siswa dapat meningkatkan<br />
minat siswa kelas V<strong>II</strong>I-B SMP<br />
Negeri 1 Duduksampeyan dalam mengikut<br />
pelajaran geografi?; (2) apakah penerapan<br />
strategi pembelajaran yang berorientasi<br />
aktivitas siswa dapat meningkatkan prestasi<br />
belajar geografi pada siswa kelas V<strong>II</strong>I-B<br />
SMP Negeri 1 Duduksampeyan?<br />
METODE<br />
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan<br />
di kelas V<strong>II</strong>I-B SMP Negeri 1 Duduksampeyan<br />
dengan subjek penelitian<br />
berjumlah 32 siswa. Waktu penelitian<br />
3
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
dilaksanakan mulai Januari sampai dengan<br />
April 2010 pada semester genap tahun<br />
pelajaran 2009/2010 dengan materi pokok<br />
(1) pengertian, proses pertumbuhan pranata<br />
social, pengendalian sosial, (2) ciri-ciri<br />
umum pranata sosial.<br />
Alasan mengapa kelas V<strong>II</strong>I-B dipilih<br />
sebagai subjek penelitian antara lain karena<br />
kelas ini merupakan kelas yang paling<br />
tidak bersemangat atau kurang bergairah<br />
dalam mengikuti pelajaran geografi dan<br />
terkesan kurang berminat untuk bersaing<br />
dalam prestasi belajarnya. Selain alasan<br />
tersebut, pelaksanaan pelajaran kelas ini<br />
kurang kondusif untuk mengikuti pelajaran<br />
karena jadwal pelajaran kelas ini jatuh pada<br />
hari Sabtu jam keenam dan ketujuh lokasi<br />
kelasnya paling pojok dekat jalan raya yang<br />
bising lalu lalang kendaraan.<br />
Status guru dalam penelitian tindakan<br />
kelas ini adalah sebagai pengamat atau<br />
peneliti sekaligus sebagai pelaksana<br />
tindakan. Secara umum pelaksanaan akan<br />
dilakukan selama tiga siklus, setiap<br />
siklusnya diterapkan tindakan tertentu.<br />
Dalam setiap siklusnya aktivitas penelitian<br />
dilakukan melalui prosedur penelitian yang<br />
berupa: (1) perencanaan tindakan, (2)<br />
pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan<br />
(4) refleksi.<br />
Penelitian ini dirancang dengan menggunakan<br />
penelitian tindakan kelas. Menurut<br />
Khafid (2004: 2) penelitian tindakan kelas<br />
adalah penelitian yang dilakukan oleh guru<br />
di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi<br />
diri, dengan tujuan untuk memperbaiki<br />
kinerjanya sebagai pendidik sehingga hasil<br />
belajar siswa menjadi meningkat.<br />
Proses pelaksanaan penelitian pada<br />
siklus pertama, subjek penelitian diberikan<br />
tindakan berupa penerapan strategi<br />
pembelajaran yang mengaktifkan siswa<br />
secara perseorangan, yaitu menggunakan<br />
metode penugasan yang diberikan kepada<br />
setiap individu. Sebaliknya, pada siklus<br />
kedua, tindakan penelitian dilancarkan<br />
berupa penerapan strategi pembelajaran<br />
yang mengaktifkan siswa secara kelompok.<br />
Dalam hal ini, guru memberikan tugas yang<br />
4<br />
telah tertuang dalam LKS yang seacara<br />
lengkap memuat rincian kegiatan atau<br />
langkah-langkah kerja yang harus diikuti<br />
oleh siswa.<br />
Pada tahap perencanaan tindakan, guru<br />
sebagai peneliti menyusun RPP yang<br />
memuat skenario proses belajar mengajar<br />
berikut kelengkapannya. Sebagai kelengkapan<br />
PBM tersebut adalah lembar kegiatan<br />
siswa (LKS) yang telah dikembangkan oleh<br />
guru sesuai strategi pembelajaran dan<br />
pokok bahasan sebagai materi saat itu.<br />
Untuk keperluan observasi, guru sebagai<br />
peneliti menyiapkan daftar pengamatan<br />
yang berbentuk check list sebagai instrumen<br />
untuk mengumpulkan data minat siswa<br />
dalam mengikuti pelajaran dan juga<br />
menyiapkan instrumen tes prestasi belajar.<br />
Sebelum melaksanakan rencana tindakan<br />
tersebut terlebih dahulu siswa diberi tes<br />
untuk mengetahui kemampuan awal siswa<br />
sebelum mendapat tindakan penelitian.<br />
Penelitian tindakan kelas ini menggunakan<br />
teknik-teknik pengumpulan data<br />
sebagai berikut; (1) metode observasi, yaitu<br />
kemampuan peneliti menggunakan<br />
pengamatannya melalui hasil kerja<br />
pancaindra mata dan dibantu dengan<br />
pancaindra lainnya. (2) metode angket,<br />
yaitu serangkaian atau daftar pertanyaan<br />
yang disusun secara sistematis untuk diisi<br />
oleh responden, kemudian dikembalikan ke<br />
peneliti untuk diolah menjadi data yang<br />
bermakna; dan (3) metode tes hasil belajar,<br />
yaitu ulangan atau ujian untuk mengukur<br />
perubahan perilaku pada diri orang yang<br />
belajar.<br />
Data yang telah dikumpulkan selama<br />
proses pelaksanaan tindakan pada masingmasing<br />
siklus, diolah dan dianalisis untuk<br />
mengetahui seberapa tingkat perubahan<br />
minat siswa dalam mengikuti pelajaran<br />
serta seberapa besar meningkatkan prestasi<br />
belajar siswa. Untuk itu data minat maupun<br />
prestasi belajar akan dibandingkan antara<br />
data sebelum pelaksanaan tindakan dan data<br />
setelah pelaksanaan tindakan. Oleh karena<br />
itu, berdasarkan hasil analisis data pada
kedua siklus ini dapat diketahui jawaban<br />
terhadap permasalahan penelitian.<br />
Hasil analisis terhadap pengamatan<br />
untuk masing-masing siklus pelaksanaan<br />
tindakan kelas ini dijadikan pertimbangan<br />
atau bahan refleksi terhadap penyusunan<br />
rencana tindakan untuk siklus berikutnya.<br />
Pelaksana yang terlibat dalam analisis<br />
pengamatan dan refleksi ini adalah guru<br />
sebagai peneliti dan pelaksana berdasarkan<br />
kriteria yang telah ditetapkan pada bagian<br />
terdahulu, kemudian sebagai peneliti dan<br />
pelaksana menyusun rencana untuk<br />
tindakan daur ulang atau siklus selanjutnya.<br />
HASIL<br />
Siklus I<br />
Hasil pengamatan guru pada pertemuan<br />
pertama terhadap keaktifan siswa dalam<br />
menyelesaikan tugas LKSnya diketahui<br />
hampir semua siswa aktif mengerjakan<br />
dengan serius, walaupun yang sudah<br />
mencoba mengerjakan seluruh kegiatan<br />
sekitar 20 siswa (62,5%) dan hanya 12<br />
siswa (37,5%) yang belum menyelesaikan<br />
semua rincian kegiatan, sedangkan prosedur<br />
pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh<br />
siswa diketahui bahwa belum bekerja sesuai<br />
dengan petunjuk yang tertera dalam rincian<br />
kegiatan pada LKS, tetapi mengerjakan<br />
bagian yang dianggap mudah terlebih<br />
dahulu. Padahal LKS ini dirancang sebagai<br />
lembar kegiatan yang sistematis, runtut, dan<br />
prosedural sehingga siswa akan mengalami<br />
kesulitan kalau tidak mengerjakan langkah<br />
demi langkah.<br />
Berdasarkan hasil pengamatan pada<br />
pertemuan pertama, pada pertemuan kedua<br />
dan ketiga ini guru tidak lagi membiarkan<br />
siswa mengerjakan sesuai dengan pemahamannya<br />
terhadap rincian kegiatan di dalam<br />
LKS, tetapi guru memberikan pengarahan<br />
dan bimbingan seperlunya terhadap<br />
kesulitan siswa. Dari rekaman hasil yang<br />
telah dilakukan guru, diketahui bahwa<br />
seluruh siswa lebih antusias dan konsentrasi<br />
membaca buku sumber acuan sesuai rincian<br />
tugas yang diberikan kepada mereka<br />
Imron<br />
sebagaimana tertuang dalam LKS nomor 2.<br />
Walaupun demikian masih dijumpai siswa<br />
yang belum mengerti apa yang harus<br />
dilakukan dengan LKSnya, tetapi berkat<br />
bimbingan guru akhirnya siswa tersebut<br />
dapat mengerti akan tugasnya.<br />
Kegiatan diskusi kelas pada pertemuan<br />
kedua dan ketiga dalam siklus I belum<br />
berjalan sebagaimana harapan, karena<br />
sebagian siswa pasif dan didominasi<br />
sebagian kecil siswa. Hal ini disebabkan<br />
masih rendahnyan minat belajar siswa<br />
dalam mengikuti diskusi materi geografi<br />
yang tertuang dalam LKS.<br />
Siklus <strong>II</strong><br />
Pelaksanaan tindakan siklus <strong>II</strong><br />
pertemuan pertama ini dihadiri oleh 32<br />
orang siswa. Kelas dibagi menjadi 8<br />
kelompok yang masing-masing beranggotakan<br />
4 orang siswa, sebab LKS yang<br />
diberikan harus atau perlu didiskusikan<br />
untuk menyelesaikannya. Karakteristik<br />
LKS nomor 3 ini adalah sebelum siswa<br />
berdiskusi secara kelompok, siswa terlebih<br />
dahulu menuliskan pendapat pribadinya<br />
untuk kemudian didiskusikan sampai<br />
dihasilkan pendapat atau kesepakatan<br />
kelompok. Dari dua pendapat yaitu<br />
pendapat pribadi dan pendapat kelompok<br />
yang dihasilkan kemudian dibandingkan<br />
antara keduanya sehingga diketahui siswa<br />
mana yang dominan dapat mempengaruhi<br />
pendapat atau kesepakatan kelompok.<br />
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa<br />
suasana kelas menjadi ramai karena<br />
terdapat 8 kelompok yang secara bersamaan<br />
melakukan diskusi dikelompoknya masingmasing.<br />
Dinamika kelompok sangat tampak<br />
terutama berkaitan dengan bagaimana<br />
seorang siswa dapat mempengaruhi anggota<br />
kelompok lainnya sehingga sampai menit<br />
ke-60 hanya 4 kelompok yang berhasil<br />
menyelesaikan tugasnya secara tuntas<br />
termasuk menjawab pertanyan (sebagai<br />
komponen terakhir dari LKS). Sedangkan 3<br />
kelompok lainnya sudah berusaha dengan<br />
keras namun masih belum tuntas menye-<br />
5
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
lesaikan seluruh topik masalah yang<br />
berjumlah 6 topik. Dari kerasnya perbedaan<br />
pendapat yang terjadi diantara siswa,<br />
sehingga terdapat satu kelompok yang<br />
hanya berhasil menyelesaikan satu topik<br />
masalah saja dari 6 topik yang harus<br />
diselesaikan. Diskusi kelas yang direncanakan<br />
dalam belum dapat dilaksanakan<br />
berhubung waktu yang tersisa kurang untuk<br />
melaksanakannya, walaupun pengambilan<br />
kesimpulan akhir masih sempat dilakukan<br />
guru.<br />
Pelaksanaan tindakan pada pertemuan<br />
kedua dan ketiga dihadiri oleh 32 siswa.<br />
Dari jumlah siswa yang hadir tersebut<br />
dibentuk 8 kelompok sehingga setiap<br />
kelompok beranggotakan 4 siswa. Dengan<br />
berbekal pengalaman dari pertemuan yang<br />
lalu, maka LKS nomor 4 ini tidak lagi<br />
memerlukan pendapat pribadi siswa terlebih<br />
dahulu ditulis pada lembar kerja (dalam<br />
LKS) melainkan siswa dapat langsung<br />
melakukan diskusi kelompok terlebih<br />
dahulu membaca bahan yang terdapat di<br />
buku paket.<br />
Hasil pengamatan yang dilakukan oleh<br />
guru diketahui bahwa hampir semua<br />
kelompok sangat aktif melakukan diskusi<br />
kelompok agar dapat menyelesaikan semua<br />
topik bahasan yang harus diselesaikan.Hanya<br />
saja terdapat satu kelompok<br />
siswa yang tampak kurang bergairah dan<br />
pasif dalam berdiskusi untuk menyelesaikan<br />
topik bahasannya. Sesuai waktu<br />
yang direncanakan khusus untuk menyelesaikan<br />
LKS ternyata hampir semua<br />
kelompok dapat menyelesaikan tugasnya<br />
secara tuntas, maka sesi diskusi kelas yang<br />
direncanakan untuk menyampaikan (mempresentasikan)<br />
hasil diskusi kelompok dapat<br />
diselenggarakan. Dalam diskusi kelas<br />
tersebut 4 kelompok telah mempresentasikan<br />
hasil diskusi kelom-poknya<br />
karena waktu tersedia tidak banyak. Dari<br />
hasil pengamatan guru terhadap diskusi<br />
kelas yang telah berlangsung diketahui<br />
bahwa sebagian besar siswa masih belum<br />
berani mengemukakan pendapatnya baik<br />
6<br />
berupa tanggapan atau kritik terhadap<br />
kelompok lain.<br />
Penyajian Hasil Pengukuran<br />
Pengukuran terhadap subjek penelitian,<br />
peneliti telah melaksanakan dua kali tes<br />
yaitu; (1) tes kemampuan awal (pretes).<br />
Pelaksanaan tes pada bulan Januari 2010.<br />
Hasil yang diperoleh berkisar dari nilai<br />
terendah 42 sampai yang tertinggi 75,<br />
dengan rata-rata skor sebesar 54,56. Hasil<br />
pengukuran kemampuan ini dapat diketahui<br />
bahwa rata-rata siswa memang masih<br />
belum menguasai materi yang akan<br />
diajarkan yaitu pengertian dan proses<br />
pertumbuhan pranata sosial. (2) tes<br />
kemampuan akhir (post-tes). Adapun<br />
pelaksanaan tes ini dilaksanakan pada bulan<br />
Pebruari 2010. Hasil tes prestasi belajar<br />
yang dicapai oleh siswa tersebut diketahui<br />
berkisar antara 58,5 yang terendah sampai<br />
82,5 yang tertinggi, dengan skor rata-rata<br />
yang diperoleh seluruh siswa adalah 68,6.<br />
Data tersebut dapat diketahui bahwa<br />
secara umum siswa telah menunjukkan<br />
prestasi belajarnya dengan cukup baik<br />
setelah mengikuti proses pembelajaran yang<br />
menerapkan metode penugasan dengan<br />
LKS.<br />
Hasil tes kemampuan yang diperoleh<br />
siswa dibandingkan dengan tes prestasi<br />
belajarnya, maka sebagian besar siswa<br />
menunjukkan prestasi belajar yang lebih<br />
baik. Dengan demikian dapat dikatakan<br />
bahwa perubahan atau penerapan strategi<br />
penyampaian yang berorientasikan aktivitas<br />
siswa dapat meningkatkan prestasi belajar<br />
siswa, (3) angket balikan siswa yang<br />
memuat tentang penilaian dan persepsi<br />
siswa serta ditambah dengan tanggapan dan<br />
saran-sarannya terhadap perubahan strategi<br />
penyampaian bahan yang mengaktifkan<br />
siswa.<br />
Pertanyaan nomor 1 meminta siswa<br />
untuk menjawab tentang seberapa menyenangkan<br />
atau membosankan proses<br />
pembelajaran dengan LKS yang harus<br />
dikerjakan secara individu. Jika menjawab
sangat menyenangkan diberi skor 4, agak<br />
menyenangkan 3, agak membosankan 2,<br />
dan sangat membosankan 1. Hasil angket<br />
telah dikumpulkan diketahui bahwa ratarata<br />
skor jawaban siswa adalah 2,67.Ini<br />
menandakan bahwa sebagian besar siswa<br />
cenderung merasa agak menyenangkan<br />
apabila pelajaran disajikan menggunakan<br />
LKS yang harus dikerjakan secara individu.<br />
Pertanyaan nomor 2 siswa diharapkan<br />
menjawab pertanyaan tentang sulit atau<br />
mudahnya materi pelajaran jika dipelajari<br />
menggunakan LKS yang harus dikerjakan<br />
siswa secara perseorangan. Jika siswa<br />
menjawab sangat sulit maka diberi skor 4,<br />
agak sulit skornya 3, agak mudah skornya<br />
2, dan sangat membosankan skornya 1.<br />
Berdasarkan data hasil angket yang telah<br />
dikumpulkan, dapat diketahui bahwa ratarata<br />
skornya adalah 2,58. Dari data tersebut<br />
dapat dikemukakan bahwa sebagian besar<br />
siswa menganggap materi pelajaran<br />
cenderung terasa agak sulit apabila<br />
dikerjakan secara individu.<br />
Pertanyaan nomor 3 meminta siswa<br />
untuk menjawab tentang seberapa menyenangkan<br />
atau membosanan proses pembelajaran<br />
degan LKS yang harus dikerjakan<br />
secara kelompok (berdiskusi). Jika menjawab<br />
sangat menyenangkan diberi skor 4,<br />
agak menyenangkan 3, agak membosankan<br />
2, dan sangat membosankan skornya 1.<br />
Hasil angket yang telah dikumpulkan<br />
diketahui bahwa rata-rata skor adalah 3,65.<br />
Ini menandakan bahwa sebagian siswa<br />
cenderung merasa sangat menyenangkan<br />
jika proses pembelajaran dilakukan melalui<br />
diskusi kelompok.<br />
Pertanyaan nomor 4 siswa diharapkan<br />
menjawab pertanyaan tentang sulit atau<br />
mudahnya materi pelajaran kalau dipelajari<br />
menggunakan LKS yang harus dikerjakan<br />
oleh siswa secara berkelompok atau dengan<br />
berdiskusi. Jika siswa menjawab sangat<br />
sulit maka diberi skor 4, agak sulit skornya<br />
3, agak mudah skornya 2, dan sangat<br />
membosankan skornya 1. Berdasarkan data<br />
hasil angket yang telah dikum-pulkan,<br />
dapat diketahui bahwa rata-rata skornya<br />
Imron<br />
adalah 1,54 Dari data tersebut dapat<br />
dikemukakan bahwa sebagian besar siswa<br />
menganggap materi pelajaran cenderung<br />
terasa sangat mudah apabila dikerjakan<br />
secara berkelompok dengan jalan<br />
berdiskusi.<br />
Penyajian Temuan Hasil Tindakan<br />
Sesuai dengan masalah yang diteliti,<br />
ada dua temuan utama dari PTK ini, yaitu<br />
sebagai berikut: (1) Siswa menjadi lebih<br />
serius dan konsentrasi atau dengan kata<br />
lain minatnya menjadi meningkat terhadap<br />
jalannya proses pembelajaran yangdisajikan<br />
dengan metode penugasan khususnya yang<br />
memanfaatkan LKS buatan guru sendiri. (2)<br />
Walaupun nilainya tidak begitu besar, siswa<br />
berhasil mengalami peningkatan prestasi<br />
belajarnya atau paling tidak telah<br />
menunjukkan prestasi belajar yang baik<br />
setelah mengikuti proses pembelajaran yang<br />
menerapkan metode penugasan dengan<br />
menggunakan LKS<br />
Setelah melakukan pengamatan dan<br />
pengukuran terhadap implementasi tindakan<br />
ditemui adanya bebrapa temuan<br />
sampingan sebagai berikut: (1) Siswa<br />
belum bisa mengerjakan tugas LKS tanpa<br />
campur tangan dan bimbingan dari guru.<br />
Hal ini dimungkinkan karena terdapat<br />
perbedaan antara LKS yang disusun sendiri<br />
oleh guru seperti sekarang ini dengan LKS<br />
yang biasa mereka kerjakan yaitu LKS<br />
yang berisi latihan mengerjakan soal-soal<br />
terbitan dari salah satu perusahaan<br />
penerbitan komersial. Sedangkan LKS yang<br />
diberikan saat ini merupakan lembar<br />
kegiatan yang berisi pedoman kerja atau<br />
langkah-langkah yang sistematis sehingga<br />
untuk menyelesaikan LKS ini diperlukan<br />
perhatian yang khusus dan runtut mulai dari<br />
awal sampai akhir; (2) Siswa belum bisa<br />
mengambil intisari dari teks bacaan untuk<br />
dipergunakan sebagai bahan menjawab<br />
suatu persoalan atau untuk mengambil<br />
suatu keputusan. Temuan ini ditengarai<br />
disebabkan oleh siswa terlalu dibiasakan<br />
oleh guru untuk menerima apa adanya dari<br />
setiap informasi atau penjelasan guru,<br />
7
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
sehingga mereka kurang memperoleh<br />
kesempatan untuk memanfaatkan potensi<br />
kemampuan analisisnya. Oleh sebab itu<br />
siswa terbuai dengan hanya menerima dan<br />
merasa enggan atau canggung untuk<br />
berusaha mencari dan menemukan sendiri<br />
apa yang diperlukan untuk menjawab<br />
persoalan maupun mengambil suatu keputusan.<br />
(3) Siswa cenderung lebih menyukai<br />
mengerjakan sesuatu tugas pekerjaan secara<br />
berkelompok atau berdiskusi dibandingkan<br />
dengan cara perseorangan atau individual,<br />
Temuan ini dapat dipergunakan sebagai<br />
indikator masih kurang percaya dirinya<br />
siswa dalam menyelesaikan suatu persoalan.<br />
Hal ini mungkin dipengaruhi masih<br />
rendahnya kebutuhan berprestasi (need for<br />
achivemen) dari siswa secara individu, serta<br />
masih kurangnya para guru melatih dan<br />
memberikan motivasi berprestasi terhadap<br />
siswa; (4) Siswa masih kurang bisa<br />
memanfaatkan waktu yang tersedia secara<br />
efisien untuk melakukan sesuatu tugas<br />
pekarjaan. Kurangnya dalam hal pengelolaan<br />
waktu bagi siswa ini akan<br />
mempengaruhi pembentukan karakter dan<br />
budayakerja siswa. Padahal karakter dan<br />
budaya kerja ini sangat dibutuhkan oleh<br />
siswa setelah mereka dewasa. Hal ini<br />
mungkin dipengaruhi kebiasaan dan<br />
lingkungan mereka tinggal termasuk<br />
kurangnya guru selalu mengingat betapa<br />
pentingnya mengelola waktu secara efisien<br />
agar tidak selalu ketinggalan momentum<br />
terhadap meraih setiap peluang yang ada.<br />
PEMBAHASAN<br />
Temuan 1<br />
Temuan yang diperoleh yaitu<br />
penerapan strategi pembelajaran yang<br />
berorientasikan aktivitas siswa dapat<br />
meningkatkan minat siswa mengikuti<br />
pelajaran, sehingga dapat disimpulkan<br />
bahwa implementasi tindakan perubahan<br />
strategi pembelajaran yang menekankan<br />
aktivitas dapat berhasil mengatasi masalah<br />
rendahnya minat siswa dalam mengikuti<br />
pelajaran geografi khususnya materi pokok<br />
8<br />
pengertian, proses pertumbuhan pranata<br />
social, pengendalian social.<br />
Kaitan antara minat dan penerapan<br />
strategi pembelajaran dapat dijelaskan<br />
bahwa penerapan metode penugasan<br />
hususnya yang menggunakan LKS baik<br />
secara individual maupun kelompok dapat<br />
memungkinkan siswa perhatiannya terpusat<br />
pada rincian kegiatan/tugas dan selalu<br />
berinteraksi secara aktif dengan pedoman<br />
kerja /langkah-langkah aktivitas. Dengan<br />
kualitas dan intensitas interaksi tersebut<br />
maka minat siswa dalam mengikuti<br />
pelajaran menjadi meningkat pula. Minat<br />
terhadap suatu mata pelajaran sangat<br />
dipengaruhi oleh seberapa besar siswa dilibatkan<br />
dalam proses belajar mengajarnya,<br />
sebab jika siswa kurang dilibatkan maka<br />
siswa akan cenderung pasif, tidak<br />
bergairah,kurang perhatian,dan motivasi<br />
belajar rendah.<br />
Temuan <strong>II</strong><br />
Penerapan strategi pembelajaran yang<br />
berorientasikan aktivitas siswa dapat<br />
meningkatkan aktivitas belajar siswa.<br />
Dengan metode penugasan yang memanfaatkan<br />
LKS, maka siswa dapat<br />
meningkatkan prestasi belajar siswa.<br />
Dengan menerapkan metode penugasan<br />
yang memanfaatkan LKS, maka siswa<br />
dapat mempelajari materi pelajaran bukan<br />
melalui penjelasan guru, melainkan dari<br />
hasil membaca,menyimak, menganalisis,<br />
dan menyimpulkan sendiri setelah melakukan<br />
kegiatan seperti yang tercantum<br />
dalam rincian kegiatan. Pengalaman yang<br />
demikian akan dapat menyenangkan siswa<br />
karena mereka merasa berhasil menemukan<br />
sendiri pengetahuan yang dipelajarinya.<br />
Metode penugasan siswa diminta untuk<br />
menyelesaikan tugas LKS tersebut berarti<br />
intensitas kegiatan dan keterlibatan siswa<br />
menjadi tinggi maka akan menyebabkan<br />
siwa lebih perhatian, bergairah, dan lebih<br />
antusias dalam mengikuti pelajaran.<br />
Kondisi yang demikian itu mendorong<br />
siswa belajar lebih baik lagi sehingga minat
elajarnya pun akan lebih baik lagi<br />
sehingga hasil belajarnyapun akan lebih<br />
baik pula.<br />
Dari uraian di atas dapat disimpulkan<br />
bahwa penerapan metode penugasan<br />
dengan LKS sebagai wujud strategi pembelajaran<br />
berorientasikan aktivitas siswa dapat<br />
menyebabkan prestasi belajar lebih baik<br />
dan meningkat secara signifikan.<br />
KESIMPULAN DAN SARAN<br />
Berdasarkan hasil penelitian yang<br />
dilakukan mulai dari siklus I, siklus dan <strong>II</strong><br />
dapat ditarik suatu simpulan sebagai<br />
berikut: (1) penerapan strategi pembelajaran<br />
yang berorientasikan aktivitas siswa dapat<br />
meningkatkan minat mengikuti pelajaran<br />
geografi materi pokok pranata sosial pada<br />
siswa kelas V<strong>II</strong>I-B SMP Negeri 1 Duduk<br />
sampeyan; (2) penerapan strategi pembelajaran<br />
yang berorientasikan aktivitas siswa<br />
dapat meningkatkan prestasi belajar<br />
geografi materi pokok ciri-ciri umum<br />
pranata sosial pada siswa kelas V<strong>II</strong>I- B<br />
SMP Negeri 1 Duduksampeyan.<br />
Telah terbuktinya pembelajaran<br />
berorientasi aktivitas siswa dapat<br />
meningkatkan minat dan prestasi belajar<br />
geografi, maka disarankan hal-hal sebagai<br />
berikut: (1) saran untuk penerapan hasil<br />
penelitian; mengingat strategi pembelajaran<br />
yang berorientasikan aktivitas siswa dengan<br />
metode proyek dapat mendorong siswa<br />
lebih aktif, sekolah dengan karakteristik<br />
yang relatif sama dapat menerapkan strategi<br />
pembelajaran serupa untuk meningkatkan<br />
partisipasi siswa secara lebih aktif sehingga<br />
prestasi belajarnya meningkat, media LKS<br />
dengan diskusi partisipatif dapat mendorong<br />
siswa lebih berminat terhadap<br />
pelajaran geografi, sekolah yang memiliki<br />
masalah pembelajaran yang relatif sama<br />
dapat menerapkan media LKS dengan<br />
diskusi partitisipatif untuk meningkatkan<br />
minat belajar geografi Kondisi Wilayah<br />
Indonesia (2) saran untuk penelitian lanjut:<br />
Imron<br />
mengingat penelitian ini baru berjalan dua<br />
siklus, maka peneliti/guru lain diharapkan<br />
dapat melanjutkan untuk mendapatkan<br />
temuan yang lebih signifikan, Instrumen tes<br />
yang digunakan dalam penelitian masih<br />
merupakan instruman yang tingkat<br />
validasinya belum memuaskan, maka<br />
penelitian yang berikutnya dapat mencoba<br />
dengan instrumen yang lebih baku.<br />
DAFTAR RUJUKAN<br />
Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan<br />
Kelas. Bandung: Irama Widya<br />
Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan,<br />
cetakan 7. Bandung: Citra Aditya<br />
Bakti.<br />
Isfanhari, Musafir.(t.t.). Pengetahuan<br />
Dasar Musik. Surabaya: Dinas P & K<br />
Propinsi Jawa Timur.<br />
Latuheru, John D. 1988. Media<br />
Pembelajaran dalam Proses Belajar<br />
Mengajar Masa Kini. Jakarta:<br />
Depdikbud.<br />
Muchlis, 1995. Lagu-lagu Rakyat. Jakarta:<br />
Penerbit Mustika.<br />
Nahary Ac. 2009. Kesenian Musik Praktis.<br />
Solo: Tiga Serngkai Pustaka Mandiri.<br />
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai. 2009.<br />
Media Pembelajaran. Bandung: Sinar<br />
Baru Algesindo.<br />
Sadiman, et.al. 1996. Media Pendidikan;<br />
Pengertian, Pengembangan, dan<br />
Pemanfaatannya. Jakarta: Rajawali<br />
Press.<br />
Soewito M, Ds. 1998. Teknik Termudah<br />
Belajar Musik Vocal. Jakarta: Penerbit<br />
Titik Terang.<br />
Suharto, M. 1982. Membina Paduan Suara.<br />
Jakarta: PT Gramedia.<br />
Sylado, Remy. 1983. Menuju Apresiasi<br />
Musik. Bandung: Penerbit Angkasa.<br />
9
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
10
UJI COBA TERBATAS CHEMISTRY STUDENT WORKSHEET BERBASIS SETS<br />
(SCIENCE ENVIRONMENT TECHNOLOGY AND SOCIETY) PADA MATERI<br />
KOLOID UNTUK RINTISAN SEKOLAH MENENGAH ATAS BERTARAF<br />
INTERNASIONAL<br />
Dewi Rahmawati dan Kusumawati Dwiningsih<br />
Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Surabaya<br />
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan Chemistry<br />
Student Worksheet berbasis SETS Pada Materi Pokok Koloid untuk RSMABI<br />
berdasarkan penilaian oleh dosen kimia, guru kimia, ahli bahasa, dan ahli media<br />
terhadap kriteria isi penyajian, kebahasaan, kegrafikaan dan kesesuain dengan<br />
komponen SETS. Rancangan penelitian ini menggunakan modifikasi yang<br />
mengacu pada model 4-D (four D models) oleh Thiagarajan, tetapi hanya terbatas<br />
pada tahap develop. Instrumen yang digunakan adalah lembar telaah dan lembar<br />
validasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Chemistry Student Worksheet<br />
Berbasis SETS yang dikembangkan telah layak digunakan dalam proses<br />
pembelajaran untuk RSMABI karena telah memenuhi kriteria isi, penyajian,<br />
kebahasaan, kegrafikaan, dan kesesuain dengan komponen SETS masing-masing<br />
dengan persentase berturut-turut sebesar 82,52%, 83,44%, 87,50%, 94,64 % and<br />
85,94%.<br />
Kata Kunci: chemistry student worksheet, SETS, koloid, uji coba terbatas<br />
E<br />
ra globalisasi ditandai dengan<br />
persaingan sangat kuat dalam bidang<br />
teknologi dan sumber daya manusia<br />
(SDM). Terkait hal tersebut, Pemerintah<br />
Indonesia memiliki tanggung jawab<br />
mengembangkan sistem pengelolaan serta<br />
menggunakan kewenangannya menyiapkan<br />
SDM unggul lewat pembenahan sistem<br />
pendidikan nasional. Undang-undang<br />
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003<br />
tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan<br />
dasar hukum penyelenggaraan dan<br />
reformasi sistem pendidikan nasional. Pasal<br />
50 ayat 3 menyatakan bahwa ”Pemerintah<br />
dan/ atau Pemerintah daerah menyelenggarakan<br />
sekurang-kurangnya satu satuan<br />
pendidikan pada semua jenjang pendidikan<br />
untuk dikembangkan menjadi satuan<br />
pendidikan yang bertaraf internasional”.<br />
Implementasi dari Undang-undang tersebut<br />
adalah dimulainya program Rintisan<br />
Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)<br />
(Depdiknas, 2009:3).<br />
Dalam pelaksanaan Rintisan Sekolah<br />
Menengah Atas Bertaraf Internasional<br />
(RSMABI) ada 3 tahap, pada tahap pengembangan<br />
dan pemberdayaan sekolah<br />
mengembangkan KTSP dalam bahasa<br />
Indonesia dan bahasa Inggris. Pada tahap<br />
mandiri, sekolah diharapkan mampu mengembangkan<br />
pembelajaran bilingual menjadi<br />
pembelajaran berbahasa Inggris sepenuhnya.<br />
Pembelajaran dilakukan menggunakan<br />
bahasa Inggris untuk kelompok<br />
Sains (Kimia, Fisika, Biologi) dan<br />
Matematika di jurusan IPA. (Depdiknas,<br />
2009: 4).<br />
Berdasarkan Depdiknas yaitu dalam<br />
pelaksanaan program RSMABI terdapat<br />
komponen-komponen yang harus diperhatikan<br />
salah satunya adalah pengembangan<br />
kurikulum (KTSP) yang di dalamnya juga<br />
menyebutkan bahwa bahan ajar yang dapat<br />
digunakan salah satunya adalah lembar<br />
kegiatan siswa (student worksheet).<br />
Menurut Depdiknas terdapat sejumlah<br />
alasan mengapa perlu untuk mengem-
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
bangkan bahan ajar yakni: ketersedian<br />
bahan sesuai tuntutan kurikulum, karakteristik<br />
sasaran, dan tuntutan pemecahan<br />
masalah belajar Depdiknas, 2008: 5).<br />
Diketahui bahwa di sekolah dalam<br />
pembelajaran kimia telah menggunakan<br />
student worksheet, akan tetapi di beberapa<br />
sekolah RSMABI student worksheet yang<br />
digunakan pada pembelajaran kimia khususnya<br />
kelas XI masih berbahasa Indonesia,<br />
seperti di SMAN 1 Manyar Gresik, SMAN<br />
2 Kediri, SMAN 1 Cerme Gresik, SMAN 1<br />
Situbondo, SMAN 1 Probolinggo, SMA<br />
Muhammadiyah 2, SMAN 1 Sidoarjo. Hal<br />
ini juga ditunjukkan dari hasil wawancara<br />
dengan guru kimia di SMA Negeri 1<br />
Pamekasan yang merupakan RSBI tanggal<br />
19 Maret 2011 diketahui bahwa dalam<br />
pembelajaran kimia salah satu sumber<br />
belajar yaitu student worksheet yang<br />
digunakan masih menggunakan bahasa<br />
Indonesia. Padahal tahun ini merupakan<br />
tahun ke-4 SMA Negeri 1 Pamekasan<br />
menjadi RSBI yang artinya kurang 1 tahun<br />
lagi sekolah ini menuju tahap mandiri.<br />
Kurikulum yang digunakan pada<br />
RSMABI adalah kurikulum KTSP yang<br />
diperkaya dengan standar internasional<br />
seperti kurikulum Cambridge. Terkait<br />
dengan pelaksaan kurikulum KTSP<br />
disebutkan bahwa dalam penyusunannya<br />
berdasarkan prinsip-prinsip: 1) berpusat<br />
pada potensi, perkembangan, kebutuhan,<br />
dan kepentingan, peserta didik dan<br />
lingkungannya (environment), 2) tanggap<br />
terhadap ilmu pengetahuan (science),<br />
teknologi (technology), dan 3) relevan<br />
dengan kebutuhan kehidupan (society)<br />
(BSNP, 2006:4).<br />
Menurut guru kimia SMA Negeri 1<br />
Pamekasan, belum sepenuhnya menghubungkan<br />
pelajaran kimia dengan science,<br />
evieonment, technology and society (SETS)<br />
yang tersirat dalam prinsip-prinsip KTSP<br />
tersebut. Berdasarkan dari hasil angket yang<br />
disebarkan tanggal 19 Maret 2011 kepada<br />
25 siswa hasil angket 94% siswa<br />
menyatakan perlunya mengaitkan pembelajaran<br />
kimia dengan lingkungan, teknologi,<br />
dan masyarakat.<br />
12<br />
Berdasarkan hasil angket tersebut 60%<br />
siswa menyatakan agar materi pokok koloid<br />
dapat dikaitkan dengan lingkungan, teknologi,<br />
dan masyarakat. Hal ini juga<br />
ditegaskan oleh guru kimia kelas XI SMA<br />
Negeri 1 Pamekasan yang menyatakan<br />
bahwa materi pokok koloid merupakan<br />
materi yang berupa bacaan dan konsep.<br />
Penyampaian materi ini di akhir semester 2<br />
mendekati ujian semester sehingga biasanya<br />
siswa disuruh membaca sendiri dan<br />
mengerjakan soal-soal di dalam student<br />
worksheet. Guru kimia tersebut mengharapkan<br />
agar soal-soal di dalam student<br />
worksheet dapat dikaitkan dengan kehidupan<br />
masyarakat secara nyata, serta dapat<br />
dikaitkan dengan lingkungannya sehingga<br />
pembelajaran koloid dapat bermakna bagi<br />
siswa. Menurut Standar isi BSNP Standar<br />
Kompetensi pada materi Koloid adalah<br />
menjelaskan sistem dan sifat koloid serta<br />
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.<br />
Kompetensi dasar pada materi pokok<br />
Koloid yaitu membuat berbagai sistem<br />
koloid dengan bahan-bahan yang ada di<br />
sekitarnya dan mengelompokkan sifat-sifat<br />
koloid dan penerapannya dalam kehidupan<br />
sehari-hari BSNP, 2006: 4). Kompetensi<br />
Dasar tersebut disesuai dengan kurikulum<br />
Cambridge yaitu IGCSE A-Level.<br />
Pendekatan SETS merupakan bentuk<br />
kegiatan pembelajaran yang mengaitkan<br />
secara timbal balik unsur-unsur sains,<br />
lingkungan, teknologi dan masyarakat.<br />
Pendekatan SETS tidak hanya menekankan<br />
pada pengetahuan tentang konsep sains saja<br />
tetapi juga menghubungkan suatu konsep<br />
sains dengan lingkungan sekitar siswa,<br />
teknologi yang sedang berkembang dan<br />
keadaan masyarakat di sekitar siswa (Febri,<br />
2010:15).<br />
Materi koloid jika dikaitkan dengan<br />
lingkungan, teknologi dan masyarakat<br />
sangat cocok karena dilihat dari standar<br />
kompetensi dan kompetensi dasarnya<br />
materi koloid ini banyak melibatkan konsep<br />
sains dalam kehidupan sehari-hari yang<br />
dapat dikaji baik hubungannya dengan<br />
lingkungan, secara teknologi maupun dalam<br />
kehidupan masyarakat. Dengan pendekatan
SETS diharapkan siswa dapat memahami<br />
pentingnya belajar koloid karena koloid<br />
memang ada di sekitar mereka.<br />
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti<br />
mengambil judul “Chemistry Student<br />
Worksheet Berbasis SETS (Science<br />
Environment Technology and Society) pada<br />
Materi Pokok Koloid untuk RSMABI”.<br />
Berdasarkan latar belakang di atas,<br />
dapat diajukan permasalahan ”Bagaimana<br />
kelayakan Chemistry Student Worksheet<br />
berbasis SETS pada materi pokok koloid<br />
untuk RSMABI ditinjau dari kriteria isi,<br />
penyajian, bahasa, kegrafikaan dan<br />
kesesuaian dengan komponen SETS?”<br />
Adapun tujuan penelitian ini adalah<br />
mengetahui kelayakan dari Chemistry<br />
Student Worksheet berbasis SETS pada<br />
materi pokok koloid untuk RSMABI<br />
dikembangkan ditinjau dari kriteria isi,<br />
Dosen Kimia<br />
Analisis Siswa<br />
Analisis Konsep Analisis Tugas<br />
Perumusan Tujuan<br />
Pembelajaran<br />
<strong>Des</strong>ain Awal Chemisry Student Worksheet (Draf I)<br />
Guru Kimia<br />
Analisis Ujung Depan<br />
Telaah<br />
Dosen Kimia Guru Kimia<br />
Dosen B. Inggris Dosen Media<br />
Revisi (Draf <strong>II</strong>)<br />
Validasi<br />
Analisis Data<br />
Dosen Bahasa<br />
Inggris<br />
Laporan<br />
Dewi Rahmawati & Kusumawati Dwiningsih<br />
penyajian, bahasa, kegrafikaan, dan<br />
kesesuaian dengan komponen SETS.<br />
METODE<br />
Rancangan penelitian pengembangan<br />
Chemistry Student Worksheet pada materi<br />
pokok koloid ini mengacu pada model<br />
pengembangan perangkat pembelajaran 4-D<br />
(four-D model) yang dikemukakan oleh<br />
Thiagarajan yang terdiri dari empat tahap<br />
yaitu tahap pendefinisian (Define), tahap<br />
perancangan (<strong>Des</strong>ign), tahap pengembangan<br />
(Develop), dan tahap penyebaran<br />
(Disseminate).<br />
Penelitian hanya terbatas sampai pada<br />
tahap pengembangan (Develop), karena<br />
penelitian hanya untuk mengetahui<br />
kelayakan. Rancangan dalam penelitian ini<br />
dapat disajikan seperti diagram alur berikut:<br />
Dosen<br />
Media<br />
Gambar 1 Model 4-D menurut Thiagarajan, Semmel dan Semmel yang<br />
dikutip oleh Muslimin Ibrahim (2002).<br />
pendefinisi<br />
an<br />
perancan<br />
gan<br />
pengemban<br />
gan<br />
13
instrument lembar validasi kegrafikaan.<br />
Lembar validasi digunakan untuk mengumpulkan<br />
data penilaian terhadap kriteria<br />
kelayakan isi, penyajian, kebahasaan,<br />
kegrafikaan, dan kesesuaian dengan komponen<br />
SETS terhadap Chemistry Student<br />
Worksheet yang dikembangkan. Validasi<br />
yang dilakukan oleh para ahli (validator)<br />
dengan memberi nilai pada tiap aspek<br />
dalam kriteria isi, penyajain, kebahasaan,<br />
kegrafikaan dan kekesuaian dengan<br />
komponen SETS berdasarkan modifikasi<br />
dari Skala Likert yaitu:<br />
Dewi Rahmawati & Kusumawati Dwiningsih<br />
a) sangat kurang diberi skor 1.<br />
b) kurang diberi skor 2.<br />
c) Baik diberi skor 3.<br />
d) Sangat baik diberi skor.<br />
Menurut Riduwan (2010), apabila<br />
kriteria-kriteria tersebut mendapatkan<br />
penilaian dengan persentase sebesar ≥ 51%<br />
sesuai modifikasi skala Likert pada Tabel 1,<br />
maka Chemistry Student Worksheet yang<br />
dikembangkan dikatakan layak. Hasil<br />
Validasi terhadap Chemistry Student<br />
Worksheet berbasis SETS sebagai berikut:<br />
Tabel 2 Hasil Validasi Chemistry Student Worksheet berbasis SETS<br />
Kriteria<br />
Aspek<br />
Presentasi Penilaian (%)<br />
CSW 1 CSW 2 CSW 3 CSW 4<br />
Ratarata<br />
(%)<br />
Kriteria<br />
Isi 82,14 84,38 81,25 82,29 82,52 Sangat Kuat<br />
Penyajian 82,50 83,75 83,75 83,75 83,44 Sangat Kuat<br />
Kebahasaan 87,50 87,50 85,00 90,00 87,50 Sangat Kuat<br />
Kegrafikaan 92,85 92,85 92,85 100 94,64 Sangat Baik<br />
Kesuaian<br />
komponen<br />
SETS<br />
81,25 87,50 85,42 89,58 85,94 Sangat Kuat<br />
Keterangan : CSW = Chemistry Student Worksheet<br />
Berdasarkan Tabel 2 dijabarkan<br />
penilaian Chemistry Student Worksheet<br />
berbasis SETS sebagai berikut:<br />
Kriteria Isi<br />
Isi merupakan salah satu komponen<br />
penting yang harus diperhatikan dalam<br />
penyusunan Chemistry Student Worksheet.<br />
Menurut BSNP bahwa salah satu kriteria<br />
kelayakan Student Worksheet adalah<br />
ditinjau dari kriteria isi. Kriteria isi<br />
Chemistry Student Worksheet ini terdiri dari<br />
beberapa aspek yaitu kesesuaian materi<br />
dengan kurikulum KTSP dan Cambridge,<br />
kesesuaian materi dengan Standar Kompetensi<br />
(SK) dan Kompetensi Dasar (KD)<br />
yang akan dicapai, materi relevan dengan<br />
indikator hasil belajar, materi relevan<br />
dengan tujuan hasil belajar, rangkuman<br />
materi berisi fakta, hukum, konsep dan<br />
prinsip-prinsip penting, pertanyaan evaluasi<br />
dalam Chemistry Student Worksheet mudah<br />
dipahami dan sesuai dengan indikator hasil<br />
belajar, dan kegiatan eksperimen atau<br />
percobaan dalam Chemistry Student Worksheet<br />
sesuai dengan materi dan Kompetensi<br />
Dasar (KD) yang dikembangkan.<br />
Berdasarkan hasil validasi yang<br />
disajikan pada Tabel 2 Chemistry Student<br />
Worksheet berbasis SETS telah memenuhi<br />
kelayakan isi dengan persentase worksheet<br />
1, 2, 3, dan 4 masing-masing berturut-turut<br />
sebesar 82,14%, 84,38%, 81,25%, dan<br />
82,29%. Berdasarkan interpretasi skor<br />
modifikasi skala Likert pada Tabel 1 maka<br />
15
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
dapat dikatakan bahwa kriteria kelayakan<br />
isi untuk Chemistry Student Worksheet<br />
berbasis SETS berada pada interval 76%-<br />
100% yang berarti sangat kuat atau<br />
dikatakan sangat layak.<br />
Kriteria Penyajian<br />
Menurut BSNP kriteria yang berhubungan<br />
dengan kelayakan penyajian terdiri<br />
dari beberapa aspek yaitu cover mempresentasikan<br />
isi naskah Chemistry Student<br />
Worksheet, kesesuaian daftar isi dengan<br />
judul bab, sub bab, nomor halaman,<br />
kejelasan SK, KD, indikator dan tujuan<br />
pembelajaran, kesesuaian peta konsep yang<br />
berisi konsep-konsep inti yang akan<br />
disajikan, kesesuain pertanyaan/soal latihan<br />
pada setiap bab (BSNP, 2006:18).<br />
Berdasarkan hasil validasi yang<br />
disajikan pada Tabel 2 Chemistry Student<br />
Worksheet berbasis SETS telah memenuhi<br />
kelayakan penyajian dengan persentase<br />
Chemistry Student Worksheet 1, 2, 3, dan 4<br />
masing-masing berturut-turut sebesar<br />
82,50%, 83,75%, 83,75%, dan 83,75%.<br />
Berdasarkan interpretasi skor modifikasi<br />
skala Likert pada Tabel 1, maka dapat<br />
dikatakan bahwa kriteria kelayakan<br />
penyajian untuk Chemistry Student<br />
Worksheet berbasis SETS berada di interval<br />
76%-100% yang berarti sangat kuat atau<br />
dikatakan sangat layak.<br />
Kriteria Kebahasaan<br />
Berdasarkan hasil validitas kebahasaan<br />
yang terdapat pada Tabel 2 menunjukkan<br />
bahwa Chemistry Student Worksheet 1, 2,<br />
3, dan 4 memperoleh persentase masingmasing,<br />
yaitu sebesar 87,50%, 87,50%,<br />
85,00% dan 90,00%. Chemistry Student<br />
Worksheet berbasis SETS telah memenuhi<br />
kelayakan kebahasaan dengan presentase<br />
rata-rata sebesar 87,50% sehingga dapat<br />
dikatakan termasuk kategori sangat kuat<br />
karena berada pada interval 76%-100%<br />
dalam interpretasi skor modifikasi skala<br />
Likert pada Tabel 1. Pemenuhan kriteria<br />
kebahasaan Chemistry Student Worksheet<br />
ini telah sesuai dengan kriteria kebahasaan<br />
16<br />
menurut BSNP yaitu Penulisan Chemistry<br />
Student Worksheet menggunakan bahasa<br />
yang sesuai dengan tingkat perkembangan<br />
siswa, Penulisan Chemistry Student Worksheet<br />
menggunakan bahasa Inggris yang<br />
baik dan benar, Keruntutan bahasa atau<br />
ketertautan antar bab, sub-bab, paragraf,<br />
dan kalimat. Penulisan Chemistry Student<br />
Worksheet menggunakan istilah yang tepat<br />
dan mudah dipahami dan Penulisan<br />
Chemistry Student Worksheet menggunakan<br />
istilah atau simbol atau lambang secara ajeg<br />
(BSNP, 2006: 17).<br />
Kriteria Kegrafikaan<br />
Menurut BSNP kriteria yang berhubungan<br />
dengan kelayakan kegrafikaan<br />
terdiri dari beberapa aspek yaitu kesesuaian<br />
kulit Chemistry Student Worksheet bagian<br />
kulit depan, belakang serta ditampilkan<br />
secara kontras, jelas, menarik dan sesuai<br />
dengan besar dan jenis huruf serta warna<br />
dan tata letak yang sesuai, kesesuaian isi<br />
Chemistry Student Worksheet yang<br />
disajikan dalam bentuk teks dan ilustrasi<br />
(gambar) ditampilkan secara komunikatif<br />
dan serasi, proporsional dan konsisten,<br />
kesesuaian dalam pemilihan huruf yaitu<br />
jenis dan besar huruf, Ilustrasi atau gambar<br />
dapat membantu pemahaman konsep,<br />
kejelasan cetakan isi sangat membantu<br />
peserta didik dalam mempelajari, memahami,<br />
dan menyerap informasi yang disampaikan,<br />
kertas dipilih A4 100 gram dengan<br />
fungsi sebagai media penyampaian<br />
informasi tercetak dan bertahan untuk<br />
minimal 5 tahun, sistem penjilidan<br />
softcover yang memiliki kekuatan minimal<br />
5 tahun (BSNP, 2006:18).<br />
Berdasarkan hasil validasi yang<br />
disajikan pada Tabel 2, Chemistry Student<br />
Worksheet berbasis SETS telah memenuhi<br />
kelayakan kegrafikaan dengan persentase<br />
Chemistry Student Worksheet 1, 2, 3, dan 4<br />
masing-masing berturut-turut sebesar<br />
92,85%, 92,85%, 92,85%, dan 100%.<br />
Berdasarkan interpretasi skor modifikasi<br />
skala Likert pada Tabel 1 maka dapat<br />
dikatakan bahwa kriteria kelayakan<br />
penyajian untuk Chemistry Student
Worksheet berbasis SETS berada di interval<br />
76%-100% yang berarti sangat kuat atau<br />
dikatakan sangat layak.<br />
Kriteria Kesesuaian Komponen SETS<br />
Menurut Binadja kriteria yang<br />
berhubungan dengan kelayakan Kesesuaian<br />
Komponen SETS terdiri dari beberapa<br />
aspek yaitu menghubungkan sains dengan<br />
keadaan lingkungan sekitar (science and<br />
environment), menghubungkan sains<br />
dengan teknologi (science and technology),<br />
menghubungkan sains dengan keadaan<br />
masyarakat sekitar (science and<br />
society)(Binadja, 2007: 31).<br />
Berdasarkan hasil validasi yang<br />
disajikan pada Tabel 2, Chemistry Student<br />
Worksheet berbasis SETS telah memenuhi<br />
kelayakan kesesuaian komponen SETS<br />
dengan persentase Chemistry Student<br />
Worksheet 1, 2, 3, dan 4 masing-masing<br />
berturut-turut sebesar 81,2 %, 87,50%,<br />
85,42%, dan 89,58%. Berdasarkan interpretasi<br />
skor modifikasi skala Likert pada<br />
Tabel 1 maka dapat dikatakan bahwa<br />
kriteria kesesuaian komponen SETS untuk<br />
Chemistry Student Worksheet berbasis<br />
SETS berada di interval 76%-100% yang<br />
berarti sangat kuat atau dikatakan sangat<br />
layak.<br />
Secara keseluruhan berdasarkan Tabel<br />
2 hasil validasi Chemistry Student<br />
Worksheet berbasis SETS yang dikembangkan<br />
telah memenuhi kriteria isi,<br />
penyajian, kebahasaan, kegrafikaan dan<br />
kesesuaian komponen SETS masingmasing<br />
sebesar 82,52%, 83,44%, 87,50%,<br />
94,64%, dan 85,94%. Berdasarkan interpretasi<br />
skor modifikasi skala Likert pada<br />
Tabel 1 maka dapat dikatakan bahwa<br />
Chemistry Student Worksheet berbasis<br />
SETS sangat layak digunakan di sekolah<br />
khususnya Rintisan SMA Bertaraf<br />
Internasional.<br />
SIMPULAN<br />
Berdasarkan hasil analisis data<br />
penelitian dapat disimpulkan bahwa<br />
Chemistry Student Worksheet Berbasis<br />
Dewi Rahmawati & Kusumawati Dwiningsih<br />
SETS (Science, Environment, Technology<br />
and Society) pada Materi Pokok Koloid<br />
Kelas XI RSMABI yang dikembangkan<br />
telah layak digunakan sebagai perangkat<br />
pembelajaran karena telah mencapai<br />
persentase ≥ 51 % pada interpretasi skor<br />
kriteria modifikasi skala Likert. Chemistry<br />
Student Worksheet Berbasis SETS telah<br />
memenuhi kriteria kelayakan isi, penyajian,<br />
kebahasaan, dan kegrafikaan, dan<br />
kesesuaian komponen SETS (Science,<br />
Environment, Technology and Society)<br />
berturut-turut sebesar 82,52%, 83,44%,<br />
87,50%, 94,64 %, 85,94% dengan katagori<br />
sangat kuat.<br />
SARAN<br />
Penelitian hanya meneliti kelayakan<br />
Chemistry Student Worksheet Berbasis<br />
SETS (Science, Environment, Technology<br />
and Society) sehingga dari hasil penelitian<br />
tidak diketahui pengaruh Chemistry Student<br />
Worksheet terhadap hasil belajar siswa.<br />
Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian<br />
lebih lanjut tentang pengaruh Chemistry<br />
Student Worksheet terhadap hasil belajar<br />
siswa.<br />
DAFTAR RUJUKAN<br />
Binadja, Achmad. 2007. Pedoman<br />
Pengembangan Bahan Pembelajaran<br />
Bervisi Dan Berpendekatan SETS<br />
(Science, Environment, Technology,<br />
and Society). Semarang: Laboratorium<br />
SETS UNNES.<br />
BSNP. 2006. Instrument Penilaian Tahap <strong>II</strong><br />
Buku Teks Pelajaran Kimia SMA/MA.<br />
Jakarta: Badan Standar Nasional<br />
Pendidikan.<br />
BSNP. 2006. Standar Isi untuk Satuan<br />
Pendidikan Dasar Dan Menengah<br />
Standar Kompetensi Dan Kompetensi<br />
Dasar SMA/MA. Jakarta: Badan<br />
Standar Nasional Pendidikan.<br />
BSNP. 2006. Panduan Penyusunan<br />
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan<br />
Jenjang Pendidikan Dasar Dan<br />
Menengah. Jakarta: Badan Standar<br />
Nasional Pendidikan.<br />
17
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan<br />
Bahan Ajar. Jakarta: Depdiknas<br />
Direktorat Pembinaan Sekolah<br />
Menengah Atas.<br />
Depdiknas. 2009. Panduan Penyelenggaraan<br />
Program Rintisan SMA<br />
Bertaraf Internasional (R-SMABI).<br />
Jakarta: Depdiknas Direktorat<br />
PembinaanSekolah Menengah Atas.<br />
Febri, Ika N. A. 2010. Pengembangan Buku<br />
Siswa Berbasis Sets Pada Materi<br />
Pokok Perubahan Materi Dan Reaksi<br />
Kimia Kelas Vii Untuk Sekolah<br />
Bertaraf Internasional. Skripsi. Tidak<br />
18<br />
Dipublikasikan. Surabaya: Universitas<br />
Negeri Surabaya.<br />
Ibrahim, Muslimin. 2002. Pelatihan<br />
Terintegrasi Berbasis Kompetensi<br />
Guru Mata Pelajaran Biologi<br />
Pengembangan Perangkat Pembelajaran.<br />
Surabaya: Depdiknas Direktorat<br />
Jendral Pendidikan Dasar dan<br />
Menengah.<br />
Riduwan. 2010. Skala Pengukuran<br />
Variabel- variabel Penelitian.<br />
Bandung: Alfabeta.<br />
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian<br />
Kuantitatif Kualitatif dan R&D.<br />
Bandung: Alfabeta.
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI<br />
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERBASIS MASALAH<br />
A. Madlan<br />
SDN Sukorejo Sidayu<br />
Abstrak: Penelitian ini merupakan upaya meningkatkan prestasi belajar<br />
Pendidikan Agama Islam melalui Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual<br />
Berbasis Masalah, karena ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini<br />
untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan<br />
diciptakan secara alamiah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk; (a) mengetahui<br />
peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam setelah diterapkan model<br />
pembelajaran kontekstual berbasis masalah; (b) mengetahui pengaruh motivasi<br />
siswa dalam belajar Pendidikan Agama Islam setelah diterapkan medel<br />
pembelajaran kontekstual berbasis masalah. Penelitian ini menggunakan<br />
penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri<br />
dari empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil<br />
analisis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari<br />
siklus I sampai siklus <strong>II</strong>I yaitu, siklus I (66,67%), siklus <strong>II</strong> (77,78%), siklus <strong>II</strong>I<br />
(88,89%) setelah diterapkan model pembelajaran kontektual berbasis masalah.<br />
Kata kunci : peningkatan prestasi belajar, kontekstual, berbasis masalah.<br />
K<br />
egiatan belajar mengajar tidak<br />
semua anak didik mampu berkonsentrasi<br />
dalam waktu yang relatif<br />
lama. Daya serap anak didik terhadap bahan<br />
yang diberikan juga bermacam-macam.<br />
Terdapat anak yang daya serapnya cepat,<br />
sedang, dan lambat. Faktor intelegensi<br />
mempengaruhi daya serap anak didik<br />
terhadap bahan pelajaran yang diberikan<br />
oleh guru. Cepat lambatnya penerimaan<br />
anak didik terhadap bahan pelajaran yang<br />
diberikan menghendaki pemberian waktu<br />
yang bervariasi, sehingga penguasaan<br />
penuh dapat tercapai.<br />
Terhadap perbedaan daya serap anak<br />
didik sebagaimana tersebut di atas,<br />
memerlukan strategi pengajaran yang tepat.<br />
Metode yang digunakan merupakan salah<br />
satu jawabannya. Untuk sekelompok anak<br />
didik boleh jadi mereka mudah menyerap<br />
bahan pelajaran bila guru menggunakan<br />
metode tanya jawab, tetapi untuk<br />
sekelompok anak didik yang lain mereka<br />
lebih mudah menyerap bahan pelajaran bila<br />
guru menggunakan metode demonstrasi<br />
atau eksperimen.<br />
Ada kecenderungan dalam dunia<br />
pendidikan dewasa ini untuk kembali pada<br />
pemikiran bahwa anak akan belajar lebih<br />
baik jika lingkungan belajar diciptakan<br />
secara alamiah. Belajar akan lebih<br />
bermakna jika anak “mengalami” sendiri<br />
apa yang dipelajarinya, bukan „mengetahui‟-nya.<br />
Pembelajaran yang berorientasi<br />
target penguasaan materi terbukti berhasil<br />
dalam kompetisi „mengingat‟ jangka<br />
pendek, tetapi gagal dalam membekali anak<br />
memecahkan persoalan dalam kehidupan<br />
jangka panjang.<br />
Mengajar bukan semata persoalan<br />
menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi<br />
otomatis dari perenungan informasi<br />
ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan<br />
keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri.<br />
Kegiatan pembelajaran yang bisa membuahkan<br />
hasil belajar yang langgeng hanyalah<br />
kegiatan belajar aktif.
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
Agar belajar menjadi aktif siswa harus<br />
mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka<br />
harus menggunakan otak, mengkaji gagasan,<br />
memecahkan masalah, dan menerapkan<br />
apa yang mereka pelajari. Belajar aktif<br />
harus gesit, menyenangkan, bersemangat<br />
dan penuh gairah.<br />
Khususnya dalam pembelajaran Pendidikan<br />
Agama Islam, agar siswa dapat<br />
memahami materi yang disampaikan guru<br />
dengan baik, maka proses pembelajaran<br />
kontektual guru akan memulai membuka<br />
pelajaran dengan menyampaikan kata<br />
kunci, “ tujuan yang ingin dicapai”, baru<br />
memaparkan isi dan diakhiri dengan<br />
memberikan soal-soal kepada siswa.<br />
Menyadari gejala-gejala atau kenyataan<br />
tersebut diatas, sangat memprihatinkan dan<br />
segera dipecahkan. Maka dalam penelitian<br />
ini penulis mengambil judul “Upaya<br />
Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan<br />
agama Islam Melalui Penerapan Model<br />
Pembelajaran Kontekstual Berbasis<br />
Masalah.” Penelitian ini dilaksanakan pada<br />
siswa Kelas V SDN Sukorejo Sidayu.<br />
Bertitik tolak dari latar belakang diatas,<br />
maka dapat dirumuskan permasalahnnya,<br />
yaitu “Apakah dengan menerapkan pembelajaran<br />
kontekstual berbasis masalah dapat<br />
meningkatkan prestasi belajar siswa dalam<br />
mata pelajaran Pendidikan Agama Islam?”<br />
Tujuan penelitian ini adalah untuk<br />
mengetahui peningkatan prestasi belajar<br />
Pendidikan Agama Islam setelah diterapkan<br />
metode kontekstual berbasis masalah, yang<br />
dikembangkan juga untuk mengetahui<br />
pengaruh motivasi siswa dalam belajar<br />
Pendidikan Agama Islam setelah diterapkan<br />
dengan menggunakan metode kontektual<br />
berbasis masalah.<br />
Pembelajaran kontektual adalah<br />
konsepsi pembelajaran yang menghubungkan<br />
mata pelajaran dengan situasi<br />
dunia nyata. Pembelajaran kontektual juga<br />
merupakan pembelajaran yang memotivasi<br />
siswa agar menghubungkan pengetahuan<br />
dan terapannya dengan kehidupan seharihari<br />
sebagai anggota keluarga dan<br />
masyarakat (Ardiana, 2001). Strategi ini<br />
20<br />
ada tujuh elemen penting, yaitu penemuan<br />
(inquiri), pertanyaan (questioning), konstruktivistik<br />
(contruktivism), pemodelan<br />
(modeling), masyarakat belajar (learning<br />
community), penilaian autentik (authentic<br />
assessment), dan refleksi (reflection).<br />
Konsep kontruktivistik juga termasuk<br />
metode belajar aktif sesuai dengan<br />
pernyataan sederhana dalam Konfusius<br />
yaitu;” yang saya dengar, saya lupa, yang<br />
saya lihat, saya sedikit ingat. Yang saya<br />
dengar, lihat, dan pertanyaklan atau<br />
diskusikan dengan orang lain saya mulai<br />
pahami. Dari yang saya dengar, lihat,<br />
bahas, dan terapkan, saya dapatkan<br />
pengetahuan dan ketrampilan. Yang saya<br />
ajarkan kepada orang lain, saya kuasai “.<br />
(Melvin L, Siberman, 2004: 15).<br />
METODE<br />
Rancangan penelitian ini mencakup<br />
empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan,<br />
observasi, dan refleksi. Adapun<br />
kegiatan pada tahap perencanaan adalah;<br />
(1) melakukan analisiss kurikulum dengan<br />
menentukan KD yang akan diajarkan; (2)<br />
menyusun silabus dan RPP; (3) membuat<br />
pedoman pengamatan kegiatan belajar<br />
siswa; dan (4) merancang intumen tes tulis<br />
untuk melihat perkembangan prestasi siswa.<br />
Kegiatan tahap pelaksanaan tindakan<br />
adalah melaksanakan skenario pembelajaran<br />
dengan teknik model pembelajaran<br />
kontektual berbasis masalah pada pelajaran<br />
Pendidikan Agama Islam dengan KD<br />
menceritakan kisah sahabat nabi dan<br />
meneladani perilaku terpuji.<br />
Tahap observasi dilaksanakan bersamaan<br />
dengan kegiatan KBM berlangsung<br />
dengan menggunakan dua lembar observasi<br />
pengamatan yang pertama lembar observasi<br />
untuk kegiatan guru dalam mengajar<br />
dengan menggunakan model pembelajaran<br />
kontektual dan yang ke dua lembar<br />
observasi untuk pengamatan kegiatan<br />
belajar siswa. Kegiatan observasi tersebut<br />
dilakukan oleh kolaborator teman sejawat<br />
(guru kelas V).
Hasil pengamatan yang dilakukan<br />
selama kegiatan KBM berlangsung<br />
dikumpulkan dan dianalisis. Memperhatikan<br />
hasil observasi, guru dapat melakukan<br />
otokritik pada dirinya atas kekurangankekurangan<br />
selama melakukan kegiatan<br />
belajar mengajar berlangsung untuk<br />
perbaikan berikutnya apakah indikator<br />
keberhasilan sudah tercapai atau belum.<br />
Jika dalam siklus I belum memenuhi<br />
indikator yang ditentukan maka di perbaiki<br />
pada siklus berikutnya untuk meningkatkan<br />
indikator keberhasilan.<br />
Sumber data dalam penelitian ini<br />
adalah terdiri dari : 1) siswa, dalam hal ini<br />
adalah siswa kelas V sebagai subjek<br />
penelitian untuk mendapatkan data tentang<br />
aktivitas dan hasil belajar berupa dokumen<br />
nilai ulangan harian, dan fortofolio, 2) guru,<br />
untuk melihat tingkat keberhasilan dalam<br />
mengimplementasikan model pembelajaran<br />
kontektual berbasis masalah, 3) teman<br />
sejawat dan kolabotator untuk melihat<br />
implementasi PTK secara menyeluruh dari<br />
sisi siswa maupun guru.<br />
Teknik pengumpulan data dalam<br />
penelitian ini adalah; 1) Tes, dipergunakan<br />
untuk mendapatkan data tentang hasil<br />
belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran<br />
yang dilakukan oleh guru dan<br />
sebagai pengukur berhasil atau tidak nya<br />
siswa selama mengikuti proses pembelajaran;<br />
2) Observasi, dipergunakan sebagai<br />
teknik mengumpulkan data tentang<br />
aktivitas siswa selama proses pembelajaran;<br />
3) Wawancara, dipergunakan untuk<br />
mendapatkan data tentang tingkat<br />
keberhasilan implementasi pembelajaran<br />
kontektual berbasis masdalah; dan 4)<br />
Diskusi antara teman sejawat, sebagai<br />
kolaborator di sekolah tempat penelitian<br />
berlangsung untuk refleksi hasil kegitan<br />
setiap siklus.<br />
Data yang dikumpulkan pada setiap<br />
kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus<br />
PTK dianalisis secara deskriptif dengan<br />
menggunakan teknik persentase untuk<br />
melihat kecenderungan yang terjadi dalam<br />
kegiatan pembelajaran, diantaranya; 1) hasil<br />
A. Madlan<br />
belajar; dengan menganalisis nilai rata-rata<br />
ulangan harian. Kemudian dikatagorikan<br />
dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan<br />
rendah; 2) aktivitas siswa dalam proses<br />
pembelajaran: dengan menganalisis tingkat<br />
keaktifan siswa dalam PBM. Kemudian<br />
dikatagorikan dalam klasfikasi tinggi,<br />
sedang dan rendah; dan 3) implementasi<br />
tindakan dalam pembelajaran kontektual<br />
berbasis masalah: dengan menganalisis<br />
tingkat keberhasilannya, kemudian<br />
dikatagorikan dalam klasfikasi berhasil,<br />
kurang berhasil dan tidak berhasil.<br />
HASIL DAN PEMBAHASAN<br />
Suatu Kompetensi dianggap tuntas<br />
secara klasikal jika siswa yang mendapat<br />
nilai 65 lebih dari atau sama dengan 85%,<br />
sedangkan seorang siswa dinyatakan tuntas<br />
belajar pada pokok bahasan tertentu jika<br />
mendapat nilai minimal 65.<br />
Siklus I<br />
Tahap Perencanaan<br />
Tahap ini peneliti mempersiapkan<br />
perangkat pembelajaran yang terdiri dari<br />
rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1, dan<br />
alat-alat pengajaran yang mendukung.<br />
Selain itu juga dipersiapkan lembar<br />
observasi pengelolaan model pembelajaran<br />
Kontekstual Berbasis Masalah, dan lembar<br />
observasi aktivitas guru dan siswa.<br />
Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan<br />
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar<br />
untuk siklus I. Dalam hal ini peneliti<br />
bertindak sebagai pengajar. Adapun proses<br />
belajar mengajar mengacu pada rencana<br />
pelajaran yang telah dipersiapkan dilaksanakan<br />
pada tanggal 4 Maret 20012 di Kelas<br />
V jumlah siswa 22 siswa. Pengamatan<br />
(observasi) dilaksanakan bersamaan dengan<br />
pelaksanaan belajar mengajar.<br />
Pada akhir proses belajar mengajar<br />
siswa diberi tes formatif dengan tujuan<br />
21
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
untuk mengetahui tingkat keberhasilan<br />
siswa dalam proses belajar mengajar yang<br />
22<br />
telah dilakukan. Data hasil penelitian pada<br />
siklus I dapat dilihat pada tabel 1.<br />
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I<br />
No Uraian Hasil Siklus I<br />
1<br />
2<br />
3<br />
4<br />
Nilai rata-rata tes formatif<br />
Jumlah siswa yang sudah tuntas belajar<br />
Jumlah siswa yang belum tuntas belajar<br />
Persentase ketuntasan belajar<br />
Tabel di atas dapat dijelaskan bahwa<br />
dengan menerapkan pembelajaran model<br />
Kontekstual berbasis masalah diperoleh<br />
nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah<br />
70,00 dan ketuntasan belajar mencapai<br />
68,18% atau ada 15 siswa dari 22 siswa<br />
sudah tuntas belajar dan 7 anak yang masih<br />
belum tuntas belajar. Hasil tersebut<br />
menunjukkan bahwa pada siklus pertama<br />
secara klasikal siswa belum tuntas belajar,<br />
karena siswa yang memperoleh nilai 65<br />
hanya sebesar 68,18% lebih kecil dari<br />
persentase ketuntasan yang dikehendaki<br />
yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan<br />
karena siswa masih merasa baru dan belum<br />
mengerti apa yang dimaksudkan dan<br />
digunakan guru dengan menerapkan<br />
pembelajaran model Kontekstual berbasis<br />
masalah .<br />
Refleksi<br />
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar<br />
diperoleh informasi dari hasil pengamatan<br />
sebagai berikut; 1) guru kurang maksimal<br />
dalam memotivasi siswa dan dalam<br />
menyampaikan tujuan pembelajaran; 2)<br />
guru kurang maksimal dalam pengelolaan<br />
waktu; dan 3) siswa kurang aktif selama<br />
pembelajaran berlangsung.<br />
Revisi<br />
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar<br />
pada siklus I ini masih terdapat kekurangan,<br />
sehingga perlu adanya revisi untuk<br />
dilakukan pada siklus berikutnya; 1) guru<br />
perlu lebih terampil dalam memotivasi<br />
70,00<br />
15<br />
7<br />
68,18<br />
siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan<br />
tujuan pembelajaran. Siswa diajak untuk<br />
terlibat langsung dalam setiap kegiatan<br />
yang akan dilakukan; 2) guru perlu<br />
mendistribusikan waktu secara baik dengan<br />
menambahkan informasi-informasi yang<br />
dirasa perlu dan memberi catatan; dan 3)<br />
guru harus lebih terampil dan bersemangat<br />
dalam memotivasi siswa sehingga siswa<br />
bisa lebih antusias.<br />
Siklus <strong>II</strong><br />
Tahap Perencanaan<br />
Tahap ini peneliti mempersiapkan<br />
perangkat pembelajaran yang terdiri dari<br />
rencana pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan<br />
alat-alat pengajaran yang mendukung.<br />
Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan<br />
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar<br />
untuk siklus <strong>II</strong> dilaksanakan pada tanggal<br />
11 Maret 2011 di Kelas V dengan jumlah<br />
siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti<br />
bertindak sebagai pengajar. Proses belajar<br />
mengajar mengacu pada rencana pelajaran<br />
dengan memperhatikan revisi pada siklus I,<br />
sehingga kesalahan atau kekurangan pada<br />
siklus I tidak terulang lagi pada siklus <strong>II</strong>.<br />
Pengamatan (observasi) dilaksanakan<br />
bersamaan dengan pelaksanaan belajar<br />
mengajar.<br />
Pada akhir proses belajar mengajar<br />
siswa diberi tes formatif <strong>II</strong> dengan tujuan<br />
untuk mengetahui tingkat keberhasilan<br />
siswa dalam proses belajar mengajar yang
telah dilakukan. Instrumen yang digunakan<br />
adalah tes formatif <strong>II</strong>. Data hasil penelitian<br />
pada siklus <strong>II</strong> dapat dilihat pada table 2.<br />
Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus <strong>II</strong><br />
No Uraian Hasil Siklus <strong>II</strong><br />
1<br />
2<br />
3<br />
4<br />
Nilai rata-rata tes formatif<br />
Jumlah siswa yang sudah tuntas belajar<br />
Jumlah siswa yang belum tuntas belajar<br />
Persentase ketuntasan belajar<br />
Tabel di atas diperoleh nilai rata-rata<br />
prestasi belajar siswa adalah 77,73 dan<br />
ketuntasan belajar mencapai 79,01% atau<br />
ada 17 siswa dari 22 siswa sudah tuntas<br />
belajardan ada 5 anak yang belum tuntas<br />
belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada<br />
siklus <strong>II</strong> ini ketuntasan belajar secara<br />
klasikal telah mengalami peningkatan<br />
sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya<br />
peningkatan hasil belajar siswa ini karena<br />
setelah guru menginformasikan bahwa<br />
setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan<br />
tes sehingga pada pertemuan berikutnya<br />
siswa lebih termotivasi untuk belajar.<br />
Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti<br />
apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru<br />
dengan menerapkan pembelajaran model<br />
Kontekstual berbasis masalah .<br />
Refleksi<br />
Pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh<br />
informasi dari hasil pengamatan sebagai<br />
berikut; 1) memotivasi siswa; 2) membimbing<br />
siswa merumuskan kesimpulan/<br />
menemukan konsep; dan 3) pengelolaan<br />
waktu<br />
Revisi Rancangan<br />
Pelaksanaan kegiatan belajar pada<br />
siklus <strong>II</strong> ini masih terdapat kekurangankekurangan.<br />
Maka perlu adanya revisi<br />
untuk dilaksanakan pada siklus <strong>II</strong> antara<br />
lain; 1) guru dalam memotivasi siswa<br />
hendaknya dapat membuat siswa lebih<br />
termotivasi selama proses belajar mengajar<br />
77,73<br />
17<br />
5<br />
79,01<br />
A. Madlan<br />
berlangsung; 2) guru harus lebih dekat<br />
dengan siswa sehingga tidak ada perasaan<br />
takut dalam diri siswa baik untuk<br />
mengemukakan pendapat atau bertanya; 3)<br />
guru harus lebih sabar dalam membimbing<br />
siswa merumuskan kesimpulan/menemukan<br />
konsep; 4) guru harus mendistribusikan<br />
waktu secara baik sehingga kegiatan<br />
pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan<br />
yang diharapkan; dan 5) guru sebaiknya<br />
menambah lebih banyak contoh soal dan<br />
memberi soal-soal latihan pada siswa untuk<br />
dikerjakan pada setiap kegiatan belajar<br />
mengajar.<br />
Siklus <strong>II</strong>I<br />
Tahap Perencanaan<br />
Tahap ini peneliti mempersiapkan<br />
perangkat pembelajaran yang terdiri dari<br />
rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan<br />
alat-alat pengajaran yang mendukung.<br />
Tahap Kegiatan dan Pengamatan<br />
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar<br />
untuk siklus <strong>II</strong>I dksanakan pada tanggal 18<br />
Maret 2011 di Kelas V dengan jumlah<br />
siswa 22 siswa. Peneliti bertindak sebagai<br />
pengajar dalam kegiatan ini. Proses belajar<br />
mengajar mengacu pada rencana pelajaran<br />
dengan memperhatikan revisi pada siklus<br />
<strong>II</strong>, sehingga kesalahan atau kekurangan<br />
pada siklus <strong>II</strong> tidak terulang lagi pada siklus<br />
<strong>II</strong>I. Pengamatan (observasi) dilaksanakan<br />
bersamaan dengan pelaksanaan belajar<br />
mengajar.<br />
23
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
Pada akhir proses belajar mengajar<br />
siswa diberi tes formatif <strong>II</strong>I dengan tujuan<br />
untuk mengetahui tingkat keberhasilan<br />
siswa dalam proses belajar mengajar yang<br />
24<br />
Tabel 3. Hasil Formatif Siswa Pada Siklus <strong>II</strong>I<br />
telah dilakukan. Instrumen yang digunakan<br />
adalah tes formatif <strong>II</strong>I. Data hasil penelitian<br />
pada siklus <strong>II</strong>I dapat dilihat pada table 3.<br />
No Uraian Hasil Siklus <strong>II</strong>I<br />
1<br />
2<br />
3<br />
4<br />
Nilai rata-rata tes formatif<br />
Jumlah siswa yang sudah tuntas belajar<br />
Jumlah siswa yang belum tuntas belajar<br />
Persentase ketuntasan belajar<br />
Tabel di atas diperoleh nilai rata-rata<br />
tes formatif sebesar 82,73 dan dari 22 siswa<br />
telah tuntas sebanyak 19 siswa dan 3 siswa<br />
belum mencapai ketuntasan belajar. Secara<br />
klasikal ketuntasan belajar yang telah<br />
tercapai sebesar 86,36% (termasuk kategori<br />
tuntas). Hasil pada siklus <strong>II</strong>I ini mengalami<br />
peningkatan lebih baik dari siklus <strong>II</strong>.<br />
Adanya peningkatan hasil belajar pada<br />
siklus <strong>II</strong>I ini dipengaruhi oleh adanya<br />
peningkatan kemampuan guru dalam<br />
menerapkan pembelajaran model<br />
Kontekstual berbasis masalah sehingga<br />
siswa menjadi lebih terbiasa dengan<br />
pembelajaran seperti ini sehingga siswa<br />
lebih mudah dalam memahami materi yang<br />
telah diberikan.<br />
Refleksi<br />
Pada tahap ini akan dikaji apa yang<br />
telah terlaksana dengan baik maupun yang<br />
masih kurang baik dalam proses belajar<br />
mengajar dengan penerapan pembelajaran<br />
model Kontekstual berbasis masalah . Dari<br />
data-data yang telah diperoleh dapat<br />
diuraikan sebagai berikut; 1) selama proses<br />
belajar mengajar guru telah melaksanakan<br />
semua pembelajaran dengan baik. Meskipun<br />
ada beberapa aspek yang belum<br />
sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya<br />
untuk masing-masing aspek cukup besar; 2)<br />
berdasarkan data hasil pengamatan diketahui<br />
bahwa siswa aktif selama proses belajar<br />
berlangsung; 3) kekurangan pada siklussiklus<br />
sebelumnya sudah mengalami<br />
82,73<br />
19<br />
3<br />
86,36<br />
perbaikan dan peningkatan sehingga<br />
menjadi lebih baik; 4) hasil belajar siswa<br />
pada siklus <strong>II</strong>I mencapai ketuntasan.<br />
Revisi Pelaksanaan<br />
Pada siklus <strong>II</strong>I guru telah menerapkan<br />
pembelajaran model Kontekstual berbasis<br />
masalah dengan baik dan dilihat dari<br />
aktivitas siswa serta hasil belajar siswa<br />
pelaksanaan proses belajar mengajar sudah<br />
berjalan dengan baik. Oleh karena itu, tidak<br />
diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang<br />
perlu diperhatikan untuk tindakan<br />
selanjutnya adalah memaksimalkan dan<br />
mempertahankan apa yang telah ada dengan<br />
tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar<br />
mengajar selanjutnya penerapan model<br />
pengajaran kontekstual berbasis masalah<br />
dapat meningkatkan proses belajar<br />
mengajar sehingga tujuan pembelajaran<br />
dapat tercapai.<br />
Melalui hasil penelitian ini menunjukkan<br />
bahwa pembelajaran model Kontekstual<br />
berbasis masalah memiliki dampak<br />
positif dalam meningkatkan prestasi belajar<br />
siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin<br />
mantapnya pemahaman siswa terhadap<br />
materi yang disampaikan guru (ketuntasan<br />
belajar meningkat dari siklus I, <strong>II</strong>, dan <strong>II</strong>I)<br />
yaitu masing-masing 68,18%, 79,01%, dan<br />
86,36%. Pada siklus <strong>II</strong>I ketuntasan belajar<br />
siswa secara klasikal telah tercapai.<br />
Berdasarkan analisis data, diperoleh<br />
aktivitas siswa dalam proses belajar
mengajar dengan menerapkan model<br />
pengajaran kontekstual berbasis masalah<br />
dalam setiap siklus mengalami peningkatan.<br />
Hal ini berdampak positif terhadap prestasi<br />
belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan<br />
dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa<br />
pad setiap siklus yang terus mengalami<br />
peningkatan.<br />
Analisis data, diperoleh aktivitas siswa<br />
dalam proses pembelajaran Pendidikan<br />
Agama Islam pada pokok bahasan kisah<br />
sahabat nabi dan meneladani prilakunya<br />
dengan model pengajaran kontekstual<br />
berbasis masalah yang paling dominan<br />
adalah, mendengarkan/ memperhatikan<br />
penjelasan guru, dan diskusi antar<br />
siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat<br />
dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat<br />
dikategorikan aktif.<br />
Aktivitas guru selama pembelajaran<br />
telah melaksanakan langkah-langkah kegiatan<br />
dengan menerapkan pembelajaran<br />
konstekstual berbasis masalah dengan baik.<br />
Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang<br />
muncul di antaranya aktivitas membimbing<br />
dan mengamati siswa dalam menemukan<br />
konsep, menjelaskan materi yang sulit,<br />
memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab<br />
dimana prosentase untuk aktivitas di atas<br />
cukup besar.<br />
SIMPULAN<br />
Hasil analisis dan pembahasan dalam<br />
Penelitian Tindakan Kelas ini dapat<br />
disimpulkan; 1) model pembelajaran<br />
kontekstual berbasis masalah dapat meningkatkan<br />
kualitas pembelajaran Pendidikan<br />
Agama Islam dan memiliki dampak positif<br />
dalam meningkatkan prestasi belajar siswa<br />
yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan<br />
belajar dalam setiap siklus,yaitu<br />
siklus I 68,18%, siklus <strong>II</strong> 79,01%, dan<br />
siklus <strong>II</strong>I 86,36%; 2) pembelajaran<br />
kontekstual berbasis masalah dapat menjadikan<br />
siswa dirinya mendapat perhatian dan<br />
kesempatan untuk menyampaikan pendapat,<br />
gagasan, ide, dan pertanyaan serta dapat<br />
bekerja secara mandiri maupun kelompok<br />
A. Madlan<br />
dan mampu mempertanggungkan segala<br />
tugas individu maupun kelompok.<br />
SARAN<br />
Sehubungan dengan simpulan diatas,<br />
ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,<br />
yaitu: (1) untuk melaksanakan pembelajaran<br />
kontekstual berbasis masalah perlu<br />
persiapan yang matang agar dalam proses<br />
pembelajaran menghasilkan yang optimal;<br />
(2) dalam rangka meningkatkan prestasi<br />
belajar siswa, guru hendaknya lebih sering<br />
melatih siswa dengan berbagai metode<br />
pengajaran walaupun dalam taraf sederhana;<br />
(3) untuk penelitian serupa sebagai<br />
kelanjutan masih perlu berbaikan-perbaikan<br />
agar diperoleh hasil yang lebih baik.<br />
DAFTAR RUJUKAN<br />
Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses<br />
Belajar Mengajar. Bandung: Sinar<br />
Baru Algesindon.<br />
Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-dasar<br />
Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi<br />
Aksara.<br />
---------------------------. 2002. Prosedur<br />
Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.<br />
Jakarta: Rineksa Cipta.<br />
Azhar, Lalu Muhammad. 1993. Proses<br />
Belajar Mengajar Pendidikan. Jakarta:<br />
Usaha Nasional.<br />
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi<br />
Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa<br />
Cipt<br />
Hadi, Sutrisno. 1982. Metodologi Research,<br />
Jilid 1. Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi<br />
UGM.<br />
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar<br />
dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru<br />
Algesindo.<br />
Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar<br />
Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.<br />
25
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
Sukidin, dkk. 2002. Manajemen Penelitian<br />
Tindakan Kelas. Surabaya: Insan<br />
Cendekia.<br />
26<br />
Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru<br />
Profesional. Bandung: Remaja<br />
Rosdakarya.
IMPLEMENTASI METODE TUTOR SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN<br />
PARTISIPASI SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS-EKONOMI<br />
DI SMP NEGERI 2 BENJENG-GRESIK<br />
Supriyono<br />
SMP Negeri 2 Menganti Gresik<br />
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan partisipasi siswa<br />
pada pembelajaran IPS-Ekonomi melalui implementasi metode tutor sebaya.<br />
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam tiga siklus terhadap 34 orang siswa.<br />
Teknik pengumpulan data melalui observasi oleh guru dan kolaborator, dan<br />
analisis data dilakukan secara deskriptif dengan teknik persentase. Tingkat<br />
partisipasi siswa dinyatakan dengan kategori tinggi, sedang, atau rendah,<br />
sedangkan keberhasilan tutor sebaya dinyatakan dengan berhasil, kurang berhasil,<br />
atau tidak berhasil. Hasil penelitian, antara lain; 1) keterlibatan siswa secara aktif<br />
dalam proses pembelajaran berkategori tinggi, karena telah mencapai kriteria yang<br />
ditetapkan, yakni 100% siswa terlibat aktif; 2) frekuensi siswa yang bertanya<br />
berkategori tinggi, karena kriteria yang ditetapkan, yakni 76%, sedangkan kriteria<br />
75%; 3) siswa yang mampu mengajukan pendapat berkategori sedang, karena<br />
belum mencapai kriteria yang ditetapkan meskipun belum memenuhi kriteria yang<br />
ditetapkan, tetapi dari segi kuantitas mengalami peningkatan; 4) siswa yang<br />
mampu menjawab pertanyaan berkategori tinggi, karena melampaui kriteria yang<br />
ditetapkan yakni 83%, sedangkan kriterianya 80%; dan 5) kinerja kelompok<br />
berkategori tinggi, karena sangat kompak dan dapat menyelesaikan tugas tepat<br />
waktu. Dengan demikian implementasi metode tutor sebaya berhasil<br />
meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran IPS-Ekonomi kompetensi<br />
dasar berbagai bentuk pasar dalam kegiatan ekonomi masyarakat di kelas V<strong>II</strong>I-D<br />
semester 1 SMP Negeri 2 Benjeng Gresik Tahun Pelajaran 2010-2011.<br />
Kata kunci : prestasi belajar, partisipasi siswa, metode tutor sebaya.<br />
S<br />
alah satu regulasi peningkatan mutu<br />
pendidikan di Indonesia adalah<br />
diberlakukannya kurikulum nasional<br />
yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan<br />
yang disingkat dengan istilah KTSP.<br />
Implementasi di sekolah menuntut para<br />
guru dan siswa untuk lebih kreatif dan<br />
memiliki inovasi dalam pelaksanaan pembelajaran<br />
di kelas. KTSP lebih menekankan<br />
pada pencapaian kompetensi siswa, hal ini<br />
berarti dalam pembelajaran IPS-Ekonomi<br />
berpusat kepada siswa (student oriented)<br />
dan bukan lagi bersumber atau berpusat<br />
pada guru saja (teacher oriented).<br />
Karakteristik pembelajaran IPS-Ekonomi<br />
lebih menekankan pada membangun<br />
atau mengkontruksi pengetahuan tentang<br />
konsep yang dibahas. Proses mengkontruksi<br />
pengetahuan ini memerlukan kreatifitas<br />
guru untuk menciptakan ”PAIKEM-<br />
GEMBROT” (pembelajaran aktif, inovatif,<br />
kreatif, menyenangkan, gembira dan<br />
berbobot) sehingga siswa dapat berpartisipasi<br />
aktif yang pada akhirnya mereka<br />
memiliki pengalaman belajar belajar yang<br />
bermakna dan menyenangkan, sedangkan<br />
guru berperan sebagai fasilitator dan<br />
motivator.<br />
Fakta empirik yang ditemukan oleh<br />
penulis melalui kegiatan penelitian tindakan<br />
kelas (observasi), pembelajaran yang terjadi<br />
monoton sehingga siswa terlihat jenuh
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
karena kurang diberdayakan. Siswa<br />
diperlakukan sebagai objek yang harus<br />
duduk manis memperhatikan guru yang<br />
sedang menerangkan. Selain itu pembelajaran<br />
yang berlangsung seolah-olah hanya<br />
28<br />
untuk sekelompok tertentu. Berikut ini data<br />
proses pembelajaran IPS-Ekonomi di kelas<br />
V<strong>II</strong>I-D SMP Negeri 2 Benjeng-Gresik.<br />
Tabel 1. Kondisi Pembelajaran Siswa Kelas V<strong>II</strong>I SMP Negeri 2 Benjeng-Gresik<br />
Proses<br />
Pembelajaran<br />
Pemberdayaan<br />
siswa pandai<br />
Kelas<br />
V<strong>II</strong>I-A V<strong>II</strong>I-B V<strong>II</strong>I-C V<strong>II</strong>I-D V<strong>II</strong>I-E<br />
Belum Belum Belum Belum Belum<br />
Metode Bervariasi Ya Ya Ya Ya Ya<br />
Partisipasi Siswa Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah<br />
Uraian di atas tersebut sangat menarik<br />
perhatian penulis untuk melakukan suatu<br />
penelitian tindakan kelas, dengan menerapkan<br />
pembelajaran tutor sebaya dalam<br />
rangka meningkatkan partisipasi siswa<br />
selama proses pembelajaran untuk<br />
kompetensi dasar berbagai bentuk pasar<br />
dalam kegiatan ekonomi masyarakat pada<br />
mata pelajaran IPS-Ekonomi di kelas V<strong>II</strong>I-<br />
D SMP Negeri 2 Benjeng-Gresik.<br />
Berdasarkan latar belakang masalah di<br />
atas, maka dapat diidentifikasi masalah<br />
sebagai berikut; 1) rendahnya partisipasi<br />
siswa dalam proses pembelajaran; 2) siswa<br />
masih dianggap objek belajar yang tidak<br />
memiliki potensi atau pengetahuan; 3)<br />
rendahnya kepedulian siswa kelompok<br />
pandai (tinggi) terhadap siswa kelompok<br />
rendah; 4) siswa kelompok rendah merasa<br />
kurang mendapat perhatian baik dari guru<br />
maupun dari teman sebayanya.<br />
Batasan masalah dalam penelitian ini<br />
adalah sebagai berikut; 1) proses pembelajaran<br />
IPS-Ekonomi dengan metode tutor<br />
sebaya untuk meningkatkan partisipasi pada<br />
pembelajaran IPS-Ekonomi dilaksanakan di<br />
kelas V<strong>II</strong>I-D SMP Negeri 2 Benjeng-Gresik<br />
semester 1 (ganjil) tahun pelajaran 2010-<br />
2011; 2) Kompetensi Dasar yang diajarkan<br />
adalah berbagai bentuk pasar dalam<br />
kegiatan ekonomi masyarakat.<br />
Berdasarkan latar belakang dan<br />
identifikasi masalah tersebut di atas, maka<br />
rumusan masalah dalam penelitian tindakan<br />
kelas ini adalah; apakah dengan metode<br />
tutor sebaya dapat meningkatkan partisipasi<br />
siswa dalam pembelajaran IPS-Ekonomi di<br />
kelas V<strong>II</strong>I-D SMP Negeri 2 Benjeng-<br />
Gresik? ”<br />
METODE<br />
Penelitian ini merupakan penelitian<br />
tindakan (action research), karena penelitian<br />
dilakukan untuk memecahkan masalah<br />
pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga<br />
termasuk penelitian deskriptif, sebab<br />
menggambarkan bagaimana suatu teknik<br />
pembelajaran diterapkan dan bagaimana<br />
hasil yang diinginkan dapat dicapai.<br />
Sesuai dengan jenis penelitian yang<br />
dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka<br />
penelitian ini menggunakan model penelitian<br />
tindakan dari Kemmis dan Taggart<br />
(dalam Arikunto, Suharismi, 2002: 83),<br />
yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu<br />
ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus<br />
meliputi planning (rencana), action<br />
(tindakan), observation (pengamatan), dan<br />
reflection (refleksi). Langkah pada siklus<br />
berikutnya adalah perencanaan yang sudah<br />
direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi.<br />
Sebelum masuk pada siklus I dilakukan
tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi<br />
permasalahan. Siklus spiral dari<br />
Siklus 1<br />
Siklus 2<br />
Siklus 3<br />
Mengacu dari uraian yang disampaikan<br />
oleh Suharsimi Arikunto (2006 : 24) yang<br />
menjadi obyek tindakan dalam penelitian<br />
ini terdiri dari beberapa unsur, antara lain;<br />
(1) unsur siswa; yang diamati adalah respon<br />
dan partisipasi terhadap penerapan pembelajaran<br />
dengan metode tutor sebaya; (2)<br />
unsur guru; yang diamati adalah keterampilan<br />
guru dalam menggunakan model<br />
pembelajaran dengan metode tutor sebaya;<br />
dan (3) unsur materi; yang diamati<br />
kesesuaian penyusunan bahan ajar dengan<br />
kurikulum.<br />
Metode yang dilakukan dalam penelitian<br />
ini adalah metode penelitian tindakan<br />
kelas model Kurt Lewin dan terdiri dari tiga<br />
siklus yang setiap siklusnya terdiri dari<br />
empat tahap (Suharsimi arikunto, 2006: 16),<br />
yaitu: Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan,<br />
dan Refleksi.<br />
Gambar 3.1 Alur PTK<br />
Refleksi<br />
Tindakan/Ob<br />
servasi<br />
Refleksi<br />
Tindakan/<br />
Observasi<br />
Refleksi<br />
Tindakan/<br />
Observasi<br />
Supriyono<br />
tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat<br />
dilihat pada gambar berikut:<br />
Rencana awal/rancangan<br />
Rencana awal/rancangan<br />
Rencana awal/rancangan<br />
Observasi dibagi dalam tiga putaran,<br />
yaitu putaran 1, 2, dan 3, dimana masing<br />
putaran dikenai perlakuan yang sama (alur<br />
kegiatan yang sama) dan membahas satu<br />
sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes<br />
formatif di akhir masing putaran. Dibuat<br />
dalam tiga putaran dimaksudkan untuk<br />
memperbaiki sistem pengajaran yang telah<br />
dilaksanakan.<br />
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan<br />
di SMP Negeri 2 Benjeng, Jl. Raya<br />
<strong>Des</strong>a Balongmojo No.01 Kecamatan<br />
Benjeng Kabupaten Gresik untuk mata<br />
pelajaran IPS-Ekonomi. Penelitian ini<br />
dilakukan selama 4 (empat) bulan, yaitu<br />
mulai bulan September sampai bulan <strong>Des</strong>ember<br />
2010. Penentuan waktu penelitian<br />
mengacu pada kalender akademik sekolah<br />
atau kalender pendidikan, karena PTK<br />
memerlukan beberapa siklus yang<br />
29
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
membutuhkan proses belajar mengajar yang<br />
efektif di kelas.<br />
Metode dan Alat Pengumpulan Data<br />
Teknik pengumpulan data dalam<br />
penelitian tindakan kelas ini adalah<br />
observasi; hasilnya dipergunakan untuk<br />
memperoleh data tentang aktivitas belajar<br />
siswa. Sedangkan alat pengumpulan data<br />
berupa instrumen yaitu : lembar observasi<br />
untuk mengukur tingkat aktivitas atau<br />
partisipasi siswa dalam pembelajaran IPS-<br />
Ekonomi.<br />
Metode Analisis Data<br />
Data yang diperoleh pada setiap<br />
kegiatan observasi dari setiap siklus,<br />
dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan<br />
teknik persentase untuk melihat<br />
kecenderungan yang terjadi dalam proses<br />
pembelajaran. Kegiatan analisis meliputi;<br />
(1) tingkat partisipasi atau keaktifan siswa<br />
dalam proses pembelajaran, dengan<br />
kategori tinggi, sedang, dan rendah; (2)<br />
hasil belajar siswa berupa nilai ulangan<br />
harian untuk kompetensi dasar : berbagai<br />
bentuk pasar dalam kegiatan ekonomi<br />
masyarakat; dan (3) tingkat keberhasilan<br />
metode tutor sebaya, dengan kategori<br />
berhasil, kurang berhasil, dan tidak<br />
berhasil.<br />
Cara Mengambil Kesimpulan<br />
Cara pengambilan kesimpulan pada<br />
penelitian tindakan kelas ini yaitu dengan<br />
merangkum hasil tes, hasil penyebaran<br />
angket, dan hasil observasi siklus I, siklus<br />
<strong>II</strong>, dan siklus <strong>II</strong>I. Selanjutnya menyusun,<br />
mengolah, dan menyajikannya sesuai<br />
dengan kaidah-kaidah ilmiah sehingga<br />
menjadi data yang bermakna. Berdasarkan<br />
data yang sudah bermakna dan mudah<br />
untuk dibaca selanjutnya dapat disimpulkan<br />
pelaksanaan penelitian tindakan kelas<br />
berhasil atau tidak berhasil dengan<br />
30<br />
mengacu kepada indikator keberhasilan<br />
yang telah ditentukan.<br />
HASIL<br />
Setting Penelitian<br />
SMP Negeri 2 Benjeng adalah salah<br />
satu sekolah negeri yang berada dibawah<br />
Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik yang<br />
beralamatkan di Jalan Arif Rahman Hakim<br />
No.2 Gresik sedangkan SMP Negeri 2<br />
Benjeng sendiri beralamatkan di Jalan Raya<br />
<strong>Des</strong>a Balongmojo No.01 Telp. (031)<br />
7823290 kecamatan Benjeng kabupaten<br />
Gresik berdiri pada tanggal 21 April 1997,<br />
yang mempunyai lahan seluas ± 7000 meter<br />
persegi dengan bagunan berlntai satu dan<br />
berlantai dua yang terdiri 18 kelas dengan<br />
jumlah siswa 540 orang yang diasuh oleh<br />
40 guru termasuk peneliti. Sebagai obyek<br />
penelitian ini adalah siswa kelas V<strong>II</strong>I-D<br />
yang berjumlah 34 orang. Sekolah tersebut<br />
dipilih sebagai tempat penelitian karena<br />
SMP Negeri 2 Benjeng merupakan tempat<br />
bertugas peneliti sehingga diyakini peneliti<br />
mengetahui dengan baik kondisi siswa<br />
tersebut.<br />
Uraian Penelitian Secara Umum<br />
/Keseluruhan<br />
<strong>Des</strong>ain penelitian terdiri dari 3 siklus<br />
secara berulang yang meliputi siklus I,<br />
siklus <strong>II</strong>, dan siklus <strong>II</strong>I. Setiap siklus dalam<br />
penelitian ini meliputi empat tahap<br />
sebagaimana yang dikemukakan Suharsimi<br />
Arikunto, Suhargjono, dan Supardi (2006:<br />
16), sebagai berikut: (1) perencanaan<br />
(planning), (2) pelaksanaan (acting), (3)<br />
pengamatan (observing), dan (4) refleksi<br />
(reflecting). Hasil refleksi dijadikan dasar<br />
untuk menentukan keputusan perbaikan<br />
pada siklus berikutnya.<br />
Adapun langkah-langkah tindakan<br />
yang ditempuh dalam penelitian ini<br />
sebagaimana yang diutarakan oleh<br />
Suharsimi Arikunto (2006 :16) yaitu :<br />
Siklus I
Tahap Perencanaan:<br />
(1) Peneliti menganalisis standar kompetensi<br />
(SK) 4, dan kompetensi dasar (KD)<br />
4.3; (2) membuat recana pelaksanaan pembelajaran<br />
(RPP) yang akan dilaksanakan<br />
dengan metode tutor sebaya; (3) membuat<br />
Lembar Kerja Siswa; (4) membuat alat<br />
evaluasi; dan (5) membuat instrumen<br />
penelitian.<br />
Tahap Pelaksanaan:<br />
(1) Siswa dibagi menjadi 8 kelompok;<br />
(2) memberi penjelasan teknis dan alur<br />
pembelajaran; (3) setiap kelompok diberikan<br />
materi yang harus dibahas; (4) selama<br />
kerja atau diskusi kelompok, guru<br />
berkeliling melakukan penilaian dan<br />
bimbingan seperlunya; (5) perwakilan<br />
siswa dari kelompok yang sudah siap,<br />
mempresentasikan hasil kerja kelompoknya,<br />
dan siswa lain memberi tanggapan;<br />
(6) penguatan dan menyimpulkan materi<br />
yang dibahas secara bersama-sama; dan (7)<br />
guru dan kolaborator melakukan observasi.<br />
Tahap Pengamatan:<br />
Hal-hal yang akan diamati adalah; (1)<br />
aktivitas atau partisipasi siswa selama<br />
pembelajaran baik dalam kerja kelompok<br />
maupun pada saat presentase (pleno); (2)<br />
kemampuan siswa mengutarakan pendapat,<br />
idea, atau gagasan; (3) kemampuan<br />
bertanya baik di kelompok maupun pada<br />
saat pleno; (4) kemampuan siswa dalam<br />
menjawab pertanyaan atau kuis; dan (5)<br />
ketepatan waktu dalam kerja kelompok.<br />
Tahap Refleksi:<br />
Keberhasilan dalam penelitian ini<br />
diperlihatkan antara lain; (1) 100% dari<br />
jumlah siswa terlibat aktif dalam membahas<br />
materi pelajaran; (2) 75% siswa mampu<br />
menyampaikan pendapat tentang materi<br />
yang sedang dibahas; (3) 75% siswa berani<br />
bertanya atau memberikan tanggapan<br />
terhadap presentase yang disampaikan; (4)<br />
Supriyono<br />
80% siswa dapat menjawab pertanyaan dari<br />
guru atau teman sebayanya; (5)<br />
Menyelesaikan tugas kelompok tepat waktu<br />
yang ditentukan 100%; dan (6) Rata-rata<br />
tingkat partisipasi siswa dalam proses<br />
pembelajaran di kelas mencapai 80%.<br />
Siklus <strong>II</strong><br />
Tahap Perencanaan:<br />
Peneliti membuat perencanaan<br />
tindakan berdasarkan hasil refleksi pada<br />
siklus pertama<br />
Tahap Pelaksanaan:<br />
Pelaksanaan pembelajaran`tetap menggunakan<br />
metode tutor sebaya dan<br />
berdasarkan hasil refleksi pada siklus<br />
pertama.<br />
Tahap Pengamatan:<br />
Peneliti melakukan pengamatan lebih<br />
tajam terhadap partisipasi siswa dalam<br />
pembelajaran dengan memperhatikan hasil<br />
refleksi pada siklus pertama.<br />
Tahap Refleksi :<br />
Melaksanakan refleksi terhadap pelaksanaan<br />
pembelajaran dan hasil pengamatan<br />
pada siklus pertama.<br />
Siklus <strong>II</strong>I<br />
Tahap Perencanaan:<br />
Peneliti membuat perencanaan<br />
tindakan berdasarkan hasil refleksi pada<br />
siklus kedua.<br />
Tahap Pelaksanaan:<br />
Pelaksanaan pembelajaran`tetap menggunakan<br />
metode tutor sebaya dan<br />
berdasarkan hasil refleksi pada siklus<br />
kedua.<br />
31
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
Tahap Pengamatan:<br />
Peneliti melakukan pengamatan lebih<br />
tajam terhadap partisipasi siswa dalam<br />
pembe-lajaran dengan memperhatikan hasil<br />
refleksi pada siklus kedua.<br />
Tahap Refleksi:<br />
Melaksanakan refleksi terhadap pelaksanaan<br />
pembelajaran dan hasil pengamatan<br />
pada siklus kedua.<br />
Penjelasan Per Siklus<br />
Penelitian Siklus I<br />
Tahap Perencanaan<br />
Siklus I dilaksanakan selama dua kali<br />
pertemuan yaitu tanggal 7 September dan<br />
14 September 2010, kompetensi dasar (KD)<br />
yang dipelajari adalah KD.4.3 dengan<br />
materi pokok yang dibahas pada pertemuan<br />
ke-1 adalah mendeskripsikan berbagai<br />
bentuk pasar dalam kegiatan ekonomi<br />
masyarakat, dan pada pertemuan ke-2<br />
KD.4.3 mendeskripsikan berbagai bentuk<br />
pasar dalam kegiatan ekonomi masyarakat.<br />
Untuk efektivitas pembelajaran telah dibuat<br />
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).<br />
Siklus pertama yang dilaksanakan dua<br />
kali pertemuan ini, dihadiri oleh 32 orang<br />
siswa, dan satu observer sebagai<br />
kolaborator. Dengan kreteria keberhasilan<br />
siswa yang ditetapkan bila 100% dari<br />
jumlah siswa terlibat aktif dalam membahas<br />
materi pelajaran, 75% siswa mampu<br />
menyampaikan pendapat tentang materi<br />
yang sedang dibahas, 75% siswa berani<br />
bertanya 80% siswa mampu menjawab<br />
pertanyaan, dan 100% penyelesaian tugas<br />
kelompok tepat waktu, sehingga rata-rata<br />
partisipasi siswa dalam pembelajaran<br />
diharapkan mencapai 86%.<br />
Tahap Pelaksanaan<br />
Siklus pertama dilaksanakan sesuai dengan<br />
rencana, yaitu dua kali pertemuan; yaitu<br />
tanggal 7 September dan 14 September<br />
32<br />
2010. Pada pertemuan ke-1 jumlah siswa<br />
yang hadir 32 orang dari 34 orang siswa<br />
yang terdaftar pada kelas V<strong>II</strong>I-D, 2 orang<br />
siswa tidak hadir dikarenakan sakit dan<br />
alasan lain (pergi), sedangkan pada<br />
pertemuan kedua seluruh siswa 34 hadir,<br />
dan observer sebagai kolaborator yang<br />
hadir satu orang.<br />
Pada siklus ini proses pembelajaran<br />
berlangsung berdasarkan rencana<br />
pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah<br />
ditetapkan. Pertemuan ke-1 membahas<br />
berbagai bentuk pasar dalam kegiatan<br />
ekonomi masyarakat.<br />
Pada proses pembahasan diawali dengan<br />
penjelasan teknis oleh guru sekitar 5 menit,<br />
dipadu oleh masing-masing tutor sebaya<br />
pada tiap-tiap kelompok selama 20 menit,<br />
presentase kelompok selama 40 menit, dan<br />
15 menit terakhir digunakan untuk<br />
menyimpulkan hasil temuan dan refleksi<br />
terhadap proses pembelajaran yang telah<br />
dilaksanakan.<br />
Sedangkan pertemuan ke-2 pada siklus<br />
pertama ini, proses pembelajaran<br />
mendeskripsikan atau menganalisis<br />
berbagai bentuk pasar dalam kegiatan<br />
ekonomi masyarakat. Pada proses<br />
selanjutnya guru memberikan penjelasan<br />
teknis pada tutor sebaya untuk disampaikan<br />
pada kelompok masing-masing dengan<br />
waktu yang tersedia. Kegiatan terakhir<br />
refleksi terhadap proses pembelajaran yang<br />
telah dilaksanakan.<br />
Tahap Pengamatan<br />
Selama proses pembelajaran berlangsung<br />
guru dan kolaborator melakukan penilaian<br />
proses dan pengamatan terhadap kinerja<br />
kelompok, maupun pada saat pleno dengan<br />
menggunakan lembar observasi yang telah<br />
disediakan.<br />
Aspek partisipasi siswa yang diamati<br />
selama proses pembelajaran berlangsung<br />
meliputi; (1) kinerja kelompok; terlibat<br />
aktif, dan ketepatan waktu; (2) kegiatan
pleno : mengajukan pendapat, bertanya, dan<br />
menjawab pertanyaan.<br />
Supriyono<br />
Data hasil pengamatan terhadap proses<br />
pembelajaran pada siklus ini adalah sebagai<br />
berikut :<br />
Tabel 2. Hasil Pengamatan Pada Siklus I Pertemuan ke-1<br />
Banyak Siswa dan Aspek Yang Diamati<br />
No. Kelompok Terlibat Mengajukan<br />
Bertanya<br />
Aktif Pendapat<br />
Menjawab<br />
Pertanyaan<br />
Tepat<br />
Waktu<br />
1 Pasar Tradisional 2 2 1 2 YA<br />
2 Pasar Kongkrit 2 2 1 1 -<br />
3 Pasar Abstrak 2 2 1 1 -<br />
4 Pasar Nasional<br />
Pasar<br />
3 2 2 1 -<br />
5 Internasional 2 2 2 1 -<br />
6 Pasar Monopoli 2 2 1 1 -<br />
7 Pasar Oligopoli 3 1 2 2 YA<br />
8 Pasar Mingguan 2 2 1 2 -<br />
Jumlah 18 15 11 11 2<br />
Presentase 53% 44% 32% 32% 25%<br />
Tabel 3. Hasil Pengamatan Pada Siklus I Pertemuan ke-2<br />
Banyak Siswa dan Aspek Yang Diamati<br />
No. Kelompok Terlibat Mengajukan<br />
Bertanya<br />
Aktif Pendapat<br />
Menjawab<br />
Pertanyaan<br />
Tepat<br />
Waktu<br />
1 Pasar Tradisional 3 3 2 2 Ya<br />
2 Pasar Kongkrit 3 3 2 2 Ya<br />
3 Pasar Abstrak 4 3 2 3 Ya<br />
4 Pasar Nasional<br />
Pasar<br />
4 3 2 2 -<br />
5 Internasional 2 3 2 2 -<br />
6 Pasar Monopoli 2 2 2 2 -<br />
7 Pasar Oligopoli 3 2 2 3 Ya<br />
8 Pasar Mingguan 3 2 2 2 Ya<br />
Jumlah 24 21 16 18 5<br />
Presentase 65% 57% 43% 49% 62%<br />
Data tersebut di atas menunjukkan bahwa<br />
pada pertemuan ke-1 tingkat partisipasi<br />
siswa rata-rata dalam proses pembelajaran<br />
adalah 37,2%, dan pada pertemuan ke-2<br />
tingkat partisipasi siswa mengalami<br />
kemajuan yakni 55,2%.<br />
Data ini menunjukkan bahwa tingkat<br />
partisipasi siswa pada siklus pertama<br />
pertemuan ke-1 dan ke-2 diperoleh rata-rata<br />
46,2%, dengan konsentrasi siswa yang<br />
terlibat aktif 59%, yang bertanya 50,5%,<br />
yang mengajukan pendapat 37,5%, yang<br />
menjawab pertanyaan 40,5%, dan kinerja<br />
kelompok yang tepat waktu rata-rata<br />
43,5%.<br />
33
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
Tahap Refleksi<br />
Berdasarkan data hasil pengamatan<br />
terhadap pelaksanaan proses pembelajaran<br />
pada siklus ini, terdapat temuan-temuan<br />
sebagai berikut; (1)Tingkat partisipasi<br />
siswa masih rendah, karena siswa belum<br />
terbiasa belajar dengan tutor sebayanya, dan<br />
siswa menjadi tutor masih belum percaya<br />
diri; (2) Pekerjaan kelompok masih belum<br />
dapat menyesuaikan dengan waktu yang<br />
tersedia, karena waktu ditentukan oleh guru<br />
dan beban tugas terlalu berat.<br />
Penelitian Siklus <strong>II</strong><br />
Tahap Perencanaan<br />
Siklus kedua dilaksanakan tanggal 12<br />
Oktober 2010, dengan banyak siswa 34<br />
orang dan kolaborator satu orang. Rencana<br />
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang<br />
digunakan adalah untuk pertemuan ke-3<br />
dan kreteria keberhasilan seperti yang<br />
ditetapkan pada siklus pertama.<br />
Tindakan yang dilakukan pada siklus<br />
kedua ini ditetapkan berdasarkan hasil<br />
refleksi pada siklus pertama yaitu; (1)<br />
metode tutor sebaya tetap dilaksanakan<br />
dengan fokus: siswa yang belum aktif<br />
diberi stimulus (misalnya diberi tugas oleh<br />
tutor untuk menjawab pertanyaan atau<br />
menyampaikan pendapatnya), dan tutor<br />
diberi pemantapan penguasaan materi di<br />
luar jam pelajaran agar mereka lebih<br />
percaya diri; (2) beban tugas kelompok dan<br />
waktu untuk menyelesaikan tugas<br />
ditetapkan berdasarkan musyawarah<br />
(koordinasi dengan siswa).<br />
34<br />
Tahap Pelaksanaan<br />
Pada siklus ini proses pembelajaran<br />
berlangsung berdasarkan rencana pelaksanaan<br />
pembelajaran (RPP) yang telah<br />
ditetapkan, yakni mendeskripsikan berbagai<br />
bentuk pasar dalam kegiatan ekonomi<br />
masyarakat pada soal-soal pemahaman<br />
konsep, soal-soal penalaran, dan soal<br />
komunikasi.<br />
Proses pembelajaran diawali dengan<br />
penjelasan teknis oleh guru sekitar 5 menit,<br />
membahas soal-soal yang dipandu oleh<br />
masing-masing tutor pada setiap kelompok<br />
selama 30 menit, presentase kelompok<br />
selama 35 menit, dan 10 menit terakhir<br />
digunakan untuk membuat rangkuman dan<br />
refleksi terhadap proses pembelajaran yang<br />
baru saja dilakukan.<br />
Tahap Pengamatan<br />
Tabel 4. Hasil Pengamatan pada Siklus <strong>II</strong><br />
Pengamatan terhadap proses<br />
pembelajaran yang berlangsung dilakukan<br />
oleh guru dan kolaborator. Instrumen yang<br />
digunakan berupa lembar observasi yang<br />
telah disediakan seperti pada siklus<br />
pertama. Aspek partisipasi siswa yang<br />
diamati selama proses pembelajaran<br />
berlangsung sama dengan pada siklus<br />
pertama yaitu kinerja kelompok (terlibat<br />
aktif, dan ketepatan waktu) dan kegiatan<br />
pleno (selama proses berlangsung guru dan<br />
kolaborator melakukan penilaian proses dan<br />
mengajukan pendapat, bertanya, dan<br />
menjawab pertanyaan).<br />
Data hasil pengamatan terhadap proses<br />
pembelajaran pada siklus ini adalah sebagai<br />
berikut.<br />
Banyak Siswa dan Aspek Yang Diamati<br />
No. Kelompok Terlibat<br />
Aktif<br />
Mengajukan<br />
Bertanya<br />
Pendapat<br />
Menjawab Tepat<br />
Pertanyaan Waktu<br />
1 Pasar Tradisional 4 3 3 3 Ya<br />
2 Pasar Kongkrit 3 3 3 2 Ya<br />
3 Pasar Abstrak 3 2 3 3 Ya<br />
4 Pasar Nasional 3 2 2 3 Ya<br />
5 Pasar 3 3 2 2 Ya
Banyak Siswa dan Aspek Yang Diamati<br />
No. Kelompok<br />
Internasional<br />
Terlibat<br />
Aktif<br />
Mengajukan<br />
Bertanya<br />
Pendapat<br />
Menjawab Tepat<br />
Pertanyaan Waktu<br />
6 Pasar Monopoli 3 2 2 2 Ya<br />
7 Pasar Oligopoli 3 3 3 3 Ya<br />
8 Pasar Mingguan 4 2 2 3 Ya<br />
Jumlah 26 20 20 21 8<br />
Presentase 70.30% 54% 54% 56.80% 100%<br />
Data tersebut di atas menunjukkan<br />
bahwa tingkat partisipasi siswa pada siklus<br />
kedua rata-rata 67%, dengan konsentrasi<br />
siswa yang terlibat aktif 70.3%, yang<br />
bertanya 54%, yang mengajukan pendapat<br />
54%, yang menjawab pertanyaan 56.8%,<br />
dan kinerja kelompok yang tepat waktu<br />
mencapai 100%.<br />
Tahap Refleksi<br />
Berdasarkan data hasil pengamatan<br />
terhadap pelaksanaan proses pembelajaran<br />
pada siklus ini, terdapat temuan-temuan<br />
sebagai berikut: (1) Terdapat peningkatkan<br />
partisipasi siswa dalam proses pembelajaran<br />
. (2) Tutor dan siswa mulai percaya<br />
diri, namun masih harus selalu diberi<br />
motivasi karena siswa yang terlibat aktif<br />
baru mencapai 26 orang, siswa yang mau<br />
bertanya baru 20 orang, dan siswa yang<br />
menjawab pertanyaan baru 21 orang. (3)<br />
Kierja kelompok sangat bagus / baik.<br />
Penelitian Siklus <strong>II</strong>I<br />
Tahap Perencanaan<br />
Siklus kedua dilaksanakan tanggal 16<br />
Nopember 2010, dengan banyak siswa 34<br />
orang dan kolaborator satu orang. Rencana<br />
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang<br />
digunakan adalah untuk pertemuan ke-4<br />
dan kreteria keberhasilan seperti yang<br />
ditetapkan pada siklus pertama dan siklus<br />
kedua.<br />
Tindakan yang dilakukan pada siklus<br />
ketiga ini ditetapkan berdasarkan hasil<br />
Supriyono<br />
refleksi pada siklus kedua yaitu; (1) proses<br />
pembelajaran masih tetap menggunakan<br />
Metode tutor sebaya, para tutor wajib<br />
memberi tugas kepada teman di<br />
kelompoknya untuk berani bertanya,<br />
menyampaikan pendapat, dan menjawab<br />
pertanyaan dengan benar; (2) dilakukan<br />
pertemuan tutor untuk pemantapan<br />
penguasaan materi dengan cara membahas<br />
lebih dahulu tugas-tugas yang diberikan;<br />
dan (3) waktu untuk menyelesaikan tugas<br />
ditetapkan bersama-sama dengan siswa.<br />
Tahap Pelaksanaan<br />
Siklus ketiga dilaksanakan sesuai<br />
dengan rencana, yaitu pada tanggal 16<br />
Nopember 2010 yang merupakan pertemuan<br />
ke-4. Pada pertemuan ke-4 ini banyak<br />
siswa yang hadir 34 orang, dan observer<br />
sebagai kolaborator satu orang. Pada siklus<br />
ini proses pembelajaran berlangsung<br />
berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran<br />
(RPP) yang telah ditetapkan, yakni<br />
mendeskripsikan berbagai bentuk pasar<br />
dalam kegiatan ekonomi masyarakat pada<br />
soal-soal pemahaman konsep, soal-soal<br />
penalaran, dan soal komunikasi.<br />
Proses pembelajaran diawali dengan<br />
penjelasan teknis oleh guru sekitar 5 menit,<br />
membahas soal-soal yang dipandu oleh<br />
masing-masing tutor pada setiap kelompok<br />
selama 30 menit, presentase kelompok<br />
selama 35 menit, dan 10 menit terakhir<br />
digunakan untuk membuat rangkuman dan<br />
refleksi terhadap proses pembelajaran yang<br />
baru saja dilakukan.<br />
35
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
Tahap Pengamatan<br />
Pengamatan terhadap proses pembelajaran<br />
yang berlangsung dilakukan oleh<br />
guru dan kolaborator. Instrumen yang<br />
digunakan berupa lembar observasi yang<br />
telah disediakan seperti pada siklus pertama<br />
dan siklus kedua. Aspek partisipasi siswa<br />
yang diamati selama proses pembelajaran<br />
berlangsung sama dengan pada siklus<br />
pertama dan siklus kedua yaitu kinerja<br />
36<br />
Tabel 5. Hasil Pengamatan Pada Siklus <strong>II</strong>I<br />
kelompok (terlibat aktif, dan ketepatan<br />
waktu) dan kegiatan pleno (selama proses<br />
berlangsung guru dan kolaborator<br />
melakukan penilaian proses dan<br />
mengajukan pendapat, bertanya, dan<br />
menjawab pertanyaan).<br />
Data hasil pengamatan terhadap proses<br />
pembelajaran pada siklus ini adalah sebagai<br />
berikut.<br />
Banyak Siswa dan Aspek Yang Diamati<br />
No. Kelompok Terlibat<br />
Aktif<br />
Mengajukan<br />
Bertanya<br />
Pendapat<br />
Menjawab Tepat<br />
Pertanyaan Waktu<br />
1 Pasar Tradisional 5 4 4 5 Ya<br />
2 Pasar Kongkrit 5 3 3 4 Ya<br />
3 Pasar Abstrak 5 3 4 4 Ya<br />
4 Pasar Nasional<br />
Pasar<br />
5 4 4 4 Ya<br />
5 Internasional 4 3 3 3 Ya<br />
6 Pasar Monopoli 4 3 2 3 Ya<br />
7 Pasar Oligopoli 5 4 3 4 Ya<br />
8 Pasar Mingguan 4 3 3 4 Ya<br />
Jumlah 37 28 27 31 8<br />
Presentase 100% 76% 73% 83%% 100%<br />
Data tersebut di atas menunjukkan<br />
bahwa tingkat partisipasi siswa pada siklus<br />
kedua rata-rata 86,4%, dengan konsentrasi<br />
siswa yang terlibat aktif 100%, yang<br />
bertanya 76%, yang mengajukan pendapat<br />
83%, yang menjawab pertanyaan 56.8%,<br />
dan kinerja kelompok yang tepat waktu<br />
mencapai 100%.<br />
Tahap Refleksi<br />
Berdasarkan data hasil pengamatan<br />
terhadap pelaksanaan proses pembelajaran<br />
pada siklus ini, terdapat temuan-temuan<br />
sebagai berikut: (1) Tingkat partisipasi<br />
siswa terihat mengalami kemajuan atau<br />
peningkatan, keinginan siswa untuk terlibat<br />
aktif mencapai 37 orang, bertanya 28 orang,<br />
mengajukan pertanya 27 orang, dan<br />
menjawab pertanyaan dengan benar 31<br />
orang. (2) Kinerja kelompok sangat efektif,<br />
hal ini terlihat bahwa semua siswa dalam<br />
kelompok terlibat aktif dan memiliki<br />
tanggungjawab dalam menyelesaikan tugastugas<br />
kelompok tepat waktu.<br />
Proses Menganalisis Data<br />
Partisipasi Siswa Sebelum Metode Tutor<br />
Sebaya<br />
Sebagaimana diuraikan pada latar<br />
belakang penelitian ini, bahwa aktivitas<br />
siswa atau partisipasi siswa dalam proses<br />
pembelajaran sangat rendah sehingga<br />
pembelajaran dirasakan kurang bermakna,<br />
dan kurang membangun potensi atau<br />
pengetahuan siswa yang telah dimilikinya.<br />
Rendahnya tingkat partisipasi siswa<br />
dalam proses pembelajaran ini terlihat dari
kondisi-kondisi sebagai berikut: (1)<br />
Keterlibatan siswa dalam membahas materi<br />
pelajaran rendah, karena siswa kurang<br />
diberi tanggung jawab. (2) Kemampuan<br />
siswa untuk menyampaikan pendapat<br />
rendah, karena siswa sering diperlakukan<br />
sebagai objek belajar. (3) Kemampuan<br />
siswa untuk bertanya rendah, karena siswa<br />
tidak memahami konsep yang sedang<br />
dibahas sehingga ia tidak tahu apa yang<br />
harus ditanyakan. (4) Kemampuan siswa<br />
menjawab pertanyaan hanya terdapat pada<br />
siswa-siswa yang termasuk kategori pandai.<br />
Kurangnya berbagi pengalaman (sharing)<br />
antara siswa pandai dan kurang pandai<br />
menjadi pemicu semakin terpuruknya<br />
siswa-siswa yang kurang pandai tersebut,<br />
dan kerja kelompok kurang terkesan tidak<br />
kompak.<br />
Supriyono<br />
Partisipasi Siswa Sesudah Tutor Sebaya<br />
Penerapan metode tutor sebaya<br />
merupakan salah satu solusi dalam<br />
mengatasi rendahnya tingkat partisipasi<br />
siswa sebagaimana diuraikan di atas.<br />
Tindakan ini diterapkan selama tiga siklus<br />
terhadap siswa kelas V<strong>II</strong>I-D SMP Negeri 2<br />
Benjeng pada semester 1 (ganjil), dan<br />
ternyata hasil penelitian tentang partisipasi<br />
siswa dalam proses pembelajaran<br />
menunjukkan peningkatan yang signifikan.<br />
Pembahasan dan Pengambilan<br />
Kesimpulan<br />
Berdasarkan hasil penelitian yang telah<br />
dilaksanakan, hasil belajar siswa dari siklus<br />
I, siklsu <strong>II</strong>, dan siklus <strong>II</strong>I dapat<br />
dipresentasikan melalui tabel berikut ini :<br />
Tabel 6. Data Hasil Pengamatan Pada Siklus I, Siklus <strong>II</strong>, dan Siklus <strong>II</strong>I<br />
No. SIKLUS<br />
Banyak Siswa dan Aspek Yang Diamati<br />
Terlibat<br />
Mengajukan Menjawab Tepat Rata<br />
Bertanya<br />
Aktif Pendapat Pertanyaan Waktu rata<br />
1 Pertama ( I ) 59% 50,5% 37,5% 40,5% 43,5% 46,1%<br />
2 Kedua ( <strong>II</strong> ) 70,3% 54% 54% 56,8% 100% 67%<br />
3 Ketiga ( <strong>II</strong>I ) 100% 76% 73% 83% 100% 86,4%<br />
Data tersebut di atas menunjukkan<br />
bahwa terjadi peningkatan 20,9% dari<br />
siklus pertama ke siklus kedua, dan 19,4%<br />
dari siklus kedua ke siklus yang ketiga.<br />
Dengan demikian terjadi rata-rata<br />
peningkatan siswa dalam pembelajaran<br />
sebesar 20,15%.<br />
Peningkatan tingkat partisipasi siswa<br />
dalam proses pembelajaran di kelas V<strong>II</strong>I-D<br />
SMP Negeri 2 Benjeng selama tiga siklus<br />
penelitian tindakan kelas, dapat lebih jelas<br />
terlihat pada grafik berikut ini.<br />
37
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
38<br />
Grafik 1. Tingkat Partisipasi Siswa dalam Proses Pembelajaran<br />
100<br />
90<br />
80<br />
70<br />
60<br />
50<br />
40<br />
30<br />
20<br />
10<br />
0<br />
1 2 3 4 5<br />
Keterangan :<br />
Warna Merah : Siklus I<br />
Warna Kuning : Siklus <strong>II</strong><br />
Warna Biru : Siklus <strong>II</strong>I<br />
No. 1 Terlibat Aktif 2. Bertanya 3. Mengajukan Pendapat 4. Menjawab Pertanyaan<br />
5. Tepat Waktu<br />
Perbandingan tingkat ketercapaian<br />
partisipasi siswa dengan kriteria ideal yang<br />
Siklus I<br />
Siklus <strong>II</strong><br />
Siklus <strong>II</strong>I<br />
ditetapkan terlihat pada tabel dan grafik<br />
sebagai berikut :<br />
Tabel 7. Perbandingan Kriteria Yang Ditetapkan Dengan Hasil Pada Siklus <strong>II</strong>I<br />
Banyak Siswa dan Aspek Yang Diamati<br />
No. Kondisi<br />
Kriteria<br />
Terlibat<br />
Aktif<br />
Bertanya<br />
Mengajukan<br />
Pendapat<br />
Menjawab<br />
Pertanyaan<br />
Tepat<br />
Waktu<br />
Rata<br />
rata<br />
1 Ketercapaian 100% 75% 75% 80% 100% 86%<br />
2 Siklus <strong>II</strong>I 100% 76% 73% 83% 100% 86%<br />
Keterangan tercapai terlampaui Mendekati Terlampaui Tercapai Tercapai
Supriyono<br />
Grafik 2. Perbandingan Kriteria yang ditetapkan dengan Hasil pada Siklus Ketiga<br />
Data tersebut di atas, menunjukkan<br />
bahwa kondisi siswa yang terlibat aktif<br />
dalam proses pembelajaran, yang bertanya,<br />
menjawab pertanyaan, dan tepat waktu<br />
dalam kerja kelompok telah memenuhi<br />
kriteria yang ditetapkan.<br />
Dengan demikian dapat disimpulkan<br />
bahwa penerapan metode tutor sebaya<br />
dalam upaya meningkatkan partisipasi<br />
siswa pada pembelajaran IPS-Ekonomi di<br />
kelas V<strong>II</strong>I-D Semester 1 (ganjil) SMP<br />
Negeri 2 Benjeng dapat dikatkan berhasil<br />
dengan sangat baik.<br />
SIMPULAN<br />
100%<br />
80%<br />
60%<br />
40%<br />
20%<br />
0%<br />
1 2 3 4 5<br />
Berdasarkan analisis terhadap data<br />
hasil penelitian tindakan kelas ini, dapat<br />
disimpulkan bahwa penerapan metode tutor<br />
sebaya dapat meningkatkan partisipasi<br />
siswa dalam proses pembelajaran IPS-<br />
Ekonomi di kelas V<strong>II</strong>I-D) SMP Negeri 2<br />
Benjeng Tahun Pelajaran 2010-2011<br />
Semester 1 (ganjil)<br />
Peningkatkan partisipasi siswa dalam<br />
proses pembelajaran IPS-Ekonomi ini<br />
terlihat dari hal-hal sebagai berikut; (1)<br />
keterlibatan siswa secara aktif dalam proses<br />
pembelajaran tinggi, karena telah mencapai<br />
kriteria yang ditetapkan, yakni 100% siswa<br />
terlibat aktif; (2) frekuensi siswa yang<br />
bertanya tinggi, karena melampaui kriteria<br />
yang ditetapkan, yakni 76%, sedangkan<br />
kriterianya 75%; (3) siswa yang mampu<br />
mengajukan pendapat sedang yaitu 72%,<br />
meskipun belum memenuhi kriteria 75%,<br />
tetapi dari segi kuantitas mengalami<br />
peningkatan; (3) siswa yang mampu<br />
menjawab pertanyaan tinggi, karena telah<br />
melampaui kriteria yang ditetapkan yakni<br />
83%, sedangkan kriterianya 80%; dan (4)<br />
kinerja kelompok tinggi, karena sangat<br />
kompak dan dapat menyelesaikan tugas<br />
tepat waktu 100% sudah sesuai dengan<br />
kriterianya 100%.<br />
Berdasarkan uraian tersebut di atas,<br />
dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi<br />
siswa dalam pembelajaran tergolong tinggi,<br />
dan penerapan metode tutor sebaya berhasil<br />
meningkatkan partisipasi siswa dalam<br />
proses pembelajaran IPS-Ekonomi di Kelas<br />
V<strong>II</strong>I-D SMP Negeri 2 Benjeng. Hal ini<br />
sangat relevan dengan hasil penelitian yang<br />
dilakukan oleh Nurita Putri (2007) bahwa<br />
dengan tutor sebaya pembelajaran menjadi<br />
lebih efektif karena komunikasi antar siswa<br />
menjadi lebih terbuka tanpa dihantui rasa<br />
takut dan rasa malu.<br />
SARAN<br />
Kriteria<br />
Ketercapaian<br />
Siklus <strong>II</strong>I<br />
Berdasarkan hasil penelitian tindakan<br />
kelas yang peneliti laksanakan dapat<br />
39
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
dikemukakan saran-saran yang bermanfaat<br />
bagi peneliti selanjutnya, guru dan sekolah<br />
sebagai berikut; (1) pembelajaran IPS-<br />
Ekonomi hendaknya bervariasi dan tidak<br />
monoton sehingga hasil pembelajaran dapat<br />
lebih baik; (2) agar kegiatan pembelajaran<br />
dapat berhasil dengan baik, maka seorang<br />
guru hendaknya selalu aktif dalam<br />
melibatkan siswa selama kegiatan<br />
pembelajaran berlangsung; dan (3)<br />
mengingat pelaksanaan Penelitian Tindakan<br />
Kelas (PTK) ini hanya tiga siklus, dan<br />
validitas instrumen peneitiannya belum<br />
standar, maka kepada guru yang meneliti<br />
penerapan metode tutor sebaya dalam<br />
proses pembelajaran diharapkan dapat lebih<br />
ditingkatkan kualitasnya, baik frekuensi<br />
maupun instrument penelitiannya.<br />
DAFTAR RUJUKAN<br />
Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen<br />
Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta:<br />
Rieksa Cipta.<br />
--------------------------. 1989. Penilaian<br />
Program Pendidikan. Proyek<br />
Pengembangan LPTK Depdikbud.<br />
Dirjen Dikti.<br />
-------------------------. 1998. Prosedur<br />
Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.<br />
Jakarta: Bina Aksara.<br />
-------------------------. 2002. Prosedur<br />
Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek.<br />
Jakarta : PT. Rineka Cipta.<br />
40<br />
Arikunto Suharsimi & Suhardjono. 2006.<br />
Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta:<br />
Bumi Aksara.<br />
Djamarah, Syaiful Bahri. 1994. Guru dan<br />
Anak Didik dalam Interaksi Edukatif.<br />
Banjarmasin: Fakultas Tarbiyah IAIN<br />
Antasasi.<br />
Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual<br />
(Contextual Teaching and Learning)<br />
CTL. Jakarta: Biro Hukum dan<br />
Organisasi Sekjen Depdiknas.<br />
Hamalik, Oemar. 1992. Psikologi Belajar<br />
Mengajar. Bandung: Sinar Baru.<br />
Ibrahim Muslimin, dkk. 2000.<br />
Pembelajaran Kooperatif. Surabaya:<br />
UNESA University Press.<br />
Muslich Masnur. 2007. KTSP (Kurikulum<br />
Tingkat Satuan Pendidikan)<br />
Pembelajaran Berbasis Kompetensi<br />
dan Kontekstual. Jakarta: PT. Bumi<br />
Aksara.<br />
Nur Muhammad. 2000. Pengajaran<br />
Berpusat Kepada Siswa dan<br />
Pendekatan Konstruktivis dalam<br />
Pengajaran. Surabaya: UNESA<br />
University Press.<br />
Sutikno, Sobary. M. 2001. Menggagas<br />
Pembelajaran efektif dan bermakna,<br />
Mataram: NTP Press.
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI MELALUI OGKATS<br />
DENGAN TEKNIK “AIR RAKSA” SISWA KELAS V<strong>II</strong> C SMP NU 1 GRESIK<br />
Mahmudiono<br />
SMP NU 1 Gresik<br />
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan<br />
menulis puisi pada siswa kelas V<strong>II</strong> semester <strong>II</strong> tahun pelajaran 2011-<strong>2012</strong>di SMP<br />
NU 1 Gresik melalui teknik AIR RAKSA mengamati (OGKATS) objek gambar<br />
keindahan alam tembok sekolah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini<br />
adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode penelitian tindakan<br />
kelas. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan dalam pembelajaran<br />
menulis puisi melalui teknik AIR RAKSA dengan media (OGKATS) objek<br />
gambar keindahan alam tembok sekolah. Pada Siklus I rata-rata nilai siswa 69,<br />
terdapat 15 siswa yang belum mencapai ketuntasan, berarti 43% siswa yang tuntas<br />
secara klasikal. Sedangkan motivasi dan respon siswa dalam pemberlajaran<br />
menulis puisi masih rendah yakni 57,2% . Pada Siklus <strong>II</strong> rata-rata nilai siswa 78<br />
dengan ketuntasan 100%. Sedangkan motivasi dan respon dalam pemberlajaran<br />
menulis puisi meningkat mejadi 80%.<br />
Kata kunci : keterampilan, menulis, puisi, OGKATS, AIR RAKSA.<br />
K<br />
eterampilan berbahasa mempunyai<br />
empat komponen, yaitu: (1) keterampilan<br />
menyimak (lintening<br />
skills), (2) keterampilan berbicara (speaking<br />
skills), (3) keterampilan membaca (reading<br />
skills), (4) keterampilan menulis (writing<br />
skills). Selanjutnya setiap keterampilan itu<br />
erat pula hubungannya dengan prosesproses<br />
yang mendasari bahasa. Bahasa<br />
seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin<br />
terampil berbahasa, biasanya, semakin<br />
cerah dan jelas pula jalan pikirannya,<br />
Keterampilan hanya dapat diperoleh dan<br />
dikuasai dengan jalan praktik dan banyak<br />
latihan. Melatih kerampilan bebahasa<br />
berarti pula melatih keterampilan berpikir,<br />
Tarigan (1993: 1). Menulis merupakan<br />
suatu proses Oleh karena itu, menulis harus<br />
mengalami tahap prakarsa, tahap pelanjutan,<br />
tahap revisi, dan tahap pengakhiran.Hakikat<br />
menulis puisi merupakan<br />
hasil rekaman dari peristiwa atau gambaran<br />
objek menarik yang dituangkan melalui<br />
pikirannya ke dalam bahasa tulis. Teknik<br />
pengamatan objek gambar di sini dapat<br />
menggugah siswa dalam berekspresi yang<br />
dituangkan dalam puisi, dengan cara siswa<br />
mengamati suatu objek, misalnya saja objek<br />
pemandangan alam yang berupa gunung<br />
dengan pepohonan yang indah dan rindang,<br />
sungai yang mengalir dengan bebatuan.<br />
Burung-burung bergembira terbang dan<br />
hinggap di ranting-ranting pohon. Puisi<br />
adalah karangan atau tulisan yang indah<br />
yang mempunyai makna tertentu dan<br />
mempunyai nilai estetis. Karangan atau<br />
tulisan yang indah itu dapat berasal dari<br />
pengalaman penyair ataupun dari<br />
penggambaran sesuatu. Berdasarkan hal<br />
tersebut, peneliti berasumsi bahwa dengan<br />
metode pengamatan objek yaitu siswa<br />
diajak guru untuk mengamati sebuah objek,<br />
kemudian diekspresikan dengan menggunakan<br />
kata-kata, maka siswa akan menjadi<br />
lebih mudah melakukannya.<br />
Di lingkungan sekolah dapat dijumpai<br />
objek-objek atau gambar-gambar, yang oleh<br />
siswa dapat dituangkan melalui puisi,<br />
dengan menggunakan bahasa yang puitis.<br />
Lingkungan SMP NU 1 Gresik yang<br />
berdekatan dengan pasar, pantai, pelelangan
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
ikan, pelabuhan dapat menjadi sumber<br />
inspirasi menulis puisi. Menurut Suharianto<br />
(1982: 11), karya seni umumnya atau puisi<br />
khususnya tidak lain adalah hasil<br />
pengungkapan segala peristiwa atau<br />
kejadian yang terdapat dalam kehidupan<br />
sehari-hari. Sesuai dengan hal tersebut<br />
dapat dikatakan bahwa dengan objek yang<br />
sederhana dapat diciptakan puisi, misalnya<br />
yang menggunakan tema binatang, atau<br />
alam yang berasal dari pengamatan dan<br />
pengalaman siswa.<br />
Pengajaran apresiasi puisi baik dari<br />
aspek mendengar, berbicara, membaca, dan<br />
menulis dijumpai banyak kesulitan. Tidak<br />
jarang para guru merasa tidak berdaya<br />
apabila sampai pada Kompetensi Dasar<br />
(KD) yang berkaitan dengan sastra terutama<br />
bab menulis puisi. Memang dalam<br />
kenyataan dilapangan atau di kelas,<br />
keadaanya sangat membosankan. Guru<br />
entah mengapa sepertinya mati kutu dan<br />
tidak ada kreativitas dan daya inovasi untuk<br />
menghadapi materi yang berkenaan dengan<br />
sastra. Proses pembelajaran selama ini<br />
terkesan tidak tidak aplikatif dan terkesan<br />
tidak percaya diri. Guru cenderung<br />
melewati paling tidak memberi catatan<br />
materi tentang sastra karena keterbatasan<br />
dalam penguasaan dan penerapanya.<br />
Berdasarkan observasi awal peneliti bahwa<br />
di kelas V<strong>II</strong> C siswa terlihat bingung, malu<br />
dan tidak tahu dari mana harus menulis.<br />
Banyak siswa yang terdiam sambil melihatlihat<br />
karya teman-temannya. Siswa<br />
kesulitan mencari imajinasi, sulit<br />
mengidentifikasi kata-kata, sulit merangkai<br />
kata, kurang bisa mencari kata-kata yang<br />
berima indah dan sulit mencari kata-kata<br />
imajinatif, sehingga hasil belajar meraka<br />
jauh dari KKM yang ditetapkan oleh guru<br />
yakni 74. Keberhasilan kegiatan pembelajaran<br />
menulis puisi dilihat dari dua aspek,<br />
yakni aspek proses dan aspek hasil. Aspek<br />
proses dikatakan berhasil dilihat dari: (1).<br />
tingkat keaktifan siswa ketika mengikuti<br />
pembelajaran sastra menulis puisi, (2)<br />
respon siswa dalam menerima materi<br />
pembelajaran sastra khususnya pada<br />
menulis kreatif siswa yang bertema<br />
42<br />
pemandangan alam, (3) respon siswa<br />
terhadap pembelajaran dengan menggunakan<br />
teknik pengamatan objek gambar<br />
pemandangan di lingkungan sekolah.<br />
Penilaian keberhasilan pembelajaran<br />
kedua, dilihat dari aspek hasil. Aspek hasil<br />
ini dengan kriteria atau ketentuan, (1)<br />
adanya kesesuaian judul dengan isi, (2)<br />
pilihan kata atau diksi tepat, (3) pilihan kata<br />
(diksi) dengan tepat, (4) penggunaan majas<br />
yang tepat, (5) pemanfaatan versifikasi<br />
(rima dan rima).<br />
Melihat latar belakang dan permasalahan<br />
yang jelas harus dicarikan solusinya<br />
maka peneliti menggunakan teknik “AIR<br />
RAKSA” melalui pengamatan objek<br />
gambar pemandangan alam secara langsung.<br />
Pada dasarnya siswa senang dengan<br />
kenyataan atau realita yang, langsung<br />
dilihat oleh siswa. Oleh sebab itu siswa<br />
akan lebih peka atau lebih terangsang untuk<br />
mengekspresikan sesuatu yang dirasakannya.<br />
Proses belajar mengajar tidak<br />
hanya dilakukan di dalam kelas namun<br />
dapat dilakukan di luar kelas, seperti yang<br />
telah disebutkan tadi yaitu mengamati objek<br />
gambar pada lingkungan sekolah. Tekik<br />
“AIR RAKSA“ merupakan rangkaian atau<br />
urutan langkah-langkah dalam pembelajaran<br />
menulis puisi yaitu, Amati,<br />
Identifikasi, Rangkaikan, Revisi, Amati<br />
lagi, Konfirmasikan, Satukan, Apresiasikan.<br />
Langkah-langkah teknik “AIR<br />
RAKSA” adalah siswa diajak keluar kelas<br />
mengamati objek pemandangan alam yang<br />
ada di tembok sekolah, kemudian siswa<br />
mengidentifikasikan kata-kata apa saja yang<br />
ada dalam pemandangan dikelompokkan<br />
dengan kata yang sepadan. Kata-kata yang<br />
teridentifikasi dirangkaikan dengan katakata<br />
yang ada atau dengan kata-kata lain<br />
yang seirama. Setelah itu puisi karya siswa<br />
itu didiskusikan kepada teman sebangku<br />
dan direvisi kesalahan dan kekurangannya<br />
serta diperbaiki. Untuk lebih memahami<br />
objek, siswa mengamati lagi objek<br />
pemandangan alam di tembok sekolah dan<br />
Konfirmasikan atau sampaikan temuan atau
ide baru untuk memperbaiki. Kemudian<br />
temuan atau ide baru dan dirasa lebih baik<br />
itu satukan menjadi rangkaian bait puisi<br />
yang lebih baik. Langkah akhir apresiasikan<br />
hasil tulisan itu dengan mebacanya di depan<br />
teman-teman.<br />
Permasalahan tersebut dalam penelitian<br />
ini dirumuskan sebagai berikut: Apakah<br />
teknik “AIR RAKSA“ dapat menigkatkan<br />
keterampilan menulis puisi pada siswa<br />
kelas V<strong>II</strong> C SMP NU 1 Gresik?”<br />
METODE<br />
Penelitian ini termasuk jenis penelitian<br />
deskriptif kualitatif sebagai prosedur<br />
penelitian yang menghasilkan data deskriptif<br />
berupa kata-kata tertulis atau lesan dari<br />
orang-orang atau perilaku yang diamati.<br />
Penelitian kualitatif sering menggunakan<br />
data kuantitatif. Jadi dapat dikatakan kedua<br />
pendekatan tersebut digunakan apabila<br />
sediannya memanfaatkan satu pendekatan<br />
sedangkan yang lainnya hanya sebagai<br />
pelengkap saja (Maleong, 2002: 22).<br />
Rancangan penelitian ini mencakup<br />
empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan<br />
tindakan, observasi, dan refleksi.<br />
Kegiatan pada tahap perencanaan berupa,<br />
(1) Peneliti bersama kolabulator melakukan<br />
analis standar isi untuk mengetahui Standar<br />
Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-<br />
KD) yang akan diajarkan kepada peserta<br />
didik. (2) Mengembangkan Rencana Pelaksanaan<br />
Pembelajaran (RPP), dengan<br />
memerhatikan indikator-indikator hasil<br />
belajar. (3) Mengembangkan alat peraga,<br />
alat bantu, atau media pembelajaran yang<br />
menunjang pembentukkan SKKD dalam<br />
rangka implementasi PTK. (4) Menganalisis<br />
berbagai alternatif pemecahan masalah<br />
yang sesuai dengan kondisi pembelajaran.<br />
(5) Mengembangkan Lembar Kerja Siswa<br />
(LKS). (6) Mengembangkan pedoman atau<br />
instrumen yang akan digunakan dalam<br />
siklus PTK. (7) Menyusun alat evaluasi<br />
pembelajaran sesuai dengan indicator hasil<br />
belajar. Selanjutnya, kegiatan yang dilaksanakan<br />
dalam tahap pelaksanaan tidakan<br />
Mahmudiono<br />
adalah dilaksanakan dua kali pertemuan,<br />
yakni pertemuan pertama pada hari Rabu,<br />
26 Januari <strong>2012</strong> jam ke 5-6 dan pertemuan<br />
kedua pada hari Sabtu, 29 Januari <strong>2012</strong><br />
jam ke 1-2 dengan materi menulis kreatif<br />
puisi berkenaan dengan keindahan alam<br />
kelas V<strong>II</strong> semester <strong>II</strong> SMP NU 1 Gresik.<br />
Masing-masing pertemuan dilaksanakan<br />
selama 2 x 40 menit. Sesuai dengan<br />
skenario pembelajaran dan RPP pada siklus<br />
I ini pembelajaran dilakukan peneliti<br />
sedangkan kolaborator Bapak Sumarto,<br />
S.Pd. melakukan observasi terhadap proses<br />
pembelajaran oleh siswa dan guru serta<br />
melakukan wawancara kepada beberapa<br />
siswa seletah pembelajaran berakhir.<br />
Kegiatan pelaksanaan tindakan adalah<br />
melaksanakan skenario pembelajaran<br />
menulis puisi dengan teknik “AIR<br />
RAKSA” yang telah direncanakan.<br />
Setelah melaksanakan pelaksanaan<br />
pembelajaran dan observasi hasilnya<br />
dianalisis. Dari hasil observasi, peneliti<br />
melaukan refleksi melalui data observasi,<br />
domumen hasil belajar dan proses belajar<br />
dan mengadakan evaluasi apakah<br />
pembelajaran menulis puisi melalui<br />
OGKATS dengan teknik “AIR RAKSA“<br />
dapat meningkatkan keterampilan menulis<br />
puisi. Data hasil pengamatan dapat juga<br />
dipergunakan sebagai acuan bagi guru<br />
peneliti untuk dapat mengevaluasi diri atas<br />
pembelajaran yang dilakukan. Berdasarkan<br />
refleksi yang dilakukan dapat ditentukan<br />
apakah indikator keberhasilan sudah<br />
tercapai atau belum. Jika pada siklus I<br />
gagal, siklus <strong>II</strong> dilakukan untuk<br />
memperbaiki kegagalan pada siklus I.<br />
Tetapi juka pada siklus I berhasil, siklus <strong>II</strong><br />
dilakukan untuk menigkatkan indikator<br />
keberhasilan.<br />
Teknik pengumpulan data yang<br />
digunakan peneliti adalah adalah berupa<br />
hail tes dan nontes pada saat pembelajaran<br />
menulis puisi. Data nontes diperoleh dari<br />
observasi dan wawancara kepada siswa paa<br />
waktu dan setelah pembelajaran menulis<br />
puisi dengan teknik “AIR RAKSA“, juga<br />
dari dokumen foto pada waktu<br />
43
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
pembelajaran. Guru menjelaskan tentang<br />
teknik ini. Amati, objek yang akan<br />
dijadikan puisi. Identifikasi, kata-kata yang<br />
ada sesuai kesepadanan makna.<br />
Rangkaikan, kata-kata menjadi bait puisi.<br />
Revisi, puisi yang sudah ditulis. Amati lagi,<br />
ke objek pemandangan untuk menambah<br />
daya imajinasi. Konfirmasikan, atau<br />
diskusikan kepada teman sebangku atau<br />
kelompok barang kali ada yang kurang<br />
tepat dengan cara mencoret dan<br />
menggantinya. Satukan, lagi menjadi bait<br />
yang lebih baik. Apresiasikan, dengan cara<br />
membaca di depan kelas sebagai rasa<br />
pertanggungjawaban. Kemudian anak-anak<br />
diajak ke luar kelas menuju bagian tembok<br />
sekolah yang dilukis dengan pemandangan<br />
alam. Sehingga objek ini dinamakan<br />
OGKATS yakni, Objek Gambar Keindahan<br />
Alam Tembok Sekolah.<br />
HASIL DAN PEMBAHASAN<br />
Siklus I<br />
Tahap Perencanaan<br />
Tahap perencanaan ini peneliti<br />
melaksanakan kegiatan sebagai berikut:<br />
Peneliti bersama kolabulator Bapak<br />
Sumarto, S.Pd. pada hari Sabtu, 22 Januari<br />
<strong>2012</strong> di ruang kerja peneliti SMP NU 1<br />
Gresik untuk melakukan analisis standar isi<br />
untuk mengetahui Standar Kompetensi dan<br />
Kompetensi Dasar (SKKD) yang akan<br />
diajarkan kepada peserta didik. Peneliti<br />
melakukan analisis Kompetensi dasar dan<br />
indikator yang harus dicapai oleh perserta<br />
didik setelah pelaksanaan kegiatan<br />
pembelajaran yang dimasukkan dalam<br />
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).<br />
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar<br />
(SKKD) yang disampaikan adalah<br />
mengungkapkan keindahan alam dan<br />
pengalaman melalui kegiatan menulis<br />
kreatif puisi berkenaan dengan keindahan<br />
alam. Bersama kolaborator, peneliti<br />
menyusun langkah-langkah pembelajaran<br />
yang akan dapat menyembuhkan penyakit<br />
yang berupa permasalahan yang ditemukan.<br />
44<br />
Hasil diskusi dengan kolaburator<br />
menghasilkan solusi atau obat untuk<br />
menyembuhkan penyakit atau permasalahan<br />
siswa di antaranya dengan mengembangkan<br />
alat peraga, alat bantu, atau media<br />
pembelajaran yang menunjang pebentukkan<br />
SKKD dalam rangka implementasi PTK.<br />
Perencanaan dilanjutkan dengan menyusun<br />
Lembar Kerja Siswa (LKS), mengembangkan<br />
pedoman atau instrumen yang<br />
akan digunakan dalam siklus PTK berupa<br />
instrument penelitian berupa tes dan nontes,<br />
pedoman pengamatan berupa angket,<br />
wawancara dan observasi dan menyusun<br />
alat evaluasi pembelajaran sesuai dengan<br />
indikator hasil belajar.<br />
Tahap Pelaksanaan Tindakan<br />
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan<br />
dua kali pertemuan, yakni pertemuan<br />
pertama pada hari Rabu, 26 Januari <strong>2012</strong><br />
jam ke 5-6 dan pertemuan kedua pada hari<br />
Sabtu, 29 Januari <strong>2012</strong> jam ke 1-2 dengan<br />
materi menulis kreatif puisi berkenaan<br />
dengan keindahan alam kelas V<strong>II</strong> semester<br />
<strong>II</strong> SMP NU 1 Gresik. Masing-masing<br />
pertemuan dilaksanakan selama 2 x 40<br />
menit. Sesuai dengan skenario pembelajaran<br />
dan RPP pada siklus I ini pembelajaran<br />
dilakukan peneliti sedangkan kolaborator<br />
Bapak Sumarto, S.Pd. melakukan<br />
observasi terhadap proses pembelajaran.<br />
Guru mengucapkan salam setelah melihat<br />
ke semua siswa setelah do’a yang<br />
dibacakan salah satu temannya dari kantor<br />
melalui pengeras. Siswa menjawab salam<br />
sambil berdiri kompak. Guru melontarkan<br />
salam dengan kata-kata, halo, hai..dan<br />
dijawab siswa dengan, “hai, halo” dan<br />
dilankutkan dengan menanyakan kabar,<br />
bagaimana kabarnya anak-anak, siswa<br />
menjawab, “Alhamdulillah, Allahuakbar.”<br />
Dilanjutkan dengan yel-yel kelas untuk<br />
menumbuhkan semangat kebersamaan<br />
kelas. Guru menjelaskan materi pembelajaran<br />
dan KD yang dipelajari dan indikator<br />
yang harus dicapai siswa. Guru melakukan<br />
improvisasi secara sepontan melihat pemandangan<br />
alam yang ada diding di kelas
diciptakan menjadi sebuah puisi. Guru<br />
menanyakan kepada siswa, “Pelajaran<br />
apakah yang akan kita bahas?” Siswa<br />
dengan kompak menjawab, “Puisi…”.,<br />
“membaca puisi”, dan ada yang menjawab<br />
membuat puisi.” Guru member penguatan,<br />
“Bagus, pintar’ memang benar hari ini kita<br />
akan menulis puisi tentang keindahan alam.<br />
Kemudian guru mengajaka anak untuk<br />
mengingat kembali pengalaman diajak<br />
pergi ke tempat-tempat yang indah seperti<br />
pegunungan, pantai atau persawahan.<br />
Kemudian guru sebagai peneliti melajutkan<br />
dengan memberi cara menulis puisi dengan<br />
teknik “AIR RAKSA” Banyak anak yang<br />
bertanya apakah “AIR RAKSA” “Apakah<br />
cairan keras, atau apa Buk!” Guru<br />
menjelasakan dengan sabar dan penuh<br />
perhatian. Bahwa teknik “AIR RAKSA”<br />
adalah Amati, objek yang akan dijadikan<br />
puisi. Identifikasi, kata-kata yang ada<br />
sesuai kesepadanan makna. Rangkaikan,<br />
kata-kata menjadi bait puisi. Revisi, puisi<br />
yang sudah ditulis. Amati lagi, ke objek<br />
pemandangan untuk menambah daya<br />
imajinasi. Konfirmasikan, atau diskusikan<br />
kepada teman sebangku atau kelompok<br />
barang kali ada yang kurang tepat dengan<br />
cara mencoret dan menggantinya. Satukan,<br />
lagi menjadi bait yang lebih baik.<br />
Apresiasikan, dengan cara membaca di<br />
depan kelas sebagai rasa<br />
pertanggungjawaban. Kemudian anak-anak<br />
diajak ke luar kelas menuju bagian tembok<br />
sekolah yang dilukis dengan pemandangan<br />
alam. Sehingga objek ini dinamakan<br />
OGKATS yakni, Objek Gambar Keindahan<br />
Alam Tembok Sekolah. Pada siswa terlihat<br />
antusias. Tak terasa para siswa asik<br />
mengamati dan mengidentifikasi objek<br />
yang aa di gambar pemandangan bel<br />
berbunyi. Para siswa masuk ruangan dan<br />
dilakukan efleksi tentang sampai di mana<br />
pekerjaan mereka dan apa kesulitan yang<br />
dialami.<br />
Observasi<br />
Pengamatan terhadap pembelajaran<br />
membaca puisi ini dilaksanakan pada<br />
Mahmudiono<br />
Pertemuan pertama Rabu, 26 Januari <strong>2012</strong><br />
dan pertemuan kedua pada hari Sabtu, 29<br />
Januari <strong>2012</strong> dengan materi menulis kreatif<br />
puisi berkenaan dengan keindahan alam<br />
kelas V<strong>II</strong> semester <strong>II</strong> SMP NU 1 Gresik.<br />
Masing-masing pertemuan dilaksanakan<br />
selama 2 x 40 menit. Sesuai dengan<br />
skenario pembelajaran dan RPP pada siklus<br />
I ini pembelajaran dilakukan peneliti<br />
sedangkan kolaborator melakukan observisi<br />
terhadap proses pembelajaran dan melakukan<br />
wawancara kepada beberapa siswa<br />
dengan menggunakan instrument pengamatan<br />
untuk mengamati siswa dan guru<br />
dengan menggunakan format wawan-cara,<br />
dan lembar observasi.<br />
Pengamatan dilakukan oleh observer<br />
untuk mengetahui keaktifan siswa dalam<br />
proses pembelajaran menulis puisi. Hasil<br />
observasi siklus I siswa yang tidak tuntas<br />
hasil belajar siswa mencapai nilai 69. Ada<br />
15 siswa yang belum mencapai ketuntasan<br />
yang berarti 57% siswa yang tuntas secara<br />
klasikal. Nilai ini masih jauh dari patokan<br />
acuan nilai yang tentukan sebesar 75<br />
berdasarkan KKM yang dirumuskan oleh<br />
kelompok guru mata pelajaran Bahasa<br />
Indonesia di SMP NU Gresik. Serta 85%<br />
secara ketuntasan secara klasikal. Masih<br />
ada 15 siswa yang belum tuntas. puisi<br />
masih terlihat beberapa siswa yaitu 11,5%<br />
dan 7,7% yang kurang berminat karena<br />
tidak memperhatikan penjelasan guru. Ini<br />
berarti pembelajaran pada siklus pertama<br />
masih belum dapat mencapai hasil yang<br />
diinginkan melalui pembelajaran menulis<br />
puisi melalui media objek gambar<br />
keindahan alam.<br />
Refleksi<br />
Kegiatan belajar siswa pada siklus I<br />
masih memerlukan perbaikan karena<br />
ketuntasan siswa belum memenuhi. Refleksi<br />
ini digunakan untuk merencanakan<br />
siklus berikutnya agar dapat mengobati<br />
permasalahan yang ditemukan di pertemuan<br />
sebelumnya. Berdasarkan hasil observasi<br />
tersebut, peneliti melakukan analisis dan<br />
refleksi sebagai berikut: (1) beberapa siswa<br />
45
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
masih terlihat kurang konsentrasi pada awal<br />
pembelajaran, (2) siswa masih masih belum<br />
terlibat aktif dalam kegaiatan pembelajaran,<br />
(3) siswa masih terlihat asal-asalan dalam<br />
menulsi puisi, (4) siswa merasa kurang<br />
waktu dalam mengaamati objek gambar, (5)<br />
siswa masih merasa malu-malu dalam<br />
bertanya, (6) siswa masih terasa canggung<br />
dan takut dalam memberi tanggapan atau<br />
masukkan terhadap hasil tulisan puisi<br />
teman, (7) siswa banyak yang belum serius<br />
ketika disuru mengoreksi tulisan puisi<br />
teman, (8) siswa terlihat belum memahami<br />
unsur-unsur puisi yang di tulis, (9) tulisan<br />
puisi siswa nilai rata-ratanya masih 69, dan<br />
(10) melakukan pertemuan dengan<br />
kolabortor untuk mengevaluasi pelaksanaan<br />
pembelajaran pada pertemuan yang telah<br />
dilak-sanakan.<br />
Siklus <strong>II</strong><br />
Perencanaan<br />
Dalam tahap perencanaan ini, pertama,<br />
guru menyusun Rencana Pelaksanaan<br />
Pembelajaran (RPP) untuk materi menulis<br />
puisi. Kedua, guru menyusun instrumen<br />
penelitian yakni berupa tes dan nontes.<br />
Instrumen tes dinilai dari hasil pekerjaan<br />
siswa dalam menulis puisi dari aspek<br />
tema, diksi, amanat, imanjinasi, dan majas.<br />
Sedangkan instrument nontes dinilai<br />
berdasarkan pedoman observasi yang<br />
dilakukan oleh peneliti dengan mengamati<br />
kaaktifan dan keseriusan dan inisiatif siswa<br />
selama kegiatan pembelajaran berlansung.<br />
Peneliti bersama kolaburator<br />
merancang skenario pembelajaran menulis<br />
puisi dengan langkah-langkah pembelajaran<br />
pada siklus ke dua sebagai berikut: (1) guru<br />
menjelaskan ulang langkah-langkah penulisan<br />
puisi secara lebih detail dengan teknik<br />
“AIR RAKSA”, (2) siswa mengamati<br />
lingkungan atau gambar-gambar keindahan<br />
alam di sekitar sekolah lebih lama, (3)<br />
siswa mengidentifikasi keindahan alam<br />
dalam larik-larik puisi, (4) siswa mengamati<br />
model larik-larik puisi tentang<br />
keindahan alam, (5) siswa mendiskusikan<br />
46<br />
pilihan kata dan rima dengan jelompok, (6)<br />
siswa menulis larik-larik puisi dengan<br />
mempertimbangkan pilihan kata dan rima<br />
yang sesuai, (7) siswa menampilkan hasil<br />
pekerjaannya untuk dikomentari kelompok<br />
lain, dan (8) siswa memperbaiki hasil<br />
pekerjaannya berdasarkan hasil tanggapan<br />
kelompok lain.<br />
Pelaksanaan Tindakan<br />
Siklus <strong>II</strong> dilaksanakan pada Rabu, 02<br />
Februari <strong>2012</strong> jam ke-5 dan 6 pertemuan<br />
pertama dan pertemuan kedua pada hari<br />
Sabtu, 05 Februari <strong>2012</strong> jam ke-1 dan 2.<br />
Pertemuan pada siklus <strong>II</strong> ini rupanya lebih<br />
menyenangkan. Pertemuan pertama dengan<br />
siswa kelas V<strong>II</strong> C ada semacam kemudahan.<br />
Siswa terlihat antusias menyambut<br />
kedatangan kami. Siswa terlihat berdo’a<br />
dengan khusuk walau ada dua siswa yang<br />
masih asyik bercerita. Siswa menjawab<br />
salam dengan kompak sambil berdiri<br />
setelah mendengar salam guru. Kegiatan<br />
lebih cair dan bersemangat ketika guru<br />
mengajak untuk menjawab kata-kata,<br />
“Halo, Hai” yang harus dijawab<br />
kebailkannya ditirukan persis dengan irama<br />
dan intonasinya. Guru mencoba memancing<br />
tentang pelajaran pada pertemua<br />
sebelumnya, “Masih ingat dengan AIR<br />
RAKSA, ada yang bisa menjelaskan!”<br />
beberapa siswa rebutan menjawab dengan<br />
mengacungkan tanganya. Kemudian siswa<br />
diajak ke luar mengamati objek gambar<br />
pemandangan alam untuk diidentifikasi<br />
dengan lebih baik. Setelah sampai di depan<br />
objek guru menjelaskan lagi langkahlangkah<br />
penulisan puisi dengan teknik AIR<br />
RAKSA.<br />
Siswa bekumpul membentuk kelompok<br />
kecil. Sambil mengamati para siswa<br />
berdiskusi untuk mengidentifikasi kata-kata<br />
yang mungkin belum ditulis. Setelah durasa<br />
cukup, siswa masuk kembali ke kelas untuk<br />
merangkai kata-kata menjadi puisi yang<br />
indah. Guru terus memberikan bimbingan<br />
sementara kolaburator mengamati proses<br />
pembelajaran. Setelah terlihat bait-bait<br />
puisi, siswa lain dalam kelompok saling
mengoreksi atau mengadakan revisi dari<br />
segi diksi, rima dan imajinasi. Koreksi<br />
teman dilakukan dengan melingkari dan<br />
menuliskan kata yang kurang tepat dengan<br />
pengganti kata yang lebih baik. Sambil<br />
memberi bimbingan kepada siswa, guru<br />
melakukan pengamatan terhadap proses dan<br />
kesulitan siswa dan memberikan penjelasan.<br />
Tugas dikumpulkan dan dilanjutkan<br />
pada pertemuan ke dua.<br />
Pertemuan kedua pada hari Sabtu, 05<br />
Februari <strong>2012</strong> jam ke-1 dan 2 seperti biasa<br />
guru mengawali dengan salam dan<br />
beberapa kegiatan awal. Guru membacakan<br />
puisi karya salah satu siswa. Siswa<br />
mendengarkan sambil melakukan koreksi<br />
secara spontan. Guru mengajak siswa<br />
kembali melakukan pengamatan sebentar<br />
dan tugas yang sudah dibuat itu dikonfirmasi<br />
lagi ke teman-teman kelompok<br />
diskusikan kepada teman sebangku atau<br />
kelompok barang kali ada yang kurang<br />
tepat dengan cara mencoret dan menggantinya.<br />
Kemudian disatukan lagi dengan<br />
membentuk bait puisi yang lebih baik. Puisi<br />
yang dibuat siswa diapresiasikan dengan<br />
cara membaca di depan kelas sebagai rasa<br />
pertanggungjawaban.<br />
Observasi<br />
Pada Siklus kedua hasil belajar siswa<br />
mencapai nilai 78. Nilai ini sudah di atas<br />
dari patokan acauan nilai yang tentukan<br />
sebesar 74 berdasarkan KKM yang<br />
dirumuskan oleh kelompok guru mata<br />
pelajaran Bahasa Indonesia di SMP NU<br />
Gresik. Ini berarti pembelajaran pada<br />
siklus kedua mencapai peningkatan dari<br />
rata-rata 69 pada siklus pertama menjadi<br />
78 pada siklus kedua. Ini berarti yang<br />
diinginkan dalam dalam pembelajaran<br />
menulis puisi melalui objek gambar<br />
keidahan alam yang di lukis di tembok<br />
sekolah berhasil. Terlihat pada siklus kedua<br />
siswa sudah meningkat dalam menulis puisi<br />
semua aspek mengalami peningkatan yakni<br />
aspek,tema diksi, rima dan imajinasi<br />
berurutan mendapat nilai 95, 90, 94. 92 dan<br />
95 pada siklus pertama. Sedangkan pada<br />
Mahmudiono<br />
siklus kedua aspek tema diksi, rima dan<br />
imajinasi berurutan mendapat nilai 105,<br />
103, 106, 104 dan 104. Ini berarti setiap<br />
aspek mengalami peningkatan<br />
Begitu pula pada motivasi siswa dalam<br />
proses belajar. Respon siswa terhadap<br />
proses belajar mengajar siklus kedua<br />
semakin besar hal ini terlihat pada<br />
komponen pertanyaan angket nomor 4<br />
dengan skor jawaban 80% pada siklus<br />
pertama menjadi 100% pada siklus kedua<br />
peningkatan sebesar ada 20% yang berarti<br />
semua siswa aktif dalam pembelajaran<br />
menulis puisi melalui objek gambar<br />
pemandangan alam. Begitu juga dengan<br />
keberanian siswa dalam bertanya mengalami<br />
peningkatan sebesar 43% dari 34%<br />
pada siklus pertama menjadi 77% pada<br />
siklus kedua sedangkan sisanya sudah<br />
terlihat mau bertanya tetapi dibatasi oleh<br />
guru. Siswa tidak mengalami kesulitan<br />
dalam menulis puisi dengan mengamati<br />
objek gambar yang ada di lingkungan<br />
sekolah hal ini terlihat ada peningkatan<br />
19% atau 73% atau 19 siswa menjadi 92%<br />
atau 24 siswa. Secara umum indikator<br />
respon siswa terhadap proses pembelajaran<br />
menulis puisi melalui objek gambar<br />
mengalami peningkatan sehingga dapat<br />
dikatakan berhasil.<br />
Refleksi<br />
Berdasarkan penjelasan di atas dapat<br />
disimpulkan bahwa kegiatan siklus <strong>II</strong> ini<br />
lebih baik dibanding siklus I. Hal ini<br />
tampak pada hasil observasi yang<br />
menunjukkan adanya peningkatan nilai<br />
hasil belajar dari siklus I ke siklus <strong>II</strong> yakni<br />
69% mencapai 78%. Berikut data-data<br />
hasil pelaksanaan pembelajaran siklus I dan<br />
<strong>II</strong>.<br />
SIMPULAN DAN SARAN<br />
Hasil belajar siswa mengalami<br />
peningkatan yakni pada siklus I mencapai<br />
dengan ketuntasan belajar secara klasikal<br />
57%, sedangkan pada siklus <strong>II</strong> hasil belajar<br />
47
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
siswa dengan ketuntasan secara klasikal<br />
mencapai 100%<br />
Begitu juga pada respon atau motivasi<br />
siswa terhadap proses pembelajaran<br />
semakin meningkat yakni 57,2% menjadi<br />
80% .<br />
Berdasarkan simpulan tersebut maka<br />
disarankan: (1) guru hendaknya mempunyai<br />
ide-ide baru untuk membuat teknik-teknik<br />
atau metode baru agar membuat proses<br />
pembelajaran menjadi lebih baik dan<br />
menarik, (2) teknik AIR RAKSA<br />
hendaknya diterapkan dalam pembelajaran<br />
di sekolah dan tidak hanya terfokus pada<br />
pembelajaran Bahasa Indonesia saja, dan<br />
(3) peneliti lain yang ingin menerapkan<br />
teknik AIR RAKSA hendaknya mengembangkan<br />
lebih baik, lebih menarik dan<br />
efektif.<br />
DAFTAR RUJUKAN<br />
Badrun, Ahmad. 1989. Teori Puisi. Jakarta:<br />
FKIP Universitas Mataram.<br />
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2004.<br />
Jakarta: Departemen Pendididikan<br />
Nasional.<br />
48<br />
Kurikulum Bahasa Indonesia 2004 SLTP.<br />
Jakarta: Departemen Pendidikan<br />
Nasional.<br />
Maleong, Lexy. 2002. Metodologi<br />
Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.<br />
Remaja Posdakarya.<br />
Mulyasa, H.E. 2009. Praktik Penelitian<br />
Tindakan Kelas. Bandng: PT. Remaja<br />
Rosdakarya.<br />
Sudjana, Nana dan Ibrahim. 2009. Pelitian<br />
dan Penilaian Pendidikan. Bandung:<br />
Sinar Baru Algensindo.<br />
Suharianto, S. 2005. Dasar-dasar Teori<br />
Sastra. Semarang: Pustaka Setia.<br />
Sunarti dan Subana, M. 2009. Strategi<br />
Belajar Mengajar Bahasa Indonesia.<br />
Bandung: Alumni.<br />
Soetomo. 1993. Dasar-Dasar Interaksi<br />
Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha<br />
Nasional.<br />
Tarigan, Henry Guntur. 1993. Menulis<br />
sebagai Keterampilan Berbahasa.<br />
Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS DESKRIPTIF<br />
DENGAN MENGGUNAKAN METODE WORDS WALL<br />
M. Ali Erfan<br />
SMP Negeri 1 Gresik<br />
Abstrak: Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui peningkatkan<br />
keterampilan menulis dengan menggunakan metode Words Wall. Menulis adalah<br />
kemampuan berbahasa yang sulit bagi siswa. Kesulitan tersebut tidak hanya<br />
mencari dan mengorganisir ide, tetapi juga menerjemahkan ide menjadi teks yang<br />
dibaca dan dipahami. Dalam pembelajaran menulis deskriptif penguasaan<br />
kosakata dianggap penting. Metode word wall adalah metode yang didesain untuk<br />
membuat tantangan dan memotivasi siswa mengembangkan kosakata bahasa<br />
Inggris sehingga siswa mudah menulis deskriptif. Penelitian ini termasuk jenis<br />
penelitian tindakan kelas terdiri dari tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari<br />
perencanaan, implementasi, pengamatan, dan refleksi. Hasil Penelitian<br />
menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode Words Wall<br />
dapat meningkatkan keterampilan menulis deskriptif pada saiswa kelas V<strong>II</strong> G<br />
SMP Negeri 1 Gresik tahun pelajaran 2010-2011.<br />
Kata kunci : keterampilan menulis , teks deskriptif, metode words wall.<br />
B<br />
anyak pakar yang mengatakan<br />
bahwa menulis adalah kemampuan<br />
berbahasa yang paling sulit bagi<br />
siswa untuk menguasainya. Kesulitan<br />
tersebut tidak hanya mencari dan<br />
mengorganisasi sebuah ide, tetapi juga<br />
menerjemahkan ide-ide itu menjadi sebuah<br />
teks yang dapat dibaca dan dipahami oleh<br />
pembaca. Menurut Richard (2008:303)<br />
kemampuan yang ada pada Menulis adalah<br />
sangat kompleks diantaranya adalah<br />
penguasaan ejaan, tanda baca, pilihan kata,<br />
dan lain-lain<br />
Dalam pembelajaran menulis deskriptif<br />
di kelas V<strong>II</strong> seperti yang terlihat dalam<br />
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sering<br />
kali siswa diminta manulis tanpa diberikan<br />
model dari guru sehingga banyak siswa<br />
yang merasa kurang dalam hal penguasaan<br />
kosakata semakin jauh dari kemampuan<br />
yang diharapkan oleh kurikulum. Penguasaan<br />
kosakata dianggap paling penting<br />
ketika siswa menulis teks diskriptif.<br />
Menurut Richard (2008:255) bahwa<br />
Kosakata adalah komponen penting dalam<br />
kecakapan berbahasa dan menyediakan<br />
banyak hal tentang bagaimana seorang<br />
pelajar berbicara, membaca, mendengarkan<br />
dan menulis.<br />
Guru sering mengabaikan pembelajaran<br />
menulis di kelas karena dia harus<br />
mengoreksi pekerjaan siswa baik dalam<br />
proses maupun dalam tahap akhir menulis.<br />
Biasanya guru langsung memerintahkan<br />
siswa menulis setelah mereka belajar<br />
membaca teks teks yang ada di buku.<br />
Mereka dianggap sudah bisa menulis<br />
diskriptif meskipun dengan membaca teks<br />
namun tidak demikian seorang guru harus<br />
memberikan satu atau dua model<br />
pembelajaran menulis bersma sama dengan<br />
siswanya di kelas. Dengan demikian siswa<br />
akan mengetahui strategi dan metode yang<br />
dikembangkan oleh guru dalam mengembangkan<br />
paragraph dalam sebuah teks<br />
diskriptif. Menurut Harmer (2007:6)<br />
bahwa proses pembelajaran menulis ada<br />
empat langkah yaitu planning, drafting,<br />
editing, final version. Oleh sebab itu,<br />
seorang guru seharusnya melayani
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
siswanya dengan sabar pada saat mereka<br />
belajar menulis teks deskriptif.<br />
Kesulitan yang paling banyak ditemui<br />
pada siswa pada saat menulis teks deskriptif<br />
adalah kurang nya kosakata yang dihafal.<br />
Sebenarnya mereka sudah banyak yang<br />
mengetahui kosakata tersebut, artinya sudah<br />
tersimpan dalam memori mereka, tetapi<br />
karena jarang digunakan pada sering terjadi<br />
lupa. Mengapa demikian terjadi menurut<br />
Harmer (2007: 329) karena para siswa tidak<br />
pernah menulis sesuatu dengan menggunakan<br />
bahasa pertamanya sehingga<br />
mereka merasa tidak mempunyai sesuatu<br />
untuk dikatakan atau tidak ada ide.<br />
Siswa RSBI kelas V<strong>II</strong> G SMP Negeri 1<br />
Gresik juga mengalami hal yang serupa<br />
dengan penjelasan diatas meskipun kemampuan<br />
mereka rata rata baik mereka masih<br />
perlu cara yang inovatif untuk mengembangkan<br />
ide-ide mereka dengan bebas.<br />
Mereka perlu diberikan tugas semacam<br />
creative writing karena creative writing<br />
menyarankan tugas secara imaginatif<br />
seperti menulis deskriptif, cerita dan plays.<br />
Untuk mengatasi kesulitan tersebut<br />
maka peneliti membaca beberapa metode<br />
pembelajaran dan membuat rencana pembelajaran<br />
yang dapat mempermudah siswa<br />
menulis teks deskriptif. Salah satu<br />
pembelajaran yang dapat mempermudah<br />
siswa menulis teks deskriptif adalah dengan<br />
menggunakan metode word wall. Metode<br />
word wall adalah metode yang didesain<br />
untuk membuat tantangan dan memotivasi<br />
siswa mengembangkan kosakata bahasa<br />
Inggris sehingga siswa akan merasa mudah<br />
menulis teks deskriptif<br />
Menulis bukanlah semata mata masalah<br />
mentranformasikan “bahasa” ke dalam<br />
symbol symbol tertentu, namun lebih<br />
merupakan proses berpikir (sitorus dan<br />
50<br />
Said: 1997: 1) selanjutnya Dagher (1976:1)<br />
mendefinisikan bahwa menulis merupakan<br />
proses berpikir yang dituangkan di atas<br />
kertas dalam bentuk tulisan.<br />
Ada sejumlah pendekatan yang berbeda<br />
pada latihan keterampilan menulis baik di<br />
dalam atau di luar kelas. Guru perlu<br />
memilih diantaranya dengan menentukan<br />
apakah guru menginginkan siswa lebih<br />
fokus pada proses menulis daripada hasil<br />
tulisan, apakah guru menginginkan siswa<br />
menulis genres, dan apakah guru tersebut<br />
ingin mendorong siswa menulis kreatif<br />
sehingga terjadi kebiasaan menulis bagi<br />
siswa (Harmer, 2007: 325). Peranan guru<br />
dalam kegiatan menulis adalah sebagai<br />
motivator, sumber, dan sebagai penyedia<br />
umpak balik (feedback provider). Sebagai<br />
motivator guru selalu mendorong siswa,<br />
menciptakan kondisi yang baik untuk<br />
memberikan kreatifitas ide, menjelaskan<br />
kegunaan kegiatan menulis, dan mendorong<br />
siswa berusaha sebaik mungkin untuk<br />
menulis. Sebagai sumber guru harus selalu<br />
siap menyediakan informasi dan bahasa jika<br />
diperlukan, menasihati yang konstruktif<br />
bagi kebaikan tulisan siswa, dan selalu<br />
memberikan waktu jika ada siswa atau<br />
meminta siswa membaca hasil tulisan<br />
siswa. Sebagai peyedia umpan balik guru<br />
seharusnya merespon secara positif dan<br />
dengan dorongan semangat yang positif<br />
pada apa yang sudah ditulis oleh siswa.<br />
Guru selalu menawarkan koreksi pada<br />
siswa, dan memilihkan apa dan seberapa<br />
banyak untuk difokuskan tulisan siswa.<br />
Ada empat proses menulis menurut<br />
Harmer (2007: 326) yaitu planning,<br />
drafting, editing, dan final version<br />
sebagaimana yang digambarkan di bawah<br />
ini.
<strong>Des</strong>kripsi adalah pemaparan atau<br />
penggambaran dengan kata-kata suatu<br />
benda, tempat, suasana atau keadaan.<br />
Seorang penulis deskripsi mengharapkan<br />
pembacanya, melalui tulisannya, dapat<br />
„melihat‟ apa yang dilihatnya, dapat<br />
„mendengar‟ apa yang didengarnya,<br />
„merasakan‟ apa yang dirasakanya, serta<br />
sampai kepada „kesimpulan‟ yang sama<br />
dengannnya. Dari sini dapat disimpulkan<br />
bahwa deskripsi merupakan hasil dari<br />
obesrvasi melalui panca indera, yang<br />
disampaikan dengan kata-kata (Marahimin.<br />
1993: 46). Pada penelitian ini siswa menulis<br />
deskriptif tentang benda, orang, dan<br />
tempat. Topik topik yang disajikan sesuai<br />
dengan pendekatan Communicative Language<br />
Teaching yaitu apa yang selalu<br />
dilakukan oleh siswa dalam kegiatan sehari<br />
hari.<br />
Metode word wall adalah kumpulan<br />
kosakata yang secara sistematik dipamerkan<br />
di dinding atau di ruang kelas dengan<br />
ukuran besar. Menurut Green‟s (1993)<br />
word wall dapat menberikan guru<br />
mekanisme serbaguna untuk meningkatkan<br />
kosakata di dalam kelas. Word wall dapat<br />
digunakan dengan beberapa cara seperti<br />
word clustering, multiple meaning<br />
awareness activities, Vocabulary<br />
expansion, word part exercise, finding<br />
synonym or antonym, and crosswords<br />
Gambar 1. Empat Proses Menulis<br />
M. Ali Erfan<br />
puzzles. Menurut Cunningham dan<br />
Allington (1994) Word Wall adalah<br />
kumpulan kata yang didisplay untuk<br />
mendukung proses pembelajaran yang<br />
sedang berlangsung di dalam kelas.<br />
Menurut Allen janet (2007: 133) Bahwa<br />
metode word wall dapat digunakan untuk<br />
mendukung pembelajaran reading, writing<br />
dan speaking di kelas. Sebagaimana dalam<br />
kutipan di bawah ini :<br />
“Word Walls can work in a variety of<br />
ways to support reading, writing, and talk<br />
in your classroom. If you are creating and<br />
using a high-utility Word Wall, you will<br />
want to add words to the Word Wall as they<br />
are encountered in the course of students’<br />
learning. These words should be added as<br />
encountered in shared reading and study of<br />
individual words. The words should be ones<br />
you would want students to use in their<br />
writing and conversation”.<br />
Dari kutipan diatas menyebutkan cara<br />
bagaiman metode ini digunakan di kelas.<br />
Guru harus selalu memberikan kosakata<br />
baru atau ditulis pada papan untuk dispay<br />
sesuai dengan topik atau tema yang<br />
sedangn berlangsung .metode ini bisa<br />
digunakan pada reading, speaking dan juga<br />
writing.<br />
Bagaimana cara meningkatkan keterampilan<br />
menulis deskriptif bahasa Inggris<br />
51
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
dengan menggunakan metode “words wall”<br />
pada siswa kelas V<strong>II</strong> G RSBI semester 2<br />
SMP Negeri 1 Gresik? Tujuan Penelitian<br />
yang dicapai adalah untuk mengetahui<br />
peningkatan keterampilan menulis<br />
deskriptif bahasa Inggris dengan menggunakan<br />
metode words wall pada siswa<br />
kelas V<strong>II</strong> G RSBI SMP Negeri 1 Gresik.<br />
METODE<br />
Penelitian ini termasuk jenis penelitian<br />
deskriptif kualitatif dengan menggunakan<br />
model siklus yaitu perencanaan, implementasi,<br />
pengamatan, dan refleksi. Penelitian<br />
ini bertujuan memperbaiki dan meningkatkan<br />
pembelajaran keterampilan menulis<br />
siswa di kelas V<strong>II</strong> G SMP Negeri 1 Gresik<br />
dengan menggunakan metode word wall.<br />
Pada tahap perencanaan awal peneliti<br />
bertindak sendiri mempersiapkan penyusunan<br />
RPP dan mengkajinya untuk menemukan<br />
penyebab masalah. Kemudian<br />
melakukan pengamatan awal. Pada tahap<br />
implementasi disiapkan lembar pengamatan<br />
dan catatan catatan penting yang terjadi<br />
secara deskriptif.<br />
Rombongan belajar atau kelas yang<br />
digunakan penelitian kelas V<strong>II</strong> G di mana<br />
situasi dan kondisi kelas tersebut adalah<br />
rata rata hanya ada tiga siswa yang<br />
dianggap lambat belajar bila dibanding<br />
teman temannya sekelas. Jumlah siswa<br />
sebanyak 29 anak. Penelitian ini dilakukan<br />
hanya pada saat pembelajaran writing<br />
descriptive yaitu Kompetensi, alasan<br />
memilih kelas ini dilakukan penelitisn<br />
tindakan kelas karena kelas ini mengalami<br />
kesulitan menulis deskriptif, sedangkan<br />
waktu pelaksanaan penelitian ini adalah<br />
pertengahan bulan April 2011 sampai awal<br />
Mei 2011 dengan materi mendeskripsikan<br />
barang, tempat dan orang.<br />
Penelitian ini dilakukan dalam tiga<br />
siklus yang masing masing siklus<br />
mempunyai empat tahapan kegiatan yaitu<br />
perencanaan, implementasi, pengamatan,<br />
dan refleksi. Pada siklus I, pada tahap<br />
perencanaan dilakukan penyusunan RPP,<br />
52<br />
penyiapan media dalam bentuk power<br />
points dan kertas manila satu lembar, dan<br />
penyiapan kosakata sebanyak 50 kata yang<br />
berhubungan dengan benda yang akan<br />
diberikan siswa pada saat pembelajaran<br />
sebagai panduan peneliti menyiapkan<br />
lembar pengamatan untuk membuat catatan<br />
dekriptif.<br />
Pada tahap implementasi peneliti<br />
malakukan proses pembelajaran writing to<br />
describe things dengan menggunakan<br />
metode word wall pada hari Senin pada jam<br />
3-4, 18 April 2011, hari Rabu, 20 April<br />
2011 pada jam ke 4-5 , dan hari Kamis, 21<br />
April 2011 pada jam ke 3-4. Pada<br />
pertemuan pertama peneliti memberi contoh<br />
kosakata untuk ditampilkan di slide<br />
kemudian meminta siswa untuk menyebutkan<br />
bebrapa kosakata sampai sejumlah<br />
50 kata yang berhubungan dengan benda<br />
kemudian secara bersama dengan siswa<br />
mencari ide untuk menulis teks derkriptif<br />
tentang benda . siswa membuat draft tulisan<br />
desktiptif tentang benda dengan menggunakan<br />
kosakta yang ditayangkan di depan<br />
siswa. Pada pertemuan berikutnya kegiatan<br />
editing dimana peneliti juga sebagai guru<br />
memberikan kesempatan mengoreksi hasil<br />
draft siswa berikutnya peneliti satu persatu<br />
siswa maju ke depan meja guru.<br />
Selanjutnya dilakukan final version yang<br />
siap dipamerkan.<br />
Setelah implementasi selesai dilakukan<br />
refleksi dan kerjaan siswa dikumpulan<br />
selanjutnya dilakukan penilaian menulis<br />
dengan menggunakan rubric penilaian<br />
writing. Peneliti menyimpulkan proses<br />
pembelajaran dan mengkaji RPP yang telah<br />
dibuat untuk perbaikan. Kegiatan refleksi<br />
ini digunakan sebagai perencanaan siklus<br />
berikutnya.<br />
Pada siklus kedua peneliti melakukan<br />
penyusunan RPP perbaikan, penyiapan<br />
media dalam bentuk Power Points dan<br />
kertas manila 1 lembar, dan penyiapan<br />
kosakata sebanyak 100 kata yang berhubungan<br />
dengan orang yang akan diberikan<br />
siswa pada saat pembelajaran sebagai<br />
panduan peneliti Menyiapkan lembar
pengamatan untuk membuat catatan<br />
dekriptif.<br />
Pada tahap implementasi ini dilakukan<br />
proses pembelajaran writing to describe<br />
people dengan menggunakan metode word<br />
wall pada hari Senin pada jam 3-4, 25 April<br />
2011, hari Rabu, 27 April 2011 pada jam ke<br />
4-5 , dan hari Kamis, 28 April 2011 pada<br />
jam ke 3-4. Pada pertemuan pertama<br />
peneliti memberi contoh kosakata untuk<br />
ditampilkan di slide kemudian meminta<br />
siswa untuk menyebutkan bebrapa kosakata<br />
sampai sejumlah 100 kata yang berhubungan<br />
dengan orang kemudian secara<br />
bersama dengan siswa mencari ide untuk<br />
menulis teks derkriptif tentang orang.<br />
Siswa membuat draft tulisan desktiptif<br />
tentang benda dengan menggunakan<br />
kosakata yang ditayangkan di depan siswa.<br />
Pada pertemuan berikutnya kegiatan editing<br />
dimana peneliti juga sebagai guru<br />
memberikan kesempatan mengoreksi hasil<br />
draft siswa berikutnya peneliti satu persatu<br />
siswa maju ke depan meja guru.<br />
Selanjutnya dilakukan final version yang<br />
siap dipamerkan.<br />
Setelah implementasi selesai dilakukan<br />
dan pekerjaan siswa dikumpulan selanjutnya<br />
dilakukan penilaian menulis dengan<br />
menggunakan rubrik penilaian writing.<br />
proses pembelajaran disimpulkan dan RPP<br />
dikaji unttuk keperluan perbaikan. Kegiatan<br />
refleksi ini digunakan sebagai perencanaan<br />
siklus berikutnya.<br />
Pada siklus ketiga peneliti melaksanakan<br />
kegiatan perencanaan perbaikan<br />
yaitu; menyusun RPP Perbaikan, Menyiapkan<br />
media dalam bentuk Power Points dan<br />
kertas manila satu lembar, dan menyiapkan<br />
kosakata sebanyak 125 kata yang berhubungan<br />
dengan tempat yang akan diberikan<br />
siswa pada saat pembelajaran sebagai<br />
panduan Menyiapkan lembar pengamatan<br />
untuk membuat catatan dekriptif.<br />
Pada tahap implementasi dilakukan<br />
proses pembelajaran writing to describe<br />
place dengan menggunakan metode word<br />
wall pada hari Senin pada jam 3-4, 2 Mei<br />
M. Ali Erfan<br />
2011, hari Rabu, 4 Mei 2011 pada jam ke 4-<br />
5, dan hari Kamis, 5 Mei 2011 pada jam ke<br />
3-4. Pada pertemuan pertama peneliti<br />
member contoh kosakata untuk itampilkan<br />
di slide kemudian meminta siswa untuk<br />
menyebutkan bebrapa kosakata sampai<br />
ejumlah 125 kata yang berhubungan dengan<br />
benda kemudian secara bersama dengan<br />
siswa mencari ide untuk menulis teks<br />
derkriptif tentang tempat. Siswa membuat<br />
draft tulisan desktiptif tentang tempat<br />
dengan menggunakan kosakta yang<br />
ditayangkan di depan siswa.<br />
Pada pertemuan berikutnya kegiatan<br />
editing guru mengoreksi hasil draft siswa<br />
berikutnya peneliti satu persatu siswa maju<br />
ke depan meja guru. Selanjutnya dilakukan<br />
final version yang siap dipamerkan.<br />
Pengamatan dilakukan saat pembelajaran<br />
berlangsung oleh peneliti yang juga sebagai<br />
guru. Mencatat segala sesuatu yang terjadi<br />
pada saat pembelajaran berlangsung.<br />
Setelah implementasi selesai dilakukan dan<br />
kerjaan siswa dikumpulan selanjutnya<br />
dilakukan penilaian menulis dengan menggunakan<br />
rubrik penilaian writing, dan<br />
disimpulkan. RPP juga dikaji yang telah<br />
dibuat untuk perbaikan. Kegiatan refleksi<br />
ini digunakan sebagai langkah perbandingan<br />
terhadap siklus sebelumnya karena<br />
pada refleksi ini siswa sudah mengalami<br />
peningkatan.<br />
Data penelitian tindakan kelas ini<br />
adalah kumpulan kosakata yang didisplay<br />
di kelas dan hasil karya tulisan siswa<br />
tentang deskripsi benda, orang , dan tempat.<br />
Selain itu data berupa hasil pengamatan dan<br />
wawancara dengan seluruh siswa di kelas<br />
pada saat setelah menyelesaikan sebuah<br />
karya tulisan. Sumber data dalam penelitian<br />
tindakan kelas ini adalah semua siswa kelas<br />
V<strong>II</strong> G SMP Negeri 1 Gresik Semester 2<br />
tahun pelajaran 2010/2011.<br />
Data dalam penelitian ini diperoleh dari<br />
penugasan proyek yaitu siswa diberi waktu<br />
yang cukup untuk menulis teks deskriptif<br />
tentang benda, orang, dan tempat melalui<br />
proses planning, draft, editing, dan final<br />
version. Sedangkan data non proyek<br />
53
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
diambil dari hasil pedoman pengamatan dan<br />
wawancara seluruh siswa di kelas setelah<br />
menyelesaikan sebuah proyek.<br />
Data yang diperoleh dianalisis secara<br />
urutan yaitu; Pertama adalah mereduksi,<br />
kedua adalah mengorganisir data dan<br />
ketiga adalah menarik kesimpulan (Susanto,<br />
2010: 71). Mereduksi data adalah kegiatan<br />
membuang data yang tidak relevan dan<br />
mencatat data yang dapat digunakan untuk<br />
membuktikan hipotesis. Mengorganisir data<br />
adalah mendeskripsikan data secara naratif<br />
sesuai dengan urutan kegiatan pembelajaran.<br />
Menarik kesimpulan adalah kegiatan<br />
54<br />
mengolah data secara kualitatif. Analisa<br />
data dilakukan pada saat refleksi sesudah<br />
pengamatan.<br />
HASIL DAN PEMBAHASAN<br />
Pada siklus I siswa menulis teks<br />
deskriptif benda. Siklus kedua siswa<br />
menulis teks deskriptif orang, dan siklus<br />
ketiga siswa menulis teks deskriptif tempat.<br />
Di bawah ini adalah hasil rata rata penilaian<br />
menulis dengan menggunakan penialian<br />
rubrik.<br />
Tabel 1. Tabel penilaian menulis deskriptif dengan penilaian rubrik<br />
Rata rata<br />
Contents Coherence Spelling Grammar Vocabulary Total<br />
0 - 50 0 -20 0 -10 0 -10 0 -10 100<br />
Siklus 1 30 10 5 5 4 54<br />
Siklus 2 35 15 6 5 6 67<br />
Siklus 3 48 18 8 8 8 90<br />
<strong>Des</strong>kripsi Refleksi Siklus I<br />
Komponen yang perlu diperbaiki<br />
Refleksi dilakukan dengan tujuan<br />
menemukan kegiatan kegiatan yang perlu<br />
diperbaiki serta menetapkan solusinya.<br />
Hasil refleksi terhadap kegiatan pembelajaran<br />
pada siklus pertama diperoleh temuan<br />
yang tidak sesuai dengan metode word wall<br />
dan perlu diperbaiki yaitu pembelajaran<br />
menulis teks deskriptif tidak diawali dengan<br />
pameran kosakata di depan siswa sehingga<br />
siswa merasa kesulitan menulis meskipun<br />
ide siswa baik. Siswa masih kurang<br />
memhami konsep teks deskriptif menurut<br />
kurikulum RSBI.<br />
Solusi yang digunakann adalah<br />
masalah kurang memahaminya konsep teks<br />
deskriptif diberikan penjelasan dan pemberian<br />
contoh contoh secara riil pada siswa<br />
secara lisan dalam diskusi kelas dan diikuti<br />
menulis kalimat yang menggambarkan<br />
benda. Kemudian untuk supaya ide siswa<br />
berjalan lancar peneliti mengajak siswa<br />
untuk mengungkapkan kosa kata sebanyak<br />
mungkin sampai sejumlah 75 kata tentang<br />
benda atau yang berhubungan dengan<br />
benda dengan dikatagorikan menjadi kata<br />
kerja, kata sifat, kata depan, kata benda, dan<br />
kata keterangan kemudian dipamerkan di<br />
depan siswa untuk dibuat acuan ketika<br />
mereka menulis teks deskriptif. Siswa<br />
mulai proses menulis diawali dengan<br />
planning, membuat draft awal, editing, dan<br />
final revision.<br />
Berdasarkan uraian diatas, dapat<br />
disimpulkan bahwa proses pembelajaran<br />
menulis teks deskriptif dengan menggunakan<br />
metode word wall pada siklus kedua<br />
dilakukan sebagai berikut: pertama diterangkan<br />
kembali tentang konsep deskriptif<br />
menurut kurikulum RSBI dengan tujuan
agar siswa memahami lebih baik lagi tidak<br />
lagi bercampur dengan teks yang lain<br />
seperti teks report.<br />
<strong>Des</strong>kripsi Refleksi Siklus <strong>II</strong><br />
Pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran<br />
menulis teks deskriptif dengan<br />
menggunakan metode word wall pada siswa<br />
kelas V<strong>II</strong> G SMP Negeri 1 Gresik semester<br />
2 tahun pelajaran 2010/2011 pada siklus<br />
kedua dilaksnakan sebagai berikut: hari<br />
Senin, tanggal 25 April 2011 pada jam 3-4<br />
materi describing people, hari Rabu,<br />
tanggal 27 April 2011 pada jam ke 4-5<br />
materi describing people, dan hari Kamis,<br />
Tanggal 28 April 2011 pada jam ke 3-4<br />
materi describing people. Pelaksanaan<br />
pembelajaran pada siklus kedua ini<br />
berpedoman pada RPP siklus kedua (lihat<br />
lampiran) yang telah disusun dalam tahap<br />
perencanaan pada siklus pertama hasil<br />
tulisan siswa belum memuaskan karena<br />
masih banyak siswa yang belum memahami<br />
konsep teks deskriptif dan kosakata yang<br />
dituangkan pada siklus pertama 75 kosakata<br />
dan belum maksimal digunakan oleh siswa.<br />
Peneliti perlu memberikan penjelasan<br />
bagaiman mengembangkan ide.<br />
<strong>Des</strong>kripsi Refleksi Siklus <strong>II</strong>I<br />
Pelaksanaan siklus ketiga adalah<br />
perbaikan tindakan dari siklus ke dua<br />
dimana pada saat out siswa sudah menunjukkan<br />
peningkatan baik dari kosakata<br />
maupun dari faktor pengembangan ide<br />
menulis maish perlu diberikan yang lebih<br />
bevariasi. Siklus ini adalah tahap akhir dari<br />
tiga siklus yang direncanakan. Pada tahap<br />
akhir ini siswa diharapkan sudah menulis<br />
teks deskriptif tentang gambaran tempat<br />
umum yang siswa kunjungi. Pada tahap ini<br />
siswa diminta melakukan ekplorasi<br />
kosakata sendiri kemudian dipamerkan di<br />
papan tulis sebanayak 125 kata dari topik<br />
yang diberikan.<br />
Pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran<br />
menulis teks deskriptif dengan<br />
M. Ali Erfan<br />
menggunakan metode word wall pada<br />
siklus kedua dilaksnakan sebagai berikut:<br />
hari Senin, tanggal 2 Mei 2011 pada jam 3-<br />
4 materi describing place, hari Rabu,<br />
tanggal 4 mei 2011 pada jam ke 4-5 materi<br />
describing place, dan hari Kamis, Tanggal 5<br />
Mei 2011 pada jam ke 3-4 materi<br />
describing place. Pelaksanaan pembelajaran<br />
ini berpedoman pada RPP siklus ketiga<br />
yang disusun pada tahap perencanaan.<br />
Pada setiap pelaksanaan pembelajaran<br />
setiap siklus guru menyampiakan apakah<br />
ada kesulitan atau tidak. Pada siklus<br />
pertama sekitar 35% siswa mengalami<br />
kesulitan menulis karena lemahnya<br />
kosakata yang dimilikinya. Pada siklus<br />
kedua keadaan ini menurun ada<br />
peningkatan kemampuan menulis yaitu<br />
20% mengalami kesultan menulis deskriptif<br />
pada pengembangan ide. dan pada siklus<br />
ketiga 1% siswa yang mengalami masih<br />
tetap mengalami kesulitan menulis. pada<br />
siklus ini peneliti menyimpulkan bahwa<br />
siswa secara klasikal sudah dapat menulis<br />
teks deskriptif dan bahkan ada beberapa<br />
siswa sudah mencapai menulis kreatif.<br />
SIMPULAN DAN SARAN<br />
Berdasarkan hasil analisa data<br />
penelitian tindakan kelas bahwa pembelajaran<br />
menulis dengan menggunakan<br />
metode word wall di kelas V<strong>II</strong> G SMP<br />
Negeri I Gresik pada semester 2 tahun<br />
pelajaran 2010/2011 berhasil dengan baik.<br />
Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran<br />
menulis deskriptif mengalami peningkatan<br />
karena siswa sebelumnya dipamerkan<br />
kosakata agar tidak menganggu mengekspresikan<br />
ide-idenya. Kosakata yang<br />
dipamerkan dari siklus satu ke yang lain<br />
meningkat yaitu dari 75 hingga 125 kata<br />
sehingga semakin banyak kata yang dihafal<br />
oleh siswa semakin mereka muda menulis<br />
teks deskriptif. Siswa harus diberikan suatu<br />
model teks yang dikerjakan secara bersama<br />
dengan guru di awal pembelajaran untuk<br />
memberikan pengalaman belajar.<br />
55
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
Guru hendaknya memberikan kosakata<br />
yang dipamerkan di depan kelas sebelum<br />
siswa diajak menulis dan siswa diajak aktif<br />
mengeskplorasi kosakata tersebut yang<br />
berhubungan dengan topik yang diberikan.<br />
Guru membantu mengeskplorasi kosakata<br />
dengan suasana menyenangkan. Guru<br />
hendaknya dengan sabar membuat model<br />
tukisan deskriptif bersama siswa, mengoreksi<br />
dan memberikan masukan selama<br />
proses menulis dari langkah planning,<br />
membuat draft, proses editing dan final<br />
revisionseihingga siswa merasa senantiasa<br />
diperhatikan dan siswa merasa puas karena<br />
hasil karyanya dipamerkan dan dipublikasikan<br />
di sekolah.<br />
DAFTAR RUJUKAN<br />
Arikunto, S; Suhardjono; Supardi.. 2006.<br />
Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:<br />
Bumi Aksara<br />
Allen, J. 2007. Inside words : tools for<br />
teaching academic vocabulary, grades<br />
4–12. Poland: Stanehouse Publisher.<br />
Brown, H. 2000. Principle of Language<br />
Learning and Teaching. USA: San<br />
Francisco State University.<br />
………. 2000. Language assessment<br />
Principle and Classroom Practice .<br />
USA: San Francisco State University.<br />
56<br />
………….. 2001. Teaching by Principle an<br />
interactive Approach to Language<br />
Pedogogy. USA: San Francisco State<br />
University.<br />
BSNP. 2007. Standar Kompetensi Lulusan<br />
Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMP-<br />
SBI. Jakarta: Depdiknas.<br />
Harmer, J. 2007 The Practice Of English<br />
Language Teaching. Fourth Edition.<br />
China: Pearson Longman. China<br />
..………..,2007. How to teach English.<br />
Pearson Longman. England<br />
Higgins James M. 1994. 101 Creative<br />
problem solving Techniques. USA:<br />
New Management Publishing<br />
Company. Inc.<br />
Richard, C. J. and Willy A. R. . 2008.<br />
Methodology in Language Teaching an<br />
anthology of current Practice. New<br />
York: Cambridge.<br />
Stoller. 2009. The materials on workshop<br />
on “teaching reading and<br />
Vocabulary.” Surabaya.<br />
Susanto. 2010. Konsep Penelitian Tindakan<br />
Kelas dan Penerapnnya. Surabaya:<br />
Lembaga Penerbit FBS UNESA.
PENERAPAN PEMBELAJARAN DIRECT INSTRUCTION<br />
DENGAN MODELING HARDVARD AND STEP<br />
UNTUK MENINGKATKAN HASIL PEMBELAJARAN PENJASKES<br />
Suswanto<br />
SMA Negeri 1 Gresik<br />
Abstrak: Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan<br />
hasil pembelajaran Penjaskes melalui model Direct Instruction dengan Modeling<br />
Hardvard and Step pada siswa Kelas XI di SMK Negeri 1 Sidayu. Kegiatan<br />
dilakukan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam dua<br />
siklus, setiap siklus meliputi; perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.<br />
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan, antara lain;<br />
aktivitas senang latihan 60% menjadi 98%, penguasaan konsep materi dari 57%<br />
menjadi 100%, aktivitas berlatih 62% menjadi 97%, kemampuan berfikir dari<br />
62% menjadi 98%, keberanian menyampaikan pendapat dari 52% menjadi 99%.<br />
Dengan demikian disarankan untuk menerapkan model pembelajaran Direct<br />
Instruction dengan Modeling Hardvard and Step untuk meningkatkan hasil<br />
pembelajaran Penjaskes pada pokok bahasan mempraktikkan berbagai bentuk<br />
latihan kelincahan, power, dan daya tahan.<br />
Kata kunci : direct instruction, modeling hardvard and step, dan kesegaran<br />
jasmani.<br />
P<br />
enerapan model pembelajaran<br />
dengan metode yang bervariasi<br />
yang mengarah kepada student<br />
oriented sebagai dasar melakukan penelitian,<br />
namun berdasarkan refleksi dari<br />
tahun pelajaran sebelumnya bahwa hasil<br />
belajar siswa masih rendah. Hasil pembelajaran<br />
ini dipengaruhi oleh kebugaran<br />
jasmani siswa, motivasi, aktivitas bertanya<br />
dan menjawab. Perolehan yang<br />
demikian diduga karena belajar siswa<br />
kurang bermakna, supaya terjadi belajar<br />
yang bermakna salah satu solusi yang<br />
dapat di tetapkan adalah menggunakan<br />
model pembelajaran Direct Instruction<br />
yang dilengkapi Model Harvard and Step<br />
dan dilengkapi alat untuk pelatihan siswa,<br />
maka guru mempunyai kesempatan untuk<br />
memperbaiki kualitas pembelajaran serta<br />
berusaha terus-menerus memperbaiki teknik<br />
mengajarnya. Permasalahan mendasar<br />
dalam penelitian ini adalah bagaimana<br />
meningkatkan kesegaran jasmani siswa<br />
dalam pembelajaran pendidikan jasmani<br />
dan kesehatan yang mampu meningkatkan<br />
kualitas belajar.<br />
Manfaat penelitian ini dapat diuraikan<br />
sebagai berikut; (1) bagi siswa untuk<br />
meningkatkan kesegaran jasmani siswa<br />
sehingga memiliki kemampuan belajar<br />
yang handal; (2) siswa memperoleh<br />
pengetahuan baru dengan membentuk<br />
pengetahuan itu untuk dirinya sendiri; (3)<br />
pengetahuan baru yang dibangun siswa<br />
berasal dari seperangkat ragam pelatihan<br />
setiap siswa tanpa memandang ras, budaya<br />
dan jenis kelamin mampu memahami dan<br />
mengerjakan; (4) bagi peneliti untuk<br />
meningkatkan kinerja sebagai seorang<br />
guru; (5) bagi sekolah merupakan realita<br />
peningkatan kompetensi siswa yang<br />
identik dengan mutu pendidikan sekolah.<br />
Ruang lingkup penelitian; (1) siswa<br />
kelas XI dibatasi sebanyak 30 pada siswa<br />
kelas XI SMK Negeri 1 Sidayu, Gresik<br />
Tahun Pelajaran 2010-2011; (2) kualitas<br />
belajar dibatasi pada perolehan proses
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
dan hasil belajar, meliputi kefahaman/<br />
afektif, kemampuan/kognitif, dan ketrampilan/psikomotorik;<br />
(3) materi pelatihan<br />
dibatasi pada konsep mempraktikkan<br />
berbagai bentuk latihan kelincahan,<br />
power dan daya tahan dengan model<br />
Harvard and Step (siklus I) dan (siklus<br />
<strong>II</strong>); dan (4) Kurikulum yang digunakan<br />
dalam PTK ini adalah Kurikulum Tingkat<br />
Satuan Pendidikan (KTSP).<br />
Direct Instruction (DI) adalah konsep<br />
pembelajaran yang membantu guru<br />
mengaitkan antara materi yang diajarkannya<br />
dengan situasi dunia nyata siswa dan<br />
didorong siswa membuat hubungan antara<br />
pengetahuan yang dimilikinya dengan<br />
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari<br />
(Dir.PLP, 2003). Strategi Pembelajaran<br />
Direct Instruction ditekankan pada<br />
pentingnya pemecahan masalah sehingga<br />
siswa menyadari perlunya kegiatan belajar<br />
mengajar dan dilakukan dalam berbagai<br />
konteks, rumah, masyarakat, dan tempat<br />
kerja. Siswa dipantau dan diarahkan dalam<br />
pembelajaran agar menjadi siswa yang<br />
dapat belajar sendiri, mampu pada konteks<br />
kehidupan siswa yang berbeda, mendorong<br />
siswa belajar dari sesama teman dan belajar<br />
bersama serta hasil belajar siswa<br />
menggunakan penilaian autentik<br />
Dewasa ini kalangan remaja maupun<br />
orang dewasa ingin memiliki bentuk tubuh<br />
yang ideal serta stamina yang baik, namun<br />
tidak mengerti bagaimana latihan yang<br />
baik dan benar sehingga tidak memperoleh<br />
manfaat dari latihan yang dilakukannya<br />
bahkan mengalami cidera atau overtrain.<br />
Komite medis dari Federasi Internasional<br />
Binaraga (IFBB) menyatakan; jika anda<br />
tidak berotot maka anda tidak dapat<br />
melakukan sesuatu, dengan banyak otot<br />
anda dapat melakukan sesuatu yang jauh<br />
lebih baik. Lebih dari itu dengan komposisi<br />
tubuh yang sempurna memudahkan<br />
seseorang mendapatkan sukses dalam<br />
olahraga.<br />
Tubuh kuat dan perkembangan otot<br />
agar menjadi lebih baik, The American<br />
Collage of Sport Medicine (Indonesia:<br />
58<br />
Perhimpunan Pembina Kesehatan Olahraga)<br />
menganjurkan kita berlatih 3 sampai<br />
5 kali setiap minggunya. Setiap berlatih<br />
lama memerlukan waktu 15 sampai dengan<br />
60 menit (tergantung dari intensitas<br />
latihan), dan intensitas latihan antara 50% -<br />
80% KAM (Kapasitas Aerobic Maximal =<br />
Vo Max) atau latihan yang terus menerus<br />
(Kontinyu) dan berlangsung antara 15<br />
sampai dengan 60 menit pasti<br />
membutuhkan oksigen untuk membentuk<br />
kembali ATP sebagai sumber energi gerak.<br />
Menurut COOPER latihan semacam ini<br />
yang membutuhkan energi disebut latihan<br />
“AEROBIC WITH AIR” (dengan udaranya<br />
yang mengandung oksigen). Ciri latihan<br />
Aerobic adalah menempuh jarak yang<br />
cukup jauh dalam waktu yang lama, atau<br />
gerakannya bukan sprint yang cepat jadi<br />
berupa “LONG SLOW DISTANCE”,<br />
latihan yang sesuai untuk pembentukan<br />
tubuh dan stamina seperti yang diuraikan di<br />
atas adalah: (1) HARVARD STEP UP yaitu<br />
alat bantu untuk latihan pembentukan otot<br />
berupa bangku digunakan untuk melatih<br />
CARDIO VASCULAIR juga dapat pula<br />
dipakai untuk melatih pembentukan otot<br />
kaki, otot dada, otot bahu dan otot triceps.<br />
(2) THE STEP yaitu alat yang dipakai<br />
latihan senam Aerobic yang bertujuan<br />
supaya gerakan-gerakan yang dilaksanakan<br />
pembebannya makin bertambah sehingga<br />
akan membentuk otot-otot yang makin kuat<br />
disertai dengan daya tahan jantung yang<br />
makin baik. Fungsi utama dari alat ini<br />
adalah menciptakan .<br />
METODE<br />
Subjek penelitian ini adalah siswa<br />
kelas XI SMKN 1 Sidayu, Gresik tahun<br />
pelajaran 2010-2011, dilaksanakan lebih<br />
kurang selama tiga bulan dengan rincian<br />
sebegai berikut; (1) Pra Penelitian<br />
dilakukan refleksi dari tahun pelajaran<br />
sebelumnya, diperoleh hal yang perlu<br />
adanya peningkatan mutu pembelajaran<br />
yang seiring dengan kebugaran jasmani<br />
siswa sangat diperlukan; (2) pelaksanaan<br />
penelitian pada tanggal 18 Oktober sampai
dengan 25 Oktober 2010 dan hasil refleksi<br />
siklus I sebagai acuan menentukan<br />
perbaikan tindakan pada siklus <strong>II</strong>.dan hasil<br />
refleksi siklus <strong>II</strong> digunakan sebagai acuan<br />
untuk rencana tindak lanjut pada<br />
pembelajaran berikutnya.<br />
Rincian prosedur penelitian tindakan<br />
kelas siklus I sebagai berikut; (1) tahap<br />
perencanaan tindakan, meliputi; (a)<br />
menyusun rencana pembelajaran untuk<br />
setiap pertemuan yang didalamnya memuat<br />
skenario pembelajaran sesuai dengan<br />
strategi yang dipilih yaitu pembelajaran<br />
Direct Instruction; (b) menyiapkan alat-alat<br />
yang diperlukan untuk latihan metode HAS<br />
sesuai dengan kegiatan pembelajaran pada<br />
setiap pertemuan dan dilengkapi format<br />
penilaian; (c) menyusun lembar penilaian<br />
kegiatan pelatihan selama pemberian<br />
tindakan berlangsung, disertai dengan<br />
pedoman penilaian yang berisi indicator<br />
keterampilan kognitif, psikomotorik, dan<br />
afektif; dan (d) menyusun lembaran<br />
observasi untuk akhir pertemuan digunakan<br />
sebagai pedoman penilaian oleh observer<br />
(Lembar Kuesioner Respon siswa), dan (e)<br />
membuat jurnal kegiatan pembelajaran<br />
berupa catatan tentang berbagai hal yang<br />
muncul saat tindakan pembelajaran<br />
berlangsung (Lembar <strong>Jurnal</strong> Harian siswa);<br />
(2) Tahap Pelaksanaan Tindakan direncanakan<br />
dengan membuat skenario tahap<br />
mengajar diawali menjelaskan tujuan ajar<br />
(Informasi fungsi HAS), memberi<br />
bimbingan dan pelatihan tentang Harvard<br />
step up, Flat Bench, Incline and Decline<br />
Flat Bench, Dipping, Inversion, V Flat<br />
Bench, Vertical Jump Bench, The step,<br />
Controlling personal, Penerapan hasil<br />
belajar, Evaluing personal, Clossing; (3)<br />
Tahap observasi dilaksanakan dengan<br />
pelaksanaan tindakan dari pertemuan<br />
pertama hingga kedua untuk merekam<br />
segala aktivitas siswa, kinerja guru selama<br />
tindakan pembelajaran/latihan berlangsung,<br />
pada pertemua kedua diadakan evalusi dan<br />
diskusi dengan para observer untuk<br />
mengetahui temuan-temuan selama tindakan<br />
pembelajaran sebagai bahan refleksi,<br />
untuk diperbaiki pada pertemuan<br />
Suswanto<br />
berikutnya; dan (4) Tahap refleksi<br />
dilaksanakan di setiap akhir siklus dengan<br />
mengamati secara rinci segala hal yang<br />
terjadi di tempat latihan baik berupa<br />
aktivitas siswa maupun kinerja guru, hasil<br />
refleksi dua pertemuan pada siklus I<br />
digunakan sebagai dasar rencana perbaikan<br />
tindakan pada siklus <strong>II</strong>. Setiap kelemahan<br />
yang ditemukan di perbaiki pada<br />
pertemuan kedua dan begitu selanjutnya.<br />
Rincian pada Siklus <strong>II</strong> sebagai berikut:<br />
(1) Tahap Perencanaan Tindakan pada<br />
prinsipnya langkah-langkahnya sama<br />
seperti pada siklus I, namun pelaksanaan<br />
pembelajarannya memperbaiki dari kelemahan<br />
yang ditemukan selama siklus I.<br />
Hal-hal yang peneliti laksanakan pada<br />
tahap ini adalah sebagai berikut; (a)<br />
menyusun rencana pembelajaran/latihan<br />
dengan strategi pembelajaran sebagai<br />
berikut, (b) menyusun rencana pembelajaran<br />
setiap pertemuan yang didalamnya<br />
memuat skenario pembelajaran sesuai<br />
dengan strategi yang dipilih yaitu<br />
pembelajaran Direct Instuction, (c)<br />
menyusun instrumen penilaian sesuai<br />
dengan kegiatan pembelajran pada setiap<br />
pertemuan pada siklus <strong>II</strong>, (d) menyusun<br />
lembaran observasi kegiatan pembelajaran<br />
selama tindakan dan kinerja guru, disertai<br />
dengan pedoman observasi, masing-masing<br />
indikator keberhasilan dilengkapi dengan<br />
deskripsi sekaligus dengan skornya, dan (e)<br />
mengisi jurnal kegiatan pembelajaran/<br />
latihan berupa catatan tentang berbagai hal<br />
yang muncul saat tindakan pembelajaran<br />
berlangsung baik aktivitas siswa maupun<br />
aktivitas guru selama pelaksanaan siklus <strong>II</strong>;<br />
(2) Tahap Pelaksanaan Tindakan sama<br />
seperti pada siklus I, langkah-langkah<br />
pembelajaran yang peneliti laksanakan<br />
tertuang dalam rencana pembelajaran dan<br />
dilengkapi pemodelan HAS; (3) Tahap<br />
observasi dilaksanakan bersamaan pelaksanaan<br />
tindakan pada siklus <strong>II</strong> untuk<br />
merekam segala aktivitas siswa dan kinerja<br />
guru selama tindakan pembelajaran berlangsung<br />
dengan menggunakan lembar<br />
observasi. Pada akhir pertemuan<br />
mengadakan diskusi dengan para observer<br />
59
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
untuk mengetahui temuan-temuan selama<br />
tindakan pembelajaran sebagai bahan<br />
refleksi; dan (4) Tahap Refleksi merupakan<br />
tahap mengamati secara rinci segala hal<br />
yang terjadi di kelas baik berupa aktivitas<br />
siswa maupun kinerja guru.Hasil refleksi<br />
selama tiga pertemuan pada siklus I dan <strong>II</strong><br />
di gunakan sebagai rencana tindak lanjut<br />
pembelajaran selanjutnya.<br />
Pengumpulan data dilakukan melalui<br />
obersvasi kegiatan latihan di lapangan dan<br />
tindakan pembelajaran/latihan selama dua<br />
siklus, dan instrumen yang digunakan<br />
adalah lembar observasi untuk aktivitas<br />
siswa dan kinerja guru selama pelaksanaan<br />
tindakan, pengukuran denyut nadi sebelum<br />
dan sesudah latihan, jurnal kegiatan<br />
pembelajarana dan angket.<br />
Analisis data dilakukan secara<br />
deskriptif berdasarkan hasil observasi<br />
terhadap proses dan hasil belajar siswa<br />
dengan langkah sebagai berikut; (1)<br />
melakukan reduksi, yaitu mengecek dan<br />
mencatat kembali data-data yang telah<br />
terkumpul; (2) melakukan interpretasi,<br />
yaitu menafsirkan selanjutnya mewujudkan<br />
dalam bentuk pernyataan; (3) melakukan<br />
inferensi, yaitu menyimpulkan apakah<br />
dalam tindakan pembelajaraan ini terjadi<br />
peningkatan atau tidak dalam proses dan<br />
hasil belajar/latihan siswa berdasar kan<br />
hasil observasi yang dilaksanakan bersama<br />
observer; (4) tahap tindak lanjut, yaitu<br />
merumuskan langkah-langkah perbaikan<br />
untuk siklus berikutnya; dan (5)<br />
pengambilan kesimpulan, di ambil<br />
berdasarkan analisis hasil observasi yang<br />
disesuaikan dengan tujuan penelitian,<br />
kemudian dituangkan dalam bentuk<br />
interpretasi berupa kalimat pernyataan.<br />
Setelah lima langkah tersebut di atas,<br />
selanjutnya menetapkan pedoman<br />
peningkatan kualitas belajar dengan<br />
indikator sebagai berikut; (1) hasil<br />
belajar/latihan meningkat jika pengukuran<br />
denyut nadi dari sebelum latihan dan<br />
pengukuran sesudah melakukan latihan<br />
mengalami penurunan; (2) aktivitas siswa<br />
selama proses pembelajaran/ latihan<br />
60<br />
berlangsung melalui diskusi meliputi<br />
keterampilan kognitif (kemampuan<br />
mengembangkan), psikomotorik (kemampuan<br />
menggunakan) dan afektif (kemampuan<br />
memahami suatu problema) dinyatakan<br />
meningkat jika mengalami<br />
peningkatan dari siklus ke siklus; (3)<br />
penilaian aktivitas siswa melalui pengamatan<br />
kolaborator dinyatakan meningkat<br />
jika mengalami peningkatan dari siklus ke<br />
siklus.; dan (4) berdasarkan angket, respon<br />
siswa menyatakan setuju dengan tindakan<br />
pembelajaran Direct Instruction sebesar ><br />
75%.<br />
HASIL DAN PEMBAHASAN<br />
Bagian ini peneliti paparkan mengenai<br />
kondisi lapangan pada saat tindakan<br />
pembelajaran berlangsung, yaitu merekam<br />
semua aspek yang terjadi pada waktu<br />
penelitian. Supaya situasi pembelajaran<br />
dapat diikuti secara utuh, maka peneliti<br />
paparkan semua proses yang terjadi selama<br />
berlangsungnya pembelajaran.<br />
Pembelajaran siklus I berlangsung<br />
selama dua kali pertemuan, dan setiap kali<br />
pertemuan dilakukan penilaian oleh<br />
observer, dilaksanakan pada hari Senin 11<br />
Oktober 2010 mulai pukul 07.10 sampai<br />
dengan 08.10. Kegiatan diawali dengan<br />
penjelasan tujuan latihan HAS dan<br />
mengabsen siswa yang tidak hadir. Pada<br />
pertemuan ini jumlah siswa yang hadir 30<br />
siswa.Tempat latihan di bangsal di atur<br />
sesuai dengan posisi berbaris yang telah<br />
peneliti rencanakan. Setelah peneliti<br />
membuka pelajaran, selanjutnya dilakukan<br />
pengukuran denyut nadi siswa sampai<br />
selesai, setelah itu melakukan gerak badan<br />
untuk pemanasan, membimbing siswa<br />
untuk melakukan gerakan Harvard step up<br />
dan diikuti masing-masing siswa, memberi<br />
contoh gerakan Flat Bench yang diikuti<br />
masing-masing siswa, dilanjutkan gerakan<br />
Incline and Decline Flat Bench, kemudian<br />
peneliti melanjutkan dengan memberi<br />
contoh gerakan Dipping yang diikuti<br />
masing-masing siswa dilanjutkan gerakan<br />
Inversion dan gerakan Vertical Jump
Bench. Waktu latihan tinggal 10 menit<br />
peneliti memberi contoh gerakan The Step<br />
yang diikuti masing-masing siswa,<br />
kemudian istirahat duduk ditempat sambil<br />
peneliti melakukan tanya jawab, memberi<br />
tugas kelompok (2 orang siswa) membuat<br />
rangkuman pelatihan HAS dan cara<br />
menyusunnya namun respon siwa cukup<br />
baik dengan memilih kelompok masingmasing<br />
untuk dikerjakan di rumah. Peneliti<br />
mengakhiri latihan dengan mengucap<br />
salam, kemudian barisan dibubarkan, siswa<br />
masuk kekelasnya masing-masing. Peneliti<br />
melanjutkan diskusi dengan kolaborator<br />
sebagai penilai terhadap latihan pertemuan<br />
pertama yaitu hasil penilaian Afektif,<br />
Kognitif, Psikomotorik yang berbentuk<br />
lembar penilaian.<br />
Pertemuan kedua hari Senin 18<br />
Oktober dimulai tepat pukul 07.00. Peneliti<br />
berangkat ke bangsal, langsung membuka<br />
pelajaran dengan diawali doa, absensi dan<br />
memberi motivasi siswa tentang fungsi<br />
kebugaran bagi tubuh manusia dan<br />
menanyakan kepada siswa “Apa yang<br />
kalian rasakan setelah latihan kemarin<br />
lusa?” Siswa menjawab “Badan saya terasa<br />
keras Pak,” ada yang mengatakan “Latihan<br />
ini seharusnya rutin Pak” ada pula yang<br />
mengatakan “Makan saya tambah banyak<br />
Pak.”<br />
Segala yang dialami siswa merupakan<br />
dampak dari latihan ini, namun melihat<br />
expresi wajah mereka pada umumnya<br />
sangat antusias untuk latihan, kemudian<br />
peneliti memberi penjelasan kolaborator<br />
supaya penilaian dimulai dari pemanasan<br />
sampai akhir latihan dan siswa disiapkan<br />
berbaris mengambil jarak dimulai gerakan<br />
pemanasan sambil peneliti menerangkan<br />
nasing-masing gerakan.<br />
Pencontohan gerakan Harvard Step Up<br />
sebagai gerakan awal diikuti siswa dengan<br />
antusias sekali dilanjutkan contoh gerakan<br />
kedua Flat Bench rata-rata siswa<br />
melakukan dengan sungguh-sungguh<br />
demikian pula untuk gerakan ketiga Incline<br />
and Decline Flat Bench. Kegiatan<br />
dilanjutkan dengan gerakan Dipping dan<br />
Suswanto<br />
diikuti masing-masing siswa nampak<br />
ekspresi siswa melakukan latihan dengan<br />
semangat dan percaya diri, pada latihan ke<br />
lima gerakan Inversion dan latihan kelima<br />
gerakan V Flat Bench peneliti memberi<br />
contoh gerakan dengan agak slow untuk<br />
meregulasi tenaga siswa, sebab apabila<br />
tenaga siswa terlalu terforsir hasilnya<br />
kurang baik. Siswa mengikuti gerakan ini<br />
dengan semangat tinggi.<br />
Peneliti memberi contoh gerakan<br />
Vertical Jump Bench diikuti siswa dengan<br />
baik. Gerakan terakhir The Step, siswa<br />
masih semangat melakukan, akhir latihan<br />
siswa berbaris lagi untuk melakukan<br />
gerakan pelemasan (menghirup udara),<br />
istirahat duduk ditempat latihan sambil<br />
peneliti mengadakan tanya jawab, ada<br />
siswa yang menanyakan buku referensi<br />
latihan HAS, ada yang menunjukkan sket<br />
tugas rangkuman. Latihan siswa diakhiri<br />
berkemas diri dengan pakaian rapi, peneliti<br />
mengucapkan salam dan siswa dengan<br />
tertib masuk kelasnya masing-masing<br />
untuk mengikuti pelajaran berikutnya.<br />
Kelebihan dan kelemahan yang<br />
ditemukan selama melaksanakan tindakan<br />
peneliti kembangkan dan diperbaiki pada<br />
pertemuan berikutnya, dapat dijabarkan<br />
sebagai berikut; (1) partisipasi siswa saat<br />
latihan pada siklus pertama sudah mulai<br />
nampak jika dibandingkan sebelum di<br />
adakan penelitian; (2) rata-rata siswa cukup<br />
disiplin melakukan latihan (berdasarkan<br />
pengakuan siswa dan di luar jam belajar<br />
untuk mengerjakan tugas kelompok); (3)<br />
siswa nampak bergembira selama<br />
mengikuti latihan. Kegembiraan ini<br />
berdampak kepada semangat belajar siswa<br />
(rata-rata penilaiannya meningkat); (4)<br />
upaya peneliti memfasilitasi berlangsungnya<br />
PTK cukup bagus, hal ini nampak<br />
dari alat-alat yang tersedia selama<br />
berlangsungnya tindakan; dan (5) peneliti<br />
sangat bersemangat dalam memberi contoh<br />
gerakan.<br />
Rencana perbaikan kelemahan pada<br />
waktu penelitian antara lain; (1) peneliti<br />
telah berusaha memperbaiki kinerjanya<br />
61
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
dari pertemuan ke pertemuan; (2) peneliti<br />
telah melaksanakan validasi instrumen<br />
peneltian dengan cara memperbaiki<br />
instrumen tersebut dari pertemuan satu ke<br />
pertemuan berikutnya; (3) materi yang<br />
dibahas bersifat nyata dan langsung; (4)<br />
peneliti telah memberi motivasi yang<br />
cukup bermakna bagi siswa; (5) peneliti<br />
selalu mengadakan diskusi dengan<br />
observer/kolaborator di akhir pelatihan<br />
pada stiap pertemuan.<br />
Kelemahan pada siklus I sebagai<br />
berikut; (1) latihan pada pertemuan<br />
pertama waktunya kurang sehingga<br />
frequensi gerakannya rendah; (2) interaksi<br />
siswa dalam proses latihan kurang nampak<br />
dan keaktifan siswa belum merata; (3)<br />
pertemuan 1 lembar penilaian siswa kurang<br />
dipahami oleh kolaborator; (4) keaktifan<br />
siswa belum merata; (5) siswa belum<br />
diberi kesempatan merefleksi hasil<br />
latihannya; (6) observer memberikan<br />
intervensi kepada satu siswa saja; (7)<br />
peneliti belum memberikan kesimpulan<br />
dari hasil latihan.<br />
Perbaikan pada Pertemuan <strong>II</strong>; (1) perlu<br />
pengaturan waktu untuk memenuhi<br />
frequency gerakan, sehingga latihan sesuai<br />
target yang diinginkan/dicapai; (2) siswa<br />
diingatkan bila belum paham, agar<br />
bertanya dan melakukan gerakan dengan<br />
sungguh-sungguh; (3) peneliti menjelaskan<br />
lembar penilaian kepada kolaborator, dan<br />
didiskusikan bila mengalami kesulitan; (4)<br />
peneliti terus memotivasi keaktifan<br />
siswa;(5) memberi kesempatan kepada<br />
siswa untuk menyampaikan hasil latihan<br />
yang dirasakan; (6) berdiskusi dengan<br />
observer untuk menyepakati mengenai<br />
tugas dan fungsinya sebagai observer; dan<br />
(7) setelah pelatihan berakhir, peneliti<br />
memberikan kesimpulan dari hasil latihan<br />
yang sudah dilakukan.<br />
Pemberian tindakan pada siklus <strong>II</strong><br />
sama seperti pada siklus I, namun tindakan<br />
62<br />
ini merupakan perbaikan dari kelemahankelemahan<br />
yang muncul pada siklus I dan<br />
dilengkapi dengan perlakuan pencontohan<br />
(modelling), siklus <strong>II</strong> ini merupakan<br />
petemuan terakhir yaitu petemuan ketiga<br />
pada hari Senin 25 Oktober 2010 dimulai<br />
tepat pukul 07.00, pada akhir pertemuan ini<br />
peneliti melaksanakan postes, yaitu<br />
pengukuran denyut nadi semua peserta<br />
latihan dilanjutkan kembali ke kelasnya<br />
masing-masing untuk mengikuti pelajaran<br />
berikutnya.<br />
Kelebihan yang ditemukan selama<br />
pelaksanaan tindakan pembelajaran di<br />
siklus <strong>II</strong> sebagai berikut; (1) siswa sangat<br />
antusias dengan kegiatan<br />
pembelajaran/latihan; (2) siswa lebih aktif<br />
selama proses belajar di kelas; (3) siswa<br />
lebih kreatif, hal ini dapat di lihat dari ciri<br />
mereka menjawab dan bertanya, maupun<br />
dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan di<br />
sekolah; (4) siswa menjadi lebih<br />
komunikatif; (5) siswa berlomba untuk<br />
mendapatkan nilai terbaik; (6) konsentrasi<br />
siswa dalam belajar cukup tinggi, karena<br />
peneliti melakukan observasi dan diskusi<br />
dengan guru kelas; (7) siswa sudah<br />
terampil meyusun konsep materi dengan<br />
baik; (8) peneliti telah menerapkan dan<br />
mengembangkan kelebihan-kelebihan yang<br />
ditemukan di siklus I dikembangkan pada<br />
siklus <strong>II</strong>; (9) semua rencana perbaikan<br />
tindakan berdasarkan hasil refleksi siklus I<br />
telah dilaksanakan di siklus <strong>II</strong> dengan baik;<br />
dan (10) kontrol waktu sudah berjalan<br />
dengan baik, walaupun hanya 45 menit<br />
setiap jam, namun peneliti dapat mengatasi<br />
dengan baik.<br />
Keberhasilan aktivitas siswa dalam hal<br />
mengikuti pelatihan dapat diketahui dari<br />
hasil pengukuran denyut nadi sebelum dan<br />
sesudah melakukan pelatihan, hasil laporan<br />
pelatihan selama proses pelatihan, dan<br />
laporan hasil pembelajaran.
Tabel 1. Perkembangan Aktivitas Siswa dalam Pengukuran Denyut Nadi,<br />
dan Laporan Ilmiah.<br />
Aktivitas Nilai rata-rata kelas<br />
(dari 30 siswa )<br />
Hasil pengukuran<br />
Denyut Nadi<br />
Sebelum Sesudah<br />
% Ketuntasan rata-rata<br />
kelas(dari 30 siswa)<br />
115 104 86,9%<br />
Laporan pelatihan 75,30 80,33 100%<br />
Tabel 1 dapat dijelaskan bahwa<br />
pembelajaran/pelatihan dikatakan berhasil<br />
jika pengukuran denyut nadi mengalami<br />
penurunan, serta penyusunan laporan<br />
pelatihan telah memperoleh skor > 70<br />
sebanyak > 100%. Gambaran di atas dapat<br />
disimpulkan bahwa tindakan ini berhasil.<br />
Keberhasilan ini dapat dilihat pada tabel 1,<br />
yaitu pengukuran denyut nadi, serta<br />
penyusunan laporan ilmiah, sampai akhir<br />
pelatihan mencapai skor di atas batas<br />
Suswanto<br />
minimal, yaitu secara berturut-turut sebesar<br />
104; 80.33 sedangkan presentase<br />
ketuntasannya telah mencapai 86,9% dan<br />
100%. Jika dicermati kembali dua<br />
aktivitas siswa seperti tercantum pada tabel<br />
di atas, kemauan siswa mengikuti pelatihan<br />
menunjukan perolehan yang cukup tinggi,<br />
hal ini disebabkan karena siswa telah<br />
memiliki prasyarat pengetahuan dan<br />
menggunakan penilaian nyata.<br />
Tabel 2. Perkembangan Kemampuan Kognitif, Psikomotorik, dan Afektif akibat<br />
pemberian tindakan pada siklus I dan <strong>II</strong>.<br />
No Aktivitas<br />
Siklus I Siklus <strong>II</strong> % Peningkatan<br />
Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3<br />
Rata-rata<br />
%Ketuntasan<br />
Rata-rata<br />
1 Afektif 7.7 90 8.0 100 8.2 100 7.97 96.67<br />
2 Kognitif 7.8 90 8.1 100 8.3 100 8.07 96.67<br />
3 Psikomotorik 7.6 67.67 7.9 93.33 8.4 100 7.97 87.00<br />
No Aktivitas Siklus I Siklus <strong>II</strong> % Peningkatan<br />
Tabel 2 di atas dan grafik<br />
perkembangan aktivitas siswa nampak<br />
bahwa aktivitas siswa untuk kemampuan<br />
kognitif, psikomotorik, dan afektif mengalami<br />
peningkatan dari siklus ke siklus.<br />
Ketiga keterampilan tersebut dapat<br />
diketahui bahwa peningktan yang cukup<br />
tinggi adalah kemampuan kognitif, yaitu<br />
%Ketuntasan<br />
Rata-rata<br />
%Ketuntasan<br />
rata-rata meningkat sebesar 8.07% dan<br />
ketuntasannya meningkat sebesar 96.67%.<br />
Apabila dicermati perolehan mulai dari<br />
siklus I, keterampilan psikomotorik<br />
memperoleh skor yang paling rendah<br />
karena latihan baru dilakukan tiga kali saja,<br />
sedangkan idealnya latihan dilakukan tiga<br />
kali dalam satu minggu selama tiga bulan.<br />
Rata-rata<br />
%Ketuntasan<br />
63
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
Perolehan hasil pelatihan pengukuran<br />
denyut nadi pada latihan HAS selama dua<br />
siklus dapat dilihat pada tabel 3.<br />
64<br />
100<br />
80<br />
60<br />
40<br />
20<br />
GRAFIK PERKEMBANGAN AKTIVITAS SISWA<br />
0<br />
Tabel 3. Perbedaan Hasil Pengukuran Denyut Nadi<br />
No Pengukuran rata-rata 30 siswa<br />
Pengukuran Denyut Nadi<br />
1 2 3<br />
Rata-rata<br />
1. Rata-rata sebelum latihan 115 115 116 115<br />
2. Rata-rata sesudah latihan 104 104 104 104<br />
Rata-rata 109.5 109.5 110 109.5<br />
Tabel 3 di atas dan grafik pengukuran<br />
denyut nadi nampak bahwa hasil latihan<br />
HAS dapat meningkatkan kebugaran,<br />
sedangkan dari sebelum latihan<br />
pengukuran denyut nadi rata-rata 115 per<br />
menit, dan sesudah melakukan latihan<br />
pengukuran rata-rata menurun 104 per<br />
menit berarti denyut nadi lebih stabil.<br />
Afektif Kognitif Psikomotorik<br />
Menurunnya denyut nadi rata-rata 109.5<br />
permenit, yaitu nilai rata-rata perolehan<br />
latihan HAS. Perolehan demikian<br />
menandakan bahwa pembelajaran yang<br />
peneliti terapkan ini berhasil, pembelajaran<br />
dinyatakan berhasil.
120<br />
115<br />
110<br />
105<br />
100<br />
Respon Siswa Terhadap Tindakan<br />
Peneliti memberikan angket kepada<br />
siswa untuk mengetahui respon siswa<br />
95<br />
GRAFIK PENGUKURAN DN<br />
Pengukuran 1 Pengukuran 2 Pengukuran 3 Rata-rata<br />
Suswanto<br />
terhadap pembelajaran yang peneliti<br />
terapkan pada akhir siklus <strong>II</strong>. Hasil respon<br />
siswa dapat dilihati pada tabel 4.<br />
Tabel 4. Rincian Respon Siswa Terhadap Tindakan.<br />
Kriteria Yang Diukur<br />
Jumlah Responden Senang latihan modeling<br />
HAS<br />
Pilihan Jawaban<br />
SS S TS STS<br />
Skor Total 36 23 1 0<br />
% Keberhasilan 60 38 2 0<br />
Jumlah Responden Mudah memahami materi<br />
pelatihan<br />
Skor Total 17 13 0 0<br />
% Keberhasilan 57 43 0 0<br />
Jumlah Responden Termotivasi untuk berlatih 60<br />
Skor Total 21 37 2 0<br />
% Keberhasilan 35 62 3 0<br />
Jum Responden Meningkatkan kemampuan<br />
berfikir tinggi<br />
Skor Total 32 56 2 0<br />
60<br />
30<br />
90<br />
65
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
66<br />
% Keberhasilan 36 62 2 0<br />
Jumlah Responden Berani menyampaikan<br />
pendapat<br />
Tabel 4 di atas terlihat bahwa sebagian<br />
besar siswa setuju tehadap pembelajaran<br />
Direct Instruction dengan Modeling<br />
Harvard and Step, dengan rincian bahwa<br />
siswa menyampaikan sangat setuju dengan<br />
alasan melalui pembelajaran ini mereka<br />
menjadi senang latihan sebesar 60%, setuju<br />
sebesar 38%, dan hanya 2% menyatakan<br />
tidak setuju. Sedangkan siswa yang<br />
menjawab sangat setuju sebesar 57%,<br />
setuju sebesar 43%, karena melaui<br />
pembelajaran ini siswa menjadi mudah<br />
memahami materi pembelajaran. Kemu-<br />
70<br />
60<br />
50<br />
40<br />
30<br />
20<br />
10<br />
0<br />
KESIMPULAN DAN SARAN<br />
Hasil catatan lapangan selama dua<br />
siklus dapat disimpulkan bahwa model<br />
pembelajaran Direct Instruction dengan<br />
Modeling Harvard and Step dapat<br />
meningkatkan hasil pembelajaran<br />
Skor Total 28 31 1 0<br />
% Keberhasilan 47 52 2 0<br />
GRAFIK RESPON SISWA<br />
60<br />
dian menyatakan sangat setuju sebesar<br />
35% dan setuju sebesar 62%, tidak setuju<br />
3% karena dengan pembelajaran ini siswa<br />
menjadi termotivasi dalam belajar. Hanya<br />
sebesar 36% menyatakan sangat setuju dan<br />
626% setuju, tidak setuju 2% setuju<br />
dengan pembelajaran ini karena dapat<br />
meningkatkan kemampuan berfikir tingkat<br />
tinggi. Selanjutnya sebesar 46% sangat<br />
setuju dan 52% setuju, tidak setuju 2%<br />
dengan pembelajaran ini karena memfasilitasi<br />
keberanian siswa menyampaikan<br />
pendapat.<br />
SS S TS STS<br />
Penjaskes pada siswa Kelas XI di SMK<br />
Negeri I Sidayu Gresik. Keberhasilan<br />
pembelajaran model ini juga mampu; 1)<br />
memberikan kontribusi positif dalam<br />
membekali kemampuan siswa terhadap<br />
masalah yang dihadapi dalam kehidupan<br />
nyata; 2) membentuk sikap siswa, antara
lain; perhatian terhadap pembelajaran,<br />
semangat untuk melakukan tugas-tugas<br />
belajarnya, tanggung jawab dalam<br />
mengerjakan tugas belajarnya, reaksi yang<br />
ditunjukan tugas yang diterimanya merasa<br />
senang dan puas dalam mengerjakan tugas<br />
yang diberikan, berusaha mencari berbagai<br />
informasi yang diperlukan dalam pemecahan<br />
masalah, serta menilai kemampuan<br />
dirinya dan orang lain tentang hasil-hasil<br />
yang diperolehnya.<br />
Mengacu kepada kesimpulan, peneliti<br />
menyampaikan saran sebagai berikut; 1)<br />
supaya pelajaran ini dapat digunakan<br />
sebagai alternaitf pembelajaran olah raga<br />
dan kesehatan di sekolah pada jenjang<br />
SMA dengan latihan secara teratur; 2)<br />
dalam penelitian ini, kesegaran jasmani<br />
siswa belum muncul optimal, maka aspek<br />
ini dapat terus dikembangkan sesuai<br />
kondisi masing-masing dengan melakukan<br />
latihan secara teratur; dan 3) penelitian ini<br />
juga memberikan rekomendasi kepada<br />
peneliti lain untuk mengembangkan<br />
pembelajaran olah raga dan kesehatan yang<br />
dipadukan dengan metode-metode pembelajaran<br />
lain.<br />
DAFTAR RUJUKAN<br />
Cooper KH. 1983. Aerobic, alih bahasa<br />
Antonius Adiwiyoto. Jakarta: PT<br />
Gramedia<br />
Suswanto<br />
Moeloek D.1984. Dasar Fisiologi<br />
Kesegaran Jasmani dan Latihan Fisik.<br />
Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran<br />
UI.<br />
Sastropanoeler S.1985. Latihan Aerobic.<br />
Surabaya: Tim Pengabdian pada<br />
Masyarakat FPOK IKIP Surabaya.<br />
Azwar, S. 1988. Sikap Manusia, edisi ke-2.<br />
Yogjakarta: Pustaka pelajar.<br />
Arikunto, S. dkk. 2006. Penelitian<br />
Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi<br />
Aksara.<br />
A.Hamidsyah Noer, dkk. 1996.<br />
Kepelatihan Dasar. Jakarta:<br />
Depdikbud<br />
Ibrahim,M. dkk. 2002. Pembelajaran<br />
Kooperatif. Surabaya: Penerbit<br />
Universitas Negeri Surabaya.<br />
Moeljono Wiryoseputro dan Slamet<br />
Suherman. 1994. Kesehatan Olahraga.<br />
Jakarta: Depdikbud.<br />
Pakasi, S. 1981. Anak dan<br />
Perkembangannya. Jakarta: Gramedia.<br />
Sudjana, N. 1989. Penilaian Hasil Proses<br />
Belajar Mengajar. Bandung: PT.<br />
Remaja Rosdakarya.<br />
Wiriaatmadja, R. 2005. Metode Penelitian<br />
Tindakan Kelas. Bandung: PT.<br />
Remaha Rosadakarya.<br />
67
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
68
PENERAPAN METODE INKUIRI TERMODIFIKASI UNTUK MENINGKATKAN<br />
KECAKAPAN AKADEMIK DAN HASIL BELAJAR KIMIA KELAS XI TITL. 3<br />
SMKN 1 CERME<br />
Mujayanah<br />
SMKN 1 Cerme<br />
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kecakapan<br />
akademik dan hasil belajar Kimia melalui penerapan metode inkuiri termodifikasi<br />
bagi siswa kelas XI TITL.3 SMKN 1 Cerme Gresik tahun pelajaran 2011/<strong>2012</strong>.<br />
Penelitian ini berupa Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari dua siklus,<br />
diterapkan pada kelas XI TITL.3 dengan jumlah siswa 32 orang. Selama<br />
pembelajaran diamati peningkatan kecakapan akademik, kinerja dan sikap<br />
tanggungjawab siswa selama proses pembelajaran dan pada akhir siklus dilakukan<br />
tes evaluasi. Indikator keberhasilan ditunjukkan dengan ≥85 % siswa memperoleh<br />
hasil belajar ≥75, dan kecakapan akademik dengan kriteria baik. Hasil penelitian<br />
menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kecakapan akademik dan hasil belajar<br />
siswa kelas XI TITL.3 setelah menerapkan metode inkuiri termodifikasi pada<br />
kompetensi dasar elektrokimia. Kecakapan akademik siswa dari siklus I-<strong>II</strong> dari<br />
kriteria sedang (75%) menjadi baik (93,75%). Prosentase hasil belajar ≥75 dari<br />
siklus I-<strong>II</strong> pada aspek kognitif dari 87,50% menjadi 96,88%, psikomotorik dari<br />
90% menjadi 100% dan afektif dari 75% menjadi 90%. Respon siswa tentang<br />
minat menerapkan metode inkuiri termodifikasi pada mata pelajaran kimia pada<br />
siklus I-<strong>II</strong> mengalami peningkatan dari 81,25% menjadi 94%.<br />
Kata kunci : metode inkuiri termodifikasi, kecakapan akademik, hasil belajar.<br />
P<br />
ada awal millenium ketiga, dunia<br />
pendidikan Indonesia, khususnya<br />
pendidikan kejuruan, dihadapkan<br />
pada tantangan global, internal, dan praktis<br />
pendidikan kejuruan. Salah satu upaya yang<br />
sangat penting dilakukan adalah mengadakan<br />
penataan dan pembenahan semaksimal<br />
mungkin dalam sektor pendidikan<br />
kejuruan, baik penataan dalam pola<br />
rekrutmen, pengembangan program pendidikan<br />
dan pelatihan atau kurikulum, inovasi<br />
proses pendidikan dan pelatihan, pengembangan<br />
evaluasi, serta sertifikasi (Tilaar,<br />
1999).<br />
Inkuiri merupakan salah satu<br />
komponen penting dalam pendekatan<br />
kontekstual dan konstruktivistik, yang telah<br />
berkembang pesat dalam proses pembaharuan<br />
pendi-dikan Indonesia dewasa ini.<br />
Pendekatan kontektual merupakan pende-<br />
katan pembelajaran yang menekankan pada<br />
upaya guru untuk membuat kaitan antara<br />
materi pelajaran dengan situasi dunia nyata<br />
siswa serta mendorong siswa untuk<br />
menghubungkan pengetahuan yang sudah<br />
dimilikinya dengan penerapannya dalam<br />
kehidupan sehari-hari. Menekankan kegiatan<br />
siswa pada proses belajar melalui kegiatan<br />
sehingga siswa tidak hanya belajar<br />
untuk sebanyak mungkin menghafal fakta<br />
dan konsep yang sudah ada dalam bukubuku<br />
teks, melainkan terlibat dalam<br />
kegiatan mempelajari proses pencarian dan<br />
penemuan fakta dan konsep berdasarkan<br />
masalah kontekstual yang ada disekitarnya<br />
(Nurhadi, 2004).<br />
Kenyataan pada materi konsep reaksi<br />
redoks dan elektrokimia di kelas XI TITL.3<br />
SMKN 1 Cerme Gresik diperoleh nilai<br />
rata-rata masih rendah. Dari 32 siswa hanya
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
22 siswa yang mendapat nilai ≥ 7,50 dan<br />
persentase ketuntasan klasikal 68%.<br />
Berdasarkan hasil observasi menunjukkan<br />
kecakapan akademik siswa aspek kecakapan<br />
akademik masih rendah. Data<br />
diperoleh melalui wawancara bahwa siswa<br />
kelas XI TITL.3 kurang termotivasi dengan<br />
pembelajaran kimia yang dianggap sulit dan<br />
penerapan kurang berkaitan langsung<br />
kehidupan sehari-hari.<br />
Berdasarkan kenyataan dan akar<br />
masalah pada materi konsep reaksi redoks<br />
maka dibutuhkan metode pembelajaran<br />
yang dapat membuat siswa menemukan<br />
konsep secara mandiri melalui metode<br />
ilmiah. Dalam metode inkuiri termodifikasi,<br />
siswa dirangsang untuk memecahkan<br />
masalah melalui pengamatan, eksplorasi<br />
dan atau melalui prosedur penelitian untuk<br />
memperoleh jawabannya. Pemecahan<br />
masalah dilakukan atas inisiatif atau<br />
caranya sendiri. Peran guru pada metode<br />
pembelajaran inkuiri termodifikasi ini<br />
sebagai pemberi motivasi, narasumber<br />
(resource person) dan memberikan bantuan<br />
yang diperlukan untuk kelancaran proses<br />
belajar mengajar. Bantuan yang dapat<br />
diberikan guru ialah dengan teknik<br />
pertanyaan, bukan berupa penjelasan. Ini<br />
dimaksudkan agar siswa tetap dirangsang<br />
berpikir untuk mencari dan menemukan<br />
cara–cara penelitian yang tepat. (Sudirman,<br />
1979).<br />
Metode inkuiri termodifikasi adalah<br />
metode yang menekankan pada eksplorasi,<br />
merancang dan melakukan proses belajar<br />
untuk mencari jawaban dari masalah yang<br />
diajukan guru. Bantuan yang dapat<br />
diberikan guru adalah mengarahkan kepada<br />
pemecahan masalah yang diperlukan oleh<br />
siswa.<br />
Tahapan inkuiri termodifikasi<br />
(modified inquiry) yang akan digunakan<br />
diadaptasi berdasarkan pendapat Joyce dan<br />
Weil (2009) meliputi lima tahap yaitu (1)<br />
pengajuan masalah, (2) pengumpulan dan<br />
verifikasi data, (3) melakukan eksperimen,<br />
(4) merumuskan penjelasan, (5) mengadakan<br />
analisis terhadap proses inkuiri.<br />
70<br />
Kecakapan akademik (academic scills)<br />
disebut juga kecakapan intelektual yang<br />
merupakan kecakapan berpikir ilmiah yang<br />
mengarah pada kegiatan yang bersifat<br />
akademik/ keilmuan (Anwar, 2006).<br />
Kecakapan akademik mencakup identifikasi<br />
variabel, merumuskan hipotesis, merancang<br />
dan melaksanakan penelitian untuk<br />
membuktikan gagasan atau keingintahuan.<br />
Hasil belajar adalah perubahan perilaku<br />
yang terjadi setelah mengikuti proses<br />
belajar mengajar sesuai dengan tujuan<br />
pendidikan. Aspek perubahan itu mengacu<br />
kepada taksonomi tujuan pembelajaran<br />
yang dikembangkan oleh Bloom, Simpson<br />
dan Harrow mencakup aspek kognitif,<br />
afektif dan psikomotor (Winkel, 1999).<br />
Bertolak dari permasalahan, akar<br />
masalah dan usulan pemecahan masalah<br />
yang diuraikan di atas, maka permasalahan<br />
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai<br />
berikut: (1) Apakah penerapan metode<br />
inkuiri termodifikasi dapat meningkatkan<br />
kecakapan akademik siswa selama proses<br />
pembelajaran kimia? (2) Apakah penerapan<br />
metode inkuiri termodifikasi dapat<br />
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata<br />
pelajaran kimia? (3) Bagaimanakah respon<br />
siswa terhadap penerapan metode inkuiri<br />
termodifikasi dalam mata pelajaran kimia?.<br />
METODE<br />
Jenis penelitian ini adalah penelitian<br />
tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan<br />
di SMK Negeri 1 Cerme Gresik. Subjek<br />
penelitiannya adalah siswa kelas XI<br />
TITL.3. Penelitian ini dilakukan pada<br />
semester genap tahun pelajaran 2011/<strong>2012</strong><br />
dan berlangsung selama lima bulan yaitu<br />
mulai bulan <strong>Des</strong>ember 2011 sampai dengan<br />
bulan April <strong>2012</strong>. Pelaksanaan penelitian<br />
(mengajar) dilakukan oleh guru bidang<br />
studi, sedangkan seorang guru lainnya<br />
bertindak sebagai pengamat (observer).<br />
Data yang diperlukan dalam penelitian<br />
ini adalah kecakapan akademik dan hasil<br />
belajar siswa. Untuk memperoleh data<br />
penelitian tersebut adalah dengan teknik
observasi, tes dan angket. Lembar observasi<br />
untuk mengukur (1) aspek kecakapan<br />
akademik siswa yang meliputi aspek<br />
merumuskan hipotesis, menentukan<br />
variabel, merancang/melaksanakan eksperimen,<br />
analisis data dan merumuskan<br />
kesimpulan (2) hasil belajar dalam aspek<br />
psikomotor dan afektif, dan Lembar tes<br />
untuk mengukur hasil belajar kognitif. Dan<br />
Lembar Angket untuk mengukur respon<br />
siswa terhadap metode inkuiri termodifikasi<br />
dalam pembelajaran kimia. Indikator<br />
keberhasilan ditunjukkan dengan ≥85%<br />
siswa memperoleh hasil belajar ≥75, dan<br />
kecakapan akademik dengan kriteria baik.<br />
Tahapan penelitiannya adalah: (1)<br />
perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi<br />
dan (4) refleksi. Dalam penelitian ini,<br />
dilaksanakan 2 siklus dan setiap siklus<br />
Siklus I<br />
Mujayanah<br />
terdiri dari 3 pertemuan yaitu 2 pertemuan<br />
tatap muka dan 1 pertemuan untuk evaluasi.<br />
Analisis data mengacu pada ketercapaian<br />
indikator kecakapan akademik, dan hasil<br />
belajar siswa terhadap penerapan metode<br />
inkuiri termodifikasi pada pembelajaan<br />
kimia.<br />
HASIL<br />
Kondisi Awal<br />
Tabel 1. Hasil Tes Awal Kecakapan Akademik<br />
Tes awal kecakapan akademik<br />
dilaksanakan sebelum penerapan metode<br />
inkuiri termodifikasi pada pelajaran kimia<br />
pokok bahasan elektrolit dan disajikan<br />
dalam Tabel 1.<br />
Aspek Kecakapan<br />
Akademik<br />
IPK Ket<br />
1. Merumuskan Masalah 59,38 sedang<br />
2. Hipotesis 43,75 rendah<br />
3. Identifikasi Variabel 43,75 rendah<br />
4. Merancang Percobaan 40,63 rendah<br />
5. Menyimpulkan 68,75 sedang<br />
Kegiatan yang dilakukan pada siklus I<br />
meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi,<br />
dan refleksi dan dilakukan dalam tiga<br />
kali pertemuan dalam setiap siklus.<br />
Perencanaan<br />
Pada siklus I ini desain instruksional<br />
untuk pertemuan 1 dan 2 dengan materi<br />
menentukan selisih potensial listrik dan<br />
membuat baterai sederhana. Rancangan<br />
program yang dibuat digunakan untuk<br />
pembelajaran 2 x 45 menit dengan rincian<br />
(1) apersepsi 10 menit (2) Kegiatan inti<br />
berisi pengerjaan lembar kerja siswa<br />
melalui pratikum dengan model pembela-<br />
jaran inkuiri termodifikasi selama 60 menit<br />
(3) presentasi 15 menit (4) penutup 5 menit.<br />
Membuat lembar observasi yang digunakan<br />
untuk mengukur keaktifan siswa<br />
dalam menyelesaikan suatu masalah.<br />
Membuat alat evaluasi soal tes tulis<br />
yang digunakan untuk mendapatkan data<br />
kemampuan siswa setelah mendapatkan<br />
tindakan dengan menggunakan metode<br />
inkuiri termodifikasi.<br />
Membuat lembar respon untuk<br />
disampaikan pada siswa berkaitan<br />
kelemahan siswa dalam menyelesaikan<br />
masalah yang telah diujikan oleh peneliti.<br />
71
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
Pelaksanaan Tindakan<br />
Pelaksanaan tindakan pada siklus I<br />
dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 22<br />
Pebruari sampai dengan 8 Maret 2011,<br />
peneliti melakukan kegiatan sesuai dengan<br />
apa yang telah direncanakan, dimulai<br />
dengan penjelasan pada siswa tentang<br />
kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa<br />
dalam mengikuti kegiatan.<br />
Berdasarkan informasi yang telah<br />
didapatkan pada saat observasi pembelajaran<br />
yang dilakukan oleh peneliti maka<br />
diidentifikasi kelemahan dan kekurangan<br />
yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan<br />
materi menentukan selisih potensial listrik<br />
dengan menggunakan metode inkuiri<br />
termodifikasi.<br />
Peneliti membagikan lembar kerja yang<br />
telah dirancang oleh peneliti untuk diselesaikan<br />
siswa secara keseluruhan dan<br />
peneliti berkeliling untuk mengamati cara<br />
kerja siswa serta membantu siswa yang<br />
mengalami masalah dalam menyelesaikan<br />
lembar kerja yang dibagikan dengan alat<br />
dan bahan yang sudah disiapkan peneliti.<br />
Pada saat pelaksanaan menyelesaikan<br />
lembar kerja siswa tampak beberapa siswa<br />
saling komunikasi dengan teman terdekatnya<br />
tentang cara penyelesaian dari<br />
lembar kerja yang dibagikan.<br />
Sambil berkeliling peneliti mencatat<br />
hambatan-hambatan yang terjadi pada saat<br />
siswa mengerjakan lembar kerja. Peneliti<br />
memerintahkan pada siswa yang telah<br />
mampu memecahkan masalah yang masih<br />
menjadi masalah pada sebagian besar siswa,<br />
untuk dijelaskan pada temannya cara<br />
memecahkan masalah tersebut.<br />
72<br />
Pada pertemuan ke tiga dari pembelajaran<br />
peneliti memberikan tes yang harus<br />
diselesaikan oleh seluruh siswa secara<br />
individual.<br />
Hasil Pengamatan<br />
Setelah lembar kerja yang mengarahkan<br />
siswa untuk memecahkan masalah<br />
menentukan selisih potensial listrik, dibagikan<br />
maka tampak siswa antusias dalam<br />
mengerjakan lembar kerja tersebut.<br />
Pada pengerjaan lembar kerja yang<br />
dibagikan semua siswa asyik dalam mengerjakan<br />
lembar kerja dan melaksanakan<br />
pratikum.<br />
Pada pelaksanaan pengerjaan lembar<br />
kerja tersebut tampak adanya siswa yang<br />
mengalami hambatan dalam menyelesaikan<br />
bertanya pada teman terdekatnya, namun<br />
langsung bertanya kepada peneliti.<br />
Pada pengerjaan lembar kerja<br />
ditemukan siswa yang belum memahami<br />
cara merencanakan dan melaksanakan<br />
percobaan membuat baterai dari buahbuahan.<br />
Tes Evaluasi diberikan pada pertemuan<br />
ketiga akhir dari siklus I dan setelah<br />
dikoreksi oleh peneliti didapatkan hasil dan<br />
pembahasan sebagai berikut.<br />
Kecakapan Akademik Siswa<br />
Hasil Kecakapan Akademik selama<br />
proses pembelajaran pada siklus pertama<br />
berlangsung ditunjukkan pada Tabel 2.<br />
Tabel 2. Hasil Kecakapan Akademik Pada Siklus I<br />
Nilai Jumlah Siswa Persentase Keterangan<br />
95-100<br />
90 – 94<br />
86 – 89<br />
80 – 85<br />
75 – 79<br />
70 – 74<br />
65 - 69<br />
0<br />
0<br />
0<br />
0<br />
8<br />
18<br />
9<br />
0<br />
0<br />
0<br />
25,00<br />
56,25<br />
28,12<br />
0<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Tuntas<br />
Tuntas<br />
Belum<br />
Tuntas
Berdasarkan Tabel 2 disimpulkan 75%<br />
dari jumlah siswa telah memiliki kecakapan<br />
Mujayanah<br />
akademik sselama penerapan metode<br />
inkuiri termodifikasi.<br />
Tabel 3 Hasil Kecakapan Akademik per Aspek pada Siklus I<br />
Aspek Kecakapan<br />
Akademik<br />
IPK Ket<br />
1. Merumuskan Masalah 81,25 tinggi<br />
2. Hipotesis 71,88 sedang<br />
3. Identifikasi Variabel 69,53 sedang<br />
4. Merancang Percobaan 70,31 sedang<br />
5. Menyimpulkan 67,97 sedang<br />
rata-rata sedang<br />
Secara keseluruhan kecakapan<br />
akademik siswa pada siklus I adalah<br />
sedang. Namun masih perlu ditingkatkan<br />
pada siklus berikutnya karena belum<br />
sepenuhnya kecakapan akademik dikuasai<br />
siswa dengan penerapan metode inkuiri<br />
termodifikasi.<br />
Hasil Belajar<br />
Aspek kognitif siswa yang dilaksanakanya<br />
diakhir proses pembelajaran<br />
dengan rincian hasil pada Tabel 4.<br />
Tabel 4. Distribusi Hasil Belajar Kognitif Siklus 1<br />
Nilai Jumlah Siswa Persentase Keterangan<br />
90 – 94<br />
86 – 89<br />
80 – 85<br />
75 – 79<br />
70 – 74<br />
60 – 64<br />
0<br />
0<br />
6<br />
18<br />
9<br />
2<br />
Dari Tabel 4 diatas dapat dilihat<br />
bahwasanya siswa yang mendapat nilai ≥<br />
75 berjumlah 28 orang dengan presentase<br />
87,50%, pada siklus I penerapan metode<br />
inkuiri termodifikasi dapat menghantarkan<br />
siswa mencapai ketuntasan belajar.<br />
0<br />
0<br />
18,75<br />
56,25<br />
28,15<br />
6,25<br />
Aspek Psikomotorik<br />
Tabel 5. Hasil Belajar Psikomotorik Siklus I<br />
Tuntas<br />
Tuntas<br />
Tustas<br />
Tuntas<br />
Belum Tuntas<br />
Belum Tuntas<br />
Penilaian hasil belajar aspek<br />
psikomotor dilakukan untuk mengetahui<br />
tingkat keterampilan siswa dalam<br />
melakukan praktikum.<br />
Nilai Jumlah Siswa Persentase Keterangan<br />
95-100<br />
90 – 94<br />
86 – 89<br />
80 – 85<br />
75 – 79<br />
70 – 74<br />
0<br />
0<br />
0<br />
20<br />
9<br />
3<br />
0<br />
0<br />
0<br />
62,50<br />
28,00<br />
9,50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Tuntas<br />
Tuntas<br />
Belum<br />
Tuntas<br />
73
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
Berdasarkan data pada tabel 5<br />
disimpulkan bahwa 29 siswa telah<br />
mencapai nilai psikomotorik ≥ 75 dengan<br />
prosentase ketuntasan 90,50% sehingga<br />
pembelajaran dinyatakan tuntas dalam<br />
aspek hasil belajar psikomotorik dengan<br />
penerapan metode inkuiri termodifikasi.<br />
74<br />
Aspek Afektif<br />
Aspek kognitif siswa yang<br />
dilaksanakanya selama proses pembelajaran.<br />
Untuk mengetahui perubahan<br />
sikap/karakter bertanggung jawab selama<br />
pembelajaran berlangsung.<br />
Tabel 6. Distribusi Hasil Belajar Afektif Siklus 1<br />
Nilai Jumlah Siswa Persentase Keterangan<br />
95-100<br />
90 – 94<br />
86 – 89<br />
80 – 85<br />
75 – 79<br />
70 – 74<br />
65- 69<br />
0<br />
0<br />
0<br />
4<br />
20<br />
4<br />
4<br />
Berdasarkan Tabel 6 disimpulkan<br />
bahwa jumlah siswa yang mencapai<br />
ketuntasan hanya 24 siswa dari 32 siswa,<br />
sehingga prosentase ketuntasan 75%.<br />
0<br />
0<br />
0<br />
12,50<br />
62,50<br />
12,50<br />
12,50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Tuntas<br />
Tuntas<br />
Belum Tuntas<br />
Belum Tuntas<br />
Hasil Pelaksanaan Tindakan Siklus I<br />
dan Hasil analisis data terhadap nilai ratarata<br />
amatan yang dicapai disajikan pada<br />
Tabel 7.<br />
Tabel 7. Hasil Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I<br />
No Aspek yang Dinilai<br />
Jumlah Siswa<br />
dgn n≥75<br />
Ketuntasan<br />
Klasikal<br />
Ket<br />
1 Kecakapan Akademik 24 75 Sedang<br />
2 Hasil belajar kognitif 28 87,50 Tercapai<br />
3 Hasl belajar psikomotor 29 90 Tercapai<br />
4 Hasil belajar afektif 24 75 Belum<br />
Tercapai<br />
Respon siswa tentang minat<br />
menerapkan metode inkuiri termodifikasi<br />
dalam pembelajaran kimia pada akhir siklus<br />
I disajikan dalam tabel 8.<br />
Tabel 8. Respon siswa tentang minat menggunakan metode inkuiri termodifikasi dalam<br />
mata pelajaran kimia pada siklus I<br />
Penilaian/pendapat Jumlah siswa Persentase (%)<br />
Sangat berminat 10 31,25<br />
Cukup berminat 16 50<br />
Kurang berminat 2 6,25<br />
Tidak berminat 4 1,25
Berdasarkan data pada tabel 8<br />
disimpulkan bahawa persentase respon<br />
siswa tentang minat menerapkan metode<br />
inkuiri pada pembelajaran kimia adalah<br />
81,25%.<br />
Siklus <strong>II</strong><br />
Perencanaan<br />
Pada perencanaan siklus <strong>II</strong> ini peneliti<br />
dan guru merencanakan tindakan sebagai<br />
berikut.<br />
Pertama, membuat kelompok kecil<br />
yang terdiri dari 3- 4 anak dan masing–<br />
masing kelompok dipimpin oleh anak yang<br />
dipilih dari anak yang punya kemampuan<br />
lebih dan mampu membimbing temannya<br />
dalam kelompok itu.<br />
Kedua, membuat rancangan pembelajaran<br />
materi elektrolisis untuk kelompok<br />
yang dipergunakan bagi pembelajaran<br />
selama 90 menit.<br />
Ketiga, membuat lembar kerja siswa<br />
yang dipergunakan untuk merencanakan<br />
proses elekrolisis.<br />
Keempat, merencanakan alat evaluasi<br />
yang berupa soal tes tulis dan lembar<br />
observasi yang digunakan untuk mengukur<br />
kemampuan siswa menggunakan model<br />
pembelajaran inkuiri termodifikasi.<br />
Pelaksanaan Tindakan<br />
Pelaksanaan tindakan siklus <strong>II</strong> pada<br />
hari Kamis, 15-29 Maret 2011 dengan<br />
materi proses elektrolisis dan korosi, pada<br />
tindakan di siklus <strong>II</strong> ini diawali:<br />
memberikan fenomena atau permasalahan,<br />
siswa dibagi setiap kelompok yang terdiri<br />
Mujayanah<br />
atas empat siswa dan menentukan ketua<br />
dari masing–masing kelompok tersebut,<br />
selanjutnya siswa berkumpul menurut<br />
kelompok masing–masing.<br />
Setelah siswa telah berkumpul dengan<br />
kelompoknya maka peneliti membagikan<br />
lembar kerja siswa tiga hari sebelum<br />
pelaksanaan untuk mengumpulkan<br />
informasi dari berbagai media tentang<br />
merencanakan dan melakukan elektrolisis<br />
larutan kalium iodida dan berkonsultasi<br />
dengan guru diluar jam pelajaran<br />
(mengeksplorasi). pada saat siswa mulai<br />
berdiskusi untuk merencanakan dan<br />
melaksanakan elektrolisis larutan kalium<br />
iodide, di hari pelaksanaan, peneliti<br />
berkeliling untuk mencatat kesalahan yang<br />
dilakukan kelompok untuk dibimbing serta<br />
mencatat siswa yang pasif agar bisa diajak<br />
aktif oleh kelompoknya.<br />
Berdasarkan waktu yang ditentukan<br />
pada lembar kerja habis maka peneliti<br />
meminta siswa membuat laporan dan siswa<br />
diberikan evaluasi selama 30 menit.<br />
Hasil Pengamatan<br />
Pada pelaksanaan siklus <strong>II</strong> ini tampak<br />
sekali bahwa siswa sangat antusias dalam<br />
mengerjakan LKS, semua siswa terlihat<br />
aktif bersama kelompoknya dalam menyelesaikan<br />
lembar kerja melalui merencanakan<br />
dan melakukan percobaan yang<br />
diberikan peneliti.<br />
Pada pertemuan ke tiga di siklus <strong>II</strong><br />
diberikan tes dan dikoreksi oleh teman<br />
sejawat dan hasilnya disajikan pada Tabel<br />
9.<br />
75
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
76<br />
Tabel 9. Hasil Kecakapan Akademik pada Siklus <strong>II</strong><br />
Nilai Jumlah Siswa dgn n≥75 Persentase Ket<br />
90 – 94<br />
86 – 89<br />
80 – 85<br />
75 – 79<br />
70 – 74<br />
13<br />
0<br />
12<br />
5<br />
2<br />
40,63<br />
0<br />
37,50<br />
15,63<br />
6,24<br />
Tuntas<br />
Tuntas<br />
Tustas<br />
Tuntas<br />
Belum<br />
Tuntas<br />
Tabel 10. Aspek Kecakapan Akademik pada Siklus <strong>II</strong><br />
Aspek Kecakapan Akademik Persentase Ket<br />
1. Merumuskan masalah 86% Amat Baik<br />
2. Hipotesis 99% Amat Baik<br />
3. Identifikasi Variabel 97% Amat Baik<br />
4. Merancang Percobaan 81% Baik<br />
5. Menyimpulkan 84% Baik<br />
Berdasarkan data pada tabel 9 dan 10<br />
disimpulkan bahwa pelaksanaan tindakan<br />
pada siklus <strong>II</strong> 93,75% dari jumlah siswa<br />
mencapai ketuntasan kecakapan akademik<br />
dengan kriteria baik.<br />
Hasil Pelaksanaan Tindakan Siklus <strong>II</strong><br />
dan Hasil analisis data terhadap nilai ratarata<br />
amatan yang dicapai disajikan pada<br />
Tabel 11.<br />
Tabel 11. Hasil Pelaksanaan Pembelajaran pada Siklus <strong>II</strong><br />
No Aspek Yang Dinilai Jumlah Siswa dgn n≥75 Ketuntasan Klasikal Ket<br />
1 Kecakapan Akademik 30 93,75 Baik<br />
2 Hasil belajar kognitif 31 96,88 Tercapai<br />
3 Hasl belajar psikomotorik 32 100 Tercapai<br />
4 Hasil belajar afektif 28 87,50 Tercapai<br />
Tabel 12. Respon Siswa terhadap Metode Inkuiri pada Siklus <strong>II</strong><br />
Penilaian/pendapat Jumlah siswa Persentase (%)<br />
Sangat berminat 12 37,50<br />
Cukup berminat 18 56,25<br />
Kurang berminat 2 6,25<br />
Tidak berminat 0 0<br />
Berdasarkan data pada tabel 8<br />
disimpulkan bahawa presentasi respon<br />
siswa tentang minat menerapkan metode<br />
inkuiri pada pembelajaran kimia adalah<br />
93,75%.<br />
PEMBAHASAN<br />
Hasil penelitian tindakan kelas ini<br />
menunjukkan bahwa pembelajaran metode<br />
inkuiri termodifikasi dapat meningkatkan<br />
kecakapan akademik dan hasil belajar kimia<br />
siswa kelas XI PTU.3 SMKN 1 Cerme<br />
Gresik. Hal ini dapat dilihat dari hasil
penelitian yang diuraikan di atas. Kualitas<br />
hasil belajar yang diidentifikasikan<br />
ketercapaian ketiga aspek kompetensi siswa<br />
dan kualitas proses pembelajaran untuk<br />
Mujayanah<br />
melatihkan kecakapan akademik dari siklus<br />
I sampai siklus <strong>II</strong> terjadi peningkatan<br />
seperti pada Tabel 13.<br />
Tabel 13. Rangkuman Hasil Penelitian Siklus I dan Siklus <strong>II</strong><br />
Siklus ke<br />
Jumlah Siswa dgn n≥75<br />
Kognitif Psikomotorik Afektif<br />
Kecakapan<br />
Akademik<br />
1 28 29 24 24<br />
2 31 32 28 30<br />
Berdasarkan rangkuman data pada<br />
tabel 13 pada tindakan siklus I dengan<br />
menerapan metode inkuiri dapat meningkatkan<br />
jumlah siswa yang memperoleh<br />
nilai≥75 baik pada penilaian hasil belajar<br />
maupun kecakapan akademik yang diamati<br />
pada saat proses pembelajaran berlangsung<br />
ketika dilakukan tindakan dengan<br />
menerapkan metode inkuiri termodifikasi.<br />
Ketuntasan klasikal pada pelaksanaan<br />
tindakan siklus I dan <strong>II</strong> terjadi peningkatan<br />
pencapaian seperti pada Tabel 13.<br />
Tabel 14. Rangkuman Hasil Pencapaian Ketuntasan Klasikal Siklus I dan <strong>II</strong><br />
Siklus Persentase Siswa dengan Hasil Belajar Kecakapan<br />
ke<br />
≥75<br />
Akademik/Kriteria<br />
Kognitif Psikomotorik Afektif<br />
1 87,50 90 75 Sedang (75)<br />
2 96,88 100 90 Baik (93,75)<br />
Pada siklus I ketuntasan klasikal aspek<br />
kognitif dan aspek psikomotorik tercapai,<br />
sedangkan aspek afektif belum tercapai<br />
karena persentase siswa dengan nilai≥ 75<br />
hanya 75%. Dan pada proses pembelajaran<br />
bertujuan menanamkan kecakapan akademik<br />
dengan kreteria sedang karena<br />
ketuntasan klasikal pencapaiannya 75%.<br />
Belum tercapainya ketuntasan klasikal<br />
pada siklus I disebabkan oleh beberapa<br />
faktor yaitu: (1) Siswa belum memahami<br />
tugasnya masing-masing sehinga belum<br />
mencapai hasil yang optimal pada<br />
pencapaian kecakapan akademik, (2)<br />
kelompok pratikum belum bekerja secara<br />
maksimal, (3) sebagian siswa dalam<br />
mengerjakan tugas/masalah, menunggu<br />
hasil pekerjaan temannya yang lebih pintar,<br />
dan (4) siswa dalam merencanakan dan<br />
melakukan percobaan kurang percaya diri<br />
dan sebagian besar siswa bersifat pasif.<br />
Pada siklus <strong>II</strong> pencapaian ketuntasan<br />
klasikal kompetensi dasar pada semua<br />
aspek telah tercapai dan juga intraksi siswa<br />
dalam bertanya, merencanakan percobaan<br />
dan berdiskusi berlangsung baik sehingga<br />
kecakapan akademik siswa lebih meningkat<br />
dibandingkan dengan pencapaian siklus I.<br />
Dari hasil observasi dan evaluasi pada<br />
siklus <strong>II</strong>, ternyata masih ada beberapa<br />
hambatan yaitu: (1) kinerja semua siswa<br />
belum optimalnya, karena masih ada siswa<br />
yang belum bertanggung-jawab untuk<br />
menyelesaiakan tugasnya tepat waktu, (2)<br />
waktu yang dibutuhkan dalam pembelajaran<br />
dengan metode inkuiri termodifikasi untuk<br />
setiap siswa bervariasi dalam menuntaskan<br />
pembelajaran karena memiliki kecepatan<br />
yang berbeda-beda, sehingga diperlukan<br />
77
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
tambahan waktu bimbingan diluar jam<br />
pembelajaran yang terjadwal sehingga<br />
waktu pembelajaran tepat sesuai yang<br />
direncanakan (Slavin, 1997).<br />
Penerapan metode inkuiri termodifikasi<br />
memberikan beberapa keuntungan bagi<br />
siswa, guru dan sekolah yaitu: (1)<br />
memusatkan perhatian kepada cara berpikir<br />
atau proses mental anak, tidak sekedar<br />
kepada hasilnya. Disamping kebenaran<br />
jawaban siswa, guru harus memahami<br />
proses yang digunakan sehingga sampai<br />
pada jawaban tersebut, (2) mengutamakan<br />
peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan<br />
keterlibatan aktif dalam dalam kegiatan<br />
pembelajaran. Anak didorong menemukan<br />
78<br />
sendiri pengetahuan melalui interaksi<br />
spontan dengan lingkungannya, peserta<br />
didik hendaknya diberi kesempatan untuk<br />
melakukan eksperimen dengan objek fisik,<br />
yang ditunjang dengan interaksi dengan<br />
teman sebaya dan guru hendaknya banyak<br />
memberi dorongan agar siswa secara aktif<br />
berinteraksi dengan lingkungan untuk<br />
mencari dan menemukan berbagai hal dari<br />
lingkungan, (3) memaklumi akan adanya<br />
perbedaan individual dalam kemajuan<br />
perkembangan. Seluruh siswa tumbuh<br />
melewati urutan perkembangan yang sama,<br />
namun pertumbuhan itu berlangsung pada<br />
kecepatan yang berbeda.<br />
Tabel 13. Rangkuman Respon Siswa terhadap Metode Inkuiri Termodifikasi<br />
Respon tentang minat siswa terhadap<br />
penerapan metode inkuiri termodifikasi<br />
dalam mata pelajaran kimia mengalami<br />
peningkatan dari 81,25% pada siklus I<br />
menjadi 93,75% pada siklus <strong>II</strong>. Minat siswa<br />
dalam proses pembelajaran tinggi karena<br />
metode inkuiri termodifikasi, siswa tidak<br />
hanya belajar untuk sebanyak mungkin<br />
menghafal fakta dan konsep yang sudah ada<br />
dalam buku-buku teks, melainkan terlibat<br />
dalam kegiatan mempelajari proses<br />
pencarian dan penemuan fakta-fakta dan<br />
konsep berdasarkan masalah-masalah<br />
kontekstual yang ada disekitarnya dan<br />
Bantuan yang dapat diberikan guru bukan<br />
berupa penjelasan. Namun siswa tetap<br />
dirangsang berpikir untuk mencari dan<br />
menemukan jawaban dengan cara–cara<br />
penelitian yang tepat.<br />
Teori Piaget, Lev Vigotsky dan Bruner,<br />
dengan penerapan metode inkuiri<br />
termodifikasi diharapkan siswa mendapatkan<br />
kesempatan berlatih mengembangkan<br />
berpikir, bersikap ilmiah melalui<br />
Siklus<br />
Persentase<br />
ke Siswa yang Berminat<br />
I 81,25<br />
<strong>II</strong> 93,75<br />
proses pencarian dan penemuan fakta dan<br />
konsep, bekerjasama dalam membangun<br />
pemahaman dan ketrampilan melalui<br />
interaksi dengan teman sejawat, guru dan<br />
sumber belajar lain melalui kegiatan tanya<br />
jawab atau diskusi. Seorang guru dalam<br />
proses pembelajaran inkuiri harus memiliki<br />
sikap keterbukaan terhadap ide-ide siswa,<br />
membuat mereka lebih aktif, dan antusias<br />
dalam belajar.<br />
Kelemahan metode inkuiri termodifikasi<br />
yang masih perlu diperbaiaki: (1)<br />
pengaturan waktu yang harus dirinci<br />
dengan jelas, (2) persiapan mental siswa,<br />
(3) sarana dan prasarana penunjang serta 4)<br />
kesiapan guru sebagai fasilitator.<br />
SIMPULAN DAN SARAN<br />
Hasil penelitian tindakan kelas ini<br />
dapat disimpulkan bahwa penerapan<br />
metode inkuiri termodifikasi dapat<br />
meningkatkan (1) kecakapan akademik<br />
siswa selama proses pembelajaran kimia,
(2) hasil belajar siswa pada mata pelajaran<br />
kimia, pada kompetensi dasar redoks dan<br />
elektrokimia. (3) siswa berminat menerapkan<br />
metode inkuiri termodifikasi dalam<br />
pembelajaran kimia.<br />
Berdasarkan hasil penelitian ini,<br />
diajukan saran-saran sebagai berikut: (1)<br />
hendaknya langkah-langkah metode ilmiah<br />
betul-betul dilatihkan dalam penerapan<br />
metode inkuiri termodifikasi. (2) guru<br />
memfasilitasi siswa dalam merencanakan<br />
dan melakukan percobaan untuk memecahkan<br />
masalah dalam kehidupan seharihari<br />
(3) menggunakan siswa lain/ teman<br />
sejawat untuk membantu siswa lain dalam<br />
mengumpulkan informasi untuk memecahkan<br />
permasalahan/tugas, (4) pemberian<br />
waktu yang bervariasi untuk setiap individu<br />
dalam mecapai ketuntasan belajar.<br />
DAFTAR RUJUKAN<br />
Anderson, I, JW. and Krathwohl, D.R.<br />
(eds). 2001. A Taxonomy for Learning,<br />
Teaching and Assessing. A Revission of<br />
Bloom’s Taxonomy of Eucational<br />
Objectives. New York: Addison<br />
Welsey Longman, Inc.<br />
Arends, R.I. 2001. Learning to Teach. Fifth<br />
edision. New York: McGrow Hill.<br />
Arikunto, S. 2005. Prosedur Penelitian.<br />
Jakarta: Rineka Cipta.<br />
Arikunto, S.; Suhardjono; Supardi. 2006.<br />
Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:<br />
Penerbit Bumi Aksara.<br />
Mujayanah<br />
Chang, R. 2008. General Chemistry. Fifth<br />
Edition. Higher Education. McGraw<br />
Hill<br />
Dahar, R. W. 1996. Teori-teori Belajar.<br />
Jakarta: Penerbit Erlangga.<br />
Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri<br />
Pendidikan Nasional Republik<br />
Indonesia Nomer 22 Tahun 2006<br />
tentang Standar Isi untuk Satuan<br />
Pendidikan Dasar dan Menengah.<br />
Jakarta: Depdiknas.<br />
Luhut, P. P. 2001. Individual Textbook Statistika<br />
Dasar . Bandung: FPMIPA UPI<br />
Nurhadi. 2004. Pembelajaran Kontekstual<br />
dan Penerapannya dalam KBK.<br />
Malang: Universitas Negeri Malang.<br />
Permana, A. 2011. Penerapan Model<br />
Pengajaran Modified Inquiry<br />
dalamMeningkatkan Prestasi Hasil<br />
Belajar Siswa pada Kompetensi<br />
Menganalisis Sistem Radio<br />
Komunikasi. Skrpsi tidak diterbitkan.<br />
Bandung: FPTK UPI.<br />
Slavin. R.E. 1997. Educational Psychologi<br />
Theory, Research, and Practice. Fifth<br />
Edition. Massachusetts: Allyn and<br />
Bacon Publishere.<br />
Sudirman. 1998. Teori Model<br />
Pembelajaran Modified Inquiry.<br />
Jakarta: Gema Ilmu<br />
Triono, 2007. Model-Model Pembelajaran<br />
Inovatif Berorentasi Konstruktivistik.<br />
Cetakan 1. Jakarta: Prestasi Pustaka.<br />
Wiriatmadja, R. 2005. Metode Penelitian<br />
Tindakan Kelas. Bandung: Remaja<br />
Rosdakarya<br />
79
<strong>Jurnal</strong> Pendidikan NAMIRA Dispendik Kab. Gresik. <strong>Vol</strong>.2.<strong>No.4</strong> – Oktober-<strong>Des</strong>ember <strong>2012</strong><br />
80
Petunjuk Penulisan<br />
JURNAL PENDIDIKAN NAMIRA
Dinas Pendidikan<br />
Kabupaten Gresik