29.03.2013 Views

Create PDF with PDF4U. If you wish to - Departemen Kehutanan

Create PDF with PDF4U. If you wish to - Departemen Kehutanan

Create PDF with PDF4U. If you wish to - Departemen Kehutanan

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

I. RAPAT KOORDINASI PENINGKATAN PEMANFAATAN PENGELOLAAN DAS TONDANO TAHUN 2010 DI<br />

MANADO PROVINSI SULAWESI UTARA PADA TANGGAL 3 JUNI 2010<br />

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai satu kesatuan ekosistem alamiah mengandung pengertian<br />

terbinanya keserasian, keselarasan, keseimbangan dan koordinasi yang berdaya guna dan berhasil guna. Fungsi<br />

DAS adalah sebagai areal penangkapan air (catchment area), penyimpan air (water s<strong>to</strong>rage) dan penyalur air (water<br />

distribution).<br />

Kondisi kualitas Danau Tondano dari waktu ke waktu cenderung mengalami penurunan terutama terlihat pada<br />

aspek pendangkalan danau. Kenaikan jumlah penduduk menyebabkan semakin meningkatnya tekanan terhadap<br />

penggunaan lahan, sehingga aktivitas bercocok tanam telah berkembang luas di daerah - daerah<br />

dengan mengorbankan hutan di daerah pegunungan. Adanya kerusakan lahan pada Daerah Aliran Sungai<br />

menyebabkan sistim peresapan air hujan menjadi semakin tidak normal, hal tersebut akan berakibat semakin<br />

menurunnya sumber air untuk industri, air irigasi pertanian, sumber energi (PLTA), sumber air minum (PDAM),<br />

media transportasi air dan pariwisata, sehingga secara tidak langsung akan menurunkan tingkat pertumbuhan<br />

ekonomi Provinsi Sulawesi Utara.<br />

Sungai Tondano di Bagian Hulu<br />

Agar pelaksanaan pengelolaan DAS Tondano dapat berjalan dengan visi dan misi serta kebijakan prioritas<br />

Kementerian <strong>Kehutanan</strong>, maka perlu dilakukan koordinasi baik antara pusat dan daerah maupun antar instansi<br />

terkait di daerah melalui acara rapat koordinas. Maksud diselenggarakan rapat koordinasi adalah dalam rangka<br />

koordinasi peningkatan pemanfaatan berkelanjutan dan penanganan permasalahan pengelolaan DAS Tondano.<br />

Adapun tujuannya adalah untuk terciptanya kesepahaman bersama dalam merumuskan permasalahan dan upayaupaya<br />

peningkatan pengelolaan DAS Tondano.<br />

Pohon di<br />

tempat tinggi<br />

dibabat<br />

Penebangan liar mengakibatkan DAS memburuk.<br />

Air hujan mengalir<br />

deras di atas tanah<br />

gundul<br />

Sumber: Ensiklopedia IPTEK 5, 2007<br />

Tanah terpanggang hingga<br />

mengeras dan retak-retak<br />

Tempat tinggal hewan<br />

hilang<br />

Erosi tanah<br />

30<br />

Sungai mengering<br />

Pokok-pokok rumusan yang disepakati dalam Rapat Koordinasi Peningkatan Pemanfaatan Pengelolaan DAS Tondano<br />

Tahun 2010 sebagai berikut :<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


1. Permasalahan di DAS Tondano yang mengancam kelestariannya meliputi perubahan penggunaan lahan,<br />

perladangan, sedimentasi, sosial ekonomi masyarakat, serta pendanaan, perlu mendapatkan prioritas<br />

penanganan.<br />

2. Pengelolaan DAS Tondano selama ini cenderung sek<strong>to</strong>ral, maka perlu dilakukan secara terpadu dari hulu<br />

sampai hilir dan tidak parsial atas dasar kepentingan sek<strong>to</strong>r atau daerah pemerintahan provinsi dan<br />

kabupaten/kota, sehingga perlu menganut prinsip satu sistem perencanaan dalam satu DAS.<br />

3. Koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi (KISS) dalam penanganan DAS Tondano perlu ditingkatkan secara<br />

optimal sehingga terbangun kesepahaman dan kesepakatan para pihak.<br />

4. Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai satu kesatuan ekosistem, terdapat hubungan ekologi dan ekonomi antar<br />

aktivitas di hulu dan di hilir (eksternalitas) baik yang bersifat positif maupun negatif. Perlu dibangun mekanisme<br />

untuk mengatur sistem insentif dan disinsentif.<br />

5. Implementasi pengelolaan DAS terpadu perlu didukung dengan pemahaman dan kesadaran melaksanakan<br />

peraturan perundangan yang menjadi dasar hukum.<br />

6. Selain aspek teknis, aspek sosial, ekonomi, budaya dan kelembagaan harus menjadi pertimbangan dalam<br />

pengelolaan DAS Tondano secara terpadu dan berkelanjutan.<br />

7. Perencanaan pembangunan daerah di wilayah Sulawesi Utara agar dapat mengakomodir konsep pembangunan<br />

berbasis DAS.<br />

8. Sistem Informasi Management (SIM) DAS Tondano perlu dikembangkan untuk meningkatkan pelayanan publik.<br />

9. Pembiayaan pengelolaan DAS Tondano kedepan lebih diarahkan dari partisipasi masyarakat dan pihak swasta.<br />

10. Rencana dan strategi dari berbagai sek<strong>to</strong>r yang mendukung pengelolaan DAS Tondano pelu diimplementasikan<br />

dengan langkah-langkah yang konkrit.<br />

11. Evaluasi dan pemantapan Forum DAS Tondano perlu dilakukan dalam upaya peningkatan efektifitas<br />

pengelolaan DAS Tondano.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


II. RAPAT KOORDINASI PEMBERIAN BIMBINGAN RENCANA PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL<br />

AKETAJAWE LOLOBATA DI TERNATE PADA TANGGAL 10 JUNI 2010<br />

Blok hutan Aketajawe Lolobata di Pulau Halmahera resmi ditunjuk sebagai kawasan Taman Nasional berdasarkan<br />

Surat Keputusan Menteri <strong>Kehutanan</strong> Nomor 397/Menhut-II/2004 tanggal 18 Ok<strong>to</strong>ber 2004, dengan luas 167.300 ha,<br />

yang terbagi menjadi dua blok, yaitu blok Aketajawe seluas 77.100 ha dan blok Lolobata seluas 90.200 ha. Secara<br />

administratif Taman Nasional Aketajawe Lolobata masuk dalam 3 kabupaten/ kota, yaitu Kab. Halmahera Tengah,<br />

Kab. Halmahera Timur, dan Kota Tidore Kepulauan. Sebelum menjadi kawasan pelestarian alam Taman Nasional<br />

Aketajawe Lolobata merupakan kawasan hutan lindung.<br />

Potensi yang terdapat di dalam TN Aketajawe Lolobata adalah potensi flora, fauna, potensi budaya, dan potensi<br />

wisata alam. Potensi flora di TNAL terdapat tujuh tipe ekosistem, yaitu hutan mangrove, hutan pantai, hutan rawa<br />

dataran rendah, vegetasi tebing sungai, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan, dan padang rumput<br />

sub-alpin. Ada dua jenis tumbuhan pohon yang dilindungi, yaitu Kenari (Canarium vulgare) dan Agathis (Agathis sp.<br />

).<br />

Fauna di TN Aketajawe Lolobata ditemukan beberapa spesies mamalia, reptilian, amphibi, aves, dan kupu-kupu.<br />

Terdapat 34 spesies sebagai mamalia teresterial, 3 spesies endemic yaitu Phalanger sp., Rhinolophus euryotis<br />

timidus, dan<br />

Hipposideros diadema euotis dan 1 spesies yang dilindungi Ceruus timorensis moluccensis.<br />

Untuk Burung; 217 jenis burung terdapat di Halmahera (24 jenis endemik) dan 4 jenis adalah jenis endemik<br />

Halmahera, yaitu mandar gendang (Habroptila walaci), cekakak murung (Tadiramphus diops), kepudang sungu<br />

Halmahera (Coracina paruula), kepudang Halmahera (Oriolus phaeochromus). Jenis Reptil; dari 46 jenis reptile,<br />

terdapat jenis kadal 3 spesies, yaitu Hydrosaurus werneri, Emoia reimsehisseli, (weweri), Engongylus albofasciatus<br />

(men<strong>to</strong>varia).<br />

Sedangkan jenis Amfibi; terdapat 7 jenis di Halmahera, 3 jenis adalah jenis endemic Halmahera. Jenis fauna<br />

endemic Halmahera lainnya adalah belalang (2 jenis), capung (3 jenis), kupu-kupu raja (Papilio beringi), dan<br />

moluska darat (20 jenis).<br />

Potensi budaya di dalam kawasan TN Aketajawe Lolobata terdapat penduduk asli (Suku Togutil) atau komunitas<br />

adapt terpencil (daerah enclave) yang belum tercampur dengan penduduk masyarakat pendatang, yaitu yang<br />

tinggal di desa TuturTukur, To<strong>to</strong>doku, Oboi, Waya, Suo, Tatam, Lili, dan Mabulan. Adat istiadat dan kebudayaan<br />

masyarakat ini merupakan satu asset wisata budaya yang penting untuk dikembangkan dan dilestarikan sebagai<br />

salah satu kekayaan budaya Indonesia. Potensi lainnya yang dapat dijadikan minat khusus adalah wisata alam arum<br />

jeram di beberapa sungai, antara lain Sungai <strong>If</strong>is, Sungai Akelamo, Sungai Fumalanga, Sungai Mamawas, air terjun<br />

di Sungai Onat dan Sungai Galadangan, panjat tebing, serta trekking.<br />

Taman Nasional Aketajawe Lolobata dengan segala potensi, keunikan dan permasalahannya perlu dikelola sesuai<br />

kaidah-kaidah yang telah ditetapkan. Agar pengelolaan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, maka tujuan,<br />

sasaran dan langkah-langkah implementasi pencapaiannya harus dirumuskan terlebih dahulu sehingga dapat<br />

menjadi pedoman dan arahan dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan lebih lanjut. Rencana pengelolaan<br />

taman nasional merupakan pedoman dan arahan pengelolaan yang bersifat komprehensif yang melibatkan seluruh<br />

pemangku kepentingan terkait. Untuk itu diperlukan koordinasi baik lintas instansi pemerintah, swasta maupun<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


lembaga swadaya masyarakat yang berkaitan dengan kebijakan masing-masing dalam memberikan sumbangsih<br />

untuk pengelolaan kawasan taman nasional.<br />

Agar Pelaksanaan Pengelolaan Taman Nasional Aketajawe Lolobata dapat sejalan dengan visi dan misi serta<br />

kebijakan prioritas Kementerian <strong>Kehutanan</strong> sebagaimana tersebut diatas, maka perlu dilakukan koordinasi baik<br />

antar pusat dan daerah maupun antar instansi terkait di daerah melalui acara rapat koordinasi. Maksud<br />

penyelenggaraan Rapat Koordinasi Pemberian Bimbingan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Aketajawe Lolobata<br />

adalah koordinasi pengelolaan dan penanganan permasalahan dalam rangka perumusan kebijakan rencana<br />

pengelolaan TN Aketajawe Lolobata. Adapun tujuannya adalah menghasilkan kesepahaman bersama dalam<br />

pengelolaan dan pemanfaatan TN Aketajawe Lolobata serta masukan dalam perumusan kebijakan rencana<br />

pengelolaan TN Aketajawe Lolobata. Sasaran yang akan dicapai dengan diselenggarakannya kegiatan Fasilitasi<br />

Koordinasi Pemberian Bimbingan Rencana Pengelolaan TN Aketajawe Lolobata adalah kesepahaman tentang<br />

rencana pengelolaan TN Aketajawe Lolobata dan masukan/rekomendasi guna penyempurnaan kebijakan dalam<br />

rencana pengelolaan TN Aketajawe Lolobata.<br />

Pertemuan telah menghasilkan kesepakatan hasil diskusi sebagai berikut :<br />

1. Untuk pengelolaan Taman Nasional (TN) yang optimal diperlukan koordinasi dari berbagai pihak meliputi aspek<br />

kegiatan teknis, politis dan hubungan kelembagaan antara tujuan pengelolaan TN dengan pembangunan<br />

wilayah di sekitarnya.<br />

2. Kolaborasi pengembangan pariwisata alam di Maluku Utara akan dirumuskan dalam sebuah forum atau<br />

lembaga yang disebut Tourism Development Maluku Utara sebagai mitra pemerintah dalam mengembangkan<br />

pariwisata di Provinsi Maluku Utara termasuk di dalamnya TN. Aketajawe Lolobata.<br />

3. Pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan TN berbasis pariwisata akan diwujudkan dalam bentuk Desa<br />

Wisata.<br />

4. Pemancangan batas kawasan TN sudah selesai 80% sedangkan sisanya akan dianggarkan pada tahun 2011<br />

oleh BPKH Wilayah VI Manado dengan melibatkan masyarakat secara partisipatif dan didukung sepenuhnya<br />

oleh Pemerintah Daerah.<br />

5. Untuk memantapkan kawasan perlu percepatan pengesahan Proses Tata Batas di kawasan Blok Aketajawe<br />

dengan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan.<br />

6. Penyusunan penyempurnaan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang TN dilakukan dengan mempertimbangkan<br />

masukan-masukan dari stakeholder.<br />

7. Penyempurnaan Rencana Pengelolaan TN disusun secara terpadu dengan RTRWP/K.<br />

8. Dalam penyusunan zonasi melibatkan berbagai pihak dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi dan<br />

sosial budaya masyarakat setempat.<br />

9. TN harus memiliki bussiness plan yang dapat mengakomodir peran stakeholder dalam mendukung pembiayaan<br />

pengelolaan.<br />

10. Pemanfaatan hasil non kayu berupa getah Damar yang telah dilakukan secara turun menurun oleh masyarakat<br />

sekitar kawasan TN dapat dikembangkan sebagai salah satu bentuk usaha dalam kegiatan pemberdayaan<br />

masyarakat .<br />

11. Dukungan lintas program dan instansi diarahkan dalam pembangunan daerah penyangga TN yang<br />

dikembangkan menjadi bentuk Model Desa/ Kampung Konservasi.<br />

12. Taman Nasional mempersiapkan perencanaan pemberdayaan partisipatif sebagai bahan untuk mencari<br />

dukungan dari sek<strong>to</strong>r lain dengan berkoordinasi dengan BAPPEDA Provinsi/ Kabupaten/ Kota.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


III. RAPAT KOORDINASI PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI BERBASIS RESORT TAHUN 2010 DI<br />

MAKASSAR PROVINSI SULAWESI SELATAN PADA TANGGAL 24 JUNI 2010<br />

Pada prinsipnya, kawasan konservasi harus dibagi ke dalam unit-unit pengelolaan yang “manageable” atau<br />

“doable”, di tingkat lapangan. Pada kawasan konservasi, ambil con<strong>to</strong>h suatu taman nasional atau balai<br />

pengelolaan wilayah, dibagi ke dalam seksi wilayah, sampai ke tingkat resort. Yang dimaksud dengan pengelolaan<br />

taman nasional berbasis resort adalah konsep pengelolaan taman nasional yang menempatkan resort sebagai<br />

kamera yang akan memotret setiap temuan atau kejadian yang berhubungan prinsip 3P (Pengamanan,<br />

Perlindungan dan Pemanfaatan). Dari data yang dikumpulkan oleh masing-masing resort akan dianalisa oleh<br />

masing-masing seksi sebelum dikumupulkan di balai. Balai sebagai pusat pemerintahan taman nasional akan<br />

menganalisa lebih lanjut setiap laporan-laporan dari seksi yang akan ditindaklanjuti menjadi rencana program<br />

tahunan taman nasional di tahun mendatang.<br />

PATROLI<br />

AKTIF<br />

Penataan sampai ke resort ini akan berimplikasi perubahan tugas pokok Polisi Hutan, bukan sekedar melakukan<br />

pengamanan/patroli kawasan, tetapi akan muncul tugas-tugas tambahan, berinteraksi dengan masyarakat di<br />

desa-desa yang berbatasan dengan kawasan. Ilmu-ilmu sosial, antropologi budaya, dan resolusi konflik akan<br />

diperlukan dalam memberikan pembekalan kepada Polhut maupun staf fungsional (PEH) di kawasan konservasi.<br />

Perubahan revolusioner maupun bertahap akan mendorong organisasi UPT dan Pusat untuk mereposisi perannya<br />

menjadi organisasi yang proaktif dan bukan sekedar organisasi yang reaktif menjadi sekedar pemadam<br />

kebakaran. Organisasi proaktif akan berusaha mencegah terjadinya sesuatu, bukan sekedar melaksanakan hukum<br />

secara parsial dan malahan bisa salah sasaran. Harus dijaga keseimbangan antara kutub ekologis (lingkungan)<br />

dan kutub antropologis (manusia) dalam pengelolaan kawasan konservasi. Ilmu ekologi manusia juga akan sangat<br />

bermanfaat dalam membantu membentuk pola-pola pengelolaan kawasan konservasi yang berwajah humanis,<br />

ramah, dan inklusif.<br />

Agar pelaksanaan Pengelolaan Kawasan Konservasi Berbasis Resort dapat sejalan dengan visi dan misi serta<br />

kebijakan prioritas Kementerian <strong>Kehutanan</strong>, maka perlu dilakukan koordinasi baik antar pusat dan daerah<br />

maupun antar instansi terkait di daerah melalui acara rapat koordinasi. Maksud diselenggarakan rapat koordinasi<br />

adalah memberikan pemahaman mengenai pengelolaan kawasan konservasi berbasis resort. Adapun tujuannya<br />

adalah terwujudnya pemahaman mengenai mekanisme dan aplikasi pengelolaan kawasan konservasi berbasis<br />

resort. Topik yang dibahas adalah kebijakan pengembangan pengelolaan kawasan konservasi berbasis resort.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


Hubungan<br />

& Prosedur Kerja<br />

Resort<br />

Seksi<br />

Balai<br />

Kebijakan,<br />

supervisi,<br />

pengawasan,<br />

asistensi<br />

Koordinasi,<br />

asistensi,<br />

Pengawasan<br />

Tekniskonsttt<br />

pengumpulandata,<br />

moni<strong>to</strong>ring,teknis<br />

konservasi<br />

Pokok-pokok rumusan yang disepakati dalam Rapat Koordinasi Pengelolaan Kawasan Konservasi Berbasis Resort<br />

Tahun 2010 dapat diuraikan sebagai berikut :<br />

1. Pengelolaan kawasan konservasi berbasis resort harus mendapat dukungan dari pusat dan UPT secara<br />

konsisten.<br />

2. Diperlukan arahan berupa juklak dan juknis yang jelas berkaitan dengan arah pengelolaan kawasan konervasi<br />

dan NSPK resort perlu disiapkan oleh pusat dalam hal ini Direk<strong>to</strong>rat Jenderal PHKA.<br />

3. Pembentukan kelembagaan KPHK, KPHL dan KPHP di setiap provinsi perlu dipercepat menuju terwujudnya<br />

pengelolaan kawasan berbasis resort dengan pendekatan asas koordinasi.<br />

4. Struktur organisasi UPT dalam peraturan menteri harus mencantumkan eksistensi resort.<br />

5. Pembentukan resort perlu didukung ketersediaan perlengkapan dan penganggaran serta SDM di lapangan dan<br />

secara parallel dapat menunjang kesejahteraan masyarakat.<br />

6. Keterlibatan masyarakat sekitar kawasan hutan dan pendekatan sosial budaya (kultur) perlu dioptimalkan<br />

dalam mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi berbasis resort.<br />

7. Keberadaan resort akan lebih mengharmoniskan koordinasi antar instansi teknis terkait di wilayah kerja<br />

sehingga penyelesaian masalah kawasan konservasi dan kawasan hutan lainnya dapat menyentuh akar<br />

permasalahan.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


IV. RAPAT SOSIALISASI/DISEMINASI HASIL LITBANG KEHUTANAN DI MANADO PROVINSI SULAWESI<br />

UTARA PADA TANGGAL 1 JULI 2010<br />

Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan me<strong>to</strong>de ilmiah secara sistematis untuk memperoleh<br />

data, informasi dan keterangan yang berkaitan dengan pembuktian kebenaran dan ketidakbenaran suatu asumsi<br />

dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik suatu kesimpulan ilmiah bagi keperluan<br />

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.<br />

Penelitian dibidang kehutanan sangat diperlukan untuk menemukan potensi dan manfaat dari sumberdaya hutan,<br />

selain itu penelitian dapat digunakan sebagai sarana menyelesaikan masalah. Dari suatu penelitian manfaat dari<br />

suatu jenis dapat dioptimalkan. Suatu penelitian dapat bermanfaat jika hasilnya disebarluaskan kepada masyarakat<br />

terutama masyarakat yang berkepentingan. Dengan publikasi yang tepat sasaran maka hasil-hasil penelitian dapat<br />

diaplikasikan dengan baik sehingga manfaatnya dapat dirasakan. Di lain pihak, objek yang diteliti sedianya<br />

dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai.<br />

Kebutuhan akan sumberdaya alam baik kayu maupun non kayu semakin meningkat, ber<strong>to</strong>lak belakang dengan<br />

kemampuan produksinya yang menurun. Dengan tidak terpenuhinya sumberdaya tertentu maka kecenderungan<br />

yang terjadi adalah mencari alternatif produk lain/barang substitusi. Pemenuhan kebutuhan akan energi menjadi<br />

permasalahan yang mendasar, khususnya pada negara yang sedang berkembang. Dengan persediaan bahan bakar<br />

fosil yang semakin menipis, para ahli senantiasa mengembangkan penelitian mengenai sumber energi yang dapat<br />

diperbaharui. Dengan kondisi alam Indonesia yang sangat beranekaragam, memberikan potensi yang berlimpah<br />

pula. Salah satunya dapat juga berkontribusi dalamn memberikan solusi kelangkaan energi tadi. Beberapa<br />

diantaranya yaitu jarak, kelapa sawit dan nyamplung. Substitusi komoditas juga terjadi pada pasar kayu alam.<br />

Untuk mengatasi meningkatnya permintaan akan kayu alam maka dikembangkanlah kayu budidaya, salah satu yang<br />

menjadi komoditas unggulan adalah sengon. Dengan kelebihannya yang dapat tumbuh di hampir seluruh wilayah di<br />

Indonesia dan pertumbuhan yang cepat, maka budidaya tanaman ini sangat cocok dikembangkan. Dengan segala<br />

potensi kehutanan Indonesia tadi patut dikembangkan untuk mendukung visi kementerian kehutanan dalam rangka<br />

mensejahterakan masyarakat. Skema yang digunakan adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang<br />

dikembangkan melalui hutan rakyat, hutan kemasyarakatan maupun hutan tanaman rakyat.<br />

NYAMPLUNG (Calophyllum inophyllum L) termasuk dalam marga Callophylum. Nyamplung berbuah sepanjang<br />

tahun dan mempunyai sebaran yang cukup luas di dunia mulai dari Madagaskar, Afrika Timur, Asia Selatan dan<br />

Tenggara, Kepulauan Pasifik, Hindia Barat, hingga Amerika Selatan. Di Indonesia, nyamplung tersebar mulai dari<br />

Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi,<br />

Maluku, hingga Nusa Tenggara Timur dan Papua.<br />

Nyamplung sudah dikenal masyarakat sejak dahulu karena kayunya dapat bermanfaat sebagai bahan bangunan dan<br />

bahan baku meubelair. Banyak masyarakat tahu jika buah dari nyamplung dapat bermanfaat bagi kesehatan tetapi<br />

tidak banyak yang tahu jika buah nyamplung dapat menghasilkan minyak (Biofuel) yang kadar oktannya<br />

cukup tinggi. Minyak nyamplung dapat digunakan sebagai bahan bakar sehingga saat ini marak dilakukan penelitian<br />

mengenai minyak dari biji nyamplung. Keunggulan biodiesel dari nyamplung adalah rendemen<br />

minyak nyamplung tergolong tinggi dibandingkan jenis tanaman lain yaitu 40-73% sedangkan jarak<br />

pagar 40-60% dan sawit 46-54 %. Adanya penelitian mengenai biji nyamplung sebagai bahan baku<br />

biodiesel dapat meningkatkan nilai jual dari jenis ini.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


SENGON (Paraserianthes falcataria) termasuk dalam famili Leguminosae. Sengon termasuk spesies pionir yang<br />

banyak ditanam di daerah tropis terutama di hutan hujan dataran rendah sekunder atau hutan pegunungan rendah.<br />

Sengon tersebar alami di Maluku, Papua Nugini, kep. Solomon dan Bismark. Dapat tumbuh pada ketinggian 0– 1600<br />

mdpl tetapi dapat tumbuh optimum pada ketinggian 0-800 mdpl.<br />

Sengon merupakan salah satu species paling cepat tumbuh di dunia, mampu tumbuh 8 m/tahun dalam tahun<br />

pertama penanaman. Karena mempunyai masa panen yang cepat sengon banyak ditanam untuk industri. Kayu<br />

sengon termasuk dalam kayu serba guna, dapat digunakan untuk konstruksi ringan, kerajinan tangan,<br />

kotak cerutu, veneer, kayu lapis, korek api, alat musik dan pulp.<br />

Sengon sering kali diserang penyakit baik pada fase anakan sampai dewasa. Anakan sengon di<br />

persemaian sering terkena lodoh yang disebabkan oleh Rhizoc<strong>to</strong>nia, Sclerotium, Fusarium, Pythium dan<br />

Phi<strong>to</strong>phthora. Untuk mengatasinya, tanah disterilkan dan diberi fungisida sebelum benih ditabur. Selain<br />

lodoh, penyakit yang sering menyerang sengon adalah karat puru atau karat tumor. Penyakit karat<br />

tumor pada sengon disebabkan oleh fungi Uromycladium sp. Fungi ini menyebabkan pembentukan<br />

bintil-bintil pada tunas berkayu dan bagian - bagian lain pada sengon yang dapat menghambat<br />

pertumbuhan sampai mematikan tanaman. Serangan karat tumor/ karat puru ditandai dengan<br />

terjadinya pembengkakan (gall) pada ranting/cabang, pucuk-pucuk ranting, tangkai daun dan helai<br />

daun. Gall ini merupakan tubuh buah dari jamur. Penyebaran penyakit ini sangat cepat dengan<br />

menyerang tanaman sengon mulai dari persemaian sampai lapangan dan pada semua tingkatan umur.<br />

Serangan karat tumor menyebabkan penurunan kualitas kayu.<br />

Hasil penelitian mengenai cara pengendalian penyakit karat tumor pada sengon dan manfaat biji<br />

nyamplung untuk biodiesel merupakan kontribusi nyata bagi dunia kehutanan. Oleh karena itu<br />

diperlukan publikasi yang tepat agar hasil penelitian tersebut dapat bermanfaat bagi instansi-instansi<br />

dan masyarakat yang berkepentingan. Peran serta secara aktif pihak-pihak yang terkait dengan karat<br />

puru dan biodiesel biji nyamplung mendorong adanya penelitian yang berkesinambungan bagi kemajuan<br />

pembangunan kehutanan.<br />

Agar Penyelenggaraan Sosialisasi/Diseminasi Hasil Litbang <strong>Kehutanan</strong> dapat sejalan dengan visi dan misi<br />

serta kebijakan prioritas Kementerian <strong>Kehutanan</strong>, maka perlu dilakukan koordinasi baik antar pusat dan daerah<br />

maupun antar instansi terkait di daerah melalui acara rapat koordinasi. Maksud untuk menyebarluaskan hasilhasil<br />

penelitian kehutanan kepada para pengguna di wilayah Regionmal IV. Adapun tujuannya adalah<br />

menghasilkan kesepahaman dalam mengaplikasikan hasil-hasil penelitian kehutanan oleh pihak-pihak<br />

yang terkait di wilayah Regional IV. Sasaran yang akan dicapai dengan diselenggarakannya kegiatan<br />

Sosialisasi/Diseminasi Hasil Litbang <strong>Kehutanan</strong> adalah hasil-hasil penelitian kehutanan dapat tersebar<br />

luas ke seluruh pihak yang terkait di wilayah Regional IV sehingga diperoleh pemahaman dalam<br />

mengaplikasikannya.<br />

Pertemuan telah menghasilkan kesepakatan hasil diskusi sebagai berikut :<br />

1. Dalam rangka pengelolaan sumber daya hutan secara lestari diperlukan dasar yang kebenarannya sudah diuji<br />

melalui suatu kajian dan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara obyektif dan ilmiah.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


2. Balitbanghut seharusnya menjadi ujung <strong>to</strong>mbak perumusan dan penerapan kebijakan kehutanan berupa<br />

teknologi yang dapat diterapkan dan bermanfaat bagi pembangunan kehutanan dan masyarakat.<br />

3. Program Puslitbang Hutan Tanaman (P3HT) meliputi :<br />

a. Pembangunan dan pengelolaan hutan tanaman.<br />

b. Pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan.<br />

c. Peningkatan budidaya HHBK untuk mendukung usaha kecil dan menengah.<br />

4. Beberapa hasil penelitian yang telah dan sedang diaplikasikan :<br />

a. Kuantifikasi pertumbuhan dan hasil tegakan hutan<br />

b. Pengendalian hama cabuk lilin/kutu lilin pada pinus.<br />

c. Pengendalian penyakit karat tumor pada sengon.<br />

d. Nyamplung dan beberapa tanaman hutan lainnya sebagai sumber energi alternatif.<br />

e. Penyiapan lahan tanpa bakar.<br />

f. Tanaman hutan penghasil kayu energi.<br />

g. Hasil hutan bukan kayu (HHBK)<br />

5. Kegiatan penelitian yang merupakan tugas P3HT sampai dengan 2014 :<br />

a. Silvikultur hutan tanaman penghasil kayu pulp.<br />

b. Silvikultur hutan tanaman penghasil kayu pertukangan.<br />

c. Silvikultur hutan tanaman penghasil HHBK.<br />

d. Kuantifikasi pertumbuhan dan hasil tegakan hutan tanaman.<br />

e. Teknik pencegahan dan pengendalian hama, penyakit dan gulma hutan tanaman.<br />

f. Biofarmaka sek<strong>to</strong>r kehutanan.<br />

6. Pencapaian pemuliaan : Jati, Cendana, Kayu putih, Pulai, Ulin, Sukun, Araucaria, Sengon, Acacia, Merbau,<br />

Suren.<br />

7. Selain menyebarluaskan hasil penelitian mengenai potensi bio energi nyamplung dan penanggulangan penyakit<br />

karat tumor sengon, semua feedback yang diperoleh dari acara ini akan digunakan sebagai masukan dalam<br />

penelitian dan pengembangan kehutanan.<br />

8. Kerjasama dalam penerapan hasil litbang kehutanan dilakukan lintas sek<strong>to</strong>r dengan dukungan komitmen penuh<br />

dari pemerintah daerah.<br />

9. Sebelum diterapkan oleh masyarakat, hasil penelitian perlu dilengkapi dengan pertimbangan kecukupan<br />

pemenuhan bahan baku, kemampuan produksi, kesesuaian lokasi, nilai ekonomis, ketersediaan dan daya serap<br />

pasar serta dapat diterima oleh masyarakat.<br />

10. Beberapa potensi hutan tanaman dibeberapa kabupaten yang perlu dikembangkan dengan bantuan P3HT<br />

setelah melalui pembahasan di DPRD dan ada surat keinginan melakukan kerjasama dari Pemda, yaitu :<br />

a. Kota Tomohon : Pakoba.<br />

b. Kabupaten Minahasa Utara : Gmelina, Sengon, Cempaka wasian di kaki Gunung Klabat, kayu hitam di<br />

Pulau Talise, sungai kecil untuk pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).<br />

c. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara : Nyamplung (kapuraca), mindi, jabon.<br />

d. Kabupaten Bolaang Mongondow : Nyamplung, mindi, jabon.<br />

e. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dan Selatan : Nyamplung, jabon.<br />

f. Provinsi Sulawesi Barat : Nyamplung.<br />

11. Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat dalam kaitannya dengan kepastian pasar dan kemampuan masyarakat<br />

untuk membangunnya, disarankan adanya kemitraan dengan inves<strong>to</strong>r. Dalam pemilihan inves<strong>to</strong>r tersebut<br />

harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian sehingga dapat diyakini keseriusannya untuk membangun Hutan<br />

Tanaman Rakyat.<br />

12. Penyakit pada tumbuhan hanya akan terjadi jika pada satu waktu di satu tempat terdapat interaksi tiga fak<strong>to</strong>r :<br />

tumbuhan yang rentan, pa<strong>to</strong>gen yang virulen dan lingkungan yang sesuai (segitiga penyakit/disease triangle).<br />

13. Serangan karat tumor pada sengon di Indonesia khususnya di Pulau Jawa telah mencapai tingkat epidemik.<br />

Sementara menunggu hasil penelitian pemuliaan melalui penambahan varietas genetik sengon yang tahan<br />

terhadap penyakit karat tumor, pencegahan dan penanggulangan telah ditemukan formulasi antara belerang,<br />

kapur dan garam.<br />

14. Pengembangan sumberdaya energi baru (mikrohidro, biomassa) dan terbarukan berbasis nyamplung dan<br />

tanaman hutan lainnya dapat meningkatkan kemandirian masyarakat dan kemampuan daerah mengelola<br />

sumberdayanya sesuai dengan azas desentralisasi.<br />

15. Pengembangan biofuel (biodiesel) jangan sampai mengganggu ketahanan pangan masyarakat. Beberapa jenis<br />

tanaman penghasil biodiesel yang tidak mengganggu ketahanan pangan : Kapok/randu, kemiri, kesambi,<br />

mimba, malapari, nyamplung, randu alas, bintaro, kemiri cina/kemiri sunan, dan kepuh/kepoh.<br />

16. Jenis-jenis tanaman penghasil bioetanol untuk dikembangkan diantaranya : sagu, lontar, aren dan nipah.<br />

17. Peran Badan Koordinasi Penyuluhan pada masing-masing pemerintah daerah untuk mendukung pengembangan<br />

tanaman nyamplung, sengon serta pengembangan sumberdaya terbarui berbasis nyamplung dan tanaman<br />

hutan lainnya.<br />

18. Upaya pengembangan sumber energi terbarukan harus dilakukan melalui kolaborasi pusat, provinsi dan<br />

kabupaten/kota serta masyarakat.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


V. RAPAT KOORDINASI PENEGAKAN HUKUM BIDANG PEMANFAATAN DAN PERDAGANGAN TUMBUHAN<br />

DAN SATWA LIAR TAHUN 2010 DI AMBON PROVINSI MALUKU PROVINSI PADA TANGGAL 5 AGUSTUS<br />

2010<br />

Indonesia sebagai salah satu negara mega-biodiversity telah memiliki komitmen untuk melestarikan pemanfaatan<br />

tumbuhan dan satwa liar yang ada secara berkelanjutan, dengan meratifikasi Convention on International Trade in<br />

Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) melalui Keputusan Presiden RI Nomor 43 Tahun 1978, yang<br />

selanjutnya membawa konsekuensi perdagangan tumbuhan dan satwa liar yang dilaksanakan pemerintah Indonesia<br />

harus mengikuti ketentuan-ketentuan CITES.<br />

Pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar merupakan rangkaian dari kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan<br />

ekosistemnya berazaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati secara serasi dan<br />

seimbang yang dilakukan melalui kegiatan :<br />

1. Perlindungan sistem ekologis penting penyangga kehidupan;<br />

2. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya;<br />

3. Pemanfaatan secara lestari sumber dalam alam hayati.<br />

Pengelolaan tumbuhan dan satwa liar sebagai suatu sumber daya alam hayati tersebut tersebar di berbagai tipe<br />

habitat yang terdapat di dalam wilayah Indonesia, didasarkan kepada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990<br />

tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, beserta peraturan pelaksanaannya, khususnya<br />

Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, dan Peraturan<br />

Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.<br />

Permasalahan yang terdapat dalam bidang pemanfaatan dan perdagangan tumbuhan dan satwa liar, adalah sebagai<br />

berikut :<br />

1. Lemahnya peraturan perundangan di bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya seperti<br />

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan<br />

Tumbuhan dan Satwa. Status perlindungan fauna dan flora dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 belum<br />

mengakomodasi klasifikasi perlindungan fauna dan flora sesuai ketentuan CITES dan belum mengatur sanksi<br />

bagi pelanggaran pemanfaatan jenis- jenis yang tidak dilindungi.<br />

2. Data dasar potensi TSL guna pemanfaatannya (dari luar kawasan konservasi) masih lemah dan belum<br />

sepenuhnya menggunakan Non Detrimental Finding. Penetapan kuota dilakukan melalui prinsip kehati-hatian<br />

(precausinary approach) dan kelestarian.<br />

3. Dalam pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar secara komersial, pelaksanaannya masih sangat tergantung<br />

kepada permintaan pasar dan nilai dari sumber daya alam hayati masih dinilai sangat rendah.<br />

4. Kriteria/standar nasional tentang pengelolaan penangkaran dan lembaga konservasi (LK) belum ada. Begitu<br />

juga tentang Tim Akreditasi penilai kinerja penangkaran dan Lembaga Konservasi belum ada.<br />

5. Kurang sinkronnya kebijakan pemanfaatan biota laut/air tawar yang tidak dilindungi UU dan tidak masuk<br />

Appendiks CITES. Selama ini pelaksanaannya dilakukan DKP sehingga sulit kontrolnya. Pola pemanfaatan biota<br />

laut/air tawar yang tidak dilindungi UU namun masuk Appendiks CITES juga belum jelas (con<strong>to</strong>h: Labi-labi dan<br />

Kura-kura). Keterlibatan PHKA selama ini karena kapasitas PHKA sebagai Management Authority CITES.<br />

6. Belum mantapnya sistem dan koordinasi pengendalian dan pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa liar<br />

dengan instansi terkait, khususnya di daerah terbatas di bandar udara dan bandar laut, mengingat sampai<br />

dengan saat ini <strong>Departemen</strong> <strong>Kehutanan</strong> tidak termasuk dalam tugas Cus<strong>to</strong>m, Immigration and Quarantine<br />

(CIQ).<br />

Agar Penegakan Hukum Bidang Pemanfaatan Dan Perdagangan Tumbuhan Dan Satwa Liar Tahun 2010 dapat<br />

sejalan dengan visi dan misi serta kebijakan prioritas Kementerian <strong>Kehutanan</strong>, maka perlu dilakukan koordinasi baik<br />

antar pusat dan daerah maupun antar instansi terkait di daerah melalui acara rapat koordinasi. Maksud<br />

dilaksanakannya rapat koordinasi ini adalah koordinasi antar para pihak terkait dalam rangka penegakan hukum<br />

bidang pemanfaatan dan perdagangan tumbuhan dan satwa liar. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah<br />

terwujudnya kesepahaman dan kesepakatan serta komitmen dari berbagai pihak dalam penegakan hukum bidang<br />

pemanfaatan dan perdagangan tumbuhan dan satwa liar.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


SATWA YANG BIASA DIPERDAGANGKAN<br />

Pokok-pokok rumusan yang disepakati dalam Rapat Koordinasi Penegakan Hukum Bidang Pemanfaatan dan<br />

Perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar Tahun 2010 dapat diuraikan sebagai berikut :<br />

A. PEMANFAATAN DAN PERDAGANGAN TUMBUHAN DAN SATWA LIAR (TSL)<br />

1. Pemanfaatan dan perdagangan TSL agar mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku.<br />

2. Beberapa peraturan perundang-undangan (Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri <strong>Kehutanan</strong>, Peraturan<br />

Direktur Jenderal) yang sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini, agar segera direvisi dengan<br />

mengakomodir usulan-usulan dari Daerah.<br />

3. Sosialisasi dan penyuluhan perlu lebih ditingkatkan lagi oleh Balai KSDA Maluku maupun Balai Taman<br />

Nasional Manusela, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan instansi terkait lainnya sesuai bidang<br />

tugasnya.<br />

4. Perijinan pelepasliaran TSL dari daerah asalnya agar dipermudah oleh Pemerintah Daerah dan instansi<br />

terkait lainnya.<br />

5. Perlu ada koordinasi dan komunikasi yang intensif dengan Pemerintah Daerah setempat dalam rangka<br />

pemanfaatan, perdagangan, pelepasliaran TSL dan penegakan hukum terhadap pelanggaran peraturan<br />

perundang-undangan.<br />

6. Perlu segera rasionalisasi Sumber Daya Manusia, sarana dan prasarana dalam rangka penguatan kapasitas<br />

kelembagaan Balai KSDA Maluku, Balai Taman Nasional Manusela dan Balai Taman Nasional Aketajawe<br />

Lolobata.<br />

7. Penempatan petugas/Polisi <strong>Kehutanan</strong>/Pengendali Ekosistem Hutan di lokasi-lokasi rawan/strategis dalam<br />

rangka pencegahan perdagangan illegal TSL.<br />

8. Pemeriksaan terhadap peredaran TSL harus sesuai antara dokumen angkut (SATS-DN) dan fisik TSL dan<br />

harus disertai dengan sertifikat kesehatan oleh Karantina Pertanian daerah asal.<br />

9. Informasi tentang jenis TSL yang dapat dimanfaatkan dan diperdagangkan masih kurang dipahami oleh<br />

masyarakat sehingga perlu sosialisasi secara kontinyu.<br />

10. Perlu ada kajian dalam rangka solusi konflik satwa liar dengan hasil kebun masyarakat.<br />

B. PENEGAKAN HUKUM BIDANG TINDAK PIDANA KEHUTANAN/ TSL<br />

1. Ancaman terhadap keanekaragaman sumber daya alam hayati tumbuhan dan satwa liar perlu dijadikan isu<br />

Nasional untuk mendapatkan dukungan publik secara luas.<br />

2. Pengawasan dalam penegakan hukum bidang pemanfaatan dan perdagangan TSL perlu ditingkatkan<br />

seoptimal mungkin sekaligus sebagai upaya pemberian edukasi kepada masyarakat luas.<br />

3. Penegakan hukum bidang pemanfaatan dan perdagangan TSL masih lemah sehingga tidak menimbulkan<br />

efek jera. Untuk itu perlu dibangun komunikasi dan koordinasi secara rutin dengan aparat penegak hukum.<br />

4. Pengawasan terhadap peredaran dan perdagangan TSL di bandar udara, pelabuhan laut dan terminal<br />

lainnya perlu ditingkatkan dengan melibatkan pihak Karantina Pertanian, Karantina Ikan, Bea Cukai,<br />

Imigrasi dan KP3 Pelabuhan Laut dan Udara, Polisi Perairan dan Udara, Administratur Pelabuhan serta TNI<br />

Angkatan Laut.<br />

5. Para pemilik/pemelihara tumbuhan dan pengumpul/pedagang TSL yang illegal segera ditertibkan sesuai<br />

dengan peraturan perundangan yang berlaku.<br />

6. Penegakan hukum di lapangan dilakukan dengan mengedepankan pendekatan struktural, pendekatan<br />

substansi dan pendekatan kultural yang didukung dengan komitmen aparat penegak hukum.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


7. Perlu dibangun jejaring kerja (network) dengan mitra kerja antara lain LSM, <strong>to</strong>koh-<strong>to</strong>koh masyarakat,<br />

<strong>to</strong>koh-<strong>to</strong>koh adat, <strong>to</strong>koh-<strong>to</strong>koh agama, kader konservasi, kelompok pecinta alam dan Pramuka dalam<br />

rangka membangun kesepakatan perlindungan dan pelestarian sumber daya alam hayati di Maluku.<br />

8. Pelaksanaan pengamanan peredaran TSL akan dilakukan secara proporsional, profesional, kolaboratif,<br />

sistematis, sinergis, tegas dengan memperhatikan skala prioritas.<br />

9. Perlu adanya dorongan dan motivasi kepada supplier untuk menjadi penangkar TSL secara profesional.<br />

10. Perlu adanya dorongan kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk menerbitkan<br />

Peraturan Daerah dalam rangka Perlindungan dan Peredaran TSL.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


VI. RAPAT KOORDINASI PENGEMBANGAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU DI REGIONAL IV TAHUN 2010 DI<br />

MAKASSAR PROVINSI SULAWESI SELATAN PADA TANGGAL 20 AGUSTUS 2010<br />

Paradigma baru sek<strong>to</strong>r kehutanan memandang hutan sebagai sumberdaya yang bersifat multi fungsi, multi guna<br />

dan memuat multi kepentingan serta pemanfaatannya diarahkan untuk mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran<br />

rakyat. Hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan salah satu sumber daya hutan yang memiliki keunggulan<br />

komparatif dan paling bersinggungan dengan masyarakat sekitar hutan. HHBK terbukti dapat memberikan kontribusi<br />

yang berarti bagi penambahan devisa negara.<br />

Untuk menjawab paradigma baru sek<strong>to</strong>r kehutanan, isu strategis, tantangan dan peluang bagi pembangunan<br />

sumberdaya yang tersedia perlu dibuat suatu konsepsi/inovasi strategi pemanfaatan HHBK di Indonesia. Konsepsi<br />

ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam rangka penyusunan rencana jangka pendek, menengah dan panjang<br />

pengembangan HHBK. Adapun tujuannya adalah pemberdayaan dan peningkatan sumberdaya hutan, ekonomi<br />

rakyat dan peningkatan devisa bagi negara.<br />

Secara ekonomis HHBK memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpeluang untuk meningkatkan pendapatan dan<br />

kesejahteraan masyarakat. Walaupun memiliki nilai ekonomi tinggi namun pengembangan usaha dan pemanfaatan<br />

HHBK selama ini belum dilakukan secara intensif sehingga belum dapat memberikan kontribusi yang signifikan<br />

dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.<br />

Upaya pengembangan HHBK perlu dilakukan secara berkelanjutan, mengingat komoditas HHBK sangat beragam di<br />

setiap daerah dan banyak melibatkan berbagai pihak dalam memproses hasilnya, maka strategi pengembangan<br />

perlu dilakukan dengan memilih jenis prioritas yang diunggulkan berdasarkan pada kriteria, indika<strong>to</strong>r dan standar<br />

yang ditetapkan. Dengan tersedianya jenis komoditas HHBK unggulan maka usaha budidaya dan pemanfaatannya<br />

dapat dilakukan lebih terencana dan terfokus sehingga pengembangan HHBK dapat berjalan dengan baik, terarah<br />

dan berkelanjutan.<br />

Pengurusan sumber daya hutan dan pembangunan kehutanan merupakan urusan bersama antara Pemerintah<br />

Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota dan seluruh komponen masyarakat. Agar pelaksanaan pembangunan<br />

kehutanan dapat sejalan dengan visi dan misi serta kebijakan prioritas seperti yang telah ditetapkan oleh<br />

Kementerian <strong>Kehutanan</strong> serta dalam rangka mengkoordinasikan dan mensinkronkan kegiatan pembangunan<br />

kehutanan khususnya pengembangan HHBK baik antara pusat dan daerah maupun antar pemangku kepentingan<br />

yang ada di daerah, maka Pusdalbanghut Regional IV memfasilitasi hal tersebut melalui penyelenggaraan Fasilitasi<br />

Koordinasi Pengembangan HHBK di Regional IV.<br />

Agar Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu Di Regional IV dapat sejalan dengan visi dan misi serta kebijakan<br />

prioritas Kementerian <strong>Kehutanan</strong> sebagaimana tersebut diatas, maka perlu dilakukan koordinasi baik antar pusat<br />

dan daerah maupun antar instansi terkait di daerah melalui acara rapat koordinasi. Maksud kegiatan Rapat<br />

Koordinasi Pengembangan HHBK Regional IV adalah untuk mempertemukan pihak-pihak yang terkait dalam<br />

pengembangan hasil hutan bukan kayu, untuk menghasilkan suatu konsep bersama mengenai pengembangan hasil<br />

hutan bukan kayu, dan koordinasi pengembangann HHBK. Adapun tujuannya adalah memperoleh gambaran umum<br />

tingkat pencapaian, permasalahan dan hambatan dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu, serta memperoleh<br />

kesepahaman bersama untuk pengembangan HHBK.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


Pokok-pokok rumusan yang disepakati pada acara Koordinasi dan Sinkronisasi Pengembangan Hasil Hutan Bukan<br />

Kayu (HHBK) di Regional IV Tahun 2010 di Makassar Provinsi Sulawesi Selatan adalah sebagai berikut :<br />

A. Sutera Alam<br />

1. Peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peningkatan usaha ulat sutera hanya dapat dilakukan melalui<br />

konsensi peningkatan produktivitas pakan berkualitas dan bibit induk ulat sutera unggul.<br />

2. Pentingnya peningkatan aspek Sumber Daya Manusia (SDM), antara lain jumlah dan kualitas tenaga<br />

penyuluh/pendamping, tenaga ahli HHBK dan penempatan sesuai dengan keahlian sebagai pelaku<br />

pengembangan HHBK sutera alam. Balai Pendidikan dan Pelatihan <strong>Kehutanan</strong> Makassar dan instansi<br />

terkait diusulkan untuk memfasilitasi.<br />

3. Untuk pengembangan ulat sutera, perlu dilakukan peremajaan tanaman dan bibit induk ulat sutera<br />

dengan jenis unggul yang sudah dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan kehutanan<br />

dengan fasilitasi pendanaan dari Direk<strong>to</strong>rat Jenderal RLPS melalui KBR dan Perum Perhutani<br />

4. Diusulkan untuk dibentuk forum komunikasi multi pihak dalam rangka merancang pembentukan klaster<br />

pengembangan produk HHBK sutera alam.<br />

5. Untuk akselerasi usaha pengembangan ulat sutera akan dilakukan peluncuran jenis induk ulat sutera oleh<br />

Menteri <strong>Kehutanan</strong> dalam waktu dekat.<br />

6. Upaya pengembangan melalui teknik kultur jaringan dan penggunaan bioteknologi perlu menjadi prioritas<br />

dengan penganggaran baik melalui Pemerintah Pusat maupun melalui Pemerintah Daerah (APBD) dengan<br />

sosialisasi kepada Gubernur (Pemerintah Provinsi) dengan menetapkan Pokja HHBK tingkat Provinsi,<br />

Bupati (Pemerintah Kabupaten/Kota) dengan Pokja HHBK tingkat Kabupaten/Kota dan Lembaga<br />

Kemasyarakatan sebagai badan pelaksana di lapangan.<br />

7. Perlu dilakukan upaya-upaya penanggulangan resiko serangan penyakit utama, febrine, yang masih<br />

menjadi penghambat dominan terhadap pengembangan usaha ulat sutera melalui sertifikasi telur yang<br />

akan diedarkan.<br />

8. Sanksi perlu ditegakan bagi pengedar telur ulat sutera yang tidak bersertifikat.<br />

9. Perlu pelibatan secara aktif para akademisi dan peneliti yang membidangi sutera alam dalam<br />

pengembangan persuteraan alam.<br />

10. Pengembangan persuteraan alam perlu dikaji lebih lanjut untuk dikembangkan di daerah lain di luar<br />

provinsi Sulawesi Selatan dalam upaya mendapatkan kualitas kokon yang terbaik.<br />

11. Rencana Aksi Pengembangan Sutera Alam dimaksudkan sebagai upaya penggalangan sinergi multi pihak<br />

yang sekaligus untuk mendapatkan sinergi penggalangan pembiayaan dan teknologi dengan melibatkan<br />

kerjasama pihak yang terkait.<br />

12. Integrasi pengembangan Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Tanaman Industri, Hutan Kemasyarakatan dan<br />

tanaman pakan ulat sutera sebagai tanaman pengisi atau tanaman di bawah tegakan untuk upaya<br />

peningkatan produktivitas.<br />

B. Tumbuhan/Tanaman Bahan Obat-Obatan<br />

1. Untuk mendukung pengembangan tumbuhan/tanaman bahan obat-obatan perlu dilakukan melalui teknik<br />

kultur jaringan dan penggunaan bioteknologi.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


2. Pentingnya peningkatan aspek Sumber Daya Manusia (SDM), antara lain jumlah dan kualitas tenaga<br />

penyuluh/pendamping, tenaga ahli HHBK dan penempatan sesuai dengan keahlian sebagai pelaku<br />

pengembangan HHBK tumbuhan/tanaman bahan obat-obatan. Balai Pendidikan dan Pelatihan <strong>Kehutanan</strong><br />

Makassar dan instansi terkait diusulkan untuk memfasilitasi.<br />

3. Diusulkan untuk dibentuk forum komunikasi multi pihak dalam rangka merancang pembentukan klaster<br />

pengembangan produk HHBK tumbuhan/tanaman bahan obat-obatan.<br />

4. Dalam rangka pengembangan HHBK jenis tumbuhan/tanaman bahan obat-obatan di Taman Nasional<br />

Lore Lindu diusulkan perlu dilakukan identifikasi, inventarisasi dan pemetaan sebarannya untuk kemudian<br />

dilakukan analisis kandungan bahan aktif bagi jenis-jenis yang mempunyai potensi dan prospek yang<br />

besar.<br />

5. Dengan mengedepankan kegiatan penelitian yang berkaitan dengan tumbuhan/tanaman bahan oba<strong>to</strong>batan<br />

akan diupayakan konservasi ex-situ bersama masyarakat di daerah buffer atau lahan masyarakat<br />

yang kemudian melalui pengembangan demplot bersama masyarakat diupayakan dapat dibangun di<br />

sekitar Taman Nasional Lore Lindu.<br />

6. Perlu dibangun kemitraan antara Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu, Akademisi, LSM, Pemerintah<br />

Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, peneliti dan masyarakat pengembang tumbuhan/tanaman bahan<br />

obat-obatan dengan industri obat tradisional besar dan inves<strong>to</strong>r lainnya sebagai pengungkit (leverage).<br />

7. Perlunya kebijakan pemerintah untuk membatasi eksport bahan mentah dari tumbuhan/tanaman bahan<br />

obat-obatan yang menjadi bahan baku utama industry kecil obat tradisional (IKOT) dan industry obat<br />

tradisional (IOT), untuk melindungi eksploitasi yang berlebih dari alam sumber bahan mentah tersebut.<br />

8. Integrasi pengembangan Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Tanaman Industri, Hutan Kemasyarakatan dan<br />

tumbuhan/tanaman bahan obat-obatan sebagai sebagai tanaman pengisi atau tanaman di bawah<br />

tegakan untuk upaya peningkatan produktivitas.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


VII.RAPAT KOORDINASI FORUM DAS REGIONAL IV DI KENDARI PROVINSI SULAWESI TENGGARA PADA<br />

TANGGAL 24-25 AGUSTUS 2010<br />

Daerah aliran sungai (DAS) merupakan kawasan yang daerah yang di batasi punggung-punggung gunung dimana<br />

air hujan yang jatuh pada daerah tersebut akan ditampung oleh punggung gunung tersebut dan akan dialirkan<br />

melalui sungai-sungai kecil ke sungai utama. DAS berfungsi mempertahankan fungsi ekologi suatu kawasan. Daerah<br />

Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu bentuk pengembangan dan pemanfaatan wilayah yang menempatkan DAS<br />

sebagai satu unit pengelolaan sumber daya alam (SDA). Agar manfaat DAS dapat diperoleh secara optimal dan<br />

berkelanjutan maka pengelolaan DAS harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.<br />

Pertambahan jumlah penduduk di Indonesia menyebabkan tekanan terhadap hutan, lahan dan sumberdaya air<br />

semakin meningkat. Kondisi ini menyebabkan bertambahnya luasan hutan untuk penggunaan di luar sek<strong>to</strong>r<br />

kehutanan, peningkatan laju erosi sehingga menurunnya produktifitas lahan, peningkatan aliran air permukaan yang<br />

menyebabkan meningkatnya ancaman bencana banjir, sedimentasi, pendangkalan serta kekeringan.<br />

Pengelolaan DAS diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam yang dapat dipulihkan seperti vegetasi, tanah<br />

dan air dalam sebuah DAS dengan tujuan untuk memperbaiki, memelihara dan melindungi keadaan DAS agar dapat<br />

memberikan hasil air untuk kepentingan pertanian, bendungan dan industri. Pengelolaan DAS secara terpadu<br />

merupakan suatu pendekatan yang tepat karena melibatkan teknologi tepat guna dan strategi sosial untuk<br />

memaksimalkan pengembangan lahan, hutan, air dan sumberdaya manusia dalam suatu daerah aliran sungai, yang<br />

bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia secara berkesinambungan. Pengelolaan DAS secara terpadu<br />

merupakan suatu me<strong>to</strong>de pendekatan yang efektif untuk mengatasi laju degradasi hutan dan lahan.<br />

Pengelolaan DAS Terpadu merupakan konsep pembangunan yang mengakomodasikan berbagai peraturan<br />

perundang-undangan yang berlaku dan dijabarkan secara menyeluruh dan terpadu dalam suatu rencana berjangka<br />

pendek, menengah maupun panjang yang memuat perumusan masalah spesifik di dalam DAS, sasaran dan tujuan<br />

pengelolaan, arahan kegiatan dalam pemanfaatan, peningkatan dan pelestarian sumber daya alam air, tanah dan<br />

vegetasi, pengembangan sumber daya manusia, arahan model pengelolaan DAS, serta sistem moni<strong>to</strong>ring evaluasi<br />

kegiatan pengelolaan DAS.<br />

Pengelolaan DAS harus secara utuh dan terpadu dengan memandang DAS adalah suatu kesatuan ekosistem. Oleh<br />

karena itu diperlukan adanya bentuk kelembagaan pengelolaan sebagai wadah koordinasi, komunikasi dan<br />

konsultasi para pihak yang terlibat dalam suatu DAS. Kelembagaan pengelolaan DAS ini dikenal dengan nama<br />

Forum DAS. Untuk kesadaran dan kebutuhan para pihak yang terlibat dalam pengelolaan DAS sebagai akibat dari<br />

adanya permasalahan-permasalan yang timbul seperti konflik kepentingan antar sek<strong>to</strong>r, antar pemerintah daerah<br />

dan adanya degradasi kondisi DAS maka dibentuklah Forum DAS.<br />

Forum DAS dibentuk untuk melaksanakan prinsip-prinsip dasar pengelolaan DAS melalui pendekatan ekosistem,<br />

sehingga forum DAS diharapkan menjad lembaga yang efektif melaksanakan pengelolaan DAS secara terpadu.<br />

Banyaknya jumlah DAS di Indonesia, maka di butuhkan pula forum DAS- forum DAS disetiap lokasi DAS. Untuk<br />

memaksimalkan fungsi dari forum DAS – forum DAS ini diperlukan koordinasi antar forum DAS untuk berbagi<br />

pengalaman dan menyamakan persepsi dalam pengelolaan DAS sesuai dengan karakteristik DAS masing – masing.<br />

Dengan koordinasi ini diharapkan peran forum DAS dalam pengelolaan DAS dapat efektif.<br />

AKTIVITAS MANUSIA<br />

PENYEBAB<br />

KERUSAKAN<br />

DAS<br />

KEADAAN ALAM<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version


Agar Koordinasi Forum Das Regional IV dapat sejalan dengan visi dan misi serta kebijakan prioritas Kementerian<br />

<strong>Kehutanan</strong>, maka perlu dilakukan koordinasi baik antar pusat dan daerah maupun antar instansi terkait di daerah<br />

melalui acara rapat koordinasi. Penyelenggaraan Rapat Forum DAS ini dimaksudkan sebagai forum komunikasi dan<br />

pembelajaran bersama (sharelearning, pengembangan dan peningkatan peran forum DAS dalam pengelolaan DAS.<br />

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah terciptanya kesepahaman dan komitmen bersama serta berbagi pengalaman<br />

dalam pengelolaan DAS secara partisipatif, serta meningkatkan peran dan fungsi forum DAS dalam pengelolaan<br />

DAS. Sasaran dari fasilitasi ini adalah peningkatan pengalaman dan pembelajaran bersama dalam pemberdayaan<br />

dan peningkatan peran Forum DAS dalam pengelolaan DAS, serta diperoleh masukan/ rekomendasi untuk<br />

penyempurnaan kebijakan peningkatan peran Forum DAS.<br />

Diskusi yang berkembang selama pertemuan maka dirumuskan hal-hal sebagai berikut :<br />

1. Pembangunan wilayah hendaknya di arahkan kepada pembangunan yang berkelanjutan dengan salah satu<br />

pendekatan melalui pengelolaan DAS Terpadu yang mencakup lintas daerah administratif, melibatkan<br />

multisek<strong>to</strong>r, multipihak (pemerintah, private sec<strong>to</strong>r, masyarakat, akademisi dan LSM)<br />

2. Pengelolaan DAS terpadu tidak akan mungkin terwujud bila pola pikir kita masih terkotak-kotak oleh sek<strong>to</strong>r<br />

masing-masing.<br />

3. Forum DAS diperlukan karena belum ada satu institusi pun yang memikirkan/mengurusi semua hal dari hulu<br />

sampai hilir.<br />

4. Tahap paling penting yang harus dilalui Forum DAS adalah penguatan kelembagaan yang hanya akan dicapai<br />

melalui proses yang tidak sebentar dan memerlukan pihak yang mau dan mampu untuk mengawal proses<br />

tersebut. Kelembagaan yang kuat dicapai melalui peningkatan motivasi, kepedulian dan rasa memiliki dalam<br />

pengelolaan DAS.<br />

5. Diperlukan dorongan dan peran forum DAS Nasional kepada Forum DAS di daerah untuk meningkatkan peran<br />

forum DAS di daerah.<br />

6. Peran BAPPEDA Provinsi/Kabupaten/Kota dibutuhkan dalam mewujudkan perencanaan pengelolaan DAS<br />

terpadu.<br />

7. Forum DAS berperan melakukan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi kajian kinerja pengelolaan DAS.<br />

8. Sumberdana Forum DAS bisa dari APBN, APBD dan sumberdana lainnya yang tidak mengikat.<br />

9. Perlu adanya Perda tentang Pengelolaan DAS Terpadu sebagai dasar acuan keterikatan multi stakeholder di<br />

tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota.<br />

10. Untuk meningkatkan peran forum DAS dalam pengelolaan DAS terpadu, maka peserta rapat sepakat untuk<br />

menyusun Rencana Aksi Forum DAS di Regional IV, sebagai berikut :<br />

a) Melakukan revitalisasi, restrukturisasi dan penguatan kelembagaan Forum DAS di Regional IV.<br />

b) Melakukan peningkatan kapasitas pengelola Forum DAS dalam bentuk studi banding dan workshop tentang<br />

pengelolaan DAS terpadu.<br />

c) Melakukan kerjasama dengan media lokal (cetak dan elektronik) untuk membangun kesepahamanan dan<br />

persepsi antar multipihak di daerah akan pentingnya pengelolaan DAS terpadu.<br />

d) Meningkatkan komunikasi dan interaksi antar stakeholder di tingkat daerah.<br />

e) Forum DAS mengembangkan database tentang karakteristik DAS.<br />

f) Penyusunan rencana aksi dan pelaporan untuk masing-masing Forum DAS minimal 3 bulan sekali dan<br />

disampaikan kepada Gubernur, Bupati dan Kementerian <strong>Kehutanan</strong>.<br />

<strong>Create</strong> <strong>PDF</strong> <strong>with</strong> <strong>PDF</strong>4U. <strong>If</strong> <strong>you</strong> <strong>wish</strong> <strong>to</strong> remove this line, please click here <strong>to</strong> purchase the full version

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!