29.03.2013 Views

jurnal PHT Vol_7_No5_2010... - Pusat Litbang Hutan Tanaman

jurnal PHT Vol_7_No5_2010... - Pusat Litbang Hutan Tanaman

jurnal PHT Vol_7_No5_2010... - Pusat Litbang Hutan Tanaman

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor Po. Box. 331<br />

Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005, E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id<br />

<strong>Vol</strong>. 7 No. 5, Desember 2010<br />

MODEL PENDUGA PENDUGA VOLUME POHON KAYU BAWANG<br />

( ( Disoxylum molliscimum<br />

molliscimum Burm Burm F.) F.) DI DI PROVINSI PROVINSI BENGKULU<br />

BENGKULU<br />

AKTIVITAS AKTIVITAS ANTAGONISME ANTAGONISME IN IN VITRO<br />

VITRO Trichoderma harzianum<br />

harzianum<br />

DAN DAN Trichoderma Trichoderma pseudokoningii<br />

pseudokoningii TERHADAP<br />

TERHADAP<br />

PATOGEN PATOGEN LODOH<br />

LODOH Pinus Pinus merkusii<br />

PEMANFAATAN PEMANFAATAN TEGAKAN<br />

TEGAKAN Acacia Acacia auriculiformis<br />

auriculiformis<br />

SEBAGAI SEBAGAI POHON POHON PENAUNG PENAUNG DAN DAN INANG INANG TANAMAN<br />

TANAMAN<br />

CENDANA CENDANA ( ( Santalum Santalum album<br />

Linn)<br />

Linn)<br />

UJI UJI TOKSISITAS EKSTRAK DAUN DAUN Nicolaia atropurpurea<br />

atropurpurea Val.<br />

Val.<br />

TERHADAP SERANGGA HAMA HAMA Spodotera litura<br />

litura Fabricus<br />

Fabricus<br />

(LEPIDOPTERA: (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE)<br />

MUTU BIBIT MANGLID ( Manglieta glauca<br />

glauca BI) PADA TUJUH<br />

JENIS MEDIA SAPIH<br />

PENGENDALIAN PENYAKIT KARAT TUMOR (<br />

Uromycladium<br />

Uromycladium<br />

tepperianum tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin) PADA SENGON (<br />

Falcataria<br />

Falcataria<br />

mollucana<br />

mollucana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) DI PANJALU<br />

KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT<br />

Jurnal<br />

Penelitian<br />

<strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HUTAN<br />

<strong>Vol</strong>. 7<br />

No. 5<br />

Hal.<br />

227 - 278<br />

Bogor<br />

Desember<br />

2010<br />

ISSN<br />

1829-6327<br />

Terakreditasi dengan nilai A<br />

Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009<br />

(182/AU1/P2MBI/08/2009


JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN<br />

<strong>Vol</strong>. 7 No. 5, Desember 2010<br />

ISSN : 1829-6327<br />

Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong> adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman<br />

dari <strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong> dengan frekuensi terbit lima kali setahun<br />

Penanggung Jawab<br />

Kepala <strong>Pusat</strong> <strong>Litbang</strong> Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong><br />

Dewan Redaksi<br />

Ketua Merangkap Anggota<br />

Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan <strong>Tanaman</strong> <strong>Hutan</strong>)<br />

Anggota<br />

Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon)<br />

Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran <strong>Hutan</strong>)<br />

Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur)<br />

Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik)<br />

Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza)<br />

Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit <strong>Tanaman</strong> <strong>Hutan</strong>)<br />

Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan <strong>Tanaman</strong> <strong>Hutan</strong>)<br />

Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika)<br />

Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan <strong>Hutan</strong>)<br />

Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan <strong>Hutan</strong> dan Kebakaran <strong>Hutan</strong>)<br />

Dr. Ir. Tania June, M.Sc. (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim)<br />

Mitra Bestari<br />

Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA. (lnstitut Pertanian Bogor)<br />

Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS. (lnstitut Pertanian Bogor)<br />

Dr. Ir. Soekisman Tjitrosemito, M.Sc (SEAMEO - BIOTROP)<br />

Dr. Ir. Endang Murniati, MS. (lnstitut Pertanian Bogor)<br />

Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc. (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO - BIOTROP)<br />

Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr. (lnstitut Pertanian Bogor)<br />

Sekretariat Redaksi<br />

Ketua Merangkap Anggota<br />

Kepala Bidang Pelayanan dan Evaluasi Penelitian,<br />

<strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong><br />

Anggota<br />

Kepala Sub Bidang Pelayanan Penelitian,<br />

<strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong><br />

Kristina Yuniati, S.Hut<br />

Rohmah Pari, S.Hut<br />

Diterbitkan oleh :<br />

<strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong><br />

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan<br />

Kementerian Kehutanan<br />

Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165),<br />

sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan <strong>Tanaman</strong> <strong>Hutan</strong> (ISSN 1693-7147),<br />

dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong> (ISSN 1829-6327)<br />

Alamat<br />

Kampus Balitbang Kehutanan<br />

Jl. Gunung Batu Nomor 5, Bogor Po. Box. 331<br />

Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id<br />

Terakreditasi dengan nilai A<br />

Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009<br />

(182/AU1/P2MBI/08/2009)<br />

Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences<br />

No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)<br />

PEDOMAN PENULISAN NASKAH<br />

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN<br />

1. Jurnal<br />

Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong> adalah publikasi ilmiah resmi dari <strong>Pusat</strong> <strong>Litbang</strong> Peningkatan<br />

Produktivitas <strong>Hutan</strong>. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti<br />

perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit,<br />

gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman.<br />

2. Naskah<br />

ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman,<br />

font ukuran 12 dan jarak 2 (dua)<br />

spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas<br />

disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat<br />

Redaksi Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong>, <strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas<br />

<strong>Hutan</strong>. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat :<br />

pp_p3ht@yahoo.co.id.<br />

3.<br />

Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun,<br />

dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi P3PPH, atau<br />

download di website P3PPH : www.forplan.or.id.<br />

Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari<br />

instansi/institusi (bukan perorangan) di luar <strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas<br />

<strong>Hutan</strong> harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya.<br />

4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus<br />

mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan<br />

huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di<br />

bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi.<br />

5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords<br />

dan ABSTRAK dengan Kata Kunci,<br />

PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN,<br />

5.<br />

PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada) .<br />

ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu<br />

paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan<br />

secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak<br />

1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata.<br />

7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada). .<br />

8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian<br />

(kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas.<br />

9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu.<br />

10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis<br />

dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel.<br />

11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa<br />

Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta<br />

harus diberi skala.<br />

12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan<br />

dinyatakan secara kuantitatif.<br />

13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar<br />

membantu.<br />

14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun<br />

terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh<br />

berikut :<br />

Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.<br />

Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology.Wadsworth<br />

Publishing Co. Belmont.<br />

U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus<br />

2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet><br />

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak<br />

mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.


JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN<br />

<strong>Vol</strong>. 7 No. 5, Desember 2010<br />

DAFTAR ISI<br />

1. MODEL PENDUGA VOLUME POHON KAYU BAWANG ( Disoxylum molliscimum<br />

BurmF)DIPROVINSI .<br />

BENGKULU<br />

Tree <strong>Vol</strong>ume Estimation Model of Kayu Bawang (Disoxylum molliscimum Burm F. ) in<br />

Bengkulu Province<br />

Agus Sumadi dan/ and Hengki Siahaan<br />

2. AKTIVITAS ANTAGONISME IN VITRO Trichoderma harzianum DAN Trichoderma<br />

pseudokoningii TERHADAP PATOGEN LODOH Pinus merkusii<br />

In Vitro Antagonistic Activity of Trichoderma harzianum and Trichoderma pseudokoningii<br />

againts Damping off Pathogens of Pinus merkusii<br />

Achmad, S. Hadi, S. Harran, E. Gumbira Sa'id, B. Satiawiharja dan/ and<br />

M. Kosim Kardin<br />

3. PEMANFAATAN TEGAKAN Acacia auriculiformis SEBAGAI POHON PENAUNG<br />

DAN INANG TANAMAN CENDANA ( Santalum album Linn)<br />

The Use of Acacia auriculiformis Stand as Shading Trees and Host Plant of Sandalwood<br />

I Komang Surata<br />

4. UJI TOKSISITAS EKSTRAK DAUN Nicolaia atropurpurea Val. TERHADAP<br />

SERANGGA HAMA Spodotera litura Fabricus (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE)<br />

Toxicity Assay of Nicolaia atropurpurea Leaf Extract against Armyworm Spodoptera litura<br />

Asmaliyah, Sumardi dan/ and Musyafa<br />

5. MUTU BIBIT MANGLID ( Manglieta glauca BI) PADA TUJUH JENIS MEDIA<br />

SAPIH<br />

Seedling Quality Index of Manglieta glauca BI on Seven Types of Transplanting Media<br />

Aris Sudomo, Encep Rachman dan/ and Nina Mindawati<br />

6. PENGENDALIAN PENYAKIT KARAT TUMOR ( Uromycladium tepperianum (Sacc.)<br />

Mc. Alpin) PADA SENGON ( Falcataria mollucana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) DI<br />

PANJALU KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT<br />

Control of Gall Rust Disease (Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin) on Sengon<br />

Tree ( Falcataria mollucana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) in Panjalu, Ciamis - West Java<br />

Illa Anggraeni , Benyamin Dendang dan/ andNeo<br />

Endra Lelana<br />

ISSN : 1829-6327<br />

227-231<br />

233-240<br />

241-251<br />

253-263<br />

265-272<br />

273-278


JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN<br />

ISSN 1829-6327 <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010<br />

Kata kunci bersumber dari artikel. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya<br />

UDC(OXDCF)630*.............<br />

Agus Sumadi dan Hengki Siahaan (Balai Penelitian dan Pengembangan <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong> (BP2HT) Palembang)<br />

Model Penduga <strong>Vol</strong>ume Pohon Kayu Bawang ( Disoxylum molliscimum Burm F . ) di Provinsi Bengkulu<br />

J. Pen. Htn Tnm <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010 p:227-231<br />

Model penduga volume pohon jenis kayu bawang (Disoxylum molliscimum) pada hutan rakyat di Bengkulu Utara disusun<br />

berdasarkan data dari 96 pohon sampel, 66 pohon sampel digunakan dalam penyusunan model dan 30 sampel pohon lainnya<br />

digunakan dalam validasi model. Penyusunan model bertujuan untuk pendugaan hasil hutan tanaman yang lebih baik dalam<br />

upaya mencapai pengelolaan hutan yang efektif. Model penduga volume disusun dalam 5 bentuk persamaan regresi dengan<br />

diameter dan tinggi pohon sebagai peubah bebas. Model terbaik diperoleh berdasarkan kriteria uji statistik dalam<br />

2<br />

penyusunan dan validasi model, yaitu koefisien determinasi (R ), akar rata-rata kuadrat simpangan (RMSE), simpangan<br />

rata-rata (SR), dan simpangan agregat (SA). Berdasarkan criteria tersebut, model penduga volume kayu bawang terbaik<br />

2,317 0,239 2<br />

adalah V= 0,0001027 D H dengan nilai R = 95,58%, RMSE = 0,0386, SR = 9,16% dan SA= 0.09%.<br />

Kata kunci : Kayu bawang ( Disoxylum molliscimum),<br />

model penduga volume, persamaan regresi<br />

UDC(OXDCF)630*.............<br />

Achmad (Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB), S. Hadi (Guru Besar pada Fakultas Kehutanan IPB<br />

(almarhum), S. Harran (Staf pengajar pada Fakultas MIPAIPB (purnabakti)), E. Gumbira Sa'id (Guru Besar pada Fakultas<br />

Teknologi Pertanian IPB), B. Satiawiharja (Staf pengajar pada Fakultas Teknologi Pertanian IPB), M. Kosim Kardin<br />

Peneliti Utama pada Balitbio Badan <strong>Litbang</strong> Pertanian Deptan (purnabakti))<br />

Aktivitas Antagonisme In Vitro Trichoderma harzianum dan Trichoderma pseudokoningii terhadap Patogen Lodoh Pinus<br />

merkusii<br />

J. Pen. Htn Tnm <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010 p:233-240<br />

Studi pengendalian hayati in vitro terhadap serangan patogen lodoh pada semai Pinus merkusii telah dilakukan di<br />

laboratorium Perlindungan <strong>Hutan</strong> Fakultas Kehutanan IPB dari bulan Februari 1996 hingga April 1997. Perolehan fungi<br />

fatogenik penyebab lodoh di lakukan melalui isolasi dari benih dan dari potongan pangkal batang kecambah P. merkusii<br />

yang menunjukkan gejala terserang lodoh dengan teknik tanam langsung. Fungi antagonis diisolasi dari benih dan tanah<br />

yang diambil dari daerah perakaran semai P. merkusii yang terserang lodoh. Hasil uji antagonisme dengan metode langsung<br />

menunjukkan bahwa T. harzianum menghambat pertumbuhan F. oxysporum hingga 28.75 % dan 27.33 % berturut-turut<br />

pada PDAdan MEA, sedang terhadap R. solani penghambatannya sebesar 11.88 % dan 9.38 % berturut-turut pada PDAdan<br />

MEA. Penghambatan T. pseudokoningii terhadap pertumbuhan F. oxysporum pada MEA mencapai 24.38%, sedang pada<br />

PDA sebesar 13.96%. terhadap R. solani. T. pseudokoningii menghambat hingga 8.75% dan 9.37% berturut-turut pada<br />

PDA dan MEA. Kedua jenis fungi antagonis menghasilkan kitinase, dan T. harzianum lebih intensif mendegradasi kitin<br />

pada medium dibanding T. pseudokoningii.<br />

Mekanisme antagonistik yang berperan adalah mikoparasitism yaitu pelilitan<br />

dan penjepitan hifa R. solani berturut-turut oleh T. harzianum dan T. Pseudokoningii serta penetrasi hifa R. solani oleh hifa<br />

T. harzianum,<br />

dan antibiosis yang diduga melibatkan aktivitas kitinase kedua jenis fungi antagonis.<br />

Kata kunci : Pinus merkusii, antagonisme in vitro, Trichoderma harzianum, Trichoderma pseudokoningii, Rhizoctonia<br />

solani, Fusarium oxysporum


JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN<br />

ISSN 1829-6327 <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010<br />

Kata kunci bersumber dari artikel. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya<br />

UDC(OXDCF)630*.............<br />

I Komang Surata (Balai Penelitian Kehutanan Kupang)<br />

Pemanfaatan Tegakan Acacia auriculiformis sebagai Pohon Penaung dan Inang <strong>Tanaman</strong> Cendana ( Santalum album Linn)<br />

J. Pen. Htn Tnm <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010 p:241-251<br />

Tegakan acasia ( Acacia auriculiformis) adalah salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai pohon penaung dan<br />

inang cendana. Penggunaan acasia sebagai pohon penaung atau inang yang terlalu rapat dan dalam waktu yang lama akan<br />

menurunkan pertumbuhan tanaman cendana karena persaingan akan semakin meningkat, oleh sebab itu pada kerapatan<br />

penaung dan umur tertentu perlu dilakukan pengurangan penutupan tajuk salah satunya dengan cara pemangkasan cabang.<br />

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengurangan penutupan tajuk Acacia auriciliformis sebagai pohon<br />

penaung dan inang dengan cara pemangkasan cabang terhadap pertumbuhan tanaman cendana. Penanaman cendana<br />

dilakukan di bawah tegakan Acacia auriculiformis hasil dari tanaman reboisasi yang telah berumur 5 tahun dengan<br />

kerapatan tegakan 6 m x 6 m dan tajuknya mulai menutup. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Berbelok dengan<br />

perlakuan pemangksan cabang tegakan Acacia auriculiformis : 0 %, 25 %, 50 %, 75 %, 100 % per pohon yang dilakukan<br />

pada umur 2 tahun setelah tanam dan selanjutnya setiap tahun dilakukan pemangkasan terubusan cabang sampai umur 8<br />

tahun. Perlakuan terdiri dari 3 blok dan setiap blok terdiri dari 25 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur 8<br />

tahun pemangkasan cabang pohon penaung atau inang nyata meningkatkan tinggi, diameter, dan persen hidup tanaman<br />

cendana masing-masing 45 %, 48 %, dan 107 %. Persen hidup tanaman cendana paling baik dihasilkan pada perlakuan<br />

pemangkasan cabang umur 3 tahun sebanyak 76 % dan umur 8 tahun 91 %. Pemangkasan cabang dapat meningkatkan<br />

temperatur udara 14 % dan intensitas cahaya matahari 53 %. Intensitas cahaya matahari nyata meningkatkan persen hidup<br />

tanaman cendana.<br />

Kata kunci : Pohon penaung, tanaman inang, cendana, pemangksan cabang, tegakan Acacia auriculiformis<br />

UDC(OXDCF)630*.............<br />

Asmaliyah (Forestry Research Agency, South Sumatera 30154, Indonesia), Sumardi, Musyafa (Faculty of Forestry,<br />

Gadjah Mada Univeristy,Yogyakarta 55281, Indonesia)<br />

Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. Terhadap Serangga Hama Spodotera litura Fabricus (Lepidoptera:<br />

Noctuidae)<br />

J. Pen. Htn Tnm <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010 p:253-263<br />

Nicolaia atropurpurea (Zingiberaceae) secara tradisional telah digunakan oleh masyarakat lokal untuk melindungi<br />

tanaman budidaya dan hutan tanaman dari serangan hama. Namun penggaliannya secara ilmiah terhadap potensinya<br />

sebagai sumber insektisida nabati belum pernah diteliti, sehingga sejauh mana toksisitas ekstrak daun N. atropurpurea ini<br />

belum diketahui secara pasti. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk tujuan tersebut. Penelitian ini dilakukan dalam<br />

2 tahapan percobaan, yaitu: Percobaan 1, pengujian cara ekstraksi dan jenis pelarut yang digunakan terhadap toksisitas<br />

ekstrak daun N. atropurpurea dengan metode kontak. Percobaan menggunakan RancanganAcak Lengkap (RAL) dengan 3<br />

ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 taraf konsentrasi.. Percobaan 2, pengujian toksisitas (nilai LC50 dan LC 95)<br />

ekstrak etil asetat<br />

daun N. atropurpurea dengan metode kontak. Percobaan menggunakan RAL dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 6<br />

taraf konsentrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun N. atropurpurea yang diaplikasikan dengan metode<br />

kontak bersifat toksik terhadap larva Spodoptera litura instar ketiga. Ekstrak yang paling toksik dihasilkan dari ekstraksi<br />

maserasi bertingkat dengan menggunakan pelarut etil asetat dengan nilai LC dan LC sebesar 0,18% dan 0,54%.<br />

Kata kunci : Toksisitas, ekstrak daun Nicolaia atropurpurea, Spodoptera litura<br />

50 95


JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN<br />

ISSN 1829-6327 <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010<br />

Kata kunci bersumber dari artikel. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya<br />

UDC(OXDCF)630*.............<br />

Aris Sudomo, Encep Rachman (Balai Penelitian Kehutanan Ciamis) dan Nina Mindawati (<strong>Pusat</strong> Penelitian dan<br />

Pengembangan <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong>)<br />

Mutu Bibit Manglid ( Manglieta glauca Bi)pada Tujuh Jenis Media Sapih<br />

J. Pen. Htn Tnm <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010 p:265-272<br />

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis media sapih yang mampu menghasilkan pertumbuhan dan mutu bibit<br />

Manglieta glauca BI terbaik. Penelitian dilakukan di persemaian Balai Penelitian Kehutanan Ciamis dari bulan Februari<br />

2008 s/d September 2008. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah RancanganAcak Lengkap (RAL) dengan<br />

7 jenis media sapih yaitu M1 (Tanah + Pupuk kandang (3:1)), M2 (Tanah), M3 (Tanah + Pupuk kandang + Sekam padi<br />

(1:1:1)), M4 (Tanah + Pupuk kandang + Pasir (1:1:1)), M5(Tanah + Pupuk kandang + Serbuk sabut kelapa (1:1:1)), M6<br />

((Tanah + Pupuk kandang + Serbuk gergaji (1:1:1)) dan M7 ( Tanah + Pupuk kandang + Abu sekam padi (1:1:1)). Masingmasing<br />

perlakuan 60 bibit sehingga total bibit yang diperlukan adalah 7 x 60 = 420 bibit. Hasil penelitian menunjukkan<br />

bahwa Campuran Media M4 (Tanah+Pupuk kandang+Pasir (1:1:1)) memberikan pertumbuhan diameter (0,469 cm), tinggi<br />

(22,678 cm) dan jumlah daun (9,978) Manglieta glauca BI yang lebih baik dibanding media lainnya. Campuran<br />

media M5 (tanah+pupuk kandang+serbuk sabut kelapa (1:1:1)) memberikan berat kering akar (2,096), berat kering batang<br />

dan daun (4,046) dan indeks mutu bibit (0,132) Manglieta glauca BI yang terbaik dibanding media lainnya. Kesimpulan<br />

dari penelitian ini adalah penggunaan campuran media M4 dan M5 masing-masing memberikan pertumbuhan dan indeks<br />

mutu bibit yang terbaik dalam teknik pembibitan Manglieta glauca BI.<br />

Kata kunci : Indeks mutu bibit, Manglieta glauca BI dan Media sapih<br />

UDC(OXDCF)630*.............<br />

Illa anggraeni dan Neo Endra Lelana (<strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong>), Benyamin Dendang (Balai<br />

Penelitian Kehutanan Ciamis)<br />

Pengendalian Penyakit Karat Tumor ( Uromycladium tepperianum (sacc.) Mc. Alpin) pada Sengon ( Falcataria mollucana<br />

(miq.) Barneby & J.w. Grimes) di Panjalu Kabupaten Ciamis Jawa Barat<br />

J. Pen. Htn Tnm <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010 p:273-278<br />

Sengon ( Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) merupakan salah satu jenis pohon yang saat ini telah<br />

dikembangkan dalam skala usaha, namun permasalahan yang dihadapi ialah adanya serangan penyakit karat tumor yang<br />

disebabkan oleh fungi Uromycladium tepperianum<br />

(Sacc.) Mc. Alpin. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pengendalian<br />

agar kerugian yang ditimbulkan tidak semakin besar. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui efektivitas belerang,<br />

kapur dan garam dalam mengendalikan penyakit karat tumor di Panjalu Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Penelitian<br />

menggunakan enam perlakuan dengan individu yang diberi perlakuan sebanyak 10 pohon per perlakuan. Pengendalian<br />

dilakukan menggunakan belerang, kapur dan garam. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah P0 = kontrol, P1<br />

= belerang, P2 = kapur, P3 = kapur : belerang (1:1) (b/b), P4 = belerang : garam (10:1) (b/b), P5 = Kapur : garam (10:1) (b/b),<br />

P6 = belerang : kapur : garam (10:10:1) (b/b). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan P4 dan P5 mempunyai persentase<br />

penghambatan tertinggi dan paling banyak menekan rata-rata jumlah karat tumor. Namun demikian, secara statistik nilai ini<br />

tidak berbeda dengan perlakuan P2 dan P6.<br />

Kata kunci : sengon, karat tumor, belerang, kapur, garam


MODEL PENDUGA VOLUME POHON KAYU BAWANG<br />

( Disoxylum molliscimum BurmF)DIPROVINSI .<br />

BENGKULU<br />

Tree <strong>Vol</strong>ume Estimation Model of Kayu Bawang<br />

(Disoxylum molliscimum Burm F. ) in Bengkulu Province<br />

Agus Sumadi dan Hengki Siahaan<br />

Balai Penelitian Kehutanan Palembang<br />

Jl. Kol. H. Burlian KM. 6,5 Kotak Pos 179, Puntikayu, Palembang<br />

Telp./Fax. (0711) 414864<br />

Naskah masuk : 19 Desember 2009 ; Naskah diterima : 4 November 2010<br />

ABSTRACT<br />

A tree volume estimation model of kayu bawang (Disoxylum molliscimum) in farm forestry was made in<br />

North Bengkulu based on data collected from 96 trees sample, 66 trees sample was used in model fitting<br />

and the remain 30 trees sample in model validation. The model construction was aimed for better<br />

estimation of forest plantation yield in order to perform effective forest management. The tree volume<br />

estimation model constructed in 5 form of regression formulas with diameter and height as independent<br />

variable. The best formula was selected by statistic test criteria of model construction and model<br />

2<br />

validation i.e. coefficient of determination (R ), root mean square error (RMSE), average deviation (SR)<br />

and aggregate deviation (SA). Based on the criteria, the best formula of tree volume estimation model of<br />

2,317 0,239 2<br />

kayu bawang is V = 0,0001027 D H with the value of R =95,58%, RMSE=0,0386, SR=9,16% and<br />

SA=0,09% .<br />

Keywords: Kayu bawang (Disoxylum molliscimum), volume estimation model, regression formula<br />

ABSTRAK<br />

Model penduga volume pohon jenis kayu bawang (Disoxylum molliscimum) pada hutan rakyat di<br />

Bengkulu Utara disusun berdasarkan data dari 96 pohon sampel, 66 pohon sampel digunakan dalam<br />

penyusunan model dan 30 sampel pohon lainnya digunakan dalam validasi model. Penyusunan model<br />

bertujuan untuk pendugaan hasil hutan tanaman yang lebih baik dalam upaya mencapai pengelolaan hutan<br />

yang efektif. Model penduga volume disusun dalam 5 bentuk persamaan regresi dengan diameter dan<br />

tinggi pohon sebagai peubah bebas. Model terbaik diperoleh berdasarkan kriteria uji statistik dalam<br />

2<br />

penyusunan dan validasi model, yaitu koefisien determinasi (R ), akar rata-rata kuadrat simpangan<br />

(RMSE), simpangan rata-rata (SR), dan simpangan agregat (SA). Berdasarkan criteria tersebut, model<br />

2,317 0,239 2<br />

penduga volume kayu bawang terbaik adalah V= 0,0001027 D H dengan nilai R = 95,58%, RMSE<br />

= 0,0386, SR = 9,16% dan SA= 0.09%.<br />

Kata kunci : Kayu bawang (Disoxylum molliscimum), model penduga volume, persamaan regresi<br />

I. PENDAHULUAN<br />

<strong>Hutan</strong> di Indonesia setiap tahun<br />

mengalami penurunan potensi dan degradasi<br />

sehingga menyebabkan terjadinya penurunan<br />

pasokan kayu secara drastis. Kondisi kerusakan<br />

hutan telah menyebabkan terjadinya<br />

ketimpangan antara kebutuhan dan pasokan<br />

kayu. Kondisi tersebut mengakibatkan<br />

keberadaan hutan rakyat menjadi sangat<br />

penting sebagai salah satu pemasok atau<br />

penghasil kayu. Kayu bawang merupakan jenis<br />

kayu pertukangan yang banyak dikembangkan<br />

oleh masyarakat dalam bentuk hutan rakyat<br />

terutama di Bengkulu Utara.<br />

Manajemen pengelolaan hutan rakyat<br />

jenis kayu bawang di Bengkulu Utara yang masih<br />

sederhana dan belum tersedianya perangkat yang<br />

dapat memudahkan dalam penghitungan potensi<br />

kayu yang dimiliki oleh masyarakat. Hal ini<br />

227


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 227 - 231<br />

mengakibatkan perhitungan potensi kayu yang<br />

dihasilkan menjadi tidak akurat. Salah satu<br />

perangkat penting dalam penghitungan potensi<br />

kayu adalah model penduga volume.<br />

Menurut Bambang dan Wahyono (1996),<br />

penaksiran dengan cara menggunakan angka<br />

bentuk batang yang umum digunakan sebesar 0,7<br />

diduga merupakan salah satu sumber kesalahan<br />

dalam penaksiran, sehingga dapat<br />

mengakibatkan perbedaan yang cukup besar<br />

antara angka taksiran dengan angka sebenarnya.<br />

Dengan kondisi ini perlu dilakukan penelitian<br />

dengan tujuan mendapatkan model penduga<br />

volume pohon jenis kayu bawang yang memiliki<br />

ketelitian tinggi.<br />

Penelitian dilaksanakan di hutan rakyat<br />

Bengkulu Utara pada bulan Agustus 2005. Data<br />

yang diperoleh dari 96 pohon model yang dibagi<br />

dalam dua kelompok, yaitu 66 data digunakan<br />

untuk penyusunan model dan sisanya 30 data<br />

digunakan untuk validasi model. Pohon model<br />

dipilih secara purposive sampling sehingga<br />

dapat mewakili sebaran kelas diameter dari<br />

diameter terkecil sampai dengan diameter<br />

terbesar. Pohon yang dipilih sebagai pohon<br />

model adalah pohon yang memiliki pertumbuhan<br />

228<br />

II. BAHAN DAN METODE<br />

A. Pelaksanaan Penelitian<br />

Vs<br />

Bp Bu<br />

x L<br />

2<br />

No. Nama model/Model Ekspresi/Expression Referensi/Reference<br />

1. Constant form factor<br />

2. Combined variable<br />

3. Generalized combined<br />

variable<br />

4. Logarithmic<br />

V=b0D 2 H<br />

V=b0 +b1 D 2 H<br />

V=b0 +b1 D 2 +b2 D 2 H+b3 H<br />

V=b1D b2 H b3<br />

normal, tidak terserang hama penyakit, serta<br />

memiliki tajuk dan batang normal. Pada pohon<br />

model dilakukan pengukuran diameternya<br />

setinggi dada ( diameter at breast height = dbh),<br />

tinggi total, diameter pangkal dan ujung tiap seksi<br />

batang dan cabang dengan panjang seksi 1 m<br />

sampai diameter 7 cm.<br />

B. Pengolahan Data dan Penyusunan Model<br />

Perhitungan volume pohon dilakukan<br />

dengan menjumlahkan volume seksi-seksi<br />

batang dan cabang pohon. Perhitungan volume<br />

seksi batang pohon dan cabang dengan<br />

menggunakan persamaan Smalian (Chapman<br />

dan Meyer, 1949) berikut:<br />

Vp<br />

Spurr, 1952<br />

Burkhart, 1977<br />

n<br />

i 1<br />

Romancier, 1961<br />

Vs<br />

Keterangan Vs = volume seksi batang (m3)<br />

Vp = volume pohon (m3)<br />

Bp = luas bidang dasar pangkal seksi (m2)<br />

Bu = luas bidang dasar ujung seksi (m2)<br />

L = panjang seksi (m)<br />

Penyusunan model volume menggunakan<br />

analisis regresi dengan dua peubah bebas, yaitu<br />

diamater setinggi dada (dbh) dan tinggi pohon<br />

(Husch et al.<br />

1972). Model yang diuji adalah<br />

model yang diajukan oleh Spurr, 1952; Burkhart,<br />

1977; Romancier,1961; dan Schumacher & Hall,<br />

1933 dalam Krisnawati, 2007) (Tabel 1).<br />

Tabel ( Table) 1. Model yang diuji dalam pendugaan volume pohon kayu bawang ( Model tested for kayu<br />

bawang tree volume estimation)<br />

Schumacher and Hall,<br />

1933<br />

Keterangan ( Remark ) : V= volume pohon ( volume tree), D = diameter setinggi dada ( diameter breast height),<br />

H = tinggi total,<br />

( total height), b0, b1, b2, b2 = koefisien regresi ( regression coefficient)<br />

Pada Model 1 hingga model 3 regresi<br />

dilakukan secara langsung pada data asli,<br />

sedangkan pada model 4 regresi dilakukan<br />

dengan terlebih dulu melakukan transformasi<br />

logaritma. Tetapi dalam perhitungan nilai-nilai<br />

2<br />

uji statistik R , RMSE, SA, dan SR, data terlebih<br />

dulu dikembalikan pada bentuk asli.<br />

C. Pemilihan Model Terbaik<br />

Model terbaik dipilih berdasarkan kriteria<br />

uji statistik sebagai berikut:<br />

2<br />

1. Koefisien determinasi (R )<br />

Koefisien determinasi merupakan proporsi<br />

variasi total di sekitar nilai tengah y yang<br />

dapat dijelaskan oleh variasi regresi (Draper


2<br />

& Smith 1992). Semakin tinggi nilai R , maka<br />

semakin besar variasi yang dapat dijelaskan.<br />

2<br />

R dihitung dengan rumus:<br />

R<br />

2<br />

1<br />

2. Akar rata-rata kuadrat simpangan (root mean<br />

squared error = RMSE)<br />

RMSE menyatakan akurasi dugaan (Huang et<br />

al. 2003) yang dinyatakan dengan rumus:<br />

RMSE<br />

( Y<br />

( Y<br />

( Y<br />

n<br />

i<br />

Yˆ<br />

i )<br />

Y )<br />

Yˆ<br />

) i<br />

p<br />

3. Validasi Model<br />

Simpangan rata-rata dan simpangan agregat<br />

digunakan untuk mengukur keakuratan suatu<br />

model yang besarnya ditentukan oleh selisih<br />

nilai hasil pendugaan dan hasil pengukuran.<br />

Semakin kecil nilai simpangan rata-rata dan<br />

simpangan agregat suatu model maka,<br />

keakuratan model tersebut semakin tinggi<br />

(Husch 1963). Nilai SR dan SA dihitung<br />

dengan rumus:<br />

i<br />

i<br />

2<br />

2<br />

2<br />

Model Penduga <strong>Vol</strong>ume Pohon Kayu Bawang<br />

( Disoxylum molliscimum Burm F.) di Provinsi Bengkulu<br />

Agus Sumadi dan Hengki Siahaan<br />

SR<br />

SA<br />

Y<br />

i<br />

Yˆ<br />

Yi<br />

n<br />

i<br />

Yˆ<br />

Yˆ<br />

i<br />

i<br />

x100%<br />

Yi<br />

x100%<br />

Dengan: n = jumlah unit contoh, p = jumlah parameter,<br />

Ỹ= rata-rata nilai pengukuran, Yi = nilai<br />

pengukuran variabel ke-i, dan Ŷ= nilai dugaan<br />

variabel ke-i<br />

III. HASIL DAN PEMBAHASAN<br />

A. Sebaran Pohon Model<br />

Pohon model untuk penelitian ini dipilih<br />

secara purpossive sampling pada tegakan<br />

hutan rakyat yang tersebar di wilayah Bengkulu<br />

Utara. Pohon model untuk penyusunan<br />

model memiliki sebaran diameter antara 6.37 -<br />

34,33 cm dan tinggi total antara 7,3 - 23,7 m<br />

(Tabel 2). Sedangkan pohon model untuk<br />

validasi mempunyai sebaran diameter antara<br />

6,37 - 33,12 cm dan tinggi antara 5,4 - 21,0 m<br />

(Tabel 3).<br />

Tabel ( Table)<br />

2. Sebaran diameter dan tinggi pohon penyusun model penduga volume kayu bawang<br />

( Diameter and height distribution of fitting tree model of kayu bawang)<br />

Kelas diameter/<br />

Diameter class<br />

(cm)<br />

Tinggi pohon/ Height (m)<br />

5,0 – 9,9 10,0 – 14,9 15,0 – 19,9 20,0 – 24,9<br />

Jumlah/<br />

Number of trees<br />

(pohon)<br />

5,0 – 9,9 3 3<br />

10,0 – 14,9 4 3 7<br />

15,0 – 19,9 10 3 2 15<br />

20,0 – 24,9 5 10 4 19<br />

25,0 – 29,9 14 2 16<br />

≥30,0 4 2 6<br />

Jumlah/Sum 7 18 31 10 66<br />

Tabel (Table) 3. Sebaran diameter dan tinggi pohon untuk validasi model penduga volume kayu bawang<br />

(Diametre and height distribution of validation tree model of kayu bawang)<br />

Kelas diameter/<br />

Diameter class<br />

(cm) 5,0 – 9,9<br />

Tinggi pohon/ Height (m)<br />

10,0 – 14,9 15,0 – 19,9 20,0 – 24,9<br />

Jumlah/<br />

Number of trees<br />

(pohon)<br />

5,0 – 9,9 2 2<br />

10,0 – 14,9 3 1 4<br />

15,0 – 19,9 1 4 2 7<br />

20,0 – 24,9 4 6 1 11<br />

25,0 – 29,9 3 1 4<br />

≥30,0 2 2<br />

Jumlah/Sum<br />

6 9 13 2 30<br />

229


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 227 - 231<br />

B. Model Penduga <strong>Vol</strong>ume Pohon<br />

Model penduga volume pohon kayu<br />

bawang yang dikembangkan dalam pola hutan<br />

rakyat di Bengkulu Utara digunakan untuk<br />

menduga volume kayu yang dapat dimanfaatkan<br />

( merchantable volume).<br />

Model dibangun<br />

berdasarkan peubah bebas tinggi dan diameter<br />

pohon dengan empat persamaan regresi seperti<br />

tertera pada Tabel 4, masing-masing dengan<br />

2<br />

nilai-nilai kriteria uji R , RMSE, simpangan<br />

agregat (SA) dan simpangan rata-rata (SR).<br />

Ketiga model pertama memiliki kesamaan<br />

2<br />

bentuk, yaitu menggunakan variabel D H.<br />

Penambahan konstanta pada model pertama<br />

menjadi model 2 hanya meningkatkan nilai<br />

koefisien determinasi sebesar 1,11%, artinya<br />

peningkatan keragaman yang diterangkan oleh<br />

model dengan penambahan konstanta tersebut<br />

tidak cukup berarti. Pada model 3, penambahan<br />

2 2<br />

variabel D , D H, dan H dapat meningkatkan<br />

koefisien determinasi hingga 4,58%. Hasil uji<br />

signifikansi pada ketiga variabel tersebut<br />

2<br />

variabel D mempunyai peran yang sangat<br />

2<br />

nyata (α = 0.000), D H berperan nyata<br />

(α = 0,026), sedangkan H tidak berperan nyata<br />

(α = 0,091).<br />

230<br />

No. Model<br />

2<br />

Selain menggunakan kriteria uji R dan<br />

RMSE yang diperoleh dari data penyusun model,<br />

kriteria uji lain yang perlu diperhatikan dalam<br />

penyusunan model penduga volume pohon<br />

adalah simpangan rata-rata (SR) dan simpangan<br />

agregat (SA) yang merupakan kriteria uji yang<br />

diperoleh dari tahapan validasi model. Validasi<br />

model sangat penting dilakukan karena kualitas dari<br />

model fitting (berdasarkan data yang digunakan<br />

untukmenyusunmodel)belumtentumencerminkan<br />

kualitas hasil prediksi model (berdasarkan<br />

independent data yang tidak digunakan untuk<br />

menyusunmodel)(Huang etal.,<br />

2003).<br />

2<br />

Berdasarkan nilai-nilai kriteria uji R ,<br />

RMSE, SR, dan SA, model penduga volume kayu<br />

bawang yang paling tepat adalah model 3 dan<br />

2<br />

model 4. Nilai R dan RMSE kedua model hampir<br />

sama. Tetapi berdasarkan validasi model, nilai<br />

simpangan rata-rata (SR) dan simpangan agregat<br />

(SA) model ke-4 lebih kecil dibandingkan model<br />

3. Nilai SA dan SR model 4 telah memenuhi<br />

kriteria sebagaimana disyaratkan oleh Chapman<br />

dan Meyer (1949) dan Husch (1963) yang<br />

menyatakan bahwa simpangan agregatif model<br />

penduga pohon sebaiknya tidak lebih dari 1%<br />

serta kriteria Spurr (1952) yang menyatakan<br />

bahwa simpangan rata-rata tidak lebih dari 10%.<br />

2 2<br />

Tabel ( Table) 4. Nilai R , RMSE, SR dan SA model penduga volume pohon kayu bawang ( R , RMSE, SR<br />

dan SA value of kayu bawang tree model estimation)<br />

R 2<br />

(%)<br />

RMSE<br />

1 V = 0.0000351 D 2 H 89,78 0,0587 16,71 3,62<br />

2 V = 0.0113 + 0.0000323 D 2 H 90,89 0,0554 16,09 0,22<br />

3<br />

V = 0.0187 + 0.000456 D 2 + 0.000013 D 2 H-<br />

0.00494 H<br />

4 V = 0,0001027 D 2,317 H 0,239<br />

SR<br />

(%)<br />

SA<br />

(%)<br />

95,47 0,0391 10,65 1,36<br />

95,58 0,0386 9,16 0,09<br />

Tabel ( Table ) 5. Peringkat penilaian model penduga volume kayu pohon bawang (Tree volume estimation<br />

model rank of kayu bawang at Bengkulu )<br />

Peringkat nilai persamaan/<br />

Peringkat gabu-<br />

No. Persamaan/Equation<br />

Rank of equation vallue Jlh ngan/Combination<br />

R of ranks<br />

2<br />

RMSE SR SA<br />

1 V = 0 .0000351 D 2 H 4 4 4 4 16 4<br />

2 V = 0.0113 + 0.0000 323 D 2 H 3 3 3 2 11 3<br />

3<br />

V = 0.0187 + 0.00045 6 D 2 +<br />

0.000013 D 2 H - 0.00494 H<br />

2 2 2 3 9 2<br />

4 V = 0,000 1027 D 2,317 H 0,239 1 1 1 1 4 1


IV. KESIMPULAN DAN SARAN<br />

A. Kesimpulan<br />

Model penduga volume pohon kayu<br />

bawang dengan persamaan regresi sederhana<br />

dengan peubah bebas tinggi dan diameter pohon<br />

yang memiliki ketelitian tertinggi adalah V =<br />

2,317 0,239 2<br />

0,0001027 D H dengan nilai R = 95,58%,<br />

RMSE = 0,0386, SR = 9,16% dan SA= 0,09%.<br />

B. Saran<br />

Model penduga volume pohon jenis<br />

kayu bawang bisa digunakan di lapangan untuk<br />

menduga volume pohon khususnya pada hutan<br />

rakyat di Bengkulu Utara atau kayu bawang<br />

di lokasi lain yang memiliki karakteristik<br />

pertumbuhan yang tidak terlalu berbeda.<br />

Penggunaan model penduga volume pohon untuk<br />

aplikasi di lapangan atau oleh masyarakat perlu<br />

dibuat tabel volume pohon kayu bawang<br />

berdasarkan persamaan model penduga volume<br />

pohon yang telah terbentuk.<br />

DAFTAR PUSTAKA<br />

Bambang E. D. dan D. Wahjono. 1996. Tabel Isi<br />

Pohon Jenis Rasamala ( Altingia excelsa)<br />

di KPH Cianjur, Jawa Barat. Buletin<br />

Penelitian Huta. Bogor<br />

Model Penduga <strong>Vol</strong>ume Pohon Kayu Bawang<br />

( Disoxylum molliscimum Burm F.) di Provinsi Bengkulu<br />

Agus Sumadi dan Hengki Siahaan<br />

Chapman, H.H. and W.H. Meyer. 1949. Forest<br />

Mensuration.<br />

McGraw-Hill Book<br />

Company, Inc, NewYork.<br />

Draper N. Smith, H. 1992. Analisis Regresi<br />

Terapan.<br />

Bambang Sumantri, penerjemah.<br />

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.<br />

Terjemahan dari: Applied Regression<br />

Analysis.<br />

Huang, Yang Y., Wang Y. 2003. A critical look at<br />

procedures for validating growth and yield<br />

models. Di dalam: Amaro A, Reed D,<br />

Soares P, editor. Modelling Forest<br />

Systems.<br />

London : CABI Publishing.<br />

Husch, B., C. I. Miller dan T. W. Beer. 1972.<br />

Forest Mensuration.<br />

Second Edition. The<br />

Ronald Press Company. NewYork.<br />

Husch, B. 1963. Forest Mensuration and<br />

Statistics.<br />

Ronald Press Company, New<br />

York.<br />

Krisnawati, H. 2007. Modelling stand growth<br />

and yield for optimizing management of<br />

Acacia mangium Willd. plantation in<br />

Indonesia.<br />

Disertasi. University of<br />

Melbourne.<br />

Spurr, S.H. 1951. Forest Inventory.<br />

The Roland<br />

Press Company. NewYork.<br />

231


1)<br />

AKTIVITAS ANTAGONISME IN VITRO Trichoderma harzianum DAN<br />

Trichoderma pseudokoningii TERHADAP PATOGEN LODOH Pinus merkusii 1)<br />

In Vitro Antagonistic Activity of T. harzianum and T. pseudokoningii againts<br />

Damping off Pathogens of P. merkusii<br />

1) 2) 3) 4) 5) 6)<br />

Achmad , S. Hadi , S. Harran , E. Gumbira Sa'id , B. Satiawiharja , dan/ and M. Kosim Kardin<br />

Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB, Jl. Lingkar Akademik Kampus IPB Darmaga kotak pos 168<br />

Bogor 16680, telp. dan faks. (0251) 8626886, e-mail: deptsilvik@ipb.ac.id atau achmadrm@yahoo.com<br />

2)<br />

Guru Besar pada Fakultas Kehutanan IPB (almarhum)<br />

3)<br />

Staf pengajar pada Fakultas MIPA IPB (purnabakti)<br />

4)<br />

Guru Besar pada Fakultas Teknologi Pertanian IPB<br />

5)<br />

Staf pengajar pada Fakultas Teknologi Pertanian IPB<br />

6)<br />

Peneliti Utama pada Balitbio Badan <strong>Litbang</strong> Pertanian Deptan (purnabakti)<br />

Naskah masuk : 12 Januari 2010 ; Naskah diterima : 6 November <strong>2010.</strong><br />

ABSTRACT<br />

In vitro study on the biological control of damping-off of Pinus merkusii was done during February<br />

1995 - April 1997 at Forest Protection Laboratory, Faculty of Forestry, Bogor Agricultural<br />

University. The pathogens, i.e. Rhizoctonia solani and Fusarium oxysporum, were isolated from seed<br />

and sprout stick base cut of damping-off infected P. merkusii seedling by direct planting technique.<br />

Fungi antagonists, i.e. Trichoderma harzianum and Trichoderma pseudokoningii, were isolated from<br />

seed and rhizosphere soil of damping-off infected pine seedlings. Result of antagonistic test by direct<br />

method showed that T. harzianum retarded F. oxysporum growth up to 28.75 % on PDA and 27.33 %<br />

on MEA. T. harzianum also retarded R. solani growth up to 11.88 % on PDA and 9.38 % on MEA.<br />

T. pseudokoningii retarded F. oxysporum growth up to 24.38% on MEA and 13.96% on PDA.<br />

T. pseudokoningii also retarded R. solani growth up to 8.75% on PDA and 9.37% on MEA. The two<br />

antagonists fungi produced chitinase, and T. harzianum degraded chitin of the medium more intensive<br />

than T. pseudokoningii. Antagonistic mechanisms that play role are the mycoparasitism, i.e. coiling and<br />

clamping R. solani hyphae by T. harzianum and T. pseudokoningii and penetration of R. solani hyphae<br />

by T. harzianum, and antibiosis allegedly by the envolvement of chitinase of the two antagonistic fungi.<br />

Keywords: Pinus merkusii, in vitro antagonism, Trichoderma harzianum, Trichoderma<br />

pseudokoningii, Rhizoctonia solani, Fusarium oxysporum<br />

ABSTRAK<br />

Studi pengendalian hayati in vitro terhadap serangan patogen lodoh pada semai Pinus merkusii telah<br />

dilakukan di laboratorium Perlindungan <strong>Hutan</strong> Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dari bulan<br />

Februari 1996 hingga April 1997. Perolehan fungi fatogenik penyebab lodoh di lakukan melalui isolasi dari<br />

benih dan dari potongan pangkal batang kecambah P. merkusii yang menunjukkan gejala terserang lodoh<br />

dengan teknik tanam langsung. Fungi antagonis diisolasi dari benih dan tanah yang diambil dari daerah<br />

perakaran semai P. merkusii yang terserang lodoh. Hasil uji antagonisme dengan metode langsung<br />

menunjukkan bahwa Trichoderma harzianum menghambat pertumbuhan Fusarium oxysporum hingga<br />

28.75 % dan 27.33 % berturut-turut pada PDA dan MEA, sedang terhadap R. solani penghambatannya<br />

sebesar 11.88 % dan 9.38 % berturut-turut pada PDA dan MEA. Penghambatan T. pseudokoningii terhadap<br />

pertumbuhan F. oxysporum pada MEA mencapai 24.38%, sedang pada PDA sebesar 13.96%. terhadap<br />

R. solani. T. pseudokoningii menghambat hingga 8.75% dan 9.37% berturut-turut pada PDA dan MEA.<br />

Kedua jenis fungi antagonis menghasilkan kitinase, dan T. harzianum lebih intensif mendegradasi kitin<br />

pada medium dibanding T. pseudokoningii.<br />

Mekanisme antagonistik yang berperan adalah mikoparasitism<br />

yaitu pelilitan dan penjepitan hifa R. solani berturut-turut oleh T. harzianum dan T. pseudokoningii serta<br />

233


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 233 - 240<br />

penetrasi hifa R. solani oleh hifa T. harzianum,<br />

dan antibiosis yang diduga melibatkan aktivitas kitinase kedua<br />

jenis fungi antagonis.<br />

Kata kunci : Pinus merkusii, antagonisme in vitro, Trichoderma harzianum, Trichoderma<br />

pseudokoningii, Rhizoctonia solani, Fusarium oxysporum<br />

234<br />

I. PENDAHULUAN<br />

Pinus merkusii Jungh. et de Vriese<br />

merupakan salah satu jenis pohon utama asli<br />

Indonesia yang disarankan ditanam pada<br />

pembangunan hutan tanaman industri (HTI).<br />

Jenis tanaman ini disamping dapat menghasilkan<br />

kayu untuk bahan bangunan, bahan korek api,<br />

terpentin dan gondorukem, juga di manfaatkan<br />

sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk<br />

menghasilkan kertas.<br />

Pembangunan HTI yang berimplikasi<br />

dengan penanaman pohon sejenis pada skala<br />

luas menuntut tersedianya bibit berkualitas tinggi<br />

dalam jumlah yang cukup. Serangan patogen<br />

lodoh yang disebabkan oleh Fusarium oxyporum<br />

dan Rhizoctonia solani dapat merupakan satu di<br />

antara beberapa penyebab utama berkurangnya<br />

jumlah semai yang disediakan. Intensitas<br />

serangan lodoh sangat bervariasi dan dapat<br />

mencapai 100% (Suharti et al.,<br />

1991).<br />

Perlindungan semai P. merkusii terhadap<br />

patogen lodoh dapat terjadi melalui faktor<br />

semainya sendiri, dalam hal ini berkaitan dengan<br />

ketahanan, ataupun melalui manipulasi kondisi<br />

lingkungan. Fenomena di lapangan menunjukkan<br />

bahwa ketahanan semai P. merkusii terhadap<br />

penyakit lodoh makin meningkat dengan<br />

bertambahnya umur. Perubahan sifat yang terjadi<br />

secara alami dengan bertambahnya umur tersebut<br />

diduga berkaitan dengan peningkatan ketahanan<br />

semai terhadap penyakit lodoh.<br />

Perlindungan semai P. merkusii melalui<br />

manipulasi faktor lingkungan dapat dilakukan<br />

dengan pengendalian patogen secara hayati yang<br />

pada akhir-akhir ini mendapat perhatian besar.<br />

Lodoh merupakan penyakit pada semai pinus<br />

yang disebabkan oleh patogen tular tanah. Oleh<br />

karena itu pengendalian hayati dapat efektif<br />

mengendalikan penyakit tersebut dan hasilnya<br />

dapat berjangka panjang, bahkan permanen, serta<br />

tidak mengakibatkan polusi atau gangguan bagi<br />

kesehatan manusia dan hewan (Bruehl, 1987).<br />

Pengendalian hayati dilakukan antara lain<br />

melalui introduksi antagonis yang dapat<br />

menghambat patogen dan kolonisasinya pada<br />

rizosfer. Penghambatan tersebut terjadi melalui<br />

mekanisme antagonistik yang antara lain<br />

melibatkan peran enzim dan metabolit lain yang<br />

di hasilkan antagonis. Fungi antagonis<br />

Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. dilaporkan<br />

mampu menghambat patogen lodoh (Baker dan<br />

Cook, 1974). Di Indonesia, upaya pengendalian<br />

hayati penyakit lodoh pada P. merkusii yang<br />

disebabkan oleh Fusarium sp., Pythium sp., dan<br />

Rhizoctonia sp. menggunakan fungi antagonis<br />

Trichoderma sp. diteliti oleh Sudjud (1983).<br />

Hasilnya menunjukkan bahwa fungi antagonis<br />

mampu menghambat ketiga patogen lodoh<br />

tersebut antibiosis.<br />

Mekanisme pengendalian hayati dapat<br />

terjadi dalam bentuk antibiosis, kompetisi, dan<br />

mikoparasitisme (Baker dan Cook, 1974).<br />

Antibiosis adalah antagonisme yang diperantarai<br />

oleh metabolit spesifik atau non-spesifik, atau<br />

oleh agensia lisis, enzim, senyawa folatil, atau zat<br />

beracun (toksin) lainnya yang dihasilkan oleh<br />

mikroba (Fravel, 1988). Kompetisi biasanya<br />

terjadi terhadap nutrisi dan ruang tumbuh atau<br />

faktor-faktor pertumbuhan penting tertentu<br />

lainnya. Interaski mikoparasitik secara umum<br />

dibedakan ke dalam dua tipe, yaitu tipe biotrofik<br />

dan tipe nekrotrofik. Kebanyakan interaksi<br />

mikoparasitik yang mempengaruhi struktur<br />

bertahan patogen tular tanah adalah tipe<br />

nekrotrofik (Lockwood, 1988).<br />

Tujuan penelitian ini adalah untuk<br />

mempelajari efektivitas penghambatan in vitro<br />

fungi antagonis T. harzianum dan T.<br />

pseudokoningii terhadap pertumbuhan patogen<br />

lodoh R. solani, dan F. oxysporum serta<br />

mekanisme penghambatan yang terjadi.<br />

II. BAHAN DAN METODE<br />

Percobaan dilaksanakan di Laboratorium<br />

Perlindungan <strong>Hutan</strong> Fahutan IPB dari Februari<br />

1996 hingga April 1997. Penelitian diawali<br />

dengan penyediaan inokulum fungi melalui<br />

isolasi dan seleksi isolat, kemudian dilanjutkan<br />

dengan perlakuan terhadap isolat terpilih sesuai<br />

tujuan tiap tahap kegiatan penelitian.<br />

Perolehan fungi patogenik penyebab lodoh<br />

dilakukan melalui isolasi dari benih dan dari<br />

potongan pangkal batang kecambah P. merkusii<br />

yang menunjukkan gejala terserang lodoh<br />

dengan teknik tanam langsung. Isolasi dari benih


dilakukan dengan menanam benih secara<br />

langsung pada media agar air dan PDA ( Potato<br />

Dexrose Agar).<br />

Benih yang ditanam adalah benih<br />

yang permukaannya tidak disterilkan maupun<br />

yang disterilkan terlebih dahulu dengan<br />

merendamnya dalam larutan NaOCl 1% selama<br />

2-5 menit dan dibilas dengan air steril satu kali.<br />

Isolasi dari pangkal batang dilakukan<br />

dengan prosedur berikut : potongan pangkal<br />

batang yang terserang patogen lodoh dicuci<br />

dengan air steril dalam labu Erlenmeyer,<br />

kemudian permukaannya disterilkan dengan<br />

merendam dalam larutan NaOCl 1% selama dua<br />

menit dan dibilas dengan air steril tiga kali, serta<br />

selanjutnya dikeringkan dengan cara<br />

meletakkannya dalam cawan petri bersih yang<br />

telah dialasi kertas saring steril. Potongan<br />

pangkal batang tersebut kemudian ditanam pada<br />

media agar air dan PDAdan diinkubasi pada suhu<br />

kamar. Setelah patogen tumbuh, kemudian isolat<br />

dimurnikan. Dua isolat dari isolat-isolat patogen<br />

lodoh yang diperoleh yang paling kuat<br />

virulensinya, yaitu yang menimbulkan<br />

persentase semai pinus mati terbesar, digunakan<br />

pada percobaan selanjutnya.<br />

Fungi antagonis diisolasi dari benih dan<br />

tanah yang diambil di daerah perakaran semai<br />

P. merkusii yang terserang lodoh. Isolasi dari<br />

benih dilakukan bersama-sama dengan isolasi<br />

fungi patogen lodoh. Isolasi fungi dari tanah<br />

dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah<br />

sebanyak 10 g kering udara yang ditempatkan<br />

dalam gelas piala, kemudian ke dalamnya<br />

ditambahkan air destilata hingga mencapai<br />

volume 100 ml (pengenceran 1 : 10). Suspensi<br />

dikocok, kemudian dituang ke dalam labu<br />

Erlenmeyer 250 ml dan dikocok kembali. Secara<br />

aseptik diambil 10 ml dari suspensi tersebut dan<br />

diencerkan dengan 90 ml air destilata steril<br />

(pengenceran 1 : 100). Selanjutnya, dari suspensi<br />

yang telah diencerkan tersebut dibuat seri<br />

pengenceran 1 : 1000, dan 1 : 10000 dengan<br />

menambah air destilata steril. Dari tiap tingkat<br />

pengenceran, dituangkan 1 ml suspensi ke media<br />

agar air dan PDA yang telah ditambah antibiotik<br />

kemisetin 50 ppm dalam cawan petri secara<br />

aseptik. Cawan petri beserta isinya kemudian<br />

ditempatkan pada suhu kamar selam 24 jam,<br />

miselia yang tumbuh dipotong kemudian<br />

dipindahkan ke medium PDA yang baru, dan<br />

selanjutnya biakan fungi dimurnikan.<br />

Berdasarkan pemurnian dan uji<br />

antagonistik, dua isolat Trichoderma sp. dipilih<br />

untuk digunakan pada tahap percobaan<br />

selanjutnya. Isolat Trichoderma sp. yang pertama<br />

Aktivitas Antagonisme In Vitro Trichoderma harzianum dan<br />

Trichoderma pseudokoningii terhadap Patogen Lodoh Pinus merkusii<br />

Achmad, S. Hadi, S. Harran, E. Gumbira Sa'id, B. Satiawiharja, dan M. Kosim Kardin<br />

memiliki karakteristik sebagai berikut : hifa<br />

berukuran diameter 4-6 µm, fialospora membulat<br />

dengan permukaan licin berukuran 2.5-3 x 3-4<br />

µm, fialid berukuran 9-12 x 3-4 µm, dan<br />

klamidospora berukuran diameter 9-13 µm.<br />

Fialospora bulat dengan permukaan licin<br />

merupakan karakteristik Trichoderma<br />

harzianum (Rifai, 1969). Sedang karakteristik<br />

isolat Trichoderma sp. yang kedua adalah : hifa<br />

berukuran diameter 3- 5 µm, fialospora lonjong,<br />

berukuran 3.5-4 x 2-2.5 µm, fialid berukuran<br />

6-9 x 3-3.5 µm, dan klamidispora berukuran<br />

diameter 6-9 µm. Biakannya menunjukkan<br />

pewarnaan kekuningan hingga kuning pada PDA<br />

yang merupakan karakteristik Trichoderma<br />

pseudokoningii (Rifai, 1969).<br />

Pengujian antagonisme dengan metode<br />

langsung pada media padat di lakukan terhadap<br />

kombinasi pasangan isolat fungi patogen dan<br />

antagonis. Media yang di gunakan adalah PDA<br />

dan MEA ( Malt Extract Agar),<br />

dengan<br />

mengikuti prosedur yang diterangkan Marx<br />

(1969).<br />

Potongan koloni antagonis dan patogen di<br />

tanam pada media PDA dan MEA dalam cawan<br />

petri pada saat yang sama, dengan jarak antara<br />

koloni 5 cm. Potongan koloni tersebut diambil<br />

dari biakan murni antagonis atau patogen<br />

berumur 5 hari dengan menggunakan bor gabus<br />

diameter 6 mm. Cawan petri beserta isinya<br />

kemudian ditempatkan pada suhu kamar.<br />

Pengujian dilakukan dalam tiga ulangan.<br />

Peubah yang diamati adalah presentase<br />

penghambatan fungi patogen oleh fungi<br />

antagonis dan lebar zona hambatan. Presentase<br />

penghambatan (p) dihitung dengan persamaan<br />

(1) (Fokkema 1973 dalam Skidmore, 1976). Pada<br />

persamaan ini, p menunjukkan presentase<br />

penghambatan, r1 adalah jari-jari koloni fungi<br />

patogen yang tumbuh berlawanan arah terhadap<br />

fungi antagonis, sedang r2 adalah jari-jari koloni<br />

fungi patogen yang tumbuh ke arah fungi<br />

antagonis. Lebar zona hambatan adalah lebar<br />

zona antara kedua ujung koloni fungi, diukur<br />

pada hari ke lima setelah fungi patogen ditanam.<br />

r-r 1 2<br />

P = __________x 100 % .......................(1)<br />

r1<br />

Pengamatan mikroskopik miselia pada<br />

daerah pertemuan antara dua koloni yaitu fungi<br />

antagonis dan fungi patogen dilakukan untuk<br />

mengetahui mekanisme penekanan terhadap<br />

patogen yang mungkin terjadi. Uji kualitatif<br />

produksi kitinase fungi antagonis dilakukan<br />

dengan menumbuhkan kedua jenis fungi tersebut<br />

235


pada media kitin agar (Atlas, 1993). Adanya<br />

produksi kitinase ditandai dengan adanya<br />

perubahan media yang awalnya putih keruh<br />

menjadi transparan. Hal ini menunjukkan adanya<br />

konsumsi kitin oleh fungi antagonis karena fungi<br />

tersebut menghasilkan kitinase.<br />

Hasil uji antagonisme dengan metode<br />

langsung menunjukkan bahwa Trichoderma<br />

harzianum menghambat pertumbuhan Fusarium<br />

oxysporum hingga 28.75 % dan 27.33 %<br />

berturut-turut pada PDA dan MEA, sedang<br />

terhadap Rhizoctonia solani penghambatannya<br />

sebesar 11.88 % dan 9.38 % berturut-turut pada<br />

PDAdan MEA( Tabel 1).<br />

236<br />

III. HASIL DAN PEMBAHASAN<br />

Fungi patogen<br />

(Pahogenic fungi)<br />

Media<br />

(Medium)<br />

(%) 1)<br />

(mm) 1)<br />

F. oxysporum PDA 28.75 ± 4.79 5.8 ± 0.64<br />

MEA 27.33 ± 8.03 6.4 ± 0.95<br />

R. solani PDA 11.88 ± 2.39 2.4 ± 0.48<br />

MEA 9.38 ± 3.14 1.6 ± 0.48<br />

1)<br />

Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 233 - 240<br />

Antagonisme antara T. harzianum dengan<br />

kedua jenis fungi patogen menimbulkan<br />

terbentuknya zona hambat, baik pada PDA<br />

maupun MEA. Lebar zona hambatan terhadap<br />

koloni F. oxysporum mencapai 5.8 mm dan 6.4<br />

mm berturut-turut pada PDA dan MEA. Zona<br />

tersebut lebih lebar dibanding yang terbentuk<br />

pada antagonisme antara fungi antagonis yang<br />

sama dengan R. solani,<br />

yaitu hanya selebar 2.4<br />

mm dan 1.6 mm berturut-turut pada PDA dan<br />

MEA(Tabel 1).<br />

Penghambatan T. pseudokoningii<br />

terhadap pertumbuhan F. oxysporum pada<br />

MEA mencapai 24.38%, sedang pada PDA<br />

sebesar 13.96%. Terhadap R. solani, T.<br />

pseudokoningii menghambat hingga 8.75%<br />

dan 9.37% berturut-turut pada PDA dan MEA<br />

(Tabel 2)<br />

Table ( Table) 1. Penghambatan pertumbuhan in vitro F. oxysporum dan R. solani oleh T. harzianum pada<br />

PDA dan MEA ( In vitro growth inhibition of F. oxysporum and R. solani by<br />

T. harzianum on PDA and MEA)<br />

Penghambatan<br />

Lebar zona hambatan<br />

( Inhibition)<br />

( Width of inhibition zone)<br />

nilai pada tiap kolom peubah : rataan ± simpangan baku ( values in each column: average ± standard deviation)<br />

Table ( Table) 2. Penghambatan pertumbuhan in vitro F. oxysporum dan R. solani oleh T. pseudokoningii<br />

pada PDA dan MEA ( In vitro growth inhibition of F. oxysporum and R. solani by<br />

T. pseudokoningii on PDA and MEA)<br />

Penghambatan<br />

Lebar zona hambatan<br />

Fungi patogen Media<br />

( Inhibition)<br />

( Width of inhibition zone)<br />

(Pahogenic fungi) (Medium)<br />

(%) 1)<br />

(mm) 1)<br />

F. oxysporum PDA 13.96 ± 5.76 1)<br />

0.0 2) ± 0.00 1)<br />

MEA 24.38 ± 3.14 5.5 ± 0.95<br />

R. solani PDA 8.75 ± 3.23 0.0 2) ± 0.48<br />

MEA 9.37 ± 2.39 1.5 ± 0.82<br />

1) nilai pada tiap kolom peubah : rataan ± simpangan baku ( values in each column: average ± standard deviation)<br />

2) pertumbuhan fungi patogen terhambat tetapi tidak terbentuk zona hambatan antar kedua koloni ( the growth of the pathogen<br />

was inhibited but inhibition zone between colonies was not formed)<br />

Pada antagonisme antara kedua jenis fungi<br />

patogen dengan T. pseudokoningii,<br />

terbentuknya<br />

zona hambatan tergantung pada media yang<br />

digunakan. Antagonisme T. pseudokoningii<br />

dengan F. oxysporum pada PDA tidak<br />

terbentuk zona hambatan, akan tetapi pada<br />

MEA terbentuk selebar 5.5 mm (Tabel 2 ).<br />

Fenomena yang sama juga ditemukan pada<br />

antagonisme T. pseudokoningii dengan<br />

R. solani,<br />

yaitu pada PDA tidak terbentuk<br />

zona hambatan akan tetapi pada MEA<br />

terbentuk selebar 1.5 mm (Tabel 2). Kemampuan<br />

antagonistik kedua jenis fungi antagonis<br />

juga ditunjang oleh pertumbuhannya yang<br />

lebih pesat dibanding fungi patogen pada PDA<br />

maupun MEA.<br />

Hasil pengamatan mikroskopik miselia<br />

pada daerah pertemuan antara kedua koloni


menunjukan bahwa hifa T. harzianum tumbuh<br />

melilit hifa R. solani.<br />

Disamping itu terjadi<br />

penetrasi oleh hifa T. harzianum dan penjepitan<br />

A B<br />

Gambar ( Figure) 1. Mikrograf daerah pertemuan koloni antagonis patogen.A: pelilitan hifa R. solani oleh<br />

hifa T. harzianum. Th: T. harzianum, Rs: R. solani, fs-Th: fialospora T. harzianum,<br />

tanda anak panah: pelilitan hifa. B: Penetrasi hifa R. solani oleh hifa T. harzianum<br />

mengakibatkan isi sel hifa R. solani kosong. Th: T. harzianum, Rs: R. solani,<br />

fs-Th:<br />

fialospora T. harzianum, tanda anak panah 1: penetrasi hifa ( Micrographs of<br />

antagonist - pathogens colony meeting area. A: hyphae coiling of R. solani by T.<br />

harzianum. Th: T. harzianum, Rs: R. solani, fs-Th: phialospora of T. harzianum,<br />

arrows mark: hyphae coiling. B: Penetration of hyphae of R. solani by T. harzianum<br />

resulted in the contents of cells of R. solani empty. Th: T. harzianum, Rs: R. solani,<br />

fs-<br />

Th: phialospora of T. harzianum , arrows mark 1: hyphae penetration)<br />

Hasil pengujian kualitatif menunjukan<br />

bahwa T. harzianum dan T. pseudokoningii<br />

menghasilkan kitinase. Hal tersebut ditunjukkan<br />

oleh berubahnya media agar kitin yang pada<br />

awalnya putih keruh menjadi transparan, karena<br />

terjadi degradasi kitin pada media oleh enzim<br />

yang dihasilkan kedua jenis fungi (Gambar 2). T.<br />

harzianum lebih intensif mendregdasi kitin pada<br />

media dibanding T. pseudokoningii,<br />

dan hal<br />

tersebut menunjukkan aktivitas kitinasenya yang<br />

lebih tinggi. Hal ini juga menunjukkan bahwa<br />

pertumbuhan T. harzianum pada agar kitin lebih<br />

cepat dibanding pertumbuhan T. pseudokoningii.<br />

Wells (1988) mengemukakan bahwa<br />

Trichoderma merupakan antagonis yang<br />

potensial. Hasil penelitian mendukung pendapat<br />

tersebut. T. harzianum maupun T. pseudokoningii<br />

mampu menghambat pertumbuhan koloni kedua<br />

jenis fungi patogen berdasarkan hasil percobaan<br />

in vitro pada PDA maupun MEA. Kemampuan<br />

tersebut menunjukkan bahwa kedua jenis fungi<br />

antagonis diharapkan dapat dimanfaatkan<br />

sebagai agensia dalam pengendalian hayati<br />

penyakit lodoh.<br />

Terdapat tiga mekanisme dalam<br />

antagonisme antar jazad renik, yaitu antibiosis,<br />

Aktivitas Antagonisme In Vitro Trichoderma harzianum dan<br />

Trichoderma pseudokoningii terhadap Patogen Lodoh Pinus merkusii<br />

Achmad, S. Hadi, S. Harran, E. Gumbira Sa'id, B. Satiawiharja, dan M. Kosim Kardin<br />

oleh hifa T. pseudokoningii terhadap hifa R.<br />

solani (Gambar 1).<br />

kompetisi, dan mikoparasitisme (Baker and<br />

Cook, 1974). Ketiga mekanisme tersebut<br />

teramati pada antagonisme yang melibatkan<br />

kedua jenis<br />

penelitian ini.<br />

Trichoderma<br />

yang diuji dalam<br />

Gambar ( Figure)<br />

2. Degradasi kitin pada media<br />

agar kitin oleh fungi antagonis. A:<br />

kontrol media agar kitin, B: biakan T.<br />

237


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 233 - 240<br />

238<br />

pseudokoningii pada 6 hari setelah<br />

tanam (hst), C: biakan T. harzianum<br />

pada 6 hst, degradasi kitin pada media<br />

mengakibatkan media menjadi<br />

transparan sehingga warna merah latar<br />

belakang obyek terlihat ( Degradation of<br />

chitin on chitin agar medium by fungal<br />

antagonists. A: chitin agar as control,<br />

B: cultured T. pseudokoningii at 6 days<br />

after planting (dap) and C: cultured T.<br />

harzianum at 6 dap on chitin agar, the<br />

degradation of chitin in the medium<br />

resulted in a transparent of the medium<br />

so that the red color of the background<br />

objects become visible)<br />

Wells (1988) mengemukakan bahwa<br />

Trichoderma merupakan antagonis yang<br />

potensial. Hasil penelitian mendukung pendapat<br />

tersebut. T. harzianum maupun T. pseudokoningii<br />

mampu menghambat pertumbuhan koloni kedua<br />

jenis fungi patogen berdasarkan hasil percobaan<br />

in vitro pada PDA maupun MEA. Kemampuan<br />

tersebut menunjukkan bahwa kedua jenis fungi<br />

antagonis diharapkan dapat dimanfaatkan<br />

sebagai agensia dalam pengendalian hayati<br />

penyakit lodoh.<br />

Terdapat tiga mekanisme dalam<br />

antagonisme antar jazad renik, yaitu antibiosis,<br />

kompetisi, dan mikoparasitisme (Baker and<br />

Cook, 1974). Ketiga mekanisme tersebut<br />

teramati pada antagonisme yang melibatkan<br />

kedua jenis Trichoderma yang diuji dalam<br />

penelitian ini.<br />

Terbentuknya zona hambatan pada media<br />

padat merupakan indikasi bekerjanya mekanisme<br />

antibiosis. Pada antagonisme pada media padat<br />

yang melibatkan T. harzianum,<br />

zona hambatan<br />

terbentuk baik pada PDA maupun MEA, akan<br />

tetapi zona hambatan pada antagonisme yang<br />

melibatkan T. pseudokoningii terbentuk hanya<br />

pada MEA, sedang pada PDA tidak. Hal tersebut<br />

disamping menunjukkan bahwa macam<br />

metabolit yang dihasilkan tiap jenis antagonis<br />

berbeda, juga menunjukkan bahwa pengaruh<br />

metabolit yang dihasilkan T. pseudokoningii pada<br />

PDAtersentralisir.<br />

Tersentralisirnya pengaruh metabolit<br />

penghambat pertumbuhan patogen pada PDA<br />

dilaporkan Achmad (1991). Dikemukakannya<br />

bahwa antagonisme in vitro fungi mikoriza<br />

Rhizopogon sp. dengan Fusarium sp. maupun<br />

Rhizoctonia sp. membentuk zona hambatan pada<br />

agar MMN, akan tetapi pada PDA zona tersebut<br />

tidak terbentuk. Fenomena yang sama juga<br />

dilaporkan oleh Darusman (1996) yang<br />

mempelajari potensi antagonistik fungi mikoriza<br />

Pisolithus tinctorius dan Scledorma columnare<br />

terhadap Fusarium sp. dan Rhizoctonia sp.<br />

Menurut Wells (1988), mekanisme<br />

antibiosis dapat melibatkan metabolit beracun<br />

(toksin) atau enzim ekstraseluler yang dihasilkan<br />

oleh fungi antagonis. Dikemukakan bahwa<br />

Trichoderma sp. menghasilkan toksin<br />

trikhordermin yang merupakan suatu senyawa<br />

sesquiterpen, dermadin yaitu asam berbasa<br />

tunggal yang aktif terhadap fungi dengan kisaran<br />

yang luas dan meliputi bakteri gram positif dan<br />

gram negatif, serta dua senyawa peptida yang<br />

bersifat antifungal sekaligus anti bakterial.<br />

Hasil uji kualitatif menunjukkan bahwa T.<br />

harzianum maupun T. pseudokoningii<br />

menghasilkan kitinase. T. harzianum lebih efektif<br />

mendregradasi kitin pada media karena media<br />

menjadi lebih transparan dibanding media T.<br />

pseudokoningii. Hal tersebut juga menunjukkan<br />

bahwa aktivitas kitinase T. harzianum lebih tinggi<br />

dibanding aktifitas kitinase T. pseudokoningii.<br />

Uji produksi kitinase tersebut dilakukan<br />

secara kualitatif, sehingga hasilnya tidak dapat<br />

menunjukkan macam kitinase yang dihasilkan<br />

kedua jenis fungi antagonis, mengingat kitinase<br />

merupakan enzim kompleks. Harman et al.<br />

(1993) mengidentifikasi enam macam enzim<br />

kitinase yang berbeda pada T. harzianum.<br />

Dikemukakan bahwa kompleksitas dan<br />

diversitas sistem enzim tersebut secara<br />

komplementer, sehingga tercapai efisiensi<br />

maksimal melawan spektrum luas fungi patogen<br />

yang mengandung kitin. Hal tersebut sejalan<br />

dengan pernyataan Lorito et al.<br />

(1993) bahwa<br />

enzim kitinolitik T. harzianum secara biologi<br />

lebih aktif dibanding enzim yang sama dari<br />

sumber lainnya, dan lebih efektif melawan fungi<br />

pada kisaran yang lebih luas. Peran kitinase pada<br />

antagonisme T. harzianum dengan R. solani<br />

dilaporkan oleh Benhamou dan Chet (1993).<br />

Dikemukakan bahwa degradasi kitin fungi<br />

patogen terjadi secara bertahap, dan hal tersebut<br />

menunjukkan dihasilkannya kitinase secara<br />

terus-menerus oleh fungi antagonis.<br />

Disorganisasi struktur dinding sel R.<br />

solani tampaknya merupakan kejadian awal yang<br />

mengakibatkan ketidakseimbangan osmotik<br />

internal, yang kemudian memicu kerusakan<br />

intraseluler seperti kebocoran membran plasma<br />

dan agregasi sitoplasma. Sivan and Chet (1989)<br />

mempelajari degradasi dinding sel fungi oleh<br />

enzim kitinolitik dari T. harzianum.<br />

Dilaporkan<br />

bahwa bila dinding sel hifa F. oxysporum


digunakan sebagai sumber karbon pada media<br />

biakan T. harzianum,<br />

maka fungi antagonis<br />

tersebut akan mengeluarkan kitinase dan 1,3-Bglukanase<br />

ke dalam media.<br />

Tertekannya pertumbuhan fungi patogen<br />

menunjukkan mekanisme kompetisi dalam<br />

antagonisme, dalam hal ini fungi antagonis lebih<br />

kompetitif dalam memanfaatkan ruang tumbuh<br />

dan nutrisi. Lebih kompetitifnya fungi antagonis<br />

ditunjang oleh pertumbuhannya yang lebih cepat<br />

dibanding fungi patogen pada media yang sama.<br />

Keberadaan Trichoderma yang melimpah pada<br />

tanah-tanah pertanian di seluruh dunia<br />

merupakan bukti terbaik bahwa fungi tersebut<br />

merupakan kompetitor yang sangat baik untuk<br />

tumbuh dan nutrisi ( Wells,1988).<br />

Mekanisme mikoparasitisme ditunjukkan<br />

oleh hasil pengamatan mikroskopik pada daerah<br />

pertemuan miselia T. harzianum dan R. solani<br />

yang antara lain memperlihatkan pelilitan dan<br />

penetrasi hifa R. solani oleh hifa T. harzianum.<br />

Benhamou dan Chet (1993) mengemukakan<br />

bahwa pada proses mikoparasitisme T.<br />

harzianum terhadap R. solani, pelilitan hifa T.<br />

harzianum di sekeliling hifa R. solani merupakan<br />

fenomena yang mengawali rusaknya hifa<br />

patogen.<br />

Elad et al.<br />

(1983) mempelajari<br />

mikoparasitisme T. harzianum dan T. hamatum<br />

terhadap R. solani dan Sclerotium rolfsii.<br />

Dikemukakan bahwa hifa T. harzianum<br />

memasuki R. solani melalui lubang yang<br />

dibuatnya pada hifa inang. Lisis parsial terjadi<br />

pada bagian hifa inang yang dililit oleh hifa<br />

antagonis. Dikemukakan pula bahwa dalam<br />

antagonisme tersebut terdapat indikasi T.<br />

harzianum mensekresikan B-1,3-glukanase.<br />

Fenomena molekuler yang dikemukakan adalah<br />

terjadinya pengendapan bahan-bahan fibril<br />

ektraseluler antara hifa yang saling beinteraksi,<br />

terakumulasinya organel-organel parasit pada<br />

sel-sel yang tengah memarasit, dan terbentuknya<br />

matriks selubung yang membungkus hifa yang<br />

tengah mempenetrasi.<br />

Dari kedua jenis fungi antagonis yang<br />

diuji, T. harzianum memiliki potensi antagonistik<br />

lebih kuat dibanding T. pseudokoningii.<br />

Hal<br />

tersebut karena T. harzianum menghambat<br />

pertumbuhan fungi patogen dengan persentase<br />

penghambatan lebih tinggi, mengakibatkan<br />

terbentuknya zona hambatan lebih besar, dan<br />

menghasilkan kitinase yang lebih efektif<br />

mendegradsi kitin dibanding T. pseudokoningii<br />

untuk sifat-sifat yang sama.<br />

Aktivitas Antagonisme In Vitro Trichoderma harzianum dan<br />

Trichoderma pseudokoningii terhadap Patogen Lodoh Pinus merkusii<br />

Achmad, S. Hadi, S. Harran, E. Gumbira Sa'id, B. Satiawiharja, dan M. Kosim Kardin<br />

IV. KESIMPULAN<br />

1. Fungi antagonis T. harzianum dan T.<br />

pseudokoningii secara in vitro mampu<br />

menghambat pertumbuhan kedua jenis fungi<br />

patogen lodoh R. solani dan F. oxysporum.<br />

T. harzianum lebih kuat menghambat<br />

pertumbuhan kedua jenis patogen dibanding<br />

T. pseudokoningii.<br />

2. Mekanisme antagonistik yang berperan<br />

adalah mikoparasitisme yang ditunjukkan<br />

oleh pelilitan hifa R. solani oleh T. harzianum<br />

dan penjepitan hifa R. solani oleh T.<br />

pseudokoningii, serta penetrasi hifa R. solani<br />

oleh hifa T. harzianum,<br />

dan antibiosis yang<br />

diduga melibatkan aktivitas kitinase kedua<br />

jenis fungi antagonis.<br />

3. Kedua jenis fungi antagonis menghasilkan<br />

kitinase, dan T. harzianum lebih intensif<br />

mendegradasi kitin pada medium dibanding T.<br />

pseudokoningii.<br />

DAFTAR PUSTAKA<br />

Achmad. 1991. Kemampuan Rhizopogon sp.<br />

untuk Perlindungan Hayati terhadap<br />

Penyebab Penyakit Lodoh pada Pinus<br />

merkusii. Tesis Magister Sains. Program<br />

Pascasarjana IPB, Bogor. 68 hlm.<br />

Atlas, R.M. 1993. Handbook of Microbiological<br />

Media.<br />

CRC Press, Boca Raton, Ann<br />

Arbor, London, Tokyo. 1079 p.<br />

Baker, K.F. and R.J. Cook. 1974. Biological<br />

Control of Plant Pathogens.<br />

W.H.<br />

Freeman and Co., San Fransisco. 433 p.<br />

Benhamau, N. and I. Chet. 1993. Hyphal<br />

interactions betwen Trichoderma<br />

harzianum and Rhizoctonia solani :<br />

parasitic process. Phytopathology<br />

83:1062-1071.<br />

Bruehl, G.W. 1987. Soil Borne Plant Pathogens.<br />

MacMillan Publ. Co., NewYork. 368 p.<br />

Darusman, L.K. 1996. Telaah Biokimiawi<br />

Proses Asosiasi Shorea selanica dan<br />

Scleroderma columnare : Suatu<br />

Pendekatan Biosintesis. Disertasi Doktor.<br />

Program Pasca Sarjana IPB, Bogor. 173<br />

hlm.<br />

Elad, Y., I. Chet, P. Boyle, and Y. Henis. 1983.<br />

Parasitism of Trichoderma spp. on<br />

Rhizoctonia solani and Sclerotium rolfsii :<br />

239


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 233 - 240<br />

scanning electron microscopy and<br />

flourescence microscopy. Phytopathology<br />

73 : 85-88<br />

Flentje, N.T. 1965. Pathogenesis by Soil Fungi,<br />

p. 255-268. In K.N. Baker and W.C.<br />

240<br />

Snyder ( Eds. ) Ecology of Soil Borne Plant<br />

Pathogens. Prelude to Biological Control.<br />

University California Press, Berkeley, Los<br />

Angeles.<br />

Fravel, D.R. 1988. Role of antibiosis in the<br />

biocontrol of diseases. Ann. Rev.<br />

Phytopathol. 26:75-81.<br />

Harman, G.E., C.K. Hayes, M. Lorito, R.M.<br />

Broadway, A. Di Pietro, C. Petrebauer and<br />

A. Tronsmo. 1993. Chitinolytic enzymes<br />

of Trichoderma harzianum : purification<br />

of chitobiosidase and endochitinase.<br />

Phytopathology 83: 313-318.<br />

Lockwood, J.L. 1988. Evolution of concepts<br />

associated with soilborne plant pathogens.<br />

Ann. Rev. Phytopathol. 26:93-121.<br />

Lorito, M., G.E. Harman, C.K. Hayes, R.M.<br />

Broadway, A. Tronsmo, S.L. Woo and A.<br />

Di Pietro. 1993. Chitinolytic enzymes<br />

produced by Trichoderma harzianum :<br />

antifungal activity of purified<br />

endochitinase and chitobiosidase.<br />

Phytopathology 83 : 303-307.<br />

Manan, S. 1976. Silvikultur. Proyek<br />

Pengembangan Peningkatan Perguruan<br />

Tinggi IPB, Bogor. 188 hlm.<br />

Marx, D.H. 1969. The influence of ectotrophic<br />

mycorrhizal fungi on the resistance of pine<br />

root to pathogenic infections I.<br />

Antagonism of mycorrhizal fungi to root<br />

pathogenic fungi and soil bacteria.<br />

Phytopathology 59: 153-163.<br />

Marx, D.H. 1973. Mycorrhizae and feeder root<br />

diseases, p. 350-381. In G.C. Marks and<br />

T.T. Kozlowski ( Eds. ) Ectomycorrhizae:<br />

their Ecology and Physiology. Academic<br />

Press, NewYork and London.<br />

Rifai, M.A. 1969. A revision of the genus<br />

Trichoderma.<br />

Mycological Paper no. 16.<br />

Commonwealth Mycological Institute,<br />

Kew Surrey, England.<br />

Siven, A. and I. Chet. 1989. Degradation of<br />

fungal cell by lytic enzymes of<br />

Trichoderma harzianum.<br />

J. General<br />

Microbiol. 135 : 675-682.<br />

Skidmore, A.M. 1976. Interactions in relation to<br />

biological control of plant pathogens, p.<br />

507-528. In C.H. Dickinson and T.F<br />

Preece ( Eds. ) Microbiology ofAerial Plant<br />

Surfaces..Academic Press, London.<br />

Steel, R.G.D. and J.H. Torrie. 1980. Principles<br />

and Procedures of Statistics.<br />

A<br />

Biomentrical Approach. McGraw-Hill<br />

Inc., Tokyo. 633 p.<br />

Suharti, M., T. Hardi, dan R.S.B. Rianto. 1991.<br />

Mengenal beberapa hama, penyakit<br />

penting pada hutan tanaman industri.<br />

Makalah di sampaikan pada Seminar<br />

Nasional Peningkatan Produktivitas HTI<br />

Melalui Upaya Pengendalian Hama dan<br />

Penyakit secara Terpadu. Fahutan IPB -<br />

Dephut - RI, Bogor, 31 Juli 1991.<br />

Sudjud, D.A. 1983. Tinjauan antagonisme antara<br />

Trichoderma sp. dengan Pythium sp.,<br />

Rhizoctonia sp., dan Fusarium sp. dalam<br />

rangka usaha pengendalian/penekanan<br />

secara biologis terhadap kerugian akibat<br />

dumping-off.<br />

Lembaga Penelitian <strong>Hutan</strong>.<br />

Bogor.<br />

Tang, J., J.S. Zhou, K.X. Wang, and W.L. Kiu.<br />

1988. Effects of ectomycorrizal fungi on<br />

dumping-off of pines. Forest Pest and<br />

Disease (4) : 20-21.<br />

Wells, H.D. 1988. Trichoderma as a biocontrol<br />

agent, p. 71-82. In K.G. Mukerji and K.L.<br />

Kang ( Eds. ) Biocontrol of Plant Diseases,<br />

vol. I. CRC Press Inc., Boca Raton -<br />

Florida.


PEMANFAATAN TEGAKAN Acacia auriculiformis SEBAGAI POHON PENAUNG<br />

DAN INANG TANAMAN CENDANA ( Santalum Album Linn)<br />

The Use of Acacia auriculiformis Stand as Shading Trees and Host Plant of Sandalwood<br />

I Komang Surata<br />

Balai Penelitian Kehutanan Kupang<br />

Jl. Untung Suropati No. 7 Po. Box. 67 Kupang 85115<br />

Telp. (0380) 823357 Fax. (0380)831068<br />

Email : irat_2006@yahoo.com Hp.08124604124<br />

Naskah masuk : 12 Desember 2009 ; Naskah diterima : 15 November 2010<br />

ABSTRACT<br />

Acacia (Acacia auriculiformis) stand is one of alternatives that can be used as shading trees and host<br />

plant of sandalwood. The utilization of acacia as shading trees and host plant that is too dense and long<br />

periode will decrease the growth of sandalwood plant because competition will arise. Therefore, canopy<br />

dense is need to reduce which one of the alternatives the use of pruning method. The objective of this<br />

research was to observe the effects of reducing canopy covering of acacia as shading trees and host plant<br />

with pruning method on sandalwood plant growth. Sandalwood was planted under 5 years old. Acacia<br />

tree resulted from reforestration with stand density 6 x 6 m and with the canopy that began to close.<br />

The eksperiment was conducted in Randomized Block Design method with the treatment is pruning<br />

intensity of acacia stand earleaf i.e. 0 %, 25 %, 50 %, 75 %, 100 % per tree that was done on 2 years old<br />

and continuing every years until 8 years old. Experiment was done in 3 blocks and each blocks consisted<br />

of 25 replications. The result of this experiment proved that the pruning on 8 years old of shading tree<br />

or host plant had significant effects to increase the height, diameter, and survival percentage of<br />

sandalwood plant namely 44 %, 40 %, and 104 % respectively. The maximum survival percentages of<br />

sandalwood at 5 years old was done 75 % and 8 years old 91 %. The pruning could increase 14 % of air<br />

temperature and 53 % of light radiation. The light intensity was significant to increase survival<br />

percentages of sandalwood plants.<br />

Keywords: Shading trees, host plant, sandalwood, branch pruning,Acacia auriculiformis stand<br />

ABSTRAK<br />

Tegakan acasia ( Acacia auriculiformis) adalah salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai<br />

pohon penaung dan inang cendana. Penggunaan acasia sebagai pohon penaung atau inang yang terlalu<br />

rapat dan dalam waktu yang lama akan menurunkan pertumbuhan tanaman cendana karena persaingan<br />

akan semakin meningkat, oleh sebab itu pada kerapatan penaung dan umur tertentu perlu dilakukan<br />

pengurangan penutupan tajuk salah satunya dengan cara pemangkasan cabang. Tujuan penelitian ini<br />

adalah untuk mengetahui pengaruh pengurangan penutupan tajuk A. auriciliformis sebagai pohon<br />

penaung dan inang dengan cara pemangkasan cabang terhadap pertumbuhan tanaman cendana.<br />

Penanaman cendana dilakukan di bawah tegakan A. auriculiformis hasil dari tanaman reboisasi yang<br />

telah berumur 5 tahun dengan kerapatan tegakan 6x6mdantajuknya mulai menutup. Penelitian disusun<br />

dalam Rancangan Acak Berblok dengan perlakuan pemangksan cabang tegakan A. auriculiformis :<br />

0 %, 25 %, 50 %, 75 %, 100 % per pohon yang dilakukan pada umur 2 tahun setelah tanam dan selanjutnya<br />

setiap tahun dilakukan pemangkasan terubusan cabang sampai umur 8 tahun. Perlakuan terdiri dari 3 blok<br />

dan setiap blok terdiri dari 25 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur 8 tahun<br />

pemangkasan cabang pohon penaung atau inang nyata meningkatkan tinggi, diameter, dan persen hidup<br />

tanaman cendana masing-masing 45 %, 48 %, dan 107 %. Persen hidup tanaman cendana paling baik<br />

dihasilkan pada perlakuan pemangkasan cabang umur 3 tahun sebanyak 76 % dan umur 8 tahun 91 %.<br />

Pemangkasan cabang dapat meningkatkan temperatur udara 14 % dan intensitas cahaya matahari 53 %.<br />

Intensitas cahaya matahari nyata meningkatkan persen hidup tanaman cendana.<br />

Kata kunci : Pohon penaung, tanaman inang, cendana, pemangksan cabang, tegakan<br />

auriculiformis<br />

Acacia<br />

241


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 241 - 251<br />

242<br />

I. PENDAHULUAN<br />

A. Latar Belakang<br />

Upaya pemulihan potensi cendana<br />

( Santalum album Linn) melalui kegiatan<br />

penanaman di Provinsi Nusa Tenggara Timur<br />

(NTT) telah dilakukan sejak tahun 1970-an,<br />

namun sampai saat ini tingkat keberhasilannya<br />

masih rendah rata-rata 20 % (Surata dan Fox,<br />

2000). Rendahnya tingkat keberhasilan<br />

penanaman cendana di daerah semiarid<br />

disebabkan belum diterapkannya teknologi<br />

budidaya secara tepat dan penanaman cendana<br />

masih disamakan dengan jenis tanaman lain.<br />

Secara khusus tanaman cendana pada awal<br />

penanaman di lapangan memerlukan penaung<br />

untuk menjaga agar tanaman tidak mengalami<br />

stres dan cepat beradaptasi dengan kondisi<br />

lingkungannya. Disamping itu tanaman cendana<br />

juga memerlukan inang untuk membantu<br />

mensuplai sebagian unsur hara dan air dari dalam<br />

tanah.<br />

Selama hidupnya tanaman cendana<br />

memerlukan tanaman inang mulai dari tingkat<br />

persemaian (inang primer) dan lapangan (inang<br />

sekunder). Inang ini berfungsi untuk membantu<br />

menyerap sebagian unsur hara melalui haustoria.<br />

Haustoria berfungsi dengan baik apabila akar<br />

tanaman inang telah menempel pada akar<br />

cendana (Hamzah, 1976). Menurut Iyenger<br />

(1965) dalam Barrett (1989), hanya unsur N, P<br />

dan asam amino yang diambil dari tanaman<br />

inang, sedangkan unsur Ca dan K diambil dari<br />

akar cendana. <strong>Tanaman</strong> inang nyata<br />

meningkatkan pertumbuhan tinggi, diameter,<br />

bobot kering, dan persen hidup tanaman cendana<br />

(Surata, 1993).<br />

<strong>Tanaman</strong> inang juga dapat berfungsi<br />

sebagai pohon penaung, oleh sebab itu<br />

disarankan tanaman inang sekunder ditanam<br />

lebih awal dari tanaman cendana atau dengan<br />

cara menanam jenis tanaman inang yang cepat<br />

tumbuh (Surata dan Idris, 2001). Cendana<br />

tumbuh lebih baik apabila ditanam di antara<br />

cemara ( Casuarina junghuniana)<br />

atau di dalam<br />

hutan dibandingkan dengan tempat terbuka<br />

(Hutchins, 1984 dalam Barrett, 1989). Untuk<br />

pertimbangan ekonomis tanaman inang dan<br />

penaung cendana di lapangan dapat<br />

menggunakan semaksemak atau tegakan<br />

tanaman yang sudah ada, yang umurnya masih<br />

muda dan tajuknya belum menutup terlalu rapat,<br />

salah satunya adalah dengan memanfaatkan<br />

tegakan Acacia auriculiformis.<br />

Beberapa jenis<br />

acacia seperti Acacia tracicarpa dan Acacia<br />

ampliceps termasuk jenis pohon cepat tumbuh di<br />

daerah beriklim kering yang dilaporkan dapat<br />

berfungsi dengan baik sebagai tanaman inang<br />

sekunder dan juga dapat dipakai sebagai penaung<br />

awal tanaman cendana (Radomiljac et al. , 1999).<br />

Teknik pemanfaatan tanaman inang<br />

sebagai penaung pada pembuatan hutan tanaman<br />

cendana adalah salah satu teknik yang dapat<br />

diterapankan untuk meningkatkan serapan unsur<br />

hara dan juga untuk mengurangi kerusakan bibit<br />

cendana akibat sengatan panas cahaya matahari<br />

yang ekstrim tinggi dan juga kekeringan di<br />

musim kemarau pada awal penanaman di<br />

lapangan (Surata dan Idris, 2001). Menurut<br />

Hutchine (1984) tanaman cendana yang masih<br />

muda menyukai naungan sedangkan inang<br />

sekunder yang baru ditanam di lapangan belum<br />

berfungsi dengan baik sebagai penaung dan<br />

inang. Oleh karena itu untuk sementara di<br />

lapangan dapat memanfaatkan semak atau pohon<br />

yang sudah ada dengan cara memanipulasi tajuk<br />

pohon penaung. Menurut Anthony, Fox, dan<br />

Barrett (1993) penaungan tanaman cendana<br />

dengan sarlon sampai umur 1 tahun dengan<br />

intensitas penyinaran kurang dari 50 % dapat<br />

meningkatkan persen tumbuh tanaman dan<br />

setelah umur 1 tahun persen tumbuhnya<br />

menurun. Raghavan (1948) dalam Barrett (1989)<br />

juga menyatakan bahwa tanaman cendana pada<br />

awal penanaman sangat peka terhadap<br />

kekeringan dan akan segera mati oleh penyinaran<br />

matahari langsung yang panjang. Oleh karena itu<br />

sampai umur 3-5 tahun diperlukan naungan yang<br />

berupa naungan samping dan setelah itu perlu<br />

dilakukan pengurangan penaung secara<br />

bertahap.<br />

Pemanfaatan Acacia auriculiformis untuk<br />

penaung awal dan inang tanaman cendana<br />

apabila tajuknya terlalu rapat akan menekan<br />

pertumbuhan tanaman pokok karena terjadi<br />

persaingan cahaya, air, dan unsur hara. Oleh<br />

karena itu tingkat persaingannya perlu dikurangi,<br />

salah satunya melalui pemangkasan cabang atau<br />

penjarangan pohon penaung atau inang (Surata<br />

dan Idris, 2001). Mayhead dan Boothman (1997)<br />

melaporkan bahwa penggunaan pohon penaung<br />

yang terlalu rapat pada jenis tanaman Quercus<br />

petraea menyebabkan pertumbuhan tanaman<br />

berkurang. Radomiljac (1994), Surata dan Idris<br />

(2001) juga melaporkan bahwa penggunaan<br />

Cassia siamea dan Acacia auriculiformis yang<br />

terlalu rapat sebagai pohon penaung atau inang<br />

akan meningkatkan kematian tanaman cendana.<br />

Oleh karena itu intensitas pembukaan tajuk<br />

pohon penaung atau inang perlu diatur


sedemikian rupa sehingga terjadi keseimbangan<br />

kebutuhan cahaya, suhu, kelembaban udara, dan<br />

ketersedian air tanah yang optimal untuk<br />

pertumbuhan tanaman cendana.<br />

B. Tujuan Penelitian<br />

Berdasarkan permasalahan tersebut di atas<br />

maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk<br />

mengatahui pengaruh pengurangan penutupan<br />

tajuk pohon penaung dan inang Acacia<br />

auriculiformis dengan cara pemangkasan cabang<br />

terhadap pertumbuhan tanaman cendana.<br />

II. BAHAN DAN METODE<br />

A. Tempat dan Waktu Penelitian<br />

Penelitian dilaksanakan di Oilsonbai,<br />

Stasiun Penelitian Balai Penelitian Kehutanan<br />

Kupang, pulau Timor, Provinsi NTT, pada<br />

bulan Januari 1994 - Januari 2004. Lokasi<br />

penelitian berada pada ketinggian 300 m dari<br />

permukaan laut, curah hujan rata-rata 1530<br />

mm/tahun dengan tipe iklim D (Schmidt dan<br />

Ferguson,1951), dan jenis tanah Grumusol yang<br />

tersusun dari bahan induk endapan batu kapur<br />

(<strong>Pusat</strong> Penelitian Tanah danAgroklimat, 1993).<br />

B. Bahan Penelitian<br />

Dalam penelitian ini digunakan bahanbahan<br />

sebagai berikut: biji cendana, inang<br />

primer Alternantera sp., polybag ukuran 15 x<br />

20 cm, media semai tanah ( top soil)<br />

dan pasir.<br />

Persemaian konvensional yang digunakan<br />

memakai atap plastik gelombang. Pohon<br />

penaung atau inang di lapangan menggunakan<br />

tegakan Acacia auriculiformis yang telah<br />

berumur 5 tahun, jarak tanam 6x6m,tajuknya<br />

belum saling menutup dengan lebar tajuk 2,7 m,<br />

tinggi rata-rata 5,2 m dan diameter 11,2 cm.<br />

Untuk mengamati data digunakan alat ukur roll<br />

meter, phi band, kaliper, lux meter,<br />

termometer<br />

udara, dan higrometer.<br />

C. Metode Penelitian<br />

1. Pelaksanaan Teknis Penelitian<br />

Tahap pertama dari kegiatan penelitian<br />

adalah penyiapan bibit cendana di persemaian<br />

dengan menggunakan kantung plastik ukuran 15<br />

x 20 cm yang diisi dengan media tanam berupa<br />

campuran tanah ( top soil)<br />

: pasir dengan<br />

perbandingan 4 : 1. Penyemaian cendana<br />

dilakukan dengan penanaman biji secara<br />

langsung di polybag yang terlebih dahulu<br />

Pemanfaatan Tegakan Acacia auriculiformis sebagai Pohon<br />

Penaung dan Inang <strong>Tanaman</strong> Cendana ( Santalum album Linn)<br />

I Komang Surata<br />

direndam di dalam air biasa selama 24 jam dan<br />

ditanam di dalam kantung plastik tiga<br />

biji/kantung dengan kedalaman 0,5 cm yang<br />

disertai dengan penanaman inang sekunder<br />

Alternantera sp. Inang sekunder ditanam dalam<br />

satu polybag yang sama dengan biji cendana yang<br />

ditanam dalam bentuk stek pucuk (panjang stek<br />

3 cm). Setelah umur satu bulan anakan cendana<br />

yang tumbuh disisakan satu pohon. Tajuk<br />

tanaman inang yang menaungi anakan cendana<br />

dipangkas secara kontinu. Bibit siap ditanam di<br />

lapangan pada umur 8 bulan.<br />

Setelah dilakukan seleksi, maka pada awal<br />

musim penghujan bibit cendana ditanam diselasela<br />

baris tanaman tegakan Acacia auriculiformis<br />

dengan jarak tanam 3 x 3 m. Tegakan A.<br />

auriculiformis sebagai penaung bibit cendana<br />

telah berumur lima (5) tahun dengan jarak<br />

tanam 6x6m,rata tinggi pohon 5,2 m, diameter<br />

9,43 cm dan lebar tajuk 2,7m<br />

2. Rancangan Penelitian<br />

Penelitian menggunakan Rancangan Acak<br />

Berblok dengan perlakuan intensitas tajuk<br />

penaung dengan cara pemangkasan cabang<br />

Acacia auriculiformis pada umur 2 tahun setelah<br />

tanam cendana. Adapun perlakuan yang<br />

dicobakan antara lain intensitas pemangkasan<br />

jumlah cabang :<br />

1. P0 = Kontrol (pemangkasan cabang 0 %)<br />

2. P1 = Pemangkasan cabang 25 %<br />

3. P2 = Pemangkasan cabang 50 %<br />

4. P3 = Pemangkasan cabang 75 %<br />

5. P4 = Pemangkasan cabang 100 %<br />

(pemangkasan cabang yang hanya<br />

meninggalkan pucuk pohon saja)<br />

Terubusan cabang pohon penaung atau<br />

inang yang tumbuh dipangkas secara kontinu<br />

setiap tahun sampai umur 8 tahun. Perlakuan<br />

terdiri dari tiga blok, setiap blok terdiri dari 25<br />

tanaman cendana. Untuk mengetahui pengaruh<br />

perlakuan maka dilakukan pengamatan tinggi,<br />

diameter, dan persen hidup cendana. Disamping<br />

pengamatan data pertumbuhan tanaman sebagai<br />

data penunjang diamati iklim mikro: suhu udara,<br />

intensitas penyinaran matahari, dan kelembaban<br />

udara. Pengukurannya dilakukan sebanyak 3 kali<br />

yaitu pada saat langit cerah pada jam 12 siang.<br />

Pengamatan iklim mikro dilakukan setinggi<br />

dada (1,3 m) di dekat tajuk pohon cendana<br />

yang dilakukan pada bulan Agustus pada umur<br />

8 tahun setelah tanam. Data hasil pengamatan<br />

diolah secara statistik dengan menggunakan<br />

SPSS ( Statistical Product and Service Solutions)<br />

(Santoso, 2000) yaitu untuk menghitung<br />

243


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 241 - 251<br />

ANOVA, regresi, dan korelasi. Pengaruh<br />

perlakuan yang nyata diuji lebih lanjut dengan<br />

LSD ( Least Significant Diference)<br />

yaitu untuk<br />

mengetahui<br />

perlakuan.<br />

perbedaan antara komponen<br />

A. Hasil<br />

Hasil analisis sidik ragam pertumbuhan<br />

tinggi, diameter, dan persen hidup tanaman<br />

cendana pada umur 8 tahun setelah tanam<br />

244<br />

III. HASIL DAN PEMBAHASAN<br />

disajikan pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis<br />

sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan<br />

pemangkasan cabang pohon penaung atau inang<br />

Acacia auriculiformis<br />

nyata meningkatkan<br />

pertumbuhan tinggi, diameter, dan persen hidup<br />

tanaman cendana.<br />

Selanjutnya berdasarkan hasil uji lanjutan<br />

LSD 0,05 menunjukkan bahwa perlakuan<br />

pemangkasan cabang pohon penaung atau inang<br />

sebesar 25 %, 50 %, 75 %, dan 100 % nyata<br />

meningkatkan pertumbuhan tinggi dan persen<br />

hidup, serta perlakuan 50 %, 75 %, dan 100 %<br />

nyata meningkatkan pertumbuhan diameter<br />

tanaman cendana.<br />

Tabel ( Table)<br />

1. Rata-rata tinggi, diameter, dan persen hidup pertumbuhan tanaman cendana. pada umur<br />

8 tahun ( Average of height, diameter, and survival on sandalwood plantations at 8<br />

years old)<br />

Nomor<br />

(Number)<br />

Pemangkasan cabang<br />

(Branch pruning)<br />

(%))<br />

Tinggi<br />

(Height)<br />

(cm)<br />

Diameter<br />

(Diameter)<br />

(cm)<br />

Persen hidup<br />

(Survival)<br />

(%)<br />

1 0 274,223 a 2,4479 a 28,67 a<br />

2 25 317,415 b 2,6334 ac 46,12 b<br />

3 50 383,775 bc 2,9704 bc 52,23 b<br />

4 75 391,390 c 3,2817 b 60,60 cd<br />

5 100 346,634 b 3,2980 b 60,07 cd<br />

Keterangan ( Remark):<br />

Angka-angka rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata<br />

menurut LSD 0,05 ( Mean value with the same letter and same column do not different significantly on<br />

LSD 0,05 )<br />

Selanjutnya untuk menentukan perlakuan<br />

pemangkasan cabang yang terbaik yang dapat<br />

meningkatkan pertumbuhan tinggi, diameter, dan<br />

persen hidup tanaman cendana dilakukan uji<br />

analisis regresi dan korelasi. Hasil analisis regresi<br />

dan korelasi menunjukkan bahwa persamaan<br />

regresi tinggi Y = 265,4079 + 3,5568 X - 0,0268<br />

2<br />

X , dengan nilai korelasi yang sangat kuat<br />

2<br />

(R =0,9631) dan tinggi maksimum 383,42 cm<br />

yang dicapai pada perlakuan pemangkasan<br />

cabang 66,35 %. Persamaan regresi diameter<br />

2<br />

adalah Y = 2,940 + 0,006764 X - 0,000037 X<br />

2<br />

dengan nilai korelasi sangat kuat (R =0,9922)<br />

dan diameter maksimum sebesar 3,28 cm yang<br />

dicapai pada perlakuan pemangkasan cabang 100<br />

%. Sedangkan persamaan regresi persen hidup Y<br />

2<br />

= 29,4020 + 0,6764 X - 0,0037 X nilai korelasi<br />

2<br />

sangat kuat (R =0,9938), dengan persen hidup<br />

maksimum cendana 60 % yang dicapai pada<br />

perlakuan pemangksan cabang pohon penaung<br />

91 %.<br />

Berdasarkan hasil ini maka dapat<br />

,<br />

disimpulkan bahwa, pemangkasan cabang pohon<br />

penaung atau inang meningkatkan tinggi,<br />

diameter, dan persen hidup maksimum tanaman<br />

cendana pada umur 8 tahun masing-masing<br />

sebesar 45 %, 48 %, dan 107 % dibandingkan<br />

tanpa pemangkasan cabang (kontrol).<br />

Tinggi (He ight) (cm)<br />

500<br />

400<br />

300<br />

200<br />

100<br />

0<br />

Y=265,4079 +3,5568 X-0,0268 X 2<br />

(R 2 = 0,9631)<br />

1 10 19 28 37 46 55 64 73 82 91 100<br />

Pemangkasan cabang (Branch pruning) (%)<br />

Gambar ( Figure) 1. Pengaruh pemangkasan<br />

cabang terhadap persen hidup tanaman<br />

cendana pada umur 8 tahun ( Effects of<br />

branch pruning on sandalwood<br />

plantation survival at 8 years old)


Diameter ( Diameter)<br />

(cm)<br />

3.3<br />

3.2<br />

3.1<br />

3<br />

2.9<br />

2.8<br />

2.7<br />

Y=2,940+0,006764X-0,000037X 2<br />

(R 2 = 0,9922)<br />

1 10 19 28 37 46 55 64 73 82 91 100<br />

Pemangkasan cabang (Branch pruning) (%)<br />

Gambar ( Figure) 2. Pengaruh pemangkasan<br />

cabang terhadap tinggi tanaman cendana<br />

pada umur 8 tahun ( Effects of branch<br />

pruning on sandalwood plantation<br />

height at 8 years old)<br />

Hidup ( Survival)<br />

(%)<br />

70<br />

60<br />

50<br />

40<br />

30<br />

20<br />

10<br />

0<br />

Y=28,4020+0,6764X-0,0037X 2<br />

(R 2 = 0,9938)<br />

1 10 19 28 37 46 55 64 73 82 91 100<br />

Pemangkasan cabang (Branch pruning) (%)<br />

Gambar ( Figure) 3. Pengaruh pemangkasan<br />

cabang terhadap persen hidup tanaman<br />

cendana pada umur 8 tahun ( Effects of<br />

branch pruning on sandalwood<br />

plantation diameter at 8 years old)<br />

Hubungan antara persen hidup, tinggi dan<br />

diameter tanaman cendana dengan perlakuan<br />

pemangkasan cabang pohon penaung atau inang<br />

disajikan pada Gambar 1, 2, dan 3. Pada gambar<br />

tersebut terlihat bahwa pertumbuhan tinggi,<br />

diameter dan persen hidup tanaman cendana<br />

meningkat pada perlakuan intensitas<br />

pemangkasan cabang yang semakin besar sampai<br />

tingkat maksimum, dan setelah itu akan menurun<br />

pada perlakuan pemangkasan cabang yang<br />

semakin tinggi.<br />

Hasil rata-rata persen hidup tanaman<br />

cendana pada umur 1-8 tahun disajikan pada<br />

Tabel 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa<br />

pada umur 1-2 tahun sebelum dilakukan<br />

perlakuan pemangkasan cabang pohon penaung<br />

atau inang, persen hidup tanaman sampai umur 2<br />

tahun masih cukup baik yaitu berkisar 75,33 %.<br />

Hasil analisis Uji LSD 0,05 pada umur 3-5 tahun<br />

setelah dilakukan pemangkasan cabang<br />

menunjukkan bahwa perlakuan pemangkasan<br />

cabang 50 % menghasilkan persen hidup nyata<br />

lebih baik, dengan kisaran persen hidup pada<br />

umur 5 tahun 52,49-62,21 %, serta pada umur 6-8<br />

tahun pemangkasan cabang 75 %<br />

menghasilkan persen hidup nyata lebih baik<br />

dengan kisaran persen hidup pada umur 8 tahun<br />

46,12- 60,60 %. Berdasarkan hasil perlakuan<br />

intensitas pemangkasan cabang ini dapat<br />

disimpulkan bahwa peningkatan pertumbuhan<br />

tanaman cendana nyata lebih baik apabila<br />

dilakukan pemangkasan cabang 50 % pada<br />

umur 3 5, dan pemangkasan cabang 75 % pada<br />

umur 6 - 8 tahun. Untuk mengetahui intensitas<br />

pemangkasan cabang yang dapat menghasilkan<br />

persen hidup maksimum pada berbagai tingkat<br />

umur tersebut di atas maka dilakukan uji regresi<br />

dan korelasi.<br />

Tabel ( Table) 2. Rata-rata persen hidup tanaman cendana pada umur 1 - 8 tahun setelah tanam ( Mean<br />

survival growth on sandalwood plantation at 1 - 8 years old after planting)<br />

Perlakuan<br />

(Treatment)<br />

1 tahun<br />

(year)<br />

2 tahun<br />

(year)<br />

Persen hidup ( Survival) (%)<br />

3 tahun 4 tahun 5 tahun<br />

(year) (year) (year)<br />

6 tahun<br />

(year)<br />

7 tahun<br />

(year)<br />

8 tahun<br />

(year)<br />

0 82,45 a 75,33 a 49,76 a 48,33 a 37,22 a 31,29 a 30,66 a 28,67 a<br />

25 79,12 a 78,31 a 70,75 b 57,98 a 52,49 b 50,33 b 49,67 b 46,12 b<br />

50 78,93 a 73,86 a 70,24 b 76,78 b 59,60 bd 53,92 b 54,66 b 52,23 b<br />

75 85,66 a 79,12 a 76,82 b 72,31 b 66,67 cd 63,47 cd 62,79 cd 60,60 cd<br />

100 84,12 a 77,23 a 75,85 b 71,67 b 62,21 cd 61,93 cd 61,14 cd 60.07 cd<br />

Rata-rata<br />

82,06 76,77 68,68 65,41 55,64 52,21 51,78 49,54<br />

(Mean)<br />

Keterangan ( Remark):<br />

Angka-angka rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada<br />

LSD 0,05 ( Mean value with the same letter and same column do not different significantly on LSD 0,05)<br />

Hasil analisis uji regresi dan korelasi<br />

hubungan antara persen hidup dan perlakuan<br />

pemangkasan cabang pada berbagai umur<br />

Pemanfaatan Tegakan Acacia auriculiformis sebagai Pohon<br />

Penaung dan Inang <strong>Tanaman</strong> Cendana ( Santalum album Linn)<br />

I Komang Surata<br />

disajikan pada Tabel 3. Berdasarkan hasil analisis<br />

regresi dan korelasi menunjukkan bahwa : pada<br />

umur 3 tahun persamaan regresi yang dihasilkan<br />

245


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 241 - 251<br />

2<br />

Y = 43,544 + 0,9242 X - 0,0062 X , nilai korelasi<br />

2<br />

(R =0,9552) dan persen hidup maksimum<br />

cendana 78 % yang dicapai pada perlakuan<br />

pemangkasan cabang 76 %, dan pada umur 6 tahun<br />

persamaan regresi yang dihasilkan Y = 37,1631 +<br />

2 2<br />

0,7080 X - 0,0045 X , nilai korelasi (R =0,9737)<br />

dengan persen hidup maksimum 65 % pada<br />

perlakuan pemangksan cabang pohon penaung 79<br />

%, serta pada umur 8 tahun persamaan regresi yang<br />

2<br />

dihasilkan Y = 29,4020 + 0,6764 X - 0,0037 X ,<br />

2<br />

nilai korelasi (R =0,9938), dengan persen hidup<br />

maksimum 60 % pada perlakuan pemangkasan<br />

cabang 91 % Berdasarkan hasil analisis ini maka<br />

dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan<br />

persen hidup maksimum tanaman cendana<br />

pemangkasan cabang pohon penaung perlu<br />

dilakukan pada umur 3 tahun sebesar 76 %, umur<br />

6 tahun sebesar 79 % dan umur 8 tahun sebesar 91<br />

246<br />

%. Karena pada umur 3 tahun dan 6 tahun selesih<br />

nilai persen hidupnya kecil, maka pemangkasan<br />

cabang cukup mulai umur 3 dan 8 tahun.<br />

Hasil analisis uji LSD 0,05 intensitas sinar<br />

matahari, suhu udara dan kelembaban udara yang<br />

disajikan pada Tabel 4 menunjukkan bahwa<br />

perlakuan pemangkasan cabang tajuk pohon<br />

penaung atau inang Acacia auriculiformis nyata<br />

meningkatkan intensitas sinar matahari dan suhu<br />

udara serta tidak nyata meningkatkan<br />

kelembaban udara. Pemangkasan cabang<br />

meningkatkan intensitas sinar matahari 53 %<br />

dan suhu udara 14 % yang masuk ke lantai hutan<br />

atau tajuk pohon cendana. Kondisi iklim mikro<br />

dengan dengan nilai intensitas cahaya 2900 lux,<br />

0<br />

suhu udara 30,8 C dan kelembaban udara 80,9 %,<br />

kondisi ini cukup baik untuk mendukung<br />

pertumbuhan cendana.<br />

Tabel ( Table)<br />

3. Persamaan regresi, korelasi, dan nilai maksimum persen hidup tanaman cendana pada<br />

umur 3, 6, dan 8 tahun ( Equation of regression, correlation, maximum value of survival<br />

sandalwood plantation at 3, 6, and 8 years old )<br />

Umur/Age<br />

Tahun/Year<br />

Regresi<br />

(Regresion)<br />

3 Y=43,544 + 0,9242X-0,0062<br />

X 2<br />

6 Y=37,1631+0,7080 X-0,0045<br />

X 2<br />

8 Y=29,4020+0,6764 X-0,0037<br />

X 2<br />

Korelasi<br />

(Correlation)<br />

R 2<br />

Persen hidup<br />

(Survival)<br />

(Y max)<br />

(%)<br />

Penaung (Shading)<br />

(%)<br />

0,9552 78 76<br />

0,9737 65 79<br />

0,9938 60 91<br />

Tabel ( Table)<br />

4. Rata-rata suhu udara, intensitas cahaya, dan kelembaban udara pada perlakuan<br />

pemangkasan cabang pada umur 8 tahun setelah tanam ( Average of air temperature,<br />

light intensity and air humidity on branch pruning at 8 years old )<br />

Nomor<br />

(Number)<br />

Perlakuan<br />

(Treatment)<br />

Suhu udara<br />

( Air temperature )<br />

( 0 C)<br />

Intensitas cahaya<br />

(Light intensity)<br />

(Lux)<br />

Kelembaban udara<br />

(Air humidity)<br />

(%)<br />

1 0 27,1 a 1900 a 83,7 a<br />

2 25 29,1 a 2100 a 82,3 a<br />

3 50 27,3 a 2600 b 78,6 a<br />

4 75 30,8 b 2800 b 80,9 a<br />

5 100 30,1 b 2900 b 72,1 a<br />

Keterangan ( Remarks)<br />

:Angka-angka rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata<br />

pada LSD 0,05 ( Mean value with the same letter and same column do not different significantly on LSD<br />

0,05)<br />

Analisis regresi dan korelasi dilakukan untuk<br />

mengetahui apakah persen hidup tanaman<br />

cendana dipengaruhi oleh intensitas cahaya<br />

matahari. Berdasarkan hasil analisis regresi<br />

dan korelasi liner sederhana menunjukkan<br />

bahwa persen hidup cendana nyata dipengaruhi<br />

oleh intensitas cahaya matahari ( sig.<br />

< 0,017),<br />

dengan persamaan Y = 897,663 + 31,538 X dan<br />

2<br />

nilai korelasi (R =0,941) (Gambar 4).


Intensitas Cahaya ( Light<br />

intensity)<br />

(Lux)<br />

5000<br />

4000<br />

3000<br />

2000<br />

1000<br />

0<br />

Y=897,663+31,538X<br />

(R 2 = 0,941)<br />

1 10 19 28 37 46 55 64 73 82 91 100<br />

Hidup (Survival) (%)<br />

Gambar ( Figure)<br />

4. Pengaruh intensitas cahaya<br />

terhadap rata-rata persen hidup tanaman<br />

cendana umur 8 tahun ( Effects of light<br />

intensity on sandalwood plantation<br />

survival at 8 years old)<br />

Hasil ini juga menunjukkan bahwa persen<br />

hidup tanaman cendana meningkat dengan<br />

semakin meningkatnya intensitas cahaya.<br />

Sedangkan hubungan antara persen hidup dengan<br />

suhu tidak nyata berkorelasi ( sig. < 0,132),<br />

dengan persamaan Y = 2,109 + 0.00963 X<br />

2<br />

(R =0,785), serta hubungan antara persen hidup<br />

dengan kelembaban udara tidak nyata<br />

berkorelasi ( sig.< 0,208) dengan persamaan Y =<br />

2<br />

91,196 - 236 X (R = 0,678). Hal ini<br />

menunjukkan bahwa persen hidup tanaman<br />

cendana tidak meningkat dengan semakin<br />

naiknya suhu udara dan kelembaban udara.<br />

B. Pembahasan<br />

Pemanfaatan tegakan Acacia<br />

auriculiformis sebagai pohon penaung awal dan<br />

inang tanaman cendana yang tidak dilakukan<br />

pemangkasan cabang sampai umur 2 tahun<br />

menghasilkan persen hidup rata rata 75,33 %<br />

(Tabel 2). Persen hidup yang dihasilkan ini<br />

nilainya lebih tinggi apabila dibandingkan<br />

dengan hasil penelitian penanaman cendana di<br />

tempat terbuka (< 20 %) (Surata dan Idris, 2001),<br />

dan juga hasil penelitian pada tanaman cendana<br />

dengan menggunakan penaung dan inang<br />

tumpang sari kacang tanah ( Arachis hypogea),<br />

kacang hijau ( Phaseolus radiatus)<br />

dan kacang<br />

turis ( Cajanus cajan)<br />

rata-rata persen hidupnya<br />

50 % (Surata et al.,<br />

1995). Persen hidup yang<br />

lebih besar pada penggunaan pohon penaung<br />

disebabkan karena tanaman cendana pada umur<br />

muda memerlukan pohon penaung. Pohon<br />

penaung berfungsi untuk membantu mengurangi<br />

stress bibit dan juga mempercepat serta<br />

meningkatkan adaptabilitas awal bibit terhadap<br />

kondisi lingkungan kering di lapangan, sehingga<br />

pertumbuhannya meningkat. Menurut Sinha<br />

Pemanfaatan Tegakan Acacia auriculiformis sebagai Pohon<br />

Penaung dan Inang <strong>Tanaman</strong> Cendana ( Santalum album Linn)<br />

I Komang Surata<br />

(1961) cendana akan mati karena kekeringan<br />

yang panjang dan berlangsung secara terus<br />

menerus dan perlu penaung pada umur pohon<br />

yang masih muda. Selain sebagai pohon<br />

penaung, tegakan Acacia auriculiformis juga<br />

berfungsi sebagai inang sekunder. Inang<br />

sekunder pada awal penanaman cendana sangat<br />

diperlukan mengingat inang sekunder yang baru<br />

ditanam di lapangan belum berfungsi dengan<br />

baik sehingga tanaman cendana untuk jangka<br />

pendek untuk sementara dapat memanfaatakan<br />

inang yang sudah ada ( Acacia auriculiformis)<br />

untuk membantu menyerap unsur hara dan air<br />

dari dalam tanah melalui haustoria, sehingga<br />

pertumbuhannya meningkat.<br />

Pemanfaatan tegakan Acacia<br />

auriculiformis sebagai pohon penaung dan inang<br />

cendana pada umur lebih dari 2 tahun nyata<br />

meningkatkan tinggi, diameter, dan persen hidup<br />

tanaman cendana (Tabel 1). Pohon penaung atau<br />

inang yang terlalu rapat akan menjadi pesaing<br />

yang kuat terhadap kebutuhan cahaya, unsur<br />

hara, dan air dengan tanaman cendana. Menurut<br />

Raghavan (1948) dalam Barrett (1985) pada<br />

daerah-daerah yang kekurangan sinar matahari<br />

(penaungan terlalu padat) pada umur di atas 3- 5<br />

tahun tanaman cendana akan banyak mati. Hal<br />

ini karena cendana pada umur tertentu<br />

membutuhkan sinar matahari yang lebih besar.<br />

Menurut Dupraz (1999) dampak negatif dari<br />

penggunaan penaung atas yang terlalu rapat pada<br />

jenis pohon juglan sangat nyata menurunkan<br />

persen hidup dan diameter,sementara tinggi<br />

tanaman masih menguntungkan. Dengan<br />

demikian dapat disimpulkan pohon penaung<br />

hanya dibutuhkan pada awal penanaman atau<br />

pada pohon muda cendana sampai umur 2 tahun<br />

dan setelah itu perlu pembukaan tajuk pohon<br />

penaung atau inang.<br />

Pertumbuhan tinggi, diameter, dan persen<br />

hidup tanaman cendana dipengaruhi oleh<br />

kerapatan tajuk pohon penaung atau inang dan<br />

pertumbuhan cendana meningkat sampai titik<br />

optimum pada perlakuan intensitas pemangkasan<br />

cabang yang semakin meningkat dan setelah itu<br />

menurun pada pemangkasan cabang yang<br />

melebihi titik maksimum (Gambar 1, 2 dan 3).<br />

Setelah mencapai titik maksimum pertumbuhan<br />

tanaman menurun. Hal ini disebabkan pada umur<br />

tersebut sudah terjadi persaingan unsur hara, air,<br />

dan cahaya matahari antara pohon cendana dan<br />

pohon penaung atau inang yang sangat kuat<br />

dengan memanfaatkan tegakan yang tajuknya<br />

rapat. Menurut Baker (1950) pertumbuhan<br />

tanaman yang mempunyai tinggi dan tajuk<br />

247


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 241 - 251<br />

dominan pada tegakan yang rapat akan menekan<br />

pertumbuhan pohon di bawahnya ( understory)<br />

sehingga akan menyebaban tanaman di<br />

bawahnya pertumbuhannya rendah atau mati.<br />

Semakin terbuka tajuk pohon penaung atau inang<br />

maka akan memberi kesempatan untuk<br />

pertumbuhan: tinggi, diameter, dan persen hidup<br />

tanaman di bawahnya semakin meningkat.<br />

Pertumbuhan tanaman juga sangat dipengaruhi<br />

oleh tingkat toleransi tanaman terhadap<br />

penyinaran matahari oleh karena itu<br />

penggolongan tanaman bisa dibagi menjadi<br />

toleran, semitoleran dan intoleran.<br />

Jenis cendana<br />

termasuk jenis tanaman semitoleran (Faridah,<br />

2007). Menurut Baker (1950) tajuk tanaman<br />

yang rapat akan meningkatkan pemangkasan<br />

cabang secara alami karena pengaruh persaingan<br />

pertumbuhan pohon yang lebih cepat tumbuh ke<br />

atas untuk mendapatkan cahaya matahari. Oleh<br />

karena itu untuk mengurangi persaingan tanaman<br />

di dalam mendapatkan cahaya, air, dan unsur hara<br />

pada tegakan hutan tanaman yang terlalu rapat<br />

perlu dilakukan penjarangan atau pemangkasan<br />

cabang terhadap jenis pohon tajuk di atasnya,<br />

sehingga pohon di bawahnya dapat berkembang<br />

dengan baik.<br />

Pemangkasan cabang pohon penaung atau<br />

inang Acacia auriculiformis pada umur 2 tahun<br />

setelah tanam nyata meningkatkan tinggi,<br />

diameter dan persen hidup tanaman cendana<br />

masing-masing 45 %, 48 %, dan 31 % (Tabel 1).<br />

Pemangkasan cabang pohon penaung atau inang<br />

dapat meningkatkan intensitas sinar matahari<br />

sebesar 53 % dan suhu 14 % yang dapat<br />

mendukung pertumbuhan tanaman. (Tabel 4).<br />

Bergerz dan Dupraz (2000) mengatakan bahwa<br />

sistem penaungan dengan pohon penaung<br />

samping berupa semak pada tanaman Prunus<br />

avium dapat menurunkan radiasi matahari 60 %<br />

dan temperatur udara 15 % .<br />

Pemangkasan cabang perlu diatur<br />

sedemikian rupa agar tidak menimbulkan efek<br />

samping terutama perubahan mikroklimat yang<br />

mendadak seperti kekeringan yang tinggi<br />

sehingga tidak merusak jaringan daun tanaman.<br />

Untuk menghindari perubahan mendadak<br />

mikroklimat maka pemangkasan cabang pohon<br />

penaung atau inang Acacia auriculiformis perlu<br />

dilakukan pada umur 3 tahun sebesar 76 % dan<br />

pada umur 8 tahun sebesar 91 % (Tabel 2).<br />

Pemangkasan cabang pohon penaung yang<br />

terlalu tinggi dalam waktu mendadak dapat<br />

meningkatkan defisit air dan kematian tanaman.<br />

Menurut Salisbury et al.<br />

(1992), pada kondisi<br />

defisit air di musim kering, dan pada penyinaran<br />

248<br />

yang tinggi akan meningkatkan transpirasi<br />

sehingga tanaman mengalami kekurangan air.<br />

Pada kondisi yang kering (defisit air) daun bisa<br />

mengatur lalu lintas air lewat penutupan stomata,<br />

akan tetapi pada kondisi penyinaran yang ekstrim<br />

tinggi akan menyebabkan kerusakan atau<br />

kematian jaringan daun tanaman yang<br />

menyebabkan<br />

2007).<br />

kematian tanaman (Faridah,<br />

Persentase hidup tanaman cendana nyata<br />

berkorelasi positip.secara linier dengan intensitas<br />

cahaya matahari (Tabel 4). Sebagai dampak<br />

penaungan terjadi penurunan mikroklimat dan<br />

juga energi yang dihasilkan dari proses<br />

fotosintesis, transpirasi dan asimilasi menurun<br />

sehingga menurunkan metabolisme tanaman<br />

(Gardener et al.,<br />

1985). Cahaya matahari<br />

memegang peranan yang sangat penting dan<br />

dibutuhkan oleh cendana untuk meningkatkan<br />

persen hidup tanaman terutama untuk kegiatan<br />

fotosintesis yang menghasilkan zat makanan<br />

untuk menopang energi pertumbuhan tanaman.<br />

Peningkatan cahaya matahari<br />

meningkatkan suhu tanaman (Tabel 3).<br />

Perubahan suhu akan mempengaruhi<br />

perkembangan tanaman. <strong>Tanaman</strong> memerlukan<br />

suhu optimum dalam pertumbuhannya. Menurut<br />

Salisbury et al.<br />

(1992) kenaikan suhu pada<br />

tanaman dari optimum ke maksimum, maka<br />

berbagai aktivitas enzim akan menurun satu<br />

persatu sehingga mengurangi perkembangan<br />

tanaman. Suhu yang tinggi akan menyebabkan<br />

reaksi kimia abnormal dan disusul kematian selsel<br />

tanaman. <strong>Tanaman</strong> pada tempat terbuka<br />

(tanpa penaung) pada musim kering akan<br />

mempunyai suhu tinggi yang akan meningkatkan<br />

evapotranspirasi, sehingga absorpsi air tidak bisa<br />

mengimbangi transpirasi daun dan akhirnya<br />

mengakibatkan kerusakan sel daun. Jika<br />

kekurangan air yang tidak diimbangi dari dalam<br />

tanah maka protoplasma akan mengering, daun<br />

akan layu, sel-sel akan mati. Kekurangan air<br />

terjadi pertama pada sel-sel yang terletak di ujung<br />

atau pinggir daun (Faridah, 2007)<br />

IV. KESIMPULAN DAN SARAN<br />

A. Kesimpulan<br />

1. Pemanfaatan tegakan Acacia auriculiformis<br />

sebagai pohon penaung dan inang cendana<br />

sampai umur 2 tahun yang tidak dilakukan<br />

pemangkasan cabang menghasilkan persen<br />

hidup cendana yang cukup baik yaitu ratarata<br />

75 %.


2. Pemangkasan cabang pohon penaung atau<br />

inang Acacia auriculiformis pada umur 2<br />

tahun setelah tanam nyata meningkatkan<br />

tinggi, diameter, dan persen hidup tanaman<br />

cendana masing-masing<br />

31%.<br />

45 %, 48 %, dan<br />

3. Persen hidup tanaman cendana paling baik<br />

dihasilkan pada perlakuan pemangkasan<br />

cabang pohon penaung atau inang Acacia<br />

auriculiformis sebesar 76 % pada umur 3<br />

tahun dan 91 % pada umur 8 tahun.<br />

4. Pemangkasan cabang pohon penaung atau<br />

inang dapat meningkatkan suhu udara 14 %<br />

dan radiasi penyinaran matahari 53 %.<br />

5. Persen hidup tanaman cendana nyata<br />

berkorelasi positif secara linier dengan<br />

intensitas cahaya matahari.<br />

B. Saran<br />

1. Untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman<br />

cendana di lapangan maka perlu<br />

menggunakan penaung awal dan inang<br />

sekunder, salah satunya dapat<br />

memanfaatankan tegakan semak atau pohon<br />

yang sudah ada di lokasi penanaman.<br />

2. Penggunaan tegakan pohon sebagai penaung<br />

atau inang perlu dipilih jenis pohon dan<br />

kerapatan tajuk yang sesuai.<br />

3. Untuk mengatasi pohon penaung atau inang<br />

yang tajuknya rapat agar tidak menimbulkan<br />

persaingan maka perlu dilakukan<br />

pemangkasan cabang atau penjarangan<br />

sampai mencapai kondisi kerapatan tajuk<br />

yang optimal.<br />

DAFTAR PUSTAKA<br />

Anthony, T., J. E. D. Fox. and D. R. Barrett. 1993.<br />

Environmental Effects of Early Growth of<br />

Santalum album L. with Particular<br />

Reference to Shade Regimes. Santalum<br />

13: 29-47.<br />

Baker, F. S. 1950. Principles of Silviculture.<br />

Mc.<br />

Graw Hill Book Company. Inc. NewYork.<br />

Barret, D. R. 1989. A Brief Note on the<br />

Regeneration of Sandal to Suplement<br />

Existing Stock in Forest or to Replace<br />

Sandal that May Killed by Spike. In.<br />

Santalum album (Indian Sandalwood)<br />

literature review, Mulga Research Centre.<br />

Western Australian Institute of<br />

Technology. Perth.<br />

Pemanfaatan Tegakan Acacia auriculiformis sebagai Pohon<br />

Penaung dan Inang <strong>Tanaman</strong> Cendana ( Santalum album Linn)<br />

I Komang Surata<br />

Bergez, J. E. and C. Dupraz, 2000. Effect of<br />

Ventilation on Growth of Prunus avium<br />

Seedlings Grown in Tree Shelters. Agr and<br />

For.Met. 104 : 199-214<br />

Dupraz, C. and J. E. Bergez. 1999. Carbon<br />

Dioksida Limitation of the Photosyntesis<br />

of Prunus avium L Seedlings Inside an<br />

Unventilated Treeshelter. For. Ecol.<br />

Mgmt. 119 :89-97<br />

Faridah, E. 2007. Fisiologi Stress. Program Studi<br />

Ilmu Kehutanan, Sekolah Pasca Sarjana.<br />

Universitas Gadjah Mada.Yogyakarta.<br />

Gardener, F.P., R. B. Peace. and R. L. Mitchell.<br />

1985. Physiology of Crop Plants.<br />

The<br />

Iowa State University Press. USA.<br />

Hamzah, Z. 1976. Sifat Silvika dan Silvikultur<br />

Cendana ( Santalum album L.) di Pulau<br />

Timor. Laporan No.227. Lembaga<br />

Penelitian <strong>Hutan</strong>, Bogor.<br />

Mayhead, G. J. and I. R. Boothman. 1997. The<br />

Effect of Treeshelter Height on Early<br />

Growth of Sessile Oak ( Quercus petraea<br />

(matt) Liebl). J. For. 70:151-155.<br />

<strong>Pusat</strong> Penelitian Tanah dan Agroklimat.1993.<br />

Peta Tanah Provinsi Nusa Tenggara Timur.<br />

<strong>Pusat</strong> Penelitian Tanah dan Agroklimat.<br />

Badan Penelitian dan Pengembangan<br />

Pertanian Bogor.<br />

Radomiljac, A. M., J. A. Mc.Comb. and J. F.<br />

Mc.Grath. 1999. Intermediate Host<br />

Influences on the Root Hemi-parasite<br />

Santalum album L. Biomas<br />

Partitioning..For. Ecol. and Mgmt. 143:-<br />

153.<br />

Schmidt, F. G. and J. M. A. Ferguson. 1951.<br />

Rainfall Types Based on Wet and Dry<br />

Period Rations for Indonesia with Western<br />

New Guinea.<br />

Verhand 42. Direktorat<br />

Meteorologi dan Geofisika. Djakarta.<br />

Salisbury, B. F. and C. W. Ross. 1992. Plant<br />

th<br />

Physiology.<br />

Pergamon Press. 4 edition.<br />

Oxford, London, NewYork, Paris<br />

Santoso, S. 2000. SPSS Statistik Parametrik. PT.<br />

Elex Media Komputindo. Kelompok<br />

Gramedia. Jakarta.<br />

Surata, I. K. 1993. Pengaruh Jenis Inang terhadap<br />

Pertumbuhan Semai Cendana ( Santalum<br />

album L.). Santalum 9: 1-9.<br />

249


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 241 - 251<br />

Surata, I. K., Harisetijono. dan M. Sinaga. 1995.<br />

Pengaruh Penanaman Sistem<br />

Tumpangsari terhadap Pertumbuhan<br />

Cendana ( Santalum album L.). Savana 20<br />

: 17-25<br />

Surata, I. K. and J. E. D. Fox. 2000. Government<br />

Initiatives to Encourage Land Holders to<br />

250<br />

Participate in Planting Sandalwood in East<br />

Nusa Tenggara. Paper Presented on the<br />

IUFRO Working Group Meeting at Cairns,<br />

Queensland,Australia, 7-12 January 2000.<br />

Surata, I.K. dan M. Idris. 2001. Status Penelitian<br />

Cendana di Provinsi Nusa Tenggara Timur.<br />

Berita Biologi 5 (5) :521-539


Lampiran ( Appendix)<br />

1. Analisis keragaman tinggi, diamater dan persen hidup tanaman cendana<br />

( Analysis of variance for height, diameter, and survival of cendana plants)<br />

Parameter<br />

(Parameter)<br />

Tinggi<br />

(height)<br />

Diameter<br />

(diameter)<br />

Hidup<br />

(Survival)<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

(Source of<br />

variance)<br />

Perlakuan<br />

(Treament)<br />

Blok (Block)<br />

Acak (Error)<br />

4<br />

2<br />

8<br />

Db<br />

(df)<br />

JK<br />

(SS)<br />

9092,238<br />

2649,091<br />

3237,774<br />

Total 14 34252,027<br />

Perlakuan<br />

(Treament)<br />

Blok (Block)<br />

Acak (Error)<br />

4<br />

2<br />

8<br />

1,683<br />

0,333<br />

0,443<br />

Total 14 2.460<br />

Perlakuan<br />

(Treament)<br />

Blok (Block)<br />

Acak (Error)<br />

4<br />

2<br />

8<br />

Pemanfaatan Tegakan Acacia auriculiformis sebagai Pohon<br />

Penaung dan Inang <strong>Tanaman</strong> Cendana ( Santalum album Linn)<br />

I Komang Surata<br />

1618,667<br />

51,773<br />

222,933<br />

KT<br />

(MS)<br />

5818,448<br />

1324,546<br />

462,539<br />

0,421<br />

0,167<br />

0,053<br />

404,667<br />

25,667<br />

27,867<br />

Total 14 1893.333<br />

Keterangan ( remark ) : *Berbeda nyata pada taraf uji 5%( Significant of 0,05 level)<br />

F Sig.<br />

12,579<br />

2,864<br />

7,605<br />

3,013<br />

14,522<br />

0,928<br />

0,002*<br />

0,123<br />

0,008*<br />

0,106<br />

0,001<br />

0,434<br />

251


Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. Terhadap Serangga Hama<br />

Spodotera litura Fabricus (Lepidoptera: Noctuidae)<br />

Toxicity Assay of Nicolia atropurpurea Leaf Extract against Armyworm Spodoptera litura<br />

2<br />

1 2 2<br />

Asmaliyah , Sumardi , dan/ and Musyafa<br />

1<br />

Balai Penelitian Kehutanan Palembang<br />

Jl. Kol. H. Burlian KM. 6,5 Kotak Pos 179, Puntikayu, Palembang<br />

Telp./Fax. (0711) 414864<br />

Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada<br />

Jl. Agro, Bulaksumur 55281, Yogyakarta<br />

Naskah masuk : ........................... ; Naskah diterima : ..........................<br />

ABSTRACT<br />

Nicolaia atropurpurea (Zingiberaceae) has commonly been used by local people as botanical insecticides<br />

to protect agricultural crops and forest plantation from insect. However, its scientific basis have not been<br />

yet available. This research was done to fill the gap. Two experiments were done in this study: Experiment<br />

1, study on the effect of extraction method and solvent used for extraction on toxicity of N. atropurpurea<br />

leaf extract were carried out using direct contact methods. A completely randomized design with 3<br />

replications.. Treatments consisted of six of concentration level. Experiment 2, study on toxicity (LC<br />

and LC value) of ethyl acetate of N. atropurpurea leaf extract were carried out using direct contact<br />

95<br />

method. A completely randomized design with 3 replications. Treatment consisted of concentrations level<br />

six.. The Results showed that N. atropurpurea leaf extract was toxic to the larvae of S.litura when<br />

it applied with direct contact method. Ethyl acetate extract produced by soaking method show the highest<br />

toxicity, with LC and LC values of 0,18 % and 0,54 %, respectively<br />

Keywords:<br />

50 95 .<br />

toxicity, Nicolaia atropurpurea leaf extract,Armyworm Spodoptera litura<br />

ABSTRAK<br />

Nicolaia atropurpurea (Zingiberaceae) secara tradisional telah digunakan oleh masyarakat lokal untuk<br />

melindungi tanaman budidaya dan hutan tanaman dari serangan hama. Namun penggaliannya secara<br />

ilmiah terhadap potensinya sebagai sumber insektisida nabati belum pernah diteliti, sehingga sejauh mana<br />

toksisitas ekstrak daun N. atropurpurea ini belum diketahui secara pasti. Oleh karena itu, penelitian ini<br />

dilakukan untuk tujuan tersebut. Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahapan percobaan, yaitu: Percobaan 1,<br />

pengujian cara ekstraksi dan jenis pelarut yang digunakan terhadap toksisitas ekstrak daun N.<br />

atropurpurea dengan metode kontak. Percobaan menggunakan RancanganAcak Lengkap (RAL) dengan<br />

3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 taraf konsentrasi. Percobaan 2, pengujian toksisitas (nilai LC50 dan<br />

LC 95 ) ekstrak etil asetat daun N. atropurpurea dengan metode kontak. Percobaan menggunakan RAL<br />

dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 taraf konsentrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak<br />

daun N. atropurpurea yang diaplikasikan dengan metode kontak bersifat toksik terhadap larva<br />

Spodoptera litura instar ketiga. Ekstrak yang paling toksik dihasilkan dari ekstraksi maserasi bertingkat<br />

dengan menggunakan pelarut etil asetat dengan nilai LC dan LC sebesar 0,18% dan 0,54%.<br />

50 95<br />

Kata kunci : Toksisitas, ekstrak daun Nicolaia atropurpurea, Spodoptera litura<br />

I. PENDAHULUAN<br />

Seiring dengan semakin kompleknya<br />

permasalahan hama pada hutan tanaman, maka<br />

alternatif yang lebih bijaksana dan memuaskan<br />

untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah<br />

dengan menerapkan konsep Pengendalian Hama<br />

Terpadu (<strong>PHT</strong>). Taktik-taktik dalam <strong>PHT</strong> meliputi<br />

penggunaan agen atau produk pengendali hayati,<br />

penggunaan tanaman resisten, penggunaan<br />

insektisida sintetik yang bersifat spesifik dan luas<br />

spektrumnya sempit (Sumardi, 2007). <strong>PHT</strong> juga<br />

50<br />

253


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 253 - 263<br />

mendukung penelitian dan pemanfaatan senyawa<br />

aktif alami yang berasal dari tanaman yang dapat<br />

digunakan untuk mengatasi permasalahan hama<br />

pada hutan tanaman (Hiljie dan Mora, 2006).<br />

Salah satu kelompok tumbuhan yang<br />

potensial dikembangkan sebagai sumber<br />

insektisida nabati baru adalah zingiberaceae<br />

(Dadang, 1999; Yang et al.,<br />

2004). Hasil-hasil<br />

penelitian sebelumnya membuktikan bahwa<br />

ekstrak dan atau senyawa aktif dari berbagai<br />

species zingiberaceae memiliki aktivitas<br />

insektisida, repelen dan antifeedant.<br />

Jenis-jenis<br />

tanaman zingiberaceae yang dilaporkan<br />

mempunyai aktivitas terhadap serangga hama,<br />

antara lain tepung rizom kering Curcuma longa<br />

bersifat menghalangi serangan serangga hama<br />

gudang Tribolium castaneum (Nugroho et al.,<br />

1996). Ekstrak rimpang C. xanthorriza, C.<br />

zedoaria, Kaempferia galanga dan K. pandurata<br />

bersifat insektisida terhadap larva Spodoptera<br />

littoralis yang diaplikasikan melalui integumen<br />

larva (Pandji et al., 1993). Tawata et al.<br />

(1996)<br />

juga menginformasikan bahwa daun dari genus<br />

Alpinia mempunyai aktivitas insektisida<br />

terhadap rayap. Esktrak biji Aframomum<br />

melequeta mempunyai aktivitas kuat sebagai<br />

penghambat makan rayap Reticulitermes<br />

speratus (Escoubas et al.,<br />

2000).<br />

Didasari hal ini, maka penggalian potensi<br />

spesies tanaman yang berasal dari famili<br />

zingiberaceae sebagai sumber insektisida nabati<br />

baru cukup tepat dan masih terbuka lebar.<br />

Nicolaia atropurpurea Val. yang dikenal dengan<br />

nama kecombrang, atau honje merupakan salah<br />

satu jenis tumbuhan hutan dari famili<br />

zingiberaceae yang potensial untuk<br />

dikembangkan sebagai sumber insektisida nabati<br />

baru. Di beberapa daerah di kepulauan Sumatera,<br />

spesies ini merupakan salah satu tumbuhan yang<br />

secara tradisional dimanfaatkan masyarakat lokal<br />

untuk melindungi tanaman budidaya dari<br />

serangan organisme pengganggu.<br />

Kandungan komponen kimia yang<br />

terdapat dalam daun, batang, bunga dan rizom<br />

hampir semua genus dari famili zingiberaceae,<br />

termasuk genus Nicolaia terdiri dari flavonoid,<br />

saponin, polifenol, minyak atsiri, alkaloid,<br />

steroid dan triterpenoid (Tampubolon et al.,<br />

1983; Naufalin, 2005; Jaafar et al.,<br />

2007;<br />

Departemen Kesehatan, 2008). Hasil-hasil<br />

penelitian sebelumnya menunjukkan flavonoid,<br />

polifenol, alkaloid, minyak atsiri, saponin<br />

berfungsi sebagai racun serangga, penolak<br />

makan, mempengaruhi hormone serangga,<br />

mengganggu fungsi-fungsi organ tubuh dan<br />

254<br />

sebagai insektisida (Harborne, 1987; Robinson,<br />

1995; Kardinan, 2005; Doke, 2006). Namun<br />

sampai sekarang penggalian terhadap potensi<br />

spesies N. atropurpurea sebagai sumber<br />

insektisida nabati belum pernah diteliti, sehingga<br />

sejauh mana toksisitas ekstrak daun N.<br />

atropurpurea ini belum diketahui secara pasti.<br />

Pemilihan pelarut organik yang digunakan<br />

dalam mengekstrak komponen bioaktif dan cara<br />

ekstraksinya merupakan faktor penentu untuk<br />

pencapaian tujuan dan sasaran ekstraksi<br />

komponen. Mendapatkan ekstrak yang baik<br />

dilakukan ekstraksi secara bertingkat dimulai<br />

dengan pelarut non polar, lalu dengan pelarut<br />

semi polar dan polar sehingga diperoleh ekstrak<br />

yang mengandung berturut-turut senyawa non<br />

polar, semi polar dan polar.<br />

Berdasarkan keterangan di atas, maka<br />

penelitian ini dilakukan untuk mengetahui<br />

toksisitas ekstrak daun N. atropurpurea dan<br />

pengaruh cara ekstraksi serta jenis pelarut yang<br />

digunakan terhadap toksisitas ekstrak daun N.<br />

atropurpurea.<br />

Penelitian ini menggunakan<br />

serangga hama Spodoptera litura karena spesies<br />

ini sebagai bioindikator untuk pengujian<br />

insektisida baru (Schneider et al.,<br />

2000).<br />

II. METODOLOGI<br />

A. Perbanyakan Serangga Uji<br />

Ulat atau larva S. litura diperoleh dari hasil<br />

perbanyakan di Laboratorium Fisiologi, Jurusan<br />

Proteksi <strong>Tanaman</strong> Fakultas Pertanian IPB.<br />

Selama pemeliharaan ulat diberi makan daun<br />

keladi dan sebagai tempat pemeliharaan<br />

digunakan wadah plastik berventilasi yang<br />

beralaskan kertas saring. Menjelang<br />

berkepompong ulat diletakkan dalam wadah<br />

plastik lainnya yang berisi serbuk gergaji steril<br />

setebal 10 cm sebagai tempat berkepompong<br />

sampai muncul serangga dewasa (ngengat).<br />

Ngengat yang terbentuk kemudian dipindahkan<br />

ke dalam stoples besar yang bagian atasnya<br />

ditutupi dengan kain kasa dan di sekeliling toples<br />

ditutupi dengan kertas tisu. Di dalam stoples<br />

diletakkan daun keladi segar sebagai tempat<br />

peletakan telur dan dimasukkan juga cairan madu<br />

yang telah diencerkan dan diserapkan pada kapas<br />

sebagai pakan ngengat. Kelompok telur yang<br />

diletakkan, dikumpulkan setiap hari dan<br />

dipindahkan ke dalam wadah plastik sampai<br />

menjadi larva. Perkembangan larva diikuti setiap<br />

hari dan sebagian larva yang siap ganti kulit


menjadi instar ke tiga ditempatkan dalam wadah<br />

plastik terpisah dari larva-larva lain. Larva instar<br />

ke tiga generasi ke dua lebih kurang 8 jam setelah<br />

ganti kulit digunakan untuk pengujian.<br />

B. Persiapan Materi <strong>Tanaman</strong> dan Ekstrak<br />

Materi tanaman dikumpulkan dari lokasi<br />

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS)<br />

yang terletak di Pekon Kubu Perahu, Kec. Balik<br />

Bukit, Kab. Lampung Barat, Prov. Lampung.<br />

Daun N. atropurpurea yang diperoleh dari<br />

lapangan dikering udarakan kemudian dipotongpotong<br />

dan selanjutnya dihaluskan hingga<br />

menjadi serbuk. Serbuk halus kemudian<br />

dimasukkan ke dalam botol dan dimaserasi<br />

dengan menggunakan berbagai pelarut organik<br />

yang berbeda kepolarannya, yaitu n.heksan (nonpolar),<br />

etil asetat (semi polar) dan metanol<br />

(polar).<br />

Ekstrak yang dihasilkan diperoleh dengan<br />

dua cara, yaitu ekstraksi cair-cair (partisi) dan<br />

ekstraksi maserasi bertingkat (perendaman).<br />

Ekstraksi cair-cair, diawali dengan merendam<br />

serbuk daun dengan pelarut metanol selama<br />

minimal 24 jam dalam botol, kemudian disaring<br />

dengan corong kaca yang dialasi dengan kertas<br />

saring. Ampas serbuk daun kemudian dimaserasi<br />

ulang dengan metanol sampai ekstrak jernih<br />

(minimal 3 kali pengulangan). Cairan ekstrak<br />

hasil saringan atau filtrat kemudian dimasukkan<br />

ke dalam labu penguap, yang terlebih dahulu<br />

ditimbang, untuk menguapkan pelarutnya<br />

dengan menggunakan rotary evaporator pada<br />

o o<br />

suhu 50 -60 C dan tekanan rendah (500-700<br />

mmHg vakum). Setelah penguapan selesai, labu<br />

berisi ekstrak ditimbang lagi, dan selisih antara<br />

hasil kedua penimbangan tersebut merupakan<br />

bobot ekstrak (%). Ekstrak kasar metanol<br />

kemudian dipartisikan dengan menggunakan<br />

corong pemisah dalam campuran pelarut metanol<br />

dan n-heksan, kemudian dilanjutkan dengan<br />

pelarut etil asetat. Masing-masing fase yang<br />

dihasilkan selanjutnya diuapkan pelarutnya<br />

dengan rotary evaporator. Esktrak yang dihasilkan<br />

disebut ekstrak n-heksan, ekstrak etil asetat dan<br />

ekstrak metanol, yang kemudian disimpan dalam<br />

o<br />

lemari es (≤ 4 C) hingga saat digunakan.<br />

Ekstrak maserasi bertingkat diawali<br />

dengan perendaman menggunakan pelarut nheksan,<br />

kemudian etil asetat dan terakhir<br />

metanol. Campuran bubuk daun dan pelarut<br />

tersebut dimaserasi atau direndam selama<br />

minimal 24 jam. Ekstrak kemudian disaring<br />

sampai jernih dengan menggunakan corong kaca<br />

yang dialasi kertas saring lokal. Filtrat yang<br />

Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. terhadap<br />

Serangga Hama Spodotera litura Fabricus ( Lepidoptera: Noctuidae)<br />

Asmaliyah, Sumardi, dan Musyafa<br />

dihasilkan kemudian dimasukkan ke dalam labu<br />

penguap, yang telah ditimbang, untuk<br />

menguapkan pelarutnya dengan menggunakan<br />

o o<br />

rotary evaporator pada suhu 50 -60 C dan tekanan<br />

rendah (500-700 mmHg vakum). Setelah<br />

penguapan selesai, labu berisi ekstrak ditimbang<br />

lagi, selisih antara hasil kedua penimbangan<br />

tersebut merupakan bobot ekstrak (%). Esktrak<br />

yang dihasilkan disebut ekstrak n-heksan, ekstrak<br />

etil asetat dan ekstrak metanol, yang kemudian<br />

o<br />

disimpan dalam lemari es (≤ 4 C) hingga saat<br />

digunakan.<br />

C. Bioassay atau Uji Hayati<br />

Percobaan 1: Pengujian Pengaruh Cara<br />

Ekstraksi dan Pelarut yang<br />

Digunakan terhadap Toksisitas<br />

Ekstrak Daun N. atropurpurea<br />

1.1. Uji toksisitas ekstrak daun N.<br />

atropurpurea<br />

hasil ekstraksi cair-cair<br />

Pengujian ini menggunakan 2 jenis<br />

ekstrak, yaitu ekstrak metanol dan ekstrak nheksan<br />

yang diperoleh dari ekstraksi cair-cair,<br />

sedangkan ekstrak etil asetat tidak dilakukan<br />

pengujian karena rendemen yang dihasilkan<br />

tidak mencukupi untuk pengujian. Perlakuan<br />

untuk masing-masing ekstrak menggunakan<br />

enam taraf konsentrasi, yaitu 5,00%, 2,50%,<br />

1,25%, 0,63%, 0,31% dan 0% (kontrol/tanpa<br />

ekstrak). Pada setiap taraf konsentrasi dan<br />

kontrol diulang tiga kali dan pada setiap ulangan<br />

digunakan 10 ekor larva S. litura instar ketiga.<br />

Jadi setiap kelompok terdapat 30 ekor larva.<br />

Sebelum membuat larutan uji terlebih<br />

dahulu membuat larutan induk dengan<br />

konsentrasi 5%, dengan cara sebanyak 5 gram<br />

ekstrak dilarutkan dalam campuran deterjen dan<br />

aceton dengan konsentrasi masing-masing 0,2%<br />

dan 1%. Campuran ekstrak dengan deterjen dan<br />

aceton dimasukkan dalam gelas ukur, kemudian<br />

ditambahkan air hingga mencapai tera 100 ml.<br />

Larutan induk kemudian diambil 25, 12,5, 6,25<br />

dan 3,12 ml dimasukkan ke dalam gelas ukur<br />

sehingga konsentrasi menjadi 2,50%, 1,25%,<br />

0,63% dan 0,31% setelah ditambahkan air hingga<br />

50 ml. Pada perlakuan kontrol hanya<br />

menggunakan campuran air dengan pengemulsi<br />

deterjen dan aceton tanpa ekstrak, dengan<br />

konsentrasi masing-masing 0,2% dan 1%.<br />

Pengujian dilakukan dengan metode kontak.<br />

Cara Kerja<br />

Serangga uji (larva S. litura instar ke tiga)<br />

sebanyak 10 ekor dimasukkan ke dalam<br />

kurungan kasa kawat pencelup dan kemudian<br />

255


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 253 - 263<br />

dicelupkan dalam sediaan ekstrak uji dengan<br />

konsentrasi tertentu pada setiap pelarut selama 10<br />

detik sebanyak 3 kali pengulangan untuk setiap<br />

perlakuan. Serangga kontrol dicelup dalam air<br />

pengencer (campuran pengemulsi dengan<br />

aceton). Kurungan pencelup kemudian ditiriskan<br />

di atas tisu sekitar 1 menit, kemudian serangga uji<br />

dipindahkan dalam wadah plastik berdiameter<br />

5,5 cm satu per satu, kemudian dalam wadah<br />

plastik yang sudah terdapat serangga uji tersebut<br />

diletakkan pakan daun keladi berbentuk bujur<br />

sangkar (3 x 3 cm). Larva diganti pakannya setiap<br />

hari dengan yang segar hingga mencapai stadia<br />

pupa. Jumlah larva yang mati dicatat setiap hari<br />

hingga hari ke tujuh setelah perlakuan. Data<br />

jumlah larva yang mati (mortalitas) kemudian<br />

dianalisis dengan analisis probit (Finney, 1971)<br />

dengan program komputer SPSS version 13.<br />

1.2. Uji toksisitas ekstrak daun N.<br />

atropurpurea<br />

bertingkat<br />

hasil ekstraksi maserasi<br />

Pengujian ini menggunakan 3 jenis ekstrak,<br />

yaitu ekstrak n-heksan, ekstrak metanol dan<br />

ekstrak etil asetat yang dihasilkan dari ekstraksi<br />

maserasi bertingkat. Pada masing-masing<br />

ekstrak menggunakan perlakuan enam taraf<br />

konsentrasi, yaitu 5,00%, 2,50%, 1,25%, 0,63%,<br />

0,31% dan kontrol (tanpa ekstrak). Pada setiap<br />

taraf konsentrasi dan kontrol diulang tiga kali<br />

dengan menggunakan 30 ekor larva instar ketiga.<br />

Pembuatan larutan uji, sama seperti pada<br />

percobaan 1.1. Pada perlakuan kontrol hanya<br />

menggunakan campuran air dengan pengemulsi<br />

deterjen dan aceton tanpa ekstrak, dengan<br />

konsentrasi masing-masing 0,2% dan 1%.<br />

Pengujian ini dilakukan dengan metode kontak<br />

(metode celup serangga uji) sama seperti pada<br />

percobaan 1.1. Pengamatan dilakukan setiap hari<br />

terhadap jumlah larva yang mati selama tujuh<br />

hari. Data jumlah larva yang mati (mortalitas)<br />

diolah dengan analisis probit (Finney, 1971)<br />

256<br />

dengan program komputer SPSS version 13<br />

untuk menentukan kisaran konsentrasi yang akan<br />

digunakan pada uji penentuan LC50 dan LC95 pada<br />

uji sebenarnya.<br />

Percobaan 2. Pengujian Toksisitas Ekstrak<br />

Daun N. atropurpurea terhadap<br />

Serangga Uji S. litura<br />

Percobaan ini dilakukan untuk<br />

menentukan nilai LC50 dan LC 95.<br />

Ekstrak yang<br />

terbukti memiliki aktivitas insektisida paling<br />

tinggi (toksisitas paling tinggi) pada uji<br />

pendahuluan diuji lanjut dengan menggunakan<br />

lima taraf konsentrasi yang ditentukan<br />

berdasarkan hasil uji pendahuluan. Penentuan<br />

konsentrasi dilakukan sesuai prosedur yang<br />

diuraikan oleh Prijono (2003). Konsentrasi yang<br />

digunakan adalah yang diperkirakan dapat<br />

mematikan larva 15-95% dan kontrol. Setiap<br />

taraf konsentrasi dan kontrol diulang sebanyak<br />

tiga kali dengan menggunakan 90 ekor larva<br />

instar ke tiga per perlakuan.<br />

Metode pengujian dilakukan dengan<br />

metode kontak sama dengan pengujian<br />

sebelumnya, yang berbeda adalah jumlah<br />

serangga uji dan tingkat konsentrasi ekstrak.<br />

Pengamatan mortalitas larva uji dilakukan setiap<br />

hari hingga hari ke lima setelah perlakuan. Bila<br />

mortalitas larva uji kontrol lebih besar dari 20%,<br />

pengujian di atas harus diulangi. Data mortalitas<br />

larva dalam persentase yang berkisar antara 0-<br />

100% akan ditransformasi ke Arcsin √%<br />

sebelum diolah dengan analisis varians pada taraf<br />

5% dengan menggunakan program SAS (SAS<br />

Institute, 1997). Perbandingan nilai tengah antar<br />

perlakuan dilakukan dengan uji selang berganda<br />

Duncan. Hubungan antara konsentrasi ekstrak<br />

dengan mortalitas serangga uji diolah dengan<br />

analisis korelasi. Penentuan nilai LC50 dan LC95<br />

dilakukan dengan analisis probit dengan program<br />

SPSS Version.13.<br />

Tabel ( Table)<br />

1. Bobot ekstrak dan rendemen hasil ekstraksi dengan cara ekstraksi cair- cair dan ekstraksi<br />

maserasi bertingkat ( weight and content of extract by partition and soaking method)<br />

Cara ekstraksi ( Extraction method)<br />

Ekstraksi cair-cair (200 g) (1:10)<br />

Bobot ekstrak ( Extract weight) (g) Rendemen (content) (%)<br />

- Ekstrak n-heksan 4,70 2,35<br />

- Ekstrak etil asetat 0,24 0,12<br />

- Ekstrak metanol<br />

Ekstraksi maserasi bertingkat<br />

(2000 g) (1:5)<br />

12,94 6,47<br />

- Ekstrak n-heksan 19,00 0,95<br />

- Ekstrak etil asetat 26,40 1,32<br />

- Ekstrak metanol 29,54 1,48


III. HASIL DAN PEMBAHASAN<br />

A. Hasil Pengamatan<br />

1. Cara Ekstraksi terhadap Bobot dan<br />

Rendemen Ekstrak<br />

Bobot ekstrak dan rendemen hasil ekstrak<br />

yang diperoleh dengan cara ekstraksi cair-cair<br />

dan ekstrak maserasi bertingkat menunjukkan<br />

rendemen hasil ekstraksi cair-cair lebih tinggi<br />

dari pada ekstrak yang diperoleh dengan cara<br />

maserasi bertingkat. Ekstraksi dengan<br />

menggunakan pelarut metanol paling tinggi<br />

rendemennya dibandingkan dengan<br />

menggunakan pelarut etil asetat dan n-heksan<br />

baik pada ekstraksi cair-cair maupun ekstraksi<br />

maserasi bertingkat (Tabel 1).<br />

2. Uji Toksisitas Ekstrak Daun N.<br />

atropurpurea Hasil Ekstraksi Cair-cair<br />

Hasil pengujian terhadap masing-masing<br />

ekstrak yang dihasilkan dengan cara ekstraksi<br />

cair-cair terhadap mortalitas larva S. litura pada<br />

hari ke tujuh setelah perlakuan dapat dilihat pada<br />

Tabel 2. Hasil pengujian menunjukkan bahwa,<br />

pada perlakuan ekstrak metanol daun N.<br />

atropurpurea kematian sudah terjadi satu hari<br />

Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. terhadap<br />

Serangga Hama Spodotera litura Fabricus ( Lepidoptera: Noctuidae)<br />

Asmaliyah, Sumardi, dan Musyafa<br />

setelah perlakuan (24 jam). Pada semua rentang<br />

konsentrasi yang diuji, mortalitas larva pada hari<br />

pertama setelah perlakuan sudah cukup banyak<br />

dan relatif konstan pada hari berikutnya hingga<br />

hari ke tujuh setelah perlakuan. Namun,<br />

perlakuan ekstrak metanol ini masih kurang<br />

efektif dalam menyebabkan kematian larva S.<br />

litura<br />

instar ketiga. Hal ini disebabkan pada<br />

konsentrasi yang paling tinggi yaitu pada<br />

konsentrasi 5,00% hanya dapat mematikan 18<br />

dari 30 ekor larva uji atau 60,00% (Gambar 1).<br />

Deptan (1995), menyatakan insektisida dianggap<br />

efektif bila mampu membunuh serangga uji<br />

minimal 80%.<br />

Hasil pengujian terhadap ekstrak n-heksan<br />

daun N. atropurpurea juga masih kurang efektif<br />

dalam menyebabkan kematian larva S. litura.<br />

Kematian pada konsentrasi tertinggi yaitu 5,00%<br />

baru dapat mencapai kematian 23 ekor dari 30<br />

larva uji atau 76,67% 24 jam setelah perlakuan.<br />

Pola perkembangan mortalitas larva sama<br />

dengan pola perkembangan mortalitas ekstrak<br />

metanol yaitu mortalitas larva sudah cukup<br />

banyak pada hari pertama setelah perlakuan dan<br />

relatif konstan pada hari berikutnya hingga hari<br />

ke tujuh setelah perlakuan (Gambar 2). Oleh<br />

karena itu kedua ekstrak hasil ekstraksi cair-cair<br />

ini tidak dilakukan analisis probit.<br />

Tabel ( Table) 2. Mortalitas larva uji pada masing-masing ekstrak daun N. atropurpurea setelah 24 jam<br />

( Mortality of larvae on N. atropurpurea leaf extract after 24 hour)<br />

Metode<br />

ekstraksi<br />

Konsentrasi<br />

(Concentration)<br />

Jumlah<br />

larva<br />

Mortalitas (Mortality) (%)<br />

(Extraction) (%) (Number of Ekstrak Ekstrak Ekstrak<br />

larvae) n-heksan etil asetat metanol<br />

Ekstraksi 5,00 30 76,67 - 60,00<br />

Cair-cair 2,50 30 66,67 - 33,33<br />

1,25 30 53,33 - 53,33<br />

0,63 30 43,31 - 43,33<br />

0,31 30 23,33 - 43,33<br />

Kontrol 30 0 - 0<br />

Ekstraksi 5,00 30 90,00 100,00 100,00<br />

Maserasi 2,50 30 86,67 100,00 100,00<br />

Bertingkat 1,25 30 70,00 100,00 90,00<br />

0,63 30 60,00 90,00 83,33<br />

0,31 30 46,67 86,67 63,33<br />

Kontrol 30 3,33 3,33 3,33<br />

257


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 253 - 263<br />

Gambar ( Figure) 1. Mortalitas larva S. litura<br />

setelah perlakuan pada ekstrak metanol<br />

(ekstraksi cair-cair) dengan metode<br />

kontak ( Mortality of larvae on methanol<br />

extract by partition extraction with<br />

direct contact method)<br />

Gambar ( Figure) 2. Mortalitas larva S. litura<br />

setelah perlakuan pada ekstrak n-heksan<br />

(ekstraksi cair-cair) dengan metode<br />

kontak ( Mortality of larvae on n-hexan<br />

extract by partition extraction with<br />

direct contact method)<br />

3. Uji Toksisitas Ekstrak Daun N.<br />

atropurpurea<br />

Bertingkat<br />

Hasil Ekstraksi Maserasi<br />

Hasil pengujian masing-masing ekstrak<br />

daun N. atropurpurea terhadap mortalitas larva S.<br />

litura pada hari ke tujuh setelah perlakuan dapat<br />

dilihat pada Tabel 2. Hasil pengujian ini<br />

menunjukkan senyawa kimia ekstrak daun N.<br />

atropurpurea memiliki daya bunuh atau bersifat<br />

toksik terhadap larva S. litura. Toksisitasnya<br />

sangat kuat hanya bila diaplikasikan secara<br />

kontak. Pada masing-masing ekstrak daun N.<br />

atropurpurea,<br />

menunjukkan pola perkembangan<br />

mortalitas S. litura yang sama pada semua<br />

rentang konsentrasi uji, yaitu kematian larva<br />

sudah terlihat nyata pada hari pertama (24 jam)<br />

setelah perlakuan dan relatif konstan pada hari<br />

258<br />

berikutnya hingga hari ke tujuh setelah perlakuan<br />

(Gambar 3, 4 dan 5).<br />

Hasil pengujian ini menunjukkan, ekstrak<br />

etil asetat dapat mematikan larva sebesar 100%<br />

paling cepat dibandingkan ekstrak metanol dan<br />

ekstrak n-heksan 1 hari (24 jam) setelah<br />

perlakuan karena pada konsentrasi 1,25% sudah<br />

dapat mematikan larva sebesar 100%. Waktu<br />

kematian ekstrak etil asetat juga lebih cepat, pada<br />

konsentrasi 1,25%, 2,50% dan 5,00% dapat<br />

menyebabkan kematian sebesar 100% hanya satu<br />

hari setelah perlakuan. Sedangkan ekstrak<br />

metanol pada konsentrasi 2,50% baru dapat<br />

menyebabkan kematian sebesar 100% pada hari<br />

ke empat setelah perlakuan dan esktrak n-heksan<br />

pada konsentrasi 5,00% juga baru dapat<br />

menyebabkan kematian sebesar 90% pada hari<br />

ke empat setelah perlakuan.<br />

Gambar ( Figure) 3. Mortalitas larva S. litura<br />

setelah perlakuan pada ekstrak n-heksan<br />

(esktraksi maserasi bertingkat) dengan<br />

metode kontak ( Mortality of larvae on<br />

n-hexan extract by soaking extraction<br />

with direct contact method)<br />

Gambar ( Figure) 4. Mortalitas larva S. litura<br />

setelah perlakuan pada ekstrak<br />

metanol (ekstraksi maserasi<br />

bertingkat) dengan metode kontak<br />

( Mortality of larvae on methanol<br />

extract by soaking extraction with<br />

direct contact method)


Gambar ( Figure) 5. Mortalitas larva S. litura<br />

setelah perlakuan pada ekstrak etil asetat<br />

(ekstraksi maserasi bertingkat) dengan<br />

metode kontak ( Mortality of larvae on<br />

ethyl acetate extract by soaking<br />

extraction with direct contact method)<br />

Hasil analisis probit menunjukkan<br />

nilai lethal concentration (LC 50)<br />

ekstrak metanol<br />

dan n-heksan menunjukkan 1,5 kali dan 4 kali<br />

lebih tinggi dari nilai LC50 ekstrak etil asetat.<br />

Begitu juga nilai LC95 ekstrak etil asetat 1,5 kali<br />

lebih rendah daripada ekstrak metanol dan 8 kali<br />

lebih rendah daripada ekstrak heksan (Tabel 3).<br />

Hasil-hasil penelitian ini menunjukkan bahwa<br />

ekstrak etil asetat paling toksik atau paling<br />

aktif menyebabkan mortalitas larva S. litura<br />

instar ke tiga, dibandingkan ekstrak metanol dan<br />

ekstrak n-heksan. Oleh karena itu untuk uji<br />

selanjutnya, pengujian hanya dilakukan pada<br />

ekstrak etil asetat.<br />

Tabel ( Table) 3. Daya racun berbagai ekstrak daun N. atropurpurea terhadap larva S. litura pada hari<br />

ketujuh setelah perlakuan dengan metode kontak ( Toxicity of N. atropurpurea leaf extract<br />

against S. litura larvae on seventh day after treament with direct contact method)<br />

Jenis Ekstrak (Extract kind) LC50 (sk. 95 %) LC95 (sk. 95 %)<br />

Ekstrak Heksan 0,84 % (-) 4,47 % (-)<br />

Ekstrak Metanol 0,34 % (batas atas 0,90) 0,89 % (batas bawah 0,56-batas<br />

atas 7,29)<br />

Ekstrak Etil asetat 0,23 % (batas atas 0,49) 0,59 % (batas bawah 0,38-batas<br />

Keterangan ( Remarks):<br />

SK = Selang Kepercayaan<br />

4. Uji Lanjut (Penentuan LC dan Lc )<br />

50 95<br />

Berdasarkan hasil analisis probit dapat<br />

ditentukan kisaran konsentrasi ekstrak untuk uji<br />

selanjutnya, yaitu 0,007% (pada Gambar 6<br />

dibulatkan menjadi 0,01%), 0,12%, 0,23%,<br />

0,38% dan 0,59% serta kontrol (tanpa ekstrak<br />

hanya menggunakan air). Hasil pengujian lanjut<br />

ekstrak etil asetat daun N. atropurpurea terhadap<br />

mortalitas larva S. litura melalui metode kontak<br />

menunjukkan pola yang sama dengan percobaan<br />

sebelumnya. Mortalitas larva sudah terlihat<br />

nyata pada hari pertama dan relatif konstan pada<br />

hari berikutnya hingga hari ke tujuh setelah<br />

perlakuan (Gambar 6). Hasil pengujian ini<br />

menunjukkan ekstrak etil asetat mempunyai daya<br />

racun yang tinggi terhadap larva S. litura,<br />

pada<br />

konsentrasi 0,59% dapat mematikan larva<br />

sebesar 92,22%, pada konsentrasi 0,38% dan<br />

0,23% masing-masing dapat mematikan larva<br />

sebesar 83,33% dan 70,00% dan pada<br />

konsentrasi yang lebih rendah 0,12% dan 0,007%<br />

masih dapat mematikan larva sebesar 44,44%<br />

dan 22,22%, dengan kematian kontrol sebesar<br />

6,67%.<br />

Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. terhadap<br />

Serangga Hama Spodotera litura Fabricus ( Lepidoptera: Noctuidae)<br />

Asmaliyah, Sumardi, dan Musyafa<br />

atas 2,35)<br />

Gambar ( Figure) 6. Mortalitas larva S. litura<br />

setelah perlakuan pada ekstrak etil asetat<br />

dengan metode kontak ( Mortality of S.<br />

litura larvae on ethyl acetate with direct<br />

contact method)<br />

Hasil analisis probit terhadap data jumlah<br />

mortalitas larva menunjukkan nilai LC50 ekstrak<br />

etil asetat daun N. atropurpurea adalah 0,18%<br />

dengan batas bawah 0,08% dan batas atas 0,29%<br />

dan LC95 sebesar 0,54% dengan batas bawah<br />

0,39% dan batas atas 0,96%.<br />

Hasil analisis varians menunjukkan<br />

perlakuan konsentrasi berpengaruh nyata<br />

terhadap mortalitas larva S.litura.<br />

Hasil uji lanjut<br />

menunjukkan semua rentang konsentrasi uji<br />

259


erbeda nyata dengan kontrol (Gambar 7). Hasil<br />

uji korelasi menunjukkan ada hubungan yang<br />

sangat kuat antara konsentrasi terhadap<br />

mortalitas larva S. litura (P


Herawati (2006), hasil uji warna menunjukkan<br />

golongan metabolit sekunder yang terkandung<br />

didalam ekstrak metanol, esktrak diklorometan<br />

dan ekstrak etil asetat relatif sama, tetapi ekstrak<br />

etil asetat paling aktif sebagai biopestisida.<br />

Pola perkembangan mortalitas larva S.<br />

litura pada ketiga ekstrak baik yang dihasilkan<br />

secara maserasi bertingkat maupun ekstraksi<br />

cair-cair menunjukkan pola yang sama. Pada<br />

semua rentang konsentrasi yang diuji, mortalitas<br />

larva sudah terlihat nyata pada hari pertama<br />

setelah perlakuan dan relatif konstan pada hari<br />

berikutnya hingga mendekati konstan pada hari<br />

ke lima setelah perlakuan. Pola perkembangan<br />

mortalitas ini mengindikasikan bahwa senyawa<br />

aktif yang terkandung dalam ekstrak daun N.<br />

atropurpurea memiliki cara kerja yang relatif<br />

cepat dalam menimbulkan mortalitas larva S.<br />

litura.<br />

Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa<br />

segera setelah perlakuan larva tidak bergerak,<br />

diduga larva mengalami kelumpuhan (efek knock<br />

down),<br />

walaupun kemudian ada diantaranya<br />

dapat bergerak kembali. Larva yang dapat<br />

bergerak kembali akan terus hidup hingga<br />

mencapai stadia pupa, sedangkan larva yang<br />

tidak bergerak lagi akan mengalami kematian<br />

dengan kondisi tubuh apabila disentuh lunak dan<br />

lemas serta warna tubuh berubah dari hijau<br />

kecoklatan menjadi coklat muda (Gambar 8).<br />

Di duga larva yang bisa bergerak kembali karena<br />

bisa menetralkan racun yang masuk ke dalam<br />

tubuhnya. Adanya proses kelumpuhan terlebih<br />

Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. terhadap<br />

Serangga Hama Spodotera litura Fabricus ( Lepidoptera: Noctuidae)<br />

Asmaliyah, Sumardi, dan Musyafa<br />

a b<br />

dahulu sebelum kematian serangga uji,<br />

diperkirakan senyawa aktif yang berasal dari<br />

ekstrak daun N. atropurpurea bekerja sebagai<br />

racun syaraf (Harahap, 1997). Hasil penelitian<br />

Enan (2001) menyatakan bahwa Periplaneta<br />

americana yang diperlakukan secara kontak<br />

dengan minyak atsiri (eugenol) yang bekerja<br />

sebagai racun syaraf menunjukkan gejala<br />

hiperaktif yang diikuti dengan hyperextention<br />

pada kaki dan abdomen, kemudian kelumpuhan<br />

atau tidak bergerak yang diikuti dengan<br />

kematian. Gejala ini sesuai dengan yang<br />

dikemukakan Tarumingkeng (1992), bahwa pada<br />

dosis median secara khas racun syaraf<br />

menimbulkan 4 tahap simptom yaitu : eksitasi<br />

(sering didahului dengan kegelisahan), konvulsi<br />

(kekejangan), paralisis (kelumpuhan) dan<br />

kematian.<br />

Hasil uji korelasi menunjukkan semakin<br />

tinggi tingkat konsentrasi uji, mortalitas larva<br />

semakin tinggi, diduga karena semakin tinggi<br />

jumlah racun yang masuk dan terakumulasi<br />

ke dalam tubuh serangga melalui kutikula,<br />

sehingga senyawa aktif yang sampai keorgan<br />

sasaran juga tinggi, akibatnya tekanan terhadap<br />

aktivitas sistem syaraf menjadi lebih tinggi, yang<br />

berakibat paralisis dan kematian.<br />

Pada seluruh gambar yang ada terlihat<br />

bahwa kematian yang nyata hanya terjadi 1 hari<br />

atau 24 jam setelah perlakuan. Hal ini memberi<br />

gambaran bahwa ekstrak daun N. atropurpurea<br />

ini kemungkinan hanya memiliki umur residu<br />

efektif 1 hari.<br />

Gambar ( Figure)<br />

8. Larva yang mati (a) dan larva yang bertahan hidup (b) setelah aplikasi perlakuan<br />

ekstrak daun N. atropurourea ( death larvae (a) and survive larvae (b) after N.<br />

atropurpurea leaf extract application)<br />

261


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 253 - 263<br />

262<br />

IV. KESIMPULAN DAN SARAN<br />

A. Kesimpulan<br />

Ekstrak daun Nicolaia atropurpurea yang<br />

diaplikasikan dengan metode kontak bersifat<br />

toksik terhadap larva Spodaptera litura instar<br />

ketiga dengan nilai LC50 dan LC95 sebesar 0,18%<br />

dan 0,54%. Semakin tinggi tingkat konsentrasi<br />

uji, mortalitas larva semakin tinggi ekstrak yang<br />

paling toksik dihasilkan dari ekstraksi maserasi<br />

bertingkat dengan menggunakan pelarut etil<br />

asetat.<br />

B. Saran<br />

Perlu penelitian lanjutan untuk<br />

mengembangkan potensi tumbuhan ini sebagai<br />

insektisida nabati, yaitu melakukan penelitian<br />

lanjutan terhadap aktivitas biologi lainnya dari<br />

ekstrak N. atropurpurea dan bagaimana<br />

pengaruhnya terhadap organisme non target<br />

(keamanannya). Penelitian untuk mengisolasi<br />

dan mengidentifikasi senyawa aktif daun N.<br />

atropurpurea<br />

dilakukan.<br />

yang bersifat toksik juga perlu<br />

DAFTAR PUSTAKA<br />

Dadang. 1999. Insect Regulatory and Active<br />

Substances of Indonesia Plants Particulary<br />

to the Diamond Back Moth Department of<br />

Bio Regulation Studies, Graduate School<br />

of Agriculture. Tokyo<br />

Agriculture. Disertasi.<br />

University of<br />

Departemen Kesehatan. 2008. Daftar jenis-jenis<br />

tanaman obat. Riset Perguruan<br />

Tinggi/Unas/LIPI-PDII/Resep.<br />

http://www.smecda.com.<br />

19/6/<strong>2010.</strong><br />

Diakses<br />

Doke, S. 2006. Uji toksisitas minyak atsiri kayu<br />

manis ( Cinnamomum burmanii BL), serai<br />

wangi ( Andropogon nardus L) dan jeruk<br />

purut ( Citrus hystrix D.C.) terhadap jentik<br />

Aedes aegypti.<br />

Tesis Program<br />

Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada,<br />

Yogyakarta. Tidak Dipublikasikan.<br />

Enan, E. 2001. Insecticides activity of essential<br />

oils : octopaminergic sites of action.<br />

Comparative Biochemistry and<br />

Psysiology Part C.130: 325-337.<br />

Escoubas, P., L. Lajide dan J. Mizutani. 1995.<br />

Termite antifeedant activity in<br />

Aframomum melequeta.<br />

Phytochemistry,<br />

<strong>Vol</strong>.40, No.4: 1097-1099.<br />

Farrel, K.T. 1990. Spices, condiments and<br />

seasonings. Second Edition AVI<br />

Pubs.Co.Inc.Westpat.Connecticut.<br />

http://books.google.co.id/books?id.<br />

Diakses 30/5/2009.<br />

Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia.<br />

Penuntun cara modern menganalisa<br />

tumbuhan. Terbitan Kedua. Penerbit ITB<br />

Bandung.<br />

Herawati, Y. 2006. Uji aktivitas ekstrak daun<br />

mengkudu ( Morinda citrifolia Linn)<br />

sebagai biopestisida melalui uji hayati lalat<br />

buah ( Bactrocera dorsalis).<br />

Skripsi<br />

Jurusan Kimia. http://digilib.upi.edu.<br />

Diakses 30/5/2009.<br />

Hilje, L. and G.A. Mora. 2006. Promissory<br />

botanical repellents/deterents for<br />

managing two key tropical insects pests,<br />

the whitefly Bemisia tabaci and mahogany<br />

shootborer Hypsipyla grandella.<br />

Rai and<br />

Carpinella (eds.) Naturally Occuring<br />

Bioactive Compounds. Elsevier B.V. All<br />

rights reserved.<br />

Jaafar, F.M, C.P. Osman, N.H. Ismail dan<br />

K. Awang. 2007. Analysis of essential<br />

oils of leaves, stems, flower, and rhizomes<br />

of Etlingera elatior (Jack) R.M.Smith.<br />

Malaysian Journal of Analytical Science<br />

11 (1): 1-2.<br />

Kardinan,A. 1999. Pestisida Nabati, Ramuan dan<br />

Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta.<br />

Lenny, S. 2006. Isolasi dan Uji Bioaktivitas<br />

Kandungan Kimia Utama Puding Merah<br />

dengan Metode Uji Brine Shrimp.<br />

Karya<br />

Ilmiah, e-USU Repository, Universitas<br />

Sumatera Utara, medan.<br />

Naufalin, R. 2005. Kajian sifat antimikroba<br />

ekstrak bunga kecombrang ( Nicolaia<br />

speciosa Horan) terhadap berbagai<br />

mikroba patogen dan perusak pangan.<br />

Disertasi Sekolah Pascasarjana, Institut<br />

Pertanian Bogor (IPB). Tidak<br />

Dipublikasikan<br />

Nugroho, W. B . , B. Schwarz, V. Wray and<br />

P.Proksch. 1996. Insecticidal<br />

Constituents from Rhizome of Zingiber<br />

cassumunar and Kaempferia rotunda.<br />

Phytochemistry, <strong>Vol</strong>. 41, No.1: 129-132.


Pandji, C., C. Grimm, V. Wray, L. Witte<br />

dan P. Proksch. 1993. Insecticidal<br />

constituents from four species of the<br />

zingiberaceae.<br />

No.2: 415-419.<br />

Phytochemistry, <strong>Vol</strong>. 34,<br />

Prijono, D. 2003. Teknik Ekstraksi, Uji Hayati<br />

dan Aplikasi Senyawa Bioaktif<br />

Tumbuhan. Departemen Hama dan<br />

Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian,<br />

IPB.<br />

Robinson, T. 1995. Kandungan Organik<br />

Tumbuhan<br />

Bandung<br />

Tinggi. Penerbit ITB.<br />

Schneider, C . , F.I Bohnenstengel, B.W. Nugroho,<br />

V. Wray, K. Witte, P.D. Hung, L.C. Kiet<br />

dan P. Proksch. 2000. Insecticidal<br />

rocaglamide derivatives from Aglaia<br />

spectabilis (Meliaceae). Phytochemistry<br />

54: 731-736.<br />

Sumardi. 2008. Perlindungan <strong>Hutan</strong> Lanjut.<br />

Bahan Kuliah PSIK Program Khusus-<br />

KTB 602. Program Studi Ilmu Kehutanan-<br />

Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah<br />

Mada.<br />

Tampubolon, O.T . , Suhatsyah, S. Sastrapradja.<br />

1983. Penelitian pendahuluan kimia<br />

Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. terhadap<br />

Serangga Hama Spodotera litura Fabricus ( Lepidoptera: Noctuidae)<br />

Asmaliyah, Sumardi, dan Musyafa<br />

kecombrang ( Nicolaia speciosa Horan).<br />

Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan<br />

Obat III. Fakultas Farmasi, UGM.<br />

Yogyakarta.<br />

Tarmadi, D., A.H. Prianto, I.Guswenrivo, T.<br />

Kartika dan S. Yusuf. 2007. Pengaruh<br />

ekstrak Bintaro ( Carbera odollam Gaertn)<br />

dan Kecubung ( Brugmansia candida Pers)<br />

terhadap rayap tanah Coptotermes sp.<br />

Jurnal Tropical Wood Science and<br />

Technology. <strong>Vol</strong>. 5, No.1: 38-42.<br />

Tarumingkeng, R.C. 1992. Insektisida: Sifat,<br />

mekanisme kerja, dan dampak<br />

penggunaannya. Jakarta; Ukrida.<br />

Tawata, S., S. Taira, N. Kobamoto, M. Ishihara<br />

and S. Toyama. 1996. Synthesis and<br />

biological activities of dihydro-5,6dehydrokawain<br />

derivatives. Bioscience,<br />

Biotechnology and Biochemistry <strong>Vol</strong>.60.<br />

No:10: 1643-1645.<br />

Yang, Y.C, I.K. Park, E.H. Kim, H.S. Lee and Y.J.<br />

Ahn. 2004. Larvicidal activity of<br />

medicinal plant extracts against Aedes<br />

aegypti, Ochlerotatus togoi, and Culex<br />

pipiens pallens (Diptera:Culicidae). J.<br />

Asia-Pasific Entomol. 7 (2): 227-232.<br />

263


2)<br />

MUTU BIBIT MANGLID ( Manglieta glauca BI)<br />

PADA TUJUH JENIS MEDIA SAPIH<br />

Seedling Quality Index of Manglieta glauca BI<br />

on Seven Types of Transplanting Media<br />

1) 1) 2)<br />

Aris Sudomo , Encep Rachman dan/ and Nina Mindawati<br />

1)<br />

Balai Penelitian Kehutanan Ciamis<br />

Jl. Raya Ciamis Banjar Km. 4, Ds. Pamalayan, Ciamis 46201<br />

Telp. (0265) 771352 Fax. (0265) 775866<br />

<strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong><br />

Kampus Balitbang Kehutanan, Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor 16610<br />

Telp. (0251) 8631238, Fax. (0251) 7520005<br />

Naskah masuk : 19 Desember 2009 ; Naskah diterima : 15 November 2010<br />

ABSTRACT<br />

The objective of this research was to find out the transplanting media which is able to promote the best<br />

growth and quality of Manglieta glauca BI seedling. The experiment was conducted at the nursery of<br />

Ciamis Forestry Research Institute (CiFRI), started from February to September 2008 by using Complete<br />

Random Design (CRD). There were seven types of transplanting media, namely M1 (soil + compost<br />

(3:1)), M2 (soil), M3 (soil + compost + rice shell (1:1:1)), M4 (soil + compost + sand (1:1:1)), M5 (soil +<br />

compost + cocopeat (1:1:1)), M6 ((soil + compost + saw dust (1:1:1)), and M7 (soil + compost + burned<br />

rice shell (1:1:1)). Each treatment was applied to 60 seedlings, so that the required seedlings were 7 x 60 =<br />

420 seedlings. The result shows that M4 media gave better growth responses than others as follow: 0.469<br />

cm of diameter's growth, 22.678 cm of height, and 9.978 of leave number. The M5 gave better responses<br />

than others in the following things: 2.096 of root's biomass, 4.046 of stem's and leaf's weight, and 0.132 of<br />

seedling quality index. These are the best result than the others. It is concluded that that the use of media<br />

mix M4 and M5 gave the best seedling growth and its quality index in Manglieta glauca BI.<br />

Keywords: Manglieta glauca BI, transplanting media and seedling quality index<br />

ABSTRAK<br />

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis media sapih yang mampu menghasilkan<br />

pertumbuhan dan mutu bibit Manglieta glauca BI terbaik. Penelitian dilakukan di persemaian Balai<br />

Penelitian Kehutanan Ciamis dari bulan Februari 2008 s/d September 2008. Rancangan yang<br />

digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 jenis media sapih<br />

yaitu M1 (Tanah + Pupuk kandang (3:1)), M2 (Tanah), M3 (Tanah + Pupuk kandang + Sekam padi<br />

(1:1:1)), M4 (Tanah + Pupuk kandang + Pasir (1:1:1)), M5(Tanah + Pupuk kandang + Serbuk sabut<br />

kelapa (1:1:1)), M6 ((Tanah + Pupuk kandang + Serbuk gergaji (1:1:1)) dan M7 ( Tanah + Pupuk kandang<br />

+ Abu sekam padi (1:1:1)). Masing-masing perlakuan 60 bibit sehingga total bibit yang diperlukan<br />

adalah 7 x 60 = 420 bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran media M4 (Tanah+<br />

Pupuk kandang+Pasir (1:1:1)) memberikan pertumbuhan diameter (0,469 cm), tinggi (22,678 cm)<br />

dan jumlah daun (9,978) M. glauca BI yang lebih baik dibanding media lainnya. Campuran<br />

media M5 (tanah+pupuk kandang+serbuk sabut kelapa (1:1:1)) memberikan berat kering akar (2,096),<br />

berat kering batang dan daun (4,046) dan indeks mutu bibit (0,132) M. glauca BI yang<br />

terbaik dibanding media lainnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan campuran media<br />

M4 dan M5 masing-masing memberikan pertumbuhan dan indeks mutu bibit yang terbaik dalam<br />

teknik pembibitan M. glauca BI.<br />

.<br />

Kata kunci : Indeks mutu bibit, Manglieta glauca BI dan media sapih<br />

265


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 265 - 272<br />

266<br />

I. PENDAHULUAN<br />

A. Latar Belakang<br />

Manglieta glauca BI merupakan salah satu<br />

jenis tanaman andalan setempat dan tergolong<br />

fast growing spesies sehingga banyak disukai<br />

petani hutan rakyat. Di Jawa Barat, manglid<br />

dikembangkan melalui agroforestry pada<br />

progam perhutanan sosial dan dijadikan<br />

komoditas unggulan dalam pengembangan hutan<br />

rakyat dalam rangka meningkatkan<br />

kesejahteraan masyarakat sekitar hutan<br />

(Rimpala, 2001). Pohon manglid dapat mencapai<br />

tinggi maksimum 40 m dengan garis tengah 150<br />

cm dan mampu mencapai tinggi 4-6 m dalam<br />

waktu lima tahun (Hildebran 1935 dalam<br />

Rimpala, 2001). Di Jawa Barat jenis ini sangat<br />

disukai karena selain kayunya mengkilat,<br />

strukturnya padat, halus, ringan dan kuat,<br />

kekuatan kayunya digolongkan dalam kelas III<br />

dan keawetannya kelas II. Adapun keuntungan<br />

dari kayu manglid tersebut karena ringan yaitu<br />

dengan berat jenis (BJ) 0,41 sehingga mudah<br />

dikerjakan, sering dijadikan bahan baku<br />

pembuatan jembatan, perkakas rumah, barangbarang<br />

hiasan, patung dan ukiran dan ini banyak<br />

ditemukan di daerah Bali (Rimpala 2001).<br />

Kegunaan kayu manglid selama ini adalah<br />

sebagai daun pintu, perkakas rumah tangga<br />

(meja, kursi, almari), bangunan rumah,<br />

pembangunan jembatan, pelapis kayu dan<br />

plywood serta diharapkan dapat dijadikan bahan<br />

baku pulp (Prosea, 1998; Diniyati dkk., 2005).<br />

Keberhasilan progam penanaman baik<br />

dalam rangka pembangunan hutan tanaman<br />

maupun rehabilitasi lahan terdegradasi<br />

diperlukan ketersediaan bibit berkualitas. Untuk<br />

menghasilkan bibit berkualitas diantaranya<br />

memerlukan media dengan komposisi bahan<br />

organik dan unsur hara yang diperlukan bagi<br />

tanaman (Durahim, 2001). Selain kandungan<br />

unsur hara diperlukan berbagai campuran di<br />

dalam media untuk meningkatkan porositas<br />

sehingga sesuai bagi pertumbuhan akar tanaman.<br />

Oleh karena itu campuran media yang<br />

mempunyai unsur hara dan porositas sekaligus<br />

menjadi pilihan dalam menghasilkan bibit<br />

berkualitas. Pada umumnya media yang<br />

digunakan untuk pembibitan berasal dari top soil<br />

dicampur pupuk kandang. Pengambilan top soil<br />

dalam skala besar dapat berdampak negatif bagi<br />

ekosistem di areal tersebut (Hendromono, 1994).<br />

Selain itu top soil di suatu daerah tidak selalu<br />

subur sehingga memerlukan campuran untuk<br />

menambah unsur hara, aerasi dan porositas<br />

media. Oleh karena itu dalam rangka menjaga<br />

ekosistem dan memperbaiki kualitas bibit<br />

diperlukan media yang merupakan campuran<br />

limbah bahan organik dan tanah.<br />

Dalam pembangunan hutan tanaman,<br />

khususnya hutan rakyat maupun GNRHL, masih<br />

dijumpai kendala, dengan bibit yang ditanam<br />

memiliki kualitas pertumbuhan yang rendah<br />

diantaranya karena dari penggunaan media<br />

tumbuh semai yang berkualitas rendah. Media<br />

tumbuh semai yang dipergunakan pada<br />

persemaian di areal hutan tanaman, khususnya<br />

hutan rakyat pada umumnya hanya<br />

menggunakan tanah (top soil). Media semai<br />

tanah (top soil) tidak selalu mempunyai tingkat<br />

kesuburan yang baik sehingga diperlukan<br />

campuran bahan organik untuk menghasilkan<br />

bibit berkualitas. Ketersediaan berbagai limbah<br />

bahan organik, seperti serbuk gergaji, serbuk<br />

sabut kelapa, sekam padi dan kotoran hewan di<br />

sekitar lingkungan petani hutan rakyat sangat<br />

potensial digunakan sebagai media sapih dalam<br />

pembuatan bibit tanaman hutan. Masalahnya<br />

adalah pengetahuan petani tentang penggunaan<br />

berbagai limbah bahan organik tersebut sebagai<br />

media pertumbuhan semai masih terbatas. Oleh<br />

karena itu diperlukan dukungan IPTEK tentang<br />

penggunaan berbagai bahan organik sebagai<br />

media sapih untuk menghasilkan bibit M. glauca<br />

BI berkualitas.<br />

B. Tujuan penelitian<br />

Tujuan penelitian ini adalah untuk<br />

mengetahui jenis media sapih yang mampu<br />

menghasilkan pertumbuhan dan mutu bibit<br />

Manglieta glauca BI yang terbaik.<br />

.<br />

II. BAHAN DAN METODE<br />

A. Lokasi dan Waktu Penelitian<br />

Penelitian dilakukan di persemaian Balai<br />

Penelitian Kehutanan Ciamis dari bulan Februari<br />

sampai dengan September 2008.<br />

B. Bahan danAlat<br />

Bahan dan alat yang digunakan dalam<br />

penelitian ini adalah benih manglid, ayakan pasir,<br />

tampah, bak kecambah, tanah, pasir, serbuk sabut<br />

kelapa ( coco peat),<br />

serbuk gergaji, abu sekam<br />

padi, sekam padi, polybag,<br />

kaliper, luxmeter,<br />

timbangan analitik,gembor, oven dan alat tulis.


C. Metode Penelitian<br />

Metode yang digunakan dalam penelitian<br />

ini diuraikan sebagai berikut.<br />

1. Penanganan Buah<br />

Ekstrasi benih atau cara mengeluarkan<br />

benih dari buah untuk manglid adalah dengan<br />

menjemur buah yang telah masak sampai pecah<br />

sehingga memudahkan mengeluarkan benihnya.<br />

Benih yang telah keluar dari kulit buah masih<br />

diselimuti daging buah sehingga perlu<br />

dibersihkan dengan cara menaruh benih dalam<br />

tempayan lalu menggosoknya dengan kain<br />

sehingga benih bersih dari daging buah,<br />

kemudian dicuci bersih dan dikeringanginkan<br />

dalam ruangan selama 2 jam.<br />

2. Perkecambahan<br />

Perkecambahan dilakukan dengan<br />

menabur benih yang telah dibersihkan sesegera<br />

mungkin agar tidak berkurang daya<br />

kecambahnya pada bak kecambah yang berisi<br />

media serbuk gergaji atau abu sekam padi.<br />

Penyiraman dilakukan sehari sekali<br />

menggunakan gembor.<br />

3. Penyapihan<br />

Penyapihan dilakukan pada kecambah<br />

yang telah memiliki rata-rata 3 daun. Media yang<br />

digunakan adalah :<br />

M1 = Tanah + Pupuk kandang (3:1)<br />

M2 = Tanah<br />

M3 = Tanah + Pupuk kandang + Sekam padi<br />

(1:1:1)<br />

M4 = Tanah + Pupuk kandang + Pasir (1:1:1)<br />

M5 = Tanah + Pupuk kandang + Serbuk sabut<br />

kelapa (1:1:1)<br />

M6 = Tanah + Pupuk kandang + Serbuk gergaji<br />

(1:1:1)<br />

M7 = Tanah + Pupuk kandang +Abu sekam padi<br />

(1:1:1)<br />

4. Pengamatan<br />

Pengukuran pertumbuhan bibit yaitu<br />

tinggi, diameter, jumlah daun, persen hidup bibit<br />

dilakukan setiap bulan sampai bibit berumur 4<br />

bulan setelah penyapihan. Untuk mengetahui<br />

kualitas bibit secara fisiologis, maka dilakukan<br />

penghitungan Indeks Mutu Bibit (IMB) pada<br />

akhir pengukuran. Penghitungan indeks mutu<br />

bibit mengunakan cara Dickson (1960)<br />

dalam<br />

Kurniaty dkk (2007) dengan dengan rumus<br />

sebagai berikut :<br />

IMB = (A+B)/(C/D+A/B)<br />

Mutu Bibit Manglid ( Manglieta glauca Bi)<br />

pada Tujuh Jenis Media Sapih<br />

Aris Sudomo, Encep Rachman dan Nina Mindawati<br />

Keterangan :<br />

IMB = Indeks Mutu Bibit<br />

A = Berat kering batang + daun (gram)<br />

B = Berat keringAkar (gram)<br />

C = Tinggi (cm)<br />

D = Diameter (cm)<br />

D. Rancangan Penelitian<br />

Rancangan penelitian yang digunakan<br />

dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak<br />

Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan. Masingmasing<br />

perlakuan 60 bibit sehingga total bibit<br />

yang diperlukan 7 x 60 = 420 bibit. Pengamatan<br />

terhadap panjang akar, jumlah akar dan berat<br />

kering akar, berat kering batang+daun dan indeks<br />

mutu bibit pada masing-masing perlakukan<br />

diambil 10 sampel bibit sedangkan pada<br />

pengamatan survival dilakukan terhadap 20 bibit<br />

yang terdapat dalam 3 kelompok.<br />

E. Analisis Data<br />

Analisis yang digunakan untuk menguji<br />

variasi dari variabel yang diamati adalah analisis<br />

varian dengan menggunakan uji F dengan taraf<br />

5%. Selanjutnya apabila perlakuan berpengaruh<br />

nyata terhadap parameter yang diukur maka<br />

dilanjutkan dengan menggunakan uji Duncan<br />

(Sastrosupadi, 2000)<br />

III. HASIL DAN PEMBAHASAN<br />

Hasil analisis varian menunjukkan bahwa<br />

perlakuan media yang diuji berpengaruh nyata<br />

terhadap pertumbuhan diameter, tinggi, jumlah<br />

daun, persen hidup, berat kering akar, berat<br />

kering batang + daun dan indeks mutu bibit tetapi<br />

tidak berpengaruh nyata pada panjang dan<br />

jumlah akar seperti yang disajikan pada Tabel 1.<br />

Dari hasil uji lanjut Duncan yang disajikan<br />

pada Tabel 2 terlihat bahwa media M4<br />

(Tanah+Pupuk kandang+Pasir (1:1:1))<br />

memberikan pertumbuhan diameter (0,469 cm),<br />

tinggi (22,678 cm) dan jumlah daun (9,978) yang<br />

relatif lebih baik dibanding penggunaan media<br />

lainnya. Meskipun demikian media M4<br />

memberikan persen hidup semai yang relatif<br />

lebih rendah yaitu 75% dan tidak berbeda nyata<br />

dengan M1 (90%), M2 (91,7%), M3 (91,7%),<br />

M5 (81,7%) dan M6 (78,3%). Media M4<br />

memberikan indeks mutu bibit (0,071) yang<br />

berbeda nyata lebih rendah dengan M5 (0,132)<br />

dan M7 (0,095). Hal ini menunjukkan bahwa<br />

penggunaan media M4 (Tanah+Pupuk<br />

267


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 265 - 272<br />

Tabel ( Table)<br />

1. Hasil analisis varian pertumbuhan diameter, tinggi, jumlah daun, persen hidup, panjang<br />

akar, jumlah akar, berat kering akar, berat kering batang + daun dan indeks mutu bibit<br />

umur 4 bulan Manglieta glauca BI ( The result of analysis varians on diameter, height,<br />

leave number, survival rate, root and stem + leave's biomass, and seedling quality index<br />

of 4 months old Manglieta glauca BI)<br />

No.<br />

kandang+Pasir (1:1:1)) akan memberikan<br />

pertumbuhan semai lebih baik tetapi dengan<br />

persen hidup dan indeks mutu bibit relatif kurang<br />

baik di banding media lainnya. Menurut Winarto<br />

(2003) bahwa pupuk organik biasanya<br />

mengandung unsur lengkap unsur hara yang<br />

dibutuhkan tanaman baik hara makro maupun<br />

mikro walaupun lambat diserap oleh tanaman.<br />

Input pasir dapat menjaga struktur tanah tetap<br />

remah dan gembur sehingga memperlancar<br />

pertumbuhan akar dalam menyerap unsur hara.<br />

Pada media tanah tanpa campuran pasir dan<br />

pupuk kandang lamakelamaan menjadi padat dan<br />

tidak gembur sehingga memperlambat<br />

pertumbuhan bibit. Dengan mencampur media<br />

tanah + pasir, menyebabkan aerasi dan drainase<br />

menjadi lebih baik, kemampuan mengikat air dan<br />

unsur hara juga lebih baik dibandingkan dengan<br />

media tanah atau media pasir. Sesuai dengan<br />

pendapat Buckman et al., (1982), bahwa pasir<br />

mempunyai daya aerasi dan draenase yang baik,<br />

tetapi sukar mengikat air dan miskin zat hara.<br />

Tanah mempunyai daya mengikat air dan<br />

unsur hara yang baik, tetapi cenderung memiliki<br />

aerasi dan drainase yang kurang baik. Hal ini<br />

sesuai dengan penelitian Lendri (2003)<br />

menyatakan bahwa media tanah+pasir+kompos<br />

(1:1:1) memberikan persentase hidup yang tinggi<br />

dan kondisi bibit yang baik daripada campuran<br />

268<br />

Parameter<br />

(Parameter)<br />

F Hitung<br />

(F Value)<br />

F Tabel<br />

(F Table)<br />

1 Diameter (cm) 7,854* 2,14<br />

2 Tinggi (cm) 33,742* 2,14<br />

3 Jumlah daun 3,904* 2,14<br />

4 Persen hidup (%) 3,930* 2,85<br />

5 Panjang akar 2,238ns 2,25<br />

6 Jumlah akar 1,012ns 2,25<br />

7 Berat kering akar 14,332* 2,25<br />

8 Berat kering batang+daun 6,469* 2,25<br />

9 Indeks mutu bibit 19,795* 2,25<br />

Keterangan ( Remark) : * : berbeda pada tingkat kepercayaan 95% ( significant at level of 95%) dan ns : tidak berbeda nyata pada<br />

tingkat kepercayaan 95% ( nonsignificant at level 95%)<br />

tanah+pupuk kandang (2:1) pada bibit mengkudu<br />

( Morinda citrifolia).<br />

Novizan (2005) dalam<br />

Kosasih dan Heryati (2006) mengatakan bahwa<br />

media yang baik mempunyai empat fungsi utama<br />

yaitu memberi usur hara dan sebagai media<br />

perakaran, meyediakan air dan tempat<br />

penampungan air, menyediakan udara untuk<br />

respirasi akar dan sebagai tempat bertumbuhnya<br />

tanaman.<br />

Berat kering akar, berat kering batang dan<br />

daun dan indeks mutu bibit pada media M5<br />

(tanah+pupuk kandang+serbuk sabut kelapa<br />

(1:1:1)) menunjukkan hasil yang terbaik<br />

dibanding media lainnya. Hal ini menunjukkan<br />

bahwa serbuk sabut kelapa memberikan<br />

keseimbangan pertumbuhan akar dengan<br />

pertumbuhan batang dan daun yang relatif lebih<br />

baik dibanding media lainnya. Dengan indeks<br />

mutu bibit yang lebih baik maka peluang<br />

keberhasilan penanaman di lapangan juga akan<br />

semakin besar. Pemilihan campuran media M5<br />

akan sesuai untuk peningkatan kualitas bibit<br />

meskipun dengan pertumbuhan tinggi relatif<br />

lebih rendah dibanding M1, M3, M4, M6 dan<br />

jumlah daun yang relatif lebih rendah dibanding<br />

M2 dan M4. Hendromono (2004) melaporkan<br />

bahwa kompos sabut kelapa sawit + sekam padi 1<br />

: 1 (V:V) merupakan media yang sesuai untuk<br />

pembibitan Khaya anthoteca.<br />

Sementara


Durahim (2001) menyimpulkan bahwa<br />

penggunaan media campuran top-soil + sekam<br />

padi + sabut kelapa 1:1:1 (V:V:V) meningkatkan<br />

pertumbuhan dan mutu morfologi bibit mahoni<br />

( Switenia macrophylla).<br />

Campuran media M3 (Tanah+pupuk<br />

kandang+sekam padi (1:1:1)) memberikan<br />

pertumbuhan jumlah daun yang tidak berbeda<br />

nyata dengan M1, M2, M4 dan M6 tetapi berbeda<br />

nyata lebih baik dibanding M5 dan M7.<br />

Indriyanto (2003) melaporkan bahwa media<br />

tanah + bokashi sekam padi (2:1) memberikan<br />

hasil relatif lebih baik untuk pembibitan cengal<br />

( Hopea sangal Korth) dibandingkan tanah dan<br />

tanah + serbuk gergaji. Media sekam padi dapat<br />

menciptakan kondisi lingkungan tumbuh<br />

khususnya sifat fisik dan kimia tanah yang lebih<br />

baik bagi pertumbuhan tanaman karena lebih<br />

cepat proses pelapukan dan dekomposisi,<br />

mengandung unsur hara N, P, K, Cl dan Mg<br />

(Thomas, 1995). Media tumbuh yang<br />

mengandung sekam, laju absorbsi Ca dan Mg<br />

lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya.<br />

Erlan (2005) menyatakan bahwa urutan media<br />

yang relatif lebih baik untuk pertumbuhan<br />

mahkota dewa ( Phaleria macrocarpha (Scheff.)<br />

Boerl.) berturut-turut adalah tanah + kompos,<br />

tanah + serbuk gergaji dan tanah + sekam padi<br />

dibanding dengan tanah + pupuk kandang dan<br />

tanah tanpa campuran. Mahfudz dkk, 2005<br />

menyatakan bahwa media tanah+kompos (1:1).<br />

menghasilkan bibit jati terbaik dibanding<br />

penggunaan tanah, tanah + sekam padi (1:1) dan<br />

tanah+pupuk kandang(1:1).<br />

Walaupun media campuran M6 (Tanah +<br />

Pupuk kandang + Serbuk gergaji (1:1:1)) relatif<br />

mempunyai pertumbuhan yang relatif lebih<br />

lambat dibanding M4 dan M5, semai yang<br />

ditumbuhkan pada media yang mengandung<br />

serbuk gergaji cenderung mempunyai kandungan<br />

K yang paling tinggi (Sunantara dkk., 2005). Hal<br />

ini diduga ada kaitannya dengan kemampuan<br />

media tumbuh dalam menyediakan unsur-unsur<br />

hara tersebut selama pertumbuhan semai<br />

berlangsung seperti yang disajikan pada Lakitan<br />

(1995) menyatakan bahwa serbuk gergaji sedikit<br />

mengandung N, P, K dan Mg dengan kapasitas<br />

penyangga baik dan kapasitas pegang/pengikat<br />

air baik sampai sangat baik walaupun sulit<br />

terdekomposisi karena kandungan kimia (lignin,<br />

hemiselulosa dan lain-lain) dan zat ekstratif yang<br />

mengganggu pertumbuhan cendawan.<br />

Tabel ( Table ) 2. Hasil uji lanjut Duncan pengaruh komposisi media sapih terhadap diameter, tinggi,<br />

jumlah daun, persen hidup, berat kering akar, berat kering batang + daun dan indeks mutu<br />

bibit Manglieta glauca BI pada umur 4 bulan (The result of Duncan advanced test on the<br />

influence of replanting media composition on diameter, height, leave number, survival<br />

rate, root and stem + leave's biomass, and seedling quality index of 4 months old -<br />

Manglieta glauca BI)<br />

M<br />

e<br />

d<br />

i<br />

a<br />

Diameter/<br />

Diameter<br />

(cm)<br />

Tinggi<br />

/Height<br />

(cm)<br />

Jumlah<br />

daun /<br />

Leave<br />

number<br />

Persen<br />

hidup /<br />

Survival<br />

(%)<br />

Mutu Bibit Manglid ( Manglieta glauca Bi)<br />

pada Tujuh Jenis Media Sapih<br />

Aris Sudomo, Encep Rachman dan Nina Mindawati<br />

Berat<br />

kering<br />

akar /Root<br />

biomass<br />

(gr)<br />

Berat kering<br />

batang +<br />

daun /<br />

stem+leave’s<br />

biomass<br />

(gr)<br />

Indeks<br />

mutu<br />

bibit /<br />

seedling<br />

quality<br />

index<br />

M1 0,427 bcd 18,833 c 9,352 bc 90,0 b 0,845ab 2,753 b 0,056 bc<br />

M2 0,333a 11,364 b 9,673 c 91,7 b 0,450a 1,170a 0,030a<br />

M3 0,41 b 18,955 c 9,200 bc 91,7 b 0,695ab 2,074ab 0,042ab<br />

M4 0,469 d 22,678 d 9,978 c 75,0 b 1,096 bc 2,624 b 0,071 c<br />

M5 0,433 cd 13,388 b 8,551ab 81,7 b 2,096 e 4,046 c 0,132 e<br />

M6 0,379ab 17,000 c 9,234 bc 78,3 b 1,474 cd 4,214 c 0,072 c<br />

M7 0,34a 8,953a 8,063a 53,3a 1,764 de 3,171 bc 0,095 d<br />

Keterangan ( Remark)<br />

: Nilai yang diikuti dengan huruf yang sama dalam suatu kolom menunjukkan tidak berbeda nyata pada<br />

tingkat kepercayaan 95% (Value followed by same letter on column indicated not different at level 95%)<br />

269


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 265 - 272<br />

Tabel ( Table)<br />

3. Hasil analisis sifat fisik dan kimia serbuk sabut kelapa.(The<br />

analysis result on physical<br />

and chemical characteristics of cocopeat)<br />

No Seri Tekstur Ekstrak 1:5 Terhadap contoh kering 105 o C<br />

Pasir Debu Liat pH Bahan organik<br />

H20 KCL Walkley&Black Kjeldahl C/N Olsen Morgan<br />

C<br />

N<br />

P2O5 K2O<br />

1 Cocopeat 0 35 65 6,1 5,0 47,05 0,81 58 412 13896<br />

Sumber ( Source) : Hasil analisis data primer di Balai Penelitian Tanah Bogor ( The result of analysis primary data at Bogor Soil<br />

Research Institute)<br />

Penambahan pupuk kandang, sekam<br />

maupun serbuk gergaji dapat menurunkan bobot<br />

jenis isi (BI) dan bobot jenis partikel (BJP), tetapi<br />

meningkatkan porositas, air tersedia, pori<br />

drainase cepat dan lambat (Sunantara dkk, 2005).<br />

Penambahan bahan organik menyebabkan jarak<br />

antar partikel tanah semakin besar dan terisi oleh<br />

hasil dekomposisi. Dibandingkan sekam dan<br />

serbuk gergaji, pupuk kandang dapat menciptakan<br />

granulasi media tumbuh lebih baik, sehingga<br />

tercipta struktur media yang baik pula. seperti yang<br />

ditunjukkan dengan persen pori drainase cepat<br />

yang lebih kecil atau jumlah pori makro yang lebih<br />

sedikit. Hal ini berkaitan erat dengan kandungan<br />

lignin dan hypoprotein yang relatif resisten<br />

terhadap pelapukan yang berturut-turut dari<br />

tertinggi pada serbuk gergaji, sekam dan pupuk<br />

kandang. Supardi (1983) menyatakan bahwa 0,2%<br />

bagian kotoran sapi merupakan jaringan jasad<br />

yang berperan penting dalam aktivitas biologi.<br />

Black (1946) menambahkan bahwa<br />

kemampuan media tumbuh dalam menunjang<br />

pertumbuhan akar yang baik, juga tergantung<br />

pada distribusi ukuran pori dan aktivitas jasad<br />

mikro. Tingkat pH media tumbuh yang<br />

menggunakan pupuk kandang relatif lebih<br />

rendah dibandingkan yang menggunakan sekam<br />

maupun serbuk gergaji karena asam-asam humid<br />

yang dilepaskan oleh jasad mikro. Kenyataan ini<br />

menunjukkan bahwa proses dekomposisi bahan<br />

organik dari pupuk kandang berlangsung lebih<br />

awal daripada sekam dan serbuk gergaji. Proses<br />

dekomposisi akan meningkat seperti ditunjukkan<br />

dengan menurunnya nilai bandingan C/N<br />

(Supriyanto dan Ernawanto, 1986).<br />

Dalam proses mineralisasi ini, kationkation<br />

akan segera dilepas, sehingga pH pada<br />

akhir pengamatan menjadi lebih besar. Proses<br />

mineralisasi bahan organik akan terjadi bila<br />

bandingan C/N < 25 (Anonim, 1984<br />

Sunantara dkk, 2005). Media tumbuh yang<br />

mengandung pupuk kandang memiliki sifat fisik<br />

dan kimia yang lebih mantap, sehingga mampu<br />

menunjang pertumbuhan perakaran dan semai<br />

lebih baik. Semai yang ditumbuhkan pada media<br />

270<br />

dalam<br />

yang mengandung pupuk kandang cenderung<br />

mempunyai laju absorbsi N dan P lebih tinggi.<br />

Berdasarkan hasil analisa sifat fisik dan kimia,<br />

media tumbuh yang mengandung pupuk kandang<br />

mempunyai sifat-sifat fisik dan kimia sebagai<br />

3 3<br />

berikut. BI 0,90-1,22 g/cm . BJP 2,25-2,31 g/cm ,<br />

porositas 46,94-59,85%, air tersedia 6,75-<br />

17,13% pori drainase cepat 23,03-30,24 dan pori<br />

drainase lambat 1,72-2,88; pH (H O) berkisar<br />

7,2-7,5 dan pH (KCl) 6,3-6,6 serta bandingan<br />

C/N 9,4-18,6 (Sunantara dkk, 2005).<br />

Media M7 memberikan hasil pertumbuhan<br />

diameter, tinggi, jumlah daun dan persentase<br />

hidup bibit Manglieta glauca BI terjelek<br />

dibanding media lainnya, hal ini dikarenakan<br />

bibit banyak terserang penyakit rebah semai/<br />

dumping off.<br />

Penggunanaan abu sekam padi juga<br />

bukan merupakan tambahan unsur hara tetapi<br />

dapat meningkatkan pH, aerasi dan porositas<br />

media. Mengingat dumpig off banyak terjadi pada<br />

persemaian yang terlalu lembab dan media yang<br />

dapat meningkatkan pH, maka kelembaban dari<br />

persemaian hendaknya dijaga jangan sampai<br />

tinggi dan usahakan adanya cukup sinar matahari<br />

yang masuk serta hindari penggunaaan media<br />

yang dapat meningkatkan pH seperti abu sekam<br />

padi. Penggunaan abu sekam padi sebagai<br />

campuran media dapat menaikkan pH dan<br />

kelembaban sehingga kondusif bagi patogen<br />

dumping off.<br />

Penggunaan arang sekam padi akan<br />

lebih baik karena butiran bersifat lebih besar dan<br />

kasar sehingga akan memperbaiki aerasi dan<br />

porositas media tanpa menaikkan pH secara lebih<br />

besar dibanding abu sekam padi. Hasil penelitian<br />

Kurniaty dkk. (2007) menunjukkan hasil yang<br />

berbeda pada media tanah + arang sekam padi<br />

(1:1) dengan pertumbuhan tinggi, diameter dan<br />

persen hidup bibit mindi ( Melia azedaract)<br />

terbaik dibanding dengan media tanah, sabut<br />

kelapa, arang sekam padi+sabut kelapa (1:1) dan<br />

tanah +sabut kelapa (1:1) sampai umur 5 bulan.<br />

Hal ini menunjukkan bahwa setiap jenis tanaman<br />

memerlukan kondisi media penyapihan yang<br />

berbeda untuk dapat menghasilkan pertumbuhan<br />

dan mutu bibit yang lebih baik.<br />

2


Gambar (Figure) 1. Kenampakan bibit Manglieta glauca BI umur 2 bulan ( Performance of seedling<br />

Manglieta glauca BI at 2 months old)<br />

IV. KESIMPULAN<br />

1. Perlakuan 7 jenis media sapih pada tanaman<br />

manglid memberikan respon yang berbeda<br />

nyata terhadap pertumbuhan diameter, tinggi,<br />

persen hidup, berat kering akar, berat kering<br />

batang+daun dan indeks mutu bibit.<br />

2. Pertumbuhan diameter, tinggi dan jumlah<br />

daun bibit manglid yang terbaik adalah<br />

menggunakan campuran media tanah + pupuk<br />

kandang + pasir (1:1:1) yaitu sebesar 0,469<br />

cm, 22,678 cm dan 9,978, sedangkan<br />

persentase hidup bibit manglid terbaik sebesar<br />

91,7% dihasilkan pada campuran media sapih<br />

tanah + pupuk kandang+sekam padi (1:1:1)<br />

dan terendah sebesar 53,3% pada campuran<br />

media tanah + pupuk kandang + abu sekam<br />

padi (1:1:1).<br />

3. Campuran media tanah + pupuk kandang +<br />

serbuk sabut kelapa (1:1:1) menghasilkan<br />

indeks mutu bibit manglid terbaik yaitu<br />

sebesar 0,132 sedangkan indeks mutu bibit<br />

terendah dihasilkan pada campuran media<br />

sapih tanah + pupuk kandang + sekam padi<br />

(1:1:1) yaitu sebesar 0,042.<br />

DAFTAR PUSTAKA<br />

Buckman, H.O., and N.C.Brady. 1982. Ilmu<br />

Tanah. Bhatara Karya Aksara. Jakarta.<br />

788 hal.<br />

Mutu Bibit Manglid ( Manglieta glauca Bi)<br />

pada Tujuh Jenis Media Sapih<br />

Aris Sudomo, Encep Rachman dan Nina Mindawati<br />

Diniyati, D. Suyarno, D.P. Kuswantoro, A.<br />

Badrunasar, E. Fauziyah, T. Sulistyati, dan<br />

E. Mulyati. 2005. Teknik Perbanyakan<br />

<strong>Tanaman</strong> Manglid ( Manglieta glauca BI)<br />

dengan Biji. Loka Penelitian dan<br />

Pengembangan <strong>Hutan</strong> Monsoon. Ciamis<br />

Durahim dan Hendromono, 2001. Kemungkinan<br />

Penggunaan Limbah Organik Sabut<br />

Kelapa Sawit dan Sekam Padi sebagai<br />

Campuran Top Soil untuk Media<br />

Pertumbuhan Bibit Mahoni ( Swictenia<br />

macrophylla King). Buletin Penelitian<br />

<strong>Hutan</strong> no. 628 Hal 13-26<br />

Erlan, 2005. Pengaruh Berbagai Media terhadap<br />

Pertumbuhan Bibit Mahkota Dewa<br />

( Phaleria macrocarpha (Scheff.) Boerl.)<br />

di Polibag. Jurnal Akta Agrosia <strong>Vol</strong>. 7<br />

No.2 hlm 72-75 Jul - Des 2005 ISSN :<br />

1410-3354 Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian<br />

Sriwigama. Palembang. Tanggal Akses<br />

15 November 2008<br />

Hendromono, 1994. Pengaruh Media Organik<br />

dan Tanah Mineral terhadap Mutu Bibit<br />

Pterygota alata Roxb. Buletin Penelitian<br />

<strong>Hutan</strong> no 617 : 55-64<br />

Hendromono dan Durahim, 2004. Pemanfaatan<br />

Limbah Sabut Kelapa Sawit dan Sekam<br />

Padi sebagai Medium Pertumbuhan Bibit<br />

Mahoni Afrika ( Khaya anthoteca C. DC).<br />

Buletin Penelitian <strong>Hutan</strong> No 644. Badan<br />

271


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 265 - 272<br />

<strong>Litbang</strong> Kehutanan. Puslitbang <strong>Hutan</strong> dan<br />

KonservasiAlam. Bogor.<br />

Indriyanto, 2003. Laporan Penelitian Respon<br />

Semai Pohon Cengal ( Hopea sangal<br />

Korth) terhadap campuran media tanah,<br />

bokashi sekam padi dan Bokhasi serbuk<br />

kayu gergaji di Persemaian. Universitas<br />

Lampung.<br />

Kurniaty, R., B. Budiman dan M. Suartana.<br />

Pengaruh Media dan Naungan terhadap<br />

Mutu Bibit Mindi. 2007. Buletin<br />

Puslitbang <strong>Vol</strong>ume X No 02 Oktober 2007.<br />

Cepu<br />

Lakitan, B. 1995. Fisiologi Pertumbuhan dan<br />

Perkembangan <strong>Tanaman</strong>. PT. Raja<br />

Grafindo Persada, Jakarta.<br />

Lendri, S. 2003. Buletin Teknik Pertanian <strong>Vol</strong> 8.<br />

Nomor 1, 2003. Bogor.<br />

Mahfudz, H. Supriyo, Suryanaji dan H.<br />

Supriyanto. 2005. Pengaruh Penggunaan<br />

Biostimulan, Jenis dan <strong>Vol</strong>ume Media<br />

terhadap Pertumbuhan Semai Jati. <strong>Pusat</strong><br />

Penelitian dan Pengembangan <strong>Hutan</strong><br />

<strong>Tanaman</strong>.Yogyakarta.<br />

Rimpala, 2001. Penyebaran Pohon Manglid<br />

( Manglietia Glauca BI.) di Kawasan<br />

272<br />

<strong>Hutan</strong> Lindung Gunung Salak. Laporan<br />

Ekspedisi Manglid. www .rimpala.com.<br />

Bogor.<br />

Sastrosupadi, A. 2000. Rancangan Percobaan<br />

Praktis Bidang Pertanian. Penerbit<br />

Kanisius,Yogyakarta<br />

Supriyanto, A. dan Ernawanto. 1986. Media<br />

Tumbuh untuk Pembibitan Jeruk. Buletin<br />

<strong>Tanaman</strong>HortikulturaXIVEdisiKhusus23.<br />

Sunantara,M., I.B. Aribawa dan I.K. Kariada,<br />

2005. Pengaruh Berbagai Media Tumbuh<br />

terhadap Pertumbuhan Bibit Jeruk Bali<br />

( Citrus maxima. Merr).<br />

Balai Pengkajian<br />

Teknologi Pertanian (BPTP). Bali.<br />

TanggalAkses 15 November 2008<br />

Kurniaty, R., B. Budiman, dan M. Suartana 2007.<br />

Pengaruh Media dan Naungan Terhadap<br />

Mutu Bibit Mindi. Buletin Puslitbang<br />

<strong>Vol</strong>ume X No. 02 Oktober 2007 hal 668-<br />

677. Cepu.<br />

Kosasih, A.S., 2006. Pengaruh Medium Sapih<br />

terhadap Pertumbuhan Bibit Shorea<br />

selanica BI di Persemaian. Jurnal <strong>Hutan</strong><br />

dan Konservasi Alam. <strong>Pusat</strong> Penelitian<br />

dan Pengembangan <strong>Hutan</strong> dan<br />

Konservasi Alam. Bogor


PENGENDALIAN PENYAKIT KARAT TUMOR ( Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc.<br />

Alpin) PADA SENGON ( Falcataria mollucana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) DI PANJALU<br />

KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT<br />

Control of Gall Rust Disease (Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin)<br />

on Sengon Tree ( Falcataria mollucana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes)<br />

in Panjalu, Ciamis, West Java<br />

1) 2) 1)<br />

Illa anggraeni , Benyamin Dendang dan/ and Neo Endra Lelana<br />

1)<br />

<strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong><br />

2)<br />

Balai Penelitian Kehutanan Ciamis<br />

Jl. Raya Ciamis Banjar Km. 4, Ds. Pamalayan, Ciamis 46201<br />

Telp. (0265) 771352 Fax. (0265) 775866<br />

Naskah masuk : 2 Pebruari 2010 ; Naskah diterima : 1 November 2010<br />

Keywords: sengon, gall rust, sulphur, lime, salt<br />

ABSTRACT<br />

Sengon (Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & JW Grimes) is one of the current tree developed on<br />

commercial scale, however, the existence of disease caused by a gall rust (Uromycladium tepperianum<br />

(Sacc.) Mc. Alpin) fungi is quite serious constraint for its development. Therefore, it needs to performed<br />

disease control to avoid a huge loss. The aim of the research was to know effectiveness of sulphur, lime and<br />

salt to control gall rust disease in Panjalu, Ciamis District, West Java. The experiment consists of six<br />

treatments and each treatment used ten trees. Treatments were P0= control, P1= sulphur, P2= lime, P3=<br />

lime and sulphur mixture (1:1) (w/w), P4= sulphur and salt mixture (10:1) (w/w), P5= lime and salt<br />

mixture (10:1) (w/w), and P6= sulphur, lime and salt mixture (10:10:1) (w/w/w). The results showed<br />

treatment P4 and P5 had the highest inhibiting percentage of gall rust growth and total amount of gall rust<br />

suppression. However, this value statistically not different from the treatment of P2 and P6.<br />

ABSTRAK<br />

Sengon ( Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) merupakan salah satu jenis pohon yang<br />

saat ini telah dikembangkan dalam skala usaha, namun permasalahan yang dihadapi ialah adanya<br />

serangan penyakit karat tumor yang disebabkan oleh fungi Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc.<br />

Alpin. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pengendalian agar kerugian yang ditimbulkan tidak semakin<br />

besar. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui efektivitas belerang, kapur dan garam dalam<br />

mengendalikan penyakit karat tumor di Panjalu Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Penelitian menggunakan<br />

enam perlakuan dengan individu yang diberi perlakuan sebanyak 10 pohon per perlakuan. Pengendalian<br />

dilakukan menggunakan belerang, kapur dan garam. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini<br />

adalah P0 = kontrol, P1 = belerang, P2 = kapur, P3 = kapur : belerang (1:1) (b/b), P4 = belerang : garam<br />

(10:1) (b/b), P5 = Kapur : garam (10:1) (b/b), P6 = belerang : kapur : garam (10:10:1) (b/b). Hasil<br />

penelitian menunjukkan perlakuan P4 dan P5 mempunyai persentase penghambatan tertinggi dan paling<br />

banyak menekan rata-rata jumlah karat tumor. Namun demikian, secara statistik nilai ini tidak berbeda<br />

dengan perlakuan P2 dan P6.<br />

Kata kunci :<br />

Kampus Balitbang Kehutanan, Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor 16610<br />

Telp. (0251) 8631238, Fax. (0251) 7520005<br />

sengon, karat tumor, belerang, kapur, garam<br />

273


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 273 - 278<br />

274<br />

I. PENDAHULUAN<br />

Sengon ( Falcataria moluccana (Miq.)<br />

Barneby & J.W. Grimes) merupakan tanaman<br />

yang saat ini menjadi primadona. <strong>Tanaman</strong> ini<br />

banyak diusahakan dan dikembangkan di<br />

kawasan hutan tanaman, perkebunan maupun di<br />

kebun-kebun milik rakyat (hutan rakyat).<br />

Kelebihan jenis tanaman ialah pertumbuhannya<br />

yang sangat cepat, sehingga tanaman ini pernah<br />

dijuluki sebagai pohon ajaib ( miracle tree).<br />

Selain itu tanaman ini bersifat multifungsi,<br />

memberikan dampak ganda, baik sebagai<br />

tanaman produksi maupun sebagai tanaman<br />

konservasi dan reboisasi.<br />

Salah satu masalah yang dihadapi dalam<br />

pengembangan sengon sekarang ini, yaitu adanya<br />

serangan penyakit karat tumor ( gall rust)<br />

yang<br />

disebabkan oleh fungi Uromycladium<br />

tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin (Old, 2002;<br />

Anggraeni dan Santoso, 2003; Rahayu, 2008).<br />

U. tepperianum yang menyerang sengon di<br />

Indonesia hanya memerlukan satu inang<br />

saja untuk menyelesaikan siklus hidupnya<br />

dan membentuk satu macam spora yaitu<br />

teliospora dalam telium, sehingga fungi ini<br />

mempunyai daur hidup pendek ( microcyclus)<br />

(Gathe, 1971).<br />

Di Indonesia penyakit karat tumor<br />

pertama kali dilaporkan pada tahun 1996 di<br />

Pulau Seram, Maluku (Anggraeni dan Santoso,<br />

2003). Kemudian Old (2002) melaporkan<br />

bahwa penyakit karat tumor juga menyerang<br />

sengon sebagai pohon pelindung kopi di<br />

Timor Lorosae dengan persentase serangan<br />

57% - 90%. Pada tahun 2006 Puslitbang<br />

<strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong> menerima laporan dari Dinas<br />

Kehutanan Kabupaten Lumajang (Surat Dinas<br />

Kehutanan Kabupaten Lumajang No.<br />

522/211/427.50/2006 dan No. 522/345/<br />

427.50/2006) bahwa tanaman sengon di lokasi<br />

kegiatan GN-RHL/GERHAN tahun tanam<br />

2003 seluas 300 ha, 2004 seluas 1.350 ha dan<br />

2005 seluas 775 ha telah terserang karat tumor.<br />

Hasil survei dan informasi dari beberapa media<br />

menunjukkan bahwa penyakit karat tumor<br />

terus menyebar sampai Jawa Timur<br />

(Banyuwangi, Bondowoso, Pasuruan, Malang,<br />

Jember, Lumajang, Probolinggo, Blitar, Kediri<br />

dan Pacitan); Jawa Tengah (Purworejo,<br />

Magelang, Temanggung, Wonosobo,<br />

Banjarnegara, Boyolali, Kutoarjo, Purwokerto<br />

dan Banyumas); serta Jawa Barat (Ciamis,<br />

Tasikmalaya, Sumedang dan Banten).<br />

Adanya epidemi penyakit karat tumor<br />

pada tanaman sengon di Pulau Jawa menurut<br />

Rahayu (2008) dapat menjadi ancaman yang<br />

dapat mengakibatkan penurunan produk kayu<br />

sengon besar-besaran pada tahun-tahun<br />

mendatang. Hal ini dapat mempengaruhi<br />

peta pengusahaan tanaman sengon di Pulau<br />

Jawa serta pengembangan produk-produk<br />

berbasis kayu sengon. Tujuan dari penelitian ini<br />

ialah untuk mengetahui efektivitas belerang,<br />

kapur dan garam untuk mengendalikan<br />

penyakit karat tumor di Panjalu Kabupaten<br />

Ciamis Jawa Barat.<br />

II. BAHAN DAN METODE<br />

A. Waktu dan Lokasi Penelitian<br />

Penelitian pengendalian penyakit karat<br />

tumor pada sengon dilaksanakan pada bulan<br />

April sampai dengan bulan Oktober 2009.<br />

Penelitian dilakukan di kebun sengon milik<br />

rakyat di Desa Sandingtaman Kecamatan<br />

Panjalu, Kabupaten Ciamis Jawa Barat.<br />

Kecamatan Panjalu berada di wilayah Ciamis<br />

bagian Utara yang secara geografis berada pada<br />

◦ ◦<br />

posisi 8 Lintang Utara dan 11 Lintang Selatan, di<br />

bawah kaki Gunung Sawal. Tinggi tempat 750 -<br />

1000 m di atas permukaan laut, dengan<br />

kelerangan 45%. Jenis tanah podsolik merah<br />

kuning dan sebagian latosol.<br />

B. Bahan danAlat<br />

Bahan yang digunakan ialah tanaman<br />

sengon umur 1 tahun, serbuk belerang, kapur,<br />

garam dapur, air, cat dan pengencer cat. Alat-alat<br />

yang digunakan antara lain lup, pisau, pinset, tali<br />

plastik, kantong plastik, obyek gelas & gelas<br />

penutup, kuas, sprayer,<br />

jerigen, ember, cangkul,<br />

golok, sabit, tangga aluminium lipat, galah, slang<br />

plastik, saringan plastik, alat pengaduk, gunting<br />

pangkas, hand counter,<br />

foto-mikroskop dan<br />

kamera.<br />

C. Metode<br />

1. Tahapan Kegiatan<br />

Sebelum diberi perlakuan setiap tanaman<br />

(pohon uji) dibersihkan dari karat tumor dengan<br />

cara pemangkasan ( wiwil),<br />

karat tumor<br />

dikumpulkan dan dimasukkan dalam lubang<br />

kemudian lubang ditutup. Setelah tanaman uji<br />

bersih dari karat tumor maka diberi perlakuan<br />

seperti yang tersebut di atas dengan cara<br />

pelaburan pada seluruh permukaan batang utama<br />

dan cabang kemudian dilakukan penyemprotan<br />

pada seluruh permukaan pohon secara merata.


Pengendalian Penyakit Karat Tumor ( Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin)<br />

pada Sengon ( Falcataria mollucana (Miq.) Barneby & J.w. Grimes) di Panjalu Kabupaten Ciamis Jawa Barat<br />

Illa Anggraeni, Benyamin Dendang dan Neo Endra Lelana<br />

A B C<br />

Gambar ( Figure) 1. A. Pemangkasan ( Pruning) B. Pelaburan ( Brushing) C. Penyemprotan ( Spraying)<br />

2. Metode Penelitian<br />

Dalam penelitian ini digunakan enam<br />

macam perlakuan yang terdiri dari belerang,<br />

kapur dan garam ditambah kontrol (Tabel 1).<br />

Masing-masing perlakuan digunakan tiga<br />

ulangan dan setiap ulangan terdiri dari sepuluh<br />

pohon.<br />

Bahan-bahan dalam perlakuan tersebut di<br />

atas dilarutkan dalam 5 liter air untuk pelaburan,<br />

sedangkan untuk penyemprotan bahan dilarutkan<br />

dalam 10 liter air. Sebelum digunakan larutan<br />

untuk semprot dilakukan penyaringan agar tidak<br />

menyumpat alat semprot. Perlakuan dilakukan<br />

setiap dua minggu sekali, penghitungan jumlah<br />

karat tumor pada setiap pohon dilakukan satu<br />

bulan sekali, sebelum perlakuan.<br />

Tabel ( Table ) 1. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian (The treatments used in this study)<br />

No.<br />

1<br />

2<br />

3<br />

4<br />

5<br />

6<br />

7<br />

Perlakuan (Treatment) Bahan (Materials)<br />

P0 kontrol<br />

P1 belerang<br />

P2 kapur<br />

P3 kapur : belerang (1:1) (b/b)<br />

P4 belerang : garam (10:1) (b/b)<br />

P5 kapur : garam (10:1) (b/b)<br />

P6 belerang : kapur : garam (10:10:1) (b/b)<br />

275


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 273 - 278<br />

3. Analisis Data<br />

Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis<br />

dengan analisis sidik ragam dengan program<br />

SPSS 14. Perbedaan antar perlakuan diuji dengan<br />

uji lanjut Tukey pada taraf 5% (P


Pengendalian Penyakit Karat Tumor ( Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin)<br />

pada Sengon ( Falcataria mollucana (Miq.) Barneby & J.w. Grimes) di Panjalu Kabupaten Ciamis Jawa Barat<br />

Illa Anggraeni, Benyamin Dendang dan Neo Endra Lelana<br />

menjadi 57,33 pada bulan ke-1 dan 34,67 pada<br />

bulan ke-2. Secara statistik, rata-rata penurunan<br />

jumlah karat tumor sudah terlihat nyata pada<br />

bulan ke-1 kecuali pada kontrol dan perlakuan P1<br />

(Gambar 2). Penurunan jumlah karat tumor pada<br />

kontrol tidak berbeda nyata sampai bulan ke-2<br />

sedangkan pada perlakuan P1, penurunan jumlah<br />

karat tumor berbeda nyata setelah bulan ke-2.<br />

Perlakuan yang dilakukan yaitu dengan<br />

pemangkasan ( wiwil)<br />

dan pelaburan batang<br />

pohon uji dengan berbagai formulasi dari<br />

belerang, kapur dan garam. Pada kontrol,<br />

perlakuan yang dilakukan hanya dengan<br />

pemangkasan tanpa pelaburan dengan bahan<br />

fungisida. Walaupun perlakuan dengan<br />

pemangkasan ini terlihat dapat menurunkan<br />

jumlah karat tumor tiap bulannya, namun<br />

penurunan ini secara statistik tidak nyata. Jadi<br />

dapat dikatakan penurunan jumlah karat tumor<br />

secara nyata pada beberapa perlakuan diduga<br />

bukan karena pengaruh perlakuan pemangkasan<br />

tetapi karena adanya penghambatan dari formula<br />

yang digunakan.<br />

B. Persentase penghambatan pertumbuhan<br />

karat tumor<br />

Penurunan jumlah karat tumor diduga<br />

karena adanya penghambatan oleh belerang,<br />

kapur dan garam. Pada Gambar 2 terlihat ratarata<br />

persentase penghambatan meningkat seiring<br />

dengan waktu. Pada bulan ke-1 persentase<br />

penghambatan tertinggi ditunjukkan oleh<br />

perlakuan P6, yaitu sebesar 86,96%, namun pada<br />

bulan ke-2 persentase penghambatan tertinggi<br />

ditunjukkan oleh perlakuan P4, yaitu sebesar<br />

95,88%. Persentase penghambatan terendah<br />

ditunjukkan oleh kontrol, yaitu 29,48% pada<br />

bulan ke-1 dan 34,51% pada bulan ke-2. Secara<br />

statistik, rata-rata persentase penghambatan<br />

antara perlakuan dan kontrol pada bulan ke-1<br />

tidak menunjukkan beda nyata dan baru terlihat<br />

nyata pada bulan ke-2 (Gambar 3). Perlakuan P2,<br />

P4, P5 dan P6 terlihat berbeda secara nyata<br />

dengan kontrol, namun antar perlakuan tersebut<br />

tidak menunjukkan beda nyata.<br />

Djafaruddin (2000) menyebutkan bahwa<br />

beberapa formula belerang anorganik telah<br />

terbukti sangat baik sebagai fungisida dan<br />

digunakan untuk mengendalikan beberapa<br />

penyakit tanaman. Unsur belerang dapat dipakai<br />

sebagai embusan, berupa tepung yang dapat larut<br />

( wettable powder),<br />

pasta atau cairan yang banyak<br />

digunakan untuk memberantas penyakit embun<br />

tepung ( powdery mildew),<br />

tetapi juga efektif<br />

terhadap penyakit karat tertentu, bercak daun<br />

( leaf blight)<br />

dan busuk buah. Belerang dipakai<br />

sebagai fungisida karena sifat fitotoksisitasnya,<br />

artinya kerusakan/keracunan terhadap tanaman<br />

yang lebih rendah daripada logam berat.<br />

Sedangkan menurut Triharso (2004), tepung<br />

belerang (umumnya digunakan dalam bentuk<br />

serbuk dengan partikel yang halus) dipakai<br />

sebagai fungisida untuk pemberantasan penyakit<br />

tepung. Dalam mengatasi terjadinya gumpalan<br />

pada pengembusan biasanya ditambah dengan<br />

bahan karier seperti kaolin atau bentonit.<br />

Fitotoksisitas belerang lebih rendah daripada<br />

logam berat dan dapat membunuh jamur dengan<br />

jarak waktu tertentu dengan lebih dulu<br />

membentuk gas. Oleh karena itu belerang bekerja<br />

o<br />

baik bila suhu rata-rata lebih tinggi dari 20 C. Gas<br />

S02 yang terjadi akan berubah menjadi SO3 dan<br />

H2SO4di dalam air.<br />

Dalam keadaan tertentu belerang dapat<br />

juga menyebabkan fitotoksis pada daun,<br />

pertumbuhan terhambat dan gugur misal pada<br />

daun melon ( Cucumis melo L.) yang sangat peka.<br />

Sulfur atau belerang bekerja mengganggu<br />

transpor elektron sepanjang sitokrom jamur dan<br />

kemudian direduksi menjadi hidrogen sulfida<br />

(H2S) yang beracun terhadap sebagian besar<br />

protein selular. Selain itu campuran kapur dan<br />

belerang dengan perbandingan 1 : 1 juga dapat<br />

menekan serangan penyakit karat tumor (Agrios,<br />

2005). Campuran kapur-belerang ( lime-sulphur<br />

mixture)<br />

yang lebih dikenal dengan sebutan<br />

bubur California,<br />

dapat digunakan sebagai<br />

semprotan untuk pohon buah-buahan yang dalam<br />

keadaan istirahat ( dormancy),<br />

guna memberantas<br />

penyakit bercak ( blight)<br />

atau antraknosa<br />

( anthracnose), embun tepung atau kudis ( scab),<br />

bercak coklat ( brown spot)<br />

pada buah berbiji<br />

keras atau batu, penyakit daun pada peach ( peach<br />

leaf).<br />

Bubur California selain sebagai fungisida<br />

juga mempunyai pengaruh sebagai insektisida<br />

(Djafaruddin, 2000).<br />

Bubur California dapat dibuat dengan cara<br />

memasukkan tepung belerang (1 kg) yang<br />

dipanaskan dalam 10 liter air sampai larut,<br />

setelah larut disaring. Dalam kondisi panas<br />

masukkan kapur (2 kg) diaduk hingga merata.<br />

Campuran ini mengandung polisulfida-kapur<br />

(CaS.Sx) dan thiosulfat-kapur (CaS2O 3)<br />

(Djafaruddin, 2000 dan Triharso, 2004).<br />

Sedangkan menurut Nene (1971), kandungan<br />

belerang pada fungisida kapur-belerang dapat<br />

bertindak sebagai akseptor hidrogen dalam<br />

sistem metabolisme, yang bekerja dengan cara<br />

mengganggu sistem hidrogenasi dan<br />

277


Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />

<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 273 - 278<br />

dehidrogenasi yang normal dalam sel. Fungisida<br />

kapur-belerang juga mengeluarkan uap yang<br />

mampu menghambat perkecambahan konidia<br />

cendawan. Sedangkan pemberian kapur secara<br />

tunggal berfungsi sebagai protektan atau<br />

pelindung atau penutup, sehingga batang, cabang<br />

maupun daun yang dilabur atau disemprot dapat<br />

terhindar dari spora cendawan di udara yang akan<br />

menempel (Djafaruddin, 2000).<br />

Gambar ( Figure)<br />

3. Persentase penghambatan<br />

karat tumor oleh berbagai perlakuan<br />

(The inhibiting percentage of gall rust by<br />

various treatments )<br />

Pengaruh satu jenis antimikroba terhadap<br />

fungi akan berbeda-beda. Suatu antimikroba<br />

dapat bersifat bersifat fungistatis (antifungi)<br />

yaitu merupakan keadaan yang menggambarkan<br />

kerja suatu bahan yang menghambat<br />

pertumbuhan fungi. Sedangkan fungitoksik<br />

(fungisidal) merupakan keadaan yang<br />

menggambarkan kerja suatu bahan yang<br />

menghentikan pertumbuhan (membunuh) fungi.<br />

Dalam penelitian ini bahan-bahan yang<br />

digunakan seperti belerang, kapur dan garam<br />

ternyata bersifat fungistatis yaitu bahan yang<br />

hanya menghambat pertumbuhan patogen<br />

sementara, bila bahan tersebut tidak diberikan<br />

maka patogen akan tumbuh kembali<br />

(Djafaruddin, 2000).<br />

1. Perlakuan P4 (campuran belerang dan<br />

garam (10:1) (b/b)) cenderung menunjukkan<br />

aktivitas penghambatan pertumbuhan<br />

karat tumor tertinggi dan paling banyak<br />

menurunkan jumlah karat tumor sampai<br />

bulan ke-2.<br />

278<br />

KESIMPULAN<br />

2. Pemanfaatan kapur secara teknis lebih mudah<br />

untuk diterapkan di masyarakat.<br />

DAFTAR PUSTAKA<br />

th<br />

Agrios, G.N. 2005. Plant Pathology.<br />

5 eds.<br />

ElsevierAcademic Press. USA.<br />

Anggraeni, I. dan E. Santoso. 2003. Penyakit<br />

karat puru pada sengon ( Paraserianthes<br />

falcataria) di Pulau Seram. Buletin<br />

Penenlitian <strong>Hutan</strong> 636. Puslitbang <strong>Hutan</strong><br />

dan KonservasiAlam Bogor.<br />

Djafaruddin, 2000. Dasar-dasar Pengendalian<br />

Penyakit <strong>Tanaman</strong>. Bumi Aksara.<br />

Jakarta.<br />

Gathe, J. 1971. Host range and symptoms<br />

in western Australia of gall rust,<br />

Uromycladium tepperianum. J. Roy.<br />

Soc. W. Australia (Australian Agency<br />

for International Development).<br />

Produk <strong>Hutan</strong> dan Kehutanan CSIRO.<br />

Canberra.<br />

Hadi, S. 2001. Patologi <strong>Hutan</strong>. Perkembangannya<br />

di Indonesia. Fakultas Kehutanan<br />

IPB. Bogor.<br />

Madigan, M.T., Martinko, JM., and Parker J.<br />

1997. Biology of Microorganism.<br />

New<br />

Jersey. Prentice Hall, Inc.<br />

Nene, Y.I. 1971. Fungicide in Plant Diseases<br />

Control.<br />

New Delhi.<br />

Old, K.M. 2002. Misi penelitian madre<br />

cacao. Laporan untuk klien, No. 1119<br />

Juni 2002. Klien : Dinas Pembangunan<br />

Internasional Australia (Australian<br />

Agency for International Development).<br />

Produk <strong>Hutan</strong> dan Kehutanan CSIRO.<br />

Canberra.<br />

Rahayu, S. 2008. Penyakit karat tumor pada<br />

sengon. Makalah Workshop Serangan<br />

Karat Tumor pada Sengon. Yogyakarta 19<br />

Nopember 2008.<br />

Triharso, 2004. Dasar-dasar Perlindungan<br />

<strong>Tanaman</strong>. Gadjah Mada University Press.<br />

Yogyakarta.

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!