jurnal PHT Vol_7_No5_2010... - Pusat Litbang Hutan Tanaman
jurnal PHT Vol_7_No5_2010... - Pusat Litbang Hutan Tanaman
jurnal PHT Vol_7_No5_2010... - Pusat Litbang Hutan Tanaman
Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!
Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.
Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor Po. Box. 331<br />
Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005, E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id<br />
<strong>Vol</strong>. 7 No. 5, Desember 2010<br />
MODEL PENDUGA PENDUGA VOLUME POHON KAYU BAWANG<br />
( ( Disoxylum molliscimum<br />
molliscimum Burm Burm F.) F.) DI DI PROVINSI PROVINSI BENGKULU<br />
BENGKULU<br />
AKTIVITAS AKTIVITAS ANTAGONISME ANTAGONISME IN IN VITRO<br />
VITRO Trichoderma harzianum<br />
harzianum<br />
DAN DAN Trichoderma Trichoderma pseudokoningii<br />
pseudokoningii TERHADAP<br />
TERHADAP<br />
PATOGEN PATOGEN LODOH<br />
LODOH Pinus Pinus merkusii<br />
PEMANFAATAN PEMANFAATAN TEGAKAN<br />
TEGAKAN Acacia Acacia auriculiformis<br />
auriculiformis<br />
SEBAGAI SEBAGAI POHON POHON PENAUNG PENAUNG DAN DAN INANG INANG TANAMAN<br />
TANAMAN<br />
CENDANA CENDANA ( ( Santalum Santalum album<br />
Linn)<br />
Linn)<br />
UJI UJI TOKSISITAS EKSTRAK DAUN DAUN Nicolaia atropurpurea<br />
atropurpurea Val.<br />
Val.<br />
TERHADAP SERANGGA HAMA HAMA Spodotera litura<br />
litura Fabricus<br />
Fabricus<br />
(LEPIDOPTERA: (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE)<br />
MUTU BIBIT MANGLID ( Manglieta glauca<br />
glauca BI) PADA TUJUH<br />
JENIS MEDIA SAPIH<br />
PENGENDALIAN PENYAKIT KARAT TUMOR (<br />
Uromycladium<br />
Uromycladium<br />
tepperianum tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin) PADA SENGON (<br />
Falcataria<br />
Falcataria<br />
mollucana<br />
mollucana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) DI PANJALU<br />
KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT<br />
Jurnal<br />
Penelitian<br />
<strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS HUTAN<br />
<strong>Vol</strong>. 7<br />
No. 5<br />
Hal.<br />
227 - 278<br />
Bogor<br />
Desember<br />
2010<br />
ISSN<br />
1829-6327<br />
Terakreditasi dengan nilai A<br />
Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009<br />
(182/AU1/P2MBI/08/2009
JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN<br />
<strong>Vol</strong>. 7 No. 5, Desember 2010<br />
ISSN : 1829-6327<br />
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong> adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman<br />
dari <strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong> dengan frekuensi terbit lima kali setahun<br />
Penanggung Jawab<br />
Kepala <strong>Pusat</strong> <strong>Litbang</strong> Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong><br />
Dewan Redaksi<br />
Ketua Merangkap Anggota<br />
Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan <strong>Tanaman</strong> <strong>Hutan</strong>)<br />
Anggota<br />
Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon)<br />
Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran <strong>Hutan</strong>)<br />
Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur)<br />
Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik)<br />
Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza)<br />
Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit <strong>Tanaman</strong> <strong>Hutan</strong>)<br />
Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan <strong>Tanaman</strong> <strong>Hutan</strong>)<br />
Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika)<br />
Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan <strong>Hutan</strong>)<br />
Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan <strong>Hutan</strong> dan Kebakaran <strong>Hutan</strong>)<br />
Dr. Ir. Tania June, M.Sc. (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim)<br />
Mitra Bestari<br />
Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA. (lnstitut Pertanian Bogor)<br />
Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS. (lnstitut Pertanian Bogor)<br />
Dr. Ir. Soekisman Tjitrosemito, M.Sc (SEAMEO - BIOTROP)<br />
Dr. Ir. Endang Murniati, MS. (lnstitut Pertanian Bogor)<br />
Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc. (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO - BIOTROP)<br />
Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr. (lnstitut Pertanian Bogor)<br />
Sekretariat Redaksi<br />
Ketua Merangkap Anggota<br />
Kepala Bidang Pelayanan dan Evaluasi Penelitian,<br />
<strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong><br />
Anggota<br />
Kepala Sub Bidang Pelayanan Penelitian,<br />
<strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong><br />
Kristina Yuniati, S.Hut<br />
Rohmah Pari, S.Hut<br />
Diterbitkan oleh :<br />
<strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong><br />
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan<br />
Kementerian Kehutanan<br />
Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165),<br />
sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan <strong>Tanaman</strong> <strong>Hutan</strong> (ISSN 1693-7147),<br />
dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong> (ISSN 1829-6327)<br />
Alamat<br />
Kampus Balitbang Kehutanan<br />
Jl. Gunung Batu Nomor 5, Bogor Po. Box. 331<br />
Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id<br />
Terakreditasi dengan nilai A<br />
Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009<br />
(182/AU1/P2MBI/08/2009)<br />
Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences<br />
No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)<br />
PEDOMAN PENULISAN NASKAH<br />
JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN<br />
1. Jurnal<br />
Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong> adalah publikasi ilmiah resmi dari <strong>Pusat</strong> <strong>Litbang</strong> Peningkatan<br />
Produktivitas <strong>Hutan</strong>. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti<br />
perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit,<br />
gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman.<br />
2. Naskah<br />
ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman,<br />
font ukuran 12 dan jarak 2 (dua)<br />
spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas<br />
disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat<br />
Redaksi Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong>, <strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas<br />
<strong>Hutan</strong>. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat :<br />
pp_p3ht@yahoo.co.id.<br />
3.<br />
Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun,<br />
dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi P3PPH, atau<br />
download di website P3PPH : www.forplan.or.id.<br />
Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari<br />
instansi/institusi (bukan perorangan) di luar <strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas<br />
<strong>Hutan</strong> harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya.<br />
4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus<br />
mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan<br />
huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di<br />
bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi.<br />
5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords<br />
dan ABSTRAK dengan Kata Kunci,<br />
PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN,<br />
5.<br />
PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada) .<br />
ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu<br />
paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan<br />
secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak<br />
1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata.<br />
7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada). .<br />
8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian<br />
(kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas.<br />
9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu.<br />
10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis<br />
dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel.<br />
11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa<br />
Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta<br />
harus diberi skala.<br />
12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan<br />
dinyatakan secara kuantitatif.<br />
13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar<br />
membantu.<br />
14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun<br />
terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh<br />
berikut :<br />
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.<br />
Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology.Wadsworth<br />
Publishing Co. Belmont.<br />
U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus<br />
2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet><br />
15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak<br />
mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.
JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN<br />
<strong>Vol</strong>. 7 No. 5, Desember 2010<br />
DAFTAR ISI<br />
1. MODEL PENDUGA VOLUME POHON KAYU BAWANG ( Disoxylum molliscimum<br />
BurmF)DIPROVINSI .<br />
BENGKULU<br />
Tree <strong>Vol</strong>ume Estimation Model of Kayu Bawang (Disoxylum molliscimum Burm F. ) in<br />
Bengkulu Province<br />
Agus Sumadi dan/ and Hengki Siahaan<br />
2. AKTIVITAS ANTAGONISME IN VITRO Trichoderma harzianum DAN Trichoderma<br />
pseudokoningii TERHADAP PATOGEN LODOH Pinus merkusii<br />
In Vitro Antagonistic Activity of Trichoderma harzianum and Trichoderma pseudokoningii<br />
againts Damping off Pathogens of Pinus merkusii<br />
Achmad, S. Hadi, S. Harran, E. Gumbira Sa'id, B. Satiawiharja dan/ and<br />
M. Kosim Kardin<br />
3. PEMANFAATAN TEGAKAN Acacia auriculiformis SEBAGAI POHON PENAUNG<br />
DAN INANG TANAMAN CENDANA ( Santalum album Linn)<br />
The Use of Acacia auriculiformis Stand as Shading Trees and Host Plant of Sandalwood<br />
I Komang Surata<br />
4. UJI TOKSISITAS EKSTRAK DAUN Nicolaia atropurpurea Val. TERHADAP<br />
SERANGGA HAMA Spodotera litura Fabricus (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE)<br />
Toxicity Assay of Nicolaia atropurpurea Leaf Extract against Armyworm Spodoptera litura<br />
Asmaliyah, Sumardi dan/ and Musyafa<br />
5. MUTU BIBIT MANGLID ( Manglieta glauca BI) PADA TUJUH JENIS MEDIA<br />
SAPIH<br />
Seedling Quality Index of Manglieta glauca BI on Seven Types of Transplanting Media<br />
Aris Sudomo, Encep Rachman dan/ and Nina Mindawati<br />
6. PENGENDALIAN PENYAKIT KARAT TUMOR ( Uromycladium tepperianum (Sacc.)<br />
Mc. Alpin) PADA SENGON ( Falcataria mollucana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) DI<br />
PANJALU KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT<br />
Control of Gall Rust Disease (Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin) on Sengon<br />
Tree ( Falcataria mollucana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) in Panjalu, Ciamis - West Java<br />
Illa Anggraeni , Benyamin Dendang dan/ andNeo<br />
Endra Lelana<br />
ISSN : 1829-6327<br />
227-231<br />
233-240<br />
241-251<br />
253-263<br />
265-272<br />
273-278
JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN<br />
ISSN 1829-6327 <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010<br />
Kata kunci bersumber dari artikel. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya<br />
UDC(OXDCF)630*.............<br />
Agus Sumadi dan Hengki Siahaan (Balai Penelitian dan Pengembangan <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong> (BP2HT) Palembang)<br />
Model Penduga <strong>Vol</strong>ume Pohon Kayu Bawang ( Disoxylum molliscimum Burm F . ) di Provinsi Bengkulu<br />
J. Pen. Htn Tnm <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010 p:227-231<br />
Model penduga volume pohon jenis kayu bawang (Disoxylum molliscimum) pada hutan rakyat di Bengkulu Utara disusun<br />
berdasarkan data dari 96 pohon sampel, 66 pohon sampel digunakan dalam penyusunan model dan 30 sampel pohon lainnya<br />
digunakan dalam validasi model. Penyusunan model bertujuan untuk pendugaan hasil hutan tanaman yang lebih baik dalam<br />
upaya mencapai pengelolaan hutan yang efektif. Model penduga volume disusun dalam 5 bentuk persamaan regresi dengan<br />
diameter dan tinggi pohon sebagai peubah bebas. Model terbaik diperoleh berdasarkan kriteria uji statistik dalam<br />
2<br />
penyusunan dan validasi model, yaitu koefisien determinasi (R ), akar rata-rata kuadrat simpangan (RMSE), simpangan<br />
rata-rata (SR), dan simpangan agregat (SA). Berdasarkan criteria tersebut, model penduga volume kayu bawang terbaik<br />
2,317 0,239 2<br />
adalah V= 0,0001027 D H dengan nilai R = 95,58%, RMSE = 0,0386, SR = 9,16% dan SA= 0.09%.<br />
Kata kunci : Kayu bawang ( Disoxylum molliscimum),<br />
model penduga volume, persamaan regresi<br />
UDC(OXDCF)630*.............<br />
Achmad (Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB), S. Hadi (Guru Besar pada Fakultas Kehutanan IPB<br />
(almarhum), S. Harran (Staf pengajar pada Fakultas MIPAIPB (purnabakti)), E. Gumbira Sa'id (Guru Besar pada Fakultas<br />
Teknologi Pertanian IPB), B. Satiawiharja (Staf pengajar pada Fakultas Teknologi Pertanian IPB), M. Kosim Kardin<br />
Peneliti Utama pada Balitbio Badan <strong>Litbang</strong> Pertanian Deptan (purnabakti))<br />
Aktivitas Antagonisme In Vitro Trichoderma harzianum dan Trichoderma pseudokoningii terhadap Patogen Lodoh Pinus<br />
merkusii<br />
J. Pen. Htn Tnm <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010 p:233-240<br />
Studi pengendalian hayati in vitro terhadap serangan patogen lodoh pada semai Pinus merkusii telah dilakukan di<br />
laboratorium Perlindungan <strong>Hutan</strong> Fakultas Kehutanan IPB dari bulan Februari 1996 hingga April 1997. Perolehan fungi<br />
fatogenik penyebab lodoh di lakukan melalui isolasi dari benih dan dari potongan pangkal batang kecambah P. merkusii<br />
yang menunjukkan gejala terserang lodoh dengan teknik tanam langsung. Fungi antagonis diisolasi dari benih dan tanah<br />
yang diambil dari daerah perakaran semai P. merkusii yang terserang lodoh. Hasil uji antagonisme dengan metode langsung<br />
menunjukkan bahwa T. harzianum menghambat pertumbuhan F. oxysporum hingga 28.75 % dan 27.33 % berturut-turut<br />
pada PDAdan MEA, sedang terhadap R. solani penghambatannya sebesar 11.88 % dan 9.38 % berturut-turut pada PDAdan<br />
MEA. Penghambatan T. pseudokoningii terhadap pertumbuhan F. oxysporum pada MEA mencapai 24.38%, sedang pada<br />
PDA sebesar 13.96%. terhadap R. solani. T. pseudokoningii menghambat hingga 8.75% dan 9.37% berturut-turut pada<br />
PDA dan MEA. Kedua jenis fungi antagonis menghasilkan kitinase, dan T. harzianum lebih intensif mendegradasi kitin<br />
pada medium dibanding T. pseudokoningii.<br />
Mekanisme antagonistik yang berperan adalah mikoparasitism yaitu pelilitan<br />
dan penjepitan hifa R. solani berturut-turut oleh T. harzianum dan T. Pseudokoningii serta penetrasi hifa R. solani oleh hifa<br />
T. harzianum,<br />
dan antibiosis yang diduga melibatkan aktivitas kitinase kedua jenis fungi antagonis.<br />
Kata kunci : Pinus merkusii, antagonisme in vitro, Trichoderma harzianum, Trichoderma pseudokoningii, Rhizoctonia<br />
solani, Fusarium oxysporum
JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN<br />
ISSN 1829-6327 <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010<br />
Kata kunci bersumber dari artikel. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya<br />
UDC(OXDCF)630*.............<br />
I Komang Surata (Balai Penelitian Kehutanan Kupang)<br />
Pemanfaatan Tegakan Acacia auriculiformis sebagai Pohon Penaung dan Inang <strong>Tanaman</strong> Cendana ( Santalum album Linn)<br />
J. Pen. Htn Tnm <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010 p:241-251<br />
Tegakan acasia ( Acacia auriculiformis) adalah salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai pohon penaung dan<br />
inang cendana. Penggunaan acasia sebagai pohon penaung atau inang yang terlalu rapat dan dalam waktu yang lama akan<br />
menurunkan pertumbuhan tanaman cendana karena persaingan akan semakin meningkat, oleh sebab itu pada kerapatan<br />
penaung dan umur tertentu perlu dilakukan pengurangan penutupan tajuk salah satunya dengan cara pemangkasan cabang.<br />
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengurangan penutupan tajuk Acacia auriciliformis sebagai pohon<br />
penaung dan inang dengan cara pemangkasan cabang terhadap pertumbuhan tanaman cendana. Penanaman cendana<br />
dilakukan di bawah tegakan Acacia auriculiformis hasil dari tanaman reboisasi yang telah berumur 5 tahun dengan<br />
kerapatan tegakan 6 m x 6 m dan tajuknya mulai menutup. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Berbelok dengan<br />
perlakuan pemangksan cabang tegakan Acacia auriculiformis : 0 %, 25 %, 50 %, 75 %, 100 % per pohon yang dilakukan<br />
pada umur 2 tahun setelah tanam dan selanjutnya setiap tahun dilakukan pemangkasan terubusan cabang sampai umur 8<br />
tahun. Perlakuan terdiri dari 3 blok dan setiap blok terdiri dari 25 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur 8<br />
tahun pemangkasan cabang pohon penaung atau inang nyata meningkatkan tinggi, diameter, dan persen hidup tanaman<br />
cendana masing-masing 45 %, 48 %, dan 107 %. Persen hidup tanaman cendana paling baik dihasilkan pada perlakuan<br />
pemangkasan cabang umur 3 tahun sebanyak 76 % dan umur 8 tahun 91 %. Pemangkasan cabang dapat meningkatkan<br />
temperatur udara 14 % dan intensitas cahaya matahari 53 %. Intensitas cahaya matahari nyata meningkatkan persen hidup<br />
tanaman cendana.<br />
Kata kunci : Pohon penaung, tanaman inang, cendana, pemangksan cabang, tegakan Acacia auriculiformis<br />
UDC(OXDCF)630*.............<br />
Asmaliyah (Forestry Research Agency, South Sumatera 30154, Indonesia), Sumardi, Musyafa (Faculty of Forestry,<br />
Gadjah Mada Univeristy,Yogyakarta 55281, Indonesia)<br />
Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. Terhadap Serangga Hama Spodotera litura Fabricus (Lepidoptera:<br />
Noctuidae)<br />
J. Pen. Htn Tnm <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010 p:253-263<br />
Nicolaia atropurpurea (Zingiberaceae) secara tradisional telah digunakan oleh masyarakat lokal untuk melindungi<br />
tanaman budidaya dan hutan tanaman dari serangan hama. Namun penggaliannya secara ilmiah terhadap potensinya<br />
sebagai sumber insektisida nabati belum pernah diteliti, sehingga sejauh mana toksisitas ekstrak daun N. atropurpurea ini<br />
belum diketahui secara pasti. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk tujuan tersebut. Penelitian ini dilakukan dalam<br />
2 tahapan percobaan, yaitu: Percobaan 1, pengujian cara ekstraksi dan jenis pelarut yang digunakan terhadap toksisitas<br />
ekstrak daun N. atropurpurea dengan metode kontak. Percobaan menggunakan RancanganAcak Lengkap (RAL) dengan 3<br />
ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 taraf konsentrasi.. Percobaan 2, pengujian toksisitas (nilai LC50 dan LC 95)<br />
ekstrak etil asetat<br />
daun N. atropurpurea dengan metode kontak. Percobaan menggunakan RAL dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 6<br />
taraf konsentrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun N. atropurpurea yang diaplikasikan dengan metode<br />
kontak bersifat toksik terhadap larva Spodoptera litura instar ketiga. Ekstrak yang paling toksik dihasilkan dari ekstraksi<br />
maserasi bertingkat dengan menggunakan pelarut etil asetat dengan nilai LC dan LC sebesar 0,18% dan 0,54%.<br />
Kata kunci : Toksisitas, ekstrak daun Nicolaia atropurpurea, Spodoptera litura<br />
50 95
JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN<br />
ISSN 1829-6327 <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010<br />
Kata kunci bersumber dari artikel. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya<br />
UDC(OXDCF)630*.............<br />
Aris Sudomo, Encep Rachman (Balai Penelitian Kehutanan Ciamis) dan Nina Mindawati (<strong>Pusat</strong> Penelitian dan<br />
Pengembangan <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong>)<br />
Mutu Bibit Manglid ( Manglieta glauca Bi)pada Tujuh Jenis Media Sapih<br />
J. Pen. Htn Tnm <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010 p:265-272<br />
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis media sapih yang mampu menghasilkan pertumbuhan dan mutu bibit<br />
Manglieta glauca BI terbaik. Penelitian dilakukan di persemaian Balai Penelitian Kehutanan Ciamis dari bulan Februari<br />
2008 s/d September 2008. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah RancanganAcak Lengkap (RAL) dengan<br />
7 jenis media sapih yaitu M1 (Tanah + Pupuk kandang (3:1)), M2 (Tanah), M3 (Tanah + Pupuk kandang + Sekam padi<br />
(1:1:1)), M4 (Tanah + Pupuk kandang + Pasir (1:1:1)), M5(Tanah + Pupuk kandang + Serbuk sabut kelapa (1:1:1)), M6<br />
((Tanah + Pupuk kandang + Serbuk gergaji (1:1:1)) dan M7 ( Tanah + Pupuk kandang + Abu sekam padi (1:1:1)). Masingmasing<br />
perlakuan 60 bibit sehingga total bibit yang diperlukan adalah 7 x 60 = 420 bibit. Hasil penelitian menunjukkan<br />
bahwa Campuran Media M4 (Tanah+Pupuk kandang+Pasir (1:1:1)) memberikan pertumbuhan diameter (0,469 cm), tinggi<br />
(22,678 cm) dan jumlah daun (9,978) Manglieta glauca BI yang lebih baik dibanding media lainnya. Campuran<br />
media M5 (tanah+pupuk kandang+serbuk sabut kelapa (1:1:1)) memberikan berat kering akar (2,096), berat kering batang<br />
dan daun (4,046) dan indeks mutu bibit (0,132) Manglieta glauca BI yang terbaik dibanding media lainnya. Kesimpulan<br />
dari penelitian ini adalah penggunaan campuran media M4 dan M5 masing-masing memberikan pertumbuhan dan indeks<br />
mutu bibit yang terbaik dalam teknik pembibitan Manglieta glauca BI.<br />
Kata kunci : Indeks mutu bibit, Manglieta glauca BI dan Media sapih<br />
UDC(OXDCF)630*.............<br />
Illa anggraeni dan Neo Endra Lelana (<strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong>), Benyamin Dendang (Balai<br />
Penelitian Kehutanan Ciamis)<br />
Pengendalian Penyakit Karat Tumor ( Uromycladium tepperianum (sacc.) Mc. Alpin) pada Sengon ( Falcataria mollucana<br />
(miq.) Barneby & J.w. Grimes) di Panjalu Kabupaten Ciamis Jawa Barat<br />
J. Pen. Htn Tnm <strong>Vol</strong>. VII No. 5, 2010 p:273-278<br />
Sengon ( Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) merupakan salah satu jenis pohon yang saat ini telah<br />
dikembangkan dalam skala usaha, namun permasalahan yang dihadapi ialah adanya serangan penyakit karat tumor yang<br />
disebabkan oleh fungi Uromycladium tepperianum<br />
(Sacc.) Mc. Alpin. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pengendalian<br />
agar kerugian yang ditimbulkan tidak semakin besar. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui efektivitas belerang,<br />
kapur dan garam dalam mengendalikan penyakit karat tumor di Panjalu Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Penelitian<br />
menggunakan enam perlakuan dengan individu yang diberi perlakuan sebanyak 10 pohon per perlakuan. Pengendalian<br />
dilakukan menggunakan belerang, kapur dan garam. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah P0 = kontrol, P1<br />
= belerang, P2 = kapur, P3 = kapur : belerang (1:1) (b/b), P4 = belerang : garam (10:1) (b/b), P5 = Kapur : garam (10:1) (b/b),<br />
P6 = belerang : kapur : garam (10:10:1) (b/b). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan P4 dan P5 mempunyai persentase<br />
penghambatan tertinggi dan paling banyak menekan rata-rata jumlah karat tumor. Namun demikian, secara statistik nilai ini<br />
tidak berbeda dengan perlakuan P2 dan P6.<br />
Kata kunci : sengon, karat tumor, belerang, kapur, garam
MODEL PENDUGA VOLUME POHON KAYU BAWANG<br />
( Disoxylum molliscimum BurmF)DIPROVINSI .<br />
BENGKULU<br />
Tree <strong>Vol</strong>ume Estimation Model of Kayu Bawang<br />
(Disoxylum molliscimum Burm F. ) in Bengkulu Province<br />
Agus Sumadi dan Hengki Siahaan<br />
Balai Penelitian Kehutanan Palembang<br />
Jl. Kol. H. Burlian KM. 6,5 Kotak Pos 179, Puntikayu, Palembang<br />
Telp./Fax. (0711) 414864<br />
Naskah masuk : 19 Desember 2009 ; Naskah diterima : 4 November 2010<br />
ABSTRACT<br />
A tree volume estimation model of kayu bawang (Disoxylum molliscimum) in farm forestry was made in<br />
North Bengkulu based on data collected from 96 trees sample, 66 trees sample was used in model fitting<br />
and the remain 30 trees sample in model validation. The model construction was aimed for better<br />
estimation of forest plantation yield in order to perform effective forest management. The tree volume<br />
estimation model constructed in 5 form of regression formulas with diameter and height as independent<br />
variable. The best formula was selected by statistic test criteria of model construction and model<br />
2<br />
validation i.e. coefficient of determination (R ), root mean square error (RMSE), average deviation (SR)<br />
and aggregate deviation (SA). Based on the criteria, the best formula of tree volume estimation model of<br />
2,317 0,239 2<br />
kayu bawang is V = 0,0001027 D H with the value of R =95,58%, RMSE=0,0386, SR=9,16% and<br />
SA=0,09% .<br />
Keywords: Kayu bawang (Disoxylum molliscimum), volume estimation model, regression formula<br />
ABSTRAK<br />
Model penduga volume pohon jenis kayu bawang (Disoxylum molliscimum) pada hutan rakyat di<br />
Bengkulu Utara disusun berdasarkan data dari 96 pohon sampel, 66 pohon sampel digunakan dalam<br />
penyusunan model dan 30 sampel pohon lainnya digunakan dalam validasi model. Penyusunan model<br />
bertujuan untuk pendugaan hasil hutan tanaman yang lebih baik dalam upaya mencapai pengelolaan hutan<br />
yang efektif. Model penduga volume disusun dalam 5 bentuk persamaan regresi dengan diameter dan<br />
tinggi pohon sebagai peubah bebas. Model terbaik diperoleh berdasarkan kriteria uji statistik dalam<br />
2<br />
penyusunan dan validasi model, yaitu koefisien determinasi (R ), akar rata-rata kuadrat simpangan<br />
(RMSE), simpangan rata-rata (SR), dan simpangan agregat (SA). Berdasarkan criteria tersebut, model<br />
2,317 0,239 2<br />
penduga volume kayu bawang terbaik adalah V= 0,0001027 D H dengan nilai R = 95,58%, RMSE<br />
= 0,0386, SR = 9,16% dan SA= 0.09%.<br />
Kata kunci : Kayu bawang (Disoxylum molliscimum), model penduga volume, persamaan regresi<br />
I. PENDAHULUAN<br />
<strong>Hutan</strong> di Indonesia setiap tahun<br />
mengalami penurunan potensi dan degradasi<br />
sehingga menyebabkan terjadinya penurunan<br />
pasokan kayu secara drastis. Kondisi kerusakan<br />
hutan telah menyebabkan terjadinya<br />
ketimpangan antara kebutuhan dan pasokan<br />
kayu. Kondisi tersebut mengakibatkan<br />
keberadaan hutan rakyat menjadi sangat<br />
penting sebagai salah satu pemasok atau<br />
penghasil kayu. Kayu bawang merupakan jenis<br />
kayu pertukangan yang banyak dikembangkan<br />
oleh masyarakat dalam bentuk hutan rakyat<br />
terutama di Bengkulu Utara.<br />
Manajemen pengelolaan hutan rakyat<br />
jenis kayu bawang di Bengkulu Utara yang masih<br />
sederhana dan belum tersedianya perangkat yang<br />
dapat memudahkan dalam penghitungan potensi<br />
kayu yang dimiliki oleh masyarakat. Hal ini<br />
227
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 227 - 231<br />
mengakibatkan perhitungan potensi kayu yang<br />
dihasilkan menjadi tidak akurat. Salah satu<br />
perangkat penting dalam penghitungan potensi<br />
kayu adalah model penduga volume.<br />
Menurut Bambang dan Wahyono (1996),<br />
penaksiran dengan cara menggunakan angka<br />
bentuk batang yang umum digunakan sebesar 0,7<br />
diduga merupakan salah satu sumber kesalahan<br />
dalam penaksiran, sehingga dapat<br />
mengakibatkan perbedaan yang cukup besar<br />
antara angka taksiran dengan angka sebenarnya.<br />
Dengan kondisi ini perlu dilakukan penelitian<br />
dengan tujuan mendapatkan model penduga<br />
volume pohon jenis kayu bawang yang memiliki<br />
ketelitian tinggi.<br />
Penelitian dilaksanakan di hutan rakyat<br />
Bengkulu Utara pada bulan Agustus 2005. Data<br />
yang diperoleh dari 96 pohon model yang dibagi<br />
dalam dua kelompok, yaitu 66 data digunakan<br />
untuk penyusunan model dan sisanya 30 data<br />
digunakan untuk validasi model. Pohon model<br />
dipilih secara purposive sampling sehingga<br />
dapat mewakili sebaran kelas diameter dari<br />
diameter terkecil sampai dengan diameter<br />
terbesar. Pohon yang dipilih sebagai pohon<br />
model adalah pohon yang memiliki pertumbuhan<br />
228<br />
II. BAHAN DAN METODE<br />
A. Pelaksanaan Penelitian<br />
Vs<br />
Bp Bu<br />
x L<br />
2<br />
No. Nama model/Model Ekspresi/Expression Referensi/Reference<br />
1. Constant form factor<br />
2. Combined variable<br />
3. Generalized combined<br />
variable<br />
4. Logarithmic<br />
V=b0D 2 H<br />
V=b0 +b1 D 2 H<br />
V=b0 +b1 D 2 +b2 D 2 H+b3 H<br />
V=b1D b2 H b3<br />
normal, tidak terserang hama penyakit, serta<br />
memiliki tajuk dan batang normal. Pada pohon<br />
model dilakukan pengukuran diameternya<br />
setinggi dada ( diameter at breast height = dbh),<br />
tinggi total, diameter pangkal dan ujung tiap seksi<br />
batang dan cabang dengan panjang seksi 1 m<br />
sampai diameter 7 cm.<br />
B. Pengolahan Data dan Penyusunan Model<br />
Perhitungan volume pohon dilakukan<br />
dengan menjumlahkan volume seksi-seksi<br />
batang dan cabang pohon. Perhitungan volume<br />
seksi batang pohon dan cabang dengan<br />
menggunakan persamaan Smalian (Chapman<br />
dan Meyer, 1949) berikut:<br />
Vp<br />
Spurr, 1952<br />
Burkhart, 1977<br />
n<br />
i 1<br />
Romancier, 1961<br />
Vs<br />
Keterangan Vs = volume seksi batang (m3)<br />
Vp = volume pohon (m3)<br />
Bp = luas bidang dasar pangkal seksi (m2)<br />
Bu = luas bidang dasar ujung seksi (m2)<br />
L = panjang seksi (m)<br />
Penyusunan model volume menggunakan<br />
analisis regresi dengan dua peubah bebas, yaitu<br />
diamater setinggi dada (dbh) dan tinggi pohon<br />
(Husch et al.<br />
1972). Model yang diuji adalah<br />
model yang diajukan oleh Spurr, 1952; Burkhart,<br />
1977; Romancier,1961; dan Schumacher & Hall,<br />
1933 dalam Krisnawati, 2007) (Tabel 1).<br />
Tabel ( Table) 1. Model yang diuji dalam pendugaan volume pohon kayu bawang ( Model tested for kayu<br />
bawang tree volume estimation)<br />
Schumacher and Hall,<br />
1933<br />
Keterangan ( Remark ) : V= volume pohon ( volume tree), D = diameter setinggi dada ( diameter breast height),<br />
H = tinggi total,<br />
( total height), b0, b1, b2, b2 = koefisien regresi ( regression coefficient)<br />
Pada Model 1 hingga model 3 regresi<br />
dilakukan secara langsung pada data asli,<br />
sedangkan pada model 4 regresi dilakukan<br />
dengan terlebih dulu melakukan transformasi<br />
logaritma. Tetapi dalam perhitungan nilai-nilai<br />
2<br />
uji statistik R , RMSE, SA, dan SR, data terlebih<br />
dulu dikembalikan pada bentuk asli.<br />
C. Pemilihan Model Terbaik<br />
Model terbaik dipilih berdasarkan kriteria<br />
uji statistik sebagai berikut:<br />
2<br />
1. Koefisien determinasi (R )<br />
Koefisien determinasi merupakan proporsi<br />
variasi total di sekitar nilai tengah y yang<br />
dapat dijelaskan oleh variasi regresi (Draper
2<br />
& Smith 1992). Semakin tinggi nilai R , maka<br />
semakin besar variasi yang dapat dijelaskan.<br />
2<br />
R dihitung dengan rumus:<br />
R<br />
2<br />
1<br />
2. Akar rata-rata kuadrat simpangan (root mean<br />
squared error = RMSE)<br />
RMSE menyatakan akurasi dugaan (Huang et<br />
al. 2003) yang dinyatakan dengan rumus:<br />
RMSE<br />
( Y<br />
( Y<br />
( Y<br />
n<br />
i<br />
Yˆ<br />
i )<br />
Y )<br />
Yˆ<br />
) i<br />
p<br />
3. Validasi Model<br />
Simpangan rata-rata dan simpangan agregat<br />
digunakan untuk mengukur keakuratan suatu<br />
model yang besarnya ditentukan oleh selisih<br />
nilai hasil pendugaan dan hasil pengukuran.<br />
Semakin kecil nilai simpangan rata-rata dan<br />
simpangan agregat suatu model maka,<br />
keakuratan model tersebut semakin tinggi<br />
(Husch 1963). Nilai SR dan SA dihitung<br />
dengan rumus:<br />
i<br />
i<br />
2<br />
2<br />
2<br />
Model Penduga <strong>Vol</strong>ume Pohon Kayu Bawang<br />
( Disoxylum molliscimum Burm F.) di Provinsi Bengkulu<br />
Agus Sumadi dan Hengki Siahaan<br />
SR<br />
SA<br />
Y<br />
i<br />
Yˆ<br />
Yi<br />
n<br />
i<br />
Yˆ<br />
Yˆ<br />
i<br />
i<br />
x100%<br />
Yi<br />
x100%<br />
Dengan: n = jumlah unit contoh, p = jumlah parameter,<br />
Ỹ= rata-rata nilai pengukuran, Yi = nilai<br />
pengukuran variabel ke-i, dan Ŷ= nilai dugaan<br />
variabel ke-i<br />
III. HASIL DAN PEMBAHASAN<br />
A. Sebaran Pohon Model<br />
Pohon model untuk penelitian ini dipilih<br />
secara purpossive sampling pada tegakan<br />
hutan rakyat yang tersebar di wilayah Bengkulu<br />
Utara. Pohon model untuk penyusunan<br />
model memiliki sebaran diameter antara 6.37 -<br />
34,33 cm dan tinggi total antara 7,3 - 23,7 m<br />
(Tabel 2). Sedangkan pohon model untuk<br />
validasi mempunyai sebaran diameter antara<br />
6,37 - 33,12 cm dan tinggi antara 5,4 - 21,0 m<br />
(Tabel 3).<br />
Tabel ( Table)<br />
2. Sebaran diameter dan tinggi pohon penyusun model penduga volume kayu bawang<br />
( Diameter and height distribution of fitting tree model of kayu bawang)<br />
Kelas diameter/<br />
Diameter class<br />
(cm)<br />
Tinggi pohon/ Height (m)<br />
5,0 – 9,9 10,0 – 14,9 15,0 – 19,9 20,0 – 24,9<br />
Jumlah/<br />
Number of trees<br />
(pohon)<br />
5,0 – 9,9 3 3<br />
10,0 – 14,9 4 3 7<br />
15,0 – 19,9 10 3 2 15<br />
20,0 – 24,9 5 10 4 19<br />
25,0 – 29,9 14 2 16<br />
≥30,0 4 2 6<br />
Jumlah/Sum 7 18 31 10 66<br />
Tabel (Table) 3. Sebaran diameter dan tinggi pohon untuk validasi model penduga volume kayu bawang<br />
(Diametre and height distribution of validation tree model of kayu bawang)<br />
Kelas diameter/<br />
Diameter class<br />
(cm) 5,0 – 9,9<br />
Tinggi pohon/ Height (m)<br />
10,0 – 14,9 15,0 – 19,9 20,0 – 24,9<br />
Jumlah/<br />
Number of trees<br />
(pohon)<br />
5,0 – 9,9 2 2<br />
10,0 – 14,9 3 1 4<br />
15,0 – 19,9 1 4 2 7<br />
20,0 – 24,9 4 6 1 11<br />
25,0 – 29,9 3 1 4<br />
≥30,0 2 2<br />
Jumlah/Sum<br />
6 9 13 2 30<br />
229
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 227 - 231<br />
B. Model Penduga <strong>Vol</strong>ume Pohon<br />
Model penduga volume pohon kayu<br />
bawang yang dikembangkan dalam pola hutan<br />
rakyat di Bengkulu Utara digunakan untuk<br />
menduga volume kayu yang dapat dimanfaatkan<br />
( merchantable volume).<br />
Model dibangun<br />
berdasarkan peubah bebas tinggi dan diameter<br />
pohon dengan empat persamaan regresi seperti<br />
tertera pada Tabel 4, masing-masing dengan<br />
2<br />
nilai-nilai kriteria uji R , RMSE, simpangan<br />
agregat (SA) dan simpangan rata-rata (SR).<br />
Ketiga model pertama memiliki kesamaan<br />
2<br />
bentuk, yaitu menggunakan variabel D H.<br />
Penambahan konstanta pada model pertama<br />
menjadi model 2 hanya meningkatkan nilai<br />
koefisien determinasi sebesar 1,11%, artinya<br />
peningkatan keragaman yang diterangkan oleh<br />
model dengan penambahan konstanta tersebut<br />
tidak cukup berarti. Pada model 3, penambahan<br />
2 2<br />
variabel D , D H, dan H dapat meningkatkan<br />
koefisien determinasi hingga 4,58%. Hasil uji<br />
signifikansi pada ketiga variabel tersebut<br />
2<br />
variabel D mempunyai peran yang sangat<br />
2<br />
nyata (α = 0.000), D H berperan nyata<br />
(α = 0,026), sedangkan H tidak berperan nyata<br />
(α = 0,091).<br />
230<br />
No. Model<br />
2<br />
Selain menggunakan kriteria uji R dan<br />
RMSE yang diperoleh dari data penyusun model,<br />
kriteria uji lain yang perlu diperhatikan dalam<br />
penyusunan model penduga volume pohon<br />
adalah simpangan rata-rata (SR) dan simpangan<br />
agregat (SA) yang merupakan kriteria uji yang<br />
diperoleh dari tahapan validasi model. Validasi<br />
model sangat penting dilakukan karena kualitas dari<br />
model fitting (berdasarkan data yang digunakan<br />
untukmenyusunmodel)belumtentumencerminkan<br />
kualitas hasil prediksi model (berdasarkan<br />
independent data yang tidak digunakan untuk<br />
menyusunmodel)(Huang etal.,<br />
2003).<br />
2<br />
Berdasarkan nilai-nilai kriteria uji R ,<br />
RMSE, SR, dan SA, model penduga volume kayu<br />
bawang yang paling tepat adalah model 3 dan<br />
2<br />
model 4. Nilai R dan RMSE kedua model hampir<br />
sama. Tetapi berdasarkan validasi model, nilai<br />
simpangan rata-rata (SR) dan simpangan agregat<br />
(SA) model ke-4 lebih kecil dibandingkan model<br />
3. Nilai SA dan SR model 4 telah memenuhi<br />
kriteria sebagaimana disyaratkan oleh Chapman<br />
dan Meyer (1949) dan Husch (1963) yang<br />
menyatakan bahwa simpangan agregatif model<br />
penduga pohon sebaiknya tidak lebih dari 1%<br />
serta kriteria Spurr (1952) yang menyatakan<br />
bahwa simpangan rata-rata tidak lebih dari 10%.<br />
2 2<br />
Tabel ( Table) 4. Nilai R , RMSE, SR dan SA model penduga volume pohon kayu bawang ( R , RMSE, SR<br />
dan SA value of kayu bawang tree model estimation)<br />
R 2<br />
(%)<br />
RMSE<br />
1 V = 0.0000351 D 2 H 89,78 0,0587 16,71 3,62<br />
2 V = 0.0113 + 0.0000323 D 2 H 90,89 0,0554 16,09 0,22<br />
3<br />
V = 0.0187 + 0.000456 D 2 + 0.000013 D 2 H-<br />
0.00494 H<br />
4 V = 0,0001027 D 2,317 H 0,239<br />
SR<br />
(%)<br />
SA<br />
(%)<br />
95,47 0,0391 10,65 1,36<br />
95,58 0,0386 9,16 0,09<br />
Tabel ( Table ) 5. Peringkat penilaian model penduga volume kayu pohon bawang (Tree volume estimation<br />
model rank of kayu bawang at Bengkulu )<br />
Peringkat nilai persamaan/<br />
Peringkat gabu-<br />
No. Persamaan/Equation<br />
Rank of equation vallue Jlh ngan/Combination<br />
R of ranks<br />
2<br />
RMSE SR SA<br />
1 V = 0 .0000351 D 2 H 4 4 4 4 16 4<br />
2 V = 0.0113 + 0.0000 323 D 2 H 3 3 3 2 11 3<br />
3<br />
V = 0.0187 + 0.00045 6 D 2 +<br />
0.000013 D 2 H - 0.00494 H<br />
2 2 2 3 9 2<br />
4 V = 0,000 1027 D 2,317 H 0,239 1 1 1 1 4 1
IV. KESIMPULAN DAN SARAN<br />
A. Kesimpulan<br />
Model penduga volume pohon kayu<br />
bawang dengan persamaan regresi sederhana<br />
dengan peubah bebas tinggi dan diameter pohon<br />
yang memiliki ketelitian tertinggi adalah V =<br />
2,317 0,239 2<br />
0,0001027 D H dengan nilai R = 95,58%,<br />
RMSE = 0,0386, SR = 9,16% dan SA= 0,09%.<br />
B. Saran<br />
Model penduga volume pohon jenis<br />
kayu bawang bisa digunakan di lapangan untuk<br />
menduga volume pohon khususnya pada hutan<br />
rakyat di Bengkulu Utara atau kayu bawang<br />
di lokasi lain yang memiliki karakteristik<br />
pertumbuhan yang tidak terlalu berbeda.<br />
Penggunaan model penduga volume pohon untuk<br />
aplikasi di lapangan atau oleh masyarakat perlu<br />
dibuat tabel volume pohon kayu bawang<br />
berdasarkan persamaan model penduga volume<br />
pohon yang telah terbentuk.<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
Bambang E. D. dan D. Wahjono. 1996. Tabel Isi<br />
Pohon Jenis Rasamala ( Altingia excelsa)<br />
di KPH Cianjur, Jawa Barat. Buletin<br />
Penelitian Huta. Bogor<br />
Model Penduga <strong>Vol</strong>ume Pohon Kayu Bawang<br />
( Disoxylum molliscimum Burm F.) di Provinsi Bengkulu<br />
Agus Sumadi dan Hengki Siahaan<br />
Chapman, H.H. and W.H. Meyer. 1949. Forest<br />
Mensuration.<br />
McGraw-Hill Book<br />
Company, Inc, NewYork.<br />
Draper N. Smith, H. 1992. Analisis Regresi<br />
Terapan.<br />
Bambang Sumantri, penerjemah.<br />
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.<br />
Terjemahan dari: Applied Regression<br />
Analysis.<br />
Huang, Yang Y., Wang Y. 2003. A critical look at<br />
procedures for validating growth and yield<br />
models. Di dalam: Amaro A, Reed D,<br />
Soares P, editor. Modelling Forest<br />
Systems.<br />
London : CABI Publishing.<br />
Husch, B., C. I. Miller dan T. W. Beer. 1972.<br />
Forest Mensuration.<br />
Second Edition. The<br />
Ronald Press Company. NewYork.<br />
Husch, B. 1963. Forest Mensuration and<br />
Statistics.<br />
Ronald Press Company, New<br />
York.<br />
Krisnawati, H. 2007. Modelling stand growth<br />
and yield for optimizing management of<br />
Acacia mangium Willd. plantation in<br />
Indonesia.<br />
Disertasi. University of<br />
Melbourne.<br />
Spurr, S.H. 1951. Forest Inventory.<br />
The Roland<br />
Press Company. NewYork.<br />
231
1)<br />
AKTIVITAS ANTAGONISME IN VITRO Trichoderma harzianum DAN<br />
Trichoderma pseudokoningii TERHADAP PATOGEN LODOH Pinus merkusii 1)<br />
In Vitro Antagonistic Activity of T. harzianum and T. pseudokoningii againts<br />
Damping off Pathogens of P. merkusii<br />
1) 2) 3) 4) 5) 6)<br />
Achmad , S. Hadi , S. Harran , E. Gumbira Sa'id , B. Satiawiharja , dan/ and M. Kosim Kardin<br />
Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB, Jl. Lingkar Akademik Kampus IPB Darmaga kotak pos 168<br />
Bogor 16680, telp. dan faks. (0251) 8626886, e-mail: deptsilvik@ipb.ac.id atau achmadrm@yahoo.com<br />
2)<br />
Guru Besar pada Fakultas Kehutanan IPB (almarhum)<br />
3)<br />
Staf pengajar pada Fakultas MIPA IPB (purnabakti)<br />
4)<br />
Guru Besar pada Fakultas Teknologi Pertanian IPB<br />
5)<br />
Staf pengajar pada Fakultas Teknologi Pertanian IPB<br />
6)<br />
Peneliti Utama pada Balitbio Badan <strong>Litbang</strong> Pertanian Deptan (purnabakti)<br />
Naskah masuk : 12 Januari 2010 ; Naskah diterima : 6 November <strong>2010.</strong><br />
ABSTRACT<br />
In vitro study on the biological control of damping-off of Pinus merkusii was done during February<br />
1995 - April 1997 at Forest Protection Laboratory, Faculty of Forestry, Bogor Agricultural<br />
University. The pathogens, i.e. Rhizoctonia solani and Fusarium oxysporum, were isolated from seed<br />
and sprout stick base cut of damping-off infected P. merkusii seedling by direct planting technique.<br />
Fungi antagonists, i.e. Trichoderma harzianum and Trichoderma pseudokoningii, were isolated from<br />
seed and rhizosphere soil of damping-off infected pine seedlings. Result of antagonistic test by direct<br />
method showed that T. harzianum retarded F. oxysporum growth up to 28.75 % on PDA and 27.33 %<br />
on MEA. T. harzianum also retarded R. solani growth up to 11.88 % on PDA and 9.38 % on MEA.<br />
T. pseudokoningii retarded F. oxysporum growth up to 24.38% on MEA and 13.96% on PDA.<br />
T. pseudokoningii also retarded R. solani growth up to 8.75% on PDA and 9.37% on MEA. The two<br />
antagonists fungi produced chitinase, and T. harzianum degraded chitin of the medium more intensive<br />
than T. pseudokoningii. Antagonistic mechanisms that play role are the mycoparasitism, i.e. coiling and<br />
clamping R. solani hyphae by T. harzianum and T. pseudokoningii and penetration of R. solani hyphae<br />
by T. harzianum, and antibiosis allegedly by the envolvement of chitinase of the two antagonistic fungi.<br />
Keywords: Pinus merkusii, in vitro antagonism, Trichoderma harzianum, Trichoderma<br />
pseudokoningii, Rhizoctonia solani, Fusarium oxysporum<br />
ABSTRAK<br />
Studi pengendalian hayati in vitro terhadap serangan patogen lodoh pada semai Pinus merkusii telah<br />
dilakukan di laboratorium Perlindungan <strong>Hutan</strong> Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dari bulan<br />
Februari 1996 hingga April 1997. Perolehan fungi fatogenik penyebab lodoh di lakukan melalui isolasi dari<br />
benih dan dari potongan pangkal batang kecambah P. merkusii yang menunjukkan gejala terserang lodoh<br />
dengan teknik tanam langsung. Fungi antagonis diisolasi dari benih dan tanah yang diambil dari daerah<br />
perakaran semai P. merkusii yang terserang lodoh. Hasil uji antagonisme dengan metode langsung<br />
menunjukkan bahwa Trichoderma harzianum menghambat pertumbuhan Fusarium oxysporum hingga<br />
28.75 % dan 27.33 % berturut-turut pada PDA dan MEA, sedang terhadap R. solani penghambatannya<br />
sebesar 11.88 % dan 9.38 % berturut-turut pada PDA dan MEA. Penghambatan T. pseudokoningii terhadap<br />
pertumbuhan F. oxysporum pada MEA mencapai 24.38%, sedang pada PDA sebesar 13.96%. terhadap<br />
R. solani. T. pseudokoningii menghambat hingga 8.75% dan 9.37% berturut-turut pada PDA dan MEA.<br />
Kedua jenis fungi antagonis menghasilkan kitinase, dan T. harzianum lebih intensif mendegradasi kitin<br />
pada medium dibanding T. pseudokoningii.<br />
Mekanisme antagonistik yang berperan adalah mikoparasitism<br />
yaitu pelilitan dan penjepitan hifa R. solani berturut-turut oleh T. harzianum dan T. pseudokoningii serta<br />
233
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 233 - 240<br />
penetrasi hifa R. solani oleh hifa T. harzianum,<br />
dan antibiosis yang diduga melibatkan aktivitas kitinase kedua<br />
jenis fungi antagonis.<br />
Kata kunci : Pinus merkusii, antagonisme in vitro, Trichoderma harzianum, Trichoderma<br />
pseudokoningii, Rhizoctonia solani, Fusarium oxysporum<br />
234<br />
I. PENDAHULUAN<br />
Pinus merkusii Jungh. et de Vriese<br />
merupakan salah satu jenis pohon utama asli<br />
Indonesia yang disarankan ditanam pada<br />
pembangunan hutan tanaman industri (HTI).<br />
Jenis tanaman ini disamping dapat menghasilkan<br />
kayu untuk bahan bangunan, bahan korek api,<br />
terpentin dan gondorukem, juga di manfaatkan<br />
sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk<br />
menghasilkan kertas.<br />
Pembangunan HTI yang berimplikasi<br />
dengan penanaman pohon sejenis pada skala<br />
luas menuntut tersedianya bibit berkualitas tinggi<br />
dalam jumlah yang cukup. Serangan patogen<br />
lodoh yang disebabkan oleh Fusarium oxyporum<br />
dan Rhizoctonia solani dapat merupakan satu di<br />
antara beberapa penyebab utama berkurangnya<br />
jumlah semai yang disediakan. Intensitas<br />
serangan lodoh sangat bervariasi dan dapat<br />
mencapai 100% (Suharti et al.,<br />
1991).<br />
Perlindungan semai P. merkusii terhadap<br />
patogen lodoh dapat terjadi melalui faktor<br />
semainya sendiri, dalam hal ini berkaitan dengan<br />
ketahanan, ataupun melalui manipulasi kondisi<br />
lingkungan. Fenomena di lapangan menunjukkan<br />
bahwa ketahanan semai P. merkusii terhadap<br />
penyakit lodoh makin meningkat dengan<br />
bertambahnya umur. Perubahan sifat yang terjadi<br />
secara alami dengan bertambahnya umur tersebut<br />
diduga berkaitan dengan peningkatan ketahanan<br />
semai terhadap penyakit lodoh.<br />
Perlindungan semai P. merkusii melalui<br />
manipulasi faktor lingkungan dapat dilakukan<br />
dengan pengendalian patogen secara hayati yang<br />
pada akhir-akhir ini mendapat perhatian besar.<br />
Lodoh merupakan penyakit pada semai pinus<br />
yang disebabkan oleh patogen tular tanah. Oleh<br />
karena itu pengendalian hayati dapat efektif<br />
mengendalikan penyakit tersebut dan hasilnya<br />
dapat berjangka panjang, bahkan permanen, serta<br />
tidak mengakibatkan polusi atau gangguan bagi<br />
kesehatan manusia dan hewan (Bruehl, 1987).<br />
Pengendalian hayati dilakukan antara lain<br />
melalui introduksi antagonis yang dapat<br />
menghambat patogen dan kolonisasinya pada<br />
rizosfer. Penghambatan tersebut terjadi melalui<br />
mekanisme antagonistik yang antara lain<br />
melibatkan peran enzim dan metabolit lain yang<br />
di hasilkan antagonis. Fungi antagonis<br />
Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. dilaporkan<br />
mampu menghambat patogen lodoh (Baker dan<br />
Cook, 1974). Di Indonesia, upaya pengendalian<br />
hayati penyakit lodoh pada P. merkusii yang<br />
disebabkan oleh Fusarium sp., Pythium sp., dan<br />
Rhizoctonia sp. menggunakan fungi antagonis<br />
Trichoderma sp. diteliti oleh Sudjud (1983).<br />
Hasilnya menunjukkan bahwa fungi antagonis<br />
mampu menghambat ketiga patogen lodoh<br />
tersebut antibiosis.<br />
Mekanisme pengendalian hayati dapat<br />
terjadi dalam bentuk antibiosis, kompetisi, dan<br />
mikoparasitisme (Baker dan Cook, 1974).<br />
Antibiosis adalah antagonisme yang diperantarai<br />
oleh metabolit spesifik atau non-spesifik, atau<br />
oleh agensia lisis, enzim, senyawa folatil, atau zat<br />
beracun (toksin) lainnya yang dihasilkan oleh<br />
mikroba (Fravel, 1988). Kompetisi biasanya<br />
terjadi terhadap nutrisi dan ruang tumbuh atau<br />
faktor-faktor pertumbuhan penting tertentu<br />
lainnya. Interaski mikoparasitik secara umum<br />
dibedakan ke dalam dua tipe, yaitu tipe biotrofik<br />
dan tipe nekrotrofik. Kebanyakan interaksi<br />
mikoparasitik yang mempengaruhi struktur<br />
bertahan patogen tular tanah adalah tipe<br />
nekrotrofik (Lockwood, 1988).<br />
Tujuan penelitian ini adalah untuk<br />
mempelajari efektivitas penghambatan in vitro<br />
fungi antagonis T. harzianum dan T.<br />
pseudokoningii terhadap pertumbuhan patogen<br />
lodoh R. solani, dan F. oxysporum serta<br />
mekanisme penghambatan yang terjadi.<br />
II. BAHAN DAN METODE<br />
Percobaan dilaksanakan di Laboratorium<br />
Perlindungan <strong>Hutan</strong> Fahutan IPB dari Februari<br />
1996 hingga April 1997. Penelitian diawali<br />
dengan penyediaan inokulum fungi melalui<br />
isolasi dan seleksi isolat, kemudian dilanjutkan<br />
dengan perlakuan terhadap isolat terpilih sesuai<br />
tujuan tiap tahap kegiatan penelitian.<br />
Perolehan fungi patogenik penyebab lodoh<br />
dilakukan melalui isolasi dari benih dan dari<br />
potongan pangkal batang kecambah P. merkusii<br />
yang menunjukkan gejala terserang lodoh<br />
dengan teknik tanam langsung. Isolasi dari benih
dilakukan dengan menanam benih secara<br />
langsung pada media agar air dan PDA ( Potato<br />
Dexrose Agar).<br />
Benih yang ditanam adalah benih<br />
yang permukaannya tidak disterilkan maupun<br />
yang disterilkan terlebih dahulu dengan<br />
merendamnya dalam larutan NaOCl 1% selama<br />
2-5 menit dan dibilas dengan air steril satu kali.<br />
Isolasi dari pangkal batang dilakukan<br />
dengan prosedur berikut : potongan pangkal<br />
batang yang terserang patogen lodoh dicuci<br />
dengan air steril dalam labu Erlenmeyer,<br />
kemudian permukaannya disterilkan dengan<br />
merendam dalam larutan NaOCl 1% selama dua<br />
menit dan dibilas dengan air steril tiga kali, serta<br />
selanjutnya dikeringkan dengan cara<br />
meletakkannya dalam cawan petri bersih yang<br />
telah dialasi kertas saring steril. Potongan<br />
pangkal batang tersebut kemudian ditanam pada<br />
media agar air dan PDAdan diinkubasi pada suhu<br />
kamar. Setelah patogen tumbuh, kemudian isolat<br />
dimurnikan. Dua isolat dari isolat-isolat patogen<br />
lodoh yang diperoleh yang paling kuat<br />
virulensinya, yaitu yang menimbulkan<br />
persentase semai pinus mati terbesar, digunakan<br />
pada percobaan selanjutnya.<br />
Fungi antagonis diisolasi dari benih dan<br />
tanah yang diambil di daerah perakaran semai<br />
P. merkusii yang terserang lodoh. Isolasi dari<br />
benih dilakukan bersama-sama dengan isolasi<br />
fungi patogen lodoh. Isolasi fungi dari tanah<br />
dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah<br />
sebanyak 10 g kering udara yang ditempatkan<br />
dalam gelas piala, kemudian ke dalamnya<br />
ditambahkan air destilata hingga mencapai<br />
volume 100 ml (pengenceran 1 : 10). Suspensi<br />
dikocok, kemudian dituang ke dalam labu<br />
Erlenmeyer 250 ml dan dikocok kembali. Secara<br />
aseptik diambil 10 ml dari suspensi tersebut dan<br />
diencerkan dengan 90 ml air destilata steril<br />
(pengenceran 1 : 100). Selanjutnya, dari suspensi<br />
yang telah diencerkan tersebut dibuat seri<br />
pengenceran 1 : 1000, dan 1 : 10000 dengan<br />
menambah air destilata steril. Dari tiap tingkat<br />
pengenceran, dituangkan 1 ml suspensi ke media<br />
agar air dan PDA yang telah ditambah antibiotik<br />
kemisetin 50 ppm dalam cawan petri secara<br />
aseptik. Cawan petri beserta isinya kemudian<br />
ditempatkan pada suhu kamar selam 24 jam,<br />
miselia yang tumbuh dipotong kemudian<br />
dipindahkan ke medium PDA yang baru, dan<br />
selanjutnya biakan fungi dimurnikan.<br />
Berdasarkan pemurnian dan uji<br />
antagonistik, dua isolat Trichoderma sp. dipilih<br />
untuk digunakan pada tahap percobaan<br />
selanjutnya. Isolat Trichoderma sp. yang pertama<br />
Aktivitas Antagonisme In Vitro Trichoderma harzianum dan<br />
Trichoderma pseudokoningii terhadap Patogen Lodoh Pinus merkusii<br />
Achmad, S. Hadi, S. Harran, E. Gumbira Sa'id, B. Satiawiharja, dan M. Kosim Kardin<br />
memiliki karakteristik sebagai berikut : hifa<br />
berukuran diameter 4-6 µm, fialospora membulat<br />
dengan permukaan licin berukuran 2.5-3 x 3-4<br />
µm, fialid berukuran 9-12 x 3-4 µm, dan<br />
klamidospora berukuran diameter 9-13 µm.<br />
Fialospora bulat dengan permukaan licin<br />
merupakan karakteristik Trichoderma<br />
harzianum (Rifai, 1969). Sedang karakteristik<br />
isolat Trichoderma sp. yang kedua adalah : hifa<br />
berukuran diameter 3- 5 µm, fialospora lonjong,<br />
berukuran 3.5-4 x 2-2.5 µm, fialid berukuran<br />
6-9 x 3-3.5 µm, dan klamidispora berukuran<br />
diameter 6-9 µm. Biakannya menunjukkan<br />
pewarnaan kekuningan hingga kuning pada PDA<br />
yang merupakan karakteristik Trichoderma<br />
pseudokoningii (Rifai, 1969).<br />
Pengujian antagonisme dengan metode<br />
langsung pada media padat di lakukan terhadap<br />
kombinasi pasangan isolat fungi patogen dan<br />
antagonis. Media yang di gunakan adalah PDA<br />
dan MEA ( Malt Extract Agar),<br />
dengan<br />
mengikuti prosedur yang diterangkan Marx<br />
(1969).<br />
Potongan koloni antagonis dan patogen di<br />
tanam pada media PDA dan MEA dalam cawan<br />
petri pada saat yang sama, dengan jarak antara<br />
koloni 5 cm. Potongan koloni tersebut diambil<br />
dari biakan murni antagonis atau patogen<br />
berumur 5 hari dengan menggunakan bor gabus<br />
diameter 6 mm. Cawan petri beserta isinya<br />
kemudian ditempatkan pada suhu kamar.<br />
Pengujian dilakukan dalam tiga ulangan.<br />
Peubah yang diamati adalah presentase<br />
penghambatan fungi patogen oleh fungi<br />
antagonis dan lebar zona hambatan. Presentase<br />
penghambatan (p) dihitung dengan persamaan<br />
(1) (Fokkema 1973 dalam Skidmore, 1976). Pada<br />
persamaan ini, p menunjukkan presentase<br />
penghambatan, r1 adalah jari-jari koloni fungi<br />
patogen yang tumbuh berlawanan arah terhadap<br />
fungi antagonis, sedang r2 adalah jari-jari koloni<br />
fungi patogen yang tumbuh ke arah fungi<br />
antagonis. Lebar zona hambatan adalah lebar<br />
zona antara kedua ujung koloni fungi, diukur<br />
pada hari ke lima setelah fungi patogen ditanam.<br />
r-r 1 2<br />
P = __________x 100 % .......................(1)<br />
r1<br />
Pengamatan mikroskopik miselia pada<br />
daerah pertemuan antara dua koloni yaitu fungi<br />
antagonis dan fungi patogen dilakukan untuk<br />
mengetahui mekanisme penekanan terhadap<br />
patogen yang mungkin terjadi. Uji kualitatif<br />
produksi kitinase fungi antagonis dilakukan<br />
dengan menumbuhkan kedua jenis fungi tersebut<br />
235
pada media kitin agar (Atlas, 1993). Adanya<br />
produksi kitinase ditandai dengan adanya<br />
perubahan media yang awalnya putih keruh<br />
menjadi transparan. Hal ini menunjukkan adanya<br />
konsumsi kitin oleh fungi antagonis karena fungi<br />
tersebut menghasilkan kitinase.<br />
Hasil uji antagonisme dengan metode<br />
langsung menunjukkan bahwa Trichoderma<br />
harzianum menghambat pertumbuhan Fusarium<br />
oxysporum hingga 28.75 % dan 27.33 %<br />
berturut-turut pada PDA dan MEA, sedang<br />
terhadap Rhizoctonia solani penghambatannya<br />
sebesar 11.88 % dan 9.38 % berturut-turut pada<br />
PDAdan MEA( Tabel 1).<br />
236<br />
III. HASIL DAN PEMBAHASAN<br />
Fungi patogen<br />
(Pahogenic fungi)<br />
Media<br />
(Medium)<br />
(%) 1)<br />
(mm) 1)<br />
F. oxysporum PDA 28.75 ± 4.79 5.8 ± 0.64<br />
MEA 27.33 ± 8.03 6.4 ± 0.95<br />
R. solani PDA 11.88 ± 2.39 2.4 ± 0.48<br />
MEA 9.38 ± 3.14 1.6 ± 0.48<br />
1)<br />
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 233 - 240<br />
Antagonisme antara T. harzianum dengan<br />
kedua jenis fungi patogen menimbulkan<br />
terbentuknya zona hambat, baik pada PDA<br />
maupun MEA. Lebar zona hambatan terhadap<br />
koloni F. oxysporum mencapai 5.8 mm dan 6.4<br />
mm berturut-turut pada PDA dan MEA. Zona<br />
tersebut lebih lebar dibanding yang terbentuk<br />
pada antagonisme antara fungi antagonis yang<br />
sama dengan R. solani,<br />
yaitu hanya selebar 2.4<br />
mm dan 1.6 mm berturut-turut pada PDA dan<br />
MEA(Tabel 1).<br />
Penghambatan T. pseudokoningii<br />
terhadap pertumbuhan F. oxysporum pada<br />
MEA mencapai 24.38%, sedang pada PDA<br />
sebesar 13.96%. Terhadap R. solani, T.<br />
pseudokoningii menghambat hingga 8.75%<br />
dan 9.37% berturut-turut pada PDA dan MEA<br />
(Tabel 2)<br />
Table ( Table) 1. Penghambatan pertumbuhan in vitro F. oxysporum dan R. solani oleh T. harzianum pada<br />
PDA dan MEA ( In vitro growth inhibition of F. oxysporum and R. solani by<br />
T. harzianum on PDA and MEA)<br />
Penghambatan<br />
Lebar zona hambatan<br />
( Inhibition)<br />
( Width of inhibition zone)<br />
nilai pada tiap kolom peubah : rataan ± simpangan baku ( values in each column: average ± standard deviation)<br />
Table ( Table) 2. Penghambatan pertumbuhan in vitro F. oxysporum dan R. solani oleh T. pseudokoningii<br />
pada PDA dan MEA ( In vitro growth inhibition of F. oxysporum and R. solani by<br />
T. pseudokoningii on PDA and MEA)<br />
Penghambatan<br />
Lebar zona hambatan<br />
Fungi patogen Media<br />
( Inhibition)<br />
( Width of inhibition zone)<br />
(Pahogenic fungi) (Medium)<br />
(%) 1)<br />
(mm) 1)<br />
F. oxysporum PDA 13.96 ± 5.76 1)<br />
0.0 2) ± 0.00 1)<br />
MEA 24.38 ± 3.14 5.5 ± 0.95<br />
R. solani PDA 8.75 ± 3.23 0.0 2) ± 0.48<br />
MEA 9.37 ± 2.39 1.5 ± 0.82<br />
1) nilai pada tiap kolom peubah : rataan ± simpangan baku ( values in each column: average ± standard deviation)<br />
2) pertumbuhan fungi patogen terhambat tetapi tidak terbentuk zona hambatan antar kedua koloni ( the growth of the pathogen<br />
was inhibited but inhibition zone between colonies was not formed)<br />
Pada antagonisme antara kedua jenis fungi<br />
patogen dengan T. pseudokoningii,<br />
terbentuknya<br />
zona hambatan tergantung pada media yang<br />
digunakan. Antagonisme T. pseudokoningii<br />
dengan F. oxysporum pada PDA tidak<br />
terbentuk zona hambatan, akan tetapi pada<br />
MEA terbentuk selebar 5.5 mm (Tabel 2 ).<br />
Fenomena yang sama juga ditemukan pada<br />
antagonisme T. pseudokoningii dengan<br />
R. solani,<br />
yaitu pada PDA tidak terbentuk<br />
zona hambatan akan tetapi pada MEA<br />
terbentuk selebar 1.5 mm (Tabel 2). Kemampuan<br />
antagonistik kedua jenis fungi antagonis<br />
juga ditunjang oleh pertumbuhannya yang<br />
lebih pesat dibanding fungi patogen pada PDA<br />
maupun MEA.<br />
Hasil pengamatan mikroskopik miselia<br />
pada daerah pertemuan antara kedua koloni
menunjukan bahwa hifa T. harzianum tumbuh<br />
melilit hifa R. solani.<br />
Disamping itu terjadi<br />
penetrasi oleh hifa T. harzianum dan penjepitan<br />
A B<br />
Gambar ( Figure) 1. Mikrograf daerah pertemuan koloni antagonis patogen.A: pelilitan hifa R. solani oleh<br />
hifa T. harzianum. Th: T. harzianum, Rs: R. solani, fs-Th: fialospora T. harzianum,<br />
tanda anak panah: pelilitan hifa. B: Penetrasi hifa R. solani oleh hifa T. harzianum<br />
mengakibatkan isi sel hifa R. solani kosong. Th: T. harzianum, Rs: R. solani,<br />
fs-Th:<br />
fialospora T. harzianum, tanda anak panah 1: penetrasi hifa ( Micrographs of<br />
antagonist - pathogens colony meeting area. A: hyphae coiling of R. solani by T.<br />
harzianum. Th: T. harzianum, Rs: R. solani, fs-Th: phialospora of T. harzianum,<br />
arrows mark: hyphae coiling. B: Penetration of hyphae of R. solani by T. harzianum<br />
resulted in the contents of cells of R. solani empty. Th: T. harzianum, Rs: R. solani,<br />
fs-<br />
Th: phialospora of T. harzianum , arrows mark 1: hyphae penetration)<br />
Hasil pengujian kualitatif menunjukan<br />
bahwa T. harzianum dan T. pseudokoningii<br />
menghasilkan kitinase. Hal tersebut ditunjukkan<br />
oleh berubahnya media agar kitin yang pada<br />
awalnya putih keruh menjadi transparan, karena<br />
terjadi degradasi kitin pada media oleh enzim<br />
yang dihasilkan kedua jenis fungi (Gambar 2). T.<br />
harzianum lebih intensif mendregdasi kitin pada<br />
media dibanding T. pseudokoningii,<br />
dan hal<br />
tersebut menunjukkan aktivitas kitinasenya yang<br />
lebih tinggi. Hal ini juga menunjukkan bahwa<br />
pertumbuhan T. harzianum pada agar kitin lebih<br />
cepat dibanding pertumbuhan T. pseudokoningii.<br />
Wells (1988) mengemukakan bahwa<br />
Trichoderma merupakan antagonis yang<br />
potensial. Hasil penelitian mendukung pendapat<br />
tersebut. T. harzianum maupun T. pseudokoningii<br />
mampu menghambat pertumbuhan koloni kedua<br />
jenis fungi patogen berdasarkan hasil percobaan<br />
in vitro pada PDA maupun MEA. Kemampuan<br />
tersebut menunjukkan bahwa kedua jenis fungi<br />
antagonis diharapkan dapat dimanfaatkan<br />
sebagai agensia dalam pengendalian hayati<br />
penyakit lodoh.<br />
Terdapat tiga mekanisme dalam<br />
antagonisme antar jazad renik, yaitu antibiosis,<br />
Aktivitas Antagonisme In Vitro Trichoderma harzianum dan<br />
Trichoderma pseudokoningii terhadap Patogen Lodoh Pinus merkusii<br />
Achmad, S. Hadi, S. Harran, E. Gumbira Sa'id, B. Satiawiharja, dan M. Kosim Kardin<br />
oleh hifa T. pseudokoningii terhadap hifa R.<br />
solani (Gambar 1).<br />
kompetisi, dan mikoparasitisme (Baker and<br />
Cook, 1974). Ketiga mekanisme tersebut<br />
teramati pada antagonisme yang melibatkan<br />
kedua jenis<br />
penelitian ini.<br />
Trichoderma<br />
yang diuji dalam<br />
Gambar ( Figure)<br />
2. Degradasi kitin pada media<br />
agar kitin oleh fungi antagonis. A:<br />
kontrol media agar kitin, B: biakan T.<br />
237
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 233 - 240<br />
238<br />
pseudokoningii pada 6 hari setelah<br />
tanam (hst), C: biakan T. harzianum<br />
pada 6 hst, degradasi kitin pada media<br />
mengakibatkan media menjadi<br />
transparan sehingga warna merah latar<br />
belakang obyek terlihat ( Degradation of<br />
chitin on chitin agar medium by fungal<br />
antagonists. A: chitin agar as control,<br />
B: cultured T. pseudokoningii at 6 days<br />
after planting (dap) and C: cultured T.<br />
harzianum at 6 dap on chitin agar, the<br />
degradation of chitin in the medium<br />
resulted in a transparent of the medium<br />
so that the red color of the background<br />
objects become visible)<br />
Wells (1988) mengemukakan bahwa<br />
Trichoderma merupakan antagonis yang<br />
potensial. Hasil penelitian mendukung pendapat<br />
tersebut. T. harzianum maupun T. pseudokoningii<br />
mampu menghambat pertumbuhan koloni kedua<br />
jenis fungi patogen berdasarkan hasil percobaan<br />
in vitro pada PDA maupun MEA. Kemampuan<br />
tersebut menunjukkan bahwa kedua jenis fungi<br />
antagonis diharapkan dapat dimanfaatkan<br />
sebagai agensia dalam pengendalian hayati<br />
penyakit lodoh.<br />
Terdapat tiga mekanisme dalam<br />
antagonisme antar jazad renik, yaitu antibiosis,<br />
kompetisi, dan mikoparasitisme (Baker and<br />
Cook, 1974). Ketiga mekanisme tersebut<br />
teramati pada antagonisme yang melibatkan<br />
kedua jenis Trichoderma yang diuji dalam<br />
penelitian ini.<br />
Terbentuknya zona hambatan pada media<br />
padat merupakan indikasi bekerjanya mekanisme<br />
antibiosis. Pada antagonisme pada media padat<br />
yang melibatkan T. harzianum,<br />
zona hambatan<br />
terbentuk baik pada PDA maupun MEA, akan<br />
tetapi zona hambatan pada antagonisme yang<br />
melibatkan T. pseudokoningii terbentuk hanya<br />
pada MEA, sedang pada PDA tidak. Hal tersebut<br />
disamping menunjukkan bahwa macam<br />
metabolit yang dihasilkan tiap jenis antagonis<br />
berbeda, juga menunjukkan bahwa pengaruh<br />
metabolit yang dihasilkan T. pseudokoningii pada<br />
PDAtersentralisir.<br />
Tersentralisirnya pengaruh metabolit<br />
penghambat pertumbuhan patogen pada PDA<br />
dilaporkan Achmad (1991). Dikemukakannya<br />
bahwa antagonisme in vitro fungi mikoriza<br />
Rhizopogon sp. dengan Fusarium sp. maupun<br />
Rhizoctonia sp. membentuk zona hambatan pada<br />
agar MMN, akan tetapi pada PDA zona tersebut<br />
tidak terbentuk. Fenomena yang sama juga<br />
dilaporkan oleh Darusman (1996) yang<br />
mempelajari potensi antagonistik fungi mikoriza<br />
Pisolithus tinctorius dan Scledorma columnare<br />
terhadap Fusarium sp. dan Rhizoctonia sp.<br />
Menurut Wells (1988), mekanisme<br />
antibiosis dapat melibatkan metabolit beracun<br />
(toksin) atau enzim ekstraseluler yang dihasilkan<br />
oleh fungi antagonis. Dikemukakan bahwa<br />
Trichoderma sp. menghasilkan toksin<br />
trikhordermin yang merupakan suatu senyawa<br />
sesquiterpen, dermadin yaitu asam berbasa<br />
tunggal yang aktif terhadap fungi dengan kisaran<br />
yang luas dan meliputi bakteri gram positif dan<br />
gram negatif, serta dua senyawa peptida yang<br />
bersifat antifungal sekaligus anti bakterial.<br />
Hasil uji kualitatif menunjukkan bahwa T.<br />
harzianum maupun T. pseudokoningii<br />
menghasilkan kitinase. T. harzianum lebih efektif<br />
mendregradasi kitin pada media karena media<br />
menjadi lebih transparan dibanding media T.<br />
pseudokoningii. Hal tersebut juga menunjukkan<br />
bahwa aktivitas kitinase T. harzianum lebih tinggi<br />
dibanding aktifitas kitinase T. pseudokoningii.<br />
Uji produksi kitinase tersebut dilakukan<br />
secara kualitatif, sehingga hasilnya tidak dapat<br />
menunjukkan macam kitinase yang dihasilkan<br />
kedua jenis fungi antagonis, mengingat kitinase<br />
merupakan enzim kompleks. Harman et al.<br />
(1993) mengidentifikasi enam macam enzim<br />
kitinase yang berbeda pada T. harzianum.<br />
Dikemukakan bahwa kompleksitas dan<br />
diversitas sistem enzim tersebut secara<br />
komplementer, sehingga tercapai efisiensi<br />
maksimal melawan spektrum luas fungi patogen<br />
yang mengandung kitin. Hal tersebut sejalan<br />
dengan pernyataan Lorito et al.<br />
(1993) bahwa<br />
enzim kitinolitik T. harzianum secara biologi<br />
lebih aktif dibanding enzim yang sama dari<br />
sumber lainnya, dan lebih efektif melawan fungi<br />
pada kisaran yang lebih luas. Peran kitinase pada<br />
antagonisme T. harzianum dengan R. solani<br />
dilaporkan oleh Benhamou dan Chet (1993).<br />
Dikemukakan bahwa degradasi kitin fungi<br />
patogen terjadi secara bertahap, dan hal tersebut<br />
menunjukkan dihasilkannya kitinase secara<br />
terus-menerus oleh fungi antagonis.<br />
Disorganisasi struktur dinding sel R.<br />
solani tampaknya merupakan kejadian awal yang<br />
mengakibatkan ketidakseimbangan osmotik<br />
internal, yang kemudian memicu kerusakan<br />
intraseluler seperti kebocoran membran plasma<br />
dan agregasi sitoplasma. Sivan and Chet (1989)<br />
mempelajari degradasi dinding sel fungi oleh<br />
enzim kitinolitik dari T. harzianum.<br />
Dilaporkan<br />
bahwa bila dinding sel hifa F. oxysporum
digunakan sebagai sumber karbon pada media<br />
biakan T. harzianum,<br />
maka fungi antagonis<br />
tersebut akan mengeluarkan kitinase dan 1,3-Bglukanase<br />
ke dalam media.<br />
Tertekannya pertumbuhan fungi patogen<br />
menunjukkan mekanisme kompetisi dalam<br />
antagonisme, dalam hal ini fungi antagonis lebih<br />
kompetitif dalam memanfaatkan ruang tumbuh<br />
dan nutrisi. Lebih kompetitifnya fungi antagonis<br />
ditunjang oleh pertumbuhannya yang lebih cepat<br />
dibanding fungi patogen pada media yang sama.<br />
Keberadaan Trichoderma yang melimpah pada<br />
tanah-tanah pertanian di seluruh dunia<br />
merupakan bukti terbaik bahwa fungi tersebut<br />
merupakan kompetitor yang sangat baik untuk<br />
tumbuh dan nutrisi ( Wells,1988).<br />
Mekanisme mikoparasitisme ditunjukkan<br />
oleh hasil pengamatan mikroskopik pada daerah<br />
pertemuan miselia T. harzianum dan R. solani<br />
yang antara lain memperlihatkan pelilitan dan<br />
penetrasi hifa R. solani oleh hifa T. harzianum.<br />
Benhamou dan Chet (1993) mengemukakan<br />
bahwa pada proses mikoparasitisme T.<br />
harzianum terhadap R. solani, pelilitan hifa T.<br />
harzianum di sekeliling hifa R. solani merupakan<br />
fenomena yang mengawali rusaknya hifa<br />
patogen.<br />
Elad et al.<br />
(1983) mempelajari<br />
mikoparasitisme T. harzianum dan T. hamatum<br />
terhadap R. solani dan Sclerotium rolfsii.<br />
Dikemukakan bahwa hifa T. harzianum<br />
memasuki R. solani melalui lubang yang<br />
dibuatnya pada hifa inang. Lisis parsial terjadi<br />
pada bagian hifa inang yang dililit oleh hifa<br />
antagonis. Dikemukakan pula bahwa dalam<br />
antagonisme tersebut terdapat indikasi T.<br />
harzianum mensekresikan B-1,3-glukanase.<br />
Fenomena molekuler yang dikemukakan adalah<br />
terjadinya pengendapan bahan-bahan fibril<br />
ektraseluler antara hifa yang saling beinteraksi,<br />
terakumulasinya organel-organel parasit pada<br />
sel-sel yang tengah memarasit, dan terbentuknya<br />
matriks selubung yang membungkus hifa yang<br />
tengah mempenetrasi.<br />
Dari kedua jenis fungi antagonis yang<br />
diuji, T. harzianum memiliki potensi antagonistik<br />
lebih kuat dibanding T. pseudokoningii.<br />
Hal<br />
tersebut karena T. harzianum menghambat<br />
pertumbuhan fungi patogen dengan persentase<br />
penghambatan lebih tinggi, mengakibatkan<br />
terbentuknya zona hambatan lebih besar, dan<br />
menghasilkan kitinase yang lebih efektif<br />
mendegradsi kitin dibanding T. pseudokoningii<br />
untuk sifat-sifat yang sama.<br />
Aktivitas Antagonisme In Vitro Trichoderma harzianum dan<br />
Trichoderma pseudokoningii terhadap Patogen Lodoh Pinus merkusii<br />
Achmad, S. Hadi, S. Harran, E. Gumbira Sa'id, B. Satiawiharja, dan M. Kosim Kardin<br />
IV. KESIMPULAN<br />
1. Fungi antagonis T. harzianum dan T.<br />
pseudokoningii secara in vitro mampu<br />
menghambat pertumbuhan kedua jenis fungi<br />
patogen lodoh R. solani dan F. oxysporum.<br />
T. harzianum lebih kuat menghambat<br />
pertumbuhan kedua jenis patogen dibanding<br />
T. pseudokoningii.<br />
2. Mekanisme antagonistik yang berperan<br />
adalah mikoparasitisme yang ditunjukkan<br />
oleh pelilitan hifa R. solani oleh T. harzianum<br />
dan penjepitan hifa R. solani oleh T.<br />
pseudokoningii, serta penetrasi hifa R. solani<br />
oleh hifa T. harzianum,<br />
dan antibiosis yang<br />
diduga melibatkan aktivitas kitinase kedua<br />
jenis fungi antagonis.<br />
3. Kedua jenis fungi antagonis menghasilkan<br />
kitinase, dan T. harzianum lebih intensif<br />
mendegradasi kitin pada medium dibanding T.<br />
pseudokoningii.<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
Achmad. 1991. Kemampuan Rhizopogon sp.<br />
untuk Perlindungan Hayati terhadap<br />
Penyebab Penyakit Lodoh pada Pinus<br />
merkusii. Tesis Magister Sains. Program<br />
Pascasarjana IPB, Bogor. 68 hlm.<br />
Atlas, R.M. 1993. Handbook of Microbiological<br />
Media.<br />
CRC Press, Boca Raton, Ann<br />
Arbor, London, Tokyo. 1079 p.<br />
Baker, K.F. and R.J. Cook. 1974. Biological<br />
Control of Plant Pathogens.<br />
W.H.<br />
Freeman and Co., San Fransisco. 433 p.<br />
Benhamau, N. and I. Chet. 1993. Hyphal<br />
interactions betwen Trichoderma<br />
harzianum and Rhizoctonia solani :<br />
parasitic process. Phytopathology<br />
83:1062-1071.<br />
Bruehl, G.W. 1987. Soil Borne Plant Pathogens.<br />
MacMillan Publ. Co., NewYork. 368 p.<br />
Darusman, L.K. 1996. Telaah Biokimiawi<br />
Proses Asosiasi Shorea selanica dan<br />
Scleroderma columnare : Suatu<br />
Pendekatan Biosintesis. Disertasi Doktor.<br />
Program Pasca Sarjana IPB, Bogor. 173<br />
hlm.<br />
Elad, Y., I. Chet, P. Boyle, and Y. Henis. 1983.<br />
Parasitism of Trichoderma spp. on<br />
Rhizoctonia solani and Sclerotium rolfsii :<br />
239
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 233 - 240<br />
scanning electron microscopy and<br />
flourescence microscopy. Phytopathology<br />
73 : 85-88<br />
Flentje, N.T. 1965. Pathogenesis by Soil Fungi,<br />
p. 255-268. In K.N. Baker and W.C.<br />
240<br />
Snyder ( Eds. ) Ecology of Soil Borne Plant<br />
Pathogens. Prelude to Biological Control.<br />
University California Press, Berkeley, Los<br />
Angeles.<br />
Fravel, D.R. 1988. Role of antibiosis in the<br />
biocontrol of diseases. Ann. Rev.<br />
Phytopathol. 26:75-81.<br />
Harman, G.E., C.K. Hayes, M. Lorito, R.M.<br />
Broadway, A. Di Pietro, C. Petrebauer and<br />
A. Tronsmo. 1993. Chitinolytic enzymes<br />
of Trichoderma harzianum : purification<br />
of chitobiosidase and endochitinase.<br />
Phytopathology 83: 313-318.<br />
Lockwood, J.L. 1988. Evolution of concepts<br />
associated with soilborne plant pathogens.<br />
Ann. Rev. Phytopathol. 26:93-121.<br />
Lorito, M., G.E. Harman, C.K. Hayes, R.M.<br />
Broadway, A. Tronsmo, S.L. Woo and A.<br />
Di Pietro. 1993. Chitinolytic enzymes<br />
produced by Trichoderma harzianum :<br />
antifungal activity of purified<br />
endochitinase and chitobiosidase.<br />
Phytopathology 83 : 303-307.<br />
Manan, S. 1976. Silvikultur. Proyek<br />
Pengembangan Peningkatan Perguruan<br />
Tinggi IPB, Bogor. 188 hlm.<br />
Marx, D.H. 1969. The influence of ectotrophic<br />
mycorrhizal fungi on the resistance of pine<br />
root to pathogenic infections I.<br />
Antagonism of mycorrhizal fungi to root<br />
pathogenic fungi and soil bacteria.<br />
Phytopathology 59: 153-163.<br />
Marx, D.H. 1973. Mycorrhizae and feeder root<br />
diseases, p. 350-381. In G.C. Marks and<br />
T.T. Kozlowski ( Eds. ) Ectomycorrhizae:<br />
their Ecology and Physiology. Academic<br />
Press, NewYork and London.<br />
Rifai, M.A. 1969. A revision of the genus<br />
Trichoderma.<br />
Mycological Paper no. 16.<br />
Commonwealth Mycological Institute,<br />
Kew Surrey, England.<br />
Siven, A. and I. Chet. 1989. Degradation of<br />
fungal cell by lytic enzymes of<br />
Trichoderma harzianum.<br />
J. General<br />
Microbiol. 135 : 675-682.<br />
Skidmore, A.M. 1976. Interactions in relation to<br />
biological control of plant pathogens, p.<br />
507-528. In C.H. Dickinson and T.F<br />
Preece ( Eds. ) Microbiology ofAerial Plant<br />
Surfaces..Academic Press, London.<br />
Steel, R.G.D. and J.H. Torrie. 1980. Principles<br />
and Procedures of Statistics.<br />
A<br />
Biomentrical Approach. McGraw-Hill<br />
Inc., Tokyo. 633 p.<br />
Suharti, M., T. Hardi, dan R.S.B. Rianto. 1991.<br />
Mengenal beberapa hama, penyakit<br />
penting pada hutan tanaman industri.<br />
Makalah di sampaikan pada Seminar<br />
Nasional Peningkatan Produktivitas HTI<br />
Melalui Upaya Pengendalian Hama dan<br />
Penyakit secara Terpadu. Fahutan IPB -<br />
Dephut - RI, Bogor, 31 Juli 1991.<br />
Sudjud, D.A. 1983. Tinjauan antagonisme antara<br />
Trichoderma sp. dengan Pythium sp.,<br />
Rhizoctonia sp., dan Fusarium sp. dalam<br />
rangka usaha pengendalian/penekanan<br />
secara biologis terhadap kerugian akibat<br />
dumping-off.<br />
Lembaga Penelitian <strong>Hutan</strong>.<br />
Bogor.<br />
Tang, J., J.S. Zhou, K.X. Wang, and W.L. Kiu.<br />
1988. Effects of ectomycorrizal fungi on<br />
dumping-off of pines. Forest Pest and<br />
Disease (4) : 20-21.<br />
Wells, H.D. 1988. Trichoderma as a biocontrol<br />
agent, p. 71-82. In K.G. Mukerji and K.L.<br />
Kang ( Eds. ) Biocontrol of Plant Diseases,<br />
vol. I. CRC Press Inc., Boca Raton -<br />
Florida.
PEMANFAATAN TEGAKAN Acacia auriculiformis SEBAGAI POHON PENAUNG<br />
DAN INANG TANAMAN CENDANA ( Santalum Album Linn)<br />
The Use of Acacia auriculiformis Stand as Shading Trees and Host Plant of Sandalwood<br />
I Komang Surata<br />
Balai Penelitian Kehutanan Kupang<br />
Jl. Untung Suropati No. 7 Po. Box. 67 Kupang 85115<br />
Telp. (0380) 823357 Fax. (0380)831068<br />
Email : irat_2006@yahoo.com Hp.08124604124<br />
Naskah masuk : 12 Desember 2009 ; Naskah diterima : 15 November 2010<br />
ABSTRACT<br />
Acacia (Acacia auriculiformis) stand is one of alternatives that can be used as shading trees and host<br />
plant of sandalwood. The utilization of acacia as shading trees and host plant that is too dense and long<br />
periode will decrease the growth of sandalwood plant because competition will arise. Therefore, canopy<br />
dense is need to reduce which one of the alternatives the use of pruning method. The objective of this<br />
research was to observe the effects of reducing canopy covering of acacia as shading trees and host plant<br />
with pruning method on sandalwood plant growth. Sandalwood was planted under 5 years old. Acacia<br />
tree resulted from reforestration with stand density 6 x 6 m and with the canopy that began to close.<br />
The eksperiment was conducted in Randomized Block Design method with the treatment is pruning<br />
intensity of acacia stand earleaf i.e. 0 %, 25 %, 50 %, 75 %, 100 % per tree that was done on 2 years old<br />
and continuing every years until 8 years old. Experiment was done in 3 blocks and each blocks consisted<br />
of 25 replications. The result of this experiment proved that the pruning on 8 years old of shading tree<br />
or host plant had significant effects to increase the height, diameter, and survival percentage of<br />
sandalwood plant namely 44 %, 40 %, and 104 % respectively. The maximum survival percentages of<br />
sandalwood at 5 years old was done 75 % and 8 years old 91 %. The pruning could increase 14 % of air<br />
temperature and 53 % of light radiation. The light intensity was significant to increase survival<br />
percentages of sandalwood plants.<br />
Keywords: Shading trees, host plant, sandalwood, branch pruning,Acacia auriculiformis stand<br />
ABSTRAK<br />
Tegakan acasia ( Acacia auriculiformis) adalah salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai<br />
pohon penaung dan inang cendana. Penggunaan acasia sebagai pohon penaung atau inang yang terlalu<br />
rapat dan dalam waktu yang lama akan menurunkan pertumbuhan tanaman cendana karena persaingan<br />
akan semakin meningkat, oleh sebab itu pada kerapatan penaung dan umur tertentu perlu dilakukan<br />
pengurangan penutupan tajuk salah satunya dengan cara pemangkasan cabang. Tujuan penelitian ini<br />
adalah untuk mengetahui pengaruh pengurangan penutupan tajuk A. auriciliformis sebagai pohon<br />
penaung dan inang dengan cara pemangkasan cabang terhadap pertumbuhan tanaman cendana.<br />
Penanaman cendana dilakukan di bawah tegakan A. auriculiformis hasil dari tanaman reboisasi yang<br />
telah berumur 5 tahun dengan kerapatan tegakan 6x6mdantajuknya mulai menutup. Penelitian disusun<br />
dalam Rancangan Acak Berblok dengan perlakuan pemangksan cabang tegakan A. auriculiformis :<br />
0 %, 25 %, 50 %, 75 %, 100 % per pohon yang dilakukan pada umur 2 tahun setelah tanam dan selanjutnya<br />
setiap tahun dilakukan pemangkasan terubusan cabang sampai umur 8 tahun. Perlakuan terdiri dari 3 blok<br />
dan setiap blok terdiri dari 25 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur 8 tahun<br />
pemangkasan cabang pohon penaung atau inang nyata meningkatkan tinggi, diameter, dan persen hidup<br />
tanaman cendana masing-masing 45 %, 48 %, dan 107 %. Persen hidup tanaman cendana paling baik<br />
dihasilkan pada perlakuan pemangkasan cabang umur 3 tahun sebanyak 76 % dan umur 8 tahun 91 %.<br />
Pemangkasan cabang dapat meningkatkan temperatur udara 14 % dan intensitas cahaya matahari 53 %.<br />
Intensitas cahaya matahari nyata meningkatkan persen hidup tanaman cendana.<br />
Kata kunci : Pohon penaung, tanaman inang, cendana, pemangksan cabang, tegakan<br />
auriculiformis<br />
Acacia<br />
241
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 241 - 251<br />
242<br />
I. PENDAHULUAN<br />
A. Latar Belakang<br />
Upaya pemulihan potensi cendana<br />
( Santalum album Linn) melalui kegiatan<br />
penanaman di Provinsi Nusa Tenggara Timur<br />
(NTT) telah dilakukan sejak tahun 1970-an,<br />
namun sampai saat ini tingkat keberhasilannya<br />
masih rendah rata-rata 20 % (Surata dan Fox,<br />
2000). Rendahnya tingkat keberhasilan<br />
penanaman cendana di daerah semiarid<br />
disebabkan belum diterapkannya teknologi<br />
budidaya secara tepat dan penanaman cendana<br />
masih disamakan dengan jenis tanaman lain.<br />
Secara khusus tanaman cendana pada awal<br />
penanaman di lapangan memerlukan penaung<br />
untuk menjaga agar tanaman tidak mengalami<br />
stres dan cepat beradaptasi dengan kondisi<br />
lingkungannya. Disamping itu tanaman cendana<br />
juga memerlukan inang untuk membantu<br />
mensuplai sebagian unsur hara dan air dari dalam<br />
tanah.<br />
Selama hidupnya tanaman cendana<br />
memerlukan tanaman inang mulai dari tingkat<br />
persemaian (inang primer) dan lapangan (inang<br />
sekunder). Inang ini berfungsi untuk membantu<br />
menyerap sebagian unsur hara melalui haustoria.<br />
Haustoria berfungsi dengan baik apabila akar<br />
tanaman inang telah menempel pada akar<br />
cendana (Hamzah, 1976). Menurut Iyenger<br />
(1965) dalam Barrett (1989), hanya unsur N, P<br />
dan asam amino yang diambil dari tanaman<br />
inang, sedangkan unsur Ca dan K diambil dari<br />
akar cendana. <strong>Tanaman</strong> inang nyata<br />
meningkatkan pertumbuhan tinggi, diameter,<br />
bobot kering, dan persen hidup tanaman cendana<br />
(Surata, 1993).<br />
<strong>Tanaman</strong> inang juga dapat berfungsi<br />
sebagai pohon penaung, oleh sebab itu<br />
disarankan tanaman inang sekunder ditanam<br />
lebih awal dari tanaman cendana atau dengan<br />
cara menanam jenis tanaman inang yang cepat<br />
tumbuh (Surata dan Idris, 2001). Cendana<br />
tumbuh lebih baik apabila ditanam di antara<br />
cemara ( Casuarina junghuniana)<br />
atau di dalam<br />
hutan dibandingkan dengan tempat terbuka<br />
(Hutchins, 1984 dalam Barrett, 1989). Untuk<br />
pertimbangan ekonomis tanaman inang dan<br />
penaung cendana di lapangan dapat<br />
menggunakan semaksemak atau tegakan<br />
tanaman yang sudah ada, yang umurnya masih<br />
muda dan tajuknya belum menutup terlalu rapat,<br />
salah satunya adalah dengan memanfaatkan<br />
tegakan Acacia auriculiformis.<br />
Beberapa jenis<br />
acacia seperti Acacia tracicarpa dan Acacia<br />
ampliceps termasuk jenis pohon cepat tumbuh di<br />
daerah beriklim kering yang dilaporkan dapat<br />
berfungsi dengan baik sebagai tanaman inang<br />
sekunder dan juga dapat dipakai sebagai penaung<br />
awal tanaman cendana (Radomiljac et al. , 1999).<br />
Teknik pemanfaatan tanaman inang<br />
sebagai penaung pada pembuatan hutan tanaman<br />
cendana adalah salah satu teknik yang dapat<br />
diterapankan untuk meningkatkan serapan unsur<br />
hara dan juga untuk mengurangi kerusakan bibit<br />
cendana akibat sengatan panas cahaya matahari<br />
yang ekstrim tinggi dan juga kekeringan di<br />
musim kemarau pada awal penanaman di<br />
lapangan (Surata dan Idris, 2001). Menurut<br />
Hutchine (1984) tanaman cendana yang masih<br />
muda menyukai naungan sedangkan inang<br />
sekunder yang baru ditanam di lapangan belum<br />
berfungsi dengan baik sebagai penaung dan<br />
inang. Oleh karena itu untuk sementara di<br />
lapangan dapat memanfaatkan semak atau pohon<br />
yang sudah ada dengan cara memanipulasi tajuk<br />
pohon penaung. Menurut Anthony, Fox, dan<br />
Barrett (1993) penaungan tanaman cendana<br />
dengan sarlon sampai umur 1 tahun dengan<br />
intensitas penyinaran kurang dari 50 % dapat<br />
meningkatkan persen tumbuh tanaman dan<br />
setelah umur 1 tahun persen tumbuhnya<br />
menurun. Raghavan (1948) dalam Barrett (1989)<br />
juga menyatakan bahwa tanaman cendana pada<br />
awal penanaman sangat peka terhadap<br />
kekeringan dan akan segera mati oleh penyinaran<br />
matahari langsung yang panjang. Oleh karena itu<br />
sampai umur 3-5 tahun diperlukan naungan yang<br />
berupa naungan samping dan setelah itu perlu<br />
dilakukan pengurangan penaung secara<br />
bertahap.<br />
Pemanfaatan Acacia auriculiformis untuk<br />
penaung awal dan inang tanaman cendana<br />
apabila tajuknya terlalu rapat akan menekan<br />
pertumbuhan tanaman pokok karena terjadi<br />
persaingan cahaya, air, dan unsur hara. Oleh<br />
karena itu tingkat persaingannya perlu dikurangi,<br />
salah satunya melalui pemangkasan cabang atau<br />
penjarangan pohon penaung atau inang (Surata<br />
dan Idris, 2001). Mayhead dan Boothman (1997)<br />
melaporkan bahwa penggunaan pohon penaung<br />
yang terlalu rapat pada jenis tanaman Quercus<br />
petraea menyebabkan pertumbuhan tanaman<br />
berkurang. Radomiljac (1994), Surata dan Idris<br />
(2001) juga melaporkan bahwa penggunaan<br />
Cassia siamea dan Acacia auriculiformis yang<br />
terlalu rapat sebagai pohon penaung atau inang<br />
akan meningkatkan kematian tanaman cendana.<br />
Oleh karena itu intensitas pembukaan tajuk<br />
pohon penaung atau inang perlu diatur
sedemikian rupa sehingga terjadi keseimbangan<br />
kebutuhan cahaya, suhu, kelembaban udara, dan<br />
ketersedian air tanah yang optimal untuk<br />
pertumbuhan tanaman cendana.<br />
B. Tujuan Penelitian<br />
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas<br />
maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk<br />
mengatahui pengaruh pengurangan penutupan<br />
tajuk pohon penaung dan inang Acacia<br />
auriculiformis dengan cara pemangkasan cabang<br />
terhadap pertumbuhan tanaman cendana.<br />
II. BAHAN DAN METODE<br />
A. Tempat dan Waktu Penelitian<br />
Penelitian dilaksanakan di Oilsonbai,<br />
Stasiun Penelitian Balai Penelitian Kehutanan<br />
Kupang, pulau Timor, Provinsi NTT, pada<br />
bulan Januari 1994 - Januari 2004. Lokasi<br />
penelitian berada pada ketinggian 300 m dari<br />
permukaan laut, curah hujan rata-rata 1530<br />
mm/tahun dengan tipe iklim D (Schmidt dan<br />
Ferguson,1951), dan jenis tanah Grumusol yang<br />
tersusun dari bahan induk endapan batu kapur<br />
(<strong>Pusat</strong> Penelitian Tanah danAgroklimat, 1993).<br />
B. Bahan Penelitian<br />
Dalam penelitian ini digunakan bahanbahan<br />
sebagai berikut: biji cendana, inang<br />
primer Alternantera sp., polybag ukuran 15 x<br />
20 cm, media semai tanah ( top soil)<br />
dan pasir.<br />
Persemaian konvensional yang digunakan<br />
memakai atap plastik gelombang. Pohon<br />
penaung atau inang di lapangan menggunakan<br />
tegakan Acacia auriculiformis yang telah<br />
berumur 5 tahun, jarak tanam 6x6m,tajuknya<br />
belum saling menutup dengan lebar tajuk 2,7 m,<br />
tinggi rata-rata 5,2 m dan diameter 11,2 cm.<br />
Untuk mengamati data digunakan alat ukur roll<br />
meter, phi band, kaliper, lux meter,<br />
termometer<br />
udara, dan higrometer.<br />
C. Metode Penelitian<br />
1. Pelaksanaan Teknis Penelitian<br />
Tahap pertama dari kegiatan penelitian<br />
adalah penyiapan bibit cendana di persemaian<br />
dengan menggunakan kantung plastik ukuran 15<br />
x 20 cm yang diisi dengan media tanam berupa<br />
campuran tanah ( top soil)<br />
: pasir dengan<br />
perbandingan 4 : 1. Penyemaian cendana<br />
dilakukan dengan penanaman biji secara<br />
langsung di polybag yang terlebih dahulu<br />
Pemanfaatan Tegakan Acacia auriculiformis sebagai Pohon<br />
Penaung dan Inang <strong>Tanaman</strong> Cendana ( Santalum album Linn)<br />
I Komang Surata<br />
direndam di dalam air biasa selama 24 jam dan<br />
ditanam di dalam kantung plastik tiga<br />
biji/kantung dengan kedalaman 0,5 cm yang<br />
disertai dengan penanaman inang sekunder<br />
Alternantera sp. Inang sekunder ditanam dalam<br />
satu polybag yang sama dengan biji cendana yang<br />
ditanam dalam bentuk stek pucuk (panjang stek<br />
3 cm). Setelah umur satu bulan anakan cendana<br />
yang tumbuh disisakan satu pohon. Tajuk<br />
tanaman inang yang menaungi anakan cendana<br />
dipangkas secara kontinu. Bibit siap ditanam di<br />
lapangan pada umur 8 bulan.<br />
Setelah dilakukan seleksi, maka pada awal<br />
musim penghujan bibit cendana ditanam diselasela<br />
baris tanaman tegakan Acacia auriculiformis<br />
dengan jarak tanam 3 x 3 m. Tegakan A.<br />
auriculiformis sebagai penaung bibit cendana<br />
telah berumur lima (5) tahun dengan jarak<br />
tanam 6x6m,rata tinggi pohon 5,2 m, diameter<br />
9,43 cm dan lebar tajuk 2,7m<br />
2. Rancangan Penelitian<br />
Penelitian menggunakan Rancangan Acak<br />
Berblok dengan perlakuan intensitas tajuk<br />
penaung dengan cara pemangkasan cabang<br />
Acacia auriculiformis pada umur 2 tahun setelah<br />
tanam cendana. Adapun perlakuan yang<br />
dicobakan antara lain intensitas pemangkasan<br />
jumlah cabang :<br />
1. P0 = Kontrol (pemangkasan cabang 0 %)<br />
2. P1 = Pemangkasan cabang 25 %<br />
3. P2 = Pemangkasan cabang 50 %<br />
4. P3 = Pemangkasan cabang 75 %<br />
5. P4 = Pemangkasan cabang 100 %<br />
(pemangkasan cabang yang hanya<br />
meninggalkan pucuk pohon saja)<br />
Terubusan cabang pohon penaung atau<br />
inang yang tumbuh dipangkas secara kontinu<br />
setiap tahun sampai umur 8 tahun. Perlakuan<br />
terdiri dari tiga blok, setiap blok terdiri dari 25<br />
tanaman cendana. Untuk mengetahui pengaruh<br />
perlakuan maka dilakukan pengamatan tinggi,<br />
diameter, dan persen hidup cendana. Disamping<br />
pengamatan data pertumbuhan tanaman sebagai<br />
data penunjang diamati iklim mikro: suhu udara,<br />
intensitas penyinaran matahari, dan kelembaban<br />
udara. Pengukurannya dilakukan sebanyak 3 kali<br />
yaitu pada saat langit cerah pada jam 12 siang.<br />
Pengamatan iklim mikro dilakukan setinggi<br />
dada (1,3 m) di dekat tajuk pohon cendana<br />
yang dilakukan pada bulan Agustus pada umur<br />
8 tahun setelah tanam. Data hasil pengamatan<br />
diolah secara statistik dengan menggunakan<br />
SPSS ( Statistical Product and Service Solutions)<br />
(Santoso, 2000) yaitu untuk menghitung<br />
243
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 241 - 251<br />
ANOVA, regresi, dan korelasi. Pengaruh<br />
perlakuan yang nyata diuji lebih lanjut dengan<br />
LSD ( Least Significant Diference)<br />
yaitu untuk<br />
mengetahui<br />
perlakuan.<br />
perbedaan antara komponen<br />
A. Hasil<br />
Hasil analisis sidik ragam pertumbuhan<br />
tinggi, diameter, dan persen hidup tanaman<br />
cendana pada umur 8 tahun setelah tanam<br />
244<br />
III. HASIL DAN PEMBAHASAN<br />
disajikan pada Tabel Lampiran 1. Hasil analisis<br />
sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan<br />
pemangkasan cabang pohon penaung atau inang<br />
Acacia auriculiformis<br />
nyata meningkatkan<br />
pertumbuhan tinggi, diameter, dan persen hidup<br />
tanaman cendana.<br />
Selanjutnya berdasarkan hasil uji lanjutan<br />
LSD 0,05 menunjukkan bahwa perlakuan<br />
pemangkasan cabang pohon penaung atau inang<br />
sebesar 25 %, 50 %, 75 %, dan 100 % nyata<br />
meningkatkan pertumbuhan tinggi dan persen<br />
hidup, serta perlakuan 50 %, 75 %, dan 100 %<br />
nyata meningkatkan pertumbuhan diameter<br />
tanaman cendana.<br />
Tabel ( Table)<br />
1. Rata-rata tinggi, diameter, dan persen hidup pertumbuhan tanaman cendana. pada umur<br />
8 tahun ( Average of height, diameter, and survival on sandalwood plantations at 8<br />
years old)<br />
Nomor<br />
(Number)<br />
Pemangkasan cabang<br />
(Branch pruning)<br />
(%))<br />
Tinggi<br />
(Height)<br />
(cm)<br />
Diameter<br />
(Diameter)<br />
(cm)<br />
Persen hidup<br />
(Survival)<br />
(%)<br />
1 0 274,223 a 2,4479 a 28,67 a<br />
2 25 317,415 b 2,6334 ac 46,12 b<br />
3 50 383,775 bc 2,9704 bc 52,23 b<br />
4 75 391,390 c 3,2817 b 60,60 cd<br />
5 100 346,634 b 3,2980 b 60,07 cd<br />
Keterangan ( Remark):<br />
Angka-angka rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata<br />
menurut LSD 0,05 ( Mean value with the same letter and same column do not different significantly on<br />
LSD 0,05 )<br />
Selanjutnya untuk menentukan perlakuan<br />
pemangkasan cabang yang terbaik yang dapat<br />
meningkatkan pertumbuhan tinggi, diameter, dan<br />
persen hidup tanaman cendana dilakukan uji<br />
analisis regresi dan korelasi. Hasil analisis regresi<br />
dan korelasi menunjukkan bahwa persamaan<br />
regresi tinggi Y = 265,4079 + 3,5568 X - 0,0268<br />
2<br />
X , dengan nilai korelasi yang sangat kuat<br />
2<br />
(R =0,9631) dan tinggi maksimum 383,42 cm<br />
yang dicapai pada perlakuan pemangkasan<br />
cabang 66,35 %. Persamaan regresi diameter<br />
2<br />
adalah Y = 2,940 + 0,006764 X - 0,000037 X<br />
2<br />
dengan nilai korelasi sangat kuat (R =0,9922)<br />
dan diameter maksimum sebesar 3,28 cm yang<br />
dicapai pada perlakuan pemangkasan cabang 100<br />
%. Sedangkan persamaan regresi persen hidup Y<br />
2<br />
= 29,4020 + 0,6764 X - 0,0037 X nilai korelasi<br />
2<br />
sangat kuat (R =0,9938), dengan persen hidup<br />
maksimum cendana 60 % yang dicapai pada<br />
perlakuan pemangksan cabang pohon penaung<br />
91 %.<br />
Berdasarkan hasil ini maka dapat<br />
,<br />
disimpulkan bahwa, pemangkasan cabang pohon<br />
penaung atau inang meningkatkan tinggi,<br />
diameter, dan persen hidup maksimum tanaman<br />
cendana pada umur 8 tahun masing-masing<br />
sebesar 45 %, 48 %, dan 107 % dibandingkan<br />
tanpa pemangkasan cabang (kontrol).<br />
Tinggi (He ight) (cm)<br />
500<br />
400<br />
300<br />
200<br />
100<br />
0<br />
Y=265,4079 +3,5568 X-0,0268 X 2<br />
(R 2 = 0,9631)<br />
1 10 19 28 37 46 55 64 73 82 91 100<br />
Pemangkasan cabang (Branch pruning) (%)<br />
Gambar ( Figure) 1. Pengaruh pemangkasan<br />
cabang terhadap persen hidup tanaman<br />
cendana pada umur 8 tahun ( Effects of<br />
branch pruning on sandalwood<br />
plantation survival at 8 years old)
Diameter ( Diameter)<br />
(cm)<br />
3.3<br />
3.2<br />
3.1<br />
3<br />
2.9<br />
2.8<br />
2.7<br />
Y=2,940+0,006764X-0,000037X 2<br />
(R 2 = 0,9922)<br />
1 10 19 28 37 46 55 64 73 82 91 100<br />
Pemangkasan cabang (Branch pruning) (%)<br />
Gambar ( Figure) 2. Pengaruh pemangkasan<br />
cabang terhadap tinggi tanaman cendana<br />
pada umur 8 tahun ( Effects of branch<br />
pruning on sandalwood plantation<br />
height at 8 years old)<br />
Hidup ( Survival)<br />
(%)<br />
70<br />
60<br />
50<br />
40<br />
30<br />
20<br />
10<br />
0<br />
Y=28,4020+0,6764X-0,0037X 2<br />
(R 2 = 0,9938)<br />
1 10 19 28 37 46 55 64 73 82 91 100<br />
Pemangkasan cabang (Branch pruning) (%)<br />
Gambar ( Figure) 3. Pengaruh pemangkasan<br />
cabang terhadap persen hidup tanaman<br />
cendana pada umur 8 tahun ( Effects of<br />
branch pruning on sandalwood<br />
plantation diameter at 8 years old)<br />
Hubungan antara persen hidup, tinggi dan<br />
diameter tanaman cendana dengan perlakuan<br />
pemangkasan cabang pohon penaung atau inang<br />
disajikan pada Gambar 1, 2, dan 3. Pada gambar<br />
tersebut terlihat bahwa pertumbuhan tinggi,<br />
diameter dan persen hidup tanaman cendana<br />
meningkat pada perlakuan intensitas<br />
pemangkasan cabang yang semakin besar sampai<br />
tingkat maksimum, dan setelah itu akan menurun<br />
pada perlakuan pemangkasan cabang yang<br />
semakin tinggi.<br />
Hasil rata-rata persen hidup tanaman<br />
cendana pada umur 1-8 tahun disajikan pada<br />
Tabel 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa<br />
pada umur 1-2 tahun sebelum dilakukan<br />
perlakuan pemangkasan cabang pohon penaung<br />
atau inang, persen hidup tanaman sampai umur 2<br />
tahun masih cukup baik yaitu berkisar 75,33 %.<br />
Hasil analisis Uji LSD 0,05 pada umur 3-5 tahun<br />
setelah dilakukan pemangkasan cabang<br />
menunjukkan bahwa perlakuan pemangkasan<br />
cabang 50 % menghasilkan persen hidup nyata<br />
lebih baik, dengan kisaran persen hidup pada<br />
umur 5 tahun 52,49-62,21 %, serta pada umur 6-8<br />
tahun pemangkasan cabang 75 %<br />
menghasilkan persen hidup nyata lebih baik<br />
dengan kisaran persen hidup pada umur 8 tahun<br />
46,12- 60,60 %. Berdasarkan hasil perlakuan<br />
intensitas pemangkasan cabang ini dapat<br />
disimpulkan bahwa peningkatan pertumbuhan<br />
tanaman cendana nyata lebih baik apabila<br />
dilakukan pemangkasan cabang 50 % pada<br />
umur 3 5, dan pemangkasan cabang 75 % pada<br />
umur 6 - 8 tahun. Untuk mengetahui intensitas<br />
pemangkasan cabang yang dapat menghasilkan<br />
persen hidup maksimum pada berbagai tingkat<br />
umur tersebut di atas maka dilakukan uji regresi<br />
dan korelasi.<br />
Tabel ( Table) 2. Rata-rata persen hidup tanaman cendana pada umur 1 - 8 tahun setelah tanam ( Mean<br />
survival growth on sandalwood plantation at 1 - 8 years old after planting)<br />
Perlakuan<br />
(Treatment)<br />
1 tahun<br />
(year)<br />
2 tahun<br />
(year)<br />
Persen hidup ( Survival) (%)<br />
3 tahun 4 tahun 5 tahun<br />
(year) (year) (year)<br />
6 tahun<br />
(year)<br />
7 tahun<br />
(year)<br />
8 tahun<br />
(year)<br />
0 82,45 a 75,33 a 49,76 a 48,33 a 37,22 a 31,29 a 30,66 a 28,67 a<br />
25 79,12 a 78,31 a 70,75 b 57,98 a 52,49 b 50,33 b 49,67 b 46,12 b<br />
50 78,93 a 73,86 a 70,24 b 76,78 b 59,60 bd 53,92 b 54,66 b 52,23 b<br />
75 85,66 a 79,12 a 76,82 b 72,31 b 66,67 cd 63,47 cd 62,79 cd 60,60 cd<br />
100 84,12 a 77,23 a 75,85 b 71,67 b 62,21 cd 61,93 cd 61,14 cd 60.07 cd<br />
Rata-rata<br />
82,06 76,77 68,68 65,41 55,64 52,21 51,78 49,54<br />
(Mean)<br />
Keterangan ( Remark):<br />
Angka-angka rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada<br />
LSD 0,05 ( Mean value with the same letter and same column do not different significantly on LSD 0,05)<br />
Hasil analisis uji regresi dan korelasi<br />
hubungan antara persen hidup dan perlakuan<br />
pemangkasan cabang pada berbagai umur<br />
Pemanfaatan Tegakan Acacia auriculiformis sebagai Pohon<br />
Penaung dan Inang <strong>Tanaman</strong> Cendana ( Santalum album Linn)<br />
I Komang Surata<br />
disajikan pada Tabel 3. Berdasarkan hasil analisis<br />
regresi dan korelasi menunjukkan bahwa : pada<br />
umur 3 tahun persamaan regresi yang dihasilkan<br />
245
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 241 - 251<br />
2<br />
Y = 43,544 + 0,9242 X - 0,0062 X , nilai korelasi<br />
2<br />
(R =0,9552) dan persen hidup maksimum<br />
cendana 78 % yang dicapai pada perlakuan<br />
pemangkasan cabang 76 %, dan pada umur 6 tahun<br />
persamaan regresi yang dihasilkan Y = 37,1631 +<br />
2 2<br />
0,7080 X - 0,0045 X , nilai korelasi (R =0,9737)<br />
dengan persen hidup maksimum 65 % pada<br />
perlakuan pemangksan cabang pohon penaung 79<br />
%, serta pada umur 8 tahun persamaan regresi yang<br />
2<br />
dihasilkan Y = 29,4020 + 0,6764 X - 0,0037 X ,<br />
2<br />
nilai korelasi (R =0,9938), dengan persen hidup<br />
maksimum 60 % pada perlakuan pemangkasan<br />
cabang 91 % Berdasarkan hasil analisis ini maka<br />
dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan<br />
persen hidup maksimum tanaman cendana<br />
pemangkasan cabang pohon penaung perlu<br />
dilakukan pada umur 3 tahun sebesar 76 %, umur<br />
6 tahun sebesar 79 % dan umur 8 tahun sebesar 91<br />
246<br />
%. Karena pada umur 3 tahun dan 6 tahun selesih<br />
nilai persen hidupnya kecil, maka pemangkasan<br />
cabang cukup mulai umur 3 dan 8 tahun.<br />
Hasil analisis uji LSD 0,05 intensitas sinar<br />
matahari, suhu udara dan kelembaban udara yang<br />
disajikan pada Tabel 4 menunjukkan bahwa<br />
perlakuan pemangkasan cabang tajuk pohon<br />
penaung atau inang Acacia auriculiformis nyata<br />
meningkatkan intensitas sinar matahari dan suhu<br />
udara serta tidak nyata meningkatkan<br />
kelembaban udara. Pemangkasan cabang<br />
meningkatkan intensitas sinar matahari 53 %<br />
dan suhu udara 14 % yang masuk ke lantai hutan<br />
atau tajuk pohon cendana. Kondisi iklim mikro<br />
dengan dengan nilai intensitas cahaya 2900 lux,<br />
0<br />
suhu udara 30,8 C dan kelembaban udara 80,9 %,<br />
kondisi ini cukup baik untuk mendukung<br />
pertumbuhan cendana.<br />
Tabel ( Table)<br />
3. Persamaan regresi, korelasi, dan nilai maksimum persen hidup tanaman cendana pada<br />
umur 3, 6, dan 8 tahun ( Equation of regression, correlation, maximum value of survival<br />
sandalwood plantation at 3, 6, and 8 years old )<br />
Umur/Age<br />
Tahun/Year<br />
Regresi<br />
(Regresion)<br />
3 Y=43,544 + 0,9242X-0,0062<br />
X 2<br />
6 Y=37,1631+0,7080 X-0,0045<br />
X 2<br />
8 Y=29,4020+0,6764 X-0,0037<br />
X 2<br />
Korelasi<br />
(Correlation)<br />
R 2<br />
Persen hidup<br />
(Survival)<br />
(Y max)<br />
(%)<br />
Penaung (Shading)<br />
(%)<br />
0,9552 78 76<br />
0,9737 65 79<br />
0,9938 60 91<br />
Tabel ( Table)<br />
4. Rata-rata suhu udara, intensitas cahaya, dan kelembaban udara pada perlakuan<br />
pemangkasan cabang pada umur 8 tahun setelah tanam ( Average of air temperature,<br />
light intensity and air humidity on branch pruning at 8 years old )<br />
Nomor<br />
(Number)<br />
Perlakuan<br />
(Treatment)<br />
Suhu udara<br />
( Air temperature )<br />
( 0 C)<br />
Intensitas cahaya<br />
(Light intensity)<br />
(Lux)<br />
Kelembaban udara<br />
(Air humidity)<br />
(%)<br />
1 0 27,1 a 1900 a 83,7 a<br />
2 25 29,1 a 2100 a 82,3 a<br />
3 50 27,3 a 2600 b 78,6 a<br />
4 75 30,8 b 2800 b 80,9 a<br />
5 100 30,1 b 2900 b 72,1 a<br />
Keterangan ( Remarks)<br />
:Angka-angka rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata<br />
pada LSD 0,05 ( Mean value with the same letter and same column do not different significantly on LSD<br />
0,05)<br />
Analisis regresi dan korelasi dilakukan untuk<br />
mengetahui apakah persen hidup tanaman<br />
cendana dipengaruhi oleh intensitas cahaya<br />
matahari. Berdasarkan hasil analisis regresi<br />
dan korelasi liner sederhana menunjukkan<br />
bahwa persen hidup cendana nyata dipengaruhi<br />
oleh intensitas cahaya matahari ( sig.<br />
< 0,017),<br />
dengan persamaan Y = 897,663 + 31,538 X dan<br />
2<br />
nilai korelasi (R =0,941) (Gambar 4).
Intensitas Cahaya ( Light<br />
intensity)<br />
(Lux)<br />
5000<br />
4000<br />
3000<br />
2000<br />
1000<br />
0<br />
Y=897,663+31,538X<br />
(R 2 = 0,941)<br />
1 10 19 28 37 46 55 64 73 82 91 100<br />
Hidup (Survival) (%)<br />
Gambar ( Figure)<br />
4. Pengaruh intensitas cahaya<br />
terhadap rata-rata persen hidup tanaman<br />
cendana umur 8 tahun ( Effects of light<br />
intensity on sandalwood plantation<br />
survival at 8 years old)<br />
Hasil ini juga menunjukkan bahwa persen<br />
hidup tanaman cendana meningkat dengan<br />
semakin meningkatnya intensitas cahaya.<br />
Sedangkan hubungan antara persen hidup dengan<br />
suhu tidak nyata berkorelasi ( sig. < 0,132),<br />
dengan persamaan Y = 2,109 + 0.00963 X<br />
2<br />
(R =0,785), serta hubungan antara persen hidup<br />
dengan kelembaban udara tidak nyata<br />
berkorelasi ( sig.< 0,208) dengan persamaan Y =<br />
2<br />
91,196 - 236 X (R = 0,678). Hal ini<br />
menunjukkan bahwa persen hidup tanaman<br />
cendana tidak meningkat dengan semakin<br />
naiknya suhu udara dan kelembaban udara.<br />
B. Pembahasan<br />
Pemanfaatan tegakan Acacia<br />
auriculiformis sebagai pohon penaung awal dan<br />
inang tanaman cendana yang tidak dilakukan<br />
pemangkasan cabang sampai umur 2 tahun<br />
menghasilkan persen hidup rata rata 75,33 %<br />
(Tabel 2). Persen hidup yang dihasilkan ini<br />
nilainya lebih tinggi apabila dibandingkan<br />
dengan hasil penelitian penanaman cendana di<br />
tempat terbuka (< 20 %) (Surata dan Idris, 2001),<br />
dan juga hasil penelitian pada tanaman cendana<br />
dengan menggunakan penaung dan inang<br />
tumpang sari kacang tanah ( Arachis hypogea),<br />
kacang hijau ( Phaseolus radiatus)<br />
dan kacang<br />
turis ( Cajanus cajan)<br />
rata-rata persen hidupnya<br />
50 % (Surata et al.,<br />
1995). Persen hidup yang<br />
lebih besar pada penggunaan pohon penaung<br />
disebabkan karena tanaman cendana pada umur<br />
muda memerlukan pohon penaung. Pohon<br />
penaung berfungsi untuk membantu mengurangi<br />
stress bibit dan juga mempercepat serta<br />
meningkatkan adaptabilitas awal bibit terhadap<br />
kondisi lingkungan kering di lapangan, sehingga<br />
pertumbuhannya meningkat. Menurut Sinha<br />
Pemanfaatan Tegakan Acacia auriculiformis sebagai Pohon<br />
Penaung dan Inang <strong>Tanaman</strong> Cendana ( Santalum album Linn)<br />
I Komang Surata<br />
(1961) cendana akan mati karena kekeringan<br />
yang panjang dan berlangsung secara terus<br />
menerus dan perlu penaung pada umur pohon<br />
yang masih muda. Selain sebagai pohon<br />
penaung, tegakan Acacia auriculiformis juga<br />
berfungsi sebagai inang sekunder. Inang<br />
sekunder pada awal penanaman cendana sangat<br />
diperlukan mengingat inang sekunder yang baru<br />
ditanam di lapangan belum berfungsi dengan<br />
baik sehingga tanaman cendana untuk jangka<br />
pendek untuk sementara dapat memanfaatakan<br />
inang yang sudah ada ( Acacia auriculiformis)<br />
untuk membantu menyerap unsur hara dan air<br />
dari dalam tanah melalui haustoria, sehingga<br />
pertumbuhannya meningkat.<br />
Pemanfaatan tegakan Acacia<br />
auriculiformis sebagai pohon penaung dan inang<br />
cendana pada umur lebih dari 2 tahun nyata<br />
meningkatkan tinggi, diameter, dan persen hidup<br />
tanaman cendana (Tabel 1). Pohon penaung atau<br />
inang yang terlalu rapat akan menjadi pesaing<br />
yang kuat terhadap kebutuhan cahaya, unsur<br />
hara, dan air dengan tanaman cendana. Menurut<br />
Raghavan (1948) dalam Barrett (1985) pada<br />
daerah-daerah yang kekurangan sinar matahari<br />
(penaungan terlalu padat) pada umur di atas 3- 5<br />
tahun tanaman cendana akan banyak mati. Hal<br />
ini karena cendana pada umur tertentu<br />
membutuhkan sinar matahari yang lebih besar.<br />
Menurut Dupraz (1999) dampak negatif dari<br />
penggunaan penaung atas yang terlalu rapat pada<br />
jenis pohon juglan sangat nyata menurunkan<br />
persen hidup dan diameter,sementara tinggi<br />
tanaman masih menguntungkan. Dengan<br />
demikian dapat disimpulkan pohon penaung<br />
hanya dibutuhkan pada awal penanaman atau<br />
pada pohon muda cendana sampai umur 2 tahun<br />
dan setelah itu perlu pembukaan tajuk pohon<br />
penaung atau inang.<br />
Pertumbuhan tinggi, diameter, dan persen<br />
hidup tanaman cendana dipengaruhi oleh<br />
kerapatan tajuk pohon penaung atau inang dan<br />
pertumbuhan cendana meningkat sampai titik<br />
optimum pada perlakuan intensitas pemangkasan<br />
cabang yang semakin meningkat dan setelah itu<br />
menurun pada pemangkasan cabang yang<br />
melebihi titik maksimum (Gambar 1, 2 dan 3).<br />
Setelah mencapai titik maksimum pertumbuhan<br />
tanaman menurun. Hal ini disebabkan pada umur<br />
tersebut sudah terjadi persaingan unsur hara, air,<br />
dan cahaya matahari antara pohon cendana dan<br />
pohon penaung atau inang yang sangat kuat<br />
dengan memanfaatkan tegakan yang tajuknya<br />
rapat. Menurut Baker (1950) pertumbuhan<br />
tanaman yang mempunyai tinggi dan tajuk<br />
247
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 241 - 251<br />
dominan pada tegakan yang rapat akan menekan<br />
pertumbuhan pohon di bawahnya ( understory)<br />
sehingga akan menyebaban tanaman di<br />
bawahnya pertumbuhannya rendah atau mati.<br />
Semakin terbuka tajuk pohon penaung atau inang<br />
maka akan memberi kesempatan untuk<br />
pertumbuhan: tinggi, diameter, dan persen hidup<br />
tanaman di bawahnya semakin meningkat.<br />
Pertumbuhan tanaman juga sangat dipengaruhi<br />
oleh tingkat toleransi tanaman terhadap<br />
penyinaran matahari oleh karena itu<br />
penggolongan tanaman bisa dibagi menjadi<br />
toleran, semitoleran dan intoleran.<br />
Jenis cendana<br />
termasuk jenis tanaman semitoleran (Faridah,<br />
2007). Menurut Baker (1950) tajuk tanaman<br />
yang rapat akan meningkatkan pemangkasan<br />
cabang secara alami karena pengaruh persaingan<br />
pertumbuhan pohon yang lebih cepat tumbuh ke<br />
atas untuk mendapatkan cahaya matahari. Oleh<br />
karena itu untuk mengurangi persaingan tanaman<br />
di dalam mendapatkan cahaya, air, dan unsur hara<br />
pada tegakan hutan tanaman yang terlalu rapat<br />
perlu dilakukan penjarangan atau pemangkasan<br />
cabang terhadap jenis pohon tajuk di atasnya,<br />
sehingga pohon di bawahnya dapat berkembang<br />
dengan baik.<br />
Pemangkasan cabang pohon penaung atau<br />
inang Acacia auriculiformis pada umur 2 tahun<br />
setelah tanam nyata meningkatkan tinggi,<br />
diameter dan persen hidup tanaman cendana<br />
masing-masing 45 %, 48 %, dan 31 % (Tabel 1).<br />
Pemangkasan cabang pohon penaung atau inang<br />
dapat meningkatkan intensitas sinar matahari<br />
sebesar 53 % dan suhu 14 % yang dapat<br />
mendukung pertumbuhan tanaman. (Tabel 4).<br />
Bergerz dan Dupraz (2000) mengatakan bahwa<br />
sistem penaungan dengan pohon penaung<br />
samping berupa semak pada tanaman Prunus<br />
avium dapat menurunkan radiasi matahari 60 %<br />
dan temperatur udara 15 % .<br />
Pemangkasan cabang perlu diatur<br />
sedemikian rupa agar tidak menimbulkan efek<br />
samping terutama perubahan mikroklimat yang<br />
mendadak seperti kekeringan yang tinggi<br />
sehingga tidak merusak jaringan daun tanaman.<br />
Untuk menghindari perubahan mendadak<br />
mikroklimat maka pemangkasan cabang pohon<br />
penaung atau inang Acacia auriculiformis perlu<br />
dilakukan pada umur 3 tahun sebesar 76 % dan<br />
pada umur 8 tahun sebesar 91 % (Tabel 2).<br />
Pemangkasan cabang pohon penaung yang<br />
terlalu tinggi dalam waktu mendadak dapat<br />
meningkatkan defisit air dan kematian tanaman.<br />
Menurut Salisbury et al.<br />
(1992), pada kondisi<br />
defisit air di musim kering, dan pada penyinaran<br />
248<br />
yang tinggi akan meningkatkan transpirasi<br />
sehingga tanaman mengalami kekurangan air.<br />
Pada kondisi yang kering (defisit air) daun bisa<br />
mengatur lalu lintas air lewat penutupan stomata,<br />
akan tetapi pada kondisi penyinaran yang ekstrim<br />
tinggi akan menyebabkan kerusakan atau<br />
kematian jaringan daun tanaman yang<br />
menyebabkan<br />
2007).<br />
kematian tanaman (Faridah,<br />
Persentase hidup tanaman cendana nyata<br />
berkorelasi positip.secara linier dengan intensitas<br />
cahaya matahari (Tabel 4). Sebagai dampak<br />
penaungan terjadi penurunan mikroklimat dan<br />
juga energi yang dihasilkan dari proses<br />
fotosintesis, transpirasi dan asimilasi menurun<br />
sehingga menurunkan metabolisme tanaman<br />
(Gardener et al.,<br />
1985). Cahaya matahari<br />
memegang peranan yang sangat penting dan<br />
dibutuhkan oleh cendana untuk meningkatkan<br />
persen hidup tanaman terutama untuk kegiatan<br />
fotosintesis yang menghasilkan zat makanan<br />
untuk menopang energi pertumbuhan tanaman.<br />
Peningkatan cahaya matahari<br />
meningkatkan suhu tanaman (Tabel 3).<br />
Perubahan suhu akan mempengaruhi<br />
perkembangan tanaman. <strong>Tanaman</strong> memerlukan<br />
suhu optimum dalam pertumbuhannya. Menurut<br />
Salisbury et al.<br />
(1992) kenaikan suhu pada<br />
tanaman dari optimum ke maksimum, maka<br />
berbagai aktivitas enzim akan menurun satu<br />
persatu sehingga mengurangi perkembangan<br />
tanaman. Suhu yang tinggi akan menyebabkan<br />
reaksi kimia abnormal dan disusul kematian selsel<br />
tanaman. <strong>Tanaman</strong> pada tempat terbuka<br />
(tanpa penaung) pada musim kering akan<br />
mempunyai suhu tinggi yang akan meningkatkan<br />
evapotranspirasi, sehingga absorpsi air tidak bisa<br />
mengimbangi transpirasi daun dan akhirnya<br />
mengakibatkan kerusakan sel daun. Jika<br />
kekurangan air yang tidak diimbangi dari dalam<br />
tanah maka protoplasma akan mengering, daun<br />
akan layu, sel-sel akan mati. Kekurangan air<br />
terjadi pertama pada sel-sel yang terletak di ujung<br />
atau pinggir daun (Faridah, 2007)<br />
IV. KESIMPULAN DAN SARAN<br />
A. Kesimpulan<br />
1. Pemanfaatan tegakan Acacia auriculiformis<br />
sebagai pohon penaung dan inang cendana<br />
sampai umur 2 tahun yang tidak dilakukan<br />
pemangkasan cabang menghasilkan persen<br />
hidup cendana yang cukup baik yaitu ratarata<br />
75 %.
2. Pemangkasan cabang pohon penaung atau<br />
inang Acacia auriculiformis pada umur 2<br />
tahun setelah tanam nyata meningkatkan<br />
tinggi, diameter, dan persen hidup tanaman<br />
cendana masing-masing<br />
31%.<br />
45 %, 48 %, dan<br />
3. Persen hidup tanaman cendana paling baik<br />
dihasilkan pada perlakuan pemangkasan<br />
cabang pohon penaung atau inang Acacia<br />
auriculiformis sebesar 76 % pada umur 3<br />
tahun dan 91 % pada umur 8 tahun.<br />
4. Pemangkasan cabang pohon penaung atau<br />
inang dapat meningkatkan suhu udara 14 %<br />
dan radiasi penyinaran matahari 53 %.<br />
5. Persen hidup tanaman cendana nyata<br />
berkorelasi positif secara linier dengan<br />
intensitas cahaya matahari.<br />
B. Saran<br />
1. Untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman<br />
cendana di lapangan maka perlu<br />
menggunakan penaung awal dan inang<br />
sekunder, salah satunya dapat<br />
memanfaatankan tegakan semak atau pohon<br />
yang sudah ada di lokasi penanaman.<br />
2. Penggunaan tegakan pohon sebagai penaung<br />
atau inang perlu dipilih jenis pohon dan<br />
kerapatan tajuk yang sesuai.<br />
3. Untuk mengatasi pohon penaung atau inang<br />
yang tajuknya rapat agar tidak menimbulkan<br />
persaingan maka perlu dilakukan<br />
pemangkasan cabang atau penjarangan<br />
sampai mencapai kondisi kerapatan tajuk<br />
yang optimal.<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
Anthony, T., J. E. D. Fox. and D. R. Barrett. 1993.<br />
Environmental Effects of Early Growth of<br />
Santalum album L. with Particular<br />
Reference to Shade Regimes. Santalum<br />
13: 29-47.<br />
Baker, F. S. 1950. Principles of Silviculture.<br />
Mc.<br />
Graw Hill Book Company. Inc. NewYork.<br />
Barret, D. R. 1989. A Brief Note on the<br />
Regeneration of Sandal to Suplement<br />
Existing Stock in Forest or to Replace<br />
Sandal that May Killed by Spike. In.<br />
Santalum album (Indian Sandalwood)<br />
literature review, Mulga Research Centre.<br />
Western Australian Institute of<br />
Technology. Perth.<br />
Pemanfaatan Tegakan Acacia auriculiformis sebagai Pohon<br />
Penaung dan Inang <strong>Tanaman</strong> Cendana ( Santalum album Linn)<br />
I Komang Surata<br />
Bergez, J. E. and C. Dupraz, 2000. Effect of<br />
Ventilation on Growth of Prunus avium<br />
Seedlings Grown in Tree Shelters. Agr and<br />
For.Met. 104 : 199-214<br />
Dupraz, C. and J. E. Bergez. 1999. Carbon<br />
Dioksida Limitation of the Photosyntesis<br />
of Prunus avium L Seedlings Inside an<br />
Unventilated Treeshelter. For. Ecol.<br />
Mgmt. 119 :89-97<br />
Faridah, E. 2007. Fisiologi Stress. Program Studi<br />
Ilmu Kehutanan, Sekolah Pasca Sarjana.<br />
Universitas Gadjah Mada.Yogyakarta.<br />
Gardener, F.P., R. B. Peace. and R. L. Mitchell.<br />
1985. Physiology of Crop Plants.<br />
The<br />
Iowa State University Press. USA.<br />
Hamzah, Z. 1976. Sifat Silvika dan Silvikultur<br />
Cendana ( Santalum album L.) di Pulau<br />
Timor. Laporan No.227. Lembaga<br />
Penelitian <strong>Hutan</strong>, Bogor.<br />
Mayhead, G. J. and I. R. Boothman. 1997. The<br />
Effect of Treeshelter Height on Early<br />
Growth of Sessile Oak ( Quercus petraea<br />
(matt) Liebl). J. For. 70:151-155.<br />
<strong>Pusat</strong> Penelitian Tanah dan Agroklimat.1993.<br />
Peta Tanah Provinsi Nusa Tenggara Timur.<br />
<strong>Pusat</strong> Penelitian Tanah dan Agroklimat.<br />
Badan Penelitian dan Pengembangan<br />
Pertanian Bogor.<br />
Radomiljac, A. M., J. A. Mc.Comb. and J. F.<br />
Mc.Grath. 1999. Intermediate Host<br />
Influences on the Root Hemi-parasite<br />
Santalum album L. Biomas<br />
Partitioning..For. Ecol. and Mgmt. 143:-<br />
153.<br />
Schmidt, F. G. and J. M. A. Ferguson. 1951.<br />
Rainfall Types Based on Wet and Dry<br />
Period Rations for Indonesia with Western<br />
New Guinea.<br />
Verhand 42. Direktorat<br />
Meteorologi dan Geofisika. Djakarta.<br />
Salisbury, B. F. and C. W. Ross. 1992. Plant<br />
th<br />
Physiology.<br />
Pergamon Press. 4 edition.<br />
Oxford, London, NewYork, Paris<br />
Santoso, S. 2000. SPSS Statistik Parametrik. PT.<br />
Elex Media Komputindo. Kelompok<br />
Gramedia. Jakarta.<br />
Surata, I. K. 1993. Pengaruh Jenis Inang terhadap<br />
Pertumbuhan Semai Cendana ( Santalum<br />
album L.). Santalum 9: 1-9.<br />
249
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 241 - 251<br />
Surata, I. K., Harisetijono. dan M. Sinaga. 1995.<br />
Pengaruh Penanaman Sistem<br />
Tumpangsari terhadap Pertumbuhan<br />
Cendana ( Santalum album L.). Savana 20<br />
: 17-25<br />
Surata, I. K. and J. E. D. Fox. 2000. Government<br />
Initiatives to Encourage Land Holders to<br />
250<br />
Participate in Planting Sandalwood in East<br />
Nusa Tenggara. Paper Presented on the<br />
IUFRO Working Group Meeting at Cairns,<br />
Queensland,Australia, 7-12 January 2000.<br />
Surata, I.K. dan M. Idris. 2001. Status Penelitian<br />
Cendana di Provinsi Nusa Tenggara Timur.<br />
Berita Biologi 5 (5) :521-539
Lampiran ( Appendix)<br />
1. Analisis keragaman tinggi, diamater dan persen hidup tanaman cendana<br />
( Analysis of variance for height, diameter, and survival of cendana plants)<br />
Parameter<br />
(Parameter)<br />
Tinggi<br />
(height)<br />
Diameter<br />
(diameter)<br />
Hidup<br />
(Survival)<br />
Sumber<br />
Keragaman<br />
(Source of<br />
variance)<br />
Perlakuan<br />
(Treament)<br />
Blok (Block)<br />
Acak (Error)<br />
4<br />
2<br />
8<br />
Db<br />
(df)<br />
JK<br />
(SS)<br />
9092,238<br />
2649,091<br />
3237,774<br />
Total 14 34252,027<br />
Perlakuan<br />
(Treament)<br />
Blok (Block)<br />
Acak (Error)<br />
4<br />
2<br />
8<br />
1,683<br />
0,333<br />
0,443<br />
Total 14 2.460<br />
Perlakuan<br />
(Treament)<br />
Blok (Block)<br />
Acak (Error)<br />
4<br />
2<br />
8<br />
Pemanfaatan Tegakan Acacia auriculiformis sebagai Pohon<br />
Penaung dan Inang <strong>Tanaman</strong> Cendana ( Santalum album Linn)<br />
I Komang Surata<br />
1618,667<br />
51,773<br />
222,933<br />
KT<br />
(MS)<br />
5818,448<br />
1324,546<br />
462,539<br />
0,421<br />
0,167<br />
0,053<br />
404,667<br />
25,667<br />
27,867<br />
Total 14 1893.333<br />
Keterangan ( remark ) : *Berbeda nyata pada taraf uji 5%( Significant of 0,05 level)<br />
F Sig.<br />
12,579<br />
2,864<br />
7,605<br />
3,013<br />
14,522<br />
0,928<br />
0,002*<br />
0,123<br />
0,008*<br />
0,106<br />
0,001<br />
0,434<br />
251
Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. Terhadap Serangga Hama<br />
Spodotera litura Fabricus (Lepidoptera: Noctuidae)<br />
Toxicity Assay of Nicolia atropurpurea Leaf Extract against Armyworm Spodoptera litura<br />
2<br />
1 2 2<br />
Asmaliyah , Sumardi , dan/ and Musyafa<br />
1<br />
Balai Penelitian Kehutanan Palembang<br />
Jl. Kol. H. Burlian KM. 6,5 Kotak Pos 179, Puntikayu, Palembang<br />
Telp./Fax. (0711) 414864<br />
Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada<br />
Jl. Agro, Bulaksumur 55281, Yogyakarta<br />
Naskah masuk : ........................... ; Naskah diterima : ..........................<br />
ABSTRACT<br />
Nicolaia atropurpurea (Zingiberaceae) has commonly been used by local people as botanical insecticides<br />
to protect agricultural crops and forest plantation from insect. However, its scientific basis have not been<br />
yet available. This research was done to fill the gap. Two experiments were done in this study: Experiment<br />
1, study on the effect of extraction method and solvent used for extraction on toxicity of N. atropurpurea<br />
leaf extract were carried out using direct contact methods. A completely randomized design with 3<br />
replications.. Treatments consisted of six of concentration level. Experiment 2, study on toxicity (LC<br />
and LC value) of ethyl acetate of N. atropurpurea leaf extract were carried out using direct contact<br />
95<br />
method. A completely randomized design with 3 replications. Treatment consisted of concentrations level<br />
six.. The Results showed that N. atropurpurea leaf extract was toxic to the larvae of S.litura when<br />
it applied with direct contact method. Ethyl acetate extract produced by soaking method show the highest<br />
toxicity, with LC and LC values of 0,18 % and 0,54 %, respectively<br />
Keywords:<br />
50 95 .<br />
toxicity, Nicolaia atropurpurea leaf extract,Armyworm Spodoptera litura<br />
ABSTRAK<br />
Nicolaia atropurpurea (Zingiberaceae) secara tradisional telah digunakan oleh masyarakat lokal untuk<br />
melindungi tanaman budidaya dan hutan tanaman dari serangan hama. Namun penggaliannya secara<br />
ilmiah terhadap potensinya sebagai sumber insektisida nabati belum pernah diteliti, sehingga sejauh mana<br />
toksisitas ekstrak daun N. atropurpurea ini belum diketahui secara pasti. Oleh karena itu, penelitian ini<br />
dilakukan untuk tujuan tersebut. Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahapan percobaan, yaitu: Percobaan 1,<br />
pengujian cara ekstraksi dan jenis pelarut yang digunakan terhadap toksisitas ekstrak daun N.<br />
atropurpurea dengan metode kontak. Percobaan menggunakan RancanganAcak Lengkap (RAL) dengan<br />
3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 taraf konsentrasi. Percobaan 2, pengujian toksisitas (nilai LC50 dan<br />
LC 95 ) ekstrak etil asetat daun N. atropurpurea dengan metode kontak. Percobaan menggunakan RAL<br />
dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 taraf konsentrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak<br />
daun N. atropurpurea yang diaplikasikan dengan metode kontak bersifat toksik terhadap larva<br />
Spodoptera litura instar ketiga. Ekstrak yang paling toksik dihasilkan dari ekstraksi maserasi bertingkat<br />
dengan menggunakan pelarut etil asetat dengan nilai LC dan LC sebesar 0,18% dan 0,54%.<br />
50 95<br />
Kata kunci : Toksisitas, ekstrak daun Nicolaia atropurpurea, Spodoptera litura<br />
I. PENDAHULUAN<br />
Seiring dengan semakin kompleknya<br />
permasalahan hama pada hutan tanaman, maka<br />
alternatif yang lebih bijaksana dan memuaskan<br />
untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah<br />
dengan menerapkan konsep Pengendalian Hama<br />
Terpadu (<strong>PHT</strong>). Taktik-taktik dalam <strong>PHT</strong> meliputi<br />
penggunaan agen atau produk pengendali hayati,<br />
penggunaan tanaman resisten, penggunaan<br />
insektisida sintetik yang bersifat spesifik dan luas<br />
spektrumnya sempit (Sumardi, 2007). <strong>PHT</strong> juga<br />
50<br />
253
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 253 - 263<br />
mendukung penelitian dan pemanfaatan senyawa<br />
aktif alami yang berasal dari tanaman yang dapat<br />
digunakan untuk mengatasi permasalahan hama<br />
pada hutan tanaman (Hiljie dan Mora, 2006).<br />
Salah satu kelompok tumbuhan yang<br />
potensial dikembangkan sebagai sumber<br />
insektisida nabati baru adalah zingiberaceae<br />
(Dadang, 1999; Yang et al.,<br />
2004). Hasil-hasil<br />
penelitian sebelumnya membuktikan bahwa<br />
ekstrak dan atau senyawa aktif dari berbagai<br />
species zingiberaceae memiliki aktivitas<br />
insektisida, repelen dan antifeedant.<br />
Jenis-jenis<br />
tanaman zingiberaceae yang dilaporkan<br />
mempunyai aktivitas terhadap serangga hama,<br />
antara lain tepung rizom kering Curcuma longa<br />
bersifat menghalangi serangan serangga hama<br />
gudang Tribolium castaneum (Nugroho et al.,<br />
1996). Ekstrak rimpang C. xanthorriza, C.<br />
zedoaria, Kaempferia galanga dan K. pandurata<br />
bersifat insektisida terhadap larva Spodoptera<br />
littoralis yang diaplikasikan melalui integumen<br />
larva (Pandji et al., 1993). Tawata et al.<br />
(1996)<br />
juga menginformasikan bahwa daun dari genus<br />
Alpinia mempunyai aktivitas insektisida<br />
terhadap rayap. Esktrak biji Aframomum<br />
melequeta mempunyai aktivitas kuat sebagai<br />
penghambat makan rayap Reticulitermes<br />
speratus (Escoubas et al.,<br />
2000).<br />
Didasari hal ini, maka penggalian potensi<br />
spesies tanaman yang berasal dari famili<br />
zingiberaceae sebagai sumber insektisida nabati<br />
baru cukup tepat dan masih terbuka lebar.<br />
Nicolaia atropurpurea Val. yang dikenal dengan<br />
nama kecombrang, atau honje merupakan salah<br />
satu jenis tumbuhan hutan dari famili<br />
zingiberaceae yang potensial untuk<br />
dikembangkan sebagai sumber insektisida nabati<br />
baru. Di beberapa daerah di kepulauan Sumatera,<br />
spesies ini merupakan salah satu tumbuhan yang<br />
secara tradisional dimanfaatkan masyarakat lokal<br />
untuk melindungi tanaman budidaya dari<br />
serangan organisme pengganggu.<br />
Kandungan komponen kimia yang<br />
terdapat dalam daun, batang, bunga dan rizom<br />
hampir semua genus dari famili zingiberaceae,<br />
termasuk genus Nicolaia terdiri dari flavonoid,<br />
saponin, polifenol, minyak atsiri, alkaloid,<br />
steroid dan triterpenoid (Tampubolon et al.,<br />
1983; Naufalin, 2005; Jaafar et al.,<br />
2007;<br />
Departemen Kesehatan, 2008). Hasil-hasil<br />
penelitian sebelumnya menunjukkan flavonoid,<br />
polifenol, alkaloid, minyak atsiri, saponin<br />
berfungsi sebagai racun serangga, penolak<br />
makan, mempengaruhi hormone serangga,<br />
mengganggu fungsi-fungsi organ tubuh dan<br />
254<br />
sebagai insektisida (Harborne, 1987; Robinson,<br />
1995; Kardinan, 2005; Doke, 2006). Namun<br />
sampai sekarang penggalian terhadap potensi<br />
spesies N. atropurpurea sebagai sumber<br />
insektisida nabati belum pernah diteliti, sehingga<br />
sejauh mana toksisitas ekstrak daun N.<br />
atropurpurea ini belum diketahui secara pasti.<br />
Pemilihan pelarut organik yang digunakan<br />
dalam mengekstrak komponen bioaktif dan cara<br />
ekstraksinya merupakan faktor penentu untuk<br />
pencapaian tujuan dan sasaran ekstraksi<br />
komponen. Mendapatkan ekstrak yang baik<br />
dilakukan ekstraksi secara bertingkat dimulai<br />
dengan pelarut non polar, lalu dengan pelarut<br />
semi polar dan polar sehingga diperoleh ekstrak<br />
yang mengandung berturut-turut senyawa non<br />
polar, semi polar dan polar.<br />
Berdasarkan keterangan di atas, maka<br />
penelitian ini dilakukan untuk mengetahui<br />
toksisitas ekstrak daun N. atropurpurea dan<br />
pengaruh cara ekstraksi serta jenis pelarut yang<br />
digunakan terhadap toksisitas ekstrak daun N.<br />
atropurpurea.<br />
Penelitian ini menggunakan<br />
serangga hama Spodoptera litura karena spesies<br />
ini sebagai bioindikator untuk pengujian<br />
insektisida baru (Schneider et al.,<br />
2000).<br />
II. METODOLOGI<br />
A. Perbanyakan Serangga Uji<br />
Ulat atau larva S. litura diperoleh dari hasil<br />
perbanyakan di Laboratorium Fisiologi, Jurusan<br />
Proteksi <strong>Tanaman</strong> Fakultas Pertanian IPB.<br />
Selama pemeliharaan ulat diberi makan daun<br />
keladi dan sebagai tempat pemeliharaan<br />
digunakan wadah plastik berventilasi yang<br />
beralaskan kertas saring. Menjelang<br />
berkepompong ulat diletakkan dalam wadah<br />
plastik lainnya yang berisi serbuk gergaji steril<br />
setebal 10 cm sebagai tempat berkepompong<br />
sampai muncul serangga dewasa (ngengat).<br />
Ngengat yang terbentuk kemudian dipindahkan<br />
ke dalam stoples besar yang bagian atasnya<br />
ditutupi dengan kain kasa dan di sekeliling toples<br />
ditutupi dengan kertas tisu. Di dalam stoples<br />
diletakkan daun keladi segar sebagai tempat<br />
peletakan telur dan dimasukkan juga cairan madu<br />
yang telah diencerkan dan diserapkan pada kapas<br />
sebagai pakan ngengat. Kelompok telur yang<br />
diletakkan, dikumpulkan setiap hari dan<br />
dipindahkan ke dalam wadah plastik sampai<br />
menjadi larva. Perkembangan larva diikuti setiap<br />
hari dan sebagian larva yang siap ganti kulit
menjadi instar ke tiga ditempatkan dalam wadah<br />
plastik terpisah dari larva-larva lain. Larva instar<br />
ke tiga generasi ke dua lebih kurang 8 jam setelah<br />
ganti kulit digunakan untuk pengujian.<br />
B. Persiapan Materi <strong>Tanaman</strong> dan Ekstrak<br />
Materi tanaman dikumpulkan dari lokasi<br />
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS)<br />
yang terletak di Pekon Kubu Perahu, Kec. Balik<br />
Bukit, Kab. Lampung Barat, Prov. Lampung.<br />
Daun N. atropurpurea yang diperoleh dari<br />
lapangan dikering udarakan kemudian dipotongpotong<br />
dan selanjutnya dihaluskan hingga<br />
menjadi serbuk. Serbuk halus kemudian<br />
dimasukkan ke dalam botol dan dimaserasi<br />
dengan menggunakan berbagai pelarut organik<br />
yang berbeda kepolarannya, yaitu n.heksan (nonpolar),<br />
etil asetat (semi polar) dan metanol<br />
(polar).<br />
Ekstrak yang dihasilkan diperoleh dengan<br />
dua cara, yaitu ekstraksi cair-cair (partisi) dan<br />
ekstraksi maserasi bertingkat (perendaman).<br />
Ekstraksi cair-cair, diawali dengan merendam<br />
serbuk daun dengan pelarut metanol selama<br />
minimal 24 jam dalam botol, kemudian disaring<br />
dengan corong kaca yang dialasi dengan kertas<br />
saring. Ampas serbuk daun kemudian dimaserasi<br />
ulang dengan metanol sampai ekstrak jernih<br />
(minimal 3 kali pengulangan). Cairan ekstrak<br />
hasil saringan atau filtrat kemudian dimasukkan<br />
ke dalam labu penguap, yang terlebih dahulu<br />
ditimbang, untuk menguapkan pelarutnya<br />
dengan menggunakan rotary evaporator pada<br />
o o<br />
suhu 50 -60 C dan tekanan rendah (500-700<br />
mmHg vakum). Setelah penguapan selesai, labu<br />
berisi ekstrak ditimbang lagi, dan selisih antara<br />
hasil kedua penimbangan tersebut merupakan<br />
bobot ekstrak (%). Ekstrak kasar metanol<br />
kemudian dipartisikan dengan menggunakan<br />
corong pemisah dalam campuran pelarut metanol<br />
dan n-heksan, kemudian dilanjutkan dengan<br />
pelarut etil asetat. Masing-masing fase yang<br />
dihasilkan selanjutnya diuapkan pelarutnya<br />
dengan rotary evaporator. Esktrak yang dihasilkan<br />
disebut ekstrak n-heksan, ekstrak etil asetat dan<br />
ekstrak metanol, yang kemudian disimpan dalam<br />
o<br />
lemari es (≤ 4 C) hingga saat digunakan.<br />
Ekstrak maserasi bertingkat diawali<br />
dengan perendaman menggunakan pelarut nheksan,<br />
kemudian etil asetat dan terakhir<br />
metanol. Campuran bubuk daun dan pelarut<br />
tersebut dimaserasi atau direndam selama<br />
minimal 24 jam. Ekstrak kemudian disaring<br />
sampai jernih dengan menggunakan corong kaca<br />
yang dialasi kertas saring lokal. Filtrat yang<br />
Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. terhadap<br />
Serangga Hama Spodotera litura Fabricus ( Lepidoptera: Noctuidae)<br />
Asmaliyah, Sumardi, dan Musyafa<br />
dihasilkan kemudian dimasukkan ke dalam labu<br />
penguap, yang telah ditimbang, untuk<br />
menguapkan pelarutnya dengan menggunakan<br />
o o<br />
rotary evaporator pada suhu 50 -60 C dan tekanan<br />
rendah (500-700 mmHg vakum). Setelah<br />
penguapan selesai, labu berisi ekstrak ditimbang<br />
lagi, selisih antara hasil kedua penimbangan<br />
tersebut merupakan bobot ekstrak (%). Esktrak<br />
yang dihasilkan disebut ekstrak n-heksan, ekstrak<br />
etil asetat dan ekstrak metanol, yang kemudian<br />
o<br />
disimpan dalam lemari es (≤ 4 C) hingga saat<br />
digunakan.<br />
C. Bioassay atau Uji Hayati<br />
Percobaan 1: Pengujian Pengaruh Cara<br />
Ekstraksi dan Pelarut yang<br />
Digunakan terhadap Toksisitas<br />
Ekstrak Daun N. atropurpurea<br />
1.1. Uji toksisitas ekstrak daun N.<br />
atropurpurea<br />
hasil ekstraksi cair-cair<br />
Pengujian ini menggunakan 2 jenis<br />
ekstrak, yaitu ekstrak metanol dan ekstrak nheksan<br />
yang diperoleh dari ekstraksi cair-cair,<br />
sedangkan ekstrak etil asetat tidak dilakukan<br />
pengujian karena rendemen yang dihasilkan<br />
tidak mencukupi untuk pengujian. Perlakuan<br />
untuk masing-masing ekstrak menggunakan<br />
enam taraf konsentrasi, yaitu 5,00%, 2,50%,<br />
1,25%, 0,63%, 0,31% dan 0% (kontrol/tanpa<br />
ekstrak). Pada setiap taraf konsentrasi dan<br />
kontrol diulang tiga kali dan pada setiap ulangan<br />
digunakan 10 ekor larva S. litura instar ketiga.<br />
Jadi setiap kelompok terdapat 30 ekor larva.<br />
Sebelum membuat larutan uji terlebih<br />
dahulu membuat larutan induk dengan<br />
konsentrasi 5%, dengan cara sebanyak 5 gram<br />
ekstrak dilarutkan dalam campuran deterjen dan<br />
aceton dengan konsentrasi masing-masing 0,2%<br />
dan 1%. Campuran ekstrak dengan deterjen dan<br />
aceton dimasukkan dalam gelas ukur, kemudian<br />
ditambahkan air hingga mencapai tera 100 ml.<br />
Larutan induk kemudian diambil 25, 12,5, 6,25<br />
dan 3,12 ml dimasukkan ke dalam gelas ukur<br />
sehingga konsentrasi menjadi 2,50%, 1,25%,<br />
0,63% dan 0,31% setelah ditambahkan air hingga<br />
50 ml. Pada perlakuan kontrol hanya<br />
menggunakan campuran air dengan pengemulsi<br />
deterjen dan aceton tanpa ekstrak, dengan<br />
konsentrasi masing-masing 0,2% dan 1%.<br />
Pengujian dilakukan dengan metode kontak.<br />
Cara Kerja<br />
Serangga uji (larva S. litura instar ke tiga)<br />
sebanyak 10 ekor dimasukkan ke dalam<br />
kurungan kasa kawat pencelup dan kemudian<br />
255
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 253 - 263<br />
dicelupkan dalam sediaan ekstrak uji dengan<br />
konsentrasi tertentu pada setiap pelarut selama 10<br />
detik sebanyak 3 kali pengulangan untuk setiap<br />
perlakuan. Serangga kontrol dicelup dalam air<br />
pengencer (campuran pengemulsi dengan<br />
aceton). Kurungan pencelup kemudian ditiriskan<br />
di atas tisu sekitar 1 menit, kemudian serangga uji<br />
dipindahkan dalam wadah plastik berdiameter<br />
5,5 cm satu per satu, kemudian dalam wadah<br />
plastik yang sudah terdapat serangga uji tersebut<br />
diletakkan pakan daun keladi berbentuk bujur<br />
sangkar (3 x 3 cm). Larva diganti pakannya setiap<br />
hari dengan yang segar hingga mencapai stadia<br />
pupa. Jumlah larva yang mati dicatat setiap hari<br />
hingga hari ke tujuh setelah perlakuan. Data<br />
jumlah larva yang mati (mortalitas) kemudian<br />
dianalisis dengan analisis probit (Finney, 1971)<br />
dengan program komputer SPSS version 13.<br />
1.2. Uji toksisitas ekstrak daun N.<br />
atropurpurea<br />
bertingkat<br />
hasil ekstraksi maserasi<br />
Pengujian ini menggunakan 3 jenis ekstrak,<br />
yaitu ekstrak n-heksan, ekstrak metanol dan<br />
ekstrak etil asetat yang dihasilkan dari ekstraksi<br />
maserasi bertingkat. Pada masing-masing<br />
ekstrak menggunakan perlakuan enam taraf<br />
konsentrasi, yaitu 5,00%, 2,50%, 1,25%, 0,63%,<br />
0,31% dan kontrol (tanpa ekstrak). Pada setiap<br />
taraf konsentrasi dan kontrol diulang tiga kali<br />
dengan menggunakan 30 ekor larva instar ketiga.<br />
Pembuatan larutan uji, sama seperti pada<br />
percobaan 1.1. Pada perlakuan kontrol hanya<br />
menggunakan campuran air dengan pengemulsi<br />
deterjen dan aceton tanpa ekstrak, dengan<br />
konsentrasi masing-masing 0,2% dan 1%.<br />
Pengujian ini dilakukan dengan metode kontak<br />
(metode celup serangga uji) sama seperti pada<br />
percobaan 1.1. Pengamatan dilakukan setiap hari<br />
terhadap jumlah larva yang mati selama tujuh<br />
hari. Data jumlah larva yang mati (mortalitas)<br />
diolah dengan analisis probit (Finney, 1971)<br />
256<br />
dengan program komputer SPSS version 13<br />
untuk menentukan kisaran konsentrasi yang akan<br />
digunakan pada uji penentuan LC50 dan LC95 pada<br />
uji sebenarnya.<br />
Percobaan 2. Pengujian Toksisitas Ekstrak<br />
Daun N. atropurpurea terhadap<br />
Serangga Uji S. litura<br />
Percobaan ini dilakukan untuk<br />
menentukan nilai LC50 dan LC 95.<br />
Ekstrak yang<br />
terbukti memiliki aktivitas insektisida paling<br />
tinggi (toksisitas paling tinggi) pada uji<br />
pendahuluan diuji lanjut dengan menggunakan<br />
lima taraf konsentrasi yang ditentukan<br />
berdasarkan hasil uji pendahuluan. Penentuan<br />
konsentrasi dilakukan sesuai prosedur yang<br />
diuraikan oleh Prijono (2003). Konsentrasi yang<br />
digunakan adalah yang diperkirakan dapat<br />
mematikan larva 15-95% dan kontrol. Setiap<br />
taraf konsentrasi dan kontrol diulang sebanyak<br />
tiga kali dengan menggunakan 90 ekor larva<br />
instar ke tiga per perlakuan.<br />
Metode pengujian dilakukan dengan<br />
metode kontak sama dengan pengujian<br />
sebelumnya, yang berbeda adalah jumlah<br />
serangga uji dan tingkat konsentrasi ekstrak.<br />
Pengamatan mortalitas larva uji dilakukan setiap<br />
hari hingga hari ke lima setelah perlakuan. Bila<br />
mortalitas larva uji kontrol lebih besar dari 20%,<br />
pengujian di atas harus diulangi. Data mortalitas<br />
larva dalam persentase yang berkisar antara 0-<br />
100% akan ditransformasi ke Arcsin √%<br />
sebelum diolah dengan analisis varians pada taraf<br />
5% dengan menggunakan program SAS (SAS<br />
Institute, 1997). Perbandingan nilai tengah antar<br />
perlakuan dilakukan dengan uji selang berganda<br />
Duncan. Hubungan antara konsentrasi ekstrak<br />
dengan mortalitas serangga uji diolah dengan<br />
analisis korelasi. Penentuan nilai LC50 dan LC95<br />
dilakukan dengan analisis probit dengan program<br />
SPSS Version.13.<br />
Tabel ( Table)<br />
1. Bobot ekstrak dan rendemen hasil ekstraksi dengan cara ekstraksi cair- cair dan ekstraksi<br />
maserasi bertingkat ( weight and content of extract by partition and soaking method)<br />
Cara ekstraksi ( Extraction method)<br />
Ekstraksi cair-cair (200 g) (1:10)<br />
Bobot ekstrak ( Extract weight) (g) Rendemen (content) (%)<br />
- Ekstrak n-heksan 4,70 2,35<br />
- Ekstrak etil asetat 0,24 0,12<br />
- Ekstrak metanol<br />
Ekstraksi maserasi bertingkat<br />
(2000 g) (1:5)<br />
12,94 6,47<br />
- Ekstrak n-heksan 19,00 0,95<br />
- Ekstrak etil asetat 26,40 1,32<br />
- Ekstrak metanol 29,54 1,48
III. HASIL DAN PEMBAHASAN<br />
A. Hasil Pengamatan<br />
1. Cara Ekstraksi terhadap Bobot dan<br />
Rendemen Ekstrak<br />
Bobot ekstrak dan rendemen hasil ekstrak<br />
yang diperoleh dengan cara ekstraksi cair-cair<br />
dan ekstrak maserasi bertingkat menunjukkan<br />
rendemen hasil ekstraksi cair-cair lebih tinggi<br />
dari pada ekstrak yang diperoleh dengan cara<br />
maserasi bertingkat. Ekstraksi dengan<br />
menggunakan pelarut metanol paling tinggi<br />
rendemennya dibandingkan dengan<br />
menggunakan pelarut etil asetat dan n-heksan<br />
baik pada ekstraksi cair-cair maupun ekstraksi<br />
maserasi bertingkat (Tabel 1).<br />
2. Uji Toksisitas Ekstrak Daun N.<br />
atropurpurea Hasil Ekstraksi Cair-cair<br />
Hasil pengujian terhadap masing-masing<br />
ekstrak yang dihasilkan dengan cara ekstraksi<br />
cair-cair terhadap mortalitas larva S. litura pada<br />
hari ke tujuh setelah perlakuan dapat dilihat pada<br />
Tabel 2. Hasil pengujian menunjukkan bahwa,<br />
pada perlakuan ekstrak metanol daun N.<br />
atropurpurea kematian sudah terjadi satu hari<br />
Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. terhadap<br />
Serangga Hama Spodotera litura Fabricus ( Lepidoptera: Noctuidae)<br />
Asmaliyah, Sumardi, dan Musyafa<br />
setelah perlakuan (24 jam). Pada semua rentang<br />
konsentrasi yang diuji, mortalitas larva pada hari<br />
pertama setelah perlakuan sudah cukup banyak<br />
dan relatif konstan pada hari berikutnya hingga<br />
hari ke tujuh setelah perlakuan. Namun,<br />
perlakuan ekstrak metanol ini masih kurang<br />
efektif dalam menyebabkan kematian larva S.<br />
litura<br />
instar ketiga. Hal ini disebabkan pada<br />
konsentrasi yang paling tinggi yaitu pada<br />
konsentrasi 5,00% hanya dapat mematikan 18<br />
dari 30 ekor larva uji atau 60,00% (Gambar 1).<br />
Deptan (1995), menyatakan insektisida dianggap<br />
efektif bila mampu membunuh serangga uji<br />
minimal 80%.<br />
Hasil pengujian terhadap ekstrak n-heksan<br />
daun N. atropurpurea juga masih kurang efektif<br />
dalam menyebabkan kematian larva S. litura.<br />
Kematian pada konsentrasi tertinggi yaitu 5,00%<br />
baru dapat mencapai kematian 23 ekor dari 30<br />
larva uji atau 76,67% 24 jam setelah perlakuan.<br />
Pola perkembangan mortalitas larva sama<br />
dengan pola perkembangan mortalitas ekstrak<br />
metanol yaitu mortalitas larva sudah cukup<br />
banyak pada hari pertama setelah perlakuan dan<br />
relatif konstan pada hari berikutnya hingga hari<br />
ke tujuh setelah perlakuan (Gambar 2). Oleh<br />
karena itu kedua ekstrak hasil ekstraksi cair-cair<br />
ini tidak dilakukan analisis probit.<br />
Tabel ( Table) 2. Mortalitas larva uji pada masing-masing ekstrak daun N. atropurpurea setelah 24 jam<br />
( Mortality of larvae on N. atropurpurea leaf extract after 24 hour)<br />
Metode<br />
ekstraksi<br />
Konsentrasi<br />
(Concentration)<br />
Jumlah<br />
larva<br />
Mortalitas (Mortality) (%)<br />
(Extraction) (%) (Number of Ekstrak Ekstrak Ekstrak<br />
larvae) n-heksan etil asetat metanol<br />
Ekstraksi 5,00 30 76,67 - 60,00<br />
Cair-cair 2,50 30 66,67 - 33,33<br />
1,25 30 53,33 - 53,33<br />
0,63 30 43,31 - 43,33<br />
0,31 30 23,33 - 43,33<br />
Kontrol 30 0 - 0<br />
Ekstraksi 5,00 30 90,00 100,00 100,00<br />
Maserasi 2,50 30 86,67 100,00 100,00<br />
Bertingkat 1,25 30 70,00 100,00 90,00<br />
0,63 30 60,00 90,00 83,33<br />
0,31 30 46,67 86,67 63,33<br />
Kontrol 30 3,33 3,33 3,33<br />
257
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 253 - 263<br />
Gambar ( Figure) 1. Mortalitas larva S. litura<br />
setelah perlakuan pada ekstrak metanol<br />
(ekstraksi cair-cair) dengan metode<br />
kontak ( Mortality of larvae on methanol<br />
extract by partition extraction with<br />
direct contact method)<br />
Gambar ( Figure) 2. Mortalitas larva S. litura<br />
setelah perlakuan pada ekstrak n-heksan<br />
(ekstraksi cair-cair) dengan metode<br />
kontak ( Mortality of larvae on n-hexan<br />
extract by partition extraction with<br />
direct contact method)<br />
3. Uji Toksisitas Ekstrak Daun N.<br />
atropurpurea<br />
Bertingkat<br />
Hasil Ekstraksi Maserasi<br />
Hasil pengujian masing-masing ekstrak<br />
daun N. atropurpurea terhadap mortalitas larva S.<br />
litura pada hari ke tujuh setelah perlakuan dapat<br />
dilihat pada Tabel 2. Hasil pengujian ini<br />
menunjukkan senyawa kimia ekstrak daun N.<br />
atropurpurea memiliki daya bunuh atau bersifat<br />
toksik terhadap larva S. litura. Toksisitasnya<br />
sangat kuat hanya bila diaplikasikan secara<br />
kontak. Pada masing-masing ekstrak daun N.<br />
atropurpurea,<br />
menunjukkan pola perkembangan<br />
mortalitas S. litura yang sama pada semua<br />
rentang konsentrasi uji, yaitu kematian larva<br />
sudah terlihat nyata pada hari pertama (24 jam)<br />
setelah perlakuan dan relatif konstan pada hari<br />
258<br />
berikutnya hingga hari ke tujuh setelah perlakuan<br />
(Gambar 3, 4 dan 5).<br />
Hasil pengujian ini menunjukkan, ekstrak<br />
etil asetat dapat mematikan larva sebesar 100%<br />
paling cepat dibandingkan ekstrak metanol dan<br />
ekstrak n-heksan 1 hari (24 jam) setelah<br />
perlakuan karena pada konsentrasi 1,25% sudah<br />
dapat mematikan larva sebesar 100%. Waktu<br />
kematian ekstrak etil asetat juga lebih cepat, pada<br />
konsentrasi 1,25%, 2,50% dan 5,00% dapat<br />
menyebabkan kematian sebesar 100% hanya satu<br />
hari setelah perlakuan. Sedangkan ekstrak<br />
metanol pada konsentrasi 2,50% baru dapat<br />
menyebabkan kematian sebesar 100% pada hari<br />
ke empat setelah perlakuan dan esktrak n-heksan<br />
pada konsentrasi 5,00% juga baru dapat<br />
menyebabkan kematian sebesar 90% pada hari<br />
ke empat setelah perlakuan.<br />
Gambar ( Figure) 3. Mortalitas larva S. litura<br />
setelah perlakuan pada ekstrak n-heksan<br />
(esktraksi maserasi bertingkat) dengan<br />
metode kontak ( Mortality of larvae on<br />
n-hexan extract by soaking extraction<br />
with direct contact method)<br />
Gambar ( Figure) 4. Mortalitas larva S. litura<br />
setelah perlakuan pada ekstrak<br />
metanol (ekstraksi maserasi<br />
bertingkat) dengan metode kontak<br />
( Mortality of larvae on methanol<br />
extract by soaking extraction with<br />
direct contact method)
Gambar ( Figure) 5. Mortalitas larva S. litura<br />
setelah perlakuan pada ekstrak etil asetat<br />
(ekstraksi maserasi bertingkat) dengan<br />
metode kontak ( Mortality of larvae on<br />
ethyl acetate extract by soaking<br />
extraction with direct contact method)<br />
Hasil analisis probit menunjukkan<br />
nilai lethal concentration (LC 50)<br />
ekstrak metanol<br />
dan n-heksan menunjukkan 1,5 kali dan 4 kali<br />
lebih tinggi dari nilai LC50 ekstrak etil asetat.<br />
Begitu juga nilai LC95 ekstrak etil asetat 1,5 kali<br />
lebih rendah daripada ekstrak metanol dan 8 kali<br />
lebih rendah daripada ekstrak heksan (Tabel 3).<br />
Hasil-hasil penelitian ini menunjukkan bahwa<br />
ekstrak etil asetat paling toksik atau paling<br />
aktif menyebabkan mortalitas larva S. litura<br />
instar ke tiga, dibandingkan ekstrak metanol dan<br />
ekstrak n-heksan. Oleh karena itu untuk uji<br />
selanjutnya, pengujian hanya dilakukan pada<br />
ekstrak etil asetat.<br />
Tabel ( Table) 3. Daya racun berbagai ekstrak daun N. atropurpurea terhadap larva S. litura pada hari<br />
ketujuh setelah perlakuan dengan metode kontak ( Toxicity of N. atropurpurea leaf extract<br />
against S. litura larvae on seventh day after treament with direct contact method)<br />
Jenis Ekstrak (Extract kind) LC50 (sk. 95 %) LC95 (sk. 95 %)<br />
Ekstrak Heksan 0,84 % (-) 4,47 % (-)<br />
Ekstrak Metanol 0,34 % (batas atas 0,90) 0,89 % (batas bawah 0,56-batas<br />
atas 7,29)<br />
Ekstrak Etil asetat 0,23 % (batas atas 0,49) 0,59 % (batas bawah 0,38-batas<br />
Keterangan ( Remarks):<br />
SK = Selang Kepercayaan<br />
4. Uji Lanjut (Penentuan LC dan Lc )<br />
50 95<br />
Berdasarkan hasil analisis probit dapat<br />
ditentukan kisaran konsentrasi ekstrak untuk uji<br />
selanjutnya, yaitu 0,007% (pada Gambar 6<br />
dibulatkan menjadi 0,01%), 0,12%, 0,23%,<br />
0,38% dan 0,59% serta kontrol (tanpa ekstrak<br />
hanya menggunakan air). Hasil pengujian lanjut<br />
ekstrak etil asetat daun N. atropurpurea terhadap<br />
mortalitas larva S. litura melalui metode kontak<br />
menunjukkan pola yang sama dengan percobaan<br />
sebelumnya. Mortalitas larva sudah terlihat<br />
nyata pada hari pertama dan relatif konstan pada<br />
hari berikutnya hingga hari ke tujuh setelah<br />
perlakuan (Gambar 6). Hasil pengujian ini<br />
menunjukkan ekstrak etil asetat mempunyai daya<br />
racun yang tinggi terhadap larva S. litura,<br />
pada<br />
konsentrasi 0,59% dapat mematikan larva<br />
sebesar 92,22%, pada konsentrasi 0,38% dan<br />
0,23% masing-masing dapat mematikan larva<br />
sebesar 83,33% dan 70,00% dan pada<br />
konsentrasi yang lebih rendah 0,12% dan 0,007%<br />
masih dapat mematikan larva sebesar 44,44%<br />
dan 22,22%, dengan kematian kontrol sebesar<br />
6,67%.<br />
Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. terhadap<br />
Serangga Hama Spodotera litura Fabricus ( Lepidoptera: Noctuidae)<br />
Asmaliyah, Sumardi, dan Musyafa<br />
atas 2,35)<br />
Gambar ( Figure) 6. Mortalitas larva S. litura<br />
setelah perlakuan pada ekstrak etil asetat<br />
dengan metode kontak ( Mortality of S.<br />
litura larvae on ethyl acetate with direct<br />
contact method)<br />
Hasil analisis probit terhadap data jumlah<br />
mortalitas larva menunjukkan nilai LC50 ekstrak<br />
etil asetat daun N. atropurpurea adalah 0,18%<br />
dengan batas bawah 0,08% dan batas atas 0,29%<br />
dan LC95 sebesar 0,54% dengan batas bawah<br />
0,39% dan batas atas 0,96%.<br />
Hasil analisis varians menunjukkan<br />
perlakuan konsentrasi berpengaruh nyata<br />
terhadap mortalitas larva S.litura.<br />
Hasil uji lanjut<br />
menunjukkan semua rentang konsentrasi uji<br />
259
erbeda nyata dengan kontrol (Gambar 7). Hasil<br />
uji korelasi menunjukkan ada hubungan yang<br />
sangat kuat antara konsentrasi terhadap<br />
mortalitas larva S. litura (P
Herawati (2006), hasil uji warna menunjukkan<br />
golongan metabolit sekunder yang terkandung<br />
didalam ekstrak metanol, esktrak diklorometan<br />
dan ekstrak etil asetat relatif sama, tetapi ekstrak<br />
etil asetat paling aktif sebagai biopestisida.<br />
Pola perkembangan mortalitas larva S.<br />
litura pada ketiga ekstrak baik yang dihasilkan<br />
secara maserasi bertingkat maupun ekstraksi<br />
cair-cair menunjukkan pola yang sama. Pada<br />
semua rentang konsentrasi yang diuji, mortalitas<br />
larva sudah terlihat nyata pada hari pertama<br />
setelah perlakuan dan relatif konstan pada hari<br />
berikutnya hingga mendekati konstan pada hari<br />
ke lima setelah perlakuan. Pola perkembangan<br />
mortalitas ini mengindikasikan bahwa senyawa<br />
aktif yang terkandung dalam ekstrak daun N.<br />
atropurpurea memiliki cara kerja yang relatif<br />
cepat dalam menimbulkan mortalitas larva S.<br />
litura.<br />
Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa<br />
segera setelah perlakuan larva tidak bergerak,<br />
diduga larva mengalami kelumpuhan (efek knock<br />
down),<br />
walaupun kemudian ada diantaranya<br />
dapat bergerak kembali. Larva yang dapat<br />
bergerak kembali akan terus hidup hingga<br />
mencapai stadia pupa, sedangkan larva yang<br />
tidak bergerak lagi akan mengalami kematian<br />
dengan kondisi tubuh apabila disentuh lunak dan<br />
lemas serta warna tubuh berubah dari hijau<br />
kecoklatan menjadi coklat muda (Gambar 8).<br />
Di duga larva yang bisa bergerak kembali karena<br />
bisa menetralkan racun yang masuk ke dalam<br />
tubuhnya. Adanya proses kelumpuhan terlebih<br />
Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. terhadap<br />
Serangga Hama Spodotera litura Fabricus ( Lepidoptera: Noctuidae)<br />
Asmaliyah, Sumardi, dan Musyafa<br />
a b<br />
dahulu sebelum kematian serangga uji,<br />
diperkirakan senyawa aktif yang berasal dari<br />
ekstrak daun N. atropurpurea bekerja sebagai<br />
racun syaraf (Harahap, 1997). Hasil penelitian<br />
Enan (2001) menyatakan bahwa Periplaneta<br />
americana yang diperlakukan secara kontak<br />
dengan minyak atsiri (eugenol) yang bekerja<br />
sebagai racun syaraf menunjukkan gejala<br />
hiperaktif yang diikuti dengan hyperextention<br />
pada kaki dan abdomen, kemudian kelumpuhan<br />
atau tidak bergerak yang diikuti dengan<br />
kematian. Gejala ini sesuai dengan yang<br />
dikemukakan Tarumingkeng (1992), bahwa pada<br />
dosis median secara khas racun syaraf<br />
menimbulkan 4 tahap simptom yaitu : eksitasi<br />
(sering didahului dengan kegelisahan), konvulsi<br />
(kekejangan), paralisis (kelumpuhan) dan<br />
kematian.<br />
Hasil uji korelasi menunjukkan semakin<br />
tinggi tingkat konsentrasi uji, mortalitas larva<br />
semakin tinggi, diduga karena semakin tinggi<br />
jumlah racun yang masuk dan terakumulasi<br />
ke dalam tubuh serangga melalui kutikula,<br />
sehingga senyawa aktif yang sampai keorgan<br />
sasaran juga tinggi, akibatnya tekanan terhadap<br />
aktivitas sistem syaraf menjadi lebih tinggi, yang<br />
berakibat paralisis dan kematian.<br />
Pada seluruh gambar yang ada terlihat<br />
bahwa kematian yang nyata hanya terjadi 1 hari<br />
atau 24 jam setelah perlakuan. Hal ini memberi<br />
gambaran bahwa ekstrak daun N. atropurpurea<br />
ini kemungkinan hanya memiliki umur residu<br />
efektif 1 hari.<br />
Gambar ( Figure)<br />
8. Larva yang mati (a) dan larva yang bertahan hidup (b) setelah aplikasi perlakuan<br />
ekstrak daun N. atropurourea ( death larvae (a) and survive larvae (b) after N.<br />
atropurpurea leaf extract application)<br />
261
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 253 - 263<br />
262<br />
IV. KESIMPULAN DAN SARAN<br />
A. Kesimpulan<br />
Ekstrak daun Nicolaia atropurpurea yang<br />
diaplikasikan dengan metode kontak bersifat<br />
toksik terhadap larva Spodaptera litura instar<br />
ketiga dengan nilai LC50 dan LC95 sebesar 0,18%<br />
dan 0,54%. Semakin tinggi tingkat konsentrasi<br />
uji, mortalitas larva semakin tinggi ekstrak yang<br />
paling toksik dihasilkan dari ekstraksi maserasi<br />
bertingkat dengan menggunakan pelarut etil<br />
asetat.<br />
B. Saran<br />
Perlu penelitian lanjutan untuk<br />
mengembangkan potensi tumbuhan ini sebagai<br />
insektisida nabati, yaitu melakukan penelitian<br />
lanjutan terhadap aktivitas biologi lainnya dari<br />
ekstrak N. atropurpurea dan bagaimana<br />
pengaruhnya terhadap organisme non target<br />
(keamanannya). Penelitian untuk mengisolasi<br />
dan mengidentifikasi senyawa aktif daun N.<br />
atropurpurea<br />
dilakukan.<br />
yang bersifat toksik juga perlu<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
Dadang. 1999. Insect Regulatory and Active<br />
Substances of Indonesia Plants Particulary<br />
to the Diamond Back Moth Department of<br />
Bio Regulation Studies, Graduate School<br />
of Agriculture. Tokyo<br />
Agriculture. Disertasi.<br />
University of<br />
Departemen Kesehatan. 2008. Daftar jenis-jenis<br />
tanaman obat. Riset Perguruan<br />
Tinggi/Unas/LIPI-PDII/Resep.<br />
http://www.smecda.com.<br />
19/6/<strong>2010.</strong><br />
Diakses<br />
Doke, S. 2006. Uji toksisitas minyak atsiri kayu<br />
manis ( Cinnamomum burmanii BL), serai<br />
wangi ( Andropogon nardus L) dan jeruk<br />
purut ( Citrus hystrix D.C.) terhadap jentik<br />
Aedes aegypti.<br />
Tesis Program<br />
Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada,<br />
Yogyakarta. Tidak Dipublikasikan.<br />
Enan, E. 2001. Insecticides activity of essential<br />
oils : octopaminergic sites of action.<br />
Comparative Biochemistry and<br />
Psysiology Part C.130: 325-337.<br />
Escoubas, P., L. Lajide dan J. Mizutani. 1995.<br />
Termite antifeedant activity in<br />
Aframomum melequeta.<br />
Phytochemistry,<br />
<strong>Vol</strong>.40, No.4: 1097-1099.<br />
Farrel, K.T. 1990. Spices, condiments and<br />
seasonings. Second Edition AVI<br />
Pubs.Co.Inc.Westpat.Connecticut.<br />
http://books.google.co.id/books?id.<br />
Diakses 30/5/2009.<br />
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia.<br />
Penuntun cara modern menganalisa<br />
tumbuhan. Terbitan Kedua. Penerbit ITB<br />
Bandung.<br />
Herawati, Y. 2006. Uji aktivitas ekstrak daun<br />
mengkudu ( Morinda citrifolia Linn)<br />
sebagai biopestisida melalui uji hayati lalat<br />
buah ( Bactrocera dorsalis).<br />
Skripsi<br />
Jurusan Kimia. http://digilib.upi.edu.<br />
Diakses 30/5/2009.<br />
Hilje, L. and G.A. Mora. 2006. Promissory<br />
botanical repellents/deterents for<br />
managing two key tropical insects pests,<br />
the whitefly Bemisia tabaci and mahogany<br />
shootborer Hypsipyla grandella.<br />
Rai and<br />
Carpinella (eds.) Naturally Occuring<br />
Bioactive Compounds. Elsevier B.V. All<br />
rights reserved.<br />
Jaafar, F.M, C.P. Osman, N.H. Ismail dan<br />
K. Awang. 2007. Analysis of essential<br />
oils of leaves, stems, flower, and rhizomes<br />
of Etlingera elatior (Jack) R.M.Smith.<br />
Malaysian Journal of Analytical Science<br />
11 (1): 1-2.<br />
Kardinan,A. 1999. Pestisida Nabati, Ramuan dan<br />
Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta.<br />
Lenny, S. 2006. Isolasi dan Uji Bioaktivitas<br />
Kandungan Kimia Utama Puding Merah<br />
dengan Metode Uji Brine Shrimp.<br />
Karya<br />
Ilmiah, e-USU Repository, Universitas<br />
Sumatera Utara, medan.<br />
Naufalin, R. 2005. Kajian sifat antimikroba<br />
ekstrak bunga kecombrang ( Nicolaia<br />
speciosa Horan) terhadap berbagai<br />
mikroba patogen dan perusak pangan.<br />
Disertasi Sekolah Pascasarjana, Institut<br />
Pertanian Bogor (IPB). Tidak<br />
Dipublikasikan<br />
Nugroho, W. B . , B. Schwarz, V. Wray and<br />
P.Proksch. 1996. Insecticidal<br />
Constituents from Rhizome of Zingiber<br />
cassumunar and Kaempferia rotunda.<br />
Phytochemistry, <strong>Vol</strong>. 41, No.1: 129-132.
Pandji, C., C. Grimm, V. Wray, L. Witte<br />
dan P. Proksch. 1993. Insecticidal<br />
constituents from four species of the<br />
zingiberaceae.<br />
No.2: 415-419.<br />
Phytochemistry, <strong>Vol</strong>. 34,<br />
Prijono, D. 2003. Teknik Ekstraksi, Uji Hayati<br />
dan Aplikasi Senyawa Bioaktif<br />
Tumbuhan. Departemen Hama dan<br />
Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian,<br />
IPB.<br />
Robinson, T. 1995. Kandungan Organik<br />
Tumbuhan<br />
Bandung<br />
Tinggi. Penerbit ITB.<br />
Schneider, C . , F.I Bohnenstengel, B.W. Nugroho,<br />
V. Wray, K. Witte, P.D. Hung, L.C. Kiet<br />
dan P. Proksch. 2000. Insecticidal<br />
rocaglamide derivatives from Aglaia<br />
spectabilis (Meliaceae). Phytochemistry<br />
54: 731-736.<br />
Sumardi. 2008. Perlindungan <strong>Hutan</strong> Lanjut.<br />
Bahan Kuliah PSIK Program Khusus-<br />
KTB 602. Program Studi Ilmu Kehutanan-<br />
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah<br />
Mada.<br />
Tampubolon, O.T . , Suhatsyah, S. Sastrapradja.<br />
1983. Penelitian pendahuluan kimia<br />
Uji Toksisitas Ekstrak Daun Nicolaia atropurpurea Val. terhadap<br />
Serangga Hama Spodotera litura Fabricus ( Lepidoptera: Noctuidae)<br />
Asmaliyah, Sumardi, dan Musyafa<br />
kecombrang ( Nicolaia speciosa Horan).<br />
Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan<br />
Obat III. Fakultas Farmasi, UGM.<br />
Yogyakarta.<br />
Tarmadi, D., A.H. Prianto, I.Guswenrivo, T.<br />
Kartika dan S. Yusuf. 2007. Pengaruh<br />
ekstrak Bintaro ( Carbera odollam Gaertn)<br />
dan Kecubung ( Brugmansia candida Pers)<br />
terhadap rayap tanah Coptotermes sp.<br />
Jurnal Tropical Wood Science and<br />
Technology. <strong>Vol</strong>. 5, No.1: 38-42.<br />
Tarumingkeng, R.C. 1992. Insektisida: Sifat,<br />
mekanisme kerja, dan dampak<br />
penggunaannya. Jakarta; Ukrida.<br />
Tawata, S., S. Taira, N. Kobamoto, M. Ishihara<br />
and S. Toyama. 1996. Synthesis and<br />
biological activities of dihydro-5,6dehydrokawain<br />
derivatives. Bioscience,<br />
Biotechnology and Biochemistry <strong>Vol</strong>.60.<br />
No:10: 1643-1645.<br />
Yang, Y.C, I.K. Park, E.H. Kim, H.S. Lee and Y.J.<br />
Ahn. 2004. Larvicidal activity of<br />
medicinal plant extracts against Aedes<br />
aegypti, Ochlerotatus togoi, and Culex<br />
pipiens pallens (Diptera:Culicidae). J.<br />
Asia-Pasific Entomol. 7 (2): 227-232.<br />
263
2)<br />
MUTU BIBIT MANGLID ( Manglieta glauca BI)<br />
PADA TUJUH JENIS MEDIA SAPIH<br />
Seedling Quality Index of Manglieta glauca BI<br />
on Seven Types of Transplanting Media<br />
1) 1) 2)<br />
Aris Sudomo , Encep Rachman dan/ and Nina Mindawati<br />
1)<br />
Balai Penelitian Kehutanan Ciamis<br />
Jl. Raya Ciamis Banjar Km. 4, Ds. Pamalayan, Ciamis 46201<br />
Telp. (0265) 771352 Fax. (0265) 775866<br />
<strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong><br />
Kampus Balitbang Kehutanan, Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor 16610<br />
Telp. (0251) 8631238, Fax. (0251) 7520005<br />
Naskah masuk : 19 Desember 2009 ; Naskah diterima : 15 November 2010<br />
ABSTRACT<br />
The objective of this research was to find out the transplanting media which is able to promote the best<br />
growth and quality of Manglieta glauca BI seedling. The experiment was conducted at the nursery of<br />
Ciamis Forestry Research Institute (CiFRI), started from February to September 2008 by using Complete<br />
Random Design (CRD). There were seven types of transplanting media, namely M1 (soil + compost<br />
(3:1)), M2 (soil), M3 (soil + compost + rice shell (1:1:1)), M4 (soil + compost + sand (1:1:1)), M5 (soil +<br />
compost + cocopeat (1:1:1)), M6 ((soil + compost + saw dust (1:1:1)), and M7 (soil + compost + burned<br />
rice shell (1:1:1)). Each treatment was applied to 60 seedlings, so that the required seedlings were 7 x 60 =<br />
420 seedlings. The result shows that M4 media gave better growth responses than others as follow: 0.469<br />
cm of diameter's growth, 22.678 cm of height, and 9.978 of leave number. The M5 gave better responses<br />
than others in the following things: 2.096 of root's biomass, 4.046 of stem's and leaf's weight, and 0.132 of<br />
seedling quality index. These are the best result than the others. It is concluded that that the use of media<br />
mix M4 and M5 gave the best seedling growth and its quality index in Manglieta glauca BI.<br />
Keywords: Manglieta glauca BI, transplanting media and seedling quality index<br />
ABSTRAK<br />
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis media sapih yang mampu menghasilkan<br />
pertumbuhan dan mutu bibit Manglieta glauca BI terbaik. Penelitian dilakukan di persemaian Balai<br />
Penelitian Kehutanan Ciamis dari bulan Februari 2008 s/d September 2008. Rancangan yang<br />
digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 jenis media sapih<br />
yaitu M1 (Tanah + Pupuk kandang (3:1)), M2 (Tanah), M3 (Tanah + Pupuk kandang + Sekam padi<br />
(1:1:1)), M4 (Tanah + Pupuk kandang + Pasir (1:1:1)), M5(Tanah + Pupuk kandang + Serbuk sabut<br />
kelapa (1:1:1)), M6 ((Tanah + Pupuk kandang + Serbuk gergaji (1:1:1)) dan M7 ( Tanah + Pupuk kandang<br />
+ Abu sekam padi (1:1:1)). Masing-masing perlakuan 60 bibit sehingga total bibit yang diperlukan<br />
adalah 7 x 60 = 420 bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran media M4 (Tanah+<br />
Pupuk kandang+Pasir (1:1:1)) memberikan pertumbuhan diameter (0,469 cm), tinggi (22,678 cm)<br />
dan jumlah daun (9,978) M. glauca BI yang lebih baik dibanding media lainnya. Campuran<br />
media M5 (tanah+pupuk kandang+serbuk sabut kelapa (1:1:1)) memberikan berat kering akar (2,096),<br />
berat kering batang dan daun (4,046) dan indeks mutu bibit (0,132) M. glauca BI yang<br />
terbaik dibanding media lainnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan campuran media<br />
M4 dan M5 masing-masing memberikan pertumbuhan dan indeks mutu bibit yang terbaik dalam<br />
teknik pembibitan M. glauca BI.<br />
.<br />
Kata kunci : Indeks mutu bibit, Manglieta glauca BI dan media sapih<br />
265
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 265 - 272<br />
266<br />
I. PENDAHULUAN<br />
A. Latar Belakang<br />
Manglieta glauca BI merupakan salah satu<br />
jenis tanaman andalan setempat dan tergolong<br />
fast growing spesies sehingga banyak disukai<br />
petani hutan rakyat. Di Jawa Barat, manglid<br />
dikembangkan melalui agroforestry pada<br />
progam perhutanan sosial dan dijadikan<br />
komoditas unggulan dalam pengembangan hutan<br />
rakyat dalam rangka meningkatkan<br />
kesejahteraan masyarakat sekitar hutan<br />
(Rimpala, 2001). Pohon manglid dapat mencapai<br />
tinggi maksimum 40 m dengan garis tengah 150<br />
cm dan mampu mencapai tinggi 4-6 m dalam<br />
waktu lima tahun (Hildebran 1935 dalam<br />
Rimpala, 2001). Di Jawa Barat jenis ini sangat<br />
disukai karena selain kayunya mengkilat,<br />
strukturnya padat, halus, ringan dan kuat,<br />
kekuatan kayunya digolongkan dalam kelas III<br />
dan keawetannya kelas II. Adapun keuntungan<br />
dari kayu manglid tersebut karena ringan yaitu<br />
dengan berat jenis (BJ) 0,41 sehingga mudah<br />
dikerjakan, sering dijadikan bahan baku<br />
pembuatan jembatan, perkakas rumah, barangbarang<br />
hiasan, patung dan ukiran dan ini banyak<br />
ditemukan di daerah Bali (Rimpala 2001).<br />
Kegunaan kayu manglid selama ini adalah<br />
sebagai daun pintu, perkakas rumah tangga<br />
(meja, kursi, almari), bangunan rumah,<br />
pembangunan jembatan, pelapis kayu dan<br />
plywood serta diharapkan dapat dijadikan bahan<br />
baku pulp (Prosea, 1998; Diniyati dkk., 2005).<br />
Keberhasilan progam penanaman baik<br />
dalam rangka pembangunan hutan tanaman<br />
maupun rehabilitasi lahan terdegradasi<br />
diperlukan ketersediaan bibit berkualitas. Untuk<br />
menghasilkan bibit berkualitas diantaranya<br />
memerlukan media dengan komposisi bahan<br />
organik dan unsur hara yang diperlukan bagi<br />
tanaman (Durahim, 2001). Selain kandungan<br />
unsur hara diperlukan berbagai campuran di<br />
dalam media untuk meningkatkan porositas<br />
sehingga sesuai bagi pertumbuhan akar tanaman.<br />
Oleh karena itu campuran media yang<br />
mempunyai unsur hara dan porositas sekaligus<br />
menjadi pilihan dalam menghasilkan bibit<br />
berkualitas. Pada umumnya media yang<br />
digunakan untuk pembibitan berasal dari top soil<br />
dicampur pupuk kandang. Pengambilan top soil<br />
dalam skala besar dapat berdampak negatif bagi<br />
ekosistem di areal tersebut (Hendromono, 1994).<br />
Selain itu top soil di suatu daerah tidak selalu<br />
subur sehingga memerlukan campuran untuk<br />
menambah unsur hara, aerasi dan porositas<br />
media. Oleh karena itu dalam rangka menjaga<br />
ekosistem dan memperbaiki kualitas bibit<br />
diperlukan media yang merupakan campuran<br />
limbah bahan organik dan tanah.<br />
Dalam pembangunan hutan tanaman,<br />
khususnya hutan rakyat maupun GNRHL, masih<br />
dijumpai kendala, dengan bibit yang ditanam<br />
memiliki kualitas pertumbuhan yang rendah<br />
diantaranya karena dari penggunaan media<br />
tumbuh semai yang berkualitas rendah. Media<br />
tumbuh semai yang dipergunakan pada<br />
persemaian di areal hutan tanaman, khususnya<br />
hutan rakyat pada umumnya hanya<br />
menggunakan tanah (top soil). Media semai<br />
tanah (top soil) tidak selalu mempunyai tingkat<br />
kesuburan yang baik sehingga diperlukan<br />
campuran bahan organik untuk menghasilkan<br />
bibit berkualitas. Ketersediaan berbagai limbah<br />
bahan organik, seperti serbuk gergaji, serbuk<br />
sabut kelapa, sekam padi dan kotoran hewan di<br />
sekitar lingkungan petani hutan rakyat sangat<br />
potensial digunakan sebagai media sapih dalam<br />
pembuatan bibit tanaman hutan. Masalahnya<br />
adalah pengetahuan petani tentang penggunaan<br />
berbagai limbah bahan organik tersebut sebagai<br />
media pertumbuhan semai masih terbatas. Oleh<br />
karena itu diperlukan dukungan IPTEK tentang<br />
penggunaan berbagai bahan organik sebagai<br />
media sapih untuk menghasilkan bibit M. glauca<br />
BI berkualitas.<br />
B. Tujuan penelitian<br />
Tujuan penelitian ini adalah untuk<br />
mengetahui jenis media sapih yang mampu<br />
menghasilkan pertumbuhan dan mutu bibit<br />
Manglieta glauca BI yang terbaik.<br />
.<br />
II. BAHAN DAN METODE<br />
A. Lokasi dan Waktu Penelitian<br />
Penelitian dilakukan di persemaian Balai<br />
Penelitian Kehutanan Ciamis dari bulan Februari<br />
sampai dengan September 2008.<br />
B. Bahan danAlat<br />
Bahan dan alat yang digunakan dalam<br />
penelitian ini adalah benih manglid, ayakan pasir,<br />
tampah, bak kecambah, tanah, pasir, serbuk sabut<br />
kelapa ( coco peat),<br />
serbuk gergaji, abu sekam<br />
padi, sekam padi, polybag,<br />
kaliper, luxmeter,<br />
timbangan analitik,gembor, oven dan alat tulis.
C. Metode Penelitian<br />
Metode yang digunakan dalam penelitian<br />
ini diuraikan sebagai berikut.<br />
1. Penanganan Buah<br />
Ekstrasi benih atau cara mengeluarkan<br />
benih dari buah untuk manglid adalah dengan<br />
menjemur buah yang telah masak sampai pecah<br />
sehingga memudahkan mengeluarkan benihnya.<br />
Benih yang telah keluar dari kulit buah masih<br />
diselimuti daging buah sehingga perlu<br />
dibersihkan dengan cara menaruh benih dalam<br />
tempayan lalu menggosoknya dengan kain<br />
sehingga benih bersih dari daging buah,<br />
kemudian dicuci bersih dan dikeringanginkan<br />
dalam ruangan selama 2 jam.<br />
2. Perkecambahan<br />
Perkecambahan dilakukan dengan<br />
menabur benih yang telah dibersihkan sesegera<br />
mungkin agar tidak berkurang daya<br />
kecambahnya pada bak kecambah yang berisi<br />
media serbuk gergaji atau abu sekam padi.<br />
Penyiraman dilakukan sehari sekali<br />
menggunakan gembor.<br />
3. Penyapihan<br />
Penyapihan dilakukan pada kecambah<br />
yang telah memiliki rata-rata 3 daun. Media yang<br />
digunakan adalah :<br />
M1 = Tanah + Pupuk kandang (3:1)<br />
M2 = Tanah<br />
M3 = Tanah + Pupuk kandang + Sekam padi<br />
(1:1:1)<br />
M4 = Tanah + Pupuk kandang + Pasir (1:1:1)<br />
M5 = Tanah + Pupuk kandang + Serbuk sabut<br />
kelapa (1:1:1)<br />
M6 = Tanah + Pupuk kandang + Serbuk gergaji<br />
(1:1:1)<br />
M7 = Tanah + Pupuk kandang +Abu sekam padi<br />
(1:1:1)<br />
4. Pengamatan<br />
Pengukuran pertumbuhan bibit yaitu<br />
tinggi, diameter, jumlah daun, persen hidup bibit<br />
dilakukan setiap bulan sampai bibit berumur 4<br />
bulan setelah penyapihan. Untuk mengetahui<br />
kualitas bibit secara fisiologis, maka dilakukan<br />
penghitungan Indeks Mutu Bibit (IMB) pada<br />
akhir pengukuran. Penghitungan indeks mutu<br />
bibit mengunakan cara Dickson (1960)<br />
dalam<br />
Kurniaty dkk (2007) dengan dengan rumus<br />
sebagai berikut :<br />
IMB = (A+B)/(C/D+A/B)<br />
Mutu Bibit Manglid ( Manglieta glauca Bi)<br />
pada Tujuh Jenis Media Sapih<br />
Aris Sudomo, Encep Rachman dan Nina Mindawati<br />
Keterangan :<br />
IMB = Indeks Mutu Bibit<br />
A = Berat kering batang + daun (gram)<br />
B = Berat keringAkar (gram)<br />
C = Tinggi (cm)<br />
D = Diameter (cm)<br />
D. Rancangan Penelitian<br />
Rancangan penelitian yang digunakan<br />
dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak<br />
Lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan. Masingmasing<br />
perlakuan 60 bibit sehingga total bibit<br />
yang diperlukan 7 x 60 = 420 bibit. Pengamatan<br />
terhadap panjang akar, jumlah akar dan berat<br />
kering akar, berat kering batang+daun dan indeks<br />
mutu bibit pada masing-masing perlakukan<br />
diambil 10 sampel bibit sedangkan pada<br />
pengamatan survival dilakukan terhadap 20 bibit<br />
yang terdapat dalam 3 kelompok.<br />
E. Analisis Data<br />
Analisis yang digunakan untuk menguji<br />
variasi dari variabel yang diamati adalah analisis<br />
varian dengan menggunakan uji F dengan taraf<br />
5%. Selanjutnya apabila perlakuan berpengaruh<br />
nyata terhadap parameter yang diukur maka<br />
dilanjutkan dengan menggunakan uji Duncan<br />
(Sastrosupadi, 2000)<br />
III. HASIL DAN PEMBAHASAN<br />
Hasil analisis varian menunjukkan bahwa<br />
perlakuan media yang diuji berpengaruh nyata<br />
terhadap pertumbuhan diameter, tinggi, jumlah<br />
daun, persen hidup, berat kering akar, berat<br />
kering batang + daun dan indeks mutu bibit tetapi<br />
tidak berpengaruh nyata pada panjang dan<br />
jumlah akar seperti yang disajikan pada Tabel 1.<br />
Dari hasil uji lanjut Duncan yang disajikan<br />
pada Tabel 2 terlihat bahwa media M4<br />
(Tanah+Pupuk kandang+Pasir (1:1:1))<br />
memberikan pertumbuhan diameter (0,469 cm),<br />
tinggi (22,678 cm) dan jumlah daun (9,978) yang<br />
relatif lebih baik dibanding penggunaan media<br />
lainnya. Meskipun demikian media M4<br />
memberikan persen hidup semai yang relatif<br />
lebih rendah yaitu 75% dan tidak berbeda nyata<br />
dengan M1 (90%), M2 (91,7%), M3 (91,7%),<br />
M5 (81,7%) dan M6 (78,3%). Media M4<br />
memberikan indeks mutu bibit (0,071) yang<br />
berbeda nyata lebih rendah dengan M5 (0,132)<br />
dan M7 (0,095). Hal ini menunjukkan bahwa<br />
penggunaan media M4 (Tanah+Pupuk<br />
267
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 265 - 272<br />
Tabel ( Table)<br />
1. Hasil analisis varian pertumbuhan diameter, tinggi, jumlah daun, persen hidup, panjang<br />
akar, jumlah akar, berat kering akar, berat kering batang + daun dan indeks mutu bibit<br />
umur 4 bulan Manglieta glauca BI ( The result of analysis varians on diameter, height,<br />
leave number, survival rate, root and stem + leave's biomass, and seedling quality index<br />
of 4 months old Manglieta glauca BI)<br />
No.<br />
kandang+Pasir (1:1:1)) akan memberikan<br />
pertumbuhan semai lebih baik tetapi dengan<br />
persen hidup dan indeks mutu bibit relatif kurang<br />
baik di banding media lainnya. Menurut Winarto<br />
(2003) bahwa pupuk organik biasanya<br />
mengandung unsur lengkap unsur hara yang<br />
dibutuhkan tanaman baik hara makro maupun<br />
mikro walaupun lambat diserap oleh tanaman.<br />
Input pasir dapat menjaga struktur tanah tetap<br />
remah dan gembur sehingga memperlancar<br />
pertumbuhan akar dalam menyerap unsur hara.<br />
Pada media tanah tanpa campuran pasir dan<br />
pupuk kandang lamakelamaan menjadi padat dan<br />
tidak gembur sehingga memperlambat<br />
pertumbuhan bibit. Dengan mencampur media<br />
tanah + pasir, menyebabkan aerasi dan drainase<br />
menjadi lebih baik, kemampuan mengikat air dan<br />
unsur hara juga lebih baik dibandingkan dengan<br />
media tanah atau media pasir. Sesuai dengan<br />
pendapat Buckman et al., (1982), bahwa pasir<br />
mempunyai daya aerasi dan draenase yang baik,<br />
tetapi sukar mengikat air dan miskin zat hara.<br />
Tanah mempunyai daya mengikat air dan<br />
unsur hara yang baik, tetapi cenderung memiliki<br />
aerasi dan drainase yang kurang baik. Hal ini<br />
sesuai dengan penelitian Lendri (2003)<br />
menyatakan bahwa media tanah+pasir+kompos<br />
(1:1:1) memberikan persentase hidup yang tinggi<br />
dan kondisi bibit yang baik daripada campuran<br />
268<br />
Parameter<br />
(Parameter)<br />
F Hitung<br />
(F Value)<br />
F Tabel<br />
(F Table)<br />
1 Diameter (cm) 7,854* 2,14<br />
2 Tinggi (cm) 33,742* 2,14<br />
3 Jumlah daun 3,904* 2,14<br />
4 Persen hidup (%) 3,930* 2,85<br />
5 Panjang akar 2,238ns 2,25<br />
6 Jumlah akar 1,012ns 2,25<br />
7 Berat kering akar 14,332* 2,25<br />
8 Berat kering batang+daun 6,469* 2,25<br />
9 Indeks mutu bibit 19,795* 2,25<br />
Keterangan ( Remark) : * : berbeda pada tingkat kepercayaan 95% ( significant at level of 95%) dan ns : tidak berbeda nyata pada<br />
tingkat kepercayaan 95% ( nonsignificant at level 95%)<br />
tanah+pupuk kandang (2:1) pada bibit mengkudu<br />
( Morinda citrifolia).<br />
Novizan (2005) dalam<br />
Kosasih dan Heryati (2006) mengatakan bahwa<br />
media yang baik mempunyai empat fungsi utama<br />
yaitu memberi usur hara dan sebagai media<br />
perakaran, meyediakan air dan tempat<br />
penampungan air, menyediakan udara untuk<br />
respirasi akar dan sebagai tempat bertumbuhnya<br />
tanaman.<br />
Berat kering akar, berat kering batang dan<br />
daun dan indeks mutu bibit pada media M5<br />
(tanah+pupuk kandang+serbuk sabut kelapa<br />
(1:1:1)) menunjukkan hasil yang terbaik<br />
dibanding media lainnya. Hal ini menunjukkan<br />
bahwa serbuk sabut kelapa memberikan<br />
keseimbangan pertumbuhan akar dengan<br />
pertumbuhan batang dan daun yang relatif lebih<br />
baik dibanding media lainnya. Dengan indeks<br />
mutu bibit yang lebih baik maka peluang<br />
keberhasilan penanaman di lapangan juga akan<br />
semakin besar. Pemilihan campuran media M5<br />
akan sesuai untuk peningkatan kualitas bibit<br />
meskipun dengan pertumbuhan tinggi relatif<br />
lebih rendah dibanding M1, M3, M4, M6 dan<br />
jumlah daun yang relatif lebih rendah dibanding<br />
M2 dan M4. Hendromono (2004) melaporkan<br />
bahwa kompos sabut kelapa sawit + sekam padi 1<br />
: 1 (V:V) merupakan media yang sesuai untuk<br />
pembibitan Khaya anthoteca.<br />
Sementara
Durahim (2001) menyimpulkan bahwa<br />
penggunaan media campuran top-soil + sekam<br />
padi + sabut kelapa 1:1:1 (V:V:V) meningkatkan<br />
pertumbuhan dan mutu morfologi bibit mahoni<br />
( Switenia macrophylla).<br />
Campuran media M3 (Tanah+pupuk<br />
kandang+sekam padi (1:1:1)) memberikan<br />
pertumbuhan jumlah daun yang tidak berbeda<br />
nyata dengan M1, M2, M4 dan M6 tetapi berbeda<br />
nyata lebih baik dibanding M5 dan M7.<br />
Indriyanto (2003) melaporkan bahwa media<br />
tanah + bokashi sekam padi (2:1) memberikan<br />
hasil relatif lebih baik untuk pembibitan cengal<br />
( Hopea sangal Korth) dibandingkan tanah dan<br />
tanah + serbuk gergaji. Media sekam padi dapat<br />
menciptakan kondisi lingkungan tumbuh<br />
khususnya sifat fisik dan kimia tanah yang lebih<br />
baik bagi pertumbuhan tanaman karena lebih<br />
cepat proses pelapukan dan dekomposisi,<br />
mengandung unsur hara N, P, K, Cl dan Mg<br />
(Thomas, 1995). Media tumbuh yang<br />
mengandung sekam, laju absorbsi Ca dan Mg<br />
lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya.<br />
Erlan (2005) menyatakan bahwa urutan media<br />
yang relatif lebih baik untuk pertumbuhan<br />
mahkota dewa ( Phaleria macrocarpha (Scheff.)<br />
Boerl.) berturut-turut adalah tanah + kompos,<br />
tanah + serbuk gergaji dan tanah + sekam padi<br />
dibanding dengan tanah + pupuk kandang dan<br />
tanah tanpa campuran. Mahfudz dkk, 2005<br />
menyatakan bahwa media tanah+kompos (1:1).<br />
menghasilkan bibit jati terbaik dibanding<br />
penggunaan tanah, tanah + sekam padi (1:1) dan<br />
tanah+pupuk kandang(1:1).<br />
Walaupun media campuran M6 (Tanah +<br />
Pupuk kandang + Serbuk gergaji (1:1:1)) relatif<br />
mempunyai pertumbuhan yang relatif lebih<br />
lambat dibanding M4 dan M5, semai yang<br />
ditumbuhkan pada media yang mengandung<br />
serbuk gergaji cenderung mempunyai kandungan<br />
K yang paling tinggi (Sunantara dkk., 2005). Hal<br />
ini diduga ada kaitannya dengan kemampuan<br />
media tumbuh dalam menyediakan unsur-unsur<br />
hara tersebut selama pertumbuhan semai<br />
berlangsung seperti yang disajikan pada Lakitan<br />
(1995) menyatakan bahwa serbuk gergaji sedikit<br />
mengandung N, P, K dan Mg dengan kapasitas<br />
penyangga baik dan kapasitas pegang/pengikat<br />
air baik sampai sangat baik walaupun sulit<br />
terdekomposisi karena kandungan kimia (lignin,<br />
hemiselulosa dan lain-lain) dan zat ekstratif yang<br />
mengganggu pertumbuhan cendawan.<br />
Tabel ( Table ) 2. Hasil uji lanjut Duncan pengaruh komposisi media sapih terhadap diameter, tinggi,<br />
jumlah daun, persen hidup, berat kering akar, berat kering batang + daun dan indeks mutu<br />
bibit Manglieta glauca BI pada umur 4 bulan (The result of Duncan advanced test on the<br />
influence of replanting media composition on diameter, height, leave number, survival<br />
rate, root and stem + leave's biomass, and seedling quality index of 4 months old -<br />
Manglieta glauca BI)<br />
M<br />
e<br />
d<br />
i<br />
a<br />
Diameter/<br />
Diameter<br />
(cm)<br />
Tinggi<br />
/Height<br />
(cm)<br />
Jumlah<br />
daun /<br />
Leave<br />
number<br />
Persen<br />
hidup /<br />
Survival<br />
(%)<br />
Mutu Bibit Manglid ( Manglieta glauca Bi)<br />
pada Tujuh Jenis Media Sapih<br />
Aris Sudomo, Encep Rachman dan Nina Mindawati<br />
Berat<br />
kering<br />
akar /Root<br />
biomass<br />
(gr)<br />
Berat kering<br />
batang +<br />
daun /<br />
stem+leave’s<br />
biomass<br />
(gr)<br />
Indeks<br />
mutu<br />
bibit /<br />
seedling<br />
quality<br />
index<br />
M1 0,427 bcd 18,833 c 9,352 bc 90,0 b 0,845ab 2,753 b 0,056 bc<br />
M2 0,333a 11,364 b 9,673 c 91,7 b 0,450a 1,170a 0,030a<br />
M3 0,41 b 18,955 c 9,200 bc 91,7 b 0,695ab 2,074ab 0,042ab<br />
M4 0,469 d 22,678 d 9,978 c 75,0 b 1,096 bc 2,624 b 0,071 c<br />
M5 0,433 cd 13,388 b 8,551ab 81,7 b 2,096 e 4,046 c 0,132 e<br />
M6 0,379ab 17,000 c 9,234 bc 78,3 b 1,474 cd 4,214 c 0,072 c<br />
M7 0,34a 8,953a 8,063a 53,3a 1,764 de 3,171 bc 0,095 d<br />
Keterangan ( Remark)<br />
: Nilai yang diikuti dengan huruf yang sama dalam suatu kolom menunjukkan tidak berbeda nyata pada<br />
tingkat kepercayaan 95% (Value followed by same letter on column indicated not different at level 95%)<br />
269
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 265 - 272<br />
Tabel ( Table)<br />
3. Hasil analisis sifat fisik dan kimia serbuk sabut kelapa.(The<br />
analysis result on physical<br />
and chemical characteristics of cocopeat)<br />
No Seri Tekstur Ekstrak 1:5 Terhadap contoh kering 105 o C<br />
Pasir Debu Liat pH Bahan organik<br />
H20 KCL Walkley&Black Kjeldahl C/N Olsen Morgan<br />
C<br />
N<br />
P2O5 K2O<br />
1 Cocopeat 0 35 65 6,1 5,0 47,05 0,81 58 412 13896<br />
Sumber ( Source) : Hasil analisis data primer di Balai Penelitian Tanah Bogor ( The result of analysis primary data at Bogor Soil<br />
Research Institute)<br />
Penambahan pupuk kandang, sekam<br />
maupun serbuk gergaji dapat menurunkan bobot<br />
jenis isi (BI) dan bobot jenis partikel (BJP), tetapi<br />
meningkatkan porositas, air tersedia, pori<br />
drainase cepat dan lambat (Sunantara dkk, 2005).<br />
Penambahan bahan organik menyebabkan jarak<br />
antar partikel tanah semakin besar dan terisi oleh<br />
hasil dekomposisi. Dibandingkan sekam dan<br />
serbuk gergaji, pupuk kandang dapat menciptakan<br />
granulasi media tumbuh lebih baik, sehingga<br />
tercipta struktur media yang baik pula. seperti yang<br />
ditunjukkan dengan persen pori drainase cepat<br />
yang lebih kecil atau jumlah pori makro yang lebih<br />
sedikit. Hal ini berkaitan erat dengan kandungan<br />
lignin dan hypoprotein yang relatif resisten<br />
terhadap pelapukan yang berturut-turut dari<br />
tertinggi pada serbuk gergaji, sekam dan pupuk<br />
kandang. Supardi (1983) menyatakan bahwa 0,2%<br />
bagian kotoran sapi merupakan jaringan jasad<br />
yang berperan penting dalam aktivitas biologi.<br />
Black (1946) menambahkan bahwa<br />
kemampuan media tumbuh dalam menunjang<br />
pertumbuhan akar yang baik, juga tergantung<br />
pada distribusi ukuran pori dan aktivitas jasad<br />
mikro. Tingkat pH media tumbuh yang<br />
menggunakan pupuk kandang relatif lebih<br />
rendah dibandingkan yang menggunakan sekam<br />
maupun serbuk gergaji karena asam-asam humid<br />
yang dilepaskan oleh jasad mikro. Kenyataan ini<br />
menunjukkan bahwa proses dekomposisi bahan<br />
organik dari pupuk kandang berlangsung lebih<br />
awal daripada sekam dan serbuk gergaji. Proses<br />
dekomposisi akan meningkat seperti ditunjukkan<br />
dengan menurunnya nilai bandingan C/N<br />
(Supriyanto dan Ernawanto, 1986).<br />
Dalam proses mineralisasi ini, kationkation<br />
akan segera dilepas, sehingga pH pada<br />
akhir pengamatan menjadi lebih besar. Proses<br />
mineralisasi bahan organik akan terjadi bila<br />
bandingan C/N < 25 (Anonim, 1984<br />
Sunantara dkk, 2005). Media tumbuh yang<br />
mengandung pupuk kandang memiliki sifat fisik<br />
dan kimia yang lebih mantap, sehingga mampu<br />
menunjang pertumbuhan perakaran dan semai<br />
lebih baik. Semai yang ditumbuhkan pada media<br />
270<br />
dalam<br />
yang mengandung pupuk kandang cenderung<br />
mempunyai laju absorbsi N dan P lebih tinggi.<br />
Berdasarkan hasil analisa sifat fisik dan kimia,<br />
media tumbuh yang mengandung pupuk kandang<br />
mempunyai sifat-sifat fisik dan kimia sebagai<br />
3 3<br />
berikut. BI 0,90-1,22 g/cm . BJP 2,25-2,31 g/cm ,<br />
porositas 46,94-59,85%, air tersedia 6,75-<br />
17,13% pori drainase cepat 23,03-30,24 dan pori<br />
drainase lambat 1,72-2,88; pH (H O) berkisar<br />
7,2-7,5 dan pH (KCl) 6,3-6,6 serta bandingan<br />
C/N 9,4-18,6 (Sunantara dkk, 2005).<br />
Media M7 memberikan hasil pertumbuhan<br />
diameter, tinggi, jumlah daun dan persentase<br />
hidup bibit Manglieta glauca BI terjelek<br />
dibanding media lainnya, hal ini dikarenakan<br />
bibit banyak terserang penyakit rebah semai/<br />
dumping off.<br />
Penggunanaan abu sekam padi juga<br />
bukan merupakan tambahan unsur hara tetapi<br />
dapat meningkatkan pH, aerasi dan porositas<br />
media. Mengingat dumpig off banyak terjadi pada<br />
persemaian yang terlalu lembab dan media yang<br />
dapat meningkatkan pH, maka kelembaban dari<br />
persemaian hendaknya dijaga jangan sampai<br />
tinggi dan usahakan adanya cukup sinar matahari<br />
yang masuk serta hindari penggunaaan media<br />
yang dapat meningkatkan pH seperti abu sekam<br />
padi. Penggunaan abu sekam padi sebagai<br />
campuran media dapat menaikkan pH dan<br />
kelembaban sehingga kondusif bagi patogen<br />
dumping off.<br />
Penggunaan arang sekam padi akan<br />
lebih baik karena butiran bersifat lebih besar dan<br />
kasar sehingga akan memperbaiki aerasi dan<br />
porositas media tanpa menaikkan pH secara lebih<br />
besar dibanding abu sekam padi. Hasil penelitian<br />
Kurniaty dkk. (2007) menunjukkan hasil yang<br />
berbeda pada media tanah + arang sekam padi<br />
(1:1) dengan pertumbuhan tinggi, diameter dan<br />
persen hidup bibit mindi ( Melia azedaract)<br />
terbaik dibanding dengan media tanah, sabut<br />
kelapa, arang sekam padi+sabut kelapa (1:1) dan<br />
tanah +sabut kelapa (1:1) sampai umur 5 bulan.<br />
Hal ini menunjukkan bahwa setiap jenis tanaman<br />
memerlukan kondisi media penyapihan yang<br />
berbeda untuk dapat menghasilkan pertumbuhan<br />
dan mutu bibit yang lebih baik.<br />
2
Gambar (Figure) 1. Kenampakan bibit Manglieta glauca BI umur 2 bulan ( Performance of seedling<br />
Manglieta glauca BI at 2 months old)<br />
IV. KESIMPULAN<br />
1. Perlakuan 7 jenis media sapih pada tanaman<br />
manglid memberikan respon yang berbeda<br />
nyata terhadap pertumbuhan diameter, tinggi,<br />
persen hidup, berat kering akar, berat kering<br />
batang+daun dan indeks mutu bibit.<br />
2. Pertumbuhan diameter, tinggi dan jumlah<br />
daun bibit manglid yang terbaik adalah<br />
menggunakan campuran media tanah + pupuk<br />
kandang + pasir (1:1:1) yaitu sebesar 0,469<br />
cm, 22,678 cm dan 9,978, sedangkan<br />
persentase hidup bibit manglid terbaik sebesar<br />
91,7% dihasilkan pada campuran media sapih<br />
tanah + pupuk kandang+sekam padi (1:1:1)<br />
dan terendah sebesar 53,3% pada campuran<br />
media tanah + pupuk kandang + abu sekam<br />
padi (1:1:1).<br />
3. Campuran media tanah + pupuk kandang +<br />
serbuk sabut kelapa (1:1:1) menghasilkan<br />
indeks mutu bibit manglid terbaik yaitu<br />
sebesar 0,132 sedangkan indeks mutu bibit<br />
terendah dihasilkan pada campuran media<br />
sapih tanah + pupuk kandang + sekam padi<br />
(1:1:1) yaitu sebesar 0,042.<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
Buckman, H.O., and N.C.Brady. 1982. Ilmu<br />
Tanah. Bhatara Karya Aksara. Jakarta.<br />
788 hal.<br />
Mutu Bibit Manglid ( Manglieta glauca Bi)<br />
pada Tujuh Jenis Media Sapih<br />
Aris Sudomo, Encep Rachman dan Nina Mindawati<br />
Diniyati, D. Suyarno, D.P. Kuswantoro, A.<br />
Badrunasar, E. Fauziyah, T. Sulistyati, dan<br />
E. Mulyati. 2005. Teknik Perbanyakan<br />
<strong>Tanaman</strong> Manglid ( Manglieta glauca BI)<br />
dengan Biji. Loka Penelitian dan<br />
Pengembangan <strong>Hutan</strong> Monsoon. Ciamis<br />
Durahim dan Hendromono, 2001. Kemungkinan<br />
Penggunaan Limbah Organik Sabut<br />
Kelapa Sawit dan Sekam Padi sebagai<br />
Campuran Top Soil untuk Media<br />
Pertumbuhan Bibit Mahoni ( Swictenia<br />
macrophylla King). Buletin Penelitian<br />
<strong>Hutan</strong> no. 628 Hal 13-26<br />
Erlan, 2005. Pengaruh Berbagai Media terhadap<br />
Pertumbuhan Bibit Mahkota Dewa<br />
( Phaleria macrocarpha (Scheff.) Boerl.)<br />
di Polibag. Jurnal Akta Agrosia <strong>Vol</strong>. 7<br />
No.2 hlm 72-75 Jul - Des 2005 ISSN :<br />
1410-3354 Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian<br />
Sriwigama. Palembang. Tanggal Akses<br />
15 November 2008<br />
Hendromono, 1994. Pengaruh Media Organik<br />
dan Tanah Mineral terhadap Mutu Bibit<br />
Pterygota alata Roxb. Buletin Penelitian<br />
<strong>Hutan</strong> no 617 : 55-64<br />
Hendromono dan Durahim, 2004. Pemanfaatan<br />
Limbah Sabut Kelapa Sawit dan Sekam<br />
Padi sebagai Medium Pertumbuhan Bibit<br />
Mahoni Afrika ( Khaya anthoteca C. DC).<br />
Buletin Penelitian <strong>Hutan</strong> No 644. Badan<br />
271
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 265 - 272<br />
<strong>Litbang</strong> Kehutanan. Puslitbang <strong>Hutan</strong> dan<br />
KonservasiAlam. Bogor.<br />
Indriyanto, 2003. Laporan Penelitian Respon<br />
Semai Pohon Cengal ( Hopea sangal<br />
Korth) terhadap campuran media tanah,<br />
bokashi sekam padi dan Bokhasi serbuk<br />
kayu gergaji di Persemaian. Universitas<br />
Lampung.<br />
Kurniaty, R., B. Budiman dan M. Suartana.<br />
Pengaruh Media dan Naungan terhadap<br />
Mutu Bibit Mindi. 2007. Buletin<br />
Puslitbang <strong>Vol</strong>ume X No 02 Oktober 2007.<br />
Cepu<br />
Lakitan, B. 1995. Fisiologi Pertumbuhan dan<br />
Perkembangan <strong>Tanaman</strong>. PT. Raja<br />
Grafindo Persada, Jakarta.<br />
Lendri, S. 2003. Buletin Teknik Pertanian <strong>Vol</strong> 8.<br />
Nomor 1, 2003. Bogor.<br />
Mahfudz, H. Supriyo, Suryanaji dan H.<br />
Supriyanto. 2005. Pengaruh Penggunaan<br />
Biostimulan, Jenis dan <strong>Vol</strong>ume Media<br />
terhadap Pertumbuhan Semai Jati. <strong>Pusat</strong><br />
Penelitian dan Pengembangan <strong>Hutan</strong><br />
<strong>Tanaman</strong>.Yogyakarta.<br />
Rimpala, 2001. Penyebaran Pohon Manglid<br />
( Manglietia Glauca BI.) di Kawasan<br />
272<br />
<strong>Hutan</strong> Lindung Gunung Salak. Laporan<br />
Ekspedisi Manglid. www .rimpala.com.<br />
Bogor.<br />
Sastrosupadi, A. 2000. Rancangan Percobaan<br />
Praktis Bidang Pertanian. Penerbit<br />
Kanisius,Yogyakarta<br />
Supriyanto, A. dan Ernawanto. 1986. Media<br />
Tumbuh untuk Pembibitan Jeruk. Buletin<br />
<strong>Tanaman</strong>HortikulturaXIVEdisiKhusus23.<br />
Sunantara,M., I.B. Aribawa dan I.K. Kariada,<br />
2005. Pengaruh Berbagai Media Tumbuh<br />
terhadap Pertumbuhan Bibit Jeruk Bali<br />
( Citrus maxima. Merr).<br />
Balai Pengkajian<br />
Teknologi Pertanian (BPTP). Bali.<br />
TanggalAkses 15 November 2008<br />
Kurniaty, R., B. Budiman, dan M. Suartana 2007.<br />
Pengaruh Media dan Naungan Terhadap<br />
Mutu Bibit Mindi. Buletin Puslitbang<br />
<strong>Vol</strong>ume X No. 02 Oktober 2007 hal 668-<br />
677. Cepu.<br />
Kosasih, A.S., 2006. Pengaruh Medium Sapih<br />
terhadap Pertumbuhan Bibit Shorea<br />
selanica BI di Persemaian. Jurnal <strong>Hutan</strong><br />
dan Konservasi Alam. <strong>Pusat</strong> Penelitian<br />
dan Pengembangan <strong>Hutan</strong> dan<br />
Konservasi Alam. Bogor
PENGENDALIAN PENYAKIT KARAT TUMOR ( Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc.<br />
Alpin) PADA SENGON ( Falcataria mollucana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) DI PANJALU<br />
KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT<br />
Control of Gall Rust Disease (Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin)<br />
on Sengon Tree ( Falcataria mollucana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes)<br />
in Panjalu, Ciamis, West Java<br />
1) 2) 1)<br />
Illa anggraeni , Benyamin Dendang dan/ and Neo Endra Lelana<br />
1)<br />
<strong>Pusat</strong> Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas <strong>Hutan</strong><br />
2)<br />
Balai Penelitian Kehutanan Ciamis<br />
Jl. Raya Ciamis Banjar Km. 4, Ds. Pamalayan, Ciamis 46201<br />
Telp. (0265) 771352 Fax. (0265) 775866<br />
Naskah masuk : 2 Pebruari 2010 ; Naskah diterima : 1 November 2010<br />
Keywords: sengon, gall rust, sulphur, lime, salt<br />
ABSTRACT<br />
Sengon (Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & JW Grimes) is one of the current tree developed on<br />
commercial scale, however, the existence of disease caused by a gall rust (Uromycladium tepperianum<br />
(Sacc.) Mc. Alpin) fungi is quite serious constraint for its development. Therefore, it needs to performed<br />
disease control to avoid a huge loss. The aim of the research was to know effectiveness of sulphur, lime and<br />
salt to control gall rust disease in Panjalu, Ciamis District, West Java. The experiment consists of six<br />
treatments and each treatment used ten trees. Treatments were P0= control, P1= sulphur, P2= lime, P3=<br />
lime and sulphur mixture (1:1) (w/w), P4= sulphur and salt mixture (10:1) (w/w), P5= lime and salt<br />
mixture (10:1) (w/w), and P6= sulphur, lime and salt mixture (10:10:1) (w/w/w). The results showed<br />
treatment P4 and P5 had the highest inhibiting percentage of gall rust growth and total amount of gall rust<br />
suppression. However, this value statistically not different from the treatment of P2 and P6.<br />
ABSTRAK<br />
Sengon ( Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) merupakan salah satu jenis pohon yang<br />
saat ini telah dikembangkan dalam skala usaha, namun permasalahan yang dihadapi ialah adanya<br />
serangan penyakit karat tumor yang disebabkan oleh fungi Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc.<br />
Alpin. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pengendalian agar kerugian yang ditimbulkan tidak semakin<br />
besar. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui efektivitas belerang, kapur dan garam dalam<br />
mengendalikan penyakit karat tumor di Panjalu Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Penelitian menggunakan<br />
enam perlakuan dengan individu yang diberi perlakuan sebanyak 10 pohon per perlakuan. Pengendalian<br />
dilakukan menggunakan belerang, kapur dan garam. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini<br />
adalah P0 = kontrol, P1 = belerang, P2 = kapur, P3 = kapur : belerang (1:1) (b/b), P4 = belerang : garam<br />
(10:1) (b/b), P5 = Kapur : garam (10:1) (b/b), P6 = belerang : kapur : garam (10:10:1) (b/b). Hasil<br />
penelitian menunjukkan perlakuan P4 dan P5 mempunyai persentase penghambatan tertinggi dan paling<br />
banyak menekan rata-rata jumlah karat tumor. Namun demikian, secara statistik nilai ini tidak berbeda<br />
dengan perlakuan P2 dan P6.<br />
Kata kunci :<br />
Kampus Balitbang Kehutanan, Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor 16610<br />
Telp. (0251) 8631238, Fax. (0251) 7520005<br />
sengon, karat tumor, belerang, kapur, garam<br />
273
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 273 - 278<br />
274<br />
I. PENDAHULUAN<br />
Sengon ( Falcataria moluccana (Miq.)<br />
Barneby & J.W. Grimes) merupakan tanaman<br />
yang saat ini menjadi primadona. <strong>Tanaman</strong> ini<br />
banyak diusahakan dan dikembangkan di<br />
kawasan hutan tanaman, perkebunan maupun di<br />
kebun-kebun milik rakyat (hutan rakyat).<br />
Kelebihan jenis tanaman ialah pertumbuhannya<br />
yang sangat cepat, sehingga tanaman ini pernah<br />
dijuluki sebagai pohon ajaib ( miracle tree).<br />
Selain itu tanaman ini bersifat multifungsi,<br />
memberikan dampak ganda, baik sebagai<br />
tanaman produksi maupun sebagai tanaman<br />
konservasi dan reboisasi.<br />
Salah satu masalah yang dihadapi dalam<br />
pengembangan sengon sekarang ini, yaitu adanya<br />
serangan penyakit karat tumor ( gall rust)<br />
yang<br />
disebabkan oleh fungi Uromycladium<br />
tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin (Old, 2002;<br />
Anggraeni dan Santoso, 2003; Rahayu, 2008).<br />
U. tepperianum yang menyerang sengon di<br />
Indonesia hanya memerlukan satu inang<br />
saja untuk menyelesaikan siklus hidupnya<br />
dan membentuk satu macam spora yaitu<br />
teliospora dalam telium, sehingga fungi ini<br />
mempunyai daur hidup pendek ( microcyclus)<br />
(Gathe, 1971).<br />
Di Indonesia penyakit karat tumor<br />
pertama kali dilaporkan pada tahun 1996 di<br />
Pulau Seram, Maluku (Anggraeni dan Santoso,<br />
2003). Kemudian Old (2002) melaporkan<br />
bahwa penyakit karat tumor juga menyerang<br />
sengon sebagai pohon pelindung kopi di<br />
Timor Lorosae dengan persentase serangan<br />
57% - 90%. Pada tahun 2006 Puslitbang<br />
<strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong> menerima laporan dari Dinas<br />
Kehutanan Kabupaten Lumajang (Surat Dinas<br />
Kehutanan Kabupaten Lumajang No.<br />
522/211/427.50/2006 dan No. 522/345/<br />
427.50/2006) bahwa tanaman sengon di lokasi<br />
kegiatan GN-RHL/GERHAN tahun tanam<br />
2003 seluas 300 ha, 2004 seluas 1.350 ha dan<br />
2005 seluas 775 ha telah terserang karat tumor.<br />
Hasil survei dan informasi dari beberapa media<br />
menunjukkan bahwa penyakit karat tumor<br />
terus menyebar sampai Jawa Timur<br />
(Banyuwangi, Bondowoso, Pasuruan, Malang,<br />
Jember, Lumajang, Probolinggo, Blitar, Kediri<br />
dan Pacitan); Jawa Tengah (Purworejo,<br />
Magelang, Temanggung, Wonosobo,<br />
Banjarnegara, Boyolali, Kutoarjo, Purwokerto<br />
dan Banyumas); serta Jawa Barat (Ciamis,<br />
Tasikmalaya, Sumedang dan Banten).<br />
Adanya epidemi penyakit karat tumor<br />
pada tanaman sengon di Pulau Jawa menurut<br />
Rahayu (2008) dapat menjadi ancaman yang<br />
dapat mengakibatkan penurunan produk kayu<br />
sengon besar-besaran pada tahun-tahun<br />
mendatang. Hal ini dapat mempengaruhi<br />
peta pengusahaan tanaman sengon di Pulau<br />
Jawa serta pengembangan produk-produk<br />
berbasis kayu sengon. Tujuan dari penelitian ini<br />
ialah untuk mengetahui efektivitas belerang,<br />
kapur dan garam untuk mengendalikan<br />
penyakit karat tumor di Panjalu Kabupaten<br />
Ciamis Jawa Barat.<br />
II. BAHAN DAN METODE<br />
A. Waktu dan Lokasi Penelitian<br />
Penelitian pengendalian penyakit karat<br />
tumor pada sengon dilaksanakan pada bulan<br />
April sampai dengan bulan Oktober 2009.<br />
Penelitian dilakukan di kebun sengon milik<br />
rakyat di Desa Sandingtaman Kecamatan<br />
Panjalu, Kabupaten Ciamis Jawa Barat.<br />
Kecamatan Panjalu berada di wilayah Ciamis<br />
bagian Utara yang secara geografis berada pada<br />
◦ ◦<br />
posisi 8 Lintang Utara dan 11 Lintang Selatan, di<br />
bawah kaki Gunung Sawal. Tinggi tempat 750 -<br />
1000 m di atas permukaan laut, dengan<br />
kelerangan 45%. Jenis tanah podsolik merah<br />
kuning dan sebagian latosol.<br />
B. Bahan danAlat<br />
Bahan yang digunakan ialah tanaman<br />
sengon umur 1 tahun, serbuk belerang, kapur,<br />
garam dapur, air, cat dan pengencer cat. Alat-alat<br />
yang digunakan antara lain lup, pisau, pinset, tali<br />
plastik, kantong plastik, obyek gelas & gelas<br />
penutup, kuas, sprayer,<br />
jerigen, ember, cangkul,<br />
golok, sabit, tangga aluminium lipat, galah, slang<br />
plastik, saringan plastik, alat pengaduk, gunting<br />
pangkas, hand counter,<br />
foto-mikroskop dan<br />
kamera.<br />
C. Metode<br />
1. Tahapan Kegiatan<br />
Sebelum diberi perlakuan setiap tanaman<br />
(pohon uji) dibersihkan dari karat tumor dengan<br />
cara pemangkasan ( wiwil),<br />
karat tumor<br />
dikumpulkan dan dimasukkan dalam lubang<br />
kemudian lubang ditutup. Setelah tanaman uji<br />
bersih dari karat tumor maka diberi perlakuan<br />
seperti yang tersebut di atas dengan cara<br />
pelaburan pada seluruh permukaan batang utama<br />
dan cabang kemudian dilakukan penyemprotan<br />
pada seluruh permukaan pohon secara merata.
Pengendalian Penyakit Karat Tumor ( Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin)<br />
pada Sengon ( Falcataria mollucana (Miq.) Barneby & J.w. Grimes) di Panjalu Kabupaten Ciamis Jawa Barat<br />
Illa Anggraeni, Benyamin Dendang dan Neo Endra Lelana<br />
A B C<br />
Gambar ( Figure) 1. A. Pemangkasan ( Pruning) B. Pelaburan ( Brushing) C. Penyemprotan ( Spraying)<br />
2. Metode Penelitian<br />
Dalam penelitian ini digunakan enam<br />
macam perlakuan yang terdiri dari belerang,<br />
kapur dan garam ditambah kontrol (Tabel 1).<br />
Masing-masing perlakuan digunakan tiga<br />
ulangan dan setiap ulangan terdiri dari sepuluh<br />
pohon.<br />
Bahan-bahan dalam perlakuan tersebut di<br />
atas dilarutkan dalam 5 liter air untuk pelaburan,<br />
sedangkan untuk penyemprotan bahan dilarutkan<br />
dalam 10 liter air. Sebelum digunakan larutan<br />
untuk semprot dilakukan penyaringan agar tidak<br />
menyumpat alat semprot. Perlakuan dilakukan<br />
setiap dua minggu sekali, penghitungan jumlah<br />
karat tumor pada setiap pohon dilakukan satu<br />
bulan sekali, sebelum perlakuan.<br />
Tabel ( Table ) 1. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian (The treatments used in this study)<br />
No.<br />
1<br />
2<br />
3<br />
4<br />
5<br />
6<br />
7<br />
Perlakuan (Treatment) Bahan (Materials)<br />
P0 kontrol<br />
P1 belerang<br />
P2 kapur<br />
P3 kapur : belerang (1:1) (b/b)<br />
P4 belerang : garam (10:1) (b/b)<br />
P5 kapur : garam (10:1) (b/b)<br />
P6 belerang : kapur : garam (10:10:1) (b/b)<br />
275
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 273 - 278<br />
3. Analisis Data<br />
Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis<br />
dengan analisis sidik ragam dengan program<br />
SPSS 14. Perbedaan antar perlakuan diuji dengan<br />
uji lanjut Tukey pada taraf 5% (P
Pengendalian Penyakit Karat Tumor ( Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin)<br />
pada Sengon ( Falcataria mollucana (Miq.) Barneby & J.w. Grimes) di Panjalu Kabupaten Ciamis Jawa Barat<br />
Illa Anggraeni, Benyamin Dendang dan Neo Endra Lelana<br />
menjadi 57,33 pada bulan ke-1 dan 34,67 pada<br />
bulan ke-2. Secara statistik, rata-rata penurunan<br />
jumlah karat tumor sudah terlihat nyata pada<br />
bulan ke-1 kecuali pada kontrol dan perlakuan P1<br />
(Gambar 2). Penurunan jumlah karat tumor pada<br />
kontrol tidak berbeda nyata sampai bulan ke-2<br />
sedangkan pada perlakuan P1, penurunan jumlah<br />
karat tumor berbeda nyata setelah bulan ke-2.<br />
Perlakuan yang dilakukan yaitu dengan<br />
pemangkasan ( wiwil)<br />
dan pelaburan batang<br />
pohon uji dengan berbagai formulasi dari<br />
belerang, kapur dan garam. Pada kontrol,<br />
perlakuan yang dilakukan hanya dengan<br />
pemangkasan tanpa pelaburan dengan bahan<br />
fungisida. Walaupun perlakuan dengan<br />
pemangkasan ini terlihat dapat menurunkan<br />
jumlah karat tumor tiap bulannya, namun<br />
penurunan ini secara statistik tidak nyata. Jadi<br />
dapat dikatakan penurunan jumlah karat tumor<br />
secara nyata pada beberapa perlakuan diduga<br />
bukan karena pengaruh perlakuan pemangkasan<br />
tetapi karena adanya penghambatan dari formula<br />
yang digunakan.<br />
B. Persentase penghambatan pertumbuhan<br />
karat tumor<br />
Penurunan jumlah karat tumor diduga<br />
karena adanya penghambatan oleh belerang,<br />
kapur dan garam. Pada Gambar 2 terlihat ratarata<br />
persentase penghambatan meningkat seiring<br />
dengan waktu. Pada bulan ke-1 persentase<br />
penghambatan tertinggi ditunjukkan oleh<br />
perlakuan P6, yaitu sebesar 86,96%, namun pada<br />
bulan ke-2 persentase penghambatan tertinggi<br />
ditunjukkan oleh perlakuan P4, yaitu sebesar<br />
95,88%. Persentase penghambatan terendah<br />
ditunjukkan oleh kontrol, yaitu 29,48% pada<br />
bulan ke-1 dan 34,51% pada bulan ke-2. Secara<br />
statistik, rata-rata persentase penghambatan<br />
antara perlakuan dan kontrol pada bulan ke-1<br />
tidak menunjukkan beda nyata dan baru terlihat<br />
nyata pada bulan ke-2 (Gambar 3). Perlakuan P2,<br />
P4, P5 dan P6 terlihat berbeda secara nyata<br />
dengan kontrol, namun antar perlakuan tersebut<br />
tidak menunjukkan beda nyata.<br />
Djafaruddin (2000) menyebutkan bahwa<br />
beberapa formula belerang anorganik telah<br />
terbukti sangat baik sebagai fungisida dan<br />
digunakan untuk mengendalikan beberapa<br />
penyakit tanaman. Unsur belerang dapat dipakai<br />
sebagai embusan, berupa tepung yang dapat larut<br />
( wettable powder),<br />
pasta atau cairan yang banyak<br />
digunakan untuk memberantas penyakit embun<br />
tepung ( powdery mildew),<br />
tetapi juga efektif<br />
terhadap penyakit karat tertentu, bercak daun<br />
( leaf blight)<br />
dan busuk buah. Belerang dipakai<br />
sebagai fungisida karena sifat fitotoksisitasnya,<br />
artinya kerusakan/keracunan terhadap tanaman<br />
yang lebih rendah daripada logam berat.<br />
Sedangkan menurut Triharso (2004), tepung<br />
belerang (umumnya digunakan dalam bentuk<br />
serbuk dengan partikel yang halus) dipakai<br />
sebagai fungisida untuk pemberantasan penyakit<br />
tepung. Dalam mengatasi terjadinya gumpalan<br />
pada pengembusan biasanya ditambah dengan<br />
bahan karier seperti kaolin atau bentonit.<br />
Fitotoksisitas belerang lebih rendah daripada<br />
logam berat dan dapat membunuh jamur dengan<br />
jarak waktu tertentu dengan lebih dulu<br />
membentuk gas. Oleh karena itu belerang bekerja<br />
o<br />
baik bila suhu rata-rata lebih tinggi dari 20 C. Gas<br />
S02 yang terjadi akan berubah menjadi SO3 dan<br />
H2SO4di dalam air.<br />
Dalam keadaan tertentu belerang dapat<br />
juga menyebabkan fitotoksis pada daun,<br />
pertumbuhan terhambat dan gugur misal pada<br />
daun melon ( Cucumis melo L.) yang sangat peka.<br />
Sulfur atau belerang bekerja mengganggu<br />
transpor elektron sepanjang sitokrom jamur dan<br />
kemudian direduksi menjadi hidrogen sulfida<br />
(H2S) yang beracun terhadap sebagian besar<br />
protein selular. Selain itu campuran kapur dan<br />
belerang dengan perbandingan 1 : 1 juga dapat<br />
menekan serangan penyakit karat tumor (Agrios,<br />
2005). Campuran kapur-belerang ( lime-sulphur<br />
mixture)<br />
yang lebih dikenal dengan sebutan<br />
bubur California,<br />
dapat digunakan sebagai<br />
semprotan untuk pohon buah-buahan yang dalam<br />
keadaan istirahat ( dormancy),<br />
guna memberantas<br />
penyakit bercak ( blight)<br />
atau antraknosa<br />
( anthracnose), embun tepung atau kudis ( scab),<br />
bercak coklat ( brown spot)<br />
pada buah berbiji<br />
keras atau batu, penyakit daun pada peach ( peach<br />
leaf).<br />
Bubur California selain sebagai fungisida<br />
juga mempunyai pengaruh sebagai insektisida<br />
(Djafaruddin, 2000).<br />
Bubur California dapat dibuat dengan cara<br />
memasukkan tepung belerang (1 kg) yang<br />
dipanaskan dalam 10 liter air sampai larut,<br />
setelah larut disaring. Dalam kondisi panas<br />
masukkan kapur (2 kg) diaduk hingga merata.<br />
Campuran ini mengandung polisulfida-kapur<br />
(CaS.Sx) dan thiosulfat-kapur (CaS2O 3)<br />
(Djafaruddin, 2000 dan Triharso, 2004).<br />
Sedangkan menurut Nene (1971), kandungan<br />
belerang pada fungisida kapur-belerang dapat<br />
bertindak sebagai akseptor hidrogen dalam<br />
sistem metabolisme, yang bekerja dengan cara<br />
mengganggu sistem hidrogenasi dan<br />
277
Jurnal Penelitian <strong>Hutan</strong> <strong>Tanaman</strong><br />
<strong>Vol</strong>.7 No.5, Desember 2010, 273 - 278<br />
dehidrogenasi yang normal dalam sel. Fungisida<br />
kapur-belerang juga mengeluarkan uap yang<br />
mampu menghambat perkecambahan konidia<br />
cendawan. Sedangkan pemberian kapur secara<br />
tunggal berfungsi sebagai protektan atau<br />
pelindung atau penutup, sehingga batang, cabang<br />
maupun daun yang dilabur atau disemprot dapat<br />
terhindar dari spora cendawan di udara yang akan<br />
menempel (Djafaruddin, 2000).<br />
Gambar ( Figure)<br />
3. Persentase penghambatan<br />
karat tumor oleh berbagai perlakuan<br />
(The inhibiting percentage of gall rust by<br />
various treatments )<br />
Pengaruh satu jenis antimikroba terhadap<br />
fungi akan berbeda-beda. Suatu antimikroba<br />
dapat bersifat bersifat fungistatis (antifungi)<br />
yaitu merupakan keadaan yang menggambarkan<br />
kerja suatu bahan yang menghambat<br />
pertumbuhan fungi. Sedangkan fungitoksik<br />
(fungisidal) merupakan keadaan yang<br />
menggambarkan kerja suatu bahan yang<br />
menghentikan pertumbuhan (membunuh) fungi.<br />
Dalam penelitian ini bahan-bahan yang<br />
digunakan seperti belerang, kapur dan garam<br />
ternyata bersifat fungistatis yaitu bahan yang<br />
hanya menghambat pertumbuhan patogen<br />
sementara, bila bahan tersebut tidak diberikan<br />
maka patogen akan tumbuh kembali<br />
(Djafaruddin, 2000).<br />
1. Perlakuan P4 (campuran belerang dan<br />
garam (10:1) (b/b)) cenderung menunjukkan<br />
aktivitas penghambatan pertumbuhan<br />
karat tumor tertinggi dan paling banyak<br />
menurunkan jumlah karat tumor sampai<br />
bulan ke-2.<br />
278<br />
KESIMPULAN<br />
2. Pemanfaatan kapur secara teknis lebih mudah<br />
untuk diterapkan di masyarakat.<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
th<br />
Agrios, G.N. 2005. Plant Pathology.<br />
5 eds.<br />
ElsevierAcademic Press. USA.<br />
Anggraeni, I. dan E. Santoso. 2003. Penyakit<br />
karat puru pada sengon ( Paraserianthes<br />
falcataria) di Pulau Seram. Buletin<br />
Penenlitian <strong>Hutan</strong> 636. Puslitbang <strong>Hutan</strong><br />
dan KonservasiAlam Bogor.<br />
Djafaruddin, 2000. Dasar-dasar Pengendalian<br />
Penyakit <strong>Tanaman</strong>. Bumi Aksara.<br />
Jakarta.<br />
Gathe, J. 1971. Host range and symptoms<br />
in western Australia of gall rust,<br />
Uromycladium tepperianum. J. Roy.<br />
Soc. W. Australia (Australian Agency<br />
for International Development).<br />
Produk <strong>Hutan</strong> dan Kehutanan CSIRO.<br />
Canberra.<br />
Hadi, S. 2001. Patologi <strong>Hutan</strong>. Perkembangannya<br />
di Indonesia. Fakultas Kehutanan<br />
IPB. Bogor.<br />
Madigan, M.T., Martinko, JM., and Parker J.<br />
1997. Biology of Microorganism.<br />
New<br />
Jersey. Prentice Hall, Inc.<br />
Nene, Y.I. 1971. Fungicide in Plant Diseases<br />
Control.<br />
New Delhi.<br />
Old, K.M. 2002. Misi penelitian madre<br />
cacao. Laporan untuk klien, No. 1119<br />
Juni 2002. Klien : Dinas Pembangunan<br />
Internasional Australia (Australian<br />
Agency for International Development).<br />
Produk <strong>Hutan</strong> dan Kehutanan CSIRO.<br />
Canberra.<br />
Rahayu, S. 2008. Penyakit karat tumor pada<br />
sengon. Makalah Workshop Serangan<br />
Karat Tumor pada Sengon. Yogyakarta 19<br />
Nopember 2008.<br />
Triharso, 2004. Dasar-dasar Perlindungan<br />
<strong>Tanaman</strong>. Gadjah Mada University Press.<br />
Yogyakarta.