01.05.2013 Views

Pedoman Pelaksanaan Program

Pedoman Pelaksanaan Program

Pedoman Pelaksanaan Program

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

KATA PENGANTAR<br />

Tanaman pangan merupakan salah satu subsektor pertanian dan ekonomi<br />

yang sangat penting dan strategis, karena subsektor tanaman pangan merupakan<br />

salah satu subsektor bagi pemenuhan pangan bagi rakyat Indonesia, merupakan<br />

salah satu sumber pendapatan dan kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia, dan<br />

sekaligus sebagai sumber pendapatan bagi bangsa Indonesia. Dibalik nilai (value)<br />

yang penting dan strategis tersebut, subsektor tanaman pangan juga merupakan<br />

salah satu pusat kemiskinan di Indonesia. Pengusahaan lahan yang sangat sempit<br />

dan ketidakberdayaan dalam menentukan harga menjadi faktor penyebab kemiskinan<br />

bagi pelaku usaha (petani) tanaman pangan. Sementara itu, disisi lain, pelaku usaha<br />

(petani) tanaman pangan dituntut untuk berpartisipasi dalam membangun kekuatan<br />

pangan nasional melalui peningkatan produktivitas maupun peningkatan indeks<br />

pertanaman. Tuntutan tersebut sering kali terbentur pada ketidakberdayaan petani<br />

dalam menerapkan (mengadopsi) teknologi karena keterbatasan modal usaha.<br />

Menyadari begitu rumit permasalahan pencapaian sasaran pembangunan<br />

tanaman pangan maka upaya keterpaduan dan penyelarasan antar sektor/subsektor,<br />

baik di Pusat dan Daerah. Pada tahun 2012, untuk menetapkan pencapaian Empat<br />

Sukses Kementerian Pertanian sebagai sasaran strategis meliputi a) mewujudkan<br />

pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, b) mewujudkan<br />

peningkatan diversifikasi pangan, c) mewujudkan peningkatan nilai tambah, daya<br />

saing, dan ekspor, serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani. Orientasi<br />

peningkatan produksi dan peningkatan pendapatan dilakukan secara bersamaan<br />

untuk memberikan rasa keadilan bagi petani. Pemberdayaan petani dengan<br />

memberikan berbagai instrumen bantuan/subsidi maupun insentif lainnya menjadi<br />

prioritas pemerintah. Untuk itu, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melakukan<br />

penguatan strategi sebagai respon terhadap perubahan lingkungan dan keterbatasan<br />

sumber daya yang ada.<br />

Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan adalah 1) peningkatan<br />

produktivitas, 2) perluasan areal dan optimasi lahan, 3) penurunan konsumsi beras<br />

dan diversifikasi pangan, serta perbaikan manajemen. Implementasi pencapaian<br />

produksi ini melibatkan semua stakeholder. Dalam konteks tersebut, Direktorat<br />

Jenderal Tanaman Pangan memiliki 1 program sebagai wilayah tanggung jawab<br />

tugas pokok dan fungsi yaitu <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas dan<br />

Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada<br />

Berkelanjutan<br />

i | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Dalam mengoptimalkan kinerja dan mendorong akuntabilitas kinerja<br />

<strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan<br />

Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan, maka Direktorat<br />

Jenderal Tanaman Pangan menerbitkan pedoman pelaksanaan program, pedoman<br />

pelaksanaan kegiatan, dan pedoman pelaksanaan teknis, sebagai acuan atau dasar<br />

pelaksanaan program dan kegiatan. <strong>Pedoman</strong> pelaksanaan program ini merupakan<br />

acuan yang bersifat umum bagi penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan dan<br />

pedoman teknis.<br />

Sebaik apapun pedoman pelaksanaan yang diterbitkan, namun jika tidak<br />

ditaati dan dilaksanakan dengan baik, maka dapat dipastikan bahwa hasil pencapaian<br />

program tidak tepat dari ukuran yang ditetapkan. Komitmen dan konsistensi menjadi<br />

dua pilar yang perlu ditumbuhkembangkan dalam mewujudkan proses pembangunan<br />

yang telah ditetapkan sehingga proses pembangunan tanaman pangan dapat<br />

terlaksana secara berkelanjutan (sustainable). Berbagai masukan menjadi sangat<br />

penting agar pedoman pelaksanaan program ini menjadi lebih baik.<br />

Direktur Jenderal Tanaman Pangan,<br />

Udhoro Kasih Anggoro<br />

ii | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

DAFTAR ISI<br />

KATA PENGANTAR i<br />

DAFTAR ISI iii<br />

DAFTAR TABEL iv<br />

DAFTAR GAMBAR vi<br />

DAFTAR LAMPIRAN vii<br />

I. PENDAHULUAN 1<br />

1.1. Latar Belakang 1<br />

1.2. Dasar Hukum 4<br />

1.3. Tujuan 6<br />

1.4. Sasaran 7<br />

1.5. Istilah dan Pengertian 8<br />

II. SASARAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN 15<br />

TANAMAN PANGAN TA. 2012<br />

2.1. Sasaran 16<br />

2.2. Strategi 17<br />

2.3. Kebijakan 19<br />

III. PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP<br />

DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA. 2012<br />

23<br />

3.1. <strong>Program</strong> 24<br />

3.2. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan <strong>Program</strong> 33<br />

3.3. Kegiatan 34<br />

IV. TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN 55<br />

PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN<br />

PANGAN TA. 2012<br />

4.1. Tata Hubungan Kerja 55<br />

4.2. Pengorganisasian 56<br />

4.3. Pengelolaan Anggaran 63<br />

4.4. Ketentuan Pidana, Sanksi Administratif, dan Ganti Rugi 69<br />

V. PENGENDALIAN, PENGAWASAN, EVALUASI DAN PELAPORAN 71<br />

5.1 Pengendalian <strong>Program</strong>, Kegiatan dan Anggaran 71<br />

5.2 Pengawasan <strong>Program</strong>, Kegiatan dan Anggaran 72<br />

5.3 Monitoring dan Evaluasi 73<br />

5.4 Pelaporan 74<br />

VII. PENUTUP 77<br />

iii | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

DAFTAR TABEL<br />

Tabel 1 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi<br />

Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012<br />

16<br />

Tabel 2 <strong>Program</strong> dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA<br />

2012<br />

25<br />

Tabel 3 Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan 26<br />

Tabel 4<br />

<strong>Program</strong>/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA<br />

2012<br />

Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi<br />

Melalui SLPTT dan LokasiPengembangan Melalui APBN TA<br />

2012<br />

27<br />

Tabel 5 Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung<br />

<strong>Program</strong> Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. 2012<br />

29<br />

Tabel 6 Anggaran Menurut Jenis Belanja Per 30<br />

Tabel 7<br />

<strong>Program</strong>/KegiatanDirektorat Jenderal Tanaman Pangan TA<br />

2012<br />

Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal<br />

Tanaman Pangan TA 2012<br />

32<br />

Tabel 8 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan <strong>Program</strong> Direktorat Jenderal<br />

Tanaman Pangan TA 2012<br />

34<br />

Tabel 9 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA.<br />

2012<br />

36<br />

Tabel 10 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA<br />

2012<br />

38<br />

Tabel 11 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan<br />

Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012<br />

39<br />

Tabel 12 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai 40<br />

Tabel 13 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang<br />

dan Umbi TA 2012<br />

41<br />

Tabel Penilaian 14 Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi<br />

Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012<br />

42<br />

Tabel 15 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih 45<br />

Tabel 16<br />

Tanaman Pangan TA. 2012<br />

Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem<br />

Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012<br />

46<br />

Tabel 17 Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan<br />

TA 2012<br />

47<br />

Tabel 18 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan<br />

Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012<br />

48<br />

iv | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Tabel 19 Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari<br />

Gangguan OPT dan DPI TA 2012<br />

Tabel 20 Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman<br />

Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012<br />

Tabel 21 Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis<br />

Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />

Tabel 22 Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan<br />

Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA<br />

2012<br />

Tabel 23 Jumlah Satuan Kerja Pelaksana <strong>Program</strong> dan Kegiatan Lingkup<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />

Tabel 24 Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja<br />

(Satker) DIPA TA 2012<br />

49<br />

50<br />

52<br />

53<br />

59<br />

60<br />

v | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

DAFTAR GAMBAR<br />

Gambar 1 Hubungan<br />

<strong>Pelaksanaan</strong><br />

Perencanaan Kinerja dan <strong>Pedoman</strong> 16<br />

Gambar 2 Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian<br />

Pertanian<br />

18<br />

Gambar 3 Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan 26<br />

Gambar 4 Butir-Butir Penjelasan <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> 39<br />

<strong>Program</strong>/Kegiatan<br />

Gambar 5 Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja 39<br />

Pembangunan Tanaman Pangan<br />

vi | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

DAFTAR LAMPIRAN<br />

Lampiran 1 Daftar Satuan Kerja di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />

TA. 2012<br />

84<br />

Lampiran 2 Agenda Perencanaan Nasional 107<br />

Lampiran 3 Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman<br />

Pangan TA 2012<br />

111<br />

Lampiran 4 Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 112<br />

Lampiran 5 Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 113<br />

Lampiran 6 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />

Produksi Padi Tahun 2012<br />

114<br />

Lampiran 7 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />

Produksi Jagung Tahun 2012<br />

115<br />

Lampiran 8 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />

Produksi Kedelai Tahun 2012<br />

116<br />

Lampiran 9 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />

Produksi Kacang Tanah Tahun 2012<br />

117<br />

Lampiran 10 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />

Produksi Kacang Hijau Tahun 2012<br />

118<br />

Lampiran 11 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />

Produksi Ubi Kayu Tahun 2012<br />

123<br />

Lampiran 12 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />

Produksi Ubi Jalar Tahun 2012<br />

141<br />

Lampiran 13 Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.<br />

2012<br />

142<br />

Lampiran 14 Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman<br />

Pangan TA 2012<br />

143<br />

Lampiran 15 Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman<br />

Pangan<br />

144<br />

Lampiran 16 Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 147<br />

Lampiran 17 Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi<br />

Pemerintah<br />

148<br />

Lampiran 18 Alur Sistem Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan 149<br />

Lampiran 19 Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan 150<br />

Lampiran 20 Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Pagu 151<br />

Lampiran 21<br />

Anggaran Kementerian/Lembaga<br />

Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi 153<br />

vii | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Anggaran K/L<br />

Lampiran 22 Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang<br />

Lampiran 23<br />

Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan<br />

Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor<br />

Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/Kantor Wilayah<br />

Direktorat Jenderal Perbendaharaan<br />

Lampiran 24 Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan<br />

Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran<br />

Lampiran 25 Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada<br />

Direktorat Jenderal Anggaran<br />

Lampiran 26 Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada<br />

Direktorat Jenderal Perbendaharaan<br />

Lampiran 27 Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada<br />

Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran<br />

154<br />

159<br />

161<br />

162<br />

163<br />

164<br />

viii | P a g e


1.1. Latar Belakang<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

BAB I<br />

PENDAHULUAN<br />

Pembangunan nasional merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua<br />

komponen bangsa dalam rangka mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana yang<br />

diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia berdasarkan<br />

Pancasila. Visi Indonesia sampai tahun 2025 adalah Indonesia yang Mandiri, Maju,<br />

Adil dan Makmur dengan membagi kedalam 4 (empat) tahapan Pembangunan<br />

Jangka Menengah (RPJM). 1) Visi Indonesia Tahun 2014 adalah Indonesia yang<br />

Sejahtera, Demokratis, dan Berkeadilan. Dalam konteks ini, arahan pokok dan<br />

strategis Presiden Republik Indonesia agar melakukan langkah-langkah terobosan<br />

(breakthrough), bukan langkah-langkah biasa (business as usual).<br />

Untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Tahun 2014 maka perlu<br />

dilakukan suatu proses perencanaan pembangunan nasional yang terarah, terfokus,<br />

seimbang, dan berkelanjutan. Proses perencanaan pembangunan nasional dilakukan<br />

dalam suatu sistem. Sistem perencanaan pembangunan nasional merupakan satu<br />

kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana<br />

pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dapat<br />

dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan<br />

Daerah, yang berdasarkan demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan,<br />

berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta kemandirian dengan<br />

menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional.<br />

Mengacu pada visi tersebut, tema Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2014<br />

Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif, Berkelanjutan<br />

dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. 2) Pembangunan<br />

dimaksud dijalankan berlandaskan 4 jalur strategi pembangunan yaitu 1) mendorong<br />

pertumbuhan (pro-growth), 2) memperluas kesempatan kerja (pro-job), 3)<br />

menanggulangi kemiskinan (pro-poor), dan 4) mendorong pelestarian lingkungan<br />

yang ramah (pro-environment). Ketahanan pangan merupakan salah satu program<br />

pembangunan dengan status prioritas nasional. Sasaran yang perlu dicapai pada<br />

prioritas nasional dimaksud adalah:<br />

a. Terpeliharanya dan meningkatnya pencapaian swasembada bahan pangan<br />

pokok<br />

b. Terjaminnya penyaluran subsidi pangan bagi masyarakat miskin<br />

1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP)<br />

2) Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012<br />

1 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

c. Terjaganya stabilitas harga bahan pangan dalam negeri<br />

d. Meningkatnya kualitas pola konsumsi pangan masyarakat dengan skor Pola<br />

Pangan Harapan (PPH) menjadi sekitar 89,8<br />

e. Terlindunginya dan meningkatnya lahan pertanian pangan<br />

f. Terbangunnya dan meningkatnya luas layanan infrastruktur sumber daya air<br />

dan irigasi<br />

g. Meningkatnya PDB sektor pertanian, perikanan dan kehutanan dengan<br />

pertumbuhan 3,2 persen<br />

h. Tercapainya indeks Nilai Tukar Petani (NTP) diatas 105 dan Nilai Tukar<br />

Nelayan (NTN) menjadi 110.<br />

Selain dari sasaran prioritas nasional tersebut, diperlukan prakarsa-prakarsa<br />

baru. Prakarsa-prakarsa baru yang dimaksudkan sebagai pengungkit dalam<br />

meningkatkan kesejahteraan rakyat meliputi:<br />

- Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia<br />

(MP3EI)<br />

- Percepatan Pembangunan Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara<br />

- Penguatan Penanggulangan Kemiskinan<br />

- Peningkatan langkah-langkah dalam rakyat dalam rangka mencapai ketahanan<br />

pangan dimana surplus 10 juta ton beras per tahun.<br />

Penuangan arah dan kebijakan pembangunan pertanian terutama berkaitan<br />

dengan tanaman pangan dikonsolidasikan dalam berbagai rancangan program. Pada<br />

tahun anggaran 2012, Kementerian Pertanian memiliki 12 (dua belas) program, yang<br />

dilaksanakan oleh 12 unit eselon I, dimana setiap unit eselon I melaksanakan 1 (satu)<br />

program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki satu program yakni <strong>Program</strong><br />

Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai<br />

Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. <strong>Program</strong> ini difokuskan pada<br />

penguatan aspek ketersediaan pangan bersumber dari produksi dalam negeri, baik<br />

dalam kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu).<br />

Pembangunan tanaman pangan pada dasarnya merupakan rangkaian upaya<br />

untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha tanaman pangan yang<br />

mampu menghasilkan produk mulai dari hulu sampai hilir. Pembangunan tanaman<br />

pangan berorientasi pada peningkatan produksi (ketersediaan) dan peningkatan<br />

pendapatan. Untuk itu, faktor peningkatan produktivitas, peningkatan kapasitas usaha,<br />

serta optimalisasi efisiensi usaha, nilai tambah dan daya saing menjadi indikator<br />

penting dalam mewujudkan kedua orientasi tersebut.<br />

2 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Subsektor tanaman pangan memiliki keragaman komoditas yang cukup<br />

banyak untuk dapat ditumbuhkembangkan. Berdasarkan Keputusan Menteri<br />

Pertanian Nomor 511/Kpts/PD.310/9/2006 tentang Daftar Komoditi Binaan Direktorat<br />

Jenderal Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Hortikultura, dan Direktorat Jenderal<br />

Perkebunan, dimana Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 36 komoditi<br />

tanaman pangan sebagai tanggung jawab binaan.<br />

Namun demikian, karena faktor keterbatasan yang ada, arah dan kebijakan<br />

<strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Tanaman Pangan untuk<br />

Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan diprioritaskan pada:<br />

1) Komoditi utama dan unggulan nasional, yaitu padi, jagung, kedelai, kacang<br />

tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar. Komoditi ini merupakan komoditi<br />

utama dan unggulan bagi kebutuhan pangan pokok nasional.<br />

2) Komoditi alternatif/unggulan daerah (lokal) seperti talas, garut, gembili, sorgum,<br />

gandum dan lain-lain. Komoditi ini sebagai substitusi maupun komplemen dari<br />

komoditas utama dan unggulan nasional.<br />

Pengembangan ketujuh komoditi tanaman pangan diimplementasikan dalam<br />

berbagai jenis kegiatan yang saling terkait dan saling mendukung. Dalam<br />

perkembangannya, sejak tahun 2011, komoditi yang menjadi skala prioritas<br />

difokuskan pada padi, jagung, dan kedelai. Saat ini, ketiga komoditi tersebut<br />

merupakan gambaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal<br />

Tanaman Pangan. Dalam melaksanakan pengembangan komoditi tersebut,<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memantapkan berbagai peraturan perundangundangan<br />

dan memberikan berbagai instrumen anggaran yang diperlukan melalui<br />

APBN, seperti dana dekonsentrasi, dana tugas pembantuan, dana alokasi khusus<br />

(DAK), dana subsidi, dan berbagai jenis lainnya.<br />

Perencanaan kinerja seharusnya dilaksanakan melalui penyusunan<br />

pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis untuk memberikan gambaran<br />

proses pelaksanaan kinerja secara baik dan sistematis. Dalam hal ini, proses<br />

penetapan dan tahapan pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran dapat<br />

didokumentasikan dalam bentuk yang akuntabel. Oleh karena itu, pedoman<br />

pelaksanaan program perlu disusun sebagai salah satu wujud nyata dari akuntabilitas.<br />

<strong>Pedoman</strong> pelaksanaan program ini akan diperkuat oleh pedoman pelaksanaan<br />

kegiatan dan pedoman teknis. Dengan memperhatikan komitmen tersebut,<br />

disusunlah <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan<br />

Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada<br />

Berkelanjutan TA 2012.<br />

3 | P a g e


DOKUMEN PERENCANAAN<br />

PEMBANGUNAN<br />

(RPJP – RPJM – RKP)<br />

DOKUMEN PERENCANAAN<br />

PROGRAM, KEGIATAN DAN<br />

ANGGARAN KEMENTAN<br />

(RENSTRA – RKT – PK)<br />

DOKUMEN PERENCANAAN<br />

PROGRAM, KEGIATAN DAN<br />

ANGGARAN DITJEN TP<br />

(RENSTRA – RKT – PK –<br />

DIPA/RKA-KL/POK)<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Gambar 1. Hubungan Perencanaan Kinerja dan <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong><br />

1.2. Dasar Hukum<br />

PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA<br />

PROGRAM, KEGIATAN DAN ANGGARAN<br />

KEMENTAN<br />

PEDOMAN PENGELOLAAN JENIS<br />

ALOKASI DANA (DANA<br />

DEKONSENTRASI, TUGAS<br />

PEMBANTUAN, DAK, DLL)<br />

PEDOMAN PENGELOLAAN BANTUAN<br />

SOSIAL<br />

PEDOMAN PENGELOLAAN<br />

ADMINISTRASI KEUANGAN<br />

PEDOMAN PENGENDALIAN, EVALUASI<br />

DAN PELAPORAN KINERJA DAN<br />

KEUANGAN<br />

PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM<br />

DITJEN TANAMAN PANGAN<br />

PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN<br />

MASING-MASING ESELON II<br />

PEDOMAN TEKNIS<br />

TERUTAMA ATURAN TEKNIS<br />

PENGELOLAAN BANTUAN YANG<br />

DIALOKASIKAN KEPADA<br />

PETANI/LEMBAGA/UNIT KERJA<br />

PEMERINTAH<br />

Penyusunan <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> merupakan suatu tuntutan yang wajib<br />

harus dilakukan dalam membangun akuntabilitas kinerja. <strong>Pedoman</strong> yang disusun<br />

terdiri dari tiga (3) jenis yaitu 1) pedoman pelaksanaan program, 2) pedoman<br />

pelaksanaan kegiatan, dan 3) pedoman teknis. Penyusunan pedoman tersebut<br />

mengacu pada peraturan perundang-undangan sebagai berikut:<br />

4 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.<br />

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.<br />

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan<br />

dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.<br />

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan<br />

Pembangunan Nasional.<br />

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah junto<br />

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan<br />

Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang<br />

Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.<br />

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan<br />

antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.<br />

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan<br />

Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025.<br />

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan<br />

Belanja Negara Tahun Anggaran 2012.<br />

Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja<br />

Pemerintah.<br />

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian<br />

Intern Pemerintah.<br />

Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana<br />

Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah (RKA-KL).<br />

Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi<br />

Pemerintah.<br />

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan<br />

dan Kinerja Instansi Pemerintah.<br />

Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara<br />

Pengendalian dan Evaluasi <strong>Pelaksanaan</strong> Rencana Pembangunan.<br />

Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan<br />

Rencana Pembangunan Nasional.<br />

Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan<br />

Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau<br />

Hibah Luar Negeri.<br />

Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan<br />

Tugas Pembantuan.<br />

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian<br />

Intern Pemerintah.<br />

Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong><br />

APBN, sebagaimana telah diubah beberapa kali, junto Peraturan Presiden<br />

5 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Nomor 53 Tahun 2010 tentang <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> Anggaran<br />

Pendapatan dan Belanja Negara.<br />

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan<br />

Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.<br />

Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa<br />

Pemerintah junto Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang<br />

Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010.<br />

Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja<br />

Pemerintah Tahun 2012.<br />

Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Rincian Anggaran<br />

Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012.<br />

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 59/KMK.06/2005 tentang Sistem<br />

Akuntansi dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.<br />

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.07/2010 tentang <strong>Pedoman</strong><br />

Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan.<br />

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.02/2011 tentang Standar Biaya<br />

Tahun Anggaran 2012.<br />

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.02/2011 tentang Petunjuk<br />

Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian<br />

Negara/Lembaga (RKA-KL) dan Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan dan<br />

<strong>Pelaksanaan</strong> Daftar Isian <strong>Pelaksanaan</strong> Anggaran (DIPA) TA 2012.<br />

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.02/2011 tentang Klasifikasi<br />

Anggaran.<br />

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 215/KMK.02/2011 Tentang Pagu<br />

Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Tahun 2012.<br />

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 95/Permentan/OT.140/12/2011 tentang<br />

Pelimpahan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung<br />

Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun 2012.<br />

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 97/Permentan/OT.140/12/2011 tentang<br />

Penugasan Kepada Bupati/Walikota Dalam Pengelolaan Kegiatan dan<br />

Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun 2012.<br />

1.3. Tujuan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan<br />

Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada<br />

Berkelanjutan TA 2012 bertujuan untuk:<br />

a. memberikan acuan dalam melaksanakan <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi,<br />

Produktivitas, dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan<br />

6 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Swasembada Berkelanjutan sesuai dengan kegiatan-kegiatan skala prioritas,<br />

tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan serta anggaran yang tersedia.<br />

b. meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan program, kegiatan dan<br />

anggaran baik antar sektor/subsektor maupun antara pusat dan daerah.<br />

c. meningkatkan transparansi, efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program,<br />

kegiatan dan anggaran melalui pemantapan pengendalian (monitoring) dan<br />

evaluasi serta pelaporan kinerja.<br />

1.4. Sasaran<br />

Sasaran penyusunan <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi,<br />

Produktivitas, dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan<br />

Swasembada Berkelanjutan TA 2012 adalah terlaksananya kegiatan-kegiatan secara<br />

efektif, efisien dan akuntabel sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang<br />

berlaku oleh penyelenggara pemerintahan yang melaksanakan program dimaksud<br />

dan penerima manfaat langsung.<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan<br />

Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada<br />

BerkelanjutanTA 2012 disusun dengan sistematika sebagai berikut:<br />

Bab I Menguraikan latar belakang, dasar hukum, tujuan, sasaran, istilah dan<br />

pengertian<br />

Bab II Menguraikan sasaran, kebijakan, dan strategi pembangunan tanaman<br />

pangan<br />

Bab III Menguraikan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman<br />

Pangan TA 2012<br />

Bab IV Menguraikan tata hubungan kerja dan pengorganisasian pelaksanaan<br />

program, kegiatan, dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman<br />

Pangan TA 2012<br />

Bab V Menguraikan pengendalian, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program,<br />

kegiatan dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA<br />

2012<br />

Bab VI Penutup<br />

<strong>Pedoman</strong> pelaksanaan program ini dilengkapi dengan beberapa lampiran<br />

penting sebagai referensi dalam penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan atau<br />

pedoman teknis kegiatan.<br />

7 | P a g e


1.5. Istilah dan Pengertian<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Beberapa istilah dan pengertian pada <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai<br />

Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 sebagai berikut:<br />

1. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah<br />

untuk mencapai sasaran dan tujuan.<br />

2. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan<br />

yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang<br />

tersedia.<br />

3. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) adalah dokumen<br />

perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima tahunan), yaitu<br />

RPJMN I tahun 2005-2009, RPJMN II Tahun 2010-2014, RPJMN III Tahun<br />

2015-2019, dan RPJMN IV Tahun 2020-2024.<br />

4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) merupakan<br />

penjabaran dari misi, visi, dan program Presiden yang penyusunannya<br />

berpedoman pada RPJP Nasional, yang memuat strategi pembangunan<br />

nasional, kebijakan umum, program Kementerian/Lembaga dan lintas<br />

Kementerian/Lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka<br />

ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh<br />

termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa regulasi dan<br />

kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.<br />

5. Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra-KL) adalah<br />

dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program<br />

pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang<br />

ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 5 (lima)<br />

tahun.<br />

6. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan tahunan<br />

yang memuat kerangka makro dan program-program pembangunan baik yang<br />

dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan<br />

mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 1 (satu) tahun. RKP ini<br />

merupakan penjabaran dari RPJM Nasional, memuat prioritas pembangunan,<br />

rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian<br />

secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal, serta program<br />

Kementerian/Lembaga, lintas Kementerian/ Lembaga, kewilayahan dalam<br />

bentuk regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. RKP<br />

merupakan pedoman dalam penyusunan RAPBN, disusun berdasarkan Renja-<br />

KL (Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga) sesuai dengan tugas pokok<br />

dan fungsinya dengan berpedoman pada Renstra-KL (Rencana Strategis<br />

Kementerian Negara/Lembaga).<br />

8 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

7. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana<br />

keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh DPR yang masa<br />

berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember tahun berjalan.<br />

8. Penganggaran Terpadu adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang<br />

dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan<br />

kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi<br />

alokasi dana.<br />

9. <strong>Program</strong> adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih<br />

kegiatan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa unit organisasi dalam satu<br />

atau beberapa instansi untuk mencapai sasaran dan tujuan kebijakan serta<br />

memperoleh alokasi anggaran.<br />

10. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau<br />

beberapa Satuan Kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada<br />

suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya<br />

baik yang berupa personil (sumberdaya manusia), barang, modal, termasuk<br />

peralatan dan teknologi, dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis<br />

sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran<br />

(output) dalam bentuk barang/jasa.<br />

11. Sub Kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian<br />

sasaran dan tujuan kegiatan tersebut.<br />

12. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL)<br />

adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan<br />

kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari<br />

rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Kerja Strategis Kementerian<br />

Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta<br />

anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya.<br />

13. Daftar Isian <strong>Pelaksanaan</strong> Anggaran (DIPA) adalah dokumen pelaksanaan<br />

anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja yang<br />

disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah<br />

Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan<br />

berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan.<br />

14. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) adalah dokumen yang merupakan<br />

bagian tidak terpisah dari DIPA dan RKA-KL yang memuat kegiatan secara rinci<br />

serta harga satuannya dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam<br />

kurun waktu satu tahun anggaran.<br />

15. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah<br />

dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan<br />

kualitas terukur.<br />

16. Indikator Kinerja diartikan sebagai ukuran kuantitatif/kualitatif yang<br />

menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran/tujuan yang telah ditetapkan.<br />

9 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Indikator kinerja merupakan sesuatu yang dapat diukur sebagai dasar untuk<br />

menilai kinerja, baik dalam tahap perencanaan (ex-ante), tahap pelaksanaan<br />

(on-going), maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post). Indikator kinerja<br />

juga digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan<br />

kemajuan dalam rangka menuju tujuan/sasaran yang telah ditetapkan. Tanpa<br />

indikator kinerja, maka akan sulit menilai kinerja<br />

kebijaksanaan/program/kegiatan yang pada akhirnya bermuara pada kinerja<br />

organisasi.<br />

17. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atas<br />

keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan.<br />

18. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya<br />

keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program.<br />

19. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang<br />

dilaksanakan untuk mendukung percapaian sasaran dan tujuan program dan<br />

kebijakan.<br />

20. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada<br />

Gubernur sebagai wakil pemerintah.<br />

21. Anggaran Dekonsentrasi adalah anggaran yang berasal dari APBN yang<br />

dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua<br />

penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi, tidak<br />

termasuk anggaran yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah.<br />

Pemberian anggaran dekonsentrasi tidak terlepas dari kewajibannya untuk<br />

melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada<br />

Menteri/Pimpinan lembaga terkait.<br />

22. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah Pusat kepada Daerah<br />

dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan<br />

mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan dalam<br />

hal ini Menteri/Pimpinan Lembaga terkait.<br />

23. Anggaran Tugas Pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang<br />

dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran<br />

dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan.<br />

24. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) adalah pejabat<br />

pemegang kewenangan dalam penggunaan anggaran satuan kerja yang<br />

dialokasikan dalam APBN. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran<br />

adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab<br />

atas pengelolaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang<br />

bersangkutan.<br />

25. Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima,<br />

menyimpan, menyetorkan, menatausahakan, dan mempertanggung jawabkan<br />

10 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

uang pendapatan negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada<br />

kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah.<br />

26. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima,<br />

menyimpan, membayarkan, menatausahakan, dan mempertanggung jawabkan<br />

uang untuk keperluan belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan<br />

APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/<br />

Pemerintah Daerah.<br />

27. Pinjaman Luar Negeri (PLN) adalah sumber pembiayaan negara dalam bentuk<br />

devisa, barang, dan jasa yang diterima dari badan/lembaga negara asing,<br />

pemerintah negara asing, badan/lembaga keuangan internasional, atau pasar<br />

keuangan internasional yang harus dibayar kembali dengan persyaratan yang<br />

telah disepakati, termasuk penjaminan pembayaran yang dapat menimbulkan<br />

kewajiban pembayaran dikemudian hari.<br />

28. Hibah Luar Negeri (HLN) adalah penerimaan negara yang diperoleh dari luar<br />

negeri baik dalam bentuk devisa atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam<br />

bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang dapat<br />

dinilai dengan uang yang tidak perlu dibayar kembali.<br />

29. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan RI yang dipimpin<br />

oleh Menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu.<br />

30. Unit Organisasi adalah bagian dari suatu Kementerian Negara/Lembaga yang<br />

bertanggung jawab terhadap pengkoordinasian dan/atau pelaksanaan suatu<br />

program.<br />

31. Satuan Kerja (Satker) adalah bagian dari suatu unit organisasi pada<br />

Kementerian Negara/Lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa<br />

kegiatan dari suatu program.<br />

32. Satuan Kerja Pada Instansi Pemerintah adalah organisasi dalam pemerintah<br />

yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu dibidangnya masing-masing<br />

atau bertugas melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari satu program.<br />

33. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah organisasi/lembaga pada<br />

pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan<br />

dekonsentrasi/ tugas pemerintahan di bidang tertentu di daerah provinsi,<br />

kabupaten, atau kota.<br />

34. Kelompok Tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas<br />

kebutuhan bersama yang mempunyai struktur organisasi dan mempunyai basis<br />

tujuan yang bersama.<br />

35. Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau<br />

pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat pelaku usaha<br />

pertanian sehingga dapat mandiri dalam mencapai tujuan yang dikehendaki<br />

sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya.<br />

11 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

36. Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) adalah lembaga yang<br />

tumbuh dan berkembang secara mandiri di masyarakat, dengan kegiatan utama<br />

meningkatkan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan, sosial dan<br />

keagamaan, serta peningkatan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan<br />

masyarakat.<br />

37. Tenaga Harian Lepas (THL) adalah tenaga bantu tenaga penyuluh<br />

pertanian/pendamping revitalisasi perkebunan/pengendali organisme<br />

pengganggu tumbuhan/penanganan kesehatan hewan yang direkrut oleh<br />

Kementerian Pertanian mulai tahun 2007 untuk melaksanakan tugas dan<br />

fungsinya mendampingi kelompok tani/gapoktan dalam pengembangan usaha<br />

agribisnis, dengan ketentuan tidak menuntut untuk diangkat menjadi Pengawai<br />

Negeri Sipil (PNS).<br />

38. Tenaga Harian Lepas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (THL<br />

POPT) adalah tenaga bantu POPT yang direkrut oleh Kementerian Pertanian<br />

selama kurun waktu tertentu sesuai dengan ketersediaan keuangan Negara<br />

untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pembantu POPT di wilayah<br />

pengamatan yang belum memiliki jumlah POPT yang cukup, dengan ketentuan<br />

tidak mempunyai hak untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil.<br />

39. Pemberdayaan Masyarakat Pertanian adalah upaya-upaya yang dilakukan<br />

dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agribisnis sehingga<br />

secara mandiri mampu mengembangkan diri dan dalam melakukan usahanya<br />

secara berkelanjutan.<br />

40. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah seluruh penerimaan<br />

Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan.<br />

41. Pengendalian adalah serangkaian kegiatan manajemen yang dimaksudkan<br />

untuk menjamin agar suatu program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai<br />

dengan rencana yang ditetapkan<br />

42. Pemantauan adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana<br />

pembangunan, mengindentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang<br />

timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin.<br />

Pemantauan dilaksanakan secara berkesinambungan dan bertujuan<br />

memberikan indikasi awal dari perkembangan atau kekurangan suatu<br />

program/kegiatan yang sedang berjalan.<br />

43. Evaluasi adalah suatu penilaian dalam kurun waktu tertentu yang mencoba<br />

untuk menilai relevansi secara sistematis dan obyektif, efisien, efektivitas<br />

pelaksanaan, dan dampak/keberhasilan dari program dan kegiatan yang sedang<br />

berjalanmaupun yang telah selesai. Evaluasi dapat diartikan pula merupakan<br />

rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output),<br />

dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Pemantauan dilakukan pada<br />

seluruh program/kegiatan, sedangkan evaluasi dapat dilakukan secara lebih<br />

12 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

selektif. Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi merupakan alat yang<br />

diperlukan untuk pelaporan dan pengendalian.<br />

44. Pelaporan adalah bentuk penyampaian informasi mengenai hasil pelaksanaan<br />

program/kegiatan yang dituangkan ke dalam formulir yang telah ditentukan<br />

secara berkala dan sesuai dengan petunjuk pengisiannya.<br />

45. Belanja Bantuan Sosial adalah transfer uang atau barang yang diberikan oleh<br />

pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi dari<br />

kemungkinan terjadinya resiko sosial. Transfer uang/barang/jasa tersebut<br />

memiliki ketentuan berikut ini: (a) dapat langsung diberikan kepada anggota<br />

masyarakat dan/atas lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan<br />

untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan; (b) bersifat<br />

sementara atau berkelanjutan; (c) ditujukan untuk mendanai kegiatan<br />

rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, jaminan sosial. Pembedayaan sosial,<br />

penanggulangan kemiskinan dan bencana; (d) untuk meningkatkan taraf<br />

kesejahteraan, kualitas, kelangsungan hidup, dan memulihkan fungsi sosial<br />

dalam rangka mencapai kemandirian sehingga terlepas dari resiko sosial; dan<br />

(e) diberikan dalam bentuk bantuan langsung, penyediaan aksesibilitas,<br />

dan/atau penguatan kelembagaan.<br />

46. Belanja Modal merupakan pengeluaran anggaran yang digunakan dalam<br />

rangka memperoleh atau menambah asset tetap dan asset lainnya yang<br />

member manfaar lebih dari satu periode akuntansi serta melebihi batasan<br />

minimal kapitalisasi asset tetap atau asset lainnya yang ditetapkan pemerintan.<br />

47. Belanja Barang adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan<br />

jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan<br />

maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan<br />

untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan.<br />

Belanja ini terdiri belanja barang dan jasa, belanja pemeliharaan dan belanja<br />

perjalanan.<br />

48. Belanja Pegawai pada dasarnya mencakup seluruh imbalan yang diberikan<br />

kepada pegawai pemerintah dan anggota DPRD, seperti gaji, tunjangan, dan<br />

kompensasi sosial.<br />

49. Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga<br />

yang memproduksi, menjual, mengekspor, atau mengimpor barang dan jasa,<br />

yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga<br />

jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat.<br />

13 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

BAB II<br />

SASARAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN<br />

PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA 2012<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai Visi Tahun 2010-2014,<br />

yaitu ”Terwujudnya Produksi Tanaman Pangan Yang Cukup dan Berkelanjutan”.<br />

Dalam mewujudkan visi tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki misi<br />

sebagai berikut;<br />

1. Mewujudkan birokrasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang profesional<br />

dan berintegritas,<br />

2. meningkatkan perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan<br />

berkelanjutan,<br />

3. mengembangkan sistem penyediaan benih yang efisien, efektif, dan<br />

berkelanjutan,<br />

4. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan,<br />

5. meningkatkan pengamanan produksi tanaman pangan berkelanjutan, dan<br />

6. mendorong peran serta instansi dan stakeholder terkait serta masyarakat dalam<br />

pembangunan tanaman pangan yang berkelanjutan.<br />

Sebagai implementasi visi dan misi tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman<br />

Pangan menetapkan tujuan, sebagai berikut;<br />

1. meningkatkan produktivitas melalui peningkatan luas areal penerapan budidaya<br />

tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan untuk peningkatan produksi<br />

dalam rangka mencapai ketahanan pangan;<br />

2. menyelenggarakan sistem penyediaan benih tanaman pangan yang efisien dan<br />

berkelanjutan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat, dan<br />

tersalurnya benih tanaman pangan bersubsidi;<br />

3. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan di lokasi penerapan<br />

budidaya tanaman pangan yang tepat;<br />

4. mengendalikan serangan OPT dan DPI di lokasi penerapan budidaya tanaman<br />

pangan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman pangan;<br />

5. menyelenggarakan pelayanan teknis dan administrasi secara profesional dan<br />

berintegritas dilingkungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan;<br />

6. menciptakan metoda pengujian mutu benih dan penerapan sistem mutu<br />

laboratorium pengujian benih tanaman pangan;<br />

7. menyediakan informasi dan menciptakan model peramalan OPT sebagai<br />

rujukan dalam pengamanan produksi tanaman pangan.<br />

14 | P a g e


2.1. Sasaran<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Sasaran utama pembangunan tanaman pangan tahun 2010-2014<br />

merupakan turunan dari sasaran utama pembangunan pertanian yaitu: a)<br />

mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, b)<br />

mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan, c) mewujudkan peningkatan nilai<br />

tambah, daya saing, dan ekspor, serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan<br />

petani. Keempat sasaran ini disebut dengan Empat Sukses Kementerian<br />

Pertanian. Pencapaian keempat sasaran (target) utama diharapkan dapat<br />

memberikan dampak kinerja yang signifikan bagi pemenuhan kebutuhan nasional dan<br />

ketahanan pangan nasional, baik kebutuhan pangan, kebutuhan pakan, kebutuhan<br />

energi maupun kebutuhan bahan baku untuk industri lainnya. Selain itu, dampak<br />

kinerja pembangunan tanaman pangan juga diharapkan dapat mengurangi jumlah<br />

kemiskinan dan meningkatkan pendapatan negara.<br />

Pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian tersebut memerlukan<br />

keterpaduan pelaksanaan program baik lingkup Kementerian Pertanian maupun lintas<br />

Kementerian/Pemerintahan. Fungsi dari program pemerintah hanya berupa stimulan<br />

untuk menggerakkan kekuatan ekonomi tanaman pangan secara nasional. Dalam hal<br />

ini, pembangunan tanaman pangan dikelompokkan pada pengembangan komoditas<br />

utama dan komoditas alternatif. Namun demikian, penetapan sasaran produksi<br />

hanya dilakukan pada komoditi padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi<br />

jalar, dan ubi kayu. Sasaran produksi komoditas utama tanaman pangan tahun 2012<br />

dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.<br />

Tabel 1. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi<br />

Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012<br />

Komoditas Luas Tanam<br />

(Ha)<br />

Luas Panen<br />

(Ha)<br />

Produktivitas<br />

(Ku/Ha)<br />

Produksi<br />

(Ton)<br />

Padi 14.026.771 13.556.865 53,13 72.026.235<br />

Jagung 4.874.437 4.655.430 51,55 24.000.000<br />

Kedelai 1.312.000 1.250.000 15,20 1.900.000<br />

Kacang Tanah 825.000 785.700 14,00 1.100.000<br />

Kacang Hijau 342.600 325.500 11,98 390.000<br />

Ubi Kayu 1.381.600 1.315.800 190,00 25.000.000<br />

Ubi Jalar 207.000 196.700 117,00 2.300.000<br />

Sumber: Renstra Ditjen Tanaman Pangan Tahun 2010-2014<br />

(untuk rincinya per provinsi dapat dilihat pada lampiran 3 sd 9)<br />

15 | P a g e


2.2. Strategi<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan akan ditempuh melalui<br />

strategi Tujuh Gema Revitalisasi Pertanian yaitu: (1) Revitalisasi Lahan; (2)<br />

Revitalisasi Perbenihan dan Perbibitan; (3) Revitalisasi Infrastruktur dan Sarana; (4)<br />

Revitalisasi Sumber Daya Manusia; (5) Revitalisasi Pembiayaan Petani; (6)<br />

Revitalisasi Kelembagaan Petani; serta (7) Revitalisasi Teknologi dan Industri Hilir.<br />

TUJUH GEMA<br />

REVITALISASI PERTANIAN<br />

LAHAN<br />

PERBENIHAN/PERBIBITAN<br />

INFRASTRUKTUR DAN SARANA<br />

SUMBER DAYA MANUSIA<br />

PEMBIAYAAN PERTANIAN<br />

KELEMBAGAAN PERTANIAN<br />

TEKNOLOGI DAN INDUSTRI HILIR<br />

EMPAT<br />

SUKSES<br />

SWASEMBADA<br />

BERKELANJUTAN DAN<br />

SWASEMBADA<br />

DIVERSIFIKASI<br />

PANGAN<br />

NILAI TAMBAH, DAYA<br />

SAING, DAN EKSPOR<br />

PENINGKATAN<br />

KESEJAHTERAAN<br />

PETANI<br />

Gambar 2. Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian<br />

Ketujuh strategi pembangunan pertanian tersebut akan mempengaruhi<br />

tingkat keberhasilan yang dapat dicapai. Namun demikian, harus disadari bahwa<br />

ketujuh strategi tersebut melibatkan institusi pemerintah lainnya dan institusi non<br />

pemerintah. Untuk mewujudkan pencapaian Empat Sukses tersebut, orientasi<br />

peningkatan produksi menjadi alat (instrumen) utama yang diprioritaskan. Untuk itu,<br />

sebagai jaminan tambahan bagi petani atau pelaku usaha pertanian, pemerintah<br />

memberikan stimulan baik berupa bantuan, subsidi ataupun insentif lainnya.<br />

Pemberian ini sebagai bagian dari meringankan biaya usaha dan sekaligus<br />

meningkatkan pendapatan.<br />

Secara harfiah, peningkatan produksi diharapkan dapat memacu<br />

peningkatan pendapatan. Berkaitan dengan peningkatan produksi, Direktorat<br />

16 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Jenderal Tanaman Pangan menetapkan strategi pencapaian produksi tanaman<br />

pangan melalui empat strategi atau disebut dengan Catur Strategi Pencapaian<br />

Produksi Tanaman Pangan yaitu:<br />

1. Peningkatan produktivitas<br />

2. Perluasan areal dan optimasi lahan<br />

3. Penurunan konsumsi beras dan pengembangan diversifikasi pangan<br />

4. Peningkatan manajemen.<br />

Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan ini merupakan<br />

penajaman sekaligus revisi atas catur strategi yang selama ini digunakan yaitu 1)<br />

peningkatan produktivitas, 2) perluasan areal tanam, 3) pengamanan produksi, dan 4)<br />

penguatan kelembagaan dan pembiayaan. Hal ini dilakukan sebagai proses<br />

penegasan dan respon atas perubahan lingkungan yang terjadi.<br />

Proses penajaman dan revisi terhadap strategi pencapaian produksi<br />

tanaman pangan telah mempertimbangkan aspek keberlanjutan program<br />

pembangunan tanaman pangan dan aspek keterpaduan baik disisi hulu, on-farm,<br />

maupun hilir.<br />

Gambar 3. Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan<br />

17 | P a g e


2.3. Kebijakan<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012 merupakan penjabaran<br />

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 sebagaimana<br />

yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem<br />

Perencanaan Pembangunan Nasional dan sekaligus merupakan rangkaian lanjutan<br />

dari RKP tahun 2011.<br />

Tema Rencana Kerja Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2012<br />

adalah Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan<br />

Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. Tema ini merupakan<br />

landasan dalam menyusun rancangan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran<br />

pembangunan, yang tertuang dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP)<br />

Tahun 2012. Pada prinsipnya, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib<br />

menerapkan prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas, transparansi, akuntabilitas, dan<br />

partisipasi.<br />

Kementerian Pertanian menetapkan 23 (dua puluh tiga) arah kebijakan<br />

pembangunan pertanian tahun 2010-2014. Dari 23 arah kebijakan tersebut, 9<br />

(sembilan) diantaranya terkait langsung dengan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal<br />

Tanaman Pangan, yaitu: (1) melanjutkan dan memantapkan kegiatan tahun<br />

sebelumnya yang terbukti sangat baik kinerja dan hasilnya, antara lain: bantuan<br />

benih/bibit unggul, subsidi pupuk, alsintan, Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman<br />

Terpadu (SLPTT), Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT); (2)<br />

melanjutkan dan memperkuat kegiatan yang berorientasi pemberdayaan masyarakat<br />

seperti Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3), (3) pemantapan<br />

swasembada beras dan jagung melalui peningkatan produksi yang berkelanjutan, (4)<br />

pencapaian swasembada kedelai, (5) pembangunan sentra-sentra pupuk organik<br />

berbasis kelompok tani, (6) penguatan kelembagaan perbenihan dan perbibitan<br />

nasional,(7) peningkatan keseimbangan ekosistem dan pengendalian hama penyakit<br />

tumbuhan secara terpadu, (8) berperan aktif dalam melahirkan kebijakan makro yang<br />

berpihak kepada petani seperti perlindungan tarif dan non tarif perdagangan<br />

internasional, penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), dan Harga Eceran<br />

Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi, serta (9) peningkatan dan penerapan manajemen<br />

pembangunan pertanian yang akuntabel dan good governance. 3)<br />

3) Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014<br />

18 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Secara operasional, kebijakan pembangunan tanaman pangan diprioritaskan<br />

pada 1) pencapaian swasembada berkelanjutan padi dan jagung, 3) pencapaian<br />

swasembada kedelai tahun 2014, 3) pengembangan komoditas spesifik lokasi di<br />

Kawasan Timur (Direktif Presiden), 4) penguatan pangan nasional berbasis Koridor<br />

MP3I, serta 5) pengembangan produksi di kawasan-kawasan khusus lainnya seperti<br />

kawasan perbatasan dan kawasan agropolitan.<br />

Optimalisasi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan tanaman<br />

pangan perlu didukung oleh iklim berusahatani yang kondusif. Dalam hal ini,<br />

dukungan kebijakan yang berpengaruh terhadap iklim usaha atau pengembangan<br />

agribisnis tanaman pangan harus diperhatikan antara lain:<br />

(1) Harga<br />

Kegiatan usahatani dari suatu komoditas dapat berjalan apabila petani<br />

memperoleh insentif/keuntungan yang memadai. Karena itu, pemerintah perlu<br />

menjaga kestabilan harga dan pasar hasil tanaman pangan sepanjang tahun<br />

melalui penetapan harga pembelian oleh pemerintah, khususnya komoditas<br />

strategis seperti padi, jagung dan kedelai. Pengawasan pemerintah sangat<br />

diperlukan untuk menghindari ulah spekulasi pedagang yang dapat memainkan<br />

harga. Selain itu perlu mengupayakan tumbuh dan berkembangnya kemitraan<br />

antara petani dengan pedagang/industri olahan/pengusaha lainnya. Dalam<br />

pengendalian harga tersebut diperlukan koordinasi dengan instansi dan<br />

stakeholder terkait, baik pada tingkat propinsi dan kabupaten/kota maupun<br />

tingkat pusat.<br />

(2) Bea Masuk<br />

Dalam era globalisasi dewasa ini persaingan pasar antar komoditas tanaman<br />

pangan semakin ketat. Komoditas tanaman impor sering membanjiri pasar<br />

dalam negeri dengan harga yang lebih murah. Hal ini dapat menghancurkan<br />

pengembangan agribisnis tanaman pangan dalam negeri. Produk impor lebih<br />

murah dari produk dalam negeri, karena pemerintah negara-negara eksportir<br />

melindungi para petaninya secara baik dengan berbagai cara, sehingga mampu<br />

menghasilkan kualitas yang baik serta dengan kontinuitas pasokan yang<br />

terjamin. Oleh karena sistem atau cara perlindungan yang diberikan terhadap<br />

petani mulai dari aspek proses produksi sampai aspek pemasaran hasil dan<br />

sistem perdagangannya perlu dikembangkan lebih lanjut.<br />

19 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan tersebut di atas, pemerintah<br />

Indonesia melindungi petaninya melalui pemberlakuan bea masuk (tarif) impor.<br />

Pemberlakuan tarif impor tersebut masih dimungkinkan dalam kerangka<br />

kebijakan World Trade Organization (WTO). Untuk mengatasi penyelundupan<br />

produk-produk tanaman pangan dilakukan koordinasi dalam pengawasan pintupintu<br />

masuk penyelundupan barang-barang dari luar negeri.<br />

(3) Karantina Tumbuhan<br />

Indonesia sangat kaya akan berbagai jenis sumber daya alam hayati berupa<br />

aneka ragam jenis tumbuhan, hewan, ikan yang perlu dijaga dan dilindungi<br />

kelestariannya dari berbagai hama, penyakit dan organisme pengganggu. Oleh<br />

karena itu untuk mencegah masuknya organisme pengganggu tumbuhan, hama<br />

dan penyakit hewan/ikan melalui media pembawa (tumbuhan dan bagianbagiannya,<br />

hewan, asal bahan hewan, hasil bahan asal hewan, ikan dan/atau<br />

benda lainnya) dari luar negeri atau dari area lain di dalam negeri, perlu<br />

pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina.<br />

Pada era perdagangan bebas ini, karantina merupakan suatu instrumen yang<br />

penting untuk memperlancar arus perdagangan, baik ekspor maupun impor.<br />

Dengan adanya peraturan karantina yang selaras dengan aturan sanitasi dan<br />

fitosanitari (sanitary and phytosanitary/SPS regulation) diharapkan dapat<br />

meningkatkan kualitas produk ekspor impor yang pada gilirannya juga dapat<br />

meningkatkan taraf hidup petani. Dengan demikian dapat dihindarkan terjadinya<br />

tuntutan terhadap produk Indonesia di luar negeri akibat buruknya mutu.<br />

Demikian juga derasnya arus masuk produk luar negeri yang tidak bermutu<br />

dapat dicegah melalui pengawasan karantina.<br />

Untuk menjaga masuknya produk-produk pertanian tanaman (termasuk benih)<br />

yang tidak memenuhi persyaratan keamanan hama dan penyakit serta<br />

lingkungan, maka perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas<br />

karantina. Penjagaan dari aspek hama dan penyakit serta lingkungan tersebut<br />

di atas meliputi keamanan jangka pendek sampai dampak dalam jangka waktu<br />

yang panjang. Oleh karena itu koordinasi dengan pihak karantina setempat<br />

perlu dilakukan dan lebih ditingkatkan.<br />

(4) Pengendalian Alih Fungsi Lahan<br />

Meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya ekonomi serta industri,<br />

berakibat terjadinya degradasi, alih fungsi, dan fragmentasi lahan pertanian<br />

20 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

pangan yang mengancam daya dukung wilayah secara nasional dalam<br />

menjaga ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional. Upaya<br />

pengendalian terhadap terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian/non-tanaman<br />

pangan secara efektif dalam Undang-Undang Nomor 41<br />

Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan<br />

(PLP2B) dan Peraturan Pemerintah pendukungnya.<br />

Sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 menyatakan<br />

bahwa Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diselenggarakan<br />

dengan tujuan: a) melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara<br />

berkelanjutan; b) menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara<br />

berkelanjutan; c) mewujudkan kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan;<br />

d) melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani; e)<br />

meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat; f)<br />

meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani; g) meningkatkan<br />

penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak; h) mempertahankan<br />

keseimbangan ekologis; dan i) mewujudkan revitalisasi pertanian. Sanksi bagi<br />

orang, perseorangan, pejabat pemerintah yang melakukan alih fungsi Lahan<br />

Pertanian Pangan Berkelanjutan akan dipidana dengan pidana penjara paling<br />

lama 2-5 tahun dan denda berkisar antara satu milyar rupiah sampai tujuh<br />

milyar rupiah.<br />

21 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

BAB III<br />

PROGRAM DAN KEGIATAN<br />

LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN<br />

TA 2012<br />

<strong>Pelaksanaan</strong> program dan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

memerlukan penjelasan beberapa hal penting sebagai simpul kritis pengendalian<br />

dalam mendorong pencapaian kinerja secara optimal. Penjelasan program dan<br />

kegiatan harus dapat menjelaskan nilai strategis dari komponen-komponen yang<br />

direncanakan. Beberapa aspek yang perlu diperjelas adalah 1) indikator kinerja hasil<br />

(outcome) dan keluaran (output), 2) komponen prioritas pemberdayaan, 3) lokasi<br />

anggaran (Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota) dan jenis dana (dana dekonsentrasi<br />

dan/atau dana tugas pembantuan), 4) jenis belanja, 5) pola pengelolaan bansos, 6)<br />

mekanisme pengadaan barang/jasa, 7) pengukuran indikator kinerja outcome<br />

maupun output, serta 8) penilaian resiko atas keberhasilan program/kegiatan.<br />

BUTIR-BUTIR<br />

PENJELASAN<br />

PEDOMAN<br />

PELAKSANAAN<br />

PROGRAM/KEGIATAN<br />

INDIKATOR KINERJA<br />

OUTCOME DAN OUTPUT<br />

KOMPONEN PRIORITAS<br />

PEMBERDAYAAN<br />

LOKASI ANGGARAN<br />

DAN JENIS DANA<br />

JENIS BELANJA<br />

POLA PENGELOLAAN<br />

BANSOS<br />

MEKANISME PENGADAAN<br />

BARANG/JASA<br />

PENGUKURAN INDIKATOR<br />

KINERJA<br />

PENILAIAN RESIKO ATAS<br />

KEBERHASILAN<br />

PROGRAM/KEGIATAN<br />

Gambar 4. Butir-Butir Penjelasan <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong>/Kegiatan<br />

22 | P a g e


3.1 <strong>Program</strong><br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Dalam mewujudkan sasaran pembangunan tanaman pangan, Direktorat<br />

Jenderal Tanaman Pangan menetapkan program tahun 2012 yaitu <strong>Program</strong><br />

Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk<br />

Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Indikator keberhasilan<br />

kinerja <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan<br />

Untuk mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan adalah perluasan<br />

penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat yang didukung oleh sistem<br />

penanganan pascapanen dan penyediaan benih serta pengamanan produksi yang<br />

efisien untuk mewujudkan produksi tanaman pangan yang cukup dan berkelanjutan.<br />

Untuk mewujudkan pencapaian kinerja program tersebut, maka perlu<br />

didukung pencapaian kinerja kegiatan dari masing-masing unit eselon II yaitu:<br />

1. Direktorat Budidaya Serealia: Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia.<br />

2. Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi: Pengelolaan Produksi<br />

Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.<br />

3. Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan: Pengelolaan Sistem Penyediaan<br />

Benih Tanaman Pangan.<br />

4. Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan: Penanganan Pascapanen<br />

Tanaman Pangan.<br />

5. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan: Penguatan Perlindungan Tanaman<br />

Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan<br />

Dampak Perubahan Iklim (DPI).<br />

6. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan: Dukungan Manajemen dan<br />

Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.<br />

7. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan<br />

Hortikultura (BBPPMBTPH): Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih<br />

dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih.<br />

8. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT):<br />

Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan.<br />

23 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Tabel 2. <strong>Program</strong> dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />

Kode <strong>Program</strong> dan Kegiatan<br />

018.03.06 <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Tanaman<br />

Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan<br />

1761 Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi<br />

1762 Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia<br />

1763 Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan<br />

1764 Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI<br />

1765 Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan<br />

1766 Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan<br />

1767 Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem<br />

Mutu Laboratorium Pengujian Benih<br />

1768 Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan<br />

Untuk mewujudkan kinerja program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

tahun 2012, komponen prioritas yang terus ditumbuhkembangkan adalah:<br />

1) mengoptimalkan bantuan kepada petani, penangkar benih, pelaku usaha<br />

pascapanen, dan lembaga yang mengakar di masyarakat,<br />

2) memperkuat brigade produksi (brigade proteksi) dan petugas di lapangan,<br />

3) memperkuat fungsi unit pelaksana teknis daerah (BBI, BPSBTPH, dan BPTPH),<br />

4) memperkuat cadangan bantuan saprodi dalam mengatasi dampak bencana<br />

yang timbul.<br />

24 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Tabel 3. Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan<br />

<strong>Program</strong>/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />

No. Kegiatan<br />

1.<br />

Pengelolaan Produksi<br />

Tanaman Serealia<br />

2. Pengelolaan Produksi<br />

Tanaman Akabi<br />

3. Pengelolaan Sistem<br />

Penyediaan Benih Tanaman<br />

Pangan<br />

4. Penanganan Pasca Panen<br />

Tanaman Pangan<br />

5. Penguatan Perlindungan TP<br />

Dari Gangguan OPT & DPI<br />

6. Pengembangan Peramalan<br />

Serangan OPT<br />

7. Pengembangan Metode<br />

Pengujian Mutu Benih Dan<br />

Penerapan Sistem Mutu<br />

Laboratorium Pengujian<br />

Benih<br />

8 Dukungan Manajemen &<br />

Teknis Lainnya pada Ditjen<br />

Tanaman Pangan<br />

Komponen Prioritas<br />

Pemberdayaan/Penguatan<br />

- SLPTT hanya dengan bantuan benih dan LL<br />

- SLPTT Model Spesifik Lokasi<br />

- SLPTT Model Peningkatan IP<br />

- Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam<br />

(Jagung)<br />

- Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan<br />

Alternatif<br />

- SLPTT Kedelai<br />

- Pengembangan Kedelai Model<br />

- Pengembangan Kacang Tanah<br />

- Pengembangan Ubi Kayu<br />

- Pengembangan Ubi Jalar<br />

- Pemberian BLBU<br />

- Penguatan UPTD BPSBTPH<br />

- Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman<br />

(PBT)<br />

- Penguatan Balai Benih<br />

- Pemberdayaan Penangkar<br />

- Penguatan UPB<br />

- Bantuan Sarana Pasca Panen<br />

- Survei Susut Hasil Padi<br />

- Penguatan P3OPT<br />

- Gerakan Pengendalian OPT/bantuan<br />

pestisida<br />

- Sekolah Lapangan Pengamatan Hama<br />

Terpadu (SLPHT)<br />

- Sekolah Lapangan Iklim (SLI)<br />

- Pemberdayaan PPAH<br />

- Penguatan Lab Pengamatan Hama Terpadu<br />

(LPHP)<br />

- Pemberdayaan THL POPT-PHP<br />

- Pengembangan Peramalan Serangan OPT<br />

- Pengembangan Metode Pengujian Mutu<br />

Benih<br />

- Pemberian Modal Usaha Kepada LM3<br />

- Penyediaan Cadangan Saprodi Dalam<br />

Mengatasi Bencana Alam<br />

- Pemberian Insentif Mantritani<br />

25 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Salah satu instrumen utama yang menjadi model (benchmark)<br />

pemberdayaan sebagai gambaran pokok atas keberhasilan program Direktorat<br />

Jenderal Tanaman Pangan adalah Sekolah Lapangan meliputi Sekolah Lapangan<br />

Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT), Sekolah Lapangan Pengendalian Hama<br />

Terpadu (SLPHT) dan Sekolah Lapangan Iklim (SLI). Ketiga sekolah lapangan ini<br />

akan didukung oleh berbagai kegiatan pendukung lain. Sekolah lapangan ini<br />

difokuskan pada komoditas padi, jagung dan kedelai. Untuk komoditas lain dilakukan<br />

melalui pola pengembangan dengan luasan tertentu (dem area). Untuk mendukung<br />

pencapaian sasaran produksi komoditas tanaman pangan, sasaran luas tanam<br />

SLPTT atau lokasi pengembangan (dem area) yang dibiayai melalui APBN TA 2012<br />

terlihat pada tabel 4 dibawah ini.<br />

Tabel 4. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi<br />

Melalui SLPTT dan Lokasi Pengembangan Melalui APBN TA 2012<br />

Komoditas Luas Tanam<br />

(Ha)<br />

Luas Panen<br />

(Ha)<br />

Produktivitas<br />

(Ku/Ha)<br />

Produksi<br />

(Ton)<br />

Padi Non Hibrida 2.700.000 2.565..000 64,00 16.416.000<br />

Padi Hibrida 300.000 285.000 77,00 2.195.000<br />

Padi Lahan Kering 500.000 475.000 37,50 1.781.250<br />

Jagung 200.000 190.000 65,00 1.235.000<br />

Kedelai 350.000 332.500 16,00 542.690<br />

Kacang Tanah 150.000 142.500 17,51 268.010<br />

Kacang Hijau 20.000 19.000 13,00 25.260<br />

Ubi Kayu 6.560 6.230 250,00 164.680<br />

Ubi Jalar 10.350 9.830 130,00 139.880<br />

Alokasi anggaran untuk mendukung pencapaian program Direktorat Jenderal<br />

Tanaman Pangan TA 2012 terdiri dari:<br />

1) Dana pusat sebesar Rp. 1.104.899.536.000,-. Alokasi dana pusat dikelola unit<br />

kerja Pusat yaitu 8 unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

(anggaran BPMPT tergabung dalam anggaran Direktorat Perlindungan<br />

Tanaman Pangan).<br />

2) Dana dekonsentrasi sebesar Rp. 512.347.000.000,- Alokasi dana<br />

dekonsentrasi dikelola oleh unit kerja Dinas Provinsi yang menangani<br />

tanaman pangan dan UPTD Provinsi (BBI, BPSBTPH, dan BPTPH).<br />

3) Dana tugas pembantuan sebesar Rp. 1.498.245.455,- Alokasi dana tugas<br />

pembantuan dikelola oleh unit kerja Dinas Kabupaten/Kota yang menangani<br />

tanaman pangan.<br />

26 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Tabel 5. Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung <strong>Program</strong><br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. 2012<br />

NO.<br />

LOKASI<br />

DINAS<br />

UNIT KERJA KAB/KOTA<br />

A. PUSAT 1.104.899.536<br />

1. DITJEN TP-PUSAT - - - - -<br />

2. BBPPMBTPH - - - - - -<br />

3. BBPOPT - - - - - -<br />

4. BPMPT - - - - - -<br />

B PROVINSI & KAB/KOTA 267.093.500 31.846.500 61.400.000 152.007.000 512.347.000 1.498.245.455<br />

1. ACEH 18.498.700<br />

2. SUMUT 9.056.500<br />

3. SUMBAR 8.297.500<br />

4. RIAU 7.448.900<br />

5. JAMBI 6.155.100<br />

6. SUMSEL 13.114.100<br />

7. BENGKULU 4.805.100<br />

8. LAMPUNG 11.633.700<br />

9. DKI 432.600<br />

10. JABAR 16.465.100<br />

11. JATENG 18.478.900<br />

12. DI YOGYAKARTA 9.670.900<br />

13. JATIM 14.901.100<br />

14. KALBAR 12.156.400<br />

15. KALTENG 6.061.900<br />

16. KALSEL 9.934.500<br />

17. KALTIM 6.327.000<br />

18. SULUT 5.138.100<br />

19. SULTENG 6.609.200<br />

20. SULSEL 16.447.800<br />

21. SULTRA 4.926.800<br />

22. BALI 5.178.300<br />

23. NTB 11.303.400<br />

24. NTT 15.142.500<br />

25. MALUKU 1.759.400<br />

26. PAPUA 2.221.600<br />

27. MALUT 1.676.600<br />

28. BANTEN 10.582.800<br />

29. BABEL 1.019.700<br />

30. GORONTALO 4.516.000<br />

31. KEPRI 803.600<br />

32. PAPUA BARAT 1.957.500<br />

33. SULBAR 4.372.200<br />

UNIT KERJA PROVINSI (DANA DEKONSENTRASI)<br />

BBI<br />

550.000<br />

2.400.000<br />

600.000<br />

250.000<br />

1.895.000<br />

700.000<br />

385.000<br />

600.000<br />

-<br />

4.250.000<br />

3.800.000<br />

698.500<br />

3.600.000<br />

500.000<br />

500.000<br />

1.750.000<br />

250.000<br />

400.000<br />

400.000<br />

2.450.000<br />

300.000<br />

750.000<br />

2.300.000<br />

500.000<br />

350.000<br />

339.000<br />

230.000<br />

250.000<br />

100.000<br />

350.000<br />

-<br />

299.000<br />

100.000<br />

ALOKASI ANGGARAN PER UNIT KERJA (Rp. 000)<br />

BPSBTPH<br />

2.131.000<br />

2.320.000<br />

2.176.000<br />

1.330.000<br />

1.804.000<br />

2.428.000<br />

1.492.000<br />

1.840.000<br />

474.000<br />

4.030.000<br />

4.030.000<br />

1.916.000<br />

4.610.000<br />

1.907.000<br />

1.567.000<br />

2.067.000<br />

1.395.000<br />

2.067.000<br />

1.591.000<br />

3.465.000<br />

1.410.000<br />

2.007.000<br />

2.546.000<br />

1.713.000<br />

1.404.000<br />

1.304.000<br />

1.278.000<br />

1.558.000<br />

600.000<br />

1.398.000<br />

-<br />

721.000<br />

821.000<br />

BPTPH<br />

6.480.000<br />

8.473.000<br />

5.642.000<br />

2.814.500<br />

3.184.000<br />

4.926.500<br />

2.494.500<br />

5.487.500<br />

910.500<br />

12.242.000<br />

12.562.000<br />

2.738.500<br />

14.039.000<br />

4.055.000<br />

3.246.000<br />

5.090.000<br />

3.113.500<br />

3.581.500<br />

4.678.500<br />

8.314.000<br />

3.847.000<br />

3.114.000<br />

4.439.000<br />

4.187.500<br />

3.218.000<br />

3.152.000<br />

2.566.000<br />

3.797.500<br />

1.544.000<br />

2.825.000<br />

-<br />

2.644.000<br />

2.600.500<br />

SUB TOTAL<br />

27.659.700<br />

22.249.500<br />

16.715.500<br />

11.843.400<br />

13.038.100<br />

21.168.600<br />

9.176.600<br />

19.561.200<br />

1.817.100<br />

36.987.100<br />

38.870.900<br />

15.023.900<br />

37.150.100<br />

18.618.400<br />

11.374.900<br />

18.841.500<br />

11.085.500<br />

11.186.600<br />

13.278.700<br />

30.676.800<br />

10.483.800<br />

11.049.300<br />

20.588.400<br />

21.543.000<br />

6.731.400<br />

7.016.600<br />

5.750.600<br />

16.188.300<br />

3.263.700<br />

9.089.000<br />

803.600<br />

5.621.500<br />

7.893.700<br />

(DANA TUGAS<br />

PEMBANTUAN)<br />

54.799.820<br />

47.125.100<br />

28.260.830<br />

16.208.160<br />

21.549.320<br />

46.017.140<br />

14.626.310<br />

46.801.420<br />

-<br />

163.405.020<br />

207.618.725<br />

34.412.580<br />

348.478.060<br />

28.642.020<br />

15.709.740<br />

34.604.350<br />

12.377.210<br />

21.365.800<br />

21.414.480<br />

92.201.500<br />

18.114.880<br />

13.238.800<br />

47.403.820<br />

28.990.940<br />

5.449.000<br />

7.969.260<br />

4.250.750<br />

76.582.810<br />

1.587.200<br />

14.731.300<br />

-<br />

8.161.630<br />

16.147.480<br />

1.084.746.536<br />

7.300.000<br />

9.353.000<br />

3.500.000<br />

2.010.592.455<br />

82.459.520<br />

69.374.600<br />

44.976.330<br />

28.051.560<br />

34.587.420<br />

67.185.740<br />

23.802.910<br />

66.362.620<br />

1.817.100<br />

200.392.120<br />

246.489.625<br />

49.436.480<br />

385.628.160<br />

47.260.420<br />

27.084.640<br />

53.445.850<br />

23.462.710<br />

32.552.400<br />

34.693.180<br />

122.878.300<br />

28.598.680<br />

24.288.100<br />

67.992.220<br />

50.533.940<br />

12.180.400<br />

14.985.860<br />

10.001.350<br />

92.771.110<br />

4.850.900<br />

23.820.300<br />

803.600<br />

13.783.130<br />

24.041.180<br />

TOTAL 3.115.491.991<br />

Dalam meningkatkan pelaksanaan program dan kegiatan lingkup Direktorat<br />

Jenderal Tanaman Pangan TA 2012, alokasi anggaran untuk belanja pegawai,<br />

belanja barang, belanja modal, dan belanja bantuan sosial. Bila dilakukan<br />

perbandingan masing-masing jenis belanja terhadap total anggaran maka proporsi<br />

terbesar dialokasikan untuk belanja bantuan sosial sebesar 78,21%, kemudian diikuti<br />

TOTAL<br />

27 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

belanja barang 18,88%, belanja pegawai 1,73% dan belanja modal 1,18%.<br />

Pengalokasian anggaran tersebut dapat di lihat pada tabel 6 di bawah ini.<br />

Tabel 6. Anggaran Menurut Jenis Belanja Per <strong>Program</strong>/Kegiatan<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />

Kode <strong>Program</strong> dan Kegiatan<br />

018.03.06<br />

1761<br />

1762<br />

1763<br />

1764<br />

1765<br />

1766<br />

1767<br />

1768<br />

<strong>Program</strong> Peningkatan<br />

Produksi, Produktivitas,<br />

dan Mutu Tanaman<br />

Pangan Untuk Mencapai<br />

Swasembada dan<br />

Swasembada<br />

Berkelanjutan<br />

Pengelolaan Produksi<br />

Tanaman Aneka Kacang<br />

dan Umbi<br />

Pengelolaan Produksi<br />

Tanaman Serealia<br />

Pengelolaan Sistem<br />

Penyediaan Benih Tanaman<br />

Pangan<br />

Penguatan Perlindungan<br />

Tanaman Pangan dari<br />

Gangguan OPT dan DPI<br />

Penanganan Pasca Panen<br />

Tanaman Pangan<br />

Dukungan Manajemen dan<br />

Teknis Lainnya pada Ditjen<br />

Tanaman Pangan<br />

Pengembangan Metode<br />

Pengujian Mutu Benih dan<br />

Penerapan Sistem Mutu<br />

Laboratorium Pengujian<br />

Benih<br />

Pengembangan Peramalan<br />

Serangan Organisme<br />

Pengganggu Tumbuhan<br />

Belanja<br />

Pegawai<br />

Jenis Belanja (Rp. 000)<br />

Belanja<br />

Barang<br />

Belanja<br />

Modal<br />

Belanja<br />

Bantuan<br />

Sosial<br />

Total<br />

(Rp. 000)<br />

53.800.919 588.187.829 36.668.775 2.436.834.468 3.115.491.991<br />

0 20.441.510 889.000 154.418.520 175.749.030<br />

0 96.516.150 430.500 847.342.350 944.289.000<br />

0 151.534.052 9.016.950 1.292.699.998 1.453.251.000<br />

0 178.235.085 6.002.315 1.962.600 186.200.000<br />

0 22.894.000 231.000 67.411.000 90.536.000<br />

46.507.092 109.871.219 19.435.650 73.000.000 248.813.961<br />

3.164.532 3.628.568 506.900 0 7.300.000<br />

4.129.285 5.067.246 156.460 0 9.353.000<br />

Rupiah Murni 53.800.919 588.062.869 36.496.735 2.436.834.468 3.115.194.991<br />

Pinjaman Luar Negeri 0 0 0 0 0<br />

Rupiah Murni Pendamping 0 0 0 0 0<br />

PNBP 0 124.960 172.040 0 297.000<br />

Pinjaman Dalam Negeri 0 0 0 0 0<br />

Badan Layanan Umum 0 0 0 0 0<br />

Stimulus 0 0 0 0 0<br />

Hibah Dalam Negeri 0 0 0 0 0<br />

Hibah Luar Negeri 0 0 0 0 0<br />

Hibah Langsung Dalam Negeri 0 0 0 0 0<br />

Sumber : RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA 2012<br />

Dari keempat jenis belanja diatas, belanja yang merupakan fasilitasi<br />

langsung kepada masyarakat adalah belanja bantuan sosial. Berkaitan dengan<br />

belanja bantuan sosial dapat dijelaskan bahwa penetapan alokasi anggaran untuk<br />

28 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

belanja bantuan sosial dikategorikan karena alasan pemberdayaan sosial dan<br />

penanganan bencana. Memperhatikan pengelolaan belanja bantuan sosial, maka<br />

penempatan alokasi DIPA disesuaikan dengan karakteristik jenis bantuan sosial yang<br />

diberikan. Pola pelaksanaan bantuan sosial dimaksud dilakukan melalui transfer<br />

uang dan/atau transfer barang. Hal ini sangat tergantung dengan ketepatan dan<br />

keefektifan dalam penyaluran dan pelaksanaan kegiatan. Hal ini dapat dilihat secara<br />

rinci pada tabel 7.<br />

Mekanisme pengadaan barang/jasa melalui transfer barang seperti yang<br />

terlihat pada tabel 6 mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku,<br />

dimana salah satu peraturan perundang-undangan yang mengatur pengadaan<br />

barang/jasa pemerintah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010<br />

termasuk perubahannya. 4) Sedangkan pengadaan barang/jasa melalui transfer uang<br />

akan diatur secara rinci melalui pedoman teknis masing-masing. Namun demikian,<br />

persyaratan administrasi pengadaan barang/jasa melalui transfer uang adalah<br />

membuat kontrak berdasarkan Rencana Usaha Kegiatan (RUK) antara penerima dan<br />

unit kerja pengelola langsung. Apabila ada hal-hal yang berubah dari RUK awal<br />

maka dapat dilakukan penyesuaian kontrak dengan melampirkan Berita Acara dan<br />

memperoleh persetujuan unit kerja pengelola (satker yang menangani bantuan<br />

tersebut).<br />

Untuk memastikan keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman<br />

Pangan, pengukuran kinerja dilakukan dengan mengukur indikator outcome dan<br />

indikator output. Secara umum, pengukuran indikator kinerja output dilakukan<br />

dengan membandingkan capaian fisik dan keuangan terhadap sasaran dan alokasi<br />

anggaran yang ditetapkan. Pemantauan hasil keseluruhan atas indikator output dan<br />

outcome dilakukan melalui pengumpulan informasi dari dinas kabupaten/kota. Namun<br />

demikian, evaluasi pengukuran indikator kinerja outcome yang dititikberatkan pada<br />

keberhasilan peningkatan produktivitas SLPTT. Metodologi pengukuran kinerja<br />

SLPTT dilakukan melalui ubinan (metodologi yang lebih akurat), sebagai berikut:<br />

1. Ubinan SLPTT Padi 14.136 unit 371 Kab/Kota<br />

2. Ubinan SLPTT Jagung Hibrida 1.919 unit 242 Kab/Kota<br />

3. Ubinan SLPTT Kedelai 3.500 unit 175 Kab/Kota<br />

4) Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dilakukan dengan pola lain sepanjang diterbitkan<br />

aturan yang setara dengan peraturan yang mengatur pengadaan barang/jasa yang berlaku. Dalam<br />

administrasi, hal ini disebut dengan lex specialist.<br />

29 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Tabel 7. Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />

No. Jenis Output<br />

Lokasi DIPA Komponen Belanja Bantuan Sosial Pola <strong>Pelaksanaan</strong><br />

Pusat Provinsi Kab/Kota<br />

Pemberdayaan<br />

Sosial<br />

Perlindungan<br />

Sosial<br />

Penanggulangan<br />

Bencana<br />

Penanganan<br />

Kemiskinan<br />

1. SLPTT Padi V V V<br />

2. SLPTT Jagung V V V<br />

3. Optimalisasi Pengembangan Areal<br />

Jagung Hibrida<br />

Transfer<br />

Uang<br />

V V V<br />

4. SLPTT Kedelai V V V<br />

5. Pengembangan Kedelai Model V V V<br />

6. Pengembangan Ubi Kayu/Ubi<br />

Jalar/Kacang Tanah<br />

V V V<br />

7. BLBU PJK Wilayah Jawa V * V V *<br />

8. BLBU PJK Wilayah Luar Jawa V V V<br />

9. Pemberdayaan Penangkar PJK V V V<br />

10. Bantuan Pasca Panen V V V<br />

11. Sarana Pengendali OPT (BPTPH) V V V<br />

12. Bantuan Bencana Alam V V V<br />

13. Bantuan Modal untuk LM3 V V V<br />

Keterangan:<br />

* : sedang dalam proses penegasan<br />

Transfer<br />

Barang<br />

30 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

3.2. Penilaian Risiko atas Keberhasilan <strong>Program</strong><br />

Secara umum, penilaian risiko merupakan proses identifikasi dan sekaligus proses<br />

antisipasi atas faktor-faktor yang dapat menganggu keberhasilan pencapaian program.<br />

Penilaian risiko atas keberhasilan <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu<br />

Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan meliputi<br />

a) penilaian risiko pada saat perencanaan, b) penilaian risiko pada saat pelaksanaan<br />

rencana, serta c) penilaian risiko pada saat pengendalian, evaluasi, dan pelaporan.<br />

Secara umum, penilaian risiko yang perlu diperhatikan adalah:<br />

1) penetapan model stimulan pembangunan,<br />

2) ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki,<br />

3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja (program dan anggaran),<br />

4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman<br />

teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi<br />

(CPCL) dan pola pengelolaan,<br />

5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelolaan<br />

kesatkeran,<br />

6) ketepatan pembentukan tim pembina, pengawalan, monitoring dan evaluasi,<br />

7) ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah<br />

ditetapkan,<br />

8) kekonsistenan dalam mengendalikan, mengevaluasi, dan melaporkan<br />

pelaksanaan.<br />

Penilaian risiko ini bersifat umum dan hanya berupa simpul-simpul utama. Titik risiko ini<br />

akan dirinci pada masing-masing pengelola kegiatan sesuai dengan karakteristik yang<br />

dimiliki.<br />

31 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Tabel 8. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan <strong>Program</strong><br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />

No. Aspek Titik Risiko<br />

I Penyusunan Rencana - Penetapan model stimulan pembangunan<br />

- Ketepatan alokasi anggaran terhadap<br />

dukungan teknis yang dimiliki<br />

- Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan<br />

anggaran<br />

II. <strong>Pelaksanaan</strong> Rencana - Ketepatan penyelesaian dokumen<br />

pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman<br />

teknis terutama yang berkaitan dengan<br />

kriteria calon penerima calon lokasi<br />

(CPCL) dan pola pengelolaan<br />

III. Pengendalian, Evaluasi dan<br />

Pelaporan Rencana<br />

3.3. Kegiatan<br />

- Ketepatan penyelesaian surat keputusan<br />

berkaitan dengan pengelola kesatkeran<br />

- Ketepatan pembentukan tim pembina,<br />

pengawalan, monitoring dan evaluasi<br />

- Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai<br />

dengan jadwal kerja yang sudah<br />

ditetapkan<br />

- Kekonsistenan dalam pengendalian<br />

- Kekonsistenan dalam mengevaluasi<br />

- Kekonsistenan dalamn melaporkan<br />

<strong>Program</strong> Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terdiri dari delapan (8) jenis<br />

kegiatan, dimana 1 unit kerja Eselon II memiliki 1 kegiatan. Pada tahun anggaran 2012,<br />

kinerja <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan untuk<br />

Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan didukung anggaran melalui<br />

APBN dengan fokus-fokus tertentu sebagai berikut:<br />

3.3.1. Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia<br />

Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia merupakan kegiatan Direktorat<br />

Budidaya Serealia. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman<br />

Serealia adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya serealia yang tepat dan<br />

berkelanjutan. Operasional peningkatan produksi dan produktivitas di lapangan dilakukan<br />

melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) khususnya untuk padi<br />

32 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

(non hibrida, hibrida dan lahan kering), dan jagung (hibrida). Penerapan teknologi<br />

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan instrumen perangsang (stimulus) bagi<br />

daerah sekitarnya. Jenis SLPTT yang dikembangkan adalah 1) SLPTT Reguler dimana<br />

bantuan yang diberikan hanya berupa benih, kecuali 1 Ha Laboratorium Lapangan<br />

diberikan bantuan full paket, 2) SLPTT Spesifik Lokasi dimana bantuan yang diberikan<br />

berupa bantuan full paket (benih, pupuk, dan alsintan), 3) SLPTT Indeks Pertanaman<br />

dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih, pupuk, dan alsintan).<br />

Kriteria penerima SLPTT ini difokuskan kepada petani/kelompoktani yang memiliki<br />

produktivitas yang lebih rendah dari produktivitas kabupaten. Penerapan pola ini<br />

diharapkan terbina kawasan-kawasan andalan, yang berfungsi sebagai pusat belajar<br />

pengambilan keputusan para petani/kelompok tani, sekaligus sebagai tempat tukar<br />

menukar informasi dan pengalaman lapangan, pembinaan manajemen kelompok, serta<br />

sebagai percontohan bagi kawasan lainnya.<br />

Dalam setiap 25 ha areal SLPTT padi non hibrida, 25 ha areal SLPTT padi non<br />

hibrida spesifik lokasi, 25 ha areal SLPTT padi non hibrida peningkatan IP, 10 ha areal<br />

SLPTT padi hibrida, 10 ha areal SLPTT padi hibrida spesifik lokasi, 25 ha areal SLPTT<br />

padi lahan kering, dan 15 ha areal SLPTT jagung hibrida. Masing-masing ditempatkan 1<br />

unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha. Rincian bantuan biaya LL-SLPTT dan<br />

biaya yang diperlukan untuk SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi Peningkatan<br />

Produktivitas dan Peningkatan IP seperti tabel di bawah ini.<br />

No. SLPTT<br />

1. Padi<br />

Luasan/1 Unit SLPTT<br />

(Ha)<br />

- Sawah Non Hibrida 25<br />

- Sawah Hibrida 10<br />

- Lahan Kering 25<br />

2. Jagung 15<br />

Untuk mendukung pelaksanaan SLPTT padi dan jagung, maka disusun standar<br />

biaya untuk masing-masing SLPTT. Standar biaya pada SLPTT yang sifatnya reguler<br />

sebesar Rp. 3.700.000,-/Ha, SLPTT model padi non hibrida diberikan sebesar Rp.<br />

64.850.000,-/Ha, dan SLPTT padi hibrida sebesar Rp. 44.600.000,-/Ha. Biaya untuk<br />

SLPTT ini belum termasuk bantuan benih.<br />

33 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Tabel 9. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA. 2012<br />

SL-PTT Jenis Fasilitas Satuan/Ha<br />

Harga<br />

Satuan (Rp)<br />

Jumlah<br />

(Rp/unit SL)<br />

A. SLPTT Reguler 3.700.000<br />

- Jenis komoditas: Padi<br />

Non Hibrida, Padi<br />

Hibrida, Padi Lahan<br />

Kering, Jagung<br />

Hibrida.<br />

- Terdapat 1 LL dalam<br />

1 unit SLPTT (1 LL = 1<br />

Ha) yang diberikan<br />

bantuan full paket<br />

(benih dan pupuk)<br />

- Sisa lahan dalam 1 LL<br />

hanya diberikan<br />

bantuan benih<br />

B. SLPTT Model Padi<br />

Non Hibrida<br />

- Model terdiri dari<br />

SLPTT Spesifik Lokasi<br />

dan SLPTT<br />

Peningkatan IP<br />

- Bantuan SLPTT<br />

Model meliputi benih,<br />

pupuk dan fasilitasi<br />

gerakan tanam<br />

serempak<br />

- 1 unit SLPTT Model<br />

sama dengan 25 Ha<br />

C. SLPTT Model Padi<br />

Hibrida<br />

- Model Spesifik Lokasi<br />

- Bantuan SLPTT<br />

Model meliputi benih,<br />

pupuk dan fasilitasi<br />

gerakan tanam<br />

serempak<br />

- 1 unit SLPTT Model<br />

sama dengan 10 Ha<br />

- Urea<br />

- NPK<br />

- Pupuk Organik<br />

- Biaya pertemuan<br />

- Insentif pengawalan<br />

oleh pendamping<br />

- Papan nama<br />

- Urea<br />

- NPK<br />

- Pupuk Organik<br />

- Fasilitasi Gerakan<br />

Tanam Serempak<br />

- Biaya operasional<br />

gerakan tanam<br />

serempak<br />

- Biaya pertemuan<br />

- Insentif pengawalan<br />

oleh pendamping<br />

- Papan nama<br />

- Urea<br />

- NPK<br />

- Pupuk Organik<br />

- Fasilitasi Gerakan<br />

Tanam Serempak<br />

- Biaya operasional<br />

gerakan tanam<br />

serempak<br />

- Biaya pertemuan<br />

- Insentif pengawalan<br />

oleh pendamping<br />

- Papan nama<br />

100 kg<br />

300 kg<br />

1.000 kg<br />

10 kali<br />

10 kali<br />

1 buah<br />

100 kg<br />

300 kg<br />

1.000 kg<br />

1 unit<br />

1 paket<br />

10 kali<br />

10 kali<br />

1 buah<br />

100 kg<br />

300 kg<br />

1.000 kg<br />

1 unit<br />

1 paket<br />

10 kali<br />

10 kali<br />

1 buah<br />

1.600<br />

2.300<br />

500<br />

170.000<br />

50.000<br />

150.000<br />

1.600<br />

2.300<br />

500<br />

25.000.000<br />

3.750.000<br />

170.000<br />

50.000<br />

150.000<br />

1.600<br />

2.300<br />

500<br />

25.000.000<br />

3.750.000<br />

170.000<br />

50.000<br />

150.000<br />

160.000<br />

690.000<br />

500.000<br />

1.700.000<br />

500.000<br />

150.000<br />

64.850.000<br />

160.000<br />

690.000<br />

500.000<br />

25.000.000<br />

3.750.000<br />

1.700.000<br />

500.000<br />

150.000<br />

44.600.000<br />

160.000<br />

690.000<br />

500.000<br />

25.000.000<br />

3.750.000<br />

1.700.000<br />

500.000<br />

150.000<br />

Penggunaan dana tersebut selain untuk pengadaan saprodi, biaya pertemuan<br />

kelompok tani, insentif bagi pendamping dan pembuatan papan nama juga untuk<br />

pengadaan alsintan (sesuai kebutuhan kelompok tani) dan biaya operator.<br />

34 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT TA 2012 adalah: padi non<br />

hibrida seluas 2.651.700 ha, padi non hibrida spesifik lokasi seluas 33.550 ha, padi non<br />

hibrida peningkatan IP seluas 14.750 ha, padi hibrida seluas 290.700 ha, padi hibrida<br />

spesifik lokasi 9.300 ha, lahan kering seluas 500.000 ha, dan jagung hibrida seluas<br />

200.000 ha.<br />

Selain itu, pada kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia dilaksanakan<br />

juga fasilitasi kemitraan pangan alternatif dan upaya pembinaan, pengawalan, monitoring<br />

dan evaluasi serealia. Tabel berikut ini menggambarkan alokasi kegiatan pengelolaan<br />

produksi tanaman serealia.<br />

Tabel 10. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012<br />

No. Kegiatan Sasaran Lokasi<br />

1. SLPTT<br />

a. Padi Non Hibrida 2.651.700 Ha 31 Provinsi;<br />

b. Padi Non Hibrida<br />

Spesifik Lokasi<br />

c. Padi Non Hibrida<br />

Peningkatan IP<br />

Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />

33.550 Ha 26 Provinsi;<br />

14.750 Ha 17 Provinsi;<br />

362Kab/Kota<br />

60 Kab/Kota<br />

30 Kab/Kota<br />

d. Padi Hibrida 290.700 Ha 22 Provinsi; 199 Kab/Kota<br />

e. Padi Hibrida Spesifik 9.300 Ha 13 Provinsi; 148<br />

Lokasi<br />

Kab/Kota<br />

f. Padi Lahan Kering 500.000 Ha 30 Provinsi;<br />

g. Jagung Hibrida 200.000 Ha 25 Provinsi;<br />

2. Fasilitasi Kemitraan<br />

Pangan Alternatif<br />

10 Paket 10 Provinsi<br />

3. Pembinaan,<br />

Pengawalan,<br />

Monitoring, dan<br />

Evaluasi Serealia<br />

403 Satker Pusat,<br />

31 Provinsi;<br />

260Kab/Kota<br />

242 Kab/Kota<br />

371 Kab/Kota<br />

Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman serealia titik risiko kegiatan adalah:<br />

(1) penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT, seperti pengolahan tanah,<br />

pemilihan benih, pengaturan tanam, pengairan, pemupukan, pengendalian OPT hingga<br />

panen; (2) ketepatan alokasi anggaran; (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan<br />

35 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

anggaran, (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman<br />

teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL); (5) ketepatan<br />

penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran; (6) ketepatan<br />

pembentukan tim pembina, pengawalan, monitoring dan evaluasi; (7) ketepatan jadwal<br />

waktu proses penentuan penerima bantuan, penyediaan dan penyaluran bantuan, serta (8)<br />

kekonsistenan dalam mengendalikan, mengevaluasi, dan melaporkan pelaksanaan<br />

kegiatan.<br />

Kesalahan dalam penetapan dan penerapan komponen teknologi akan<br />

berdampak pada: (a) menurunnya kuantitas dan kualitas produksi tanaman serealia; (b)<br />

tidak efisiennya biaya usahatani yang digunakan; (c) mengganggu lingkungan tumbuhnya<br />

pertanaman dan lingkungan kehidupan secara keseluruhan. Faktor-faktor tersebut perlu<br />

mendapat perhatian dan apabila tidak berjalan sesuai yang diharapkan maka akan<br />

berdampak pada pelaksanaan kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia yang pada<br />

akhirnya berujung pada tidak tercapainya output yang diharapkan.<br />

Tabel 11. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi<br />

Tanaman Serealian Tahun 2012<br />

No. Uraian Titik Risiko<br />

1. SLPTT Padi - Ketepatan dalam menetapkan CPCL<br />

2. SLPTT Jagung - Ketepatan pemanfaatan anggaran<br />

- Ketepatan pengolahan tanah<br />

- Ketepatan dalam pemilihan teknologi<br />

- Ketepatan pemberian sosial<br />

- Faktor alam (tingkat intensitas cuaca)<br />

- Ketepatan dalam mengevaluasi dan melaporkan<br />

3.3.2. Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi<br />

Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi merupakan<br />

kegiatan Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi. Indikator output kinerja kegiatan<br />

Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi adalah tercapainya luas areal<br />

penerapan budidaya tanaman aneka kacang dan umbi yang tepat dan berkelanjutan.<br />

Dalam mewujudkan peningkatan produksi dan produktivitas kedelai, maka dilakukan<br />

Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) serta pengembangan kedelai<br />

model.<br />

36 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Dalam 10 ha areal SLPTT kedelai ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL)<br />

dengan luasan 1 Ha. Sedangkan pada pengembangan kedelai model dengan luasan 1<br />

Ha. Laboratorium Lapangan memperoleh bantuan Benih dan Pupuk (NPK, Urea dan<br />

Organik) serta melakukan pertemuan petani pelaksana SL. Selain itu pada areal SL-PTT<br />

dialokasikan anggaran untuk ubinan setiap luasan 100 ha mendapat 1 (satu) unit sampling<br />

ubinan. Sementara itu areal SL Non Laboratorium Lapangan hanya mendapat bantuan<br />

benih VUB. Untuk menjamin keberhasilan penerapan di lapangan perlu dilakukan<br />

pengawalan dan pendampingan secara intensif oleh Penyuluh Pertanian, Peneliti, POPT,<br />

PBT dan Mantri Tani.<br />

Tabel 12. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai<br />

No. Uraian Volume<br />

Harga/Satuan<br />

(Rp)<br />

Jumlah<br />

(Rp)<br />

A. SLPTT Kedelai 3.930.000<br />

- Urea 100 Kg 1.600 160.000<br />

- NPK 100 Kg 2.300 230.000<br />

- Kapur Pertanian 500 Kg 1.000 500.000<br />

- Pupuk Hayati 1 Paket 250.000 250.000<br />

- Pupuk Organik 500 Kg 500 250.000<br />

- Pestisida/Herbisida 2 Ltr 250.000 500.000<br />

- Papan nama 1 Paket 150.000 150.000<br />

- Pendampingan Penyuluh 1 Paket 500.000 500.000<br />

- Pertemuan Kelompok Tani 1 Klp 1.390.000 1.390.000<br />

B. Pengembangan Kedelai 3.280.000<br />

- Urea 100 Kg 1.600 160.000<br />

- NPK 100 Kg 2.300 230.000<br />

- Kapur Pertanian 500 Kg 1.000 500.000<br />

- Pupuk Hayati<br />

1 Paket 250.000 250.000<br />

(RYZOBIUM)<br />

- Pupuk Organik 1.000 Kg 500 500.000<br />

- Pestisida 2 Ltr 250.000 500.000<br />

- Herbisida 5 Ltr 80.000 400.000<br />

- Pendampingan Penyuluh 1 Paket 200.000 200.000<br />

- Benih 40 Kg 13.500 540.000<br />

37 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT kedelai TA 2012 seluas<br />

350.000 Ha, pengembangan kedelai model seluas 2.094 Ha, pengembangan kacang tanah<br />

seluas 100 ha, pengembangan ubi kayu seluas 300 ha, dan pengembangan ubi jalar<br />

seluas 850 ha. Untuk memastikan kinerja kegiatan SL-PTT Kedelai maka akan dilakukan<br />

uji ubinan secara baik dan tepat seluas 3.500 Ha. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi<br />

Aneka Kacang dan Umbi sebagaimana tabel berikut.<br />

Tabel 13. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi<br />

TA 2012<br />

No. Kegiatan Sasaran Lokasi<br />

1. SL-PTT Kedelai 350.000 Ha 28 Provinsi; 175 Kab/Kota<br />

2. Pengembangan Kedelai (Model) 2.094 Ha 11 Provinsi; 29 Kab/Kota<br />

3. Pengembangan Kacang Tanah 100 Ha 1 Provinsi; 2 Kab/Kota<br />

4. Pengembangan Ubi Kayu 300 Ha 1 Provinsi; 4 Kab/Kota<br />

5. Pengembangan Ubi Jalar 850 Ha 2 Provinsi; 9 Kab/Kota<br />

6. Koordinasi Non Kedelai 54 Paket 24 Provinsi<br />

7. Pembinaan, Pengawalan,<br />

Monitoring, dan Evaluasi<br />

209 Satker Pusat,<br />

28 Provinsi;<br />

180 Kab/Kota<br />

8. Ubinan SL-PTT Kedelai 3.500 Ha 28 Provinsi; 175 Kab/Kota<br />

Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />

Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman aneka kacang dan umbi titik risiko<br />

kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap penetapan dan penerapan komponen teknologi<br />

SL-PTT, seperti pengolahan tanah, pemilihan benih, pengaturan tanam, pengairan,<br />

pemupukan, pengendalian OPT hingga panen; (2) ketepatan pengalokasian anggaran<br />

dengan realiasi tanam; (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran, (4)<br />

ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis<br />

berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL); (5) ketepatan penyelesaian<br />

surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran; (6) ketepatan pembentukan tim<br />

pembina, pengawalan, monitoring dan evaluasi; (7) ketepatan jadwal waktu proses<br />

penentuan penerima bantuan, penyediaan dan penyaluran bantuan, serta (8)<br />

kekonsistenan dalam mengendalikan, mengevaluasi, dan melaporkan pelaksanaan<br />

kegiatan.<br />

38 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Tabel 14. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi<br />

Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012<br />

No. Uraian Titik Risiko<br />

I SL-PTT Kedelai - Ketepatan penyelesaian dokumen pelaksanaan, pedoman teknis, dan<br />

petunjuk teknis<br />

- Ketepatan penetapan calon penerima calon lokasi (CPCL)<br />

- Ketepatan Surat Keputusan Dirjen Tanaman Pangan<br />

- Ketepatan waktu ketersediaan benih<br />

- Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta<br />

- Gangguan OPT dan DPI<br />

- Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman, misal antara<br />

padi – jagung)<br />

- Ketersediaan akses informasi<br />

- Ketersediaan pasar / kemitraan<br />

II. Pengembangan Kedelai - Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan, pedoman<br />

teknis, dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria<br />

calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan<br />

III Pengembangan Kacang<br />

Tanah<br />

IV Pengembangan Ubi Kayu<br />

dan Ubi Jalar<br />

- Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola<br />

kesatkeran<br />

- Ketersediaan benih tepat waktu<br />

- Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta<br />

- Gangguan OPT dan DPI<br />

- Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman, misal antara<br />

padi – jagung)<br />

- Ketersediaan akses informasi dan modal<br />

- Ketersediaan pasar / kemitraan<br />

- Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan, pedoman<br />

teknis, dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria<br />

calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan<br />

- Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola<br />

kesatkeran<br />

- Ketersediaan benih tepat waktu<br />

- Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta<br />

- Gangguan OPT dan DPI<br />

- Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman, misal antara<br />

padi – jagung)<br />

- Ketersediaan akses informasi dan modal<br />

- Ketersediaan pasar / kemitraan<br />

- Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan, pedoman<br />

teknis, dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria<br />

calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan<br />

- Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola<br />

kesatkeran<br />

- Ketersediaan benih tepat waktu<br />

- Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta<br />

- Gangguan OPT dan DPI<br />

- Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman, misal antara<br />

padi – jagung)<br />

- Ketersediaan akses informasi dan modal<br />

- Ketersediaan pasar<br />

39 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

3.3.3. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan<br />

Kegiatan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan merupakan kegiatan<br />

Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan. Indikator output kinerja Kegiatan Pengelolaan<br />

Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan adalah (1) lembaga perbenihan tanaman<br />

pangan yang dibina di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat, (2)<br />

tersalurkannya bantuan langsung benih unggul (BLBU) untuk kawasan SL-PTT dan non<br />

SL-PTT, (3) tersedia dan tersalurkannya Cadangan Benih Nasional (CBN) untuk<br />

penanganan bencana alam dan pengembangan komoditas, serta (4) pengawalan dan<br />

monitoring BLBU.<br />

Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman<br />

pangan yaitu melalui penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi petani,<br />

mempermudah akses petani terhadap benih varietas unggul bermutu, serta penggunaan<br />

sarana produksi yang dilakukan melalui kegiatan: operasional operasional UPTD Balai<br />

Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BPSBTPH);<br />

operasional Balai Benih Induk (BBI); pemberdayaan penangkar; pembangunan dan<br />

optimalisasi UPB; pembinaan, pengawalan, dan monitoring evaluasi pembangunan<br />

penangkaran benih;pemberian Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU); pembinaan,<br />

pengawalan, monitoring evaluasi BLBU, subsidi, dan Cadangan Benih Nasional (CBN);<br />

serta pemberian insentif petugas pengawas benih tanaman (PBT).<br />

Pada TA 2012, bantuan langsung benih unggul dialokasikan pada DIPA<br />

Kementerian Pertanian dengan rincian sebagai berikut: bantuan benih padi non hibrida,<br />

padi lahan kering, padi hibrida, jagung hibrida, dan kedelai diperuntukkan bagi kegiatan<br />

SLPTT dan non SLPTT. Selain itu, dialokasikan untuk mendukung pengembangan kacang<br />

tanah, ubi kayu dan ubi jalar (Direktif Presiden).<br />

Sasaran pengembangan perbenihan tahun 2012 adalah tercapainya penggunaan<br />

benih bermutu varietas unggul dan bersertifikat sebagai berikut:<br />

a. Padi 67,00 persen,<br />

b. Jagung 72,31 persen,<br />

c. Kedelai 67,90 persen,<br />

Selain itu, pengembangan perbenihan diharapkan dapat memperbaiki sistem produksi<br />

benih aneka kacang dan umbi (kacang tanah, kacang hijau, ubikayu, dan ubijalar).<br />

Penguatan kelembagaan perbenihan baik tingkat pusat, provinsi maupun<br />

kabupaten dimaksudkan untuk memperlancar penyediaan benih varietas unggul bermutu<br />

komoditas tanaman pangan. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain berupa: (1)<br />

pelaksanaan penyaluran BLBU padi, jagung, dan kedelai sebanyak 101,50 ribu ton benih<br />

40 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

untuk luas tanam 4,05 juta Ha; (2) pelaksanaan operasional di 32 Balai Pengawasan dan<br />

Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTDBPSBTPH) di provinsi;(3)<br />

pelaksanaan operasional 31 Balai Besar Induk (BBI) di provinsi;(4) pelaksanaan<br />

pemberdayaan penangkar padi seluas 10.000 Ha, penangkar jagung seluas 700 ha, dan<br />

penangkar kedelai seluas 2.500 ha; (5) pelaksanaan pembangunan 4 (empat) UPB dan<br />

optimalisasi 8 (delapan) UPB di provinsi; (6) pelaksanaan deregulasi perbenihan; (7)<br />

pembinaan, monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih di 27 provinsi dan 230<br />

kabupaten/kota; (8) pembinaan, pengawalan, monitoring evaluasi BLBU, subsidi, dan CBN<br />

di 32 provinsi dan 373 kabupaten/kota; serta (9) dibayarnya insentif 817 orang Petugas<br />

Pengawas Benih Tanaman (PBT) di 31 provinsi. Hal ini merupakan keluaran dari kegiatan<br />

Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan.<br />

Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) diberikan dalam rangka mendukung<br />

peningkatan produksi dan produktivitas terutama di lokasi SL-PTT, meringankan beban<br />

petani serta meningkatkan kesadaran penggunaan benih varietas unggul bermutu,<br />

sehingga dapat meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas. Rencana alokasi<br />

BLBU tahun anggaran 2012 difokuskan pada lokasi-lokasi yang melaksanakan Sekolah<br />

Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Komoditas yang difasilitasi adalah padi,<br />

jagung, dan kedelai. Pengalokasian pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman<br />

pangan TA 2012 dapat di lihat pada tabel di bawah ini.<br />

Selain bantuan langsung benih unggul, pemerintah terus mengupayakan<br />

pemberian subsidi harga benih dan cadangan benih nasional. Subsidi harga benih<br />

dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga benih di pasar bebas, meringankan beban<br />

petani serta meningkatkan ketersediaan benih dan penggunaan benih varietas unggul<br />

bermutu bagi kelompok tani/petani. Cadangan Benih Nasional (CBN) dimaksudkan<br />

sebagai upaya pemulihan dari pertanaman kelompok tani/petani yang terkena bencana<br />

alam (banjir, kekeringan, dsb) serta eksplosi serangan Organisme Pengganggu Tanaman<br />

(OPT).<br />

41 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Tabel 15. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan<br />

TA. 2012<br />

No. Kegiatan Sasaran Lokasi<br />

1. BLBU Pusat<br />

- Padi Non Hibrida 67.500 ton<br />

2.700.000 ha<br />

- Padi Hibrida 4.500 ton<br />

300.000 ha<br />

- Padi Lahan Kering 12.500 ton<br />

500.000 ha<br />

- Jagung Hibrida 3.000 ton<br />

200.000 ha<br />

- Kedelai 14.000 ton<br />

350.000 ha<br />

2. Operasional UPTD BPSBTPH 32 Balai 32 Provinsi<br />

3. Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman<br />

(PBT)<br />

817 Orang 31 Provinsi<br />

4. Sarana BPSBTPH 32 Balai 32 Provinsi<br />

5. Operasional Balai Benih 31 Balai 31 Provinsi<br />

6. Pemberdayaan Penangkar:<br />

- Padi 200 Unit 23 Provinsi;<br />

10.000 Ha 165 Kab/Kota<br />

- Jagung 14 Unit<br />

5 Provinsi;<br />

700 Ha 14 Kab/Kota<br />

- Kedelai 100 Unit 13 Provinsi;<br />

2.500 Ha 100 Kab/Kota<br />

7. Pembangunan UPB 4 Unit 4 Provinsi<br />

8. Operasional UPB 8 Unit 8 Provinsi<br />

9. Deregulasi Perbenihan 1 Paket Pusat<br />

10. Pembinaan, Monev Pembangunan<br />

257 Paket 27 Provinsi;<br />

Penangkaran Benih<br />

230Kab/Kota<br />

11. Pembinaan, Pengawalan, Monev BLBU,<br />

257 Paket Pusat; 32 Provinsi;<br />

Subsidi, CBN<br />

373 Kab/Kota<br />

Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />

Secara umum semua kegiatan memiliki risiko jika tidak dilaksanakan sesuai<br />

aturan dan petunjuk yang ditetapkan. Resiko kegagalan pencapaian keluaran (output) dan<br />

hasil (outcome) terjadi jika pelaksanaan tidak dilaksanakan tepat waktu, jumlah atau<br />

kualitas yang tidak sesuai speck. Oleh karena itu, agar kegiatan yang dihasilkan dapat<br />

berdaya guna dan berhasil guna serta tidak menimbulkan kerugian negara maka sangat<br />

diharapkan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rambu-rambu yang sudah ditetapkan.<br />

42 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Jika dievaluasi faktor risiko seluruh kegiatan perbenihan, maka yang paling tinggi<br />

faktor risikonya adalah BLBU dan pemberdayaan penangkar. Bantuan Langsung Benih<br />

Unggul dan Pemberdayaan Penangkar berkaitan dengan waktu/musim tanam. BLBU juga<br />

sangat berkaitan dengan kualitas benih yang disalurkan.<br />

Tabel 16. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan<br />

Benih Tanaman Pangan TA 2012<br />

No. Uraian Titik Risiko<br />

I BLBU mendukung SL-PTT padi,<br />

jagung dan kedelai<br />

II. Pengawasan dan Sertifikasi Benih<br />

Tanaman Pangan<br />

III. Insentif Pengawas Benih Tanaman<br />

Pangan<br />

- Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan<br />

- Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang<br />

dimiliki<br />

- Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah<br />

- Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan<br />

dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan<br />

kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola<br />

pengelolaan<br />

- Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran<br />

- Ketersediaan benih<br />

- Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan<br />

- Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang<br />

dimiliki<br />

- Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja<br />

yang sudah ditetapkan<br />

- Kekonsistenan dalam mengendalikan, mengevaluasi, dan<br />

melaporkan pelaksanaan kegiatan<br />

- Ketepatan pembayaran insentif<br />

IV. Perbanyakan Benih Sumber - Ketepatan waktu perbanyakan benih<br />

V. Pemberdayaan Penangkar - Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan<br />

VI. Pembinaan, pendampingan,<br />

pengawalan<br />

VII. Pembangunan Unit Prosesing Benih<br />

(UPB)<br />

- Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang<br />

dimiliki<br />

- Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah<br />

- Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan<br />

dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan<br />

kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola<br />

pengelolaan<br />

- Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran<br />

- Ketersediaan benih<br />

- Ketepatan waktu dalam pembinaan, pendampingan dan<br />

pengawalan<br />

- Ketepatan speck<br />

VIII. Optimalisasi Balai Benih Palawija - Ketepatan speck<br />

- Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB<br />

- Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB<br />

43 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

3.3.4. Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan<br />

Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan merupakan kegiatan<br />

Direktorat Budidaya Pascapanen. Indikator kinerja kegiatan Penanganan Pascapanen<br />

Tanaman Pangan adalah (1) jumlah kelompok tani yang menerapkan teknologi<br />

pascapanen tanaman pangan sesuai GHP (Good Handling Prossesing) dan standar mutu,<br />

dan (2) jumlah kelompok tani yang mendapatkan bantuan sarana pasca panen tanaman<br />

pangan. Untuk mendukung pencapaian output diperlukan berbagai proses yang saling<br />

terkait. Alokasi kegiatan penanganan pascapanen tanaman pangan TA 2012 dapat dilihat<br />

pada tabel di bawah ini.<br />

Tabel 17. Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012<br />

No. Uraian Sasaran Lokasi<br />

1. Bimbingan teknis penanganan<br />

pascapanen tanaman pangan<br />

2. Apresiasi penanganan pascapanen<br />

tanaman pangan<br />

236 Satker Pusat; 31 Provinsi;<br />

204 Kab/kota<br />

220 Satker Pusat; 16 Provinsi;<br />

204 Kab/Kota<br />

3. Survei susut hasil padi 13 Satker Pusat; 12 Provinsi<br />

4. Bantuan sosial:<br />

- Padi 13 Satker 183 Kab/kota<br />

- Vertical Dryer 11 Satker 11 kab/Kota<br />

- Jagung 11 Satker 11 Kab/Kota<br />

- Kedelai 20 Satker 20 Kab/Kota<br />

- Ubi kayu 4 Satker 4 Kab/Kota<br />

- Ubi jalar 9 satker 9 Kab/kota<br />

5. Dukungan manajemen lainnya 1 Satker Pusat<br />

Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />

Dalam upaya penanganan pascapanen tanaman pangan titik risiko kegiatan<br />

adalah: (1) ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen<br />

tanaman pangan; (2) ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen<br />

tanaman pangan; (3) ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi, (4)<br />

ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen; (5) ketepatan<br />

penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis; (6) ketepatan<br />

jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan, penyediaan dan penyaluran bantuan,<br />

serta (7) kekonsistenan dalam mengendalikan, mengevaluasi, dan melaporkan<br />

pelaksanaan kegiatan.<br />

44 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Tabel 18. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen<br />

Tanaman Pangan TA 2012<br />

No. Uraian Titik Risiko<br />

1. Bimbingan teknis penanganan<br />

pascapanen tanaman pangan<br />

2. Apresiasi penanganan pascapanen<br />

tanaman pangan<br />

- Ketepatan terhadap pelaksanaan<br />

bimbingan teknis penanganan<br />

pascapanen tanaman pangan<br />

- Ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi<br />

penanganan pascapanen tanaman<br />

pangan<br />

3. Survei susut hasil padi - Ketepatan waktu dan pelaksanaan<br />

survei susut hasil padi<br />

4. Bantuan social penanganan<br />

pascapanen tanaman pangan<br />

- Ketepatan sasaran pemberian bantuan<br />

sosial sarana pascapanen<br />

5. Dukungan manajemen lainnya - Ketepatan penyelesaian dokumen<br />

pedoman pelaksanaan dan/atau<br />

pedoman teknis<br />

- Ketepatan jadwal waktu proses<br />

penentuan penerima bantuan,<br />

penyediaan dan penyaluran bantuan<br />

- Kekonsistenan dalam mengendalikan,<br />

mengevaluasi, dan melaporkan<br />

pelaksanaan kegiatan<br />

45 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

3.3.5. Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme<br />

Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI)<br />

Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI<br />

dikelola oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Indikator kinerja kegiatan<br />

penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI adalah (1) jumlah<br />

maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terserang OPT, (2) jumlah maksimal<br />

luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terkena DPI, dan (3) 95 % luas areal tanaman<br />

pangan yang menerapkan budidaya tanaman yang tepat aman dari gangguan OPT dan<br />

DPI.<br />

Tabel 19. Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan<br />

dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012<br />

No. Komponen Kegiatan Sasaran Lokasi<br />

1. SLPHT kelompok 1.635 Unit BPTPH/ LPHP<br />

2. SLPHT tindak lanjut 315 Unit BPTPH/ LPHP<br />

3. SLI 130 Unit BPTPH/ LPHP<br />

4. Pengamatan, Peramalan, Pengendalian<br />

OPT/DPI (P3OPT/DPI)<br />

5. Inovasi & diseminasi teknologi pengendalian<br />

OPT/adaptasi DPI<br />

32 Unit BPTPH<br />

95 Unit LPHP<br />

6. Surveilans OPT 2 Paket BPTPH/ LPHP<br />

7. Pemberdayaan PPAH 620 Kel. LPHP<br />

8. Revitalisasi Brigade Proteksi Tanaman (BPT):<br />

- Renovasi/Bangun gudang pestisida<br />

- Sarana pengendalian OPT<br />

- Operasional BPT<br />

- Pelatihan regu pengendali hama (RPH)<br />

57 unit<br />

2 paket<br />

86 unit<br />

221 kelas<br />

BPTPH/ LPHP<br />

BPTPH<br />

BPTPH<br />

BPTPH/ LPHP<br />

9. Honorarium dan BOP THL TB POPT-PHP 1.168 Orang BPTPH/ LPHP<br />

10. BOP POPT-PHP (PNS & Honorer) 2.908 Orang BPTPH/ LPHP<br />

11. Koordinasi, bimbingan teknis, monitoring dan<br />

evaluasi<br />

1 Paket Ditlin/ Pusat<br />

12. Pengujian pestisida, pupuk, dan residu pestisida 1 Paket BPMPT/ Pusat<br />

Sumber; RK-KL Ditjen. Tanaman Pangan TA. 2012<br />

Kegiatan ini dimaksudkan untuk pencegahan dan penanggulangan hama penyakit<br />

tanaman yang disebabkan oleh OPT dan DPI dengan hasil (outcome) yang diharapkan<br />

adalah: (1) menguatnya sistem pengamatan dan pengendalian dini, (2) meningkatnya<br />

kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, (3) menguatnya peran dan fungsi<br />

kelembagaan perlindungan, (4) menguatnya penerapan teknologi pengendalian OPT dan<br />

adaptasi DPI, (5) meningkatnya gerakan pengendalian OPT dan adaptasi DPI, (6)<br />

46 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

tersedianya sarana pengendalian OPT, dan (7) menguatnya database perlindungan<br />

tanaman pangan dan SIM OPT. Alokasi kegiatan penguatan perlindungan tanaman<br />

pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012 dapat dilihat pada tabel di atas.<br />

Dalam pelaksanaan kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari<br />

gangguan OPT dan DPI TA 2012, terdapat permasalahan baik langsung maupun tidak<br />

langsung yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran, sehingga<br />

berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Jenis risiko yang dihadapi dalam<br />

pelaksanaan kegiatan tersebut dapat di lihat pada tabel dibawah ini.<br />

Tabel 20. Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan<br />

dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012<br />

No. Uraian Titik Risiko<br />

1. Perencanaan kegiatan - Ketersediaan SDM<br />

- Koordinasi unit kerja<br />

2. Bantuan sarana pengendalian - Ketepatan waktu Identifikasi CPCL<br />

OPT<br />

- <strong>Pelaksanaan</strong> pendampingan penggunaan<br />

bantuan<br />

- Pengaruh faktor iklim dan OPT<br />

3. Database perlindungan - Dukungan sarana pengolah data<br />

tanaman pangan<br />

- Sumberdaya manusia<br />

4. SLPHT & SLI - Pemberdayaan alumni<br />

- Pemasyarakatan teknologi PHT<br />

- Keseimbangan ekosistem<br />

5. Evaluasi dan pelaporan - Ketepatan dukungan administrasi dan teknis<br />

- Keterlambatan unit kerja lainnya dalam<br />

memberikan bahan (data dan informasi)<br />

- Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja.<br />

47 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

3.3.6. Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu<br />

Laboratorium Pengujian Benih<br />

Kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem<br />

Mutu Laboratorium Pengujian Benih dikelola oleh Balai Besar Pengembangan Pengujian<br />

Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH). Indikator kinerja dari<br />

kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu<br />

Laboratorium Pengujian Benih adalah: (1) jumlah metode pengujian mutu benih yang<br />

dikembangkan, divalidasi dan disyahkan, (2) jumlah laboratorium yang menerapkan sistem<br />

mutu, (3) jumlah laboratorium peserta uji profisiensi.<br />

Sasaran dan keluaran kegiatan ini adalah: (1) terlaksananya 1 paket operasional<br />

Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura<br />

(BBPPMBTPH) Cimanggis; dan (2) meningkatnya kinerja petugas dan pegawai di<br />

BBPPMBTPH Cimanggis dengan pelaksanaan pembayaran gaji dan operasional kantor di<br />

pusat selama satu tahun.<br />

3.3.7. Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan<br />

Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dikelola oleh Balai Besar<br />

Peramalan OPT. Indikator kinerja kegiatan pengembangan peramalan serangan OPT<br />

adalah (1) jumlah informasi peramalan serangan OPT dan DPI, (2) jumlah teknologi<br />

pengamatan, peramalan, dan pengendalian OPT, dan (3) jumlah provinsi yang<br />

menerapkan teknologi pengamatan, peramalan dan pengendalian OPT.<br />

Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dimaksudkan untuk: (1)<br />

operasional Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT); dan<br />

(2) peningkatan kinerja petugas dan pegawai di BBPOPT. Keluaran kegiatan ini adalah<br />

terlaksananya 1 paket operasional BBPOPT dan pembayaran gaji dan operasional kantor<br />

selama satu tahun.<br />

3.3.8. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat<br />

Jenderal Tanaman Pangan<br />

Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat<br />

Jenderal Tanaman Pangan dikelola oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.<br />

Indikator kinerja dari kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya pada<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah 1) jumlah dokumen perencanaan, keuangan,<br />

umum serta evaluasi dan pelaporan program peningkatan produksi, produktivitas dan mutu<br />

tanaman pangan untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan; 2)<br />

48 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

penyaluran bantuan modal untuk LM3, dan 3) jumlah cadangan saprodi untuk mengatasi<br />

dampak bencana alam.<br />

Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya pelayanan teknis dan administrasi<br />

kepada semua unsur di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Keluaran kegiatan<br />

Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman<br />

Pangan ini dapat dilihat pada tabel berikut.<br />

Tabel 21. Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya<br />

pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />

No. Kegiatan Sasaran Lokasi<br />

1. Insentif Mantri Tani 3.161 Orang Pusat; 33 Provinsi<br />

2. Honor Pengelola Satuan Kerja dan<br />

Adminitasi<br />

3. Perencanaan <strong>Program</strong>, Kegiatan<br />

dan Anggaran<br />

4. Pengelolaan SAI (termasuk honor<br />

SAP/SIMAK BMN)<br />

408 Satuan Kerja Pusat; 33 Provinsi;<br />

374 Kab/Kota<br />

408 Satuan Kerja Pusat; 33 Provinsi;<br />

374 Kab/Kota<br />

408 Satuan Kerja Pusat; 33 Provinsi;<br />

374 Kab/Kota<br />

5. Pengelolaan Bidang Umum 1 Satuan Kerja Pusat<br />

6. Evaluasi, Monitoring Evaluasi,<br />

Statistik (termasuk honor petugas<br />

SIMONEV)<br />

408 Satuan Kerja Pusat; 33 Provinsi;<br />

374 Kab/Kota<br />

7. Dukungan Manajemen Lainnya 1 Satuan Kerja Pusat<br />

8. LM3, Bencana Alam, dan<br />

Kekeringan<br />

1 Satuan Kerja Pusat<br />

9. Gaji dan Operasional Kantor 1 Satuan Kerja Pusat<br />

Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />

Dalam pelaksanaan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis<br />

Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 ditemukan berbagai<br />

hambatan dan permasalahan yang tentu saja berpengaruh terhadap pencapaian tujuan<br />

dan sasaran yang telah ditetapkan dan akan berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan.<br />

Penilaian risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilihat pada<br />

tabel di bawah ini.<br />

49 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Tabel 22. Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya<br />

pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />

No. Uraian Titik Risiko<br />

1. LM3 - Kelayakan Proposal<br />

2. Bantuan Bencana Alam<br />

dan Kekeringan<br />

3. Dokumen Manajemen<br />

dan Teknis Lainnya<br />

- Kelengkapan administrasi pencairan dana<br />

bantuan LM3<br />

- Pengaruh intervensi pihak luar<br />

- Pengawalan penggunaan dana penerima<br />

bantuan LM3<br />

- Faktor alam<br />

- Identifikasi Calon Lokasi<br />

- Proses tender<br />

- Ketepatan dukungan administrasi dan teknis<br />

- Keterlambatan unit kerja lainnya dalam<br />

memberikan bahan (data dan informasi)<br />

- Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja.<br />

50 | P a g e


4.1. Tata Hubungan Kerja<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

BAB IV<br />

TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM<br />

LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012<br />

Dalam mendukung pelaksanaan sistem anggaran berbasis kinerja, perlu dipahami<br />

bahwa tata hubungan kerja dalam pelaksanaan pembangunan tanaman pangan baik di<br />

pusat maupun daerah perlu ditingkatkan. Hal ini mengingat tugas dan tanggung jawab<br />

pimpinan instansi sebagai penanggung jawab operasional kegiatan cukup kompleks,<br />

sehingga membutuhkan kerja keras serta selektif terhadap kegiatan prioritas yang akan<br />

dilaksanakan.<br />

Untuk mendukung pemantapan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu adanya<br />

koordinasi dan peningkatan jaringan kerja melalui hubungan hierarki, koordinasi dan teknis<br />

fungsional, dengan penjelasan sebagai berikut:<br />

- Hubungan Hierarki<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai hubungan hierarki dengan<br />

propinsi dan kabupaten/kota sebagai pelaksana kegiatan pembangunan pertanian<br />

di daerah sesuai dengan azas tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Untuk<br />

itu, pemanfaatan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan oleh satuan kerja<br />

yang menerima pelimpahan atau penugasan dikelola, dipertanggung jawabkan dan<br />

dilaporkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Hubungan hierarki tersebut<br />

terwujud dalam sistem perencanaan, pengendalian dan pelaporan.<br />

- Hubungan Koordinasi<br />

Dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang berdasarkan sistem anggaran<br />

berbasis kinerja dibutuhkan sinergi perencanaan program dengan pembiayaan.<br />

Sebagai wujud pelaksanaan kegiatan tersebut, dilakukan melalui hubungan<br />

koordinasi antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan UPT pusat dengan<br />

dinas provinsi dan kabupaten/kota yang menangani tanaman pangan dan UPTD<br />

(BBI, BPSBTPH dan BPTPH).<br />

Koordinasi dilakukan terutama untuk mempertemukan tujuan dan sasaran<br />

pembangunan nasional dengan tujuan dan sasaran pembangunan masing-masing<br />

daerah, sehingga didapat kesepakatan tentang tujuan dan sasaran pembangunan<br />

yang ingin dicapai bersama, khususnya pembangunan yang dibiayai dari APBN.<br />

Dengan koordinasi ini, diharapkan masing-masing daerah juga dapat berkontribusi<br />

melalui APBD yang dimiliki.<br />

51 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Koordinasi juga diperlukan antara UPT Pusat dengan UPT Daerah, terutama untuk<br />

keseragaman peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam memberikan<br />

jasa pelayanan kepada masyarakat, dan juga dalam aspek penyelesaian masalah<br />

(arbitrase) bila terjadi suatu perselisihan, khususnya perselisihan antar daerah.<br />

- Hubungan Teknis Fungsional<br />

Hubungan teknis fungsional dalam pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran<br />

pembangunan tanaman pangan yang berazaskan dekonsentrasi/tugas pembantuan<br />

bertujuan untuk dapat memenuhi standar teknis di bidang tanaman pangan. Dengan<br />

demikian produk/jasa yang dihasilkan dibidang tanaman pangan dapat diproduksi<br />

secara efektif, efisien, dan berdaya saing. Wujud dari hubungan teknis fungsional<br />

tersebut, dilaksanakan melalui pembinaan teknis kegiatan di lapangan seperti teknis<br />

penyiapan sarana produksi, teknis perbenihan/perbibitan, teknis perlindungan<br />

tanaman, teknis usahatani, panen dan pasca panen, dan teknis pelatihan bagi<br />

aparat pertanian dan pelaku usahatani.<br />

4.2. Pengorganisasian<br />

<strong>Pelaksanaan</strong> program dilakukan dengan mengacu pada kaidah-kaidah<br />

administrasi pemerintahan. Dalam melaksananakan pembangunan tanaman pangan,<br />

Direktur Jenderal Tanaman Pangan membantu Menteri Pertanian/Pengguna Anggaran<br />

dalam melaksanakan tugas operasionalnya dibidang tanaman pangan sebagai Kuasa<br />

Pengguna Anggaran/Barang di tingkat pusat. Untuk pelaksanaan program, kegiatan dan<br />

anggaran di daerah, Menteri Pertanian selaku Pengguna Anggaran mengalokasikan<br />

sebagian APBN untuk pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan.<br />

Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang oleh Pemerintah kepada Gubernur<br />

sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu, sedangkan<br />

tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa, dari<br />

pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah<br />

kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.<br />

Anggaran dekonsentrasi merupakan bagian dari APBN yang pengelolaan dan<br />

tanggung jawab penggunaannya oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah<br />

melalui pelimpahan wewenang oleh pemerintah. Besarnya jumlah anggaran ditentukan<br />

melalui proses perencanaan dan pembahasan antara pemerintah dan DPR. Sedangkan<br />

anggaran tugas pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan<br />

oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka<br />

pelaksanaan tugas pembantuan.<br />

52 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

<strong>Pelaksanaan</strong> program, kegiatan dan anggaran dilakukan oleh satuan kerja. Satuan<br />

kerja yang pimpinannya ditetapkan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)<br />

dikelompokkan sebagai berikut :<br />

a) Satuan Kerja Pusat adalah satuan kerja yang kewenangan dan tanggung jawabnya<br />

melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok<br />

dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.<br />

b) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah satuan kerja di provinsi yang<br />

melaksanakan tugas dekonsentrasi dan satuan kerja di provinsi/kabupaten/kota yang<br />

melaksanakan tugas pembantuan.<br />

Penanggung jawab program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk<br />

masing-masing unit kerja dan jenis anggarannya adalah sebagai berikut :<br />

a. Tingkat Pusat<br />

1) Menteri Pertanian sebagai Penanggung Jawab <strong>Program</strong> Pembangunan Pertanian.<br />

Menteri Pertanian menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Presiden<br />

sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.<br />

2) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program, kegiatan dan<br />

anggaran pembangunan tanaman pangan serta sebagai Kuasa Pengguna<br />

Anggaran (KPA) dalam pengelolaan anggaran dan penanggung jawab program.<br />

3) Direktur Jenderal Tanaman Pangan bertindak sebagai koordinator pengembangan<br />

komoditas tanaman pangan dan tugas-tugas pokok serta tugas-tugas pelayanan<br />

lainnya yang terkait dengan unit kerjanya.<br />

4) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program, kegiatan dan<br />

anggaran, dalam operasional kegiatan dibantu oleh dua orang Bendahara<br />

(Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan), Pejabat Penguji dan<br />

Penerbit SPM, pejabat eselon II dan III (khusus UPT BPMPTPH) sebagai Pejabat<br />

Pembuat Komitmen (PPK).<br />

5) Untuk UPT Pusat BBPOPT dan BBPPMBTPH, Kepala Balai Besar selaku Kepala<br />

Satuan Kerja dan KPA. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Balai Besar dibantu<br />

oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan),<br />

KTU/Kabag Umum sebagai Pejabat Penguji dan Penerbit SPM, dan Kabid/Pejabat<br />

eselon III sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).<br />

b. Tingkat Provinsi<br />

1) Gubernur sebagai penanggung jawab program, kegiatan dan anggaran<br />

dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya.<br />

Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian.<br />

53 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Gubernur menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan<br />

melaksanakan dan mengelola DIPA dekonsentrasi dan tugas pembantuan.<br />

2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa<br />

Pengguna Anggaran (KPA), serta bertanggung jawab terhadap seluruh<br />

keberhasilan aktivitas program, kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang<br />

dipimpinnya.<br />

3) Untuk kelancaran operasional program, kegiatan dan anggaran (tertib administrasi<br />

dan keuangan) sehari-hari, masing-masing KPA dibantu dua orang bendahara<br />

(Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan), Pejabat Pembuat Komitmen<br />

serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. Penugasan dalam jabatan tersebut<br />

dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.<br />

4) Kepala Satker selaku KPA menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada<br />

Gubernur untuk anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan provinsi.<br />

c. Tingkat Kabupaten/Kota<br />

1) Bupati/Walikota sebagai penanggungjawab program, kegiatan dan anggaran tugas<br />

pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. Bupati/Walikota<br />

menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian.<br />

Bupati/Walikota menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan<br />

melaksanakan dan mengelola DIPA tugas pembantuan.<br />

2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa<br />

Pengguna Anggaran (KPA), serta bertanggungjawab terhadap seluruh keberhasilan<br />

program, kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya.<br />

3) Untuk kelancaran operasional program, kegiatan dan anggaran (tertib administrasi<br />

dan keuangan) sehari-hari, masing-masing Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)<br />

dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara<br />

Penerimaan), Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM.<br />

Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundangundangan<br />

yang berlaku.<br />

4) Kepala Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyampaikan<br />

laporan kepada Bupati/Walikota untuk anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota<br />

dengan tembusan kepada Dinas tingkat provinsi yang membidangi tanaman pangan<br />

dan Direktur Jenderal Tanaman Pangan.<br />

Pada TA 2012, kegiatan pembangunan subsektor tanaman pangan dikelola oleh<br />

442 satuan kerja, dengan rincian sebagai berikut; 1) 3 saker di Pusat, 2) 65 satker di<br />

provinsi, dan 3) 374 satker di kabupaten/kota.<br />

54 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Tabel 23. Jumlah Satuan Kerja Pelaksana <strong>Program</strong> dan Kegiatan Lingkup Direktorat<br />

Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />

No. Lokasi<br />

Jumlah Satker DIPA<br />

(unit)<br />

I. Pusat 3<br />

1. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 1<br />

2. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih<br />

Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH)<br />

3. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu<br />

Tumbuhan (BBPOPT)<br />

1<br />

II. Provinsi 65<br />

1. Dinas Pertanian di Provinsi 33<br />

2. Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura<br />

(BPTPH)<br />

III. Kabupaten/Kota<br />

1. Dinas Pertanian di Kabupaten/Kota 374<br />

T O T A L 442<br />

Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />

Daftar selengkapnya satuan kerja yang melaksanakan pembangunan tanaman<br />

pangan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dengan pembiayaan APBN terdapat<br />

pada tabel dibawah ini.<br />

Tabel 24. Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA<br />

TA 2012<br />

No. Unit Kerja<br />

Jumlah Satker DIPA<br />

(unit)<br />

1<br />

32<br />

Alokasi Anggaran<br />

(Rp. 000,-)<br />

I. Pusat 3 1.104.899.536<br />

1 Ditjen Tanaman Pangan 1 1.084.746.536<br />

2 BPMPT - 3.500.000<br />

3 BBPPMBTPH 1 7.300.000<br />

4 BBPOPT 1 9.353.000<br />

II. Provinsi 65 512.347.000<br />

1 Dinas Provinsi 33<br />

- Dinas Provinsi - 267.093.500<br />

- BBI *) - 31.846.500<br />

- BPSBTPH *) - 61.400.000<br />

2 BPTPH 32 152.007.000<br />

III. Kabupaten/Kota 374 1.498.245.455<br />

1 Dinas Kabupaten/Kota 374 1.498.245.455<br />

T O T A L 442 3.115.491.991<br />

55 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Ket.: *) BBI dan BPSBTPH digabung dengan Satker Dinas Provinsi (Dekonsentrasi)<br />

Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />

Struktur anggaran TA 2012 mengikuti struktur kegiatan pada masing-masing<br />

satuan kerja di tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai berikut:<br />

1. Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memayungi kegiatan-kegiatan<br />

yang dikelola oleh unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan,<br />

Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan<br />

Hortikultura (BBPPMBTPH) di Cimanggis – DKI Jakarta, Balai Besar Peramalan<br />

Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Jatisari.<br />

Beberapa kegiatan yang dikelola diantaranya adalah:<br />

1) Peningkatan kualitas pelayanan publik;<br />

2) Koordinasi, pembinaan, pengawalan dan monitoring evaluasi (SLPTT<br />

budidaya tanaman serealia; SLPTT budidaya tanaman aneka kacang dan<br />

umbi; perbenihan; pascapanen; dan perlindungan tanaman pangan);<br />

3) Penyaluran Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) padi, jagung, dan<br />

kedelai;<br />

4) Penyusunan deregulasi perbenihan;<br />

5) Pembinaan,pengawalan, monitoring dan evaluasi BLBU, subsidi dan CBN;<br />

6) Penyaluran insentif Mantri Tani;<br />

7) Penyaluran Honor Pengelola Satker dan Adminsitrasi;<br />

8) Perencanaan program, kegiatan dan anggaran;<br />

9) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN), bidang umum, dan<br />

dukungan manajemen lainnya;<br />

10) Evaluasi, monitoring, statistik dan pemberian honor petugas Simonev;<br />

11) Koordinasi penyaluran dana bantuan Lembaga Mandiri yang Mengakar di<br />

Masyarakat (LM3), penanganan bencana alam, dan kekeringan;<br />

12) Pengelolaan gaji, honorarium, tunjangan, penyelenggaraan operasional dan<br />

pemeliharaan perkantoran.<br />

13) <strong>Pelaksanaan</strong> dukungan manajemen dari kegiatan teknis.<br />

2. Satuan Kerja Pembinaan dan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas<br />

yang membidangi tanaman pangan di tingkat Provinsi<br />

Satuan kerja pembinaan dan pengembangan tanaman pangan provinsi<br />

memayungi kegiatan-kegiatan, diantaranya:<br />

1) Melaksanakan kegiatan SL-PTT padi (non hibrida spesifik lokasi, non hibrida<br />

peningkatan IP, dan hibrida spesifik lokasi);<br />

2) Fasilitasi kemitraan pangan alternatif;<br />

56 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

3) Pembinaan, pengawalan dan monitoring evaluasi (serealia, aneka kacang<br />

dan umbi, penangkaran benih, BLBU, subsidi dan CBN);<br />

4) Penyaluran operasional dan sarana UPTD BPSBTPH, Balai Benih, P3OPT<br />

(BPTPH), Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT;<br />

5) Pemberian insentif petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT);<br />

6) Pembangunan dan optimalisasi UPB;<br />

7) Pemberian bantuan sarana pascapanen padi;<br />

8) <strong>Pelaksanaan</strong> survei susut padi;<br />

9) Pembinaan, bimbingan teknologi, apresiasi dan monitoring evaluasi<br />

pascapanen;<br />

10) Penyaluran sarana pengendalian OPT;<br />

11) Renovasi gudang Brigade;<br />

12) Pelatihan alumni SLPHT untuk penguatan RPH;<br />

13) Surveilans OPT dan monitoring evaluasi Sekolah Lapangan;<br />

14) Operasional POPT PHP, Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP),<br />

Dinas Pertanian Provinsi, THL POPT-PHP ;<br />

15) SLHT dan SLI;<br />

16) Pemberdayaan PPAH;<br />

17) Pemberian insentif Mantri Tani; honor pengelola Satker dan Administrasi;<br />

18) Perencanaan program, kegiatan dan anggaran;<br />

19) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN); dan<br />

20) Evaluasi, monitoring evaluasi, statistik, dan pelaporan (termasuk honor<br />

petugas Simonev).<br />

3. Satuan Kerja Balai Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih TPH<br />

Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan<br />

pengembangan perbenihan sesuai fungsi BPSBTPH di seluruh provinsi. Kegiatan<br />

pokoknya adalah pelaksanaan pengawasan mutu dan sertifikasi benih, penguatan<br />

kelembagaan perbenihan melalui aspek pengawasan mutu benih tanaman pangan.<br />

4. Satuan Kerja Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura<br />

Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan<br />

pengamanan produksi sesuai fungsi BPTPH di seluruh provinsi. Kegiatan<br />

pokoknya adalah pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) melalui<br />

pengamatan, peramalan OPT dan dampak perubahan iklim, pengelolaan data<br />

OPT.<br />

5. Satuan Kerja Pembinaan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang<br />

membidangi tanaman pangan tingkat Kabupaten/Kota<br />

Satuan kerja ini kegiatan-kegiatan pokoknya antara lain:<br />

57 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

1) <strong>Pelaksanaan</strong> kegiatan SLPTT padi non hibrida, padi hibrida, padi lahan<br />

kering, jagung hibrida, kedelai;<br />

2) Pembinaan, pengawalan, monitoring evaluasi, dan pelaporan(serealia,<br />

aneka kacang dan umbi, penangkaran benih, BLBU, subsidi, CBN,<br />

pascapanen);<br />

3) Pengembangan kedelai (model), kacang tanah, ubi kayu, dan ubi jalar;<br />

4) Ubinan SL-PTT kedelai;<br />

5) Pemberdayaan Penangkar Benih padi, jagung, dan kedelai;<br />

6) Pemberian bantuan sarana pascapanen padi, jagung, kedelai, ubi kayu, ubi<br />

jalar;<br />

7) Operasional Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT;<br />

8) Honor pengelola Satker dan administrasi;<br />

9) Perencanaan program, kegiatan dan anggaran;<br />

10) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN);<br />

11) Evaluasi, monitoring, statistik (termasuk honor petugas Simonev); dan<br />

12) Dukungan manajemen dan teknisnya.<br />

Penjelasan secara rinci tentang masing-masing kegiatan yang dilaksanakan di<br />

Provinsi (Dinas yang membidangi tanaman pangan, BBI, BPSBTPH dan BPTPH) maupun<br />

di Kabupaten/Kota (Dinas yang membidangi tanaman pangan) disajikan pada buku<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> yang dikeluarkan oleh masing-masing unit Eselon II lingkup<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.<br />

4.3. Pengelolaan Anggaran<br />

Struktur Anggaran<br />

Kegiatan pembangunan tanaman pangan di daerah di stimulasi oleh APBN yang<br />

dibagi ke dalam dua pola, pola dekonsentrasi dan pola tugas pembantuan. Dalam<br />

pelaksanaannya, kedua pola penganggaran tersebut tetap didasarkan kepada sistem<br />

penganggaran kinerja dengan ciri-ciri pokok kinerja antara lain: a) klasifikasi rincian<br />

belanja negara menurut organisasi, fungsi, lokasi dan jenis belanja, yang sebelumnya<br />

menurut sektor dan jenis belanja, b) perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil<br />

kinerja, bukan pengawasan, c) setiap kegiatan harus dilihat dari sistem efisiensi dan<br />

memaksimumkan keluaran (output), dan d) menghasilkan informasi biaya dan hasil kerja<br />

yang dapat digunakan untuk penyusunan target evaluasi pelaksanaan kinerja. Anggaran<br />

berbasis kinerja memiliki komponen : 1) Rencana Kerja (program, kegiatan, dan<br />

pengeluaran), 2) Anggaran, dan 3) Indikator Kinerja (keluaran/output dan hasil/ outcome).<br />

Struktur anggaran berdasarkan kegiatan dari kedua pola anggaran di atas adalah<br />

sebagai berikut: pembiayaan dengan anggaran dekonsentrasi digunakan untuk<br />

memfasilitasi kegiatan yang bersifat non fisik dan dilaksanakan oleh dinas yang<br />

58 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

membidangi tanaman pangan tingkat provinsi, BPSBTPH dan BPTPH, sebagai pihak yang<br />

diberi tugas oleh Gubernur yang mendapat pelimpahan tugas dari pemerintah pusat.<br />

Pengelolaan anggaran harus menggunakan prinsip-prinsip ekonomis, efisien dan efektif<br />

serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.<br />

berikut:<br />

Rincian tugas dan wewenang aparat pengelola anggaran diuraikan sebagai<br />

a. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)<br />

1) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan DIPA yang telah disahkan secara tertib, taat<br />

pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan<br />

bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.<br />

2) Menunjuk/memberi kewenangan kepada pejabat untuk melakukan tindakan yang<br />

mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/pejabat pembuat komitmen.<br />

3) Melakukan pengawasan kepada pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan<br />

tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/Pejabat Pembuat<br />

Komitmen dan Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK).<br />

4) Mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah<br />

ditetapkan.<br />

5) Menguji, membebankan pada mata anggaran yang telah disediakan dan<br />

memerintahkan pembayaran tagihan-tagihan atas beban APBN.<br />

6) Menandatangani cek dan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP).<br />

7) Membuat laporan keuangan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.<br />

8) Keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan pengadaan barang/jasa seperti<br />

pengangkatan pejabat/panitia pengadaan dan pemeriksaan barang/jasa, keputusan<br />

penetapan penyediaan barang jasa, kontrak/perjanjian/SPK dengan nilai di atas<br />

seratus juta rupiah (Rp. 100.000.000,-) sampai dengan lima puluh milyar (Rp<br />

50.000.000.000,-) baik untuk pemilihan langsung/pelelangan ditetapkan oleh KPA<br />

Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atau Pejabat Pembuat<br />

Komitmen (PPK).<br />

b. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)<br />

1) Menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa dan menetapkan paket-paket<br />

pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam<br />

negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk<br />

koperasi kecil, serta kelompok masyarakat;<br />

2) Menetapkan dan mengesahkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS), jadwal, tatacara<br />

pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat<br />

pengadaan/unit layanan pengadaan;<br />

3) Menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit<br />

layanan pengadaan sesuai kewenangannya;<br />

59 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

4) Menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai<br />

ketentuan yang berlaku;<br />

5) Menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedian<br />

barang/jasa;<br />

6) Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada Kuasa<br />

Pengguna Anggaran;<br />

7) Menandatangani dan mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak;<br />

8) Menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada Menteri<br />

dengan berita acara penyerahan melalui Kepala Satuan Kerja;<br />

9) Menandatangani fakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa<br />

dimulai;<br />

10) Melaksanakan rencana kerja sebagaimana telah ditetapkan dalam DIPA sesuai<br />

kegiatan masing-masing;<br />

11) Menandatangani Surat Keputusan yang mengakibatkan pengeluaran (lembur,<br />

honor, vakasi), Surat perintah Tugas (SPT) serta Surat Perintah Perjalanan Dinas<br />

(SPPD);<br />

12) Mengusulkan susunan panitia pengadaan kepada Kuasa Pengguna Anggaran<br />

(KPA);<br />

13) Menetapkan Penyedia Barang/Jasa hasil pengadaan;<br />

14) Menandatangani Surat Perintah Kerja (SPK)/Kontrak, Berita Acara Penyelesaian<br />

Pekerjaan, Berita Acara Pemeriksaan Barang dan Berita Acara Serah Terima<br />

Barang/Pekerjaan;<br />

15) Meneliti keberan dokumen yang menjadi persyaratan/kelengkapan sehubungan<br />

dengan ikatan/perjanjian pengadaan barang dan jasa;<br />

16) Meneliti ketersediaan dana dan membebankan pengeluaran sesuai dengan mata<br />

anggaran pengeluaran yang bersangkutan, serta memerintahkan pembayaran<br />

atas beban APBN;<br />

17) Menandatangani kwitansi pembayaran dan bukti-bukti dokumen pengeluaran<br />

anggaran Satuan Kerja, baik yang dilakukan secara kontraktual maupun secara<br />

swakelola;<br />

18) Mengajukan tagihan pembayaran kepada bendahara pengeluaran untuk<br />

pembayaran yang membebani Uang Persediaan;<br />

19) Kepada Pejabat Pembuat Komitmen Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman<br />

Pangan diberi wewenangan menandatangani Surat Permintaan Pembayaran<br />

(SPP) baik, LS, UP, GUP, TUP dan NIHIL, serta dokumen pendukungnya dan<br />

menyampaikan kepada Pejabat penguji Tagihan/Penandatangan Surat Perintah<br />

membayar (SPM);<br />

20) Menyusun laporan seluruh kegiatan yang dilakukannya sesuai DIPA dan<br />

menyampaikannyakepada Kuasa Pengguna Anggaran;<br />

21) Mengangkat staf pengelola anggaran sesuai kebutuhan;<br />

22) Dalam melaksanakan pekerjaannya, PPK agar berkoordinasi dengan pimpinan<br />

unit kerjanya masing-masing.<br />

60 | P a g e


c. Penanggungjawab Teknis Kegiatan<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Penanggungjawab teknis kegiatan adalah Pejabat Eselon II (Sekretaris Direktorat<br />

Jenderal, Direktur, dan Kepala Balai) dengan tugas dan tanggungjawab sebagai<br />

berikut:<br />

1) Melaksanakan kegiatan sesuai rencana kerja sebagaimana yang telah ditetapkan<br />

dalam DIPA sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing;<br />

2) Mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan anggaran;<br />

3) Memimpin seluruh pelaksanaan rencana kerja yang telah ditetapkan dan<br />

dituangkan dalam DIPA;<br />

4) Memberikan pengarahan dan petunjuk kepada Pejabat dibawahnya untuk<br />

kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pencapaian keluaran/outputyang telah<br />

ditetapkan;<br />

5) Menyampaikan laporan kinerja bulanan/triwulanan/semesteran dan tahunan<br />

kepada Kuasa Pengguna Anggaran;<br />

6) Menyusun dan menyampaikan laporan seluruh kegiatan kepada atasan<br />

langsung;<br />

7) Menyelenggarakan pembinaan teknis dan administrasi terhadap Pejabat<br />

Pembuat Komitmen (PPK) yang berada di bawah koordinasinya;<br />

8) Melakukan pengawasan DIPA yang dilaksanakan oleh pejabat pembuat<br />

Komitmen (PPK);<br />

9) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan administrasi<br />

keuangan dan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan output.<br />

10) Memberikan petunjuk dan arahan serta fasilitas untuk mengatasi permasalahan<br />

prinsip yang mungkin timbul;<br />

11) Menyusun usulan rencana kegiatan Satuan Kerja yang merupakan bagian dari<br />

Rencana Kerja dan Anggaran kementerian/lembaga (RKA-KL) tahun berikutnya.<br />

Disamping sebagai penanggungjawab teknis kegiatan, Sekretaris Direktorat Jenderal<br />

Tanaman Pangan atas nama KPA, diberi wewenang untuk:<br />

1) Menandatangani cek;<br />

2) Menandatangani surat dispensasi usulan Tambahan Uang Persediaan (TUP)<br />

kepada Kantor Wilayah Perbendaharaan;<br />

3) Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan tugas penanggungjawab teknis<br />

kegiatan di seluruh unit kerja lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan;<br />

4) Melakukan koordinasi pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas<br />

Pejabat Pembuat Komitmen lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.<br />

d. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM<br />

1) Menguji secara rinci keabsahan dokumen pendukung Surat Permintaan<br />

Pembayaran (SPP) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.<br />

61 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan<br />

bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran.<br />

3) Menguji kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain :<br />

Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan,<br />

alamat, nomor rekening dan nama bank).<br />

Nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan kelayakannya dengan<br />

prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam<br />

kontrak).<br />

Jadwal waktu pembayaran (kesesuaian dengan jadwal penarikan dana yang<br />

tercantum dalam DIPA dan/atau ketepatannya terhadap jadwal waktu<br />

pembayaran).<br />

4) Menguji pencapaian tujuan/sasaran kegiatan sesuai indikator kinerja yang<br />

tercantum dalam DIPA berkenaan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.<br />

5) Menguji kemungkinan adanya pemborosan dan in-efisiensi.<br />

6) Menguji apakah surat-surat serta data dukung telah memenuhi persyaratan yaitu<br />

dari segi ketelitian, ketepatan penjumlahan, pengurangan, perkalian.<br />

7) Mengonsep dan menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM) serta<br />

menyampaikan SPM ke KPPN setempat.<br />

e. Bendahara Pengeluaran<br />

1) Menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan dan<br />

mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka<br />

pelaksanaan APBN pada kantor/Satuan Kerja .<br />

2) Meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Kuasa Pengguna<br />

Anggaran.<br />

3) Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah<br />

pembayaran.<br />

4) Menguji ketersediaan dana yang bersangkutan.<br />

5) Wajib menolak perintah bayar dari PPK atau KPA, apabila persyaratan tersebut<br />

diatas tidak terpenuhi.<br />

6) Bertanggungjawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya.<br />

f. Bendahara Penerimaan<br />

Menerima, menyimpan, menyetorkan, menatausahakan dan mempertanggungjawabkan<br />

uang pendapatan negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada satuan kerjanya.<br />

KPA dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan<br />

harus memperhatikan, mempersiapkan dan menetapkan beberapa dokumen sebagai<br />

berikut;<br />

1) Daftar Isian <strong>Pelaksanaan</strong> Anggaran (DIPA)<br />

2) <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong><br />

62 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

3) Petunjuk Operasional <strong>Pelaksanaan</strong> (POK)<br />

4) Keputusan penetapan para pelaksana anggaran<br />

5) Membuat specimen bank ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN)<br />

6) Mengurus Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ke Kantor Pelayanan Pajak<br />

7) Menyiapkan dan menyelenggarakan Buku Pengawasan <strong>Pelaksanaan</strong> Anggaran<br />

per Mata Anggaran Kegiatan (MAK)<br />

8) Menyiapkan dan meyelenggarakan Buku Pengawasan Uang yang harus<br />

dipertanggungjawabkan<br />

9) Menyiapkan Buku Bank<br />

10) Menyiapkan Buku Pungutan Pajak<br />

11) Dan lainnya.<br />

Jika pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas<br />

pembantuan dapat menghasilkan penerimaan, maka merupakan penerimaan APBN dan<br />

penerimaan tersebut harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundangundangan<br />

yang berlaku. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang<br />

dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan menjadi milik negara.<br />

Sisa/saldo anggaran lebih (SAL) merupakan penerimaan APBN dan disetorkan ke<br />

rekening Kas Umum Negara.<br />

4.4. Ketentuan Pidana, Sanksi Administratif, dan Ganti Rugi<br />

Beberapa ketentuan pidan, sanksi administratif dan ganti rugi yang perlu<br />

diperhatikan adalah;<br />

1) Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti melakukan<br />

penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang<br />

APBN diancam pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan<br />

perundang-undangan.<br />

2) Pimpinan Unit Organisasi Kementerian Negara/Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat<br />

Daerah yang terbukti melakukan penyimpangan kegiatan anggaran yang telah<br />

ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam dengan pidana penjara<br />

dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.<br />

3) SKPD yang secara sengaja dan/atau lalai dalam menyampaikan laporan<br />

dekonsentrasi dan tugas pembantuan dapat dikenakan sanksi berupa penundaan<br />

pencairan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk triwulan berikutnya,<br />

atau penghentian alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk<br />

anggaran berikutnya, yang ketentuan mengenai tata cara pemberian sanksi<br />

dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 75,<br />

Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas<br />

Pembantuan).<br />

63 | P a g e


BAB V<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

PENGENDALIAN, PENGAWASAN, EVALUASI DAN PELAPORAN<br />

5.1. Pengendalian <strong>Program</strong>, Kegiatan dan Anggaran<br />

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem<br />

Pengendalian Intern Pemerintah, maka mengingat tuntutan agar pengelola dan penerima<br />

manfaat kegiatan dan anggaran dapat bekerjasama melaksanakan tugas secara<br />

transparan, akuntabel, terbuka, efektif dan efisien, serta untuk mengatasi dan mencari<br />

pemecahan terhadap kendala maupun permasalahan yang mungkin muncul, maka<br />

pengendalian intern perlu dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:<br />

a) Mengetahui sejauhmana perkembangan pelaksanaan kegiatan dan anggaran serta<br />

ketepatan penggunaan anggaran dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai.<br />

b) Mengantisipasi secara dini permasalahan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat<br />

dicari solusi pemecahannya.<br />

c) Mencegah dan mengurangi terjadinya penyalahgunaan anggaran yang tidak sesuai<br />

dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai.<br />

d) Memanfaatkan tahapan pelaksanaan kegiatan untuk dijadikan bahan masukan dalam<br />

penyempurnaan dan evaluasi kegiatan.<br />

Pengendalian intern dilakukan bukan saja hanya berkaitan dengan aspke program<br />

dan anggaran, namun termasuk proses pengambilan keputusan, keefektifan sumber daya,<br />

dan berbagai hal lainnya. Dalam melaksanakan pengendalian intern, ada lima (5) unsur<br />

pengendalian yang perlu dicermati yaitu 1) lingkungan pengendalian, 2) penilaian risiko, 3)<br />

Kegiatan Pengendalian, 4) Informasi dan Komunikasi, serta 5) Pemantauan Pengendalian<br />

Intern. Kegiatan pengendalian merupakan salah satu unsur pengendalian intern.<br />

Unsur-unsur yang bertugas melaksanakan pengendalian yaitu :<br />

a. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah:<br />

1) Memberikan bimbingan pelaksanaan kegiatan teknis melalui penerbitan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> sebagai acuan/rambu-rambu operasional kegiatan.<br />

2) Melakukan sosialisasi <strong>Pedoman</strong> sebelum pelaksanaan kegiatan.<br />

3) Memberikan bimbingan penyusunan prosedur tata kerja pelaksanaan program,<br />

kegiatan dan anggaran.<br />

4) Memberikan pelatihan, workshop atau kursus perencanaan program,<br />

penyusunan anggaran, pelaksanaan dan pelaporan kegiatan pembangunan<br />

tanaman pangan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.<br />

5) Melakukan supervisi (orientasi, monitoring maupun evaluasi) ke daerah baik<br />

dalam bentuk pembinaan, bimbingan, arahan serta sejenisnya, sehingga kontrol<br />

yang diberikan dapat mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan di daerah.<br />

64 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

6) Melakukan evaluasi tahunan untuk mengetahui kinerja keseluruhan sebagai<br />

dasar perencanaan program, kegiatan dan anggaran tahun 2013.<br />

b. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />

Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah:<br />

1) Memberikan bimbingan kepada staf secara berjenjang dalam hal administrasi dan<br />

teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan.<br />

2) Menyusun prosedur tatakerja antara propinsi dan kabupaten/kota dengan cara<br />

meningkatkan koordinasi dan jaringan kerja.<br />

3) Membentuk Tim Pengendali Internal pelaksanaan kegiatan.<br />

5.2. Pengawasan <strong>Program</strong>, Kegiatan dan Anggaran<br />

Pada sistem penganggaran berbasis kinerja, kegiatan pengawasan fungsional<br />

pembangunan tanaman pangan masih tetap dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal<br />

Kementerian Pertanian. Sedangkan pengawasan melekat dilakukan Pejabat di lingkup<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Pengawasan ini dapat dilakukan setiap saat selama<br />

proses manajemen berlangsung.<br />

Pengawasan fungsional terhadap program, kegiatan dan anggaran pembangunan<br />

tanaman pangan juga dilakukan secara eksternal oleh aparatur pengawasan seperti BPK,<br />

BPKP dan Bawasda. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan reguler yaitu<br />

pemeriksaan setempat yang dilaksanakan secara reguler terhadap obyek pemeriksaan<br />

lingkup tanaman pangan berdasarkan program kerja pengawasan tahunan. Pengawasan<br />

yang dilakukan berupa pemeriksaan, pengujian, pengusutan dan penilaian terhadap<br />

pengelolaan program, kegiatan dan anggaran kinerja.<br />

Obyek pemeriksaan diprioritaskan terhadap obyek yang anggarannya relatif besar,<br />

mempunyai aspek pelayanan masyarakat, bantuan/pinjaman luar negeri serta mempunyai<br />

peranan strategis terhadap keberhasilan pembangunan tanaman pangan. Sistem dan<br />

upaya pengawasan terus dikembangkan dan disempurnakan melalui berbagai langkah<br />

yang efektif agar dapat mengamankan kebijakan pembangunan tanaman pangan secara<br />

berdaya guna dan berhasil guna.<br />

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:<br />

a. Pemeriksaan kinerja aparat pengelola kegiatan, yaitu pemeriksaan apakah<br />

sumberdaya dan dana sudah digunakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai<br />

serta pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku.<br />

b. Pemeriksaan yang mengarah kepada pelaksanaan wewenang sesuai tugas pokok dan<br />

fungsi, yaitu apakah kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai atau tidak, sehingga<br />

akan dapat memberikan rekomendasi terhadap penyempurnaan pada kegiatan yang<br />

akan datang.<br />

65 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

c. Pemeriksaan akuntabilitas kinerja dimana instansi pelaksana kegiatan<br />

mempertanggung jawabkan wewenang dan tugas pokok dan fungsi instansi tersebut.<br />

d. Pemeriksaan khusus dilaksanakan sewaktu-waktu melalui pengujian dan pendalaman<br />

untuk memperoleh kejelasan suatu informasi yang bersumber dari laporan masyarakat<br />

atau pengembangan dari pemeriksaan reguler yang dipandang perlu terhadap adanya<br />

dugaan terjadinya tindak pidana/ penyalahgunaan wewenang.<br />

5.3. Monitoring dan Evaluasi<br />

Evaluasi pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran dilakukan dengan<br />

pendekatan indikator kinerja menggunakan alat ukur kerangka kerja logis (masukan,<br />

keluaran, hasil, manfaat dan dampak). Indikator kinerja ini digunakan untuk meyakinkan<br />

apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka mencapai tujuan dan<br />

sasaran yang telah ditetapkan.<br />

Indikator kinerja ditetapkan untuk:<br />

a. Memperjelas status jenis, kuantitas dan waktu suatu kegiatan dilaksanakan.<br />

b. Membangun konsensus untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan<br />

kegiatan, termasuk dalam menilai kinerja instansi yang melaksanakannya.<br />

c. Membangun dasar bagi pengukuran, analisis dan evaluasi kinerja suatu<br />

instansi/organisasi.<br />

Penilaian kinerja pelaksanaan pembangunan tanaman pangan diukur dengan<br />

menggunakan indikator kinerja. Pengukuran efisiensi secara ekonomis dilakukan dengan<br />

cara menilai penggunaan masukan yang paling ekonomis untuk mencapai keluaran<br />

tertentu. Efisiensi (daya guna) diukur dengan cara membandingkan antara keluaran yang<br />

dihasilkan dengan masukan yang telah dikeluarkan, sedangkan efektivitas (hasil guna)<br />

dilakukan dengan mengukur sejauhmana hasil telah dicapai. Ukuran efisiensi dan<br />

efektivitas secara skematis dapat dilihat pada gambar 5 berikut:<br />

Gambar 5. Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman<br />

Pangan<br />

NILAI MASUKAN<br />

(Rp)<br />

EKONOMIS<br />

(HEMAT)<br />

MASUKAN<br />

Pengukuran Efisiensi dan<br />

Efektivitas<br />

PROSES KELUARAN HASIL TUJUAN<br />

EFISIENSI<br />

(DAYA GUNA)<br />

EFISIENSI<br />

PEMBIAYAAN<br />

EFEKTIVITAS<br />

(HASIL GUNA)<br />

66 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Evaluasi dapat dilakukan pada saat awal kegiatan (ex-ante), sedang pelaksanaan<br />

kegiatan (on-going) dan evaluasi akhir (ex-post). Evaluasi awal dan evaluasi saat<br />

pelaksanaan kegiatan sedang berjalan dapat dilakukan bersamaan dengan monitoring<br />

pelaksanaan kegiatan. Materi evaluasi mencakup aspek administrasi, aspek teknis dan<br />

anggaran. Evaluasi dilakukan di masing-masing Satker Provinsi, dan Kabupaten/Kota,<br />

sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Masing-masing penanggung<br />

jawab kegiatan juga harus melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang menjadi tanggung<br />

jawabnya. Evaluasi program, kegiatan dan anggaran secara menyeluruh dilakukan oleh<br />

Tim.<br />

5.4. Pelaporan<br />

Berdasarkan pasal 33 ayat 1 (a) dan pasal 60 ayat 1 (c) Peraturan Pemerintah RI<br />

Nomor 7 Tahun 2008, tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, Gubernur<br />

menyampaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan pembangunan<br />

pertanian kepada Menteri Pertanian. Selanjutnya Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun<br />

2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 menyebutkan laporan kinerja<br />

dievaluasi dan dilaporkan kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran<br />

(Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan) dan menjadi masukan serta bahan<br />

pertimbangan untuk analisis dan evaluasi alokasi anggaran tahun 2013. Peraturan Menteri<br />

Keuangan Nomor 248/PMK.07/2010, tentang <strong>Pedoman</strong> Pengelolaan Dana Dekonsentrasi<br />

dan Dana Tugas Pembantuan, menyebutkan SKPD wajib menyusun laporan<br />

pertanggungjawaban serta menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun<br />

anggaran kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri<br />

Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan).<br />

Pelaporan hasil pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran ini, merupakan<br />

penyampaian informasi serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan<br />

sampai akhir pelaksanaan. Melalui laporan ini juga akan dapat dilihat sejauh mana tingkat<br />

keberhasilannya.<br />

Sesuai dengan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan, aparat pelaksana<br />

kegiatan di provinsi dan kabupaten/kota wajib membuat laporan ke pusat. Mekanisme<br />

pelaporan pelaksanaan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan propinsi dilakukan<br />

secara berjenjang dari Dinas pertanian provinsi menyampaikan laporan kepada Gubernur<br />

dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, yang selanjutnya Direktorat Jenderal Tanaman<br />

Pangan menyampaikan laporan kepada Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal<br />

Kementerian Pertanian.<br />

Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota<br />

dilakukan secara berjenjang yaitu dari Dinas pertanian kabupaten/kota menyampaikan<br />

laporan kepada Bupati/Walikota dan tembusan kepada Direktorat Jenderal Tanaman<br />

67 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Pangan dan Dinas pertanian provinsi. Setelah menerima laporan dari kabupaten/kota,<br />

Dinas pertanian provinsi merekapitulasi laporan dari seluruh kabupaten/kota dalam propinsi<br />

bersangkutan dan menyampaikan laporan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan,<br />

yang selanjutnya menyampaikan laporan ke Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal<br />

Kementerian Pertanian.<br />

Laporan yang disampaikan, baik untuk anggaran dekonsentrasi, tugas<br />

pembantuan provinsi maupun tugas pembantuan kabupaten/kota, meliputi laporan<br />

manajerial dan laporan akuntabilitas yang dilakukan setiap bulan, triwulan dan setiap<br />

berakhirnya tahun anggaran. Format pelaporan dan waktu penyampaian laporan<br />

manajerial dan laporan akuntabilitas akan ditetapkan lebih lanjut oleh Sekretaris Jenderal<br />

Kementerian Pertanian.<br />

Laporan insidentil, yaitu laporan yang disampaikan jika terjadi sesuatu yang<br />

bersifat insidentil (mendesak), misalnya bila ada permasalahan yang dihadapi baik dalam<br />

aspek adminsitrasi dan keuangan maupun teknis pelaksanaan kegiatan juga bisa<br />

disampaikan ke Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.<br />

Gubernur selaku penerima pelimpahan anggaran dekonsentrasi dan penugasan<br />

pelaksanaan anggaran tugas pembantuan, dan Bupati/Walikota selaku penerima<br />

penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan menyampaikan laporan<br />

pertanggungjawaban akhir seluruh pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari anggaran<br />

dimaksud kepada Menteri Pertanian. Kinerja penyampaian laporan akan dijadikan salah<br />

satu dasar penentuan anggaran tahun 2013 sebagai penerapan azas reward and<br />

punishment.<br />

68 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

BAB VI<br />

PENUTUP<br />

Keberhasilan pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran berbasis kinerja<br />

sangat tergantung pada komitmen dan konsistensi baik aparatur negara, kepercayaan<br />

masyarakat serta motivasi peningkatan kualitas kinerja pemerintah. Untuk itu, perlu terus<br />

ditingkatkan keterpaduan pelaksanaan pembangunan tanaman pangan melalui<br />

pemantapan sistem dan metoda perencanaan, peningkatan kualitas sumberdaya manusia,<br />

penataan kelembagaan, dan peningkatan koordinasi antar instansi terkait.<br />

<strong>Pedoman</strong> ini merupakan acuan bagi semua pihak terkait dalam melaksanakan<br />

program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan. <strong>Pedoman</strong> ini akan dilengkapi<br />

dengan <strong>Pedoman</strong> yang bersifat teknis dari masing-masing kegiatan. Sebagai tindak lanjut<br />

diterbitkannya seluruh <strong>Pedoman</strong> dimaksud, kepada daerah diberikan keleluasaan untuk<br />

menjabarkannya lebih lanjut ke dalam Petunjuk/<strong>Pedoman</strong> Teknis sesuai dengan<br />

keragaman karakteristik dan kondisi setempat. Keberhasilan pembangunan tanaman<br />

pangan sangat tergantung kepada komitmen semua pihak terkait dalam melaksanakan<br />

kegiatan pembangunan tanaman pangan secara terpadu.<br />

<strong>Pedoman</strong> ini diharapkan dapat memberikan berbagai butir-butir untuk<br />

dilaksanakan dan sekaligus dirinci dalam pedoman pelaksanaan kegiatan dan/atau<br />

pedoman teknis.<br />

69 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

70 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 1. Daftar Satuan Kerja (Satker) dan Kode Satker di Pusat, Provinsi<br />

dan Kabupaten/Kota TA. 2012<br />

NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />

1. DKI JAKARTA<br />

1. 010082 Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan & Hortikultura DKI<br />

Jakarta<br />

2. 010091 Dinas Kelautan Dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta<br />

2. JAWA BARAT<br />

3 020069 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat<br />

4 020534 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab Bogor<br />

5 020614 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Sukabumi<br />

6 020730 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Cianjur<br />

7 020823 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bekasi<br />

8 020932 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Karawang<br />

9 021009 Dinas Pertanian, Kehutanan Dan Perkebunan Kab Purwakarta<br />

10 021107 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang<br />

11 021241 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bandung<br />

12 021334 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sumedang<br />

13 021439 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut<br />

14 021510 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya<br />

15 021614 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Ciamis<br />

16 021714 Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Kehutanan Kab. Cirebon<br />

17 021816 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Kuningan<br />

18 021933 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Indramayu<br />

19 022024 Dinas Pertanian Kab Majalengka<br />

20 022102 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bandung Barat<br />

21 025312 Dinas Pertanian Kota Sukabumi<br />

22 026009 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Tasikmalaya<br />

3. JAWA TENGAH<br />

23 030010 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Jawa Tengah<br />

24 030106 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Semarang<br />

25 030203 Dinas Pertanian Kabupaten Kendal<br />

26 030309 Dinas Pertanian Kab Demak<br />

27 030403 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Grobogan<br />

28 030505 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Pekalongan<br />

29 030627 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batang<br />

30 030729 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Tegal<br />

31 030830 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Brebes<br />

32 030932 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Pati<br />

33 031024 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Kudus<br />

34 031104 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Pemalang<br />

35 031217 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Jepara<br />

36 031313 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Rembang<br />

37 031429 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Blora<br />

38 031532 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Banyumas<br />

39 031635 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Cilacap<br />

40 031703 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga<br />

41 031812<br />

Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara<br />

42 031934 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Magelang<br />

43 032030<br />

Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Temanggung<br />

44 032118 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Wonosobo<br />

45 032203 Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo<br />

46 032305 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kebumen<br />

71 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />

47 032430 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Klaten<br />

48 032505 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Boyolali<br />

49 032637 Dinas Pertanian Kab. Sragen<br />

50 032727 Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo<br />

51 032812 Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Karanganyar<br />

52 032907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Wonogiri<br />

4. DI. YOGYAKARTA<br />

53 040070 Dinas Pertanian Provinsi D.I. Yogyakarta<br />

54 040138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Bantul<br />

55 040227 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Sleman<br />

56 040324 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Gunung Kidul<br />

57 040432 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Kulonprogo<br />

5. JAWA TIMUR<br />

58 050004 Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur<br />

59 050132 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Gresik<br />

60 050208 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Mojokerto<br />

61 050322 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sidoarjo<br />

62 050448 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Jombang<br />

63 050509 Dinas Pertanian Kabupaten Sampang<br />

64 050611 Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan<br />

65 050708 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep<br />

66 050836 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangkalan<br />

67 050908 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bondowoso<br />

68 051007 Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo.<br />

69 051139 Dinas Kehutanan, Pertanian Dan Urusan Ketahanan Pangan Kab. Banyuwangi.<br />

70 051217 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Jember.<br />

71 051342 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Malang<br />

72 051414 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan<br />

73 051508 Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo<br />

74 051635 Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang<br />

75 051704 Dinas Pertanian Kabupaten Kediri<br />

76 051815 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulung Agung<br />

77 051936 Dinas Pertanian Daerah Kab Nganjuk<br />

78 052031 Dinas Pertanian Kehutanan Dan Perkebunan Kab Trenggalek<br />

79 052103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Blitar<br />

80 052214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Madiun<br />

81 052330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ngawi<br />

82 052407 Dinas Pertanian Kabupaten Magetan<br />

83 052504 Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo<br />

84 052604 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Pacitan<br />

85 052739 Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro<br />

86 052832 Dinas Pertanian Kabupaten Tuban<br />

87 052930 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Lamongan<br />

6. ACEH<br />

88 060060 Dinas Pertanian Provinsi Aceh<br />

89 060106 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Aceh Besar<br />

90 060216 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Pidie<br />

91 060317 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab Aceh Utara<br />

92 060415 Dinas Pertanian Dan Hortikultura Kab Aceh Timur<br />

93 060517 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Selatan<br />

94 060621 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat<br />

95 060714 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Aceh Tengah<br />

96 060813 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara<br />

97 060916 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Simeulue<br />

98 061021 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Aceh Singkil<br />

72 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />

99 061106 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Bireun<br />

100 061207 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Daya<br />

101 061315 Dinas Pertanian Kab. Gayo Luwes<br />

102 061412 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Jaya<br />

103 061504 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Nagan Raya<br />

104 061604 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Aceh Tamiang<br />

105 061709 Dinas Pertanian Tp, Peternakan Dan Perikanan Kab Bener Meriah<br />

106 061802 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pidie Jaya<br />

107 065602 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Subulussalam<br />

7. SUMATERA UTARA<br />

108 070049 Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara<br />

109 070108 Dinas Pertanian Kab. Deli Serdang<br />

110 070239 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Karo<br />

111 070305 Dinas Pertanian Kab. Langkat<br />

112 070432 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tapanuli Tengah<br />

113 070513 Dinas Pertanian Kab Simalungun<br />

114 070607 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kab. Labuhan Batu<br />

115 070730 Dinas Pertanian Kab. Dairi<br />

116 070807 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Utara<br />

117 070907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tapanuli Selatan<br />

118 071032 Dinas Pertanian Kab. Asahan<br />

119 071152 Dinas Pertanian Kab Nias<br />

120 071228 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Samosir<br />

121 071231 Dinas Pertanian Kab Toba Samosir<br />

122 071331 Dinas Pertanian Kab.Mandailing Natal<br />

123 071411 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Nias Selatan<br />

124 071525 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Pakpak Barat<br />

125 071604 Dinas Pertanian Kab. Humbang Hasundutan<br />

126 072018 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Serdang Bedagai<br />

127 072103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batubara<br />

128 072201 Dinas Pertanian Darah Kab. Padang Lawas<br />

129 072301 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Padang Lawas Utara<br />

130 072502 Dinas Pertanian Kab. Labuhan Batu Utara<br />

131 072603 Dinas Pertanian,Peternakan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Nias Utara<br />

132 072703 Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan Dan Peternakan Kab. Nias Barat<br />

133 075714 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Padang Sidempuan<br />

8. SUMATERA BARAT<br />

134 080008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat<br />

135 080129 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Agam<br />

136 080222 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Pasaman<br />

137 080321 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Limapuluh Kota<br />

138 080408 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Solok Selatan<br />

139 080418 Dinas Pertanian Dan Perikanan Kab Solok<br />

140 080522 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura Perkebuan Dankehutanan Kab.<br />

Padang Pariaman<br />

141 080631 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura, Peternakan Dan Perkebunan<br />

Kabupaten Pesisir Selatan<br />

142 080711 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tanah Datar<br />

143 080823 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Sijunjung<br />

144 081019 Dinas Pertanian Kabupaten Dharmas Raya<br />

145 081214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Dan Peternakan Kab. Pasaman Barat<br />

146 085538 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kota Padang<br />

147 085604 Dinas Pertanian Kota Payakumbuh<br />

148 085708 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kota Pariaman<br />

73 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />

9. RIAU<br />

149 090072 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Riau<br />

150 090118 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Kampar<br />

151 090239 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkalis<br />

152 090435 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Indragiri Hulu<br />

153 090436 Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura Dan Peternakan Kab. Indragiri Hilir<br />

154 090616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Pelalawan<br />

155 090715 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Rokan Hulu<br />

156 090816 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Rokan Hilir<br />

157 090932 Dinas Pertanian, Peteranakan Dan Perikanan Kab Siak<br />

158 091214 Dinas Tanaman Pangan Kab. Kuantan Sengingi<br />

159 091308 Dinas Pertanian , Kehutanan, Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti<br />

10. JAMBI<br />

160 100008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jambi<br />

161 100130 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Batanghari<br />

162 100237 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tanjung Jabung Barat<br />

163 100317 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Bungo<br />

164 100418 Dinas Pertanian Kab. Sarolangun<br />

165 100530 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kabupaten Kerinci<br />

166 100616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Merangin<br />

167 100717 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Tanjung Jabung Timur<br />

168 100816 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Tebo<br />

169 100915 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi<br />

170 105134 Dinas Pertanian Kota Jambi<br />

171 105202 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutan Kota Sungai Penuh<br />

11. SUMATERA SELATAN<br />

172 110005 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Sumatera Selatan<br />

173 110328 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Musi Banyuasin<br />

174 110416 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ogan Komering Ulu<br />

175 110503 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Muara Enim<br />

176 110608 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lahat<br />

177 110703 Dinas Tanaman Pangan Dan Holtikultura Kabupaten Musi Rawas<br />

178 110809 Dinas Pertanian Kab. Ogan Komering Ilir<br />

179 110916 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banyuasin<br />

180 111009 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Oku Timur<br />

181 111104 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Oku Selatan<br />

182 111210 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Ogan Ilir<br />

183 111702 Dinas Tanaman Pangan, Peternakan Dan Perikanan Kab. Empat Lawang<br />

184 115138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kota Palembang<br />

185 115413 Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Peternakan Dan Perikanan Kota Pagar Alam<br />

186 115518 Dinas Tanaman Pangan, Kehutanan Dan Perkebunan Kota Lubuk Linggau<br />

12. LAMPUNG<br />

187 120004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Prov. Lampung<br />

188 120108 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan<br />

189 120207 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Tengah<br />

190 120330 Dinas Pertanian Kab. Lampung Utara<br />

191 120427 Dinas Pertanian Kab. Lampung Barat<br />

192 120503 Dinas Pertanian, Perkebunan & Kehutanankabupaten Tulang Bawang<br />

193 120625 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tanggamus<br />

194 120739 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Timur ( 03 )<br />

195 120822 Dinas Pertanian, Peternakan &Perikanan Kabupaten Way Kanan<br />

196 120903 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Pesawaran<br />

197 121005 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Pringsewu<br />

198 121101 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kab. Mesuji<br />

199 121201 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Tulang Bawang Barat<br />

74 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />

13. KALIMANTAN BARAT<br />

200 130071 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat<br />

201 130105 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Sambas<br />

202 130237 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kab. Sanggau<br />

203 130306 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sintang<br />

204 130404 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pontianak<br />

205 130506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Kapuas Hulu<br />

206 130635 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Ketapang<br />

207 130729 Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang<br />

208 130814 Dinas Pertanian Kab Landak<br />

209 130904 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Melawi<br />

210 131004 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kab. Sekadau<br />

211 131102 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Kayong Utara<br />

212 131201 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Kubu Raya<br />

14. KALIMANTAN TENGAH<br />

213 140004 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah<br />

214 140137 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kapuas<br />

215 140232 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Barito Utara<br />

216 140308 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Barito Selatan<br />

217 140408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Timur<br />

218 140429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat<br />

219 140606 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seruyan<br />

220 140612 Dinas Pertanian Kab. Katingan<br />

221 140811 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Sukamara<br />

222 140908 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Lamandau<br />

223 141006 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Gunung Mas<br />

224 141007 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pulang Pisau<br />

225 141107 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Murung Raya<br />

226 141306 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Barito Timur<br />

15. KALIMANTAN SELATAN<br />

227 150002 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Propinsi Kalimantan Selatan<br />

228 150058 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kab. Banjar<br />

229 150213 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Perkebunan Kabupaten Tanah Laut<br />

230 150330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tapin<br />

231 150428 Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Selatan<br />

232 150504 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah<br />

233 150509 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Barito Kuala<br />

234 150730 Dinas Tanaman Pangan, Peternakan Dan Perikanan Kab. Tabalong<br />

235 150735 Dinas Pertanian Kabupaten Kotabaru<br />

236 150934 Dinas Pertanian Tp Dan Hortikultura Kab. Hulu Sungai Utara<br />

237 151006 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Tanah Bumbu<br />

238 151105 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura , Peternakan Dan Perikanan Kab.<br />

Balangan<br />

16. KALIMANTAN TIMUR<br />

239 160059 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Prop. Kalimantan Timur<br />

240 160230 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Tanah Grogot Kabupaten Paser<br />

241 160330 Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan<br />

242 160406 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Berau<br />

243 160505 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Nunukan<br />

244 160518 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab. Malinau<br />

245 160705 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kabupaten Kutai Timur<br />

246 160721 Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Peternakan Dan Perikanan Kab. Kutai Barat<br />

247 160807 Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan Dan Kelautan Kab. Penajam Paser Utara<br />

248 161013 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kutai Kartanegara<br />

249 161204 Dinas Pertanian, Kehutanan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Tana Tidung<br />

75 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />

17. SULAWESI UTARA<br />

250 170052 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara<br />

251 170085 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Minahasa<br />

252 170240 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bolaang Mongondow<br />

253 170330 Dinas Pertanian Kabupaten Sangihe<br />

254 170605 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Minahasa Selatan<br />

255 170704 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kota Tomohon<br />

256 170706 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kab. Minahasa Utara<br />

257 171008 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Minahasa Tenggara<br />

258 171163 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bolaang Mongondow Utara<br />

259 171303 Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian Dan Kehutanan Kab. Bolaang Mongondow<br />

Selatan<br />

260 171403 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kab. Bolaang Mongondow Timur<br />

261 175401 Dinas Pertanian Kota Kotamobago<br />

18. SULAWESI TENGAH<br />

262 180039 Dinas Pertanian Daerah Provinsi Sulawesi Tengah<br />

263 180071 Dinas Pertanian Kabupaten Poso<br />

264 180205 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Donggala<br />

265 180304 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Toli-Toli<br />

266 180408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banggai<br />

267 180524 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Buol<br />

268 180605 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Morowali<br />

269 180706 Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan Dan Peternakan Kab. Banggai Kepulauan<br />

270 180806 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Parigi Moutong<br />

271 180908 Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kab. Tojo Una-Una<br />

272 181202 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Sigi<br />

19. SULAWESI SELATAN<br />

273 190049 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan<br />

274 190058 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sidrap<br />

275 190104 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pinrang<br />

276 190207 Dinas Pertanian Kabupaten Gowa<br />

277 190304 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Wajo<br />

278 190503 Dinas Pertanian Tanaman Pangan &Hortikltura Kabupaten Bone<br />

279 190606 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tana Toraja<br />

280 190713 Dinas Pertanian Kabupaten Maros<br />

281 190918 Dinas Tanaman Pangan, Hortikulutura Dan Peternakan Kabupaten Luwu<br />

282 191018 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sinjai<br />

283 191107 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Bulukumba<br />

284 191214 Dinas Pertanian & Kehutanan Kabupaten Bantaeng<br />

285 191310 Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto<br />

286 191427 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kepulauan Selayar<br />

287 191524 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Takalar<br />

288 191620 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Barru<br />

289 191713 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sidrap<br />

290 191829 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Pangkep<br />

291 191903 Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Soppeng<br />

292 192106 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Enrekang<br />

293 192215 Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara<br />

294 192420 Dinas Pertanian, Perkebunan &Peternakan Kabupaten Luwu Timur<br />

295 192501 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Toraja Utara<br />

296 195317 Dinas Pertanian & Peternakan Kota Palopo<br />

20. SULAWESI TENGGARA<br />

297 200071 Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara<br />

298 200208 Dinas Pertanian Kabupaten Buton<br />

299 200305 Dinas Pertanian Kabupaten Muna<br />

76 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />

300 200444 Dinas Pertanian, Hortikultura Dan Peternakan Kab. Kolaka<br />

301 200507 Dinas Pertanian Kabupaten Konawe Selatan<br />

302 200627 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Hortikultura Kab. Bombana<br />

303 200809 Dinas Perkebuanan Dan Hortikultura Kab. Kolaka Utara<br />

304 200909 Dinas Pertanian Kab Konawe<br />

305 201003 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Konawe Utara<br />

21. MALUKU<br />

306 210003 Dinas Pertanian Provinsi Maluku<br />

307 210103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Maluku Tengah<br />

308 210230 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Maluku Tenggara<br />

309 210309 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hrotikultura Dan Peternakan Kab. Maluku Tenggara<br />

Barat<br />

310 210410 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Pulau Buru<br />

311 210610 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Barat<br />

312 210710 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Timur<br />

313 210904 Dinas Pertanian Kab. Maluku Barat Daya<br />

314 211002 Dinas Pertanian, Kehutanan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Buru Selatan<br />

22. BALI<br />

315 220074 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali<br />

316 220103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Buleleng<br />

317 220204 Dinas Pertanian, Kehutanan, Dan Kelautan Kabupaten Jembrana<br />

318 220307 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Klungkung<br />

319 220403 Dinas Pertanian, Perhutanan Dan Perkebunan Kabupaten Gianyar<br />

320 220506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Karangasem<br />

321 220610 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Perhutanan Kab Bangli<br />

322 220741 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutana Kab Badung<br />

323 220807 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kabupaten Tabanan<br />

23. NUSA TENGGARA BARAT<br />

324 230004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov Nusa Tenggara Barat<br />

325 230116 Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat<br />

326 230208 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah<br />

327 230306 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur<br />

328 230421 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Bima<br />

329 230535 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa<br />

330 230616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Dompu<br />

331 230715 Dinas Kehutanan, Perkebunan & Pertanian Kab Sumbawa Barat<br />

332 230802 Dinas Pertanian , Perkebunan, Kehutanan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Lombok Utara<br />

333 235106 Dinas Pertanian, Kelautan Dan Perikanan Kota Mataram<br />

334 235206 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kota Bima<br />

24. NUSA TENGGARA TIMUR<br />

335 240072 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur<br />

336 240103 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Kupang<br />

337 240203 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Belu<br />

338 240330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab. Timor Tengah Utara<br />

339 240407 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Timor Tengah Selatan<br />

340 240540 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Alor<br />

341 240617 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sikka<br />

342 240704 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Flores Timur<br />

343 240806 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Ende<br />

344 240904 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kab. Ngada<br />

345 241047 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Manggarai<br />

346 241103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sumba Timur<br />

347 241206 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sumba Barat<br />

348 241318 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Lembata<br />

349 241412 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Rote Ndao<br />

77 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />

350 241503 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Manggarai Barat<br />

351 241705 Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perikanan Dan Kelautan Kab. Nagekeo<br />

352 241802 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Sumba Tengah<br />

353 241902 Dinas Pertanian Kab. Sumba Barat Daya<br />

354 242002 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kelautan Kab. Manggarai Timur<br />

25. PAPUA<br />

355 250034 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Papua<br />

356 250108 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Jayapura<br />

357 250746 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Merauke<br />

358 250806 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab Jayawijaya<br />

359 251036 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Nabire<br />

360 251706 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Keerom<br />

361 255134 Dinas Pertanian Kota Jayapura<br />

26. BENGKULU<br />

362 260003 Dinas Pertanian Propinsi Bengkulu<br />

363 260103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara<br />

364 260204 Dinas Pertanian Kab. Bengkulu Selatan<br />

365 260335 Dinas Pertanian Kab. Rejang Lebong<br />

366 260407 Dinas Pertanian Kabupaten Seluma<br />

367 260506 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kaur<br />

368 260613 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Muko-Muko<br />

369 260711 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lebong<br />

370 260813 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Kepahiang<br />

371 260903 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bengkulu Tengah<br />

372 265109 Badan Ketahanan Pangan Dan Pelaksana Penyuluhan Kota Bengkulu<br />

27. MALUKU UTARA<br />

373 280055 Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara<br />

374 280239 Dinas Pertanian & Peternakan Kab. Halmahera Tengah<br />

375 280314 Dinas Pertanian Kab. Halmahera Utara<br />

376 280405 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Selatan<br />

377 280613 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Timur<br />

378 280705 Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Barat<br />

379 280808 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Pulau Morotai<br />

28. BANTEN<br />

380 290006 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Banten<br />

381 290106 Dinas Pertanian Kabupaten Serang<br />

382 290240 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Pandeglang<br />

383 290304 Dinas Pertanian Kabupaten Lebak<br />

384 290429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Tangerang<br />

385 295301 Dinas Pertanian Kota Serang<br />

29. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG<br />

386 300062 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung<br />

387 300223 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka<br />

388 300505 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka Selatan<br />

30. GORONTALO<br />

389 310005 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo<br />

390 310106 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo<br />

391 310207 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Boalemo<br />

392 310306 Dinas Pertanian Kab. Pohuwato<br />

393 310407 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Ketahanan Pangan Kab. Bone Bolango<br />

394 310704 Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Gorontalo<br />

Utara<br />

31. KEPULAUAN RIAU<br />

395 320017 Dinas Pertanian, Kehutanan, Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau<br />

78 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />

32. PAPUA BARAT<br />

396 330047 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat<br />

397 330136 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Manokwari<br />

398 330238 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sorong<br />

399 330412 Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan<br />

400 330604 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Teluk Bintuni<br />

401 330716 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Teluk Wondama<br />

402 331006 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan, Kehutanan Dan Perikanan Kabupaten May<br />

Brat<br />

33. SULAWESI BARAT<br />

403 340042 Dinas Pertanian Dan Peternakan Propinsi Sulawesi Barat<br />

404 340106 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Majene<br />

405 340206 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Mamuju<br />

406 340303 Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Mamuju Utara<br />

407 340407 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Polewali Mandar<br />

408 340509 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Hortikultura Kab Mamasa<br />

79 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 2. Agenda Perencanaan Nasional<br />

No. Agenda Waktu<br />

1. Musrenbangtan Tingkat Kabupaten/Kota Pertengahan Maret<br />

2. Musrenbangtan Tingkat Provinsi Akhir Maret<br />

3. Penetapan Pagu Indikatif Maret<br />

4. Musrenbangtan Nasional Awal April<br />

5. Penyusunan Renja KL April<br />

6. Penelaahan Renja KL oleh Bappenas dan Kemenkeu Mei<br />

7. SK Menkeu tentang Penetapan Pagu Sementara Juni<br />

8. Penyesuaian Renja menjadi RKA-KL Juni<br />

9. Pembahasan RKA-KL dengan DPR Juli<br />

10. Penelaahan RKA-KL oleh Bappenas dan Kemenkeu Juli<br />

11. Nota Keuangan dan RUU RAPBN Agustus<br />

12. Penetapan UU APBN September<br />

13. Penetapan Pagu Indikatif Oktober<br />

14. Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL di Ditjen Anggaran<br />

Kemenkeu<br />

Oktober-November<br />

15. Penelaahan DIPA – SRAA di Ditjen Anggaran Kemenkeu November-<br />

Desember<br />

16. Penetapan Perangkat Pengelola Keuangan dan Penyampaian<br />

ke Menteria Pertanian<br />

November-<br />

Desember<br />

17. Penerbitan SRAA oleh Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu Desember<br />

18. Penerbitan DIPA Akhir Desember<br />

19. Penetapan <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong>/Kegiatan/Teknis<br />

oleh Kementerian dan Unit Eselon I<br />

Akhir Desember<br />

80 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 3. Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

TA 2012<br />

No. Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Waktu Lokasi Peserta<br />

I. Direktorat Budidaya Serealia<br />

1. Rakor Regional III (Jateng, Jatim, Kalsel,<br />

DI Yogyakarta, Kaltim, Kalteng)<br />

Februari Jatim Dinas Provinsi, Dinas<br />

Kabupaten, BPSBTPH,<br />

BPTPH, Bakorluh<br />

2. Sosialisasi P2BN Maret Jabar Dinas Provinsi, Div re Bulog<br />

3. Pemantapan Pelaksanan P2BN April DIY Dinas Provinsi, Div re Bulog<br />

4. Pertemuan adopsi teknologi budidaya<br />

serealia<br />

Sept. Jatim Dinas Provinsi<br />

5. Rapat evaluasi P2BN Nov. Sulsel Dinas Provinsi, Div re Bulog<br />

II. Direktorat Aneka Kacang dan Umbi<br />

1. Rakor Regional V (Bali, NTB, NTT, Malut,<br />

Maluku, Papua Barat, Papua)<br />

2. Koordinasi pengembangan agribisnis<br />

kedelai<br />

3. Koordinasi pengemb. agribisnis aneka<br />

kacang & umbi<br />

4. Koordinasi& sosialisasi pengembangan<br />

kedelai melalui PAT<br />

III. Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan<br />

1. Rapat Regional I (Aceh, Sumut, Sumbar,<br />

Riau, Jambi, Kepri)<br />

2. Koordinasi/workshop penanganan<br />

pascapanen tanaman pangan<br />

Maret Bali Dinas Provinsi, Dinas Kab,<br />

BPSBTPH, BPTPH, Bakorluh<br />

Mei Jatim Dinas Provinsi, stakeholders<br />

Juni DIY Dinas Provinsi, stakeholders<br />

Juli Jatim Dinas Provinsi, stakeholders<br />

Peb. Riau Dinas Provinsi, Dinas<br />

Kabupaten, BPSBTPH,<br />

BPTPH, Bakorluh<br />

Mei DIY Dinas Provinsi<br />

3. Pertemuan persiapan survey susut hasil Peb. NTB Dinas 12 Provinsi (Aceh,<br />

Sumut, Sumsel, Lampung,<br />

Banten, Jabar, Jateng, DIY,<br />

Jatim, Kalsel, Sulsel, NTB)<br />

4. Pertemuan apresiasi penanganan<br />

pascapanen tanaman pangan<br />

IV. Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan<br />

1. Rakor Regional II (Bengkulu, Sumsel,<br />

Lampung, Babel, Banten, Jabar, Kalbar)<br />

April Jabar Dinas Provinsi<br />

Peb. Sumsel Dinas Provinsi, BPSBTPH,<br />

BPTPH, BBPOPT,<br />

BBPPMBTPH, BPMPT<br />

2. Koordinasi Teknis Perbenihan Maret Sulsel Ka BPSBTPH, Ka BBI, Kabid<br />

Tanaman Pangan / Kasie Benih<br />

3. Sosialisasi pengawasan, penyaluran<br />

benih bersubsidi & bantuan benih<br />

April Jabar Ka BPSBTPH, BUMN,<br />

Koordinator PBT<br />

4. Forum Perbenihan Agst Sumut BPSBTPH, BBI, Produsen<br />

Benih<br />

V. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan<br />

1. Rakor Regional IV (Sulut, Sulsel, Sulteng,<br />

Sultra, Gorontalo, Sulbar)<br />

Peb. Makasar Dinas Provinsi, Dinas<br />

Kabupaten, BPSBTPH,<br />

BPTPH, Penyuluh<br />

2. Koordinasi teknis perlindungan tanaman Maret Kalsel BPTPH<br />

3. Evaluasi kegiatan perlindungan tanaman Nov. Bali BPTPH<br />

VI. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

1. Sinkronisasi <strong>Program</strong> dan Kegiatan<br />

Tanaman Pangan TA. 2012<br />

2. Koordinasi Penyusunan ASEM 2011 dan<br />

ARAM I 2012<br />

Peb. Jakarta Dinas Provinsi, BPTPH,<br />

BPSBTPH<br />

Maret Bandung Dinas Provinsi, BPS<br />

81 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

No. Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Waktu Lokasi Peserta<br />

3. Koordinasi Penyusunan Rancangan<br />

<strong>Program</strong> dan Kegiatan Tanaman Pangan<br />

2013<br />

Maret Medan Dinas Provinsi, BPTPH,<br />

BPSBTPH<br />

4. TOT Refreshing Pengolah data Statistik April Bandung Dinas Provinsi<br />

5. Rakor Bidang Keuangan (Penerbit SPM,<br />

Bendahara)<br />

Mei Jateng Dinas Provinsi, BPTPH,<br />

BPSBTPH<br />

6. Koordinasi Pelaporan dan SPI Juni Bali Dinas Provinsi, BPTPH,<br />

BPSBTPH<br />

7. Koordinasi Penyusunan ATAP 2011 dan<br />

ARAM II 2012<br />

8. Penyusunan RKA-KL Pagu Sementara<br />

TA 2013<br />

Juni Palembang Dinas Provinsi, BPS<br />

Juni Bali Dinas Provinsi, BPTPH,<br />

BPSBTPH<br />

9. Kerjasama Kemitraan Tanaman Pangan Juli Jakarta Dinas Provinsi, Stakeholders<br />

10. Workshop Penyusunan Laporan SAK /<br />

Pertemuan Update <strong>Program</strong> SIMONEV<br />

Wilayah Barat dan Timur<br />

11. Koordinasi Penyusunan ARAM III Tahun<br />

2012<br />

12. Workshop Penyusunan Laporan SIMAK-<br />

BMN<br />

Sept. Kalsel Dinas Provinsi, BPTPH,<br />

BPSBTPH<br />

Sept. NTB Dinas Provinsi, BPS<br />

Okt. Sulsel Dinas Provinsi,BPTPH,<br />

BPSBTPH<br />

13. Evaluasi <strong>Program</strong> dan Kegiatan TA.2012 Nov. DIY Dinas Provinsi, BPTPH,<br />

BPSBTPH, BBI<br />

14. Penyusunan RKA-KL pagu Definitif TA<br />

2013<br />

Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />

Okt. DIY Dinas Provinsi,BPTPH,<br />

BPSBTPH<br />

82 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 4. Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

TUGAS DAN FUNGSI<br />

DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN<br />

TUGAS : MERUMUSKAN SERTA MELAKSANAKAN KEBIJAKAN DAN STANDARDISASI DI<br />

BIDANG TANAMAN PANGAN<br />

FUNGSI : 1. PERUMUSAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN, BUDIDAYA,<br />

PERLINDUNGAN, DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN;<br />

2. PELAKSANAAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN, BUDIDAYA,<br />

PERLINDUNGAN DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN;<br />

3. PENYUSUNAN NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA DI BIDANG<br />

PERBENIHAN, BUDIDAYA, PERLINDUNGAN, DAN PASCAPANEN TANAMAN<br />

PANGAN;<br />

4. PEMBERIAN BIMBINGAN TEKNIS DAN EVALUASI DI BIDANG PERBENIHAN,<br />

BUDIDAYA, PERLINDUNGAN, DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN; DAN<br />

5. PELAKSANAAN ADMINISTRASI DIREKTORAT JENDERALTANAMAN PANGAN.<br />

83 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 5. Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN:<br />

1. SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL<br />

2. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN<br />

3. DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA<br />

4. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI<br />

5. DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN<br />

6. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN<br />

7. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN<br />

8. BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH<br />

9. BALAI PENGUJIAN MUTU PRODUK<br />

SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL<br />

1. BAGIAN PERENCANAAN<br />

2. BAGIAN KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN<br />

3. BAGIAN UMUM<br />

4. BAGIAN EVALUASI DAN PELAPORAN; DAN<br />

5. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL.<br />

DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN<br />

1. SUBDIREKTORAT PENILAIAN VARIETAS DAN PENGAWASAN MUTU BENIH;<br />

2. SUBDIREKTORAT PRODUKSI BENIH SEREALIA;<br />

3. SUB DIREKTORAT PRODUKSI BENIH ANEKA KACANG DAN UMBI;<br />

4. SUBDIREKTORAT KELEMBAGAAN BENIH;<br />

5. SUBBAGIAN TATA USAHA; DAN<br />

6. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL<br />

DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA<br />

1. SUBDIREKTORAT PADI IRIGASI DAN RAWA;<br />

2. SUBDIREKTORAT PADI TADAH HUJAN DAN LAHAN KERING;<br />

3. SUBDIREKTORAT JAGUNG;<br />

4. SUBDIREKTORAT SEREALIA LAIN; DAN<br />

5. SUBBAGIAN TATA USAHA.<br />

DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI<br />

1. SUBDIREKTORAT KEDELAI;<br />

2. SUBDIREKTORAT UBI KAYU;<br />

3. SUBDIREKTORAT ANEKA KACANG;<br />

4. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI; DAN<br />

5. SUBBAGIAN TATA USAHA.<br />

84 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN<br />

1. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN DATA ORGANISME PENGGANGGU<br />

TUMBUHAN;<br />

2. SUBDIREKTORAT DAMPAK PERUBAHAN IKLIM;<br />

3. SUBDIREKTORAT TEKNOLOGI PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU<br />

TUMBUHAN;<br />

4. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU<br />

5. SUBBAGIAN TATA USAHA; DAN<br />

6. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL.<br />

DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN<br />

1. SUBDIREKTORAT PADI;<br />

2. SUBDIREKTORAT JAGUNG DAN SEREALIA LAIN;<br />

3. SUBDIREKTORAT KEDELAI DAN ANEKA KACANG;<br />

4. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI;<br />

5. SUBBAGIAN TATA USAHA; DAN<br />

6. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL.<br />

BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN<br />

1. KEPALA BAGIAN UMUM<br />

2. KEPALA BIDANG PROGRAM DAN EVALUASI<br />

3. KEPALA BIDANG PELAYANAN TEKNIK, INFORMASI DAN DOKUMENTASI<br />

BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH<br />

1. KEPALA BAGIAN UMUM<br />

2. KEPALA BIDANG INFORMASI DAN JARINGAN LABORATORIUM<br />

85 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 6. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Padi<br />

Tahun 2012<br />

NO PROVINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />

(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />

1. N. ACEH D. 381.291<br />

2. SUMUT 782.173<br />

3. SUMBAR 477.034<br />

4. RIAU 155.033<br />

5. JAMBI 169.401<br />

6. SUMSEL 822.693<br />

7. BENGKULU 132.324<br />

8. LAMPUNG 627.399<br />

9. BABEL 13.994<br />

10. KEP RIAU 410<br />

SUMATERA 3.561.752<br />

11. DKI JAKARTA 1.967<br />

12. JABAR 2.039.148<br />

13. JATENG 1.933.975<br />

14. DI JOGJA 152.206<br />

15. JATIM 2.068.796<br />

16. BANTEN 412.079<br />

JAWA 6.608.171<br />

17. BALI 156.028<br />

18. N.T.B. 432.691<br />

19. N.T.T. 209.708<br />

BALI & N.T 798.426<br />

20. KALBAR 457.602<br />

21. KALTENG 229.281<br />

22. KALSEL 515.078<br />

23. KALTIM 164.844<br />

KALIMANTAN 1.366.805<br />

24. SULUT 134.244<br />

25. SULTENG 241.365<br />

26. SULSEL 957.809<br />

27. SULTRA 127.679<br />

28. GORONTALO 60.272<br />

29. SUL BARAT 89.016<br />

SULAWESI 1.610.386<br />

30. MALUKU 20.091<br />

31. MALUKU UT 18.003<br />

32. PAPUA BARAT 10.703<br />

33. PAPUA 29.270<br />

MLK & PAPUA 78.066<br />

LUAR JAWA 7.415.434<br />

INDONESIA 14.026.771<br />

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

383.099<br />

770.110<br />

475.529<br />

149.669<br />

165.540<br />

794.227<br />

132.745<br />

630.691<br />

8.510<br />

395<br />

3.510.515<br />

1.899<br />

1.978.594<br />

1.767.059<br />

148.940<br />

1.967.216<br />

407.821<br />

6.271.528<br />

151.629<br />

437.720<br />

195.452<br />

784.801<br />

443.769<br />

221.348<br />

497.256<br />

159.141<br />

1.321.514<br />

134.599<br />

233.014<br />

924.669<br />

126.262<br />

68.186<br />

85.936<br />

1.572.666<br />

19.396<br />

17.380<br />

10.333<br />

30.257<br />

77.365<br />

7.266.860<br />

13.556.865<br />

52,08<br />

52,24<br />

51,52<br />

40,88<br />

42,78<br />

47,21<br />

39,85<br />

49,83<br />

48,00<br />

50,74<br />

49,14<br />

54,20<br />

62,17<br />

59,27<br />

58,95<br />

62,58<br />

52,22<br />

60,75<br />

56,66<br />

50,12<br />

32,47<br />

46,99<br />

33,08<br />

28,88<br />

40,98<br />

39,32<br />

36,10<br />

47,65<br />

46,55<br />

53,14<br />

40,33<br />

49,24<br />

47,54<br />

50,19<br />

47,59<br />

38,74<br />

45,07<br />

38,19<br />

41,59<br />

46,68<br />

53,13<br />

1.995.040<br />

4.022.675<br />

2.450.000<br />

611.780<br />

708.145<br />

3.749.670<br />

529.050<br />

3.142.530<br />

40.850<br />

2.006<br />

17.251.746<br />

10.290<br />

12.300.000<br />

10.472.980<br />

877.950<br />

12.310.000<br />

2.129.765<br />

38.100.985<br />

859.080<br />

2.194.040<br />

634.705<br />

3.687.825<br />

1.468.145<br />

639.255<br />

2.037.660<br />

625.765<br />

4.770.824<br />

641.385<br />

1.084.570<br />

4.913.600<br />

509.250<br />

335.760<br />

408.550<br />

7.893.115<br />

92.310<br />

67.325<br />

46.568<br />

115.538<br />

321.740<br />

33.925.249<br />

72.026.235<br />

86 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 7. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi<br />

Jagung Tahun 2012<br />

NO PROPINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />

(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />

1. ACEH 53.491<br />

2. SUMUT 269.363<br />

3. SUMBAR 77.467<br />

4. RIAU 30.657<br />

5. JAMBI 13.072<br />

6. SUMSEL 35.235<br />

7. BENGKULU 38.270<br />

8. LAMPUNG 494.268<br />

9. BABEL 1.099<br />

10. KEP RIAU 711<br />

SUMATERA 1.013.633<br />

11. DKI JAKARTA 30<br />

12. JABAR 187.059<br />

13. JATENG 745.880<br />

14. DI JOGJA 80.083<br />

15. JATIM 1.361.228<br />

16. BANTEN 17.591<br />

JAWA 2.391.871<br />

17. BALI 31.277<br />

18. N.T.B. 97.572<br />

19. N.T.T. 353.910<br />

BALI & N.T 482.760<br />

20. KALBAR 54.096<br />

21. KALTENG 3.599<br />

22. KALSEL 27.945<br />

23. KALTIM 6.661<br />

KALIMANTAN 92.300<br />

24. SULUT 174.994<br />

25. SULTENG 52.868<br />

26. SULSEL 375.192<br />

27. SULTRA 45.019<br />

28. GORONTALO 192.497<br />

29. SUL BARAT 27.544<br />

SULAWESI 868.114<br />

30. MALUKU 9.160<br />

31. MALUKU UT 11.238<br />

32. IRJA BARAT 4.614<br />

33. PAPUA 748<br />

MLK & PAPUA 25.760<br />

LUAR JAWA 2.482.566<br />

INDONESIA 4.874.437<br />

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

51.088<br />

257.260<br />

73.986<br />

29.280<br />

12.484<br />

33.652<br />

36.551<br />

472.060<br />

1.049<br />

679<br />

968.091<br />

29<br />

178.654<br />

712.368<br />

76.485<br />

1.300.068<br />

16.800<br />

2.284.405<br />

29.872<br />

93.189<br />

338.009<br />

461.069<br />

51.665<br />

3.437<br />

26.689<br />

6.362<br />

88.153<br />

167.131<br />

50.492<br />

358.334<br />

42.997<br />

183.849<br />

26.306<br />

829.110<br />

8.748<br />

10.733<br />

4.407<br />

714<br />

24.602<br />

2.371.025<br />

4.655.430<br />

37,82<br />

63,64<br />

63,51<br />

31,80<br />

42,91<br />

39,98<br />

33,70<br />

56,95<br />

33,69<br />

27,13<br />

55,77<br />

33,97<br />

55,62<br />

54,23<br />

41,10<br />

54,30<br />

36,49<br />

53,81<br />

34,08<br />

43,31<br />

32,27<br />

34,62<br />

46,45<br />

31,42<br />

53,88<br />

21,91<br />

46,34<br />

39,41<br />

42,67<br />

56,17<br />

38,77<br />

58,09<br />

46,92<br />

51,20<br />

26,30<br />

24,82<br />

18,91<br />

17,87<br />

24,09<br />

49,38<br />

51,55<br />

193.200<br />

1.637.194<br />

469.868<br />

93.118<br />

53.568<br />

134.529<br />

123.168<br />

2.688.556<br />

3.535<br />

1.844<br />

5.398.579<br />

98<br />

993.600<br />

3.863.499<br />

314.375<br />

7.059.463<br />

61.297<br />

12.292.332<br />

101.799<br />

403.636<br />

1.090.909<br />

1.596.345<br />

240.000<br />

10.800<br />

143.804<br />

13.940<br />

408.543<br />

658.737<br />

215.441<br />

2.012.640<br />

166.684<br />

1.068.000<br />

123.442<br />

4.244.944<br />

23.008<br />

26.640<br />

8.332<br />

1.276<br />

59.257<br />

11.707.668<br />

24.000.000<br />

87 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 8. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi<br />

Kedelai Tahun 2012<br />

NO PROPINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />

(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />

1. ACEH 121.900<br />

2. SUMUT 25.900<br />

3. SUMBAR 10.000<br />

4. RIAU 12.000<br />

5. JAMBI 16.000<br />

6. SUMSEL 18.000<br />

7. BENGKULU 11.500<br />

8. LAMPUNG 27.700<br />

9. BABEL -<br />

10. KEP RIAU -<br />

SUMATERA 243.000<br />

11. DKI JAKARTA -<br />

12. JABAR 79.700<br />

13. JATENG 197.900<br />

14. DI JOGJA 45.000<br />

15. JATIM 371.000<br />

16. BANTEN 30.000<br />

JAWA 723.600<br />

17. BALI 10.000<br />

18. N.T.B. 158.400<br />

19. N.T.T. 7.000<br />

BALI & N.T 175.400<br />

20. KALBAR 5.500<br />

21. KALTENG 20.800<br />

22. KALSEL 9.400<br />

23. KALTIM 12.000<br />

KALIMANTAN 47.700<br />

24. SULUT 12.600<br />

25. SULTENG 7.800<br />

26. SULSEL 54.200<br />

27. SULTRA 14.300<br />

28. GORONTALO 9.300<br />

29. SUL BARAT 8.700<br />

SULAWESI 106.900<br />

30. MALUKU 3.000<br />

31. MALUKU UT 2.900<br />

32. IRJA BARAT 3.000<br />

33. PAPUA 6.500<br />

MLK & PAPUA 15.400<br />

LUAR JAWA 588.400<br />

INDONESIA 1.312.000<br />

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

117.098<br />

24.796<br />

8.757<br />

10.620<br />

17.718<br />

17.515<br />

11.009<br />

23.498<br />

-<br />

-<br />

231.012<br />

-<br />

78.675<br />

189.013<br />

42.937<br />

364.539<br />

26.249<br />

701.413<br />

13.397<br />

135.156<br />

4.977<br />

153.530<br />

4.159<br />

16.387<br />

7.462<br />

7.946<br />

35.954<br />

12.034<br />

9.803<br />

57.123<br />

13.649<br />

6.896<br />

13.319<br />

112.823<br />

3.119<br />

3.342<br />

3.620<br />

6.485<br />

16.566<br />

549.885<br />

1.250.000<br />

14,89<br />

13,87<br />

15,30<br />

13,47<br />

13,77<br />

15,30<br />

13,26<br />

13,87<br />

-<br />

-<br />

14,50<br />

-<br />

15,91<br />

16,32<br />

15,30<br />

15,30<br />

15,51<br />

15,65<br />

15,30<br />

14,38<br />

13,26<br />

42,95<br />

13,47<br />

13,67<br />

13,67<br />

13,47<br />

13,60<br />

14,79<br />

14,79<br />

16,53<br />

13,26<br />

14,79<br />

14,79<br />

15,48<br />

13,47<br />

13,47<br />

13,26<br />

13,26<br />

13,34<br />

14,59<br />

15,20<br />

174.400<br />

34.400<br />

13.400<br />

14.300<br />

24.400<br />

26.800<br />

14.600<br />

32.600<br />

-<br />

-<br />

334.900<br />

-<br />

125.200<br />

308.500<br />

65.700<br />

557.800<br />

40.700<br />

1.097.900<br />

20.500<br />

194.400<br />

6.600<br />

221.500<br />

5.600<br />

22.400<br />

10.200<br />

10.700<br />

48.900<br />

17.800<br />

14.500<br />

94.400<br />

18.100<br />

10.200<br />

19.700<br />

174.700<br />

4.200<br />

4.500<br />

4.800<br />

8.600<br />

22.100<br />

802.100<br />

1.900.000<br />

88 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 9. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi<br />

Kacang Tanah Tahun 2012<br />

NO PROVINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />

(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />

1. ACEH 7.142<br />

2. SUMUT 19.681<br />

3. SUMBAR 9.605<br />

4. RIAU 4.248<br />

5. JAMBI 2.346<br />

6. SUMSEL 6.246<br />

7. BENGKULU 9.530<br />

8. LAMPUNG 20.668<br />

9. BABEL 597<br />

10. KEP RIAU 201<br />

SUMATERA 80.264<br />

11. DKI JAKARTA 25<br />

12. JABAR 79.228<br />

13. JATENG 157.617<br />

14. DI JOGJA 78.079<br />

15. JATIM 217.015<br />

16. BANTEN 16.649<br />

JAWA 548.613<br />

17. BALI 16.075<br />

18. N.T.B. 36.743<br />

19. N.T.T. 27.557<br />

BALI & N.T 80.375<br />

20. KALBAR 2.411<br />

21. KALTENG 2.067<br />

22. KALSEL 18.372<br />

23. KALTIM 3.100<br />

KALIMANTAN 25.950<br />

24. SULUT 8.612<br />

25. SULTENG 6.889<br />

26. SULSEL 44.781<br />

27. SULTRA 9.760<br />

28. GORONTALO 2.756<br />

29. SUL BARAT 1.608<br />

SULAWESI 74.406<br />

30. MALUKU 4.019<br />

31. MALUKU UT 5.741<br />

32. IRJA BARAT 2.187<br />

33. PAPUA 3.445<br />

MLK & PAPUA 15.392<br />

LUAR JAWA 276.387<br />

INDONESIA 825.000<br />

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

6.802<br />

18.743<br />

9.147<br />

4.046<br />

2.234<br />

5.949<br />

9.076<br />

19.684<br />

569<br />

191<br />

76.441<br />

24<br />

75.453<br />

150.114<br />

74.360<br />

206.677<br />

15.856<br />

522.484<br />

15.309<br />

34.993<br />

26.245<br />

76.547<br />

2.296<br />

1.968<br />

17.496<br />

2.953<br />

24.713<br />

8.201<br />

6.561<br />

42.648<br />

9.295<br />

2.624<br />

1.531<br />

70.860<br />

3.827<br />

5.468<br />

2.078<br />

3.282<br />

14.655<br />

263.216<br />

785.700<br />

14,26<br />

13,33<br />

14,52<br />

10,89<br />

13,48<br />

14,36<br />

10,73<br />

14,00<br />

11,04<br />

10,89<br />

13,35<br />

12,08<br />

16,54<br />

15,24<br />

11,87<br />

13,35<br />

16,07<br />

14,23<br />

14,52<br />

14,52<br />

13,22<br />

14,07<br />

12,45<br />

12,65<br />

12,55<br />

12,44<br />

12,53<br />

14,26<br />

18,15<br />

14,00<br />

9,78<br />

12,96<br />

15,02<br />

13,84<br />

12,76<br />

12,44<br />

11,82<br />

11,40<br />

12,20<br />

13,55<br />

14,00<br />

9.699<br />

24.977<br />

13.281<br />

4.406<br />

3.012<br />

8.544<br />

9.742<br />

27.557<br />

628<br />

208<br />

102.054<br />

29<br />

124.805<br />

228.839<br />

88.250<br />

275.843<br />

25.487<br />

743.253<br />

22.227<br />

50.804<br />

34.701<br />

107.732<br />

2.858<br />

2.490<br />

21.955<br />

3.674<br />

30.977<br />

11.695<br />

11.907<br />

59.706<br />

9.090<br />

3.402<br />

2.300<br />

98.100<br />

4.882<br />

6.804<br />

2.456<br />

3.742<br />

17.884<br />

356.747<br />

1.100.000<br />

89 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 10. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi<br />

Kacang Hijau Tahun 2012<br />

NO PROVINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />

(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />

1. ACEH 2.955<br />

2. SUMUT 6.099<br />

3. SUMBAR 1.374<br />

4. RIAU 2.079<br />

5. JAMBI 616<br />

6. SUMSEL 3.115<br />

7. BENGKULU 1.797<br />

8. LAMPUNG 5.579<br />

9. BABEL -<br />

10. KEP RIAU 1<br />

SUMATERA 23.615<br />

11. DKI JAKARTA -<br />

12. JABAR 13.495<br />

13. JATENG 99.531<br />

14. DI JOGJA 1.141<br />

15. JATIM 77.774<br />

16. BANTEN 2.680<br />

JAWA 194.620<br />

17. BALI 1.245<br />

18. N.T.B. 50.494<br />

19. N.T.T. 30.073<br />

BALI & N.T 81.812<br />

20. KALBAR 2.074<br />

21. KALTENG 399<br />

22. KALSEL 1.587<br />

23. KALTIM 1.117<br />

KALIMANTAN 5.177<br />

24. SULUT 1.883<br />

25. SULTENG 1.602<br />

26. SULSEL 26.962<br />

27. SULTRA 2.373<br />

28. GORONTALO 501<br />

29. SUL BARAT 960<br />

SULAWESI 34.281<br />

30. MALUKU 661<br />

31. MALUKU UT 418<br />

32. IRJA BARAT 819<br />

33. PAPUA 1.198<br />

MLK & PAPUA 3.095<br />

LUAR JAWA 147.980<br />

INDONESIA 342.600<br />

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

2.808<br />

5.794<br />

1.305<br />

1.975<br />

585<br />

2.959<br />

1.707<br />

5.300<br />

-<br />

1<br />

22.435<br />

-<br />

12.821<br />

94.576<br />

1.084<br />

73.888<br />

2.546<br />

184.914<br />

1.183<br />

47.971<br />

28.570<br />

77.724<br />

1.970<br />

379<br />

1.507<br />

1.061<br />

4.918<br />

1.789<br />

1.522<br />

25.614<br />

2.254<br />

476<br />

912<br />

32.568<br />

629<br />

397<br />

778<br />

1.138<br />

2.942<br />

140.586<br />

325.500<br />

12,67<br />

12,13<br />

13,28<br />

12,11<br />

12,08<br />

15,32<br />

10,87<br />

10,14<br />

-<br />

10,26<br />

12,12<br />

-<br />

12,17<br />

12,36<br />

7,29<br />

12,63<br />

10,14<br />

12,39<br />

10,69<br />

11,21<br />

9,26<br />

10,48<br />

8,02<br />

9,45<br />

11,75<br />

12,02<br />

10,14<br />

15,38<br />

9,00<br />

13,89<br />

9,12<br />

13,51<br />

15,02<br />

13,44<br />

11,90<br />

12,21<br />

11,51<br />

11,67<br />

11,75<br />

11,44<br />

11,98<br />

3.556<br />

7.031<br />

1.734<br />

2.393<br />

706<br />

4.532<br />

1.855<br />

5.376<br />

-<br />

1<br />

27.184<br />

-<br />

15.600<br />

116.874<br />

791<br />

93.284<br />

2.582<br />

229.130<br />

1.265<br />

53.757<br />

26.457<br />

81.478<br />

1.581<br />

358<br />

1.771<br />

1.275<br />

4.986<br />

2.751<br />

1.370<br />

35.574<br />

2.055<br />

643<br />

1.370<br />

43.764<br />

748<br />

485<br />

896<br />

1.328<br />

3.457<br />

160.870<br />

390.000<br />

90 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 11. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi<br />

Ubi Kayu Tahun 2012<br />

NO PROVINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />

(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />

1. ACEH 4.113<br />

2. SUMUT 45.803<br />

3. SUMBAR 6.114<br />

4. RIAU 6.670<br />

5. JAMBI 3.112<br />

6. SUMSEL 14.729<br />

7. BENGKULU 7.781<br />

8. LAMPUNG 352.374<br />

9. BABEL 2.001<br />

10. KEP RIAU 1.334<br />

SUMATERA 444.030<br />

11. DKI JAKARTA 56<br />

12. JABAR 124.498<br />

13. JATENG 213.425<br />

14. DI JOGJA 71.142<br />

15. JATIM 253.442<br />

16. BANTEN 13.339<br />

JAWA 675.902<br />

17. BALI 13.117<br />

18. N.T.B. 9.449<br />

19. N.T.T. 94.485<br />

BALI & N.T 117.050<br />

20. KALBAR 18.119<br />

21. KALTENG 9.671<br />

22. KALSEL 9.560<br />

23. KALTIM 8.893<br />

KALIMANTAN 46.242<br />

24. SULUT 6.892<br />

25. SULTENG 5.002<br />

26. SULSEL 33.570<br />

27. SULTRA 14.895<br />

28. GORONTALO 1.667<br />

29. SUL BARAT 4.669<br />

SULAWESI 66.695<br />

30. MALUKU 12.227<br />

31. MALUKU UT 12.227<br />

32. IRJA BARAT 2.779<br />

33. PAPUA 4.446<br />

MLK & PAPUA 31.680<br />

LUAR JAWA 705.698<br />

INDONESIA 1.381.600<br />

3.917<br />

43.622<br />

5.823<br />

6.352<br />

2.964<br />

14.027<br />

7.411<br />

335.592<br />

1.906<br />

1.270<br />

422.883<br />

53<br />

118.569<br />

203.261<br />

67.754<br />

241.372<br />

12.704<br />

643.711<br />

12.492<br />

8.999<br />

89.985<br />

111.476<br />

17.256<br />

9.210<br />

9.104<br />

8.469<br />

44.040<br />

6.564<br />

4.764<br />

31.971<br />

14.186<br />

1.588<br />

4.446<br />

63.519<br />

11.645<br />

11.645<br />

2.647<br />

4.235<br />

30.171<br />

672.089<br />

1.315.800<br />

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

132<br />

207<br />

207<br />

117<br />

144<br />

160<br />

124<br />

254<br />

150<br />

113<br />

238<br />

123<br />

197<br />

185<br />

159<br />

170<br />

149<br />

178<br />

155<br />

127<br />

113<br />

118<br />

153<br />

124<br />

155<br />

163<br />

149<br />

138<br />

171<br />

179<br />

175<br />

127<br />

149<br />

170<br />

136<br />

128<br />

120<br />

123<br />

130<br />

201<br />

190<br />

51.555<br />

902.890<br />

120.516<br />

74.164<br />

42.790<br />

224.829<br />

92.031<br />

8.533.351<br />

28.519<br />

14.293<br />

10.084.940<br />

652<br />

2.335.266<br />

3.768.878<br />

1.078.749<br />

4.092.503<br />

188.781<br />

11.464.828<br />

193.590<br />

114.617<br />

1.012.451<br />

1.320.658<br />

263.754<br />

114.381<br />

141.091<br />

138.439<br />

657.666<br />

90.570<br />

81.412<br />

573.512<br />

248.449<br />

20.227<br />

66.073<br />

1.080.243<br />

158.216<br />

149.564<br />

31.744<br />

52.140<br />

391.664<br />

13.535.172<br />

25.000.000<br />

91 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 12. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi<br />

Ubi Jalar Tahun 2012<br />

NO PROVINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />

(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />

1. N. ACEH D. 3.395<br />

2. SUMUT 17.769<br />

3. SUMBAR 4.446<br />

4. RIAU 1.440<br />

5. JAMBI 2.498<br />

6. SUMSEL 2.500<br />

7. BENGKULU 4.668<br />

8. LAMPUNG 4.640<br />

9. BABEL 666<br />

10. KEP RIAU 333<br />

SUMATERA 42.355<br />

11. DKI JAKARTA -<br />

12. JABAR 34.489<br />

13. JATENG 12.897<br />

14. DI JOGJA 514<br />

15. JATIM 16.720<br />

16. BANTEN 3.155<br />

JAWA 67.776<br />

17. BALI 6.288<br />

18. N.T.B. 1.638<br />

19. N.T.T. 19.524<br />

BALI & N.T 27.450<br />

20. KALBAR 878<br />

21. KALTENG 1.582<br />

22. KALSEL 1.495<br />

23. KALTIM 2.549<br />

KALIMANTAN 6.505<br />

24. SULUT 3.500<br />

25. SULTENG 2.333<br />

26. SULSEL 8.231<br />

27. SULTRA 2.291<br />

28. GORONTALO 608<br />

29. SUL BARAT 596<br />

SULAWESI 17.560<br />

30. MALUKU 1.552<br />

31. MALUKU UT 3.386<br />

32. IRJA BARAT 3.112<br />

33. PAPUA 37.304<br />

MLK & PAPUA 45.355<br />

LUAR JAWA 139.224<br />

INDONESIA 207.000<br />

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

3.226<br />

16.885<br />

4.225<br />

1.368<br />

2.373<br />

2.375<br />

4.435<br />

4.410<br />

633<br />

316<br />

40.247<br />

-<br />

32.773<br />

12.256<br />

489<br />

15.888<br />

2.998<br />

64.403<br />

5.975<br />

1.557<br />

18.552<br />

26.084<br />

835<br />

1.503<br />

1.421<br />

2.422<br />

6.181<br />

3.326<br />

2.217<br />

7.822<br />

2.177<br />

578<br />

566<br />

16.686<br />

1.475<br />

3.218<br />

2.958<br />

35.448<br />

43.099<br />

132.297<br />

196.700<br />

110 35.385<br />

110 185.179<br />

123 51.897<br />

89 12.149<br />

95 22.646<br />

73 17.456<br />

106 47.179<br />

110 48.359<br />

93 5.897<br />

93 2.949<br />

107 429.097<br />

- -<br />

139 456.462<br />

141 173.385<br />

121 5.897<br />

121 191.667<br />

124 37.154<br />

134 864.564<br />

128 76.667<br />

125 19.462<br />

95 176.923<br />

105 273.051<br />

92 7.667<br />

91 13.682<br />

112 15.923<br />

105 25.359<br />

101 62.631<br />

106 35.385<br />

106 23.590<br />

121 94.359<br />

91 19.815<br />

102 5.897<br />

104 5.897<br />

111 184.944<br />

100 14.744<br />

99 31.846<br />

104 30.903<br />

115 408.221<br />

113 485.713<br />

109 1.435.436<br />

117 2.300.000<br />

92 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 13. Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. 2012<br />

No. Kegiatan dan Output<br />

Volume<br />

Pusat Provinsi Kab/Kota Jumlah<br />

1 Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia<br />

78.504.400<br />

a.<br />

SLPTT :<br />

3.700,00<br />

192.727.900<br />

673.056.700<br />

944.289.000<br />

Ribu ha 790.110.900<br />

- SLPTT Padi Non Hibrida (Rp 3,7jt/LL) 2.651,70 Ribu Ha - - 392.451.600<br />

- SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 64,85jt/Unit) 33,55 Ribu Ha - 87.028.700 -<br />

- SLPTT Padi Non Hibrida Peningkatan IP (Rp 64,85jt/Unit) 14,75 Ribu Ha - 38.261.500 -<br />

- SLPTT Padi Hibrida (Rp 3,7jt/ LL) 290,70 Ribu Ha - - 107.559.000<br />

- SLPTT Padi Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 44,6jt/ Unit) 9,30 Ribu Ha - 41.478.000 -<br />

- SLPTT Padi Lahan Kering (Rp 3,7 jt/LL) 500 Ribu Ha - - 74.000.000<br />

- SLPTT Jagung Hibrida (Rp 3,7 jt/LL) 200 Ribu Ha - - 49.332.100<br />

b. Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam Jagung Hibrida<br />

12.725 Ha 70.000.000 - - 70.000.000<br />

c. Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif<br />

10 Prov - 764.000 - 764.000<br />

d. Pembinaan, pengawalan, monev SLPTT & pengembangan<br />

1 Pusat 8.504.400 - - 83.414.100<br />

31 Prov - 25.195.700 -<br />

371 Kab - - 49.714.000<br />

2 Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi<br />

7.000.000 7.760.800 160.988.230 175.749.030<br />

a. SL-PTT Kedelai (Rp 3,93jt/LL)<br />

350 Ribu Ha - - 137.550.000 137.550.000<br />

b. Pengembangan Kedelai Model (Rp 4,43jt/Unit))<br />

2.094 Ha - - 6.868.320 6.868.320<br />

c. Pengembangan Kc.Tanah (Rp.2.929,5 jt)<br />

100 Ha - - 292.950 292.950<br />

d. Pengembangan Ubi Kayu (Rp10,215jt/ha,-)<br />

300 Ha - - 3.064.500 3.064.500<br />

e. Pengembangan Ubi Jalar (Rp7,718 jt/ha)<br />

850 Ha - - 6.642.750 6.642.750<br />

f. Pertemuan Koordinasi Stakeholder Non Kedelai (2 kali)<br />

54 Pkt - 2.350.000 - 2.350.000<br />

g. Pembinaan, pengawalan, monev SLPTT & pengembangan<br />

1 Pusat 7.000.000 - - 18.350.510<br />

28 Prov - 5.410.800 -<br />

184 Kab - - 5.939.710<br />

h. Ubinan SL-PTT Kedelai (Rp.180.000,-/Unit)<br />

3.500 Ribu Ha - - 630.000 630.000<br />

93 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

No. Kegiatan dan Output<br />

Volume<br />

Pusat Provinsi Kab/Kota Jumlah<br />

3 Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan<br />

794.796.575 121.839.900 536.614.525 1.453.251.000<br />

a. BLBU:<br />

102 Ribu Ton 1.247.250.000<br />

- BLBU padi non hibrida (Rp 8.500/kg) @25kg/ha 68 Ribu Ton 406.937.500 - 166.812.500<br />

- BLBU padi hibrida (Rp 56 rb/kg) @15kg/ha 5 Ribu Ton 151.200.000 - 100.800.000<br />

- BLBU padi lahan kering (Rp 9 rb/kg) @25kg/ha 13 Ribu Ton 66.909.375 - 45.590.625<br />

- BLBU jagung hibrida (Rp40 rb/kg) @15kg/ha 3 Ribu Ton 76.890.000 - 43.110.000<br />

- BLBU kedelai (13,5 rb/kg) @40kg/ha 14 Ribu Ton 77.862.600 - 111.137.400<br />

b. Operasional UPTD BPSBTPH<br />

32 Balai - 47.549.000 - 47.549.000<br />

c. Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT)<br />

817 Orang - 2.451.000 - 2.451.000<br />

d. Sarana BPSBTPH<br />

32 Balai - 11.400.000 - 11.400.000<br />

e. Operasional Balai Benih<br />

31 Balai - 16.846.500 - 16.846.500<br />

f. Pemberdayaan Penangkar<br />

45.450.000<br />

- Padi 10 Ribu Ha 35.000.000<br />

- Jagung 700 Ha 2.450.000<br />

- Kedelai 2,5 Ribu Ha 8.000.000<br />

g. Pembangunan UPB<br />

4 UPB - 16.880.000 3.000.000 19.880.000<br />

h. Optimalisasi UPB<br />

8 UPB - 15.000.000 - 15.000.000<br />

i. Deregulasi Perbenihan<br />

1 Paket 1.000.000 - - 1.000.000<br />

j. Pembinaan, Pengawalan, Monev Pemb. Penangkar<br />

28 Prov - 1.578.000 - 3.878.000<br />

230 Kab - - 2.300.000<br />

k. Pembinaan, Pengawalan, Monev Perbenihan, BLBU & CBN<br />

1 Pusat 13.997.100 - - 42.546.500<br />

32 Prov - 10.135.400 -<br />

373 Kab - - 18.414.000<br />

4 Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan<br />

6.941.000 9.209.000 74.386.000 90.536.000<br />

a. Bantuan Sarana Pascapanen :<br />

67.411.000<br />

- Padi 442 Pkt - 130.000 63.336.000<br />

- Jagung 15 Pkt - - 1.125.000<br />

- Kedelai 25 Pkt - - 1.500.000<br />

- Ubi Kayu 12 Pkt - - 720.000<br />

- Ubi Jalar 10 Pkt - - 600.000<br />

b. Survei Susut Hasil Padi<br />

12 Prov - 7.394.500 - 7.394.500<br />

c. Pembinaan, Bimbingan Teknis, Apresiasi, & Monev Pascapanen<br />

1 Pkt 6.941.000 - - 15.730.500<br />

31 Prov - 1.684.500 -<br />

204 Kab - - 7.105.000<br />

94 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

No. Kegiatan dan Output Volume<br />

Pusat Provinsi Kab/Kota Jumlah<br />

5 Penguatan Perlindungan TP dari Gangguan OPT & DPI<br />

16.058.500 154.341.500 15.800.000 186.200.000<br />

a. Operasional P3OPT (BPTPH)<br />

505 Kab - 20.000.000 - 20.000.000<br />

b. Koordinasi Penanggulangan OPT/DPI<br />

80 Kali - 9.900.000 - 9.900.000<br />

c. Operasional Brigade Proteksi Tanaman/Gerakan Pengendalian OPT<br />

86 Unit 8.954.500 - 8.954.500<br />

d. Gerakan Pengendalian OPT/ bantuan pestisida<br />

158 Unit - 15.800.000 15.800.000<br />

e. Renovasi Gudang Brigade<br />

77 Unit - 8.000.000 - 8.000.000<br />

f. Pelatihan Alumni SLPHT untuk Penguatan RPH<br />

143 Kelas - 4.350.000 - 4.350.000<br />

g. Surveilans OPT dan Monev SL<br />

66 Pkt - 7.000.000 - 7.000.000<br />

h. Biaya Operasional POPT-PHP (Rp 500Rb/bln)<br />

2.908 Orang - 18.096.000 - 18.096.000<br />

i. Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT)<br />

1.941 Unit - 39.000.000 - 39.000.000<br />

j. Sekolah Lapangan Iklim (SLI)<br />

130 Unit - 2.600.000 - 2.600.000<br />

k. Pemberdayaan PPAH<br />

620 Unit - 6.200.000 - 6.200.000<br />

l. Operasional Lab Pengamatan Hama Penyakit (LPHP)<br />

95 Unit - 8.015.000 - 8.015.000<br />

m. Operasional Diperta Provinsi<br />

14 Prov - 2.315.000 - 2.315.000<br />

n. Operasional THL POPT-PHP<br />

1.168 Orang - 19.911.000 - 19.911.000<br />

o. Pembinaan, Pengawalan, Monev Perlintan<br />

1 Paket 12.558.500 - - 12.558.500<br />

p. Operasional BPMPT<br />

1 Paket 3.500.000 - - 3.500.000<br />

6 Pengembangan Peramalan Serangan OPT<br />

9.353.000 - - 9.353.000<br />

a. Gaji<br />

1 Thn 4.129.295 - - 4.129.295<br />

b. Operasional Kantor<br />

1 Thn 804.799 - - 804.799<br />

c. Pengembangan Peramalan Serangan OPT<br />

1 Pkt 4.418.906 - - 4.418.906<br />

95 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

No. Kegiatan dan Output Volume<br />

Pusat Provinsi Kab/Kota Jumlah<br />

Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu<br />

7 7.300.000 - - 7.300.000<br />

Laboratorium Pengujian Benih<br />

a. Gaji<br />

1 Thn 3.164.532 - - 3.164.532<br />

b. Operasional Kantor<br />

1 Thn 1.170.004 - - 1.170.004<br />

c. Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih<br />

1 Pkt 2.965.464 - - 2.965.464<br />

8 Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen TP<br />

184.946.061 26.467.900 37.400.000 248.813.961<br />

a. Gaji<br />

1 Thn 46.507.092 - - 46.507.092<br />

b. Operasional Kantor<br />

1 Thn 10.840.047 - - 10.840.047<br />

c. LM3<br />

1 Pkt 30.000.000 - - 30.000.000<br />

d. Bencana Alam<br />

1 Pkt 45.600.000 - - 45.600.000<br />

e. Insentif Mantritani<br />

3.074 Org - 10.144.200 - 10.144.200<br />

f. Honor Pengelola Keuangan & Administrasi Satker<br />

1 Pusat 1.000.000 - - 16.610.800<br />

33 Prov 2.820.000<br />

374 Kab 12.790.800<br />

g. Perencanaan <strong>Program</strong> & Kegiatan<br />

1 Pusat 12.000.000 27.614.000<br />

33 Prov 6.264.000<br />

374 Kab 9.350.000<br />

h. Pengelolaan Keuangan (SAI) & Perlengkapan<br />

1 Pusat 4.350.000 15.569.500<br />

33 Prov 3.739.500<br />

374 Kab 7.480.000<br />

i. Evaluasi, Pelaporan, Pengawasan & Data Statistik<br />

1 Pusat 4.380.000 15.659.400<br />

33 Prov 3.500.200<br />

374 Kab 7.779.200<br />

j. Pengelolaan Bidang Umum<br />

1 Pusat 5.900.000 5.900.000<br />

k. Dukungan Manajemen Lainnya<br />

1 Pusat 24.368.922 24.368.922<br />

Total 1.104.899.536 512.347.000 1.498.245.455 3.115.491.991<br />

96 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 14. Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />

SLPTT Padi (Ha)<br />

No. Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />

Padi Non<br />

Hibrida Hanya<br />

Bantuan Benih<br />

Padi Non<br />

Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

Padi Non Padi Hibrida<br />

Hibrida Hanya<br />

Peningkatan Bantuan<br />

IP<br />

Benih<br />

1 ACEH 147.200 1.800 1.000 14.150<br />

Dinas Provinsi 1.800 1.000<br />

1 Kab. Aceh Barat 3.500<br />

-<br />

500<br />

450<br />

2 Kab. Aceh Besar 13.600<br />

-<br />

-<br />

450<br />

3 Kab. Aceh Selatan 12.500<br />

-<br />

- 1.430<br />

4 Kab. Aceh Singkil 2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Aceh Tengah 2.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Aceh Tenggara 7.400<br />

600<br />

-<br />

950<br />

7 Kab. Aceh Timur 15.500<br />

-<br />

-<br />

950<br />

8 Kab. Aceh Utara 17.400<br />

600<br />

- 1.430<br />

9 Kab. Bireuen 10.000<br />

-<br />

-<br />

950<br />

10 Kab. Aceh Pidie 15.000<br />

-<br />

- 1.430<br />

11 Kab. Simeuleu 3.000<br />

-<br />

-<br />

950<br />

12 Kab. Gayo Lues 4.000<br />

-<br />

-<br />

950<br />

13 Kab. Aceh Barat Daya 7.400<br />

600<br />

- 1.430<br />

14 Kab. Aceh Jaya 3.500<br />

-<br />

500<br />

450<br />

15 Kab. Nagan Raya 12.000<br />

-<br />

- 1.430<br />

16 Kab. Aceh Tamiang 7.000<br />

-<br />

-<br />

450<br />

17 Kab. Bener Meriah 1.200<br />

-<br />

-<br />

-<br />

18 Kab. Pidie Jaya 7.200<br />

-<br />

-<br />

450<br />

19 Kota Banda Aceh -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

20 Kota Sabang -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

21 Kota Langsa -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

22 Kota Lhokseumawe -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

23 Kota Sibulussalam 2.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

24 Kota Meulaboh -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 SUMUT 137.900 1.100 1.000 14.000<br />

Dinas Propinsi 1.100 1.000<br />

1 Kab. Asahan 8.400<br />

-<br />

500<br />

750<br />

2 Kab. Dairi 3.750<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Deli Serdang 11.450<br />

-<br />

-<br />

750<br />

4 Kab. Tanah Karo 4.450<br />

-<br />

- 1.500<br />

5 Kab. Labuhan Batu 5.150<br />

550<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Langkat 9.700<br />

550<br />

- 1.500<br />

7 Kab. Mandailing Natal 9.550<br />

-<br />

-<br />

750<br />

8 Kab. Nias 4.200<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kab. Simalungun 8.500<br />

-<br />

- 2.000<br />

10 Kab. Tapanuli Selatan 7.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

11 Kab. Tapanuli Tengah 9.000<br />

-<br />

-<br />

750<br />

12 Kab. Tapanuli Utara 8.250<br />

-<br />

- 1.000<br />

13 Kab. Toba Samosir 3.150<br />

-<br />

-<br />

750<br />

14 Kab. Pakpak Barat 1.350<br />

-<br />

-<br />

-<br />

15 Kab. Humbang Hasundutan 3.150<br />

-<br />

-<br />

750<br />

16 Kab. Serdang Bedagai 7.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

17 Kab. Padang lawas 4.450<br />

-<br />

-<br />

750<br />

18 Kota Binjai -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

19 Kota Medan -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

20 Kota Pematang Siantar -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

21 Kota Sibolga -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

22 Kota Tanjung Balai -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

23 Kota Tebing Tinggi -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

24 Kota Padang Sidempuan 2.500<br />

-<br />

-<br />

500<br />

25 Kota Gunung Sitoli -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

26 Kab. Nias Selatan 5.600<br />

-<br />

-<br />

-<br />

27 Kab. Samosir 3.150<br />

-<br />

-<br />

-<br />

28 Kab Padang Lawas Utara 2.650<br />

-<br />

500<br />

750<br />

29 Kab. Labuhan Batu Selatan -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

30 Kab. Labuhan Batu Utara 3.750<br />

-<br />

-<br />

-<br />

31 Kab Nias Barat 4.150<br />

-<br />

-<br />

-<br />

32 Kab. Nias Utara 3.150<br />

-<br />

-<br />

-<br />

33 Kab. Batu Bara 4.450<br />

-<br />

- 1.500<br />

34 Kota Sidikalang -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

35 Kota Lubukpakam -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

36 Kota Stabat -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

37 Kota Tarutung -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Padi Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

Padi Lahan<br />

Kering Hanya<br />

Bantuan<br />

Benih<br />

850 10.000<br />

850<br />

50<br />

500<br />

50<br />

300<br />

70<br />

500<br />

-<br />

500<br />

-<br />

200<br />

50<br />

975<br />

50 3.100<br />

70<br />

500<br />

50<br />

-<br />

70<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

70<br />

-<br />

50<br />

575<br />

70<br />

800<br />

50<br />

250<br />

-<br />

500<br />

50 1.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

300<br />

-<br />

-<br />

- 7.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

450<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

200<br />

-<br />

100<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

- 1.450<br />

-<br />

500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

900<br />

-<br />

500<br />

-<br />

100<br />

-<br />

100<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

- 1.450<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

500<br />

-<br />

-<br />

- 1.250<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Jagung<br />

Hibrida (Ha)<br />

2.175<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

875<br />

350<br />

150<br />

150<br />

150<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

300<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

200<br />

-<br />

10.050<br />

-<br />

1.500<br />

900<br />

1.500<br />

300<br />

-<br />

600<br />

-<br />

1.500<br />

300<br />

-<br />

525<br />

150<br />

450<br />

-<br />

750<br />

300<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

300<br />

225<br />

-<br />

-<br />

225<br />

225<br />

300<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Kedelai (Ha)<br />

32.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2.500<br />

2.500<br />

11.000<br />

6.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2.500<br />

1.000<br />

7.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8.000<br />

300<br />

-<br />

2.000<br />

-<br />

-<br />

2.500<br />

500<br />

-<br />

500<br />

400<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

1.000<br />

300<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Kedelai<br />

Model<br />

249<br />

49<br />

50<br />

100<br />

50<br />

-<br />

Pengembangan (Ha)<br />

Kacang<br />

Tanah<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Kayu<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Jalar<br />

-<br />

-<br />

Pemberdayaan Penangkar<br />

(Ha)<br />

Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />

Sarana<br />

Pengendalian<br />

Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar OPT (kali)<br />

550<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

50<br />

100<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

700<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

100<br />

100<br />

-<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

125<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

125<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

21<br />

4<br />

2<br />

-<br />

-<br />

2<br />

4<br />

4<br />

2<br />

3<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

19<br />

1<br />

4<br />

2<br />

4<br />

2<br />

-<br />

4<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

2<br />

1<br />

1<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

3<br />

SLPHT<br />

(unit)<br />

82<br />

110<br />

SLI<br />

(unit)<br />

97 | P a g e<br />

6<br />

7


No.<br />

Padi Non<br />

Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />

Hibrida Hanya<br />

Bantuan Benih<br />

Padi Non<br />

Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

SLPTT Padi (Ha)<br />

Padi Non Padi Hibrida<br />

Hibrida Hanya<br />

Peningkatan Bantuan<br />

IP<br />

Benih<br />

3 SUMBAR 97.800 1.200 1.000<br />

-<br />

Dinas Propinsi 1.200 1.000<br />

1 Kab. Lima Puluh Kota 8.900<br />

600<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Agam 9.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Kep Mentawai -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Padang Pariaman 8.900<br />

600<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Pasaman 9.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Pesisir Selatan 9.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Sijunjung 7.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Solok 9.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kab. Tanah Datar 9.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kab. Dharmas Raya 7.500<br />

-<br />

500<br />

-<br />

11 Kab. Solok Selatan 5.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

12 Kab. Pasaman Barat 4.750<br />

-<br />

500<br />

-<br />

13 Kota Bukit Tinggi -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

14 Kota Padang Panjang -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

15 Kota Padang 2.900<br />

-<br />

-<br />

-<br />

16 Kota Payakumbuh 2.850<br />

-<br />

-<br />

-<br />

17 Kota Sawahlunto -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

18 Kota Solok -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

19 Kota Pariaman 2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

20 Kota Painan -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

21 Kota Lubuk Sikaping -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 RIAU 48.400 1.100<br />

500 1.200<br />

Dinas Propinsi 1.100<br />

500<br />

1 Kab. Bengkalis 4.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Indragiri Hilir 8.950<br />

550<br />

-<br />

400<br />

3 Kab. Indragiri Hulu 3.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Kampar 3.000<br />

-<br />

-<br />

400<br />

5 Kab. Kuantan Singingi 4.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Pelalawan 4.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Rokan Hilir 10.450<br />

550<br />

-<br />

400<br />

8 Kab. Rokan Hulu 4.000<br />

-<br />

500<br />

-<br />

9 Kab. Siak 4.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kota Dumai -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

11 Kota Pekanbaru -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

12 Kota Rengat -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

13 Kab Meranti 2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Padi Lahan<br />

Padi Hibrida<br />

Kering Hanya<br />

Spesifik<br />

Bantuan<br />

Lokasi<br />

Benih<br />

- 10.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

- 1.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

- 2.500<br />

-<br />

-<br />

- 1.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

- 1.000<br />

- 1.500<br />

- 3.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

300 9.500<br />

300<br />

-<br />

-<br />

100<br />

-<br />

-<br />

-<br />

100 3.000<br />

-<br />

500<br />

- 1.000<br />

100<br />

-<br />

- 4.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

500<br />

SLPTT<br />

Jagung<br />

Hibrida (Ha)<br />

8.175<br />

750<br />

750<br />

-<br />

-<br />

1.200<br />

1.350<br />

225<br />

300<br />

750<br />

750<br />

900<br />

1.200<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

1.155<br />

-<br />

180<br />

-<br />

240<br />

-<br />

225<br />

180<br />

180<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

150<br />

SLPTT<br />

Kedelai (Ha)<br />

1.150<br />

-<br />

100<br />

-<br />

-<br />

350<br />

250<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

400<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3.800<br />

-<br />

250<br />

250<br />

100<br />

-<br />

-<br />

1.500<br />

1.700<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Kedelai<br />

Model<br />

-<br />

250<br />

250<br />

Pengembangan (Ha)<br />

Kacang<br />

Tanah<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Kayu<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Jalar<br />

-<br />

-<br />

Pemberdayaan Penangkar<br />

(Ha)<br />

Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />

600<br />

50<br />

50<br />

-<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

50<br />

50<br />

50<br />

100<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

150<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

13<br />

2<br />

2<br />

-<br />

2<br />

2<br />

1<br />

-<br />

2<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7<br />

2<br />

-<br />

2<br />

1<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />

4<br />

1<br />

1<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Sarana<br />

Pengendalian<br />

OPT (kali)<br />

2<br />

2<br />

SLPHT<br />

(unit)<br />

76<br />

30<br />

SLI<br />

(unit)<br />

98 | P a g e<br />

4<br />

2


No.<br />

Padi Non<br />

Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />

Hibrida Hanya<br />

Bantuan Benih<br />

Padi Non<br />

Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

SLPTT Padi (Ha)<br />

Padi Non Padi Hibrida<br />

Hibrida Hanya<br />

Peningkatan Bantuan<br />

IP<br />

Benih<br />

5 JAMBI 58.400 1.100<br />

500 2.500<br />

Dinas Propinsi 1.100<br />

500<br />

1 Kab. Batanghari 3.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Bungo 3.500<br />

-<br />

-<br />

500<br />

3 Kab. Kerinci 8.750<br />

-<br />

-<br />

500<br />

4 Kab. Merangin 6.000<br />

-<br />

-<br />

500<br />

5 Kab. Muaro Jambi 3.500<br />

-<br />

500<br />

-<br />

6 Kab. Sarolangun 3.450<br />

550<br />

- 1.000<br />

7 Kab. Tanjung Jabung Barat 6.950<br />

550<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Tj. Jabung Timur 15.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kab. Tebo 2.750<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kota Jambi 1.875<br />

-<br />

-<br />

-<br />

11 Kota Sungai Penuh 3.125<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 SUMSEL 147.200 1.800 1.000 11.900<br />

Dinas Propinsi 1.800 1.000<br />

1 Kab. Lahat 14.500<br />

-<br />

500<br />

-<br />

2 Kab. Musi Banyuasin 13.400<br />

600<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Musi Rawas 12.000<br />

-<br />

- 2.400<br />

4 Kab. Muara Enim 13.400<br />

600<br />

-<br />

500<br />

5 Kab. Ogan Komering Ilir 11.900<br />

-<br />

500 1.400<br />

6 Kab. Ogan Komering Ulu 4.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Banyuasin 16.000<br />

-<br />

- 1.400<br />

8 Kab. OKU Timur 20.000<br />

600<br />

- 3.400<br />

9 Kab. OKU Selatan 12.000<br />

-<br />

- 1.400<br />

10 Kab. Ogan Ilir 10.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

11 Kab. Empat lawang 11.500<br />

-<br />

- 1.400<br />

12 Kota Palembang 2.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

13 Kota Prabumulih -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

14 Kota Pagar Alam 4.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

15 Kota Lubuk Linggau 2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

16 Kab Baturaja -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 BENGKULU 48.900 1.100<br />

- 1.000<br />

Dinas Propinsi 1.100<br />

-<br />

1 Kab. Bengkulu Selatan 5.350<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Bengkulu Utara 9.250<br />

-<br />

-<br />

500<br />

3 Kab. Rejang Lebong 4.250<br />

-<br />

-<br />

500<br />

4 Kab. Kaur 4.600<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Seluma 8.700<br />

550<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Muko-muko 4.650<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Lebong 3.950<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Kepahiang 2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kab Bengkulu Tengah 3.450<br />

550<br />

-<br />

-<br />

10 Kota Bengkulu 2.700<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Padi Lahan<br />

Padi Hibrida<br />

Kering Hanya<br />

Spesifik<br />

Bantuan<br />

Lokasi<br />

Benih<br />

- 12.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

- 2.000<br />

- 2.000<br />

- 3.500<br />

-<br />

-<br />

- 3.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

- 2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

600 20.000<br />

600<br />

- 2.300<br />

- 2.050<br />

100 2.300<br />

- 2.300<br />

100 2.650<br />

- 2.300<br />

100 1.250<br />

100 1.000<br />

100 2.300<br />

-<br />

-<br />

100 1.550<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

- 7.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

- 2.000<br />

-<br />

500<br />

-<br />

500<br />

-<br />

500<br />

- 1.000<br />

-<br />

750<br />

-<br />

-<br />

- 2.250<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Jagung<br />

Hibrida (Ha)<br />

1.500<br />

-<br />

300<br />

300<br />

-<br />

375<br />

150<br />

150<br />

225<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3.525<br />

-<br />

900<br />

300<br />

225<br />

450<br />

300<br />

750<br />

375<br />

225<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

1.875<br />

-<br />

300<br />

525<br />

-<br />

450<br />

300<br />

-<br />

300<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Kedelai (Ha)<br />

6.000<br />

550<br />

400<br />

-<br />

550<br />

500<br />

100<br />

1.000<br />

2.200<br />

700<br />

-<br />

-<br />

4.800<br />

1.900<br />

-<br />

500<br />

400<br />

500<br />

-<br />

-<br />

600<br />

400<br />

-<br />

500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2.500<br />

-<br />

-<br />

1.500<br />

250<br />

250<br />

-<br />

250<br />

-<br />

250<br />

-<br />

Kedelai<br />

Model<br />

250<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

150<br />

100<br />

50<br />

-<br />

Pengembangan (Ha)<br />

Kacang<br />

Tanah<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Kayu<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Jalar<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Pemberdayaan Penangkar<br />

(Ha)<br />

Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />

350<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

350<br />

-<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

200<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

175<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

-<br />

-<br />

7<br />

-<br />

2<br />

2<br />

-<br />

2<br />

1<br />

-<br />

27<br />

2<br />

4<br />

3<br />

3<br />

1<br />

3<br />

4<br />

4<br />

3<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5<br />

1<br />

1<br />

1<br />

-<br />

1<br />

-<br />

1<br />

-<br />

Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />

-<br />

-<br />

-<br />

1<br />

1<br />

1<br />

1<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Sarana<br />

Pengendalian<br />

OPT (kali)<br />

3<br />

3<br />

2<br />

SLPHT<br />

(unit)<br />

44<br />

65<br />

29<br />

SLI<br />

(unit)<br />

99 | P a g e<br />

2<br />

4<br />

2


No.<br />

Padi Non<br />

Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />

Hibrida Hanya<br />

Bantuan Benih<br />

Padi Non<br />

Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

SLPTT Padi (Ha)<br />

Padi Non Padi Hibrida<br />

Hibrida Hanya<br />

Peningkatan Bantuan<br />

IP<br />

Benih<br />

8 LAMPUNG 147.350 1.650 1.000 14.700<br />

Dinas Propinsi 1.650 1.000<br />

1 Kab. Lampung Barat 11.950<br />

550<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Lampung Selatan 17.000<br />

-<br />

500 1.970<br />

3 Kab. Lampung Tengah 17.450<br />

550<br />

- 2.470<br />

4 Kab. Lampung Utara 12.000<br />

-<br />

- 1.470<br />

5 Kab. Lampung Timur 18.000<br />

-<br />

500 1.470<br />

6 Kab. Tanggamus 12.500<br />

-<br />

-<br />

970<br />

7 Kab. Tulang Bawang 11.950<br />

550<br />

-<br />

970<br />

8 Kab. Way Kanan 12.500<br />

-<br />

-<br />

970<br />

9 Kab. Pesawaran 10.000<br />

-<br />

- 1.970<br />

10 Kab. Mesuji 7.500<br />

-<br />

- 1.470<br />

11 Kab. Pringsewu 10.000<br />

-<br />

-<br />

970<br />

12 Kab. Tulangbawang Barat 6.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

13 Kota Bandar Lampung -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

14 Kota Metro -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 DKI -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Dinas Propinsi -<br />

-<br />

1 Kab Adm Kep Seribu -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 Kota Adm Jakarta Barat -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kota Adm Jakarta Pusat -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kota Adm Jakarta Selatan -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5 Kota Adm Jakarta Timur -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kota Adm Jakarta Utara -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 JABAR 197.500 1.500 1.000 18.880<br />

Dinas Propinsi 1.500 1.000<br />

1 Kab. Bandung 10.000<br />

-<br />

- 1.430<br />

2 Kab. Bekasi 11.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Bogor 8.000<br />

-<br />

- 1.430<br />

4 Kab. Ciamis 12.000<br />

-<br />

- 1.430<br />

5 Kab. Cianjur 10.000<br />

500<br />

- 1.430<br />

6 Kab. Cirebon 11.750<br />

-<br />

500<br />

930<br />

7 Kab. Garut 12.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Indramayu 19.500<br />

500<br />

-<br />

930<br />

9 Kab. Karawang 18.250<br />

-<br />

- 1.180<br />

10 Kab. Kuningan 8.000<br />

-<br />

- 1.430<br />

11 Kab. Majalengka 12.500<br />

-<br />

- 1.430<br />

12 Kab. Purwakarta 7.000<br />

-<br />

-<br />

930<br />

13 Kab. Subang 14.500<br />

500<br />

-<br />

930<br />

14 Kab. Sukabumi 12.500<br />

-<br />

- 1.430<br />

15 Kab. Sumedang 9.625<br />

-<br />

- 1.430<br />

16 Kab. Tasikmalaya 12.000<br />

-<br />

- 1.430<br />

17 Kota Banjar -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

18 Kab. Bandung Barat 6.500<br />

-<br />

500<br />

930<br />

19 Kota Cimahi -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

20 Kota Tasikmalaya 1.250<br />

-<br />

-<br />

180<br />

21 Kota Bandung -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

22 Kota Bekasi -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

23 Kota Bogor -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

24 Kota Cirebon -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

25 Kota Depok -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

26 Kota Sukabumi 625<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

1.120<br />

1.120<br />

70<br />

-<br />

70<br />

70<br />

70<br />

70<br />

-<br />

70<br />

70<br />

70<br />

70<br />

70<br />

70<br />

70<br />

70<br />

70<br />

-<br />

70<br />

-<br />

70<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Padi Lahan<br />

Padi Hibrida<br />

Kering Hanya<br />

Spesifik<br />

Bantuan<br />

Lokasi<br />

Benih<br />

300<br />

300<br />

12.500<br />

- 1.000<br />

30 1.500<br />

30 2.000<br />

30 1.500<br />

30 1.500<br />

30<br />

300<br />

30 1.000<br />

30 1.500<br />

30 1.500<br />

30<br />

-<br />

30<br />

200<br />

-<br />

500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50.000<br />

3.750<br />

-<br />

500<br />

3.125<br />

6.250<br />

250<br />

8.750<br />

5.000<br />

1.250<br />

1.250<br />

500<br />

1.875<br />

1.250<br />

7.500<br />

3.750<br />

2.500<br />

-<br />

2.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Jagung<br />

Hibrida (Ha)<br />

14.550<br />

375<br />

2.250<br />

2.625<br />

1.350<br />

2.625<br />

1.275<br />

975<br />

975<br />

1.200<br />

-<br />

450<br />

450<br />

-<br />

-<br />

-<br />

11.850<br />

1.350<br />

-<br />

750<br />

750<br />

750<br />

-<br />

2.250<br />

-<br />

-<br />

-<br />

1.500<br />

525<br />

-<br />

975<br />

1.500<br />

1.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Kedelai (Ha)<br />

6.000<br />

-<br />

1.350<br />

1.600<br />

1.100<br />

750<br />

-<br />

600<br />

600<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

21.260<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2.500<br />

5.000<br />

-<br />

5.000<br />

2.000<br />

-<br />

260<br />

1.500<br />

-<br />

1.000<br />

1.000<br />

1.500<br />

1.000<br />

-<br />

500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Kedelai<br />

Model<br />

300<br />

50<br />

150<br />

100<br />

-<br />

375<br />

100<br />

50<br />

100<br />

100<br />

25<br />

Pengembangan (Ha)<br />

Kacang<br />

Tanah<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Kayu<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Jalar<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Pemberdayaan Penangkar<br />

(Ha)<br />

Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />

550<br />

50<br />

100<br />

50<br />

50<br />

100<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

650<br />

-<br />

-<br />

-<br />

100<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

50<br />

100<br />

-<br />

-<br />

100<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

125<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

-<br />

300<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

26<br />

3<br />

3<br />

4<br />

2<br />

3<br />

2<br />

2<br />

2<br />

2<br />

1<br />

1<br />

1<br />

-<br />

-<br />

-<br />

45<br />

2<br />

2<br />

3<br />

3<br />

4<br />

4<br />

3<br />

4<br />

1<br />

2<br />

3<br />

4<br />

3<br />

2<br />

3<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />

-<br />

-<br />

-<br />

1<br />

1<br />

-<br />

2<br />

1<br />

1<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Sarana<br />

Pengendalian<br />

OPT (kali)<br />

2<br />

1<br />

3<br />

SLPHT<br />

(unit)<br />

65<br />

3<br />

179<br />

SLI<br />

(unit)<br />

100 | P a g e<br />

3<br />

-<br />

14


No.<br />

Padi Non<br />

Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />

Hibrida Hanya<br />

Bantuan Benih<br />

Padi Non<br />

Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

SLPTT Padi (Ha)<br />

Padi Non Padi Hibrida<br />

Hibrida Hanya<br />

Peningkatan Bantuan<br />

IP<br />

Benih<br />

11 JATENG 198.000 1.000 1.000 18.040<br />

Dinas Propinsi 1.000 1.000<br />

1 Kab. Banjarnegara 8.500<br />

-<br />

- 1.080<br />

2 Kab. Banyumas 8.500<br />

-<br />

-<br />

480<br />

3 Kab. Batang 2.875<br />

-<br />

-<br />

680<br />

4 Kab. Blora 3.500<br />

500<br />

-<br />

930<br />

5 Kab. Boyolali 8.000<br />

-<br />

-<br />

130<br />

6 Kab. Brebes 10.000<br />

-<br />

-<br />

430<br />

7 Kab. Cilacap 12.500<br />

-<br />

- 1.430<br />

8 Kab. Demak 8.000<br />

-<br />

-<br />

430<br />

9 Kab. Grobogan 9.500<br />

-<br />

-<br />

680<br />

10 Kab. Jepara 5.000<br />

-<br />

-<br />

430<br />

11 Kab. Karanganyar 7.000<br />

-<br />

-<br />

880<br />

12 Kab. Kebumen 9.000<br />

-<br />

-<br />

430<br />

13 Kab. Kendal 6.125<br />

-<br />

-<br />

430<br />

14 Kab. Klaten 7.000<br />

-<br />

-<br />

330<br />

15 Kab. Kudus 3.500<br />

-<br />

500<br />

430<br />

16 Kab. Magelang 7.500<br />

-<br />

500<br />

430<br />

17 Kab. Pati 6.500<br />

-<br />

-<br />

430<br />

18 Kab. Pekalongan 4.500<br />

-<br />

-<br />

430<br />

19 Kab. Pemalang 8.000<br />

500<br />

-<br />

430<br />

20 Kab. Purbalingga 8.000<br />

-<br />

-<br />

430<br />

21 Kab. Purworejo 8.500<br />

-<br />

-<br />

430<br />

22 Kab. Rembang 5.500<br />

-<br />

-<br />

680<br />

23 Kab. Semarang 6.500<br />

-<br />

- 1.430<br />

24 Kab. Sragen 10.000<br />

-<br />

-<br />

430<br />

25 Kab. Sukoharjo 6.250<br />

-<br />

-<br />

430<br />

26 Kab. Tegal 3.750<br />

-<br />

-<br />

-<br />

27 Kab. Temanggung 4.500<br />

-<br />

- 2.430<br />

28 Kab. Wonogiri 5.500<br />

-<br />

-<br />

430<br />

29 Kab. Wonosobo 4.000<br />

-<br />

-<br />

430<br />

30 Kota Tegal -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

31 Kota Magelang -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

32 Kota Pekalongan -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

33 Kota Salatiga -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

34 Kota Semarang -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

35 Kota Surakarta -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

12 DI YOGYAKARTA 33.500 1.000<br />

500 2.000<br />

Dinas Propinsi 1.000<br />

500<br />

1 Kab. Bantul 10.625<br />

375<br />

-<br />

500<br />

2 Kab. Gunung Kidul 3.000<br />

-<br />

500<br />

500<br />

3 Kab. Kulon Progo 7.625<br />

375<br />

-<br />

500<br />

4 Kab. Sleman 12.250<br />

250<br />

-<br />

500<br />

5 Kota Yogyakarta -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Padi Lahan<br />

Padi Hibrida<br />

Kering Hanya<br />

Spesifik<br />

Bantuan<br />

Lokasi<br />

Benih<br />

1.960<br />

1.960<br />

45.125<br />

70 2.500<br />

70 3.300<br />

70<br />

-<br />

70 4.200<br />

70 3.300<br />

70 1.600<br />

70 5.000<br />

70 3.300<br />

70 4.150<br />

70<br />

-<br />

70<br />

250<br />

70 5.000<br />

70<br />

850<br />

70<br />

-<br />

70<br />

75<br />

70<br />

-<br />

70<br />

850<br />

70<br />

-<br />

70 2.000<br />

70<br />

850<br />

70<br />

-<br />

70<br />

850<br />

70<br />

700<br />

70<br />

-<br />

70<br />

-<br />

-<br />

-<br />

70<br />

850<br />

70 5.500<br />

70<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

20.000<br />

-<br />

50<br />

- 19.700<br />

-<br />

175<br />

-<br />

75<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Jagung<br />

Hibrida (Ha)<br />

27.600<br />

1.500<br />

450<br />

450<br />

1.500<br />

1.050<br />

1.200<br />

675<br />

1.500<br />

1.800<br />

975<br />

975<br />

975<br />

1.500<br />

750<br />

525<br />

600<br />

750<br />

750<br />

900<br />

900<br />

450<br />

1.050<br />

900<br />

900<br />

525<br />

750<br />

1.050<br />

1.500<br />

750<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2.100<br />

375<br />

900<br />

450<br />

375<br />

-<br />

SLPTT<br />

Kedelai (Ha)<br />

51.000<br />

500<br />

2.000<br />

-<br />

3.500<br />

2.500<br />

1.000<br />

2.500<br />

3.000<br />

10.000<br />

-<br />

-<br />

5.000<br />

1.000<br />

2.500<br />

-<br />

-<br />

2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4.000<br />

2.000<br />

-<br />

1.500<br />

2.000<br />

-<br />

-<br />

6.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7.100<br />

1.100<br />

5.000<br />

1.000<br />

-<br />

-<br />

Kedelai<br />

Model<br />

100<br />

50<br />

50<br />

100<br />

100<br />

Pengembangan (Ha)<br />

Kacang<br />

Tanah<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Kayu<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Jalar<br />

-<br />

-<br />

Pemberdayaan Penangkar<br />

(Ha)<br />

Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />

500<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

100<br />

-<br />

-<br />

100<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

200<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

100<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

425<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

75<br />

25<br />

25<br />

25<br />

61<br />

2<br />

3<br />

2<br />

2<br />

2<br />

2<br />

4<br />

2<br />

2<br />

2<br />

2<br />

2<br />

2<br />

2<br />

2<br />

2<br />

3<br />

2<br />

2<br />

2<br />

2<br />

2<br />

3<br />

3<br />

2<br />

1<br />

2<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5<br />

2<br />

1<br />

2<br />

Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />

-<br />

3<br />

2<br />

1<br />

-<br />

3<br />

2<br />

1<br />

2<br />

1<br />

1<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Sarana<br />

Pengendalian<br />

OPT (kali)<br />

3<br />

3<br />

SLPHT<br />

(unit)<br />

173<br />

38<br />

SLI<br />

(unit)<br />

18<br />

101 | P a g e<br />

3


No.<br />

Padi Non<br />

Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />

Hibrida Hanya<br />

Bantuan Benih<br />

Padi Non<br />

Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

SLPTT Padi (Ha)<br />

Padi Non Padi Hibrida<br />

Hibrida Hanya<br />

Peningkatan Bantuan<br />

IP<br />

Benih<br />

13 JATIM 197.000 2.000 1.000 74.440<br />

Dinas Propinsi 2.000 1.000<br />

1 Kab. Bangkalan 4.000<br />

-<br />

- 1.480<br />

2 Kab. Banyuwangi 7.000<br />

-<br />

- 4.980<br />

3 Kab. Blitar 6.500<br />

-<br />

- 2.480<br />

4 Kab. Bojonegoro 9.000<br />

-<br />

- 4.980<br />

5 Kab. Bondowoso 4.500<br />

-<br />

- 2.480<br />

6 Kab. Gresik 9.000<br />

-<br />

- 2.480<br />

7 Kab. Jember 17.500<br />

-<br />

- 5.980<br />

8 Kab. Jombang 16.500<br />

-<br />

- 2.980<br />

9 Kab. Kediri 4.000<br />

-<br />

500 2.480<br />

10 Kab. Lamongan 15.500<br />

-<br />

- 5.980<br />

11 Kab. Lumajang 7.500<br />

500<br />

- 1.980<br />

12 Kab. Madiun 5.500<br />

-<br />

- 4.980<br />

13 Kab. Magetan 11.000<br />

-<br />

- 1.480<br />

14 Kab. Malang 4.000<br />

-<br />

- 1.980<br />

15 Kab. Mojokerto 4.000<br />

-<br />

- 1.480<br />

16 Kab. Nganjuk 8.000<br />

500<br />

- 1.980<br />

17 Kab. Ngawi 5.000<br />

-<br />

- 4.980<br />

18 Kab. Pacitan 4.500<br />

-<br />

-<br />

980<br />

19 Kab. Pamekasan 1.000<br />

-<br />

-<br />

480<br />

20 Kab. Pasuruan 6.500<br />

-<br />

- 2.980<br />

21 Kab. Ponorogo 11.000<br />

-<br />

- 3.980<br />

22 Kab. Probolinggo 8.500<br />

500<br />

- 1.480<br />

23 Kab. Sampang 4.000<br />

-<br />

- 1.980<br />

24 Kab. Sidoarjo 2.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

25 Kab. Situbondo 8.000<br />

-<br />

500 1.480<br />

26 Kab. Sumenep 1.500<br />

-<br />

-<br />

980<br />

27 Kab. Trenggalek 2.500<br />

-<br />

- 1.480<br />

28 Kab. Tuban 5.000<br />

500<br />

-<br />

980<br />

29 Kab. Tulungagung 3.500<br />

-<br />

- 2.480<br />

30 Kota Blitar -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

31 Kota Kediri -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

32 Kota Malang -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

33 Kota Mojokerto -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

34 Kota Pasuruan -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

35 Kota Probolinggo -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

36 Kota Surabaya -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

37 Kota Batu -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

38 Kota Madiun -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

14 KALBAR 97.450 1.800<br />

750 5.300<br />

Dinas Propinsi 1.800<br />

750<br />

1 Kab. Bengkayang 10.000<br />

-<br />

-<br />

800<br />

2 Kab. Landak 14.000<br />

600<br />

- 1.000<br />

3 Kab. Kapuas Hulu 4.000<br />

-<br />

-<br />

200<br />

4 Kab. Ketapang 6.500<br />

-<br />

-<br />

400<br />

5 Kab. Pontianak 5.000<br />

-<br />

-<br />

300<br />

6 Kab. Sambas 22.000<br />

600<br />

-<br />

400<br />

7 Kab. Sanggau 6.500<br />

-<br />

500<br />

-<br />

8 Kab. Sintang 6.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kab. Melawi 4.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kab. Sekadau 2.000<br />

-<br />

250<br />

-<br />

11 Kab. Kubu Raya 12.450<br />

600<br />

- 1.550<br />

12 Kab. Kayong Utara 4.000<br />

-<br />

-<br />

650<br />

13 Kota Pontianak -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

14 Kota Singkawang -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

15 KALTENG 48.900 1.100<br />

-<br />

200<br />

Dinas Propinsi 1.100<br />

-<br />

1 Kab. Barito Selatan 5.000<br />

-<br />

-<br />

50<br />

2 Kab. Barito Utara 2.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Kapuas 8.825<br />

550<br />

-<br />

150<br />

4 Kab. Kotawaringin Barat 3.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Kotawaringin Timur 3.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Katingan 5.625<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Seruyan 1.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Sukamara 2.875<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kab. Lamandau 2.875<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kab. Pulang Pisau 4.450<br />

550<br />

-<br />

-<br />

11 Kab. Murung Raya 1.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

12 Kab. Barito Timur 3.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

13 Kab. Gunung Mas 3.250<br />

-<br />

-<br />

-<br />

14 Kota Palangka Raya -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Padi Lahan<br />

Padi Hibrida<br />

Kering Hanya<br />

Spesifik<br />

Bantuan<br />

Lokasi<br />

Benih<br />

560 62.500<br />

560<br />

20 1.700<br />

20<br />

-<br />

20 3.500<br />

20 2.675<br />

20<br />

-<br />

20<br />

-<br />

20<br />

-<br />

20<br />

-<br />

20<br />

-<br />

20 9.000<br />

20 4.000<br />

20<br />

-<br />

20<br />

-<br />

20<br />

825<br />

20 1.775<br />

20 4.300<br />

20<br />

-<br />

20 10.675<br />

20 1.775<br />

20<br />

-<br />

20<br />

-<br />

20<br />

-<br />

20 4.450<br />

-<br />

-<br />

20 8.875<br />

20<br />

450<br />

20 5.200<br />

20<br />

-<br />

20 3.300<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

700 20.000<br />

700<br />

100 3.500<br />

100 3.000<br />

- 2.800<br />

100 2.200<br />

100<br />

300<br />

100<br />

-<br />

- 3.300<br />

- 2.750<br />

- 1.500<br />

-<br />

650<br />

100<br />

-<br />

100<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

300 20.000<br />

300<br />

100 1.000<br />

- 3.250<br />

200 5.125<br />

- 1.250<br />

- 2.000<br />

- 3.250<br />

-<br />

500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

- 2.250<br />

- 1.375<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Jagung<br />

Hibrida (Ha)<br />

29.850<br />

1.500<br />

1.350<br />

1.050<br />

1.200<br />

1.050<br />

975<br />

1.050<br />

1.050<br />

1.050<br />

1.050<br />

750<br />

300<br />

525<br />

1.350<br />

900<br />

900<br />

450<br />

750<br />

1.050<br />

900<br />

600<br />

1.500<br />

1.500<br />

150<br />

1.500<br />

1.800<br />

750<br />

1.500<br />

1.350<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2.850<br />

900<br />

300<br />

-<br />

225<br />

-<br />

-<br />

225<br />

225<br />

150<br />

225<br />

600<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Kedelai (Ha)<br />

121.300<br />

1.500<br />

21.000<br />

5.000<br />

9.750<br />

-<br />

-<br />

11.000<br />

6.000<br />

-<br />

12.500<br />

1.000<br />

5.000<br />

1.500<br />

-<br />

2.000<br />

8.000<br />

10.000<br />

1.000<br />

-<br />

7.500<br />

2.800<br />

-<br />

4.250<br />

500<br />

-<br />

3.000<br />

2.000<br />

2.000<br />

4.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

1.300<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

1.000<br />

-<br />

100<br />

-<br />

-<br />

100<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2.300<br />

300<br />

-<br />

500<br />

-<br />

-<br />

150<br />

-<br />

-<br />

900<br />

300<br />

-<br />

150<br />

-<br />

-<br />

Kedelai<br />

Model<br />

170<br />

70<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

Pengembangan (Ha)<br />

Kacang<br />

Tanah<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Kayu<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Jalar<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Pemberdayaan Penangkar<br />

(Ha)<br />

Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />

550<br />

-<br />

50<br />

100<br />

-<br />

-<br />

-<br />

100<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

650<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

100<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

100<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

425<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

-<br />

54<br />

4<br />

2<br />

2<br />

2<br />

2<br />

5<br />

3<br />

2<br />

1<br />

3<br />

3<br />

2<br />

1<br />

3<br />

3<br />

1<br />

2<br />

2<br />

3<br />

2<br />

2<br />

2<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10<br />

2<br />

2<br />

-<br />

1<br />

3<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

-<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />

2<br />

2<br />

-<br />

-<br />

3<br />

2<br />

1<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Sarana<br />

Pengendalian<br />

OPT (kali)<br />

3<br />

3<br />

2<br />

SLPHT<br />

(unit)<br />

190<br />

55<br />

30<br />

SLI<br />

(unit)<br />

16<br />

102 | P a g e<br />

3<br />

3


No.<br />

Padi Non<br />

Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />

Hibrida Hanya<br />

Bantuan Benih<br />

Padi Non<br />

Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

SLPTT Padi (Ha)<br />

Padi Non Padi Hibrida<br />

Hibrida Hanya<br />

Peningkatan Bantuan<br />

IP<br />

Benih<br />

16 KALSEL 137.350 1.650 1.000<br />

-<br />

Dinas Propinsi 1.650 1.000<br />

1 Kab. Banjar 9.500<br />

-<br />

500<br />

-<br />

2 Kab. Barito Kuala 14.450<br />

550<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Hulu Sungai Selatan 20.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Hulu Sungai Tengah 15.000<br />

-<br />

500<br />

-<br />

5 Kab. Hulu Sungai Utara 10.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Kota Baru 10.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Tabalong 11.450<br />

550<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Tanah Laut 12.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kab. Tapin 16.950<br />

550<br />

-<br />

-<br />

10 Kab. Balangan 10.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

11 Kab. Tanah Bumbu 8.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

12 Kota Banjarmasin -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

13 Kota Banjar Baru -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

14 Kab Tala -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

17 KALTIM 33.525 1.100<br />

- 1.700<br />

Dinas Propinsi 1.100<br />

-<br />

1 Kab. Berau 3.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Bulungan 5.450<br />

550<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Kutai Barat 2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Kutai Timur 2.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Malinau 2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Nunukan 2.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Pasir 4.450<br />

550<br />

-<br />

400<br />

8 Kab. Penajem Paser Utr 2.000<br />

-<br />

-<br />

900<br />

9 Kab. Kutai Kertanegera 8.000<br />

-<br />

-<br />

400<br />

10 Kota Balikpapan -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

11 Kota Bontang -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

12 Kota Samarinda -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

13 Kota Tarakan -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

14 Kab. Tana Tidung 1.625<br />

-<br />

-<br />

-<br />

15 Kab. Tenggarong -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

18 SULUT 48.900 1.100<br />

- 10.000<br />

Dinas Propinsi 1.100<br />

-<br />

1 Kab. Bolaang Mangondow 17.000<br />

-<br />

- 2.000<br />

2 Kab. Minahasa 7.000<br />

-<br />

-<br />

750<br />

3 Kab. Kep. Talaud -<br />

100<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Minahasa Selatan 4.750<br />

-<br />

- 1.000<br />

5 Kota Tomohon 600<br />

-<br />

-<br />

500<br />

6 Kab. Minahasa Utara 2.950<br />

500<br />

-<br />

750<br />

7 Kab. Minahasa Tenggara 3.650<br />

-<br />

- 1.000<br />

8 Kab. Bolmong Utara 7.400<br />

500<br />

- 1.500<br />

9 Kab. Sangihe 600<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kab. Bolmang Selatan 2.000<br />

-<br />

-<br />

750<br />

11 Kab. Bolmang Timur 1.700<br />

-<br />

-<br />

500<br />

12 Kep Siau Tagulandang B -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

13 Kota Bitung -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

14 Kota Manado -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

15 Kota Kotamobagu 1.250<br />

-<br />

- 1.250<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Padi Lahan<br />

Padi Hibrida<br />

Kering Hanya<br />

Spesifik<br />

Bantuan<br />

Lokasi<br />

Benih<br />

- 23.000<br />

-<br />

- 3.600<br />

- 2.200<br />

- 4.000<br />

- 1.000<br />

-<br />

-<br />

- 2.000<br />

- 2.200<br />

- 1.500<br />

- 1.500<br />

- 3.500<br />

- 1.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

300 15.000<br />

300<br />

- 2.500<br />

- 1.500<br />

- 2.500<br />

- 2.500<br />

- 2.000<br />

-<br />

-<br />

100 1.500<br />

100<br />

500<br />

100 1.100<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

900<br />

-<br />

-<br />

- 7.000<br />

-<br />

- 1.125<br />

-<br />

650<br />

-<br />

-<br />

- 1.450<br />

-<br />

-<br />

- 1.250<br />

-<br />

125<br />

- 1.350<br />

-<br />

350<br />

-<br />

375<br />

-<br />

325<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Jagung<br />

Hibrida (Ha)<br />

3.695<br />

315<br />

-<br />

840<br />

390<br />

150<br />

630<br />

-<br />

1.200<br />

-<br />

-<br />

170<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8.775<br />

750<br />

1.575<br />

-<br />

1.995<br />

300<br />

1.275<br />

495<br />

495<br />

795<br />

495<br />

600<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Kedelai (Ha)<br />

1.770<br />

-<br />

-<br />

-<br />

70<br />

-<br />

700<br />

200<br />

400<br />

-<br />

400<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

1.650<br />

600<br />

200<br />

-<br />

500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

350<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2.000<br />

1.000<br />

250<br />

-<br />

250<br />

-<br />

-<br />

-<br />

500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Kedelai<br />

Model<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Pengembangan (Ha)<br />

Kacang<br />

Tanah<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Kayu<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Jalar<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Pemberdayaan Penangkar<br />

(Ha)<br />

Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />

400<br />

-<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

100<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

400<br />

50<br />

50<br />

-<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

100<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

125<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

-<br />

-<br />

23<br />

4<br />

2<br />

3<br />

3<br />

2<br />

2<br />

2<br />

3<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4<br />

-<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10<br />

1<br />

3<br />

2<br />

1<br />

2<br />

-<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

1<br />

1<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Sarana<br />

Pengendalian<br />

OPT (kali)<br />

3<br />

2<br />

2<br />

SLPHT<br />

(unit)<br />

76<br />

39<br />

48<br />

SLI<br />

(unit)<br />

103 | P a g e<br />

7<br />

2<br />

2


No.<br />

Padi Non<br />

Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />

Hibrida Hanya<br />

Bantuan Benih<br />

Padi Non<br />

Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

SLPTT Padi (Ha)<br />

Padi Non Padi Hibrida<br />

Hibrida Hanya<br />

Peningkatan Bantuan<br />

IP<br />

Benih<br />

19 SULTENG 73.400 1.100<br />

500<br />

-<br />

Dinas Propinsi 1.100<br />

500<br />

1 Kab. Banggai 14.450<br />

550<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Buol 4.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Toli-Toli 7.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Donggala 7.450<br />

550<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Morowali 7.000<br />

-<br />

500<br />

-<br />

6 Kab. Poso 7.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Parigi Moutong 17.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Tojo Una-Una 1.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kab. Banggai Kepulauan 500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kab. Sigi 8.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

11 Kota Palu -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

20 SULSEL 182.350 1.650 1.000 73.690<br />

Dinas Propinsi 1.650 1.000<br />

1 Kab. Bantaeng 3.500<br />

-<br />

- 2.950<br />

2 Kab. Barru 3.375<br />

-<br />

-<br />

950<br />

3 Kab. Bone 19.450<br />

550<br />

- 4.430<br />

4 Kab. Bulukumba 10.000<br />

-<br />

-<br />

900<br />

5 Kab. Enrekang 7.500<br />

-<br />

- 2.430<br />

6 Kab. Gowa 10.000<br />

-<br />

- 4.430<br />

7 Kab. Jeneponto 3.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Luwu 7.500<br />

-<br />

- 1.930<br />

9 Kab. Luwu Utara 10.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kab. Maros 11.500<br />

-<br />

500 4.930<br />

11 Kab. Pangkep 7.500<br />

-<br />

- 2.430<br />

12 Kab. Pinrang 12.500<br />

-<br />

- 11.680<br />

13 Kab. Kep. Selayar 3.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

14 Kab. Sidenreng Rappang 15.000<br />

-<br />

- 11.680<br />

15 Kab. Sinjai 4.500<br />

-<br />

- 2.930<br />

16 Kab. Soppeng 12.000<br />

-<br />

500 7.430<br />

17 Kab. Takalar 6.950<br />

550<br />

- 4.930<br />

18 Kab. Tana Toraja 2.500<br />

-<br />

-<br />

920<br />

19 Kab. Wajo 11.450<br />

550<br />

- 4.930<br />

20 Kota Palopo 2.500<br />

-<br />

-<br />

950<br />

21 Kab. Luwu Timur 12.500<br />

-<br />

- 1.930<br />

22 Kab. Toraja Utara 5.000<br />

-<br />

-<br />

930<br />

23 Kota Pare-Pare 625<br />

-<br />

-<br />

-<br />

24 Kota Makassar -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

21 SULTRA 73.900 1.100<br />

-<br />

-<br />

Dinas Propinsi 1.100<br />

-<br />

1 Kab. Buton 1.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Konawe 25.450<br />

550<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Kolaka 20.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Muna 1.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Konawe Selatan 16.950<br />

550<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Bombana 5.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Wakatobi -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Kolaka Utara 1.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kab. Konawe Utara 3.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kab. Buton Utara -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

11 Kota Bau-Bau -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

12 Kota Kendari -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Padi Lahan SLPTT<br />

SLPTT<br />

Kering Hanya Jagung<br />

Kedelai (Ha)<br />

Bantuan Hibrida (Ha)<br />

Benih<br />

-<br />

-<br />

5.000 9.645 2.500<br />

- 1.300 2.100 750<br />

-<br />

300<br />

810<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

750 500<br />

-<br />

650 1.200 250<br />

-<br />

800<br />

-<br />

-<br />

-<br />

300 1.500 1.000<br />

-<br />

750 2.025<br />

-<br />

-<br />

-<br />

495<br />

-<br />

-<br />

900<br />

765<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

1.310<br />

1.310<br />

35.000 29.805 20.000<br />

70 1.500 1.980 300<br />

70 1.250<br />

450<br />

-<br />

70 3.250 1.800 5.250<br />

70 1.250 2.550<br />

-<br />

70 2.000 2.550 850<br />

70 2.500 2.550 350<br />

- 1.500 3.000 1.500<br />

70 1.500<br />

750 900<br />

- 1.500<br />

900 350<br />

70 3.000 1.800 1.500<br />

70 2.000<br />

450 600<br />

70 2.125<br />

900 700<br />

- 1.500<br />

900<br />

-<br />

70 2.250 2.280<br />

-<br />

70 1.500 1.500<br />

-<br />

70 2.000 1.020 2.400<br />

70 2.250 1.500 800<br />

70 1.000<br />

300<br />

-<br />

70<br />

-<br />

- 4.000<br />

50<br />

-<br />

450<br />

-<br />

70<br />

500<br />

825 500<br />

70<br />

250<br />

750<br />

-<br />

-<br />

375<br />

600<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10.000 1.200 4.100<br />

- 1.000<br />

300<br />

-<br />

-<br />

375<br />

- 750<br />

-<br />

375<br />

150 350<br />

- 2.500<br />

600<br />

-<br />

- 2.150<br />

150 1.000<br />

- 2.300<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

600<br />

- 2.000<br />

-<br />

700<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Padi Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

Kedelai<br />

Model<br />

-<br />

50<br />

50<br />

-<br />

Pengembangan (Ha)<br />

Kacang<br />

Tanah<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Kayu<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Jalar<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Pemberdayaan Penangkar<br />

(Ha)<br />

Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />

400<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

650<br />

-<br />

-<br />

50<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

200<br />

-<br />

50<br />

50<br />

-<br />

100<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

375<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

-<br />

9<br />

2<br />

-<br />

2<br />

3<br />

-<br />

-<br />

2<br />

-<br />

34<br />

2<br />

3<br />

3<br />

2<br />

2<br />

2<br />

-<br />

-<br />

1<br />

3<br />

-<br />

3<br />

-<br />

3<br />

-<br />

2<br />

2<br />

-<br />

4<br />

-<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4<br />

-<br />

2<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />

-<br />

-<br />

1<br />

1<br />

-<br />

2<br />

1<br />

1<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Sarana<br />

Pengendalian<br />

OPT (kali)<br />

2<br />

3<br />

2<br />

SLPHT<br />

(unit)<br />

56<br />

104<br />

50<br />

SLI<br />

(unit)<br />

104 | P a g e<br />

2<br />

9<br />

2


No.<br />

Padi Non<br />

Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />

Hibrida Hanya<br />

Bantuan Benih<br />

Padi Non<br />

Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

SLPTT Padi (Ha)<br />

Padi Non Padi Hibrida<br />

Hibrida Hanya<br />

Peningkatan Bantuan<br />

IP<br />

Benih<br />

22 BALI 33.900 1.100<br />

- 2.000<br />

Dinas Propinsi 1.100<br />

-<br />

1 Kab. Badung 4.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Bangli 2.850<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Buleleng 3.950<br />

550<br />

-<br />

500<br />

4 Kab. Gianyar 5.000<br />

-<br />

-<br />

500<br />

5 Kab. Jembrana 3.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Karangasem 2.650<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Klungkung 2.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Tabanan 9.450<br />

550<br />

- 1.000<br />

9 Kota Denpasar -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kab. Negara -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

23 NTB 117.800 1.200 1.000 4.500<br />

Dinas Propinsi 1.200 1.000<br />

1 Kab. Bima 15.000<br />

-<br />

-<br />

450<br />

2 Kab. Dompu 14.400<br />

600<br />

-<br />

900<br />

3 Kab. Lombok Barat 14.500<br />

-<br />

500<br />

900<br />

4 Kab. Lombok Tengah 25.000<br />

-<br />

-<br />

900<br />

5 Kab. Lombok Timur 10.500<br />

-<br />

500<br />

450<br />

6 Kab. Sumbawa 19.400<br />

600<br />

-<br />

450<br />

7 Kota Bima 2.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Sumbawa Barat 7.500<br />

-<br />

-<br />

450<br />

9 Kab. Lombok Utara 7.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kota Mataram 1.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

24 NTT 59.275 1.100<br />

- 5.500<br />

Dinas Propinsi 1.100<br />

-<br />

1 Kab. Belu 3.000<br />

-<br />

-<br />

250<br />

2 Kab. Ende 2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Flores Timur 2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Kupang 3.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Lembata -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Manggarai 6.450<br />

550<br />

- 1.500<br />

7 Kab. Ngada 5.000<br />

-<br />

- 3.250<br />

8 Kab. Sikka 2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kab. Sumba Barat 1.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kab. Sumba Timur 5.000<br />

-<br />

-<br />

500<br />

11 Kab. Timor Tengah Selatan 2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

12 Kab. Timor Tengah Utara 3.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

13 Kab. Rote-Ndao 3.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

14 Kab. Manggarai Barat 4.450<br />

550<br />

-<br />

-<br />

15 Kab. Alor -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

16 Kab. Nagekeo 4.375<br />

-<br />

-<br />

-<br />

17 Kab. Sumba Tengah 2.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

18 Kab. Sumba Barat Daya 5.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

19 Kab. Manggarai Timur 5.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

20 Kab. Sabu Raijua -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

21 Kota Kupang -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

25 MALUKU 10.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Dinas Propinsi -<br />

-<br />

1 Kab. Maluku Tngra Barat -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Maluku Tengah 2.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Maluku Tenggara -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Pulau Buru 3.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Kepulauan Aru -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Seram Bag Barat 1.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Seram Bag Timur 1.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Buru Selatan 1.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kab. Maluku Barat Daya -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kota Ambon -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

11 Kota Tual -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

Padi Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

500<br />

500<br />

50<br />

100<br />

100<br />

100<br />

50<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Padi Lahan<br />

Kering Hanya<br />

Bantuan<br />

Benih<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

30.000<br />

9.000<br />

5.250<br />

900<br />

1.800<br />

1.800<br />

9.000<br />

900<br />

450<br />

900<br />

-<br />

20.000<br />

-<br />

1.900<br />

1.900<br />

-<br />

1.350<br />

1.500<br />

-<br />

1.500<br />

-<br />

1.575<br />

450<br />

450<br />

1.475<br />

875<br />

1.575<br />

-<br />

1.000<br />

4.450<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4.000<br />

450<br />

200<br />

1.650<br />

500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

500<br />

700<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Jagung<br />

Hibrida (Ha)<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6.000<br />

750<br />

1.350<br />

-<br />

450<br />

1.050<br />

1.500<br />

-<br />

450<br />

450<br />

-<br />

9.300<br />

900<br />

300<br />

450<br />

900<br />

450<br />

-<br />

750<br />

300<br />

600<br />

900<br />

1.200<br />

450<br />

-<br />

-<br />

450<br />

600<br />

-<br />

750<br />

300<br />

-<br />

-<br />

1.050<br />

300<br />

300<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

150<br />

300<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Kedelai (Ha)<br />

4.500<br />

1.000<br />

-<br />

-<br />

1.500<br />

-<br />

1.000<br />

1.000<br />

-<br />

-<br />

32.000<br />

-<br />

8.500<br />

7.500<br />

2.500<br />

6.500<br />

750<br />

3.750<br />

1.000<br />

1.500<br />

-<br />

1.300<br />

400<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

200<br />

-<br />

-<br />

200<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Kedelai<br />

Model<br />

-<br />

100<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

Pengembangan (Ha)<br />

Kacang<br />

Tanah<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Kayu<br />

-<br />

-<br />

300<br />

100<br />

100<br />

50<br />

50<br />

-<br />

Ubi<br />

Jalar<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Pemberdayaan Penangkar<br />

(Ha)<br />

Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />

150<br />

-<br />

-<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

500<br />

50<br />

50<br />

100<br />

50<br />

100<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

250<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

150<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

400<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

100<br />

-<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

150<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

25<br />

-<br />

-<br />

7<br />

2<br />

-<br />

1<br />

3<br />

-<br />

-<br />

1<br />

-<br />

-<br />

18<br />

4<br />

2<br />

1<br />

3<br />

3<br />

4<br />

-<br />

1<br />

-<br />

-<br />

4<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />

-<br />

4<br />

2<br />

1<br />

1<br />

-<br />

-<br />

2<br />

2<br />

2<br />

1<br />

1<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

12<br />

3<br />

3<br />

3<br />

3<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Sarana<br />

Pengendalian<br />

OPT (kali)<br />

2<br />

2<br />

3<br />

3<br />

SLPHT<br />

(unit)<br />

57<br />

52<br />

54<br />

26<br />

SLI<br />

(unit)<br />

105 | P a g e<br />

1<br />

5<br />

3<br />

1


No.<br />

Padi Non<br />

Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />

Hibrida Hanya<br />

Bantuan Benih<br />

Padi Non<br />

Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

SLPTT Padi (Ha)<br />

Padi Non Padi Hibrida<br />

Hibrida Hanya<br />

Peningkatan Bantuan<br />

IP<br />

Benih<br />

26 PAPUA 10.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Dinas Propinsi -<br />

-<br />

1 Kab. Biak Numford -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Jayapura 500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Jayawijaya -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Merauke 8.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Mimika -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Nabire 500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Paniai -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Puncak Jaya -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kab. Kep Yapen Waropen -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kota Jayapura 500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

11 Kab. Sarmi -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

12 Kab. Keerom -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

13 Kab. Yahukimo -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

14 Kab. Pegunungan Bintang -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

15 Kab. Tolikara -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

16 Kab. Boven Digoel -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

17 Kab. Mappi -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

18 Kab. Asmat -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

19 Kab. Waropen -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

20 Kab. Supiori -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

21 Kab Deiyai -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

22 Kab. Dogiyai -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

23 Kab.Intan Jaya -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

24 Kab. Lanny Jaya -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

25 Kab. Membramo Raya -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

26 Kab. Membramo Tengah -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

27 Kab. Nduga -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

28 Kab. Puncak -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

29 Kab. Yalimo -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

27 MALUT 7.375<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Dinas Propinsi -<br />

-<br />

1 Kab. Halmahera Tengah 750<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Halmahera Barat 750<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Halmahera Timur 4.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Kepulauan Sula -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Halmahera Selatan -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Halmahera Utara 1.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Pulau Morotai 875<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kota Ternate -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kota Tidore Kepulauan -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

28 BANTEN 148.000 1.000 1.000 2.500<br />

Dinas Propinsi 1.000 1.000<br />

1 Kab. Lebak 39.500<br />

500<br />

-<br />

400<br />

2 Kab. Pandeglang 44.500<br />

-<br />

500<br />

850<br />

3 Kab. Serang 41.500<br />

-<br />

500<br />

850<br />

4 Kab. Tangerang 19.500<br />

500<br />

-<br />

-<br />

5 Kota Cilegon -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kota Serang 3.000<br />

-<br />

-<br />

400<br />

7 Kota Tangerang -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kota Tangerang Selatan -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Padi Lahan<br />

Padi Hibrida<br />

Kering Hanya<br />

Spesifik<br />

Bantuan<br />

Lokasi<br />

Benih<br />

- 1.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

700<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

300<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

- 2.975<br />

-<br />

-<br />

450<br />

-<br />

500<br />

-<br />

250<br />

-<br />

-<br />

- 1.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

775<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

500 25.000<br />

500<br />

100 10.000<br />

150 11.000<br />

150 2.600<br />

- 1.100<br />

-<br />

-<br />

100<br />

300<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Jagung<br />

Hibrida (Ha)<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

450<br />

150<br />

150<br />

150<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

SLPTT<br />

Kedelai (Ha)<br />

1.200<br />

-<br />

-<br />

-<br />

400<br />

-<br />

300<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5.150<br />

1.500<br />

3.500<br />

150<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Kedelai<br />

Model<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Pengembangan (Ha)<br />

Kacang<br />

Tanah<br />

-<br />

100<br />

50<br />

50<br />

-<br />

Ubi<br />

Kayu<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Jalar<br />

400<br />

100<br />

100<br />

100<br />

100<br />

-<br />

-<br />

Pemberdayaan Penangkar<br />

(Ha)<br />

Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />

100<br />

-<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

100<br />

50<br />

-<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

150<br />

50<br />

-<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

50<br />

25<br />

25<br />

2<br />

-<br />

-<br />

1<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

1<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

-<br />

-<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10<br />

4<br />

1<br />

2<br />

3<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4<br />

1<br />

1<br />

1<br />

1<br />

-<br />

-<br />

Sarana<br />

Pengendalian<br />

OPT (kali)<br />

3<br />

3<br />

3<br />

SLPHT<br />

(unit)<br />

20<br />

25<br />

55<br />

SLI<br />

(unit)<br />

106 | P a g e<br />

1<br />

1<br />

3


No.<br />

Padi Non<br />

Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />

Hibrida Hanya<br />

Bantuan Benih<br />

Padi Non<br />

Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

SLPTT Padi (Ha)<br />

Padi Non Padi Hibrida<br />

Hibrida Hanya<br />

Peningkatan Bantuan<br />

IP<br />

Benih<br />

29 BABEL 3.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Dinas Propinsi -<br />

-<br />

1 Kab. Bangka 750<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Belitung -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Bangka Selatan 2.750<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Blitung Timur -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Bangka Barat -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Bangka Tengah -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kota Pangkal Pinang -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Sungai Liat -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

30 GORONTALO 38.900 1.100<br />

- 5.000<br />

Dinas Propinsi 1.100<br />

-<br />

1 Kab. Boalemo 5.950<br />

550<br />

- 1.000<br />

2 Kab. Gorontalo 19.450<br />

550<br />

- 1.000<br />

3 Kab. Pohuwato 6.500<br />

-<br />

- 1.000<br />

4 Kab. Bone Bolango 3.500<br />

-<br />

- 1.000<br />

5 Kab. Gorontalo utara 3.500<br />

-<br />

- 1.000<br />

6 Kota Gorontalo -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Limboto -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Marisa -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

31 KEPRI -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Dinas Propinsi -<br />

-<br />

1 Kab. Natuna -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Bintan -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Karimun -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Lingga -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Kep. Anambas -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kota Batam -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kota Tanjung Pinang -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab Dumai -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

32 PAPUA BARAT 5.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Dinas Propinsi -<br />

-<br />

1 Kab. Sorong 2.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2 Kab. Manokwari 2.500<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3 Kab. Fak-Fak -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4 Kab. Raja Ampat -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5 Kab. Teluk Bintuni -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6 Kab. Teluk Wondama -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

7 Kab. Kaimana -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

8 Kab. Sorong Selatan -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

9 Kota Sorong -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

10 Kab. Maybrat -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

11 Kab Tambrauw -<br />

-<br />

-<br />

-<br />

33 SULBAR 63.025 1.100<br />

- 7.500<br />

Dinas Propinsi 1.100<br />

-<br />

1 Kab. Mamuju 19.450<br />

550<br />

- 1.000<br />

2 Kab. Majene 2.500<br />

-<br />

-<br />

500<br />

3 Kab. Mamasa 12.500<br />

-<br />

-<br />

500<br />

4 Kab. Mamuju Utara 7.500<br />

-<br />

-<br />

500<br />

5 Kab. Polewali Mandar 21.075<br />

550<br />

- 5.000<br />

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

Padi Hibrida<br />

Spesifik<br />

Lokasi<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Padi Lahan SLPTT<br />

SLPTT<br />

Kering Hanya Jagung<br />

Kedelai (Ha)<br />

Bantuan Hibrida (Ha)<br />

Benih<br />

-<br />

-<br />

1.400<br />

-<br />

-<br />

-<br />

400<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

- 1.000<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5.000 9.150 2.000<br />

- 1.000 2.250<br />

-<br />

- 1.000 3.750<br />

-<br />

- 1.000 2.250 2.000<br />

- 1.000<br />

450<br />

-<br />

- 1.000<br />

450<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3.500<br />

675 820<br />

-<br />

500<br />

225<br />

60<br />

-<br />

375<br />

- 700<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

60<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

125<br />

225<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

- 2.500<br />

225<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

5.000 3.000 2.000<br />

- 1.000 1.125 700<br />

- 1.400<br />

375<br />

-<br />

-<br />

400<br />

375<br />

-<br />

-<br />

200 1.125 1.300<br />

- 2.000<br />

-<br />

-<br />

Kedelai<br />

Model<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Pengembangan (Ha)<br />

Kacang<br />

Tanah<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Kayu<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Ubi<br />

Jalar<br />

-<br />

-<br />

-<br />

450<br />

100<br />

100<br />

100<br />

50<br />

100<br />

-<br />

Pemberdayaan Penangkar<br />

(Ha)<br />

Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

250<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

100<br />

50<br />

50<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

4<br />

3<br />

1<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

3<br />

1<br />

2<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

2<br />

2<br />

-<br />

-<br />

Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />

-<br />

-<br />

1<br />

1<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

6<br />

1<br />

2<br />

1<br />

1<br />

1<br />

-<br />

Sarana<br />

Pengendalian<br />

OPT (kali)<br />

2<br />

3<br />

-<br />

3<br />

2<br />

SLPHT<br />

(unit)<br />

15<br />

42<br />

-<br />

20<br />

33<br />

SLI<br />

(unit)<br />

107 | P a g e<br />

-<br />

2<br />

-<br />

1<br />

1


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 15. Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

108 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 16. Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah<br />

LAKIP<br />

RPJM<br />

RENSTRA<br />

Rencana Kinerja<br />

Tahunan<br />

(RKT)<br />

Penetapan Kinerja<br />

(PK)<br />

Kinerja Aktual<br />

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010<br />

Rencana<br />

Kerja dan<br />

Angaran<br />

(RKA)<br />

Lapuran<br />

Keuangan<br />

(SAI)<br />

109 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 17. Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi<br />

Pemerintah<br />

NO. KOMPONEN YANG DINILAI BOBOT<br />

1 Perencanaan Kinerja (Renstra, RKT, PK) 35<br />

2 Pengukuran Kinerja 20<br />

3 Pelaporan Kinerja 15<br />

4 Evaluasi Kinerja 10<br />

5 Capaian Kinerja 20<br />

Nilai Total<br />

100<br />

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010<br />

110 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 18. Alur Sistem Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan<br />

BAPPENAS<br />

Kementerian<br />

Pertanian<br />

Unit Eselon I<br />

Unit Eselon II,<br />

UPT Pusat,<br />

Dekon/TP SKPD<br />

Provinsi<br />

Tugas<br />

Pembatuan<br />

di SKPD<br />

Kab/Kota<br />

Nasional<br />

Sektor/<br />

<strong>Program</strong><br />

<strong>Program</strong><br />

Kegiatan<br />

Kegiatan<br />

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010<br />

Outcome/Impact<br />

Nasional<br />

Outcome/Impact<br />

Sektor<br />

Outcome<br />

Output<br />

Output<br />

111 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 19. Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan<br />

NO. JENIS LAPORAN PELAPOR PENERIMA LAPORAN<br />

I. LAPORAN RUTIN<br />

1. Laporan PP 39/2006<br />

Form-A Penanggung jawab<br />

kegiatan<br />

Form-B Penanggung jawab<br />

program<br />

Form-C Kepala SKPD<br />

Kab/Kota, Prov,<br />

Satker Pusat, UPT-<br />

Pusat<br />

WAKTU<br />

PENYAMPAIAN<br />

Setjen Kementerian Pertanian 14 hari kerja setelah<br />

triwulan terakhir<br />

Penanggung jawab program 3 hari kerja setelah<br />

triwulan berakhir<br />

Kepala Satker masing-masing<br />

Instansi<br />

Kepala Daerah Cq Kepala<br />

Bappeda dan Menteri Pertanian<br />

4 hari kerja setelah<br />

triwulan berakhir<br />

5 hari kerja setelah<br />

triwulan berakhir<br />

2. Evaluasi Rencana Kerja / Renstra Eselon - I Bappenas Tahunan / lima<br />

tahunan<br />

3. Penetapan Kinerja Es-II Eselon-II Eselon-I 31 Januari<br />

Penetapan Kinerja Es-I Eselon-I Menteri Pertanian 15 Februari<br />

Penetapan Kinerja Kementerian<br />

Pertanian<br />

Kementerian<br />

Pertanian<br />

Kementerian PAN & RB 31 Maret<br />

LAKIP Eselon-II Eselon - II 31 Januari T + 1<br />

LAKIP Eselon-I Eselon - I 15 Februari T + 1<br />

LAKIP Kementerian Pertanian Kementerian<br />

Pertanian<br />

10 Maret T + 1<br />

4. Rapim Kementan (Rapim A) Eselon-I Menteri Pertanian Dua mingguan<br />

Tindak lanjut Rapim A Eselon - I Menteri Pertanian Sesuai jadwal<br />

5. Laporan Bulanan Kegiatan Menteri Eselon - I Menteri Pertanian Bulanan<br />

6. Laporan Bulanan Kegiatan Eselon-I Eselon - I Menteri Pertanian Bulanan<br />

7. Laporan Kinerja Eselon – II Eselon – II Eselon I 10 Desember<br />

Laporan Kinerja Eselon - I Eselon – I Menteri Pertanian 15 Desember<br />

Laporan Kinerja Kementan Kementan Menteri PAN & RB 20 Desember<br />

II. LAPORAN KHUSUS<br />

8. Bahan Rakor Menko / Sidang Kabinet /<br />

RDP / Raker DPR-RI<br />

Eselon - I Menko / Kabinet / DPR-RI Sesuai Permintaan<br />

9. Insidental lain Sesuai permintaan Sesuai Permintaan<br />

Catatan : Laporan-laporan lain (SAI, SIMAK-BMN, Laporan Statistik, Laporan Pemantauan Wilayah Binaan, Laporan<br />

Teknis dll) sesuai ketentuan yang berlaku.<br />

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010<br />

112 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 20. Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran<br />

Kementerian/Lembaga<br />

1. SATKER<br />

Penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan suatu Satker untuk bahan<br />

yang direncanakan dalam dokumen KK RKA-KL mengacu pada format KK RKA-KL<br />

dan tata cara pengisiannya. Proses penyusunan KK RKA-KL tersebut difasilitasi<br />

program Aplikasi RKA-KL. Artinya proses penyusunan RKA-KL pada suatu Satker<br />

menggunakan program Aplikasi RKA-KL akan mengahsilkan dokumen KK RKA-KL.<br />

Penyusunan KK RKA-KL pada suatu Satker terbagi dalam penyusunan anggaran<br />

belanja dan pendapatan kegiatan dengan langkah sebagai berikut:<br />

a. Penyusunan anggaran belanja dilakukan dengan:<br />

1) Menuangkan Alokasi Anggaran Angka Dasar<br />

Satker menuangkan jenis alokasi anggaran Angka dasar pada suatu kegiatan<br />

sampai dengan tingkat Komponen yang juga telah memperkirakan angka<br />

prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang.<br />

2) Menuangkan Alokasi Anggaran Inisiatif Baru<br />

a) Berkenaan dengan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru, Satker<br />

menuangkan alokasi anggaran satker secara rinci sampai dengan item<br />

biaya.<br />

b) Penuangan anggaran Inisiatif Baru juga telah memperhatikan angka<br />

prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang.<br />

c) Penuangan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru mengacu pada<br />

Proposal Inisiatif Baru yang telah disetujui untuk tahun yang<br />

direncanakan.<br />

b. Penyusunan anggaran pendapatan dilakukan dengan:<br />

1) Menuangkan target pendapatan setiap kegiatan yang dilaksanakan Satker.<br />

Penuangan anggaran pendapatan terinci dalam program, kegiatan, akun<br />

pendapatan, dan jenis penerimaan.Pendapatan Bukan pajak (PNBP) atau<br />

penerimaan fungsional.<br />

2) Menuangkan angka prakiraan maju setiap kegiaatn dan setiap jenis<br />

penerimaan (PNBP dan/atau penerimaan fungsional).<br />

c. Menyampaikan / melengkapi data dukung berupa:<br />

1) KK RKA-KL dan Arsip Data Komputer-nya (ADK).<br />

2) Gender Budget Statement (GBS) apabila berkenaan dengan ARG.<br />

Penggunaan GBS mengacu pada contoh format.<br />

3) Rencana Bisnis dan Angagran BLU (RBA BLU) apabila berkenaan dengan<br />

Satuan Kerja BLU.<br />

4) Data dukung teknis dalam suatu kasus tertentu antara lain: peraturan<br />

perundangan/keputusan pimpinan K/L yang mendasari adanya<br />

kegiatan/output, atau analisis kelayakan bangunan oleh Dinas Pekerjaan<br />

Umum dalam hal pembangunan/renovasi berat gedung/bangunan Negara.<br />

113 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

5) Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTIM) yang ditandatangani oleh<br />

Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) apabila satuan biaya yang tercantum<br />

dalam KK RKA-KL tidak terdapat dalam Standar Biaya.<br />

6) Data pendukung terbaik, antara lain berupa:<br />

a) Perhitungan kebutuhan biaya pembangunan/renovasi bangunan gedung<br />

Negara atau yang sejenis dari Kementerian Pekerjaan Umum atau Dinas<br />

Pekerjaan Umum setempat sebagimana Peraturan menteri Pekerjaan<br />

Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tentang <strong>Pedoman</strong> Teknis Pengawasan<br />

Keuangan dan Pembangunan.<br />

b) Persetujuan prinsip (clearence) terbaik dengan pembangunan baru<br />

bangunan gedung Negara dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur<br />

Negara dan reformasi Birokrasi, Kementerian Pekerjaan Umum, dan<br />

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.<br />

d. KK RKA-KL yang telah ditandatangani KPA beserta data pendukung terkait,<br />

disampaikan kepada Unit Eselon I.<br />

2. UNIT ESELON – I<br />

a. Menghimpun/kompilasi KK RKA-KL dalam lingkup Unit Eselon-I berkenaan.<br />

b. Menyusun RKA-KL Unit Eselon-I berdasarkan KK RKA-KL.<br />

c. Memvalidasi kinerja dan anggaran program yang menjadi tanggung jawab Unit<br />

Eselon-I berkenaan dengan (1) Total pagu anggaran; (2) sumber dana, dan (3)<br />

sasaran kinerja (jenis barang/jasa dan volume output).<br />

d. Meneliti dan menyaringrelevansi Komponen dengan Output kegiatan pada<br />

masing-masing KK RKA-KL.<br />

e. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas program, Unit Eselon-I melakukan<br />

koordinasi dengan Satker untuk perbaikan pada KK RKA-KL.<br />

f. Mengisi informasi pada Bagian L Formulir 2 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian<br />

Hasil. Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk<br />

mencapai Sasaran Hasil (pada tingkat program) antara lain berupa:<br />

1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra<br />

Unit Eselon-I)<br />

2) Uraian deskripsi masing-masing kegiatan.<br />

3) Jumlah Satker pelaksana kegiatan<br />

4) Penjelasan mengenai perubahan alokasi program antara yang sedang<br />

berjalan dan yang diusulkan.<br />

g. Selain mengisi Formulir 2 RKA-KL, Unit Eselon-I juga mengisi Bagian I, Formulir<br />

3 RKA-KL tentang Operasionalisasi Kegiatan yang berisikan antara lain:<br />

1) Identifikasi factor-faktor pendukung (faktor pegawai, sarana, dan prasarana)<br />

dan penghambat (fackor lingkungan/kultur kerja).<br />

2) Identifikasi Satker pelaksana kegiatan.<br />

3) Penjelasan mengenai perubahan alokasi anggaran belanja kegiatan dari ayng<br />

sedang berjalan dengan yang diusulkan.<br />

114 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

h. RKA-KL Unit Eselon-I ditandatangani oleh Pejabat Eselon-I atau yang setingkat<br />

Eselon-I selaku KPA sebagai penanggung jawab program.<br />

i. Menyampaikan RKA-KL Unit Eselon I dan data dukung terkait kepada K/L.<br />

3. KEMENTERIAN / LEMBAGA<br />

a. Menghimpun/kompilasi RKA-KL Unit Eselon-I dalam lingkup K/L.<br />

b. Menyusun RKA-KL secara utuh untuk lingkup K/L berdasarkan RKA-KL Unit<br />

Eselon – I.<br />

c. Memvalidasi alokasi angagran K/L meliputi: (1) Total pagu anggaran; (2) Simber<br />

dana; (3) sasaran kinerja.<br />

d. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas alokasi anggaran K/L, K/L melakukan<br />

koordinasi dengan Unit Eselon-I untuk perbaikan paad RKA-KL Unit Eselon-I<br />

berkenaan.<br />

e. Mengisi informasi pada Bagian I, Formulir 1 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian<br />

Sasaran Strategis. Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang<br />

ditempuh untuk mencapai sasaran strategis, antara lain berupa:<br />

1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra<br />

K/L).<br />

2) Uraian deskripsi masing-masing program dan unit Organisasi Penanggung<br />

Jawab.<br />

f. RKA-KL (yang telah disusun) diteliti kembali kesesuaiannya dengan pagu<br />

Anggaran K/L agar tidak mengakibatkan:<br />

1) Pergeseran anggaran antar program (jumlah alokasi dana pada masingmasing<br />

program harus sesuai dengan yang tercantum dalam pagu Anggaran<br />

K/L).<br />

2) Pengurangan belanja pada Komponen 0001 dan 0002.<br />

3) Perubahan pagu sumber pendanaan/sumber pembiayaan yang berasal dari<br />

rupiah murni, Pinjaman Hibah Luar Negeri, dan PNBP (sumber<br />

pendanaan/sumber pembiayaan dalam menghasilkan output tidak<br />

diperbolehkan berubah/bergeser).<br />

g. Menyampaikan RKA-KL berserta data dukung terkait kepada Kementerian<br />

Keuangan c.q. Ditjen Anggaran dan Kementerian Perencanaan.<br />

Sumber: <strong>Pedoman</strong> Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan - Kementan.<br />

115 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 21. Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi Anggaran K/L<br />

Berdasarkan Hasil Kesepakatan Pembahasan DPR dan Alokasi Angagran K/L, maka K/L<br />

menyesuaikan RKA-KL.Penyesuaian dimaksud meliputi:<br />

1. Penyesuaian terhadap angka dasar apabila terdapat perubahan parameter ekonomi<br />

(indeks inflasi untuk tahun yang direncanakan) dan/atau penyesuaian parameter nonekonomi<br />

apabila terdapat perubahan kebijakan sehingga berpengaruh terhadap<br />

besaran alokasi angagran K/L.<br />

2. Adanya program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan<br />

DPR.<br />

Dalam rangka penyusunan RKA-KL berdasarkan Pagu Alokasi Anggaran K/L, ada<br />

beberapa kemungkinan:<br />

1. Apabila tidak ada perubahan parameter ekonomi, parameter non-ekonomi, dan usulan<br />

program/kegiatan/output baru maka, RKA-KL berdasarkan Pagu Anggaran RKA-KL<br />

secara langsung ditetapkan dalam SP RKA-Kl.<br />

2. Apabila ada perubahan parameter baik ekonomi maupun non-ekonomi maka,<br />

penuangan dalam KK RKA-KL dilakukan melalui penyesuaian dengan parameter<br />

ekonomi dan non ekonomi pada tingkat kompinen. Penyesuaian pada komponen<br />

pendukung dilakukan dengan melakukan perkalian dengan parameter ekonomi.<br />

Sedangkan penyesuaian komponen utama dapat dilakukan dengan mengalikan<br />

dengan parameter ekonomi atausesuai dengan kebijakan yang ditetapkan.<br />

3. Apabila ada program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan<br />

dengan DPR maka, K/L menyesuaikan RKA-KL dengan:<br />

a. Mengusulkan rumusan program/kegiatan/output sebagai hasil kesepakatan<br />

pembahasan dengan DPR kepada Kementerian Keuangan dan kementerian<br />

Perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan kewenangan masing-masing. Usulan<br />

program dan kegiatan (non output) diajukan kepada Kementerian Perencanaan.<br />

Sedangkan usulan output diajukan kepada Kementerian Keuangan. Usulan<br />

tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai referensi pada program aplikasi RKA-KL.<br />

b. Entry data biaya pada masing-masing komponen dengan mengacu pada standar<br />

biaya yang berlaku pada tahun yang direncanakan atau kepatutan dan kewajaran<br />

harga (disertai dengan SPTIM).<br />

c. Meneliti kemmbali jumlah alokasi anggaran tersebut apakah sesuai dengan jumlah<br />

alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR.<br />

d. Hasil penuangan alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR<br />

terdapat dalam formulir B, KK RKA-KL.<br />

Sumber: <strong>Pedoman</strong> Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan - Kementan.<br />

116 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 22. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan<br />

Persetujuan Menteri keuangan<br />

1. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyiapkan usulan Revisi Anggaran (Revisi RKA-<br />

KL) yang diajukan dan membutuhkan persetujuan Menteri Keuangan (Menkeu).<br />

2. Usulan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) disampaikan kepada Direktur Jenderal<br />

Anggaran (DJA) beserta dokumen pendukung.<br />

3. DJA melakukan penelaahan dan menilai usulan revisi yang diajukan KPA.<br />

4. Berdasarkan proses penelaahan dan penilaian DJA memberikan persetujuan atau<br />

penolakan terhadap usulan revisi KPA.<br />

5. Jika berdasarkan penelahaan dan penilaian yang dilakukan DJA usulan revisi ditolak,<br />

akan ditetapkan surat pemberitahuan penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) dan<br />

menyampaikannya ke KPA.<br />

6. Jika berdasarkan penelaahan dan penilaian DJA usulan revisi disetujui akan<br />

disampaikan ke Menkeu untuk memperoleh persetujuan.<br />

Jika Menkeu menolak usulan revisi akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan<br />

Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) danb menyampaikannya ke KPA.<br />

6a. Jika Menkeu menyetujui usulan revisi anggaran (Revisi RKA-KL), akan ditetapkan<br />

Surat Penetapan RKA-KL Revisi (SP RKA-KL Revisi) dan disampaikan ke KPA.<br />

6b. SP RKA-KL Revisi hasil penetapan Menkeu juga disampaikan ke DJPBN.<br />

Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011<br />

117 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 23. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran<br />

pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/<br />

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan<br />

1. KPA menyiapkan usulan-usulan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran<br />

(Revisi RKA-Satker).<br />

2. KPA berdasarkanb Revisi RKA-Satker, mencetak Revisi Anggaran (Konsep Revisi<br />

DIPA) dan menyiapkan Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker.<br />

3. KPA menyampaikan Konsep Revisi DIPA kepada DJPBN beserta Dokumen<br />

Pendukung dan ADK RKA-Satker.<br />

4. DJPBN melakukan penelaahan dan memberikan persetujuan atau penolakan<br />

terhadap usulan revisi.<br />

5. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi ditolak, akan ditetapkan Surat<br />

Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi DIPA) dan menyampaikannya ke<br />

KPA.<br />

6. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi disetujui, dilakukan pengesahan DIPA<br />

Revisi dan disampaikan ke KPA.<br />

7. KPA berdasarkan Pengesahan DIPA Revisi mencetak POK hasil revisi.<br />

Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011<br />

118 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 24. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja<br />

oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran<br />

1. KPA menyiapkan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKA-<br />

Satker) sesuai kewenangannya.<br />

2. KPA berdasarkan Revisi RKA-Satker memeriksa apakah Revisi Anggaran (Revisi<br />

RKA-Satker) menyebakan perubahan DIPA.<br />

2a. jika tidak terjadi perubahan DIPA, KPA mencetak POK dan menyampaikan ke DJPBN<br />

berserta ADK RKA-Satker.<br />

3. Jika Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebabkan perubahan DIPA, KPA<br />

mencetak Konsep DIPA Revisi dan menyampaikannya ke DJPBN berserta ADK RKA-<br />

Satker.<br />

4. Berdasarkan Konsep DIPA Revisi dan ADK RKA-Satker DJPBN memeriksa dan<br />

melakukan pengesahan DIPA Revisi.<br />

5. DIPA Revisi yang telah disahkan disampaikan kembali ke KPA.<br />

6. Berdasrakan DIPA Revisi yang telah disahkan KPA mencetak POK.<br />

Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011<br />

119 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 25. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran<br />

pada Direktorat Jenderal Anggaran<br />

1. Eselon I pada Kementerian Negara/lembaga (K/L) mengirimkan ADK Revisi RKA-KL<br />

dilakukanpenelaahan pada DJA.<br />

2a. Setelah Revisi RKA-KL ditetapkan (SP-RKA-KL), data RKA-KL diunggah (di-upload)<br />

ke Database bersama oleh DJA.<br />

2b. ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA, dikirimkan kembali kepada<br />

Eselon I K/L sebagai bahan Revisi DIPA.<br />

3. DJPBN mengambil data RLA-KL dari Database bersama, sebagai bahan pencocokan<br />

dan penelitian Revisi DIPA yang diajukan oleh Satker Pusat maupun Daerah.<br />

4a. Eselon I K/L menyampaikan ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA<br />

kepada satker kantor pusat sebagai bahan penyusunan Revisi DIPA.<br />

4b. Eselon I K/L menyampaikan juga ADK RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA<br />

kepada Satker daerah sebagai bahan penyusunan revisi DIPA.<br />

5. Satker kantor pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya<br />

kepada Kantor Pusat DJPBN.<br />

6. Kantor Pusat DJPBN menerbitkan dan mengirimkan DRA beserta ADK-nya kepada<br />

kantor Wilayah DJPBN berdasarkan RKA-KL yang ditetapkan oleh DJA (SP-RKL-KL).<br />

7. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan Revisi dIPA beserta ADK-nya kepada<br />

Kantor Wilayah DJPBN.<br />

8a. Setelah Revisi DIPA disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN, data revisi ditransfer ke<br />

database Kantor Pusat DKPBN.<br />

8b. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN, disampaikan kepada<br />

KPPN.<br />

9a. Database Bersama di-update berdasarkan Data Revisi DIPA yang disahkan oleh<br />

Kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN.<br />

10. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama.<br />

Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011<br />

120 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 26. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran<br />

pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan<br />

1a. Satker Kantor Pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya<br />

kepada Kantor Pusat DJPBN.<br />

1b. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan revisi DIPA beserta ADK-nya kepada<br />

kantor Wilayah DJPBN.<br />

2a. Setelah DIPA satker daerah disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN, data revisi<br />

ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN.<br />

2b. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN, disampaikan kepada<br />

KPPN.<br />

3a. Database Bersama di-update berdasarkan data revisi DIPA yang disahkan oleh kantor<br />

Pusat/Kantor Wilayah DJPBN.<br />

3b. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat DJPBN, disampaikan kepada<br />

KPPN.<br />

4. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama.<br />

Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011<br />

121 | P a g e


Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />

<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />

Lampiran 27. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran<br />

pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran<br />

1a. Satker kantor pusat menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Pusat DJPBN..<br />

1b. Satker daerah menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Wilayah DJPBN.<br />

2a. Data POK revisi satker kantor pusat ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN.<br />

2b. ADK POK revisi satker daerah, disampaikan kepada KPPN.<br />

3a. Database Bersama di-update berdasarkan Data POK revisi satker kantor<br />

pusat/daerah.<br />

3b. ADK POK revisi satker kantor pusat, disampaikan kepada KPPN.<br />

4. Database DJA di-update berdasarkan database Bersama.<br />

Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011<br />

122 | P a g e

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!