Pedoman Pelaksanaan Program
Pedoman Pelaksanaan Program
Pedoman Pelaksanaan Program
Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!
Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
KATA PENGANTAR<br />
Tanaman pangan merupakan salah satu subsektor pertanian dan ekonomi<br />
yang sangat penting dan strategis, karena subsektor tanaman pangan merupakan<br />
salah satu subsektor bagi pemenuhan pangan bagi rakyat Indonesia, merupakan<br />
salah satu sumber pendapatan dan kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia, dan<br />
sekaligus sebagai sumber pendapatan bagi bangsa Indonesia. Dibalik nilai (value)<br />
yang penting dan strategis tersebut, subsektor tanaman pangan juga merupakan<br />
salah satu pusat kemiskinan di Indonesia. Pengusahaan lahan yang sangat sempit<br />
dan ketidakberdayaan dalam menentukan harga menjadi faktor penyebab kemiskinan<br />
bagi pelaku usaha (petani) tanaman pangan. Sementara itu, disisi lain, pelaku usaha<br />
(petani) tanaman pangan dituntut untuk berpartisipasi dalam membangun kekuatan<br />
pangan nasional melalui peningkatan produktivitas maupun peningkatan indeks<br />
pertanaman. Tuntutan tersebut sering kali terbentur pada ketidakberdayaan petani<br />
dalam menerapkan (mengadopsi) teknologi karena keterbatasan modal usaha.<br />
Menyadari begitu rumit permasalahan pencapaian sasaran pembangunan<br />
tanaman pangan maka upaya keterpaduan dan penyelarasan antar sektor/subsektor,<br />
baik di Pusat dan Daerah. Pada tahun 2012, untuk menetapkan pencapaian Empat<br />
Sukses Kementerian Pertanian sebagai sasaran strategis meliputi a) mewujudkan<br />
pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, b) mewujudkan<br />
peningkatan diversifikasi pangan, c) mewujudkan peningkatan nilai tambah, daya<br />
saing, dan ekspor, serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani. Orientasi<br />
peningkatan produksi dan peningkatan pendapatan dilakukan secara bersamaan<br />
untuk memberikan rasa keadilan bagi petani. Pemberdayaan petani dengan<br />
memberikan berbagai instrumen bantuan/subsidi maupun insentif lainnya menjadi<br />
prioritas pemerintah. Untuk itu, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melakukan<br />
penguatan strategi sebagai respon terhadap perubahan lingkungan dan keterbatasan<br />
sumber daya yang ada.<br />
Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan adalah 1) peningkatan<br />
produktivitas, 2) perluasan areal dan optimasi lahan, 3) penurunan konsumsi beras<br />
dan diversifikasi pangan, serta perbaikan manajemen. Implementasi pencapaian<br />
produksi ini melibatkan semua stakeholder. Dalam konteks tersebut, Direktorat<br />
Jenderal Tanaman Pangan memiliki 1 program sebagai wilayah tanggung jawab<br />
tugas pokok dan fungsi yaitu <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas dan<br />
Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada<br />
Berkelanjutan<br />
i | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Dalam mengoptimalkan kinerja dan mendorong akuntabilitas kinerja<br />
<strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan<br />
Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan, maka Direktorat<br />
Jenderal Tanaman Pangan menerbitkan pedoman pelaksanaan program, pedoman<br />
pelaksanaan kegiatan, dan pedoman pelaksanaan teknis, sebagai acuan atau dasar<br />
pelaksanaan program dan kegiatan. <strong>Pedoman</strong> pelaksanaan program ini merupakan<br />
acuan yang bersifat umum bagi penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan dan<br />
pedoman teknis.<br />
Sebaik apapun pedoman pelaksanaan yang diterbitkan, namun jika tidak<br />
ditaati dan dilaksanakan dengan baik, maka dapat dipastikan bahwa hasil pencapaian<br />
program tidak tepat dari ukuran yang ditetapkan. Komitmen dan konsistensi menjadi<br />
dua pilar yang perlu ditumbuhkembangkan dalam mewujudkan proses pembangunan<br />
yang telah ditetapkan sehingga proses pembangunan tanaman pangan dapat<br />
terlaksana secara berkelanjutan (sustainable). Berbagai masukan menjadi sangat<br />
penting agar pedoman pelaksanaan program ini menjadi lebih baik.<br />
Direktur Jenderal Tanaman Pangan,<br />
Udhoro Kasih Anggoro<br />
ii | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
DAFTAR ISI<br />
KATA PENGANTAR i<br />
DAFTAR ISI iii<br />
DAFTAR TABEL iv<br />
DAFTAR GAMBAR vi<br />
DAFTAR LAMPIRAN vii<br />
I. PENDAHULUAN 1<br />
1.1. Latar Belakang 1<br />
1.2. Dasar Hukum 4<br />
1.3. Tujuan 6<br />
1.4. Sasaran 7<br />
1.5. Istilah dan Pengertian 8<br />
II. SASARAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN 15<br />
TANAMAN PANGAN TA. 2012<br />
2.1. Sasaran 16<br />
2.2. Strategi 17<br />
2.3. Kebijakan 19<br />
III. PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP<br />
DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA. 2012<br />
23<br />
3.1. <strong>Program</strong> 24<br />
3.2. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan <strong>Program</strong> 33<br />
3.3. Kegiatan 34<br />
IV. TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN 55<br />
PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN<br />
PANGAN TA. 2012<br />
4.1. Tata Hubungan Kerja 55<br />
4.2. Pengorganisasian 56<br />
4.3. Pengelolaan Anggaran 63<br />
4.4. Ketentuan Pidana, Sanksi Administratif, dan Ganti Rugi 69<br />
V. PENGENDALIAN, PENGAWASAN, EVALUASI DAN PELAPORAN 71<br />
5.1 Pengendalian <strong>Program</strong>, Kegiatan dan Anggaran 71<br />
5.2 Pengawasan <strong>Program</strong>, Kegiatan dan Anggaran 72<br />
5.3 Monitoring dan Evaluasi 73<br />
5.4 Pelaporan 74<br />
VII. PENUTUP 77<br />
iii | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
DAFTAR TABEL<br />
Tabel 1 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi<br />
Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012<br />
16<br />
Tabel 2 <strong>Program</strong> dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA<br />
2012<br />
25<br />
Tabel 3 Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan 26<br />
Tabel 4<br />
<strong>Program</strong>/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA<br />
2012<br />
Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi<br />
Melalui SLPTT dan LokasiPengembangan Melalui APBN TA<br />
2012<br />
27<br />
Tabel 5 Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung<br />
<strong>Program</strong> Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. 2012<br />
29<br />
Tabel 6 Anggaran Menurut Jenis Belanja Per 30<br />
Tabel 7<br />
<strong>Program</strong>/KegiatanDirektorat Jenderal Tanaman Pangan TA<br />
2012<br />
Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal<br />
Tanaman Pangan TA 2012<br />
32<br />
Tabel 8 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan <strong>Program</strong> Direktorat Jenderal<br />
Tanaman Pangan TA 2012<br />
34<br />
Tabel 9 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA.<br />
2012<br />
36<br />
Tabel 10 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA<br />
2012<br />
38<br />
Tabel 11 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan<br />
Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012<br />
39<br />
Tabel 12 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai 40<br />
Tabel 13 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang<br />
dan Umbi TA 2012<br />
41<br />
Tabel Penilaian 14 Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi<br />
Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012<br />
42<br />
Tabel 15 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih 45<br />
Tabel 16<br />
Tanaman Pangan TA. 2012<br />
Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem<br />
Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012<br />
46<br />
Tabel 17 Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan<br />
TA 2012<br />
47<br />
Tabel 18 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan<br />
Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012<br />
48<br />
iv | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Tabel 19 Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari<br />
Gangguan OPT dan DPI TA 2012<br />
Tabel 20 Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman<br />
Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012<br />
Tabel 21 Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis<br />
Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />
Tabel 22 Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan<br />
Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA<br />
2012<br />
Tabel 23 Jumlah Satuan Kerja Pelaksana <strong>Program</strong> dan Kegiatan Lingkup<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />
Tabel 24 Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja<br />
(Satker) DIPA TA 2012<br />
49<br />
50<br />
52<br />
53<br />
59<br />
60<br />
v | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
DAFTAR GAMBAR<br />
Gambar 1 Hubungan<br />
<strong>Pelaksanaan</strong><br />
Perencanaan Kinerja dan <strong>Pedoman</strong> 16<br />
Gambar 2 Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian<br />
Pertanian<br />
18<br />
Gambar 3 Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan 26<br />
Gambar 4 Butir-Butir Penjelasan <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> 39<br />
<strong>Program</strong>/Kegiatan<br />
Gambar 5 Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja 39<br />
Pembangunan Tanaman Pangan<br />
vi | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
DAFTAR LAMPIRAN<br />
Lampiran 1 Daftar Satuan Kerja di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />
TA. 2012<br />
84<br />
Lampiran 2 Agenda Perencanaan Nasional 107<br />
Lampiran 3 Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman<br />
Pangan TA 2012<br />
111<br />
Lampiran 4 Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 112<br />
Lampiran 5 Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 113<br />
Lampiran 6 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />
Produksi Padi Tahun 2012<br />
114<br />
Lampiran 7 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />
Produksi Jagung Tahun 2012<br />
115<br />
Lampiran 8 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />
Produksi Kedelai Tahun 2012<br />
116<br />
Lampiran 9 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />
Produksi Kacang Tanah Tahun 2012<br />
117<br />
Lampiran 10 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />
Produksi Kacang Hijau Tahun 2012<br />
118<br />
Lampiran 11 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />
Produksi Ubi Kayu Tahun 2012<br />
123<br />
Lampiran 12 Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan<br />
Produksi Ubi Jalar Tahun 2012<br />
141<br />
Lampiran 13 Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.<br />
2012<br />
142<br />
Lampiran 14 Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman<br />
Pangan TA 2012<br />
143<br />
Lampiran 15 Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman<br />
Pangan<br />
144<br />
Lampiran 16 Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 147<br />
Lampiran 17 Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi<br />
Pemerintah<br />
148<br />
Lampiran 18 Alur Sistem Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan 149<br />
Lampiran 19 Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan 150<br />
Lampiran 20 Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Pagu 151<br />
Lampiran 21<br />
Anggaran Kementerian/Lembaga<br />
Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi 153<br />
vii | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Anggaran K/L<br />
Lampiran 22 Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang<br />
Lampiran 23<br />
Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan<br />
Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor<br />
Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/Kantor Wilayah<br />
Direktorat Jenderal Perbendaharaan<br />
Lampiran 24 Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan<br />
Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran<br />
Lampiran 25 Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada<br />
Direktorat Jenderal Anggaran<br />
Lampiran 26 Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada<br />
Direktorat Jenderal Perbendaharaan<br />
Lampiran 27 Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada<br />
Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran<br />
154<br />
159<br />
161<br />
162<br />
163<br />
164<br />
viii | P a g e
1.1. Latar Belakang<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
BAB I<br />
PENDAHULUAN<br />
Pembangunan nasional merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua<br />
komponen bangsa dalam rangka mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana yang<br />
diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia berdasarkan<br />
Pancasila. Visi Indonesia sampai tahun 2025 adalah Indonesia yang Mandiri, Maju,<br />
Adil dan Makmur dengan membagi kedalam 4 (empat) tahapan Pembangunan<br />
Jangka Menengah (RPJM). 1) Visi Indonesia Tahun 2014 adalah Indonesia yang<br />
Sejahtera, Demokratis, dan Berkeadilan. Dalam konteks ini, arahan pokok dan<br />
strategis Presiden Republik Indonesia agar melakukan langkah-langkah terobosan<br />
(breakthrough), bukan langkah-langkah biasa (business as usual).<br />
Untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Tahun 2014 maka perlu<br />
dilakukan suatu proses perencanaan pembangunan nasional yang terarah, terfokus,<br />
seimbang, dan berkelanjutan. Proses perencanaan pembangunan nasional dilakukan<br />
dalam suatu sistem. Sistem perencanaan pembangunan nasional merupakan satu<br />
kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana<br />
pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dapat<br />
dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan<br />
Daerah, yang berdasarkan demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan,<br />
berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta kemandirian dengan<br />
menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional.<br />
Mengacu pada visi tersebut, tema Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2014<br />
Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif, Berkelanjutan<br />
dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. 2) Pembangunan<br />
dimaksud dijalankan berlandaskan 4 jalur strategi pembangunan yaitu 1) mendorong<br />
pertumbuhan (pro-growth), 2) memperluas kesempatan kerja (pro-job), 3)<br />
menanggulangi kemiskinan (pro-poor), dan 4) mendorong pelestarian lingkungan<br />
yang ramah (pro-environment). Ketahanan pangan merupakan salah satu program<br />
pembangunan dengan status prioritas nasional. Sasaran yang perlu dicapai pada<br />
prioritas nasional dimaksud adalah:<br />
a. Terpeliharanya dan meningkatnya pencapaian swasembada bahan pangan<br />
pokok<br />
b. Terjaminnya penyaluran subsidi pangan bagi masyarakat miskin<br />
1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP)<br />
2) Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012<br />
1 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
c. Terjaganya stabilitas harga bahan pangan dalam negeri<br />
d. Meningkatnya kualitas pola konsumsi pangan masyarakat dengan skor Pola<br />
Pangan Harapan (PPH) menjadi sekitar 89,8<br />
e. Terlindunginya dan meningkatnya lahan pertanian pangan<br />
f. Terbangunnya dan meningkatnya luas layanan infrastruktur sumber daya air<br />
dan irigasi<br />
g. Meningkatnya PDB sektor pertanian, perikanan dan kehutanan dengan<br />
pertumbuhan 3,2 persen<br />
h. Tercapainya indeks Nilai Tukar Petani (NTP) diatas 105 dan Nilai Tukar<br />
Nelayan (NTN) menjadi 110.<br />
Selain dari sasaran prioritas nasional tersebut, diperlukan prakarsa-prakarsa<br />
baru. Prakarsa-prakarsa baru yang dimaksudkan sebagai pengungkit dalam<br />
meningkatkan kesejahteraan rakyat meliputi:<br />
- Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia<br />
(MP3EI)<br />
- Percepatan Pembangunan Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara<br />
- Penguatan Penanggulangan Kemiskinan<br />
- Peningkatan langkah-langkah dalam rakyat dalam rangka mencapai ketahanan<br />
pangan dimana surplus 10 juta ton beras per tahun.<br />
Penuangan arah dan kebijakan pembangunan pertanian terutama berkaitan<br />
dengan tanaman pangan dikonsolidasikan dalam berbagai rancangan program. Pada<br />
tahun anggaran 2012, Kementerian Pertanian memiliki 12 (dua belas) program, yang<br />
dilaksanakan oleh 12 unit eselon I, dimana setiap unit eselon I melaksanakan 1 (satu)<br />
program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki satu program yakni <strong>Program</strong><br />
Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai<br />
Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. <strong>Program</strong> ini difokuskan pada<br />
penguatan aspek ketersediaan pangan bersumber dari produksi dalam negeri, baik<br />
dalam kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu).<br />
Pembangunan tanaman pangan pada dasarnya merupakan rangkaian upaya<br />
untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha tanaman pangan yang<br />
mampu menghasilkan produk mulai dari hulu sampai hilir. Pembangunan tanaman<br />
pangan berorientasi pada peningkatan produksi (ketersediaan) dan peningkatan<br />
pendapatan. Untuk itu, faktor peningkatan produktivitas, peningkatan kapasitas usaha,<br />
serta optimalisasi efisiensi usaha, nilai tambah dan daya saing menjadi indikator<br />
penting dalam mewujudkan kedua orientasi tersebut.<br />
2 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Subsektor tanaman pangan memiliki keragaman komoditas yang cukup<br />
banyak untuk dapat ditumbuhkembangkan. Berdasarkan Keputusan Menteri<br />
Pertanian Nomor 511/Kpts/PD.310/9/2006 tentang Daftar Komoditi Binaan Direktorat<br />
Jenderal Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Hortikultura, dan Direktorat Jenderal<br />
Perkebunan, dimana Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 36 komoditi<br />
tanaman pangan sebagai tanggung jawab binaan.<br />
Namun demikian, karena faktor keterbatasan yang ada, arah dan kebijakan<br />
<strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Tanaman Pangan untuk<br />
Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan diprioritaskan pada:<br />
1) Komoditi utama dan unggulan nasional, yaitu padi, jagung, kedelai, kacang<br />
tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar. Komoditi ini merupakan komoditi<br />
utama dan unggulan bagi kebutuhan pangan pokok nasional.<br />
2) Komoditi alternatif/unggulan daerah (lokal) seperti talas, garut, gembili, sorgum,<br />
gandum dan lain-lain. Komoditi ini sebagai substitusi maupun komplemen dari<br />
komoditas utama dan unggulan nasional.<br />
Pengembangan ketujuh komoditi tanaman pangan diimplementasikan dalam<br />
berbagai jenis kegiatan yang saling terkait dan saling mendukung. Dalam<br />
perkembangannya, sejak tahun 2011, komoditi yang menjadi skala prioritas<br />
difokuskan pada padi, jagung, dan kedelai. Saat ini, ketiga komoditi tersebut<br />
merupakan gambaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal<br />
Tanaman Pangan. Dalam melaksanakan pengembangan komoditi tersebut,<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memantapkan berbagai peraturan perundangundangan<br />
dan memberikan berbagai instrumen anggaran yang diperlukan melalui<br />
APBN, seperti dana dekonsentrasi, dana tugas pembantuan, dana alokasi khusus<br />
(DAK), dana subsidi, dan berbagai jenis lainnya.<br />
Perencanaan kinerja seharusnya dilaksanakan melalui penyusunan<br />
pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis untuk memberikan gambaran<br />
proses pelaksanaan kinerja secara baik dan sistematis. Dalam hal ini, proses<br />
penetapan dan tahapan pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran dapat<br />
didokumentasikan dalam bentuk yang akuntabel. Oleh karena itu, pedoman<br />
pelaksanaan program perlu disusun sebagai salah satu wujud nyata dari akuntabilitas.<br />
<strong>Pedoman</strong> pelaksanaan program ini akan diperkuat oleh pedoman pelaksanaan<br />
kegiatan dan pedoman teknis. Dengan memperhatikan komitmen tersebut,<br />
disusunlah <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan<br />
Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada<br />
Berkelanjutan TA 2012.<br />
3 | P a g e
DOKUMEN PERENCANAAN<br />
PEMBANGUNAN<br />
(RPJP – RPJM – RKP)<br />
DOKUMEN PERENCANAAN<br />
PROGRAM, KEGIATAN DAN<br />
ANGGARAN KEMENTAN<br />
(RENSTRA – RKT – PK)<br />
DOKUMEN PERENCANAAN<br />
PROGRAM, KEGIATAN DAN<br />
ANGGARAN DITJEN TP<br />
(RENSTRA – RKT – PK –<br />
DIPA/RKA-KL/POK)<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Gambar 1. Hubungan Perencanaan Kinerja dan <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong><br />
1.2. Dasar Hukum<br />
PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA<br />
PROGRAM, KEGIATAN DAN ANGGARAN<br />
KEMENTAN<br />
PEDOMAN PENGELOLAAN JENIS<br />
ALOKASI DANA (DANA<br />
DEKONSENTRASI, TUGAS<br />
PEMBANTUAN, DAK, DLL)<br />
PEDOMAN PENGELOLAAN BANTUAN<br />
SOSIAL<br />
PEDOMAN PENGELOLAAN<br />
ADMINISTRASI KEUANGAN<br />
PEDOMAN PENGENDALIAN, EVALUASI<br />
DAN PELAPORAN KINERJA DAN<br />
KEUANGAN<br />
PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM<br />
DITJEN TANAMAN PANGAN<br />
PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN<br />
MASING-MASING ESELON II<br />
PEDOMAN TEKNIS<br />
TERUTAMA ATURAN TEKNIS<br />
PENGELOLAAN BANTUAN YANG<br />
DIALOKASIKAN KEPADA<br />
PETANI/LEMBAGA/UNIT KERJA<br />
PEMERINTAH<br />
Penyusunan <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> merupakan suatu tuntutan yang wajib<br />
harus dilakukan dalam membangun akuntabilitas kinerja. <strong>Pedoman</strong> yang disusun<br />
terdiri dari tiga (3) jenis yaitu 1) pedoman pelaksanaan program, 2) pedoman<br />
pelaksanaan kegiatan, dan 3) pedoman teknis. Penyusunan pedoman tersebut<br />
mengacu pada peraturan perundang-undangan sebagai berikut:<br />
4 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.<br />
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.<br />
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan<br />
dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.<br />
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan<br />
Pembangunan Nasional.<br />
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah junto<br />
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan<br />
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang<br />
Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.<br />
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan<br />
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.<br />
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan<br />
Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025.<br />
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan<br />
Belanja Negara Tahun Anggaran 2012.<br />
Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja<br />
Pemerintah.<br />
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian<br />
Intern Pemerintah.<br />
Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana<br />
Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah (RKA-KL).<br />
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi<br />
Pemerintah.<br />
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan<br />
dan Kinerja Instansi Pemerintah.<br />
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara<br />
Pengendalian dan Evaluasi <strong>Pelaksanaan</strong> Rencana Pembangunan.<br />
Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan<br />
Rencana Pembangunan Nasional.<br />
Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan<br />
Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau<br />
Hibah Luar Negeri.<br />
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan<br />
Tugas Pembantuan.<br />
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian<br />
Intern Pemerintah.<br />
Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong><br />
APBN, sebagaimana telah diubah beberapa kali, junto Peraturan Presiden<br />
5 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Nomor 53 Tahun 2010 tentang <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> Anggaran<br />
Pendapatan dan Belanja Negara.<br />
Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan<br />
Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.<br />
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa<br />
Pemerintah junto Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang<br />
Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010.<br />
Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja<br />
Pemerintah Tahun 2012.<br />
Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Rincian Anggaran<br />
Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012.<br />
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 59/KMK.06/2005 tentang Sistem<br />
Akuntansi dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.<br />
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.07/2010 tentang <strong>Pedoman</strong><br />
Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan.<br />
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.02/2011 tentang Standar Biaya<br />
Tahun Anggaran 2012.<br />
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.02/2011 tentang Petunjuk<br />
Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian<br />
Negara/Lembaga (RKA-KL) dan Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan dan<br />
<strong>Pelaksanaan</strong> Daftar Isian <strong>Pelaksanaan</strong> Anggaran (DIPA) TA 2012.<br />
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.02/2011 tentang Klasifikasi<br />
Anggaran.<br />
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 215/KMK.02/2011 Tentang Pagu<br />
Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Tahun 2012.<br />
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 95/Permentan/OT.140/12/2011 tentang<br />
Pelimpahan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung<br />
Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun 2012.<br />
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 97/Permentan/OT.140/12/2011 tentang<br />
Penugasan Kepada Bupati/Walikota Dalam Pengelolaan Kegiatan dan<br />
Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun 2012.<br />
1.3. Tujuan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan<br />
Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada<br />
Berkelanjutan TA 2012 bertujuan untuk:<br />
a. memberikan acuan dalam melaksanakan <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi,<br />
Produktivitas, dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan<br />
6 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Swasembada Berkelanjutan sesuai dengan kegiatan-kegiatan skala prioritas,<br />
tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan serta anggaran yang tersedia.<br />
b. meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan program, kegiatan dan<br />
anggaran baik antar sektor/subsektor maupun antara pusat dan daerah.<br />
c. meningkatkan transparansi, efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program,<br />
kegiatan dan anggaran melalui pemantapan pengendalian (monitoring) dan<br />
evaluasi serta pelaporan kinerja.<br />
1.4. Sasaran<br />
Sasaran penyusunan <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi,<br />
Produktivitas, dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan<br />
Swasembada Berkelanjutan TA 2012 adalah terlaksananya kegiatan-kegiatan secara<br />
efektif, efisien dan akuntabel sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang<br />
berlaku oleh penyelenggara pemerintahan yang melaksanakan program dimaksud<br />
dan penerima manfaat langsung.<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan<br />
Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada<br />
BerkelanjutanTA 2012 disusun dengan sistematika sebagai berikut:<br />
Bab I Menguraikan latar belakang, dasar hukum, tujuan, sasaran, istilah dan<br />
pengertian<br />
Bab II Menguraikan sasaran, kebijakan, dan strategi pembangunan tanaman<br />
pangan<br />
Bab III Menguraikan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman<br />
Pangan TA 2012<br />
Bab IV Menguraikan tata hubungan kerja dan pengorganisasian pelaksanaan<br />
program, kegiatan, dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman<br />
Pangan TA 2012<br />
Bab V Menguraikan pengendalian, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program,<br />
kegiatan dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA<br />
2012<br />
Bab VI Penutup<br />
<strong>Pedoman</strong> pelaksanaan program ini dilengkapi dengan beberapa lampiran<br />
penting sebagai referensi dalam penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan atau<br />
pedoman teknis kegiatan.<br />
7 | P a g e
1.5. Istilah dan Pengertian<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Beberapa istilah dan pengertian pada <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai<br />
Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 sebagai berikut:<br />
1. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah<br />
untuk mencapai sasaran dan tujuan.<br />
2. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan<br />
yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang<br />
tersedia.<br />
3. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) adalah dokumen<br />
perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima tahunan), yaitu<br />
RPJMN I tahun 2005-2009, RPJMN II Tahun 2010-2014, RPJMN III Tahun<br />
2015-2019, dan RPJMN IV Tahun 2020-2024.<br />
4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) merupakan<br />
penjabaran dari misi, visi, dan program Presiden yang penyusunannya<br />
berpedoman pada RPJP Nasional, yang memuat strategi pembangunan<br />
nasional, kebijakan umum, program Kementerian/Lembaga dan lintas<br />
Kementerian/Lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka<br />
ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh<br />
termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa regulasi dan<br />
kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.<br />
5. Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra-KL) adalah<br />
dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program<br />
pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang<br />
ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 5 (lima)<br />
tahun.<br />
6. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan tahunan<br />
yang memuat kerangka makro dan program-program pembangunan baik yang<br />
dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan<br />
mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 1 (satu) tahun. RKP ini<br />
merupakan penjabaran dari RPJM Nasional, memuat prioritas pembangunan,<br />
rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian<br />
secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal, serta program<br />
Kementerian/Lembaga, lintas Kementerian/ Lembaga, kewilayahan dalam<br />
bentuk regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. RKP<br />
merupakan pedoman dalam penyusunan RAPBN, disusun berdasarkan Renja-<br />
KL (Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga) sesuai dengan tugas pokok<br />
dan fungsinya dengan berpedoman pada Renstra-KL (Rencana Strategis<br />
Kementerian Negara/Lembaga).<br />
8 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
7. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana<br />
keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh DPR yang masa<br />
berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember tahun berjalan.<br />
8. Penganggaran Terpadu adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang<br />
dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan<br />
kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi<br />
alokasi dana.<br />
9. <strong>Program</strong> adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih<br />
kegiatan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa unit organisasi dalam satu<br />
atau beberapa instansi untuk mencapai sasaran dan tujuan kebijakan serta<br />
memperoleh alokasi anggaran.<br />
10. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau<br />
beberapa Satuan Kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada<br />
suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya<br />
baik yang berupa personil (sumberdaya manusia), barang, modal, termasuk<br />
peralatan dan teknologi, dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis<br />
sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran<br />
(output) dalam bentuk barang/jasa.<br />
11. Sub Kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian<br />
sasaran dan tujuan kegiatan tersebut.<br />
12. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL)<br />
adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan<br />
kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari<br />
rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Kerja Strategis Kementerian<br />
Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta<br />
anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya.<br />
13. Daftar Isian <strong>Pelaksanaan</strong> Anggaran (DIPA) adalah dokumen pelaksanaan<br />
anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja yang<br />
disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah<br />
Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan<br />
berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan.<br />
14. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) adalah dokumen yang merupakan<br />
bagian tidak terpisah dari DIPA dan RKA-KL yang memuat kegiatan secara rinci<br />
serta harga satuannya dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam<br />
kurun waktu satu tahun anggaran.<br />
15. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah<br />
dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan<br />
kualitas terukur.<br />
16. Indikator Kinerja diartikan sebagai ukuran kuantitatif/kualitatif yang<br />
menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran/tujuan yang telah ditetapkan.<br />
9 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Indikator kinerja merupakan sesuatu yang dapat diukur sebagai dasar untuk<br />
menilai kinerja, baik dalam tahap perencanaan (ex-ante), tahap pelaksanaan<br />
(on-going), maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post). Indikator kinerja<br />
juga digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan<br />
kemajuan dalam rangka menuju tujuan/sasaran yang telah ditetapkan. Tanpa<br />
indikator kinerja, maka akan sulit menilai kinerja<br />
kebijaksanaan/program/kegiatan yang pada akhirnya bermuara pada kinerja<br />
organisasi.<br />
17. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atas<br />
keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan.<br />
18. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya<br />
keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program.<br />
19. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang<br />
dilaksanakan untuk mendukung percapaian sasaran dan tujuan program dan<br />
kebijakan.<br />
20. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada<br />
Gubernur sebagai wakil pemerintah.<br />
21. Anggaran Dekonsentrasi adalah anggaran yang berasal dari APBN yang<br />
dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua<br />
penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi, tidak<br />
termasuk anggaran yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah.<br />
Pemberian anggaran dekonsentrasi tidak terlepas dari kewajibannya untuk<br />
melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada<br />
Menteri/Pimpinan lembaga terkait.<br />
22. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah Pusat kepada Daerah<br />
dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan<br />
mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan dalam<br />
hal ini Menteri/Pimpinan Lembaga terkait.<br />
23. Anggaran Tugas Pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang<br />
dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran<br />
dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan.<br />
24. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) adalah pejabat<br />
pemegang kewenangan dalam penggunaan anggaran satuan kerja yang<br />
dialokasikan dalam APBN. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran<br />
adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab<br />
atas pengelolaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang<br />
bersangkutan.<br />
25. Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima,<br />
menyimpan, menyetorkan, menatausahakan, dan mempertanggung jawabkan<br />
10 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
uang pendapatan negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada<br />
kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah.<br />
26. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima,<br />
menyimpan, membayarkan, menatausahakan, dan mempertanggung jawabkan<br />
uang untuk keperluan belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan<br />
APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/<br />
Pemerintah Daerah.<br />
27. Pinjaman Luar Negeri (PLN) adalah sumber pembiayaan negara dalam bentuk<br />
devisa, barang, dan jasa yang diterima dari badan/lembaga negara asing,<br />
pemerintah negara asing, badan/lembaga keuangan internasional, atau pasar<br />
keuangan internasional yang harus dibayar kembali dengan persyaratan yang<br />
telah disepakati, termasuk penjaminan pembayaran yang dapat menimbulkan<br />
kewajiban pembayaran dikemudian hari.<br />
28. Hibah Luar Negeri (HLN) adalah penerimaan negara yang diperoleh dari luar<br />
negeri baik dalam bentuk devisa atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam<br />
bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang dapat<br />
dinilai dengan uang yang tidak perlu dibayar kembali.<br />
29. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan RI yang dipimpin<br />
oleh Menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu.<br />
30. Unit Organisasi adalah bagian dari suatu Kementerian Negara/Lembaga yang<br />
bertanggung jawab terhadap pengkoordinasian dan/atau pelaksanaan suatu<br />
program.<br />
31. Satuan Kerja (Satker) adalah bagian dari suatu unit organisasi pada<br />
Kementerian Negara/Lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa<br />
kegiatan dari suatu program.<br />
32. Satuan Kerja Pada Instansi Pemerintah adalah organisasi dalam pemerintah<br />
yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu dibidangnya masing-masing<br />
atau bertugas melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari satu program.<br />
33. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah organisasi/lembaga pada<br />
pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan<br />
dekonsentrasi/ tugas pemerintahan di bidang tertentu di daerah provinsi,<br />
kabupaten, atau kota.<br />
34. Kelompok Tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas<br />
kebutuhan bersama yang mempunyai struktur organisasi dan mempunyai basis<br />
tujuan yang bersama.<br />
35. Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau<br />
pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat pelaku usaha<br />
pertanian sehingga dapat mandiri dalam mencapai tujuan yang dikehendaki<br />
sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya.<br />
11 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
36. Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) adalah lembaga yang<br />
tumbuh dan berkembang secara mandiri di masyarakat, dengan kegiatan utama<br />
meningkatkan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan, sosial dan<br />
keagamaan, serta peningkatan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan<br />
masyarakat.<br />
37. Tenaga Harian Lepas (THL) adalah tenaga bantu tenaga penyuluh<br />
pertanian/pendamping revitalisasi perkebunan/pengendali organisme<br />
pengganggu tumbuhan/penanganan kesehatan hewan yang direkrut oleh<br />
Kementerian Pertanian mulai tahun 2007 untuk melaksanakan tugas dan<br />
fungsinya mendampingi kelompok tani/gapoktan dalam pengembangan usaha<br />
agribisnis, dengan ketentuan tidak menuntut untuk diangkat menjadi Pengawai<br />
Negeri Sipil (PNS).<br />
38. Tenaga Harian Lepas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (THL<br />
POPT) adalah tenaga bantu POPT yang direkrut oleh Kementerian Pertanian<br />
selama kurun waktu tertentu sesuai dengan ketersediaan keuangan Negara<br />
untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pembantu POPT di wilayah<br />
pengamatan yang belum memiliki jumlah POPT yang cukup, dengan ketentuan<br />
tidak mempunyai hak untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil.<br />
39. Pemberdayaan Masyarakat Pertanian adalah upaya-upaya yang dilakukan<br />
dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agribisnis sehingga<br />
secara mandiri mampu mengembangkan diri dan dalam melakukan usahanya<br />
secara berkelanjutan.<br />
40. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah seluruh penerimaan<br />
Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan.<br />
41. Pengendalian adalah serangkaian kegiatan manajemen yang dimaksudkan<br />
untuk menjamin agar suatu program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai<br />
dengan rencana yang ditetapkan<br />
42. Pemantauan adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana<br />
pembangunan, mengindentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang<br />
timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin.<br />
Pemantauan dilaksanakan secara berkesinambungan dan bertujuan<br />
memberikan indikasi awal dari perkembangan atau kekurangan suatu<br />
program/kegiatan yang sedang berjalan.<br />
43. Evaluasi adalah suatu penilaian dalam kurun waktu tertentu yang mencoba<br />
untuk menilai relevansi secara sistematis dan obyektif, efisien, efektivitas<br />
pelaksanaan, dan dampak/keberhasilan dari program dan kegiatan yang sedang<br />
berjalanmaupun yang telah selesai. Evaluasi dapat diartikan pula merupakan<br />
rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output),<br />
dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Pemantauan dilakukan pada<br />
seluruh program/kegiatan, sedangkan evaluasi dapat dilakukan secara lebih<br />
12 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
selektif. Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi merupakan alat yang<br />
diperlukan untuk pelaporan dan pengendalian.<br />
44. Pelaporan adalah bentuk penyampaian informasi mengenai hasil pelaksanaan<br />
program/kegiatan yang dituangkan ke dalam formulir yang telah ditentukan<br />
secara berkala dan sesuai dengan petunjuk pengisiannya.<br />
45. Belanja Bantuan Sosial adalah transfer uang atau barang yang diberikan oleh<br />
pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi dari<br />
kemungkinan terjadinya resiko sosial. Transfer uang/barang/jasa tersebut<br />
memiliki ketentuan berikut ini: (a) dapat langsung diberikan kepada anggota<br />
masyarakat dan/atas lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan<br />
untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan; (b) bersifat<br />
sementara atau berkelanjutan; (c) ditujukan untuk mendanai kegiatan<br />
rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, jaminan sosial. Pembedayaan sosial,<br />
penanggulangan kemiskinan dan bencana; (d) untuk meningkatkan taraf<br />
kesejahteraan, kualitas, kelangsungan hidup, dan memulihkan fungsi sosial<br />
dalam rangka mencapai kemandirian sehingga terlepas dari resiko sosial; dan<br />
(e) diberikan dalam bentuk bantuan langsung, penyediaan aksesibilitas,<br />
dan/atau penguatan kelembagaan.<br />
46. Belanja Modal merupakan pengeluaran anggaran yang digunakan dalam<br />
rangka memperoleh atau menambah asset tetap dan asset lainnya yang<br />
member manfaar lebih dari satu periode akuntansi serta melebihi batasan<br />
minimal kapitalisasi asset tetap atau asset lainnya yang ditetapkan pemerintan.<br />
47. Belanja Barang adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan<br />
jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan<br />
maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan<br />
untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan.<br />
Belanja ini terdiri belanja barang dan jasa, belanja pemeliharaan dan belanja<br />
perjalanan.<br />
48. Belanja Pegawai pada dasarnya mencakup seluruh imbalan yang diberikan<br />
kepada pegawai pemerintah dan anggota DPRD, seperti gaji, tunjangan, dan<br />
kompensasi sosial.<br />
49. Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga<br />
yang memproduksi, menjual, mengekspor, atau mengimpor barang dan jasa,<br />
yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga<br />
jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat.<br />
13 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
BAB II<br />
SASARAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN<br />
PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA 2012<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai Visi Tahun 2010-2014,<br />
yaitu ”Terwujudnya Produksi Tanaman Pangan Yang Cukup dan Berkelanjutan”.<br />
Dalam mewujudkan visi tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki misi<br />
sebagai berikut;<br />
1. Mewujudkan birokrasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang profesional<br />
dan berintegritas,<br />
2. meningkatkan perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan<br />
berkelanjutan,<br />
3. mengembangkan sistem penyediaan benih yang efisien, efektif, dan<br />
berkelanjutan,<br />
4. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan,<br />
5. meningkatkan pengamanan produksi tanaman pangan berkelanjutan, dan<br />
6. mendorong peran serta instansi dan stakeholder terkait serta masyarakat dalam<br />
pembangunan tanaman pangan yang berkelanjutan.<br />
Sebagai implementasi visi dan misi tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman<br />
Pangan menetapkan tujuan, sebagai berikut;<br />
1. meningkatkan produktivitas melalui peningkatan luas areal penerapan budidaya<br />
tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan untuk peningkatan produksi<br />
dalam rangka mencapai ketahanan pangan;<br />
2. menyelenggarakan sistem penyediaan benih tanaman pangan yang efisien dan<br />
berkelanjutan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat, dan<br />
tersalurnya benih tanaman pangan bersubsidi;<br />
3. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan di lokasi penerapan<br />
budidaya tanaman pangan yang tepat;<br />
4. mengendalikan serangan OPT dan DPI di lokasi penerapan budidaya tanaman<br />
pangan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman pangan;<br />
5. menyelenggarakan pelayanan teknis dan administrasi secara profesional dan<br />
berintegritas dilingkungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan;<br />
6. menciptakan metoda pengujian mutu benih dan penerapan sistem mutu<br />
laboratorium pengujian benih tanaman pangan;<br />
7. menyediakan informasi dan menciptakan model peramalan OPT sebagai<br />
rujukan dalam pengamanan produksi tanaman pangan.<br />
14 | P a g e
2.1. Sasaran<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Sasaran utama pembangunan tanaman pangan tahun 2010-2014<br />
merupakan turunan dari sasaran utama pembangunan pertanian yaitu: a)<br />
mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, b)<br />
mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan, c) mewujudkan peningkatan nilai<br />
tambah, daya saing, dan ekspor, serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan<br />
petani. Keempat sasaran ini disebut dengan Empat Sukses Kementerian<br />
Pertanian. Pencapaian keempat sasaran (target) utama diharapkan dapat<br />
memberikan dampak kinerja yang signifikan bagi pemenuhan kebutuhan nasional dan<br />
ketahanan pangan nasional, baik kebutuhan pangan, kebutuhan pakan, kebutuhan<br />
energi maupun kebutuhan bahan baku untuk industri lainnya. Selain itu, dampak<br />
kinerja pembangunan tanaman pangan juga diharapkan dapat mengurangi jumlah<br />
kemiskinan dan meningkatkan pendapatan negara.<br />
Pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian tersebut memerlukan<br />
keterpaduan pelaksanaan program baik lingkup Kementerian Pertanian maupun lintas<br />
Kementerian/Pemerintahan. Fungsi dari program pemerintah hanya berupa stimulan<br />
untuk menggerakkan kekuatan ekonomi tanaman pangan secara nasional. Dalam hal<br />
ini, pembangunan tanaman pangan dikelompokkan pada pengembangan komoditas<br />
utama dan komoditas alternatif. Namun demikian, penetapan sasaran produksi<br />
hanya dilakukan pada komoditi padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi<br />
jalar, dan ubi kayu. Sasaran produksi komoditas utama tanaman pangan tahun 2012<br />
dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.<br />
Tabel 1. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi<br />
Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012<br />
Komoditas Luas Tanam<br />
(Ha)<br />
Luas Panen<br />
(Ha)<br />
Produktivitas<br />
(Ku/Ha)<br />
Produksi<br />
(Ton)<br />
Padi 14.026.771 13.556.865 53,13 72.026.235<br />
Jagung 4.874.437 4.655.430 51,55 24.000.000<br />
Kedelai 1.312.000 1.250.000 15,20 1.900.000<br />
Kacang Tanah 825.000 785.700 14,00 1.100.000<br />
Kacang Hijau 342.600 325.500 11,98 390.000<br />
Ubi Kayu 1.381.600 1.315.800 190,00 25.000.000<br />
Ubi Jalar 207.000 196.700 117,00 2.300.000<br />
Sumber: Renstra Ditjen Tanaman Pangan Tahun 2010-2014<br />
(untuk rincinya per provinsi dapat dilihat pada lampiran 3 sd 9)<br />
15 | P a g e
2.2. Strategi<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan akan ditempuh melalui<br />
strategi Tujuh Gema Revitalisasi Pertanian yaitu: (1) Revitalisasi Lahan; (2)<br />
Revitalisasi Perbenihan dan Perbibitan; (3) Revitalisasi Infrastruktur dan Sarana; (4)<br />
Revitalisasi Sumber Daya Manusia; (5) Revitalisasi Pembiayaan Petani; (6)<br />
Revitalisasi Kelembagaan Petani; serta (7) Revitalisasi Teknologi dan Industri Hilir.<br />
TUJUH GEMA<br />
REVITALISASI PERTANIAN<br />
LAHAN<br />
PERBENIHAN/PERBIBITAN<br />
INFRASTRUKTUR DAN SARANA<br />
SUMBER DAYA MANUSIA<br />
PEMBIAYAAN PERTANIAN<br />
KELEMBAGAAN PERTANIAN<br />
TEKNOLOGI DAN INDUSTRI HILIR<br />
EMPAT<br />
SUKSES<br />
SWASEMBADA<br />
BERKELANJUTAN DAN<br />
SWASEMBADA<br />
DIVERSIFIKASI<br />
PANGAN<br />
NILAI TAMBAH, DAYA<br />
SAING, DAN EKSPOR<br />
PENINGKATAN<br />
KESEJAHTERAAN<br />
PETANI<br />
Gambar 2. Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian<br />
Ketujuh strategi pembangunan pertanian tersebut akan mempengaruhi<br />
tingkat keberhasilan yang dapat dicapai. Namun demikian, harus disadari bahwa<br />
ketujuh strategi tersebut melibatkan institusi pemerintah lainnya dan institusi non<br />
pemerintah. Untuk mewujudkan pencapaian Empat Sukses tersebut, orientasi<br />
peningkatan produksi menjadi alat (instrumen) utama yang diprioritaskan. Untuk itu,<br />
sebagai jaminan tambahan bagi petani atau pelaku usaha pertanian, pemerintah<br />
memberikan stimulan baik berupa bantuan, subsidi ataupun insentif lainnya.<br />
Pemberian ini sebagai bagian dari meringankan biaya usaha dan sekaligus<br />
meningkatkan pendapatan.<br />
Secara harfiah, peningkatan produksi diharapkan dapat memacu<br />
peningkatan pendapatan. Berkaitan dengan peningkatan produksi, Direktorat<br />
16 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Jenderal Tanaman Pangan menetapkan strategi pencapaian produksi tanaman<br />
pangan melalui empat strategi atau disebut dengan Catur Strategi Pencapaian<br />
Produksi Tanaman Pangan yaitu:<br />
1. Peningkatan produktivitas<br />
2. Perluasan areal dan optimasi lahan<br />
3. Penurunan konsumsi beras dan pengembangan diversifikasi pangan<br />
4. Peningkatan manajemen.<br />
Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan ini merupakan<br />
penajaman sekaligus revisi atas catur strategi yang selama ini digunakan yaitu 1)<br />
peningkatan produktivitas, 2) perluasan areal tanam, 3) pengamanan produksi, dan 4)<br />
penguatan kelembagaan dan pembiayaan. Hal ini dilakukan sebagai proses<br />
penegasan dan respon atas perubahan lingkungan yang terjadi.<br />
Proses penajaman dan revisi terhadap strategi pencapaian produksi<br />
tanaman pangan telah mempertimbangkan aspek keberlanjutan program<br />
pembangunan tanaman pangan dan aspek keterpaduan baik disisi hulu, on-farm,<br />
maupun hilir.<br />
Gambar 3. Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan<br />
17 | P a g e
2.3. Kebijakan<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012 merupakan penjabaran<br />
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 sebagaimana<br />
yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem<br />
Perencanaan Pembangunan Nasional dan sekaligus merupakan rangkaian lanjutan<br />
dari RKP tahun 2011.<br />
Tema Rencana Kerja Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2012<br />
adalah Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan<br />
Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. Tema ini merupakan<br />
landasan dalam menyusun rancangan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran<br />
pembangunan, yang tertuang dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP)<br />
Tahun 2012. Pada prinsipnya, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib<br />
menerapkan prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas, transparansi, akuntabilitas, dan<br />
partisipasi.<br />
Kementerian Pertanian menetapkan 23 (dua puluh tiga) arah kebijakan<br />
pembangunan pertanian tahun 2010-2014. Dari 23 arah kebijakan tersebut, 9<br />
(sembilan) diantaranya terkait langsung dengan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal<br />
Tanaman Pangan, yaitu: (1) melanjutkan dan memantapkan kegiatan tahun<br />
sebelumnya yang terbukti sangat baik kinerja dan hasilnya, antara lain: bantuan<br />
benih/bibit unggul, subsidi pupuk, alsintan, Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman<br />
Terpadu (SLPTT), Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT); (2)<br />
melanjutkan dan memperkuat kegiatan yang berorientasi pemberdayaan masyarakat<br />
seperti Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3), (3) pemantapan<br />
swasembada beras dan jagung melalui peningkatan produksi yang berkelanjutan, (4)<br />
pencapaian swasembada kedelai, (5) pembangunan sentra-sentra pupuk organik<br />
berbasis kelompok tani, (6) penguatan kelembagaan perbenihan dan perbibitan<br />
nasional,(7) peningkatan keseimbangan ekosistem dan pengendalian hama penyakit<br />
tumbuhan secara terpadu, (8) berperan aktif dalam melahirkan kebijakan makro yang<br />
berpihak kepada petani seperti perlindungan tarif dan non tarif perdagangan<br />
internasional, penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), dan Harga Eceran<br />
Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi, serta (9) peningkatan dan penerapan manajemen<br />
pembangunan pertanian yang akuntabel dan good governance. 3)<br />
3) Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014<br />
18 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Secara operasional, kebijakan pembangunan tanaman pangan diprioritaskan<br />
pada 1) pencapaian swasembada berkelanjutan padi dan jagung, 3) pencapaian<br />
swasembada kedelai tahun 2014, 3) pengembangan komoditas spesifik lokasi di<br />
Kawasan Timur (Direktif Presiden), 4) penguatan pangan nasional berbasis Koridor<br />
MP3I, serta 5) pengembangan produksi di kawasan-kawasan khusus lainnya seperti<br />
kawasan perbatasan dan kawasan agropolitan.<br />
Optimalisasi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan tanaman<br />
pangan perlu didukung oleh iklim berusahatani yang kondusif. Dalam hal ini,<br />
dukungan kebijakan yang berpengaruh terhadap iklim usaha atau pengembangan<br />
agribisnis tanaman pangan harus diperhatikan antara lain:<br />
(1) Harga<br />
Kegiatan usahatani dari suatu komoditas dapat berjalan apabila petani<br />
memperoleh insentif/keuntungan yang memadai. Karena itu, pemerintah perlu<br />
menjaga kestabilan harga dan pasar hasil tanaman pangan sepanjang tahun<br />
melalui penetapan harga pembelian oleh pemerintah, khususnya komoditas<br />
strategis seperti padi, jagung dan kedelai. Pengawasan pemerintah sangat<br />
diperlukan untuk menghindari ulah spekulasi pedagang yang dapat memainkan<br />
harga. Selain itu perlu mengupayakan tumbuh dan berkembangnya kemitraan<br />
antara petani dengan pedagang/industri olahan/pengusaha lainnya. Dalam<br />
pengendalian harga tersebut diperlukan koordinasi dengan instansi dan<br />
stakeholder terkait, baik pada tingkat propinsi dan kabupaten/kota maupun<br />
tingkat pusat.<br />
(2) Bea Masuk<br />
Dalam era globalisasi dewasa ini persaingan pasar antar komoditas tanaman<br />
pangan semakin ketat. Komoditas tanaman impor sering membanjiri pasar<br />
dalam negeri dengan harga yang lebih murah. Hal ini dapat menghancurkan<br />
pengembangan agribisnis tanaman pangan dalam negeri. Produk impor lebih<br />
murah dari produk dalam negeri, karena pemerintah negara-negara eksportir<br />
melindungi para petaninya secara baik dengan berbagai cara, sehingga mampu<br />
menghasilkan kualitas yang baik serta dengan kontinuitas pasokan yang<br />
terjamin. Oleh karena sistem atau cara perlindungan yang diberikan terhadap<br />
petani mulai dari aspek proses produksi sampai aspek pemasaran hasil dan<br />
sistem perdagangannya perlu dikembangkan lebih lanjut.<br />
19 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan tersebut di atas, pemerintah<br />
Indonesia melindungi petaninya melalui pemberlakuan bea masuk (tarif) impor.<br />
Pemberlakuan tarif impor tersebut masih dimungkinkan dalam kerangka<br />
kebijakan World Trade Organization (WTO). Untuk mengatasi penyelundupan<br />
produk-produk tanaman pangan dilakukan koordinasi dalam pengawasan pintupintu<br />
masuk penyelundupan barang-barang dari luar negeri.<br />
(3) Karantina Tumbuhan<br />
Indonesia sangat kaya akan berbagai jenis sumber daya alam hayati berupa<br />
aneka ragam jenis tumbuhan, hewan, ikan yang perlu dijaga dan dilindungi<br />
kelestariannya dari berbagai hama, penyakit dan organisme pengganggu. Oleh<br />
karena itu untuk mencegah masuknya organisme pengganggu tumbuhan, hama<br />
dan penyakit hewan/ikan melalui media pembawa (tumbuhan dan bagianbagiannya,<br />
hewan, asal bahan hewan, hasil bahan asal hewan, ikan dan/atau<br />
benda lainnya) dari luar negeri atau dari area lain di dalam negeri, perlu<br />
pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina.<br />
Pada era perdagangan bebas ini, karantina merupakan suatu instrumen yang<br />
penting untuk memperlancar arus perdagangan, baik ekspor maupun impor.<br />
Dengan adanya peraturan karantina yang selaras dengan aturan sanitasi dan<br />
fitosanitari (sanitary and phytosanitary/SPS regulation) diharapkan dapat<br />
meningkatkan kualitas produk ekspor impor yang pada gilirannya juga dapat<br />
meningkatkan taraf hidup petani. Dengan demikian dapat dihindarkan terjadinya<br />
tuntutan terhadap produk Indonesia di luar negeri akibat buruknya mutu.<br />
Demikian juga derasnya arus masuk produk luar negeri yang tidak bermutu<br />
dapat dicegah melalui pengawasan karantina.<br />
Untuk menjaga masuknya produk-produk pertanian tanaman (termasuk benih)<br />
yang tidak memenuhi persyaratan keamanan hama dan penyakit serta<br />
lingkungan, maka perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas<br />
karantina. Penjagaan dari aspek hama dan penyakit serta lingkungan tersebut<br />
di atas meliputi keamanan jangka pendek sampai dampak dalam jangka waktu<br />
yang panjang. Oleh karena itu koordinasi dengan pihak karantina setempat<br />
perlu dilakukan dan lebih ditingkatkan.<br />
(4) Pengendalian Alih Fungsi Lahan<br />
Meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya ekonomi serta industri,<br />
berakibat terjadinya degradasi, alih fungsi, dan fragmentasi lahan pertanian<br />
20 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
pangan yang mengancam daya dukung wilayah secara nasional dalam<br />
menjaga ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional. Upaya<br />
pengendalian terhadap terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian/non-tanaman<br />
pangan secara efektif dalam Undang-Undang Nomor 41<br />
Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan<br />
(PLP2B) dan Peraturan Pemerintah pendukungnya.<br />
Sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 menyatakan<br />
bahwa Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diselenggarakan<br />
dengan tujuan: a) melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara<br />
berkelanjutan; b) menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara<br />
berkelanjutan; c) mewujudkan kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan;<br />
d) melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani; e)<br />
meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat; f)<br />
meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani; g) meningkatkan<br />
penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak; h) mempertahankan<br />
keseimbangan ekologis; dan i) mewujudkan revitalisasi pertanian. Sanksi bagi<br />
orang, perseorangan, pejabat pemerintah yang melakukan alih fungsi Lahan<br />
Pertanian Pangan Berkelanjutan akan dipidana dengan pidana penjara paling<br />
lama 2-5 tahun dan denda berkisar antara satu milyar rupiah sampai tujuh<br />
milyar rupiah.<br />
21 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
BAB III<br />
PROGRAM DAN KEGIATAN<br />
LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN<br />
TA 2012<br />
<strong>Pelaksanaan</strong> program dan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
memerlukan penjelasan beberapa hal penting sebagai simpul kritis pengendalian<br />
dalam mendorong pencapaian kinerja secara optimal. Penjelasan program dan<br />
kegiatan harus dapat menjelaskan nilai strategis dari komponen-komponen yang<br />
direncanakan. Beberapa aspek yang perlu diperjelas adalah 1) indikator kinerja hasil<br />
(outcome) dan keluaran (output), 2) komponen prioritas pemberdayaan, 3) lokasi<br />
anggaran (Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota) dan jenis dana (dana dekonsentrasi<br />
dan/atau dana tugas pembantuan), 4) jenis belanja, 5) pola pengelolaan bansos, 6)<br />
mekanisme pengadaan barang/jasa, 7) pengukuran indikator kinerja outcome<br />
maupun output, serta 8) penilaian resiko atas keberhasilan program/kegiatan.<br />
BUTIR-BUTIR<br />
PENJELASAN<br />
PEDOMAN<br />
PELAKSANAAN<br />
PROGRAM/KEGIATAN<br />
INDIKATOR KINERJA<br />
OUTCOME DAN OUTPUT<br />
KOMPONEN PRIORITAS<br />
PEMBERDAYAAN<br />
LOKASI ANGGARAN<br />
DAN JENIS DANA<br />
JENIS BELANJA<br />
POLA PENGELOLAAN<br />
BANSOS<br />
MEKANISME PENGADAAN<br />
BARANG/JASA<br />
PENGUKURAN INDIKATOR<br />
KINERJA<br />
PENILAIAN RESIKO ATAS<br />
KEBERHASILAN<br />
PROGRAM/KEGIATAN<br />
Gambar 4. Butir-Butir Penjelasan <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong>/Kegiatan<br />
22 | P a g e
3.1 <strong>Program</strong><br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Dalam mewujudkan sasaran pembangunan tanaman pangan, Direktorat<br />
Jenderal Tanaman Pangan menetapkan program tahun 2012 yaitu <strong>Program</strong><br />
Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk<br />
Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Indikator keberhasilan<br />
kinerja <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan<br />
Untuk mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan adalah perluasan<br />
penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat yang didukung oleh sistem<br />
penanganan pascapanen dan penyediaan benih serta pengamanan produksi yang<br />
efisien untuk mewujudkan produksi tanaman pangan yang cukup dan berkelanjutan.<br />
Untuk mewujudkan pencapaian kinerja program tersebut, maka perlu<br />
didukung pencapaian kinerja kegiatan dari masing-masing unit eselon II yaitu:<br />
1. Direktorat Budidaya Serealia: Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia.<br />
2. Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi: Pengelolaan Produksi<br />
Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.<br />
3. Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan: Pengelolaan Sistem Penyediaan<br />
Benih Tanaman Pangan.<br />
4. Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan: Penanganan Pascapanen<br />
Tanaman Pangan.<br />
5. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan: Penguatan Perlindungan Tanaman<br />
Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan<br />
Dampak Perubahan Iklim (DPI).<br />
6. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan: Dukungan Manajemen dan<br />
Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.<br />
7. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan<br />
Hortikultura (BBPPMBTPH): Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih<br />
dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih.<br />
8. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT):<br />
Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan.<br />
23 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Tabel 2. <strong>Program</strong> dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />
Kode <strong>Program</strong> dan Kegiatan<br />
018.03.06 <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Tanaman<br />
Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan<br />
1761 Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi<br />
1762 Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia<br />
1763 Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan<br />
1764 Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI<br />
1765 Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan<br />
1766 Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan<br />
1767 Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem<br />
Mutu Laboratorium Pengujian Benih<br />
1768 Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan<br />
Untuk mewujudkan kinerja program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
tahun 2012, komponen prioritas yang terus ditumbuhkembangkan adalah:<br />
1) mengoptimalkan bantuan kepada petani, penangkar benih, pelaku usaha<br />
pascapanen, dan lembaga yang mengakar di masyarakat,<br />
2) memperkuat brigade produksi (brigade proteksi) dan petugas di lapangan,<br />
3) memperkuat fungsi unit pelaksana teknis daerah (BBI, BPSBTPH, dan BPTPH),<br />
4) memperkuat cadangan bantuan saprodi dalam mengatasi dampak bencana<br />
yang timbul.<br />
24 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Tabel 3. Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan<br />
<strong>Program</strong>/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />
No. Kegiatan<br />
1.<br />
Pengelolaan Produksi<br />
Tanaman Serealia<br />
2. Pengelolaan Produksi<br />
Tanaman Akabi<br />
3. Pengelolaan Sistem<br />
Penyediaan Benih Tanaman<br />
Pangan<br />
4. Penanganan Pasca Panen<br />
Tanaman Pangan<br />
5. Penguatan Perlindungan TP<br />
Dari Gangguan OPT & DPI<br />
6. Pengembangan Peramalan<br />
Serangan OPT<br />
7. Pengembangan Metode<br />
Pengujian Mutu Benih Dan<br />
Penerapan Sistem Mutu<br />
Laboratorium Pengujian<br />
Benih<br />
8 Dukungan Manajemen &<br />
Teknis Lainnya pada Ditjen<br />
Tanaman Pangan<br />
Komponen Prioritas<br />
Pemberdayaan/Penguatan<br />
- SLPTT hanya dengan bantuan benih dan LL<br />
- SLPTT Model Spesifik Lokasi<br />
- SLPTT Model Peningkatan IP<br />
- Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam<br />
(Jagung)<br />
- Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan<br />
Alternatif<br />
- SLPTT Kedelai<br />
- Pengembangan Kedelai Model<br />
- Pengembangan Kacang Tanah<br />
- Pengembangan Ubi Kayu<br />
- Pengembangan Ubi Jalar<br />
- Pemberian BLBU<br />
- Penguatan UPTD BPSBTPH<br />
- Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman<br />
(PBT)<br />
- Penguatan Balai Benih<br />
- Pemberdayaan Penangkar<br />
- Penguatan UPB<br />
- Bantuan Sarana Pasca Panen<br />
- Survei Susut Hasil Padi<br />
- Penguatan P3OPT<br />
- Gerakan Pengendalian OPT/bantuan<br />
pestisida<br />
- Sekolah Lapangan Pengamatan Hama<br />
Terpadu (SLPHT)<br />
- Sekolah Lapangan Iklim (SLI)<br />
- Pemberdayaan PPAH<br />
- Penguatan Lab Pengamatan Hama Terpadu<br />
(LPHP)<br />
- Pemberdayaan THL POPT-PHP<br />
- Pengembangan Peramalan Serangan OPT<br />
- Pengembangan Metode Pengujian Mutu<br />
Benih<br />
- Pemberian Modal Usaha Kepada LM3<br />
- Penyediaan Cadangan Saprodi Dalam<br />
Mengatasi Bencana Alam<br />
- Pemberian Insentif Mantritani<br />
25 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Salah satu instrumen utama yang menjadi model (benchmark)<br />
pemberdayaan sebagai gambaran pokok atas keberhasilan program Direktorat<br />
Jenderal Tanaman Pangan adalah Sekolah Lapangan meliputi Sekolah Lapangan<br />
Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT), Sekolah Lapangan Pengendalian Hama<br />
Terpadu (SLPHT) dan Sekolah Lapangan Iklim (SLI). Ketiga sekolah lapangan ini<br />
akan didukung oleh berbagai kegiatan pendukung lain. Sekolah lapangan ini<br />
difokuskan pada komoditas padi, jagung dan kedelai. Untuk komoditas lain dilakukan<br />
melalui pola pengembangan dengan luasan tertentu (dem area). Untuk mendukung<br />
pencapaian sasaran produksi komoditas tanaman pangan, sasaran luas tanam<br />
SLPTT atau lokasi pengembangan (dem area) yang dibiayai melalui APBN TA 2012<br />
terlihat pada tabel 4 dibawah ini.<br />
Tabel 4. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi<br />
Melalui SLPTT dan Lokasi Pengembangan Melalui APBN TA 2012<br />
Komoditas Luas Tanam<br />
(Ha)<br />
Luas Panen<br />
(Ha)<br />
Produktivitas<br />
(Ku/Ha)<br />
Produksi<br />
(Ton)<br />
Padi Non Hibrida 2.700.000 2.565..000 64,00 16.416.000<br />
Padi Hibrida 300.000 285.000 77,00 2.195.000<br />
Padi Lahan Kering 500.000 475.000 37,50 1.781.250<br />
Jagung 200.000 190.000 65,00 1.235.000<br />
Kedelai 350.000 332.500 16,00 542.690<br />
Kacang Tanah 150.000 142.500 17,51 268.010<br />
Kacang Hijau 20.000 19.000 13,00 25.260<br />
Ubi Kayu 6.560 6.230 250,00 164.680<br />
Ubi Jalar 10.350 9.830 130,00 139.880<br />
Alokasi anggaran untuk mendukung pencapaian program Direktorat Jenderal<br />
Tanaman Pangan TA 2012 terdiri dari:<br />
1) Dana pusat sebesar Rp. 1.104.899.536.000,-. Alokasi dana pusat dikelola unit<br />
kerja Pusat yaitu 8 unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
(anggaran BPMPT tergabung dalam anggaran Direktorat Perlindungan<br />
Tanaman Pangan).<br />
2) Dana dekonsentrasi sebesar Rp. 512.347.000.000,- Alokasi dana<br />
dekonsentrasi dikelola oleh unit kerja Dinas Provinsi yang menangani<br />
tanaman pangan dan UPTD Provinsi (BBI, BPSBTPH, dan BPTPH).<br />
3) Dana tugas pembantuan sebesar Rp. 1.498.245.455,- Alokasi dana tugas<br />
pembantuan dikelola oleh unit kerja Dinas Kabupaten/Kota yang menangani<br />
tanaman pangan.<br />
26 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Tabel 5. Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung <strong>Program</strong><br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. 2012<br />
NO.<br />
LOKASI<br />
DINAS<br />
UNIT KERJA KAB/KOTA<br />
A. PUSAT 1.104.899.536<br />
1. DITJEN TP-PUSAT - - - - -<br />
2. BBPPMBTPH - - - - - -<br />
3. BBPOPT - - - - - -<br />
4. BPMPT - - - - - -<br />
B PROVINSI & KAB/KOTA 267.093.500 31.846.500 61.400.000 152.007.000 512.347.000 1.498.245.455<br />
1. ACEH 18.498.700<br />
2. SUMUT 9.056.500<br />
3. SUMBAR 8.297.500<br />
4. RIAU 7.448.900<br />
5. JAMBI 6.155.100<br />
6. SUMSEL 13.114.100<br />
7. BENGKULU 4.805.100<br />
8. LAMPUNG 11.633.700<br />
9. DKI 432.600<br />
10. JABAR 16.465.100<br />
11. JATENG 18.478.900<br />
12. DI YOGYAKARTA 9.670.900<br />
13. JATIM 14.901.100<br />
14. KALBAR 12.156.400<br />
15. KALTENG 6.061.900<br />
16. KALSEL 9.934.500<br />
17. KALTIM 6.327.000<br />
18. SULUT 5.138.100<br />
19. SULTENG 6.609.200<br />
20. SULSEL 16.447.800<br />
21. SULTRA 4.926.800<br />
22. BALI 5.178.300<br />
23. NTB 11.303.400<br />
24. NTT 15.142.500<br />
25. MALUKU 1.759.400<br />
26. PAPUA 2.221.600<br />
27. MALUT 1.676.600<br />
28. BANTEN 10.582.800<br />
29. BABEL 1.019.700<br />
30. GORONTALO 4.516.000<br />
31. KEPRI 803.600<br />
32. PAPUA BARAT 1.957.500<br />
33. SULBAR 4.372.200<br />
UNIT KERJA PROVINSI (DANA DEKONSENTRASI)<br />
BBI<br />
550.000<br />
2.400.000<br />
600.000<br />
250.000<br />
1.895.000<br />
700.000<br />
385.000<br />
600.000<br />
-<br />
4.250.000<br />
3.800.000<br />
698.500<br />
3.600.000<br />
500.000<br />
500.000<br />
1.750.000<br />
250.000<br />
400.000<br />
400.000<br />
2.450.000<br />
300.000<br />
750.000<br />
2.300.000<br />
500.000<br />
350.000<br />
339.000<br />
230.000<br />
250.000<br />
100.000<br />
350.000<br />
-<br />
299.000<br />
100.000<br />
ALOKASI ANGGARAN PER UNIT KERJA (Rp. 000)<br />
BPSBTPH<br />
2.131.000<br />
2.320.000<br />
2.176.000<br />
1.330.000<br />
1.804.000<br />
2.428.000<br />
1.492.000<br />
1.840.000<br />
474.000<br />
4.030.000<br />
4.030.000<br />
1.916.000<br />
4.610.000<br />
1.907.000<br />
1.567.000<br />
2.067.000<br />
1.395.000<br />
2.067.000<br />
1.591.000<br />
3.465.000<br />
1.410.000<br />
2.007.000<br />
2.546.000<br />
1.713.000<br />
1.404.000<br />
1.304.000<br />
1.278.000<br />
1.558.000<br />
600.000<br />
1.398.000<br />
-<br />
721.000<br />
821.000<br />
BPTPH<br />
6.480.000<br />
8.473.000<br />
5.642.000<br />
2.814.500<br />
3.184.000<br />
4.926.500<br />
2.494.500<br />
5.487.500<br />
910.500<br />
12.242.000<br />
12.562.000<br />
2.738.500<br />
14.039.000<br />
4.055.000<br />
3.246.000<br />
5.090.000<br />
3.113.500<br />
3.581.500<br />
4.678.500<br />
8.314.000<br />
3.847.000<br />
3.114.000<br />
4.439.000<br />
4.187.500<br />
3.218.000<br />
3.152.000<br />
2.566.000<br />
3.797.500<br />
1.544.000<br />
2.825.000<br />
-<br />
2.644.000<br />
2.600.500<br />
SUB TOTAL<br />
27.659.700<br />
22.249.500<br />
16.715.500<br />
11.843.400<br />
13.038.100<br />
21.168.600<br />
9.176.600<br />
19.561.200<br />
1.817.100<br />
36.987.100<br />
38.870.900<br />
15.023.900<br />
37.150.100<br />
18.618.400<br />
11.374.900<br />
18.841.500<br />
11.085.500<br />
11.186.600<br />
13.278.700<br />
30.676.800<br />
10.483.800<br />
11.049.300<br />
20.588.400<br />
21.543.000<br />
6.731.400<br />
7.016.600<br />
5.750.600<br />
16.188.300<br />
3.263.700<br />
9.089.000<br />
803.600<br />
5.621.500<br />
7.893.700<br />
(DANA TUGAS<br />
PEMBANTUAN)<br />
54.799.820<br />
47.125.100<br />
28.260.830<br />
16.208.160<br />
21.549.320<br />
46.017.140<br />
14.626.310<br />
46.801.420<br />
-<br />
163.405.020<br />
207.618.725<br />
34.412.580<br />
348.478.060<br />
28.642.020<br />
15.709.740<br />
34.604.350<br />
12.377.210<br />
21.365.800<br />
21.414.480<br />
92.201.500<br />
18.114.880<br />
13.238.800<br />
47.403.820<br />
28.990.940<br />
5.449.000<br />
7.969.260<br />
4.250.750<br />
76.582.810<br />
1.587.200<br />
14.731.300<br />
-<br />
8.161.630<br />
16.147.480<br />
1.084.746.536<br />
7.300.000<br />
9.353.000<br />
3.500.000<br />
2.010.592.455<br />
82.459.520<br />
69.374.600<br />
44.976.330<br />
28.051.560<br />
34.587.420<br />
67.185.740<br />
23.802.910<br />
66.362.620<br />
1.817.100<br />
200.392.120<br />
246.489.625<br />
49.436.480<br />
385.628.160<br />
47.260.420<br />
27.084.640<br />
53.445.850<br />
23.462.710<br />
32.552.400<br />
34.693.180<br />
122.878.300<br />
28.598.680<br />
24.288.100<br />
67.992.220<br />
50.533.940<br />
12.180.400<br />
14.985.860<br />
10.001.350<br />
92.771.110<br />
4.850.900<br />
23.820.300<br />
803.600<br />
13.783.130<br />
24.041.180<br />
TOTAL 3.115.491.991<br />
Dalam meningkatkan pelaksanaan program dan kegiatan lingkup Direktorat<br />
Jenderal Tanaman Pangan TA 2012, alokasi anggaran untuk belanja pegawai,<br />
belanja barang, belanja modal, dan belanja bantuan sosial. Bila dilakukan<br />
perbandingan masing-masing jenis belanja terhadap total anggaran maka proporsi<br />
terbesar dialokasikan untuk belanja bantuan sosial sebesar 78,21%, kemudian diikuti<br />
TOTAL<br />
27 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
belanja barang 18,88%, belanja pegawai 1,73% dan belanja modal 1,18%.<br />
Pengalokasian anggaran tersebut dapat di lihat pada tabel 6 di bawah ini.<br />
Tabel 6. Anggaran Menurut Jenis Belanja Per <strong>Program</strong>/Kegiatan<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />
Kode <strong>Program</strong> dan Kegiatan<br />
018.03.06<br />
1761<br />
1762<br />
1763<br />
1764<br />
1765<br />
1766<br />
1767<br />
1768<br />
<strong>Program</strong> Peningkatan<br />
Produksi, Produktivitas,<br />
dan Mutu Tanaman<br />
Pangan Untuk Mencapai<br />
Swasembada dan<br />
Swasembada<br />
Berkelanjutan<br />
Pengelolaan Produksi<br />
Tanaman Aneka Kacang<br />
dan Umbi<br />
Pengelolaan Produksi<br />
Tanaman Serealia<br />
Pengelolaan Sistem<br />
Penyediaan Benih Tanaman<br />
Pangan<br />
Penguatan Perlindungan<br />
Tanaman Pangan dari<br />
Gangguan OPT dan DPI<br />
Penanganan Pasca Panen<br />
Tanaman Pangan<br />
Dukungan Manajemen dan<br />
Teknis Lainnya pada Ditjen<br />
Tanaman Pangan<br />
Pengembangan Metode<br />
Pengujian Mutu Benih dan<br />
Penerapan Sistem Mutu<br />
Laboratorium Pengujian<br />
Benih<br />
Pengembangan Peramalan<br />
Serangan Organisme<br />
Pengganggu Tumbuhan<br />
Belanja<br />
Pegawai<br />
Jenis Belanja (Rp. 000)<br />
Belanja<br />
Barang<br />
Belanja<br />
Modal<br />
Belanja<br />
Bantuan<br />
Sosial<br />
Total<br />
(Rp. 000)<br />
53.800.919 588.187.829 36.668.775 2.436.834.468 3.115.491.991<br />
0 20.441.510 889.000 154.418.520 175.749.030<br />
0 96.516.150 430.500 847.342.350 944.289.000<br />
0 151.534.052 9.016.950 1.292.699.998 1.453.251.000<br />
0 178.235.085 6.002.315 1.962.600 186.200.000<br />
0 22.894.000 231.000 67.411.000 90.536.000<br />
46.507.092 109.871.219 19.435.650 73.000.000 248.813.961<br />
3.164.532 3.628.568 506.900 0 7.300.000<br />
4.129.285 5.067.246 156.460 0 9.353.000<br />
Rupiah Murni 53.800.919 588.062.869 36.496.735 2.436.834.468 3.115.194.991<br />
Pinjaman Luar Negeri 0 0 0 0 0<br />
Rupiah Murni Pendamping 0 0 0 0 0<br />
PNBP 0 124.960 172.040 0 297.000<br />
Pinjaman Dalam Negeri 0 0 0 0 0<br />
Badan Layanan Umum 0 0 0 0 0<br />
Stimulus 0 0 0 0 0<br />
Hibah Dalam Negeri 0 0 0 0 0<br />
Hibah Luar Negeri 0 0 0 0 0<br />
Hibah Langsung Dalam Negeri 0 0 0 0 0<br />
Sumber : RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA 2012<br />
Dari keempat jenis belanja diatas, belanja yang merupakan fasilitasi<br />
langsung kepada masyarakat adalah belanja bantuan sosial. Berkaitan dengan<br />
belanja bantuan sosial dapat dijelaskan bahwa penetapan alokasi anggaran untuk<br />
28 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
belanja bantuan sosial dikategorikan karena alasan pemberdayaan sosial dan<br />
penanganan bencana. Memperhatikan pengelolaan belanja bantuan sosial, maka<br />
penempatan alokasi DIPA disesuaikan dengan karakteristik jenis bantuan sosial yang<br />
diberikan. Pola pelaksanaan bantuan sosial dimaksud dilakukan melalui transfer<br />
uang dan/atau transfer barang. Hal ini sangat tergantung dengan ketepatan dan<br />
keefektifan dalam penyaluran dan pelaksanaan kegiatan. Hal ini dapat dilihat secara<br />
rinci pada tabel 7.<br />
Mekanisme pengadaan barang/jasa melalui transfer barang seperti yang<br />
terlihat pada tabel 6 mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku,<br />
dimana salah satu peraturan perundang-undangan yang mengatur pengadaan<br />
barang/jasa pemerintah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010<br />
termasuk perubahannya. 4) Sedangkan pengadaan barang/jasa melalui transfer uang<br />
akan diatur secara rinci melalui pedoman teknis masing-masing. Namun demikian,<br />
persyaratan administrasi pengadaan barang/jasa melalui transfer uang adalah<br />
membuat kontrak berdasarkan Rencana Usaha Kegiatan (RUK) antara penerima dan<br />
unit kerja pengelola langsung. Apabila ada hal-hal yang berubah dari RUK awal<br />
maka dapat dilakukan penyesuaian kontrak dengan melampirkan Berita Acara dan<br />
memperoleh persetujuan unit kerja pengelola (satker yang menangani bantuan<br />
tersebut).<br />
Untuk memastikan keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman<br />
Pangan, pengukuran kinerja dilakukan dengan mengukur indikator outcome dan<br />
indikator output. Secara umum, pengukuran indikator kinerja output dilakukan<br />
dengan membandingkan capaian fisik dan keuangan terhadap sasaran dan alokasi<br />
anggaran yang ditetapkan. Pemantauan hasil keseluruhan atas indikator output dan<br />
outcome dilakukan melalui pengumpulan informasi dari dinas kabupaten/kota. Namun<br />
demikian, evaluasi pengukuran indikator kinerja outcome yang dititikberatkan pada<br />
keberhasilan peningkatan produktivitas SLPTT. Metodologi pengukuran kinerja<br />
SLPTT dilakukan melalui ubinan (metodologi yang lebih akurat), sebagai berikut:<br />
1. Ubinan SLPTT Padi 14.136 unit 371 Kab/Kota<br />
2. Ubinan SLPTT Jagung Hibrida 1.919 unit 242 Kab/Kota<br />
3. Ubinan SLPTT Kedelai 3.500 unit 175 Kab/Kota<br />
4) Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dilakukan dengan pola lain sepanjang diterbitkan<br />
aturan yang setara dengan peraturan yang mengatur pengadaan barang/jasa yang berlaku. Dalam<br />
administrasi, hal ini disebut dengan lex specialist.<br />
29 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Tabel 7. Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />
No. Jenis Output<br />
Lokasi DIPA Komponen Belanja Bantuan Sosial Pola <strong>Pelaksanaan</strong><br />
Pusat Provinsi Kab/Kota<br />
Pemberdayaan<br />
Sosial<br />
Perlindungan<br />
Sosial<br />
Penanggulangan<br />
Bencana<br />
Penanganan<br />
Kemiskinan<br />
1. SLPTT Padi V V V<br />
2. SLPTT Jagung V V V<br />
3. Optimalisasi Pengembangan Areal<br />
Jagung Hibrida<br />
Transfer<br />
Uang<br />
V V V<br />
4. SLPTT Kedelai V V V<br />
5. Pengembangan Kedelai Model V V V<br />
6. Pengembangan Ubi Kayu/Ubi<br />
Jalar/Kacang Tanah<br />
V V V<br />
7. BLBU PJK Wilayah Jawa V * V V *<br />
8. BLBU PJK Wilayah Luar Jawa V V V<br />
9. Pemberdayaan Penangkar PJK V V V<br />
10. Bantuan Pasca Panen V V V<br />
11. Sarana Pengendali OPT (BPTPH) V V V<br />
12. Bantuan Bencana Alam V V V<br />
13. Bantuan Modal untuk LM3 V V V<br />
Keterangan:<br />
* : sedang dalam proses penegasan<br />
Transfer<br />
Barang<br />
30 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
3.2. Penilaian Risiko atas Keberhasilan <strong>Program</strong><br />
Secara umum, penilaian risiko merupakan proses identifikasi dan sekaligus proses<br />
antisipasi atas faktor-faktor yang dapat menganggu keberhasilan pencapaian program.<br />
Penilaian risiko atas keberhasilan <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu<br />
Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan meliputi<br />
a) penilaian risiko pada saat perencanaan, b) penilaian risiko pada saat pelaksanaan<br />
rencana, serta c) penilaian risiko pada saat pengendalian, evaluasi, dan pelaporan.<br />
Secara umum, penilaian risiko yang perlu diperhatikan adalah:<br />
1) penetapan model stimulan pembangunan,<br />
2) ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki,<br />
3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja (program dan anggaran),<br />
4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman<br />
teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi<br />
(CPCL) dan pola pengelolaan,<br />
5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelolaan<br />
kesatkeran,<br />
6) ketepatan pembentukan tim pembina, pengawalan, monitoring dan evaluasi,<br />
7) ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah<br />
ditetapkan,<br />
8) kekonsistenan dalam mengendalikan, mengevaluasi, dan melaporkan<br />
pelaksanaan.<br />
Penilaian risiko ini bersifat umum dan hanya berupa simpul-simpul utama. Titik risiko ini<br />
akan dirinci pada masing-masing pengelola kegiatan sesuai dengan karakteristik yang<br />
dimiliki.<br />
31 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Tabel 8. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan <strong>Program</strong><br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />
No. Aspek Titik Risiko<br />
I Penyusunan Rencana - Penetapan model stimulan pembangunan<br />
- Ketepatan alokasi anggaran terhadap<br />
dukungan teknis yang dimiliki<br />
- Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan<br />
anggaran<br />
II. <strong>Pelaksanaan</strong> Rencana - Ketepatan penyelesaian dokumen<br />
pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman<br />
teknis terutama yang berkaitan dengan<br />
kriteria calon penerima calon lokasi<br />
(CPCL) dan pola pengelolaan<br />
III. Pengendalian, Evaluasi dan<br />
Pelaporan Rencana<br />
3.3. Kegiatan<br />
- Ketepatan penyelesaian surat keputusan<br />
berkaitan dengan pengelola kesatkeran<br />
- Ketepatan pembentukan tim pembina,<br />
pengawalan, monitoring dan evaluasi<br />
- Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai<br />
dengan jadwal kerja yang sudah<br />
ditetapkan<br />
- Kekonsistenan dalam pengendalian<br />
- Kekonsistenan dalam mengevaluasi<br />
- Kekonsistenan dalamn melaporkan<br />
<strong>Program</strong> Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terdiri dari delapan (8) jenis<br />
kegiatan, dimana 1 unit kerja Eselon II memiliki 1 kegiatan. Pada tahun anggaran 2012,<br />
kinerja <strong>Program</strong> Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan untuk<br />
Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan didukung anggaran melalui<br />
APBN dengan fokus-fokus tertentu sebagai berikut:<br />
3.3.1. Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia<br />
Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia merupakan kegiatan Direktorat<br />
Budidaya Serealia. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman<br />
Serealia adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya serealia yang tepat dan<br />
berkelanjutan. Operasional peningkatan produksi dan produktivitas di lapangan dilakukan<br />
melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) khususnya untuk padi<br />
32 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
(non hibrida, hibrida dan lahan kering), dan jagung (hibrida). Penerapan teknologi<br />
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan instrumen perangsang (stimulus) bagi<br />
daerah sekitarnya. Jenis SLPTT yang dikembangkan adalah 1) SLPTT Reguler dimana<br />
bantuan yang diberikan hanya berupa benih, kecuali 1 Ha Laboratorium Lapangan<br />
diberikan bantuan full paket, 2) SLPTT Spesifik Lokasi dimana bantuan yang diberikan<br />
berupa bantuan full paket (benih, pupuk, dan alsintan), 3) SLPTT Indeks Pertanaman<br />
dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih, pupuk, dan alsintan).<br />
Kriteria penerima SLPTT ini difokuskan kepada petani/kelompoktani yang memiliki<br />
produktivitas yang lebih rendah dari produktivitas kabupaten. Penerapan pola ini<br />
diharapkan terbina kawasan-kawasan andalan, yang berfungsi sebagai pusat belajar<br />
pengambilan keputusan para petani/kelompok tani, sekaligus sebagai tempat tukar<br />
menukar informasi dan pengalaman lapangan, pembinaan manajemen kelompok, serta<br />
sebagai percontohan bagi kawasan lainnya.<br />
Dalam setiap 25 ha areal SLPTT padi non hibrida, 25 ha areal SLPTT padi non<br />
hibrida spesifik lokasi, 25 ha areal SLPTT padi non hibrida peningkatan IP, 10 ha areal<br />
SLPTT padi hibrida, 10 ha areal SLPTT padi hibrida spesifik lokasi, 25 ha areal SLPTT<br />
padi lahan kering, dan 15 ha areal SLPTT jagung hibrida. Masing-masing ditempatkan 1<br />
unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha. Rincian bantuan biaya LL-SLPTT dan<br />
biaya yang diperlukan untuk SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi Peningkatan<br />
Produktivitas dan Peningkatan IP seperti tabel di bawah ini.<br />
No. SLPTT<br />
1. Padi<br />
Luasan/1 Unit SLPTT<br />
(Ha)<br />
- Sawah Non Hibrida 25<br />
- Sawah Hibrida 10<br />
- Lahan Kering 25<br />
2. Jagung 15<br />
Untuk mendukung pelaksanaan SLPTT padi dan jagung, maka disusun standar<br />
biaya untuk masing-masing SLPTT. Standar biaya pada SLPTT yang sifatnya reguler<br />
sebesar Rp. 3.700.000,-/Ha, SLPTT model padi non hibrida diberikan sebesar Rp.<br />
64.850.000,-/Ha, dan SLPTT padi hibrida sebesar Rp. 44.600.000,-/Ha. Biaya untuk<br />
SLPTT ini belum termasuk bantuan benih.<br />
33 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Tabel 9. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA. 2012<br />
SL-PTT Jenis Fasilitas Satuan/Ha<br />
Harga<br />
Satuan (Rp)<br />
Jumlah<br />
(Rp/unit SL)<br />
A. SLPTT Reguler 3.700.000<br />
- Jenis komoditas: Padi<br />
Non Hibrida, Padi<br />
Hibrida, Padi Lahan<br />
Kering, Jagung<br />
Hibrida.<br />
- Terdapat 1 LL dalam<br />
1 unit SLPTT (1 LL = 1<br />
Ha) yang diberikan<br />
bantuan full paket<br />
(benih dan pupuk)<br />
- Sisa lahan dalam 1 LL<br />
hanya diberikan<br />
bantuan benih<br />
B. SLPTT Model Padi<br />
Non Hibrida<br />
- Model terdiri dari<br />
SLPTT Spesifik Lokasi<br />
dan SLPTT<br />
Peningkatan IP<br />
- Bantuan SLPTT<br />
Model meliputi benih,<br />
pupuk dan fasilitasi<br />
gerakan tanam<br />
serempak<br />
- 1 unit SLPTT Model<br />
sama dengan 25 Ha<br />
C. SLPTT Model Padi<br />
Hibrida<br />
- Model Spesifik Lokasi<br />
- Bantuan SLPTT<br />
Model meliputi benih,<br />
pupuk dan fasilitasi<br />
gerakan tanam<br />
serempak<br />
- 1 unit SLPTT Model<br />
sama dengan 10 Ha<br />
- Urea<br />
- NPK<br />
- Pupuk Organik<br />
- Biaya pertemuan<br />
- Insentif pengawalan<br />
oleh pendamping<br />
- Papan nama<br />
- Urea<br />
- NPK<br />
- Pupuk Organik<br />
- Fasilitasi Gerakan<br />
Tanam Serempak<br />
- Biaya operasional<br />
gerakan tanam<br />
serempak<br />
- Biaya pertemuan<br />
- Insentif pengawalan<br />
oleh pendamping<br />
- Papan nama<br />
- Urea<br />
- NPK<br />
- Pupuk Organik<br />
- Fasilitasi Gerakan<br />
Tanam Serempak<br />
- Biaya operasional<br />
gerakan tanam<br />
serempak<br />
- Biaya pertemuan<br />
- Insentif pengawalan<br />
oleh pendamping<br />
- Papan nama<br />
100 kg<br />
300 kg<br />
1.000 kg<br />
10 kali<br />
10 kali<br />
1 buah<br />
100 kg<br />
300 kg<br />
1.000 kg<br />
1 unit<br />
1 paket<br />
10 kali<br />
10 kali<br />
1 buah<br />
100 kg<br />
300 kg<br />
1.000 kg<br />
1 unit<br />
1 paket<br />
10 kali<br />
10 kali<br />
1 buah<br />
1.600<br />
2.300<br />
500<br />
170.000<br />
50.000<br />
150.000<br />
1.600<br />
2.300<br />
500<br />
25.000.000<br />
3.750.000<br />
170.000<br />
50.000<br />
150.000<br />
1.600<br />
2.300<br />
500<br />
25.000.000<br />
3.750.000<br />
170.000<br />
50.000<br />
150.000<br />
160.000<br />
690.000<br />
500.000<br />
1.700.000<br />
500.000<br />
150.000<br />
64.850.000<br />
160.000<br />
690.000<br />
500.000<br />
25.000.000<br />
3.750.000<br />
1.700.000<br />
500.000<br />
150.000<br />
44.600.000<br />
160.000<br />
690.000<br />
500.000<br />
25.000.000<br />
3.750.000<br />
1.700.000<br />
500.000<br />
150.000<br />
Penggunaan dana tersebut selain untuk pengadaan saprodi, biaya pertemuan<br />
kelompok tani, insentif bagi pendamping dan pembuatan papan nama juga untuk<br />
pengadaan alsintan (sesuai kebutuhan kelompok tani) dan biaya operator.<br />
34 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT TA 2012 adalah: padi non<br />
hibrida seluas 2.651.700 ha, padi non hibrida spesifik lokasi seluas 33.550 ha, padi non<br />
hibrida peningkatan IP seluas 14.750 ha, padi hibrida seluas 290.700 ha, padi hibrida<br />
spesifik lokasi 9.300 ha, lahan kering seluas 500.000 ha, dan jagung hibrida seluas<br />
200.000 ha.<br />
Selain itu, pada kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia dilaksanakan<br />
juga fasilitasi kemitraan pangan alternatif dan upaya pembinaan, pengawalan, monitoring<br />
dan evaluasi serealia. Tabel berikut ini menggambarkan alokasi kegiatan pengelolaan<br />
produksi tanaman serealia.<br />
Tabel 10. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012<br />
No. Kegiatan Sasaran Lokasi<br />
1. SLPTT<br />
a. Padi Non Hibrida 2.651.700 Ha 31 Provinsi;<br />
b. Padi Non Hibrida<br />
Spesifik Lokasi<br />
c. Padi Non Hibrida<br />
Peningkatan IP<br />
Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />
33.550 Ha 26 Provinsi;<br />
14.750 Ha 17 Provinsi;<br />
362Kab/Kota<br />
60 Kab/Kota<br />
30 Kab/Kota<br />
d. Padi Hibrida 290.700 Ha 22 Provinsi; 199 Kab/Kota<br />
e. Padi Hibrida Spesifik 9.300 Ha 13 Provinsi; 148<br />
Lokasi<br />
Kab/Kota<br />
f. Padi Lahan Kering 500.000 Ha 30 Provinsi;<br />
g. Jagung Hibrida 200.000 Ha 25 Provinsi;<br />
2. Fasilitasi Kemitraan<br />
Pangan Alternatif<br />
10 Paket 10 Provinsi<br />
3. Pembinaan,<br />
Pengawalan,<br />
Monitoring, dan<br />
Evaluasi Serealia<br />
403 Satker Pusat,<br />
31 Provinsi;<br />
260Kab/Kota<br />
242 Kab/Kota<br />
371 Kab/Kota<br />
Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman serealia titik risiko kegiatan adalah:<br />
(1) penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT, seperti pengolahan tanah,<br />
pemilihan benih, pengaturan tanam, pengairan, pemupukan, pengendalian OPT hingga<br />
panen; (2) ketepatan alokasi anggaran; (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan<br />
35 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
anggaran, (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman<br />
teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL); (5) ketepatan<br />
penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran; (6) ketepatan<br />
pembentukan tim pembina, pengawalan, monitoring dan evaluasi; (7) ketepatan jadwal<br />
waktu proses penentuan penerima bantuan, penyediaan dan penyaluran bantuan, serta (8)<br />
kekonsistenan dalam mengendalikan, mengevaluasi, dan melaporkan pelaksanaan<br />
kegiatan.<br />
Kesalahan dalam penetapan dan penerapan komponen teknologi akan<br />
berdampak pada: (a) menurunnya kuantitas dan kualitas produksi tanaman serealia; (b)<br />
tidak efisiennya biaya usahatani yang digunakan; (c) mengganggu lingkungan tumbuhnya<br />
pertanaman dan lingkungan kehidupan secara keseluruhan. Faktor-faktor tersebut perlu<br />
mendapat perhatian dan apabila tidak berjalan sesuai yang diharapkan maka akan<br />
berdampak pada pelaksanaan kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia yang pada<br />
akhirnya berujung pada tidak tercapainya output yang diharapkan.<br />
Tabel 11. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi<br />
Tanaman Serealian Tahun 2012<br />
No. Uraian Titik Risiko<br />
1. SLPTT Padi - Ketepatan dalam menetapkan CPCL<br />
2. SLPTT Jagung - Ketepatan pemanfaatan anggaran<br />
- Ketepatan pengolahan tanah<br />
- Ketepatan dalam pemilihan teknologi<br />
- Ketepatan pemberian sosial<br />
- Faktor alam (tingkat intensitas cuaca)<br />
- Ketepatan dalam mengevaluasi dan melaporkan<br />
3.3.2. Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi<br />
Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi merupakan<br />
kegiatan Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi. Indikator output kinerja kegiatan<br />
Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi adalah tercapainya luas areal<br />
penerapan budidaya tanaman aneka kacang dan umbi yang tepat dan berkelanjutan.<br />
Dalam mewujudkan peningkatan produksi dan produktivitas kedelai, maka dilakukan<br />
Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) serta pengembangan kedelai<br />
model.<br />
36 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Dalam 10 ha areal SLPTT kedelai ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL)<br />
dengan luasan 1 Ha. Sedangkan pada pengembangan kedelai model dengan luasan 1<br />
Ha. Laboratorium Lapangan memperoleh bantuan Benih dan Pupuk (NPK, Urea dan<br />
Organik) serta melakukan pertemuan petani pelaksana SL. Selain itu pada areal SL-PTT<br />
dialokasikan anggaran untuk ubinan setiap luasan 100 ha mendapat 1 (satu) unit sampling<br />
ubinan. Sementara itu areal SL Non Laboratorium Lapangan hanya mendapat bantuan<br />
benih VUB. Untuk menjamin keberhasilan penerapan di lapangan perlu dilakukan<br />
pengawalan dan pendampingan secara intensif oleh Penyuluh Pertanian, Peneliti, POPT,<br />
PBT dan Mantri Tani.<br />
Tabel 12. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai<br />
No. Uraian Volume<br />
Harga/Satuan<br />
(Rp)<br />
Jumlah<br />
(Rp)<br />
A. SLPTT Kedelai 3.930.000<br />
- Urea 100 Kg 1.600 160.000<br />
- NPK 100 Kg 2.300 230.000<br />
- Kapur Pertanian 500 Kg 1.000 500.000<br />
- Pupuk Hayati 1 Paket 250.000 250.000<br />
- Pupuk Organik 500 Kg 500 250.000<br />
- Pestisida/Herbisida 2 Ltr 250.000 500.000<br />
- Papan nama 1 Paket 150.000 150.000<br />
- Pendampingan Penyuluh 1 Paket 500.000 500.000<br />
- Pertemuan Kelompok Tani 1 Klp 1.390.000 1.390.000<br />
B. Pengembangan Kedelai 3.280.000<br />
- Urea 100 Kg 1.600 160.000<br />
- NPK 100 Kg 2.300 230.000<br />
- Kapur Pertanian 500 Kg 1.000 500.000<br />
- Pupuk Hayati<br />
1 Paket 250.000 250.000<br />
(RYZOBIUM)<br />
- Pupuk Organik 1.000 Kg 500 500.000<br />
- Pestisida 2 Ltr 250.000 500.000<br />
- Herbisida 5 Ltr 80.000 400.000<br />
- Pendampingan Penyuluh 1 Paket 200.000 200.000<br />
- Benih 40 Kg 13.500 540.000<br />
37 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT kedelai TA 2012 seluas<br />
350.000 Ha, pengembangan kedelai model seluas 2.094 Ha, pengembangan kacang tanah<br />
seluas 100 ha, pengembangan ubi kayu seluas 300 ha, dan pengembangan ubi jalar<br />
seluas 850 ha. Untuk memastikan kinerja kegiatan SL-PTT Kedelai maka akan dilakukan<br />
uji ubinan secara baik dan tepat seluas 3.500 Ha. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi<br />
Aneka Kacang dan Umbi sebagaimana tabel berikut.<br />
Tabel 13. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi<br />
TA 2012<br />
No. Kegiatan Sasaran Lokasi<br />
1. SL-PTT Kedelai 350.000 Ha 28 Provinsi; 175 Kab/Kota<br />
2. Pengembangan Kedelai (Model) 2.094 Ha 11 Provinsi; 29 Kab/Kota<br />
3. Pengembangan Kacang Tanah 100 Ha 1 Provinsi; 2 Kab/Kota<br />
4. Pengembangan Ubi Kayu 300 Ha 1 Provinsi; 4 Kab/Kota<br />
5. Pengembangan Ubi Jalar 850 Ha 2 Provinsi; 9 Kab/Kota<br />
6. Koordinasi Non Kedelai 54 Paket 24 Provinsi<br />
7. Pembinaan, Pengawalan,<br />
Monitoring, dan Evaluasi<br />
209 Satker Pusat,<br />
28 Provinsi;<br />
180 Kab/Kota<br />
8. Ubinan SL-PTT Kedelai 3.500 Ha 28 Provinsi; 175 Kab/Kota<br />
Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />
Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman aneka kacang dan umbi titik risiko<br />
kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap penetapan dan penerapan komponen teknologi<br />
SL-PTT, seperti pengolahan tanah, pemilihan benih, pengaturan tanam, pengairan,<br />
pemupukan, pengendalian OPT hingga panen; (2) ketepatan pengalokasian anggaran<br />
dengan realiasi tanam; (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran, (4)<br />
ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis<br />
berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL); (5) ketepatan penyelesaian<br />
surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran; (6) ketepatan pembentukan tim<br />
pembina, pengawalan, monitoring dan evaluasi; (7) ketepatan jadwal waktu proses<br />
penentuan penerima bantuan, penyediaan dan penyaluran bantuan, serta (8)<br />
kekonsistenan dalam mengendalikan, mengevaluasi, dan melaporkan pelaksanaan<br />
kegiatan.<br />
38 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Tabel 14. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi<br />
Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012<br />
No. Uraian Titik Risiko<br />
I SL-PTT Kedelai - Ketepatan penyelesaian dokumen pelaksanaan, pedoman teknis, dan<br />
petunjuk teknis<br />
- Ketepatan penetapan calon penerima calon lokasi (CPCL)<br />
- Ketepatan Surat Keputusan Dirjen Tanaman Pangan<br />
- Ketepatan waktu ketersediaan benih<br />
- Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta<br />
- Gangguan OPT dan DPI<br />
- Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman, misal antara<br />
padi – jagung)<br />
- Ketersediaan akses informasi<br />
- Ketersediaan pasar / kemitraan<br />
II. Pengembangan Kedelai - Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan, pedoman<br />
teknis, dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria<br />
calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan<br />
III Pengembangan Kacang<br />
Tanah<br />
IV Pengembangan Ubi Kayu<br />
dan Ubi Jalar<br />
- Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola<br />
kesatkeran<br />
- Ketersediaan benih tepat waktu<br />
- Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta<br />
- Gangguan OPT dan DPI<br />
- Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman, misal antara<br />
padi – jagung)<br />
- Ketersediaan akses informasi dan modal<br />
- Ketersediaan pasar / kemitraan<br />
- Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan, pedoman<br />
teknis, dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria<br />
calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan<br />
- Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola<br />
kesatkeran<br />
- Ketersediaan benih tepat waktu<br />
- Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta<br />
- Gangguan OPT dan DPI<br />
- Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman, misal antara<br />
padi – jagung)<br />
- Ketersediaan akses informasi dan modal<br />
- Ketersediaan pasar / kemitraan<br />
- Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan, pedoman<br />
teknis, dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria<br />
calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan<br />
- Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola<br />
kesatkeran<br />
- Ketersediaan benih tepat waktu<br />
- Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta<br />
- Gangguan OPT dan DPI<br />
- Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman, misal antara<br />
padi – jagung)<br />
- Ketersediaan akses informasi dan modal<br />
- Ketersediaan pasar<br />
39 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
3.3.3. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan<br />
Kegiatan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan merupakan kegiatan<br />
Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan. Indikator output kinerja Kegiatan Pengelolaan<br />
Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan adalah (1) lembaga perbenihan tanaman<br />
pangan yang dibina di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat, (2)<br />
tersalurkannya bantuan langsung benih unggul (BLBU) untuk kawasan SL-PTT dan non<br />
SL-PTT, (3) tersedia dan tersalurkannya Cadangan Benih Nasional (CBN) untuk<br />
penanganan bencana alam dan pengembangan komoditas, serta (4) pengawalan dan<br />
monitoring BLBU.<br />
Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman<br />
pangan yaitu melalui penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi petani,<br />
mempermudah akses petani terhadap benih varietas unggul bermutu, serta penggunaan<br />
sarana produksi yang dilakukan melalui kegiatan: operasional operasional UPTD Balai<br />
Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BPSBTPH);<br />
operasional Balai Benih Induk (BBI); pemberdayaan penangkar; pembangunan dan<br />
optimalisasi UPB; pembinaan, pengawalan, dan monitoring evaluasi pembangunan<br />
penangkaran benih;pemberian Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU); pembinaan,<br />
pengawalan, monitoring evaluasi BLBU, subsidi, dan Cadangan Benih Nasional (CBN);<br />
serta pemberian insentif petugas pengawas benih tanaman (PBT).<br />
Pada TA 2012, bantuan langsung benih unggul dialokasikan pada DIPA<br />
Kementerian Pertanian dengan rincian sebagai berikut: bantuan benih padi non hibrida,<br />
padi lahan kering, padi hibrida, jagung hibrida, dan kedelai diperuntukkan bagi kegiatan<br />
SLPTT dan non SLPTT. Selain itu, dialokasikan untuk mendukung pengembangan kacang<br />
tanah, ubi kayu dan ubi jalar (Direktif Presiden).<br />
Sasaran pengembangan perbenihan tahun 2012 adalah tercapainya penggunaan<br />
benih bermutu varietas unggul dan bersertifikat sebagai berikut:<br />
a. Padi 67,00 persen,<br />
b. Jagung 72,31 persen,<br />
c. Kedelai 67,90 persen,<br />
Selain itu, pengembangan perbenihan diharapkan dapat memperbaiki sistem produksi<br />
benih aneka kacang dan umbi (kacang tanah, kacang hijau, ubikayu, dan ubijalar).<br />
Penguatan kelembagaan perbenihan baik tingkat pusat, provinsi maupun<br />
kabupaten dimaksudkan untuk memperlancar penyediaan benih varietas unggul bermutu<br />
komoditas tanaman pangan. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain berupa: (1)<br />
pelaksanaan penyaluran BLBU padi, jagung, dan kedelai sebanyak 101,50 ribu ton benih<br />
40 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
untuk luas tanam 4,05 juta Ha; (2) pelaksanaan operasional di 32 Balai Pengawasan dan<br />
Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTDBPSBTPH) di provinsi;(3)<br />
pelaksanaan operasional 31 Balai Besar Induk (BBI) di provinsi;(4) pelaksanaan<br />
pemberdayaan penangkar padi seluas 10.000 Ha, penangkar jagung seluas 700 ha, dan<br />
penangkar kedelai seluas 2.500 ha; (5) pelaksanaan pembangunan 4 (empat) UPB dan<br />
optimalisasi 8 (delapan) UPB di provinsi; (6) pelaksanaan deregulasi perbenihan; (7)<br />
pembinaan, monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih di 27 provinsi dan 230<br />
kabupaten/kota; (8) pembinaan, pengawalan, monitoring evaluasi BLBU, subsidi, dan CBN<br />
di 32 provinsi dan 373 kabupaten/kota; serta (9) dibayarnya insentif 817 orang Petugas<br />
Pengawas Benih Tanaman (PBT) di 31 provinsi. Hal ini merupakan keluaran dari kegiatan<br />
Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan.<br />
Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) diberikan dalam rangka mendukung<br />
peningkatan produksi dan produktivitas terutama di lokasi SL-PTT, meringankan beban<br />
petani serta meningkatkan kesadaran penggunaan benih varietas unggul bermutu,<br />
sehingga dapat meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas. Rencana alokasi<br />
BLBU tahun anggaran 2012 difokuskan pada lokasi-lokasi yang melaksanakan Sekolah<br />
Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Komoditas yang difasilitasi adalah padi,<br />
jagung, dan kedelai. Pengalokasian pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman<br />
pangan TA 2012 dapat di lihat pada tabel di bawah ini.<br />
Selain bantuan langsung benih unggul, pemerintah terus mengupayakan<br />
pemberian subsidi harga benih dan cadangan benih nasional. Subsidi harga benih<br />
dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga benih di pasar bebas, meringankan beban<br />
petani serta meningkatkan ketersediaan benih dan penggunaan benih varietas unggul<br />
bermutu bagi kelompok tani/petani. Cadangan Benih Nasional (CBN) dimaksudkan<br />
sebagai upaya pemulihan dari pertanaman kelompok tani/petani yang terkena bencana<br />
alam (banjir, kekeringan, dsb) serta eksplosi serangan Organisme Pengganggu Tanaman<br />
(OPT).<br />
41 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Tabel 15. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan<br />
TA. 2012<br />
No. Kegiatan Sasaran Lokasi<br />
1. BLBU Pusat<br />
- Padi Non Hibrida 67.500 ton<br />
2.700.000 ha<br />
- Padi Hibrida 4.500 ton<br />
300.000 ha<br />
- Padi Lahan Kering 12.500 ton<br />
500.000 ha<br />
- Jagung Hibrida 3.000 ton<br />
200.000 ha<br />
- Kedelai 14.000 ton<br />
350.000 ha<br />
2. Operasional UPTD BPSBTPH 32 Balai 32 Provinsi<br />
3. Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman<br />
(PBT)<br />
817 Orang 31 Provinsi<br />
4. Sarana BPSBTPH 32 Balai 32 Provinsi<br />
5. Operasional Balai Benih 31 Balai 31 Provinsi<br />
6. Pemberdayaan Penangkar:<br />
- Padi 200 Unit 23 Provinsi;<br />
10.000 Ha 165 Kab/Kota<br />
- Jagung 14 Unit<br />
5 Provinsi;<br />
700 Ha 14 Kab/Kota<br />
- Kedelai 100 Unit 13 Provinsi;<br />
2.500 Ha 100 Kab/Kota<br />
7. Pembangunan UPB 4 Unit 4 Provinsi<br />
8. Operasional UPB 8 Unit 8 Provinsi<br />
9. Deregulasi Perbenihan 1 Paket Pusat<br />
10. Pembinaan, Monev Pembangunan<br />
257 Paket 27 Provinsi;<br />
Penangkaran Benih<br />
230Kab/Kota<br />
11. Pembinaan, Pengawalan, Monev BLBU,<br />
257 Paket Pusat; 32 Provinsi;<br />
Subsidi, CBN<br />
373 Kab/Kota<br />
Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />
Secara umum semua kegiatan memiliki risiko jika tidak dilaksanakan sesuai<br />
aturan dan petunjuk yang ditetapkan. Resiko kegagalan pencapaian keluaran (output) dan<br />
hasil (outcome) terjadi jika pelaksanaan tidak dilaksanakan tepat waktu, jumlah atau<br />
kualitas yang tidak sesuai speck. Oleh karena itu, agar kegiatan yang dihasilkan dapat<br />
berdaya guna dan berhasil guna serta tidak menimbulkan kerugian negara maka sangat<br />
diharapkan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rambu-rambu yang sudah ditetapkan.<br />
42 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Jika dievaluasi faktor risiko seluruh kegiatan perbenihan, maka yang paling tinggi<br />
faktor risikonya adalah BLBU dan pemberdayaan penangkar. Bantuan Langsung Benih<br />
Unggul dan Pemberdayaan Penangkar berkaitan dengan waktu/musim tanam. BLBU juga<br />
sangat berkaitan dengan kualitas benih yang disalurkan.<br />
Tabel 16. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan<br />
Benih Tanaman Pangan TA 2012<br />
No. Uraian Titik Risiko<br />
I BLBU mendukung SL-PTT padi,<br />
jagung dan kedelai<br />
II. Pengawasan dan Sertifikasi Benih<br />
Tanaman Pangan<br />
III. Insentif Pengawas Benih Tanaman<br />
Pangan<br />
- Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan<br />
- Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang<br />
dimiliki<br />
- Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah<br />
- Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan<br />
dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan<br />
kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola<br />
pengelolaan<br />
- Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran<br />
- Ketersediaan benih<br />
- Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan<br />
- Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang<br />
dimiliki<br />
- Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja<br />
yang sudah ditetapkan<br />
- Kekonsistenan dalam mengendalikan, mengevaluasi, dan<br />
melaporkan pelaksanaan kegiatan<br />
- Ketepatan pembayaran insentif<br />
IV. Perbanyakan Benih Sumber - Ketepatan waktu perbanyakan benih<br />
V. Pemberdayaan Penangkar - Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan<br />
VI. Pembinaan, pendampingan,<br />
pengawalan<br />
VII. Pembangunan Unit Prosesing Benih<br />
(UPB)<br />
- Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang<br />
dimiliki<br />
- Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah<br />
- Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan<br />
dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan<br />
kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola<br />
pengelolaan<br />
- Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran<br />
- Ketersediaan benih<br />
- Ketepatan waktu dalam pembinaan, pendampingan dan<br />
pengawalan<br />
- Ketepatan speck<br />
VIII. Optimalisasi Balai Benih Palawija - Ketepatan speck<br />
- Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB<br />
- Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB<br />
43 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
3.3.4. Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan<br />
Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan merupakan kegiatan<br />
Direktorat Budidaya Pascapanen. Indikator kinerja kegiatan Penanganan Pascapanen<br />
Tanaman Pangan adalah (1) jumlah kelompok tani yang menerapkan teknologi<br />
pascapanen tanaman pangan sesuai GHP (Good Handling Prossesing) dan standar mutu,<br />
dan (2) jumlah kelompok tani yang mendapatkan bantuan sarana pasca panen tanaman<br />
pangan. Untuk mendukung pencapaian output diperlukan berbagai proses yang saling<br />
terkait. Alokasi kegiatan penanganan pascapanen tanaman pangan TA 2012 dapat dilihat<br />
pada tabel di bawah ini.<br />
Tabel 17. Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012<br />
No. Uraian Sasaran Lokasi<br />
1. Bimbingan teknis penanganan<br />
pascapanen tanaman pangan<br />
2. Apresiasi penanganan pascapanen<br />
tanaman pangan<br />
236 Satker Pusat; 31 Provinsi;<br />
204 Kab/kota<br />
220 Satker Pusat; 16 Provinsi;<br />
204 Kab/Kota<br />
3. Survei susut hasil padi 13 Satker Pusat; 12 Provinsi<br />
4. Bantuan sosial:<br />
- Padi 13 Satker 183 Kab/kota<br />
- Vertical Dryer 11 Satker 11 kab/Kota<br />
- Jagung 11 Satker 11 Kab/Kota<br />
- Kedelai 20 Satker 20 Kab/Kota<br />
- Ubi kayu 4 Satker 4 Kab/Kota<br />
- Ubi jalar 9 satker 9 Kab/kota<br />
5. Dukungan manajemen lainnya 1 Satker Pusat<br />
Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />
Dalam upaya penanganan pascapanen tanaman pangan titik risiko kegiatan<br />
adalah: (1) ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen<br />
tanaman pangan; (2) ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen<br />
tanaman pangan; (3) ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi, (4)<br />
ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen; (5) ketepatan<br />
penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis; (6) ketepatan<br />
jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan, penyediaan dan penyaluran bantuan,<br />
serta (7) kekonsistenan dalam mengendalikan, mengevaluasi, dan melaporkan<br />
pelaksanaan kegiatan.<br />
44 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Tabel 18. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen<br />
Tanaman Pangan TA 2012<br />
No. Uraian Titik Risiko<br />
1. Bimbingan teknis penanganan<br />
pascapanen tanaman pangan<br />
2. Apresiasi penanganan pascapanen<br />
tanaman pangan<br />
- Ketepatan terhadap pelaksanaan<br />
bimbingan teknis penanganan<br />
pascapanen tanaman pangan<br />
- Ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi<br />
penanganan pascapanen tanaman<br />
pangan<br />
3. Survei susut hasil padi - Ketepatan waktu dan pelaksanaan<br />
survei susut hasil padi<br />
4. Bantuan social penanganan<br />
pascapanen tanaman pangan<br />
- Ketepatan sasaran pemberian bantuan<br />
sosial sarana pascapanen<br />
5. Dukungan manajemen lainnya - Ketepatan penyelesaian dokumen<br />
pedoman pelaksanaan dan/atau<br />
pedoman teknis<br />
- Ketepatan jadwal waktu proses<br />
penentuan penerima bantuan,<br />
penyediaan dan penyaluran bantuan<br />
- Kekonsistenan dalam mengendalikan,<br />
mengevaluasi, dan melaporkan<br />
pelaksanaan kegiatan<br />
45 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
3.3.5. Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme<br />
Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI)<br />
Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI<br />
dikelola oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Indikator kinerja kegiatan<br />
penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI adalah (1) jumlah<br />
maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terserang OPT, (2) jumlah maksimal<br />
luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terkena DPI, dan (3) 95 % luas areal tanaman<br />
pangan yang menerapkan budidaya tanaman yang tepat aman dari gangguan OPT dan<br />
DPI.<br />
Tabel 19. Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan<br />
dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012<br />
No. Komponen Kegiatan Sasaran Lokasi<br />
1. SLPHT kelompok 1.635 Unit BPTPH/ LPHP<br />
2. SLPHT tindak lanjut 315 Unit BPTPH/ LPHP<br />
3. SLI 130 Unit BPTPH/ LPHP<br />
4. Pengamatan, Peramalan, Pengendalian<br />
OPT/DPI (P3OPT/DPI)<br />
5. Inovasi & diseminasi teknologi pengendalian<br />
OPT/adaptasi DPI<br />
32 Unit BPTPH<br />
95 Unit LPHP<br />
6. Surveilans OPT 2 Paket BPTPH/ LPHP<br />
7. Pemberdayaan PPAH 620 Kel. LPHP<br />
8. Revitalisasi Brigade Proteksi Tanaman (BPT):<br />
- Renovasi/Bangun gudang pestisida<br />
- Sarana pengendalian OPT<br />
- Operasional BPT<br />
- Pelatihan regu pengendali hama (RPH)<br />
57 unit<br />
2 paket<br />
86 unit<br />
221 kelas<br />
BPTPH/ LPHP<br />
BPTPH<br />
BPTPH<br />
BPTPH/ LPHP<br />
9. Honorarium dan BOP THL TB POPT-PHP 1.168 Orang BPTPH/ LPHP<br />
10. BOP POPT-PHP (PNS & Honorer) 2.908 Orang BPTPH/ LPHP<br />
11. Koordinasi, bimbingan teknis, monitoring dan<br />
evaluasi<br />
1 Paket Ditlin/ Pusat<br />
12. Pengujian pestisida, pupuk, dan residu pestisida 1 Paket BPMPT/ Pusat<br />
Sumber; RK-KL Ditjen. Tanaman Pangan TA. 2012<br />
Kegiatan ini dimaksudkan untuk pencegahan dan penanggulangan hama penyakit<br />
tanaman yang disebabkan oleh OPT dan DPI dengan hasil (outcome) yang diharapkan<br />
adalah: (1) menguatnya sistem pengamatan dan pengendalian dini, (2) meningkatnya<br />
kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, (3) menguatnya peran dan fungsi<br />
kelembagaan perlindungan, (4) menguatnya penerapan teknologi pengendalian OPT dan<br />
adaptasi DPI, (5) meningkatnya gerakan pengendalian OPT dan adaptasi DPI, (6)<br />
46 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
tersedianya sarana pengendalian OPT, dan (7) menguatnya database perlindungan<br />
tanaman pangan dan SIM OPT. Alokasi kegiatan penguatan perlindungan tanaman<br />
pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012 dapat dilihat pada tabel di atas.<br />
Dalam pelaksanaan kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari<br />
gangguan OPT dan DPI TA 2012, terdapat permasalahan baik langsung maupun tidak<br />
langsung yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran, sehingga<br />
berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Jenis risiko yang dihadapi dalam<br />
pelaksanaan kegiatan tersebut dapat di lihat pada tabel dibawah ini.<br />
Tabel 20. Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan<br />
dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012<br />
No. Uraian Titik Risiko<br />
1. Perencanaan kegiatan - Ketersediaan SDM<br />
- Koordinasi unit kerja<br />
2. Bantuan sarana pengendalian - Ketepatan waktu Identifikasi CPCL<br />
OPT<br />
- <strong>Pelaksanaan</strong> pendampingan penggunaan<br />
bantuan<br />
- Pengaruh faktor iklim dan OPT<br />
3. Database perlindungan - Dukungan sarana pengolah data<br />
tanaman pangan<br />
- Sumberdaya manusia<br />
4. SLPHT & SLI - Pemberdayaan alumni<br />
- Pemasyarakatan teknologi PHT<br />
- Keseimbangan ekosistem<br />
5. Evaluasi dan pelaporan - Ketepatan dukungan administrasi dan teknis<br />
- Keterlambatan unit kerja lainnya dalam<br />
memberikan bahan (data dan informasi)<br />
- Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja.<br />
47 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
3.3.6. Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu<br />
Laboratorium Pengujian Benih<br />
Kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem<br />
Mutu Laboratorium Pengujian Benih dikelola oleh Balai Besar Pengembangan Pengujian<br />
Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH). Indikator kinerja dari<br />
kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu<br />
Laboratorium Pengujian Benih adalah: (1) jumlah metode pengujian mutu benih yang<br />
dikembangkan, divalidasi dan disyahkan, (2) jumlah laboratorium yang menerapkan sistem<br />
mutu, (3) jumlah laboratorium peserta uji profisiensi.<br />
Sasaran dan keluaran kegiatan ini adalah: (1) terlaksananya 1 paket operasional<br />
Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura<br />
(BBPPMBTPH) Cimanggis; dan (2) meningkatnya kinerja petugas dan pegawai di<br />
BBPPMBTPH Cimanggis dengan pelaksanaan pembayaran gaji dan operasional kantor di<br />
pusat selama satu tahun.<br />
3.3.7. Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan<br />
Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dikelola oleh Balai Besar<br />
Peramalan OPT. Indikator kinerja kegiatan pengembangan peramalan serangan OPT<br />
adalah (1) jumlah informasi peramalan serangan OPT dan DPI, (2) jumlah teknologi<br />
pengamatan, peramalan, dan pengendalian OPT, dan (3) jumlah provinsi yang<br />
menerapkan teknologi pengamatan, peramalan dan pengendalian OPT.<br />
Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dimaksudkan untuk: (1)<br />
operasional Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT); dan<br />
(2) peningkatan kinerja petugas dan pegawai di BBPOPT. Keluaran kegiatan ini adalah<br />
terlaksananya 1 paket operasional BBPOPT dan pembayaran gaji dan operasional kantor<br />
selama satu tahun.<br />
3.3.8. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat<br />
Jenderal Tanaman Pangan<br />
Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat<br />
Jenderal Tanaman Pangan dikelola oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.<br />
Indikator kinerja dari kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya pada<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah 1) jumlah dokumen perencanaan, keuangan,<br />
umum serta evaluasi dan pelaporan program peningkatan produksi, produktivitas dan mutu<br />
tanaman pangan untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan; 2)<br />
48 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
penyaluran bantuan modal untuk LM3, dan 3) jumlah cadangan saprodi untuk mengatasi<br />
dampak bencana alam.<br />
Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya pelayanan teknis dan administrasi<br />
kepada semua unsur di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Keluaran kegiatan<br />
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman<br />
Pangan ini dapat dilihat pada tabel berikut.<br />
Tabel 21. Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya<br />
pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />
No. Kegiatan Sasaran Lokasi<br />
1. Insentif Mantri Tani 3.161 Orang Pusat; 33 Provinsi<br />
2. Honor Pengelola Satuan Kerja dan<br />
Adminitasi<br />
3. Perencanaan <strong>Program</strong>, Kegiatan<br />
dan Anggaran<br />
4. Pengelolaan SAI (termasuk honor<br />
SAP/SIMAK BMN)<br />
408 Satuan Kerja Pusat; 33 Provinsi;<br />
374 Kab/Kota<br />
408 Satuan Kerja Pusat; 33 Provinsi;<br />
374 Kab/Kota<br />
408 Satuan Kerja Pusat; 33 Provinsi;<br />
374 Kab/Kota<br />
5. Pengelolaan Bidang Umum 1 Satuan Kerja Pusat<br />
6. Evaluasi, Monitoring Evaluasi,<br />
Statistik (termasuk honor petugas<br />
SIMONEV)<br />
408 Satuan Kerja Pusat; 33 Provinsi;<br />
374 Kab/Kota<br />
7. Dukungan Manajemen Lainnya 1 Satuan Kerja Pusat<br />
8. LM3, Bencana Alam, dan<br />
Kekeringan<br />
1 Satuan Kerja Pusat<br />
9. Gaji dan Operasional Kantor 1 Satuan Kerja Pusat<br />
Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />
Dalam pelaksanaan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis<br />
Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 ditemukan berbagai<br />
hambatan dan permasalahan yang tentu saja berpengaruh terhadap pencapaian tujuan<br />
dan sasaran yang telah ditetapkan dan akan berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan.<br />
Penilaian risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilihat pada<br />
tabel di bawah ini.<br />
49 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Tabel 22. Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya<br />
pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />
No. Uraian Titik Risiko<br />
1. LM3 - Kelayakan Proposal<br />
2. Bantuan Bencana Alam<br />
dan Kekeringan<br />
3. Dokumen Manajemen<br />
dan Teknis Lainnya<br />
- Kelengkapan administrasi pencairan dana<br />
bantuan LM3<br />
- Pengaruh intervensi pihak luar<br />
- Pengawalan penggunaan dana penerima<br />
bantuan LM3<br />
- Faktor alam<br />
- Identifikasi Calon Lokasi<br />
- Proses tender<br />
- Ketepatan dukungan administrasi dan teknis<br />
- Keterlambatan unit kerja lainnya dalam<br />
memberikan bahan (data dan informasi)<br />
- Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja.<br />
50 | P a g e
4.1. Tata Hubungan Kerja<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
BAB IV<br />
TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM<br />
LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012<br />
Dalam mendukung pelaksanaan sistem anggaran berbasis kinerja, perlu dipahami<br />
bahwa tata hubungan kerja dalam pelaksanaan pembangunan tanaman pangan baik di<br />
pusat maupun daerah perlu ditingkatkan. Hal ini mengingat tugas dan tanggung jawab<br />
pimpinan instansi sebagai penanggung jawab operasional kegiatan cukup kompleks,<br />
sehingga membutuhkan kerja keras serta selektif terhadap kegiatan prioritas yang akan<br />
dilaksanakan.<br />
Untuk mendukung pemantapan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu adanya<br />
koordinasi dan peningkatan jaringan kerja melalui hubungan hierarki, koordinasi dan teknis<br />
fungsional, dengan penjelasan sebagai berikut:<br />
- Hubungan Hierarki<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai hubungan hierarki dengan<br />
propinsi dan kabupaten/kota sebagai pelaksana kegiatan pembangunan pertanian<br />
di daerah sesuai dengan azas tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Untuk<br />
itu, pemanfaatan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan oleh satuan kerja<br />
yang menerima pelimpahan atau penugasan dikelola, dipertanggung jawabkan dan<br />
dilaporkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Hubungan hierarki tersebut<br />
terwujud dalam sistem perencanaan, pengendalian dan pelaporan.<br />
- Hubungan Koordinasi<br />
Dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang berdasarkan sistem anggaran<br />
berbasis kinerja dibutuhkan sinergi perencanaan program dengan pembiayaan.<br />
Sebagai wujud pelaksanaan kegiatan tersebut, dilakukan melalui hubungan<br />
koordinasi antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan UPT pusat dengan<br />
dinas provinsi dan kabupaten/kota yang menangani tanaman pangan dan UPTD<br />
(BBI, BPSBTPH dan BPTPH).<br />
Koordinasi dilakukan terutama untuk mempertemukan tujuan dan sasaran<br />
pembangunan nasional dengan tujuan dan sasaran pembangunan masing-masing<br />
daerah, sehingga didapat kesepakatan tentang tujuan dan sasaran pembangunan<br />
yang ingin dicapai bersama, khususnya pembangunan yang dibiayai dari APBN.<br />
Dengan koordinasi ini, diharapkan masing-masing daerah juga dapat berkontribusi<br />
melalui APBD yang dimiliki.<br />
51 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Koordinasi juga diperlukan antara UPT Pusat dengan UPT Daerah, terutama untuk<br />
keseragaman peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam memberikan<br />
jasa pelayanan kepada masyarakat, dan juga dalam aspek penyelesaian masalah<br />
(arbitrase) bila terjadi suatu perselisihan, khususnya perselisihan antar daerah.<br />
- Hubungan Teknis Fungsional<br />
Hubungan teknis fungsional dalam pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran<br />
pembangunan tanaman pangan yang berazaskan dekonsentrasi/tugas pembantuan<br />
bertujuan untuk dapat memenuhi standar teknis di bidang tanaman pangan. Dengan<br />
demikian produk/jasa yang dihasilkan dibidang tanaman pangan dapat diproduksi<br />
secara efektif, efisien, dan berdaya saing. Wujud dari hubungan teknis fungsional<br />
tersebut, dilaksanakan melalui pembinaan teknis kegiatan di lapangan seperti teknis<br />
penyiapan sarana produksi, teknis perbenihan/perbibitan, teknis perlindungan<br />
tanaman, teknis usahatani, panen dan pasca panen, dan teknis pelatihan bagi<br />
aparat pertanian dan pelaku usahatani.<br />
4.2. Pengorganisasian<br />
<strong>Pelaksanaan</strong> program dilakukan dengan mengacu pada kaidah-kaidah<br />
administrasi pemerintahan. Dalam melaksananakan pembangunan tanaman pangan,<br />
Direktur Jenderal Tanaman Pangan membantu Menteri Pertanian/Pengguna Anggaran<br />
dalam melaksanakan tugas operasionalnya dibidang tanaman pangan sebagai Kuasa<br />
Pengguna Anggaran/Barang di tingkat pusat. Untuk pelaksanaan program, kegiatan dan<br />
anggaran di daerah, Menteri Pertanian selaku Pengguna Anggaran mengalokasikan<br />
sebagian APBN untuk pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan.<br />
Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang oleh Pemerintah kepada Gubernur<br />
sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu, sedangkan<br />
tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa, dari<br />
pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah<br />
kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.<br />
Anggaran dekonsentrasi merupakan bagian dari APBN yang pengelolaan dan<br />
tanggung jawab penggunaannya oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah<br />
melalui pelimpahan wewenang oleh pemerintah. Besarnya jumlah anggaran ditentukan<br />
melalui proses perencanaan dan pembahasan antara pemerintah dan DPR. Sedangkan<br />
anggaran tugas pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan<br />
oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka<br />
pelaksanaan tugas pembantuan.<br />
52 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
<strong>Pelaksanaan</strong> program, kegiatan dan anggaran dilakukan oleh satuan kerja. Satuan<br />
kerja yang pimpinannya ditetapkan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)<br />
dikelompokkan sebagai berikut :<br />
a) Satuan Kerja Pusat adalah satuan kerja yang kewenangan dan tanggung jawabnya<br />
melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok<br />
dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.<br />
b) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah satuan kerja di provinsi yang<br />
melaksanakan tugas dekonsentrasi dan satuan kerja di provinsi/kabupaten/kota yang<br />
melaksanakan tugas pembantuan.<br />
Penanggung jawab program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk<br />
masing-masing unit kerja dan jenis anggarannya adalah sebagai berikut :<br />
a. Tingkat Pusat<br />
1) Menteri Pertanian sebagai Penanggung Jawab <strong>Program</strong> Pembangunan Pertanian.<br />
Menteri Pertanian menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Presiden<br />
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.<br />
2) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program, kegiatan dan<br />
anggaran pembangunan tanaman pangan serta sebagai Kuasa Pengguna<br />
Anggaran (KPA) dalam pengelolaan anggaran dan penanggung jawab program.<br />
3) Direktur Jenderal Tanaman Pangan bertindak sebagai koordinator pengembangan<br />
komoditas tanaman pangan dan tugas-tugas pokok serta tugas-tugas pelayanan<br />
lainnya yang terkait dengan unit kerjanya.<br />
4) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program, kegiatan dan<br />
anggaran, dalam operasional kegiatan dibantu oleh dua orang Bendahara<br />
(Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan), Pejabat Penguji dan<br />
Penerbit SPM, pejabat eselon II dan III (khusus UPT BPMPTPH) sebagai Pejabat<br />
Pembuat Komitmen (PPK).<br />
5) Untuk UPT Pusat BBPOPT dan BBPPMBTPH, Kepala Balai Besar selaku Kepala<br />
Satuan Kerja dan KPA. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Balai Besar dibantu<br />
oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan),<br />
KTU/Kabag Umum sebagai Pejabat Penguji dan Penerbit SPM, dan Kabid/Pejabat<br />
eselon III sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).<br />
b. Tingkat Provinsi<br />
1) Gubernur sebagai penanggung jawab program, kegiatan dan anggaran<br />
dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya.<br />
Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian.<br />
53 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Gubernur menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan<br />
melaksanakan dan mengelola DIPA dekonsentrasi dan tugas pembantuan.<br />
2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa<br />
Pengguna Anggaran (KPA), serta bertanggung jawab terhadap seluruh<br />
keberhasilan aktivitas program, kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang<br />
dipimpinnya.<br />
3) Untuk kelancaran operasional program, kegiatan dan anggaran (tertib administrasi<br />
dan keuangan) sehari-hari, masing-masing KPA dibantu dua orang bendahara<br />
(Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan), Pejabat Pembuat Komitmen<br />
serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. Penugasan dalam jabatan tersebut<br />
dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.<br />
4) Kepala Satker selaku KPA menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada<br />
Gubernur untuk anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan provinsi.<br />
c. Tingkat Kabupaten/Kota<br />
1) Bupati/Walikota sebagai penanggungjawab program, kegiatan dan anggaran tugas<br />
pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. Bupati/Walikota<br />
menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian.<br />
Bupati/Walikota menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan<br />
melaksanakan dan mengelola DIPA tugas pembantuan.<br />
2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa<br />
Pengguna Anggaran (KPA), serta bertanggungjawab terhadap seluruh keberhasilan<br />
program, kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya.<br />
3) Untuk kelancaran operasional program, kegiatan dan anggaran (tertib administrasi<br />
dan keuangan) sehari-hari, masing-masing Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)<br />
dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara<br />
Penerimaan), Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM.<br />
Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundangundangan<br />
yang berlaku.<br />
4) Kepala Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyampaikan<br />
laporan kepada Bupati/Walikota untuk anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota<br />
dengan tembusan kepada Dinas tingkat provinsi yang membidangi tanaman pangan<br />
dan Direktur Jenderal Tanaman Pangan.<br />
Pada TA 2012, kegiatan pembangunan subsektor tanaman pangan dikelola oleh<br />
442 satuan kerja, dengan rincian sebagai berikut; 1) 3 saker di Pusat, 2) 65 satker di<br />
provinsi, dan 3) 374 satker di kabupaten/kota.<br />
54 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Tabel 23. Jumlah Satuan Kerja Pelaksana <strong>Program</strong> dan Kegiatan Lingkup Direktorat<br />
Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />
No. Lokasi<br />
Jumlah Satker DIPA<br />
(unit)<br />
I. Pusat 3<br />
1. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 1<br />
2. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih<br />
Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH)<br />
3. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu<br />
Tumbuhan (BBPOPT)<br />
1<br />
II. Provinsi 65<br />
1. Dinas Pertanian di Provinsi 33<br />
2. Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura<br />
(BPTPH)<br />
III. Kabupaten/Kota<br />
1. Dinas Pertanian di Kabupaten/Kota 374<br />
T O T A L 442<br />
Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />
Daftar selengkapnya satuan kerja yang melaksanakan pembangunan tanaman<br />
pangan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dengan pembiayaan APBN terdapat<br />
pada tabel dibawah ini.<br />
Tabel 24. Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA<br />
TA 2012<br />
No. Unit Kerja<br />
Jumlah Satker DIPA<br />
(unit)<br />
1<br />
32<br />
Alokasi Anggaran<br />
(Rp. 000,-)<br />
I. Pusat 3 1.104.899.536<br />
1 Ditjen Tanaman Pangan 1 1.084.746.536<br />
2 BPMPT - 3.500.000<br />
3 BBPPMBTPH 1 7.300.000<br />
4 BBPOPT 1 9.353.000<br />
II. Provinsi 65 512.347.000<br />
1 Dinas Provinsi 33<br />
- Dinas Provinsi - 267.093.500<br />
- BBI *) - 31.846.500<br />
- BPSBTPH *) - 61.400.000<br />
2 BPTPH 32 152.007.000<br />
III. Kabupaten/Kota 374 1.498.245.455<br />
1 Dinas Kabupaten/Kota 374 1.498.245.455<br />
T O T A L 442 3.115.491.991<br />
55 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Ket.: *) BBI dan BPSBTPH digabung dengan Satker Dinas Provinsi (Dekonsentrasi)<br />
Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />
Struktur anggaran TA 2012 mengikuti struktur kegiatan pada masing-masing<br />
satuan kerja di tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai berikut:<br />
1. Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memayungi kegiatan-kegiatan<br />
yang dikelola oleh unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan,<br />
Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan<br />
Hortikultura (BBPPMBTPH) di Cimanggis – DKI Jakarta, Balai Besar Peramalan<br />
Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Jatisari.<br />
Beberapa kegiatan yang dikelola diantaranya adalah:<br />
1) Peningkatan kualitas pelayanan publik;<br />
2) Koordinasi, pembinaan, pengawalan dan monitoring evaluasi (SLPTT<br />
budidaya tanaman serealia; SLPTT budidaya tanaman aneka kacang dan<br />
umbi; perbenihan; pascapanen; dan perlindungan tanaman pangan);<br />
3) Penyaluran Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) padi, jagung, dan<br />
kedelai;<br />
4) Penyusunan deregulasi perbenihan;<br />
5) Pembinaan,pengawalan, monitoring dan evaluasi BLBU, subsidi dan CBN;<br />
6) Penyaluran insentif Mantri Tani;<br />
7) Penyaluran Honor Pengelola Satker dan Adminsitrasi;<br />
8) Perencanaan program, kegiatan dan anggaran;<br />
9) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN), bidang umum, dan<br />
dukungan manajemen lainnya;<br />
10) Evaluasi, monitoring, statistik dan pemberian honor petugas Simonev;<br />
11) Koordinasi penyaluran dana bantuan Lembaga Mandiri yang Mengakar di<br />
Masyarakat (LM3), penanganan bencana alam, dan kekeringan;<br />
12) Pengelolaan gaji, honorarium, tunjangan, penyelenggaraan operasional dan<br />
pemeliharaan perkantoran.<br />
13) <strong>Pelaksanaan</strong> dukungan manajemen dari kegiatan teknis.<br />
2. Satuan Kerja Pembinaan dan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas<br />
yang membidangi tanaman pangan di tingkat Provinsi<br />
Satuan kerja pembinaan dan pengembangan tanaman pangan provinsi<br />
memayungi kegiatan-kegiatan, diantaranya:<br />
1) Melaksanakan kegiatan SL-PTT padi (non hibrida spesifik lokasi, non hibrida<br />
peningkatan IP, dan hibrida spesifik lokasi);<br />
2) Fasilitasi kemitraan pangan alternatif;<br />
56 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
3) Pembinaan, pengawalan dan monitoring evaluasi (serealia, aneka kacang<br />
dan umbi, penangkaran benih, BLBU, subsidi dan CBN);<br />
4) Penyaluran operasional dan sarana UPTD BPSBTPH, Balai Benih, P3OPT<br />
(BPTPH), Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT;<br />
5) Pemberian insentif petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT);<br />
6) Pembangunan dan optimalisasi UPB;<br />
7) Pemberian bantuan sarana pascapanen padi;<br />
8) <strong>Pelaksanaan</strong> survei susut padi;<br />
9) Pembinaan, bimbingan teknologi, apresiasi dan monitoring evaluasi<br />
pascapanen;<br />
10) Penyaluran sarana pengendalian OPT;<br />
11) Renovasi gudang Brigade;<br />
12) Pelatihan alumni SLPHT untuk penguatan RPH;<br />
13) Surveilans OPT dan monitoring evaluasi Sekolah Lapangan;<br />
14) Operasional POPT PHP, Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP),<br />
Dinas Pertanian Provinsi, THL POPT-PHP ;<br />
15) SLHT dan SLI;<br />
16) Pemberdayaan PPAH;<br />
17) Pemberian insentif Mantri Tani; honor pengelola Satker dan Administrasi;<br />
18) Perencanaan program, kegiatan dan anggaran;<br />
19) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN); dan<br />
20) Evaluasi, monitoring evaluasi, statistik, dan pelaporan (termasuk honor<br />
petugas Simonev).<br />
3. Satuan Kerja Balai Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih TPH<br />
Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan<br />
pengembangan perbenihan sesuai fungsi BPSBTPH di seluruh provinsi. Kegiatan<br />
pokoknya adalah pelaksanaan pengawasan mutu dan sertifikasi benih, penguatan<br />
kelembagaan perbenihan melalui aspek pengawasan mutu benih tanaman pangan.<br />
4. Satuan Kerja Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura<br />
Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan<br />
pengamanan produksi sesuai fungsi BPTPH di seluruh provinsi. Kegiatan<br />
pokoknya adalah pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) melalui<br />
pengamatan, peramalan OPT dan dampak perubahan iklim, pengelolaan data<br />
OPT.<br />
5. Satuan Kerja Pembinaan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang<br />
membidangi tanaman pangan tingkat Kabupaten/Kota<br />
Satuan kerja ini kegiatan-kegiatan pokoknya antara lain:<br />
57 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
1) <strong>Pelaksanaan</strong> kegiatan SLPTT padi non hibrida, padi hibrida, padi lahan<br />
kering, jagung hibrida, kedelai;<br />
2) Pembinaan, pengawalan, monitoring evaluasi, dan pelaporan(serealia,<br />
aneka kacang dan umbi, penangkaran benih, BLBU, subsidi, CBN,<br />
pascapanen);<br />
3) Pengembangan kedelai (model), kacang tanah, ubi kayu, dan ubi jalar;<br />
4) Ubinan SL-PTT kedelai;<br />
5) Pemberdayaan Penangkar Benih padi, jagung, dan kedelai;<br />
6) Pemberian bantuan sarana pascapanen padi, jagung, kedelai, ubi kayu, ubi<br />
jalar;<br />
7) Operasional Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT;<br />
8) Honor pengelola Satker dan administrasi;<br />
9) Perencanaan program, kegiatan dan anggaran;<br />
10) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN);<br />
11) Evaluasi, monitoring, statistik (termasuk honor petugas Simonev); dan<br />
12) Dukungan manajemen dan teknisnya.<br />
Penjelasan secara rinci tentang masing-masing kegiatan yang dilaksanakan di<br />
Provinsi (Dinas yang membidangi tanaman pangan, BBI, BPSBTPH dan BPTPH) maupun<br />
di Kabupaten/Kota (Dinas yang membidangi tanaman pangan) disajikan pada buku<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> yang dikeluarkan oleh masing-masing unit Eselon II lingkup<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.<br />
4.3. Pengelolaan Anggaran<br />
Struktur Anggaran<br />
Kegiatan pembangunan tanaman pangan di daerah di stimulasi oleh APBN yang<br />
dibagi ke dalam dua pola, pola dekonsentrasi dan pola tugas pembantuan. Dalam<br />
pelaksanaannya, kedua pola penganggaran tersebut tetap didasarkan kepada sistem<br />
penganggaran kinerja dengan ciri-ciri pokok kinerja antara lain: a) klasifikasi rincian<br />
belanja negara menurut organisasi, fungsi, lokasi dan jenis belanja, yang sebelumnya<br />
menurut sektor dan jenis belanja, b) perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil<br />
kinerja, bukan pengawasan, c) setiap kegiatan harus dilihat dari sistem efisiensi dan<br />
memaksimumkan keluaran (output), dan d) menghasilkan informasi biaya dan hasil kerja<br />
yang dapat digunakan untuk penyusunan target evaluasi pelaksanaan kinerja. Anggaran<br />
berbasis kinerja memiliki komponen : 1) Rencana Kerja (program, kegiatan, dan<br />
pengeluaran), 2) Anggaran, dan 3) Indikator Kinerja (keluaran/output dan hasil/ outcome).<br />
Struktur anggaran berdasarkan kegiatan dari kedua pola anggaran di atas adalah<br />
sebagai berikut: pembiayaan dengan anggaran dekonsentrasi digunakan untuk<br />
memfasilitasi kegiatan yang bersifat non fisik dan dilaksanakan oleh dinas yang<br />
58 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
membidangi tanaman pangan tingkat provinsi, BPSBTPH dan BPTPH, sebagai pihak yang<br />
diberi tugas oleh Gubernur yang mendapat pelimpahan tugas dari pemerintah pusat.<br />
Pengelolaan anggaran harus menggunakan prinsip-prinsip ekonomis, efisien dan efektif<br />
serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.<br />
berikut:<br />
Rincian tugas dan wewenang aparat pengelola anggaran diuraikan sebagai<br />
a. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)<br />
1) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan DIPA yang telah disahkan secara tertib, taat<br />
pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan<br />
bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.<br />
2) Menunjuk/memberi kewenangan kepada pejabat untuk melakukan tindakan yang<br />
mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/pejabat pembuat komitmen.<br />
3) Melakukan pengawasan kepada pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan<br />
tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/Pejabat Pembuat<br />
Komitmen dan Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK).<br />
4) Mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah<br />
ditetapkan.<br />
5) Menguji, membebankan pada mata anggaran yang telah disediakan dan<br />
memerintahkan pembayaran tagihan-tagihan atas beban APBN.<br />
6) Menandatangani cek dan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP).<br />
7) Membuat laporan keuangan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.<br />
8) Keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan pengadaan barang/jasa seperti<br />
pengangkatan pejabat/panitia pengadaan dan pemeriksaan barang/jasa, keputusan<br />
penetapan penyediaan barang jasa, kontrak/perjanjian/SPK dengan nilai di atas<br />
seratus juta rupiah (Rp. 100.000.000,-) sampai dengan lima puluh milyar (Rp<br />
50.000.000.000,-) baik untuk pemilihan langsung/pelelangan ditetapkan oleh KPA<br />
Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atau Pejabat Pembuat<br />
Komitmen (PPK).<br />
b. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)<br />
1) Menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa dan menetapkan paket-paket<br />
pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam<br />
negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk<br />
koperasi kecil, serta kelompok masyarakat;<br />
2) Menetapkan dan mengesahkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS), jadwal, tatacara<br />
pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat<br />
pengadaan/unit layanan pengadaan;<br />
3) Menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit<br />
layanan pengadaan sesuai kewenangannya;<br />
59 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
4) Menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai<br />
ketentuan yang berlaku;<br />
5) Menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedian<br />
barang/jasa;<br />
6) Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada Kuasa<br />
Pengguna Anggaran;<br />
7) Menandatangani dan mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak;<br />
8) Menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada Menteri<br />
dengan berita acara penyerahan melalui Kepala Satuan Kerja;<br />
9) Menandatangani fakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa<br />
dimulai;<br />
10) Melaksanakan rencana kerja sebagaimana telah ditetapkan dalam DIPA sesuai<br />
kegiatan masing-masing;<br />
11) Menandatangani Surat Keputusan yang mengakibatkan pengeluaran (lembur,<br />
honor, vakasi), Surat perintah Tugas (SPT) serta Surat Perintah Perjalanan Dinas<br />
(SPPD);<br />
12) Mengusulkan susunan panitia pengadaan kepada Kuasa Pengguna Anggaran<br />
(KPA);<br />
13) Menetapkan Penyedia Barang/Jasa hasil pengadaan;<br />
14) Menandatangani Surat Perintah Kerja (SPK)/Kontrak, Berita Acara Penyelesaian<br />
Pekerjaan, Berita Acara Pemeriksaan Barang dan Berita Acara Serah Terima<br />
Barang/Pekerjaan;<br />
15) Meneliti keberan dokumen yang menjadi persyaratan/kelengkapan sehubungan<br />
dengan ikatan/perjanjian pengadaan barang dan jasa;<br />
16) Meneliti ketersediaan dana dan membebankan pengeluaran sesuai dengan mata<br />
anggaran pengeluaran yang bersangkutan, serta memerintahkan pembayaran<br />
atas beban APBN;<br />
17) Menandatangani kwitansi pembayaran dan bukti-bukti dokumen pengeluaran<br />
anggaran Satuan Kerja, baik yang dilakukan secara kontraktual maupun secara<br />
swakelola;<br />
18) Mengajukan tagihan pembayaran kepada bendahara pengeluaran untuk<br />
pembayaran yang membebani Uang Persediaan;<br />
19) Kepada Pejabat Pembuat Komitmen Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman<br />
Pangan diberi wewenangan menandatangani Surat Permintaan Pembayaran<br />
(SPP) baik, LS, UP, GUP, TUP dan NIHIL, serta dokumen pendukungnya dan<br />
menyampaikan kepada Pejabat penguji Tagihan/Penandatangan Surat Perintah<br />
membayar (SPM);<br />
20) Menyusun laporan seluruh kegiatan yang dilakukannya sesuai DIPA dan<br />
menyampaikannyakepada Kuasa Pengguna Anggaran;<br />
21) Mengangkat staf pengelola anggaran sesuai kebutuhan;<br />
22) Dalam melaksanakan pekerjaannya, PPK agar berkoordinasi dengan pimpinan<br />
unit kerjanya masing-masing.<br />
60 | P a g e
c. Penanggungjawab Teknis Kegiatan<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Penanggungjawab teknis kegiatan adalah Pejabat Eselon II (Sekretaris Direktorat<br />
Jenderal, Direktur, dan Kepala Balai) dengan tugas dan tanggungjawab sebagai<br />
berikut:<br />
1) Melaksanakan kegiatan sesuai rencana kerja sebagaimana yang telah ditetapkan<br />
dalam DIPA sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing;<br />
2) Mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan anggaran;<br />
3) Memimpin seluruh pelaksanaan rencana kerja yang telah ditetapkan dan<br />
dituangkan dalam DIPA;<br />
4) Memberikan pengarahan dan petunjuk kepada Pejabat dibawahnya untuk<br />
kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pencapaian keluaran/outputyang telah<br />
ditetapkan;<br />
5) Menyampaikan laporan kinerja bulanan/triwulanan/semesteran dan tahunan<br />
kepada Kuasa Pengguna Anggaran;<br />
6) Menyusun dan menyampaikan laporan seluruh kegiatan kepada atasan<br />
langsung;<br />
7) Menyelenggarakan pembinaan teknis dan administrasi terhadap Pejabat<br />
Pembuat Komitmen (PPK) yang berada di bawah koordinasinya;<br />
8) Melakukan pengawasan DIPA yang dilaksanakan oleh pejabat pembuat<br />
Komitmen (PPK);<br />
9) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan administrasi<br />
keuangan dan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan output.<br />
10) Memberikan petunjuk dan arahan serta fasilitas untuk mengatasi permasalahan<br />
prinsip yang mungkin timbul;<br />
11) Menyusun usulan rencana kegiatan Satuan Kerja yang merupakan bagian dari<br />
Rencana Kerja dan Anggaran kementerian/lembaga (RKA-KL) tahun berikutnya.<br />
Disamping sebagai penanggungjawab teknis kegiatan, Sekretaris Direktorat Jenderal<br />
Tanaman Pangan atas nama KPA, diberi wewenang untuk:<br />
1) Menandatangani cek;<br />
2) Menandatangani surat dispensasi usulan Tambahan Uang Persediaan (TUP)<br />
kepada Kantor Wilayah Perbendaharaan;<br />
3) Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan tugas penanggungjawab teknis<br />
kegiatan di seluruh unit kerja lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan;<br />
4) Melakukan koordinasi pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas<br />
Pejabat Pembuat Komitmen lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.<br />
d. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM<br />
1) Menguji secara rinci keabsahan dokumen pendukung Surat Permintaan<br />
Pembayaran (SPP) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.<br />
61 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan<br />
bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran.<br />
3) Menguji kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain :<br />
Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan,<br />
alamat, nomor rekening dan nama bank).<br />
Nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan kelayakannya dengan<br />
prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam<br />
kontrak).<br />
Jadwal waktu pembayaran (kesesuaian dengan jadwal penarikan dana yang<br />
tercantum dalam DIPA dan/atau ketepatannya terhadap jadwal waktu<br />
pembayaran).<br />
4) Menguji pencapaian tujuan/sasaran kegiatan sesuai indikator kinerja yang<br />
tercantum dalam DIPA berkenaan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.<br />
5) Menguji kemungkinan adanya pemborosan dan in-efisiensi.<br />
6) Menguji apakah surat-surat serta data dukung telah memenuhi persyaratan yaitu<br />
dari segi ketelitian, ketepatan penjumlahan, pengurangan, perkalian.<br />
7) Mengonsep dan menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM) serta<br />
menyampaikan SPM ke KPPN setempat.<br />
e. Bendahara Pengeluaran<br />
1) Menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan dan<br />
mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka<br />
pelaksanaan APBN pada kantor/Satuan Kerja .<br />
2) Meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Kuasa Pengguna<br />
Anggaran.<br />
3) Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah<br />
pembayaran.<br />
4) Menguji ketersediaan dana yang bersangkutan.<br />
5) Wajib menolak perintah bayar dari PPK atau KPA, apabila persyaratan tersebut<br />
diatas tidak terpenuhi.<br />
6) Bertanggungjawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya.<br />
f. Bendahara Penerimaan<br />
Menerima, menyimpan, menyetorkan, menatausahakan dan mempertanggungjawabkan<br />
uang pendapatan negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada satuan kerjanya.<br />
KPA dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan<br />
harus memperhatikan, mempersiapkan dan menetapkan beberapa dokumen sebagai<br />
berikut;<br />
1) Daftar Isian <strong>Pelaksanaan</strong> Anggaran (DIPA)<br />
2) <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong><br />
62 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
3) Petunjuk Operasional <strong>Pelaksanaan</strong> (POK)<br />
4) Keputusan penetapan para pelaksana anggaran<br />
5) Membuat specimen bank ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN)<br />
6) Mengurus Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ke Kantor Pelayanan Pajak<br />
7) Menyiapkan dan menyelenggarakan Buku Pengawasan <strong>Pelaksanaan</strong> Anggaran<br />
per Mata Anggaran Kegiatan (MAK)<br />
8) Menyiapkan dan meyelenggarakan Buku Pengawasan Uang yang harus<br />
dipertanggungjawabkan<br />
9) Menyiapkan Buku Bank<br />
10) Menyiapkan Buku Pungutan Pajak<br />
11) Dan lainnya.<br />
Jika pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas<br />
pembantuan dapat menghasilkan penerimaan, maka merupakan penerimaan APBN dan<br />
penerimaan tersebut harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundangundangan<br />
yang berlaku. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang<br />
dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan menjadi milik negara.<br />
Sisa/saldo anggaran lebih (SAL) merupakan penerimaan APBN dan disetorkan ke<br />
rekening Kas Umum Negara.<br />
4.4. Ketentuan Pidana, Sanksi Administratif, dan Ganti Rugi<br />
Beberapa ketentuan pidan, sanksi administratif dan ganti rugi yang perlu<br />
diperhatikan adalah;<br />
1) Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti melakukan<br />
penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang<br />
APBN diancam pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan<br />
perundang-undangan.<br />
2) Pimpinan Unit Organisasi Kementerian Negara/Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat<br />
Daerah yang terbukti melakukan penyimpangan kegiatan anggaran yang telah<br />
ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam dengan pidana penjara<br />
dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.<br />
3) SKPD yang secara sengaja dan/atau lalai dalam menyampaikan laporan<br />
dekonsentrasi dan tugas pembantuan dapat dikenakan sanksi berupa penundaan<br />
pencairan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk triwulan berikutnya,<br />
atau penghentian alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk<br />
anggaran berikutnya, yang ketentuan mengenai tata cara pemberian sanksi<br />
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 75,<br />
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas<br />
Pembantuan).<br />
63 | P a g e
BAB V<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
PENGENDALIAN, PENGAWASAN, EVALUASI DAN PELAPORAN<br />
5.1. Pengendalian <strong>Program</strong>, Kegiatan dan Anggaran<br />
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem<br />
Pengendalian Intern Pemerintah, maka mengingat tuntutan agar pengelola dan penerima<br />
manfaat kegiatan dan anggaran dapat bekerjasama melaksanakan tugas secara<br />
transparan, akuntabel, terbuka, efektif dan efisien, serta untuk mengatasi dan mencari<br />
pemecahan terhadap kendala maupun permasalahan yang mungkin muncul, maka<br />
pengendalian intern perlu dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:<br />
a) Mengetahui sejauhmana perkembangan pelaksanaan kegiatan dan anggaran serta<br />
ketepatan penggunaan anggaran dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai.<br />
b) Mengantisipasi secara dini permasalahan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat<br />
dicari solusi pemecahannya.<br />
c) Mencegah dan mengurangi terjadinya penyalahgunaan anggaran yang tidak sesuai<br />
dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai.<br />
d) Memanfaatkan tahapan pelaksanaan kegiatan untuk dijadikan bahan masukan dalam<br />
penyempurnaan dan evaluasi kegiatan.<br />
Pengendalian intern dilakukan bukan saja hanya berkaitan dengan aspke program<br />
dan anggaran, namun termasuk proses pengambilan keputusan, keefektifan sumber daya,<br />
dan berbagai hal lainnya. Dalam melaksanakan pengendalian intern, ada lima (5) unsur<br />
pengendalian yang perlu dicermati yaitu 1) lingkungan pengendalian, 2) penilaian risiko, 3)<br />
Kegiatan Pengendalian, 4) Informasi dan Komunikasi, serta 5) Pemantauan Pengendalian<br />
Intern. Kegiatan pengendalian merupakan salah satu unsur pengendalian intern.<br />
Unsur-unsur yang bertugas melaksanakan pengendalian yaitu :<br />
a. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah:<br />
1) Memberikan bimbingan pelaksanaan kegiatan teknis melalui penerbitan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> sebagai acuan/rambu-rambu operasional kegiatan.<br />
2) Melakukan sosialisasi <strong>Pedoman</strong> sebelum pelaksanaan kegiatan.<br />
3) Memberikan bimbingan penyusunan prosedur tata kerja pelaksanaan program,<br />
kegiatan dan anggaran.<br />
4) Memberikan pelatihan, workshop atau kursus perencanaan program,<br />
penyusunan anggaran, pelaksanaan dan pelaporan kegiatan pembangunan<br />
tanaman pangan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.<br />
5) Melakukan supervisi (orientasi, monitoring maupun evaluasi) ke daerah baik<br />
dalam bentuk pembinaan, bimbingan, arahan serta sejenisnya, sehingga kontrol<br />
yang diberikan dapat mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan di daerah.<br />
64 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
6) Melakukan evaluasi tahunan untuk mengetahui kinerja keseluruhan sebagai<br />
dasar perencanaan program, kegiatan dan anggaran tahun 2013.<br />
b. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />
Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah:<br />
1) Memberikan bimbingan kepada staf secara berjenjang dalam hal administrasi dan<br />
teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan.<br />
2) Menyusun prosedur tatakerja antara propinsi dan kabupaten/kota dengan cara<br />
meningkatkan koordinasi dan jaringan kerja.<br />
3) Membentuk Tim Pengendali Internal pelaksanaan kegiatan.<br />
5.2. Pengawasan <strong>Program</strong>, Kegiatan dan Anggaran<br />
Pada sistem penganggaran berbasis kinerja, kegiatan pengawasan fungsional<br />
pembangunan tanaman pangan masih tetap dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal<br />
Kementerian Pertanian. Sedangkan pengawasan melekat dilakukan Pejabat di lingkup<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Pengawasan ini dapat dilakukan setiap saat selama<br />
proses manajemen berlangsung.<br />
Pengawasan fungsional terhadap program, kegiatan dan anggaran pembangunan<br />
tanaman pangan juga dilakukan secara eksternal oleh aparatur pengawasan seperti BPK,<br />
BPKP dan Bawasda. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan reguler yaitu<br />
pemeriksaan setempat yang dilaksanakan secara reguler terhadap obyek pemeriksaan<br />
lingkup tanaman pangan berdasarkan program kerja pengawasan tahunan. Pengawasan<br />
yang dilakukan berupa pemeriksaan, pengujian, pengusutan dan penilaian terhadap<br />
pengelolaan program, kegiatan dan anggaran kinerja.<br />
Obyek pemeriksaan diprioritaskan terhadap obyek yang anggarannya relatif besar,<br />
mempunyai aspek pelayanan masyarakat, bantuan/pinjaman luar negeri serta mempunyai<br />
peranan strategis terhadap keberhasilan pembangunan tanaman pangan. Sistem dan<br />
upaya pengawasan terus dikembangkan dan disempurnakan melalui berbagai langkah<br />
yang efektif agar dapat mengamankan kebijakan pembangunan tanaman pangan secara<br />
berdaya guna dan berhasil guna.<br />
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:<br />
a. Pemeriksaan kinerja aparat pengelola kegiatan, yaitu pemeriksaan apakah<br />
sumberdaya dan dana sudah digunakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai<br />
serta pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku.<br />
b. Pemeriksaan yang mengarah kepada pelaksanaan wewenang sesuai tugas pokok dan<br />
fungsi, yaitu apakah kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai atau tidak, sehingga<br />
akan dapat memberikan rekomendasi terhadap penyempurnaan pada kegiatan yang<br />
akan datang.<br />
65 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
c. Pemeriksaan akuntabilitas kinerja dimana instansi pelaksana kegiatan<br />
mempertanggung jawabkan wewenang dan tugas pokok dan fungsi instansi tersebut.<br />
d. Pemeriksaan khusus dilaksanakan sewaktu-waktu melalui pengujian dan pendalaman<br />
untuk memperoleh kejelasan suatu informasi yang bersumber dari laporan masyarakat<br />
atau pengembangan dari pemeriksaan reguler yang dipandang perlu terhadap adanya<br />
dugaan terjadinya tindak pidana/ penyalahgunaan wewenang.<br />
5.3. Monitoring dan Evaluasi<br />
Evaluasi pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran dilakukan dengan<br />
pendekatan indikator kinerja menggunakan alat ukur kerangka kerja logis (masukan,<br />
keluaran, hasil, manfaat dan dampak). Indikator kinerja ini digunakan untuk meyakinkan<br />
apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka mencapai tujuan dan<br />
sasaran yang telah ditetapkan.<br />
Indikator kinerja ditetapkan untuk:<br />
a. Memperjelas status jenis, kuantitas dan waktu suatu kegiatan dilaksanakan.<br />
b. Membangun konsensus untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan<br />
kegiatan, termasuk dalam menilai kinerja instansi yang melaksanakannya.<br />
c. Membangun dasar bagi pengukuran, analisis dan evaluasi kinerja suatu<br />
instansi/organisasi.<br />
Penilaian kinerja pelaksanaan pembangunan tanaman pangan diukur dengan<br />
menggunakan indikator kinerja. Pengukuran efisiensi secara ekonomis dilakukan dengan<br />
cara menilai penggunaan masukan yang paling ekonomis untuk mencapai keluaran<br />
tertentu. Efisiensi (daya guna) diukur dengan cara membandingkan antara keluaran yang<br />
dihasilkan dengan masukan yang telah dikeluarkan, sedangkan efektivitas (hasil guna)<br />
dilakukan dengan mengukur sejauhmana hasil telah dicapai. Ukuran efisiensi dan<br />
efektivitas secara skematis dapat dilihat pada gambar 5 berikut:<br />
Gambar 5. Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman<br />
Pangan<br />
NILAI MASUKAN<br />
(Rp)<br />
EKONOMIS<br />
(HEMAT)<br />
MASUKAN<br />
Pengukuran Efisiensi dan<br />
Efektivitas<br />
PROSES KELUARAN HASIL TUJUAN<br />
EFISIENSI<br />
(DAYA GUNA)<br />
EFISIENSI<br />
PEMBIAYAAN<br />
EFEKTIVITAS<br />
(HASIL GUNA)<br />
66 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Evaluasi dapat dilakukan pada saat awal kegiatan (ex-ante), sedang pelaksanaan<br />
kegiatan (on-going) dan evaluasi akhir (ex-post). Evaluasi awal dan evaluasi saat<br />
pelaksanaan kegiatan sedang berjalan dapat dilakukan bersamaan dengan monitoring<br />
pelaksanaan kegiatan. Materi evaluasi mencakup aspek administrasi, aspek teknis dan<br />
anggaran. Evaluasi dilakukan di masing-masing Satker Provinsi, dan Kabupaten/Kota,<br />
sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Masing-masing penanggung<br />
jawab kegiatan juga harus melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang menjadi tanggung<br />
jawabnya. Evaluasi program, kegiatan dan anggaran secara menyeluruh dilakukan oleh<br />
Tim.<br />
5.4. Pelaporan<br />
Berdasarkan pasal 33 ayat 1 (a) dan pasal 60 ayat 1 (c) Peraturan Pemerintah RI<br />
Nomor 7 Tahun 2008, tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, Gubernur<br />
menyampaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan pembangunan<br />
pertanian kepada Menteri Pertanian. Selanjutnya Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun<br />
2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 menyebutkan laporan kinerja<br />
dievaluasi dan dilaporkan kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran<br />
(Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan) dan menjadi masukan serta bahan<br />
pertimbangan untuk analisis dan evaluasi alokasi anggaran tahun 2013. Peraturan Menteri<br />
Keuangan Nomor 248/PMK.07/2010, tentang <strong>Pedoman</strong> Pengelolaan Dana Dekonsentrasi<br />
dan Dana Tugas Pembantuan, menyebutkan SKPD wajib menyusun laporan<br />
pertanggungjawaban serta menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun<br />
anggaran kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri<br />
Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan).<br />
Pelaporan hasil pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran ini, merupakan<br />
penyampaian informasi serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan<br />
sampai akhir pelaksanaan. Melalui laporan ini juga akan dapat dilihat sejauh mana tingkat<br />
keberhasilannya.<br />
Sesuai dengan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan, aparat pelaksana<br />
kegiatan di provinsi dan kabupaten/kota wajib membuat laporan ke pusat. Mekanisme<br />
pelaporan pelaksanaan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan propinsi dilakukan<br />
secara berjenjang dari Dinas pertanian provinsi menyampaikan laporan kepada Gubernur<br />
dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, yang selanjutnya Direktorat Jenderal Tanaman<br />
Pangan menyampaikan laporan kepada Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal<br />
Kementerian Pertanian.<br />
Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota<br />
dilakukan secara berjenjang yaitu dari Dinas pertanian kabupaten/kota menyampaikan<br />
laporan kepada Bupati/Walikota dan tembusan kepada Direktorat Jenderal Tanaman<br />
67 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Pangan dan Dinas pertanian provinsi. Setelah menerima laporan dari kabupaten/kota,<br />
Dinas pertanian provinsi merekapitulasi laporan dari seluruh kabupaten/kota dalam propinsi<br />
bersangkutan dan menyampaikan laporan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan,<br />
yang selanjutnya menyampaikan laporan ke Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal<br />
Kementerian Pertanian.<br />
Laporan yang disampaikan, baik untuk anggaran dekonsentrasi, tugas<br />
pembantuan provinsi maupun tugas pembantuan kabupaten/kota, meliputi laporan<br />
manajerial dan laporan akuntabilitas yang dilakukan setiap bulan, triwulan dan setiap<br />
berakhirnya tahun anggaran. Format pelaporan dan waktu penyampaian laporan<br />
manajerial dan laporan akuntabilitas akan ditetapkan lebih lanjut oleh Sekretaris Jenderal<br />
Kementerian Pertanian.<br />
Laporan insidentil, yaitu laporan yang disampaikan jika terjadi sesuatu yang<br />
bersifat insidentil (mendesak), misalnya bila ada permasalahan yang dihadapi baik dalam<br />
aspek adminsitrasi dan keuangan maupun teknis pelaksanaan kegiatan juga bisa<br />
disampaikan ke Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.<br />
Gubernur selaku penerima pelimpahan anggaran dekonsentrasi dan penugasan<br />
pelaksanaan anggaran tugas pembantuan, dan Bupati/Walikota selaku penerima<br />
penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan menyampaikan laporan<br />
pertanggungjawaban akhir seluruh pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari anggaran<br />
dimaksud kepada Menteri Pertanian. Kinerja penyampaian laporan akan dijadikan salah<br />
satu dasar penentuan anggaran tahun 2013 sebagai penerapan azas reward and<br />
punishment.<br />
68 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
BAB VI<br />
PENUTUP<br />
Keberhasilan pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran berbasis kinerja<br />
sangat tergantung pada komitmen dan konsistensi baik aparatur negara, kepercayaan<br />
masyarakat serta motivasi peningkatan kualitas kinerja pemerintah. Untuk itu, perlu terus<br />
ditingkatkan keterpaduan pelaksanaan pembangunan tanaman pangan melalui<br />
pemantapan sistem dan metoda perencanaan, peningkatan kualitas sumberdaya manusia,<br />
penataan kelembagaan, dan peningkatan koordinasi antar instansi terkait.<br />
<strong>Pedoman</strong> ini merupakan acuan bagi semua pihak terkait dalam melaksanakan<br />
program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan. <strong>Pedoman</strong> ini akan dilengkapi<br />
dengan <strong>Pedoman</strong> yang bersifat teknis dari masing-masing kegiatan. Sebagai tindak lanjut<br />
diterbitkannya seluruh <strong>Pedoman</strong> dimaksud, kepada daerah diberikan keleluasaan untuk<br />
menjabarkannya lebih lanjut ke dalam Petunjuk/<strong>Pedoman</strong> Teknis sesuai dengan<br />
keragaman karakteristik dan kondisi setempat. Keberhasilan pembangunan tanaman<br />
pangan sangat tergantung kepada komitmen semua pihak terkait dalam melaksanakan<br />
kegiatan pembangunan tanaman pangan secara terpadu.<br />
<strong>Pedoman</strong> ini diharapkan dapat memberikan berbagai butir-butir untuk<br />
dilaksanakan dan sekaligus dirinci dalam pedoman pelaksanaan kegiatan dan/atau<br />
pedoman teknis.<br />
69 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
70 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 1. Daftar Satuan Kerja (Satker) dan Kode Satker di Pusat, Provinsi<br />
dan Kabupaten/Kota TA. 2012<br />
NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />
1. DKI JAKARTA<br />
1. 010082 Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan & Hortikultura DKI<br />
Jakarta<br />
2. 010091 Dinas Kelautan Dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta<br />
2. JAWA BARAT<br />
3 020069 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat<br />
4 020534 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab Bogor<br />
5 020614 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Sukabumi<br />
6 020730 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Cianjur<br />
7 020823 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bekasi<br />
8 020932 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Karawang<br />
9 021009 Dinas Pertanian, Kehutanan Dan Perkebunan Kab Purwakarta<br />
10 021107 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang<br />
11 021241 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bandung<br />
12 021334 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sumedang<br />
13 021439 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut<br />
14 021510 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya<br />
15 021614 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Ciamis<br />
16 021714 Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Kehutanan Kab. Cirebon<br />
17 021816 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Kuningan<br />
18 021933 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Indramayu<br />
19 022024 Dinas Pertanian Kab Majalengka<br />
20 022102 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bandung Barat<br />
21 025312 Dinas Pertanian Kota Sukabumi<br />
22 026009 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Tasikmalaya<br />
3. JAWA TENGAH<br />
23 030010 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Jawa Tengah<br />
24 030106 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Semarang<br />
25 030203 Dinas Pertanian Kabupaten Kendal<br />
26 030309 Dinas Pertanian Kab Demak<br />
27 030403 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Grobogan<br />
28 030505 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Pekalongan<br />
29 030627 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batang<br />
30 030729 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Tegal<br />
31 030830 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Brebes<br />
32 030932 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Pati<br />
33 031024 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Kudus<br />
34 031104 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Pemalang<br />
35 031217 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Jepara<br />
36 031313 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Rembang<br />
37 031429 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Blora<br />
38 031532 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Banyumas<br />
39 031635 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Cilacap<br />
40 031703 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga<br />
41 031812<br />
Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara<br />
42 031934 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Magelang<br />
43 032030<br />
Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Temanggung<br />
44 032118 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Wonosobo<br />
45 032203 Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo<br />
46 032305 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kebumen<br />
71 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />
47 032430 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Klaten<br />
48 032505 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Boyolali<br />
49 032637 Dinas Pertanian Kab. Sragen<br />
50 032727 Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo<br />
51 032812 Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Karanganyar<br />
52 032907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Wonogiri<br />
4. DI. YOGYAKARTA<br />
53 040070 Dinas Pertanian Provinsi D.I. Yogyakarta<br />
54 040138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Bantul<br />
55 040227 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Sleman<br />
56 040324 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Gunung Kidul<br />
57 040432 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Kulonprogo<br />
5. JAWA TIMUR<br />
58 050004 Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur<br />
59 050132 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Gresik<br />
60 050208 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Mojokerto<br />
61 050322 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sidoarjo<br />
62 050448 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Jombang<br />
63 050509 Dinas Pertanian Kabupaten Sampang<br />
64 050611 Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan<br />
65 050708 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep<br />
66 050836 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangkalan<br />
67 050908 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bondowoso<br />
68 051007 Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo.<br />
69 051139 Dinas Kehutanan, Pertanian Dan Urusan Ketahanan Pangan Kab. Banyuwangi.<br />
70 051217 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Jember.<br />
71 051342 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Malang<br />
72 051414 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan<br />
73 051508 Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo<br />
74 051635 Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang<br />
75 051704 Dinas Pertanian Kabupaten Kediri<br />
76 051815 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulung Agung<br />
77 051936 Dinas Pertanian Daerah Kab Nganjuk<br />
78 052031 Dinas Pertanian Kehutanan Dan Perkebunan Kab Trenggalek<br />
79 052103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Blitar<br />
80 052214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Madiun<br />
81 052330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ngawi<br />
82 052407 Dinas Pertanian Kabupaten Magetan<br />
83 052504 Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo<br />
84 052604 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Pacitan<br />
85 052739 Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro<br />
86 052832 Dinas Pertanian Kabupaten Tuban<br />
87 052930 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Lamongan<br />
6. ACEH<br />
88 060060 Dinas Pertanian Provinsi Aceh<br />
89 060106 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Aceh Besar<br />
90 060216 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Pidie<br />
91 060317 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab Aceh Utara<br />
92 060415 Dinas Pertanian Dan Hortikultura Kab Aceh Timur<br />
93 060517 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Selatan<br />
94 060621 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat<br />
95 060714 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Aceh Tengah<br />
96 060813 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara<br />
97 060916 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Simeulue<br />
98 061021 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Aceh Singkil<br />
72 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />
99 061106 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Bireun<br />
100 061207 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Daya<br />
101 061315 Dinas Pertanian Kab. Gayo Luwes<br />
102 061412 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Jaya<br />
103 061504 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Nagan Raya<br />
104 061604 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Aceh Tamiang<br />
105 061709 Dinas Pertanian Tp, Peternakan Dan Perikanan Kab Bener Meriah<br />
106 061802 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pidie Jaya<br />
107 065602 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Subulussalam<br />
7. SUMATERA UTARA<br />
108 070049 Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara<br />
109 070108 Dinas Pertanian Kab. Deli Serdang<br />
110 070239 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Karo<br />
111 070305 Dinas Pertanian Kab. Langkat<br />
112 070432 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tapanuli Tengah<br />
113 070513 Dinas Pertanian Kab Simalungun<br />
114 070607 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kab. Labuhan Batu<br />
115 070730 Dinas Pertanian Kab. Dairi<br />
116 070807 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Utara<br />
117 070907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tapanuli Selatan<br />
118 071032 Dinas Pertanian Kab. Asahan<br />
119 071152 Dinas Pertanian Kab Nias<br />
120 071228 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Samosir<br />
121 071231 Dinas Pertanian Kab Toba Samosir<br />
122 071331 Dinas Pertanian Kab.Mandailing Natal<br />
123 071411 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Nias Selatan<br />
124 071525 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Pakpak Barat<br />
125 071604 Dinas Pertanian Kab. Humbang Hasundutan<br />
126 072018 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Serdang Bedagai<br />
127 072103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batubara<br />
128 072201 Dinas Pertanian Darah Kab. Padang Lawas<br />
129 072301 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Padang Lawas Utara<br />
130 072502 Dinas Pertanian Kab. Labuhan Batu Utara<br />
131 072603 Dinas Pertanian,Peternakan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Nias Utara<br />
132 072703 Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan Dan Peternakan Kab. Nias Barat<br />
133 075714 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Padang Sidempuan<br />
8. SUMATERA BARAT<br />
134 080008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat<br />
135 080129 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Agam<br />
136 080222 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Pasaman<br />
137 080321 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Limapuluh Kota<br />
138 080408 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Solok Selatan<br />
139 080418 Dinas Pertanian Dan Perikanan Kab Solok<br />
140 080522 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura Perkebuan Dankehutanan Kab.<br />
Padang Pariaman<br />
141 080631 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura, Peternakan Dan Perkebunan<br />
Kabupaten Pesisir Selatan<br />
142 080711 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tanah Datar<br />
143 080823 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Sijunjung<br />
144 081019 Dinas Pertanian Kabupaten Dharmas Raya<br />
145 081214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Dan Peternakan Kab. Pasaman Barat<br />
146 085538 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kota Padang<br />
147 085604 Dinas Pertanian Kota Payakumbuh<br />
148 085708 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kota Pariaman<br />
73 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />
9. RIAU<br />
149 090072 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Riau<br />
150 090118 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Kampar<br />
151 090239 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkalis<br />
152 090435 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Indragiri Hulu<br />
153 090436 Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura Dan Peternakan Kab. Indragiri Hilir<br />
154 090616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Pelalawan<br />
155 090715 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Rokan Hulu<br />
156 090816 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Rokan Hilir<br />
157 090932 Dinas Pertanian, Peteranakan Dan Perikanan Kab Siak<br />
158 091214 Dinas Tanaman Pangan Kab. Kuantan Sengingi<br />
159 091308 Dinas Pertanian , Kehutanan, Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti<br />
10. JAMBI<br />
160 100008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jambi<br />
161 100130 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Batanghari<br />
162 100237 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tanjung Jabung Barat<br />
163 100317 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Bungo<br />
164 100418 Dinas Pertanian Kab. Sarolangun<br />
165 100530 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kabupaten Kerinci<br />
166 100616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Merangin<br />
167 100717 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Tanjung Jabung Timur<br />
168 100816 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Tebo<br />
169 100915 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi<br />
170 105134 Dinas Pertanian Kota Jambi<br />
171 105202 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutan Kota Sungai Penuh<br />
11. SUMATERA SELATAN<br />
172 110005 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Sumatera Selatan<br />
173 110328 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Musi Banyuasin<br />
174 110416 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ogan Komering Ulu<br />
175 110503 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Muara Enim<br />
176 110608 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lahat<br />
177 110703 Dinas Tanaman Pangan Dan Holtikultura Kabupaten Musi Rawas<br />
178 110809 Dinas Pertanian Kab. Ogan Komering Ilir<br />
179 110916 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banyuasin<br />
180 111009 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Oku Timur<br />
181 111104 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Oku Selatan<br />
182 111210 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Ogan Ilir<br />
183 111702 Dinas Tanaman Pangan, Peternakan Dan Perikanan Kab. Empat Lawang<br />
184 115138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kota Palembang<br />
185 115413 Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Peternakan Dan Perikanan Kota Pagar Alam<br />
186 115518 Dinas Tanaman Pangan, Kehutanan Dan Perkebunan Kota Lubuk Linggau<br />
12. LAMPUNG<br />
187 120004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Prov. Lampung<br />
188 120108 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan<br />
189 120207 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Tengah<br />
190 120330 Dinas Pertanian Kab. Lampung Utara<br />
191 120427 Dinas Pertanian Kab. Lampung Barat<br />
192 120503 Dinas Pertanian, Perkebunan & Kehutanankabupaten Tulang Bawang<br />
193 120625 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tanggamus<br />
194 120739 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Timur ( 03 )<br />
195 120822 Dinas Pertanian, Peternakan &Perikanan Kabupaten Way Kanan<br />
196 120903 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Pesawaran<br />
197 121005 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Pringsewu<br />
198 121101 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kab. Mesuji<br />
199 121201 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Tulang Bawang Barat<br />
74 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />
13. KALIMANTAN BARAT<br />
200 130071 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat<br />
201 130105 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Sambas<br />
202 130237 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kab. Sanggau<br />
203 130306 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sintang<br />
204 130404 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pontianak<br />
205 130506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Kapuas Hulu<br />
206 130635 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Ketapang<br />
207 130729 Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang<br />
208 130814 Dinas Pertanian Kab Landak<br />
209 130904 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Melawi<br />
210 131004 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kab. Sekadau<br />
211 131102 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Kayong Utara<br />
212 131201 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Kubu Raya<br />
14. KALIMANTAN TENGAH<br />
213 140004 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah<br />
214 140137 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kapuas<br />
215 140232 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Barito Utara<br />
216 140308 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Barito Selatan<br />
217 140408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Timur<br />
218 140429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat<br />
219 140606 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seruyan<br />
220 140612 Dinas Pertanian Kab. Katingan<br />
221 140811 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Sukamara<br />
222 140908 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Lamandau<br />
223 141006 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Gunung Mas<br />
224 141007 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pulang Pisau<br />
225 141107 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Murung Raya<br />
226 141306 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Barito Timur<br />
15. KALIMANTAN SELATAN<br />
227 150002 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Propinsi Kalimantan Selatan<br />
228 150058 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kab. Banjar<br />
229 150213 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Perkebunan Kabupaten Tanah Laut<br />
230 150330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tapin<br />
231 150428 Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Selatan<br />
232 150504 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah<br />
233 150509 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Barito Kuala<br />
234 150730 Dinas Tanaman Pangan, Peternakan Dan Perikanan Kab. Tabalong<br />
235 150735 Dinas Pertanian Kabupaten Kotabaru<br />
236 150934 Dinas Pertanian Tp Dan Hortikultura Kab. Hulu Sungai Utara<br />
237 151006 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Tanah Bumbu<br />
238 151105 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura , Peternakan Dan Perikanan Kab.<br />
Balangan<br />
16. KALIMANTAN TIMUR<br />
239 160059 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Prop. Kalimantan Timur<br />
240 160230 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Tanah Grogot Kabupaten Paser<br />
241 160330 Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan<br />
242 160406 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Berau<br />
243 160505 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Nunukan<br />
244 160518 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab. Malinau<br />
245 160705 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kabupaten Kutai Timur<br />
246 160721 Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Peternakan Dan Perikanan Kab. Kutai Barat<br />
247 160807 Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan Dan Kelautan Kab. Penajam Paser Utara<br />
248 161013 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kutai Kartanegara<br />
249 161204 Dinas Pertanian, Kehutanan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Tana Tidung<br />
75 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />
17. SULAWESI UTARA<br />
250 170052 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara<br />
251 170085 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Minahasa<br />
252 170240 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bolaang Mongondow<br />
253 170330 Dinas Pertanian Kabupaten Sangihe<br />
254 170605 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Minahasa Selatan<br />
255 170704 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kota Tomohon<br />
256 170706 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kab. Minahasa Utara<br />
257 171008 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Minahasa Tenggara<br />
258 171163 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bolaang Mongondow Utara<br />
259 171303 Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian Dan Kehutanan Kab. Bolaang Mongondow<br />
Selatan<br />
260 171403 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kab. Bolaang Mongondow Timur<br />
261 175401 Dinas Pertanian Kota Kotamobago<br />
18. SULAWESI TENGAH<br />
262 180039 Dinas Pertanian Daerah Provinsi Sulawesi Tengah<br />
263 180071 Dinas Pertanian Kabupaten Poso<br />
264 180205 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Donggala<br />
265 180304 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Toli-Toli<br />
266 180408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banggai<br />
267 180524 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Buol<br />
268 180605 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Morowali<br />
269 180706 Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan Dan Peternakan Kab. Banggai Kepulauan<br />
270 180806 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Parigi Moutong<br />
271 180908 Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kab. Tojo Una-Una<br />
272 181202 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Sigi<br />
19. SULAWESI SELATAN<br />
273 190049 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan<br />
274 190058 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sidrap<br />
275 190104 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pinrang<br />
276 190207 Dinas Pertanian Kabupaten Gowa<br />
277 190304 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Wajo<br />
278 190503 Dinas Pertanian Tanaman Pangan &Hortikltura Kabupaten Bone<br />
279 190606 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tana Toraja<br />
280 190713 Dinas Pertanian Kabupaten Maros<br />
281 190918 Dinas Tanaman Pangan, Hortikulutura Dan Peternakan Kabupaten Luwu<br />
282 191018 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sinjai<br />
283 191107 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Bulukumba<br />
284 191214 Dinas Pertanian & Kehutanan Kabupaten Bantaeng<br />
285 191310 Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto<br />
286 191427 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kepulauan Selayar<br />
287 191524 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Takalar<br />
288 191620 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Barru<br />
289 191713 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sidrap<br />
290 191829 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Pangkep<br />
291 191903 Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Soppeng<br />
292 192106 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Enrekang<br />
293 192215 Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara<br />
294 192420 Dinas Pertanian, Perkebunan &Peternakan Kabupaten Luwu Timur<br />
295 192501 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Toraja Utara<br />
296 195317 Dinas Pertanian & Peternakan Kota Palopo<br />
20. SULAWESI TENGGARA<br />
297 200071 Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara<br />
298 200208 Dinas Pertanian Kabupaten Buton<br />
299 200305 Dinas Pertanian Kabupaten Muna<br />
76 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />
300 200444 Dinas Pertanian, Hortikultura Dan Peternakan Kab. Kolaka<br />
301 200507 Dinas Pertanian Kabupaten Konawe Selatan<br />
302 200627 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Hortikultura Kab. Bombana<br />
303 200809 Dinas Perkebuanan Dan Hortikultura Kab. Kolaka Utara<br />
304 200909 Dinas Pertanian Kab Konawe<br />
305 201003 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Konawe Utara<br />
21. MALUKU<br />
306 210003 Dinas Pertanian Provinsi Maluku<br />
307 210103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Maluku Tengah<br />
308 210230 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Maluku Tenggara<br />
309 210309 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hrotikultura Dan Peternakan Kab. Maluku Tenggara<br />
Barat<br />
310 210410 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Pulau Buru<br />
311 210610 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Barat<br />
312 210710 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Timur<br />
313 210904 Dinas Pertanian Kab. Maluku Barat Daya<br />
314 211002 Dinas Pertanian, Kehutanan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Buru Selatan<br />
22. BALI<br />
315 220074 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali<br />
316 220103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Buleleng<br />
317 220204 Dinas Pertanian, Kehutanan, Dan Kelautan Kabupaten Jembrana<br />
318 220307 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Klungkung<br />
319 220403 Dinas Pertanian, Perhutanan Dan Perkebunan Kabupaten Gianyar<br />
320 220506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Karangasem<br />
321 220610 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Perhutanan Kab Bangli<br />
322 220741 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutana Kab Badung<br />
323 220807 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kabupaten Tabanan<br />
23. NUSA TENGGARA BARAT<br />
324 230004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov Nusa Tenggara Barat<br />
325 230116 Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat<br />
326 230208 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah<br />
327 230306 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur<br />
328 230421 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Bima<br />
329 230535 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa<br />
330 230616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Dompu<br />
331 230715 Dinas Kehutanan, Perkebunan & Pertanian Kab Sumbawa Barat<br />
332 230802 Dinas Pertanian , Perkebunan, Kehutanan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Lombok Utara<br />
333 235106 Dinas Pertanian, Kelautan Dan Perikanan Kota Mataram<br />
334 235206 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kota Bima<br />
24. NUSA TENGGARA TIMUR<br />
335 240072 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur<br />
336 240103 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Kupang<br />
337 240203 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Belu<br />
338 240330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab. Timor Tengah Utara<br />
339 240407 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Timor Tengah Selatan<br />
340 240540 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Alor<br />
341 240617 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sikka<br />
342 240704 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Flores Timur<br />
343 240806 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Ende<br />
344 240904 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kab. Ngada<br />
345 241047 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Manggarai<br />
346 241103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sumba Timur<br />
347 241206 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sumba Barat<br />
348 241318 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Lembata<br />
349 241412 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Rote Ndao<br />
77 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />
350 241503 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Manggarai Barat<br />
351 241705 Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perikanan Dan Kelautan Kab. Nagekeo<br />
352 241802 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Sumba Tengah<br />
353 241902 Dinas Pertanian Kab. Sumba Barat Daya<br />
354 242002 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kelautan Kab. Manggarai Timur<br />
25. PAPUA<br />
355 250034 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Papua<br />
356 250108 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Jayapura<br />
357 250746 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Merauke<br />
358 250806 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab Jayawijaya<br />
359 251036 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Nabire<br />
360 251706 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Keerom<br />
361 255134 Dinas Pertanian Kota Jayapura<br />
26. BENGKULU<br />
362 260003 Dinas Pertanian Propinsi Bengkulu<br />
363 260103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara<br />
364 260204 Dinas Pertanian Kab. Bengkulu Selatan<br />
365 260335 Dinas Pertanian Kab. Rejang Lebong<br />
366 260407 Dinas Pertanian Kabupaten Seluma<br />
367 260506 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kaur<br />
368 260613 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Muko-Muko<br />
369 260711 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lebong<br />
370 260813 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Kepahiang<br />
371 260903 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bengkulu Tengah<br />
372 265109 Badan Ketahanan Pangan Dan Pelaksana Penyuluhan Kota Bengkulu<br />
27. MALUKU UTARA<br />
373 280055 Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara<br />
374 280239 Dinas Pertanian & Peternakan Kab. Halmahera Tengah<br />
375 280314 Dinas Pertanian Kab. Halmahera Utara<br />
376 280405 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Selatan<br />
377 280613 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Timur<br />
378 280705 Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Barat<br />
379 280808 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Pulau Morotai<br />
28. BANTEN<br />
380 290006 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Banten<br />
381 290106 Dinas Pertanian Kabupaten Serang<br />
382 290240 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Pandeglang<br />
383 290304 Dinas Pertanian Kabupaten Lebak<br />
384 290429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Tangerang<br />
385 295301 Dinas Pertanian Kota Serang<br />
29. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG<br />
386 300062 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung<br />
387 300223 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka<br />
388 300505 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka Selatan<br />
30. GORONTALO<br />
389 310005 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo<br />
390 310106 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo<br />
391 310207 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Boalemo<br />
392 310306 Dinas Pertanian Kab. Pohuwato<br />
393 310407 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Ketahanan Pangan Kab. Bone Bolango<br />
394 310704 Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Gorontalo<br />
Utara<br />
31. KEPULAUAN RIAU<br />
395 320017 Dinas Pertanian, Kehutanan, Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau<br />
78 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
NO. KODE SATKER NAMA SATKER<br />
32. PAPUA BARAT<br />
396 330047 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat<br />
397 330136 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Manokwari<br />
398 330238 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sorong<br />
399 330412 Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan<br />
400 330604 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Teluk Bintuni<br />
401 330716 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Teluk Wondama<br />
402 331006 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan, Kehutanan Dan Perikanan Kabupaten May<br />
Brat<br />
33. SULAWESI BARAT<br />
403 340042 Dinas Pertanian Dan Peternakan Propinsi Sulawesi Barat<br />
404 340106 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Majene<br />
405 340206 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Mamuju<br />
406 340303 Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Mamuju Utara<br />
407 340407 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Polewali Mandar<br />
408 340509 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Hortikultura Kab Mamasa<br />
79 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 2. Agenda Perencanaan Nasional<br />
No. Agenda Waktu<br />
1. Musrenbangtan Tingkat Kabupaten/Kota Pertengahan Maret<br />
2. Musrenbangtan Tingkat Provinsi Akhir Maret<br />
3. Penetapan Pagu Indikatif Maret<br />
4. Musrenbangtan Nasional Awal April<br />
5. Penyusunan Renja KL April<br />
6. Penelaahan Renja KL oleh Bappenas dan Kemenkeu Mei<br />
7. SK Menkeu tentang Penetapan Pagu Sementara Juni<br />
8. Penyesuaian Renja menjadi RKA-KL Juni<br />
9. Pembahasan RKA-KL dengan DPR Juli<br />
10. Penelaahan RKA-KL oleh Bappenas dan Kemenkeu Juli<br />
11. Nota Keuangan dan RUU RAPBN Agustus<br />
12. Penetapan UU APBN September<br />
13. Penetapan Pagu Indikatif Oktober<br />
14. Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL di Ditjen Anggaran<br />
Kemenkeu<br />
Oktober-November<br />
15. Penelaahan DIPA – SRAA di Ditjen Anggaran Kemenkeu November-<br />
Desember<br />
16. Penetapan Perangkat Pengelola Keuangan dan Penyampaian<br />
ke Menteria Pertanian<br />
November-<br />
Desember<br />
17. Penerbitan SRAA oleh Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu Desember<br />
18. Penerbitan DIPA Akhir Desember<br />
19. Penetapan <strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong>/Kegiatan/Teknis<br />
oleh Kementerian dan Unit Eselon I<br />
Akhir Desember<br />
80 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 3. Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
TA 2012<br />
No. Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Waktu Lokasi Peserta<br />
I. Direktorat Budidaya Serealia<br />
1. Rakor Regional III (Jateng, Jatim, Kalsel,<br />
DI Yogyakarta, Kaltim, Kalteng)<br />
Februari Jatim Dinas Provinsi, Dinas<br />
Kabupaten, BPSBTPH,<br />
BPTPH, Bakorluh<br />
2. Sosialisasi P2BN Maret Jabar Dinas Provinsi, Div re Bulog<br />
3. Pemantapan Pelaksanan P2BN April DIY Dinas Provinsi, Div re Bulog<br />
4. Pertemuan adopsi teknologi budidaya<br />
serealia<br />
Sept. Jatim Dinas Provinsi<br />
5. Rapat evaluasi P2BN Nov. Sulsel Dinas Provinsi, Div re Bulog<br />
II. Direktorat Aneka Kacang dan Umbi<br />
1. Rakor Regional V (Bali, NTB, NTT, Malut,<br />
Maluku, Papua Barat, Papua)<br />
2. Koordinasi pengembangan agribisnis<br />
kedelai<br />
3. Koordinasi pengemb. agribisnis aneka<br />
kacang & umbi<br />
4. Koordinasi& sosialisasi pengembangan<br />
kedelai melalui PAT<br />
III. Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan<br />
1. Rapat Regional I (Aceh, Sumut, Sumbar,<br />
Riau, Jambi, Kepri)<br />
2. Koordinasi/workshop penanganan<br />
pascapanen tanaman pangan<br />
Maret Bali Dinas Provinsi, Dinas Kab,<br />
BPSBTPH, BPTPH, Bakorluh<br />
Mei Jatim Dinas Provinsi, stakeholders<br />
Juni DIY Dinas Provinsi, stakeholders<br />
Juli Jatim Dinas Provinsi, stakeholders<br />
Peb. Riau Dinas Provinsi, Dinas<br />
Kabupaten, BPSBTPH,<br />
BPTPH, Bakorluh<br />
Mei DIY Dinas Provinsi<br />
3. Pertemuan persiapan survey susut hasil Peb. NTB Dinas 12 Provinsi (Aceh,<br />
Sumut, Sumsel, Lampung,<br />
Banten, Jabar, Jateng, DIY,<br />
Jatim, Kalsel, Sulsel, NTB)<br />
4. Pertemuan apresiasi penanganan<br />
pascapanen tanaman pangan<br />
IV. Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan<br />
1. Rakor Regional II (Bengkulu, Sumsel,<br />
Lampung, Babel, Banten, Jabar, Kalbar)<br />
April Jabar Dinas Provinsi<br />
Peb. Sumsel Dinas Provinsi, BPSBTPH,<br />
BPTPH, BBPOPT,<br />
BBPPMBTPH, BPMPT<br />
2. Koordinasi Teknis Perbenihan Maret Sulsel Ka BPSBTPH, Ka BBI, Kabid<br />
Tanaman Pangan / Kasie Benih<br />
3. Sosialisasi pengawasan, penyaluran<br />
benih bersubsidi & bantuan benih<br />
April Jabar Ka BPSBTPH, BUMN,<br />
Koordinator PBT<br />
4. Forum Perbenihan Agst Sumut BPSBTPH, BBI, Produsen<br />
Benih<br />
V. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan<br />
1. Rakor Regional IV (Sulut, Sulsel, Sulteng,<br />
Sultra, Gorontalo, Sulbar)<br />
Peb. Makasar Dinas Provinsi, Dinas<br />
Kabupaten, BPSBTPH,<br />
BPTPH, Penyuluh<br />
2. Koordinasi teknis perlindungan tanaman Maret Kalsel BPTPH<br />
3. Evaluasi kegiatan perlindungan tanaman Nov. Bali BPTPH<br />
VI. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
1. Sinkronisasi <strong>Program</strong> dan Kegiatan<br />
Tanaman Pangan TA. 2012<br />
2. Koordinasi Penyusunan ASEM 2011 dan<br />
ARAM I 2012<br />
Peb. Jakarta Dinas Provinsi, BPTPH,<br />
BPSBTPH<br />
Maret Bandung Dinas Provinsi, BPS<br />
81 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
No. Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Waktu Lokasi Peserta<br />
3. Koordinasi Penyusunan Rancangan<br />
<strong>Program</strong> dan Kegiatan Tanaman Pangan<br />
2013<br />
Maret Medan Dinas Provinsi, BPTPH,<br />
BPSBTPH<br />
4. TOT Refreshing Pengolah data Statistik April Bandung Dinas Provinsi<br />
5. Rakor Bidang Keuangan (Penerbit SPM,<br />
Bendahara)<br />
Mei Jateng Dinas Provinsi, BPTPH,<br />
BPSBTPH<br />
6. Koordinasi Pelaporan dan SPI Juni Bali Dinas Provinsi, BPTPH,<br />
BPSBTPH<br />
7. Koordinasi Penyusunan ATAP 2011 dan<br />
ARAM II 2012<br />
8. Penyusunan RKA-KL Pagu Sementara<br />
TA 2013<br />
Juni Palembang Dinas Provinsi, BPS<br />
Juni Bali Dinas Provinsi, BPTPH,<br />
BPSBTPH<br />
9. Kerjasama Kemitraan Tanaman Pangan Juli Jakarta Dinas Provinsi, Stakeholders<br />
10. Workshop Penyusunan Laporan SAK /<br />
Pertemuan Update <strong>Program</strong> SIMONEV<br />
Wilayah Barat dan Timur<br />
11. Koordinasi Penyusunan ARAM III Tahun<br />
2012<br />
12. Workshop Penyusunan Laporan SIMAK-<br />
BMN<br />
Sept. Kalsel Dinas Provinsi, BPTPH,<br />
BPSBTPH<br />
Sept. NTB Dinas Provinsi, BPS<br />
Okt. Sulsel Dinas Provinsi,BPTPH,<br />
BPSBTPH<br />
13. Evaluasi <strong>Program</strong> dan Kegiatan TA.2012 Nov. DIY Dinas Provinsi, BPTPH,<br />
BPSBTPH, BBI<br />
14. Penyusunan RKA-KL pagu Definitif TA<br />
2013<br />
Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012<br />
Okt. DIY Dinas Provinsi,BPTPH,<br />
BPSBTPH<br />
82 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 4. Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
TUGAS DAN FUNGSI<br />
DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN<br />
TUGAS : MERUMUSKAN SERTA MELAKSANAKAN KEBIJAKAN DAN STANDARDISASI DI<br />
BIDANG TANAMAN PANGAN<br />
FUNGSI : 1. PERUMUSAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN, BUDIDAYA,<br />
PERLINDUNGAN, DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN;<br />
2. PELAKSANAAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN, BUDIDAYA,<br />
PERLINDUNGAN DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN;<br />
3. PENYUSUNAN NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA DI BIDANG<br />
PERBENIHAN, BUDIDAYA, PERLINDUNGAN, DAN PASCAPANEN TANAMAN<br />
PANGAN;<br />
4. PEMBERIAN BIMBINGAN TEKNIS DAN EVALUASI DI BIDANG PERBENIHAN,<br />
BUDIDAYA, PERLINDUNGAN, DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN; DAN<br />
5. PELAKSANAAN ADMINISTRASI DIREKTORAT JENDERALTANAMAN PANGAN.<br />
83 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 5. Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN:<br />
1. SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL<br />
2. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN<br />
3. DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA<br />
4. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI<br />
5. DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN<br />
6. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN<br />
7. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN<br />
8. BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH<br />
9. BALAI PENGUJIAN MUTU PRODUK<br />
SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL<br />
1. BAGIAN PERENCANAAN<br />
2. BAGIAN KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN<br />
3. BAGIAN UMUM<br />
4. BAGIAN EVALUASI DAN PELAPORAN; DAN<br />
5. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL.<br />
DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN<br />
1. SUBDIREKTORAT PENILAIAN VARIETAS DAN PENGAWASAN MUTU BENIH;<br />
2. SUBDIREKTORAT PRODUKSI BENIH SEREALIA;<br />
3. SUB DIREKTORAT PRODUKSI BENIH ANEKA KACANG DAN UMBI;<br />
4. SUBDIREKTORAT KELEMBAGAAN BENIH;<br />
5. SUBBAGIAN TATA USAHA; DAN<br />
6. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL<br />
DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA<br />
1. SUBDIREKTORAT PADI IRIGASI DAN RAWA;<br />
2. SUBDIREKTORAT PADI TADAH HUJAN DAN LAHAN KERING;<br />
3. SUBDIREKTORAT JAGUNG;<br />
4. SUBDIREKTORAT SEREALIA LAIN; DAN<br />
5. SUBBAGIAN TATA USAHA.<br />
DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI<br />
1. SUBDIREKTORAT KEDELAI;<br />
2. SUBDIREKTORAT UBI KAYU;<br />
3. SUBDIREKTORAT ANEKA KACANG;<br />
4. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI; DAN<br />
5. SUBBAGIAN TATA USAHA.<br />
84 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN<br />
1. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN DATA ORGANISME PENGGANGGU<br />
TUMBUHAN;<br />
2. SUBDIREKTORAT DAMPAK PERUBAHAN IKLIM;<br />
3. SUBDIREKTORAT TEKNOLOGI PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU<br />
TUMBUHAN;<br />
4. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU<br />
5. SUBBAGIAN TATA USAHA; DAN<br />
6. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL.<br />
DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN<br />
1. SUBDIREKTORAT PADI;<br />
2. SUBDIREKTORAT JAGUNG DAN SEREALIA LAIN;<br />
3. SUBDIREKTORAT KEDELAI DAN ANEKA KACANG;<br />
4. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI;<br />
5. SUBBAGIAN TATA USAHA; DAN<br />
6. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL.<br />
BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN<br />
1. KEPALA BAGIAN UMUM<br />
2. KEPALA BIDANG PROGRAM DAN EVALUASI<br />
3. KEPALA BIDANG PELAYANAN TEKNIK, INFORMASI DAN DOKUMENTASI<br />
BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH<br />
1. KEPALA BAGIAN UMUM<br />
2. KEPALA BIDANG INFORMASI DAN JARINGAN LABORATORIUM<br />
85 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 6. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Padi<br />
Tahun 2012<br />
NO PROVINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />
(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />
1. N. ACEH D. 381.291<br />
2. SUMUT 782.173<br />
3. SUMBAR 477.034<br />
4. RIAU 155.033<br />
5. JAMBI 169.401<br />
6. SUMSEL 822.693<br />
7. BENGKULU 132.324<br />
8. LAMPUNG 627.399<br />
9. BABEL 13.994<br />
10. KEP RIAU 410<br />
SUMATERA 3.561.752<br />
11. DKI JAKARTA 1.967<br />
12. JABAR 2.039.148<br />
13. JATENG 1.933.975<br />
14. DI JOGJA 152.206<br />
15. JATIM 2.068.796<br />
16. BANTEN 412.079<br />
JAWA 6.608.171<br />
17. BALI 156.028<br />
18. N.T.B. 432.691<br />
19. N.T.T. 209.708<br />
BALI & N.T 798.426<br />
20. KALBAR 457.602<br />
21. KALTENG 229.281<br />
22. KALSEL 515.078<br />
23. KALTIM 164.844<br />
KALIMANTAN 1.366.805<br />
24. SULUT 134.244<br />
25. SULTENG 241.365<br />
26. SULSEL 957.809<br />
27. SULTRA 127.679<br />
28. GORONTALO 60.272<br />
29. SUL BARAT 89.016<br />
SULAWESI 1.610.386<br />
30. MALUKU 20.091<br />
31. MALUKU UT 18.003<br />
32. PAPUA BARAT 10.703<br />
33. PAPUA 29.270<br />
MLK & PAPUA 78.066<br />
LUAR JAWA 7.415.434<br />
INDONESIA 14.026.771<br />
Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
383.099<br />
770.110<br />
475.529<br />
149.669<br />
165.540<br />
794.227<br />
132.745<br />
630.691<br />
8.510<br />
395<br />
3.510.515<br />
1.899<br />
1.978.594<br />
1.767.059<br />
148.940<br />
1.967.216<br />
407.821<br />
6.271.528<br />
151.629<br />
437.720<br />
195.452<br />
784.801<br />
443.769<br />
221.348<br />
497.256<br />
159.141<br />
1.321.514<br />
134.599<br />
233.014<br />
924.669<br />
126.262<br />
68.186<br />
85.936<br />
1.572.666<br />
19.396<br />
17.380<br />
10.333<br />
30.257<br />
77.365<br />
7.266.860<br />
13.556.865<br />
52,08<br />
52,24<br />
51,52<br />
40,88<br />
42,78<br />
47,21<br />
39,85<br />
49,83<br />
48,00<br />
50,74<br />
49,14<br />
54,20<br />
62,17<br />
59,27<br />
58,95<br />
62,58<br />
52,22<br />
60,75<br />
56,66<br />
50,12<br />
32,47<br />
46,99<br />
33,08<br />
28,88<br />
40,98<br />
39,32<br />
36,10<br />
47,65<br />
46,55<br />
53,14<br />
40,33<br />
49,24<br />
47,54<br />
50,19<br />
47,59<br />
38,74<br />
45,07<br />
38,19<br />
41,59<br />
46,68<br />
53,13<br />
1.995.040<br />
4.022.675<br />
2.450.000<br />
611.780<br />
708.145<br />
3.749.670<br />
529.050<br />
3.142.530<br />
40.850<br />
2.006<br />
17.251.746<br />
10.290<br />
12.300.000<br />
10.472.980<br />
877.950<br />
12.310.000<br />
2.129.765<br />
38.100.985<br />
859.080<br />
2.194.040<br />
634.705<br />
3.687.825<br />
1.468.145<br />
639.255<br />
2.037.660<br />
625.765<br />
4.770.824<br />
641.385<br />
1.084.570<br />
4.913.600<br />
509.250<br />
335.760<br />
408.550<br />
7.893.115<br />
92.310<br />
67.325<br />
46.568<br />
115.538<br />
321.740<br />
33.925.249<br />
72.026.235<br />
86 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 7. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi<br />
Jagung Tahun 2012<br />
NO PROPINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />
(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />
1. ACEH 53.491<br />
2. SUMUT 269.363<br />
3. SUMBAR 77.467<br />
4. RIAU 30.657<br />
5. JAMBI 13.072<br />
6. SUMSEL 35.235<br />
7. BENGKULU 38.270<br />
8. LAMPUNG 494.268<br />
9. BABEL 1.099<br />
10. KEP RIAU 711<br />
SUMATERA 1.013.633<br />
11. DKI JAKARTA 30<br />
12. JABAR 187.059<br />
13. JATENG 745.880<br />
14. DI JOGJA 80.083<br />
15. JATIM 1.361.228<br />
16. BANTEN 17.591<br />
JAWA 2.391.871<br />
17. BALI 31.277<br />
18. N.T.B. 97.572<br />
19. N.T.T. 353.910<br />
BALI & N.T 482.760<br />
20. KALBAR 54.096<br />
21. KALTENG 3.599<br />
22. KALSEL 27.945<br />
23. KALTIM 6.661<br />
KALIMANTAN 92.300<br />
24. SULUT 174.994<br />
25. SULTENG 52.868<br />
26. SULSEL 375.192<br />
27. SULTRA 45.019<br />
28. GORONTALO 192.497<br />
29. SUL BARAT 27.544<br />
SULAWESI 868.114<br />
30. MALUKU 9.160<br />
31. MALUKU UT 11.238<br />
32. IRJA BARAT 4.614<br />
33. PAPUA 748<br />
MLK & PAPUA 25.760<br />
LUAR JAWA 2.482.566<br />
INDONESIA 4.874.437<br />
Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
51.088<br />
257.260<br />
73.986<br />
29.280<br />
12.484<br />
33.652<br />
36.551<br />
472.060<br />
1.049<br />
679<br />
968.091<br />
29<br />
178.654<br />
712.368<br />
76.485<br />
1.300.068<br />
16.800<br />
2.284.405<br />
29.872<br />
93.189<br />
338.009<br />
461.069<br />
51.665<br />
3.437<br />
26.689<br />
6.362<br />
88.153<br />
167.131<br />
50.492<br />
358.334<br />
42.997<br />
183.849<br />
26.306<br />
829.110<br />
8.748<br />
10.733<br />
4.407<br />
714<br />
24.602<br />
2.371.025<br />
4.655.430<br />
37,82<br />
63,64<br />
63,51<br />
31,80<br />
42,91<br />
39,98<br />
33,70<br />
56,95<br />
33,69<br />
27,13<br />
55,77<br />
33,97<br />
55,62<br />
54,23<br />
41,10<br />
54,30<br />
36,49<br />
53,81<br />
34,08<br />
43,31<br />
32,27<br />
34,62<br />
46,45<br />
31,42<br />
53,88<br />
21,91<br />
46,34<br />
39,41<br />
42,67<br />
56,17<br />
38,77<br />
58,09<br />
46,92<br />
51,20<br />
26,30<br />
24,82<br />
18,91<br />
17,87<br />
24,09<br />
49,38<br />
51,55<br />
193.200<br />
1.637.194<br />
469.868<br />
93.118<br />
53.568<br />
134.529<br />
123.168<br />
2.688.556<br />
3.535<br />
1.844<br />
5.398.579<br />
98<br />
993.600<br />
3.863.499<br />
314.375<br />
7.059.463<br />
61.297<br />
12.292.332<br />
101.799<br />
403.636<br />
1.090.909<br />
1.596.345<br />
240.000<br />
10.800<br />
143.804<br />
13.940<br />
408.543<br />
658.737<br />
215.441<br />
2.012.640<br />
166.684<br />
1.068.000<br />
123.442<br />
4.244.944<br />
23.008<br />
26.640<br />
8.332<br />
1.276<br />
59.257<br />
11.707.668<br />
24.000.000<br />
87 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 8. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi<br />
Kedelai Tahun 2012<br />
NO PROPINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />
(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />
1. ACEH 121.900<br />
2. SUMUT 25.900<br />
3. SUMBAR 10.000<br />
4. RIAU 12.000<br />
5. JAMBI 16.000<br />
6. SUMSEL 18.000<br />
7. BENGKULU 11.500<br />
8. LAMPUNG 27.700<br />
9. BABEL -<br />
10. KEP RIAU -<br />
SUMATERA 243.000<br />
11. DKI JAKARTA -<br />
12. JABAR 79.700<br />
13. JATENG 197.900<br />
14. DI JOGJA 45.000<br />
15. JATIM 371.000<br />
16. BANTEN 30.000<br />
JAWA 723.600<br />
17. BALI 10.000<br />
18. N.T.B. 158.400<br />
19. N.T.T. 7.000<br />
BALI & N.T 175.400<br />
20. KALBAR 5.500<br />
21. KALTENG 20.800<br />
22. KALSEL 9.400<br />
23. KALTIM 12.000<br />
KALIMANTAN 47.700<br />
24. SULUT 12.600<br />
25. SULTENG 7.800<br />
26. SULSEL 54.200<br />
27. SULTRA 14.300<br />
28. GORONTALO 9.300<br />
29. SUL BARAT 8.700<br />
SULAWESI 106.900<br />
30. MALUKU 3.000<br />
31. MALUKU UT 2.900<br />
32. IRJA BARAT 3.000<br />
33. PAPUA 6.500<br />
MLK & PAPUA 15.400<br />
LUAR JAWA 588.400<br />
INDONESIA 1.312.000<br />
Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
117.098<br />
24.796<br />
8.757<br />
10.620<br />
17.718<br />
17.515<br />
11.009<br />
23.498<br />
-<br />
-<br />
231.012<br />
-<br />
78.675<br />
189.013<br />
42.937<br />
364.539<br />
26.249<br />
701.413<br />
13.397<br />
135.156<br />
4.977<br />
153.530<br />
4.159<br />
16.387<br />
7.462<br />
7.946<br />
35.954<br />
12.034<br />
9.803<br />
57.123<br />
13.649<br />
6.896<br />
13.319<br />
112.823<br />
3.119<br />
3.342<br />
3.620<br />
6.485<br />
16.566<br />
549.885<br />
1.250.000<br />
14,89<br />
13,87<br />
15,30<br />
13,47<br />
13,77<br />
15,30<br />
13,26<br />
13,87<br />
-<br />
-<br />
14,50<br />
-<br />
15,91<br />
16,32<br />
15,30<br />
15,30<br />
15,51<br />
15,65<br />
15,30<br />
14,38<br />
13,26<br />
42,95<br />
13,47<br />
13,67<br />
13,67<br />
13,47<br />
13,60<br />
14,79<br />
14,79<br />
16,53<br />
13,26<br />
14,79<br />
14,79<br />
15,48<br />
13,47<br />
13,47<br />
13,26<br />
13,26<br />
13,34<br />
14,59<br />
15,20<br />
174.400<br />
34.400<br />
13.400<br />
14.300<br />
24.400<br />
26.800<br />
14.600<br />
32.600<br />
-<br />
-<br />
334.900<br />
-<br />
125.200<br />
308.500<br />
65.700<br />
557.800<br />
40.700<br />
1.097.900<br />
20.500<br />
194.400<br />
6.600<br />
221.500<br />
5.600<br />
22.400<br />
10.200<br />
10.700<br />
48.900<br />
17.800<br />
14.500<br />
94.400<br />
18.100<br />
10.200<br />
19.700<br />
174.700<br />
4.200<br />
4.500<br />
4.800<br />
8.600<br />
22.100<br />
802.100<br />
1.900.000<br />
88 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 9. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi<br />
Kacang Tanah Tahun 2012<br />
NO PROVINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />
(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />
1. ACEH 7.142<br />
2. SUMUT 19.681<br />
3. SUMBAR 9.605<br />
4. RIAU 4.248<br />
5. JAMBI 2.346<br />
6. SUMSEL 6.246<br />
7. BENGKULU 9.530<br />
8. LAMPUNG 20.668<br />
9. BABEL 597<br />
10. KEP RIAU 201<br />
SUMATERA 80.264<br />
11. DKI JAKARTA 25<br />
12. JABAR 79.228<br />
13. JATENG 157.617<br />
14. DI JOGJA 78.079<br />
15. JATIM 217.015<br />
16. BANTEN 16.649<br />
JAWA 548.613<br />
17. BALI 16.075<br />
18. N.T.B. 36.743<br />
19. N.T.T. 27.557<br />
BALI & N.T 80.375<br />
20. KALBAR 2.411<br />
21. KALTENG 2.067<br />
22. KALSEL 18.372<br />
23. KALTIM 3.100<br />
KALIMANTAN 25.950<br />
24. SULUT 8.612<br />
25. SULTENG 6.889<br />
26. SULSEL 44.781<br />
27. SULTRA 9.760<br />
28. GORONTALO 2.756<br />
29. SUL BARAT 1.608<br />
SULAWESI 74.406<br />
30. MALUKU 4.019<br />
31. MALUKU UT 5.741<br />
32. IRJA BARAT 2.187<br />
33. PAPUA 3.445<br />
MLK & PAPUA 15.392<br />
LUAR JAWA 276.387<br />
INDONESIA 825.000<br />
Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
6.802<br />
18.743<br />
9.147<br />
4.046<br />
2.234<br />
5.949<br />
9.076<br />
19.684<br />
569<br />
191<br />
76.441<br />
24<br />
75.453<br />
150.114<br />
74.360<br />
206.677<br />
15.856<br />
522.484<br />
15.309<br />
34.993<br />
26.245<br />
76.547<br />
2.296<br />
1.968<br />
17.496<br />
2.953<br />
24.713<br />
8.201<br />
6.561<br />
42.648<br />
9.295<br />
2.624<br />
1.531<br />
70.860<br />
3.827<br />
5.468<br />
2.078<br />
3.282<br />
14.655<br />
263.216<br />
785.700<br />
14,26<br />
13,33<br />
14,52<br />
10,89<br />
13,48<br />
14,36<br />
10,73<br />
14,00<br />
11,04<br />
10,89<br />
13,35<br />
12,08<br />
16,54<br />
15,24<br />
11,87<br />
13,35<br />
16,07<br />
14,23<br />
14,52<br />
14,52<br />
13,22<br />
14,07<br />
12,45<br />
12,65<br />
12,55<br />
12,44<br />
12,53<br />
14,26<br />
18,15<br />
14,00<br />
9,78<br />
12,96<br />
15,02<br />
13,84<br />
12,76<br />
12,44<br />
11,82<br />
11,40<br />
12,20<br />
13,55<br />
14,00<br />
9.699<br />
24.977<br />
13.281<br />
4.406<br />
3.012<br />
8.544<br />
9.742<br />
27.557<br />
628<br />
208<br />
102.054<br />
29<br />
124.805<br />
228.839<br />
88.250<br />
275.843<br />
25.487<br />
743.253<br />
22.227<br />
50.804<br />
34.701<br />
107.732<br />
2.858<br />
2.490<br />
21.955<br />
3.674<br />
30.977<br />
11.695<br />
11.907<br />
59.706<br />
9.090<br />
3.402<br />
2.300<br />
98.100<br />
4.882<br />
6.804<br />
2.456<br />
3.742<br />
17.884<br />
356.747<br />
1.100.000<br />
89 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 10. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi<br />
Kacang Hijau Tahun 2012<br />
NO PROVINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />
(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />
1. ACEH 2.955<br />
2. SUMUT 6.099<br />
3. SUMBAR 1.374<br />
4. RIAU 2.079<br />
5. JAMBI 616<br />
6. SUMSEL 3.115<br />
7. BENGKULU 1.797<br />
8. LAMPUNG 5.579<br />
9. BABEL -<br />
10. KEP RIAU 1<br />
SUMATERA 23.615<br />
11. DKI JAKARTA -<br />
12. JABAR 13.495<br />
13. JATENG 99.531<br />
14. DI JOGJA 1.141<br />
15. JATIM 77.774<br />
16. BANTEN 2.680<br />
JAWA 194.620<br />
17. BALI 1.245<br />
18. N.T.B. 50.494<br />
19. N.T.T. 30.073<br />
BALI & N.T 81.812<br />
20. KALBAR 2.074<br />
21. KALTENG 399<br />
22. KALSEL 1.587<br />
23. KALTIM 1.117<br />
KALIMANTAN 5.177<br />
24. SULUT 1.883<br />
25. SULTENG 1.602<br />
26. SULSEL 26.962<br />
27. SULTRA 2.373<br />
28. GORONTALO 501<br />
29. SUL BARAT 960<br />
SULAWESI 34.281<br />
30. MALUKU 661<br />
31. MALUKU UT 418<br />
32. IRJA BARAT 819<br />
33. PAPUA 1.198<br />
MLK & PAPUA 3.095<br />
LUAR JAWA 147.980<br />
INDONESIA 342.600<br />
Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
2.808<br />
5.794<br />
1.305<br />
1.975<br />
585<br />
2.959<br />
1.707<br />
5.300<br />
-<br />
1<br />
22.435<br />
-<br />
12.821<br />
94.576<br />
1.084<br />
73.888<br />
2.546<br />
184.914<br />
1.183<br />
47.971<br />
28.570<br />
77.724<br />
1.970<br />
379<br />
1.507<br />
1.061<br />
4.918<br />
1.789<br />
1.522<br />
25.614<br />
2.254<br />
476<br />
912<br />
32.568<br />
629<br />
397<br />
778<br />
1.138<br />
2.942<br />
140.586<br />
325.500<br />
12,67<br />
12,13<br />
13,28<br />
12,11<br />
12,08<br />
15,32<br />
10,87<br />
10,14<br />
-<br />
10,26<br />
12,12<br />
-<br />
12,17<br />
12,36<br />
7,29<br />
12,63<br />
10,14<br />
12,39<br />
10,69<br />
11,21<br />
9,26<br />
10,48<br />
8,02<br />
9,45<br />
11,75<br />
12,02<br />
10,14<br />
15,38<br />
9,00<br />
13,89<br />
9,12<br />
13,51<br />
15,02<br />
13,44<br />
11,90<br />
12,21<br />
11,51<br />
11,67<br />
11,75<br />
11,44<br />
11,98<br />
3.556<br />
7.031<br />
1.734<br />
2.393<br />
706<br />
4.532<br />
1.855<br />
5.376<br />
-<br />
1<br />
27.184<br />
-<br />
15.600<br />
116.874<br />
791<br />
93.284<br />
2.582<br />
229.130<br />
1.265<br />
53.757<br />
26.457<br />
81.478<br />
1.581<br />
358<br />
1.771<br />
1.275<br />
4.986<br />
2.751<br />
1.370<br />
35.574<br />
2.055<br />
643<br />
1.370<br />
43.764<br />
748<br />
485<br />
896<br />
1.328<br />
3.457<br />
160.870<br />
390.000<br />
90 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 11. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi<br />
Ubi Kayu Tahun 2012<br />
NO PROVINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />
(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />
1. ACEH 4.113<br />
2. SUMUT 45.803<br />
3. SUMBAR 6.114<br />
4. RIAU 6.670<br />
5. JAMBI 3.112<br />
6. SUMSEL 14.729<br />
7. BENGKULU 7.781<br />
8. LAMPUNG 352.374<br />
9. BABEL 2.001<br />
10. KEP RIAU 1.334<br />
SUMATERA 444.030<br />
11. DKI JAKARTA 56<br />
12. JABAR 124.498<br />
13. JATENG 213.425<br />
14. DI JOGJA 71.142<br />
15. JATIM 253.442<br />
16. BANTEN 13.339<br />
JAWA 675.902<br />
17. BALI 13.117<br />
18. N.T.B. 9.449<br />
19. N.T.T. 94.485<br />
BALI & N.T 117.050<br />
20. KALBAR 18.119<br />
21. KALTENG 9.671<br />
22. KALSEL 9.560<br />
23. KALTIM 8.893<br />
KALIMANTAN 46.242<br />
24. SULUT 6.892<br />
25. SULTENG 5.002<br />
26. SULSEL 33.570<br />
27. SULTRA 14.895<br />
28. GORONTALO 1.667<br />
29. SUL BARAT 4.669<br />
SULAWESI 66.695<br />
30. MALUKU 12.227<br />
31. MALUKU UT 12.227<br />
32. IRJA BARAT 2.779<br />
33. PAPUA 4.446<br />
MLK & PAPUA 31.680<br />
LUAR JAWA 705.698<br />
INDONESIA 1.381.600<br />
3.917<br />
43.622<br />
5.823<br />
6.352<br />
2.964<br />
14.027<br />
7.411<br />
335.592<br />
1.906<br />
1.270<br />
422.883<br />
53<br />
118.569<br />
203.261<br />
67.754<br />
241.372<br />
12.704<br />
643.711<br />
12.492<br />
8.999<br />
89.985<br />
111.476<br />
17.256<br />
9.210<br />
9.104<br />
8.469<br />
44.040<br />
6.564<br />
4.764<br />
31.971<br />
14.186<br />
1.588<br />
4.446<br />
63.519<br />
11.645<br />
11.645<br />
2.647<br />
4.235<br />
30.171<br />
672.089<br />
1.315.800<br />
Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
132<br />
207<br />
207<br />
117<br />
144<br />
160<br />
124<br />
254<br />
150<br />
113<br />
238<br />
123<br />
197<br />
185<br />
159<br />
170<br />
149<br />
178<br />
155<br />
127<br />
113<br />
118<br />
153<br />
124<br />
155<br />
163<br />
149<br />
138<br />
171<br />
179<br />
175<br />
127<br />
149<br />
170<br />
136<br />
128<br />
120<br />
123<br />
130<br />
201<br />
190<br />
51.555<br />
902.890<br />
120.516<br />
74.164<br />
42.790<br />
224.829<br />
92.031<br />
8.533.351<br />
28.519<br />
14.293<br />
10.084.940<br />
652<br />
2.335.266<br />
3.768.878<br />
1.078.749<br />
4.092.503<br />
188.781<br />
11.464.828<br />
193.590<br />
114.617<br />
1.012.451<br />
1.320.658<br />
263.754<br />
114.381<br />
141.091<br />
138.439<br />
657.666<br />
90.570<br />
81.412<br />
573.512<br />
248.449<br />
20.227<br />
66.073<br />
1.080.243<br />
158.216<br />
149.564<br />
31.744<br />
52.140<br />
391.664<br />
13.535.172<br />
25.000.000<br />
91 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 12. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi<br />
Ubi Jalar Tahun 2012<br />
NO PROVINSI LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI<br />
(HA) (HA) (KU/HA) (TON)<br />
1. N. ACEH D. 3.395<br />
2. SUMUT 17.769<br />
3. SUMBAR 4.446<br />
4. RIAU 1.440<br />
5. JAMBI 2.498<br />
6. SUMSEL 2.500<br />
7. BENGKULU 4.668<br />
8. LAMPUNG 4.640<br />
9. BABEL 666<br />
10. KEP RIAU 333<br />
SUMATERA 42.355<br />
11. DKI JAKARTA -<br />
12. JABAR 34.489<br />
13. JATENG 12.897<br />
14. DI JOGJA 514<br />
15. JATIM 16.720<br />
16. BANTEN 3.155<br />
JAWA 67.776<br />
17. BALI 6.288<br />
18. N.T.B. 1.638<br />
19. N.T.T. 19.524<br />
BALI & N.T 27.450<br />
20. KALBAR 878<br />
21. KALTENG 1.582<br />
22. KALSEL 1.495<br />
23. KALTIM 2.549<br />
KALIMANTAN 6.505<br />
24. SULUT 3.500<br />
25. SULTENG 2.333<br />
26. SULSEL 8.231<br />
27. SULTRA 2.291<br />
28. GORONTALO 608<br />
29. SUL BARAT 596<br />
SULAWESI 17.560<br />
30. MALUKU 1.552<br />
31. MALUKU UT 3.386<br />
32. IRJA BARAT 3.112<br />
33. PAPUA 37.304<br />
MLK & PAPUA 45.355<br />
LUAR JAWA 139.224<br />
INDONESIA 207.000<br />
Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
3.226<br />
16.885<br />
4.225<br />
1.368<br />
2.373<br />
2.375<br />
4.435<br />
4.410<br />
633<br />
316<br />
40.247<br />
-<br />
32.773<br />
12.256<br />
489<br />
15.888<br />
2.998<br />
64.403<br />
5.975<br />
1.557<br />
18.552<br />
26.084<br />
835<br />
1.503<br />
1.421<br />
2.422<br />
6.181<br />
3.326<br />
2.217<br />
7.822<br />
2.177<br />
578<br />
566<br />
16.686<br />
1.475<br />
3.218<br />
2.958<br />
35.448<br />
43.099<br />
132.297<br />
196.700<br />
110 35.385<br />
110 185.179<br />
123 51.897<br />
89 12.149<br />
95 22.646<br />
73 17.456<br />
106 47.179<br />
110 48.359<br />
93 5.897<br />
93 2.949<br />
107 429.097<br />
- -<br />
139 456.462<br />
141 173.385<br />
121 5.897<br />
121 191.667<br />
124 37.154<br />
134 864.564<br />
128 76.667<br />
125 19.462<br />
95 176.923<br />
105 273.051<br />
92 7.667<br />
91 13.682<br />
112 15.923<br />
105 25.359<br />
101 62.631<br />
106 35.385<br />
106 23.590<br />
121 94.359<br />
91 19.815<br />
102 5.897<br />
104 5.897<br />
111 184.944<br />
100 14.744<br />
99 31.846<br />
104 30.903<br />
115 408.221<br />
113 485.713<br />
109 1.435.436<br />
117 2.300.000<br />
92 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 13. Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. 2012<br />
No. Kegiatan dan Output<br />
Volume<br />
Pusat Provinsi Kab/Kota Jumlah<br />
1 Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia<br />
78.504.400<br />
a.<br />
SLPTT :<br />
3.700,00<br />
192.727.900<br />
673.056.700<br />
944.289.000<br />
Ribu ha 790.110.900<br />
- SLPTT Padi Non Hibrida (Rp 3,7jt/LL) 2.651,70 Ribu Ha - - 392.451.600<br />
- SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 64,85jt/Unit) 33,55 Ribu Ha - 87.028.700 -<br />
- SLPTT Padi Non Hibrida Peningkatan IP (Rp 64,85jt/Unit) 14,75 Ribu Ha - 38.261.500 -<br />
- SLPTT Padi Hibrida (Rp 3,7jt/ LL) 290,70 Ribu Ha - - 107.559.000<br />
- SLPTT Padi Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 44,6jt/ Unit) 9,30 Ribu Ha - 41.478.000 -<br />
- SLPTT Padi Lahan Kering (Rp 3,7 jt/LL) 500 Ribu Ha - - 74.000.000<br />
- SLPTT Jagung Hibrida (Rp 3,7 jt/LL) 200 Ribu Ha - - 49.332.100<br />
b. Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam Jagung Hibrida<br />
12.725 Ha 70.000.000 - - 70.000.000<br />
c. Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif<br />
10 Prov - 764.000 - 764.000<br />
d. Pembinaan, pengawalan, monev SLPTT & pengembangan<br />
1 Pusat 8.504.400 - - 83.414.100<br />
31 Prov - 25.195.700 -<br />
371 Kab - - 49.714.000<br />
2 Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi<br />
7.000.000 7.760.800 160.988.230 175.749.030<br />
a. SL-PTT Kedelai (Rp 3,93jt/LL)<br />
350 Ribu Ha - - 137.550.000 137.550.000<br />
b. Pengembangan Kedelai Model (Rp 4,43jt/Unit))<br />
2.094 Ha - - 6.868.320 6.868.320<br />
c. Pengembangan Kc.Tanah (Rp.2.929,5 jt)<br />
100 Ha - - 292.950 292.950<br />
d. Pengembangan Ubi Kayu (Rp10,215jt/ha,-)<br />
300 Ha - - 3.064.500 3.064.500<br />
e. Pengembangan Ubi Jalar (Rp7,718 jt/ha)<br />
850 Ha - - 6.642.750 6.642.750<br />
f. Pertemuan Koordinasi Stakeholder Non Kedelai (2 kali)<br />
54 Pkt - 2.350.000 - 2.350.000<br />
g. Pembinaan, pengawalan, monev SLPTT & pengembangan<br />
1 Pusat 7.000.000 - - 18.350.510<br />
28 Prov - 5.410.800 -<br />
184 Kab - - 5.939.710<br />
h. Ubinan SL-PTT Kedelai (Rp.180.000,-/Unit)<br />
3.500 Ribu Ha - - 630.000 630.000<br />
93 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
No. Kegiatan dan Output<br />
Volume<br />
Pusat Provinsi Kab/Kota Jumlah<br />
3 Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan<br />
794.796.575 121.839.900 536.614.525 1.453.251.000<br />
a. BLBU:<br />
102 Ribu Ton 1.247.250.000<br />
- BLBU padi non hibrida (Rp 8.500/kg) @25kg/ha 68 Ribu Ton 406.937.500 - 166.812.500<br />
- BLBU padi hibrida (Rp 56 rb/kg) @15kg/ha 5 Ribu Ton 151.200.000 - 100.800.000<br />
- BLBU padi lahan kering (Rp 9 rb/kg) @25kg/ha 13 Ribu Ton 66.909.375 - 45.590.625<br />
- BLBU jagung hibrida (Rp40 rb/kg) @15kg/ha 3 Ribu Ton 76.890.000 - 43.110.000<br />
- BLBU kedelai (13,5 rb/kg) @40kg/ha 14 Ribu Ton 77.862.600 - 111.137.400<br />
b. Operasional UPTD BPSBTPH<br />
32 Balai - 47.549.000 - 47.549.000<br />
c. Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT)<br />
817 Orang - 2.451.000 - 2.451.000<br />
d. Sarana BPSBTPH<br />
32 Balai - 11.400.000 - 11.400.000<br />
e. Operasional Balai Benih<br />
31 Balai - 16.846.500 - 16.846.500<br />
f. Pemberdayaan Penangkar<br />
45.450.000<br />
- Padi 10 Ribu Ha 35.000.000<br />
- Jagung 700 Ha 2.450.000<br />
- Kedelai 2,5 Ribu Ha 8.000.000<br />
g. Pembangunan UPB<br />
4 UPB - 16.880.000 3.000.000 19.880.000<br />
h. Optimalisasi UPB<br />
8 UPB - 15.000.000 - 15.000.000<br />
i. Deregulasi Perbenihan<br />
1 Paket 1.000.000 - - 1.000.000<br />
j. Pembinaan, Pengawalan, Monev Pemb. Penangkar<br />
28 Prov - 1.578.000 - 3.878.000<br />
230 Kab - - 2.300.000<br />
k. Pembinaan, Pengawalan, Monev Perbenihan, BLBU & CBN<br />
1 Pusat 13.997.100 - - 42.546.500<br />
32 Prov - 10.135.400 -<br />
373 Kab - - 18.414.000<br />
4 Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan<br />
6.941.000 9.209.000 74.386.000 90.536.000<br />
a. Bantuan Sarana Pascapanen :<br />
67.411.000<br />
- Padi 442 Pkt - 130.000 63.336.000<br />
- Jagung 15 Pkt - - 1.125.000<br />
- Kedelai 25 Pkt - - 1.500.000<br />
- Ubi Kayu 12 Pkt - - 720.000<br />
- Ubi Jalar 10 Pkt - - 600.000<br />
b. Survei Susut Hasil Padi<br />
12 Prov - 7.394.500 - 7.394.500<br />
c. Pembinaan, Bimbingan Teknis, Apresiasi, & Monev Pascapanen<br />
1 Pkt 6.941.000 - - 15.730.500<br />
31 Prov - 1.684.500 -<br />
204 Kab - - 7.105.000<br />
94 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
No. Kegiatan dan Output Volume<br />
Pusat Provinsi Kab/Kota Jumlah<br />
5 Penguatan Perlindungan TP dari Gangguan OPT & DPI<br />
16.058.500 154.341.500 15.800.000 186.200.000<br />
a. Operasional P3OPT (BPTPH)<br />
505 Kab - 20.000.000 - 20.000.000<br />
b. Koordinasi Penanggulangan OPT/DPI<br />
80 Kali - 9.900.000 - 9.900.000<br />
c. Operasional Brigade Proteksi Tanaman/Gerakan Pengendalian OPT<br />
86 Unit 8.954.500 - 8.954.500<br />
d. Gerakan Pengendalian OPT/ bantuan pestisida<br />
158 Unit - 15.800.000 15.800.000<br />
e. Renovasi Gudang Brigade<br />
77 Unit - 8.000.000 - 8.000.000<br />
f. Pelatihan Alumni SLPHT untuk Penguatan RPH<br />
143 Kelas - 4.350.000 - 4.350.000<br />
g. Surveilans OPT dan Monev SL<br />
66 Pkt - 7.000.000 - 7.000.000<br />
h. Biaya Operasional POPT-PHP (Rp 500Rb/bln)<br />
2.908 Orang - 18.096.000 - 18.096.000<br />
i. Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT)<br />
1.941 Unit - 39.000.000 - 39.000.000<br />
j. Sekolah Lapangan Iklim (SLI)<br />
130 Unit - 2.600.000 - 2.600.000<br />
k. Pemberdayaan PPAH<br />
620 Unit - 6.200.000 - 6.200.000<br />
l. Operasional Lab Pengamatan Hama Penyakit (LPHP)<br />
95 Unit - 8.015.000 - 8.015.000<br />
m. Operasional Diperta Provinsi<br />
14 Prov - 2.315.000 - 2.315.000<br />
n. Operasional THL POPT-PHP<br />
1.168 Orang - 19.911.000 - 19.911.000<br />
o. Pembinaan, Pengawalan, Monev Perlintan<br />
1 Paket 12.558.500 - - 12.558.500<br />
p. Operasional BPMPT<br />
1 Paket 3.500.000 - - 3.500.000<br />
6 Pengembangan Peramalan Serangan OPT<br />
9.353.000 - - 9.353.000<br />
a. Gaji<br />
1 Thn 4.129.295 - - 4.129.295<br />
b. Operasional Kantor<br />
1 Thn 804.799 - - 804.799<br />
c. Pengembangan Peramalan Serangan OPT<br />
1 Pkt 4.418.906 - - 4.418.906<br />
95 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
No. Kegiatan dan Output Volume<br />
Pusat Provinsi Kab/Kota Jumlah<br />
Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu<br />
7 7.300.000 - - 7.300.000<br />
Laboratorium Pengujian Benih<br />
a. Gaji<br />
1 Thn 3.164.532 - - 3.164.532<br />
b. Operasional Kantor<br />
1 Thn 1.170.004 - - 1.170.004<br />
c. Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih<br />
1 Pkt 2.965.464 - - 2.965.464<br />
8 Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen TP<br />
184.946.061 26.467.900 37.400.000 248.813.961<br />
a. Gaji<br />
1 Thn 46.507.092 - - 46.507.092<br />
b. Operasional Kantor<br />
1 Thn 10.840.047 - - 10.840.047<br />
c. LM3<br />
1 Pkt 30.000.000 - - 30.000.000<br />
d. Bencana Alam<br />
1 Pkt 45.600.000 - - 45.600.000<br />
e. Insentif Mantritani<br />
3.074 Org - 10.144.200 - 10.144.200<br />
f. Honor Pengelola Keuangan & Administrasi Satker<br />
1 Pusat 1.000.000 - - 16.610.800<br />
33 Prov 2.820.000<br />
374 Kab 12.790.800<br />
g. Perencanaan <strong>Program</strong> & Kegiatan<br />
1 Pusat 12.000.000 27.614.000<br />
33 Prov 6.264.000<br />
374 Kab 9.350.000<br />
h. Pengelolaan Keuangan (SAI) & Perlengkapan<br />
1 Pusat 4.350.000 15.569.500<br />
33 Prov 3.739.500<br />
374 Kab 7.480.000<br />
i. Evaluasi, Pelaporan, Pengawasan & Data Statistik<br />
1 Pusat 4.380.000 15.659.400<br />
33 Prov 3.500.200<br />
374 Kab 7.779.200<br />
j. Pengelolaan Bidang Umum<br />
1 Pusat 5.900.000 5.900.000<br />
k. Dukungan Manajemen Lainnya<br />
1 Pusat 24.368.922 24.368.922<br />
Total 1.104.899.536 512.347.000 1.498.245.455 3.115.491.991<br />
96 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 14. Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012<br />
SLPTT Padi (Ha)<br />
No. Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />
Padi Non<br />
Hibrida Hanya<br />
Bantuan Benih<br />
Padi Non<br />
Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
Padi Non Padi Hibrida<br />
Hibrida Hanya<br />
Peningkatan Bantuan<br />
IP<br />
Benih<br />
1 ACEH 147.200 1.800 1.000 14.150<br />
Dinas Provinsi 1.800 1.000<br />
1 Kab. Aceh Barat 3.500<br />
-<br />
500<br />
450<br />
2 Kab. Aceh Besar 13.600<br />
-<br />
-<br />
450<br />
3 Kab. Aceh Selatan 12.500<br />
-<br />
- 1.430<br />
4 Kab. Aceh Singkil 2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Aceh Tengah 2.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Aceh Tenggara 7.400<br />
600<br />
-<br />
950<br />
7 Kab. Aceh Timur 15.500<br />
-<br />
-<br />
950<br />
8 Kab. Aceh Utara 17.400<br />
600<br />
- 1.430<br />
9 Kab. Bireuen 10.000<br />
-<br />
-<br />
950<br />
10 Kab. Aceh Pidie 15.000<br />
-<br />
- 1.430<br />
11 Kab. Simeuleu 3.000<br />
-<br />
-<br />
950<br />
12 Kab. Gayo Lues 4.000<br />
-<br />
-<br />
950<br />
13 Kab. Aceh Barat Daya 7.400<br />
600<br />
- 1.430<br />
14 Kab. Aceh Jaya 3.500<br />
-<br />
500<br />
450<br />
15 Kab. Nagan Raya 12.000<br />
-<br />
- 1.430<br />
16 Kab. Aceh Tamiang 7.000<br />
-<br />
-<br />
450<br />
17 Kab. Bener Meriah 1.200<br />
-<br />
-<br />
-<br />
18 Kab. Pidie Jaya 7.200<br />
-<br />
-<br />
450<br />
19 Kota Banda Aceh -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
20 Kota Sabang -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
21 Kota Langsa -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
22 Kota Lhokseumawe -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
23 Kota Sibulussalam 2.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
24 Kota Meulaboh -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 SUMUT 137.900 1.100 1.000 14.000<br />
Dinas Propinsi 1.100 1.000<br />
1 Kab. Asahan 8.400<br />
-<br />
500<br />
750<br />
2 Kab. Dairi 3.750<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Deli Serdang 11.450<br />
-<br />
-<br />
750<br />
4 Kab. Tanah Karo 4.450<br />
-<br />
- 1.500<br />
5 Kab. Labuhan Batu 5.150<br />
550<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Langkat 9.700<br />
550<br />
- 1.500<br />
7 Kab. Mandailing Natal 9.550<br />
-<br />
-<br />
750<br />
8 Kab. Nias 4.200<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kab. Simalungun 8.500<br />
-<br />
- 2.000<br />
10 Kab. Tapanuli Selatan 7.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
11 Kab. Tapanuli Tengah 9.000<br />
-<br />
-<br />
750<br />
12 Kab. Tapanuli Utara 8.250<br />
-<br />
- 1.000<br />
13 Kab. Toba Samosir 3.150<br />
-<br />
-<br />
750<br />
14 Kab. Pakpak Barat 1.350<br />
-<br />
-<br />
-<br />
15 Kab. Humbang Hasundutan 3.150<br />
-<br />
-<br />
750<br />
16 Kab. Serdang Bedagai 7.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
17 Kab. Padang lawas 4.450<br />
-<br />
-<br />
750<br />
18 Kota Binjai -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
19 Kota Medan -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
20 Kota Pematang Siantar -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
21 Kota Sibolga -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
22 Kota Tanjung Balai -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
23 Kota Tebing Tinggi -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
24 Kota Padang Sidempuan 2.500<br />
-<br />
-<br />
500<br />
25 Kota Gunung Sitoli -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
26 Kab. Nias Selatan 5.600<br />
-<br />
-<br />
-<br />
27 Kab. Samosir 3.150<br />
-<br />
-<br />
-<br />
28 Kab Padang Lawas Utara 2.650<br />
-<br />
500<br />
750<br />
29 Kab. Labuhan Batu Selatan -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
30 Kab. Labuhan Batu Utara 3.750<br />
-<br />
-<br />
-<br />
31 Kab Nias Barat 4.150<br />
-<br />
-<br />
-<br />
32 Kab. Nias Utara 3.150<br />
-<br />
-<br />
-<br />
33 Kab. Batu Bara 4.450<br />
-<br />
- 1.500<br />
34 Kota Sidikalang -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
35 Kota Lubukpakam -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
36 Kota Stabat -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
37 Kota Tarutung -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Padi Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
Padi Lahan<br />
Kering Hanya<br />
Bantuan<br />
Benih<br />
850 10.000<br />
850<br />
50<br />
500<br />
50<br />
300<br />
70<br />
500<br />
-<br />
500<br />
-<br />
200<br />
50<br />
975<br />
50 3.100<br />
70<br />
500<br />
50<br />
-<br />
70<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
70<br />
-<br />
50<br />
575<br />
70<br />
800<br />
50<br />
250<br />
-<br />
500<br />
50 1.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
300<br />
-<br />
-<br />
- 7.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
450<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
200<br />
-<br />
100<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
- 1.450<br />
-<br />
500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
900<br />
-<br />
500<br />
-<br />
100<br />
-<br />
100<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
- 1.450<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
500<br />
-<br />
-<br />
- 1.250<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Jagung<br />
Hibrida (Ha)<br />
2.175<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
875<br />
350<br />
150<br />
150<br />
150<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
300<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
200<br />
-<br />
10.050<br />
-<br />
1.500<br />
900<br />
1.500<br />
300<br />
-<br />
600<br />
-<br />
1.500<br />
300<br />
-<br />
525<br />
150<br />
450<br />
-<br />
750<br />
300<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
300<br />
225<br />
-<br />
-<br />
225<br />
225<br />
300<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Kedelai (Ha)<br />
32.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2.500<br />
2.500<br />
11.000<br />
6.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2.500<br />
1.000<br />
7.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8.000<br />
300<br />
-<br />
2.000<br />
-<br />
-<br />
2.500<br />
500<br />
-<br />
500<br />
400<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
1.000<br />
300<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Kedelai<br />
Model<br />
249<br />
49<br />
50<br />
100<br />
50<br />
-<br />
Pengembangan (Ha)<br />
Kacang<br />
Tanah<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Kayu<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Jalar<br />
-<br />
-<br />
Pemberdayaan Penangkar<br />
(Ha)<br />
Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />
Sarana<br />
Pengendalian<br />
Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar OPT (kali)<br />
550<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
50<br />
100<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
700<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
100<br />
100<br />
-<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
125<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
125<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
21<br />
4<br />
2<br />
-<br />
-<br />
2<br />
4<br />
4<br />
2<br />
3<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
19<br />
1<br />
4<br />
2<br />
4<br />
2<br />
-<br />
4<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
2<br />
1<br />
1<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
3<br />
SLPHT<br />
(unit)<br />
82<br />
110<br />
SLI<br />
(unit)<br />
97 | P a g e<br />
6<br />
7
No.<br />
Padi Non<br />
Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />
Hibrida Hanya<br />
Bantuan Benih<br />
Padi Non<br />
Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
SLPTT Padi (Ha)<br />
Padi Non Padi Hibrida<br />
Hibrida Hanya<br />
Peningkatan Bantuan<br />
IP<br />
Benih<br />
3 SUMBAR 97.800 1.200 1.000<br />
-<br />
Dinas Propinsi 1.200 1.000<br />
1 Kab. Lima Puluh Kota 8.900<br />
600<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Agam 9.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Kep Mentawai -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Padang Pariaman 8.900<br />
600<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Pasaman 9.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Pesisir Selatan 9.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Sijunjung 7.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Solok 9.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kab. Tanah Datar 9.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kab. Dharmas Raya 7.500<br />
-<br />
500<br />
-<br />
11 Kab. Solok Selatan 5.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
12 Kab. Pasaman Barat 4.750<br />
-<br />
500<br />
-<br />
13 Kota Bukit Tinggi -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
14 Kota Padang Panjang -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
15 Kota Padang 2.900<br />
-<br />
-<br />
-<br />
16 Kota Payakumbuh 2.850<br />
-<br />
-<br />
-<br />
17 Kota Sawahlunto -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
18 Kota Solok -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
19 Kota Pariaman 2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
20 Kota Painan -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
21 Kota Lubuk Sikaping -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 RIAU 48.400 1.100<br />
500 1.200<br />
Dinas Propinsi 1.100<br />
500<br />
1 Kab. Bengkalis 4.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Indragiri Hilir 8.950<br />
550<br />
-<br />
400<br />
3 Kab. Indragiri Hulu 3.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Kampar 3.000<br />
-<br />
-<br />
400<br />
5 Kab. Kuantan Singingi 4.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Pelalawan 4.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Rokan Hilir 10.450<br />
550<br />
-<br />
400<br />
8 Kab. Rokan Hulu 4.000<br />
-<br />
500<br />
-<br />
9 Kab. Siak 4.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kota Dumai -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
11 Kota Pekanbaru -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
12 Kota Rengat -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
13 Kab Meranti 2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Padi Lahan<br />
Padi Hibrida<br />
Kering Hanya<br />
Spesifik<br />
Bantuan<br />
Lokasi<br />
Benih<br />
- 10.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
- 1.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
- 2.500<br />
-<br />
-<br />
- 1.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
- 1.000<br />
- 1.500<br />
- 3.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
300 9.500<br />
300<br />
-<br />
-<br />
100<br />
-<br />
-<br />
-<br />
100 3.000<br />
-<br />
500<br />
- 1.000<br />
100<br />
-<br />
- 4.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
500<br />
SLPTT<br />
Jagung<br />
Hibrida (Ha)<br />
8.175<br />
750<br />
750<br />
-<br />
-<br />
1.200<br />
1.350<br />
225<br />
300<br />
750<br />
750<br />
900<br />
1.200<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
1.155<br />
-<br />
180<br />
-<br />
240<br />
-<br />
225<br />
180<br />
180<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
150<br />
SLPTT<br />
Kedelai (Ha)<br />
1.150<br />
-<br />
100<br />
-<br />
-<br />
350<br />
250<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
400<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3.800<br />
-<br />
250<br />
250<br />
100<br />
-<br />
-<br />
1.500<br />
1.700<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Kedelai<br />
Model<br />
-<br />
250<br />
250<br />
Pengembangan (Ha)<br />
Kacang<br />
Tanah<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Kayu<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Jalar<br />
-<br />
-<br />
Pemberdayaan Penangkar<br />
(Ha)<br />
Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />
600<br />
50<br />
50<br />
-<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
50<br />
50<br />
50<br />
100<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
150<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
13<br />
2<br />
2<br />
-<br />
2<br />
2<br />
1<br />
-<br />
2<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7<br />
2<br />
-<br />
2<br />
1<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />
4<br />
1<br />
1<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Sarana<br />
Pengendalian<br />
OPT (kali)<br />
2<br />
2<br />
SLPHT<br />
(unit)<br />
76<br />
30<br />
SLI<br />
(unit)<br />
98 | P a g e<br />
4<br />
2
No.<br />
Padi Non<br />
Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />
Hibrida Hanya<br />
Bantuan Benih<br />
Padi Non<br />
Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
SLPTT Padi (Ha)<br />
Padi Non Padi Hibrida<br />
Hibrida Hanya<br />
Peningkatan Bantuan<br />
IP<br />
Benih<br />
5 JAMBI 58.400 1.100<br />
500 2.500<br />
Dinas Propinsi 1.100<br />
500<br />
1 Kab. Batanghari 3.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Bungo 3.500<br />
-<br />
-<br />
500<br />
3 Kab. Kerinci 8.750<br />
-<br />
-<br />
500<br />
4 Kab. Merangin 6.000<br />
-<br />
-<br />
500<br />
5 Kab. Muaro Jambi 3.500<br />
-<br />
500<br />
-<br />
6 Kab. Sarolangun 3.450<br />
550<br />
- 1.000<br />
7 Kab. Tanjung Jabung Barat 6.950<br />
550<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Tj. Jabung Timur 15.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kab. Tebo 2.750<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kota Jambi 1.875<br />
-<br />
-<br />
-<br />
11 Kota Sungai Penuh 3.125<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 SUMSEL 147.200 1.800 1.000 11.900<br />
Dinas Propinsi 1.800 1.000<br />
1 Kab. Lahat 14.500<br />
-<br />
500<br />
-<br />
2 Kab. Musi Banyuasin 13.400<br />
600<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Musi Rawas 12.000<br />
-<br />
- 2.400<br />
4 Kab. Muara Enim 13.400<br />
600<br />
-<br />
500<br />
5 Kab. Ogan Komering Ilir 11.900<br />
-<br />
500 1.400<br />
6 Kab. Ogan Komering Ulu 4.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Banyuasin 16.000<br />
-<br />
- 1.400<br />
8 Kab. OKU Timur 20.000<br />
600<br />
- 3.400<br />
9 Kab. OKU Selatan 12.000<br />
-<br />
- 1.400<br />
10 Kab. Ogan Ilir 10.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
11 Kab. Empat lawang 11.500<br />
-<br />
- 1.400<br />
12 Kota Palembang 2.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
13 Kota Prabumulih -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
14 Kota Pagar Alam 4.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
15 Kota Lubuk Linggau 2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
16 Kab Baturaja -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 BENGKULU 48.900 1.100<br />
- 1.000<br />
Dinas Propinsi 1.100<br />
-<br />
1 Kab. Bengkulu Selatan 5.350<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Bengkulu Utara 9.250<br />
-<br />
-<br />
500<br />
3 Kab. Rejang Lebong 4.250<br />
-<br />
-<br />
500<br />
4 Kab. Kaur 4.600<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Seluma 8.700<br />
550<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Muko-muko 4.650<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Lebong 3.950<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Kepahiang 2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kab Bengkulu Tengah 3.450<br />
550<br />
-<br />
-<br />
10 Kota Bengkulu 2.700<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Padi Lahan<br />
Padi Hibrida<br />
Kering Hanya<br />
Spesifik<br />
Bantuan<br />
Lokasi<br />
Benih<br />
- 12.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
- 2.000<br />
- 2.000<br />
- 3.500<br />
-<br />
-<br />
- 3.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
- 2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
600 20.000<br />
600<br />
- 2.300<br />
- 2.050<br />
100 2.300<br />
- 2.300<br />
100 2.650<br />
- 2.300<br />
100 1.250<br />
100 1.000<br />
100 2.300<br />
-<br />
-<br />
100 1.550<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
- 7.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
- 2.000<br />
-<br />
500<br />
-<br />
500<br />
-<br />
500<br />
- 1.000<br />
-<br />
750<br />
-<br />
-<br />
- 2.250<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Jagung<br />
Hibrida (Ha)<br />
1.500<br />
-<br />
300<br />
300<br />
-<br />
375<br />
150<br />
150<br />
225<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3.525<br />
-<br />
900<br />
300<br />
225<br />
450<br />
300<br />
750<br />
375<br />
225<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
1.875<br />
-<br />
300<br />
525<br />
-<br />
450<br />
300<br />
-<br />
300<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Kedelai (Ha)<br />
6.000<br />
550<br />
400<br />
-<br />
550<br />
500<br />
100<br />
1.000<br />
2.200<br />
700<br />
-<br />
-<br />
4.800<br />
1.900<br />
-<br />
500<br />
400<br />
500<br />
-<br />
-<br />
600<br />
400<br />
-<br />
500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2.500<br />
-<br />
-<br />
1.500<br />
250<br />
250<br />
-<br />
250<br />
-<br />
250<br />
-<br />
Kedelai<br />
Model<br />
250<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
150<br />
100<br />
50<br />
-<br />
Pengembangan (Ha)<br />
Kacang<br />
Tanah<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Kayu<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Jalar<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Pemberdayaan Penangkar<br />
(Ha)<br />
Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />
350<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
350<br />
-<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
200<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
175<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
-<br />
-<br />
7<br />
-<br />
2<br />
2<br />
-<br />
2<br />
1<br />
-<br />
27<br />
2<br />
4<br />
3<br />
3<br />
1<br />
3<br />
4<br />
4<br />
3<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5<br />
1<br />
1<br />
1<br />
-<br />
1<br />
-<br />
1<br />
-<br />
Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />
-<br />
-<br />
-<br />
1<br />
1<br />
1<br />
1<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Sarana<br />
Pengendalian<br />
OPT (kali)<br />
3<br />
3<br />
2<br />
SLPHT<br />
(unit)<br />
44<br />
65<br />
29<br />
SLI<br />
(unit)<br />
99 | P a g e<br />
2<br />
4<br />
2
No.<br />
Padi Non<br />
Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />
Hibrida Hanya<br />
Bantuan Benih<br />
Padi Non<br />
Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
SLPTT Padi (Ha)<br />
Padi Non Padi Hibrida<br />
Hibrida Hanya<br />
Peningkatan Bantuan<br />
IP<br />
Benih<br />
8 LAMPUNG 147.350 1.650 1.000 14.700<br />
Dinas Propinsi 1.650 1.000<br />
1 Kab. Lampung Barat 11.950<br />
550<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Lampung Selatan 17.000<br />
-<br />
500 1.970<br />
3 Kab. Lampung Tengah 17.450<br />
550<br />
- 2.470<br />
4 Kab. Lampung Utara 12.000<br />
-<br />
- 1.470<br />
5 Kab. Lampung Timur 18.000<br />
-<br />
500 1.470<br />
6 Kab. Tanggamus 12.500<br />
-<br />
-<br />
970<br />
7 Kab. Tulang Bawang 11.950<br />
550<br />
-<br />
970<br />
8 Kab. Way Kanan 12.500<br />
-<br />
-<br />
970<br />
9 Kab. Pesawaran 10.000<br />
-<br />
- 1.970<br />
10 Kab. Mesuji 7.500<br />
-<br />
- 1.470<br />
11 Kab. Pringsewu 10.000<br />
-<br />
-<br />
970<br />
12 Kab. Tulangbawang Barat 6.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
13 Kota Bandar Lampung -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
14 Kota Metro -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 DKI -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Dinas Propinsi -<br />
-<br />
1 Kab Adm Kep Seribu -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 Kota Adm Jakarta Barat -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kota Adm Jakarta Pusat -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kota Adm Jakarta Selatan -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5 Kota Adm Jakarta Timur -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kota Adm Jakarta Utara -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 JABAR 197.500 1.500 1.000 18.880<br />
Dinas Propinsi 1.500 1.000<br />
1 Kab. Bandung 10.000<br />
-<br />
- 1.430<br />
2 Kab. Bekasi 11.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Bogor 8.000<br />
-<br />
- 1.430<br />
4 Kab. Ciamis 12.000<br />
-<br />
- 1.430<br />
5 Kab. Cianjur 10.000<br />
500<br />
- 1.430<br />
6 Kab. Cirebon 11.750<br />
-<br />
500<br />
930<br />
7 Kab. Garut 12.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Indramayu 19.500<br />
500<br />
-<br />
930<br />
9 Kab. Karawang 18.250<br />
-<br />
- 1.180<br />
10 Kab. Kuningan 8.000<br />
-<br />
- 1.430<br />
11 Kab. Majalengka 12.500<br />
-<br />
- 1.430<br />
12 Kab. Purwakarta 7.000<br />
-<br />
-<br />
930<br />
13 Kab. Subang 14.500<br />
500<br />
-<br />
930<br />
14 Kab. Sukabumi 12.500<br />
-<br />
- 1.430<br />
15 Kab. Sumedang 9.625<br />
-<br />
- 1.430<br />
16 Kab. Tasikmalaya 12.000<br />
-<br />
- 1.430<br />
17 Kota Banjar -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
18 Kab. Bandung Barat 6.500<br />
-<br />
500<br />
930<br />
19 Kota Cimahi -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
20 Kota Tasikmalaya 1.250<br />
-<br />
-<br />
180<br />
21 Kota Bandung -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
22 Kota Bekasi -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
23 Kota Bogor -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
24 Kota Cirebon -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
25 Kota Depok -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
26 Kota Sukabumi 625<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
1.120<br />
1.120<br />
70<br />
-<br />
70<br />
70<br />
70<br />
70<br />
-<br />
70<br />
70<br />
70<br />
70<br />
70<br />
70<br />
70<br />
70<br />
70<br />
-<br />
70<br />
-<br />
70<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Padi Lahan<br />
Padi Hibrida<br />
Kering Hanya<br />
Spesifik<br />
Bantuan<br />
Lokasi<br />
Benih<br />
300<br />
300<br />
12.500<br />
- 1.000<br />
30 1.500<br />
30 2.000<br />
30 1.500<br />
30 1.500<br />
30<br />
300<br />
30 1.000<br />
30 1.500<br />
30 1.500<br />
30<br />
-<br />
30<br />
200<br />
-<br />
500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50.000<br />
3.750<br />
-<br />
500<br />
3.125<br />
6.250<br />
250<br />
8.750<br />
5.000<br />
1.250<br />
1.250<br />
500<br />
1.875<br />
1.250<br />
7.500<br />
3.750<br />
2.500<br />
-<br />
2.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Jagung<br />
Hibrida (Ha)<br />
14.550<br />
375<br />
2.250<br />
2.625<br />
1.350<br />
2.625<br />
1.275<br />
975<br />
975<br />
1.200<br />
-<br />
450<br />
450<br />
-<br />
-<br />
-<br />
11.850<br />
1.350<br />
-<br />
750<br />
750<br />
750<br />
-<br />
2.250<br />
-<br />
-<br />
-<br />
1.500<br />
525<br />
-<br />
975<br />
1.500<br />
1.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Kedelai (Ha)<br />
6.000<br />
-<br />
1.350<br />
1.600<br />
1.100<br />
750<br />
-<br />
600<br />
600<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
21.260<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2.500<br />
5.000<br />
-<br />
5.000<br />
2.000<br />
-<br />
260<br />
1.500<br />
-<br />
1.000<br />
1.000<br />
1.500<br />
1.000<br />
-<br />
500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Kedelai<br />
Model<br />
300<br />
50<br />
150<br />
100<br />
-<br />
375<br />
100<br />
50<br />
100<br />
100<br />
25<br />
Pengembangan (Ha)<br />
Kacang<br />
Tanah<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Kayu<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Jalar<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Pemberdayaan Penangkar<br />
(Ha)<br />
Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />
550<br />
50<br />
100<br />
50<br />
50<br />
100<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
650<br />
-<br />
-<br />
-<br />
100<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
50<br />
100<br />
-<br />
-<br />
100<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
125<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
-<br />
300<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
26<br />
3<br />
3<br />
4<br />
2<br />
3<br />
2<br />
2<br />
2<br />
2<br />
1<br />
1<br />
1<br />
-<br />
-<br />
-<br />
45<br />
2<br />
2<br />
3<br />
3<br />
4<br />
4<br />
3<br />
4<br />
1<br />
2<br />
3<br />
4<br />
3<br />
2<br />
3<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />
-<br />
-<br />
-<br />
1<br />
1<br />
-<br />
2<br />
1<br />
1<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Sarana<br />
Pengendalian<br />
OPT (kali)<br />
2<br />
1<br />
3<br />
SLPHT<br />
(unit)<br />
65<br />
3<br />
179<br />
SLI<br />
(unit)<br />
100 | P a g e<br />
3<br />
-<br />
14
No.<br />
Padi Non<br />
Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />
Hibrida Hanya<br />
Bantuan Benih<br />
Padi Non<br />
Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
SLPTT Padi (Ha)<br />
Padi Non Padi Hibrida<br />
Hibrida Hanya<br />
Peningkatan Bantuan<br />
IP<br />
Benih<br />
11 JATENG 198.000 1.000 1.000 18.040<br />
Dinas Propinsi 1.000 1.000<br />
1 Kab. Banjarnegara 8.500<br />
-<br />
- 1.080<br />
2 Kab. Banyumas 8.500<br />
-<br />
-<br />
480<br />
3 Kab. Batang 2.875<br />
-<br />
-<br />
680<br />
4 Kab. Blora 3.500<br />
500<br />
-<br />
930<br />
5 Kab. Boyolali 8.000<br />
-<br />
-<br />
130<br />
6 Kab. Brebes 10.000<br />
-<br />
-<br />
430<br />
7 Kab. Cilacap 12.500<br />
-<br />
- 1.430<br />
8 Kab. Demak 8.000<br />
-<br />
-<br />
430<br />
9 Kab. Grobogan 9.500<br />
-<br />
-<br />
680<br />
10 Kab. Jepara 5.000<br />
-<br />
-<br />
430<br />
11 Kab. Karanganyar 7.000<br />
-<br />
-<br />
880<br />
12 Kab. Kebumen 9.000<br />
-<br />
-<br />
430<br />
13 Kab. Kendal 6.125<br />
-<br />
-<br />
430<br />
14 Kab. Klaten 7.000<br />
-<br />
-<br />
330<br />
15 Kab. Kudus 3.500<br />
-<br />
500<br />
430<br />
16 Kab. Magelang 7.500<br />
-<br />
500<br />
430<br />
17 Kab. Pati 6.500<br />
-<br />
-<br />
430<br />
18 Kab. Pekalongan 4.500<br />
-<br />
-<br />
430<br />
19 Kab. Pemalang 8.000<br />
500<br />
-<br />
430<br />
20 Kab. Purbalingga 8.000<br />
-<br />
-<br />
430<br />
21 Kab. Purworejo 8.500<br />
-<br />
-<br />
430<br />
22 Kab. Rembang 5.500<br />
-<br />
-<br />
680<br />
23 Kab. Semarang 6.500<br />
-<br />
- 1.430<br />
24 Kab. Sragen 10.000<br />
-<br />
-<br />
430<br />
25 Kab. Sukoharjo 6.250<br />
-<br />
-<br />
430<br />
26 Kab. Tegal 3.750<br />
-<br />
-<br />
-<br />
27 Kab. Temanggung 4.500<br />
-<br />
- 2.430<br />
28 Kab. Wonogiri 5.500<br />
-<br />
-<br />
430<br />
29 Kab. Wonosobo 4.000<br />
-<br />
-<br />
430<br />
30 Kota Tegal -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
31 Kota Magelang -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
32 Kota Pekalongan -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
33 Kota Salatiga -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
34 Kota Semarang -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
35 Kota Surakarta -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
12 DI YOGYAKARTA 33.500 1.000<br />
500 2.000<br />
Dinas Propinsi 1.000<br />
500<br />
1 Kab. Bantul 10.625<br />
375<br />
-<br />
500<br />
2 Kab. Gunung Kidul 3.000<br />
-<br />
500<br />
500<br />
3 Kab. Kulon Progo 7.625<br />
375<br />
-<br />
500<br />
4 Kab. Sleman 12.250<br />
250<br />
-<br />
500<br />
5 Kota Yogyakarta -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Padi Lahan<br />
Padi Hibrida<br />
Kering Hanya<br />
Spesifik<br />
Bantuan<br />
Lokasi<br />
Benih<br />
1.960<br />
1.960<br />
45.125<br />
70 2.500<br />
70 3.300<br />
70<br />
-<br />
70 4.200<br />
70 3.300<br />
70 1.600<br />
70 5.000<br />
70 3.300<br />
70 4.150<br />
70<br />
-<br />
70<br />
250<br />
70 5.000<br />
70<br />
850<br />
70<br />
-<br />
70<br />
75<br />
70<br />
-<br />
70<br />
850<br />
70<br />
-<br />
70 2.000<br />
70<br />
850<br />
70<br />
-<br />
70<br />
850<br />
70<br />
700<br />
70<br />
-<br />
70<br />
-<br />
-<br />
-<br />
70<br />
850<br />
70 5.500<br />
70<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
20.000<br />
-<br />
50<br />
- 19.700<br />
-<br />
175<br />
-<br />
75<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Jagung<br />
Hibrida (Ha)<br />
27.600<br />
1.500<br />
450<br />
450<br />
1.500<br />
1.050<br />
1.200<br />
675<br />
1.500<br />
1.800<br />
975<br />
975<br />
975<br />
1.500<br />
750<br />
525<br />
600<br />
750<br />
750<br />
900<br />
900<br />
450<br />
1.050<br />
900<br />
900<br />
525<br />
750<br />
1.050<br />
1.500<br />
750<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2.100<br />
375<br />
900<br />
450<br />
375<br />
-<br />
SLPTT<br />
Kedelai (Ha)<br />
51.000<br />
500<br />
2.000<br />
-<br />
3.500<br />
2.500<br />
1.000<br />
2.500<br />
3.000<br />
10.000<br />
-<br />
-<br />
5.000<br />
1.000<br />
2.500<br />
-<br />
-<br />
2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4.000<br />
2.000<br />
-<br />
1.500<br />
2.000<br />
-<br />
-<br />
6.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7.100<br />
1.100<br />
5.000<br />
1.000<br />
-<br />
-<br />
Kedelai<br />
Model<br />
100<br />
50<br />
50<br />
100<br />
100<br />
Pengembangan (Ha)<br />
Kacang<br />
Tanah<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Kayu<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Jalar<br />
-<br />
-<br />
Pemberdayaan Penangkar<br />
(Ha)<br />
Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />
500<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
100<br />
-<br />
-<br />
100<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
200<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
100<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
425<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
75<br />
25<br />
25<br />
25<br />
61<br />
2<br />
3<br />
2<br />
2<br />
2<br />
2<br />
4<br />
2<br />
2<br />
2<br />
2<br />
2<br />
2<br />
2<br />
2<br />
2<br />
3<br />
2<br />
2<br />
2<br />
2<br />
2<br />
3<br />
3<br />
2<br />
1<br />
2<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5<br />
2<br />
1<br />
2<br />
Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />
-<br />
3<br />
2<br />
1<br />
-<br />
3<br />
2<br />
1<br />
2<br />
1<br />
1<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Sarana<br />
Pengendalian<br />
OPT (kali)<br />
3<br />
3<br />
SLPHT<br />
(unit)<br />
173<br />
38<br />
SLI<br />
(unit)<br />
18<br />
101 | P a g e<br />
3
No.<br />
Padi Non<br />
Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />
Hibrida Hanya<br />
Bantuan Benih<br />
Padi Non<br />
Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
SLPTT Padi (Ha)<br />
Padi Non Padi Hibrida<br />
Hibrida Hanya<br />
Peningkatan Bantuan<br />
IP<br />
Benih<br />
13 JATIM 197.000 2.000 1.000 74.440<br />
Dinas Propinsi 2.000 1.000<br />
1 Kab. Bangkalan 4.000<br />
-<br />
- 1.480<br />
2 Kab. Banyuwangi 7.000<br />
-<br />
- 4.980<br />
3 Kab. Blitar 6.500<br />
-<br />
- 2.480<br />
4 Kab. Bojonegoro 9.000<br />
-<br />
- 4.980<br />
5 Kab. Bondowoso 4.500<br />
-<br />
- 2.480<br />
6 Kab. Gresik 9.000<br />
-<br />
- 2.480<br />
7 Kab. Jember 17.500<br />
-<br />
- 5.980<br />
8 Kab. Jombang 16.500<br />
-<br />
- 2.980<br />
9 Kab. Kediri 4.000<br />
-<br />
500 2.480<br />
10 Kab. Lamongan 15.500<br />
-<br />
- 5.980<br />
11 Kab. Lumajang 7.500<br />
500<br />
- 1.980<br />
12 Kab. Madiun 5.500<br />
-<br />
- 4.980<br />
13 Kab. Magetan 11.000<br />
-<br />
- 1.480<br />
14 Kab. Malang 4.000<br />
-<br />
- 1.980<br />
15 Kab. Mojokerto 4.000<br />
-<br />
- 1.480<br />
16 Kab. Nganjuk 8.000<br />
500<br />
- 1.980<br />
17 Kab. Ngawi 5.000<br />
-<br />
- 4.980<br />
18 Kab. Pacitan 4.500<br />
-<br />
-<br />
980<br />
19 Kab. Pamekasan 1.000<br />
-<br />
-<br />
480<br />
20 Kab. Pasuruan 6.500<br />
-<br />
- 2.980<br />
21 Kab. Ponorogo 11.000<br />
-<br />
- 3.980<br />
22 Kab. Probolinggo 8.500<br />
500<br />
- 1.480<br />
23 Kab. Sampang 4.000<br />
-<br />
- 1.980<br />
24 Kab. Sidoarjo 2.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
25 Kab. Situbondo 8.000<br />
-<br />
500 1.480<br />
26 Kab. Sumenep 1.500<br />
-<br />
-<br />
980<br />
27 Kab. Trenggalek 2.500<br />
-<br />
- 1.480<br />
28 Kab. Tuban 5.000<br />
500<br />
-<br />
980<br />
29 Kab. Tulungagung 3.500<br />
-<br />
- 2.480<br />
30 Kota Blitar -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
31 Kota Kediri -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
32 Kota Malang -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
33 Kota Mojokerto -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
34 Kota Pasuruan -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
35 Kota Probolinggo -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
36 Kota Surabaya -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
37 Kota Batu -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
38 Kota Madiun -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
14 KALBAR 97.450 1.800<br />
750 5.300<br />
Dinas Propinsi 1.800<br />
750<br />
1 Kab. Bengkayang 10.000<br />
-<br />
-<br />
800<br />
2 Kab. Landak 14.000<br />
600<br />
- 1.000<br />
3 Kab. Kapuas Hulu 4.000<br />
-<br />
-<br />
200<br />
4 Kab. Ketapang 6.500<br />
-<br />
-<br />
400<br />
5 Kab. Pontianak 5.000<br />
-<br />
-<br />
300<br />
6 Kab. Sambas 22.000<br />
600<br />
-<br />
400<br />
7 Kab. Sanggau 6.500<br />
-<br />
500<br />
-<br />
8 Kab. Sintang 6.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kab. Melawi 4.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kab. Sekadau 2.000<br />
-<br />
250<br />
-<br />
11 Kab. Kubu Raya 12.450<br />
600<br />
- 1.550<br />
12 Kab. Kayong Utara 4.000<br />
-<br />
-<br />
650<br />
13 Kota Pontianak -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
14 Kota Singkawang -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
15 KALTENG 48.900 1.100<br />
-<br />
200<br />
Dinas Propinsi 1.100<br />
-<br />
1 Kab. Barito Selatan 5.000<br />
-<br />
-<br />
50<br />
2 Kab. Barito Utara 2.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Kapuas 8.825<br />
550<br />
-<br />
150<br />
4 Kab. Kotawaringin Barat 3.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Kotawaringin Timur 3.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Katingan 5.625<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Seruyan 1.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Sukamara 2.875<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kab. Lamandau 2.875<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kab. Pulang Pisau 4.450<br />
550<br />
-<br />
-<br />
11 Kab. Murung Raya 1.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
12 Kab. Barito Timur 3.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
13 Kab. Gunung Mas 3.250<br />
-<br />
-<br />
-<br />
14 Kota Palangka Raya -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Padi Lahan<br />
Padi Hibrida<br />
Kering Hanya<br />
Spesifik<br />
Bantuan<br />
Lokasi<br />
Benih<br />
560 62.500<br />
560<br />
20 1.700<br />
20<br />
-<br />
20 3.500<br />
20 2.675<br />
20<br />
-<br />
20<br />
-<br />
20<br />
-<br />
20<br />
-<br />
20<br />
-<br />
20 9.000<br />
20 4.000<br />
20<br />
-<br />
20<br />
-<br />
20<br />
825<br />
20 1.775<br />
20 4.300<br />
20<br />
-<br />
20 10.675<br />
20 1.775<br />
20<br />
-<br />
20<br />
-<br />
20<br />
-<br />
20 4.450<br />
-<br />
-<br />
20 8.875<br />
20<br />
450<br />
20 5.200<br />
20<br />
-<br />
20 3.300<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
700 20.000<br />
700<br />
100 3.500<br />
100 3.000<br />
- 2.800<br />
100 2.200<br />
100<br />
300<br />
100<br />
-<br />
- 3.300<br />
- 2.750<br />
- 1.500<br />
-<br />
650<br />
100<br />
-<br />
100<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
300 20.000<br />
300<br />
100 1.000<br />
- 3.250<br />
200 5.125<br />
- 1.250<br />
- 2.000<br />
- 3.250<br />
-<br />
500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
- 2.250<br />
- 1.375<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Jagung<br />
Hibrida (Ha)<br />
29.850<br />
1.500<br />
1.350<br />
1.050<br />
1.200<br />
1.050<br />
975<br />
1.050<br />
1.050<br />
1.050<br />
1.050<br />
750<br />
300<br />
525<br />
1.350<br />
900<br />
900<br />
450<br />
750<br />
1.050<br />
900<br />
600<br />
1.500<br />
1.500<br />
150<br />
1.500<br />
1.800<br />
750<br />
1.500<br />
1.350<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2.850<br />
900<br />
300<br />
-<br />
225<br />
-<br />
-<br />
225<br />
225<br />
150<br />
225<br />
600<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Kedelai (Ha)<br />
121.300<br />
1.500<br />
21.000<br />
5.000<br />
9.750<br />
-<br />
-<br />
11.000<br />
6.000<br />
-<br />
12.500<br />
1.000<br />
5.000<br />
1.500<br />
-<br />
2.000<br />
8.000<br />
10.000<br />
1.000<br />
-<br />
7.500<br />
2.800<br />
-<br />
4.250<br />
500<br />
-<br />
3.000<br />
2.000<br />
2.000<br />
4.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
1.300<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
1.000<br />
-<br />
100<br />
-<br />
-<br />
100<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2.300<br />
300<br />
-<br />
500<br />
-<br />
-<br />
150<br />
-<br />
-<br />
900<br />
300<br />
-<br />
150<br />
-<br />
-<br />
Kedelai<br />
Model<br />
170<br />
70<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
Pengembangan (Ha)<br />
Kacang<br />
Tanah<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Kayu<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Jalar<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Pemberdayaan Penangkar<br />
(Ha)<br />
Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />
550<br />
-<br />
50<br />
100<br />
-<br />
-<br />
-<br />
100<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
650<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
100<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
100<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
425<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
-<br />
54<br />
4<br />
2<br />
2<br />
2<br />
2<br />
5<br />
3<br />
2<br />
1<br />
3<br />
3<br />
2<br />
1<br />
3<br />
3<br />
1<br />
2<br />
2<br />
3<br />
2<br />
2<br />
2<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10<br />
2<br />
2<br />
-<br />
1<br />
3<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
-<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />
2<br />
2<br />
-<br />
-<br />
3<br />
2<br />
1<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Sarana<br />
Pengendalian<br />
OPT (kali)<br />
3<br />
3<br />
2<br />
SLPHT<br />
(unit)<br />
190<br />
55<br />
30<br />
SLI<br />
(unit)<br />
16<br />
102 | P a g e<br />
3<br />
3
No.<br />
Padi Non<br />
Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />
Hibrida Hanya<br />
Bantuan Benih<br />
Padi Non<br />
Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
SLPTT Padi (Ha)<br />
Padi Non Padi Hibrida<br />
Hibrida Hanya<br />
Peningkatan Bantuan<br />
IP<br />
Benih<br />
16 KALSEL 137.350 1.650 1.000<br />
-<br />
Dinas Propinsi 1.650 1.000<br />
1 Kab. Banjar 9.500<br />
-<br />
500<br />
-<br />
2 Kab. Barito Kuala 14.450<br />
550<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Hulu Sungai Selatan 20.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Hulu Sungai Tengah 15.000<br />
-<br />
500<br />
-<br />
5 Kab. Hulu Sungai Utara 10.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Kota Baru 10.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Tabalong 11.450<br />
550<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Tanah Laut 12.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kab. Tapin 16.950<br />
550<br />
-<br />
-<br />
10 Kab. Balangan 10.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
11 Kab. Tanah Bumbu 8.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
12 Kota Banjarmasin -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
13 Kota Banjar Baru -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
14 Kab Tala -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
17 KALTIM 33.525 1.100<br />
- 1.700<br />
Dinas Propinsi 1.100<br />
-<br />
1 Kab. Berau 3.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Bulungan 5.450<br />
550<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Kutai Barat 2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Kutai Timur 2.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Malinau 2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Nunukan 2.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Pasir 4.450<br />
550<br />
-<br />
400<br />
8 Kab. Penajem Paser Utr 2.000<br />
-<br />
-<br />
900<br />
9 Kab. Kutai Kertanegera 8.000<br />
-<br />
-<br />
400<br />
10 Kota Balikpapan -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
11 Kota Bontang -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
12 Kota Samarinda -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
13 Kota Tarakan -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
14 Kab. Tana Tidung 1.625<br />
-<br />
-<br />
-<br />
15 Kab. Tenggarong -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
18 SULUT 48.900 1.100<br />
- 10.000<br />
Dinas Propinsi 1.100<br />
-<br />
1 Kab. Bolaang Mangondow 17.000<br />
-<br />
- 2.000<br />
2 Kab. Minahasa 7.000<br />
-<br />
-<br />
750<br />
3 Kab. Kep. Talaud -<br />
100<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Minahasa Selatan 4.750<br />
-<br />
- 1.000<br />
5 Kota Tomohon 600<br />
-<br />
-<br />
500<br />
6 Kab. Minahasa Utara 2.950<br />
500<br />
-<br />
750<br />
7 Kab. Minahasa Tenggara 3.650<br />
-<br />
- 1.000<br />
8 Kab. Bolmong Utara 7.400<br />
500<br />
- 1.500<br />
9 Kab. Sangihe 600<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kab. Bolmang Selatan 2.000<br />
-<br />
-<br />
750<br />
11 Kab. Bolmang Timur 1.700<br />
-<br />
-<br />
500<br />
12 Kep Siau Tagulandang B -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
13 Kota Bitung -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
14 Kota Manado -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
15 Kota Kotamobagu 1.250<br />
-<br />
- 1.250<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Padi Lahan<br />
Padi Hibrida<br />
Kering Hanya<br />
Spesifik<br />
Bantuan<br />
Lokasi<br />
Benih<br />
- 23.000<br />
-<br />
- 3.600<br />
- 2.200<br />
- 4.000<br />
- 1.000<br />
-<br />
-<br />
- 2.000<br />
- 2.200<br />
- 1.500<br />
- 1.500<br />
- 3.500<br />
- 1.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
300 15.000<br />
300<br />
- 2.500<br />
- 1.500<br />
- 2.500<br />
- 2.500<br />
- 2.000<br />
-<br />
-<br />
100 1.500<br />
100<br />
500<br />
100 1.100<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
900<br />
-<br />
-<br />
- 7.000<br />
-<br />
- 1.125<br />
-<br />
650<br />
-<br />
-<br />
- 1.450<br />
-<br />
-<br />
- 1.250<br />
-<br />
125<br />
- 1.350<br />
-<br />
350<br />
-<br />
375<br />
-<br />
325<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Jagung<br />
Hibrida (Ha)<br />
3.695<br />
315<br />
-<br />
840<br />
390<br />
150<br />
630<br />
-<br />
1.200<br />
-<br />
-<br />
170<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8.775<br />
750<br />
1.575<br />
-<br />
1.995<br />
300<br />
1.275<br />
495<br />
495<br />
795<br />
495<br />
600<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Kedelai (Ha)<br />
1.770<br />
-<br />
-<br />
-<br />
70<br />
-<br />
700<br />
200<br />
400<br />
-<br />
400<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
1.650<br />
600<br />
200<br />
-<br />
500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
350<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2.000<br />
1.000<br />
250<br />
-<br />
250<br />
-<br />
-<br />
-<br />
500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Kedelai<br />
Model<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Pengembangan (Ha)<br />
Kacang<br />
Tanah<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Kayu<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Jalar<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Pemberdayaan Penangkar<br />
(Ha)<br />
Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />
400<br />
-<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
100<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
400<br />
50<br />
50<br />
-<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
100<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
125<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
-<br />
-<br />
23<br />
4<br />
2<br />
3<br />
3<br />
2<br />
2<br />
2<br />
3<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4<br />
-<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10<br />
1<br />
3<br />
2<br />
1<br />
2<br />
-<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
1<br />
1<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Sarana<br />
Pengendalian<br />
OPT (kali)<br />
3<br />
2<br />
2<br />
SLPHT<br />
(unit)<br />
76<br />
39<br />
48<br />
SLI<br />
(unit)<br />
103 | P a g e<br />
7<br />
2<br />
2
No.<br />
Padi Non<br />
Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />
Hibrida Hanya<br />
Bantuan Benih<br />
Padi Non<br />
Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
SLPTT Padi (Ha)<br />
Padi Non Padi Hibrida<br />
Hibrida Hanya<br />
Peningkatan Bantuan<br />
IP<br />
Benih<br />
19 SULTENG 73.400 1.100<br />
500<br />
-<br />
Dinas Propinsi 1.100<br />
500<br />
1 Kab. Banggai 14.450<br />
550<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Buol 4.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Toli-Toli 7.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Donggala 7.450<br />
550<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Morowali 7.000<br />
-<br />
500<br />
-<br />
6 Kab. Poso 7.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Parigi Moutong 17.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Tojo Una-Una 1.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kab. Banggai Kepulauan 500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kab. Sigi 8.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
11 Kota Palu -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
20 SULSEL 182.350 1.650 1.000 73.690<br />
Dinas Propinsi 1.650 1.000<br />
1 Kab. Bantaeng 3.500<br />
-<br />
- 2.950<br />
2 Kab. Barru 3.375<br />
-<br />
-<br />
950<br />
3 Kab. Bone 19.450<br />
550<br />
- 4.430<br />
4 Kab. Bulukumba 10.000<br />
-<br />
-<br />
900<br />
5 Kab. Enrekang 7.500<br />
-<br />
- 2.430<br />
6 Kab. Gowa 10.000<br />
-<br />
- 4.430<br />
7 Kab. Jeneponto 3.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Luwu 7.500<br />
-<br />
- 1.930<br />
9 Kab. Luwu Utara 10.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kab. Maros 11.500<br />
-<br />
500 4.930<br />
11 Kab. Pangkep 7.500<br />
-<br />
- 2.430<br />
12 Kab. Pinrang 12.500<br />
-<br />
- 11.680<br />
13 Kab. Kep. Selayar 3.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
14 Kab. Sidenreng Rappang 15.000<br />
-<br />
- 11.680<br />
15 Kab. Sinjai 4.500<br />
-<br />
- 2.930<br />
16 Kab. Soppeng 12.000<br />
-<br />
500 7.430<br />
17 Kab. Takalar 6.950<br />
550<br />
- 4.930<br />
18 Kab. Tana Toraja 2.500<br />
-<br />
-<br />
920<br />
19 Kab. Wajo 11.450<br />
550<br />
- 4.930<br />
20 Kota Palopo 2.500<br />
-<br />
-<br />
950<br />
21 Kab. Luwu Timur 12.500<br />
-<br />
- 1.930<br />
22 Kab. Toraja Utara 5.000<br />
-<br />
-<br />
930<br />
23 Kota Pare-Pare 625<br />
-<br />
-<br />
-<br />
24 Kota Makassar -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
21 SULTRA 73.900 1.100<br />
-<br />
-<br />
Dinas Propinsi 1.100<br />
-<br />
1 Kab. Buton 1.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Konawe 25.450<br />
550<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Kolaka 20.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Muna 1.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Konawe Selatan 16.950<br />
550<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Bombana 5.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Wakatobi -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Kolaka Utara 1.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kab. Konawe Utara 3.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kab. Buton Utara -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
11 Kota Bau-Bau -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
12 Kota Kendari -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Padi Lahan SLPTT<br />
SLPTT<br />
Kering Hanya Jagung<br />
Kedelai (Ha)<br />
Bantuan Hibrida (Ha)<br />
Benih<br />
-<br />
-<br />
5.000 9.645 2.500<br />
- 1.300 2.100 750<br />
-<br />
300<br />
810<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
750 500<br />
-<br />
650 1.200 250<br />
-<br />
800<br />
-<br />
-<br />
-<br />
300 1.500 1.000<br />
-<br />
750 2.025<br />
-<br />
-<br />
-<br />
495<br />
-<br />
-<br />
900<br />
765<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
1.310<br />
1.310<br />
35.000 29.805 20.000<br />
70 1.500 1.980 300<br />
70 1.250<br />
450<br />
-<br />
70 3.250 1.800 5.250<br />
70 1.250 2.550<br />
-<br />
70 2.000 2.550 850<br />
70 2.500 2.550 350<br />
- 1.500 3.000 1.500<br />
70 1.500<br />
750 900<br />
- 1.500<br />
900 350<br />
70 3.000 1.800 1.500<br />
70 2.000<br />
450 600<br />
70 2.125<br />
900 700<br />
- 1.500<br />
900<br />
-<br />
70 2.250 2.280<br />
-<br />
70 1.500 1.500<br />
-<br />
70 2.000 1.020 2.400<br />
70 2.250 1.500 800<br />
70 1.000<br />
300<br />
-<br />
70<br />
-<br />
- 4.000<br />
50<br />
-<br />
450<br />
-<br />
70<br />
500<br />
825 500<br />
70<br />
250<br />
750<br />
-<br />
-<br />
375<br />
600<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10.000 1.200 4.100<br />
- 1.000<br />
300<br />
-<br />
-<br />
375<br />
- 750<br />
-<br />
375<br />
150 350<br />
- 2.500<br />
600<br />
-<br />
- 2.150<br />
150 1.000<br />
- 2.300<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
600<br />
- 2.000<br />
-<br />
700<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Padi Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
Kedelai<br />
Model<br />
-<br />
50<br />
50<br />
-<br />
Pengembangan (Ha)<br />
Kacang<br />
Tanah<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Kayu<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Jalar<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Pemberdayaan Penangkar<br />
(Ha)<br />
Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />
400<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
650<br />
-<br />
-<br />
50<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
200<br />
-<br />
50<br />
50<br />
-<br />
100<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
375<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
-<br />
9<br />
2<br />
-<br />
2<br />
3<br />
-<br />
-<br />
2<br />
-<br />
34<br />
2<br />
3<br />
3<br />
2<br />
2<br />
2<br />
-<br />
-<br />
1<br />
3<br />
-<br />
3<br />
-<br />
3<br />
-<br />
2<br />
2<br />
-<br />
4<br />
-<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4<br />
-<br />
2<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />
-<br />
-<br />
1<br />
1<br />
-<br />
2<br />
1<br />
1<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Sarana<br />
Pengendalian<br />
OPT (kali)<br />
2<br />
3<br />
2<br />
SLPHT<br />
(unit)<br />
56<br />
104<br />
50<br />
SLI<br />
(unit)<br />
104 | P a g e<br />
2<br />
9<br />
2
No.<br />
Padi Non<br />
Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />
Hibrida Hanya<br />
Bantuan Benih<br />
Padi Non<br />
Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
SLPTT Padi (Ha)<br />
Padi Non Padi Hibrida<br />
Hibrida Hanya<br />
Peningkatan Bantuan<br />
IP<br />
Benih<br />
22 BALI 33.900 1.100<br />
- 2.000<br />
Dinas Propinsi 1.100<br />
-<br />
1 Kab. Badung 4.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Bangli 2.850<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Buleleng 3.950<br />
550<br />
-<br />
500<br />
4 Kab. Gianyar 5.000<br />
-<br />
-<br />
500<br />
5 Kab. Jembrana 3.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Karangasem 2.650<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Klungkung 2.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Tabanan 9.450<br />
550<br />
- 1.000<br />
9 Kota Denpasar -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kab. Negara -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
23 NTB 117.800 1.200 1.000 4.500<br />
Dinas Propinsi 1.200 1.000<br />
1 Kab. Bima 15.000<br />
-<br />
-<br />
450<br />
2 Kab. Dompu 14.400<br />
600<br />
-<br />
900<br />
3 Kab. Lombok Barat 14.500<br />
-<br />
500<br />
900<br />
4 Kab. Lombok Tengah 25.000<br />
-<br />
-<br />
900<br />
5 Kab. Lombok Timur 10.500<br />
-<br />
500<br />
450<br />
6 Kab. Sumbawa 19.400<br />
600<br />
-<br />
450<br />
7 Kota Bima 2.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Sumbawa Barat 7.500<br />
-<br />
-<br />
450<br />
9 Kab. Lombok Utara 7.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kota Mataram 1.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
24 NTT 59.275 1.100<br />
- 5.500<br />
Dinas Propinsi 1.100<br />
-<br />
1 Kab. Belu 3.000<br />
-<br />
-<br />
250<br />
2 Kab. Ende 2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Flores Timur 2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Kupang 3.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Lembata -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Manggarai 6.450<br />
550<br />
- 1.500<br />
7 Kab. Ngada 5.000<br />
-<br />
- 3.250<br />
8 Kab. Sikka 2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kab. Sumba Barat 1.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kab. Sumba Timur 5.000<br />
-<br />
-<br />
500<br />
11 Kab. Timor Tengah Selatan 2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
12 Kab. Timor Tengah Utara 3.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
13 Kab. Rote-Ndao 3.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
14 Kab. Manggarai Barat 4.450<br />
550<br />
-<br />
-<br />
15 Kab. Alor -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
16 Kab. Nagekeo 4.375<br />
-<br />
-<br />
-<br />
17 Kab. Sumba Tengah 2.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
18 Kab. Sumba Barat Daya 5.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
19 Kab. Manggarai Timur 5.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
20 Kab. Sabu Raijua -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
21 Kota Kupang -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
25 MALUKU 10.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Dinas Propinsi -<br />
-<br />
1 Kab. Maluku Tngra Barat -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Maluku Tengah 2.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Maluku Tenggara -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Pulau Buru 3.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Kepulauan Aru -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Seram Bag Barat 1.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Seram Bag Timur 1.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Buru Selatan 1.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kab. Maluku Barat Daya -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kota Ambon -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
11 Kota Tual -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
Padi Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
500<br />
500<br />
50<br />
100<br />
100<br />
100<br />
50<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Padi Lahan<br />
Kering Hanya<br />
Bantuan<br />
Benih<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
30.000<br />
9.000<br />
5.250<br />
900<br />
1.800<br />
1.800<br />
9.000<br />
900<br />
450<br />
900<br />
-<br />
20.000<br />
-<br />
1.900<br />
1.900<br />
-<br />
1.350<br />
1.500<br />
-<br />
1.500<br />
-<br />
1.575<br />
450<br />
450<br />
1.475<br />
875<br />
1.575<br />
-<br />
1.000<br />
4.450<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4.000<br />
450<br />
200<br />
1.650<br />
500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
500<br />
700<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Jagung<br />
Hibrida (Ha)<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6.000<br />
750<br />
1.350<br />
-<br />
450<br />
1.050<br />
1.500<br />
-<br />
450<br />
450<br />
-<br />
9.300<br />
900<br />
300<br />
450<br />
900<br />
450<br />
-<br />
750<br />
300<br />
600<br />
900<br />
1.200<br />
450<br />
-<br />
-<br />
450<br />
600<br />
-<br />
750<br />
300<br />
-<br />
-<br />
1.050<br />
300<br />
300<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
150<br />
300<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Kedelai (Ha)<br />
4.500<br />
1.000<br />
-<br />
-<br />
1.500<br />
-<br />
1.000<br />
1.000<br />
-<br />
-<br />
32.000<br />
-<br />
8.500<br />
7.500<br />
2.500<br />
6.500<br />
750<br />
3.750<br />
1.000<br />
1.500<br />
-<br />
1.300<br />
400<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
200<br />
-<br />
-<br />
200<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Kedelai<br />
Model<br />
-<br />
100<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
Pengembangan (Ha)<br />
Kacang<br />
Tanah<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Kayu<br />
-<br />
-<br />
300<br />
100<br />
100<br />
50<br />
50<br />
-<br />
Ubi<br />
Jalar<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Pemberdayaan Penangkar<br />
(Ha)<br />
Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />
150<br />
-<br />
-<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
500<br />
50<br />
50<br />
100<br />
50<br />
100<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
250<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
150<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
400<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
100<br />
-<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
150<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
25<br />
-<br />
-<br />
7<br />
2<br />
-<br />
1<br />
3<br />
-<br />
-<br />
1<br />
-<br />
-<br />
18<br />
4<br />
2<br />
1<br />
3<br />
3<br />
4<br />
-<br />
1<br />
-<br />
-<br />
4<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />
-<br />
4<br />
2<br />
1<br />
1<br />
-<br />
-<br />
2<br />
2<br />
2<br />
1<br />
1<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
12<br />
3<br />
3<br />
3<br />
3<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Sarana<br />
Pengendalian<br />
OPT (kali)<br />
2<br />
2<br />
3<br />
3<br />
SLPHT<br />
(unit)<br />
57<br />
52<br />
54<br />
26<br />
SLI<br />
(unit)<br />
105 | P a g e<br />
1<br />
5<br />
3<br />
1
No.<br />
Padi Non<br />
Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />
Hibrida Hanya<br />
Bantuan Benih<br />
Padi Non<br />
Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
SLPTT Padi (Ha)<br />
Padi Non Padi Hibrida<br />
Hibrida Hanya<br />
Peningkatan Bantuan<br />
IP<br />
Benih<br />
26 PAPUA 10.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Dinas Propinsi -<br />
-<br />
1 Kab. Biak Numford -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Jayapura 500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Jayawijaya -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Merauke 8.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Mimika -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Nabire 500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Paniai -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Puncak Jaya -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kab. Kep Yapen Waropen -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kota Jayapura 500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
11 Kab. Sarmi -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
12 Kab. Keerom -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
13 Kab. Yahukimo -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
14 Kab. Pegunungan Bintang -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
15 Kab. Tolikara -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
16 Kab. Boven Digoel -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
17 Kab. Mappi -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
18 Kab. Asmat -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
19 Kab. Waropen -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
20 Kab. Supiori -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
21 Kab Deiyai -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
22 Kab. Dogiyai -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
23 Kab.Intan Jaya -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
24 Kab. Lanny Jaya -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
25 Kab. Membramo Raya -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
26 Kab. Membramo Tengah -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
27 Kab. Nduga -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
28 Kab. Puncak -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
29 Kab. Yalimo -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
27 MALUT 7.375<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Dinas Propinsi -<br />
-<br />
1 Kab. Halmahera Tengah 750<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Halmahera Barat 750<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Halmahera Timur 4.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Kepulauan Sula -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Halmahera Selatan -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Halmahera Utara 1.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Pulau Morotai 875<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kota Ternate -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kota Tidore Kepulauan -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
28 BANTEN 148.000 1.000 1.000 2.500<br />
Dinas Propinsi 1.000 1.000<br />
1 Kab. Lebak 39.500<br />
500<br />
-<br />
400<br />
2 Kab. Pandeglang 44.500<br />
-<br />
500<br />
850<br />
3 Kab. Serang 41.500<br />
-<br />
500<br />
850<br />
4 Kab. Tangerang 19.500<br />
500<br />
-<br />
-<br />
5 Kota Cilegon -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kota Serang 3.000<br />
-<br />
-<br />
400<br />
7 Kota Tangerang -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kota Tangerang Selatan -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Padi Lahan<br />
Padi Hibrida<br />
Kering Hanya<br />
Spesifik<br />
Bantuan<br />
Lokasi<br />
Benih<br />
- 1.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
700<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
300<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
- 2.975<br />
-<br />
-<br />
450<br />
-<br />
500<br />
-<br />
250<br />
-<br />
-<br />
- 1.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
775<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
500 25.000<br />
500<br />
100 10.000<br />
150 11.000<br />
150 2.600<br />
- 1.100<br />
-<br />
-<br />
100<br />
300<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Jagung<br />
Hibrida (Ha)<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
450<br />
150<br />
150<br />
150<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
SLPTT<br />
Kedelai (Ha)<br />
1.200<br />
-<br />
-<br />
-<br />
400<br />
-<br />
300<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5.150<br />
1.500<br />
3.500<br />
150<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Kedelai<br />
Model<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Pengembangan (Ha)<br />
Kacang<br />
Tanah<br />
-<br />
100<br />
50<br />
50<br />
-<br />
Ubi<br />
Kayu<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Jalar<br />
400<br />
100<br />
100<br />
100<br />
100<br />
-<br />
-<br />
Pemberdayaan Penangkar<br />
(Ha)<br />
Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />
100<br />
-<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
100<br />
50<br />
-<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
150<br />
50<br />
-<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
50<br />
25<br />
25<br />
2<br />
-<br />
-<br />
1<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
1<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
-<br />
-<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10<br />
4<br />
1<br />
2<br />
3<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4<br />
1<br />
1<br />
1<br />
1<br />
-<br />
-<br />
Sarana<br />
Pengendalian<br />
OPT (kali)<br />
3<br />
3<br />
3<br />
SLPHT<br />
(unit)<br />
20<br />
25<br />
55<br />
SLI<br />
(unit)<br />
106 | P a g e<br />
1<br />
1<br />
3
No.<br />
Padi Non<br />
Provinsi dan Kabupaten/Kota<br />
Hibrida Hanya<br />
Bantuan Benih<br />
Padi Non<br />
Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
SLPTT Padi (Ha)<br />
Padi Non Padi Hibrida<br />
Hibrida Hanya<br />
Peningkatan Bantuan<br />
IP<br />
Benih<br />
29 BABEL 3.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Dinas Propinsi -<br />
-<br />
1 Kab. Bangka 750<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Belitung -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Bangka Selatan 2.750<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Blitung Timur -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Bangka Barat -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Bangka Tengah -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kota Pangkal Pinang -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Sungai Liat -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
30 GORONTALO 38.900 1.100<br />
- 5.000<br />
Dinas Propinsi 1.100<br />
-<br />
1 Kab. Boalemo 5.950<br />
550<br />
- 1.000<br />
2 Kab. Gorontalo 19.450<br />
550<br />
- 1.000<br />
3 Kab. Pohuwato 6.500<br />
-<br />
- 1.000<br />
4 Kab. Bone Bolango 3.500<br />
-<br />
- 1.000<br />
5 Kab. Gorontalo utara 3.500<br />
-<br />
- 1.000<br />
6 Kota Gorontalo -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Limboto -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Marisa -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
31 KEPRI -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Dinas Propinsi -<br />
-<br />
1 Kab. Natuna -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Bintan -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Karimun -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Lingga -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Kep. Anambas -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kota Batam -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kota Tanjung Pinang -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab Dumai -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
32 PAPUA BARAT 5.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Dinas Propinsi -<br />
-<br />
1 Kab. Sorong 2.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2 Kab. Manokwari 2.500<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3 Kab. Fak-Fak -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4 Kab. Raja Ampat -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5 Kab. Teluk Bintuni -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6 Kab. Teluk Wondama -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
7 Kab. Kaimana -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
8 Kab. Sorong Selatan -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
9 Kota Sorong -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
10 Kab. Maybrat -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
11 Kab Tambrauw -<br />
-<br />
-<br />
-<br />
33 SULBAR 63.025 1.100<br />
- 7.500<br />
Dinas Propinsi 1.100<br />
-<br />
1 Kab. Mamuju 19.450<br />
550<br />
- 1.000<br />
2 Kab. Majene 2.500<br />
-<br />
-<br />
500<br />
3 Kab. Mamasa 12.500<br />
-<br />
-<br />
500<br />
4 Kab. Mamuju Utara 7.500<br />
-<br />
-<br />
500<br />
5 Kab. Polewali Mandar 21.075<br />
550<br />
- 5.000<br />
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
Padi Hibrida<br />
Spesifik<br />
Lokasi<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Padi Lahan SLPTT<br />
SLPTT<br />
Kering Hanya Jagung<br />
Kedelai (Ha)<br />
Bantuan Hibrida (Ha)<br />
Benih<br />
-<br />
-<br />
1.400<br />
-<br />
-<br />
-<br />
400<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
- 1.000<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5.000 9.150 2.000<br />
- 1.000 2.250<br />
-<br />
- 1.000 3.750<br />
-<br />
- 1.000 2.250 2.000<br />
- 1.000<br />
450<br />
-<br />
- 1.000<br />
450<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3.500<br />
675 820<br />
-<br />
500<br />
225<br />
60<br />
-<br />
375<br />
- 700<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
60<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
125<br />
225<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
- 2.500<br />
225<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
5.000 3.000 2.000<br />
- 1.000 1.125 700<br />
- 1.400<br />
375<br />
-<br />
-<br />
400<br />
375<br />
-<br />
-<br />
200 1.125 1.300<br />
- 2.000<br />
-<br />
-<br />
Kedelai<br />
Model<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Pengembangan (Ha)<br />
Kacang<br />
Tanah<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Kayu<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
Ubi<br />
Jalar<br />
-<br />
-<br />
-<br />
450<br />
100<br />
100<br />
100<br />
50<br />
100<br />
-<br />
Pemberdayaan Penangkar<br />
(Ha)<br />
Padi Jagung Kedelai Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
250<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
100<br />
50<br />
50<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
4<br />
3<br />
1<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
3<br />
1<br />
2<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
2<br />
2<br />
-<br />
-<br />
Bantuan Sarana Pascapanen (paket)<br />
-<br />
-<br />
1<br />
1<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
-<br />
6<br />
1<br />
2<br />
1<br />
1<br />
1<br />
-<br />
Sarana<br />
Pengendalian<br />
OPT (kali)<br />
2<br />
3<br />
-<br />
3<br />
2<br />
SLPHT<br />
(unit)<br />
15<br />
42<br />
-<br />
20<br />
33<br />
SLI<br />
(unit)<br />
107 | P a g e<br />
-<br />
2<br />
-<br />
1<br />
1
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 15. Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
108 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 16. Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah<br />
LAKIP<br />
RPJM<br />
RENSTRA<br />
Rencana Kinerja<br />
Tahunan<br />
(RKT)<br />
Penetapan Kinerja<br />
(PK)<br />
Kinerja Aktual<br />
Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010<br />
Rencana<br />
Kerja dan<br />
Angaran<br />
(RKA)<br />
Lapuran<br />
Keuangan<br />
(SAI)<br />
109 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 17. Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi<br />
Pemerintah<br />
NO. KOMPONEN YANG DINILAI BOBOT<br />
1 Perencanaan Kinerja (Renstra, RKT, PK) 35<br />
2 Pengukuran Kinerja 20<br />
3 Pelaporan Kinerja 15<br />
4 Evaluasi Kinerja 10<br />
5 Capaian Kinerja 20<br />
Nilai Total<br />
100<br />
Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010<br />
110 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 18. Alur Sistem Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan<br />
BAPPENAS<br />
Kementerian<br />
Pertanian<br />
Unit Eselon I<br />
Unit Eselon II,<br />
UPT Pusat,<br />
Dekon/TP SKPD<br />
Provinsi<br />
Tugas<br />
Pembatuan<br />
di SKPD<br />
Kab/Kota<br />
Nasional<br />
Sektor/<br />
<strong>Program</strong><br />
<strong>Program</strong><br />
Kegiatan<br />
Kegiatan<br />
Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010<br />
Outcome/Impact<br />
Nasional<br />
Outcome/Impact<br />
Sektor<br />
Outcome<br />
Output<br />
Output<br />
111 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 19. Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan<br />
NO. JENIS LAPORAN PELAPOR PENERIMA LAPORAN<br />
I. LAPORAN RUTIN<br />
1. Laporan PP 39/2006<br />
Form-A Penanggung jawab<br />
kegiatan<br />
Form-B Penanggung jawab<br />
program<br />
Form-C Kepala SKPD<br />
Kab/Kota, Prov,<br />
Satker Pusat, UPT-<br />
Pusat<br />
WAKTU<br />
PENYAMPAIAN<br />
Setjen Kementerian Pertanian 14 hari kerja setelah<br />
triwulan terakhir<br />
Penanggung jawab program 3 hari kerja setelah<br />
triwulan berakhir<br />
Kepala Satker masing-masing<br />
Instansi<br />
Kepala Daerah Cq Kepala<br />
Bappeda dan Menteri Pertanian<br />
4 hari kerja setelah<br />
triwulan berakhir<br />
5 hari kerja setelah<br />
triwulan berakhir<br />
2. Evaluasi Rencana Kerja / Renstra Eselon - I Bappenas Tahunan / lima<br />
tahunan<br />
3. Penetapan Kinerja Es-II Eselon-II Eselon-I 31 Januari<br />
Penetapan Kinerja Es-I Eselon-I Menteri Pertanian 15 Februari<br />
Penetapan Kinerja Kementerian<br />
Pertanian<br />
Kementerian<br />
Pertanian<br />
Kementerian PAN & RB 31 Maret<br />
LAKIP Eselon-II Eselon - II 31 Januari T + 1<br />
LAKIP Eselon-I Eselon - I 15 Februari T + 1<br />
LAKIP Kementerian Pertanian Kementerian<br />
Pertanian<br />
10 Maret T + 1<br />
4. Rapim Kementan (Rapim A) Eselon-I Menteri Pertanian Dua mingguan<br />
Tindak lanjut Rapim A Eselon - I Menteri Pertanian Sesuai jadwal<br />
5. Laporan Bulanan Kegiatan Menteri Eselon - I Menteri Pertanian Bulanan<br />
6. Laporan Bulanan Kegiatan Eselon-I Eselon - I Menteri Pertanian Bulanan<br />
7. Laporan Kinerja Eselon – II Eselon – II Eselon I 10 Desember<br />
Laporan Kinerja Eselon - I Eselon – I Menteri Pertanian 15 Desember<br />
Laporan Kinerja Kementan Kementan Menteri PAN & RB 20 Desember<br />
II. LAPORAN KHUSUS<br />
8. Bahan Rakor Menko / Sidang Kabinet /<br />
RDP / Raker DPR-RI<br />
Eselon - I Menko / Kabinet / DPR-RI Sesuai Permintaan<br />
9. Insidental lain Sesuai permintaan Sesuai Permintaan<br />
Catatan : Laporan-laporan lain (SAI, SIMAK-BMN, Laporan Statistik, Laporan Pemantauan Wilayah Binaan, Laporan<br />
Teknis dll) sesuai ketentuan yang berlaku.<br />
Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010<br />
112 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 20. Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran<br />
Kementerian/Lembaga<br />
1. SATKER<br />
Penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan suatu Satker untuk bahan<br />
yang direncanakan dalam dokumen KK RKA-KL mengacu pada format KK RKA-KL<br />
dan tata cara pengisiannya. Proses penyusunan KK RKA-KL tersebut difasilitasi<br />
program Aplikasi RKA-KL. Artinya proses penyusunan RKA-KL pada suatu Satker<br />
menggunakan program Aplikasi RKA-KL akan mengahsilkan dokumen KK RKA-KL.<br />
Penyusunan KK RKA-KL pada suatu Satker terbagi dalam penyusunan anggaran<br />
belanja dan pendapatan kegiatan dengan langkah sebagai berikut:<br />
a. Penyusunan anggaran belanja dilakukan dengan:<br />
1) Menuangkan Alokasi Anggaran Angka Dasar<br />
Satker menuangkan jenis alokasi anggaran Angka dasar pada suatu kegiatan<br />
sampai dengan tingkat Komponen yang juga telah memperkirakan angka<br />
prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang.<br />
2) Menuangkan Alokasi Anggaran Inisiatif Baru<br />
a) Berkenaan dengan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru, Satker<br />
menuangkan alokasi anggaran satker secara rinci sampai dengan item<br />
biaya.<br />
b) Penuangan anggaran Inisiatif Baru juga telah memperhatikan angka<br />
prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang.<br />
c) Penuangan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru mengacu pada<br />
Proposal Inisiatif Baru yang telah disetujui untuk tahun yang<br />
direncanakan.<br />
b. Penyusunan anggaran pendapatan dilakukan dengan:<br />
1) Menuangkan target pendapatan setiap kegiatan yang dilaksanakan Satker.<br />
Penuangan anggaran pendapatan terinci dalam program, kegiatan, akun<br />
pendapatan, dan jenis penerimaan.Pendapatan Bukan pajak (PNBP) atau<br />
penerimaan fungsional.<br />
2) Menuangkan angka prakiraan maju setiap kegiaatn dan setiap jenis<br />
penerimaan (PNBP dan/atau penerimaan fungsional).<br />
c. Menyampaikan / melengkapi data dukung berupa:<br />
1) KK RKA-KL dan Arsip Data Komputer-nya (ADK).<br />
2) Gender Budget Statement (GBS) apabila berkenaan dengan ARG.<br />
Penggunaan GBS mengacu pada contoh format.<br />
3) Rencana Bisnis dan Angagran BLU (RBA BLU) apabila berkenaan dengan<br />
Satuan Kerja BLU.<br />
4) Data dukung teknis dalam suatu kasus tertentu antara lain: peraturan<br />
perundangan/keputusan pimpinan K/L yang mendasari adanya<br />
kegiatan/output, atau analisis kelayakan bangunan oleh Dinas Pekerjaan<br />
Umum dalam hal pembangunan/renovasi berat gedung/bangunan Negara.<br />
113 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
5) Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTIM) yang ditandatangani oleh<br />
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) apabila satuan biaya yang tercantum<br />
dalam KK RKA-KL tidak terdapat dalam Standar Biaya.<br />
6) Data pendukung terbaik, antara lain berupa:<br />
a) Perhitungan kebutuhan biaya pembangunan/renovasi bangunan gedung<br />
Negara atau yang sejenis dari Kementerian Pekerjaan Umum atau Dinas<br />
Pekerjaan Umum setempat sebagimana Peraturan menteri Pekerjaan<br />
Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tentang <strong>Pedoman</strong> Teknis Pengawasan<br />
Keuangan dan Pembangunan.<br />
b) Persetujuan prinsip (clearence) terbaik dengan pembangunan baru<br />
bangunan gedung Negara dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur<br />
Negara dan reformasi Birokrasi, Kementerian Pekerjaan Umum, dan<br />
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.<br />
d. KK RKA-KL yang telah ditandatangani KPA beserta data pendukung terkait,<br />
disampaikan kepada Unit Eselon I.<br />
2. UNIT ESELON – I<br />
a. Menghimpun/kompilasi KK RKA-KL dalam lingkup Unit Eselon-I berkenaan.<br />
b. Menyusun RKA-KL Unit Eselon-I berdasarkan KK RKA-KL.<br />
c. Memvalidasi kinerja dan anggaran program yang menjadi tanggung jawab Unit<br />
Eselon-I berkenaan dengan (1) Total pagu anggaran; (2) sumber dana, dan (3)<br />
sasaran kinerja (jenis barang/jasa dan volume output).<br />
d. Meneliti dan menyaringrelevansi Komponen dengan Output kegiatan pada<br />
masing-masing KK RKA-KL.<br />
e. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas program, Unit Eselon-I melakukan<br />
koordinasi dengan Satker untuk perbaikan pada KK RKA-KL.<br />
f. Mengisi informasi pada Bagian L Formulir 2 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian<br />
Hasil. Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk<br />
mencapai Sasaran Hasil (pada tingkat program) antara lain berupa:<br />
1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra<br />
Unit Eselon-I)<br />
2) Uraian deskripsi masing-masing kegiatan.<br />
3) Jumlah Satker pelaksana kegiatan<br />
4) Penjelasan mengenai perubahan alokasi program antara yang sedang<br />
berjalan dan yang diusulkan.<br />
g. Selain mengisi Formulir 2 RKA-KL, Unit Eselon-I juga mengisi Bagian I, Formulir<br />
3 RKA-KL tentang Operasionalisasi Kegiatan yang berisikan antara lain:<br />
1) Identifikasi factor-faktor pendukung (faktor pegawai, sarana, dan prasarana)<br />
dan penghambat (fackor lingkungan/kultur kerja).<br />
2) Identifikasi Satker pelaksana kegiatan.<br />
3) Penjelasan mengenai perubahan alokasi anggaran belanja kegiatan dari ayng<br />
sedang berjalan dengan yang diusulkan.<br />
114 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
h. RKA-KL Unit Eselon-I ditandatangani oleh Pejabat Eselon-I atau yang setingkat<br />
Eselon-I selaku KPA sebagai penanggung jawab program.<br />
i. Menyampaikan RKA-KL Unit Eselon I dan data dukung terkait kepada K/L.<br />
3. KEMENTERIAN / LEMBAGA<br />
a. Menghimpun/kompilasi RKA-KL Unit Eselon-I dalam lingkup K/L.<br />
b. Menyusun RKA-KL secara utuh untuk lingkup K/L berdasarkan RKA-KL Unit<br />
Eselon – I.<br />
c. Memvalidasi alokasi angagran K/L meliputi: (1) Total pagu anggaran; (2) Simber<br />
dana; (3) sasaran kinerja.<br />
d. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas alokasi anggaran K/L, K/L melakukan<br />
koordinasi dengan Unit Eselon-I untuk perbaikan paad RKA-KL Unit Eselon-I<br />
berkenaan.<br />
e. Mengisi informasi pada Bagian I, Formulir 1 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian<br />
Sasaran Strategis. Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang<br />
ditempuh untuk mencapai sasaran strategis, antara lain berupa:<br />
1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra<br />
K/L).<br />
2) Uraian deskripsi masing-masing program dan unit Organisasi Penanggung<br />
Jawab.<br />
f. RKA-KL (yang telah disusun) diteliti kembali kesesuaiannya dengan pagu<br />
Anggaran K/L agar tidak mengakibatkan:<br />
1) Pergeseran anggaran antar program (jumlah alokasi dana pada masingmasing<br />
program harus sesuai dengan yang tercantum dalam pagu Anggaran<br />
K/L).<br />
2) Pengurangan belanja pada Komponen 0001 dan 0002.<br />
3) Perubahan pagu sumber pendanaan/sumber pembiayaan yang berasal dari<br />
rupiah murni, Pinjaman Hibah Luar Negeri, dan PNBP (sumber<br />
pendanaan/sumber pembiayaan dalam menghasilkan output tidak<br />
diperbolehkan berubah/bergeser).<br />
g. Menyampaikan RKA-KL berserta data dukung terkait kepada Kementerian<br />
Keuangan c.q. Ditjen Anggaran dan Kementerian Perencanaan.<br />
Sumber: <strong>Pedoman</strong> Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan - Kementan.<br />
115 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 21. Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi Anggaran K/L<br />
Berdasarkan Hasil Kesepakatan Pembahasan DPR dan Alokasi Angagran K/L, maka K/L<br />
menyesuaikan RKA-KL.Penyesuaian dimaksud meliputi:<br />
1. Penyesuaian terhadap angka dasar apabila terdapat perubahan parameter ekonomi<br />
(indeks inflasi untuk tahun yang direncanakan) dan/atau penyesuaian parameter nonekonomi<br />
apabila terdapat perubahan kebijakan sehingga berpengaruh terhadap<br />
besaran alokasi angagran K/L.<br />
2. Adanya program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan<br />
DPR.<br />
Dalam rangka penyusunan RKA-KL berdasarkan Pagu Alokasi Anggaran K/L, ada<br />
beberapa kemungkinan:<br />
1. Apabila tidak ada perubahan parameter ekonomi, parameter non-ekonomi, dan usulan<br />
program/kegiatan/output baru maka, RKA-KL berdasarkan Pagu Anggaran RKA-KL<br />
secara langsung ditetapkan dalam SP RKA-Kl.<br />
2. Apabila ada perubahan parameter baik ekonomi maupun non-ekonomi maka,<br />
penuangan dalam KK RKA-KL dilakukan melalui penyesuaian dengan parameter<br />
ekonomi dan non ekonomi pada tingkat kompinen. Penyesuaian pada komponen<br />
pendukung dilakukan dengan melakukan perkalian dengan parameter ekonomi.<br />
Sedangkan penyesuaian komponen utama dapat dilakukan dengan mengalikan<br />
dengan parameter ekonomi atausesuai dengan kebijakan yang ditetapkan.<br />
3. Apabila ada program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan<br />
dengan DPR maka, K/L menyesuaikan RKA-KL dengan:<br />
a. Mengusulkan rumusan program/kegiatan/output sebagai hasil kesepakatan<br />
pembahasan dengan DPR kepada Kementerian Keuangan dan kementerian<br />
Perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan kewenangan masing-masing. Usulan<br />
program dan kegiatan (non output) diajukan kepada Kementerian Perencanaan.<br />
Sedangkan usulan output diajukan kepada Kementerian Keuangan. Usulan<br />
tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai referensi pada program aplikasi RKA-KL.<br />
b. Entry data biaya pada masing-masing komponen dengan mengacu pada standar<br />
biaya yang berlaku pada tahun yang direncanakan atau kepatutan dan kewajaran<br />
harga (disertai dengan SPTIM).<br />
c. Meneliti kemmbali jumlah alokasi anggaran tersebut apakah sesuai dengan jumlah<br />
alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR.<br />
d. Hasil penuangan alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR<br />
terdapat dalam formulir B, KK RKA-KL.<br />
Sumber: <strong>Pedoman</strong> Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan - Kementan.<br />
116 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 22. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan<br />
Persetujuan Menteri keuangan<br />
1. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyiapkan usulan Revisi Anggaran (Revisi RKA-<br />
KL) yang diajukan dan membutuhkan persetujuan Menteri Keuangan (Menkeu).<br />
2. Usulan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) disampaikan kepada Direktur Jenderal<br />
Anggaran (DJA) beserta dokumen pendukung.<br />
3. DJA melakukan penelaahan dan menilai usulan revisi yang diajukan KPA.<br />
4. Berdasarkan proses penelaahan dan penilaian DJA memberikan persetujuan atau<br />
penolakan terhadap usulan revisi KPA.<br />
5. Jika berdasarkan penelahaan dan penilaian yang dilakukan DJA usulan revisi ditolak,<br />
akan ditetapkan surat pemberitahuan penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) dan<br />
menyampaikannya ke KPA.<br />
6. Jika berdasarkan penelaahan dan penilaian DJA usulan revisi disetujui akan<br />
disampaikan ke Menkeu untuk memperoleh persetujuan.<br />
Jika Menkeu menolak usulan revisi akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan<br />
Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) danb menyampaikannya ke KPA.<br />
6a. Jika Menkeu menyetujui usulan revisi anggaran (Revisi RKA-KL), akan ditetapkan<br />
Surat Penetapan RKA-KL Revisi (SP RKA-KL Revisi) dan disampaikan ke KPA.<br />
6b. SP RKA-KL Revisi hasil penetapan Menkeu juga disampaikan ke DJPBN.<br />
Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011<br />
117 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 23. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran<br />
pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/<br />
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan<br />
1. KPA menyiapkan usulan-usulan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran<br />
(Revisi RKA-Satker).<br />
2. KPA berdasarkanb Revisi RKA-Satker, mencetak Revisi Anggaran (Konsep Revisi<br />
DIPA) dan menyiapkan Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker.<br />
3. KPA menyampaikan Konsep Revisi DIPA kepada DJPBN beserta Dokumen<br />
Pendukung dan ADK RKA-Satker.<br />
4. DJPBN melakukan penelaahan dan memberikan persetujuan atau penolakan<br />
terhadap usulan revisi.<br />
5. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi ditolak, akan ditetapkan Surat<br />
Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi DIPA) dan menyampaikannya ke<br />
KPA.<br />
6. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi disetujui, dilakukan pengesahan DIPA<br />
Revisi dan disampaikan ke KPA.<br />
7. KPA berdasarkan Pengesahan DIPA Revisi mencetak POK hasil revisi.<br />
Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011<br />
118 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 24. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja<br />
oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran<br />
1. KPA menyiapkan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKA-<br />
Satker) sesuai kewenangannya.<br />
2. KPA berdasarkan Revisi RKA-Satker memeriksa apakah Revisi Anggaran (Revisi<br />
RKA-Satker) menyebakan perubahan DIPA.<br />
2a. jika tidak terjadi perubahan DIPA, KPA mencetak POK dan menyampaikan ke DJPBN<br />
berserta ADK RKA-Satker.<br />
3. Jika Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebabkan perubahan DIPA, KPA<br />
mencetak Konsep DIPA Revisi dan menyampaikannya ke DJPBN berserta ADK RKA-<br />
Satker.<br />
4. Berdasarkan Konsep DIPA Revisi dan ADK RKA-Satker DJPBN memeriksa dan<br />
melakukan pengesahan DIPA Revisi.<br />
5. DIPA Revisi yang telah disahkan disampaikan kembali ke KPA.<br />
6. Berdasrakan DIPA Revisi yang telah disahkan KPA mencetak POK.<br />
Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011<br />
119 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 25. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran<br />
pada Direktorat Jenderal Anggaran<br />
1. Eselon I pada Kementerian Negara/lembaga (K/L) mengirimkan ADK Revisi RKA-KL<br />
dilakukanpenelaahan pada DJA.<br />
2a. Setelah Revisi RKA-KL ditetapkan (SP-RKA-KL), data RKA-KL diunggah (di-upload)<br />
ke Database bersama oleh DJA.<br />
2b. ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA, dikirimkan kembali kepada<br />
Eselon I K/L sebagai bahan Revisi DIPA.<br />
3. DJPBN mengambil data RLA-KL dari Database bersama, sebagai bahan pencocokan<br />
dan penelitian Revisi DIPA yang diajukan oleh Satker Pusat maupun Daerah.<br />
4a. Eselon I K/L menyampaikan ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA<br />
kepada satker kantor pusat sebagai bahan penyusunan Revisi DIPA.<br />
4b. Eselon I K/L menyampaikan juga ADK RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA<br />
kepada Satker daerah sebagai bahan penyusunan revisi DIPA.<br />
5. Satker kantor pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya<br />
kepada Kantor Pusat DJPBN.<br />
6. Kantor Pusat DJPBN menerbitkan dan mengirimkan DRA beserta ADK-nya kepada<br />
kantor Wilayah DJPBN berdasarkan RKA-KL yang ditetapkan oleh DJA (SP-RKL-KL).<br />
7. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan Revisi dIPA beserta ADK-nya kepada<br />
Kantor Wilayah DJPBN.<br />
8a. Setelah Revisi DIPA disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN, data revisi ditransfer ke<br />
database Kantor Pusat DKPBN.<br />
8b. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN, disampaikan kepada<br />
KPPN.<br />
9a. Database Bersama di-update berdasarkan Data Revisi DIPA yang disahkan oleh<br />
Kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN.<br />
10. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama.<br />
Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011<br />
120 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 26. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran<br />
pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan<br />
1a. Satker Kantor Pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya<br />
kepada Kantor Pusat DJPBN.<br />
1b. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan revisi DIPA beserta ADK-nya kepada<br />
kantor Wilayah DJPBN.<br />
2a. Setelah DIPA satker daerah disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN, data revisi<br />
ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN.<br />
2b. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN, disampaikan kepada<br />
KPPN.<br />
3a. Database Bersama di-update berdasarkan data revisi DIPA yang disahkan oleh kantor<br />
Pusat/Kantor Wilayah DJPBN.<br />
3b. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat DJPBN, disampaikan kepada<br />
KPPN.<br />
4. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama.<br />
Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011<br />
121 | P a g e
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan<br />
<strong>Pedoman</strong> <strong>Pelaksanaan</strong> <strong>Program</strong><br />
Lampiran 27. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran<br />
pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran<br />
1a. Satker kantor pusat menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Pusat DJPBN..<br />
1b. Satker daerah menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Wilayah DJPBN.<br />
2a. Data POK revisi satker kantor pusat ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN.<br />
2b. ADK POK revisi satker daerah, disampaikan kepada KPPN.<br />
3a. Database Bersama di-update berdasarkan Data POK revisi satker kantor<br />
pusat/daerah.<br />
3b. ADK POK revisi satker kantor pusat, disampaikan kepada KPPN.<br />
4. Database DJA di-update berdasarkan database Bersama.<br />
Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011<br />
122 | P a g e