klik disini - Universitas Wiraraja Sumenep
klik disini - Universitas Wiraraja Sumenep
klik disini - Universitas Wiraraja Sumenep
Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!
Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.
x ralt<br />
Y€o<br />
!E<br />
rct<br />
a\a<br />
=g:,<br />
L<br />
Volume 1, Edisi 1, illei 2011<br />
Cambaran Pengetahuan Keluarga Tentang<br />
Puskesmas Ganding Kabupaten <strong>Sumenep</strong>.<br />
Mujih Hannan, S.KM<br />
DAF"IARISI<br />
MffiMMM<br />
rnal Kesehatan<br />
Penyakit Hipertensi Di Wilayah Kerja UpTD<br />
Hubungan Antara Tipe Kepribadian Dengan Tingkat Kecemasan Pada Wanita Menopause<br />
Di Desa Bangkal Wilayah Kerja Puskesmas Pamolokan Kabupaten <strong>Sumenep</strong> Tahun 2010<br />
Fitriah, S.Sf dan Endang Susilowafi, S.Sf<br />
Hubungan Mekanisme Koping lndividu Dengan Kecemasan Dalam Menghadapi Program<br />
Profesi Ners Mahasiswa Stikes Wira Husada Yogyakarta Tahun 20A7-2OOB<br />
Syaifunahman Hidayat, S.Kep, Ns dan Dian lka Puspitasari, S.Kep, Als<br />
Hubungan Beban Kerja Dengan Pelaksanaan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Cawat<br />
Darurat Di lnstalasi Rawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Kota yogyakarta<br />
Sujono Riyadi, S.Kep, M.Kes dan Siswanfo, S.SI..... 22<br />
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap Tingkat<br />
Kecemasan Pasien Hipertensi di Ruang lnterna RSD dr. H. Moh. Anwar sumenep<br />
Cory Nelia Damayanti, S.Kep, Ns dan Zakiyah Yasin, S.Kep, Ns..............<br />
Hubungan Antara Sosial Budaya ( Kepercayaan ) Dengan Perilaku K1 Murni pada lbu<br />
Hamil Di Desa Bangkal Wilayah Kerja Puskesmas Pamolokan Kabupaten <strong>Sumenep</strong><br />
Tahun 20'10<br />
Dian Permatasari, S.Sf dan Sri Sukarsl, S.SI<br />
Pengaruh Pemberian Teh Hijau (Camelia Sinensis) Seduh Terhadap penurunan Kadar<br />
lnterleukin-l (ll-1) Dalam Plasma Tikus Putih (Ratus Novergrcus Strain Wistar)<br />
Yang Di lnduksi Adjuvant Arthritis<br />
Eko Mulyadi, S.Kep, Ns<br />
Perbedaan Prestasi Belajar Mahasiswa Dlll Kebidanan Malang semester ll<br />
Tahun Ajaran 200812009 Yang Diterima Melalui Jalur PMDp Dan Jalur seleksi<br />
Tes Uji Tulis Di Program Studi Dlll Kebidanan Poltekkes Depkes Malang<br />
Iva Ganrar Dian Pratiwi, S.Sf. .........<br />
Hubungan Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun Dengan Kejadian Diare Pada Balita<br />
Di Desa Sumberejo Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri Tahun 2009<br />
Ratna Indriyani, S.Sf dan Sri Sumarni, S.Kep, Ns..............<br />
.t\.<br />
, , ,. ' _:' ti'r<br />
,: \'\<br />
.- '1,,, ))<br />
.., :..- i l<br />
' :' ll<br />
'. ,!<br />
Il<br />
.-. / r<br />
' '' l__ ::a<br />
'7/i<br />
,' )|<br />
"',i".i:.. -::-:-,- :.,,-:-.f<br />
,,!<br />
I<br />
t6<br />
30<br />
37<br />
44<br />
5t<br />
58
GAIVIBARAN PENGETAI{UA}.I KELUARGA<br />
TEI{IAhTG PEI{YAKIT HIPERTENSI DI<br />
WII-AYAFI KERJA UPTD PUSKE SIVIAS<br />
GAI\TDING IGBUPATEN SUMENEP<br />
Oleh:<br />
MUJIB HAttIlTAiIl<br />
ABSTRACT<br />
Background: Hypertension represent the chronical disease is which need the<br />
observation and handling non-stoped coRtinual, because othenrvise get the daydream<br />
precisely can generate the kornplikasi of heaG brain, eye and kidney. All<br />
important Matter in course of healing of hypertension patient is family, because<br />
f'amilycan givethe motivation forthe lifu of heahtry, despitetrllyalsofamilyown the<br />
duty to recognize the trouble of heafth growth of each; every its family member,<br />
takingdecision to conduct action corre@ Givingtreatmentto illfamily memberand<br />
which cannot assistthe their self of becausehandicap or its age is which under age or<br />
old, and also give the knowledge which enough to it,s family is ilt.<br />
Method: This research represent tlte Descriptive research with the approach of<br />
House Hold survey, this sampel Researt*r arnount to 44 people techniaty is sampting<br />
used is Consecutive Sampling. Technlcs of data collecting with the documentation,<br />
interview, observation and questionnarre.<br />
Resuh: Resuh of research got bythat pandemic family knowledge of hypertension is<br />
less with the biggest proportion that is responder have age > rto year ( 61,4%1,<br />
education of respondent sD,( 56,8%), and respondent work as farmer { 50%}.<br />
conclussion: Research isthat pandenricfamily knowledge of hypertension less. tn<br />
orderthat improving knowledge that is by providing medium - medium supporting<br />
like counselling program of about health, posyandu, and also supported with the<br />
health energy with the going concern education system.<br />
Key word : Knowledge, Family, Hypertension.<br />
PENDAHUTUAN<br />
Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberigejala<br />
yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti stroke untuk otak, penyakit jantung<br />
koroner untuk pembuluh darah jantung dan otot jantung. penyakit ini telah menjadi<br />
masalah utama dalam masyarakatyangada dilndonesia maupun dibeberapa negara<br />
*) Mujib Hannan, s.KM: Dosen prodi s.1 Keperawatan Fikes unija sumenep Madura<br />
3
4<br />
yang ada di dunia. Di perkirakan skitar 80 % kenaikan<br />
kasus hipertensi terutama di negara berkembang<br />
tahun 2025 dari sejumlah 539 juta kasus di tahun<br />
2OOO, di dperkirakan meniadi 1,15 milyar kasus di<br />
tahun 2025. prediksi ini didasarkan pada angka<br />
penderita hipertensi saat ini dan pertambahan<br />
penduduk saat inil.<br />
WHO menyatakan hipertensi merupakan silent<br />
killer, karena banyak masyarakat tak menaruh<br />
perhatian terhadap penyakit yang kadang dianggap<br />
sepele oleh mereka, tanpa menyadarijika penyakit<br />
ini menjadi berbahaya dari berbagai kelainan yang<br />
lebih fatal misalnya kelainan pembuluh darah,<br />
jantung (kardsiovaskuler) dan gangguan ginjal,<br />
bahkan pecahnya pembuluh darah kapiler di otak<br />
atau yang lebih disebut dengan nama stroke2.<br />
Menurut Hisyam Aptamimi ahli jantung dan<br />
pembuluh darah pada RSU Kraton pekalongan<br />
menyatakan Hipertensi atau penyakit tekanan<br />
darah tinggi merupakan penyebab terbesar dari<br />
penyakit jantung. bahkan, 75% penderita hipertensi<br />
akan berujung pada penyakit jantung dan baru<br />
tersadari pada lanjut usia, ketika jantung telah<br />
'lelah" bekerja untuk memompa darah dengan<br />
tekanan yang berat3.<br />
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang<br />
umum terjadi di masyarakat. Banyak orang yang<br />
menderita penyakit tersebut, tetapi tidak menyadarinya.<br />
Penyakit ini berjalan terus - menerus<br />
seumur hidup dan sering tanpa adanya keluhan yang<br />
khas selama belum ada komplikasipada organtubuh.<br />
Hipertensi merupakan penyakit menahun yang perlu<br />
pengawasan dan penanganan yang terus berkesinambungan<br />
karena jika tidak mendapat pena-<br />
nganan secara tepat dapat menimbulkan komplikasi<br />
pada jantung, otak, mata dan ginjala.<br />
Hipertensi merupakan faktor penyebab yang<br />
terpenting pada 5@.000 kasus stroke yang dilaporkan<br />
tiaptahunnya, dan 15O00 diantaranya berakhirdengan<br />
kematian. 4O% diantara mereka yang sembuh<br />
memerlukan perawatan khusus sepanjangsisa hidupnya<br />
dan 10% harus dirawat secara permanen dirumah sakit.<br />
Tidak seorangpun yarlg mengetahui siapa diantara kita<br />
yang akan menjadi korban tekanan darah tinggi. la tidak<br />
membedakan umur, kepercayaan atau warna kulit,<br />
namun ia paling banyak didapati pada orang - orang<br />
yang berusia diatas 40.50% diantara mereka berusia<br />
lebih darit[0tahun dan 7oo/odiantaramereka diatas 55<br />
tahun mengidapnya. Walaupun demikian, 807o pen-<br />
lumal Kesehatan ollliroraia Medika'<br />
duduk dunia ini masih bebas dari padanya. lni mem-<br />
buktikan bahwa kita dapat menghindaritekanan darah<br />
tinggi.<br />
Di negara industri hipertensi merupakan salah<br />
satu maslah kesehatan utama. Di lndonesia,<br />
hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan<br />
yang perlu di perhatikan oleh tenaga kesehatan yang<br />
bekerja pada pelayanan kesehatan primer karena<br />
angka prevelensinya yang tinggi dan akibat jangka<br />
panjang yang di timbulkannya.<br />
Derajat kesehatan pada beberapa dekade<br />
selama ini terjadi pergeseran pandangan yaitu<br />
pandangan kesehatan merupakan fenomena sosial<br />
terlebih lagi masalah penyakit menurun. Maka dari<br />
itu pengetahuan keluarga tentang penyakit hipertensi<br />
sangat di perlukan. Terutama dalam penyelenggaraan<br />
kesehatan dengan menggunakan<br />
pelayanan promotif dan preventif secara menye-<br />
luruh dan terpadu.<br />
Menurut WHO (1987), batas tekanan darah yang<br />
di anggap normal adalah t4O/gO mmHg dan tekanan<br />
darah yang sama dengan atau diatas 76OPS mmHg<br />
dinyatakan hipertensi. Batasan tersebut tidak<br />
membedakan usia dan jenis kelamin. Jumlah<br />
penderita hipertensi di seluruh dunia semakin<br />
meningkat. Di lndonesia hipertensi merupakan<br />
pembunuh nomor tiga setelah ISPA dan diare.<br />
Jumlah hipertensi di lndonesia sekitar 8 juta orang<br />
sedangkan di kota - kota besar seperti Jakarta<br />
berkisar 360.000 orang. Sedangkan data yang di<br />
dapatkan di UPTD Puskesmas Ganding terdapat<br />
peningkatan penderita dari tahun ketahun. Pada<br />
tahun 2006 terdapat 1,83 (2,2%l penderita. Pada<br />
tahun 2007 terdapat 305 (3,5%) penderita. Dan<br />
terjadi peningkatan kembali pada tahun 2008<br />
sebanyak 97 6 ( 9,2%l penderita.<br />
Hal terpenting dalam proses penyembuhan<br />
penderita hipertensi adalah keluarga, karena<br />
keluarga dapat memberikan motivasi untuk hidup<br />
sehat, dan keluarga memilikitugas untuk mengenal<br />
gangguan perkembengan kesehatan tiap anggota<br />
keluarganya, mengambil keputusan untuk melakukan<br />
tindakan yang tepat, Memberikan keperawatan<br />
kepada anggota keluarga yang sakit dan yang<br />
tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat<br />
atau usianya yang terlalu muda atau tua, dan<br />
memberikan pengetahuan yang cukup terhadap<br />
keluarganya yang sakit. Oleh karena itu keluarga<br />
ffi<br />
E<br />
h<br />
C'II<br />
ff<br />
lbi t<br />
pGd<br />
GftT<br />
d Fl*<br />
rtu<br />
bcrb<br />
br*<br />
Gra I<br />
OH<br />
&<br />
prrd<br />
q tr<br />
dru<br />
3*ll<br />
hr<br />
d<br />
:;fl<br />
: fnf<br />
i*<br />
:*<br />
i..<br />
j ---'-<br />
:J{<br />
: {rN<br />
: *fe<br />
:*<br />
i rrn<br />
:Y<br />
f.rE
Iw.tull l6esehotun aili ramja M ediko!<br />
dituntut untuk tahu dan mengerti tentang cara<br />
pencegahan hipertensi.<br />
Berdasarkan studi pendahuluan di UPTD puskesmas<br />
Ganding <strong>Sumenep</strong>, peneliti melakukan<br />
wawancara pada 10 keluarga penderita hipertensi.<br />
Dari 10 kelurga di dapatkan hasil ada 7 keluarga<br />
penderita hipertensi mengatakan kurang tahu<br />
tentang gejala dan cara pencegahan hipertesi. Hal<br />
tersebut menunjukkan bahwa diwilayah kerja UpTD<br />
Puskesmas Ganding masih ada yang kurang pengetahuanya<br />
tentang penyakit hipertensi. padahal<br />
berbagai upaya telah dilakukan oleh tenaga<br />
kesehatan di UPTD Puskesmas Ganding, baik dengan<br />
cara pemberian penyuluhan maupun pemberian<br />
obat.<br />
BAHAN DAN CARA PENETTTIAN<br />
Desain penelitian yang digunakan dalam<br />
penelitian ini adalah Deskriptifyang bertujuan untuk<br />
mengungkapkan atau menggambarkan fenomena<br />
apa adanya, tanpa adanya manipulasi antara<br />
variabel yang diteliti, dengan pendekatan,, House<br />
Hold Su ruey'' artinya penelitian ini dilakukan dengan<br />
cara dimana peneliti melakukan survey rumah<br />
kerumahs6.<br />
Gambar 1: Kerangka Konsep Penelitian<br />
! faktor Elaternal: i<br />
| -Keluarga i<br />
: -Masyarakat :<br />
I --'*r-'-'-*<br />
: -Mass Media i<br />
| -Lembaga/ i<br />
! Sekolah :<br />
:...................j<br />
Keterangan :<br />
: Diteliti<br />
: Tidak Diteiliti<br />
Pengetahuan Keluarga<br />
Tentang Penyakit<br />
Hipertensi<br />
HASIT PENEIITIAN DAN PEMBAHASAN<br />
A Hasil Penelitian<br />
t. Karakteristikresponden<br />
a. Karakteristik Responden Berdasakan Jenis<br />
Kelamin.<br />
Tabel 1 : Distribusi Karekteristik Responden Ber_<br />
dasarkan Jenis Kelamin Di Wilayah Kerja<br />
UpTD. puskesmas Ganding <strong>Sumenep</strong><br />
2009.<br />
No Kriteria n Prosentase (?o)<br />
1. Laki - taki 17 38,63<br />
2. Perempuan<br />
Total<br />
27<br />
4<br />
61,36<br />
1(X)<br />
Berdasarkan tabel 1 di ketahui bahwa<br />
Lebih 50 /o responden berjenis kelamin<br />
perempuan dan sisanya berjenis kelamin laki<br />
- laki.<br />
b. Kar,akteristik Responden Berdasarkan Usia.<br />
Tabel 2 : Distribusi Karakteristik Responden Ber_<br />
dasarkan Usia Di Wilayah Kerja UpTD.<br />
Puskesmas Ganding Sumenp 2009.<br />
No Kriteria n Prosentase (%)<br />
1.<br />
2.<br />
> 40th<br />
< 40th<br />
35<br />
9<br />
79,5<br />
20,5<br />
Total 44 100<br />
Berdasarkan tabel 2 di ketahui bahwa<br />
Separuh responden berusia > 40 tahun dan<br />
responden berusia < 40 tahun mempunyai<br />
proporsi yang paling kecil.
c. Karekteristik Responden Berdasarkan Tingkat<br />
Pendidikan.<br />
Tabel 3 : Distribusi Responden BerdasarkanTingkat<br />
Pendidikan diwilayah kerja UpTD puskes-<br />
No<br />
't.<br />
2.<br />
3.<br />
4.<br />
5.<br />
mas Ganding <strong>Sumenep</strong> 2009.<br />
Tingkat<br />
Pendidikan<br />
Tidak skolah<br />
SD<br />
SMP<br />
SMA<br />
PT<br />
n Prosentase (%)<br />
9<br />
26<br />
3<br />
3<br />
3<br />
20,45<br />
59,09<br />
618<br />
6,8<br />
6,8<br />
Total 4 100<br />
Berdasarkan tabel 3 di ketahui bahwa<br />
Lebih 50 % responden berpendidikan SD,<br />
sedangkan responden yang berpendidikan<br />
SMB SMA & PT mempunyai proporsi yang<br />
sama kecil.<br />
d. Karekteristik Responden Berdasarkan Jenis<br />
Pekerjaan.<br />
Tabel4 : Distribusi Karakteristik Responden Ber-<br />
dasarkan Jenis pekerjaan di Wilayah Kerja<br />
U PTD Puskesmas Ganding <strong>Sumenep</strong> 2009.<br />
No Pekerjaan n Prosentase (%)<br />
1.<br />
2.<br />
3.<br />
4_<br />
Petani<br />
Wiraswasta<br />
PNS<br />
lbu Rumah<br />
Tangga<br />
26<br />
I<br />
3<br />
7<br />
59,09<br />
18,19<br />
6,8<br />
15,90<br />
Total 44 100<br />
Berdasarkan tabel 4 di ketahui bahwa<br />
Lebih dari 50% responden sebagai petani dan<br />
responden yang bekerja sebagai pNS memproporsi<br />
yang paling kecil.<br />
t urnal Kesehatan llllramja Medikoo<br />
2. Tingkat pengetahuan Responden.<br />
a. Pengetahuan keluarga tentang penyakit<br />
hipertensi<br />
Tabel 5: Distribusi responden menurut pengeta_<br />
huan tentang penyakit hipertensi Di<br />
Wilayah Kerja UpTD. puskesmas Ganding<br />
2009.<br />
No Kriteria n Prosentase (Yo)<br />
1.<br />
2,<br />
3.<br />
Baik<br />
3 6rg<br />
Cukup<br />
11 25<br />
Kurang<br />
Total<br />
30<br />
4<br />
58,19<br />
r00<br />
Berdasarkan tabel 5 di ketahui bahwa<br />
Lebih dari 50 % responden mempunyai<br />
pengetahuan yang kurang tentang penyakit<br />
hipertensi dan responden yang mempunyai<br />
pengetahuan yang baik memproporsi yang<br />
paling kecil<br />
b. Pengetahuan keluarga tentang penyakit<br />
hipertensi berdasarkan jenis kelamin, usia,<br />
pendidikan, pekerjaan.<br />
Tabel 5 : Tabulasisilangpengetahuan denganjenis<br />
kelamin.<br />
Jenis<br />
Kelamin<br />
Pengehhuan<br />
Baik Cukup Kurang Total<br />
d<br />
E F u U q<br />
x ,o x I l T<br />
Laki - Laki 3 17,6 6 35,3 8 47,1 17 100<br />
Percmpuan 0 0 5 18,5 22 81,5 27 100<br />
Tohl 3 618 11 25,0 30 ffi,2 44 100<br />
Berdasarkan tabel 6 lebih dari 50%<br />
responden berjenis kelamin perempuan,<br />
dengan pengetahuan kurang mempunyai<br />
proporsiyang paling besar, dan pengetahuan<br />
baik mempunyai proporsiyang paling kecil.<br />
Tabel 7 : Tabulasi silang pengetahuan dengan usia.<br />
Pengetahuan<br />
Usia Baik Cukup Kunng Tohl<br />
>40<br />
x<br />
0<br />
%<br />
0<br />
E<br />
I<br />
q<br />
I<br />
22,9<br />
x<br />
27<br />
d<br />
ft<br />
77,1<br />
E<br />
35<br />
d<br />
I<br />
100<br />
I wnal Ke*hau n "ltlt rcroia M dikf 7<br />
Berdasarkan tabel 7 lebih dari 50% B. Pembahasan<br />
responden berusia > 40 tahun dengan<br />
pengetahuan yang kurang dengan proporsi<br />
yang paling besar dan pengetahuan baik<br />
mempunyai proporsi yang paling kecil.<br />
Tabel 8: Tabulasi silang pengetahuan dengan<br />
pendidikan.<br />
Pen-<br />
d''dikn<br />
Tidak<br />
Sekolah<br />
x<br />
Berdasrakan Tabel 8 lebih dari 50%<br />
resonden berpendidikan SD dengan pengetahuan<br />
kurang mempunyai proporsi yang<br />
paling besar, dan responden yang berpendidikan<br />
SMB SMA dan PT mempunyai proporsiyang<br />
sama kecil.<br />
Tabel 9 : Tabulasi silangpekerjaan dengan pengetahuan.<br />
Berdasarkan tabel 9 lebih 50% responden<br />
mempunyai pekerjaan petani dengan pengetahuan<br />
kurang dengan proporsi yang paling<br />
besar dan responden yang bekerja sebagai<br />
PNS mempunyai proporsiyang paling kecil<br />
dengan pengetahuan yang cukup dan<br />
kurang.<br />
Pengehhuan<br />
Baik Cukup Kuntg<br />
! p x % x<br />
TfrI<br />
d D T L<br />
0 0 5 55,6 4 444 9 100<br />
5D 0 0 I 3,8 25 96,2 26 r00<br />
SMP 0 0 2 ffi,7 1 33,3 3 100<br />
SlvlA 0 0 3 I00 0 0 3 100<br />
PT 3 100 0 0 0 0 3 100<br />
To6al 3 6,8 1l 25,0 30 ffi'2 4 t00<br />
Peker-<br />
iaan<br />
x<br />
Pengetahuan<br />
Baik Cukup Kunng Total<br />
d<br />
T x<br />
g<br />
T x<br />
g<br />
,o x<br />
d<br />
a<br />
Petani 0 0 4 1sA 22 M,6 26 100<br />
Wira<br />
swash<br />
0 0 6 75,0 2 25,0 I 100<br />
PNS 3 100 0 0 0 0 3<br />
.l00<br />
IRT 0 0 I 74,3 6 85,7 7 100<br />
Tohl 3 6,8 1l 25,0 30 68,2 4 rm<br />
1. Pengetahr nn keluarga tentang penyakit hipertensi.<br />
Dalam hasil penelitian yang dilakukan di<br />
wilayah kerja UPTD Puskesmas Ganding<br />
<strong>Sumenep</strong>, didapatkan hasil bahwa sebagian<br />
besar responden mempunyai pengetahuan<br />
kurang tentang penyakit hipertensi (G8,18%). Hal<br />
inidapat di pengaruhi oleh faktor usia. Dimana<br />
sebagian besar lebih dari50% responden berusia<br />
> 40 tahun dengan pengetahuan yang kurang<br />
dengan proporsi yang paling besar dan pengetahuan<br />
baik mempunyai proporsi yang paling<br />
kecil, kemungkinan rentang usia > 4O tahun<br />
seseorang banyak mengalami penurunan daya<br />
ingat.<br />
Pengetahuan responden yang kurang juga<br />
dapat di pengaruhi oleh faktor pendidikan.<br />
Sebagian besar responden mempunyai tingkat<br />
pendidikan SD (59,09%). Menurut Kuntjoroningrat<br />
(19971 yang dikutip oleh NursalamT,<br />
bahwa makin tinggi tingkat pendidikan seseorang,<br />
makin mudah menerima informasi<br />
sehingga makin banyak pula pengetahuanyang<br />
dimiliki. Sebaliknya, pendidikan yang kurang akan<br />
menghambat perkembangan sikap terhadap<br />
nilai - nilai yang baru diperkenalkan. Hal ini sesuai<br />
dengan hasil penelitian. di ketahui bahwa lebih<br />
dari 50% resonden berpendidikan SD dengan<br />
pengetahuan kurang mempunyai proporsi yang<br />
paling besar, dan responden yang berpendidikan<br />
SMB SMA dan PT mempuryai proporsi yang sama<br />
kecil. Sehingga dengan latar belakang, pendidikan<br />
responden yang mayoritas rendah dapat<br />
mempengaruhi pengetahuan responden yang<br />
kurang.<br />
Selain itu, pengetahuan responden yang<br />
kurangjuga dapat di pengeruhi oleh faktorjenis<br />
pekerjaan. Dalam penelitian ini, di ketah ui bahwa<br />
lebih 50% responden mempunyai pekerjaan<br />
petani dengan pengetahuan kurang dengan<br />
proporsi yang paling besar dan responden yang<br />
bekerja sebagai PNS mempunyai proporsi yang<br />
paling kecil dengan pengetahuan yangcukup dan<br />
kurang. Hal ini juga berhubungan dengan tingkat
8 turnol Kesehatan'<strong>Wiraraja</strong> Medika,<br />
pendidikan, karena tingkat pendidikan seseorang<br />
akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaannya.<br />
Apabila tingkat pendidikan rendah, maka<br />
pekerjaan yang didapatkan kemungkinan besar<br />
akan sesuai dengan kemampuannya berdasarkan<br />
tingkat pendidikan yang didapatkan. 1.<br />
A Kesimpulan<br />
KESIMPUTAN DAN SARAN<br />
Berdaskan hasil penelitian dan pembahasan,<br />
dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden<br />
mempunyai pengetahuan kurang tentang penyakit<br />
hipertensi, yaitu berjumlah 30 orang (58,18% ) dan<br />
sebagian kecil responden mempunyai pengetahuan<br />
baik tentang penyakit hipertensi, yaitu berjumlah 3<br />
orang ( 6,8%1.<br />
B. Saran<br />
Saran yang dapat peneliti berikan berdasarkan<br />
hasil hasil penelitian dan pembahasan diatas adalah:<br />
7. Bagi Tenaga Kesehatan<br />
Bagi tenaga kesehatan yang ada di Kecamatan<br />
Ganding hendaknya lebih meningkatkan pengetahuan<br />
dengan cara penyuluhan tentang<br />
penyakit hipertensi.<br />
2. Bagi Masyarakat<br />
Bagi masyarakat di Kecamatan Ganding sebaiknya<br />
dapat menambah pengetahuan dengan<br />
banyak membaca buku ataupun media massa<br />
yang berhubungan dengan penyakit hipertensi.<br />
Atau para keluarga dapat lebih menanyakan lagi<br />
2.<br />
3.<br />
4.<br />
5.<br />
6.<br />
7.<br />
pada petugas kesehatan hal-hal yang<br />
berhubungan dengan penyakit hipertensi.<br />
KEPUSTAKAAN<br />
Mansjoer Arief, (20021. Kapita Setekta<br />
Kedokteran, Media Aesculapus,<br />
Jakarta.<br />
Nissonlen (2007). Pe nyo kit J a ntu n g Da n Stroke.<br />
Edsi rewisi. Jakarta.<br />
Persudi lmam. (1999). penyakit Jantung<br />
Hipertensi. Makalah Simposion.<br />
Semarang.<br />
Suprajitno. Asuhan Keperawatan Keluargo:<br />
aplikasi dalam praktik; editor, Monica<br />
Ester,- Jakarta : EGC, 2004.<br />
Hidayat, Aziz A. (2002). Riset Keperawotan Dan<br />
Tekhnik Penulisan llmioh, Selemba<br />
Medika. Jakarta.<br />
Nursalam, S (2001). pendekoton proktis<br />
Metodologi Riset Keperowotan.<br />
Jakarta. CV. lnfo Medika.<br />
Nursalam (2003). Konsep Don penerapan<br />
Metodelogi penelitian llmu<br />
Keperowatan pedoman Skripsi, Tesis<br />
Dan lnstrumens penelitian<br />
Keperawatan Edisi pertama -Jakarta:<br />
Salemba Medika.
HUBUNGAI\AI{TARA<br />
TIPE KEPRIBADIAN DENGAI\ TINGKAT<br />
KECEIVIASAI\ PADA WAI\TITA MENOPAUSE DI<br />
DESA BAI\GKAL WII-NTA}I KERJA PUSKESIVIAS<br />
PAIVTOLOICAI\ KABUPATEN SUMENEP<br />
TAH]N ?frIO<br />
Oleh:<br />
F|TR|AHT dan ENDANG SUS|IOWAT|2<br />
ABSTRACT<br />
Background: women who experience anxiety disorders at the time of menopause<br />
with a variety of individual personality - need the kind of clear informatioq especialy<br />
in women Premenopausal women so as not to interfere with anxiety when undergoing<br />
menopausenya phase, the reason to control the personality of the individual against<br />
anxiety disorders that will be experienced by menopausat women, one them is by<br />
not being closed with problems experienced in people who better understand both<br />
the famiV and community, by providing counseling through the heahh workers to<br />
better prepareourselves Premenopausalwomen on anxietydisorders, eitherphysical<br />
or psychological.<br />
Method: This research is an analytical study that aims to identifo correlative<br />
relationships between personalitytypes with menopause anxiety levelon women in<br />
the Puskesmas village of Bangkal pamolokan sumenep in 2010 by using a cross<br />
sectional study population and sample in this studywere menopausalwomen who<br />
followed in Posyandu in Bangkal village pamolokan sumenep 2010. According to<br />
inclusion criteria, is total sample of menopausal women 19 peoples. sampling<br />
Technique with non-probability sampling technique that is consecutive sampling.<br />
Result and conclussion: The hypothesis testing is done using the Mann-whitney<br />
test for nominaland ordinalscale variables, withAsymp.slg. < c yaitu,0.021< e05,<br />
H0 is rejected then experiments have shown that most (57.9%) menopausalwomen<br />
have choleris PersonalityType, the majority (6s.4%) menopausalwomen have a mild<br />
anxiety level, and thereThe relationship between personalitytypes with menopause<br />
anxiety level on women in the village of Bangkal posyandu puskesmas of pamolokan<br />
<strong>Sumenep</strong>2010.<br />
Keyrrords: Personality type, level of anxiety, anxiety disorders, menopausal women.<br />
1. Fitriah, S.ST: Dosen Prodi D.lll Kebidanan Fikes Unija <strong>Sumenep</strong> Madura<br />
2. Endang susilowati, s.sr: Dosen Prodi D.lll Kebidanan Fikes Unija sumenep Madura
10 t urnal Kesehatan olAliraraja Medikao<br />
PENDAHUTUAN<br />
Menopouse merupakan suatu tahap dimana<br />
wanita tidak lagi mendapatkan siklus menstruasi<br />
yang menunjukkan berakhirnya kemampuan wanita<br />
untuk bereproduksi. Ketika menopouse siklus yang<br />
tidak menentu dapat terjadi sewaktu-waktu dan<br />
bukan hal yang aneh jika menstruasi tidak datang<br />
selama beberapa bulanl. Di lndonesia jumlah wanita<br />
yang telah mengalami menopouse lelah mencapai<br />
30 juta oran& sementara di Jawa Timur mencapai 5<br />
juta orang yang berarti merupakan angka yang cukup<br />
tinggi. Sedangkan untuk Kabupaten <strong>Sumenep</strong> sendiri<br />
data lanjut usia wanita dari Dinas Kesehatan<br />
Kabupaten <strong>Sumenep</strong> sampai bulan Nopember 2009<br />
sebanyak 237Ljiwa.<br />
Secara normal wanita akan mengalami menopouse<br />
antara 40 tahun sampai 50 tahunl. Umur<br />
waktu terjadinya menopause dipengaruhi oleh<br />
keturunan, kesehatan umum, dan pola kehidupan.<br />
Ada kecenderungan dewasa ini untuk terjadinya<br />
menopause pada umur yang lebih tua2. Seorang<br />
wanita yang mencapai umur sekitar 45 tahun<br />
mengalami penuaan indung telur, sehingga tidak<br />
sanggup memenuhi hormon esterogen. Sitem<br />
hormonal seluruh tubuh mengalami kemunduran<br />
dalam mengeluarkan hormon. Perubahan pengeluaran<br />
hormon menyebabkan berbagai perubahan<br />
pada fisik dan psikis3. Fisik mengalami ketidaknyamanan<br />
seperti rasa kaku dan linu yang dapat<br />
terjadi secara tiba-tiba disekujur tubuh. Misalnya<br />
pada kepala, leher dan dada bagian atas. Kadang -<br />
kadang rasa kaku ini dapat diikuti dengan rasa panas<br />
atau dingin, pening kelelahan, jengkel, resah, cepat<br />
marah dan berdebar-debar.<br />
Beberapa gejala psikologis ya ng menonjol keti ka<br />
menopause adalah mudah tersinggung sukar tidur,<br />
tertekan, Bugup, kesepian, tidak sabar, tegang<br />
(tension), cemas dan depresi. Ada juga lansia yang<br />
kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik<br />
fisik dan seksual mereka tidak dibutuhkan oleh suami<br />
dan anak-anak mereka serta kehilangan ferminitas<br />
karena fungsi reproduksi yang hilang. Aspek<br />
psikologis yang terjadi pada lansia atau wanita<br />
menopduse sangat penting peranan dalam kehidupan<br />
sosial lansia terutama dalam menghadapi<br />
masalah-masalahr.<br />
Untuk menghindari perubahan dan gejolak jiwa<br />
menghadapi klimakterium sampai senium berdasar<br />
atas keharmonisan keluarga dan saling pengertian.<br />
Di tengah keluaraga yang harmonis kesiapan<br />
menerima proses penuaan makin besar tanpa<br />
menghadapi gejolak klinis yang berarti3. Motivasi<br />
atau d uku nga n informatif, emosional, pengha rgaan<br />
dan instrumental merupakan cara mengatasi<br />
gangguan psikologis pada ibu yang mengalami<br />
menopaus{.<br />
Berdasarkan survey pendahuluan yang telah<br />
dilakukan pada tanggal 8 - 11 Desember 2010 di<br />
Desa Bangkal Wilayah Kerja Puskesmas Pamolokan<br />
Kabupaten <strong>Sumenep</strong> dari 22}4jumlah penduduk<br />
wanita didapatkan 569 wanita usia 40-60 tahun dan<br />
95 orang yang masih aktif dblam kegiatan posyandu<br />
lansia diantaranya sudah menopouse, kemudian<br />
dilakukan wawancara dengan 10 orang darijumlah<br />
tersebut tentang keadaannya sekarang dalam<br />
menjalani masa tua. Diantara 10 orang, 3 orang<br />
mengatakan mendapatkan dukungan dari keluarganya<br />
sehingga mereka merasa baik - baik saja<br />
dalam menjalani masa tuanya, 7 orang lainnya<br />
mengatakan kurang baik karena mereka harus<br />
menjalani kehidupannya sendiri dan memenuhi<br />
kebutuhan hidupnya seorang diri, dari 7 orang<br />
tersebut 4 diantaranya mengalami perasaan takut<br />
serta memiliki tipe kepribadian sanguinis dan tipe<br />
kepribadian choleris, cemas terhadap penerimaan<br />
menopause dan kehilangan salah seorangyang ada<br />
disampingnya, 3 orang lainnya memiliki tipe<br />
kepribadian plegmatis dan mengalami konflik<br />
emosional yang mendorong wanita mau dikendalikan<br />
oleh norma budaya bahwa wanita yang<br />
sudah menopause pasangannya akan berpaling<br />
meninggalkannya sendiri.<br />
BAHAN DAN CARA PENETITIAN<br />
Jenis penelitian menggunakan rancangan cross<br />
sectionaF yaitu suatu penelitian untuk mempelajari<br />
dinamikan korelasiantara fakto risiko dengan efek,<br />
dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan<br />
data sekaligus pada suatu saat. Artinya tiap<br />
subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan<br />
pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau<br />
variable subjek pada saat pemeriksaan, berdasarkan<br />
tujuan penelitian termasuk jenis rancangan analitik<br />
correlational dengan menggunakan uji monn<br />
whitnet''6.
t wn al Ke*ffian ltl i raraj a Med ikf<br />
Gambar 1 : Kerangka Konseptual Penelitian<br />
Keterangan :<br />
: diteliti<br />
: tidak diteliti<br />
1. Umur Responden<br />
I<br />
Input hocess<br />
HASIT PENETITIAN<br />
Tabel 1: Distribusi frekwensi berdasarkan karakteristik<br />
umur responden pada wanita<br />
menopause di posyandu lansia Desa<br />
Bangkal wilayah kerja puskesmas<br />
Pamolokan.<br />
Umur (tahun) . Prosentase<br />
FreKvyensl<br />
%<br />
t.<br />
2.<br />
40 -45<br />
46- 60<br />
l.urt'e40- 60 Th<br />
alrJhlta manop$se<br />
3.Tipe lGpibadian<br />
i l.saana i<br />
I<br />
11<br />
42,1<br />
57.9<br />
Jumlah 100<br />
Sumber : Data primer penelitian tahun 2010<br />
Berdasarkan tabel 1 dapat diinterpretasikan<br />
bahwa sebagian besar (57,9%) responden<br />
berusia antara 46 - 6Dtahun.<br />
OuFut Ourcome<br />
Adetasi i<br />
2. Tingkat Pendidikan Responden<br />
Tabel 2: Distribusi frekwensi berdasarkan karak_<br />
teristik tingkat pendidikan responden<br />
pada wanita menopause di posyandu<br />
lansia Desa Bangkal wilayah kerja<br />
Puskesmas pamolokan.<br />
I<br />
I<br />
I<br />
I<br />
--l<br />
No pendidikan Frekwensi Prosentase<br />
2SD<br />
3 SMP<br />
4 SMA<br />
Sumber: Data primer penelitian tahun 2010<br />
6<br />
7<br />
6<br />
d<br />
31,6<br />
36,8<br />
31,6<br />
Berdasarkan tabel 2 dapat diinterpretasikan<br />
bahwa hampir setengah (96,9%l tingkat<br />
pendidikan responden adalah SMp.
12 turnal Kesehoton llllraraja Medika'<br />
3. Pekeriaan Responden<br />
Tabel 3: Distribusifrekvvensiberdasarkankarakteristik<br />
jenis pekerjaan responden pada wanita mene<br />
pause di posyandu lansia Desa Bangkal<br />
wilayah kerja Puskesmas Pamolokan.<br />
- Prosentase<br />
Pendidikan I-rekwensi<br />
%<br />
1. lbu rumah tangga<br />
2 Petani<br />
3 Wiraswasta<br />
Jumlah<br />
Sumber : Data primer penelitian tahun 2010<br />
11<br />
3<br />
5<br />
57,9<br />
1 5,8<br />
26,3<br />
100%<br />
Berdasarkan tabel 3 dapat diinterpretasikan<br />
bahwa sebagian besar (57,9%) responden jenis<br />
pekerjaan adalah ibu rumah tangga.<br />
4. Tipe Kepribadian pada Wanita Menopause<br />
Tabel 4: Distribusi frekwensi berdasarkan tipe<br />
kepribadian pada wanita menopause di<br />
Posyandu Lansia Desa Bangkal Wilayah<br />
kerja Puskesmas Pamolokan.<br />
Tipe<br />
Kepribadian<br />
1. Sanguinis<br />
2 Pleghmatis<br />
3 Choleris<br />
4 Melankolis<br />
19<br />
Jumlah 19 100%<br />
Sumber : Data primer penelitian tahun 2010<br />
Berdasarkan tabel 5.4 dapat diinterpre-<br />
tasikan bahwa sebagian besar respon den (57 ,9Yol<br />
memiliki tipe kepribadian choleris.<br />
5. Tingkat Kecemasan Pada Wanita<br />
Menopause<br />
Tabel 5: Distribusi frekwensi berdasarkan tingkat<br />
kecemasan pada wanita menopause di<br />
Posyandu Desa Bangkal Wilayah kerja<br />
Puskesmas Pamolokan.<br />
Tingkat<br />
Kecemasan<br />
1. Cemas Ringan<br />
2 Cemas Sedang<br />
- Prosentase<br />
I-rekwensi oh<br />
2<br />
2<br />
11<br />
4<br />
10,5<br />
10,5<br />
57,9<br />
21,1<br />
. Prosentase<br />
f-rekwensl oh<br />
13<br />
6<br />
68,4<br />
31,6<br />
Jumlah 19 10006<br />
Sumber : Data primer penelitian tahun 2010<br />
Berdasarkan tabel 5 dapat diinterpretasikan<br />
bahwa sebagian besar (68,4%) responden<br />
memiliki tingkat kecemasan ringan.<br />
6. Tabulasi Silang Hubungan antara tipe<br />
Kepribadian dengan Tingkat Kecemasan<br />
pada wanita Menopause.<br />
Tabel6: Tabulasi silang distribusi frekwensi<br />
hubungan antara tipe kepribadian dengan<br />
tingkat kecemasan pada wanita menopause<br />
di Posyandu Lansia Desa Bangkal<br />
Wilayah Kerja Puskesmas Pamolokan.<br />
Tipe<br />
Kepribadian<br />
Sanguinis<br />
Phlegmatis<br />
Choleris<br />
Melankolis<br />
Total Tingkat<br />
Kecemasan<br />
n<br />
\ oe,o 6 3'1,6 1e roo<br />
Tingkat Kecemasan Total Tipe<br />
Ringan Sedang<br />
d b n<br />
002<br />
150 1<br />
8 72,7 3<br />
41000<br />
d ,o n<br />
100 2<br />
502<br />
27,3 lt<br />
04<br />
kepribadian<br />
d IO<br />
100<br />
100<br />
100<br />
'100<br />
Berdasarkan tabel 6 dapat di interpretasikan<br />
bahwa dari tipe kepribadian choleris sebagian<br />
besar (7 2,7Yo) memiliki tingkat kecemasan ringan<br />
dan hampir setengah (27,3To1memiliki tingkat<br />
kecemasan sedang, sedangkan tipe kepribadian<br />
plegmatis setengah (50%) memiliki tingkat<br />
kecemasan ringan, setengah (50%) memiliki<br />
tingkat kecemasan sedang.<br />
Menurut hasil uji menurut Mann-Whitney,<br />
diperoleh hasil Asymp. Sig. < a yaitu, 0.021 <<br />
0,05, maka Ho ditolak. Artinya ada hubungan<br />
antara tipe kepribadian dengan tingkat kecemasan<br />
pada wanita menopause di posyandu<br />
lansia desa Bangkal wilayah kerja Puskemas<br />
Pamolokan.<br />
{ ,i<br />
I a<br />
I<br />
I<br />
I
turnal Kesehatan'Wiraraia Medika" 13<br />
7. Analisa Hubungan Antara Tipe<br />
Kepribadian dengan Tingkat<br />
kecemasan padaWanita Menopuse di<br />
Posyandu Lansia Desa Bangkal<br />
Wilayah kerja puskesmas Pamolokan<br />
kabupaten <strong>Sumenep</strong> Tahun 2010.<br />
1.<br />
h{ann*Wb*tneE tr"r<br />
kWl*nx** US<br />
7"<br />
scymp.SiS" #{*lts$<br />
$$a*t #ig. tf*{* -t*ilsd<br />
*is:l:<br />
?*sfi #dfl*eb<br />
a. &st esrne*ted &r$ss.<br />
KfiFRWNNM<br />
h. #r*xpin$ V*#*h**: KESEHASAP*<br />
Ni,,t<br />
rs,$$*<br />
$&.$0s<br />
-?.*fl$<br />
.ff?1<br />
.[3S*<br />
Menurut hasil uji menurut Monn - Whitney,<br />
diperoleh hasil Asymp. Sig.< s yaitu, 0.021 <<br />
0,05, maka H0 ditolak. Artinya ada hubungan<br />
antara tipe kepribadian dengan tingkat kecemasan<br />
pada wanita menopause di posyandu<br />
lansia desa Bangkal wilayah kerja Puskemas<br />
Pamolokan.<br />
Hasil uji tersebut sangat kuat karena diperoleh<br />
hasil Asymp. Sig. < s yaitu, 0.021 <<br />
0,05, maka Ho ditolak. Artinya ada hubungan<br />
antara tipe kepribadian dengan tingkat<br />
kecemasan pada wanita menopause.<br />
PEMBAHASAN<br />
Tipe Kepribadian pada Wanita Menopause<br />
Dari hasil penelitian didapatkan sebagian<br />
besar responden (57,9Yo1memiliki tipe kepribadian<br />
choleris, sedangkan hampir setengah<br />
responden (Z!,tYol memiliki tipe kepribadian<br />
melankolis di posyandu lansia desa Bangkal<br />
wilayah kerja Puskemas Pamolokan. lndividual<br />
periode menopause pada wanita sebagian besar<br />
dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing<br />
individu, struktur kepribadian pada seorang<br />
wanita menopause yang terintegrasi dengan<br />
baik akan mempengaruhi secara positif proses<br />
2.<br />
gangguan fisiologi dan psikis pada wanita yang<br />
sudah menopause dalam bentuk perbuatan yang<br />
baik,secara emosionaldi lingkungan maupun di<br />
masyarakat.(dr.kartini kartono, 2007)<br />
Hal ini disebabkan tipe kepribadian masing-<br />
masing individu yang sering mendasari dalam<br />
kehidupan sehari-hari kurangnya bersosialisasi<br />
antara masyarakat dan keluarga, perasaan<br />
cemas yang berlebihan, kurangnya cara berintera,ksi<br />
dan ber,komunikasi di dalam maupun<br />
diluar lingkungan, cenderung egois dan berdampak<br />
pada gangguan fisiologi dan gangguan<br />
kecemasan psikis wanita dalam menopause.<br />
lni juga karena kurangnya pengetahuan<br />
wanita menopause dan keluarga mengenai<br />
tanda-tanda menopause dan dampak meno-<br />
pause dengan gangguan kecemasan menopause,<br />
karena hampir setengah (36,8%l dari mereka<br />
tingkat pendidikannya rendah (SMP).<br />
Pendidikan merupakan tingkat dasar<br />
pengetahuan intelektual yang dimiliki<br />
seseorang. Pendidikan merupakan modal dasar<br />
dalam rangka pengembangan sikap dan<br />
ketrampilan. Pendidikan dianggap sebagai<br />
suatu hal yang dapat mempengaruhi<br />
seseorang untuk mengetahui tentang menopause<br />
Semakin tinggi pendidikan seseorang<br />
maka semakin tinggi pula pengetahuannya dan<br />
dia akan dapat memutuskan apa yang terbaik<br />
bagi dirinya (Bagus, 2008).<br />
Karena tingkat pendidikan yang hanya<br />
sebatas SMP itulah yang menyebabkan wanita<br />
kurang memahami tentang tanda menopause,<br />
dampak menopause,dan kesiapan mental atau<br />
psikis wanita dalam menjalani menopause,<br />
apalagi jika mereka mengungkapkan masalahnya<br />
pada tenaga kesehatan atau bidan yang ada di<br />
lingkungannya tentang yang di butuhkan karena<br />
pendidikannya yang rendah akibatnya pada saat<br />
menjalani menopause di masa lansia dirinya<br />
merasa cemas berlebihan (depresi) karena takut<br />
kehilangan.merasa di tinggal oleh keluarga<br />
terdekat.<br />
Tingkat Kecemasan pada Wanita<br />
Menopause<br />
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan<br />
sebagian besar (68,4%) respondeh tingkat
14 t urnol Kesehatan "llliraraja Medika,<br />
kecemasan ringan di posyandu lansia desa<br />
Bangkal wilayah kerja Puskesmas Pamolokan.<br />
Kecemasan yang terjadi pada individu di<br />
pengaruhi oleh perasaan gelisah yang sifatnya<br />
umum di mana seseorang merasa ketakutan<br />
atau kehilangan kepercayaan diri yangtidak jelas<br />
asal maupun wujud dari kecemasan pada wanita<br />
yang menjalani menopause dengan tingkat<br />
kecemsan ringan apabila dibiarkan akan memiliki<br />
resiko yang lebih besar untuk menderita gangguan<br />
kecemasan berat (depresi) sehingga<br />
berdampak pada fisiologi wanita menopause<br />
serta psikis wanita menopause yang rentan<br />
dengan gangguan kecemasan dalam menjalani<br />
masa menopause.<br />
Faktor penyebab wanita menopause mengalami<br />
kecemasan yaitu perubahan status,<br />
adanya kegagalan, kematian, perceraian,<br />
tekanan budaya, adanya perpisahan, mempunyai<br />
penyakit yang tiba-tiba mendadak tubuh<br />
terasa tidak punya gairah hidup dan perubahan<br />
status sosial ekonomi yang seringkali menjadi<br />
penyebab utama psikis wanita dalam mengha-<br />
dapi menopause (carpenito 1998).<br />
Hal ini dapat membuktikan bahwa tingkat<br />
kecemasan pada wanita menopause adalah<br />
karena takut kehilangan dengan pasangan<br />
hidupnya, adanya kebutuhan seksual yang makin<br />
berkurang,kematian serta rasa trauma dan<br />
gelisah sehingga berdampak pada wanita<br />
menopause rentan mengalami gangguan kecemasan<br />
oleh karena itu hendaknya wanita<br />
sebelum mengalami masa menopause wanita<br />
lebih aktif lagi bertanya pada bidan ataupun<br />
tenaga kesehatan lainnya tentang bagaimana<br />
tanda-tanda menopause, apa faktor kecemasan<br />
yang terjadi pada wanita rnenopause<br />
Selain itu, faktor lain yang dapat menjadi<br />
penyebab terjadinya gangguan kecemasan pada<br />
wanita menopause yaitu karena sebagian besar<br />
(57,9%l jenis pekerjaannya sebagai ibu rumah<br />
tangga.<br />
Pekerjaan adalah kebutuhan yang harus<br />
dilakukan untuk menunjang kehidupan keluarga.<br />
Bekerja umumnya hal yang meyita waktu<br />
sehingga dapat mempengaruhi hal-hal lain<br />
termasuk juga dalam hal mengetahuisesuatu di<br />
luar pekerjaan dan pekerjaan dapat digunakan<br />
sebagai tempat untuk bersosialisasri.dan bertukar<br />
informasi (Nursalam dan pariani, 2OO1).<br />
Karena wanita hanyalah sebagai ibu rumah<br />
tangga, maka wawasannya menjadi lebih<br />
sempit, pengetahuannya terbatas karena hanya<br />
dapat bertukar pendapat dengan tetangganya<br />
yang juga wawasann)ra sempit karena tidak<br />
bekerja juga. Sehingga apa yang menjadi<br />
pengalaman tetangganya yang belum tentu jelas<br />
benar yang sesuai dengan tanda-tanda menopause<br />
dengan gangguan kecemasan tersebut<br />
ditiru oleh wanita yang menopause dalam<br />
kehidupannya tanpa memperhatikan kondisinya<br />
nanti.<br />
3. Hubungan Antara Tipe Kepribadian<br />
dengan Tingkat kecemasan pada<br />
Wanita Menopause<br />
Berdasarkan Hasil tabulasi silang didapatkan<br />
bahwa responden yang memiliki tipe kepribadian<br />
choleris sebagian besar (72,7yo) dan sebagian<br />
besar (68,4/o) mempunyai masalah dengan<br />
tingkat kecemasan ringan pada wanita menopause.<br />
Menurut hasil uji menurut Mann -<br />
Whitney, diperoleh hasil Asymp. Sig. < s yaitu,<br />
O.O2! < 0,05, maka Ho ditolak. Artinya ada<br />
hubungan antara tipe kepribadian dengan<br />
tingkat kecemasan pada wanita menopause.<br />
Hal yang harus diperhatikan dalam setiap<br />
kepribadian masing-masing individu yang mengalamigangguan<br />
kecemasan pada wanita menopause<br />
hormon yang mempengaruhi pada saat<br />
datangnya menopause yang berarti berhentinya<br />
haid secara alami akan diikuti oleh beberapa<br />
kondisi, antara lain penyakit dan kondisi psikis yang<br />
labilyang berdampak pada gangguan kecemasan<br />
wanita menopause. pada saat menopause<br />
datang, hormon estrogen paling berpengaruh<br />
oleh tubuh, Menurunnya estrogen saat menopause,<br />
bukan tak mungkin diikuti pula oleh<br />
beberapa penyakit. Antara lain, alzheimer alias<br />
pikun pada wanita yang menopause.<br />
Perubahan-perubahan fisik dan psikis dalam<br />
kepribadian,pergeseran tersebut mengakibatkan<br />
suatu krisis dalam tingkat kecemasan yang<br />
berlebihan yang berpengaruh pada gangguan<br />
jiwa pada wanita menopause yang di sebut<br />
parafrenia atau merupakan gangguan jiwa yang<br />
pertama kali timbul pada lanjut usia (lansia)<br />
a<br />
{ dI<br />
I H<br />
I<br />
AI<br />
p<br />
I T<br />
t<br />
I
tunsl l(*fun atfi mrafu Fdedi*o" 15<br />
misalnya paranoid {curiga} di satu pihak dan<br />
gangtpn depresif di pihak lain hbih seringterjad:<br />
pada wanita dengan kepribadian pramorbidnya<br />
)*eeieezsebe)uszt-;e*)l)-rehinJgsaderlial<br />
kesehatan qanita dengan tingkat kecernasan<br />
yang berlebihan rnakin menurun sernangat hidup<br />
rnakin berkurang {green berger padesky 2{X}4,<br />
2oel<br />
Wanita dengan gangguan kecemasan pada<br />
kepribadian individu mereka umumnya mengalarni<br />
kecemasan di rnasa menopause, selain<br />
karena kurangnya wawasan, karena hanya<br />
mereka dapatkan dari informasi atau saran<br />
tetangga yang belum tentu infomasi yang di<br />
berikan tidak seminimal petugas kesehatan<br />
memberikan penyuluhan tentang rnenopause,<br />
tidak hanya itu kelemahan dari kepribadian<br />
koleris kepekaan sosial yang kurang seirnbang<br />
dengan ernosional indMdu tersebutn kendala<br />
petugas kesehatan dalarn mernberikan konseling<br />
-tenlang menoliause, slihingga UeiOampak pada<br />
saat individu tersebut mengalami rnenopause,<br />
merasakan gangguan kecemasan yang berle-<br />
bihan yang berujung pada tingkatan depresi serta<br />
bisa rnengalami pnguan jiwa atau blsa disebut<br />
parafrenia.<br />
A Kesimpulan<br />
KESIMPUIAN DAN SARAIII<br />
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil<br />
penelitian tentang hubungan antara dengan<br />
Tingkat kecemasan pada wanita menopause di<br />
posyandu lansia desa Bangkal wilayah kerja<br />
Puskemas Pamolokan kabupaten <strong>Sumenep</strong><br />
tahun 2010 iniadalah:<br />
1. Sebagian besar wanita menopause di<br />
posyandu lansia desa Bangkal memilikitipe<br />
kepribadian choleris.<br />
2. Sebagian besar wanita rnenopause di posyandu<br />
lansia desa Bangkal memiliki tingkat<br />
kecemasan ringan.<br />
3. Ada hubungan antara tipe kepribadian<br />
dengan tingkat kecemasan pada wanita<br />
menopause diposyandu lansia desa Bangkal<br />
wilayah kerja puskemas pamolokan kabupaten<br />
<strong>Sumenep</strong> tahun 2010.<br />
B. Saran<br />
1. Eagi Ternpat Penelitian<br />
Pada tempat pendjtiaz. henda*n;ua snem.insrkatkan<br />
kualitas pelayanan pada poslandu lansia<br />
terutama saat penyuluhan pada lansia yang<br />
menjalani rnenopause terutama bagi wanita<br />
prernenopause sehingga dapat lebih mernpeniapkan<br />
diri untuk melewati fase menopause<br />
dengan lebih nyaman. Karena gangguan<br />
kecemasan cepat atau larnbat akan datang;<br />
rnaka perlu dibekali dengan informasi dan<br />
penyuluhan yang benar. Walaupun gangguan<br />
kecemasan yangtejadi rinpn apabila dibiarkan<br />
akan meningkat ke levelyang lebih berat.<br />
2" Bagi Masyarakat<br />
$$anitatansra dapat mencan rnlormasl tentang<br />
menopause dengan gangguan kecemasan yang<br />
tepat untuk dhinga sebelum gangguan kece.<br />
n'atenvlos3ElaqlgRlrR.q++ssEri#<br />
terlalu berat untuk ditangani oleh dirinya<br />
rnaupun keluarga.<br />
KEPUSTAKAAT{<br />
1. Ali Baziad. Zffi3.Menopause dan Andropause.<br />
Jakarta: yBp-Sp<br />
2. Pakasi, levina S. ZOffi. Menopouse : Mosalah<br />
don penanggulangannyo. Jakarta :<br />
Balai penerbit FKUI.<br />
3. Manuaba, lBG.1g99. Memohsmi Kesehatan<br />
Reprod uksi Wsn its. Jakarta : Arcan.<br />
4. Kartini Kartono. 2ffi7. psikologi Wanita Jilid 2<br />
Mengenal Wsnita Sebogoi tbu don<br />
Nenek- gandung.CV. Mandar Maju.<br />
5. Nursalam. 2003. Konsep dan peneropon<br />
Metodologi penelitian Hmu<br />
Keperowaton. Jakarta : salernba<br />
Medika<br />
5. Soekidjo Notoatmodjo. 2005. Metodotagi<br />
Penelitian Kesehafon. Jakarta : Rineka<br />
Cipta.
HUBUNGAI\ MEKAI\I SME KOPING<br />
INDIVIDU DENGAI\I KECEMASAI\ DAI-AM<br />
MENGHADAPI PROGRAM PROFESI NERS<br />
MAHASIS\TA STIKES WIRA HUSADA<br />
YO GYAI(ARIA TA}IUN 2OO7 .2008<br />
Oleh:<br />
SYAIFURRAHMAN H|DAYATI dan DIAN tKA pUSptTASARt2<br />
ABSTRACT<br />
Background; Apprehension is a response ofthe threat from the unknown source,<br />
lnternal, indistinct or confliction. Coping mechanism is a way that individual has to<br />
solve the problem, to adapt with the change, and also to threaten situation. The<br />
student who facing nurse profession program always have apprehension. where the<br />
apprehension thatthe students have is the students fill afraid and panic if they think<br />
that they are failed when they must take care their patients, that is a stressor that<br />
they never knowledgeable.<br />
Purpose; The purpose of the research is to know the relationship between individual<br />
coping mechanisms with the apprehension in facing nurse profession program,s<br />
students STIKES Wira Husada Yogyakarta"<br />
Method; Using quantitative research with plan of descriptive analytic research with<br />
cross sectional approach. To evaluate individual coping mechanism scale and<br />
apprehension is using instrument with questioner which is given to the respondent.<br />
This research is held on April 2008. The data analysis which is use is person product<br />
Moment formula to know the relationships between individual coping mechanisms<br />
with apprehension in facing nurse profession program.<br />
Resulu Respondent who use adaptive coping mechanism is 95.3% and who have<br />
reaction with maladaptive is 4.7%. while apprehension which is filed by the<br />
respondent are25,60/o experiencing light in weight apprehension, 5g,15 respondent<br />
experiencing serious apprehension, and 4,7Yo respondent experiencing panig so the<br />
result of the correlation of the research have a achieve O,464Yowiththe significant<br />
result is (p)=0,05 which clarifying that it has a relation between individual coping<br />
mechanisms wit apprehension in facing nurse profession programt students of STIKES<br />
Wira Husada Yogyakarta.<br />
Conclusion; There is a existence of the significance relation between individual<br />
coping mechanisms with apprehension in facing nurse profession program, in which<br />
1. syaifurrahman Hidayat, s.Kep, Ns: Dosen prodi s.1 Keperawatan Fikes Unija<br />
<strong>Sumenep</strong> Madura<br />
2. Dian lka Puspitasari, S.Kep, Ns: Ka.Prodi S.1 Keperawatan Fikes Unija <strong>Sumenep</strong><br />
Madura<br />
16<br />
E<br />
5 Frl<br />
ttl<br />
- fr<br />
H<br />
t<br />
i
Jurns! Keseh atan'Ulfl rarujo Medkao 1V<br />
extra adaptive which use in coping mechanisrn by the students as a result the level of apprehension will be<br />
reduce and ever rnore of rnaladaptive cope mechanism which is the students employ as a result the<br />
apprehension will be increase.<br />
Keynmrd; lndividualcoping mechanism, Apprehension, Nurse profession program<br />
PENDAHULUAN<br />
Kecemasan muncul ketika orang menghadapi<br />
bahaya atau stressor Stres dan kecemasan merupakan<br />
bagian dari kehidupan manusia, rnerupakan<br />
gejala nornral. Faktor-faktoryang dapat menirnbulkan<br />
stress disebut stressorl. Stress memiliki ciri identik<br />
dengan perilaku beradaptasi dengan lingkungan,<br />
lingkungan ini bisa berupa hal diluar din (auter world)<br />
tetapi juga bisa dari dalam diri (inner wortd) jadi orang<br />
dikatakan adaptif bila individu bisa atau mampu<br />
menyesuaikan diri dengan tuntutan orang lain, tetapi<br />
individu juga bisa rnemenuhi kebutuhan sendiri2.<br />
Koping yang efektif rnenghasilkan adaptasi yang<br />
menetap yang rnerupakan kebiasaan baru dan<br />
perbaikan dari situasi yang lama, sedangkan koping<br />
yang tidak efektif berakhir dengan perilaku<br />
maladaptif yaitu perilaku yang menyimpang dari<br />
keinginan normative dan dapat merugikan diri<br />
sendirimaupun orang lain atau lingkungan3.<br />
Di Yogayakarta Sekolah Tinggi llmu Kesehatan<br />
STlKtS Wira Husada merupakan Sekolah'Iinggi llmu<br />
Kesehatan swasta yang pertama kali berdiri. STIKES<br />
Wira Husada ini telah meluluskan mahasiswa<br />
program studi keperawatan pendidika n kesarjanaan<br />
untuk pertama kalinya pada tahun 2OO5-20O7<br />
sebanyak 199 mahasiswa sebagai sarjana keperawatan,<br />
dimana 58 diantaranya mengikuti program<br />
Profesi Pra Ners (PPN) tetapi hanya 48 sarjana<br />
keperawatan yang menempuh prograrn profesi<br />
ners.<br />
Berdasarkan studi pendahuluan di bulan September<br />
2O07 dengan cara observasi dan wawancara<br />
pada mahasiswa program profesi ners, ditemukan<br />
beberapa masalah yangtelah di ungkapkan oleh 12<br />
mahasiswa, bahwa pada saat pertama kalainya<br />
mengikuti praktek klinik di rumah sakit, mahasiswa<br />
merasa ketakutan dan panik jika mengalami<br />
kegagalan dalam tindakan asuhan keperawatan<br />
kepada klien. Disamping itu juga mahasiswa merasa<br />
bingung ketika harus melakukan tindakan asuhan<br />
keperawatan kepada klien, bahkan mahasiswa<br />
mengungkapkan bahwa ada mahasiswa yang lari<br />
dari tugas dalam rnelakukan praktek asuhan<br />
keperawatan kerena panik hingga mengalami<br />
ketegangan dalam bentuk gelisah dan gernetar.<br />
Mahasiswa mengatakan stress dengan teguran atau<br />
didikan dari perawat rumah sakit (instruktur klinik)<br />
yang terkesan keras kepada mahasiswa prograrn<br />
profesi ners saat paraktek.<br />
Keadaan dimana mahasiswa pertama kali<br />
rnenglkuti program profesi ners dapat dianggap<br />
sebagai stressol kecemasan yang terjadi pada<br />
rnahasiswa dapat mempengaruhi mentalnya<br />
sehingga dapat menirnbulkan stress dan berpengaruh<br />
terhadap kernampuan berfikir mahasiswa.<br />
Bila cernas yang berlangsung lama dan terus<br />
menerus, akan menyebabkan ketegangan pada<br />
mahsiswaa.<br />
Pengalaman kecemasan yang tidak mereda<br />
dapat melumpuhkan, mengganggu tiap aspek<br />
kehidupan, termasuk fungsi sosial, pekerjaan dan<br />
psikologis. Perubahan mendadak pada tingkat<br />
kecemasan dapat mengarahkan orang yang terkena,<br />
mencari bantuan medis atau psikiatri lebih<br />
cepat5. Masalah kecemasan yang sering kali terjadi<br />
ditemuipada lingkungan baru, banyak halpara ahli<br />
atau peneliti yang mengadakan penelitian tentang<br />
faktor-faktor yang dapat menyebabkan kecemasan,<br />
dimana faktor kecemasan telah dianggap sebagai<br />
bagian dari hidup yang tidak akan lepas dari berbagai<br />
masalah sehari - hari, sehingga faktor kecemasan<br />
akan dialamisaat mahasiswa program profesi ners<br />
melakukan praktek keperawatan di rumah sakit,<br />
klinik atau di masyarakat.<br />
BAHAN DAN CARA PENELTTIAN<br />
Penelitian ini merupakan penelitian descriptive<br />
analitik dengan menggunakan pendekatan cross<br />
sectionol, penelitian ini termasuk penelitian<br />
kuantitatif. Dalam penelitian ini pengambilan<br />
sampel menggunakan rondom sampling'. peng-<br />
olahan data pada penelitian inimenggunakan tehnik<br />
korelasi product moment dari personT.
18 t urnal Kesehaton'Wiru raid Medika',<br />
HASIL PENELITIAN<br />
1. Karakteristik responden<br />
Responden dalam penelitian ini sebayak 43<br />
sampel pada mahasiswa program profesi ners<br />
tahun akademik 2OO7/2O08 yang merupakan<br />
angkatan pertama di STIKES Wira Husada<br />
Yogyakarta.<br />
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti<br />
didapat data karakteristik responden yang akan<br />
disajikan sebagai berikut;<br />
Table 1 : Distribusi Fnekuensi Responden Berdasarkan<br />
Jenis Kelamin<br />
No lenis Kelamin fumlah Prosentase<br />
1 Laki-laki<br />
2 Perempuan<br />
Total<br />
Dari tabel satu dapat kita ketahui bahwa<br />
responden yang berjenis laki-laki sebanyak 9<br />
orang (20,94%l dan yang berjenis perempuan<br />
sebanyak 34 orang (79,06%).<br />
Tabel 2 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan<br />
Pendapatan Kepala Keluarga<br />
No Pendapatan Kepala<br />
Keluarga<br />
1 < 1.000.000<br />
2 1.000.000 - 2.000.000<br />
3 3.000.000 - 4.000.000<br />
4 > 5.000.000<br />
Total<br />
9<br />
34<br />
4t<br />
2O,94olo<br />
79,06%<br />
100%<br />
fumtah ttffi*<br />
2<br />
34<br />
3<br />
4<br />
43<br />
4,7%<br />
79,1oh<br />
6,golo<br />
9,3%<br />
100%<br />
Dari tabel dua didapat pendapatan kepala<br />
keluarga per bulan Rp. 1.000.000 - Rp.<br />
2.000.000 sebanyak 34 orang (79,Io/ol dan<br />
pendapatan kepala keluarga < Rp. 1.000.0000.<br />
sebanyak 2 orang (4,7%).<br />
2. Mekamisme koping individu<br />
Berdasarkan hasil penelitian dengan<br />
kuesioner didapat data mekanisme koping<br />
individu pada mahasiswa dalam menghadapi<br />
program profesi ners di STIKES Wira Husada<br />
Yogyakrta, dengan dikelompokkan pada tabel<br />
berikut;<br />
Tabel 3 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan<br />
Mekanisme Koping lndividu<br />
N" M*!,AitIt fumtah prosentase<br />
1 Adaptif 41 95,3%<br />
Represi 30 69,7%<br />
Supresi 39 90,60l"<br />
Rasionalisasi j2 74,4olo<br />
lntelektualisasi 28 65,4ol"<br />
Proyeki 39 90,6"10<br />
2 Maladaptif Z 4,7%<br />
Fikasi 32 74,4olo<br />
Regresi 1 6 37,2olo<br />
Menarik diri 26 60,4o10<br />
Mengelak 7 16,2%<br />
Total 43 100%<br />
Dari tabel tiga didapat bahwa mekanisme<br />
koping individu pada responden penelitian<br />
sebagian besar responden bereaksi positif<br />
(adaptif) dalam menghadapi program profesi<br />
ners sebanyak 41 orang (95,3%l dengan mekanisme<br />
koping adaptif yang digunakan yaitu<br />
supresi dan proyeksi sebanyak 39 orang(9O,6%l<br />
dan hanya 2 orang (4,7o/ol responden yang<br />
bereaksi negatif (maladaptif) dengan mekanisme<br />
koping maladaptif yang digunakan yaitu<br />
fiksasi sebanya 32 orang (74,4o/ol.<br />
3. Kecemasan mahasiswa dalam menghadapi<br />
program profesi nens<br />
Berdasarkan hasil penelitian dengan<br />
kuesioner didapat data kecemasan pada<br />
mahasiswa dalam menghadapi program profesi<br />
ners di STIKES Wira Husada yogyakarta, dengan<br />
dikelompokkan pada tabel berikut;<br />
Tabel 4: Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan<br />
Kecemasan dalam Menghadapi program<br />
Profesi Ners<br />
No Kecemasan _ fumlah Prosentase<br />
1 Tidak Cemas<br />
2 Kecemasan ringan<br />
3 Kecemasan sedang<br />
4 Kecemasan berat<br />
5 Panik<br />
Total<br />
ll<br />
25<br />
5<br />
2<br />
43<br />
0%<br />
25,6olo<br />
.59,17o<br />
11,6%<br />
4,7olo<br />
100%<br />
rll tI
htmal Kesehatan TtliruraJa Medikd' 19<br />
Daritabel4 didapat bahwa kecemasan dalam<br />
menghadapi program profesi ners sebagian besar<br />
responden mengalami cemas dengan tingkatan<br />
cemas yang diperoleh yaitu dengan kecemasan<br />
ringan sebanyak ll orang (25,6To1, kecemasan<br />
sedang sebanyak 25 orang (58,7%), kecemasan<br />
berat sebanyak 5 orang (11,6%) dan panik<br />
sebanyak 2 orang (4,7%1.<br />
4. Hubungan mekanisme koping individu<br />
dengan kecemasan dalam menghadapi<br />
program profesi ners<br />
Bedasarkan hasil korelasi dengan mengguna-<br />
kan sistem komputerisasi, dimana untuk menghitung<br />
besarnya korelasi peneliti menggunakan<br />
koefisien korelasi bivariat adalah statistik yang<br />
digunakan oleh peneliti untuk menerangkan<br />
keeratan hubungan antar variabel yaitu untuk<br />
mengetahui hubungan mekanisme koping<br />
individu dengan kecemasan dalam menghadapi<br />
program profesi ners, dengan rumus peorson<br />
product moment, digunakan untuk mengetahui<br />
hubungan dua variabel, dengan taraf signifikan<br />
(p)= 0,05 otau s= 57o, dengan N= 43 dan rtabel=<br />
Q301, hasil r hitung= 0.454 yang berartiterdapat<br />
hubungan secara statistik antara mekanisme<br />
koping individu dengan kecemasan dalam<br />
menghadapi program profesi ners, dengan<br />
tingkat hubungan sedang yang dikemukakan<br />
oleh person pada interpretasi terhadap korelasi<br />
antar variabel.<br />
PEMBAHASAN<br />
1. Mekanisme koping individu<br />
Hasil prosentase responden yang mempunyai<br />
mekanisme koping adaptif sebesar 95,3%, hasil<br />
ini didukung oleh tingkat pendidikan pada<br />
responden yaitu lulusan sarjana keperawatan<br />
dan sebagian besar pendapatan kepala keluarga<br />
ditingkat menengah (sedang), sehingga respon-<br />
den bereaksi positif (adaptif) dalam menghadapi<br />
program profesi ners dan memiliki strategi koping<br />
yang efektif untuk menurunkan kecemasan<br />
dimana mekanisme koping adaptif yang digunakan<br />
oleh responden mampu menghasilkan<br />
kebiasaan baru dan perbaikan dari situasi serta<br />
masalah yang dihadapi seperti halnya mekanisme<br />
koping adaptif yang digunakan oleh<br />
responden yaitu supresi (pengendalian diri), dan<br />
proyeksi dengan hasil sebanyak 90,G% responden.<br />
Koping adalah proses yang dilalui oleh individu<br />
dalam menyelesaikan situasi stressful, koping<br />
merupakan respon individu yangterdapat situasi<br />
yang mengancam dirinya baik fisik maupun<br />
psikologik3.<br />
Responden yang bereaksi negatif (mal-<br />
adaptif) dalam menghadapi program profesi ners<br />
sebanyak 4,7% hasil ini dikarenakan pada situasi<br />
atau lingkungan yang baru dihadapioleh individu<br />
yaitu saat pertama kalinya responden menghadapi<br />
program profesi ners, dimana koping<br />
maladaptif yang digunakan oleh responden<br />
sebaigian besar dengan menggunakan fiksasi<br />
sebanyak 74,4Yo responden. Menurut Miller,<br />
1983 cit jurnal keperawatan indonesia 1997,<br />
koping merujuk pada pengatasan suatu situasi<br />
yang menimbulkan ancaman terhadap individu<br />
sehingga mengatasi perasaan tidak nyaman<br />
seperti onxietas, rasa takut, berduka dan rasa<br />
bersalah sedangkan menurut Stuart dan<br />
Sundeen, (1995) mekanisme koping yang<br />
maladaptif yaitu menghambat fungsi integrasi,<br />
memecah pertumbuhan lingkungan, menurun-<br />
kan otonomi dan cenderung menguasai dengan<br />
kategorinya adalah bekerja berlebihan, menghindar<br />
atau kehilangan kendalis.<br />
Dalam penelitian ini sebagian besar 41<br />
responden menggunakan mekanisme koping<br />
adaptif adalah individu dapat mengatasi stress<br />
dan anxietos dengan menggerakkan sumber<br />
koping dilingkunagan, sumber koping tersebut<br />
sebagai modal ekonomi, kemampuan penye-<br />
lesaian masalah, dukungan sosial, dan keyakinan<br />
budaya dapat membantu mengitegrasikan<br />
pengalaman yang menimbulkan stress dan<br />
mengadopsi strategi kopingyang berhasil dalam<br />
menghadapi program profesi nerss.<br />
2. Kecemasan dalam menghadapi program<br />
profesi ners<br />
Hasil penelitian menunjukkan bahwa<br />
sebagian besar 58,1% responden mengalami<br />
cemas sedang, dimana kecemasan sedang<br />
mernungkinkan seseorang untuk memusatkan<br />
padahal yang penting dan mengesampingkan
20<br />
yang lain, sehingga seseorang mengalami<br />
perhatidn fang selektif namun dapat melakukan<br />
sesuatu yang lebih terarahs.<br />
Responden yang mengalami panik hanya<br />
4,7To, dimana kepanikan berhubungan dengan<br />
terperangah, kekuatan dan eror. Karena kehilangan<br />
kendali. Orang yang mengalami panik<br />
tidak mampu melakukan sesuatu walaupun<br />
dengan pengarahan, panik melibatkan disorganisasis,<br />
Hal ini dipengaruhi beberapa faktor<br />
lingkungan atau situasi; orang yang berada<br />
ditempat yang dirasakan asing ternyata lebih<br />
mudah mengalami stress.<br />
Kecemasan dapat di sebabkan oleh berbagai<br />
faktor psikologis maupun faktor fisik atau<br />
kombinasi dari faktor-faktor tersebut dimana<br />
kecemasan merupakan pengalaman subjektif<br />
dari individu yang merupakan suatu keadaan<br />
emosi tanpa subjek yang spesifik. Kecemasan<br />
pada mahasiswa dalam menghadapi program<br />
profesi ners merupakan motivasipenting untuk<br />
melakukan strategi-strategi mekanisme koping<br />
untuk menurunkan tingkat kecemasan dalam<br />
menghadapi program profesi nerse.<br />
3. Hubungan mekanisme koping individu<br />
dengan kecemasan dalam meng'<br />
hadapi program profesi ners<br />
Konstribusi keterkaitan hubungan pada tabel<br />
5 terlihat ada hubungan antara mekanisme<br />
koping individu dengan kecemasan dalam<br />
menghadapi program profesi ners dengan<br />
tingkat hubungan sedang, dari hasil uji statistik<br />
dengan rumusperson produck momen dan taraf<br />
signifikan (p) = 0,05 atau 4 = 5% dihasilkan maka<br />
di peroleh r tabel 0,301 dari hasil uji korelasi<br />
didapat r hitung 0,454 maka dapat disimpulkan<br />
bahwa r hitung lebih besar dari r tabel yang<br />
berarti secara statistik dapat bermakna adanya<br />
hubungan antara mekanisme koping individu<br />
dengan kecemasan dalam menghadapi program<br />
profesi ners oleh mahasiswa, sehingga hipotesis<br />
yang diajukan yaitu ada hubungan antara<br />
mekanisme koping individu dengan kecemasan<br />
dalam menghadapi program profesi ners dapat<br />
diterima dan terbukti kebenarannya, dimana<br />
koping yang efektif menghasilkan adaptasi yang<br />
menetap yang merupakan kebiasaan baru dan<br />
perbaikan dari situasi yang lama, sedangkan<br />
t urnal Kesehaton'Mraroia Medikao<br />
koping yang tidak efektif berakhir dengan<br />
perilaku maladaptif yaitu perilaku yang menyimpang<br />
dari keinginan normative dan dapat<br />
merugikan dirisendiri maupun orang lain atau<br />
lingkungan3.<br />
Mahasiswa yang mampu menciptakan<br />
strategi-strategi koping yang baik (adaptif) maka<br />
dapat menurunkan tingkat kecemasan dalam<br />
menghadapiprogram profesi ners, dimana pada<br />
rentang respon kecemasan dapat dikonseptualisasikan<br />
dalam rentang respon koping yang<br />
digambarkan pada model perawatan dari<br />
fenomena sehat sakit. Respon kecemasan dapat<br />
digambarkan dalam rentang respon adaptif<br />
sampai maladaptif yaitu dengan menggunakan<br />
strategi koping yang adaptif makan kecemasan<br />
akan semakin ringan dan bila individu menggunakan<br />
strategi koping maladaptif makan<br />
kecemasan akan semakin berat dan paniklo.<br />
Hasil penelitian yang telah dilakukan<br />
penelititidak semua mahasiswa mampu menggunakan<br />
kopingyangyang baik (adaptif), namun<br />
masih ada beberapa mahasiswa yang masih<br />
menggunakan koping maladaptif, hal ini dikarenakan<br />
mahasiswa memiliki kemempuan yang<br />
berbeda-beda dari segi intelegensi, nilai,<br />
kepercayaan, budaya emosi, kognitit, support<br />
system dan lingkungan.<br />
KESIMPUTAN<br />
Dari hasil penelitian pada mahasiswa dalam<br />
menghadapi program profesi ners di STIKES Wira<br />
Husada Yogyakarta dapat disimpulkan sebagai berikut:<br />
1. Prosentase responden yang mempunyai mekanisme<br />
koping yang baik (adaptif) sbesar 95,3Yo<br />
dan responden yang mempunya mekanisme<br />
koping yang maladaptif sebanyak 4,7Yo,halini<br />
menunjukkan bahwa sebagian besar pada<br />
mahasiswa program profesi ners menggunakan<br />
mekanime koping adaptif.<br />
2. Kecemasan dalam menghadapiprogram profesi<br />
ners sebagian besar responden mengalami<br />
kecemas sedang dengan prosentase 58,1% dan<br />
hanya 4,7To pada mahasiswa yang mengalami<br />
panik, hal ini menunjukkan sebagian besar<br />
mahasiswa program profesi ners mengalami<br />
kecemasan sedang.
twrnl IG*h Etan %i rc tuSt Mdi kf 21<br />
3. Adanya hubungan yang bermakna antara<br />
mekanisme koping individu dengan kecemasan<br />
dalam menghadapi program profesi ners,<br />
dimana semakin adaptif mekanisme kopingyang<br />
digunakan mahasiswa makan tingkat kecemasn<br />
akan semakin berkurang dan semakin<br />
maladapti rnekanisnne koping yang digunakan<br />
mahasiswa maka kecemasan akan semakin<br />
tinggi-<br />
SARA}I<br />
tsagi lnstitusi Pendidikan<br />
Sebagai bahan masukan dalam merninimalkan<br />
kecemasan pada mahasisra dalam menghadapi<br />
prograrn profesi ners yaitu perlunya pendampingan<br />
yang lebih efektif bagi mahasiswa yang<br />
akan menghadapi program profesi ners dengan<br />
banyak memberikan pengarahan atau didikan<br />
dalam melakukan praktikurn dan rnemberi<br />
kesernpatan kepada mahasiswa saat mengikuti<br />
kuliah pendidikan kesarjanaan untuk prakek<br />
dirumah sakit sebagai bahan pengenalan<br />
ketikan akan menghadapi program prorfesi ners.<br />
Bagimahasiswa<br />
Sebagai bahan pertimbangan dalam menghadapi<br />
program profesi nersyaitu menggunakan<br />
mekanisme koping adaptif dengan melakukan<br />
tindakan bertukar pikiran dengan orang lain,<br />
mempersiapkan diri dari aspek afektif, kognitif<br />
dan psikomotorik yaitu dengan belajar yang<br />
rajin dan sering berkonsultasidengan pembim-<br />
bing akademik dan dosen untuk memecahkan<br />
masalah yangdihadapiatau untuk lebih banyak<br />
mendapatkan informasi-informasi baru.<br />
KEPUSTAKAAN<br />
1. Suliswati, Payapq A.T., Maruhawa. J., Sianturi,<br />
Y., dan Sumyatun.2$@.. Konsep Dosor<br />
Keperawaton Kesehoton liwa. EGC:<br />
Jakarta<br />
2. Wiramiharda, S.A. 2@5. pengontar psikologi<br />
Abnormal. Refi ka Aditma: Bandung<br />
3. Rasmus. 2004.Stres, Kaping, Adaptasi. Sagung<br />
Seto: Jakarta<br />
4. Keliat 8.1998. Proses Keperowoton Kesehatan<br />
Jiwo" E6C:Jakarta<br />
5. Kaplan, H.1., and Sadock, B.J. 1997. Sinopsis<br />
kikiotri (terj). Edisi Ketujuh,Jilid Dua.<br />
Binarupa Akara: Jakarta<br />
6. Notoatmojo, S. 2005. Metadelogi penelitian<br />
Kesehotan. Cetakan Ketiga Rineka<br />
Cipta: Jakarta<br />
7. Sugiyono. 2005. Sfatistika untuk penelition.Ot<br />
Alfabeta: Bandung<br />
8. Struart, G. W., and Sundeen, S.J. 1999.<br />
Keperowatan Jiwa. EGC: Jakarta<br />
9. Maramis, W.F. 1986. C-atatan llmu Kedokeran<br />
Jiwo. Airlangga Universitay press:<br />
Surabaya<br />
10. Keliat, B.A. t1999). Penotalaksonaan Stress.<br />
Penerbit Buku Kedokteran EGC:<br />
Jakarta
trFt?F/! r{wtwtun lAlimmfu IW*a" a<br />
PEilIDAHUI.UAI'I<br />
Adanya era reforrnasi yang ditandai dengan<br />
perubahan-perubahan yang cepat di segala bidang<br />
yang diantaranya adalah r.lntuk meningkatkan<br />
derajad kesehatan masyarakat kearah yang lebih<br />
baik. Salah satu ujung tobak dalarn pemberian<br />
pelayanan kesehatan adalah perawat. Perawat<br />
sebagai profesi, dituntut untuk memiliki kematnpuan<br />
intelektual, interpersonal maupun kernampuan<br />
tehnis dan moral. Keperawatan sebagai pernberi<br />
pelayanan atau asuhan yang professional bersffat<br />
humanistik, menggunakan pendekatan holistik,<br />
dilakukan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan,<br />
berorientasi pada kebutuhan obyektif klien, rnengacu<br />
pada standart profesional keperawatan dan<br />
menggunakan etika keperawatan sebagai tuntunan<br />
umurn.<br />
Pertolongan yang cepat dan tepat sangat<br />
dibutuhkan untuk rnencegah terjadinya kematian<br />
dan kecacatan. Dirumah sakit pertolongan pertama<br />
yang diberikan adalah di ruang rawat darurat dirnana<br />
IRD sebagai pintu masuk dari rumah sakit. Pelayanan<br />
pada instalasi rawat darurat seringkali menunjukkan<br />
parnor atau rnuka rumah sakit, tetapi juga penuh<br />
dengan ketidakpastian karena rnernpunyai sifat yang<br />
darurat apalagi termasuk di dalamnya adalah<br />
kegawatan. Peningkatan jumlah pasien yang<br />
berobatdilRD akan meningkatkan beban kerja para<br />
perawat dan tenaga medis yang lain di lRD. Sikap,<br />
pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi sangat<br />
diperlukan untuk meningkatkan keprofesionalan<br />
perawat dalam memberikan asuhan keperawatan,<br />
terutama di IRD yang tindakannya bersifat darurat<br />
dan intensif. Kondisi pasien yang datang ke IRD<br />
biasanya memerlukan tindakan yang bersifat intensif<br />
sehingga mudah menyebabkan kelelahan baik fisik<br />
maupun mental {Sugiarsih, 2003)1.<br />
Selain beban kerja yang akan mempengaruhi<br />
mutu pelayanan keperawatan, pendokumentasian<br />
asuhan keperawatan juga merupakan hal penting<br />
dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan.<br />
Selama ini masih banyak dijumpai para praktisi<br />
keperawatan yang masih enggan atau tidak mampu<br />
melakukan pendokurnentasian asuhan keperaurfui<br />
dengan baik. Halini kemungkinan biasa disebabkan<br />
oleh karena beban kerja yang berlebihan perasrat<br />
tersebut dalam menjalankan tugas. Asuhan kepe.<br />
rawatan yang dilakukan terhadap klien dan keluarganya<br />
atau kelompok perlu untuk didokurnertasikan.<br />
Dokurnentasi sangat penting untuk menghindari<br />
pernutarbalikan fakta, untuk mencegah kehilangan<br />
informasi dan agar dapat dipelajari oleh orang lain.<br />
Dokumentasi asuhan keperawatan adalah rnerupakan<br />
bukti dari pelakanaan keperawatan yang<br />
menggunakan metode pendekatan proses keperawatan<br />
dan catatan tentang tanggapan / respon<br />
pasien terhadap tindakan medis, keperawatan atau<br />
reaksi pasien terhadap penyakit. Catatan kepera-<br />
watan 1' uga merupakan informasi tertul is yang akan<br />
menjadi dasar penjelasan tentang keadaan pasien<br />
kepada rnereka yang berkepentingan.<br />
BAHAN DAN CARA PENELITIAN<br />
Penefitian ini menggunakan desain Korelasional<br />
dengan pendekatan survei secara kuantitatif, yaitu<br />
bertujuan menemukan ada tidaknya hubungan<br />
antar variabel. Jika ada hubungan akan diketahui<br />
pula tingkat keeratan dari hubungan tersebut serta<br />
berarti atau tidaknya hubungan tersebut (Arikunto,<br />
2@6)'?. Peneliti akan mengkorelasikan beban kerja<br />
perawat dengan pelaksanaan pendokumentasian<br />
asuhan keperawatan.<br />
Subyek penelhian i ni berjumlah 21 orang perawat<br />
dengan kriteria: perawat dengan pendidikan<br />
minimal Sekolah Perawat Kesehatan (SpK), sedang<br />
bertugas di lnstalasi Rawat Darurat (lRD), tidak<br />
sedang menjalani cuti. Bersedia berperan dalarn<br />
penelitian yang dibuktikan dengan menandatangani<br />
tanda bukti yang disiapkan oleh peneliti. Analisa data<br />
yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis<br />
Bivariaf , karena peneliti akan mencari hubungan<br />
antara dua variabel yaitu beban kerja perawat<br />
sebagai varibel bebas dengan pelaksanaan dokumentasi<br />
asuhan keperawatan gawat darurat<br />
sebagai variabel terikat. Uji statistik yang digunakan<br />
adalah uji statistik Korelasi Kendall's Taua.
24 lumal Kesehatan'<strong>Wiraraja</strong> Medika'<br />
Gambar 1: Kerangka Konsep Penelitian puan sebanyak 8 orang (38%ol. Dengan demikian<br />
jumlah responden yang bekerja di IRD RSUD Kota<br />
Verfrbel hdepotlcot<br />
l-ee"" K""" P","*t I<br />
I t. a"o"n'.d"ms* |<br />
I tanceng I<br />
I2, B€bank rhndk I<br />
| rugrrmpuru I<br />
I 3. B€bank6dapslkir I<br />
I<br />
| 4. B€banksdasodel<br />
lcb.rEil :<br />
: Dlbll0<br />
: Tl'hkdHd<br />
Coniqrdlng<br />
Yrrbbd<br />
Pdgl€arun Dolornsnilgtl<br />
Asuhan K.peEwaiat<br />
. PsnSk4bn<br />
. Dbgtlg<br />
t PEEM<br />
. lmdeffitsl<br />
. Ralua8i<br />
. Cablsn 4han<br />
l(gpotalYabn<br />
HASIL PENELITIAN<br />
1. Karakteristik Responden<br />
Responden dalam penelitian ini sebanyak 21<br />
perawat yang bekerja di IRD RSUD Kota Yogyakarta,<br />
setelah kuisioner kami sebarkan dan diisi oleh<br />
responden kemudian kami lakukan tabulasi. Secara<br />
lengkap karakteristik perawat yang meliputi jenis<br />
kelamin, usia, tingkat pendidikan, keikutsertaan<br />
dalam PPGD, pengalaman kerja serta status<br />
kepegawaian perawat dapat dilihat dalam beberapa<br />
table berikut ini.<br />
Tabel 1: Distribusifrekuensi perawatyangmenjadi<br />
responden di IRD RSUD Kota Yogyakarta<br />
berdasarkan jenis kelamin tahun 2010.<br />
No Jenis<br />
Kelamin<br />
Frekuensi Prusentase<br />
1 Laki-laki 13 52%<br />
2 Perempuan I 38Yo<br />
Jumlah 21 100%<br />
Sumber: Data Primer diolah<br />
Dari table 1 diatas dapat kita ketahui bahwa<br />
responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak<br />
13 orang (62%l dan yang berjenis kelamin perem-<br />
Yogyakarta lebih banyak yang berjenis kelamin lakilaki<br />
dengan perbandingan antara laki-laki dan<br />
perempuan adalah 1:2.<br />
Tabel 2: Distribusi frekuensi perawat yang menjadi<br />
responden di IRD RSUD Kota Yogyakarta<br />
berdasarkan usia saat ulang tahun terakhirtahun<br />
2010.<br />
No Usia<br />
Frekuensi<br />
Pre<br />
sentase<br />
1 Kurang 26 tahun 2 10%<br />
2<br />
3<br />
4<br />
Antara 25 - 30 tahun<br />
Antara 31 - 35 tahun<br />
Antara 36 - 40 tahun<br />
12<br />
4<br />
0<br />
570h<br />
19olo<br />
0%<br />
5 Lebih 40 tahun 3 14olo<br />
Jumlah 21 100o/o<br />
Sumber: Data Primer diolah<br />
Dapat kita lihat pada table 2 mengenai umur<br />
responden yang bekerja di IRD RSUD Kota Yogyakarta.<br />
Responden yang usianya dibawah 25 tahun<br />
sebanyak 2 orang (LO%|, usia antara 26-30 tahun<br />
sebanyak 12 orang (57%), usia antara 31-35 tahun<br />
ada 4 orang (19%) dan usia lebih 40 tahun sebanyak<br />
3 orang (L4%1. Dengan demikian mayoritas usia<br />
perawat yang bekerja di IRD RSUD Kota Yogyakarta<br />
adalah kategori usia antara 26-30 tahun.<br />
Tabel 3: Distribusifrekuensi perawat yang menjadi<br />
responden di IRD RSUD Kota Yogyakarta<br />
berdasarkan tingkat pendidikan terakhir<br />
yang ditempuh tahun 2010.<br />
No Pendidikan Frekuensi<br />
Pre<br />
sentase<br />
1 SPK 0 0%<br />
2 D.lll Keoerawatan 18 867o<br />
3 D.lV Keoerawatan 0 0%<br />
4 S.1 Keoerawatan 3 14olo<br />
lumlah 21 1 00Yo<br />
Sumber: Data Primer diolah<br />
Sebagian besar perawat yang bekerja di IRD<br />
RSUD Kota Yogyakarta berpendidikan D.lll Kepera-<br />
watan yakni 18 orang (85%)dan yang berpendidikan<br />
51 Keperawatan ada 3 orang (74%).
tunnl lrcsr/halan \limmia Medkf 25<br />
Tabel 4: Distribusifrekuensi perawatyangmenjadi<br />
responden IRD RSUD Kota Yogyakarta<br />
berdasarkan Keikutsertaannya dalam<br />
Program Pelatihan PPGD Tahun 2010.<br />
No Fehtihan PFGD<br />
Fre<br />
kuensi<br />
Prusentase<br />
I Belum pemah ikut<br />
PP{GD<br />
2 10%<br />
2 Pemah ikut PPGD 19 90%<br />
Jumlah 21 100%<br />
Jika kita perhatikan padatable4 bahwasannya<br />
perawat yang bekerja di IRD RSUD Kota Yoryakarta<br />
mayoritas sudah pernah ikut pelatihan PPGD yaitu<br />
19 orang (90%) dan hanya ada 2 orang (1096) yang<br />
belum pemah ikut pelatihan PFGD.<br />
Tabel 5: Distribusi frekuensi perawat yang menjadi<br />
responden di IRD RSUD l(ota Yogyakarta<br />
berdasarkan pengalaman bekef a (lamanya<br />
bekerja) baik dl IRD RSUD Kota Yogyal
lwml Kcrahatan \liroraia Medikf 25<br />
Tabel 4: Distribusi frekuensi perawat yang menjadi<br />
responden IRD RSUD Kota Yogyakarta<br />
berdasarkan Keikutsertaannya dalam<br />
Program Pelatihan PPGDTahun 2010.<br />
No Fehtihan PPGD<br />
I Belum pemah ikut<br />
PPGD<br />
Fle<br />
kuemi<br />
Pru<br />
sentase<br />
2 10%<br />
2 Pemah ikut PPGD 19 90%<br />
lumlah 27 100%<br />
Jika kita perhatikan pada table d bahwasannya<br />
perawatyang bekerja di IRD RSUD Kota Yogyakarta<br />
mayoritas sudah pernah ikut pelatihan PPGD yaitu<br />
19 orang (90%) dan hanya ada 2 orang (10%) yang<br />
belum pernah ikr* Pelatihan PPGD.<br />
Tabel 5: Distribusi frekuensi perawat yang menjadi<br />
responden di IRD RSUD Kota Yogyakarta<br />
berdasarkan pengalaman bekerja (lamanya<br />
bekerja) baik di IRD RSUD Kota Yogyakarta<br />
maupun sebelumnYa tahun 2010.<br />
No lamanya Bekeria<br />
Fre<br />
kuensi<br />
Pru<br />
sentase<br />
1 Kuranedari 1 tahun 1 5%<br />
2 Antara 1-2 tahun 2 10%<br />
3 Antara 2-3 tahun 1 5%<br />
4 Antara 3-4 tahun I 5%<br />
5 Lebih dari4 bhun 16 75%<br />
lumlah 21 100%<br />
Sumber: Data Primer diolah<br />
Kalau kita amati secara seksama ternyata<br />
responden yang bekerja di IRD RSUD Kota Yogyakarta<br />
rata-rata mempunyai pengalaman kerja yang<br />
relatif lama yaitu pengalaman kerja lebih dari 4<br />
tahun ada 16 orang (75%), sedangkan yang 5 orang<br />
125%l lae, mem pu nya i pen ga la m a n kerja d i bawa h 4<br />
tahun.<br />
Tabel 6: Distribusi frekuensi perawat yang menjadi<br />
responden di IRD RSUD Kota Yoryakarta<br />
berdasarkan status kepegawaiann tahun<br />
2010.<br />
No Status Kepegawaian<br />
Fre<br />
kuensi<br />
Plu<br />
sentase<br />
t Masang 0 o%<br />
2 Kontnk 5 24%<br />
3 PNS 16 76%<br />
lumlah 21 100%<br />
Sumber: Data Primer diolah<br />
Daritable6 inididapatkan data bahwa sebagian<br />
besar responden yang bekerja di IRD RSUD Kota<br />
Yogyakarta adalah sebagai pegawai negeri sipil (PNS)<br />
yaitu sebanyak 15 orang (76%) dan yang bekerja<br />
sebagai pegawai kontrak hanya ada 5 orang (24%1.<br />
2, Beban Keria Perawat di IRD RSUD<br />
Kota Yogyakarta<br />
Pada akhir Bulan Februari 2010 dilakukan<br />
penyebaran questioner untuk mengetahui seberapa<br />
besar beban kerja perawat yang bekerja di IRD RSUD<br />
Kota Yogyakarta dan sekaligus untuk mengetahui<br />
seberapa baguskah pelaksanaan pendokumentasian<br />
yang dilakukan oleh setiap perawat yang bekerja di<br />
IRD RSUD Kota Yogyakarta. Setelah data diolah,<br />
beban kerja perawat di IRD RSUD Kota Yoryakarta<br />
hasilnya adalah masuk pada kategori ringan dengan<br />
skor 3749 sebanyak0 orang (0%), kategorisedang<br />
dengan rentang skor 5G98 sebanyak 5 orang (24%)<br />
dan kategori berat dengan skor 99-148 sebanyak 15<br />
orang (75%). Adapun distribusifrekuensi beban kerja<br />
pe€wat di IRD RSUD Kota Yogyakarta dapat dilihat<br />
pada table 7 berikut ini.<br />
Tabel 7: DistribusiFrekuensi Beban Kerja Perawat<br />
Yang Menjadi Responden Di IRD RSUD<br />
Kota Yogyakarta Tahun 2010.<br />
No<br />
Beban<br />
Keda<br />
Skor<br />
Fre<br />
kuensi<br />
Pru<br />
sentase<br />
1 Rinmn 37 -49 o 0%<br />
2 Sedane 50-98 5 24%<br />
3 Berat 99-148 l6 76%<br />
Jumlah 21 loo%<br />
Sumber: Data Primer diolah<br />
3. Pelaksanaan Pendokumentasian<br />
Perawat yang Bekeria di IRD RSUD<br />
Kota Yogyakarta tahun 2010.<br />
Untuk mengetahui proses pendokumentasian<br />
yang dilakukan oleh perawat yang bekerja di IRD<br />
RSUD Kota Yogyakarta bisa kita lihat pada table 8<br />
dibawah ini:
,<br />
26<br />
Tabel 8: Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Pendokumentasian<br />
Perawat Yang Menjadi<br />
Responden Di IRD RSUD Kota Yogyakarta<br />
Tahun 2010.<br />
No<br />
Dokumeniasi<br />
Skor<br />
Fre<br />
kuensi<br />
Pru<br />
sstase<br />
1 BuruMelek 24 -32 4 19%<br />
2 Sedane 33 -40 4 19%<br />
3 Baik 41 -48 t3 62%<br />
lumlah 2"1 100%<br />
Sumber: Data Primer diolah<br />
Dari table 8 ini dapat kita ketahui bahwa<br />
mayoritas system pendokumentasian yang dilakukan<br />
oleh perawat yang bekerja di IRD RSUD Kota<br />
Yogyakarta adalah bagusyaitu ada 13 orang(62/ol,<br />
pendokumentasian masuk kategori sedang ada 4<br />
orang (19%) dan pendokumentasian masuk dalam<br />
kategori buruk/jelek ada 4 orang pula (19%).<br />
4. Hubungan Beban Keria Perawat<br />
Dengan Pelaksanaan Dokumentasi<br />
Asuhan Keperawatan di IRD RSUD<br />
Kota Yogyakarta tahun 2010.<br />
Untuk mengetahui adanya penolakan dan<br />
penerimaan terhadap hipotesa kerja yang menyatakan<br />
bahwa ada hubungan antara Beban Kerja<br />
Perawat Dengan Pelaksanaan Dokumentasi Asuhan<br />
Keperawatan, penulis mengujinya dengan uji<br />
statistik correlation Kendoll lou dengan menggunakan<br />
bantuan komputer program SPSS.75 for<br />
Windows pada tingkat kepercayaan 95%.<br />
Tabel 9: Hubungan Beban Kerja Perawat Dengan<br />
Pelaksanaan Dokumentasi Asuhan<br />
Keperawatan di IRD RSUD Kota<br />
Yogyakarta tahun 2010<br />
Beban Keria<br />
Perawat<br />
Dokumentasi<br />
tukep<br />
Buruk<br />
6kor 24-32)<br />
Sedang<br />
(Skor 3340)<br />
Baik<br />
(Skor4148)<br />
Ringan<br />
(sltor 37a9)<br />
freq<br />
ry D freq<br />
Sedang<br />
(skor 5G98)<br />
Berat<br />
(*or 9$148)<br />
u n freq %<br />
0 0% 0 0% 4 19%<br />
0 0% 4 19% 9 43%<br />
0 01o 1 5% 3 14%<br />
Total 0 0% 5 24% r6 76%<br />
Sumber: data primer diolah<br />
lurnol Kesehotan'Wirarojo Medika"<br />
Dari table 9 diatas dapat kita lihat mengenai<br />
distribusi hubungan dua variable antara beban kerja<br />
perawat dengan dokumentasi asuhan keperawatan<br />
yang dilakukan oleh perawat di IRD RSUD Kota<br />
Yogyakarta. Persentase terbesar beban kerja<br />
perawat yang bekerja di IRD RSUD Kota Yogyakarta<br />
adalah masuk dalam kategori beban kerja berat<br />
yaitu ada 16 orang (76o/ol dan ada 5 orang (24%)<br />
yang berada dalam kategori beban kerja sedang.<br />
Mayoritas beban kerja perawat yang masuk dalam<br />
kategori beban kerja berat dan dalam pelaksanaan<br />
pendokumentasian masuk dalam kategori dokumen-<br />
tasi sedang ada 9 orang (43%).<br />
PEMBAHASAN<br />
1. Karakteristik Perawat di IRD RSUD<br />
Kota Yogyakarta<br />
Karakteristik perawat yang bekerja di IRD<br />
RSUD Kota Yogyakarta jika dilihat dari jenis<br />
kelamin paling banyak adalah berjenis kelamin<br />
laki-laki 62Yo dan yang berjenis kelamin perempuan<br />
sebanyak3S% (table 1). Kemungkinan ini<br />
terjadi karena di IRD dibutuhkan tenaga perawat<br />
yang mampu untuk bergerak cepat sehingga<br />
manajemen rumah sakit membuat kebijakan<br />
untuk menempatkan perawat laki-laki lebih<br />
banyak dibandingkan dengan tenaga perawat<br />
perempuan. Dari segi usia, perawat yang be-<br />
kerja di IRD RSUD Kota Yogyakarta relatif berusia<br />
muda yaitu kurang 30 tahun sebanyak 67% dan<br />
yang berusia diatas 40 tahun hanya ada t4/o<br />
(table 2). lni juga disebabkan karena usia yang<br />
relative muda mempunyai karakter lebih energik,<br />
cepat, gesit dan cekatan yang tentunya<br />
sangat dibutuhkan oleh pihak rumah sakit untuk<br />
ditempatkan di ruang lRD.<br />
Apabila kita perhatikan dalam skill yang<br />
dimiliki oleh para perawat yang berada di lRD,<br />
ada9O% (table 4) perawat yang sudah pernah<br />
mengikuti program pelatihan PPGD, dimana<br />
program inisangat mendukung pekerjaan para<br />
perawat dan hanya adaLO%saja perawat di IRD<br />
RSUD Kota Yogyakarta ini yang masih belum<br />
memiliki sertifikat pelatihan PPGD. Tentunya ini<br />
merupakan pekerjaan rumah (PR) bagi pihak<br />
rumah sakit untuk kedepannya secara rotasi /<br />
bertahap mengirimkan para perawatyang masih<br />
belum bersertifikat PPGD untuk meningkatkan<br />
l<br />
.l<br />
':<br />
't<br />
I<br />
{<br />
I
mt<br />
l*tak<br />
bsi/<br />
iasitr<br />
turnal Kesehatan'Wiraraia Mediko"<br />
pengetahuan (knowledgeldan keterampilannya<br />
(skl4 melalui program-program pelatihan PPGD<br />
yang ada.<br />
Pendidikan perawat paling besar adalah<br />
AKPER (860/ol, S'1 Keperawatan ada 74% dan<br />
tidak ada satupun perawat yang bekerja di ruang<br />
IRD RSUD Kota Yogyakarta berpendidikan SPK<br />
(table 3), ini menandakan bahwa RSUD Kota<br />
Yogyakarta benar-benar menyiapkan pegawai-<br />
nya untuk professional dibidangnya agar nantinya<br />
didapatkan kualitas pelayanan yang dapat<br />
memuaskan Pasien / konsumen.<br />
Sedangkan jika dilihat dari pengalaman kerja,<br />
sebagian besar perawat mempunyai pengalaman<br />
kerja lebih dari empat tahun sebanyak<br />
75Yo, dan hanya ada 25Yo saja perawat yang<br />
mempunya pengalaman kerja kurang dari 4<br />
tahun (table 4). Pengalaman merupakan guru<br />
terbaik dalam segala bidang kehidupan manusia,<br />
terkadang ilmu pengetahuan yang telah didapatkan<br />
selama perawat menempuh pendidikan baik<br />
itu di jenjenag pendidikan D'lll keperawatan<br />
maupun dijenjang pendidikan S.1 Keperawatan<br />
masih didapatkan hal-hal yang kurang pas /<br />
kurang cocok untuk diterapkan atau diaplikasikan<br />
secara nyata pada pasien yang datang ke<br />
klinik. Hal ini bisa disebabkan karena ilmu<br />
keperawatan masih banyak yang mengadopsi<br />
dari luar negeri, sehingga apabila teoritersebut<br />
diterapkan di lndonesia yang notabene negara<br />
kita berbeda darisegi kultur, agama, ras dan lain<br />
sebagainya didapatkan banyak hal yangtidak bisa<br />
diterapkan. Disinilah intelegensi perawat diuji,<br />
bagaimana cara untuk memodifikasi beberapa<br />
tindakan yang sekiranya dapat diterapkan/<br />
dipakai pada pasien dengan tujuan adalah untuk<br />
mempercepat kesembuhan Pasien.<br />
2. Beban Keria Perawat di IRD RSUD<br />
Kota Yogyakarta<br />
Beban kerja perawat yang bekerja di IRD<br />
RSUD Kota Yogyakarta mayoritas beban kerjanya<br />
sangat beralT6% dan yang mempunyai beban<br />
kerja sedang ada24%. Tidak satupun perawat<br />
yang beban kerjanya ringan (table 7). Pekerjaan<br />
perawat yang ada di ruang IRD memang sangat<br />
berat, halini menyangkut hidup matinya pasien'<br />
Berburu dengan waktu adalah rutinitas para<br />
perawat yang ada di lRD, karena telat satu detik<br />
dalam merawat dan melayani pasien taruhannya<br />
adalah nyawa pasien. Perawat harus betul-betul<br />
bekerja sesuai dengan protap yang ada, kesi-<br />
gapan, kelincahan dan kebenaran dalam bekerja<br />
adalah kunci utama. Proses triage tidak boleh<br />
terlewatkan, sehingga sedikit banyak juga akan<br />
membuat perawat tertekan/stress.<br />
3. Pelaksanaan Pendokumentasian<br />
Asuhan Keperawatan di IRD RSUD<br />
Kota Yogyakarta<br />
Dokumentasi asuhan keperawatan yang ada<br />
di ruang IRD RSUD Kota Yogyakarta termasuk<br />
kategori bagus (62%) dan hanya 19% saja yang<br />
masuk dalam kategori pendokumentasian jelek<br />
(table 8). Hal ini terjadi karena dokumentasi<br />
keperawatan merupakan bagian tidak terpisah-<br />
kan dari sebuah proses keperawatan. Seorang<br />
perawat yang memberikan pelayanan keperawatan<br />
kepada pasiennya harus menerapkan<br />
proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian,<br />
diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi,<br />
evaluasi serta dokumentasi.<br />
Fungsi dokumentasi keperawatan sendiri<br />
adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban dan<br />
pertanggunggugatan seorang perawat dalam<br />
memberikan pelayanan keperawatan kepada<br />
setiap pasiennya. Kalau kita lihat dari latar<br />
belakang pendidikan, perawat yang bekerja di<br />
IRD RSUD Kota Yogyakarta adalah mayoritas<br />
D.lll Keperawatan dan ada sebagian kecilyang<br />
berpendidikan S.1 Keperawatan. lni menandakan<br />
bahwa profesionalisme perawat sangat bagus.<br />
Dalam hal ini bisa kita lihat kebelakang, bahwa<br />
pada jenjang pendidikan D.lll maupun S.1<br />
Keperawatan materi dokumentasi keperawatan<br />
minimaldiberikan 2 SKS. Kalau pendidikan jenjang<br />
SPK materi khusus dokumentasi keperawatan<br />
belum tersurat secara jelas didalam kurikulum.<br />
lni sangat cocok dengan data bahwa perawat<br />
yang bekerja di IRD RSUD Kota Yogyakarta tidak<br />
satupun yang berPendidikan SPK.<br />
4. Hubungan antara Beban Keria<br />
Perawat dengan Dokumentasi Asuhan<br />
Keperawatan di IRD RSUD Kota<br />
Yogyakarta.<br />
Uji statistic dengan korelasi Kendal Tau<br />
didapatkan hasil ( r = - 0,178) dan (p = 0,418).
28 lurnal Kesehoton o<strong>Wiraraja</strong> Medika'<br />
Hal ini dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan<br />
yang signifikan antara beban kerja<br />
perawat dengan pelaksanaan dokumentasi<br />
asuhan keperawatan di IRD RSUD Kota Yogyakarta.<br />
Hasil korelasi negative (- ) menunjukkan<br />
bahwa semakin berat beban kerja perawat maka<br />
semakin baik pula perawat tersebut di dalam<br />
melakukan dokumentasi asuhan keperawatan.<br />
Demikian sebaliknya, semakin ringan beban kerja<br />
perawat yang bekerja di IRD RSUD Kota Yogyakarta<br />
maka semakin jelek / buruk perawat<br />
tersebut di dalam melakukan dokumentasi<br />
asuhan keperawatan. Nilai p = 0, 4L8 > 0,05<br />
menunjukkan bahwa Ho diterima dan Hl ditolak.<br />
lni artinya bahwa tidak ada hubungan yang<br />
signifikan / bermakna antara beban kerja<br />
perawat dengan pelaksanaan dokumentasi<br />
asuhan keperawatan di IRD RSUD Kota Yogyakarta.<br />
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan<br />
beberapa penelitian lain yang menunjukkan<br />
bahwa ada hubungan yang signifikan antara<br />
beban kerja perawat dengan kelengkapan<br />
dokumentasi keperawatan (Mugihartadi, 2004).<br />
Dalam penelitian ini Mugihartadi mengatakan<br />
bahwa, adanya beban kerja yang berat akan<br />
mempengaruhi proses pendokumentasian yang<br />
dilakukan oleh perawat. Haltersebut disebabkan<br />
karena waktu yang tersedia sedikit sedang-<br />
kan pasien yang masuk ke IGD banyak. Sehingga<br />
pelaksanaan dokumentasi di IRD menjaditidak<br />
lengkap.<br />
Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh<br />
Riyadi, S (2007) menyebutkan bahwa beban<br />
kerja mempunyai korelasi dengan kinerja. Beban<br />
kerja yang berat akan mempengaruhi kinerja.<br />
Adanya dua hasil penelitian tentang beban kerja,<br />
yang keduanya berkesimpulan ada korelasi<br />
positi{, tidakterjadi didalam hasil penelitian kami<br />
ini. Dalam penelitian kami ini justru hasil<br />
korelasinya adalah negatif, yang menunjukkan<br />
bahwa semakin berat beban kerja perawat,<br />
maka semakin baik pula hasildokuemtasi asuhan<br />
keperawatannya. Hal ini disebabkan karena<br />
banyak factor. Diantaranya adalah Factor<br />
pendidikan perawat, pentingnya dokumentasi<br />
sebagai bagian dari proses keperawatan adalah<br />
merupakan bentuk tanggung jawab dan tanggung<br />
gugat perawat. Perawat yang bekerja di<br />
IRD RSUD Kota Yogyakarta sudah mendapatkan<br />
ilmu tentang dokumentasi keperawatan karena<br />
pendidikannya minimal D.lll keperawatan. Dari<br />
segi pengalaman kerja juga sudah terhitung lama<br />
(lebih dari 4 tahun) berkarir di dunia keperawatan.<br />
Hal inilah yang mensupport para perawat<br />
untuk bekerja bukan hanya sebagai rutinitas,<br />
akan tetapi bekerja berdasarkan ilmu dan seni<br />
yang dimiliki sehingga didapatkan hasil kerja yang<br />
optimal (pendokumentasian baik).<br />
KESIMPUTAN DAN SARAN<br />
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan<br />
yang telah dikemukaka n dapat disim pulkan sebaga i<br />
berikut:<br />
L. Beban kerja perawat yang bekerja di IRD RSUD<br />
Kota Yogyakarta sebagian besar sangat berat<br />
yaitu ada 75Yo,dan beban kerja sedangada24Yo.<br />
2. Pendokumentasian asuhan keperawatan di IRD<br />
RSUD Kota Yogyakarta sebagian besar sudah<br />
bagus yaitu ada 62To, sebagian lagi sedang ada<br />
t9% dan sebagian lagi jelek ada t9%.<br />
3. Tidak ada hubungan yang signifikan antara<br />
beban kerja perawat dengan pelaksanaan<br />
pendokumentasian di IRD RSUD Kota Yogyakarta.<br />
Adapun Saran yang dapat penulis sampaikan<br />
adalah:<br />
L. Perlu diperhatikan bagaimana mempertahankan<br />
pendokumentasian yang sudah baik yang<br />
dilakukan oleh perawat yang bekerja di tRD<br />
RSUD Kota Yogyakarta.<br />
2. Agar pimpinan rumah sakit dapat memberikan<br />
penghargaan kepada staff baik berupa insentif,<br />
status kerja. Selain itu juga pimpinan diharapkan<br />
untuk selalu memperhatikan kualitas pengawasan,<br />
keamanan kerja maupun kondisi kerja<br />
dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan<br />
kesehatan.<br />
3. Diharapkan nantinya ada penelitian lebih lanjut<br />
tentang beban kerja perawat di RSUD Kota<br />
Yogyakarta dengan rancangan yang lebih valid<br />
untuk mengetahui factor lain yang dapat<br />
mempengaruhi proses pendokumentasian<br />
asuhan keperawatan perawat.
turml t/r;lr;hofian olltirarato Medikf<br />
KEPUSTAKAAN<br />
Sugiarsih, 2AO3, Hubungan Persepsi Stres Keria<br />
Dengon Kineria di lnstalosi Rawot<br />
Dorurot RSUD Prof' DR.Morgono<br />
Soekario Purwokerto, SkriPsi,<br />
Yogyakarta, UGM.<br />
Arikunto,S, 2OA6, Prosedur Penelition Suatu<br />
Pendekatan Prokik, Jakarta, PT Rineka<br />
Cipta.<br />
Hidayat, A, 20O3, Riset Keperawoton danTehnik<br />
Penulisan tlmiah, Jakarta, Salemba<br />
Medika.<br />
Nursalam, 2OO3, Konsep dan Peneropon<br />
Metoda Penelitian I lmu Keperawotan :<br />
Pedoma n Skri psi, Tesis don I nstrume n<br />
Penelitian KePerawaton, Jakarta,<br />
Salemba Medika.<br />
5.<br />
7.<br />
29<br />
Departemen Kesehatan. ZO@., Pedoman Sistem<br />
Penanggulongan Gawat Darurat<br />
Terpodu (SPGDT ), Jakarta:<br />
Departemen Kesehatan Republik<br />
lndonesia.<br />
llyas. 2001, Perencdnaan SDM Rumoh Sakit (<br />
Teori, metode don formulol, Jakarta :<br />
Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan<br />
Falkutas Kesehatan Masyarakat,<br />
<strong>Universitas</strong> lndonesia.<br />
Supranto, ZOOL, Pe n g uku ran fi ngkot Ke puasa n<br />
Pelanggon Untuk Menoikan Pongsa<br />
Posar, Jakarta: Rineka Cipta.
HUBUNGAh{ TINGKAT PENGETAFIUANI<br />
DAhI KOMUNIKAST TERAPEUTIK PERAVAT<br />
TERHADAP TINGKAT KE CEIVIASAI\I PASIEN<br />
HIPERTENSI DI RUAh{G INTERNARSD DR.<br />
H. MOH.AI\WARSUMENEP<br />
Oleh:<br />
CORY NELIA DAMAYANTI1 dan ZAKIYAH YASIN2<br />
ABSTRACT<br />
Background: communication of therapeutic represent one of the supporter factor<br />
in service of treatment, because ability communicate will water down gift giving of<br />
aid to good patient of medical service and also non is medical. According to Elbert<br />
dkk, 1954 intervention pursuant to communication can lessen dread, feel pain bone,<br />
usage of analgesia at patient.<br />
Method: Research design performed within research if evaluated from data analysis<br />
or presentation of data of is including analytic research because got tobe data to be<br />
including research of cross sectional and evaluated from nature of its problem is<br />
incluiding type research of correlation. Amount of responden 15 people. Sample<br />
pylled from population by accidental sampling. lntake of data conducted with sheet<br />
of questioner and observation.<br />
Result: analysis indicate that there are relation among communication of therapeutic<br />
nurse to story: evil dread of hypertension patient. As according to analysis got by<br />
meaning number of p = 0,00 its meaning there is relation which is significant access<br />
its meaning r = 1 chorelas confession degree of strength of relation among therapeutic<br />
to story: evil dread patient is very strong.<br />
conslussion: Node able tobe by is excelsior mount knowledge of nurse about<br />
communications of therapeutic, will be good also communications of therapeutic<br />
used. while communication of therapeutic good among patient and nurse can give<br />
psychologiocal impact to patient which slowly that dread lose and turn into motivation<br />
to patient tobe able to immediately recover.<br />
Keyword: knowledge, Communications therapeutic, anxiety.<br />
t.<br />
Cory Nelia Damayanti, S.Kep,Ns: Dosen Prodi S.1 Keperawatan Fikes Un'rja <strong>Sumenep</strong><br />
Madura<br />
Zakiyah Yasin, S.Kep,Ns: Dosen Prodi S.1 Keperawatan Fikes Unija <strong>Sumenep</strong> Madura<br />
30
lunnl l(dnfr n 1ilinruja Mdikf<br />
PENDAHULUAil<br />
Manusia pada hakekatnya adalah mahkluksocial<br />
yang dalam kehidupan sehari - hari tidak bisa lepas'<br />
dari kegiatan interaki dan komunikasi. Komunikaii<br />
rnerupakan bagian integral dari kehidupan manusia,<br />
apapun statusnya dalam masyarakat, untuk itu<br />
komunikasi merupakan bagian yangtidakterpisah-<br />
kan dari kehidupan manusia itu sendiri.<br />
Secara prinsip komunikasi dianggap sebagai<br />
proses untuk mencapai sesuatu yang diinginkan,<br />
sehingga menjadi hal yang sangat wajar jika melalui<br />
komunikasi yang benar maka sebuah keinginan akan<br />
terpenuhi dengan mudah dan lancar. Komunikasi<br />
merupakan dasar bagi persepsi seseorang,<br />
koordinasi interaksi, dan manajemen hubungan<br />
dengan orang lain. lntervensi berdasarkan komuni-<br />
kasi dapat mengurangi kecemasan, rasa nyeri dan<br />
lama perawatan di Rumah Sakit bagi pasien, dari<br />
hal itu telah jelas bahwa seorang perawat yang<br />
merawat pasien tidak diawali dengan komunikasi<br />
yang tepat akan menimbulkan tanggapan - tanggapan<br />
psikologis pasien terhadap kondisi mereka<br />
yang nantinya akan menjurus pada penolakan pasien<br />
dalam berkomunikasi dengan perawat serta dapat<br />
mempengaruhi status kesehatan mereka.<br />
(Abraham, LlI)7 : 101 - 103)<br />
Komunikasi keperawatan merupakan salah satu<br />
factor pendukung pelayanan keperawatan professional<br />
yang dilakukan oleh perawat dalam mengekspesikan<br />
peran dan funpinya. Salah satu kompe-<br />
tensi pemwat png harus dimiliki adalah kemampuan<br />
berkomunikasi di dalam pelayanan keperawatan.<br />
Pengetahuan termasuk salah satu faktor internal<br />
yang dapat berpengaruh pada proses komunikasi.<br />
Pengetahuan merupakan hasil dari perkembangan<br />
pendidikan. Tingkat pengetahuan perawat tentang<br />
komunikasi sangat penting dan sangat berpengaruh<br />
pada proses komunikasi, karena tingkat pengeta-<br />
huan yang kurang akan membuat proses komunikasi<br />
semakin sulit. Sedangkan tingkat pengetahuan yang<br />
sangat baik akan mernperlancar proses komunikasi.<br />
Oleh karena itu, sangat wajar jika semakin tinggi<br />
pengetahuan seseorang akan semakin kompleks<br />
pula bahasayang dipakai dalam proses komunikasi.<br />
Salah satu faktor ekternal yang dapat mempe.<br />
ngaruhi komunikasi seseorang adalah kondisi<br />
lingkungan. Lingkungan bisa berupa lingkungan fisik<br />
dan non fisik atau mental psikologi. Karena proses<br />
komunikasi akan menjadi lebih efektifjika dilakukan<br />
pada kondisiyang nyaman dan tenang. Kebisingan<br />
dan pembatasan hak pribadi dapat menyebabkan<br />
kebingungan dan ketidaknyamanan dalam berko.<br />
munikasi-<br />
Dalam keperawatan kegiatan komunikasi juga<br />
selalu mendasari kegiatan yang lain termasuk<br />
kegiatan pelayanan keperawatan, komunikasi yang<br />
mendasari bidang pelayanan keperawatan dikenal<br />
sebagai komunikasi keperawatan yang nantinya<br />
akan digunakan untuk memberikan Asuhan Kepera_<br />
watan kepada pasien, oleh karena itu komunikasi<br />
perawat sangat penting untuk dipahami perawat<br />
mengingat semua pelapnan keperawatan meng_<br />
arahkan jalinan komunikasi untuk memperjelas<br />
tujuan dan tindakan yang dilakanakan pada pasien,<br />
jika tidak maka akan mengakibatkan terjadinya<br />
kesalahan komunikasi yang dapat mempengaruhi<br />
kualitas pelayanan keperawatan, dengan kata lain<br />
dengan menyediakan komunikasi yang ekstra<br />
melalui komunikasi yang tepat dapat mengurangi<br />
tingkat keaemasan pasien sehingga dapat mencegah<br />
peningkatan Tekanan Darah pasien selama men_<br />
jalani proses perawatan di Rumah Sakit..<br />
Kecemasan merupakan satah satu emosi yang<br />
paling banyak menimbulkan stress yang dirasakan<br />
oleh banyak orang. Kadang-kadang disebut juga<br />
dengan ketakutan atau perasaan gugup. Kecemasan<br />
merupakan perasaan yang paling umum diderita<br />
oleh pasien dirumah sakit. Selain ihr pasien menunjuk_<br />
kan beberapa tanda permasalahan lainnya, seperti<br />
depresi, gugup, tidak bisa tidur (insomnia), mimpi<br />
buruk, dan ketidak mampuan untuk berkomunikasi<br />
antara petugas rumah sakit dengan pasien dan<br />
keluarga pasien.Jumlah pasien Hipertensi di Ruang<br />
lnterna Rumah Sakit Daerah Dr- H. Moh. Anwar<br />
<strong>Sumenep</strong> pada tahun 2fl)5 ditemukan 44 pasien,<br />
pada tahun 2fi)6 ada 51 pasien, pada tahun 2fi)7<br />
ada 53 pasien dan pada periodeJanuari-Maret 2fi)g<br />
ada 35 pasien.<br />
Berdasarkan surveyawal, dari 16 pasien ada 11<br />
(69 %) pasien hipertensi yang mengalami kecemasan<br />
yang diantaranya ditandai dengan peningkatan<br />
tekanan darah, sulittidur (insomnia). Sebagian besar<br />
kecemasan terjadi disebabkan karena kurangnya<br />
komunikasi perawat terhadap pasien sehingga<br />
pasien beranggapan perawat kurang peduli<br />
terhadap kebutuhan pasien selama menjalani<br />
proses perawatan dan pasien beranggapan negatif
turnal Kesehatan lllimmia Medika' 33<br />
Daritabel 3 menunjukkan bahwa sebagian<br />
besar responden mengalami Hipertensi berat,<br />
sebanyak 8 pasien (53,4%1.<br />
4. Data tabulasi frekuensi responden (perawat)<br />
berdasarkan usia<br />
Tabel4: Data tabulasi frekuensi responden<br />
(perawat) berdasarkan usia di Ruang<br />
lnterna RSD. Dr. H. Moh. Anwar<strong>Sumenep</strong><br />
Usia<br />
20 - 30 tahun<br />
31 -40tahun<br />
41 - 50 tahun<br />
Jumlah<br />
Frekuensi<br />
Responden<br />
( perawat )<br />
11<br />
2<br />
2<br />
Percentase<br />
73,4 %<br />
13,3 %<br />
'13,3 %<br />
'15 100 06<br />
Dari tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebagian<br />
besar responden berusia 20 - 30 tahun yaitu<br />
seba nyak 11 responde n (7 3,4 Tol<br />
5. Data tabulasi frekuensi responden (perawat)<br />
berdasarkan usia<br />
Tabel 5 : Datatabulasifrekuensiresponden(perawat)<br />
berdasarkan Jenis Kelamin di Ruang lnterna<br />
Jenis<br />
Kelamin<br />
Laki- laki<br />
Perempuan<br />
RSD. Dr. H. Moh. Anwar <strong>Sumenep</strong><br />
Frekuensi<br />
Responden<br />
7<br />
I<br />
Persentase<br />
46,6 %<br />
53,4 "lo<br />
Jumlah 30 100 %<br />
Dari tabel 5 meunjukkan bahwa sebagian<br />
besar responden, yaitu 8 responden (53,4 lol<br />
berjenis kelamin perempuan.<br />
5. Data tabulasi frekuensi responden (perawat)<br />
berdasarkan Tingkat Pendidikan.<br />
Tabel 6: Data tabulasi frekuensi responden<br />
(perawat) berdasarkan Tingkat Pendidikan<br />
di Ruang lnterna RSD. Dr. H. Moh. Anwar<br />
<strong>Sumenep</strong><br />
Tingkat<br />
Pendidikan<br />
Dilt<br />
Keperawatan<br />
SPK<br />
Frekuensi<br />
Responden<br />
15<br />
0<br />
Persentase<br />
100 %<br />
0%<br />
Jumlah 15 100 %<br />
Dari tabel 6 meunjukkan bahwa sebagian<br />
besar responden, yaitu 15 responden(lO0 %)<br />
berpendidikan D lll Keperawatan.<br />
7. Data tabulasi frekuensi responden (perawat)<br />
berdasarkan tingkat pengetahuan<br />
Tabel 7 : Data tabulasi frekuensi reponden (perawat)<br />
Tingkat<br />
Pengetahuan<br />
Baik<br />
Cukup<br />
Kurang<br />
berdasarkan tingkat pengetahuan di Ruang<br />
lnterna RSD. Dr. H. Moh. Anwar <strong>Sumenep</strong>,<br />
pada bulan Juli2008.<br />
Frekuensi<br />
Responden<br />
4<br />
5<br />
6<br />
Percentase<br />
25,7 %<br />
33,3 %<br />
40%<br />
Jumlah 15 100 %<br />
Daritabel 7 diketahui bahwa 6 orang perawat<br />
memiliki tingkat pengetahuan yang cukup.<br />
8. Data tabulasi frekuensi responden (perawat)<br />
berdasarkan komunikasi terapeutik.<br />
Tabel 8 : Datatabulasifrekuensireponden(perawat)<br />
berdasarkan komunikasi terapeutik di<br />
Ruang lnterna RSD. Dr. H. Moh. Anwar<br />
<strong>Sumenep</strong>, pada bulan Juli 2m8.<br />
Komunikasi<br />
Terapeutik<br />
Baik<br />
Cukup<br />
Kurang<br />
Frekuensi<br />
Responden<br />
4<br />
5<br />
6<br />
Persentase<br />
26,7 %<br />
33,3 %<br />
40%<br />
Jumlah 15 100 %<br />
Daritabel8 diketahui bahwa 6 orang perawat<br />
menggunakan komunikasi terapeutik yang<br />
cukup.<br />
9. Data tabulasi frekuensi responden (pasien)<br />
berdasarkan tingkat kecemasan.<br />
Tabel 9: Data tabulasi frekuensi reponden (pasien)<br />
berdasarkan tingkat kecemasan di Ruang<br />
lnterna RSD. Dr. Fl. Moh. A,nwar<br />
<strong>Sumenep</strong>, pada bulan Juli 2008.<br />
Tingkat<br />
Kecemasan<br />
Cemas ringan<br />
Cemas sedang<br />
Cemas berat<br />
Frekuensi<br />
Responden<br />
4<br />
5<br />
6<br />
Persentase<br />
26,7 %<br />
40%<br />
33,3 %<br />
Jumlah 15 100 %
34 turnal Kesehatan ilWlraraja Medlka'<br />
Daritabel 9 diketahui bahwa 5 orang pasien<br />
mengalami cemas sedang.<br />
10. Hubungan antara tingkat pengetahuan dan<br />
komunikasi terapeutik di Ruang lnterna RSD.<br />
Dr. H. Moh. Anwar <strong>Sumenep</strong>, pada bulan Juli<br />
2008.<br />
Berdasarkan hasil pengolahan analisa<br />
Speorman's maka didapatkan tabel hubungan<br />
sebagai berikut :<br />
Tabel 10: Hubungan antara tingkat pengetahuan<br />
dan komunikasi terapeutik di Ruang<br />
lnterna RSD. Dr. H. Moh. Anwar<br />
<strong>Sumenep</strong>, pada bulan Juli 2008.<br />
Tingkat<br />
ftnftrhuan<br />
Komunikui Terapeutik<br />
Baik Cukup Kunng Total<br />
Jml % lml % Jml % Jml %<br />
Ealk 4 100% 0 0% 0 0% 4 100%<br />
Cukup 0 0% I 100% 0 0% J 100%<br />
Kunng 0 0% 0 0% 5 1m% 6 100%<br />
Total 4 26,7% 5 33,3% 6 40,0% l5 tm%<br />
Speament<br />
dro<br />
P = 0,01<br />
Berdasarkan tabel 10 dapat dilakukan analisa<br />
hubungan antara tingkat pengetahuan dan<br />
komunikasi terapeutik perawat. Pengolahan data<br />
menggunakan analisa Spearmen's rho dengan<br />
bantuan komputer window's program SpSS.<br />
11. Hubungan antara komunikasi terapeutik<br />
terhadap tingkat kecemasan pasien hipertensi<br />
di Ruang lnterna RSD. Dr. H. Moh. Anwar<br />
<strong>Sumenep</strong>, pada bulan Juli 2008.<br />
Berdasarkan hasil pengolahan analisa<br />
Spearman's maka didapatkan tabel hubungan<br />
sebagai berikut :<br />
Tabel 11: Hubungan antara komunikasitgrapeutik<br />
terhadap tingkat kecemasan pasien<br />
hipertensi di Ruang lnterna RSD. Dr. H.<br />
Moh. Anwar <strong>Sumenep</strong>, pada bulan Juli<br />
2008.<br />
Komunikasi<br />
Tenpeutik<br />
Tingkat kecemesan paslen<br />
Cema dngn Cemas sedang Cmas bent Tohl<br />
Jml % lml % Jml % Jml %<br />
Baik 4 100% 0 0% 0 0% 4 100%<br />
Cukup 0 0% 5 tm% 0 0% 5 100%<br />
Kunng 0 0% 0 0% 6 100% 6 100%<br />
Tohl 4 26,7% 33,3% 6 40% t5 100%<br />
Speament<br />
dro<br />
P'0,01<br />
Sesuai dengan analisa tersebut didapat angka<br />
kemaknaan nilai koefisien korelasi p = 0,01<br />
artinya derajat kekuatan hubungan komunikasi<br />
terapeutik terhadap tingkat kecemasan di Ruang<br />
lnterna RSD. Dr. H. Moh.Anwar <strong>Sumenep</strong> sangat<br />
kuat.<br />
B. Pembahasan<br />
Dari tabel 6 didapatkan hasil bahwa G orang<br />
perawat (40%) tingkat pengetahuannya kurang.<br />
Pengetahuan merupakan hasil dari perkembangan<br />
pendidikan. Tingkat pengetahuan<br />
perawattentang komunikasi sangat penting dan<br />
dapat berpengaruh pada proses komunikasi.<br />
Adanya pengetahuan yang tinggi tentang<br />
komunikasi terapeutik diharapkan akan membentuk<br />
sikap positif terhadap penerapan komunikasi<br />
terapeutik (Arwani , 2OO2| pada tabel 7<br />
didapatkan hasil bahwa G orang perawat (40%)<br />
memiliki persepsi yang kurang terhadap komunikasi<br />
terapeutik.<br />
Komunikasi terapeutik merupakan salah satu<br />
faktor pendukung dalam pelayanan kepera-
hrtnl Keseh ota n \fifi m rais M edika" 35<br />
watan, karena kemampuan berkomunikasi akan<br />
merRpermudah pemberian bantuan kepada<br />
pasien baik pelayanan medis maupun non medis.<br />
(Arwani, 2OO2l. Dari tabel 8 berdasarkan<br />
observasididapatkan hasil 5 pasien mengalami<br />
cemas berat.<br />
Tempat penelitian di Desa Gunggung Kecamatan<br />
Batuan Kabupaten <strong>Sumenep</strong> dengan<br />
jumlah responden (orang tua)yang mempunyai<br />
anak usia sekolah yaitu sebanyak 30 responden.<br />
Data umum meliputi : usia responden, jenis<br />
kelamin responden, pekerjaan responden, tingkat<br />
pendidikan responden dan jumlah anak usia<br />
sekolah dalam keluarga responden responden.<br />
a. Distribusiresponden berdasarkan usia<br />
Berdasarkan data pada tabel 1 diketahui<br />
bahwa sebagian besar responden berusia 30<br />
- 40 tahun (50%),hal ini menunjukkan bahwa<br />
sebagian besar responden termasuk dalam<br />
usia produktif (usia kerja). Menurut ilmu<br />
kependudukan, bahwa umur 15 - 54 tahun<br />
merupakan usia produktif (usia kerja) sehingga<br />
mereka berlomba - lomba untuk<br />
bekerja dan mencari pekerjaan untuk mendapatkan<br />
penghasilan sebagai penghidupan<br />
bagi keluarga mereka. Pendapatan keluarga<br />
yang memadai akan menunjang terhadap<br />
tumbuh kembang anak, karena orang tua<br />
dapat menyediakan semua kebutuhan anak<br />
baik primer maupun sekunder (Soetjiningsih,<br />
lses).<br />
b. Distribusi responden berdasarkan jenis<br />
kelamin<br />
Dari tabel 2 diatas menunjukkan bahwa<br />
sebagianbesar rsponden adalah berjenis<br />
kelamin perempuan (ibu). menurut Nasrul<br />
Efendy (1998), peran ibu adalah mengurus<br />
rumah tangga dan mengasuh serta mendidik<br />
anak - anaknya.<br />
c. Distribusi responden berdasarkan pekerjaan<br />
Daritabel 3 diatas menunjukkan bahwa dari<br />
30 responden sebagian besar responden<br />
bekerja sebagai petani sebanyak 15 responden<br />
(50%). Berdasarkan data tersebut<br />
bahwa sebagian besar responden bekerja<br />
sebagai petani yang bekerja dari pagi sampai<br />
sore, sehingga mereka sulit untuk mengawasi<br />
anaknya karena seharian bekerja.<br />
d. Distribusi responden berdasarkan tingkat<br />
pendidikan<br />
Berdasarkan tabel 4 dapat disimpulkan<br />
bahwa sebagian besar responden yaitu 14<br />
responden (46,6To1 berpendidikan hanya<br />
sampai SD sehingga pengetahuan responden<br />
tentang bagaimana cara merawat anak<br />
mereka kurang. Pendidikan orang tua<br />
merupakan salah satu faktor yang penting<br />
dalam tumbuh kembang anak. Kareana<br />
dengan pendidikan yang baik, maka orang<br />
tua dapat menerima segala informasi dari<br />
luar terutama tentang cara mengasuh anak<br />
yang baik, bagaimana menjaga kesehatan<br />
anaknya, pendidikannya dan sebagainya<br />
(Soetjiningsih, 1995)<br />
KESIMPUTAN DAN SARAN<br />
A Kesimpulan<br />
1. Sebagian besar perawat di Ruang lnterna<br />
RSD.Dr.H.Moh.Anwar <strong>Sumenep</strong>, memiliki<br />
pengetahuan yang kurang tentang komunikasai<br />
terapeutik<br />
2. Sebagian besar perawat di Ruang lnter,na RSD.<br />
Dr.H.Moh.Anwar <strong>Sumenep</strong>, memiliki persepsi<br />
yang kurang terhadap komunikasi terapeutik<br />
3. Berdasarkan hasil observasi tentang tingkat<br />
kecemasan pasien hipertensi , menunjukkan<br />
bahwa sebagian besar pasien mengalamicemas<br />
berat.<br />
4. Ada hubungan yang sangat kuat antara tingkat<br />
pengetahuan terhadap komunikasi terapeutik.<br />
Semakn tinggi tingkat pengetahuan perawat<br />
tentang komunikasi terapeutik akan baik pada<br />
kom unikasi terapeutik yang digunakan.<br />
5. Ada hubungan yang sangat kuat antara komunikasi<br />
terapeutik terhadap tingkat kecemasan<br />
pasien. Sgmakin baik komunikasi terapeutik yang<br />
digunakan perawat diharapkan akan mengurangi<br />
rasa kecemasan pasien.<br />
B. SARAN<br />
Saran yang dapat dikemukakan dari hasil<br />
penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai<br />
berikut:
L.<br />
2.<br />
3.<br />
36 J u na I Kesehata n "llli ra mJ a Medikd<br />
1. Disarankan kepada pihak rumah sakit untuk<br />
selalu memantau komunikasi yang dilakukan<br />
perawat terhadap pasien, dengan memberika<br />
kotak kritik maupun saran ataupun<br />
memberikan daftar pertanyaan yang diisi oleh<br />
anggota keluarga terdekat pasien pada saat<br />
menyelesaikan administrasi, menanyakan<br />
bagaimana pelayanan perawat selama<br />
perawatan di rumah sakit, dengan langkah<br />
seperti iniinsyaallah manajemen rumah ssakit<br />
dapat mengevaluasi bagaimana kinerja<br />
perawat dilihat dari segi komunikasi yang<br />
dilakukan, sehingga rumah sakit dapat memberikan<br />
pelayanan yang lebih baik kepada<br />
pasien.<br />
2. Hasil penelitian ini belum dapat digeneralisasikan<br />
karena masih banyak factor<br />
yang dapat mempengaruhi tingkat penge-<br />
tahuan, komunikasi terapeutik perawat dan<br />
tingkat kecemasan pasien , diantaranya<br />
factor lingkungan , persepsi dan lain - lain.<br />
Maka dariitu perlu diadakan penelitian lebih<br />
lanjut.<br />
KEPUSTAKAAN<br />
Abraham, Cha rles. 7997 . P si kolog i Sosi al U ntu k<br />
Perawat. Jakarta : Penerbit Buku<br />
Kedokteran EGC<br />
Alimul, Aziz, A. (2003). Metode Riset<br />
Keperawaton. Jakarta : Penerbit<br />
Salemba Medika.<br />
Alimul, Aziz, A. (2003). Riset keperawatan &<br />
Tehnik Penulisan llmiah. Jakarta :<br />
Penerbit Salemba Medika.<br />
4. Arikunto, S. 1998. prosedur penglifrgn Suotu<br />
Pe n dekoto n Prakfek Jakarta : penerbit<br />
Bina Cipta.<br />
5. Arikunto, S. (1999). Prosedur Penelitian Suatu<br />
Pendekaton Proktek Edisi Revisi lll.<br />
Jakarta : Rineka Cipta.<br />
6. Arikunto, S. (2002). Prosedur penelitian Suatu<br />
Pendekatan Proktek Edisi Revisi V.<br />
Jakarta : Rinike Cipta.<br />
7. Budi & Anna Keliat. (2003). Komunikosi<br />
Terapiotik perawot. Fakultas<br />
Kedokteran . Jakarta.<br />
8. Hudak dan Gallo. t997, Keperawaton kritis,<br />
Pendekaton Holistik, Edisi Vl, Volume<br />
l. Jakarta : Penerbit buku kedokteran<br />
EGC<br />
9. Notoadmojo, S. (2003). Pendidikan dan priloku<br />
Kesehaton. Jakarta : Rineka Cipta.<br />
10. Nursalam. (2003). Konsep don penerapon<br />
Metodelogi Penelition llmu<br />
Keperawatan. Jakarta : Salemba<br />
Medika.<br />
11. Nursalam & Siti Pariani. (2001). pendekaton<br />
P rakti s M etodelogi Ri set Ke pe rowata n<br />
. Jakarta : CV. lnfomedika.<br />
12. Suyono, S. (2001). Buku Ajar tlmu penyakit<br />
Dalam Jilid ttt Edisi3. Jakarta : Balai<br />
Penerbit FKUI.<br />
13. Sugiono. (2003). Statistika untuk penelitian.<br />
Bandung: CV. Alfabeta
HUtsUNGA}{ AIVThRA SOSIAL BUDAYA<br />
(KEPERCAYAA}g DENGAI\ PERII-AIU Kl<br />
MURNI PADA IBU HAMIL DI DESA BAI\TGKAL<br />
wII*AyAFr ICERJA PUSKESMAS PATVTOLOKANI<br />
IKABUPATEN $UMENEP TAHUN 20fi<br />
Oleh:<br />
DIAN PERMATASARIT dan SRI SUKARSF<br />
ABSTRACT<br />
Background: Pregnant motherthe pregnancy age stills youngthat is under 12 weeks<br />
doesn't investigate the pregnancy because reason not beliafe towards well-being<br />
energy akn have conseguences bad in baby and the mother. pregnant mother reason<br />
caused by they are unconvinced towards well-being energy and they also will believe<br />
that when pregnancy that still young that is age under 12 unnecessary weeks<br />
investigate to well-being energy because influential hada the pregnancy later.<br />
pregnant mother behaviourthat is influenced by cuhure factor imprecise oratypical<br />
so will affect in mother and the fetus, so that pregnant mother can not detect<br />
mother conditon and the fetus, especially well-beingand the pregnancy development<br />
with can not detect when there difference may be emerge at alltirne during the<br />
pregnancy.<br />
Method: This watchfulness is analytic watchfulness kind korelatif that aims to detect<br />
connection between between culture social (belief) with behaviour K1 am pure in<br />
pregnant mother at village bangkalwork area puskesmas pamolokan year 2010, by<br />
using approach cross sectional. poputration and sample in this watchfulness allgood<br />
pregnant mothers primigravida and multigravida at village bangkal work area<br />
puskesmas pamolokan sample taking technique with technique non probability<br />
sampling that is total sampling" hypothesis test is done with wear statistics test<br />
spearmant rho.<br />
Result and Conclussion: From watchfulness result is got that is a large part pregnant<br />
mother not memerikksa to well-being energy, half it mother has behaviour K1 am<br />
pure enough, and there correlation between culture social (belief) with behaviour<br />
K1 am pure at village bangkal work area puskesmas pamolokan year 2010.<br />
Keword: Culture social (belief), Behaviour k1 pure, Pregnant mother<br />
1. Dian Permatasari, S.ST: Dosen Prodi D.lll Kebidanan Fikes Unija <strong>Sumenep</strong> Madura<br />
2. Sri Sukarsi, S.ST: Dosen Prodi D.lll Kebidanan Fikes Unija <strong>Sumenep</strong> Madura<br />
37
38 Jurnal Kesehatan'Wiraroja Medika'<br />
PENDAHULUAN<br />
Masalah kesehatan ibu dan perinatalmerupakan<br />
masalah nasional yang perlu mendapat prioritas<br />
utama, karena sangat menentukan kualitas sumber<br />
daya manusia pada generasi mendatang. Perhatian<br />
terhadap ibu dalam sebuah keluarga perlu men-<br />
dapat perhatian khusus karena angka kematian ibu<br />
(AKl) di lndonesia masih sangat tinggi bahkan<br />
tertinggi d i a nta ra nega ra-nega r a Associ ati on South<br />
East Asian Nation (ASEAN). Dimana AKI saat<br />
melahirkan tahun 2007 tercatat 248 per 100.000<br />
kelahiran hidup. Diharapkan untuk lndonesia sehat<br />
2009 angka ini menurun menjadi 226 per 100.000<br />
kelahiran hidup.1<br />
Penanganan masalah initidaklah mudah, banyak<br />
hal yang melatarbelakangi tingginya AKI salah<br />
satunya penyebab tidak langsung yaitu renfahnya<br />
tingkat pendidikan masyaraka terutama ibu,<br />
rendahnya tingkat sosial ekonomi, kondisi dan latar<br />
belakang sosial budaya yang tidak mendukung,<br />
rendahnya prevalensi anemi khususnya pada ibu<br />
hamil, kedudukan dan peranan kaum ibu yang tidak<br />
menguntungkan2. Walaupun masalah tersebut<br />
perlu diperbaiki sejak awal namun kurang relatif bila<br />
mengharapkan perubahan drastis dalam waktu<br />
singkat. Upaya menurunkan AKI pada dasarnya<br />
mengacu kepada intervensi strategi "Empat Pilar<br />
Safe Motherhood" dimana salah satunya yaitu akses<br />
terhadap pelayanan pemeriksaan kehamilan yang<br />
mutunya masih perlu ditingkatkan terus. Pemeriksaan<br />
kehamilan yang baik dan tersedia fasilitas<br />
rujukan bagi kasus resiko tinggi dapat menurunkan<br />
angka kematian ibu. Petugas kesehatan seyogyanya<br />
dapat mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang<br />
berhubungan dengan usia paritas riwayat kehamilan<br />
dengan buruk, dan perdarahan selama kehamilan.<br />
Kematian ibu juga diwarnai oleh hal-hal nonteknis<br />
yang masuk kategori penyebab mendasar seperti<br />
taraf pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu hamil<br />
yang masih rendah, serta melewati pentingnya<br />
pemeriksaan kehamilan dengan melihat angka<br />
kunjungan pemeriksaan kehamilan yang masih<br />
kurang dari standar acuan nasiona13. Pemeriksaan<br />
antenatal adalah pemeriksaan kehamilan yang<br />
dilakukan untuk memeriksa keadaan ibu dan janin<br />
secara berkala, yang diikuti dengan koreksi terhadap<br />
penyimpangan yang ditemukan. Pemeriksaan<br />
antenatal dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan<br />
terdidik dalam bidang Kebidanan.<br />
Kunjungan baru lbu hamil (K1) asli adalah kontak<br />
pertama ibu hamil terhadap tenaga kesehatan<br />
dengan umur kehamilan dibawah 12 minggu.<br />
Kunjungan Kl akses adalah kontak pertama ibu hamil<br />
terhadap tenaga kesehatan lebih dari L2 minggu.<br />
Dari studi pendahuluan berdasarkan data<br />
sekunder dari Dinas Kesehatan Kabupaten <strong>Sumenep</strong><br />
tahun 2007 didapatkan pencapaian cakupan K1<br />
untuk Kabupaten <strong>Sumenep</strong> yaitu K1 akses sebesar<br />
89,2o/o dan K1 asli sebesar 7l,5yo, sedangkan<br />
targetnya 87%. Tahun 2ffi8 pencapaian cakupan K1<br />
asli sebesar 85.8% dan K1 akses sebesar 88,8%o,<br />
sedangkan targetnlra 90%. Tahun 2009 pencapaian<br />
cakupan K1 asli sebesar 85.55% dan K1 akes sebesar<br />
85,4yo, sedangkan targetnya 94.% (Profil kesehatan<br />
Dinas Kesehatan lGbupaten <strong>Sumenep</strong>).<br />
Tabel 1 : Data Laporan nffS KIA UpTD puskesmas<br />
Pamol'okan Tahun 2W7 - 2OAg<br />
Desa K'l .{SLi iai Sasaran<br />
2fi)7 2m 2009 Bumil<br />
Paiasalan V7,9 1 61,,1 * 57.6 % 59<br />
Pangarangan 74-2a 515 a s3.8 % 65<br />
Bangkal 65 a 525 rL 41.3 % 80<br />
Kacongan 63.6.!5 63j t 54,5 % 22<br />
Pabian 9r.6 A &3J r 60.6 % 36<br />
Parsans 11]"X t 9;: a 84,7 % 72<br />
Marenean r03JE qln 80% 30<br />
Paberasan Et.{a ,7t.5T 65.1 % 59<br />
Pamolokan 63J'. 53 .!t 47 % 65<br />
Sumber: Laporan PUYS XIA UpTD puskesmas<br />
Parnoiobr<br />
Dari tabd 1 mErrri.b! Hrra ten pencapaian<br />
K1 asli oleh ten4a hesefi*an dari tahun 2007<br />
sa m pa i dengan 2IIII d l,rPTD R.rkesrn as pam oloka n<br />
Kabupaten <strong>Sumenep</strong>rsrrur dan jauh daritarget<br />
sasaran ibu harrflteruurqa d Desa Bangkal dimana<br />
target K1 sebesar gaX seduelan jumlah sasaran<br />
Bumil di Desa Brgld ca+'-
ttmlrallxffisn1trimspdtldfr*d 39<br />
Berdasarkan survei lanjfian pada tanggal 18<br />
febnrari Z0l0pngtdah dilakukan pada 10 ibu hamil<br />
di Desa Bangkal Wilavah Kerja Puskesmas<br />
Pamolokan diperoleh data 6 orang atau {60%} ibu<br />
hamil mengatakan bahwa mereka rnasih percaya<br />
bahrra kehamilan yang rnuda tidak perlu diperiksa-<br />
kan ketenaga kesehatan {bidan} karena apabila hal<br />
itu dilakukan maka kandungannya akan terganggu<br />
baik pada ibu maupun janinnya, dan diperoleh data<br />
4 orang atau {40yo} ibu harniltidak memerikakan<br />
kehamilannya disebabkan oleh faktor ekonomi,<br />
rnereka tidak rnernpunyai uang untuk periksa ke<br />
bidan. (epercayaan di rnasyarakat sangat mernp*'<br />
ngaruhi tingkah laku kesehatan. kepercayaan<br />
rnasyarakat juga nrerupakan penghalang/pengharnbat<br />
pola hidup sehat di masyarakat'misal ibu<br />
hamil yang rnasih muda tidak perlu pemeriksaan ke<br />
tenaga kesehatan{.<br />
Perilaku ibu hanril yang dipengaruhi oleh faktor<br />
budaya yang tidak tepat atau tidak lazirn rnaka akan<br />
berdampak pada ibu dan janinnya, sehingga ibu<br />
hamil tersebut tidak dapat mendeteksi keadaan ibu<br />
dan janinnya, terutama kesehatan dan perkembangan<br />
keharnilannya serta tidak dapat rnendeteksi<br />
apabila ada kelainan lnng m ungkin timbul sewaktuwaktu<br />
selama kehamilannyas.<br />
Kepercayaan tersebut apabila tidak diperbaiki<br />
maka akan menyebabkan dampakyang lebih besar<br />
untuk itu, petugas kesehatan dalam hal ini seorang<br />
bidan hendaknya melakukan pendekatan persuasif<br />
kepada masyarakat melalui Toma {tokoh masyarakat),<br />
seperti kader ka rena m asyarakat cenderung<br />
pereya dengan himbauan kadeq maka kader harus<br />
diikutsertakan dalam hal mengadakan sosialisasi<br />
tentang pentingnya memeriksakan kehamilan sejak<br />
dini, mengadakan penyuluhan pada waktu posyandu<br />
sekaligus merangkul ibu hamil agar lebih berpartisipasi<br />
dalam memeriksakan kehamilannya sejak<br />
dini.<br />
Peran tenaga kesehatan atau bidan dalarn hal<br />
ini yaitu memberikan pelayanan kesehatan yang<br />
berkualitas seperti menerapkan 14T, rnemberikan<br />
inforrnasi dengan jelas tentang perneriksaan<br />
kehami lan. Tersedianya tenaga terampi I dengan<br />
sarana dan prasarana yang memadai, menganjurkan<br />
ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan yang<br />
masih muda untuk merneriksakan kehamilannya ke<br />
tenaga kesehatan, Sehingga jika ada kelainan bisa<br />
s€gera terdeteki. Dan adapun tujuan dari peme.<br />
riksaan yang masih awal tersebut adalah agar bila<br />
ada kelainan pada kehamilan masih bisa rnenanganinya<br />
sebelurnterjadi sesuatu yang buruk, serta untuk<br />
mernelihara dan meningkatkan kesehatan ibu dan<br />
bayi karena pada umur kehamilan yang rnasih rnuda<br />
dapat meran6sang kecerdasan otak, sehinga dapat<br />
menyelesaikan kehamilannya dengan baik dan<br />
melahirkan bayi yang sehaf-<br />
BAHAhI DAil CARA PEilELMAil<br />
Rancangan yang digunakan dalarn penelitian ini<br />
berdasarkan lingkup penelltiannya tenmasuk<br />
inferensiol, berdasarkan tempat penelitiannya<br />
termasuk penelitian lapangan, berdasarkan cara<br />
pengumpullan datanya terrnasuk penelitian survry.<br />
Eerdasarkan ada atau tidak ada perlakuan termasuk<br />
expost tocfo {mengungkap fakta}. Berdasarkan<br />
waktu pengumpulan data termasuk cross sectianol.<br />
Berdasarkan tujuan penelitian termasuk analitik<br />
korelasional. Berdasarkan surnber data termasuk<br />
penelitian primer?.<br />
HASIL PTNTLITNTT<br />
1. Umur Responden<br />
Tabel 2: Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik<br />
Umur Responden di Desa Bangkal<br />
wilayah Kerja Puskesmas Pamolokan<br />
Tahun 2010<br />
No. Umur Fr+ Prosentase<br />
1.<br />
2.<br />
3.<br />
{tahun} kuensi {%}<br />
35<br />
Tohl<br />
100<br />
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2010<br />
Berdasarkan tabel 2 dapat diinterpretasikan<br />
bahwa sebagian besar (70 %) responden berusia<br />
antara 20 sampai =5,ahrn. ., ...
2. Tingkat Pendidikan ResPonden<br />
Tabel 3 : Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik<br />
Tingkat Pendidikan Responden di<br />
Desa Bangkal Wilayah Kerja Puskesmas<br />
Pamolokan Tahun 2010.<br />
No. Tingkat<br />
Pendidikan<br />
@o<br />
Fre<br />
kuensi<br />
2.sD9<br />
3. sMP 8<br />
4. sMA 8<br />
5. PT<br />
Jumlah<br />
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2010<br />
Berdasarkan tabel 3 dapat diiterpretasikan<br />
bahwa hampir setengahnya (30%) pendidikan<br />
responden adalah SD.<br />
3. Pekeriaan Responden<br />
Tabel 4: Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik<br />
Jenis Pekerjaan Responden di Desa<br />
Bangkal WilaYah Kerja Puskesmas<br />
Pamolokan Tahun 2010.<br />
No.<br />
1.<br />
2.<br />
3.<br />
4.<br />
5.<br />
Jenis Fre- Prosentase<br />
Pekeriaan kuensi (%)<br />
lbu Rumah<br />
Tangga<br />
Petani<br />
Buruh<br />
Wiraswasta<br />
PNS<br />
Jumlah<br />
30<br />
14<br />
3<br />
0<br />
I 5<br />
30<br />
t u rn al Ke sehata n'Wi ra mi a M edika"<br />
4. Paritas Responden<br />
Tabel 5: Distribusi Frekuensi Berdasarkan KarakteristikJumlah<br />
Anak/ Paritas Responden di<br />
Desa Bangkal Wilayah Kerja Puskesmas<br />
Pamolokan Tahun 2010.<br />
Prosentase<br />
(?o) No. Paritas<br />
0<br />
30<br />
26,7<br />
26,7<br />
16,7<br />
100<br />
46,7<br />
10<br />
0<br />
26,7<br />
16,7<br />
100<br />
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2010<br />
Berdasarkan tabel 4 dapat diinterpretasikan<br />
bahwa ha m pir setenga h nya (46,7 %l ienis pekerja n<br />
responden adalah sebagai ibu rumah tangga'<br />
Frc- Prosentase<br />
kuensi (o/o)<br />
1. Nullipan (0) 0 0<br />
2. Primipara (1) 16 53,3<br />
3. Multipara (2-5) 14 46,7<br />
4. Grande 0<br />
0<br />
multipan<br />
(>s)<br />
Jumlah 30 100<br />
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2010<br />
Berdasarkan tabel 5 dapat diinterpretasikan<br />
bahwa sebagian besar {53,3%} paritas responden<br />
adalah primipara fumhh anak 1).<br />
5. Sosial Budaya ( lGpercayaan)<br />
Tabel 6: Distribusi Frekuensi Sosial Budaya<br />
(Kepercataan) di Desa Bangkal Wilayah<br />
Kerja Rrskesnras Pamokrkan.<br />
No. SosialhdaF Fre Prosentase<br />
(kepercarraad hnnsi (?o)<br />
'1. Positif (percap 13 43,3<br />
2.<br />
terhadap Ne)<br />
Negatif $d*<br />
percaya<br />
terhadap l{*ed<br />
17 56,7<br />
Jurnl*r 30 100<br />
Sumber : Data Prirner Penditian Tahun 2010<br />
Berdasarkan tabel 6 dapat diinterpretasikan<br />
bahwa sebagian besa responden (55,7 %) tidak<br />
percaya terhadap ten*a kesehatan.<br />
6. Perilaku lQ murnri nesponden<br />
TabelT: Distribusi Huensi Perilaku Kl Murni<br />
Pada lhr l*nll diDesa BangkalWilayah<br />
Keria R.xfxnas Parnolokan.<br />
No. Peril*J lJ Fr+ Prosentase<br />
Mr-rni h.Errsi (%)<br />
1. Ya<br />
2. Trd*<br />
lunl*r<br />
10<br />
20<br />
30<br />
33,3<br />
66,7<br />
100<br />
Sumber : Data Prits Fenefitian Tahun 2010
turnal Kesehatan'Mfrraraia Medika"<br />
Berdasarkan tabel 7 dapat diinterpretasikan<br />
bahwa sebagian besar (66,7%) responden tidak<br />
melakukan kunjungan K I murni.<br />
7. Tabulasi Silang Hubungan Antara<br />
Sosial Budaya (Kepercayaan) dengan<br />
Perilaku Kl Murni<br />
,Tabel 8: Tabulasi Silang Distribusi Frekuensi<br />
i Hubungan Antara Sosial Budaya (Kepercayaan)<br />
dengan Perilaku Kl Murni pada<br />
i lbu HamildiDesa BangkalWilayah Kerja<br />
i Puskesmas Pamolokan Tahun 2010.<br />
Sosial Budaya<br />
(kepercayaan)<br />
Pedlaku Kl Mumilbu<br />
Hamil Frekuensi<br />
Ya Tidak<br />
T % x<br />
OI<br />
h I d a<br />
Positif I 61.5 5 38,5 l3 43,3<br />
Nesative 2 I t.8 t5 88,2 t7 56,7<br />
Total 10 33,3 20 65.7 30 100<br />
UjiMann Whitney Test = 0,005<br />
o = 0,05<br />
Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2010<br />
Berdasarkan tabel 8 terlihat bahwa dari t7<br />
responden seba gia n besa r ya itu respon den (S6,7yol<br />
mempunyai sosial budaya (kepercayaan) negatif<br />
atau tidak percaya terhadap tenaga kesehatan dan<br />
setengahnya yaitu 20 responden (66,7%l mempunyai<br />
perilaku K I murni cukup. Sedangkan dari 13<br />
responden (43,3yo') mempunyai kepercayaan positif<br />
atau percaya terhadap tenaga kesehatan, terdapat<br />
l responden (33,3To) mempunyaiperilaku K I murni<br />
yang kurang.<br />
Berdasarkan dari hasil analisa data dengan uji<br />
Mann Whitney diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi<br />
adalah 0,005 sedangkan nilai c adalah 0,05<br />
dikarenakan nilai signifikansi < d, maka Ho ditolak<br />
dan H1 diterima yang berarti ada hubungan antara<br />
sosial budaya (kepercayaan) dengan perilaku K I<br />
murni pada ibu hamildi desa bangkalwilayah kerja<br />
Puskesmas Pamolokan tahun 2010.<br />
Hasil analisa data dengan menggunakan komputerisasi<br />
SPSS. 12 mempunyai exact Sig. (+) yang<br />
berarti hubungannya kuat antara sosial budaya<br />
dengan perilaku K1 murni pada ibu hamil di Desa<br />
Bangkal Wilayah Kerja Puskesmas pamolokan tahun<br />
20to.<br />
PEMBAHASAN<br />
1. SosialBudaya (Kepercayaan) pada lbu<br />
Hamil<br />
Berdasarkan hasil penelitian ibu hamil di desa<br />
Bangkal wi layah kerja puskesmas parnolokan ta h un<br />
2010 didapatkan sebagian besar responden (5G,7<br />
%) tidak percaya terhadap tenaga kesehatan<br />
(negatif) da la m mem eriksakan kehami lan nya yang<br />
masih berusia dibawah 12 minggu. Selain itu hasil<br />
penelitian juga menunjukkan sebagian besar (53,3%)<br />
adalah seorang primipara yaitu ibu yang baru<br />
pertama kali melahirkan. Haltersebut sesuai dengan<br />
teoriyang dikemukakan oleh Notoadmodjo dalam<br />
Sarwono yang mengatakan bahwa rasa percaya<br />
atau tidak percaya seseorang yang muncul dalam<br />
perilaku seseorang ditentukan oleh factor_faktor<br />
seperti informasi, pengaruh, dan pengendalianT.<br />
Hal ini dikarenakan ibu primipara tidak memiliki<br />
pengala ma n, kurangnya pengetah uan dan informasi<br />
serta menganggap teman, tetangga dan orang tua/<br />
orangyang lebih tua lebih tahu tentang pemerikaan<br />
awaltrimester pertama kehamilan yang mana tidak<br />
perlu melakukan pemeriksaan ke tenaga kesehatan<br />
seperti bidan karena menganggap sudah lebih<br />
berpengalaman, maka mereka ikut memilih tidak<br />
memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan<br />
tersebut. Tanpa melihat dampak yang akan terjadi.<br />
lni juga karena kurangnya pengetahuan ibu dan<br />
keluarga mengenai pemeriksaan kehamilan yang<br />
baik, terutama yang masih berusia dibawah 12<br />
minggu atau trimester pertama, karena hampir<br />
setengahnya (30yol dari mereka tingkat pendi_<br />
dikannya rendah (SD). pendidikan merupakan<br />
tingkat dasar pengetahuan intelektual yang dimiliki<br />
seseorang. Pendidikan merupakan modal dasar<br />
dalam rangka pengembangan sikap dan perilaku<br />
serta ketrampilan. pendidikan dianggap sebagai<br />
suatu hal yang dapat mempengaruhi seseorang<br />
untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. Semakin<br />
baik tingkat pendidikan dari suatu kelompok<br />
masyarakat akan lebih baik pula pemahaman<br />
terhadap kesehatan secara keseluruhan, mulai dari<br />
pola hidup, pola makan dan pengobatan-peng_<br />
obatan yang harus dilakukan apabila menderita<br />
suatu penyakit, dan terutama khususnya dalam<br />
pemeriksaan kehamilan, Sebaliknya semakin rendah<br />
taraf pendidikan dari suatu kelompok masyarakat<br />
akan semakin rendah pula tingkat pemahaman
hnnl K*hotun Mrawla lfiffirf /[t<br />
perilaku masyarakat seringkali rnerupakan penghalang<br />
atau penghambat terciptanya pola hidup<br />
sehat di masyarakat dan tingkat kepercayaan<br />
masyarakattertradap petugas kesehatan. beberapa<br />
wilayah masih rendah tingkat kepercayaannya dan<br />
kepercayaan mereka kepada dukun semakin tinggi.<br />
petugas kesehatan pemerintah dianggap sebagai<br />
orang baru yang tidak mengenal masyarakat "<br />
sehingga perilakr.r tersebut sangat beresiko terhadap<br />
perkembangan keharnilannya"<br />
. lbu lebih per@ya kepada dukun daripada tenaga<br />
'kesehatan itu atas dasar saran dari tetanga, teman<br />
ataupun orangtua. Mereka umumnya memeriksa'<br />
kan kehamilannya dan memasrahkan persalinannya<br />
kepada dukun beranak karena selain biaya pemerik-<br />
saan persaNinannya murah, rnudah dijangkau<br />
';tempatnya,<br />
tanpa rnengetahui dampak atau resiko<br />
yang akan terjadi pada kondisi keharnilannya.<br />
1. Kesirnpulan<br />
KESIMPULAN DAil SARAN<br />
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil<br />
penelitian tentang hubungan antara sosial budaya<br />
(kepercayaan) dengan perilaku k1 murni pada ibu<br />
hamil di desa bangkal wilayah kerja puskesrnas<br />
parnolokan tahun 2010 yaitu :<br />
a. Sebagian besar ibu hamil tidak percaya terhadap<br />
tenaga kesehatan didesa BangkalWilayah Kerja<br />
Puskesmas Parnolokan Tahun 2010.<br />
b. Saengahnya ibu hamiltidakmelakukan KlMumi<br />
pada tenaga kesehatan di desa Bangkal Wilayah<br />
Kerja Puskesmas Pamolokan Tahun 2010.<br />
c. Ada Hubungan Antara Sosial Budaya (Kepercayaan!<br />
dengan Perilaku Kl Murni pada lbu<br />
Hamildi Desa BangkalWilayah Kerja puskesmas<br />
Pamolokan Tahun 2010.<br />
2. Saran<br />
a, BagiTempatPenelitian<br />
Pada tempat penelitian, hendaknya meningkatkan<br />
kualitas pelayanan keharnilan terutama<br />
pada saat konseling tentang kehamilan pada ibu<br />
hamil agar percaya terhadaptenaga kesehatan<br />
dan mau memeriksakan keharnilannya ke<br />
tenaga kesehatan.<br />
b. Bagi Masyarakat<br />
1.<br />
2.<br />
5.<br />
lbu hamil dapat rnencari informasi tentang<br />
perneriksaan keharnilan yang bermutu untuk<br />
dirinya sebelurn melakukan pemeriksaan<br />
keharnilan, sehingga kondisi janin dan ibunya<br />
sehat.<br />
KEPUSTAI(AAN<br />
Sambutan Menkes Februani. {200g} <<br />
unpur-sunabala-eheahh-org> [ Diaks<br />
tansal 20 Januari 20091.<br />
Henri.{2008l"Pelayonon ANC don Sorsna<br />
Kese h oto n. <br />
[Diakses tanggal 2l Januari 2m91.<br />
Prawirohardjo, Sarwono. {2006). $mu<br />
Kebidana n. Jakarta : yBp-Sp<br />
Kalangie, Nico.S. {1994}. Kebudayoan Don<br />
Kesehaton. lakarta : pT. Kesaint Blanc<br />
lndah Corp.<br />
Depkes. {1994}. Pedoman pelayonon Antmstal<br />
di Tingkat kloyanan Dosor. Jakarta:<br />
Depkes Rt.<br />
5. Depkes. (1995). pdoman pemontouonWilayoh<br />
Setempat Kesehotan tbu dan Anok.<br />
Jakarta: Depkes Rl.<br />
7. Notoatmodjo, S. {2005}. Metodelogi penelition<br />
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.<br />
8. Nursalam. (2003). Konsep dan penerapon<br />
Metodelogi penelitidn ilmu<br />
Keperawatan. Jakarta: Salemba<br />
Medika.
PENGARUH PEMBERIAI\ TEH HIJAU<br />
(CA-fuTELIA S INE NS I S) SE DU H TE RHADAP<br />
PENURUNANI I(ADAR TNTERTE UKIN-I (L-1)<br />
DALATVI PI-ASI\,IA TIKUS PUTIH (RATUS<br />
NOW RGICUS STRAIN WSTAR)YAI\G DI<br />
INDUKSI ADJAVAIVT ARTTIRITIS<br />
Oleh:<br />
EKO MUIYADI-I<br />
ABSTRACT<br />
Background: People believe by drinking green tea will prevent rheumatoid<br />
arthritis. But it still not clear is grean tea pr event rheumatoid arthritis? Outcome of<br />
this research to discover relation of grean tea and decrease of plasma leve lL-1 (main<br />
pathophisiology of rheumatoid) induced adjivant arthritis rat.<br />
Method: This researh is true experimental with post test control group design,<br />
sample choise by simple random sampling. 25 sample defide 5 group, each group<br />
assigned 5 sample of rat (ratus novergicus strain wistar), experiment group intervent<br />
with grean tea and adjuvant arthritis induced. Group A intervent 110mg green tea,<br />
group B intervent 24omggreen tea, group C intervent 550mg green tea. Group D<br />
induced adjuvant arthritis onlyto perform positive controlgroup.group E is normal<br />
sample to perform negative control group. Mesured variable is interleukin-l with<br />
elisa (enzim linke imuno serbant assay)method.<br />
Result and conclusion: Green tea decreased plasma level of lnterleukin-l induced<br />
adjuvant artritis rat, but the decreased of lL-1 not signMcant perforrn by P value:<br />
0.134. the conclusion of this research is green tea decoc do not decreased plasma<br />
level of induced adjuvant arthritis rat. Based on this research, we propagate to the<br />
next reseach need to measured the sinovial liquid level lL-1<br />
Keyword : Green tea, Rheumatoid arthritis, lnterleuikin -1<br />
PENDAHULUAN<br />
Rheumatoid arthritis adalah penyakit inflamasi kronis pada sendiyang belum<br />
diketahui penyebabnya (John Hopkins university,2005). RheumotoidArthritisdapat<br />
menyebabka n deformitas pada sendi dan gangguan furgsi y.arg seringdisertaidengan<br />
nyeri, sulit pengobatannya apabila sudah terjadi deformitos kecuali dengan<br />
*) Eko Mulyadi, S.Kep.,Ns: Pembantu Dekan 1 Fikes Unija furnenep Madura<br />
M
emralneretunryrmqfu,t/eldirra.<br />
pemMahan {Koopman, 2000}. Meskipun penyakit<br />
ini dapat rnenyerang pada semua umur dan sernua<br />
jenis kelamin, namun lebih banyak d$urnpai pada<br />
wanita dengan perbandingan antara pria dan<br />
wanita 3:1, terutama pada usia subur {Anderson,<br />
1999! dengan helnuensi sekitar 5O0 lcasus pertahun<br />
per tr juta penduduk (Anderson, 1 999).<br />
Tanaman teh termasuk dalam genus Comefio<br />
srhensrt pada awalnya kebiasan rninum teh berasal<br />
dari Cina dan lndia, kernudian berkernbang ke<br />
Jepang lalu ke Eropa, dan pertarna kali masuk ke<br />
lndonesia dibawa oNeh seorangJerman pada tahun<br />
1684, pada tahun 1910 pertebunan teh pertama<br />
kali dibangun di Gambang Jawa Barat, seiak itulah<br />
teh mulai berkembang di lndonesia (PTPK<br />
Garnbang 2fi)51 dan menjadi minurnan yang dikenal<br />
luas di masyanakat (Fuller" 20(B). Saat ini maryrakat<br />
nnernpercayai dengan rninum teh hiiau dapat<br />
mencegah penyakit rheurnotaid arthtitis (Kompas<br />
cyber media, 20051. Namun belurn jelas bagaimana<br />
mekaisme teh hijau sehingga dapat mencegah<br />
terjadinya freumatoid arthritis, karena penelitan<br />
tentang rheum otoid afthrtfi s saat ini masih banyak<br />
pertentangan satu sama lain, dan tak ada bukti<br />
epidemologi yang jelas menyebutkannya {Kmpma4<br />
2m01.<br />
Dengan minum teh 3-5 gelas perhari, tnenunjukkan<br />
insiden terjadinya stroke dan serangan<br />
jantung lebih rendah dari pada yang tidak minurn<br />
teh (Dinkes propinsi.,20o5). Polifenol teh hijau<br />
secara signifikan mereduksi insidensi dan keparahan<br />
ar$rritis" ekspresi mediator inflamatori yang meliputi<br />
siklooksigenose-Z, interferon getnmo, dan IJVFalpho<br />
lebihrendah pada sendi arfh ritik dari mencit<br />
yang diberi poliphenol teh hijau. {Kompas cyber<br />
media,2(F5)<br />
Dan temyata kadar poliphenolyang terkandung<br />
dalam teh lndonesia yang merupakan kornponen<br />
aktif dari teh hijau ternyata 1.34 kali lebih tinggi<br />
dibanding negara lain {PTPN |V,2005}. pengobatan<br />
rheumatoid arthritits adalah dengan mengharnbat<br />
inteleukin-7 dan trNF g, s€cora bersama sama<br />
sehingga rnencegah tejadinya perusakan sendi,<br />
resorbsi tulang osteopenia dan proses inflamasi,<br />
akivitas inteleukin-7 merupakan patogenesa utama<br />
tl5<br />
dari rfi eurratoid orthritis, narnun menghambat<br />
interlewki*I saja masih merupakan problematika<br />
dan rnasih dalarn penelitian, hal tersebut karena<br />
banyak qytokin yangserupa yang mempunyai efek<br />
sinergi seperti TIllFg flohn Hopkins university, 2fl)5<br />
Dari uraian diatas diketahui bahnn rhemotaid<br />
arthrtitis rnerupakan penyakit yang sukar<br />
disembuhkan, sangat rnenggangu aktivitas dan<br />
merupakan penyakit urnum banyak terjadi di<br />
masyarakat. Selain masyarakat banyak mempercayai<br />
teh hijau dapat menyembuhkan penyakit<br />
rheumataid arthftitis,teh merupaka minuman yang<br />
mudah didapat dan harganya relatif terjangkau<br />
untuksemua kalangan masyaraka! namum belum<br />
ada penelitian yang secara jelas menyebutkan<br />
pengaruh teh hijau terha dap rheumotoid arthtritis,<br />
sehingga hal tersebut menjadi perhatian pada<br />
penelitian ini.<br />
BAHAN DAI{ CARA PENETMAN<br />
Fenelitian ini merupakan penelitian eksperirnerp<br />
tal mumi dengan metode ran€ng post test control<br />
group design yang terdiri dari 25 tikus wistar yang<br />
dipilih secarasimple random sampling yang dibagi<br />
menjadi 5 kelompokpitu:<br />
Kelompok A : dipapar arthritis adjwant dan diberi<br />
teh hijau dengan dosis 110 rng/kgBB<br />
Kelompok B : dipapar arthritis adjurnnt dan diberi<br />
teh hijau dengan dosis 24O mg/kgBB<br />
Kelornpok C : dipapar arthritis adjuvant dan diberi<br />
teh hijau dengan dosis 550 rngftgBB<br />
Kelompok D : Kontrol + : dipapar adjwant arthritis<br />
tanpa diberiteh hijau<br />
Kelornpok E : Kontrol - : tak dipaparadjuvant arthritis<br />
takdiberiteh hijau<br />
Dengan masing rnasing kelompok 5 tikus, penelitian<br />
ini dilaksanakan selarna 4 minggu yang setelah hari<br />
terahir tikus akan dibunuh untuk diperika kadar<br />
interleukin-l. Secara singkat digambarkan dalam<br />
bagan 1.
46 lurnal Kesehatan lAllraraja Medika'<br />
Idfrrq ecoterlutd bllru (Hp A!,C) tu 2f bd<br />
pcoguhruII-6<br />
Bagan 1: Desain penelitian pengaruh teh hijau<br />
terhadap kadar interleukin-2 pada tikus<br />
yang diinduksi adjuvant arthritis<br />
Analisa data dilakukan dengan cara melihat<br />
perbedaan teh hijau dengan berbagai dosis (dosisl:<br />
3,3gr/kgBB, dosis 2:5,5grlkg9B, dosis 3:13,2gr/<br />
kgBB) diuji dengan tehnik statistik anova, dengan<br />
derajat kepercayaan 95Yo, s, = 0,05, bermakna bila<br />
p
turnal Kesehatan'Wi raraJa Medikd' 47<br />
Tabel 2 : Hasil uji ll-l dengan One WayAnova<br />
Variable Mean 5D 95% Cl P value<br />
A<br />
B<br />
c<br />
D<br />
E<br />
s'<br />
es<br />
*.<br />
$sl<br />
.9.<br />
t"[<br />
.2<br />
rx :t<br />
qs<br />
$<br />
3.888<br />
4.720<br />
3.480<br />
4.180<br />
3.I88<br />
Dari hasil tersebut dapat diagambarkan<br />
dengan grafik 1.<br />
4.23M8<br />
1.09920<br />
7.87877<br />
5.5294<br />
1.4676/-<br />
*B: su&<br />
3.36274.41328<br />
3.355r&6.0M84<br />
2.s01724.45828<br />
3.493434.86657<br />
8,52162-5.52284<br />
0.134<br />
Grafik 1 : hasil uji lL-l dengan One Way Anova<br />
Keterangan:<br />
A. kelompok sample dengan induksi adjuvant<br />
arthritis + dosis teh hijau 110m9/kgbb<br />
B. kelompok sample dengan induksi adjuvant<br />
arthritis + dosis teh hijau 240m9/kebb<br />
C. kelompok sample dengan induksi adjuvant<br />
arthritis + dosis teh hijau 550m9/kgbb<br />
D. kelompok sample dengan induksi adjuvant<br />
arthritis<br />
E. kelompoksampletikussehat<br />
Dari grafik tersebut tampak perbedaan secara<br />
deskriptif barwa teh hijau. mempenguhi kadar /[-I,<br />
yang digambarkan dengaan kadar lL-I pada<br />
kelompokAdan Cyang lebih rendah darikelompok<br />
D sebadai kontrol positif, walaupun pada kelompok<br />
B kadar /1.-1 lebih tinggi dari kelompok D. Dari grafik<br />
diatas dapat diketahui bahwa dosis 550mg<br />
(kelompok.C) merupakan dosis yang paling efektif<br />
untuk menurunkan lL-1<br />
Namun setelah dilakukan pengolahan data<br />
dengan u1i one way anovo (analysis of variance) 5P55<br />
77 for window ternyata perbedaan tersebut tak<br />
signifi kan yang ditunjukkan dengan p value 0.134 lebih<br />
besar dari nilai cr 0.05. yang terlihat pada table 2'<br />
Sedangkan untuk mengetahui perbedaan<br />
penurunan antara berbagai variasi dosis dilakukan<br />
analisa data dengan post hoc test dengan multiple<br />
comparisons pada spss 11 for windows.<br />
Tabel 3: Multiple Comparisons<br />
Perlakuan (l) Perlakuan(J) significant<br />
Klp A (dosis<br />
110mgr4
uji tSD multiple comparisons SPSS 11for windows<br />
dengan nilai pvolue 0.120 yang dapat dilihat pada<br />
tabel 5.3. Usia daritikus sampelyang diduga sangat<br />
bervariasi juga dimungkinkan mempengaruhi<br />
perbedaan ini menjadi tak signifikan. Ketidakbermaknaan<br />
penurunan tersebut dimungkinkan<br />
karena adanya beberapa faktor, berat badan rata-<br />
rata yang berbeda antara kontrol positif (1169r) dan<br />
kontrol negatif (106) juga dimungkinkan mempengaruhi<br />
halini.<br />
2. Pengaruh Teh Hijau Seduh Terhadap<br />
Penurunan Kadar lL-l pada Berbagai<br />
Dosis<br />
Pada tikus kelompokAyaitu kelompok perlakuan<br />
dengan dosis teh hijau sebesar 110mg, dengan nilai<br />
mean lL-7 sebesar 3.888 lebih rendah dari kontrol<br />
positif yaitu 4.180, secara deskriptif ini membuktikan<br />
bahwa teh hijau mempengaruhi kadar lL-1, Teh hijau<br />
mempunyai ef ek chon drioprotective dan mencegah<br />
degradasiproteoglikan dan kolagen type ll dengan<br />
menurunkan pro inflamasi sitokin lL-L dan TNF<br />
(Adcock et al, 2001 ), namun ternyata perbedaan<br />
tersebut tak signifikan setelah diuji dengan uji<br />
statistik one way anova.<br />
Nilaimeon dari kadar/l-J pada tikus kelompok B<br />
yang merupakan kelompok tikus dengan induksi<br />
adjuvant arthritis dan pemberian seduhan teh hijau<br />
dosis 240mgBb yaitu sebesar 4.720, justru lebih<br />
tinggi dari kelompok kontrol positif (tikus yang di<br />
induksi adjuvont arthritis tanpa diberi seduhan teh<br />
hijau) yaitu sebesar 4.180. Hal ini mungkin terjadi<br />
karena kadar inteleukin-7 yangdiukur pada serum<br />
darah secara sistemik bukan pada lokal cairan sendi,<br />
dan mungkin terdapat perbedaan antara kadar/[-I<br />
di sendi dan di plasma, karena penelitian yang<br />
menyebutkan bahwa epigallo catechin gailote (zat<br />
aktif dari catechin) menghambat /l-l adalah di<br />
condrocyte sendi, dan tak disebutkan bagaimana<br />
dengan kadar /l-l di plasma darah (Tariq M<br />
Haqqi.2002), teh hijau mempunyai efek chondrioprotective<br />
pada dan mencegah degradasi proteoglikon<br />
dan kolagen type ll dengan menurunkan pro<br />
inflamasi sitokin lL-7 dan INF (Adcock et al, 2001)<br />
sehingga disarankan untuk penelitian selanjutnya<br />
perlu di ukurjuga kadar lL-7 pada cairan sendi.<br />
Hal ini mungkin terjadi karena pemberian<br />
seduhan teh hijau pada tikus kelompok A, B, C,<br />
diberikan dengan sonde yang dibuat dari jarum<br />
I urna I Kesehata n'Wi ra raja Medi ka,<br />
suntik (terbuat dari besi) yang ujungnya dibuat<br />
tumpul melalui mulut, meskipun sonde ini telah<br />
dibuat tumpul ujungnya namun sonde tersebut kaku<br />
karena dibuat dari besi sehingga tetap akan<br />
merangsang proses terjadinya inflamasi karena<br />
terpaparnya tenggorokan tikus dengan sonde yang<br />
dilakukan setiap hari, sehingga meningkatkan kadar<br />
interleukin-7 pada plasma karena /[-I merupakan<br />
mediator inflamasi, sedang pada kelompok kontrol<br />
tak dilakukan sonde dan ini sesuai dengan teoriHeat<br />
Shock Protein (HSpl adalah sekelompok protein<br />
berukuran sedang (60-90 kDa) yang dibentuk oleh<br />
sel seluruh spesies sebagai respons terhadap stress.<br />
telah diketahui terdapat hubungan antara HSp dan<br />
sel T pada pasien rheumatoid arthritis, meskipun<br />
mekanisme hubungan ini belum diketahuidengan<br />
jelas. (John Hopkins university, 2OO5), disarankan<br />
untuk penelitian selanjutnya penggunaan sonde<br />
dibuat dari plastik yang lentur sehingga meminimal_<br />
kan gesekan pada saat menyonde.<br />
Perbedaan ini mungkin terjadi karena pem_<br />
berian teh hijau dengan seduhan, sehingga semua<br />
zat aktif yang terlarut akan ikut dalam seduhan dan<br />
mungkin bereaksi satu sama lain. Teh hijau me_<br />
ngandungpo liphenol,yang merupakan zat ahif dari<br />
teh hijau. Kunci utama dari ktrasiatteh berada pada<br />
komponen bioaktifnya y artu fiiphend,yang secara<br />
optimal terkandung ddan del'! tefi yang masih<br />
muda dan utuh, cofedrir #r seqawa dominan<br />
dari polifenol, dan ter&i M qidrltecin, catechin<br />
g a I I a t, e p i g I I o cotechin, epgnnoote ch i n g a I I a t,<br />
catechin dan gollot, catedfu -{rteh senyawa larut<br />
air yang memberikan rasa p*dt pada teh dan<br />
astringensi alias ket*-{R.fu. An5}. Sedang pada<br />
penelitian yang dilahbr dr T-it M Haqqi hanya<br />
menggunakan epg*ocdr Ernote yang meru_<br />
pakan zat aktif dari fulF erEan proses ekstrak<br />
(Tariq M Haqqi et {2fix2| Frmakokinetik dari<br />
katekin yang menrp&i qprc paling dominan<br />
dari poliphend bef"nr eTanftf fuhui, katekin<br />
a ka n d ia bsorbsi dari sefi,,rarr tastroi ntesti n a I<br />
mengikuti proses p€noenrEll, jbnrfdh katekin dalam<br />
darah masih d,ap*fl,ftr*rrcp bap jumlah yang<br />
diabsorbsi, terd*rihli frl6**me dan dieks_<br />
kresibelum dil(dai F*rE. p:lhr pada manusia<br />
menunjukkan pade etr hijau banyak<br />
ditemukan pada b.rlrdr png tinggi lipo_<br />
protein, juga padr b q gryrotein (Chad<br />
bradsdaw, 2()ffil- Scl+-a dlnrankan untuk
twffi I Kerehsta n %lremla Medlk{ 49<br />
penelitan selaiutnrla rnenggunakan ekstrakteh hijau<br />
dengan zat aktif spesitik Vang dipilih<br />
Ferbedaan tersebut mungkin terjadi karena<br />
belum diketahuinya dosis efehif teh hijau yang dapat<br />
menurunkan kadar l[-1 pada plasma tikus yang<br />
diindtrksi adiuvant orthritis, peneliti hanya rnengkonversidosis<br />
efektif teh hijau pada manusia ketikus<br />
dan penelititak melakukan eksplorasi dosis efektif<br />
teh hijau karena ketebatasan waktu, sehingga<br />
disarankan untu k penelitian selanjutnya dila kukan<br />
dulu ekplorasi dosis teh hijau yang efektif pada tikus.<br />
Pada tikus kelompok Cyaitu kelompok perlakuan<br />
dengan dosis teh hijau 550mg, nilal mean sebesar<br />
3.480lebih kecil dari kelompok D (kontrol posit0<br />
yaitu 4.180, pada kelompok C merupakan kelompok<br />
sampel dengan kadar t[-1 terendah diantara<br />
kelompok perlakuan A, B, C. ini membuktikan secara<br />
deskriptif teh hijau dengan dosis 550 merupakan dosis<br />
paling efektif untuk menurunkan kadar IL'7, Palyphenoldari<br />
teh hijau merupakan zat antioksidan<br />
yang potensial,teh hijau juga meningkatkan enzymenzym<br />
antioksidan, dalam studi pada tikus yang<br />
diberiteh hijau selama 30 hariditemukan peningkatan<br />
aktivitas dari glutothione peroxidase, gluta'<br />
thione reductase, glutothione S'transferase,<br />
cota I ose, dan qu i n on e red ucfose ( meru pa ka n e nzym<br />
antioksidan dan detoksifoing) pada usus halus dan<br />
paru-paru. (Chad bradsdaw, 2000), namun setelah<br />
dilakukan perhitungan dengan uji statistik o ne wdy<br />
onovo perbedaan tersebut tidak bermakna dibuktikan<br />
dengan nilai P value O.L34, berarti lebih besar<br />
dari 6 yaitu 0.05.<br />
Setelah dilakukan analisa dengan multiple<br />
comparisons maka dapat diketahui terdapat<br />
perbedaan yang signifikan antara klp B dengan klp C<br />
dengan tingkat signifikansi0.044. hal ini menunjukkan<br />
bahwa efek teh hijau pada dosis kelompok C<br />
mempunyai pengaruh yang paling besar sehingga<br />
bisa disimpulkan dosis 550me/kgbb teh hijau<br />
merupakan dosis yang paling efekif untuk menurunkan<br />
kadar lL-l.Juga terdapat perbedaan yang<br />
signifikan antara klp B dengan kontrol (-) dengan<br />
tingkat signifikansi 0.21. Hali ini membuktikan juga<br />
bahwa dosis 240m9/kgbb mempunyai pengaruh<br />
terhadap penurunan kadal lL-1 dengan pernbanding<br />
kontrol (-). meskipun bila dibandingkan dengan<br />
kontrol positif menjadi tidak signifikan.<br />
Kesimpulan<br />
KESIMPULAN DAH SARAN<br />
fth hijau tidak mempengaruhi penurunan kadar<br />
lntedeukin-I fll-tl pada tikus yang diinduksi dengan<br />
odjuvont arthritis.<br />
Saran<br />
Ada beberapa kelemahan dalam penelitian ini<br />
dan untuk penelitian selanjutnya peneliti menyarankan:<br />
1. Disarankan untuk penelitian selanjutnya perlu<br />
di ukurjuga kadar lL-1 pada cairan sendi<br />
2. Disarankan untuk penelitian selanjutnya penggunaan<br />
sonde dibuat dari plastik yang lentur<br />
sehingga meminimalkan gesekan pada saat<br />
menyonde.<br />
3. Disarankan untuk penelitan selajutnya menggunakan<br />
ekstrak teh hijau dengan zat aktif<br />
spesifik yang dipilih<br />
4. Disarankan untuk penelitan selajutnya ekplorasi<br />
dosisteh hijau sebelum melakukan penelitian<br />
KEPUSTAKAAN<br />
1. Adcock, C, Collin, P, Buntle, DJ, 2001. Cotechin<br />
from Green Tea (Camellia Sinensis)<br />
lnhibit Bovine and Humon Cortilage<br />
Proteoglycon and Type ll Collagen<br />
Degradation in Vitro.J Nutr.132:34 1-<br />
346(CD-ROM: Medical Proquest,<br />
200s).<br />
2. Arikunto Sunarsimi.2O02 Prosedur Penelition<br />
Suatu Pendekotan Prakek edisi revisi<br />
V, Jakarta Rineka Cipta<br />
3. Bathon, Joan, 2003.Rheumatoid Artritis<br />
Pothophysiology. Page: ;1.14i(htIp:l /<br />
www.the john Hopkinns University.edu.on<br />
behalf of its division.<br />
diakses tanggal 24 agustus 2005)<br />
4. Chad bradsdaw, Nguyen, A, Surles, J, t997,<br />
Green tea caamelia sinensis (nttp;l/<br />
www.Geocities.com, diakses 29<br />
Agustus 2005)
50 turnal Ke*haton nilIramJo Medlka'<br />
5. Darmansjah, t99S.DasarTokikologiHubungan 11. M,Haqqi,t, D,Anthony,D, Gupta,S,.Ahmad,N,<br />
ontara Hewan Cobo dengan Monusia.<br />
Farmakologi dan Terapi. Fakultas<br />
Kedokteran lndonesia<br />
5. Dinkes Propinsi., Efek Pemberian Teh Hijau.<br />
(http;//www. Depkes.Org.diakses 28<br />
agustus 2005)<br />
7 . Fuller, Stephe n. 2O04. Kh a si ot Te h H ij o u.Jakarta:<br />
Prestasi Pustaka Publisher<br />
8. Guyton and Hall, 2000.Fisiologi Kedokteron,<br />
Jakarta:EGC<br />
9. Kompas.2005. Khosiat Teh Hijau.(http:/l<br />
www.Kompas Cyber Media, Diakses<br />
28 agustus 2005)<br />
10. Koopman, William, 20OO.Arthritis dnd Allied<br />
Condition a Text Book ol<br />
Rheumdtology 73'h edition, Pensylvania:<br />
Rose Tree Corporate Center<br />
Lee,M,S, Kumar,G;K, Mukhtar,H.<br />
L999.Prevention of Collog e n-i nd uced<br />
Arthritis in Mice by a Potyphenolic<br />
Fraction from Green Tea.452&4529<br />
(Online) (http://www.pnas.org,<br />
diakses 2 September 2005)<br />
12. Price, A.S .7996.Patofi siologi edisi 4, lakarta : EGC<br />
13. PTPK20O5 Penelitian Teh don penelitian Kina<br />
PTPK Ga m ba n g,(http: I lwww. pTpK.<br />
Org, diakes 25 Agustus 2005)<br />
14. PTPN lV 2005. Pe*ebunon leh. (http://www.<br />
PTPN.ina. Diakes 20 agustus 2005)<br />
15. Sjaifoellah, Noer. L999. Buku Ajar llmu penyokit<br />
Dolam Jilid 7, Edisi ke-3.Jakarta:Balai<br />
penerbit FKUI<br />
15. Sutanto Priyo Hastono.2001. Modul Analisis<br />
Doto.Fakuhas Kesehatan Masyara kat<br />
Univensitas lndonesia.
PERBEDAANI PRE STASI BEI.AJAR<br />
IVIAFIASI SWA DIII KEBIDAI\ANT MAI.ANIG SE.<br />
MESTER rr TAHUN AJARAN 2005/2009 yAr\rc<br />
DITERII\,IA MEI-ALUI JALUR PMDP DAhI<br />
JALUR SELEI$I TES UJI TULIS DI PROGRAM<br />
STUDI DIII KEBIDAI\AIN POLTEKKES<br />
DEPKES I\,IAI.AI{G<br />
Oleh:<br />
IVA GAMAR DIAN PRATIWI-)<br />
ABSTRAK<br />
Background: Achievement learn is a result obtained in activity learn the goodness in<br />
the form of number assessment and also words assessment periodically. New student<br />
Acceptance system in some Polytechnic of Health do not is only relied on by a test<br />
value write like college school of generally, but some Poltekkes have the new policy<br />
by enhancing new student acceptance band that is with the achievement band.<br />
since teaching year 20og / 2009 New student Acceptance system in Dlll program<br />
The Unlucky Midwifery study do not is only passed bythrough tes write, but with the<br />
achievement band also. lntention of this research is to know the achievement<br />
difference learn among student accepted with the band of PMDP and selection band<br />
test to write at Unlucky student Dlll Midwifery of semester of Unlucky ll Poltekkes<br />
Depkes of Teaching Year 2008 | 2009.<br />
Method: This Desain Research use the analytic desain of komparasi. population<br />
used in research is all unlucky student Dlll Midwifery of semester ll in Unlucky<br />
Poltekkes Depkes ofTeaching Year 2008 I 2oog as much 100 people. sum up the<br />
sampel as much 78 people. Technics of sampling used by that is technique of<br />
proportional random sampling . Processing and analyse the data in this research use<br />
the test t- test by signifikasi = 0, 05 constructively computer.<br />
Result and conclusslon: Result of research indicate that Most responder in band<br />
PMDP have the value IPK in category very gratifying that is as much 73,6gyo, mostly<br />
responder in selection band test the test write to have the value lpK in categoryvery<br />
gratifoing that is as much 79,66%, and after conducted by a data analysis by using<br />
test t test, got by conclusion that there no Achievement Difference Learn The Unlucky<br />
student Dlll Midwifery of semester of ll of teaching Year 2008 / 2oo9 Accepted by<br />
*) lva Gamar Dian Pratiwi, S.ST: Dosen Prodi D.lll Kebidanan Fikes Unija <strong>Sumenep</strong><br />
Madura<br />
51
52 I umal Ke se hatu n aili rd raia Medi ka"<br />
Through band.of PMDP and also Selection TesTestto Write in Program of Studyof Dlllof Unlucky Midwifery<br />
Poltekkes Depkes. ls so that expected by seluru student of both for accepted bythroughband of PMDP and<br />
also selection test the test write remain to can Jnaintain and improve the this achievement mereka.Desain<br />
Research use the analytic desain of komparasi. Population used in research is all Unlucky student Dlll<br />
Midwifery of semester ll in Unlucky Poltekkes Depkes of Teaching Year 2008 / 2OO9 as much 100 people.<br />
Sum up the sampel as much 78 people. Technics of sampling used by that is technique of proportional<br />
random sampling . Processing and analyse the data in this research use the test t- test by signifikasi = 0, 05<br />
constructively com puter.<br />
l(ata Kunci : Achievement Learning, PMDB selection test the test write.<br />
PENDAHUTUAN<br />
Menghadapi percepatan pencanangan<br />
Millenium Development Gools (era pasar bebas atau<br />
globalisasi sebagai era persaingan mutu atau<br />
kualitas), yang semula dicanangkan tahun 2020<br />
dipercepat menjadi 20L5, maka pembangunan<br />
Sumber Daya Manusia (SDM ) berkualitas merupakan<br />
suatu yang tidak bias ditawar lagi. Hal ini mutlak<br />
diperlukan karena akan menjadi penopang utama<br />
dalam pembangunan yang mandiri dan berkeadilan<br />
(Mulyasa,2OO2l.<br />
Pendidikan sekarang ini sudah menjadi sangat<br />
penting. Setiap orangyang ingin diakui masyarakat,<br />
bahkan untuk mempunyai kehidupan yang lebih<br />
layak sangat ditentukan oleh tingkat pendidikannya.<br />
Maka pendidikan yang berkualitas dengan hasilyang<br />
memuaskan sangat diharapkan oleh seluruh peserta<br />
didik. Dan jurusan yang paling banyak diminati saat<br />
ini yaitu kedokteran. Bidang ini tidak pernah sepi<br />
darilapangan kerja. Bukan cuma kedokteran umum<br />
tapi juga keperawatan dan kebidanan. (Dinkes,<br />
20071.<br />
Pendidikan tinggi kesehatan diselenggarakan<br />
untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota<br />
masyarakat yang memiliki kemampuan akademik<br />
dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan<br />
dan menciptakan ilmu pengetahuan dan<br />
teknologi. Salah satu satuan pendidikan penyelenggara<br />
pendidikan tinggi yang menghasilkan<br />
tenaga kesehatan adalah Politeknik Kesehatan yang<br />
memiliki program studi kebidanan. (Dinkes, 2007)<br />
Sistem Penerimaan siswa Baru (PSB}di beberapa<br />
Politeknik Kesehatan tidak hanya didasarkan pada<br />
nilai ujian tulis seperti Sekolah Perguruan Tinggi pada<br />
umumnya, tetapi beberapa Poltekkes mempunyai<br />
kebijakan baru dengan menambahkan jalur peneri-<br />
maan siswa baru yaitu dengan jalur prestasi. Prestasi<br />
belajar siswa merupakan cerminan dari keberhasilan<br />
dari kegiatan belajarnya. Prestasi belajar siswa<br />
meliputi tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek<br />
psikomotor, dan aspek afektif. Tinggi rendahnya<br />
prestasi belajar dipengaruhi oleh banyak hal, baik<br />
dari dalam diri siswa maupun dari luar siswa. Faktor<br />
dari luar siswa diantaranya adalah jalur penerimaan<br />
siswa baru yang dilaluinya. (Diknas, 2OO7l.<br />
Peneriman mahasiswa baru diantaranya yaitu<br />
melalui seleksites ujitulis atau lebih dikenal seleksi<br />
Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)<br />
dan jalur prestasi. SNMPTN adalah kegiatan seleksi<br />
calon mahasiswa untuk memasuki Perguruan Tinggi<br />
Negeri di tingkat Nasional dengan Pola ujian tulis<br />
dan ujian keterampilan khusus bagi Program Studi<br />
tertentu. Penyelenggaraan seleksi ini dilaksanakan<br />
oleh Panitia SNMPTN dan ditempatkan di kota-kota<br />
yang strategis dimana Perguruan Tinggi Negeri<br />
berada. (shiro,2008)<br />
Untuk bisa mengikutiSNMPTN dan jalur prestasi,<br />
Depdiknas menjadikan nilai UN sebagai pertimbangan.<br />
Dan sistem penilaian kelulusan/ penilaian<br />
hasil belajar SMU dilakukan oleh pendidik, satuan<br />
pendidikdan pemerintah. Penilaian hasil belajaroleh<br />
Pemerintah dilakukan dalam bentuk Ujian Nasional.<br />
UN didukungoleh sistem yang menjamin mutu dan<br />
kerahasiaan soal serta pelaksanaan yang aman,<br />
jujur, dan adil. Dalam rangka penggunan hasil UN<br />
untuk pemetaan mutu Program atau satuan<br />
pendidikan Pemerintah menganalisis dan membuat<br />
peta daya serap hasil UN. Penilaian hasil belajar oleh<br />
pendidik dilakukan secara berkesinambungan,<br />
bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan<br />
belajar peserta didik serta untuk meningkatkan
I a r nsl ttescflof;a n' Wir*@ Medik{ 53<br />
efektivitas kegiatan pem belaja rran. Sedangkan<br />
penilaian fiasil belajar oleh satuan pendidikan<br />
dilakulcan untuk r,nenilai pencapalan kompetensi<br />
peserta didik pada sern ua mata pelaiaran" Kegiata n<br />
penllaian untuk penilaian yang dilakukan oleh<br />
pendidik dan satuan pendidik, tentunya tiap Sekolah<br />
Menengah Urnum mempunyai perbedaan yang<br />
sernuanya dilakukan dengan melalui rapat Dewan<br />
Pendidik sesuai dengan kriteria- kriteria yang telah<br />
ditetapkan. (Diknas, 2007).<br />
Sejak tah un ajaran 20082009 sistern Penerimaan<br />
Mahasiswa Baru (PSB) di Dlll Program Studi<br />
Kebidanan Malang tidak hanya dilalui rnelalui tes<br />
tulis, tetapi dengan jalur prestasi juga. Untuk calon<br />
mahaslswa baru yang berminat rnelaluijaltrr prestasi<br />
harus memenuhi persyaratan yaitu nilai prestasi<br />
akademik untuk mata a.!ar Fisika, Kimia, Biologi,<br />
maternatika, dan Bahasa lnggris minirnal75 (tuiuh<br />
lima), ajar lain minimal nilai 7O (tujuh puluh) dari<br />
sernester 1-5, memiliki prestasi nonakademik<br />
selama di bangku SLTA di tingkat sekolah/lokaU<br />
regionaUnasional, dinyatakan lulus dalam Ujlan<br />
Akhlr Nasional {bila sudah diterima}. Program Studi<br />
Dlll Kebidanan Malang terdiri dari tiga prodi yaitu<br />
Prodi Kebidanan Malang, Kediri, danJember. Untuk<br />
Prodi Kebidanan Malangyang diterima melalui jalur<br />
prestasi sebanyak 24orangdan tes tulis sebanyak<br />
76 orang. (Poltekkes Depkes Malang 2W71.<br />
BAHAN DAN CARA PENELNNN<br />
Desain penelitian adalah uraian tentang metode<br />
atau cara yang akan digunakan dalam penelitian.<br />
(Arikunto, 2006). Penelitian ini menggunakan desain<br />
analitik kom parasi yaitu mengetahui perbedaan dua<br />
variabel independent, sehingga penelitian ini<br />
bertujuan untuk mengetahui Perbedaan Prestasi<br />
Belajar Mahasiswa Dlll Kebidanan Malang semester<br />
ll Tahun ajaran 200q2009 Yang Diterima Melalui<br />
jalur PMDP dan SeleksiTes UjiTulis di Prognm Studi<br />
Dlll Kebidanan Poltekkes Depkes Malang.<br />
Pendekatan yang digunakan adalah cross<br />
sectional, dimana pengukuran/ observasi dari<br />
variabeldilakukan hanya satu kali, tidak ada follow<br />
up/ kegiatan ulangan. (Nursalam, 2003). Pengolahan<br />
dan analisa data dalam penelitian ini menggunakan<br />
uji t- test dengan signifikasi c = 0,05<br />
dengan bantuan komputer.<br />
HASIT PENELITIAN DAfrT PEMSAHASAN<br />
1. Hasil Penelitian<br />
a. Sistem rnasuk responden ke Program Studi<br />
Kebidanan Poltekkes Depkes Malang.<br />
Distrihusi frekuensi Sistem masuk responden<br />
ke Prograrn Studi Kebidanan Poltekkes Depkes<br />
Malang pada bulan agustus 2009 dapat dilihat<br />
sebagai berikut:<br />
Tabel l: Distribusi Frekuensi Sistem masuk<br />
responden ke Program Studi Kebidanan<br />
Poltekkes Depkes Malang tahun 200fl<br />
2009<br />
No Sistem ltlasuk lumlah Prceentase<br />
1. PMDP 19 24,35%<br />
2. SelekiTest Uji<br />
tulis<br />
59 75,Molo<br />
Iumlah 78 10006<br />
Sumber data sekunder diolah, 2009<br />
Dari tabel 1 diketahui bahwa prosentase<br />
terbesar yaitu responden yang masuk melalui<br />
seleksitest ujitulis yaitu sebesar 75,64%.<br />
b. Hasil nilai lndeks Prestasi Belajar mahasiswa<br />
yang masuk dengan jalur PMDP<br />
Distribusi frekuensi nilai lndeks Prestasi<br />
Komulatif responden yang masuk dengan jalur<br />
PMDP pada bulan agustus 2009 dapat dilihat<br />
sebagai berikut:<br />
Tabel 2 : Distribusi Frekuensi nilai IPK mahasiswa<br />
yang masuk dengan jalur PMDP tahun<br />
20094009<br />
No Prestasi Belaiar lumlah Prosentase<br />
1 Memuaskan 1 5,27%<br />
2. Sangat<br />
Memuaskan<br />
14 73,68%<br />
3. Dengan pujian 4 21,O5%<br />
Jumlah 19 100%<br />
Sumber data sekunder diolah, 2009
54 t u m a l Keseh ata n'Wi ra rajo Me dlka"<br />
Dari tabel 2 diketahui bahwa prosentase<br />
terbesar yaitu responden mempunyai nilai IPK<br />
dalam kategori sangat memuaskan yaitu seba-<br />
nyak73,68%o.<br />
c. Hasil nilai lndeks Prestasi Belajar mahasiswa<br />
yang masuk dengan jalur SeleksiTest UjiTulis.<br />
Distribusi frekuensi nilai lndeks Prestasi<br />
Komulatif responden yang masuk dengan jalur<br />
Seleksi Test Uji Tulis pada bulan agustus 2009<br />
dapat dilihat sebagai berikut:<br />
Tabel 3 : Distribusi Frekuensi nilai IPK mahasiswa<br />
yang masuk dengan jalur SeleksiTest Uji<br />
TulisTahun 2OO8|2OO9<br />
No Prestasi Belajar lumlah Prosentase<br />
1 Memuaskan 2 3,39o1"<br />
2. Sangat<br />
Memuaskan<br />
47 79,66"1"<br />
3. Dengan pujian 10 16,95%<br />
Jumlah 59 100%<br />
Sumber data sekunder diolah, 2009<br />
Dari tabel 3 diketahui bahwa prosentase<br />
terbesar yaitu responden mempunyai nilai IPK<br />
dalam kategorisangat memuaskan yaitu sebanyak79,66/o.<br />
d. Analisis perbedaan Prestasi Belajar Mahasiswa<br />
Dlll Kebidanan Malang semester llTahun ajaran<br />
, 2OO82OO9 Yang Diterima Melaluijalur PMDP<br />
dan Seleksi Tes Uji Tulis di Program Studi Dlll<br />
Kebidanan Poltekkes Depkes Malang.<br />
Tabel 4: Tabel silang Perbedaan Prestasi Belajar<br />
Mahasiswa Dlll Kebidanan Malang semester<br />
ll Tahun Jaran 20O812009 yang<br />
diterima melaluijalur PMDP dan seleksi<br />
tes ujitulis di Program studi Dlll Kebidanan<br />
Poltekkes Depkes Malang.<br />
Nilai IPK semester<br />
I dan semester ll<br />
Selehi Masuk<br />
PMDP Seld
lumal Kesehaton'Wi rorata Medikd' 55<br />
dari jalur PMDP masuk dengan menggunakan<br />
sehksi nilai akademik dan non akademik mereka<br />
darisemester 1-5. Dan untuk penilaian darisetiap<br />
sekolah pun berbeda- beda, karena setiap<br />
sekolah memiliki sistem yang berbeda- beda<br />
dalam memberikan penilaian terhadap siswanya,<br />
yang semuanya tersebut ditetapkan dan<br />
disusun berdasarkan rapat koordinasi dsekolah<br />
tersebut masing- masing . Jadi seorang siswa<br />
yang terbaik disekolah tersebut belum tentu<br />
menjadi yang terbaik pada waktu berada di<br />
kampus Kebidanan, semua tersebut hanya bisa<br />
dilihat melalaui proses pembelajaran.<br />
Menurut Diknas (2007) sistem penilaian<br />
kelulusan/ penilaian hasil belajar SMU dilakukan<br />
oleh pendidik, satuan pendidik dan pemerintah"<br />
Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah dilakukan<br />
dalam bentuk Ujian Nasional. Penilaian hasil<br />
belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan,<br />
bertujuan untuk memantau<br />
proses dan kemajuan belajar peserta didik serta<br />
untuk meningkatkan efektivitas kegiatan<br />
pembelajaran. Sedangkan penilaian hasil belajar<br />
oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menilai<br />
pencapaian kompetensi peserta didik pada<br />
semua mata pelajaran. Kegiatan penilaian untuk<br />
penilaian yang dilakukan oleh pendidik dan<br />
satuan pendidik, tentunya tiap Sekolah Menengah<br />
Umum mempunyai perbedaan yang<br />
semuanya dilakukan dengan melalui rapat<br />
Dewan Pendidik sesuai dengan kriteria- kriteria<br />
yang telah ditetapkan.<br />
b. PrestasiBelajar Mahasiswa Dlll Kebidanan Malang<br />
semester llTahun Jaran 20082009 yang diterima<br />
Melalui Jalur Seleki Test Uji Tulis<br />
Untuk mahasiswa yang masuk melaluijalur<br />
seleksi test uji tulis didapatkan hasil penelitian<br />
bahwa sebagian besar yaitu 79,66Yo responden<br />
mempunyai nilai IPK dalam kategori sangat<br />
memuaskan, sebagian kecilyaitu 3,39% mempunyai<br />
nilai IPK dalam kategori memuaskan.<br />
Sama halnya dengan jalur PMDP berarti proses<br />
belajar mengajar dikelas telah berjalan dengan<br />
baik, serta adanya faktor pendukung lain yang<br />
baik yang ikut mempengaruhi proses pembelajaran,<br />
seperti dosen, fasilitas, tempat dan<br />
materi. Tetapi tidak hanya itu saja jika kita lihat<br />
secara keseluruhanpun nilai IPK yang diperoleh<br />
mahasiswa yang masuk melaluijalur seleksites<br />
uji tulis, hasilnya lebih bagus dari pada mahasiswa<br />
yang darijalur PMDP, Mahasiswa yang diterima<br />
melaluijalur seleksi tes uji tulis lebih benar- benar<br />
tersaring dan lebih ketat, karena mereka harus<br />
bersaing dengan sekian ribu peminat yang lain.<br />
Mereka masuk dengan mengikutites bersama<br />
yang dilakukan serentak oleh Departemen<br />
Kesehatan. Sehingga bisa diketahui mana saja<br />
calon mahasiswa yang benar- benar memiliki<br />
prestasi dan minat yang besar.<br />
Menurut Dinkes (2009) Pendidikan tenaga<br />
kesehatan merupakan keterpaduan dari Sistem<br />
Pendidikan Nasional dan Sistem Kesehatan<br />
Nasional. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor<br />
25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah<br />
dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah<br />
Otonom, pada Bab ll Pasal 2 disebutkan bahwa<br />
bidang pendidikan dan kebudayaan tentang<br />
penetapan persyaratan penerimaan, perpin-<br />
dahan, sertifikasi siswa dan mahasiswa menjadi<br />
kewenangan Pemerintah (Pemerintah Pusat).<br />
Sehingga dengan demikian, kegiatan Seleksi<br />
Fenerimaan Siswa/Mahasiswa Baru Pendidikan<br />
Tenaga Kesehatan (Sipensimaru Diknakes) baik<br />
teknis dan administrasi keuangan diselenggarakan<br />
oleh Pemerintah Pusat, yaitu Badan Pengembangan<br />
dan Pemberdayaan SDM<br />
Kesehatan (BPPSDM Kes) melalui mekanisme<br />
kemitraan dengan Dinas Kesehatan Propinsi,<br />
Kopertis, Poltekkes dan lnstitusi Diknakes non<br />
Depkes. Dan instistusijuga di beri kewenangan<br />
untuk mengadakan penelusuran bakat atau<br />
psikotes<br />
Bagi institusi yang mernerlukan informasi<br />
mengenai minat, bakat dan tingkat kemampuan<br />
belajar calon peserta didik dapat menyelenggarakan<br />
tes penelusuran bakat atau psikotes.<br />
Penetapan institusi penyelenggara tes tersebut<br />
dilakukan oleh panitia tingkat propinsi.<br />
Hasil psikotes tersebut dapat dijadikan<br />
pertim bangan dala m penetapa n kel ulusan siswa/<br />
mahasiswa atau menjadi dokumen/informasi<br />
dalam pembinaan siswa/mahasiswa dalam<br />
proses belajar mengajar. (Dinkes, 2009)<br />
c. Ferbedaan Prestasi Belajar Mahasiswa Dlll<br />
Kebidanan Malang semester llTahun ajann 200V<br />
2009 Yang Diterirna Melaluijalur PMDP dan Seleki<br />
Tes Uji Tulis di Program Studi Dlll Kebidanan<br />
Poltekkes Depkes Malang.
56 t u rnal Kesehatan \li ra roja Medika'<br />
Dari hasilpenelitian dapat kita lihat bahwa<br />
sebagian besar nilai IPK responden yang diterima<br />
melalui jalur PMDP dan seleksi test uji tulis<br />
mempunyai nilai IPK dalam kategori sangat<br />
memuaskan dan sebagian kecildalam kategori<br />
memuaskan. Setelah dilakukan analisis data<br />
dengan menggunakan uji t test di simpulkan<br />
bahwa tidak ada perbedaan prestasi belajar pada<br />
mahasiswa Dlll Kebidanan Malang semester ll<br />
Tahun ajaran 200q2009 baik yang diterima<br />
melaluijalur PMDP dan SeleksiTes UjiTulis.<br />
Meskipun mereka masuk Program Studi<br />
Kebidanan Poltekkes Malang dengan jalur yang<br />
berbeda, tetapi bukan suatu kendala bagi mereka<br />
untuk berpacu mendapatkan prestasi yang baik.<br />
Baik mahasiswa yang masuk melaluijalur PMDP<br />
ataupun tes ujitulis sama- sama mempunyai nilai<br />
IPK yang bagus. Sehingga keberhasilan seorang<br />
siswa di dalam proses belajar mengajar sangat<br />
tergantung dari bagaimana seorang dosen<br />
mengajar, tempat, waktu dan fasilitas yang<br />
tersedia di kampus tersebut.<br />
Menurut Hasibuan (2008) komponehkomponen<br />
dalam proses pembelajaran diantaranya<br />
yaitu siswa, guru, materi, waktu, tempat<br />
dan fasilitas. Siswa adalah inti dari proses belajar<br />
mengajar. Untuk mendorong keterlibatan itu<br />
sendiri. Selain siswa, faktor penting dalam proses<br />
belajar mengajar adalah guru. Guru sangat<br />
berperan penting dalam menciptakan kelas yang<br />
komunikatif. Peran guru adalah sebagai fasilitator<br />
dalam proses yang komunikatif, bertindak<br />
sebagai partisipan, dan yang ketiga bertindak<br />
sebagai pengamat.<br />
Ruang kelas adalah tempat dimana proses<br />
belajar mengajar berlangsung. Ukuran kelas dan<br />
jumlah siswa akan berdampak pada penerapan<br />
teknik dan metode mengajar yang berbeda.<br />
Dalam hal mendorong dan meningkatkan<br />
keterlibatan siswa, guru bertugas menciptakan<br />
suasana yang nlraman di kelas. Alokasi waktu<br />
untuk melakukan aktivitas dalam proses belajar<br />
mengajar juga menentukan teknik dan metode<br />
yang akan diterapkan oleh guru, kaitannya<br />
dengan waktu yang tersedia, guru perlu mela-<br />
kukan aktivitas yang bervariasi untuk mencapai<br />
sasaran pembelajaran serta mendorong motivasi<br />
siswa. Guru harus berperan sebagai pengatur<br />
waku yang baik untuk memastikan bahwa setiap<br />
siswa mendapat kesempatan yang sama untuk<br />
terlibat dalam proses pembelajaran. Fasilitas<br />
dibutuhkan untuk mendukung proses belajar<br />
mengajar di kelas. Dalam mencapai tujuan<br />
pembelajaran, guru menggunakan media<br />
pembelajaran. (Hasibuan, 2008)<br />
1. Kesimpulan<br />
KESIMPUTAN DAI{ SARAN<br />
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan<br />
dalam penelitian ini, maka dapat diperoleh beberapa<br />
kesimpulan sebagai berikut:<br />
1. Sebagian besar respondm dalam jalur PMDP<br />
mempunyai nilai IPK dalam kategori sangat<br />
memuaskan ya itu sebanyakT 3,ffi%.<br />
2. Sebagian besar res,ponden dalam jalur seleksi<br />
test ujitulis mempunttai niiai IPK dalam kategori<br />
sangat m em uaskan faitu sebany ak 7 9,660/o.<br />
3. Setelah dilakukan analisa data dengan menggunakan<br />
ujittest, Oigp*an kesimpulan bahwa<br />
tidak ada Perbedaan Prestasi Belajar Mahasiswa<br />
Dlll Kebidanan Malang semester llTahun<br />
ajaran 2@8[2W Yarg Diterima Melalui jalur<br />
PMDP maupun Sehksi Tes UjiTulis di Program<br />
Studi Dlll Kebldananr Poltelftes Depkes Malang.<br />
2. Saran<br />
Peneliti ingin rnernberi beberapa saran yaitu<br />
sebagai berikut:<br />
1. Bagi lnstitusi s€ba€ai lahan penelitian<br />
Sebaiknya sistenr rnasuk ke Poltekkes Depkes<br />
Malang hantlra rndaln1ijalur seleksi tes uji tulis.<br />
Karena pada kenyataa,nnya hasil nilai prestasi<br />
untuk mahasiswa yarg diterima melaluijalur<br />
seleksi tes uji tr.llis lebih bagus daripada<br />
mahasiswa yang cFterina melaluijalur pMDp.<br />
2. Bagimahasiswa<br />
Mahasiswa png rnendapatkan nilai IPK dengan<br />
kategori sargat rranuaskan dan dengan pujian<br />
diharapkan tetap bisa mempertahankan<br />
nilainya dergan baik dan harus tetap bisa<br />
menin,glcakl" rnes*ipun masuk ke program<br />
Studi Ketixlansr Fottekkes Depkes Malang<br />
dengan jakr yarg berbda, bukanlah suatu<br />
halangan rrm.* @ menjadi yang terbaik.
I w nal Ke srihsta n aN I rc roic Medika' 57<br />
KEPUSTAKAAN<br />
Arikunto, S.( 2006'l'. Frosedur Penelitian Sustu<br />
Pendekatan Fraktek edlsi revisi Vl,<br />
Rineke Cipta : Jakarta.<br />
Abdullah.(2@81. lndikotar Prestasi Eelojar.<br />
Diakses tanggal 20 Md 2009. {htlpfl<br />
www-searcengines. com )<br />
Diknas.{2@7}. .Sisfem P e ne ri maa n M ohasiswa<br />
Baru. 22 Mei 2009 (httP://<br />
www.Diknas^corn.)<br />
Dinkes. POA7\. Geliat Progrdm Studi Kebidsnan.<br />
22 Mei 2009 (httP://<br />
www.Pusdiknakes.com)<br />
Fauzan.(2005 l. Psikalogi Pe ndi dika n,PPPG I PS<br />
dan PMP: Malang.<br />
Hasibuan. (2008). Proses Belajar Mengaior,<br />
Rosda karya : Yogyakarta.<br />
Mulyasa.(2002I. Kurikulum Berbdsis<br />
Kompetensi, Rosda Karya: Bandung.<br />
8. Nursalam, (2002I Manajemen Keperawotan:<br />
Aplikasi Dolam praktek Keperawotqn<br />
Profesionol, Salemba Medika :<br />
Jakartapoltekkes Depkes Malang.<br />
(2OA7l.Sistem<br />
g. Penerimaan Mahasiswo Boru. ZZ Mei 2009.<br />
{http:l/www. poltekkes Depkes<br />
Malang.com)<br />
10. Poltekkes Depkes Malang.(20OTl.panduan<br />
Akademik, Poltekkes Depkes Malang<br />
11. Roestiyah,NK.( 2001 ) Strategi Belajar<br />
Mengajor, Rineka Cipta: Jakana<br />
12. Shiro.(20081. Tttik akhir Penyelesaion SpMB. 22<br />
Mei 2009 (httpzll<br />
www.gunadarma.ac.id/i ndex.php?.)<br />
13. SNMPTN.(2009). lnfo Penyelenggoraan<br />
SNMPTN .22 Mei 2009 (http:ll<br />
www.SNMPTN.com)<br />
14. Sugiyono. (2008). Stotr'stik Untuk penelitian,<br />
Alfabeta: Bandung.
li<br />
HUBUNGAI\ PERII-AKU<br />
CUCI TANIGAI\ PAI(AI SABUN DENGAI\T<br />
KEJADIAI\ DIARE PADA BALITA DI DESA<br />
SUMBEREJO KE CA1VIA IAN NGASEM<br />
I(ABUPATEN KEDIRI TA}IUN 2OO9<br />
Oleh:<br />
RATNA INDRIYANI1 dan SRI SUMARNI2<br />
ABSTRACT<br />
Background: According To WHO "Behavioral CTPS proven to represent the way of<br />
effective to strive the health preventive. Healthy Behavioral Clean The Hand Wear<br />
the Soap (lmportant CTPS) to prevent the contagion spreading like diarrhoea" (Depkes<br />
Rl, 2OO8). Diarrhoea is disease marked by increasing it frequenry defecate more<br />
than usually (3 or more per day) accompanied by the transformation and feces<br />
consistency from patient. Pursuant to data got by height of diarrhoea occurrence in<br />
Countryside of Sumberejo of Subdistrict Kediri 2009 Year, that is 53 (35,8%) Balita<br />
incurred by diarrhoea from 148 balita, caused by because behavior clean the hand<br />
wear the soap.<br />
Method: Research target Analyse the behavioral relation clean the hand wear the<br />
soapwiththe diarrhoea occurrence at balita in Countryside of Sumberejo of Subdistrict<br />
of Ngasem of Regency Kediri this 2009 research Year represent the analytic research<br />
type Correlation (correlationalstudy), by using approach of cross sectional. Population<br />
in this research is mother having balita in Countryside of Sumberejo of Subdistrict of<br />
Ngasem of Regency Kediri with the amount 148 people, and sample as much 108<br />
people. lntake Sampel atthis research is probability sampling with the technique of<br />
simple random sampling. Test the hypothesis done by hence test the analysis Mann-<br />
Whitney, because its variable have is scale to ordinal and nominal, by a 0,05.<br />
Result and Conclussion: From research result obtained by that is most 56 (51,8%)<br />
responder in Countryside of Sumberejo of Subdistrict of Ngasem of Regency Kediri do<br />
not always do to clean the hand wear the soap, almost semi 43 135,8/ol balita in<br />
Countryside of Sumberejo of Subdistrict of Ngasem of Regency Kediri 2009 Year<br />
experiencing of diarrhoea. And there is behavioral relation clean the hand wear the<br />
soap with the diarrhoea occurrence at balita in Countryside of Sumberejo of Subdistrict<br />
of Ngasem of Regency of Kediri 2009 Year. Considering height of diarrhoea<br />
occurrence, hence need the existence awareness to accustom the behavior clean<br />
1. Ratna lndriyani, S.ST: Dosen prodi D.lll Kebidanan Fikes Unija <strong>Sumenep</strong> Madura<br />
2. Sri Sumarni, S.Kep,Ns: Dosen prodi S.1 Keperawatan Fikes Unija <strong>Sumenep</strong> Madura<br />
58
furnal ||csrltotorr .lffiruroia fffia" 59<br />
the hand wear the soap after tratrine, after cleaning hottorn child, before eating; bef,ore fueding cfiitd and<br />
before preparing to eat the child.<br />
lkymrd : Behavioral, Clean The Hand WearThe Soap, Dianrhea Omurrence, Ealita<br />
PEffNAHUTUAN<br />
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan<br />
bertanrhahnya frekuens6 herak lebih dari tfasanya {3<br />
atau lebih per hari) yang disertai pruhahan befttuk<br />
dan ftcnslEtensitir$a dari pen&rtta. (@
turnal Ke*hatan oltlirarajo Medilm' 61<br />
4. Data PerilakuCuciTangan PakaiSabun Pada lbu<br />
Yang Mempunyai Balita di Desa Sumberejo<br />
Kecarnatan Ngasem Kabupaten Kediri Tahun<br />
2009<br />
Tabel 4 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan<br />
Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun di<br />
di Desa Sumberejo Kecamatan Ngasem<br />
Kabupaten Kediri Tahun 2009<br />
Cuci Tangan<br />
Pakai Sabun<br />
Frekwensi<br />
Persentage<br />
(%)<br />
Selalu 52 48,2<br />
Kadang-kadang 56 51,8<br />
Tidak Pemah 0 0<br />
Total 108 100<br />
Sumber : Data Primer Tahun 2009<br />
Berdasarkan tabel 4 dapat diinterpretasikan<br />
bahwa sebagian besar 55 orang (51,8%)<br />
responden kadang-kadang melakukan cuci<br />
tangan pakai sabun.<br />
5. Data Kejadian Diare Pada Balita di Desa<br />
Sumberejo Kecamatan Ngasem Kabupaten<br />
Kediri Tahun 2009<br />
Tabel 5 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan<br />
Kejadian Diare Pada Balita di Desa<br />
Sumberejo Kecamatan Ngasem<br />
Kabupaten Kediri Tahun 2009<br />
Keiadian Diare Frekwensi Persentase (%)<br />
Diare 43 39,8<br />
Tidak diare 65 64,2<br />
Total 108 100<br />
Sumber : Data Penelitian Tahun 2009<br />
Berdasarkan tabel 5 dapat diinterpretasikan<br />
hampir setengahnya 43 orang (39,8%) balita<br />
mengalamidiare.<br />
6. Data TabulasiSilang Perilaku CuciTangan pakai<br />
Sabun Dengan Kejadian Diare pada Balita di<br />
Desa Sumberejo Kecamatan Ngasem Kabupaten<br />
Kediri Tahun 2009<br />
Tabel 6 : Tabulasi Silang Distribusi Frekuensi<br />
Cuci Tangan<br />
Pakai Sabun<br />
Perilaku Cuci Tangan pakai Sabun Dengan<br />
Kejadian Diare Pada Balita di Desa<br />
Sumberejo Kecamatan Ngasem<br />
Kabupaten Kediri Tahun 2009<br />
Keiadian Diare<br />
Diare<br />
Sumber : Data Primer Tahun 2009<br />
Iidak<br />
Diare<br />
Berdasarkan tabel 6 dapat diinterpretasikan<br />
bahwa sebagian besar 56 oran g(57,9%ol ibu yang<br />
kadang-kadang cuci tangan pakai sabun, dan<br />
hampir setengahnya 38 balita (31,2yol terkena<br />
diare. Berdasarkan hasil analisis Mon n-Whitney<br />
diperoleh hasil Asymp Sig < c yaitu 0,000 <<br />
0,05, maka Ho ditolak dan H, diterima. Artinya<br />
ada hubungan perilaku cuci tangan pakai sabun<br />
dengan kejadian diare pada balita di Desa<br />
Sumberejo Kecamatan Ngasem Kabupaten<br />
Kediri Tahun 2009.<br />
B. Pembahasan<br />
1. Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun<br />
Frekuemi<br />
F t ot<br />
x 6<br />
Selalu 5 4,6 47 43,5 52 48,1<br />
Kadangkadang 38 35,2 18 16,7 56 51,9<br />
Tidak Pemah 0 0 0 0 0 0<br />
Jumlah 43 39,8 65 60,2 r08 100<br />
P -0,000 7= 4,149<br />
Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa<br />
sebagian besar (52 %) responden di Desa<br />
Sumberejo Kecamatan Ngasem Kabupaten<br />
Kediri Tahun 2009 kadang-kadang melakukan<br />
cuci tangan pakai sabun. perilaku terbentuk<br />
karena berbagai pengaruh atau rangsangan<br />
yang berupa pengetahuan dan sikap,
pengalaman, keyakinan, sosial, budaya, sarana<br />
fisik. Faktor predisposisi merupakan faktor<br />
internal yang ada pada diri individu, keluarga,<br />
kelompok atau masyarakat yang mempermudah<br />
individu untuk berperilaku seperti pengetahuan,<br />
sikap, nilai, persepsi, dan keyakinan. Faktor<br />
pemungkin merupakan faktor yang memungkinkan<br />
individu berperilaku, karena tersedianya<br />
sumberdaya, keterjangkauan, rujukan, dan<br />
keteram pilan. Faktor penguat merupakan faktor<br />
yang menguatkan perilaku, seperti sikap dan<br />
keterampila n petugas kesehatan, teman sebaya,<br />
orang tua, dan majikan (Suliha, 2OO2l.<br />
Perilaku cuci tangan pakai sabun merupakan<br />
suatu kebiasaan yang dilakukan secara rutin<br />
untuk mencuci tangan. Dalam hal ini perilaku<br />
cuci tangan pakai sabun perlu dilakukan pada<br />
waktu setelah ke jamban, setelah menceboki<br />
anak, sebelum makan, sebelum memberi makan<br />
anak, dan sebelum menyiapkan makanan. Pada<br />
prinsipnya mencucitangan dengan air saja tidak<br />
cukup. Penggunaan sabun selain membantu singkatnya<br />
waktu cuci tangan, dengan menggosok<br />
jemari dengan sabun dapat menghilangkan<br />
kuman yang tidak tampak, minyak, lemak,<br />
kotoran di perm ukaan kulit, serta meninggalka n<br />
bau wangi. Perpaduan kebersihan, bau wangi<br />
dan perasaan segar merupakan hal positifyang<br />
diperoleh setelah menggunakan sabun (Depkes<br />
Rt, 2008 ).<br />
lbu yang tidak rutin cuci tangan pakai sabun<br />
disebabkan oleh karena ketidakbiasaan dan juga<br />
tidak tahu pentingnya cuci tangan pakai sabun,<br />
sehingga ibu menganggap cuci tangan pakai<br />
sabun itu adalah hal yang biasa. Bahkan ibu<br />
tersebut sudah beranggapan bahwa cuci tangan<br />
dengan air saja itu sudah cukup, padahal tidak<br />
demikian. Maka dari anggapan tersebut banyak<br />
ibu kadang-kadangtidak cuci tangan pakai sabun.<br />
Perilaku yang kurang higienis merupakan<br />
faktor penyebalo yang erat kaitannya dengan<br />
kesehatan biasanya terjadinya infeksi. Salah satu<br />
bentuk perilaku kurang higienis yaitu tidak rutin<br />
cuci tangan pakai sabun, padahal perilaku sehat<br />
Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) penting untuk<br />
mencegah penyebaran penyakit menular seperti<br />
diare. Maka tidak menutup kemungkinan bahwa<br />
kadang-kadang tidak cuci tangan pakai sabun<br />
yang dilakukan oleh ibu yang mempunyai balita<br />
turnol Kesehaton'Wiraraia Medika'<br />
akan mempengaruhi kesehatan pada balitanya,<br />
dan bisa terjadi penyakit yang disebabkan oleh<br />
bakteri atau kuman.<br />
2. Kejadian Diare Pada Balita<br />
Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan<br />
hampir setengahnya (39,8%) balita di Desa<br />
Sumberejo Kecamatan Ngasem Kabupaten<br />
KediriTahun 2009 mengalami diare.<br />
Diare adalah buang air besar lembek atau<br />
cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensinya<br />
lebih sering biasanya (biasanya 3 kali atau<br />
lebih dalam sehari ) dan berlangsung kurang dari<br />
14 hari. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi<br />
mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan<br />
parasit lainnya seperti jamur, cacing dan<br />
protozoa. Salah satu bakteri penyebab diare<br />
adalah bakteri Escherichio Coli Enteropatogenik<br />
(EPEc ).<br />
Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan<br />
dalam golongan 5 besar yaitu karena<br />
lnfeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno<br />
defisiensi, dan penyebab lain, tetapiyang sering<br />
ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah<br />
diare yang disebabkan infeksi bakteri, faktor<br />
penjamu (makanan dan minuman), lingkungan<br />
dan perilaku (sarana air bersih dan pembuangan<br />
tinja) (Amiruddin, 2007 ).<br />
Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan<br />
diketahui bahwa masih banyak balita yang<br />
terkena diare, yaitu hampir setengah ibu yang<br />
mempunyai balita terkena diare. Dimana diare<br />
dapat disebabkan oleh beberapa fakor diantaranya<br />
lingkungan kurang bersih, makanan dan<br />
minuman yang terkontaminasi, dan juga perilaku<br />
yang kurang higienis seperti tidak rutin cuci<br />
tangan pakai sabun.<br />
3. Hubungan Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun<br />
Dengan Kejadian Diare<br />
Berdasarkan hasil analisa data yang dilakukan<br />
pada 2 variabel dengan uji statistik M o nn W hitney<br />
dengan cr 0,05 (sistem komputerisasi/ SPSS 12)<br />
ternyata didapatkan bahwa ada hubungan<br />
perilaku cuci tangan pakai sabun dengan kejadian<br />
diare pada balita di Desa Sumberejo Kecamatan<br />
Ngasem Kabupaten Kediri Tahun 2009.<br />
Diare dilaporkan telah membunuh 4 juta<br />
anak setiap tahunnya di Negara berkembang.
t urnol Kereh ato n'Wi mmia Medikf 63<br />
Anak yang tumbuh di daerah miskin beresiko<br />
meninggal 10 kali lebih besar dari pada mereka<br />
yang tinggal di daerah kaya. Tangah merupakan<br />
pembawa utama kuman penyakit, dan praktek<br />
CTPS dapat mencegah l juta kematian tersebut<br />
di atas. Praktek CTPS setelah ke jamban, setelah<br />
menceboki anak, sebelum makan, sebelum<br />
rnenberi makan anak, dan sebelum menyiapkan<br />
makan dapat menurunkan hampirseparuh kasus<br />
diare (Depkes Rl, 2008).<br />
Balita rentan terhadap penyakit diare<br />
disebabkan oleh rendahnya tingkat kekebalan<br />
tubuh balita dibandingkan orang dewasa. Oleh<br />
karena itu kebiasaan cuci tangan harus dibentuk<br />
sejak usia dini. Dalam pelaksanaan cucitangan<br />
tidak cukup hanya dengan air. Cuci tangan yang<br />
benar perlu sabun, selain air yang mengalir untuk<br />
membilasnya. Perlu pula sistematika mencuci<br />
tangan agar tidak ada bagian tangan yang tidak<br />
bebas kuman. Sejumlah buktiilmiah membenarkan<br />
hanya dengan cuci tangan yang benar yang<br />
mampu memutuskan penularan penyakit<br />
(Depkes R|,2008).<br />
Perilaku cuci tangan pakai sabun merupakan<br />
cara yang paling sederhana untuk mencegah<br />
terjadinya diare, tetapi hal ini sangat penting<br />
dilakukan secara rutin setelah ke jamban, setelah<br />
menceboki anak, sebelum makan, sebelum<br />
memberimakan anak, dan sebelum menyiapkan<br />
makanan untuk mencegah kuman yang menyebabkan<br />
terjadinya diare. Namun ibu yang mempunyai<br />
balita kadang-kadang cuci tangan pakai<br />
sabun.<br />
Terjadinya diare biasanya banyak disebabkan<br />
oleh infeksibakteri, makanan dan minumanyang<br />
terkontaminasi. Maka tidak menutup kemungkinan<br />
bahwa kejadian diare pada balita di Desa<br />
Sumberejo Kecamatan Ngasem Kabupaten<br />
Kediri Tahun 2009 disebabkan oleh ibu yang<br />
kadang-kadang cuci tangan pakai sabun, Hal ini<br />
dapat dibuktikan bahwa ibu yang selalu cuci<br />
tangan pakai sabun sedikit balita yang terkena<br />
diare, sedangkan ibu yang kadang-kadangtidak<br />
cuci tangan pakai sabun balitanya banyak yang<br />
terkena diare. Dengan demikian dapat dinyatakan<br />
bahwa ada hubungan antara perilaku cuci<br />
tangan pakai sabun dengan kejadian diare pada<br />
balita.<br />
KESIMPUTAN DAN SARAN<br />
A Kesimpulan<br />
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat<br />
disimpulkan bahwa :<br />
1. Sebagian besar responden kadang-kadang cuci<br />
tangan pakai sabun di Desa Sumberejo<br />
Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri Tahun<br />
2009.<br />
2. Hampirsetengahnya balita mengalami diare di<br />
Desa Sumberejo Kecamatan Ngasem Kabupaten<br />
Kediri Tahun 2009.<br />
3. Ada hubungan perilaku cuci tangan pakai sabun<br />
dengan kejadian diare pada balita di Desa<br />
Sumberejo Kecamatan Ngasem Kabupaten<br />
Kediri Tahun 2009.<br />
B. Saran<br />
1. Bagimasyarakat<br />
Dalam kehidupan sehari - hari hendaknya<br />
masyarakat lebih sering dan teratur untuk<br />
malakukan cuci tangan pakai sabun mengingat<br />
akan pentingnya perilaku cuci tangan pakai<br />
sabun untuk mengurangi bahaya yang akan<br />
ditimbulkan seperti mencegah kejadian deiare.<br />
2. Bagi tempat penelitian.<br />
Sebagai objek penelitian perangkat desa<br />
hendaknya bisa bekerja sama dengan peneliti<br />
untuk memberikan data yang valid dan<br />
seobjektif mungkin demi keberhasilan suatu<br />
penelitian.<br />
KEPUSTAKAAN<br />
!, Arikunto S, 2006 Prosedur penelition<br />
Pendekatan Praktek Edisi V. Jakarta :<br />
Rineka Cipta.<br />
2. Andew. 2003 Diare Akut Disebabkan Bakteri;<br />
Available from : wwwlibrary.usu.ac.id<br />
[Diakses tanggal 28 Januari 2009].<br />
3. Amiruddin, Ridwon. 2007.Current lssue<br />
Kemation Anak (Penyakit Diare).<br />
Fakultas Kesehatan Masyarakat<br />
Jurusan Epidemiologi <strong>Universitas</strong><br />
Hasanuddin Makassar.
PETUNJUK PENULISAN NASKAH PUBLIKASI<br />
J U RNAL KESE HATAN''WI RARAJA M E DI KA'' YOGYAKARTA<br />
Jurnal kesehatan "<strong>Wiraraja</strong> Medika" merupakan salah satu jurnal ilmiah yang<br />
mempunyai tujuan menerbitkan, menyebarluaskan serta mendiskusikan<br />
berbagai tulisan ilmiah guna untuk meningkatkan derajad kesehatan dari<br />
masyarakat. Jurnal ini menerima naskah dari para peneliti dan kemudian akan<br />
dilakukan penyaringan untuk keaslian dan relevansinya.<br />
1. Tulisan yang dikirim kepada redaksi merupakan tulisan sendiri yang belum<br />
pernah dipublikasikan di tempat lain dalam bentuk cetakan, maksimal tahun<br />
penelitian 3 tahun kebelakang .<br />
2. Tulisan diketik dengan memakai komputer dengan menggunakan<br />
perangkat lunak yang umum dipakai (MS Word). Diserahkan dalam bentuk<br />
CD (1 buah) serta print out (rangkap 3).<br />
3. Tulisan diketik dengan memakai font Arial 11, spasi 1,5 dengan kertas<br />
quarto tidak bolak balik, maksimal 15 halaman<br />
4. Judul tulisan tidak lebih dari 16 kata, judul yang panjang diharapkan dipecah<br />
menjadi anak judul<br />
5. Nama penulis tidak disertai dengan gelar, ditulis dibawah judul, diberi nomor<br />
untuk pemberian nama serta alamat kerja yang jelas.<br />
6. Semua tulisan disertai abstrak dalam bahasa inggris. Ditulis dalam bentuk<br />
terstruktur (Background, Method, Result, Conclusion serta key word I kata<br />
kunci)<br />
7. Alur penulisan naskah terdiri dari (Pendahuluan, Bahan dan Cara<br />
Penelitian, Hasil Penelitian dan Pembahasan, Kesimpulan dan Saran,<br />
Ucapan terimakasih, Kepustakaan)<br />
8. Penulisan singkatan tanpa penjelasan hanya untuk unit pengukuran, selain<br />
itu harus meyebutkan kepanjangannya pada saat pertamakali singkatan<br />
tersebut dituliskan.<br />
9. Tabel dan ilustrasi harus diberijudul dan keterangan yang cukup, sehingga<br />
tidak tergantung pada teks. Judul tabel diletakkan diatas tabel, sedangkan<br />
judul gambar diletakkan dibawah gambar.<br />
10. Penulisan rujukan berdasarkan sistem nomor (Vancouver Style)<br />
berdasarkan urutan tampilan dalam naskah.<br />
Contoh: ....dalam ilmu kebidanan merupakan1 ....<br />
.....Menurut Martin, S 2<br />
.....(Robert, 2009)3<br />
11. Pernyataan terimakasih diletakkan diatas kepustakaan. Nama-nama yang<br />
diutarakan dalam pernyataan harus disertai dengan gelar, jabatan dan<br />
alamat kerja.<br />
12. Penulis harus mencantumkan nama, alamat instansi, telepon, HP, serta email<br />
dan dianjurkan untuk mengikuti alur dan ketentuan dari redaksi Jurnal<br />
<strong>Wiraraja</strong> Medika.
ISSN AEAA-I+15X<br />
ililililt1<br />
15087