Hijrah Bagian (1) - Blog Abu Umamah

abangdani.files.wordpress.com

Hijrah Bagian (1) - Blog Abu Umamah

NashirusSunnah publisher

http://maramissetiawan.wordpress.com

Catatan Blog Ardhillah

Kalau ingin berfikir jernih dan jujur ini bisa menjadi bibit munculnya pemikiran

pemikiran yang salah… dan menimbulkan kebid’ahan kebid’ahan….

Mungkin ada ikhwah yang mengatakan bahwa liqo yang hanya 2 or 3 jam [walau kadang

bisa molor sampe seharian tidak jelas]… tidak mungkin sempurna dan hanya sempat

disampaikan beberapa hal hal penting saja, jadi para mad’u di harapkan menambah

keilmuan lainya karena mereka memiliki perangkat “tarbiyah” yang lain seperti dauroh,

mabit, tatsqif, membaca buku dan lain lain.

Ada baiknya kalau begitu para ikhwah tarbiyah juga mengikuti ta’lim dan dauroh ilmiyah

dan membaca buku buku ilmiyah yang bermanhaj salaf yang di tulis oleh ulama ulama

ahlul sunnah…. (Rytha yakin banyak ikhwah ikhwani yang tidak mengenal siapa yang di

sebut ulama ) kebanyakan dari mereka hanya mengenal Hasan Al banna…. Said Qutb,

Muhammad Ghazali, Yusuf Qordhawi, Said Hawa dan yang sejenisnya….) Tapi bukan

mereka yang Rytha maksud sebagai ahlul sunnah….

InsyaAllah pada kesempatan lain akan di sampaikan beberapa ulama yang karya karya

mereka yang patut di jadikan rujukan…. Ini akan lebih baik daripada ikutan mabid (baca:

mabit, ed) yang merupakan malam ke-bid’ah-an atau membaca buku buku ulama ulama

tersebut di atas yang banyak menyimpang dan di kritik ulama ulama ahlul sunnah….

Setiap orang tidak harus menjadi murobbi.. bahkan seorang ulama besar ahli hadist abad

ini Syaikh Nasiruddin Al-Albani beliau mengatakan diri beliau sebagai thollabul ilmy

yaitu penuntut ilmu.

Kalau kita tidak memiliki kapasitas dalam bidang syar’i ini malah menjadi wajib bagi

kita untuk tidak menyampaikan hal hal yang kita tidak pahami karena Allah sendiri

melaknat orang orang yang menyampaikan apa apa yang dia tidak ketahui.

Rytha masih ingat dengan penuturan seorang murobbi yang juga seorang istri ustadz

bahwa beliau mengaku beliau sih memang tidak paham tentang ilmu syar’i tapi beliau

lebih banyak akan berbagi pengalaman hidup. … bisa di bayangkan pengajian lebih

banyak di gunakan untuk berbagi pengalaman pribadi, praktek deen hanya banyak

didasarkan pada pengalaman dan interpretasi sendiri.. dan menurut apa apa yang di

rasakan …..

Keminiman keilmuan seorang murobbi membuat liqo’at terkadang hanya untuk

membuang buang waktu.. Dapat di bayangkan seorang wanita terkadang harus

meninggalkan rumah, meninggalkan anaknya atau membawa anaknya untuk berdiam di

suatu tempat yang akhirnya berhasil pada kesia siaan…

Rytha bisa merasakan bagaimana merasa sia sianya terkadang seseorang meninggalkan

aktifitasnya hanya untuk berkumpul tampa menghasilkan hal berarti…

Pernah seorang murobbi membahas tentang bagaimana kita harus bersikap ramah

terhadap sekeliling… kita harus menebar senyum…dan beliau memberi contoh dari

perilaku seorang yang baik di lingkungan beliau… sampai pada suatu titik dimana kita

juga harus senyum pada orang pemabuk yang merupakan laki laki non mahram… dikala

5

Similar magazines