09.06.2013 Views

PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK CAIR UNTUK MENGURANGI ...

PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK CAIR UNTUK MENGURANGI ...

PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK CAIR UNTUK MENGURANGI ...

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

<strong>PENGGUNAAN</strong> <strong>PUPUK</strong> <strong>ORGANIK</strong> <strong>CAIR</strong> <strong>UNTUK</strong><br />

<strong>MENGURANGI</strong> DOSIS <strong>PENGGUNAAN</strong> <strong>PUPUK</strong> AN<strong>ORGANIK</strong><br />

PADA PADI SAWAH (Oryza sativa L.)<br />

YUSEFFA AMILIA<br />

A24069002<br />

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA<br />

FAKULTAS PERTANIAN<br />

INSTITUT PERTANIAN BOGOR<br />

2011


RINGKASAN<br />

YUSEFFA AMILIA. Penggunaan Pupuk Organik Cair Untuk<br />

Mengurangi Dosis Penggunaan Pupuk Anorganik Pada Padi<br />

Sawah (Oryza sativa L.) (Dibimbing oleh SUGIYANTA).<br />

Semakin tingginya aplikasi pupuk anorganik tanpa pengembalian bahan<br />

organik ke tanah mengakibatkan keseimbangan dan ketersediaan hara tanah<br />

terganggu. Tingginya harga pupuk, ketersediaan yang terbatas, dan efisiensi<br />

pemupukan yang rendah mengakibatkan pemupukan tidak lagi nyata<br />

meningkatkan hasil. Permasalahan tersebut memerlukan penyelesaian terutama<br />

berhubungan dengan aplikasi pupuk organik cair untuk meningkatkan<br />

ketersediaan, kecukupan, dan efisiensi serapan hara bagi tanaman padi sawah,<br />

oleh karena itu pupuk organik cair perlu diuji. Percobaan ini dilakukan untuk<br />

mempelajari pengaruh pengurangan dosis pupuk anorganik dengan aplikasi pupuk<br />

organik cair pada padi sawah. Percobaan dilaksanakan di Desa Situ Gede<br />

Kecamatan Bogor Barat, Kabupaten Bogor pada bulan Oktober 2009 – Februari<br />

2010.<br />

Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Kelompok Lengkap<br />

Teracak (RKLT) satu faktor dengan tiga ulangan. Masing-masing perlakuan<br />

merupakan kombinasi dosis dan jenis pupuk. Terdapat 11 kombinasi perlakuan<br />

yaitu perlakuan 100 % dosis NPK (P1), perlakuan 100 % dosis NPK + 50 % dosis<br />

POC I (P2), perlakuan 100 % dosis NPK + 75 % dosis POC I (P3), perlakuan 100<br />

% dosis NPK + 100 % dosis POC I (P4), perlakuan 75 % dosis NPK + 100 %<br />

dosis POC I (P5), perlakuan 50 % dosis NPK + 100 % dosis POC I (P6),<br />

perlakuan 100 % dosis NPK + 50 % dosis POC II (P7), perlakuan 100 % dosis<br />

NPK + 75 % dosis POC II (P8), perlakuan 100 % dosis NPK + 100 % dosis POC<br />

II (P9), perlakuan 75 % dosis NPK + 100 % dosis POC II (P10), perlakuan 50 %<br />

dosis NPK + 100 % dosis POC II (P11). Masing-masing perlakuan diulang tiga<br />

kali sehingga percobaan ini terdiri dari 33 satuan percobaan. Petak satuan<br />

percobaan berukuran 5m x 5m. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh<br />

perlakuan yang diuji, dilakukan analisis Ragam (uji F), jika hasil uji F


menunjukkan pengaruh nyata pada taraf 5 % maka dilakukan uji lanjut t-dunnet<br />

pada taraf 5%.<br />

Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik cair (POC I<br />

dan POC II) cenderung meningkatkan pertumbuhan, komponen hasil, dan hasil<br />

padi sawah. Aplikasi POC I dengan 75 % - 100% dosis pupuk NPK meningkatkan<br />

hasil 22 % - 34 %, sedangkan POC II dengan 100 % dan 50 % dosis NPK<br />

meningkatkan 8 % – 14 % hasil. Secara ekonomi aplikasi POC I dan POC II lebih<br />

menguntungkan dibandingkan perlakuan kontrol (100 % dosis NPK). Pupuk POC<br />

I berpotensi untuk mereduksi penggunaan pupuk NPK sebesar 25 %.


<strong>PENGGUNAAN</strong> <strong>PUPUK</strong> <strong>ORGANIK</strong> <strong>CAIR</strong><br />

<strong>UNTUK</strong> <strong>MENGURANGI</strong> DOSIS <strong>PENGGUNAAN</strong> <strong>PUPUK</strong> AN<strong>ORGANIK</strong><br />

PADA PADI SAWAH (Oryza sativa L.)<br />

Use Of Organik Liquid Fertilizer For Reducing The Dose of<br />

Inorganik Fertilizer In Paddy Rice Fields (Oryza sativa L.)<br />

Yuseffa amilia 1 and Sugiyanta 2<br />

1 Mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB<br />

2 Staf Pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB<br />

Abstract<br />

Use Of Organik Liquid Fertilizer For Reducing The Dose of Inorganik<br />

Fertilizer Use in Paddy Rice Fields. This research started from Oktober 2009 until<br />

Februari 2010, located in Desa Situgede, Kecamatan Bogor Barat. This research<br />

Used One Faktor Randomize Complete Block Design with three times aplication.<br />

The treatment of liquid organik fertilizer kinds I and II in combination with NPK<br />

fertilizer capable of providing growth and yield of rice which is bigger then not<br />

significantly with just the NPK treatment. Eventough, several liquid organik fertilizer<br />

treatment agronomicaly efectif. It is means, organik liquid fertilizer can increase the<br />

paddy yield, eventhough not statistic significantly and potential to reduce the dosis of<br />

NPK anorganik fertilizer.<br />

Keywords: liquid organik fertilizer, fertilizer, paddy, growth,


<strong>PENGGUNAAN</strong> <strong>PUPUK</strong> <strong>ORGANIK</strong> <strong>CAIR</strong> <strong>UNTUK</strong><br />

<strong>MENGURANGI</strong> DOSIS <strong>PENGGUNAAN</strong> <strong>PUPUK</strong> AN<strong>ORGANIK</strong><br />

PADA PADI SAWAH (Oryza sativa L.)<br />

Skripsi sebagai salah satu syarat<br />

untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian<br />

pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor<br />

YUSEFFA AMILIA<br />

A24069002<br />

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA<br />

FAKULTAS PERTANIAN<br />

INSTITUT PERTANIAN BOGOR<br />

2011


Judul : <strong>PENGGUNAAN</strong> <strong>PUPUK</strong> <strong>ORGANIK</strong> <strong>CAIR</strong> <strong>UNTUK</strong><br />

<strong>MENGURANGI</strong> DOSIS <strong>PENGGUNAAN</strong> <strong>PUPUK</strong><br />

AN<strong>ORGANIK</strong> PADA PADI SAWAH (Oryza sativa L.)<br />

Nama : YUSEFFA AMILIA<br />

NIM : A24069002<br />

Tanggal Lulus :<br />

Menyetujui,<br />

Dosen Pembimbing<br />

Dr. Ir. Sugiyanta, MSi.<br />

NIP 19630115 198811 1 002<br />

Mengetahui,<br />

Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura<br />

Fakultas Pertanian IPB<br />

Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr<br />

NIP 19611101 198703 1 003


RIWAYAT HIDUP<br />

Penulis dilahirkan di Metro, Propinsi Lampung pada tanggal 9 September<br />

1988. Penulis merupakan anak sulung dari Bapak Holfa dan Ibu Aminah.<br />

Tahun 2000 penulis lulus dari SD Negeri 1 Hadimulyo Timur, kemudian<br />

pada tahun 2003 penulis menyelesaikan studi di SLTP N 6 Metro. Selanjutnya<br />

penulis diterima di SMAN 3 Metro dan lulus pada tahun 2006. Tahun 2006<br />

penulis diterima di IPB melalui jalur SPMB. Tahun 2008 penulis diterima sebagai<br />

mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB.<br />

Selama menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor, penulis turut aktif<br />

dalam beberapa kepanitiaan acara kampus dan departemen. Tahun 2008 penulis<br />

mengikuti kegiatan magang di Parung Farm. Tahun 2010 penulis menjadi<br />

pengajar bimbel kimia dibawah bimbingan IAAS.


KATA PENGANTAR<br />

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah<br />

memberi kekuatan dan hidayah sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan<br />

baik.<br />

Penelitian penggunaan pupuk organik cair untuk mengurangi dosis<br />

penggunaan pupuk anorganik pada padi sawah (Oryza sativa L.) dilaksanakan<br />

terdorong oleh keinginan untuk mengetahui pengaruh pengurangan dosis pupuk<br />

anorganik dengan aplikasi pupuk organik cair pada padi sawah. Penelitian ini<br />

dilaksanakan di Desa Situ Gede Kecamatan Bogor Barat, Kabupaten Bogor.<br />

Penulis menyampaikan terima kasih kepada Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si yang<br />

telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama kegiatan penelitian dan<br />

penulisan skripsi. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada teknisi lapang<br />

yang telah memberikan bantuan selama pelaksanaan penelitian. Kepada kedua<br />

orangtua yang telah memberikan dorongan yang tulus baik moril maupun materil,<br />

penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah<br />

mendukung dalam pembuatan skripsi ini. Semoga hasil penelitian ini berguna<br />

bagi yang memerlukan.<br />

Bogor, April 2011<br />

Penulis


UCAPAN TERIMA KASIH<br />

Segala puji bagi Allah SWT tuhan semesta alam yang atas kasih dan<br />

sayang-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta<br />

salam semoga senantiasa tercurah bagi junjungan Nabi Muhammad SAW dan<br />

sahabatnya. Dalam kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati dan segenap<br />

ketulusan, penulis ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada :<br />

1. Keluarga tersayang mama, papa, Pia, Mica, dan Dody tercinta atas doa,<br />

kasih sayang, dan dukungan tiada henti kepada penulis.<br />

2. Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah<br />

memberikan bimbingan , saran, arahan, dan dukungan kepada penulis.<br />

3. Ir. Heni Purnamawati, M.Sc. Agr dan Dr. Ir. Ahmad Junaedi, M.Si sebagai<br />

dosen penguji yang telah mengevaluasi hasil penelitian penulis skripsi ini.<br />

4. Dr. Ir. Eny Widajati, M.Si selaku dosen pembimbing akademik yang telah<br />

memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis.<br />

5. Keluarga Mang Heri serta Keluarga Besar Sawah Baru atas bantuannya<br />

selama penulis melaksanakan penelitian di lapang.<br />

6. Pak Agus, Pak Joko, dan Pak Rahmat atas bantuannya selama penulis<br />

menggunakan laboratorium.<br />

7. Elfa, Zaenal, Doyok, Resti, Rani, Mar’ah, Prama, Dita, Endang, Shofura’s<br />

crew, Mbak Hida, Mbak Rina, Mbak Achie, dan Mbak Isna serta pihakpihak<br />

yang membantu baik secara langsung maupun tidak langsung<br />

selama penelitian ini berlangsung.<br />

8. Sabti dan Irman sebagai rekan penelitian yang telah berbagi suka dan<br />

duka.<br />

9. Rekan-rekan AGH’ 43, AGH’ 44, Kimia’ 43 atas persahabatan dan<br />

kebersamaannya.<br />

Semoga segala dukungan dan bantuan baik moril maupun materi yang telah<br />

diberikan mendapat balasan yang sebaik-baiknya.<br />

Bogor, April 2011<br />

Penulis


DAFTAR ISI<br />

Halaman<br />

DAFTAR TABEL ............................................................................................... vii<br />

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... viii<br />

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... ix<br />

PENDAHULUAN .............................................................................................. 1<br />

Latar Belakang ........................................................................................ 1<br />

Tujuan ...................................................................................................... 3<br />

Hipotesis .................................................................................................. 3<br />

TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................... 4<br />

Pupuk dan Pemupukan ............................................................................ 4<br />

Unsur Hara dalam Tanaman .................................................................... 5<br />

Mekanisme Pupuk Akar dan Daun .......................................................... 7<br />

BAHAN DAN METODE ................................................................................... 9<br />

Tempat dan Waktu .................................................................................. 9<br />

Alat dan Bahan ........................................................................................ 9<br />

Metode Penelitian .................................................................................... 10<br />

Pelaksanaan Penelitian ............................................................................ 11<br />

Pengamatan ............................................................................................. 12<br />

HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................... 14<br />

Kondisi Umum ........................................................................................ 14<br />

Analisis Kandungan Hara Tanah ............................................................. 14<br />

Rekapitulasi Hasil Analisis Sidik Ragam ................................................ 15<br />

Pertumbuhan Tanaman ............................................................................ 17<br />

Tinggi Tanaman ...................................................................................... 17<br />

Jumlah Anakan ........................................................................................ 18<br />

Bagan Warna Daun ................................................................................ 19<br />

Bobot Kering Tajuk dan Akar serta Volume Akar ................................. 20<br />

Hasil dan Komponen Hasil ..................................................................... 21<br />

Hasil/Rumpun dan Dugaan Hasil/Ha ...................................................... 23<br />

Peningkatan Hasil .................................................................................... 25<br />

Analisis Usaha Tani ................................................................................ 25<br />

Pembahasan ............................................................................................. 26<br />

KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 31<br />

Kesimpulan .............................................................................................. 31<br />

Saran ........................................................................................................ 31<br />

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 32<br />

LAMPIRAN ........................................................................................................ 34


DAFTAR TABEL<br />

Nomor Halaman<br />

1. Analisis Mutu Pupuk Organik Cair I dan II ................................................. 10<br />

2. Hasil Analisis Hara Tanah Sebelum dan Setelah Penelitian ........................ 15<br />

3. Rekapitulasi Sidik Ragam Aplikasi Pupuk Organik Cair<br />

terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi Sawah .............................. 16<br />

4. Pengaruh Pupuk Organik Cair I dan II terhadap<br />

Tinggi Tanaman Padi Sawah ....................................................................... 17<br />

5. Pengaruh Pupuk Organik Cair I dan II terhadap Jumlah<br />

Anakan Padi Sawah ..................................................................................... 19<br />

6. Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Cair I dan II pada Bagan<br />

Warna Daun Padi Sawah.............................................................................. 20<br />

7. Rataan Nilai Bobot Kering Tajuk dan Akar serta Volume Akar<br />

Tanaman Padi Sawah pada Perlakuan Pupuk Organik Cair I dan II ........... 21<br />

8. Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Cair I dan II terhadap<br />

Komponen Hasil Tanaman Padi Sawah ....................................................... 22<br />

9. Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik CairI dan II terhadap<br />

Hasil/Tanaman Padi Sawah ......................................................................... 23<br />

10. Analisis Usahatani Pupuk Organik Cair ...................................................... 26


DAFTAR GAMBAR<br />

Nomor Halaman<br />

1. Nilai Gabah Kering Panen (GKP) dan Gabah Kering<br />

Giling (GKG) .............................................................................................. 24<br />

2. Peningkatan Hasil Tiap Perlakuan ............................................................... 25


DAFTAR LAMPIRAN<br />

Nomor Halaman<br />

1. Data Iklim Bulan Oktober 2009-Januari 2010 ............................................. 35<br />

2. Deskripsi Varietas Way Apo Buru ............................................................... 36<br />

3. Denah Petak Percobaan ................................................................................ 37<br />

4. Keragaan Tanaman Tiap Perlakuan pada 11 MST ...................................... 38<br />

5. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 3 MST ................................... 39<br />

6. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 4 MST ................................... 39<br />

7. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 6 MST ................................... 39<br />

8. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 7 MST ................................... 39<br />

9. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 8 MST ................................... 40<br />

10. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 9 MST ................................... 40<br />

11. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 10 MST ................................. 40<br />

12. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 3 MST ..................................... 40<br />

13. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 4 MST ..................................... 41<br />

14. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 5 MST ..................................... 41<br />

15. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 6 MST ..................................... 41<br />

16. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 7 MST ..................................... 41<br />

17. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 8 MST ..................................... 42<br />

18. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 9 MST ..................................... 42<br />

19. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 10 MST ................................... 42


20. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 3 MST ............................. 42<br />

21. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 4 MST ............................. 43<br />

22. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 5 MST ............................. 43<br />

23. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 6 MST ............................. 43<br />

24. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 7 MST ............................. 43<br />

25. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 8 MST ............................. 44<br />

26. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 9 MST ............................. 44<br />

27. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 10 MST ........................... 44<br />

28. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Jumlah Anakan Produktif ........................................ 44<br />

29. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Bobot Basah Tanaman ............................................. 45<br />

30. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Bobot Kering Tanaman ............................................ 45<br />

31. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Panjang Malai .......................................................... 45<br />

32. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Jumlah Gabah/Malai ................................................ 45<br />

33. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Gabah Kering Panen ................................................ 46<br />

34. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Gabah Kering Giling ................................................ 46<br />

35. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Persentase Gabah Hampa ........................................ 46<br />

36. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Bobot Kering Tajuk ................................................. 46<br />

37. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Volume Akar ........................................................... 47<br />

38. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Bobot Kering Akar .................................................. 47


PENDAHULUAN<br />

Latar Belakang<br />

Padi merupakan komoditas tanaman paling penting di Indonesia. Data<br />

Badan Pusat Statistik, (2010) menunjukkan bahwa produktivitas padi Indonesia<br />

tahun 2010 sebesar 50.14 ku/ha dengan luas panen 13 244 184 ha dan produksi<br />

padi nasional yang didapat 66 411 469 ton. Jika dibandingkan dengan tahun 2009<br />

terjadi kenaikan produktivitas 0.3 % dari 49.99 ku/ha menjadi 50.14 ku/ha.<br />

Departemen Pertanian menargetkan produksi padi tahun 2011 sebanyak 67.31 juta<br />

ton gabah kering giling (GKG) setara 38.05 juta ton beras untuk memenuhi<br />

konsumsi beras nasional yang mencapai 125 kg per kapita per tahunnya (Kompas,<br />

2010).<br />

Negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia yang secara<br />

tradisional, kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya bertumpu pada pertanian atau<br />

memperoleh inspirasi dari pertanian, maka pembangunan ekonomi harus<br />

bertumpu pada pertanian. Industrialisasi tidak mungkin berhasil apabila pertanian<br />

tidak lebih dulu dimajukan dan didinamisasikan (Sutanto, 2002). Kegiatan<br />

pertanian konvensional yang hanya berorientasi pada pemaksimalan hasil dengan<br />

mengandalkan bahan kimia berupa pupuk dan pestisida secara terus menerus,<br />

mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan (tanah subur, udara bersih, dan<br />

ekosistem alami) dan menurunkan produktivitas padi nasional.<br />

Sejak revolusi hijau dikembangkan dan diadopsi dalam budidaya padi<br />

sawah, terjadi perubahan besar terhadap teknologi pertanian secara umum di<br />

negara berkembang. Revolusi hijau melahirkan varietas berdaya hasil tinggi yang<br />

responsif terhadap pemupukan dosis tinggi sehingga menuntut aplikasi pupuk<br />

anorganik berlebih pada padi sawah. Akibat negatif dari revolusi hijau dengan<br />

tingginya penggunaan pupuk anorganik adalah timbulnya berbagai masalah<br />

seperti leveling off (kelandaian peningkatan produktivitas), rendahnya keuntungan<br />

petani karena tingkat biaya input tinggi, masalah-masalah lingkungan, dan<br />

kesehatan serta ketidakseimbangan hara dan penyakit (Minami, 1997). Akibat lain<br />

adalah tidak diaplikasikannya pupuk organik yang menyebabkan kerusakan fisik,<br />

kimia, dan biologi tanah. Penggunaan pupuk organik mampu menjadi solusi<br />

1


dalam mengurangi aplikasi pupuk anorganik yang berlebihan dikarenakan adanya<br />

bahan organik yang mampu memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah.<br />

Darmawan (2005) menyatakan pemupukan yang salah dapat mengakibatkan<br />

inefisiensi pada proses produksi.<br />

Penggunaan pupuk organik mampu menjadi solusi dalam mengurangi<br />

aplikasi pupuk anorganik yang berlebihan dikarenakan adanya bahan organik<br />

yang mampu memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Perbaikan<br />

terhadap sifat fisik yaitu menggemburkan tanah, memperbaiki aerasi dan drainase,<br />

meningkatkan ikatan antar partikel, meningkatkan kapasitas menahan air,<br />

mencegah erosi dan longsor, dan merevitalisasi daya olah tanah. Fungsi pupuk<br />

organik terhadap sifat kimia yaitu meningkatkan kapasitas tukar kation,<br />

meningkatkan ketersediaan unsur hara, dan meningkatkan proses pelapukan bahan<br />

mineral. Adapun terhadap sifat biologi yaitu menjadikan sumber makanan bagi<br />

mikroorganisme tanah seperti fungi, bakteri, serta mikroorganisme<br />

menguntungkan lainnya, sehingga perkembangannya menjadi lebih cepat<br />

(Hadisuwito, 2008). Pupuk organik disamping dapat menyuplai hara NPK, juga<br />

dapat menyediakan unsur hara mikro sehingga dapat mencegah kahat unsur mikro<br />

pada tanah marginal atau tanah yang telah diusahakan secara intensif dengan<br />

pemupukan yang kurang seimbang.<br />

Semakin tingginya aplikasi pupuk anorganik tanpa pengembalian bahan<br />

organik ke tanah mengakibatkan keseimbangan dan ketersediaan hara tanah<br />

terganggu. Tingginya harga pupuk dengan ketersediaan yang terbatas dan efisiensi<br />

pemupukan yang rendah mengakibatkan pemupukan tidak lagi nyata<br />

meningkatkan hasil. Pupuk organik cair merupakan salah satu alternatif untuk<br />

meningkatkan ketersediaan, kecukupan, dan efisiensi serapan hara bagi tanaman<br />

padi sawah. Pengaruh pupuk cair terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah<br />

telah banyak diteliti, tetapi pupuk organik cair masih terbatas. Oleh karena itu<br />

penelitian pengaruh pupuk organik cair pada padi sawah masih dianggap penting.<br />

Salah satu hasil yang sangat diharapkan dari penelitian ini adalah potensi pupuk<br />

organik cair dalam mereduksi penggunaan pupuk NPK buatan.<br />

2


Tujuan<br />

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pengurangan dosis<br />

pupuk anorganik dengan aplikasi pupuk organik cair pada pertumbuhan dan hasil<br />

padi sawah.<br />

Hipotesis<br />

Aplikasi pupuk organik mampu mengurangi dosis aplikasi pupuk<br />

anorganik tanpa menurunkan produktivitas tanaman padi sawah.<br />

3


TINJAUAN PUSTAKA<br />

Pupuk dan Pemupukan<br />

Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan<br />

unsur-unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman (Hadisuwito, 2008). Tindakan<br />

mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah dengan penambahan dan<br />

pengembalian zat-zat hara secara buatan diperlukan agar produksi tanaman tetap<br />

normal atau meningkat. Tujuan penambahan zat-zat hara tersebut memungkinkan<br />

tercapainya keseimbangan antara unsur-unsur hara yang hilang baik yang<br />

terangkut oleh panen, erosi, dan pencucian lainnya. Tindakan<br />

pengembalian/penambahan zat-zat hara ke dalam tanah ini disebut pemupukan.<br />

Jenis pupuk yang digunakan harus sesuai kebutuhan, sehingga diperlukan metode<br />

diagnosis yang benar agar unsur hara yang ditambahkan hanya yang dibutuhkan<br />

oleh tanaman dan yang kurang didalam tanah (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).<br />

Konsentrasi, waktu, dan cara pemberian harus tepat agar tidak merugikan dan<br />

tidak merusak lingkungan akibat kelebihan konsentrasi serta waktu dan cara<br />

aplikasinya.<br />

Pupuk digolongkan menjadi dua yaitu pupuk organik dan pupuk<br />

anorganik. Pupuk dapat berbeda pengertiannya sesuai dengan cakupan luasannya.<br />

Menurut jumlah unsur haranya pupuk dibedakan menjadi pupuk tunggal dan<br />

majemuk. Pupuk tunggal adalah pupuk yang digunakan untuk menyuplai satu<br />

jenis hara, sekalipun di dalamnya terdapat beberapa hara lainnya sebagai ikatan,<br />

sedangkan pupuk majemuk merupakan kombinasi campuran secara fisik atau<br />

formulasi pupuk (dua atau lebih pupuk tunggal) untuk memasok dua atau lebih<br />

unsur hara sekaligus (Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2002).<br />

Menurut cara aplikasinya pupuk buatan dibedakan menjadi dua yaitu pupuk daun<br />

dan pupuk akar. Pupuk daun diberikan lewat penyemprotan pada daun tanaman,<br />

sedangkan pupuk akar diserap lewat akar dengan cara penebaran di tanah<br />

(Novizan, 2001).<br />

Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri<br />

atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui<br />

proses, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan menyuplai bahan organik<br />

4


untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi tanah (Balai Besar Litbang<br />

Sumberdaya Lahan Pertanian, 2006).<br />

Unsur Hara Dalam Tanaman<br />

Menurut Siregar (1981), unsur hara yang mempunyai peranan penting<br />

terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi yaitu N, P, dan K. Kandungan<br />

N pada pupuk urea (CO(NH2)2) sebanyak 46 %. Urea dapat langsung<br />

dimanfaatkan tanaman, tetapi umumnya di dalam tanah akan diubah menjadi<br />

ammonium dan nitrat melalui proses amonifikasi dan nitrifikasi oleh bakteri tanah<br />

(Leiwakabessy dan Sutandi, 2004). Suyamto (2010) menambahkan, tanaman padi<br />

menyerap amonium 5-20 kali lebih cepat dibandingkan dengan nitrat. Peranan<br />

unsur N dalam tanaman yang terpenting adalah sebagai penyusun atau sebagai<br />

bahan dasar protein dan pembentukan khlorofil karena itu N mempunyai fungsi<br />

membuat bagian-bagian tanaman menjadi lebih hijau, banyak mengandung butirbutir<br />

hijau dan yang terpenting dalam proses fotosintesis, mempercepat<br />

pertumbuhan tanaman yang dalam hal ini menambah tinggi tanaman dan jumlah<br />

anakan, menambah ukuran daun dan besar gabah serta memperbaiki kualitas<br />

tanaman dan gabah, menambah kadar protein beras, meningkatkan jumlah gabah<br />

dan persentase jumlah gabah isi, menyediakan bahan makanan bagi mikrobia<br />

(jasad-jasad renik yang bekerja menghancurkan bahan-bahan organik di dalam<br />

tanah) (Dobermann and Fairhust, 2000). Kekurangan nitrogen akan menimbulkan<br />

gejala pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek<br />

dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati. Khlorosis di daun tua dan<br />

semakin parah akan terjadi juga pada daun muda. Unsur N pada tanaman padi<br />

diperlukan dalam jumlah banyak pada awal dan pertengahan fase anakan untuk<br />

memaksimalkan jumlah malai (Suyamto, 2010).<br />

Selain N, tanaman juga membutuhkan unsur P dan K dalam jumlah<br />

banyak. Menurut Dobermann and Fairhust (2000) peranan utama unsur fosfor<br />

dalam tanaman untuk pembentukan karbohidrat dan efisiensi mekanisme aktivitas<br />

khloroplas serta dalam aktivitas metabolisme. Fosfor berguna untuk merangsang<br />

pertumbuhan akar, pertumbuhan tanaman, mempercepat pemasakan sehingga<br />

mempercepat masa panen, memperbesar pembentukan anakan dan gabah, dan<br />

5


mendukung pembentukan bunga dan biji. Kekurangan unsur P pada tanaman padi<br />

sawah dapat mengurangi jumlah anakan, batang yang tipis, kurus, dan<br />

terhambat. Jumlah malai dan gabah per malai juga berkurang, daun muda tampak<br />

sehat tetapi lebih tua kemudian berubah menjadi cokelat dan mati. Pematangan<br />

terhambat, persentase gabah hampa yang tinggi, dan bobot 1000 butir rendah<br />

dengan kualitas biji yang buruk serta tidak ada tanggapan untuk aplikasi mineral<br />

N (Dobermann and Fairhust, 2000). Unsur P diserap maksimal pada fase<br />

berbunga (Suyamto, 2010).<br />

Tidak seperti N dan P, unsur K tidak berpengaruh terhadap jumlah<br />

anakan. Kalium meningkatkan jumlah gabah per malai, persentase gabah isi, dan<br />

bobot 1000 butir serta meningkatkan toleransi tanaman padi terhadap kondisi<br />

iklim yang merugikan dan serangan hama dan penyakit (Dobermann and Fairhust,<br />

2000). Unsur K berfungsi membantu aktivitas enzim dalam membuka dan<br />

menutup stomata dan kekurangan K dapat menghambat translokasi karbohidrat<br />

dan metabolisme nitrogen.<br />

Selain unsur makro, tanaman padi sawah juga memerlukan unsur mikro.<br />

Peranan unsur Ca dalam tanaman sebagai penguat dinding sel, mendorong<br />

perkembangan akar, memperbaiki vigor tanaman dan kekuatan daun, berperan<br />

dalam perpanjangan sel, sintesis protein dan pembelahan sel (Leiwakabessy dan<br />

Sutandi, 2004). Magnesium merupakan bagian dari khlorofil yang berfungsi<br />

dalam proses fotosintesis, terlibat dalam pembentukan gula, mengatur serapan<br />

unsur hara yang lain, sebagai carrier fosfat dalam tanaman, translokasi<br />

karbohidrat, dan aktivator dari beberapa enzim transforforilase, dehidrogenase,<br />

dan karboksilase (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004). Sulfur merupakan bagian<br />

dari asam amino termasuk metionin, sistin, dan sistein. Belerang sangat penting<br />

dalam sintesis minyak pada tumbuhan (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).<br />

Tanaman mengambil besi dalam bentuk Fe 2+ , Fe 3+ , dan NaFeEDTA.<br />

Peranan Fe dalam tanaman yaitu mempertahankan khlorofil dalam daun,<br />

merupakan bagian penting dari hemaglobin, sebagai protein ferredoxin dalam<br />

metabolisme seperti fiksasi N2, fotosintesis, dan transfer elektron dalam<br />

khloroplas tanaman. Mangan berperan dalam proses reduksi dan oksidasi,<br />

meningkatkan penyerapan cahaya, sintesis protein, dan berperan sebagai katalis<br />

6


dalam reaksi tanaman. Tembaga berfungsi untuk mencegah perubahan dalam<br />

khlorofil dan berperan penting dalam mengoksidasi enzim.<br />

Mekanisme Pupuk Akar dan Daun<br />

Akar merupakan organ non fotosintetik pada tanaman. Proses penyerapan<br />

hara dari permukaan akar ke dalam tanaman merupakan mekanisme yang<br />

kompleks menurut Leiwakabessy dan Sutandi (2004). Masuknya ion ke dalam<br />

akar terjadi melalui 3 macam mekanisme yaitu pertukaran ion, difusi, dan melalui<br />

kegiatan carrier atau senyawa–senyawa metabolik pengikat ion. Mekanisme<br />

pertukaran ion merupakan mekanisme yang pasif. Suyamto (2010) menyatakan<br />

bahwa serapan hara melalui mekanisme ini terjadi akibat kontak antara<br />

permukaan akar dan koloid tanah. Difusi merupakan mekanisme transpor aktif<br />

dan merupakan transpor masuknya ion ke dalam outer space/free space (ruang<br />

luar dari akar) yaitu pada dinding epidermis dan sel korteks dari akar dan dalam<br />

film air yang melapisi rongga interseluler terjadinya proses difusi dikarenakan<br />

akibat perbedaan konsentrasi antara permukaan air dan larutan tanah. Mekanisme<br />

yang ketiga yaitu kegiatan carrier merupakan transport aktif yang terjadi dalam<br />

inner space. Transport ini sifatnya selektif dalam absorbs ion dengan demikian<br />

melalui mekanisme ini, tanaman sebenarnya memiliki kemampuan untuk memilih<br />

unsur yang dibutuhkan dan yang berbahaya dapat disaring untuk tidak masuk ke<br />

dalam tanaman.<br />

Mekanisme pengambilan unsur hara melalui daun terjadi karena adanya<br />

difusi dan osmosis melalui lubang stomata, sehinggga mekanismenya<br />

berhubungan dengan membuka dan menutupnya stomata. Membukanya stomata<br />

merupakan proses mekanis yang diatur oleh tekanan turgor melalui sel-sel<br />

penutup sedangkan tekanan turgor sendiri berbanding langsung dengan<br />

kandungan karbon dioksida dari ruang di bawah stomata. Meningkatnya tekanan<br />

turgor akan membuka lubang stomata, dan pada saat itu unsur hara akan berdifusi<br />

ke dalam stomata bersamaan dengan air (Setyamidjaja, 1986). Bentuk stomata<br />

tanaman padi sawah seperti halter, dinding sel penutup bagian tengahnya tebal,<br />

bagian tersebut merupakan penopang pada halter. Masing-masing ujung dinding<br />

selnya tipis, sedangkan dinding atas dan dinding bawahnya tebal (Sutrian, 1992).<br />

7


Tanaman padi sawah memiliki bulu halus dan kandungan unsur Si yang diduga<br />

menyebabkan sulitnya penyerapan pupuk daun. Letak stomata tanaman umumnya<br />

terletak di permukaan bawah daun.<br />

8


BAHAN DAN METODE<br />

Tempat dan Waktu<br />

Percobaan dilaksanakan di Desa Situ Gede Kecamatan Bogor Barat,<br />

Kabupaten Bogor. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2009 – Februari<br />

2010. Analisis tanah dilakukan di SEAMEO Biotrop, Bogor. Analisis pupuk<br />

dilakukan di Balai Besar Sumber Daya Lahan, Bogor. Pengukuran biomassa di<br />

lakukan di Laboratorium Pasca Panen, Departemen Agronomi dan Hortikultura.<br />

Pengamatan persentase gabah hampa diamati di Laboratorium Ilmu dan Teknologi<br />

Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB.<br />

Alat dan Bahan<br />

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seperangkat alat budidaya,<br />

knapsack sprayer, neraca digital, meteran, Bagan Warna Daun (BWD), oven,<br />

kantong plastik, kantong kertas, bor tanah, gelas ukur, threeser, dan blower<br />

separator. Dokumentasi selama penelitian dilampirkan pada Lampiran 4.<br />

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih padi varietas<br />

Way Apoburu, pupuk anorganik (Urea, SP-18, KCl), pupuk organik cair yang<br />

diaplikasikan ke daun (POC I) dan pupuk organik cair yang diaplikasikan ke tanah<br />

(POC II). Pupuk organik cair daun merupakan pupuk dengan kandungan unsur<br />

hara yang lengkap dan mudah tersedia. Pupuk tersebut diaplikasikan melalui tajuk<br />

sehingga diduga lebih efektif dan efisien karena tidak terdapat kehilangan. Pupuk<br />

ini merupakan pupuk pelengkap cair yang yang dilengkapi dengan berbagai<br />

macam unsur hara makro, mikro, hormon, zat pembasah, vitamin, dan mineral.<br />

Pupuk organik cair I diaplikasikan pada tanaman padi sawah dengan<br />

penyemprotan melalui daun. Pada Tabel 1, pupuk organik cair (POC I) memiliki<br />

kandungan unsur makro (N, P, dan K) yang lebih tinggi dibandingkan kandungan<br />

pada POC II. Kandungan N pada pupuk organik cair I berperan dalam<br />

meningkatkan tinggi tanaman dan kandungan khlorofil daun padi sawah.<br />

Pupuk organik cair II merupakan pupuk yang diaplikasikan ke tanah.<br />

Pupuk yang diaplikasikan ke tanah ini lebih berfungsi dalam mengaktifkan<br />

9


mikroba dalam tanah. POC II memiliki kandungan unsur mikro yang lebih tinggi<br />

dibandingkan POC I. Secara rinci analisis pupuk tersebut disajikan pada Tabel 1.<br />

Tabel 1. Analisis Mutu Pupuk Organik Cair I dan II<br />

Nama Unsur Kandungan POC I POC II<br />

N (%) 3.68 1.93<br />

P2O5 (%) 0.82 0.2<br />

K2O (%) 1.32 -<br />

C Organik (%) 6.38 8.25<br />

C/N 1.73 1.93<br />

Fe (ppm) 46 -<br />

B (ppm) 91 -<br />

Mn (ppm) 0.2 262<br />

Zn (ppm) 44 112<br />

Mo (ppm) Ttd 0.8<br />

Cu (ppm) 114 0.2<br />

Co (ppm) Ttd 0.8<br />

Hg (ppm) Ttd 0.04<br />

Pb (ppm) Ttd 0<br />

Cd (ppm) 0.1 0.39<br />

As (ppm) 0.01 2.08<br />

E. coli Negatif Negatif<br />

Salmonella Negatif Negatif<br />

pH - 4.9<br />

Metode Penelitian<br />

Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Kelompok Lengkap<br />

Teracak (RKLT) satu faktor dengan tiga ulangan. Masing-masing perlakuan<br />

merupakan kombinasi dosis dan jenis pupuk. Dalam Percobaan ini terdapat 11<br />

kombinasi perlakuan yaitu perlakuan 100 % dosis NPK (P1), perlakuan 100 %<br />

dosis NPK + 50 % dosis POC I (P2), perlakuan 100 % dosis NPK + 75 % dosis<br />

POC I (P3), perlakuan 100 % dosis NPK + 100 % dosis POC I (P4), perlakuan 75<br />

% dosis NPK + 100 % dosis POC I (P5), perlakuan 50 % dosis NPK + 100 %<br />

dosis POC I (P6), perlakuan 100 % dosis NPK + 50 % dosis POC II (P7),<br />

perlakuan 100 % dosis NPK + 75 % dosis POC II (P8), perlakuan 100 % dosis<br />

NPK + 100 % dosis POC II (P9), perlakuan 75 % dosis NPK + 100 % dosis POC<br />

II (P10), perlakuan 50 % dosis NPK + 100 % dosis POC II (P11).<br />

10


Dosis anjuran POC I yaitu 1 l/ha. POC I diaplikasikan dengan<br />

menyemprotkan pada tajuk tanaman padi sawah pada saat tanaman berumur 2 dan<br />

4 MST (minggu setelah tanam). Dosis anjuran POC II yaitu 6 l/ha yang<br />

diaplikasikan pada tanah petak percobaan pada 3 hari sebelum tanam (HST), 1, 2,<br />

3, dan 4 MST. Volume semprot yang digunakan adalah 500 l/ha. Masing-masing<br />

perlakuan diulang tiga kali sehingga percobaan ini terdiri dari 33 satuan<br />

percobaan. Petak satuan percobaan berukuran 5m x 5m. Denah tata letak<br />

percobaan disajikan pada Lampiran 3. Model linear aditif yang digunakan dalam<br />

percobaan ini adalah :<br />

Yij = µ + αi + βj + εij<br />

Yij = hasil pengamatan pada perlakuan pemupukan ke-i dan kelompok ke-j<br />

µ = rataan umum<br />

αi = pengaruh perlakuan pemupukan ke-i<br />

βj = pengaruh kelompok ke-j<br />

εij = pengaruh acak pada perlakuan pemupukan ke-i dan kelompok ke-j<br />

i = 1, 2,....,11<br />

j = 1, 2, 3<br />

Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh perlakuan yang diuji, dilakukan<br />

analisis Ragam (uji F), jika hasil uji F menunjukkan pengaruh nyata pada taraf<br />

5 % maka dilakukan uji lanjut t-Dunnet.<br />

Pelaksanaan Penelitian<br />

Sebelum disemai, benih padi direndam dalam air selama 24 jam kemudian<br />

diperam karung goni basah selama 2 hari sampai muncul bintik putih (radikula).<br />

Benih padi disemai pada lahan ukuran 4 m 2 . Pengolahan tanah dilakukan dua<br />

minggu sebelum penanaman. Pematang sawah diperbaiki dan ditinggikan. Tanah<br />

direndam selama seminggu kemudian dibajak. Tanah dibajak secara tradisonal<br />

menggunakan kerbau dan tenaga manusia.<br />

Penanaman dilakukan dengan bibit berumur 9 hari setelah sebar,<br />

penyulaman dilakukan pada 1 minggu setelah tanam (MST) dengan umur bibit<br />

yang sama. POC I diberikan pada 2 minggu setelah tanam (MST) dan 4 MST<br />

pada permukaan daun tanaman. Aplikasi pemupukan POC II diberikan 3 hari<br />

11


sebelum tanam, 7, 14, 21, dan 28 HST pada tanah. Pupuk cair tersebut<br />

disemprotkan dengan menggunakan knapsack sprayer. Aplikasi pupuk SP-18,<br />

KCl, dan urea 30% pada 1 MST, 40% urea pada 4 MST, dan 30% urea pada 6<br />

MST, aplikasi pupuk tunggal tersebut disebar pada tiap petakan sesuai dosis<br />

perlakuan. Penyiangan dilakukan dengan cara pencabutan gulma secara manual<br />

pada saat tanaman berumur 28 HST, 35 HST, dan 55 HST.<br />

Hama yang menyerang tanaman berumur 0-3 MST adalah keong,<br />

belalang, dan ulat. Hama belalang dan ulat tidak terlalu tinggi tingkat<br />

serangannya. Hama keong diambil secara manual dan diberikan batang ubi kayu<br />

pada pinggiran petakan. Pemanenan dilakukan ketika 90-95% gabah menguning.<br />

Pemanenan dilakukan dengan alat sabit tajam dengan cara potong atas.<br />

Pengamatan<br />

Pengamatan yang dilakukan meliputi :<br />

1. Analisis hara tanah<br />

Peubah yang diamati yaitu pH, N-Total, P, K, C-organik, dan C/N rasio<br />

yang dilakukan sebelum dan setelah pengujian. Analisis tanah pada awal<br />

penelitian dilakukan dengan menganalisis sampel tanah secara komposit dari 33<br />

petak percobaan. Pada akhir penelitian sampel tanah diambil lagi pada masingmasing<br />

petak perlakuan dan dilakukan komposit per ulangan, untuk perlakuan<br />

POC I yang diaplikasikan ke daun, sampel tanah diambil secara komposit karena<br />

diduga tidak ada pengaruh berarti pada tanah.<br />

2. Pengamatan Vegetatif<br />

Pengamatan dilakukan pada 5 tanaman contoh dari masing-masing<br />

petakan, diamati setiap minggu dimulai sejak 3 MST sampai heading (keluar<br />

malai).<br />

Pengamatan vegetatif yang diamati yaitu<br />

1. Tinggi tanaman : diukur dari permukaan tanah sampai dengan daun<br />

tertinggi.<br />

2. Jumlah anakan<br />

3. Bagan Warna Daun (BWD) : dicocokkan skala warna pada BWD dengan<br />

daun teratas padi yang telah membuka penuh.<br />

12


3. Pengamatan Biomassa<br />

Bobot kering akar dan tajuk serta volume akar diambil pada saat tanaman<br />

berumur 8 MST (pada masa pertumbuhan maksimum). Pengamatan ini dilakukan<br />

pada 2 tanaman/petak. Biomassa diukur dengan menimbang bagian tajuk tanaman<br />

dan akar setelah dikeringkan dengan oven pada suhu 105°C selama 1 hari.<br />

Volume akar : diukur dari selisih volume air dalam gelas ukur sesudah akar<br />

dimasukkan dengan volume awalnya.<br />

4. Komponen Hasil dan Hasil<br />

Pengamatan hasil dan komponen hasil dimulai pada saat panen. Peubah<br />

yang diamati dari petakan dengan lima tanaman contoh adalah :<br />

1. Panjang malai, diukur dari buku terakhir malai sampai dengan ujung<br />

malai.<br />

2. Jumlah gabah/malai, dilakukan dengan menghitung jumlah gabah dari 5<br />

malai/rumpun.<br />

3. Jumlah anakan produktif/rumpun, dilakukan dengan menghitung jumlah<br />

anakan yang bermalai.<br />

4. Hasil gabah/rumpun, diperoleh dengan menimbang seluruh gabah dari<br />

masing-masing tanaman contoh.<br />

5. Bobot 1000 butir gabah, bobot ini diperoleh dengan menimbang 1000<br />

gabah isi.<br />

6. Hasil gabah ubinan, diperoleh dari panen ubinan ukuran 2.5m x 2.5m.<br />

7. Dugaan hasil/ha, dihitung dari konversi hasil ubinan.<br />

8. Persen gabah hampa, dihitung berdasarkan persen bobot gabah hampa<br />

dari 100 gram gabah.<br />

9. Peningkatan Hasil = GKP pemupukan-GKP kontrol x 100 %<br />

GKP kontrol<br />

10. Analisis Usahatani<br />

13


HASIL DAN PEMBAHASAN<br />

Hasil<br />

Kondisi Umum<br />

Curah hujan selama penelitian dari bulan Oktober 2009 sampai Januari 2010<br />

tergolong tinggi sampai sangat tinggi yaitu berkisar antara 242.1-415.8 mm/bulan<br />

dengan jumlah hari hujan 20-29 hari. Temperatur rata-rata selama penelitian<br />

tersebut berkisar antara 25.3-26.3°C. Kondisi curah hujan tersebut sesuai untuk<br />

pertanaman padi sawah karena menurut klasifikasi Oldeman tanaman padi sawah<br />

membutuhkan curah hujan 200 mm/bulan (Handoko, 1995).<br />

Bibit ditanam saat berumur 9 hari setelah semai dengan 1 bibit per lubang<br />

tanam. Kondisi awal penanaman hingga panen tanaman padi sawah tergolong<br />

normal karena intensitas serangan hama dan penyakit rendah. Pada saat tanaman<br />

berumur 0-3 MST, tanaman diserang oleh hama keong mas (Pomacea<br />

canaliculata). Serangan hama ini diatasi dengan pengendalian secara manual yaitu<br />

penyulaman. Hama-hama lain yang menyerang adalah belalang, walang sangit,<br />

dan burung. Hama-hama tersebut dapat dikendalikan sehingga tidak menimbulkan<br />

kerusakan yang besar. Pemanenan dilakukan pada saat tanaman berumur 122 hari<br />

setelah tanam (HST).<br />

Analisis Kandungan Hara Tanah<br />

Analisis kandungan hara tanah dilakukan sebelum dan setelah panen.<br />

Sebelum penelitian dilakuan analisis tanah awal dengan pengambilan contoh<br />

tanah secara komposit. Pada akhir penelitian sampel tanah diambil pada masingmasing<br />

petak perlakuan dan dilakukan komposit per ulangan sedangkan untuk<br />

perlakuan POC I yang diaplikasikan ke daun, sampel tanah diambil secara<br />

komposit. Analisis dilakukan terhadap pH tanah, kandungan C-Organik, C/N, N-<br />

Total, P, dan K. Hasil analisis kandungan hara tanah dapat dilihat pada Tabel 2.<br />

14


Tabel 2. Hasil Analisis Hara Tanah Sebelum dan Setelah Penelitian<br />

Peubah<br />

Sebelum<br />

Penelitian P1 P2-P6<br />

Setelah Penelitian<br />

P7 P8 P9 P10 P11<br />

pH 6.0 5.80 5.80 5.70 5.70 5.90 5.90 6.00<br />

C-Organik<br />

(%)<br />

2.35 1.25 1.30 1.04 1.13 1.30 1.54 1.64<br />

C/N 13.10 12.5 10.83 10.4 10.30 10.00 10.30 9.60<br />

N (%) 0.18 0.10 0.12 0.10 0.11 0.13 0.15 0.17<br />

P (%) 9.60 9.90 9.40 9.40 9.90 10.30 10.80 11.60<br />

K (%) 0.71 0.57 0.48 0.56 0.59 0.61 0.64 0.64<br />

Sumber : Laboratorium Tanah, SEAMEO BIOTROP (2009-2010)<br />

Hasil analisis tanah sebelum percobaan menunjukkan bahwa pH tanah<br />

tergolong agak masam, kandungan C-organik sedang, C/N rasio sedang, N<br />

rendah, P sangat rendah, dan K tergolong rendah menurut kriteria dari<br />

Hardjowigeno (2003). Secara umum, hasil analisis tanah setelah penelitian ini<br />

terjadi penurunan pada peubah pH, C-organik, C/N, N, dan K, namun terjadi<br />

peningkatan pada kandungan P tanah. Peningkatan unsur P tanah diduga karena<br />

ada penambahan unsur P dari pupuk dasar dan sifat unsur P yang tidak mobil di<br />

dalam tanah sedangkan penurunan N dan K diduga karena diambil oleh tanaman.<br />

Rekapitulasi Hasil Analisis Sidik Ragam<br />

Hasil analisis uji F menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi pupuk organik<br />

dengan pupuk anorganik dengan berbagai dosis berpengaruh nyata terhadap<br />

jumah anakan pada saat tanaman berumur 10 MST dan jumlah anakan produktif<br />

tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap peubah lainnya. Secara rinci rekapitulasi<br />

hasil analisis sidik ragam pengaruh perlakuan terhadap beberapa peubah yang<br />

diamati disajikan pada Tabel 3 dan terlampir pada Lampiran 5-38.<br />

15


Tabel 3. Rekapitulasi Sidik Ragam Aplikasi Pupuk Organik Cair terhadap<br />

Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi Sawah<br />

Peubah Pengaruh Perlakuan Koefisien Keragaman (%)<br />

Pertumbuhan Tanaman<br />

Tinggi Tanaman<br />

3 MST tn 16.56<br />

4 MST tn 7.86<br />

5 MST tn 8.70<br />

6 MST tn 8.11<br />

7 MST tn 8.04<br />

8 MST tn 7.23<br />

9 MST tn 8.41<br />

10 MST tn 8.54<br />

Jumlah Anakan<br />

3 MST tn 29.69<br />

4 MST tn 30.31<br />

5 MST tn 31.41<br />

6 MST tn 26.62<br />

7 MST tn 22.73<br />

8 MST tn 29.75<br />

9 MST tn 15.24<br />

10 MST tn 13.05<br />

Bagan Warna Daun<br />

3 MST tn 4.40<br />

4 MST tn 0.84<br />

5 MST tn 4.16<br />

6 MST tn 3.96<br />

7 MST tn 6.02<br />

8 MST tn 7.98<br />

9 MST tn 21.22<br />

10 MST tn 13.34<br />

Bobot Kering Tajuk tn 37.61<br />

Bobot Kering Akar tn 53.84<br />

Volume Akar tn 41.59<br />

Hasil dan Komponen Hasil<br />

Jumlah Anakan Produktif tn 11.95<br />

Jumlah Gabah per Malai tn 15.96<br />

Panjang Malai tn 4.97<br />

Bobot 1000 Butir tn 6.36<br />

Bobot Basah Contoh tn 27.44<br />

Bobot Kering Contoh tn 28.43<br />

16


Peubah Pengaruh Perlakuan Koefisien Keragaman (%)<br />

Gabah Kering Panen tn 25.37<br />

Gabah Kering Giling tn 27.48<br />

Persentase Gabah Hampa tn 18.91<br />

Keterangan * : nyata pada taraf 5%<br />

tn : tidak nyata<br />

Pertumbuhan Tanaman<br />

Tinggi Tanaman<br />

Perlakuan pupuk organik cair I dan II tidak berpengaruh nyata terhadap<br />

peubah tinggi tanaman padi sawah dari awal (3 minggu setelah tanam/MST)<br />

hingga akhir pengamatan (10 minggu setelah tanam/MST) jika dibandingkan<br />

perlakuan kontrol (100 % NPK). Secara rinci pengaruh aplikasi pupuk organik<br />

cair I dan II terhadap tinggi tanaman padi sawah disajikan pada Tabel 4.<br />

Tabel 4. Pengaruh Pupuk Organik Cair I dan II terhadap Tinggi Tanaman<br />

Padi Sawah<br />

Tinggi Tanaman (cm)<br />

Perlakuan<br />

3 4 5 6 7 8 9 10<br />

MST MST MST MST MST MST MST MST<br />

100 % dosis NPK (P1) 25.73 29.14 38.40 44.52 54.40 62.12 67.45 70.58<br />

100 % dosis NPK + 50 % dosis<br />

POC I (P2)<br />

25.36 31.60 40.66 48.38 56.33 63.06 66.36 66.76<br />

100 % dosis NPK + 75 % dosis<br />

POC I (P3)<br />

21.56 31.03 41.11 49.65 56.86 64.90 66.84 72.34<br />

100 % dosis NPK + 100 %<br />

28.56<br />

dosis POC I (P4)<br />

32.92 43.91 52.15 60.73 68.06 72.98 73.44<br />

75 % dosis NPK + 100 % dosis<br />

POC I (P5)<br />

18.83 27.61 38.10 45.33 53.18 63.95 68.52 71.25<br />

50 % dosis NPK + 1 dosis POC<br />

I (P6)<br />

23.73 29.92 40.24 46.82 55.40 60.10 63.74 66.26<br />

100 % dosis NPK + 50 % dosis<br />

POC II (P7)<br />

23.06 28.80 40.68 47.06 55.82 62.46 65.54 65.52<br />

100 % dosis NPK + 75 % dosis<br />

POC II (P8)<br />

26.16 32.34 41.34 50.90 58.86 67.63 71.63 73.59<br />

100 % dosis POC II + 100 %<br />

dosis NPK (P9)<br />

25.80 32.12 40.80 49.36 57.13 63.28 66.23 67.75<br />

75 % dosis NPK + 100 % dosis<br />

POC II (P10)<br />

24.80 31.24 38.70 46.66 53.70 59.30 61.96 62.85<br />

50 % dosis NPK + 100 % dosis<br />

POC II (P11)<br />

21.43 32.30 42.12 49.40 56.86 62.26 67.86 70.70<br />

17


Aplikasi pupuk organik cair I maupun II tidak berpengaruh terhadap tinggi<br />

tanaman padi sawah. Aplikasi kedua jenis pupuk organik tersebut ditambah NPK<br />

penuh ataupun 50 % dan 75 % dosis NPK menghasilkan tinggi tanaman yang<br />

tidak berbeda dengan perlakuan kontrol (100 % NPK). Hal ini menunjukkan<br />

bahwa kondisi hara tanaman pada berbagai perlakuan tersebut cenderung tidak<br />

berbeda. Tinggi tanaman padi saat tanaman berumur 10 MST berkisar antara 62-<br />

72 cm.<br />

Jumlah Anakan<br />

Hasil analisis uji F, menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik cair<br />

berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan padi sawah pada saat tanaman<br />

berumur 10 MST, tetapi uji lanjut menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata.<br />

Seperti disajikan pada Tabel 5, dari umur 3 MST hingga 10 MST tidak terdapat<br />

perbedaan jumlah anakan antara perlakuan. Jumlah anakan pada saat tanaman<br />

berumur 10 MST rata-rata berkisar antara 13-21 anakan/rumpun. Walaupun tidak<br />

terdapat perbedaan jumlah anakan dengan perlakuan aplikasi pupuk organik cair,<br />

tetapi juga tidak terdapat penurunan yang nyata pada perlakuan pengurangan dosis<br />

pupuk NPK hingga 50 %.<br />

Dari Tabel 5 juga terlihat bahwa penambahan pupuk organik cair I + 100 %<br />

dosis NPK menghasilkan jumlah anakan pada 10 MST sekitar 21 anakan/rumpun,<br />

apabila hanya NPK saja (100 % dosis) tanpa pupuk organik cair I jumlah anakan<br />

yang dihasilkan sekitar 19 anakan/rumpun sama dengan aplikasi 75 % NPK +<br />

pupuk organik cair I. Pengurangan dosis NPK hingga 50 % dengan penambahan<br />

pupuk organik cair I menghasilkan jumlah anakan sekitar 17 anakan/rumpun. Dari<br />

hasil tersebut terlihat bahwa penambahan pupuk organik cair I dapat sedikit<br />

meningkatkan jumlah anakan atau dengan aplikasi pupuk organik cair I dan<br />

pengurangan dosis pupuk NPK sebesar 25 % dapat menghasilkan jumlah<br />

anakan/rumpun yang sama dengan aplikasi 100 % dosis NPK. Aplikasi pupuk<br />

organik cair II yang dikombinasikan dengan 50 % NPK cenderung nyata<br />

menghasilkan jumlah anakan yang lebih banyak dibandingkan perlakuan kontrol<br />

(100 % dosis NPK). Aplikasi pupuk organik cair II tidak konsisten dalam<br />

meningkatkan jumlah anakan padi sawah. Hal tersebut terlihat dari perlakuan p10<br />

18


(100 % POC II + 75 % NPK) dan p11 (100 % POC II + 50 % NPK). Perlakuan<br />

p11 dengan pengurangan dosis NPK sebanyak 50 % justru menghasilkan jumlah<br />

anakan yang lebih banyak dibandingkan perlakuan p10 (pengurangan 25 % dosis<br />

NPK). Secara rinci pengaruh pupuk organik cair I dan II terhadap jumlah anakan<br />

padi sawah disajikan pada Tabel 5.<br />

Tabel 5. Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Cair I dan II terhadap Jumlah<br />

Anakan Padi Sawah<br />

Jumlah Anakan (anakan/rumpun)<br />

Perlakuan<br />

3 4 5 6 7 8 9 10<br />

MST MST MST MST MST MST MST MST<br />

100 % dosis NPK (P1) 5.13 8.53 12.20 18.86 21.86 27.93 22.53 18.00<br />

100 % dosis NPK + 50 %<br />

dosis POC I (P2)<br />

6.93 11.60 15.73 23.20 25.93 28.33 23.60 18.66<br />

100 % dosis NPK + 75 %<br />

dosis POC I (P3)<br />

6.26 10.06 14.53 22.73 27.40 30.53 24.8 21.26<br />

100 % dosis NPK + 100 %<br />

dosis POC I (P4)<br />

6.40 11.73 17.73 24.66 28.93 37.00 27.06 21.93<br />

75 % dosis NPK + 100 %<br />

dosis POC I (P5)<br />

5.06 7.40 11.33 17.20 21.13 26.22 21.26 19.26<br />

50 % dosis NPK + 100 %<br />

dosis POC I (P6)<br />

7.46 10.60 14.20 19.60 23.13 26.40 19.40 16.66<br />

100 % dosis NPK + 50 %<br />

dosis POC II (P7)<br />

6.06 7.86 14.60 18.46 20.26 27.06 20.66 16.26<br />

100 % dosis NPK + 75 %<br />

dosis POC II (P8)<br />

7.80 11.64 15.86 23.46 28.40 29.73 22.00 18.53<br />

100 % dosis NPK + 100 %<br />

dosis POC II (P9)<br />

6.20 10.37 18.80 23.93 26.93 32.93 23.40 18.93<br />

75 % dosis NPK + 100 %<br />

dosis POC II (P10)<br />

6.13 8.86 14.00 17.53 18.86 36.23 16.93 13.66<br />

50 % dosis NPK + 100 %<br />

dosis POC II (P11)<br />

7.00 10.73 18.06 24.80 27.53 32.33 24.60 21.73<br />

Bagan Warna Daun<br />

Bagan warna daun merupakan alat untuk mengukur kandungan N daun<br />

dengan melihat derajat warna hijau daun. Nilai ukuran tersebut selanjutnya<br />

digunakan untuk menentukan kebutuhan dosis pupuk N dan ukuran kecukupan<br />

unsur N bagi tanaman. Untuk bagan warna daun padi indica ditentukan<br />

kekurangan unsur hara N apabila pembacaan BWD < 4. Rata-rata hasil<br />

pengamatan warna daun setiap perlakuan disajikan pada Tabel 6.<br />

Analisis Ragam uji F menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara<br />

perlakuan. Dari nilai hasil pembacaan skala BWD dari 3-10 MST rata-rata<br />

19


erkisar 2-3. Hal tersebut menunjukkan bahwa kadar N daun padi berada pada<br />

status kurang. Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu penyebab tidak<br />

berpengaruhnya pupuk organik cair yang diaplikasikan atau dosis pupuk organik<br />

cair diduga masih kurang tinggi. Aplikasi POC I dan POC II yang dikombinasikan<br />

dengan dosis NPK tidak mampu meningkatkan nilai bagan warna daun padi<br />

sawah.<br />

Tabel 6. Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Cair I dan II terhadap Bagan<br />

Warna Daun Padi Sawah<br />

Perlakuan<br />

3 4 5 6<br />

BWD<br />

7 8 9 10<br />

MST MST MST MST MST MST MST MST<br />

100 % dosis NPK (P1) 2.96 3.00 3.06 3.00 3.40 3.20 3.36 3.00<br />

100 % dosis NPK + 50 % dosis<br />

POC I (P2)<br />

2.86 2.96 3.06 3.06 3.56 3.16 3.23 2.96<br />

100 % dosis NPK + 75 % dosis<br />

POC I (P3)<br />

2.83 3.00 3.06 3.06 3.60 3.30 3.36 2.63<br />

100 % dosis NPK + 100 %<br />

dosis POC I (P4)<br />

2.90 3.00 3.06 3.10 3.60 3.53 3.23 2.73<br />

75 % dosis NPK + 100 % dosis<br />

POC I (P5)<br />

2.80 3.00 3.13 3.00 3.50 3.43 3.43 2.83<br />

50 % dosis NPK + 100 % dosis<br />

POC I (P6)<br />

2.90 3.00 3.00 3.06 3.16 3.00 3.00 2.50<br />

100 % dosis NPK + 50 %<br />

dosis POC II (P7)<br />

2.83 3.00 3.06 3.00 3.50 3.00 3.00 2.50<br />

100 % dosis NPK + 75 % dosis<br />

POC II (P8)<br />

2.83 3.00 3.06 3.20 3.56 3.39 3.00 2.83<br />

100 % dosis NPK + 100 %<br />

dosis POC II (P9)<br />

2.90 3.00 3.06 3.06 3.63 3.13 3.06 2.50<br />

75 % dosis NPK + 100 % dosis<br />

POC II (P10)<br />

2.90 2.96 3.00 2.96 3.26 3.03 2.86 2.50<br />

50 % dosis NPK + 100 % dosis<br />

POC II (P11)<br />

2.73 3.00 3.00 3.16 3.16 3.10 3.13 2.66<br />

Bobot Kering Tajuk dan Akar serta Volume Akar<br />

Bobot kering tajuk dan akar serta volume akar tanaman merupakan peubah<br />

yang sering digunakan untuk menggambarkan dan mempelajari pertumbuhan<br />

tanaman karena mudah diukur dan merupakan integrasi dari hampir semua<br />

peristiwa yang dialami tanaman. Peubah biomassa yang diamati pada tanaman<br />

padi sawah meliputi bobot kering akar, bobot kering tajuk/rumpun, dan volume<br />

akar. Secara rinci pengaruh POC I dan II yang dikombinasikan dengan dosis<br />

pupuk NPK terhadap biomassa tanaman disajikan pada Tabel 7.<br />

20


Tabel 7. Rataan Nilai Bobot Kering Tajuk dan Akar serta Volume Akar<br />

Tanaman Padi Sawah pada Perlakuan Pupuk Organik Cair I dan II<br />

Perlakuan<br />

Bobot<br />

Kering<br />

Tajuk (g)<br />

Bobot<br />

Kering Akar<br />

(g)<br />

21<br />

Volume<br />

Akar<br />

(ml)<br />

Kering Kering<br />

100 % dosis NPK (P1) 19.00 6.00 23.33<br />

100 % dosis NPK + 50 % dosis POC I (P2) 36.66 4.83 19.16<br />

100 % dosis NPK + 75 % dosis POC I (P3) 37.66 10.66 17.50<br />

100 % dosis NPK + 100 % dosis POC I (P4) 28.16 6.66 21.66<br />

75 % dosis NPK + 100 % dosis POC I (P5) 22.50 5.66 14.16<br />

50 % dosis NPK + 100 % dosis POC I (P6) 8.50 5.00 13.33<br />

100 % dosis NPK + 50 % dosis POC II (P7) 40.33 7.16 26.66<br />

100 % dosis NPK + 75 % dosis POC II (P8) 39.66 11.66 25.83<br />

100 % dosis NPK + 100 % dosis POC II (P9) 32.83 12.33 23.33<br />

75 % dosis NPK + 100 % dosis POC II (P10) 31.00 10.33 23.33<br />

50 % dosis NPK + 100 % dosis POC II (P11) 15.66 4.33 9.167<br />

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa aplikasi POC I dan II<br />

menghasilkan bobot kering tajuk dan akar maupun volume akar yang tidak<br />

berbeda dibandingkan dengan aplikasi NPK saja. Penambahan pupuk organik cair<br />

merk II cenderung menghasilkan bobot kering tajuk, bobot kering akar, dan<br />

volume akar yang lebih besar dari perlakuan 100 % dosis NPK hingga<br />

pengurangan 25 % dosis NPK. Pengurangan 50 % dosis NPK sangat menurunkan<br />

biomassa tanaman walaupun diaplikasikan pupuk organik cair dibandingkan<br />

dengan aplikasi 100 % dosis NPK. Aplikasi pupuk organik cair merk I terlihat<br />

terjadi penurunan bobot kering tajuk dan volume akar yang cukup besar apabila<br />

dosis pupuk NPK dikurangi 25-50% (Tabel 7). Dengan demikian walaupun tidak<br />

berbeda secara statistik, pupuk organik cair merk II lebih potensial untuk<br />

mengganti sebagian dosis pupuk NPK anorganik.<br />

Hasil dan Komponen Hasil<br />

Peubah komponen hasil tanaman padi sawah yang diamati dalam percobaan<br />

ini adalah jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah/malai, bobot<br />

1000 butir gabah, dan persentase gabah hampa. Berdasarkan uji F, aplikasi pupuk<br />

organik cair terlihat berpengaruh terhadap jumlah anakan produktif. Namun


demikian uji lanjut menunjukkan bahwa jumlah anakan produktif yang dihasilkan<br />

setiap perlakuan tidak berbeda. Aplikasi 100 % NPK penuh menghasilkan jumlah<br />

anakan produktif yang tidak berbeda dengan perlakuan 50 % - 75 % NPK<br />

ditambah POC I. Kondisi tersebut menjelaskan bahwa POC I mampu mengurangi<br />

penggunaan 25 % - 50 % NPK dalam meningkatkan jumlah anakan produktif.<br />

Jumlah anakan produktif yang dihasilkan pada aplikasi 100 % POC I + 75 % NPK<br />

menghasilkan jumlah anakan produktif sebanyak 16-17.2 anakan<br />

produktif/rumpun, rata-rata lebih banyak dari pada perlakuan kontrol (15.86<br />

anakan produktif/rumpun). Secara rinci pengaruh pupuk organik cair I dan II<br />

terhadap hasil dan komponen hasil padi sawah disajikan pada Tabel 8.<br />

Tabel 8. Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Cair I dan II terhadap<br />

Komponen Hasil Tanaman Padi Sawah<br />

Perlakuan<br />

Jumlah<br />

Anakan<br />

Produktif<br />

Bobot<br />

1000<br />

Butir<br />

Panjang<br />

Malai<br />

Jumlah<br />

Gabah/<br />

Malai<br />

22<br />

Gabah<br />

Hampa<br />

(%)<br />

100 % dosis NPK (P1) 15.86 28.00 24.12 108.47 12.00<br />

100 % dosis NPK + 50 % dosis POC I<br />

(P2)<br />

17.00 27.66 23.60 94.33<br />

14.33<br />

100 % dosis NPK + 75 % dosis POC I<br />

(P3)<br />

19.46 29.00 23.98 110.67<br />

16.33<br />

100 % dosis NPK + 100 % dosis POC<br />

I (P4)<br />

19.80 27.33 24.16 119.27<br />

12.00<br />

75 % dosis NPK + 100 % dosis POC I<br />

(P5)<br />

16.00 29.00 24.38 103.53<br />

13.33<br />

50 % dosis NPK + 100 % dosis POC I<br />

(P6)<br />

17.20 28.33 23.38 98.07<br />

14.00<br />

100 % dosis NPK + 50 % dosis POC<br />

II (P7)<br />

17.20 28.33 22.14 90.73<br />

14.66<br />

100 % dosis NPK + 75 % dosis POC II<br />

(P8)<br />

14.93 28.66 23.70 104.53<br />

12.33<br />

100 % dosis NPK + 100 % dosis POC<br />

II (P9)<br />

19.86 30.33 23.83 105.67<br />

15.33<br />

75 % dosis NPK + 100 % dosis POC II<br />

(P10)<br />

15.53 27.33 22.69 87.13<br />

10.00<br />

50 % dosis NPK + 100 % dosis POC II<br />

(P11)<br />

19.66 31.00 23.97 102.33<br />

15.00<br />

Hal yang sama juga terjadi pada peubah bobot 1000 butir. Pengurangan<br />

25 % - 50 % dosis NPK + 100 % POC I juga menghasilkan bobot 1000 butir yang<br />

tidak berbeda dengan perlakuan 100 % dosis pupuk NPK. Namun pada aplikasi<br />

POC II tidak menghasilkan data yang konsisten hal tersebut terlihat dari perlakuan<br />

75 % dosis NPK + 100 % dosis POC II (P10) dan 100 % dosis POC II + 100 %


dosis NPK (P9). Pengurangan dosis NPK hingga 50 % menghasilkan bobot 1000<br />

butir sebesar 31 gram, namun pengurangan 25 % NPK menghasilkan bobot 1000<br />

butir sebesar 27.33 gram, sedangkan perlakuan 100 % NPK hanya 28 gram.<br />

Aplikasi pupuk POC I + 75 % NPK (pengurangan 25 % NPK)<br />

menghasilkan panjang malai yang tidak berbeda dengan perlakuan 100 % dosis<br />

NPK. Aplikasi POC dengan pengurangan dosis NPK tidak menghasilkan jumlah<br />

gabah/malai yang nyata lebih besar dibandingkan perlakuan kontrol. Tidak<br />

berbedanya hasil tersebut menunjukkan bahwa dengan penambahan POC I<br />

mampu mengurangi penggunaan dosis NPK hingga 25 %. Aplikasi POC II + 75<br />

% NPK mampu menurunkan persentase gabah hampa lebih rendah 2 %<br />

dibandingkan perlakuan 100 % dosis NPK.<br />

Hasil/Rumpun dan Dugaan Hasil/ha<br />

Seperti halnya pengaruh pupuk organik cair dengan pupuk NPK pada<br />

peubah komponen hasil tanaman padi sawah, pada hasil tanaman baik basah<br />

maupun kering serta hasil/ha tidak terlihat pengaruh yang nyata. Secara rinci<br />

pengaruh pupuk organik cair I dan II terhadap hasil gabah (basah dan kering) per<br />

tanaman di sajikan pada Tabel 9.<br />

Tabel 9. Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Cair I dan II terhadap<br />

Hasil/Tanaman Padi Sawah<br />

Perlakuan<br />

Hasil/Tanaman (gram)<br />

Basah Kering<br />

100 % dosis NPK (P1) 33.71 23.86<br />

100 % dosis NPK + 50 % dosis POC I (P2) 33.51 23.66<br />

100 % dosis NPK + 75 % dosis POC I (P3) 38.06 27.53<br />

100 % dosis NPK + 100 % dosis POC I (P4) 40.10 29.53<br />

75 % dosis NPK + 100 % dosis POC I (P5) 38.16 26.66<br />

50 % dosis NPK + 100 % dosis POC I (P6) 31.23 22.60<br />

100 % dosis NPK + 50 % dosis POC II (P7) 28.96 21.26<br />

100 % dosis NPK + 75 % dosis POC II (P8) 41.74 30.93<br />

100 % dosis NPK + 100 % dosis POC II (P9) 40.52 31.93<br />

75 % dosis NPK + 100 % dosis POC II (P10) 21.11 15.20<br />

50 % dosis NPK + 100 % dosis POC II (P11) 35.01 27.13<br />

23


Pada ppeubah<br />

hasill/tanaman<br />

mmaupun<br />

hasil l/ha terlihat kecenderungan<br />

bahwa<br />

aapabila<br />

pup puk organikk<br />

cair diapllikasikan<br />

de engan 100<br />

mmenghasilka<br />

an hasil gaabah/tanamaan<br />

dan hassil<br />

gabah/hha<br />

yang lebbih<br />

tinggi<br />

ddibandingkaan<br />

dengan<br />

dditurunkan<br />

25 2 % ditammbah<br />

aplikassi<br />

pupuk or rganik cair hhasilnya<br />

samma<br />

dengan<br />

100 % dosiss<br />

NPK, sedaangkan<br />

apabila<br />

dosis puppuk<br />

NPK diiturunkan<br />

hin ngga 50 %<br />

hhasilnya<br />

akaan<br />

lebih renndah<br />

dibandiing<br />

100 % ddosis<br />

NPK ssaja.<br />

Hal ini i konsisten<br />

ppada<br />

Gambaar<br />

1.<br />

6000<br />

5000<br />

4000<br />

3000<br />

2000<br />

1000<br />

0<br />

aplikasi 1000<br />

% dosis<br />

rrinci<br />

pengar ruh aplikasi pupuk orgganik<br />

cair te erhadap duggaan<br />

hasil/haa<br />

disajikan<br />

100%<br />

100% 100% % 100% 75% 50%<br />

do osis dosis dosis s dosis dosis ddosis<br />

NP PK NPK + NPK + POC I NPK + NNPK<br />

+<br />

(P P1) 50% 75% + 100% 1100%<br />

dosis dosis s 100% dosis ddosis<br />

POC I POC I dosis POC I PPOC<br />

I<br />

(P2) (P3) NPK<br />

(P4)<br />

(P5) (P6)<br />

100% 1000%<br />

dosis dossis<br />

NPK + NPK K +<br />

50% 75% %<br />

dosis dossis<br />

POC II POCC<br />

II<br />

(P7) (P8 8)<br />

Gammbar<br />

1. Pen ngaruh Kommbinasi<br />

Pupu uk Organik<br />

terh hadap Dugaaan<br />

Hasil/ha PPadi<br />

Sawah<br />

Dari Gambar 1 ddiperoleh<br />

bahhwa<br />

aplikasii<br />

pupuk orgaanik<br />

cair + 100<br />

% dosis<br />

ppupuk<br />

NPKK<br />

(p2, p3, daan<br />

p4) dan ppengurangann<br />

25 % dosiss<br />

NPK (p5) dihasilkan<br />

ggabah<br />

basahh<br />

maupun gaabah<br />

kering/hha<br />

yang lebihh<br />

tinggi dibaandingkan<br />

100<br />

% dosis<br />

ppupuk<br />

NPK K saja walaupun<br />

tidakk<br />

berbeda<br />

NPK saja. . Apabila dosis d NPK<br />

100%<br />

dosis<br />

POC II<br />

+<br />

100%<br />

dosis<br />

NPK<br />

(P9)<br />

% dosis NNPK<br />

akan<br />

ppada<br />

pupuk organik caair<br />

walaupunn<br />

secara stattistik<br />

tidak berbeda nya ata. Secara<br />

75% 50%<br />

dosis dosis<br />

NPK + NPK +<br />

100% 100%<br />

dosis dosis<br />

POC III<br />

POC II<br />

(P10) (P11)<br />

Cair dan<br />

DDugaan<br />

HHasil/ha<br />

( (kg/ha)<br />

GGKP<br />

DDugaan<br />

HHasil/ha<br />

( (kg/ha)<br />

GGKG<br />

secara statiistik<br />

sebagaai<br />

kontrol,<br />

aaplikasi<br />

pup puk organik cair + 75 % - 100 % dosis pupuuk<br />

NPK meenghasilkan<br />

ssawah<br />

walauupun<br />

demikiian,<br />

selisih pproduktivitass<br />

antara perlaakuan<br />

p5 (100<br />

% dosis<br />

24<br />

Anorganik<br />

pperlakuan<br />

100<br />

% dosis s pupuk NPK<br />

menghasilkan<br />

sekitarr<br />

4 ton/ha, sedangkan<br />

ssekitar<br />

4.7-55.2<br />

ton/ha. PProduktivitaas<br />

tersebut tergolong<br />

masih<br />

rendah pada padi


PPOC<br />

I + 75 % dosis NPKK)<br />

dan p6 (1100<br />

% dosis POC I + 50 % dosis NP PK) dengan<br />

pperlakuan<br />

kkontrol<br />

(1000<br />

% dosiis<br />

NPK) ssebesar<br />

0.7-1.2<br />

ton/haa.<br />

Hal ini<br />

mmengindikas<br />

sikan bahwaa<br />

dengan apllikasi<br />

pupukk<br />

organik caair<br />

dapat menningkatkan<br />

ggabah<br />

keringg<br />

panen dan gabah kerinng<br />

giling.<br />

Dari<br />

mmaupun<br />

75 % dosis puppuk<br />

NPK meeningkatkan<br />

hasil padi 13.70-38.36<br />

% %. Apabila<br />

ppupuk<br />

NPK diturunkan hingga 50 % hasil akan menurun seekitar<br />

2.74 % walaupun<br />

ddiaplikasikann<br />

POC I. Pe engaruh aplikkasi<br />

POC II terhadap penningkatan<br />

haasil<br />

terlihat<br />

100 % dosiss<br />

NPK penuhh<br />

dan 50 % ddosis<br />

NPK, ttetapi<br />

apabila<br />

diaplikasikkan<br />

POC II<br />

oorganik<br />

cair terhadap peeningkatan<br />

hhasil<br />

padi sawwah<br />

disajikann<br />

pada Gammbar<br />

2.<br />

40<br />

20<br />

0<br />

-20<br />

-40<br />

0<br />

P1 P2<br />

38.36<br />

113.70<br />

21.92<br />

334.25<br />

P3 P4<br />

Peniingkatan<br />

Ha asil<br />

Gambar 2 diperoleh bbahwa<br />

aplikkasi<br />

pupuk organik cairr<br />

I terlihat<br />

mmeningkatka<br />

an hasil pad di sawah. AAplikasi<br />

POC<br />

I + 100 % dosis puupuk<br />

NPK<br />

ttidak<br />

konsissten.<br />

Peninggkatan<br />

hasil terjadi apabbila<br />

POC III<br />

diaplikasik kan dengan<br />

ddengan<br />

75 % dosis NPK N terjadi penurunan hasil. Walaaupun<br />

tidakk<br />

konsisten<br />

aaplikasi<br />

pup puk POC III<br />

diaplikasikkan<br />

dengan 100 % dosis<br />

NPK mmasih<br />

dapat<br />

mmeningkatka<br />

an hasil ant tara 8.22 hinngga<br />

20.55 %. Secara rinci pengaaruh<br />

pupuk<br />

Peninngkatan<br />

Hassil<br />

(%)<br />

P5 P6<br />

-2.74<br />

1.37<br />

20.55<br />

P7 P8<br />

Gam mbar 2. Penningkatan<br />

HHasil<br />

Aplikaasi<br />

Pupuk<br />

Kommbinasi<br />

Puppuk<br />

NPK<br />

8.22<br />

P9 P10<br />

-23.29<br />

13.70<br />

P11<br />

25<br />

Organik Ca air dengan


Analisis Usahatani<br />

Hasil analisis usahatani menunjukkan bahwa aplikasi dosis pupuk organik<br />

cair I dengan 75 % hingga 100 % dosis NPK dapat meningkatkan keuntungan<br />

usahatani dibandingkan perlakuan 100 % dosis pupuk NPK saja. Peningkatan<br />

terbesar diperoleh apabila 100 % dosis POC diaplikasikan 75 % dosis NPK.<br />

Dengan mengaplikasikan pupuk organik cair I keuntungan akan meningkat sekitar<br />

54-162 %. Peningkatan keuntungan pada pupuk organik cair II terjadi apabila<br />

diaplikasikan dengan 100 % dosis NPK yaitu sekitar 77-99 %.<br />

Apabila dilihat dari R/C rasio, seluruh perlakuan POC I maupun POC II<br />

dengan kombinasi 50 % - 100 % dosis NPK menguntungkan secara usahatani,<br />

tetapi perlakuan POC I yang diaplikasikan dengan 75 % - 100 % dosis NPK<br />

terlihat lebih menguntungkan secara ekonomi dibandingkan aplikasi pupuk NPK<br />

saja. Hasil analisis usaha tani secara rinci disajikan pada Tabel 10.<br />

Tabel 10. Analisis Usahatani Pupuk Organik Cair<br />

Perlakuan<br />

Biaya<br />

(Rp)<br />

Penerimaan<br />

(Rp)<br />

Keuntungan<br />

(Rp)<br />

R/C<br />

100 % dosis NPK (P1) 7 312 500 9 733 250 2 420 750 1.33<br />

100 % dosis NPK + 50 % dosis POC I (P2) 7 650 000 13 466 750 5 816 750 1.76<br />

100 % dosis NPK + 75 % dosis POC I (P3) 7 335 000 11 066 750 3 731 750 1.51<br />

100 % dosis NPK + 100 % dosis POC I (P4) 7 342 500 11 866 750 4 524 250 1.62<br />

75 % dosis NPK + 100 % dosis POC I (P5) 7 342 500 13 066 750 6 349 250 1.78<br />

50 % dosis NPK + 1 dosis POC I (P6) 6 792 500 9 466 750 2 674 250 1.39<br />

100 % dosis NPK + 50 % dosis POC II (P7) 7 402 500 9 866 750 2 464 250 1.33<br />

100 % dosis NPK + 75 % dosis POC II (P8) 7 447 500 11 733 250 4 285 750 1.58<br />

100 % dosis NPK + 100 % dosis POC II (P9) 7 492 500 10 533 250 3 040 750 1.41<br />

75 % dosis NPK + 100 % dosis POC II (P10) 6 867 500 7 466 750 599 250 1.09<br />

50 % dosis NPK + 100 % dosis POC II (P11) 6 242 500 11 066 750 4 824 250 1.77<br />

Pembahasan<br />

Hasil penelitian menyatakan bahwa perlakuan pupuk organik cair tidak<br />

berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah, walaupun<br />

demikian terdapat kecenderungan peningkatan hasil gabah dan keuntungan usaha<br />

tani. Hal tersebut diduga disebabkan oleh beberapa faktor yaitu curah hujan yang<br />

sangat tinggi, kesuburan tanah yang sangat rendah, atau dosis aplikasi yang masih<br />

26


endah. Curah hujan selama penelitian berkisar antara 242-415.8 mm/bulan<br />

tergolong tinggi yang diduga menyebabkan efektivitas POC tersebut berkurang<br />

karena tercuci. Hasil analisis tanah menunjukkan tingkat kesuburan yang rendah<br />

terutama unsur N dan P, sehingga peningkatan pertumbuhan maupun hasil tidak<br />

signifikan walaupun unsur hara ditambah dari pupuk organik cair yang kandungan<br />

unsur haranya juga sangat rendah. Tidak terlihatnya pengaruh pupuk organik cair<br />

diduga juga masih terlalu rendahnya dosis yang diaplikasikan. Tingkat kesuburan<br />

tanah yang sangat rendah serta kandungan hara pupuk yang rendah menyebabkan<br />

pengaruh POC tidak begitu terlihat. Dosis yang diaplikasikan tersebut merujuk<br />

pada dosis anjuran perusahaan produsen. Menurut Dobermann dan Fairhust<br />

(2000) ketidaktersediaan unsur N dapat disebabkan karena kemampuan tanah<br />

dalam menyediakan unsur N rendah, tidak efisien dalam mengaplikasikan pupuk<br />

mineral N, efisiensi yang rendah bagi tanaman dalam menyerap pupuk N, kondisi<br />

penanaman yang dapat mengurangi suplai pupuk N, kehilangan N karena hujan,<br />

dan tanah kering selama penelitian. Ketidakcukupan N pada percobaan ini juga<br />

ditunjukkan oleh nilai bagan warna daun seluruh perlakuan kurang dari 4 (di<br />

bawah titk kritis). Pada tanaman padi unsur N sangat menentukan pertumbuhan<br />

dan produktivitas tanaman.<br />

Aplikasi pupuk organik cair (terutama POC I yang diaplikasikan dengan<br />

75 % dosis hingga 100 % dosis NPK) cenderung meningkatkan jumlah anakan<br />

produktif, jumlah gabah/malai, dan bobot 1000 butir. Peningkatan komponen hasil<br />

tersebut terlihat juga cenderung meningkatkan hasil gabah/tanaman maupun<br />

hasil/ha. Peningkatan hasil dengan aplikasi pupuk organik cair I cenderung lebih<br />

konsisten dibanding POC II. Hal tersebut karena pupuk organik cair I<br />

mengandung unsur N, P2O5, dan K2O (makro) yang lebih tinggi, sedangkan pupuk<br />

POC II mengandung unsur hara mikro yang lebih lengkap. Selama ini POC<br />

digunakan untuk mengoreksi kekurangan unsur hara sehingga diaplikasikan pada<br />

daun agar penyerapan lebih cepat.<br />

Penambahan POC dengan pengurangan dosis pupuk NPK sebesar 25 %<br />

menghasilkan rataan pertumbuhan tanaman dan produktivitas yang tidak berbeda<br />

dengan aplikasi 100 % dosis pupuk NPK saja. Hal tersebut diduga karena pupuk<br />

organik cair yang diaplikasikan mengandung unsur hara makro dan mikro. Unsur<br />

27


hara N berfungsi dalam mempercepat pertumbuhan tanaman yang dalam hal ini<br />

menambah tinggi tanaman, jumlah anakan, menambah ukuran daun dan besar<br />

gabah serta memperbaiki kualitas tanaman dan gabah, menambah kadar protein<br />

beras, meningkatkan jumlah gabah dan persentase jumlah gabah isi menyediakan<br />

bahan makanan bagi mikrobia (jasad-jasad renik yang bekerja menghancurkan<br />

bahan-bahan organik di dalam tanah) (Dobermann dan Fairhust, 2000). Unsur P<br />

berperan dalam meningkatkan jumlah anakan padi sawah, perkembangan akar<br />

awal pembungaan dan pemasakan (terutama di mana suhu rendah). Kalium<br />

meningkatkan jumlah gabah per malai, persentase gabah isi, dan bobot 1000 butir.<br />

K meningkatkan toleransi tanaman padi terhadap kondisi iklim yang merugikan<br />

dan serangan hama dan penyakit (Dobermann and Fairhust, 2000).<br />

Seng sangat penting untuk beberapa proses biokimia dalam tanaman padi<br />

seperti sitokrom dan sintesis nukleotida, metabolisme auksin, produksi khlorofil,<br />

aktivasi enzim, dan pemeliharaan integritas membran. Besi berperan penting<br />

sebagai komponen enzim yang terlibat dalam transfer elektron, seperti sitokrom<br />

dan merupakan konstituen dalam cincin porfirin dan ferredoxin, keduanya sebagai<br />

komponen yang sangat penting pada reaksi terang dalam sistem fotosintesis.<br />

Mangan terlibat dalam reaksi reduksi dan oksidasi dalam sistem transpor elektron<br />

dan mengaktifkan enzim tertentu terutama dekarboksilase dan dehidrogenase yang<br />

terlibat dalam siklus krebs (TCA). Unsur Mn diperlukan untuk pembentukan dan<br />

stabilitas khloroplas, sintesis protein, dan reduksi NO3 - . Boron memiliki peran<br />

utama dalam biosintesis dinding sel, struktur dan integritas membran plasma.<br />

Unsur B sangat dibutuhkan untuk metabolisme karbohidrat, transport gula,<br />

lignifikasi, sintesis nukleotida, dan respirasi. Tembaga diperlukan untuk sintesis<br />

lignin dan mekanisme pertahanan selular dan merupakan konstituen asam<br />

askorbat, enzim oksidase, phenolase, dan plastosianin. Tembaga memainkan<br />

peran penting dalam proses fotosintesis, respirasi, pembentukan tepung sari dan<br />

pemupukan. Unsur Co sangat penting untuk pertumbuhan mikroorganisme<br />

simbiotik seperti rhizobia, bakteri hidup, dan ganggang hijau biru. Unsur Co<br />

membentuk kompleks dengan N penting untuk sintesis koenzim vitamin B12. Mo<br />

merupakan komponen beberapa enzim, termasuk nitrat reduktase dan nitrogenase.<br />

28


Nitrat reduktase mengkatalisa reduksi nitrat menjadi nitrit pada proses asimilasi<br />

dalam tumbuhan (Havlin, et all., 1999).<br />

Bobot biomassa baik bobot kering tajuk dan akar maupun volume akar<br />

pada percobaan ini juga tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antara<br />

perlakuan. Pertumbuhan biomassa tanaman padi sangat ditentukan oleh<br />

kecukupan hara N dan P, sedangkan untuk pertumbuhan akar sangat ditentukan<br />

oleh kecukupan unsur P (Dobermann and Fairhust, 2000). Rendahnya kandungan<br />

unsur N dan P (hasil analisis tanah sebelum dan setelah percobaan, Tabel 4) serta<br />

aplikasi pupuk NPK dan penambahan pupuk organik seperti terlihat pada analisis<br />

tanah sebelum dan setelah percobaan (Tabel 4), belum mampu dalam<br />

menghasilkan biomassa secara signifikan.<br />

Aplikasi pupuk organik cair juga terlihat tidak berpengaruh terhadap<br />

komponen hasil seperti jumlah gabah/malai, bobot 1000 butir gabah isi, dan<br />

persentase gabah hampa. Hal tersebut diduga karena dosis yang diaplikasikan<br />

rendah sedangkan kesuburan tanah juga rendah sehingga efektivitas pupuk juga<br />

rendah. Sumbangan N, P, dan K pupuk organik cair I yang diaplikasikan ke<br />

tanaman padi sawah untuk 1 dosisnya sebanyak 0.072 kg/ha N, 0.0164 kg/ha P,<br />

dan 0.0264 kg/ha K, sedangkan untuk pupuk organik cair II sebanyak 0.579 kg/ha<br />

N dan 0.06 kg/ha P. Kandungan hara tersebut masih sedikit dan belum mampu<br />

untuk mengganti penggunaan pupuk NPK penuh. Pertumbuhan yang tidak<br />

optimal karena tidak tercukupinya hara tanaman menyebabkan perbedaan<br />

pengaruh POC tidak terlihat. Rendahnya efektivitas pupuk daun diduga juga<br />

disebabkan oleh tingginya curah hujan selama penelitian.<br />

Walaupun demikian dari penelitian ini diperoleh bahwa pengurangan dosis<br />

pupuk NPK hingga 25 % tidak menurunkan pertumbuhan maupun hasil apabila<br />

diaplikasikan pupuk organik cair. Perlakuan POC I dengan 75 % dosis pupuk<br />

NPK terlihat memberikan hasil dan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan<br />

aplikasi 100 % pupuk NPK saja. Walaupun tidak berbeda secara statistik, pola<br />

peningkatan dan penurunan hasil pada POC I cukup jelas dan cukup berarti secara<br />

agronomi maupun ekonomi.<br />

29


Hal ini dapat menjadi bahan penelitian selanjutnya bahwa walaupun<br />

kandungan unsur hara yang diberikan tidak sebanding dengan pupuk NPK atau<br />

pupuk mikro anorganik padat, tetapi dapat mensubtitusi sekitar 25 % pupuk NPK.<br />

30


KESIMPULAN DAN SARAN<br />

Kesimpulan<br />

Aplikasi pupuk organik cair (POC I dan POC II) cenderung meningkatkan<br />

pertumbuhan, komponen hasil, dan hasil padi sawah. Aplikasi POC I dengan<br />

75 % - 100% dosis pupuk NPK meningkatkan hasil 22 % - 34 %, sedangkan POC<br />

II dengan 100 % dan 50 % dosis NPK meningkatkan 8 % – 14 % hasil. Secara<br />

ekonomi aplikasi POC I dan POC II lebih menguntungkan. Pupuk POC I<br />

berpotensi untuk mereduksi penggunaan pupuk NPK sebesar 25 %.<br />

Saran<br />

Pupuk organik cair dapat digunakan untuk meningkatkan hasil padi sawah,<br />

walaupun demikian perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada musim yang<br />

berbeda dan kondisi kesuburan tanah yang berbeda.<br />

31


DAFTAR PUSTAKA<br />

Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. 2010. Peranan Unsur Hara<br />

N,P,K dalam Proses Metabolisme Tanaman Padi. Badan Penelitian dan<br />

Pengembangan Pertanian. Bogor. 22 hal.<br />

Badan Pusat Statistik. 2010. BPS: Produksi Tanaman Pangan.<br />

http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php [ 20 Februari 2011].<br />

Darmawan, A. 2005. Aplikasi Rekomendasi Pemupukan P dan K pada Tanah<br />

Berproduktivitas Rendah di Pati Jawa Tengah, Skripsi Bogor : Fakultas<br />

Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 63 hal.<br />

Dobermann, A. dan T. Fairhust. 2000. Nutrient Disorders and Nutrient<br />

Management. Tham Sin Chee. 191p.<br />

Hadisuwito, S. 2008. Membuat Pupuk Kompos Cair. PT Agromedia Pustaka.<br />

Jakarta. 50 hal.<br />

Handoko. 1995. Klimatologi Dasar.. PT. Dunia Pustaka Jaya. Jakarta. 192 hal.<br />

Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akademika Presindo. Jakarta.<br />

Havlin, J. I., J.D. Beaton, S. M. Tisdale, W.L Nelson. 1999. Soil Fertility and<br />

Fertilizers. An Introduction to Nutrient Management. Prentise Hall, Upper<br />

Sadle River, New Jersey. 205 p.<br />

Kompas. 2010. Konsumsi Beras Harus Diturunkan.<br />

http://nasional.kompas.com/read/2010/07/28/19392292/Konsumsi.Beras.<br />

Harus.Diturunkan. [21 Februari 2011].<br />

Leiwakabessy, F.M. dan A. Sutandi. 2004. Diktat kuliah Pupuk dan Pemupukan.<br />

Jurusan tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 208<br />

hal.<br />

Minami, NO. 1997.Low External Input for Sustainable Agriculture Proceeding<br />

Seminar APO, 27 August-6 Sept 1996. Tokyo, Japan. 19-36 hal.<br />

Novizan. 2007. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. PT Agromedia Pustaka.<br />

Jakarta. 130 hal.<br />

Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. 2002. Pengelolaan<br />

Hara P dan K pada Tanaman Padi Sawah. Badan Penelitian dan<br />

Pengembangan Pertanian. Bogor. 168 hal.<br />

Sutanto, R. 2002. Penerapan pertanian Organik. Kanisius. Yogyakarta.157 hal.<br />

32


Setyamidjaya, D. 1986. Pupuk dan Pemupukan. CV. Simplex. Jakarta 120 hal.<br />

Siregar, Hadrian. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Sastra Hudaya.<br />

Jakarta. 316 hal.<br />

Sutrian, Y. 1992. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan. PT. Rineka Cipta.<br />

Jakarta. 234 hal.<br />

Suyamto. 2010. Peranan Unsur Hara N, P, K dalam Proses Metabolisme Tanaman<br />

Padi. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian<br />

dan Pengembangan Pertanian. Bogor. 26 hal.<br />

33


LAMPIRAN<br />

34


Bulan<br />

Lampiran 1. Daftar Iklim Bulan Oktober 2009 – Januari 2010<br />

Curah<br />

Hujan<br />

(mm)<br />

Hari<br />

Hujan<br />

Temperatur<br />

Rata-Rata ( 0 C)<br />

Temperatur<br />

Maksimum ( 0 C)<br />

35<br />

Temperatur<br />

Minimum<br />

( 0 C)<br />

Oktober 415.8 24 26.0 27.5 24.6<br />

November 407.0 23 26.3 28.0 24.7<br />

Desember 258.2 20 26.1 27.4 24.9<br />

Januari 242.1 29 25.3 27.0 23.1<br />

Sumber : Stasiun Klimatologi Kecamatan Darmaga Bogor, 2010


Lampiran 2. Deskripsi Varietas Way Apo Buru<br />

No. seleksi : S3383-Id-Pn-16-2<br />

Asal Persilangan : IR18349-53-1-3-1-3/IR196611-131-3-1//IR19661-<br />

131-3-1///IR64////IR64<br />

Golongan : Cere<br />

Umur Tanaman : 115-125<br />

Bentuk Tanaman : Tegak<br />

Tinggi Tanaman : 105-113 cm<br />

Anakan Produktif : 15-16<br />

Warna Kaki : Hijau<br />

Warna Batang : Hijau<br />

Panjang Malai : 2124 cm<br />

Muka Daun : Kasar<br />

Posisi Daun : Tegak<br />

Posisi Daun Bendera : Tegak<br />

Warna Lidah Daun : Putih<br />

Warna Telinga Daun : Putih<br />

Bentuk Gabah : Panjang Ramping<br />

Warna Gabah : Kuning Bersih<br />

Kerontokan : Sedang<br />

Kerebahan : Sedang<br />

Struktur Nasi : Pulen<br />

Kadar Amilsa : 23 %<br />

Bobot 1000 Butir : 27-28 gram<br />

Hasil<br />

Ketahanan terhadap<br />

: 5-8 ton/ha<br />

Hama : Wereng coklat biotipe 2<br />

penyakit : Hawar daun bakteri strain 3 dan 4<br />

Anjuran : Di musim hujan dan kemarau<br />

Pemulia<br />

Z.A Simanulang, E. Sumadi, Tarigat T., Aan A.<br />

:<br />

Drajad, dan B. Suprihatno<br />

Dilepas Tahun : 1998<br />

36


Lampiran 3 . Denah Petak Percobaan<br />

Ulangan 2<br />

P2 P10 P7 P6 P5 P3 P8 P1 P9 P11 P4<br />

Ulangan 3<br />

P6 P4 P11 P1 P2 P9 P10 P3 P5 P7 P8<br />

Ulangan 1<br />

P7 P6 P9 P10 P8 P5 P2 P11 P4 P3 P1<br />

Keterangan :<br />

P1 = 100 % dosis NPK (250 kg/ha urea + 200 kg/ha SP-18 + 100 kg/ha KCl)<br />

P2 = 100 % dosis NPK (250 kg/ha urea + 200 kg/ha SP-18 + 100 kg/ha KCl) +<br />

50 % dosis POC I (0.5 l/ha POC I)<br />

P3 = 100 % dosis NPK (250 kg/ha urea + 200 kg/ha SP-18 + 100 kg/ha KCl) +<br />

75 % dosis POC I (0.75 l/ha POC I)<br />

P4 = 100 % dosis NPK (250 kg/ha urea + 200 kg/ha SP-18 + 100 kg/ha KCl) +<br />

100 % dosis POC I (1 l/ha POC I)<br />

P5 = 75 % dosis NPK (187.5 kg/ha urea + 150 kg/ha SP-18 + 75 kg/ha KCl) +<br />

100 % dosis POC I (1 l/ha POC I)<br />

P6 = 50 % dosis NPK (125 kg/ha urea + 100 kg/ha SP-18 + 50 kg/KCl) + 100 %<br />

dosis POC I (l/ha POC I)<br />

P7 = 100 % dosis NPK (250 kg/ha urea + 200 kg/ha SP-18+ 100 kg/ha KCl) +<br />

50 % dosis POC II (3 l/ha POC II)<br />

P8 = 100 % dosis NPK (250 kg/ha urea + 200 kg/ha SP-18 + 100 kg/ha KCl) +<br />

75 % dosis POC II (4.5 l/ha POC II)<br />

P9 = 100 % dosis NPK (250 kg/ha urea + 200 kg/ha SP-18 + 100 kg/ha KCl) +<br />

100 % dosis POC II (6 l/ha POC II)<br />

P10= 75 % dosis NPK (187.5 kg/ha urea + 150 kg/ha SP-18 + 75 kg/ha KCl) +<br />

100 % dosis POC II (6 l/ha POC II)<br />

P11= 50 % dosis NPK (125 kg/ha urea + 100 kg/ha SP-18 + 50 kg/KCl) + 100 %<br />

dosis POC II (6 l/ha POC II)<br />

37


Lamppiran<br />

4. Ker ragaan Tanamman<br />

tiap Per rlakuan padaa<br />

11 MST<br />

100 % NPPK<br />

penuh<br />

100 % dosis NPK K + 100 % POC I<br />

50 % dosis NPK + 100 % POC II<br />

75 % dosis NPK + 100 % POC II<br />

100 % dosiss<br />

NPK + 50 % POC I 100 % ddosis<br />

NPK + 75 % PPOC<br />

I<br />

75 % dosis NNPK<br />

+ 100 % POC I 50 % doosis<br />

NPK + 100 % PPOC<br />

I<br />

75 % dosis NNPK<br />

+ 100 % POC II 100 % doosis<br />

NPK + 100 % POC P II<br />

50 % dosis NPK N + 100 % POC II<br />

38


Lampiran 5. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 3 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

39<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 223.0296970 22.30297 1.4 0.2496<br />

Ulangan 2 58.2769697 29.13848 1.83 0.1863<br />

Galat 20 318.52303 15.92615<br />

Total 32 599.829697<br />

Lampiran 6. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 4 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 86.840388 8.68404 0.7 0.7163<br />

Ulangan 2 38.361915 19.181 1.54 0.2388<br />

Galat 20 249.16208 12.4581<br />

Total 32 374.36439<br />

Lampiran 7. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 6 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 165.43709 16.5437 1.08 0.4198<br />

Ulangan 2 34.715224 17.3576 1.13 0.3414<br />

Galat 20 305.99331 15.2997<br />

Total 32 506.14562<br />

Lampiran 8. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 7 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 146.04972 14.605 0.71 0.7041<br />

Ulangan 2 11.574206 5.7871 0.28 0.7572<br />

Galat 20 410.41326 20.5207<br />

Total 32 568.03719


Lampiran 9. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 8 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

40<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 221.60322 22.1603 1.05 0.4375<br />

Ulangan 2 65.776873 32.8884 1.57 0.2336<br />

Galat 20 420.23699 21.0118<br />

Total 32 707.61709<br />

Lampiran 10. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 9 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 297.74327 29.7743 0.93 0.526<br />

Ulangan 2 216.56512 108.283 3.39 0.0541<br />

Galat 20 639.25062 31.9625<br />

Total 32 1153.559<br />

Lampiran 11. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Tinggi Tanaman saat 10 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 378.0881 37.8088 1.08 0.4191<br />

Ulangan 2 186.94941 93.4747 2.68 0.0934<br />

Galat 20 698.57779 34.9289<br />

Total 32 1263.6153<br />

Lampiran 12. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 3 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 22.092121 2.20921 0.61 1.17<br />

Ulangan 2 8.4678788 4.23394 1.17 0.3306<br />

Galat 20 72.358788 3.61794<br />

Total 32 102.91879


Lampiran 13. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 4 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

41<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 71.66303 7.1663 0.79 0.6428<br />

Ulangan 2 5.6363636 2.81818 0.31 0.7377<br />

Galat 20 182.49697 15.92615<br />

Total 32 259.79636<br />

Lampiran 14. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 5 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 166.55515 16.6555 0.73 0.6875<br />

Ulangan 2 14.940606 7.4703 0.33 0.7241<br />

Galat 20 455.29939 22.765<br />

Total 32 636.79515<br />

Lampiran 15. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 6 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 266.13576 26.6136 0.83 0.6093<br />

Ulangan 2 34.126061 17.063 0.53 0.5968<br />

Galat 20 644.30061 32.215<br />

Total 32 944.56242<br />

Lampiran 16. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 7 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 390.50909 39.0509 1.25 0.3201<br />

Ulangan 2 128.82182 64.4109 2.06 0.1533<br />

Galat 20 624.45818 31.2229<br />

Total 32 1143.7891


Lampiran 17. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 8 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

42<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 429.91212 42.9912 0.52 0.853<br />

Ulangan 2 66.961818 33.4809 0.41 0.6701<br />

Galat 20 1639.5115 81.9756<br />

Total 32 2136.3855<br />

Lampiran 18. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 9 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 234.50182 23.4502 2.01 0.0878<br />

Ulangan 2 71.980606 35.9903 3.09 0.0677<br />

Galat 20 232.95273 11.6476<br />

Total 32 539.43515<br />

Lampiran 19. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Jumlah Anakan saat 10 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 187.42303 18.7423 3.17 0.0135<br />

Ulangan 2 37.129697 18.5648 3.14 0.0653<br />

Galat 20 118.33697 5.91685<br />

Total 32 342.8897<br />

Lampiran 20. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik Cair<br />

dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 3 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 0.1187879 0.01188 0.75 0.6737<br />

Ulangan 2 0.0224242 0.01121 0.71 0.5055<br />

Galat 20 0.3175758 0.01588<br />

Total 32 0.4587879


Lampiran 21. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 4 MST<br />

Sumber<br />

KeRagaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

43<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 0.0054546 0.00055 0.86 0.5842<br />

Ulangan 2 0.0006061 0.0003 0.48 0.628<br />

Galat 20 0.0127273 0.00064<br />

Total 32 0.0187879<br />

Lampiran 22. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 5 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 0.0484849 0.00485 0.3 0.973<br />

Ulangan 2 0.0490909 0.02455 1.51 0.2442<br />

Galat 20 0.3242424 0.01621<br />

Total 32 0.4218182<br />

Lampiran 23. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 6 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 0.1563636 0.01564 1.06 0.4328<br />

Ulangan 2 0.0454546 0.02273 1.54 0.2381<br />

Galat 20 0.2945455 0.01473<br />

Total 32 0.4963636<br />

Lampiran 24. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 7 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 0.9224242 0.09224 2.11 0.0749<br />

Ulangan 2 0.1842424 0.09212 2.10 0.1482<br />

Galat 20 0.8757576 0.04379<br />

Total 32 1.9824242


Lampiran 25. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 8 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

44<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 1.0045833 0.10046 1.53 0.2005<br />

Ulangan 2 1.2354924 0.61775 9.41 0.0013<br />

Galat 20 1.3132576 0.06566<br />

Total 32 3.5533333<br />

Lampiran 26. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 9 MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 1.0045833 0.10046 1.53 0.2005<br />

Ulangan 2 1.2354924 0.61775 9.41 0.0013<br />

Galat 20 1.3132576 0.06566<br />

Total 32 19.358788<br />

Lampiran 27. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Bagan Warna Daun saat 10<br />

MST<br />

Sumber<br />

Keragaman<br />

Derajat<br />

bebas<br />

Jumlah<br />

Kuadrat<br />

Kuadrat<br />

Tengah<br />

F<br />

Hitung<br />

Pr>F<br />

hit<br />

Perlakuan 10 1.089697 0.10897 0.84 0.5969<br />

Ulangan 2 0.949697 0.47485 3.67 0.044<br />

Galat 20 2.590303 0.12952<br />

Total 32 4.629697<br />

Lampiran 28. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Jumlah Anakan Produktif<br />

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F Pr>F<br />

Keragaman Bebas Kuadrat Tengah hitung hit<br />

Perlakuan 10 105.7697 10.577 2.42 0.0447<br />

Ulangan 2 21.398788 10.6994 0.44 0.1123<br />

Galat 20 87.561212 4.37806<br />

Total 32 214.7297


Lampiran 29. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Bobot Basah per Rumpun<br />

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F Pr>F<br />

Keragaman Bebas Kuadrat Tengah hitung hit<br />

Perlakuan 10 27610.219 2761.02 1.22 0.3392<br />

Ulangan 2 5088.3897 2544.19 1.12 0.346<br />

Galat 20 45441.63 2272.08<br />

Total 32 78140.239<br />

Lampiran 30. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Bobot Kering per Rumpun<br />

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F Pr>F<br />

Keragaman Bebas Kuadrat Tengah hitung hit<br />

Perlakuan 10 17534.061 1753.41 1.34 0.2782<br />

Ulangan 2 2872.0606 1436.03 1.09 0.3541<br />

Galat 20 26255.939 1312.8<br />

Total 32 46662.061<br />

Lampiran 31. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Panjang Malai<br />

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F Pr>F<br />

Keragaman Bebas Kuadrat Tengah hitung hit<br />

Perlakuan 10 13.578473 1.35785 0.98 0.4895<br />

Ulangan 2 6.8430788 3.42154 2.47 0.1099<br />

Galat 20 27.695055 1.38475<br />

Total 32 48.116606<br />

Lampiran 32. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Jumlah Gabah/Malai<br />

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F Pr>F<br />

Keragaman Bebas Kuadrat Tengah hitung hit<br />

Perlakuan 10 2576.7491 257.675 0.97 0.4992<br />

Ulangan 2 412.38061 206.19 0.77 0.4745<br />

Galat 20 5327.5127 266.376<br />

Total 32 8316.6424<br />

45


Lampiran 33. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Gabah Kering Panen<br />

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F Pr>F<br />

Keragaman Bebas Kuadrat Tengah hitung hit<br />

Perlakuan 10 14084655 1408465 1.16 0.37<br />

Ulangan 2 4963297 2481648 2.05 0.1554<br />

Galat 20 24254836 1212742<br />

Total 32 43302788<br />

Lampiran 34. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Gabah Kering Giling<br />

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F Pr>F<br />

Keragaman Bebas Kuadrat Tengah hitung hit<br />

Perlakuan 10 9171006.1 917101<br />

Ulangan 2 2612751.5 1306376 1.13 0.3888<br />

Galat 20 16228848 811442 1.61 0.2247<br />

Total 32 28012606<br />

Lampiran 35. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Persentase Gabah Hampa<br />

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F Pr>F<br />

Keragaman Bebas Kuadrat Tengah hitung hit<br />

Perlakuan 10 102.06061 10.2061 1.55 0.1947<br />

Ulangan 2 6.0606061 3.0303 0.46 0.6382<br />

Galat 20 131.93939 6.59697<br />

Total 32 240.06061<br />

Lampiran 36. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Bobot Kering Tajuk<br />

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F Pr>F<br />

Keragaman Bebas Kuadrat Tengah hitung hit<br />

Perlakuan 10 2101.24242 210.1242 1.63 0.169<br />

Ulangan 2 1250.77273 625.3864 4.85 0.0192<br />

Galat 20 2578.39394 128.9197<br />

Total 32 5930.40909<br />

46


Lampiran 37. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Volume Akar<br />

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F Pr>F<br />

Keragaman Bebas Kuadrat Tengah hitung hit<br />

Perlakuan 10 950.378788 95.03788 1.4 0.2478<br />

Ulangan 2 413.636364 206.8182 3.06 0.0694<br />

Galat 20 1353.0303 67.65152<br />

Total 32 2717.04546<br />

Lampiran 38. Sidik Ragam Perlakuan Dosis Kombinasi Pupuk Organik<br />

Cair dengan NPK terhadap Bobot Kering Akar<br />

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F Pr>F<br />

Keragaman Bebas Kuadrat Tengah hitung hit<br />

Perlakuan 10 264.469697 26.44697 1.54 0.1971<br />

Ulangan 2 147.015152 73.50758 4.28 0.0284<br />

Galat 20 343.484849 17.17424<br />

Total 32 754.969697<br />

47

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!