kemampuan pengenalan huruf hijaiyah pada ... - BAPPEDA Aceh
kemampuan pengenalan huruf hijaiyah pada ... - BAPPEDA Aceh
kemampuan pengenalan huruf hijaiyah pada ... - BAPPEDA Aceh
Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!
Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.
KEMAMPUAN PENGENALAN HURUF HIJAIYAH PADA<br />
SANTRI YANG BELAJAR BACA-TULIS AL- QURAN<br />
DENGAN METODE IQRA<br />
HIJAIYAH LITERACY SKILLS IN STUDENTS WHO ARE<br />
LEARNING TO READ AND WRITE BY THE METHOD OF<br />
AL-QUR,AN IQRA<br />
Marlina Marzuki<br />
Email : marzukimarlina@gmail.com<br />
Abstrak<br />
Tulisan ini mengkaji tentang <strong>kemampuan</strong> <strong>pengenalan</strong> <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong><br />
<strong>hijaiyah</strong> <strong>pada</strong> santri yang belajar baca-tulis Al-Quran dengan metode<br />
Iqra; salah satu metode pembalajaran cara baca Al-Quran yang<br />
popular di Indonesia dalam 20 tahun terakhir. Penelitian dilakukan<br />
dilakukan <strong>pada</strong> sekolah dasar di Kabupaten Bireuen, Propinsi <strong>Aceh</strong>.<br />
Selama ini metode Iqra telah mampu menggeser kepopuleran metode<br />
Baghdadiyah, satu-satunya metode pembelajaran konvensional cara<br />
baca Al-Quran yang telah digunakan di Indonesia selama ratusan<br />
tahun. Metode Iqra diunggulkan karena efektivitasnya, dimana siswa<br />
diajarkan langsung membaca tanpa diharuskan mengeja <strong>huruf</strong>.<br />
Bagaimanapun kelebihan dan keunggulan metode tersebut perlu<br />
dikaji secara mendalam, sehingga dapat menjadi pertimbangan bagi<br />
pemakainya. Hasil penelitian menunjukkan banyak peserta yang<br />
menggunakan metode Iqra’ tidak mampu menyebutkan nama-nama<br />
<strong>huruf</strong> Hijaiyah secara benar, meskipun mereka telah mampu<br />
membaca Al-Quran dengan baik.<br />
Kata kunci: metode iqra, <strong>huruf</strong> <strong>hijaiyah</strong>, baca-tulis, al-quran,<br />
metode baghdadiyah<br />
1 Staf Pengajar Pada Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Lhokseumawe<br />
31
Abstract<br />
This paper is aimed to study ability of students who learnt reading and<br />
writing Al-Quran scripts using Iqra method in spelling Arabic<br />
alphabets properly. The Iqra is a new introduced method that<br />
becomes popular during the last 20 years in Indonesia. The research<br />
has been conducted at 2 elementary schools in District of Bireuen,<br />
Province of <strong>Aceh</strong>. Since the Iqra method introduced, a conventional<br />
method of Baghdadiyah that has been used for long time in Indonesia<br />
became less popular. The Iqra method is consider as an attractive<br />
method because it directly introduces how to read words in Al-Quran<br />
without any spelling process. However, a deep study on advantages<br />
and disadvantages of the method are still needed. This research<br />
foundthat majority of respondents who used the Iqra method were not<br />
able to recognize the Arabic alphabets even though they able to read<br />
Al-Quran properly.<br />
Key words: iqra method, arabic alphabets, reading, al-quran,<br />
baghdadiyah method<br />
PENDAHULUAN<br />
Al-Quran adalah kitab suci yang menjadi petunjuk dan<br />
tuntunan bagi umat Islam. Setiap Muslim berkewajiban untuk<br />
mempelajari kitab suci yang diturunkan dalam Bahasa Arab tersebut.<br />
Oleh sebab itu, mempelajari cara membaca Al-Quran dengan<br />
sendirinya menjadi kewajiban, meskipun tidak semua Muslim mampu<br />
memahami Bahasa Arab. Selama ini, berbagai upaya telah dilakukan<br />
oleh para pendidik untuk memudahkan mempelajari cara baca-tulis<br />
Al-Quran dengan tepat, mulai dari metode konvensional sampai<br />
metode praktis yang modern. Kedua metode tersebut digunakan secara<br />
luas di Indonesia.<br />
Metode konvensional pembelajaran baca-tulis Al-Quran yang<br />
sering digunakan di Indonesia adalah Kaidah Baghdadiyah. Pada<br />
beberapa tempat, Kaidah Baghdadiyah lebih dikenal dengan nama Juz<br />
Amma atau Al-Quran Kecil karena kitab Kaidah Baghdadiyah<br />
biasanya disatukan dengan surah Al-Fatihah dan Juz Amma <strong>pada</strong><br />
32
agian akhir. Cara mengajarkan Kaidah Baghdadiyah dimulai dengan<br />
menghafal <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong> <strong>hijaiyah</strong> serta pengejaan bacaannya.<br />
Sedangkan metode modern merupakan metode-metode yang<br />
dikembangkan selama 20 tahun terakhir di Indonesia. Di antaranya<br />
adalah metode Iqra yang dikembangkan sejak tahun 1980-an oleh KH.<br />
As’ad Humam dari Kotagede, Yogyakarta (Humam, 1995). Dalam<br />
metode Iqra, peserta diajarkan cara baca langsung tanpa ada<br />
kewajiban menghafal <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong> <strong>hijaiyah</strong> dan pengejaanya. Dalam<br />
praktiknya, keberhasilan metode Iqra ini memang sangat cepat,<br />
peserta dapat membaca langsung Al-Quran sesuai dengan kaidah<br />
dalam masa kurang dari satu tahun.<br />
Mengingat sedemikian jelas perbedaan cara pembelajaran<br />
kaidah Baghdadiyah dengan metode Iqra, tentu saja akan ada beberapa<br />
kekurangan dan kelebihan dari masing-masing metode tersebut.<br />
Metode Iqra merupakan pola pengajaran cara membaca Al-Quran<br />
yang cepat tanpa melalui tahap-tahap penghafalan <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong><br />
<strong>hijaiyah</strong> secara alfabetis. Pada metode ini <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong> <strong>hijaiyah</strong> yang<br />
dikenalkan sejak semula telah diberikan tanda baca/baris, baik berupa<br />
fatah (bunyi vokal “a”), kasrah (bunyi vokal “i”), atau dhammah<br />
(bunyi vokal ‘u”). Sedangkan <strong>pada</strong> metode Baghdaiyah, tahap pertama<br />
pembelajaran para peserta diwajibkan melafalkan <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong> <strong>hijaiyah</strong><br />
secara benar. Setelah pelafalan <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong> <strong>hijaiyah</strong> ini tepat, baru<br />
kemudian dikenalkan <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong> <strong>hijaiyah</strong> yang telah diberikan tanda<br />
baca/baris <strong>pada</strong> bagian-bagian berikutnya.<br />
Pada sisi lain, <strong>pengenalan</strong> <strong>huruf</strong> <strong>hijaiyah</strong> secara tepat<br />
merupakan pengetahuan dasar yang diperlukan <strong>pada</strong> tahap<br />
pembelajaran cara baca Al-Quran yang lebih lanjut. Bacaan Al-Quran<br />
yang tepat adalah bacaan yang mengikuti kaidah-kaidah ilmu tajwid.<br />
Hukum-hukum dalam ilmu tajwid selalu dilandaskan <strong>pada</strong> sifat-sifat<br />
<strong>huruf</strong> <strong>hijaiyah</strong> (makharijul <strong>huruf</strong>) itu sendiri. Oleh karena itu, untuk<br />
memahami ilmu tajwid secara benar, <strong>kemampuan</strong> mengenal <strong>huruf</strong><br />
<strong>hijaiyah</strong> secara tepat adalah mutlak diperlukan. Kemampuan ini tentu<br />
saja diperoleh <strong>pada</strong> saat pertama sekali diajarkan tata-cara membaca<br />
Al-Quran.<br />
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana<br />
perbandingan efektivitas metode pembelajaran cara baca Al-Quran<br />
dengan metode metode Iqra, serta pengaruh penggunaan metode Iqra<br />
terhadap <strong>kemampuan</strong> pelajar dalam mengenal dan melafalkan <strong>huruf</strong>-<br />
33
<strong>huruf</strong> <strong>hijaiyah</strong> secara tepat. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat<br />
menjadi referensi bagi lembaga-lembaga pendidikan Al-Quran,<br />
masyarakat dan instansi pemerintah yang terkait tentang efektifitas<br />
dari metode-metode pebelajaran cara baca Al-Quran yang telah<br />
digunakan di Indonesia selama ini.<br />
TINJAUAN PUSTAKA<br />
Kitab Suci Al-Quran<br />
Al-Quran merupakan kitab suci bagi umat Islam yang ditulis<br />
dalam Bahasa Arab diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala (SWT)<br />
ke<strong>pada</strong> Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) melalui<br />
Malaikat Jibril Alaihissalam (AS). Secara harfiah Al-Quran bermakna<br />
bacaan, namun dalam pandangan yang lebih lengkap di dalamnya<br />
terkandung berbagai aspek kehidupan beragama baik berupa hudan<br />
(petunjuk), bayyinah (penjelas) dan furqan (pembeda). Karena itu<br />
merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam terhadap Al Quran untuk<br />
meyakini kebenaran isi yang terkandung di dalamnya, mempelajari<br />
cara membacanya dan senantiasa membacanya, mempelajari isinya<br />
(artinya) dan menjadikannya sebagai petunjuk, serta mengamalkannya<br />
(Hamid, 2006) .<br />
Al-Quran diturunkan ke<strong>pada</strong> Nabi Muhammad SAW secara<br />
berangsur-angsur dalam waktu sekitar 23 tahun. Wahyu pertama <strong>pada</strong><br />
Surat Al-‘Alaq Ayat 1-5 dan sampai dengan Surat Al-Maidah Ayat 3,<br />
sebagai ayat yang terakhir. Keseluruhan Al-Qur’an terdiri dari 30 Juz<br />
dan 114 Surat. Kemurnian Al-Quran sangat terjaga, sejak pertama kali<br />
diturunkan sampai dengan sekarang.<br />
Sejarah permurnian Al-Quran juga berlanjut <strong>pada</strong> masa<br />
pemerintahan khulafaurrasyidin (Khalifah yang empat setelah<br />
Rasullulah SAW wafat). Pada masa Khalifah Abu Bakar (623 – 634<br />
M), Umar bin Khatab menyarankan untuk membukukan Al-Quran.<br />
Perkembangan Agama Islam <strong>pada</strong> masa khalifah Usman Bin Affan<br />
(644 – 655) semakin pesat. Perbedaan dialek Bahasa Arab semakin<br />
meluas sehingga semakin banyak perbedaan bacaan Al-Quran terjadi<br />
sesama pemeluk Islam. Khalifah Usman berinisiatif melakukan<br />
standarisasi dalam dialek fushah; yaitu dialek standar Bahasa Arab<br />
Modern yang digunakan oleh Suku Quraisy. Khalifah Usman bin<br />
34
Affan memperbanyak salinan Al-Quran berdasarkan standar yang<br />
dibukukan <strong>pada</strong> masa Khalifah Abu Bakar, serta memusnahkan<br />
tulisan-tulisan yang lain untuk menjaga kemurnian Al-Quran. Salinan<br />
ini dikenal sebagai Al-Quran Mushaf Usmani yang dipergunakan oleh<br />
umat Islam hingga sekarang (Al-‘Azami, 2005).<br />
Kaidah Baghdadiyah<br />
Sebelum tahun 80-an hanya dikenal satu metode pendidikan<br />
cara baca Al-Quran di Indonesia, yaitu metode kaidah Baghdadiyah.<br />
Metode yang dikenal dengan istilah Juz Amma ini juga digunakan<br />
secara luas, paling tidak dalam wilayah Asia Tenggara (Dirjen<br />
Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1994).<br />
Kaidah Baghdadiyah di <strong>Aceh</strong> lebih dikenal dengan nama<br />
Quran Kecil (Kuru-an Ubit) yang diajarkan ke<strong>pada</strong> anak-anak di<br />
rumah-rumah, tempat pengajian (rumoh beut), langgar (meunasah),<br />
dan pesantren (dayah) (Ismail, 2005). Berdasarkan dari namanya,<br />
kemungkinan besar Kaidah Baghdadiyah dikembangkan di Baghdad<br />
<strong>pada</strong> masa Khalifah Bani Abassiah (750 – 1258 M). Sejauh ini penulis<br />
belum mendapatkan referensi nama penemu metode tersebut. Namun<br />
demikian efektivitas metode ini telah teruji dalam kurun waktu yang<br />
sangat lama. Sebagian besar alim-ulama, penghafal Al-Quran (hafidz),<br />
dan cendikiawan yang kita kenal dulu dan sekarang belajar membaca<br />
Al-Quran dengan menggunakan metode kaidah Baghdadiyah ini.<br />
Kaidah Baghdadiyah merupakan metode pembelajaran cara<br />
baca Al-Quran dengan menekankan pengejaan <strong>huruf</strong>. Materi-materi<br />
dalam metode Baghdadiyah diajarkan secara gradual dengan urutan<br />
dari materi yang paling mudah ke materi yang sukar dan dari materi<br />
yang bersifat umum ke materi yang bersifat khusus. Secara garis<br />
besar, Kaidah Baghdadiyah memerlukan 17 langkah. 30 <strong>huruf</strong><br />
hijaiyyah selalu ditampilkan secara utuh dalam tiap langkah. Seolaholah<br />
sejumlah tersebut menjadi tema sentral dengan berbagai variasi.<br />
Variasi dari tiap langkah menimbulkan rasa estetika bagi siswa (enak<br />
didengar) karena bunyinya bersajak berirama. Indah dilihat karena<br />
penulisan <strong>huruf</strong> yang sama. Metode ini diajarkan secara klasikal<br />
maupun privat (Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1994).<br />
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kelebihankelebihan<br />
kaidah Baghdadiyah antara lain karena susunan materi<br />
pelajaran yang sekuensif, penekanan <strong>pada</strong> <strong>pengenalan</strong> <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong><br />
35
<strong>hijaiyah</strong> sehingga hampir selalu ditampilkan <strong>pada</strong> setiap tahap<br />
pembelajaran secara utuh sebagai tema sentral, bacaan disusun<br />
berdasarkan pola bunyi dan susunan <strong>huruf</strong> (wazan) yang rapi,<br />
penekanan ketrampilan mengeja, dan penyisipan materi tajwid secara<br />
terpadu <strong>pada</strong> setiap tahap pembelajaran.<br />
Meskipun demikian, sebagian pengajar, terutama pengembang<br />
metode pembelajaran car abaca Al-Quran moderen di Indonesia<br />
berpendapat bahwa penyajian Kaidah Baghdadiyah menjemukan,<br />
penampilan <strong>huruf</strong> yang hampir-hampir mirip sehingga menyulitkan<br />
pembaca, dan membutuhkan waktu yang lama untuk mampu<br />
membaca Al-Quran secara sempurna (Komari, 2008).<br />
Metode Iqra<br />
Setelah tahun 80-an, metode pembelajaran cara baca Al-Quran<br />
di Indonesia telah banyak yang dikembangkan. Di antara metodemetode<br />
tersebut, yang terkenal adalah adalah metode Iqra, Qiraati, Al-<br />
Barqy, dan Tilawah. Namun demikian, hanya konsep pembelajaran<br />
metode Iqra yang akan disajikan dalam makalah ini.<br />
Metode Iqra disusun oleh K.H. As'ad Humam dari Kotagede<br />
Yogyakarta (Humam, 1995). Dalam pelaksanaannya, metode tersebut<br />
kemudian dikembangkan oleh Angkatan Muda Masjid dan Musholla<br />
(AMM) Yogyakarta dengan membuka Taman Kanak-kanak Al-Quran<br />
(TKA) dan Taman Pengajian Al-Quran (TPA). Metode Iqra<br />
berkembang dan menyebar merata di Indonesia karena dukungan<br />
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja<br />
Masjid Indonesia (BKPRMI).<br />
Untuk menarik perhatian siswa, 6 jilid metode Iqra juga<br />
dikemas dalam sampul yang bervariasi, mengingat targetnya adalah<br />
anak-anak pra-sekolah dan sekolah dasar. Tata cara baca Al-Quran<br />
dan metode-metode pengajaran dalam buku-buku Iqra disajikan dalam<br />
bentuk bacaan langsung, sesuai dengan sistem pembelajaran Cara<br />
Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang sedang digiatkan pemerintah <strong>pada</strong><br />
masa yang bersamaan. Pembelajaran metode Iqra lebih difokuskan<br />
<strong>pada</strong> program privat, berlaku sistem modul, dan asistensi. Meskipun<br />
target lembaga pendidikan yang utama adalah TKA dan TPA, metode<br />
ini juga dapat digunakan <strong>pada</strong> pengajian-pengajian semi tradisional di<br />
masjid dan mushalla, kursus baca tulis Al-Quran, program ekstra<br />
36
kurikuler sekolah, atau digunakan di majelis-majelis ta'lim setelah<br />
mengelami beberapa pengembangan.<br />
Metode Iqra Dewasa, Iqra Terpadu, dan Iqra Klasikal<br />
merupakan metode pengembangan dari konsep-konsep metode Iqra.<br />
Metode Iqra Dewasa pertama kali dikembangkan untuk pembelajaran<br />
cara baca Al-Quran orang dewasa. Sedangkan Metode Iqra terpadu<br />
merupakan penyempurnaan dari Metode Iqra Dewasa. Jumlah<br />
pertemuan <strong>pada</strong> metode Iqra Dewasa sebanyak 20 kali, <strong>pada</strong> metode<br />
Iqra Terpadu dirangkaskan menjadi 10 kali pertemuan saja. Metode<br />
Iqra Terpadu juga dilengkapi dengan latihan membaca dan menulis.<br />
Metode Iqra Klasikal dikembangkan oleh Tim Tadarrus AMM<br />
Yogyakarta sebagai pemampatan dari buku Iqra 6 jilid. Iqra Klasikal<br />
diperuntukkan bagi siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah<br />
(SD/MI). Metode ini diajarkan secara klasikal dan mengacu <strong>pada</strong><br />
kurikulum sekolah formal.<br />
Baik <strong>pada</strong> metode Iqra dasar maupun <strong>pada</strong> metode Iqra yang<br />
telah dikembangkan, keduanya berpedoman <strong>pada</strong> bacaan langsung dan<br />
tidak perlu pengejaan <strong>huruf</strong> demi <strong>huruf</strong>. Satu persatu <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong><br />
<strong>hijaiyah</strong> yang telah diberikan tanda baris dikenalkan bacaannya <strong>pada</strong><br />
siswa. Mulai dari <strong>huruf</strong> tunggal sampai <strong>pada</strong> gabungan beberapa <strong>huruf</strong><br />
dengan berbagai variasi tanda baris disajikan untuk memudahkan<br />
siswa mengingatnya. Setelah dasar-dasar bacaan dikuasai, siswa mulai<br />
dikenalkan bacaan <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong> yang disambung, tanda-tanda baca<br />
sampai dengan kaidah tajwid yang lengkap. Selain tidak dikenalkan<br />
nama-nama <strong>huruf</strong> <strong>hijaiyah</strong>, metode Iqra juga tidak mengenalkan<br />
nama-nama tanda baca dan istilah-istilah hukum tajwid ke<strong>pada</strong> siswa<br />
secara keseluruhan kecuali hukum bacaannya.<br />
METODE PENELITIAN<br />
Desain, Populasi, Sampel, Instrumen, dan Diskusi Etis<br />
Penelitian ini merupakan survey non eksperimental, tujuannya<br />
adalah untuk mengumpulkan data dalam skala yang lebih luas<br />
sehingga dapat diperoleh generalisasi yang bisa digunakan secara<br />
statistik. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut telah diadakan<br />
pengumpulan dan analisa data secara kuantitatif dari beberapa pelajar<br />
yang dipilih. Untuk memperdalam analisa dari penelitian ini juga<br />
37
diadakan kajian kualitatif. Demikian penelitian ini merupakan<br />
gabungan dari kajian data secara kuantitaif dan kualitatif, mengingat<br />
penelitian kualitaif semata agak mempersulit proses generalisasi<br />
karena jumlah responden yang dipilih terlalu sedikit.<br />
Data kuantitatif diambil berdasarkan kuesioner yang diberikan<br />
ke<strong>pada</strong> murid-murid yang telah mampu membaca Al-Quran. Muridmurid<br />
tersebut dipilih secara acak dan diberikan npertanyaan<br />
menyangkut latar belakang metode yang digunakan selama belajar<br />
membaca Al-Quran. Selanjutnya mereka diberikan tes kecil<br />
menyangkut dengan <strong>kemampuan</strong> mereka mengenal <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong><br />
<strong>hijaiyah</strong> secara personal.<br />
Populasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah para<br />
pelajar yang telah mampu membaca Al-Quran. Pada penelitian ini<br />
akan digunakan metode stage sampling karena keterbatasan waktu,<br />
akses dan biaya. Metode stage sampling melibatkan sampel-sampel<br />
yang dipilih dalam tahap-tahap dimana sampel dipilih di dalam<br />
sekelompok sampel. (Cohen, et al., 2000 ). Sampel atau objek dalam<br />
penelitian ini adalah sejumlah pelajar yang dipilih secara acak dalam<br />
sekolah tertentu. Peserta yang akan dilibatkan dalam penelitian ini<br />
perbedaan gender sangat proposional.<br />
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah<br />
kuesioner dan data sekunder. Data sekunder merupakan data-data<br />
referensi yang berasal dari berbagai sumber kepustakaan dan internet.<br />
Data sekunder kemudian dibandingkan dengan data kuesioner. (Cohen<br />
et al. 2000, ) menjelaskan bahwa kuesioner digunakan secara luas dan<br />
merupakan instrumen yang sangat bermanfaat untuk pengumpulan<br />
informasi penelitian. Metode tersebut dapat dibuat dibentuk terstruktur<br />
atau data numeris yang mudah dalam pengelolaannya. Data kuesioner<br />
agak lebih mudah dianalisa. Pada penelitian ini, kuesioner dibuat<br />
dalam bentuk beragam antara rating scale sampai dengan pertanyaan<br />
langsung.<br />
Untuk memfasilitasi indentifikasi, pengumpulan, analisa data,<br />
dan penyampaian laporan dalam penelitian ini, peneliti sangat<br />
memperhatikan etis penelitian terhadap manusia. Peneliti menjamin<br />
bahwa peserta yang dipilih dalam penelitian ini sepenuhnya setuju<br />
untuk dilibatkan tanpa ada paksaan. Demikian juga peneliti menjamin<br />
kerahasiaan data dari <strong>pada</strong> responden untuk digunakan dalam<br />
38
penelitian ini. Berdasarkan isu-isu etis tersebut, proses pengumpulan<br />
data dilakukan sebagai penjelasan <strong>pada</strong> bagian di bawah ini.<br />
Kuesioner didistribusikan ke<strong>pada</strong> responden <strong>pada</strong> sekolah<br />
yang dipilih. Para responden ditanyakan kesediaannya untuk<br />
mengikuti kuesioner. Setiap pertanyaan yang ada dalam kuesioner<br />
dijelaskan secara terperinci sehingga memudahkan responden untuk<br />
menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ke<strong>pada</strong> responden juga<br />
dijelaskan manfaat-manfaat dari penelitian ini sehingga memberikan<br />
kenyamanan bagi mereka untuk mengikuti.<br />
Prosedur Pengumpulan Data<br />
Pengumpulan data dilakukan Maret 2011 <strong>pada</strong> beberapa<br />
Sekolah Dasar di Bireuen, Propinsi <strong>Aceh</strong>. Sebanyak 40 siswa dipilih<br />
secara acak dari SD Negeri 1 dan SD Negeri 15 Bireuen. Kuesioner<br />
yang dibagikan ke<strong>pada</strong> responden berisi pertanyaan dua bagian.<br />
Bagian pertama kuesioner berisi seputar kesediaan peserta untuk<br />
menjawab, latar belakang lembaga dan metode serta lama dan<br />
efektivitas dari metode yang digunakan sewaktu pertama kali belajar<br />
membaca Al-Quran menurut pandangan peserta. Pada bagian kedua<br />
pertanyaan dari kuesioner berupa ujian <strong>kemampuan</strong> peserta terhadap<br />
<strong>pengenalan</strong> <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong> <strong>hijaiyah</strong>.<br />
Untuk menjaga validitas data yang diberikan, penulis<br />
membagikan dan mengawal proses pengisian data secara langsung.<br />
Sebelum pengisian data, peserta juga diberikan petunjuk ringkas<br />
sehingga dapat memahami maksud dan tujuan dari pertanyaan yang<br />
diberikan tersebut. Namun demikian, penulis tidak sekali-kali<br />
memberikan atau mengarahkan jawaban ke<strong>pada</strong> peserta.<br />
Analisis Data<br />
Analisa data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi<br />
pengumpulan data, reduksi data, penyajian, dan verivikasi. Data<br />
sekunder dikumpulkan dengan metode triangulasi yang<br />
menggabungkan dua atau lebih sumber data untuk objek tertentu. Cara<br />
seperti ini akan memberikan kepercayaan yang signifikat terhadap<br />
data yang dianalisa (Cohen et al., 2000,). Data sekunder akan<br />
dikumpulkan berdasarkan hasil laporan dan tulisan mengenai<br />
efektifitas metode pengajaran cara baca Al-Quran yang telah<br />
digunakan di Indonesia selama ini.<br />
39
Proses reduksi data diperlukan ketika data dikumpulkan terlalu<br />
banyak. Reduksi data untuk data yang tidak dipublikasi dan data<br />
sekunder yang dipublikasi dilakukan dengan proses dokumentasi,<br />
rangkuman, dan pemilihan yang fokus dengan maksud dan tujuan<br />
penelitian. Untuk kuesioner, data yang didapat telah diedit sebelum<br />
dilakukan data reduksi untuk mengidentifikasi dan mengurangi<br />
kesalahan yang dibuat oleh responden. Data reduksi umumnya<br />
meliputi pengkodean data secara manual dalam rangka untuk<br />
persiapan data analisis. Semua jawaban yang dibuat oleh responden<br />
dikodekan untuk kemudahan pembacaan.<br />
Sesudah dilakukan reduksi, data tersebut ditampilkan dan<br />
divisualisasi untuk memudahkan pembacaan dan proses analisa. Data<br />
sekunder ditampilkan dalam bentuk grafik dan tabel. Cara visualisasi<br />
demikian dapat membrikan gambaran kecnederungan dan hubunganhubungan<br />
tertentu dari data itu sendiri. Kemudian kedua data tersebut,<br />
data sekunder dan kuesioner dipresentasikan dalam bentuk narasi<br />
untuk pembahasan.<br />
Pada tahap terakhir dari analisa data dilakukan verifikasi data<br />
dan pencarian gambaran kesimpulan yang mungkin dapat ditarik dari<br />
penelitian ini. Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan validitas dan<br />
konsistensi data. Kesimpulan merupakan jawaban dari topik yang<br />
difokuskan dan dicari sejak awal dalam penelitian ini. Kesimpulan<br />
tersebut tidak harus sesuai dengan asumsi dasar, tetapi juga boleh<br />
berubah atau berkembang dari apa yang telah direncanakan.<br />
HASIL DAN PEMBAHASAN<br />
Profil Responden<br />
Sebanyak 40 siswa sekolah dasar telah menyatakan secara<br />
suka rela untuk berperan serta dalam penelitian ini. Peserta semuanya<br />
berasal dari Sekolah Dasar Negeri 1 dan Sekolah Dasar Negeri 15,<br />
Kapupaten Bireuen, Provinsi <strong>Aceh</strong>. Peserta berumur antara 10 sampai<br />
12 tahun, dimana mereka adalah siswa kelas 5 dan kelas 6 dari kedua<br />
sekolah tersebut. Sebanyak 17 orang responden berjenis kelamin lakilaki<br />
dan 23 orang peserta perempuan.<br />
Berdasarkan metode pembelajaran cara belajar Al-Quran yang<br />
pertama sekali digunakan, sebanyak 15 orang peserta mengaku belajar<br />
40
cara membaca Al-Quran dilakukan <strong>pada</strong> Taman Pendidikan Al-Quran.<br />
Sebanyak 6 orang peserta mengaku belajar di lembaga pengajian<br />
tradisional semisal meunasah atau rumah-rumah pengajian. Hanya<br />
satu orang peserta yang belajar membaca Al-Quran di rumah dan<br />
sisanya tidak menyebutkan secara spesifik lokasi pengajian mereka.<br />
Secara umum hampir semua peserta mulai belajar membaca<br />
Al-Quran sejak berusia dini. Sebanyak 16 peserta mulai belajar Al-<br />
Quran <strong>pada</strong> usia pra sekolah, 3 sampai 6 tahun. Sementara 23 peserta<br />
mengaku mulai belajar membaca Al-Quran <strong>pada</strong> usia memasuki<br />
jenjang pendidikan dasar, yaitu dari 7 sampai 10 tahun dan hanya satu<br />
peserta yang memulainya <strong>pada</strong> usia di atas 10 tahun.<br />
Dalam usia belajar yang relatif dini tersebut, sebanyak 12<br />
peserta mengaku mampu membaca Al- Quran dalam waktu kurang<br />
dari satu tahun. Sebanyak 19 peserta mengaku mampu membaca Al-<br />
Quran dalam masa 1 sampai 2 tahun. Sedangkan 3 peserta mengaku<br />
mampu membacanya dalam masa 3 sampai 4 tahun dan sisanya di atas<br />
6 tahun.<br />
Dipandang dari metode yang digunakan, sebanyak 12 peserta<br />
mengaku menggunakan metode Iqra’. Sedangkan sebanyak 10 peserta<br />
mengaku menggunakan metode Bagdadiyah dan sisanya<br />
menggunakan metode lain tetapi tidak disebutkan secara spesifik<br />
metode yang digunakannya. Meskipun demikian, kecuali hanya satu<br />
orang pengguna metode Baghdadiyah murni, seluruh peserta yang<br />
non-Iqra’ yang lain mengaku juga pernah mempelajari metode Iqra’.<br />
Kemampuan Pengenalan Huruf Hijaiyah<br />
Berdasarkan hasil pengujian <strong>kemampuan</strong> <strong>pengenalan</strong> <strong>huruf</strong><strong>huruf</strong><br />
Hijaiyah, sebanyak 16 peserta mampu mengenali <strong>huruf</strong> secara<br />
keseluruhan. Dari jumlah tersebut hanya 6 peserta yang merupakan<br />
lulusan metode Iqra’, sedangkan sisanya merupakan lulusan metode<br />
Bagdadiyah dan metode lain yang tidak disebutkkan secara spesifik.<br />
Kuat dugaan penulis, peserta yang menggunakan metode yang lain<br />
tersebut adalah peserta yang menggunakan metode Bagdadiyah.<br />
Hanya saja mereka tidak mengetahui nama metode yang digunakan<br />
secara pasti. Berbeda dengan metode Iqra’ yang telah dikenal<br />
namanya, metode Bagdadiyah tidak dikenal nama. Bahkan di banyak<br />
tempat, metode tersebut disebut dengan Quran Kecil.<br />
41
Selain itu, sebanyak 6 peserta yang menggunakan metode non-<br />
Iqra’ hanya melakukan satu kesalahan <strong>pengenalan</strong> <strong>huruf</strong> saja, yaitu<br />
<strong>huruf</strong> Lam-Alif (ﻻ). Huruf-<strong>huruf</strong> seperti Jim (ﺝ), Dal (ﺩ), Dzal (ﺫ), Zai<br />
(ﺯ), Qaf (ﻕ), dan Kaf (ﻙ) merupakan huruh yang terbanyak salah<br />
pengucapan oleh peserta metode Iqra’. Mereka umumnya responden<br />
melafalkan <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong> tersebut dengan bacaan yang sama dengan<br />
<strong>huruf</strong> yang bertanda baris di atas (kasrah), yaitu Ja (ﺝ), Da (ﺩ), Dza (ﺫ),<br />
Za (ﺯ), Qa (ﻕ), dan Ka (ﻙ). Ada sebagian kecil peserta metode<br />
Bagdadiyah yang juga melakukan kesalahan pelafalan <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong><br />
hijayaiyah tersebut di atas, hal ini sangat beralasan mengingat mereka<br />
juga mengaku pernah menggunakan metode Iqra’ di tempat pengajian<br />
sekolah misalnya. Sehingga mungkin saja pola pengetahuan <strong>huruf</strong><strong>huruf</strong><br />
hiajaiyah mereka telah terinduksi dengan pola metode Iqra.<br />
Berdasarkan hasil pengujian tersebut, penulis juga menemukan<br />
bahwa beberapa pengguna metode Iqra’ umumnya gagal dalam<br />
mengenal nama <strong>huruf</strong> Hijaiyah berupa Jim (ﺝ), Dal (ﺩ), Dzal (ﺫ), Zai<br />
(ﺯ), Sin (ﺱ ), Syain ( ﺵ), Shad ( ﺹ) Dhad ( ﺽ), Ain (ﻉ ), Ghain ( ﻍ),<br />
Qaf (ﻕ), Kaf (ﻙ), Lam ( ﻝ), Mim (ﻡ ), Nun ( ﻥ), dan Wau (ﻭ).<br />
Selayaknya penggguna metode Iqra, mereka secara spontan<br />
menambahkan bacaan kasrah <strong>pada</strong> <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong> Hijaiyah tersebut di<br />
atas. Dengan demikian, bacaan <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong> tersebut menjadi Ja untuk<br />
Jim (ﺝ), Da untuk dal (ﺩ), Dza untuk Dzal (ﺫ), Za untuk Zai (ﺯ), Sa<br />
untuk Sin (ﺱ ), Sya untuk Syain ( ﺵ), Sha untuk Shad ( ﺹ), Dha<br />
untuk Dhad ( ﺽ), ‘A untuk ‘Ain (ﻉ ), Gha untuk Ghain ( ﻍ), Qa untuk<br />
Qaf (ﻕ), Ka untuk Kaf (ﻙ), La untuk Lam ( ﻝ), Ma untuk Mim (ﻡ ), Na<br />
untuk Nun ( ﻥ), dan Wa untuk Wau (ﻭ). Huruf-<strong>huruf</strong> <strong>hijaiyah</strong> yang<br />
tidak pernah salah dilafalkan oleh semua responden adalah <strong>huruf</strong> Ba<br />
(ٻ) Ta (ﺕ), Tsa (ﺙ), Ha (ﺡ), Kha (ﺥ), Ra (ﺭ), Tha (ﻁ), Dla (ﻅ), Fa (ﻑ),<br />
dan Ya (ﻱ). Secara kebetulan <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong> tersebut berbunyi sama<br />
dengan atau tanpa tanda baca kasrah.<br />
Efektivitas Metode Pembelajaran<br />
Salah satu keunggulan yang sering dipromosikan dalam<br />
metode Iqra’ adalah efektivitas metode pembelajarannya. Berdasarkan<br />
buku panduan disebutkan bahwa metode Iqra mampu mempercepat<br />
<strong>kemampuan</strong> peserta membaca Al-Quran selama 3 bulan atau kurang<br />
dari satu tahun. Sedangkan metode Baghdadiyah terlanjur dipercaya<br />
sebagai metode yang lamban, bahkan dipercaya peserta yang<br />
42
menggunakan metode Baghdadiyah baru mampu membaca Al-Quran<br />
dalam hitungan bertahun-tahun.<br />
Sementara itu, berdasarkan data dari kuesioner diperoleh<br />
bahwa sebanyak 6 peserta Iqra’ malah mengaku baru mampu<br />
membaca Al-Quran dalam masa waktu lebih dari 6 tahun. Jumlah<br />
peserta yang mampu membaca Al-Quran dalam waktu kurang satu<br />
tahun antara yang menggunakan metode Iqra dan metode Bagdadiyah<br />
adalah sebanding. Bahkan sebagian besar peserta yang menggunakan<br />
metode Baghdadiyah atau metode lain non-Iqra’ mampu membaca Al-<br />
Qurang dalam waktu hanya 1 hingga 2 tahun saja. Ini menunjukkan<br />
bahwa tidak beralasan menyebutkan bahwa metode Baghdadiyah<br />
tidak efektif. Metode tersebut akan sama efektifnya jika digunakan<br />
sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Sedangkan metode Iqra’,<br />
meskipun mampu menghasilkan <strong>kemampuan</strong> yang cepat, sebenarnya<br />
prose belajar mereka belum selesai karena masih perlu melanjutkan<br />
tahap pengenal <strong>huruf</strong>-<strong>huruf</strong> Hijaiyah secara benar, sehingga dapat<br />
dijadikan bekal dalam belajar ilmu tajwid secara baik dan benar.<br />
KESIMPULAN<br />
Berdasarkan dari paparan hasil dan pembahasan di atas, maka<br />
dapat disimpulkan bahwa: Kedua metode, baik Iqra’ maupun<br />
Baghdadiyah dipandang efektif digunakan dalam pembelajaran cara<br />
baca Al-Quran, asalkan kedua metode tersebut digunakan sesuai<br />
dengan aturannya yang berlaku. Secara signifikan menunjukkan lebih<br />
banyak peserta yang menggunakan metode Iqra’ tidak mampu<br />
menyebutkan nama-nama <strong>huruf</strong> Hijaiyah secara benar. Kesalahan<br />
penyebutan nama-nama <strong>huruf</strong> Hiajiyah umumnya karena metode Iqra’<br />
mengajarkan cara baca langsung, sehingga peserta tidak perna<br />
mengenal nama <strong>huruf</strong> tersebut kecuali yang telah diberikan tanda<br />
baca.<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
Al-A'zami, M.M. 2005. Sejarah Teks Al-Qur'an dari Wahyu sampai<br />
Kompilasi, (terjemahan), Jakarta: Gema Insani Press.<br />
Cohen, Louis, Manion, Lawrence and Keith, M., 2000, Research<br />
Methods in Education, London: Routledge,<br />
43
Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1994. Metode-metode<br />
mengajar Al-Qur'an di sekolah-sekolah Umum, Departmen<br />
Agama Republik Indonesia, Jakarta.<br />
Hamid, S. R., 2006. Pahala dan Keutamaan Membaca Al-Qur’an.<br />
Samudra Hikmah. Bogor.<br />
Humam, A. 1995. Pedoman Pengelolaan, Pembinaan Dan<br />
Pengembangan M3A. Yogyakarta: Balai Litbang LPTQ<br />
Nasional.<br />
Ismail,N. 2005. Pendidikan Dayah dalam Konteks Sejarah dan<br />
Kekinian, Jurnal Seumike, Banda <strong>Aceh</strong>, <strong>Aceh</strong> Institute.<br />
Komari, 2008. Metode Pengajaran Baca Tulis al-Qur'an, Pelatihan<br />
Nasional Guru dan Pengelola TK-TPA, Makassar.<br />
44