analisis pengaruh perubahan lahan terhadap ... - BAPPEDA Aceh
analisis pengaruh perubahan lahan terhadap ... - BAPPEDA Aceh
analisis pengaruh perubahan lahan terhadap ... - BAPPEDA Aceh
Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!
Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN LAHAN TERHADAP<br />
KETERSEDIAAN AIR DAS KRUENG MEUREUDU<br />
(CHANGING LANDUSE IMPACT ANALYSIS TOWARD WATER<br />
AVAILABILITY ON KRUENG MEUREUDU WATERSHE)<br />
Azmeri 1 , Hairul Basri 2 dan Netty Herissandy 3<br />
Email : azmeri73@yahoo.com, hairulbasri@gmail.com,<br />
nettyherissandy@yahoo.co.id<br />
Abstrak<br />
Kajian ini tentang sampai sejauh mana dampak yang ditimbulkan<br />
akibat <strong>perubahan</strong> tata guna <strong>lahan</strong> di DAS Krueng Mereudu <strong>terhadap</strong><br />
ketersediaan air untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Penelitian<br />
menggunakan model tangki Sugawara dengan Microsoft Excel. Hasil<br />
perhitungan koefisien korelasi dan determinasi antara debit model<br />
dengan debit histori untuk tahun 1995 berturut-turut adalah sebesar<br />
R=0,74 dan R 2 =0,553 dan tahun 1996 adalah sebesar R=0,77 dan R 2<br />
= 0,60. Hasil analisa surface runoff, sub surface runoff, dan baseflow,<br />
yaitu bahwa persentase aliran surface runoff terbesar adalah pada<br />
<strong>lahan</strong> kosong (tanpa vegetasi), sedangkan persentase baseflow<br />
tertinggi adalah pada <strong>lahan</strong> hutan. Ini memberikan informasi bahwa<br />
<strong>lahan</strong> hutan sangat menguntungkan dari segi konservasi air karena<br />
dapat meningkatkan ketersediaan air. Hasil analisa ketersediaan air<br />
memberikan informasi bahwa debit andalan semakin berkurang<br />
dengan <strong>perubahan</strong> tata guna <strong>lahan</strong>. Sementara itu ketersediaan air<br />
untuk memenuhi berbagai kebutuhan mem<strong>pengaruh</strong>i pertumbuhan<br />
ekonomi.<br />
1 Staf Pengajar Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Unsyiah<br />
2 Staf Pengajar Pada Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Unsyiah<br />
3 Staf Pengajar Pada Magister Teknik Sipil Fakultas Teknik Unsyiah<br />
83
Simulasi neraca air antara ketersediaan dan kebutuhan air<br />
merupakan modal dasar dalam penyusunan strategi pengelolaan air<br />
yang efektif dan efisien, mengingat kompetisi air yang semakin tinggi.<br />
Dari hasil <strong>analisis</strong> bahwa persentase luas hutan di DAS Krueng<br />
Meureudu hanya tersisa 30,9%. Persentase luas hutan tersebut<br />
mendekati ambang batas yang harus dipertahankan berdasarkan<br />
Undang-undang No.41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan.<br />
Kata-kata kunci: model tangki, <strong>perubahan</strong> <strong>lahan</strong>, ketersediaan air<br />
Abstract<br />
This analysis about changing landuse impact toward water<br />
availability on Krueng Meureudu Watershed. Tank model by Mr.<br />
Sugawara is adopted as the hydrology model using Microsoft Excell.<br />
Result of correlation and determination coefficient between modelling<br />
with history discharge for 1995 are R=0.74 and R 2 =0.55, for 1996 are<br />
R=0.77 and R 2 = 0.60. Analysis result of surface runoff, sub surface<br />
runoff, and baseflow are obtained information that the highest<br />
percentage of surface runoff is from vacant land (without vegetation),<br />
whereas the highest percentage of baseflow is from forest land. It<br />
means that forest is very advantageous in water conservation sector<br />
because has ability to increase water availability. Result of analysis<br />
water availability is obtained information that with the landuse<br />
changing make the water availability more decreased. While the water<br />
availability for various needs influence economic growth. Water<br />
balance simulation between water supply and demand is a basic<br />
capital in the preparation of water management strategies effectively<br />
and efficiently, because of the higher water competition. Persentage of<br />
forest in 2010 is only 30.9% of Krueng Meureudu watershed. It’s a<br />
thresholf must be maintained according to the laws of Number 41 in<br />
1999 about forestry.<br />
Kata-kata kunci: tank model, charging landuse, water availability<br />
84
PENDAHULUAN<br />
Pesatnya pertumbuhan penduduk menuntut adanya<br />
ketersediaan <strong>lahan</strong>. Kenyataan yang ada saat ini menunjukkan bahwa<br />
banyak terjadi <strong>perubahan</strong> fungsi dan pemanfaatan <strong>lahan</strong>. Banyak<br />
daerah yang berfungsi sebagai kawasan lindung berubah fungsinya<br />
menjadi kawasan budidaya, dimanfaatkan untuk pembangunan tidak<br />
melalui mekanisme pemanfaatan yang benar dengan memperhatikan<br />
aspek hidrologis dan ekologis. Dengan kata lain, kepentingan ekonomi<br />
selalu lebih diutamakan dari kepentingan konservasi. Hal ini dapat<br />
menyebabkan degradasi <strong>lahan</strong> semakin meningkat. Oleh karena itu<br />
mempertahankan dan meningkatkan kemampuan <strong>lahan</strong> dalam<br />
meresapkan air merupakan salah satu kunci dalam menjaga kelestarian<br />
lingkungan, khususnya dalam mewujudkan sistem tata air yang<br />
berkesinambungan.<br />
Seringnya terjadi bencana banjir pada wilayah DAS Krueng<br />
Meureudu mengakibatkan kerugian yang besar, baik dari segi harta<br />
benda maupun korban jiwa. Disamping itu Kabupaten Pidie Jaya<br />
sebagai salah satu kabupaten baru dalam provinsi <strong>Aceh</strong>. Pidie Jaya,<br />
dengan ibukota kabupaten yaitu Kota Meureudu berdasarkan Undangundang<br />
Nomor 7 Tahun 2007 merupakan pemekaran dari Kabupaten<br />
Pidie. Sebagai konsekuensi baik <strong>perubahan</strong> <strong>lahan</strong> yang tidak sesuai<br />
dengan RTRW maupun adanya penebangan liar kian marak terjadi di<br />
hulu DAS Krueng Meureudu. Sehingga perlu adanya sebuah kajian<br />
yang berkaitan antara <strong>lahan</strong>, banjir, dan ketersediaan air.<br />
Ruang lingkup penulisan ini meliputi modifikasi dan pengujian<br />
model tangki, analisa surface runoff, sub surface runoff, dan baseflow,<br />
analisa ketersediaan air, dan identifikasi kondisi DAS Krueng<br />
Meureudu.<br />
METODE PENELITIAN<br />
Daerah Aliran Sungai (DAS)<br />
Sebagai suatu sistem, DAS dapat dipandang dalam dua arah<br />
yakni sebagai sistem hidrologi dan sebagai satu ekosistem alami.<br />
Suatu DAS yang luas dapat terdiri dari beberapa sub-sub DAS<br />
(Anonim 1, 1999).<br />
85
Apabila fungsi dari suatu DAS terganggu, maka sistem hidrologi akan<br />
terganggu, penangkapan curah hujan, resapan dan penyimpanan<br />
airnya, sangat berkurang, atau memiliki aliran permukaan (run off)<br />
yang tinggi. Vegetasi penutup dan tipe penggunaan <strong>lahan</strong> akan kuat<br />
mem<strong>pengaruh</strong>i aliran sungai, sehingga adanya <strong>perubahan</strong> penggunaan<br />
<strong>lahan</strong> akan berdampak pada aliran sungai. Fluktuasi debit sungai yang<br />
sangat berbeda antara musim hujan dan kemarau, menandakan fungsi<br />
DAS tidak bekerja dengan baik. Apabila hal ini terjadi maka dapat<br />
dikatakan bahwa kualitas DAS tersebut rendah (Emilda, 2010).<br />
Curah Hujan<br />
Sebelum data curah hujan digunakan untuk <strong>analisis</strong> hidrologi<br />
lanjutan perlu dilakukan beberapa hal yaitu analisa ketidakadaan<br />
trend, analisas stasioner data, dan analisa ketidakadaan persistensi<br />
data. Hasil analisa atau screenning data hidrologi untuk Stasiun<br />
Meureudu dinyatakan panggah (Subhan, 2010).<br />
Ada empat stasiun hujan di sekitar DAS Krueng Mereudu<br />
yakni Sta. Kota Bakti, Sta. Tangse, Sta. Peudada, dan Sta. Meureudu,<br />
tetapi hanya satu stasiun hujan yang ber<strong>pengaruh</strong> <strong>terhadap</strong> DAS<br />
Krueng Mereudu, yakni Stasiun Hujan Meureudu. Hal ini dapat dilihat<br />
pada Gambar 1 berikut.<br />
Gambar 1. Poligon Thiessen Stasiun Hujan Krueng Meureudu<br />
Sumber : Subhan (2010)<br />
86
Evapotranspirasi<br />
Evapotranspirasi merupakan gabungan antara evaporasi dan<br />
transpirasi [10]. Untuk menduga besarnya evapotranspirasi potensial<br />
(ET0) dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa persamaan<br />
empiris. Hasil perhitungan rata-rata Evapontranspirasi Potensial<br />
dengan Metode Penman dapat dilihat pada Tabel 2 berikut (Yusnardi,<br />
2010):<br />
Tabel 2. Evapontranspirasi potensial<br />
Bulan Eto Bulan Eto<br />
Jan 4,495 Jul 4,765<br />
Feb 4,734 Agt 4,987<br />
Mar 4,766 Sept 4,740<br />
Apr 5,038 Okt 4,681<br />
Mei 4,846 Nov 4,558<br />
Jun 5,062 Des 4,431<br />
Sumber: Yusnardi, 2010<br />
Untuk menghitung nilai Etc harian pada setiap tata guna <strong>lahan</strong><br />
maka ETo dikalikan dengan koefisien tanaman (Kc). Untuk tata guna<br />
<strong>lahan</strong> hutan Kc sebesar 0,6 untuk bulan basah maupun kering, untuk<br />
kebun campuran adalah 0,68 untuk bulan basah dan 0,75 untuk bulan<br />
kering, dan untuk sawah digunakan koefisien tanaman 0,85 untuk<br />
bulan basah dan 1,2 untuk bulan kering. Evaporasi air terbuka yaitu<br />
1,1 ETo (Yulianur, 2005).<br />
Model Hidrologi<br />
Model dalam hidrologi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni<br />
model fisik (physical model), model analog (analog model) dan model<br />
matematik (mathematical model). Pengertian umum model hidrologi<br />
adalah sebuah sajian sederhana dari sebuah sistem hidrologi yang<br />
kompleks (Harto, 2000).<br />
Model tangki adalah suatu metoda matematik nonlinier yang<br />
berdasarkan kepada hipotesis bahwa aliran limpasan dan infiltrasi<br />
merupakan fungsi dari jumlah air yang tersimpan di dalam tanah. Model<br />
tangki adalah model yang paling mendekati untuk setiap daerah aliran<br />
sungai (Sugawara, M., Watanabe, 1984).<br />
87
Metode Model Tangki (Tank Model) yang diperoleh dengan<br />
mengalihragamkan data curah hujan harian menjadi data debit harian,<br />
dengan mencari parameter tangki berdasarkan data observasi yang<br />
tersedia dengan persamaan umum sebagai berikut:<br />
dH<br />
dt<br />
= P<br />
( t)<br />
− ET(<br />
t)<br />
−Y<br />
( t)<br />
dengan:<br />
H = total storage (mm);<br />
P = curah hujan (mm);<br />
ET = evapotranspirasi (mm/hari);<br />
t = waktu (hari).<br />
(1)<br />
Gambar 2. Model Tangki Sugawara<br />
Sumber : Sugawara, 1984<br />
88
Total outflow dari masing-masing tangki tergantung dari parameter<br />
tangki dan<br />
total outflow dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :<br />
Y ( t)<br />
= Ya(<br />
t)<br />
+ Yb(<br />
t)<br />
+ Yc(<br />
t)<br />
+ Yd(<br />
t)<br />
Sesuai atau tidaknya model matematis dengan data dapat<br />
ditunjukkan dengan mengetahui besarnya nilai R 2 atau disebut juga<br />
koefisien determinasi (coefficient of determination). Model persamaan<br />
regresi dikatakan semakin baik apabila besarnya r 2 mendekati 1<br />
(Asdak, 2004).<br />
[ { } ]<br />
[ { } ] [ { } ]⎥ ⎥<br />
2<br />
⎡ ∑( x −<br />
⎤<br />
i yi<br />
) ( ∑ xi<br />
)( ∑ yi<br />
/ n<br />
2<br />
R = ⎢<br />
(3)<br />
2<br />
2<br />
2<br />
2<br />
⎢ ∑ xi<br />
− ( ∑ xi<br />
) / n ∑ yi<br />
− ( ∑ yi<br />
) / n<br />
⎣<br />
Analisis korelasi adalah bentuk <strong>analisis</strong> (statistika) yang menunjukkan<br />
kuatnya hubungan antara dua variabel. Berikut ini dikemukaan cara<br />
perhitungan korelasi (r) dan interpretasi dari koefisien grafis yang<br />
dihasilkannya.<br />
⎡<br />
R = ⎢<br />
⎢<br />
⎣<br />
∑( xi<br />
yi<br />
) − { ( ∑ xi<br />
)( ∑ yi}<br />
/ n<br />
2<br />
2<br />
− { ( ∑ xi<br />
) } / n ∑ yi<br />
− { ( ∑<br />
[ ] ⎥⎥<br />
i n<br />
2<br />
2<br />
[ x<br />
] y ) } /<br />
∑<br />
i<br />
Analisis Ketersediaan Air<br />
Debit andalan adalah jumlah air (debit) yang diperkirakan terusmenerus<br />
ada dalam sungai dalam jumlah tertentu dan dalam jangka<br />
waktu (periode) tertentu pula. Debit andalan ditentukan dengan<br />
mengurutkan data debit rerata bulanan dari urutan besar ke kecil<br />
(Kasuri, 2008). Untuk mendapatkan debit andalan, debit bulanan yang<br />
telah didapat diurutkan dari urutan besar ke urutan kecil. Nomor urut<br />
data yang dikembangkan oleh Weibull (Soemarto, 1995) dapat ditulis<br />
sebagai berikut:<br />
Pr = x 100%<br />
dengan:<br />
Pr = probabilitas (%);<br />
⎤<br />
⎦<br />
⎦<br />
(5)<br />
(2)<br />
(4)<br />
89
n = jumlah tahun data; dan<br />
m = nomor urut data setelah diurut dari besar ke kecil.<br />
Besarnya debit andalan yang diambil untuk penyelesaian optimum<br />
penggunaan air untuk berbagai macam kebutuhan diberikan sebagai<br />
berikut:<br />
Tabel 2. Besarnya Andalan Berbagai Kebutuhan<br />
Untuk penyediaan air minum<br />
Untuk penyediaan air industri<br />
Untuk penyediaan irigasi bagi<br />
- Daerah beriklim setengah lembab<br />
- Daerah beriklim terang<br />
Untuk pembangkit listrik tenaga air<br />
Sumber: Soemarto, 1995<br />
99%<br />
88-95%<br />
70-85%<br />
80-95%<br />
85-90%<br />
Dengan informasi ketersediaan debit andalan, maka berbagai<br />
perencanaan pengoperasian baik untuk air minum, industri, irigasi,<br />
dan PLTA dapat diperhitungkan dengan akurat. Ketersediaan air<br />
untuk berbagai kebutuhan di atas berkaitan dengan pertumbuhan<br />
ekonomi. Simulasi neraca air antara ketersediaan dan kebutuhan air<br />
merupakan modal dasar dalam penyusunan strategi pengelolaan air.<br />
Pengelolaan sumber daya air yang efektif dan efisien mengingat<br />
kompetisi air yang semakin tinggi.<br />
Pembangkitan Data Proses markov<br />
Markov menggunakan model auto-regresif tahunan. Model yang<br />
paling sederhana adalah Markov-Chain. Untuk mendapatkan deret<br />
berkala buatan dengan pertambahan waktu bulanan digunakan<br />
persamaan (Soewarno, 1991):<br />
Xi,j=<br />
Subskrip j menunjukkan jumlah bulan, sedangkan subskrip i<br />
menunjukkan jumlah tahun. Nilai adalah koefisien korelasi serial<br />
antara Xj dan Xj-1. Nilai Sj dan Sj-1 adalah deviasi standar untuk bulan<br />
ke j dan ke j-1.<br />
(6)<br />
90
Tata Guna Lahan Terhadap Ketersediaan Air<br />
Faktor penutup <strong>lahan</strong> cukup signifikan dalam pengurangan<br />
ataupun peningkatan aliran permukaan. Hutan yang lebat mempunyai<br />
tingkat penutup <strong>lahan</strong> yang tinggi, sehingga apabila hujan turun ke<br />
wilayah hutan tersebut, faktor penutup <strong>lahan</strong> ini akan memperlambat<br />
kecepatan aliran permukaan, bahkan bias terjadi kecepatan mendekati<br />
nol (Kodoatie dan Sjarief, 2010).<br />
Ketika suatu kawasan hutan menjadi menjadi pemukiman, maka<br />
penutup <strong>lahan</strong> kawasan ini akan berubah menjadi penutup <strong>lahan</strong> yang<br />
tidak mempunyai resistensi untuk menahan aliran. Yang terjadi ketika<br />
hujan turun, kecepatan air akan meningkat sangat tajam di atas <strong>lahan</strong><br />
ini. Namun resapan air yang masuk ke dalam tanah relatif tetap<br />
kecuali <strong>lahan</strong>nya berubah. Kuantitas totalnya tergantung dari luasan<br />
penutup <strong>lahan</strong> (Kodoatie dan Sjarief, 2010).<br />
Gambaran Kondisi Lahan Kabupaten Pidie Jaya<br />
Selama lima tahun terakhir hingga Tahun 2010, telah terjadi<br />
<strong>perubahan</strong> penggunaan <strong>lahan</strong> di daerah Kabupaten Pidie Jaya.<br />
Perubahan yang terjadi terdiri dari penambahan dan pengurangan<br />
luasan penggunaan <strong>lahan</strong>. Penambahan luasan areal penggunaan <strong>lahan</strong><br />
yang telah terjadi pemukiman, <strong>lahan</strong> terbuka, kebun campuran dan<br />
tambak. Sedangkan yang telah terjadi pengurangan adalah semak<br />
belukar, hutan lebat, kebun campuran dan sawah (Irawan, 2010).<br />
Dari keseluruhan luas wilayah di Kabupaten Pidie Jaya, yang<br />
sesuai penggunaan <strong>lahan</strong> dengan tata ruang adalah 31,71%,<br />
penggunaan <strong>lahan</strong> yang mendukung <strong>terhadap</strong> tata ruang seluas 14,90<br />
%, dan yang tidak sesuai <strong>terhadap</strong> tata ruang seluas 53,40 % [15].<br />
Pengelolaan Kekeringan<br />
Departemen PU membuat suatu ketentuan kebijakan tentang debit<br />
sungai akibat dampak <strong>perubahan</strong> tata guna <strong>lahan</strong> di daerah aliran<br />
sungai tersebut yaitu dengan menyatakan bahwa DAS boleh<br />
dikembangkan/diubah fungsi <strong>lahan</strong>nya dengan zero delta Q policy<br />
atau ∆Q=0. Arti kebijakan ini adalah bila suatu <strong>lahan</strong> di DAS berubah<br />
maka debit sebelum dan sesudah <strong>lahan</strong> diubah harus tetap sama.<br />
Misalnya suatu <strong>lahan</strong> hutan diubah menjadi <strong>lahan</strong> pemukiman maka<br />
debit di suatu titik sungai adalah harus tetap sama. Hal ini dapat<br />
dilakukan dengan cara kompensasi, yaitu pada <strong>lahan</strong> pemukiman<br />
91
harus disisakan <strong>lahan</strong> untuk penahan runoff akibat <strong>perubahan</strong>,<br />
misalnya dengan cara pembuatan sumur resapan, penanaman rumput<br />
atau semak-semak (tanaman) yang lebat dan rendah, pembuata<br />
embung, dan lain-lain (Irawan, 2010).<br />
HASIL DAN PEMBAHASAN<br />
Hasil perhitungan koefisien korelasi (R) linear antara debit model<br />
dengan debit histori untuk Tahun 1995 adalah sebesar R = 0,77,<br />
sedangkan koefisien determinasi adalah sebesar R 2 = 0,55.<br />
Gambar 3. Hubungan Antara Debit Histori dengan Debit Model<br />
Tahun 1995<br />
Hasil perhitungan koefisien korelasi (R) linear antara debit model<br />
dengan debit histori untuk Tahun 1996 adalah sebesar R = 0,77,<br />
sedangkan koefisien determinasi adalah sebesar R 2 = 0,60.<br />
92
Gambar 4. Hubungan Antara Debit Histori dengan Debit Model<br />
Tahun 1996<br />
Besarnya persentase aliran Surface Runoff, Sub Surface Runoff,<br />
dan Baseflow dibandingkan dengan total debit tahunan pada masingmasing<br />
jenis Tata Guna Lahan (TGL) dapat dilihat pada Tabel 3.<br />
Tabel 3. Persentase Aliran dari Debit Total Pada Masing-masing Jenis<br />
TGL<br />
Jenis Aliran<br />
Surface<br />
Runoff<br />
Sub Surface<br />
Runoff<br />
Base Flow<br />
Hutan 0,67 81,49 17,83<br />
Kebun<br />
campuran<br />
69,57 18,34 12,09<br />
Sawah 61,98 29,79 8,22<br />
pemukiman 73,7 26,22 0,07<br />
Tanah Terbuka 79,32 20,5 0,16<br />
93
Nilai debit andalan berdasarkan berbagai jenis kebutuhan yaitu<br />
untuk penyediaan air minum (Q99), penyediaan irigasi (Q80),<br />
penyediaan industri dan pembangkit tenaga listik (Q90) mengalami<br />
penurunan seiring dengan <strong>perubahan</strong> <strong>lahan</strong> dari Tahun 1996 hingga<br />
Tahun 2010. Penurunan debit andalan tidak begitu besar karena hanya<br />
mengambil rentang maksimum 14 tahun. Perbandingan dapat dilihat<br />
secara visual melalui Gambar 5 sampai Gambar 7.<br />
Gambar 5. Debit Andalan (Q80) untuk TGL 1996, 2006,dan 2010<br />
Gambar 6. Debit Andalan (Q90) untuk TGL 1996, 2006, dan 2010<br />
94
Gambar 7. Debit Andalan (Q99) untuk TGL 1996, 2006, dan 2010<br />
Hasil simulasi diperoleh informasi bahwa seiring dengan<br />
adanya <strong>perubahan</strong> tata guna <strong>lahan</strong> pada DAS Krueng Meureudu maka<br />
semakin menurunkan nilai cadangan air pada saat musim kemarau.<br />
Secara visual dapat dilihat melalui Gambar 8 dimana faktor penyebab<br />
kekeringan yaitu <strong>perubahan</strong> tata guna <strong>lahan</strong> yang tidak terkendali.<br />
Gambar 8. Perbandingan Debit Minimum Dengan Perubahan Lahan<br />
Evaluasi DAS dapat juga dilihat berdasarkan Undang-Undang<br />
No. 41 Tahun 1999 Pasal 18, yakni luas kawasan hutan yang harus<br />
dipertahankan adalah 30% dari luas DAS. Berikut adalah persentase<br />
luasan hutan dari total luas DAS.<br />
95
Tabel 4. Evaluasi Persentase Luasan Hutan Berdasarkan Anonim 2<br />
(1999)<br />
Tata Guna Lahan Luas Hutan (%) Evaluasi<br />
Tahun 1996 40,67 >30%<br />
Tahun 2006 35,1 >30%<br />
Tahun 2010 30,9 Mendekati 30%<br />
Dari Tabel 4 dapat kita lihat bahwa seiring berjalannya waktu<br />
maka luas hutan semakin berkurang, hingga pada Tahun 2010 luas<br />
hutan hampir mendekati batas persentase luasan hutan yang harus<br />
dipertahankan.<br />
Permasa<strong>lahan</strong> utama terletak pada kondisi <strong>lahan</strong> DAS Krueng<br />
Meureudu yang kian hari memasuki kondisi buruk. Hasil kajian ini<br />
juga dapat dihubungkan dengan uraian pada hasil kajian Riawan<br />
(2010) bahwa persentase luas <strong>lahan</strong> yang tidak sesuai dengan tata<br />
ruang makin meningkat setiap tahun, hingga pada Tahun 2010<br />
mencapai 53,40%, dari luas total. Sehingga dapat dikatakan bahwa<br />
kondisi DAS Krueng Meureudu semakin mendekati kondisi buruk<br />
juga dikarenakan kurangnya pengawasan <strong>terhadap</strong> pembangunan yang<br />
tidak sesuai dengan tata ruang.<br />
KESIMPULAN<br />
Hasil perhitungan koefisien korelasi dan koefisien determinasi<br />
antara debit model dengan debit histori untuk Tahun 1995 berturutturut<br />
adalah sebesar R=0,74 dan R 2 =0,55. Sedangkan untuk Tahun<br />
1996 adalah sebesar R=0,77 dan R 2 = 0,60.<br />
Hasil analisa surface runoff, sub surface runoff, dan baseflow,<br />
diperoleh informasi bahwa persentase aliran surface runoff terbesar<br />
adalah pada <strong>lahan</strong> kosong (tanpa vegetasi), sedangkan persentase<br />
baseflow tertinggi adalah pada <strong>lahan</strong> hutan. Ini menjadi informasi<br />
bahwa <strong>lahan</strong> hutan sangat menguntungkan dari segi konservasi air<br />
karena dapat meningkatkan ketersediaan air.<br />
Hasil analisa ketersediaan air diperoleh informasi bahwa<br />
ketersediaan air (debit andalan) semakin berkurang seiring dengan<br />
96
<strong>perubahan</strong> tata guna <strong>lahan</strong>, khususnya penutupan <strong>lahan</strong> (cover crop)<br />
yang cenderung berkurang dari tahun ke tahun meyebabkan semakin<br />
menurunkan debit andalan. Hasil analisa <strong>perubahan</strong> tata guna <strong>lahan</strong><br />
pada DAS Krueng Meureudu menurunkan nilai cadangan air pada saat<br />
musim kemarau. Kondisi DAS Krueng Meureudu tergolong buruk<br />
yang dicirikan oleh menurunnya debit andalan. Dengan berkurangnya<br />
debit andalan untuk memenuhi berbagai kebutuhan dapat<br />
mem<strong>pengaruh</strong>i pertumbuhan ekonomi. Dengan melakukan simulasi<br />
neraca air antara ketersediaan dan kebutuhan merupakan modal dasar<br />
dalam penyusunan strategi pengelolaan air yang efektif dan efisien,<br />
mengingat kompetisi air yang semakin tinggi.<br />
Persentase luas hutan di DAS Krueng Meureudu hanya tersisa<br />
30.9%. Persentase luas hutan tersebut merupakan mendekati ambang<br />
batas yang harus dipertahankan berdasarkan Undang-undang No.41<br />
Tahun 1999 Tentang Kehutanan.<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
Anonim 1, 1999, Peraturan Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan<br />
Perhutanan Sosial Tentang Pedoman Monitoring dan Evaluasi<br />
Daerah Aliran Sungai.<br />
Asdak, C., 2004, Hidrologi dan Pengelolaan DAS, Gadjah Mada<br />
University Press, Yogyakarta.<br />
Balai Wilayah Sungai (SWS) Sumatera- 1, 2007, Data Banjir 5 Tahun<br />
Terakhir Provinsi NAD, Pengendalian Banjir dan Perbaikan<br />
Sungai Provinsi NAD, Banda <strong>Aceh</strong>.<br />
Emilda, A., 2010, Identifikasi Karakteristik DAS Cisadane Hulu,<br />
Tesis Program Pasca Sarjana IPB, Bogor<br />
Kasuri, A., 2008, Kajian Penyediaan Air Baku Daerah Aliran Sungai<br />
Krueng <strong>Aceh</strong> Propinsi Nanggroe <strong>Aceh</strong> Darussalam, Tesis,<br />
Universitas Gadjahmada.<br />
Kodoatie, R., dan Sjarief. R, 2010, Tata Ruang Air, Andi Yogyakarta,<br />
Yogyakarta.<br />
Harto, S., 2000, Hidrologi, Teori Masalah dan Penyelesaian, Nafiri<br />
Offset, Yogyakarta.<br />
Maryono, A., 2005, Menangani banjir, Kekeringan dan Lingkungan,<br />
Gajah Mada University Press, Yogyakarta.<br />
97
Soemarto, C.D.,1995, Hidrologi Teknik, Erlangga, Jakarta.<br />
Soewarno, 1991, Hidrologi Aplikasi Metode Statistik untuk Analisa<br />
Data Jilid 1 dan Jilid 2, Nova, Bandung.<br />
Subhan, 2010, Studi Karakteristik Kejadian dan Penanggulangan<br />
Banjir Krueng Meureudu Kabupaten Pidie Jaya, Tesis, Unsyiah.<br />
Sugawara, M., Watanabe, et al., Tank Model With Snow Component,<br />
Research Notes Of National Research Center For Disaster<br />
Prevention, Science and Technology Agency, Japan, 1984.<br />
Yulianur, A, 2005, Debit Kebutuhan Irigasi, Pelatihan Hidrologi,<br />
Balai Pengelolaan SDA WS Peusangan.<br />
Yusnardi, 2010, Tinjauan Perencanaan Jaringan Drainase Irigasi<br />
Teknis Krueng Meureudu Kabupaten Pidie Jaya, Tugas Akhir,<br />
Unsyiah.<br />
98