30.06.2013 Views

Tabloid Edisi 13 Agustus 2011 - BAPPEDA Aceh - Pemerintah Aceh

Tabloid Edisi 13 Agustus 2011 - BAPPEDA Aceh - Pemerintah Aceh

Tabloid Edisi 13 Agustus 2011 - BAPPEDA Aceh - Pemerintah Aceh

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

<strong>Edisi</strong> <strong>13</strong><br />

04<br />

Tahun II<br />

MEI <strong>2011</strong><br />

FOTO: FARID REZA<br />

MEMBANGUN ACEH DENGAN ADIL<br />

<br />

<br />

Pembagian dana otonomi khusus<br />

yang diterima <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> tahun<br />

<strong>2011</strong> ini sekitar Rp 4,5 triliun dan tambahan<br />

bagi hasil migas sekitar Rp 500<br />

miliar Rp 1 triliun/tahunnya, dibagi secara<br />

proporsional dengan rumusan yang<br />

telah ditetapkan dalam Pergub dan Qanun<br />

Nomor 2 tahun 2007 tentang Pembagian<br />

dan Penggunaan Dana Migas dan<br />

Otsus.<br />

<strong>13</strong><br />

<br />

<br />

Pekan ini seakan menjadi milik para<br />

olahragawan <strong>Aceh</strong>. Seluruh pegiat dan<br />

pencinta olahraga <strong>Aceh</strong> larut dalam kegembiraan<br />

luar biasa. Pasalnya, dalam<br />

waktu hampir bersamaan, tiga tim sepakbola<br />

asal <strong>Aceh</strong> (Persiraja Banda <strong>Aceh</strong>,<br />

PSAP Sigli, dan “Timnas” <strong>Aceh</strong>) mencetak<br />

prestasi luar biasa, di tingkat nasional<br />

(Liga Indonesia) dan antarnegara Asia Fa-<br />

<br />

16<br />

<br />

<br />

Khairun Nisa (17) yang terpilih<br />

sebagai Ratu Kopi <strong>Aceh</strong> dan Juara III<br />

Ratu Kopi Nasional menyatakan komitmennya<br />

untuk membantu <strong>Pemerintah</strong><br />

dalam mempromosikan kopi <strong>Aceh</strong> ke<br />

seluruh penjuru tanah air dan manca<br />

negara. Menurutnya, <strong>Aceh</strong> punya potensi<br />

membangkitkan pertumbuhan<br />

ekonomi melalui produk pertanian,<br />

terutama kopi.


2<br />

K<br />

TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />

Dalam tahun <strong>2011</strong> ini, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> masih mene-<br />

<br />

utama.Dengan priotas tersebut diharapkan dapat mendukung<br />

pertumbuhan ekonomi dan mempunyai dampak pengurangan<br />

angka kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja.<br />

tasi<br />

jalan, pelabuhan laut, pelabuhan udara, irigasi, tenaga li-<br />

<br />

dalam struktur tataruang raqan RTRWA 2010-2030. Tujuan<br />

<br />

terciptanya kesejahteraan rakyat secara menyeluruh.<br />

<br />

sangat luas dan besar dalam mewujdukan kesejahteraan<br />

rakyat. Kebutuhan jalan yang layak menjadi tuntutan utama<br />

bagi setiap warga. Petani membutuhkan jalan yang bagus<br />

untuk menjangkau perkotaan dalam memasarkan produk<br />

pertanian. Kondisi jalan yang bagus akan membantu menurunkan<br />

biaya produksi sehingga harganya diharapkan akan<br />

sanggup bersaing dengan produsen lain.<br />

Pembanguan sebuah waduk yang besar dan mampu<br />

Redaksi<br />

PLTD Apung, Obyek Wisata Berkelas Dunia<br />

etika saya berjumpa dengan seorang<br />

mahasiswi dari Australia, beberapa<br />

waktu lalu, saya juga memperkenal-<br />

kan obyek wisata PLTD Apung. “Wow, very<br />

nice PLTD Apung. I think, it is very surprise.<br />

I want visit to PLTD Apung, yap....when I<br />

have the right moment,” ujar Mary, seorang<br />

mahasiswi Adelaide University, saat terbang<br />

bersama saya dari Adelaide menuju Kuala<br />

Lumpur.<br />

Disamping memperkenalkan PLTD<br />

Apung, selanjutnya saya juga ikut mempromosikan<br />

obyek wisata Taman Laut Pulau<br />

Rubiah, Sabang. Mary pun, sangat tertarik<br />

berkunjung ke Sabang.<br />

-------------<br />

Tragedi tsunami yang terjadi pada 26<br />

Desember 2004, telah menyisakan sejumlah<br />

cerita tragis, penuh keajaiban, serta juga<br />

ikut mempersembahkan sejumlah ‘benda<br />

bernilai warisan budaya’ yang menakjubkan<br />

bagi Rakyat <strong>Aceh</strong>.Sejumlah pemimpin<br />

bangsa dan tokoh dunia, merasa tersentak<br />

pada saat melihat sebuah kapal besi raksasa<br />

ternyata ikut pula terseret gelombang tsunami<br />

hingga sejauh 5 Km.<br />

Kapal besi baja itu, bernama Kapal Pembangkit<br />

Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung.<br />

Meskipun ikut terhempas gelombang tsunami,<br />

dan berbenturan dengan beton dan<br />

berbagai rangka besi, namun Kapal PLTD<br />

Apung ini masih utuh berdiri tegak di kawasan<br />

pemukiman penduduk yang padat<br />

di, Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya<br />

Baru, Banda <strong>Aceh</strong>.<br />

PLTD Apung berbobot mati 2600 ton.<br />

Kapal Pembangkit Listrik ini terbawa hanyut<br />

oleh tsunami sejauh 5 km dari Pantai Ulee<br />

Lheue, Banda <strong>Aceh</strong>. ‘Tongkang besi’ ini memiliki<br />

luas; 1600 M2. Mampu menghasilkan<br />

energi listrik sebesar 10,5 Megawat.<br />

Setelah lebih dari 6 tahun tsunami<br />

berlalu, sekarang PLTD Apung ini ramai<br />

dkunjungi turis lokal, nasional dan internasional.<br />

Bahkan di samping kiri dari lokasi<br />

terdamparnya PLTD Apung tersebut, sekarang<br />

sudah siap dibangun ‘Monumen Edukasi<br />

Tsunami’. Di monumen yang diresmikan<br />

pemakaiaanya oleh Gubernur <strong>Aceh</strong> Irwandi<br />

Yusuf itu, terdapat sejumlah taman dan juga<br />

Salam Redaksi<br />

Oleh: Aiyub Syah<br />

Pengembangan pariwisata <strong>Aceh</strong> ke depan, tentu<br />

saja harus tetap berpedoman kepada nilai-nilai<br />

<br />

mempersembahkan nilai-nilai yang rahmatan lil<br />

‘alamin bagi warga masyarakat dunia,”ujar Bustami,<br />

seorang guru dan pemerhati human rights di<br />

Kotamadya Banda <strong>Aceh</strong>.<br />

sejumlah foto dan informasi mengenai peristiwa<br />

tsunami yang menimpa <strong>Aceh</strong>.<br />

Bagi warga Banda <strong>Aceh</strong>, keberadaan<br />

Monumen Tsunami dan obyek wisata PLTD<br />

Apung juga sangat penting. Karena hampir<br />

setiap hari, puluhan warga ikut memberi<br />

sumbangan untuk pengelolaan kawasan<br />

wisata PLTD Apung tersebut. Banyak warga<br />

ikut pula berbelanja dan membeli berbagai<br />

makanan, minuman dan juga produkproduk<br />

industri kecil yang dihasilkan warga<br />

sekitar Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya<br />

Baru, Banda <strong>Aceh</strong>.<br />

Berpotensi jadi obyek<br />

wisata internasional<br />

Berdasarkan informasi yang ditempel di<br />

Monumen Edukasi Tsunami, Desa Punge<br />

Blang Cut, Banda <strong>Aceh</strong>, Kapal PLTD Apung<br />

yang memiliki luas 1600 M2, mampu menghasilkan<br />

daya listrik sebesar 10 Megawat<br />

(MW) lebih. Nah, potensi listrik ini apakah<br />

masih bisa dimanfaatkan atau direvitalisasi<br />

lagi?Banyak turis mancanegara yang bertanya<br />

demikian.<br />

Banyak turis lokal dan global, hingga<br />

kini sangat berhasrat melihat langsung,<br />

benda-benda langka warisan dari peristiwa<br />

tsunami. Terutama, mereka sangat tertarik<br />

untuk berkunjung ke Kapal PLTD Apung.<br />

Serta ke ‘Kapal Tsunami di Lampulo’.<br />

Di sekitar monumen edukasi Kapal<br />

Tsunami Lampulo, Yayasan Bustanussalatin<br />

Infrastruktur sebagai Sentral Pembangunan<br />

<br />

terasa jika tidak diiringi oleh pembangunan jalan dan jembatan<br />

penghubung antardaerah. Begitu pembangunan dermaga,<br />

Tempat Pendaratan Ikan (TPI), bandara, dan beragam<br />

<br />

-<br />

<br />

<br />

yang masih belum memadai dari segi kualitas maupun volu-<br />

truktur,<br />

diharapkan setiap kabupaten/kota di <strong>Aceh</strong> menempatkannya<br />

di urutan prioritas utama. Tidak hanya di level kabupaten/kota,<br />

di level gampong yang merupakan unit terbawah<br />

<br />

<br />

<br />

<br />

Meskipun demikian, pembangunan soft infrastrcture (in-<br />

<br />

<strong>Aceh</strong>. Soft infrastucture yang hingga saat ini masih sangat<br />

Dewan PengarahPenanggung Jawab Kepala Bappeda <strong>Aceh</strong> | Wakil Penanggung Jawab Sekretaris Bappeda<br />

<strong>Aceh</strong> | Pemimpin umum Kasubbag. Umum Bappeda <strong>Aceh</strong> | Pemimpin Redaksi Aswar Liam, Redaktur Pelaksana Fauzi Umar | Dewan Redaksi Hasrati, Ridwan, Emma, |Sekretaris Redaksi Farid Khalikul Reza,<br />

Ahmad Rozi | Bendahara Zulliani | Konsultan Hasan Basri M. Nur | Editor Zamnur Usman | Reporter Heri Hamzah, D Zamzami | Irvan | Jalaluddin Ismail |<br />

Suvie Hendra | IT Candra | Bulqaini Ilyas, Rizki Ratih Emelia, Sarini.<br />

<br />

dibutuhkan masyarakat seperti subsidi biaya pendidikan dan<br />

bantuan kesehatan (Jaminan Kesehatan <strong>Aceh</strong>/JKA) masih<br />

<br />

irigasi dan sejenisnya mempunyai dampak jangka panjang,<br />

maka program beasiswa dan JKA dapat langsung dirasakan<br />

<br />

Mengingat <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> menempatkan diri pada posisi<br />

bahwa keberadaan pemerintah sebagai pelayan rakyat<br />

dan keberadaannya untuk memberi perlindungan dan<br />

mensejahterakan rakyat, maka program bantuan beasiswa<br />

dan JKA tetap dijadikan prioritas. Melanjutkan dua program<br />

pro-rakyat ini sangat memungkinkan dilakukan, mengingat<br />

kondisi ekonomi rakyat yang belum tumbuh secara maksimal<br />

serta masih adanya ketersediaan dana otsus. Dalam hal<br />

ini, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> mempunyai prinsip, rakyat harus dapat<br />

menikmati langsung kue pembangunan dan tidak perlu menunggu<br />

terlalu lama. Apalagi penyisihan sebagian dana pembangunan<br />

untuk dinikmati oleh rakyat tidak akan berdampak<br />

pada penyusutan dana pembangunan sektor lain.<br />

ir iskandar msc<br />

Alamat Redaksi Bappeda <strong>Aceh</strong> Jl.Tgk. H. Muhammad Daud Beureueh No. 26 Banda <strong>Aceh</strong> Telp. (0651) 21440 Fax. (0651) 33654 | Web: bappeda.acehprov.go.id email: tabangunaceh@yahoo.com, tabangunaceh@gmail.com<br />

Redaksi menerima kiriman berita kegiatan pembangunan <strong>Aceh</strong> dan opini dari masyarakat luas. Tulisan diketik dengan spasi ganda dan disertai identitas dan foto penulis, dapat pula dikirim melalui pos atau e-mail<br />

Foto Cover: Hamparan sawah di tepi danau laut tawar Takengon, <strong>Aceh</strong> Tengah.<br />

bersama RANTF-BRR <strong>Aceh</strong>-Nias, bahkan<br />

telah memasang plakat titik bersejarah dari<br />

keberadaan Kapal Tsunami Lampulo tersebut.<br />

Namun di sekitar PLTD Apung, catatan<br />

sejarah itu telah dipasang di dinding ‘Monumen<br />

Edukasi Tsunami’.<br />

Ketika saya berjumpa dengan seorang<br />

mahasiswi dari Australia, beberapa waktu<br />

lalu, saya juga memperkenalkan obyek<br />

wisata PLTD Apung. “Wow, very nice PLTD<br />

Apung. I think, it is very surprise. I want<br />

visit PLTD Apung, yap....when I have the<br />

right moment,” ujar Mary, seorang mahasiswi<br />

Adelaide University, saat terbang<br />

bersama saya dari Adelaide menuju Kuala<br />

Lumpur.<br />

Kisah Mary yang saya nukilkan di<br />

atas, menunjukkan bahwa para generasi<br />

muda di dunia, kini sangat tertarik untuk<br />

berkunjung dan berwisata ke <strong>Aceh</strong>, guna<br />

melihat berbagai warisan benda-benda bersejarah<br />

peninggalan tsunami. Nama <strong>Aceh</strong><br />

kini, kian populer di mata dunia. Terutama<br />

pasca terjadinya tsunami. Hikmah<br />

dari tsunami itu, perlu dijadikan suatu<br />

tahap awal untuk memajukan <strong>Aceh</strong> secara<br />

lebih adil, makmur, dan sejahtera di masa<br />

depan.<br />

“Pengembangan pariwisata <strong>Aceh</strong> ke<br />

depan, tentu saja harus tetap berpedoman<br />

kepada nilai-nilai spiritualitas keacehan yang<br />

sejati. Yaitu selalu mempersembahkan nilainilai<br />

yang rahmatan lil ‘alamin bagi warga<br />

masyarakat dunia,”ujar Bustami, seorang guru<br />

dan pemerhati human rights di Kotamadya<br />

Banda <strong>Aceh</strong>.<br />

Insya Allah, jika kita dapat mengembangkan<br />

manajemen pariwisata <strong>Aceh</strong> secara<br />

profesional, bernilai spiritualitas keislaman<br />

yang kosmopolit, dan humanis, serta cinta<br />

damai, maka dunia pariwisata <strong>Aceh</strong> akan<br />

berjaya di masa depan. Letak <strong>Aceh</strong> sangat<br />

strategis, jika ditinjau dari segi geografis<br />

jalur penerbangan internasional. Demikian<br />

juga jika ditinjau dari segi jalur pelayaran<br />

kapal-kapal internasional.<br />

Penulis adalah: Jurnalis Independen,<br />

pemerhati pariwisata dan pemerhati human<br />

rights.


Ta Tafa Tafakk Ta Tafa Tafakkur Ta Tafa Tafakkur Ta Tafa fa fakk fa fakk kk kkur ur Oleh: Ir. Faizal Adriansyah, M.Si<br />

PEMBANGUNAN UNTUK SIAPA<br />

Sesungguhnya Kami telah menempatkan<br />

kamu sekalian di muka<br />

bumi dan Kami adakan bagimu di<br />

muka bumi itu sumber penghidupan<br />

(Sumberdaya Alam). Amat sedikitlah<br />

kamu bersyukur (QS. Al Araf ayat 10)<br />

Pembangunan pada hakekatnya<br />

<br />

alam untuk meningkatkan kesejahteraan<br />

hidup manusia. Kebijakan tata<br />

ber<br />

daya alam selama ini ternyata<br />

banyak menimbulkan berbagai masalah dan ketidakpuasan<br />

<br />

migas di negeri kita, secara jujur kita akui bahwa hasil pembangunan<br />

tersebut belum dirasakan oleh sebagian besar<br />

rakyat dan belum dapat mendorong pengembangan wilayah<br />

yang menyeluruh dan terpadu, tetapi pada kenyataannya<br />

justru yang terjadi kesenjangan dan kemiskinan. Hal tersebut<br />

dikarenakan konsep awal pengembangannya tidak berorientasi<br />

pada pengembangan masyarakat setempat.<br />

Pengalaman emperik masa lalu tersebut hendaknya dijadikan<br />

pelajaran berharga dalam pengelolaan sumber daya<br />

alam <strong>Aceh</strong> kedepan, Aspek penting dalam tujuan peman-<br />

<br />

daya alam, aspek keadilan, aspek lingkungan, aspek marwah<br />

dan martabat. Berkaitan dengan aspek berkelanjutan<br />

<br />

yang tidak dapat diperbaharui seperti migas agar dapat diinvestasikan<br />

kembali terutama untuk pengembangan sumber<br />

daya manusia, sehingga pada waktunya ketika sumberdaya<br />

alam habis, masyarakat siap untuk menggunakan sumber<br />

daya lainnya. Selain peningkatan sumber daya manusia,<br />

investasi kembali tersebut seharusnya juga dapat menggerakkan<br />

ekonomi masyarakat, sehingga denyut kehidupan<br />

ekonomi masyarakat dapat tetap tumbuh dan berkembang.<br />

Pengelolaan sumber daya alam pada dasarnya meliputi<br />

bidang manajemen sumber daya alam dan bidang<br />

investasi atau penanaman modal. Di bidang manajemen<br />

sumber daya alam seperti inventarisasi dan eksplorasi,<br />

penelitian dan pengembangan, konservasi, lingkungan<br />

agar dilakukan dengan menerapkan konsep pembangunan<br />

yang berkelanjutan. Sedangkan di bidang investasi sumber<br />

daya alam seperti pengaturan penanaman modal, koperasi,<br />

swasta dan perorangan, agar dilaksanakan dengan berorientasi<br />

bagi kemakmuran rakyat.<br />

www.acehimage.com<br />

Kemajuan teknologi internet telah<br />

membius generasi muda <strong>Aceh</strong>. Mudahnya<br />

mendapat jaringan internet membuat<br />

anak-anak <strong>Aceh</strong> menjadi generasi<br />

online; (meminjam istilah Fauzi Umar,<br />

Serambi Indonesia) online dalam semua<br />

kehidupan bahkan hingga larut dalam<br />

permainan poker. Temuan teknologi<br />

yang kian hari kian canggih terlihat<br />

telah salah digunakan. Mereka tidak<br />

mengambil bagian positif saja, melainkan<br />

melarutkan diri dalam permainan<br />

berbau judi yang tidak berguna.<br />

Saat ini, sebagian anak-anak <strong>Aceh</strong><br />

menghabiskan waktu di warung kopi<br />

untuk bermain poker melalui layar laptop.<br />

Terkadang mereka duduk di warung<br />

kopi sejak pagi hingga larut malam. Sebagian<br />

besar dari mereka adalah pelajar/mahasiswa.<br />

Terkadang terlintas di<br />

pikiran kita, adakah waktu bagi mereka<br />

untuk membaca buku, berdiskusi dan<br />

mengerjakan tugas-tugas dari kampus?<br />

Anak muda biasanya tidak tersadar<br />

akan perbuatan yang dapat merugikan<br />

dirinya. Generasi muda selalu butuh peringatan<br />

dari orang tua, guru, dan alim<br />

ulama. Dalam hal ini, kita menyesalkan<br />

tidak terlihat peran instansi terkait, teru-<br />

Poker Nonstop<br />

tama dari Dinas Syariat Islam (DSI) dan<br />

Dinas Pendidikan, untuk upaya menyadarkan<br />

mereka dari kesenangan fatamorgana<br />

itu. DSI justru lebih tertarik merazia<br />

perempuan bercelana jeans daripada<br />

mengingatkan mereka yang sedang larut<br />

dalam dunia poker.<br />

Kondisi ini dapat menyebabkan lahirnya<br />

generasi yang tidak siap dalam<br />

menghadapi tantangan global yang kian<br />

TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> 3<br />

membahana. Seharusnya fasilitas laptop<br />

dan internet yang dimilki dapat digunakan<br />

untuk hal-hal bermanfaat dalam<br />

menjalin kemitraan dengan orang/lembaga<br />

serta melacak ilmu-ilmu terbaru<br />

untuk dapat dibahas dalam perkuliahan.<br />

Assaffan<br />

Mahasiswa Ekonomi<br />

Serambi Mekkah, Banda <strong>Aceh</strong>


4<br />

U<br />

TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />

saha keras <strong>Pemerintah</strong>an <strong>Aceh</strong> untuk<br />

mengumpulkan dana pembangunan<br />

dari <strong>Pemerintah</strong> Pusat, telah mem-<br />

buahkan hasil. Badan Perencanaan Pembangunan<br />

Daerah (Bappeda) <strong>Aceh</strong> mencatat,<br />

pada tahun <strong>2011</strong> ini, Provinsi <strong>Aceh</strong> mendapatkan<br />

kucuran dana sebesar Rp 7,965 triliun<br />

dari lima jenis anggaran yang bersumber<br />

dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja<br />

Nasional) <strong>2011</strong>.<br />

Di luar dana APBN itu, Provinsi <strong>Aceh</strong><br />

juga mendapat kucuran dana dari sumber<br />

Otonomi Khusus (Otsus) yang akan diterima<br />

<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> tahun <strong>2011</strong> ini sekitar Rp 4,5<br />

triliun. Juga dana tambahan bagi hasil minyak<br />

dan gas (migas) yang nilainya berkisar Rp<br />

500 miliar Rp 1 triliun setiap tahunnya.<br />

Dana dari kedua sumber ini (Otsus dan<br />

Migas) sudah include dalam Anggaran Pendapatan<br />

dan Belanja <strong>Aceh</strong> (APBA) <strong>2011</strong> yang<br />

sudah disahkan DPRA dengan nilai Rp 7,089<br />

triliun, beberapa waktu lalu. Dengan demikian,<br />

total dana untuk membangun <strong>Aceh</strong><br />

tahun ini mencapai Rp 15 triliun.<br />

Besarnya dana pembangunan yang diterima<br />

<strong>Aceh</strong> tahun ini, tentu menimbulkan<br />

berbagai spekulasi dari elemen masyarakat<br />

<strong>Aceh</strong>. Harapan akan terwujudnya <strong>Aceh</strong> yang<br />

lebih baik, berjalan beriringan dengan kekhawatiran<br />

terhadap kemungkinan adanya penyelewengan<br />

maupun ketidakadilan dalam<br />

pembagian dana atau “kue” pembangunan ini.<br />

Keadaan tersebut tampaknya sudah disadari<br />

jauh-jauh hari oleh Gubernur <strong>Aceh</strong> Irwandi<br />

Yusuf. Hal ini tercermin dari isi sambutannya<br />

pada penutupan Masa Persidangan<br />

I DPR <strong>Aceh</strong> tahun <strong>2011</strong>, di Gedung DPRA,<br />

Jalan Tgk Daud Beureueh, Banda <strong>Aceh</strong>, Selasa<br />

(26/04/<strong>2011</strong>) lalu.<br />

Saat itu, Gubernur yang akrab disapa<br />

Tgk Agam ini mewanti-wanti para pengelola<br />

anggaran di <strong>Aceh</strong> wajib menjaga amanah<br />

rakyat, agar pembangunan dan program<br />

pemberdayaan ekonomi masyarakat yang<br />

dilaksanakan seluruh jajaran <strong>Pemerintah</strong><br />

<strong>Aceh</strong> bisa memberi dampak langsung bagi<br />

perbaikan hidup rakyatnya. (Baca: Pengelola<br />

Anggaran Wajib Jaga Amanah Rakyat)<br />

Tidak hanya itu, dalam wawancara khusus<br />

dengan reporter Tabangun <strong>Aceh</strong>, Minggu<br />

(15/05/<strong>2011</strong>) lalu, di Banda <strong>Aceh</strong>, Gubernur<br />

K<br />

epala Bappeda <strong>Aceh</strong> Iskandar mengatakan,<br />

anggaran belanja pembangunan<br />

yang bersumber dari APBN<br />

maupun APBA yang penggunaannya di luar<br />

untuk gaji pegawai, aparatur pemerintah,<br />

dan operasional kantor, diarahkan untuk<br />

percepatan pembangunan ekonomi rakyat,<br />

terutama untuk ketahanan pangan, listrik,<br />

dan lainnya.<br />

<br />

APBA <strong>2011</strong> adalah diutamakan untuk peningkatan<br />

produksi padi, jagung, dan sejenisnya.<br />

Iskandar mengatakan, kebijakan<br />

ini dijalankan karena kebutuhan dan<br />

permintaan pangan terus meningkat, sementara<br />

produksinya cenderung menurun.<br />

“Oleh karena itu, untuk menyikapi ancaman<br />

kekurangan pangan itu akbat pemanasan<br />

global, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> mem-<br />

annya<br />

pada sub sektor tanaman pangan,”<br />

ujar Iskandar kepada Tabangun <strong>Aceh</strong>, Minggu<br />

(15/05/<strong>2011</strong>).<br />

<br />

kata Iskandar, perbaikan jaringan dan<br />

bendungan irigasi lama, serta pembangunan<br />

bendungan irigasi baru, menjadi prioritas<br />

dalam APBA <strong>2011</strong> ini. Alokasi anggaran<br />

untuk kegiatan itu mencapai Rp 370<br />

miliar.<br />

Sedangkan untuk peningkatan produksi<br />

gabahnya, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> telah mengalokasi<br />

dana sebesar Rp 162 miliar. Tugas<br />

Irwandi Yusuf juga menegaskan<br />

bahwa seluruh dana pembangunan<br />

yang diterima oleh<br />

<strong>Aceh</strong> tahun ini dibagi secara<br />

proporsional, yakni berimbang<br />

dengan mengutamakan azas<br />

keadilan dan sesuai dengan kebutuhan.<br />

Tidak ada istilah “anak<br />

tiri atau anak kandung”, tidak<br />

ada pula diskriminasi antarwilayah,<br />

seperti pantai baratselatan,<br />

pantai utara-timur,<br />

atau pun wilayah tengah-tenggara.<br />

Menegaskan komitmen ini, Irwandi Yusuf<br />

menyebut salah satu contoh pembagian<br />

alokasi dana APBN <strong>2011</strong>, yakni <strong>Aceh</strong> Barat<br />

Daya yang merupakan daerah pemekaran<br />

dari <strong>Aceh</strong> Selatan menerima dana APBN<br />

<strong>2011</strong> Rp 73,7 miliar, sementara Pidie Jaya<br />

yang juga merupakan daerah pemekaran<br />

dari Kabupaten Pidie, menerima Rp 50 miliar.<br />

Pembagian ini, tentunya melalui rumus<br />

yang telah ditetapkan pemerintah pusat un-<br />

tuk membangun daerah.<br />

Begitu juga dengan pembagian<br />

dana otonomi khusus<br />

yang akan diterima <strong>Pemerintah</strong><br />

<strong>Aceh</strong> tahun <strong>2011</strong> ini sekitar<br />

Rp 4,5 triliun dan tambahan<br />

bagi hasil migas sekitar Rp<br />

500 miliar Rp 1 triliun/tahunnya,<br />

dibagi secara proporsional<br />

dengan rumusan yang telah<br />

ditetapkan dalam Pergub dan<br />

Qanun Nomor 2 tahun 2007<br />

tentang Pembagian dan Penggunaan<br />

Dana Migas dan Otsus.<br />

“Jadi sangat tidak beralasan, jika ada<br />

yang menyatakan pembagian anggaran<br />

belanja pembangunan dari sumber APBN<br />

maupun APBA antarwilayah itu belum<br />

proporsional atau belum adil, sangat tidak<br />

beralasan,” kata Gubernur Irwandi Yusuf<br />

yang didampingi Ketua Bappeda <strong>Aceh</strong>, Ir<br />

Iskandar MSc kepada Tabangun <strong>Aceh</strong>, Minggu<br />

(15/05/<strong>2011</strong>).<br />

Iskandar menyebutkan, jumlah dana<br />

APBN <strong>2011</strong> untuk <strong>Aceh</strong> yang berhasil di-<br />

<br />

Dana <strong>2011</strong> Dibagi Secara Adil<br />

untuk menjalankan program ini<br />

dibebankan kepada Dinas Pertanian<br />

Tanaman Pangan.<br />

Selanjutnya, Badan Ketahanan<br />

Pangan <strong>Aceh</strong> mendapatkan<br />

porsi tugas untuk<br />

mendukung program peningkatan<br />

produksi pangan. Adapun<br />

anggaran untuk menjalankan<br />

program ini telah dialokasikan<br />

sebesar Rp 43 miliar.<br />

“Jadi, jumlah anggaran yang<br />

dialokasikan untuk ketiga SKPA<br />

pendukung pelaksanaan peningkatan<br />

ketahanan pangan ini hampir<br />

mencapai Rp 800 miliar. Karenanya kita<br />

harapkan program ini bisa menaikkan<br />

produksi padi dan menambah stok beras<br />

di <strong>Aceh</strong> tahun ini menjadi lebih aman lagi,”<br />

ujar Iskandar.<br />

Tidak hanya untuk program ketahanan<br />

pangan, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> juga telah mengalokasikan<br />

anggaran yang cukup besar,<br />

yakni mencapai Rp 104 miliar, untuk meningkatkan<br />

ketahanan di bidang peternakan.<br />

Alokasi anggaran sebesar itu akan<br />

digunakan untuk program pengembangan<br />

ternak sapi, kerbau, kambing, ayam potong,<br />

ayam petelur, dan pemberantasan<br />

penyakit menular pada hewan.<br />

Kemudian untuk sektor perkebunan<br />

dan kehutanan dialokasikan anggaran lebih<br />

besar lagi, mencapai Rp 225 miliar. Ang-<br />

ALOKASI APBN ACEH BERDASARKAN JENIS KEWENANGAN TAHUN <strong>2011</strong><br />

garan sebanyak itu akan digunakan<br />

untuk pemeliharaan<br />

hutan dan pengembangan<br />

tanaman unggul perkebunan,<br />

seperti kelapa sawit, kako, karet,<br />

kopi, nilam, pinang, dan<br />

lainnya.<br />

Iskandar menyebutkan,<br />

sektor kehutanan dan perkebunan<br />

ini, sama pentingnya<br />

dan strategisnya seperti bidang<br />

pertanian. “Kedua bidang<br />

ini punya kaitan erat, karena<br />

tanpa pemeliharaan hutan dan<br />

perkebunan yang baik, akan membawa<br />

dampak yang buruk terhadap program<br />

pertanian,” ungkap Iskandar.<br />

<br />

Kepala Bappeda <strong>Aceh</strong> ini memberikan contoh,<br />

banjir bandang yang terjadi di Tangse,<br />

tiga bulan lalu. Di mana ratusan unit rumah<br />

dan ratusan hektare lahan sawah dan<br />

pertanian rusak, bahkan hingga kini tidak<br />

bisa ditanami padi dan tanaman palawija<br />

lainnya.<br />

Akibatnya, ratusan petani di Tangse<br />

yang bermata pencaharian sebagai petani<br />

menjadi pengangguran karena lahan pertaniannya<br />

belum bisa ditanami padi, cabe,<br />

dan tanaman palawija lainnya.<br />

Tidak bisa dipungkiri, bencana banjir<br />

bandang dan longsor seperti yang menimpa<br />

Tangse ini, adalah akibat dari pen-<br />

himpun Bappeda <strong>Aceh</strong> mencapai Rp 7,965<br />

triliun. Dana itu bersumber dari lima jenis<br />

anggaran.<br />

Pertama, dari sumber dana Dekonsentrasi<br />

(DK) Rp 484,8 miliar. Anggaran ini hanya<br />

diperuntukkan bagi <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong>. Kedua<br />

dari sumber Tugas Perbantuan (TP) Rp 510<br />

miliar, senilai Rp 305,5 miliar untuk <strong>Pemerintah</strong><br />

<strong>Aceh</strong>, sisanya Rp 205 miliar lagi dibagi 23<br />

kabupaten/kota secara proporsional.<br />

Ketiga, dari sumber Kantor Daerah (KD)<br />

senilai Rp 4,012 triliun, untuk Provinsi Rp<br />

1,668 triliun, selebihnya Rp 2,344 triliun<br />

dibagi untuk 23 kabupaten/kota. Kemudian<br />

dana dari sumber Kantor Pusat (KP) sebesar<br />

Rp 2,630 triliun, dimana Provinsi menerima<br />

Rp 2,526 triliun, dan sisanya Rp 104 miliar<br />

dibagi untuk 18 daerah.<br />

Terakhir, dana dari sumber Urusan Bersama<br />

(UB) sebesar Rp 328,4 miliar. Dana sebesar<br />

itu dibagi habis untuk 17 kabupaten/kota,<br />

sedangkan Provinsi tidak menerimanya. (Selengkapnya<br />

lihat tabel Alokasi APBN <strong>Aceh</strong><br />

Berdasarkan Jenis Kewenangan Tahun<br />

<strong>2011</strong>).(hh)<br />

NO PROPINSI/KAB/KOTA DK TP KD KP UB TOTAL<br />

1 2 3 4 5 6 7 8<br />

1 <strong>Aceh</strong> 484,8<strong>13</strong>,017,000 305,577,649,000 1,668,807,036,000 2,526,487,401,000 0 4,985,685,103,000<br />

2 <strong>Aceh</strong> Barat <strong>13</strong>,973,280,000 117,155,859,000 1,670,000,000 0 <strong>13</strong>2,799,<strong>13</strong>9,000<br />

3 <strong>Aceh</strong> Barat Daya 4,657,250,000 48,495,168,000 0 20,621,635,000 73,774,053,000<br />

4 <strong>Aceh</strong> Besar 11,743,893,000 166,785,523,000 14,168,028,000 19,162,805,000 211,860,249,000<br />

5 <strong>Aceh</strong> Jaya 3,160,180,000 80,066,983,000 1,500,000,000 7,380,915,000 92,108,078,000<br />

6 <strong>Aceh</strong> Selatan 9,093,868,000 92,342,675,000 1,330,000,000 20,141,065,000 122,907,608,000<br />

7 <strong>Aceh</strong> Tamiang 12,263,183,000 69,703,771,000 830,000,000 9,200,355,000 91,997,309,000<br />

8 <strong>Aceh</strong> Tengah 16,584,381,000 108,716,452,000 1,200,000,000 34,473,830,000 160,974,663,000<br />

9 <strong>Aceh</strong> Tenggara 4,548,730,000 93,997,668,000 3,190,000,000 20,791,885,000 122,528,283,000<br />

10 <strong>Aceh</strong> Timur 16,772,573,000 114,833,771,000 2,250,000,000 30,450,175,000 164,306,519,000<br />

11 <strong>Aceh</strong> Utara 21,894,725,000 140,341,629,000 0 35,468,735,000 197,705,089,000<br />

12 Banda <strong>Aceh</strong> 1,159,544,000 218,156,301,000 25,510,000,000 0 244,825,845,000<br />

<strong>13</strong> Bener Meriah <strong>13</strong>,052,615,000 54,773,290,000 1,500,000,000 10,596,885,000 79,922,790,000<br />

14 Bireuen 19,647,263,000 146,205,657,000 0 24,693,605,000 190,546,525,000<br />

15 4,459,840,000 45,209,364,000 1,500,000,000 11,194,555,000 62,363,759,000<br />

16 Langsa 885,220,000 109,314,615,000 8,040,000,000 0 118,239,835,000<br />

17 Lhoksumawe 2,674,030,000 229,173,770,000 9,930,000,000 0 241,777,800,000<br />

18 Nagan Raya 9,285,378,000 75,031,715,000 1,500,000,000 8,476,825,000 94,293,918,000<br />

19 Pidie 11,349,733,000 231,554,404,000 1,350,000,000 30,674,495,000 274,928,632,000<br />

20 Pidie Jaya <strong>13</strong>,030,<strong>13</strong>3,000 8,982,083,000 2,250,000,000 25,786,805,000 50,049,021,000<br />

21 Sabang 885,220,000 71,693,596,000 16,588,311,000 0 89,167,127,000<br />

22 Simeulue 3,735,650,000 46,893,102,000 0 8,765,505,000 59,394,257,000<br />

23 Singkil 5,707,640,000 64,494,343,000 0 10,552,565,000 80,754,548,000<br />

24 Subulusalam 4,085,000,000 9,451,267,000 9,220,000,000 0 22,756,267,000<br />

TOTAL 484,8<strong>13</strong>,017,000 510,226,978,000 4,012,180,042,000 2,630,0<strong>13</strong>,740,000 328,432,640,000 7,965,666,417,000<br />

Sumber: Bappeda <strong>Aceh</strong> <strong>2011</strong><br />

<br />

Ketahanan Pangan Jadi Fokus APBA<br />

<br />

ebangan pohon di kawasan hutan lindung.<br />

“Bencana itu bisa membawa petaka besar,<br />

bagi manusia, tidak hanya akan merusak<br />

harta benda, tapi juga dapat menelan korban<br />

jiwa,” kata Iskandar.<br />

Parahnya lagi, lanjut Iskandar, puluhan<br />

bendungan irigasi desa yang menjadi sumber<br />

air daerah persawahan di Tangse, telah<br />

jebol dan rusak. Akibatnya, air tidak bisa<br />

dialirkan lagi ke areal sawah petani.<br />

Dalam kaitan ini, Bappeda <strong>Aceh</strong> juga<br />

telah menyusun program dan anggaran<br />

sekitar Rp 428 miliar untuk memperbaiki<br />

dungan<br />

irigasi, dan pembersihan areal pertanian<br />

yang rusak akibat banjir bandang<br />

itu. “Kebutuhan anggaran itu akan kita<br />

usulkan dalam program APBN dan APBA<br />

melalui sumber dana tanggap darurat atau<br />

anggaran murni APBN maupun APBA tahun<br />

ini dan tahun depan,” ujar Iskandar.<br />

Kepala Bappeda <strong>Aceh</strong> berharap program<br />

pemulihan Tangse ini, serta semua<br />

program pembangunan di seluruh pelosok<br />

<strong>Aceh</strong> lainnya berjalan sesuai dengan perencanaan<br />

yang telah disusun. Jangan<br />

ada lagi pihak yang bertindak di luar kewenangan<br />

dan ketentuan, sehingga seluruh<br />

rakyat di berbagai pelosok <strong>Aceh</strong>, dari<br />

tengah, timur, utara, barat, selatan, dan<br />

tenggara, dapat menikmati “kue” pembangunan<br />

dan damai dalam kemakmuran dan<br />

makmur dalam kedamaian.(hh)


K<br />

T<br />

etua DPR <strong>Aceh</strong>, Drs H Hasbi Abdullah<br />

mengingatkan seluruh jaja-<br />

ran Satuan Kerja <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong><br />

(SKPA) agar bekerja serius untuk menjalankan<br />

semua program yang telah disetujui<br />

dalam APBA <strong>2011</strong>. Jajaran SKPA perlu selalu<br />

mengingat bahwa rumitnya pembahasan<br />

RAPBA <strong>2011</strong> oleh legislatif bersama ekskutif,<br />

hingga akhirnya disahkan menjadi APBA<br />

<strong>2011</strong>, semata-mata karena tujuan untuk<br />

menghasilkan program pembangunan yang<br />

dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan<br />

bagi seluruh rakyat <strong>Aceh</strong>.<br />

Karenanya, Ketua DPR <strong>Aceh</strong> mengharapkan<br />

agar dalam tahun <strong>2011</strong> ini tidak ada lagi<br />

temuan proyek APBA yang telantar karena<br />

ditinggal kontraktor pelaksana maupun alasan<br />

lainnya. “Kemakmuran dan kesejahteraan<br />

itu tidak akan bisa diperoleh rakyat dengan<br />

merata, jika setiap tahunnya dalam pelaksanaan<br />

APBA masih banyak ditemukan proyek<br />

yang tak selesai,” kata Hasbi Abdullah kepada<br />

Tabangun <strong>Aceh</strong>, Jumat (15/05/<strong>2011</strong>), ketika dimintai<br />

tanggapan dan harapannya terhadap<br />

pelaksanaan APBA <strong>2011</strong>.<br />

Hasbi Abdullah mengatakan, jika dilihat<br />

dari laporan yang disampaikan Gubernur<br />

<strong>Aceh</strong> Irwandi Yusuf dalam Pengantar<br />

Nota Keuangan RAPBA <strong>2011</strong> terhadap realisasi<br />

keuangan dan fisik proyek APBA 2010<br />

lalu, cukup menggembirakan pihak DPRA.<br />

Karena daya serap anggarannya di atas 90<br />

persen, begitu juga fisiknya. “Ini artinya,<br />

kinerja eksekutif tahun 2010 lebih baik dari<br />

2009,” ujarnya.<br />

Guna membuktikan atau menguji tentang<br />

meningkat tidaknya kinerja eksekutif<br />

tahun 2010 itu, kata Hasbi, DPRA akan<br />

menggunakan dua alat ukur. Pertama hasil<br />

audit BPK terhadap pelaksanaan APBA 2010,<br />

dan kedua hasil reses anggota DPRA ke 23<br />

kabupaten/kota berdasarkan daerah pemilihannya<br />

masing-masing.<br />

Dikatakan, berdasarkan Laporan Hasil<br />

Pemeriksaan (LHP) APBA 2009 lalu dari BPK<br />

Perwakilan <strong>Aceh</strong>, kinerja pelaksanaan APBA<br />

2009 belum mendapat nilai wajar tanpa<br />

pengecualian (WTP), tapi baru mendapat<br />

ahun <strong>2011</strong> merupakan tahun keempat<br />

pelaksanaan Rencana Pembangunan<br />

Jangka Menengah <strong>Aceh</strong> (RPJM-<strong>Aceh</strong>)<br />

sebagai mana tertuang dalam Visi dan Misi<br />

<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> 2007-2012. RPJM ini kemudian<br />

dirumuskan dan dijabarkan lebih operasional<br />

ke dalam sejumlah program prioritas<br />

sehingga lebih mudah diimplementasikan<br />

dan diukur tingkat keberhasilannya.<br />

Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan<br />

Ekonomi dan Ketenaga Kerjaan Bappeda<br />

<strong>Aceh</strong>, Ir. TM. Bastian, M.Si, kepada Tabangun<br />

<strong>Aceh</strong>, Selasa (10/05/<strong>2011</strong>) mengatakan, sebagian<br />

besar sumber daya dan kebijakan akan<br />

diprioritaskan untuk menjamin implementasi<br />

dari 7 prioritas <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong>.<br />

Ketujuh prioritas dimaksud adalah, Penguatan<br />

pemerintahan, politik dan hukum;<br />

Pemberdayaan ekonomi masyarakat, perlu-<br />

asan kesempatan kerja dan penanggulangan<br />

kemiskinan; Pembangunan dan pemeliharaan<br />

infrastruktur pendukung investasi;<br />

Pembangunan pendidikan yang bermutu<br />

dan merata; Peningkatan pelayanan kesehatan<br />

berkualitas; Pembangunan agama, sosial<br />

dan budaya; dan penanganan dan pengurangan<br />

resiko bencana.<br />

Dari ketujuh prioritas itu, ada satu yang<br />

paling mendapat perhatian luas, yaitu prioritas<br />

pemberdayaan ekonomi masyarakat,<br />

perluasan kesempatan kerja, dan penanggulangan<br />

kemiskinan.<br />

Terkait hal ini, Bastian mengatakan, seperti<br />

kebanyakan daerah lain di Indonesia,<br />

<strong>Aceh</strong> juga masih berkutat seputar isu permasalahan<br />

dan tantangan utama di bidang<br />

ekonomi makro, yaitu masih rendahnya<br />

pertumbuhan ekonomi, tingginya tingkat<br />

pengangguran dan kemiskinan jika dibandingkan<br />

dengan rata-rata nasional.<br />

Karena itu, Bappeda <strong>Aceh</strong> menetapkan<br />

empat prioritas dan sasaran utama pembangunan<br />

bidang ekonomi <strong>Aceh</strong>, yaitu:<br />

Pertumbuhan Ekonomi: Pertumbuhan ekonomi<br />

<strong>Aceh</strong> (harga konstan) pada tahun<br />

<strong>2011</strong> diharapkan dapat tumbuh secara berkualitas<br />

dengan migas di atas 2,7 persen,<br />

dan tanpa migas 5,5-6,0 persen. Pengertian<br />

pertumbuhan ekonomi yang berkualitas<br />

adalah pertumbuhan yang meliputi progrowth,<br />

pro-poor, dan pro-job. Dengan demikian<br />

target pertumbuhan tersebut diharapkan<br />

sekaligus dapat menurunkan tingkat<br />

kemiskinan dan pengangguran yang<br />

terjadi melalui pelaksanaan program/<br />

kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat,<br />

mendorong terciptanya lapangan<br />

kerja dan kemudahan usaha yang seluasluasnya<br />

bagi masyarakat dengan fokus sasaran<br />

adalah masyarakat yang berada di<br />

pedesaan.<br />

Secara nasional kondisi ekonomi tahun<br />

<strong>2011</strong> diperkirakan semakin membaik, hal<br />

ini tercermin dari capaian pertumbuhan<br />

ekonomi nasional pada tahun 2010 yang<br />

mencapai 6,1 persen atau melebihi target.<br />

Demikian juga dengan kondisi ekonomi<br />

regional Sumatera yang juga memperlihatkan<br />

kinerja semakin membaik, seperti<br />

Sumatera Utara yang tumbuh sebesar 6,35<br />

TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> 5<br />

Ketua DPRA:<br />

Jangan Ada Lagi Proyek Telantar<br />

opini wajar dengan pengecualian (WDP).<br />

Karenanya, peningkatan kinerja SKPA<br />

tahun 2010 lalu, baru bisa dikatakan berkualitas,<br />

jika BPK memberikan opini atau penilaian<br />

terhadap LHP APBA 2010 nanti WTP.<br />

Jika masih mendapat opini WDP, peningkatan<br />

kinerjanya hanya untuk daya serap<br />

angaran saja, alias belum berkualitas secara<br />

menyeluruh.<br />

Sementara untuk pelaksanaan APBA<br />

<strong>2011</strong> ini, Ketua DPRA ini menekankan eksekutif<br />

harus lebih ekstra ketat lagi mengawasi<br />

pelaksanaan proyek fisik, pengadaan, serta<br />

jasa konsultannya.<br />

Tgk Hasbi Abdullah secara khusus mengomentari<br />

tentang program memberikan<br />

pelayanan berobat gratis kepada masyarakat<br />

miskin yang diberinama program Jaminan<br />

Kesehatan <strong>Aceh</strong> (JKA). Ketua DPR <strong>Aceh</strong> ini<br />

menginginkan agar pelaksanaan JKA pada<br />

tahun ini harus bisa lebih baik dari tahun<br />

lalu. Apalagi, alokasi anggarannya lebih besar<br />

dari tahun lalu, yakni hampir mendekati<br />

Rp 400 miliar.<br />

“Kalau tahun lalu, masih belajar. Tapi<br />

tahun ini tidak lagi dalam posisi belajar,<br />

melainkan sudah sampai pada tahap pengendalian<br />

program dan keuangan untuk<br />

mencapai hasil pelayanan kesehatan yang<br />

berkualitas, tanpa ada kebocoran dan pemborosan,”<br />

ujarnya.<br />

Kekhawatiran Ketua DPR <strong>Aceh</strong> ini bukan<br />

tanpa alasan. Pasalnya, jika melihat<br />

alokasi anggaran yang cukup besar itu, tidak<br />

tertutup kemungkinan bakal banyak orang-<br />

orang yang terlibat dalam jaringan pelaksanaan<br />

dan pengawasan program JKA itu,<br />

bermain untuk mendapatkan manfaat keuntungan<br />

pribadi maupun kelompok.<br />

“Hal ini perlu diwaspadai, sehingga anggaran<br />

JKA yang besar tadi, penggunaannya<br />

jadi tepat sasaran, efisien, dan efektif. Sehingga<br />

dapat mengurangi jumlah kematian bayi,<br />

ibu melahirkan, serta meningkatkan indikator<br />

derajat kesehatan orang <strong>Aceh</strong> yang masih<br />

berada di bawah rata-rata nasional,” ujarnya.<br />

Sementara untuk bidang pendidikan,<br />

Tgk Hasbi mengingatkan agar penyaluran<br />

dana bantuan pendidikan bagi anak yatim<br />

piatu sebesar Rp 1,8 juta/anak/tahun itu<br />

jangan lagi terlambat. Pada awal tahun ajaran<br />

baru, yaitu bulan Juni atau Juli, Disdik<br />

<strong>Aceh</strong> harus segera menyalurkan dana itu ke<br />

rekening masing-masing penerima bantuan.<br />

“Penyaluran harus tepat waktu, agar dana<br />

itu memberikan manfaat yang tepat bagi<br />

penerima bantuan,” kata Ketua DPRA mewanti-wanti.<br />

Begitu juga dengan penyaluran honor<br />

guru bantu, guru kontrak, guru pengajian,<br />

dan tunjungan khusus guru terpencil, serta<br />

dana kesejahtraan guru, agar tidak lagi<br />

molor. Apalagi, untuk tahun ini, sudah lima<br />

bulan honor guru bantu/kontrak dan terpencil,<br />

Polhut, Satpol PP dan WH serta tenaga<br />

honorer lainnya belum dibayar, sebagai akibat<br />

terlambatnya pengesahan APBA <strong>2011</strong>.<br />

Program lainnya, lanjut Hasbi, penyaluran<br />

dana BKPG, harus secepatnya dilaksanakan.<br />

Tujuannya, supaya di desa terjadi per-<br />

putaran uang yang lebih banyak, sehingga<br />

prekonomian masyarakat desa kembali<br />

hidup.<br />

Kemudian program pemberdayaan<br />

ekonomi rakyat, seperti penyaluran benih<br />

padi, bibit tanaman perkebunan, dan perikanan<br />

kepada rakyat. Untuk program ini,<br />

Ketua DPRA meminta SKPA terkait agar<br />

segera melaksanakan kegiatan lelang dan memilih<br />

rekanan yang profesional dan bonafide<br />

untuk menjadi pemenangnya.<br />

Hal ini bertujuan supaya benih dan<br />

bibit yang disalurkan berkualitas dan bisa<br />

secepatnya diterima penerima bantuan. “Ini<br />

penting dilakukan, supaya dalam pengadaan<br />

bibit atau benih yang dilaksanakan tahun ini<br />

tidak lagi ditemukan bibit berkualitas rendah<br />

atau palsu oleh jaksa dan polisi,” ujarnya<br />

mengingatkan.<br />

Untuk program syariah dan dayah, Tgk<br />

Hasbi Abdullah mengatakan program ini<br />

harus menitikberatkan pada upaya menangkal<br />

masuknya aliran sesat atau ajaran pendangkalan<br />

aqidah ke <strong>Aceh</strong>.<br />

Tugas ini, kata Hasbi Abdullah, menjadi<br />

tugas kita bersama. DPRA sudah mengalokasikan<br />

anggaran untuk Badan Pembinaan Dayah<br />

dan Dinas Syariat Islam mencapai Rp 115<br />

miliar. Ini merupakan anggaran yang cukup<br />

lumayan besar untuk program penangkal pendangkalan<br />

aqidah umat Islam di <strong>Aceh</strong>.<br />

Terakhir, untuk bidang pariwisata, budaya,<br />

dan sosial, Ketua DPRA mengingatkan agar<br />

dalam pelaksanaan programnya perlu memperhatikan<br />

adat istiadat masyarakat <strong>Aceh</strong>.<br />

Ketua DPR <strong>Aceh</strong> ini mengatakan,<br />

pengembangan industri pariwisata sangat<br />

perlu di <strong>Aceh</strong>. Apalagi pascabencana tsunami,<br />

banyak objek wisata yang bisa dilihat<br />

wisatawan, mulai dari lokasi PLTD Apung,<br />

Museum Tsunami <strong>Aceh</strong>, juga pantai Ulee<br />

Lheue yang sudah sangat indah setelah<br />

dibangun baru dan ditata kembali oleh Pemko<br />

Banda <strong>Aceh</strong>. Serta masih banyak lagi situs<br />

sejarah yang bisa dijadikan objek wisata<br />

yang dapat dijadikan andalan untuk menjaring<br />

turis lokal, nasional, maupun mancanegara.(hh)<br />

4 Prioritas Pembangunan Ekonomi <strong>Aceh</strong><br />

”Seperti kebanyakan daerah lain di Indonesia,<br />

<strong>Aceh</strong> juga masih berkutat seputar isu<br />

permasalahan dan tantangan utama di bidang<br />

ekonomi makro, yaitu masih rendahnya<br />

pertumbuhan ekonomi, tingginya tingkat<br />

pengangguran dan kemiskinan jika dibandingkan<br />

dengan rata-rata nasional”.<br />

-- IR. TM. BASTIAN, M.SI, --<br />

Kabid. Perencanaan Pembangunan Ekonomi dan<br />

Ketenaga Kerjaan Bappeda <strong>Aceh</strong><br />

“Kemakmuran dan kesejahteraan itu tidak<br />

akan bisa diperoleh rakyat dengan merata,<br />

jika setiap tahunnya dalam pelaksanaan<br />

APBA masih banyak ditemukan proyek<br />

yang tak selesai,”<br />

-- HASBI ABDULLAH --<br />

Ketua DPR <strong>Aceh</strong><br />

persen tahun 2010. Kondisi ini diharapkan<br />

mempengaruhi dan mempunyai kaitan<br />

erat dengan perekonomian <strong>Aceh</strong>.<br />

Tingkat Pengangguran: Tingkat Pengangguran<br />

Terbuka (TPT) yang terjadi di <strong>Aceh</strong><br />

pada tahun <strong>2011</strong> diharapkan dapat ditekan<br />

menjadi 8,0 persen.<br />

Tingkat Kemiskinan: jumlah penduduk<br />

miskin di <strong>Aceh</strong> diharapkan mampu direduksi<br />

hinggga tinggal sekitar 800.000<br />

orang pada kondisi akhir tahun <strong>2011</strong>, atau<br />

menjadi 18,0 persen dari total jumlah penduduk<br />

<strong>Aceh</strong>.<br />

Tingkat inflasi: tingkat inflasi yang terjadi<br />

di <strong>Aceh</strong> rata-rata selama tahun <strong>2011</strong> ditargetkan<br />

adalah hanya 3,0 persen, baik bila<br />

dihitung di Kota Banda <strong>Aceh</strong>, maupun di<br />

Kota Lhokseumawe.<br />

Agar sasaran utama dari prioritas pemberdayaan<br />

ekonomi masyarakat, perluasan<br />

kesempatan kerja, dan penanggulangan kemiskinan<br />

itu dapat tercapai, maka prioritas<br />

dan sasaran pembangunan pada tahun<br />

<strong>2011</strong> ditempuh melalui beberapa kebijakan,<br />

yaitu; Peningkatan Produksi Pertanian dan<br />

Perikanan; Pembangunan serta Peningkatan<br />

Sarana dan Prasarana Ekonomi Publik; Penguatan<br />

Sistem Penyuluhan Pertanian serta<br />

Kelembagaan Petani dan Nelayan; Peningkatan<br />

Kompetensi Tenaga Kerja; serta Pemberdayaan<br />

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah<br />

serta Perkoperasian. (al)


6<br />

P<br />

TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />

ekan ini seakan menjadi milik para<br />

olahragawan <strong>Aceh</strong>. Seluruh pegiat dan<br />

pencinta olahraga <strong>Aceh</strong> larut dalam<br />

kegembiraan luar biasa. Pasalnya, dalam<br />

waktu hampir bersamaan, tiga tim sepakbola<br />

asal <strong>Aceh</strong> (Persiraja Banda <strong>Aceh</strong>, PSAP<br />

Sigli, dan “Timnas” <strong>Aceh</strong>) mencetak prestasi<br />

luar biasa, di tingkat nasional (Liga Indonesia)<br />

dan antarnegara Asia Fasifik (Arafura<br />

Games Darwin, Australia).<br />

Betapa tidak, hingga Rabu (18/05/<strong>2011</strong>),<br />

dua tim sepakbola asal <strong>Aceh</strong> ini, yakni tim<br />

sepakbola yang diutus ke ajang Arafura<br />

Games di Darwin, Australia, dan Persiraja<br />

Banda <strong>Aceh</strong>, berturut-turut menjadi fokus<br />

pemberitaan media nasional.<br />

Bahkan, situs berita okezone.com memulai<br />

artikelnya berjudul “Tim Sepakbola<br />

<strong>Aceh</strong> Rajai Arafura Games <strong>2011</strong>” dengan<br />

kalimat; “Di tengah keringnya prestasi sepakbola<br />

nasional, tim sepak bola <strong>Aceh</strong> tampil<br />

menyelamatkan muka Indonesia. Mereka<br />

menjuarai even international olahraga antar<br />

Negara Asia Fasifik atau Arafura Games <strong>2011</strong><br />

di Darwin, Australia.”<br />

Sementara di <strong>Aceh</strong>, keberhasilan “Timnas”<br />

<strong>Aceh</strong> meraih medali emas di ajang<br />

P<br />

emerintah <strong>Aceh</strong> menempuh berbagai<br />

upaya untuk membangun fisik dan<br />

perekonomian rakyatnya. Salah satu-<br />

nya dengan mencari dana dari berbagai sumber,<br />

termasuk mengajukan pinjaman dari<br />

lembaga-lembaga di luar negeri.<br />

Terakhir, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> kembali mengusulkan<br />

pinjaman kredit lunak dari lembaga<br />

perbankan dunia Islam, yakni Islamic Development<br />

Bank (Bank Pembangunan Islam/<br />

IDB). Nilai total pinjaman yang diajukan<br />

pada tahun <strong>2011</strong> ini mencapai Rp 1,7 triliun<br />

dengan sasaran percepatan pembangunan<br />

ekonomi rakyat <strong>Aceh</strong>.<br />

“Usulan itu sudah pernah kita sampaikan<br />

kepada perwakilan IDB di Jakarta,<br />

pada tanggal 11 Oktober 2010 lalu, lalu kita<br />

tegaskan kembali dalam pertemuan ini,” ujar<br />

Gubernur <strong>Aceh</strong> Irwandi Yusuf kepada Tabangun<br />

<strong>Aceh</strong>, usai acara coffe morning dengan<br />

Presiden IBD Dr Ahmad Muhammad Ali di<br />

Restoran Meuligoe Gubernur <strong>Aceh</strong>, Kamis<br />

(12/05/<strong>2011</strong>) lalu.<br />

Gubernur Irwandi yang didampingi<br />

Ketua Bappeda <strong>Aceh</strong> Ir Iskandar MSc, mengatakan,<br />

usulan pembiayaan program percepatan<br />

pembangunan ekonomi masyarakat<br />

ini diajukan untuk membangkitkan kembali<br />

ekonomi masyarakat <strong>Aceh</strong> yang terpuruk<br />

setelah konflik panjang dan bencana tsunami,<br />

26 Desember 2004 lalu.<br />

Dua bencana besar itu, tambah Gubernur,<br />

telah membuat penduduk miskin <strong>Aceh</strong> mem-<br />

Arafura Games, serta keberhasilan Persiraja<br />

Banda <strong>Aceh</strong> menembus semifinal Divisi<br />

Utama Liga Indonesia Musim 2010/<strong>2011</strong>,<br />

berturut-turut menjadi berita utama (headline)<br />

koran terkemuka di <strong>Aceh</strong>.<br />

Prestasi demi prestasi yang diraih dunia<br />

sepakbola <strong>Aceh</strong> ini tentunya bukan terjadi<br />

secara seketika. Ini merupakan buah dari<br />

kerja keras seluruh elemen pencinta olahraga<br />

(khususnya sepakbola) di <strong>Aceh</strong>, yang bersama<br />

dengan <strong>Pemerintah</strong>an <strong>Aceh</strong> bahu membahu<br />

membangun kembali dunia persepakbolaan<br />

<strong>Aceh</strong> yang telah lama mati suri akibat<br />

konflik panjang dan bencana tsunami.<br />

Hal ini dapat pula menjadi bukti, bahwa<br />

kesibukan pembangunan fisik dan program<br />

pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam<br />

beberapa tahun terakhir, tidak berarti membuat<br />

<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> melupakan programprogram<br />

lainnya, termasuk di bidang olahraga.<br />

Jika dilihat agak ke belakang, prestasi yang<br />

diraih tiga tim sepakbola asal <strong>Aceh</strong> ini tidak<br />

terlepas dari tingginya komitmen Gubernur<br />

<strong>Aceh</strong> Irwandi Yusuf untuk membangkitkan<br />

kembali gezah dan marwah sepakbola <strong>Aceh</strong>.<br />

Selain melaksanakan program jangka<br />

panjang, dengan mengirimkan sejumlah<br />

anak-anak muda <strong>Aceh</strong> untuk belajar ilmu<br />

bermain bola di Paraguay, Irwandi Yusuf<br />

juga secara intens mematau perkembangan<br />

seluruh tim-tim sepakbola asal <strong>Aceh</strong> yang<br />

berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia dan<br />

liga-liga di bawahnya.<br />

Seperti diketahui, pada musim 2010-<strong>2011</strong>,<br />

ada empat tim asal <strong>Aceh</strong> yang berlaga di Divisi<br />

Utama. Selain Persiraja Banda <strong>Aceh</strong> dan PSAP<br />

Sigli yang memastikan lolos ke babak delapan<br />

besar, dua tim lainnya adalah PSLS Lhokseumawe<br />

dan PSSB Bireuen. Di luar itu, ada satu<br />

tim lain yakni Atjeh United yang juga sedang<br />

berlaga di Liga Primer Indonesia (LPI).<br />

Progam <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> untuk membenahi<br />

kembali sepakbola <strong>Aceh</strong>, kini telah<br />

menuai hasil. Gubernur <strong>Aceh</strong> Irwandi Yusuf<br />

pun tak bisa menyembunyikan rasa bahagia<br />

dan kegembiraannya atas prestasi yang<br />

diraih ketiga tim asal <strong>Aceh</strong> ini.<br />

Setidaknya hal ini terlihat saat Gubernur<br />

Irwandi Yusuf menggelar jamuan khusus untuk<br />

menyambut anak-anak <strong>Aceh</strong> yang telah<br />

mengukir prestasi emas di ajang Arafura<br />

Games <strong>2011</strong>. Dalam jamuan makan siang<br />

di restoran Meuligoe Gubernur <strong>Aceh</strong>, Selasa<br />

(17/05/<strong>2011</strong>) siang, Gubernur sampai mengucurkan<br />

bonus senilai Rp 2 juta per pemain.<br />

Sekadar diketahui, selain <strong>Aceh</strong>, daerah<br />

lain yang mewakili Indonesia dalam Arafura<br />

Games <strong>2011</strong> adalah Bali, Kalimantan Timur,<br />

Maluku, NTT, Papua, dan Papua Barat.<br />

Arafura Games kali ini mempertandingkan<br />

20 cabang olahraga dan diikuti oleh sejumlah<br />

Negara-negara di Asia Fasifik.<br />

<strong>Aceh</strong> dipercaya sebagai salah satu daerah<br />

mewakili Indonesia di Arafura Games sejak<br />

2007. Kali ini <strong>Aceh</strong> hanya mengirim satu tim<br />

cabang olehraga yakni sepakbola.<br />

<br />

Sepakbola Pun Mulai Bersinar<br />

FOTO: HUMAS PEMERINTAH ACEH<br />

<br />

<br />

beberapa hari lalu.<br />

bengkak menjadi 26,65 persen pada tahun<br />

2007. Tapi berkat pelaksanaan program rehab<br />

rekon dari BRR dan negara donor, secara bertahap<br />

jumlahnya terus menurun. Pada tahun<br />

2010 lalu tinggal 20,8 persen lagi dari jumlah<br />

penduduk <strong>Aceh</strong> sebesar 4,4 juta jiwa.<br />

Penurunan jumlah penduduk miskin itu<br />

tentu bisa naik kembali jika tidak diikuti<br />

dengan perbaikan sarana dan prasarana infrastruktur<br />

ekonomi yang telah hancur. Begitu<br />

juga dengan angka penganggurannya.<br />

Karena itu, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> perlu terus<br />

mencari sumber pembiayaan untuk percepatan<br />

pembangunan ekonomi masyarakatnya.<br />

“Kita juga akan berupaya agar <strong>Aceh</strong> masuk<br />

dalam daftar daerah yang akan menerima<br />

pinjaman lunak dari IDB yang akan mengucurkan<br />

3 miliar dolar AS kepada <strong>Pemerintah</strong><br />

Indonesia mulai tahun <strong>2011</strong> hingga 2014 ini,”<br />

ujar Ketua Bappeda <strong>Aceh</strong> Ir Iskandar MSc.<br />

Acara coffee morning dengan presiden<br />

IDB itu turut dihadiri sejumlah bupati dan<br />

wali kota hadir di <strong>Aceh</strong>. Antara lain, Bupati<br />

Simeulue Drs Darmili dan Wali Kota Banda<br />

<strong>Aceh</strong> Mawardy Nurdin.<br />

Bupati Simeulue Darmili mengatakan,<br />

kehadirannya pada acara coffe morning itu<br />

untuk mempertanyakan kembali usulan pinjaman<br />

dana Pemkab Simuelue kepada IDB<br />

tahun lalu sebesar Rp 20 juta dolar AS atau senilai<br />

Rp 200 miliar, untuk pembukaan kebun<br />

kelapa sawit dan pembangunan pabrik CPO.<br />

Sedangkan Wali Kota Banda <strong>Aceh</strong> Ma-<br />

“Agar pembinaan olah raga cabang bolakaki di <strong>Aceh</strong><br />

tidak terjadi pasang surut antargenerasi, kita harus<br />

terus membinanya. Kalau perlu pada tahun depan ada<br />

tim sepak bola dari <strong>Aceh</strong> yang dikirim ke Spanyol untuk<br />

belajar teknik bermain bola yang baik.”<br />

wardy Nurdin mengatakan, kehadirannya<br />

guna menawarkan pembiayaan kelanjutan<br />

pembangunan mega proyek pelabuhan Perikanan<br />

Samudera Lampulo kepada Presiden<br />

IDB. Pembangunan dasar proyek itu, sebut<br />

Mawardy, telah dimulai pada masa rehab<br />

rekon tsunami dua tahun lalu.<br />

-- IRWANDI YUSUF --<br />

<br />

Harapan akan datangnya prestasi lanjutan<br />

pun membumbung tinggi. Gubernur Irwandi<br />

Yusuf mengatakan, tahun ini adalah titik bangkitnya<br />

persepakbolaan <strong>Aceh</strong>. Indikatornya<br />

bukan hanya menjuarai Arafura Games, dua<br />

tim sepakbola asal <strong>Aceh</strong> Persiraja dan PSAP<br />

Sigli juga berhasil memimpin Devisi Utama<br />

2010/<strong>2011</strong> wilayah Barat dan kini sedang memperbutkan<br />

tiket ke Liga Super Indonesia.<br />

Menurutnya, <strong>Aceh</strong> juga memiliki banyak<br />

pemain-pemain muda masa depan. Selain<br />

mereka yang tampil membanggakan di Arafura<br />

Games, Provinsi itu juga tercatat memiliki<br />

30 remaja yang sudah lulus berlatih sepakbola<br />

di Paraguay. Bahkan 18 diantara mereka sekarang<br />

sudah direkrut sejumlah tim Liga Divisi<br />

1,2,3 dan 4 di Paraguay dan Argentina.<br />

Khusus pemain yang berlatih di Paraguay,<br />

<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> akan menjadikan<br />

mereka sebagai tim inti <strong>Aceh</strong>. Mereka akan<br />

kembali ke <strong>Aceh</strong> semuanya pada November<br />

<strong>2011</strong> selanjutnya akan dibentuk satu tim.<br />

“Pemain-pemain ini adalah timnasnya <strong>Aceh</strong>,<br />

tidak akan disewakan,” kata Irwandi.<br />

Mantan pentolan Gerakan <strong>Aceh</strong> Merdeka<br />

ini pun kembali mewacanakan pengiriman<br />

tim usia muda untuk berguru ilmu<br />

sepakbola ke luar negeri. Kali ini, negara<br />

yang sedang dijajaki adalah negara jawara<br />

Piala Dunia 2010, Spanyol.<br />

“Agar pembinaan olah raga cabang<br />

bolakaki di <strong>Aceh</strong> tidak terjadi pasang surut<br />

antargenerasi, kita harus terus membinanya.<br />

Kalau perlu pada tahun depan ada tim<br />

sepak bola dari <strong>Aceh</strong> yang dikirim ke Spanyol<br />

untuk belajar teknik bermain bola yang<br />

baik,” ujar pria yang dikenal dengan nama<br />

Tgk Agam di kalangan mantan kombatan<br />

GAM ini.(zamnur usman/dbs)<br />

<strong>Aceh</strong> Usul Pinjaman Rp 1,7 T ke IDB<br />

FOTO: HERI HAMZAH<br />

Presiden IDB Dr Ahmad Muhammad Ali (dua dari kiri) berbincang dengan <br />

<br />

Kamis (12/05/<strong>2011</strong>).<br />

“Mudah-mudahan saja, tawaran kita diterima<br />

oleh Presiden IDB sehingga kebutuhan<br />

infrastruktur pada kompleks Pelabuhan Perikanan<br />

Samudera Lampulo bisa secepatnya<br />

dipenuhi dan beroperasi sebagaimana layaknya<br />

pelabuhan perikanan yang terdapat<br />

di Pulau Jawa,” ujar Mawardy Nurdin.(hh)


G<br />

ubernur <strong>Aceh</strong> Irwandi Yusuf mewanti-wanti<br />

para pengelola anggaran di<br />

<strong>Aceh</strong> wajib menjaga amanah rakyat.<br />

Hal ini dimaksudkan agar pembangunan dan<br />

program pemberdayaan ekonomi masyarakat<br />

yang dilaksanakan oleh seluruh jajaran <strong>Pemerintah</strong><br />

<strong>Aceh</strong> bisa memberi dampak langsung<br />

bagi perbaikan hidup rakyatnya.<br />

“Pengelolaan anggaran wajib menerapkan<br />

tata kelola kepemerintahan yang baik dan<br />

amanah. Oleh karenanya, seribu rupiah pun<br />

yang kita keluarkan bersumber dari APBA,<br />

harus didasarkan pada prinsip akuntable,<br />

transparan, dan dapat di pertanggungjawabkan,<br />

sesuai dengan mekanisme pengelolaan<br />

dan pertanggungjawaban keuangan <strong>Aceh</strong>,” ujar<br />

Gubernur Irwandi Yusuf dalam sambutan pada<br />

penutupan Masa Persidangan I DPR <strong>Aceh</strong> tahun<br />

<strong>2011</strong>, di Gedung DPRA, Jalan Tgk Daud<br />

Beureueh, Banda <strong>Aceh</strong>, Selasa (26/4/<strong>2011</strong>).<br />

Pernyataan Gubernur tersebut tertuang<br />

dalam butir-butir arahan yang ditujukan<br />

khusus kepada para pimpinan Satuan Kerja<br />

<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> (SKPA) yang hadir dalam<br />

sidang tersebut.<br />

Sementara terkait dengan pelaksanaan<br />

anggaran, Gubernur Irwandi Yusuf meminta<br />

agar semua jajaran aparat pengawasan internal<br />

dan eksternal, maupun fungsi pengawasan<br />

legislatif, agar lebih meningkatkan lagi fungsi<br />

pengawasannya. “Sehingga program dan kegiatan<br />

yang akan kita laksanakan dapat dilakukan<br />

secara tepat waktu, tepat sasaran, dan<br />

tidak menyimpang dari ketentuan peraturan<br />

perundang-undangan,” ujarnya.<br />

Dalam kesempatan itu, Gubernur Irwandi<br />

Yusuf juga meminta kepada Tim Anggaran<br />

<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> (TAPA) agar bekerja serius<br />

dan profesional, dalam menyempurnakan<br />

Rancangan Peraturan Gubernur tentang<br />

penjabaran APBA berdasarkan Qanun APBA<br />

H<br />

asil evaluasi terhadap kinerja pembangunan<br />

dalam berbagai bidang pembangunan,<br />

telah diintrodusir empat permasalahan<br />

utama yang menjadi hambatan dalam mewujudkan<br />

target-target yang telah direncanakan yaitu:<br />

Masih terjadi ketimpangan Pembangunan antar<br />

wilayah, Terbatasnya lapangan kerja Formal,<br />

yang telah disesuaikan dengan hasil evaluasi<br />

Menteri Dalam Negeri.<br />

Kemudian, pada saat verifikasi Dokumen<br />

Pelaksanaan Anggaran (DPA), SKPA<br />

agar mencantuman lokasi kegiatan, target kinerja<br />

yang bersifat kuantitatif dan indikator<br />

(tolok ukur kinerja dan target kinerja) sesuai<br />

dengan sasaran yang direncanakan.<br />

Gubernur mantan kombatan GAM ini<br />

juga mewanti-wanti para pimpinan dan seluruh<br />

unsur SKPA harus mampu bekerja all out<br />

dan penuh waktu, serta bertanggung jawab<br />

untuk memaksimalkan proses pembangunan<br />

<strong>Aceh</strong> secara tepat sasaran dan tepat guna.<br />

Tanggung jawab moral<br />

Dalam kesempatan itu, atas nama <strong>Pemerintah</strong><br />

<strong>Aceh</strong>, Gubernur Irwandi Yusuf juga<br />

menyampaikan apresiasi dan penghargaan<br />

kepada pimpinan, fraksi-fraksi, Badan Anggaran<br />

Dewan dan Tim Perumusnya, Pokja<br />

Dewan, serta seluruh anggota Dewan yang<br />

telah memberikan berbagai koreksi, tanggapan,<br />

pendapat, usul, saran, dan bahkan kritikan<br />

yang konstruktif bagi penyempurnaan<br />

RAPBA <strong>2011</strong>. Gubernur pun mengungkapkan<br />

rasa bahagianya, karena pada akhirnya<br />

RAPBA <strong>2011</strong> berhasil ditetapkan, meski<br />

molor hingga tiga bulan lebih dari jadwal<br />

yang disepakati bersama.<br />

Menurut Irwandi, keterlambatan pengesahan<br />

RAPBA tahun <strong>2011</strong> ini salah satunya<br />

dipengaruhi oleh faktor kehati-hatian kedua<br />

belah pihak (legislative dan eksekutif), yang<br />

merupakan bentuk sikap preventif dan konstruktif,<br />

sehingga APBA yang disusun tepat<br />

guna dan tepat sasaran, serta sesuai dengan<br />

pendekatan kinerja yang mengutamakan keluaran,<br />

hasil, dan manfaat dari setiap alokasi<br />

anggaran yang direncanakan sesuai kebutuhan<br />

rakyat.<br />

“Kami akui bahwa apa yang berkem-<br />

bang dalam masa persidangan I DPRA tahun<br />

<strong>2011</strong>, baik antara Badan Anggaran Dewan<br />

dengan Tim Anggaran <strong>Pemerintah</strong>an <strong>Aceh</strong><br />

(TAPA), serta antara Pokja dengan SKPA,<br />

lebih didasarkan pada upaya serius kita untuk<br />

mensinergikan dengan kebutuhan riil di<br />

lapangan. Juga agar adanya harmonisasi dan<br />

sinkronisasi dengan berbagai ketentuan peraturan<br />

perundang-undangan tentang penyusunan<br />

APBA,” ungkap Irwandi.<br />

“Penyempurnaan yang kita lakukan adalah<br />

dalam rangka memenuhi asas akuntabilitas<br />

publik sebagai bentuk tanggung jawab<br />

moral kita kepada rakyat. Dan yang lebih<br />

penting tentu saja dapat dipertanggungjawabkan<br />

sesuai dengan mekanisme pengelolaan<br />

dan pertanggungjawaban keuangan<br />

negara,” tambahnya.<br />

Bertambah<br />

Gubernur juga mengungkapkan rasa<br />

syukurnya kepada Allah, karena apa yang<br />

telah disepakati dan diputuskan bersama,<br />

akhirnya sudah mendapat evaluasi oleh<br />

<strong>Pemerintah</strong>, yang dituangkan dalam keputusan<br />

Menteri Dalam Negeri Nomor: 903-275<br />

tahun <strong>2011</strong> tanggal 21 April <strong>2011</strong>. Menteri<br />

Dalam Negeri dalam keputusannya tersebut<br />

meminta <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> untuk melakukan<br />

rasionalisasi dan melakukan penyempurnaan<br />

serta penyesuaian dengan hasil<br />

evaluasi yang sudah dilakukan.<br />

Berdasarkan hasil evaluasi Kepmendagri<br />

tersebut, ungkap Irwandi, pendapatan <strong>Aceh</strong><br />

bertambah sebesar Rp 29.700.000.000,-. Sehingga<br />

pendapatan <strong>Aceh</strong> yang semula berjumlah Rp<br />

7.059.689.677.661,- meningkat menjadi sebesar<br />

Rp 7.089.389.677.661,. Adapun penambahan<br />

pendapatan tersebut berasal dari alokasi dana<br />

penyesuaian infrastruktur daerah untuk <strong>Pemerintah</strong><br />

<strong>Aceh</strong> dan dimasukkan sebagai kelompok<br />

lain-lain pendapatan <strong>Aceh</strong> yang sah.<br />

TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> 7<br />

Pengelola Anggaran Wajib Jaga Amanah Rakyat<br />

Pendapatan <strong>Aceh</strong> Bertambah Rp 29,7 M<br />

Rawan Bencana dan Perubahan Iklim.<br />

Adapun isu strategis dan masalah mendesak<br />

untuk tahun <strong>2011</strong>-2012 adalah : Pertama, Masih<br />

Rendahnya Tingkat Ketahanan Pangan; Kedua,<br />

Jumlah Penduduk Miskin masih Tinggi; Ketiga,<br />

tur<br />

Lintas Bidang; Keempat, Rendahnya Kualitas<br />

Manusia; Kelima, Masih Rentannya terhadap Post<br />

timalnya<br />

Penataan Kelembagaan, Ketatalaksanaan,<br />

serta Sistem Pengawasan dan Akuntabilitas;<br />

<br />

dagangan<br />

dan Pelabuhan Bebas Sabang; Kesem-<br />

Gubernur menjelaskan, berdasarkan Permenkeu<br />

Nomor 25.PMK.07/<strong>2011</strong> tentang<br />

Pedoman Umum dan Alokasi Dana Penyesuaian<br />

Infrastruktur Daerah Tahun Anggaran<br />

<strong>2011</strong>, bahwa penggunaan tambahan pendapatan<br />

tersebut hanya dibenarkan untuk<br />

kegiatan pembangunan infrastruktur daerah.<br />

“Dengan demikian belanja <strong>Aceh</strong> juga bertambah<br />

menjadi Rp 7.974.700.000.000,- atau<br />

juga masih defisit sebesar Rp 885.310.322.339,-<br />

yang dapat kita tutup dari penerimaan pembiayaan<br />

<strong>Aceh</strong> Silpa tahun anggaran 2010<br />

dalam jumlah yang sama,” ujarnya.<br />

Pada akhirnya, Gubernur <strong>Aceh</strong> Irwandi<br />

Yusuf meminta kepada seluruh jajarannya<br />

agar bekerja secara profesional serta betulbetul<br />

menjaga amanah rakyat, terutama<br />

terkait dengan pelaksanaan program-program<br />

berbasis pembangunan dan pemberdayaan<br />

masyarakat gampong.<br />

Jika dicermati lebih jauh, wanti-wanti Gubernur<br />

Irwandi Yusuf kepada para pengelola<br />

anggaran agar selalu bersikap transparan dan<br />

akuntabel, memang tidaklah berlebihan.<br />

Terutama karena sebagian besar program<br />

yang diusung <strong>Pemerintah</strong>an <strong>Aceh</strong> di bawah<br />

komando Irwandi Yusuf dan Muhammad<br />

Nazar, berhubungan langsung dengan hajat<br />

hidup rakyat, seperti Jaminan Kesehatan<br />

<strong>Aceh</strong> (JKA), Bantuan Keuangan Peumakmu<br />

Gampong (BKPG), beasiswa untuk anak yatim,<br />

dan banyak lainnya.<br />

Perlu juga dicamkan, semua pihak harus<br />

bahu membahu bekerja keras untuk mewujudkan<br />

cita-cita melahirkan masyarakat<br />

<strong>Aceh</strong> yang madani, makmur, dan sejahtera.<br />

“Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala, senantiasa<br />

memberikan perlindungan dan rahmat<br />

bagi daerah <strong>Aceh</strong> yang kita cintai ini,” ungkap<br />

Gubernur Irwandi menutup pidato<br />

sambutannya. (Usamah El-Madny)<br />

Permasalahan dan Isu Strategis Pembangunan <strong>Aceh</strong><br />

No Isu Strategis Permasalahan Kebijakan<br />

1 Ketahanan Pangan 1).Rendahnya produksi telur dan daging <br />

<br />

3).Indeks Penanaman Padi rendah (1,2/ Tahun) 3).Peningkatan kualitas SDM, riset dan teknologi Pertanian<br />

<br />

5).Minimnya sarana pengolahan pangan <br />

6).Harga komoditi pangan tidak stabil 6).Perbaikan Tata Niaga Komoditas Tanaman Pangan<br />

bilan, Belum Tuntasnya Kesinambungan Rekonstruksi<br />

<strong>Aceh</strong>.<br />

Untuk menjawab berbagai permasalahan dan<br />

isu strategis tersebut, pemerintah <strong>Aceh</strong> menempuh<br />

beberapa kebijakan yang harus diimplementasikan<br />

kedalam program dan kegiatan, yaitu sebagai<br />

berikut:<br />

2 Kemiskinan <br />

Entrepeneurial (UMKM).<br />

3 <br />

terintegrasi<br />

4 Pengembangan<br />

Kawasan Pelabuhan<br />

Bebas dan<br />

Perdagangan Bebas<br />

Sabang<br />

5 Kualitas Sumber Daya<br />

Manusia<br />

6 <br />

Tambah<br />

7 Penuntasan<br />

Kesinambungan<br />

Rekonstruksi <strong>Aceh</strong><br />

8 Tata Kelola<br />

<strong>Pemerintah</strong>an<br />

9 Kerentanan<br />

(Bencana, post<br />

<br />

Sumber: Bappeda <strong>Aceh</strong> <strong>2011</strong><br />

2).Faktor Kultur masih dominan 2).Merubah mainset (cara pandang) masyarakat dan lingkungan.<br />

3).Masih terbatasnya lapangan kerja 3).Mendorong Investor untuk berinvestasi melalui regulasi perbankan<br />

4).Pembangunan antar wilayah belum merata <br />

<br />

<br />

regulasi (lahan, perizinan, keamanan, modal, pajak dll) serta pemberian reward dan punishment<br />

3).Pembangunan sektor prioritas tanpa dibatasi kewenangan<br />

1) .PP no. 83 tahun 2010 tentang Pelimpahan Kewenangan <strong>Pemerintah</strong> kepada Dewan<br />

Kawasan Sabang masih perlu pengaturan lebih lanjut dalam bidang: (Perindustrian,<br />

Perdagangan, Pertambangan dan Energi, Perhubungan, Pariwisata, Kelautan dan<br />

perikanan, Penanaman Modal, Penataan Ruang, Lingkungan hidup, Pengembangan dan<br />

pengelolaan usaha, Pengelolaan aset tetap)<br />

1).Mempercepat penetapan petunjuk pelaksanaan PP no.83 tahun 2010 tentang Pelimpahan kewenangan<br />

<strong>Pemerintah</strong> kepada Dewan Kawasan Sabang<br />

2).Mempercepat penetapan PP pengelolaan Keuangan BPKS<br />

3).BPKS merupakan Lembaga <strong>Pemerintah</strong> Non Struktural, pengaturan status BPKS akan<br />

ditetapkan oleh Menpan<br />

3).Mempercepat penetapan status BPKS oleh Menpan<br />

4).Tata Ruang Kawasan Strategis Untuk Kawasan Sabang belum ditetapkan 4).Mempercepat Tata Ruang Kawasan Strategis untuk Kawasan Sabang<br />

1).Mutu dan daya saing pendidikan masih rendah 1).Peningkatan akses dan mutu pelayanan terhadap pendidikan<br />

2).Pelayanan kesehatan masih rendah 2).Peningkatan akses dan mutu kesehatan<br />

3).Beban ganda kesehatan masyarakat masih tinggi 3).Peningkatan sosialisasi pola hidup sehat<br />

4).Pola hidup yang tidak sehat<br />

1).Sarana dan prasarana pendukung produksi dan peningkatan nilai tambah hasil pertanian<br />

masih kurang<br />

1).Penyediaan sarana dan prasarana pendukung produksi dan nilai tambah menjadi prioritas<br />

2).SDM petani dan pendukung lainnya masih rendah 2).Peningkatan SDM petani dan pendukung lainnya melalui pelatihan dan demonstrasi plot (demplot)<br />

<br />

kewenangan pemerintah (APBN-PHLN)<br />

<br />

kesinambungan rekonstruksi<br />

2).Belum maksimalnya pemeliharaan dan pengelolaan aset rekonstruksi (APBA-APBK) 2).Mendorong <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> dan Kab/kota untuk mengalokasikan dana untuk pemeliharaan dan<br />

pengelolaan aset rekonstruksi<br />

1).Kualitas sumberdaya aparatur masih rendah 1).Peningkatan kapasitas aparatur pemerintahan<br />

2).Rentang kendali birokrasi masih panjang 2).Peningkatan pelayanan publik (one stop service)<br />

3).Transparansi dan akuntabilitas belum terlaksana dengan baik 3).Penetapan SOP pelayanan publik sesuai kewenangan<br />

1).Terjadinya banjir bandang Tangse, Pidie 1).Pelaksanaan Tanggap Darurat pasca bencana<br />

2).Rentan terhadap bencana alam 2).Rencana aksi Rehabilitasi dan Rekontruksi pasca bencana banjir bandang Tangse Kabupaten Pidie<br />

3).Rentan terhadap bencana sosial 3).Peningkatan ketahanan bencana<br />

4).Peningkatan ketahanan budaya masyarakat


8<br />

TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />

aduk Keuliling<br />

<strong>Aceh</strong> Besar, waduk ini mempunyai tampungan total 18,359 x 10 6 m 3 ;<br />

<br />

<br />

Ternak, Alokasi Air Minum, Micro Hydro,Pengendali Banjir, Penggelontoran /<br />

Intrusi Air Laut, dan Wisata TWK Ramah Lingkungan.


TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> 9<br />

FOTO-FOTO: SUVIE<br />

ater Basin Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />

yang terletak di Kecamatan<br />

Meuraxa, Sebuah kawasan di<br />

mana aliran permukaan mengumpulkan<br />

dan dari yang dibawa oleh sistem<br />

drainas,sebagai penanganan banjir untuk<br />

sebagian kota Banda <strong>Aceh</strong> dan sekitarnya.<br />

elabuhan Kuala Langsa berada di Selat Malaka yang<br />

menjadi jalur lalu lintas kapal niaga internasional, Pelabuhan<br />

Kuala Langsa merupakan pelabuhan ketiga di sisi timur <strong>Aceh</strong>,


10 TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />

G<br />

una meningkatkan pendapatan<br />

masyarakat, <strong>Pemerintah</strong>an Kota Ban-<br />

da <strong>Aceh</strong> kini juga mulai mempriori-<br />

taskan pembangunan berbagai infrastruktur<br />

ekonomi di Kota Banda <strong>Aceh</strong>.<br />

Walikota Banda <strong>Aceh</strong>, Mawardy Nurdin,<br />

saat ditemui Tabangun di ruang kerjanya,<br />

Rabu (11/05/<strong>2011</strong>), mengatakan, beberapa infrastruktur<br />

ekonomi akan ditambah di Kota<br />

Banda <strong>Aceh</strong>. Infrastruktur yang akan ditambah<br />

di antaranya adalah bangunan pasar.<br />

“Saat ini di beberapa lokasi sudah kita<br />

tetapkan untuk segera dibangun pasar, namun<br />

kendalanya adalah tetap saja pada<br />

pembebasan lahan, pemerintah kota tidak<br />

bisa membebaskan lahan karena selain harga<br />

tanah yang melambung tinggi, pemko juga<br />

tidak memiliki dana yang cukup,” katanya.<br />

Solusinya, sebut Mawardi, mungkin<br />

Pemko akan berusaha mencari tambahan<br />

dana dari pihak ketiga, untuk proses pembebasan<br />

lahan, kemudian akan segera membangun<br />

infrastruktur tersebut. Beberapa lokasi<br />

yang sudah dilakukan penelitian dan sudah<br />

K<br />

einginan besar <strong>Pemerintah</strong>an<br />

Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />

untuk membangun kota<br />

menjadi kota yang maju dan<br />

modern, tak sepenuhnya bisa dilaksanakan.<br />

Kendati demikian,<br />

pepatah lebih besar pasak dari<br />

pada tiang, juga tak tepat diberikan<br />

untuk proses pembangunan<br />

di Kota tua ini.<br />

Minimnya APBK yang dipunyai<br />

pemerintah, membuat<br />

pemerintahan tertatih-tatih berjalan<br />

membangun infrastruktur. Selain minim<br />

dana, masalah pembebasan lahan pun menjadi<br />

kendala utama bagi <strong>Pemerintah</strong>an Kota<br />

Banda <strong>Aceh</strong>.<br />

“Kota Banda <strong>Aceh</strong> masih bisa melakukan<br />

pengembangan terutama untuk membangun<br />

infrastruktur, tapi kita terkendala<br />

jumlah anggaran untuk pembebasan lahan.<br />

Pemko tak punya dana yang cukup, harga<br />

lahan pun terus melambung tinggi,” ujar<br />

Jalaluddin, Plh Dinas PU Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />

kepada Tabangun <strong>Aceh</strong> pekan lalu.<br />

Saat ini Pemko Banda <strong>Aceh</strong> sedang mer-<br />

direncanakan untuk membangun pasar, di<br />

antaranya kawasan Batoh, Kampung Ateuk,<br />

dan Lamnyong.<br />

“Jika di beberapa lokasi ini sudah ada<br />

bangunan pasar yang representatif, setidaknya<br />

sudah bisa mengurangi kepadatan yang<br />

selalu terjadi di pasar-pasar di pusat kota.<br />

Dan ini juga bisa menghindarkan kesemrawutan<br />

dan kemacetan,” jelasnya.<br />

Sebagai kota yang menjadi destinasi bagi<br />

warga di Provinsi <strong>Aceh</strong>, pembangunan infrastruktur<br />

diharapkan mampu meningkatkan<br />

pertumbuhan ekonomi dan dengan sarana<br />

dan prasarana yang baik akan mampu meningkatkan<br />

pertumbuhan ekonomi.<br />

Pascatsunami 2004, pertumbuhan ekonomi<br />

di Kota Banda <strong>Aceh</strong> mulai membaik<br />

seiring dengan dibenahinya berbagai fasilitas<br />

infrastruktur, termasuk sarana dan prasarana<br />

perdagangan. Tingkat kemiskinan mulai<br />

berkurang pascatsunami dan berakhirnya<br />

konflik di <strong>Aceh</strong> yang ditandai pertumbuhan<br />

ekonomi akibat geliat proses rehabilitasi dan<br />

rekonstruksi.(yayan zamzami)<br />

ancang pembangunan jalan di<br />

lingkar timur kota, tapi prosesnya<br />

masih sebatas rencana, karena belum<br />

bisa merealisasikan lahan.<br />

“<strong>Pemerintah</strong> sangat berharap, para<br />

pemilik lahan bisa memberikan<br />

harga yang wajar, sehingga pembangunan<br />

bisa dilaksanakan secara<br />

berkesinambungan,” jelas Jalal.<br />

Meningginya harga lahan yang<br />

selalu menghambat proses tersebut.<br />

Misalnya, kata dia, ketika pemerintah<br />

memutuskan untuk membangun<br />

suatu proyek infrastruktur di suatu<br />

wilayah, maka para spekulan yang berperan<br />

sebagai mafia lahan, akan segera memberikan<br />

informasi kepada masyarakat untuk menaikkan<br />

harga tanahnya.<br />

Akibatnya, rencana pembiayaan awal<br />

yang disusun investor menjadi membengkak.<br />

“Implikasinya jelas, pembangunan menjadi<br />

terhambat dan proyek bisa jadi tidak jalan,<br />

bahkan jika sangat tinggi kondisi ini juga<br />

bisa menyebabkan investor yang sebelumnya<br />

ada, menjadi tidak mau melanjutkan proyek<br />

itu,” katanya.<br />

Saat ini penduduk di Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />

sudah bertambah secara signifikan, otomatis<br />

pengembangan kota juga harus disesuaikan,<br />

sehingga setiap warga yang berada di Banda<br />

<strong>Aceh</strong> bisa menjalankan aktifitasnya dengan<br />

nyaman. “Untuk skala provinsi, Banda<br />

aceh memang menjadi tujuan utama bagi<br />

masyarakat, dengan berbagai tujuan, pendidikan,<br />

wisata bahkan mencari penghidu-<br />

I<br />

lmuwan dari 10 negara akan<br />

hadir dan menyampaikan hasil<br />

penelitiannya tentang <strong>Aceh</strong><br />

dan kawasan sekitar Lautan India;<br />

Diselenggarakan bersama<br />

man.<br />

Pusat Kajian Internasional<br />

tentang <strong>Aceh</strong> dan Lautan Indian<br />

(ICAIOS) pada tanggal 25-26 Mei<br />

ensi<br />

dua tahunannya yang ke-3 di<br />

AAC Dayan Dawood, Darussalam,<br />

<br />

bertema “New Beginnings – Transforma-<br />

<br />

Region<br />

di Kawasan pasca-Bencana dan pasca-Kon-<br />

<br />

<br />

<br />

dalam siaran pers yang diterima Tabangun<br />

<strong>Aceh</strong>ma<br />

2007, peserta mengkaji seputar proses<br />

rehabilitasi dan rekonstruksi pascaben-<br />

<br />

mengkaji situasi <strong>Aceh</strong> setelah empat tahun<br />

tsunami dan perdamaian serta perbandin-<br />

<br />

ke-3 tahun <strong>2011</strong> ini akan mengeksplorasi<br />

berbagai dinamika dalam proses konsoli-<br />

<br />

di <strong>Aceh</strong>.<br />

ICAIOS ke-3 akan menampilkan dua<br />

<br />

-<br />

nall<br />

dari Australian National University<br />

(ANU). Selain itu, terdapat 55 makalah<br />

yang akan dipresentasikan oleh ilmuwan<br />

dari 10 negara dalam 16 panel paralel di<br />

bawah enam topik, yaitu: (1) Politik dan<br />

<br />

dan masalah hukum; (3) Kebudayaan dan<br />

tisipasi;<br />

(5) Perubahan sosio-ekonomi dan<br />

lingkungan; (6) Sejarah dan perubahan<br />

sosial.<br />

<br />

kehadirannya berasal dari Jerman, Aus-<br />

<br />

Membangun Infrastruktur, Menggenjot Pendapatan<br />

Harga Lahan vs Pembangunan<br />

<br />

Rincian Program Dinas Pekerjaan Umum Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />

Tahun Anggaran <strong>2011</strong><br />

Program <strong>2011</strong> :RP. 28.833.410.824,-<br />

PAD :RP. 2.996.385.000,-<br />

Rincian Rencana Penggunaan Anggaran<br />

NO. KEGIATAN TAHUN <strong>2011</strong> (RP)<br />

1. Belanja Langsung 6.372.064.056,-<br />

2. Pelayanan Administrasi Perkantoran 1.877.836640,-<br />

3.<br />

Peningkatan Sarana dan Prasarana Apratur<br />

<br />

<br />

Pemeliharaan Rutin/ Berkala Kendaraan Dinas Operasional<br />

<br />

2.695.630.000,-<br />

372.390.000,-<br />

260.988.000,-<br />

4.090.000,-<br />

4. Peningkatan Disiplin Aparatur 66.250.000,-<br />

5.<br />

Pembangunan Jalan dan Jembatan<br />

Pembangunan Jalan (DAK)<br />

6.142.855.400,-<br />

6. 2.367.589.800,-<br />

7.<br />

8.<br />

Program Peningkatan Susunan Tata Ruang dan Tata<br />

Bangunan<br />

Penyediaan sarana dan Prasarana Fisik Bangunan<br />

Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan dan Jembatan<br />

Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan (DAU)<br />

3.826.800.864,-<br />

2.195.225.400,-<br />

9. 110.660.000,-<br />

10.<br />

Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan<br />

Air Limbah<br />

Penyediaan Prasarana dan sarana Air Limbah<br />

Pengembangan Sistem Distribusi Air Minum<br />

1.668.632.500,-<br />

874.022.500,-<br />

11. Program Kerjasama Pembangunan 39212.500,-<br />

Sumber: Dinas PU Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />

Suasana Pasar <strong>Aceh</strong> yang berada di pusat Kota Banda <strong>Aceh</strong>.<br />

pan, sehingga pengembangan infrastruktur<br />

pun harus disesuaikan,” sebutnya.<br />

Untuk tahun <strong>2011</strong>, <strong>Pemerintah</strong> Kota Banda<br />

<strong>Aceh</strong> merencanakan pengembangan ruas<br />

jalan dan ruang terbuka hijau di kawasan<br />

timur Kota Banda <strong>Aceh</strong>, namun upaya pembebasan<br />

lahan yang harganya melambung,<br />

menjadikan rencana ini belum berjalan<br />

sesuai dengan yang diharapkan. (yy)<br />

ICAIOS Gelar Konferensi<br />

Internasional <strong>Aceh</strong> III<br />

tralia, Inggris, Amerika Serikat,<br />

Turki, Singapura, Malaysia,<br />

Kanada, Belanda, Finlandia,<br />

dan dari sejumlah wilayah di<br />

Indonesia sendiri. Delegasi ilmuwan<br />

dari luar negeri akan<br />

hadir dengan jumlah bervariasi,<br />

dengan Jerman, Australia, dan<br />

Amerika Serikat sebagai delegasi<br />

terbesar dengan 5-10 il-<br />

<br />

ini akan dihadiri 150-200 orang<br />

peserta dalam dan luar negeri.<br />

ICAIOS adalah pusat kajian<br />

internasional tentang <strong>Aceh</strong> dan kawasan<br />

seputar Lautan India yang didirikan setelah<br />

<br />

ICAIOS adalah usaha bersama <strong>Pemerintah</strong><br />

<strong>Aceh</strong>, Universitas Syiah Kuala, IAIN<br />

Ar-Raniry, Universitas Malikul Saleh, Kementrian<br />

Ristek Indonesia, dan sejumlah<br />

tokoh masyarakat, akademisi dan lembaga<br />

akademik nasional dan internasional dalam<br />

rangka memperkuat sektor ilmu pengetahuan<br />

di <strong>Aceh</strong>, khususnya dalam rangka<br />

riset dan peningkatan kapasitas periset di<br />

<strong>Aceh</strong> dan atau tentang <strong>Aceh</strong>.<br />

ICAIOS mengadakan pelatihan metodelogi<br />

riset, berbagai training tematik,<br />

dan melakukan riset dalam bidang-bidang<br />

yang dianggap strategis untuk <strong>Aceh</strong> dan<br />

masyarakatnya. Fokus training dan kajian<br />

di ICAIOS meliputi (1) Sejarah dan peruba-<br />

lik/bencana;<br />

(3) Perubahan sosio-ekonomi<br />

dan lingkungan. Selain itu, ICAIOS juga<br />

melakukan kajian dan kerjasama penelitian<br />

dengan lembaga-lembaga nasional dan internasional<br />

pada topik-topik yang menjadi<br />

minat dan kepentingan bersama. Programprogram<br />

ICAIOS sejalan dengan Visi <strong>Aceh</strong><br />

2025 yang digagas <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> lewat<br />

Bappeda untuk mewujudkan sebuah<br />

knowledge-based society (masyarakat berbasis<br />

ilmu pengetahuan).<br />

ICAIOS berkantor di komplek Pusat<br />

Pelatihan Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya<br />

(PPISB) Unsyiah, termasuk gedung Annex<br />

yang dibangun oleh Program ARTI (<strong>Aceh</strong><br />

Research Training Institute). (*/hbn)<br />

<br />

FOTO: SUVIE


M<br />

TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> 11<br />

Banda <strong>Aceh</strong> Kota Tua-tua Keladi<br />

emasuki usianya yang ke- 806,<br />

Kota Banda <strong>Aceh</strong> masih terus beru-<br />

saha berdiri sama tegak duduk<br />

sama rendah dengan kota-kota lain di zona<br />

regionalnya. Sebagai tempat tinggal, tempat<br />

berinvestasi dan berbisnis yang nyaman,<br />

tujuan pendidikan, bahkan sebagai tempat<br />

tujuan wisata.<br />

Dengan semboyan “Pemulia Jamee Adat<br />

Geutanyoe”, yang digaungkan seiring dengan<br />

pelaksanaan program Visit Banda <strong>Aceh</strong> Year<br />

<strong>2011</strong>, Banda <strong>Aceh</strong> memang masih belum<br />

maksimal menarik investasi khususnya di<br />

sektor perdagangan dan jasa.<br />

Salah satu faktor yang masih harus terus<br />

dikembangkan adalah pembangunan infrastruktur.<br />

Selaku kota yang juga merupakan<br />

ibu kota provinsi, dan berada di daerah paling<br />

ujung destianasi, Banda <strong>Aceh</strong> memang<br />

harus menjadi pemuas bagi semua pihak.<br />

“Alhamdulillah, secara perlahan infrastruktur<br />

kita mulai terus membaik, dan ini<br />

hikmah terbesar yang kita rasakan setelah<br />

porak poranda dan hancur berantakan saat<br />

musibah gempa dan tsunami melanda <strong>Aceh</strong>,”<br />

sebut Mawardy Nurdin, Walikota Banda<br />

<strong>Aceh</strong>, kepada Tabangun <strong>Aceh</strong>, pekan lalu.<br />

Tak jauh beda dengan kota lainnya di Sumatera,<br />

berbagai problem perkotaan masih<br />

terus dihadapi oleh Banda <strong>Aceh</strong>. Di antaranya<br />

banjir genangan, ruang terbuka hijau, dan<br />

lingkungan kota yang rama gender, membuat<br />

Banda <strong>Aceh</strong> harus berjibaku dengan<br />

waktu memenuhi semua tuntutan tersebut.<br />

Oleh karena itu, menurut Jalaluddin,<br />

Plh Dinas Pekerjaan Umum Kota Banda<br />

<strong>Aceh</strong>, salah satu langkah penting untuk<br />

membangun dan memperkuat daya saing<br />

Banda <strong>Aceh</strong> adalah melalui pembangunan<br />

infrastruktur, terutama untuk mengatasi<br />

masalah-masalah yang menjadi penghambat<br />

daya saing kota.<br />

Setidaknya ada empat pilar<br />

infrastruktur yang harus<br />

dibangun sebagai pendukung<br />

daya saing menuju kota yang<br />

modern namun tetap berada<br />

pada kearifan lokal. Keempat<br />

pilar tersebut adalah infrastruktur<br />

transportasi, infrastruktur<br />

pengendali banjir, infrastruktur<br />

energy dan infrastruktur<br />

teknologi informatika.<br />

“Alhamdulillah keempat<br />

pilar ini semusa sudah bisa<br />

dinikmati di Kota Banda<br />

<strong>Aceh</strong>. Misalnya infrastruktur<br />

transportasi, kita sudah memiliki<br />

jalan yang cukup baik,<br />

selain untuk kenyamanan<br />

moda angkutan, jalan-jalan ini juga berfungsi<br />

sebagai escape road jika musibah gelombang<br />

pasng dan tsunami melanda pesisir,”<br />

jelas Jalal.<br />

Sepanjang tahun 2007-2010, Dinas Pekerjaan<br />

Umum Kota Banda <strong>Aceh</strong>, untuk bidang<br />

Bina Marga berhasil membangun ruas jalan<br />

sepanjang 69.005 meter, melakukan rehabilitasi/pemeliharaan<br />

jalan sepanjang 74.250<br />

meter, dan 2 unit jembatan dengan sumber<br />

dana dari APBK.<br />

Sementara untuk program tahun <strong>2011</strong>,<br />

Dinas PU Kota Banda <strong>Aceh</strong> melalui bidang<br />

Bina Marga juga merencanakan program<br />

pembangunan jalan sepanjang 4.330 meter<br />

dengan nilai anggaran Rp 5.968.050.000, rehabilitasi/pemeliharaan<br />

jalan termasuk pedestarian<br />

sepanjang 29.400 meter.<br />

Prioritas yang masih berlanjut untuk<br />

pembangunan infrastruktur pada tahun <strong>2011</strong><br />

adalah pembangunan infrastruktur banjir.<br />

Pembangunan infrastruktur banjir ini juga<br />

harus diikuti dengan penerapan tata ruang<br />

yang seimbang dan peningkatan ruang ter-<br />

<br />

buka hijau.<br />

“Dengan adanya pembangunan<br />

drainase banjir<br />

genangan di Kota Banda<br />

<strong>Aceh</strong> sudah bisa diminimalisir.<br />

Jika sebelumnya ketika<br />

hujan lebat kota banda<br />

aceh bisa mengalami banjir<br />

genangan 6-12 jam, namun<br />

sekarang hanya 2 jam saja,<br />

ketika hujan, dan saat hujan<br />

reda, genangan air pun menyurut,”<br />

jelas Jalal.<br />

Selain drainase, dua<br />

kolam penampungan air juga<br />

sudah dibangun yakni di kawasan<br />

Jeulingke (belakang<br />

Kantor Gubernur <strong>Aceh</strong>) dan<br />

di kawasan Desa Lamjamee.<br />

Guna mengantisipasi banjir genangan<br />

akibat hujan, <strong>Pemerintah</strong> Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />

mendapat bantuan pembangunan drainase<br />

yang dibagi dalam 7 zona, dan saat ini sepanjang<br />

186.689,25 meter saluran drainase sudah<br />

selesai dikerjakan. “Selain APBK, pembangunan<br />

drainase juga merupakan bantuan dari<br />

beberapa donor, di antaranya pemerintahan<br />

Jepang dan Perancis,” katanya.<br />

Selain itu, sebut Jalaluddin, untuk<br />

mencegah pasang air laut di daerah pesisir<br />

pantai juga telah dibangun tanggul pengaman<br />

pantai bantuan BRR. Lokasinya, tersebar<br />

di beberapa titik, yaitu pantai Ulee<br />

Lheue, Gampong Jawa, Lampaseh, Gano,<br />

Lampulo, Krueng Titi Panjang dan Krueng<br />

Neng.<br />

Selain tanggul pengaman, sepanjang<br />

8 kilometer break water pada garis pantai<br />

Ulhee Lheu hingga Alue Naga juga sudah<br />

selesai dibangun, dan sepanjang 450 meter<br />

masih dalam pengerjaan.<br />

Pemenuhan kebutuhan energi juga men-<br />

jadi hal yang sangat penting bagi Kota Banda<br />

<strong>Aceh</strong>. Walau pemadaman bergilir sudah<br />

mulai tak dirasakan oleh warga, namun keberlangsungan<br />

penyediaan arus listrik menjadi<br />

bagian dari kebutuhan infrastruktur di<br />

kota tua ini.<br />

“Banda <strong>Aceh</strong> akan sangat terbuka untuk<br />

investasi di bidang kelistrikan, karena<br />

ini memang sangat dibutuhkan. Saat ini<br />

meski sudah sangat jarang mengalami pemadaman<br />

bergilir, namun kebutuhan listrik<br />

masih kurang. Sejumlah hotel berbintang<br />

di Banda <strong>Aceh</strong> masih menggunakan mesin<br />

genset untuk jam-jam penting tertentu karena<br />

suplai arus yang kurang, jika nanti<br />

hotel sudah tak lagi menggunakan genset,<br />

mungkin bisa dikatakan arus listrik menjadi<br />

cukup,” ungkap Walikota Banda <strong>Aceh</strong>,<br />

Mawardy Nurdin.<br />

Banda <strong>Aceh</strong> mungkin juga perlu mempertimbangkan<br />

membangun infrastruktur<br />

pembangkit listrik tambahan untuk mendukung<br />

penyediaan energi listrik.<br />

Infrastruktur berikutnya yang dibutuhkan<br />

dan kini mulai diimplementasikan<br />

di Kota Banda <strong>Aceh</strong> adalah infrastruktur<br />

teknologi informatika. Penerapkan e-government<br />

dalam pengelolaan pemerintahan dan<br />

pelayanan publik. akan mendorong peningkatan<br />

efisiensi, kenyamanan, serta aksesibilitas<br />

yang lebih baik dari pelayanan publik<br />

yang sangat dibutuhkan oleh penduduk<br />

maupun kalangan bisnis.<br />

Disisi yang lain, Banda <strong>Aceh</strong> juga sudah<br />

mulai mengembangkan cyber city dengan<br />

memperbanyak kawasan-kawasan publik<br />

yang menjadi cyber area, sebagai fasilitas<br />

masyarakat mengakses informasi dengan<br />

memanfaatkan teknologi informatika.<br />

Usia tua tak menunjukkan Kota Banda<br />

<strong>Aceh</strong>, renta. Ternyata makin bertambah<br />

umurnya makin terus bergaya.(yy)<br />

Strategi Pengembangan Jaringan Jalan Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />

Pengembangan jaringan jalan arteri bertujuan:<br />

Pengembangan ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain.<br />

Penghubung pusat kegiatan regional dan nasional<br />

Komponen utama sistem transportasi Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />

KODE KETERANGAN<br />

A<br />

B<br />

C<br />

D<br />

E<br />

F<br />

<br />

H<br />

I<br />

J<br />

K<br />

L<br />

M<br />

N<br />

Pembangunan Jalan Banda <strong>Aceh</strong> Outer<br />

Ring Road (BORR)<br />

<br />

Meunasah Manyang<br />

Pembangunan Jalan Lambaro Skep-<br />

Tibang<br />

Penataan Sp.Tujuh Ulee Serta Pelebaran<br />

Jalan Jurong Dagang – Santan<br />

Perbaikan Simpang Dan Penerusan<br />

Jalan Taman Makam Pahlawan – Jalan<br />

AMD<br />

Pembangunan Jalan Mohd Jam –Jalan<br />

Tgk.Abdussalam Lambung<br />

Pembangunan Jalan Depan Rs. Meuraxa<br />

(Jl. Soekarno Hatta –Jl.Wedana)<br />

Pelebaran Jl.T.Iskandar (Sp.Beurawe –<br />

Sp – Tujuh Ulee Kareng)<br />

Pelebaran Jalan Syiah Kuala (Sp.Jambo<br />

Tape-Makam Syiah Kuala)<br />

Pelebaran Jalan Malikul Saleh (Sp.<br />

Lamlagang – Sukarno Hatta)<br />

Pelebaran Jalan Tunggal- Sp. Tujuh Ulee<br />

Kareng<br />

Pelebaran Jl.Inspeksi Kr.<strong>Aceh</strong> (Sp.<br />

Beurawe – Sp Jembatan Cot Irie –<br />

Sp.Lamyong)<br />

Pembangunan/Pelebaran Jalan Deah<br />

Raya Tibang<br />

Pelebaran Jalan. Tgk. Abdurrahman<br />

Meunasah Meuncap (Sp.Dodik – Sp<br />

Lamjame)<br />

O Pelebaran Jl. Wedana<br />

P<br />

Q<br />

Pembangunan Jalan Sp. Tujuh Ulee<br />

Kareng – Lamgapang<br />

Pembangunan Jalan Blang Oi –<br />

Lamteumen<br />

R Ulee Kareng Epicentrum<br />

S<br />

T<br />

Pembangunan Jalan t. Nyak Makam –<br />

Soekarno Hatta<br />

Pembangunan Jalan Inspeksi Kr. <strong>Aceh</strong><br />

Borr<br />

KE MEULABOH<br />

KE MEDAN<br />

<br />

Sumber: Dinas PU Kota Banda <strong>Aceh</strong>


12 TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />

P<br />

esantren Modern Terpadu Al-Furqan<br />

Bambi, Pidie, Selasa (17/05/<strong>2011</strong>),<br />

menggelar pertemuan akbar alumni<br />

(reuni) perdana sejak dayah itu didirikan<br />

pada tahun 1983 lalu. Dalam momen itu<br />

juga digelar seminar tentang problematika<br />

dayah, pendataan dan pemetaan potensi<br />

alumni yang kini tersebar di berbagai daerah<br />

di <strong>Aceh</strong>, Indonesia dan bahkan luar negeri.<br />

“Tujuan reuni ini selain sebagai ajang silaturrahmi<br />

juga membahas kontribusi alumni<br />

terhadap almamater. Kami yakin dayah<br />

Al-Furqan memiliki potensi alumni yang<br />

cukup besar untuk digerakkan guna membangkitkan<br />

pembangunan dayah baik dari<br />

aspek infrastruktur maupun pendidikan,”<br />

ungkap Muslem Daud, S.Ag, MEdMgmt<br />

yang memandu seminar.<br />

Ratusan alumni dari berbagai daerah<br />

hadir dalam pertemuan yang digelar di musalla<br />

dayah itu. Beberapa dari mereka diminta<br />

memaparkan konsep pengembangan dayah<br />

sekaligus memberikan inpirasi bagi para<br />

santri yang sedang menimba ilmu. Mereka<br />

antara lain Hasan Basri M Nur, Syarifuddin<br />

Abe, Ainal Mardhiah dan Abu Khaidir.<br />

B<br />

anda <strong>Aceh</strong> (26/4/<strong>2011</strong>).<br />

Albukhary International<br />

University (AIU) Malaysia<br />

akan memberikan beasiswa penuh<br />

untuk 5 orang putra-putri terbaik<br />

<strong>Aceh</strong> untuk belajar disana. Universitas<br />

yang berlokasi di Alor<br />

Setar, Malaysia ini akan memprioritaskan<br />

putra-putri terbaik dan<br />

cemerlang dari berbagai belahan<br />

dunia dengan prioritas utama keluarga<br />

miskin dan tidak mampu.<br />

Dr. Muhammad Subhan dari<br />

House of <strong>Aceh</strong> (HoA) Internasional dalam<br />

siaran pressnya menyampaikan saat ini ada<br />

502 orang mahasiswa asing yang berasal dari<br />

52 negara seperti Bosnia, Kosovo, Thailand,<br />

Myanmar dan lain-lain belajar dan menuntut<br />

ilmu diuniversitas tersebut. Subhan lebih<br />

lanjut menyampaikan universitas yang<br />

memprioritaskan 80 persen mahasiswa asing<br />

dan 20 persen mahasiswa lokal pada saat ini<br />

baru melaksanakan program matrikulasi, sedangkan<br />

program sarjana baru akan dimulai<br />

pada Juni 2012 dengan bidang ilmu akuntansi,<br />

administraasi bisnis, ekonomi, studi pem-<br />

Semua pemateri menyatakan, dayah Al-<br />

Furqan memiliki potensi alumni yang luar biasa<br />

jika digerakkan. Alumni dayah itu saat ini<br />

bertebaran di berbagai instansi di <strong>Aceh</strong> maupun<br />

di luar <strong>Aceh</strong>. “Ikatan emosional antara<br />

dayah dengan bekas santri tak akan pernah<br />

lekang. Untuk itu, berbagilah permasalahan<br />

dengan kami agar dapat secara bersama-sama<br />

dicarikan solusi pengembangan dayah di<br />

masa mendatang. Kami siap kapan saja jika<br />

pihak dayah membutuhkan bantuan,” ungkap<br />

Ainal Mardhiah, MA yang juga dosen di<br />

Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry.<br />

Dalam seminar itu, Kepala Dayah Al-<br />

Furqan, Drs Tgk H Badruddin Puteh, M.Pd,<br />

memaparkan beberapa kekurangan yang<br />

saat ini dialami dayah modern tertua kedua<br />

di <strong>Aceh</strong> itu. Menurutnya, saat ini dayah<br />

kekurangan ruang makan bagi santriwati,<br />

kekurangan satu ruang belajar, fasilitas olah<br />

raga dan lain-lain. “Selain butuh beberapa<br />

bangunan fisik, kami juga berharap agar<br />

alumni bersedia mengadakan bimbingan<br />

masuk perguruan tinggi bagi calon mahasiswa<br />

asal Al-Furqan,” pinta Badruddin Puteh<br />

yang sudah mengabdi sejak 1983. (bul)<br />

bangunan dan ilmu komputer.<br />

The <strong>Aceh</strong> Institute melalui<br />

inisiatif House of <strong>Aceh</strong> (HoA)<br />

Internasional telah diberi kepercayaan<br />

untuk merekrut calon<br />

mahasiswa Albukhari Internasional<br />

University untuk Semester<br />

bulan September <strong>2011</strong>. Kepercayaan<br />

yang diberikan melalui<br />

Prof. Dr. Kamaruzzaman<br />

Askandar (University Sains Malaysia)<br />

berdasarkan permintaan<br />

dari pihak Albukhari Internasional<br />

University (AIU) sendiri, ujar Subhan.<br />

Lebih lanjut Subhan menyampaikan<br />

adapun kriteria umum calon penerima beasiswa<br />

Albukhari Internasional University<br />

antara lain : mempunyai prestasi akademik<br />

yang cemerlang (minimum nilai 8 untuk<br />

pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris),<br />

calon pelajar mesti dari keluarga kurang<br />

beruntung (miskin), belum menikah dan<br />

berusia tidak lebih dari 22 tahun, bersedia<br />

mematuhi peraturan dan ketetapan universitas,<br />

sehat fisik dan mental.<br />

Adapun kriteri khusus, adalah, asli<br />

penduduk <strong>Aceh</strong> (keluarga <strong>Aceh</strong>), memiliki<br />

TOEFL minimum 470 atau nilai B.Inggris<br />

rata-rata 8 sejak dari kelas 1 hingga kelas<br />

3 atau mempunyai kemampuan berkomunikasi<br />

dalam bahasa Inggris dengan baik,<br />

mempunyai jiwa kepemimpinan (leadership)<br />

dan komunikatif, mempunyai latar<br />

<br />

Dayah Al-Furqan Galang Potensi Alumni<br />

FESTIVAL DAN EVENT ACEH BULAN MEI - JUNI <strong>2011</strong><br />

FOTO: IRVAN<br />

Ainal Mardhiah, salah satu alumni Dayah AL-Furqan saat mempresentasikan potensi alumni dan<br />

kontribusinya bagi almamater di hadapan santri, dewan guru dan alumni dayah, Selasa (17/5).<br />

Albukhari Internasional University<br />

Beri Beasiswa untuk Pelajar Terbaik <strong>Aceh</strong><br />

Kriteria umum calon penerima beasiswa Albukhari<br />

Internasional University antara lain : mempunyai prestasi<br />

akademik yang cemerlang (minimum nilai 8 untuk pelajaran<br />

Matematika dan Bahasa Inggris), calon pelajar mesti dari<br />

keluarga kurang beruntung (miskin), belum menikah dan<br />

berusia tidak lebih dari 22 tahun.<br />

<br />

belakang atau pengetahuan agama yang<br />

kuat. Selain itu ungkap Subhan peserta<br />

juga diminta membuat Karya Tulis Sebanyak<br />

2 Halaman dengan Tema “Seandainya<br />

saya diterima di Albukhary Internasional<br />

University Malaysia dan Saya akan Membangun<br />

<strong>Aceh</strong> masa depan “. (fzu).<br />

Acara <br />

Tanggal 25 – 26 Mei <strong>2011</strong><br />

<br />

<br />

Lokasi <br />

<br />

Acara Pameran Indonesia City Expo Tahun <strong>2011</strong> <strong>Pemerintah</strong> Kota Banda <strong>Aceh</strong> dalam rangka APEKSI akan menggelar acara Pameran Indonesia City Expo Tahun <strong>2011</strong>. Pada acara<br />

Tanggal 28 Mei s.d 01 Juni <strong>2011</strong><br />

Pameran Indonesia City Expo Tahun <strong>2011</strong> akan digelar pameran kerajinan dan pertunjukan kesenian khasanah budaya nusantara<br />

dari seluruh kota yang ada di Indonesia.<br />

Lokasi Lapangan Blang Padang <br />

<br />

P<br />

<br />

Konsolidasi Peneliti <strong>Aceh</strong><br />

eneliti <strong>Aceh</strong> yang tergabung dalam<br />

Forum Peneliti <strong>Aceh</strong> (FBA) menggelar<br />

Workshop dan Sosialisasi Jaringan<br />

dan Riset <strong>Aceh</strong> (16/05/<strong>2011</strong>). Workshop ini<br />

turut dihadiri sejumlah peneliti muda dan<br />

utusan dari Bapeda <strong>Aceh</strong>, Universitas Syiah<br />

Kuala, IAIN Ar-Raniry, Universitas Malikussaleh<br />

dan Universitas Teuku Umar, Kontras<br />

<strong>Aceh</strong>, Kelompok Kerja Transformasi<br />

Gender <strong>Aceh</strong>, Komunitas Tikar Pandan,<br />

The <strong>Aceh</strong> Institute, House of <strong>Aceh</strong>, Bandar<br />

Publishing, ACSTF, ICAIOS bertempat di<br />

Ruang Audio Conference Fakultas Keguruan<br />

dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas<br />

Syiah Kuala.<br />

Worskhop ini difasilitasi oleh<br />

tim Conflict and Development Bank<br />

Dunia <strong>Aceh</strong> (CPDA) turut dihadiri Dr.<br />

Saiful Mahdi, Dr. Nazamuddin, Dr. Eka<br />

Mulyani, Dr. Inayatillah, Fuad Mardhatillah,<br />

MA dan sejumlah peneliti muda<br />

<strong>Aceh</strong> lainnya. Marthunis Muhmmad dari<br />

Bappeda <strong>Aceh</strong> mengharapkan penelitianpenelitian<br />

yang dilaksanakan hendaknya<br />

dapat saling bersinergi dalam upaya<br />

mewujudkan Visi <strong>Aceh</strong> 2025 yang Islami,<br />

Maju, Damai dan Sejahtera.<br />

Forum ini telah bersepakat mendorong<br />

<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> untuk menjadikan riset<br />

sebagai landasan utama dalam perencanaan<br />

pembangunan terutama terhadap<br />

sektor-sektor strategis dan berdampak<br />

jangka panjang. Forum ini juga telah<br />

bersepakat untuk memperkuat peran dan<br />

jaringan peneliti <strong>Aceh</strong> baik dalam tataran<br />

lokal, nasional dan internasional dimasa<br />

akan datang. Workshop juga telah berhasil<br />

melahirkan struktur organisasi FBA dengan<br />

koordinator terpilih Dr. Saleh Sjafei<br />

dari Fisipol Universitas Syiah Kuala dan<br />

Sekretaris Dr. Muhammad Subhan sekaligus<br />

pengurus House of <strong>Aceh</strong> Internasional.<br />

Pada akhir pertemuan Forum Peneliti<br />

<strong>Aceh</strong> telah mengagendakan tiga kegiatan<br />

pokok, yaitu memperkuat database penelitian,<br />

pemetaan sumberdaya dan lalulintas<br />

penelitian, Serial Diskusi , Publikasi hasilhasil<br />

penelitian. (fzu)


K<br />

B<br />

epala Bappeda <strong>Aceh</strong> Ir. Iskandar,<br />

M.Sc mengatakan <strong>Aceh</strong> mengusul-<br />

kan Rp <strong>13</strong>,3 Trilyun pembiayaan<br />

Pembangunan <strong>Aceh</strong> yang bersumber dari<br />

APBN untuk tahun 2012. Hal itu disampaikan<br />

Kepala Bappeda takkala menerima<br />

wartawan Tabangun <strong>Aceh</strong> diruang kerjanya<br />

(10/05/<strong>2011</strong>) di Kantor Bappeda <strong>Aceh</strong>.<br />

Ir. Iskandar, M.Sc menambahkan usulan<br />

anggaran tersebut telah disampaikan Bappeda<br />

<strong>Aceh</strong> pada Musyawarah Rencana Pembangunan<br />

Nasional (Musrenbang) di Jakarta<br />

(25/04/<strong>2011</strong>) bersama Bappenas, Kementerian<br />

Keuangan dan Kementerian terkait lainnya.<br />

Anggaran tersebut akan dipergunakan untuk<br />

melanjutkan rencana pembangunan jangka<br />

menengah (RPJM), melanjutkan kesinambungan<br />

rekonstruksi <strong>Aceh</strong>, rekonstruksi<br />

Tangse, pembangunan koridor ekonomi Sumatera<br />

dan beberapa iniasiatif (new inisiatif)<br />

Pembangunan <strong>Aceh</strong>.<br />

Ir. Iskandar, M.Sc menambahkan anggaran<br />

tersebut tetap akan diprioritaskan<br />

untuk pembangunan infrastruktur seperti<br />

irigasi, jalan termasuk jalan usaha tani dan<br />

sentra produksi, pemberdayaan ekonomi,<br />

pendidikan dan kesehatan. Anggaran ini<br />

juga dipergunakan untuk mendukung ketahanan<br />

pangan <strong>Aceh</strong> (<strong>Aceh</strong> food estate) dan<br />

peningkatan produksi dan produktivitas sejumlah<br />

komoditi ekspor <strong>Aceh</strong> seperti kopi,<br />

kakao dan karet dimasa akan datang mela-<br />

<br />

anda <strong>Aceh</strong> (06/05/<strong>2011</strong>), Gubernur<br />

<strong>Aceh</strong> diwakili Sekretaris Daerah <strong>Aceh</strong><br />

T. Setia Budi membuka Pertemuan<br />

dan Serial Diskusi Pembangunan <strong>Aceh</strong> dengan<br />

tema “Menuju Industri Pengolahan<br />

Perikanan <strong>Aceh</strong>”. Acara yang digagas dan<br />

diinisiasi House of <strong>Aceh</strong> Internasional dan<br />

The <strong>Aceh</strong> Institute bekerjasama dengan<br />

Bappeda <strong>Aceh</strong>, Dinas Perikanan dan Kelautan<br />

<strong>Aceh</strong>, Badan Investasi dan Promosi<br />

<strong>Aceh</strong> dan BPKS dengan menghadirkan nara<br />

sumber Ir. Bastian M.Si dari Bappeda <strong>Aceh</strong>,<br />

Ir. Anwar Muhammad, M.Si Kepala Badan<br />

Promosi dan Investasi <strong>Aceh</strong> serta Ir. Razali<br />

M.Si Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan<br />

<strong>Aceh</strong>. Acara ini turut dihadiri Wakil<br />

Ketua DPRA Sulaiman Abda dan sejumlah<br />

stakeholder terkait bidang perikanan seperti<br />

unsur Dinas Perikanan dan Kelautan<br />

<strong>Aceh</strong>, Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi,<br />

Dinas Perindag UKM <strong>Aceh</strong>, Biro<br />

Ekonomi dan Pembangunan <strong>Aceh</strong>, Bank Indonesia,<br />

Bank <strong>Aceh</strong>, BRI, BNI, Bank Mandiri,<br />

Bank Syariah, Panglima Laot <strong>Aceh</strong>,<br />

UNDP, Assosiasi Pengusaha <strong>Aceh</strong>, praktisi<br />

dan akademisi. Acara ini juga turut dhadiri<br />

pengusaha sukses bidang Perikanan di<br />

Jakarta Gunadi Ali Marwan Direktur PT.<br />

Margalindo Group yang memiliki industri<br />

pengolahan perikanan terpadu di Muara<br />

Baru Jakarta mulai dari industri pakan,<br />

prosessing dan pemasaran produk olahan<br />

perikanan. T.Setia Budi mengharapkan pertemuan<br />

ini bisa membawa suatu perubahan<br />

yang signifikan dalam pembangunan perikanan<br />

<strong>Aceh</strong> masa depan dalam koridor visi<br />

<strong>Aceh</strong> 2025 menuju <strong>Aceh</strong> yang Islami, maju,<br />

damai dan sejahtera dan mengharapkan<br />

sektor perikanan bisa menjadi sumber alternatif<br />

pendapatan <strong>Aceh</strong> dimasa akan datang<br />

pasca berakhirnya otsus dan migas.<br />

lui revitalisasi perkebunan, intensifikasi,<br />

peningkatan profesionalisme dan jiwa eunterpreneurship<br />

generasi muda <strong>Aceh</strong> untuk<br />

menggeluti bidang usaha pertanian dalam<br />

arti luas.<br />

Tuan Rumah Pertemuan<br />

Bappeda Se-Indonesia<br />

Pada pertemuan dengan Tim Tabangun<br />

<strong>Aceh</strong> Ir. Iskandar, MSc juga menyampaikan<br />

rencana pertemuan dan rapat kerja (raker)<br />

Bappeda Se-Indonesia yang akan dilaksanakan<br />

pada bulan Juni akan datang. Pertemuan<br />

ini akan dihadiri Menteri Dalam<br />

Negeri, Menteri Pemberdayaan Aparatur<br />

Negara dan Menteri Perencanaan Pembangunan<br />

Nasional (Bappenas). Ir. Iskandar,<br />

M.Sc menambahkan Menteri Perencanaan<br />

Pembangunan Nasional (Bappenas) dapat<br />

menyampaikan materi Revitalisasi Musrenbang<br />

dan Menteri Dalam Negeri dapat<br />

menyampaikan Implementasi PP No.23<br />

Tahun <strong>2011</strong> tentang Perencanaan Pembangunan<br />

Nasional.<br />

Iskandar menambahkan pada pertemuan<br />

tersebut juga diharapkan membahas<br />

untuk menaikkan eselon Bappeda karena<br />

menurut Iskandar, kesalahan pembangunan<br />

diawali dengan kesalahan dalam membuat<br />

perencanaan dan ini berakibat fatal<br />

bagi pembangunan itu sendiri. Karena itu<br />

Iskandar tidak mau mengulangi kesalahan<br />

yang sama seperti selama ini karena itu Is-<br />

T.Setia Budi menambahkan bahwa<br />

selama ini sektor perikanan <strong>Aceh</strong> masih<br />

digarap secara tradisional dan parsial<br />

termasuk juga sektor pertanian lainnya,<br />

sehingga sektor ini belum memberikan<br />

pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan<br />

<strong>Aceh</strong>, walaupun menjadi sumber<br />

penghidupan 60% rakyat <strong>Aceh</strong>. Selain itu<br />

T.Setia Budi juga menyampaikan bahwa<br />

selama ini proses perniagaan perikanan<br />

<strong>Aceh</strong> maupun ekspor banyak dilakukan<br />

melalui provinsi tetangga Sumatera Utara,<br />

sehingga nilai tambahnya tidak mengalir ke<br />

<strong>Aceh</strong>. T.Setia Budi merasa prihatin selama<br />

ini ekspor perikanan <strong>Aceh</strong> kebanyakan dilakukan<br />

dalam keadaan mentah atau tanpa<br />

mengalami proses pengolahan lebih lanjut<br />

sehingga nilai jualnya menjadi rendah.<br />

Pertemuan dan diskusi ini sangat strategis,<br />

karena diperkirakan pelabuhan bebas<br />

Sabang (BPKS) dan sejumlah pelabuhan<br />

ekspor lainnya seperti Krueng Geukeh,<br />

Malahayati, Kuala Idie, Calang di <strong>Aceh</strong><br />

daratan akan selesai paling lambat pada tahun<br />

2012. Pelabuhan-pelabuhan ini bukan<br />

hanya berfungsi melayani jasa kepelabuhan<br />

tetapi juga berfungsi untuk eksport sejumlah<br />

komoditi strategis khususnya produk<br />

pertanian, perikanan, perkebunan dan lainlain<br />

dari <strong>Aceh</strong> daratan. T.Setia Budi meminta<br />

seluruh stakeholder SKPA, pengusaha,<br />

perbankan, pemerintah kabupaten/kota beserta<br />

masyarakat untuk bekerja keras, serius<br />

dan bahu-membahu mewujudkan impian<br />

menuju masyarakat <strong>Aceh</strong> yang makmur dan<br />

sejahtera.<br />

Fauzi Umar dari House of <strong>Aceh</strong> Internasional<br />

mengatakan House of <strong>Aceh</strong> yang<br />

lahir dan dan digagas dari hasil Konferensi<br />

Masyarakat <strong>Aceh</strong> Dunia (World Achenese<br />

Association) untuk mendorong pem-<br />

kandar mengharapkan sejumlah dokumen<br />

perencanaan seperti Rencana Tata Ruang<br />

Wilayah <strong>Aceh</strong> (RTRWA), RPJP <strong>Aceh</strong> yang<br />

memuat visi <strong>Aceh</strong> 2025 dapat diselesaikan<br />

bangunan <strong>Aceh</strong> yang lebih baik menuju<br />

masyarakat <strong>Aceh</strong> yang Islami, maju, damai<br />

dan sejahtera melalui pelibatan seluruh<br />

stakeholder terkait termasuk petani dan<br />

nelayan guna mewujudkan <strong>Aceh</strong> untuk semua<br />

(<strong>Aceh</strong> for All). House of <strong>Aceh</strong> telah<br />

memiliki jaringan pada lebih 12 negara dan<br />

dapat dimanfaatkan <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> sebagai<br />

jendala promosi <strong>Aceh</strong> pada masyarakat<br />

dunia khususnya pada bidang seni budaya,<br />

pariwisata, investasi, olahraga dan phylantropy.<br />

Selanjutnya Fauzi Umar juga menyampaikan<br />

dalam waktu dekat House of<br />

<strong>Aceh</strong> akan mengirimkan 5 putra-putri terbaik<br />

<strong>Aceh</strong> untuk belajar di Al-Bukhari Uni-<br />

TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> <strong>13</strong><br />

Bappeda <strong>Aceh</strong> jadi Tuan Rumah<br />

Rapat kerja Bappeda se-Indonesia<br />

FOTO: DOK <strong>BAPPEDA</strong> ACEH<br />

<br />

Bappeda <strong>Aceh</strong>.<br />

dalam waktu secepatnya dan ini telah mendapat<br />

respon dari DPRA untuk menyelesaikan<br />

RTRWA paling lambat pada bulan Juni<br />

<strong>2011</strong>. (fzu).<br />

<strong>Aceh</strong> Butuh Industri Pengolahan Perikanan<br />

FOTO: IRVAN<br />

Kepala Bidang Perencanaan Ekonomi dan Tenaga Kerja <strong>Aceh</strong>, Ir. TM Bastian, MSi sedang<br />

mempresentasikan Visi <strong>Aceh</strong> 2025 didampingi Kepala Badan Investasi dan Promosi <strong>Aceh</strong> Ir. Anwar<br />

Muhammad, MSi dan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan <strong>Aceh</strong> Ir. Razali, MSi dengan moderator<br />

<br />

versity Malaysia dengan beasiswa penuh<br />

yang dikhususkan untuk keluarga <strong>Aceh</strong><br />

kurang mampu, namun memiliki prestasi<br />

akademik dan jiwa kepemimpinan.<br />

Fadhli Ali selaku moderator pada akhir<br />

pertemuan menegaskan bahwa para peserta<br />

diskusi menyepakati untuk pembentukan<br />

Forum Percepatan Pengembangan Perikanan<br />

<strong>Aceh</strong> lintas sektoral yang akan mengawal<br />

dan menindaklanjuti hasil diskusi ini. Dengan<br />

pembentukan Forum ini diharapkan<br />

cita-cita untuk menghadirkan industri prosesing<br />

sektor perikanan dan komoditi perikanan<br />

yang diekspor melalui <strong>Aceh</strong> dapat<br />

terwujud.(fzu)


14 TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />

<br />

S<br />

Butuh Irigasi &<br />

Penyuluh Pertanian<br />

Saya selama<br />

ini sebagai petani,<br />

hasil panen kami<br />

sangat tergantung<br />

pada air hujan.<br />

Saya heran saya<br />

mendengar ada<br />

waduk keliling<br />

di aceh besar tapi<br />

airnya tetap saja<br />

tidak sampai ke<br />

sawah kami. Hendak nya Dinas Pertanian dan<br />

Dinas pengairan saling kerja sama membantu<br />

petani untuk meningkatkan kesejahteraan<br />

masyarakat di masa akan datang.<br />

Penyuluh apertanian kembali di gerakkan<br />

untuk membantu petani dan turun ke<br />

lapangan, jangan asik di kantor aja selama ini<br />

kami hanya bisa memanen satu kali setahun,<br />

Irigasi tidak terurus sehingga air yang mengalir<br />

kesawah terbatas. <strong>Pemerintah</strong> aceh hendaknya<br />

mengaktifkan kembali peran keujrun<br />

blang sehingga produksi padi di <strong>Aceh</strong> meningkat<br />

dan Beras <strong>Aceh</strong> kembali terkenal.<br />

Syathani (58th)<br />

Petani Desa Siem <strong>Aceh</strong> Besar<br />

ekilas dia tampak biasa, tak terlihat memiliki<br />

keunggulan tertentu, apalagi kip-<br />

rah internasional. Penampilannya seder-<br />

hana dengan pakaian biasa, nyaris tak pernah<br />

mengenakan pakaian kebesaran dinas yang<br />

kerap dibanggakan orang. Dengan berkendara<br />

kuda jepang usang, ia tidak pernah memilih<br />

dalam bergaul. Siapa saja dapat berbincang<br />

dengannya dengan berbagai topik aktual. Lawan<br />

bicara akan tersentak tatkala berbincang<br />

dengan sosok “misterius” itu.<br />

Begitulah penampilan keseharian Tarmizi<br />

A. Hamid (45). Saat ditemui Tabangun<br />

<strong>Aceh</strong> di salah satu studio di kawasan Ulee<br />

Kareng, Kamis (19/5/<strong>2011</strong>), pria lengking ini<br />

bercerita panjang lebar tentang sejarah <strong>Aceh</strong>,<br />

potensi <strong>Aceh</strong> beserta peninggalan endatu<br />

masa lampau. Pria kelahiran Teupin Raya,<br />

Pidie, yang sehari-hari berkerja di Balai Pengkajian<br />

Tehnologi Pernatian (BPTP) <strong>Aceh</strong> ini<br />

ternyata menyimpan segudang manuskrip<br />

peninggalan Kesultanan <strong>Aceh</strong> masa lampau.<br />

Sarjana pertanian ini memiliki hobi<br />

mengoleksi kazanah <strong>Aceh</strong> tempo dulu karena<br />

memiliki tanggung jawab yang tinggi<br />

<strong>Aceh</strong> memiliki banyak potensi; di bidang<br />

sumber daya alam, kultur juga bidang<br />

pariwisata. Hanya saja selama ini terkesan<br />

pemerintah belum menggali potensipotensi<br />

itu untuk dipromosikan ke jajaran<br />

masyarakat nusantara dan dunia. Seharusnya<br />

potensi-potensi itu didata, didokumentasikan<br />

dan selanjutnya dipromosikan. Selaku<br />

fotografer, saya siap membantu pemerintah<br />

untuk mengabadikanpotensipotensi<br />

itu untuk<br />

kemudian<br />

disebarluaskan<br />

oleh instansi<br />

terkait. Jika<br />

bekerja sendiri<br />

p e m e r i n t a h<br />

tentu akan mengalamikesulitan,<br />

makanya<br />

perlu digalang<br />

dukungan dari<br />

berbagai unsur.<br />

Andi Madusila<br />

Fotografer<br />

dalam memelihara warisan budaya di tengah<br />

minimnya perhatian pemerintah di<br />

bidang itu. “Upaya-upaya individu dalam<br />

mengumpulkan naskah kuno seperti yang<br />

saya geluti sejak 1995 ini tentu dapat membantu<br />

pihak pemerintah walau pun gerakan<br />

saya ini belum pernah mendapat pendanaan<br />

dari pemerintah. Uang dari kocek sendiri<br />

sudah tak terhitung angkanya demi menyelamatkan<br />

warisan endatu”, tutur pria yang<br />

akrab disapa Cek Midi ini.<br />

“Meski tidak pernah mendapat pendanaan<br />

dari pemerintah, dalam setiap even<br />

di luar negeri saya selalu membawa nama<br />

<strong>Aceh</strong>, tidak pernah membawa nama pribadi.<br />

Inilah bentuk kontribusi yang dapat<br />

saya berikan demi merajut kesinambungan<br />

antargenerasi,” ujar pelanggan kopi Warkop<br />

SMEA Lampineung itu.<br />

Menurut Tarmizi, terkumpulnya manuskrip<br />

itu menjadi bukti kemajuan intelektual<br />

<strong>Aceh</strong> masa lampau yang akan menjadi bahan<br />

kajian bagi ilmuwan masa kini. “Sebagian<br />

orang terkadang hanya berbicara saja<br />

tentang kejayaan <strong>Aceh</strong> masa lampau. Tapi<br />

Selaku mahasiswa,<br />

saya<br />

sangat memperhatikan<br />

bidang<br />

pendidikan. Baru-baru<br />

ini saya<br />

sangat prihatin<br />

tentang ketidaklulusansiswasiswi<br />

<strong>Aceh</strong>. Saya<br />

menyarankan<br />

agar <strong>Pemerintah</strong><br />

perlu mempersiapkan<br />

guru yang berkualitas dan punya<br />

tanggung jawab untuk mengajar di daerah<br />

atau pedalaman. Selain itu, berbagai fasilitas<br />

yang layak harus disediakan, sehingga bisa<br />

meningkatkan kecerdasan yang indikatornya<br />

pada tingginya tingkat kelulusan. Saya juga<br />

berharap agar pemerintah mempertahankan<br />

dan menambah volume program beasiswa<br />

yang sedang berjalan, supaya ke depan akan<br />

mudah lahirnya generasi cerdas dan siap bersaing.<br />

Afdhal Ilmi<br />

Mahasiswa SMI IAIN Ar-Raniry<br />

dengan adanya bukti-bukti peninggalan sejarah<br />

ini seharusnya sejarah <strong>Aceh</strong> direstorasi<br />

dengan referensi-referensi primer yang ada.<br />

Berbicara tanpa bukti kongkrit adalah peh<br />

tem (omong kosong, red), dan saya yakin<br />

pembesar <strong>Aceh</strong> masa lampau bukanlah generasi<br />

peh tem. Kebesaran <strong>Aceh</strong> masa lampau<br />

harus mampu menumbuhkan inspirasi bagi<br />

generasi terkini untuk berbuat lebih besar<br />

dari pendahulu,” harap ayah dua anak ini.<br />

Untuk kepentingan pemeliharaan manuskrip,<br />

Cek Midi bahkan telah membangun<br />

satu unit perpustakaan khusus di rumahnya<br />

di kawasan Ie Masen Kayee Adang, Banda<br />

<strong>Aceh</strong>. “Naskah-naskah itu harus disimpan di<br />

tempat khusus untuk agar terpelihara dengan<br />

baik. Beberapa lembaga dari dalam luar negeri<br />

ikut membantu dalam restorasi naskah kuno<br />

di perpustakaan pribadi saya,” imbuhnya.<br />

Ditanya jumlah manuskrip yang ada di<br />

tangannya saat ini, Tarmizi mengaku berjumlah<br />

sekitar 500 eksemplar. Naskah-naskah itu ratarata<br />

berusia 400 tahun dan masih dapat dibaca<br />

dengan jelas, terdiri dari bahasa Arab, bahasa<br />

<strong>Aceh</strong> dan kebanyakan berbahasa Melayu. “Selain<br />

500 eks yang tersimpan di rumah, ada 156<br />

eks yang saya simpan di mesium manuskrip<br />

di ruang khusus University Brunei Darussalam<br />

(UBD). Penyimpanan di Brunei ini berawal saat<br />

ikut pameran budaya internasional yang digelar<br />

2004,” tambah suami dari Nurul Husna, dosen<br />

Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry itu.<br />

Ditambahkan, keberadaan manuskrip<br />

<strong>Aceh</strong> di Brunei hanya dapat diakses oleh<br />

Tarmizi sendiri dan Prof Dr Brahim Tengah<br />

(Direktur Fakultas Budaya dan Sastra<br />

Melayu). “Yang tersimpan di Brunei adalah<br />

manuskrip pilihan untuk kebutuhan pameran<br />

internasional. Untuk mengembalikannya<br />

Perhatian <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> di bidang<br />

kesehatan sudah sangat baik. Program JKA<br />

itu harus dipertahankan karena manfaatnya<br />

dirasakan oleh rakyat kecil. Selaku pedagang<br />

pakaian kecil-kecilan, saya berharap<br />

program di bidang pemberdayaan penguasaha<br />

kecil itu harus diperhatikan. Bagaimana<br />

mungkin kami menjadi penguasaha jika<br />

tanpa binaan dan pinjaman modal usaha,<br />

supaya tidak terjadi jatuh bangun karena<br />

selama ini yang mendapatkan modal usaha<br />

hanya kalangan<br />

terbatas. Saya<br />

berharap pemerintahmelakukan<br />

pendataan<br />

mereka yang<br />

betul-betul sudah<br />

bergelut di bidang<br />

usaha kecil<br />

untuk dibantu.<br />

Jangan salah<br />

dalam memberikan<br />

bantuan.<br />

Fauzi<br />

Pedagang pakaian di Beurawe<br />

Melirik Sosok Kolektor Naskah Kuno <strong>Aceh</strong><br />

FOTO: IRVAN<br />

Tarmizi A Hamid bersama tim dari Banda <strong>Aceh</strong> sedang meneliti cap kertas (watermark) pada naskah<br />

Al-Quran kuno warisan Daeng Mansur ibn Syeh Abdullah Malikul Amin (Tgk. Chik Dirubee), di<br />

dampingi Hj Hamidah Risyad selaku pewaris di Rubee, Delima, Pidie.<br />

APA KATA MEREKA<br />

Promosikan<br />

Potensi <strong>Aceh</strong><br />

<br />

Prioritaskan<br />

Pendidikan<br />

“Selain 500 eks yang tersimpan di rumah, ada<br />

156 eks yang saya simpan di mesium manuskrip<br />

University Brunei Darussalam (UBD). Penyimpanan<br />

di Brunei ini berawal saat ikut pameran budaya<br />

internasional yang digelar 2004,”<br />

-- TARMIZI A HAMID --<br />

Jangan Abaikan<br />

Pengusaha Kecil<br />

ke <strong>Aceh</strong> dibutuhkan dana besar terutama bea<br />

cukai dan harus ada tempat penyimpanan<br />

yang layak. Jadi, tidak asal bawa pulang.<br />

Untuk apa dibawa pulang kalau sesampai di<br />

sini justru terbengkalai,” katanya.<br />

Tarmizi mengaku hanya memahami sebagian<br />

saja isi dari 600 naskah itu, terutama<br />

yang berbahasa Melayu dan <strong>Aceh</strong>. “Di<br />

sinilah peran dan fungsi intelektual dibutuhkan<br />

agar semua substansi dalam naskah<br />

itu dapat ditelaah. Naskah-naskah itu berisi<br />

beragam informasi dan panduan hidup, termasuk<br />

di bidang pemerintahan, agama, sosial,<br />

ramalan hingga soal kedokteran. Sungguh<br />

naïf jika kita mengabaikan kearifan<br />

lokal ini,” ujar pria yang berhasrat meneliti<br />

kekayaan budaya Linge, Gayo, ini.<br />

Kekayaan khazanah <strong>Aceh</strong> terus membakar<br />

semangat Tarmizi untuk mengumpulkan<br />

naskah kuno, walau kekayaan pribadinya<br />

terus terkuras. Ratusan juta rupiah telah dihabiskannya<br />

untuk hal ini. Dia rela berkendara<br />

sepeda motor butut, dan rumah yang<br />

tidak kunjung selesai. Semua itu karena dia<br />

yakin di dalam manuskrip-manuskrip itulah<br />

terdapat fondasi <strong>Aceh</strong> yang sesungguhnya.<br />

“Beberapa waktu lalu, ada seseorang dari<br />

pedalaman <strong>Aceh</strong> menawarkan sekitar 300<br />

judul manuskrip kuno. Tapi, saat ini, saya<br />

kehabisan cadangan dana sehingga belum<br />

sanggup membayar ganti rugi kepada kolektor<br />

tingkat gampong. Mudah-mudahan Tuhan<br />

membuka pintu rezeki kepada saya agar dapat<br />

menyelamatkan naskah-naskah itu,” katanya<br />

lirih sembari menghirup kopi Ulee Kareng.<br />

Dia mengaku selalu siap berdiskusi tentang<br />

khazanah <strong>Aceh</strong>, baik melalui pertemuan langsung<br />

maupun via email tarmiziahamid@yahoo.com.<br />

hasan basri m nur


<strong>Edisi</strong> <strong>13</strong><br />

Nama : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />

Alamat Rumah : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />

Sekolah / Alamat : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />

Kelas : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />

Mendatar :<br />

1.Zat cair sebagai sumber kehidupan 3.Busa 4.Bulu di atas mata 6.Air bercampur tanah 8.Salah<br />

satu binatang air 11.Luas, lega 14.Tentu 15.Khatam, selesai 16.Saya dan kamu 18.Kepercayaan<br />

kepada Tuhan 19.Banyak ilmunya 21.Negara di Timur Tengah 23.Rimba 25.Manis rasanya 27.Sari,<br />

pati 30.Tidak kering 32.Nomor Induk Mahasiswa (singkat) 33.Hasil perkebunan 34.Celah pada tanah<br />

tempat air mengalir 36.Kata ganti milik 37.Alat transportasi di air 38.Sore 41.Anak kecil dibawah<br />

lima tahun 43.Memelihara dan membimbing 45.Tumbuhan yang batangnya bisa dimakan dan rasanya<br />

manis 46.Pandai, cerdik 48.kota di <strong>Aceh</strong> Timur 51.Jiwa 54.Mengabdi 55.Tua sekali 56.Kamu (Bhs.<br />

Arab) 57.Hewan khas negeri Cina 58.berasa ingin muntah 59.Kata tunjuk 60.Nusa Tenggara Barat<br />

(singkat) 62,Salah satu anggota tubuh 63.Tonggak 64.Binatang pengisap darah.<br />

Menurun :<br />

1.Minggu 2.Hujan (Bhs. Inggris) 3.Padi yang sudah dikupas kulitnya 5.Sapaan ketika berjumpa<br />

seseorang 6.Teman makan nasi 7.buah kates 8.Ulangan, test 9.Nama lain pulau Sumatera 10.Cairan<br />

<br />

kita 20.Ibu Rumah Tangga (singkat) 22.Awal 24.Jumpa, sua 25.Tidak ganjil 26.Batas 28.Tidak<br />

sekarang 29.Tinggi rendah nada 30.Pohon pelindung yang banyak ditanam dipinggir laut, mangrove<br />

<br />

menghilangkan rasa gatal 41.Satelit bumi 42.Tempat barang yang biasanya dijinjing pada bahu<br />

44.Ikan buas 45.Sekelompok orang yang bekerja sama 46.Marinir 47.Memotong pohon 49.Terasa<br />

<br />

kayu yang sudah dibakar 59.Dalam (Bhs. Inggris) 61.Tanda nomor kenderaan di wilayah <strong>Aceh</strong>.<br />

JAWABAN TTS EDISI 12 :<br />

Mendatar:<br />

<br />

<br />

42.Santun, 44.Neraka, 47.Sunat, 50.Nyala, 51.Entah. 52.Anda, 53.Udang, 54.Aula, 55.Min, 56.UMR,<br />

58.Unggul,59.Segala.<br />

Menurun:<br />

<br />

<br />

37.Menit, 38.ASK, 40.Ibu, 41.JKA, 42.Sepatu, 43.Tenang, 45.Rahang, 46.Aksara, 47.Sauna, 48.Niaga,<br />

49.Tegur, 55.AL, 57.RS.<br />

TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> 15<br />

Nama-nama pemenang TTS <strong>Tabloid</strong> Tabangun <strong>Aceh</strong> <strong>Edisi</strong> 12<br />

1.Salma Aulia Nisa, MIN Manggeng, Kelas IV ,Desa Paya, Kec.Manggeng, Abdya, 2.Riza Mulyanda, SDN I Bintah, Kelas II A, Kec.Madat <strong>Aceh</strong> Timur, 3.Elisma Diana, SDN 2, Kelas II b<br />

Subulussalam, 4.Khairol Sulaiman, MIN Jeunieb, Kelas VI, Biereun, 5.Andi Fauzan, SDN Lampeunurur, kelas VI b, 6.Ahmad Zaim Islahi, SDN 69, kelas V, Darusalam Banda <strong>Aceh</strong>.<br />

TTS ini diperuntukkan bagi siswa-siswi SD/MI. Kirimkan jawaban ke alamat redaksi, d/a Bappeda <strong>Aceh</strong>, Jl.Muhammad Daud Beureueh Banda <strong>Aceh</strong>, dengan menyertai potongan TTS dan menulis identitas diri (Nama, TTL, Alamat<br />

Sekolah). Di sudut kiri amplop ditulis TTS Anak. Hadiah akan dikirim ke alamat sekolah masing-masing (redaksi)<br />

BRI (Bank Rakyat Indonesia) menyediakan bingkisan untuk masing-masing pemenang:<br />

Nama-nama pemenang Mewarnai <strong>Tabloid</strong> Tabangun <strong>Aceh</strong> <strong>Edisi</strong> 12<br />

1.Cut Fitri Yani, SDN 9,Kelas III-3, Bebesen, Takengon, 2.Ulyana, SDN 3, Kelas VI, Lueng Putu, Pijay, 3.Muhammad Sultan Khatami, 4.Muazir Sidqi, MIN Kota Blang<br />

5.Cut Indira Fatikasari, SDN Blang Asan Kelas II, Sigli, 6.Qisti Akmal,TK Pertiwi, Kelas B-4 Banda <strong>Aceh</strong>.<br />

PASTEL/KRAYONBappeda<br />

<strong>Aceh</strong> Jl.Muhammad Daud Beureueh Banda <strong>Aceh</strong>, dengan mengisi identitas diri. Di sudut kiri amplop ditulis “MEWARNAI”. BRI (Bank Rakyat Indonesia) menyediakan 6 bingkisan sekolah kepada 6 karya<br />

terbaik. Hadiah akan dikirim ke alamat sekolah masing-masing.<br />

<br />

<br />

<br />

<br />

Nama Siswa : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />

Nama Sekolah : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />

<strong>Edisi</strong> <strong>13</strong><br />

Alamat Sekolah : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />

Kelas : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


16 TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />

B<br />

erawal dari iklan terbatas tentang<br />

perekrutan peserta kontes World Queen<br />

of Coffee (ratu kopi dunia) yang dis-<br />

ebar oleh <strong>Aceh</strong> Multivision, Khairun Nisa<br />

(17) tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Animonya<br />

langsung menggeliat saat membaca<br />

iklan itu di salah satu rumah kecantikan di<br />

Kampung Laksana, Banda <strong>Aceh</strong>. Hari itu<br />

juga dia langsung mendaftar ke sekretariat<br />

panitia di Yellow Café.<br />

Gadis cantik kelahiran Lhokseumawe <strong>13</strong><br />

Pebruari 1994 ini memang dikenal aktif dan<br />

agresif. Setiap momen kreatifitas tak pernah<br />

dilewati. “Kita harus memanfaatkan setiap<br />

kesempatan untuk memupuk identitas diri<br />

sekaligus mengukir prestasi, karena dengan<br />

prestasi kita akan abadi,” ujar dara yang menamatkan<br />

sekolah dasar di Malaysia ini.<br />

Saat ditemui Tabangun <strong>Aceh</strong> di kediamannya<br />

di bilangan Peurada, Minggu (1/5/<strong>2011</strong>),<br />

gadis jelita yang sehari-hari bersekolah di<br />

MAN Model ini bertutur panjang lebar soal<br />

pengalamannya ikut kontes Ratu Kopi tingkat<br />

nasional di Jakarta. Gadis yang akrab<br />

disapa Uun ini tampak sangat cerdas, berwawasan<br />

luas, lugas dan tegas dalam berbicara.<br />

“Selain mempelajari berbagai mata pelajaran<br />

formal di sekolah, di era globalisasi<br />

ini kita dituntut untuk menguasai lintas<br />

disiplin ilmu. Kita dituntut untuk dapat beradaptasi<br />

dengan perkembangan zaman<br />

dengan tetap menjunjung tinggi nilai<br />

agama dan adat-istiadat. Khusus<br />

menjelang mengikuti sebuah even<br />

terlebih dahulu kita harus mendalami<br />

berbagai aspek terkait.<br />

Jadi, tidak asal ikut-ikutanlah,”<br />

ungkap Uun, lugas<br />

Saat mendaftar di kontes<br />

Ratu Kopi, Uun bolak balik<br />

membuka berbagai bacaan<br />

terkait, baik dari buku, majalah<br />

maupun dengan melacak<br />

di internet. “Dengan bekal<br />

persiapan yang matang,<br />

saya bertekad untuk mendapatkan<br />

prestasi memuaskan<br />

di ajang World<br />

Queen of Coffee. Dan,<br />

alhamdulillah, saya<br />

ditetapkan sebagai<br />

juara I di tingkat provinsi<br />

yang diprakarsai oleh <strong>Aceh</strong><br />

Multivion. Saya pun<br />

diputuskan untuk<br />

<br />

<br />

mewakili <strong>Aceh</strong> di ajang yang sama di Jakarta,”<br />

tutur dara yang bercita-cita menjadi<br />

diplomat ini.<br />

Khairun Nisa mengaku mendapat<br />

dukungan kuat dari keluarga atas setiap<br />

ajang yang dia ikuti. “Mama bahkan memberi<br />

dorongan moral, doa dan dukungan biaya<br />

untuk pengembangan bakat saya. Mama<br />

selalu mendampangi saya setiap ikut even,<br />

walau even itu digelar di luar daerah. Saat<br />

ikut ajang Ratu Kopi di Jakarta bulan lalu,<br />

beliau selalu mendampingi dan tiada henti<br />

mendoakan agar saya masuk dalam ajang<br />

tiga besar”, sambung Uun.<br />

Putri ke-empat pasangan Zakaria Husein<br />

dan Indani Idris ini berhasil mengukir prestasi<br />

juara III di kontes Ratu Kopi Nasional<br />

yang digelar di Hotel Ibis Jakarta tanggal 18<br />

April <strong>2011</strong> lalu. Menurut Direktur <strong>Aceh</strong> Mulitvion,<br />

Salman Varisy, kontes level nasional<br />

ini tergolong berat. “Selain diikuti 26 orang<br />

peserta dari 14 provinsi penghasil kopi, di<br />

ajang ini dewan juri terkadang mengajukan<br />

pertanyaan menjebak. Makanya, diperlukan<br />

kejelian dan extra hati-hati tetapi tetap cepat<br />

dan tepat,” ujar Salman yang dikenal sebagai<br />

spesialis Even Organizer di Banda <strong>Aceh</strong>.<br />

Sebenarnya, kata Salman, Khairun Nisa<br />

berpeluang menjadi juara I Nasional, tetapi<br />

karena kesalahan dalam<br />

menjawab salah satu<br />

pertanyaan menjebak,<br />

maka dia<br />

pun tergeser ke<br />

posisi tiga. “Untuk<br />

hal ini, dewan<br />

juri saja<br />

mengakuinya.<br />

Meski demikian,<br />

kami sangat<br />

puas melihatketerampilan<br />

dan kesiapan<br />

Khairun<br />

Nisa di even itu.<br />

Dia mempunyai<br />

bakat yang cukup<br />

tinggi dan layak<br />

disandingkan dengan<br />

bintang-bintang<br />

nasional,” papar<br />

Salman<br />

sem-<br />

bari mengatakan bahwa seleksi yang dilakukan<br />

pihaknya telah memilih figur yang<br />

tepat.<br />

Berbekal Juara III World Queen of Coffee<br />

Indonesia dan Juara I World Queen of<br />

Coffee <strong>Aceh</strong>, Khairun Nisa mengaku telah<br />

siap untuk membantu pemerintah <strong>Aceh</strong> dan<br />

pihak-pihak lain untuk mempromosikan<br />

produk kopi asal <strong>Aceh</strong> ke ajang nasional<br />

bahkan internasional, apalagi dara yang sudah<br />

mengukir segudang prestasi ini dapat<br />

berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dengan<br />

lancar dan sangat memikat dalam menjelaskan<br />

suatu produk.<br />

Nama : Khairun Nisa<br />

TTL : Lhokseumawe ,<strong>13</strong> Februari 1994<br />

Alamat : Peurada Utama<br />

Sekolah : TK Kartika Lhokseumawe<br />

Tadika Kemas Pantai Dalam<br />

CURRICULUM VITAE<br />

<br />

Sekolah Kebangsaan Rantau Petronas<br />

Sekolah Menengah Kebangsaan Rantau Petronas<br />

SMP Negeri 1 Samalanga<br />

MAN Model Banda <strong>Aceh</strong><br />

Jurusan : Ilmu Pendidikan Sosial<br />

Hobi : Modeling dan Menari<br />

Cita – cita : Duta Besar RI<br />

Baik Salman maupun Khairun Nisa berpendapat,<br />

<strong>Aceh</strong> sebagai produsen kopi mempunyai<br />

peluang cukup besar untuk mengharumkan<br />

negeri dari produksi kopi. Keduanya<br />

meminta agar pemerintah memberikan<br />

perhatian ektra dalam membangun dan memasarkan<br />

industri kopi. “Dengan promosi<br />

dari mulut ke mulut saja seperti kenyataan<br />

selama ini, kopi <strong>Aceh</strong> sudah dicari dan dirindukan<br />

banyak orang. Bayangkan andai kelebihan<br />

kopi <strong>Aceh</strong> dipromosikan dengan cara<br />

professional dan menjangkau dunia internasional,”<br />

ujar Salman menutup pembicaraan<br />

dengan Tabangun <strong>Aceh</strong>. (bulqaini ilyas)<br />

FOTO: IRVAN<br />

Khairun Nisa dinobatkan sebagai Queen of Coffee Provinsi <strong>Aceh</strong> melalui even yang digelar oleh <strong>Aceh</strong><br />

Multivision di ACC Selim II April <strong>2011</strong>.<br />

Motto Hidup : Berilah sebanyak-banyaknya ,bukan menerima sebanyak-banyaknya<br />

Motivasi <br />

Prestasi : <strong>2011</strong>,Juara III Putri Kopi Indonesia hotel Ibis (Jakarta)<br />

<strong>2011</strong>, Juara I Ratu Kopi se-<strong>Aceh</strong> (Banda <strong>Aceh</strong>)<br />

2010, Harapan II Agam Inong Nanggroe (Taman Budaya ,Banda <strong>Aceh</strong>)<br />

2010, The Best Catwalk Agam Inong Nanggroe (Taman Budaya ,Banda <strong>Aceh</strong>)<br />

2010, Juara II Putroe Bungoeng (Taman Sari ,Banda <strong>Aceh</strong>)<br />

2010, Juara I Putroe Ranup (Taman Budaya ,Banda <strong>Aceh</strong>)<br />

<br />

2009, Juara I Pidato Bahasa Inggris (Samalanga ,<strong>Aceh</strong>)<br />

2008, Juara I Drama Bahasa Inggris Peringkat Negeri Terengganu (Kuala Terengganu ,Malaysia)<br />

2008, Drama Bahasa Inggris Peringkat Nasional (Labuan ,Malaysia)<br />

2007, Juara I Lomba Deklamasi (Kelab Desa Rantau Petronas ,Terengganu ,Malaysia)<br />

2006, Juara I Lompat Tinggi (SKRP , Terengganu ,Malaysia)<br />

2006, Juara I 4x100 M (SKRP , Terengganu ,Malaysia)<br />

2006, Juara I 100m (SKRP , Terengganu ,Malaysia)<br />

Co-Curricular : Ahli Usahawan Muda SMK Rantau Petronas<br />

Pengawas Multimedia Sekolah<br />

Dynabook Computer Camp On<br />

<br />

AMECC KIDS II<br />

<br />

<br />

Program Usahawan Muda<br />

Paskibraka Se-Provinsi <strong>Aceh</strong><br />

Seminar Aku Ingin Menjadi Bintang<br />

Ahli Jawatankuasa Bulan Sabit Merah Malaysia<br />

Naib Pengerusi Computer Club SKRP<br />

Majlis Khatam Quran kali ke 3<br />

Pertandingan Nyanyian Lagu Tradisional<br />

Parade Laptop dan Pencanangan Banda <strong>Aceh</strong> Islamic Cyber City<br />

Intermediet Level in LIA<br />

Ahli Kelab Remaja Sekolah<br />

Tarian Ratoeh Jaroe Sanggar Pocut Baren

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!