Tabloid Edisi 13 Agustus 2011 - BAPPEDA Aceh - Pemerintah Aceh
Tabloid Edisi 13 Agustus 2011 - BAPPEDA Aceh - Pemerintah Aceh
Tabloid Edisi 13 Agustus 2011 - BAPPEDA Aceh - Pemerintah Aceh
Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!
Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.
<strong>Edisi</strong> <strong>13</strong><br />
04<br />
Tahun II<br />
MEI <strong>2011</strong><br />
FOTO: FARID REZA<br />
MEMBANGUN ACEH DENGAN ADIL<br />
<br />
<br />
Pembagian dana otonomi khusus<br />
yang diterima <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> tahun<br />
<strong>2011</strong> ini sekitar Rp 4,5 triliun dan tambahan<br />
bagi hasil migas sekitar Rp 500<br />
miliar Rp 1 triliun/tahunnya, dibagi secara<br />
proporsional dengan rumusan yang<br />
telah ditetapkan dalam Pergub dan Qanun<br />
Nomor 2 tahun 2007 tentang Pembagian<br />
dan Penggunaan Dana Migas dan<br />
Otsus.<br />
<strong>13</strong><br />
<br />
<br />
Pekan ini seakan menjadi milik para<br />
olahragawan <strong>Aceh</strong>. Seluruh pegiat dan<br />
pencinta olahraga <strong>Aceh</strong> larut dalam kegembiraan<br />
luar biasa. Pasalnya, dalam<br />
waktu hampir bersamaan, tiga tim sepakbola<br />
asal <strong>Aceh</strong> (Persiraja Banda <strong>Aceh</strong>,<br />
PSAP Sigli, dan “Timnas” <strong>Aceh</strong>) mencetak<br />
prestasi luar biasa, di tingkat nasional<br />
(Liga Indonesia) dan antarnegara Asia Fa-<br />
<br />
16<br />
<br />
<br />
Khairun Nisa (17) yang terpilih<br />
sebagai Ratu Kopi <strong>Aceh</strong> dan Juara III<br />
Ratu Kopi Nasional menyatakan komitmennya<br />
untuk membantu <strong>Pemerintah</strong><br />
dalam mempromosikan kopi <strong>Aceh</strong> ke<br />
seluruh penjuru tanah air dan manca<br />
negara. Menurutnya, <strong>Aceh</strong> punya potensi<br />
membangkitkan pertumbuhan<br />
ekonomi melalui produk pertanian,<br />
terutama kopi.
2<br />
K<br />
TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />
Dalam tahun <strong>2011</strong> ini, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> masih mene-<br />
<br />
utama.Dengan priotas tersebut diharapkan dapat mendukung<br />
pertumbuhan ekonomi dan mempunyai dampak pengurangan<br />
angka kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja.<br />
tasi<br />
jalan, pelabuhan laut, pelabuhan udara, irigasi, tenaga li-<br />
<br />
dalam struktur tataruang raqan RTRWA 2010-2030. Tujuan<br />
<br />
terciptanya kesejahteraan rakyat secara menyeluruh.<br />
<br />
sangat luas dan besar dalam mewujdukan kesejahteraan<br />
rakyat. Kebutuhan jalan yang layak menjadi tuntutan utama<br />
bagi setiap warga. Petani membutuhkan jalan yang bagus<br />
untuk menjangkau perkotaan dalam memasarkan produk<br />
pertanian. Kondisi jalan yang bagus akan membantu menurunkan<br />
biaya produksi sehingga harganya diharapkan akan<br />
sanggup bersaing dengan produsen lain.<br />
Pembanguan sebuah waduk yang besar dan mampu<br />
Redaksi<br />
PLTD Apung, Obyek Wisata Berkelas Dunia<br />
etika saya berjumpa dengan seorang<br />
mahasiswi dari Australia, beberapa<br />
waktu lalu, saya juga memperkenal-<br />
kan obyek wisata PLTD Apung. “Wow, very<br />
nice PLTD Apung. I think, it is very surprise.<br />
I want visit to PLTD Apung, yap....when I<br />
have the right moment,” ujar Mary, seorang<br />
mahasiswi Adelaide University, saat terbang<br />
bersama saya dari Adelaide menuju Kuala<br />
Lumpur.<br />
Disamping memperkenalkan PLTD<br />
Apung, selanjutnya saya juga ikut mempromosikan<br />
obyek wisata Taman Laut Pulau<br />
Rubiah, Sabang. Mary pun, sangat tertarik<br />
berkunjung ke Sabang.<br />
-------------<br />
Tragedi tsunami yang terjadi pada 26<br />
Desember 2004, telah menyisakan sejumlah<br />
cerita tragis, penuh keajaiban, serta juga<br />
ikut mempersembahkan sejumlah ‘benda<br />
bernilai warisan budaya’ yang menakjubkan<br />
bagi Rakyat <strong>Aceh</strong>.Sejumlah pemimpin<br />
bangsa dan tokoh dunia, merasa tersentak<br />
pada saat melihat sebuah kapal besi raksasa<br />
ternyata ikut pula terseret gelombang tsunami<br />
hingga sejauh 5 Km.<br />
Kapal besi baja itu, bernama Kapal Pembangkit<br />
Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung.<br />
Meskipun ikut terhempas gelombang tsunami,<br />
dan berbenturan dengan beton dan<br />
berbagai rangka besi, namun Kapal PLTD<br />
Apung ini masih utuh berdiri tegak di kawasan<br />
pemukiman penduduk yang padat<br />
di, Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya<br />
Baru, Banda <strong>Aceh</strong>.<br />
PLTD Apung berbobot mati 2600 ton.<br />
Kapal Pembangkit Listrik ini terbawa hanyut<br />
oleh tsunami sejauh 5 km dari Pantai Ulee<br />
Lheue, Banda <strong>Aceh</strong>. ‘Tongkang besi’ ini memiliki<br />
luas; 1600 M2. Mampu menghasilkan<br />
energi listrik sebesar 10,5 Megawat.<br />
Setelah lebih dari 6 tahun tsunami<br />
berlalu, sekarang PLTD Apung ini ramai<br />
dkunjungi turis lokal, nasional dan internasional.<br />
Bahkan di samping kiri dari lokasi<br />
terdamparnya PLTD Apung tersebut, sekarang<br />
sudah siap dibangun ‘Monumen Edukasi<br />
Tsunami’. Di monumen yang diresmikan<br />
pemakaiaanya oleh Gubernur <strong>Aceh</strong> Irwandi<br />
Yusuf itu, terdapat sejumlah taman dan juga<br />
Salam Redaksi<br />
Oleh: Aiyub Syah<br />
Pengembangan pariwisata <strong>Aceh</strong> ke depan, tentu<br />
saja harus tetap berpedoman kepada nilai-nilai<br />
<br />
mempersembahkan nilai-nilai yang rahmatan lil<br />
‘alamin bagi warga masyarakat dunia,”ujar Bustami,<br />
seorang guru dan pemerhati human rights di<br />
Kotamadya Banda <strong>Aceh</strong>.<br />
sejumlah foto dan informasi mengenai peristiwa<br />
tsunami yang menimpa <strong>Aceh</strong>.<br />
Bagi warga Banda <strong>Aceh</strong>, keberadaan<br />
Monumen Tsunami dan obyek wisata PLTD<br />
Apung juga sangat penting. Karena hampir<br />
setiap hari, puluhan warga ikut memberi<br />
sumbangan untuk pengelolaan kawasan<br />
wisata PLTD Apung tersebut. Banyak warga<br />
ikut pula berbelanja dan membeli berbagai<br />
makanan, minuman dan juga produkproduk<br />
industri kecil yang dihasilkan warga<br />
sekitar Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya<br />
Baru, Banda <strong>Aceh</strong>.<br />
Berpotensi jadi obyek<br />
wisata internasional<br />
Berdasarkan informasi yang ditempel di<br />
Monumen Edukasi Tsunami, Desa Punge<br />
Blang Cut, Banda <strong>Aceh</strong>, Kapal PLTD Apung<br />
yang memiliki luas 1600 M2, mampu menghasilkan<br />
daya listrik sebesar 10 Megawat<br />
(MW) lebih. Nah, potensi listrik ini apakah<br />
masih bisa dimanfaatkan atau direvitalisasi<br />
lagi?Banyak turis mancanegara yang bertanya<br />
demikian.<br />
Banyak turis lokal dan global, hingga<br />
kini sangat berhasrat melihat langsung,<br />
benda-benda langka warisan dari peristiwa<br />
tsunami. Terutama, mereka sangat tertarik<br />
untuk berkunjung ke Kapal PLTD Apung.<br />
Serta ke ‘Kapal Tsunami di Lampulo’.<br />
Di sekitar monumen edukasi Kapal<br />
Tsunami Lampulo, Yayasan Bustanussalatin<br />
Infrastruktur sebagai Sentral Pembangunan<br />
<br />
terasa jika tidak diiringi oleh pembangunan jalan dan jembatan<br />
penghubung antardaerah. Begitu pembangunan dermaga,<br />
Tempat Pendaratan Ikan (TPI), bandara, dan beragam<br />
<br />
-<br />
<br />
<br />
yang masih belum memadai dari segi kualitas maupun volu-<br />
truktur,<br />
diharapkan setiap kabupaten/kota di <strong>Aceh</strong> menempatkannya<br />
di urutan prioritas utama. Tidak hanya di level kabupaten/kota,<br />
di level gampong yang merupakan unit terbawah<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Meskipun demikian, pembangunan soft infrastrcture (in-<br />
<br />
<strong>Aceh</strong>. Soft infrastucture yang hingga saat ini masih sangat<br />
Dewan PengarahPenanggung Jawab Kepala Bappeda <strong>Aceh</strong> | Wakil Penanggung Jawab Sekretaris Bappeda<br />
<strong>Aceh</strong> | Pemimpin umum Kasubbag. Umum Bappeda <strong>Aceh</strong> | Pemimpin Redaksi Aswar Liam, Redaktur Pelaksana Fauzi Umar | Dewan Redaksi Hasrati, Ridwan, Emma, |Sekretaris Redaksi Farid Khalikul Reza,<br />
Ahmad Rozi | Bendahara Zulliani | Konsultan Hasan Basri M. Nur | Editor Zamnur Usman | Reporter Heri Hamzah, D Zamzami | Irvan | Jalaluddin Ismail |<br />
Suvie Hendra | IT Candra | Bulqaini Ilyas, Rizki Ratih Emelia, Sarini.<br />
<br />
dibutuhkan masyarakat seperti subsidi biaya pendidikan dan<br />
bantuan kesehatan (Jaminan Kesehatan <strong>Aceh</strong>/JKA) masih<br />
<br />
irigasi dan sejenisnya mempunyai dampak jangka panjang,<br />
maka program beasiswa dan JKA dapat langsung dirasakan<br />
<br />
Mengingat <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> menempatkan diri pada posisi<br />
bahwa keberadaan pemerintah sebagai pelayan rakyat<br />
dan keberadaannya untuk memberi perlindungan dan<br />
mensejahterakan rakyat, maka program bantuan beasiswa<br />
dan JKA tetap dijadikan prioritas. Melanjutkan dua program<br />
pro-rakyat ini sangat memungkinkan dilakukan, mengingat<br />
kondisi ekonomi rakyat yang belum tumbuh secara maksimal<br />
serta masih adanya ketersediaan dana otsus. Dalam hal<br />
ini, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> mempunyai prinsip, rakyat harus dapat<br />
menikmati langsung kue pembangunan dan tidak perlu menunggu<br />
terlalu lama. Apalagi penyisihan sebagian dana pembangunan<br />
untuk dinikmati oleh rakyat tidak akan berdampak<br />
pada penyusutan dana pembangunan sektor lain.<br />
ir iskandar msc<br />
Alamat Redaksi Bappeda <strong>Aceh</strong> Jl.Tgk. H. Muhammad Daud Beureueh No. 26 Banda <strong>Aceh</strong> Telp. (0651) 21440 Fax. (0651) 33654 | Web: bappeda.acehprov.go.id email: tabangunaceh@yahoo.com, tabangunaceh@gmail.com<br />
Redaksi menerima kiriman berita kegiatan pembangunan <strong>Aceh</strong> dan opini dari masyarakat luas. Tulisan diketik dengan spasi ganda dan disertai identitas dan foto penulis, dapat pula dikirim melalui pos atau e-mail<br />
Foto Cover: Hamparan sawah di tepi danau laut tawar Takengon, <strong>Aceh</strong> Tengah.<br />
bersama RANTF-BRR <strong>Aceh</strong>-Nias, bahkan<br />
telah memasang plakat titik bersejarah dari<br />
keberadaan Kapal Tsunami Lampulo tersebut.<br />
Namun di sekitar PLTD Apung, catatan<br />
sejarah itu telah dipasang di dinding ‘Monumen<br />
Edukasi Tsunami’.<br />
Ketika saya berjumpa dengan seorang<br />
mahasiswi dari Australia, beberapa waktu<br />
lalu, saya juga memperkenalkan obyek<br />
wisata PLTD Apung. “Wow, very nice PLTD<br />
Apung. I think, it is very surprise. I want<br />
visit PLTD Apung, yap....when I have the<br />
right moment,” ujar Mary, seorang mahasiswi<br />
Adelaide University, saat terbang<br />
bersama saya dari Adelaide menuju Kuala<br />
Lumpur.<br />
Kisah Mary yang saya nukilkan di<br />
atas, menunjukkan bahwa para generasi<br />
muda di dunia, kini sangat tertarik untuk<br />
berkunjung dan berwisata ke <strong>Aceh</strong>, guna<br />
melihat berbagai warisan benda-benda bersejarah<br />
peninggalan tsunami. Nama <strong>Aceh</strong><br />
kini, kian populer di mata dunia. Terutama<br />
pasca terjadinya tsunami. Hikmah<br />
dari tsunami itu, perlu dijadikan suatu<br />
tahap awal untuk memajukan <strong>Aceh</strong> secara<br />
lebih adil, makmur, dan sejahtera di masa<br />
depan.<br />
“Pengembangan pariwisata <strong>Aceh</strong> ke<br />
depan, tentu saja harus tetap berpedoman<br />
kepada nilai-nilai spiritualitas keacehan yang<br />
sejati. Yaitu selalu mempersembahkan nilainilai<br />
yang rahmatan lil ‘alamin bagi warga<br />
masyarakat dunia,”ujar Bustami, seorang guru<br />
dan pemerhati human rights di Kotamadya<br />
Banda <strong>Aceh</strong>.<br />
Insya Allah, jika kita dapat mengembangkan<br />
manajemen pariwisata <strong>Aceh</strong> secara<br />
profesional, bernilai spiritualitas keislaman<br />
yang kosmopolit, dan humanis, serta cinta<br />
damai, maka dunia pariwisata <strong>Aceh</strong> akan<br />
berjaya di masa depan. Letak <strong>Aceh</strong> sangat<br />
strategis, jika ditinjau dari segi geografis<br />
jalur penerbangan internasional. Demikian<br />
juga jika ditinjau dari segi jalur pelayaran<br />
kapal-kapal internasional.<br />
Penulis adalah: Jurnalis Independen,<br />
pemerhati pariwisata dan pemerhati human<br />
rights.
Ta Tafa Tafakk Ta Tafa Tafakkur Ta Tafa Tafakkur Ta Tafa fa fakk fa fakk kk kkur ur Oleh: Ir. Faizal Adriansyah, M.Si<br />
PEMBANGUNAN UNTUK SIAPA<br />
Sesungguhnya Kami telah menempatkan<br />
kamu sekalian di muka<br />
bumi dan Kami adakan bagimu di<br />
muka bumi itu sumber penghidupan<br />
(Sumberdaya Alam). Amat sedikitlah<br />
kamu bersyukur (QS. Al Araf ayat 10)<br />
Pembangunan pada hakekatnya<br />
<br />
alam untuk meningkatkan kesejahteraan<br />
hidup manusia. Kebijakan tata<br />
ber<br />
daya alam selama ini ternyata<br />
banyak menimbulkan berbagai masalah dan ketidakpuasan<br />
<br />
migas di negeri kita, secara jujur kita akui bahwa hasil pembangunan<br />
tersebut belum dirasakan oleh sebagian besar<br />
rakyat dan belum dapat mendorong pengembangan wilayah<br />
yang menyeluruh dan terpadu, tetapi pada kenyataannya<br />
justru yang terjadi kesenjangan dan kemiskinan. Hal tersebut<br />
dikarenakan konsep awal pengembangannya tidak berorientasi<br />
pada pengembangan masyarakat setempat.<br />
Pengalaman emperik masa lalu tersebut hendaknya dijadikan<br />
pelajaran berharga dalam pengelolaan sumber daya<br />
alam <strong>Aceh</strong> kedepan, Aspek penting dalam tujuan peman-<br />
<br />
daya alam, aspek keadilan, aspek lingkungan, aspek marwah<br />
dan martabat. Berkaitan dengan aspek berkelanjutan<br />
<br />
yang tidak dapat diperbaharui seperti migas agar dapat diinvestasikan<br />
kembali terutama untuk pengembangan sumber<br />
daya manusia, sehingga pada waktunya ketika sumberdaya<br />
alam habis, masyarakat siap untuk menggunakan sumber<br />
daya lainnya. Selain peningkatan sumber daya manusia,<br />
investasi kembali tersebut seharusnya juga dapat menggerakkan<br />
ekonomi masyarakat, sehingga denyut kehidupan<br />
ekonomi masyarakat dapat tetap tumbuh dan berkembang.<br />
Pengelolaan sumber daya alam pada dasarnya meliputi<br />
bidang manajemen sumber daya alam dan bidang<br />
investasi atau penanaman modal. Di bidang manajemen<br />
sumber daya alam seperti inventarisasi dan eksplorasi,<br />
penelitian dan pengembangan, konservasi, lingkungan<br />
agar dilakukan dengan menerapkan konsep pembangunan<br />
yang berkelanjutan. Sedangkan di bidang investasi sumber<br />
daya alam seperti pengaturan penanaman modal, koperasi,<br />
swasta dan perorangan, agar dilaksanakan dengan berorientasi<br />
bagi kemakmuran rakyat.<br />
www.acehimage.com<br />
Kemajuan teknologi internet telah<br />
membius generasi muda <strong>Aceh</strong>. Mudahnya<br />
mendapat jaringan internet membuat<br />
anak-anak <strong>Aceh</strong> menjadi generasi<br />
online; (meminjam istilah Fauzi Umar,<br />
Serambi Indonesia) online dalam semua<br />
kehidupan bahkan hingga larut dalam<br />
permainan poker. Temuan teknologi<br />
yang kian hari kian canggih terlihat<br />
telah salah digunakan. Mereka tidak<br />
mengambil bagian positif saja, melainkan<br />
melarutkan diri dalam permainan<br />
berbau judi yang tidak berguna.<br />
Saat ini, sebagian anak-anak <strong>Aceh</strong><br />
menghabiskan waktu di warung kopi<br />
untuk bermain poker melalui layar laptop.<br />
Terkadang mereka duduk di warung<br />
kopi sejak pagi hingga larut malam. Sebagian<br />
besar dari mereka adalah pelajar/mahasiswa.<br />
Terkadang terlintas di<br />
pikiran kita, adakah waktu bagi mereka<br />
untuk membaca buku, berdiskusi dan<br />
mengerjakan tugas-tugas dari kampus?<br />
Anak muda biasanya tidak tersadar<br />
akan perbuatan yang dapat merugikan<br />
dirinya. Generasi muda selalu butuh peringatan<br />
dari orang tua, guru, dan alim<br />
ulama. Dalam hal ini, kita menyesalkan<br />
tidak terlihat peran instansi terkait, teru-<br />
Poker Nonstop<br />
tama dari Dinas Syariat Islam (DSI) dan<br />
Dinas Pendidikan, untuk upaya menyadarkan<br />
mereka dari kesenangan fatamorgana<br />
itu. DSI justru lebih tertarik merazia<br />
perempuan bercelana jeans daripada<br />
mengingatkan mereka yang sedang larut<br />
dalam dunia poker.<br />
Kondisi ini dapat menyebabkan lahirnya<br />
generasi yang tidak siap dalam<br />
menghadapi tantangan global yang kian<br />
TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> 3<br />
membahana. Seharusnya fasilitas laptop<br />
dan internet yang dimilki dapat digunakan<br />
untuk hal-hal bermanfaat dalam<br />
menjalin kemitraan dengan orang/lembaga<br />
serta melacak ilmu-ilmu terbaru<br />
untuk dapat dibahas dalam perkuliahan.<br />
Assaffan<br />
Mahasiswa Ekonomi<br />
Serambi Mekkah, Banda <strong>Aceh</strong>
4<br />
U<br />
TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />
saha keras <strong>Pemerintah</strong>an <strong>Aceh</strong> untuk<br />
mengumpulkan dana pembangunan<br />
dari <strong>Pemerintah</strong> Pusat, telah mem-<br />
buahkan hasil. Badan Perencanaan Pembangunan<br />
Daerah (Bappeda) <strong>Aceh</strong> mencatat,<br />
pada tahun <strong>2011</strong> ini, Provinsi <strong>Aceh</strong> mendapatkan<br />
kucuran dana sebesar Rp 7,965 triliun<br />
dari lima jenis anggaran yang bersumber<br />
dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja<br />
Nasional) <strong>2011</strong>.<br />
Di luar dana APBN itu, Provinsi <strong>Aceh</strong><br />
juga mendapat kucuran dana dari sumber<br />
Otonomi Khusus (Otsus) yang akan diterima<br />
<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> tahun <strong>2011</strong> ini sekitar Rp 4,5<br />
triliun. Juga dana tambahan bagi hasil minyak<br />
dan gas (migas) yang nilainya berkisar Rp<br />
500 miliar Rp 1 triliun setiap tahunnya.<br />
Dana dari kedua sumber ini (Otsus dan<br />
Migas) sudah include dalam Anggaran Pendapatan<br />
dan Belanja <strong>Aceh</strong> (APBA) <strong>2011</strong> yang<br />
sudah disahkan DPRA dengan nilai Rp 7,089<br />
triliun, beberapa waktu lalu. Dengan demikian,<br />
total dana untuk membangun <strong>Aceh</strong><br />
tahun ini mencapai Rp 15 triliun.<br />
Besarnya dana pembangunan yang diterima<br />
<strong>Aceh</strong> tahun ini, tentu menimbulkan<br />
berbagai spekulasi dari elemen masyarakat<br />
<strong>Aceh</strong>. Harapan akan terwujudnya <strong>Aceh</strong> yang<br />
lebih baik, berjalan beriringan dengan kekhawatiran<br />
terhadap kemungkinan adanya penyelewengan<br />
maupun ketidakadilan dalam<br />
pembagian dana atau “kue” pembangunan ini.<br />
Keadaan tersebut tampaknya sudah disadari<br />
jauh-jauh hari oleh Gubernur <strong>Aceh</strong> Irwandi<br />
Yusuf. Hal ini tercermin dari isi sambutannya<br />
pada penutupan Masa Persidangan<br />
I DPR <strong>Aceh</strong> tahun <strong>2011</strong>, di Gedung DPRA,<br />
Jalan Tgk Daud Beureueh, Banda <strong>Aceh</strong>, Selasa<br />
(26/04/<strong>2011</strong>) lalu.<br />
Saat itu, Gubernur yang akrab disapa<br />
Tgk Agam ini mewanti-wanti para pengelola<br />
anggaran di <strong>Aceh</strong> wajib menjaga amanah<br />
rakyat, agar pembangunan dan program<br />
pemberdayaan ekonomi masyarakat yang<br />
dilaksanakan seluruh jajaran <strong>Pemerintah</strong><br />
<strong>Aceh</strong> bisa memberi dampak langsung bagi<br />
perbaikan hidup rakyatnya. (Baca: Pengelola<br />
Anggaran Wajib Jaga Amanah Rakyat)<br />
Tidak hanya itu, dalam wawancara khusus<br />
dengan reporter Tabangun <strong>Aceh</strong>, Minggu<br />
(15/05/<strong>2011</strong>) lalu, di Banda <strong>Aceh</strong>, Gubernur<br />
K<br />
epala Bappeda <strong>Aceh</strong> Iskandar mengatakan,<br />
anggaran belanja pembangunan<br />
yang bersumber dari APBN<br />
maupun APBA yang penggunaannya di luar<br />
untuk gaji pegawai, aparatur pemerintah,<br />
dan operasional kantor, diarahkan untuk<br />
percepatan pembangunan ekonomi rakyat,<br />
terutama untuk ketahanan pangan, listrik,<br />
dan lainnya.<br />
<br />
APBA <strong>2011</strong> adalah diutamakan untuk peningkatan<br />
produksi padi, jagung, dan sejenisnya.<br />
Iskandar mengatakan, kebijakan<br />
ini dijalankan karena kebutuhan dan<br />
permintaan pangan terus meningkat, sementara<br />
produksinya cenderung menurun.<br />
“Oleh karena itu, untuk menyikapi ancaman<br />
kekurangan pangan itu akbat pemanasan<br />
global, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> mem-<br />
annya<br />
pada sub sektor tanaman pangan,”<br />
ujar Iskandar kepada Tabangun <strong>Aceh</strong>, Minggu<br />
(15/05/<strong>2011</strong>).<br />
<br />
kata Iskandar, perbaikan jaringan dan<br />
bendungan irigasi lama, serta pembangunan<br />
bendungan irigasi baru, menjadi prioritas<br />
dalam APBA <strong>2011</strong> ini. Alokasi anggaran<br />
untuk kegiatan itu mencapai Rp 370<br />
miliar.<br />
Sedangkan untuk peningkatan produksi<br />
gabahnya, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> telah mengalokasi<br />
dana sebesar Rp 162 miliar. Tugas<br />
Irwandi Yusuf juga menegaskan<br />
bahwa seluruh dana pembangunan<br />
yang diterima oleh<br />
<strong>Aceh</strong> tahun ini dibagi secara<br />
proporsional, yakni berimbang<br />
dengan mengutamakan azas<br />
keadilan dan sesuai dengan kebutuhan.<br />
Tidak ada istilah “anak<br />
tiri atau anak kandung”, tidak<br />
ada pula diskriminasi antarwilayah,<br />
seperti pantai baratselatan,<br />
pantai utara-timur,<br />
atau pun wilayah tengah-tenggara.<br />
Menegaskan komitmen ini, Irwandi Yusuf<br />
menyebut salah satu contoh pembagian<br />
alokasi dana APBN <strong>2011</strong>, yakni <strong>Aceh</strong> Barat<br />
Daya yang merupakan daerah pemekaran<br />
dari <strong>Aceh</strong> Selatan menerima dana APBN<br />
<strong>2011</strong> Rp 73,7 miliar, sementara Pidie Jaya<br />
yang juga merupakan daerah pemekaran<br />
dari Kabupaten Pidie, menerima Rp 50 miliar.<br />
Pembagian ini, tentunya melalui rumus<br />
yang telah ditetapkan pemerintah pusat un-<br />
tuk membangun daerah.<br />
Begitu juga dengan pembagian<br />
dana otonomi khusus<br />
yang akan diterima <strong>Pemerintah</strong><br />
<strong>Aceh</strong> tahun <strong>2011</strong> ini sekitar<br />
Rp 4,5 triliun dan tambahan<br />
bagi hasil migas sekitar Rp<br />
500 miliar Rp 1 triliun/tahunnya,<br />
dibagi secara proporsional<br />
dengan rumusan yang telah<br />
ditetapkan dalam Pergub dan<br />
Qanun Nomor 2 tahun 2007<br />
tentang Pembagian dan Penggunaan<br />
Dana Migas dan Otsus.<br />
“Jadi sangat tidak beralasan, jika ada<br />
yang menyatakan pembagian anggaran<br />
belanja pembangunan dari sumber APBN<br />
maupun APBA antarwilayah itu belum<br />
proporsional atau belum adil, sangat tidak<br />
beralasan,” kata Gubernur Irwandi Yusuf<br />
yang didampingi Ketua Bappeda <strong>Aceh</strong>, Ir<br />
Iskandar MSc kepada Tabangun <strong>Aceh</strong>, Minggu<br />
(15/05/<strong>2011</strong>).<br />
Iskandar menyebutkan, jumlah dana<br />
APBN <strong>2011</strong> untuk <strong>Aceh</strong> yang berhasil di-<br />
<br />
Dana <strong>2011</strong> Dibagi Secara Adil<br />
untuk menjalankan program ini<br />
dibebankan kepada Dinas Pertanian<br />
Tanaman Pangan.<br />
Selanjutnya, Badan Ketahanan<br />
Pangan <strong>Aceh</strong> mendapatkan<br />
porsi tugas untuk<br />
mendukung program peningkatan<br />
produksi pangan. Adapun<br />
anggaran untuk menjalankan<br />
program ini telah dialokasikan<br />
sebesar Rp 43 miliar.<br />
“Jadi, jumlah anggaran yang<br />
dialokasikan untuk ketiga SKPA<br />
pendukung pelaksanaan peningkatan<br />
ketahanan pangan ini hampir<br />
mencapai Rp 800 miliar. Karenanya kita<br />
harapkan program ini bisa menaikkan<br />
produksi padi dan menambah stok beras<br />
di <strong>Aceh</strong> tahun ini menjadi lebih aman lagi,”<br />
ujar Iskandar.<br />
Tidak hanya untuk program ketahanan<br />
pangan, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> juga telah mengalokasikan<br />
anggaran yang cukup besar,<br />
yakni mencapai Rp 104 miliar, untuk meningkatkan<br />
ketahanan di bidang peternakan.<br />
Alokasi anggaran sebesar itu akan<br />
digunakan untuk program pengembangan<br />
ternak sapi, kerbau, kambing, ayam potong,<br />
ayam petelur, dan pemberantasan<br />
penyakit menular pada hewan.<br />
Kemudian untuk sektor perkebunan<br />
dan kehutanan dialokasikan anggaran lebih<br />
besar lagi, mencapai Rp 225 miliar. Ang-<br />
ALOKASI APBN ACEH BERDASARKAN JENIS KEWENANGAN TAHUN <strong>2011</strong><br />
garan sebanyak itu akan digunakan<br />
untuk pemeliharaan<br />
hutan dan pengembangan<br />
tanaman unggul perkebunan,<br />
seperti kelapa sawit, kako, karet,<br />
kopi, nilam, pinang, dan<br />
lainnya.<br />
Iskandar menyebutkan,<br />
sektor kehutanan dan perkebunan<br />
ini, sama pentingnya<br />
dan strategisnya seperti bidang<br />
pertanian. “Kedua bidang<br />
ini punya kaitan erat, karena<br />
tanpa pemeliharaan hutan dan<br />
perkebunan yang baik, akan membawa<br />
dampak yang buruk terhadap program<br />
pertanian,” ungkap Iskandar.<br />
<br />
Kepala Bappeda <strong>Aceh</strong> ini memberikan contoh,<br />
banjir bandang yang terjadi di Tangse,<br />
tiga bulan lalu. Di mana ratusan unit rumah<br />
dan ratusan hektare lahan sawah dan<br />
pertanian rusak, bahkan hingga kini tidak<br />
bisa ditanami padi dan tanaman palawija<br />
lainnya.<br />
Akibatnya, ratusan petani di Tangse<br />
yang bermata pencaharian sebagai petani<br />
menjadi pengangguran karena lahan pertaniannya<br />
belum bisa ditanami padi, cabe,<br />
dan tanaman palawija lainnya.<br />
Tidak bisa dipungkiri, bencana banjir<br />
bandang dan longsor seperti yang menimpa<br />
Tangse ini, adalah akibat dari pen-<br />
himpun Bappeda <strong>Aceh</strong> mencapai Rp 7,965<br />
triliun. Dana itu bersumber dari lima jenis<br />
anggaran.<br />
Pertama, dari sumber dana Dekonsentrasi<br />
(DK) Rp 484,8 miliar. Anggaran ini hanya<br />
diperuntukkan bagi <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong>. Kedua<br />
dari sumber Tugas Perbantuan (TP) Rp 510<br />
miliar, senilai Rp 305,5 miliar untuk <strong>Pemerintah</strong><br />
<strong>Aceh</strong>, sisanya Rp 205 miliar lagi dibagi 23<br />
kabupaten/kota secara proporsional.<br />
Ketiga, dari sumber Kantor Daerah (KD)<br />
senilai Rp 4,012 triliun, untuk Provinsi Rp<br />
1,668 triliun, selebihnya Rp 2,344 triliun<br />
dibagi untuk 23 kabupaten/kota. Kemudian<br />
dana dari sumber Kantor Pusat (KP) sebesar<br />
Rp 2,630 triliun, dimana Provinsi menerima<br />
Rp 2,526 triliun, dan sisanya Rp 104 miliar<br />
dibagi untuk 18 daerah.<br />
Terakhir, dana dari sumber Urusan Bersama<br />
(UB) sebesar Rp 328,4 miliar. Dana sebesar<br />
itu dibagi habis untuk 17 kabupaten/kota,<br />
sedangkan Provinsi tidak menerimanya. (Selengkapnya<br />
lihat tabel Alokasi APBN <strong>Aceh</strong><br />
Berdasarkan Jenis Kewenangan Tahun<br />
<strong>2011</strong>).(hh)<br />
NO PROPINSI/KAB/KOTA DK TP KD KP UB TOTAL<br />
1 2 3 4 5 6 7 8<br />
1 <strong>Aceh</strong> 484,8<strong>13</strong>,017,000 305,577,649,000 1,668,807,036,000 2,526,487,401,000 0 4,985,685,103,000<br />
2 <strong>Aceh</strong> Barat <strong>13</strong>,973,280,000 117,155,859,000 1,670,000,000 0 <strong>13</strong>2,799,<strong>13</strong>9,000<br />
3 <strong>Aceh</strong> Barat Daya 4,657,250,000 48,495,168,000 0 20,621,635,000 73,774,053,000<br />
4 <strong>Aceh</strong> Besar 11,743,893,000 166,785,523,000 14,168,028,000 19,162,805,000 211,860,249,000<br />
5 <strong>Aceh</strong> Jaya 3,160,180,000 80,066,983,000 1,500,000,000 7,380,915,000 92,108,078,000<br />
6 <strong>Aceh</strong> Selatan 9,093,868,000 92,342,675,000 1,330,000,000 20,141,065,000 122,907,608,000<br />
7 <strong>Aceh</strong> Tamiang 12,263,183,000 69,703,771,000 830,000,000 9,200,355,000 91,997,309,000<br />
8 <strong>Aceh</strong> Tengah 16,584,381,000 108,716,452,000 1,200,000,000 34,473,830,000 160,974,663,000<br />
9 <strong>Aceh</strong> Tenggara 4,548,730,000 93,997,668,000 3,190,000,000 20,791,885,000 122,528,283,000<br />
10 <strong>Aceh</strong> Timur 16,772,573,000 114,833,771,000 2,250,000,000 30,450,175,000 164,306,519,000<br />
11 <strong>Aceh</strong> Utara 21,894,725,000 140,341,629,000 0 35,468,735,000 197,705,089,000<br />
12 Banda <strong>Aceh</strong> 1,159,544,000 218,156,301,000 25,510,000,000 0 244,825,845,000<br />
<strong>13</strong> Bener Meriah <strong>13</strong>,052,615,000 54,773,290,000 1,500,000,000 10,596,885,000 79,922,790,000<br />
14 Bireuen 19,647,263,000 146,205,657,000 0 24,693,605,000 190,546,525,000<br />
15 4,459,840,000 45,209,364,000 1,500,000,000 11,194,555,000 62,363,759,000<br />
16 Langsa 885,220,000 109,314,615,000 8,040,000,000 0 118,239,835,000<br />
17 Lhoksumawe 2,674,030,000 229,173,770,000 9,930,000,000 0 241,777,800,000<br />
18 Nagan Raya 9,285,378,000 75,031,715,000 1,500,000,000 8,476,825,000 94,293,918,000<br />
19 Pidie 11,349,733,000 231,554,404,000 1,350,000,000 30,674,495,000 274,928,632,000<br />
20 Pidie Jaya <strong>13</strong>,030,<strong>13</strong>3,000 8,982,083,000 2,250,000,000 25,786,805,000 50,049,021,000<br />
21 Sabang 885,220,000 71,693,596,000 16,588,311,000 0 89,167,127,000<br />
22 Simeulue 3,735,650,000 46,893,102,000 0 8,765,505,000 59,394,257,000<br />
23 Singkil 5,707,640,000 64,494,343,000 0 10,552,565,000 80,754,548,000<br />
24 Subulusalam 4,085,000,000 9,451,267,000 9,220,000,000 0 22,756,267,000<br />
TOTAL 484,8<strong>13</strong>,017,000 510,226,978,000 4,012,180,042,000 2,630,0<strong>13</strong>,740,000 328,432,640,000 7,965,666,417,000<br />
Sumber: Bappeda <strong>Aceh</strong> <strong>2011</strong><br />
<br />
Ketahanan Pangan Jadi Fokus APBA<br />
<br />
ebangan pohon di kawasan hutan lindung.<br />
“Bencana itu bisa membawa petaka besar,<br />
bagi manusia, tidak hanya akan merusak<br />
harta benda, tapi juga dapat menelan korban<br />
jiwa,” kata Iskandar.<br />
Parahnya lagi, lanjut Iskandar, puluhan<br />
bendungan irigasi desa yang menjadi sumber<br />
air daerah persawahan di Tangse, telah<br />
jebol dan rusak. Akibatnya, air tidak bisa<br />
dialirkan lagi ke areal sawah petani.<br />
Dalam kaitan ini, Bappeda <strong>Aceh</strong> juga<br />
telah menyusun program dan anggaran<br />
sekitar Rp 428 miliar untuk memperbaiki<br />
dungan<br />
irigasi, dan pembersihan areal pertanian<br />
yang rusak akibat banjir bandang<br />
itu. “Kebutuhan anggaran itu akan kita<br />
usulkan dalam program APBN dan APBA<br />
melalui sumber dana tanggap darurat atau<br />
anggaran murni APBN maupun APBA tahun<br />
ini dan tahun depan,” ujar Iskandar.<br />
Kepala Bappeda <strong>Aceh</strong> berharap program<br />
pemulihan Tangse ini, serta semua<br />
program pembangunan di seluruh pelosok<br />
<strong>Aceh</strong> lainnya berjalan sesuai dengan perencanaan<br />
yang telah disusun. Jangan<br />
ada lagi pihak yang bertindak di luar kewenangan<br />
dan ketentuan, sehingga seluruh<br />
rakyat di berbagai pelosok <strong>Aceh</strong>, dari<br />
tengah, timur, utara, barat, selatan, dan<br />
tenggara, dapat menikmati “kue” pembangunan<br />
dan damai dalam kemakmuran dan<br />
makmur dalam kedamaian.(hh)
K<br />
T<br />
etua DPR <strong>Aceh</strong>, Drs H Hasbi Abdullah<br />
mengingatkan seluruh jaja-<br />
ran Satuan Kerja <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong><br />
(SKPA) agar bekerja serius untuk menjalankan<br />
semua program yang telah disetujui<br />
dalam APBA <strong>2011</strong>. Jajaran SKPA perlu selalu<br />
mengingat bahwa rumitnya pembahasan<br />
RAPBA <strong>2011</strong> oleh legislatif bersama ekskutif,<br />
hingga akhirnya disahkan menjadi APBA<br />
<strong>2011</strong>, semata-mata karena tujuan untuk<br />
menghasilkan program pembangunan yang<br />
dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan<br />
bagi seluruh rakyat <strong>Aceh</strong>.<br />
Karenanya, Ketua DPR <strong>Aceh</strong> mengharapkan<br />
agar dalam tahun <strong>2011</strong> ini tidak ada lagi<br />
temuan proyek APBA yang telantar karena<br />
ditinggal kontraktor pelaksana maupun alasan<br />
lainnya. “Kemakmuran dan kesejahteraan<br />
itu tidak akan bisa diperoleh rakyat dengan<br />
merata, jika setiap tahunnya dalam pelaksanaan<br />
APBA masih banyak ditemukan proyek<br />
yang tak selesai,” kata Hasbi Abdullah kepada<br />
Tabangun <strong>Aceh</strong>, Jumat (15/05/<strong>2011</strong>), ketika dimintai<br />
tanggapan dan harapannya terhadap<br />
pelaksanaan APBA <strong>2011</strong>.<br />
Hasbi Abdullah mengatakan, jika dilihat<br />
dari laporan yang disampaikan Gubernur<br />
<strong>Aceh</strong> Irwandi Yusuf dalam Pengantar<br />
Nota Keuangan RAPBA <strong>2011</strong> terhadap realisasi<br />
keuangan dan fisik proyek APBA 2010<br />
lalu, cukup menggembirakan pihak DPRA.<br />
Karena daya serap anggarannya di atas 90<br />
persen, begitu juga fisiknya. “Ini artinya,<br />
kinerja eksekutif tahun 2010 lebih baik dari<br />
2009,” ujarnya.<br />
Guna membuktikan atau menguji tentang<br />
meningkat tidaknya kinerja eksekutif<br />
tahun 2010 itu, kata Hasbi, DPRA akan<br />
menggunakan dua alat ukur. Pertama hasil<br />
audit BPK terhadap pelaksanaan APBA 2010,<br />
dan kedua hasil reses anggota DPRA ke 23<br />
kabupaten/kota berdasarkan daerah pemilihannya<br />
masing-masing.<br />
Dikatakan, berdasarkan Laporan Hasil<br />
Pemeriksaan (LHP) APBA 2009 lalu dari BPK<br />
Perwakilan <strong>Aceh</strong>, kinerja pelaksanaan APBA<br />
2009 belum mendapat nilai wajar tanpa<br />
pengecualian (WTP), tapi baru mendapat<br />
ahun <strong>2011</strong> merupakan tahun keempat<br />
pelaksanaan Rencana Pembangunan<br />
Jangka Menengah <strong>Aceh</strong> (RPJM-<strong>Aceh</strong>)<br />
sebagai mana tertuang dalam Visi dan Misi<br />
<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> 2007-2012. RPJM ini kemudian<br />
dirumuskan dan dijabarkan lebih operasional<br />
ke dalam sejumlah program prioritas<br />
sehingga lebih mudah diimplementasikan<br />
dan diukur tingkat keberhasilannya.<br />
Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan<br />
Ekonomi dan Ketenaga Kerjaan Bappeda<br />
<strong>Aceh</strong>, Ir. TM. Bastian, M.Si, kepada Tabangun<br />
<strong>Aceh</strong>, Selasa (10/05/<strong>2011</strong>) mengatakan, sebagian<br />
besar sumber daya dan kebijakan akan<br />
diprioritaskan untuk menjamin implementasi<br />
dari 7 prioritas <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong>.<br />
Ketujuh prioritas dimaksud adalah, Penguatan<br />
pemerintahan, politik dan hukum;<br />
Pemberdayaan ekonomi masyarakat, perlu-<br />
asan kesempatan kerja dan penanggulangan<br />
kemiskinan; Pembangunan dan pemeliharaan<br />
infrastruktur pendukung investasi;<br />
Pembangunan pendidikan yang bermutu<br />
dan merata; Peningkatan pelayanan kesehatan<br />
berkualitas; Pembangunan agama, sosial<br />
dan budaya; dan penanganan dan pengurangan<br />
resiko bencana.<br />
Dari ketujuh prioritas itu, ada satu yang<br />
paling mendapat perhatian luas, yaitu prioritas<br />
pemberdayaan ekonomi masyarakat,<br />
perluasan kesempatan kerja, dan penanggulangan<br />
kemiskinan.<br />
Terkait hal ini, Bastian mengatakan, seperti<br />
kebanyakan daerah lain di Indonesia,<br />
<strong>Aceh</strong> juga masih berkutat seputar isu permasalahan<br />
dan tantangan utama di bidang<br />
ekonomi makro, yaitu masih rendahnya<br />
pertumbuhan ekonomi, tingginya tingkat<br />
pengangguran dan kemiskinan jika dibandingkan<br />
dengan rata-rata nasional.<br />
Karena itu, Bappeda <strong>Aceh</strong> menetapkan<br />
empat prioritas dan sasaran utama pembangunan<br />
bidang ekonomi <strong>Aceh</strong>, yaitu:<br />
Pertumbuhan Ekonomi: Pertumbuhan ekonomi<br />
<strong>Aceh</strong> (harga konstan) pada tahun<br />
<strong>2011</strong> diharapkan dapat tumbuh secara berkualitas<br />
dengan migas di atas 2,7 persen,<br />
dan tanpa migas 5,5-6,0 persen. Pengertian<br />
pertumbuhan ekonomi yang berkualitas<br />
adalah pertumbuhan yang meliputi progrowth,<br />
pro-poor, dan pro-job. Dengan demikian<br />
target pertumbuhan tersebut diharapkan<br />
sekaligus dapat menurunkan tingkat<br />
kemiskinan dan pengangguran yang<br />
terjadi melalui pelaksanaan program/<br />
kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat,<br />
mendorong terciptanya lapangan<br />
kerja dan kemudahan usaha yang seluasluasnya<br />
bagi masyarakat dengan fokus sasaran<br />
adalah masyarakat yang berada di<br />
pedesaan.<br />
Secara nasional kondisi ekonomi tahun<br />
<strong>2011</strong> diperkirakan semakin membaik, hal<br />
ini tercermin dari capaian pertumbuhan<br />
ekonomi nasional pada tahun 2010 yang<br />
mencapai 6,1 persen atau melebihi target.<br />
Demikian juga dengan kondisi ekonomi<br />
regional Sumatera yang juga memperlihatkan<br />
kinerja semakin membaik, seperti<br />
Sumatera Utara yang tumbuh sebesar 6,35<br />
TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> 5<br />
Ketua DPRA:<br />
Jangan Ada Lagi Proyek Telantar<br />
opini wajar dengan pengecualian (WDP).<br />
Karenanya, peningkatan kinerja SKPA<br />
tahun 2010 lalu, baru bisa dikatakan berkualitas,<br />
jika BPK memberikan opini atau penilaian<br />
terhadap LHP APBA 2010 nanti WTP.<br />
Jika masih mendapat opini WDP, peningkatan<br />
kinerjanya hanya untuk daya serap<br />
angaran saja, alias belum berkualitas secara<br />
menyeluruh.<br />
Sementara untuk pelaksanaan APBA<br />
<strong>2011</strong> ini, Ketua DPRA ini menekankan eksekutif<br />
harus lebih ekstra ketat lagi mengawasi<br />
pelaksanaan proyek fisik, pengadaan, serta<br />
jasa konsultannya.<br />
Tgk Hasbi Abdullah secara khusus mengomentari<br />
tentang program memberikan<br />
pelayanan berobat gratis kepada masyarakat<br />
miskin yang diberinama program Jaminan<br />
Kesehatan <strong>Aceh</strong> (JKA). Ketua DPR <strong>Aceh</strong> ini<br />
menginginkan agar pelaksanaan JKA pada<br />
tahun ini harus bisa lebih baik dari tahun<br />
lalu. Apalagi, alokasi anggarannya lebih besar<br />
dari tahun lalu, yakni hampir mendekati<br />
Rp 400 miliar.<br />
“Kalau tahun lalu, masih belajar. Tapi<br />
tahun ini tidak lagi dalam posisi belajar,<br />
melainkan sudah sampai pada tahap pengendalian<br />
program dan keuangan untuk<br />
mencapai hasil pelayanan kesehatan yang<br />
berkualitas, tanpa ada kebocoran dan pemborosan,”<br />
ujarnya.<br />
Kekhawatiran Ketua DPR <strong>Aceh</strong> ini bukan<br />
tanpa alasan. Pasalnya, jika melihat<br />
alokasi anggaran yang cukup besar itu, tidak<br />
tertutup kemungkinan bakal banyak orang-<br />
orang yang terlibat dalam jaringan pelaksanaan<br />
dan pengawasan program JKA itu,<br />
bermain untuk mendapatkan manfaat keuntungan<br />
pribadi maupun kelompok.<br />
“Hal ini perlu diwaspadai, sehingga anggaran<br />
JKA yang besar tadi, penggunaannya<br />
jadi tepat sasaran, efisien, dan efektif. Sehingga<br />
dapat mengurangi jumlah kematian bayi,<br />
ibu melahirkan, serta meningkatkan indikator<br />
derajat kesehatan orang <strong>Aceh</strong> yang masih<br />
berada di bawah rata-rata nasional,” ujarnya.<br />
Sementara untuk bidang pendidikan,<br />
Tgk Hasbi mengingatkan agar penyaluran<br />
dana bantuan pendidikan bagi anak yatim<br />
piatu sebesar Rp 1,8 juta/anak/tahun itu<br />
jangan lagi terlambat. Pada awal tahun ajaran<br />
baru, yaitu bulan Juni atau Juli, Disdik<br />
<strong>Aceh</strong> harus segera menyalurkan dana itu ke<br />
rekening masing-masing penerima bantuan.<br />
“Penyaluran harus tepat waktu, agar dana<br />
itu memberikan manfaat yang tepat bagi<br />
penerima bantuan,” kata Ketua DPRA mewanti-wanti.<br />
Begitu juga dengan penyaluran honor<br />
guru bantu, guru kontrak, guru pengajian,<br />
dan tunjungan khusus guru terpencil, serta<br />
dana kesejahtraan guru, agar tidak lagi<br />
molor. Apalagi, untuk tahun ini, sudah lima<br />
bulan honor guru bantu/kontrak dan terpencil,<br />
Polhut, Satpol PP dan WH serta tenaga<br />
honorer lainnya belum dibayar, sebagai akibat<br />
terlambatnya pengesahan APBA <strong>2011</strong>.<br />
Program lainnya, lanjut Hasbi, penyaluran<br />
dana BKPG, harus secepatnya dilaksanakan.<br />
Tujuannya, supaya di desa terjadi per-<br />
putaran uang yang lebih banyak, sehingga<br />
prekonomian masyarakat desa kembali<br />
hidup.<br />
Kemudian program pemberdayaan<br />
ekonomi rakyat, seperti penyaluran benih<br />
padi, bibit tanaman perkebunan, dan perikanan<br />
kepada rakyat. Untuk program ini,<br />
Ketua DPRA meminta SKPA terkait agar<br />
segera melaksanakan kegiatan lelang dan memilih<br />
rekanan yang profesional dan bonafide<br />
untuk menjadi pemenangnya.<br />
Hal ini bertujuan supaya benih dan<br />
bibit yang disalurkan berkualitas dan bisa<br />
secepatnya diterima penerima bantuan. “Ini<br />
penting dilakukan, supaya dalam pengadaan<br />
bibit atau benih yang dilaksanakan tahun ini<br />
tidak lagi ditemukan bibit berkualitas rendah<br />
atau palsu oleh jaksa dan polisi,” ujarnya<br />
mengingatkan.<br />
Untuk program syariah dan dayah, Tgk<br />
Hasbi Abdullah mengatakan program ini<br />
harus menitikberatkan pada upaya menangkal<br />
masuknya aliran sesat atau ajaran pendangkalan<br />
aqidah ke <strong>Aceh</strong>.<br />
Tugas ini, kata Hasbi Abdullah, menjadi<br />
tugas kita bersama. DPRA sudah mengalokasikan<br />
anggaran untuk Badan Pembinaan Dayah<br />
dan Dinas Syariat Islam mencapai Rp 115<br />
miliar. Ini merupakan anggaran yang cukup<br />
lumayan besar untuk program penangkal pendangkalan<br />
aqidah umat Islam di <strong>Aceh</strong>.<br />
Terakhir, untuk bidang pariwisata, budaya,<br />
dan sosial, Ketua DPRA mengingatkan agar<br />
dalam pelaksanaan programnya perlu memperhatikan<br />
adat istiadat masyarakat <strong>Aceh</strong>.<br />
Ketua DPR <strong>Aceh</strong> ini mengatakan,<br />
pengembangan industri pariwisata sangat<br />
perlu di <strong>Aceh</strong>. Apalagi pascabencana tsunami,<br />
banyak objek wisata yang bisa dilihat<br />
wisatawan, mulai dari lokasi PLTD Apung,<br />
Museum Tsunami <strong>Aceh</strong>, juga pantai Ulee<br />
Lheue yang sudah sangat indah setelah<br />
dibangun baru dan ditata kembali oleh Pemko<br />
Banda <strong>Aceh</strong>. Serta masih banyak lagi situs<br />
sejarah yang bisa dijadikan objek wisata<br />
yang dapat dijadikan andalan untuk menjaring<br />
turis lokal, nasional, maupun mancanegara.(hh)<br />
4 Prioritas Pembangunan Ekonomi <strong>Aceh</strong><br />
”Seperti kebanyakan daerah lain di Indonesia,<br />
<strong>Aceh</strong> juga masih berkutat seputar isu<br />
permasalahan dan tantangan utama di bidang<br />
ekonomi makro, yaitu masih rendahnya<br />
pertumbuhan ekonomi, tingginya tingkat<br />
pengangguran dan kemiskinan jika dibandingkan<br />
dengan rata-rata nasional”.<br />
-- IR. TM. BASTIAN, M.SI, --<br />
Kabid. Perencanaan Pembangunan Ekonomi dan<br />
Ketenaga Kerjaan Bappeda <strong>Aceh</strong><br />
“Kemakmuran dan kesejahteraan itu tidak<br />
akan bisa diperoleh rakyat dengan merata,<br />
jika setiap tahunnya dalam pelaksanaan<br />
APBA masih banyak ditemukan proyek<br />
yang tak selesai,”<br />
-- HASBI ABDULLAH --<br />
Ketua DPR <strong>Aceh</strong><br />
persen tahun 2010. Kondisi ini diharapkan<br />
mempengaruhi dan mempunyai kaitan<br />
erat dengan perekonomian <strong>Aceh</strong>.<br />
Tingkat Pengangguran: Tingkat Pengangguran<br />
Terbuka (TPT) yang terjadi di <strong>Aceh</strong><br />
pada tahun <strong>2011</strong> diharapkan dapat ditekan<br />
menjadi 8,0 persen.<br />
Tingkat Kemiskinan: jumlah penduduk<br />
miskin di <strong>Aceh</strong> diharapkan mampu direduksi<br />
hinggga tinggal sekitar 800.000<br />
orang pada kondisi akhir tahun <strong>2011</strong>, atau<br />
menjadi 18,0 persen dari total jumlah penduduk<br />
<strong>Aceh</strong>.<br />
Tingkat inflasi: tingkat inflasi yang terjadi<br />
di <strong>Aceh</strong> rata-rata selama tahun <strong>2011</strong> ditargetkan<br />
adalah hanya 3,0 persen, baik bila<br />
dihitung di Kota Banda <strong>Aceh</strong>, maupun di<br />
Kota Lhokseumawe.<br />
Agar sasaran utama dari prioritas pemberdayaan<br />
ekonomi masyarakat, perluasan<br />
kesempatan kerja, dan penanggulangan kemiskinan<br />
itu dapat tercapai, maka prioritas<br />
dan sasaran pembangunan pada tahun<br />
<strong>2011</strong> ditempuh melalui beberapa kebijakan,<br />
yaitu; Peningkatan Produksi Pertanian dan<br />
Perikanan; Pembangunan serta Peningkatan<br />
Sarana dan Prasarana Ekonomi Publik; Penguatan<br />
Sistem Penyuluhan Pertanian serta<br />
Kelembagaan Petani dan Nelayan; Peningkatan<br />
Kompetensi Tenaga Kerja; serta Pemberdayaan<br />
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah<br />
serta Perkoperasian. (al)
6<br />
P<br />
TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />
ekan ini seakan menjadi milik para<br />
olahragawan <strong>Aceh</strong>. Seluruh pegiat dan<br />
pencinta olahraga <strong>Aceh</strong> larut dalam<br />
kegembiraan luar biasa. Pasalnya, dalam<br />
waktu hampir bersamaan, tiga tim sepakbola<br />
asal <strong>Aceh</strong> (Persiraja Banda <strong>Aceh</strong>, PSAP<br />
Sigli, dan “Timnas” <strong>Aceh</strong>) mencetak prestasi<br />
luar biasa, di tingkat nasional (Liga Indonesia)<br />
dan antarnegara Asia Fasifik (Arafura<br />
Games Darwin, Australia).<br />
Betapa tidak, hingga Rabu (18/05/<strong>2011</strong>),<br />
dua tim sepakbola asal <strong>Aceh</strong> ini, yakni tim<br />
sepakbola yang diutus ke ajang Arafura<br />
Games di Darwin, Australia, dan Persiraja<br />
Banda <strong>Aceh</strong>, berturut-turut menjadi fokus<br />
pemberitaan media nasional.<br />
Bahkan, situs berita okezone.com memulai<br />
artikelnya berjudul “Tim Sepakbola<br />
<strong>Aceh</strong> Rajai Arafura Games <strong>2011</strong>” dengan<br />
kalimat; “Di tengah keringnya prestasi sepakbola<br />
nasional, tim sepak bola <strong>Aceh</strong> tampil<br />
menyelamatkan muka Indonesia. Mereka<br />
menjuarai even international olahraga antar<br />
Negara Asia Fasifik atau Arafura Games <strong>2011</strong><br />
di Darwin, Australia.”<br />
Sementara di <strong>Aceh</strong>, keberhasilan “Timnas”<br />
<strong>Aceh</strong> meraih medali emas di ajang<br />
P<br />
emerintah <strong>Aceh</strong> menempuh berbagai<br />
upaya untuk membangun fisik dan<br />
perekonomian rakyatnya. Salah satu-<br />
nya dengan mencari dana dari berbagai sumber,<br />
termasuk mengajukan pinjaman dari<br />
lembaga-lembaga di luar negeri.<br />
Terakhir, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> kembali mengusulkan<br />
pinjaman kredit lunak dari lembaga<br />
perbankan dunia Islam, yakni Islamic Development<br />
Bank (Bank Pembangunan Islam/<br />
IDB). Nilai total pinjaman yang diajukan<br />
pada tahun <strong>2011</strong> ini mencapai Rp 1,7 triliun<br />
dengan sasaran percepatan pembangunan<br />
ekonomi rakyat <strong>Aceh</strong>.<br />
“Usulan itu sudah pernah kita sampaikan<br />
kepada perwakilan IDB di Jakarta,<br />
pada tanggal 11 Oktober 2010 lalu, lalu kita<br />
tegaskan kembali dalam pertemuan ini,” ujar<br />
Gubernur <strong>Aceh</strong> Irwandi Yusuf kepada Tabangun<br />
<strong>Aceh</strong>, usai acara coffe morning dengan<br />
Presiden IBD Dr Ahmad Muhammad Ali di<br />
Restoran Meuligoe Gubernur <strong>Aceh</strong>, Kamis<br />
(12/05/<strong>2011</strong>) lalu.<br />
Gubernur Irwandi yang didampingi<br />
Ketua Bappeda <strong>Aceh</strong> Ir Iskandar MSc, mengatakan,<br />
usulan pembiayaan program percepatan<br />
pembangunan ekonomi masyarakat<br />
ini diajukan untuk membangkitkan kembali<br />
ekonomi masyarakat <strong>Aceh</strong> yang terpuruk<br />
setelah konflik panjang dan bencana tsunami,<br />
26 Desember 2004 lalu.<br />
Dua bencana besar itu, tambah Gubernur,<br />
telah membuat penduduk miskin <strong>Aceh</strong> mem-<br />
Arafura Games, serta keberhasilan Persiraja<br />
Banda <strong>Aceh</strong> menembus semifinal Divisi<br />
Utama Liga Indonesia Musim 2010/<strong>2011</strong>,<br />
berturut-turut menjadi berita utama (headline)<br />
koran terkemuka di <strong>Aceh</strong>.<br />
Prestasi demi prestasi yang diraih dunia<br />
sepakbola <strong>Aceh</strong> ini tentunya bukan terjadi<br />
secara seketika. Ini merupakan buah dari<br />
kerja keras seluruh elemen pencinta olahraga<br />
(khususnya sepakbola) di <strong>Aceh</strong>, yang bersama<br />
dengan <strong>Pemerintah</strong>an <strong>Aceh</strong> bahu membahu<br />
membangun kembali dunia persepakbolaan<br />
<strong>Aceh</strong> yang telah lama mati suri akibat<br />
konflik panjang dan bencana tsunami.<br />
Hal ini dapat pula menjadi bukti, bahwa<br />
kesibukan pembangunan fisik dan program<br />
pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam<br />
beberapa tahun terakhir, tidak berarti membuat<br />
<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> melupakan programprogram<br />
lainnya, termasuk di bidang olahraga.<br />
Jika dilihat agak ke belakang, prestasi yang<br />
diraih tiga tim sepakbola asal <strong>Aceh</strong> ini tidak<br />
terlepas dari tingginya komitmen Gubernur<br />
<strong>Aceh</strong> Irwandi Yusuf untuk membangkitkan<br />
kembali gezah dan marwah sepakbola <strong>Aceh</strong>.<br />
Selain melaksanakan program jangka<br />
panjang, dengan mengirimkan sejumlah<br />
anak-anak muda <strong>Aceh</strong> untuk belajar ilmu<br />
bermain bola di Paraguay, Irwandi Yusuf<br />
juga secara intens mematau perkembangan<br />
seluruh tim-tim sepakbola asal <strong>Aceh</strong> yang<br />
berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia dan<br />
liga-liga di bawahnya.<br />
Seperti diketahui, pada musim 2010-<strong>2011</strong>,<br />
ada empat tim asal <strong>Aceh</strong> yang berlaga di Divisi<br />
Utama. Selain Persiraja Banda <strong>Aceh</strong> dan PSAP<br />
Sigli yang memastikan lolos ke babak delapan<br />
besar, dua tim lainnya adalah PSLS Lhokseumawe<br />
dan PSSB Bireuen. Di luar itu, ada satu<br />
tim lain yakni Atjeh United yang juga sedang<br />
berlaga di Liga Primer Indonesia (LPI).<br />
Progam <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> untuk membenahi<br />
kembali sepakbola <strong>Aceh</strong>, kini telah<br />
menuai hasil. Gubernur <strong>Aceh</strong> Irwandi Yusuf<br />
pun tak bisa menyembunyikan rasa bahagia<br />
dan kegembiraannya atas prestasi yang<br />
diraih ketiga tim asal <strong>Aceh</strong> ini.<br />
Setidaknya hal ini terlihat saat Gubernur<br />
Irwandi Yusuf menggelar jamuan khusus untuk<br />
menyambut anak-anak <strong>Aceh</strong> yang telah<br />
mengukir prestasi emas di ajang Arafura<br />
Games <strong>2011</strong>. Dalam jamuan makan siang<br />
di restoran Meuligoe Gubernur <strong>Aceh</strong>, Selasa<br />
(17/05/<strong>2011</strong>) siang, Gubernur sampai mengucurkan<br />
bonus senilai Rp 2 juta per pemain.<br />
Sekadar diketahui, selain <strong>Aceh</strong>, daerah<br />
lain yang mewakili Indonesia dalam Arafura<br />
Games <strong>2011</strong> adalah Bali, Kalimantan Timur,<br />
Maluku, NTT, Papua, dan Papua Barat.<br />
Arafura Games kali ini mempertandingkan<br />
20 cabang olahraga dan diikuti oleh sejumlah<br />
Negara-negara di Asia Fasifik.<br />
<strong>Aceh</strong> dipercaya sebagai salah satu daerah<br />
mewakili Indonesia di Arafura Games sejak<br />
2007. Kali ini <strong>Aceh</strong> hanya mengirim satu tim<br />
cabang olehraga yakni sepakbola.<br />
<br />
Sepakbola Pun Mulai Bersinar<br />
FOTO: HUMAS PEMERINTAH ACEH<br />
<br />
<br />
beberapa hari lalu.<br />
bengkak menjadi 26,65 persen pada tahun<br />
2007. Tapi berkat pelaksanaan program rehab<br />
rekon dari BRR dan negara donor, secara bertahap<br />
jumlahnya terus menurun. Pada tahun<br />
2010 lalu tinggal 20,8 persen lagi dari jumlah<br />
penduduk <strong>Aceh</strong> sebesar 4,4 juta jiwa.<br />
Penurunan jumlah penduduk miskin itu<br />
tentu bisa naik kembali jika tidak diikuti<br />
dengan perbaikan sarana dan prasarana infrastruktur<br />
ekonomi yang telah hancur. Begitu<br />
juga dengan angka penganggurannya.<br />
Karena itu, <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> perlu terus<br />
mencari sumber pembiayaan untuk percepatan<br />
pembangunan ekonomi masyarakatnya.<br />
“Kita juga akan berupaya agar <strong>Aceh</strong> masuk<br />
dalam daftar daerah yang akan menerima<br />
pinjaman lunak dari IDB yang akan mengucurkan<br />
3 miliar dolar AS kepada <strong>Pemerintah</strong><br />
Indonesia mulai tahun <strong>2011</strong> hingga 2014 ini,”<br />
ujar Ketua Bappeda <strong>Aceh</strong> Ir Iskandar MSc.<br />
Acara coffee morning dengan presiden<br />
IDB itu turut dihadiri sejumlah bupati dan<br />
wali kota hadir di <strong>Aceh</strong>. Antara lain, Bupati<br />
Simeulue Drs Darmili dan Wali Kota Banda<br />
<strong>Aceh</strong> Mawardy Nurdin.<br />
Bupati Simeulue Darmili mengatakan,<br />
kehadirannya pada acara coffe morning itu<br />
untuk mempertanyakan kembali usulan pinjaman<br />
dana Pemkab Simuelue kepada IDB<br />
tahun lalu sebesar Rp 20 juta dolar AS atau senilai<br />
Rp 200 miliar, untuk pembukaan kebun<br />
kelapa sawit dan pembangunan pabrik CPO.<br />
Sedangkan Wali Kota Banda <strong>Aceh</strong> Ma-<br />
“Agar pembinaan olah raga cabang bolakaki di <strong>Aceh</strong><br />
tidak terjadi pasang surut antargenerasi, kita harus<br />
terus membinanya. Kalau perlu pada tahun depan ada<br />
tim sepak bola dari <strong>Aceh</strong> yang dikirim ke Spanyol untuk<br />
belajar teknik bermain bola yang baik.”<br />
wardy Nurdin mengatakan, kehadirannya<br />
guna menawarkan pembiayaan kelanjutan<br />
pembangunan mega proyek pelabuhan Perikanan<br />
Samudera Lampulo kepada Presiden<br />
IDB. Pembangunan dasar proyek itu, sebut<br />
Mawardy, telah dimulai pada masa rehab<br />
rekon tsunami dua tahun lalu.<br />
-- IRWANDI YUSUF --<br />
<br />
Harapan akan datangnya prestasi lanjutan<br />
pun membumbung tinggi. Gubernur Irwandi<br />
Yusuf mengatakan, tahun ini adalah titik bangkitnya<br />
persepakbolaan <strong>Aceh</strong>. Indikatornya<br />
bukan hanya menjuarai Arafura Games, dua<br />
tim sepakbola asal <strong>Aceh</strong> Persiraja dan PSAP<br />
Sigli juga berhasil memimpin Devisi Utama<br />
2010/<strong>2011</strong> wilayah Barat dan kini sedang memperbutkan<br />
tiket ke Liga Super Indonesia.<br />
Menurutnya, <strong>Aceh</strong> juga memiliki banyak<br />
pemain-pemain muda masa depan. Selain<br />
mereka yang tampil membanggakan di Arafura<br />
Games, Provinsi itu juga tercatat memiliki<br />
30 remaja yang sudah lulus berlatih sepakbola<br />
di Paraguay. Bahkan 18 diantara mereka sekarang<br />
sudah direkrut sejumlah tim Liga Divisi<br />
1,2,3 dan 4 di Paraguay dan Argentina.<br />
Khusus pemain yang berlatih di Paraguay,<br />
<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> akan menjadikan<br />
mereka sebagai tim inti <strong>Aceh</strong>. Mereka akan<br />
kembali ke <strong>Aceh</strong> semuanya pada November<br />
<strong>2011</strong> selanjutnya akan dibentuk satu tim.<br />
“Pemain-pemain ini adalah timnasnya <strong>Aceh</strong>,<br />
tidak akan disewakan,” kata Irwandi.<br />
Mantan pentolan Gerakan <strong>Aceh</strong> Merdeka<br />
ini pun kembali mewacanakan pengiriman<br />
tim usia muda untuk berguru ilmu<br />
sepakbola ke luar negeri. Kali ini, negara<br />
yang sedang dijajaki adalah negara jawara<br />
Piala Dunia 2010, Spanyol.<br />
“Agar pembinaan olah raga cabang<br />
bolakaki di <strong>Aceh</strong> tidak terjadi pasang surut<br />
antargenerasi, kita harus terus membinanya.<br />
Kalau perlu pada tahun depan ada tim<br />
sepak bola dari <strong>Aceh</strong> yang dikirim ke Spanyol<br />
untuk belajar teknik bermain bola yang<br />
baik,” ujar pria yang dikenal dengan nama<br />
Tgk Agam di kalangan mantan kombatan<br />
GAM ini.(zamnur usman/dbs)<br />
<strong>Aceh</strong> Usul Pinjaman Rp 1,7 T ke IDB<br />
FOTO: HERI HAMZAH<br />
Presiden IDB Dr Ahmad Muhammad Ali (dua dari kiri) berbincang dengan <br />
<br />
Kamis (12/05/<strong>2011</strong>).<br />
“Mudah-mudahan saja, tawaran kita diterima<br />
oleh Presiden IDB sehingga kebutuhan<br />
infrastruktur pada kompleks Pelabuhan Perikanan<br />
Samudera Lampulo bisa secepatnya<br />
dipenuhi dan beroperasi sebagaimana layaknya<br />
pelabuhan perikanan yang terdapat<br />
di Pulau Jawa,” ujar Mawardy Nurdin.(hh)
G<br />
ubernur <strong>Aceh</strong> Irwandi Yusuf mewanti-wanti<br />
para pengelola anggaran di<br />
<strong>Aceh</strong> wajib menjaga amanah rakyat.<br />
Hal ini dimaksudkan agar pembangunan dan<br />
program pemberdayaan ekonomi masyarakat<br />
yang dilaksanakan oleh seluruh jajaran <strong>Pemerintah</strong><br />
<strong>Aceh</strong> bisa memberi dampak langsung<br />
bagi perbaikan hidup rakyatnya.<br />
“Pengelolaan anggaran wajib menerapkan<br />
tata kelola kepemerintahan yang baik dan<br />
amanah. Oleh karenanya, seribu rupiah pun<br />
yang kita keluarkan bersumber dari APBA,<br />
harus didasarkan pada prinsip akuntable,<br />
transparan, dan dapat di pertanggungjawabkan,<br />
sesuai dengan mekanisme pengelolaan<br />
dan pertanggungjawaban keuangan <strong>Aceh</strong>,” ujar<br />
Gubernur Irwandi Yusuf dalam sambutan pada<br />
penutupan Masa Persidangan I DPR <strong>Aceh</strong> tahun<br />
<strong>2011</strong>, di Gedung DPRA, Jalan Tgk Daud<br />
Beureueh, Banda <strong>Aceh</strong>, Selasa (26/4/<strong>2011</strong>).<br />
Pernyataan Gubernur tersebut tertuang<br />
dalam butir-butir arahan yang ditujukan<br />
khusus kepada para pimpinan Satuan Kerja<br />
<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> (SKPA) yang hadir dalam<br />
sidang tersebut.<br />
Sementara terkait dengan pelaksanaan<br />
anggaran, Gubernur Irwandi Yusuf meminta<br />
agar semua jajaran aparat pengawasan internal<br />
dan eksternal, maupun fungsi pengawasan<br />
legislatif, agar lebih meningkatkan lagi fungsi<br />
pengawasannya. “Sehingga program dan kegiatan<br />
yang akan kita laksanakan dapat dilakukan<br />
secara tepat waktu, tepat sasaran, dan<br />
tidak menyimpang dari ketentuan peraturan<br />
perundang-undangan,” ujarnya.<br />
Dalam kesempatan itu, Gubernur Irwandi<br />
Yusuf juga meminta kepada Tim Anggaran<br />
<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> (TAPA) agar bekerja serius<br />
dan profesional, dalam menyempurnakan<br />
Rancangan Peraturan Gubernur tentang<br />
penjabaran APBA berdasarkan Qanun APBA<br />
H<br />
asil evaluasi terhadap kinerja pembangunan<br />
dalam berbagai bidang pembangunan,<br />
telah diintrodusir empat permasalahan<br />
utama yang menjadi hambatan dalam mewujudkan<br />
target-target yang telah direncanakan yaitu:<br />
Masih terjadi ketimpangan Pembangunan antar<br />
wilayah, Terbatasnya lapangan kerja Formal,<br />
yang telah disesuaikan dengan hasil evaluasi<br />
Menteri Dalam Negeri.<br />
Kemudian, pada saat verifikasi Dokumen<br />
Pelaksanaan Anggaran (DPA), SKPA<br />
agar mencantuman lokasi kegiatan, target kinerja<br />
yang bersifat kuantitatif dan indikator<br />
(tolok ukur kinerja dan target kinerja) sesuai<br />
dengan sasaran yang direncanakan.<br />
Gubernur mantan kombatan GAM ini<br />
juga mewanti-wanti para pimpinan dan seluruh<br />
unsur SKPA harus mampu bekerja all out<br />
dan penuh waktu, serta bertanggung jawab<br />
untuk memaksimalkan proses pembangunan<br />
<strong>Aceh</strong> secara tepat sasaran dan tepat guna.<br />
Tanggung jawab moral<br />
Dalam kesempatan itu, atas nama <strong>Pemerintah</strong><br />
<strong>Aceh</strong>, Gubernur Irwandi Yusuf juga<br />
menyampaikan apresiasi dan penghargaan<br />
kepada pimpinan, fraksi-fraksi, Badan Anggaran<br />
Dewan dan Tim Perumusnya, Pokja<br />
Dewan, serta seluruh anggota Dewan yang<br />
telah memberikan berbagai koreksi, tanggapan,<br />
pendapat, usul, saran, dan bahkan kritikan<br />
yang konstruktif bagi penyempurnaan<br />
RAPBA <strong>2011</strong>. Gubernur pun mengungkapkan<br />
rasa bahagianya, karena pada akhirnya<br />
RAPBA <strong>2011</strong> berhasil ditetapkan, meski<br />
molor hingga tiga bulan lebih dari jadwal<br />
yang disepakati bersama.<br />
Menurut Irwandi, keterlambatan pengesahan<br />
RAPBA tahun <strong>2011</strong> ini salah satunya<br />
dipengaruhi oleh faktor kehati-hatian kedua<br />
belah pihak (legislative dan eksekutif), yang<br />
merupakan bentuk sikap preventif dan konstruktif,<br />
sehingga APBA yang disusun tepat<br />
guna dan tepat sasaran, serta sesuai dengan<br />
pendekatan kinerja yang mengutamakan keluaran,<br />
hasil, dan manfaat dari setiap alokasi<br />
anggaran yang direncanakan sesuai kebutuhan<br />
rakyat.<br />
“Kami akui bahwa apa yang berkem-<br />
bang dalam masa persidangan I DPRA tahun<br />
<strong>2011</strong>, baik antara Badan Anggaran Dewan<br />
dengan Tim Anggaran <strong>Pemerintah</strong>an <strong>Aceh</strong><br />
(TAPA), serta antara Pokja dengan SKPA,<br />
lebih didasarkan pada upaya serius kita untuk<br />
mensinergikan dengan kebutuhan riil di<br />
lapangan. Juga agar adanya harmonisasi dan<br />
sinkronisasi dengan berbagai ketentuan peraturan<br />
perundang-undangan tentang penyusunan<br />
APBA,” ungkap Irwandi.<br />
“Penyempurnaan yang kita lakukan adalah<br />
dalam rangka memenuhi asas akuntabilitas<br />
publik sebagai bentuk tanggung jawab<br />
moral kita kepada rakyat. Dan yang lebih<br />
penting tentu saja dapat dipertanggungjawabkan<br />
sesuai dengan mekanisme pengelolaan<br />
dan pertanggungjawaban keuangan<br />
negara,” tambahnya.<br />
Bertambah<br />
Gubernur juga mengungkapkan rasa<br />
syukurnya kepada Allah, karena apa yang<br />
telah disepakati dan diputuskan bersama,<br />
akhirnya sudah mendapat evaluasi oleh<br />
<strong>Pemerintah</strong>, yang dituangkan dalam keputusan<br />
Menteri Dalam Negeri Nomor: 903-275<br />
tahun <strong>2011</strong> tanggal 21 April <strong>2011</strong>. Menteri<br />
Dalam Negeri dalam keputusannya tersebut<br />
meminta <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> untuk melakukan<br />
rasionalisasi dan melakukan penyempurnaan<br />
serta penyesuaian dengan hasil<br />
evaluasi yang sudah dilakukan.<br />
Berdasarkan hasil evaluasi Kepmendagri<br />
tersebut, ungkap Irwandi, pendapatan <strong>Aceh</strong><br />
bertambah sebesar Rp 29.700.000.000,-. Sehingga<br />
pendapatan <strong>Aceh</strong> yang semula berjumlah Rp<br />
7.059.689.677.661,- meningkat menjadi sebesar<br />
Rp 7.089.389.677.661,. Adapun penambahan<br />
pendapatan tersebut berasal dari alokasi dana<br />
penyesuaian infrastruktur daerah untuk <strong>Pemerintah</strong><br />
<strong>Aceh</strong> dan dimasukkan sebagai kelompok<br />
lain-lain pendapatan <strong>Aceh</strong> yang sah.<br />
TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> 7<br />
Pengelola Anggaran Wajib Jaga Amanah Rakyat<br />
Pendapatan <strong>Aceh</strong> Bertambah Rp 29,7 M<br />
Rawan Bencana dan Perubahan Iklim.<br />
Adapun isu strategis dan masalah mendesak<br />
untuk tahun <strong>2011</strong>-2012 adalah : Pertama, Masih<br />
Rendahnya Tingkat Ketahanan Pangan; Kedua,<br />
Jumlah Penduduk Miskin masih Tinggi; Ketiga,<br />
tur<br />
Lintas Bidang; Keempat, Rendahnya Kualitas<br />
Manusia; Kelima, Masih Rentannya terhadap Post<br />
timalnya<br />
Penataan Kelembagaan, Ketatalaksanaan,<br />
serta Sistem Pengawasan dan Akuntabilitas;<br />
<br />
dagangan<br />
dan Pelabuhan Bebas Sabang; Kesem-<br />
Gubernur menjelaskan, berdasarkan Permenkeu<br />
Nomor 25.PMK.07/<strong>2011</strong> tentang<br />
Pedoman Umum dan Alokasi Dana Penyesuaian<br />
Infrastruktur Daerah Tahun Anggaran<br />
<strong>2011</strong>, bahwa penggunaan tambahan pendapatan<br />
tersebut hanya dibenarkan untuk<br />
kegiatan pembangunan infrastruktur daerah.<br />
“Dengan demikian belanja <strong>Aceh</strong> juga bertambah<br />
menjadi Rp 7.974.700.000.000,- atau<br />
juga masih defisit sebesar Rp 885.310.322.339,-<br />
yang dapat kita tutup dari penerimaan pembiayaan<br />
<strong>Aceh</strong> Silpa tahun anggaran 2010<br />
dalam jumlah yang sama,” ujarnya.<br />
Pada akhirnya, Gubernur <strong>Aceh</strong> Irwandi<br />
Yusuf meminta kepada seluruh jajarannya<br />
agar bekerja secara profesional serta betulbetul<br />
menjaga amanah rakyat, terutama<br />
terkait dengan pelaksanaan program-program<br />
berbasis pembangunan dan pemberdayaan<br />
masyarakat gampong.<br />
Jika dicermati lebih jauh, wanti-wanti Gubernur<br />
Irwandi Yusuf kepada para pengelola<br />
anggaran agar selalu bersikap transparan dan<br />
akuntabel, memang tidaklah berlebihan.<br />
Terutama karena sebagian besar program<br />
yang diusung <strong>Pemerintah</strong>an <strong>Aceh</strong> di bawah<br />
komando Irwandi Yusuf dan Muhammad<br />
Nazar, berhubungan langsung dengan hajat<br />
hidup rakyat, seperti Jaminan Kesehatan<br />
<strong>Aceh</strong> (JKA), Bantuan Keuangan Peumakmu<br />
Gampong (BKPG), beasiswa untuk anak yatim,<br />
dan banyak lainnya.<br />
Perlu juga dicamkan, semua pihak harus<br />
bahu membahu bekerja keras untuk mewujudkan<br />
cita-cita melahirkan masyarakat<br />
<strong>Aceh</strong> yang madani, makmur, dan sejahtera.<br />
“Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala, senantiasa<br />
memberikan perlindungan dan rahmat<br />
bagi daerah <strong>Aceh</strong> yang kita cintai ini,” ungkap<br />
Gubernur Irwandi menutup pidato<br />
sambutannya. (Usamah El-Madny)<br />
Permasalahan dan Isu Strategis Pembangunan <strong>Aceh</strong><br />
No Isu Strategis Permasalahan Kebijakan<br />
1 Ketahanan Pangan 1).Rendahnya produksi telur dan daging <br />
<br />
3).Indeks Penanaman Padi rendah (1,2/ Tahun) 3).Peningkatan kualitas SDM, riset dan teknologi Pertanian<br />
<br />
5).Minimnya sarana pengolahan pangan <br />
6).Harga komoditi pangan tidak stabil 6).Perbaikan Tata Niaga Komoditas Tanaman Pangan<br />
bilan, Belum Tuntasnya Kesinambungan Rekonstruksi<br />
<strong>Aceh</strong>.<br />
Untuk menjawab berbagai permasalahan dan<br />
isu strategis tersebut, pemerintah <strong>Aceh</strong> menempuh<br />
beberapa kebijakan yang harus diimplementasikan<br />
kedalam program dan kegiatan, yaitu sebagai<br />
berikut:<br />
2 Kemiskinan <br />
Entrepeneurial (UMKM).<br />
3 <br />
terintegrasi<br />
4 Pengembangan<br />
Kawasan Pelabuhan<br />
Bebas dan<br />
Perdagangan Bebas<br />
Sabang<br />
5 Kualitas Sumber Daya<br />
Manusia<br />
6 <br />
Tambah<br />
7 Penuntasan<br />
Kesinambungan<br />
Rekonstruksi <strong>Aceh</strong><br />
8 Tata Kelola<br />
<strong>Pemerintah</strong>an<br />
9 Kerentanan<br />
(Bencana, post<br />
<br />
Sumber: Bappeda <strong>Aceh</strong> <strong>2011</strong><br />
2).Faktor Kultur masih dominan 2).Merubah mainset (cara pandang) masyarakat dan lingkungan.<br />
3).Masih terbatasnya lapangan kerja 3).Mendorong Investor untuk berinvestasi melalui regulasi perbankan<br />
4).Pembangunan antar wilayah belum merata <br />
<br />
<br />
regulasi (lahan, perizinan, keamanan, modal, pajak dll) serta pemberian reward dan punishment<br />
3).Pembangunan sektor prioritas tanpa dibatasi kewenangan<br />
1) .PP no. 83 tahun 2010 tentang Pelimpahan Kewenangan <strong>Pemerintah</strong> kepada Dewan<br />
Kawasan Sabang masih perlu pengaturan lebih lanjut dalam bidang: (Perindustrian,<br />
Perdagangan, Pertambangan dan Energi, Perhubungan, Pariwisata, Kelautan dan<br />
perikanan, Penanaman Modal, Penataan Ruang, Lingkungan hidup, Pengembangan dan<br />
pengelolaan usaha, Pengelolaan aset tetap)<br />
1).Mempercepat penetapan petunjuk pelaksanaan PP no.83 tahun 2010 tentang Pelimpahan kewenangan<br />
<strong>Pemerintah</strong> kepada Dewan Kawasan Sabang<br />
2).Mempercepat penetapan PP pengelolaan Keuangan BPKS<br />
3).BPKS merupakan Lembaga <strong>Pemerintah</strong> Non Struktural, pengaturan status BPKS akan<br />
ditetapkan oleh Menpan<br />
3).Mempercepat penetapan status BPKS oleh Menpan<br />
4).Tata Ruang Kawasan Strategis Untuk Kawasan Sabang belum ditetapkan 4).Mempercepat Tata Ruang Kawasan Strategis untuk Kawasan Sabang<br />
1).Mutu dan daya saing pendidikan masih rendah 1).Peningkatan akses dan mutu pelayanan terhadap pendidikan<br />
2).Pelayanan kesehatan masih rendah 2).Peningkatan akses dan mutu kesehatan<br />
3).Beban ganda kesehatan masyarakat masih tinggi 3).Peningkatan sosialisasi pola hidup sehat<br />
4).Pola hidup yang tidak sehat<br />
1).Sarana dan prasarana pendukung produksi dan peningkatan nilai tambah hasil pertanian<br />
masih kurang<br />
1).Penyediaan sarana dan prasarana pendukung produksi dan nilai tambah menjadi prioritas<br />
2).SDM petani dan pendukung lainnya masih rendah 2).Peningkatan SDM petani dan pendukung lainnya melalui pelatihan dan demonstrasi plot (demplot)<br />
<br />
kewenangan pemerintah (APBN-PHLN)<br />
<br />
kesinambungan rekonstruksi<br />
2).Belum maksimalnya pemeliharaan dan pengelolaan aset rekonstruksi (APBA-APBK) 2).Mendorong <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> dan Kab/kota untuk mengalokasikan dana untuk pemeliharaan dan<br />
pengelolaan aset rekonstruksi<br />
1).Kualitas sumberdaya aparatur masih rendah 1).Peningkatan kapasitas aparatur pemerintahan<br />
2).Rentang kendali birokrasi masih panjang 2).Peningkatan pelayanan publik (one stop service)<br />
3).Transparansi dan akuntabilitas belum terlaksana dengan baik 3).Penetapan SOP pelayanan publik sesuai kewenangan<br />
1).Terjadinya banjir bandang Tangse, Pidie 1).Pelaksanaan Tanggap Darurat pasca bencana<br />
2).Rentan terhadap bencana alam 2).Rencana aksi Rehabilitasi dan Rekontruksi pasca bencana banjir bandang Tangse Kabupaten Pidie<br />
3).Rentan terhadap bencana sosial 3).Peningkatan ketahanan bencana<br />
4).Peningkatan ketahanan budaya masyarakat
8<br />
TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />
aduk Keuliling<br />
<strong>Aceh</strong> Besar, waduk ini mempunyai tampungan total 18,359 x 10 6 m 3 ;<br />
<br />
<br />
Ternak, Alokasi Air Minum, Micro Hydro,Pengendali Banjir, Penggelontoran /<br />
Intrusi Air Laut, dan Wisata TWK Ramah Lingkungan.
TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> 9<br />
FOTO-FOTO: SUVIE<br />
ater Basin Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />
yang terletak di Kecamatan<br />
Meuraxa, Sebuah kawasan di<br />
mana aliran permukaan mengumpulkan<br />
dan dari yang dibawa oleh sistem<br />
drainas,sebagai penanganan banjir untuk<br />
sebagian kota Banda <strong>Aceh</strong> dan sekitarnya.<br />
elabuhan Kuala Langsa berada di Selat Malaka yang<br />
menjadi jalur lalu lintas kapal niaga internasional, Pelabuhan<br />
Kuala Langsa merupakan pelabuhan ketiga di sisi timur <strong>Aceh</strong>,
10 TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />
G<br />
una meningkatkan pendapatan<br />
masyarakat, <strong>Pemerintah</strong>an Kota Ban-<br />
da <strong>Aceh</strong> kini juga mulai mempriori-<br />
taskan pembangunan berbagai infrastruktur<br />
ekonomi di Kota Banda <strong>Aceh</strong>.<br />
Walikota Banda <strong>Aceh</strong>, Mawardy Nurdin,<br />
saat ditemui Tabangun di ruang kerjanya,<br />
Rabu (11/05/<strong>2011</strong>), mengatakan, beberapa infrastruktur<br />
ekonomi akan ditambah di Kota<br />
Banda <strong>Aceh</strong>. Infrastruktur yang akan ditambah<br />
di antaranya adalah bangunan pasar.<br />
“Saat ini di beberapa lokasi sudah kita<br />
tetapkan untuk segera dibangun pasar, namun<br />
kendalanya adalah tetap saja pada<br />
pembebasan lahan, pemerintah kota tidak<br />
bisa membebaskan lahan karena selain harga<br />
tanah yang melambung tinggi, pemko juga<br />
tidak memiliki dana yang cukup,” katanya.<br />
Solusinya, sebut Mawardi, mungkin<br />
Pemko akan berusaha mencari tambahan<br />
dana dari pihak ketiga, untuk proses pembebasan<br />
lahan, kemudian akan segera membangun<br />
infrastruktur tersebut. Beberapa lokasi<br />
yang sudah dilakukan penelitian dan sudah<br />
K<br />
einginan besar <strong>Pemerintah</strong>an<br />
Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />
untuk membangun kota<br />
menjadi kota yang maju dan<br />
modern, tak sepenuhnya bisa dilaksanakan.<br />
Kendati demikian,<br />
pepatah lebih besar pasak dari<br />
pada tiang, juga tak tepat diberikan<br />
untuk proses pembangunan<br />
di Kota tua ini.<br />
Minimnya APBK yang dipunyai<br />
pemerintah, membuat<br />
pemerintahan tertatih-tatih berjalan<br />
membangun infrastruktur. Selain minim<br />
dana, masalah pembebasan lahan pun menjadi<br />
kendala utama bagi <strong>Pemerintah</strong>an Kota<br />
Banda <strong>Aceh</strong>.<br />
“Kota Banda <strong>Aceh</strong> masih bisa melakukan<br />
pengembangan terutama untuk membangun<br />
infrastruktur, tapi kita terkendala<br />
jumlah anggaran untuk pembebasan lahan.<br />
Pemko tak punya dana yang cukup, harga<br />
lahan pun terus melambung tinggi,” ujar<br />
Jalaluddin, Plh Dinas PU Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />
kepada Tabangun <strong>Aceh</strong> pekan lalu.<br />
Saat ini Pemko Banda <strong>Aceh</strong> sedang mer-<br />
direncanakan untuk membangun pasar, di<br />
antaranya kawasan Batoh, Kampung Ateuk,<br />
dan Lamnyong.<br />
“Jika di beberapa lokasi ini sudah ada<br />
bangunan pasar yang representatif, setidaknya<br />
sudah bisa mengurangi kepadatan yang<br />
selalu terjadi di pasar-pasar di pusat kota.<br />
Dan ini juga bisa menghindarkan kesemrawutan<br />
dan kemacetan,” jelasnya.<br />
Sebagai kota yang menjadi destinasi bagi<br />
warga di Provinsi <strong>Aceh</strong>, pembangunan infrastruktur<br />
diharapkan mampu meningkatkan<br />
pertumbuhan ekonomi dan dengan sarana<br />
dan prasarana yang baik akan mampu meningkatkan<br />
pertumbuhan ekonomi.<br />
Pascatsunami 2004, pertumbuhan ekonomi<br />
di Kota Banda <strong>Aceh</strong> mulai membaik<br />
seiring dengan dibenahinya berbagai fasilitas<br />
infrastruktur, termasuk sarana dan prasarana<br />
perdagangan. Tingkat kemiskinan mulai<br />
berkurang pascatsunami dan berakhirnya<br />
konflik di <strong>Aceh</strong> yang ditandai pertumbuhan<br />
ekonomi akibat geliat proses rehabilitasi dan<br />
rekonstruksi.(yayan zamzami)<br />
ancang pembangunan jalan di<br />
lingkar timur kota, tapi prosesnya<br />
masih sebatas rencana, karena belum<br />
bisa merealisasikan lahan.<br />
“<strong>Pemerintah</strong> sangat berharap, para<br />
pemilik lahan bisa memberikan<br />
harga yang wajar, sehingga pembangunan<br />
bisa dilaksanakan secara<br />
berkesinambungan,” jelas Jalal.<br />
Meningginya harga lahan yang<br />
selalu menghambat proses tersebut.<br />
Misalnya, kata dia, ketika pemerintah<br />
memutuskan untuk membangun<br />
suatu proyek infrastruktur di suatu<br />
wilayah, maka para spekulan yang berperan<br />
sebagai mafia lahan, akan segera memberikan<br />
informasi kepada masyarakat untuk menaikkan<br />
harga tanahnya.<br />
Akibatnya, rencana pembiayaan awal<br />
yang disusun investor menjadi membengkak.<br />
“Implikasinya jelas, pembangunan menjadi<br />
terhambat dan proyek bisa jadi tidak jalan,<br />
bahkan jika sangat tinggi kondisi ini juga<br />
bisa menyebabkan investor yang sebelumnya<br />
ada, menjadi tidak mau melanjutkan proyek<br />
itu,” katanya.<br />
Saat ini penduduk di Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />
sudah bertambah secara signifikan, otomatis<br />
pengembangan kota juga harus disesuaikan,<br />
sehingga setiap warga yang berada di Banda<br />
<strong>Aceh</strong> bisa menjalankan aktifitasnya dengan<br />
nyaman. “Untuk skala provinsi, Banda<br />
aceh memang menjadi tujuan utama bagi<br />
masyarakat, dengan berbagai tujuan, pendidikan,<br />
wisata bahkan mencari penghidu-<br />
I<br />
lmuwan dari 10 negara akan<br />
hadir dan menyampaikan hasil<br />
penelitiannya tentang <strong>Aceh</strong><br />
dan kawasan sekitar Lautan India;<br />
Diselenggarakan bersama<br />
man.<br />
Pusat Kajian Internasional<br />
tentang <strong>Aceh</strong> dan Lautan Indian<br />
(ICAIOS) pada tanggal 25-26 Mei<br />
ensi<br />
dua tahunannya yang ke-3 di<br />
AAC Dayan Dawood, Darussalam,<br />
<br />
bertema “New Beginnings – Transforma-<br />
<br />
Region<br />
di Kawasan pasca-Bencana dan pasca-Kon-<br />
<br />
<br />
<br />
dalam siaran pers yang diterima Tabangun<br />
<strong>Aceh</strong>ma<br />
2007, peserta mengkaji seputar proses<br />
rehabilitasi dan rekonstruksi pascaben-<br />
<br />
mengkaji situasi <strong>Aceh</strong> setelah empat tahun<br />
tsunami dan perdamaian serta perbandin-<br />
<br />
ke-3 tahun <strong>2011</strong> ini akan mengeksplorasi<br />
berbagai dinamika dalam proses konsoli-<br />
<br />
di <strong>Aceh</strong>.<br />
ICAIOS ke-3 akan menampilkan dua<br />
<br />
-<br />
nall<br />
dari Australian National University<br />
(ANU). Selain itu, terdapat 55 makalah<br />
yang akan dipresentasikan oleh ilmuwan<br />
dari 10 negara dalam 16 panel paralel di<br />
bawah enam topik, yaitu: (1) Politik dan<br />
<br />
dan masalah hukum; (3) Kebudayaan dan<br />
tisipasi;<br />
(5) Perubahan sosio-ekonomi dan<br />
lingkungan; (6) Sejarah dan perubahan<br />
sosial.<br />
<br />
kehadirannya berasal dari Jerman, Aus-<br />
<br />
Membangun Infrastruktur, Menggenjot Pendapatan<br />
Harga Lahan vs Pembangunan<br />
<br />
Rincian Program Dinas Pekerjaan Umum Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />
Tahun Anggaran <strong>2011</strong><br />
Program <strong>2011</strong> :RP. 28.833.410.824,-<br />
PAD :RP. 2.996.385.000,-<br />
Rincian Rencana Penggunaan Anggaran<br />
NO. KEGIATAN TAHUN <strong>2011</strong> (RP)<br />
1. Belanja Langsung 6.372.064.056,-<br />
2. Pelayanan Administrasi Perkantoran 1.877.836640,-<br />
3.<br />
Peningkatan Sarana dan Prasarana Apratur<br />
<br />
<br />
Pemeliharaan Rutin/ Berkala Kendaraan Dinas Operasional<br />
<br />
2.695.630.000,-<br />
372.390.000,-<br />
260.988.000,-<br />
4.090.000,-<br />
4. Peningkatan Disiplin Aparatur 66.250.000,-<br />
5.<br />
Pembangunan Jalan dan Jembatan<br />
Pembangunan Jalan (DAK)<br />
6.142.855.400,-<br />
6. 2.367.589.800,-<br />
7.<br />
8.<br />
Program Peningkatan Susunan Tata Ruang dan Tata<br />
Bangunan<br />
Penyediaan sarana dan Prasarana Fisik Bangunan<br />
Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan dan Jembatan<br />
Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan (DAU)<br />
3.826.800.864,-<br />
2.195.225.400,-<br />
9. 110.660.000,-<br />
10.<br />
Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan<br />
Air Limbah<br />
Penyediaan Prasarana dan sarana Air Limbah<br />
Pengembangan Sistem Distribusi Air Minum<br />
1.668.632.500,-<br />
874.022.500,-<br />
11. Program Kerjasama Pembangunan 39212.500,-<br />
Sumber: Dinas PU Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />
Suasana Pasar <strong>Aceh</strong> yang berada di pusat Kota Banda <strong>Aceh</strong>.<br />
pan, sehingga pengembangan infrastruktur<br />
pun harus disesuaikan,” sebutnya.<br />
Untuk tahun <strong>2011</strong>, <strong>Pemerintah</strong> Kota Banda<br />
<strong>Aceh</strong> merencanakan pengembangan ruas<br />
jalan dan ruang terbuka hijau di kawasan<br />
timur Kota Banda <strong>Aceh</strong>, namun upaya pembebasan<br />
lahan yang harganya melambung,<br />
menjadikan rencana ini belum berjalan<br />
sesuai dengan yang diharapkan. (yy)<br />
ICAIOS Gelar Konferensi<br />
Internasional <strong>Aceh</strong> III<br />
tralia, Inggris, Amerika Serikat,<br />
Turki, Singapura, Malaysia,<br />
Kanada, Belanda, Finlandia,<br />
dan dari sejumlah wilayah di<br />
Indonesia sendiri. Delegasi ilmuwan<br />
dari luar negeri akan<br />
hadir dengan jumlah bervariasi,<br />
dengan Jerman, Australia, dan<br />
Amerika Serikat sebagai delegasi<br />
terbesar dengan 5-10 il-<br />
<br />
ini akan dihadiri 150-200 orang<br />
peserta dalam dan luar negeri.<br />
ICAIOS adalah pusat kajian<br />
internasional tentang <strong>Aceh</strong> dan kawasan<br />
seputar Lautan India yang didirikan setelah<br />
<br />
ICAIOS adalah usaha bersama <strong>Pemerintah</strong><br />
<strong>Aceh</strong>, Universitas Syiah Kuala, IAIN<br />
Ar-Raniry, Universitas Malikul Saleh, Kementrian<br />
Ristek Indonesia, dan sejumlah<br />
tokoh masyarakat, akademisi dan lembaga<br />
akademik nasional dan internasional dalam<br />
rangka memperkuat sektor ilmu pengetahuan<br />
di <strong>Aceh</strong>, khususnya dalam rangka<br />
riset dan peningkatan kapasitas periset di<br />
<strong>Aceh</strong> dan atau tentang <strong>Aceh</strong>.<br />
ICAIOS mengadakan pelatihan metodelogi<br />
riset, berbagai training tematik,<br />
dan melakukan riset dalam bidang-bidang<br />
yang dianggap strategis untuk <strong>Aceh</strong> dan<br />
masyarakatnya. Fokus training dan kajian<br />
di ICAIOS meliputi (1) Sejarah dan peruba-<br />
lik/bencana;<br />
(3) Perubahan sosio-ekonomi<br />
dan lingkungan. Selain itu, ICAIOS juga<br />
melakukan kajian dan kerjasama penelitian<br />
dengan lembaga-lembaga nasional dan internasional<br />
pada topik-topik yang menjadi<br />
minat dan kepentingan bersama. Programprogram<br />
ICAIOS sejalan dengan Visi <strong>Aceh</strong><br />
2025 yang digagas <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> lewat<br />
Bappeda untuk mewujudkan sebuah<br />
knowledge-based society (masyarakat berbasis<br />
ilmu pengetahuan).<br />
ICAIOS berkantor di komplek Pusat<br />
Pelatihan Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya<br />
(PPISB) Unsyiah, termasuk gedung Annex<br />
yang dibangun oleh Program ARTI (<strong>Aceh</strong><br />
Research Training Institute). (*/hbn)<br />
<br />
FOTO: SUVIE
M<br />
TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> 11<br />
Banda <strong>Aceh</strong> Kota Tua-tua Keladi<br />
emasuki usianya yang ke- 806,<br />
Kota Banda <strong>Aceh</strong> masih terus beru-<br />
saha berdiri sama tegak duduk<br />
sama rendah dengan kota-kota lain di zona<br />
regionalnya. Sebagai tempat tinggal, tempat<br />
berinvestasi dan berbisnis yang nyaman,<br />
tujuan pendidikan, bahkan sebagai tempat<br />
tujuan wisata.<br />
Dengan semboyan “Pemulia Jamee Adat<br />
Geutanyoe”, yang digaungkan seiring dengan<br />
pelaksanaan program Visit Banda <strong>Aceh</strong> Year<br />
<strong>2011</strong>, Banda <strong>Aceh</strong> memang masih belum<br />
maksimal menarik investasi khususnya di<br />
sektor perdagangan dan jasa.<br />
Salah satu faktor yang masih harus terus<br />
dikembangkan adalah pembangunan infrastruktur.<br />
Selaku kota yang juga merupakan<br />
ibu kota provinsi, dan berada di daerah paling<br />
ujung destianasi, Banda <strong>Aceh</strong> memang<br />
harus menjadi pemuas bagi semua pihak.<br />
“Alhamdulillah, secara perlahan infrastruktur<br />
kita mulai terus membaik, dan ini<br />
hikmah terbesar yang kita rasakan setelah<br />
porak poranda dan hancur berantakan saat<br />
musibah gempa dan tsunami melanda <strong>Aceh</strong>,”<br />
sebut Mawardy Nurdin, Walikota Banda<br />
<strong>Aceh</strong>, kepada Tabangun <strong>Aceh</strong>, pekan lalu.<br />
Tak jauh beda dengan kota lainnya di Sumatera,<br />
berbagai problem perkotaan masih<br />
terus dihadapi oleh Banda <strong>Aceh</strong>. Di antaranya<br />
banjir genangan, ruang terbuka hijau, dan<br />
lingkungan kota yang rama gender, membuat<br />
Banda <strong>Aceh</strong> harus berjibaku dengan<br />
waktu memenuhi semua tuntutan tersebut.<br />
Oleh karena itu, menurut Jalaluddin,<br />
Plh Dinas Pekerjaan Umum Kota Banda<br />
<strong>Aceh</strong>, salah satu langkah penting untuk<br />
membangun dan memperkuat daya saing<br />
Banda <strong>Aceh</strong> adalah melalui pembangunan<br />
infrastruktur, terutama untuk mengatasi<br />
masalah-masalah yang menjadi penghambat<br />
daya saing kota.<br />
Setidaknya ada empat pilar<br />
infrastruktur yang harus<br />
dibangun sebagai pendukung<br />
daya saing menuju kota yang<br />
modern namun tetap berada<br />
pada kearifan lokal. Keempat<br />
pilar tersebut adalah infrastruktur<br />
transportasi, infrastruktur<br />
pengendali banjir, infrastruktur<br />
energy dan infrastruktur<br />
teknologi informatika.<br />
“Alhamdulillah keempat<br />
pilar ini semusa sudah bisa<br />
dinikmati di Kota Banda<br />
<strong>Aceh</strong>. Misalnya infrastruktur<br />
transportasi, kita sudah memiliki<br />
jalan yang cukup baik,<br />
selain untuk kenyamanan<br />
moda angkutan, jalan-jalan ini juga berfungsi<br />
sebagai escape road jika musibah gelombang<br />
pasng dan tsunami melanda pesisir,”<br />
jelas Jalal.<br />
Sepanjang tahun 2007-2010, Dinas Pekerjaan<br />
Umum Kota Banda <strong>Aceh</strong>, untuk bidang<br />
Bina Marga berhasil membangun ruas jalan<br />
sepanjang 69.005 meter, melakukan rehabilitasi/pemeliharaan<br />
jalan sepanjang 74.250<br />
meter, dan 2 unit jembatan dengan sumber<br />
dana dari APBK.<br />
Sementara untuk program tahun <strong>2011</strong>,<br />
Dinas PU Kota Banda <strong>Aceh</strong> melalui bidang<br />
Bina Marga juga merencanakan program<br />
pembangunan jalan sepanjang 4.330 meter<br />
dengan nilai anggaran Rp 5.968.050.000, rehabilitasi/pemeliharaan<br />
jalan termasuk pedestarian<br />
sepanjang 29.400 meter.<br />
Prioritas yang masih berlanjut untuk<br />
pembangunan infrastruktur pada tahun <strong>2011</strong><br />
adalah pembangunan infrastruktur banjir.<br />
Pembangunan infrastruktur banjir ini juga<br />
harus diikuti dengan penerapan tata ruang<br />
yang seimbang dan peningkatan ruang ter-<br />
<br />
buka hijau.<br />
“Dengan adanya pembangunan<br />
drainase banjir<br />
genangan di Kota Banda<br />
<strong>Aceh</strong> sudah bisa diminimalisir.<br />
Jika sebelumnya ketika<br />
hujan lebat kota banda<br />
aceh bisa mengalami banjir<br />
genangan 6-12 jam, namun<br />
sekarang hanya 2 jam saja,<br />
ketika hujan, dan saat hujan<br />
reda, genangan air pun menyurut,”<br />
jelas Jalal.<br />
Selain drainase, dua<br />
kolam penampungan air juga<br />
sudah dibangun yakni di kawasan<br />
Jeulingke (belakang<br />
Kantor Gubernur <strong>Aceh</strong>) dan<br />
di kawasan Desa Lamjamee.<br />
Guna mengantisipasi banjir genangan<br />
akibat hujan, <strong>Pemerintah</strong> Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />
mendapat bantuan pembangunan drainase<br />
yang dibagi dalam 7 zona, dan saat ini sepanjang<br />
186.689,25 meter saluran drainase sudah<br />
selesai dikerjakan. “Selain APBK, pembangunan<br />
drainase juga merupakan bantuan dari<br />
beberapa donor, di antaranya pemerintahan<br />
Jepang dan Perancis,” katanya.<br />
Selain itu, sebut Jalaluddin, untuk<br />
mencegah pasang air laut di daerah pesisir<br />
pantai juga telah dibangun tanggul pengaman<br />
pantai bantuan BRR. Lokasinya, tersebar<br />
di beberapa titik, yaitu pantai Ulee<br />
Lheue, Gampong Jawa, Lampaseh, Gano,<br />
Lampulo, Krueng Titi Panjang dan Krueng<br />
Neng.<br />
Selain tanggul pengaman, sepanjang<br />
8 kilometer break water pada garis pantai<br />
Ulhee Lheu hingga Alue Naga juga sudah<br />
selesai dibangun, dan sepanjang 450 meter<br />
masih dalam pengerjaan.<br />
Pemenuhan kebutuhan energi juga men-<br />
jadi hal yang sangat penting bagi Kota Banda<br />
<strong>Aceh</strong>. Walau pemadaman bergilir sudah<br />
mulai tak dirasakan oleh warga, namun keberlangsungan<br />
penyediaan arus listrik menjadi<br />
bagian dari kebutuhan infrastruktur di<br />
kota tua ini.<br />
“Banda <strong>Aceh</strong> akan sangat terbuka untuk<br />
investasi di bidang kelistrikan, karena<br />
ini memang sangat dibutuhkan. Saat ini<br />
meski sudah sangat jarang mengalami pemadaman<br />
bergilir, namun kebutuhan listrik<br />
masih kurang. Sejumlah hotel berbintang<br />
di Banda <strong>Aceh</strong> masih menggunakan mesin<br />
genset untuk jam-jam penting tertentu karena<br />
suplai arus yang kurang, jika nanti<br />
hotel sudah tak lagi menggunakan genset,<br />
mungkin bisa dikatakan arus listrik menjadi<br />
cukup,” ungkap Walikota Banda <strong>Aceh</strong>,<br />
Mawardy Nurdin.<br />
Banda <strong>Aceh</strong> mungkin juga perlu mempertimbangkan<br />
membangun infrastruktur<br />
pembangkit listrik tambahan untuk mendukung<br />
penyediaan energi listrik.<br />
Infrastruktur berikutnya yang dibutuhkan<br />
dan kini mulai diimplementasikan<br />
di Kota Banda <strong>Aceh</strong> adalah infrastruktur<br />
teknologi informatika. Penerapkan e-government<br />
dalam pengelolaan pemerintahan dan<br />
pelayanan publik. akan mendorong peningkatan<br />
efisiensi, kenyamanan, serta aksesibilitas<br />
yang lebih baik dari pelayanan publik<br />
yang sangat dibutuhkan oleh penduduk<br />
maupun kalangan bisnis.<br />
Disisi yang lain, Banda <strong>Aceh</strong> juga sudah<br />
mulai mengembangkan cyber city dengan<br />
memperbanyak kawasan-kawasan publik<br />
yang menjadi cyber area, sebagai fasilitas<br />
masyarakat mengakses informasi dengan<br />
memanfaatkan teknologi informatika.<br />
Usia tua tak menunjukkan Kota Banda<br />
<strong>Aceh</strong>, renta. Ternyata makin bertambah<br />
umurnya makin terus bergaya.(yy)<br />
Strategi Pengembangan Jaringan Jalan Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />
Pengembangan jaringan jalan arteri bertujuan:<br />
Pengembangan ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain.<br />
Penghubung pusat kegiatan regional dan nasional<br />
Komponen utama sistem transportasi Kota Banda <strong>Aceh</strong><br />
KODE KETERANGAN<br />
A<br />
B<br />
C<br />
D<br />
E<br />
F<br />
<br />
H<br />
I<br />
J<br />
K<br />
L<br />
M<br />
N<br />
Pembangunan Jalan Banda <strong>Aceh</strong> Outer<br />
Ring Road (BORR)<br />
<br />
Meunasah Manyang<br />
Pembangunan Jalan Lambaro Skep-<br />
Tibang<br />
Penataan Sp.Tujuh Ulee Serta Pelebaran<br />
Jalan Jurong Dagang – Santan<br />
Perbaikan Simpang Dan Penerusan<br />
Jalan Taman Makam Pahlawan – Jalan<br />
AMD<br />
Pembangunan Jalan Mohd Jam –Jalan<br />
Tgk.Abdussalam Lambung<br />
Pembangunan Jalan Depan Rs. Meuraxa<br />
(Jl. Soekarno Hatta –Jl.Wedana)<br />
Pelebaran Jl.T.Iskandar (Sp.Beurawe –<br />
Sp – Tujuh Ulee Kareng)<br />
Pelebaran Jalan Syiah Kuala (Sp.Jambo<br />
Tape-Makam Syiah Kuala)<br />
Pelebaran Jalan Malikul Saleh (Sp.<br />
Lamlagang – Sukarno Hatta)<br />
Pelebaran Jalan Tunggal- Sp. Tujuh Ulee<br />
Kareng<br />
Pelebaran Jl.Inspeksi Kr.<strong>Aceh</strong> (Sp.<br />
Beurawe – Sp Jembatan Cot Irie –<br />
Sp.Lamyong)<br />
Pembangunan/Pelebaran Jalan Deah<br />
Raya Tibang<br />
Pelebaran Jalan. Tgk. Abdurrahman<br />
Meunasah Meuncap (Sp.Dodik – Sp<br />
Lamjame)<br />
O Pelebaran Jl. Wedana<br />
P<br />
Q<br />
Pembangunan Jalan Sp. Tujuh Ulee<br />
Kareng – Lamgapang<br />
Pembangunan Jalan Blang Oi –<br />
Lamteumen<br />
R Ulee Kareng Epicentrum<br />
S<br />
T<br />
Pembangunan Jalan t. Nyak Makam –<br />
Soekarno Hatta<br />
Pembangunan Jalan Inspeksi Kr. <strong>Aceh</strong><br />
Borr<br />
KE MEULABOH<br />
KE MEDAN<br />
<br />
Sumber: Dinas PU Kota Banda <strong>Aceh</strong>
12 TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />
P<br />
esantren Modern Terpadu Al-Furqan<br />
Bambi, Pidie, Selasa (17/05/<strong>2011</strong>),<br />
menggelar pertemuan akbar alumni<br />
(reuni) perdana sejak dayah itu didirikan<br />
pada tahun 1983 lalu. Dalam momen itu<br />
juga digelar seminar tentang problematika<br />
dayah, pendataan dan pemetaan potensi<br />
alumni yang kini tersebar di berbagai daerah<br />
di <strong>Aceh</strong>, Indonesia dan bahkan luar negeri.<br />
“Tujuan reuni ini selain sebagai ajang silaturrahmi<br />
juga membahas kontribusi alumni<br />
terhadap almamater. Kami yakin dayah<br />
Al-Furqan memiliki potensi alumni yang<br />
cukup besar untuk digerakkan guna membangkitkan<br />
pembangunan dayah baik dari<br />
aspek infrastruktur maupun pendidikan,”<br />
ungkap Muslem Daud, S.Ag, MEdMgmt<br />
yang memandu seminar.<br />
Ratusan alumni dari berbagai daerah<br />
hadir dalam pertemuan yang digelar di musalla<br />
dayah itu. Beberapa dari mereka diminta<br />
memaparkan konsep pengembangan dayah<br />
sekaligus memberikan inpirasi bagi para<br />
santri yang sedang menimba ilmu. Mereka<br />
antara lain Hasan Basri M Nur, Syarifuddin<br />
Abe, Ainal Mardhiah dan Abu Khaidir.<br />
B<br />
anda <strong>Aceh</strong> (26/4/<strong>2011</strong>).<br />
Albukhary International<br />
University (AIU) Malaysia<br />
akan memberikan beasiswa penuh<br />
untuk 5 orang putra-putri terbaik<br />
<strong>Aceh</strong> untuk belajar disana. Universitas<br />
yang berlokasi di Alor<br />
Setar, Malaysia ini akan memprioritaskan<br />
putra-putri terbaik dan<br />
cemerlang dari berbagai belahan<br />
dunia dengan prioritas utama keluarga<br />
miskin dan tidak mampu.<br />
Dr. Muhammad Subhan dari<br />
House of <strong>Aceh</strong> (HoA) Internasional dalam<br />
siaran pressnya menyampaikan saat ini ada<br />
502 orang mahasiswa asing yang berasal dari<br />
52 negara seperti Bosnia, Kosovo, Thailand,<br />
Myanmar dan lain-lain belajar dan menuntut<br />
ilmu diuniversitas tersebut. Subhan lebih<br />
lanjut menyampaikan universitas yang<br />
memprioritaskan 80 persen mahasiswa asing<br />
dan 20 persen mahasiswa lokal pada saat ini<br />
baru melaksanakan program matrikulasi, sedangkan<br />
program sarjana baru akan dimulai<br />
pada Juni 2012 dengan bidang ilmu akuntansi,<br />
administraasi bisnis, ekonomi, studi pem-<br />
Semua pemateri menyatakan, dayah Al-<br />
Furqan memiliki potensi alumni yang luar biasa<br />
jika digerakkan. Alumni dayah itu saat ini<br />
bertebaran di berbagai instansi di <strong>Aceh</strong> maupun<br />
di luar <strong>Aceh</strong>. “Ikatan emosional antara<br />
dayah dengan bekas santri tak akan pernah<br />
lekang. Untuk itu, berbagilah permasalahan<br />
dengan kami agar dapat secara bersama-sama<br />
dicarikan solusi pengembangan dayah di<br />
masa mendatang. Kami siap kapan saja jika<br />
pihak dayah membutuhkan bantuan,” ungkap<br />
Ainal Mardhiah, MA yang juga dosen di<br />
Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry.<br />
Dalam seminar itu, Kepala Dayah Al-<br />
Furqan, Drs Tgk H Badruddin Puteh, M.Pd,<br />
memaparkan beberapa kekurangan yang<br />
saat ini dialami dayah modern tertua kedua<br />
di <strong>Aceh</strong> itu. Menurutnya, saat ini dayah<br />
kekurangan ruang makan bagi santriwati,<br />
kekurangan satu ruang belajar, fasilitas olah<br />
raga dan lain-lain. “Selain butuh beberapa<br />
bangunan fisik, kami juga berharap agar<br />
alumni bersedia mengadakan bimbingan<br />
masuk perguruan tinggi bagi calon mahasiswa<br />
asal Al-Furqan,” pinta Badruddin Puteh<br />
yang sudah mengabdi sejak 1983. (bul)<br />
bangunan dan ilmu komputer.<br />
The <strong>Aceh</strong> Institute melalui<br />
inisiatif House of <strong>Aceh</strong> (HoA)<br />
Internasional telah diberi kepercayaan<br />
untuk merekrut calon<br />
mahasiswa Albukhari Internasional<br />
University untuk Semester<br />
bulan September <strong>2011</strong>. Kepercayaan<br />
yang diberikan melalui<br />
Prof. Dr. Kamaruzzaman<br />
Askandar (University Sains Malaysia)<br />
berdasarkan permintaan<br />
dari pihak Albukhari Internasional<br />
University (AIU) sendiri, ujar Subhan.<br />
Lebih lanjut Subhan menyampaikan<br />
adapun kriteria umum calon penerima beasiswa<br />
Albukhari Internasional University<br />
antara lain : mempunyai prestasi akademik<br />
yang cemerlang (minimum nilai 8 untuk<br />
pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris),<br />
calon pelajar mesti dari keluarga kurang<br />
beruntung (miskin), belum menikah dan<br />
berusia tidak lebih dari 22 tahun, bersedia<br />
mematuhi peraturan dan ketetapan universitas,<br />
sehat fisik dan mental.<br />
Adapun kriteri khusus, adalah, asli<br />
penduduk <strong>Aceh</strong> (keluarga <strong>Aceh</strong>), memiliki<br />
TOEFL minimum 470 atau nilai B.Inggris<br />
rata-rata 8 sejak dari kelas 1 hingga kelas<br />
3 atau mempunyai kemampuan berkomunikasi<br />
dalam bahasa Inggris dengan baik,<br />
mempunyai jiwa kepemimpinan (leadership)<br />
dan komunikatif, mempunyai latar<br />
<br />
Dayah Al-Furqan Galang Potensi Alumni<br />
FESTIVAL DAN EVENT ACEH BULAN MEI - JUNI <strong>2011</strong><br />
FOTO: IRVAN<br />
Ainal Mardhiah, salah satu alumni Dayah AL-Furqan saat mempresentasikan potensi alumni dan<br />
kontribusinya bagi almamater di hadapan santri, dewan guru dan alumni dayah, Selasa (17/5).<br />
Albukhari Internasional University<br />
Beri Beasiswa untuk Pelajar Terbaik <strong>Aceh</strong><br />
Kriteria umum calon penerima beasiswa Albukhari<br />
Internasional University antara lain : mempunyai prestasi<br />
akademik yang cemerlang (minimum nilai 8 untuk pelajaran<br />
Matematika dan Bahasa Inggris), calon pelajar mesti dari<br />
keluarga kurang beruntung (miskin), belum menikah dan<br />
berusia tidak lebih dari 22 tahun.<br />
<br />
belakang atau pengetahuan agama yang<br />
kuat. Selain itu ungkap Subhan peserta<br />
juga diminta membuat Karya Tulis Sebanyak<br />
2 Halaman dengan Tema “Seandainya<br />
saya diterima di Albukhary Internasional<br />
University Malaysia dan Saya akan Membangun<br />
<strong>Aceh</strong> masa depan “. (fzu).<br />
Acara <br />
Tanggal 25 – 26 Mei <strong>2011</strong><br />
<br />
<br />
Lokasi <br />
<br />
Acara Pameran Indonesia City Expo Tahun <strong>2011</strong> <strong>Pemerintah</strong> Kota Banda <strong>Aceh</strong> dalam rangka APEKSI akan menggelar acara Pameran Indonesia City Expo Tahun <strong>2011</strong>. Pada acara<br />
Tanggal 28 Mei s.d 01 Juni <strong>2011</strong><br />
Pameran Indonesia City Expo Tahun <strong>2011</strong> akan digelar pameran kerajinan dan pertunjukan kesenian khasanah budaya nusantara<br />
dari seluruh kota yang ada di Indonesia.<br />
Lokasi Lapangan Blang Padang <br />
<br />
P<br />
<br />
Konsolidasi Peneliti <strong>Aceh</strong><br />
eneliti <strong>Aceh</strong> yang tergabung dalam<br />
Forum Peneliti <strong>Aceh</strong> (FBA) menggelar<br />
Workshop dan Sosialisasi Jaringan<br />
dan Riset <strong>Aceh</strong> (16/05/<strong>2011</strong>). Workshop ini<br />
turut dihadiri sejumlah peneliti muda dan<br />
utusan dari Bapeda <strong>Aceh</strong>, Universitas Syiah<br />
Kuala, IAIN Ar-Raniry, Universitas Malikussaleh<br />
dan Universitas Teuku Umar, Kontras<br />
<strong>Aceh</strong>, Kelompok Kerja Transformasi<br />
Gender <strong>Aceh</strong>, Komunitas Tikar Pandan,<br />
The <strong>Aceh</strong> Institute, House of <strong>Aceh</strong>, Bandar<br />
Publishing, ACSTF, ICAIOS bertempat di<br />
Ruang Audio Conference Fakultas Keguruan<br />
dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas<br />
Syiah Kuala.<br />
Worskhop ini difasilitasi oleh<br />
tim Conflict and Development Bank<br />
Dunia <strong>Aceh</strong> (CPDA) turut dihadiri Dr.<br />
Saiful Mahdi, Dr. Nazamuddin, Dr. Eka<br />
Mulyani, Dr. Inayatillah, Fuad Mardhatillah,<br />
MA dan sejumlah peneliti muda<br />
<strong>Aceh</strong> lainnya. Marthunis Muhmmad dari<br />
Bappeda <strong>Aceh</strong> mengharapkan penelitianpenelitian<br />
yang dilaksanakan hendaknya<br />
dapat saling bersinergi dalam upaya<br />
mewujudkan Visi <strong>Aceh</strong> 2025 yang Islami,<br />
Maju, Damai dan Sejahtera.<br />
Forum ini telah bersepakat mendorong<br />
<strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> untuk menjadikan riset<br />
sebagai landasan utama dalam perencanaan<br />
pembangunan terutama terhadap<br />
sektor-sektor strategis dan berdampak<br />
jangka panjang. Forum ini juga telah<br />
bersepakat untuk memperkuat peran dan<br />
jaringan peneliti <strong>Aceh</strong> baik dalam tataran<br />
lokal, nasional dan internasional dimasa<br />
akan datang. Workshop juga telah berhasil<br />
melahirkan struktur organisasi FBA dengan<br />
koordinator terpilih Dr. Saleh Sjafei<br />
dari Fisipol Universitas Syiah Kuala dan<br />
Sekretaris Dr. Muhammad Subhan sekaligus<br />
pengurus House of <strong>Aceh</strong> Internasional.<br />
Pada akhir pertemuan Forum Peneliti<br />
<strong>Aceh</strong> telah mengagendakan tiga kegiatan<br />
pokok, yaitu memperkuat database penelitian,<br />
pemetaan sumberdaya dan lalulintas<br />
penelitian, Serial Diskusi , Publikasi hasilhasil<br />
penelitian. (fzu)
K<br />
B<br />
epala Bappeda <strong>Aceh</strong> Ir. Iskandar,<br />
M.Sc mengatakan <strong>Aceh</strong> mengusul-<br />
kan Rp <strong>13</strong>,3 Trilyun pembiayaan<br />
Pembangunan <strong>Aceh</strong> yang bersumber dari<br />
APBN untuk tahun 2012. Hal itu disampaikan<br />
Kepala Bappeda takkala menerima<br />
wartawan Tabangun <strong>Aceh</strong> diruang kerjanya<br />
(10/05/<strong>2011</strong>) di Kantor Bappeda <strong>Aceh</strong>.<br />
Ir. Iskandar, M.Sc menambahkan usulan<br />
anggaran tersebut telah disampaikan Bappeda<br />
<strong>Aceh</strong> pada Musyawarah Rencana Pembangunan<br />
Nasional (Musrenbang) di Jakarta<br />
(25/04/<strong>2011</strong>) bersama Bappenas, Kementerian<br />
Keuangan dan Kementerian terkait lainnya.<br />
Anggaran tersebut akan dipergunakan untuk<br />
melanjutkan rencana pembangunan jangka<br />
menengah (RPJM), melanjutkan kesinambungan<br />
rekonstruksi <strong>Aceh</strong>, rekonstruksi<br />
Tangse, pembangunan koridor ekonomi Sumatera<br />
dan beberapa iniasiatif (new inisiatif)<br />
Pembangunan <strong>Aceh</strong>.<br />
Ir. Iskandar, M.Sc menambahkan anggaran<br />
tersebut tetap akan diprioritaskan<br />
untuk pembangunan infrastruktur seperti<br />
irigasi, jalan termasuk jalan usaha tani dan<br />
sentra produksi, pemberdayaan ekonomi,<br />
pendidikan dan kesehatan. Anggaran ini<br />
juga dipergunakan untuk mendukung ketahanan<br />
pangan <strong>Aceh</strong> (<strong>Aceh</strong> food estate) dan<br />
peningkatan produksi dan produktivitas sejumlah<br />
komoditi ekspor <strong>Aceh</strong> seperti kopi,<br />
kakao dan karet dimasa akan datang mela-<br />
<br />
anda <strong>Aceh</strong> (06/05/<strong>2011</strong>), Gubernur<br />
<strong>Aceh</strong> diwakili Sekretaris Daerah <strong>Aceh</strong><br />
T. Setia Budi membuka Pertemuan<br />
dan Serial Diskusi Pembangunan <strong>Aceh</strong> dengan<br />
tema “Menuju Industri Pengolahan<br />
Perikanan <strong>Aceh</strong>”. Acara yang digagas dan<br />
diinisiasi House of <strong>Aceh</strong> Internasional dan<br />
The <strong>Aceh</strong> Institute bekerjasama dengan<br />
Bappeda <strong>Aceh</strong>, Dinas Perikanan dan Kelautan<br />
<strong>Aceh</strong>, Badan Investasi dan Promosi<br />
<strong>Aceh</strong> dan BPKS dengan menghadirkan nara<br />
sumber Ir. Bastian M.Si dari Bappeda <strong>Aceh</strong>,<br />
Ir. Anwar Muhammad, M.Si Kepala Badan<br />
Promosi dan Investasi <strong>Aceh</strong> serta Ir. Razali<br />
M.Si Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan<br />
<strong>Aceh</strong>. Acara ini turut dihadiri Wakil<br />
Ketua DPRA Sulaiman Abda dan sejumlah<br />
stakeholder terkait bidang perikanan seperti<br />
unsur Dinas Perikanan dan Kelautan<br />
<strong>Aceh</strong>, Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi,<br />
Dinas Perindag UKM <strong>Aceh</strong>, Biro<br />
Ekonomi dan Pembangunan <strong>Aceh</strong>, Bank Indonesia,<br />
Bank <strong>Aceh</strong>, BRI, BNI, Bank Mandiri,<br />
Bank Syariah, Panglima Laot <strong>Aceh</strong>,<br />
UNDP, Assosiasi Pengusaha <strong>Aceh</strong>, praktisi<br />
dan akademisi. Acara ini juga turut dhadiri<br />
pengusaha sukses bidang Perikanan di<br />
Jakarta Gunadi Ali Marwan Direktur PT.<br />
Margalindo Group yang memiliki industri<br />
pengolahan perikanan terpadu di Muara<br />
Baru Jakarta mulai dari industri pakan,<br />
prosessing dan pemasaran produk olahan<br />
perikanan. T.Setia Budi mengharapkan pertemuan<br />
ini bisa membawa suatu perubahan<br />
yang signifikan dalam pembangunan perikanan<br />
<strong>Aceh</strong> masa depan dalam koridor visi<br />
<strong>Aceh</strong> 2025 menuju <strong>Aceh</strong> yang Islami, maju,<br />
damai dan sejahtera dan mengharapkan<br />
sektor perikanan bisa menjadi sumber alternatif<br />
pendapatan <strong>Aceh</strong> dimasa akan datang<br />
pasca berakhirnya otsus dan migas.<br />
lui revitalisasi perkebunan, intensifikasi,<br />
peningkatan profesionalisme dan jiwa eunterpreneurship<br />
generasi muda <strong>Aceh</strong> untuk<br />
menggeluti bidang usaha pertanian dalam<br />
arti luas.<br />
Tuan Rumah Pertemuan<br />
Bappeda Se-Indonesia<br />
Pada pertemuan dengan Tim Tabangun<br />
<strong>Aceh</strong> Ir. Iskandar, MSc juga menyampaikan<br />
rencana pertemuan dan rapat kerja (raker)<br />
Bappeda Se-Indonesia yang akan dilaksanakan<br />
pada bulan Juni akan datang. Pertemuan<br />
ini akan dihadiri Menteri Dalam<br />
Negeri, Menteri Pemberdayaan Aparatur<br />
Negara dan Menteri Perencanaan Pembangunan<br />
Nasional (Bappenas). Ir. Iskandar,<br />
M.Sc menambahkan Menteri Perencanaan<br />
Pembangunan Nasional (Bappenas) dapat<br />
menyampaikan materi Revitalisasi Musrenbang<br />
dan Menteri Dalam Negeri dapat<br />
menyampaikan Implementasi PP No.23<br />
Tahun <strong>2011</strong> tentang Perencanaan Pembangunan<br />
Nasional.<br />
Iskandar menambahkan pada pertemuan<br />
tersebut juga diharapkan membahas<br />
untuk menaikkan eselon Bappeda karena<br />
menurut Iskandar, kesalahan pembangunan<br />
diawali dengan kesalahan dalam membuat<br />
perencanaan dan ini berakibat fatal<br />
bagi pembangunan itu sendiri. Karena itu<br />
Iskandar tidak mau mengulangi kesalahan<br />
yang sama seperti selama ini karena itu Is-<br />
T.Setia Budi menambahkan bahwa<br />
selama ini sektor perikanan <strong>Aceh</strong> masih<br />
digarap secara tradisional dan parsial<br />
termasuk juga sektor pertanian lainnya,<br />
sehingga sektor ini belum memberikan<br />
pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan<br />
<strong>Aceh</strong>, walaupun menjadi sumber<br />
penghidupan 60% rakyat <strong>Aceh</strong>. Selain itu<br />
T.Setia Budi juga menyampaikan bahwa<br />
selama ini proses perniagaan perikanan<br />
<strong>Aceh</strong> maupun ekspor banyak dilakukan<br />
melalui provinsi tetangga Sumatera Utara,<br />
sehingga nilai tambahnya tidak mengalir ke<br />
<strong>Aceh</strong>. T.Setia Budi merasa prihatin selama<br />
ini ekspor perikanan <strong>Aceh</strong> kebanyakan dilakukan<br />
dalam keadaan mentah atau tanpa<br />
mengalami proses pengolahan lebih lanjut<br />
sehingga nilai jualnya menjadi rendah.<br />
Pertemuan dan diskusi ini sangat strategis,<br />
karena diperkirakan pelabuhan bebas<br />
Sabang (BPKS) dan sejumlah pelabuhan<br />
ekspor lainnya seperti Krueng Geukeh,<br />
Malahayati, Kuala Idie, Calang di <strong>Aceh</strong><br />
daratan akan selesai paling lambat pada tahun<br />
2012. Pelabuhan-pelabuhan ini bukan<br />
hanya berfungsi melayani jasa kepelabuhan<br />
tetapi juga berfungsi untuk eksport sejumlah<br />
komoditi strategis khususnya produk<br />
pertanian, perikanan, perkebunan dan lainlain<br />
dari <strong>Aceh</strong> daratan. T.Setia Budi meminta<br />
seluruh stakeholder SKPA, pengusaha,<br />
perbankan, pemerintah kabupaten/kota beserta<br />
masyarakat untuk bekerja keras, serius<br />
dan bahu-membahu mewujudkan impian<br />
menuju masyarakat <strong>Aceh</strong> yang makmur dan<br />
sejahtera.<br />
Fauzi Umar dari House of <strong>Aceh</strong> Internasional<br />
mengatakan House of <strong>Aceh</strong> yang<br />
lahir dan dan digagas dari hasil Konferensi<br />
Masyarakat <strong>Aceh</strong> Dunia (World Achenese<br />
Association) untuk mendorong pem-<br />
kandar mengharapkan sejumlah dokumen<br />
perencanaan seperti Rencana Tata Ruang<br />
Wilayah <strong>Aceh</strong> (RTRWA), RPJP <strong>Aceh</strong> yang<br />
memuat visi <strong>Aceh</strong> 2025 dapat diselesaikan<br />
bangunan <strong>Aceh</strong> yang lebih baik menuju<br />
masyarakat <strong>Aceh</strong> yang Islami, maju, damai<br />
dan sejahtera melalui pelibatan seluruh<br />
stakeholder terkait termasuk petani dan<br />
nelayan guna mewujudkan <strong>Aceh</strong> untuk semua<br />
(<strong>Aceh</strong> for All). House of <strong>Aceh</strong> telah<br />
memiliki jaringan pada lebih 12 negara dan<br />
dapat dimanfaatkan <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> sebagai<br />
jendala promosi <strong>Aceh</strong> pada masyarakat<br />
dunia khususnya pada bidang seni budaya,<br />
pariwisata, investasi, olahraga dan phylantropy.<br />
Selanjutnya Fauzi Umar juga menyampaikan<br />
dalam waktu dekat House of<br />
<strong>Aceh</strong> akan mengirimkan 5 putra-putri terbaik<br />
<strong>Aceh</strong> untuk belajar di Al-Bukhari Uni-<br />
TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> <strong>13</strong><br />
Bappeda <strong>Aceh</strong> jadi Tuan Rumah<br />
Rapat kerja Bappeda se-Indonesia<br />
FOTO: DOK <strong>BAPPEDA</strong> ACEH<br />
<br />
Bappeda <strong>Aceh</strong>.<br />
dalam waktu secepatnya dan ini telah mendapat<br />
respon dari DPRA untuk menyelesaikan<br />
RTRWA paling lambat pada bulan Juni<br />
<strong>2011</strong>. (fzu).<br />
<strong>Aceh</strong> Butuh Industri Pengolahan Perikanan<br />
FOTO: IRVAN<br />
Kepala Bidang Perencanaan Ekonomi dan Tenaga Kerja <strong>Aceh</strong>, Ir. TM Bastian, MSi sedang<br />
mempresentasikan Visi <strong>Aceh</strong> 2025 didampingi Kepala Badan Investasi dan Promosi <strong>Aceh</strong> Ir. Anwar<br />
Muhammad, MSi dan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan <strong>Aceh</strong> Ir. Razali, MSi dengan moderator<br />
<br />
versity Malaysia dengan beasiswa penuh<br />
yang dikhususkan untuk keluarga <strong>Aceh</strong><br />
kurang mampu, namun memiliki prestasi<br />
akademik dan jiwa kepemimpinan.<br />
Fadhli Ali selaku moderator pada akhir<br />
pertemuan menegaskan bahwa para peserta<br />
diskusi menyepakati untuk pembentukan<br />
Forum Percepatan Pengembangan Perikanan<br />
<strong>Aceh</strong> lintas sektoral yang akan mengawal<br />
dan menindaklanjuti hasil diskusi ini. Dengan<br />
pembentukan Forum ini diharapkan<br />
cita-cita untuk menghadirkan industri prosesing<br />
sektor perikanan dan komoditi perikanan<br />
yang diekspor melalui <strong>Aceh</strong> dapat<br />
terwujud.(fzu)
14 TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />
<br />
S<br />
Butuh Irigasi &<br />
Penyuluh Pertanian<br />
Saya selama<br />
ini sebagai petani,<br />
hasil panen kami<br />
sangat tergantung<br />
pada air hujan.<br />
Saya heran saya<br />
mendengar ada<br />
waduk keliling<br />
di aceh besar tapi<br />
airnya tetap saja<br />
tidak sampai ke<br />
sawah kami. Hendak nya Dinas Pertanian dan<br />
Dinas pengairan saling kerja sama membantu<br />
petani untuk meningkatkan kesejahteraan<br />
masyarakat di masa akan datang.<br />
Penyuluh apertanian kembali di gerakkan<br />
untuk membantu petani dan turun ke<br />
lapangan, jangan asik di kantor aja selama ini<br />
kami hanya bisa memanen satu kali setahun,<br />
Irigasi tidak terurus sehingga air yang mengalir<br />
kesawah terbatas. <strong>Pemerintah</strong> aceh hendaknya<br />
mengaktifkan kembali peran keujrun<br />
blang sehingga produksi padi di <strong>Aceh</strong> meningkat<br />
dan Beras <strong>Aceh</strong> kembali terkenal.<br />
Syathani (58th)<br />
Petani Desa Siem <strong>Aceh</strong> Besar<br />
ekilas dia tampak biasa, tak terlihat memiliki<br />
keunggulan tertentu, apalagi kip-<br />
rah internasional. Penampilannya seder-<br />
hana dengan pakaian biasa, nyaris tak pernah<br />
mengenakan pakaian kebesaran dinas yang<br />
kerap dibanggakan orang. Dengan berkendara<br />
kuda jepang usang, ia tidak pernah memilih<br />
dalam bergaul. Siapa saja dapat berbincang<br />
dengannya dengan berbagai topik aktual. Lawan<br />
bicara akan tersentak tatkala berbincang<br />
dengan sosok “misterius” itu.<br />
Begitulah penampilan keseharian Tarmizi<br />
A. Hamid (45). Saat ditemui Tabangun<br />
<strong>Aceh</strong> di salah satu studio di kawasan Ulee<br />
Kareng, Kamis (19/5/<strong>2011</strong>), pria lengking ini<br />
bercerita panjang lebar tentang sejarah <strong>Aceh</strong>,<br />
potensi <strong>Aceh</strong> beserta peninggalan endatu<br />
masa lampau. Pria kelahiran Teupin Raya,<br />
Pidie, yang sehari-hari berkerja di Balai Pengkajian<br />
Tehnologi Pernatian (BPTP) <strong>Aceh</strong> ini<br />
ternyata menyimpan segudang manuskrip<br />
peninggalan Kesultanan <strong>Aceh</strong> masa lampau.<br />
Sarjana pertanian ini memiliki hobi<br />
mengoleksi kazanah <strong>Aceh</strong> tempo dulu karena<br />
memiliki tanggung jawab yang tinggi<br />
<strong>Aceh</strong> memiliki banyak potensi; di bidang<br />
sumber daya alam, kultur juga bidang<br />
pariwisata. Hanya saja selama ini terkesan<br />
pemerintah belum menggali potensipotensi<br />
itu untuk dipromosikan ke jajaran<br />
masyarakat nusantara dan dunia. Seharusnya<br />
potensi-potensi itu didata, didokumentasikan<br />
dan selanjutnya dipromosikan. Selaku<br />
fotografer, saya siap membantu pemerintah<br />
untuk mengabadikanpotensipotensi<br />
itu untuk<br />
kemudian<br />
disebarluaskan<br />
oleh instansi<br />
terkait. Jika<br />
bekerja sendiri<br />
p e m e r i n t a h<br />
tentu akan mengalamikesulitan,<br />
makanya<br />
perlu digalang<br />
dukungan dari<br />
berbagai unsur.<br />
Andi Madusila<br />
Fotografer<br />
dalam memelihara warisan budaya di tengah<br />
minimnya perhatian pemerintah di<br />
bidang itu. “Upaya-upaya individu dalam<br />
mengumpulkan naskah kuno seperti yang<br />
saya geluti sejak 1995 ini tentu dapat membantu<br />
pihak pemerintah walau pun gerakan<br />
saya ini belum pernah mendapat pendanaan<br />
dari pemerintah. Uang dari kocek sendiri<br />
sudah tak terhitung angkanya demi menyelamatkan<br />
warisan endatu”, tutur pria yang<br />
akrab disapa Cek Midi ini.<br />
“Meski tidak pernah mendapat pendanaan<br />
dari pemerintah, dalam setiap even<br />
di luar negeri saya selalu membawa nama<br />
<strong>Aceh</strong>, tidak pernah membawa nama pribadi.<br />
Inilah bentuk kontribusi yang dapat<br />
saya berikan demi merajut kesinambungan<br />
antargenerasi,” ujar pelanggan kopi Warkop<br />
SMEA Lampineung itu.<br />
Menurut Tarmizi, terkumpulnya manuskrip<br />
itu menjadi bukti kemajuan intelektual<br />
<strong>Aceh</strong> masa lampau yang akan menjadi bahan<br />
kajian bagi ilmuwan masa kini. “Sebagian<br />
orang terkadang hanya berbicara saja<br />
tentang kejayaan <strong>Aceh</strong> masa lampau. Tapi<br />
Selaku mahasiswa,<br />
saya<br />
sangat memperhatikan<br />
bidang<br />
pendidikan. Baru-baru<br />
ini saya<br />
sangat prihatin<br />
tentang ketidaklulusansiswasiswi<br />
<strong>Aceh</strong>. Saya<br />
menyarankan<br />
agar <strong>Pemerintah</strong><br />
perlu mempersiapkan<br />
guru yang berkualitas dan punya<br />
tanggung jawab untuk mengajar di daerah<br />
atau pedalaman. Selain itu, berbagai fasilitas<br />
yang layak harus disediakan, sehingga bisa<br />
meningkatkan kecerdasan yang indikatornya<br />
pada tingginya tingkat kelulusan. Saya juga<br />
berharap agar pemerintah mempertahankan<br />
dan menambah volume program beasiswa<br />
yang sedang berjalan, supaya ke depan akan<br />
mudah lahirnya generasi cerdas dan siap bersaing.<br />
Afdhal Ilmi<br />
Mahasiswa SMI IAIN Ar-Raniry<br />
dengan adanya bukti-bukti peninggalan sejarah<br />
ini seharusnya sejarah <strong>Aceh</strong> direstorasi<br />
dengan referensi-referensi primer yang ada.<br />
Berbicara tanpa bukti kongkrit adalah peh<br />
tem (omong kosong, red), dan saya yakin<br />
pembesar <strong>Aceh</strong> masa lampau bukanlah generasi<br />
peh tem. Kebesaran <strong>Aceh</strong> masa lampau<br />
harus mampu menumbuhkan inspirasi bagi<br />
generasi terkini untuk berbuat lebih besar<br />
dari pendahulu,” harap ayah dua anak ini.<br />
Untuk kepentingan pemeliharaan manuskrip,<br />
Cek Midi bahkan telah membangun<br />
satu unit perpustakaan khusus di rumahnya<br />
di kawasan Ie Masen Kayee Adang, Banda<br />
<strong>Aceh</strong>. “Naskah-naskah itu harus disimpan di<br />
tempat khusus untuk agar terpelihara dengan<br />
baik. Beberapa lembaga dari dalam luar negeri<br />
ikut membantu dalam restorasi naskah kuno<br />
di perpustakaan pribadi saya,” imbuhnya.<br />
Ditanya jumlah manuskrip yang ada di<br />
tangannya saat ini, Tarmizi mengaku berjumlah<br />
sekitar 500 eksemplar. Naskah-naskah itu ratarata<br />
berusia 400 tahun dan masih dapat dibaca<br />
dengan jelas, terdiri dari bahasa Arab, bahasa<br />
<strong>Aceh</strong> dan kebanyakan berbahasa Melayu. “Selain<br />
500 eks yang tersimpan di rumah, ada 156<br />
eks yang saya simpan di mesium manuskrip<br />
di ruang khusus University Brunei Darussalam<br />
(UBD). Penyimpanan di Brunei ini berawal saat<br />
ikut pameran budaya internasional yang digelar<br />
2004,” tambah suami dari Nurul Husna, dosen<br />
Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry itu.<br />
Ditambahkan, keberadaan manuskrip<br />
<strong>Aceh</strong> di Brunei hanya dapat diakses oleh<br />
Tarmizi sendiri dan Prof Dr Brahim Tengah<br />
(Direktur Fakultas Budaya dan Sastra<br />
Melayu). “Yang tersimpan di Brunei adalah<br />
manuskrip pilihan untuk kebutuhan pameran<br />
internasional. Untuk mengembalikannya<br />
Perhatian <strong>Pemerintah</strong> <strong>Aceh</strong> di bidang<br />
kesehatan sudah sangat baik. Program JKA<br />
itu harus dipertahankan karena manfaatnya<br />
dirasakan oleh rakyat kecil. Selaku pedagang<br />
pakaian kecil-kecilan, saya berharap<br />
program di bidang pemberdayaan penguasaha<br />
kecil itu harus diperhatikan. Bagaimana<br />
mungkin kami menjadi penguasaha jika<br />
tanpa binaan dan pinjaman modal usaha,<br />
supaya tidak terjadi jatuh bangun karena<br />
selama ini yang mendapatkan modal usaha<br />
hanya kalangan<br />
terbatas. Saya<br />
berharap pemerintahmelakukan<br />
pendataan<br />
mereka yang<br />
betul-betul sudah<br />
bergelut di bidang<br />
usaha kecil<br />
untuk dibantu.<br />
Jangan salah<br />
dalam memberikan<br />
bantuan.<br />
Fauzi<br />
Pedagang pakaian di Beurawe<br />
Melirik Sosok Kolektor Naskah Kuno <strong>Aceh</strong><br />
FOTO: IRVAN<br />
Tarmizi A Hamid bersama tim dari Banda <strong>Aceh</strong> sedang meneliti cap kertas (watermark) pada naskah<br />
Al-Quran kuno warisan Daeng Mansur ibn Syeh Abdullah Malikul Amin (Tgk. Chik Dirubee), di<br />
dampingi Hj Hamidah Risyad selaku pewaris di Rubee, Delima, Pidie.<br />
APA KATA MEREKA<br />
Promosikan<br />
Potensi <strong>Aceh</strong><br />
<br />
Prioritaskan<br />
Pendidikan<br />
“Selain 500 eks yang tersimpan di rumah, ada<br />
156 eks yang saya simpan di mesium manuskrip<br />
University Brunei Darussalam (UBD). Penyimpanan<br />
di Brunei ini berawal saat ikut pameran budaya<br />
internasional yang digelar 2004,”<br />
-- TARMIZI A HAMID --<br />
Jangan Abaikan<br />
Pengusaha Kecil<br />
ke <strong>Aceh</strong> dibutuhkan dana besar terutama bea<br />
cukai dan harus ada tempat penyimpanan<br />
yang layak. Jadi, tidak asal bawa pulang.<br />
Untuk apa dibawa pulang kalau sesampai di<br />
sini justru terbengkalai,” katanya.<br />
Tarmizi mengaku hanya memahami sebagian<br />
saja isi dari 600 naskah itu, terutama<br />
yang berbahasa Melayu dan <strong>Aceh</strong>. “Di<br />
sinilah peran dan fungsi intelektual dibutuhkan<br />
agar semua substansi dalam naskah<br />
itu dapat ditelaah. Naskah-naskah itu berisi<br />
beragam informasi dan panduan hidup, termasuk<br />
di bidang pemerintahan, agama, sosial,<br />
ramalan hingga soal kedokteran. Sungguh<br />
naïf jika kita mengabaikan kearifan<br />
lokal ini,” ujar pria yang berhasrat meneliti<br />
kekayaan budaya Linge, Gayo, ini.<br />
Kekayaan khazanah <strong>Aceh</strong> terus membakar<br />
semangat Tarmizi untuk mengumpulkan<br />
naskah kuno, walau kekayaan pribadinya<br />
terus terkuras. Ratusan juta rupiah telah dihabiskannya<br />
untuk hal ini. Dia rela berkendara<br />
sepeda motor butut, dan rumah yang<br />
tidak kunjung selesai. Semua itu karena dia<br />
yakin di dalam manuskrip-manuskrip itulah<br />
terdapat fondasi <strong>Aceh</strong> yang sesungguhnya.<br />
“Beberapa waktu lalu, ada seseorang dari<br />
pedalaman <strong>Aceh</strong> menawarkan sekitar 300<br />
judul manuskrip kuno. Tapi, saat ini, saya<br />
kehabisan cadangan dana sehingga belum<br />
sanggup membayar ganti rugi kepada kolektor<br />
tingkat gampong. Mudah-mudahan Tuhan<br />
membuka pintu rezeki kepada saya agar dapat<br />
menyelamatkan naskah-naskah itu,” katanya<br />
lirih sembari menghirup kopi Ulee Kareng.<br />
Dia mengaku selalu siap berdiskusi tentang<br />
khazanah <strong>Aceh</strong>, baik melalui pertemuan langsung<br />
maupun via email tarmiziahamid@yahoo.com.<br />
hasan basri m nur
<strong>Edisi</strong> <strong>13</strong><br />
Nama : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />
Alamat Rumah : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />
Sekolah / Alamat : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />
Kelas : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />
Mendatar :<br />
1.Zat cair sebagai sumber kehidupan 3.Busa 4.Bulu di atas mata 6.Air bercampur tanah 8.Salah<br />
satu binatang air 11.Luas, lega 14.Tentu 15.Khatam, selesai 16.Saya dan kamu 18.Kepercayaan<br />
kepada Tuhan 19.Banyak ilmunya 21.Negara di Timur Tengah 23.Rimba 25.Manis rasanya 27.Sari,<br />
pati 30.Tidak kering 32.Nomor Induk Mahasiswa (singkat) 33.Hasil perkebunan 34.Celah pada tanah<br />
tempat air mengalir 36.Kata ganti milik 37.Alat transportasi di air 38.Sore 41.Anak kecil dibawah<br />
lima tahun 43.Memelihara dan membimbing 45.Tumbuhan yang batangnya bisa dimakan dan rasanya<br />
manis 46.Pandai, cerdik 48.kota di <strong>Aceh</strong> Timur 51.Jiwa 54.Mengabdi 55.Tua sekali 56.Kamu (Bhs.<br />
Arab) 57.Hewan khas negeri Cina 58.berasa ingin muntah 59.Kata tunjuk 60.Nusa Tenggara Barat<br />
(singkat) 62,Salah satu anggota tubuh 63.Tonggak 64.Binatang pengisap darah.<br />
Menurun :<br />
1.Minggu 2.Hujan (Bhs. Inggris) 3.Padi yang sudah dikupas kulitnya 5.Sapaan ketika berjumpa<br />
seseorang 6.Teman makan nasi 7.buah kates 8.Ulangan, test 9.Nama lain pulau Sumatera 10.Cairan<br />
<br />
kita 20.Ibu Rumah Tangga (singkat) 22.Awal 24.Jumpa, sua 25.Tidak ganjil 26.Batas 28.Tidak<br />
sekarang 29.Tinggi rendah nada 30.Pohon pelindung yang banyak ditanam dipinggir laut, mangrove<br />
<br />
menghilangkan rasa gatal 41.Satelit bumi 42.Tempat barang yang biasanya dijinjing pada bahu<br />
44.Ikan buas 45.Sekelompok orang yang bekerja sama 46.Marinir 47.Memotong pohon 49.Terasa<br />
<br />
kayu yang sudah dibakar 59.Dalam (Bhs. Inggris) 61.Tanda nomor kenderaan di wilayah <strong>Aceh</strong>.<br />
JAWABAN TTS EDISI 12 :<br />
Mendatar:<br />
<br />
<br />
42.Santun, 44.Neraka, 47.Sunat, 50.Nyala, 51.Entah. 52.Anda, 53.Udang, 54.Aula, 55.Min, 56.UMR,<br />
58.Unggul,59.Segala.<br />
Menurun:<br />
<br />
<br />
37.Menit, 38.ASK, 40.Ibu, 41.JKA, 42.Sepatu, 43.Tenang, 45.Rahang, 46.Aksara, 47.Sauna, 48.Niaga,<br />
49.Tegur, 55.AL, 57.RS.<br />
TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong> 15<br />
Nama-nama pemenang TTS <strong>Tabloid</strong> Tabangun <strong>Aceh</strong> <strong>Edisi</strong> 12<br />
1.Salma Aulia Nisa, MIN Manggeng, Kelas IV ,Desa Paya, Kec.Manggeng, Abdya, 2.Riza Mulyanda, SDN I Bintah, Kelas II A, Kec.Madat <strong>Aceh</strong> Timur, 3.Elisma Diana, SDN 2, Kelas II b<br />
Subulussalam, 4.Khairol Sulaiman, MIN Jeunieb, Kelas VI, Biereun, 5.Andi Fauzan, SDN Lampeunurur, kelas VI b, 6.Ahmad Zaim Islahi, SDN 69, kelas V, Darusalam Banda <strong>Aceh</strong>.<br />
TTS ini diperuntukkan bagi siswa-siswi SD/MI. Kirimkan jawaban ke alamat redaksi, d/a Bappeda <strong>Aceh</strong>, Jl.Muhammad Daud Beureueh Banda <strong>Aceh</strong>, dengan menyertai potongan TTS dan menulis identitas diri (Nama, TTL, Alamat<br />
Sekolah). Di sudut kiri amplop ditulis TTS Anak. Hadiah akan dikirim ke alamat sekolah masing-masing (redaksi)<br />
BRI (Bank Rakyat Indonesia) menyediakan bingkisan untuk masing-masing pemenang:<br />
Nama-nama pemenang Mewarnai <strong>Tabloid</strong> Tabangun <strong>Aceh</strong> <strong>Edisi</strong> 12<br />
1.Cut Fitri Yani, SDN 9,Kelas III-3, Bebesen, Takengon, 2.Ulyana, SDN 3, Kelas VI, Lueng Putu, Pijay, 3.Muhammad Sultan Khatami, 4.Muazir Sidqi, MIN Kota Blang<br />
5.Cut Indira Fatikasari, SDN Blang Asan Kelas II, Sigli, 6.Qisti Akmal,TK Pertiwi, Kelas B-4 Banda <strong>Aceh</strong>.<br />
PASTEL/KRAYONBappeda<br />
<strong>Aceh</strong> Jl.Muhammad Daud Beureueh Banda <strong>Aceh</strong>, dengan mengisi identitas diri. Di sudut kiri amplop ditulis “MEWARNAI”. BRI (Bank Rakyat Indonesia) menyediakan 6 bingkisan sekolah kepada 6 karya<br />
terbaik. Hadiah akan dikirim ke alamat sekolah masing-masing.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Nama Siswa : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />
Nama Sekolah : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />
<strong>Edisi</strong> <strong>13</strong><br />
Alamat Sekolah : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<br />
Kelas : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
16 TABLOID TABANGUN ACEH - EDISI <strong>13</strong> | MEI <strong>2011</strong><br />
B<br />
erawal dari iklan terbatas tentang<br />
perekrutan peserta kontes World Queen<br />
of Coffee (ratu kopi dunia) yang dis-<br />
ebar oleh <strong>Aceh</strong> Multivision, Khairun Nisa<br />
(17) tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Animonya<br />
langsung menggeliat saat membaca<br />
iklan itu di salah satu rumah kecantikan di<br />
Kampung Laksana, Banda <strong>Aceh</strong>. Hari itu<br />
juga dia langsung mendaftar ke sekretariat<br />
panitia di Yellow Café.<br />
Gadis cantik kelahiran Lhokseumawe <strong>13</strong><br />
Pebruari 1994 ini memang dikenal aktif dan<br />
agresif. Setiap momen kreatifitas tak pernah<br />
dilewati. “Kita harus memanfaatkan setiap<br />
kesempatan untuk memupuk identitas diri<br />
sekaligus mengukir prestasi, karena dengan<br />
prestasi kita akan abadi,” ujar dara yang menamatkan<br />
sekolah dasar di Malaysia ini.<br />
Saat ditemui Tabangun <strong>Aceh</strong> di kediamannya<br />
di bilangan Peurada, Minggu (1/5/<strong>2011</strong>),<br />
gadis jelita yang sehari-hari bersekolah di<br />
MAN Model ini bertutur panjang lebar soal<br />
pengalamannya ikut kontes Ratu Kopi tingkat<br />
nasional di Jakarta. Gadis yang akrab<br />
disapa Uun ini tampak sangat cerdas, berwawasan<br />
luas, lugas dan tegas dalam berbicara.<br />
“Selain mempelajari berbagai mata pelajaran<br />
formal di sekolah, di era globalisasi<br />
ini kita dituntut untuk menguasai lintas<br />
disiplin ilmu. Kita dituntut untuk dapat beradaptasi<br />
dengan perkembangan zaman<br />
dengan tetap menjunjung tinggi nilai<br />
agama dan adat-istiadat. Khusus<br />
menjelang mengikuti sebuah even<br />
terlebih dahulu kita harus mendalami<br />
berbagai aspek terkait.<br />
Jadi, tidak asal ikut-ikutanlah,”<br />
ungkap Uun, lugas<br />
Saat mendaftar di kontes<br />
Ratu Kopi, Uun bolak balik<br />
membuka berbagai bacaan<br />
terkait, baik dari buku, majalah<br />
maupun dengan melacak<br />
di internet. “Dengan bekal<br />
persiapan yang matang,<br />
saya bertekad untuk mendapatkan<br />
prestasi memuaskan<br />
di ajang World<br />
Queen of Coffee. Dan,<br />
alhamdulillah, saya<br />
ditetapkan sebagai<br />
juara I di tingkat provinsi<br />
yang diprakarsai oleh <strong>Aceh</strong><br />
Multivion. Saya pun<br />
diputuskan untuk<br />
<br />
<br />
mewakili <strong>Aceh</strong> di ajang yang sama di Jakarta,”<br />
tutur dara yang bercita-cita menjadi<br />
diplomat ini.<br />
Khairun Nisa mengaku mendapat<br />
dukungan kuat dari keluarga atas setiap<br />
ajang yang dia ikuti. “Mama bahkan memberi<br />
dorongan moral, doa dan dukungan biaya<br />
untuk pengembangan bakat saya. Mama<br />
selalu mendampangi saya setiap ikut even,<br />
walau even itu digelar di luar daerah. Saat<br />
ikut ajang Ratu Kopi di Jakarta bulan lalu,<br />
beliau selalu mendampingi dan tiada henti<br />
mendoakan agar saya masuk dalam ajang<br />
tiga besar”, sambung Uun.<br />
Putri ke-empat pasangan Zakaria Husein<br />
dan Indani Idris ini berhasil mengukir prestasi<br />
juara III di kontes Ratu Kopi Nasional<br />
yang digelar di Hotel Ibis Jakarta tanggal 18<br />
April <strong>2011</strong> lalu. Menurut Direktur <strong>Aceh</strong> Mulitvion,<br />
Salman Varisy, kontes level nasional<br />
ini tergolong berat. “Selain diikuti 26 orang<br />
peserta dari 14 provinsi penghasil kopi, di<br />
ajang ini dewan juri terkadang mengajukan<br />
pertanyaan menjebak. Makanya, diperlukan<br />
kejelian dan extra hati-hati tetapi tetap cepat<br />
dan tepat,” ujar Salman yang dikenal sebagai<br />
spesialis Even Organizer di Banda <strong>Aceh</strong>.<br />
Sebenarnya, kata Salman, Khairun Nisa<br />
berpeluang menjadi juara I Nasional, tetapi<br />
karena kesalahan dalam<br />
menjawab salah satu<br />
pertanyaan menjebak,<br />
maka dia<br />
pun tergeser ke<br />
posisi tiga. “Untuk<br />
hal ini, dewan<br />
juri saja<br />
mengakuinya.<br />
Meski demikian,<br />
kami sangat<br />
puas melihatketerampilan<br />
dan kesiapan<br />
Khairun<br />
Nisa di even itu.<br />
Dia mempunyai<br />
bakat yang cukup<br />
tinggi dan layak<br />
disandingkan dengan<br />
bintang-bintang<br />
nasional,” papar<br />
Salman<br />
sem-<br />
bari mengatakan bahwa seleksi yang dilakukan<br />
pihaknya telah memilih figur yang<br />
tepat.<br />
Berbekal Juara III World Queen of Coffee<br />
Indonesia dan Juara I World Queen of<br />
Coffee <strong>Aceh</strong>, Khairun Nisa mengaku telah<br />
siap untuk membantu pemerintah <strong>Aceh</strong> dan<br />
pihak-pihak lain untuk mempromosikan<br />
produk kopi asal <strong>Aceh</strong> ke ajang nasional<br />
bahkan internasional, apalagi dara yang sudah<br />
mengukir segudang prestasi ini dapat<br />
berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dengan<br />
lancar dan sangat memikat dalam menjelaskan<br />
suatu produk.<br />
Nama : Khairun Nisa<br />
TTL : Lhokseumawe ,<strong>13</strong> Februari 1994<br />
Alamat : Peurada Utama<br />
Sekolah : TK Kartika Lhokseumawe<br />
Tadika Kemas Pantai Dalam<br />
CURRICULUM VITAE<br />
<br />
Sekolah Kebangsaan Rantau Petronas<br />
Sekolah Menengah Kebangsaan Rantau Petronas<br />
SMP Negeri 1 Samalanga<br />
MAN Model Banda <strong>Aceh</strong><br />
Jurusan : Ilmu Pendidikan Sosial<br />
Hobi : Modeling dan Menari<br />
Cita – cita : Duta Besar RI<br />
Baik Salman maupun Khairun Nisa berpendapat,<br />
<strong>Aceh</strong> sebagai produsen kopi mempunyai<br />
peluang cukup besar untuk mengharumkan<br />
negeri dari produksi kopi. Keduanya<br />
meminta agar pemerintah memberikan<br />
perhatian ektra dalam membangun dan memasarkan<br />
industri kopi. “Dengan promosi<br />
dari mulut ke mulut saja seperti kenyataan<br />
selama ini, kopi <strong>Aceh</strong> sudah dicari dan dirindukan<br />
banyak orang. Bayangkan andai kelebihan<br />
kopi <strong>Aceh</strong> dipromosikan dengan cara<br />
professional dan menjangkau dunia internasional,”<br />
ujar Salman menutup pembicaraan<br />
dengan Tabangun <strong>Aceh</strong>. (bulqaini ilyas)<br />
FOTO: IRVAN<br />
Khairun Nisa dinobatkan sebagai Queen of Coffee Provinsi <strong>Aceh</strong> melalui even yang digelar oleh <strong>Aceh</strong><br />
Multivision di ACC Selim II April <strong>2011</strong>.<br />
Motto Hidup : Berilah sebanyak-banyaknya ,bukan menerima sebanyak-banyaknya<br />
Motivasi <br />
Prestasi : <strong>2011</strong>,Juara III Putri Kopi Indonesia hotel Ibis (Jakarta)<br />
<strong>2011</strong>, Juara I Ratu Kopi se-<strong>Aceh</strong> (Banda <strong>Aceh</strong>)<br />
2010, Harapan II Agam Inong Nanggroe (Taman Budaya ,Banda <strong>Aceh</strong>)<br />
2010, The Best Catwalk Agam Inong Nanggroe (Taman Budaya ,Banda <strong>Aceh</strong>)<br />
2010, Juara II Putroe Bungoeng (Taman Sari ,Banda <strong>Aceh</strong>)<br />
2010, Juara I Putroe Ranup (Taman Budaya ,Banda <strong>Aceh</strong>)<br />
<br />
2009, Juara I Pidato Bahasa Inggris (Samalanga ,<strong>Aceh</strong>)<br />
2008, Juara I Drama Bahasa Inggris Peringkat Negeri Terengganu (Kuala Terengganu ,Malaysia)<br />
2008, Drama Bahasa Inggris Peringkat Nasional (Labuan ,Malaysia)<br />
2007, Juara I Lomba Deklamasi (Kelab Desa Rantau Petronas ,Terengganu ,Malaysia)<br />
2006, Juara I Lompat Tinggi (SKRP , Terengganu ,Malaysia)<br />
2006, Juara I 4x100 M (SKRP , Terengganu ,Malaysia)<br />
2006, Juara I 100m (SKRP , Terengganu ,Malaysia)<br />
Co-Curricular : Ahli Usahawan Muda SMK Rantau Petronas<br />
Pengawas Multimedia Sekolah<br />
Dynabook Computer Camp On<br />
<br />
AMECC KIDS II<br />
<br />
<br />
Program Usahawan Muda<br />
Paskibraka Se-Provinsi <strong>Aceh</strong><br />
Seminar Aku Ingin Menjadi Bintang<br />
Ahli Jawatankuasa Bulan Sabit Merah Malaysia<br />
Naib Pengerusi Computer Club SKRP<br />
Majlis Khatam Quran kali ke 3<br />
Pertandingan Nyanyian Lagu Tradisional<br />
Parade Laptop dan Pencanangan Banda <strong>Aceh</strong> Islamic Cyber City<br />
Intermediet Level in LIA<br />
Ahli Kelab Remaja Sekolah<br />
Tarian Ratoeh Jaroe Sanggar Pocut Baren