A Perubahan Sosial

bos.fkip.uns.ac.id

A Perubahan Sosial

3) Unit terkecil masyarakat yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan

ekonomis.

4) Unit terkecil dalam masyarakat tempat anggota-anggotanya

mendapatkan perlindungan bagi ketenteraman dan

perkembangan jiwanya.

Perkawinan untuk membentuk status baru yaitu rumah tangga,

yang terjadi di masyarakat idealnya secara monogami, yaitu

pasangan hidup antara seorang suami dan seorang istri. Akan tetapi,

di masyarakat tidak menutup kemungkinan terjadi poligami, yaitu

seseorang memiliki pasangan lebih dari satu. Poligami dibagi dua:

poligini yaitu seorang suami memiliki pasangan lebih dari seorang

istri dan poliandri yaitu seorang istri memiliki pasangan lebih dari

seorang suami. Poliandri di Indonesia dilarang dilaksanakan, selain

bertentangan dengan norma agama, juga status anak yang dilahir kan

oleh istri tidak jelas ayahnya.

Perkawinan tidak boleh dilangsungkan apabila terjadi

perkawinan sumbang yang disebut incest,yaitu perkawinan sedarah

antara kakak beradik, atau orangtua dengan anaknya. Larangan

perkawinan sumbang ini sifatnya universal di setiap kelompok

manusia karena dianggap melanggar norma yang berlaku.

Secara umum, penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di

masyarakat dan tidak dibenarkan untuk dilakukan adalah sebagai

berikut.

1) Hidup bersama atas dasar suka sama suka yang tidak diikat oleh

tali perkawinan (kumpul kebo).

2) Adanya istri simpanan bagi laki-laki, atau suami simpanan bagi

wanita.

3) Melahirkan anak di luar nikah.

4) Hubungan suami istri sebelum pernikahan atau pada masa

tunangan.

5) Melakukan hubungan suami istri dengan orang lain yang bukan

istri atau suaminya yang sah (perzinaan).

Keutuhan keluarga adakalanya mengalami perpecahan

berupa perceraian, sebagai akibat hilangnya keserasian untuk

mempertahankan keutuhan keluarga. Beberapa masyarakat tertentu

(berhubungan dengan agama yang dianut oleh keluarga) melarang

adanya perceraian karena perkawinan merupakan anugerah yang

tidak boleh dipisahkan, kecuali oleh kematian. Oleh karena itu,

untuk bercerai akan mengalami kesulitan, kalaupun dapat terjadi

perceraian biasanya melalui prosedur yang berbelit-belit. Akan

tetapi, adapula masyarakat yang membolehkan suatu keluarga

mengalami perceraian. Hal ini biasanya apabila suami istri satu

sama lain bersepakat untuk mengakhiri rumah tangganya sehingga

perceraian dapat dilaksanakan dan masing-masing menempuh jalan

hidupnya sendiri.

Persoalan akibat perceraian adalah anak dari keluarga yang

bersangkutan. Mereka dapat mengikuti salah satu orangtuanya, tetapi

dalam jiwa anak akan terjadi konflik batin yang dapat mengakibatkan

ketidakpuasan akan kehidupan yang dihadapi. Oleh karena itu, mereka

mencari penyelesaian sendiri terhadap persoalan yang dihadapinya.

Tidak jarang di antara mereka terjerumus pada pergaulan negatif yang

dapat merugikan diri sendiri dan merugikan lingkungan sosialnya,

baik dalam bentuk penyimpangan perilaku di masyarakat maupun

terjerumus dalam penyalahgunaan obat terlarang.

Riset

Apa dampak perceraian orangtua

terhadap anak-anak? Jelaskan

pendapat Anda.

Jendela

Info

Di Jepang pada 1888 tercatat ada

300 perceraian dari 1000 perkawinan.

Survei rumah tangga di masyarakat

Cina dan India menunjukkan angka

perceraian 3,3% sampai 5,5%.

Usia perkawinan orang-orang desa

rata-rata lebih lama daripada orang

bangsawan karena ada syarat bahwa

pasangan itu harus mempunyai lahan

mereka sendiri.

Sumber: Sosiologi Keluarga, 2002

Lembaga Sosial 41

More magazines by this user
Similar magazines