Pekerjaan Sosial Jilid 3.pdf

bos.fkip.uns.ac.id

Pekerjaan Sosial Jilid 3.pdf

pengangguran dan terbatasnya pendidikan di kalangan

para veteran turut menyumbang bagi merebaknya

masalah-masalah ketunawismaan di kalangan para

veteran.

Bagaimana dengan ketunawismaan di daerah-daerah

pedesaan? Suatu survei berskala luas pada tahun 1990

tentang ketunawismaan pedesaan dan perkotaan

menunjukkan bahwa orang-orang yang tuna wisma di

daerah-daerah pedesaan ialah “orang-orang muda yaitu

kaum perempuan lajang atau ibu-ibu yang sudah

memiliki anak, sedangkan orang-orang yang

berpendidikan lebih tinggi cenderung tidak menjadi

orang-orang cacat” (First, Rife, & Toomey, 1994: 104,

dalam DuBois & Miley, 2005: 296). Dari kelompokkelompok

yang diidentifikasikan di dalam survei itu,

26,8 persen adalah keluarga-keluarga muda dan 31,2

persen orang-orang yang bekerja paruh waktu atau purna

waktu. Penelusuran lebih lanjut terhadap data-data ini

menunjukkan perbedaan-perbedaan antara

ketunawismaan perkotaan dan pedesaan. Kontras sekali

dengan daerah-daerah perkotaan, “banyaknya bantuanbantuan

sosial bagi kaum perempuan perkotaan dan

minimnya peran-peran yang dapat dimainkan oleh para

penyandang masalah sakit jiwa dan penyalahgunaan

obat-obat terlarang di dalam episode-episode kaum

perempuan pedesaan” (Cummins, First, & Toomey,

1998, dalam DuBois & Miley, 2005: 297). Akan tetapi,

konflik dan keretakan keluarga cenderung memperburuk

ketunawismaan baik di daerah-daerah perkotaan maupun

di daerah-daerah pedesaan. Para peneliti menyimpulkan

bahwa suatu perekonomian pedesaan yang memburuk,

meningkatnya angka pengangguran, ketidaksetaraan

jender yang nampak jelas pada rendahnya upah bagi

kaum perempuan, dan meningkatnya tuntutan akan

perumahan yang bersewa rendah menyumbang bagi

krisis ketunawismaan di daerah-daerah perkotaan di

Amerika Serikat.

3. Respons pemerintah pusat terhadap

ketunawismaan

353

More magazines by this user
Similar magazines