08.08.2013 Views

Wiwik Hartatik dan Diah Setyorini - Pemanfaatan Pupuk Organik ...

Wiwik Hartatik dan Diah Setyorini - Pemanfaatan Pupuk Organik ...

Wiwik Hartatik dan Diah Setyorini - Pemanfaatan Pupuk Organik ...

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

<strong>Pemanfaatan</strong> <strong>Pupuk</strong> <strong>Organik</strong> untuk<br />

Meningkatkan Kesuburan Tanah <strong>dan</strong> Kualitas<br />

Tanaman<br />

<strong>Wiwik</strong> <strong>Hartatik</strong> <strong>dan</strong> <strong>Diah</strong> <strong>Setyorini</strong><br />

52<br />

Peneliti Ba<strong>dan</strong> Litbang Pertanian di Balai Penelitian Tanah, Jl. Tentara Pelajar No. 12, Bogor<br />

16114. Email: wiwik_hartatik@yahoo.com<br />

Abstrak. Beberapa hasil penelitian mengindikasikan bahwa sebagian besar lahan<br />

pertanian intensif telah mengalami degradasi <strong>dan</strong> menurunnya produktivitas lahan,<br />

terutama terkait dengan sangat rendahnya kandungan C-organik dalam tanah yaitu


<strong>Wiwik</strong> <strong>Hartatik</strong> <strong>dan</strong> <strong>Diah</strong> <strong>Setyorini</strong><br />

serta pemanfaatan bahan organik in situ perlu diintensifkan untuk mendukung<br />

pengembangan pupuk organik non komersial. Pemberdayaan masyarakat <strong>dan</strong> kelompok<br />

tani dalam pengadaan pupuk organik dapat dilakukan melalui: (a) pelatihan petani<br />

membuat pupuk organik in situ yang berasal dari kotoran ternak <strong>dan</strong> sisa tanaman yang<br />

dikomposkan, (b) mendorong petani melakukan diversifikasi usaha pertanian berbasis<br />

ternak, (c) mendorong petani melakukan pengelolaan bahan organik in situ terutama pada<br />

lahan kering. Untuk mendapatkan pupuk organik yang berkualitas baik, diperlukan<br />

fasilitas/insentif dari pemerintah berupa mikroba dekomposer dalam proses pembuatan<br />

kompos untuk mempercepat proses pengomposan <strong>dan</strong> atau peralatan pembuat kompos<br />

pada tingkat kelompok tani.<br />

PENDAHULUAN<br />

Beberapa hasil penelitian mengindikasikan bahwa sebagian besar lahan pertanian intensif<br />

telah mengalami degradasi <strong>dan</strong> menurunnya produktivitas lahan, terutama terkait dengan<br />

sangat rendahnya kandungan C-organik dalam tanah yaitu


<strong>Pemanfaatan</strong> <strong>Pupuk</strong> <strong>Organik</strong> untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah<br />

lain yang lebih spesifik. Apabila hanya menggunakan input pupuk organik saja, maka<br />

produktivitas tanaman tidak akan tinggi seperti halnya sistem pertanian input rendah atau<br />

LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture). Pencapaian hasil usahatani yang<br />

tinggi hanya dapat dicapai apabila diaplikasikan kombinasi pupuk organik <strong>dan</strong> anorganik<br />

dalam sistem Integrated Plant Nutrients Management System (IPNMS).<br />

Sumber bahan untuk pupuk organik sangat bervariasi seperti dari limbah pertanian<br />

<strong>dan</strong> non pertanian dengan karakteristik sifat fisik <strong>dan</strong> kandungan kimia/hara yang sangat<br />

beragam sehingga kualitas pupuk organik yang dihasilkan juga bervariasi mutunya. Oleh<br />

karena itu pengaruhnya terhadap produktivitas tanah <strong>dan</strong> tanaman pada lahan kering <strong>dan</strong><br />

lahan sawah juga bervariasi. <strong>Pemanfaatan</strong> pupuk organik baik berupa kompos, pupuk<br />

kan<strong>dan</strong>g atau bentuk lainnya perlu didukung <strong>dan</strong> dipromosikan lebih intensif baik dilihat<br />

dari sisi positif maupun negatifnya. Sangat diperlukan peraturan mengenai persyaratan<br />

pupuk organik agar memberi manfaat maksimal bagi petani, mengurangi dampak negatif<br />

bagi kesehatan <strong>dan</strong> pencemaran lingkungan.<br />

Saat ini, kesempatan memproduksi pupuk organik terbuka luas karena selain bahan<br />

bakunya melimpah <strong>dan</strong> bersifat terbarukan, pupuk organik bisa dibuat <strong>dan</strong> diproduksi<br />

secara komersial oleh berbagai kalangan termasuk pengusaha kecil-menengah (UKM).<br />

Sehubungan dengan itu perlu dibangun suatu kesepahaman tentang arah pengembangan<br />

pupuk organik, etika komersialisasi, pentingnya baku mutu <strong>dan</strong> payung hukum, serta<br />

sosialisasi pemanfaatannya.<br />

Pengertian <strong>Pupuk</strong> <strong>Organik</strong><br />

<strong>Pupuk</strong> organik merupakan pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan<br />

<strong>dan</strong>/atau bagian hewan <strong>dan</strong>/atau limbah organik lainnya yang telah melalui proses<br />

rekayasa, berbentuk padat atau cair, dapat diperkaya dengan bahan mineral <strong>dan</strong>/atau<br />

mikroba yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara <strong>dan</strong> bahan organik tanah<br />

serta memperbaiki sifat fisik, kimia, <strong>dan</strong> biologi tanah (Permentan No. 70/<br />

Permentan/SR.140/10/2011)<br />

<strong>Pupuk</strong> organik bukan sebagai pengganti pupuk anorganik, tetapi sebagai<br />

komplementer. Dengan demikian, pupuk organik harus digunakan secara terpadu dengan<br />

pupuk anorganik untuk meningkatkan produktivitas tanah <strong>dan</strong> tanaman secara<br />

berkelanjutan <strong>dan</strong> ramah lingkungan.<br />

Kualitas pupuk organik yang dikomposkan sangat dipengaruhi oleh bahan<br />

dasarnya, oleh karena itu sangat penting untuk membuat kriteria <strong>dan</strong> seleksi terhadap<br />

bahan dasar kompos untuk mengawasi mutunya. Bahan dasar yang berasal dari sisa<br />

tanaman dapat dipastikan sedikit mengandung bahan berbahaya seperti logam berat (Pb,<br />

Cd, Hg, As, <strong>dan</strong> lain-lain). Namun penggunaan pupuk kan<strong>dan</strong>g, limbah industri, <strong>dan</strong><br />

573


<strong>Wiwik</strong> <strong>Hartatik</strong> <strong>dan</strong> <strong>Diah</strong> <strong>Setyorini</strong><br />

limbah kota sebagai bahan dasar kompos cukup mengkhawatirkan karena banyak<br />

mengandung bahan berbahaya logam berat <strong>dan</strong> asam-asam organik yang dapat mencemari<br />

lingkungan. Selama proses pengomposan, beberapa bahan berbahaya ini justru<br />

terkonsentrasi dalam limbah cair <strong>dan</strong> produk akhir pupuk. Untuk itu sangat diperlukan<br />

aturan untuk menyeleksi penggunaan bahan dasar pembuatan kompos yang mengandung<br />

bahan-bahan berbahaya <strong>dan</strong> beracun (B3).<br />

Komposisi hara dalam pupuk organik sangat tergantung dari sumbernya. Menurut<br />

sumbernya, pupuk organik dapat diidentifikasi berasal dari kegiatan pertanian <strong>dan</strong> non<br />

pertanian. Dari pertanian dapat berupa sisa panen <strong>dan</strong> kotoran ternak, se<strong>dan</strong>gkan dari non<br />

pertanian dapat berasal dari sampah organik kota, limbah industri, <strong>dan</strong> sebagainya (Tan,<br />

1993).<br />

Kotoran hewan yang berasal dari usahatani pertanian antara lain adalah ayam, sapi,<br />

kerbau, babi, <strong>dan</strong> kambing. Komposisi hara pada masing-masing kotoran hewan sangat<br />

bervariasi tergantung pada umur hewan, jumlah, <strong>dan</strong> jenis makanannya. Secara umum,<br />

kandungan hara dalam kotoran hewan lebih rendah dari pada pupuk kimia. Oleh karena<br />

itu dosis pemberian pupuk kan<strong>dan</strong>g jauh lebih besar daripada pupuk anorganik.<br />

Komposisi hara dalam sisa tanaman sangat spesifik <strong>dan</strong> bervariasi, tergantung dari<br />

jenis tanaman. Pada umumnya rasio C/N sisa tanaman bervariasi dari 80:1 pada jerami<br />

gandum hingga 20:1 pada tanaman legum. Sekam padi <strong>dan</strong> jerami mempunyai kandungan<br />

silika sangat tinggi namun berkadar nitrogen rendah. Sisa tanaman legum seperti kacang<br />

kedelai, kacang tanah, <strong>dan</strong> serbuk kayu mengandung nitrogen cukup tinggi. Se<strong>dan</strong>gkan<br />

kentang <strong>dan</strong> ubi jalar mengandung kalium yang tinggi. Kandungan Ca tanaman yang tinggi<br />

dijumpai pada tanaman kacang tanah <strong>dan</strong> serbuk gergaji kayu.<br />

Kandungan unsur kimia <strong>dan</strong> logam berat dari limbah cair industri sangat bervariasi<br />

tergantung jenis industri. Limbah dari industri makanan relatif rendah logam beratnya,<br />

namun uji mutu tetap perlu dilakukan untuk menjamin kualitas limbah. Limbah dari<br />

peternakan mengandung sedikit logam berat sehingga dapat digunakan sebagai pupuk<br />

organik. Limbah dari industri oli <strong>dan</strong> beverage mengandung logam berat cukup tinggi<br />

sehingga tidak direkomendasikan sebagai pupuk organik.<br />

Peranan <strong>Pupuk</strong> <strong>Organik</strong><br />

Berbeda dengan pupuk kimia buatan yang hanya menyediakan satu sampai<br />

beberapa jenis hara saja, pupuk organik mempunyai peran penting dalam memperbaiki<br />

sifat fisik, kimia, <strong>dan</strong> biologi tanah. Meskipun kadar hara yang dikandung pupuk organik<br />

relatif rendah, namun peranan terhadap sifat kimia tanah jauh melebihi pupuk kimia<br />

buatan. Peranan pupuk organik terhadap sifat kimia tanah adalah sebagai: (a) penyedia<br />

hara makro (N, P, K, Ca, Mg, <strong>dan</strong> S) <strong>dan</strong> mikro (Zn, Cu, Mo, Co, B, Mn, <strong>dan</strong> Fe), (b)<br />

574


<strong>Pemanfaatan</strong> <strong>Pupuk</strong> <strong>Organik</strong> untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah<br />

meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah, <strong>dan</strong> (c) dapat membentuk senyawa<br />

kompleks dengan ion logam beracun seperti Al, Fe, <strong>dan</strong> Mn sehingga logam-logam ini<br />

tidak meracuni.<br />

Peranan pupuk organik terhadap sifat fisika tanah antara lain adalah: (a)<br />

memperbaiki struktur tanah karena bahan organik dapat “mengikat” partikel tanah<br />

menjadi agregat yang mantap, (b) memperbaiki distribusi ukuran pori tanah sehingga daya<br />

pegang air (water holding capacity) tanah menjadi lebih baik <strong>dan</strong> pergerakan udara<br />

(aerasi) di dalam tanah juga menjadi lebih baik, <strong>dan</strong> (c) mengurangi (buffer) fluktuasi<br />

suhu tanah. Peranan pupuk organik terhadap sifat biologi tanah adalah sebagai sumber<br />

energi <strong>dan</strong> makanan bagi mikro <strong>dan</strong> meso fauna tanah. Dengan cukupnya tersedia bahan<br />

organik maka aktivitas organisme tanah yang juga mempengaruhi ketersediaan hara,<br />

siklus hara, <strong>dan</strong> pembentukan pori mikro <strong>dan</strong> makro tanah menjadi lebih baik.<br />

<strong>Pupuk</strong> kimia buatan hanya mampu menyediakan satu (pupuk tunggal) sampai<br />

beberapa jenis (pupuk majemuk) hara tanaman, namun tidak menyediakan senyawa<br />

karbon yang berfungsi memperbaiki sifat fisik <strong>dan</strong> biologi tanah, serta (kecuali untuk<br />

pupuk buatan tertentu) tidak menyediakan unsur hara mikro. Dengan demikian<br />

penggunaan pupuk buatan yang tidak diimbangi dengan pemberian pupuk organik dapat<br />

merusak struktur tanah <strong>dan</strong> mengurangi aktivitas biologi tanah.<br />

Peranan <strong>Pupuk</strong> <strong>Organik</strong> terhadap Produktivitas Tanah <strong>dan</strong> Tanaman<br />

<strong>Pupuk</strong> organik berpengaruh nyata terhadap peningkatan produktivitas tanah <strong>dan</strong><br />

tanaman. <strong>Pupuk</strong> organik yang dikombinasikan dengan ¾ NPK nyata meningkatkan<br />

produksi padi sawah dibanding dengan kontrol lengkap <strong>dan</strong> tidak berbeda nyata dengan<br />

pupuk standar. Perlakuan pupuk organik baik granul atau curah tanpa pupuk NPK<br />

memberikan produksi padi sawah lebih rendah dari pupuk standar. Hal ini menunjukkan<br />

bahwa pemberian pupuk organik baik granul atau curah harus dikombinasikan dengan<br />

pupuk NPK untuk meningkatkan produksi padi sawah (Tabel 1).<br />

Hubungan antara dosis pupuk organik berbentuk granul dengan bobot gabah kering<br />

ditunjukkan oleh persamaan regresi kuadratik sebagai berikut: y = - 6E-07x 2 + 0,001x +<br />

7,413 (R 2 = 0,13). Peningkatan dosis pupuk organik berbentuk granul sampai 1200 kg ha -1<br />

meningkatkan bobot gabah kering, namun peningkatan dosis 1500 kg ha -1 menunjukkan<br />

penurunan bobot gabah kering. Dosis optimum pupuk organik berbentuk granul dicapai<br />

pada dosis 883 kg ha -1 . Se<strong>dan</strong>gkan hubungan antara dosis pupuk organik berbentuk curah<br />

dengan bobot gabah kering ditunjukkan oleh persamaan regresi kuadratik sebagai berikut:<br />

y = - 5E-07x 2 + 0,001x + 7,268 (R 2 = 0,903). Sejalan dengan pola regresi pupuk organik<br />

granul, peningkatan dosis pupuk organik berbentuk curah sampai 1200 kg ha -1 juga<br />

meningkatkan bobot gabah kering, selanjutnya peningkatan dosis 1500 kg ha -1<br />

575


<strong>Wiwik</strong> <strong>Hartatik</strong> <strong>dan</strong> <strong>Diah</strong> <strong>Setyorini</strong><br />

menunjukkan penurunan bobot gabah kering. Dosis optimum pupuk organik berbentuk<br />

curah dicapai pada dosis 1000 kg ha -1 (Gambar 1).<br />

Tabel 1. Pengaruh pupuk organik curah <strong>dan</strong> granul terhadap bobot jerami <strong>dan</strong> gabah<br />

kering tanaman padi sawah pada tanah Inceptisols, Bogor<br />

No. Perlakuan Jerami<br />

Gabah<br />

Bobot kering<br />

Gabah<br />

1000 butir<br />

Gabah/jerami<br />

..................... t ha -1 ................ ...... g ......<br />

1. Kontrol Lengkap 6,25 cd 4,99 h 26,37 ab 0,80<br />

2. POG (Granul) 4,29 e 5,63 g 25,87 b 1,31<br />

3. PO curah (POch) 5,53 de 5,99 fg 26,47 ab 1,08<br />

4. NPK standar 8,42 b 8,15 abc 26,77 ab 0,97<br />

5. ¾ NPK + POG-600 6,64 bcd 8,47 ab 27,00 ab 1,28<br />

6. ¾ NPK + POG-900 7,15 bcd 7,11 e 25,83 b 0,99<br />

7. ¾ NPK + POG-1200 8,36 b 8,17 abc 26,23 ab 0,98<br />

8. ¾ NPK+ POG-1500 6,97 bcd 7,74 cd 25,80 b 1,11<br />

9. ¾ NPK + POch-600 7,85 bc 7,87 bcd 26,90 ab 1,00<br />

10. ¾ NPK + POch-900 10,33 a 8,19 abc 27,73 a 0,79<br />

11. ¾ NPk + POch-1200 6,69 bcd 8,60 a 26,67 ab 1,29<br />

12. ¾ NPK + POch-1500 7,64 bc 8,28 abc 26,97 ab 1,08<br />

13. ¾ NPK 6,47 cd 7,31 de 25,40 b 1,13<br />

14. ½ NPK 6,66 bcd 6,40 f 27,00 ab 0,96<br />

*) Angka dalam kolom yang sama diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji<br />

DMRT<br />

Gambar 1. Hubungan antara dosis pupuk organik berbentuk granul <strong>dan</strong> curah dengan<br />

bobot gabah kering<br />

576


<strong>Pemanfaatan</strong> <strong>Pupuk</strong> <strong>Organik</strong> untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah<br />

Sejalan dengan data bobot gabah kering, perlakuan ¾ NPK + POch-1200<br />

memberikan nilai RAE tertinggi yaitu sebesar 114% <strong>dan</strong> perlakuan ¾ NPK + POG-600<br />

memberikan nilai RAE 110%. Berdasarkan nilai RAE maka perlakuan tersebut efektif<br />

meningkatkan bobot gabah kering. Nilai RAE terendah pada perlakuan POG tanpa pupuk<br />

NPK, demikian juga pemupukan ¾ NPK memberikan RAE yang rendah yaitu 73%. Hal<br />

ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik baik berbentuk granul atau curah tanpa<br />

pupuk NPK atau pemupukan ¾ NPK tanpa pupuk organik tidak efektif meningkatkan<br />

bobot gabah kering. Perlakuan ¾ NPK + POch-1200 <strong>dan</strong> perlakuan ¾ NPK + POG-600<br />

merupakan perlakuan yang efektif meningkatkan bobot gabah kering yaitu dari 4,99 t ha -1<br />

menjadi sebesar 8,60 t ha -1 , atau terjadi peningkatan hasil sebesar 72% dibandingkan<br />

kontrol lengkap <strong>dan</strong> 6% dibandingkan perlakuan pupuk standar atau dengan nilai RAE<br />

sebesar 114% (Tabel 2).<br />

Tabel 2. Pengaruh pupuk organik curah <strong>dan</strong> granul terhadap nilai relatif efektivitas<br />

agronomi (RAE) pada tanah Inceptisols, Bogor<br />

No. Perlakuan RAE (%)<br />

1. Kontrol Lengkap -<br />

2. POG (Granul) 20<br />

3. PO curah (POch) 32<br />

4. NPK standar 100<br />

5. ¾ NPK + POG-600 110<br />

6. ¾ NPK + POG-900 67<br />

7. ¾ NPK + POG-1200 101<br />

8. ¾ NPK+ POG-1500 87<br />

9. ¾ NPK + POch-600 91<br />

10. ¾ NPK + POch-900 101<br />

11. ¾ NPk + POch-1200 114<br />

12. ¾ NPK + POch-1500 104<br />

13. ¾ NPK 73<br />

14. ½ NPK 45<br />

Serapan hara di jerami <strong>dan</strong> gabah kering untuk hara N <strong>dan</strong> K lebih tinggi dari hara<br />

P. Serapan hara N, P, <strong>dan</strong> K pada perlakuan pupuk organik baik POG <strong>dan</strong> PO curah tanpa<br />

pupuk NPK <strong>dan</strong> kontrol lengkap lebih rendah dari perlakuan lainnya. Perlakuan ¾ NPK +<br />

POch-600 <strong>dan</strong> ¾ NPK + POch-900 memberikan serapan hara N, P, <strong>dan</strong> K di jerami lebih<br />

tinggi dari pupuk NPK standar. Se<strong>dan</strong>gkan perlakuan ¾ NPK + POG-600 memberikan<br />

hara N, P, <strong>dan</strong> K di gabah lebih tinggi dari pupuk NPK standar. Serapan hara N, P, <strong>dan</strong> K<br />

baik di jerami <strong>dan</strong> gabah sangat berkaitan erat dengan bobot jerami atau gabah yang<br />

diperoleh. Perlakuan pemberian pupuk organik baik POG <strong>dan</strong> PO curah tanpa pemberian<br />

NPK memberikan serapan N, P, <strong>dan</strong> K yang rendah, hal ini menunjukkan bahwa tanpa<br />

pemberian pupuk anorganik NPK pertumbuhan perakaran tanaman kurang optimal serta<br />

hara NPK yang diserap juga terbatas sehingga kurang mendukung pertumbuhan <strong>dan</strong> hasil<br />

tanaman padi sawah. Serapan total hara N tertinggi pada perlakuan ¾ NPK + POch-900,<br />

serapan P total tertinggi pada perlakuan ¾ NPK + POch-600 <strong>dan</strong> serapan K total tertinggi<br />

577


<strong>Wiwik</strong> <strong>Hartatik</strong> <strong>dan</strong> <strong>Diah</strong> <strong>Setyorini</strong><br />

pada perlakuan ¾ NPK + POch-900. Hal ini menunjukkan bahwa serapan total NPK yang<br />

tinggi umumnya pada pupuk organik berbentuk curah, walaupun berkaitan erat juga<br />

dengan hasil gabah <strong>dan</strong> jerami yang diperoleh (Tabel 3).<br />

Tabel 3. Pengaruh pupuk organik curah <strong>dan</strong> granul terhadap serapan N, P, <strong>dan</strong> K jerami<br />

<strong>dan</strong> gabah kering tanaman padi sawah pada tanah Inceptisols, Bogor.<br />

Jerami Gabah Serapan total<br />

No Perlakuan N P K N P K N P K<br />

------------------------------------------- kg ha -1 -----------------------------------------<br />

1<br />

Kontrol<br />

lengkap<br />

29,06 6,25 74,06 28,44 18,21 22,21 57,55 24,46 96,27<br />

2 POG (Granul) 14,59 3,65 45,05 38,57 24,49 31,53 53,56 28,14 76,58<br />

3<br />

PO curah<br />

(Poch)<br />

17,97 4,98 67,47 32,65 26,96 34,74 50,62 31,94 102,21<br />

4 NPK standar 39,15 12,21 128,83 59,90 30,56 33,42 99,05 42,77 162,25<br />

5<br />

¾ NPK +<br />

POG-600<br />

29,55 6,64 85,99 63,95 25,83 38,12 93,50 32,47 124,11<br />

6<br />

¾ NPK +<br />

POG-900<br />

26.46 7,51 102,60 45,15 31,28 43,37 69,61 38,79 145,97<br />

7<br />

¾ NPK +<br />

POG-1200<br />

33,44 7,52 - 49,02 41,26 - 82,46 48,78 -<br />

8<br />

¾ NPK +<br />

POG-1500<br />

34,15 7,67 82,25 44,51 37,54 38,31 78,66 45,98 120,56<br />

9<br />

¾ NPK +<br />

POch-600<br />

42,00 11,38 97,34 52,73 40,53 41,71 94,73 51,91 139,05<br />

10<br />

¾ NPK +<br />

POch-900<br />

60,95 17,04 143,59 52,01 16,79 18,84 112,96 33,83 162,43<br />

11<br />

¾ NPK +<br />

POch-1200<br />

40,47 8,36 61,21 50,74 34,40 33,97 91,21 42,76 95,18<br />

12<br />

¾ NPK +<br />

POch-1500<br />

34,00 8,02 83,66 53,41 23,60 21,94 87,41 31,62 105,60<br />

13 ¾ NPK 30,09 6,.47 102,87 48,98 20,83 21,56 79,07 27,30 124,43<br />

14 ½ NPK 27,64 9,66 95,57 42,88 30,40 28,80 70,52 40,06 124,37<br />

<strong>Pemanfaatan</strong> pupuk kan<strong>dan</strong>g untuk padi sawah jumlahnya jauh lebih sedikit<br />

daripada untuk lahan kering (pangan <strong>dan</strong> sayuran). Jumlah maksimum pupuk kan<strong>dan</strong>g<br />

yang umum dipergunakan petani padi sawah


<strong>Pemanfaatan</strong> <strong>Pupuk</strong> <strong>Organik</strong> untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah<br />

keperluan pupuk K, jerami dapat meningkatkan produksi melalui perbaikan sifat kimia<br />

maupun fisika tanah (Tabel 4). Setelah 4 musim tanam, jerami dapat meningkatkan kadar<br />

C-organik, K dapat ditukar, Mg dapat ditukar, kapasitas tukar kation (KTK) tanah, Si<br />

tersedia, <strong>dan</strong> stabilitas agregat tanah. Apabila dihitung dalam hektar, sumbangan hara dari<br />

jerami setara dengan 170 kg K, 160 kg Mg, 200 kg Si, <strong>dan</strong> 1,7 ton C-organik ha -1 yang<br />

sangat diperlukan bagi aktivitas jasad renik tanah. Peningkatan stabilitas agregat tanah<br />

dapat memperbaiki struktur tanah sawah yang memadat akibat penggenangan <strong>dan</strong> pelumpuran<br />

terus menerus. Tanah menjadi lebih mudah diolah <strong>dan</strong> sangat baik bagi<br />

pertumbuhan akar tanaman palawija yang ditanam setelah padi.<br />

Tabel 4. Pengaruh jerami terhadap kesuburan kimia <strong>dan</strong> fisika tanah sawah Latosol di<br />

Jawa Barat setelah 4 musim tanam<br />

Perlakuan<br />

Tanpa<br />

jerami<br />

Ditambah<br />

jerami<br />

Sumber: Sri Adiningsih, 1984<br />

C-org N P K Mg KTK Si<br />

% …. me 100g -1 …. ppm<br />

Stabilitas<br />

agregat<br />

2,40 0,28 17 0,13 0,50 18 50 60<br />

3,90 0,33 18 0,35 0,75 20 150 80<br />

<strong>Pupuk</strong> organik mempunyai kandungan hara yang rendah, maka bahan/pupuk<br />

organik memerlukan 15-25 kali lebih berat untuk menyediakan hara yang sama jumlahnya<br />

dengan hara yang disediakan dari pupuk kimia buatan. Bila di dalam 4 ton jerami<br />

terkandung sekitar 30 kg N, 2 kg P, 93 kg K, 10 kg Ca, 6 kg Mg, 1 kg S, <strong>dan</strong> sejumlah<br />

unsur mikro Fe, Mn, Zn, Si, Cu, B, Cl, Cu (Agus <strong>dan</strong> Widianto, 2004). Apabila kesemua<br />

jerami tersebut dikembalikan untuk tanaman, maka jerami akan dapat mengembalikan<br />

hara setara dengan pemberian 50 kg N, 12 kg SP-36, <strong>dan</strong> hampir 180 kg KCl, walaupun<br />

sebagian dari unsur tersebut hilang melalui beberapa proses fisik, kimia, <strong>dan</strong> biologi<br />

sehingga tidak dapat dimanfaatkan tanaman.<br />

Apabila tanaman padi sawah memerlukan penambahan 250 kg Urea, 75 kg SP-36,<br />

<strong>dan</strong> 100 kg KCl maka masih diperlukan tambahan sekitar 200 kg Urea <strong>dan</strong> 63 kg SP-36.<br />

Se<strong>dan</strong>gkan hampir semua kebutuhan K akan dapat dipenuhi dari jerami, terutama bila<br />

tanah mempunyai status K tinggi. Apabila semua hara untuk padi tersebut dipenuhi dari<br />

pupuk kan<strong>dan</strong>g sapi, maka dengan kandungan hara pupuk kan<strong>dan</strong>g 0,65% N, 0,15% P,<br />

<strong>dan</strong> 0,3% K diperlukan sebanyak kurang lebih 19 t ha -1 pupuk kan<strong>dan</strong>g sapi atau 8 t ha -1<br />

pupuk kan<strong>dan</strong>g ayam. Namun di dalam 19 ton pupuk kan<strong>dan</strong>g sapi tersebut, selain 114 kg<br />

N terkandung pula sekitar 28 kg P, 57 kg K, 23 kg Ca, 19 kg Mg, <strong>dan</strong> 17 kg S. Dalam 8<br />

ton pupuk kan<strong>dan</strong>g ayam, selain 120 kg N, terkandung pula sekitar 56 kg P, 71 kg K, 24<br />

kg Ca, 70 kg Mg, <strong>dan</strong> 2,4 kg S (Agus, 2000).<br />

579


<strong>Wiwik</strong> <strong>Hartatik</strong> <strong>dan</strong> <strong>Diah</strong> <strong>Setyorini</strong><br />

Pada umumnya petani, terutama untuk padi sawah hanya mampu menyediakan<br />

sekitar 2-5 ton pupuk kan<strong>dan</strong>g (berat basah; dengan kadar air sekitar 60%). Dengan<br />

demikian untuk tanaman padi, jagung, <strong>dan</strong> tanaman biji-bijian lainnya pupuk kan<strong>dan</strong>g<br />

hanya mampu menjadi suplemen (pelengkap), sehingga penambahan pupuk<br />

anorganik/kimia masih diperlukan. Untuk areal yang relatif kecil <strong>dan</strong> tanaman yang<br />

bernilai ekonomi tinggi seperti sayuran, petani malah menggunakan pupuk kan<strong>dan</strong>g<br />

sampai 30 t ha -1 . Namun untuk padi yang nilai jualnya relatif rendah, penggunaan pupuk<br />

organik dalam jumlah tinggi (memenuhi seluruh kebutuhan hara tanaman) hanya dapat<br />

dilakukan oleh sejumlah kecil petani saja melalui sistem pertanian organik.<br />

Kendala Pengembangan <strong>Pupuk</strong> <strong>Organik</strong><br />

Di Indonesia yang tergolong daerah tropis dengan curah hujan yang tinggi, tingkat<br />

perombakan bahan organik berjalan relatif cepat, sehingga pupuk organik diperlukan<br />

dalam jumlah besar. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam pengangkutan <strong>dan</strong><br />

penggunaannya, terlebih bila pupuk organik harus didatangkan dari tempat yang cukup<br />

jauh dari lahan usahataninya.<br />

Komposisi hara dalam pupuk organik relatif rendah <strong>dan</strong> sangat bervariasi sehingga<br />

manfaatnya bagi tanaman tidak langsung <strong>dan</strong> berlangsung dalam jangka panjang. Oleh<br />

karena itu penggunaan pupuk organik tetap harus dikombinasikan dengan pupuk<br />

anorganik dengan takaran yang lebih rendah. Apabila hanya menggunakan pupuk organik<br />

saja dikhawatirkan produktivitas tanah <strong>dan</strong> tanaman akan terus merosot karena tanaman<br />

menguras hara dalam tanah tanpa pengembalian unsur hara yang memadai. Penggunaan<br />

pupuk organik dengan bahan yang sama terus menerus akan menimbulkan<br />

ketidakseimbangan hara dalam tanah sehingga dapat terjadi akumulasi hara K <strong>dan</strong><br />

defisiensi Mg. Penggunaan pupuk organik dengan C/N rasio tinggi <strong>dan</strong> belum matang<br />

dapat menimbulkan defisiensi N.<br />

Beberapa bahan dasar pembuatan pupuk organik yang terdiri dari bahan-bahan<br />

berserat panjang <strong>dan</strong> keras sehingga menyulitkan proses produksinya. Untuk itu<br />

diperlukan alat pengolah/pemotong (chopper) agar menjadi lebih kecil atau pendek<br />

sehingga mudah dikomposkan.<br />

<strong>Pupuk</strong> organik dapat membawa patogen <strong>dan</strong> telur serta serangga yang mengganggu<br />

tanaman. <strong>Pupuk</strong> kan<strong>dan</strong>g seringkali mengandung benih gulma atau bibit penyakit bagi<br />

manusia. <strong>Pupuk</strong> kan<strong>dan</strong>g juga mempunyai bau yang tidak enak bagi lingkungan,<br />

meskipun tidak beracun. Se<strong>dan</strong>gkan pupuk hijau dapat menimbulkan alelopati bagi<br />

tanaman pokok.<br />

<strong>Pupuk</strong> organik terutama yang berasal dari sampah kota atau limbah pabrik bisa<br />

mengandung logam berat. Jika pupuk tersebut digunakan pada tanah berdrainase buruk<br />

580


<strong>Pemanfaatan</strong> <strong>Pupuk</strong> <strong>Organik</strong> untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah<br />

akan menimbulkan akumulasi logam berat yang dapat berbahaya bagi ternak <strong>dan</strong> manusia,<br />

baik langsung maupun melalui tanaman yang menyerap logam berat tersebut.<br />

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi, maka strategi yang dapat dilakukan<br />

untuk mendorong implementasi penggunaan pupuk organik adalah:<br />

Menerapkan teknologi yang relatif murah <strong>dan</strong> mudah dikerjakan petani, misalnya<br />

dengan pengadaan pupuk organik in situ secara alley cropping, strip cropping<br />

ataupun menanam cover crop <strong>dan</strong> mengembalikan sisa panen ke lahan usahataninya.<br />

Mendorong tumbuhnya industri kecil, yaitu industri kompos di daerah sentra produksi<br />

untuk mengatasi masalah yang ada terutama pengangkutan karena jumlah pupuk<br />

organik yang diperlukan relatif besar jumlahnya.<br />

Kebijakan pemerintah untuk memberikan bantuan alat pengolah kompos <strong>dan</strong> atau<br />

mikroba dekomposer untuk mempercepat proses pengomposan kepada kelompok tani<br />

di sentra usahatani lahan sawah maupun lahan kering.<br />

Melaksanakan pengawasan mutu pupuk organik <strong>dan</strong> menerapkan standar mutu pupuk<br />

organik yang ramah lingkungan.<br />

KESIMPULAN<br />

1. Pengawasan <strong>dan</strong> monitoring terhadap mutu pupuk organik seperti yang tertuang dalam<br />

Permentan No. 70/2011 perlu ditingkatkan dalam rangka mengantisipasi semakin<br />

banyaknya peredaran pupuk organik dalam berbagai jenis, bentuk, <strong>dan</strong> mutu yang<br />

belum terjamin <strong>dan</strong> teruji kebenarannya serta dikhawatirkan berbahaya bagi kesehatan<br />

<strong>dan</strong> lingkungan. <strong>Pemanfaatan</strong> pupuk organik bersama pupuk anorganik dalam sistem<br />

Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi seperti tertuang dalam Permentan No. 40/2007<br />

tentang Rekomendasi <strong>Pupuk</strong> N,P,K Padi Sawah Spesifik Lokasi untuk meningkatkan<br />

produktivitas padi sawah perlu disosialisasikan secara intensif. Ba<strong>dan</strong> Litbang<br />

Pertanian beserta jajarannya didukung oleh swasta dapat menggunakan demplot<br />

sebagai sarana aktif memsosialisasikan program ini.<br />

2. Program-program pengembangan pertanian petani mandiri yang mengintegrasikan<br />

ternak <strong>dan</strong> tanaman CLS (Crop Livestock System), penggunaan tanaman legum baik<br />

berupa tanaman lorong (alley cropping) maupun tanaman penutup tanah (cover crop)<br />

serta bahan organik in situ perlu diintensifkan untuk mendukung pengembangan pupuk<br />

organik non komersial <strong>dan</strong> pemulihan kesuburan tanah.<br />

3. Pemberdayaan masyarakat <strong>dan</strong> kelompok tani dalam pengadaan pupuk organik dapat<br />

dilakukan melalui: (a) melatih petani membuat pupuk organik in situ yang berasal dari<br />

kotoran ternak <strong>dan</strong> sisa tanaman yang dikomposkan, (b) mendorong petani melakukan<br />

581


<strong>Wiwik</strong> <strong>Hartatik</strong> <strong>dan</strong> <strong>Diah</strong> <strong>Setyorini</strong><br />

582<br />

diversifikasi usaha pertanian berbasis ternak, (c) mendorong petani melakukan<br />

pengelolaan bahan organik in situ terutama pada lahan kering.<br />

4. Untuk mendapatkan pupuk organik yang berkualitas baik, diperlukan fasilitas/insentif<br />

dari pemerintah berupa mikroba dekomposer dalam proses pembuatan kompos untuk<br />

mempercepat proses pengomposan <strong>dan</strong> atau peralatan pembuat kompos pada tingkat<br />

kelompok tani atau mendorong pemanfaatan mikroba lokal (MOL).<br />

DAFTAR PUSTAKA<br />

Agus, F. 2000. Konstribusi bahan organik untuk meningkatkan produksi pangan pada<br />

lahan kering bereaksi masam. Pros. Seminar Nasional Sumber Daya Lahan.<br />

Cisarua-Bogor, 9-11 Februari 1999. Buku III. Pusat Penelitan Tanah <strong>dan</strong><br />

Agroklimat.<br />

Agus, F. <strong>dan</strong> Widianto. 2004. Petunjuk Praktis Konservasi Tanah Lahan Kering. World<br />

Agroforestry Centre. Bogor. 102 pp. (www.worldagroforestrycentre.org/sea).<br />

Peraturan Menteri Pertanian . 2007. Rekomendasi Pemupukan N, P, <strong>dan</strong> K pada Padi<br />

Sawah Spesifik Lokasi. Ba<strong>dan</strong> Penelitian <strong>dan</strong> Pengembangan Pertanian,<br />

Departemen Pertanian.<br />

Peraturan Menteri Pertanian. 2011. <strong>Pupuk</strong> <strong>Organik</strong>, <strong>Pupuk</strong> Hayati, <strong>dan</strong> Pembenah Tanah.<br />

Kementerian Pertanian.<br />

Sri Adiningsih, J. 1984. Pengaruh Beberapa Faktor terhadap Penyediaan Kalium Tanah<br />

Sawah Daerah Sukabumi <strong>dan</strong> Bogor. Disertasi Fakultas Pasca Sarjana, Institut<br />

Pertanian Bogor.<br />

Sri Adiningsih, J., D. <strong>Setyorini</strong>, <strong>dan</strong> T. Prihatini. 1995. Pengelolaan Hara Terpadu untuk<br />

Mencapai Produksi Pangan yang Mantap <strong>dan</strong> Akrab Lingkungan. Prosiding<br />

Pertemuan Teknis Penelitian Tanah <strong>dan</strong> Agroklimat. Makalah Kebijakan. Bogor<br />

10-12 Januari 1995. Puslittanak.<br />

Stevenson, F.J. 1994. Humus Chemistry: Genesis, Composition, Reactions. John Wiley<br />

and Sons Inc. New York.<br />

Tan, K.H. 1993. Principles of Soil Chemistry. Marcel Dekker, Inc. New York. 362pp.

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!