10.11.2013 Views

Set Protokol Indikator Ekonomi (EC) - Global Reporting Initiative

Set Protokol Indikator Ekonomi (EC) - Global Reporting Initiative

Set Protokol Indikator Ekonomi (EC) - Global Reporting Initiative

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong><br />

<strong>Ekonomi</strong> (<strong>EC</strong>)<br />

© 2000-2006 GRI<br />

Version 3.0


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

IP<br />

INDIKATOR<br />

KINERJA EKONOMI<br />

Aspek: Kinerja <strong>Ekonomi</strong><br />

CORE<br />

<strong>EC</strong>1<br />

Perolehan dan distribusi nilai ekonomi<br />

langsung yang meliputi pendapatan,<br />

biaya operasional, imbal jasa (kompensasi)<br />

karyawan, donasi, dan investasi komunitas<br />

lainnya, laba ditahan, dan pembayaran<br />

kepada penyandang dana atau pemerintah.<br />

ADD CORE<br />

CORE CORE ADD CORE CORE CORE<br />

<strong>EC</strong>2<br />

<strong>EC</strong>3<br />

<strong>EC</strong>4<br />

Implikasi finansial dan risiko lainnya akibat<br />

perubahan iklim serta peluangnya bagi<br />

aktivitas organisasi.<br />

Cakupan kewajiban organisasi terhadap<br />

program manfaat pasti.<br />

Bantuan finansial signifikan yang diterima<br />

dari pemerintah.<br />

Aspek: Keberadaan Pasar<br />

<strong>EC</strong>5<br />

<strong>EC</strong>6<br />

<strong>EC</strong>7<br />

Rentang rasio standar upah terendah<br />

dibandingkan dengan upah minimum<br />

setempat pada daerah operasi utama .<br />

Kebijakan, praktek, dan proporsi<br />

pengeluaran untuk pemasok lokal pada<br />

daerah operasi utama.<br />

Prosedur penerimaan pegawai lokal dan<br />

proporsi manajemen senior yang direkrut<br />

secara lokal dan dipekerjakan di daerah<br />

operasi utama.<br />

Aspek: Akibat Tidak Langsung<br />

<strong>EC</strong>8<br />

<strong>EC</strong>9<br />

Pembangunan dan dampak investasi<br />

infrastruktur serta jasa yang diberikan<br />

kepada publik secara komersial, dalam<br />

bentuk natura, atau pro bono.<br />

Pemahaman dan penjelasan dampak<br />

ekonomi tidak langsung yang signifikan,<br />

termasuk seberapa luas dampaknya.<br />

Version 3.0<br />

1


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

Relevansi<br />

Data kinerja yang diperoleh dari berbagai indikatoryang<br />

diuraikan pada bagian ini diharapkan akan dapat<br />

memberikan gambaran tentang:<br />

• Aliran modal antar para pemangku kepentingan.<br />

• Dampak utama ekonomi organisasi terhadap<br />

masyarakat.<br />

Informasi atas kinerja ekonomi organisasi sangat<br />

bermanfaat untuk dapat memahami organisasi dan<br />

keberlanjutannya. Namun demikian, di berbagai negara<br />

informasi tersebut sebenarnya telah diungkapkan<br />

dengan baik dalam laporan keuangan tahunan. Laporan<br />

keuangan telah menyajikan informasi mengenai posisi<br />

keuangan, kinerja, dan perubahan posisi keuangan suatu<br />

entitas. Laporan tersebut juga mengindikasikan hasil<br />

yang dicapai organisasi dalam mengelola modal yang<br />

tersedia.<br />

Apa yang jarang dilaporkan, tapi yang sering diinginkan<br />

oleh pembaca laporan berkelanjutan, adalah kontribusi<br />

organisasi terhadap keberlanjutan sistem ekonomi di<br />

mana organisasi tersebut beroperasi. Suatu organisasi<br />

mungkin saja telah layak secara keuangan, namun<br />

hal tersebut boleh jadi dicapai dengan menciptakan<br />

eksternalitas yang berdampak terhadap pemangku<br />

kepentingan lainnya. <strong>Indikator</strong> kinerja ekonomi<br />

bertujuan untuk mengukur hasil ekonomi akibat<br />

aktivitas organisasi dan pengaruhnya terhadap para<br />

pemangku kepentingan.<br />

<strong>Indikator</strong> pada bagian ini dibagi dalam tiga kategori:<br />

1. Kinerja ekonomi. <strong>Indikator</strong> ini membahas dampak<br />

ekonomi langsung dan nilai tambah ekonomi<br />

akibat aktivitas organisasi.<br />

2. Keberadaan pasar. <strong>Indikator</strong> ini memberikan<br />

informasi mengenai berbagai interaksi dalam pasar<br />

tertentu.<br />

3. Dampak ekonomi tidak langsung. <strong>Indikator</strong> ini<br />

mengukur dampak ekonomi yang timbul akibat<br />

aktivitas dan transaksi ekonomi organisasi.<br />

Terdapat keterkaitan antarberbagai indikator ekonomi<br />

yang berbeda. Elemen pada tabel nilai tambah di <strong>EC</strong>1<br />

terkait dengan berbagai indikator ekonomi lainnya.<br />

Terdapat juga hubungan antara gaji dan tunjangan (<strong>EC</strong>1-<br />

2.1.c dan <strong>EC</strong>5), transaksi-transaksi dengan pemerintah<br />

(<strong>EC</strong>1-2.1e dan <strong>EC</strong>4) dan investasi komunitas (<strong>EC</strong>1-2.1f<br />

dan <strong>EC</strong>8). <strong>Indikator</strong> ekonomi juga terkait erat dengan<br />

indikator yang terdapat di <strong>Protokol</strong>-<strong>Protokol</strong> lain,<br />

meliputi:<br />

• <strong>EC</strong>1-2.1c, <strong>EC</strong>5, dan LA14 mengenai gaji<br />

• <strong>EC</strong>1-2.1c, <strong>EC</strong>3 dan LA3 mengenai tunjangan<br />

karyawan<br />

• <strong>EC</strong>1-2.1f, <strong>EC</strong>6, <strong>EC</strong>8 dan SO1 mengenai interaksi<br />

dengan komunitas lokal<br />

• <strong>EC</strong>2 (risiko perubahan iklim) dan EN3 (konsumsi<br />

energi langsung)<br />

• <strong>EC</strong>10 (pengaruh ekonomi tidak langsung) dan SO1<br />

(pengaruh sosio-ekonomi pada komunitas)<br />

Definisi<br />

Daerah operasi utama<br />

Keberadaan daerah operasi utama dimana terdapat<br />

satu kesatuan pasar yang meliputi pendapatan, biaya,<br />

pembayaran kepada pemangku kepentingan, produksi,<br />

dan jumlah karyawan sangat signifikan pengaruhnya<br />

dalam proses pengambilan keputusan yang dilakukan<br />

oleh organisasi dan pemangku kepentingannya.<br />

Organisasi harus menetapkan dan menjelaskan kriteria<br />

yang dipergunakan untuk menentukan apa yang<br />

signifikan dalam penentuan daerah operasi utama.<br />

Untuk menjelaskan daerah operasi yang signifikan,<br />

organisasi harus merujuk pada International Accounting<br />

Standards 14 (IAS 14)<br />

Rujukan umum<br />

• Website (www.iasb.org) The International<br />

Accounting Standards Board (IASB) memberikan<br />

informasi International Financial <strong>Reporting</strong><br />

Standards (IFRS) yang relevan.<br />

• Untuk menyiapkan indikator ekonomi, apabila<br />

memungkinkan, data harus didapatkan baik dari<br />

laporan keuangan yang sudah diaudit pihak<br />

eksternal maupun dari laporan internal manajemen<br />

yang sudah diaudit oleh pihak internal. Dalam<br />

banyak kasus, data tersebut harus dikompilasikan<br />

berdasarkan salah satu dari kedua standar berikut<br />

ini:<br />

• International Financial <strong>Reporting</strong> Standard yang<br />

relevan beserta interpretasi-nya yang diterbitkan<br />

oleh International Accounting Standards Board<br />

(IASB) (beberapa protocol indicator merujuk pada<br />

International Accounting Standard).<br />

• Standar nasional atau regional untuk kepentingan<br />

pelaporan keuangan yang diakui secara<br />

internasional.<br />

2<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

IP<br />

Organisasi harus dengan cukup jelas menunjukkan<br />

standar yang dipergunakan dan memberikan rujukan<br />

dari sumber yang relevan.<br />

Pelaporan yang bersangkutan dengan segmen<br />

Organisasi harus merujuk pada IAS 14 untuk<br />

menjelaskan pengertian ”lokal” sebagaimana<br />

dipersyaratkan dalam indikator <strong>EC</strong>1, <strong>EC</strong>5, <strong>EC</strong>6 dan <strong>EC</strong>7.<br />

Version 3.0<br />

3


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

<strong>EC</strong>1 Perolehan dan distribusi<br />

nilai ekonomi langsung, meliputi<br />

pendapatan, biaya operasi, imbal<br />

jasa (kompensasi) karyawan, donasi,<br />

dan investasi komunitas lainnya,<br />

laba ditahan, dan pembayaran<br />

kepada penyandang dana serta<br />

pemerintah.<br />

1. Relevansi<br />

Data yang terkait dengan penciptaan dan<br />

pendistribusian nilai ekonomi memberikan indikasi<br />

utama bagaimana organisasi telah menciptakan<br />

kesejahteraan bagi pemangku kepentingan. Beberapa<br />

komponen dari tabel Hasil dan Distribusi Nilai <strong>Ekonomi</strong><br />

Langsung (HADNEL) dapat pula memberikan gambaran<br />

tentang profil ekonomi organisasi yang berguna<br />

untuk melihat keselarasan dengan dengan indikator<br />

kinerja lainnya. Jika disajikan secara lebih terperinci per<br />

negara, HADNEL dapat memberikan gambaran yang<br />

jelas tentang nilai tambah moneter langsung terhadap<br />

perekonomian setempat.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Penyajian<br />

• Data HADNEL harus disusun, jika<br />

memungkinkan, berdasarkan laporan<br />

keuangan yang sudah diaudit, atau laporan<br />

manajemen internal. Juga disarankan agar data<br />

nilai ekonomi disajikan berbasis akrual dalam<br />

sebuah tabel yang mencakup komponen dasar<br />

dari operasi organisasi secara global seperti<br />

yang tertera pada tabel di bawah ini. Data<br />

dapat juga disajikan dalam basis kas selama<br />

dibenarkan dan diungkapkan dalam sebuah<br />

tabel yang mencakup komponen-komponen<br />

dasar seperti tertera di bawah ini.<br />

Untuk menilai secara lebih baik dampak<br />

ekonomi lokal, HADNEL harus disajikan<br />

secara terpisah berdasarkan negara, regional<br />

atau pasar, jika dipandang cukup signifikan.<br />

Organisasi harus mengidentifikasikan,<br />

menjelaskan, dan merumuskan kriteria untuk<br />

menentukan tingkat signifikansi.<br />

2.2 Panduan Tentang Pos-pos dalam Tabel HADNEL<br />

a) Pendapatan:<br />

• Penjualan neto sama dengan penjualan<br />

produk dan jasa bruto dikurangi<br />

pengembalian (retur), diskon dan<br />

pengurangan harga (diskon)<br />

• Pendapatan dari investasi finansial<br />

termasuk penerimaan kas atas bunga<br />

pinjaman, dividen saham, royalti, dan<br />

pendapatan lansung yang dihasilkan dari<br />

pengelolaan aset (misalnya penyewaan<br />

properti)<br />

• Pendapatan dari penjualan aset yaitu<br />

aset berwujud (properti, infrastruktur,<br />

peralatan) dan tidak berwujud (hak atas<br />

Komponen<br />

Hasil nilai ekonomi langsung<br />

Penjelasan<br />

a) Pendapatan Penjualan bersih ditambah pendapatan dari hasil<br />

investasi finansial dan penjualan aset<br />

Distribusi nilai ekonomi<br />

b) Biaya operasi Pembayaran kepada pemasok, investasi non-strategis,<br />

royalti, dan pembayaran untuk fasilitas kemudahan<br />

(facilitating payments)<br />

c) Gaji dan tunjangan manfaat untuk karyawan, termasuk<br />

direksi dan komisaris<br />

Jumlah arus moneter keluar untuk karyawan (pembayaran<br />

pada periode pelaporan, bukan komitmen ke<br />

depan)<br />

d) Pembayaran kepada penyandang dana Semua pembayaran finansial kepada penyandang<br />

dana organisasi<br />

e) Pembayaran kepada pemerintah (diperinci per negara<br />

lihat catatan di bawah)<br />

f) Investasi untuk komunitas Kontribusi dan dana investasi sukarela untuk komunitas<br />

yang lebih luas (termasuk donasi)<br />

Nilai ekonomi yang ditahan (dihitung dengan cara Hasil<br />

Nilai <strong>Ekonomi</strong> langsung dikurangi Distribusi Nilai <strong>Ekonomi</strong>)<br />

Pajak<br />

Investasi, penyerahan hak modal dan lain-lain<br />

4<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

IP<br />

kekayaan intelektual, disain, nama merk)<br />

b) Biaya Operasi<br />

• Pembayaran tunai kepada pihak di luar organisasi<br />

atas pembelian bahan baku, komponen<br />

produk, fasilitas, dan jasa. Pembayaran ini<br />

termasuk untuk sewa properti, biaya lisensi,<br />

fasilitas kemudahan (yang memenuhi tujuan<br />

komersial), royalti, biaya pekerja kontrak, biaya<br />

pelatihan karyawan (apabila menggunakan<br />

pelatih eksternal), pakaian pelindung karyawan,<br />

dan lain-lain<br />

c) Manfaat dan gaji karyawan, termasuk direksi dan<br />

komisaris<br />

• Total daftar gaji karyawan serta yang dibayar<br />

ke pemerintah atas nama karyawan (seperti<br />

PPh dan dana Jamsostek). Pekerja operasional<br />

non-karyawan umumnya tidak termasuk dalam<br />

kategori ini, namun dimasukkan sebagai biaya<br />

jasa dalam kategori Biaya Operasi.<br />

• Total tunjangan manfaat termasuk tunjangan<br />

umum (dana pensiun, asuransi, fasilitas<br />

kendaraan bermotor, dan kesehatan pribadi)<br />

dan tunjangan karyawan lainnya seperti<br />

perumahan, pinjaman tanpa bunga, bantuan<br />

transportasi umum, hibah pendidikan, dan<br />

pembayaran pesangon. Hal ini tidak termasuk<br />

biaya pelatihan, biaya peralatan perlindungan,<br />

dan biaya lainnya yang terkait dengan fungsi<br />

jabatan karyawan<br />

d) Pembayaran terhadap penyandang dana<br />

• Dividen kepada pemegang saham<br />

• Beban bunga kepada kreditur<br />

• Termasuk beban bunga dari semua jenis<br />

hutang dan dividen pemegang saham<br />

istimewa (preferensi) yang ditangguhkan<br />

e) Pembayaran terhadap pemerintah<br />

• Semua pembayaran pajak (PPh perusahaan,<br />

PPN, PBB, dan lain-lain) serta penalti yang<br />

dikenakan sesuai dengan ketentuan<br />

internasional, nasional, dan lokal. Tidak<br />

termasuk dalam kategori ini pajak yang<br />

ditunda karena ada kemungkina pajak tersebut<br />

tidak dibayar. Organisasi yang beroperasi<br />

di beberapa negara menyediakan laporan<br />

pajak yang dibayar per negara. Organisasi<br />

harus menjelaskan definisi segmentasi yang<br />

dipergunakan.<br />

f) Investasi komunitas<br />

• Donasi dan dana investasi sukarela untuk<br />

komunitas yang lebih luas di mana target<br />

penerima manfaat adalah pihak-pihak di<br />

luar organisasi Hal ini termasuk kontribusi<br />

untuk badan amal, lembaga sosial masyarakat<br />

(LSM), dan lembaga riset (tidak terkait<br />

dengan aktivitas riset dan pengembangan<br />

komersial organisasi), dana untuk mendukung<br />

infrastruktur komunitas (misalnya fasilitas<br />

rekreasi), dan biaya program sosial (termasuk<br />

acara seni dan pendidikan). Perhitungan dana<br />

mengacu pada pengeluaran aktual dalam<br />

periode laporan, dan karenanya tidak termasuk<br />

komitmen.<br />

• Untuk investasi infrastruktur, total investasi<br />

harus memasukkan biaya barang dan tenaga<br />

kerja. Dalam rangka mendukung program<br />

atau fasilitas yang sedang berjalan (misalnya<br />

organisasi mendanai operasi harian dari<br />

fasilitas publik), investasi yang dilaporkan<br />

termasuk biaya operasi.<br />

• Hal ini tidak termasuk aktivitas komersial dan<br />

hukum serta tujuan investasi yang sematamata<br />

mempunyai unsur komersial. Donasi<br />

kepada partai politik termasuk di dalamnya,<br />

tetapi akan disampaikan terpisah secara detail<br />

di S06.<br />

• Tidak termasuk investasi infrastruktur yang<br />

terjadi akibat kebutuhan bisnis utama (seperti<br />

membangun akses jalan ke kantor atau pabrik)<br />

atau memberikan fasilitas operasi organisasi.<br />

Perhitungan investasi mungkin termasuk<br />

infrastruktur yang dibuat di luar aktivitas<br />

bisnis utama dari organisasi yang melaporkan,<br />

seperti sekolah atau rumah sakit/puskesmas<br />

untuk karyawan dan keluarganya.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

<strong>Indikator</strong> ini memerlukan informasi dari departemen<br />

akuntansi, keuangan dan perbendaharaan/treasury.<br />

5. Referensi<br />

• International Accounting Standard (IAS) 12<br />

mengenai Income Taxes, IAS 14 mengenai Segment<br />

<strong>Reporting</strong>, IAS 18 mengenai Revenues dan IAS19<br />

mengenai Employee Benefit.<br />

Version 3.0<br />

5


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

<strong>EC</strong>2 Implikasi finansial dan risiko<br />

lainnya akibat perubahan iklim<br />

serta peluangnya bagi aktivitas<br />

organisasi.<br />

1. Relevansi<br />

Perubahan iklim memberikan kesempatan sekaligus<br />

risiko kepada organisasi, investor dan pemangku kepen<br />

ingan lainnya. Organisasi mungkin akan menghadapi<br />

risiko fisik akibat perubahan pola cuaca dan sistem<br />

keikliman. Risiko- risiko ini termasuk pengaruh akibat<br />

peningkatan badai dan banjir; perubahan ketinggian<br />

aut; suhu lingkungan, dan ketersediaan air; pengaruh<br />

terhadap tenaga kerja seperti kesehatan (misal wabah<br />

atau penyakit akibat hawa panas); serta kebutuhan<br />

untuk melakukan relokasi kegiatan operasi.<br />

Ketika pemerintah mulai mengatur aktivitas yang<br />

dapat mendorong perubahan iklim, organisasi, yang<br />

secara langsung atau tidak langsung bertanggun<br />

jawab terhadap pembuangan emisi, menghadapi risiko<br />

peraturan yang pada giliranya dapat menyebabkan<br />

peningkatan biaya atau faktor lainnya yang<br />

memengauhi persaingan. Pembatasan<br />

terhadap emisi gas rumah kaca (greenhouse) dapat men<br />

ciptakan kesempatan bagi organisasi-organisasi ketika<br />

pasar dan teknologi baru tercipta. Hal ini terutama<br />

berlaku bagi organisasi yang dapat menggunakan atau<br />

memproduksi energi dan produk energi dengan lebih<br />

efisien.<br />

• Kesempatan untuk menyediakan teknologi,<br />

produk, dan jasa baru yang memenuhi<br />

tantangan terkait perubahan iklim; dan<br />

• Potensi keunggulan daya saing yang tercipta<br />

untuk organisasi akibat peraturan atau<br />

perubahan teknologi yang berhubungan<br />

dengan perubahan iklim<br />

2.3 Melaporkan apakah manajemen telah menghitung<br />

untuk organisasi dampak keuangan (misalnya biaya<br />

asuransi dan karbon) akibat perubahan iklim. Jika<br />

memungkinkan, penghitungan harus bermanfaat.<br />

Jika dihitung, ungkapkan dampak finansial serta<br />

metode dan alat perhitungan yang dipergunakan.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Catatan dan notulensi rapat pimpinan senior organisasi,<br />

termasuk apabila komite lingkungan mempunyai informasi<br />

yang dibutuhkan oleh indikator ini.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada<br />

EN16 memperbolehkan pengungkapan jumlah total<br />

emisi gas rumah kaca, sedangkan EN18 mengungkapkan<br />

total pengurangan yang tercapai dan inisiatif untuk<br />

mengurangi emisi yang diproduksi oleh organisasi.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Melaporkan apakah pimpinan senior organisasi<br />

mempertimbangkan perubahan iklim serta kesempatan<br />

dan risiko yang ada terhadap organisasi.<br />

2.2 Melaporkan kesempatan dan risiko akibat perubahan<br />

iklim yang secara potensial berdampak finansial<br />

terhadap organisasi, termasuk:<br />

• Risiko akibat perubahan fisik terkait perubahan<br />

iklim (misalnya perubahan pola cuaca dan sakit<br />

akibat hawa panas);<br />

• Risiko regulasi (misalnya biaya pengembangan<br />

sistem dan aktivitas dalam rangka memenuhi<br />

peraturan baru);<br />

6<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

IP<br />

<strong>EC</strong>3 Cakupan kewajiban organisasi<br />

terhadap program manfaat pasti.<br />

1. Relevansi<br />

Jika organisasi memberikan program pensiun untuk<br />

tenaga kerja, manfaat program ini merupakan komitmen<br />

organisasi yang terdapat dalam skema perlindungan<br />

kesejahteraan ekonomi jangka panjang para<br />

karyawannya. Program manfaat pasti (defined benefit<br />

plans) mempunyai implikasi terhadap pemberi kerja<br />

berupa kewajiban yang harus dipenuhi. Program<br />

lainnya, yakni program iuran pasti (defined contribution<br />

plan), tidak menawarkan program pensiun atau manfaat<br />

yang berkualitas. Pilihan program mempunyai pengaruh<br />

terhadap pemberi kerja dan karyawan. Program pensiun<br />

yang baik akan menarik dan mempertahankan karyawan<br />

dan mendukung keuangan jangka panjang dan<br />

perencanaan strategis pemberi kerja.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasi apakah struktur program pensiun<br />

karyawan berdasarkan:<br />

• Program manfaat pasti<br />

• Program lainnya<br />

2.2 Untuk program manfaat pasti, identifikasi apakah<br />

pendanaan untuk membayar kewajiban pensiun<br />

kepada karyawan dari sumber dana organisasi<br />

langsung atau dari dana yang dikelola terpisah oleh<br />

organisasi lain<br />

2.7 Laporkan tingkat partisipasi program pensiun<br />

dini (misal partisipasinya dalam skema wajib atau<br />

sukarela, berdasarkan regional atau negara atau<br />

berdasarkan dampak keuangan )<br />

2.8 Jurisdikasi yang berbeda (misal negara)<br />

menyebabkan bervariasinya interpretasi dan<br />

pedoman perhitungan dalam menentukan<br />

jaminan. Hitung sesuai peraturan dan metode yang<br />

relevan dengan jurisdiksinya, dan laporkan total<br />

perhitungan. Teknik konsolidasi yang digunakan<br />

harus sama dengan teknik yang digunakan saat<br />

mempersiapkan laporan keuangan organisasi.<br />

Program manfaat pasti adalah bagian dari<br />

International Accounting Standar (IAS) 19.<br />

3. Definisi<br />

Jaminan penuh.<br />

Aset program dana pensiun (plan asset) memenuhi atau<br />

bahkan melebihi kewajiban program (plan obligation).<br />

4. Dokumentasi<br />

Departemen akuntansi dan keuangan harus mempunyai<br />

informasi yang diperlukan oleh indikator ini.<br />

5. Referensi<br />

• IAS 19 mengenai Employee Benefits.<br />

2.3 Jika sumber pendanaan dari organisasi sendiri,<br />

laporkan nilai estimasi kewajiban<br />

2.4 Apabila dana dikelola terpisah untuk membayar<br />

perencanaan utang pensiun, laporkan:<br />

• Skema bagaimana kewajiban yang timbul<br />

dilindungi oleh aset yang khusus disisihkan<br />

untuk memenuhi kewajiban tersebut<br />

• Dasar estimasi<br />

• Kapan estimasi dibuat<br />

2.5 Apabila dana untuk membayar kewajiban pensiun<br />

tidak dapat memenuhi tagihan kewajibannya,<br />

jelaskan strategi pemberi kerja, jika ada, untuk<br />

menutupi kekurangan dana dan jangka waktunya.<br />

2.6 Laporkan persentase gaji yang dikontribusikan<br />

pada program ini oleh pekerja atau pemberi kerja<br />

Version 3.0<br />

7


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

<strong>EC</strong>4 Bantuan keuangan signifikan<br />

dari pemerintah.<br />

1. <strong>Indikator</strong><br />

<strong>Indikator</strong> ini mengukur kontribusi pemerintah setempat<br />

kepada organisasi. Perbandingan antara bantuan<br />

keuangan signifikan dari pemerintah dengan pajak yang<br />

dibayar oleh organisasi berguna untuk menggambarkan<br />

tingkat keseimbangan transaksi antara pemerintah dan<br />

organisasi tersebut.<br />

2. Kompilasi<br />

secara langsung dari bantuan yang ditawarkan.<br />

4. Dokumentasi<br />

Akuntan mungkin memasukkan butir-butir IAS 20 secara<br />

individual, dan tidak dilakukan konsolidasi seperti<br />

dipersyaratkan dalam indikator ini.<br />

5. Referensi<br />

• International Accounting Standard (IAS) AS 20<br />

mengenai Accounting for Government Grants and<br />

Disclosure of Government Assistance<br />

2.1 Melaporkan estimasi keseluruhan nilai keuangan<br />

berdasarkan basis akrual untuk butir-butir berikut:<br />

• Pembebasan/kredit pajak<br />

• Subsidi<br />

• Hibah investasi, hibah riset dan pengembangan<br />

serta hibah relevan lainnya<br />

• Penghargaan<br />

• Royalti<br />

• Bantuan keuangan dari Lembaga Kredit<br />

Ekspor<br />

• Insentif finansial<br />

• Manfaat keuangan atau piutang dari pemerintah<br />

untuk suatu operasi<br />

2.2 Melaporkan apakah pemerintah termasuk dalam<br />

struktur pemegang saham<br />

3. Definisi<br />

Bantuan keuangan yang signifikan<br />

Manfaat keuangan langsung dan tidak langsung yang<br />

signifikan bukan merupakan transaksi barang dan jasa,<br />

tetapi merupakan insentif atau kompensasi untuk suatu<br />

aktivitas, biaya aset, atau beban yang terjadi. Penyedia<br />

bantuan keuangan tidak mengharapkan retur keuangan<br />

8<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

IP<br />

<strong>EC</strong>5 Rentang rasio standar upah<br />

terendah dibandingkan dengan<br />

upah minimum setempat pada<br />

daerah operasi utama.<br />

1. Relevansi<br />

Memberikan kesejahteraan secara ekonomi merupakan<br />

salah satu cara organisasi melakukan investasi terhadap<br />

karyawannya. <strong>Indikator</strong> ini memperlihatkan bagaimana<br />

organisasi memberikan kontribusi untuk meningkatkan<br />

kesejahteraan karyawan di daerah operasi utama.<br />

<strong>Indikator</strong> ini menunjukkan seberapa kompetitif tingkat<br />

upah organisasi. Disamping itu, indikator dimaksud bisa<br />

memberikan informasi yang relevan untuk menilai<br />

pengaruh upah terhadap pasar tenaga kerja lokal.<br />

Penawaran gaji di atas upah minimum lokal merupakan<br />

salah salah satu cara untuk membangun hubungan<br />

komunitas yang kuat, menciptakan loyalitas karyawan,<br />

serta memperkuat pengakuan sosial atas operasi<br />

organisasi (social license to operate). <strong>Indikator</strong> ini sangat<br />

relevan untuk menunjukkan bagaimana organisasi<br />

memberikan kompensasi kepada sebagian besar tenaga<br />

kerjanya dengan cara atau skala yang diatur dalam<br />

undang-undang atau peraturan upah minimum.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasi apakah kompensasi dari sebagian besar<br />

tenaga kerja telah sesuai dengan aturan upah minimum<br />

3. Definisi<br />

Upah minimum lokal<br />

Tingkat upah minimum karyawan yang terkait dengan<br />

kompensasi per jam atau unit waktu lainnya sebagaiman<br />

dipersyaratkan oleh undang-undang. Karena setiap<br />

negara mempunyai berbagai jenis upah minimum<br />

(misalnya ber dasarkan provinsi, regional, kota atau<br />

berdasarkan kategori kepegawaian), harus didapatkan<br />

upah minimum yang dipergunakan.<br />

Upah tingkat entri<br />

Upah tingkat entri adalah upah penuh waktu yang dita<br />

warkan kepada pegawai pada kategori karyawan yang<br />

teren dah. Honor magang atau temporer tidak termasuk<br />

dalam pertimbangan.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial dapat diperoleh dari departemen<br />

yang membayar gaji, keuangan, bendahara,<br />

atau departemen akuntansi. Berbagai peraturan instansi<br />

pemerintah setempat mungkin menyediakan informasi<br />

untuk indikator ini.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2.2 Dalam persentase, bandingkan upah minimum lokal<br />

dengan laporan gaji tingkat entri (pemula) pada<br />

daerah operasi utama<br />

2.3 Identifikasi variasi rasio yang terjadi antar daerah<br />

operasi utama<br />

2.4 Melaporkan distribusi rasio upah tingkat entri dengan<br />

upah minimum<br />

2.5 Melaporkan definisi ”lokasi yang signifikan” yang<br />

dipergunakan<br />

2.6 Untuk organisasi yang menawarkan gaji pegawai<br />

tetap, gaji harus dikonversikan estimasi per jam<br />

2.7 Indikasi apakah upah minimum lokal tidak tersedia<br />

di suatu daerah atau bervariasi antar daerah operasi<br />

utama. Dalam situasi dimana organisasi dapat<br />

menerapkan tingkat upah minimum yang berbeda<br />

sebagai referensi, maka harus dijelaskan tingkat<br />

upah minimum mana yang dipergunakan<br />

Version 3.0<br />

9


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

<strong>EC</strong>6 Kebijakan, praktek, dan proporsi<br />

pengeluaran untuk pemasok lokal<br />

pada daerah operasi utama.<br />

1. Relevansi<br />

Organisasi dapat memengaruhi perekonomian lokal<br />

lebih dari sekedar penyediaan pasar tenaga kerja<br />

dan pembayaran upah dan pajak. Melalui dukungan<br />

terhadap bisnis lokal dalam jaringan pengadaan (supply<br />

chain), maka organisasi secara tidak langsung dapat<br />

mendorong tambahan investasi pada perekonomian<br />

lokal.<br />

Organisasi dapat memperoleh atau mempertahankan<br />

pengakuan sosial atas operasi organisasi (social license<br />

to operate) dengan memberikan pengaruh positif<br />

terhadap ekonomi lokal. Pasokan lokal merupakan<br />

strategi organisasi untuk menjamin persediaan,<br />

mendukung perekonomian lokal yang stabil, serta<br />

memberi bukti atas proses yang lebih efisien dalam<br />

situasi terpencil. Proporsi pengeluaran lokal dapat<br />

memberikan kontribusi pada kemajuan perekonomian<br />

setempat serta mempertahankan hubungan dengan<br />

komunitas. Meskipun demikian, pengaruh keseluruhan<br />

sumber lokal akan\ tergantung pada keberlanjutan<br />

pemasok dalam jangka panjang.<br />

3. Definisi<br />

Pemasok lokal<br />

Penyedia bahan baku, produk, dan jasa yang mempunyai<br />

pasar geografis yang sama dengan organisasi (yaitu<br />

tidak ada pembayaran lintas nasional kepada pemasok).<br />

Definisi<br />

geografis mengenai ”lokal” mungkin bervariasi karena<br />

”lokal” dapat berarti kabupaten, kota, provinsi, wilayah<br />

dalam suatu negara, negara.<br />

4. Dokumentasi<br />

Tidak ada.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Melaporkan definisi ”lokal” secara geografis<br />

2.2 Untuk perhitungan, persentase pengeluaran harus<br />

berdasarkan faktur atau komitmen yang dibuat<br />

sepanjang periode pelaporan (yaitu akuntansi<br />

akrual).<br />

2.3 Melaporkan apakah organisasi mempunyai<br />

kebijaksanaan atau praktek umum dalam<br />

menentukan pemasok lokal baik secara keseluruhan<br />

organisasi atau lokasi tertentu<br />

2.4 Jika begitu, uraikan presentase anggaran pengadaan<br />

untuk daerah operasi utama yaitu pengeluaran<br />

pada pemasok lokal tempat operasi (misalnya<br />

persentase pembelian lokal atas barang dan<br />

persediaan). Pembelian lokal dapat dilakukan<br />

baik dari anggaran yang disiapkan untuk lokasi<br />

beroperasi atau melalui kantor pusat organisasi<br />

2.5 Tunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi<br />

pemilihan pemasok (misal, biaya, lingkungan, kinerja<br />

sosial) selain penentuan lokasi geografis.<br />

10<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

IP<br />

<strong>EC</strong>7 Prosedur penerimaan pegawai<br />

lokal dan proporsi manajemen<br />

senior yang direkrut secara lokal<br />

dan dipekerjakan di daerah operasi<br />

utama.<br />

1. Relevansi<br />

4. Dokumentasi<br />

Departemen sumber daya manusia atau bagian<br />

personalia harus mempunyai informasi yang dibutuhkan<br />

oleh indikator ini.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

Pemilihan staf dan manajemen senior berdasarkan<br />

berbagai pertimbangan. Menjamin terdapatnya<br />

penduduk lokal dalam posisi manajemen senior<br />

akan bermanfaat bagi komunitas lokal dan akan<br />

meningkatkan kemampuan organisasi dalam<br />

memahami kebutuhan lokal.<br />

Keanekaragaman tim manajemen dan terlibatnya<br />

anggota dari komunitas setempat akan dapat<br />

meningkatkan keahlian dan keterampilan pegawai,<br />

memberikan manfaat terhadap komunitas setempat,<br />

meningkatkan kemampuan organisasi untuk<br />

memahami kebutuhan lokal.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Melaporkan apakah organisasi mempunyai<br />

kebijakan global atau praktek umum untuk<br />

menjamin penerimaan pegawai dari penduduk<br />

lokal di daerah operasi utama<br />

2.2 Jika begitu, laporkan proporsi manajemen senior<br />

dari komunitas lokal di daerah lokasi utama.<br />

Gunakan data karyawan purnawaktu untuk<br />

menghitung persentase ini<br />

2.3 Laporkan penggunaan definisi ”manajemen senior”<br />

3. Definisi<br />

Lokal<br />

Lokal berhubungan dengan individu yang lahir atau<br />

warga yang mempunyai hak untuk tinggal selamanya<br />

(mempunyai kartu tanda pengenal atau pemegang visa<br />

permanen) di lokasi yang sama dengan pasar geografis<br />

tempat organisasi beroperasi. Organisasi dapat memilih<br />

definisi lokal sendiri karena dalam beberapa kasus, kota,<br />

provinsi, regional bahkan negara kecil dapat<br />

ditentukan sebagai lokal. Meskipun demikian, definisi<br />

tersebut harus diungkapkan secara jelas.<br />

Version 3.0<br />

11


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

<strong>EC</strong>8 Pengembangan dan dampak<br />

jasa dan investasi infrastruktur<br />

untuk kepentingan publik melalui<br />

perikatan komersial, natura, atau pro<br />

bono<br />

1. Relevansi<br />

4. Dokumentasi<br />

Departemen akuntansi, bendahara, atau keuangan<br />

mempunyai informasi yang dibutuhkan oleh indikator<br />

ini.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

Selain menghasilkan dan mendistribusikan<br />

nilai ekonomi, organisasi dapat mempengaruhi<br />

perekonomian melalui investasi dalam infrastruktur.<br />

Pengaruh investasi infrastruktur dapat lebih luas<br />

dari jangkauan operasi bisnis dan dinikmati dalam<br />

periode panjang. Hal ini dapat berupa jaringan<br />

transportasi, pengadaan utilitas, fasilitas sosial dan<br />

umum, gelanggang olahraga, pusat kesehatan dan<br />

kesejahteraan, dan lain-lain. Bersama investasi di operasi<br />

sendiri, hal ini merupakan satu alat ukur kontribusi<br />

modal organisasi terhadap perekonomian.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Jelaskan cakupan pembangunan (misalnya ukuran,<br />

biaya, jangka waktu) dari sokongan dan investasi<br />

serta pengaruh (positif atau negatif) terkini atau<br />

ekspektasi terhadap komunitas dan perekonomian<br />

lokal. Tunjukkan apakah investasi dan jasa<br />

merupakan perjanjian komersial, natura, atau pro<br />

bono.<br />

2.2 Laporkan apakah organisasi melakukan penilaian<br />

kebutuhan komunitas untuk menentukan<br />

infrastruktur dan jasa lainnya yang dibutuhkan. Jika<br />

begitu, jelaskan secara ringkas hasil penilaian.<br />

3. Definisi<br />

Infrastruktur<br />

Pembangunan fasilitas (misalnya fasilitas pasokan<br />

air, jalan, sekolah, atau pusat kesehatan masyarakat)<br />

terutama untuk menyediakan barang atau jasa terlebih<br />

untuk tujuan publik dari pada untuk tujuan komersial, di<br />

mana organisasi tidak mengejar keuntungan ekonomi<br />

langsung.<br />

Jasa yang ditanggung<br />

Menyediakan kepentingan publik baik melalui<br />

pembayaran langsung biaya operasi atau memanfaatkan<br />

karyawanan organisasi dalam memberikan bantuan<br />

fasilitas/jasa. Manfaat publik dapat juga termasuk jasa<br />

publik.<br />

12<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

IP<br />

<strong>EC</strong>9 Pemahaman dan penjelasan<br />

dampak ekonomi tidak langsung<br />

yang signifikan, termasuk tingkatan<br />

dampaknya<br />

1. Relevansi<br />

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, dampak<br />

ekonomi tidak langsung mempunyai pengaruh<br />

ekonomi terhadap organisasi. Mengingat dampak<br />

ekonomi langsung dan pengaruh pasar cenderung<br />

fokus pada konsekuensi langsung suatu aliran moneter<br />

ke pemangku kepentingan, dampak ekonomi tidak<br />

langsung merupakan dampak tambahan yang timbul<br />

akibat sirkulasi uang dalam perekonomian.<br />

Dampak ekonomi langsung diukur berdasarkan<br />

nilai transaksi antara organisasi dan pemangku<br />

kepentingannya, sedangkan dampak ekonomi tidak<br />

langsung adakalanya merupakan hasil dari transaksi<br />

nonmoneter. Dampak tidak langsung merupakan<br />

aspek penting akibat peranan organisasi sebagai agen<br />

perubahan sosioekonomi terutama dalam perekonomian<br />

yang sedang berkembang. Dampak tidak langsung<br />

penting untuk menilai dan memberikan pelaporan atas<br />

perekonomian regional dan komunitas lokal.<br />

Untuk kepentingan manajemen, dampak ekonomi tidak<br />

langsung merupakan indikasi penting untuk memahami<br />

risiko reputasi yang bisa terjadi atau untuk memberi<br />

kesempatan dalam mengembangkan akses pasar atau<br />

pengakuan sosial.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Jelaskan tindakan yang dilakukan oleh organisasi<br />

untuk memahami dampak ekonomi tidak langsung<br />

pada tingkat lokal, regional, dan internasional<br />

2.2 Laporkan contoh-contoh dampak ekonomi tidak<br />

langsung baik positif ataupun negatif, seperti:<br />

• Perubahan produktivitas organisasi, sektoral,<br />

atau seluruh perekonomian (misalnya melalui<br />

peningkatan adopsi dan distribusi teknologi<br />

informasi)<br />

• Pembangunan ekonomi pada suatu lokasi<br />

miskin (misalnya jumlah dependen yang<br />

disokong dengan satu penghasilan kerja)<br />

• Dampak ekonomi atas peningkatan atau<br />

perusakan kondisi lingkungan dan sosial<br />

(misalnya perubahan pasar tenaga kerja akibat<br />

perubahan jenis usaha dari pertanian keluarga<br />

menjadi perkebunan atau dampak ekonomi<br />

akibat polusi)<br />

• Tersedianya produk dan jasa bagi penduduk<br />

yang berpendapatan rendah ( misalnya<br />

obat murah/generik untuk menciptakan<br />

komunitas yang sehat sehingga mereka dapat<br />

berpartipasi dalam perekonomian; struktur<br />

harga yang melebihi kemampuan ekonomi<br />

bagi yang berpendapatan rendah)<br />

• Meningkatkan pengetahuan dan keahlian di<br />

antara komunitas profesional atau dalam suatu<br />

wilayah geografis (misalnya kebutuhan basis<br />

pemasok menciptakan daya tarik perusahaan<br />

untuk pekerja ahli yang selanjutnya dapat<br />

menciptakan institusi belajar yang baru)<br />

• Dukungan terhadap pekerjaan pada rantai<br />

pemasok dan rantai distribusi (misal penilaian<br />

atas pengaruh pertumbuhan atau kontraksi<br />

organisasi terhadap pemasoknya)<br />

• Merangsang, memberdayakan, atau<br />

membatasi penanaman modal asing langsung<br />

(misalnya ekspansi atau penutupan jasa<br />

infrastruktur di negara berkembang akan<br />

menyebabkan peningkatan atau pengurangan<br />

penanaman modal asing)<br />

• Dampak ekonomi atas perubahan lokasi<br />

beroperasi atau beraktivitas (misalnya<br />

menggunakan tenaga kerja kontrakan dari<br />

lokasi luar negeri); dan<br />

• Dampak ekonomi dari penggunaan produk<br />

dan jasa (misal hubungan antara pola<br />

pertumbuhan ekonomi dan penggunaan<br />

produk dan jasa tertentu)<br />

2.3 Melaporkan dampak yang signifikan dalam konteks<br />

patok banding eksternal dan prioritas pemangku<br />

kepentingan seperti standar internasional dan<br />

nasional, protokol, dan agenda kebijaksanaan.<br />

3. Definisi<br />

Dampak ekonomi tidak langsung<br />

Konsekuensi tambahan dari dampak langsung atas<br />

transaksi keuangan dan aliran uang antara organisasi<br />

dan pemangku kepentingannya.<br />

Dampak ekonomi<br />

Perubahan dalam potensi produktif perekonomian<br />

yang mempunyai pengaruh terhadap kesejahteraan<br />

komunitas dan pemangku kepentingannya dan prospek<br />

jangka panjang untuk pembangunan.<br />

Version 3.0<br />

13


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: <strong>EC</strong><br />

4. Dokumentasi<br />

Tidak ada.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

14<br />

© 2000-2006 GRI


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong><br />

Lingkungan (EN)<br />

© 2000-2006 GRI<br />

Version 3.0


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

INDIKATOR KINERJA<br />

LINGKUNGAN<br />

Aspek: Material<br />

CORE<br />

CORE<br />

EN1<br />

EN2<br />

Aspek: Energi<br />

Penggunaan Bahan; diperinci berdasarkan<br />

berat atau volume<br />

Persentase Penggunaan Bahan Daur Ulang<br />

CORE<br />

ADD<br />

ADD<br />

EN12<br />

KL12 Uraian atas berbagai dampak<br />

signifikan yang diakibatkan oleh aktivitas,<br />

produk, dan jasa organisasi pelapor<br />

terhadap keanekaragaman hayati di<br />

daerah yang diproteksi (dilindungi) dan<br />

di daerah yang memiliki keanekaragaman<br />

hayati bernilai tinggi di luar daerah yang<br />

diproteksi (dilindungi)<br />

EN13 Perlindungan dan Pemulihan Habitat<br />

EN14 Strategi, tindakan, dan rencana mendatang<br />

untuk mengelola dampak terhadap<br />

keanekaragaman hayati<br />

ADD ADD<br />

ADD CORE CORE<br />

EN3<br />

EN4<br />

EN5<br />

EN6<br />

EN7<br />

Aspek: Air<br />

CORE<br />

EN8<br />

Penggunaan Energi Langsung dari<br />

Sumberdaya Energi Primer<br />

Pemakaian Energi Tidak Langsung<br />

berdasarkan Sumber Primer<br />

Penghematan Energi melalui Konservasi<br />

dan Peningkatan Efisiensi<br />

Inisiatif untuk mendapatkan produk dan<br />

jasa berbasis energi efisien atau energi<br />

yang dapat diperbarui, serta pengurangan<br />

persyaratan kebutuhan energi sebagai<br />

akibat dari inisiatif tersebut.<br />

Inisiatif untuk mengurangi konsumsi energi<br />

tidak langsung dan pengurangan yang<br />

dicapai<br />

Total pengambilan air per sumber<br />

ADD<br />

EN15 Jumlah spesies berdasarkan tingkat risiko<br />

kepunahan yang masuk dalam Daftar Merah<br />

IUCN (IUCN Red List Species) dan yang<br />

masuk dalam<br />

daftar konservasi nasional dengan habitat di<br />

daerah-daerah yang terkena dampak<br />

operasi<br />

Aspek: Emisi, Efluen dan Limbah<br />

CORE<br />

CORE<br />

ADD<br />

CORE<br />

EN16 Jumlah emisi gas rumah kaca yang sifatnya<br />

langsung maupun tidak langsung dirinci<br />

berdasarkan berat<br />

EN17 Emisi gas rumah kaca tidak langsung lainnya<br />

diperinci berdasarkan berat<br />

EN18 Inisiatif untuk mengurangi emisi gas rumah<br />

kaca dan pencapaiannya<br />

EN19 Emisi bahan kimia yang merusak lapisan<br />

ozon (ozone-depleting substances/ODS)<br />

diperinci berdasarkan berat<br />

ADD<br />

EN9<br />

Sumber air yang terpengaruh secara<br />

signifikan akibat pengambilan air<br />

CORE<br />

EN20 NOx, SOx dan emisi udara signifikan lainnya<br />

yang diperinci berdasarkan jenis dan berat<br />

ADD<br />

EN10<br />

Persentase dan total volume air yang<br />

digunakan kembali dan didaur ulang<br />

CORE<br />

EN21 Jumlah buangan air menurut kualitas dan<br />

tujuan<br />

Aspek Biodiversitas<br />

(Keanekaragaman Hayati)<br />

CORE<br />

EN22 Jumlah berat limbah menurut jenis dan<br />

metode pembuangan.<br />

CORE<br />

EN11<br />

Lokasi dan Ukuran Tanah yang dimiliki,<br />

disewa, dikelola oleh organisasi pelapor<br />

yang berlokasi di dalam, atau yang<br />

berdekatan dengan daerah yang diproteksi<br />

(dilindungi?) atau daerah-daerah yang<br />

memiliki nilai keanekaragaman hayati yang<br />

tinggi di luar daerah yang diproteksi<br />

CORE<br />

ADD<br />

EN23 Jumlah dan volume tumpahan yang<br />

signifikan.<br />

EN24 Berat limbah yang diangkut, diimpor,<br />

diekspor, atau diolah yang dianggap<br />

berbahaya menurut Lampiran Konvensi<br />

Basel I, II, III dan VIII, dan persentase limbah<br />

yang diangkut secara internasional.<br />

Version 3.0<br />

1


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

ADD ADD<br />

CORE CORE CORE<br />

ADD<br />

EN25 Identitas, ukuran, status proteksi dan nilai<br />

keanekaragaman hayati badan air serta<br />

habitat terkait yang secara signifikan<br />

dipengaruhi oleh pembuangan dan<br />

limpasan air organisasi pelapor.<br />

Aspek: Produk dan Jasa<br />

EN26 Inisiatif untuk mengurangi dampak<br />

lingkungan produk dan jasa dan sejauh<br />

mana dampak pengurangan tersebut.<br />

EN27 Persentase produk terjual dan bahan<br />

kemasannya yang ditarik menurut kategori.<br />

Aspek: Kepatuhan<br />

EN28 Nilai Moneter Denda yang signifikan dan<br />

jumlah sanksi nonmoneter atas pelanggaran<br />

terhadap hukum dan regulasi lingkungan.<br />

Aspek: Pengangkutan/Transportasi<br />

EN29 Dampak lingkungan yang signifikan akibat<br />

pemindahan produk dan barang-barang<br />

lain serta material yang digunakan untuk<br />

operasi perusahaan, dan tenaga kerja yang<br />

memindahkan.<br />

Aspek: Menyeluruh<br />

EN30 Jumlah pengeluaran untuk proteksi dan<br />

investasi lingkungan menurut jenis.<br />

2<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

Relevansi<br />

Aspek dalam <strong>Indikator</strong> Lingkungan distruktur untuk<br />

mencerminkan input, output dan metode pengaruh<br />

organisasi terhadap lingkungan. Energi, air dan bahan<br />

yang diperkenalkan dalam tiga jenis input standar<br />

yang digunakan oleh kebanyakan organisasi. Input ini<br />

menunjukkan output dari kepentingan lingkungan,<br />

yang ditangkap oleh Aspek dari Emisi, Efluen dan<br />

Limbah. Keanekaragaman Hayati juga berhubungan<br />

dengan konsep dari input dimana itu dapat dilihat<br />

sebagai sumber alam. Namun keanekaragaman hayati<br />

dapat juga berpengaruh langsung sebagai output oleh<br />

limbah.<br />

Aspek dari Transpor dan Produk dan Jasa menunjukkan<br />

area dimana organisasi dapat mempengaruhi<br />

lingkungan, namun sering melalui pihak yang lain<br />

seperti pelanggan atau supplier dari jasa logistik.<br />

Compilasi dan Aspek Keseluruhan mempunyai ukuran<br />

spesifik mengenai organisasi yang mengelola kinerja<br />

lingkungan.<br />

Aspek dari Energi, Air, Emisi, dan Keanekaragaman Hayati<br />

mempunyai beberapa indicator dimana hubungannya<br />

akan dijelaskan seperti dibawah ini.<br />

Aspek Energi<br />

<strong>Indikator</strong> Energi meliputi lima area penting dari<br />

penggunaan energy suatu organisasi, dimana termasuk<br />

energi langsung dan tidak langsung. Energi langsung<br />

adalah energi yang digunakan oleh organisasi dan<br />

produknya serta jasanya. Penggunaan energi tidak<br />

langsung adalah energi yang digunakan oleh yang lain<br />

yang melayani organisasi. 5 area yang berbeda dari<br />

penggunaan energy harus dilaporkan sebagai berikut:<br />

• Dalam EN3, konsumsi energi langsung dari<br />

organisasi yang melaporkan dapat dilaporkan,<br />

termasuk energi yang dibangkitkan di tempat<br />

(sebagai contoh, melalui pembakaran gas).<br />

• EN4 memberikan informasi dari konsumsi energy<br />

yang dibutuhkan untuk memproduksi energi yang<br />

dibeli diluar seperti listrik.<br />

• EN5 menanyakan energi yang diselamatkan melalui<br />

konservasi dan perbaikan efisiensi.<br />

• EN6 menjelaskan pengembangan produk dan jasa<br />

yang energi efisien.<br />

• Dan pada akhirnya EN7 meliputi konsumsi energy<br />

tidak langsung dari aktivitas pelaporan organisasi.<br />

Pengukuran dari konsumsi energi berhubungan dengan<br />

emisi gas rumah kaca dan climate change. Pembakaran<br />

bahan bakar fosil untuk membangkitkan energy<br />

menimbulkan emisi karbon dioksida (gas rumah<br />

kaca). Untuk mencapai tujuan yang dirumuskan<br />

dalam Kyoto Protocol dan untuk mengurangi<br />

risiko dari climate change, permintaan energy<br />

untuk diturunkan (diukur dalam EN5 dan EN6)<br />

dan mengganti sumber bahan bakar fosil dengan<br />

yang dapat diperbaharukan (diukur dalam EN3 dan<br />

EN4). Dengan tambahan mengurangi penggunaan<br />

konsumsi langsung energy, merancang produk<br />

dan jasa yang energi efisien (EN6) dan mengurangi<br />

penggunaan energi tidak langsung (EN7) (sebagai<br />

contoh; pemilihan bahan baku yang rendah<br />

energy atay penggunaan jasa seperti perjalanan)<br />

merupakan strategi penting.<br />

Aspek Emisi<br />

Aspek emisi, efluen dan limbah meliputi<br />

<strong>Indikator</strong> yang mengukur pengeluaran standar<br />

terhadap lingkungan yang dipertimbangkan<br />

sebagai polutan. <strong>Indikator</strong> ini termasuk berbagai<br />

jenis polutan (contoh: emisi udara, efluen, dan<br />

limbah padat) dan yang dikenal dalam kerangka<br />

aturan (EN20-EN23, EN24). Sebagai tambahan,<br />

ada indicator untuk dua jenis emisi yang harus<br />

mengikuti konvensi internasional mengenai gas<br />

rumah kaca (EN16 dan EN17) dan bahan yang<br />

dapat merusak ozon (EN19). EN16 dapat dihitung<br />

dengan data yang dilaporkan dibawah EN3 dan<br />

EN4. EN18 menjelaskan pengurangan emisi yang<br />

dicapai dan inisiatif untuk mengurangi emisi.<br />

Definisi<br />

Energi Langsung<br />

Bentuk dari energy yang masuk kedalam batas<br />

operasional organisasi pelapor. Dapat dikonsumsi<br />

langsung oleh organisasi didalam batas-batasnya,<br />

atau dapat diekspor ke pengguna lainnya. Energi<br />

langsung dapat tampil sebagai yang utama<br />

(contohnya, gas alam untuk pemanasan) atau<br />

perantara (contohnya: listrik untuk penerangan).<br />

Dapat dibeli, diekstrak (contohnya, batubara,<br />

gas alam, minyak), dipanen (contohnya, energi<br />

biomass), dikumpulkan (contohnya, tenaga surya,<br />

angin), atau ditampilkan dalam batas organisasi<br />

pelapor dengan cara yang lain.<br />

Emisi Rumah Kaca<br />

(Greenhouse Gas Emissions – GHG)<br />

Enam emisi rumah kaca utama adalah:<br />

• Karbon Dioksida (CO2)<br />

• Metana (CH4)<br />

Version 3.0<br />

3


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

• Nitro Oksida (N2O)<br />

• Hydrofluorocarbon (HFC – sekumpulan kompon<br />

tertentu)<br />

• Perfluorocarbon (PFC – sekumpulan kompon<br />

tertentu)<br />

• Sulphur Heksafluorida (SF6)<br />

Energi tidak langsung<br />

Energi yang diproduksi diluar batas organisasi dari<br />

organisasi pelapor yang dipergunakan untuk suplai<br />

energi kepada kebutuhan energi perantara (contohnya,<br />

listrik atau pemanas dan pendingin). Contoh paling<br />

umum adalah penggunaan bahan bakar minyak (BBM)<br />

diluar batas organisasi pelapor untuk membangkitkan<br />

listrik yang dipergunakan didalam batas organisasi.<br />

Energi perantara<br />

Bentuk dari energi yang diproduksi yang merubah<br />

(konversi) energi utama dalam bentuk yang lain. Untuk<br />

kebanyakan organisasi listrik merupakan bentuk paling<br />

penting dari energi perantara. Untuk sedikit organisasi<br />

kemungkinan bentuk produk energi perantara<br />

yang lain dapat berlaku penting, seperti uap atau air<br />

yang disalurkan oleh pembangkit panas distrik atau<br />

pembangkit air dingin, atau bahan bakar yang diolah<br />

seperti bahan bakar sintetikm biofuel dll.<br />

Sumber Utama<br />

Bentuk utama dari konsumsi energi untuk memenuhi<br />

kebutuhan energi dari organisasi pelapor. Energi ini<br />

dipergunakan untuk memberikan jasa akhir energy<br />

(contohnya, pemanasan ruangan, transport) atau<br />

memproduksi bentuk perantara dari energi.seperti<br />

listrik dan panas. Contoh dari energi langsung termasuk<br />

sumber yang tidak terbaharui seperti batubara, gas<br />

alam, minyak, dan energi nuklir. Dan itu juga termasuk<br />

sumber yang diperbaharukan seperti biomass, tenaga<br />

surya, angin, panas bumi, dan hidro energi. Energi utama<br />

yang mungkin dikonsumsi di tempat (contohnya, gas<br />

alam untuk memanaskan gedung organisasi pelapor)<br />

atau off-site (contohnya, gas alam yang dikonsumsi<br />

oleh pembangkit listrik yang memberikan listrik kepada<br />

fasilitas organisasi pelapor).<br />

Energi yang diperbaharui<br />

Energi yang diperbaharui dikeluarkan dari proses alam<br />

yang diambil secara terus-menerus. Ini termasuk listrik<br />

dan panas yang dibangkitkan oleh tenaga surya, angin,<br />

samudra, hydropower, biomass, sumber panas bumi,<br />

biofuel dan hydrogen yang diambil dari sumber yang<br />

diperbaharukan.<br />

4<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN1 Penggunaan Bahan; diperinci<br />

berdasarkan bobot atau volume<br />

1. Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> ini menggambarkan kontribusi organisasi<br />

terhadap konservasi sumber daya global serta upaya<br />

untuk menekan intensitas penggunaan bahan dan<br />

peningkatan efisiensi ekonomi. Hal ini sejalan dengan<br />

sasaran O<strong>EC</strong>D dan strategi keberlanjutan nasional di<br />

berbagai negara. Bagi para manajer internal dan pihak<br />

lainnya yang berkepentingan di bidang keuangan<br />

suatu organisasi, pemakaian bahan berhubungan<br />

secara langsung dengan keseluruhan biaya operasi.<br />

Pencatatan pemakaian bahan, baik per produk maupun<br />

per kelompok produk, secara internal akan memudahkan<br />

pemantauan efisiensi penggunaan bahan dan aliran<br />

biayanya.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Dapatkan jumlah pemakaian bahan, baik yang<br />

dibeli maupun yang berasal dari sumber internal<br />

(produksi atau hasil tambang sendiri). Bahan yang<br />

dimaksud di sini adalah:<br />

3. Definisi<br />

Bahan Langsung<br />

Bahan yang digunakan dalam produk akhir<br />

Bahan Yang Tak Terbarukan<br />

Sumber daya yang tidak dapat diperbaharui dalam<br />

jangka pendek, seperti mineral, logam, minyak dan gas<br />

bumi, batubara dan lain-lain.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial mencakup sistem<br />

akuntansi dan penagihan, serta bagian pengadaan atau<br />

manajemen pasokan (supply management).<br />

5. Referensi<br />

• O<strong>EC</strong>D, Recommendation of the Council on Material<br />

Flows and Resouce Productivity, 2004.<br />

• Bahan baku (misalnya sumber daya alam<br />

yang digunakan untuk diubah menjadi<br />

produk seperti bijih logam, mineral, kayu dan<br />

sebagainya)<br />

• Bahan pembantu (misalnya bahan yang<br />

dibutuhkan dalam proses manufaktur yang<br />

bukan merupakan bagian dari produk akhir<br />

seperti pelumas yang digunakan untuk mesinmesin<br />

pabrik )<br />

• Barang setengah jadi, termasuk segala bentuk<br />

bahan dan komponen di luar bahan baku yang<br />

merupakan bagian produk akhir<br />

• Bahan yang digunakan untuk kemasan<br />

2.2 Identifikasikan sumber daya tak terbarukan dan bahan<br />

langsung yang digunakan. Konversikan semua<br />

ukuran menjadi estimasi berat dan volume, dengan<br />

penekanan pada berat kotor dibandingkan dengan<br />

berat kering/bersih.<br />

2.3 Laporkan Jumlah Berat dan Volume :<br />

• Penggunaan bahan yang tak terbarukan<br />

• Penggunaan bahan langsung<br />

Version 3.0<br />

5


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

EN2 Persentase Penggunaan Bahan<br />

Daur Ulang<br />

1. Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi<br />

kemampuan organisasi dalam menggunakan bahan–<br />

bahan yang berasal dari daur ulang. Penggunaan bahan–<br />

bahan tersebut akan mengakibatkan berkurangnya<br />

permintaan akan bahan dasar serta memberikan<br />

kontribusi untuk konservasi sumber daya global. Bagi<br />

para manajer dan pihak–pihak lain yang berkepentingan<br />

atas laporan kondisi keuangan organisasi, penggantian<br />

penggunaan bahan ke daur ulang dapat menekan biaya<br />

keseluruhan operasi.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Dapatkan berat atau volume total bahan-bahan<br />

yang digunakan seperti pada laporanEN1<br />

2.2 Dapatkan berat atau volume total bahanbahan<br />

masukan yang didaur ulang. Perkiraan<br />

kebutuhannya menggunakan metode perkiraan<br />

atau estimasi<br />

2.3 Laporkan persentase bahan-bahan yang didaur<br />

ulang dengan menggunakan rumus :<br />

EN2 = Total Penggunaan Bahan Daur Ulang x 100<br />

Total Bahan Yang Digunakan<br />

3. Definisi<br />

Bahan-bahan Daur Ulang<br />

Bahan-bahan yang menggantikan bahan asal/murni<br />

(virgin) yang dibeli atau diperoleh dari sumber luar atau<br />

dari dalam, bukan produk sampingan dan bukan produk<br />

akhir seperti yang sampaikan dalam laporan organisasi<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi penting diperoleh dari tagihan<br />

dan sistem akutansi, departemen yang mengelola<br />

persediaan, rekaman produksi dan limbah.<br />

5. Referensi<br />

• O<strong>EC</strong>D Working Group on Waste Prevention and<br />

Recycling<br />

6<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN3 Penggunaan Energi Langsung<br />

dari Sumber Daya Energi Primer<br />

1. Relevansi<br />

Kemampuan organisasi dalam menggunakan energi<br />

secara efisien diungkapkan melalui perhitungan<br />

energi yang dikonsumsi. Konsumsi energi berdampak<br />

langsung terhadap biaya operasional dan mempunyai<br />

eksposur terhadap naik turunnya pasokan energi dan<br />

tingkat harga. Dampak organisasi terhadap lingkungan<br />

sebagian dipengaruhi oleh pilihannya atas sumber daya<br />

energi . Perubahan keseimbangan sumber daya energi<br />

memberikan petunjuk tentang usaha organisasi dalam<br />

menekan dampak lingkungan.<br />

Informasi tentang penggunaan sumber daya energi<br />

primer bisa membantu penilaian bagaimana organisasi<br />

dapat dipengaruhi dengan dihasilkannya peraturan<br />

lingkungan seperti <strong>Protokol</strong> Kyoto. Penggunaan bahan<br />

bakar fosil merupakan sumber utama terjadinya<br />

emisi gas rumah kaca, dan penggunaan energi terkait<br />

langsung dengan terbentuknya emisi gas rumah kaca.<br />

Penggantian sumber daya energi bahan bakar fosil<br />

dengan sumber daya terbarukan merupakan langkah<br />

penting untuk menghambat perubahan iklim dan<br />

dampak lingkungan lainnya akibat kegiatan ekstraksi<br />

dan pengolahan yang menggunakan energi. Dukungan<br />

terhadap penggunaan sumber daya terbarukan dan<br />

teknologi energi yang efisien juga akan mengurangi<br />

ketergantungan organisasi saat ini dan saat mendatang<br />

atas sumber daya tak terbarukan, yang pada gilirannya<br />

sangat potensial untuk menghasilkan penghematan<br />

baik dari sisi harga maupun penyediaannya.<br />

<strong>Indikator</strong> ini merupakan ukuran terhadap tingkat<br />

konsumsi energi primer oleh organisasi. <strong>Indikator</strong> ini<br />

tercakup dalam ruang lingkup 1 pada WRI/WBCSD<br />

GHG Protocol. <strong>Indikator</strong> EN 4 mengukur tingkat<br />

konsumsi sumber daya energi primer organisasi dalam<br />

menghasilkan energi lanjutan (intermediate energy)<br />

seperti listrik, pemanasan dan pendinginan, dan<br />

sebagainya.<br />

• Bahan bakar hasil distilasi minyak<br />

mentah, termasuk gasolin, diesel, gas<br />

petroleum cair (liquified petroleum gas/<br />

LPG), gas alam tekan (compressed natural<br />

gas/CNG), gas alam cair, butana, prophana,<br />

ethana, dan sebagainya.<br />

• Sumber Daya Energi Terbarukan<br />

• Biofuel<br />

• Ethanol<br />

• Hidrogen<br />

Catatan : Biomassa tidak termasuk sumber daya<br />

energi terbarukan berdasarkan laporan WRI/<br />

WBCSD GHG Protocol, dan emisi CO2 langsung<br />

dari pembakaran biomassa dapat dilaporkan<br />

secara terpisah<br />

2.2 Sumber Daya Energi Yang Diproduksi Langsung<br />

Dapatkan informasi tentang besarnya energi primer<br />

yang didapatkan organisasi melalui kegiatan<br />

produksi, pengolahan, pengumpulan, atau konversi<br />

bentuk energi lainnya dalam satuan Joule atau<br />

kelipatannya. Bisa dimasukkan dalam kategori ini<br />

sumber energi yang diuraikan pada butir 2.1<br />

2.3 Sumber Daya Energi Yang Dijual Langsung<br />

Dapatkan informasi tentang besarnya energi primer<br />

yang dikirim keluar (diekspor) organisasi diperinci<br />

dalam satuan Joule atau kelipatannya<br />

2.4 Menghitung total konsumsi energi dalam satuan<br />

joule atau kelipatannya seperti gigajoules (1 bilion<br />

joules atau 109 joules) dengan menggunakan<br />

perhitungan sebagai berikut:<br />

Total pemakaian energi = Energi primer yang<br />

dibeli langsung + Energi primer yang diproduksi<br />

langsung - Energi primer yang dijual langsung.<br />

Tabel berikut konversi volume sumber daya primer<br />

ke gigajoules (GJ):<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Sumber Daya Energi Yang Dibeli Langsung<br />

Dapatkan informasi tentang sumber daya energi<br />

primer yang dibeli oleh organisasi untuk memenuhi<br />

kebutuhan sendiri. Termasuk di dalamnya :<br />

• Sumber Daya Energi Tak Terbarukan :<br />

• Batubara<br />

• Gas Alam<br />

Version 3.0<br />

7


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

Batubara GJ Minyak<br />

Mentah<br />

GJ Gasoline GJ Gas Alam GJ Kelistrikan GJ<br />

Metrik Ton 26.00 Barel 6,22 Galon 0,125 Therm 0,1055 Kilowatt -<br />

Hour<br />

Ton<br />

( short )<br />

Ton<br />

( long )<br />

23,59 Metrik<br />

Ton<br />

26,42 Ton<br />

( short )<br />

Ton<br />

( long )<br />

44,8 Metrik<br />

Ton<br />

44,8 1000<br />

Kaki<br />

Kubik<br />

40,64 Diesel 1000<br />

Meter<br />

Kubik<br />

45,52 Galon 0,138 MMBtu 1,055<br />

Metrik<br />

Ton<br />

Minyak Bakar<br />

43,33<br />

Galon 0,144<br />

Metrik<br />

Ton<br />

40,19<br />

1,1046 Megawatt -<br />

Hour<br />

39,01 Gigawatt –<br />

Hour<br />

0,0036<br />

3,6<br />

3600<br />

2.5 Laporkan total konsumsi energi langsung<br />

dalam satuan joule atau kelipatannya diperinci<br />

berdasarkan sumber daya energi primer terbarukan.<br />

2.6 Laporkan total konsumsi energi langsung<br />

dalam satuan joule atau kelipatannya diperinci<br />

berdasarkan sumber daya energi primer tak<br />

terbarukan.<br />

3. Definisi<br />

Sumber Daya Terbarukan<br />

Sumber daya yang bisa digantikan dalam jangka waktu<br />

pendek melalui siklus ekologi (berbeda dengan sumber<br />

daya seperti mineral, logam, minyak, gas, batubara yang<br />

tidak dapat diperbaharui dalam jangka waktu pendek).<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi dapat diperoleh dari faktur , perhitungan atau<br />

pengukuran bahan bakar, estimasi, dan sebagainya.<br />

Hitungan dalam satuan joule dapat diambil langsung<br />

atau dikonversi dari faktur atau catatan penyerahan<br />

barang. Informasi mengenai gabungan sumber daya<br />

energi primer yang digunakan untuk menghasilkan<br />

energi lanjutan (intermediate energy) dapat diperoleh<br />

dari pemasok.<br />

5. Referensi<br />

• The Greenhouse Gas Protocol ( GHG ) <strong>Initiative</strong> – A<br />

Corporate Accounting and Reporiting Standard<br />

( Edisi ualng, 2004 ) dari The World Resources<br />

Institute ( WRI ) dan the World Bussiness Council for<br />

Sustainable Development ( WBCSD).<br />

8<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN4 Pemakaian Energi Tidak<br />

Langsung berdasarkan Sumber<br />

Primer<br />

1. Relevansi<br />

Jumlah sumber energi primer yang dikonsumsi oleh<br />

organisasi secara tidak langsung melalui penggunaan<br />

listrik, panas, dan uap, memberi petunjuk adanya usaha<br />

organisasi untuk mengelola dampak lingkungan serta<br />

mengurangi kontribusi organisasi terhadap perubahan<br />

iklim. Efek terhadap perubahan iklim sebagai akibat dari<br />

penggunaan energi tidak langsung tergantung pada<br />

tipe atau jenis energi primer yang digunakan dalam<br />

menghasilkan energi lanjutan (intermediate energy )<br />

Energi lanjutan (intermediate energy) mengacu pada<br />

bentuk energi yang merupakan hasil konversi energi<br />

primer menjadi bentuk energi lain. Bagi kebanyakan<br />

organisasi, listrik adalah energi lanjutan yang paling<br />

banyak digunakan. Sedangkan dalam jumlah terbatas,<br />

produk energi lanjutan lainnya juga penting seperti uap<br />

atau air yang digunakan untuk pemanasan dan bahan<br />

bakar hasil penyulingan seperti bahan bakar sintetik,<br />

biofuel, dan sebagainya.<br />

<strong>Indikator</strong> ini mengukur kebutuhan energi untuk<br />

memproduksi dan menghasilkan listrik dan produk<br />

energi lanjutan lainnya (seperti untuk pemanasan)<br />

yang terkait secara langsung dengan konsumsi energi<br />

organisasi. Informasi ini juga secara tidak langsung dapat<br />

digunakan untuk menghitung emisi gas rumah kaca. Hal<br />

ini tercakup dalam ruang lingkup 2 dari WRI/WBCSD HG<br />

Protocol.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Dapatkan informasi besarnya energi lanjutan<br />

(intermediate energy) yang dibeli dan dipakai oleh<br />

organisasi dari sumber eksternal dalam satuan joule<br />

atau kelipatannya seperti gigajoule (1 bilion joule,<br />

atau 10 9 joule). Termasuk di dalamnya:<br />

Energi lanjutan (intermediated energy) yang<br />

dibeli dan dikonsumsi dari sumber daya energi<br />

tak terbarukan seperti yang tercantum pada EN 3,<br />

termasuk:<br />

Energi lanjutan (intermediated energy) yang dibeli<br />

dan dikonsumsi dari sumber daya terbarukan,<br />

termasuk:<br />

• Energi surya<br />

• Angin<br />

• Geotermal<br />

• Energi air<br />

• Biomassa<br />

• Hidrogen<br />

2.2 Dapatkan jumlah bahan bakar primer yang<br />

dikonsumsi untuk menghasilkan energi lanjutan<br />

(intermediate energy ) berdasarkan jumlah total<br />

energi yang dibeli dari pemasok luar ( EN3 – Energi<br />

yang dibeli ). Untuk menaksir jumlah bahan bakar<br />

yang digunakan dalam menghasilkan energi yang<br />

dibeli, pergunakan salah satu berikut ini :<br />

• Data pemakaian bahan bakar untuk<br />

menghasilkan listrik jika datanya tersedia<br />

• Data listrik dan pemanasan<br />

• Estimasi apabila data tidak ada<br />

2.3 Dengan menggunakan data pada butir 2.1,<br />

laporkan:<br />

• Jumlah total penggunaan energi tidak<br />

langsung yang berasal dari sumber daya tak<br />

terbarukan tidak langsung dan sumber daya<br />

terbarukan tidak langsung dalam bentuk<br />

energi lanjutan (intermediate energy)<br />

• Kaitan pemakaian energi primer dan produksi<br />

energi primer<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

• Kelistrikan<br />

• Pemanasan dan pendinginan<br />

• Uap<br />

• Energi nuklir<br />

• Bentuk lain energi yang berasal dari luar<br />

Version 3.0<br />

9


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

4. Dokumentasi<br />

Pemasok energi dan jasa lain yang terkait merupakan<br />

sumber informasi paling penting untuk indikator<br />

ini. Informasi lain dapat diperoleh dari faktur ,<br />

penghitungan/pengukuran dari pembukuan<br />

penggunaan bahan bakar, perkiraan, default dan<br />

sebagainya. Di samping data default yang diperoleh<br />

dari International Energy Agency (IEA), informasi dapat<br />

juga diperoleh dari laporan tahunan yang dikirimkan<br />

oleh berbagai pemerintahan ke Badan PBB mengenai<br />

Perubahan Iklim ( United Nations Framework Convention<br />

on Climate Change/ UNFCC). Laporan ini selanjutnya<br />

akan dipergunakan untuk memerinci penggunaan<br />

energi dan emisi masing-masing negara.<br />

5. Referensi<br />

• IAE (International Energy Agency) Annual<br />

Publication of Energy Balances for O<strong>EC</strong>D and<br />

non-O<strong>EC</strong>D Countries<br />

• The Greenhouse Gas Protocol (GHG) <strong>Initiative</strong><br />

– A Corporate Accounting and Reportng<br />

Standard (Revised Edition, 2004 ) dari the<br />

World Resources Institute (WRI ) and the World<br />

Bussiness Council for Sustainable Development<br />

(WBCSD)<br />

• Protok Kyoto, 1997<br />

10<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN5 Penghematan Energi melalui<br />

Konservasi dan Peningkatan<br />

Efisiensi<br />

1. Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> ini menunjukkan hasil dari usaha proaktif<br />

untuk meningkatkan efisiensi pemakaian energi melalui<br />

perbaikan proses teknologi dan upaya konservasi<br />

energi lainnya. Peningkatan efisiensi energi dapat<br />

menghasilkan penghematan biaya, dan pada gilirannya<br />

akan meningkatkan keunggulan kompetitif dan<br />

diferensiasi pasar..<br />

Adanya dukungan teknologi dengan efisiensi energi<br />

memberi dampak langsung terhadap biaya operasi dan<br />

akan mengurangi ketergantungan organisasi terhadap<br />

sumber daya energi tak terbarukan di masa mendatang.<br />

Penggunaan energi secara efisien merupakan salah<br />

satu kunci utama untuk bisa menghambat terjadinya<br />

perubahan iklim serta dampak lingkungan lainnya<br />

karena kegiatan ekstraksi dan pengolahan energi.<br />

Konservasi dan Perbaikan Efisiensi<br />

Terobosan teknologi atau organisasional untuk mengurangi tingkat<br />

penggunaan energi sebatas yang diperbolehkan dalam sebuah<br />

proses atau penugasan organisasi . Termasuk di dalamnya perancangan<br />

ulang proses, pengalihan atau konversi dan kalibrasi<br />

(retrofitting) peralatan (seperti efisiensi penggunaan penerangan)<br />

atau ditiadakannya penggunaan energi yang tidak perlu melalui<br />

perubahan perilaku.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi dapat diperoleh melalui hasil pengukuran penggunaan<br />

energi internal, informasi dari para pemasok (energi yang terkait<br />

dengan spesifikasi mesin-mesin baru, lampu penerangan dan<br />

sebagainya).<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Dapatkan informasi total penghematan energi<br />

melalui usaha pengurangan konsumsi energi<br />

dan peningkatan efisiensi energi. Pengurangan<br />

konsumsi energi dengan mengurangi kapasitas<br />

produksi atau penggunaan sumber energi dari luar<br />

tidak termasuk dalam indikator ini.<br />

2.2 Laporkan jumlah total penghematan energi<br />

dalam satuan joule atau kelipatannya seperti<br />

gigajoule (1 billion joules atau 109 joule). Langkah<br />

untuk penghematan energi melalui:<br />

• Perancangan ulang proses<br />

• Konversi dan kalibrasi (retrofitting) peralatan<br />

• Perubahan perilaku karyawan<br />

3. Definisi<br />

Penghematan Energi<br />

Pengurangan jumlah energi yang dibutuhkan untuk<br />

melaksanakan proses atau tugas yang sama. Dalam hal<br />

ini tidak termasuk pengurangan penggunaan energi<br />

sebagai akibat dari berkurangnya aktivitas organisasi<br />

(seperti penggunaan sumber lain dari luar dalam proses<br />

produksi).<br />

Version 3.0<br />

11


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

EN6 Inisiatif untuk mendapatkan<br />

produk dan jasa berbasis energi<br />

efisien atau energi yang dapat<br />

diperbarui, serta pengurangan<br />

persyaratan kebutuhan energi<br />

sebagai akibat dari inisiatif tersebut.<br />

1. Relevansi<br />

Konsumsi energi adalah kontributor utama dalam<br />

perubahan iklim yang berasal dari pembakaran bahan<br />

bakar fosil sehingga menghasilkan CO2 (merupakan efek<br />

gas rumah kaca). Penggunaan energi yang lebih efisien<br />

merupakan hal penting untuk menghambat tejadinya<br />

perubahan iklim, sebagaimana tujuan <strong>Protokol</strong> Kyoto.<br />

Penyediaan produk dan layanan efisien energi adalah<br />

bagian penting dari inisiatif pelayanan produk (product<br />

stewardship initiatives).<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi dapat diperoleh dari pengukuran/pengujian<br />

produk internal, penelitian yang berkaitan dengan polapola<br />

penggunaan, standar industri, dan lain-lain.<br />

5. Referensi<br />

• Standar efisiensi energi dan prosedur pengujian<br />

yang relevan dari the International Organisation<br />

for Standardization (ISO).<br />

• Standar efisiensi energi dan prosedur pengujian<br />

yang relevan dari the International Electrotechnical<br />

Commission (I<strong>EC</strong>).<br />

Produk dan jasa tersebut dapat menjadi sumber<br />

keunggulan kompetitif untuk peningkatan diferensiasi<br />

dan reputasi produk. Teknologi yang efisien energi<br />

dapat pula mengurangi biaya barang-barang komsumsi.<br />

Apabila inisiatif yang dilaksanakan oleh berbagai<br />

organisasi untuk sektor yang sama dibandingkan, maka<br />

terlihat adanya kecenderungan yang sama di pasar<br />

produk atau jasa.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Laporkan inisiatif yang ada untuk mengurangi<br />

kebutuhan produk utama/kelompok produk/jasa<br />

atas energi .<br />

2.2 Laporkan pengurangan kebutuhan produk dan jasa<br />

atas energi yang dicapai selama periode pelaporan.<br />

2.3 Jika angka yang berorientasi pada penggunaan<br />

energi (user-oriented figure) dipergunakan (seperti<br />

kebutuhan energi untuk komputer), laporkan<br />

dengan jelas setiap asumsi atau pola konsumsi<br />

atau faktor normalisasi (seperti penggunaan energi<br />

kurang 10% rata-rata per hari dengan asumsi<br />

beroperasi selama 8 jam karena terjadi perubahan<br />

beban dalam proses ). Gunakan referensi standar<br />

industri yang tersedia (misalnya penggunaan bahan<br />

bakar mobil 100 km pada kecepatan 90 km/jam).<br />

12<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN7 Inisiatif untuk mengurangi<br />

konsumsi energi tidak langsung dan<br />

pengurangan yang dicapai<br />

1. Relevansi<br />

Penggunaan energi tidak langsung terjadi melalui<br />

pembelian bahan dan komponen atau jasa seperti<br />

perjalanan, pegawai pulang pergi (commuter)r, serta<br />

produksi yang di sub-kontrakkan. Dengan melaksanakan<br />

pemantauan secara menyeluruh, pengggunaan<br />

energi dapat dikurangi secara efektif (seperti dengan<br />

menyeleksi bahan, jasa, atau kapasitas produk yang<br />

efisien energi secara hati-hati ataupun dengan<br />

mengganti kegiatan perjalanan dengan telepon atau<br />

konferensi jarak jauh).<br />

Penghitungan penggunaan energi tidak langsung<br />

menjadi dasar untuk menghitung emisi gas rumah<br />

kaca secara tidak langsung seperti yang diminta pada<br />

indikator EN19. Penelusuran pengurangan penggunaan<br />

energi tidak langsung dapat meningkatkan kinerja<br />

daur ulang produk dan jasa secara keseluruhan dan<br />

merupakan bagian dari rancangan keseluruhan program<br />

lingkungan<br />

2.5 Tunjukkan asumsi dasar dan metodologi yang<br />

digunakan untuk menghitung penggunaan energi<br />

tidak langsung lainnya serta menunjukkan sumber<br />

informasi.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Data relevan yang diperoleh dari informasi pemasok,<br />

perhitungan/perkiraan daur ulang (yang diperoleh dari<br />

internal perusahaan atau dengan organisasi peneliti)<br />

5. Referensi<br />

• AE (International Energy Agency) Annual<br />

Publication of Energy Balances for O<strong>EC</strong>D and non-<br />

O<strong>EC</strong>D Countries<br />

Akhirnya, indikator ini mencakup penghematan energi<br />

yang dicapai oleh organisasi dalam konsumsi energi<br />

tidak langsung<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Untuk indikator ini, keluarkan penggunaan energi<br />

tidak langsung yang berkaitan dengan pembelian<br />

sumber energi lanjutan (intermediate energy)<br />

seperti pada laporan EN4.<br />

2.2 Dapatkan informasi penggunaan energi tidak<br />

langsung yang terkait dengan kegiatan hulu/hilir di<br />

empat daerah berikut ini:<br />

• penggunaan material berbasis energi intensif<br />

• produksi yang disub-kontrakkan<br />

• bisnis yang terkait dengan kegiatan perjalanan<br />

• transportasi pulang-pergi pekerja<br />

2.3 Laporkan inisitaif untuk mengurangi penggunaan<br />

energi tidak langsung.<br />

2.4 Laporkan secara kuantitatif pengurangan<br />

penggunaan energi tidak langsung selama periode<br />

laporan yang tertera pada area di 2.2.<br />

Version 3.0<br />

13


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

EN8 Total pengambilan air per<br />

sumber<br />

1. Relevansi<br />

Pelaporan total volume pengambilan air dari sumbernya<br />

memberikan kontribusi untuk mengetahui tingkat<br />

potensi dampak dan risiko secara keseluruhan dari<br />

penggunaan air oleh suatu organisasi. Total volume<br />

pengambilan air memberikan indikasi mengenai tingkat<br />

kepentingan atau besaran penggunaan air oleh suatu<br />

organisasi sebagai pengguna air, dan memberikan data<br />

dasar untuk penghitungan lain yang berkaitan dengan<br />

efisiensi dan penggunaan.<br />

Upaya yang sistematis untuk memantau dan<br />

meningkatkan efisiensi penggunaan air oleh organisasi<br />

berkaitan langsung dengan biaya penggunaan<br />

air. Besarnya jumlah penggunaan air dapat pula<br />

menunjukkan tingkat risiko pengurangan ketersediaan<br />

air atau meningkatnya biaya pengelolaan air. Akibat<br />

penggunaan air dalam jumlah yang besar kelangkaan<br />

ketersediaan air bersih mengalami peningkatan dan<br />

dapat berdampak pada proses produksi. Pada daerahdaerah<br />

yang sumber airnya sangat terbatas, pola<br />

konsumsi air oleh organisasi dapat mempengaruhi<br />

hubungan organisasi dengan pihak lain yang<br />

berkepentingan.<br />

3. Definisi<br />

Total Pengambilan Air<br />

Jumlah air secara keseluruhan yang diambil (disedot)<br />

oleh organisasi yang berasal dari berbagai sumber (air<br />

permukaan, air tanah, air hujan, air yang disediakan oleh<br />

pemerintah) yang digunakan oleh organisasi selama<br />

periode pelaporan.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi pengambilan air oleh organisasi dapat<br />

ditunjukkan dari meteran air, tagihan air, penghitungan<br />

dari data yang ada yang terkait dengan pemakaian air<br />

(apabila tidak ada meteran air, atau tagihannya, atau<br />

referensi data yang ada) atau estimasi organisasi itu<br />

sendiri.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Mengidentifikasi total volume pengambilan air dari<br />

berbagai sumbernya secara langsung berdasarkan<br />

pelaporan organisasi atau melalui perantara seperti<br />

sarana dan prasarana air, tercakup di dalamnya<br />

proses pendinginan air.<br />

2.2 Melaporkan total volume pengambilan air dalam<br />

meter kubik per tahun melalui berbagai sumber:<br />

• air permukaan, termasuk air dari lahan basah,<br />

sungai, danau dan laut<br />

• air tanah<br />

• air hujan yang dikumpulkan dan ditampung<br />

secara langsung dalam laporan organisasi<br />

• air limbah dari organisasi lain<br />

• penyediaan air oleh pemerintah atau sarana air<br />

lainnya<br />

14<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN9 Sumber air yang terpengaruh<br />

secara signifikan akibat<br />

pengambilan air<br />

1. Relevansi<br />

Penarikan dari sebuah sistem air dapat berpengaruh<br />

pada lingkungan karena penurunan muka air<br />

tanah (lowering watertable), berkurangnya volume<br />

ketersediaan air yang digunakan, atau di lain pihak<br />

berubahnya kemampuan dan fungsi ekosistem.<br />

Perubahan tersebut berdampak luas terhadap kualitas<br />

hidup di sekitarnya, termasuk konsekuensi ekonominya.<br />

<strong>Indikator</strong> ini mengukur skala/tingkat dampak yang<br />

terkait dengan penggunaan air oleh organisasi. Berkaitan<br />

dengan pengguna lainnya atas sumber air yang sama,<br />

indikator ini juga memungkinkan suatu penilaian atas<br />

risiko spesifik atau perbaikan, dan juga stabilitas sumber<br />

air yang dimiliki sendiri oleh organisasi.<br />

• nilai keanekaragaman hayati ( keragaman<br />

spesies dan endemik, jumlah spesies yang<br />

dilindungi )<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi karakteristik sumber air atau daerah yang<br />

dilindungi dapat diperoleh dari departemen yang<br />

berkaitan dengan sumber daya air atau dari penelitian<br />

analisis dampak lingkungan .<br />

5. Referensi<br />

• IUCN - Daftar merah spesies langka/terancam.<br />

• Konvensi Ramsar mengenai lahan basah , 1971.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Dapatkan sumber air yang secara nyata terkena<br />

dampak pengambilan air oleh organisasi. Kriteria<br />

pengambilan air tersebut memenuhi satu atau<br />

beberapa yang berikut ini:<br />

• pengambilan rata-rata 5% atau lebih dari<br />

volume rata-rata tahunan badan air (water<br />

body)<br />

• pengambilan dari badan air dilakukan secara<br />

profesional karena alasan yang sensitif<br />

berkaitan dengan ukuran, fungsi atau status<br />

dari kelangkaan, ancaman, atau gangguan<br />

sistem (khususnya ancaman terhadap<br />

tumbuhan atau hewan yang terdapat dalam<br />

badan air) atau<br />

• pengambilan air dari lahan basah sesuai<br />

dengan daftar pada konvensi Ramsar atau<br />

daerah konservasi secara nasional maupun<br />

internasional tidak diperbolehkan<br />

Catatan: Bila air disediakan oleh pemasok air milik negara<br />

atau swasta, badan air/ sumber air asli harus diidentifikasi<br />

dan dilaporkan<br />

2.2 Laporkan total sumber air yang berdampak secara<br />

nyata sesuai dengan kriteria sebagai berikut:<br />

• ukuran sumber air dalam meter kubik ( m 3 )<br />

• bukan sumber air yang dirancang sebagai<br />

daerah yang dilindungi (nasional atau<br />

internasional)<br />

Version 3.0<br />

15


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

EN10 Persentase dan total volume<br />

air yang digunakan kembali dan<br />

didaur ulang<br />

1. Relevansi<br />

Jumlah air yang digunakan kembali dan yang didaur<br />

ulang dapat menjadi ukuran efisiensi dan menunjukkan<br />

keberhasilan organisasi dalam mengurangi jumlah<br />

pengambilan dan pengeluaran air. Peningkatan<br />

pemanfaatan kembali dan daur ulang dapat mengurangi<br />

konsumsi air, ancaman, dan biaya limbah. Pengurangan<br />

konsumsi air melalui pemanfaatan kembali dan daur<br />

ulang dapat pula memberikan kontribusi terhadap<br />

sasaran lokal, nasional dan regional terkait dengan<br />

pengelolaan penyediaan air.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 <strong>Indikator</strong> ini mengukur air yang dapat dikelola<br />

untuk dimanfaatkan kembali dan didaur ulang<br />

dan air yang tidak dapat dapat dikelola untuk<br />

dimanfaatkan kembali dan didaur ulang. Termasuk<br />

dalam indikator ini adalah air abu-abu (grey water) (<br />

air yang dikumpulkan dari air hujan, air limbah yang<br />

berasal dari proses rumah tangga seperti mencuci<br />

piring, pakaian dan mandi)<br />

3. Definisi<br />

Upaya untuk memproses ulang air/limbah cair yang sudah<br />

digunakan atau limbah sebelum dibuang atau dilepasakan ke<br />

lingkungan sekitar. Secara umum, ada 3 jenis air yang didaur dan<br />

digunakan kembali:<br />

• air limbah yang didaur lagi dalam proses yang sama atau<br />

didaur ulang untuk meningkatkan kegunaannya di dalam<br />

siklus proses<br />

• air limbah yang didaur dan digunakan kembali di dalam<br />

proses yang berbeda tetapi dengan fasilitas yang sama<br />

• air limbah yang digunakan kembali pada fasilitas organisasi<br />

yang lain<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi pengambilan air oleh organisasi dapat ditunjukkan<br />

dari meteran air, tagihan air, atau (jika tidak ada meteran air dan<br />

tagihannya) penghitungan dari data audit atau inventori atau dari<br />

penjual air<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2.2 Menghitung volume air yang dimanfaatkan kembali<br />

dan didaur ulang berdasarkan pada volume<br />

kebutuhan air yang didaur ulang dan dimanfaatkan<br />

kembali di masa dating dibandingkan dengan<br />

pengambilan air. Contohnya apabila organisasi<br />

dalam satu siklus organisasi membutuhkan 20<br />

meter kubik air, maka pengambilan airnya 20 meter<br />

kubik air dari satu siklus produksi dan digunakan<br />

lagi untuk 3 siklus produksi. Total volume air yang<br />

digunakan lagi/daur ulang untuk 3 siklus tersebut<br />

adalah 60 meter kubik.<br />

2.3 Melaporkan total volume air yang didaur ulang dan<br />

digunakan kembali oleh organisasi dalam meter<br />

kubik per tahun (m3/tahun) dan juga persentase<br />

total air yang diambil sesuai dengan indikator EN8.<br />

16<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN11 Lokasi dan Ukuran Tanah<br />

yang dimiliki, disewa, dikelola<br />

oleh organisasi yang berlokasi<br />

di dalam, atau yang berdekatan<br />

dengan daerah yang diproteksi atau<br />

daerah-daerah yang memiliki nilai<br />

keanekaragaman hayati yang tinggi<br />

di luar daerah yang diproteksi<br />

1. Relevansi<br />

Dengan melaporkan dampak potensial terhadap tanah<br />

yang berada dalam areal yang dilindungi atau daerah<br />

yang berdekatan dengan daerah yang dilindungi , juga<br />

dengan daerah yang memiliki nilai keanekaragaman<br />

hayati yang tinggi di luar daerah yang diproteksi<br />

tersebut, suatu organisasi dapat mengidentifikasi dan<br />

memahamai risiko-risiko tertentu yang terkait dengan<br />

keanekaragaman hayati. Melakukan pemantauan<br />

terhadap kegiatan-kegiatan yang terjadi baik di dalam<br />

daerah yang diproteksi maupun daerah yang memiliki<br />

nilai keanekaragaman hayati yang tinggi di luar daerah<br />

yang diproteksi, akan memungkinkan organisasi<br />

mengurangi risiko. Hal ini juga akan memungkinkan<br />

organisasi bisa mengelola dampak terhadap<br />

kenakeragaman hayati atau mencegah terjadinya salah<br />

kelola. Kesalahan dalam pengelolaan dampak tersebut<br />

bisa mengakibatkan rusaknya reputasi, keterlambatan<br />

dalam mendapatkan izin perencanaan, dan kerugian<br />

akibat keberadaannya tidak diterima oleh masyarakat<br />

(social license to operate).<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasikan daerah operasional yang dimiliki,<br />

disewa, dikelola yang berlokasi di dalam atau<br />

di daerah yang berdekatan dengan areal yang<br />

diproteksi atau daerah yang mengandung<br />

keanekaragaman hayati bernilai tinggi di luar<br />

daerah yang diproteksi, termasuk daerah operasi<br />

dimasa mendatang yang telah ditetapkan oleh<br />

otoritas terkait<br />

2.2 Laporkan informasi berikut ini untuk setiap lokasi<br />

operasi sebagaimana telah diindentifikasikan di<br />

atas:<br />

• Lokasi geografis<br />

• Tanah di bawah permukaan yang dimiliki,<br />

disewa, atau dikelola oleh organisasi<br />

• Kedudukan lokasi dalam kaitannya dengan<br />

daerah yang diproteksi atau daerah yang<br />

memiliki kenakeragaman hayati bernilai tinggi<br />

di luar daerah yang diproteksi<br />

• Tipe operasi (kantor, manufaktur/produksi atau<br />

ekstraksi)<br />

• Luasnya areal operasi (dalam km persegi)<br />

• Nilai kenakeragaman hayati dengan<br />

karakteristik sebagai berikut:<br />

3. Definisi<br />

--<br />

Atribut daerah yang diproteksi dan<br />

keanekaragaman hayati bernilai tinggi<br />

yang berada di luar daerah yang<br />

diproteksi (daratan, air segar atau<br />

ekosistem laut) dan<br />

--<br />

Status dari areal yang diproteksi (IUCN,<br />

Protected Area Management Category,<br />

Ramsar Convention, National Legislation,<br />

Natura 2000 site, dst)<br />

Area yang diproteksi<br />

Area yang secara geografis diperuntukkan, diatur, dan<br />

dikelola untuk tujuan konservasi khusus<br />

Area dengan nilai keanekaragaman hayati yang<br />

tinggi<br />

Area yang secara legal tidak diproteksi tetapi diakui oleh<br />

organisasi pemerintah atau nonpemerintah sebagai<br />

daerah yang penting untuk keanekaragaman hayati.<br />

Termasuk di dalamnya habitat yang mendapat prioritas<br />

untuk konservasi (telah didefinisikan di dalam National<br />

Biodiversity Strategies and Action Plans yang dibuat<br />

berdasarkan konvensi tentang keanekaragaman hayati).<br />

Sebagai tambahan, beberapa organisasi konservasi<br />

internasional telah mengidentifikasi daerah-daerah<br />

khusus yang mempunyai nilai keanekaragaman hayati<br />

yang tinggi<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi yang diperlukan didapatkan dari kontrakkontrak<br />

pembelian, sewa atau daftar tanah nasional atau<br />

regional (national/regional land registry)<br />

Pada level nasional, berbagai instansi publik yang<br />

bertanggung jawab untuk perlindungan dan konservasi<br />

lingkungan dapat menyimpan informasi tentang area<br />

yang secara nasional dan internasional dilindungi<br />

dan daerah-daerah dengan keanekaragaman hayati<br />

bernilai tinggi. Sebagai tambahan, Strategi Nasional<br />

Keanekaragaman Hayati (National Biodiversity<br />

Strategies) dan Rencana Aksi umumnya mencakup<br />

informasi dan daftar daerah yang dilindungi dan daerah<br />

dengan nilai keanekaragaman hayati yang tinggi.<br />

Version 3.0<br />

17


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

5. Referensi<br />

• Ramsar Convention on Wetlands, 1971<br />

• UNESCO World Heritage Sites<br />

• UN Biosphere Reserves<br />

• National Diversity Strategies and Action Plans<br />

prepared under the Convention on Biological<br />

Diversity<br />

• Conservation International’s Biodiversity Hotspots<br />

and Wilderness Area.<br />

• WWF’s <strong>Global</strong> 200 Ecoregion<br />

• Bird Life International’s Important Bird Areas<br />

• IUCN’s Centres of Plant Diversity<br />

18<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN12 Uraian atas berbagai dampak<br />

signifikan yang diakibatkan oleh<br />

aktivitas, produk, dan jasa organisasi<br />

terhadap keanekaragaman<br />

hayati di daerah yang diproteksi<br />

dan di daerah yang memiliki<br />

keanekaragaman hayati bernilai<br />

tinggi di luar daerah yang diproteksi<br />

1. Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> ini memberikan informasi atas dampak yang<br />

signifikan (baik langsung maupun tidak langsung) yang<br />

ditimbulkan organisasi terhadap keanekaragaman hayati<br />

di daerah-daerah yang diproteksi dan di daerah dengan<br />

kenakeragaman hayati bernilai tinggi di luar daerah yang<br />

diproteksi. <strong>Indikator</strong> ini juga memberikan latar belakang<br />

pemahaman (dan pengembangan) terhadap strategi<br />

organisasi untuk menekan dampak dimaksud. Dengan<br />

meminta informasi kualitatif yang terstruktur, indikator<br />

tersebut memungkinkan pembandingan antarorganisasi<br />

dan periode terkait dengan ukuran, skala, dan sifat<br />

dampak yang terjadi.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Dapatkan dampak signifikan yang terjadi atas<br />

keanekaragaman dikaitkan dengan aktivitas,<br />

produk dan jasa organisasi, termasuk dampak<br />

langsung maupun tidak langsung yang ditimbulkan<br />

(misalnya dalam rantai pasokan)<br />

2.2 Laporkan sifat dari dampak langsung maupun tidak<br />

langsung yang signifikan terhadap keankeragaman<br />

hayati dengan mengacu pada satu atau beberapa<br />

hal berikut ini:<br />

• Konstruksi atau penggunaan pabrik<br />

manufaktur, tambang, dan infrastruktur<br />

transportasi<br />

• Polusi (diperkenalkannya substansi yang tidak<br />

secara alamiah muncul dalam sebuah habitat)<br />

• Diperkenalkannya spesies yang tidak ganas,<br />

pest dan patogenik<br />

• Pengurangan spesies<br />

• Pelestarian habitat<br />

2.3 Laporkan dampak positif dan negatif signifikan<br />

yang langsung maupun tidak langsung dengan<br />

acuan berikut ini:<br />

• Spesies yang terkena dampak<br />

• Luasnya areal yang terkena dampak<br />

• Lamanya dampak<br />

• Kemungkian tidak bisa dikembalikannya<br />

(reversibilty and irreversibility) dampak<br />

dimaksud<br />

3. Definisi<br />

Dampak signifikan<br />

Dampak yang sifnifikan dapat merusak integritas sebuah<br />

daerah geografis baik secara langsung maupun tidak<br />

langsung. Hal ini terjadi dengan mengubah secara<br />

signifikan fitur ekologis, struktur dan fungsi-fungsi yang<br />

terkait dengan cakupan daerah menyeluruh dalam<br />

kurun waktu jangka panjang. Hal ini berarti bahwa<br />

habitat, level populasi dan/atau spesies khusus yang<br />

mengakibatkan habitat tersebut penting menjadi tidak<br />

berkelanjutan.<br />

Pada tingkatan spesies, sebuah dampak signifikan<br />

mengakibatkan penurunan populasi dan/atau<br />

perubahan dalam distribusi sehingga rekrutmen natural<br />

generasi (reproduksi atau imigrasi dari daerah yang<br />

tidak terkena dampak) tidak dapat kembali lagi ke level<br />

sebelumnya. Sebuah dampak signifikan dapat juga<br />

mempengaruhi subsistensi atau penggunaan sumber<br />

daya komersial pada tingkatan di mana pengguna<br />

terkena dampak pada kurun waktu panjang.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi untuk indikator ini dapat diketemukan dalam<br />

sistem pengelolaan lingkungan organisasi atau dari<br />

dokumentasi internal lainnya. Jika tersedia, informasi<br />

dapat juga diperoleh dari penilaian dampak sosial dan<br />

lingkungan dan/atau penilaian daur hidup, dan dari hulu<br />

(upstream)/hilir (downstream) organisasi dalam rantai<br />

pasokan (supply chain).<br />

5. Referensi<br />

• GRI Crosss-Reference: GRI Biodiversity Resource<br />

Document<br />

• Perubahan proses ekologis melebihi batas<br />

yang alamiah<br />

Version 3.0<br />

19


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

EN13 Perlindungan dan Pemulihan<br />

Habitat<br />

1. Relevansi<br />

Strategi keanekaragaman hayati mencakup kombinasi<br />

unsur-unsur yang terkait dengan pencegahan,<br />

pengelolaan, dan pemulihan atas kerusakan yang<br />

terjadi pada habitat alami sebagai akibat dari aktivitas<br />

organisasi. <strong>Indikator</strong> ini mengukur implementasi dari<br />

strategi khusus untuk mencegah atau memulihkan<br />

dampak negatif yang terkait dengan kegiatan organisasi.<br />

Dengan adanya keyakinan atas integrasi habitat alamiah<br />

bisa meningkatkan reputasi organisasi, stabilitas<br />

lingkungan, sumber daya serta penerimaan masyarakat<br />

sekitar.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 <strong>Indikator</strong> ini merujuk pada daerah-daerah di mana<br />

perbaikan telah selesai atau daerah dimaksud<br />

telah secara aktif dilindungi. Area yang operasinya<br />

masih aktif dapat dimasukkan jika daerah tersebut<br />

memenuhi definisi sebagai daerah yang diproteksi<br />

dan dipulihkan.<br />

2.2 Lakukan penilaian terhadap area didasarkan pada<br />

kondisi akhir periode pelaporan<br />

2.3 Laporkan ukuran dan lokasi semua habitat di<br />

daerah lindung dan/atau daerah yang dipulihkan<br />

(dalam ukuran hektar), dan apakah keberhasilan<br />

pemulihan disetujui oleh profesional independen<br />

dari luar. Jika daerah tersebut lebih luas dari 1 km2,<br />

agar dilaporkan dalam satuan km2.<br />

3. Definisi<br />

Daerah yang dipulihkan<br />

Daerah yang dipergunakan dalam atau dipengaruhi oleh<br />

aktivitas operasional, di mana perbaikan telah dilakukan<br />

terhadap lingkungan dimaksud hingga tercapai kondisi<br />

awal atau kondisi yang didukung oleh ekosistem yang<br />

sehat dan yang berfungsi baik.<br />

Daerah yang dilindungi<br />

Daerah yang dilindungi dari kerusakan selama aktivitas<br />

operasional, di mana lingkungan tetap berada pada<br />

kondisi awalnya dengan ekosistem yang sehat dan<br />

berfungsi baik.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi atas daerah yang dilindungi dapat diperoleh<br />

dari dokumentasi sistem manajemen lingkungan<br />

perusahaan, rencana lokasi, penilaian terhadap dampak<br />

sosial dan lingkungan atau kebijakan organisasi.<br />

Informasi atas restorasi tanah (seperti persyaratan<br />

restorasi tanah) dapat diperoleh dari kontrak leasing,<br />

sewa atau pembelian tanah atau dari aktivitas penilaian<br />

dampak sosial dan lingkungan atau dari daftar risiko.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2.4 Laporkan apakah terdapat kemitraan dengan<br />

pihak ketiga untuk melindungi atau memperbaiki<br />

daerah yang dihuni habitat di luar daerah di mana<br />

organisasi telah mengawasi dan melaksanakan<br />

restorasi dan perlindungan.<br />

20<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN14 Strategi, tindakan, dan rencana<br />

mendatang untuk mengelola<br />

dampak terhadap keanekaragaman<br />

hayati<br />

1. Relevansi<br />

Kinerja yang dikaitkan dengan kebijakan<br />

keanekaragaman hayati, sasaran dan komitmen<br />

tergantung pada ada tidaknya program yang terstruktur<br />

untuk mengelola dampak yang terjadi. Ada tidaknya<br />

struktur program menjadi sangat penting ketika regulasi<br />

nasional tidak menyediakan referensi yang jelas bagi<br />

rencana organisasi dalam pengelolaan keanekaragaman<br />

hayati<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi atas program dan target dapat diperoleh<br />

dari petunjuk manajemen atau dari Sistem Manajemen<br />

Lingkungan organisasi, penilaian dampak sosial dan<br />

lingkungan, kebijakan CSR atau register risiko.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

<strong>Indikator</strong> ini memungkinkan para pemangku<br />

kepentingan menganalisis seberapa baik strategi,<br />

aktivitas dan rencana ke depan organisasi dalam<br />

mengungkapkan dampak potensial terhadap<br />

keanekaragaman hayati. Kualitas pendekatan organisasi<br />

dalam mengelola dampak terhadap keanekaragaman<br />

hayati akan mempengaruhi eksposur terhadap risiko<br />

seperti rusaknya reputasi, denda, atau penolakan<br />

terhadap rencana atau izin operasi. Tindakan-tindakan<br />

untuk melindungi atau memperbaiki habitat dan spesies<br />

menjadi sangat relevan<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Jika aturan nasional berpengaruh terhadap strategi,<br />

aktivitas dan rencana organisasi sebagaimana<br />

dilaporkan dalam indikator, hal tersebut seharusnya<br />

dicatat<br />

2.2 Laporkan strategi organisasi untuk merealisasikan<br />

kebijakan dalam pengelolaan keanekaragaman<br />

hayati yang mencakup:<br />

• Pengintegrasian pertimbangan atas<br />

keanekaragaman hayati dalam alat-alat analisis<br />

seperti penilaian dampak lingkungan<br />

• Metodologi untuk menentukan eksposur risiko<br />

dari keanekaragaman hayati<br />

• Menetapkan target dan tujuan khusus\<br />

• Proses pemantauan<br />

• Pelaporan publik<br />

2.3 Laporkan tindakan yang sedang berjalan untuk<br />

mengelola risiko keanekaragaman hayati<br />

sebagaimana diuraikan pada EN11 dan EN12 atau<br />

rencana untuk melaksanakan kegiatan tersebut di<br />

masa mendatang<br />

Version 3.0<br />

21


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

EN15 Jumlah spesies berdasarkan<br />

tingkat risiko kepunahan yang<br />

masuk dalam Daftar Merah IUCN<br />

(IUCN Red List Species) dan yang<br />

masuk dalam daftar konservasi<br />

nasional dengan habitat di daerahdaerah<br />

yang terkena dampak<br />

operasi<br />

1. Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> ini membantu organisasi dalam<br />

mengidentifikasi berbagai aktivitas yang dapat<br />

membahayakan spesies tanaman dan hewan yang<br />

terancam punah. Dengan mengidentifikasi berbagai<br />

ancaman ini, organisasi dapat memulai langkah-langkah<br />

yang tepat untuk mencegah kerusakan dan kepunahan<br />

spesies tersebut. Daftar merah IUCN (IUCN Red List) dan<br />

daftar konservasi spesies nasional dapat membantu<br />

menentukan sensitivitas habitat di daerah-daerah yang<br />

terkena dampak operasi organisasi, dan menentukan<br />

penting tidaknya habitat dimaksud dari sudut pandang<br />

manajemen.<br />

3. Definisi<br />

IUCN Red List species:<br />

Sejumlah spesies tertentu, tumbuhan dan binantang,<br />

dengan status konservasi global sebagaimana<br />

ditetapkan oleh International Union for the Conservation<br />

of Nature and Natural Resources (IUCN)<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi atas terdaftarnya spesies dalam IUCN Red<br />

List dan Daftar Konservasi Nasional dapat diperoleh<br />

dari kantor konservasi nasional/regional, pemerintahan<br />

lokal, atau LSM lingkungan hidup. Untuk organisasi<br />

yang beroperasi di dalam atau berdekatan dengan<br />

daerah yang dilindungi atau daerah dengan nilai<br />

keanekaragaman hayati yang tinggi, studi perencanaan<br />

atau bahan lainnya yang diizinkan bisa jadi mengandung<br />

informasi tentang keanekaragaman hayati dalam daerah<br />

yang diproteksi.<br />

5. Referensi<br />

• IUCN Red List of Threatened Species.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasikan lokasi habitat yang terkena dampak<br />

operasi organisasi yang mencakup spesies dalam<br />

IUCN Red List dan Daftar Konservasi Nasional<br />

2.2 Laporkan jumlah spesies dalam habitat yang<br />

terkena dampak aktivitas organisasi, dengan<br />

menunjukkan satu dari beberapa level risiko berikut<br />

ini:<br />

• Sangat terancam<br />

• Terancam<br />

• Rawan terancam/Labil (Vulnerable)<br />

• Hampir terancam<br />

• Tidak perlu diperhatikan<br />

22<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN16 Jumlah emisi gas rumah kaca<br />

yang sifatnya langsung maupun<br />

tidak langsung dirinci berdasarkan<br />

berat<br />

1. Relevansi<br />

Emisi gas rumah kaca adalah penyebab utama terjadinya<br />

perubahan iklim. Fenomena ini telah diatur dengan<br />

UNFCCC (United Nations Framework Convention on<br />

Climate Change) dan <strong>Protokol</strong> Kyoto. Berbagai aturan<br />

nasional dan internasional yang berbeda serta sistem<br />

insentif (misalnya sertifikat perdagangan gas rumah<br />

kaca- trading climate certificate) dimaksudkan untuk<br />

mengendalikan volume emisi gas rumah kaca serta<br />

memberi insentif terhadap upaya pengurangan emisi<br />

gas rumah kaca tersebut.<br />

<strong>Indikator</strong> ini dapat dipergunakan bersama-sama<br />

dengan KL17 untuk menjelaskan target regulasi<br />

atau sistem perdagangan baik pada level nasional<br />

maupun internasional. Kombinasi emisi langsung dan<br />

tidak langsung memberikan petunjuk pada implikasi<br />

biaya terhadap perpajakan atau sistem perdagangan<br />

organisasi.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Tersedia berbagai metodologi konversi yang<br />

berbeda untuk menghitung jumlah gas rumah kaca<br />

berdasarkan sumbernya. Tunjukkan standar yang<br />

dipergunakan, dan tunjukkan metodologi yang<br />

terkait dengan data dalam hubungannya dengan<br />

kategori berikut ini:<br />

• Ukuran langsung (misalnya continuous online<br />

analyzers dll)<br />

• Perhitungan berdasarkan data spesifik<br />

lapangan (misal untuk analisis komposisi<br />

gasoline)<br />

• Perhitungan berdasarkan default data; dan<br />

• Estimasi-estimasi. Jika estimasi dipergunakan<br />

karena ketiadaan angka default, tunjukkan<br />

angka basis mana yang didapatkan<br />

Perincian lebih lanjut dari kompilasi atas indikator<br />

ini tersedia di WRI/WBCSD GHG Protocol dan di<br />

dalam dokumen IPCC sebagai terdaftar dalam<br />

refensi<br />

2.2 Identifikasikan emisi langsung gas rumah kaca dari<br />

semua sumber yang dimiliki atau dikendalikan oleh<br />

organisasi, termasuk:<br />

• Listrik, panas atau uap yang dihasilkan<br />

(sebagaimana dilaporkan dalam KL3)<br />

• Proses pembakaran (combustions) lain seperti<br />

flaring<br />

• Proses fisik dan kimiawi<br />

• Tranportasi material, produk dan buangan<br />

• Venting<br />

• Fugitive emissions<br />

Emisi yang berasal dari proses dan sumber<br />

pembakaran (combustions) akan terkait dengan<br />

energi primer langsung dari sumber tidak<br />

terbarukan dan terbarukan sebagaimana dilaporkan<br />

dalam EN3. Perlu dicatat bahwa emisi CO2 langsung<br />

dari pembakaran biomassa tidak termasuk tetapi<br />

dilaporkan secara terpisah sesuai dengan GHG<br />

Protocol Corporate Standard (edisi revisi).<br />

2.3 Dapatkan emisi tidak langsung gas rumah kaca yang<br />

dihasilkan dari listrik, panas dan uap yang dibeli (hal<br />

ini terkait dengan konsumsi energi yang dilaporkan<br />

dalam EN4).<br />

Emisi tidak langsung lainnya (seperti perjalanan<br />

dinas yang dilakukan) tidak dimasukkan karena<br />

emisi tersebut telah tercakup dalam EN17.<br />

2.4 Laporkan total emisi gas rumah kaca sebagai<br />

jumlah dari emisi langsung dan tidak langsung<br />

(sebagaimana dalam butir 2.2 dan 2.3 di atas) dalam<br />

satuan ton CO2 ekuivalen.<br />

3. Definisi<br />

Emisi langsung<br />

Emisi dari sumber daya yang dimiliki atau dikendalikan<br />

oleh organisasi. Sebagai contoh, emisi langsung yang<br />

terkait dengan pembakaran (combustions) akan<br />

meningkat akibat pembakaran bahan bakar untuk<br />

energi dalam batasan operasional organisasi.<br />

Emisi tidak langsung<br />

Emisi yang dihasilkan dari aktivitas organisasi tetapi<br />

dihasilkan dengan menggunakan sumber daya yang<br />

dimiliki atau dikendalikan oleh organisasi lain. Dalam<br />

konteks indikator ini, emisi tidak langsung mengacu<br />

pada emisi gas rumah kaca yang timbul dari llistrik,<br />

panas atau uap yang dikonsumsi oleh organisasi.<br />

Version 3.0<br />

23


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

CO2 dan ekuivalennya<br />

CO2 ekuivalen adalah ukuran yang dipergunakan untuk<br />

membandingkan emisi dari berbagai gas rumah kaca<br />

didasarkan pada global warming potential (GWP). CO2<br />

ekuivalen untuk gas diperoleh dengan mengalikan<br />

tonnage dari gas dengan GWP terkait.<br />

4. Dokumentasi<br />

Emisi yang terjadi akibat penggunaan energi langsung<br />

dan tidak langsung dapat dihitung dari data yang<br />

dilaporkan pada EN 3 dan EN 4.<br />

5. Referensi<br />

• The Greenhouse Gas Protocol (GHG) <strong>Initiative</strong>.<br />

Standar pelaporan dan akuntansi perusahaan<br />

dari WRI (World Resource Institute) dan WBCSD<br />

(the World Business Council for Sustainable<br />

Development).<br />

• Kyoto Protocol, 1997<br />

• IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change),<br />

Climate Change 2001, Working Group I: The<br />

Scientific Basis<br />

24<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN17 Emisi gas rumah kaca<br />

tidak langsung lainnya diperinci<br />

berdasarkan berat<br />

1. Relevansi<br />

Emisi gas rumah kaca merupakan penyebab utama<br />

perubahan iklim. Hal ini telah diatur dalam UNFCCC<br />

(UN Framework Convention on Climate Change) dan<br />

<strong>Protokol</strong> Kyoto. Untuk beberapa organisasi, emisi<br />

gas rumah kaca tidak langsung jauh lebih besar<br />

dibandingkan dengan emisi gas rumah kaca langsung.<br />

Pengukuran dan upaya untuk mengurangi emisi tidak<br />

langsung menunjukkan kepemimpinan organisasi<br />

dalam menekan perubahan iklim dan pada akhirnya<br />

dapat meningkatkan reputasi organisasi.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Lakukan identifikasi terhadap emisi gas yang timbul<br />

akibat penggunaan energi tidak langsung. Tidak<br />

perlu dimasukkan emisi tidak langsung dari listrik,<br />

panas dan uap yang dikonsumsi karena aspek ini<br />

sudah dicakup dalam EN16.<br />

2.2 Sebagai tambahan, dapatkan aktivitas organisasi<br />

yang mengakibatkan emisi tidak langsung dan<br />

tentukan jumlahnya (misalnya perjalanan bisnis,<br />

perjalanan pegawai komuter).<br />

Ketika memutuskan seberapa jauh aktivitas berikut<br />

relevan, pertimbangkan apakah emisi akibat<br />

kegiatan tersebut:<br />

• Lebih besar dibandingkan dengan kegiatan<br />

lain yang mengakibatkan emisi langsung atau<br />

emisi tidak langsung dalam kaitannya dengan<br />

penggunaan energi (as reported in EN16).<br />

• Dipandang sangat kritis oleh pemangku<br />

kepentingan.<br />

• Bisa ditekan secara signifikan oleh organisasi.<br />

3. Definisi<br />

Emisi tidak langsung<br />

Emisi yang diakibatkan oleh aktivitas organisasi tetapi<br />

dihasilkan dengan menggunakan sumber daya yang<br />

dimiliki atau dikendalikan oleh organisasi lain. Dalam<br />

konteks indikator ini, emisi tidak langsung tidak<br />

mencakup emisi yang dihasilkan akibat mengkonsumsi<br />

listrik, tenaga panas dan uap yang berasal dari luar<br />

organisasi (seperti untuk transportasi dan kemasan).<br />

CO2 dan ekuivalennya<br />

CO2 ekuivalen adalah ukuran yang dipergunakan untuk<br />

membandingkan emisi dari berbagai gas rumah kaca<br />

didasarkan pada GWP (global warming potential). CO2<br />

ekuivalen untuk gas diperoleh dengan mengalikan<br />

tonnage gas dengan GWP terkait.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi dapat diperoleh dari pemasok barang dan<br />

jasa dari luar perusahaan. Untuk beberapa jenis emisi<br />

tidak langsung seperti perjalanan dinas, organisasi perlu<br />

menggabungkan catatannya sendiri dengan data yang<br />

berasal dari luar perusahaan untuk mendapatkan angka<br />

estimasi.<br />

5. Referensi<br />

• The Greenhouse Gas Protocol (GHG) <strong>Initiative</strong>.<br />

Standar pelaporan dan akuntansi perusahaan<br />

dari WRI (World Resource Institute) dan WBCSD<br />

(the World Business Council for Sustainable<br />

Development<br />

• IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change),<br />

Climate Change 2001, Working Group I: The<br />

Scientific Basis<br />

• Kyoto Protocol, 1997<br />

2.3 Melaporkan jumlah emisi GHG tidak langsung<br />

sebagaimana diidentifikasi dalam tonnage CO2<br />

ekuivalen.<br />

Version 3.0<br />

25


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

EN18 Inisiatif untuk mengurangi<br />

emisi gas rumah kaca dan<br />

pencapaiannya<br />

1. Relevansi<br />

Emisi gas rumah kaca merupakan penyebab dari<br />

perubahan iklim. Hal ini diatur oleh UNFCCC (UN<br />

Framework Convention on Climate Change) dan <strong>Protokol</strong><br />

Kyoto. Sebagai akibatnya aturan dan sistem insentif<br />

internasional dan nasional yang berbeda-beda (seperti<br />

sertifikasi perdagangan gas rumah kaca - climate trading<br />

certification) dimaksudkan untuk mengendalikan<br />

volume dan memberikan insentif atas pengurangan<br />

emisi gas rumah kaca. Kalau dimonitor secara<br />

menyeluruh, berbagai emisi dapat dikurangi secara<br />

efektif (misalnya dengan memilih secara cermat bahan<br />

baku/jasa/kapasitas produksi yang hemat energi).<br />

<strong>Indikator</strong> ini dapat dipergunakan bersamaan EN16 dan<br />

EN17 dalam menentukan dan memonitor target dengan<br />

memperhatikan regulasi atau sistem perdagangan baik<br />

pada level internasional maupun nasional.<br />

Menekan emisi gas rumah kaca dapat memperbaiki<br />

kinerja produk dan jasa dalam sebuah siklus hidup dan<br />

bisa dijadikan sebagai dasar untuk merancang programprogram<br />

yang akrab lingkungan .<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi yang diperoleh dari EN16 dan EN17, dari<br />

pengukuran emisi, dari data akuntansi atau data<br />

estimasi. Informasi atas initiatif kemungkinan dapat<br />

diperoleh dari catatan-catatan yang disimpan oleh<br />

departemen/bagian yang bertanggung jawab<br />

terhadap pengelolaan lingkungan.<br />

5. Referensi<br />

• The Greenhouse Gas Protocol (GHG) <strong>Initiative</strong>.<br />

Standar pelaporan dan akuntansi perusahaan<br />

dari WRI (World Resource Institute) dan WBCSD<br />

(the World Business Council for Sustainable<br />

Development.<br />

• Kyoto Protocol, 1997<br />

• IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change),<br />

Climate Change 2001, Working Group I: The<br />

Scientific Basis.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Lakukan identifikasi terhadap emisi gas akibat<br />

konsumsi semua sumber daya yang dimiliki<br />

atau dikendalikan oleh organisasi sebagaimana<br />

tercantum EN16 serta yang dihasilkan akibat<br />

konsumsi energi tidak langsung dan aktivitas<br />

organisasi sebagaimana dalam EN17. Bedakan<br />

antara pengurangan emisi yang wajib (mandatory)<br />

dan sukarela (voluntary) .<br />

2.2 Laporkan inisiatif yang dilakukan untuk menekan<br />

emisi gas rumah kaca termasuk areal di mana<br />

inisiatif tersebut diimplementasikan.<br />

2.3 Laporkan secara kuantitatif dalam tonnage CO2<br />

ekuivalen seberapa besar pengurangan emisi gas<br />

rumah kaca selama periode pelaporan sebagai<br />

akibat dari inisiatif yang dilakukan.<br />

26<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN19 Emisi bahan kimia yang<br />

merusak lapisan ozon (ozonedepleting<br />

substances/ODS) dirinci<br />

berdasarkan berat<br />

1. Relevansi<br />

Lapisan ozon (O 3 ) mencegah sebagian besar radiasi<br />

ultra-violet yang berbahaya secara biologis. <strong>Protokol</strong><br />

Montreal mengatur tahapan pengurangan ODS secara<br />

internasional. Pengukuran emisi ODS memungkinkan<br />

dilakukannya penilaian tingkat kepatuhan organisasi<br />

terhadap aturan yang berlaku sekarang maupun<br />

yang akan datang dan risikonya. Hal ini relevan<br />

khususnya bagi organisasi yang proses, produk dan<br />

jasanya menggunakan ODS dan oleh karenanya harus<br />

menyesuaikan diri dengan teknologi baru agar sejalan<br />

dengan tahapan komitmen yang telah dibuat. Hasil<br />

yang dicapai organisasi dalam mengurangi ODS dapat<br />

menunjukkan level kepemimpinan organisasi dalam<br />

teknologi dan posisi daya saing.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 ODS yang terkandung dalam atau keluar dari<br />

produk selama pemakaian dan pengurangannya<br />

tidak tercakup dalam indikator ini.<br />

2.2 Emisi substansi yang tercakup dalam Annex A, B, C<br />

dan E dari <strong>Protokol</strong> Montreal.<br />

3. Definisi<br />

Bahan perusak lapisan ozon (Ozone-depleting<br />

substances/ODS)<br />

Substansi/bahan dengan potensi pengurang lapisan<br />

ozon (ozone depletion potential/ODP) lebih besar dari 0<br />

dapat mengurangi laporan ozon stratosfir. Kebanyakan<br />

ODS dikendalikan oleh <strong>Protokol</strong> Montreal dan<br />

amendemennya yang mencakup CFC-11 dan CFC-12<br />

yang mengakibatkan deplesi ozon.<br />

CFC-11 ekuivalent<br />

CFC-11 adalah ukuran yang dipergunakan untuk<br />

membandingkan berbagai substansi berdasarkan ODPnya.<br />

Level – 1 menggambarkan kemampuan CFC-11 dan<br />

CFC-12 merusak lapisan ozon.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi dapat diturunkan dari pengukuran dan<br />

akuntansi internal.<br />

5. Referensi<br />

• <strong>Protokol</strong> Montreal tentang substansi yang<br />

mengurangi lapisan ozon.<br />

• UN Environment Programme (UNEP) Halon<br />

Handbook.<br />

2.3 Idenfikasi emisi dari ODS dengan menggunakan<br />

formula sbb:<br />

Emisi = produksi + impor – ekspor substansi ODL<br />

Produksi = substansi yang dihasilkan – substansi<br />

yang dirusak akibat teknologi – substansi yang<br />

dipergunakan dalam menghasilkan zat kimia<br />

lainnya.<br />

Catatan: ODS yang didaur ulang dan dipakai ulang<br />

tidak diperhitungkan sebagai produksi<br />

2.4 Laporkan berapa tonnage emisi ODS spesifik dan<br />

CFC – 11 equivalent.<br />

Version 3.0<br />

27


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

EN20 NOx, SOx dan emisi udara<br />

signifikan lainnya yang diperinci<br />

berdasarkan jenis dan berat<br />

1. Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> ini mengukur skala emisi udara dari organisasi<br />

yang dapat menunjukkan ukuran dan seberapa penting<br />

emisi tersebut dibandingkan dengan organisasi lain.<br />

Polusi udara berdampak buruk terhadap kesehatan<br />

habitat, manusia dan hewan. Kerusakan mutu udara,<br />

pengasaman, degradasi hutan serta kepedulian<br />

masyarakat tentang kesehatan telah mendorong<br />

dikeluarkannya aturan-aturan lokal dan internasional<br />

untuk mengendalikan emisi udara. Berkurangnya<br />

tingkat polusi akan meningkatkan kualitas kesehatan<br />

pekerja dan masyarakat sekitar. Pengurangan polusi<br />

atau peningkatan kinerja yang melebihi aspek ketaatan<br />

(beyond compliance) akan meningkatkan hubungan<br />

baik dengan masyarakat sekitar dan pekerja. Besarnya<br />

volume emisi juga mempunyai implikasi langsung<br />

terhadap biaya organisasi.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasikan emisi udara yang signifikan dan<br />

hitung beratnya.<br />

2.2 Karena menghitung emisi udara tertentu seperti<br />

NOx cukup kompleks, perlu ditunjukkan metodologi<br />

yang dipergunakan untuk penghitungan dimaksud,<br />

dengan memilih salah satu dari pendekatan berikut<br />

ini:<br />

• Ukuran langsung emisi (seperti online<br />

analyzers)<br />

• Perhitungan berdasarkan data spesifik<br />

lapangan<br />

• Perhitungan berdasarkan data default atau<br />

• Estimasi (jika estimasi dipergunakan karena<br />

ketiadaan angka default, tunjukkanlah angka<br />

basis yang mana yang dipergunakan)<br />

• HAP (hazardeous air pollutants)<br />

• Emisi Cerobong dan yang keluar<br />

• PM (particulate matter) atau<br />

• Kategori standar lain untuk emisi udara yang<br />

diidentifikasikan dalam regulasi<br />

3. Definisi<br />

Emisi udara yang signifikan<br />

Emisi udara yang diatur dengan konvensi internasional<br />

dan/atau aturan/hukum nasional, termasuk emisi yang<br />

mendapat izin lingkungan (environmental license) untuk<br />

operasi organisasi.<br />

4. Dokumentasi<br />

IInformasi dapat diperoleh dari pengukuran emisi,<br />

perhitungan dari data akuntansi atau estimasi.<br />

5. Referensi<br />

• Geneve Protocol to the Convention on Long-range<br />

Transboundary Air Pollution, 1979.<br />

• Helsinki Protocol to the Convention on Long-range<br />

Transboundary Air Pollution, 1985.<br />

• Rotterdam Convention on the Prior Informed<br />

Consent (PIC) Procedure, 1998.<br />

• Stockholm Convention on Persistent Organic<br />

Pollutants (POPs) (Annex A, B and C), 2001.<br />

• Sofia Protocol to the Convention on Long-range<br />

Transboundary Air Pollution, 1988.<br />

• Gothernburg Protocol to the 1979 Convention on<br />

Long-range Transboundary Air Pollution to abate<br />

acidification, eutrophication, and ground-level<br />

ozone.<br />

2.3 Laporkan berat emisi udara (dalam kilogram atau<br />

kelipatan seperti tonnage) untuk masing-masing<br />

kategori berikut ini:<br />

• NO x<br />

• SO x<br />

• POP (persistent organic pollutants)<br />

• VOC (volatile organic compounds)<br />

28<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN21 Jumlah buangan air<br />

menurut kualitas dan tempat<br />

pembuangannya<br />

1. Relevansi<br />

Kuantitas dan kualitas air yang dibuang oleh organisasi,<br />

berkaitan langsung dengan dampak ekologi dan<br />

biaya operasional. Dengan meningkatkan kualitas<br />

air yang dibuang dan atau mengurangi jumlahnya<br />

secara progresif, organisasi memiliki peluang untuk<br />

mengurangi dampak buangan terhadap lingkungan<br />

sekitar. Pembuangan limbah cair (effluent) yang<br />

mengandung bahan kimia atau nutrisi tinggi (nutrient),<br />

terutama nitrogen, fosfor atau potasium, jika tidak<br />

dikelola, bisa berdampak signifikan terhadap air di<br />

tempat pembuangannya. Pada akhirnya, hal ini dapat<br />

mempengaruhi kualitas air yang tersedia untuk<br />

organisasi dan hubungan organisasi dengan masyarakat<br />

serta pengguna air lainnya.<br />

Pembuangan limbah cair (effluent) atau pengolahannya<br />

melalui instalasi pengolahan air limbah tidak<br />

hanya mengurangi tingkat polusi, namun juga bisa<br />

menurunkan biaya finansial dan risiko terkena sanksi<br />

hukum akibat pelanggaran peraturan di bidang<br />

lingkungan. Hal ini akan meningkatkan keberadaan<br />

organisasi untuk diterima masyarakat (social license to<br />

operate).<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasikan pembuangan air yang terencana dan<br />

tidak terencana (kecuali air tadah hujan dan saluran<br />

limbah domestik) menurut tujuan dan jelaskan<br />

pengolahan yang dilakukan. Jika organisasi tidak<br />

memiliki suatu ukuran (meter) untuk mengukur<br />

pembuangan air, pembuangan itu diestimasi<br />

dengan mengurangkan perkiraan volume yang<br />

dikonsumsi di tempat dari volume yang diambil,<br />

seperti yang dilaporkan dalam EN8.<br />

2.2 Laporkan jumlah volume pembuangan air yang<br />

terencana dan tidak terencana dalam meter kubik<br />

per tahun (m3/tahun) menurut:<br />

• Tujuan;<br />

• Metode pengolahan; dan<br />

Demand (BOD), Jumlah Suspended Solid (TSS),<br />

dan lain-lain. Pilihan kualitas parameter tertentu<br />

bervariasi tergantung produk/jasa/operasi<br />

organisasi. Pemilihan parameter harus konsisten<br />

dengan yang digunakan dalam sektor organisasi.<br />

Air bersih mengacu pada air yang memenuhi ketentuan<br />

nasional untuk kualitas air segar saat meninggalkan<br />

batas organisasi. Berarti bisa berupa air segar yang<br />

kualitasnya belum dipengaruhi oleh pemakaian<br />

organisasi, atau air limbah yang diolah untuk memenuhi<br />

standar air segar sebelum dibuang.<br />

3. Definisi<br />

Jumlah Pembuangan Air<br />

Jumlah air limbah yang dibuang selama periode<br />

pelaporan ke bawah permukaan air, permukaan air,<br />

saluran yang mengarah ke sungai, laut, danau, rawa,<br />

fasilitas pengolahan dan air tanah, melalui:<br />

• Titik pembuangan tertentu (titik sumber<br />

pembuangan)<br />

• Penyebaran di seluruh permukaan tanah atau<br />

dengan cara yang tidak jelas (tidak ada titik<br />

sumber pembuangan); atau<br />

• Air limbah dipindahkan dari organisasi melalui<br />

truk. Pembuangan air tadah hujan atau saluran<br />

limbah domestik tidak dianggap sebagai<br />

pembuangan air.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi volume air yang dibuang oleh<br />

organisasi termasuk meteran air (titik sumber<br />

pembuangan atau saat pembuangan melalui pipa) dan<br />

perizinan.<br />

5. Referensi<br />

• MARPOL Convention (International Convention for<br />

the Prevention of Pollution of Ships), 1973.<br />

• Stockholm Convention on Persistent Organic<br />

Pollutant (POPs),2001.<br />

• Penggunaan kembali oleh organisasi lain.<br />

2.3 Organisasi yang membuang limbah cair atau air<br />

yang sudah mengalami pemrosesan (process<br />

water) harus melaporkan kualitas air menurut<br />

volume limbah cair dengan menggunakan standar<br />

parameter limbah cair seperti Biological Oxygen<br />

Version 3.0<br />

29


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

EN22 Jumlah berat limbah menurut<br />

jenis dan metode pembuangan<br />

1. Relevansi<br />

Data limbah selama beberapa tahun dapat<br />

menunjukkan tingkat kemajuan organisasi terhadap<br />

upaya pengurangan limbah. Hal ini juga menunjukkan<br />

adanya penyempurnaan dalam efisiensi proses dan<br />

peningkatan produktivitas. Dari sudut pandang finansial,<br />

pengurangan limbah memberikan kontribusi langsung<br />

pada penurunan biaya bahan, biaya pengolahan, dan<br />

biaya pembuangan.<br />

Informasi tentang tempat pembuangan<br />

mengungkapkan sampai sejauh mana organisasi<br />

mengelola keseimbangan antara pilihan tempat<br />

pembuangan dan dampak lingkungan yang<br />

ditimbulkannya (un-even environmental impact).<br />

Misalnya, penimbunan (land filling) dan aktivitas daur<br />

ulang menimbulkan berbagai dampak lingkungan dan<br />

imbas residu. Strategi pengurangan limbah yang umum,<br />

lebih menekankan pada pilihan prioritas pemulihan,<br />

penggunaan kembali, atau daur ulang, dibanding pilihan<br />

pembuangan lainnya, jika memungkinkan.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasikan jumlah limbah yang diciptakan oleh<br />

operasi organisasi, menurut:<br />

• Limbah berbahaya (sesuai definisi legislasi<br />

nasional pada titik penciptaan- generation<br />

point); dan<br />

• Limbah tidak berbahaya (semua bentuk lain<br />

limbah padat atau cair selain air limbah).<br />

2.2 Jika data berat tidak tersedia, estimasikan berat<br />

dengan menggunakan informasi yang tersedia<br />

mengenai kepadatan (density) limbah dan volume<br />

yang dihasilkan, keseimbangan massa, atau<br />

informasi serupa.<br />

2.3 Laporkan jumlah limbah dalam ton menurut<br />

jenis sesuai dengan poin 2.1 untuk setiap metode<br />

pembuangan berikut:<br />

• Dijadikan kompos<br />

• Penggunaan kembali<br />

• Dibuang ke tempat pembuangan (landfill)<br />

• Sumur injeksi dalam (deep well injection)<br />

• Penyimpanan di tempat;<br />

• Dan lain-lain (harus dispesifikasikan oleh<br />

organisasi)<br />

• diidentifikasikan dalam regulasi<br />

2.4 Laporkan bagaimana ketentuan metode<br />

pembuangan :<br />

• Dibuang langsung oleh organisasi atau jika<br />

tidak, menggunakan konfirmasi langsung<br />

• Informasi yang diberikan oleh kontraktor<br />

pembuangan limbah; atau<br />

• Standar organisasi mengenai kontraktor<br />

pembuangan limbah.<br />

3. Definisi<br />

Metode Pembuangan<br />

Metode pengolahan atau pembuangan limbah,<br />

meliputi pengolahan menjadi kompos (composting),<br />

penggunaan kembali, daur ulang, perbaikan,<br />

pembakaran, dibuang ke tempat pembuangan (landfill),<br />

sumur injeksi dalam, dan penyimpanan di tempat.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial antara lain audit limbah<br />

eksternal oleh penyedia jasa pembuangan atau<br />

laporan limbah dari penyedia jasa ini, seperti tagihan<br />

pengolahan limbah internal, sistem akuntansi, serta<br />

departemen/bagian atau manajemen pengadaan.<br />

5. Referensi<br />

• Ban Amendment to the Basel Convention on the<br />

Control of Transboundary Movements of Hazardous<br />

Wastes and Their Disposal, 1989.<br />

• London Dumping Convention, 1972.<br />

• MARPOL Convention (International Convention for<br />

the Prevention of Pollutions of Ships), 1973.<br />

• Daur ulang<br />

• Perbaikan<br />

• Pembakaran (atau digunakan sebagai bahan<br />

bakar);<br />

30<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN23 Jumlah dan volume tumpahan<br />

yang signifikan<br />

1. Relevansi<br />

Tumpahan bahan kimia, oli, dan bahan bakar, memiliki<br />

dampak yang signifikan terhadap lingkungan sekitar,<br />

yang berpotensi mempengaruhi tanah, air, udara,<br />

keanekaragaman hayati, dan kesehatan manusia.<br />

Upaya sistematis untuk menghindari tumpahan<br />

bahan berbahaya terkait langsung dengan kepatuhan<br />

organisasi terhadap regulasi, risiko finansial akibat<br />

hilangnya bahan baku, biaya pemulihan kembali, risiko<br />

tuntutan hukum, dan merusak citra organisasi. <strong>Indikator</strong><br />

ini juga berfungsi sebagai ukuran tidak langsung dalam<br />

mengevaluasi keterampilan organisasi dalam melakukan<br />

pengawasan.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasikan semua tumpahan signifikan yang<br />

tercatat dan volumenya.<br />

2.2 Laporkan jumlah dan volume total tumpahan<br />

signifikan yang tercatat.<br />

2.3 Untuk setiap tumpahan yang dilaporkan dalam<br />

laporan keuangan organisasi, laporkan tambahan<br />

informasi berikut ini:<br />

3. Definisi<br />

Tumpahan<br />

Terbuang tanpa disengaja bahan berbahaya yang bisa<br />

mempengaruhi kesehatan manusia, tanah, tumbuhan,<br />

badan air (seperti sungai, danau dan sejenisnya), dan air<br />

tanah.<br />

Tumpahan signifikan<br />

Semua tumpahan yang tercakup dalam laporan<br />

keuangan organisasi (yang menimbulkan kewajiban)<br />

atau yang dicatat sebagai tumpahan oleh organisasi.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial yang terkait dengan<br />

tumpahan bahan bakar, minyak, dan bahan kimia, bisa<br />

menjadi catatan internal dalam sistem manajemen<br />

lingkungan yang ada, seperti laporan resmi yang dibuat<br />

untuk/oleh badan lingkungan yang berwenang.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

• Tujuan;<br />

• Metode pengolahan; dan<br />

• Penggunaan kembali oleh organisasi lain.<br />

--<br />

Tumpahan minyak (permukaan tanah<br />

atau air);<br />

--<br />

Tumpahan bahan bakar (permukaan<br />

tanah atau air);<br />

--<br />

Tumpahan limbah (permukaan tanah atau<br />

air);<br />

--<br />

Tumpahan kimia (terutama permukaan<br />

tanah atau air); dan<br />

--<br />

Lain-lain<br />

2.4 Laporkan dampak tumpahan.<br />

Version 3.0<br />

31


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

EN24 Berat limbah yang diangkut,<br />

diimpor, diekspor, atau diolah yang<br />

dianggap berbahaya menurut<br />

Basel Convention Annex I, II, III, dan<br />

VIII, dan persentase limbah yang<br />

diangkut secara internasional.<br />

1. Relevansi<br />

Manajemen limbah berbahaya merupakan bidang utama<br />

yang menjadi perhatian para pemangku kepentingan.<br />

Pengangkutan limbah berbahaya yang tidak memadai,<br />

khususnya ke negara-negara dengan infrastruktur dan<br />

regulasi nasional yang lemah dalam menangani limbah<br />

serupa, dapat membahayakan baik kesehatan manusia<br />

maupun lingkungan. Di samping itu, manajemen limbah<br />

berbahaya yang lemah mengakibatkan timbulnya<br />

kewajiban sehubungan dengan pelanggaran regulasi<br />

nasional dan internasional serta berpotensi merusak<br />

reputasi.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasikan limbah berbahaya yang diangkut<br />

oleh atau atas nama organisasi dalam periode<br />

pelaporan menurut tujuan.<br />

2.2 Identifikasikan jumlah berat limbah berbahaya yang<br />

diangkut dengan menggunakan persamaan berikut:<br />

Jumlah berat limbah berbahaya yang diangkut<br />

menurut tujuan<br />

=<br />

berat limbah berbahaya yang diangkut menuju<br />

organisasi dari sumber/pemasok eksternal yang<br />

tidak dimiliki oleh organisasi.<br />

+<br />

Berat limbah berbahaya yang diangkut dari<br />

organisasi menurut tujuan ke sumber/pemasok<br />

eksternal yang tidak dimiliki oleh organisasi<br />

+<br />

Berat limbah berbahaya yang diangkut secara<br />

nasonal dan/atau internasional menurut tujuan<br />

antara lokasi yang dimiliki, disewa atau dikelola oleh<br />

organisasi.<br />

2.4 Identifikasikan proporsi jumlah limbah berbahaya<br />

menurut tujuan yang diangkut dari organisasi ke<br />

lokasi di luar negeri. Masukkan semua limbah yang<br />

meninggalkan batas organisasi dan melintasi batas<br />

internasional, kecuali pemindahan antara lokasi<br />

organisasi yang berbeda.<br />

2.5 Identifikasikan porsi jumlah limbah yang telah<br />

diolah, diangkut, dan diekspor organisasi menurut<br />

tujuan<br />

2.6 Identifikasikan porsi jumlah limbah menurut tujuan<br />

yang telah diolah oleh sumber/pemasok eksternal,<br />

yang diangkut, diekspor, atau diimpor oleh<br />

organisasi.<br />

2.7 Konversikan volume ke perkiraan berat dengan<br />

penjelasan singkat mengenai metodologi yang<br />

digunakan.<br />

2.8 Laporkan informasi berikut ini dalam kilogram atau<br />

ton:<br />

• Jumlah berat limbah berbahaya yang diangkut;<br />

• Jumlah berat limbah berbahaya yang diimpor;<br />

• Jumlah berat limbah berbahaya yang diekspor;<br />

dan<br />

• Jumlah berat limbah berbahaya yang telah<br />

diolah<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial meliputi data tagihan dari<br />

kontraktor logistik atau pembuangan, sistem akuntansi,<br />

maupun departemen pengadaan atau manajemen<br />

pasokan. Beberapa negara mensyaratkan dokumentasi<br />

untuk menyertai pengiriman limbah berbahaya yang<br />

memberikan semua data terkait untuk indikator ini.<br />

5. Referensi<br />

• Ban Amendment to the Basel Convention on the<br />

Control of Transboundary Movements of Hazardous<br />

Wastes and Their Disposal, 1989.<br />

2.3 Identifikasikan jumlah berat limbah berbahaya<br />

menurut tujuan yang diangkut melewati batas<br />

internasional dan yang memasuki batas organisasi.<br />

Limbah yang diangkut antara lokasi organisasi yang<br />

berbeda tidak dianggap sebagai impor.<br />

32<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN25 Identitas, ukuran, status<br />

proteksi dan nilai keanekaragaman<br />

hayati badan air serta habitat terkait,<br />

yang secara signifikan dipengaruhi<br />

oleh pembuangan dan limpasan air<br />

organisasi.<br />

1. Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> ini adalah pelengkap kualitatif terhadap<br />

indikator kuantitatif pembuangan air yang membantu<br />

menggambarkan dampak pembuangan. Pembuangan<br />

dan limpasan yang memengaruhi habitat air bisa<br />

berdampak signifikan terhadap ketersediaan sumber<br />

daya air. Pengidentifikasian badan air yang dipengaruhi<br />

oleh pembuangan, memberikan peluang untuk<br />

menentukan aktivitas dalam wilayah yang perlu<br />

mendapatkan perhatian (regions of significant concern),<br />

atau wilayah di mana organisasi mungkin menghadapi<br />

risiko tertentu sehubungan dengan kepentingan<br />

komunitas, keterbatasan sumber daya air dan lain-lain.<br />

2. Kompilasi<br />

• Status sumber air, apakah termasuk area yang<br />

dilindungi (secara nasional atau internasional);<br />

dan<br />

• Nilai keanekaragaman hayati (misalnya jumlah<br />

spesies yang dilindungi).<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi mengenai status sumber air bisa diperoleh<br />

dari kementerian yang menangani masalah air,<br />

departemen pemerintah, atau penelitian yang<br />

diprakarsai oleh organisasi atau institusi lain, seperti<br />

studi dampak lingkungan.<br />

5. Referensi<br />

• IUCN Red List of Threatened Species .<br />

• Ramsar Convention on Wetlands.<br />

2.1 Identifikasikan badan air yang terpengaruh secara<br />

signifikan oleh pembuangan air organisasi yang<br />

memenuhi salah satu dari beberapa kriteria berikut<br />

ini:<br />

• Pembuangan rata-rata 5% atau lebih dari<br />

volume rata-rata tahunan badan air;<br />

• Pembuangan berdasarkan nasihat profesional<br />

yang tepat (misalnya dinas pemerintah kota-<br />

(municipal authorities) yang diketahui memiliki<br />

potensi dampak yang signifikan terhadap<br />

badan air dan habitat terkait;<br />

• Pembuangan ke badan air khususnya yang<br />

dianggap sensitif oleh profesional karena<br />

ukuran, fungsi, atau statusnya yang relatif<br />

jarang, mengancam atau membahayakan<br />

sistem (atau mendukung spesies tanaman atau<br />

binatang tertentu yang berbahaya); atau<br />

• Pembuangan apa pun ke daftar rawa Ramsar<br />

– (Ramsar Listed Wetland) atau area konservasi<br />

nasional atau internasional tanpa melihat<br />

tingkat pembuangan.<br />

2.2 Laporkan badan air yang terpengaruh secara<br />

signifikan oleh pembuangan air berdasarkan kriteria<br />

di atas, dengan menambahkan informasi mengenai:<br />

• Ukuran badan air dalam meter kubik (m3);<br />

Version 3.0<br />

33


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

EN26 Inisiatif untuk mengurangi<br />

dampak produk dan jasa terhadap<br />

lingkungan dan sejauh mana<br />

dampak pengurangan tersebut.<br />

1. Relevansi<br />

Di beberapa sektor, dampak produk dan jasa selama<br />

fase pemakaiannya (misalnya konsumsi air untuk mesin<br />

cuci) dan pada akhir umur manfaatnya bisa sama<br />

atau bahkan lebih besar daripada fase produksinya.<br />

Signifikansi dampak tersebut ditentukan baik oleh<br />

perilaku pelanggan maupun oleh desain produk atau<br />

jasa. Organisasi diharapkan melakukan pendekatan yang<br />

lebih proaktif untuk menilai dan meningkatkan dampak<br />

lingkungan dari barang dan jasa mereka.<br />

Ukuran ini menilai tindakan yang telah dilakukan<br />

organisasi untuk mengurangi dampak negatif dan<br />

meningkatkan dampak positif rancangan produk dan<br />

jasa serta penyerahannya.<br />

Rancangan yang ramah lingkungan bisa membantu<br />

mengidentifikasi peluang bisnis baru, diferensiasi<br />

produk dan jasa, serta terciptanya inovasi teknologi.<br />

Pengintegrasian pertimbangan lingkungan dalam<br />

rancangan produk dan jasa bisa menurunkan risiko<br />

ketidaksesuaian terhadap peraturan lingkungan di masa<br />

datang, maupun meningkatkan reputasi.<br />

• Effluent (misalnya kualitas air yang digunakan<br />

selama produksi dan/atau pemakaian);<br />

• Kebisingan; dan<br />

• Limbah (misalnya bahan/kandungan<br />

beracun yang tidak bisa ditarik kembali-non<br />

reclaimable).<br />

2.3 Laporkan secara kuantitatif sejauh mana<br />

pengurangan dampak lingkungan barang dan<br />

jasa selama periode pelaporan. Jika digunakan<br />

gambaran orientasi pemakaian (misalnya<br />

penggunaan air mesin cuci), tunjukkan dengan jelas<br />

asumsi yang mendasari pola konsumsi atau faktor<br />

normalisasi (misalnya hemat 10% penggunaan air<br />

per 5 kg cucian).<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi bisa diperoleh dari Penilaian Daur Hidup<br />

Produk (PDHP) atau dokumen-dokumen yang terkait<br />

dengan desain produk, pengembangan, dan pengujian.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Pada indikator ini, dampak berikut tidak dimasukkan<br />

karena telah tercakup dalam <strong>Indikator</strong> Lingkungan:<br />

• Penarikan produk (EN27); dan<br />

• Dampak terhadap keanekaragaman hayati<br />

(EN12)<br />

2.2 Laporkan inisiatif untuk menghilangkan dampak<br />

lingkungan yang paling signifikan dari barang dan<br />

jasa dalam periode pelaporan yang terkait dengan:<br />

• Penggunaan bahan (misalnya penggunaan<br />

bahan yang tidak bisa diperbarui, intensitas<br />

penggunaan energi, bahan beracun);<br />

• Penggunaan air (misalnya volume yang<br />

digunakan selama produksi dan/atau<br />

pemakaiannya);<br />

• Emisi (misalnya GHG, racun, emisi yang<br />

mendeplesikan/pengurang lapisan ozon);<br />

34<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN27 Persentase produk terjual dan<br />

bahan kemasannya yang ditarik<br />

kembali menurut kategori.<br />

1. Relevansi<br />

Pembuangan produk dan bahan kemasan pada akhir<br />

fase pemakaian semakin meningkatkan tantangan<br />

bagi lingkungan. Menciptakan sistem daur ulang dan<br />

penggunaan kembali yang efektif dalam siklus produk<br />

dapat meningkatkan efisiensi bahan dan sumber daya.<br />

Hal ini juga mengurangi permasalahan dan biaya yang<br />

terkait dengan pembuangan.<br />

<strong>Indikator</strong> ini memberikan gambaran sampai sejauh<br />

mana produk, komponen atau bahan yang ditarik<br />

kembali dan berhasil dikonversikan menjadi bahan<br />

yang berguna untuk proses produksi baru.<br />

<strong>Indikator</strong> ini juga memberikan gambaran sejauh mana<br />

organisasi mendesain produk dan kemasannya agar<br />

bisa didaur ulang atau digunakan kembali. Ukuran ini<br />

bisa menjadi sumber diferensiasi daya saing pada sektor<br />

yang mensyaratkan aturan formal untuk mendaur ulang<br />

produk dan bahan kemasannya.<br />

3. Definisi<br />

Penarikan<br />

Merujuk pada pengumpulan, penggunaan kembali atau<br />

pendaurulangan produk dan bahan kemasannya pada<br />

akhir masa manfaatnya. Pengumpulan dan pengolahan<br />

produk bisa dilakukan oleh produsen atau kontraktor.<br />

Hal ini merujuk pada produk dan bahan kemasannya<br />

yang:<br />

• Dikumpulkan oleh atau atas nama organisasi;}<br />

• Dipisahkan menjadi bahan mentah (misalnya<br />

baja, kaca, kertas, plastik, dan lain-lain) atau<br />

komponen; dan<br />

• Digunakan oleh organisasi atau pengguna lain.<br />

4. Dokumentasi<br />

Tidak ada.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasikan jumlah produk dan bahan<br />

kemasan yang ditarik (misalnya didaur ulang atau<br />

digunakan kembali) pada akhir umur manfaatnya<br />

dalam periode pelaporan. Produk yang ditolak<br />

dan ditarik tidak termasuk dalam perhitungan.<br />

Pendaurulangan atau penggunaan kembali<br />

kemasan harus dilaporkan juga secara terpisah.<br />

2.2 Laporkan persentase produk dan bahan<br />

kemasannya yang ditarik untuk setiap kategori<br />

produk (contohnya sekelompok produk terkait<br />

yang memiliki persamaan, seperti fitur yang<br />

memuaskan kebutuhan pasar tertentu) dengan<br />

menggunakan rumus sebagai berikut:<br />

Produk dan bahan<br />

kemasan yang ditarik<br />

dalam periode berjalan<br />

% produk dan bahan = -------------------------------- x100<br />

kemasan Yang ditarik Produk terjual dalam<br />

periode pelaporan<br />

2.3 Laporkan cara pengumpulan data untuk<br />

<strong>Indikator</strong> ini dari beberapa kemungkinan sumber<br />

data (misalnya, data dikumpulkan dari sistem<br />

pengumpulan internal atau data disediakan oleh<br />

sistem pengumpulan eksternal yang menarik<br />

produk atas nama organisasi).<br />

Version 3.0<br />

35


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

EN28 Nilai Moneter Denda yang<br />

signifikan dan jumlah sanksi<br />

nonmoneter atas pelanggaran<br />

terhadap hukum dan regulasi<br />

lingkungan.<br />

1. Relevansi<br />

Tingkat pelanggaran dalam organisasi membantu<br />

mengindikasikan kemampuan manajemen untuk<br />

memastikan bahwa operasi sesuai dengan parameter<br />

kinerja tertentu. Dari perspektif ekonomi, dengan<br />

memastikan kepatuhan membantu mengurangi risiko<br />

keuangan yang terjadi, baik secara langsung melalui<br />

denda atau secara tidak langsung melalui dampaknya<br />

terhadap reputasi. Dalam situasi tertentu, pelanggaran<br />

bisa menimbulkan kewajiban pembersihan (cleanup<br />

obligation) atau kewajiban lingkungan lainnya<br />

yang berbiaya tinggi. Catatan kepatuhan organisasi<br />

dapat mempengaruhi kemampuan organisasi untuk<br />

memperluas operasi atau mendapatkan izin.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasikan sanksi administratif atau hukum<br />

karena kegagalan mematuhi hukum dan regulasi<br />

lingkungan, meliputi:<br />

• Deklarasi/konvensi/kesepakatan Internasional<br />

dan nasional, regional dan regulasi lokal.<br />

Cantumkan pelanggaran yang terkait dengan<br />

tumpahan seperti yang diungkapkan dalam<br />

EN23, yang memenuhi kriteria untuk EN28;<br />

2.3 Jika organisasi tidak mengidentifikasikankan<br />

pelanggaran apa pun terhadap hukum atau<br />

regulasi, maka penjelasan singkat untuk hal ini<br />

dianggap cukup.<br />

3. Definisi<br />

Hukum dan Regulasi Lingkungan<br />

Merujuk pada regulasi yang terkait dengan semua jenis<br />

masalah lingkungan (misalnya emisi, limbah cair dan<br />

limbah, maupun penggunaan bahan, energi, air dan<br />

keanekaragaman hayati) yang bisa digunakan organisasi.<br />

Hal ini mencakup kesepakatan sukarela terkait yang<br />

dibuat dengan otoritas berwenang dan dikembangkan<br />

sebagai subtitusi untuk mengimplementasikan regulasi<br />

baru.<br />

Kesepakatan sukarela bisa digunakan jika organisasi<br />

berpartisipasi langsung dalam kesepakatan atau jika<br />

lembaga publik membuat kesepakatan tersebut bisa<br />

digunakan oleh organisasi dalam wilayah mereka<br />

melalui legislasi atau regulasi.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber data meliputi hasil audit atau sistem pelacakan<br />

regulasi yang dioperasikan oleh departemen legal.<br />

Informasi yang terkait dengan denda moneter bisa<br />

ditemukan pada departemen akuntansi.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

• Kesepakatan lingkungan sukarela dengan<br />

otoritas berwenang terkait dan dikembangkan<br />

sebagai subtitusi untuk mengimplementasikan<br />

regulasi baru. Pada yurisdiksi tertentu,<br />

kesepakatan serupa berarti ”perjanjian”; dan<br />

• Kasus-kasus yang diajukan terhadap organisasi<br />

melalui penggunaan mekanisme penyelesaian<br />

sengketa internasional atau nasional yang<br />

diawasi oleh otoritas pemerintah.<br />

2.2 Laporkan denda dan sanksi nonmoneter yang<br />

signifikan dalam hal:<br />

• Jumlah nilai denda moneter yang signifikan;<br />

• Jumlah sanksi nonmoneter; dan<br />

• Kasus-kasus yang diajukan melalui mekanisme<br />

penyelesaian .<br />

36<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

EN29 Dampak lingkungan yang<br />

signifikan akibat pengangkutan<br />

produk, barang-barang dan bahan<br />

lain yang digunakan untuk operasi<br />

organisasi serta pengangkutan<br />

tenaga kerja.<br />

1. Relevansi<br />

Sistem pengangkutan berdampak luas terhadap<br />

lingkungan, mulai dari kabut asap dan kebisingan<br />

setempat (local smog and noise) hingga pemanasan<br />

global. Bagi beberapa perusahaan, khususnya yang<br />

memiliki jaringan pasokan dan distribusi yang luas,<br />

dampak lingkungan yang terkait dengan logistik bisa<br />

mewakili sebagian besar jejak langkah lingkungannya<br />

(environmental footprint). Penilaian terhadap dampak<br />

pengangkutan produk, barang dan bahan untuk tujuan<br />

logistik serta pengangkutan tenaga kerja organisasi,<br />

merupakan bagian dari pendekatan komprehensif atas<br />

perencanaan strategis manajemen lingkungan.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasikan jenis pengangkutan yang digunakan<br />

oleh organisasi yang berdampak signifikan<br />

terhadap lingkungan, meliputi:<br />

• Penggunaan energi (misalnya minyak, minyak<br />

tanah, bahan bakar, listrik);<br />

• Emisi (misalnya emisi gas rumah kaca, bahan<br />

berefek penipisan ozon (ozone-depleting<br />

substances), NOx, SOx dan emisi udara lainnya);<br />

• Limbah cair (misalnya berbagai jenis bahan<br />

kimia);<br />

• Limbah (misalnya berbagai jenis bahan<br />

kemasan);<br />

2.4 Laporkan dampak lingkungan akibat pengangkutan<br />

produk, tenaga kerja organisasi dan barang serta<br />

bahan lainnya, yang telah berkurang.<br />

3. Definisi<br />

Transportasi/pengangkutan<br />

Tindakan memindahkan sumber daya dan barang<br />

dari satu lokasi ke lokasi lainnya (antara pemasok,<br />

pabrik, gudang dan pelanggan) dengan menggunakan<br />

berbagai jenis pengangkutan, termasuk pengangkutan<br />

penumpang (misalnya pegawai komuter dan perjalanan<br />

bisnis).<br />

Tujuan logistik<br />

Arus bolak-balik (forward and reverse) barang dan<br />

jasa serta penyimpanannya antara titik awal dan titik<br />

konsumsi.<br />

Transportasi dari anggota tenaga kerja dari organisasi<br />

Transportasi yang digunakan untuk pegawai komuter<br />

atau perjalanan bisnis, meliputi pesawat, kereta api,<br />

bus dan kendaraan bermotor maupun tidak bermotor<br />

lainnya.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber data potensial meliputi faktur dari<br />

penyedia jasa logistik dan pemasok, laporan<br />

departemen logistik, catatan penggunaan<br />

kendaraan, serta pemeliharaan dan pemantauan<br />

yang dilakukan oleh departemen lingkungan.<br />

5. Referensi<br />

• United Nations Recommendations on the<br />

Transport of Dangerous Goods.<br />

• Kebisingan; dan<br />

• Tumpahan (misalnya tumpahan bahan kimia,<br />

minyak, dan bahan bakar).<br />

2.2 Laporkan dampak lingkungan yang signifikan<br />

akibat pengangkutan yang digunakan untuk tujuan<br />

logistik dan pengangkutan tenaga kerja organisasi.<br />

Jika data kuantitatif tidak dicantumkan dalam<br />

laporan, berikan alasannya.<br />

2.3 Sebutkan kriteria dan metodologi yang digunakan<br />

untuk menentukan dampak lingkungan yang<br />

signifikan.<br />

Version 3.0<br />

37


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

EN30 Jumlah pengeluaran dan<br />

investasi untuk proteksi lingkungan<br />

menurut jenis.<br />

1. Relevansi<br />

Pengukuran pengeluaran untuk mitigasi dan proteksi<br />

lingkungan memungkinkan organisasi menilai efisiensi<br />

dari inisiatif organisasi di bidang lingkungan. Pengukuran<br />

ini juga memberikan masukan yang berguna untuk<br />

menganalisis biaya-manfaat internal. Data kinerja<br />

lingkungan yang diukur terhadap pengeluaran mitigasi<br />

dan proteksi lingkungan memberikan gambaran<br />

mengenai keefektifan organisasi dalam menggunakan<br />

sumber daya untuk meningkatkan kinerjanya. Jika<br />

ditelusuri dan dianalisis secara komprehensif sepanjang<br />

waktu, data pengeluaran memungkinkan organisasi<br />

mempertimbangkan kompleksitas nilai investasi di<br />

bidang organisasi atau teknologi untuk memperbaiki<br />

kinerja organisasi di bidang lingkungan.<br />

Organisasi dapat mengembangkan sistem akuntansi<br />

manajemen lingkungan yang lengkap dan mampu<br />

menelusuri berbagai kategori informasi. <strong>Indikator</strong> ini<br />

memfokuskan pada biaya-biaya pembuangan limbah,<br />

emisi, pengolahan, pemulihan kembali dan biaya<br />

pencegahan serta biaya manajemen lingkungan.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Kompilasi pengeluaran dalam <strong>Indikator</strong> ini harus<br />

mengecualikan kategori berikut sebagaimana<br />

tertera dalam dokumen IFAC ’International<br />

Guidance Document on Environmental<br />

Management Accounting’s:<br />

• Biaya output nonproduk<br />

• Denda atas pelanggaran terhadap regulasi<br />

lingkungan.<br />

2.2 Identifikasikan pembuangan limbah, pengolahan<br />

emisi dan biaya pemulihan kembali berdasarkan<br />

pengeluaran yang terkait dengan hal-hal berikut:<br />

• Pengolahan dan pembuangan limbah;<br />

• Pengolahan emisi (misalnya pengeluaran untuk<br />

penyaringan/filter, kontraktor);<br />

• Pengeluaran untuk pembelian dan<br />

penggunaan sertifikat emisi;<br />

• Depresiasi peralatan terkait, pemeliharaan dan<br />

material operasi dan jasa serta biaya personel<br />

terkait.<br />

• Asuransi kewajiban lingkungan; dan<br />

• Biaya pembersihan kembali, meliputi biaya<br />

untuk pemulihan kembali tumpahan seperti<br />

dilaporkan dalam EN23.<br />

2.3 Identifikasikan biaya pencegahan dan manajemen<br />

lingkungan berdasarkan pengeluaran yang terkait<br />

dengan hal-hal sebagai berikut:<br />

• Personel yang ditugaskan untuk pendidikan<br />

dan pelatihan;<br />

• Jasa eksternal manajemen lingkungan;<br />

• Sertifikasi sistem manajemen eksternal;<br />

• Personel untuk aktivitas manajemen<br />

lingkungan umum;<br />

• Penelitian dan pengembangan;<br />

• Pengeluaran tambahan untuk menggunakan<br />

teknologi pembersih (misalnya tambahan<br />

biaya di samping teknologi standar);<br />

• Pengeluaran tambahan untuk pembelian yang<br />

terkait dengan lingkungan (green purchases);<br />

dan<br />

• Biaya manajemen lingkungan lainnya.<br />

2.4 Laporkan jumlah pengeluaran untuk proteksi<br />

lingkungan yang dibagi menjadi:<br />

• Pembuangan limbah, pengolahan emisi, biaya<br />

pemulihan kembali; dan<br />

• Biaya pencegahan dan manajemen lingkungan.<br />

3. Definisi<br />

Pengeluaran untuk proteksi lingkungan<br />

Semua pengeluaran untuk proteksi lingkungan oleh atau<br />

atas nama organisasi, untuk mencegah, mengurangi,<br />

mengendalikan dan mendokumentasikan aspek<br />

lingkungan, dampak serta bahayanya. Pengeluaran ini<br />

juga meliputi pembuangan, pengolahan, sanitasi dan<br />

pengeluaran untuk pembersihan.<br />

4. Dokumentasi<br />

Semua sumber informasi potensial meliputi sistem<br />

penagihan dan akuntansi (misalnya akuntansi<br />

manajemen lingkungan) maupun pengadaan, sumber<br />

daya manusia dan departemen legal.<br />

38<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: EN<br />

IP<br />

5. Referensi<br />

• IFAC-The International Federation of Accountants<br />

(2005) ’International Guidance Document on<br />

Environmental Management Accounting’.<br />

• UNDSD-United Nations Division for Sustainable<br />

Development (2003): Environmental Management<br />

Accounting Procedures and Principles (EMARIC-<br />

Environmental Management Accounting Research<br />

and Information Center, 2003).<br />

Version 3.0<br />

39


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong><br />

Tanggung Jawab Produk (PR)<br />

© 2000-2006 GRI<br />

Version 3.0


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: PR<br />

IP<br />

TANGGUNG JAWAB<br />

PRODUK<br />

<strong>Indikator</strong> Kinerja<br />

Aspek: Kesehatan dan Keamanan Pelanggan<br />

Aspek: Komunikasi Pemasaran<br />

CORE<br />

ADD<br />

PR1<br />

PR2<br />

Tahapan daur hidup di mana dampak produk<br />

dan jasa yang menyangkut kesehatan dan<br />

keamanan dinilai untuk penyempurnaan,<br />

dan persentase dari kategori produk dan jasa<br />

yang penting yang harus mengikuti prosedur<br />

tersebut.<br />

Jumlah ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

terhadap peraturan dan etika mengenai<br />

dampak kesehatan dan keselamatan suatu<br />

produk dan jasa selama daur hidup, per<br />

produk.<br />

CORE<br />

ADD<br />

PR6<br />

PR7<br />

Program-program untuk ketaatan kepada<br />

hukum, standar dan yang terkait dengan<br />

komunikasi pemasaran, termasuk periklanan,<br />

promosi dan sponsorship.<br />

Jumlah ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

peraturan dan voluntary codes sukarela<br />

mengenai komunikasi pemasaran termasuk<br />

periklanan, promosi, dan sponsorship, menurut<br />

produknya.<br />

Aspek: Keleluasaan Pribadi (privacy) Pelanggan<br />

Aspek: Pemasangan Label bagi Produk dan Jasa<br />

CORE<br />

ADD<br />

PR3<br />

PR4<br />

Jenis informasi produk dan jasa yang<br />

dipersyaratkan oleh prosedur dan persentase<br />

produk dan jasa yang signifikan yang terkait<br />

dengan informasi yang dipersyaratkan<br />

tersebut.<br />

Jumlah ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

peraturan dan voluntary codes mengenai<br />

penyediaan informasi produk dan jasa serta<br />

pemberian label, per produk.<br />

ADD<br />

PR8<br />

Aspek: Kepatuhan<br />

CORE<br />

PR9<br />

Jumlah keseluruhan dari pengaduan yang<br />

berdasar mengenai pelanggaran keleluasaan<br />

pribadi (privacy) pelanggan dan hilangnya data<br />

pelanggan<br />

Nilai moneter dari denda ketidakpatuhan (noncompliance)<br />

hukum dan peraturan mengenai<br />

pengadaan dan penggunaan produk dan jasa<br />

ADD<br />

PR5<br />

Praktek yang berkaitan dengan kepuasan<br />

pelanggan termasuk hasil survei yang<br />

mengukur kepuasaan pelanggan.<br />

Version 3.0<br />

1


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: PR<br />

Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> Tanggung Jawab Produk (PR) menjelaskan dampak<br />

manajemen produk dan jasa terhadap pelanggan dan pemakai.<br />

Organisasi diharapkan memberikan perhatian sepenuhnya<br />

kepada rancangan produk dan jasanya untuk memastikan<br />

bahwa produk dan jasa tersebut sesuai dengan pemakaian<br />

yang dimaksudkan dan tidak berbahaya bagi kesehatan dan<br />

keselamatan. Selain itu, komunikasi sehubungan dengan<br />

produk dan jasa serta pemakai perlu memperhatikan<br />

kebutuhan pelanggan akan informasi dan haknya atas<br />

keleluasaan pribadi (privacy). <strong>Indikator</strong>-indikator tersebut<br />

disusun secara berpasangan, di mana <strong>Indikator</strong> Inti bertujuan<br />

mengungkapkan proses yang ada untuk menjelaskan aspek<br />

yang dimaksud, sementara <strong>Indikator</strong> Tambahan melaporkan<br />

tingkat kepatuhan.<br />

Definisi<br />

Jenis ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

Keputusan pengadilan atas ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

peraturan atau hukum, yang dikategorikan berdasarkan sifat<br />

hukum atau peraturan yang dilanggar.<br />

Informasi/pencantuman label produk dan jasa<br />

Informasi dan pencantuman label digunakan dengan makna<br />

yang sama dan menjelaskan karakteristik produk dan jasa.<br />

Keleluasaan pribadi (privacy) pelanggan<br />

Hak pelanggan terhadap keleluasaan pribadi (privacy) dan<br />

perlindungan pribadi, termasuk hal-hal seperti perlindungan<br />

data, penggunaan informasi/data hanya untuk tujuan<br />

semula (kecuali bila disepakati secara khusus), keharusan<br />

memperhatikan kerahasiaan, dan perlindungan terhadap<br />

penyalahgunaan atau pencurian. Pelanggan yang dimaksud<br />

mencakup pelanggan akhir (konsumen) dan pelanggan bisnis<br />

ke bisnis.<br />

Komunikasi Pemasaran<br />

Gabungan strategi, sistem, metode dan aktivitas yang<br />

digunakan oleh suatu organisasi untuk memperkenalkan<br />

reputasi, merek, produk dan jasa yang ditawarkan kepada pasar<br />

sasaran (target audience). Komunikasi pemasaran meliputi<br />

aktivitas seperti periklanan, penjualan perorangan, promosi,<br />

hubungan masyarakat, dan pemberian sponsor (sponsorship).<br />

Referensi Umum<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises, Revision<br />

2000.<br />

2<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: PR<br />

IP<br />

PR1 Tahapan daur hidup di mana<br />

dampak produk dan jasa terhadap<br />

kesehatan dan keamanan dinilai<br />

untuk penyempurnaan, serta<br />

persentase dari kategori produk<br />

dan jasa yang signifikan yang harus<br />

mengikuti prosedur tersebut.<br />

1. Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> ini berguna untuk mengidentifikasi eksistensi<br />

dan ruang lingkup upaya sistematis yang menekankan<br />

aspek kesehatan dan keamanan produk dan/atau jasa<br />

sepanjang daur hidupnya. Pelanggan mengharapkan<br />

agar produk dan jasa dapat berfungsi sebagaimana<br />

mestinya, dan tidak mengandung resiko terhadap<br />

kesehatan dan keamanan. Tanggung jawab ini tidak<br />

hanya tergantung pada undang-undang dan peraturan,<br />

tetapi juga memperhatikan voluntary codes seperti<br />

O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk departemen hukum dan<br />

penjualan dari organisasi yang melapor maupun dokumentasi<br />

yang dikumpulkan melalui sistem manajemen kualitas.<br />

5. Referensi<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises, Revision<br />

2000 (Pedoman O<strong>EC</strong>D mengenai Perusahaan Multinasional,<br />

revisi 2000).<br />

Upaya untuk melindungi kesehatan dan keselamatan<br />

dari yang menggunakan atau yang menyerahkan<br />

produk/jasa, berdampak langsung terhadap reputasi<br />

organisasi, resiko hukum, dan resiko finansial organisasi<br />

akibat penarikan kembali produk/jasa, diferensiasi pasar<br />

terkait dengan kualitas, dan motivasi karyawan.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Dalam setiap tahapan daur hidup (life cycle),<br />

laporkan apakah dampak kesehatan dan<br />

keselamatan kerja atas suatu produk dan jasa dinilai<br />

untuk tujuan penyempurnaan.<br />

Konsep pengembangan produk<br />

Riset & pengembangan<br />

Sertifikasi<br />

Manufaktur dan produksi<br />

Pemasaran dan promosi<br />

Distribusi penyimpanan dan suplai<br />

Penggunaan dan pelayanan<br />

Pembuangan, penggunaan<br />

kembali, atau daur ulang<br />

Ya<br />

Tidak<br />

2.2 Laporkan persentase kategori produk dan<br />

jasa signifikan yang diliput dan dinilai untuk<br />

kepatuhannya terhadap prosedur tersebut.<br />

Version 3.0<br />

3


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: PR<br />

PR2 Jumlah ketidakpatuhan (noncompliance)<br />

peraturan dan voluntary<br />

codes sukarela mengenai dampak<br />

kesehatan dan keselamatan suatu<br />

produk dan jasa selama daur hidup,<br />

berdasarkan jenis penyelesaian.<br />

1. Relevansi<br />

Perlindungan kesehatan dan keselamatan diakui sebagai suatu<br />

tujuan dari berbagai peraturan nasional dan internasional.<br />

Kegagalan untuk mematuhi ketentuan hukum menunjukkan<br />

tidak memadainya sistem dan prosedur manajemen internal,<br />

atau kurangnya implementasi. Di samping konsekuensi finansial<br />

langsung, ketidakpatuhan (non-compliance) yang terjadi dapat<br />

meningkatkan resiko finansial karena cacatnya reputasi dan<br />

menurunnya motivasi karyawan. Jumlah ketidakpatuhan (noncompliance)<br />

peraturan harus diupayakan serendah mungkin.<br />

<strong>Indikator</strong> ini mengungkapkan tren perbaikan atau penurunan<br />

efektivitas pengendalian internal.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk departemen<br />

hukum dan riset dan pengembangan dari organisasi<br />

maupun dokumentasi yang dikumpulkan melalui sistem<br />

manajemen kualitas.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 <strong>Indikator</strong> ini membahas daur hidup produk atau jasa pada<br />

saat dapat digunakan dan oleh karena itu harus mematuhi<br />

peraturan mengenai kesehatan dan keselamatan produk<br />

dan jasa.<br />

2.2 Dalam hal organisasi pelapor belum mengidentifikasi<br />

suatu ketidakpatuhan (non-compliance) terhadap<br />

peraturan dan voluntary codes, suatu pernyataan singkat<br />

mengenai fakta ini sudah cukup.<br />

2.3 Dapatkan jumlah ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

peraturan terhadap peraturan dan voluntary codes<br />

mengenai kesehatan dan keselamatan produk dan jasa<br />

selama waktu pelaporan<br />

2.4 <strong>Indikator</strong> ini mengacu pada ketidakpatuhan (noncompliance)<br />

peraturan selama periode pelaporan<br />

termasuk ketidakpatuhan (non-compliance) yang terjadi<br />

pada tahun-tahun sebelumnya, jika ada.<br />

2.5 Dalam indikator ini tidak perlu diungkapkan bilamana<br />

suatu organisasi dinyatakan tidak melakukan<br />

ketidakpatuhan (non-compliance).<br />

2.6 Laporkan jumlah ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

peraturan kesehatan dan keselamatan atas produk dan<br />

jasa, diperinci menurut:<br />

• Ketidakpatuhan (non-compliance) peraturan dengan<br />

sanksi berupa denda atau penalti<br />

• Ketidakpatuhan (non-compliance) peraturan dengan<br />

sanksi berupa peringatan<br />

• Ketidakpatuhan (non-compliance) voluntary codes<br />

4<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: PR<br />

IP<br />

PR3 Jenis informasi produk dan<br />

jasa yang dibutuhkan oleh prosedur<br />

serta persentase produk dan jasa<br />

yang signifikan sesuai dengan persyaratan<br />

informasi tersebut.<br />

hukum, penjualan dan dokumentasi yang dikumpulkan melalui<br />

sistem manajemen kualitas.<br />

5. Referensi<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises, Revision<br />

2000 (Pedoman O<strong>EC</strong>D mengenai Perusahaan Multinasional,<br />

revisi 2000).<br />

1. Relevansi<br />

Kecukupan dan kemudahan dalam mengakses informasi<br />

tentang dampak keberlanjutan produk dan jasa (positif<br />

dan negatif) diperlukan oleh pelanggan dan konsumen<br />

akhir untuk membuat keputusan pembelian. Preferensi<br />

informasi tersebut seharusnya tercermin dalam pasar.<br />

Penyediaan informasi dan pemberian label yang<br />

tepat sehubungan dengan dampak keberlanjutan,<br />

terkait langsung dengan ketaatan terhadap peraturan<br />

dan codes tertentu (misalnya peraturan perundangundangan,<br />

atau O<strong>EC</strong>D Guidelines on Multinational<br />

Enterprises) dan dengan strategi merek serta diferensiasi<br />

pasar. Ukuran ini memberikan indikasi sejauh mana<br />

informasi dan pemasangan label berdampak pada<br />

keberlanjutan produk atau jasa.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Laporkan apakah informasi atas produk dan jasa<br />

serta pemberian label berikut ini disyaratkan oleh<br />

prosedur organisasi.<br />

Sumber komponen produk dan jasa<br />

Kandungan, terutama mengenai<br />

bahan-bahan yang berdampak<br />

buruk terhadap lingkungan atau<br />

sosial<br />

Keamanan atas penggunaan produk<br />

atau jasa<br />

Pembuangan produk dan dampak<br />

terhadap lingkungan/sosial<br />

Lain-lain (jelaskan)<br />

Ya<br />

Tidak<br />

2.2 Laporkan persentase dari kategori produk atau<br />

jasa yang signifikan yang diliput dan dan dinilai<br />

kepatuhannya dengan prosedur tersebut.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk departemen<br />

Version 3.0<br />

5


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: PR<br />

PR4 Jumlah ketidakpatuhan (noncompliance)<br />

peraturan dan voluntary<br />

codes mengenai penyediaan informasi<br />

produk dan jasa serta pemberian label,<br />

berdasarkan jenis penyelesaian.<br />

1. Relevansi<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk departemen<br />

hukum dan teknis dari organisasi maupun dokumentasi<br />

yang dikumpulkan melalui sistem manajemen kualitas.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

Tampilan dan spesifikasi informasi serta pemberian label<br />

produk dan jasa diatur dalam berbagai peraturan dan<br />

perundang-undangan. Kegagalan untuk mematuhi ketentuan<br />

hukum menunjukkan tidak memadainya sistem dan prosedur<br />

manajemen internal, atau kurangnya implementasi. Di<br />

samping konsekuensi finansial langsung, seperti penalti<br />

dan denda, ketidakpatuhan (non-compliance) peraturan<br />

akan menimbulkan resiko terhadap reputasi, kesetiaan serta<br />

kepuasan pelanggan. Jumlah ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

harus diupayakan serendah mungkin. <strong>Indikator</strong> ini dapat<br />

memberikan indikasi perbaikan atau penurunan efektivitas<br />

pengendalian internal.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 <strong>Indikator</strong> ini mengacu pada ketidakpatuhan (noncompliance)<br />

peraturan selama periode pelaporan<br />

termasuk ketidakpatuhan (non-compliance) yang terjadi<br />

pada tahun-tahun sebelumnya, jika ada.<br />

2.2 Dalam hal organisasi pelapor belum mengidentifikasi<br />

suatu ketidakpatuhan (non-compliance) terhadap<br />

peraturan dan voluntary codes, suatu pernyataan singkat<br />

mengenai fakta ini sudah cukup.<br />

2.3 Dapatkan jumlah ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

peraturan dan voluntary codes mengenai kesehatan dan<br />

keselamatan produk dan jasa selama periode pelaporan<br />

2.4 Dalam indikator ini tidak perlu diungkapkan bilamana<br />

suatu organisasi dinyatakan tidak melakukan<br />

ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

2.5 Laporkan jumlah ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

peraturan kesehatan dan keselamatan atas produk dan<br />

jasa, diperinci menurut:<br />

• Ketidakpatuhan (non-compliance) peraturan dengan<br />

sanksi berupa denda atau penalti<br />

• Ketidakpatuhan (non-compliance) peraturan dengan<br />

sanksi berupa peringatan<br />

• Ketidakpatuhan (non-compliance) voluntary codes<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

6<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: PR<br />

IP<br />

PR5 Praktek yang terkait dengan<br />

kepuasan pelanggan termasuk hasil<br />

survei yang mengukur kepuasan<br />

pelanggan.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

1. Relevansi<br />

Kepuasan pelanggan merupakan salah satu ukuran<br />

kepekaan organisasi terhadap kebutuhan pelanggannya<br />

dan, dari sudut pandang organisasi, sangat dibutuhkan<br />

untuk keberhasilan jangka panjang. Dalam konteks<br />

keberlanjutan, kepuasan pelanggan dapat memberikan<br />

petunjuk bagaimana organisasi menjaga hubungan<br />

dengan kelompok pemangku kepentingan tertentu<br />

(pelanggan). Kepuasan pelanggan dapat digunakan<br />

bersama dengan ukuran keberlanjutan lainnya. Bila<br />

digabungkan, kepuasan pelanggan dapat memberikan<br />

petunjuk sejauh mana organisasi mempertimbangkan<br />

kebutuhan pemangku kepentingan lainnya.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Laporkan praktek organisasi yang bertujuan untuk<br />

menilai dan mempertahankan kepuasan pelanggan,<br />

seperti:<br />

• Frekuensi pemantauan kepuasan pelanggan<br />

• Persyaratan standar mengenai metodologi<br />

survei dan<br />

• Mekanisme bagi pelanggan untuk memberikan<br />

umpan balik<br />

2.2 Laporkan hasil atau kesimpulan akhir dari survei<br />

(berdasarkan sample yang besarnya relevan secara<br />

statistik) yang telah dilaksanakan selama periode<br />

pelaporan yang meliputi informasi tentang:<br />

• Organisasi secara menyeluruh<br />

• Kategori utama produk atau jasa<br />

• Lokasi operasi yang signifikan<br />

2.3 Untuk tiap hasil survei yang dilaporkan, dapatkan<br />

kategori produk atau jasa, atau lokasi operasi yang<br />

bersangkutan.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk departemen<br />

hubungan pelanggan dan penelitian pengembangan<br />

dari organisasi yang melapor.<br />

Version 3.0<br />

7


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: PR<br />

PR6 Program komunikasi pemasaran,<br />

termasuk periklanan, promosi dan<br />

sponsorship yang mematuhi ketentuan<br />

hukum, standar dan voluntary codes.<br />

1. Relevansi<br />

Komunikasi pemasaran dirancang untuk mempengaruhi<br />

opini dan keputusan pembelian. Komunikasi pemasaran yang<br />

tidak mengikuti standar etika atau budaya yang diterima<br />

secara umum, pelanggaran ruang pribadi, standar ganda<br />

atau upaya untuk mempengaruhi penerima informasi yang<br />

rentan seperti anak-anak, dapat menjadi isu yang penting<br />

bagi para pemangku kepentingan, terlihat dengan semakin<br />

berkembangnya gerakan konsumen. Pendekatan pemasaran<br />

yang dianggap tidak patut dapat menimbulkan resiko bagi<br />

organisasi, termasuk pengucilan oleh konsumen dan pemangku<br />

kepentingan lain, cacat reputasi, biaya finansial, dan tindakan<br />

legislasi.<br />

5. Referensi<br />

• Rekomendasi International Chamber of<br />

Commerce (yaitu ICC International Code of<br />

Advertising Practice) dan Standar Prosedur<br />

(Codes of Conduct) yang terkait.<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises,<br />

Revision 2000 (Pedoman O<strong>EC</strong>D mengenai<br />

Perusahaan Multinasional, revisi 2000).<br />

Di samping kerangka hukum nasional atau internasional,<br />

voluntary codes dan kode standar prosedur (sepert ICC<br />

International Code of Advertising Practice atau Pedoman O<strong>EC</strong>D<br />

mengenai Perusahaan Multinasional) dimaksudkan untuk<br />

mewujudkan konsep tanggung jawab dalam komunikasi<br />

pemasaran. Penerapan kode standar prosedur dan peraturan<br />

dapat membantu organisasi untuk memastikan bahwa praktek<br />

komunikasi pemasaran organisasi sejalan dengan standarstandar<br />

yang diterima secara umum.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Laporkan segenap peraturan atau voluntary codes yang<br />

berkaitan dengan komunikasi pemasaran yang ditetapkan<br />

di seluruh organisasi.<br />

2.2 Laporkan frekuensi organisasi melakukan pengkajian<br />

tentang kepatuhannya terhadap standar atau kode<br />

tersebut.<br />

2.3 Laporkan apakah organisasi menjual produk-produk yang :<br />

• Dilarang di pasar-pasar tertentu<br />

• Menjadi subjek yang dipertanyakan oleh pemangku<br />

kepentingan atau menjadi debat publik<br />

2.4 Laporkan bagaimana organisasi menanggapi pertanyaan<br />

atau keprihatinan mengenai produk-produk ini.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk departemen hukum,<br />

penjualan dan pemasaran dari organisasi yang melapor.<br />

8<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: PR<br />

IP<br />

PR7 Jumlah ketidakpatuhan<br />

(non-compliance) peraturan<br />

dan voluntary codes sukarela<br />

mengenai komunikasi pemasaran<br />

termasuk periklanan, promosi dan<br />

sponsorship, menurut produknya.<br />

1. Relevansi<br />

ketidakpatuhan (non-compliance) peraturan<br />

menunjukkan tidak memadainya sistem dan prosedur<br />

manajemen internal, atau kurang dalam implementasi.<br />

Di samping konsekuensi finansial langsung, seperti<br />

penalti dan denda, ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

peraturan dapat menimbulkan resiko terhadap<br />

reputasi dan kesetiaan serta kepuasan pelanggan.<br />

Untuk suatu organisasi, jumlah ketidakpatuhan (noncompliance)<br />

peraturan harus tetap serendah mungkin.<br />

Kecenderungan yang ditunjukkan oleh indikator<br />

ini akan memberikan indikasi peningkatan atau<br />

kemunduran dalam efektivitas pengendalian intern.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk departemen hukum,<br />

penjualan dan pemasaran.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 <strong>Indikator</strong> ini mengacu pada ketidakpatuhan (noncompliance)<br />

peraturan selama periode pelaporan<br />

termasuk ketidakpatuhan (non-compliance) yang<br />

terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, jika ada.<br />

2.2 Dalam hal organisasi pelapor belum<br />

mengidentifikasi suatu ketidakpatuhan (noncompliance)<br />

terhadap peraturan dan voluntary<br />

codes, suatu pernyataan singkat mengenai fakta ini<br />

sudah cukup.<br />

2.3 Dapatkan jumlah ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

peraturan dan voluntary codes mengenai<br />

kesehatan dan keselamatan produk dan jasa selama<br />

periode pelaporan.<br />

2.4 Dalam indikator ini tidak perlu diungkapkan<br />

bilamana suatu organisasi dinyatakan tidak<br />

melakukan ketidakpatuhan (non-compliance).<br />

2.5 Laporkan jumlah ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

peraturan kesehatan dan keselamatan atas produk<br />

dan jasa, diperinci menurut:<br />

• Ketidakpatuhan (non-compliance) peraturan<br />

dengan sanksi berupa denda atau penalti<br />

• Ketidakpatuhan (non-compliance) peraturan<br />

dengan sanksi berupa peringatan<br />

• Ketidakpatuhan (non-compliance) voluntary<br />

codes<br />

Version 3.0<br />

9


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: PR<br />

PR8 Jumlah keseluruhan dari pengaduan<br />

yang berdasar mengenai pelanggaran<br />

keleluasaan pribadi (privacy) pelanggan<br />

dan hilangnya data pelanggan<br />

1. Relevansi<br />

Perlindungan atas keleluasaan pribadi (privacy) pelanggan<br />

adalah suatu sasaran yang diakui secara umum dalam<br />

peraturan-peraturan nasional dan kebijakan organisasi.<br />

ketidakpatuhan (non-compliance) peraturan menunjukkan<br />

tidak memadainya sistem dan prosedur manajemen internal<br />

dan kurang dalam implementasi. <strong>Indikator</strong> ini memberikan<br />

evalulasi tentang suksesnya sistem dan prosedur manajemen<br />

yang berkaitan dengan perlindungan keleluasaan pribadi<br />

(privacy) pelanggan. Di samping konsekuensi finansial<br />

langsung, seperti penalti dan denda, ketidakpatuhan (noncompliance)<br />

peraturan dapat menimbulkan resiko terhadap<br />

reputasi dan kesetiaan serta kepuasan pelanggan. Untuk<br />

suatu organisasi, jumlah ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

peraturan harus tetap serendah mungkin. Kecenderungan<br />

yang ditunjukkan oleh indikator ini akan memberikan indikasi<br />

peningkatan atau kemunduran dalam efektivitas pengendalian<br />

intern.<br />

Pengaduan yang diteguhkan<br />

Pernyataan tertulis oleh badan yang berwenang untuk<br />

mengatur atau badan resmi sejenis yang diberikan<br />

kepada organisasi pelapor yang mengidentifikasi<br />

pelanggara keleluasaan pribadi (privacy) pelanggan,<br />

atau pengaduan terhadap organisasi yang diakui sah<br />

oleh organisasi.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi dapat diambil dari depatemen yang<br />

bertanggung jawab untuk pelayanan pelanggan,<br />

hubungan masyarakat dan/atau urusan hukum.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasi jumlah total pengaduan mengenai<br />

pelanggaran keleluasaan pribadi (privacy) pelanggan<br />

selama periode pelaporan.<br />

2.2 Bila pada tahun-tahun sebelumnya ada sejumlah<br />

pelanggaran yang cukup tinggi, hal ini harus disebutkan.<br />

2.3 Laporkan jumlah total pengaduan yang diterima mengenai<br />

pelanggaran keleluasaan pribadi (privacy) pelanggan,<br />

dikategorikan menurut:<br />

• Pengaduan yang diterima dari pihak luar dan<br />

diteguhkan oleh organisasi.<br />

• Pengaduan dari badan yang berwenang.<br />

2.4 Laporkan jumlah kebocoran, pencurian atau kehilangan<br />

data pelanggan yang dapat diidentifikasi.<br />

2.5 Di mana organisasi pelapor tidak mengidentifikasi suatu<br />

pengaduan yang berarti, suatu pernyataan singkat tentang<br />

fakta ini sudah cukup.<br />

3. Definisi<br />

Pelanggaran keleluasaan pribadi (privacy) pelanggan<br />

Meliputi semua pelanggaran terhadap peraturan hukum<br />

yang ada dan kode (etik) di mana organisasi pelapor menjadi<br />

anggota dalam hal perlindungan keleluasaan pribadi (privacy)<br />

pelanggan.<br />

10<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: PR<br />

IP<br />

PR9 Nilai moneter dari denda<br />

ketidakpatuhan (non-compliance)<br />

hukum dan peraturan mengenai<br />

pengadaan dan penggunaan produk<br />

dan jasa<br />

1. Relevansi<br />

Tingkat ketidakpatuhan (non-compliance) peraturan<br />

dalam suatu organisasi adalah indikator dari<br />

kemampuan manajemen untuk memastikan bahwa<br />

operasionalnya mengikuti suatu parameter kinerja. Dari<br />

perspektif ekonomi, memastikan kepatuhan membantu<br />

mengurangi resiko finansial yang dapat langsung terjadi<br />

melalui denda atau tidak langsung melalui dampak pada<br />

reputasi. Kekuatan dari prestasi organisasi dalam bidang<br />

kepatuhan dapat mempengaruhi kemampuannya<br />

mengembangkan operasi atau memperoleh izin.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Dapatkan sanksi administratif atau hukum yang<br />

diterapkan pada organisasi yang gagal mematuhi<br />

hukum atau peraturan, termasuk deklarasi<br />

internasional/konvensi/perjanjian kerja sama dan<br />

peraturan-peraturan nasional, subnasional, regional<br />

atau lokal mengenai pengadaan dan penggunaan<br />

produk dan jasa organisasi yang melapor. Informasi<br />

yang relevan untuk indikator ini termasuk tapi tidak<br />

terbatas hanya pada data dari PR2, PR4, dan PR7.<br />

2.2 Laporkan total nilai moneter dari denda-denda<br />

yang signifikan.<br />

2.3 Dalam hal organisasi pelapor belum<br />

mengidentifikasi suatu ketidakpatuhan (noncompliance)<br />

terhadap hukum atau peraturanperaturan,<br />

suatu pernyataan singkat tentang fakta<br />

ini sudah cukup.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber data termasuk hasil audit atau sistem<br />

pemantauan berkala yang dilaksanakan oleh<br />

departemen hukum. Informasi mengenai denda dalam<br />

bentuk moneter dapat ditemukan di bagian keuangan.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

Version 3.0<br />

11


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong><br />

Praktek Tenaga Kerja dan Pekerjaan<br />

yang Layak (LA)<br />

© 2000-2006 GRI<br />

Version 3.0


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

IP<br />

Praktek Tenaga Kerja dan<br />

Pekerjaan yang Layak<br />

Aspek: Pekerjaan<br />

CORE<br />

CORE<br />

ADD<br />

LA1<br />

LA2<br />

LA3<br />

Jumlah angkatan kerja menurut jenis pekerjaan,<br />

kontrak pekerjaan, dan wilayah.<br />

Jumlah dan tingkat perputaran karyawan<br />

menurut kelompok usia, jenis kelamin, dan<br />

wilayah.<br />

Manfaat yang disediakan bagi karyawan tetap<br />

(purna waktu) yang tidak disediakan bagi<br />

karyawan tidak tetap (paruh waktu) menurut<br />

kegiatan pokoknya.<br />

Aspek: Tenaga kerja / Hubungan Manajemen<br />

CORE<br />

CORE<br />

LA4<br />

LA5<br />

Persentase karyawan yang dilindungi perjanjian<br />

tawar-menawar kolektif tersebut.<br />

Masa pemberitahuan minimal tentang<br />

perubahan kegiatan penting, termasuk apakah<br />

hal itu dijelaskan dalam perjanjian kolektif<br />

tersebut.<br />

Aspek: Pelatihan dan Pendidikan<br />

CORE<br />

ADD<br />

ADD<br />

LA10 Rata-rata jam pelatihan tiap tahun tiap karyawan<br />

menurut kategori/kelompok karyawan.<br />

LA11 Program untuk pengaturan keterampilan dan<br />

pembelajaran sepanjang hayat yang menujang<br />

kelangsungan pekerjaan karyawan dan membantu<br />

mereka dalam mengatur akhir karier.<br />

LA12 Persentase karyawan yang menerima peninjauan<br />

kinerja dan pengembangan karier secara teratur.<br />

Aspek: Keberagaman dan Kesempatan <strong>Set</strong>ara<br />

CORE<br />

CORE<br />

LA13 Komposisi badan pengelola/penguasa dan perincian<br />

karya¬wan tiap kategori/kelompok menurut<br />

jenis kelamin, kelompok usia, keanggotaan kelompok<br />

minoritas, dan keanekaragaman indikator lain.<br />

LA14 Perbandingan/rasio gaji dasar pria terhadap<br />

wanita menurut kelompok/kategori karyawan.<br />

Aspek: Kesehatan dan Keselamatan Jabatan<br />

ADD CORE<br />

CORE<br />

ADD<br />

LA6<br />

LA7<br />

LA8<br />

LA9<br />

Persentase jumlah angkatan kerja yang<br />

resmi diwakili dalam panitia Kesehatan dan<br />

Keselamatan antara manajemen dan pekerja<br />

yang membantu memantau dan memberi<br />

nasihat untuk program keselamatan dan<br />

kesehatan jabatan.<br />

Tingkat kecelakaan fisik, penyakit karena<br />

jabatan, hari-hari yang hilang, dan<br />

ketidakhadiran, dan jumlah kematian karena<br />

pekerjaan menurut wilayah.<br />

Program pendidikan, pelatihan, penyuluhan/<br />

bimbingan, pencegahan, pengendalian risiko<br />

setempat untuk membantu para karyawan,<br />

anggota keluarga dan anggota masyarakat,<br />

mengenai penyakit berat/berbahaya.<br />

Masalah kesehatan dan keselamatan yang<br />

tercakup dalam perjanjian resmi dengan serikat<br />

karyawan.<br />

Version 3.0<br />

1


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

Relevansi<br />

Agenda Kerja Layak dari ILO dibingkai dalam hubungan globalisasi<br />

wajar yang bertujuan guna mencapai pertumbuhan<br />

dan pemerataan ekonomi melalui kombinasi tujuan sosial dan<br />

ekonomi. Agenda itu mencakup empat (4) unsur, yakni:<br />

• Pekerjaan;<br />

• Dialog;<br />

• Hak-hak; dan<br />

• Perlindungan<br />

Susunan indikator Tenaga Kerja secara luas didasarkan pada<br />

pengertian kerja yang layak. Rancangan itu dimulai dengan<br />

keterangan tentang cakupan dan keberagaman angkatan kerja<br />

organsasi pelapor dengan menekankan pada aspek distribusi/<br />

penebaran jenis kelamin dan kelompok usia.<br />

Pendekatan dialog antara organisasi dan karyawan, dan derajat<br />

karyawan diorganisasikan dalam badan perwakilan yang dicakup<br />

oleh indikator LA4 (yang melengkapi indikator HR tentang<br />

Kebebasan Perserikatan dan Tawar-menawar Kolektif) dan LA5.<br />

Perlindungan fisik dan kesejahteraan karyawan dalam pekerjaan<br />

dicakup dalam <strong>Indikator</strong> Kesehatan dan Keselamatan Kerja<br />

(LA6, LA7, LA8, LA9), yang tujuan keduanya mencakup program<br />

dan kinerja statistik tentang kesehatan dan keselamatan.<br />

Cakupan kepentingan dan sumbangan karyawan terhadap<br />

tujuan sosial yang luas dari keberagaman dan perlakuan setara<br />

dicakup dalam LA14 (Kesetaraan Bayaran), LA13 (Keberagaman)<br />

dan LA3 (Manfaat). indikator dalam kelompok/katagori ekonomi<br />

juga memberi informasi yang sesuai. Organisasi pendukung<br />

membantu karyawan meningkatkan keterampilan dan potensi<br />

(yang juga meningkatkan modal tenaga manusia untuk organisasi)<br />

yang ditunjukkan dalam indikator LA10, LA11, dan LA12.<br />

Definisi<br />

Jumlah angkatan kerja<br />

Jumlah keseluruhan orang yang bekerja untuk organisasi<br />

pada akhir periode laporan (seperti jumlah semua<br />

karyawan dan pekerja yang diawasi seperti tersebut di<br />

atas).<br />

Pekerja<br />

Istilah umum bagi setiap orang yang melakukan<br />

pekerjaan, terlepas dari hubungan kontrak.<br />

Karyawan<br />

Seseorang yang, menurut hukum nasional atau praktek,<br />

dikenal sebagai karyawan organisasi yang membuat<br />

laporan.<br />

Pekerja yang diawasi<br />

Seseorang yang melakukan pekerjaan secara teratur di<br />

tempat untuk, atau atas nama, organisasi yang membuat<br />

laporan (pelapor) tetapi tidak dikenal sebagai karyawan<br />

menurut hukum atau praktek nasional.<br />

Kontraktor bebas<br />

Seseorang yang secara hukum dikenal sebagai<br />

wiraswasta.<br />

Perjanjian Kesepakatan Bersama<br />

Ada dua (2) jenis perjanjian kesepakatan bersama yang<br />

ditujukan untuk pemberi kerja atau pekerja. Perjanjian<br />

yang ditujukan untuk pemberi kerja adalah perjanjian<br />

tertulis tentang syarat-syarat pekerjaan yang disetujui<br />

antara seorang pemberi kerja, sekelompok pemberi kerja,<br />

atau satu atau lebih organisasi pemberi kerja. Perjanjian<br />

yang ditujukan untuk pekerja adalah perjanjian antara<br />

satu atau lebih wakil organisasi pekerja, atau, dalam hal<br />

organisasi semacam itu tidak ada, perwakilan pekerja<br />

yang dipilih dan diberi kewenangan oleh mereka sesuai<br />

dengan hukum dan peraturan nasional.<br />

Kategori karyawan<br />

Perincian umum karyawan berdasar atas fungsi atau<br />

departemen dalam organisasi (misalnya manajemen<br />

senior, manajemen menengah, ahli, teknisi, administrasi,<br />

produksi, dan pemeliharaan, dan seterusnya) yang<br />

berasal dari sistem sumber daya manusia (SDM)<br />

organisasi sendiri.<br />

Rujukan umum<br />

• Konvensi ILO 135, ‘Konvensi Perwakilan Pekerja’,<br />

1971.<br />

• Konvensi ILO 87, ‘Kebebasan Berserikat dan<br />

2<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

IP<br />

Perlindungan atas Hak untuk Berorganisasi’, 1948.<br />

• Konvensi ILO 98, ‘Hak Berorganisasi dan Tawarmenawar<br />

Kolektif, 1949.<br />

• Deklarasi ILO tentang Prinsip dan Hak-hak Dasar di<br />

Tempat Kerja, 1998.<br />

• Agenda ILO tentang Kerja yang Layak, 1999.<br />

• Deklarasi Tiga Pihak dari ILO tentang Multinasional<br />

dan Kebijakan Sosial, 1997, yang diubah tahun 2000.<br />

• Prinsip O<strong>EC</strong>D tentang Penguasaan/Pengelolaan<br />

Perusahaan, 2004.<br />

• Garis-Garis Besar Pedoman untuk Perusahaan<br />

Multinasional, Direvisi tahun 2000.<br />

• Deklarasi Millenium Perserikatan Bangsa-Bangsa,<br />

2000.<br />

Version 3.0<br />

3


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

LA1 Jumlah angkatan kerja menurut<br />

jenis pekerjaan, kontrak pekerjaan, dan<br />

wilayah.<br />

1. Relevansi<br />

Besarnya angkatan kerja memberi wawasan/pengertian tentang<br />

skala dampak yang ditimbulkan oleh masalah tenaga kerja.<br />

Memerinci angkatan kerja menurut jenis pekerjaan, kontrak<br />

pekerjaan, dan wilayah (wilayah merujuk kepada ”negara” atau<br />

”wilayah geografis”) akan menggambarkan bagaimana organisasi<br />

itu menyusun SDM-nya untuk melaksanakan strategi umum.<br />

Organisasi juga memberi wawasan/pengertian umum tentang<br />

model bisnis/usaha organisasi, dan menawarkan tanda-tanda<br />

stabilitas kerja dan tingkat keuntungan yang ditawarkan oleh<br />

organisasi. Sebagai dasar untuk menghitung beberapa indikator<br />

lain, ukuran angkatan kerja adalah standar yang menormalisasikan<br />

faktor untuk banyak indikator yang terintegrasi. Kenaikan atau<br />

penurunan pekerjaan neto, ditandai oleh data yang dilaporkan<br />

dalam jangka tiga (3) tahun atau lebih, merupakan unsur penting<br />

bagi sumbangan organisasi kepada pengembangan ekonomi<br />

secara keseluruhan dan kelangsungan angkatan kerja.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasi seluruh angkatan kerja (karyawan dan pekerja<br />

yang terawasi), yang bekerja pada organisasi yang melaporkan<br />

pada akhir masa pelaporan. Pekerja ”Supply Chain” tidak<br />

dimasukkan dalam indikator ini.<br />

2.2 Identifikasi jenis kontrak dan status purna waktu dan<br />

paruh waktu karyawan berdasarkan peraturan perundangundangan<br />

negara di mana mereka berada.<br />

2.3 Gabungkan statistik negara untuk menghitung statistik<br />

global dan abaikan perbedaan dalam hal definisi hukumnya.<br />

Meskipun definisi dari jenis kontrak dan hubungan kerja<br />

purna waktu dan paruh waktu dapat berbeda antara satu<br />

dan lain negara, angka global masih akan mencerminkan<br />

hubungan menurut hukum.<br />

2.4 Laporkan jumlah angkatan kerja yang diperinci menurut<br />

karyawan dan pekerja yang diawasi.<br />

2.5 Jika sebagian besar pekerjaan organisasi dilaksanakan<br />

oleh pekerja yang secara hukum dikenal self-employed<br />

(wiraswasta ), atau oleh seseorang selain karyawan atau<br />

pekerja yang diawasi, hal ini harus dilaporkan.<br />

2.6 Laporkan jumlah angkatan kerja yang diperinci menurut jenis<br />

kontrak pekerjaan.<br />

2.7 Laporkan jumlah karyawan tetap yang diperinci menurut<br />

jenis pekerjaan.<br />

2.8 Laporkan jumlah angkatan kerja yang diperinci menurut<br />

wilayah, dengan menggunakan perincian geografis berdasarkan<br />

pada skala kegiatan organisasi.<br />

pariwisata atau pertanian).<br />

3. Definisi<br />

Jenis pekerjaan<br />

Purna waktu: Seorang karyawan purna waktu<br />

didefinisikan sesuai dengan peraturan dan praktek<br />

nasional tentang waktu kerja (misalnya peraturan<br />

nasional menentukan bahwa ‘purna waktu’ berarti<br />

sedikitnya sembilan (9) bulan setiap tahun dan<br />

sedikitnya tiga puluh (30) jam per minggu.<br />

Paruh waktu: Seorang karyawan paruh waktu adalah<br />

seorang karyawan yang jam kerjanya setiap minggu,<br />

bulan, atau tahun lebih sedikit dari karyawan purna<br />

waktu seperti didefinisikan di atas.<br />

Kontrak Pekerjaan<br />

Suatu kontrak pekerjaan seperti dikenal menurut hukum<br />

atau praktek nasional yang mungkin tertulis, lisan, atau<br />

tersirat (misalnya ketika semua tanda pekerjaan ada<br />

tetapi tanpa adanya kontrak tertulis atau lisan dengan<br />

saksi).<br />

Kontrak Tanpa Batas atau Kontrak Tetap<br />

Kontrak pekerjaan tetap adalah suatu kontrak dengan<br />

karyawan untuk kerja purna waktu atau paruh waktu<br />

untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.<br />

Kontrak Dengan Syarat Tetap atau Kontrak Sementara<br />

Suatu kontrak dengan syarat tetap adalah kontrak<br />

pekerjaan seperti didefinisikan di atas yang berakhir<br />

ketika jangka waktu tertentu habis, atau ketika tugas<br />

tertentu yang dalam perkiraan waktu terlampir telah<br />

selesai.<br />

Kontrak pekerjaan sementara berjangka terbatas dan<br />

diakhiri oleh kejadian khusus, termasuk berakhirnya<br />

proyek atau tingkat kerja, kembalinya personel yang<br />

digantikan.<br />

4. Dokumentasi<br />

Informasi daftar gaji yang terseda di tingkat nasional<br />

atau lokal harus menyediakan data untuk indikator ini.<br />

5. Referensi<br />

• ILO: Klasifikasi Internasional atas Status dalam<br />

Pekerjaan.<br />

• ILO: <strong>Indikator</strong> Kunci Pasar Tenaga Kerja.<br />

• ILO: <strong>Indikator</strong> Internet LABORSTA.<br />

• PBB: Komponen dan Wilayah Makro Dunia.<br />

2.9 Jika dapat dilakukan, jelaskan setiap variasi musiman yang<br />

jelas dalam jumlah pekerjaan (misalnya di bidang industri<br />

4<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

IP<br />

LA2 Jumlah keseluruhan dan tingkat<br />

perputaran (turnover) karyawan<br />

menurut kelompok usia, jenis<br />

kelamin, dan wilayah.<br />

1. Relevansi<br />

Tingkat perputaran (turnover rate) yang tinggi dapat<br />

menunjukkan tingkat ketidakpastian dan ketidakpuasan<br />

para karyawan, atau mungkin mengisyaratkan perubahan<br />

mendasar dalam struktur kegiatan pokok organisasi.<br />

Pola perputaran (turnover) yang tidak rata menurut<br />

umur dan jenis kelamin dapat menunjukkan ketidakcocokan<br />

atau ketidaksamaan potensi di tempat kerja. Perputaran<br />

(turnover) dapat berdampak dalam perubahan<br />

atas modal manusia dan intelektual dari organisasi dan<br />

dapat berdampak pada produktivitas. Perputaran (turnover)<br />

mempunyai implikasi biaya langsung, baik dalam<br />

hal penggajian yang berkurang atau pengeluaran lebih<br />

besar untuk penerimaan pekerja. Penciptaan pekerjaan<br />

dapat diperkirakan dengan menggunakan data yang<br />

dilaporkan menurut indikator LA1.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Tentukan jumlah karyawan yang meninggalkan<br />

pekerjaan selama masa pelaporan.<br />

2.2 Laporkan jumlah dan tingkat karyawan yang<br />

meninggalkan pekerjaan selama periode pelaporan,<br />

diperinci menurut jenis kelamin, kelompok usia<br />

(misalnya 50) dan wilayah.<br />

3. Definisi<br />

Perputaran (turnover)<br />

Banyaknya karyawan yang meninggalkan organisasi<br />

dengan sukarela, atau karena pemberhentian, pensiun,<br />

atau kematian dalam tugas.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber-sumber informasi yang potensial mencakup<br />

informasi daftar gaji yang tersedia di tingkat nasional<br />

atau lokal. Rencana kegiatan dan pernyataan ulang<br />

atas sasaran strategis organisasi dapat memberikan<br />

penjelasan pada variasi yang tinggi atas angka-angka itu.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

Version 3.0<br />

5


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

LA3 Manfaat yang disediakan bagi<br />

karyawan tetap (purna waktu) yang tidak<br />

disediakan bagi karyawan sementara<br />

(paruh waktu) menurut kegiatan pokok.<br />

1. Relevansi<br />

Data yang dilaporkan menurut indikator ini menunjukkan<br />

ukuran investasi organisasi di bidang sumber daya manusia<br />

dan manfaat minimal yang ditawarkan kepada karyawan<br />

paruh waktu. Mutu manfaat untuk staf purna waktu adalah<br />

faktor kunci dalam mempertahankan karyawan. <strong>Indikator</strong> juga<br />

menawarkan atau memberikan indikasi tentang investasi relatif<br />

di berbagai bagian angkatan kerja.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Tentukan manfaat yang ditawarkan kepada semua<br />

karyawan.<br />

2.2 Laporkan mana manfaat berikut yang merupakan standar<br />

bagi karyawan purna waktu organisasi tetapi tidak<br />

disediakan bagi karyawan sementara atau karyawan paruh<br />

waktu menurut kegia¬tan utamanya:<br />

• Asuransi kematian<br />

• Perlindungan kesehatan<br />

• Perlindungan kecacatan<br />

• Cuti Melahirkan (Maternity / Paternity Leave)<br />

• Dana pensiun<br />

• Kepemilikan saham, dan<br />

• Lain-lain<br />

2.3 Manfaat standar mengacu kepada manfaat yang biasanya<br />

diberikan, paling tidak kepada sebagian besar karyawan<br />

purna waktu. Hal ini tidak harus diartikan sebagai sesuatu<br />

yang diberikan kepada setiap karyawan purna waktu pada<br />

organisa¬si. Maksud indikator itu ialah untuk menerangkan<br />

kepada karyawan purna waktu mana yang pantas untuk<br />

diharapkan.<br />

pembayaran ekstra liburan, dapat juga dimasukkan ke<br />

dalam indikator ini.<br />

Manfaat in-kind seperti dana olahraga atau penitipan<br />

anak, makan siang gratis dalam jam kerja, dan program<br />

kesejahteraan karyawan umum yang setara dikeluarkan<br />

dari indikator ini.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial memasukkan perjanjian<br />

kolektif lokal atau pusat, yang memberi contoh manfaat<br />

yang dibayar di luar batas minimum resmi. Alat acuan<br />

lain dapat masuk ring¬kasan manfaat , bahan orientasi<br />

karyawan dan kontrak karyawan.<br />

5. Referensi<br />

• Konvensi ILO 102, ‘Konvensi Keamanan Sosial<br />

(Standar Minimal)’, 1952<br />

• Konvensi ILO 121, ‘Konvensi Benefit/Bantuan<br />

Kecelakaan dalam Pekerjaan’, 1964<br />

• Konvensi ILO 128, ‘Konvensi Kecacadan, Usia Tua,<br />

dan Benefit/Bantuan Korban Selamat’, 1967.<br />

• Konvensi ILO 130, ‘Konvensi Perawatan Medis dan<br />

Benefit Sakit’, 1969.<br />

• Konvensi ILO 132, ‘Konvensi Hari Libur Bergaji’, 1970.<br />

• Konvensi ILO 140, ‘Konvensi Cuti Belajar Dibayar,<br />

1974.<br />

• Konvensi ILO 157, ‘Konvensi Pemeliharaan Hak<br />

Keamanan Sosial, 1982.<br />

• Konvensi ILO 168, ‘Konvensi Promosi dan<br />

Perlindungan Pekerjaan terhadap Pengangguran,<br />

1988.<br />

• Konvensi ILO 183, ‘Konvensi Perlindungan Peran<br />

Keibuan’, 2000.<br />

• O<strong>EC</strong>D Garis Pedoman untuk Perusahaan<br />

Multinasional, Revisi 2000.<br />

3. Definisi<br />

Manfaat<br />

Hal ini mengacu kepada manfaat langsung yang diberikan<br />

dalam bentuk pemberian uang yang dibayar oleh organisasi<br />

pelapor atau penggantian pengeluaran yang dibayar oleh<br />

karyawan. Pem¬bayaran yang tumpang-tindih lebih dari<br />

atau di atas minimal yang dibenarkan, pembayaran karena<br />

pemberhentian, manfaat tambahan untuk kecelakaan<br />

karyawan, manfaat bagi karyawan korban bencana, dan<br />

6<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

IP<br />

LA4 Persentase pegawai yang dijamin<br />

oleh perjanjian kesepakatan<br />

bersama<br />

1. Relevansi<br />

Kebebasan berserikat adalah hak asasi manusia seperti<br />

yang tersirat dalam konvesi dan deklarasi internasional,<br />

terutama ILO Core Convention 87 & 98. Kesepakatan<br />

bersama adalah bentuk perikatan pemangku<br />

kepentingan yang sangat penting dan sangat relevan<br />

untuk pedoman pelaporan. Bentuk perikatan pemangku<br />

kepentingan membantu kerangka institusi dan<br />

memberikan sumbangan terhadap stabilitas masyarakat.<br />

Bersama dengan tata kelola perusahaan (corporate<br />

governance), kesepakatan bersama merupakan<br />

kerangka yang memberikan kontribusi manajemen<br />

yang bertanggung jawab. Merupakan instrumen<br />

yang digunakan berbagai pihak untuk memberikan<br />

kemudahan usaha kolaborasi untuk meningkatkan<br />

dampak sosial yang positif terhadap suatu organisasi.<br />

Persentase pegawai yang dijamin oleh perjanjian kerja<br />

sama bersama adalah sesuatu gambaran bagaimana<br />

praktek organisasi dalam kebebasan berserikat.<br />

• ILO Convention 98, ‘Right to Organise and Collective Bargaining’,<br />

1949.<br />

• ILO Convention 135, ‘Workers’ Representatives Convention’,<br />

1971.<br />

• ILO Convention 154, ‘Collective Bargaining Convention’,<br />

1981 and Recommendations 91, ‘Collective Agreements<br />

Recommendation’ 1951, and 163, ‘Collective Bargaining<br />

Recommendation’, 1981.<br />

• ILO Declaration on Fundamental Principles and Rights at<br />

Work, 86th Session, 1998, Article 2 (a).<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises, Section IV,<br />

Paragraph 2 (a).<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Gunakan data dari PR 1 sebagai dasar perhitungan<br />

persentase untuk indikator ini<br />

2.2 Ikatan perjanjian kerja sama bersama ditandatangani<br />

oleh organisasi yang melaporkan atau asosiasi<br />

organisasi di mana mereka menjadi anggota.<br />

Perjanjian kerja sama ini dapat dilaksanakan pada<br />

tingkat tempat kerja, organisasi, regional, nasional,<br />

dan sektor<br />

2.3 Identifikasi jumlah pegawai yang dijamin dalam<br />

perjanjian kerja sama bersama<br />

2.4 Laporkan persentase total pegawai yang dijamin<br />

dalam perjanjian kerja sama bersama<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Catatan perjanjian pengakuan formal dan perjanjian<br />

bersama yang ditandatangani oleh serikat pekerja<br />

independen yang umumnya disimpan oleh departemen<br />

personalia atau sumber daya manusia.<br />

5. Referensi<br />

• ILO Convention 87, ‘Freedom of Association and<br />

Protection of the Right to Organise’, 1948.<br />

Version 3.0<br />

7


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

LA5 Masa pemberitahuan minimal<br />

tentang perubahan kegiatan operasi<br />

penting, termasuk apakah hal itu perlu<br />

dijelaskan dalam perjanjian kerja sama<br />

bersama.<br />

1. Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> ini memberi wawasan mengenai praktek organisasi<br />

untuk memastikan diskusi pada waktu yang tepat tentang<br />

perubahan operasi penting, dan mengikat pegawai dan wakilwakil<br />

mereka untuk merundingkan dan melaksanakan perubahan<br />

itu (yang dapat membawa implikasi positif atau negatif<br />

bagi pekerja). Konsultasi yang efektif dan tepat pada waktunya<br />

dengan pekerja dan pihak terkait lain, apabila memungkinkan,<br />

(seperti dengan pemerintah), membantu mengurangi dampak<br />

yang merugikan akibat perubahan kegiatan operasi pada<br />

pekerja dan komunitas terkait.<br />

Tenggang waktu pemberitahuan minimal menunjukkan indikator<br />

kemampuan suatu organisasi untuk mempertahankan<br />

tingkat kepuasan dan motivasi pegawai ketika melakukan perubahan<br />

penting atas kegiatan operasi. <strong>Indikator</strong> ini juga dapat<br />

memberi pernilaian praktek konsultasi organisasi berkenaan<br />

dengan harapan yang sesuai dengan norma-norma internasional.<br />

Praktek konsultasi yang berha¬sil baik pada hubungan<br />

industri dapat membantu terbentuknya lingkungan kerja yang<br />

positif<br />

• Declaration concerning the aims and purposes of<br />

the International Labour Organisation (Declaration<br />

of Philadelphia), 1944 - Annex to the ILO Constitution<br />

– Articles I (a) and III (e).<br />

• ILO Convention 158, ‘Termination of Employment<br />

Convention’, 1982.<br />

• ILO Tripartite Declaration of Principles Concerning<br />

Multinational Enterprises and Social Policy, 1997.<br />

• ILO Recommendation 94, ‘Co-operation at the Level<br />

of the Undertaking Recommendation’, 1952.<br />

• ILO Recommendation 135, ‘Workers’ Representatives’<br />

Convention’, 1971.<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Companies, Revision<br />

2000, Article IV, (2) & (3).<br />

• O<strong>EC</strong>D Principles of Corporate Governance, 2004<br />

(notably Article IV, C, D & E).<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Laporkan jumlah minimum tenggang waktu pemberitahuan<br />

yang diberikan kepada pegawai dan perwakilan<br />

mereka sebelum pelaksanaan perubahan kegiatan operasi<br />

penting yang dapat sangat mempengaruhi mereka.<br />

2.2 Bagi organisasi dengan perjanjian kerja sama bersama,<br />

laporkan apakah masa tenggang waktu pemberitahuan<br />

dan/atau ketentuan untuk konsultasi dan negosiasi diuraikan<br />

secara terperinci dalam perjanjian bersama.<br />

3. Definisi<br />

Perubahan kegiatan operasi penting<br />

Perubahan atas pola kegiatan operasi organisasi yang dapat<br />

membawa konsekuensi positif atau negatif bagi pegawainya.<br />

Perubahan demikian dapat mencakup, misalnya, restrukturisasi,<br />

outsourcing operasi, penutupan, perluasan, pembukaan baru,<br />

pengambilalihan, penjualan semua atau sebagian organisasi,<br />

atau merger.<br />

4. Dokumentasi<br />

Perjanjian khusus dengan organisasi akan memberi data untuk<br />

indikator ini.<br />

5. Referensi<br />

8<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

IP<br />

LA6 Persentase jumlah angkatan<br />

kerja yang resmi diwakili dalam<br />

panitia kesehatan dan keselematan<br />

antara manajemen dan pekerja yang<br />

membantu memantau dan memberi<br />

nasihat untuk program kesehatan<br />

dan keselamatan kerja.<br />

1. Relevansi<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial mencakup prosedur organisasi dan<br />

risalah/laporan komite kesehatan dan keselamatan kerja.<br />

5. Referensi<br />

• Konvensi ILO 155, ‘Konvensi Kesehatan dan Keselamatan<br />

Kerja ‘ dan <strong>Protokol</strong> 155, 1981.<br />

• Konvensi ILO 161, ‘Konvensi Pelayanan Kesehatan Jabatan’<br />

1985.<br />

Komite kesehatan dan keselamatan kerja dengan<br />

perwakilan gabungan dapat mempermudah budaya<br />

positif kesehatan dan keselamatan. Penggunaan lomite<br />

adalah satu cara mengikutsertakan pekerja untuk<br />

mendorong peningkatan kesehatan dan keselamatan<br />

jabatan. <strong>Indikator</strong> ini memberi satu tindakan luas di<br />

mana angkatan kerja secara aktif dilibatkan dalam<br />

kesehatan dan keselamatan.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Tentukan komite kesehatan dan keselamatan yang<br />

membantu memantau dan menasihati program<br />

kesehatan dan keselamatan kerja pada tingkat<br />

fasilitas atau lebih tinggi dengan perwa¬kilan<br />

gabungan antara manajemen dan pekerja. ‘Resmi’<br />

mengacu kepada komite yang keberadaan dan<br />

fungsinya terjalin dalam organisasi pelapor<br />

dan struktur kekuasaan/kewenangan, dan yang<br />

beroperasi menurut hukum-hukum tertulis tertentu.<br />

2.2 Laporkan persentase jumlah angkatan kerja yang<br />

diwakili dalam panitia kesehatan dan keselamatan<br />

gabungan manajemen-pekerja secara resmi:<br />

• Tidak ada<br />

• Sampai 25 persen<br />

• Antara 25 persen dan 50 persen<br />

• Antara 50 persen dan 75 persen; dan<br />

• Di atas 75 persen<br />

2.3 Laporkan tingkat di mana komite secara khusus<br />

beroperasi (misalnya pada tingkat fasilitas dan/<br />

atau pada multifasilitas, wilayah, kelompok,<br />

atau perusahaan). Hal ini mungkin sebagai hasil<br />

kebijakan dan prosedur resmi atau praktek tidak<br />

resmi dalam organisasi.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

Version 3.0<br />

9


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

LA7 Tingkat kecelakaan fisik, penyakit di<br />

tempat kerja, hari-hari yang hilang, dan<br />

ketidakhadiran, dan jumlah kematian<br />

karena pekerjaan menurut wilayah.<br />

1. Relevansi<br />

Kinerja kesehatan dan keselamatan merupakan ukuran kunci<br />

bagi kepedulian organisasi. Rendahnya kecelakaan fisik dan<br />

tingkat ketidakhadiran biasanya terkait dengan kecenderungan<br />

positif moral dan produktivitas staf. <strong>Indikator</strong> ini akan<br />

menunjukkan apakah praktek manajemen kesehatan dan<br />

keselamatan mengakibatkan kesehatan jabatan dan insiden<br />

keselamatan semakin sedikit.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 <strong>Indikator</strong> ini harus memberi perincian regional untuk yang<br />

berikut:<br />

• Jumlah angkatan kerja (misalnya jumlah karyawan<br />

ditambah pekerja terawasi); dan<br />

• Kontraktor bebas yang bekerja di lapangan kepada<br />

siapa organisasi pelapor bertanggung jawab untuk<br />

keselamatan umum atas lingkungan kerja.<br />

2.2 Karena beberapa organisasi pelapor memasukkan<br />

kecelakaan kecil (tingkat pertolongan pertama) pada<br />

data mereka, menunjukkan apakah kecelakaan seperti itu<br />

dimasukkan atau dikeluarkan.<br />

2.3 Perhitungan ”hari-hari yang hilang” menunjukkan:<br />

• Apakah ”hari” berarti ”hari kalender” atau ”hari kerja<br />

yang dijadwalkan” dan<br />

• Pada saat mana penghitungan ”hari-hari yang hilang”<br />

mulai (misalnya hari setelah kejadian atau 3 hari<br />

setelah kejadian).<br />

2.4 Laporkan tingkat kecelakaan fisik, penyakit di tempat kerja,<br />

hari yang hilang, dan ketidakhadiran pada masa pelaporan<br />

dengan menggunakan rumus berikut menurut wilayah:<br />

• Tingkat kecelakaan fisik (injury)<br />

Catatan: Tingkat luka harus meliputi kematian.<br />

• Tingkat penyakit di tempat kerja (TPTK)<br />

• Tingkat hari yang hilang (THYH)<br />

• Tingkat ketidakhadiran (TA)<br />

Catatan: Faktor 200.000 berasal dari 50 minggu kerja @ 40<br />

hari kerja dibagi 100 karyawan. Dengan menggunakan faktor<br />

ini, tingkat yang dihasilkan dihubungkan dengan jumlah<br />

karyawan dan tidak dengan jumlah jam.<br />

2.5 Laporkan kematian dalam periode pelaporan<br />

dengan menggunakan angka nyata (absolut) dan<br />

bukan angka tingkat.<br />

2.6 Laporkan sistem peraturan yang digunakan dalam<br />

mencatat dan melaporkan statistik kecelakaan.<br />

”Kode ILO tentang Praktek Pencatatan dan<br />

Pemberitahuan Kecelakaan dan Penyakit di Tempat<br />

Kerja” disusun untuk pelaporan, pencatatan, dan<br />

pemberitahuan kece¬lakaan di tempat kerja.<br />

Karena hukum nasional mengikuti rekomendasi<br />

ILO, cukuplah menyatakan bahwa kenyataan dan<br />

praktek telah mengikuti hukum. Di institusi yang<br />

hukum nasionalnya tidak mengikuti, nyatakan<br />

sistem mana dari peraturan itu yang berlaku<br />

dan bagaimana hubungannya dengan Kode ILO<br />

tersebut.<br />

3. Definisi<br />

Kecelakaan fisik<br />

Kecelakaan tidak fatal dan fatal yang timbul di luar waktu<br />

kerja atau dalam waktu kerja.<br />

Tingkat kecelakaan fisik<br />

Frekuensi kecelakaan berkaitan dengan jumlah jam<br />

yang digunakan oleh jumlah angkatan kerja dalam masa<br />

pelaporan.<br />

Penyakit di tempat kerja<br />

Penyakit yang timbul dari keadaan atau kegiatan kerja<br />

(misalnya stres atau secara teratur berhubungan dengan<br />

bahan kimia berbahaya), atau timbul dari kecelakaan<br />

berkaitan dengan kerja.<br />

Tingkat penyakit di tempat kerja<br />

Frekuensi penyakit di tempat kerja berkaitan dengan<br />

jumlah jam yang digunakan oleh jumlah angkatan kerja<br />

dalam masa pelaporan.<br />

Hari yang hilang<br />

Waktu (hari) yang tidak dapat digunakan untuk bekerja<br />

(karenanya ”hilang”) sebagai akibat pekerja atau para<br />

pekerja yang tidak dapat melaksanakan pekerjaan<br />

mereka karena kecelakaan atau penyakit berkaitan<br />

dengan pekerjaan. Penggantian atas tugas terbatas<br />

atau kerja alternatif untuk organisasi yang sama tidak<br />

dihitung sebagai hari yang hilang.<br />

Tingkat hari yang hilang<br />

Dampak dari kecelakaan atau penyakit berkaitan jabatan<br />

sebagaimana dicerminkan dalam waktu tidak bekerja<br />

oleh pekerja yang terkena. Hal itu dinyatakan dengan<br />

membandingkan jumlah hari yang hilang dengan<br />

jumlah seluruh jam yang dijadwalkan untuk dikerjakan<br />

10<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

IP<br />

oleh angkatan kerja dalam masa pelaporan.<br />

Ketidakhadiran<br />

Karyawan yang tidak masuk kerja karena sebab apa pun,<br />

dan bukan sebagai akibat kecelakaan atau penyakit<br />

berkaitan dengan kerja. Absen karena cuti yang<br />

diperkenankan seperti hari libur, belajar, cuti melahirkan<br />

(maternity / paternity), dan cuti sebagai imbal kesedihan<br />

tidak dimasukkan.<br />

Tingkat ketidakhadiran<br />

Hal ini mengacu kepada hitungan hari yang hilang<br />

karena ketidakhadiran seperti pengertian di atas,<br />

dinyatakan dalam persentase atas jumlah hari yang<br />

menurut jadwal digunakan bekerja oleh angkatan kerja<br />

untuk masa yang sama.<br />

Kematian<br />

Kematian karyawan yang terjadi dalam periode<br />

pelaporan terbaru yang timbul karena kecelakaan di<br />

tempat kerja atau penyakit yang diderita atau diidap<br />

pada saat dipekerjakan oleh organisasi pelapor.<br />

4. Dokumentasi<br />

Catatan karyawan, kontrak karyawan, catatan kehadiran<br />

karyawan, dan kecelakaan akan melengkapi data<br />

indikator ini.<br />

5. Referensi<br />

• Konvensi ILO 155, ”Konvensi Kesehatan &<br />

Keselamatan karena Jabatan” dan <strong>Protokol</strong> 155,<br />

1981.<br />

• Kode ILO Praktek tentang Pencatatan dan<br />

Pemberitahuan Kecelakaan dan Penyakit karena<br />

Jabatan, 1995.<br />

• Garis Pedoman ILO tentang Sistem Manajemen<br />

Keselamatan dan Kesehatan karena Jabatan, 2001.<br />

Version 3.0<br />

11


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

LA8 Program pendidikan, pelatihan,<br />

penyuluhan/bimbingan, pencegahan,<br />

pengendalian risiko setempat untuk<br />

membimbing para karyawan, anggota<br />

keluarga dan anggota masyarakat,<br />

mengenai penyakit berat/berbahaya.<br />

1. Relevansi<br />

Sebagai bagian dari strategi pencegahan untuk menangani<br />

kesehatan dan keselamatan angkatan kerja, indikator ini<br />

sesuai untuk setiap organisasi. Ada keterkaitan khusus dengan<br />

organisasi yang bekerja di negara-negara dengan risiko tinggi<br />

atau insiden penyakit menular dan bagi orang-orang yang<br />

mempunyai profesi dengan insiden tinggi terhadap penyakit<br />

khusus. <strong>Indikator</strong> ini membantu menunjukkan sejauh mana<br />

masalah-masalah tersebut telah diperhatikan/dicakup dalam<br />

program organisasi dan sampai derajat mana praktek terbaik<br />

telah dilaksanakan. Pencegahan penyakit berat menyumbang<br />

terhadap kesehatan, kepuasan dan stabilitas angkatan kerja,<br />

dan membantu mempertahankan kelayakan sosial organisasi<br />

itu untuk beroperasi di suatu daerah atau masyarakat.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial yang mencakup kebijakan<br />

organisasi dan prosedur operasi, risalah atau catatan<br />

panitia kesehatan kerja, dan catatan pusat kesehatan<br />

dan sumber daya manusia.<br />

5. Referensi<br />

• Referensi Silang GRI (GRI Cross-Reference): Pedoman<br />

Pelaporan tentang HIV/AIDS: Dokumen Sumber<br />

GRI. KP8 adalah indikator baku berkenaan dengan<br />

HIV/AIDS. Organisasi pelapor yang beroperasi di<br />

daerah dengan perataan (prevalensi) tinggi perlu<br />

mempertimbangkan perluasan pelaporan mereka<br />

mengenai isu itu dan dapat melihat Dokumen<br />

Sumber GRI (GRI Resource Document) sebagai<br />

contoh.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Laporkan program berkenaan dengan anggota<br />

angkatan kerja yang membantu, keluarga mereka, atau<br />

anggota masyarakat mengenai penyakit berat dengan<br />

menggunakan daftar berikut:<br />

Program bantuan<br />

Penerima<br />

Program<br />

Pekerja<br />

Keluarga<br />

Pekerja<br />

Anggota<br />

Masyarakat<br />

Pendidikan<br />

/Bimbingan<br />

Pelatihan<br />

Pencegahan/<br />

Pengedalian<br />

Risiko<br />

Pengobatan<br />

Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak<br />

2.2 Laporkan apakah ada pekerja yang terlibat dalam kegiatan<br />

berkenaan dengan jabatan yang mengalami insiden atau<br />

penyakit khusus dengan risiko tinggi.<br />

3. Definisi<br />

Pengendalian risiko<br />

Praktek yang dimaksudkan untuk membatasi terbukanya atau<br />

tersebarnya penyakit.<br />

Penyakit berat<br />

Perusakan kesehatan berkenaan dengan pekerjaan atau di luar<br />

pekerjaan dengan konsekuensi berat bagi karyawan, keluarga<br />

karyawan, dan masyarakat, seperti HIV/AIDS, diabetes, RSI, dan<br />

stres.<br />

12<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

IP<br />

LA9 Masalah kesehatan dan<br />

keselamatan yang tercakup dalam<br />

perjanjian resmi dengan serikat<br />

pekerja.<br />

1. Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> ini menunjukkan salah satu cara yang<br />

menjamin kesehatan dan keselamatan angkatan kerja.<br />

Perjanjian resmi dapat meningkatkan penerimaan<br />

tanggung jawab kedua belah pihak dan pengembangan<br />

kultur kesehatan dan keselamatan yang positif. <strong>Indikator</strong><br />

ini akan mengungkap sampai seberapa jauh angkatan<br />

kerja dilibatkan secara aktif dalam perjanjian pekerjamanajemen<br />

yang menentukan rangkaian manajemen<br />

kesehatan dan keselamatan.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Laporkan apakah perjanjian resmi (lokal atau<br />

global) dengan serikat pekerja mencakup<br />

kesehatan dan keselamatan. (Ya/ Tidak)<br />

3. Definisi<br />

Perjanjian resmi<br />

praktek untuk dilaksanakan.<br />

Dokumen tertulis yang ditandatangani kedua belah pihak yang<br />

menyatakan, maksud keduanya untuk menaati/mematuhi apa<br />

yang terkandung dalam dokumen itu. Isi itu dapat mencakup,<br />

misalnya, perjanjian kesepakatan bersama lokal, demikian juga<br />

perjanjian dengan kerangka nasional dan internasional.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial mencakup perjanjian kolektif<br />

dengan serikat pekerja.<br />

5. Referensi<br />

• Konvensi ILO 155, ”Konvensi Kesehatan dan Keselamatan<br />

Kerja” dan <strong>Protokol</strong> 155, 1981.<br />

2.2 Jika ya, laporkan seberapa jauh berbagai<br />

masalah kesehatan dan keselamatan dilindungi/<br />

dicakup oleh perjanjian lokal dan global yang<br />

ditandatangani oleh organisasi.<br />

Perjanjian pada tingkat lokal khususnya menunjuk<br />

masalah seperti:<br />

• Perangkat pelindung pribadi<br />

• Panitia kesehatan dan keselamatan gabungan<br />

manajemen-karyawan;<br />

• Keikutsertaan wakil pekerja dalam<br />

pemeriksaan kesehatan, audit, dan<br />

penyelidikan kecelakaan;<br />

• Pelatihan dan pendidikan;<br />

• Tata cara penyampaian keluhan;<br />

• Hak untuk menolak pekerjaan tidak aman<br />

(berisiko), dan<br />

• Pemeriksaan berkala.<br />

Perjanjian pada tingkat global khususnya<br />

menunjuk masalah seperti:<br />

• Kesediaan mengikuti ILO;<br />

• Rangkaian atau struktur untuk memecahkan<br />

masalah;<br />

• Keterikatan pada janji (commitment)<br />

mengenai standar kinerja sasaran atau tingkat<br />

Version 3.0<br />

13


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

LA10 Rata-rata jam pelatihan per<br />

tahun per karyawan menurut kategori/<br />

kelompok karyawan.<br />

1. Relevansi<br />

Memelihara dan mengembangkan sumber daya<br />

manusia, terutama melalui pelatihan yang memperluas<br />

dasar pengetahuan karyawan, merupakan kunci dalam<br />

pengembangan organisasi. <strong>Indikator</strong> ini memberi pemahaman<br />

yang mendalam atas besarnya investasi serta seberapa jauh<br />

investasi mengembangan SDM dilakukan di seluruh tingkatan<br />

karyawan. Akses untuk mendapatkan kesempatan pelatihan<br />

juga dapat menunjang kemajuan lain di bidang kinerja sosial,<br />

seperti jaminan mendapatkan kesempatan setara di tempat<br />

kerja. Hal ini juga memberi sumbangan yang mendorong<br />

pengembangan pribadi dan organisasi.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial mencakup catatan karyawan<br />

dan jadwal pelatihan.<br />

5. Referensi<br />

• ILO Convention 142, “Human Resources<br />

Development Convention”, 1975.<br />

• ILO Convention 140, “Paid Educational Leave<br />

Convention”, 1974<br />

• ILO Convention 155, “Occupational Safety and<br />

Health Convention”, 1981.<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises,<br />

Revision 2000, Articles II, 4 & IV,2 (c), 3 & 5<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Tentukan jumlah karyawan di setiap kategori pekerjaan di<br />

seluruh lini kegiatan organisasi pada akhir tahun pelaporan<br />

(misalnya. manajemen senior, manajemen madya,<br />

profesional, teknisi, administrasi, produksi, pemeliharaan,<br />

dan sebagainya). Organisasi harus menentukan kategori<br />

pekerjaan berdasarkan pada sistem SDM yang berlaku.<br />

2.2 Tentukan jumlah jam yang dimanfaatkan untuk pelatihan<br />

personel pada setiap kategori karyawan.<br />

2.3 Laporkan rata-rata jumlah jam pelatihan per tahun<br />

per karyawan menurut kategori karyawan dengan<br />

mengguna¬kan rumus berikut:<br />

Jumlah jam per kategori karyawan<br />

LA 10 = --------------------------------------------------<br />

Jumlah karyawan per karyawan<br />

3. Definisi<br />

Pelatihan<br />

Mengacu kepada:<br />

• Semua jenis pelatihan dan pengajaran kejuruan;<br />

• Cuti belajar yang diberikan organisasi pelapor bagi para<br />

karyawannya;<br />

• Pelatihan atau pendidikan yang dilakukan di luar<br />

organisasi dan yang dibayar seluruhnya atau sebagian oleh<br />

organisasi pelapor; dan<br />

• Pelatihan dengan topik khusus seperti kesehatan dan<br />

keselamatan.<br />

Pelatihan tidak mencakup pengarahan di tempat oleh pengawas<br />

(supervisor).<br />

14<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

IP<br />

LA11 Program untuk manajemen<br />

keahlian dan pembelajaran<br />

seumur hidup yang menunjang<br />

kelangsungan kerja pegawai dan<br />

membantu mereka dalam mengatur<br />

jenjang karier.<br />

1. Relevansi<br />

Program untuk manajemen keahlian memungkinkan<br />

organisasi untuk merencanakan penguasaan<br />

keterampilan yang membekali pegawai untuk mencapai<br />

sasaran strategis dalam lingkungan kerja yang berubah.<br />

Tenaga kerja yang berpengetahuan dan terampil<br />

meningkatkan kompetensi dan keahlian organisasi<br />

dan memberikan arahan tingkat kepuasan pegawai<br />

yang terkait dengan kinerja yang mening¬kat. Bagi<br />

mereka yang menghadapi pensiun, kepercayaan diri<br />

dan mutu kerja dikembangkan oleh ilmu pengetahuan<br />

yang akan mendukung mereka dalam masa transisi dari<br />

kerja menjadi pensiun. Tujuan pembelajaran seumur<br />

hidup adalah untuk meningkatkan pengembangan<br />

pengetahuan dan kompetensi yang memungkinkan<br />

setiap warga negara menyesuaikan diri dengan<br />

perubahan pasar tenaga kerja yang sangat cepat dan<br />

berperan serta dengan aktif dalam semua bidang<br />

kehidupan ekonomi.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Apakah program pelatihan atau bantuan pegawai<br />

untuk meningkatkan keterampilan mencakup halhal<br />

berikut:<br />

• Pelatihan internal;<br />

• Bantuan pendanaan untuk pelatihan eksternal<br />

atau pendidikan formal; dan<br />

• Ketentuan periode sabbatical leave dengan<br />

jaminan kembali bekerja.<br />

2.2 Apakah program bantuan transisi untuk menopang<br />

pegawai yang pensiun atau yang diberhentikan<br />

mencakup hal-hal berikut?<br />

• Perencanaan sebelum pensiun untuk calon<br />

pensiunan.<br />

pegawai?<br />

• Pelayanan penempatan kerja, dan<br />

• Bantuan (misalnya, pelatihan dan bimbingan)<br />

untuk menghadapi masa peralihan ke masa<br />

tidak bekerja.<br />

3. Definisi<br />

Kelangsungan kerja pegawai<br />

Penyesuaian terhadap perubahan permintaan dari<br />

tempat kerja melalui penguasaan keterampilan baru.<br />

Akhir karier<br />

Pemberhentian kerja sesuai usia pensiun menurut<br />

undang-undang nasional atau pemberhentian akibat<br />

restrukturisasi.<br />

Manajemen keahlian<br />

Kebijakan dan program yang berpusat pada<br />

pengembangan keterampilan pegawai untuk memenuhi<br />

perubahan kebutuhan strategis dari organisasi dan/atau<br />

industri.<br />

Pembelajaran berkelanjutan<br />

Penguasaan dan perbaharuan kemampuan,<br />

pengetahuan, kualifikasi, dan kepentingan sepanjang<br />

hidup, dari masa sebelum sekolah sampai setelah<br />

pensiun.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi mencakup prosedur organisasi untuk<br />

pemberhentian dan catatan pegawai.<br />

5. Referensi<br />

• ILO Convention 142, “Human Resources<br />

Development Convention”, 1975.<br />

• ILO Convention 168, “Employment Promotion and<br />

Protection against Unemployment Convention”,<br />

1988.<br />

• Pelatihan ulang bagi mereka yang berniat<br />

untuk terus bekerja;<br />

• Kompensasi untuk pemutusan kerja;<br />

• Jika kompensasi akibat pemutusan kerja<br />

diberikan, apakah langkah itu sudah<br />

mempertimbangkan usia dan masa kerja<br />

Version 3.0<br />

15


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

LA12 Persentase karyawan yang<br />

menerima penilaian kinerja dan review<br />

pengembangan karier secara reguler.<br />

1. Relevansi<br />

Penilaian kinerja karyawan terhadap sasaran umum membantu<br />

pengembangan pribadi karyawan dan memberikan andil baik<br />

bagi manajemen keahlian maupun pengembangan SDM di<br />

dalam organisasi. Peningkatan kepuasan karyawan memiliki<br />

korelasi dengan peningkatan kinerja organisasi. <strong>Indikator</strong> ini<br />

secara tidak langsung menunjukkan bagaimana organisasi<br />

pelapor bekerja untuk memantau dan mempertahankan<br />

keterampilan karyawannya. Apabila dilaporkan dalam<br />

hubungannya dengan LA12, indikator ini membantu<br />

menggambarkan pendekatan organisasi dalam meningkatkan<br />

keterampilan. Persentase karyawan yang menerima penilaian<br />

kinerja serta penelaahan berkala dalam pengembangan karier<br />

menunjukkan sejauh mana sistem ini dilaksanakan di dalam<br />

organisasi.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasikan jumlah total karyawan dalam organisasi.<br />

Jumlah ini harus sesuai dengan yang dilaporkan menurut<br />

LA1.<br />

2.2 Laporkan persentase total jumlah karyawan yang<br />

menerima penilaian kinerja secara resmi selama periode<br />

pelaporan.<br />

3. Definisi<br />

Penilaian Kinerja Reguler dan Pengembangan Karier<br />

Target kinerja dan review didasarkan atas kriteria kenal<br />

terhadap karyawan dan atasannya. Penilaian ini dilakukan<br />

sepengetahuan karyawan setidaknya satu kali per tahun. Ini<br />

dapat termasuk evaluasi oleh atasan langsung karyawan,<br />

saingan atau oleh karyawan lain yang lebih luas. Penilaian ini<br />

dapat juga memanfaatkan tenaga kerja dari bagian Sumber<br />

Daya Manusia.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk data karyawan.<br />

5. Referensi<br />

• Konvensi ILO 142, “Human Resources Development”, 1975.<br />

16<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

IP<br />

LA13 Komposisi badan pengelola<br />

(governance bodies) dan<br />

perincian pegawai menurut<br />

kategori berdasarkan jenis<br />

kelamin, kelompok umur, anggota<br />

kelompok minoritas, dan indikator<br />

keberagaman lainnya.<br />

1. Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> ini menyediakan sebuah ukuran kuantitatif<br />

dari keberagaman yang ada di dalam sebuah<br />

organisasi dan dapat digunakan sebagai patokbanding<br />

(benchmark) secara sektoral atau regional. Tingkatan<br />

keberagaman dalam sebuah organisasi dapat<br />

memberikan pemahaman mendalam terhadap modal<br />

manusia (human capital) yang dimiliki organisasi.<br />

Perbandingan antara keberagaman tenaga kerja dengan<br />

keberagaman manajemen juga menawarkan informasi<br />

akan kesetaraan untuk memperoleh kesempatan.<br />

Informasi detail mengenai komposisi tenaga kerja juga<br />

dapat membantu dalam menilai isu mana yang relevan<br />

terhadap kelompok tenaga kerja tertentu.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Dapatkan indikator keberagaman yang digunakan<br />

oleh organisasi berdasarkan rekaman dan<br />

pengawasannya sendiri yang relevan untuk<br />

dilaporkan.<br />

2.2 Dapatkan informasi mengenai jumlah pegawai<br />

dalam setiap kategori pegawai (misalnya, dewan,<br />

manajemen senior, manajemen menengah,<br />

administratif, produksi, dan sebagainya). Kategori<br />

pegawai harus ditetapkan berdasarkan sistem<br />

pengelolaan sumber daya manusia yang dipakai<br />

oleh organisasi. Jumlah total pegawai harus sesuai<br />

dengan yang dilaporkan dalam LA1.<br />

2.3 Laporkan persentase pegawai dalam setiap kategori<br />

berikut: (% dari pegawai)<br />

• Jenis kelamin: wanita/pria<br />

• Kelompok minoritas<br />

• Kelompok usia: di bawah 30 tahun, 30-50<br />

tahun, di atas 50 tahun<br />

2.4 Laporkan persentase individu dalam organisasi<br />

badan pengelola (misalnya, dewan direktur, komite<br />

manajemen, atau badan yang sejenis untuk<br />

organisasi yang bukan korporasi) dalam setiap<br />

kategori berikut: (% dari Individu dalam Badan<br />

Pengelola)<br />

• Jenis kelamin: wanita/pria<br />

• Kelompok minoritas<br />

• Kelompok usia: di bawah 30 tahun, 30-50<br />

tahun, di atas 50 tahun<br />

3. Definisi<br />

Badan pengelola (governance bodies)<br />

Komite atau badan yang bertanggung jawab dalam<br />

mengarahkan strategi organisasi, pengawasan<br />

manajemen, dan akuntabilitas manajemen terhadap<br />

organisasi yang lebih besar dan segenap pemangku<br />

kepentingannya.<br />

<strong>Indikator</strong> keberagaman<br />

<strong>Indikator</strong> di mana organisasi memperoleh data yang<br />

dapat berupa, sebagai contoh, kewarganegaraan, garis<br />

keturunan dan asal suku/etnis, keyakinan/kepercayaan<br />

yang dianut, dan ketidakmampuan fisik/cacat fisik yang<br />

dimiliki.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk rekaman pegawai<br />

dan laporan dari komite kesetaraan kesempatan (equal<br />

opportunity committees).<br />

5. Referensi<br />

• Convention on the Elimination of All Forms of<br />

Discrimination Against Women: UN GA: Resolution<br />

34/180 of 18 December 1979.<br />

• Declaration on the Elimination of All Forms of<br />

Intolerance and of Discrimination based on Religion<br />

or Belief: UN GA: Resolution 36/55 of 26 November<br />

1981.<br />

• Declaration on Race and Racial Prejudice: General<br />

Conference UNESCO 20th session on 27 November<br />

1978.<br />

• Declaration on the Rights of Persons Belonging<br />

to National or Ethnic, Religious and Linguistic<br />

Minorities: UN GA Resolution 47/135 of 18<br />

December 1992.<br />

• ILO Tripartite Declaration of Principles Concerning<br />

Multinational Enterprises and Social Policy: Art. 21,<br />

22, 23, 1977.<br />

• ILO Declaration on Fundamental Principles and<br />

Rights at Work, 1998.<br />

• ILO Convention concerning Discrimination in<br />

Respect of Employment and Occupation, 1958<br />

(No.111).<br />

Version 3.0<br />

17


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

• International Convention on the Elimination of All Forms of<br />

Racial Discrimination of 4 January 1969<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises Revision<br />

2000 (Employment and Industrial Relation Section)<br />

• United Nations <strong>Global</strong> Compact Principle 6, 26 July 2000<br />

• United Nations Declaration on the Elimination of All Forms<br />

of Racial Discrimination: UN GA Resolution 1904 (XVIII) of<br />

20 November 1963<br />

18<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: LA<br />

IP<br />

LA14 Rasio gaji dasar pegawai pria<br />

terhadap pegawai wanita berdasarkan<br />

kategori pegawai.<br />

1. Relevansi<br />

Banyak negara telah memperkenalkan legislasi untuk<br />

melaksanakan prinsip kesetaraan gaji dalam jenis<br />

pekerjaan yang sama. Isu ini didukung oleh konvensi<br />

ILO No 100 mengenai “Renumerasi yang setara antara<br />

Pegawai Pria dan Pegawai Wanita untuk Pekerjaan yang<br />

Sama”. Kesetaraan gaji merupakan sebuah faktor dalam<br />

mempertahankan tenaga kerja yang berkualitas. Ketika<br />

ada ketidaksetaraan, organisasi akan menghadapi risiko<br />

terhadap reputasinya dan tuntutan hukum karena<br />

tindakan diskriminatif.<br />

5. Referensi<br />

• ILO Convention 100, “Equal Remuneration for Men<br />

and Women Workers for Work of Equal Value”, 1951.<br />

• ILO Convention 111, “Discrimination in Respect of<br />

Employment and Occupation”, 1958.<br />

• ILO Declaration on Fundamental Principles and<br />

Rights at Work, 1998.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Dapatkan informasi mengenai jumlah pegawai<br />

dalam setiap kategori dari semua operasi<br />

organisasi, diperinci berdasarkan jenis kelamin<br />

dengan mempergunakan informasi dalam<br />

LA13. Kategori kepegawaian harus ditetapkan<br />

berdasarkan sistem pengelolaan sumber daya<br />

manusia yang dipakai oleh organisasi. Jumlah<br />

pegawai harus sesuai dengan yang dilaporkan<br />

dalam LA1.<br />

2.2 Dapatkan informasi mengenai gaji dasar untuk<br />

wanita dan untuk pria dalam setiap kategori<br />

pegawai.<br />

2.3 Periode apa pun dalam pembayaran gaji (misalnya,<br />

per jam, per minggu, per bulan, atau per tahun)<br />

dapat digunakan untuk data ini.<br />

2.4 Laporkan rasio dari gaji dasar wanita terhadap gaji<br />

dasar pria untuk setiap kategori kepegawaian.<br />

3. Definisi<br />

Sebuah pembayaran dalam jumlah minimum tertentu<br />

kepada pegawai dalam menjalankan pekerjaannya.<br />

Ini tidak termasuk upah tambahan lainnya seperti<br />

berdasarkan jumlah tahun bekerja, kerja lembur, bonus,<br />

pembayaran keuntungan atau pengeluaran tambahan<br />

lain (misalnya, pengeluaran transportasi).<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi untuk indikator ini termasuk rekaman<br />

pegawai dan rekaman gaji.<br />

Version 3.0<br />

19


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong><br />

Hak Asasi Manusia (HR)<br />

© 2000-2006 GRI<br />

Version 3.0


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: HR<br />

IP<br />

HAK ASASI MANUSIA<br />

<strong>Indikator</strong> Kinerja<br />

Aspek: (Praktek) Investasi dan Pengadaan<br />

CORE<br />

CORE<br />

HR1<br />

HR2<br />

Persentase dan jumlah perjanjian<br />

investasi signifikan yang memuat<br />

klausula HAM atau telah menjalani proses<br />

skrining/filtrasi terkait dengan aspek hak<br />

asasi manusia.<br />

Persentase pemasok dan kontraktor<br />

signifikan yang telah menjalani proses<br />

skrining/filtrasi atas aspek HAM<br />

Aspek: Kerja Paksa dan Kerja Wajib<br />

CORE<br />

HR7<br />

Kegiatan yang teridentifikasi<br />

mengandung resiko signifikan yang<br />

dapat menimbulkan kasus kerja paksa<br />

atau kerja wajib, dan langkah-langkah<br />

yang telah diambil untuk mendukung<br />

upaya penghapusan kerja paksa atau<br />

kerja wajib.<br />

Aspek: Praktek Pengamanan<br />

ADD<br />

HR8<br />

Persentase personel penjaga keamanan<br />

yang terlatih dalam hal kebijakan dan<br />

prosedur organisasi terkait dengan aspek<br />

HAM yang relevan dengan kegiatan<br />

organisasi<br />

ADD<br />

HR3<br />

Jumlah waktu pelatihan bagi karyawan<br />

dalam hal kebijakan serta prosedur<br />

yang terkait dengan aspek HAM yang<br />

relevan dengan kegiatan organisasi,<br />

termasuk persentase karyawan yang telah<br />

menjalani pelatihan.<br />

Aspek: Hak Penduduk Asli<br />

ADD<br />

HR9<br />

Jumlah kasus pelanggaran yang terkait<br />

dengan hak penduduk asli dan langkahlangkah<br />

yang diambil.<br />

Aspek: Non-diskriminasi<br />

CORE<br />

HR4<br />

Jumlah kasus diskriminasi yang terjadi<br />

dan tindakan yang diambil/dilakukan.<br />

Aspek: Kebebasan Berserikat dan Perjanjian Bersama<br />

CORE<br />

HR5<br />

Segala kegiatan berserikat dan berkumpul<br />

yang diidentifikasi dapat menimbulkan<br />

resiko yang signifikan serta tindakan<br />

yang diambil untuk mendukung hak-hak<br />

tersebut.<br />

Aspek: Pekerja Anak<br />

CORE<br />

HR6<br />

Kegiatan yang teridentifikasi<br />

mengandung resiko yang signifikan<br />

timbulnya terjadinya kasus pekerja anak,<br />

dan langkah-langkah yang diambil untuk<br />

menduku upaya penghapusan pekerja<br />

anak.<br />

Version 3.0<br />

1


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: HR<br />

Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> Kinerja HAM mengungkapkan informasi<br />

mengenai dampak dan kegiatan dari organisasi terhadap<br />

hak-hak asasi sipil dan politik dari para pemangku<br />

kepentingan. Aspek-aspek yang tercakup dalam<br />

<strong>Indikator</strong> Kinerja mengacu pada standar internasional,<br />

terutama Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dari<br />

Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations Universal<br />

Declaration of Human Rights) dan Deklarasi ILO Tahun<br />

1998 tentang Prinsip dan Hak- Dasar di Tempat Kerja<br />

(ILO Declaration on the Fundamental Principles and<br />

Rights at Work of 1998), khususnya delapan Konvensi<br />

Inti (Core Conventions) dari ILO. Walaupun berkaitan<br />

erat, penggolongan HAM dan Praktek Ketenagakerjaan<br />

mempunyai tujuan yang berbeda. <strong>Indikator</strong> HAM<br />

terfokus pada cara organisasi pelapor menangani<br />

dan menghormati hak-hak dasar manusia, sedangkan<br />

<strong>Indikator</strong> Praktik Ketenagakerjaan menggambarkan<br />

kualitas pekerjaan dan lingkungan kerja.<br />

<strong>Indikator</strong> Kinerja ini bertujuan untuk memberikan<br />

ukuran-ukuran yang dapat diperbandingkan atas akibat<br />

atau hasil, yang oleh karena itu difokuskan terutama<br />

pada kasus-kasus yang terkait dengan inti HAM. Kasus<br />

pada umumnya berdampak baik bagi kelompok<br />

pemangku kepentingan, maupun di samping resiko<br />

bagi organisasi di mana pelanggaran terjadi. Perangkat<br />

indikator ini mencakup tiga bidang umum :<br />

• Kasus yang terkait dengan aspek dasar HAM (HR4<br />

dan HR9);<br />

• Kapasitas dan pengetahuan yang memungkinkan<br />

organisasi secara efektif menangani masalah hak<br />

asasi manusia, termasuk pelatihan dan prosedur<br />

internal (HR3, HR5, HR6, HR7 dan HR8); dan<br />

3. Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa: Kovenan<br />

Internasional tentang Hak <strong>Ekonomi</strong>, Sosial dan<br />

Budaya tahun 1966 (United Nations Convention:<br />

International Covenant on Economic, Social and<br />

Cultural Rights, 1966)<br />

4. Deklarasi ILO tentang Prinsip dan Hak Dasar di<br />

Tempat Kerja Tahun 1998 (ILO Declaration on<br />

Fundamental Principles and Rights at Work,<br />

1998), khususnya kedelapan Konvensi Inti (Core<br />

Conventions) dari ILO.<br />

5. Deklarasi Wina dan Program Pelaksanaan tahun<br />

1993 (Vienna Declaration and Programme of Action,<br />

1993).<br />

Referensi Umum<br />

• ILO Declaration on Fundamental Principles and<br />

Rights at Work, 1998.<br />

• ILO Tripartite Declaration Concerning Multinational<br />

Enterprises and Social Policy, 2001, Third Edition.<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises,<br />

Revision 2000.<br />

• United Nations Universal Declaration of Human<br />

Rights, 1948.<br />

• ILO Convention (169) concerning Indigenous and<br />

Tribal Peoples in Independent Countries, 1989.<br />

• Integrasi organisasi pada masalah HAM dalam<br />

hubungan bisnis eksternal organisasi , baik dalam<br />

melakukan investasi maupun dalam kaitan<br />

hubungan dengan para pemasok (KH 1 dan KH 2).<br />

Definisi<br />

Hak Asasi Manusia<br />

HAM yang diakui secara umum didefinisikan oleh lima<br />

konvensi dan deklarasi berikut:<br />

1. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Perserikatan<br />

Bangsa-Bangsa Tahun 1948 (United Nations<br />

Universal Declaration of Human Rights, 1948).<br />

2. Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa Rumusan<br />

Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik<br />

tahun 1966 (United Nations Convention<br />

International Covenant on Civil and Political Rights,<br />

1966).<br />

2<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: HR<br />

IP<br />

HR1 Persentase dan jumlah<br />

perjanjian investasi signifikan yang<br />

memuat klausula HAM atau telah<br />

menjalani proses skrining/filtrasi<br />

terkait dengan aspek hak asasi<br />

manusia.<br />

1. Relevansi<br />

Pengukuran ini merupakan satu indikasi mengenai<br />

sejauh mana aspek HAM terintegrasi dalam keputusan<br />

ekonomis organisasi. Hal ini sangat relevan bagi<br />

organisasi yang beroperasi dalam wilayah atau<br />

merupakan mitra usaha dari organisasi didalam wilayah<br />

di mana perlindungan terhadap HAM mendapat<br />

perhatian yang besar. Integrasi kriteria HAM dalam<br />

proses skrining/filtrasi dan adanya persyaratan<br />

kinerja HAM dapat menjadi salah satu strategi untuk<br />

mengurangi resiko investasi. Adanya permasalahan HAM<br />

dapat mengakibatkan cacatnya reputasi organisasi sertã<br />

berdampak buruk bagi stabilitas investasi.<br />

2. Kompilasi<br />

3. Definisi<br />

Klausula hak asasi manusia<br />

Klausula dalam suatu perjanjian tertulis yang secara spesifik<br />

mendefinisikan ekspektasi minimum dari aspek HAM sebagai<br />

persyaratan untuk melakukan investasi.<br />

Skrining/ filtrasi aspek hak asasi manusia<br />

Suatu proses formal atau yang terdokumentasikan yang memasukkan<br />

satu set kriteria kinerja HAM sebagai salah satu faktor<br />

dalam menentukan apakah suatu investasi akan dilakukan.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial yang mencakup aspek hukum<br />

organisasi, hubungan investor, dan keuangan sebagimana<br />

dokumentasi lainnya yang dibuat melalui sistem manajemen<br />

kualitas (quality management system).<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2.1 Perjanjian yang dimasukkan hanya yang signifikan<br />

ditinjau dari sisi besarnya kepentingan strategis.<br />

Tingkat signifikansi dapat ditentukan dengan<br />

mengacu pada kompleksitas persetujuan yang<br />

diperlukan di dalam organisasi atas investasi<br />

tersebut atau kriteria lain yang secara konsisten<br />

dapat diterapkan dalam perjanjian-perjanjian yang<br />

dibuat. Organisasi pelapor harus mengungkapkan<br />

definisi, lingkup serta cakupan dari “perjanjian<br />

yang dianggap signifikan” (significant agreements)<br />

tersebut.<br />

2.2 Identifikasi jumlah perjanjian investasi yang<br />

dianggap signifikan serta difinalisasi dalam periode<br />

pelaporan, baik yang akan menempatkan organisasi<br />

sebagai pemilik pada entitas lain ataupun sebagai<br />

organisasi yang menjalankan investasi modal yang<br />

material terhadap keuangan organisasi.<br />

2.3 Apabila terdapat beberapa perjanjian investasi yang<br />

signifikan dengan mitra yang sama, maka jumlah<br />

perjanjian tersebut hanya merupakan sebagian dari<br />

total proyek yang dilaksanakan ataupun mitra yang<br />

dikembangkan.<br />

2.4 Laporkan jumlah dan persentase perjanjian investasi<br />

signifikan yang memasukkan klausula HAM atau<br />

yang telah menjalani proses skrining/ filtrasi<br />

mengenai aspek hak asasi manusia.<br />

Version 3.0<br />

3


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: HR<br />

HR2 Persentase pemasok dan<br />

kontraktor signifikan yang telah<br />

menjalani proses skrining/filtrasi<br />

atas aspek hak asasi manusia<br />

1. Relevansi<br />

Pengembangan jaringan pemasok dan kontraktor yang<br />

luas untuk menghasilkan barang dan jasa telah menarik<br />

perhatian tentang bagaimana cara organisasi pelapor<br />

menerapkan kebijakan HAM pada jaringan pemasoknya.<br />

Hal ini sangat relevan terutama bagi organisasi di sektor<br />

yang sangat mengandalkan outsourcing serta jaringan<br />

global.<br />

• Teridentifikasi memiliki resiko paling besar<br />

terjadinya kasus yang berhubungan dengan hak<br />

asasi manusia.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial mencakup laporan<br />

organisasi dalam hal pengadaan atau pembelian serta<br />

departemen hukum organisasi pelapor.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

Proses skrining/ filtrasi dan pengawasan kinerja HAM<br />

pada mata rantai pemasok terbukti berdampak positif<br />

bagi komunitas bisnis organisasi yang lebih luas. Isu<br />

HAM pada pemasok dan kontraktor signifikan dapat<br />

menyebabkan cacat reputasi bagi mitra bisnis mereka<br />

dan/atau menciptakan ketidakstabilan dalam kegiatan<br />

usaha pemasok itu sendiri. Proses skrining/ filtrasi<br />

merupakan bagian dari manajemen resiko, dan besarnya<br />

persentase kegiatan ini menunjukkan bagaimana<br />

organisasi secara berkala memperhatikan resiko ini.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasi jumlah pemasok dan kontraktor<br />

signifikan dari organisasi pelapor.<br />

2.2 Laporkan persentase jumlah kontrak dengan<br />

pemasok dan kontraktor signifikan yang memuat<br />

kriteria atau telah menjalani proses skrining/filtrasi<br />

atas aspek hak asasi manusia. Lihat HR 1 untuk<br />

definisi dari “kriteria“ atau “proses skrining/filtrasi“.<br />

2.3 Laporkan persentase dari kontrak dengan pemasok<br />

dan kontraktor signifikan yang ditolak atau<br />

dikenakan berbagai persyaratan sebagai akibat dari<br />

proses skrining/filtrasi atas aspek hak asasi manusia.<br />

3. Definisi<br />

Pemasok dan kontraktor signifikan<br />

Pihak luar, pemasok barang atau jasa atau pihak dengan<br />

siapa kontrak penyediaan barang dan jasa dibuat .<br />

Dalam konteks <strong>Indikator</strong> ini, pengertian “signifikan”<br />

mengacu kepada pemasok dan kontraktor yang:<br />

• Merupakan pemasok utama atas suatu jenis barang<br />

atau jasa dan secara keseluruhan merupakan<br />

bagian terbesar pengadaan barang dan jasa bagi<br />

organisasi tersebut; atau<br />

4<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: HR<br />

IP<br />

HR3 Jumlah waktu pelatihan bagi<br />

karyawan dalam hal kebijakan serta<br />

prosedur terkait dengan aspek HAM<br />

yang relevan dengan kegiatan organisasi,<br />

termasuk persentase karyawan<br />

yang telah menjalani pelatihan.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial mencakup catatan<br />

pelatihan karyawan dan jadwal pelatihan.<br />

5. Referensi<br />

1. Relevansi<br />

Tidak ada.<br />

<strong>Indikator</strong> ini memberi gambaran kapasitas organisasi<br />

dalam menerapkan kebijakan serta prosedur yang<br />

terkait dengan aspek hak asasi manusianya. Hak<br />

asasi manusia telah diatur dalam standar dan hukum<br />

internasional dan mewajibkan organisasi untuk<br />

melaksanakan pelatihan khusus yang membekali<br />

karyawan dengan masalah HAM dalam rutinitas kerja.<br />

Banyaknya karyawan yang telah dilatih serta banyaknya<br />

pelatihan yang telah diberikan, mempunyai kontribusi<br />

penilaian atas organisasi tentang hak asasi manusia.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasi jumlah jam yang disediakan untuk<br />

pelatihan karyawan, dengan menggunakan data<br />

dari LA10.<br />

2.2 Identifikasi jumlah karyawan, dengan menggunakan<br />

data dari LA1.<br />

2.3 Identifikasi karyawan yang telah menjalani pelatihan<br />

formal mengenai kebijakan serta prosedur<br />

organisasi dalam aspek HAM dan penerapannya<br />

pada pekerjaan karyawan. Ini dapat merujuk pada<br />

pelatihan khusus dengan topik HAM atau program<br />

pelatihan umum dengan modul hak asasi manusia.<br />

2.4 Laporkan jumlah waktu pelatihan yang terkait<br />

dengan aspek HAM yang relevan dengan kegiatan<br />

operasi organisasi selama periode pelaporan.<br />

2.5 Laporkan persentase jumlah karyawan dalam<br />

periode pelaporan yang telah dilatih tentang aspek<br />

HAM yang relevan dengan kegiatan usaha.<br />

Version 3.0<br />

5


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: HR<br />

HR4 Jumlah kasus diskriminasi<br />

yang terjadi dan tindakan yang<br />

dilakukan/diambil.<br />

1. Relevansi<br />

Hak asasi manusia lebih luas dari hak karyawan di<br />

tempat kerja. Kebijakan anti- diskriminasi merupakan<br />

persyaratan utama dari konvensi internasional<br />

serta peraturan dan pedoman sosial. Permasalahan<br />

diskriminasi juga dibahas dalam Konvensi Inti ILO,<br />

110 dan 111 (Core Convention 100 & 111) dari ILO.<br />

Suatu sistem pemantauan/pengawasan yang efekif<br />

diperlukan untuk memastikan kepatuhan pada seluruh<br />

laporan kegiatan organisasi pelapor. Para pemangku<br />

kepentingan akan memastikan bahwa kebijakan dan<br />

pemantauan/pengawasan tersebut berjalan dengan<br />

efektif.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasi kasus diskriminasi dengan alasan ras,<br />

warna kulit, jenis kelamin, agama, politik, suku<br />

bangsa, atau kelompok sosial sebagai mana<br />

didefinisikan oleh ILO, atau bentuk relevan lainnya<br />

dari diskriminasi baik yang melibatkan pihak<br />

pemangku kepentingan internal dan/atau eksternal<br />

seluruh lini kegiatan pada periode pelaporan.<br />

Yang dimaksud dengan ‘kasus’ adalah langkah<br />

hukum, pengaduan yang disampaikan kepada<br />

organisasi tersebut atau instansi berwenang melalui<br />

suatu proses formal, atau kasus ketidakpatuhan<br />

yang teridentifikasi oleh organisasi melalui<br />

prosedur yang diterapkan, misalnya dengan sistem<br />

manajemen audit atau program pemantauan/<br />

pengawasan formal.<br />

2.2 Laporkan jumlah kasus diskriminasi selama periode<br />

pelaporan.<br />

2.3 Laporkan status dari kasus dan tindakan yang<br />

diambil merujuk pada hal-hal berikut :<br />

• Organisasi telah menelaah kasus tersebut;<br />

• Program mediasi yang akan dilakukan .<br />

• Program mediasi yang telah diimplementasikan<br />

dan hasilnya telah ditelaah melaluiproses rutin<br />

manajemen penelaahan internal; dan<br />

• Kasus sudah tidak lagi memerlukan tindak lanjut<br />

(yaitu: masalahnya telah terpecahkanselesai,<br />

tidak ada lagi tindak lanjut yang harus dilakukan<br />

perusahaan, dan sebagainya).<br />

3. Definisi<br />

Diskriminasi<br />

Perbuatan dan akibat atas perlakuan tidak adil kepada<br />

seseorang dengan memberikan beban yang tidak adil<br />

atau tidak memberikan tunjangan yang sesuai dengan<br />

prestasi individu. Diskriminasi dapat juga berupa<br />

pelecehan, yaitu serangkaian komentar atau tindakan<br />

yang tidak menyenangkan atau yang secara rasional<br />

diketahui secara umum tidak menyenangkan kepada<br />

orang yang dituju.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial mencakup laporan hukum<br />

dan kepatuhan organisasi pelapor.<br />

5. Referensi<br />

• Declaration on the Elimination of All Forms of<br />

Intolerance and of Discrimination Based on Religion<br />

or Belief, UN General Assembly Resolution 36/55 of<br />

26 November 1981<br />

• Declaration on Race and Racial Prejudice: General<br />

Conference UNESCO 20th sessioon 27 November<br />

1978<br />

• Declaration on the Rights of Persons Belonging<br />

to National or Ethnic, Religious and Lingusitic<br />

Minorities: UN GA Resolution 47/135 of 18<br />

December 1992.<br />

• ILO Convention 100, “Equal Remuneration<br />

Convention”, 1951.<br />

• ILO Convention 111, Discrimination in Respect of<br />

Employment and Occupation Convention 1958.<br />

• International Convention on Civil and Political<br />

Rights: GA Resolution 2200 A XXI of 16 December<br />

1966. on Civil and Political Rights (Kovenan<br />

Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik)<br />

• International Convention on the Elimination of All<br />

Forms of Racial Discrimination GA Resolution 1904<br />

(XV111) of 20 November 1963.<br />

• United Nations Convention on the Elimination of<br />

all forms of Discrimination Against Women: UN, GA:<br />

Resolution 34/180 of 18 December 1979<br />

• United Nations Declaration on the Elimination of All<br />

Forms of Racial Discrimination: GA Resolution 1904<br />

6<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: HR<br />

IP<br />

(XVIII) of 20 November 1963.<br />

Version 3.0<br />

7


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: HR<br />

HR5 Segala kegiatan berserikat<br />

atau perjanjian bersama yang<br />

teridentifikasi dapat menimbulkan<br />

resiko yang signifikan, serta<br />

tindakan yang diambil untuk<br />

mendukung hak-hak tersebut<br />

1. Relevansi<br />

Kebebasan untuk berserikat dan perjanjian bersama<br />

merupakan upaya melindungi hak pekerja (dan<br />

pengusaha) untuk berkumpul bersama dalam organisasi<br />

pilihan masing-masing. Kebebasan Berserikat merupakan<br />

ketentuan dasar dalam Deklarasi Universal Hak Asasi<br />

Manusia Perserikatan Bangsa-bangsa dan dirumuskan<br />

dalam Convensi Inti ILO 87 dan 89 (ILO Core Convention<br />

87 & 98 )<br />

<strong>Indikator</strong> ini ditujukan untuk melaporkan tindakan<br />

yang telah diambil oleh organisasi pelapor dalam<br />

mengevaluasi apakah terdapat kesempatan terbuka<br />

bagi pekerja untuk melaksanakan hak berserikat<br />

dan berkumpul. <strong>Indikator</strong> ini juga ditujukan untuk<br />

melaporkan langkah yang telah diambil untuk<br />

mendukung hak-hak berserikat dan berkumpul di<br />

seluruh lini kegiatan organisasi. <strong>Indikator</strong> ini tidak<br />

mewajibkan organisasi pelapor untuk menyatakan<br />

pendapat secara spesifik mengenai mutu sistem hukum<br />

nasional.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasi pelaksanaan segala kegiatan di mana<br />

hak karyawan untuk berserikat atau melakukan<br />

perjanjian bersama berpotensi menimbulkan<br />

resiko. Proses identifikasi harus menggambarkan<br />

pendekatan yang dipakai organisasi dalam<br />

penilaian resiko ini dan dapat berasal dari sumber<br />

data internasional yang bereputasi, seperti laporan<br />

ILO (Laporan Tahunan Committee of Experts dari<br />

ILO mengenai implementasi atas konvensi dan<br />

rekomendasi yang telah diratifikasi, serta laporan<br />

kebebasan berserikat dari Governing Body ILO).<br />

2.3 Laporkan langkah yang diambil oleh organisasi<br />

dalam periode pelaporan yang bertujuan untuk<br />

mendukung hak kebebasan berserikat dan<br />

berkumpul bersama. Lihat Tripartite Declaration dari<br />

ILO dan O<strong>EC</strong>D Guidelines untuk panduan lanjutan.<br />

3. Definisi<br />

Kebebasan berserikat<br />

Pekerja dan pengusaha boleh mendirikan dan<br />

bergabung dalam organisasi pilihan masing-masing<br />

tanpa perlu mendapat persetujuan terlebih dulu.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial mencakup laporan dari<br />

departemen hukum, kepatuhan dan sumber daya<br />

manusia pada organisasi pelapor<br />

5. Referensi<br />

• ILO Convention 87, “Freedom of Association and<br />

Protection of the Right to Organise Convention”,<br />

1948<br />

• ILO Convention 98, “Right to Organise and Collective<br />

Bargaining Convention”, 1949<br />

• United Nations Universal Declaration of Human<br />

Rights, 1948.<br />

• International Covenant on Economic, Social and<br />

Cultural Rights, 1966.<br />

2.2 Laporkan kegiatan karyawan untuk berserikat dan<br />

melaksanakan perjanjian bersama yang dapat<br />

menimbulkan resiko, berdasarkan:<br />

• Jenis kegiatan (contoh: pabrikan, manufaktur);<br />

atau<br />

• Negara atau wilayah geografis di mana<br />

kegiatan dipandang beresiko.<br />

8<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: HR<br />

IP<br />

HR6 Kegiatan yang teridentifikasi<br />

mengandung resiko signifikan yang<br />

dapat menimbulkan terjadinya kasus<br />

pekerja anak, dan langkah-langkah<br />

yang diambil untuk mendukung<br />

upaya penghapusan pekerja anak<br />

1. Relevansi<br />

Penghapusan pekerja anak merupakan prinsip pokok<br />

serta tujuan utama deklarasi dan peraturan mengenai<br />

hak asasi manusia, dan tunduk pada Konvensi ILO 138<br />

dan 182 (ILO Conventions 138 dan 182) Pelaksanaan dan<br />

penerapan yang efektif atas kebijakan tentang pekerja<br />

anak merupakan harapan yang mendasar terhadap<br />

perilaku tanggung jawab sosial.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasikan kegiatan yang dipandang beresiko<br />

tinggi menimbulkan terjadinya kasus:<br />

• Pekerja anak; dan/atau<br />

• Pemanfaatan pekerja muda yang tidak<br />

terlindung dari pekerjaan yang berbahaya.<br />

Proses identifikasi harus menggambarkan<br />

pendekatan organisasi terhadap penilaian resiko ini<br />

dan dapat berasal dari sumber data internasional<br />

yang bereputasi, seperti laporan ILO.<br />

2.2 Laporkan kegiatan yang dipandang dapat<br />

menimbulkan resiko signifikan terjadinya pekerja<br />

anak, berdasarkan:<br />

• Jenis kegiatan (contoh: pabrikan, manufaktur);<br />

atau<br />

3. Definisi<br />

Anak<br />

Istilah ini berlaku untuk semua orang di bawah 15<br />

tahun atau masuk dalam katagori wajib sekolah bawah<br />

umur untuk menyelesaikan wajib sekolah (mana yang<br />

lebih tinggi). Kecuali untuk negara tertentu di mana<br />

perekonomian dan fasilitas pendidikan belum cukup<br />

memadai, berlaku ketentuan umur minimal 14 tahun.<br />

Negara-negara yang masuk dalam pengecualian<br />

ini disebutkan secara spesifik oleh ILO berdasarkan<br />

permohonan dari negara yang bersangkutan serta<br />

konsultasi yang dilakukan dengan perwakilan organisasi<br />

pekerja dan pemberi kerja.<br />

Catatan: Convention 138 dari ILO menyebutkan apa yang<br />

dimaksud dengan baik pekerja anak maupun pekerja<br />

muda. Lihat definisi di bawah ini untuk ‘pekerja muda’.<br />

Pekerja Muda<br />

Seseorang di atas umur minimum yang berlaku untuk<br />

dapat bekerja namun belum berumur 18 tahun.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial mencakup laporan dari<br />

departemen hukum, kepatuhan dan sumber daya<br />

manusia pada organisasi pelapor<br />

5. Referensi<br />

• ILO Convention 138, “Minimum Age<br />

Convention”, 1973.<br />

• ILO Convention 182, “Worst Forms of Child<br />

Labour Convention”, 1999.<br />

• ILO Declaration on Fundamental Principles and<br />

Rights at Work, 86th Session, 1998.<br />

• Negara atau wilayah geografis dimana kegiatan<br />

dipandang beresiko.<br />

2.3 Laporkan langkah yang diambil dan pengukuran<br />

yang dibuat oleh organisasi pelapor selama<br />

periode pelaporan yang bertujuan mendukung<br />

penghapusan pekerja anak. Lihat Deklarasi Tripartit<br />

dari ILO (ILO Tripartite Declaration ) serta panduan<br />

dari O<strong>EC</strong>D (O<strong>EC</strong>D Guidelines) sebagai panduan<br />

lebih lanjut.<br />

Version 3.0<br />

9


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: HR<br />

HR7 Kegiatan yang teridentifikasi<br />

mengandung resiko signifikan yang<br />

dapat menimbulkan kasus kerja<br />

paksa atau kerja wajib, dan langkahlangkah<br />

yang telah diambil untuk<br />

mendukung upaya penghapusan<br />

kerja paksa atau kerja wajib<br />

1. Relevansi<br />

Tidak berada dalam keadaan tunduk pada kerja paksa<br />

atau kerja wajib merupakan hak asasi manusia yang<br />

mendasar dan juga merupakan salah satu ketentuan<br />

dalam Deklarasi Universal Perserikatan Bangsa-bangsa<br />

atas Hak Asasi Manusia (UN Universal Declaration of<br />

Human Rights) dan tunduk pada Konvensi Inti ILO 29 &<br />

105 (ILO Core Convention 29 & 105) Jenis kerja paksa dan<br />

kerja wajib ini dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan<br />

data yang disajikan akan mengindikasikan tantangan<br />

yang dihadapi organisasi pelapor dalam berkontribusi<br />

terhadap penghapusan kerja paksa dan kerja wajib.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasikan kegiatan yang dipandang<br />

mempunyai resiko signifikan menimbulkan<br />

terjadinya kasus kerja paksa atau kerja wajib. Proses<br />

identifikasi harus menggambarkan pendekatan<br />

yang dipakai organisasi dalam penilaian resiko ini<br />

dan dapat berasal dari sumber data internasional<br />

yang bereputasi seperti laporan ILO.<br />

2.2 Laporkan kegiatan yang dipandang mengandung<br />

resiko signifikan terjadinya kasus kerja wajib,<br />

berdasarkan:<br />

• Jenis kegiatan (misalnya: pabrikan, manufaktur);<br />

atau<br />

• Negara atau wilayah geografis dimana<br />

kegiatan dipandang beresiko.<br />

2.3 Laporkan pengukuran yang dibuat organisasi<br />

pelapor selama periode pelaporan yang bertujuan<br />

mendukung penghapusan kerja paksa atau kerja<br />

wajib. Lihat Deklarasi Tripartit dari ILO (ILO Tripartite<br />

Declaration) serta panduan dari O<strong>EC</strong>D (O<strong>EC</strong>D<br />

Guidelines) sebagai panduan lebih lanjut.<br />

3. Definisi<br />

Kerja paksa atau kerja wajib<br />

Segala jenis pekerjaan dan pelayanan jasa yang<br />

dipaksakan pada seseorang di bawah ancaman sanksi<br />

di mana orang yang bersangkutan tidak secara sukarela<br />

bermaksud untuk melakukannya, Konvensi 29, Konvensi<br />

Tenaga Kerja ILO 1930 (ILO Convention 29, Forced Labour<br />

Convention, 1930 ). Contoh yang paling ekstrem adalah<br />

pembudakan, pekerja tahanan dan pekerja paksa, selain<br />

itu, utang juga dapat digunakan sebagai alat untuk<br />

mempertahankan pekerja dalam kondisi kerja paksa.<br />

Menahan surat identitas, adanya kewajiban memberikan<br />

uang jaminan , atau menekan pekerja untuk bekerja<br />

melebihi waktu kerja dengan ancaman pemecatan yang<br />

tidak ada persetujuian sebelumnya adalah contohcontoh<br />

kerja paksa.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial mencakup laporan dari<br />

departemen hukum, kepatuhan dan sumber daya<br />

manusia pada organisasi pelapor.<br />

5. Referensi<br />

• ILO Convention 29, “Forced Labour Convention”,<br />

1930.<br />

• ILO Convention 105, “ Abolition of Forced Labour”,<br />

1957.<br />

• League of Nations, Slavery Convention, 1927.<br />

• United Nations Supplementary Convention on the<br />

Abolition of Slavery, the U.N.T.S.3, 1957<br />

• Universal Declaration of Human Rights (United<br />

Nations General Assembly Resolution 217 A (III) of<br />

10 December 1948), Article 4 & 5.<br />

ILO Declaration on Fundamental Principles and<br />

Rights at Work, 86th Session, 1998.<br />

• ILO Declaration on Fundamental Principles and<br />

Rights at Work, 86th Session, 1998.<br />

10<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: HR<br />

IP<br />

HR8 Persentase personel penjaga<br />

keamanan yang terlatih dalam hal<br />

kebijakan dan prosedur organisasi<br />

terkait dengan aspek HAM yang<br />

relevan dengan kegiatan organisasi<br />

1. Relevansi<br />

Perilaku petugas sekuriti/penjaga keamanan terhadap<br />

pihak ketiga terbentuk oleh pelatihan yang mereka<br />

peroleh tentang permasalahan hak asasi manusia,<br />

khususnya mengenai penggunaan kekerasan. Pelatihan<br />

petugas sekuriti dapat membantu mencegah resiko<br />

cacat reputasi serta litigasi yang timbul dari tindakan<br />

atau pendekatan yang tidak patut dan tidak dapat<br />

diterima oleh organisasi pelapor. Informasi yang<br />

diberikan oleh <strong>Indikator</strong> ini membantu menunjukkan<br />

sejauh mana sistem manajemen mengenai HAM<br />

diterapkan. Ukuran ini mengindikasikan proporsi tenaga<br />

sekuriti/penjaga keamanan yang secara rasional dapat<br />

diasumsikan memahami harapan organisasi mengenai<br />

kinerja hak asasi manusia.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasi jumlah personel sekuriti/penjaga<br />

keamanan yang dipekerjakan langsung oleh<br />

organisasi pelapor.<br />

3. Definisi<br />

Personel sekuriti/penjaga keamanan<br />

Individu yang ditugaskan dengan tujuan untuk menjaga<br />

barang-barang milik organisasi, pengendalian massa,<br />

tindakan pencegahan kehilangan, serta pengawalan<br />

orang, barang dan benda berharga.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial berasal dari departemen<br />

sumber daya manusia pada organisasi pelapor dan<br />

catatan mengenai pelatihan yang diperoleh personel<br />

sekuriti/penjaga keamanan. Kontraktor diharapkan<br />

memiliki informasi yang sama bagi karyawannya.<br />

5. Referensi<br />

• Commentary on the Norms on the Responsibilities<br />

of Transnational Corporations and Other Business<br />

Enterprises with Regards to Human Rights U.N.<br />

doc.E/CN.4/Sub.2/2003/38/Rev.2(2003) Section C<br />

Right to security of persons para 4.<br />

• ILO Convention 29, “Forced Labour Convention”,<br />

1930.<br />

• ILO Convention 105, “Abolition of Forced Labour<br />

Convention”, 1957.<br />

2.2 Laporkan persentase personel sekuriti/penjaga<br />

keamanan yang telah mendapat pelatihan formal<br />

mengenai kebijakan organisasi atau prosedur<br />

khusus terkait masalah HAM serta penerapannya.<br />

Hal ini dapat merujuk pada pelatihan khusus untuk<br />

itu atau modul pengajaran dalam suatu program<br />

pelatihan yang lebih umum.<br />

2.3 Laporkan apakah persyaratan pelatihan juga berlaku<br />

untuk organisasi pihak ketiga yang menyediakan<br />

personel sekuriti/penjaga keamanan.<br />

Version 3.0<br />

11


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: HR<br />

HR9 Jumlah kasus pelanggaran yang<br />

terkait dengan hak penduduk asli<br />

dan langkah-langkah yang diambil<br />

1. Relevansi<br />

Jumlah kasus yang tercatat mengenai hak penduduk<br />

asli memberikan informasi tentang implementasi/<br />

pelaksanaan kebijakan organisasi berkenaan dengan<br />

masalah penduduk asli. Informasi ini membantu<br />

mengindikasikan kondisi hubungan dengan masyarakat<br />

pemangku kepentingan , khususnya di daerah di mana<br />

penduduk asli tinggal atau mempunyai kepentingan<br />

yang bersinggungan dengan organisasi pelapor.<br />

Informasi ini juga memberikan tambahan kesempatan<br />

masuk bagi grup pendukung. Konvensi ILO 107 dan<br />

169 (ILO Convention 107 & 169) menegaskan hak dari<br />

penduduk asli.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasi kasus terkait dengan hak penduduk asli<br />

yang terjadi pada para karyawan organisasi serta<br />

pada komunitas di sekitar kegiatan organisasi saat<br />

ini yang berpotensi dapat terkena dampak dari<br />

rencana kegiatan atau yang diusulkan di masa yang<br />

akan datang oleh organisasi pelapor.<br />

Pengertian “kasus” merujuk pada tindakan hukum,<br />

pengaduan yang disampaikan kepada organisasi<br />

atau instansi berwenang melalui suatu proses<br />

formal, atau kasus ketidak-patuhan organisasi yang<br />

teridentifikasi oleh organisasi melalui prosedur<br />

yang telah ditetrapkan, misalnya dengan sistem<br />

manajemen audit atau program pemantauan/<br />

pengawasan formal.<br />

3. Definisi<br />

Penduduk asli<br />

Penduduk asli adalah mereka yang memiliki kondisi<br />

sosial, budaya, politik dan ekonominya yang berbeda<br />

dari kelompok lain dalam komunitas nasional yang<br />

dominan, atau mereka yang dianggap penduduk asli<br />

berdasarkan garis keturunan penduduk asli suatu<br />

negara , atau wilayah geografi pada suatu negara saat<br />

ditaklukkan, saat kolonialisasi atau pada saat pendirian<br />

batas negara yang berlaku saat ini, dan mereka, terlepas<br />

dari status hukumnya, mempertahankan beberapa<br />

atau seluruh kelembagaan sosial, ekonomi, budaya dan<br />

politiknya.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial mencakup prosedur dan<br />

pedoman operasi perusahaan pada organisasi pelapor.<br />

Informasi lain dapat diperoleh dari manajer di negara<br />

tersebut dan spesialis hukum dari organisasi pelapor. .<br />

Data mengenai penduduk asli di antara para pekerja<br />

dapat diperoleh dari catatan administrasi karyawan.<br />

5. Referensi<br />

• Charter of the United Nations, Preamble, San<br />

Francisco, 1945.<br />

• ILO Convention (107) Indigeneous and Tribal<br />

Populations Convention, 1957.<br />

• ILO Convention (169) Concerning Indigeneous and<br />

Tribal Peoples in Independent Countries, 1991.<br />

2.2 Laporkan jumlah kasus yang teridentifikasi terkait<br />

dengan hak penduduk asli selama periode<br />

pelaporan.<br />

2.3 Laporkan status dari kasus dan tindakan yang<br />

diambil merujuk pada hal-hal berikut :<br />

• Organisasi telah menelaah kasus tersebut.<br />

Program mediasi yang akan dilaksanakan.<br />

• Rencana mediasi yang telah<br />

diimplementasikan dan hasilnya telah ditelaah<br />

melalui proses rutin manajemen penelaahan<br />

internal ; dan<br />

• Kasus sudah tidak lagi memerlukan tindak<br />

lanjut (yaitu: telah terpecahkan, masalahnya<br />

sudah selesai,<br />

• Tidak ada lagi tindak lanjut yang harus<br />

dilakukan perusahaan, dan sebagainya).<br />

12<br />

© 2000-2006 GRI


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong><br />

Masyarakat (SO)<br />

© 2000-2006 GRI<br />

Version 3.0


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: SO<br />

IP<br />

Masyarakat<br />

<strong>Indikator</strong> Kinerja<br />

Aspek: Komunitas<br />

ADD CORE<br />

CORE CORE CORE<br />

CORE<br />

S01<br />

Aspek: Korupsi<br />

S02<br />

S03<br />

S04<br />

Sifat dasar, ruang lingkup, dan keefektifan<br />

setiap program dan praktek yang dilakukan<br />

untuk menilai dan mengelola dampak operasi<br />

terhadap masyarakat, baik pada saat memulai,<br />

pada saat beroperasi, dan pada saat mengakhiri.<br />

Persentase dan jumlah unit usaha yang memiliki<br />

risiko terhadap korupsi.<br />

Persentase pegawai yang dilatih dalam kebijakan<br />

dan prosedur antikorupsi.<br />

Tindakan yang diambil dalam menanggapi<br />

kejadian korupsi.<br />

Aspek: Kebijakan Publik<br />

S05<br />

S06<br />

Kedudukan kebijakan publik dan partisipasi<br />

dalam proses melobi dan pembuatan kebijakan<br />

publik.<br />

Nilai kontribusi finansial dan natura kepada partai<br />

politik, politisi, dan institusi terkait berdasarkan<br />

negara di mana perusahaan beroperasi.<br />

Aspek: Kelakuan Tidak Bersaing<br />

ADD<br />

S07<br />

Jumlah tindakan hukum terhadap pelanggaran<br />

ketentuan antipersaingan, anti-trust, dan praktek<br />

monopoli serta sanksinya.<br />

Aspek: Kepatuhan<br />

CORE<br />

S08<br />

Nilai uang dari denda signifikan dan jumlah<br />

sanksi nonmoneter untuk pelanggaran hukum<br />

dan peraturan yang dilakukan.<br />

Version 3.0<br />

1


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: SO<br />

Relevansi<br />

Kategori kinerja untuk Pekerja, Hak Asasi Manusia,<br />

dan Tanggung Jawab Produk ditujukan pada<br />

dampak-dampak sosial yang dihubungkan<br />

dengan kelompok pemangku kepentingan<br />

tertentu (seperti pegawai atau konsumen).<br />

Namun demikian, dampak sosial dari organisasi<br />

juga terkait dengan interaksinya dengan struktur<br />

pasar dan institusi sosial yang membentuk<br />

lingkungan sosial di mana kelompok-kelompok<br />

kepentingan saling berinteraksi. Interaksi semacam<br />

ini, sebagaimana halnya pendekatan organisasi<br />

dalam berhubungan dengan kelompok sosial<br />

lain seperti masyarakat, mewakili komponen<br />

terpenting dari kinerja berkelanjutan. Karenanya,<br />

<strong>Indikator</strong> Kinerja Masyarakat memfokuskan pada<br />

dampak yang ditimbulkan organisasi terhadap<br />

masyarakat tempatnya beroperasi, dan bagaimana<br />

interaksi organisasi dengan institusi sosial lainnya<br />

dikelola dan ditengahi. Secara khusus, informasi<br />

yang dicari terkait dengan penyuapan dan korupsi,<br />

keterlibatan dalam pembuatan kebijakan, praktek<br />

monopoli, dan pemenuhan ketentuan hukum dan<br />

peraturan di luar pekerja dan lingkungan.<br />

Rujukan umum<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational<br />

Enterprises,Revision 2000.<br />

• O<strong>EC</strong>D Convention on Combating Bribery<br />

of Foreign Public Officials in International<br />

Business Transactions, 1997.<br />

• O<strong>EC</strong>D Principles of Corporate Governance,<br />

2004.<br />

• Inter-American Convention Against Corruption,<br />

1996.<br />

• United Nations Convention Against Corruption,<br />

2003.<br />

Definisi<br />

Korupsi<br />

Korupsi adalah penyalahgunaan kekuasaan yang<br />

dimiliki untuk kepentingan pribadi 1 dan dapat<br />

dilakukan oleh individu baik di sektor publik<br />

maupun privat. Termasuk dalam penafsiran<br />

ini adalah praktek korupsi seperti penyuapan,<br />

penggelapan, pemerasan, kolusi, konflik<br />

kepentingan, dan pencucian uang. Dalam konteks<br />

ini, juga termasuk penawaran untuk menerima<br />

setiap pemberian, pinjaman, bayaran, hadiah atau<br />

keuntungan lainnya kepada atau dari setiap orang<br />

dalam rangka menarik orang untuk melakukan<br />

suatu perbuatan yang tidak jujur, ilegal, atau<br />

pelanggaran kepercayaan dalam melakukan<br />

bisnis perusahaan 2 . Hal ini dapat berupa hadiah<br />

selain uang, seperti barang gratis dan liburan, atau<br />

pelayanan pribadi khusus yang disediakan dengan<br />

tujuan atau dilakukan dalam rangka mendapatkan<br />

keuntungan yang tidak pantas atau yang dapat<br />

mengakibatkan tekanan moral karena menerima<br />

keuntungan semacam itu.<br />

1 Transparency International<br />

2 Definisi ini berdasarkan ‘Business Principles for<br />

Countering Bribery’ yang dikembangkan melalui sebuah<br />

proyek yang dikelola oleh Transparency International.<br />

2<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: SO<br />

IP<br />

SO1 Sifat dasar, ruang lingkup,<br />

dan efektivitas setiap program<br />

dan praktek yang dilakukan untuk<br />

menilai dan mengelola dampak<br />

operasi terhadap masyarakat,<br />

baik pada saat memulai, pada<br />

saat beroperasi, dan pada saat<br />

mengakhiri.<br />

1. Relevansi<br />

Operasi organisasi baik pada saat memulai, beroperasi<br />

dan mengakhiri memiliki sejumlah dampak signifikan<br />

terhadap keberlanjutan sebuah wilayah tertentu.<br />

<strong>Indikator</strong> dalam Kerangka Kerja GRI, seperti emisi<br />

lingkungan atau data ekonomi, akan menawarkan<br />

sebuah gambaran keseluruhan terhadap dampak<br />

ini, dampak yang positif maupun negatif, tetapi tidak<br />

akan mampu untuk memerincinya kepada individu<br />

masyarakat atau wilayah geografis. Namun demikian,<br />

merupakan hal yang penting untuk memiliki sebuah<br />

ukuran yang merefleksikan pendekatan yang<br />

digunakan oleh organisasi dalam mengelola dampak<br />

yang ditimbulkannya—baik dampak positif maupun<br />

negatif—secara sistematis dan melingkupi jangkauan<br />

komunitas dimana organisasi beroperasi.<br />

Pemangku kepentingan dalam organisasi memiliki<br />

ketertarikan terhadap pendekatan yang digunakan<br />

oleh organisasi dalam mengelola dampak pada<br />

sebuah masyarakat. Dengan demikian, memiliki sistem<br />

manajemen yang dapat diandalkan dapat meningkatkan<br />

nama dan reputasi organisasi sebagai sebuah rekan<br />

potensial. Selain itu, juga memperkuat secara simultan<br />

kemampuan organisasi untuk memelihara operasi yang<br />

ada dan untuk memulai operasi yang baru.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Laporkan apakah terdapat program untuk menilai<br />

dampak operasi pada masyarakat:<br />

• Sebelum memasuki masyarakat;<br />

• Pada saat beroperasi dalam masyarakat; dan<br />

• Pada saat membuat kebijakan untuk keluar<br />

dari masyarakat.<br />

2.3 Laporkan jumlah dan persentase operasi dimana program<br />

dijalankan.<br />

2.4 Laporkan program pengelolaan dampak terhadap<br />

masyarakat yang efektif dalam mereda dampak negatif<br />

dan memaksimalkan dampak positif, termasuk skala orang<br />

yang terpengaruh.<br />

2.5 Laporkan contoh bagaimana umpan balik dan analisis data<br />

dampak terhadap masyarakat telah memberikan informasi<br />

mengenai langkah lanjutan kedepan untuk melibatkan<br />

masyarakat sebagai bagian dari organisasi.<br />

3. Definisi<br />

Dampak operasi<br />

Ini merujuk kepada dampak sosial, seperti:<br />

• Kesehatan dan keselamatan masyarakat berkenaan<br />

dengan infrastruktur, bahan berbahaya, emisi dan buangan,<br />

serta kesehatan dan penyakit;<br />

• Pemindahan tempat tinggal yang tidak disengaja,<br />

pemindahan secara fisik dan ekonomi serta pemulihan<br />

kehidupan; dan<br />

• Budaya lokal, jenis kelamin, penduduk asli, dan warisan<br />

budaya.<br />

Definisi ini meniadakan dampak yang tercakup dalam indikator<br />

lain, seperti KL10 (sumberdaya air/habitat yang terpengaruh<br />

oleh penggunaan air), KL12 (wilayah yang memiliki nilai<br />

keanekaragaman hayati tinggi), dan KP8 (penyakit serius). Juga<br />

meniadakan sumbangan sukarela (non tunai dan tunai) kepada<br />

masyarakat.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk kebijakan dan<br />

prosedur organisasi, hasil pengumpulan data dari program<br />

terhadap masyarakat, dan hasil analisis dari forum pemangku<br />

kepentingan eksternal, komite masyarakat bersama, laporan<br />

pemangku kepentingan dan input lainnya.<br />

Kedua sumber, baik sumber yang berasal dari internal dan<br />

eksternal harus digunakan.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2.2 Laporkan apakah program atau kebijakan telah<br />

menetapkan:<br />

• Bagaimana data dikumpulkan, termasuk oleh<br />

siapa; dan<br />

• Bagaimana memilih anggota masyarakat<br />

(individu atau kelompok) sebagai informan.<br />

Version 3.0<br />

3


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: SO<br />

SO2 Persentase dan jumlah unit<br />

usaha yang memiliki resiko terhadap<br />

korupsi.<br />

1. Relevansi<br />

Upaya untuk mengelola resiko reputasi yang timbul<br />

dari praktek korupsi oleh pegawai atau rekan bisnis<br />

membutuhkan sebuah sistem yang didukung oleh<br />

prosedur yang tepat. Pengukuran ini mengidentifikasi<br />

dua tindakan untuk menjamin penyebaran yang efektif<br />

dari kebijakan dan prosedur organisasi oleh pegawai<br />

dan perantara atau rekan bisnisnya. Analisis resiko<br />

merupakan sebuah pendekatan manajemen penting<br />

dan dibutuhkan dalam membantu menilai potensi akan<br />

kejadian korupsi dalam organisasi.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Dapatkan informasi mengenai unit bisnis yang<br />

memiliki resiko korupsi selama periode pelaporan.<br />

Ini merujuk pada apakah sebuah penilaian formal<br />

memfokuskan kepada korupsi atau memasukkan<br />

korupsi sebagai sebuah faktor resiko dalam penilaian<br />

resiko secara keseluruhan.<br />

2.2 Laporkan jumlah dan persentase dari unit bisnis<br />

yang memiliki resiko korupsi.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk laporan<br />

pengawasan.<br />

5. Referensi<br />

• O<strong>EC</strong>D Convention on Combating Bribery of<br />

Foreign Public Officials in International Business<br />

Transactions, 1997.<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises,<br />

Revision 2000.<br />

• Inter-American Convention Against Corruption,<br />

1996.<br />

• United Nations Convention Against Corruption,<br />

2003.<br />

• Business Principles for Countering Bribery, 2003.<br />

4<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: SO<br />

IP<br />

SO3 Persentase pegawai yang dilatih<br />

dalam kebijakan dan prosedur anti<br />

korupsi.<br />

1. Relevansi<br />

Upaya untuk mengelola resiko reputasi yang timbul<br />

dari praktek korupsi oleh pegawai atau rekan bisnis<br />

membutuhkan sebuah sistem yang didukung oleh<br />

prosedur yang tepat. Pelatihan merupakan sebuah<br />

elemen penting dari sistem tersebut dalam rangka<br />

membangun kesadaran internal dan kapasitas yang<br />

dibutuhkan untuk mencegah kejadian korupsi.<br />

Pengukuran ini mengungkapkan proporsi pegawai<br />

organisasi yang dapat diasumsikan memiliki kesadaran<br />

akan isu anti korupsi.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Identifikasi terhadap jumlah pegawai yang<br />

dibedakan antara pegawai manajemen dan non<br />

manajemen, menggunakan data dari SO1.<br />

2.2 Laporkan secara terpisah persentase jumlah<br />

pegawai manajemen dan pegawai non manajemen<br />

yang menerima pelatihan anti korupsi selama<br />

periode laporan.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk rekaman pelatihan.<br />

5. Referensi<br />

• Konvensi ILO 102, ‘Konvensi Keamanan Sosial<br />

(Standar O<strong>EC</strong>D Convention on Combating Bribery<br />

of Foreign Public Officials in International Business<br />

Transactions, 1997.<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises,<br />

Revision 2000.<br />

• Inter-American Convention Against Corruption,<br />

1996.<br />

• United Nations Convention Against Corruption,<br />

2003.<br />

• Business Principles for Countering Bribery, 2003.<br />

Version 3.0<br />

5


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: SO<br />

SO4 Tindakan yang diambil dalam<br />

menanggapi kejadian korupsi.<br />

1. Revansi<br />

Korupsi dapat menjadi resiko yang signifikan bagi<br />

reputasi organisasi dan bisnis. Korupsi memberikan<br />

kontribusi pada penciptaan kemiskinan dalam transisi<br />

ekonomi, kerusakan lingkungan, pelanggaran hak<br />

asasi manusia, pelanggaran demokrasi, kesalahan<br />

alokasi investasi dan menghambat penegakan hukum.<br />

Organisasi dituntut oleh pasar, aturan internasional,<br />

dan para pemangku kepentingan untuk menunjukkan<br />

perannya terkait dengan integritas, tata kelola, dan<br />

pengembangan praktek bisnis yang baik. <strong>Indikator</strong><br />

ini menunjukkan tindakan khusus yang diambil<br />

untuk memperkecil peluang terjadinya korupsi dan<br />

menurunkan resiko munculnya praktek korupsi yang<br />

baru. Bagi pemangku kepentingan, terdapat dua<br />

kepentingan yaitu mencegah terjadinya korupsi dan<br />

bagaimana organisasi menaggapi kejadian tersebut.<br />

• Inter-American Convention Against Corruption,<br />

1996.<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises, Revision<br />

2000.<br />

• Anti-Corruption Instruments and the O<strong>EC</strong>D Guidelines<br />

for Multinational Enterprises, 2003.<br />

• Business Principles for Countering Bribery, 2003.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Laporkan mengenai tindakan yang diambil dalam<br />

menanggapi kejadian korupsi, termasuk:<br />

• Jumlah kejadian dimana karyawan<br />

diberhentikan atau dikenakan sanksi karena<br />

melakukan korupsi; dan<br />

• Jumlah kejadian dimana kontrak dengan rekan<br />

bisnis tidak dapat diperbaharui karena adanya<br />

pelanggaraan korupsi.<br />

2.2 Laporkan kesimpulan dari setiap kasus hukum<br />

terkait praktek korupsi yang melibatkan organisasi<br />

atau pegawainya selama periode laporan serta<br />

dampak dari kasus tersebut.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk rekaman<br />

bagian hukum mengenai kasus yang diajukan terkait<br />

korupsi pegawai, rekan bisnis atau kontraktor; laporan<br />

pelaksanaan pemeriksaan disiplin internal; dan dokumen<br />

kontrak dengan rekan bisnis.<br />

5. Referensi<br />

• United Nations Convention Against Corruption,<br />

2003.<br />

• O<strong>EC</strong>D Convention on Combating Bribery of Foreign<br />

Public Officials in International Business Transactions,<br />

1997.<br />

6<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: SO<br />

IP<br />

SO5 Kedudukan kebijakan publik<br />

dan partisipasi dalam proses melobi<br />

dan pembuatan kebijakan publik.<br />

1. Relevansi<br />

<strong>Indikator</strong> ini menyediakan informasi kepada organisasi<br />

untuk membandingkan posisi kebijakan publik dengan<br />

kebijakan dan sasaran formal keberlanjutan. Informasi<br />

ini menyediakan pemahaman mengenai sejauhmana<br />

konsistensi posisi keberlanjutan yang dinyatakan kepada<br />

publik tertanam dalam organisasi dan setiap unit yang<br />

berbeda. Pada saat yang sama, informasi ini memberikan<br />

perbandingan prioritas organisasi (ketika dibandingkan<br />

dengan sektor yang sama) sebagai sebuah kebijakan<br />

khusus yang dapat membantu dalam menjelaskan<br />

relevansi strategik isu keberlanjutan terhadap organisasi.<br />

<strong>Indikator</strong> ini juga membantu dalam menyediakan transparansi<br />

informasi mengenai aktivitas yang dilakukan<br />

dalam melobi pejabat publik kepada pihak-pihak yang<br />

mempunyai perhatian terhadap integritas dari praktek<br />

lobi tersebut serta potensi dampaknya kepada pemangku<br />

kepentingan.<br />

dan atau untuk mempengaruhi pembuatan peraturan<br />

perundang-undangan atau keputusan politik. Dalam<br />

indikator ini, dapat berhubungan dengan proses melobi<br />

pada setiap tingkatan pemerintahan atau lembaga<br />

internasional.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk pernyataan kebijakan<br />

publik dari organisasi pembuat laporan; laporan<br />

internal dari komite atau bagian yang berhubungan<br />

dengan pemerintah; pernyataan tentang posisi yang<br />

diadopsi oleh organisasi pembuat laporan dalam asosiasi<br />

usaha yang relevan; dan rekaman interaksi dengan<br />

pembuat kebijakan publik.<br />

5. Referensi<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises, Revision<br />

2000.<br />

• O<strong>EC</strong>D Principles of Corporate Governance, 2004.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Partisipasi merujuk kepada upaya dimana organisasi<br />

telah mengambil sebuah posisi formal atau aktivitas<br />

dimana partisipasi telah diakui secara formal.<br />

Didalamnya termasuk aktivitas keterlibatan dalam<br />

asosiasi usaha, pertemuan roundtable, gugus tugas,<br />

dan bentuk lobi lainnya dengan pembuat kebijakan<br />

publik, informasi yang disampaikan terkait dengan<br />

posisi dari organisasi dan bukan mengenai badan<br />

dimana organisasi ikut terlibat.<br />

2.2 Laporkan isu signifikan yang menjadi fokus<br />

partisipasi organisasi dalam pembuatan kebijakan<br />

dan kegiatan melobi. Ini merujuk pada partisipasi<br />

disemua tingkatan organisasi dan bukan kegiatan<br />

yang dilakukan secara individual.<br />

2.2 Laporkan posisi inti yang dimiliki dari setiap<br />

isu yang dilaporkan di atas dan jelaskan setiap<br />

perbedaan signifikan antara posisi melobi dan<br />

pernyataan kebijakan, tujuan keberlanjutan atau<br />

posisi publik lainnya.<br />

3. Definisi<br />

Pembuatan kebijakan publik<br />

Aktivitas yang terorganisir atau terkoordinasi untuk<br />

mempengaruhi pembuatan kebijakan pemerintah.<br />

Proses melobi<br />

Merujuk kepada upaya untuk mempengaruhi atau<br />

membujuk pejabat pembuat kebijakan atau calon pejabat<br />

pembuat kebijakan, untuk mensponsori kebijakan,<br />

Version 3.0<br />

7


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: SO<br />

SO6 Nilai kontribusi finansial dan<br />

natura kepada partai politik, politisi,<br />

dan institusi terkait berdasarkan<br />

negara dimana perusahaan<br />

beroperasi.<br />

1. Relevansi<br />

Tujuan dari indikator ini adalah untuk memperlihatkan<br />

skala keterlibatan organisasi dalam pembiayaan politik<br />

dan untuk memberikan transparansi terkait kesepakatan<br />

politik yang melibatkan organisasi. Banyak negara<br />

telah memiliki peraturan yang menetapkan batas<br />

pengeluaran organisasi yang dapat diberikan kepada<br />

partai dan kandidat politisi untuk tujuan kampanye.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Dapatkan informasi mengenai jumlah nilai uang<br />

dari kontribusi finansial dan natura yang telah<br />

dilakukan oleh organisasi selama periode laporan<br />

yang diberikan kepada partai politik, politisi, dan<br />

institusi terkait. Jumlah kontribusi natura harus<br />

dapat diestimasi.<br />

Institusi terkait<br />

<strong>Set</strong>iap badan yang didirikan dengan tujuan utama<br />

mengadakan pengumpulan dana baik secara resmi<br />

maupun tidak resmi untuk partai politik, wakil terpilih,<br />

atau kandidiat pejabat publik. Definisi ini juga mencakup<br />

tim pemikir, organ politik, asosiasi usaha, dan berbagai<br />

organisasi pendukung lainnya yang terkait dengan<br />

penggalangan dukungan bagi partai politik, perwakilan<br />

mereka, atau kandidat pejabat publik.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk rekaman akuntansi<br />

dari pembayaran eksternal dan pernyataan yang<br />

disampaikan kepada publik.<br />

5. Referensi<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises,<br />

Revision 2000.<br />

2.2 Perhitungan kontribusi sesuai dengan aturan<br />

akuntansi nasional (apabila ada).<br />

2.3 Laporkan jumlah nilai uang yang dirinci<br />

berdasarkan negara dimana:<br />

• Organisasi memiliki operasi dan atau penjualan<br />

utama;<br />

• Organisasi memegang andil signifikan<br />

terhadap pasar dibandingkan dengan<br />

organisasi lainnya; atau<br />

• Jumlah kontribusi signifikan apabila<br />

dibandingkan dengan total kontribusi secara<br />

global.<br />

3. Definisi<br />

Kontribusi<br />

Kontribusi dapat mencakup donasi, pinjaman, sponsor,<br />

pembelian tiket untuk sejumlah acara amal, periklanan,<br />

penggunaan fasilitas, desain dan pencetakan, bantuan<br />

peralatan, pemberian gaji atau pekerjaan kepada pejabat<br />

politik dan kandidat pejabat politik, dan sebagainya.<br />

8<br />

© 2000-2006 GRI


<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: SO<br />

IP<br />

SO7 Jumlah tindakan hukum<br />

terhadap pelanggaran ketentuan<br />

anti persaingan, anti-trust, dan<br />

praktek monopoli serta sanksinya.<br />

1. Relevansi<br />

Merger dan akuisisi dapat mempengaruhi pilihan<br />

konsumen, penetapan harga, dan berbagai faktor lainnya<br />

yang esensial untuk efisiensi pasar. Peraturan telah<br />

diperkenalkan di banyak negara untuk mengawasi atau<br />

mencegah praktek monopoli, dengan alasan bahwa<br />

kompetisi antar perusahaan dapat mendorong kearah<br />

efisiensi ekonomi dan pertumbuhan yang berkelanjutan.<br />

Tindakan hukum menunjukkan sebuah situasi dimana<br />

tindakan pasar atau status dari organisasi telah<br />

mencapai skala yang mencukupi untuk mendapatkan<br />

perhatian dari pihak ketiga. Kebijakan hukum yang<br />

muncul dari situasi ini dapat membawa resiko gangguan<br />

yang signifikan terhadap aktivitas pasar dan atau<br />

pemberian hukuman kepada organisasi.<br />

Tindakan organisasi yang dapat menghasilkan<br />

persekongkolan untuk membuat hambatan masuk<br />

ke dalam pasar dalam sektornya, praktek bisnis yang<br />

curang, penyalahgunaan posisi pasar, kartel, merger<br />

anti persaingan, penetapan harga, dan tindakan<br />

persekongkolan lainnya yang mencegah persaingan.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber informasi potensial termasuk rekaman bagian<br />

hukum dan rekaman publik.<br />

5. Referensi<br />

• O<strong>EC</strong>D Guidelines for Multinational Enterprises,<br />

Revision 2000.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 <strong>Indikator</strong> ini bersinggungan dengan tindakan<br />

hukum berdasarkan aturan hukum nasional atau<br />

internasional yang didesain dengan tujuan utama<br />

melakukan pengaturan terhadap perilaku anti<br />

persaingan, anti-trust, dan praktek monopoli.<br />

2.2 Dapatkan informasi mengenai tindakan hukum<br />

yang telah selesai atau tertunda selama periode<br />

laporan terkait perilaku anti persaingan dan<br />

pelanggaran terhadap peraturan anti-trust dan<br />

monopoli dimana organisasi telah teridentifikasi<br />

sebagai salah satu pelaku.<br />

2.3 Laporkan jumlah tindakan hukum untuk perilaku<br />

anti persaingan, anti-trust, dan praktek monopoli.<br />

2.4 Laporkan hasil utama dari tindakan tersebut,<br />

termasuk setiap kebijakan atau keputusan<br />

pengadilan.<br />

3. Definisi<br />

Perilaku anti persaingan<br />

Tindakan organisasi dan atau pegawainya yang dapat<br />

menghasilkan persekongkolan dengan pesaing<br />

potensial untuk menetapkan harga, mengkoordinasikan<br />

tender, menciptakan hambatan pasar atau produk,<br />

menentukan kuota berdasarkan geografi, atau lokasi<br />

konsumen, suplier, wilayah geografi, dan lini produk<br />

dengan tujuan membatasi dampak dari persaingan<br />

pasar.<br />

Praktek anti-trust dan monopoli<br />

Version 3.0<br />

9


IP<br />

<strong>Set</strong> <strong>Protokol</strong> <strong>Indikator</strong>: SO<br />

SO8 Nilai uang dari denda signifikan<br />

dan jumlah sanksi non moneter<br />

untuk pelanggaran hukum dan<br />

peraturan yang dilakukan.<br />

1. Relevansi<br />

Tingkatan pelanggaran yang dilakukan organisasi<br />

membantu dalam mengindikasikan kemampuan<br />

manajemen untuk menjamin bahwa operasi organisasi<br />

telah sesuai dengan paramater kinerja tertentu. Dari<br />

perspektif ekonomi, penjaminan akan pemenuhan<br />

kewajiban oleh organisasi dapat membantu dalam<br />

mengurangi resiko finansial yang dapat terjadi baik<br />

secara langsung akibat denda maupun secara tidak<br />

langsung sebagai dampak dari reputasi yang buruk.<br />

Kekuatan dari sebuah rekaman kepatuhan organisasi<br />

dapat mempengaruhi kemampuannya untuk<br />

memperluas operasi atau dalam mendapatkan ijin baru.<br />

<strong>Indikator</strong> EN 28 dan PR 9 mengamanatkan akan<br />

pemenuhan sejumlah aspek khusus dalam aturan<br />

hukum. Sebuah rekaman keseluruhan dari organisasi<br />

mengenai pemenuhan aturan hukum yang sesuai<br />

dengan operasi mereka adalah sangat penting. <strong>Indikator</strong><br />

ini ditujukan untuk memperlihatkan denda signifikan<br />

dan sanksi non moneter berdasarkan hukum dan<br />

peraturan yang tidak tercakup dalam PR 8 dan PR<br />

9, seperti hukum dan peraturan terkait kecurangan<br />

akuntansi, diskriminasi di tempat kerja, korupsi, dan lain<br />

sebagainya.<br />

2.3 Dimana organisasi tidak teridentifikasi melanggar<br />

hukum atau aturan, sebuah pernyataan singkat<br />

tentang ini perlu disajikan.<br />

2.4 Organisasi didorong untuk melaporkan denda dan<br />

sanksi non moneter berdasarkan aturan hukum<br />

yang ada.<br />

3. Definisi<br />

Tidak ada.<br />

4. Dokumentasi<br />

Sumber data termasuk hasil audit atau pengaturan<br />

sistem penjejakan yang dioperasikan oleh bagian<br />

hukum. Informasi mengenai denda uang dapat<br />

ditemukan pada bagian akunting.<br />

5. Referensi<br />

Tidak ada.<br />

2. Kompilasi<br />

2.1 Dapatkan informasi mengenai sanksi administratif<br />

atau pengadilan yang ditetapkan kepada organisasi<br />

untuk kesalahan pelanggaran hukum dan aturan,<br />

termasuk:<br />

• Deklarasi internasional/konvensi/perjanjian,<br />

nasional, sub-nasional, regional, dan peraturan<br />

lokal lainnya, dan<br />

• Kasus yang membawa organisasi melalui<br />

penggunaan mekanisme penyelesaian<br />

perselisihan internasional atau nasional yang<br />

diawasi oleh pemerintah yang berwenang.<br />

2.2 Laporkan mengenai denda siginifikan dan sanksi<br />

non moneter berupa:<br />

• Total nilai uang dari denda signifikan;<br />

• Jumlah sanksi non moneter; dan<br />

• Kasus yang dibawa kedalam mekanisme<br />

penyelesaian perselisihan.<br />

10<br />

© 2000-2006 GRI

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!