PASAR MINGGU TEMPO DOELOE - PDII – LIPI

pdii.lipi.go.id

PASAR MINGGU TEMPO DOELOE - PDII – LIPI

Pengantar:

Dr. Muhamad Hisyam

PASAR MINGGU

TEMPO DOELOE

Dinamika Sosial Ekonomi Petani Buah

1921-1966

Asep Suryana

Pusal Penelitian ,k:emasyarakalan &Kebudayaan

Lembaga IImu Pengelahuan Indonesia (PMB-L1P!)

bekerja sarna dengan

N~derlands InstilulH voar OorloQgs Documen!atie (NICO)

LIPI Press


Daftar lsi

Ucapan Terima Kasm

Pengantar Editor

ix.

xi

BAR I

PENDAHULUAN: PINGGlRAN KOTA SEBAGAI KAJIAN

SEJARAH

1

A. Arti Penting Pinggiran Kota 1

B. Hubungan Pusat Kota dengan Daerah Pinggiran 7

C. Data dan Informasi 12

D. Sistematika Buku 15

BARIl

DAR! TANAH PARTIKULIR KE TANAH GUBERNEMEN:

DENYUT KOMERSIALISASI BUAH-BUAHAN DI AKHIR

MASA KOLONIAL

17

A. Di Bawah Bayang-bayang Tanah Partikulir 20

B. Setelah Menjadi Tanah Gubernemen 32

BAR III

PERUBAHAHAN STATUS, INFRASTRUKTUR, DAN

PERTANIAN SAWAH

47

A. Dualisme Budidaya dan Pasar Buah 48

B. Antara Jalan Tanah, Stasiun, dan Rel Kereta Api 59

C. Peralihan Status, Pulang-Pasar, dan Pertanian Sawah 64

BARN

ANTARA HIDUP DAN MATI: DAYA TAHAN PETANI BUAH

PASAR MINGGU DI TENGAH MOBILISASI DAN REVOLUSI 83

A. Mobilisasi dan Tersudutkannya Pertanian Buah 87

B. Geliat Komersialisasi Buah dl Ujung Revolusi.""" , , " 99

I vii


BABV

DEKOLONISASI DAN TERWUJUDNYA TATA SOSIAL BARU 105

A. Menjadi Pinggiran Jakarta 106

B. Eksperimen Administratif Permnkiman 113

C. Indonesianisasi Kebun Percobaan Huah-buahan 118

BABVI

ERAJAYA BUAH·BUAHAN

129

A. Struktur Kependudukan Pasar :i\finggu 130

B. Meluasnya Pertanian Buah 140

C. Monetisasi dan Individualisasi Petani "Buah 152

D. Era Barn 159

BABVII

PENl:TUP

DAFIAR PUSTAKA

LAMPIRAJ'<

163

181

189

viii I


Pengantar Editor

Buku yang hadir di hadapan sidang pembaca sekalian ini

adalab hasil penelitian yang dilakukan Sdr. Asep Suryana,

M.Si. ketika yang bersangkutan mengikuti program

pelatihan penelitian sejarab bagi sejarawan muda yang diselenggarakan

atas kerja sarna antara Pusat Penelitian Kemasyarakatan

dan Kebudayaan, Lembaga Ilmu Pengetabuan Indonesia (pMB­

LIP!) dengan Nederlands Instituut voor Oorlog Documentatie

(NIOD). Walaupun formalnya dinamakan "pelatihan", tetapi para

peserta melakukannya secara serius sebagainlana layaknya seorang

peneliti profesional. Pelatihan itu berlangsung selama dua tahun,

mulai 2003-2005, diikuti oleh sarjana-sarjana sejarab dan ilmu

sosial/humaniora dari berbagai universitas dan lembaga penelitian.

Sdr. Asep Suryana sendiri adalab sarjana sosiologi lulusan FISIP-VI.

Tema proyek pe1atihan ini adalah Indonesia Across Orders, Reorganization

of Indonesian Society 1930--960. Jadi, periode yang diliput

mencakup masa 30 tahun yang di dalarnnya ada peristiwa penting,

yaitu proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di situ ada proses

dekolonisasi, yang meliputi banyak sekali aspek kehidupan, sosial,

politik, ekonorni, dan budaya. Karena itu, pilihan topik penelitian

oleh peserta juga menjadi beragam.

Sebelum "terjun ke lapangan" para peserta dibekali teori dan

metodologi sejarah melalui kursus intensif selama tujuh minggu,

dan memasulci tahun kedua ditarnbah lagi dua rninggu dengan

penekanan pada materi-materi yang dianggap masih lemab menurut

lxi


I

pengalaman praktik selama satu tahun. Materi-materi kursus diberikan

oleh para pakar yang mempunyai reputasi keilmuan, baik nasional

maupun internasional, bukan saja dari Indonesia dan Belanda,

melainkan juga dari Australia, Jepang, dan Singapura. Dalam

meJaksanakan penelitian para peserta dibimbing secara intensif

oleh pakar sejarah dari Belanda dan Indonesia, dan secara periodik

dilakukan "konsolidasi keilmuan" melalui workshop-workshop dengan

menghadirkan previewer dati berbagai universitas dan lembaga penelitian,

di samping para pembimbing itu sendiri. Dari 14 peserta

dipilih laporan penelitian yang dinilai baik oleh para pembimbing

dan previewer, untuk kemudian diterbitkan. Ketika itu saya (editor

huku ini) adalah "director' program ini.

Sekalipun bukan sesuatu yang baru, pendekatan kombinasi

sejarah dan sosiologi, atau boleh juga disebut histori'-al sociolo~

yang dipakai penulis buku ini-menunjukkan ,ifat distingrif dati

kebanyakan studi sejarah pada umumnya. Dengan pendekatan itu,

penulis merekonstruksi dinarnika petani buah di Pasar Minggu

periode 1930-1960 dengan menggunakan konsep peripheralization

yang menempatkan Pasar Minggu sebagai daerah pinggitan kota

dan hubungannya dengan pusat kota. Hubungan itu direkonsttuksi

sebagai "penyangga" dalam arti Pasar Minggu menjadi pemasok

kebutuhan hasil pertanian untuk Kota Jakarta dan melalui Jakarta

hasil pcrtanian Pasar Minggu dijadikan komoditas ekspor ke mancanegara.

Hubungan semacam ini, menurut penulis, ternyata telah

berlangsung sejak lama, yaitu sejak jaman YOC, ketika daerahdaetah

sekitar Batavia masib disebut ommelanden Batavia. Pada awal

abad ke-19, Batavia menciptakan sistem hari pasaran, dan menetapkan

pasat hari Minggu di tempat yang selanjutnya menjaeli

Pasar Minggu, di samping hari-hari pasar lainnya seperti hari Scnin,

menjaeli Pasar Senin, hari Rabu menjaeli Pasar Rebo dan seterusnya.

Dengan ini pula Pasar Minggu mulai terintegrasi dengan Kota

Batavia. Memasulci masa kememekaan, hubungan semacam itu terus

berlangsung hingga tahun 1970-an. Dalam pada itu, Pasar Minggu

yang dahulunya mengalami perkembangan tersendiri sebagai pingxii

I

More magazines by this user
Similar magazines