610.69 Ind d - Departemen Kesehatan Republik Indonesia

depkes.go.id

610.69 Ind d - Departemen Kesehatan Republik Indonesia

610.69

Ind

d

1


Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI

Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Sekretariat Jenderal

Dua setengah tahun yang sangat berarti bersama Endang

Rahayu Sedyaningsih,--

Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2012

610.69

Ind

d

ISBN 978-602-235-117-7

1. Judul I. BIOGRAPHY

II. PHYSICIAN’S ROLE

Dua setengah tahun yang sangat berarti

bersama Endang Rahayu Sedyaningsih

Penerbit:

Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan RI

Jl. HR. Rasuna Said Blok X5 Kav.4-9 Jakarta 12950

6


Pengantar

Melihat keburukan orang itu mudah, seperti melihat gajah di

depan mata. Sebaliknya, melihat kebaikan orang itu sangat sulit,

seperti mencari jarum di gurun pasir. Begitu, sebagian besar orang

berperilaku. Tapi, tidak untuk Bu Endang Rahayu Sedyaningsih.

Beliau justru sebaliknya. Ada orang yang jelas-jelas mengkritik

dengan pedas dan sangat pribadi, beliau menyebutnya, sebagai

“kritik membangun”. Menanggapi cara mengkritiknya, beliau

berkomentar “pada hakekatnya semua orang baik, hanya cara

menyampaikannya saja yang berbeda”, begitu kata saksi mata

Dirjen BUK, dr. Supriantoro, Sp.P MARS.

Masih banyak tutur kata, sikap dan perilaku mulia yang inspiratif

dari dr. Endang Rahayu Sedyaningsih. Sebagian kecil keteladanan

itu terekam saat berinteraksi dengan staf, teman sejawat,

saudara dengan berbagai sudut pandang dan pengalamannya.

Tak ketinggalan kesan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang

dimuat media massa. Kini, kesan-kesan mengagumkan itu telah

terangkum dalam buku mungil yang sedang Anda baca ini.

Mereka dengan tulus ikhlas menulis kesan yang dirasakan

tentang Bu Endang Rahayu Sedyaningsih, dengan gaya

bahasanya sendiri. Harapannya, seluruh kesan terungkap secara

utuh, apa adanya dan unik, sesuai dengan situasi yang terjadi.

Mulai dari ekspresi marah, gembira, kecewa, sedih atau lainnya.

Begitu beragam kesan dan kedekatan terhadap Bu Endang,

terlihat dari cara mereka menyapanya. Ada yang menyapa

dengan ERS ( Endang Rahayu Sedyaningsih), Eny, Bu Endang, Ibu

Endang, Bu Menteri atau Bu Menkes. Semua jenis penyebutan

nama itu mempunyai maknanya sendiri-sendiri, sesuai dengan

kesan para pelakunya. Nah, sebagian kesan itu dapat pembaca

nikmati dalam buku ini.

Memang, penerbitan buku kesan-kesan ini diperuntukkan bukan

hanya kepada keluarga, teman sejawat Kementerian Kesehatan,

tapi juga untuk semua. Mengapa ? Banyak hikmah, teladan dan

pelajaran yang dapat diambil dari sosok ERS selama dua setengah

tahun pengabdiannya menjadi Menteri Kesehatan.

Akhirnya, sebagai hamba, tak ada gading yang tak retak, tak

ada kesempurnaan yang tak bersalah dan khilaf, termasuk

almarhumah Endang Rahayu Sedyaningsih. Mari kita maafkan

dan mohonkan ampunanNya. Semoga, kita sesama hamba, juga

dimaafkan dan mendapat ampunanNya. Amin.

Jakarta, 11 Juni 2012

Kementerian Kesehatan RI

Sekretaris Jenderal

dr. Ratna Rosita, MPH.M

7


Daftar Isi

07

Pengantar

13

Pemimpin cerdas dan

memilih hidup yang berkualitas

Prof. dr. Ali Gufron Mukti, M.SC. PhD

Wakil Menteri Kesehatan RI

15

Sahabat yang penuh semangat

dr. Ratna Rosita, MPH.M

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI

17

Please, make it another success!

Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp. P(K), MARS, DTM&H, DTCE

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan

Penyehatan Lingkungan (Dirjen. P2-PL)

19

Menteri Kesehatan dengan

Prestasi Prima dan Reputasi Indah

Dr. dr. Trihono, M.sc

Kepala Badan Litbangkes

23

Ibu Endang,

Pemimpin yang Apresiatif,

Aspiratif, Disiplin, dan Tegas

dr. Supriantoro, Sp.P, MARS

Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan (Dirjen BUK)

25

Smart dan strong-leadership,

dra. Maura Linda Sitanggang, Ph.D

Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan

(Dirjen. Binfar & Alkes)

27

Banyak yang dapat dipelajari dari Beliau

Prof. dr. Budi Sampurna, SH, DFM, Sp.F (K), Sp.KP

Staf Ahli Menteri Bidang Mediko Legal

29

Dua bilah keris Bu Enny

dr. Bambang Sardjono, MPH

Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan

Desentralisasi

33

Ia Memperhatikan Anak Buah

dr. Untung Suseno Sutarjo, M. Kes

Staf Ahli Menteri Bidang Pembiayaan & Pemberdayaan Masyarakat

35

Dia peneliti baik dan pandai

dr. Indriyono Tantoro, MPH

Staf Khusus Menkes Bidang Percepatan Pembangunan Kesehatan dan

Reformasi Birokrasi

39

Bu Endang Inspirasiku

drg. Murti Utami, MPH

Kepala Pusat Komunikasi Publik

41

Empaty, rational, smart, and smile

dr. Abidinsyah Siregar, DHSM, M.Kes

Direktur Bina Yankes Tradisional, Alternatif & Komplementer

Direktorat Jenderal Bina Gizi Ibu dan Anak

8


43

Ringan membantu akar rumput

Anorital Sutanbatuah

Peneliti Pusat 1

47

Sang pencetus jaminan persalinan

Direktorat Bina Kesehatan Ibu

49

2,5 tahun yang sangat berarti

Dr. Merki Rundengan, MKM

Auditor Itjen

51

Selalu punya waktu untuk staf

dra. Rahmaniar Brahim, Apt, M.Kes

Inspektur III, Itjen

53

Beliau bagian dari kami

Supraptini

Peneliti Pusat 3

55

Hujan di Mamuju

Wahyudin Amir

57

Dia penuh perhatian pada anak

penderita kanker

Dr. Ir Ashwin Sasongko Sastro Subroto, M.Sc

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemenkominfo

61

Beliau adalah puteri terbaik bangsa

dr.H.Azimal, M.Kes

Kepala Pusat Kesehatan Haji

63

Sampai Ketemu Lagi, Mbak

Damaryanti Suryaningsih

Adik dari Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih

73

Beliau memikirkan generasi yang

akan datang

Dr. Minarto,MPS

Direktur Bina Gizi Masyarakat

Direktorat Jenderal Bina Gizi Ibu dan Anak

75

Ibu Endang, si angsa hitam

Dr.Hj.Eko Rahajeng, SKM, M. Kes

Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular,

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan

Penyehatan Lingkungan

77

Sederhana tapi menghargai budaya

dr. Sri Henni Setiawati, MHA

Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kemenkes

79

Kesan dan Pesan dalam Rangka Kunjungan ke

Tanah Papua Tanggal 20 Februari 2012

Humas Sekretariat Badan PPSDMKes

81

Jujur dalam semua bidang

dr.Elizabet Jane Soepardi, MPH, DSc

Kepala Pusat Data dan Informasi

83

Dia selalu tersenyum

drg. S.R. Mustikowati, M.Kes

Sekretaris Inspektorat Jenderal

9


85

Dia tak pantas dilupakan

MKDKI - Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia

87

Saya terharu ibu menteri memberi

perhatian pada istri saya di ICU

Dr. Nyoman Kandun, MPH

Purnabakti Eselon I Kemkes

91

Dia selalu ingin hasil terkini

Drs. Ondri Dwi Sampurno, M.Si, Apt

Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan

Litbangkes

93

Menteri yang rajin

ke pelosok tanah air

drg. Oscar Primadi, MPH

Kepala Pusat Standarisasi dan Sertifikasi dan Pendidikan Berkelanjutan

SDM Kes, Badan PPSDM

95

Dia mengayomi

semua jajaran profesi medis

Drg. Zaura Kiswarini, MDSc

Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI)

97

Srikandi Indonesia yang memberi

warna kesehatan Indonesia

Pusat Promosi Kesehatan

99

Semua programnya prorakyat

Pusdiklat Aparatur, Badan PPSDM

101

Bu Endang, pendengar yang baik

Ria Sukarno, SKM, MCN

Sekretaris Badan Litbang Kesehatan

103

Kami senang

diperhatikan Ibu Menteri

Rita Djupuri, B.Sc, DCN, M.Epid

Direktorat Surveilans Imunisasi Karantina dan Kesehatan Matra

Direktorat Jenderal P2-PL

105

Menteri yang arif dan bijaksana

Subdit Bina Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut

Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar

Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan

107

Pesan dan Kesan

Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung,

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

113

Kenangan dan Kesan

dari Sahabat & Kawan

121

Endang, Menteri Kesehatan Terbaik

Prof.Dr. Agus Suwandono, MPH, Dr Ph

Peneliti Pusat 1

123

Sedikit Bicara Terkesan Selamanya

Dr. Qomariah Alwi, SKM, M.Sc

PDBK’ers Kab. Kupang

10


127

Beliau Mengajarkan Kami Pro Rakyat

Direktorat Bina Kesehatan Jiwa,

Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan (Dirjen BUK)

129

Dia Ditakdirkan Jadi Orang Besar

Farida

Peneliti

131

Sekilas Kenangan Bersama

Bu Menkes

Prof,Dr. Menaldi Rasmin, Sp. P(k)

Ketua Konsil Kedokteran Indonesia

133

Kenangan berkesan

bersama pemilik untaian Garnet

yang selain indah juga menyejukkan hati dari

sahabatku “Endang Rahayu Sedyaningsih Mamahit”

Hj. Endang Agustini Syarwan H.,S.IP

Anggota MPR / DPR RI No. A - 237

139

Big Condolance

Kamel Senouci

Director SIVAC

141

I’ll remember Dr. Endang

as a scientist and politician

Brad Gessner

143

One More Ibu Endang Story

Robert Tilden

145

Selalu Menyediakan Waktu

Siti Isfandari

Badan Litbangkes

147

@ NEWS

11


Pemimpin cerdas dan

memilih hidup yang berkualitas

Prof. dr. Ali Gufron Mukti, M.SC. PhD

Wakil Menteri Kesehatan RI

Ibu Menkes adalah seorang pemimpin yang cerdas, cepat

belajar, fokus, memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas

dan tanggung jawabnya, dan memiliki visi yang jelas. Meskipun

sedang sakit, ia tidak terlalu menghiraukan penyakitnya. Beliau

hanya memikirkan bagaimana meningkatkan kesehatan

masyarakat.

Beliau juga memiliki hubungan solidaritas yang tinggi terhadap

staf maupun rekan kerja. Caranya berkomunikasi sangat bagus.

Dia mempunyai kedekatan yang khas hampir dengan seluruh

jajaran di kementerian. Ia juga dikenal sangat lugas dalam

menyampaikan nasehat kepada orang di lingkungan kerjanya.

Sekalipun tegas, tapi nasehat disampaikan dengan cara yang

sangat lembut. Lebih dari semua itu, beliau memiliki nilai

kejujuran yang hakiki.

Suatu hari, Ibu Menkes pernah mendapat souvenir atau uang

dari orang lain yang berindikasi tidak baik dan terkait dengan

tugas dan tanggung jawabnya sebagai menteri, beliau langsung

mengembalikan hadiah itu kepada yang memberinya.

Terkait dengan kedekatan hubungan dengan orang lain, beliau

sangat perhatian kepada orang yang dekat dengannya, termasuk

di kementerian. Beliau proaktif memulai berkomunikasi dengan

orang lain. Suatu hari saya pernah ditanya, “Pak Wamen,

bagaimana ada masalah?” Saya jawab, “Tidak ada. Cuma masalah

transportasi yang menyita waktu 3-4 jam sehari untuk perjalanan.”

Hal lain yang menonjol dari Beliau adalah: dia memiliki

semangat bekerja juga semangat hidup yang luar biasa.

Saya punya pengalaman menarik soal ini dengan beliau,

sekaligus pengalaman terakhir tentang berpergian ke luar

kota. Ketika itu, kami akan berkunjungan ke NTT, tepatnya

ke Waykabubak. Secara geografis, medan tempat ini sangat

berat bagi kebanyakan orang. Saya mengatakan begitu,

karena saya pernah menjadi konsultan di tempat ini.

Karena itu, dalam hati saya bertanya: “Mengapa Beliau ingin

berangkat ke sana? Mengapa tidak memberi tugas kepada yang

lain atau saya, yang lebih muda atau kuat. Walaupun beliau juga

kuat, dan memiliki semangat yang tinggi, tapi kan beliau sedang

sakit.”

Walau akhirnya batal karena beliau harus merawat kesehatannya

peristiwa ini memperlihatkan bahwa beliau mempunyai

semangat baja, hampir dalam segala hal yang dipegangnya.

13


Kesehatannya memang merosot karena penyakit yang

dideritanya.

Saya pernah membaca ungkapan Bu Menkes tetang penyakit

yang dideritanya, “Why me?” Artinya, dia telah berfikir panjang

tentang mengapa dia yang menderita sakit seperti itu. Dan

jawabannya sungguh mengagumkan bagi semua orang.

Katanya, penyakitnya itu seperti membawa anugerah dari

Allah SWT. Maksudnya, beliau menyadari mungkin waktunya

di dunia sudah dibatasi, lalu beliau ingin sekali memanfaatkan

sisa umur untuk membantu sesama. Sungguh pemikiran yang

mulia dan sangat terpuji. “Panjangnya umur tak terlalu penting

dibanding kualitas umur itu sendiri,” ungkapan Bu Menkes dalam

sambutannya di hadapan penderita kanker, di Indonesia.

14


Sahabat yang penuh semangat

dr. Ratna Rosita, MPH.M

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI

Kerja cerdas dan cepat. Itu yang saya alami ketika bekerja

bersama Ibu Endang sejak tahun 2003. Ketika itu, SARS

melanda beberapa kawasan di dunia. Gejala klinis pada

penderita suspect SARS menjadi tanggung jawab saya sebagai

kasubdit Gawat Darurat dan Matra. Sedangkan konfirmasi kasus

menjadi tanggung jawab Ibu Endang di Litbang. Setelah proyek

SARS ini kami sibuk masing-masing dengan pekerjaan berbeda.

Jauh sebelum bekerjasama menangani SARS, kami telah

berkawan sejak kami bersama masuk FKUI th 1973, dan lulus

serta diwisuda pada tahun 1979.

Kami bertemu kembali, dan bekerja bersama pada saat Beliau

menjadi Menteri Kesehatan. Saya melihat Beliau sebagai sosok

yang konsisten, jujur, teguh dalam pendirian, pantang menyerah,

teliti, dan mempunyai komitmen tinggi terhadap tugasnya.

Dengan karakter seperti itu, Ibu Endang menjadi panutan bagi

sejumlah pejabat di Kementerian Kesehatan.

Ketika Beliau sakit, semangatnya tidak surut, walaupun dia

harus berjuang untuk sekedar dapat menikmati makan siangnya

dengan baik. Ketika sudah terbaring di rumah sakit, beliau masih

mengerjakan tugas-tugas negara, memberikan arahan, baik

dengan sms maupun email. Pesan beliau melalui sms tanggal 31

Maret 2012 agar kita merapatkan lagi barisan. Jangan sampai

barisan kita terpecah-belah.

Beliau seperti roket, melesat dengan cepat lalu menghilang atau

lenyap. Banyak kenangan manis bersama ibu ERS yang tidak

dapat dilupakan.

Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosa ibu Endang Rahayu

Sedyaningsih, masukkanlah ke dalam surgaMu kelak. Selamat

jalan sahabat.

15


16

Menkes Canangkan Kemenkes Raih WTP2012


Please, make it another success!

Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp. P(K), MARS, DTM&H, DTCE

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Dirjen. P2-PL)

Saya memiliki empat kesan mendalam tentang almarhumah

Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih. Pertama, Almarhumah

amat menguasai Ilmu Kesehatan Masyarakat yang menjadi

tanggung jawab beliau sebagai Menteri Kesehatan. Penguasaan

ilmu ini didasari pada tiga hal utama. Yaitu, latar belakang

pendidikan Beliau sebagai dokter dan Doktor; kebiasaan Beliau

membaca berbagai jurnal dan publikasi ilmiah, walaupun di

tengah kesibukannya sebagai Menteri; dan terakhir pengalaman

panjang beliau bekerja di lingkungan Kesehatan sejak 30 tahun

lalu, di masa awal Beliau masuk dunia bekerja.

Kedua, Almarhumah amat taat pada aturan yang ada. Dalam

berbagai arahan, beliau selalu menekankan agar semua dilakukan

sesuai dengan aturan yang ada. Dalam semua kegiatan di

Kementerian Kesehatan maka semua pekerjaan selalu dilakukan

dengan aturan perundangan yang ada.

Ketiga, Almarhumah sebagai pimpinan sangat menjaga

hubungan baik yang humanis dengan para stafnya. Beliau selalu

menjaga agar selalu ramah dan tersenyum. Namun, dengan tetap

memegang prinsip hubungan kerja amat sehat dan produktif

dalam organisasi Kementerian Kesehatan.

Terakhir keempat, Almarhumah adalah orang yang baik hati.

Kesimpulan itu saya ambil setelah mengenal beliau sejak lama,

sejak sebelum beliau menjadi Menteri. Yaitu, sejak kami samasama

menangani kasus berbagai penyakit waktu saya masih kerja

di RS dan Almarhumah di Badan Penelitian dan Pengembangan

Departemen Kesehatan, lalu sama-sama menjadi pejabat eselon

2 di Departemen Kesehatan, sampai beliau menjadi Menteri

Kesehatan. Sebagai pribadi, kesan mendalam saya bahwa

Almarhumah adalah orang yang baik hati, dan menurut saya

kebaikan hati Almarhumah terpancar dari lubuk hati beliau.

Di sisi lain, dalam aspek kesehatan masyarakat, almarhumah

Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih mampu secara serasi

menyeimbangkan antara kegiatan Promotif Preventif dengan

Kuratif Rehabilitatif.

Saya pernah dengan beliau, pada suatu waktu di tahun 2011

yang lalu, melakukan kunjungan kerja ke suatu kabupaten

untuk meninjau kegiatan PosBinDu (Pos Pembinaan Terpadu,

semacam Posyandu untuk dewasa dan orang tua). Waktu itu

pimpinan daerah setempat mengatakan bahwa Ibu Menkes

harusnya meninjau ke Rumah Sakit, dan almarhumah dengan

amat bijak mengatakan bahwa pelayanan kesehatan harus

berjalan secara menyeluruh, mulai dari perilaku hidup bersih

sehat, pemeriksaan kesehatan, kesehatan lingkungan dan

berbagai kegiatan promotif preventif lain sampai ke pelayanan

kesehatan yang prima di berbagai fasilitas (Puskesmas,

Klinik, RS) sampai kegiatan rehabilitatif bila diperlukan.

Secara umum, menurut Beliau, pada dasarnya keberadaan

Posyandu dan posbindu adalah sama pentingnya dengan

17


ketersediaan rumah sakit yang canggih. Dalam hal penelitian,

beberapa bulan yang lalu di awal tahun 2012 saya mendapat

tugas dari Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih untuk menghadiri

pertemuan WHO, sehubungan ada kontroversi penelitian

ilmiah flu burung yang antara lain menyebutkan kemungkinan

perubahan virus sehingga mungkin menular antar manusia.

Arahan Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih saat ini menunjukkan

kematangan beliau dalam bidang penelitian dalam kaitannya

dengan hubungan luar negeri, yaitu antara lain:

- ilmu pengetahuan pada dasarnya perlu terus dikembangkan

- hasil penelitian harus mempertimbangkan azaz manfaat dan

aspek kemanusiannya

- keterlibatan negara asal merupakan hal yang mutlak bila

sampel dari satu negara di/ter kirim ke negara lain

- semua negara harus mematuhi resolusi WHO, dalam hal ini

tentang hal “virus and benefit sharing”.

- azaz “fair, transparant and equitable” harus selalu dipegang

erat.

Sementara itu, dalam hal teknologi informasi, setidaknya ada 4

pengalaman saya yang menunjukkan bahwa Ibu Endang Rahayu

Sedyaningsih amat menyadari dan memanfaatkan teknologi

komunikasi.

Pertama, pada saat beliau masih awal menjadi Menteri

Kesehatan, Beliau membuat group email antar-eselon 1 di

Kementerian Kesehatan. Melalu group email ini berbagai

informasi dipertukarkan, dan saya sering pula menyampaikan

laporan kegiatan, khususnya pada hal-hal yang sifatnya segera/

mendadak.

Kedua, pada rapat koordinasi dengan seluruh pejabat

eselon 2 DitJen P2PL maka beliau berpesan agar P2PL dapat

memanfaatkan maksimal teknologi komunikasi yang ada, antara

lain karena dua hal:

1. Letupan penyakit dapat datang di mana saja dan harus

ditangani dengan cepat.

2. Pentingnya surveilans untuk pengamatan terus menerus dan

tindakan untuk menanganinya, yang memang merupakan

salah satu aspek penting dalam kegiatan pengendalian

penyakit.

Sejalan dengan arahan Ibu Endang itu maka kami kemudian

mengembangkan sistem EWARS, E-tb, E-malaria dll.

Ketiga, saya ingat, salah satu email laporan saya ke beliau adalah

ketika terjadi gempa di Aceh 11 April yang lalu. Ketika itu saya

melaporkan komunikasi saya dengan Kepala Dinas Kesehatan

Aceh dan Sumatera Barat serta beberapa Kepala Kantor Kesehatan

Pelabuhan di Sumatera. Pada waktu itu beliau sedang dirawat di

RSCM, dan setelah menerima email saya beliau langsung menjawab:

“Harap dipantau terus Prof. Saya juga melihat dari TV. Siagakan

bantuan yang kira-kira dibutuhkan. Terimakasih.” Seperti

sudah diberitakan bahwa walau sedang dirawat di rumah

sakit, Ibu Endang terus memimpin Kementerian Kesehatan dan

memberikan arahannya.

Keempat, terakhir kali beliau menanggapi secara pribadi email

laporan saya adalah pada 15 April 2012 ketika saya melaporkan

4 kegiatan Hari Malaria Sedunia, dimana saya laporkan juga bhw

puncak acara tingkat nasional akan dilakukan di Palangkaraya

pada 2 Mei 2012, dan ini penggalan dari jawaban email beliau :

“Baik sekali. Terima kasih laporan Prof. Tjandra. Kita bangga

upaya kita diapresiasi. Semua saran rekomendasi kita upayakan

lakukan. Mungkin baik juga kalau kita tawarkan ibu-ibu sikib

untuk sebar ikan kepala timah ya? Silakan lanjutkan dengan Hari

Malaria Palangkaraya. Please make it another success! Ers”.

Jadi,dalam email terakhir sekitar dua minggu sebelum wafat,

juga ketika sedang dirawat di RS, beliau menyebutkan bahwa

hari malaria yang diperingati tanggal 2 Mei agar “Please make it

another success!”. Tanggal 2 Mei ini Ibu Endang wafat, dan saya

akan tetap mengingat pesan beliau agar terus bekerja dengan

giat dan “Please make it another success!”.

18


Menteri Kesehatan dengan

Prestasi Prima dan Reputasi Indah

Dr. dr. Trihono, M.sc

Kepala Badan Litbangkes

Pagi hari, pada tanggal pelatikan pejabat eselon 2, saya

dipanggil Kepala Badan Litbang Kesehatan, Pak Triono

Sundoro. Sebagai Kabadan, beliau menasihati saya agar

siap kalaupun tidak jadi dilantik. Katanya, perubahan bisa terjadi

setiap saat.

Hal itu sudah terjadi pada surat undangan pelantikan saya.

Undangan sampai di tangan saya kemarin malam jam 19.00

(sehari sebelum pelantikan). Kemudian Pukul 21.00, undangan

untuk saya dibatalkan. Tetapi pukul 06.00 pagi, esok harinya,

undangan pelantikan itu dihidupkan kembali. Saya santai saja

menanggapi, “Kalau enggak jadi dilantik, ya, pecinya dilepas. Jadi

tamu undangan.”

Pagi itu, Pak Triono minta saran. Bagaimana, ya, cara

memberitahukan kepada Ibu Endang bahwa jabatannya selaku

Kepala Pusat Litbang Biomedis dan Farmasi akan dicopot. Pada

saat itu belum pernah ada eselon 2 yang dilengserkan begitu

saja, biasanya diputar menduduki jabatan eselon 2 lainnya.

Saya menyarankan untuk diberitahu saja, akan lebih baik Kabadan

yang memberi tahu terlebih dahulu dari pada menunggu sampai

saat pelantikan oleh Ibu Menkes SFS.

Tak lama kemudian Ibu Endang datang. Ada suasana hening,

tampaknya berat juga Pak Triono mengungkapkannya. Ternyata

setelah disampaikan bahwa Ibu Endang dicopot dari jabatannya,

saya lihat Ibu Endang ada rasa terkejut. Tetapi beliau tetap tegar.

Setelah hening sejenak, Ibu Endang berkata,” Saya sudah diberi

firasat oleh Allah, tadi malam saya bermimpi diberi bantal yang

bau pesing oleh Ibu Menkes. Tampaknya itu tanda, saya harus

lengser. Saya siap kembali jadi peneliti.” Waktu itu belum tahu

siapa yang menggantikan beliau. Setelah pelantikan baru tahu

bahwa saya yang menggantikan beliau.

Pisah sambut

Beberapa hari setelah pelantikan diadakan pisah sambut antara

Ibu Endang dan saya. Suasana mengharukan, beberapa sahabat

beliau meneteskan air mata, karena jarang sekali kejadian seperti

ini. Banyak staf yang memberikan cindera mata, bahkan ada yang

membuat puisi khusus untuk Ibu Endang. Itu semua menandakan

penghormatan dan pengakuan atas jasa beliau selama memimpin

Puslitbang Biomedis dan Farmasi. Saya perhatikan beliau tetap

tegar meski sewaktu salaman banyak peneliti yang meneteskan

air mata tanda haru. Beliau mengucapkan terima kasih atas

kerjasama yang baik dengan seluruh jajaran Pusat Biomedis dan

Farmasi, dan mohon maaf bila ada kesalahan yang diperbuat

19


selama ini. Juga mengucapkan selamat atas pengangkatan saya

sebagai pengganti beliau.

Giliran saya menyampaikan sambutan: “Saya bersyukur Ibu

Endang tetap di Puslitbang Biomedis dan Farmasi sebagai

peneliti senior, saya akan menempatkan Ibu sebagai Konsultan,

yang pasti memudahkan saya dalam mengemban amanah,

karena biomolekuler bukanlah bidang saya.” Jadi meski Ibu ERS

kembali sebagai peneliti, saya menempatkan beliau pada posisi

lebih karena saya tahu kompetensi dan profesionalitas beliau.

Ruang ERS

Setelah tidak menjabat, beliau menempati ruang yang beliau

disain sendiri. Tempatnya di Lantai 1 Puslitbang Biomedis

dan Farmasi. Nuansa seninya memang terasa. Di ruang beliau

segalanya teratur rapi dan selalu ada bunga. Kini ruang itu

kami lestarikan dan kami beri nama ruang ERS. Semua pesan

dan kenangan beliau kami kumpulkan di ruang tersebut. Ada

beberapa buku dan tulisan ilmiah karya beliau, ada kaca cermin

yang beliau gunakan, juga karya kenangan kami (puisi, kumpulan

SMS) terhadap beliau kami taruh di ruang tersebut. Ruang ERS

semoga menjadi tanda bahwa seorang peneliti dari Balitbangkes

pernah diangkat menjadi Menteri Kesehatan, dengan prestasi

prima dan reputasi indah.

Rasa yang paling menyakitkan

Saya pernah mendapati Ibu ERS dalam keadaan marah, sedih,

sakit hati, bercampur aduk. Saya lupa tanggalnya, tetapi saat itu

saya perlu konsultasi tentang Flu Burung. Beliau telah mendalami

masalah ini, bahkan pernah membuat tulisan ilmiah tentang

penyakit ini. Saya menghadap beliau dan hanya berdua saja. Saya

minta pendapat beliau tentang penanganan Avian Influenza

kaitannya dengan pengembangan laboratorium. Namun diskusi

ini kemudian bergerak kemana-mana termasuk tudingan Ibu

Menkes SFS kepada beliau. Pada saat itulah beliau menangis

sedih dan seolah menahan rasa sakit, dengan penuh perasaan

beliau berkata: “Pak Tri, yang paling menyakitkan adalah

kalau dituduh berkhianat pada bangsa sendiri”. Saya terdiam,

merasakan betapa sesaknya beliau ketika dituduh menjual virus

ke luar negeri. Saya dan segenap jajaran litbangkes tahu betul,

tuduhan itu tidak pernah terbukti. Dari situ saya tahu betapa

tingginya kadar merah-putih dalam dada Ibu Endang.

Tidak ada rasa balas dendam

Sewaktu beliau masih menjabat sebagai Kepala Pusat Biomedis

dan Farmasi, beliau pernah “berantem” dengan staf peneliti

senior. Biasa, di Balitbangkes peneliti bisa tidak sejalan dengan

Kepala Pusatnya, karena peneliti mempunyai integritas sendiri,

yang tentu saja bisa berbeda pendapat dengan Pimpinannya.

Pertengkaran itu cukup parah sehingga sang peneliti sampai

“mogok”.

Namun sewaktu beliau menjadi Menteri Kesehatan, peneliti

tersebut malah sekarang dipromosikan menjadi eselon 2

atas usulan beliau. Ini bukti yang menunjukkan bahwa beliau

memang tidak mempunyai rasa “balas dendam”.

Mementingkan pluralitas

Sewaktu beliau mencari Kepala Badan Litbang Kesehatan untuk

menggantikan Prof. AP, beliau minta agar dicarikan calon yang

memenuhi syarat tetapi bukan dari UI. Beliau menyadari bahwa

makin beragam asal universitas dari para pejabat eselon 1, akan

makin baik buat Kementerian Kesehatan secara keseluruhan.

Apalagi waktu itu ada saran agar jangan “UI sentris”. Sayangnya

tidak mudah mencarinya, mereka yang mau tidak memenuhi

syarat sedangkan yang memenuhi syarat tidak mau. Itulah

sebabnya saya yang juga alumni UI akhirnya dipromosikan,

setelah calon dari Universitas lain tidak bersedia/belum

memenuhi syarat.

Bersemangat bila berkunjung ke Balitbangkes

Setiap beliau berkunjung kembali ke Balitbangkes, baik formal

maupun dadakan, saya perhatikan beliau selalu kelihatan

“sumringah”, merasa kembali ke dalam dunianya. Itulah sebabnya

Balitbangkes selalu membuat acara bila ibu sedang “terbebani”

20


anyak masalah. Dengan bertemu kembali para peneliti di

Balitbangkes, semangat beliau seolah kembali segar dan siap

menghadapi beban seberat apapun. Di bawah ini disajikan puisi

sederhana sewatku kami merayakan ulang tahun beliau pada

tahun 2010.

Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih

Semoga tetap bekerja tanpa pamrih

Berteman tanpa pilih kasih

Mendapatkan ridho Allah Yang Maha Pengasih

Demikian sekilas kenangan saya dengan Ibu Dr. Endang Rahayu

Sedyaningsih MPH, DR.PH

Menkes & Meneg PP dan Anak dalam acara hari anak

21


22

Menkes menghadiri pertemuan WHO tahun 2010


Ibu Endang,

Pemimpin yang Apresiatif,

Aspiratif, Disiplin, dan Tegas

dr. Supriantoro, Sp.P, MARS

Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan (Dirjen BUK)

Seperti kita ketahui bahwa sebelum menjabat sebagai

Menteri Kesehatan, Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih

pernah menjabat Eselon II. Saat itu tidak sedikit yang

meragukan Beliau, underestimated. Bahkan ada yang mencurigai

hubungannya dengan Namru. Namun saya tahu, itu tidak benar.

Ibu Endang adalah sosok yang cepat belajar, cepat menyesuaikan

diri, dan cepat pula menyelesaikan pekerjaan.

Yang menjadi ciri khasnya, Ibu Menkes selalu membawa buku.

Dengan buku itulah beliau langsung menuliskan apa saja hal-hal

menarik yang didiskusikan atau disampaikan lawan bicaranya.

Mungkin ini disebabkan latar belakangnya seorang peneliti.

Ini menunjukan bahwa Ibu Menkes sangat mengapresiasi dan

mendengar masukan dari orang lain, siapapun itu. Kemudian

saran dan masukan yang baik akan ditindaklanjuti dan

diimplementasikan.

Beliau juga sangat menghargai masukan dengan cara

menyampaikan apa adanya. Contohnya dalam sebuah pertemuan

dengan Gubernur, DPRD, Bupati, Walikota, dan pejabat daerah di

Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ibu Endang mengatakan bahwa

apa yang disampaikannya berdasarkan informasi dari saya.

Padahal sebagai Menkes, beliau mempunyai kewenangan tidak

harus menyebutkan hal itu. Itulah bukti bahwa Ibu Menkes

sangat menghargai staf-stafnya. Beliau juga contoh pemimpin

yang terbuka dengan perbedaan pendapat. Beliau tidak marah

atau tersinggung jika stafnya mempunyai pemikiran berbeda.

Di antara Pejabat Negara, Ibu Menkes termasuk yang sangat

peduli dengan masalah-masalah masyarakat umum, terutama

masyarakat miskin dan tidak mampu. Teleponnya terbuka

bagi siapa saja bisa menyampaikan pengaduan. Beliau sendiri

merespon pengaduan tersebut. Dan selanjutnya meneruskan

pengaduan masyarakat itu kepada staf-stafnya terkait untuk

ditindaklanjuti dan diselesaikan.

Di antara kebaikan dan kesabarannya, Ibu Menkes adalah

pemimpin yang tegas. Siapa yang benar akan diapresiasi, siapa

yang salah akan ditegur baik secara halus maupun tegas. Pendek

kata, Ibu Endang adalah pemimpin yang berwibawa, apresiatif,

aspiratif, disiplin, dan tegas. Untuk kejujurannya dan kepatuhan

pada prinsip tata pemerintahan yang baik, tak usah diragukan

lagi. Sebagai contoh ketika diberikan sebuah souvenir saja,

Beliau mengembalikan kepada yang memberikan.

Ada beberapa sikap yang membuat saya sangat terkesan.

23


Misalnya saja ketika saya menanyakan mengapa Beliau selalu

berprasangka baik bahkan kepada orang yang pernah menyakiti

dan melecehkan dirinya. Beliau menjawab bahwa pada dasarnya

orang itu adalah orang baik dan apa yang disampaikannya

merupakan koreksi dan perbaikan diri bagi Ibu Menkes. Luar

biasa, beliau selalu melihat sisi positif dan mengabaikan sisi

negatif seseorang.

Saya semakin kagum dengan komitmen dan etos kerja yang

ditunjukkan Beliau meskipun sedang sakit. Sebagai spesialis

paru, saya sampaikan prognosa terkait kesehatan beliau. Namun

faktanya, beliau sangat tegar dan aktif melaksanakan tugas-tugas

berat sehari-hari. Tanpa segan beliau juga melakukan kunjungan

ke daerah yang jauh. Saya ingat beliau mengatakan bahwa

beliau sudah merasa mendapatkan anugerah yang banyak dari

Allah SWT, sehingga sekarang saatnya melakukan sesuatu yang

berguna bagi masyarakat. Mengisi hidup dengan hal-hal yang

bermanfaat bagi sesama.

Suatu hari sebelum dirawat di rumah sakit, saya pernah

menyarankan Ibu Menkes tidak melakukan kunjungan ke Sumba.

Karena itu perjalanan yang jauh dan berat. Namun ternyata beliau

tetap bertekad melaksanakan tugas ke Sumba. “Pak Pri, saya

sudah janji. Mereka akan kecewa jika saya tidak datang,” begitu

kata Ibu Menkes waktu itu. Dan meskipun akhirnya Ibu Menkes

batal ke Sumba, karena harus menjalani perawatan sakitnya.

Akhirnya, saya bisa mengambil hikmah bahwa Ibu Endang adalah

pribadi yang telah melakukan apa yang pernah dikatakan pada

sambutan buku Berdamai dengan Kanker, “Sungguh, lamanya

hidup tidaklah sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari lakukan

sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan hari ini. Kita lakukan

dengan sepenuh hati.”

Begitulah sekelumit kesan saya tentang Ibu Menkes. Apa yang

saya paparkan ini mungkin tak berarti apa-apa dibandingkan

dengan keteladanan sebenarnya yang dilakukan oleh Ibu

Endang Rahayu Sedyaningsih.

Selamat jalan, Ibu Menkes.

24


Smart dan strong-leadership

dra. Maura Linda sitanggang, Ph.D

Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Ibu Endang adalah pribadi yang smart, namun tetap rendah hati

dengan segala kelebihan dan talenta yang dimilikinya. Sebagai

pemimpin, beliau memiliki strong-leadership. Walaupun bagi

saya sangat singkat, selama bekerja di bawah pimpinannya, saya

merasakan ketegasan dan kecepatan beliau dalam mengambil

keputusan serta berani mengambil risiko, namun tetap penuh

pertimbangan.

Di balik kepribadiannya yang tegas, Ibu Endang adalah sosok

yang sangat perhatian/concern kepada orang kecil dan terpuruk,

yang diaktualisasikan melalui sikap dan pengorbanannya.

Selamat berpulang Ibu. Kenangan dan teladanmu akan selalu

menginspirasi banyak orang!

25


Banyak yang dapat dipelajari

dari beliau

Prof. dr. Budi Sampurna, SH, DFM, Sp.F (K), Sp.KP

Staf Ahli Menteri Bidang Mediko Legal

Endang Rahayu Sedyaningsih saya kenal sebagai

pemimpin, ibu, dan teman. Beliau seorang pemimpin

yang memiliki visi. Ia mampu menguraikan dan

mempertahankan pandangannya ke depannya, gigih

dalam melaksanakan upaya untuk mencapainya, serta tidak

mudah tergoyahkan.

Di bidang yang merupakan domain kerja saya, khususnya

penyusunan peraturan perundang undangan, kematangan

beliau dalam membuat kebijakan publik terlihat dengan

nyata. Beliau bijaksana dalam menghadapi tantangan,

khususnya dalam kebijakan di bidang Air Susu Ibu, produk

tembakau, dan sunat perempuan. Beliau meyakini bahwa

tujuannya baik bagi masyarakat luas.

Beliau begitu bersemangat dan berkeinginan kuat untuk

menyelesaikan rancangan peraturan pemerintah tentang Air

Susu Eksklusif dan pengamanan bahan yang mengandung zat

adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.

Keputusan dalam menghadapi pertentangan dua kepentingan

selalu dibuat dengan mempertimbangkan dari berbagai aspek.

Beliau mau mendengar kritik dan saran, dan mampu pula

membuat keputusan yang tegas.

Beliau juga konsisten dan konsekuen dalam menjalankan konsep

dan isi kedua rancangan peraturan tersebut.

Banyak yang dapat dipelajari dari kepemimpinan beliau.

27


28

Menkes menyerahkan bantuan bencana mentawai

disahkan Wapres dan Mensos tahun 2010


Dua bilah keris Bu Enny

dr. Bambang Sardjono, MPH

Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi

Apabila kita bercerita tentang Bu Endang Rahayu

Sedyaningsih, atau akrab disapa dengan Bu Enny,

tidak akan pernah ada habisnya. Ada saja topik

pembicaraan yang dikaitkan dengan beliau sebab wawasan

beliau sangat luas. Beliau juga memberikan perhatian yang besar

pada banyak hal.

Kadang-kadang saya masih belum percaya bahwa beliau sudah

tiada. Saya sering merasa bahwa beliau masih ada. Ketika

saya sedang berkunjung ke daerah, dan ketika menyampaikan

kebijakan Kemenkes --menjelaskan tentang kebijakan Kemenkes

antara lain PIREB (Pro-Rakyat, Inklusif, Responsif, Efisien -Effektif

dan Bersih)-- rasanya Bu Enny masih ada di sekitar saya. Seakanakan

dia sedang mengawasi dari kejauhan sambil tersenyum.

Senyum khas Bu Enny. Atau apabila saya sedang melintasi Blok A

lantai 2 kantor Kementerian Kesehatan, masih terasa kehadiran

sosok Bu Enny. Seakan-akan beliau masih berada di ruang kerja

beliau.

Tentu sudah banyak orang yang menulis mengenai Bu Enny dari

berbagai sudut padang. Misalnya, tentang keterkaitan beliau

dengan khazanah penelitian, mengenai etos dan semangat kerja,

tentang kedekatan beliau dengan program untuk masyarakat,

tentang anthusiasme beliau terhadap rakyat, tentang penyakit

yang beliau derita, tentang keluarga, dan tentang-tentang yang lain.

Saya juga mempunyai kesan tersendiri tentang Bu Enny. Saya

bisa menulis berbagai hal tentang Bu Enny menurut persepsi

saya. Namun, kali ini saya menulis atau bercerita tentang hal-hal

yang sangat berbeda dengan yang selama ini diketahui banyak

orang, yakni tentang keris. Ya, tentang KERIS dan Bu Enny.

Begini ceritanya; suatu hari di bulan Oktober 2011, setelah selesai

memimpin sebuah rapat di gedung Kementerian Kesehatan,

ketika berjalan menuju ruangan, Bu Menkes memanggil saya.

Beliau berkata bahwa ada orang menyampaikan bahwa hobi saya

adalah mengoleksi keris. Kemudian beliau sampaikan bahwa dia

memiliki dua bilah keris peninggalan ayahnya, almarhum Prof.

Sudjiran. Singkatnya, beliau ingin agar saya melihatnya dan

minta saran sebaiknya diapakan keris itu. Bu Enny meminta saya

datang dan melihat di rumahnya, di Duren Sawit, Jakarta Timur.

Pada hari yg ditentukan, yaitu Sabtu pagi, sekitar pukul 08.30,

saya menghadap beliau di rumahnya. Ketika saya tiba di sana,

sepertinya beliau baru kembali dari suatu acara meresmikan atau

memberikan amanat atau kegiatan di Monas. Beliau mengenakan

29


kaus olah raga lengan panjang. Dan, beliau rupanya sedang asyik

menata koleksi gantungan kunci dan magnet kulkas. Ternyata,

salah satu hobi beliau adalah mengumpulkan magnit kulkas dari

berbagai tempat.

Setelah masuk, kami duduk dan ngobrol sejenak seputar

pekerjaan. Saya menyampaikan tentang kegiatan Direktorat

Bina Upaya Kesehatan Dasar yang saya emban. Lalu, akhirnya,

kami membicarakan tentang keris. Beliau masuk ke kamar dan

membawa keluar dua bilah keris. Satu terbungkus kain slayer/

scarf dan satu lagi dibungkus kain hitam.

Beliau menceritakan riwayat keris tersebut. Dia menerima keris

itu dari ayahanda. Dia juga bercerita bahwa keris itu sebenarnya

milik keluarga, dan akan diberikan kepada adik laki-laki beliau.

Saya mohon izin membuka sarung/warangkanya. Lalu saya

mengamati dan memeriksa dengan seksama. Saya mencermati

keris itu dan mengecek/merujuk referensi --Ensiklopedi Keris

karya Bambang Harsrinuksmo dan lainnya yang sengaja saya

bawa.

Lalu saya sampai pada kesimpulan sementara; kedua keris itu

dibuat dari bahan yang baik. Pamornya bagus. Hanya sedikit

berkarat karena lama tidak dibersihkan. Deskripsi kedua keris

itu kira-kira adalah: 1) Keris A: Warangkanya Ladrang Surakarta,

dibuat di era Sri Sunan Paku Buwono IX di Surakarta dan kerisnya

Sabuk Inten luk 11 dari zaman Majapahit. 2) Keris B: Warangkanya

ladrang Surakarta era baru, Keris Luk 9 yang dibuat zaman

Majapahit atau sebelumnya.

Bu Enny rupanya ingin tahu lebih detil. Pertanyaan beliau

antara lain: makna pamornya, karya empu dari mana,

dari zaman kapan, apa tanda-tandanya, bagaimana cara

memelihara dan menyimpan. Sambil mengobrol beliau

membolak-balik buku ensklopedia. Rasa ingin tahu beliau

tentang keris itu sangat besar. Saya menduga, barangkali

karena beliau adalah seorang peneliti dan jiwa peneliti selalu

ingin mengetahui hal apapun. Singkatnya, kemudian beliau

memasrahkan keris untuk saya bersihkan. Saya menyanggupi.

Kedua keris tersebut saya bawa pulang ke rumah. Saya langsung

membersihkan keris itu. Sebenarnya, proses membersihkan

keris cukup panjang, dan ada urut-urutan bakunya. Langkah

pertama adalah merendam keris itu di dalam air kelapa sayu.

Lalu membersihkan karat. Setelah itu, memutihkan permukaan

keris dengan jeruk nipis. Setelah putih, lalu mewarangi, dan

seterusnya.

Pada saat yang sama saya juga membersihkan beberapa bilah

keris lama saya. Kebetulan, persediaan warangan (arsenikum)

saya saat itu tidak ada, maka proses hari itu hanya sampai

memutihkan besinya. Pada hari Minggu esoknya saya minta

bantuan ke rekan mranggi (pembuat warangka) di daerah

Cipinang. Di sana kami sama-sama mewarangi. Siang itu cuaca

cukup bagus, sehingga dalam waktu satu jam sudah terlihat

gambaran pamor di besi ke dua keris tersebut. Saya bisa melihat

keindahan besi berpadu dalam pamor yang indah. Sementara

itu rekan mranggi yang lain menggarap ke dua warangkanya.

Menjelang ashar, proses kerja spoet ini sudah selesai

Keesokan harinya saya kirim SMS ke Bu Enny mengabarkan

bahwa keris telah selesai dibersihkan dan sudah siap untuk

diantar. Beliau menjawab melalui SMS: kok, cepat sekali. Saya

tidak menceritakan bahwa saya membersihkan keris itu bersama

teman-teman saya para mranggi dari Madura.

Kemudian beliau menentukan waktu untuk bertemu di rumah

dinas di Jl. Denpasar. Pada hari yang ditentukan pukul 07.30 saya

sudah hadir. Ajudan dan penjaga mempersilahkan masuk. Saya

menunggu di ruang dalam. Sementara itu, seorang pembantu

menyodorkan teh manis dan kue.

Sejenak kemudian beliau keluar kamar dengan wajah cerah

30


dengan pakaian rapi siap untuk suatu acara. Kemudian

saya menyerahkan keris tersebut kepada beliau sambil

menyampaikan dan menjelaskan lebih detil. Intinya, bahwa dua

keris ini berkualitas baik. Rupanya beliau ingin tahu lebih banyak

tentang keris. Lalu kami membuka buku rujukannya. Kami

berdiskusi tentang keris lebih kurang 15 menit. Setelah itu, saya

pamit ke kantor.

memelihara keris.

Saya sungguh bangga dan bahagia diberi amanah, mendapat

kehormatan dan kesempatan untuk melihat, memegang

bahkan membersihkan dan mewarangi pusaka keluarga ibu

Enny. Demikianlah, sekelumit cerita tentang keris dan Bu Enny.

Wilujeng saklajengipun.

Cerita ini menggambarkan sisi lain dari bu Enny yang tetap

meneruskan tradisi nguri-urii kabudayan (memelihara

kebudayaan), yang salah satunya adalah melestarikan dan

Kunjungan Menkes bersama mentri PDT di Sambas Kalbar

31


Ia Memperhatikan Anak Buah

dr. Untung Suseno Sutarjo, M. Kes

Staf Ahli Menteri Bidang Pembiayaan & Pemberdayaan Masyarakat

Pada suatu hari saya diminta menghadap Ibu Menkes.

Saya waktu itu memang baru membuat telaahan tentang

pembiayaan sesuai dengan tupoksi jabatan saya, yang

dikaitkan dengan pengambilan keputusan Ibu Menteri. Jadi, saya

datang membawa semua bahan yang diperlukan.

Sesampai di kamar beliau, langsung saya masuk dan duduk.

Beliau memang tampak tegang dan langsung menyatakan, “Pak

Untung harus sadar bahwa jabatan itu adalah amanah. Kalau

masih dibutuhkan, akan tetap menjabat. Kalau tidak mampu,

dipersilahkan untuk ke tempat lain.”

Saya terkejut mendengar kalimat itu, dan macam-macam timbul

di pikiran saya. Termasuk terpikirkan juga yang paling ekstrim:

saya harus berkarya di luar Kemkes. Atau, rupanya tidak mudah

masuk jajaran eselon satu. Sebab, saya baru dilantik tiga bulan

tapi sudah menghadapi pernyataan yang demikian kerasnya.

Apalagi beliau kemudian menjelaskan secara panjang lebar

kriteria menjadi pejabat di Kemkes. Beliau juga menekankan

apa yang diharapkannya dari para pejabat dalam melaksanakan

program unggulan Kemkes.

Terus terang pada saat itu saya berfikir, saya pasti sudah buat

salah besar. Tetapi, mengapa beliau harus bicara sendiri seperti

itu pada saya. Jadi saya dengarkan terus arahan hingga akhirnya

beliau menyatakan itu keputusannya harus dijalankan.

Wah saya speechless, tidak berani menjawab. Saya pikir nanti

setelah beliau selesai saya akan bertanya. Kurang lebih 20

menit kemudian beliau memberikan kesempatan kepada untuk

melaporkan apa yang saya bawa. Saya langsung bertanya,

“Mohon maaf Ibu menteri. Mohon izin, kalau berkenan, ibu

memberitahu apa salah saya sehingga harus dipindahkan.

Saya siap Ibu kalau harus dipindahkan.” Tiba-tiba saja beliau

tersenyum dan membalas, “Saya tidak ada niat memindahkan

Pak Untung. Baru saja dilantik, koq dipindah. Saya hanya mau

kasih tahu, instruksi saya di rakorpim, karena saya perhatikan Pak

Untung sudah dua kali tidak hadir, dan harus tahu apa yang saya

putuskan.”

Terus terang perasaan saya kaget campur kagum. Seorang

menteri mau memanggil anak buahnya untuk menjelaskan

keputusannya. Baru pertama kali saya mengalami hal seperti itu.

Beliau juga memperhatikan kehadiran anak buahnya dalam rapat

penting. Ketika saya jelaskan kekagetan saya pada saat awal

33


datang, beliau tertawa. Beliau menyatakan tujuannya sederhana

supaya saya mendapatkan informasi langsung dari sumbernya,

bukan isu atau gosip. Beliau tidak marah atas ketidakhadiran

saya, karena jelas alasannya. Saya baru menyadari betapa beliau

mengutamakan chain of command yang harus mendapatkan

informasi yang benar, sehingga staf bisa menjalankan tugas

dengan baik. Saya masih ingat ungkapan yang sering beliau

sampaikan yaitu A chain is only as strong as its weakest link.

Dan benar satu bulan kemudian ada pelantikan pejabat, sesuai

dengan arahan beliau.

Kunjungan Menkes di B2P2TO-OT Tawangmangu

34


Dia peneliti baik dan pandai

dr. Indriyono Tantoro, MPH

Staf Khusus Menkes Bidang Percepatan Pembangunan Kesehatan dan Reformasi Birokrasi

Ketika itu tahun 1997. Seorang teman mengatakan kepada

saya bahwa di Badan Litbangkes ada seorang peneliti

baru yang baik dan pandai. Saya segera menemui peneliti

itu untuk berkenalan. Waktu itu, sebagai penanggung jawab

program Pengendalian ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut),

saya memerlukan counter part dari Badan Litbangkes untuk

membantu mengembangkan program.

Peneliti itu bernama Endang Rahayu Sedyaningsih. Beliau

menyatakan bersedia membantu saya dengan ramah. Itulah

perkenalan saya pertama kali dengan Bu Endang. Setelah itu

pertemanan dan kerjasama kami berlanjut sekitar lima belas

tahun. Berteman dan bekerjasama dengan Bu Endang sangat

menyenangkan, karena beliau selalu bersikap ramah dan

bersahabat. Beliau juga bekerja keras, profesional, serius, tekun,

serta amat bertanggung-jawab. Karena waktu itu saya bekerja

di bidang pemberantasan penyakit menular dan Bu Endang

bekerja di bidang penelitian yang terkait dengan penyakit

menular, maka kerjasama kami terus berlanjut. Antara lain dalam

Pengendalian HIV-AIDS yang kelak menjadi tugas pokok saya dan

merupakan topik tesis doktor beliau di Harvard School of Public

Health.

Ketika terjadi Pandemi SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome)

tahun 2002-2003, saya kembali bekerjasama dengan Bu

Endang. Di Badan Litbangkes, beliau bertanggungjawab

mengkoordinasikan konfirmasi laboratorium kasus suspek SARS.

Sedangkan saya yang saat itu bertugas di bidang Surveilans

Epidemiologi, Imunisasi dan Kesehatan Matra, bertanggungjawab

dalam surveilans SARS. Selama beberapa minggu, saat

Pandemi SARS merebak, setiap hari mulai pukul 08:00 pagi

diadakan rapat koordinasi di Departemen Kesehatan yang

dipimpin langsung oleh Menteri Kesehatan (waktu itu Dr Sujudi).

Rapat koordinasi itu dihadiri para pejabat terkait serta para

klinisi dan para peneliti di bidang penyakit menular. Bu Endang

tidak pernah absen dalam rapat yang setiap hari berlangsung

selama 3-4 jam itu.

Pada tahun 2005, kasus flu burung yang disebabkan virus Influenza

H5N1 mulai bermunculan di Indonesia. Dalam Pengendalian Flu

Burung, Bu Endang bertugas mengkoordinasikan pemeriksaan

spesimen dan pengembangan kapasitas laboratorium virus

Influenza H5N1. Ketika itu saya bertugas sebagai Sekretaris Tim

Penanggulangan Flu Burung internal Departemen Kesehatan.

Sebetulnya bidang yang ditekuni Bu Endang adalah Medical

35


Anthropology dan Epidemiology, tetapi beliau selalu menekuni

dengan sungguh-sungguh bidang apa pun yang menjadi tugas

dan tanggung-jawab beliau. Di Badan Litbangkes beliau bertugas

di laboratorium yang juga melaksanakan kegiatan virologi

influenza. Oleh karena itu pengetahuan dan pemahaman Bu

Endang tentang influenza tidak perlu diragukan.

Pada tahun 2006, ketika Dr. Siti Fadilah Supari menjabat

Menteri Kesehatan, Indonesia mempelopori perubahan atau

reformasi tatanan Pandemic Influenza Preparedness: Sharing

of Virus and Sharing of Vaccines and Other Benefits di lingkungan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Reformasi ini dimaksudkan

agar tatanan yang berlaku di WHO tidak merugikan negara

berkembang dan agar menganut prinsip adil, transparan dan

setara (fair, transparent, and equitable). Dalam negosiasi antara

negara berkembang (yang dipelopori Indonesia) dan negara

maju (yang dipelopori Amerika Serikat) tentang reformasi

tatanan tersebut, Bu Endang adalah negosiator Delegasi

Indonesia dalam aspek tehnis virologi Influenza. Beliau sangat

disegani oleh delegasi negara-negara yang berpihak maupun

yang berseberangan dengan Indonesia. Negosiasi berlangsung

alot dan untuk mencapai titik temu antara negara berkembang

dan negara maju, WHO harus menyelenggarakan beberapa

kali IGM (Inter Governmental Meeting) dan beberapa kali Open

Ended Working Group (OEWG) di Jenewa sepanjang hampir lima

tahun (2006-2011). Ada kejadian lucu dalam salah satu sidang

OEWG di Jenewa. Ketika itu Bu Endang sebagai negosiator

Delegasi Indonesia bertahan pada posisi Indonesia untuk bunyi

suatu paragraf dalam draft MTA (Material Transfer Agreement).

Sementara itu, pihak Amerika juga bertahan pada posisinya.

Ketika waktu makan siang tiba, Delegasi Amerika Serikat

mengusulkan agar sidang ditunda untuk istirahat makan siang.

Bu Endang, segera mengangkat flag – isyarat minta bicara

pada Ketua Sidang - dan sambil tersenyum beliau menyatakan

bahwa Indonesia dapat menyetujui usul Amerika untuk istirahat

makan siang. Seluruh peserta sidang tertawa dan Ketua Sidang

mengatakan : ”Inilah pertama kalinya Delegasi Indonesia dan

Delegasi Amerika dapat menyepakati sesuatu, yaitu sepakat

untuk istirahat makan siang”.

Untuk mewujudkan reformasi tatanan tersebut, Indonesia

bersama beberapa negara berkembang (like minded countries)

harus berjuang keras dalam lima Sidang Majelis Kesehatan

Sedunia (World Health Assembly), yaitu tahun 2007, 2008, 2009,

2010, dan 2011. Akhirnya, pada tahun 2011, sewaktu Bu Endang

menjabat Menteri Kesehatan, perjuangan itu berhasil dengan

sukses. Tatanan baru yang adil, transparan dan setara berhasil

disepakati oleh seluruh negara anggota WHO dalam Sidang

Majelis Kesehatan Sedunia ke-64 tahun 2011.

Ketika Bu Endang menjabat Menteri Kesehatan (2009-2012),

saya ditugasi membantu beliau sebagai Staf Khusus Menteri

Kesehatan. Beliau melaksanakan tugas Menteri Kesehatan

dengan profesional, penuh dedikasi, dan dengan komitmen

kuat. Hal ini tercermin dalam tag line beliau, yaitu : pro-rakyat,

responsif, efektif, inklusif dan bersih. Dalam kesibukan sebagai

Menteri Kesehatan, Beliau tetap membaca dengan teliti semua

surat, dokumen, e-mail, dan SMS yang diajukan kepadanya.

Bahkan beliau menandai dengan coretan jika dalam suatu

dokumen ada salah ketik, salah ejaan, pilihan kata yang tidak

tepat atau ada data atau informasi yang tidak masuk akal.

Beliau bukan hanya membaca tetapi juga menilai akurasi data

yang disajikan dalam dokumen yang diajukan staf. Beliau selalu

memberikan umpan balik pada hasil pekerjaan staf disertai

ucapan terima kasih. Umpan balik beliau dapat berupa pujian,

kritik, atau teguran. Beliau mengarahkan agar semua surat, e-mail,

sms dan telpon yang masuk ke Kementerian Kesehatan dari siapa

pun harus direspons segera. Beliau sendiri bekerja cepat, semua

berkas yang diajukan kepada beliau rata-rata sudah “turun”

dalam waktu 1 X 24 jam. Dalam setiap rapat, diskusi, dan saat

menerima staf atau tamu, beliau selalu mencatat sendiri hal-hal

yang penting dalam buku catatan. Jika beliau mengikuti Sidang

Kabinet, maka catatan beliau disampaikan kepada staf dalam

Rapat Koordinasi Pimpinan (Rakorpim) untuk ditindaklanjuti. Ada

36


mekanisme unik yang berlaku bagi saya setiap beliau memimpin

rapat. Dalam rapat tersebut, bila saya ingin menyampaikan

sesuatu, saya akan memandang beliau dan beliau paham bahwa

saya mohon diberi kesempatan bicara. Mekanisme unik ini tidak

pernah dibicarakan atau disepakati sebelumnya, berlaku begitu

saja.

Pada tahun 2010, beberapa bulan setelah Bu Endang menjabat

Menteri Kesehatan, diadakan pertemuan bilateral antara

Indonesia dan Amerika Serikat di Jakarta untuk membahas

kelanjutan kerjasama antara Kementerian Kesehatan RI dengan

US Namru-2 (US Naval Medical Research Unit-2), termasuk

membahas masa depan Laboratorium Namru-2 yang terletak

di kompleks Badan Litbangkes, Jakarta. Delegasi Indonesia

mendapat arahan langsung dari Bu Endang selaku Menteri

Kesehatan agar memegang teguh prinsip kepentingan nasional

di atas kepentingan segalanya. Bersama beberapa teman,

saya ditugasi Bu Endang untuk menjadi anggota Delegasi

Indonesia. Ternyata sampai akhir perundingan, tidak tercapai

titik temu antara kedua belah pihak. Akhirnya, kerjasama

antara Kementerian Kesehatan RI dengan US Namru-2 diakhiri

pada tahun 2010 itu juga. Selanjutnya, seluruh staf asing US

Namru-2 dipulangkan, dan peralatan yang ada di laboratorium

ex-Namru-2 tersebut diserahkan kepada pihak Indonesia. Setelah

kerjasama tersebut berakhir, laboratorium ex-Namru-2 dikuasai

dan dikelola oleh Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan.

Masa-masa berteman, bekerjasama, dan membantu tugas Bu

Endang sebagai Menteri Kesehatan adalah masa-masa yang

indah bagi saya. Tapi kehendak Allah yang berlaku di alam

semesta ini. Seperti dikatakan seorang penceramah dalam

tausiah memperingati tujuh hari wafatnya Almarhumah Bu

Endang :“Allah lebih mencintai beliau. Karena itu beliau dipanggil

berpulang ke Rahmatulah”. Sesungguhnya, segala sesuatu yang

ada di dunia adalah milik Allah dan semuanya akan kembali

kepada-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga Arwah

Almarhumah Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih mendapat

tempat yang mulia di sisi Allah SWT. Amin.

37


Bu Endang inspirasiku

drg. Murti Utami, MPH

Kepala Pusat Komunikasi Publik

Ibu....

Genggaman tanganmu yang hangat masih kurasakan

Senyum manismu masih kuingat

Ucapan lembutmu masih kudengar

Kau adalah pemimpin yang mempunyai hati

Kau gunakan perasaan dan hatimu untuk memimpin Kementerian

besar yang terisi oleh berbagai watak dan nafsu manusia

Selamat jalan ibuku

Kau adalah inspirasiku

Tidak seperti yang lainnya, mereka mengenal ibu Endang sudah

cukup lama, ada yang dari masa sekolah, kolega kerja di Litbang

dan lainnya. Tidak seperti saya. Saya mengenal beliau mungkin

sekitar 4 tahun terakhir. Itu pun tidak rutin bertemu. Namun sulit

rasanya menghilangkan kenangan yang mendalam ini karena

beliau selalu menjadi inspirasi saya.

Sekitar tahun 2010. Ketika beliau diangkat menjadi Menteri

Kesehatan, saya menjadi Kepala Bagian Tata Usaha Pimpinan

(banyak orang mengatakan kedudukan ini adalah Sekretaris

pribadi Menkes). Pada hari kedua beliau mulai bekerja

sebagai Menkes, saya memberanikan diri untuk mengajukan

pengunduran diri sebagai Kepala Bagian tersebut, yang sehari

hari mengurusi pimpinan tertinggi di Kementerian ini. Saya

katakan bahwa saya ingin beliau lancar dalam menjalankan

amanah ini, terutama dalam 100 hari kerja pertama beliau

menjadi Menkes. Saya dapat mengerti pasti ada beberapa orang

yang kurang suka apabila saya masih di lingkungan terdekat

Menkes, karena saya sebelumnya adalah sekretaris Menkes yang

terdahulu. Tak aku sangka, beliau menjawab dengan jujur dari

hati beliau, “Saya juga tidak mengerti mengapa orang meminta

saya untuk berhati-hati dengan kamu. Saya tau betul bu Ami dan

I dont know why. I can trust you.”

Jawaban beliau begitu menghentak saya. Beliau menatap saya

dengan tajam. Tanpa kusadari airmata menetes perlahan di

pipiku. Ya ALLAH, begitu mulia dan bersihnya hati ibu Endang.

Subhahanallah.

Esok harinya kami bekerja seperti biasa. Suatu sore beliau

memanggil saya dan mengatakan bahwa beliau akan

mempromosikan saya menjadi eselon 2. Saya berusaha menolak

dengan berbagai alasan, dan saya katakan ingin pindah

bukan untuk minta dipromosikan. Tetapi beliau tetap ingin

39


mempromosikan jabatan saya menjadi lebih tinggi.

Rupanya keinginan mempromosikan saya telah menjadi

pergunjingan. Hal ini saya ketahui dari beliau sendiri. Saya

sempat katakan, “Ibu, walaupun saya sudah mendapatkan

undangan pelantikan untuk besok, dan sekarang ibu menjadi

susah dan bingung, maka saya mohon untuk tidak dilantik besok

karena saya sebenarnya tidak ingin sebuah jabatan.”

Saat itu tangan saya ditarik untuk diajak ke ruang istirahat beliau

(ruangan itu berada di samping ruang kerja beliau). Kami duduk

di kursi makan dengan cukup dekat dan tanpa saya sangka

beliau katakan. “Kalau saya jadi bu Ami, saya akan tunjukkan

kepada orang-orang yang menilai ketidakmampuan saya, bahwa

saya bisa.”

Langsung saya merespon dengan tegas, “Apabila memang

ini yang ibu inginkan, saya bisa.” Kulihat ibu tersenyum,

dan memegang tanganku dengan erat. Terima kasih

ibu, kau telah memberikan kepercayaan kepadaku.

Perjalanan saya menjadi seorang Kepala Pusat Komunikasi Publik

mengharuskan kami selalu berkomunikasi. Saat beliau mulai

tidak dapat aktif masuk kantor dan harus beristirahat, baik di

rumah maupun di rumah sakit, maka menjadi semakin sering

kami ber-SMS dan ber-email. Hal ini karena semakin banyak

waktu beliau menonton tv dan membaca media cetak maupun

online. Semua komunikasi kami tentang pekerjaan, sampai

akhirnya saya memberanikan diri mengirim SMS ke beliau: “Saya

kangen dengan Ibu. Setiap hari saya hanya menjawab SMS Ibu

yang semuanya terkait dengan pekerjaan.”

Hampir satu bulan beliau dirawat di RSCM. Selalu kusempatkan

menengok beliau, paling tidak seminggu sekali. Saat kujenguk

ibu hari minggu pagi tanggal 30 April 2012, beliau menggenggam

tanganku begitu kuat. Seperti biasa, apabila saya menjenguk

beliau, saya akan bertanya: bagaimana kabar ibu hari ini? Dengan

senyum dan suara yang sudah parau, beliau menjawab, “Baik,

Bu Ami.” Kami sempatkan untuk berdzikir menyebut asma Allah

bersama dan saat saya akan pamit, beliau menyampaikan pesan

terakhir untuk saya, “Sukses, ya, Bu Ami.”

Pesan terakhir ini yang selalu menjadi bagian dari inspirasi saya,

yaitu dorongan seorang ibu untuk anaknya.

Oh, ibu. Engkaulah inspirasiku. Tanpa doronganmu, saya tidak

dapat membuktikan bahwa ternyata saya bisa. Ketulusanmu,

kelembutanmu, dan kehangatanmu akan selalu menjadi

kenangan yang sejati.

Ya, Allah, ampunilah Ibu Endang. Tempatkanlah beliau di sisiMu

yang hangat dan lembut sesuai dengan amal ibadah yang selalu

beliau berikan kepada kami. Amien.

Tengah malam ternyata beliau menjawab SMS saya, “Apabila

Bu Ami berkenan menengok saya, datang saja besok.” Dengan

semangat, kutengok ibu di Paviliun Kencana RSCM, siang.

Ternyata saya tidak sendiri. Di kamar ibu sudah ada kolega dan

sahabat sahabat ibu dari Litbangkes. Kami tertawa dan bercanda.

40


Empaty, rational, smart, and smile

dr. Abidinsyah Siregar, DHSM, M.Kes

Direktur Bina Yankes Tradisional, Alternatif & komplementer

Direktorat Jenderal Bina Gizi Ibu dan Anak

Kami mengenal Ibu dr. Endang Rahayu Sedyaningsih,

MPH, Dr.PH, sebagai Menteri Kesehatan RI. Lebih dari itu

kami mengenal beliau sebagai seorang pimpinan yang

mampu memacu kami untuk mengemban amanah dalam

mengakselerasikan pengembangan dan penataan pelayanan

kesehatan tradisional. Baik penataan di tingkat masyarakat,

maupun penataan fasilitas kesehatan. Penilaian ini kami anggap

tidak berlebihan, apalagi bila melihat dukungan yang sangat

besar dari beliau untuk pekerjaan yang kami tangani. Beliau

terus memotivasi kami agar kami terus berusaha mengejar

ketertinggalan Indonesia dibandingkan dengan negara lain dan

mengangkat citra Jamu sebagai Brand of Indonesia.

Tidak mudah mewujudkan hal di atas karena banyak tantangan,

walaupun peluang yang dinamis juga selalu datang. Namun

Beliau terus memberikan dukungan melalui kebijakannya sebagai

menteri. Karena kebijakan dan dukungan itu, Direktorat Bina

Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif, dan Komplementer

(Dit.Bina Yankes Tradkom), Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA,

menjadi mampu melakukan banyak hal mendasar. Antara lain,

menyusun Regulasi, NSPK, Revitalisasi sistem dan kelembagaan,

serta memacu Integrasi Pelayanan Kesehatan Tradkom di

rumah sakit dan Puskesmas. Semua yang telah kami lakukan itu

mendapat sambutan positif dari pemangku kepentingan; yang

pada akhirnya kami merasakan kemajuan pesat.

Ini semua bermula pada tanggal 3 Januari 2011, ketika nama saya

disebutkan menjabat sebagai Direktur Bina Pelayanan Kesehatan

Tradisional, Alternatif, dan Komplementer. Ketika itu mungkin

hampir semua yang hadir di Auditorium Dr. Leimena “surprise”

--untuk tidak mengatakan kaget dan tertanya-tanya-- jabatan

apa gerangan yang diberikan kepada saya.

Lalu, saat Bu ERS memberikan ucapan selamat dengan menjabat

tangan, Beliau mengatakan: “Pak Abidin, saya percaya Bapak

bisa mengemban amanat ini, Presiden punya harapan besar

pada bidang ini.” Saya tatap Ibu ERS, dan saya balas dengan

anggukan lega dan senyum, sebagai pertanda bahwa saya akan

memperhatikan permintannya.

Saya dan teman-teman di lingkup Dit. Tradkom (demikian

kami menyebut inisial pendek nomenklatur institusi kami),

sudah berkomitmen kuat dan mengibarkan semangat strategi

“Akselerasi Program”. Hasilnya luar biasa. Kami mencapai target

di atas sasaran hingga akhir tahun 2011. Tahun itu bisa ditutup

dengan Pencapaian Target di atas sasaran, baik sosialisasi/

41


advokasi ke seluruh Provinsi, Revitalisasi Sentra P3T (semula zero

menjadi 17 Sentra), NSPK, Regulasi: lebih 40 Rumah Sakit dan

lebih 100 Puskesmas telah memberikan Pelayanan Kesehatan

Tradisional yang terintegrasi dan bersinergi dengan pelayanan

konvensional yang sudah ada sebagai komplementer maupun

alternatif.

Sebenarnya, masih banyak agenda kerja atau “permintaan” ibu,

termasuk untuk jalan bersama ke Puskesmas dan Rumah Sakit

yang telah memberikan Pelayanan Tradkom. Jalan bersama ini

kira-kira seperti sudah kami lakukan di Satelit Obat Tradisional

Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta. Di sini Ibu

Menteri berpesan agar mengutamakan produk Obat Herbal

asli Indonesia. Ibu juga berpesan agar kami menertibkan iklan

pengobatan tradisional lokal dan asing.

Program yang sudah kami agendakan adalah kunjungan ke

fasilitas industri Jamu, antara lain ke Kampoeng Djamoe Organik

(KADO) di Cikarang, Puskesmas Yankestrad di NTB, dan banyak

kunjungan lain lagi.

Perhatian Ibu ERS pada Dit.Tradkom semakin terlihat saat

saya mendapat giliran Paparan Eselon 2 di forum Rapat Kerja

Pimpinan. Di hadapan Menteri dan seluruh eselon 1 dan Staf

Khusus Menteri, mungkin Dit. Tradkom termasuk paling lama

dibahas. Ketika itu, pembahasan di Dit. Tradkom mencapai tiga

jam lebih, termasuk jeda isoma 45 menit. Pertanyaan, pandangan,

gugatan, harapan dan dukungan yang diberikan, menunjukkan

betapa Ibu Menteri sangat menguasai dan punya visi yang kuat

dan futuristik untuk mengembangkan Tradkom di Indonesia.

Sikapnya jelas dan tegas, santun mendengar dan berbicara. Semua

itu membuat kita selalu terdorong untuk memberikan masukan

agar mendapat hasil akhir yang maksimal. Kami memberikan

masukan dengan segala cara, termasuk berkomunikasi melalui

sms yang interaktif. Kami pernah berbicara empat mata di

rumah Beliau di Duren Sawit. Di sela perjalanan dinas atau saat

jeda acara internal atau eksternal, kami berdua sering terlibat

diskusi panjang tentang mengembangkan Dit. Tradkom. Bahkan

kami membicarakan juga hal-hal yang sensitif dan serius.

Alhamdulillah, Ibu Menteri bisa menerima dengan besar hati.

Karena itu, saya merasakan betul, ruang dan peluang untuk

saling asah, asih, dan asuh antara pimpinan dan bawahan.

Ibu Menteri telah memberikan hadiah kepada Indonesia berupa

karya besar untuk mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri.

Karya besar itu termasuk lembaga “Direktorat Bina Pelayanan

Kesehatan Tradisional, Alternatif, dan Komplementer” yang

merupakan institusi paling baru di lingkungan Kementerian

Kesehatan. Ini juga menjadi bukti tekad dan mutiara gagasan

beliau.

Saya percaya Ibu ERS, seperti keyakinan kami para “Tradkomers”

(sebutan gampang bagi para pegiat Program Bina Yankes

Tradkom), bahwa Yankes Tradkom punya masa depan gemilang

di Indonesia dan bahkan dapat memberikan kontribusi untuk

kualitas kesehatan dunia.

Kini Ibu telah berpulang ke Rahmatullah dengan cara yang

sangat luar biasa. Namun Ibu meninggalkan semangat baja.

Semangatmu itu telah menjadi bagian dari kami yang terus

memperjuangkan cita-citamu memajukan Yankes Tradkom di

bumi Indonesia.

Selamat jalan Ibu dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH.

Semoga Allah SWT menerima semua amal-ibadah Ibu dan Ibu

mendapat surga jannatunna’iim.. Aamiin ya Robbal Alamin.

Izinkan saya memberi makna untuk inisial namamu ERS:

E untuk Empaty,

R untuk Rational dan

S untuk Smart and Smile.

42


Ringan membantu akar rumput

Anorital Sutanbatuah

Peneliti Pusat 1

Setahun setelah menjadi warga Balitbangkes (1998), Ibu

Endang Rahayu Sedyaningsih, mengajukan proposal

penelitian tentang PMS untuk mendapat dana hibah

Risbinkes. Sewaktu dinilai Tim Pakar, proposal tadi mendapat

nilai tinggi dan layak dibiayai dari APBN. Namun setelah itu,

beliau jarang mengajukan proposal lagi untuk dapat dibiayai

dari APBN karena anggaran Balitbangkes yang memang terbatas.

Beliau lebih sering memanfaatkan dana hibah dari donor agency.

Tahun 2000 saya dipromosi ke Puslitbang Pemberantasan

Penyakit (kelak berubah nama menjadi Biomedis dan Farmasi,

dan kini Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan). Kerja sama

saya dengan Ibu Endang semakin intens. Terlebih lagi sewaktu

beliau dipilih para peneliti menjadi Ketua PPI (Panitia Pembina

Ilmiah) Puslitbang Pemberantasan Penyakit. Jika dalam lingkup

negara, Ketua PPI dapat disamakan dengan Ketua DPR. Meski

bukan merupakan jabatan struktural, Ketua PPI punya pengaruh

yang besar bagi Kepala Puslitbang dalam menetapkan berbagai

kebijakan. Salah satu usulan beliau adalah pemisahan fungsi KPP

(Kelompok Program Penelitian) yang semula juga mencakup

fungsi laboratorium sebagai pendukung penelitian. Fungsi

laboratorium dijadikan tersendiri, bebas dari pengaruh KPP,

sehingga Penanggung Jawab Laboratorium sama kedudukannya

dengan Ketua KPP. Usul ini disetujui oleh dr. Ingerani, SKM (saat

itu sebagai Ka Puslitbang). Sayangnya beliau jadi Ketua PPI hanya

1 periode (2002-2003).

Akhir 2004, tsunami meluluhlantakkan Aceh. Sebagai seorang

peneliti dan juga dokter, sifat untuk menolong sesama yang

sedang dilanda musibah, membuat beliau sudah tidak sabar lagi

untuk ditugaskan ke Serambi Makkah. Sempat beliau berujar

ke saya: “Pak Ano, saya jadi geregetan nih dengan lambannya

upaya penanggulangan yang dilakukan”. Hancurnya sarana dan

prasarana laboratorium menyebabkan Balitbangkes ditugaskan

untuk mendirikan laboratorium lapangan (laboratorium

lapangan ini kelak menjadi Loka Litbangkes Banda Aceh).

Oleh Ka Puslitbang (saat itu dr. Agus Suwandono), Ibu Endang

ditugaskan memimpin Tim Litbangkes untuk menjalankan

operasional lab lapangan. Di bawah kepemimpinan Ibu

Endang, tim yang terdiri dari para peneliti dan teknisi litkayasa

(laboratorium), melaksanakan tugas dengan baik. Dalam

bertugas, Ibu Endang banyak menggalang kerja sama dengan

lembaga donor dan LSM dari manca negara. Kepiawaian beliau

dalam berkomunikasi dan membina hubungan yang baik,

mendapat banyak pujian dari berbagai pihak.

43


Awal tahun 2007, Ibu Endang diberi kepercayaan untuk menjadi

Kepala Puslitbang (saat itu sudah berubah menjadi Puslitbang

Biomedis dan Farmasi/BMF). Keputusan pak Triono Soendoro/

pak TS (sebagai Ka Badan Litbangkes) mempromosikan Ibu

Endang adalah keputusan yang sangat tepat. Terlebih lagi saat itu

Riskesdas baru akan dimulai. Sebuah pekerjaan besar yang belum

pernah dilakukan Badan Litbangkes. Sebagai Ka. Puslitbang

BMF, beliau bertanggung jawab dalam pelaksanaan Riskesdas

di 8 provinsi (Banten, DKI Jakarta, Jateng, DI Yogyakarta, Kalbar,

Kalteng, Kalsel, dan Kaltim). Dalam perjalanan kegiatan, ternyata

tanggung jawab pelaksanaan Riskesdas tidak hanya dalam

pengumpulan data kesmas saja. Puslitbang BMF pun dibebani

tanggung jawab mengkordinir kegiatan pengumpulan data

biomedis di 33 provinsi. Alhamdulillah, di bawah kepemimpinan

beliau, tugas maha berat tersebut dapat diselesaikan dengan

baik. Tidak salah jika Pak Triono menggelari beliau sebagai

”wanita besi” (iron woman). Tahan bantingan, tidak pernah

mengeluh, dan bekerja sepenuh hati.

Selama beliau berada di lingkungan Puslitbang BMF, baik sebagai

peneliti maupun Kepala, banyak kenangan manis yang dirasakan

para staf, terutama dari kalangan ”akar rumput” (office boy dan

sekuriti). Ingatan kolektif yang tidak pernah dilupakan oleh

”akar rumput” adalah sesaat menjelang lebaran, beliau selalu

membagi-bagikan hadiah lebaran dari uang pribadi beliau. Tidak

hanya itu, mereka yang mendapat musibah dan kemalangan,

tidak segan-segan Ibu Endang membantu.

Sebagai seorang pemimpin, ada beberapa hal yang membuat

saya terkesan dan hal itu membuat kita seharusnya meneladani

sifat tersebut. Selama Ibu Endang menjadi Ka. Puslitbang BMF,

tidak pernah beliau berkata kasar atau ketus terhadap staf

atau bawahan beliau. Meskipun beliau tampak stress dengan

pekerjaan yang memburu, beliau tetap menunjukkan wajah

biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Marah kepada staf? Selama

ini tidak pernah. Hanya pernah sekali beliau ”marah”, itu pun

karena ulah staf tsb sudah sangat keterlaluan. Sewaktu kejadian

”memarahi” tersebut, beliau menyesal tidak dapat bertahan

untuk tidak ”marah”. Sengaja saya menuliskan kata marah dengan

menggunakan tanda apostrof (”) karena yang namanya ”marah”

tetap yang keluar adalah kata-kata santun. Untuk menghindari

kata-kata kasar, dalam marah Ibu ERS lebih sering memilih

menggunakan kata-kata bahasa Inggris.

Salah satu yang patut kita teladani pada diri Ibu Endang adalah

contoh yang diberikan dalam menjalani pekerjaan sehari-hari.

Beliau tidak pernah meminta agar staf Puslitbang BMF harus

masuk dan pulang pada jam sekian. Hanya sekali-kali beliau

mengingatkan masalah kedisiplinan pegawai dalam acara-acara

tertentu. Tapi kita melihat bagaimana disiplinnya beliau bekerja,

masuk kantor antara pukul 7-7.30 pagi dan keluar kantor bisa

terkadang sampai pukul 9 malam. Bahkan hari Sabtu pun, beliau

ke kantor. Etos kerja seperti ini tidak hanya beliau perlihatkan

sewaktu jadi Ka. Puslitbang; tapi sudah ”berurat-berakar” sejak

masuk ke Badan Litbangkes (1997) menjadi peneliti. Beliau

pernah menasehati saya: ”Pak Ano, kita tidak perlu meminta

staf untuk datang dan pulang kantor sesuai dengan keinginan

kita, cukup dengan kita memberikan contoh datang lebih awal

dan pulang lebih belakangan, maka sedikit banyaknya akan

menyentuh kesadaran staf untuk lebih disiplin”.

Hal lain yang menjadi kenangan yang tidak pernah terlupakan

bagi para peneliti dan para teknisi litkayasa (laboratorium)

adalah kepedulian beliau dengan sarana pendukung penelitian.

Saat itu porsi anggaran Badan Litbangkes dari APBN terbilang

memprihatinkan. Pendingin ruangan (AC) banyak yang sudah

tidak berfungsi, lemari pendingin tempat penyimpan spesimen

dan reagen terbatas, peralatan kantor seperti mesin fotocopy

tidak ada, demikian juga mesin fax. Dari honor beliau sebagai

ketua pelaksana penelitian, peralatan tersebut satu demi satu

diadakan. Seminggu setelah saya bertugas di Puslitbang, staf

urusan rumah tangga lapor bahwa ada rehabilitasi ruang

laboratorium bakteriologi khususnya untuk tuberkulosis. Saya

tanya biayanya dari mana. Staf tersebut menjawab bahwa biaya

44


erasal dari Ibu Endang. Padahal saat itu Ibu Endang masih

sebagai peneliti. Namun beliau merasa prihatin dengan kondisi

laboratorium tuberkulosis yang kurang aman bagi para teknisi

litkayasa yang bekerja.

Kabar wafatnya Ibu Endang, saya terima saat kami Tim PDBK

Bulungan berada di ruang tunggu bandara Juwata Tarakan.

Semula beberapa dari antara kami tidak percaya berita

tersebut. Pimpinan Tim, Ibu dr. Eka Viora, sibuk menelpon.

Akhirnya kepastian beliau wafat kami terima setelah email

Pak Triono masuk. Seluruh PDBK-ers terduduk lemas. Meski

sebelumnya kami sudah siap andaikata menerima kabar seperti

itu, mengingat berbagai pemberitaan dan info kritisnya kondisi

beliau sejak Selasa sore. Pak Yongki terduduk lemas. Pandangan

mata mbak Parmi menatap sayu, ada semburat kesedihan di

kelopak matanya. Seluruh PDBK-ers Bulungan langsung turun

selera makannya.

Allah swt berkehendak lain untuk Ibu Endang. Beliau disayangi

Allah untuk lebih dahulu menghadap dibanding kita semua.

Selamat jalan Ibu Endang.

Di akhir tulisan ini, saya persembahkan selarik puisi untuk Ibu

Endang.

Ibu Endang ......

limapuluhtujuh tahun menembus waktu,

menjalani kehidupan yang patut ditiru.

Kala kami berteriak,

Ibu menoleh sejenak,

namun kami tak melihat lagi senyuman Ibu.

Kini kesunyian menerkam kami,

karena Ibu terbaring damai di belantara belulang para pejuang,

antara Karawang--Bekasi.

45


Sang pencetus jaminan persalinan

Direktorat Bina Kesehatan Ibu

Direktorat Bina Kesehatan Ibu dan siapapun yang

berkecimpung dalam program kesehatan ibu, pasti

memiliki kesan mendalam terhadap sosok Ibu Endang

Rahayu Sedyaningsih. Sosok Ibu Endang telah memberikan

inspirasi yang luar biasa, khususnya bagi kaum perempuan

Indonesia. Tanpa banyak bicara dan berteori, Ibu Endang telah

secara nyata memberikan gambaran seorang perempuan yang

tak kenal lelah bekerja bagi rakyat dan bangsanya, dengan tidak

meninggalkan amanahnya sebagai seorang istri bagi suami dan

ibu bagi anak-anaknya. Sosok Kartini di masa lampau, bagai

lahir kembali dan menjelma dalam diri seorang Endang Rahayu

Sedyaningsih.

Endang Rahayu Sedyaningsih dikenal sangat keibuan. Ia ramah,

lemah lembut, dan penuh kasih. Dalam kesehariannya sebagai

Menteri Kesehatan, Ibu Endang dikenal sangat dekat dengan

seluruh stafnya, tanpa memandang jabatan, agama, atau status

pekerjaannya. Ibu Endang juga tidak pernah marah kepada

siapa pun. Namun itu bukan berarti Ibu Endang lemah. Apabila

Ibu Endang menjumpai pelanggaran aturan oleh stafnya, dia

menunjukkan ketegasan yang amat sangat, namun tetap dibalut

dengan kesantunan dan semangat mendidik, sehingga tidak

menimbulkan sakit hati bagi staf yang mendapat peringatan. Di

sini terllihat jiwa besar dan jiwa kepemimpinan yang besar pula.

Sifatnya yang sangat keibuan dia wujudkan juga dalam programprogram

kesehatan yang bersentuhan langsung dengan kaum

ibu. Sebagai seorang ibu, beliau sadar betul bahwa hambatan

finansial masih menjadi kendala bagi sebagian ibu di Indonesia,

sehingga mereka tidak bisa mengakses pelayanan kesehatan

ibu dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Dalam

analisis Ibu Endang, hal itu turut berperan dalam menyumbang

kematian ibu di Indonesia. Pemahaman itu mendorong

Ibu Endang untuk melahirkan program Jaminan Persalinan

(Jampersal) sejak tahun 2011, yang menanggung biaya paket

persalinan secara komprehensif sejak pemeriksaan kehamilan,

pertolongan persalinan, pelayanan ibu nifas, pelayanan keluarga

berencana pasca persalinan, hingga pelayanan bayi baru lahir.

Kehadiran program Jampersal disambut hangat masyarakat

Indonesia khususnya bagi ibu hamil yang tidak memiliki jaminan

pembiayaan paket persalinan. Banyak sudah kaum ibu yang

terbantu oleh program Jampersal. Sepanjang tahun 2011 saja,

lebih dari 1,5 juta ibu telah melahirkan dengan ditanggung

Jampersal.

47


Mewakili keluarga-keluarga di seluruh Indonesia yang telah

menerima manfaat Jampersal, berikut kami sampaikan ungkapan

terima kasih yang disampaikan oleh Bpk. Paul Wowor dan istri

dari Pekanbaru Riau serta Bpk. Mufly dan istri dari Sidoarjo Jawa

Timur, sebagaimana telah diungkapkannya melalui website

Direktorat Bina Kesehatan Ibu:

“Dear Depkes, saya mengucapkan terima kasih. Dengan

menunjukkan KTP selaku warga Pekanbaru, kami diberikan

pelayanan Jampersal yang sangat memuaskan, tanpa biaya sepeser

pun. Saya yang dalam kondisi tidak bekerja sangat berterima kasih

kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam program

Jampersal.” (Bpk. Paul Wowor beserta istri dari Pekanbaru, Riau)

“Saya sangat bersyukur sekali atas adanya Jampersal. Pada hari

Kamis 1 Maret 2012 istri saya melahirkan anak pertama di Sidoarjo.

Pelayanannya sangat baik sekali. Bagi teman-teman yang mau ikut

program Jampersal di manapun kalian berada, program ini sangat

baik dan tidak dipungut biaya sepeser pun. Terima kasih semuanya.”

(Bpk. Mufly dan istri dari Sidoarjo, Jawa Timur)

Kebaikan yang telah diterima oleh Bpk Paul Wowor sekeluarga,

Bpk Mufly sekeluarga, serta ribuan lainnya penerima manfaat

Jampersal di seluruh Indonesia, semoga menjadi kebaikan

juga bagi almarhumah Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih, sang

pencetus Jampersal.

Selamat jalan Ibu Endang, doa kami selalu menyertai Ibu...

48


2,5 tahun yang sangat berarti

Dr. Merki Rundengan, MKM

Auditor Itjen

Penujukan Dr. Endang RS sebagai Menteri Kesehatan sempat

menimbulkan tanda tanya ketika namanya diumumkan

oleh istana. Namanya tak pernah diperhitungkan. Namun

setelah menjalankan tugas sebagai Menteri Kesehatan, dia

menunjukkan kelasnya sebagai orang yang sangat layak duduk

di kursi Menteri Kesehatan.

Buktinya? apa yang telah dilakukannya menunjukkan bahwa

dia adalah seorang menteri yang memiliki profesionalitas tinggi,

pekerja keras, serta memiliki integritas dan konsistensi yang luar

biasa. Setelah setahun Ibu Endang menjadi Menteri Kesehatan,

kita meyakini bahwa akan ada kemajuan di bidang kesehatan

dan Kementerian Kesehatan. Baik menyangkut pekerjaan

tugas pokok dan fungsi serta jajaran Kementerian Kesehatan.

Kerja keras Beliau telah membawa perubahan bagi kemajuan

pembangunan kesehatan Indonesia. Itu sudah terlihat nyata.

Walaupun Beliau baru bekerja 2,5 tahun.

Seandainya sisa jabatan 2,5 tahun (ataupun lebih) bisa terus

Beliau jalani sebagai Menteri Kesehatan, rasanya Indonesia

akan mencapai kondisi berperilaku sehat dan berpola hidup

sehat jasmani dan rohani. Itu pasti. Sehat jasmani buat rakyat

Indonesia karena kesadaran yang dibangun atas arahan Kemkes.

Sehat rohani khusus buat jajaran Kemkes dan umumnya jajaran

kesehatan, karena beliau telah menunjukkan konsistensi dan

semangat anti korupsi dan anti gratifikasi yang terus ditularkan

ke jajarannya.

Buku alm dr. Endang RS terakhir “Untaian Garnet dalam Hidupku”

yang habis kubaca dalam tiga jam, sungguh memberikan banyak

pencerahan bagaimana perjuangan Beliau untuk memajukan

kesehatan Indonesia, tanpa ada pengecualiaan.

Sedih dan haru sungguh tak terkatakan manakala kita menatap

beliau kaku dan tak bisa menyatakan besarnya perjuangannya

untuk dunia kesehatan. Namun kesadaran melanjutkan

perjuangan Beliau tetap harus kita kobarkan.

Semoga semua insan kesehatan Indonesia tidak terpaku dalam

keharuan kehilangan. Tetapi, semua pihak bersatu padu dengan

penuh kesadaran dan kesungguhan meneruskan perjuangan

almarhumah tanpa kompromi dan niat korupsi. Semoga.

Terima kasih Ibu untuk semua yang telah kau berikan untuk

Indonesia tercinta ini...

49


50

Pemberian penghargaan kepada Karyawan Kemenkes di halaman Upacara Kemenkes


Selalu punya waktu untuk staf

dra. Rahmaniar Brahim, Apt, M.Kes

Inspektur III, Itjen

Kejadian ini tidak bisa saya lupakan karena sangat

membahagiakan saya. Ya, ketika itu tanggal I Februari

2011. Saya mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ibu

Endang, Menteri Kesehatan. Di samping menyampaikan ucapan

selamat, saya juga mengatakan bahwa saya juga berulang tahun

pada tanggal yang sama.

Lalu yang terjadi adalah: saya dikirimi bunga besar oleh Beliau,

dengan ucapan selamat ulang tahun. Ketika itu saya masih

menjabat sebagai Kepala Bidang Statistik Kesehatan di Pusdatin.

Sewaktu saya mengucapkan selamat ulang tahun melalui

email. Dan, Beliau langsung menjawab email saya, seraya juga

mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya.

Kejadian ini menyadarkan saya bahwa Ibu Menkes sebagai

pimpinan tertinggi, selalu punya waktu untuk siapa saja.

Termasuk untuk stafnya. Beliau selalu berusaha agar dapat

membahagiakan orang lain.

Buat saya bunga kiriman Ibu Endang tersebut sangat surprise,

berarti, dan membanggakan sekali. Bunga itu juga sebuah

anugrah dari Allah melalui Ibu Endang karena saya bahagia

bukan main menerimanya.

51


52

Foto bersama Perawat RSUD Labuha Maluku Utara


Beliau bagian dari kami

Supraptini

Peneliti Pusat 3

Pada saat saya di San Diego Hills, ketika mengikuti Upacara

Pemakaman Ibu Endang, saya sempat kaget begitu

mendengar Presiden SBY menyebut akan membacakan

kata pengantar dari Bu Endang yang ditulis untuk “Buku Berdamai

Dengan Kanker”. Saya jadi teringat pada saat saya memohon kata

pengantar tersebut kepada Beliau.

Saat itu saya hanya menulis SMS kepada Beliau yang berbunyi:

Yth. Ibu Endang. Saat ini kami para survivor cancer akan menulis

buku tentang pengalaman kami dengan kanker. Hasil penjualan

buku tersebut akan kami pergunakan untuk kegiatan CISC

(Cancer Information and Support Center), untuk membantu

para pasien kanker yang membutuhkan. Apakah kiranya Ibu

berkenan untuk menulis kata pengantar untuk buku tersebut?

Tidak saya sangka, beliau langsung menjawab SMS: Tentu saya

mau Bu Prapti.

Setelah naskah kami selesai diedit oleh Mbak Yuniarti Tanjung

(wartawati Femina), naskah saya kirimkan kepada Beliau.

Naskah itu saya titipkan kepada mbak Iis yang kebetulan

mau ke rumah Beliau. Kurang dari seminggu kami telah

menerima Pengantar yang Beliau tulis. Bukan main, di situ

Beliau mengaku terus terang bahwa beliau belum survivor

karena sedang berjuang melawan kanker paru-paru stadium 4.

Namun, dalam kesempatan Bedah Buku di RSCM, Beliau juga

kami undang dan hadir. Di dalam pidato sambutannya, saat

itu Beliau meralat kata pengantar di buku di atas. Katanya:

bahwa Beliau juga sudah menjadi survivor kanker karena

sudah menjalani hidup bersama kanker. Beliau merasa bagian

dari kami semua para survivor kanker. Setelah itu setiap ada

acara kanker Beliau selalu kami undang dan Beliau selalu

menyempatkan datang kalau ada waktu. Luar biasa kemauan

Beliau untuk dapat membantu kegiatan-kegiatan kami.

Perlu saya ceritakan di sini bahwa kegiatan kami selain memberi

support kepada pasien kanker. Kami juga punya kegiatan Rumah

Singgah, yaitu rumah yang kami kontrak untuk membantu para

pasien yang datang dari luar Jakarta untuk menginap, terutama

untuk pasien-pasien Gakin dari luar Jakarta. Saat ini kami

memiliki 4 rumah singgah: satu di dekat Rumah Sakit Kanker

Dharmais (di Slipi), satu di Jl. Talang dekat RSCM, satu di dekat RS.

Persahabatan, dan satu lagi di daerah Paseban.

Semoga kegiatan kami diridhoi Tuhan Yang Maha Esa. Amin.

Selamat jalan Ibu Endang. Kami semua mendoakan, semoga

Ibu mendapatkan tempat yang layak disisiNYA dan beristirahat

dengan tenang dan damai. Amin.

53


54

Kunjungan kerja menkes ke Malaria Center Halmahera Selatan, Maluku Utara.


Hujan di Mamuju

Wahyudin Amir

Hujan di Mamuju

Hari ini

Hujan menyapa kotaku, Mamuju

Seakan tahu bahwa hari ini aku sedang sedih

Hujan menyapa kotaku,

Hujan membasahi kotaku

Hujan menemani air mataku

Air mataku membasahi wajahku

Membasahi jiwaku

Tuhan mengirim hujan

Agar aku diam sejenak

Di tempat ini sambil mengingat

Dia yang luar biasa

Hujan belum juga reda

Mengantar kepergian

seorang Srikandi

Pejuang Bakti Husada

Pejuang PDBK

Ia seorang peneliti

Ia seorang berbakti

Ia juga seorang menteri

Pikirannya cemerlang

Langkahnya lurus

Suaranya lembut

Ia ramah

Ia selalu tersenyum

Dan selalu menyenangkan

Ibu Menkes

Engkau telah melaksanakan tugas mulia

menunaikan amanat dari Tuhan, dari Rakyat

Selamat Jalan....

Kami pun akan menyusulmu

Mamuju, 2 Mei 2012

Disaat Hujan turun menyapa kotaku

55


Dia penuh perhatian

pada anak penderita kanker

Dr. Ir Ashwin Sasongko Sastro Subroto, M.Sc

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemenkominfo

Saya melihat lagi beberapa foto saat launching buku puteri

pertamaku, Ashni Sastrosubroto, pada hari Minggu 13

Februari 2011, di FX, Senayan, Jakarta. Hari itu bersamaan

dengan peringatan Hari Kanker anak sedunia.

Terlihat di foto itu saat buku tersebut dilaunch di panggung

bersama menteri PPA Ibu Linda Gumelar. Juga saat almarhum

Bu Endang mengajak isteriku Yannie duduk di sebelahnya dan

menanyakan informasi tentang bagaimana perawatan dan

masalah yang harus dihadapi isteriku saat merawat anakku

tersebut.

Judul bukunya ‘Kamu sekuat aku’, diterbitkan Grasindo/

Gramedia group. Isinya cerita tentang pengalaman puteriku

tersebut, mulai dari dideteksi terkena Leuchemia (ALL),

perawatannya selama sekitar 1.5 tahun, sampai sembuh,

dan lulus dari Seni Rupa ITB.

Almarhumah Bu Endang, ketika itu memberikan perhatian

yang besar sekali kepada anak-anak penderita kanker yang

banyak sekali hadir waktu itu. Beliau memberi semangat kepada

keluarganya dan mendorong agar masyarakat, baik langsung

atau melalui berbagai yayasan, dapat membantu para

penderita kanker tersebut. Beberapa yayasan yang menangani

kanker hadir pada acara itu, dan berdiskusi khusus dengan

beliau tentang bagaimana cara yayasan dapat membantu para

penderita kanker.

Seingat saya, saat itu sudah ada berita bahwa beliau terdeteksi

terkena kanker. Karena itu, saya kagum sekali pada beliau.

Walaupun dalam keadaan terkena kanker, beliau tetap

menjalankan tugasnya sebagai Menkes. Bahkan, beliau ikut

memberi semangat pada penderita kanker lainnya agar bisa

sehat kembali.

57


Beliau adalah

puteri terbaik bangsa

dr.H.Azimal, M.Kes

Kepala Pusat Kesehatan Haji

Kepergian Ibu Menteri Kesehatan Endang Rahayu

Sedyaningsih untuk selama-lamanya menggoreskan duka

mendalam di hati berbagai pihak.

Beliau adalah seorang yang pantang menyerah. Meskipun

beliau telah lama mengetahui mengidap kanker, namun dalam

kesehariannya beliau tetap menunjukkan ketegaran. Beliau

tetap menjalankan aktivitasnya sebagai menteri dengan enerjik

dan penuh semangat, dan tidak menunjukkan tanda-tanda

mengendorkan semangat serta dedikasi amanah yang beliau

emban.

Beliau adalah Ibu yang inspiratif dan puteri terbaik bangsa. Beliau

telah berjuang menjalankan reformasi birokrasi di Kementerian

Kesehatan. Lebih dari itu, beliau menginginkan adanya upaya

pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dengan menekankan

pada upaya promotif dan preventif. Tidak mungkin melakukan

pelayanan kesehatan menunggu orang sampai jatuh sakit,

karena hal itu akan menghabiskan biaya yang besar.

Selain itu, beliau juga menekankan pencegahan penyakit tidak

menular yang disebabkan pola makan dan pola hidup yang tidak

sehat, tanpa meninggalkan pengendalian penyakit menular

yang masih belum hilang.

Beliau juga mengupayakan meningkatkan pelayanan kesehatan

primer dan rujukan di rumah sakit daerah maupun pusat.

61


Sampai Ketemu Lagi, Mbak

Damaryanti Suryaningsih

Adik dari Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih

Dia kakak. Pintar. Dari muda suka belajar. Dia menari dan

menyanyi. Hobi berenang dan yoga. Gesit. Pekerja keras.

Kalau berjalan seperti angin puyuh, cepat. Tepat janji, sangat

perhatian. Dan, kami bersahabat. Setelah Mbak Enny pergi,

“My world is not the same anymore”

Sebagai Adik Bungsu

Endang Rahayu Sedyaningsih – Mamahit, atau mbak Enny, adalah

kakak tertua saya. Saya lahir sebagai anak bungsu, dengan usia

terpaut cukup jauh dengan kakak-kakak saya. Jarak umur mbak

Enny dan saya adalah 13 tahun. Beda jarak usia saya dengan

kakak saya yang lain, 9 tahun, dan dengan mas Budy beda usia

6 tahun. Saya punya 2 kakak lagi, Mas Yayuk, yang meninggal

waktu kecil dan mbak Nina, meninggal pada usia 17 tahun.

Dengan beda umur yang cukup jauh, saya cukup dimanja oleh

kakak-kakak saya.

Nama saya Damaryanti Suryaningsih. Semua anak perempuan

diberi nama “Ningsih” oleh orang tua kami. Panggilan kecil saya

Dama. Tetapi di kantor dan sekolah, teman-teman memanggil

saya Damar.

Hubungan kami sangat dekat, terutama yang perempuan.

Kami jarang bertengkar. Menurut orang-orang, mbak Enny itu

orangnya galak. Tapi terhadap saya, tidak sama sekali. Saya ingat,

pernah waktu kecil, saya main di luar terlalu lama, sampai tidak

tidur siang dan lupa mandi sore. Mbak Enny memarahi saya,

hingga saya menangis sesengukan di kursi.

Dimarahinya sebenarnya tidak seberapa, tapi dasar cengeng,

baru dimarahin sedikit, sudah langsung menangis tersedu-sedu

sambil telungkup di kursi. Tanpa saya sadari mbak Enny mendekati

saya, dan mengelus rambut saya sambil ikut menangis. Mbak

Enny bilang dia marah karena sayang pada saya. Saya tertegun

dan tidak menyangka dengan reaksinya. Sejak saat itu seingat

saya, mbak Enny tidak pernah lagi marah kepada saya. Begitu

manjanya saya dengan kakak saya yang satu ini, sampai-sampai

kami pernah menemukan kaset rekaman lama suara kami. Dan,

saya mendengar suara saya yang sangat manja, “Maunya sama

mbak Enny....” Ih, malu-maluin bangeet....

Saat saya masih kecil, saya lebih sebagai “tukang ngintil” kakakkakak

saya yang perempuan. Saya yang masih kecil suka

terkagum-kagum kalau mengamati kakak-kakak saya ngobrol

dengan temannya, atau kalau sedang berdandan. Kalau kakak

saya pergi makan atau berenang dengan teman-temannya, saya

63


juga suka ikut. Beberapa teman yang saya ingat adalah, Dr. Jaja,

Dr. Susi, Dr. Arvid, Dr. Didi dan Dr. Laila. Kakak saya juga bangga

kalau saya mengatakan hal-hal yang “smart” di depan temannya.

Pernah saya ikut satu mobil bersama kakak saya dan temanteman

kuliahnya. Saat itu Jakarta belum macet. Jadi waktu jalanan

macet, saya bilang, “wah stagnasi, nih.” Padahal saya waktu itu

masih berusia sekitar 6 tahun, dan tak paham juga maksud kata

itu. Teman-teman kakak saya langsung terkagum-kagum. “Wah,

adik loe kecil-kecil, pinter, ya, En.” Kakak saya kelihatan bangga

sekali mendengar pujian itu.

Kakak saya juga pandai bermain piano. Piano klasik yang selalu

saya minta beliau mainkan adalah “Come back to Sorento”.

“Susah” katanya, tapi kenyataannya setiap saya minta, kakak saya

pasti mau memainkannya untuk saya.

Mbak Enny dari dulu sangat tekun belajar. Saat menjalani

pendidikan di fakultas kedokteran UI, hampir tiap malam, saat

semua orang sudah tidur, beliau belajar sendirian di ruang makan

kami sampai malam. Saya sering terbangun tengah malam, dan

suka menemani beliau belajar. Saya senang melihat cara kakak

saya belajar. Catatannya diberi warna berbeda dan gambar

anatomi diwarnai dengan pinsil warna warni. Supaya lebih mudah

menghafalnya, kata kakak saya. She is a very organize person!

Begitu juga waktu kakak saya belajar di Harvard. Saya ingat, saat

weekend saya pagi-pagi pergi untuk kursus bahasa Inggris. Kakak

saya biasanya sudah duduk di meja belajar menghadap jendela.

Setelah keluar dari apartment, saya biasanya mendongak ke atas

dan saya melihat kakak saya sedang belajar. Sore harinya, waktu

saya pulang, sebelum naik, saya mendongak lagi dan melihat

dari balik jendela, beliau masih juga duduk disitu dan belajar.

Berarti kakak saya itu sudah belajar seharian!

Saat Saya Besar

Setelah besar, hubungan kami berkembang menjadi lebih

sebagai sahabat. Apapun yang terjadi dalam kehidupan saya,

saya pasti cerita ke mbak Enny. Hal-hal pribadi yang saya ceritakan

cukup detail, sampai-sampai suami saya pun suka kesel. “Kalau

ada apa-apa, mbok cerita dulu donk ke saya, saya kan jadi tidak

enak sama mbak Enny,” begitu katanya.

Masalahnya, pemikiran saya terkadang cukup “nyeleneh” untuk

ukuran perempuan Indonesia. Belum tentu semua orang bisa

menerimanya. Kalau saya cerita ke kakak saya, mbak Enny tidak

pernah bilang, “Kamu tidak boleh begitu.” Melainkan berbalik

menceritakan pengalamannya juga dan membiarkan saya

membandingkannya. “I’ve been through that too Dam,” katanya.

Boleh dibilang semua keputusan penting saya adalah melalui

diskusi dengan mbak Enny terlebih dahulu. Karir saya pun

dipengaruhi oleh kakak saya. Saya yang sarjana sastra, akhirnya

bekerja di LSM lingkungan public health, dan kemudian

mengambil S2 di bidang kesehatan masyarakat. Kakak saya juga

pernah bilang “Kita seperti mama dan mbah putri. Perempuan

Banyumas memang punya jiwa pemberontak, but that’s who

we are, do not worry”. Dari keluarga ibu saya, memang dari

dulu sudah mengaplikasikan kesetaraan gender. Perempuan

dan Laki-laki boleh berpendidikan setinggi-tingginya, tidak ada

perbedaan sama sekali!

Beberapa tahun belakangan ini, kakak saya mulai aktif berenang

lagi. Karena kebetulan kompleks tempat saya tinggal, di Kemang

Pratama, mempunyai kolam renang ukuran olympic. Kakak saya

suka berenang di situ setiap hari minggu. Itulah saat-saat yang

paling saya sukai. Saya biasanya ikut berenang dan setelah itu

kita makan dan diskusi panjang sampai siang. Mba Enny pandai

bercerita dan punya “sense of humor” yang tinggi, sehingga

saya tidak bosan-bosan mendengarnya. O,ya, kakak saya adalah

seorang perenang yang hebat. Biasanya bisa berenang 1.000-

2.000 m tanpa henti. Saya sampai sekarang belum sanggup

seperti itu.

Kakak Saya jadi Menteri Kesehatan

Waktu kakak saya diumumkan jadi Menteri Kesehatan, saya

64


sedang ada acara di luar rumah. Sehingga, saya sama sekali tidak

tahu tentang berita gembira ini. Ketika dalam perjalanan pulang,

Ibu Harni, Ketua IBI menelepon saya dan memberitahukan hal

itu. Saya coba menelepon kakak saya, tapi sibuk terus. Setelah

sampai di rumah barulah saya melihat beritanya dari TV. Saya

hanya kirim SMS, mengucapkan selamat “congrats mba, I always

knew and always trust you.” Begitu kira-kira bunyi SMS saya.

Setelah agak malam, kakak saya menelepon dan mengucapkan

terima kasih.

Besoknya, mba Linda menelepon apakah saya tidak datang ke

Duren Sawit. Saya tadinya berpikir untuk apa saya datang karena

toh sudah mengucapkan selamat melalui telepon. Tapi akhirnya

saya datang juga, dan rumah mbak Enny sudah ramai dengan

wartawan dan tamu lain yang mengucapkan selamat.

Sebenarnya jadi menteri kesehatan atau tidak, buat saya, Mbak

Enny adalah tetap seorang kakak buat saya. Walaupun sudah

menjabat menjadi menteri, kami tetap berusaha meluangkan

waktu untuk bertemu.

Awalnya kakak saya tetap ingin beberapa kegiatan rutinitasnya

tidak berubah, seperti berenang di kompleks rumah saya itu.

Namun setelah dicoba beberapa minggu, pengawal pribadi

kakak saya mengajukan keberatan karena alasan keamanan.

Karena kebetulan kolam renang di Duren Sawit sudah jadi

(walaupun tidak ukuran olympic). Akhirnya, kakak saya dan

saya pindah tempat berenang. Setelah berenang, kami juga

memanggil guru Yoga. Jadi, setelah berenang 1 jam, kami pun

yoga selama 1-2 jam.

Pada saat yoga, kakak saya juga mengajak mbak Linda, Rayi

(anak bungsunya), mak Iis (sahabatnya), dan ajudan. Lucunya

para ajudan yang polisi itu malah tidak tahan ikut yoga. Jadi,

sebelum dipanggil kakak saya, mereka sudah ijin dulu sama

saya untuk tidak ikut, “Mbak Damar, saya ijin tidak ikut, ya.” Terus

dilanjut dengan bisikan, “Waduh, mbak. Saya mending disuruh

lari keliling lapangan daripada disuruh gaya yoga kayak gitu.” Ha

ha ha.....

Kakak saya sebenarnya jarang belanja dan jarang ke mall. Tapi,

setelah jadi menteri, beliau perlu beberapa baju dan sepatu

yang “sesuai dengan baju menteri”. Karena selera kakak saya itu

berbeda dengan saya dan mbak Linda, maka pada awalnya kakak

saya berkeras untuk membeli sendiri dan minta ditemani saya.

Saya pun kebetulan hanya suka pergi ke mal tertentu, misalnya

PS dan Senayan city; karena kantor saya kebetulan di Ratu Plaza.

Maka saya ajaklah kakak saya kesitu.

Kakak saya yang tidak biasa diikuti ajudan, awalnya agak merasa

risih diikuti dan dikawal. Kakak saya lalu minta ajudan untuk

berjalan di sampingnya atau sekalian berjalan agak jauh supaya

tidak menyolok. Setelah itu kami biasanya makan siang bersama.

Kebiasaan ini berjalan hanya pada beberapa bulan pertama.

Setelah itu kakak saya sudah sangat sibuk. Sabtu dan Minggu

pun ada acara. Dan, kenyataannya pun baju dan sepatu hasil

pilihan kakak saya tetap saja terlalu “casual” untuk acara-acara

resmi. Sehingga, akhirnya dia mau baju dan sepatu dibelikan

oleh mbak Linda.

Agar saya punya kesempatan untuk bertemu Mbak Enny, saya

juga rela pagi-pagi ikut Mbak Linda --yang juga bertugas sebagai

asisten pribadi Mbak Enny-- ke jalan Denpasar. Sebagai asisten

pribadi, tiap pagi Mbak Linda membantu Mbak Enny menyiapkan

segala sesuatunya. Biasanya pagi-pagi sekali itu, Mas Renny

sudah berangkat ke Tangerang, sehingga Mbak Enny makan pagi

di kamarnya sendiri.

Saya lalu menemani kakak saya makan pagi sambil lihat berita

di TV. Kami ngobrol ngalur-ngidul. Setelah mandi, kakak saya

duduk di depan cermin untuk berdandan. Saya pun duduk di

belakangnya sambil mendengar kakak saya bercerita tentang

pekerjaannya. Pengalaman yang diceritakan, terutama setelah

menjadi menteri menarik sekali, dan terkadang lucu-lucu juga. It

was my favorite times!

65


Pernah juga sekali saya diajak ikut rombongan kakak saya keluar

kota. Saat itu kebetulan kakak saya ada kunjungan ke Jawa

Tengah. Kami juga merencanakan ingin berkunjung ke makam

papa di Solo. Saya ikut dengan biaya pribadi kakak saya. Tapi

akhirnya hanya beberapa kali saja saya ikut rombongan beliau.

Kapok saya ikut rombongan kakak saya yang seperti “angin

puyuh” itu. Mbak Enny itu orangnya gesit dan kalau jalan cepat

sekali. Ajudan beliau yang polisi pun sering suka kalah gesit.

Selain itu acaranya penuh dari pagi sampai malam. Apalagi

kakak saya orangnya sangat tepat waktu, sehingga sering datang

lebih dulu dari yang lainnya. Perasan, di tempat kerja saya, saya

juga sering ke luar kota, tapi bagaimanapun padatnya agenda,

saya pasti luangkan waktu untuk melihat-lihat kota yang saya

kunjungi. Kalau dengan rombongan “angin puyuh” itu... phhuiih

ke toilet pun harus lihat-lihat situasi. Meleng sedikit sudah

ditinggal rombongan.

Kakak saya dan Media

Waktu ditunjuk menjadi menteri, perasaan saya, media tidak

begitu ramah terhadap kakak saya. Begitu juga masyarakat,

mungkin karena belum dikenal, dan begitu ditunjuk sudah

ditiupkan rumor yang tidak baik. Saya suka gemas kalau lihat

di TV, baca di koran atau baca di internet tentang kakak saya.

Sering saat kakak saya cerita ke saya tentang apa-apa yang

sudah dikerjakan, saya lalu menyahut, “Tapi, Mbak, media dan

masyarakat kelihatannya tidak begitu ngeh.”

Karena saya kebetulan bekerja di lingkungan public health, saya

mengerti apa saja yang sudah dicapai atas kerja keras jajaran staff

di Kementerian Kesehatan. Tapi tidak begitu dengan masyarakat

di luar lingkungan kesehatan. Padahal, karena kakak saya sering

bekerja dengan LSM, kakak saya cukup terbuka. Saya lihat beliau

memberikan alamat e-mail kepada siapa saja yang meminta,

tidak terkecuali. Biasanya saat sedang di mobil, adalah waktu

luang beliau, dan kakak saya akan membalas email yang masuk,

serta menjawab BBM.

Memang banyak juga berita-berita positif tentang Kementerian

Kesehatan, dan bila ada berita positif, pasti saya sampaikan ke

kakak saya supaya beliau tetap semangat. Tentang berita yang

tidak baik, kakak saya tetap tenang-tenang saja, beliau bilang

“Tidak apa-apa, Dam. Nantinya juga akan terlihat sendiri bila

masyarakat sudah merasakannya,” Saya tidak menyangka apa

yang disampaikan kakak saya benar adanya. Sekarang, setelah

beliau tiada, berita tentang beliau berubah menjadi sangat

positif!

Berita Tidak Baik

Setahun setelah menjadi menteri, kakak saya melakukan check up

rutin. Pada saat saya bertemu beliau, kakak saya menyampaikan

bahwa hasilnya kurang baik, tapi pemeriksaan akan dilakukan

lebih lanjut. Beberapa minggu kemudian kakak saya menelepon

saya dan mengabarkan bahwa beliau kena kanker paru stadium

4. Tidak ada tanda-tanda sama sekali kalau kakak sakit. Di

antara kami bersaudara, hanya Mbak Enny dan Mas Budy yang

aktif berolah raga baik saat sekolah maupun sesudahnya.

Dibandingkan saya dan Mbak Linda, Mbak Enny adalah orang

yang paling aktif. Apalagi setelah menjadi menteri, kegiatan

tidak berhenti dari pagi sampai malam, senin sampai minggu.

Saya saja yang lihatnya, capek. Belakangan kakak saya bilang,

kalau saat tidur suka terbatuk. Tapi kakak saya hanya mengira itu

alergi. Apakah itu salah satu tanda-tandanya? Waallahuallam.

Setelah adik-adiknya ditelepon, besoknya kami semua

berkumpul di Duren Sawit.

Di depan adik-adiknya, Mbak Enny tidak pernah menangis.

Mungkin karena merasa sebagai panutan, kakak saya tidak mau

membuat adiknya sedih. Mbak Enny bilang bahwa ada saran

untuk berobat ke Goung Zhou dan beliau tertarik. Saat itu media

belum ada yang tahu. Dan kami pun tidak bercerita ke siapa pun,

baik saudara maupun teman-teman dekat kami. Sambil berobat,

kakak saya tetap menjalankan aktivitasnya sebagai menteri,

dan tidak mengurangi sedikitpun kegiatannya. Tidak ada yang

66


tahu, bagaimanapun canggihnya pengobatan, selalu ada efek

samping dan “pain”nya. Hanya kami dan orang terdekatnya

yang mengetahuinya. Saat itupun saya bertekad, untuk selalu

mensupport, menemani, dan membahagiakan kakak saya

sampai tiba waktunya.

Ada sedikit yang ingin saya luruskan. Ketika media

mengetahui tentang penyakit kakak Mbak Enny, media pun

memberitakannya. Kakak saya menanggapi berita ini dengan

tenang sambil bercanda dengan menyanyikan lagu 70-an “Dead

Man Walking”. Sebenarnya yang dimaksud kakak saya adalah film

“Dead Man Walking” yang dibintangi aktor Sean Penn. Di film itu

Sean Penn dihukum mati, dan pada saat eksekusi, dia berjalan di

sepanjang lorong dengan tangan dan kaki di rantai. Petugas sipir

penjara lalu berteriak “Dead man walking” dan penghuni penjara

semua berdiri di balik jeruji untuk melihat kepergian seorang

narapidana yang akan dihukum mati.

Banjaran Hadiwijaya

Kami berdua, hobby menari. Dulu waktu papa masih menjabat

rektor IKIP. Papa mengundang guru tari Jawa ke rumah untuk

kami belajar. Sebelum berangkat ke Amerika, Mbak Enny juga

belajar privat tari Bali. Saya seperti biasa, ikut.

Tahun lalu, Mbak Enny mendapat tawaran untuk ikut menari

“Banjaran Hadiwijaya”. Karena di situ juga bergabung Pak Joko

Kirmanto (Menteri PU) dan istri, beberapa pejabat dan tokoh

lain, serta penari dari Bharata, kakak saya pun tertarik. Kakak

saya tadinya ragu mengajak saya karena tahu saya pakai jilbab.

Ternyata, sahabat saya, Mita Hendro pun ikut menari disitu. Mita

tanya ke Ibu Tinul, pengurus sanggar tari itu. Dia tanya, apakah

Damar yang sudah pakai jilbab bisa ikut. Ibu Tinul pun dengan

semangat mengatakan bisa. “Ibu Joko Kirmanto juga pakai

jilbab, dan beliau akan menjadi salah satu istri raja dari Cina dan

muslimah. Damar bisa menjadi dayangnya.” Berita itu pun saya

sampaikan pada Mbak Enny. Mbak Enny senang mendengarnya

karena jadi ada teman. Dan seperti biasanya, latihannya pun

lebih keras dari saya hehe. Buat saya, selain karena saya senang

menari, dan bangga bisa menari bersama para penari dari

Bharata, inilah kesempatan saya untuk menyenangkan kakak

saya, menemaninya menari. Akhirnya kakak saya tidak saja

menari, tapi juga menembang

Hari-hari Terakhir

Pada saat minggu-minggu terakhir kakak saya harus masuk

rumah sakit. Kami sebisa dan sesering mungkin menemaninya.

Kami ajak ngobrol seperti biasa dan bercerita mengenai kabar

terkini supaya tetap semangat. Kakak saya yang matanya sudah

mulai susah melihat pun masih bekerja dan menjawab email dan

BBM. Terkadang kakak saya hanya menebak saja huruf-huruf yang

diketik, tapi saya periksa, yang diketik masih betul. Kalau sudah

capek, Ari, anaknya yang paling tua, Sara, mantunya atau saya

biasanya membantu menjawab. Kakak saya juga mendengarkan

ayat-ayat suci Al Qur’an di Ipod. Tiap malam mba Iis datang untuk

membantu mengetikkan buku “Untaian Garnet dalam hidupku”

yang dilisankan oleh Mbak Enny. Saya dan mbak Linda suka ikut

mendengar juga. Saya yakin, masih banyak sebenarnya yang

ingin diceritakan oleh Mbak Enny.

Sempat saya pergi seminggu keluar kota dan kaget sekali karena

waktu saya bezoek, kakak saya sudah drop. Namun masih bisa

mendengar dan bereaksi sedikit-sedikit. Pernah ibu Pretty

membacakan syahadat hanya “Asyhadu allaa ilaaha illallah,“

kakak saya melambaikan tangan menyatakan tidak setuju dan

ketika ibu Pretty mengucapkan “Asyhadu allaa ilaaha illallah

wa asyhadu anna muhammaddar rosuulullaah,” kakak saya pun

mengangguk. Pengunjung pun kami kurangi dan kami jaga

ketat. Kami berterima kasih sekali kepada Ibu Pretty yang setia

menemani kakak saya, dan Ibu Sekjen serta para esselon 1 yang

selalu mensupport kami. Saya mohon maaf kalau ada keluarga

atau para sahabat yang tersinggung saya larang untuk masuk.

Dibandingkan Mbak Linda dan Mas Renny, memang saya yang

paling keras melarang. Saya ingin kakak saya dikenang ketika

saat terlihat sehat saja.

67


Supaya tidak mengganggu pekerjaan negara, sebelumnya, kakak

saya telah mengajukan pengunduran diri. Kami sebagai keluarga

mendukung apapun keputusan kakak saya. Pada saat Pak SBY

menjenguk, kakak saya menggunakan kesempatan ini juga

untuk bicara langsung walau sudah sulit berkata, dan kami lega

ketika Pak SBY menyetujui. Dan saat itu juga berita sakit kakak

saya tercium oleh media sehingga RSCM akhirnya mulai dibanjiri

wartawan. Pada saat kondisi kakak saya sudah kritis, lobby dan

lantai 7 RSCM sudah dipenuhi wartawan, staf Kemenkes, saudara,

dan sahabat. “Seperti lautan manusia,” kata keponakan saya yang

kebetulan sedang ada di luar. Kami sendiri hanya di kamar dan

tidak keluar. Satu pintu kami kunci dan satu pintu lagi dijaga oleh

pengawal.

Denyut nadi kakak saya sudah mulai lemah. Keluarga sudah

sepakat bila waktunya, kakak saya tidak akan diberi alat bantu

pernapasan dan kami tahu kakak saya tidak akan mau. Mas

Renny, anak-anaknya, Mbak Linda, saya dan 1 orang sepupu kami

mengelilingi kakak saya. Saat itu Ari, yang berdiri dekat kepala

kakak saya masih terdiam. Mas Renny lalu bilang, “Ari, kasih

tempat untuk tante Dama” dan saya pun menguatkan hati serta

berucap di dekat telinga kakak saya: “Allah, Allah, Allahuakbar!”

yang lain pun kemudian mengikuti. Saya sempat tercekat, tapi

saya kuatkan hati. Saya harus mengantar kakak saya dengan

nama Allah dan mengucapkan syahadat. Para dokter juga sudah

berkumpul dan bergantian membacakan syahadat serta surat

Yassin. Malam harinya kami terus melafalkan syahadat secara

bergantian. Wanda, anak kakak saya yang nomor dua, baru

bisa pulang dari Geneva karena baru dapat exit permit. Saat itu

sedang transit tujuh jam di Dubai, sempat menelepon dan bicara

di telinga kakak saya. Saya yakin kakak saya masih mendengar

semua itu. Malam makin larut, beberapa menteri datang dan

turut berdoa bersama kami. Saya sangat menghormati mereka.

Mereka datang bukan sebagai menteri, melainkan sebagai

sahabat-sahabat kakak saya. Saya ingat kakak saya sering cerita

tentang kedekatannya dengan mereka, “Kami di kabinet seperti

teman satu kelas saja,” begitu kata kakak saya.

Esok paginya, di luar kamar, lobby sudah mulai kosong. Saya dan

Mbak Linda pulang sebentar. Saya lihat di bawah masih banyak

wartawan yang menunggu. Agak sedih juga saya melihatnya.

Kami kembali sekitar jam 10. Lobby dan lantai 7 sudah mulai

penuh lagi dengan pengunjung yang ingin mendoakan kakak

saya. Denyut jantung kakak saya makin lemah. Saya sempat

membacakan surat Yassin. Sampai pada suatu saat, suster

memanggil kami karena denyut jantung makin melemah. Mas

Renny, Ari, Sara, Rayi, Mbak Linda, saya, Ari suami saya, Satya

anak saya mendampingi dan melafalkan syahadat “Asyhadu allaa

ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammaddar rosuulullaah”

terus menerus sampai denyut jantung kakak saya berhenti.

Suster mencatat waktunya. Jam 11.41. Saya sempat berucap

“Sampai ketemu lagi ya Mbak....!!”

Kakak saya pun menutup matanya dengan tenang dan

tersenyum. Di TV, berita kakak saya meninggal sudah tersiar,

pintu dibuka dan semua orang masuk. Kami pun yang keluarga

mundur. Kami sadar, beliau bukan hanya milik kami, tapi milik

negara, dan masyarakat. Saya cuma bisa terdiam dan termenung

lama.....saya tulis status saya di BBM “My world is not the same

anymore”

68


Beliau memikirkan

generasi yang akan datang

Dr. Minarto,MPS

Direktur Bina Gizi Masyarakat

Direktorat Jenderal Bina Gizi Ibu dan Anak

Di balik berbagai kepedulian Ibu Menteri, terdapat

kepedulian yang tinggi terhadap “regenerasi”. Regenerasi

dalam pandangan Bu Menteri sangat luas, menyangkut

generasi penerus pembangunan bangsa dan generasi di

Kementerian Kesehatan untuk meneruskan pembangunan

kesehatan. Terkait dengan hal ini beliau juga selalu mendorong

lahirnya inovasi baru di bidang gizi.

Menyadari pentingnya ASI Eksklusif, beliau memberikan

perhatian yang sangat tinggi terhadap proses kemajuan

penyusunan Peraturan Pemerintah tentang ASI ekslusif. Setiap

saat kemajuannya dipantau, terutama tindak lanjut ketika terjadi

”protes” terhadap rancangan Peraturan Pemerintah tersebut.

Ketika mendampingi beliau pada Dies Natalis FK Unpad tahun

2010, secara tegas beliau menyatakan bahwa Kementerian

Kesehatan tidak bekerjasama dengan industri susu formula, dan

sejak itu secara konsisten Kemkes tidak lagi bekerja sama dengan

produsen susu formula. Pada tanggal 1 Maret 2012 PP No 33

Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Ekslusif ditandatangani oleh

pemerintah.

Beliau juga sangat mendukung dikembangkannya Taburia (untuk

perbaikan gizi anak 6 bulan hingga 2 tahun), pengembangan

tatalaksana gizi buruk (rawat inap dan rawat jalan) serta fortifikasi

Vitamin A pada minyak goreng.

Kepedulian Ibu Menteri terhadap regenerasi begitu konsisten.

Di saat menjelaskan gizi di First TV (saya lupa persis bulannya),

beliau menjelaskan perkembangan sel otak dan pertumbuhan

sel tubuh. Termasuk upaya mencapai pertumbuhan dan

perkembangan optimal. Penjelasan ini tidak sekedar penyuluhan

tetapi diikuti unsur motivasi yang begitu kuat agar keluarga

memberikan makanan dan pola asuh terbaik, sehingga anak

sehat dan bergizi. Berbagai arahan yang beliau tuangkan dalam

perbaikan gizi telah menjadi acuan perbaikan gizi mulai dari

keluarga, masyarakat, Puskesmas, serta rumah sakit. Arahan

beliau inilah yang melahirkan paket gizi untuk anak sehat, anak

gizi kurang, dan anak gizi buruk.

Akhir tahun 2011, setelah Ibu Menteri pulang dari New York

menghadiri pertemuan tingkat tinggi di PBB tentang Scaling Up

Nutrition (SUN), Ibu Deputi Bidang Sosbud dan SDM Bappenas

bersama tim melaporkan perkembangan SUN di Indonesia. Pada

kesempatan itu, Ibu kembali lagi menyampaikan soal regenerasi,

namun kali ini lebih fokus pada 1.000 hari pertama kehidupan,

73


yaitu sejak janin dalam kandungan sampai anak usia 2 tahun.

Beliau menyampaikan agar perbaikan gizi bisa dilakukan

seluruh sektor sehingga menjadi lebih berhasil. Selain itu, Ibu

menyampaikan agar istilah Scaling Up Nutrition diganti dengan

istilah Indonesia. Melalui usulan salah seorang anggota tim, Ibu

menyebut 1.000 Hari untuk Negeri menjadi istilah lain SUN di

Indonesia.

Pada saat-saat akhir beliau menyampaikan surat kepada Ibu

Negara dan Menkokesra untuk melakukan Gerakan Nasional

Sadar Gizi dalam rangka menggerakkan segenap pemangku

kepentingan untuk melakukan edukasi dan memenuhi

kebutuhan dasar ibu dan anak. Pada saat ini persiapan Gerakan

Nasional dalam proses finalisasi.

Kepedulian Ibu terhadap regenerasi tidak sebatas masa depan

bangsa, tetapi juga regenerasi pelaku pembangunan kesehatan.

Pada saat saya melaporkan bahwa para ahli gizi bermaksud

beraudensi dengan Ibu Menteri dalam rangka Peringatan Hari

Gizi Nasional Tahun 2011 yang lalu, beliau kembali menekankan

soal regenerasi. Beliau bersedia menerima audiensi hanya pesan

Ibu ”Pak Min, coba yang datang jangan seluruhnya yang senior,

mana generasi baru penerus perbaikan gizi?” Saya agak kaget

atas saran tersebut, karena dalam audiensi yang akan datang

adalah yang sudah punya nama atau setidaknya dikenal oleh

beliau dan umumnya selalu dengan usia yang tidak muda lagi.

Sejak saat itu setiap ada kesempatan tim terutama terkait

gizi dengan beliau saya selalu mengikutkan yang muda. Saya

ingin meyakinkan Ibu bahwa kami sependapat dengan beliau,

regenerasi sangat perlu, karena berapa lamalah kita diberi

kesempatan dalam mengemban amanah, bagaimanapun harus

ada generasi baru yang melanjutkannya. Mudah-mudahan

generasi mendatang lebih baik dari kita.

74


Ibu Endang, si angsa hitam

Dr.Hj.Eko Rahajeng, SKM, M. Kes

Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular

Seekor ANGSA HITAM

Berlenggok di pelupuk mata

Di mulutnya yang merah terselip setangkai MAWAR JINGGA

Duri mawar menancap diujung bibirnya yang PUTIH

Bibirnya terkoyak... tak kuasa berteriak

Hati gundah menggapai asa...

Ia tak tau tangkai MAWAR JINGGA berduri

Ia hanya ingin persembahkan MAWAR JINGGA untuk negeri ini

Tiada keluh meski tapak kakinya telah melepuh

Tiada rintih ... meski bibirnya mulai pedih dan perih...

Ia terus berlenggok dengan MAWAR JINGGA di mulutnya yang

merah berdarah

Ia terbang... menunju kehidupan yang semakin solid...

membawa sekuntum MAWAR JINGGA untuk bangsa

Mengapa aku?

Masih bermain sebagai angsa putih di bawah kamboja?

Berenang dengan kemalasan?

Berakit dengan ketidakpedulian?

-------------- ekowati rahajeng Oktober 2009

Sepenggal puisi di atas adalah ungkapan kekagumanku kepada

Bu Endang. Aku tulis ketika beliau masih menjadi peneliti di Badan

Litbangkes, dan kusampaikan ketika beliau dilantik menjadi

Menteri Kesehatan. Apa yang telah kutuliskan mempunyai

makna yang luas tentang pribadinya, kondisi kesehatan,

perjalanan hidupnya, dan akhir kehidupannya. Kehidupan beliau

jalani dengan penuh rasa Syukur dan Taqwa pada Allah SWT.

Sungguh, beliau merupakan pribadi yang patut diteladani, dan

menjadi inspirasiku dalam menjalani kehidupan, baik sebagai

Hamba Allah maupun sebagai Abdi Bangsa.

Ibu Endang Rahayu Sedianingsih, adalah seorang peneliti yang

tekun, cermat, dan produktif. Sebagai peneliti senior, beliau

sangat telaten membina dan memberi kesempatan kepada

peneliti yunior di kelompoknya untuk maju. Meski kelompok

penelitian kami berbeda (saya di kelompok penelitian Penyakit

Tidak Menular dan Bu Endang di kelompok penelitian Penyakit

Menular) beliau sangat memahami masalah di bidang Penyakit

Tidak Menular dan tidak pernah berkeberatan jika dimintai saran.

Mengajari sesuatu yang ia tahu kepada orang disekitarnya, adalah

sifat alaminya yang menonjol. Meskipun sekedar mendidik cara

berdansa misalnya. Ya, pribadi beliau memang unik. Meskipun

75


sangat serius di satu sisi, namun sangat santai dan dinamis pada

kesempatan lainnya. Keberadaan beliau di Badan Litbangkes,

memberikan warna dan nilai khusus bagi peneliti “Litbang” yang

sebelumnya selalu dikenal “Sulit Berkembang”.

Beliau adalah peneliti pertama yang menduduki jabatan

struktural eselon 2. Ibu Endang memang pantas menduduki

jabatan tersebut. Beliau tunjukkan bahwa peneliti juga bisa

menjadi pemimpin dan manajer yang baik. Karena itulah, saya

memberikan julukan kepada beliau “Angsa Hitam”. Hewan yang

sangat langka di dunia, yang mempunyai kemampuan lebih dan

berbeda dibandingkan angsa putih lainnya. Tidak pernah saya

lupakan bagaimana cara beliau menyikapi keputusan Menkes

pada waktu itu yang tiba-tiba mencopot jabatannya sebagai

Kapuslit. Ketika kami peneliti bersedih dan kecewa luar biasa

terhadap keputusan itu, beliau justru bersikap di luar dugaan

kami. Satu hari setelah keputusan tersebut, beliau langsung

bergabung bersama kami, para peneliti yang ketika itu sedang

menyepi untuk menyelesaikan laporan Riskesdas di Cisarua.

Kami peneliti tidak sanggup menatap matanya ketika beliau

datang bergabung di pagi hari. Namun tiba-tiba beliau justru

bertanya. ”Eh, aku bantuin apa nih?”

Kami mencoba menatap ibu, namun tidak mampu berucap. Ada

sedikit air mata tergenang di sudut mata, namun beliau terlihat

tegar dan berucap, “Innalilahi wa inna ilaihi rojiun. Jabatan

adalah Amanah.” Beliau langsung berbaur untuk berdiskusi

menyelesaikan laporan Riskesdas. Itulah beliau. Angsa Hitam

kami para Peneliti di Badan Litbangkes.

Selanjutnya, dalam menghadapi berbagai tuduhan tak berujung

pangkal dan suara sumbang yang datang, dengan tenang beliau

sering berucap, “Yang penting saya tidak seperti itu. Jika saya

harus mengalami seperti ini, ya, ini takdir yang harus dijalani.”

Dan setelah itu, beliau tetap bersemangat dalam meneliti dan

menulis. Betapa beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa

dalam me-manage kalbu.

Ia memiliki kepribadian yang bersahaja, mumpuni, dan

semangat berkarya yang patut menjadi panutan. Khususnya jadi

panutan bagi wanita Indonesia. Apalagi ketika diangkat menjadi

Menteri Kesehatan, beliau tidak hanya telah menjadi Ibu bagi

peneliti, namun juga pengayom bagi seluruh pejabat di jajaran

Kementerian Kesehatan.

Ketika ujian tentang kesehatan harus dialaminya, tak pernah

sedikitpun kami mendengar keluh kesahnya. Bahkan beliau

mengatakan, jangan sebut seseorang yang didiagnosis kanker

dengan penderita kanker. Sebutlah sebagai “orang yang hidup

dengan Kanker”. Lalu Ia menambahkan: Saya didiagnosis

kanker, tapi tidak merasa menderita. Apapun yang kita hadapi

datangnya dari Allah dan harus selalu kita syukuri. Semoga saya

dapat menjalankan amanah dengan baik, yang tentunya harus

bekerja keras mengikuti jejak beliau.

Semoga Allah memberikan RidhoNya. Selamat jalan Ibu. Saya tak

akan pernah melupakan bimbinganmu.

76


Sederhana tapi menghargai budaya

dr. Sri Henni Setiawati, MHA

Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kes (PPKK) Kemenkes

Saya kagum saat pertama melihat dan berkenalan dengan

Ibu dr. Endang Rahayu Sedyaningsih MPH, DrPH., sekitar

tahun 1996-1998. Saat itu saya bekerja di Kanwil Depkes

DKI Jakarta. Rasa kagum itu saya ingat terus..

Saya kagum dan bersyukur karena dapat berkenalan dengan

seorang dokter perempuan yang pintar. Dia sangat pintar

karena baru lulus dari Harvard University. Menurut pengetahuan

saya, saat itu, sangatlah tidak mudah diterima di universitas

tersebut, apalagi menyelesaikan pendidikannya. Hingga kini

bisa dihitung dengan jari jumlah perempuan Indonesia yang

dapat menyelesaikan sekolah di sana. Buat saya secara pribadi,

keberhasilan seseorang dapat membuat saya kagum dan

terharu terlebih lagi bila seseorang tersebut adalah perempuan,

mengingat masih sangat jarang.

Saya juga kagum pada Ibu dr. Endang Rahayu Sedyaningsih

MPH, DrPH. karena beliau seorang peneliti yang berpengalaman

di lapangan, khususnya pada sasaran tertentu, seperti pada

Pekerja Seks Komersil/PSK. Penelitian seperti ini, menurut saya,

sangat jarang dilakukan oleh seorang perempuan. Dan menjadi

bertambah kagum karena hasil penelitian dan tulisannya berhasil

mendapat penghargaan.

Kekaguman saya yang lain adalah ketika beliau diangkat

menjadi Menteri Kesehatan. Ketika itu, banyak orang yang

tidak memperhitungkannya untuk diangkat sebagai Menteri

Kesehatan. Menurut saya, mengemban tugas sebagai menteri,

adalah hal yang berat bagi beliau. Tapi, beliau telah ditunjuk.

Saya kagum sekali.

Kita semua pasti terkagum-kagum memperhatikan bagaimana

cara beliau berbicara di depan publik. Bu Endang berbicara

dengan tatanan bahasa yang baik dan benar. Baik dalam bahasa

Indonesia, maupun bahasa Inggris. Selain bahasanya baik,

isinya pun bermutu. Menurut saya, kemampuan Bu Endang

ini memperlihatkan karakter beliau yang kuat, serta pintar.

Kepintaran dia juga tercermin pada tulisan beliau.

Di luar tulisan, beliau juga terlihat berpenampilan sederhana.

Tetapi, di balik keserhanaan itu, tercermin kesan mendalam

bahwa beliau memiliki rasa penghargaan terhadap budaya

Indonesia. Khususnya NTT. Beliau memang lama bertugas di

salah satu Puskesmas di NTT; terlihat kebanyakan memakai

pakaian yang berasal dari NTT. Kagum saya yang terakhir pada

seorang Ibu dr. Endang Rahayu Sedyaningsih MPH, DrPH adalah

77


karena mengingatkan saya pada nasehat almarhumah ibu saya

sendiri saat masih hidup, yaitu sebagai seorang perempuan dan

seorang ibu untuk jangan terlalu banyak mengeluh.

Sikap tak mudah mengeluh ini terlihat jelas saat di awal tahun

2012, sebelum saya bekerja di Kementerian Kesehatan. Ketika

itu saya mendapat kesempatan untuk berbincang bersama di

Bali pada acara pertemuan WHO SEARO. Saat itu saya sudah

mengetahui bahwa Ibu Endang tengah dalam menjalankan

pengobatan Kanker Paru dan baru saja pulang dari Cina, dan

sebagai seorang dokter tentu dapat mengetahui bagaimana

dampak pengobatan bagi seseorang yang sedang dalam

pengobatan chemotherapy. Beliau saat itu berusaha untuk

menahan rasa tidak enaknya dari efek samping pengobatannya

dengan makan buah-buahan yang disajikan saat itu sambil tetap

tegar dan dapat berbicara dengan sangat pintarnya baik dengan

wartawan maupun dengan pimpinan WHO SEARO.

Demikian kesan saya yang paling dalam yang dapat saya tuliskan.

Saya kagum pada Bu Endang di banyak hal, sehingga beliau layak

dijadikan contoh/panutan. Menurut saya untuk saat ini sulit di

dapat baik di kalangan pejabat, pimpinan maupun masyarakat

umumnya.

78


Kesan dan Pesan

dalam Rangka Kunjungan

ke Tanah Papua, 20 Februari 2012

Humas Set Badan PPSDMKes

Beliau melangkah dengan mantap. Penuh wibawa. Masih

penuh perhatian. Terlihat sehat, seperti orang lain. Namun,

sejatinya, beliau sedang tidak sehat. Namun kami semua

tidak tahu bahwa beliau sebenarnya tidak sehat, sebab beliau

tidak menunjukkan bahwa Ibu dr. Endang Rahayu Sedyaningsih,

MPH, Dr.PH dalam kondisi sakit.

Hal ini terjadi ketika beliau melakukan kunjungan kerja ke

tanah Papua, dalam rangka Rapat Kerja Kesehatan Daerah dan

meresmikan gedung Poltekkes Kemenkes Papua, pada tanggal

20 Februari 2012.

Perhatian beliau sangat besar kepada unit pelaksana teknis di

lingkungan Kementerian Kesehatan. Penyakitnya disimpannya

untuk sendiri, dan beliau tetap bekerja seperti biasa dan seperti

kebanyakan orang lain. Sehingga, kami-kami yang ada pada

waktu itu melakukan peliputan, kagum dan bangga yang luar

biasa kepada beliau.

Kami banga mempunyai seorang pemimpin yang begitu

bersahaja, energik, penuh semangat, dan tanpa lelah selalu

membimbing kami.

Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan beliau, dan

semoga Allah SWT menerima iman-islamnya, serta melapangkan

kuburnya. Dan, kami akan selalu ingat akan arahan serta nasehat

ibu.

Selamat jalan, Ibu. Semoga ibu mendapat tempat yang terbaik di

sisi Allah SWT. Amin.

Humas Set Badan PPSDMKes

79


80

Menkes menerima kunjungan Sesjen PBB


Jujur dalam semua bidang

dr.Elizabet Jane Soepardi, MPH, DSc

Kepala Pusat Data dan Informasi

Saya mengenal dan lumayan sering bertemu bu Endang

saat beliau menjabat sebagai Kepala Puslit Biomedis Badan

Litbangkes sekitar tahun 2007. Pada waktu itu pandemi

Avian Influenza (AI) mengancam dunia.

Unit di Kementerian Kesehatan yang bertanggung jawab dalam

identifikasi virus AI, pengembangan kandidat vaksin, uji klinik

vaksin pada binatang sampai manusia adalah Puslit Biomedis

yang dipimpin bu Endang. Bila vaksin sudah dibuktikan efektif,

aman, dan efisien, baru dapat digunakan, dan unit dimana

saya bekerja, subdirektorat Imunisasi, dapat memproses mulai

dari pengadaan sampai memastikan vaksin tersebut sampai ke

sasaran.

Saat itu perhatian seluruh dunia tertuju ke Indonesia,

karena diduga potensial menjadi sumber penularan yang

membahayakan negara lain, karena dipandang tidak mampu

mengendalikan penularan sementara vaksin belum ditemukan.

Kami harus melayani banyak pihak, dengan beragam latar

belakang, mulai dari para ahli, politisi sampai LSM, dalam dan

luar negeri. Selain harus mengerjakan pekerjaan yang baru,

dimana belum ada standarnya, kami harus menenangkan orangorang

yang panik.

Menghadapi kepanikan seperti itu, semua bisa melihat reaksi

dan sikap para petinggi, yang aneh dan lucu muncul. Figure bu

Endang tampak sebagai seorang yang menguasai bidangnya,

melalui presentasi ilmiah yang disampaikannya dengan mantap

dan tenang, mampu menyemangati barisan Kemkes yang lain.

Umumnya yang mendengarkan bisa pulang dengan wajah puas.

Saya baru tahu saat bu Endang diangkat sebagai Menteri

Kesehatan, waktu menghadapi tuduhan membawa virus AI

keluar negeri, bu Endang menjelaskan bahwa beliau adalah

peneliti sosial (perilaku kesehatan). Disini saya kagumi beliau,

sebagai seorang yang sangat bertanggung jawab. Menerima

jabatan sebagai “Pemimpin” dan “Manager” dengan segala

konsekuensinya. Untuk bisa tampil begitu meyakinkan, jelas

beliau berusaha keras mempelajari tehnis di bidang yang

dipimpinnya.

Sebagai Menteri Kesehatan, saya melihat yang paling menonjol

pada diri Ibu Endang adalah “kejujuran”. Ini membuat kita

sebagai bawahan juga nyaman untuk jujur, dalam segala bidang,

bekerja maupun bersikap, apa adanya.

81


Dia selalu tersenyum

drg. S.R. Mustikowati, M.Kes

Sekretaris Inspektorat Jenderal

Selalu tersenyum dan memberikan kehangatan lewat

sapaan kecil kepada setiap orang yang ditemuinya.

Itulah kesan yang akan selalu kami ingat dan kami kenang

dari sosok Ibu Menteri Kesehatan. Betapa bersahajanya Beliau,

hal itu tergambar dari penampilan dan bahasa tubuh Beliau

yang menunjukkan kesederhanaan. Beliau juga merupakan

sosok yang mengajarkan kedisiplinan bagi seluruh karyawan.

Beliau senantiasa menyempatkan untuk mengunjungi setiap

ruangan walaupun hanya untuk sekedar memastikan: ‘‘apakah

para karyawan sudah hadir dan bekerja dengan baik ‘’

Sejak menjabat sebagai Menteri Kesehatan RI, Beliau sangat

serius untuk mendorong upaya mewujudkan Kementerian

Kesehatan yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi serta

Nepotisme (KKN). Beliaulah yang menggagas penandatanganan

Komitmen Implementasi Tata Kelola Pemerintahan yang baik,

dan Program Kegiatan dan Upaya dalam rangka Peningkatan

Integritas Lembaga. Hal ini merupakan bukti betapa beliau

sangat memberikan perhatian dalam pemberantasan KKN di

Kementerian Kesehatan.

Selain itu juga Beliau menginspirasi seluruh jajaran Kementerian

Kesehatan dalam pelaksanaan pelaporan Gratifikasi. Tercermin

dalam setiap pemberian gratifikasi yang diterima oleh Beliau

berapapun nilainya selalu beliau laporkan ke KPK. Karena hal

inilah Beliau pernah mendapatkan penghargaan dan apresiasi

dari KPK pada tahun 2011. Masih lekat dalam ingatan keseharian

Ibu yang selalu memimpin dengan ketegasan, disiplin dan

berpikir jauh kedepan, bahkan dalam setiap kesempatan rapat

pimpinan, Beliau selalu mengingatkan kepada seluruh peserta

rapat untuk selalu bekerja dengan baik, jujur, dan ikhlas. Beliau

dikenal sebagai sosok pekerja keras dan mendedikasikan

pengabdiannya untuk kemajuan Kesehatan di Negara ini

meskipun kondisi Beliau dalam keadaan sakit.

83


Dia tak pantas dilupakan

Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia

Konsili Kedokteran Indonesia

Kesan terhadap Almarhumah Ibu Menkes Endang

- Beliau orang yang tepat waktu/ disiplin saat bekerja

- Beliau tidak membeda-bedakan orang dari status sosialnya

- Beliau cepat tanggap terhadap masalah kesehatan yang

terjadi di masyarakat dan mempunyai rasa peduli yang tinggi

terhadap masyarakat maupun lingkungan pekerjaannya

- Beliau orang yang pantang menyerah menghadapi segala

tantangan pekerjaan dan selalu berusaha membuat

perubahan ke arah yang positif serta lebih baik

- Beliau tidak akan pernah pantas untuk dilupakan.

Selamat jalan Ibu. Terima kasih atas semua dedikasimu. Semoga

Allah SWT memberi tempat yang mulia disisiNya.

Amien

85


86

Menkes kunjungi pasien di Rumah Sakit


Saya terharu ibu menteri memberi

perhatian pada istri saya di ICU

Dr. Nyoman Kandun, MPH

Purnabakti Eselon I Kemkes

Di penghujung tahun 2009 , tepatnya 20 - 22 Oktober ,

kami rombongan dari Indonesia menghadiri pertemuan

Regional Meeting on Health Care Reform for the 21 st

Century, WHO/SEARO di Bangkok. Ini meeting besar karena itu

dibuka oleh Dr.Samlee Pliangbancang, Regional Director WHO/

SEARO.

Rombongan dari Indonesia terdiri dari saya, Prof. Purnawan

Junadi dari FKM/UI; Dr. Rival (DepKes); Prof. Laksono Trisnantoro

dari FK/UGM; Dr.Natsir Nugroho dari Muhammadiyah dan

beberapa peserta lain. Seperti biasa kami ngobrol ngalor-ngidul,

ber-gossipuria, guyon pada saat santai di luar sidang.

Suatu saat terlihat Prof.Laksono sibuk SMSan. Entah dengan siapa.

Beberapa saat kemudian, beliau bertanya, apakah saya kenal

dengan Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih? Saya jawab, bahwa

saya kenal buaanget dengan Ibu Endang. Rupanya, konon Prof.

Laksono sedang SMSan dengan sobatnya yang sedang berada

pada puncak kekuasaan di sekitar SBY, DR. A. Andi Malarangeng,

yang konon belum kenal dengan ibu Endang.

Saya bertanya pada Prof. Laksono, ada apa sih sibuk banget?

Rupanya Ibu Endang dicalonkan untuk menjadi Menkes periode

2009 - 2014. Tentulah pertanyaan berikutnya adalah bagaimana

dia (maksud beliau ibu Endang seperti apa). Saya jawab apa

adanya tentang beliau: bahwa saya sudah lama bekerja sama

dengan Ibu Endang. Terakhir saat saya sebagai Dirjen P2PL,

beliau adalah KaPusLit Biomedis dan Farmasi (entah sekarang

namanya diganti apa) menggantikan Ibu Erna Tresnaningsih

yang dipindahkan ke P2PL sebagai Direktur P2B2. Hampir tiap

hari saya kontak dengan beliau soal flu burung karena unit

beliaulah yang memeriksa spesimen penderita flu burung.

Tentulah, saya sebagai Dirjen yang bertanggung jawab sehari

hari terhadap operasional di lapangan untuk penanggulangan

Flu Burung, sering memanggil bu Endang untuk rapat dan

memberi tugas ini dan itu.

Kepada Prof. Laksono saya ceritakan apa adanya tentang ibu

Endang. Tentulah yang bagus bagus: disiplin, profesional, cepat

tanggap. Setelah itu Prof. Laksono sibuk SMSan lagi. Akhirnya

seperti kita ketahui semua, Cikeas memanggil ibu Endang.

Beberapa saat kemudian saya SMS Bu Endang. Langsung

nyambung. Saya tanya di mana posisi dia? Beliau jawab, saya

lagi di taksi mau ke Cikeas dan nyasar gak tahu arah. Saya bilang

87


dari Cibubur terus saja lurus, sampai ada perempatan, yang ke

kiri arah Ciangsana, yang kekanan arah Puri Cikeas. Singkat cerita

beliau akhirnya sampai ke Puri Cikeas dengan segala ritual fit

and proper test seorang calon menteri ala Puri Cikeas (kalau ala

Cendana dulu ada istilah AIDS/Aku Ingin Dipanggil Suharto, entah

di Cendana diapain). Ternyata ke Cikeasnya tadinya naik taksi,

namun pulangnya diantar mobil seorang dokter berpangkat

Jenderal Bintang Satu (Buku Selendang Panjang BU MENKES, hal

105-106 ).

Sebelum nama beliau diumumkan secara resmi sebagai Menkes

tentulah banyak sekali nama calon Menkes yang beredar dan

muncul diberbagai media termasuk media gossip. Tentulah

banyak yang harap-harap cemas. Dan, ada yang membuat joke

lewat sms agar siang malam jangan matikan Hand Phone dan

hendaknya dipasang pada ring tone dengan volume pol.

Setelah nama beliau diumumkan dan kemudian dilantik secara

resmi, banyak yang mematikan HP-nya pada malam hari dan

pada siang hari menghidupkan dengan silent mode.

Beberapa saat setelah dilantik, beliau menelpon saya meminta

kesediaan saya untuk menjadi salah satu Staf Khusus beliau.

Saya menolak dengan halus. Saya katakan saya ingin merdeka

menikmati masa pensiun dan ngurusi FETP saja dengan sistem

APW agar bisa bebas melakukan kegiatan lain dan momong

cucu.

Beliau memaklumi, namun meminta saya mencarikan calon

Staf Khusus Wanita, dengan syarat masih muda (beliau tidak

bilang harus cantik). Dan, pesannya, jangan lulusan UI karena

beliau sendiri sudah lulusan UI He he.... Saya iyakan dan ajukan

beberapa nama. Nyatanya Staf Khususnya cowok semua berarti

jago saya tidak ada yang goal He he...

Beberapa saat kemudian saya ditelpon mbak Isye Soentoro,

penulis Buku Selendang Panjang BU MENKES, meminta waktu

ketemu saya di rumah untuk wawancara. Ternyata, wawancara

tentang kesan saya selama mengenal ibu Endang Rahayu

Sedyaningsih, dan sedikit tentang virus Flu Burung dan NAMRU

yang saat itu sedang heboh-hebohnya di media massa. Saya

memberikan penjelasan apa adanya sejauh yang saya ketahui

seperti ditulis dalam buku tersebut (hal 109-115, Dalam Perahu

yang Sama ).

Pada bulan April 2010, sepulangnya saya menghadiri pertemuan

Board of Trustees IVI (International Vaccine Institute ), di Seoul,

istri saya masuk ICU RS. Dharma Nugraha karena mengalami

dehidrasi berat dan infeksi, efek samping setelah menjalani

kemoterapi ke 4. Pulang dari menengok istri sehabis mandi, HP

saya bunyi ternyata telpon dari Ajudan Menkes, mengatakan

bahwa Bu Menkes mau bezoek Bu Nyoman di rumah sakit. Saya

buru-buru kembali ke RS Dharma Nugraha, Rawamangun. Beliau

saya tunggu di ujung kiri dekat IGD, ternyata masuknya lewat

ujung lainnya. Setelah beliau masuk ICU, ketika itu istri saya

sudah sadar penuh setelah cairan dan elektrolitnya terkoreksi.

Dari jendela kaca, saya lihat beliau lama sekali ngobrol berdua.

Saya tidak tahu apa yang diobrolkan saat itu padahal beliau

belum pernah ketemu istri saya. Kalau Pak Mamahit yang suami

beliau, memang kenal dengan istri saya.

Saya merasa terharu Ibu Menkes memberikan simpati dan

empati kepada istri saya yang terbaring di ICU.

Karena tahu ibu Menkes yang datang, staf ICU dan RS Dharma

Nugraha menggunakan kesempatan untuk foto bersama.

Selama beliau jadi Menteri, saya hanya empat kali tatap

muka dengan beliau, di RS Dharma Nugraha, Di Bali Nusa Dua

Convention Center (BNDCC) setelah beliau membuka pertemuan

6 th Bi Regional Scientific Conference TEPHINET Meeting pada

tanggal 8 November 2011. TEPHINET singkatan dari Training in

Epidemiology and Public Health Intervention Network, wadah

dari program FETP (Field Epidemiology Training Program ) seluruh

88


dunia. FETP Indonesia yang sudah ada sejak tahun 1982, saat

pak Adhyatma (almarhum) menjadi Dirjen P3M (P2PL sekarang),

dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan Bali tersebut. Setelah

pembukaan, beliau agak lama duduk semeja dengan kami dan

Direktur TEPHINET, karena kita semua tidak boleh keluar, pak

SBY mau datang meninjau persiapan gedung BNDCC. Maklum,

beberapa hari lagi gedung itu akan dipakai ASEAN SUMMIT,

yang akan dihadiri Obama dan Putin. Sambil menunggu kita

boleh keluar. Kami dihibur Joged Bumbung, yang menari putri

karyawan KKP Kelas I Denpasar.

Sebagai putra Bali saya mendahului ngasih contoh ngibing.

Akhirnya, peserta lainnya dari berbagai negara turun ngibing...

Pertemuan ketiga dengan beliau adalah pada saat kami

pengurus pusat PAEI (Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia),

menghadap beliau melaporkan kiprah PAEI dan meminta

beliau untuk bersedia menjadi anggota PAEI. Beliau langsung

bersedia, dan kartu anggotanya sudah dibuatkan dan tinggal

menyerahkan kepada beliau.

Walau secara fisik kami jarang ketemu, melalui SMS saya selalu

komunikasi dengan beliau dan terkadang mengkritisi beberapa

hal –yang memang perlu dikritisi. Saya merasa ada komunikasi

dua arah dengan beliau. Kesan saya, beliau menghargai saran

dan pendapat saya (yang merasa sebagai senior he he...).

Bulan April kemarin saya ke CDC Atlanta bersama pak Oscar

dari PPSDM, pak Andi Muhadir, dan pak Hari Santoso dari DIT

SIMKAR KESMA. Di sana kami mendengar kesehatan Ibu Endang

menurun. Kita terus SMSan ke Jakarta memantau perkembangan

beliau. Hanya doa dan harapan saja yang bisa kami kirimkan dari

jauh. Orang-orang CDC Atlanta yang mengenal beliau, Dr.Tim

Uyeki, Dr.Frank Mahoney, yang banyak kerja sama dengan beliau

menanyakan kesehatan beliau.

dan menghubungi mbak Pretty. Disarankan agar bezoek pada

hari kerja, jangan pada hari sabtu dan minggu, karena hari

keluarga. Dengan nekat saya dengan pak Indriyono bezoek pada

hari minggu tanggal 29 april 2012 pagi.

Kami diantar pak Mamahit, bu Endang dibisiki yang datang

pak Nyoman sama pak Indri. Beliau menoleh ke saya dan

mengulurkan tangan kanannya. Saya pegang tangan beliau dan

terasa masih hangat dan beliau menggenggam tangan saya

dengan erat sambil berbisik lirih --saya tidak bisa mendengar

apa yang beliau katakan. Air mata saya mengembang. Tangan

beliau saya lepas dan saya berikan giliran ke pak Indriyono untuk

menjabat tangan beliau. Ini adalah pertemuan saya keempat dan

terahir dengan beliau.

Tgl 2 Mei 2012 , sekitar Pukul 11.00 pagi saya menerima SMS

berita duka Beliau telah berpulang ke Rahmatullah. Dari Caesar

ke Caesar dari Debu ke Debu....

Seorang putri almarhum Prof. Sujiran Resosudarmo tokoh

pendidikan, sebagai veteran yang berjuang di Bali bersama

Ngurah Rai dan yang turut mendirikan Perguruan Rakyat

Saraswati bersama DR. I Made Tamba (almarhum), wafat tepat

pada Hari Pendidikan Naisonal. Suatu kebetulan.

Malamnya saya melayat ke rumah duka. Penuh pelayat, dari

menteri sampai orang awam. Saya kemudian bergegas pulang

begitu mendengar rombongan Bapak Presiden mau datang,

daripada kejebak macet gak bisa pulang.

Di sebuah gerbang ASTANA tertulis: Sekarang Saya, Kapan

Engkau

Selamat jalan Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih. Semoga

arwahmu damai di sisiNya. Amin.

Sepulang ke Indonesia saya mencari kesempatan untuk bezoek,

89


Dia selalu ingin hasil terkini

Drs. Ondri Dwi Sampurno, M.Si, Apt

Kapus Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbang

Menteri Kesehatan RI, Almarhumah Ibu Endang Rahayu

Sedyaningsih, faham benar dengan lingkup tugas dan

sumber daya institusi Puslitbang Biomedis dan Farmasi,

yang sekarang namanya berubah menjadi Pusat Biomedis

dan Teknologi Dasar Kesehatan. Kebetulan saya ditugaskan di

institusi ini sejak November 2009, hingga kini.

Hal ini dapat dimengerti karena sebelum ditunjuk sebagai

Menteri Kesehatan, almarhumah adalah seorang peneliti dan

juga pernah menjabat sebagai Kepala Puslitbang Biomedis dan

Farmasi.

Dengan demikian, kesan saya, arahan almarhumah yang saya

terima baik langsung maupun tidak langsung, terkait dengan

penelitian biomedis menjadi sangat mendasar dan sangat

jelas untuk segera menindak lanjuti. Bu Endang menginginkan

laporan maupun bahan paparan yang disampaikan kepadanya

harus komprehensif dan tidak cenderung hanya melihat apa

yang dilakukan Badan Litbang Kesehatan.

Selain itu, dalam hal penelitian biomedis, beliau tidak

menghendaki lagi penelitian kecil-kecil. Menurut Bu Endang,

penelitian harus menyeluruh dengan roadmap yang jelas dan

dilaksanakan kerjasama lintas institusi (program, perguruan

tinggi, institusi Litbang lain dan industri).

Kata Bu Menteri, hal ini sebagai contoh upaya kerjasama yang

‘concerted’. Penekanan kerjasama penelitian tidak hanya

substansinya, Ia juga menekankan dalam penggunaan fasilitas

laboratorium penelitian, sebagaimana pesan tertulis almarhumah:

“Dibukanya Laboratorium Nasional Penelitian Penyakit Infeksi

merupakan awal kebangkitan koordinasi penelitian Kedokteran

dan Kesehatan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.”

Di samping itu, Bu Endang menginginkan data realtime. Untuk

ini almarhumah menyarankan peneliti biomedis harus rajin

membaca koran sehingga bisa mengikuti perkembangan hasil

laboratorium yang berkaitan dengan kasus suspek. Bu Menteri

menekankan bahwa dia menginginkan hasil yang terkini.

Menurut beliau ketika itu, laporan atau paparan itu harus

memperhatikan juga apa yang telah dikerjakan institusi lain yang

terkait di seluruh Indonesia.

91


Menteri yang rajin

ke pelosok tanah air

drg. Oscar Primadi, MPH

Kapus Standarisasi dan Sertifikasi dan Pendidikan Berkelanjutan SDM Kes, Badan PPSDM

Bila kita melihat sosok Bu Menteri Endang, sungguh banyak

inspirasi yang kita dapat, dan semangat yang kita tiru.

Beliau sangat layak diteladani. Beliau adalah pemimpin

yang betul-betul memahami dan peduli terhadap hal-hal detail

dan teknis. Sehingga, setiap instruksi yang dikeluarkannya

sangat jelas apa dan bagaimana harus mengerjakan dan

menyelesaikannya.

Beliau adalah sosok pekerja keras. Bila sedang bekerja, tampak

seperti tak pernah kenal lelah. Selalu bersemangat dan ikhlas.

Senyumnya selalu mengembang, menandakan tidak ada hal

yang dibuat-buat, betul-betul dari lubuk hati yang dalam. Bila

sedang berkunjung ke daerah, beliau rajin menjelajahi tanah air.

Tidak hanya sampai daerah perkotaan tapi juga berkunjung ke

pelosok pedalaman, hingga perbatasan. Ini menandakan Ibu dr.

Endang Rahayu Sedyaningsih punya semangat pengabdian dan

keseriusan dalam membangun kesehatan di negara tercinta ini.

Hal menarik juga kita temukan dalam pesan terakhir beliau:

“Marilah kita berbaik sangka kepada Allah.” Di pesan itu

terhimpun sikap penghayatan religiusitas yang tinggi, ikhlas,

tidak mengeluh, semua yang dialami diterima sebagai anugrah

dari Allah SWT.

Insya Allah beliau pergi dalam keadaan husnul khatimah

meninggalkan kita.

Semoga semangat almarhum dapat menjadi motor penggerak

kita dalam membangun dunia kesehatan di Republik yang kita

cintai ini. Amin

93


Dia mengayomi

semua jajaran profesi medis

Drg. Zaura Kiswarini, MDSc

Ketua PB PDGI

Saya sebagai Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter

Gigi Indonesia (PB.PDGI) mendapat kehormatan untuk

menghadiri Acara Peringatan Seperempat Abad

Fakultas Kedokteran Gigi sekaligus peletakan batu pertama

pembangunan RS Gigi dan Mulut Universitas Baiturrahmah,

Padang, 15 September 2010 yang dilakukan oleh Menteri

Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH.

Pada acara tersebut, Ibu Menkes memberikan sambutan,

meletakkan batu pertama, serta beraudiensi dengan para

pejabat setempat sesuai dengan prokotoler yang dijadwalkan.

Saya mendengarkan dengan seksama sambutan dan arahan

beliau. Saya mendapat kesan bahwa Ibu Menkes really do care

about kemajuan profesi dokter gigi dan pelayanan kesehatan

gigi di Indonesia. Tentunya saya sebagai pemegang amanat

teman-teman pada profesi dokter gigi ingin berterima kasih

dan menyampaikan hal-hal yang perlu mendapatkan dukungan

Kementerian Kesehatan bagi kemajuan profesi kedokteran gigi

dan rumpun profesinya seperti perawat gigi, dan tekhniker

gigi juga harus maju berkembang dengan mengedepankan

kepentingan serta kesehatan rakyat Indonesia.

Saat itu sangat kecil kemungkinannya saya dapat menyampaikan

hal-hal tersebut, mengingat Ibu Menteri jadwalnya padat. Namun

Allah SWT memberikan kesempatan yang sangat berharga,

berupa waktu yang singkat sekali, saat kami berniat melakukan

sholat dzuhur. Saya tidak menduga sama sekali bahwa beliau

dipersilahkan ke tempat yang sama dan waktu yang sama untuk

melakukan sholat tersebut karena saat itu beliau masih cukup

padat acaranya secara proktokoler.

Ketika saya menyampaikan apa yang tadi saya pikirkan, kami

sempat berdiskusi singkat mengenai profesi kedokteran gigi.

Beliau merencanakan untuk melakukan penataan peran profesi

dalam pelayanan kesehatan gigi di Indonesia. Impress saya

terhadap beliau, sebagai anggota profesi kedokteran gigi.

“Beliau berwawasan luas, pendengar yang baik, cepat, dan

tanggap mengedepankan kepentingan rakyat banyak tanpa

meninggalkan kewajibannya selaku muslimah dengan

melakukan Ibadah Sholatnya di awal waktu.”

95


Kami dari profesi kedokteran gigi, berterima kasih atas dukungan

Ibu Endang. Tentu saja kami merasa sangat kehilangan seorang

figur Ibu yang terasa mengayomi seluruh jajaran profesi medis

termasuk rumpun profesi kedokteran gigi. Semoga semangat

beliau menjadi contoh ketauladanan bagi kita semua dan dapat

dilanjutkan oleh para pejabat di Kementerian Kesehatan.

Selamat Jalan Ibu Endang. Semoga Allah SWT, memaafkan segala

kekhilafannya dan menempatkan di syurgaNya, amin”.

96


Srikandi Indonesia yang

memberi warna kesehatan Indonesia

Pusat Promosi Kesehatan

Tidak dapat dipungkiri bahwa Ibu Endang adalah seorang

pemimpin yang punya pandangan yang sangat luas

serta pemikiran yang kuat untuk meningkatkan derajat

Kesehatan Masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Hal

tersebut tersirat jelas dalam arahan dan sambutan beliau pada

berbagai acara penting dan strategis, termasuk di tetapkannya

berbagai keputusan menteri kesehatan tentang promosi

kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.

Komitmen Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih dalam

pembangunan kesehatan, dilandasi nilai-nilai kerja (Pro Rakyat,

Inklusif, Responsif dan Efektif). Salah satu terobosan penting yang

dilakukannya adalah penguatan kemitraan dengan organisasi

kemasyarakat dan dunia usaha melalui kegiatan CSR.

Beliau pernah mengeluarkan pernyataan yang sangat penting

pada saat “Penandatanganan Kesepakatan Bersama Antara

Kementerian Kesehatan dengan 18 Organisasi Kemasyarakatan

dan juga 23 Dunia Usaha Dalam Promosi Kesehatan pada

tanggal 20 Agustus 2010.” Berikut cuplikan sambutan beliau,

“Permasalahan kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh

Pemerintah saja, membutuhkan peran serta dari berbagai pihak,

dan pertemuan ini akan menjadi momentum sejarah dalam upaya

pembangunan kesehatan di Indonesia”.

MoU Dunia Usaha

Ibu Endang adalah sosok pemimpin mengutamakan kebijakan

berbasis data atau fakta. Salah satu terobosan kebijakan yang

diambilnya adalah melakukan Kampanye Edukasi secara

nasional tentang pengetahuan komprehensif perihal HIV-

AIDS kepada kelompok usia 15 – 24 tahun. Kebijakan tersebut

berdasarkan temuan Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun

2010 bahwa secara nasional kelompok usia 15 – 24 tahun yang

memiliki pengetahuan yang benar dan komprehensif tentang

HIV-AIDS hanya 11,4% . Kebijakan yang dibuat Ibu Endang

ini sangat strategis karena selama ini informasi tentang HIV

AIDS sebagian besar diarahkan kepada kelompok risiko (Key

Population). Kelompok umum atau General population masih

terbatas sebagai sasaran kampanye. Padahal kelompok ini perlu

mendapat informasi yang benar tentang HIV AIDS sehingga tidak

tertular HIV AIDS.

Dukungan Ibu Endang dalam pelaksanaan Kampanye Nasional

HIV-AIDS “AKU BANGGA AKU TAHU” Bagi Usia 15-24 Tahun sangat

kami rasakan. Ibu Endang secara terus menerus mendorong

jajaran Kesehatan, terutama jajaran Pusat Promosi Kesehaatan

97


untuk terus menggalang kerjasama dengan berbagai pihak

dalam Kampanye ABAT. Saat ini sudah ada 6 Kementerian yang

memberikan dukungan dalam pelaksanaan Kampanye ABAT

yang tertuang dalam pengantar Buku Pedoman Kampanye

ABAT (Menteri Kordinator Kesra, Menteri Dalam Negeri,

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Tenaga Kerja

dan Transmigrasi, Menteri Sosial dan Menteri Agama). Adanya

komitmen beberapa Kementerian untuk mendukung Kampanye

ABAT tersebut merupakan salah satu keberhasilan yang perlu

dibanggakan atas kepemimpinan Ibu Endang sebagai Menteri

Kesehatan.

Kecintaan ibu Endang terhadap generasi muda tetap

menginspirasi kami dan merupakan suatu kenangan indah

lainya terhadap sosok dr. Enny (nama kecil seorang Endang

Rahayu Sedyaningsih.

“Komik Cita” merupakan media kreatif yang dirancang oleh

Bu Endang sendiri. Buku ini berisi ajakan Ibu Endang kepada

siapa pun yang punya kepedulian terhadap upaya memelihara

kesehatan sejak usia dini. Sifat mendidik yang melekat pada Ibu,

terlihat dari ketekunan beliau menulis dan melahirkan karya

berupa naskah tentang bagaimana anak Indonesia mencintai

kesehatan. Kami mencatat ide kreatif ibu sebagai sebuah

pemikiran jauh kedepan dalam menginvestasi sumberdaya

manusia Indonesia yang sehat dan produktif. Hal ini sebagai

bentuk komitmen Ibu Endang untuk menanamkan pentingnya

upaya promotif dan preventif sedini mungkin. Naskah tulisan

Ibu tersebut, kami coba ilustrasikan dalam bentuk komik dengan

tokoh dr. Enny, Cita, dan teman-temanya dalam empat judul

dan masing-masing terdapat 14 topik kesehatan yang akan

membekali anak-anak mengisi pendidikan kesehatannya.

Ibu Endang adalah sosok yang berupaya menjaga kesinambungan

(sustainability) kebijakan pembangunan kesehatan. Dalam hal ini

beliau meneruskan upaya pembangunan kesehatan yang telah

dirintis oleh menteri kesehatan sebelumnya. Ibu Endang juga

sangat berkomitmen dalam upaya pemberdayaan masyarakat

melalui program Desa Siaga Aktif, dengan melibatkan lintas

sector , khususnya keterlibatan Kementerian Dalam Negeri dan

perangkatnya di daerah sangat besar. Kita semua menyadari dan

memahami bahwa tugas Ibu Endang sebagai Menteri Kesehatan

tidaklah ringan dan tidak juga mudah. Namun begitu, kita semua

bersyukur bahwa Tuhan yang Maha Pengasih telah mengirim

kepada kita insan kesehatan seorang sosok Ibu yang sangat

peduli, cerdas, rendah hati, sabar, sederhana dan tetap memiliki

ide-ide cemerlang. Dalam upaya mendukung desa siaga aktif,

Ibu Endang membuat beberapa kebijakan penting dan strategis,

yaitu melalui upaya penguatan insfratruktur dan juga dukungan

Dana Operasional Kesehatan (BOK). Beliau sering mengingatkan

kita bahwa upaya promotif dan preventif perlu menjadi prioritas,

karena upaya promotif dan preventif lebih efisien dan efektif serta

lebih banyak melibatkan berbagai pihak, termasuk keterlibatan

masyarakat sebagai subyek pembangunan kesehatan.

Kalau kita renungkan kembali, kepemimpinan beliau dalam

pembangunan kesehatan “walaupun amat sangat singkat’, tetapi

beliau memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Ibu Endang

adalah sosok pekerja, inovatif, ulet, pendengar yang baik dan

sabar dalam memberikan arahan. Tidaklah berlebih kalau kita

mengatakan bahwa Ibu Endang adalah salah satu Srikandi

Indonesia yang mampu memberikan warna bagi pembangunan

kesehatan di Indonesia.

98


Semua programnya prorakyat

Pusdiklat Aparatur, Badan PPSDM

Tidak sulit mengenang sosok almarhumah Ibu Endang

Rahayu Sedyaningsih, kendati baru selama hampir 3 tahun

memimpin Kementerian Kesehatan. Sebab, hampir semua

program yang dibuatnya tergolong program yang prorakyat.

Inklusif, Responsif, Efisien, dan Bersih. Ungkapan itu tidak

hanya menjadi sekedar slogan semata, serta konsentrasi beliau

terhadap program Pemberian ASI Eksklusif seolah menjadi

pecutan kami khususnya di Pusdiklat Aparatur dalam upaya

ikut berpartisipasi aktif mensukseskan program tersebut. Sosok

beliau yang tegas namun terbuka begitu melekat bagi seluruh

jajarannya di Kementerian Kesehatan.

Bagi yang tidak mengenal sosok personalnya masih bisa

mengenal secara dekat melalui karya tulisannya yang luar biasa

menginspirasi, melalui sebuah tulisan “Secret of My Sucsess:

Prominent Indoensia Share Their Lessons on Life and Remakable

Career” yang rencananya akan diluncurkan saat “Congres of

Indonesia Dispora” tanggal 6-8 Juli 2012 di Los Angeles, California

merupakan cerminan semangat dan pengabdian beliau terhadap

dunia kesehatan di Indonesia.

Kalimat Ibu yang tertuang di buku terakhirnya “Untaian

Garnet dalam Hidupku” akan selalu menjadi motivasi bagi

kami: “Mari lakukan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan

hari ini. Kita lakukan dengan sepenuh hati. Dan jangan lupa,

nyatakan perasaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi.

Bersyukurlah, kita masih diberi kesempatan untuk itu”.

Selamat jalan Ibu. Semoga Allah SWT menerima semua amal

ibadah dan menempatkan Ibu di tempat yang terbaik di sisi-Nya

dan kegigihan Ibu akan selalu menjadi kenangan yang manis

bagi kami.

99


100


Bu Endang, pendengar yang baik

Ria Sukarno, SKM, MCN

Sekretaris Badan Litbang Kesehatan

Ibu Endang adalah sosok wanita yang sangat berkarakter. Baik

sebagai pimpinan maupun sebagai seorang teman. Selama

menjadi staf beliau saya mempunyai kesan dan warna tersendiri

terhadap gayanya. Tidak ada jenjang Birokrasi yang kental antara

atasan dan bawahan. Beliau selalu mendengarkan dengan baik

siapa pun yang berbicara. Hal ini terlihat dari keseriusan beliau

ketika ada lawan bicara dengan menuliskan poin-poin yang

dianggap penting atau ada informasi bagi beliau. Menerima

apa adanya serta kerendahan hati merupakan kesehariannya.

Tapi tegas dan lugas dalam menegur seseorang ketika berbuat

salah. Beliau akan menegur walaupun itu seorang teman atau

sahabatnya.

Beda pendapat bukan persoalan. Bahkan perbedaan akan

dianggap sebagai masukan dan tantangan. Ketika Beliau menjadi

Menteri Kesehatan banyak hal yang beliau harus sesuaikan

termasuk dunia protokoler yang sangat diatur. Mula-mula

beliau terlihat terganggu. Lama kelamaan beliau sangat sadar

bahwa dirinya sudah milik orang banyak. Kerendahan hati Beliau

kadang-kadang membuat protokoler menjadi kewalahan pada

awalnya, karena setiap orang yang akan bertemu dengan beliau

selalu beliau agendakan, Setiap orang yang meminta untuk

meresmikan atau membuka acara, beliau datang meskipun acara

tersebut tidak selayaknya dilakukan oleh seorang Menteri .

Beliau sangat memperhatikan hal-hal yang terlepas dari

perhatian orang lain, misalnya: bagaimana cara yang baik untuk

menjadi dirigen ketika menyanyikan Indonesia Raya saat upacara

bendera, bagaimana cara membuat sambutan agar mempunyai

Value. Banyak hal yang akhirnya berguna bagi institusi itu sendiri

bahkan individu yang di dalam institusi. Beliau pernah berkata

bahwa, tidak semua orang senang dengan keputusan yang beliau

lakukan. Tapi itu adalah resiko jabatan, sehingga pesannya adalah

jangan pernah tidak membuat keputusan. Walaupun keputusan

tidak berbuat sesuatu, sesungguhnya itu adalah suatu keputusan

juga. Itu yang selalu saya ingat. Demikian sekilas kenangan saya

dengan Ibu Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih MPH, DR.PH

101


102


Kami senang

diperhatikan Ibu Menteri

Rita Djupri, B.Sc, DCN, M.Epid

Direktorat Surveilans Imunisasi Karantina dan Kesehatan Matra, Direktorat Jenderal P2 - PL

Kami masih ingat tanggal itu: tanggal 18 Agustus 2011, pukul

08.00 WIB, di di halaman Kantor Kementerian Kesehatan

RI Jalan H.R Rasuna Said, Jakarta. Menteri Kesehatan RI

didampingi pejabat di lingkungan Kementerian Kesehatan

meresmikan kegiatan apel siaga kesiapan kesehatan pada mudik

lebaran 2011. Ini adalah kegiatan rutin menjelang lebaran idul

Fitri.

Ada yang sangat berkesan dari apa yang dilakukan oleh

almarhumah pada saat itu, yang mungkin sangat berkesan bagi

seluruh tim, yaitu kesediaannya untuk memperhatikan peserta

terutama tim ambulans. Sebagai panitia, sedianya kami hanya

menyiapkan dua unit ambulans terdepan untuk diinspeksi secara

simbolis oleh ibu Menteri. Nyatanya semua ambulans –sebanyak

20 unit-- didatangi oleh Ibu, sekaligus ibu mewawancarai dokter

dan perawat yang bertugas, serta memeriksa kelengkapan

ambulans.

Ibu Menteri juga mendatangi peserta pameran, dan memberi

perhatian penuh. Beliau berbincang-bincang dengan peserta

pameran, dengan penuh senyum, seperti biasa.

Tidak terkatakan kebanggaan peserta apel siaga lebaran

pada hari itu karena mereka merasa sangat diperhatikan oleh

menterinya.

Dalam kondisi yang cukup terik pada siang hari itu, ibu bersikap

sangat lembut untuk menyapa kami. Hilanglah rasa lelah yang

datang sejak persiapan hari kemarin. Keteduhan sapa dan

kelembutan perhatian ibu tidak terlupakan. Semoga kelembutan

dan perhatian ibu kepada kami juga ibu dapatkan di rumah

abadi milik Tuhan. Amin

Sebagai tambahan, Kegiatan tersebut diikuti oleh 200 peserta,

20 ambulan, dan 5 kendaraan operasional khusus dari Dinas

Kesehatan DKI Jakarta, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kota

Tangerang, Kabupaten Bogor, Pusdokkes POLRI, PMI Pusat,

RSPI Prof. Sulianti Saroso, RSUP Cipto Mangunkusumo, RS

Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, RSUP Persahabatan,

Pusat Komunikasi Publik Kemenkes, Pusat Promosi Kesehatan

Kemenkes, Direktorat Imunisasi dan Karantina, Direktorat

Pengendalian Penyakit Tidak Menular, BBTKL-PPM Jakarta, KKP

KelasI Jakarta, KKP Kelas I Tanjung Priok dan Sekretariat Ditjen

PP dan PL. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan pameran yang

dilakukan oleh BBTKl-PP Jakarta dan Subdit Gagce dan Tisan Dit

PPTM Ditjen PP dan PL..

103


104


Menteri yang arif dan bijaksana

Subdit Bina Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut

Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar

Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan

Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, dr. PH adalah

seorang Menteri Kesehatan yang sangat peduli pada

kesehatan masyarakat. Baik kesehatan secara umum,

maupun kesehatan gigi dan mulut. Salah satu buktinya adalah

beliau menetapkan kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian

dari penyakit tidak menular bersama kesehatan indera dan usia

lanjut.

Tidak hanya itu, pada masa jabatan dr. Endang sebagai Menteri

Kesehatan, dibentuk sub direktorat yang mengurus kesehatan

gigi dan mulut secara keseluruhan, setelah Direktorat Kesehatan

Gigi diintegrasikan dengan direktorat lain pada tahun 2001.

Berdasarkan Permenkes No. 1144 tahun 2010 dibentuklah Sub

direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut. Dengan

itu maka dapat dilaksanakan pembenahan dalam pelaksanaan

program pelayanan kesehatan gigi dan mulut di daerah dan

pemerintah daerah memiliki acuan untuk pelaksanaan program.

Dr. Endang juga sempat beberapa kali membuka pertemuan

atau peresmian kegiatan yang terkait dengan gigi dan mulut

sehingga kesehatan gigi dan mulut tidak dipandang sebelah

mata. Karenanya kami kehilangan sosok beliau, seorang menteri

yang arif dan bijaksana dalam menentukan kebijakan-kebijakan

untuk mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri dan

berkeadilan.

Selamat jalan ibu Endang Rahayu Sedyaningsih.

Semoga apa yang sudah ibu wujudkan tidak terhenti sampai

disini, semoga masyarakat Indonesia semakin terjamin kesehatan

gigi dan mulutnya.

105


106


Pesan dan Kesan

Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung,

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan

Subdit P2 Diare dan ISP

Awal tahun 2009, para kasubdit diundang untuk rapat persiapan

riskesdas biomedis th 2010. Rapat dimulai jam 09.00 dipimpin

oleh Kepala Pusat Biomedis dan Farmasi Dr Endang. Setelah

rapat berlangsung, tiba waktunya kami diminta untuk membuat

usulan. Kami dari subdit mengusulkan beberapa kegitan

terintegrasi (antara lain: deteksi dini kanker serviks dengan HIV

dan IMS).

Setelah semua usulan dari dit PPTM selesai disampaikan oleh

wakil dari subdit, kemudian beliau menanggapi semua usulan.

Khusus untuk kanker beliau berkata bahwa program ini sangat

strategis. Dan… nanti setelah rapat selesai, beliau ingin bicara

dengan saya.

Setelah rapat selesai (untuk hari itu), saya pamit. Ternyata ibu

Endang ingin program deteksi dini terintegrasi tersebut benarbenar

direalisasikan. Ibu bicara sangat serius. Katanya, selama ini

kasus IMS pada perempuan sangat sulit dideteksi (ditemukan dini).

Sementara kita semua tahu bahwa IMS di Indonesia kasusnya

terus meningkat terutama sifilis dan GO. Dalam hati, saya

bergumam: ternyata ibu Endang masih sangat perhatian kepada

kaum perempuan yang terpinggirkan. Beliau juga berjanji akan

membantu dalam pengembangan program pengendalian

kanker secara khusus.

Tiba saatnya, beliau ternyata menjadi Menteri Kesehatan. Kami

semua para staf kemkes mengucapkan selamat kepada beliau.

Pada saat giliran saya menyalami, saya sempat membisikkan:

“Ibu jangan lupa pada program kanker, ya.” Beliau tersenyum

dan mengangguk, sambil berbisik: “Oh, ya, pasti....” Dalam hati

saya berdoa semoga ibu mendapatkan rahmat dan berkat Allah

dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Tahun 2010 saya menerima tugas baru di subdit diare. Kebetulan

ada tugas baru dari Pimpinan yaitu memulai Pengendalian

Hepatitis Virus. Tahun 2011, pada audiensi Pokja Hepatitis dengan

ibu Menkes, kembali saya bertemu dengan beliau. Ternyata ibu

masih ingat saya dengan senyumnya yang selalu menyejukkan

hati. Ibu bertanya, sekarang saya di mana? Saya jawab, di subdit

diare dan ispa yang ngurusi hepatitis juga. “O, baik. Bersama

dengan bu Sandra...,” kata beliau.

Berdasarkan pengalaman saya berkomunikasi dengan ibu, saya

mempunyai kesan bahwa beliau mudah mengingat orang yang

pernah dikenal. Buktinya, Ibu mengenal saya dan menyapa

setiap bertemu. Padahal saya berjumpa dengan ibu hanya dalam

tempo singkat, dan tak terlalu sering bila dibandingkan temanteman

lain.

Kesan kedua adalah ibu selalu berfikir secara komprehensif untuk

mengembangkan program kesehatan.

Sebagai menteri kesehatan, rasanya beliau sangat paham dan

perhatian pada masalah kesehatan di masyarakat. Dan sebagai

107


pemimpin, beliau memberi suasana sejuk bagi staf Kemkes,

sehingga mereka selalu siap mendukung kebijakan beliau.

Sedangkan bagi saya pribadi, dia menjadi penyemangat dalam

melakukan tugas yang kadang kala banyak benturan dengan

hati nurani. Tetapi, setiap kali ingat bahwa saya bekerja demi

suksesnya kinerja yang dipimpin oleh seorang perempuan yang

cerdas, kuat, dan tawakal saya sebut beliau memimpin dengan

HATI saya menjadi bersemangat lagi melaksanakan tugas sebagai

abdi negara dengan bekerja semaksimal mungkin.

Selamat jalan ibu Endang. Saya memang tidak kenal ibu secara

dekat tapi saya merasa hati saya dekat dengan hati ibu, sehingga

saya merasa sedih seperti saya kehilangan ibu saya sendiri. Saya

tahu Allah sangat mengasihi ibu sehingga Dia segera mengakhiri

penderitaan ibu di dunia ini begitu cepat.

Subdit P2 TB

Kami bekerjasama dengan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih,

MPH, Dr.PH pertama kali adalah saat program TB memulai

riset tentang TB-HIV di tahun 2002-2003. Di saat itu program

TB bekerjasama dengan Puslitbangkes sebagai pelaksana

penelitian. Ketika itu beliau terlibat aktif dalam penelitian ini

sebagai konsultan.

Lalu ketika beliau ditunjuk menjadi Menteri Kesehatan R.I pada

tahun 2009, Subdit TB sudah merasa beliau akan mendukung

Program Pengendalian TB di Indonesia. Hal ini dibuktikan,

beliau selalu mengalokasikan waktu pada kegiatan-kegiatan

penting program TB, dimulai dengan peringatan Hari TB Sedunia

(HTBS) 2010, Ibu menghadiri kegiatan Seminar Nasional TB

dimana program bekerjasama dengan PPTI dan Jalan Sehat

yang bekerjasama dengan PP Aisyiyah. Beliau berpesan agar

peringatan yang dilaksanakan melibatkan dan menyentuh

masyarakat sehingga pesan-pesan yang ingin disampaikan

melalui peringatan Hari TB Sedunia sampai kepada mereka yang

mengalaminya.

Pada tahun 2011, dilaksanakan Joint External Monitoring

Mission TB (JEMM TB), dimana para mitra baik internasional dan

nasional mengevaluasi pelaksanaan program pengendalian

TB di Indonesia. Di akhir misi, ketua misi, dr. Jaap F Broekmans

melaporkan hasil evaluasi dan memberikan rekomendasi kepada

Kementerian Kesehatan, dimana Ibu Endang mendengarkan

langsung dan mendiskusikan hasilnya dengan tim.

Beliau menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh

anggota tim JEMM yang sudah bekerja keras untuk melakukan

penilaian terhadap pengembangan program pengendalian

TB di Indonesia. Dan beliau langsung memberikan tanggapan

dan komitmen untuk menindaklanjuti rekomendasi ini untuk

kemajuan program.

Terutama tentang sistem akreditasi Rumah Sakit, dimana TB

menjadi salah satu penilaian penetapan akreditasi. Dengan

kebijakan ini diharapkan semua pelayanan kesehatan di

Indonesia terutama Rumah Sakit melaksanakan pelayanan TB

berkualitas sesuai DOTS untuk mengendalikan kasus TB MDR.

Pada peringatan HTBS 2011, di Istana Wakil Presiden, Strategi

Nasional Pengendalian TB 2011-2014 diluncurkan. Ibu Endang

menyerahkan paket Stranas ini kepada pelaksana, yang saat

itu diwakili oleh Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien

Emmawati.

Di tahun 2012 ini kami menyampaikan rencana kegiatan

peringatan HTBS dan beliau masih berkomitmen untuk hadir

meski saat itu beliau sudah sakit cukup berat. Menjelang

peringatan HTBS, ibu masih menyempatkan memberi masukan

dan memantau persiapan pelaksanaan meski dilaksanakan

beliau dari rumahnya. Dengan kondisinya yang kurang baik

akhirnya beliau meminta Wamenkes dan Dirjen PP&PL untuk

hadir dalam peringatan HTBS 2012.

Ketika rangkaian peringatan selesai dilaksanakan kami

108


mendapatkan kabar bahwa Ibu Endang menjalani perawatan

di RSCM. Kami semua berdoa semoga yang terbaik yang akan

terjadi bagi Ibu dan akhirnya 2 Mei 2012 Ibu Endang Rahayu

Sedyaningsih berpulang ke pangkuan Tuhan. Selamat jalan Ibu,

semoga apa yang telah dirintis dapat kami laksanakan dengan

baik demi kesehatan masyarakat Indonesia.


Subdit P2 Kusta dan Frambusia

Singkat, padat, penuh makna” adalah rangkaian kata yang dapat

mewakili kebersamaan Menteri Kesehatan Ibu Endang Rahayu

Sedyaningsih dengan program kusta dan frambusia.

Dukungan dan kehadiran Ibu Menteri ketika memperingati Hari

Kusta Sedunia (HKS) 2010 di Taman Menteng Jakarta, bukan

saja menjadi penyemangat bagi para tenaga kesehatan, namun

juga mengobati rasa rendah diri akibat stigma, yang ada pada

orang yang pernah mengalami kusta. Di sana, dengan penuh

kehangatan dan keceriaan, Ibu menari bersama mereka.

Dalam pertemuan Aliansi Nasional Eliminasi Kusta dan Frambusia

2010 di Jakarta, Ibu Menteri secara langsung menambahkan ke

dalam sambutannya suatu pesan penyemangat dalam upaya

eradikasi frambusia, dengan mengenang jasa almarhum Dr.

Kodhyat yang mendapatkan penghargaan Magsaysay dari

Filipina dalam keberhasilan Beliau mengembangkan program

Treponema Control Program Simplified (TCPS). Hal ini sungguh

menampakkan perhatian Ibu yang mendalam akan suatu ‘Kata

Sambutan’, serta sikap hormat terhadap para pendahulunya.

Seminar Kusta bagi Tenaga Kesehatan dalam rangkaian Peringatan

HKS dan tahun Pencegahan Cacat Kusta 2011 kembali mendapat

dukungan dan kehadiran Ibu. Dengan lugas dan berseni, melalui

pantun Ibu berpesan agar tenaga kesehatan sungguh berupaya

untuk mencegah kecacatan, akibat penemuan kasus terlambat

dan penanganan yang tidak tepat, pada orang yang mengalami

kusta.

Di sela kesibukannya, pada September 2011 Ibu berkenan

menyampaikan situasi dan strategi pengendalian kusta

Indonesia di TV Internasional Al Jazeerah. Secara sistematis dan

menarik Ibu menjawab seluruh pertanyaan. Di akhir wawancara,

kami mendapat giliran menjawab tantangan sekaligus pesan

dari Ibu untuk menuntaskan permasalahan kusta, termasuk

dengan meningkatkan pemeriksaan anak usia sekolah, demi

menjaga generasi penerus bangsa dari penularan kusta dan

segala konsekwensinya.

Awal tahun 2012, Seruan Nasional Mengatasi Kusta yang

ditandatangani oleh organisasi profesi kesehatan menjadi karya

indah terakhir Ibu bersama kami. Seruan ini sekaligus menjadi

pekerjaan yang perlu ditindaklanjuti dengan dedikasi dan

semangat yang patut kami teladani dari Ibu.

Subdit P2 ISPA

Sebagai seorang menteri, ibu Endang peduli dengan semua

program yang ada di Kemenkes. Beliau tetap mengupayakan

untuk hadir pada acara/kegiatan tanpa melihat apakah itu

program prioritas atau tidak. Hal ini kami dapat rasakan

ketika beliau membuka Hari Pneumonia Dunia (WPD: “World

Pneumonia Day”) di Bandung 2 November 2009. Acara ini

bersamaan dengan pencanangan pengobatan massal filariasis

tetapi di tempat berbeda.

Hari Pneumonia Dunia ini di fasilitasi oleh IDAI dengan

tema ”Pneumonia, The Forgotten Killer of Children”. Dalam

sambutannya Ibu Endang mengingatkan kembali bahwa

pneumonia adalah pembunuh Balita nomor 2 setelah diare

di Indonesia. Penurunan angka kematian pneumonia Balita

akan berdampak signifikan terhadap pencapaian MDGs. Beliau

menghimbau agar pengendalian pneumonia mendapat

perhatian secara proporsional sehingga penyakit pneumonia

tidak menjadi “the forgotten killer of children”.

Pesan lain pada saat WPD ibu menteri juga mengharapkan agar

109


program ISPA mempunyai baseline data insiden pneumonia

bekerjasama dengan Balitbangkes melalui Riskesdas mendatang.

Setelah pembukaan oleh Menkes, WPD dilanjutkan dengan

seminar yang dihadiri oleh berbagai profesi: dokter, bidan,

perawat Puskesmas, kader kesehatan, serta Tim Penggerak PKK

Kecamatan/Desadari Jawa Barat. Agenda seminar tersebut antara

lain tentang: overview dan rancangan global pengendalian

pneumonia (WHO), kebijakan pengendalian di Indonesia (Dirjen

PP dan PL, Prof. Tjandra Yoga Aditama), aspek klinis (IDAI), dan

peran PKK (Tim Penggerak PKK Jawa Barat).

Namun, beberapa hari setelah pembukaan WPD, beliau

mengirim email Dirjen PP dan PL yang selanjutnya diteruskan

kepada Direktur PPML dan Ka.Subdit ISPA. Kurang lebih isinya

mengingatkan kita agar tidak lupa mencantumkan sumber data

atau referensi. Memang dalam sambutan beliau ada beberapa

kalimat yang kami lupa mencantumkan sumber data/referensi,

dan yang luar biasanya beliau tahu bahwa sumber data tersebut.

Mencantumkan referensi atau penulis buku/artikel bukan hanya

sekedar untuk mengetahui sumbernya, tetapi lebih jauh lagi

yaitu merupakan suatu “acknowledgment” yang dapat berarti:

pengakuan atau kepemilikan terhadap sesuatu, hak (right), dan

ungkapan terima kasih penghargaan terhadap penulis. Terlepas

dari pengalaman beliau sebagai peneliti dan biasa menulis,

tetapi selayaknya kita harus menghargai karya orang lain dan

jangan sampai terjadi plagiarisme.

yang mengerjakan apa, yang penting adalah program dapat

berjalan dengan baik.

Beliau sangat memperhatikan teman-teman odha, dengan

beberapa kali menerima audiensi dengan mereka, membahas

mengenai ketersediaan ARV serta peningkatan akses terhadap

ARV.

Beberapa kegiatan pengendalian HIV-AIDS dan IMS yang

langsung melibatkan beliau di antaranya:

• Memimpin Rapat Koordinasi Pokja HIV-AIDS Bidang Kesehatan

pada bulan Februari 2011

• Peresmian Poli Layanan IMS “Rafflesia” di KKP Kelas III Bengkulu

pada tanggal 22 Maret 2011. (gbr 2)

• Membuka Musyawarah Nasional II Perhimpunan Konselor VCT

HIV Indonesia (PKVHI) di Bali pada bulan Maret tahun 2011

(gbr 1)

• Menerima tim external review program pengendalian HIV-

AIDS sektor kesehatan pada bulan Oktober 2011

• Menerima tim external review program Opioid Substitution

Therapy (OST) pada bulan Agustus 2011 (gambar 3)

• Pada Hari Kesehatan Nasional 2011, Ibu Menkes memberikan

Penghargaan Kesatria Bakti Husada kepada Bapak Toni

Suhartono (LSM di NTB yg bergerak dalam HIVAIDS). Ibu

Menkes senang sekali karena ada dari pihak masyarakat biasa

yg menerima penghargaan seperti itu.

Subdit P2 AIDS & PMS

Sewaktu masih bertugas di Badan Litbangkes, beliau banyak

terlibat dalam penelitian dan studi yang terkait HIV-AIDS dan

IMS. Selama menjabat sebagai Menkes, perhatian beliau pada

program pengendalian HIV-AIDS cukup besar. Di antaranya,

beliau adalah Ketua Pokja HIV-AIDS Bidang Kesehatan, satusatunya

pokja di Kemenkes yang diketuai oleh Menkes. Pada

rapat koordinasi Pokja yang pertama pada bulan Februari 2011,

beliau berpesan bahwa tidak perlu mempermasalahkan siapa

110


111


112


Kenangan dan Kesan

dari Sahabat & Kawan

Dokter Endang Rahayu Sedyaningsih. Siapa yang tidak mengenal nama ini. Sejak Kabinet Indonesia

Bersatu Jilid II diumumkan, nama beliau sering menjadi berita utama di media cetak dan media

elektonik. Terlebih jika berita itu terkait dengan kesehatan di Indonesia. Bagi warga Badan Litbangkes,

Ibu Endang adalah kebanggaan. Karena baru kali inilah seorang peneliti menjadi menteri. Yaa, seorang

peneliti murni. Biasanya yang jadi menteri adalah politisi, birokrat, atau dosen. Kenyataan ini memang

tidak bisa dipungkiri. Dalam sejarah pemerintahan di Indonesia, sudah berpuluh kali kabinet dibentuk,

ternyata dalam era reformasi ini seorang peneliti wanita, pintar dan cerdas, baik hati dan rendah hati,

santun, serta ramah kepada siapa saja; menjadi Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Dalam merayakan hari kelahiran Ibu Endang, 1 Februari 2011 (56 tahun yang lalu), Badan Litbangkes

menerbitkan sebuah buku kecil yang berjudul ”Endang Rahayu Sedyaningsih – Pemimpin yang Tegar

Menghadapi Masalah”. Buku kecil yang dicetak terbatas (50 eks) berisi kenangan dan kesan dari sahabat

dan kawan-kawan Ibu Endang semasa beliau menjadi warga Badan Litbangkes. Proses penyusunan buku

kecil berlangsung hanya 2 minggu. Ada 200 nama yang dikirim pesan pendek (sms) untuk dimintakan

kesan dan kenangan semasa bersama Ibu Endang. Sebagian besar menyatakan akan mengirimkan kesan

dan kenangan, namun yang masuk ke no HP dan email penyusun sekitar 15%. Terbatasnya waktu yang

menyebabkan tidak seluruhnya mengirimkan.

Berikut saya sampaikan kembali ”kenangan dan kesan” tersebut. Tidak seluruh kesan dan kenangan

yang ada pada buku kecil tersebut disajikan kembali di media virtual ini.

113


Indah Yuningprapti

Kepala Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat

Tradisional, Tawangmangu

Ibu Endang itu seorang peneliti sekaligus ilmuwan.

Dimulai dari pencarian metodologi sampai S3 di Harvard

University dengan meninggalkan keluarga, dan memilih menjadi

peneliti dengan mutasi ke Badan Litbangkes (tidak langsung

sejak awal di Badan Litbangkes).

Beliau tidak setengah-setengah dalam segala hal. Jika bilang

tidak bisa ya tidak bisa. Saya merasa terbantu sekali manakala

saya memerlukan telaahan teknis waktu saya masih di jajaran

Sekretariat Badan Litbangkes. Beliau pasti membantu walaupun

sibuk.

Meskipun sebagai seorang perempuan karir dan keras tekadnya,

Ibu Endang tetap seorang perempuan biasa. Bisa menangis

jika menyentuh perasaan hatinya, seperti juga saya dan para

perempuan pada umumnya.

Agus Suwandono

Mantan Ka. Puslitbang Pelayanan Kesehatan, Sekretaris

Badan Litbangkes, dan Ka. Puslitbang BMF. Kini Peneliti

Pusat 1 (dahulu Puslitbang BMF).

”Mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke 56 kepada dr. Endang

Rahayu Sedyaningsih, saya doakan agar sehat, panjang umur,

sejahtera, dan sukses. Kami kagum dengan ketegaran dan

kebijakan bu Endang menghadapi segala masalah dan isu-isu

yang sering memojokkan Ibu.

Semoga Allah SWT selalu mendampingi dan membimbing

perjalanan hidup bu Endang dan keluarga.

Amin, amin, amin.

Pudjiharti

Mantan Ka. Bidang Pelayanan Penelitian Puslitbang BMF/

Pensiunan Puslitbang BMF

Sepanjang saya kenal bu Endang, beliau adalah sosok yang cool,

calm, berkepribadian santun terhadap siapa pun, baik kepada

kawan maupun lawan (maksud saya kepada orang yang kurang

disukai). Kesantunan menjadi sikap dalam hidup beliau untuk

saling menghargai.

Dalam kesehariannya beliau sangat sederhana dalam berbusana

namun tetap tampil menarik, serasi dengan asesoris produk

Nusantara Indonesia, jelas beliau cinta Indonesia. Mengenai

adanya pandangan negatif yang timbul dan tenggelam

berkaitan dengan jabatan yang dipangku sekarang dengan

jabatan sebelumnya sebagai peneliti, ditanggapi dengan cool

dan cerdas. Kepribadian yang santun dan cerdas ini terbukti

telah menghantarkan beliau ke jenjang tertinggi di tingkat

kementerian.

Saya turut bangga dan Insya Allah beliau sukses membawa

Indonesia sehat. Selain itu, beliau jujur, tidak neko-neko, sangat

cocok dengan filosofi peneliti (jujur dan teliti), apa adanya.

Sebagai peneliti, tulisan-tulisan ilmiah beliau mudah dan enak

dibaca, saya selalu memperhatikan daftar pustaka atau kutipan

yang menjadi landasan teori dan analisis beliau, selalu up to date.

Anorital

Mantan Ka. Bagian Tata Usaha Puslitbang BMF, kini Peneliti

Pusat 1.

Sebelum beliau jadi Menkes, tidak banyak yang tahu siapa bu

Endang. Meskipun di dunia internasional nama beliau sudah

cukup lama berkibar dengan berbagai publikasi ilmiah, tapi

riwayat masa kecil dan keseharian beliau, banyak yang tidak

tahu. Sewaktu beliau menjadi Ka. Puslitbang BMF, pernah

suatu perusahaan percetakan yang khusus menuliskan riwayat

hidup tokoh yang berpengaruh di Indonesia; menawarkan

untuk menulis riwayat hidup beliau dengan membayar

sejumlah tertentu sebagai pengganti ongkos cetak. Tapi beliau

mendisposisikan kepada saya (saat itu saya sebagai Kepala

Bagian Tata Usaha) bahwa beliau berkeberatan. Keberatannya

bukan dalam hal uang yang diminta, melainkan beliau merasa

belum pantas masuk ke dalam buku yang cenderung promosi

diri. Ya .. bu Endang memang rendah hati, tidak pernah

membangga-banggakan diri, meskipun beliau adalah doktor

114


lulusan Harvard, Ahli Peneli Utama, pernah jadi pejabat eselon 2.

Tetap beliau tidak menunjukkan adalah yang ”paling”. Hal inilah

yang menyebabkan beliau tidak menderita post power syndrome

setelah beliau dilengserkan dari eselon 2 menjadi ”rakyat biasa”.

Beliau bersikap biasa saja. Hal ini ditunjukkan dengan kehadiran

beliau dalam setiap upacara di kantor Depkes Pusat, berbaur

dengan para peserta di lapangan terbuka yang panas disinari

mentari pagi. Padahal beberapa bulan yang lalu beliau berdiri

di depan di barisan para pejabat eselon 1 dan 2. Setelah beliau

menjadi peneliti kembali, habitat yang memang disukai bu

Endang, saat-saat awal setelah lengser dalam berbagai acara,

saya selalu memulai pidato dengan tidak lupa mengucapkan

”yang terhormat Ibu Endang”. Namun beliau berkeberatan. Hal

itu langsung diucapkan beliau bahwa ”tidak perlu lagi diucapkan

khusus untuk saya seperti itu”, kata beliau.

Sekitar awal 2009, di lemari dekat ruangan saya (lantai 2 gedung

Labdu Puslitbang BMF) tampak bungkusan besar yang ternyata

berisi buku sekitar 50 eks. Saya tertarik dengan buku tersebut

dan dengan seijin bu Endang; satu eksemplar buku tesebut

dihadiahkan kepada saya. Judulnya ”Sudjiran Resosudarmo

-- Ketekunan Membawa Hasil: Dari Anak Desa Menjadi Guru

Besar”. Penulisnya adalah Satimah Mardjana Sudjiran (isteri dari

Prof. Sudjiran Resosudarmo); dan salah satu editornya adalah

bu Endang yang merupakan anak kedua dari enam anak Bapak

Sudjiran Resosudarmo dan Ibu Satimah Mardjana. Dari buku

biografi Prof. Sudjiran inilah kita bisa mengetahui sepenggal

riwayat hidup bu Endang.

Endang Rahayu Sedyaningsih lahir di Jakarta pada tanggal 1

Februari 1955. Di rumah dan di lingkungan keluarga beliau,

panggilan sehari-hari bu Endang adalah ”Enny”. Beliau

merupakan anak kedua dari enam putera-puteri pasangan Prof.

Sudjiran dan Dra. Satimah Mardjana (seorang Pustakawan).

Dari enam bersaudara tersebut, saat ini yang hidup sampai

dewasa hanya empat anak. Anak yang tertua (Wahyu Nurjaya)

meninggal karena kecelakaan dan anak yang nomor empat

(Sri Wahyuni Lestariningsih) meninggal karena sakit menjelang

usia remaja. Sebagai anak kedua, oleh ayah dan ibunya, bu

Endang dibentuk untuk menjadi anak yang mandiri, berani,

dan pantang menyerah. Terlebih sejak Bapak Sudjiran dan

Ibu Mardjana kehilangan putra tertua mereka saat masih anakanak.

Kehilangan kakak laki-laki, membuat bu Endang terlecut

untuk membantu pekerjaan yang dilakukan oleh ayah beliau. Bu

Endang minta diajari mengemudikan kendaraan, mengganti ban

mobil, dan pekerjaan mekanik lainnya yang sejenis. Tidak heran

dalam usia 13 tahun, bu Endang sudah bisa mengemudi Jeep

Toyota kendaraan keluarga.

Dalam buku biografi ayahanda beliau, bu Endang ada menulis

bahwa jika beliau menghadapi berbagai kesulitan, maka beliau

akan teringat Nina (Sri Wahyuni Lestariningsih), adik beliau yang

beliau sayangi, meninggal dalam usia 16 tahun. Berikut cuplikan

tulisan beliau: ”Tetapi kalau saya menghadapi kesulitan di dalam

pekerjaan atau dalam segi kehidupan saya yang lain, di kala saya

hampir sampai pada titik putus asa, saya selalu teringat Nina. Pada

usahanya yang tidak kenal lelah. Pada cita-citanya yang tidak kenal

batas …......... Saya tidak akan pernah menyerah pada kesulitan.

Nina sudah memberi contoh”. ”Ya bu Endang, kami seluruh warga

Puslitbang BMF dan Badan Litbangkes berada di belakang Ibu”.

Jastal

Kepala Balai Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber

Binatang

Ibu Endang adalah peneliti senior yang suka berbagi ilmu

pengetahuan dan punya punya tutur bahasa yang lembut dalam

menyampaikan saran. Beliau adalah penengah bagi peneliti

senior lainnya, apalagi peneliti yunior jika mendapat tekanan

pertanyaan dari para reviewer atau peserta pertemuan. Beliau

memberikan masukan untuk perbaikan jika ada yang memang

harus diperbaiki dengan kata-kata yang sopan dan halus. Dalam

memberikan masukan terhadap proposal/protokol atau materi

yang disajikan selalu beliau memberikan contoh perbandingan.

Baru kemudian menanyakan dengan sopan kepada penyaji. Satu

115


hal yang sangat berkesan terhadap beliau adalah bahwa beliau

tidak sombong dan cepat akrab dengan semua tingkatan dan

usia di Badan Litbangkes.

Berikut suatu pengalaman pribadi saya.

Suatu ketika saya pulang dari Bandung menghadiri pertemuan

(saya lupa nama pertemuan itu) yang juga beliau hadir dalam

pertemuan tersebut. Setiba di rumah, saya menyampaikan ke

istri saya bahwa sekiranya Allah menganugerahi kita seorang

anak perempuan, maka saya akan berikan nama Endang

Sedyaningsih.

Istri saya bertanya; “Siapa itu?”

Saya jawab: “Beliau adalah seorang peneliti senior cantik; cantik

rupanya dan cantik hatinya, pandai dan tidak sombong, tidak

suka menjatuhkan penyaji/pembicara dalam suatu pertemuan.

Lembut tutur kata bahasanya dalam memberikan masukan.

Beliau sangat memperhatikan orang saat menyampaikan ide

dan pikirannya. Seandainya seluruh peneliti senior di Badan

Litbangkes seperti beliau maka mungkin Badan Litbangkes bisa

cepat maju”.

Kemudian istri saya menjawab; “Insya Allah”.

Semoga Ibu Endang cepat sembuh dari penyakitnya dan dapat

melanjutkan amanah yang diberikan.

Siti Isfandari

Sahabat Ibu Endang, Mantan Peneliti Puslitbang BMF, kini

Peneliti Pusat 4.

Menjadi salah satu teman bu Endang memberi banyak manfaat,

baik hubungan pertemanan maupun secara profesional. Banyak

teman berkata kepada saya “Mbak Is, anda sangat beruntung

punya hubungan cukup dekat dengan bu Endang”. Kenyataannya

saya memang merasa demikian.

Dari segi profesional, saya banyak belajar mengenai kerapihan

dan cara menulis yang fokus dan baik. Dari beliau lah pertama

kali saya belajar mengkaji dokumen yang bisa dikategorikan

sebagai kajian dokumen untuk kebijakan. Alhamdulillah, laporan

tersebut akhirnya dicetak menjadi buku. Sangat membanggakan

melihat nama saya berdampingan dengan beliau. Bu Endang

benar-benar guru yang baik. Padahal sebenarnya sebagian besar

buku tersebut ditulis ulang oleh beliau, tapi beliau mempersilakan

agar nama saya menjadi nama pertama. Dari peristiwa seperti ini

tampak jelas bahwa jiwa pendidik beliau sangat besar.

Bu Endang sangat bangga bila kader-kadernya menjadi mandiri,

karena itulah harapan beliau. Salah satu prinsip yang selalu

dianut oleh bu Endang adalah don’t put your eggs in one basket.

Beliau banyak mendidik kader yang siap pakai jika dibutuhkan

kapan pun. Jika beliau mendelegasikan wewenang, kita diberi

tanggung jawab sepenuhnya, atas semua hal, namun dengan

tangan terbuka menerima kita berkonsultasi jika menghadapi

kesulitan.

Hal lainnya adalah bu Endang sangat menghargai sesama.

Beberapa kali saya membantu melakukan analisis data,

yang memang merupakan kesenangan saya, untuk beliau

dalam rangka menulis manuskrip internasional. Saya sangat

berterimakasih sekali nama saya dimasukkan di dalamnya,

dan bu Endang memasukkan semua nama yang terlibat dalam

proses penyusunan manuskrip tersebut. Karena beliau lah

nama saya dapat tercantum dalam publikasi internasional. Atas

pengalaman ini, saya bertekad untuk dapat memasukkan tulisan

dalam publikasi internasional.

Satu lagi karakter bu Endang yang mengesankan, yaitu beliau

mau mendengar dan memberi perhatian atas masukan orang

lain. Dalam hubungan antar manusia, saya terkesan dengan

keramahan dan kerendahan hati beliau, sangat rajin menyapa

dan memberi senyum yang memberi kebahagiaan bagi yang

menerimanya. Selain itu saya mendapat ilmu bersolek juga

dari bu Endang yaitu cara membikin alis. Disarankan sebaiknya

116


dilakukan dengan cara mengarsir seperti melukis. Hasilnya, alis

saya cukup cantik.

Ada lagi suatu pengalaman saya dengan bu Endang yang sampai

saat ini masih selalu teringat oleh saya.

Pada suatu hari saya ditelpon bu Endang untuk membuat slide

tentang materi kursus kualitatif dengan praktek indepth interview.

Saya buat sebaik yang saya mampu, kemudian bu Endang

mengoreksi hasil kerja saya. Beberapa hari kemudian, bu Endang

mengajak saya untuk memberi materi tersebut pada peserta

kursus di Bandung. Metode yang dipakai sangat interaktif. Saya

dan bu Endang saling mengisi. Tapi yang mengagumkan adalah

bu Endang memberikan kesempatan kepada saya seluas-luasnya

dan beliau memberikan pendalaman jika penjelasan saya kurang

mantap. Peserta sangat puas dengan materi yang kami berikan.

Betul-betul pengalaman yang berharga bagi saya.

Lutfah Rif’ati

Peneliti Pusat 1 (dahulu Puslitbang BMF)

Enam tahun lalu pertama kali kami bertemu, beriring menuju

NAD pasca tsunami. Kesan pertama, Ibu ini sangat energik!

Ternyata ibu bersuamikan guru saya saat belajar di FKUI 10

tahunan yang lalu. Dunia memang selebar daun kelor. Hari

ketiga di Banda Aceh, NAD.

Saat makan malam bersama di rumah makan dekat basecamp

tiba-tiba bumi bergoyang, piring dan gelas berseluncur

di atas meja, kami bergegas keluar gedung dan, “air naik, air

naik”, orang-orang berteriak panik. Bergerombol orang panik,

berlarian merangsek ke arah tengah kota melintasi kami yang

terpaku kebingungan. Wajahku pias, otak pun jadi kurang waras.

Pendamping lokal yang bergelar “Pak Panglima” membawa

kami ke bawah pohon besar di halaman depan base-camp dan

menginstruksikan jika air sampai ke daerah ini, maka kami harus

meraih dahan pohon tersebut agar tidak terseret arus tsunami

susulan. Tidak puas dengan petunjuk Pak Panglima, saya usul

untuk mengikuti arus manusia yang mengarah ke dataran lebih

tinggi, Blang Bintang.

Dengan pitch control yang sangat baik Ibu berucap: “Lulu, sabar,

kita siap saja disini dan berdoa semoga semua baik-baik saja,” .

Melelehlah ketegangan saya dan makin deras doa mengalir dari

lisan saya. Alhamdulillah tsunami tidak hadir lagi.

Perjalanan karir Ibu adalah ayat kauniyah Allah subhanahu

wa ta’ala, Allah yang mengajarkan kepada manusia tentang

mudahnya Allah membolak-balikkan nasib hamba-Nya semudah

membalik telapak tangan.

Eko Raharjo

Mantan Peneliti Puslitbang BMF/Pensiunan Puslitbang BMF

Bu Endang telah mengajak dan menunjukkan kepada saya

bahwa pekerja seksual komersial (PSK) itu juga manusia yang

tetap harus kita hargai harkat kemanusiaannya walau ada

sisi hitamnya karena kebanyakan dari mereka (PSK) adalah

korban dari ketidak-bertanggung-jawaban kaum lelaki. Mereka

menjadi PSK untuk sekedar “menyambung nyawa” buat diri dan

keluarganya.

Selamat Ultah Bu Endang, semoga Allah memberikan kesehatan

dan ketenteraman batin kepada Ibu.

Supraptini

Peneliti Pusat 3 (dahulu Puslitbang ESK)

Sebagai peneliti, beliau merupakan peneliti yang sangat

bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diembannya,

disiplin, tidak kenal lelah, dan tidak mudah mengeluh atau

menyerah.

Sebagai teman, beliau sangat baik, ramah, dan bersahabat.

Tidak pilih-pilih teman, dan sangat peduli dan mau membantu

teman bila dibutuhkan. Sebagai Menkes, beliau cepat tanggap,

tegas, dan memperhatikan rakyat terutama untuk kesehatan

masyarakat luas.

117


Ajat Sudrajat

Staf Sub Bagian Tata Usaha Sekretariat Badan Litbangkes

Ada sedikit cerita yang dapat saya sampaikan pada saat Ibu

Endang RS masih sebagai Peneliti/Kepala Puslitbang BMF.

Kejadian ini sekitar bulan November 2008 pada saat itu Ibu akan

menghadiri meeting di New Orleans Lousiana, USA tanggal 7-11

Desember 2008. Seperti biasa saya mengurus paspor untuk exit

permit dan visa. Selama proses pegurusan exit permit tersebut

saya belum lapor perkembangan pengurusan paspor. Saya

selalu menghindar bila bertemu dengan Ibu, khawatir ditanya

karena saya belum mencek perkembangan proses pengurusan.

Hari berikutnya saya ada di Depkes untuk urus paspor. Tidak

disangka saya malah bertemu dan satu lift dengan Ibu. Beliau

tidak bertanya, tapi untungnya tidak ada masalah dengan proses

pengurusan paspor Ibu.

Telly Purnamasari Agus

Pejabat Eselon 4 Pusat 1/Peneliti Pusat 1

(dahulu Puslitbang BMF)

Kenangan mengikuti diklat PIM IV menjadi catatan terindah

dalam perjalanan karirku.

Pagi hari sebelum acara pembukaan, seluruh peserta diklat

sarapan di ruang makan. Setelah mengambil makanan, aku

duduk di meja bundar bersama dua peserta lainnya. Baru saja

akan menyuap santapan pertama, aku sangat terkejut, tepat

di hadapanku terpampang foto seorang wanita anggun yang

sangat aku kenal. Bu Endang!!.

Tepat pukul delapan pagi seluruh peserta memasuki ruang diklat.

Setelah mengisi absen, aku berjalan ke depan kelas, dan …..

senyum itu ada lagi!. Bahkan dengan ukuran X banner yang lebih

besar, berada di sisi kanan panggung tepat di sebelah podium.

Aku duduk di baris kedua dari depan. Acara pembukaan, seluruh

peserta yang mengenakan baju hitam putih berdiri menyanyikan

lagu kebangsaan. Di ruang yang cukup besar ini, aku hampir

meneteskan air mata saat mengumandangkan lagu Indonesia

Raya. Dalam hikmatnya lagu kebangsaan dan berdiri di ‘hadapan’

ibu, mataku tidak lepas memandangi foto itu sampai lagu usai.

Dalam hati aku berucap “Aku akan berusaha menjalankan diklat

ini dengan baik, dan membuat ibu terus tersenyum”.

Tidak terasa sampai di penghujung waktu berakhirnya diklat.

Timbul rasa sedih karena harus berpisah dengan 38 teman yang

sudah seperti sanak saudara. Acara penutupan, seluruh peserta

mengenakan setelan jas hitam. Dengan bangga dan semangat

kami menyanyikan Mars Angkatan IX Diklat PIM 4 tahun 2010.

Aku juga bangga melihat 4 orang teman yang berdiri di depan

kelas, salah satunya adalah peserta dari Litbangkes yang masuk

dalam peringkat lima besar. Saat diumumkan peringkat pertama,

aku tidak percaya namaku dibaca dengan jelas dan dipanggil

ke depan kelas. Aku baru yakin setelah teman yang duduk di

sebelahku mengulurkan tangannya memberikan selamat.

Dengan membalas senyum Ibu Menkes, aku maju ke depan kelas

menerima menerima map hijau berisi sertifikat yang bertuliskan

”peringkat pertama”. Selamat ulang tahun Ibu, do’a kami selalu

untuk Ibu dan keluarga, agar Ibu terus tersenyum memancarkan

kekuatan aura.

Tonny Murwanto

Mantan Peneliti Puslitbang BMF, kini Peneliti Pusat 3.

Ibu Endang adalah seorang pemikir yang penuh dengan ide-ide

baru. Beliau memiliki empati yang tinggi dan penuh perhatian

terhadap mitra/rekan kerja maupun staf. Beliau juga dapat

memberikan sebuah solusi terhadap permasalahan yang sedang

dihadapi oleh staf/rekan kerja. Untuk itulah dalam kesempatan

berbahagia ini saya hanya dapat mendoakan, semoga Ibu Endang

dapat menjalankan tugas yang diemban sebagai sebuah amanah,

serta diberikan ketabahan, kesehatan, dan kesuksesan selalu.

Sri Idaiani

Mantan Peneliti Puslitbang BMF, kini Peneliti Pusat 2.

Ibu Endang adalah sosok yang ingin melihat peneliti/staf maju

bersama beliau. Tahu kelebihan serta kekurangan seseorang.

118


Semua orang diberi kesempatan serta diberi jalan untuk maju

bersama. Sikap seperti ini banyak menginspirasi kami untuk

lebih memahami kehidupan ini.

Rita Marletta Dewi

Pejabat Eselon 4/ Peneliti Pusat 1

Ibu Endang sangat baik, sederhana, dan kekeluargaan. Selalu

membimbing para peneliti yunior dan menolong tanpa pamrih.

Saat sebagai Ka. Puslitbang BMF beliau bicara halus dan santai,

tidak sombong dan tidak pernah merendahkan orang lain.

Mengagumkan. Semoga Tuhan memberkati Ibu Endang.

Laurensia Konadi

Peneliti Pusat 1 (dahulu Puslitbang BMF).

Ibu Endang RS adalah sosok pemimpin yang berdedikasi tinggi

untuk masyarakat, pekerja keras dan menghargai kerja sesama.

Semoga Tuhan YME selalu melindungi beliau.

Armedy Ronny Hasugian

Mantan Peneliti Puslitbang BMF, kini Peneliti Pusat 2.

Dari tiga peneliti senior yang langsung membimbing saya, salah

satunya adalah Bu Endang. Saya ingat waktu beliau mengajarkan ke

saya cara membuat protokol kejadian luar biasa (KLB) sekitar tahun

2005. Saat itu beliau langsung mendampingi saya, mendidik dan

mengarahkan dengan baik sehingga membuat saya mengerti

tahapan pembuatan dan isi protokol tersebut dengan baik.

Nurendah Pracoyo

Peneliti Pusat 1 (dahulu Puslitbang BMF).

Pengalaman yang sangat berkesan buat saya pribadi antara

lain adalah berkat bantuan beliau saya bisa mengambil S2.

Saat menyusun thesis beliau memberi kesempatan untuk

menggunakan data sekunder yang sebetulnya sedang dalam

penulisan, namun beliau menganjurkan menganalisis data

tersebut dari sisi lain. Selain itu beliau memberikan kesempatan

kepada saya untuk melakukan penelitian sehingga saya bisa

menyisisihkan dana guna membayar uang kuliah, karena saya

tidak didanai BPPSDM.

Dari segi moril, beliau mendukung saya untuk maju terus dalam

berkarir di saat saya baru mengalami kesedihan. Saya banyak

sekali berhutang budi kepada beliau, tapi belum bisa membalas

kebaikan beliau, sehingga rasanya malu untuk bertemu karena

belum ada kesempatan yang berharga untuk membalas

kebaikan beliau. Hal yang bisa saya lakukan saat ini adalah selalu

mendoakan semoga beliau selalu dilindungi, diberi kekuatan

dalam mengemban tugas Negara, dijauhkan dari fitnah, dan

selalu diridhoi, diberkahi sepak terjang beliau, dan diberi

kesehatan yang prima dalam merangkai kemajuan di bidang

kesehatan. Amin yaa rabbal ’alamin.

Aep Syaefudin

Mantan Sekretaris Ka. Puslitbang BMF

/Pensiunan Puslitbang BMF

Mengenai keseharian Ibu Endang, sepanjang yang saya ketahui

dan pahami selama beliau menjadi Ka. Puslitbang BMF dan

saya sebagai staf yang paling dekat dengan beliau kurang lebih

selama 1 tahun adalah sebagai berikut :

· Beliau sangat konsisten terhadap waktu, sangat menghargai

waktu, datang ke kantor pagi pukul 07.30 dan pulang paling

cepat pukul 19.00.

· Sangat teliti terhadap surat–surat baik yang masuk atau keluar,

sedikit saja ada kesalahan ketik (kurang titik atau koma) surat

harus diperbaiki (terutama untuk surat keluar).

· Beliau bersikap sangat menghargai karya orang lain.

· Bersikap tidak memperlihatkan raut muka marah, hanya sekali

beliau marah pada saat rapat dengan peneliti. Mungkin sangat

menyinggung kebijakan beliau.

· Kesukaan beliau adalah bunga anggrek, untuk itu di ruang

kerja beliau harus ada bunga anggrek segar.

· Beliau sangat suka makan es krim Conello dan rujak buah. Di

kulkas selalu saya siapkan es krim.

· Beliau jarang makan nasi, kalau makan siang hanya makan mie

ayam dan jus alpukat.

119


120


Endang,

Menteri Kesehatan Terbaik

Prof.Dr. Agus Suwandono, MPH, Dr Ph

Peneliti Pusat 1

Saat itu akhir bulan Januari 2005. Saya sebagai Ka Puslitbang

Pemberantasan Penyakit amat sibuk sekali selain dengan

Tsunami, pembangunan Lab Darurat di Banda Aceh, terjadi

pula serangan DB, chikunguya, diare di beberapa daerah dan

ditambah dengan ancaman virus H5N1 yang saat itu belum

menentu. Sehingga saya betul-betul membutuhkan bantuan

seseorang yang bisa membenahi dan mengatur lab yang baru

saja berdiri di Banda Aceh. Walaupun saat itu sebagian besar

peralatan dan reagens disediakan oleh NAMRU 2, juga sebagian

tenaga, tetapi kami pegang prinsip bahwa lab itu adalah lab

Pemerintah Indonesia, jadi bukan lab NAMRU 2. Sehingga

benar-benar perlu upaya dan management kesisteman yang

bisa langsung membantu Tim Penanggulangan Masalah Pasca

Bencana Tsunami di Aceh, juga Pemda Aceh dan Depkes.

Kebetulan bu Endang selesai cuti dan waktu ditanya apakah

bisa bantu untuk pembenahan dan penyempurnaan

tatalaksana dan administrasi spesimen di Banda Aceh,

dengan catatan bahwa kami hanya punya dana yang tidak

banyak dan mungkin sering terlambat & hutang. Tanpa

ragu-ragu beliau langsung menyatakan kesanggupannya.

Begitu ditugaskan ke sana, beliau membenahi semuanya. Beliau

juga pulang-balik ke Jakarta untuk mengatur ketenagaan,

koordinasi dengan saya, dan Dit Jen P2PL. Hasilnya memang

dapat dirasakan dalam waktu hanya kurang lebih 1,5 bulan: pada

bulan Maret 2005, administrasi dan logbook spesimen sudah

ditata sedemikian rupa sehingga berjalan dengan baik. Sistem

pelaporan dan pencatatan dibuat sedemikian rupa secara kreatif

dan inovatif. Permasalahan kerja sama dengan sektor-sektor dan

pihak asing di Banda Aceh dan internal Depkes telah sebagian

besar teratasi berkat pendekatan dan kepemimpinan beliau.

Jadi, memang, kalau sudah diberi tanggung jawab, beliau pasti

akan mengupayakan hal yang terbaik tanpa mengenal lelah

dan pamrih. Semua dikerjakan dengan sebaik-baiknya dan

tanpa mengeluh. Karena itu, tidak heran jika beliau dan tim

bisa mencapai hasil terbaik pula. Saya sebenarnya tahu, beliau

banyak menghadapi hambatan, termasuk hambatan datang dari

internal birokrasi Puslitbang kami, susahnya peneliti, SPJ, dan

sumberdaya lainnya. Tetapi beliau tidak pernah mengeluhkan

hal itu kepada saya, beliau mengatasinya dengan gaya beliau.

Pertengahan Maret 2005, kira-kira setelah 1,5 bulan proyek

berjalan, bu Endang memberikan laporan lengkap kepada saya

121


tentang apa yang sudah dikerjakannya. Wah, saya salut dan

berterima kasih sekali kepada beliau. Sebab, laporannya begitu

lengkap dan detail tentang apa yang dikerjakannya, termasuk

laporan hasil pemeriksaan spesimen selama itu lengkap dengan

analisisnya. Beliau juga tak lupa memberikan usulan tindak lanjut

dan kesinambungan lab di Banda Aceh. Laporan itu telah kami

publikasikan pada majalah Media Badan Litbangkes pada tiga

bulan setelah itu (bulan Juli 2005).

Demikian tambahan dari saya tentang bu Endang, yang

pernah menjadi peneliti saya, teman sesama peneliti saya

dan terakhir menjadi Menteri Kesehatan saya yang terbaik.

Selamat jalan bu Endang. Saya tetap kagum, salut dan

respect dengan segala yang telah dilakukan beliau. Sampai

jumpa di suatu saat yang dikehendaki oleh Allah SWT.

122


Sedikit Bicara

Terkesan Selamanya

Dr. Qomariah Alwi, SKM, M.Sc

PDBK’ers Kab. Kupang

Pergaulan saya dengan bu Endang tidak intens. Kami

bertemu hanya sekali-sekali, dan bicara pun tidak banyak.

Namun, kesan yang saya peroleh dari pertemuan yang

sedikit itu tidak akan pernah saya lupakan selamanya. Beliau

memiliki pemikiran kreatif, dan selalu memberikan tanggapan

konstruktif yang spontan. Tanggapan beliau terhadap sesuatu

hal sangat mengena dan bermanfaat bagi siapa saja.

Suatu ketika, kalau tidak salah di tahun 2000, dalam suatu

pertemuan sebagai sesama peneliti, kebetulan kami duduk

bersebelahan di kursi barisan tengah. Di sela-sela presentasi

yang ditayangkan, saya memberanikan diri untuk berbisik

mengatakan bahwa saya sudah membaca buku karangannya

berjudul “Perempuan-perempuan Kramat Tunggak”.

Saya katakan buku itu menarik dan inovatif. Saya ingin bisa

menulis buku seperti itu. Beliau pun berbisik, menceritakan

bahwa buku itu berasal dari disertasinya sendiri yang

dimodifikasi menjadi buku ilmiah populer sehingga bisa dibaca

untuk umum. Mendengar kata disertasi, saya teringat dengan

masalah saya sendiri saat itu yaitu sedang mencari-cari judul

disertasi. Sudah berapa judul saya karang dan sekalian mencoba

membuat tujuan dan kerangka konsepnya, namun masih belum

sreg/pas. Kemudian masalah ini saya ceritakan kepada beliau,

siapa tahu ada tanggapan. Katanya: “Kalau ada sponsor kenapa

tidak menggali informasi tentang ibu-ibu Papua, saya dengar

mereka kalau melahirkan harus pergi ke hutan, betulkah? Kalau

betul, mengapa? Ini menarik untuk diketahui, sekalian menggali

informasi yang berkaitan dengan itu, misalnya tentang pelayanan

kesehatannya”.

Pemikiran ini timbul tenggelam di hati saya. Cukup besar

hambatannya untuk mewujudkan gagasan itu. Pertama, ini

harusnya studi etnografi sedangkan saya bukan antropolog jadi

harus belajar banyak. Kedua, sponsornya dari mana? Di Badan

Litbangkes, pada waktu itu, dana yang disediakan untuk satu

penelitian maksimal Rp 30 juta. Itupun susah sekali.

Akhirnya ide itu saya lupakan dan mencari-cari alternatif lain.

Suatu ketika dalam pembicaraan di telpon dengan anak saya

yang bekerja di PT Freeport Indonesia, dia menawarkan kalau

saya mau jalan-jalan nengok mereka sekeluarga di sana. Saya

katakan bagaimana kalau ibu melakukan penelitian di sana,

apakah PT FI ada dananya. “Coba aja ibu ajukan, kalau tidak salah

dana untuk community research tersedia, ini alamat emailnya dan

ini nama kepala community research PT FI”. Iseng-iseng surat ke

123


PT FI pun saya layangkan. Kemudian dalam suatu kesempatan

browsing internet saya membaca ada penawaran pendanaan

dari salah satu foundation dari negeri Belanda bagi yang akan

melakukan penelitian terkait kesehatan ibu, maka iseng-iseng

surat permohonanpun saya layangkan.

Singkat cerita setelah kedua sumber tersebut menanggapi surat

saya barulah saya serius kembali mengingat apa yang disarankan

bu Endang dan terfokus membuat proposalnya. Selain itu ada

juga respon dari Badan Litbangkes untuk membiayai penelitian

bagi pembuatan disertasi sebesar Rp 27 juta, pak Ano yang

mengaturnya waktu itu. Selama dalam proses penelitian, dalam

kesempatan hanya sekali lewat ketemu bu Endang. Saya katakan

kepada beliau, “Bu, saya jadi ikuti saran ibu untuk disertasi saya.”

Beliau tersenyum, dan menjawab: “O, ya, bagus.”

Hari berganti hari, tahun-tahun pun berlalu. Suatu saat di tahun

2003 saya memberanikan diri mengetuk kamar kerjanya dengan

membawa lukisan kulit kayu Suku Kamoro Kabupaten Mimika

yang sudah dibingkai 0,5 x 0,5 m. Saya ingin sekali memberikan

kenangan kepada beliau tetapi saya harus hati-hati karena saya

dengar beliau kurang begitu suka dibawakan “sesuatu”.

Saya pikir kalau ditolak tidak apa-apalah yang penting saya sudah

berusaha. Ternyata beliau tersenyum riang memperhatikan

lukisan dengan kanvas kulit kayu itu .“Cantik, ya. Kreasi penduduk

asli,” katanya membuat hati saya tidak jadi kecewa. Belakangan

saya ketahui, ketika saya mengintip kamar kerjanya, lukisan itu

sudah terpasang di dinding.

Dalam kesempatan itu saya juga membawa tulisan saya yang

dimuat di Rubrik Opini Surat Kabar Sinar Harapan yang berjudul

“Manajeman HIV AIDS di Kabupaten Mimika”. Saya tahu beliau

adalah pakar HIV AIDS. Saya mencoba membuat tulisan itu

meski sama sekali tidak terkait dengan disertasi saya tetapi saya

kumpulkan datanya sambil mengumpulkan data untuk disertasi,

lalu mencoba memodifikasinya menjadi tulisan ilmiah populer

yang dapat dibaca untuk umum. Kembali ia tersenyum dan

berkata, “Tulisan seperti ini sangat bermanfaat dan dibutuhkan

semua kalangan.”

Roda waktu berputar begitu cepat rasanya. Suatu ketika beliau

menjadi Kapuslitbang Biomedis dan Farmasi, atasan saya. Pada

waktu itu saya agak frustrasi dengan kelanjutan studi saya

terkait dengan kebijakan Direktur Pasca Sarjana. Menurut kabar

ada sampai 700-an mahasiswa pasca sarjana yang terhambat

studinya (termasuk saya).

Saya pun malas ke kantor karena tidak ada yang bisa dikerjakan,

proposal-proposal penelitian tidak diterima bertahun-tahun,

fasilitas kantor pun tidak mendukung untuk membuat/

mengarang tulisan-tulisan. Ini masa yang mungkin disebut

litbang = sulit berkembang. Maka saya pun banyak mengurus

yayasan yang mendirikan Stikes. Nah, lalu saya mendapat kiriman

surat cinta dari bu Endang agar menghadap beliau pada tanggal,

hari, dan jam yang telah ditentukan.

Saya datang dengan berbagai perasaan enak tidak enak, enak

karena saya mendapat kesempatan ketemu dan berbicara

dari hati ke hati, tidak enak karena mungkin kelakuan saya

mengecewakan beliau.

Ternyata beliau kembali tersenyum dan malah tertawa ketika

mendengar uraian saya tentang Direktur Pasca Sarjana karena

nampaknya beliau sudah tahu tentang itu. Ayah bu Endang

pernah menjadi Rektor Universitas Negeri Jakarta, mungkin

sedikit banyaknya beliau juga masih mengikuti perkembangan

universitas itu.

Bicara tentang proposal litbang yang “litbang” dan fasilitas

peneliti yang kurang kondusif, beliau nampak memahami.

Namun ketika saya katakan, “mungkin saya kurang cocok bekerja

di sini, Bu.” Beliau menjawab, “Kalau masalah tidak cocok, saya

rasa saya juga tidak cocok di sini bu Qom. Tetapi kenyataannya

124


kan kita sudah di sini. Jadi harus kita jalani....”

Bulan September 2009 pun datang menjelang. Suatu

kesempatan saya bertemu dan bicara lagi dengan beliau. Saya

tidak menyangka dan tidak tahu kalau bu Endang hadir dalam

sidang terbuka saya tersebut. Pada saat bersalaman saya

mengucapkan banyak terima kasih, ternyata beliau datang

sendirian saja. Katanya, “Tadinya mau sama Iis tapi ternyata Iis

ada kegiatan lain....”

Selamat jalan motivatorku, guruku, sahabatku.... Mudahmudahan

Allah mempertemukan kita di lain kesempatan.

125


126


Beliau Mengajarkan

Kami Pro Rakyat

Direktorat Bina Kesehatan Jiwa

Penunjukan Ibu Endang Sedyaningsih selaku Menteri

Kesehatan Kabinet Bersatu II pada bulan Oktober 2009

sungguh membuat ‘surprised’’ banyak pihak, tidak

terkecuali kami. Banyak yang tidak tahu betul siapa Ibu Endang

sesungguhnya, sekalipun beliau pernah menjadi Kepala Pusat

Biomedik Badan Litbangkes 2007. Bagi kami yang mengenal

beliau sebagai peneliti sebelumnya, beliau adalah sosok cerdas

yang low profile, sederhana dan sangat ramah. Gambaran

ini ternyata tidak berubah setelah beliau menjadi Menteri

Kesehatan, bahkan beliau menjadi semakin keibuan, serasi dan

anggun dalam bertindak dan berpenampilan.

Dalam berbagai rapat yang beliau pimpin, perhatian yang

diberikan pada apa yang dipaparkan atau dilaporkan sangatlah

besar. Karena dasarnya adalah seorang peneliti, maka sejak

beliau menjadi Menteri, paparan yang mengandung indikator,

angka, atau capaian tidak bisa lagi dicantumkan tanpa acuan

yang jelas. Dengan sangat kritis, beliau akan bertanya secara

detil dari mana angka itu diperoleh, mengapa demikian, dan lain

sebagainya. Kesenangan beliau dalam menulis juga segera dapat

kami rasakan ketika berbagai dokumen kebijakan yang harus

diterbitkan dengan SK Menkes di tahun 2010 dikoreksi langsung

oleh beliau. Kami terkesima saat itu, mengetahui bahwa Ibu

Endang sungguh-sungguh membaca setiap dokumen kebijakan

yang akan dikeluarkan.

Sejak kepemimpinan Ibu Endang, Kementerian Kesehatan

memiliki tagline atau nilai-nilai, di luar visi dan misi, yaitu Pro-

Rakyat, Inklusif, Responsif, Efektif dan Bersih. Beliau sangat

konsisten dalam menerapkan nilai-nilai tersebut. Ketika ada

masalah, kami diajak untuk berpikir out of the box. Kami ingat saat

rapat Pokja HIV/AIDS Kementerian Kesehatan pada Februari 2011,

dimana beliau duduk sebagai ketuanya, beliau menggarisbawahi

tentang pentingnya bersikap inklusif dalam penanggulangan

HIV/AIDS. Demikian kata-kata yang kami ingat: “Tidak penting

itu didanai atau merupakan penelitian siapa, tetapi yang penting

adalah data yang dihasilkan dapat digunakan oleh kita semua.

Mengapa harus mengeluarkan uang rakyat untuk kegiatan yang

sama apabila ada pihak lain telah melakukan hal tersebut. Ingat,

kita jangan eksklusif. Kementerian Kesehatan tidak akan mampu

menjalankan programnya apabila eksklusif. Bersikaplah inklusif,

rangkul semua pemangku kepentingan”.

Pada awal tahun 2010, ketika terjadi perubahan struktur pada

Kementerian Kesehatan, Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan

Jiwa (saat itu) direncanakan untuk diturunkan menjadi setingkat

eselon 3. Sesungguhnya hal ini tidak hanya berlaku pada Dit Bina

Keswa, melainkan pada berbagai Direktorat lainnya, termasuk

Direktorat Jenderal. Ketika email kami luncurkan kepada beliau,

beliau pun menerangkan bahwa: “Fungsi keswa yang sudah

berjalan selama ini akan diusahakan supaya tetap ada. Mohon

dimengerti yang meminta Direktorat khusus cukup banyak, saya

127


tentu tidak bisa akomodasi semua itu. Prinsip kita sekarang, di pusat

hanya steering dan stewarding, jadi harusnya sedikit saja orangnya.

Yang penting fungsi, bukan struktur.” Saat itu perasaan kami sedih

dan kecewa namun seiring dengan berjalannya waktu, kami

mulai memahami mengapa wacana penurunan struktur itu

sempat dilontarkannya. Syukur Alhamdulillah, beliau tidak jadi

melikuidasi Dit Bina Keswa dan kami akan membuktikan bahwa

kami mampu membantu Kementerian Kesehatan langsung

maupun tidak langsung dalam mencapai indikator kesehatan

yang telah ditetapkan.

Tidak sampai 3 tahun kami dipimpin beliau, namun banyak halhal

prinsipil telah beliau tanamkan, terutama dalam mengubah

etos kerja kita semua menjadi lebih pro rakyat, peka terhadap

kebutuhan rakyat. Semoga ini semua akan terus kita pertahankan

sampai kapanpun.

Pada saat-saat terakhir sebelum Ibu dirawat, kami sekalipun

tidak pernah melihat penurunan semangat dan kinerja Ibu.

Langkahnya tetap tegar dan pasti, memimpin kami tanpa

pamrih. Demikian pula saat pengunduran dirinya sebagai

Menteri Kesehatan karena penyakit yang dialaminya beberapa

hari sebelum kepergiannya.

Kini ibu telah tiada selamanya, namun kenangan akan dirinya

senantiasa melekat pada ingatan kami. Figur pengayom

yang menenangkan dengan semangat juangnya akan terus

menyemangati kinerja dan harapan kami kedepan.

Selamat jalan Bu Endang, insya Allah do’a kami dan amal

ibadahmu akan mengantarkanmu ke tempat yang terindah di

sisi Allah SWT.

128


Dia Ditakdirkan Jadi Orang Besar

Farida

Peneliti

Dr. Endang selagi menjadi peneliti dan Kepala Pusat

Biomedik dan Farmasi biasa kita sapa Bu End. Dia orang

yang taat aturan, mengganggap semua orang baik,

dan tidak punya dendam.

Taat aturan. Saat saya diberi kepercayaan satu tim dengan

beliau, apa yang menjadi tugas saya, beliau tidak pernah ikut

campur kecuali kalau saya tanya. Beliau juga tidak pernah minta

fasilitas atau apapun untuk kepentingan pribadi meskipun saya

yang memegang anggaran cukup besar.

Menganggap semua orang baik. Kadang-kadang orang yang

sudah kelihatan belangnya tetap dia anggap baik. Dia tetap

memberi kesempatan berbuat baik. Tidak semua orang bisa

seperti itu.

Tidak punya dendam. Beliau tidak punya dendam dengan

orang yang sudah men-zolimi. Saat beliau menjadi Menteri, saya

mengira-ngira siapa saja yang pernah menzolimi beliau yang

bakal digeser dari posisinya? Ternyata, tidak satu orang pun yang

sudah saya perhitungkan digeser. Mereka masih tetap dalam

posisi semula.

Perkara dizolimi, dia sudah jadi korban sejak jadi peneliti. Saya

sampai tidak tega melihat: betapa orang tega verbal abuse

kepadanya. Lalu, beliau cuti besar untuk menghindari konflik.

Beliau memang ditakdirkan menjadi orang penting. Ini bukan

suatu kebetulan. Ketika Konferensi Influensa ke-3 se-Eropa di

Portugal, salah satu pembicara utama ahli Influensa/Flu burung

--orang Belanda bernama Meno De Jong-- tidak bisa datang

karena sakit. Ahli dari Belanda itu minta bu Endang menggantikan

waktu bicaranya. Jadilah ibu bicara di depan forum para ahli

Influensa dunia tanpa sengaja. Memang di sanalah tempat sejati

beliau. Meskipun dicekal, ada saja jalan untuk dunia mengakui

siapa dia.

Menjadi kepala Pusat Penelitian Biomedik dan Farmasi pun masih

di-zolimi. Dia dizholimi lebih berat lagi dari biasanya, sampaisampai

saya berkata: “Bu, kalau per/pegas ditekan sampai mepet,

bila dilepas akan melambung ke atas. Tidak tanggung-tanggung,

ibu juga nanti akan ke depan terus ke Kuningan (maksud saya

jadi kepala badan, kemudian jadi Menteri)”

Ternyata tidak lewat depan langsung ke Kuningan, menjadi

Menteri. Alhamdullilah. Perjalanan terakhir ibu dihormati Negara

dan ditangisi banyak sahabat. Selamat jalan ibu yang baik.

Meskipun hidup ibu singkat, tetapi penuh arti, untuk bangsa,

keluarga, dan sahabat. Tuhan sangat sayang kepada ibu yang

menyebarkan kebaikan ke semua orang.

129


130


Sekilas Kenangan Bersama

Bu Menkes

Prof,Dr. Menaldi Rasmin, Sp. P(k)

Ketua Konsil Kedokteran Indonesia

Saya melihat dr.Endang Rahayu Sedyaningsih PhD pertama

kali di televisi ketika menayangkan nama pembantu

presiden pada kabinet Indonesia bersatu tahun 2004.

Nama beliau disebut sebagai Menteri Kesehatan. Lalu, sebagai

Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), saya menghadiri serah

terima jabatan MenKes. Ketika itu beliau tidak mengenal saya.

Tetapi, selanjutnya adalah masa-masa penuh kenangan amat

baik bersama Beliau. Dan, inilah yang saya rasakan tentang

almarhumah:

Intelektual, tentulah kesan saya ini tidak terbantahkan. Puteri

seorang pendidik ini memang mengembangkan dirinya secara

sadar dalam dunia penelitian. Ia menjadi MenKes pun langsung

dari jabatannya sebagai seorang peneliti, bukan politikus.

Pembelajar yang baik. Ini kesan yang saya peroleh tentang

Beliau setelah kesan pertama tadi. Beberapa kali bertemu

dengan Beliau di ruang kerjanya, bahkan sebelum memulai

sebuah rapat atau pertemuan dengan khalayak, tanpa segan

Beliau bertanya tentang segala sesuatu yang tidak atau belum

Beliau ketahui bahkan menanyakan sikap apa yang diharapkan

dari Beliau. Beliau menanyakan banyak hal tentang sistem

pendidikan kedokteran saat ini, tentang internsip, tentang Surat

Tanda Registrasi (STR), tentang KKI serta banyak pertanyaan lain.

Untuk ‘belajar’ ini pula, Beliau menyempatkan diri berkunjung

ke kantor KKI. Kunjungan pertama kali untuk mengenal KKI,

diikuti kunjungan berikutnya untuk mengikuti Forum Diskusi

yang dilakukan untuk pengayaan bagi anggota KKI. Dengan

tekun Beliau mencatat dan bertanya tanpa menunjukkan bahwa

sebenarnya Beliau adalah seorang Menteri

Sabar dan Santun, adalah bagian dari kelebihan Beliau.

Beberapa kali Beliau rapat dengan lembaga lain, Beliau amat

sabar dan tetap santun menjawab semua pertanyaan yang tidak

jarang keras, kadang cenderung tidak pantas. Pada saat-saat

seperti itu, jelas tampak sosoknya sebagai seorang perempuan

Indonesia yang berbudaya.

Profesional dan altruis, adalah kesan saya selanjutnya pada

Beliau. Kita tidak pernah melihat kesan ragu pada diri Beliau saat

harus bersikap termasuk saat menjalani sakit yang diidapnya

serta rangkaian pengobatan yang harus dijalani. Pada saat-saat

ini pun, Beliau tetap menunjukkan sikap sejati seorang pemimpin

yang ‘ngemong’, bahkan memosisikan diri untuk memberi tidak

meminta.

131


Anggun dalam kesederhanaan. Amat terlihat dari cara Beliau

menampilkan dirinya baik secara keseharian maupun dalam sesisesi

khusus di mana posisi Beliau menjadi sentral. Kesederhanaan

Beliau menunjukkan rasa percaya diri yang kuat. Kesederhanaan

dan sikap anggun dalam penampilan ini juga ditambah dengan

ketenangan dan keterukuran dalam berkata-kata sehingga

setiap lawan bicara segera berbicara dalam kepantasan. Ini

memberi warna yang amat baik dalam tampilan Beliau sebagai

seorang Menteri.

Meskipun pandangan yang disampaikan di atas lebih sebagai

pribadi, namun saya percaya itupun masih kurang dibandingkan

banyak pemikiran dan perasaan lagi terhadap almarhumah. Bagi

saya, kepergian almarhumah mengurangi sebuah hal penting

dalam karakter kepemimpinan saat ini yaitu, seorang pemimpin

yang intelek, pembelajar, sabar dan santun, profesional dan

altruis serta anggun dalam kesederhanaan. Sikap-sikap dasar ini

oleh almarhumah dr.Endang Rahayu Sedyaningsih PhD telah

menunjukkan sosok perempuan Indonesia yang berbudaya.

Pasti banyak tekanan dan kesulitan yang Beliau rasakan, namun

khalayak justru mendapatkan keteduhan dari Beliau.

Semoga keteladanan Beliau akan menjadi contoh bagi

pemimpin-pemimpin Indonesia selanjutnya.

Semoga Allah SWT menerima semua amal Ibadah almarhumah

dan memberikan tempat yang terbaik baginya di peristirahatan

yang abadi.

132


Kenangan berkesan

bersama pemilik untaian Garnet

yang selain indah juga menyejukkan hati dari

sahabatku “Endang Rahayu Sedyaningsih Mamahit”

Hj. Endang Agustini Syarwan H.,S.IP

Anggota MPR / DPR RI No. A - 237

Tak terasa perjumpaan hangat dan bersahabat cepat

berlalu untuk kepergian seorang sahabat Ibu Endang

Rahayu Sedyaningsih Mamahit yang sarat dengan ideide,

ungkapan, perhatian dan keseriusan dalam memimpin dan

mengendalikan dengan cermat serta jeli menjalankan tugas dan

kewajibannya sebagai seorang Menteri Kesehatan RI.

Diawali rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR RI dalam

rangka membangun kerjasama pada sebuah misi mulia yaitu

tentang pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia,

dengan berbagai persoalan yang menyertainya.

Jika bicara masalah kesehatan rasanya tidak pernah bisa usai

karena semakin kita membahasnya maka semakin banyak pula

temuan yang harus dibenahi.

Dari persoalan yang dihadapi, sosok Ibu Endang Rahayu S

menunjukkan itikat dan keiklasanannya yang tulus untuk samasama

mengatasi berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi.

Dengan semangat kebersamaan yang tulus dan iklas selalu

terpancar di wajahnya yang menyejukkan, sehingga kita yang

menghadapinya timbul simpati untuk sama-sama membangun

kesehatan masyarakat Indonesia yang tersebar sampai pelosok

desa menuju Indonesia Sehat.

Ditengah-tengah kesibukan yang padat kegiatan dan waktu

yang terbatas, masih ada canda yang lucu yang bisa diungkapkan

seperti “....dalam dunia politik, hi...hi...hi rupanya politik ini begini

to Bu. Saya itu kadang-kadang tidak terlalu cepat paham untuk

dapat membangun kinerja yang diinginkan dengan rekanrekan

di Komisi IX, ujar Ibu Endang. Iya Bu Endang, kami datang

dan mewakili dari berbagai tempat ditanah air yang tentunya

membawa pesan masyarakat daerah pilihannya, tapi kalau

tujuannya untuk kepentingan masyarakat, sebenarnya tidak ada

masalah selama untuk kesehatan masyarakat yang lebih baik.

Semakin hari semakin menarik untuk diceritakan yaitu bagaimana

masyarakat dapat mengupayakan pencegahan terhadap

berbagai masalah kesehatan misalnya preventif, promotif, ASI

ekslusif, TBC, PHBS, Gizi buruk, mekanisme pelayanan yang

tidak berbelit-belit, Jamkesmas, Jampersal, Jamkesda, peliknya

anggaran Pusat masuk kas daerah yang tidak mudah dan cepat

dapat terselesaikan.

Belum lagi tentang gudang obat untuk puskesmas, penyebaran

133


tenaga kesehatan yang belum merata dan belum ada

perencanaan strategis mulai dari kondisi sekarang sampai

dengan yang akan datang.

Perlunya ahli gizi dalam setiap puskesmas dalam upaya preventifpromotif,

ahli lab untuk puskesmas karena masih banyak

masyarakat yang menderita TBC.

Masih ada lagi tentang Puskesmas sebagai pusat layanan

kesehatan terdekat bagi masyarakat dengan model dan standar

yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di kecamatan dan

desa.

Bagaimana merumuskan konsep yang betul-betul pas untuk

RSUD sebagai RS Rujukan serta standar yang diperlukan untuk

meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan yang berkualitas,

handal dan dapat dijadikan patokan oleh setiap pimpinan daerah

Propinsi, Kabupaten/kota, dikarenakan masih terjadi perbedaan

idealnya pemenuhan tenaga kesehatan.

Masih adanya kesenjangan gaji perawat, bidan, dokter umum,

dokter spesialis, dokter gigi dan ahli-ahli kesehatan lainnya yang

berbeda dan belum terstandar

Sebanyak itu program dan kebijakan dalam menjalankan

fungsinya sebagai pelayanan kesehatan tapi sepertinya tak

menyurutkan semangat juang Ibu Endang dalam mengurai

dan mengurusnya dengan telaten, teliti, cerdas dan penuh

persahabatan kepada siapapun. Ibu Endang sungguh luar biasa

kuat dan tegarnya dalam menghadapai beban yang luar biasa

berat dan mulia itu.

Masih banyak perhatian yang harus dicurahkan yaitu tentang

kolegium, UKDI, bagaimana fungsi-fungsi dari kedua institusi itu

seharusnya memberikan kontribusi yang cepat, cerdas,handal

dan bermartabat dalam mewujudkan SDM kesehatan yang dapat

dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang butuh pertolongan.

Diperlukan terobosan yang berani karena kebenaran demi

peningkatan kualitas SDM di masa depan yaitu dokter yang

trampil, tepat, akurat dan mampu menjawab tantangan pelayanan

kesehatan, tetapi tidak membebani biaya yang seharusnya tidak

terlalu perlu apalagi mahal, dan siap ditempatkan dimanapun

diseluruh pelosok tanah air Indonesia.

Saya suka cerita kalau habis reses, sepanjang pengalaman saya,

beberapa kali mengadakan pengobatan gratis untuk masyarakat,

hampir tidak pernah ada yang tidak ingin berobat. Pasiennya

macam-macam mulai sakit yang sederhana antara lain batuk

pilek, panas, sakit perut, kudisan, mata sampai dengan penyakit

yang tidak menular yaitu pegel-pegel linu, darah tinggi, dan

kencing manis.

Dan setiap habis diperiksa dokter dan diberi obat, pasien

tersebut belum mau beranjak pulang, usut diusut yaitu “pasti

ujung-ujungnya minta disuntik, kalau belum disuntik tidak mau

pulang..... Saya bilang kasihan ya orang ndeso, tidak mengikuti

perkembangan kesehatan, mati urip pokok’e suntik.

Mendengar itu Ibu Endang sampai kepingkelan tertawa, dengan

komentarnya “Aduh Bu, saya (Ibu Endang Rahayu sebagai

MenKes) mendengarnya geli, lucu tapi menyedihkan dan

kebangetan dan ini tantangan bagi kita semua.

Terus saya jawab, “ Nah ini Bu Endang tantangannya yang

masih ada di tengah-tengah kemajuan ilmu kedokteran,

padahal obat dan pengobat sudah menyerbu masyarakat

Indonesia mulai dari Cina, India, Korea, Jepang, Malaysia,

Singapore sampai dengan kelas mbah dukun dalam menangani

penyakit yang sederhana termasuk yang bisa memanjangkan,

membesarkan, mengencangkan, membuat “alat kelamin lakilaki”

itu menjalankan fungsinya baik yang halal ataupun haram.

He…he…he kita berdua tambah kepingkalan, lucu tapi itulah

kenyataannya.

134


Hal itu membuat Ibu Endang ketawa sangat geli banget. Aduh

PR kita banyak sekali ya Bu. Ya sudahlah kita harus tetap optimis

dan melangkah maju untuk memberikan yang terbaik bagi

pelayanan kesehatan masyarakat Indonesia, sahut Ibu Endang.

Masih ada lagi yang menarik dari setiap pertemuan yaitu tentang

susu formula, Asi eksklusif. Waduh hebohnya luar biasa, semua

harus duduk bareng dan saling memberikan pertanyaan dan

jawaban tentang masalah susu formula.

Walaupun sampai sekarang yang sebenarnya itu seperti apa,

semua sirna tentang hasil penelitian produk susu formula. Ibu

Endang dianggap sebagai orang yang paling bertanggung

jawab karena dampaknya pada kesehatan anak.

Tapi Bu Endang dalam menyikapinya menunjukkan sikap

yang tegas dan apa adanya karena tidak ada kepentingan atau

membawa misi dari siapapun. Itu semua tersirat dari apa yang

disampaikan secara lugas dan bertanggung jawab dalam hal

menangani hal tersebut diatas, termasuk seabrek persoalan

kesehatan yang membentang di hadapannya.

Bu Endang sebagai nakhoda Kemenkes bersama seluruh awaknya

dan sesuai dengan keahliannya masing-masing selalu siap

dan tanggap dalam menangani berbagai persoalan kesehatan

masyarakat untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia yang

cerdas, sehat dan bahagia.

Masih ada lagi yang menarik yaitu cerita dan pengalaman yang

paling banyak memerlukan perhatian dan pemikiran ialah BPJS

Kesehatan 1 Januari 2014.

Disetiap kesempatan berjumpa sebelum rapat-rapat dengan

komisi IX selalu terselip kata-kata yang menunjukkan bahwa Ibu

Endang sangat memperhatikan bagaimana menyiapkan konsep

pelaksanaan BPJS 2014, aduh Ibu yang manis, hebat banget

yah,….padahal saya tahu Ibu Endang sudah semakin merasakan

sakitnya. Tapi sekali lagi hebat, tegar, kuat dan luar biasa, banyak

anugrah dan kekuatan dari Allah SWT menyertainya untuk

menjalankan amanah yang dipercayakan.

Kita sedih dan kehilangan sahabat yang telah kembali kepada

sang penciptaNya.

Tapi kita bangga dan menaruh simpati karena telah banyak sekali

mewarnai keindahan untuk sebuah pelayanan kesehatan yang

semakin mudah untuk dirasakan manfaatnya oleh masyarakat

semua.

Tapi ada kesan yang amat dalam saya dan dr. Surya dapat

mendampingi Ibu Endang saat menghembuskan nafas

terakhirnya untuk menghadap sang Khalik.

135


136

Kenangan terakhir kami makan siang bersama rombongan setelah Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih Mamahit

meresmikan rumah sakit pendidikan di UMM Malang ………


Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan.

Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahsia dari masa muda yang abadi. Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah

sumber ketenangan.

Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.

Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan.

Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan.

Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati.

Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa bererti.

Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan.

Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.

Doa yang tak pernah putus untuk seorang sahabat Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih Mamahit, ijinkan Ya Allah ia menjadi hambamu

yang khusnul khatimah dan ahli surge disisiMU.

Imajinasimu yang cerdas, cerdik dan bijak tetap lestari walau kau telah tiada, itulah sejatinya dalam memberikan andil dalam

pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang sangat berarti.

Dan Keluarga yang di tinggalkan diberi kekuatan iman, ketabahan dan keiklasan oleh Allah SWT.

Selamat Jalan Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih Mamahit.

Salam persahabatan,

Hj. Endang Agustini Syarwan H.,S.IP

Anggota Komisi IX DPR-RI

137


138


Big Condolance

Kamel Senouci

Director SIVAC

This is really sad.

She was a so good Minister.

Please find attached some

pictures.

I am really sorry for that.

It is a sad day for all of us.

Allah yaddam l’ajjar.

Only God decides.

139


140


I’ll remember Dr. Endang

as a scientist and politician

Brad Gessner

I first met Dr. Endang during our work together on the six year

Lombok Hib vaccine trial, for which she served as the primary

investigator. From the start it was clear that Dr. Endang planned

to be a hands-on PI, and her clear grasp of the scientific issues

helped this study become recognized as one of the most

comprehensive and important vaccine trials ever conducted. Data

from this trial have been included in over a dozen manuscripts,

including three in the The Lancet, and have helped inform global

opinions on pneumonia, vaccines, and infant mortality. Her keen

political acumen helped guide the trial through some tricky

times, including the Asian financial crises, the fall of the Suharto

government, the rise of anti-vaccine NGOs, and rioting on

Lombok Island itself, all good training for her eventual position

as Minister of Health.

We worked together again on the Indonesian Technical Advisory

Group on Immunizations (ITAGI), where I was invited to attend

the first session of the newly created group. Later, in her position

as Minister of Health, Dr. Endang provided support to the ITAGI

and to the collaboration between the ITAGI and my organization

(AMP) through the SIVAC Project. The last time I saw her was late

in 2011 when we met to discuss the future direction of the ITAGI.

At that time, I thought that Dr. Endang looked as young and

energetic as the first time I met her, which everyone can see in

the attached picture.

I’ll remember Dr. Endang as a scientist and politician, but also as

a strong defender of Indonesia and the rights of Indonesia in the

world, a tireless supporter of public health and the underserved,

and not least as a friend. The world will be a poorer place for her

passing, but I feel privileged to have known her for the time that

she was given on this earth.

141


142


One More Ibu Endang Story

Robert Tilden

Back in my Michigan days, I taught a course called international

comparative health care systems. It was a course that had

been designed by Jan DeVries, but after his death I re-vamped

it a bit to include some information technology, and also

political economy, lectures. In 1991 I made the comment in an

introductory lecture, that Jakarta had a lower infant mortality

rate (it was about 24) than Detroit (32).

After return from a trip to Vietnam and Nepal, I found a very

official letter on my desk, requesting that I come before the

state legislature and explain the comment that I had made in

class (news travels faster than me sometimes) - that afternoon.

I drove to Lansing (about 150 km from A2) in jeans and flannel

shirt as I did not have time enough to go home and put on a

suit.

The first questions first concerned the validity of my claim. I

showed them the data from Indonesia. The second question

was how did they do it. I said evidence based planning.

The third question was about the public health education in

Indonesia as compared to the US. I explained that the person

responsible for the policy (Dr. Soeharto W {Kakanwil}, and

Dr. Endang) had both been trained in the US. Soeharto W at

Michigan, Endang at Harvard.

The fourth question was how to catch up with Jakarta. I told

them to try and hire Ibu Endang for Wayne County Health

Department. There was some serious discussion, but because

she was not a citizen they did not pursue it.

The fifth and final question was why were the International

Public students from Michigan out performing the American

public health students. I told them, that the international

students realized that they needed to change policy,

and domestic students were trying to fit into the existing

structure as they thought the US health care system was fine.

I thought about Soeharto and Endang on the trip back, and

laughed to myself when I pulled into the school parking

lot at UofM, thinking that when the federal funding for

our program dried up (scheduled for that year), that we

probably wouldn’t get state funding to cover the difference,

and immediately started looking for a state side job.

So she really did a lot all of her career. A first class public health

development officer, a world class researcher, and a beloved

leader of the Ministry of Health. Thank you ibu Endang.

Unfortunately the infant mortality rate of Detroit is still above 25. (a

urban DBK in the rust belt of the US). ndut

143


144


Selalu Menyediakan Waktu

Siti Isfandari

Libangkes

“Saya sangat bersyukur dapat menjadi salah satu teman ibu

endang. Awalnya saya memandang ibu endang sebagai orang

pandai, tempat konsul ilmiah dan saya selalu menghormatinya.

Bagiku ibu endang benar2 berjiwa pendidik. Selalu menyediakan

waktu untuk memberi saran ilmiah. Konsultasi ilmiahku yang

terakhir saat ibu endang “cuti” rawat dari RSCM. Saya tanya

apakah di riskesdas 2013 boleh memeriksa HIV Aids. Ibu Endang

serius menerangkan boleh dengan syarat identitas harus rahasia

dan dikerjakan tim pusat. Namun dari hati ku yang terdalam, saya

sangat berterima kasih ibu endang mengijinkan saya membantu

menuliskan bukunya sembari ibu endang bertutur. Saya selalu

mengingingkan agar pertemanan ku dengan ibu endang

dapat berlangsung lama. Dan saya berterima kasih ibu endang

menyediakan waktunya utk pertemanan kami.”

145


146


@ NEWS

Kamis, 26/04/2012

Menkes Endang:

Pengangkatan dan

Pengunduran Diri

yang Tak Biasa

Irna Gustia - detikHealth

Jakarta, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih secara

resmi telah mengajukan pengunduran diri dari jabatannya per

26 April 2012. Saat diangkat menjadi menteri ia disorot tajam,

begitu juga saat mundur dari jabatannya.

Menkes Endang saat ini tengah berjuang melawan penyakit

kanker parunya yang sudah masuk stadium 4. Setelah dijenguk

Presiden SBY pada Kamis siang tadi (26/4/2012), Menkes

mengatakan akan konsentrasi menjalani pengobatannya dan

Presiden menyetujui pengunduran dirinya.

Menkes Endang adalah sosok yang pembawaannya tenang,

ramah, suka tersenyum dan punya kemampuan menjelaskan

sesuatu dengan jelas.

Ketenangannya yang luar biasa menghadapi masalah memang

patut diacungi jempol. Karena sifat tenangnya itu, ia tegar

dalam menghadapi kontroversi saat namanya ditunjuk menjadi

Menteri Kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu II ( (2009-2014)

menggantikan Siti Fadilah Supari.

Namanya memang muncul di menit-menit terakhir kala Presiden

Susilo Bambang Yudhoyono mencari ‘pembantu’ untuk jabatan

Menteri Kesehatan. Profilnya tidak masuk dalam bursa calon

menteri karena waktu itu Presiden SBY sempat akan menunjuk

Nila Moeloek sebagai calon Menkes.

Tapi kemudian terjadi perubahan yang begitu cepat saat Presiden

mengumumkan sendiri di Istana Negara tanggal 21 Oktober

2009 jam 22.00 tentang susunan kabinetnya yang didalamnya

tiba-tiba ada nama Endang Sedyaningsih.

Penunjukannya yang begitu mendadak, memunculkan dugaandugaan

tak sedap, yang salah satunya Endang disebut sebagai

titipan AS karena pernah bekerja di lembaga penelitian Namru

milik AS. Tak tanggung-tanggung mantan Menkes sebelumnya,

147


Siti Fadilah Supari yang mempertanyakan kenapa bekas anak

buahnya itu yang menjadi penggantinya.

Siti kala itu sempat mengatakan pernah mencopot jabatan

Endang sebagai sebagai Kepala Puslitbang Biomedis dan Farmasi

dan diturunkan menjadi peneliti madya dan naik lagi menjadi

peneliti utama pada Agustus 2008 karena dugaan terlibat

penelitian virus dengan AS, meski hingga kini tudingan itu sulit

dibuktikan.

Mendapat sorotan yang tajam dari publik dan bekas ‘bosnya’ tak

membuat Endang ciut. Baginya jabatan sebagai Menkes adalah

amanah yang harus dipertanggungjawabkan pada rakyat. Tak

ambil pusing dengan kontroversi pengangkatannya sebagai

Menkes, Endang terus bekerja.

Lambat laun, publik pun mengakui bahwa ia sosok yang pantas

menjabat sebagai Menteri Kesehatan bukan orang yang disorot

karena kontroversinya saat ia ditunjuk menjadi Menteri.

Publik pun lupa dengan kontroversi pengangkatannya saat

menjadi menteri. Tapi tiba-tiba pada Oktober 2010 publik

dikejutkan lagi dengan berita Menkes yang menderita sakit

kanker paru stadium 3. Kanker yang memang sulit dideteksi ini

baru ketahuan saat ia melakukan check up rutin pada Oktober

2010.

Namun dalam 3 minggu terakhir, Menkes terpaksa kembali

dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) karena

merasa tubuhnya nyeri. Kanker paru yang sudah diobatinya

selama 1,5 tahun ternyata kambuh lagi dan sudah masuk

stadium 4.

Menyadari kondisinya yang harus fokus untuk mengobati

sakitnya, Menkes Endang pun akhirnya mengajukan

pengunduran diri kepada Presiden SBY per hari ini. Menkes

Endang menyumbangkan pikiran, waktu dan idenya di

Kementerian Kesehatan hanya selama 2,5 tahun.

Menkes Endang boleh jadi adalah menteri yang pengangkatan

dan pengunduran dirinya tak biasa. Semoga cepat sembuh Ibu

Endang!

Marzuki Alie, Ketua DPR:

Menkes Orang Baik

dan Jujur

Kristian Ginting , Liputan6.com, Jakarta

Kepergian Menteri Kesehatan nonaktif Endang Sedyaningsih

yang begitu cepat menyisakan duka dari berbagai kalangan

salah satunya Ketua DPR Marzuki Alie. Semasa hidup, menurut

Marzuki, Endang merupakan sosok yang baik jujur.

“Beliau orang baik dan jujur, serta bertanggung jawab. Kita

kehilangan orang baik,” kata Marzuki lewat pesan singkat yang

diterima Liputan6.com di Jakarta, Rabu (2/5).

Endang mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Cipto

Mangunkusumo, Salemba, Jakarta, akibat kanker paru-paru

stadium lanjut yang dideritanya.

Ucapan duka juga datang dari anggota Komisi IX DPR Rieke Diah

Pitaloka. Ia berpendapat, sekalipun dalam beberapa hal dirinya

tak sepakat secara ideologi dengan Endang, ia tetap menaruh

hormat. Endang, imbuh Rieke, tidak pernah memperlihatkan

dirinya sedang sakit.

“Tetap tegar menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang Menkes,

termasuk selalu hadir saat diundang Komisi IX. Tidak lari dari

masalah, misalnya soal kasus susu formula yang sebetulnya terjadi

pada masa Menkes sebelum Bu Endang,” ucap Rieke.(APY/ANS)

148


Linda Gumelar:

Menkes

Sosok yang Kuat

Liputan6.com, Jakarta

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda

Amalia Sari Gumelar mengatakan Menteri Kesehatan Endang

Rahayu Sedyaningsih yang meninggal di Rumah Sakit Cipto

Mangunkusumo, Rabu (2/5) sekitar pukul 11.41 WIB merupakan

sosok wanita yang kuat.

“Bu Endang adalah sosok wanita yang kuat,” kata Linda dengan

penuh haru. Ia menjelaskan, meski Menkes telah lama mengetahui

dirinya mengidap kanker namun dalam kesehariannya tetap

menunjukkan ketegaran. “Beliau tetap menjalankan aktivitasnya

sebagai menteri dengan enerjik dan penuh semangat,” katanya.

Bahkan, kata Linda, saat dirinya menjenguk Menkes beberapa

hari lalu, wanita kelahiran 1 Februari 1955 itu tetap menunjukkan

semangat berjuang melawan penyakitnya. “Ibu Endang

merupakan wanita inspiratif dan puteri terbaik bangsa, dia adalah

simbol wanita kuat dan selalu berjuang hingga akhir hidupnya.”

Linda juga menambahkan, sebagai perempuan yang juga pernah

mengidap kanker dirinya dan menkes selalu saling menguatkan.

“Saya juga pernah mengidap kanker payudara beberapa tahun

yang lalu dan sekarang sudah sembuh, begitu tahu Ibu Endang

mengidap sakit kanker saya dan beliau saling memberi semangat.”

Menkes mengidap kanker paru sejak Oktober 2010. Pengobatan

yang telah dijalani oleh Menkes antara lain radiasi lokal dan

bedah beku tujuannya mengobati kanker secara lokal serta

meningkatkan daya tahan tubuh. Tiga minggu lalu, Menkes

dirawat di RSCM karena merasa tubuhnya nyeri.(ANT/JUM)

Ical Terkesan dengan

Kesederhanaan Menkes

Riski Adam, Liputan6.com, Jakarta

Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie mengungkapkan

rasa bela sungkawanyanya atas wafatnya Menteri Kesehatan

nonaktif Endang Rahayu Sedyaningsih. “Semoga semua arwah

beliau, kesalahan beliau diampuni oleh Allah SWT dan semua

budi baiknya diterima dan ditempatkan yang baik,” ungkapnya

di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Rabu (2/5).

Aburizal Bakrie mengaku terkesan dengan kesederhanaan dan

kerja keras almarhumah selama menjalankan tugas-tugasnya.

“Beliau pekerja keras. Sangat sederhana. Saya sangat terkesan,”

kata Aburizal atau biasa disapa Ical ini. Saat ditanya soal pengganti

Menkes, Ical menengaskan memang perlu segera dilakukan

penggantian untuk mengisi jabatan Menkes yang kosong.

Lebih lanjut Ical menjelaskan Endang datang ke kediamannya

saat baru menjabat sebagai Menkes, untuk meminta saran dirinya

selaku mantan Menko Kesra. Menurut Ical, sosok menkes dengan

kesederhanaannya merupakan contoh bagi semua orang. Ical

mengatakan Golkar ikut berduka cita atas meninggalnya beliau.

Dan mendoakan agar amal ibadahnya diterima di sisi-Nya.

Menkes Endang Sedyaningsih dideteksi mengidap kanker paru

sejak Oktober 2010. Pengobatan yang selama ini telah dijalani

oleh Menkes antara lain radiasi lokal dan bedah beku, tujuannya

untuk mengobati kanker secara lokal serta meningkatkan daya

tahan tubuh. Tiga pekan lalu, Menkes mulai menjalani perawatan

di RSCM karena merasa tubuhnya nyeri.(JUM)

149


Menkes Sosok

Berintegritas Tinggi

Rochmanuddin, Liputan6.com, Jakarta

Anggota Komisi XI DPR Sumarjati Arjoso mengaku mengenal betul

sosok Menteri Kesehatan nonaktif Endang Rahayu Sedyaningsih.

Di mata Sumarjati, wanita yang pernah menjadi staf bawahannya

itu merupakan sosok berintegritas tinggi. “Dia pernah menjadi

staf saya waktu di Depkes DKI. Waktu itu dia pernah dinas ke

NTT (Nusa Tenggara Timur) jadi staf saya. Ia merupakan sosok

perempuan yang memiliki integritas tinggi,” ujar Sumarjadi saat

mendatangi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta,

Rabu (2/5).

Menurut Sumarjati, selain pintar Menkes juga sosok perempuan

yang rajin dan memiliki dedikasi tinggi. “Dia itu dulu di Dinas

DKI staf saya, orangnya rajin pinter dan penuh dedikasi,” ujar

anggota Fraksi Partai Gerindra itu. Sumarjati mengaku terakhir kali

mengunjungi Menkes sepekan lalu. Bahkan, Menkes juga sempat

mengaku kerap menolak proyek-proyek yang ditawarkan M.

Nazaruddin, terpidana kasus wisma atlet. “Waktu itu sempat ngobrol

sama saya waktu di Depkes. Bagaimana menghindari Nazaruddin,

karena Nazaruddin kan banyak proyek-proyek, ya? Dia tidak mau,”

kenangnya.(APY/ANS)

Agung Laksono

Inspektur Upacara

Pemakaman Menkes

Liputan6.com, Jakarta

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono

mengatakan dirinya akan jadi inspektur upacara pemakaman

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih. “Rencananya

saya memimpin upacara namun masih lihat perkembangannya

nanti,” kata Agung Laksono di Jakarta, Rabu (2/5) siang.

Menko menjelaskan dirinya belum tahu waktu pasti pemakaman.

“Belum tahu hari ini atau besok namun yang pasti keluarga ingin

memakamkan di San Diego Hills, Karawang,” katanya. Agung

menambahkan dirinya sangat berduka. “Menkes putri terbaik

bangsa, dia orang yang sederhana dan berdedikasi tinggi kepada

negara.”

Menkes, tambah Agung, juga mempunyai perhatian yang besar

terhadap pendidikan kesehatan. “Selama menjabat sebagai

Menkes, Ibu Endang punya atensi yang besar termasuk kepada

korban bencana alam di seluruh Indonesia,” katanya. Dia

menambahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah tahu

mengenai berita wafatnya Menkes.

Menkes dideteksi mengidap kanker paru sejak Oktober 2010.

Pengobatan yang telah dijalani Menkes antara lain radiasi lokal

dan bedah beku tujuannya untuk mengobati kanker secara lokal

serta meningkatkan daya tahan tubuh. Tiga minggu lalu, Menkes

mulai menjalani perawatan di RSCM karena merasa tubuhnya

nyeri.(ANT/JUM)

150


Kisah Orang-orang

yang Merawat dan

Menjaga Menkes

di RSCM

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Menkes (detikHealth)

Jakarta, Kepergian sosok Menteri Kesehatan Endang

Rahayu Sedyaningsih meninggalkan kesan tersendiri bagi

beberapa petugas di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM)

Kencana tempatnya dirawat. Ada yang ikut sedih, ada juga

yang merasa terhormat karena ikut mengangkat jenazahnya.

Kesedihan dirasakan oleh para petugas yang secara langsung

menangani Menkes selama dirawat di ruang Kencana 2B

RSCM Kencana. Novita, seorang petugas perawatan pasien

mengaku sangat kehilangan karena dalam beberapa hari ini

dirinya sangat mengikuti perkembangan kondisi Menkes.

“Kalau sedih ya pasti sedih lah ya, saya yang menanganin tiap

hari, saya yang mandiin tiap hari kalau pagi atau sore. Sejak

kondisinya turun kemarin perasaan saya sudah agak gimana,

tapi ya memang sudah begitu kondisinya,” kata Novita kepada

detikHealth, Rabu (2/5/2012).

Begitu juga yang dirasakan Gunawan, seorang petugas

keamanan RSCM Kencana yang sehari-hari bertugas menjaga

keamanan di sekitar kamar rawat Menkes. “Indonesia berduka,

Mas. Indonesia kehilangan sosok ibu yang ramah. Saya ketemu

beliau waktu meresmikan RSCM Kencana, orangnya ramah,” tutur

Gunawan.

Selama Menkes dirawat karena kanker beberapa pekan terakhir,

Gunawan mengaku tidak pernah bertemu langsung dengan

sosok yang dikaguminya itu karena ia menjaga di luar kamar.

Ia juga tidak terlalu mengikuti perkembangan kondisi Menkes

yang dalam beberapa hari terakhir dikabarkan naik turun.

“Waktu digosipkan kritis, meninggal itu kita sama sekali nggak

tahu. Malah tahunya dari wartawan. Saya juga heran, tahu dari mana

sih orang saya yang tiap hari di sini saja tidak tahu,” lanjut Gunawan.

Kesan yang lebih mendalam diutarakan oleh Imelda, petugas

keamanan wanita di RSCM Kencana yang kebetulan ikut

mengangkat peti jenazah Menkes saat akan diberangkatkan ke

rumah duka. Ia mengaku tidak pernah bertemu langsung selama

Menkes dirawat tapi saat menjadi jenazah ia bersinggungan

langsung dengan menandunya. “Suatu kehormatan bagi saya

ikut mengangkat jenazah seorang pejabat. Kebetulan ini juga

pertama kalinya saya mengangkat jenazah,” kata perempuan

bertubuh tegap yang juga baru sekali bertemu Menkes

saat meresmikan RSCM Kencana beberapa bulan yang lalu.

02/05/2012 17:20

“Menkes Endang

Sosok Sederhana”

Tim Liputan 6 SCTV , Liputan6.com, Jakarta

Endang Rahayu Sedyaningsih dikenal rekan-rekannya sebagai

sosok yang cerdas dan sederhana. Namun, sejak menderita kanker

paru-paru, kondisi kesehatannya semakin menurun. Terakhir

sekitar sepekan lalu, sebelum akhirnya berpulang kembali ke

Sang Pencipta, Menkes sempat mengajukan pengunduran diri

dari jabatannya ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Lahir 57 tahun silam, Endang Rahayu Sedyaningsih memang

telah bertekad mendedikasikan dirinya di bidang kesehatan.

151


Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,

Endang sempat mengabdi di sebuah Puskesmas terpencil di

Waipare, Nusa Tenggara Timur, selama tiga tahun.

Siapa sangka beberapa puluh tahun kemudian, ia diangkat

menjadi Menteri Kesehatan oleh Presiden Yudhoyono di Kabinet

Indonesia Bersatu Jilid II. Menkes pun menyempatkan diri

bernostalgia bertandang ke Puskesmas pertamanya.

Sambutan warga Waipare sangat meriah. Bahkan upacara adat

digelar untuk Menkes dan suaminya. Lengkap dengan foto-foto

masa muda Menkes saat menjabat menjadi kepala Puskesmas.

Foto-foto yang langsung membuat Menkes tersentuh.

Di mata rekan-rekannya, ibu tiga anak ini dikenal sebagai sosok

sederhana dan tetap giat bekerja meski kondisi fisiknya makin

menurun. “Orangnya tidak pernah marah,” kata Menko Kesra

Agung Laksono.

Puncaknya 26 April lalu, Menkes mengajukan surat pengunduran

diri dari jabatannya kepada Presiden. Tak ada yang menyangka

jika kemundurannya menjadi tanda-tanda ia akan kembali

kepada Sang Pencipta untuk selamanya.(ULF)

Hormat pada

Endang Rahayu

Metro View | Minggu, 29 April 2012 WIB

Suryopratomo

MENTERI Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih tanggal 26

April lalu menyampaikan pengunduran diri sebagai pejabat

negara kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Endang

Rahayu mengajukan permohonan untuk mundur sebagai

menteri karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan lagi

dirinya mengemban tugas kenegaraan.

Endang Rahayu sejak beberapa bulan terakhir memang

menderita sakit. Kanker paru yang dideritanya membuat ia

harus menjalani perawatan intensif. Bahkan rasa nyeri yang

terakhir ia rasakan, membuat Endang Rahayu harus dirawat di

Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Endang Rahayu menyadari bahwa dirinya harus dalam kondisi

fisik yang prima untuk sanggup melawan kanker. Mereka yang

menjalani radioterapi harus juga memiliki istirahat yang cukup dan

menghindarkan diri dari kemungkinan terkena infeksi sekunder.

Inilah yang membuat Endang Rahayu merasa tidak mungkin

lagi menjalani tugas sebagai menteri. Saat ia harus dirawat

di RSCM sekarang ini praktis semua tugas sebagai menteri

tidak bisa ia laksanakan dan tanggung jawab kementerian ia

serahkan kepada wakil menteri.

Kita memang melihat bagaimana banyak orang menjadikan

jabatan sebagai segala-galanya. Bahkan ketika dirinya tidak

banyak memberi manfaat kepada organisasi, tetap saja jabatan

itu ia genggam begitu kuatnya. Lebih ironis lagi ketika orang itu

sudah jelas-jelas menjadi beban bagi organisasinya. Ketika ia

terlibat dalam kasus yang secara moral membuat dirinya sudah

kehilangan integritas, tetap saja ia coba pertahankan jabatan

yang ada pada dirinya.

Kita sering mengatakan bahwa bagi sebagian bangsa ini,

jabatan dianggap sebagai hak istimewa. Dengan pemahaman

“power is privilege”, maka sering kita melihat jabatan itu

diperlakukan secara berlebihan demi kepentingan diri atau

kelompoknya.

Kita perlu membangun tradisi agar tidak terus terjebak

pemahaman yang keliru itu. Kekuasaan jangan dilihat sebagai

hak istimewa, tetapi justru harus dianggap sebuah amanah.

Ketika kita diberi kekuasaan, maka kekuasaan itu harus bisa

dipergunakan untuk kemaslahatan banyak orang.

152


Apalagi di dalam sebuah sistem demokrasi, kekuasaan

seharusnya bersifat egaliter. Bukan sesuatu yang bersifat

feodal, sehingga membuat orang yang memegang

kekuasaan selalu diminta untuk dipuja-puji dan dihormati

oleh rakyatnya.

Kita bersyukur bahwa di tengah begitu banyaknya orang

yang menjadikan kekuasaan sebagai segala-galanya, ada

orang seperti Endang Rahayu yang melihat kekuasaan

seperti apa adanya. Ia tahu bahwa di balik kehormatan dari

sebuah kekuasaan itu ada tanggung jawab, noblesse oblige.

Endang Rahayu mengajarkan kepada kita bahwa tidak

bisa kita hanya mau menikmati kehormatan dari sebuah

kekuasaan. Ketika tanggung jawab yang melekat pada

kekuasaan itu tidak bisa dijalankan dengan baik, maka lebih

baik kekuasaan itu dikembalikan agar bisa dijalankan oleh

mereka yang lebih mampu.

Kita sungguh memberikan penghormatan yang tinggi

kepada Endang Rahayu yang telah memberikan

pembelajaran yang luar biasa kepada bangsa ini. Ia telah

menunjukkan diri sebagai pribadi yang tidak takut untuk

kehilangan jabatannya.

Teladan yang diberikan Endang Rahayu diharapkan bisa

menular kepada lebih banyak warga bangsa ini. Terutama

kepada mereka yang gila kepada kekuasaan dan mau

menggadaikan harga dirinya demi sebuah jabatan.

Bagi mereka kekuasaan dianggap sebagai status sosial yang

bisa meningkatkan harkat mereka. Padahal bintang itu

selalu ditaruh di pundak, agar kita sadar bahwa itu adalah

beban yang harus dipikul. Apabila kita bisa menjalankan

tugas dan tanggung jawab yang diberikan, baru kita akan

bisa mendapatkan tanda kehormatan yang akan disematkan

di dada. Itulah yang bisa membanggakan mereka yang

menerimanya dan akan menaikkan status sosialnya.

Status sosial itu bukanlah sesuatu yang harus dikejar, tetapi

otomatis akan diberikan rakyat kepada pejabat yang telah bekerja

dan memberikan yang terbaik untuk negara. Kehormatan itulah

yang pantas kita berikan kepada Endang Rahayu yang selama

tiga setengah tahun telah bekerja untuk negara, di tengah sakit

yang ia derita.

Endang Rahayu melupakan kesakitan pada dirinya, demi

panggilan tugas negara. Ketika dirinya merasa tidak sanggup

lagi untuk melaksanakan tugas, ia mengembalikan jabatan itu

kepada negara. Sikapnya ini telah melahirkan tradisi baik bagi

bangsa dan negara.

Sosok Menkes

Abadi di Mata Anggota

Komisi IX

Oleh: Agus Rahmat

nasional - Jumat, 27 April 2012

Mundurnya Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih,

membuat Komisi IX DPR kehilangan. Sebagai rekanan kerja,

Endang dinilai kooperatif.

Hal tersebut disampaikan oleh anggota Komisi IX DPR Nova

Riyanti Yusuf. Nova mengaku, Menkes Endang sangat brilian

dan cerdas. “Saya merasa sangat kehilangan sosok cerdas yang

open-minded seperti bu Menkes Endang. Karena beliau adalah

Menteri yang mendukung RUU Kesehatan Jiwa,” kata Nova saat

dihubungi, kamis (26/4/2012).

Menurut anggota Fraksi Partai Demokrat ini, sosok Endang

153


selalu mengakomodir masukan-masukan terhadap Kementerian

yang dia pimpin. “Pasti diakomodir oleh bu Menkes Endang

seperti tidak membubarkan Direktorat Bina Kesehatan Jiwa

bulan Februari 2012, peningkatan pelayanan hotline service

pencegahan bunuh diri,” katanya.

Bahkan, Direktorat Kesehatan Jiwa juga mendapat kenaikan

anggaran hingga 5 kali lipat. “Saya berharap bu Menkes akan

segera pulih dan kuat menjalani proses terapi,” katanya.[jat]

Kondisi Sakit,

Menkes Endang Sering

Rapat Sampai Malam

Tribunnews.com - Jumat, 27 April 2012

Kondisi Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih

mengalami sakit kanker paru. Ia pun harus rela dirawat di RSCM.

Terkait hal tersebut, Wakil Ketua DPR, Taufik Kurniawan memiliki

pengalaman tersendiri dengan Menkes. Meski sakit, Menkes

diketahui sering rapat hingga larut malam.

“Beliau sering sampai malam dan melelahkan, penuh dinamika,

dan sempat menjadi pro kontra di masyarakat, tetapi dengan

kesungguhan hati Menkes, kami sangat terkesan, kontribusinya

sangat bagus,” ujar Taufik dalam pesan singkatnya kepada

Tribunnews.com, Jumat(27/4/2012).

Sebagai mitra di Komisi IX DPR, kata Taufik, Menkes patut

diapresiasi atas kerjasama yang baik. Di tengah kondisi yang

tidak prima lanjut Taufik, dedikasi Menkes Endang tetap tinggi.

“Kita bisa pahami dalam situasi dalam kesehatan bu Menkes,

mitra di komisi IX DPR apresiasi atas kerjasama baik di DPR, beliau

di tengah kondisi yang enggak prima, saat raker sejauh apa yang

kami lihat yang bidangi kesra, itu dedikasi Menkes sangat kita

apresiasi, harapkan cepat sehat, banyak yang sudah dihasilkan

produk legislasi bersama,” pungkasnya.

Nova Riyanti:

Saya Kehilangan

Sosok Cerdas Menkes

Tribunnews.com - Kamis, 26 April 2012

Anggota Komisi IX DPR, Nova Riyanti Yusuf mengaku sangat

kehilangan sosok cerdas dan open-minded yang dimiliki Menteri

Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih. Hal itu terkait kabar

mundurnya Menkes dari kabinet SBY karena sakit kanker paru

kronis.

“Saya merasa sangat kehilangan sosok cerdas yang open-minded

seperti bu menkes Endang, karena beliau adalah menteri yang

mendukung RUU Kesehatan Jiwa, artinya meningkatkan dari

sebatas PP dari Undang-undang Kesehatan Nomor 36 tahun

2009 menjadi sebuah entitas UU yang berdiri sendiri,”kata Nova

kepada Tribunnews.com, Kamis (26/4/2012).

Perjuangan kata Nova masih panjang dan dirinya akan

meneruskan perjuangan Menkes terutama soal kesehatan jiwa.

“Beliau juga mendukung dengan hadir pada peluncuran buku

saya, (kumpulan esei tema kesehatan jiwa), atas nama jiwa,

yang saya dedikasikan untuk memperingati Hari Kesehatan Jiwa

Sedunia 2011,”jelasnya.

Nova pun sedikit mengenang cerita dengan Menkes. Bahwa

lanjut Nova, apa pun masukannya terkait kesehatan jiwa pasti

diakomodir oleh Menkes, seperti tidak membubarkan Direktorat

Bina Kesehatan Jiwa bulan Februari 2011, peningkatan pelayanan

154


Hotline Service Pencegahan Bunuh Diri, anggaran direktorat bina

kesehatan jiwa juga bisa naik 5 kali lipat.

“Dan lain-lain kerewelan saya demi peningkatan pelayanan

kesehatan jiwa di Indonesia. Saya berharap bu Menkes akan

segera pulih dan kuat menjalani proses terapi,”ujarnya.

Prayitno Ramelan.

Sebuah Kisah

untuk Ibu Endang

dalam Berjuang

melawan Kanker

OPINI | 27 April 2012

Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Kesehatan sudah

beberapa waktu diberitakan terkena kanker paru-paru. Beliau

kemudian mengajukan pengunduran diri kepada Presiden SBY

dari jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB-II). Presiden

kemarin setelah menjenguk beliau menyatakan persetujuannya,

agar Menkes dapat berkonsentrasi menjalani pengobatan.

Untuk sementara sebagai pelaksana harian dalam menjalankan

tugas Menkes, Presiden kemarin langsung menunjuk Wakil

Menkes Ali Gufron Mukti. Presiden sangat menghargai kegigihan

pembantunya tersebut, yang tetap menjalankan fungsinya

walau pada saat sudah terkena penyakit mengerikan tersebut.

Ibu Endang telah dirawat selama hampir tiga minggu, dan

saat ini sedang menjalani perawatan rehabilitasi medis dan

fisioterapi serta menggunakan alat bantu untuk asupan

makanan dan minuman. Menkes di deteksi mengidap kanker

paru sejak Oktober 2010 dan telah menjalani pengobatan baik di

dalam dan luar negeri selama kurang lebih satu setengah tahun.

Pengobatan yang selama ini dijalaninya antara lain radiasi lokal

dan bedah beku.

Serangan kanker merupakan hal yang sangat tidak terduga,

menarik yang disampaikan Prof dr Hadiarto Mangun Negoro,

SpP (K), “Menderita kanker termasuk kanker paru itu seperti

mendapat lotre. Kita tidak tahu apakah kita akan mengalaminya

atau tidak,” katanya kepada Sindo. Banyak yang mengatakan

bahwa kanker paru lebih disebabkan karena merokok.

Nah, penulis ingin menyampaikan informasi, apakah seseorang

yang terkena kanker bisa sembuh? Atau apakah pemberitahuan

terkena kanker merupakan lonceng kematian yang ditabuh?

Penyakit kanker seperti dikatakan Prof Hadiarto tidak kita ketahui

akan mengalaminya atau tidak. Beberapa orang terdekat penulis

mengalami serangan kanker dan atas berkat Allah, mereka bisa

sembuh.

Pertama, orang terdekat penulis yaitu Ibu kandung, kini sudah

berusia 92 tahun, Alhamdulillah masih sehat. Sekitar 12 tahun

yang lalu beliau mendertita sakit perut, dan setelah diperiksa

di RS, beliau dinyatakan positif terkena kanker kandungan pada

stadium tiga. Kemudian oleh dokter dilakukan kemoterapi.

Penulis tidak tega melihat Ibu tercinta yang kemudian mendertia

kesakitan, dibagian pinggangnya terdapat memar biru dan

rasanya sakit, sehingga beliau harus dipapah. Mendadak setelah

dua bulan di kemo, si Ibu mengatakan ingin berhaji. Kami semua

terkejut, bagaimana dengan kondisi demikian beliau berangkat?

Karena keinginan kuat, dan beliau sebagai wanita yang “lugu”

atau polos mengatakan akan memohon kepada Allah di Mekkah

katanya. Kami ikhlaskan kalau toh Allah menentukan apapun bagi

beliau. Selama di Mekkah, beliau terus dengan tekun dan yakin

berdoa sambil minum dan membasuh dengan air zam-zam. Pada

saat tawaf beliau dipikul mengelilingi Kabah. Yang terjadi, setelah

selesai berhaji, beliau kembali ke tanah air dengan keadaan sehat

155


walafiat. Dokter yang memeriksa juga terkejut, kankernya hilang.

Kami percaya bahwa Allah memberikan kesembuhan karena

keyakinan dan semangat beliau serta kepasrahan dan ketulusan

menghadapi ujian Allah. Alhamdulillah.

Kedua. Pada tahun 2000, cucu pertama penulis dilahirkan,

dengan perasaan berbunga-bunga, mendadak saat berusia

sebulan, ada benjolan diantara dua matanya. Dokter di sebuah

RS di Jakarta menyatakan bahwa cucu penulis terkena tumor

atau kanker. Oleh penulis dibawa ke Singapura. Pada saat berusia

tiga bulan, perutnya di operasi dan dikeluarkan daging sebesar

bola golf. Setelah diperiksa, oleh dokter dinyatakan terkena

tumor neuroblaskoma, tumor syaraf. Penulis dan keluarga

menjadi panik.

Oleh dokter di Jakarta dinyatakan bahwa paling lama hanya

bertahan enam bulan. Kami bertambah panik, karena setelah

itu tumbuh benjolan-benjolan di sekujur tubuhnya. Pada saat

itu penulis mencoba mencari upaya pengobatan segala macam

cara. Beberapa tidak realistis. Hingga pada suatu hari penulis

bertemu seorang ulama dari Mataram yang pandangan batinnya

demikian dalam. Beliau menyadarkan penulis, “Bahwa penyakit

berasal dari Allah, karena itu mohonlah kepada Allah untuk

kesembuhannya.”

Penulis dengan keinginan yang sangat kuat, mulai bertarung

dengan maut berebut nyawa si cucu. Penulis menjalani semua

perintah Allah dengan lebih tekun, setiap malam melaksanakan

sholat Tahajud, menangis memohon kepada Allah agar diberikan

jalan kesembuhan dan dipanjangkan nikmat panjang umur

kepada cucu yang dilahirkan pada tahun “Naga Emas” itu.

Penulis menghentikan pengobatan alternatif, dan benarbenar

pasrah kepada Allah. Ternyata Allah mengabulkan

permohonan penulis. Suatu hari kami bertemu seorang dokter

yang mengatakan bahwa di Belanda ada percobaan pengobatan

tumor Neuroblascoma, disebutkannya MIBG.

Dengan segala upaya, si cucu tersayang tadi, yang benjolan

ditubuhnya ada 32 benjolan dibawa ke Belanda. Disana dia

menjalani pengobatan, diinfus dengan radioaktif, dan selama

lima hari dirawat dalam ruangan anti radiasi, karena tubuhnya

mengeluarkan radiasi. Sebulan cucu ini di Belanda, dan ternyata

dari 32 benjolan, yang 25 buah mengempis, tersisa sekitar

delapan buah. Si jagoan itu kami bawa pulang dan Alhamdulillah

kini dia berusia 12 tahun dan bisa sekolah, walau perlu mendapat

bantuan tehnis.

Yang menarik, pada suatu hari, saat si cucu masih

dirawa, datanglah seorang Pastor yang sudah demikian tua

menemui anak dan isteri penulis di Rumah sakit di Belanda

itu. Beliau menyerahkan uang yang merupakan sumbangan

dari jamaah sebuah gereja yang terletak sekitar 200 km dari

RS. Katanya sang Pastor itu mendengar ada anak Indonesia

dalam perawatan tumor ganas dan didengarnya kekurangan

biaya untuk membayar RS. Memang biayanya cukup mahal,

dan seberapapun besarnya bantuan itu, penulis semakin sadar

bahwa tangan Tuhan berada di sana.

Tidak bisa dibayangkan, kami dari keluarga muslim, mendadak

diberi bantuan uang untuk membayar RS oleh Pastor yang

mewakili jamaahnya yang Kristiani. Hanya kebesaran Allah yang

dirasakan keluarga kami. Rasa terharu kami semakin bertambah,

karena Pastor yang sudah cukup tua itu menyetir mobilnya

sendiri dalam menuju ke RS. Alhamdulillah Ya Allah.

Nah, dari dua kisah yang menyentuh penulis, apa pelajaran yang

bisa kita ambil. Benar bahwa penyakit seberat apapun itu, untuk

kesembuhannya hanya dari Allah. Memohonlah kepadaNYA

dengan keyakinan penuh, ikhlas dan pasrah dan percaya. Kita

pasrahkan keputusan kepada Yang Maha Kuasa, apapun itu.

Khusus kepada Ibu Endang, semoga Ibu membaca tulisan

yang sederhana ini. Apapun keputusan Allah, mari kita terima

dengan ikhlas. Tetapi percayalah Bu Endang, persoalan Ibu

bukanlah soal medis belaka yang penulis yakin, Ibu dan semua

156


dokter yang merawat sangat memahaminya. Penulis hanya bisa

menyampaikan kisah ini, dimana penulis pernah ikut tersentuh

pada saat itu dan merasakan kegalauan dan kekhawatiran

yang sangat. Tetapi penulis bersyukur, pada akhirnya Allah

menentukan yang terbaiknya bagi kami.

Selamat berjuang Bu Endang, selaku pribadi penulis ikut

mendoakan, jangan menyerah, tabah, ikhlas tetapi tetap yakin.

Itu sebuah ujian dari Allah, tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Terimalah simpati dari penulis. Salam hangat.

Tri Budhi Sastrio

Menteri Kesehatan

yang Tidak Sehat

REP | 28 April 2012 Kompasiana

Judul ini rasanya memang kurang pas, kurang tepat dan

kurang mengena. Mengapa? Karena tidak ada jaminan menteri

kesehatan pasti sehat adanya. Sehat itu milik siapa saja begitu

juga dengan sakit, dapat menimpa siapa saja. Menteri kesehatan

tidak terkecuali, beliau dapat sangat sehat tetapi dapat juga

Sangat sakit seperti yang menjadi berita di banyak media di

tanah air tercinta.

Endang Rahayu Sedyaningsih adalah menteri kesehatan

pertama di ini negara Yang menyatakan berterang dan langsung

pada kepala negara bahwa dirinya Mengajukan pengunduran

diri dengan alasan kanker paru yang dideritanya Benar-benar

tidak memungkinkan dirinya menjalankan tugas-tugas negara.

Kalau ini berita datang dari mancanegara rasanya tidak perlu

terkejut segala. Tetapi karena datangnya dari tanah air tercinta

yang tradisi para menterinya Baru mundur jika kepala negara

mencopotnya, benar-benar berita luar biasa. Semoga ibu

cepat sembuh sehingga pengabdian pada negara dan bangsa

Dapat diteruskan walau tidak sebagai menkes tetapi ibu rumah

tangga biasa.

Lalu bagaimana dengan hiruk pikuk kisah tes kesehatan setelah

anjangsana Ke Cikeas paripurna … apakah ini semua hanya

sandiwara komedi belaka? Rasanya tidak juga apalagi kan bisa saja

waktu diperiksa sehat-sehat saja, Tetapi setelah waktu menjabat

tiba, banyak kerja, belum lagi tekanan jiwa Karena mungkin

tahu ada banyak yang tidak beres tapi dibuat tidak berdaya,

Kanker yang dulu jinak-jinak saja sekarang tiba-tiba saja ikut aktif

meraja-lela. Yah … itulah rona kehidupan manusia, sakit dan sehat

kadang misteri juga Walau kadarnya tidak setinggi hidup mati

manusia yang tak terduga-duga. Sekali lagi ibu menteri melalui

catatan sederhana disampaikan langsung saja Ikut prihatin

pada sakit ibu semoga jalan untuk sembuh sudah ada tersedia

Sehingga tinggal dicari oleh pakarnya dan kemudian ibu kembali

bisa tertawa.

Yang menjadi istimewa luar biasa karena tampaknya ibulah

menteri pertama yang berani mengajukan pengunduran diri

karena menganggap beban kerja tidak mungkin diselesaikan

dengan kondisi tidak prima, padahal sebelumnya hanya ada dua

penyebab seorang menteri tidak lagi duduk enak dikursinya.

Yang pertama dicopot oleh kepala negara yang kedua karena

ajal telah tiba. Lain dari itu … ha … ha … ha … nyatanya banyak

menteri tenang-tenang saja.

Meski tak becus unjuk tampilannya, walau banyak kerja tak

beres hasilnya. Bahkan yang lebih parah, sudah jelas jelas

diusir tanda dan naga-naganya, Eh malah dengan bangga

berkata saya tetap menjalan tugas-tugas negara Karena kepala

negara tak bilang apa-apa, wah benar-benar tebal mukanya.

Lebih parah lagi sudah jelas-jelas penyebab kekacauan berada di

pundaknya, Bukan cuma tetap tenang duduk dikursi jabatannya,

malah dengan garangnya Menghakimi sejumlah bawahannya

157


sebagai biang kerok bencana dan petaka. Kemudian yang

lebih hancur keadaannya, sudah jelas-jelas dialah sutradara

Di balik semua rencana korupsi dan kasus suap menyuap di

kementeriannya, Bukan saja tetap aman di kursinya tetapi juga

tidak tersentuh aparat negara.

Mundur karena kesehatan sudah bukan main hebat luar

biasanya di ini negara, Apalagi kalau mundur karena merasa

bertanggung jawab pada anak buahnya. Di negeri para orang

buta, orang bermata satu dapat menjadi raja penguasa.

Di negara yang mundur bukan tradisinya, ada menteri mundur

karena sakitnya Benar-benar luar biasa, dua jempol baginya,

semoga cepat pulih seperti sedia kala.

Dr. Tri Budhi Sastrio – tribudhis@yahoo.com – Poznan, Poland

Koran Jakarta, Senin, 30 April 2012

Perilaku Elite,

Pengunduran Diri

Menkes Jadi Contoh

bagi Pejabat

JAKARTA - Budaya mundur dari jabatan bila tidak mampu

mengemban amanat yang diberikan perlu ditumbuhkan di

kalangan pejabat, terutama para menteri. Hingga saat ini,

sedikit sekali pejabat di negeri ini yang memiliki mentalitas

seperti itu. Pengunduran diri Menteri Kesehatan, Endang Rahayu

Sedyaningsih, karena sakit seharusnya bisa menjadi momentum

untuk menumbuhkan kembali budaya mundur itu.

“Terlepas dari alasan kesehatan, pengunduran diri Menteri

Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, mendapat apresiasi

dari berbagai kalangan karena jarang sekali menteri yang

legowo menanggalkan jabatannya. Sikap seperti itulah yang

harus dicontoh,” tegas pengamat politik, Jeirry Sumampow, saat

dihubungi Koran Jakarta, Minggu (29/4).

Jeirry menjelaskan tidak mampu menjalankan tugas bukan

hanya disebabkan sakit. Menteri-menteri yang tidak berhasil

mencapai target yang telah ditetapkan Presiden atau menterimenteri

yang tidak optimal bekerja karena terkontaminasi oleh

kepentingan parpolnya juga masuk kategori tidak mampu

menjalankan amanat Presiden. Yang bersangkutan seharusnya

menyadari dan layak mundur dari jabatannya di kabinet.

“Terutama menteri dari parpol yang selama ini kerap

berseberangan dengan kebijakan Presiden. Selain menteri

tersebut tak terlalu cakap dalam memimpin kementerian, yang

bersangkutan bisa membuat kinerja kabinet SBY tidak bisa fokus

menyelesaikan program pemerintahan hingga 2014,” tegas Jeirry.

Menteri-menteri yang berasal dari parpol itu kerap lebih

mementingkan parpolnya daripada mengikuti fatsun dari

Presiden. Jeirry berharap menteri-menteri itu bersikap arif dan

mau mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan

parpol.

“Satu tahun menjelang pemilu, biasanya para menteri dari parpol

justru memanfaatkan kementerian yang mereka pimpin untuk

keuntungan parpol. Ini akan membebani pemerintah. Sebaiknya

mereka mundur saja,” kata Jeirry.

Sementara itu, Direktur Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti,

menyebutkan pengunduran diri Endang Rahayu Sedyaningsih

itu merupakan pembelajaran bagi elite politik. Endang

memperlihatkan sikap bertanggung jawab atas amanat yang

diberikan Presiden. “Dengan penuh tanggung jawab, karena

sakit, Bu Endang mundur dari jabatannya,” tegas Ray.

158


Harapannya, langkah Menteri Kesehatan itu dapat menggerakkan

nurani elite politik lainnya di negeri ini untuk lebih peka terhadap

kritik publik. Namun, Ray masih tak terlalu yakin jika sikap

Menteri Kesehatan itu kemudian menjadi gejala umum di elite

pemerintahan. Perlahan-lahan peristiwa itu akan hilang tergerus

perilaku yang cenderung bergaya hidup mewah, acuh tak acuh,

serta mengejar akses kekuasaan dan uang. “Butuh kerja keras

mengubah perilaku elite republik ini,” tegas Ray. nsf/P-4

159


160


harian Republika (edisi pagi), Tanggal 3 mei 2012

Kenangan Mereka Tentang Menkes

Dahlan Iskan

Menteri BUMN

Almarhumah semasa hidupnya adalah sosok pekerja keras,

bahkan kian keras menunaikan tugas ketika tahu terkena kanker.

Sebagai seorang peneliti yang tangguh beliau tahu ke mana

akhirnya penyakitnya itu dan apa saja akibatnya. Karena itu,

beliau memilih memnafaatkan sisa hidupnya dengan mengabdi

lebih serius.

Suryadharma Ali

Menteri Agama

Selamat jalan Bu Endang, kami kehilangan ibu. Dari Masjid

Nabawi saya mendoakan semoga Allah melapangkan jalan,

mengampuni semua keliru dan khilaf, dan Alah memberi surga

jannatun naim. Dan bagi keluarga yang ditinggalkan Allah

berikan ketabahan dan kekuatan iman. Amin ya robbal alamin.

Bayu Krisnamurthi

Wamendag

Saya bersama-sama Bu Endang ketika menangani flu burung.

Beliau saya kenal sebagai seseorang yang sangat santun, sangat

menguasai bidang ilmunya, tetapi juga punya persistensi tinggi

dan diplomat yang ulung.

Muhaimin Iskandar

Menakertrans

Beliau terkenal tulus, pekerja keras. Dia merupakan seorang

teman dekat saya, sederhana, penuh pengabdian.

David Tobing

Pengacara

(Pernah berseteru dengan Menkes soal susu formula)

Waktu perkara susu formula, dia berani tampil di depan TV

walaupun sebenarnya yang paling bertanggung jawab ketika

itu IPB. Saya juga salut atas kebijakan-kebijakan yang dilakukan

beliau yang pro kepada kesehatan rakyat. Seperti peraturan

untuk pengendalian tembakau dan pemberian ASI kepada anak.

Andi Nurpati

Ketua Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat

Negara kehilangan sosok perempuan yang tegar, cerdasa, dan

bersahaja. Apalagi di tengah pergulatan melawan penyakit

yang dideritanya, beliau masih sanggup menjalankan tugas

kementerian. Semoga perjuangan beliau dapat menjadi contoh

bagi penderita kanker yang lain.

161


Harian Kompas (edisi pagi), tanggal 3 Mei 2012

Endang Sedyaningsih,

Peneliti Yang Menjadi

Birokrat

Irwan Julianto

Ketika bertemua Dr. Endang Sedyaningsih, MPH di

Konferensi Infleunza Eropa III di kota Vilamoura, Algarve,

Portugal, pertengahan September 2008, ia tampak terkejut.

Ia berpesan agar presentasinya tentang kesiapan Indonesia

menghadapi epidemi flu burung di sidang pleno forum amat

bergengsi itu tidak dilaporkan.

Alasannya karena ia baru saja dicopot dari jabatannya sebagai

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan

farmasi, Departemen Kesehatan. Ia tak ingin ditegur oleh Menteri

Kesehatan waktu itu, Siti Fadillah Supari.

Di forum, dengan lancar dan jernih ia memaparkan situasi flu

burung di inodnesia, yang tergolong paling tinggi jumlah kasus

dan tingkat kematian korbannya di kawasan ASEAN.

Di luar dugaan, setahun kemudian namanya diumumkan menjadi

Menteri Kesehatan yang baru. Namanya muncul pada saat-saat

terkahir karena calon kuat sebelumnya, Prof. Nila Moeloek, batal

dipilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Endang, dari seorang peneliti yang sempat menduduki posisi

pejabat eselon dia di Balitbang Depkes, kemudian setahun

lebih non-job, langsung melejit menjadi seorang menteri. Ini

mematahkan tradisi karena selama ini para menteri kesehatan

biasanya dokter klinis atau dokter yang pernah menjadi

pejabat struktural di kanwil atau direktur rumah sakit di daerah.

Sementara Endang adalah seorang peneliti biasa walaupun ia

menyandang gelar master dan doktor ilmu kesehatan masyarakat

dari Universitas Harvard.

Ada saja yang tak suka ia jadi menkes. Misalnya, ia ditunding

mencuri virus flu burung dari Indonesia dan dikirim ke Amerika

yang diduga bakal dijadikan cikal bakal vaksin yang nantinya akan

dikomersialkan tanpa Indonesia menikmati hak dan royaltinya.

Ada pula spekulasi bahwa virus flu burung asal Indonesia itu

akan dikembangkan menjadi senjata biologis di AS.

Hal yang belakangan berkembang malah tudingan bahwa

Endang bertanggung jawab untuk pengadaan reagensia untuk

pemeriksanaan infeksi flu burung pada 2006 – 2007, dan ia

dianggap menghindari pemeriksaan Komisi Pemberantasan

korupsi (KPK). Padahal, sebagai Kepala Puslitbang Biomedis dan

farmasi ia tak memiliki wewenang untuk pengadaan barang.

Kondisi sakitnya yang parah tak memungkinkan ia datang

sebagai saksi kasus korupsi di KPK. Lewat pesan plakberrynya

tanggal 3 April lalu ia menjelaskan duduk perkaranya.

“sori nulis salah-salah. I can’t really see. My health problem is serious,”

tulisnya. Terapi medik saya pun belum settled. Tim dokter saya

sangat besar ... Beberapa hari sekali mendapatkan regimen terapi

saya.” Itulah pesan tertulis terakhir yang saya terima. Setelah itu

pesan-pesan saya tak pernah dibaca dan dibalas. Yang tersisa

adalah personal statusnya yang berbunyi : Be strong.

Ia tetap tegar ketika mengajukan permohonan dirinya

untuk mundur sebagai Menkes kepada Presiden SBY yang

menjenguknya. Kamis pekan lalu, di RSCM.

Menurut Prof. David Muljono, dokter yang juga peneliti hepatitis

di lembaga Eijkman, Endang adalah tokoh yang paling berjasa

untuk meloloskan usulan ke sidang Dewan Kesehatan Sedunia

di geneva pada Mei 2010. Atas usulan itu hepatitis diakui sebagai

wabah dunia dan harus diperingati secara rutin setiap tahun.

162


“Beliau mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional,”

kata David.

Bersahaja

Kebersahajaan Endang sebagai peneliti ilmu kesehatan

masyarakat masih lekat di ingatan. Suatu hari di bulan Agustus

1996, di Bandara Logan, Boston, AS, Endang menyambut saya

dan keluarga. Sebagai mahasiswa doktoral di Universitas Harvard

ia jauh dari kesan snob. Ketika itu ia bergaun terusan panjang di

bawah lutut dan memanggul ransel. Apartemennya sederhana,

tetapi tertata rapi dan bersih.

Bulan Maret 1997 ia berhasil mempertahankan disertasinya

tentang kehidupan para pekerja seks komersial di Kramat

tunggak, Jakarta Utara, dan perilaku para pelanggan mereka

yang rawan bagi penularan HIV/AIDS. Ketika itu, isu AIDS sedang

naik daun di dunia, termasuk Indonesia.

Terkait penyakitnya, Endang menjadi perokok pasif karena

Indonesia adalah “surga” bagi perokok. Asap rokok lingkungan

(environmental Tobacco Smoke) jauh lebih beracun dan

karsinogenik dibandingkan asap rokok utama (mainstream

smoke). Ini yang mungkin memicu kanker paru yang diidap

Endang. Ia dan keluarganya untuk pertama kali mengetahui

bahwa dirinya mengindap kanker paru ketika melihat hasil

rontgen parunya pada 22 Oktober 2010.

di demo oleh para petani tembakau dan buruh industri rokok.

Bahkan fotonya pernah terpampang di baliho besar sebagai

salah satu dari 10 musuh petani tembakau dan buruh industri

rokok (Buku Indonesia – The Heaven for cigarette Companies and

the Hell for the People, FKM UI, 2012).

Padahal tujuan RPP itu tak lain adalah mengamankan mereka

yang belum menjadi perokok dan para perokok pasif. Tidak

dimaksudkan untuk mematikan industri rokok dan melarang

penanaman tembakau.

Disalahpahami dan difitnah memang risiko jabatan bagi pejabat

tinggi negara. Namun, Endang telah membuktikan bahwa

ia tetap bekerja sampai saat-saat terakhir, sebelum akhirnya

menyerah dan harus meminta cuti sebulan untuk berobat. Lalu

dipuncaki dengan permohonannya mengundurkan diri. Ini

menunjukkan kejujurannya untuk tidak mengangkangi ajabatan

yang diamanahkan kepada dirinya.

Enfang tetap tegar. Tanggal 22 Desember 2010 ketika

meluncurkan buku Perempuan-perempuan Kramat Tunggak Di

Bentara Budaya Jakarta, ia masih terlihat sehat dan segar. Dan

ia tetap tegak tegar ketika diwawancarai di rumah dinasnya

beberapa pekan kemudian (Kompas, 23 Januari 2011). Malah

ia bisa menertawakan dirinya sendiri sambil menyanyikan lagu

David Bowie “Dead Man Walking”.

Salah satu perjuangan Endang yang berani melawan arus adalah

membuat Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang

Pengamanan Rokok bagi Kesehatan . Kantor Kemenkes tak jarang

163


Harian Republika (edisi pagi), tanggal 4 Mei 2012

Selamat Jalan

Bu Endang

Ismail A said (Presiden Direktur Dompet dhuafa)

Dua hari lalu, tepatnya Rabu (2/5), Menteri Kesehatan Nonaktif,

Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih dipanggil menghadap Sang

Khaliq, All SWT. Ia menghembuskan nafas terakhir di Rumah

Sakit Cipto Mangunkusumo setelah 1,5 tahun berjuang melawan

penakit kanker paru.

Meski sempat diwarnai kontroversi ketika ia ditunjuk sebagai

menteri Kesehatan 2009 lalu, Bu Endang telah menunjukkan

kepada kita arti kegigihan dan amanah. Di tengah perjuangannya

melawan penyakit yang sangat kronis, ia tetap berjuang

mengemban tugas untuk membangun kesehatan bangsa.

Bangsa ini tentu merasa sangat kehilangan salah satu srikandi

terbaiknya.

Meski hanya menjabat 2,5 tahun, banyak sudah capaian yang ia

torehkan bagi dunia kesehatan di Indonesia. Di Masa Endanglah

program jaminan Persalinan (Jampersal) digulirkan. Dengan

program ini, para ibu yang berasal dari keluarga tidak mampu

tidak perlu merogoh koceknya untuk biaya persalinan. Di masa

beliau pula kewajiban pemberian ASI eksklusif dikuatkan dalam

peraturan pemerintah. Ia juga melarang iklan dan tenaga medis

menyebarkan pemberian susu formula, serta mewajibkan

perkantoran untuk menyediakan ruang menyusui

ditunjukkan Ibu Endang untuk memberikan akses kesehatan

bagi siapapun. Hal ini ditunjkan dengan inisiatifnya mendirikan

Rumah sakit Pertama, rumah sakit tanpa kelas untuk melayani

masyarakat peserta Jamkesmas dan BPJS.

Jauh sebelum itu, Ibu Endang juga telah mengabdikan hidupnya

untuk dunia kesehatan Indonesia. Beliau pernah menjadi dokter

di daerah terpencil di kawasan timur Indonesia, Nusa tenggara

Timur. Beliau juga kerap kali terjun ke lokalisasi Kramat Tunggak

untuk mengadvokasi kesehatan para pekerja seks komersial di

kawasan itu. Selain itu, berkat usahanya juga anggota Badan

Kesehatan dunia (WHO) menyepakati resolusi Virus Sharing

dalam siding WHO yang berlangsung 16 Mei 2011.

Dompet Dhuafa juga memiliki kesan tersendiri dengan doctor

lulusan Harvard School of Public Health ini. Satu bulan lalu,

tepatnya 1 April 2012 LKC ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan

menjadi penyelenggara event akbar Hari TB Sedunia di Jakarta.

Ibu Endang juga sangat mendukung keberadaan Ruah sehat

Terpadu (RST), rumah sakit gratis untuk dhuafa yang dibangun

Dompet dhuafa. Bulan lalu Dompet Dhuafa telah mengajukan

surat audiensi kepada beliau, dan mengundangnya dalam

peresmian RST Juli mendatang. Namun, kehendaak Allah berkata

lain, ia lebih dahulu diundang oleh Allah SWT.

Keluarga besar Dompet Dhuafa menyampaikan belasungkawa

dan duka sedalam-dalamnya atas wafatnya Ibu Endang Rahayu

Sedyaningsih. Semoga segala karya baktinya bagi kesehatan di

tanah Air mendapat balasan pahala dari Allah SWT.

Selamat Jalan Bu Endang!

Hal ini selaras dengan apa yang selama ini teman-temana

di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa

perjaungkan, bahwa bayi yang baru lahir hingga usia enam

bulan harus diberi ASI secara eksklusif. Semangat yang sama juga

164


Majalah Tempo, 7 Mei 2012

Bukan Anak Ambon,

Tapi...

Kartono Mohamad (Mantan Ketua IDI)

Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih mepunyai konsep

kesehatan masyarakat yang jelas. Tapi beban psikologisnya

berat.

Pagi itu, sekitar pukul 04.30 saya mendapat telpon. Penelpon

meminta saya meminta saya mencarikan tiga nama dokter

perempuan ahli kesehatan masyarakat yang berasal dari Maluku

atau Indonesia timur unutk calon Menteri Kesehatan.

Sayapun bertanya, “Kan, sudah ada Profesor Nila Moeloek?”

Penelpon menjawab Profesor Nila Moeloek tidak lulus screening

kesehatan. Saya katakan, mencari dokter seperti yang diminta

sebaiknya di Makassar karena kebanyakan mereka belajar atau

mengajar di Universitas Hasanuddin.. Tapi saya berjanji akan

mengabari pukul sembilan. Penelpon mengatakan paling

lambat pukul enam harus sudah ada nama calon karena kabinet

diumumkan besok.

Segera saya menelpon Profesor Firman Lubis sebagai pengajar di

Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,

tentu ia lebih banyak memiliki pengetahuan tentang itu.

Ternyata Profesor Firman telah mendapat telepon serupa. Kami

berunding dan mendapatkan tiga calon, yang segera kami

sampaikan kepada penelpon tadi pagi. Satu dari tiga calon yang

kami sebut adalah Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih. Riwayat

hidup mereka pun segera dikirim melalui e-mail pagi itu juga.

Sekitar pukul tujuh, penelpon pertama kembali menyakan

apakah saya mengenal baik. Dr. Endang. Saya katakan secara

pribadi saya tidak kenal, tapi saya tahu dia doktor dalam public

health dari Harvard University dengan disertasi mengenai HIV di

kalangan pekerja seks Kramat tunggak. Dia bukan anak Ambon,

tapi suaminya bernama mamahit (dalam otak saya, mamahit

adalah nama Ambon).

Profesor Firman dan saya sepakat Dr. Endang calon yang sangat

tepat. Sebagai orang yang telah meneliti penyakit di kalangan

pekerja seks, tentu ia banyak mengenal kehidupan rakyat miskin

dan yang terpinggirkan. Apalagi mengenai HIV, yang selama ini

penanganannya seperti setengah hati.

Cerita di atas memperlihatkan bahwa penunjukkan Endang

Rahayu Sedyaningsih sebagai Menteri Kesehatan bukanlah

pesanan asing seperti yang difitnahkan selama ini. Penunjukkan

Dr. Endang memang pada detik-detik terkahir penyusunan

kabinet. Itulah gaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam

kabinet sebelumnyapun Menteri Kesehatan ditunjukan pada

saat-saat terakhir. Mungkin, bagi Presdien SBY, Menteri Kesehatan

bukanlah posisi yang sangat penting sehingga pencarian calon

tidak dilakukan sejak awal. Yang penting ada dan dijabat seorang

perempuan.

Terpilihnya Dr. Endang menimbulkan reaksi dari politikus

yang calonnya tidak terpilih dan mereka yang tidak terpilih. Ia

mendapat gempuran gosip yang menyakitkan. Misalnya soal

posisinya yang baru eselon II (padahal banyak menteri tak punya

eselon birokrasi sama sekali). Ia dituduh menyelundupkan virus

flu burung ke luar negeri untuk dibuat vaksin (padahal sampai

sekarang pun belum ada vaksin khusus untuk flu burung). Ia juga

dituding sebagai agen Amerika, terutama Namru.

Gosip seperti itu sedikit banyak membebani Dr. Endang

sebagaiMenteri Kesehatan yang baru. Tapi ia bersikat rendah hati

165


sehingga gosip meredup dengan sendirinya.

Bagi kalangan kesehatan di Indonesia, penunjukkan Dr. Endang

sebagai Menteri Kesehatan merupakan pilihan tepat dan

menimbulkan harapan. Dalam diskusi dengannya di Metro

TV dan TV One, saya katakan program pemerintah mengenai

kesehatan tidak jelas arahnya. Keluarga Berencana bahkan tidak

disebut sama sekali, baik dalam program seratus hari maupun

dalam prioritas program pemerintah. Kritik itu tidak saya tujukan

kepada Menteri Kesehatan , karena bukan dia yang menyusun

programnya, tapi kepada pemerintah secara keseluruhan. Ketika

itu Dr. Endang mengatakan ia harus menjalankan apa yang sudah

ditetapkan Presiden tapi ia berjanji mencoba mengoreksi hal itu.

bisa memahami dan tidak sepenuhnya mendukung. Beban

pikiran seperti itu tentu ikut berpengaruh terhadap penyakit

yang ia derita, betapapun ia mengatakan sia menerima apa saja

yang ditentukan Tuhan karena ia sudah banyak mendapatkan

hal yang membahagiakan dari Tuhan.

Dr. Endang wafat Rabu pekan lalu setelah berjuang melawan

kanker paru-paru.

Selamat jalan, Bu Endang.

Menurut saya, setelah Leimena dan Adyatma, baru kali inilah

ada Menteri Kesehatan yang mempunyai konsep “public health”

yang jelas. Bedanya, Leimena mempunyai kebebasan merealisasi

konsepnya tapi terhambat perubahan situasi politk sedangkan

Adhyatma dan Endang mengalami kendala garis komando.

Khusus untuk Endang ditambah lagi oleh beban psikologis yang

agaknya sulit ia singkirkan.

Pada kesempatan lain, Dr. Endang mengeluhkan beberapa

keputusan dan kebijakan pemerintah sebelumnya yang tidak

tepat, seperti Jamkesmas. Ia ingin memperbaikinya tanpa

menimbulkan kesan “balas dendam”. Ketika saya usulkan agar

ia merombak birokrasi di Kementerian Kesehatan, Dr. Endang

menjawab ini pun harus ia lakukan hati-hati dan akan dimulai

pada 2011. Saya tidak tahu apakah dia telah melakukannya. Jelas

bahwa tuduhan, pelecehan, dan sikap permusuhan terhadap

dia yang luas disebarkan telah menimbulkan beban pikiran

tersendiri.

Dr. Endang mempunyai idealisme yang tinggi, tapi juga

mempunyai beban psikologis yang berat. Tentang suatu

masalah, misalnya, ia pernah berkata, “Saya mempertaruhkan

nama saya untuk ini.” Tapi agaknya birokrasi di bawahnya tidak

166


Kompas, Kamis 3 Mei 2012

Bu Dokter, Kau Tak

Pernah Pergi Kan?

Arifin Panogoro

Kabar duka itu menghampiri saya seperti belati yang

mengiris ulu hati. Perih! Dokter Endang Rahayu sedyaningsih

mendahului kita semua, Rabu (2/5), kembali ke Yang Ilahi.

Sejatinya saya sebagaimana khalayak ramai ikuti pemberitaan

tentang kesehatan mendiang Ibu Menteri Kesehatan, yang

belakangan hari tengah merosot tajam karena penyakit yang

diidapnya. Sayapun mendengar Bu Dokter, demikian saya kerap

menyebut sosok almarhumah, terdeteksi mengidap penyakit

kanker paru. Saya juga menyimak cerita beberapa kawan dan

saudara saya yang kebetulan juga aktif di departemen yang ia

pimpin, bahwa Bu Dokter sedang menjalani terapi.

Satu hal yang bikin saya salut, kendati dalam fase pengobatan,

ia tidak menunjkkan tanda-tanda mengendorkaan semangat

dan dedikasi pada departemen yang ia pimpin. Adik saya yang

jadi tenaga medis di sebuah rumah sakit di Ibu Kota malah

menyebutkan “Dia tidak mau pergi Pin, seolah-olah dia tetap

sehat seperti sediakala. Dia meminta kami semua fokus dalam

tugas di ranah pengabdian medis.

Gigih, cakap, rendah hati

Hadirnya sosok Bu Dokter seperti rekan dalam berjuang.

Ceritanya, kami sama-sama getol memperjuangkan bebasnya

masyarakat Indonesia dari ancaman bahaya tembakau.

Ancaman dari pengisap tembakau di Indonesia bukan isapan

jempol belaka. Daya yang ada di Komisi Nasional Pengendalian

Tembakau menunjukkan, tak kurang dari 40 juta anak Indonesia

rawan terpapar bahaya asap rokok. Pemicunya faktor orangtua

atau saudara mereka yang punya kebiasaan buruk ini dalam

menikmati tembakau di rumahnya.

Indonesia adalah “juara” ketiga dari konsumen terbesar rokok

dunia setelah China dan India. Total rokok yang dibakar mencapai

220 milyar batang per tahun di tanah Air. Fakta ini sungguh

mencengangkan, sekaligus memprihatinkan.

Di mata Bu Dokter, rupanya, maraknya konsumsi rokok tidak

lepas dari gencarnya iklan dan promosi dari produsen yang

mengemasnya dengan menarik bagi masyarakat. Rokok bahkan

menyasar masyarakat dengan encitraan sebagai bagian dari

gaya hidup modern. Berbagai bentuk “kampanye” rokok ini

menumbuhkan kecemasan di kalangan praktisi yang menggagas

pengendalian bahaya tembakau. Utamanya risiko pada anakanak

dan perokok pasif.

Sosok almarhumah begitu gigih mendukung gerakan dan

kegiatan Komisi Nasional Pengendalian tembakau. Kebetulan

saya dan keluarga turut aktif mendorong kegiatan komisi ini

sebagai suatu gerakan masyarakat madani.

Kegetolan Bu Dokter mendukung kami membuat saya

kagum, tetapi juga bertanya-tanya dari mana sumber dan akar

keberaniannya. Padahal, sudah jadi rahasia umum kekuatan

lobi industri tembakau begitu besar pada kekuatan politik di

republik ini. Bu Dokter tak suruh langkah. Dia tak terlihat mudah

menyerah meskipun proses legislasi dalam mengegolkan

regulasi pengendalian tembakau mengalami pasang surut yang

tidak ringan bagi dirinya . Di titik ini, saya dan teman-teman yang

giat dalam Komisi Nasional Pengendalian tembakau merasa

kehilangan rekan sejawat dan seperjuangan.

Sikap gigih Bu Dokter ternyata bukan “barang tiban” atau instan

yang hadir begitu saja. Saya coba bicara dengan beberapa

kolega dan temannya. Kebetulan ada teman semasa SMA Negeri

4 Gambir, Jakarta Pusat, yang juga getol dalam kampanye

pengendalian tembakau turut membagi senarai kisah Bu Dokter.

Dari situ saya paham garis hidup dan perjalanannya, yang

167


membuat birokrat ini bersikap bukan seperti pejabat yang biasa

kita kenal dalam “nomenklatur” kepegawaian pada umumnya.

Jika pejabat lain menyebarkan atau kampanye program

kementerian sudah lumrah, Bu Dokter satu ini membuat

saya tertegun. Dia begitu getol member perhatian serius

dan kepedulian tinggi dalam penanganan program-program

kesehatan, khususnya tentang kesehatan ibu dan anak serta

pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular.

Termasuk pengendalian faktor risiko terbesar dari penyakt tidak

menular, yaitu konsumsi tembakau.

Bu Dokter tak asal cakap. Tanpa ba-bi-bu, Bu Dokter pula yang

memprakarsai kementeriannya memasang berbagai iklan

layanan masyarakat mengenai bahaya rokok hingga menjangkau

kendaraan umum. Kita pun dapat melihat akibat buruk bahaya

rokok yang dikampanyekan, diantaranya di bus transjakarta.

Di sini saya jadi ingat seloroh di atas, jangan-jangan Bu Dokter

memang tidak pernah pergi. Dia hadir dalam bentuk jangkauan

kegiatan aktif di masyarakat. Pesannya sederhana, tetapi

layaknya obat racikan sangat “cespleng” dalam membuka mata

publik terhadap inti dari kampanye pengendalian tembakau

yang didukungnya.

Sebagai pakar dan profesional lulusan Universitas Harvard, Bu

Dokter dikenal sebagai pribadi yang rendah hati sesuai ajaran

kedua orangtuanya: Prof. Dr. Sudjiran Resosudarmo dan Satimah

Mardjana. Ia juga sangat terbuka dalam membina relasi dengan

para mitra dan pemangku kepentingan. Tak hanya dengan para

professional kesehatan, ia pun mudah bergaul dengan seluruh

lapisan masyarakat. Bahkan, kolega saya sering bercerita, ia

mendengar informasi jika Bu Dokter kerap turun langsung

mendengarkan keluh kesah masyarakat dengan hati dan kepala

dingin.

berada di tengah masyarakat bawah saat jadi dokter Puskesmas

di Desa Waipare pedalaman Nusa Tenggara Timur, selama lebih

dari tiga tahun di awal 1980-an. Desa Waipare bahkan sangat

berkesan untuk Bu Dokter karena di sana ia pernah menjabat

sebagai kepala Puskesmas”tak semua orang bisa menjabat

kepala Puskesmas di daerah”katanya dengan bangga pada satu

kesempatan.

Sosok penuh elan juang

Bu Dokter sebagian teman sekolahnya memanggil dengan

nama akrabnya, Enny boleh dibilang berkarier dari jabatan

kepala Puskesmas hingga menapak di anak tangga tertinggi

sebagai Menteri Kesehatan. Tak kurang dari 2,5 tahun Bu

Dokter menorehkan catatan dan prestasinya sebagai menteri.

Sungguh tak banyak pejabat setingkat menteri, yang notabene

adalah jabatan politis dari pelaksanaan hak prerogatif presiden,

memiliki catatan karier dan ilmu “luar-dalam” dari departemen

yang dipimpinnya selengkap Bu Dokter.

Hari ini Indonesia boleh berduka. Namun, saya tidak akan

mengenang sosoknya dengan air mata meski duka masih perih

terasa di hati. Saya lebih senang mengenang sumbangsihnya

dalam berbagai kampanye yang ia sokong, utamanya kegiatan

pengendalian tembakau yang ia tekuni bersama-sama kami.

Pada galibnya saya yakin Bu Dokter tidak pernah benar-benar

pergi. Dia hadir dalam berbagai ranah pengabdian yang telah ia

ukir semasa kariernya.

Bu Dokter, sampai di sini saya tutup catatan mengenang sosokmu

yang penuh elan juang. Terima kasih untuk dedikasimu..

Urusan terjun langsung ke masyarakat memang bukan barang

baru bagi sosok almarhumah. Bu Dokter saya dengar cukup lama

168


169


Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan RI

Jl. HR. Rasuna Said Blok X5 Kav.4-9 Jakarta 12950

ISBN: 978-602-235-117-7

170


171


Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan RI

Jl. HR. Rasuna Said Blok X5 Kav.4-9 Jakarta 12950

ISBN: 978-602-235-117-7

More magazines by this user
Similar magazines