Ramadhan Ramadhan - Kemenag Jatim

jatim.kemenag.go.id

Ramadhan Ramadhan - Kemenag Jatim

Ramadhan

Mengetuk Pintu Langit dengan Doa

Ramadhan telah berada di ambang

pintu. Setiap Muslim diserukan

untuk menyambutnya dengan penuh

sukacita. Sebab pada bulan tersebut

– sebagaimana tertera dalam kitab

Shahih Muslim – dibukalah pintupintu

surga, ditutuplah pintu-pintu

neraka, dan setan-setan pun dibelenggu.

“Bagi siapa yang berpuasa

Ramadhan karena iman dan semata

mengharap pahalaNya, maka diampunilah

dosa-dosanya yang terdahulu.”

(HR. Bukhari)

Target utama dari puasa Ramadhan,

sebagaimana tersebut dalam

surah al-Baqarah ayat 183, adalah

tercapainya ketaqwaan. Derajat taqwa

itu bisa diraih, jika seseorang dapat

melaksanakan perintah dan menjauhi

laranganNya. Dan salah satu

jalan utama untuk meraih ketaqwaan,

adalah dengan menjalankan ibadah

puasa. Dengan berpuasa, seseorang

diharamkan untuk makan, minum,

berhubungan suami-istri di siang

hari, dan juga larangan-larangan

yang lain. Menurut KH. Miftahul

Akhyar, pengekangan hawa nafsu

tersebut dimaksudkan agar manusia

dapat bertaqarrub kepada Allah SWT.

“Dengan berpuasa seseorang akan

senantiasa merasa bahwa Allah

selalu melihat semua perbuatannya,”

tukasnya.

Dengan berpuasa, sambungnya,

akan dapat mempersempit jalur

setan yang menggoda manusia melalui

aliran darahnya. Maka dengan

berpuasa seseorang akan bisa mengeliminir

gejolak hawa nafsunya. “Sebab

waktunya lebih banyak dipergunakan

untuk beribadah kepada Allah.

Dengan selalu beribadah dan ketaatan,

adalah merupakan salah satu bentuk

taqwa,” urainya.

Rois Syuriah PWNU Jatim ini

melanjutkan, bahwa dengan menaha

rasa lapar dan haus akan melahirkan

kesabaran, ketabahan menghadapi

ujian dan kesalehan sosial, sehingga

dirinya menjadi ringan tangan untuk

menolong fakir-miskin. Dengan berpuasa

seseorang juga akan mengetahui

nilai dirinya, serta menemukan

rahasia ciptaan Allah di dalamnya.

Dengan begitu akan lebih menengadah

ke sisi samawi ketimbang menghadap

ke sisi jasadinya.

Itulah pasalnya kenapa Allah

mewajibkan puasa untuk manusia.

Sebab dengan berpuasa manusia

akan dapat membebaskan diri dari belenggu

dirinya; dari belenggu naluri

jasadiahnya, lepas dari penjara ragawinya,

mengalahkan dorongan-dorongan

syahwatnya, serta dapat menguasai

sisi-sisi hewaniahnya. “Tak

heran jika orang yang berpuasa itu

naik dan mendekat kepada Yang Mahatinggi.

Lalu mengetuk pintu-pintu

langit dengan doa-doanya. Maka

pintu-pintu itu pun terbuka seluasluasnya,”

ungkapnya.

Sabda Rasululllah SAW: “Ada

tiga orang yang doanya tidak akan

ditolak; orang yang sedang berpuasa

sampai berbuka, pemimpin yang adil,

dan doa orang yang dizalimi.” (HR.

Tirmidzi, Ahmad, Ibn Majah, Ibn

Khuzaymah dan Ibn Hibban).

Itulah pasalnya, Pimpinan pon-

6 MPA 322 / Juli 2013


dok pesantren Miftachus Sunnah

Surabaya ini menyerukan, agar kita

berpuasa tak sekedar untuk meninggalkan

makan dan minum semata. Sebab

kalau sekedar itu yang kita lakukan,

tentu tak akan menumbuhkan kesalehan

sosial, kewaspadaan, semangat

untuk kebaikan, serta perolehan

bonus-bonus Ramadhan bagi kehidupan

secara kongkret. “Kalau halhal

demikian tak terjadi pada diri kita,

jangan-jangan selama ini kita cuma

unjuk kelaparan dan kehausan

massal saja,” kritiknya.

Jika itu yang terjadi, lanjut Kiai

Miftah, sungguh sangat disayangkan.

Sebab puasa itu bagai tamu

agung yang membawa segala keberkahan

menuju kemuliaan insani. Dalam

bulan Ramadhanlah terjadi obral

pahala; tarawih, i’tikaf, nuzulul Qur-

’an, lailatul qadar dan yang lainnya.

“Intinya, bahwa di bulan Ramadhan

ada bonus-bonus pahala yang tanpa

batas,” tandasnya.

Untuk itulah dirinya menyarankan,

agar kita benar-benar serius dalam

melaksanakan ritual ibadah yang

ada di dalamnya. Sebab puasa Ramadhan

adalah ibadah yang dapat melepas

dari berbagai naluri syahwat.

Orang yang berpuasa akan merasakan

totalitas kepasrahan dirinya kepada

Allah SWT. Itulah yang membuat

seseorang menjalani peran kehidupannya

dengan disiplin, amanah

dan peuh tanggung jawab. “Sebab

dia telah hidup dengan bashirahnya,

sehingga selalu waspada dan senantiasa

dalam kontrol dan kendaliNya,”

pungkasnya.

Bagi Drs. Nur Cholis Huda, MSi,

menjalankan ibadah Ramadhan itu

setidaknya harus menghasilkan 4 K;

Kejujuran, Kasih sayang, Keikhlasan,

dan Ketakwaan. Yang pertama, kejujuran.

Bahwa berpuasa itu harus jujur.

Berpuasa beda dengan shalat. Berpuasa

itu tidak dapat dilihat, sedangkan

shalat dapat dilihat orang lain.

Di tengah waktu sahur, kita melakukan

makan sahur bersama keluarga.

Selepas sahur, ketika melakukan aktivitas

kerja, keluarga di rumah tak

tahu kalau kita membatalkannya.

“Saat menjelang berbuka, kita pasang

aksi lemas bak orang berpuasa beneran.

Tentu keluarga di rumah akan

percaya jika kita masih berpuasa,”

ungkapnya..

Itulah sebabnya, kata Wakil Ketua

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah

Jawa Timur ini, orang berpuasa

itu harus punya sifat jujur. Kejujuran

itu pintu gerbang kebaikan. Orang

yang tidak jujur, kebaikan tidak akan

bisa masuk. Dan kejujuran itu dibutuhkan

semua orang, baik penjahat

maupun orang baik. “Jadi, jika seseorang

berpuasa dan tidak berlaku

jujur, maka di mata Allah tidak ada

artinya dan akan sia-sia saja puasanya,”

tandasnya.

Yang kedua, lanjut pria kelahiran

Gresik 3 Maret 1953 ini, berpuasa

harus bisa menumbuhkan dan mempertebal

rasa kasih sayang. Agar tumbuh

rasa kasih sayang, maka kita

Drs. Nur Cholis Huda, MSi

harus mencoba untuk menjadi atau

merasakan sebagai orang lain. Jika

kita kaya, mencoba sebagai orang

miskin. Dari proses penghayatan ini

akan dapat mempertebal rasa kasih

sayang terhadap kaum dhuafa’ dan

kasih sayang terhadap siapa saja.

“Prinsip kasih sayang itu adalah

memberi. Maka carilah kesenangan

dengan menyenangkan orang lain,”

tukasnya. “Carilah kebahagiaan

dengan membahagiakan orang lain,

tanpa memandang siapa dan apa lagi

kelompok atau golongan,” tuturnya

menambahkan.

Sedangkan yang ketiga, sambung

ayah lima putra ini, adalah keikhlasan.

Artinya, orang yang berpuasa

itu harus ikhlas. Sesungguhnya

ruh dari beribadah dan beramal itu

adalah ikhlas. Akan sia-sia puasa se-

KH. Miftahul Akhyar

seorang jika tanpa keikhlasan. Dan

yang keempat, sebagai puncaknya

adalah ketaqwaan. “Puncak dari melakukan

ibadah, adalah ketaqwaan.

Dan ketaqwaan itu adalah merasa

dekat dengan Allah SWT,” tegasnya.

Namun demikian, tutur penulis

buku ‘Jalan Terpendek Menuju Tuhan’

ini, rangkaian ibadah itu selalu

berkait dengan iman yang kadang

menebal dan menipis. Iman itu bertambah

dan menyusut. Banyak faktor

yang mempengaruhinya. Diantaranya

adalah lingkungan. Manusia itu

kan hamba Allah; sebagai Abdullah.

Dan beribadah kan menghamba pada

Allah. “Jika lingkungan tidak baik, bisa

saja suatu saat akan menjadi abdufulus

(mengabdi uang), abdukursi,

atau abdi jabatan,” kelakarnya.

Penulis buku ‘Mengamalkan

Agama dengan Semangat Cinta’ ini

menengarai, jika hal demikian telah

menghinggapi diri kita, maka sesungguhnya

lemahlah daya juang dan

iman kita ini. Tapi itu semua bergantung

pada diri sendiri. Sebab manusia

itu pada suatu saat kokoh dan di saat

lain bisa menjadi lemah. Dalam beribadah

semuanya berawal dari hati

dan niat. “Jika qalbu seseorang itu

hidup, niscaya ia akan senantiasa

bersuara dengan hati. Dan suara hati

itu selalu jernih dan jujur,” ungkap

penulis buku ‘Rumput Tetangga

Tidak Lebih Hijau’ ini dengan nada

sahaja.•

Laporan: Mey.S,

Rasmana Rahim (Surabaya).

MPA 322 / Juli 2013

7

More magazines by this user
Similar magazines