Warga pun Berminat Kursus Bahasa Asing di ... - Kemenag Jatim

jatim.kemenag.go.id

Warga pun Berminat Kursus Bahasa Asing di ... - Kemenag Jatim

PP. Miftahul Ulum Sampang

Warga pun Berminat Kursus Bahasa Asing di Pesantren

Bandongan. Kajian tafsir setiap bakda jama’ah subuh

Banyak pesantren salaf yang hanya

memprioritaskan santrinya dalam pengusaan

kitab kuning saja. Tak heran jika

seringkali melupakan aspek penguasaan

Bahasa Arab itu sendiri. Hal ini tidak berlaku

di pesantren Miftahul Ulum Karang

Durin Sampang. Sebab selain menekankan

penguasaan gramatikal Bahasa Arab, pesantren

ini juga menekankan penggunaan

bahasa itu dalam keseharian santrinya.

Tidak hanya Bahasa Arab, bahkan Bahasa

Inggris pun menjadi prioritas pesantren

salaf ini. “Sebab penguasaan bahasa sudah

menjadi keharusan bagi santri di era saat

ini,” ujar Syahrul Sidiq, SPdI.

Keseriusan pesantren yang terletak

di Dusun Karang Durin, Desa Tlambah,

Kecamatan Karang Penang ini dibuktikan

dengan menyiapkan komplek khusus. Di

Untuk memacu kemampuan

berbahasa santri,

selain pembinaan di

dalam markaz, pesantren

yang didirikan pertama

kali oleh KH. Sholeh Badrudin

pada tahun 1959

ini juga menyediakan

kursus bahasa Asing. Nah

Kursus ini bisa diikuti semua

santri. Setiap tahunnya

Kursus ini dilaksanakan

pada tanggal 1 Ramadhan

hingga 17 Ramadhan.

Ini sebagai saran

mengisi liburan panjang

akhir tahun santri. “Setiap

tahunnya diikuti lebih

KH. Muhammad Fauzan Zaini

dari 350 santri,” beber

mana santri yang benar-benar serius mendalamai

bahasa ditempatkan di komplek ini penuh semangat. “Dan tidak hanya

pria kelahiran Sampang 20 Agustus 1980

yang diistilahkan dengan Markaz Bahasa santri, warga sekitar pesantren pun banyak

yang berminat,” imbuhnya.

ini. “Agar pembiasaan berbahasa asing

bisa maksimal,” tukasnya.

Tentunya tidak hanya kursus bahasa

yang diadakan saat liburan ramadhan

Markaz Bahasa itu sendiri, seperti

dituturkan Kepala Pengembangan Sumber itu, melainkan juga terdapat Kursus Metode

Baca Cepat kitab kuning Amtsilati

Daya Manusia dan Santri ini, terdiri dari

dua komplek yaitu Markaz Bahasa Arab dan Kursus Komputer. Tujuan awal diselenggarakan

Kursus Ramadhan ini, adalah

dan markaz Bahasa Inggris. Lokasi kedua

Markaz ini tak jauh dari komplek santri memberikan skill khusus bagi santri. Ini

lainnya. Meski demikian, itu tidak terlalu tentu akan sangat berguna sekali bagi santri

menggangu program bahasa yang telah dicanangkan.

Sehingga meskipun berdamlangnya

dari pesantren. Atau juga untuk

ketika terjun di tengah masyarakat sepupingan

dengan santri lainnya, pembisaan mengembangkan potensi mereka. Sebab

bahasa santri masih bisa dipantau. Hal sudah saatnya santri tidak hanya menguasai

ilmu agama yang dimiliki dan perkem-

itu dikarenakan sistemnya sudah tertata

bagus. Maklum, karena program bahasa bangan bahasa saja. Tapi teknologi pun

ini sudah dirintis sejak tahun 2003 silam. harus terus dipacu.

Gerbang Ilmu. Pintu menuju kawah candradimuka

Masjid. Pusat belajar dan kegiatan santri

MPA 305 / Februari 2012

27


28 MPA 305 / Februari 2012

Budidaya Lele. Berikan bekal ilmu kewirausahaan bagi santri

Adapaun durasi kursus, tidak seperti

pada umumnya kursus yang memakan

waktu berminggu-minggu atau

bahkan hingga berbulan-bulan. Di pesantren

seluas 4 hektar ini waktu kursus

cukup singkat. Sebab hanya membutuhkan

waktu 17 hari. Tapi jangan kuatir,

walaupun 17 hari ternyata frekuensi

pembelajarannya cukup banyak. Bayangkan

dalam sehari ada tiga kali pertemuan.

Pertemuan pertama dimulai pada pukul

08.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Dan

pertemuan kedua pukul 14.00 – 16.30

WIB. “Itu khusus penyampaian teori saja,”

tukas Syahrul, sapaan karib Syahrul

Shidiq ini. “Sedangkan praktek dilangsungkan

pada pukul 21.00-22.30 WIB,”

tambahnya.

Seperti layaknya sistem kursus

profesional, tahapan kursus pun diatur

sedemikian rupa. Sehingga para santri bisa

leluasa memilih menu kursus sesuai kebutuhan

dan kemampuan mereka. Seperti

kursus Bahasa Inggris, di dalamnya diklasifikasikan

menjadi tiga level yakni basic,

level 1 dan level 2. Adapun kursus

Amtsilati terdiri dari dua level yaitu level

pemula dan lanjutan. Sedangkan khusus

Bahasa Arab dan komputer masih tersedia

satu tingkatan yaitu level dasar.

Jaminan mutu pembelajaran pun

diperhatikan betul oleh pesantren. Ini dibuktikan

dengan mendatangkan tenaga

pengajar dari lembaga profesional. Seperti

mendatangkan tenaga pengajar dari Jepara

langsung – daerah asal metode

baca cepat kitab kuning

- untuk kursus Amtsilati.

Dan untuk khusus kursus

Bahasa, pesantren telah

bekerja sama dengan Lembaga

Darul Lughah asal Pamekasan.

Sedangkan bagi

kursus komputer mendatangkan

pengajar dari Sampang

yang dibantu santri.

Selain itu, kursus ini

juga didukung dengan sarana

pembelajaran yang cukup

memadahi; seperti adanya

laboratorium bahasa bagi

peserta kursus Bahasa Arab

dan Bahasa Inggris. Sedangkan

bagi peserta kursus

komputer bisa memanfaatkan laboratorium

komputer milik pesantren sebagai

tempat praktek langsung program Ms.

Office, desain grafis dan internet. “Bahkan

kini telah dilengkapi fasilitas wi-fi

lho,” tukas Syahrul bangga sambil menunjukkan

ruang computer tersebut. “Setiap

selesai kursus, bagi santri yang lulus

berhak mendapatkan sertifikat,” tukasnya.

Selain kursus, pesantren yang berjarak

20 Km dari pusat kota Sampang ini

juga memiliki unit pendidikan yang sudah

lama dikembangkan; yakni unit pendidikan

formal dan pendidikan non fomal.

Adapun lembaga pendidikan formal yang

dimiliki pesantren saat ini adalah MI Miftahul

Ulum, MTs Miftahul Ulum, MA

Miftahul Ulum dan Sekolah Tinggi Agama

Islam Miftahul Ulum (STAIMU). Yang

terakhir ini masih bekerjasama dengan

STAIMU di pesantren Pasepen Pamekasan.

Adapun unit pendidikan non formal

yang menjadi ciri khas pendidikan salaf

selam ini adalah Madrasah Diniyah Ibtidaiyah,

Madrasah Diniyah Tsanawiyah

dan Madrasah Diniyah Aliyah.

Meski mempunyai unit pendidikan

formal, tak berarti pendidikan non formal

terkalahkan. Sebab justru pesantren

mempunyai kebijakan untuk lebih memperioritaskan

pendidikan non formal dari

pada pendidikan formal. “Di sini ibaratnya

lembaga formal itu sebagai tambahan.

Sebab yang utama itu justru pendidikan

non formalnya. Ini dibuktikan durasi

pendidikan formal hanya 4 jam, lainnya

adalah full kegiatan pesantren,” ulas

Kepala MA Miftahul Ulum ini.

Dengan konsistensinya menjaga

kualitas pendidikannya selama ini terutama

pendidikan keagamaannya, tak heran

jika kepercayaan masyarakat pada pesantren

ini begitu besar. Ini dibuktikan

dengan banyaknya permintaan penyediaan

guru tugas yang diperbantukan di beberapa

lembaga pendidikan. “Kegiatan ini

sekaligus sebagai ladang pengabdian santri

kepada masyarakat. Juga wujud perhatian

pesantren terhadap kondisi pendidikan

di masyarakat selama ini,” tutur KH.

Muhammad Fauzan Zaini.

Saat ini ada 110 lembaga yang bekerja

sama dan meminta guru tugas dari

pesantren. Lembaga pendidikan tersebut

tersebar mulai Sampang, Pamekasan,

Bangkalan hingga Jember. Dan para santri

yang menjadi guru tugas ditempatkan di

satu lembaga pendidikan selama satu

tahun. Meskipun kadang ada permintaan

untuk lebih lama dari itu.

Dan santri yang diperbantukan sebagai

guru tugas ini, adalah santri yang

dinyatakan lulus dalam Madrasah Diniyah

Aliyah. Mereka wajib menjalani pengabdian

sebagai guru tugas selama dua

tahun. Tapi dalam satu tahun mereka akan

dirolling di tempat yang berbeda dari tempat

setahun sebelumnya. Tentu ini bukan

tanpa tujuan. Sebab pesantren ingin setiap

santri itu memiliki banyak pengalaman

baru di setiap tempat pengabdiannya.

Program guru bantu ini bagi pesantren

yang berdiri di atas lahan bekas kebun

durian ini merupakan salah satu program

unggulan. Sebab dengan keberhasilan guru

bantu di lembaga-lembaga pendidikan,

tentu akan membuat harum nama pesantren.

Tentu ini sebagai sarana promosi

pendidikan pesantren secara tidak langsung.

Karena itu pesantren sepeninggal

KH Sholeh Badrudin yang kemudian digantikan

oleh putranya (alm.) KH. Ahmad

Zaini Sholeh ini serius mempersiapkannya.

Persiapan itu misalnya dengan banyak

memberikan diklat-diklat calon guru

bantu. Diklat itu biasanya dilaksanakan

setiap bulan Ramadhan yang berbarengan

dengan kegiatan kursus Ramadhan. Adapun

diklat yang diberikan seperti Diklat

Kepemimpinan, Diklat Manajemen dan

Administrasi. “Ini sangat

berguna bagi santri ketika

menghadapi masyarakat saat

diterjunkan di lapangan,”

ujar Gus Fauzan, sapaan karib

KH. Muhammad Fauzan

Zaini.

Tapi yang lebih penting

lagi seperti dituturkan

Pengasuh PP. Miftahul U-

lum ini adalah agar santri selalu

menjaga perilaku. Ada

sebuah maqalah yang selalu

diulang-ulang oleh Gus Fauzan

saat memberikan taushiyah

kepada santri. Bahkan

maqalah itu pun ditempelkan

di beberapa sudut pesantren.

Agar secara tak sadar

mampu masuk ke dalam ruang bawa sadar

mereka hingga menembus ruang hati

mereka. Bunyi maqalah itu adalah Al adabu

natijatun a’ala natijahtin minal dzuka.

“Moral serta perilaku itu lebih utama dari

pada sebuah kecerdasan,” tandas alumni

pesantren Lirboyo Kediri ini serius. “Sebab

banyak orang cerdas tetapi akhlaqnya

kandas. Dan ini sangat tidak saya harapkan

terjadi pada santri” pesannya yang

selalu diulang-ulang.• Pri

More magazines by this user
Similar magazines