Rhoma Irama - Kemenag Jatim

jatim.kemenag.go.id

Rhoma Irama - Kemenag Jatim

Rhoma Irama

Memecat Anggotanya

yang Menggunakan Mirasantika

Gara-gara geram dengan judi, lagu berjudul judi

dia luncurkan. Karena geram dengan penyalagunaan

narkoba dan miras, dia pun menulis lirik lagu Mirasantika

(minuman keras dan narkotika). Dan disebabkan

itu semua, akhirnya pria yang lebih dikenal dengan

nama Rhoma Irama itu mendeklarasikan LSM

Geram yaitu Gerakan Rakyat Anti Maksiat beberapa

waktu lalu. “Saya hanya ingin melakukan amar makruf

nahi mungkar saja,” ujarnya.

Dan memang jauh sebelum mendeklaraikan Geram,

bersama grup musik yang dipimpinnya, Soneta

Grup, sudah memproklamirkan diri sebagai voice of

Moslem. Ini bisa ditemui dari tema-tema lagu yang

dihasilkan yang sejak tahun 1973 bertemakan dakwah.

Meskipun pada masa-masa awal tak sedikit

yang mencibirnya.

Suatu ketika

konser di

Ancol sepulang

ibadah

haji tahun

1975, pemilik

nama kecil

Raden Irama

ini membuka dengan bacaan salam. Sontak, penonton

melemparinya dengan sepatu dan batu. Bahkan

gara-gara itu pula, dia dituduh mengkomersialisasikan

agama. Ini bisa dipahami bahwa begitu sensitifnya

isu agama kala itu. Masyarakat masih memahami

bahwa musik dan agama itu tidak bisa dikawinkan.

“Musik ya musik, agama ya agama,” tukas pria

dengan nama panggilan kecil Oma ini.

Itulah dakwah Oma pertama kalinya. Memang

tantangannya cukup besar. Bahkan, Majelis Ulama

Indonesia pun sempat menyidak Oma, karena membawa-bawa

agama dalam musik. Media saat itu menulis:

Rhoma menjual agama”, “Rhoma mendendangkan

Al-Quran di atas panggung musik”, “Rhoma

melecehkan agama”. “Tapi saya maju saja. Sebab,

bagi saya, musik ini not just for fun, tapi harus bisa

mengubah dan membentuk perilaku orang meski

dengan bahasa yang sederhana,” papar

pria kelahiran Tasikmalaya 11 Desember

1946 ini.

Tetapi ketika ditanya bagaimana

cara dakwah melalui musik? Ini non

akademik, jawabya. Sebab memang

tidak ada ilmu dan rumus

pasti. Sebab lagu dakwah

itu bukan lirik dakwah

kemudian diiringi musik.

Lagu dakwah

merupakan lagu

yang harus

34 MPA 306 / Maret 2012


isa berdakwah. Harus bisa memotivasi pendengar,

harus bisa merubah perilaku pendengar. Paling tidak

bisa menyentuh pendengar sebagai dakwah, bukan

sebagai lagu semata. “Bukan lirik nasihat dikasih

musik, bukan itu. Jadi harus harmoni, kawin antara

lirik dan lagu dan musiknya,” katanya memberikan

tips.

Dengan itu dia yakin bahwa musik pun bisa

menggerakkan orang dan mengubahnya menjadi

lebih baik. Karena menurut hematnya, tidak ada dakwah

yang sia-sia. Meskipun juga tidak dapat dipungkiri

bahwa setiap seruan itu pasti ada yang mendukung

dan yang menolak. “Ini sudah dijelaskan dalam

al-Qur’an. Jadi efeketivitas dalam seruan itu pasti

ada,” ujarnya meyakinkan.

Bahkan untuk membuktikan keefektivannya,

Oktober 1973. Rasanya tidak ada grup musik yang

mampu menyamai rekornya. “Ada dua grup yang

eksistensinya terpanjang di dunia, pertama Rooling

Stone dan kedua Soneta. Sama-sama 40 tahun.

Alhamdulillah,” ungkapnya penuh syukur.

Padahal, ketika pertama berangkat haji, banyak

yang memperkirakan Soneta akan hancur ditinggal

penggemar. Bahkan nama Rhoma Irama dipastikan

hilang. Kenapa? Takada dalam sejarah musik Indonesia

ketika itu artis yang naik haji. Dan Rhomalah

artis yang pertamakali melakukannya. Dan ternyata

prediksi itu meleset. Nama Rhoma dan Soneta

semakin berkibar.

Dan yang mengejutkan, kini lagu-lagu karya

Rhoma dan Soneta dikaji oleh puluhan universitas di

seluruh Indonesia. Menurut pengakuan seorang Guru

Rhoma Irama bersama Pakde Karwo dan Gus Ipul saat Konser Soneta dan Baksos di Surabaya

penyanyi dangdut yang saat mengawali karir dari musik

pop ini sudah melakukan observasi beberapa puluh

tahun lamanya. Dan dia menemukan, ternyata

banyak orang berubah karena mendengarkan lagu.

Dan memang, ada pengakuan langsung dari beberapa

fans Soneta. Mereka yang dulunya pemakai narkoba

setelah mendengarkan lagu “Mirasantika,” tak beberapa

lama mereka bertobat. Ada yang dulunya suka

berjudi ketika mendengar lagu Judi, langsung berhenti.

Terkait miras dan narkotika, memang Rhoma

sangat tegas. Ketegasannya itu pun berimbas dikeluarkannya

salah seorang anggota Soneta Group

yang kedapatan menggunakannya. Untuk ketegasan

itu Oma menyitir salah satu Hadis yang menerangkan

bahwa Rasulullah akan memotong tangan pencuri

meskipun itu adalah anaknya, Fathimah. “Sebab itu,

ketika menemukan anggota keluarga yang sedang

kedapatan sebagai pengguna, saya pasti akan berdiri

di pihak hukum, bukan keluarga,” tandas ayah Rhido

dan Vicky Rhoma ini.

Musik selama ini memang identik dengan mabuk-mabukan,

narkoba dan pergaulan bebas. Maka

Rhoma dengan musik melayu genre barunya – yang

lebih dikenal dengan musik dangdut – itu berusaha

mengubahnya. Bersama gurp Sonetanya, Rhoma

telah menjalani jihad dalam bermusik selama hampir

40 tahun lebih – Soneta terbentuk pada tanggal 13

Besar Musik dari Pittsbergh Univercity Amerika, hal

itu dikarenakan lirik-lirik lagu di dunia tidak ada yang

memiliki makna dan bimbingan seperti lirik Soneta.

Tidak ada yang memberikan solusi masalah-masalah

dunia. “Tetapi lagu-lagu Anda memberi inspirasi,

memberi solusi dan bimbingan kepada umat

manusia, bukan hanya kepada umat Islam saja. Juga

bukan hanya kepada bangsa Indonesia. Dunia juga

perlu mendengar lirik-lirik Soneta,” ujarnya suatu

ketika kepada Rhoma.

Bahkan suatu ketika, KH. Fuad Hasyim dari

Buntet Cirebon berkunjung ke Jordania. Di sana, dia

sempat melakukan shalat Jum’at. Saat shalat

Jum’atan itu si khatib yang berada di atas mimbar

bercerita tentang Rhoma Irama. Dia bilang, di Indonesia

ada muballigh yang berdakwah dengan musik

bernama “Umar Irama”. Jadi nama Rhoma benarbenar

telah mendunia.

Kini usia Rhma sudah memasuki angka 66,

artinya usia yang sudah senja. Tetapi

produktivitasnya masih belum berhenti. Karena

prihatin terhadap berkembangnya aliran Islam

eksklusif yang gampang mengkafirkan dan

membid’ahkan kelompok lain, dia pun menulis

sebuah lagu Ukhuwah tahun lalu. “…Tuhan kita

sama, Nabi kita sama, Qur’an kita sama, kiblat kita

sama, makanya jangan mudah mengkafirkan,”

pesannya sambil menyitir lirik lagu tersebut. • pri

MPA 306 / Maret 2012

35

More magazines by this user
Similar magazines