KONSEP KEHIDUPAN DUNIA oleh IMAM ... - Kemenag Sumsel

sumsel.kemenag.go.id

KONSEP KEHIDUPAN DUNIA oleh IMAM ... - Kemenag Sumsel

KONSEP KEHIDUPAN DUNIA

dalam Perspektif Teologi Pendidikan

Oleh: Imam Nasruddin 1

Pendahuluan

Untuk mengawali tulisan ini, menurut hemat penulis ada baiknya apabila

dimulai dengan membahas tentang konsep manusia menurut Islam, tujuan hidup,

tugas dan fungsi hidup, dan selanjutnya manusia dan pendidikan.

Konsep manusia menurut agama Islam dapat diambil dari ayat al-Quran dan

al-Hadits. Menurut al-Quran, manusia diciptakan Allah dari intisari tanah yang

dijadikan nuthfah dan disimpan di tempat yang kokoh. Kemudian nuthfah itu

dijadikan darah beku, darah beku itu dijadikan mudghah, mudghah dijadikan

tulang, tulang dibalut dengan daging yang kemudian dijadikan Allah makhluk lain

Al-Quran [23]: 12-16). Al Quran (32: 7-9) selanjutnya menjelaskan bahwa setelah

kejadian manusia dalam kandungan mengambil bentuk, ditiupkan Allah ke

dalamnya ruh dan dijadikannya pendengaran, penglihatan dan perasaan. Hadits

yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa ruh dihembuskan Allah

swt ke dalam janin setelah ia mengalami perkembangan 40 hari nuthfah, 40 hari

darah beku dan 40 hari mudghah.

Dari ayat dan hadits di atas jelas kelihatan bahwa manusia tersusun dari dua

unsur, materi dan imateri, jasmani dan ruhani. Tubuh manusia berasal dari tanah

dan ruh atau jiwa berasal dari substansi imateri di alam ghaib. Tubuh pada akhirnya

akan kembali menjadi tanah dan ruh atau jiwa akan pulang ke alam ghaib.

Tubuh mempunyai daya-daya fisik atau jasmani, yaitu mendengar, melihat,

merasa, meraba, mencium, dan daya gerak baik di tempat, seperti menggerakkan

tangan, kepala, kaki, mata dan sebagainya, maupun pindah tempat, seperti pindah

tempat duduk, ke luar rumah dan sebagainya.

Orang Islam menyadari bahwa keberadaannya di dunia ini bukan kemauan

sendiri, atau hasil proses evolusi, melainkan kehendak Yang Maha Kuasa, Allah

1 Pendidik di MAN Sakatiga Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan.

1


abbul „alamin. Dengan demikian, dia menyadari bahwa dirinya adalah ciptaan

(makhluk) Allah, yang dalam hidupnya mempunyai ketergantungan (dependent)

kepada-Nya. Sebagai makhluk, dia berada dalam posisi lemah (terbatas), dalam arti

tidak bisa menolak, menentang, atau merekayasa terhadap apa yang sudah

dipastikan-Nya (seperti kelahiran dan kematian). Dalam al-Quran 35: 15),

difirmankan:




“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah dialah

yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.”

Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa manusia ciptaan Allah, adalah

firman-Nya dalam Al-Quran (95: 4), sebagai berikut:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya“.

Orang Islam meyakini bahwa manusia adalah makhluk Allah yang mulia.

Keyakinan ini didasarkan kepada firman Allah dalam al-Quran (17: 70), yaitu:














“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut

mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik

dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan

makhluk yang telah Kami ciptakan”.

Keyakinan bahwa dirinya mempunyai posisi atau harkat dan martabat yang

begitu mulia disisi Allah dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya, akan

2


memberikan dampak yang positif bagi suasana rohaniah atau kejiwaannya, seperti

rasa percaya diri (self confidance), perasaan berharga (self esteem), atau terhindar

dari perasaan inferior (minder, rendah diri), dan sikap sombong atau arogan

(Syamsu Yusuf, 2005: 16).

Tujuan Hidup

Sebagaimana telah dikemukakan diatas, bahwa manusia lahir ke dunia ini

bukan atas kehendak sendiri, tetapi semata-mata iradah (kehendak) Allah swt. Pada

saat manusia dilahirkan ke alam ini, dia tidak tahu apa-apa (laata‟lamuuna syaia).

Jangankan mengetahui tujuan hidupnya, tahu tentang siapa dirinya, orang tuanya,

dan tempat hidupnya pun setelah bersosialisasi dengan orang tuanya (orang lain).

Manusia dalam naturnya ingin melanjutkan hidupnya, tetapi dalam usahausaha

melanjutkan hidup itu, ia senantiasa menghadapi tantangan-tantangan yang

acapkali merupakan bahaya-bahaya, apakah itu dalam bentuk bencana alam; seperti

banjir, angin topan, kemarau dan lain-lain dalam bentuk penyakit, ataupun dalam

bentuk maut. Terhadap hal-hal ini manusia merasa dirinya lemah dan ingin mencari

tempat berlindung dan tempat meminta tolong untuk kesejahteraan dan

keselamatan dirinya. Dalam hal ini manusia berpaling pada agama. Agamalah yang

dianggap dapat memberi petunjuk dan jalan yang harus ditempuh untuk

keselamatan dirinya itu (Harun Nasution, 1995: 80).

Bagi orang yang tidak mau mengenal atau membenci agama (seperti orangorang

ateis), tujuan hidup di dunia ini baginya adalah misteri, sesuatu yang tidak

jelas, baik arah maupun wujudnya, sehingga akhirnya dia mengalami kehidupan

yang sesat. Sigmund Freud, seorang psikoanalisis yang ateis mengatakan bahwa

tujuan hidup manusia adalah kematian (di dunia ini).

Agar manusia hidupnya tidak sesat, maka agama memberikan petunjuk

kepada manusia, tentang apa sebenarnya tujuan hidup di dunia ini. Dalam hal ini,

Islam menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia di dunia ini, tiada lain adalah

“mardhaatillah” (ridha Allah, dicintai Allah). Untuk mencapai tujuan ini adalah

3


dengan bertaqwa, atau beriman dan beramal shalih (beribadah kepada Allah),

seperti tercantum dalam firman Allah swt dalam al-Quran (98: 7-8) yang artinya:

“7). Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh,

mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. 8). Balasan mereka di sisi Tuhan

mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka

kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan

merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang

yang takut kepada Tuhannya”.

Menurut Achmadi (2005: 61-63) tujuan utama penciptaan manusia adalah

agar manusia beribadah kepada Allah swt (QS Az-Zariyat: 56). Makna ibadah

dalam Islam adalah tunduk dan patuh sepenuh hati kepada Allah. Pengertian

ibadah sangat luas, meliputu segala amal perbuatan yang titik tolaknya ikhlas

kepada Allah, tujuannya keridlaan Allah, garis amalnya saleh. Ibadah tidak akan

mengurangi prestasi kerja seseorang hamba, tetapi justru akan memperoleh nilai

tambah yang sangat bebas artinya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi

lingkungannya, karena segala perbuatannya dilandasi dengan motivasi luhur yang

terkait dan terikat dengan Zat Yang Maha Tinggi, Maha Rahman dan Rahim, Maha

Melihat dan Maha Mendengar.

Tujuan kedua, adalah manusia diciptakan sebagai wakil Tuhan di muka bumi

(QS Al-Baqarah: 30, Yunus: 14 dan Al-An‟am: 165). Karena Allah Zat yang

menguasai dan memelihara alam semesta (Rabbul „alamin) maka tugas utama

manusia sebagai wakil Tuhan ialah menata alam sebaik-baiknya untuk kesejahteraan

hidupnya.

Tujuan ketiga, manusia diciptakan untuk membentuk masyarakat manusia yang

saling kenal-mengenal, hormat menghormati dan tolong menolong antara satu

dengan yang lain (QS al-Hujurat: 13). Kalau tujuan penciptaan yang pertama dan

kedua lebih difokuskan pada tanggung jawab individu, maka tujuan penciptaan

yang ketiga ini menegaskan perlunya tanggung jawab bersama dalam menciptakan

tatanan kehidupan dunia yang damai.

4


Tugas dan Fungsi Hidup

Orang Islam memahami bahwa hidup di dunia ini mempunyai tugas yang jelas,

yaitu beribadah kepada Allah swt. Tugas ibadah ini sebagaimana tercantum dalam

al-Quran (51: 56) sebagai berikut:


”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka

mengabdi kepada-Ku”.

Pelaksanaan tugas ibadah ini amat terkait dengan fungsi hidup manusia di

dunia ini, yaitu sebagai ”hamba Allah” (abdullah) dan ”khalifah Allah”

(khalifatullah). Sebagai hamba Allah, orang Islam menyadari bahwa dirinya

mempunyai kewajiban untuk mengabdi, bertaqarrub, atau beribadah langsung

kepada-Nya (hablum minallah), melalui ibadah mahdhah (ibadah ritual-personal,

seperti: shalat, shaum, dan berdoa), dan ibadah ghoir mahdhah (ibadah sosial, yaitu

ibadah kepada Allah melalui hablum minannas, yang dalam pelaksanaannya melalui

fungsi sebagai khalifah Allah).

Sebagai khalifah Allah, orang Islam menyadari bahwa dirinya mengemban

amanah atau tanggung jawab (responsibility) untuk mewujudkan misi suci

kemanusiaannya sebagai ”rahmatan lil ‟alamiin” (rahmat bagi seluruh alam). Upaya

yang ditempuh untuk mewujudkan misi tersebut adalah dengan senantiasa

berinisiatif dan berpartisipasi aktif dalam menciptakan tatanan kehidupan

masyarakat yang nyaman, sejahtera, dan jalinan persaudaraan serta kasih sayang

antar sesama, dan berupaya mencegah terjadinya pelecehan nilai-nilai kemanusiaan,

penindasan terhadap kaum mustadl‟afin (kaum lemah, miskin, atau orang-orang

yang dimarjinalkan) dan pengrusakan lingkungan hidup (baik lokal, regional,

maupun global) (Syamsu Yusuf, 2005: 18).

Kewajiban untuk menciptakan kemakmuran di muka bumi ini termaktub

dalam al-Quran (11: 61), sebagai berikut:

5


.... ....

”...Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu

pemakmurnya...".

Manusia dan Pendidikan

Manusia hadir di dunia ini mengemban tugas yang mulia, yaitu: pertama,

mengabdi kepada Sang Pencipta Allah swt dengan tata cara ibadah yang telah

ditentukan sebagaimana yang termaktub dalam al-Quran dan al-Hadist Nabi saw;

dan kedua, adalah mengemban tugas mengelola sumber daya alam semesta ini

untuk menciptakan kesejahteraan di muka bumi.

Dalam rangka mengemban tugas mengelola sumber daya alam semesta dan

selanjutnya menciptakan kesejahteraan di muka bumi ini, Allah swt memberikan

sarana dan alat yang sangat diperlukan oleh manusia. Sarana itu kemudian disebut

dengan Hidayah.

Menurut Syaikh Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam tafsirnya membagi

hidayah kepada beberapa bagian, yakni hidayah berupa gharizah (insting), hawasi

(inderawi), akal, agama, maunah, dan tawfiq (Nunu Burhanuddin, 2009: 17-22).

Penjelasan singkat masing-masing hidayah adalah sebagai berikut: 1). Hidayah

dalam bentuk gharizah. Hidayah ini juga disebut dengan hidayah ilham yang dapat

dirasakan oleh manusia semenjak ia lahir. Melalui hidayah ini manusia dapat

tumbuh dan berkembang biak. Hidayah ini juga dapat dimiliki oleh binatang. 2).

Hidayah berupa panca indra. Selain terdapat pada manusia, hidayah ini juga dimiliki

oleh binatang. Bahkan, hidayah panca indra yang dimiliki oleh binatang disinyalir

lebih sempurna ketimbang pada manusia. Indra- dan juga ilham- pada binatang

tumbuh secara sempurna dan sangat cepat. 3). Hidayah berupa akal. Hidayah ini

lebih tinggi bila dibandingkan dengan dua hidayah sebelumnya. Hidayah ini

diperuntukkan bagi manusia dan tidak kepada bianatang. Dengan hidayah ini

manusia dapat membedakan yang benar dan yang salah, baik dan buruk. Sehingga

6


manusia dipandang lebih tinggi derajatnya dari binatang karena dibekali akal.

Dengan akan pula, manusia dapat mempertahankan keistimewaan dan

kemanusiaannya daripada makhluk-makhuk lain, seterusnya manusia dapat

mengatur hidupnya dengan menyesuaikan semua tindakannya dengan martabat dan

fungsinya (K.H.M. Taib Thahir Abdul Muin, 1986: 147). 4). Hidayah berupa Agama

dan Syariat. Seperti yang kita ketahui bahwa di dalam diri manusia terdapat fitrah

atau perasaan mengakui adanya kekuasaan Maha Besar yang menciptakan dan

mengatur alam ini. Sehingga segala bentuk kejadian yang tidak diketahui sebab

musababnya selalu dikembalikan kepada kekuatan Maha Ghaib itu. Manusia juga

percaya bahwa dibalik kehidupan dunia yang serba terbatas ini terdapat kehidupan

lain yang bernama akhirat. 5). Hidayah berupa Ma‟unah dan Tawfiq. Ma‟unah

artinya pertolongan dan tawfiq artinya kekuatan yang memotivasi berbuat

kebajikan. Pertolongan dan kekuatan merupakan hidayah yang juga diperlukan oleh

manusia dalam menempuh lika-liku kehidupan. Signifikansi hidayah ini sangat nyata

dimana kenyataan manusia yang selalu saja terjerembab dalam kebinasaan, meski

manusia telah dianugerahi akal dan agama.

Manusia pada saat dilahirkan tidak mempunyai ilmu apapun, oleh karena itu

agar manusia mampu mengemban tugas tersebut, Allah swt memberikan alat dan

sarana yang berupa panca indera dan akal pikiran serta hati nurani untuk

mempergunakan mendapatkan ilmu. Allah swt berfirman dalam al-Quran (16: 78)

sebagai berikut:














“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak

mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan

hati, agar kamu bersyukur”.

7


Meskipun Allah swt memberikan sarana yang memungkinkan manusia untuk

mendapatkan ilmu. Hal ini berarti manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu dan

mengembangkannya dengan izin Allah swt. Karena itu, bertebaran ayat yang

memerintahkan manusia untuk menempuh berbagai cara untuk mewujudkan hal

tersebut. Berkali-kali pula al-Quran menunjukkan betapa tinggi kedudukan orangorang

yang berilmu pengetahuan.

Menurut pandangan al-Quran, ilmu ditinjau dari sisi memperolehnya terdiri

dari dua macam. Pertama, ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia, disebut ilmu

laduni, seperti yang diisyaratkan antara lain oleh al-Quran (18: 65), sebagai berikut:


“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami,

yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah

kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.

Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia, yang disebut ilmu kasbi.

Ayat-ayat yang berkaitan dengan ilmu kasbi ini jauh lebih banyak bertebaran dalam

al-Quran dan Hadist Nabi saw daripada yang berkaitan dengan ilmu laduni.

Dalam konteks ini, ilmu kasbi, yang jelas, ilmu itu tidak begitu saja datang

pada manusia. Untuk memperoleh ilmu, manusia harus belajar dan atau mengajar

dalam suatu sistem yang disebut pendidikan. Dalam sistem pendidikan di manapun

akan terjadi interaksi antar pihak: antara murid dengan guru, antara santri dengan

ulama/kiyai, antara mahasiswa dengan dosen; yaitu pihak antara pihak yang yang

berusaha memperoleh ilmu dengan pihak yang menyampaikan ilmu. Dengan

demikian kata kunci dalam aspek ilmiah adalah ilmu, pencari ilmu dan orang yang

berilmu.

8


Selanjutnya, hubungan antara manusia dan pendidikan diawali dari

pertanyaan: “apakah manusia dapat dididik?. Ataukah manusia dapat bertumbuh

dan berkembang sendiri menjadi dewasa tanpa perlu didik?.

Menurut aliran nativisme, manusia tidak perlu didik, sebab perkembangan

manusia sepenuhnya ditentukan oleh bakat yang secara alami sudah ada pada

dirinya. Sedangkan menurut empirisme adalah sebaliknya. Perkembangan dan

pertumbuhan manusia sepenuhnya ditentukan oleh lingkungannya. Dengan

demikian aliran ini memandang pendidikan berperan penting dan sangat

menentukan arah perkembangan manusia.

Adapun aliran ketiga, yaitu konvergensi merupakan perpaduan antara kedua

pendapat tersebut. Menurut mereka memang manusia memiliki kemampuan dalam

dirinya (bakat/potensi), tetapi potensi itu hanya dapat berkembang jika ada

pengarahan, pembinaan serta bimbingan dari luar (lingkungan). Sedang menurut

filsafat pendidikan Islam, manusia adalah makhluk yang berpotensi dan memiliki

peluang untuk dididik. Pendidikan itu sendiri, pada dasarnya adalah aktifitas sadar

berupa bimbingan bagi penumbuh-kembangan potensi Ilahiyat, agar manusia dapat

memerankan dirinya selaku pengabdi Allah secara tepat guna dalam kadar yang

optimal (Jalaluddin, 2002: 46-48).

Islam memandang ilmu sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan

manusia. Demikian pentingnya peran ilmu itu sehingga Allah swt menjadikannya

sebagai parameter utama dalam mengklasifikasikan manusia. Di dalam firmanfirman-Nya,

berulang kali Allah swt memaparkan kualifikasi seseorang berdasarkan

kompetensi ilmiah yang dimilikinya. Kemampuan keilmuannya dapat menjadi

modal besar yang tidak ternilai untuk melakukan perubahan di muka bumi.

Di antara penjelasan Alllah swt dalam al-Quran (3: 18) tersebut antara lain:

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak

disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang

berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia

(yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

9


Dalam ayat tersebut Allah swt sendiri, kemudian para malaikat, dan orangorang

yang berilmu, yang selalu menegakkan kebenaran dengan ilmunya

menyatakan tiada Tuhan selain Allah swt. Syahadat/persaksian adalah gerbang

pembatas antara orang yang beriman (mu‟min) dengan orang yang tidak beriman.

Maka berdasarkan ayat tersebut dapat diambil satu pengertian bahwa, untuk

menjadi seorang mu‟min dan muslim yang baik, mutlak diperlukan ilmu

pengetahuan yang memadai. Sangat sulit (bahkan tidak mungkin) seorang yang

bodoh/sedikit pengetahuan dapat menjadi mu‟min dan muslim yang baik.

Mengingat mencari ilmu merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah

swt, maka ada tata krama/akhlaq yang harus diperhatikan oleh setiap pencari ilmu

(termasuk mahasiswa). Di antara akhlak dalam mencari ilmu (belajar) seperti yang

direkomendaskan oleh Imam Ghazali, antara lain:

1. Memulai dengan pembersihan hati dan tujuan serta niat yang baik,

2. Memiliki sikap tawadlu‟ (hormat dan patuh) serta tidak sombong atau tinggi

hati terhadap suatu ilmu maupun kepada orang yang memberi ilmu,

3. Menghormati dan memuliakan orang yang berilmu dan yang mengajarkan

ilmu,

4. Mempunyai etika baik terhadap diri sendiri, terhadap pengajarnya, dan etika

kepada pelajarannya (Bashori Muchsin, dan Abdul Wahid, 2009: 23-30).

Manusia berkualitas merupakan prasyarat untuk dapat melaksanakan

peranannya sebagai khalifah Allah di bumi. Kualitas manusia menunjukkan tingkat

baik dan buruk, tinggi dan rendahnya sumber daya manusia (SDM). Karena tujuan

penciptaan manusia untuk diperankan sebagai khalifah Allah di bumi, maka Allah

telah mempersiapkan berbagai potensi insani atau sumber daya manusia untuk

dikembangkan secara optimal sehingga menjadi manusia berkualitas dan mampu

melaksanakan peran kekhalifahan tersebut. Quraish Shihab mendiskripsikan empat

sumber daya manusia yaitu:

1. Daya tubuh, yang mengantarkan manusia berkekuatan fisik. Berfungsinya

organ tubuh dan panca indera berasal dari daya ini;

10


2. Daya hidup, yang menjadikan manusia memiliki kemampuan

mengembangkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, serta

mempertahankan hidup dalam menghadapi segala tantangan;

3. Daya akal, yang memungkinkan manusia memiliki ilmu pengetahuan dan

teknologi;

4. Daya kalbu, yang memungkinkan manusia bermoral, merasakan keindahan,

kelezatan iman dan kehadiran Tuhan (Achmadi, 2005: 108-109).

Apabila keempat SDM tersebut digunakan dan dikembangkan secara baik,

maka kualitas manusia akan mencapai puncaknya, yaitu pribadi yang beriman,

berbudi pekerti luhur, memiliki kecerdasan, ilmu pengetahuan dan ketrampilan,

keuletan serta wawasan masa depan yang disertai dengan fisik yang sehat.

Hal tersebut karena perintah dalam al-Quran yang membuat orang beriman

itu selalu optimis (Aceng Zakaria, 2005: 65), sebagai berikut:

”Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih

lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang

mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”,( Al

Quran Karim , 17:9).

Penutup

Dari paparan di atas, jelaslah bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan

Tuhan dengan dilengkapi berbagai fasilitas dan sarana yang memadai. Namun juga

manusia di beri tugas, peran dan tangggung jawab yang kemudian pada akhirnya

akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Bahwa dalam meningkatkan sumber daya manusia, diperlukan pendidikan

untuk menopang kualitas sumber daya tersebut. Hanya dengan pendidikan yang

baik, sumber daya manusia Islam akan menjadi lebih baik. Dengan pendidikan yang

berasal dari ruh Ilahiyat, seseorang akan menjadi pribadi yang beriman, berbudi

pekerti luhur, memiliki kecerdasan, ilmu pengetahuan dan ketrampilan, keuletan

serta wawasan masa depan yang disertai dengan fisik yang sehat.

11

More magazines by this user
Similar magazines