SEJARAH SINGKAT TANAMAN JAHE - USUpress
SEJARAH SINGKAT TANAMAN JAHE - USUpress
SEJARAH SINGKAT TANAMAN JAHE - USUpress
Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!
Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.
BAB I<br />
<strong>SEJARAH</strong> <strong>SINGKAT</strong> <strong>TANAMAN</strong> <strong>JAHE</strong><br />
Tujuan Instruksional: Menjelaskan asal usul dan penyebaran tanaman, nama daerah dan<br />
nama asing, klasifikasi, deskripsi dan jenis-jenis tanaman jahe.<br />
Pendahuluan<br />
Jahe (Zingiber officinale Rosc) merupakan salah satu dari temu-temuan suku Zingiberaceae<br />
yang menempati posisi sangat penting dalam perekonomian masyarakat Indonesia. Jahe<br />
berperan penting dalam berbagai aspek berupa kegunaan, perdagangan, kehidupan, adat<br />
kebiasaan, kepercayaan dalam masyarakat bangsa Indonesia yang sifatnya majemuk dan<br />
terpencar-pencar. Jahe juga termasuk komoditas yang sudah ribuan tahun digunakan sebagai<br />
bagian dari ramuan rempah-rempah yang diperdagangkan secara luas di dunia ini. Walaupun<br />
tidak terlalu menyolok, penggunaan komoditas jahe berkembang dari waktu ke waktu, baik itu<br />
mengenai jumlah, variasi, kegunaan maupun mengenai nilai ekonominya.<br />
Asal Usul dan Penyebaran Tanaman Jahe<br />
Jahe merupakan tanaman obat dan rempah berupa tumbuhan rumpun berbatang semu dan<br />
merupakan rimpang dari tanaman bernama ilmiah Zingiber officinale Rosc. Jahe berasal dari<br />
Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebutsebut<br />
sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman,<br />
bumbu masak dan obat-obatan tradisional.<br />
Tanaman jahe di dunia tersebar di daerah tropis, di benua Asia dan Kepulauan Pasifik. Akhirakhir<br />
ini jahe dikembangkan di Jamaica, Brazil, Hawai,Afrika, India, China dan Jepang,<br />
Filipina, Australia, Selandia Baru, Thailand dan Indonesia. Jahe tumbuh di Indonesia<br />
ditemukan di semua wilayah Indonesia yang ditanam secara monokultur dan polikultur<br />
(Hasanah, et al., 2004)<br />
Dalam dunia perdagangan, penamaan jahe didasarkan kepada daerah asalnya, misal jahe<br />
Afrika, jahe Chochin atau jahe Jamika. Sejak 250 tahun yang lalu, jahe di Cina sudah<br />
digunakan sebagai bumbu dapur dan obat. Di Malaysia, Filipina, dan Indonesia jahe banyak<br />
digunakan sebagai obat tradisional. Sedangkan di Eropa pada abad pertengahan, jahe<br />
digunakan sebagai aroma pada bir (Hardianto, 2005).<br />
Daerah utama produsen jahe di Indonesia adalah Jawa Barat (Sukabumi, Sumedang,<br />
Majalengka, Cianjur, Garut, Ciamis dan Subang), Banten (Lebak dan Pandeglang), Jawa<br />
Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe - 1
Tengah (Magelang, Boyolali, Salatiga), Jawa Timur (Malang Probolinggo, Pacitan), Sumatera<br />
Utara (Simalungun ), Bengkulu dan lain-lain (Hasanah, et. al, 2004).<br />
Nama Daerah Tanaman Jahe<br />
Sumatera : halia (Aceh), beuing (Gayo), bahing (Batak Karo), pege (Toba),<br />
sipode (Mandailing), lahia (Nias), alia jae (Melayu), sipadeh<br />
(Minangkabau), pege (Lubu), jahi (Lampung).<br />
Jawa : Jahe (Sunda), jae (Jawa), jhai (Madura), jae (Kangean)<br />
Bali : jae, jahya, lahya, ciplakan<br />
Kalimantan : lai (Dayak)<br />
Nusa Tenggara : reja (Bima), alia (Sumba), lea (Flores)<br />
Sulawesi : luya (Mongondow), moyuman (Boros), melito (Gorontalo), yuyo<br />
(Buol), kuya (Baree), goraka (Manado), pase (Bugis)<br />
Maluku : Laiasehi, sehi (Hila), sehil (Nusa laut), siwei (Buru), geraka (Ternate),<br />
gora (Tidore), laian (Aru), leya (Arafuru), pusu, seeia, sehi (Ambon),<br />
hairalo (Amahai.<br />
Papua : lali (Kalana Fat), Marman (Kapaaur)<br />
Nama Asing Tanaman Jahe<br />
Halia, haliya padi, haliya udang (Malaysia) ; luya, allam (Filipina) ; adu, ale, ada (India) ;<br />
sanyabil (Arab) ; chiang p’I, khan ciang, kiang, sheng chiang (Cina), gember (Belanda) ;<br />
ginger (Inggris) ; gingembre, herbe au giingembre (Perancis).<br />
Keanekaragaman nama tanaman jahe menunjukkan bahwa penyebaran jahe telah meluas ke<br />
berbagai belahan dunia. Hal ini menunjukkan bahwa telah banyak orang yang mengetahui dan<br />
menggunakan jahe sejak zaman dahulu.<br />
Klasifikasi Tanaman Jahe<br />
Divisi<br />
Sub-divisi<br />
Kelas<br />
Ordo<br />
Famili<br />
Genus<br />
Species<br />
: Spermatophyta<br />
: Angiospermae<br />
: Monocotyledoneae<br />
: Zingiberales<br />
: Zingiberaceae<br />
: Zingiber<br />
: Zingiber officinale Rosc.<br />
Famili Zingiberaceae terdapat di sepanjang daerah tropis dan sub tropis terdiri atas 47 genera<br />
dan 1.400 species. Genus Zingiber meliputi 80 species yang salah satu diantaranya adalah<br />
jahe yang merupakan species paling penting dan paling banyak manfaatnya.<br />
2 – Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe
Nama Zingiber berasal dari bahasa Sansekerta ”Singeberi”. Kata ”Singaberi” dalam Bahasa<br />
Sansekerta itu berasal dari Bahasa Arab ”Zanzabil” atau Bahasa Yunani ”Zingiberi”.<br />
Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), se-famili dengan temu-temuan<br />
lainnya seperti temu lawak (Curcuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa),<br />
kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga) dan<br />
lain-lain.<br />
Deskripsi Tanaman Jahe<br />
Tanaman jahe tergolong terna berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 1 m, rimpang bila<br />
dipotong berwarna kuning atau jingga. Rimpang jahe berkulit agak tebal membungkus daging<br />
umbi yang berserat dan berwarna coklat beraroma khas. Bentuk daun bulat panjang dan tidak<br />
lebar (sempit). Berdaun tunggal, berbentuk lanset dengan panjang 15 – 23 mm, lebar 8 – 15<br />
mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 – 4 mm ; bentuk lidah daun memanjang, panjang 7,5 –<br />
10 mm, dan tidak berbulu; seludang agak berbulu. Perbungaan berupa malai tersembul di<br />
permukaan tanah, berbentuk tongkat atau bundar telur yang sempit, 2,75 – 3 kali lebarnya,<br />
sangat tajam ; panjang malai 3,5 – 5 cm, lebar 1,5 – 1,75 cm ; gagang bunga hampir tidak<br />
berbulu, panjang 25 cm, rahis berbulu jarang ; sisik pada gagang terdapat 5 – 7 buah,<br />
berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu, panjang sisik 3 – 5 cm.<br />
Bunga memiliki 2 kelamin dengan 1 benang sari dan 3 putik bunga daun pelindung berbentuk<br />
bundar telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2,5<br />
cm,<br />
lebar 1 – 1,75 cm ; mahkota bunga berbentuk tabung 2 – 2,5 cm, helainya agak sempit,<br />
berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 – 3,5 mm, bibir<br />
berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12 – 15 mm ;<br />
kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm ; tangkai putik ada 2.<br />
Jenis Tanaman Jahe<br />
Berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya dikenal 3 jenis jahe yaitu jahe putih/<br />
kuning besar atau sering disebut jahe gajah, jahe putih kecil/jahe emprit dan jahe merah.<br />
Berikut dijelaskan gambaran umum ketiga jenis jahe tersebut.<br />
1. Jahe putih/kuning besar/jahe gajah/jahe badak<br />
Varietas jahe ini banyak ditanam di masyarakat dan dikenal dengan nama Zingiber officinale<br />
var. officinale. Batang jahe gajah berbentuk bulat, berwarna hijau muda, diselubungi pelepah<br />
daun, sehingga agak keras. Tinggi tanaman 55.88-88,38 cm. Daun tersusun secara berselangseling<br />
dan teratur, permukaan daun bagian atas berwarna hijau muda jika dibandingkan<br />
dengan bagian bawah. Luas daun 24.87-27.52 cm 2 dengan ukuran panjang 17.42-21.99 cm,<br />
lebar 2.00-2.45 cm, lebar tajuk antara 41.05-53.81 cm dan jumlah daun dalam satu tanaman<br />
mencapai 25-31 lembar.<br />
Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe - 3
Ukuran rimpangnya lebih besar dan gemuk jika dibandingkan jenis jahe lainnya. Jika diiris<br />
rimpang berwarna putih kekuningan. Berat rimpang berkisar 0.18-1.04 kg dengan panjang<br />
15.83-32.75 cm, ukuran tinggi 6.02-12.24 cm. Ruas rimpangnya lebih menggembung dari<br />
kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bisa dikonsumsi baik saat berumur muda maupun<br />
berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.<br />
Akar jahe gajah ini memiliki serat yang sedikit lembut dengan kisaran panjang akar 4.53-6.30<br />
cm dan diameter mencapai kisaran 4.53-6.30 mm. Rimpang memiliki aroma yang kurang<br />
tajam dan rasanya kurang pedas. Kandungan minyak atsiri pada jahe gajah 0.82-1.66%, kadar<br />
pati 55.10%, kadar serat 6.89% dan kadar abu 6.6-7,5%.<br />
Jahe gajah diperdagangkan sebagai rimpang segar setelah dipanen pada umur 8-9 bulan.<br />
Rimpang tua ini padat berisi. Ukuran rimpangnya 150-200 gram/rumpun. Ruasnya utuh ;<br />
daging rimpangnya cerah ; bebas luka dan bersih dari batang semu, akar, serangga tanah dan<br />
kotoran yang melekat.<br />
Gambar 1. Rimpang Jahe Gajah<br />
Gambar 2. Rimpang Jahe Merah<br />
2. Jahe putih/kuning kecil/jahe sunti/jahe emprit<br />
Jahe ini dikenal dengan nama Latin Zingiber officinale var. rubrum, memiliki rimpang<br />
dengan bobot berkisar antara 0.5-0.7 kg/rumpun. Struktur rimpang kecil-kecil dan berlapis.<br />
Daging rimpang berwarna putih kekuningan. Tinggi rimpangnya dapat mencapai 11 cm<br />
dengan panjang antara 6-30 cm dan diameter antara 3.27-4.05 cm. Ruasnya kecil, agak rata<br />
sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Akar yang<br />
keluar dari rimpang berbentuk bulat. Panjang dapat mencapai 26 cm dan diameternya berkisar<br />
antara 3.91-5.90 cm. Akar yang banyak dikumpulkan dari satu rumpun dapat mencapai 70 g<br />
lebih banyak dari akar jahe besar.<br />
Tinggi tanaman jika diukur dari permukaan tanah sekitar 40-60 cm sedikit lebih pendek dari<br />
jahe besar. Bentuk batang bulat dan warna batang hijau muda hampir sama dengan jahe besar,<br />
hanya penampilannya lebih ramping dan jumlah batangnya lebih banyak.<br />
4 – Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe
Kedudukan daunnya berselang seling dengan teratur. Warna daun hijau muda dan berbentuk<br />
lancet. Jumlah daun dalam satu batang 20-30 helai. Panjang daun dapat mencapai 20 cm<br />
dengan lebar daun rata-rata 25 cm.<br />
Kandungan dalam rimpang jahe emprit yaitu minyak atsiri 1,5-3,5%, kadar pati 54,70%, kadar<br />
serat 6,59% dan kadar abu 7,39-8,90%. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada<br />
jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk<br />
ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.<br />
3. Jahe merah atau jahe sunti<br />
Jahe merah/jahe sunti (Zingiber officinale var. amarum) memiliki rimpang dengan bobot<br />
antara 0.5-0.7 kg/rumpun. Struktur rimpang jahe merah, kecil berlapis-lapis dan daging<br />
rimpangnya berwarna merah jingga sampai merah, ukuran lebih kecil dari jahe kecil.<br />
Diameter rimpang dapat mencapai 4 cm dan tingginya antara 5,26-10,40 cm. Panjang<br />
rimpang dapat mencapai 12.50 cm. Jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki<br />
kandungan minyak atsiri yang lebih tinggi dibandingkan jahe kecil, sehingga cocok untuk<br />
ramuan obat-obatan.<br />
Akar yang keluar dari rimpang berbentuk bulat, berdiameter antara 2,9-5,71 cm dan<br />
panjangnya dapat mencapai 40 cm. Akar yang dikumpulkan dalam satu rumpun jahe merah<br />
dapat mncapai 300 gram, jauh lebih banyak dari jahe gajah dan jahe emprit.<br />
Susunan daun terletak berselang-seling teratur, berbentuk lancet dan berwarna hijau muda<br />
hingga hijau tua. Panjang daun dapat mencapai 25 cm dengan lebar antara 27-31 cm.<br />
Kandungan dalam rimpang jahe merah antara lain minyak atsiri 2,58-3,90%, kadar pati<br />
44,99%, dan kadar abu 7,46%.<br />
Jahe merah memiliki kegunaan yang paling banyak jika dibandingkan jenis jahe yang lain.<br />
Jahe ini merupakan bahan penting dalam industri jamu tradisional dan umumnya dipasarkan<br />
dalam bentuk segar dan kering.<br />
Bermawie et al., (2008) melakukan eksplorasi dan pengumpulan plasma nutfah jahe berbagai<br />
tipe/keragaman yang ada di alam, terutama ras-ras lokal dari daerah pusat keragaman maupun<br />
sentra produksi. Sampai tahun 1996 telah terkumpul 44 nomor koleksi dari berbagai tipe<br />
(Tabel 1 ) yang sebagian besar berasal dari pengumpulan oleh donor/curator. Namun sebagian<br />
besar nomor-nomor tersebut akhirnya hilang atau mati diantaranya akibat kurangnya<br />
pemeliharaan dan serangan penyakit bakteri layu. Pada tahun 1997 kemudian dilakukan<br />
kembali eksplorasi ke daerah sentra utama di Jawa Barat dan Jawa Tengah serta pengumpulan<br />
informal oleh peneliti yang dinas ke daerah sehingga terkumpul 16 nomor jahe putih besar, 16<br />
nomor jahe putih kecil dan 4 nomor jahe merah (Tabel 2).<br />
Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe - 5
Tabel 1.<br />
Nomor-Nomor Koleksi Jahe Hasil Eksplorasi dan Koleksi dari Beberapa Daerah<br />
Sebelum Tahun 1997<br />
No. Nomor koleksi Nama lokal/daerah Daerah asal<br />
1.<br />
2.<br />
3.<br />
4.<br />
5.<br />
6.<br />
7.<br />
8.<br />
9.<br />
10.<br />
11.<br />
12.<br />
13.<br />
14.<br />
15.<br />
16.<br />
17.<br />
18.<br />
19.<br />
20.<br />
21.<br />
22.<br />
23.<br />
24.<br />
25.<br />
26.<br />
27.<br />
28.<br />
29.<br />
30.<br />
31.<br />
32.<br />
33.<br />
34.<br />
35.<br />
001<br />
002<br />
003<br />
004<br />
005<br />
006<br />
007<br />
008<br />
009<br />
010<br />
011<br />
012<br />
013<br />
014<br />
015<br />
016<br />
017<br />
018<br />
019<br />
020<br />
021<br />
022<br />
023<br />
024<br />
025<br />
026<br />
027<br />
028<br />
029<br />
030<br />
031<br />
032<br />
033<br />
034<br />
035<br />
Jahe kecil<br />
Jahe kecil<br />
Jahe kecil<br />
Jahe kecil<br />
Jahe kecil<br />
Jahe kecil<br />
Jahe kecil<br />
Jahe kecil<br />
Jahe besar<br />
Jahe besar<br />
Jahe besar<br />
Jahe besar<br />
Jahe merah kecil<br />
Jahe merah besar<br />
Jahe merah<br />
Jahe merah<br />
Jahe merah<br />
Jahe merah<br />
Jahe merah<br />
Jahe merah<br />
Jahe besar<br />
Jahe badak<br />
Jahe badak<br />
Jahe badak purba<br />
Jahe kecil<br />
Jahe kecil<br />
Jahe kecil<br />
Jahe putih<br />
Jahe kapur<br />
Jahe gajah<br />
Jahe merah<br />
Jahe kecil<br />
Jahe badak<br />
Jahe modoidang<br />
Jahe putih<br />
Cianjur, Jawa Barat<br />
Cianjur, Jawa Barat<br />
Bogor, Jawa Barat<br />
Bitung<br />
Ternate Maluku<br />
Bacan, Maluku<br />
Ambon, Maluku<br />
Cireundeu, Jawa Barat<br />
Bogor, Jawa Barat<br />
Cianjur, Jawa Barat<br />
Sukabumi, Jawa Barat<br />
Bengkulu<br />
Bitung<br />
Modoidang, Sulut<br />
Cicurug, Jawa Barat<br />
Bogor, Jawa Barat<br />
Jasinga, Jawa Barat<br />
Ternate, Maluku<br />
Kota Bumi, Lampung<br />
Ambon, Maluku<br />
Cipanas, Jawa Barat<br />
Malang, Jawa Timur<br />
Simalungun, Sumut<br />
Simalungun, Sumut<br />
Cipanas, Jawa Barat<br />
Ambon, Maluku<br />
Bengkulu<br />
India<br />
Jawa Tengah<br />
Jawa Tengah<br />
Cireundeu, Jawa Barat<br />
Pasir Madang, Jawa Barat<br />
Pasir Madang, Jawa Barat<br />
Minahasa, Sulut<br />
Bitung<br />
Sumber: Bermawie et al., 2003.<br />
6 – Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe
Tabel 2.<br />
Nomor-Nomor Jahe Hasil Eksplorasi dan Pengumpulan Mulai Tahun 1997<br />
No. Tipe jahe Lokasi Jumlah<br />
aksesi<br />
1. Jahe putih besar Garut<br />
2<br />
Cianjur<br />
1<br />
Sukabumi<br />
3<br />
Boyolali<br />
2<br />
Salatiga<br />
2<br />
Majalengka<br />
3<br />
Sumedang<br />
2<br />
Rejang Lebong<br />
1<br />
2. Jahe putih kecil Garut<br />
4<br />
Cianjur<br />
1<br />
Sukabumi<br />
1<br />
Boyolali<br />
2<br />
Salatiga<br />
2<br />
Majalengka<br />
4<br />
Sumedang<br />
1<br />
Karang Anyar<br />
1<br />
3. Jahe merah Cianjur<br />
1<br />
Sukabumi<br />
1<br />
Magelang<br />
1<br />
Bantul<br />
1<br />
Sumber: Bermawie et al., 2003<br />
Inisial Kurator<br />
NB, NA<br />
NB, NA<br />
HD, NB<br />
NB, BM, HD<br />
NB, BM, HD<br />
HD, SKM, NB, NA<br />
HD, NB, SF<br />
NB, NA, HM<br />
NB, NA<br />
NB, NA<br />
HD, NB<br />
NB, BM, HD<br />
NB, BM, HD<br />
HD, SKM, NB, NA<br />
HD, NB, SF<br />
NB, NA, HM<br />
HD, NB, NA<br />
HD, NB, NA<br />
SKM, NB, NA, HM<br />
NB, NA, HM<br />
Lebih lanjut Bermawie et al., (2008) mengemukakan agar plasma nutfah dapat dimanfaatkan<br />
secara optimal, perlu dilakukan pembuatan klasifikasi koleksi kerja, identifikasi sumber/donor<br />
sifat-sifat penting, memperbesar keragaman genetik untuk sifat-sifat tertentu, memperbesar<br />
keragaman sifat agronomis pada populasi yang digunakan, mempelajari biologi bunga dan<br />
sistem penyerbukan dari koleksi yang akan digunakan, mempelajari kesesuaian persilangan<br />
intra dan antar disiplin, misalnya untuk evaluasi ketahanan terhadap cekaman lingkungan<br />
biotik dan abiotik. Karakterisasi nomor aksesi plasma nutfah dari tiga tipe jahe utama meliputi<br />
sifat morfologi, komponen hasil dan mutu (Tabel 3, 4 dan 5).<br />
Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe - 7
Tabel 3.<br />
Keragaan Sifat Morfologi, Hasil dan Mutu Tiga Tipe Jahe<br />
No. Bagian Tanaman Jahe besar Jahe kecil Jahe merah<br />
1.<br />
2.<br />
3.<br />
4.<br />
5.<br />
Rimpang<br />
Struktur<br />
Warna (irisan)<br />
Bobot/rumpun (kg)<br />
Diameter (cm)<br />
Tinggi (cm)<br />
Panjang (cm)<br />
Akar<br />
Diameter (cm)<br />
Panjang (cm)<br />
Bobot (kg)<br />
Bentuk<br />
Batang<br />
Tinggi (cm)<br />
Jumlah<br />
Warna<br />
Bentuk<br />
Sifat<br />
Daun<br />
Kedudukan<br />
Jumlah<br />
Panjang (cm)<br />
Lebar (mm)<br />
Luas (mm)<br />
Warna<br />
Bentuk<br />
Mutu<br />
Kadar atsiri (%)<br />
Kadar pati (%)<br />
Kadar serat (%)<br />
Kadar abu (%)<br />
Kadar air (%)<br />
Kadar sari dalam air<br />
Kadar sari dalam etanol<br />
Besar berlapis<br />
Putih kekuninganputih<br />
kebiruan<br />
0,18-2,08<br />
8,47-8,50<br />
6,20-11,30<br />
15,83-32,75<br />
4,22-5,83<br />
9,43-24,80<br />
0,02-0,03<br />
Bulat<br />
55,88-81,38<br />
8.60-10.30<br />
Hijau muda<br />
Bulat<br />
Agak keras<br />
Berselang-seling<br />
Teratur<br />
24,01-30,99<br />
17,42-21,99<br />
20,00-35,50<br />
24,87-27,52<br />
Hijau muda<br />
Lanset<br />
0,82-3,25<br />
39,39-55,10<br />
6,44-9,57<br />
3,40-4,80<br />
6,40-11,42<br />
19,2-27,4<br />
11,9-15,1<br />
Kecil berlapis<br />
Putih kekuningan<br />
-putih kebiruan<br />
0,10-1,58<br />
3,27-4,05<br />
6,38-11,10<br />
6,13-31,70<br />
3,91-5,90<br />
15,35-26,20<br />
0,02-0,07<br />
Bulat<br />
41,87-56,45<br />
14.80-32.70<br />
Hijua muda<br />
Bulat<br />
Agak keras<br />
Berselang-seling<br />
Teratur<br />
20,37-29,03<br />
17,45-19,79<br />
22,40-32,60<br />
14,36-20,50<br />
Hijau muda<br />
Lanset<br />
1,50-3,50<br />
40,63-54,70<br />
5,92-9,28<br />
3,30-5,45<br />
7,39-11,95<br />
18,1-28,9<br />
9,9-20,7<br />
Kecil berlapis<br />
Jingga muda<br />
sampai merah<br />
0,20-1,40<br />
4,20-4,26<br />
5,26-10,40<br />
12,33-12,60<br />
2,49-5,71<br />
17,03-39,23<br />
0,07-0,34<br />
Bulat<br />
34,18-62,28<br />
13.76-17.53<br />
Hijau kemerahan<br />
Bulat kecil<br />
Agak keras<br />
Berselang-seling<br />
Teratur<br />
20,10<br />
24,30-24,79<br />
27,90-31,18<br />
32,55-51,18<br />
Hijau muda<br />
Lanset<br />
2,58-3,90<br />
44,99<br />
7,1-7,6<br />
6,1-7,0<br />
12,0<br />
18,2-18,9<br />
9,6-11,0<br />
Sumber: Rostiana et al.,(1991) ; Bermawie et al., (2003)<br />
8 – Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe
Tabel 4.<br />
Penampilan Hasil Rata-Rata Bobot dan Tinggi Rimpang Tiga Jenis Tipe Jahe pada Berbagai<br />
Lokasi dengan Ketinggian Berbeda<br />
Tipe jahe/Lokasi Bobot rimpang/rumpun (g) Tinggi rimpang (cm)<br />
Jahe putih besar<br />
Cikampek (85 m dpl)<br />
1080<br />
Cimanggu (240 m dpl)<br />
670<br />
Sukamulya (450 m dpl)<br />
905<br />
Cicurug (650 m dpl)<br />
908<br />
Manoko (1000 m dpl)<br />
209<br />
Gunung Putri (1200 m dpl)<br />
180<br />
Jahe putih kecil<br />
Cikampek (85 m dpl)<br />
780<br />
Cimanggu (240 m dpl)<br />
440<br />
Sukamulya (450 m dpl)<br />
740<br />
Cicurug (650 m dpl)<br />
1580<br />
Manoko (1000 m dpl)<br />
100<br />
Gunung Putri (1200 m dpl)<br />
110<br />
Jahe merah<br />
Cikampek (85 m dpl)<br />
490<br />
Cimanggu (240 m dpl)<br />
490<br />
Sukamulya (450 m dpl)<br />
1400<br />
Cicurug (650 m dpl)<br />
1170<br />
Manoko (1000 m dpl)<br />
200<br />
Gunung Putri (1200 m dpl)<br />
290<br />
Sumber: Taryono et al. (1992) dalam Bermawie et al., (2003)<br />
9.53<br />
11.10<br />
11.30<br />
11.30<br />
6.26<br />
6.20<br />
9.52<br />
9.57<br />
9.73<br />
11.10<br />
6.38<br />
7.89<br />
7.62<br />
10.60<br />
10.40<br />
7.03<br />
5.26<br />
5.89<br />
Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe - 9
JPB1<br />
JPB2<br />
JPB3<br />
JPB4<br />
JPB5<br />
JPB6<br />
JM1<br />
JM2<br />
JPK1<br />
JPK2<br />
JPK3<br />
JPK4<br />
JPK5<br />
JPK6<br />
JPK7<br />
JPK8<br />
JPK9<br />
JPK10<br />
Tabel 5.<br />
Rata-Rata Bobot Rimpang per Rumpun 18 Nomor Jahe pada Beberapa Lokasi<br />
Asesi Minimum (g) Maximum (g) Rata-rata (g)<br />
Jahe putih besar<br />
325<br />
2100<br />
592,7<br />
223<br />
1517<br />
575,7<br />
128<br />
1470<br />
537,6<br />
203<br />
1158<br />
544,4<br />
248<br />
1547<br />
596,9<br />
210<br />
1350<br />
520,8<br />
223<br />
197<br />
83<br />
100<br />
117<br />
50<br />
108<br />
83<br />
83<br />
133<br />
217<br />
117<br />
Jahe merah<br />
Jahe putih kecil<br />
1138<br />
791<br />
850<br />
583<br />
1333<br />
700<br />
700<br />
733<br />
850<br />
817<br />
800<br />
812<br />
Keterangan: JPB 13 lokasi, JPK 8 lokasi (kecuali JPK3 dan JPK7-3 lokasi) dan JM 3 lokasi<br />
Sumber: Bermawie et al., 1999;2000;2001;2002, Hadad, 2000 dalam Bermawie et al., (2003)<br />
412,9<br />
371,9<br />
372,4<br />
305,3<br />
333,2<br />
402,5<br />
413,5<br />
336,7<br />
253,0<br />
370,3<br />
437,9<br />
398,3<br />
Bermawie et al., (2003) menyimpulkan program perbaikan varietas melalui pemuliaan<br />
terbentur pada rendahnya keragaman genetik jahe. Upaya peningkatan keragaman genetik<br />
melalui eksplorasi ke berbagai daerah menghasilkan 44 nomor aksesi, namun nomor tersebut<br />
hilang akibat kurang rutinnya rejuvensi dan serangan penyakit layu bakteri. Eksplorasi<br />
lanjutan menghasilkan 36 nomor, diantaranya terpilih sebagai nomor harapan yang merupakan<br />
bahan untuk menghasilkan varietas unggul.<br />
Analisa keragaman genetik dan hubungan kekerabatan antar aksesi plasma nutfah berdasarkan<br />
sifat morfologi dan mutu menggolongkan jahe kedalam tiga tipe utama, yaitu jahe putih besar,<br />
jahe putih kecil dan jahe merah. Analisa keragaman menggunakan marka molekuler AFLP<br />
menghasilkan keragaman genetik jahe sangat rendah dengan indeks keragaman 0,22. Jahe<br />
putih kecil memiliki keragaman genetik yang lebih luas (0,26) dari pada jahe putih besar<br />
(0,08). Pembagian jahe ke dalam tiga kelompok berdasarkan analisa molekuler tidak begitu<br />
tegas, tidak sejalan dengan pembagian berdasarkan sifat ukuran dan warna rimpang.<br />
10 – Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe