Fungsi dan Grafik Fungsi dan Grafik Diferensial dan ... - Ee-cafe.org
Fungsi dan Grafik Fungsi dan Grafik Diferensial dan ... - Ee-cafe.org
Fungsi dan Grafik Fungsi dan Grafik Diferensial dan ... - Ee-cafe.org
Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!
Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.
Sudaryatno Sudirham<br />
Studi Mandiri<br />
<strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong><br />
<strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
Darpublic<br />
ii
Studi Mandiri<br />
<strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong><br />
<strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
oleh<br />
Sudaryatno Sudirham<br />
i
Hak cipta pada penulis, 2010<br />
SUDIRHAM, SUDARYATNO<br />
<strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
Oleh: Sudaryatmo Sudirham<br />
Darpublic, Bandung<br />
fdg-1110<br />
http://www.ee-<strong>cafe</strong>.<strong>org</strong><br />
Alamat pos: Kanayakan D-30, Bandung, 40135.<br />
Fax: (62) (22) 2534117<br />
ii
Kata Pengantar<br />
Dalam buku ini penulis mencoba menyajikan bahasan matematika bagi<br />
pembaca untuk memperoleh pengertian dengan lebih mudah tentang<br />
kalkulus. Walaupun materi yang dibahas adalah materi matematika,<br />
namun uraian dengan bahasa matematika telah dicoba untuk sangat<br />
dibatasi. Pendefinisian <strong>dan</strong> pembuktian formula-formula diganti dengan<br />
pernyataan-pernyataan serta gambaran grafis yang lebih mudah difahami.<br />
Penulis berharap bahwa pengertian dasar yang bisa diperoleh dari buku<br />
ini akan mendorong minat untuk mendalami materi lebih lanjut.<br />
Buku ini dutujukan untuk umum. Bahan utama isi buku adalah catatan<br />
penulis sewaktu mengikuti kuliah di Institut Teknologi Bandung,<br />
se<strong>dan</strong>gkan contoh-contoh hubungan diferensial <strong>dan</strong> soal-soal persamaan<br />
diferensial penulis ambil dari buku “Analisis Rangkaian Elektrik”.<br />
Bahasan dibatasi pada fungsi-fungsi dengan peubah bebas tunggal<br />
berupa bilangan nyata.<br />
Karakterisasi fungsi-fungsi serta perhitungan diferensial <strong>dan</strong> integral<br />
sangat dipermudah dengan bantuan komputer. Hal demikian banyak<br />
dilakukan dalam meghadapi persoalan yang kompleks. Namun buku ini<br />
tidak membahas cara perhitungan dengan menggunakan komputer<br />
tersebut, melainkan menyajikan bahasan mengenai pengertian-pengertian<br />
dasar tentang fungsi serta hitungan diferensial <strong>dan</strong> integral.<br />
Akhir kata, penulis harapkan tulisan ini ada manfaatnya. Saran-saran<br />
pembaca sangat diharapkan untuk perbaikan lebih lanjut.<br />
Bandung, Nopember 2010<br />
Wassalam,<br />
Penulis<br />
iii
A. Schopenhauer, 1788 – 1860<br />
dari<br />
Mini-Encyclopédie, France Loisirs<br />
ISBN 2-7242-1551-6<br />
iv
Daftar Isi<br />
Kata Pengantar<br />
Daftar Isi<br />
Bab 1: Pengertian Tentang <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong> 1<br />
<strong>Fungsi</strong>. Domain. Kurva, Kekontinyuan, Simetri. Bentuk<br />
Implisit. <strong>Fungsi</strong> Bernilai Tunggal <strong>dan</strong> Bernilai Banyak.<br />
<strong>Fungsi</strong> dengan Banyak Peubah Bebas. Koordinat Polar.<br />
Pembatasan Bahasan <strong>dan</strong> Sajian Bahasan.<br />
Bab 2: <strong>Fungsi</strong> Linier 15<br />
<strong>Fungsi</strong> Tetapan. <strong>Fungsi</strong> Linier – Persamaan Garis<br />
Lurus. Pergeseran Kurva. Perpotongan Garis.<br />
Bab 3: Gabungan <strong>Fungsi</strong> Linier 27<br />
<strong>Fungsi</strong> anak Tangga. <strong>Fungsi</strong> Ramp. Pulsa. Perkalian<br />
Ramp <strong>dan</strong> Pulsa. Gabungan <strong>Fungsi</strong> Ramp.<br />
Bab 4: Mononom <strong>dan</strong> Polinom 37<br />
Mononom: Mononom Pangkat Dua; Mononom Pangkat<br />
Tiga. Polinom: <strong>Fungsi</strong> Kuadrat. Penambahan Mononom<br />
Pangkat Tiga.<br />
Bab 5: Bangun Geometris 55<br />
Persamaan Kurva. Jarak Antara Dua Titik. Parabola.<br />
Lingkaran. Elips. Hiperbola. Kurva berderajat Dua.<br />
Perputaran Sumbu.<br />
Bab 6: <strong>Fungsi</strong> Trigonometri 69<br />
Peubah Bebas Bersatuan Derajat. Peubah Bebas<br />
Bersatuan Radian. <strong>Fungsi</strong> Trigonometri Inversi.<br />
Bab 7: Gabungan <strong>Fungsi</strong> Sinus 85<br />
<strong>Fungsi</strong> Sinus Dan Cosinus. Kombinasi <strong>Fungsi</strong> Sinus.<br />
Spetrum Dan Lebar Pita.<br />
Bab 8: <strong>Fungsi</strong> Logaritma. Natural, Eksponensial, Hiperbolik 95<br />
<strong>Fungsi</strong> Logaritma Natural. <strong>Fungsi</strong> Exponensial. <strong>Fungsi</strong><br />
Hiperbolik.<br />
Bab 9: Turunan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> (1) 105<br />
Pengertian Dasar. Mononom. Polinom. Nilai Puncak.<br />
Garis Singgung.<br />
iii<br />
v<br />
v
Bab 10: Turunan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> (2) 121<br />
<strong>Fungsi</strong> Perkalian Dua <strong>Fungsi</strong>. <strong>Fungsi</strong> Pangkat Dari<br />
Suatu <strong>Fungsi</strong>. <strong>Fungsi</strong> Rasional. <strong>Fungsi</strong> Implisit. <strong>Fungsi</strong><br />
Berpangkat Tidak Bulat. Kaidah Rantai. <strong>Diferensial</strong> dx<br />
<strong>dan</strong> dy.<br />
Bab 11: Turunan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> (3) 133<br />
<strong>Fungsi</strong> Trigonometri. <strong>Fungsi</strong> Trigonimetri Inversi.<br />
<strong>Fungsi</strong> Trigonometri Dari Suatu <strong>Fungsi</strong>. <strong>Fungsi</strong><br />
Logaritmik. <strong>Fungsi</strong> Eksponensial.<br />
Bab 12: Integral (1) 141<br />
Integral Tak Tentu. Penggunaan Integral Tak Tentu.<br />
Luas Sebagai Suatu Integral. Penggunaan Dalam<br />
Praktek.<br />
Bab 13: Integral (2) 161<br />
Luas Sebagai Suatu Integral - Integral Tentu. Penerapan<br />
Integral. Luas Bi<strong>dan</strong>g Di Antara Dua Kurva.<br />
Bab 14: Integral (3) 169<br />
Volume Sebagai Suatu Integral. Panjang Kurva. Nilai<br />
Rata-Rata Suatu <strong>Fungsi</strong>. Pendekatan Numerik.<br />
Bab 15: Persamaan <strong>Diferensial</strong> 179<br />
Pengertian. Solusi. Persamaan <strong>Diferensial</strong> Orde Satu<br />
Dengan Peubah Yang Dapat Dipisahkan. Persamaan<br />
<strong>Diferensial</strong> Homogen Orde Satu. Persamaan <strong>Diferensial</strong><br />
Linier Orde Satu. Solusi Pada Berbagai <strong>Fungsi</strong><br />
Pemaksa.<br />
Bab 16: Persamaan <strong>Diferensial</strong> (2) 193<br />
Persamaan <strong>Diferensial</strong> Linier Orde Dua. Tiga<br />
Kemungkinan Bentuk Solusi.<br />
Bab 17: Koordinat Polar 201<br />
Relasi koordinat Polar <strong>dan</strong> Koordinat Sudut-siku.<br />
Persamaan Kurva Dalam Koordinat Polar. Persamaan<br />
Garis Lurus. Parabola, Elips, Hiperbola. Lemniskat <strong>dan</strong><br />
Oval Cassini. Luas Bi<strong>dan</strong>g.<br />
Indeks 213<br />
Referensi 215<br />
Biodata penulis 216<br />
vi Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 1<br />
Pengertian Tentang <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong><br />
1.1. <strong>Fungsi</strong><br />
Apabila suatu besaran y memiliki nilai yang tergantung dari nilai besaran<br />
lain x, maka dikatakan bahwa besaran y tersebut merupakan fungsi<br />
besaran x. Contoh: panjang batang logam merupakan fungsi temperatur.<br />
Secara umum suatu fungsi dituliskan sebagai sebuah persamaan<br />
y = f (x)<br />
(1.1)<br />
Perhatikan bahwa penulisan y = f (x)<br />
bukanlah berarti y sama dengan f<br />
kali x, melainkan untuk menyatakan bahwa y merupakan fungsi dari x<br />
yang tidak lain adalah sebuah aturan atau sebuah ketentuan berapakah y<br />
akan memiliki nilai jika kepada x kita berikan suatu nilai.<br />
y <strong>dan</strong> x adalah peubah (variable) yang dibedakan menjadi peubah-takbebas<br />
(y) <strong>dan</strong> peubah-bebas (x). Peubah-bebas x adalah simbol dari suatu<br />
besaran yang bisa memiliki nilai sembarang dari suatu set bilangan.<br />
Sementara peubah-tak-bebas y memiliki nilai yang tergantung dari nilai<br />
yang dimiliki x.<br />
Dilihat dari nilai yang dimiliki oleh ruas kiri <strong>dan</strong> ruas kanan, (1.1) adalah<br />
sebuah persamaan. Namun kedua ruas itu memiliki peran yang berbeda.<br />
Kita ambil contoh dalam relasi fisis<br />
L T = L 0 (1 + λT<br />
)<br />
dengan L T adalah panjang sebatang logam pada temperatur T, L 0 adalah<br />
panjang pada temperatur nol, T temperatur <strong>dan</strong> λ adalah koefisien muai<br />
panjang. Panjang batang tergantung dari temperatur; makin tinggi<br />
temperatur makin panjang batang logam. Namun sebaliknya, makin<br />
panjang batang logam tidak selalu berarti temperaturnya makin tinggi.<br />
Jika logam tersebut mengalami beban tarikan misalnya, ia akan<br />
bertambah panjang namun tidak bertambah temperaturnya.<br />
Walaupun nilai x di ruas kanan (1.1) bisa berubah secara bebas,<br />
sementara ruas kiri tergantung dari ruas kanan, namun nilai x tetap harus<br />
ditenttukan sebatas mana ia boleh bervariasi.<br />
1
1.2. Domain<br />
Domain ialah rentang nilai (interval nilai) di mana peubah-bebas x<br />
bervariasi. Dalam kebanyakan aplikasi, rentang nilai ini bisa berbentuk<br />
sebagai berikut:<br />
a). rentang nilai berupa bilangan-nyata yang terletak antara dua nilai a<br />
<strong>dan</strong> b. Kita tuliskan rentang nilai ini sebagai<br />
a < x < b<br />
Ini berarti bahwa x bisa memiliki nilai lebih besar dari a namun<br />
lebih kecil dari b. Rentang ini disebut rentang terbuka, yang dapat<br />
kita gambarkan sebagi berikut:<br />
a<br />
b<br />
a <strong>dan</strong> b tidak termasuk dalam rentang tersebut.<br />
b). rentang nilai<br />
a ≤ x < b<br />
yang kita gambarkan sebagai<br />
a<br />
b<br />
Di sini a masuk dalam rentang nilai, tetapi b tidak. Ini merupakan<br />
rentang setengah terbuka.<br />
c). rentang nilai<br />
a ≤ x ≤ b<br />
Dalam rentang ini baik a maupun b masuk dalam rentang nilai. Ini<br />
adalah rentang tertutup, <strong>dan</strong> kita gambarkan<br />
a<br />
b<br />
1.3. Kurva, Kekontinyuan, Simetri<br />
Kurva. <strong>Fungsi</strong> y = f (x)<br />
dapat divisualisasikan secara grafis. Dalam<br />
visualisasi ini kita memerlukan koordinat. Suatu garis horisontal<br />
memanjang dari −∞ ke arah kiri sampai +∞ ke arah kanan, ditetapkan<br />
sebagai sumbu-x atau absis. Pada garis ini ditetapkan pula titik referensi<br />
2 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
0 serta panjang satuan skala, sedemikian rupa sehingga kita dapat<br />
menggambarkan nilai-nilai x pada garis ini (lihat Gb.1.1); peubah x<br />
memiliki nilai yang berupa bilangan-nyata.<br />
y 3<br />
Q[-2,2]<br />
2<br />
1<br />
0<br />
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 x 4<br />
III -1 IV<br />
R[-3,-3]<br />
II<br />
-2<br />
-3<br />
P[2,1]<br />
S[3,-2]<br />
-4<br />
Gb.1.1. Sistem koordinat x-y atau koordinat sudut-siku.<br />
Catatan: Suatu bilangan-nyata dapat dinyatakan dengan desimal<br />
terbatas maupun desimal tak terbatas. Contoh: 1, 2, 3, ......adalah<br />
bilangan-nyata bulat; 1,586 adalah bilangan-nyata dengan desimal<br />
terbatas; π adalah bilangan-nyata dengan desimal tak terbatas, yang<br />
jika dibatasi sampai sembilan angka di belakang koma nilainya<br />
adalah 3,141592654.<br />
Selain sumbu-x ditetapkan pula sumbu-y yang tegak lurus pada sumbu-x,<br />
memanjang ke −∞ arah ke bawah <strong>dan</strong> +∞ arah ke atas, yang melewati<br />
titik referensi 0 di sumbu-x <strong>dan</strong> disebut ordinat. Titik perpotongan<br />
sumbu-y dengan sumbu-x merupakan titik referensi yang disebut titikasal<br />
<strong>dan</strong> kita tulis berkoordinat [0,0]. Pada sumbu-y ditetapkan juga<br />
satuan skala seperti halnya pada sumbu-x, yang memungkinkan kita<br />
untuk menggambarkan posisi bilangan-nyata di sumbu-y. Besaran fisik<br />
yang dinyatakan dengan peubah-tak-bebas dalam skala sumbu-y tidak<br />
harus sama dengan besaran fisik <strong>dan</strong> skala sumbu-x; misalnya sumbu-x<br />
menunjukkan waktu dengan satuan detik/skala, se<strong>dan</strong>gkan sumbu-y<br />
menunjukkan jarak dengan satuan meter/skala.<br />
Bi<strong>dan</strong>g datar di mana kita menggambarkan sumbu-x <strong>dan</strong> sumbu-y,<br />
selanjutnya kita sebut bi<strong>dan</strong>g x-y, akan terbagi dalam 4 kuadran, yaitu<br />
kuadran I, II, III <strong>dan</strong> IV seperti terlihat pada Gb.1.1.<br />
I<br />
3
Setiap titik K pada bi<strong>dan</strong>g datar ini dapat kita nyatakan posisinya sebagai<br />
K[x k ,y k ], dengan x k <strong>dan</strong> y k berturut-turut menunjukkan jumlah skala di<br />
sumbu-x <strong>dan</strong> di sumbu-y dari titik K yang se<strong>dan</strong>g kita tinjau. Pada<br />
Gb.1.1. misalnya, posisi empat titik yang digambarkan di kuadran I, II,<br />
III, IV, masing-masing kita tuliskan sebagai P[2,1], Q[-2,2], R[-3,-3] <strong>dan</strong><br />
S[3,-2].<br />
Dengan demikian setiap pasangan bilangan-nyata akan berkaitan dengan<br />
satu titik di bi<strong>dan</strong>g x-y. Dengan cara inilah pasangan nilai yang dimiliki<br />
oleh ruas kiri <strong>dan</strong> ruas kanan suatu fungsi y = f(x) dapat divisualisasikan<br />
pada bi<strong>dan</strong>g x-y. Visualisasi itu akan berbentuk kurva fungsi y di bi<strong>dan</strong>g<br />
x-y, <strong>dan</strong> kurva ini memiliki persamaan y = f(x), sesuai dengan<br />
pernyataan fungsi yang divisualisasikannya.<br />
Contoh: sebuah fungsi<br />
y = 0, 5x<br />
(1.2)<br />
Setiap nilai x akan menentukan satu nilai y. Jika kita muatkan dalam<br />
suatu tabel, nilai x <strong>dan</strong> y akan terlihat seperti pada Tabel-1.1.<br />
Tabel-1.1.<br />
x -1 0 1 2 3 4 dst.<br />
y -0,5 0 0,5 1 1,5 2 dst.<br />
<strong>Fungsi</strong> y = 0, 5x<br />
yang memiliki pasangan nilai x <strong>dan</strong> y seperti<br />
tercantum dalam Tabel-1.1. di atas akan memberikan kurva seperti<br />
terlihat pada Gb.1.2. Kurva ini berbentuk garis lurus melalui titikasal<br />
[0,0] <strong>dan</strong> memiliki kemiringan tertentu (yang akan kita pelajari<br />
lebih lanjut), <strong>dan</strong> persamaan garis ini adalah y = 0, 5x<br />
.<br />
2,5<br />
y<br />
2<br />
R<br />
1,5<br />
Q ∆y<br />
1<br />
∆x<br />
0,5<br />
P<br />
0<br />
-0,5<br />
-1<br />
0 1 2 3 x 4<br />
Gb.1.2. Kurva dari fungsi<br />
y = 0, 5x<br />
4 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Dengan contoh ini, relasi (1.2) yang merupakan relasi fungsional,<br />
setelah berbentuk kurva berubah menjadi sebuah persamaan yaitu<br />
persamaan dari kurva yang diperoleh. Ruas kiri <strong>dan</strong> kanan<br />
persamaan ini menjadi berimbang karena melalui kurva tersebut kita<br />
bisa mendapatkan dengan mudah nilai y jika diketahui nilai x, <strong>dan</strong><br />
sebaliknya kita juga dapat memperoleh nilai x jika diketahui nilai y.<br />
Dengan contoh di atas kita mengerti bahwa fungsi y = 0, 5x<br />
membentuk<br />
kurva dengan persamaan y = 0, 5x<br />
di bi<strong>dan</strong>g x-y. Dalam contoh ini titiktitik<br />
P, Q, <strong>dan</strong> R terletak pada garis tersebut dengan koordinat P[-1,-0,5],<br />
Q[2,1], R[3,1.5]. Pengertian tentang fungsi <strong>dan</strong> persamaan kurva ini<br />
perlu kita fahami benar karena kedua istilah ini akan muncul secara<br />
paralel dalam pembahasan bentuk-bentuk geometris.<br />
Kekontinyuan. Suatu fungsi yang kontinyu dalam suatu rentang nilai x<br />
tertentu, akan membentuk kurva yang tidak terputus dalam rentang<br />
tersebut. Syarat untuk terjadinya fungsi yang kontinyu dinyatakan<br />
sebagai berikut:<br />
Suatu fungsi y = f(x) yang terdefinisi di sekitar x = c dikatakan<br />
kontinyu di x = c jika dipenuhi dua syarat:<br />
(1) fungsi tersebut memiliki nilai yang terdefinisi sebesar f(c) di x =<br />
c;<br />
(2) nilai f(x) akan menuju f(c) jika x menuju c; pernyataan ini kita<br />
tuliskan sebagai lim f ( x)<br />
= f ( c)<br />
yang kita baca limit f(x)<br />
x→c<br />
untuk x menuju c sama dengan f(c).<br />
Contoh: Kita lihat misalnya fungsi y = 1/x. Pada x = 0 fungsi ini<br />
tidak terdefinisi karena 1/0 tidak dapat kita tentukan berapa nilainya;<br />
lim f ( x)<br />
tidak terdefinisi jika x menuju nol. Kedua persyaratan<br />
x→c<br />
kekontinyuan tidak dipenuhi; ia merupakan fungsi tak-kontinyu di x<br />
= 0. Hal ini berbeda dengan fungsi yang terdefinisikan di x = 0<br />
(lihat selanjutnya ulasan di Bab-3) sebagai<br />
y = u(<br />
x),<br />
y = 1 untuk x ≥ 0<br />
y = 0 untuk x < 0<br />
5
yang bernilai 0 untuk x < 0 <strong>dan</strong> bernilai 1 untuk x ≥ 0. Perhatikan<br />
Gb.1.3.<br />
1<br />
y<br />
y = 1/x<br />
0<br />
-10 -5 0 5 x 10<br />
y = 1/x<br />
-1<br />
Tak terdefinikan di x = 0.<br />
y<br />
1<br />
0<br />
0<br />
y = u(x)<br />
Gb.1.3. <strong>Fungsi</strong><br />
x<br />
Terdefinisikan di x = 0<br />
y = 1/<br />
x <strong>dan</strong> y =u(x)<br />
Simetri. Kurva suatu fungsi mungkin simetris terhadap garis atau titik<br />
tertentu<br />
a) jika fungsi tidak berubah apabila x kita ganti dengan −x maka<br />
kurva fungsi tersebut simetris terhadap sumbu-y;<br />
b) jika fungsi tidak berubah apabila x <strong>dan</strong> y dipertukarkan, kurva<br />
fungsi tersebut simetris terhadap garis-bagi kuadran I <strong>dan</strong> III.<br />
c) jika fungsi tidak berubah apabila y diganti dengan −y, kurva<br />
fungsi tersebut simetris terhadap sumbu-x.<br />
d) jika fungsi tidak berubah jika x <strong>dan</strong> y diganti dengan −x <strong>dan</strong> −y,<br />
kurva fungsi tersebut simetris terhadap titik-asal [0,0].<br />
Contoh: Perhatikan contoh pada Gb.1.4. berikut ini.<br />
Kurva y = 0,3x 2 simetris terhadap sumbu-y. Jika kita ganti nilai x =<br />
2 dengan x = - 2, nilai tidak berubah karena x berpangkat genap.<br />
6 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Kurva y = 0,05x 3 simetris terhadap titik-asal [0,0]. Di sini x<br />
berpangkat ganjil sehingga fungsi tidak akan berubah jika x diganti<br />
– x <strong>dan</strong> y diganti – y.<br />
2 2<br />
Kurva x + y = 9 simetris terhadap sumbu-x, simetris terhadap<br />
sumbu-y, simetris terhadap garis-bagi kuadran I <strong>dan</strong> III, <strong>dan</strong> juga<br />
simetris terhadap garis-bagi kuadran II <strong>dan</strong> IV.<br />
y = 0,3x 2<br />
6<br />
3<br />
y<br />
tidak berubah bila x diganti −x<br />
tidak berubah jika x <strong>dan</strong> y<br />
diganti dengan −x <strong>dan</strong> −y<br />
0<br />
-6 -3 0 3 6<br />
-3 y 2 + x 2 = 9<br />
y = 0,05x 3 tidak berubah jika<br />
x diganti −x<br />
x <strong>dan</strong> y diganti dengan −x <strong>dan</strong> −y<br />
-6<br />
x <strong>dan</strong> y dipertukarkan<br />
y diganti dengan −y<br />
Gb.1.4. Contoh-contoh kurva fungsi yang memiliki simetri.<br />
1.4. Bentuk Implisit<br />
Suatu fungsi kebanyakan dinyatakan dalam bentuk eksplisit dimana<br />
peubah-tak-bebas y secara eksplisit dinyatakan dalam x, seperti<br />
y = f (x) . Namun sering kali kita jumpai pula bentuk implisit di mana<br />
nilai y tidak diberikan secara eksplisit dalam x. Berikut ini adalah<br />
beberapa contoh bentuk implisisit.<br />
x<br />
x<br />
2<br />
xy = 1<br />
y<br />
x<br />
2<br />
2<br />
+ y<br />
2<br />
= x<br />
= 1<br />
+ xy + y<br />
2<br />
= 8<br />
(1.3)<br />
7
Walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit, setiap nilai peubah-bebas x<br />
akan memberikan satu atau lebih nilai peubah-tak-bebas y. Contoh<br />
pertama sampai ke-tiga pada (1.3) dengan mudah kita ubah dalam bentuk<br />
eksplisit sehingga untuk menggambarkan fungsi tersebut kedalam sistem<br />
koordinat x-y dengan menggunakan tabel tidaklah terlalu sulit. Contoh<br />
yang ke-empat agak sulit, namun persamaan tersebut dapat dijadikan<br />
bentuk persamaan kuadrat<br />
yang akar-akarnya adalah<br />
2<br />
2<br />
2 ( 2 =<br />
x + xy + y = 8 ⇒ y + xy + x −8)<br />
0<br />
y , y<br />
1<br />
2<br />
− x ±<br />
=<br />
x<br />
2<br />
− 4( x<br />
2<br />
2<br />
− 8)<br />
Nilai y 1 <strong>dan</strong> y 2 dapat dihitung untuk setiap x yang masih memberikan<br />
nilai nyata untuk y. Perhatikan bahwa akar-akar persamaan ini dapat kita<br />
tuliskan sebagai<br />
2<br />
2<br />
− x x − 4( x − 8)<br />
y = ±<br />
(1.4)<br />
2 2<br />
yang merupakan bentuk pernyataan eksplisit y = f (x)<br />
. Kurva fungsi<br />
ini terlihat pada Gb.1.5.<br />
y 8<br />
4<br />
0<br />
-4 -2 0 2 4<br />
x<br />
-4<br />
Gb.1.5. Kurva<br />
-8<br />
− x<br />
y = ±<br />
2<br />
x<br />
2<br />
− 4( x<br />
2<br />
2<br />
−8)<br />
8 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
1.5. <strong>Fungsi</strong> Bernilai Tunggal <strong>dan</strong> <strong>Fungsi</strong> Bernilai Banyak<br />
<strong>Fungsi</strong> Bernilai Tunggal. <strong>Fungsi</strong> yang hanya memiliki satu nilai<br />
peubah-tak-bebas untuk setiap nilai peubah-bebas, disebut fungsi<br />
bernilai tunggal. Berikut ini contoh fungsi bernilai tunggal.<br />
1).<br />
2<br />
y = 0,5x<br />
.<br />
Pada fungsi ini setiap nilai x hanya memberikan satu nilai y. Kurva<br />
dari fungsi ini diperlihatkan pada Gb.1.6. Kita tahu bahwa kurva<br />
fungsi ini simetris terhadap sumbu-y namun dalam gambar ini<br />
terutama diperlihatkan rentang x ≥ 0.<br />
8<br />
y<br />
6<br />
4<br />
2<br />
0<br />
-1 0 1 2 3 x 4<br />
2<br />
Gb.1.6. Kurva y = 0,5x<br />
2). y = + x .<br />
Pada fungsi ini, y hanya mengambil nilai positif. Oleh karena itu ia<br />
bernilai tunggal dengan kurva seperti terlihat pada Gb 1.7.<br />
y<br />
1,6<br />
1,2<br />
0,8<br />
0,4<br />
0<br />
0 0,5 1 1,5 x 2<br />
Gb.1.7. Kurva<br />
y = +<br />
x<br />
9
3). y = − x .<br />
Peubah tak-bebas y hanya mengambil nilai negatif. Oleh karena itu<br />
ia bernilai tunggal dengan kurva seperti terlihat pada Gb.1.8.<br />
Sesungguhnya kurva fungsi ini adalah pasangan dari kurva<br />
y = + x . Hal ini terlihat pada Gb.1.11 di mana y mengambil nilai<br />
baik positif maupun negatif.<br />
0<br />
0 0, 1 1, x 2<br />
-0,4<br />
-0,8<br />
4). y = log10<br />
x .<br />
-1,2<br />
y<br />
-1,6<br />
Gb.1.8. Kurva<br />
y = −<br />
x<br />
Sebelum melihat kurva fungsi ini ada baiknya kita mengingat<br />
kembali tentang logaritma.<br />
log 10 adalah logaritma dengan basis 10; log 10 a berarti<br />
berapakah 10 harus dipangkatkan agar diperoleh a. Jadi<br />
y = log10<br />
x berarti 10<br />
y = x<br />
y 1 = log 10 1 = 0 ;<br />
y 2 = log 10 1000 = 3 ;<br />
y 3 = log 10 2 = 0,30103; ...dst.<br />
Kurva fungsi<br />
y = log10<br />
x terlihat pada Gb.1.9.<br />
0,8<br />
y<br />
0,4<br />
0<br />
-0,4<br />
0 1 2 3 x 4<br />
-0,8<br />
Gb.1.9. Kurva<br />
y = log10<br />
x<br />
10 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
5). 2<br />
y = x = x .<br />
<strong>Fungsi</strong> ini berlaku untuk nilai x negatif maupun positif.<br />
2<br />
Perhatikanlah bahwa x tidak hanya sama dengan x, melainkan<br />
± x. Kurva fungsi ini terlihat pada Gb.1.10.<br />
Gb.1.10. Kurva y = |x| = √x 2<br />
<strong>Fungsi</strong> Bernilai Banyak. Jika untuk satu nilai peubah-bebas terdapat<br />
lebih dari satu nilai peubah-tak-bebas, fungsi tersebut disebut bernilai<br />
banyak. Berikut ini adalah contoh fungsi bernilai banyak.<br />
1). <strong>Fungsi</strong> y = ± x .<br />
Perhatikan bahwa ada dua nilai y untuk setiap nilai x. Sesungguhnya<br />
x bernilai ± x <strong>dan</strong> bukan hanya x saja. Kurva fungsi ini terlihat<br />
pada Gb.1.11. Jika y hanya mengambil nilai positif atau negatif<br />
saja, fungsi akan menjadi bernilai tunggal, sebagaimana disebutkan<br />
pada contoh 2 <strong>dan</strong> 3 pada fungsi bernilai tunggal .<br />
y<br />
2<br />
1,5<br />
1<br />
0,5<br />
0<br />
-0,5<br />
-1<br />
y 4<br />
3<br />
2<br />
1<br />
0<br />
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 x 4<br />
0 0,5 1 1,5 2 2,5 3<br />
x<br />
-1,5<br />
-2<br />
Gb.1.11. Kurva<br />
y = ±<br />
x<br />
11
2). <strong>Fungsi</strong> y<br />
2 1<br />
= .<br />
x<br />
<strong>Fungsi</strong> ini bernilai banyak; ada dua nilai y untuk setiap nilai x.<br />
Kurva fungsi ini diperlihatkan pada Gb.1.12.<br />
10<br />
y<br />
5<br />
0<br />
-5<br />
0 1 2 3<br />
x<br />
-10<br />
Gb.1.12. Kurva<br />
y 2 = 1/<br />
x ⇒ y = ± 1/<br />
x<br />
1.6. <strong>Fungsi</strong> Dengan Banyak Peubah Bebas<br />
<strong>Fungsi</strong> dengan banyak peubah bebas tidak hanya tergantung dari satu<br />
peubah bebas saja, x, tetapi juga tergantung dari peubah bebas yang lain.<br />
Misalkan suatu fungsi dengan dua peubah bebas x <strong>dan</strong> t dinyatakan<br />
sebagai<br />
y = f ( x,<br />
t)<br />
(1.5)<br />
Sesungguhnya dalam peristiwa fisis banyak fungsi yang merupakan<br />
fungsi dengan peubah-bebas banyak, misalnya persamaan gelombang<br />
berjalan. Simpangan gelombang berjalan merupakan fungsi dari posisi<br />
(x) <strong>dan</strong> waktu (t).<br />
Secara umum kita menuliskan fungsi dengan peubah-bebas banyak<br />
sebagai<br />
w = f ( x,<br />
y,<br />
z,<br />
u,<br />
v)<br />
(1.6)<br />
untuk menyatakan secara eksplisit fungsi w dengan peubah bebas x, y,<br />
z,u,<strong>dan</strong> v.<br />
<strong>Fungsi</strong> dengan peubah bebas banyak juga mungkin bernilai banyak,<br />
misalnya<br />
12 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
2 2 2 2<br />
ρ = x + y + z<br />
(1.7)<br />
<strong>Fungsi</strong> ini akan bernilai tunggal jika kita hanya meninjau nilai positif<br />
dari ρ <strong>dan</strong> kita nyatakan fungsi yang bernilai tunggal ini sebagai<br />
2 2 2<br />
ρ = + x + y + z<br />
(1.8)<br />
1.7. Sistem Koordinat Polar<br />
Selain sistem koordinat sudut-siku di mana posisi titik dinyatakan dalam<br />
skala sumbu-x <strong>dan</strong> sumbu-y, kita mengenal pula sistem koordinat polar.<br />
Dalam sistem koordinat polar ini posisi titik dinyatakan oleh jarak titik<br />
ke titik asal [0,0] yang diberi simbol r, <strong>dan</strong> sudut yang terbentuk antara r<br />
dengan sumbu-x yang diberi simbol θ. Kalau dalam koordinat sudut-siku<br />
posisi titik dinyatakan sebagai P(x,y) maka dalam koordinat polar<br />
dinyatakan sebagai P(r,θ).<br />
Hubungan antara koordinat susut siku <strong>dan</strong> koordinat polar adalah<br />
y = r sin θ ;<br />
x = r cosθ ;<br />
2<br />
r = x + y<br />
2<br />
−<br />
θ = tan 1 ( y / x)<br />
Hubungan ini terlihat pada Gb.1.13.<br />
y<br />
rcosθ<br />
θ<br />
r<br />
Gb.1.13. Hubungan koordinat sudut-siku <strong>dan</strong> koordinat polar.<br />
P<br />
rsinθ<br />
x<br />
13
1.8. <strong>Fungsi</strong> Parametrik<br />
Dalam koordinat sudut-siku fungsi y = f (x)<br />
mungkin juga dituliskan<br />
sebagai<br />
y = y(t) x = x(t)<br />
(1.10)<br />
jika y <strong>dan</strong> x masing-masing tergantung dari peubah lain t. <strong>Fungsi</strong> yang<br />
demikian disebut fungsi parametrik dengan t sebagai parameter.<br />
1.9. Pembatasan Bahasan <strong>dan</strong> Sajian Bahasan<br />
Dalam buku ini kita hanya akan membahas fungsi-fungsi dengan peubah<br />
bebas tunggal se<strong>dan</strong>gkan fungsi dengan banyak peubah bebas dibahas di<br />
buku lain. Kita juga membatasi diri hanya pada bilangan nyata. Bilangan<br />
kompleks belum akan kita bahas sehingga fungsi-fungsi kompleks tidak<br />
dicakup oleh buku ini.<br />
Bahasan dari Bab-2 mengenai fungsi linier sampai dengan Bab-16<br />
mengenai persamaan diferensial dilakukan dalam pengertian koordinat<br />
sudut-siku. Koordinat polar dibahas pada Bab-17.<br />
14 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 2<br />
<strong>Fungsi</strong> Linier<br />
2.1. <strong>Fungsi</strong> Tetapan<br />
<strong>Fungsi</strong> tetapan bernilai tetap untuk rentang nilai x dari −∞ sampai +∞.<br />
Kita tuliskan<br />
y = k<br />
[2.1]<br />
dengan k bilangan-nyata. Kurva fungsi ini terlihat pada Gb.2.1. berupa<br />
garis lurus mendatar sejajar sumbu-x, dalam rentang nilai x dari −∞<br />
sampai +∞.<br />
y 5<br />
y = 4<br />
0<br />
-5 0 x 5<br />
-4<br />
y = −3,5<br />
Gb.2.1. <strong>Fungsi</strong> tetapan (konstan):<br />
y = 4 <strong>dan</strong> y = −3, 5 .<br />
2.2. <strong>Fungsi</strong> Linier - Persamaan Garis Lurus<br />
Persamaan (2.1) adalah satu contoh persamaan garis lurus yang<br />
merupakan garis mendatar sejajar sumbu-x, dengan kurva seperti<br />
terlihat pada Gb.2.1. Kurva yang juga merupakan garis lurus tetapi tidak<br />
sejajar sumbu-x adalah kurva yang memiliki kemiringan tertentu.<br />
Kemiringan garis ini adalah perbandingan antara perubahan y terhadap<br />
perubahan x, atau kita tuliskan<br />
∆y<br />
⎛ "delta y"<br />
⎞<br />
kemiringan = m = , ⎜dibaca : ⎟ (2.2)<br />
∆x<br />
⎝ "delta x"<br />
⎠<br />
15
Dalam hal garis lurus, rasio<br />
∆y<br />
memberikan hasil yang sama di titik<br />
∆x<br />
manapun kita menghitungnya. Artinya suatu garis lurus hanya<br />
mempunyai satu nilai kemiringan, yaitu yang diberikan oleh m pada<br />
fungsi y = mx . Gb.2.2. berikut ini memperlihatkan empat contoh kurva<br />
garis lurus yang semuanya melewati titik-asal [0,0] akan tetapi dengan<br />
kemiringan yang berbeda-beda. Garis y = x lebih miring dari<br />
y = 0, 5x , garis y = 2x<br />
lebih miring dari y = x <strong>dan</strong> jauh lebih miring<br />
dari y = 0, 5x<br />
, <strong>dan</strong> ketiganya miring ke atas. Makin besar nilai m, garis<br />
akan semakin miring. Garis yang ke-empat memiliki m negatif −1,5 <strong>dan</strong><br />
ia miring ke bawah (menurun).<br />
8<br />
y<br />
6<br />
4<br />
2<br />
0<br />
-1 0<br />
-2<br />
1 2 3 x 4<br />
-4<br />
-6<br />
y = 2x<br />
y = -1,5 x<br />
Gb.2.2. Empat contoh kurva garis lurus<br />
y = mx .<br />
Secara umum, persamaan garis lurus yang melalui titik-asal [0,0] adalah<br />
y = mx<br />
(2.3)<br />
dengan m menunjukkan kemiringan garis; makin besar nilai m garis akan<br />
semakin miring. Jika m bernilai positif, garis miring ke atas (naik). Jika<br />
m bernilai negatif, garis akan miring ke bawah (menurun).<br />
2.3. Pergeseran Kurva <strong>dan</strong> Persamaan Garis<br />
y = x<br />
y = 0,5x<br />
Bagaimanakah persamaan garis lurus jika ia tidak melalui titik-asal [0,0]<br />
melainkan memotong sumbu-y misalnya di titik [0,2]? Misalkan garis ini<br />
memiliki kemiringan 2. Setiap nilai y pada garis ini untuk suatu nilai x,<br />
sama dengan nilai y pada garis yang melalui [0,0], yaitu y = 2x, ditambah<br />
2. Oleh karena itu kita dapat menuliskan persamaa garis ini sebagai<br />
y = 2 x + 2 . Perhatikan Gb.2.3.<br />
16 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
10<br />
8<br />
6<br />
4<br />
2<br />
-4<br />
Gb.2.3. Garis lurus melalui titik [0,2], kemiringan 2.<br />
Secara umum, persamaan garis dengan kemiringan m <strong>dan</strong> memotong<br />
sumbu-y di [0,b] adalah<br />
( y − b)<br />
= mx<br />
(2.4)<br />
b bisa positif ataupun negatif. Jika b positif, maka garis tergeser ke arah<br />
sumbu-y positif (ke atas) yang berarti garis memotong sumbu-y di atas<br />
titik [0,0]. Jika b negatif, garis tergeser kearah sumbu-y negatif (ke<br />
bawah); ia memotong sumbu-y di bawah titik [0,0]. Secara singkat, b<br />
pada (2.4) menunjukkan pergeseran kurva y sepanjang sumbu-y.<br />
Kita lihat sekarang garis yang memiliki kemiringan 2 <strong>dan</strong> memotong<br />
sumbu-x di titik [a,0], misalnya di titik [1,0]. Lihat Gb.2.4.<br />
Dibandingkan dengan garis yang melalui titik [0,0] yaitu garis y = 2x<br />
,<br />
setiap nilai y pada garis ini terjadi pada (x−1) pada garis y = 2x<br />
; atau<br />
dengan kata lain nilai y pada garis ini diperoleh dengan menggantikan<br />
nilai x pada garis y = 2x<br />
dengan (x−1). Contoh: y = 2,8 pada garis ini<br />
terjadi pada x = x 1 <strong>dan</strong> hal ini terjadi pada x = ( x 1 −1)<br />
pada kurva<br />
y = 2x .<br />
y 8<br />
y = 2x + 2<br />
y = 2x<br />
0<br />
-1 0<br />
-2<br />
1 2 3 x 4<br />
6<br />
y = 2x<br />
4<br />
2<br />
y =2(x–1)<br />
0<br />
-1 0 1 2 3 x<br />
-2 x 1 −1 x 1<br />
4<br />
-4<br />
Gb.2.4. Garis lurus melalui titik [1,0].<br />
17
Secara umum persamaan garis yang melalui titik [a,0] dengan<br />
kemiringan m kita peroleh dengan menggantikan x pada persamaan<br />
y = mx dengan (x−a). Persamaan garis ini adalah<br />
y = m( x − a)<br />
(2.5)<br />
Pada persamaan (2.5), jika a positif garis y = mx tergeser ke arah<br />
sumbu-x positif (ke kanan); <strong>dan</strong> jika a negatif garis itu tergeser ke arah<br />
sumbu-x negatif (ke kiri). Secara singkat a pada (2.5) menunjukkan<br />
pergeseran kurva y sejajar sumbu-x.<br />
Pada contoh di atas, dengan tergesernya kurva ke arah kanan <strong>dan</strong><br />
memotong sumbu-x di titik [1,0] ia memotong sumbu-y di titik [0,-2].<br />
Suatu garis yang titik perpotongannya dengan kedua sumbu diketahui,<br />
pastilah kemiringannya diketahui. Dalam contoh di atas, kemiringannya<br />
adalah<br />
∆y<br />
0 − ( −2)<br />
2<br />
m = = = = 2<br />
∆x 1 1<br />
<strong>dan</strong> persamaan garis adalah<br />
y = 2x<br />
− 2<br />
(2.6)<br />
Bandingkanlah persamaan ini dengan persamaan (2.4), dengan<br />
memberikan m = 2 <strong>dan</strong> b = −2.<br />
Secara umum, persamaan garis yang memotong sumbu-sumbu koordinat<br />
di [a,0] <strong>dan</strong> [0,b] adalah<br />
Contoh:<br />
y<br />
8<br />
6<br />
4<br />
2<br />
0<br />
-4<br />
y = mx + b<br />
-1 0 1 2 3 x 4<br />
-2<br />
b<br />
dengan m = −<br />
(2.7)<br />
a<br />
garis memotong sumbu x di 2,<br />
<strong>dan</strong> memotong sumbu y di 4<br />
4<br />
Persamaan garis: y = − x + 4 = −2x<br />
+ 4<br />
2<br />
18 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bagaimanakah persamaan garis lurus yang tidak terlihat perpotongannya<br />
dengan sumbu-sumbu koordinat? Persamaan garis demikian ini dapat<br />
dicari jika diketahui koordinat dua titik yang ada pada garis tersebut.<br />
Lihat Gb.2.5.<br />
Pada Gb.2.5. kemiringan garis dengan mudah kita peroleh, yaitu<br />
∆y<br />
( y2<br />
− y1)<br />
m = =<br />
(2.8)<br />
∆x<br />
( x2<br />
− x1<br />
)<br />
y<br />
8<br />
6<br />
4<br />
2<br />
-4<br />
[x 1 ,y 1 ]<br />
[x 2 ,y 2 ]<br />
0<br />
-1 0 1 2 x 3<br />
-2<br />
Gb.2.5. Garis lurus melalui dua titik.<br />
Persamaan (2.8) ini harus berlaku untuk semua garis yang melalui dua<br />
titik yang diketahui koordinatnya. Jadi secara umum harus berlaku<br />
y2<br />
− y1<br />
m = (2.9)<br />
x2<br />
− x1<br />
Dengan demikian maka persamaan garis yang memiliki kemiringan ini<br />
adalah<br />
y2<br />
− y1<br />
y = mx = x<br />
(2.10)<br />
x1<br />
− x1<br />
Persamaan (2.10) inilah persamaan garis lurus melalui titik asal <strong>dan</strong><br />
sejajar dengan garis melalui dua titik (x 1 ,y 1 ) <strong>dan</strong> (x 2 ,y 2 ).<br />
Contoh: Carilah persamaan garis yang melalui dua titik P(5,7)<br />
<strong>dan</strong> Q(1,2).<br />
19
yP<br />
− yQ<br />
7 − 2<br />
Kemiringan garis ini adalah y = = = 1, 25<br />
x p − xQ<br />
5 − 1<br />
Garis dengan kemiringan ini <strong>dan</strong> melalui titik asal adalah<br />
y = 1, 25x<br />
Perhatikan bahwa persamaan ini adalah persamaan garis yang<br />
melalui titik asal, <strong>dan</strong> sejajar dengan garis yang melalui titik<br />
P(5,7) <strong>dan</strong> Q(1,2) . Kita masih harus mencari perpotongannya<br />
dengan salah satu sumbu agar kita dapatkan persamaan garis yang<br />
melalui titik P <strong>dan</strong> Q tersebut. Untuk itu kita perhatikan hal<br />
berikut lebih dulu.<br />
Kita bisa melihat secara umum, bahwa kurva suatu fungsi<br />
y = f (x)<br />
akan tergeser sejajar sumbu-x sebesar x 1 skala jika x diganti dengan (x −<br />
x 1 ), <strong>dan</strong> tergeser sejajar sumbu-y sebesar y 1 skala jika y diganti dengan (y<br />
− y 1 )<br />
y = f (x) menjadi y = f ( x − x 1)<br />
atau y − y1 = f ( x ) (2.11)<br />
Walaupun (2.11) diperoleh melalui pembahasan fungsi linier, namun ia<br />
berlaku pula untuk fungsi non linier. <strong>Fungsi</strong> non linier memberikan<br />
kurva garis lengkung yang akan kita pelajari dalam bab-bab selanjutnya.<br />
y<br />
Contoh:<br />
8<br />
6<br />
4<br />
-4<br />
y = 2x<br />
2<br />
0<br />
-1 0<br />
-2<br />
1 2 3 x 4<br />
kurva semula<br />
y + 2 = 2x (pergeseran –2<br />
searah sumbu-y)<br />
atau<br />
y = 2(x – 1) (pergeseran +1<br />
searah sumbu-x)<br />
20 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Contoh: Kita kembali pada contoh sebelumnya, yaitu persamaan<br />
garis yang melalui titik P(5,7) <strong>dan</strong> Q(1,2). Persamaan garis<br />
seharusnya adalah y − b =1, 25x<br />
atau y = 1,25(<br />
x − a)<br />
. Nilai a <strong>dan</strong><br />
b dapat kita peroleh jika kita masukkan koordinat titik yang<br />
diketahui, misalnya P(5,7). Dengan memasukkan koordinat titik<br />
ini kita dapatkan persamaan 7 − b = 1,25 × 5 atau 7 = 1,25(5 − a)<br />
.<br />
Dari sini kita akan mendapatkan nilai a = −0,6 <strong>dan</strong> juga b = 0,75<br />
sehingga persamaan garis yang melalui titik P(5,7) <strong>dan</strong> Q(1,2)<br />
dapat diperoleh, yaitu y − 0 ,75 = 1, 25x<br />
atau y = 1 ,25( x + 0,6)<br />
.<br />
Garis ini memotong sumbu-y di +0,75 <strong>dan</strong> memotong sumbu-x di<br />
−0,6.<br />
2.4. Perpotongan Garis<br />
Dua garis lurus<br />
y 1 = a1x<br />
+ b1<br />
<strong>dan</strong> y 2 = a2x<br />
+ b2<br />
berpotongan di titik P sehingga koordinat P memenuhi y 1 = y2<br />
sehingga<br />
b2<br />
− b<br />
⇒ x 1<br />
P =<br />
a1<br />
− a2<br />
⇒ yP<br />
= a1xP<br />
+ b1<br />
Contoh:<br />
a +<br />
1xP<br />
+ b1<br />
= a2xp<br />
b2<br />
atau<br />
yP<br />
= a2xP<br />
+ b2<br />
Titik potong dua garis y 1 = 2x<br />
+ 3 <strong>dan</strong> y2<br />
= 4x<br />
− 8<br />
y 1 = y2<br />
→ 2x<br />
+ 3 = 4x<br />
− 8 → 2x<br />
= 11<br />
(2.12)<br />
11<br />
x P = = 5,5 ; y P = 2x<br />
+ 3 = 2 × 5,5 + 3 = 14<br />
2<br />
atau y P = 4 × 5,5 − 8 = 14<br />
Jadi titik potong adalah 14] P[(5,5), . Perhatikan Gb.2.6. berikut<br />
ini.<br />
21
y<br />
30<br />
20<br />
y 1<br />
y 2<br />
10<br />
0<br />
-10 -5 0 5 10<br />
-10<br />
P ⇒ Koordinat P memenuhi<br />
persamaan y 1 maupun y 2 .<br />
x<br />
-20<br />
-30<br />
Gb.2.6. Perpotongan dua garis.<br />
Jika kedua garis memiliki kemiringan yang sama sudah barang tentu kita<br />
tak akan memperoleh titik potong karena mereka sejajar; dikatakan juga<br />
mereka berpotongan di ∞.<br />
Contoh: Dua garis y 1 = 4x<br />
+ 3 <strong>dan</strong> y2<br />
= 4x<br />
− 8 adalah<br />
sejajar.<br />
2.5. Pembagian Skala Pada Sumbu Koordinat<br />
Pada penggambaran kurva-kurva di atas, panjang per skala kedua sumbu<br />
koordinat tidak sama. Apabila panjang per skala dibuat sama kita akan<br />
memiliki kemiringan garis<br />
m = tan θ<br />
(2.13)<br />
dengan θ adalah sudut yang dibentuk oleh garis lurus dengan sumbu-x<br />
atau dengan garis mendatar, seperti pada Gb.2.7.<br />
y<br />
5 −<br />
m = tan θ<br />
θ<br />
|<br />
|<br />
5<br />
x<br />
−5 −<br />
Gb.2.7. Panjang per skala sama di sumbu-x <strong>dan</strong> y.<br />
22 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Sesungguhnya formulasi (2.13) berlaku umum, baik untuk pembagian<br />
skala di kedua sumbu koordinat sama besar ataupun tidak. Namun jika<br />
pembagian skala tersebut sama besar, sudut θ yang terlihat dalam grafik<br />
menunjukkan kemiringan garis sebenarnya; jika pembagian tidak sama<br />
besar sudut θ yang terlihat pada grafik bukanlah sudut sebenarnya<br />
sehingga sudut θ sebenarnya harus dihitung dari formula (2.13) <strong>dan</strong><br />
bukan dilihat dari grafik.<br />
2.6. Domain, Kekontinyuan, Simetri<br />
Pada fungsi linier<br />
y = m( x − a)<br />
+ b , peubah y akan selalu memiliki nilai,<br />
berapapun x. Peubah x bisa bernilai dari −∞ sampai +∞. <strong>Fungsi</strong> ini juga<br />
kontinyu dalam rentang tersebut.<br />
Kurva fungsi<br />
y = mx simetris terhadap titik asal [0,0] karena fungsi ini<br />
tak berubah jika y diganti dengan −y <strong>dan</strong> x diganti dengan −x.<br />
2.7. Contoh-Contoh <strong>Fungsi</strong> Linier<br />
Contoh-contoh fungsi linier berikut ini mamberikan gambaran bahwa<br />
fungsi linier dengan kurva yang kita gambarkan berbentuk garis lurus,<br />
merupakan bentuk fungsi yang biasa kita jumpai dalam praktik rekayasa.<br />
1). Suatu benda dengan massa m yang mendapat gaya F akan<br />
memperoleh percepatan.<br />
F = ma ; a adalah percepatan<br />
Jika tidak ada gaya lain yang melawan F, maka dengan percepatan a<br />
benda akan memiliki kecepatan sebagai fungsi waktu sebagai<br />
v ( t)<br />
= v 0 + at<br />
v kecepatan gerak benda, v 0 kecepatan awal, t waktu. Jika kecepatan<br />
awal adalah nol maka kecepatan gerak benda pada waktu t adalah<br />
v ( t)<br />
= at<br />
2) Dalam tabung katoda, jika beda tegangan antara anoda <strong>dan</strong> katoda<br />
adalah V , <strong>dan</strong> jarak antara anoda <strong>dan</strong> katoda adalah l maka antara<br />
anoda <strong>dan</strong> katoda terdapat me<strong>dan</strong> listrik sebesar<br />
23
Elektron yang<br />
muncul di<br />
permukaan katoda<br />
akan mendapat<br />
percepatan dari<br />
a<strong>dan</strong>ya me<strong>dan</strong><br />
listrik sebesar<br />
anoda<br />
V<br />
E =<br />
l<br />
a = eE<br />
a adalah percepatan yang dialami elektron, e muatan elektron, E<br />
me<strong>dan</strong> listrik. Jika kecepatan awal elektron adalah nol, <strong>dan</strong> waktu<br />
tempuh dari anoda ke katoda adalah t, maka kecepatan elektron pada<br />
waktu mencapai katoda adalah<br />
v k = at<br />
3) Suatu pegas, jika ditarik kemudian dilepaskan akan kembali pada<br />
posisi semula jika tarikan yang dilakukan masih dalam batas<br />
elastisitas pegas. Gaya yang diperlukan untuk menarik pegas<br />
sepanjang x merupakan fungsi linier dari x.<br />
dengan k adalah konstanta pegas.<br />
F = kx<br />
4) Dalam sebatang logam sepanjang l, akan mengalir arus listrik sebesar i<br />
jika antara ujung-ujung logam diberi perbedaan tegangan sebesar V.<br />
Arus yang mengalir merupakan fungsi linier dari tegangan dengan<br />
relasi<br />
V<br />
i = GV = , dengan G =<br />
1<br />
R<br />
R<br />
G adalah tetapan yang disebut konduktansi listrik <strong>dan</strong> R disebut<br />
resistansi listrik.Persamaan ini juga bisa dituliskan<br />
V = iR<br />
yang dikenal sebagai relasi hukum Ohm dalam kelistrikan.<br />
Jika penampang logam adalah A <strong>dan</strong> rata sepanjang logam, maka<br />
resistansi dapat dinyatakan dengan<br />
R =<br />
ρl<br />
A<br />
24 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
]<br />
l<br />
katoda
ρ disebut resistivitas bahan logam.<br />
Kerapatan arus dalam logam adalah<br />
atas kita peroleh<br />
j =<br />
i<br />
A<br />
=<br />
V<br />
RA<br />
1<br />
=<br />
ρ<br />
i<br />
j = <strong>dan</strong> dari persamaan di<br />
A<br />
V<br />
l<br />
= σE<br />
dengan E = V / l adalah kuat me<strong>dan</strong> listrik dalam logam, σ = 1 / ρ<br />
adalah konduktivitas bahan logam.<br />
Secara infinitisimal kuat me<strong>dan</strong> listrik adalah gradien potensial atau<br />
dV<br />
gradien dari V yang kita tuliskan E = . Mengenai pengertian<br />
dx<br />
gradien akan kita pelajari di Bab-9.<br />
5). Peristiwa difusi. Secara thermodinamis, faktor pendorong untuk<br />
terjadinya difusi,<br />
yaitu penyebaran<br />
materi menembus<br />
materi lain, adalah<br />
a<strong>dan</strong>ya perbedaan<br />
materi masuk<br />
di x a C a<br />
konsentrasi. Situasi<br />
ini analog dengan<br />
C x<br />
peristiwa aliran<br />
muatan listrik di mana<br />
faktor pendorong<br />
x a ∆x x<br />
untuk terjadinya aliran muatan adalah perbedaan tegangan.<br />
materi keluar<br />
di x<br />
Analog dengan peristiwa listrik, fluksi materi yang berdifusi dapat<br />
kita tuliskan sebagai<br />
dC<br />
J x = −D<br />
dx<br />
D adalah koefisien difusi, dC/dx adalah variasi konsentrasi dalam<br />
keadaan mantap di mana C 0 <strong>dan</strong> C x bernilai konstan. Relasi ini<br />
disebut Hukum Fick Pertama yang secara formal menyatakan bahwa<br />
fluksi dari materi yang berdifusi sebanding dengan gradien<br />
konsentrasi; dengan kata lain fluksi materi yang berdifusi merupakan<br />
fungsi linier dari gradien konsentrasi.<br />
25
Berikut ini tersaji soal-soal untuk latihan. Soal-soal ini hanya berkenaan<br />
dengan kurva garis lurus. Namun dengan contoh-contoh di atas kita<br />
menyadari bahwa fungsi linier bukan hanya sekedar pernyataan suatu<br />
garis lurus melainkan suatu bentuk fungsi yang banyak dijumpai dalam<br />
praktik rekayasa.<br />
Soal-Soal<br />
1. Tentukan persamaan garis-garis yang membentuk sisi segi-lima<br />
yang tergambar di bawah ini.<br />
5<br />
4<br />
y<br />
3<br />
y 1 y 2<br />
2<br />
1<br />
0<br />
-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5<br />
-1<br />
y 5<br />
y 3<br />
-2<br />
-3<br />
y 4<br />
-4<br />
-5<br />
x<br />
2. Carilah koordinat titik-titik potong dari garis-garis tersebut pada<br />
soal nomer-1 di atas.<br />
3. Carilah persamaan garis yang<br />
a) melalui titik asal (0,0) <strong>dan</strong> sejajar garis y 2 ;<br />
b) melalui titik asal (0,0) <strong>dan</strong> sejajar dengan garis y 3 .<br />
4. Carilah persamaan garis yang melalui<br />
a) titik potong y 1 − y 2 <strong>dan</strong> titik potong y 3 – y 4 ;<br />
b) titik potong y 3 − y 4 <strong>dan</strong> titik potong y 1 – y 5 ;<br />
c) titik potong y 1 − y 2 <strong>dan</strong> titik potong y 4 – y 5 .<br />
5. Carilah persamaan garis yang<br />
a) melalui titik potong y 1 – y 5 <strong>dan</strong> sejajar dengan garis y 2 ;<br />
b) melalui titik potong y 4 – y 5 <strong>dan</strong> sejajar dengan garis y 1 .<br />
26 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 3<br />
Gabungan <strong>Fungsi</strong> Linier<br />
<strong>Fungsi</strong>-fungsi linier banyak digunakan untuk membuat model dari<br />
perubahan-perubahan besaran fisis. Perubahan besaran fisis mungkin<br />
merupakan fungsi waktu, temperatur, tekanan atau yang lain. Artinya<br />
waktu, temperatur, tekanan <strong>dan</strong> lainnya itu menjadi peubah bebas, x,<br />
se<strong>dan</strong>gkan besaran fisis yang tergantung pa<strong>dan</strong>ya merupakan peubah tak<br />
bebas, y.<br />
Pada umumnya perubahan besaran fisis terjadi secara tidak linier. Jika<br />
dalam batas-batas tertentu perubahan tersebut dapat dianggap linier,<br />
besaran fisis tersebut dapat dimodelkan dengan memanfaatkan fungsifungsi<br />
linier <strong>dan</strong> model ini kita sebut model linier dari besaran fisis<br />
tersebut. <strong>Fungsi</strong>-fungsi berikut ini biasa dijumpai dalam analisis<br />
rangkaian listrik.<br />
3.1. <strong>Fungsi</strong> Anak Tangga<br />
<strong>Fungsi</strong> tetapan membentang pada nilai x dari −∞ sampai +∞. Jika kita<br />
menginginkan fungsi bernilai konstan yang muncul pada x = 0 <strong>dan</strong><br />
membentang hanya pada arah x positif, kita memerlukan fungsi lain yang<br />
disebut fungsi anak tangga satuan yang didefinisikan bernilai nol untuk<br />
x < 0, <strong>dan</strong> bernilai satu untuk x ≥ 0 <strong>dan</strong> dituliskan sebagai u (x)<br />
. Jadi<br />
u(<br />
x)<br />
= 1 untuk x ≥ 0<br />
= 0 untuk x < 0<br />
(3.1)<br />
Jika suatu fungsi tetapan y = k dikalikan dengan fungsi anak tangga<br />
satuan, akan kita peroleh suatu fungsi lain yang kita sebut fungsi anak<br />
tangga (disebut juga undak), yaitu<br />
y = ku(x)<br />
(3.2)<br />
<strong>Fungsi</strong> anak tangga (3.2) bernilai nol untuk x < 0, <strong>dan</strong> bernilai k untuk x<br />
≥ 0. Gb.3.1. memperlihatkan kurva dua fungsi anak tangga. <strong>Fungsi</strong><br />
y = 3,5u<br />
( x)<br />
<strong>dan</strong> fungsi y = −2,5u(<br />
x)<br />
yang bernilai nol untuk x < 0<br />
<strong>dan</strong> bernilai 3,5 <strong>dan</strong> −2,5 untuk x ≥ 0.<br />
27
y<br />
5<br />
y = 3,5 u(x)<br />
0<br />
-5 0 x 5<br />
-4<br />
y = −2,5 u(x)<br />
Gb.3.1. <strong>Fungsi</strong> anak tangga.<br />
<strong>Fungsi</strong> anak tangga seperti (3.2) dikatakan mulai muncul pada x = 0 <strong>dan</strong><br />
k disebut amplitudo. Kita lihat sekarang fungsi anak tangga yang baru<br />
muncul pada x = a. Ini tidak lain adalah fungsi anak tangga tergeser.<br />
<strong>Fungsi</strong> demikian ini dinyatakan dengan mengganti peubah x dengan<br />
( x − a) . Dengan demikian maka fungsi anak tangga<br />
y = ku( x − a)<br />
(3.3)<br />
merupakan fungsi yang mulai muncul pada x = a <strong>dan</strong> disebut fungsi anak<br />
tangga tergeser dengan pergeseran sebesar a. Jika a positif fungsi ini<br />
bergeser ke arah positif sumbu-x <strong>dan</strong> jika negatif bergeser ke arah negatif<br />
sumbu-x. Gb.3.2. memperlihatkan kurva fungsi seperti ini.<br />
y 5<br />
y = 3,5 u(x−1)<br />
0<br />
-5 0 1<br />
x 5<br />
-4<br />
Gb.3.2. Kurva fungsi anak tangga tergeser.<br />
Perhatikanlah bahwa fungsi anak tangga memiliki nilai yang terdefinisi<br />
di x = 0. Oleh karena itu fungsi ini kontinyu di x = 0, berbeda dengan<br />
fungsi y = 1/x yang tidak terdefinisi di x = 0 (telah disinggung di Bab-1).<br />
28 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
3.2. <strong>Fungsi</strong> Ramp<br />
Telah kita lihat bahwa fungsi y = ax berupa garis lurus dengan<br />
kemiringan a, melalui titik [0,0], membentang dari x = -∞ sampai x = +∞.<br />
<strong>Fungsi</strong> ramp terbentuk jika persamaan garis tersebut bernilai nol untuk x<br />
< 0, yang dapat diperoleh dengan mengalikan ax dengan fungsi anak<br />
tangga satuan u(x) (yang telah didefisisikan lebih dulu bernilai nol untuk<br />
x < 0). Jadi persamaan fungsi ramp adalah<br />
y = axu(x)<br />
(3.4)<br />
Jika kemiringan a = 1, fungsi tersebut menjadi fungsi ramp satuan.<br />
<strong>Fungsi</strong> ramp tergeser adalah<br />
y = a( x − g)<br />
u(<br />
x − g)<br />
(3.5)<br />
dengan g adalah pergeserannya. Perhatikanlah bahwa pada (3.5)<br />
bagian y1 = a(<br />
x − g)<br />
adalah fungsi linier tergeser se<strong>dan</strong>gkan<br />
y2 = u(<br />
x − g)<br />
adalah fungsi anak tangga satuan yang tergeser. Gb.3.3.<br />
memperlihatkan kurva fungsi ramp satuan y 1 = xu(<br />
x)<br />
, fungsi ramp<br />
y 2 = 2xu(<br />
x)<br />
, <strong>dan</strong> fungsi ramp tergeser y 3 = 1,5( x − 2) u(<br />
x − 2)<br />
.<br />
3.3. Pulsa<br />
y<br />
6<br />
5<br />
4<br />
3<br />
2<br />
1<br />
y 2 = 2xu(x)<br />
y 1 = xu(x)<br />
0<br />
-1 0 1 2 3 x 4<br />
Gb.3.3. Ramp satuan y 1 = xu(x), ramp y 2 = 2xu(x),<br />
ramp tergeser y 3 = 1,5(x-2)u(x-2).<br />
y 3 = 1,5(x-2)u(x-2)<br />
Pulsa merupakan fungsi yang muncul pada suatu nilai x 1 tertentu <strong>dan</strong><br />
menghilang pada x 2 >x 1 . Bentuk pulsa ini dapat dinyatakan dengan<br />
gabungan dua fungsi anak tangga, yang memiliki amplitudo sama tetapi<br />
29
erlawanan amplitudo <strong>dan</strong> berbeda pergeserannya. Persamaan umumnya<br />
adalah<br />
y = au( x − x1 ) − au(<br />
x − x2)<br />
(3.6)<br />
x 1 menunjukkan pergeseran fungsi anak tangga yang pertama <strong>dan</strong> x 2<br />
adalah pergeseran fungsi anak tangga yang ke-dua, dengan x 2 > x 1 .<br />
Penjumlahan kedua fungsi anak tangga inilah yang memberikan bentuk<br />
pulsa, yang muncul pada x = x 1 <strong>dan</strong> menghilang pada x = x 2 . Selisih<br />
( x2 − x1 ) disebut lebar pulsa<br />
lebar pulsa = x 2 − x 1<br />
(3.7)<br />
Gb.3.4. memperlihatkan pulsa dengan amplitudo 2, yang muncul pada x<br />
= 1 <strong>dan</strong> menghilang pada x = 2, yang persamaannya adalah<br />
y = 2u(<br />
x −1)<br />
− 2u(<br />
x − 2)<br />
= 2<br />
{ u(<br />
x −1)<br />
− u(<br />
x − 2) }<br />
lebar<br />
pulsa<br />
2<br />
1<br />
y 1 =2u(x-1)<br />
y 1 +y 2 = 2u(x-1)-2u(x-2)<br />
0<br />
-1 0 1 2 3 x 4<br />
-1<br />
y 2 =-2u(x-2)<br />
-2<br />
Gb.3.4. <strong>Fungsi</strong> pulsa 2u(x-1)-2u(x-2)<br />
Apa yanga berada dalam tanda kurung pada persamaan terakhir ini, yaitu<br />
y ′ = { u( x −1)<br />
− u(<br />
x − 2) }, adalah pulsa beramplitudo 1 yang muncul pada<br />
x = 1 <strong>dan</strong> berakhir pada x = 2. Secara umum pulsa beramplitudo A yang<br />
muncul pada x = x 1 <strong>dan</strong> berakhir pada x = x 2 adalah<br />
y′ = A{ u( x − x1 ) − u(<br />
x − x2)<br />
}; lebar pulsa ini adalah (x 2 – x 1 ).<br />
Contoh lain: Pulsa yang muncul pada x = 0, dengan lebar pulsa 3<br />
y = 4 u(<br />
x)<br />
− u(<br />
x − 3) .<br />
<strong>dan</strong> amplitudo 4, memiliki persamaan { }<br />
30 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
<strong>Fungsi</strong> pulsa memiliki nilai hanya dalam selang tertentu yaitu sebesar<br />
lebar pulsanya, ( x2 − x1)<br />
, <strong>dan</strong> di luar selang ini nilanya nol. Oleh karena<br />
itu fungsi apapun yang dikalikan dengan fungsi pulsa, akan memiliki<br />
nilai hanya dalam selang di mana fungsi pulsanya juga memiliki nilai.<br />
Dalam praktek, fungsi pulsa terjadi berulang secara periodik. Gb.3.5.<br />
memperlihatkan deretan pulsa<br />
perioda<br />
y<br />
Gb.3.5. Deretan Pulsa.<br />
Peubah x biasanya adalah waktu. Selang waktu di mana pulsa muncul<br />
biasa diberi simbol t on se<strong>dan</strong>gkan selang waktu di mana ia menghilang<br />
diberi simbol t off . Satu perioda T = t on + t off . Nilai rata-rata deretan pulsa<br />
adalah<br />
ton<br />
y rr pulsa = ymaks<br />
(3.8)<br />
T<br />
dengan y maks adalah amplitudo pulsa.<br />
x<br />
3.4. Perkalian Ramp <strong>dan</strong> Pulsa.<br />
Persamaan umumnya adalah<br />
{ ( x − x ) − u(<br />
x − )}<br />
y = mxu( x)<br />
× A u 1 x2<br />
(3.9)<br />
dengan m <strong>dan</strong> A berturut-turut adalah kemiringan kurva ramp <strong>dan</strong><br />
amplitudo pulsa. Persamaan (3.9) dapat kita tulis<br />
y = mAx<br />
{ u x − x ) − u(<br />
x − )}<br />
( 1 x2<br />
Perhatikan bahwa u ( x)<br />
= 1 karena ia adalah fungsi anak tangga satuan.<br />
Gb.3.6. memperlihatkan perkalian fungsi ramp y 1 = 2xu(<br />
x)<br />
dengan<br />
fungsi pulsa y 2 = 1,5{ u(<br />
x −1)<br />
− u(<br />
x − 3) } yang hanya memiliki nilai<br />
antara x = 1 <strong>dan</strong> x = 3. Perhatikan bahwa hasil kalinya hanya memiliki<br />
31
nilai antara x = 1 <strong>dan</strong> x = 3, dengan kemiringan yang merupakan hasil<br />
kali antara amplitudo pulsa dengan kemiringan ramp.<br />
y<br />
10<br />
3<br />
= y<br />
1<br />
= 3x<br />
y2<br />
= 2xu(<br />
x)<br />
× 1,5{ u(<br />
x −1)<br />
− u(<br />
x − 3) }<br />
{ u(<br />
x −1)<br />
− u(<br />
x − 3) }<br />
8<br />
6<br />
4<br />
2<br />
y 3 = y 1 y 2<br />
y 1 =2xu(x)<br />
y 2 =1,5{u(x-1)-u(x-3)}<br />
0<br />
-1 0 1 2 3 4 x 5<br />
Gb.3.6. Perkalian fungsi ramp y 1 <strong>dan</strong> pulsa y 2 .<br />
Perkalian fungsi ramp 1 mxu(<br />
x)<br />
y = dengan pulsa y2 = 1{ u(<br />
x)<br />
− u(<br />
x − b)<br />
}<br />
membentuk fungsi gigi gergaji y = ( m × 1) x{ u(<br />
x)<br />
− u(<br />
x − b)<br />
} yang<br />
muncul pada t = 0 dengan kemiringan m <strong>dan</strong> lebar b. (Gb.3.7).<br />
y<br />
10<br />
8<br />
y 1 =mxu(x)<br />
6<br />
4<br />
2<br />
y 3 = y 1 y 2 =mx{u(x)-u(x-b)}<br />
y 2 ={u(x)-u(x-b)}<br />
0<br />
b<br />
-1 0 1 2 3 4xx<br />
5<br />
Gb.3.7. Kurva gigi gergaji<br />
Seperti halnya pada pulsa, fungsi gigi gergaji biasanya terjadi secara<br />
periodik, dengan perioda T, seperti terlihat pada Gb.3.8.<br />
Nilai rata-rata fungsi gigi gergaji adalah<br />
y rr gigi - gergaji =<br />
ymaks<br />
2<br />
(3.10)<br />
32 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
dengan y maks adalah nilai puncak gigi gergaji.<br />
y<br />
6<br />
4<br />
2<br />
0<br />
0 1 2 3 4 x 5<br />
Gb.3.8. Gigi gergaji terjadi secara periodik.<br />
3.5. Gabungan <strong>Fungsi</strong> Ramp<br />
Penjumlahan fungsi ramp akan berbentuk<br />
y = axu(<br />
x)<br />
+ b(<br />
x − x1)<br />
u(<br />
x − x1<br />
)<br />
+ c(<br />
x − x2)<br />
u(<br />
x − x2)<br />
+ .......<br />
(3.11)<br />
Kita ambil contoh penjumlahan dua fungsi ramp, y 1 = 2xu(<br />
x)<br />
<strong>dan</strong><br />
y 2 = −2(<br />
x − 2) u(<br />
x − 2) seperti terlihat pada Gb.3.9. Gabungan dua<br />
fungsi ramp ini akan memiliki nilai konstan mulai dari x = 2, karena<br />
mulai dari titik itu jumlah kedua fungsi adalah nol sehingga fungsi<br />
gabungan akan bernilai sama dengan nilai fungsi yang pertama pada saat<br />
mencapai x = 2.<br />
y<br />
y<br />
12<br />
10<br />
8<br />
6<br />
4<br />
2<br />
0<br />
-2<br />
-4<br />
-6<br />
-8<br />
y 1 =2xu(x)<br />
y 3 = 2xu(x)−2(x−2)u(x−2)<br />
0 1 2 3 4 5 x<br />
y 2 = −2(x−2)u(x−2)<br />
Gb.3.9. Gabungan ramp y 1 <strong>dan</strong> ramp tergeser y 2 .<br />
Gb.3.10. memperlihatkan kurva gabungan dua fungsi ramp, y 1 = 2xu(<br />
x)<br />
<strong>dan</strong> y = −4(<br />
x − 2) u(<br />
x − 2)<br />
. Di sini, fungsi kedua memiliki kemiringan<br />
33
negatif dua kali lipat dari kemiringan positif fungsi yang pertama. Oleh<br />
karena itu fungsi gabungan y 3 = y 1 + y 2 akan menurun mulai dari x = 2.<br />
y<br />
15<br />
10<br />
5<br />
0<br />
-5<br />
-10<br />
y 1 =2xu(x)<br />
y 2 = −4(x−2)u(x−2)<br />
y 3 = 2xu(x)−4(x−2)u(x−2)<br />
0 1 2 3 4 5<br />
x<br />
Gb.3.10. Gabungan ramp y 1 <strong>dan</strong> ramp tergeser y 2 .<br />
Apabila fungsi gabungan ini kita kalikan dengan fungsi pulsa<br />
y pulsa = u( x −1)<br />
− u(<br />
x − 3) akan kita peroleh bentuk kurva seperti<br />
terlihat pada Gb.3.11.<br />
y<br />
15<br />
10<br />
5<br />
0<br />
5<br />
0 1 2 3 4 5<br />
-5<br />
x<br />
-10<br />
y 2 = −4(x-2)u(x-2)<br />
y 3 = {2xu(x)−4(x-2)u(x-2)}{u(x-1)-u(x-3)}<br />
y 1 =2xu(x)<br />
Gb.3.11. Kurva {2xu(x)−4xu(x−2)}{u(x-1)-u(x-3)}<br />
Gabungan fungsi ramp dapat digunakan untuk menyatakan bentuk<br />
gelombang segitiga seperti terlihat pada Gb.3.12.<br />
Gb.3.12. Gelombang segitiga.<br />
x<br />
34 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bentuk-bentuk kurva gabungan fungsi linier banyak kita jumpai dalam<br />
bentuk gelombang sinyal di rangkaian listrik, terutama elektronika.<br />
Rangkaian elektronika yang membangkitkan gelombang gigi gergaji<br />
misalnya, kita jumpai dalam osciloscope.<br />
3.6. Domain, Kekontinyuan, Simetri<br />
<strong>Fungsi</strong> anak tangga satuan yang tergeser y = u( x − a)<br />
hanya mempunyai<br />
nilai untuk x ≥ a. Oleh karena itu semua bentuk fungsi yang dikalikan<br />
dengan fungsi anak tangga ini juga hanya memiliki nilai pada rentang x ≥<br />
a. Dalam rentang ini pula fungsi anak tangga kontinyu.<br />
<strong>Fungsi</strong> anak tangga tidak memiliki sumbu simetri. Hanya fungsi yang<br />
memiliki sumbu-x sebagai sumbu simetri yang akan tetap simetris<br />
terhadap sumbu-x apabila dikalikan dengan fungsi anak tangga satuan<br />
yang tergeser.<br />
35
Soal-Soal<br />
Bentuk-bentuk kurva gabungan fungsi linier banyak kita jumpai pada<br />
bentuk gelombang sinyal dalam rangkaian listrik.<br />
1. Gambarkan <strong>dan</strong> tentukan persamaan bentuk kurva fungsi anak<br />
tangga berikut ini :<br />
a) y 1 : y maks = 5, muncul pada x = 0.<br />
b) y 2 : y maks = 10 , muncul pada x = 1.<br />
c) y 3 : y maks = −5 , muncul pada x = 2.<br />
2. Dari fungsi-fungsi di soal nomer 3, gambarkanlah kurva fungsi<br />
berikut ini.<br />
a). y 4 = y1<br />
+ y2<br />
; b). y5<br />
= y1<br />
+ y3<br />
; c). y6<br />
= y1<br />
+ y2<br />
+ y3<br />
3. Gambarkan <strong>dan</strong> tentukan persamaan bentuk pulsa berikut ini :<br />
a). Amplitudo 5, lebar pulsa 1, muncul pada x = 0.<br />
b). Amplitudo 10, lebar pulsa 2, muncul pada x=1.<br />
c). Amplitudo −5, lebar pulsa 3, muncul pada x=2.<br />
4. Gambarkan bentuk kurva fungsi periodik yang berupa deretan<br />
pulsa dengan amplitudo 10, lebar pulsa 20, perioda 50.<br />
5. Gambarkan bentuk kurva fungsi periodik gigi gergaji dengan<br />
amplitudo 10 <strong>dan</strong> perioda 0,5.<br />
6. Tentukan persamaan siklus pertama<br />
dari kurva periodik yang<br />
digambarkan di samping ini.<br />
7. Tentukan persamaan siklus pertama<br />
dari bentuk kurva periodik yang<br />
digambarkan di samping ini.<br />
y<br />
y<br />
5<br />
perioda<br />
0<br />
1 2 3 4 5 6<br />
x<br />
−3<br />
perioda<br />
5<br />
0 x<br />
1 2 3 4 5 6<br />
−5<br />
36 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 4<br />
Mononom <strong>dan</strong> Polinom<br />
Mononom adalah pernyataan tunggal yang berbentuk kx n , dengan k<br />
adalah tetapan <strong>dan</strong> n adalah bilangan bulat termasuk nol.<br />
<strong>Fungsi</strong> polinom merupakan jumlah terbatas dari mononom. Berikut ini<br />
beberapa contoh fungsi polinom dalam bentuk eksplisit<br />
3 2<br />
y1<br />
= x + 5x<br />
− 3x<br />
+ 7<br />
2 2<br />
y2<br />
= ( x − 5)<br />
y3<br />
= 10x<br />
y4<br />
= 5<br />
Contoh yang pertama, y 1 , adalah fungsi polinom berpangkat tiga, yaitu<br />
pangkat tertinggi dari peubah bebas x. Contoh ke-dua, y 2 , adalah fungsi<br />
berpangkat empat. Contoh y 3 <strong>dan</strong> y 4 adalah fungsi mononom berpangkat<br />
satu <strong>dan</strong> berpangkat nol yang telah kita kenal sebagai fungsi linier <strong>dan</strong><br />
fungsi tetapan yang memiliki kurva berbentuk garis lurus.<br />
4.1. Mononom<br />
Mononom Pangkat Dua. Mononom pangkat dua kita pan<strong>dan</strong>g sebagai<br />
fungsi genap, kita tuliskan<br />
2<br />
y = kx<br />
(4.1)<br />
Karena x di-kuadratkan, maka mengganti x dengan −x tidak akan<br />
mengubah fungsi. Kurva akan simetris terhadap sumbu-y. Nilai y hanya<br />
akan negatif manakala k negatif.<br />
Kita ingat bahwa pada fungsi linier y = kx nilai k merupakan<br />
kemiringan dari garis lurus. Jika k positif maka garis akan naik ke arah<br />
positif sumbu-x, <strong>dan</strong> jika negatif garis akan menurun. Jika k makin besar<br />
kemiringan garis makin tajam.<br />
Pada fungsi mononom pangkat dua, kurva akan berada di atas sumbu-x<br />
jika k positif <strong>dan</strong> akan berada di bawah sumbu-x jika k negatif . Jika k<br />
makin besar lengkungan kurva akan semakin tajam. Gb. 4.1.<br />
memperlihatkan kurva fungsi (4.1) untuk tiga macam nilai positif k.<br />
37
Makin besar nilai k akan membuat lengkungan kurva makin tajam.<br />
Perhatikanlah bahwa pada x = 1, nilai y sama dengan k.<br />
10<br />
y y = 5x 2 y = 3x 2<br />
9<br />
8<br />
7<br />
y = x 2<br />
6<br />
5<br />
4<br />
3<br />
2<br />
1<br />
-3 -2 -1<br />
0<br />
0 1 2 3<br />
Gb.4.1. Kurva fungsi<br />
2<br />
y = kx dengan k positif.<br />
Gb.4.2 memperlihatkan bentuk kurva jika k bernilai negatif. Jika kurva<br />
dengan nilai k positif menunjukkan a<strong>dan</strong>ya nilai y minimum, yaitu pada<br />
titik [0,0], kurva untuk k negatif menunjukkan a<strong>dan</strong>ya nilai y maksimum<br />
pada titik [0,0].<br />
x<br />
0<br />
-5 -4 -3 -2 -1 0<br />
-20<br />
1 2 3 4 5<br />
-40<br />
-60<br />
-80<br />
y<br />
-100<br />
y = −10x 2<br />
y = −2x 2<br />
Gb.4.2. Kurva fungsi<br />
2<br />
y = kx dengan k negatif.<br />
Peninjauan pada fungsi polinom akan kita lakukan pada k yang positif;<br />
kita akan melihat bagaimana jika kurva ini digeser. Pergeseran kurva<br />
sebesar a skala sejajar sumbu-x diperoleh dengan menggantikan peubah x<br />
dengan (x − a), <strong>dan</strong> pergeseran sejajar sumbu-y sebesar b skala diperoleh<br />
dengan mengganti y dengan (y − b). Dengan demikian persamaan<br />
mononom pangkat dua yang tergeser menjadi<br />
2<br />
− b)<br />
= k(<br />
x − )<br />
(4.3)<br />
( y<br />
a<br />
38 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Kurva fungsi seperti ini diperlihatkan pada Gb.4.3. untuk a = 0 <strong>dan</strong> b = 0,<br />
a = 2 <strong>dan</strong> b = 0, serta a = 2 <strong>dan</strong> b = 30. Untuk nilai-nilai ini, dengan k =<br />
10, persamaan dapat kita tuliskan menjadi<br />
2<br />
y 1 = 10x<br />
y<br />
2<br />
2 = 10(<br />
x − 2)<br />
y 3 = 10( x − 2) + 30<br />
2<br />
100<br />
y 3 = 10(x−2) 2 + 30<br />
y 1 = 10x 2 50<br />
y 2 = 10(x−2) 2<br />
0<br />
-5 -3 -1 1 3 5<br />
Gb.4.3. Pergeseran kurva mononom pangkat dua.<br />
Perhatikanlah bahwa y 2 adalah pergeseran dari y 1 ke arah positif sumbu-x<br />
sebesar 2 skala; y 3 adalah pergeseran dari y 2 ke arah positif sumbu-y<br />
sebesar 30 skala. Bentuk lengkungan kurva tidak berubah.<br />
Mononom Pangkat Genap. Mononom pangkat genap yang lain adalah<br />
berpangkat 4, 6 <strong>dan</strong> seterusnya. Semua mononom pangkat genap akan<br />
membentuk kurva yang memiliki sifat seperti pada mononom pangkat<br />
dua yaitu simetris terhadap sumbu-y, berada di atas sumbu-x jika k<br />
positif <strong>dan</strong> berada di bawah sumbu-x jika k negatif. Gb.4.4.<br />
memperlihatkan perbedaan bentuk kurva mononom pangkat genap yang<br />
memiliki koefisien k sama besar.<br />
Kita lihat pada Gb.4.4. bahwa makin tinggi pangkat mononom makin<br />
cepat nilai y bertambah namun hal ini hanya terlihat mulai dari x = 1.<br />
Pada nilai x lebih kecil dari satu, kurva makin landai jika pangkat makin<br />
tinggi. Dengan kata lain lengkungan makin kurang tajam. Hal ini dapat<br />
dimengerti karena pangkat bilangan pecahan bernilai makin kecil jika<br />
pangkat makin besar.<br />
x<br />
39
y<br />
3<br />
2<br />
y 2 = 2x 4<br />
1<br />
y 1 = 2x 2<br />
y 3 = 2x 6 0<br />
-1.5 -1 -0.5 0 0.5 1 x 1.5<br />
Gb.4.4. Kurva mononom pangkat genap dengan koefisien<br />
sama.<br />
Telah kita ketahui dalam kasus mononom pangkat dua, bahwa jika<br />
koefisien k makin besar lengkungan menjadi makin tajam. Hal yang<br />
sama terjadi juga pada kurva mononom pangkat genap yang lebih tinggi.<br />
Gb.4.5. memperlihatkan kurva mononom pangkat genap dengan<br />
koefisien yang yang meningkat dengan meningkatnya pangkat.<br />
y 1 = 6x 6<br />
y 2 = 3x 4<br />
y 3 = 2x 2<br />
Gb.4.5. Kurva mononom pangkat genap dengan koefisien tak sama.<br />
Pada Gb.4.5 terlihat bahwa makin besar k, nilai y juga makin cepat<br />
meningkat. Kecepatan peningkatan y dengan koefisien yang lebih besar<br />
sudah mulai terjadi pada nilai x kurang dari satu. Gejala kelandaian pada<br />
nilai x yang kecil tetap terlihat.<br />
Kurva-kurva pada Gb.4.5 adalah kurva mononom dengan koefisien yang<br />
makin besar pada pangkat yang makin besar. Bila koefisien makin<br />
kecilpada pangkat yang makin besar, situasi yang akan terjadi adalah<br />
seperti terlihat pada Gb.4.6 berikut ini.<br />
6<br />
5<br />
4<br />
3<br />
2<br />
1<br />
0<br />
-1.5 -1 -0.5 0 0.5 1 1.5<br />
y<br />
x<br />
40 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
y = 6x 2<br />
y = 3x 4<br />
y = x 6<br />
Gb.4.6. Kurva mononom pangkat genap dengan<br />
koefisien yang makin rendah pada mononom<br />
berpangkat tinggi.<br />
Kelandaian kurva pangkat tinggi tetap terjadi pada nilai x yang kecil.<br />
Kurva pangkat tinggi baru akan menyusul kurva berpangkat rendah pada<br />
nilai x > 1; perpotongan dengan kurva dari fungsi yang berpangkat<br />
rendah terjadi pada nilai y yang besar.<br />
Contoh <strong>Fungsi</strong> Mononom Pangkat Dua. Kita ambil beberapa contoh<br />
peristiwa fisis.<br />
1). Suatu benda dengan massa m yang mendapat gaya F akan<br />
memperoleh percepatan a sehingga kecepatan benda sebagai fungsi<br />
waktu (apabila kecepatan awal adalah nol) dapat dinyatakan sebagai<br />
v ( t)<br />
= at<br />
(lihat contoh fungsi linier sub-bab-2.7).<br />
Jarak yang ditempuh mulai dari titik awal adalah<br />
8<br />
7<br />
6<br />
5<br />
4<br />
3<br />
2<br />
1<br />
0<br />
-1.5 -1 -0.5 0 0.5 1 1.5<br />
1<br />
s ( t)<br />
= at<br />
2<br />
2). Dalam tabung katoda, jika kecepatan awal elektron adalah nol, <strong>dan</strong><br />
waktu tempuh dari anoda ke katoda adalah t, maka kecepatan<br />
elektron pada waktu mencapai katoda adalah<br />
v k = at<br />
2<br />
41
anoda<br />
]<br />
katoda<br />
l<br />
(lihat contoh fungsi linier sub-bab-2.7).<br />
Waktu tempuh dapat dihitung dari formula<br />
= l.<br />
1<br />
2<br />
2<br />
s ( t)<br />
= at , di mana s(t)<br />
3). Dalam teori atom, di mana elektron dipan<strong>dan</strong>g sebagai gelombang,<br />
fungsi gelombang dari elektron-bebas dibawah pengaruh me<strong>dan</strong><br />
j r<br />
sentral adalah ψ = e k dengan k adalah vektor bilangan gelombang<br />
yang searah dengan rambatan gelombang.<br />
gelombang<br />
Energi kinetik elektron sebagai<br />
gelombang, E k , adalah<br />
E<br />
k<br />
2<br />
h k<br />
=<br />
2m<br />
2<br />
e<br />
k = 2π , λ : panjang<br />
λ<br />
E k<br />
m e massa electron, h suatu konstanta.<br />
E k <strong>dan</strong> k memiliki relasi mononomial<br />
pangkat dua<br />
(Dari Bab-8, ref. [4])<br />
k<br />
Mononom Pangkat Ganjil. Pangkat ganjil paling kecil adalah 1 <strong>dan</strong><br />
dalam hal demikian ini kita mendapatkan persamaan garis y = kx .<br />
Pangkat ganjil berikutnya adalah 3, 5, 7 <strong>dan</strong> seterusnya. Gb.4.5.<br />
memperlihatkan kurva fungsi mononom berpangkat ganjil.<br />
Kurva fungsi mononom pangkat ganjil simetris terhadap titik asal. Ia<br />
bernilai positif untuk x positif <strong>dan</strong> bernilai negatif untuk x negatif. Makin<br />
tinggi pangkat mononom makin cepat perubahan nilai y untuk x > 1.<br />
42 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Untuk x < 1 kurva makin landai yang berarti makin tajam<br />
“pembengkokan” garis lurus yang terjadi di dalam rentang −1 ≤ x ≤ 1.<br />
Gb.4.5. Kurva fungsi mononom pangkat ganjil.<br />
Apabila peningkatan pangkat disertai juga dengan peningkatan koefisien<br />
k, perpotongan kurva dengan garis y = kx bisa terjadi pada nilai x < 1.<br />
4.2. Polinom Pangkat Dua<br />
<strong>Fungsi</strong> polinom pangkat dua berbentuk<br />
2<br />
y = ax + bx + c<br />
(4.4)<br />
Berikut ini kita akan melihat apa yang terjadi pada proses penambahan<br />
mononom demi mononom. Untuk penggambaran kurva masing-masing<br />
mononom dalam tinjauan fungsi (4.4) diambil semua koefisien mononom<br />
positif. Dengan mengambil nilai-nilai a = 2, b = 15, <strong>dan</strong> c = 13, kurva<br />
masing-masing mononom diperlihatkan pada Gb.4.6.<br />
150<br />
y<br />
y 1 =2x 2<br />
0<br />
-10 0<br />
3<br />
2<br />
1<br />
0<br />
-1.5 -1 -0.5 -1 0 0.5 1 1.5<br />
-2<br />
-3<br />
y = 2x y = 2x 5<br />
y 2 =15x<br />
y 3 =13<br />
y = 2x 3<br />
x<br />
-150<br />
Gb.4.6. Kurva masing-masing mononom dari fungsi kuadrat.<br />
43
Jika kurva y 2 = 15x ditambahkan pada y 1 = 2x 2 maka kurva y 1 akan<br />
bertambah tinggi di sebelah kanan titik [0,0] <strong>dan</strong> menjadi rendah di<br />
sebelah kiri titik [0,0] seperti terlihat pada Gb.4.7.a.<br />
y 1 =2x 2<br />
150<br />
y<br />
y 4 =2x 2 +15x<br />
-10 0<br />
0<br />
x<br />
(a)<br />
x = −15/2<br />
y 2 =15x<br />
-150<br />
150<br />
sumbu simetri y<br />
−15/4<br />
y 4 =2x 2 +15x<br />
−15/2<br />
-10 0<br />
0<br />
x<br />
(b)<br />
sumbu simetri<br />
150<br />
y<br />
-150<br />
y 5 = 2x 2 +15x+13<br />
y 4 = 2x 2 +15x<br />
-10 0<br />
0<br />
x<br />
(c)<br />
-150<br />
Gb.4.7. Penjumlahan y 1 = 2x 2 , y 2 = 15x, <strong>dan</strong> y 3 = 13<br />
44 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Karena y2 = 15x<br />
melalui titik [0,0] <strong>dan</strong> y 1 = 2x 2 juga melalui titik [0,0]<br />
maka penjumlahan kedua kurva akan memberikan kurva<br />
y = y + y = x 15x<br />
(4.5)<br />
4 1 2 2 2 +<br />
yang juga melalui titik [0,0]. Selain di x = 0 kurva penjumlahan ini juga<br />
memotong sumbu-x di x = −15/ 2 karena dua titik ini (yaitu x = 0 <strong>dan</strong><br />
x = −15/ 2 ) memenuhi persamaan y 3 = 2x<br />
2 + 15x<br />
= 0 . Kurva ini<br />
memiliki sumbu simetri yang memotong sumbu-x di x = −15/ 4 seperti<br />
terlihat pada Gb.4.7.b. Jika kemudian tetapan 13 ditambahkan pada y 4<br />
tebentuklah<br />
y = x + 15x<br />
13<br />
(4.6)<br />
5 2 2 +<br />
yang merupakan pergeseran dari y 4 ke arah positif sumbu-y sebesar 13<br />
skala, seperti terlihat pada Gb.4.7.c.<br />
Kita lihat sekarang bentuk umum fungsi pangkat dua (4.4)<br />
yang dapat kita tuliskan sebagai<br />
⎛ 2<br />
y = a⎜<br />
x +<br />
⎝<br />
⎛<br />
= a⎜<br />
x +<br />
⎝<br />
b<br />
a<br />
b<br />
2a<br />
2<br />
y = ax + bx + c<br />
b<br />
a<br />
⎞ ⎛<br />
x⎟<br />
+ c = a⎜<br />
x +<br />
⎠ ⎝ 2<br />
2 2<br />
⎞ b − 4ac<br />
⎟ −<br />
⎠ 4a<br />
2 2<br />
⎞ b<br />
⎟ − + c<br />
⎠ 4a<br />
(4.7)<br />
Kurva dari fungsi (4.7) ini dapat kita fahami sebagai berikut: kurva y<br />
adalah kurva y = ax 2<br />
b<br />
yang tergeser sejajar sumbu-x sejauh −<br />
2a<br />
kemudian tergeser lagi sejajar sumbu-y sejauh<br />
Perhatikan Gb.4.8.<br />
⎛ 2 ⎞<br />
⎜<br />
b − 4ac<br />
− ⎟ .<br />
⎜ ⎟<br />
⎝<br />
4a<br />
⎠<br />
45
y<br />
y = ax 2 +bx +c<br />
x 1<br />
x 2<br />
y = ax 2<br />
b<br />
−<br />
2a<br />
}<br />
Gb.4.8. Pergeseran kurva y = ax 2 sejajar sumbu-x ke kiri<br />
sejauh<br />
–b/2a kemudian tergeser lagi sejajar sumbu-y ke bawah<br />
sejauh –(b 2 −4ac)/4a.<br />
b<br />
Sumbu simetri terletak pada x = − <strong>dan</strong> kurva memotong sumbu-x di<br />
2a<br />
sebelah kiri <strong>dan</strong> kanan sumbu simetri ini, yaitu di x 1 <strong>dan</strong> x 2 . Dari<br />
persamaan (4.7) kita dapatkan<br />
0<br />
-50<br />
0<br />
⎛<br />
⎜<br />
b<br />
−<br />
⎝<br />
2<br />
x<br />
− 4ac<br />
⎞<br />
⎟<br />
4a<br />
⎠<br />
2 2<br />
⎛ b ⎞ b − 4ac<br />
y = a⎜<br />
x + ⎟ − = 0 →<br />
⎝ 2a<br />
⎠ 4a<br />
⎛<br />
a⎜<br />
x +<br />
⎝<br />
b<br />
2a<br />
2 2<br />
⎞ b − 4ac<br />
⎟ =<br />
⎠ 4a<br />
2 2<br />
2<br />
⎛ b ⎞ b − 4ac<br />
⎛ b ⎞ b − 4ac<br />
→ ⎜ x + ⎟ = → ⎜ x + ⎟ = ±<br />
2a<br />
2<br />
2<br />
⎝ ⎠ 4a<br />
⎝ 2a<br />
⎠ 4a<br />
x , x<br />
1<br />
2<br />
2<br />
b b − 4ac<br />
= − ±<br />
(4.8)<br />
2a<br />
2a<br />
yang kita kenal sebagai akar-akar persamaan kuadrat.<br />
Keadaan kritis terjadi pada waktu kurva fungsi kuadrat bersinggungan<br />
dengan sumbu-x; dua akar nyata dari persamaan kuadrat menjadi sama<br />
besar. Hal ini terjadi jika pergeseran sejajar sumbu-y bernilai nol<br />
46 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
−<br />
2<br />
− ac<br />
= 0 ⇒ ( b<br />
4a<br />
4 2<br />
− 4ac)<br />
= 0<br />
(4.9)<br />
Jika ( b 2 − 4ac)<br />
< 0 maka kurva tidak memotong sumbu-x. Keadaan ini<br />
memberikan akar kompleks yang belum akan kita bahas.<br />
Tinjauan di atas memberikan hal-hal berikut:<br />
2<br />
1. Jika c = 0, maka fungsi menjadi y = ax + bx yang memotong sumbu-<br />
b<br />
b<br />
x di x = 0 <strong>dan</strong> x = − <strong>dan</strong> memiliki sumbu simetri di x = −<br />
a<br />
2a<br />
yang juga menjadi sumbu simetri kurva fungsi kuadrat<br />
2<br />
y = ax + bx + c .<br />
2<br />
2. Nilai puncak fungsi y = ax + bx + c<br />
2<br />
y = ax + bx ditambah c yaitu<br />
2<br />
b<br />
y = − + c<br />
4 a<br />
adalah nilai puncak<br />
2<br />
b − 4 ac<br />
atau − .<br />
4a<br />
2<br />
3. <strong>Fungsi</strong> kuadrat y = ax + bx + c<br />
memotong sumbu-x di<br />
x<br />
1,2<br />
= −<br />
b<br />
±<br />
2a<br />
b<br />
2<br />
− 4ac<br />
2a<br />
47
4.3. Mononom <strong>dan</strong> Polinom Pangkat Tiga<br />
3<br />
<strong>Fungsi</strong> mononom pangkat tiga kita tuliskan y = kx . Jika k positif, fungsi<br />
ini akan bernilai positif untuk x positif <strong>dan</strong> bernilai negatif untuk x<br />
negatif. Jika k negatif maka keadaan akan menjadi sebaliknya. Kurva<br />
fungsi ini diperlihatkan pada Gb.4.9.<br />
y<br />
y =−3x 3<br />
500<br />
400<br />
300<br />
200<br />
100<br />
y = 2x 3<br />
0<br />
-5 -4 -3 -2 -1 0<br />
-100<br />
1 2 3 4 5<br />
x<br />
-200<br />
y = 2x 3<br />
-300<br />
-400<br />
-500<br />
y =−3x 3<br />
Gb.4.9. Kurva fungsi y = kx 3 .<br />
<strong>Fungsi</strong> mononom yang tergeser sejajar dengan sumbu-x dengan<br />
pergeseran sebesar a skala diperoleh dengan mengganti peubah x dengan<br />
(x − a), <strong>dan</strong> jika tergeser sejajar sumbu-y sebesar b skala kita peroleh<br />
dengan mengganti y dengan (y − b) . <strong>Fungsi</strong> mononom pangkat tiga yang<br />
tergeser akan menjadi<br />
dengan bentuk kurva diperlihatkan pada Gb.4.10.<br />
3<br />
y = k( x − a)<br />
+ b<br />
(4.10)<br />
48 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
600<br />
y<br />
400<br />
y = 10x 3<br />
200<br />
0<br />
-5 -3 -1 1 3 5<br />
-200<br />
y = 10(x−2) 3<br />
x<br />
-400<br />
y = 10(x−2) 3 + 100<br />
-600<br />
Gb.4.10. Kurva fungsi pangkat tiga tergeser.<br />
Jika mononom pangkat tiga ditambahkan pada polinom pangkat dua,<br />
terbentuklan polinom pangkat tiga, dengan persamaan umum yang<br />
berbentuk<br />
3 2<br />
y = ax + bx + cx + d<br />
(4.11)<br />
3<br />
Karena y = kx naik untuk x positif (pada k positif) maka penambahan<br />
ke fungsi kuadrat akan menyebabkan kurva fungsi kuadrat naik di<br />
sebelah kanan titik-asal [0,0] <strong>dan</strong> turun di sebelah kiri [0,0].<br />
3<br />
Kita ambil a = 4 untuk menggambarkan y 1 = ax <strong>dan</strong> b =19, c = −80, d<br />
2<br />
= −200 untuk menggambarkan kurva fungsi y 2 = bx + cx + d seperti<br />
terlihat pada Gb.4.11.a.<br />
49
y2 = 19x<br />
2 − 80x<br />
− 200<br />
2000<br />
y<br />
y 1 =<br />
4x 3<br />
-<br />
10<br />
0<br />
0 10<br />
x<br />
(a)<br />
-2000<br />
y<br />
3<br />
= y<br />
1<br />
3<br />
= 4x<br />
+ y<br />
2<br />
+ 19x<br />
2<br />
− 80x<br />
− 200<br />
y 2<br />
2000<br />
y<br />
0<br />
-10 0 10<br />
x<br />
(b)<br />
y 1<br />
-2000<br />
Gb.4.11. Mononom pangkat tiga y 1 <strong>dan</strong> fungsi kuadrat y 2 .<br />
Dengan a positif maka kurva y 1 bernilai positif untuk x > 0 <strong>dan</strong> bernilai<br />
negatif untuk x < 0. Kurva fungsi kuadrat y 2 telah kita kenal. Jika y 1<br />
ditambahkan pada y 2 maka nilai-nilai y 2 di sebelah kiri titik [0,0] akan<br />
berkurang se<strong>dan</strong>gkan yang di sebelah kanan titik [0,0] akan bertambah.<br />
Kurva yang kita peroleh akan terlihat seperti pada Gb.4.9.b.<br />
Terlihat pada gambar ini bahwa penjumlahan y 1 <strong>dan</strong> y 2 menghasilkan<br />
kurva y 3 yang memotong sumbu-x di tiga titik. Ini berarti bahwa<br />
3 2<br />
persamaan pangkat tiga ax + bx + cx + d = 0 (dengan nilai koefisien<br />
yang kita ambil) memiliki tiga akar nyata, yang ditunjukkan oleh<br />
perpotongan fungsi y 3 dengan sumbu-x tersebut.<br />
50 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Hal demikian tidak selalu terjadi. Jika koefisien a kurang positif,<br />
penurunan kurva y 1 di daerah x negatif tidak terlalu tajam. Hal ini<br />
menyebabkan pengurangan nilai y 2 didaerah ini juga tidak terlalu banyak.<br />
Kita akan memperoleh kurva seperti ditunjukkan pada Gb.4.12.a. Di sini<br />
fungsi pangkat tiga memotong sumbu-x di tiga tempat akan tetapi yang<br />
terlihat hanya dua. Titik potong yang ke-tiga berada jauh di x negatif.<br />
Makin kecil nilai a (tetap positif) akan makin jauh letak titik perpotongan<br />
yang ke-tiga ini.<br />
2000<br />
y 2<br />
y 3 = y 1 + y 2<br />
y 1<br />
-2000<br />
-10 10<br />
(a) a kurang positif<br />
2000<br />
y 2<br />
-10 15<br />
(b) a terlalu positif<br />
y 3 = y 1 +y 2<br />
y 1<br />
-2000<br />
Gb.4.12. Pengaruh nilai a kurva fungsi pangkat tiga y = y 1 + y 2 .<br />
Jika koefisien a terlalu positif, penurunan y 1 di daerah negatif sangat<br />
tajam. Pengurangan y 2 di daerah ini terjadi sangat besar. Kurva yang kita<br />
51
peroleh akan terlihat seperti pada Gb.4.12.b. Di sini kurva tidak<br />
memotong sumbu-x di daerah negatif. Hanya ada satu titik potong di<br />
sumbu-x positif. Jika a = 0 akan terjadi fungsi kuadrat yang sudah kita<br />
bahas di sub-bab sebelumnya.<br />
Kita lihat sekarang keadaan di mana a bernilai negatif. Nilai a negatif<br />
akan membuat kurva y 1 bernilai positif di daerah x negatif <strong>dan</strong> bernilai<br />
negatif di daerah x positif. Hal ini menyebabkan nilai y 2 akan bertambah<br />
di daerah negatif <strong>dan</strong> akan berkurang di daerah positif. Jika a tidak<br />
terlalu negatif, kurva yang kita peroleh akan berbentuk seperti terlihat<br />
pada Gb.4.13.a.<br />
y 3 = y 1 + y 2<br />
2000<br />
y 1<br />
y 2<br />
0<br />
-10 0 15<br />
(a)<br />
-2000<br />
y 3 = y 1 + y 2<br />
y 2<br />
15<br />
y 1<br />
0<br />
-10 0<br />
(b)<br />
-2000<br />
Gb.4.13. <strong>Fungsi</strong> pangkat tiga y 3 = y 1 + y 2 dengan a negatif.<br />
Kurva berpotongan dengan sumbu-x di tiga tiga tempat. Akan tetapi<br />
perpotongan yang ke-tiga berada jauh di daerah x positif. Makin negatif a<br />
52 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
makin jauh letak titik perpotongan tersebut. Jika a terlalu negatif kurva<br />
berpotongan dengan sumbu-x di satu tempat, seperti terlihat pada<br />
Gb.4.13.b.<br />
CATATA: Sesungguhnya perpotongan kurva fungsi pangkat tiga<br />
dengan sumbu-x tidak semata-mata ditentukan oleh nilai koefisien<br />
a pada mononom pertama ax 3 . Bentuk <strong>dan</strong> posisi kurva fungsi<br />
kuadratnya, juga akan menentukan letak titik potong.<br />
4.4. Domain, Kekontinyuan, Simetri<br />
Peubah x pada semua fungsi polinom dapat mengambil nilai dari −∞<br />
sampai +∞. Nilai peubah y akan mengikuti nilai x. <strong>Fungsi</strong> polinom<br />
kontinyu dalam rentang x tersebut. Demikian pula halnya jika kita<br />
mempunyai fungsi yang merupakan hasilkali antara polinom dengan<br />
polinom, y = y 1 × y2<br />
.<br />
Kita telah melihat bahwa kurva mononom pangkat dua<br />
2<br />
y = kx simetris<br />
terhadap sumbu-y karena penggantian x dengan −x tidak mengubah<br />
fungsi ini. Hal ini juga akan berlaku untuk semua kurva mononom yang<br />
berpangkat genap. Kenyataan ini menimbulkan istilah simetri genap<br />
untuk fungsi-fungsi yang simetris terhadap sumbu-y; misalnya fungsi<br />
cosinus yang akan kita pelajari di bab lain.<br />
Kita juga telah melihat bahwa kurva mononom pangkat tiga<br />
3<br />
y = kx<br />
simetris terhadap titik asal [0,0]. Penggantian y dengan −y <strong>dan</strong><br />
penggantian x dengan −x tidak akan mengubah fungsi ini. Hal ini berlaku<br />
pula untuk semua kurva mononom berpangkat ganjil. Istilah simetri<br />
ganjil diberikan pada fungsi yang simetris terhadap titik asal [0,0],<br />
seperti fungsi sinus yang akan kita pelajari di Bab-6.<br />
Penjumlahan antara mononom berpangkat genap dengan mononom<br />
berpangkat ganjil tidak menghasilkan kurva yang memiliki sumbu<br />
simetri. Hal ini disebabkan karena kaidah untuk terjadinya simetri bagi<br />
mononom berpangkat genap tidak sama dengan kaidah yang diperlukan<br />
untuk terjadinya simetri pada kurva mononom berpangkat ganjil.<br />
Keadaan khusus terjadi pada mononom berpangkat satu yang juga<br />
merupakan mononom berpangkat ganjil. Kurva dari fungsi ini juga<br />
simetris terhadap titik asal [0,0]. Namun fungsi ini adalah fungsi linier<br />
dengan kurva yang berbentuk garis lurus, berbeda dengan kurva fungsi<br />
mononom pangkat tiga. Kelinieran ini menyebabkan penjumlahan<br />
53
dengan kurva mononom pangkat dua menghasilkan pergeseran kurva<br />
fungsi pangkat dua; kurva yang tergeser ini memiliki sumbu simetri<br />
yang sejajar dengan sumbu-y.<br />
Soal-Soal<br />
1. Tentukanlah koordinat titik puncak <strong>dan</strong> perpotongan dengan<br />
sumbu-y kurva fungsi-fungsi berikut ini.<br />
2<br />
y1<br />
= 4x<br />
;<br />
2<br />
y2<br />
= 5x<br />
− 7 ;<br />
2<br />
y3<br />
= 3x<br />
−12 ;<br />
2<br />
y4<br />
= −4x<br />
+ 8<br />
2. Dari soal nomer-1, tentukanlah koordinat titik perpotongan<br />
antara kurva-kurva fungsi berikut ini<br />
y<br />
1 <strong>dan</strong> y2<br />
; y2<br />
<strong>dan</strong> y3<br />
; y3<br />
<strong>dan</strong><br />
3. Tentukanlah koordinat titik puncak <strong>dan</strong> perpotongan dengan<br />
sumbu-y kurva fungsi-fungsi berikut ini.<br />
2<br />
2<br />
2<br />
1 2<br />
3 +<br />
y = 5x<br />
−10x<br />
; y = 3x<br />
−12x<br />
; y = −4x<br />
2x<br />
4. Dari soal nomer-3, selidikilah koordinat titik perpotongan<br />
kurva-kurva fungsi berikut.<br />
y<br />
1 <strong>dan</strong> y2<br />
; y2<br />
<strong>dan</strong> y3<br />
; y1<br />
<strong>dan</strong><br />
5. Tentukanlah koordinat titik puncak <strong>dan</strong> perpotongan dengan<br />
sumbu-y kurva fungsi-fungsi berikut ini.<br />
2<br />
2<br />
y 1 = 5x<br />
−10x<br />
− 7 ; y2<br />
= 3x<br />
−12x<br />
+ 2 ; y3<br />
= −4x<br />
+ 2x<br />
+ 8<br />
6. Dari soal nomer-5, selidikilah koordinat titik perpotongan<br />
kurva-kurva fungsi berikut.<br />
y<br />
1 <strong>dan</strong> y2<br />
; y2<br />
<strong>dan</strong> y3<br />
; y1<br />
<strong>dan</strong><br />
y<br />
y<br />
3<br />
4<br />
y<br />
3<br />
2<br />
54 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 5<br />
Bangun Geometris<br />
5.1. Persamaan Kurva<br />
Persamaan suatu kurva secara umum dapat kita tuliskan sebagai<br />
F ( x,<br />
y)<br />
= 0<br />
(5.1)<br />
Persamaan ini menentukan tempat kedudukan titik-titik yang memenuhi<br />
persamaan tersebut. Jadi setiap titik pada kurva akan memenuhi<br />
persamaan <strong>dan</strong> setiap titik yang memenuhi persamaan harus pula terletak<br />
pada kurva.<br />
Berikut ini adalah karakteristik umum suatu kurva. Beberapa di<br />
antaranya telah kita pelajari di bab pertama.<br />
Simetri. Kurva suatu fungsi mungkin simetris terhadap garis atau titik<br />
tertentu<br />
a) jika fungsi tidak berubah apabila x kita ganti dengan −x maka<br />
kurva fungsi tersebut simetris terhadap sumbu-y;<br />
b) jika fungsi tidak berubah apabila x <strong>dan</strong> y dipertukarkan, kurva<br />
funsi tersebut simetris terhadap garis-bagi kuadran I <strong>dan</strong> III.<br />
c) jika fungsi tidak berubah apabila y diganti dengan −y, kurva<br />
funsi tersebut simetris terhadap sumbu-x.<br />
d) jika fungsi tidak berubah jika x <strong>dan</strong> y diganti dengan −x <strong>dan</strong> −y,<br />
kurva fungsi tersebut simetris terhadap titik-asal [0,0].<br />
ilai Peubah. Dalam melihat bentuk-bentuk geometris hanya nilai-nyata<br />
dari y <strong>dan</strong> x yang kita perhatikan. Apabila dalam suatu persamaan<br />
terdapat pangkat genap suatu peubah maka akan terlibat suatu nilai yang<br />
berasal dari akar pangkat dua (pangkat genap) dari peubah tersebut.<br />
Dalam keadaan demikian kita anggap bahwa bilangan negatif tidak<br />
memiliki akar, karena kita belum membahas bilangan kompleks. Hal ini<br />
telah dikemukakan di bab pertama dalam sub-bab pembatasan<br />
pembahasan.<br />
2 2<br />
Contoh: y + x = 1. Jika kita cari nilai y kita dapatkan<br />
y = ±<br />
1−<br />
x<br />
2<br />
55
Apabila nilai mutlak x lebih besar dari 1, maka nilai bilangan di<br />
bawah tanda akar akan negatif. Dalam hal demikian ini kita<br />
membatasi x hanya pada rentang −1 ≤ x ≤ 1. Karena kurva ini<br />
simetris terhadap garis y = x, maka ia memiliki nilai juga terbatas<br />
pada rentang −1≤<br />
y ≤1<br />
.<br />
Titik Potong Dengan Sumbu Koordinat. Koordinat titik potong dengan<br />
sumbu-x dapat diperoleh dengan memberi nilai y = 0, se<strong>dan</strong>gkan<br />
koordinat titik potong dengan sumbu-y diperoleh dengan memberi nilai x<br />
= 0.<br />
2 2<br />
Contoh: y + x = 1 . Titik potong dengan sumbu-x adalah P[1,0]<br />
<strong>dan</strong> Q[−1,0]. Titik potong dengan sumbu-y adalah R[0,1] <strong>dan</strong><br />
S[0,−1].<br />
Contoh: xy = 1. Dengan memberi nilai x = 0 kita tidak akan<br />
mendapatkan solusi untuk y. Demikian pula memberi y = 0 tidak<br />
akan memberi solusi untuk x. Kurva persamaan ini tidak<br />
memotong sumbu-x maupun sumbu-y.<br />
Asimptot. Suatu titik P[x,y] pada kurva yang bergerak sepanjang kurva<br />
menjauhi titik-asal mungkin akan semakin dekat dengan suatu garis<br />
tertentu, namun tidak akan menyentuhnya. Garis tersebut merupakan<br />
asimptot dari kurva.<br />
2<br />
2<br />
Contoh: y ( x − x)<br />
= x + 10 .<br />
2<br />
Persamaan ini memberikan<br />
y = ±<br />
2<br />
x + 10<br />
x(<br />
x − 1)<br />
Apa yang berada di dalam tanda akar, tidak boleh negatif. Hal ini<br />
berarti jika x harus positif maka ia tidak boleh lebih kecil dari satu<br />
agar x(x−1) positif; jika x negatif maka x(x−1) akan tetap positif.<br />
Jadi haruslah x < 0 atau x > 1. Tidak ada bagian kurva yang berada<br />
antara x = 0 <strong>dan</strong> x = 1. Garis vertikal x = 0 <strong>dan</strong> x = 1 adalah<br />
asimptot dari kurva. Lihat Gb.5.1.<br />
56 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
4<br />
y<br />
0<br />
-4 0 4<br />
Soal-Soal:<br />
-4<br />
Gb.5.1. Garis asimptot (ditunjukkan oleh garis patah-patah).<br />
Persamaan kurva ini juga bisa dituliskan sebagai<br />
2<br />
2<br />
2 x + 10 1 + 10 / x<br />
y = =<br />
2<br />
x − x 1 − 1/ x<br />
Jika x → ±∞ maka y 2 = 1, <strong>dan</strong> y = ±1. Garis mendatar y = 1 <strong>dan</strong> y<br />
= −1 juga merupakan asimptot dari kurva.<br />
Tentukan sumbu simetri, titik-titik potong dengan sumbu<br />
koordinat, <strong>dan</strong> garis asimptot kurva-kurva dari fungsi berikut:<br />
1<br />
y = x + ; y = x 2 + 1 ;<br />
x<br />
y 1<br />
=<br />
x<br />
2 + 1<br />
;<br />
y = x 2 −1;<br />
y 1<br />
=<br />
x<br />
2 −1<br />
.<br />
5.2. Jarak Antara Dua Titik<br />
Jika koordinat dua titik diketahui, misalnya P[x p ,y p ) <strong>dan</strong> Q[x q ,y q ], maka<br />
jarak antara keduanya adalah<br />
PQ<br />
2<br />
2<br />
= ( x p − xq<br />
) + ( y p − yq)<br />
(5.2)<br />
Formula ini sangat bermanfaat jika kita hendak mencari tempat<br />
kedudukan titik yang berjarak tertentu dari suatu titik lain. Kita akan<br />
melihatnya pada ulasan bentuk-bentuk geometris berikut ini.<br />
57
Soal-Soal:<br />
1). Diketahui dua titik P(-2,1) <strong>dan</strong> Q(2,-3). Dengan menggunakan<br />
persamaan persamaan (5.2) tentukan tempat kedudukan titik-titik<br />
yang berjarak sama terhadap P <strong>dan</strong> Q.<br />
2). Diketahui dua titik P(-1,0) <strong>dan</strong> Q(2,0). Dengan menggunakan<br />
persamaan persamaan (5.2) tentukan tempat kedudukan R yang<br />
sedemikian rupa sehingga RP = 2× RQ.<br />
5.3. Parabola<br />
Kita telah melihat bentuk kurva<br />
2<br />
y = kx<br />
(5.3)<br />
yang simetris terhadap sumbu-y. Bentuk kurva ini disebut parabola.<br />
Dalam persamaan ini, ada suatu nilai k sedemikian rupa sehingga jarak<br />
antara satu titik P yang terletak pada kurva dengan titik Q yang terletak<br />
di sumbu-y sama dengan jarak antara titik P <strong>dan</strong> suatu garis tertentu,<br />
seperti diperlihatkan pada Gb.5.2. Titik Q disebut titik fokus parabola,<br />
<strong>dan</strong> garis tertentu y = −p disebut garis direktriks <strong>dan</strong> titik puncak<br />
parabola berada di tengah antara titik fokus <strong>dan</strong> direktriknya.<br />
y<br />
y=kx 2<br />
Q[0,p]<br />
P[x,y]<br />
[0,0]<br />
x<br />
R[x,−p]<br />
Gb.5.2. Titik fokus <strong>dan</strong> garis direktriks.<br />
Hubungan antara k <strong>dan</strong> p dapat dicari sebagai berikut.<br />
2 2<br />
2 2 2<br />
2 2<br />
PQ = (PR − p)<br />
+ x = ( y − p)<br />
+ x = y − 2 py + p + x<br />
PR = (y + p)<br />
58 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Karena PQ = PR, maka<br />
2<br />
2 2<br />
y − 2 py + p + x = y + p<br />
2<br />
2 2 2<br />
2<br />
y − 2 py + p + x = y + 2 py + p<br />
+<br />
2<br />
x<br />
y = yang berarti<br />
4 p<br />
2<br />
x = + 4 py<br />
atau<br />
k = 1<br />
4 p<br />
atau<br />
1<br />
p =<br />
4k<br />
Dengan demikian persamaan parabola dapat kita tuliskan<br />
dengan direktiks y = −p <strong>dan</strong> titik fokus Q[0,p].<br />
1 2<br />
y = x<br />
(5.4)<br />
4 p<br />
Contoh: Persamaan parabola<br />
2<br />
y = 0,5x<br />
dapat kita tuliskan<br />
Soal-Soal:<br />
1 2 1 2<br />
y = x = x<br />
2 4 × 0,5<br />
<strong>dan</strong> parabola ini memiliki direktrik y = − p = −0, 5 <strong>dan</strong><br />
titik fokus di Q[0,(0,5)].<br />
Tentukan titik fokus <strong>dan</strong> direktrik parabola-parabola berikut:<br />
5.4. Lingkaran<br />
2<br />
2<br />
y + 4x<br />
= 8 ; x − 8y<br />
= 4 ;<br />
2<br />
2<br />
x + 2x<br />
− 4y<br />
− 3 = 0 ; y + x + y = 0<br />
Lingkaran merupakan tempat kedudukan titik-titik yang berjarak sama<br />
terhadap satu titik tertentu. Titik tertentu itu disebut titik pusat lingkaran.<br />
Jika titik tertentu itu adalah titik-asal [0,0] maka jarak suatu titik X[x,y]<br />
ke titik-asal adalah<br />
XO =<br />
2 2<br />
x + y<br />
59
Jika jarak ini tertentu, r misalnya, maka<br />
x 2 + y<br />
2 = r<br />
Oleh karena itu persamaan lingkaran dengan titik pusat [0,0] adalah<br />
dengan r adalah jari-jari lingkaran.<br />
2 2 2<br />
x + y = r<br />
(5.5)<br />
Jika titik pusat lingkaran tidak berimpit dengan titik asal, kita dapat<br />
melihatnya sebagai lingkaran tergeser. Lingkaran dengan titik pusat di<br />
P[a,b] mempunyai persamaan<br />
2 2 2<br />
( x − a)<br />
+ ( y − b)<br />
= r<br />
(5.6)<br />
Gb.5.3. memperlihatkan bentuk lingkaran dengan jari-jari 1 yang disebut<br />
2 2<br />
lingkaran-satuan, berpusat di [0,0] dengan persamaan x + y = 1 .<br />
y 1<br />
y<br />
1<br />
0,5<br />
-1 [0,0]<br />
0,5<br />
1 x<br />
-1<br />
Gb.5.3. Lingkaran<br />
Pada Gb.5.3 ini pula diperlihatkan lingkaran dengan r 2 = 0,4 berpusat di<br />
[(0,5),(0,5)] yang berarti lingkaran tergeser sejajar sumbu-x sebesar 0,5<br />
skala <strong>dan</strong> sejajar sumbu-y sebesar 0,5 skala, dengan persamaan<br />
2<br />
2<br />
( x − 0,5) + ( y − 0,5) = 0,4<br />
60 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Soal-Soal:<br />
Tentukan persamaan <strong>dan</strong> cari titik-titik potong dengan sumbu-sumbu<br />
koordinat lingkaran berikut<br />
5.5. Elips<br />
1) Titik pusat di P(1,2), jari-jari 4.<br />
2) Titik pusat di Q(-2,1), jari-jari 5.<br />
3) Titik pusat R(2,3) jari-jari 3.<br />
4) Titik pusat S(3,2) jari-jari 2.<br />
Elips adalah tempat kedudukan titik yang jumlah jarak terhadap dua titik<br />
tertentu adalah konstan. Kedua<br />
titik tertentu tersebut merupakan<br />
X[x,y]<br />
dua titik fokus dari elips.<br />
Perhatikan Gb.5.4. Misalkan<br />
diketahui posisi dua titik P[−a,0]<br />
<strong>dan</strong> Q(a,0]. Jarak antara titik<br />
sembarang X[x,y] dengan kedua<br />
titik tersebut masing-masing<br />
adalah<br />
2 2<br />
XP = ( x + c)<br />
+ y <strong>dan</strong><br />
P[-c, 0] Q[c, 0] x<br />
Gb.5.4. Elips<br />
XQ =<br />
2 2<br />
( x − c)<br />
+ y<br />
Jika jumlah antara keduanya adalah konstan, misalkan 2a, maka<br />
2 2<br />
2 2<br />
( x + c)<br />
+ y + ( x − c)<br />
+ y = 2a<br />
Jika suku kedua ruas kiri dipindahkan ke ruas kanan <strong>dan</strong> kedua ruas di<br />
kuadratkan, akan kita peroleh<br />
2 2 2<br />
2 2 2 2<br />
( x + c)<br />
+ y = 4a<br />
− 4a<br />
( x − c)<br />
+ y + ( x − c)<br />
+ y<br />
yang dapat disederhanakan menjadi<br />
c<br />
2 2<br />
a − x = ( x − c)<br />
+ y<br />
a<br />
61
Jika kedua ruas di kuadratkan kita dapatkan<br />
2<br />
2 c 2 2 2 2<br />
a − 2cx<br />
+ x = x − 2cx<br />
+ c + y<br />
2<br />
a<br />
yang dapat disederhanakan menjadi<br />
2 2<br />
x y<br />
+ = 1<br />
2 2 2<br />
a a − c<br />
Kita perhatikan penyebut pada suku ke-dua ruas kiri persamaan terakhir<br />
ini, dengan melihat pada Gb.5.4. Pada segitiga XPQ, jumlah dua sisi<br />
selalu lebih besar dari sisi yang ketiga, (XP + XQ) > PQ atau 2a > 2c,<br />
sehingga penyebut suku ke-2 di ruas kiri selalu positif <strong>dan</strong> memiliki akar<br />
nyata; misalkan<br />
persamaan elips<br />
a 2 − c<br />
2 = b . Dengan demikian kita mendapatkan<br />
2 2<br />
x y<br />
+ = 1<br />
2 b<br />
2<br />
a<br />
(5.7)<br />
Titik-titik potong dengan sumbu-x adalah [±a,0] <strong>dan</strong> titik-titik potong<br />
dengan sumbu-y adalah [0,±b]. Jadi suatu elips dilingkupi oleh satu segi<br />
panjang 2a×2b; 2a adalah sumbu panjang elips <strong>dan</strong> 2b adalah sumbu<br />
pendeknya. (Perhatikan bahwa jika a = b yang berarti c = 0, kita<br />
mendapatkan persamaan lingkaran).<br />
Apabila titik fokus elips tidak terletak pada sumbu-x, kita bisa<br />
melihatnya sebagai elips tergeser. Persamaan elips tergeser adalah<br />
2<br />
2<br />
( x − p)<br />
( y − q)<br />
+ = 1<br />
2<br />
2<br />
a b<br />
(5.8)<br />
dengan p adalah pergeseran sejajar sumbu-x <strong>dan</strong> q adalah pergeseran<br />
sejajar sumbu-y. Gb.5.5. adalah elips dengan persamaan<br />
2<br />
2<br />
( x − 0,5) ( y − 0,25)<br />
+<br />
1<br />
2<br />
0,5<br />
= 1<br />
62 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
1<br />
y<br />
0<br />
-1 0 1 2 x<br />
Soal-Soal:<br />
-1<br />
Gb.5.5. Elips tergeser.<br />
Tentukan titik-titk fokus <strong>dan</strong> gambarkan (skets) elips berikut:<br />
5.6. Hiperbola<br />
2 2<br />
1) 9x + 4x<br />
= 36 ;<br />
2 2<br />
2) 4x + 9y<br />
= 144 ;<br />
2 2<br />
3) 4x + y = 1;<br />
2<br />
2<br />
4) 16( x − 2) + 9( y + 3) = 144<br />
Hiperbola merupakan tempat kedudukan titik-titik yang selisih jaraknya<br />
antara dua titik tertentu adalah konstan. Penurunan persamaan hiperbola<br />
dapat dilakukan seperti halnya dengan penurunan persamaan elips di<br />
atas.<br />
Perhatikan Gb.5.6. Misalkan diketahui posisi dua titik P[−c,0] <strong>dan</strong><br />
Q(c,0].<br />
Jarak antara titik sembarang X[x,y] dengan kedua titik tersebut masingmasing<br />
adalah<br />
2 2<br />
XP = ( x + c)<br />
+ y <strong>dan</strong><br />
XQ =<br />
2 2<br />
( x − c)<br />
+ y<br />
63
y<br />
X(x,y)<br />
P[-c,0]<br />
Q[c,0]<br />
x<br />
Gb.5.6. Posisi titik X terhadap P[-c,0] <strong>dan</strong> Q[c,0].<br />
Jika selisih antara XP <strong>dan</strong> XQ harus tetap, misalnya 2a, maka<br />
2<br />
2<br />
( x + c)<br />
+ y − ( x − c)<br />
+ y = 2a<br />
Suku kedua ruas kiri dipindahkan ke ruas kanan <strong>dan</strong> kedua ruas di<br />
kuadratkan, kemudian dilakukan penyederhanaan<br />
( c / a)<br />
x − a = ( x − c)<br />
+ y<br />
Jika kedua ruas dikuadratkan akan diperoleh<br />
x<br />
a<br />
2<br />
2<br />
−<br />
c<br />
2<br />
y<br />
2<br />
− a<br />
2<br />
2<br />
2<br />
= 1<br />
Kita lihat lagi Gb.5.6. Dalam segitiga PXQ, selisih (XP−XQ) = 2a selalu<br />
lebih kecil dari PQ = 2c. Jadi a < c sehingga penyebut pada suku kedua<br />
2 2 2<br />
ruas kiri selalu positif, misalkan c − a = b . Dengan demikian kita<br />
dapatkan persamaan<br />
x<br />
a<br />
2<br />
2<br />
−<br />
b<br />
y<br />
2<br />
2<br />
= 1<br />
Inilah persamaan hiperbola, dengan bentuk kurva seperti pada Gb.5.7.<br />
2<br />
2<br />
(5.9)<br />
64 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
y<br />
+∞<br />
X(x,y)<br />
-c -a a c<br />
x<br />
Gb.5.7. Kurva hiperbola<br />
Dengan memberi nilai y = 0, kita dapatkan titik potong hiperbola dengan<br />
sumbu-x yaitu [±a,0]. Dengan memberikan nilai x = 0, kita tidak<br />
memperoleh solusi untuk y. Kurva tidak memotong sumbu-y; tidak ada<br />
bagian kurva yang terletak antara x = −a <strong>dan</strong> x = a.<br />
Soal-Soal:<br />
Gambarkan (skets) hiperbola berikut:<br />
1) x 2 2<br />
− y = 1<br />
9 16<br />
; 2) y 2 2<br />
− x =<br />
9 16<br />
1 ;<br />
3) x 2 2<br />
− y = 1<br />
16 9<br />
; 4) x 2 2<br />
− y = −<br />
9 16<br />
1<br />
5.4. Kurva Berderajat Dua<br />
Parabola, lingkaran, elips, <strong>dan</strong> hiperbola adalah bentuk-bentuk khusus<br />
kurva berderajat dua, atau kurva pangkat dua. Bentuk umum persamaan<br />
berderajat dua adalah<br />
−∞<br />
2<br />
2<br />
Ax + Bxy + Cy + Dx + Ey + F = 0<br />
(5.10)<br />
Persamaan parabola adalah bentuk khusus dari (5.10) dengan<br />
B = C = D = F = 0;<br />
A = 1; E = −4<br />
p<br />
65
1 2<br />
sehingga diperoleh persamaan (5.4) y = x .<br />
4 p<br />
Lingkaran satuan adalah bentuk khusus dari (5.10) dengan<br />
B = D = E = 0 ; A = 1; C = 1; F = −1<br />
Bahkan persamaan garis luruspun merupakan keadaan khusus dari<br />
(5.10), di mana<br />
A = B = C = 0 ;<br />
D = −a;<br />
E = 1;<br />
F = −b<br />
yang memberikan persamaan garis lurus y = ax + b . Namun dalam<br />
kasus terakhir ini persamaan berderajat dua (5.10) berubah status menjadi<br />
persamaan berderajat satu.<br />
Bentuk Ax 2 <strong>dan</strong> Cy 2 adalah bentuk-bentuk berderajat dua yang telah<br />
sering kita temui pada persamaan kurva yang telah kita bahas. Namun<br />
bentuk Bxy, yang juga merupakan bentuk berderajat dua, belum pernah<br />
kita temui. Dalam sub-bab berikut ini hal tersebut akan kita lihat.<br />
5.5. Perputaran Sumbu Koordinat<br />
Dalam bangun geometris yang sudah kita lihat, mulai dari parabola<br />
sampai hiperbola, tidak satupun mengandung bentuk Bxy. Hal Ini<br />
sesungguhnya merupakan konsekuensi dari pemilihan koordinat. Dalam<br />
bangun hiperbola misalnya, kita telah memilih titik-titik fokus P[−c,0]<br />
<strong>dan</strong> Q[c,0] sehingga hiperbola simetris terhadap sumbu-x <strong>dan</strong> memotong<br />
sumbu-x di x = ±a. Sekarang akan kita coba memilih titik fokus di<br />
P[−a,−a] <strong>dan</strong> Q[a,a] seperti pada Gb.5.8.<br />
y<br />
P[-a,-a]<br />
Q[a,a]<br />
x<br />
Gb.5.8. Titik fokus di P[-a.-a] <strong>dan</strong> Q[a,a]<br />
Selisih jarak XP <strong>dan</strong> XQ yang tetap kita misalkan 2a<br />
2<br />
2<br />
( x + a)<br />
+ ( y + a)<br />
− ( x − a)<br />
+ ( y − a)<br />
= 2a<br />
66 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
2<br />
2
Jika suku kedua ruas kiri dipindahkan ke ruas kanan kemudian kedua<br />
ruas dikuadratkan <strong>dan</strong> dilakukan penyederhanaan, akan kita peroleh<br />
x + y − a =<br />
2 2<br />
( x − a)<br />
+ ( y − a)<br />
Jika ruas kanan <strong>dan</strong> kiri dikuadratkan lagi kita dapatkan<br />
2<br />
2xy = a<br />
(5.11)<br />
Mempetukarkan x dengan y tidak mengubah persamaan ini. Kurva<br />
persamaan ini simetris terhadap garis y = x, yaitu garis bagi kuadran II<br />
<strong>dan</strong> III seperti terlihat pada Gb.5.9.<br />
5<br />
0<br />
-5 0<br />
-5<br />
Gb.5.9. Kurva 2xy = a 2 .<br />
Kalau kita bandingkan kurva Gb.5.9 ini dengan kurva hiperbola<br />
sebelumnya pada Gb.5.7. terlihat bahwa kurva pada Gb.5.9. memiliki<br />
sumbu simetri yang terputar 45 o berlawanan dengan arah perputaran<br />
jarum jam, dibandingkan dengan sumbu simetri Gb.5.7 yaitu sumbu-x.<br />
Apakah memang demikian? Kita akan lihat secara umum mengenai<br />
perputaran sumbu ini. Perhatikan Gb.5.10.<br />
y’<br />
y<br />
P[x,y]<br />
P[x’,y’]<br />
x’<br />
O<br />
β<br />
α<br />
Q<br />
Q’<br />
Gb.5.10. Perputaran sumbu.<br />
x<br />
67
Sumbu x-y diputar sebesar α menjadi sumbu x’-y’. Titik P dapat<br />
dinyatakan dengan dua koordinat P[x,y] dengan referensi sumbu x-y, atau<br />
P[x’,y’] dengan referensi sumbu x’-y’. Dari Gb.5.10. kita dapatkan<br />
Sementara itu<br />
x = OQ = OPcos( α + β)<br />
y = PQ = OPsin( α + β)<br />
x'<br />
= OQ' = OPcosβ<br />
y'<br />
= PQ' = OPsinβ<br />
Dengan kesamaan (lihat fungsi trigonometri di Bab-6)<br />
cos( α + β)<br />
= cosαcosβ − sin αsinβ<br />
sin( α + β)<br />
= sin αcosβ + cosαsinβ<br />
Dengan (5.13) <strong>dan</strong> (5.14), maka (5.12) menjadi<br />
x = x'cosα − y'sin<br />
α<br />
y = x'sin<br />
α + y'cosα<br />
Persamaan (5.15) inilah persamaan rotasi sumbu.<br />
(5.12)<br />
(5.13)<br />
(5.14)<br />
(5.15)<br />
Kita coba aplikasikan (5.15) pada (5.11) yang memiliki kurva pada<br />
Gb.5.10, di mana rotasi sumbu terjadi pada sudut 45 o sehingga<br />
cos α = sin α = 1/ 2 . Oleh karena itu kita peroleh<br />
x' −y'<br />
x' + y'<br />
x = <strong>dan</strong> y =<br />
2<br />
2<br />
Nilai x <strong>dan</strong> y ini kita masukkan ke (5.11) <strong>dan</strong> kita mendapatkan<br />
x'<br />
−y'<br />
x'<br />
+ y'<br />
2 2 2<br />
2 × = ( x')<br />
− ( y')<br />
= a<br />
2 2<br />
Bentuk persamaan ini sama dengan bentuk persamaan (5.9); pada (5.9)<br />
sumbu simetri adalah sumbu-x, se<strong>dan</strong>gkan di sini sumbu simetri adalah<br />
sumbu-x’ yaitu sumbu-x yang diputar 45 o .<br />
Dengan pembahasan mengenai perputaran sumbu ini, menjadi<br />
lengkaplah pergeseran kurva yang kita bahas. Pergeseran kurva sejajar<br />
sumbu-x <strong>dan</strong> sumbu-y yang telah kita bahas sebelumnya dapat pula kita<br />
pan<strong>dan</strong>g sebagai pergeseran atau translasi sumbu koordinat. Dengan<br />
demikian kita mengenal translasi <strong>dan</strong> rotasi sumbu koordinat, di mana<br />
sumbu-sumbu simetri dari suatu kurva tidak berimpit dengan sumbu<br />
koordinat, <strong>dan</strong> titik simetri tidak berimpit dengan titik asal [0,0].<br />
68 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 6<br />
<strong>Fungsi</strong> Trigonometri<br />
6.1. Peubah Bebas Bersatuan Derajat<br />
Berikut ini adalah fungsi-fungsi trigonometri dengan sudut θ sebagai<br />
peubah-bebas.<br />
y = sin θ;<br />
y<br />
y<br />
1<br />
3<br />
5<br />
y<br />
2<br />
= cosθ<br />
sin θ<br />
= tan θ = ;<br />
cos θ<br />
1<br />
= secθ = ;<br />
cosθ<br />
y<br />
y<br />
4<br />
6<br />
cosθ<br />
= cot θ =<br />
sin θ<br />
1<br />
= cscθ = .<br />
sin θ<br />
(6.1)<br />
Untuk menjelaskan fungsi trigonometri, kita gambarkan lingkaransatuan,<br />
yaitu lingkaran berjari-jari satu. Bentuk lingkaran ini<br />
diperlihatkan pada Gb.6.1. Kita menggunakan referensi arah positif<br />
berlawanan dengan arah jarum jam; artinya sudut θ makin besar jika jarijari<br />
r berputar berlawanan dengan arah perputaran jarum jam.<br />
y<br />
1<br />
O<br />
θ<br />
-1 [0,0] -θ Q 1 x<br />
r<br />
P<br />
-1<br />
P’<br />
Gb.6.1. Lingkaran berjari-jari 1.<br />
69
<strong>Fungsi</strong> sinus. Dengan membuat jari-jari r = OP = 1, maka<br />
PQ<br />
sin θ = = PQ<br />
(6.2)<br />
r<br />
PQ = 0 pada waktu θ = 0 o , <strong>dan</strong> membesar jika θ membesar sampai<br />
mencapai maksimum PQ = 1 pada waktu θ = 90 o . Kemudian PQ<br />
menurun lagi <strong>dan</strong> mencapai PQ = 0 pada waktu θ = 180 o . Sesudah itu PQ<br />
menjadi negatif (arah ke bawah) <strong>dan</strong> mencapai minimum PQ = −1 pada<br />
waktu θ = 270 o , kemudian meningkat lagi mencapai PQ = 0 pada waktu<br />
θ = 360 o . Setelah itu keadaan akan berulang, <strong>dan</strong> satu siklus berikutnya<br />
terjadi pada waktu θ = 720 o . Kejadian berulang lagi <strong>dan</strong> demikian<br />
seterusnya. Kejadian satu siklus kita sebut satu perioda. Secara singkat<br />
kita memperoleh<br />
o<br />
o<br />
o<br />
sin 0 = 0; sin 90 = 1; sin180 = 0;<br />
o<br />
o<br />
sin 270 = −1;<br />
sin 360 = 0<br />
<strong>Fungsi</strong> Cosinus. Karena telah ditetapkan r = 1, maka<br />
OQ<br />
cos θ = = OQ<br />
r<br />
70 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
(6.3)<br />
OQ = 1 pada waktu θ = 0, <strong>dan</strong> mengecil jika θ membesar sampai<br />
mencapai minimum OQ = 0 pada waktu θ = π/2. Kemudian OQ<br />
meningkat lagi tetapi negatif <strong>dan</strong> mencapai OQ = −1 pada waktu θ = π.<br />
Sesudah itu OQ mengecil <strong>dan</strong> tetap negatif <strong>dan</strong> mencapai minimum OQ<br />
= 0 pada waktu θ = 1,5π, kemudian meningkat lagi mencapai OQ = 1<br />
pada waktu θ = 2π. Setelah itu keadaan akan berulang, <strong>dan</strong> satu siklus<br />
berikutnya terjadi pada waktu θ = 4π. Kejadian berulang lagi <strong>dan</strong><br />
demikian seterusnya. Secara singkat<br />
o<br />
cos0 = 1;<br />
o<br />
cos270 = 0;<br />
o<br />
cos90 = 0;<br />
o<br />
cos360 = 1<br />
o<br />
cos180 = −1;<br />
Pada Gb.6.1, jika sin(θ) = PQ <strong>dan</strong> cos(θ) = OQ, se<strong>dan</strong>gkan dalil<br />
Pitagoras memberikan PQ 2 + OQ 2 = OP 2 =1, maka<br />
Dari Gb.6.1. dapat kita peroleh juga<br />
2 2<br />
sin ( θ ) + cos ( θ)<br />
= 1<br />
(6.4.a)
P′<br />
Q −PQ<br />
sin( −θ)<br />
= = = −sin<br />
θ<br />
r r<br />
OQ<br />
cos( −θ)<br />
= = cosθ<br />
r<br />
(6.4.b)<br />
(6.4.c)<br />
Pada segitiga siku-siku OPQ maupun OP’Q sisi tegak selalu lebih kecil<br />
dari sisi miring. Oleh karena itulah sinθ maupun cosθ akan bernilai<br />
antara −1 <strong>dan</strong> +1.<br />
<strong>Fungsi</strong> Tangent.<br />
PQ<br />
tan θ =<br />
(6.4.d)<br />
OQ<br />
P′<br />
Q −PQ<br />
tan( −θ)<br />
= = = − tan θ<br />
(6.4.e)<br />
OQ OQ<br />
Nilai tanθ akan menjadi 0 jika θ = 0 o , <strong>dan</strong> akan menuju +∞ jika θ menuju<br />
90 o karena pada waktu itu PQ juga ∞ <strong>dan</strong> tan(−θ) akan menuju −∞ pada<br />
waktu θ menuju −90 o . Jadi tanθ bernilai antara −∞ sampai +∞.<br />
Nilai tanθ = 1 bila θ = 45 o karena pada waktu itu PQ = OQ; tan(−θ) = −1<br />
jika θ = −45 o . Lihat pula kurva pada Gb.6.5.<br />
<strong>Fungsi</strong> Cotangent.<br />
OQ<br />
cot θ =<br />
(6.4.f)<br />
PQ<br />
OQ OQ<br />
cot( −θ)<br />
= = = −cot<br />
θ<br />
(6.4.g)<br />
P′<br />
Q − PQ<br />
Nilai cotθ akan menuju +∞ jika θ menuju 0 o karena PQ akan menuju 0<br />
walau OQ menuju 0; cotθ = 0 jika θ = 90 o karena OQ = 0.<br />
Sebaliknya cotθ akan menuju −∞ jika θ menuju −0 karena P’Q akan<br />
menuju −0; cotθ = 0 jika θ = −90 o karena P’Q menuju −∞. Lihat pula<br />
kurva Gb.6.6.<br />
71
<strong>Fungsi</strong> Secan <strong>dan</strong> Cosecan<br />
1 r<br />
secθ = =<br />
(6.4.h)<br />
cosθ<br />
OQ<br />
1 r<br />
cscθ = =<br />
(6.4.i)<br />
sin θ PQ<br />
Nilai secθ menuju ∞ jika θ menuju 90 o karena OQ menuju 0 <strong>dan</strong> secθ =<br />
1 pada waktu θ = 0 o karena pada waktu itu OQ = r atau cosθ = 1.<br />
Sementara itu cscθ akan menuju ∞ jika θ menuju 0 karena sinθ menuju<br />
0. Lihat pula Gb.6.7.<br />
Relasi-Relasi. Relasi-relasi yang lain dapat kita turunkan dengan<br />
mengunakan Gb.6.2., yaitu<br />
cosα<br />
y<br />
1<br />
sinα cosβ<br />
β<br />
sinα<br />
sinα sinβ<br />
α<br />
cosα sinβ<br />
β<br />
-1 [0,0] 1 x<br />
cosα cosβ<br />
-1<br />
Gb.6.2. Relasi-relasi<br />
sin( α + β)<br />
= sin αcosβ + cosαsinβ<br />
cos( α + β)<br />
= cosαcosβ − sin αsinβ<br />
(6.5)<br />
Karena<br />
sin( −β)<br />
= −sinβ<br />
<strong>dan</strong> cos( −β)<br />
= cosβ<br />
maka kita peroleh pula<br />
sin( α − β)<br />
= sin αcosβ − cosαsinβ<br />
cos( α − β)<br />
= cosαcosβ + sin αsinβ<br />
(6.6)<br />
72 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
6.2. Kurva <strong>Fungsi</strong> Trigonometri Dalam Koordinat x-y<br />
r<br />
θ<br />
s<br />
Bilangan-nyata dengan desimal yang tidak terbatas,<br />
π, digunakan untuk menyatakan besar sudut dengan<br />
satuan radian. Jumlah radian dalam sudut θ<br />
didefinisikan dengan persamaan<br />
θ =<br />
s , s = rθ<br />
(6.7)<br />
r<br />
Jika θ = 360 o maka s menjadi penuh satu keliling lingkaran, atau s = 2πr .<br />
Jadi jumlah radian dalam sudut 360 o adalah 2π. Dengan demikian maka<br />
ukuran sudut<br />
θ 1 = 180 o adalah π rad.<br />
θ 2 = 90 o adalah 0,5π<br />
rad.<br />
θ 3 = 1 o adalah ( π /180) rad. dst.<br />
<strong>Fungsi</strong> Sinus. Dengan menggunakan satuan radian, fungsi trigonometri<br />
akan kita gambarkan pada sistem koordinat x-y, yang kita ketahui bahwa<br />
sumbu-x adalah sumbu bilangan-nyata, termasuk π. Bentuk kurva fungsi<br />
sinus<br />
y = sin(x)<br />
(6.8)<br />
terlihat pada Gb.6.3. yang dibuat untuk nilai x dari −2π sampai +2π.<br />
<strong>Fungsi</strong> ini mencapai nilai maksimum +1 pada x = π/2 atau θ = 90 o ,<br />
mencapai nilai nol pada x = π atau θ = 180 o , mencapai minimum −1 (arah<br />
negatif) pada x = 1,5π atau θ = 270 o , kembali nol pada x = 2π atau θ =<br />
360 o ; inilah satu perioda.<br />
−2π<br />
1,5<br />
y<br />
1<br />
0,5<br />
0<br />
−π 0 π 2π<br />
-0,5<br />
-1<br />
-1,5<br />
Gb.6.3. Kurva fungsi sinus dalam dua perioda.<br />
x<br />
73
<strong>Fungsi</strong> Cosinus. Kurva fungsi cosinus<br />
y = cos(x)<br />
(6.9)<br />
terlihat pada Gb.6.4. <strong>Fungsi</strong> ini mencapai nilai maksimum +1 pada x = 0<br />
atau θ = 0 o , mencapai nilai nol pada x = π/2 atau θ = 90 o , mencapai<br />
minimum −1 (arah negatif) pada x = π atau θ = 180 o , kembali nol pada x<br />
= 1,5π atau θ = 270 o , <strong>dan</strong> ke nilai maksimum +1 lagi setelah satu<br />
perioda, 2π.<br />
−π<br />
1,5<br />
y<br />
1<br />
0,5<br />
-1,5<br />
Gb.6.4. Kurva fungsi cosinus.<br />
<strong>Fungsi</strong> sinus maupun fungsi cosinus adalah fungsi periodik dengan<br />
perioda sama sebesar 2π, dengan nilai maksimum <strong>dan</strong> minimum yang<br />
sama yaitu +1 <strong>dan</strong> −1. Perbedaan antara keduanya terlihat, yaitu<br />
sin( x)<br />
= −sin(<br />
−x)<br />
se<strong>dan</strong>gkan cos( x)<br />
= cos( −x)<br />
(6.10)<br />
<strong>Fungsi</strong> sinus simetris terhadap titik-asal [0,0], <strong>dan</strong> disebut memiliki<br />
simetri ganjil. <strong>Fungsi</strong> cosinus simetris terhadap sumbu-y <strong>dan</strong> disebut<br />
memiliki simetri genap.<br />
Dengan memperbandingkan Gb.6.3. <strong>dan</strong> Gb.6.4 kita lihat bahwa fungsi<br />
sinus dapat dipan<strong>dan</strong>g sebagai fungsi cosinus yang tergeser sejajar<br />
sumbu-x sebesar π/2. Oleh karena itu fungsi sinus dapat kita nyatakan<br />
dalam cosinus<br />
y = sin( x)<br />
= cos( x − π / 2)<br />
(6.11)<br />
<strong>Fungsi</strong> Tangent. Selanjutnya kita lihat fungsi<br />
-1<br />
perioda<br />
0<br />
0 π 2π x<br />
-0,5<br />
sin( x)<br />
y = tan( x)<br />
=<br />
(6.12)<br />
cos( x)<br />
74 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Karena cos(x) = 0 pada x = +π/2 <strong>dan</strong> −π/2, maka tan(x) bernilai tak<br />
hingga pada x = +π/2 <strong>dan</strong> −π/2.<br />
y<br />
3<br />
2<br />
1<br />
0<br />
-1,5π -π -0,5π 0<br />
-1<br />
0,5π π 1,5π<br />
-2<br />
-3<br />
Gb.6.5. Kurva y = tan(x)<br />
<strong>Fungsi</strong> Cotangent. <strong>Fungsi</strong> ini adalah kebalikan dari fungsi tangent.<br />
cos( x)<br />
1<br />
y = cot( x)<br />
= =<br />
(6.13)<br />
sin( x)<br />
tan( x)<br />
Karena sin(x) = 0 pada x = 0, maka cot(x) bernilai tak hingga pada x = 0.<br />
Lihat Gb.6.6.<br />
3<br />
2<br />
1<br />
0<br />
-1,5π -π -0,5π 0 0,5π π 1,5π<br />
-1<br />
-2<br />
-3<br />
Gb.6.6. Kurva y = cot (x)<br />
75
<strong>Fungsi</strong> Secan. <strong>Fungsi</strong> ini adalah kebalikan fungsi cosinus.<br />
1<br />
y = sec( x)<br />
=<br />
(6.14.a)<br />
cos( x)<br />
Kurva fungsi ini terlihat pada Gb.6.7.a. Perhatikan bahwa sec(x) bernilai<br />
1 pada x = 0 karena pada nilai x itu cos(x) juga bernilai 1.<br />
<strong>Fungsi</strong> Cosecan. <strong>Fungsi</strong> ini adalah kebalikan fungsi sinus.<br />
1<br />
y = csc( x)<br />
=<br />
(6.14.b)<br />
sin( x)<br />
Kurva fungsi ini terlihat pada Gb.6.7.b. csc(x) bernilai ∞ pada x = 0 kara<br />
pada nilai x ini sin(x) bernilai 0.<br />
3<br />
2<br />
1<br />
-1,5π -π<br />
0<br />
-0,5π 0 0,5π π 1,5π<br />
-1<br />
-2<br />
(a) y = sec(x)<br />
-3<br />
3<br />
2<br />
1<br />
-1,5π -π<br />
0<br />
-0,5π 0<br />
-1<br />
0,5π π 1,5π<br />
-2<br />
(b) y = csc(x)<br />
-3<br />
Gb.6.7. Kurva y = sec(x) <strong>dan</strong> y = csc(x)<br />
76 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Soal-Soal: Skets kurva fungsi-fungsi berikut:<br />
y = 2sin x ; y = 3sin 2x<br />
; y = 2cos3x<br />
;<br />
y = 3cos(2x<br />
+ π / 4) ; y = 2 tan( x / 3)<br />
6.3. <strong>Fungsi</strong> Trigonometri Inversi<br />
y = sin(x<br />
Sinus Inversi. Jika fungsi sinus kita tuliskan ) , maka fungsi<br />
sinus inversi dituliskan sebagai<br />
−1<br />
y = arcsin x atau y = sin x<br />
(6.15)<br />
Perhatikan bahwa sin −1 x bukan berarti 1/sinx, melainkan inversi sinus x<br />
yang bisa kita baca sebagai: y adalah sudut yang sinusnya sama dengan<br />
x.<br />
Karena fungsi sinus adalah periodik dari −∞ sampai +∞ maka fungsi<br />
y = sin −1 x tidaklah bernilai tunggal. Kurva fungsi ini terlihat pada<br />
Gb.6.8.a.<br />
Ia akan terlihat bernilai tunggal jika kita membatasi nilai y; kita hanya<br />
meninjau fungsi sinus inversi pada<br />
π π<br />
− ≤ y ≤ . Dengan pembatasan ini<br />
2 2<br />
maka kita hanya terlibat dengan nilai-nilai utama dari sin −1 x. Jadi nilai<br />
utama y = sin −1 x terletak pada<br />
π −1 π<br />
− ≤ sin x ≤ . Kurva fungsi<br />
2 2<br />
y = sin −1 x yang dibatasi ini terlihat pada Gb.6.8.b.<br />
Perhatikanlah bahwa pada x = 0, y = sin −1 x = 0 karena pada y = 0 sin(y) =<br />
0 = x. Pada x = 1, y = sin −1 x = π/2 karena sin(y) = sin(π/2) = 1 = x.<br />
Contoh:<br />
−<br />
y = sin 1 (1) = 0,5π<br />
;<br />
−<br />
y = sin 1 ( −1)<br />
= −0,5π<br />
−<br />
sin 1 π<br />
y = (0,5) = ;<br />
6<br />
−<br />
sin 1 π<br />
y = ( −0,5)<br />
= −<br />
6<br />
77
2π<br />
y<br />
π<br />
-1<br />
0<br />
0<br />
1<br />
x<br />
y<br />
0,5π<br />
0,25π<br />
−π<br />
−2π<br />
0<br />
-1 -0,5 0 0,5 1<br />
-0,25π<br />
-0,5π<br />
x<br />
a) b)<br />
Gb.6.8. Kurva y = sin −1 x<br />
Jika kita bandingkan Gb.6.8. (fungsi sinus inversi) dengan Gb.6.3.<br />
(fungsi sinus) terlihat bahwa jika sumbu-y pada Gb.6.8. kita gambarkan<br />
horizontal se<strong>dan</strong>gkan sumbu-x kita gambarkan vertikal, maka kita akan<br />
memperoleh bentuk kurva fungsi sinus pada Gb.6.3. pada rentang<br />
π π<br />
− ≤ y ≤ , yaitu rentang di mana kita membatasi nilai y pada fungsi<br />
2 2<br />
sinus inversi, atau rentang nilai utama fungsi sinus inversi.<br />
Cosinus Inversi. <strong>Fungsi</strong> cosinus inversi kita peroleh melalui hubungan<br />
−1<br />
π −1<br />
y = cos x = − sin x<br />
(6.16)<br />
2<br />
Hubungan ini berasal dari relasi segitiga siku-siku. Jika sudut lancip<br />
segitiga siku-siku adalah α <strong>dan</strong> β, maka β = π/ 2 − α <strong>dan</strong> sin α = cosβ<br />
.<br />
Oleh karena itu jika sin α = x maka cos β = x sehingga<br />
−1<br />
cos x<br />
= β = π<br />
−1<br />
/ 2 − α = π / 2 − sin x<br />
78 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Karena dengan pembatasan<br />
π π<br />
− ≤ y ≤ pada fungsi sinus inversi<br />
2 2<br />
memberikan<br />
π −1 π<br />
1<br />
− ≤ sin x ≤ maka nilai-nilai utama dari cos − x akan<br />
2 2<br />
terletak pada ≤<br />
− 1<br />
0 cos x ≤ π . Gb.6.9.b. memperlihatkan kurva fungsi<br />
cosinus inversi pada nilai utama.<br />
Perhatikan bahwa jika sumbu-x digambar vertikal se<strong>dan</strong>g sumbu-y<br />
digambar horizontal, kita dapatkan fungsi cosinus seperti pada Gb.6.4.<br />
dalam rentang 0 ≤ x ≤ π .<br />
y<br />
-1<br />
π<br />
0<br />
0<br />
1<br />
x<br />
y<br />
1π<br />
0,75π<br />
0,5π<br />
−π<br />
0,25π<br />
a) b)<br />
Gb.6.9. Kurva y = cos −1 x<br />
Tangent Inversi. <strong>Fungsi</strong> tangent inversi adalah<br />
0<br />
-1 -0,5 0 0,5 1<br />
y = tan −1 x<br />
(6.17)<br />
π<br />
dengan nilai utama<br />
1 π<br />
− < tan<br />
− x <<br />
2<br />
2<br />
Untuk fungsi ini, nilai y = ±(π / 2)<br />
tidak kita masukkan pada<br />
pembatasan untuk y karena nilai tangent akan menjadi tak hingga pada<br />
nilai y tersebut. Gb.6.10.a. memperlihatkan kurva y = tan −1 x lengkap<br />
se<strong>dan</strong>gkan Gb.6.10.b. dibatasi pada nilai − 0,5π < y < 0. 5π<br />
.<br />
x<br />
79
1,5π<br />
y<br />
π<br />
0,5π<br />
-3 -2<br />
0<br />
-1 0 1 2 3<br />
-0,5π<br />
-π<br />
x<br />
0,5π<br />
y<br />
0,25π<br />
0<br />
-10 -5 0 5 x 10<br />
-0,25π<br />
-1,5π<br />
a) b)<br />
Gb.6.10. Kurva<br />
y = tan −1 x<br />
Jika kita mempertukarkan posisi sumbu-x <strong>dan</strong> sumbu-y pada Gb.6.10.b<br />
ini, kita akan memperoleh kurva pada Gb.6.5. yaitu kurva fungsi tangent,<br />
dalam rentang<br />
π −1 π<br />
− < tan x <<br />
2 2<br />
Inilah batas nilai-nilai utama fungsi tangent inversi.<br />
Cotangent inversi. <strong>Fungsi</strong> ini diperoleh melalui hubungan<br />
−1<br />
π −1<br />
y = cot x = − tan x<br />
(6.18)<br />
2<br />
dengan nilai utama <<br />
− 1<br />
0 cot x < π<br />
0 <strong>dan</strong> π tidak masuk dalam pembatasan y karena pada nilai tersebut y<br />
menjadi tak hingga.<br />
Hubungan (6.18) diperoleh dari segitiga siku-siku. Jika sudut lancip<br />
segitiga siku-siku adalah α <strong>dan</strong> β, maka β = π/ 2 − α <strong>dan</strong> tan α = cotβ<br />
.<br />
Oleh karena itu jika tan α = x maka cot β = x sehingga<br />
−1<br />
cot x<br />
= β = π<br />
-0,5π<br />
−1<br />
/ 2 − α = π / 2 − tan x<br />
Kurva fungsi cotangent inversi terlihat pada Gb.6.11.<br />
80 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
1π<br />
y<br />
0,5π<br />
0<br />
-10 -5 0 5 x 10<br />
Gb.6.11. Kurva<br />
y<br />
= cot −1<br />
Pertukaran posisi sumbu-x <strong>dan</strong> sumbu-y Gb.6.11. ini akan memberikan<br />
bentuk kurva fungsi cotangent pada Gb.6.6.<br />
<strong>Fungsi</strong> Secan Inversi. Selanjutnya kita memperoleh fungsi secan inversi<br />
x<br />
1<br />
y = sec<br />
−1 x = cos<br />
−1<br />
(6.19)<br />
x<br />
dengan nilai utama<br />
π<br />
− 1<br />
0 ≤ sec x ≤ π .<br />
0,75π<br />
0,5π<br />
0,25<br />
0<br />
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4<br />
Gb.6.12. Kurva<br />
y<br />
= sec −1<br />
x<br />
<strong>Fungsi</strong> Cosecan Inversi.<br />
1<br />
csc<br />
−1 x = sin<br />
−1<br />
(6.20)<br />
x<br />
dengan nilai utama<br />
π −1 π<br />
− ≤ csc x ≤<br />
2 2<br />
81
Pertukaran posisi sumbu-x <strong>dan</strong> sumbu-y pada gambar kurva kedua fungsi<br />
terakhir ini juga akan memberikan bentuk kurva fungsi non-konversinya.<br />
0,5π<br />
y<br />
0,25π<br />
0<br />
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 x 4<br />
-0,25π<br />
-0,5π<br />
Gb.6.12. Kurva<br />
y = csc −1 x<br />
Hubungan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> Inversi. Hubungan antara fungsi inversi<br />
dengan fungsi-fungsi non-inversi dapat kita cari dengan menggunakan<br />
gambar segitiga siku-siku.<br />
1). Dari fungsi y = sin −1 x , yaitu sudut y yang sinus-nya adalah x<br />
dapat kita gambarkan segitiga siku-siku dengan sisi miring sama<br />
dengan 1 seperti terlihat di bawah ini.<br />
y<br />
1<br />
x<br />
Dari gambar ini selain fungsi<br />
dapat peroleh<br />
cos<br />
2<br />
y = − x ,<br />
1<br />
2<br />
1 − x<br />
y = sin −1 x <strong>dan</strong> sin y = x , kita<br />
x<br />
y = , dst.<br />
2<br />
− x<br />
82 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
tan<br />
2). Dari fungsi cosinus inversi y = cos −1 x dapat kita gambarkan<br />
segitiga siku-siku seperti di bawah ini.<br />
1
1 2<br />
1 x −<br />
y<br />
x<br />
Selain<br />
cos y = x dari gambar ini kita dapatkan<br />
sin<br />
2<br />
y = − x ,<br />
1<br />
2<br />
1 − x<br />
tan y = , dst.<br />
x<br />
3). Dari fungsi y = tan −1 x , kita gambarkan segitiga seperti di<br />
bawah ini.<br />
Selain<br />
tan y =<br />
sin<br />
x , kita peroleh<br />
x<br />
y = ,<br />
2<br />
+ x<br />
1<br />
2<br />
1 + x<br />
y<br />
1<br />
cos<br />
y = , dst<br />
2<br />
+ x<br />
1<br />
x<br />
1<br />
4). Dari fungsi y = sec −1 x kita gambarkan<br />
y<br />
x<br />
x 2 − 1<br />
1<br />
Dari gambar ini kita peroleh<br />
tan<br />
2<br />
y = − x ,<br />
1<br />
x<br />
2 −1<br />
sin y = , dst.<br />
x<br />
83
Soal-Soal:<br />
1) Dari fungsi y = cot −1 x tentukan sin y <strong>dan</strong> cos y<br />
2) Dari fungsi y = csc −1 x tentukan tan y <strong>dan</strong> cos y<br />
84 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 7<br />
Gabungan <strong>Fungsi</strong> Sinus<br />
7.1. <strong>Fungsi</strong> Sinus Dan Cosinus<br />
Banyak peristiwa terjadi secara siklis sinusoidal, seperti misalnya<br />
gelombang cahaya, gelombang radio pembawa, gelombang tegangan<br />
listrik sistem tenaga, dsb. Peristiwa-peristiwa itu merupakan fungsi<br />
waktu, sehingga kita akan melihatnya dengan menggunakan waktu<br />
sebagai peubah bebas, dengan simbol t, satuan detik.<br />
Dalam peristiwa sinusoidal, jumlah siklus yang terjadi setiap detik<br />
disebut frekuensi siklus, dengan simbol f , dengan satuan Hertz (1 Hz = 1<br />
siklus per detik). Jadi jika fungsi sinus memiliki perioda T 0 maka<br />
1<br />
f 0 = (7.1)<br />
T0<br />
Sebagaimana dikemukakan di bab sebelumnya, kita menggunakan<br />
jumlah radian untuk menyatakan sudut. Karena satu siklus perubahan<br />
sudut bersesuaian dengan perubahan sebesar 2π radian, maka f siklus per<br />
detik bersesuaian dengan 2πf radian per detik. Jadi di samping frekuensi<br />
siklus f kita memiliki frekuensi sudut dengan simbol ω, dengan satuan<br />
radian per detik. Relasi antara frekuensi siklus (f) dengan frekuensi sudut<br />
(ω), <strong>dan</strong> juga dengan perioda (T 0 ), adalah<br />
2π<br />
ω = 2πf0<br />
=<br />
(7.2)<br />
T0<br />
Suatu fungsi cosinus yang memiliki amplitudo (nilai puncak) A<br />
dituliskan sebagai<br />
⎛ 2πt<br />
⎞<br />
y = Acosωt<br />
= Acos⎜<br />
⎟<br />
(7.3)<br />
⎝ T0<br />
⎠<br />
Catatan: Sebelum kita lanjutkan pembahasan kita, ada sedikit catatan<br />
yang perlu dicermati. Di bab sebelum ini kita menyatakan fungsi<br />
sinus y = sin(x)<br />
atau fungsi cosinus y = cos(x)<br />
dengan x sebagai<br />
peubah bebas dengan satuan radian. Pada (7.3) kita menyatakan<br />
fungsi cosinus y = cos ωt<br />
dengan t sebagai peubah bebas dengan<br />
satuan detik. Faktor ω-lah yang membuat satuan detik menjadi<br />
radian; ω disebut frekuensi susut, satuan rad/detik.<br />
85
Gb.7.1. memperlihatkan kurva fungsi cosinus. Jika fungsi cosinus ini kita<br />
geser ke arah positif sebesar ¼ perioda kita akan mendapatkan fungsi<br />
sinus. Gb.7.2.<br />
⎛ π ⎞<br />
⎛ 2πt<br />
⎞<br />
y = Acos⎜<br />
ωt<br />
− ⎟ = Asin<br />
ωt<br />
= Asin⎜<br />
⎟<br />
⎝ 2 ⎠<br />
(7.4)<br />
⎝ T0<br />
⎠<br />
y<br />
A<br />
T 0<br />
0<br />
0 t<br />
-A<br />
Gb.7.1. <strong>Fungsi</strong> cosinus<br />
y<br />
⎛ 2πt<br />
⎞<br />
y = Acosωt<br />
= Acos⎜<br />
⎟<br />
⎝ T0<br />
⎠<br />
A<br />
T 0<br />
0<br />
0 t<br />
-A<br />
Gb.7.2. <strong>Fungsi</strong> sinus<br />
⎛ 2πt<br />
⎞ ⎛ π ⎞<br />
y = Asin<br />
ωt<br />
= Asin⎜<br />
⎟<br />
= Acos⎜ωt<br />
− ⎟<br />
⎝ T0<br />
⎠ ⎝ 2 ⎠<br />
Pergeseran fungsi cosinus sebesar T s diperlihatkan pada Gb.7.3.<br />
Persamaan kurva cosinus tergeser ini adalah<br />
y = Acosω<br />
⎛ 2πt<br />
( t − T ) = Acos⎜<br />
− s<br />
s<br />
T ⎟ 0 T0<br />
⎠<br />
⎝<br />
2πT<br />
⎞<br />
86 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
y<br />
A<br />
T 0<br />
0<br />
0 T s<br />
t<br />
-A<br />
Gb.7.3. <strong>Fungsi</strong> cosinus tergeser<br />
Kita perhatikan bahwa puncak pertama fungsi cosinus menunjukkan<br />
pergeseran. Pada Gb.7.1. pergeseran adalah nol. Pada Gb.7.3. pergeseran<br />
adalah T s . Pada Gb.7.2. pergeseran adalah π/2 yang kemudian menjadi<br />
kurva fungsi sinus. Jadi akan sangat mudah menuliskan persamaan suatu<br />
fungsi sinusoidal sembarang, yaitu dengan menuliskannya dalam bentuk<br />
cosinus, dengan memasukkan pergeseran yang terjadi yaitu yang<br />
ditunjukkan oleh posisi puncak yang pertama.<br />
Untuk selanjutnya, peristiwa-peristiwa yang berubah secara sinusoidal<br />
kita nyatakan dengan menggunakan fungsi cosinus, yang dianggap<br />
sebagai bentuk normal<br />
Perhatikanlah bahwa T s adalah pergeseran waktu dalam detik, sehingga<br />
fungsi sinusoidal dengan pergeseran T s kita tuliskan (Gb.7.3)<br />
yang dapat pula kita tuliskan<br />
y = Acos<br />
ω<br />
y = Acos<br />
( t − )<br />
T s<br />
( ωt<br />
− ω )<br />
Pada penulisan terakhir ini, ωT s mempunyai satuan radian, sama dengan<br />
satuan ωt. Selanjutnya<br />
2πTs<br />
ϕ = ωTs<br />
=<br />
(7.5)<br />
T0<br />
disebut sudut fasa dari fungsi cosinus <strong>dan</strong> menunjukkan posisi puncak<br />
pertama dari fungsi cosinus. <strong>Fungsi</strong> cosinus dengan sudut fasa ϕ kita<br />
tuliskan<br />
( ω − ϕ)<br />
T s<br />
y = cos t<br />
(7.6)<br />
87
Jika ϕ = π/2 maka kita mempunyai fungsi sinus. Jadi untuk mengubah<br />
fungsi sinus ke dalam format normal (menggunakan fungsi cosinus) kita<br />
menambahkan pergeseran sebesar π/2 pada fungsi cosinus.<br />
7.2. Kombinasi <strong>Fungsi</strong> Sinus.<br />
Dalam tinjauan selanjutnya, jika disebut fungsi sinus, yang dimaksudkan<br />
adalah fungsi sinus yang dinyatakan dalam bentuk normal, yaitu cosinus.<br />
<strong>Fungsi</strong> sinus adalah fungsi periodik. <strong>Fungsi</strong>-fungsi periodik lain yang<br />
bukan sinus, dapat dinyatakan sebagai jumlah dari fungsi-fungsi sinus.<br />
Atau dengan kata lain suatu fungsi periodik dapat diuraikan menjadi<br />
jumlah dari beberapa komponen sinus, yang memiliki amplitudo, sudut<br />
fasa, <strong>dan</strong> frekuensi yang berlainan satu sama lain. Dalam penguraian itu,<br />
fungsi akan terdiri dari komponen-komponen yang berupa komponen<br />
searah (nilai rata-rata dari fungsi), komponen sinus dengan frekuensi<br />
dasar f 0 , <strong>dan</strong> harmonisa yang memiliki frekuensi harmonisa nf 0 .<br />
Sebaliknya dapat juga dikatakan bahwa jumlah dari beberapa fungsi<br />
sinus yang memiliki amplitudo, frekuensi, serta sudut fasa yang<br />
berlainan, akan membentuk fungsi periodik, walaupun bukan berbentuk<br />
sinus. Gb.7.4. memperlihatkan beberapa bentuk fungsi periodik; bentuk<br />
fungsi-fungsi periodik ini tergantung macam komponen sinus yang<br />
menyusunnya.<br />
Frekuensi harmonisa adalah nilai frekuensi yang merupakan kelipatan<br />
bulat n dari frekuensi dasar f 0 . Frekuensi f 0 kita sebut sebagai frekuensi<br />
dasar karena frekuensi inilah yang menentukan perioda T 0 = 1/f 0 .<br />
Frekuensi harmonisa dimulai dari harmonisa kedua (2f o ), harmonisa<br />
ketiga (3f 0 ), <strong>dan</strong> seterusnya, yang secara umum kita katakan harmonisa<br />
ke-n mempunyai frekuensi nf 0 .<br />
7.3. Spektrum Dan Lebar Pita.<br />
Spektrum. Jika kita menghadapi suatu fungsi periodik, kita bisa<br />
mempertanyakan bagaimana komponen-komponen sinusoidalnya.<br />
Bagaimana penyebaran amplitudo <strong>dan</strong> sudut fasa setiap komponen, atau<br />
dengan singkat bagaimana spektrum fungsi tersebut. Kita juga<br />
mempertanyakan bagaimana sebaran frekuensi dari komponenkomponen<br />
tersebut.<br />
88 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
4<br />
y<br />
y<br />
4<br />
0<br />
-5 15 t<br />
-4 y = 3 cos 2f 0 t<br />
-5<br />
0<br />
15 t<br />
-4 y = 1 + 3 cos 2f 0 t<br />
y<br />
4<br />
- 5<br />
0<br />
15<br />
t<br />
- 4<br />
y = 1+<br />
3cos 2πf0t<br />
− 2cos(2π(2<br />
f0)<br />
t)<br />
1<br />
-5 15<br />
-4<br />
y = 1+<br />
3cos 2π f0t<br />
− 2cos(2π(2<br />
f0)<br />
t + π / 4)<br />
Gb.7.4. Beberapa fungsi periodik.<br />
Berikut ini kita akan melihat suatu contoh fungsi yang dinyatakan<br />
dengan persamaan<br />
( 2πf<br />
t) + 15sin( 2π(2<br />
f ) t) − 7,5cos( 2 (4 f t)<br />
y = 10 + 30 cos 0 0<br />
π 0)<br />
<strong>Fungsi</strong> ini merupakan jumlah dari satu komponen konstan <strong>dan</strong> tiga<br />
komponen sinus. Komponen konstan sering disebut komponen<br />
berfrekuensi nol karena y(t) = A cos(2πft) = A jika f = 0. Komponen<br />
sinus yang pertama adalah komponen sinus dasar karena komponen<br />
inilah yang mempunyai frekuensi paling rendah tetapi tidak nol. Suku<br />
ketiga <strong>dan</strong> keempat adalah harmonisa ke-2 <strong>dan</strong> ke-4; harmonisa ke-3<br />
tidak ada.<br />
<strong>Fungsi</strong> ini dinyatakan dengan campuran fungsi sinus <strong>dan</strong> cosinus. Untuk<br />
melihat bagaimana spektrum fungsi ini, kita harus menuliskan tiap suku<br />
dengan bentuk yang sama yaitu bentuk normal (standar). Telah dikatakan<br />
89
di depan bahwa bentuk normal pernyataan fungsi sinusoidal adalah<br />
menggunakan fungsi cosinus, yaitu y = Acos(<br />
2πft<br />
+ ϕ)<br />
.<br />
Dengan menggunakan kesamaan<br />
sin( 2πft ) = cos(2πft<br />
− π / 2) <strong>dan</strong> −cos(<br />
2πft<br />
) = cos(2πft<br />
+ π)<br />
persamaan fungsi di atas dapat kita tulis<br />
y = 10 + 30 cos(2πf0t)<br />
+ 15cos(2π2<br />
f0t<br />
− π / 2) + 7,5cos(2π4<br />
f0t<br />
+ π)<br />
Dalam pernyataan terakhir ini semua suku telah kita tuliskan dalam<br />
bentuk standar, <strong>dan</strong> kita dapat melihat amplitudo <strong>dan</strong> sudut fasa dari tiap<br />
komponen seperti dalam tabel berikut.<br />
Frekuensi 0 f 0 2 f 0 4 f 0<br />
Amplitudo 10 30 15 7,5<br />
Sudut fasa − 0 −π/2 π<br />
<strong>Fungsi</strong> yang kita ambil sebagai cintoh mungkin merupakan pernyataan<br />
suatu sinyal (dalam rangkaian listrik misalnya). Tabel ini menunjukkan<br />
apa yang disebut sebagai spektrum dari sinyal yang diwakilinya. Suatu<br />
spektrum sinyal menunjukkan bagaimana komposisi baik amplitudo<br />
maupun sudut fasa dari semua komponen cosinus sebagai fungsi dari<br />
frekuensi. Sinyal yang kita bahas ini berisi empat macam frekuensi, yaitu<br />
: 0, f 0 , 2f 0 , <strong>dan</strong> 4f 0 . Amplitudo dari setiap frekuensi secara berturut-turut<br />
adalah 10, 30, 15, <strong>dan</strong> 7,5 satuan (volt misalnya, jika ia adalah sinyal<br />
tegangan). Sudut fasa dari komponen sinus yang berfrekuensi f 0 , 2f 0 <strong>dan</strong><br />
4f 0 berturut turut adalah 0, −π/2, <strong>dan</strong> π radian.<br />
Dari tabel tersebut di atas kita dapat menggambarkan dua grafik yaitu<br />
grafik amplitudo <strong>dan</strong> grafik sudut fasa, masing-masing sebagai fungsi<br />
frekuensi. <strong>Grafik</strong> yang pertama kita sebut spektrum amplitudo (Gb.7.5.a)<br />
<strong>dan</strong> grafik yang kedua kita sebut spektrum sudut fasa (Gb.7.5.b).<br />
90 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
40<br />
Amplitudo<br />
30<br />
20<br />
10<br />
0<br />
0 1 2 3 4 5<br />
Frekuensi [×f 0]<br />
Gb.7.5.a. Spektrum Amplitudo<br />
2π<br />
Sudut Fasa<br />
π/2<br />
0<br />
0 1 2 3 4 5<br />
−π/2<br />
−2π<br />
Frekuensi [×f 0]<br />
Gb.7.5.b. Spektrum sudut fasa.<br />
Penguraian fungsi periodik menjadi penjumlahan harmonisa sinus, dapat<br />
dilakukan untuk semua bentuk fungsi periodik dengan syarat tertentu.<br />
<strong>Fungsi</strong> persegi misalnya, yang juga periodik, dapat diuraikan menjadi<br />
jumlah harmonisa sinus. Empat suku pertama dari persamaan hasil uraian<br />
fungsi persegi ini adalah sebagai berikut :<br />
A<br />
y = Acos(2πf<br />
0t<br />
− π / 2) + cos(2π3<br />
f0t<br />
− π/<br />
2)<br />
3<br />
A<br />
A<br />
+ cos(2π5<br />
f0t<br />
− π/<br />
2) + cos(2π7<br />
f0t<br />
− π/<br />
2) + ....<br />
5<br />
7<br />
Dari persamaan ini, terlihat bahwa semua harmonisa mempunyai sudut<br />
fasa sama besar yaitu –π/2; amplitudonya menurun dengan meningkatnya<br />
frekuensi dengan faktor 1/n; tidak ada komponen konstan <strong>dan</strong> tidak ada<br />
harmonisa genap. Tabel amplitudo <strong>dan</strong> sudut fasa adalah seperti berikut.<br />
91
Frekuensi: 0 f 0 2f 0 3f 0 4f 0 5f 0 .. nf 0<br />
Amplitudo: 0 A 0 A/3 0 A/5 .. A/n<br />
Sudut Fasa: - -π/2 - -π/2 - -π/2 .. -π/2<br />
Gb.7.6. berikut ini memperlihatkan bagaimana fungsi persegi dibangun<br />
dari harmonisa-harmonisanya.<br />
a) b)<br />
c)<br />
d)<br />
e)<br />
Gb.7.10. Uraian fungsi persegi.<br />
a). sinus dasar. b). harmonisa-3 <strong>dan</strong> sinus dasar + harmonisa-3.<br />
c). harmonisa-5 <strong>dan</strong> sinus dasar + harmonisa-3 + harmonisa-5.<br />
d). harmonisa-7 <strong>dan</strong> sinus dasar + harmonisa-3 + harmonisa-5 +<br />
harmonisa-7. e) hasil penjumlahan yang dilakukan sampai pada<br />
harmonisa ke-21.<br />
Lebar Pita. Dari contoh fungsi persegi di atas, terlihat bahwa dengan<br />
menambahkan harmonisa-harmonisa pada sinus dasarnya kita akan<br />
makin mendekati bentuk persegi. Penambahan ini dapat kita lakukan<br />
terus sampai ke suatu harmonisa tinggi yang memberikan bentuk fungsi<br />
yang kita anggap cukup memuaskan artinya cukup dekat dengan bentuk<br />
yang kita inginkan.<br />
Pada spektrum amplitudo, kita juga dapat melihat bahwa makin tinggi<br />
frekuensi harmonisa akan makin rendah amplitudonya. Hal ini tidak<br />
hanya berlaku untuk fungsi persegi saja melainkan berlaku secara umum.<br />
Oleh karena itu secara umum kita dapat menetapkan suatu batas<br />
92 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
frekuensi tertinggi dari suatu fungsi periodik, dengan menganggap<br />
amplitudo harmonisa-harmonisa yang frekuensinya di atas frekuensi<br />
tertinggi ini dapat diabaikan. Batas frekuensi tertinggi tersebut dapat kita<br />
tetapkan, misalnya frekuensi harmonisa yang amplitudonya tinggal 2%<br />
dari amplitudo sinus dasar.<br />
Jika batas frekuensi tertinggi kita tetapkan, batas frekuensi terendah juga<br />
perlu kita tetapkan. Batas frekuensi terendah adalah frekuensi sinus dasar<br />
jika bentuk fungsi yang kita tinjau tidak mengandung komponen konstan.<br />
Jika mengandung komponen konstan maka frekuensi terendah adalah<br />
nol. Selisih dari frekuensi tertinggi <strong>dan</strong> terendah disebut lebar pita (band<br />
width).<br />
93
Soal-Soal: <strong>Fungsi</strong> Sinus, Gabungan Sinus, Spektrum<br />
1. Tentukan persamaan bentuk kurva fungsi sinus berikut ini<br />
dalam format cosinus y = Acos(<br />
x − xs<br />
) :<br />
a). Amplitudo 10, puncak pertama terjadi pada x = 0, frekuensi<br />
siklus 10 siklus/skala.<br />
b). Amplitudo 10, puncak pertama terjadi pada x = 0,02,<br />
frekuensi siklus 10 siklus/skala.<br />
c). Amplitudo 10, pergeseran sudut fasa 0 o , frekuensi sudut 10<br />
rad/skala.<br />
d). Amplitudo 10, pergeseran sudut fasa +30 o , frekuensi sudut<br />
10 rad/skala.<br />
2. Carilah spektrum amplitudo <strong>dan</strong> sudut fasa dari fungsi gabungan<br />
sinus berikut ini<br />
y = 4 + 5sin 2π2000t<br />
− 2cos 2π4000t<br />
+ 0,2sin 2π8000t<br />
Dengan mengambil batas amplitudo harmonisa tertinggi 5%,<br />
tentukan lebar pita fungsi ini.<br />
3. Ulangi soal sebelumnya untuk fungsi berikut.<br />
o<br />
y = 3cos(2π1000t<br />
− 60 ) - 2sin2π2000t<br />
+ cos2π8000t<br />
4. Ulangi soal sebelumnya untuk fungsi berikut.<br />
y = 10cos100t<br />
+ 2cos300t<br />
+ cos500t<br />
+ 0.2cos1500t<br />
+ 0,02cos5000t<br />
5. Ulangi soal sebelumnya untuk fungsi berikut.<br />
y = 10 + 10cos 2π500t<br />
+ 3cos 2π1000t<br />
+ 2cos 2π1500t<br />
+ 0,2cos 2π2000t<br />
94 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 8<br />
<strong>Fungsi</strong> Logaritma atural, Eksponensial,<br />
Hiperbolik<br />
8.1. <strong>Fungsi</strong> Logarithma atural.<br />
Definisi. Logaritma natural adalah logaritma dengan menggunakan basis<br />
bilangan e. Bilangan e ini, seperti halnya bilangan π, adalah bilangannyata<br />
dengan desimal tak terbatas. Sampai dengan 10 angka di belakang<br />
koma, nilainya adalah<br />
e = 2,7182818284<br />
Bilangan e merupakan salah satu bilangan-nyata yang sangat penting<br />
dalam matematika:<br />
ln e = 1<br />
(8.1)<br />
ln e a = a ln e = a<br />
(8.2)<br />
Kita lihat sekarang fungsi logaritma natural. <strong>Fungsi</strong> logaritma natural<br />
dari x dituliskan sebagai<br />
y = ln x<br />
(8.3)<br />
<strong>Fungsi</strong> ini didefinisikan melalui integral (mengenai integrasi akan kita<br />
pelajari pada Bab-12), yaitu<br />
=<br />
∫<br />
x 1<br />
ln x dt<br />
(8.4)<br />
1 t<br />
Di sini kita akan melihat definisi tersebut secara grafis di mana integral<br />
dengan batas tertentu seperti (8.4) berarti luas bi<strong>dan</strong>g antara fungsi 1/t<br />
<strong>dan</strong> sumbu-x yang dibatasi oleh t = 1 <strong>dan</strong> t = x . Perhatikan Gb.8.1. Nilai<br />
fungsi y = ln x adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh kurva (1/t) <strong>dan</strong><br />
sumbu-t, dalam rentang antara t = 1 <strong>dan</strong> t = x.<br />
6<br />
y<br />
5<br />
4<br />
3<br />
2<br />
1<br />
1/t<br />
ln x<br />
0<br />
t<br />
0 1 2 x 3 4<br />
Gb.8.1. Definisi ln x ditunjukkan secara grafis.<br />
95
Kurva fungsi y = ln x dalam koordinat x-y adalah seperti pada Gb.8.2.<br />
Nilai ln x = 1 terjadi pada nilai x = e.<br />
2<br />
y<br />
1,5<br />
1<br />
0,5<br />
-1<br />
-1,5<br />
-2<br />
Gb.8.2. Kurva y = ln x.<br />
y = ln x<br />
0<br />
0<br />
-0,5<br />
1 2 e 3 x 4<br />
Sifat-Sifat. Sifat-sifat logaritma natural mirip dengan logaritma biasa.<br />
Jika x <strong>dan</strong> a adalah positif <strong>dan</strong> n adalah bilangan rasional, maka:<br />
ln ax = ln a + ln x<br />
ln<br />
ln x<br />
ln e = 1<br />
ln e<br />
x<br />
= ln x − ln a;<br />
a<br />
n<br />
x<br />
= nln<br />
x<br />
= x<br />
ln x bernilai negatif untuk x < 1<br />
(8.5)<br />
Soal-Soal<br />
Dengan membagi luas bi<strong>dan</strong>g di bawah kurva (1/t) pada Gb.8.1<br />
dalam segmen-segmen selebar ∆t = 0,1 <strong>dan</strong> mendekati luas segmen<br />
sebagai luas trapesium, hitunglah<br />
1). ln 1,5 2). ln 2 ; 3). ln 0,5<br />
96 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
8.2. <strong>Fungsi</strong> Eksponensial<br />
Antilogaritma <strong>dan</strong> <strong>Fungsi</strong> Eksponensial. Antilogaritma adalah inversi<br />
dari logaritma; kita melihatnya sebagai suatu fungsi<br />
x = ln y<br />
(8.6)<br />
Mengingat sifat logaritma sebagaimana disebutkan di atas, ekspresi ini<br />
ekivalen dengan<br />
yang disebut fungsi eksponensial.<br />
x<br />
y = e<br />
(8.7)<br />
<strong>Fungsi</strong> eksponensial yang penting <strong>dan</strong> sering kita jumpai adalah fungsi<br />
eksponensial dengan eksponen negatif; fungsi ini dianggap mulai muncul<br />
pada x = 0 walaupun faktor u(x), yaitu fungsi anak tangga satuan, tidak<br />
dituliskan.<br />
−bx y = ae ; x ≥ 0<br />
(8.8)<br />
Eksponen negatif ini menunjukkan bahwa makin besar bx maka nilai<br />
fungsi makin kecil. untuk suatu nilai b tertentu, makin besar x fungsi ini<br />
akan makin menurun. Makin besar b akan makin cepat penurunan<br />
tersebut.<br />
Dengan mengambil nilai a = 1, kita akan melihat bentuk kurva fungsi<br />
eksponensial (8.8) untuk beberapa nilai b, dalam rentang x ≥ 0 seperti<br />
terlihat pada Gb.8.3. Pada Gb.8.3. ini terlihat bahwa makin besar nilai b,<br />
makin cepat fungsi menurun.<br />
y<br />
1<br />
0,8<br />
0,6<br />
e − x<br />
e −2x<br />
0,4<br />
0,2<br />
0<br />
0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 x 4<br />
Gb.8.3. Perbandingan kurva y = e −x <strong>dan</strong> y = e −2x .<br />
97
Penurunan kurva fungsi eksponensial ini sudah mencapai sekitar 36%<br />
dari nilai awalnya (yaitu nilai pada x = 0), pada saat x = 1/b. Pada saat x<br />
= 5b kurva sudah sangat menurun mendekati sumbu-x, nilai fungsi sudah<br />
di bawah 1% dari nilai awalnya. Oleh karena itu fungsi eksponensial<br />
biasa dianggap sudah bernilai nol pada x = 5/b.<br />
Persamaan umum fungsi eksponensial dengan amplitudo A adalah<br />
−at<br />
y = Ae u(t)<br />
(8.9)<br />
Faktor u(t) adalah fungsi anak tangga satuan untuk menyatakan bahwa<br />
kita hanya meninjau keadaan pada t ≥ 0. <strong>Fungsi</strong> ini menurun makin cepat<br />
jika a makin besar. Didefinisikanlah<br />
sehingga (8.9) dituliskan<br />
1<br />
τ =<br />
(8.10)<br />
a<br />
/<br />
y = Ae u(<br />
t)<br />
(8.11)<br />
−t τ<br />
τ disebut konstanta waktu; makin kecil τ, makin cepat fungsi<br />
eksponensial menurun.<br />
Gabungan <strong>Fungsi</strong> Eksponensial. Gabungan fungsi eksponensial yang<br />
banyak dijumpai dalam rekayasa adalah eksponensial ganda yaitu<br />
penjumlahan dua fungsi eksponensial. Kedua fungsi mempunyai<br />
amplitudo sama tetapi berlawanan tanda; konstanta waktu dari keduanya<br />
juga berbeda. Persamaan fungsi gabungan ini adalah<br />
−t<br />
/ τ1 −t<br />
/ τ2<br />
( − e ) u(<br />
t)<br />
y = A e<br />
(8.12)<br />
Bentuk kurva dari fungsi ini terlihat pada Gb.8.4.<br />
<strong>Fungsi</strong> ini dapat digunakan untuk memodelkan surja. Gelombang surja<br />
(surge) merupakan jenis pulsa yang awalnya naik dengan cepat sampai<br />
suatu nilai maksimum tertentu kemudian menurun dengan agak lebih<br />
lambat. Surja tegangan yang dibangkitkan untuk keperluan laboratorium<br />
berbentuk “mulus” namun kejadian alamiah yang sering dimodelkan<br />
dengan surja tidaklah mulus, misalnya arus terpaan petir.<br />
98 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
5<br />
A<br />
4<br />
3<br />
y<br />
1<br />
= Ae<br />
y<br />
2<br />
−t<br />
/ τ<br />
= Ae<br />
1<br />
−t<br />
/ τ<br />
y = A e<br />
2<br />
−t<br />
/ τ1 −t<br />
/ τ2<br />
( − e )<br />
2<br />
1<br />
0<br />
0<br />
0 1 2 3 4 5<br />
t/τ<br />
Gb.8.4. Kurva gabungan dua fungsi eksponensial.<br />
Soal-Soal<br />
1. Gambarkan <strong>dan</strong> tentukan persamaan kurva fungsi eksponensial<br />
yang muncul pada x = 0 <strong>dan</strong> konstanta τ , berikut ini :<br />
a). y a = amplitudo 5, τ = 2.<br />
b). y b = amplitudo 10, τ = 2.<br />
c). y c = amplitudo −5, τ = 4.<br />
2. Dari fungsi pada soal 10, gambarkanlah bentuk kurva fungsi<br />
berikut.<br />
a). y<br />
c). y<br />
d<br />
b). y<br />
e<br />
f<br />
= y<br />
= y<br />
a<br />
a<br />
= y<br />
a<br />
+ y<br />
+ y<br />
b<br />
c<br />
+ y<br />
b<br />
+ y<br />
3. Gambarkanlah bentuk kurva fungsi berikut.<br />
a).<br />
b).<br />
y<br />
y<br />
c<br />
−0,5x<br />
10{ 1−<br />
e }<br />
−0,2x<br />
{ 10 − 5e<br />
}<br />
u(<br />
1 =<br />
x<br />
u(<br />
2 =<br />
x<br />
)<br />
)<br />
99
8.3. <strong>Fungsi</strong> Hiperbolik<br />
Definisi. Kombinasi tertentu dari fungsi eksponensial membentuk fungsi<br />
hiperbolik, seperti cosinus hiperbolik (cosh) <strong>dan</strong> sinus hiperbolik (sinh)<br />
v −v<br />
v −v<br />
e + e<br />
e − e<br />
cosh v = ; sinh v =<br />
(8.13)<br />
2<br />
2<br />
Persamaan (8.13) ini merupakan definisi dari cosinus hiperbolik <strong>dan</strong><br />
sinus hiperbolik. Definisi ini mengingatkan kita pada fungsi trigonometri<br />
biasa cosinus <strong>dan</strong> sinus. Pada fungsi trigonometri biasa, jika x = cosθ <strong>dan</strong><br />
y = sinθ maka fungsi sinus <strong>dan</strong> cosinus ini memenuhi persamaan<br />
“lingkaran satuan” (berjari-jari 1), yaitu<br />
2 2 2 2<br />
x + y = 1 = sin θ + cos θ .<br />
Pada fungsi hiperbolik, jika x = cosh v <strong>dan</strong> y = sinh v, maka fungsifungsi<br />
ini memenuhi persamaan “hiperbola satuan”:<br />
2 2<br />
x − y = 1<br />
Hal ini dapat kita uji dengan mensubstitusikan cosh v untuk x <strong>dan</strong> sinh v<br />
untuk y <strong>dan</strong> kita akan mendapatkan bahwa persamaan “hiperbola satuan”<br />
akan terpenuhi. Kita coba:<br />
2v<br />
−2v<br />
2v<br />
−2v<br />
2 2 2 2 e + 2 + e e − 2 + e 4<br />
x − y = cosh v − sinh v =<br />
−<br />
= = 1<br />
4<br />
4 4<br />
Bentuk kurva fungsi hiperbolik satuan terlihat pada Gb. 8.5. dengan<br />
v −v<br />
v −v<br />
e + e<br />
e − e<br />
x = cosh v = ; y = sinh v =<br />
2<br />
2<br />
4<br />
y 3<br />
2<br />
1<br />
v = 0<br />
v = ∞<br />
P[x,y]<br />
0<br />
-1 0 1 2 3<br />
x<br />
4<br />
-2<br />
-3<br />
-4<br />
Gb.8.5. Kurva fungsi hiperbolik satuan.<br />
100 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Jika kita masukkan<br />
v −v<br />
e + e<br />
x = cosh v = ;<br />
2<br />
v −v<br />
e − e<br />
y = sinh v =<br />
2<br />
maka titik P[x,y] akan berada di bagian positif kurva tersebut. Karena e v<br />
selalu bernilai positif <strong>dan</strong> e −v = 1/e v juga selalu positif untuk semua nilai<br />
nyata dari v, maka titik P[x,y] selalu berada di bagian positif (sebelah<br />
kanan sumbu-y) kurva hiperbolik.<br />
Mirip dengan fungsi trigonometri, fungsi hiperbolik yang lain<br />
didefinisikan sebagai<br />
v −v<br />
v −v<br />
sinh v e − e<br />
cosh v e + e<br />
tanh v = = ; coth v = =<br />
(8.14)<br />
v −v<br />
v −v<br />
cosh v<br />
e<br />
+ e<br />
sinh v<br />
e<br />
− e<br />
1 2<br />
1 2<br />
sech v = = ; csch v = = (8.15)<br />
cosh v v −v<br />
v v −v<br />
e + e<br />
sinh e − e<br />
Identitas. Beberapa identitas fungsi hiperbolik kita lihat di bawah ini.<br />
1). 2 2<br />
cosh v − sinh v = 1 . Identitas ini telah kita buktikan di atas.<br />
Identitas ini mirip dengan identitas fungsi trigonometri biasa.<br />
2 2<br />
2). 1 − tanh v = sech v . Identitas ini diperoleh dengan membagi<br />
identitas pertama dengan cosh 2 v.<br />
2<br />
2<br />
3). coth v − 1 = csch v . Identitas ini diperoleh dengan membagi<br />
identitas pertama dengan sinh 2 v.<br />
4).<br />
5).<br />
cosh v + sinh v = e<br />
u<br />
. Ini merupakan konsekuensi definisinya.<br />
−u<br />
cosh v − sinh v = e . Ini juga merupakan konsekuensi<br />
definisinya.<br />
101
Kurva-Kurva <strong>Fungsi</strong> Hiperbolik. Gb.8.6 berikut ini memperlihatkan<br />
kurva fungsi-fungsi hiperbolik.<br />
(a)<br />
1<br />
e<br />
2<br />
x<br />
y<br />
4<br />
3<br />
2<br />
1<br />
0<br />
y = sinh x<br />
-2 -1 0 1 2<br />
-1<br />
1<br />
− e − x<br />
-2<br />
2<br />
-3<br />
-4<br />
y = cosh x<br />
4<br />
y<br />
3<br />
x<br />
2<br />
c)<br />
b)<br />
1<br />
y = sech x<br />
0<br />
-2 -1 0 1 x 2<br />
-1<br />
4<br />
y = cosh x y<br />
3<br />
2<br />
1<br />
1 x<br />
e<br />
y = sinh x<br />
2<br />
0<br />
-2 -1 0 1 2<br />
-1<br />
-2<br />
-3<br />
-4<br />
x<br />
102 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
y<br />
4<br />
3<br />
2<br />
y = coth x<br />
1<br />
y = tanh x<br />
0<br />
-2 -1 0 1 x 2<br />
-1<br />
y = coth x<br />
-2<br />
-3<br />
d)<br />
-4<br />
y<br />
4<br />
3<br />
2<br />
y = cschx<br />
y = sinh x<br />
1<br />
-2 -1<br />
0<br />
0<br />
-1<br />
1 x 2<br />
-2<br />
e)<br />
y = cschx<br />
-3<br />
-4<br />
Gb.8.6. Kurva-kurva fungsi hiperbolik.<br />
103
Soal-Soal<br />
1). Turunkan relasi sinh( u + v)<br />
<strong>dan</strong> cosh( u + v)<br />
.<br />
2). Diketahui sinh v = −3/ 4 . Hitung cosh v, coth v, <strong>dan</strong> csch v.<br />
3). Diketahui sinh v = −3/ 4 . Hitung cosh v, tanhv, <strong>dan</strong> sech v.<br />
104 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 9<br />
Turunan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> (1)<br />
(<strong>Fungsi</strong> Mononom, <strong>Fungsi</strong> Polinom)<br />
9.1. Pengertian Dasar<br />
Kita telah melihat bahwa apabila koordinat dua titik yang terletak pada<br />
suatu garis lurus diketahui, misalnya [x 1, y 1 ] <strong>dan</strong> [x 2 ,y 2 ], maka kemiringan<br />
garis tersebut dinyatakan oleh persamaan<br />
∆y<br />
( y2<br />
− y1)<br />
m = =<br />
(9.1)<br />
∆x<br />
( x2<br />
− x1)<br />
Untuk garis lurus, m bernilai konstan dimanapun titik [x 1, y 1 ] <strong>dan</strong> [x 2 ,y 2 ]<br />
berada. Bagaimanakah jika yang kita hadapi bukan garis lurus melainkan<br />
garis lengkung? Perhatikan Gb.9.1.<br />
y<br />
y = f(x)<br />
P 2<br />
∆y<br />
P 1<br />
∆x<br />
(a)<br />
y<br />
y = f(x)<br />
x<br />
P 1<br />
P′ 2<br />
∆y′<br />
x<br />
(b)<br />
Gb.9.1. Tentang kemiringan garis.<br />
Pada Gb.9.1.a. ∆y/∆x merupakan kemiringan garis lurus P 1 P 2 <strong>dan</strong> bukan<br />
kemiringan garis lengkung y = f(x). Jika ∆x kita perkecil, seperti terlihat<br />
pada Gb.9.1.b., ∆y/∆x menjadi ∆y′/∆x′ yang merupakan kemiringan<br />
garis lurus P 1 P′ 2 . Jika ∆x terus kita perkecil maka kita dapatkan<br />
∆x′<br />
105
kemiringan garis lurus yang sangat dekat dengan titik P 1 , <strong>dan</strong> jika ∆x<br />
mendekati nol maka kita mendapatkan kemiringan garis singgung kurva<br />
y di titik P 1 . Jadi jika kita mempunyai persamaan garis y = f (x)<br />
<strong>dan</strong><br />
melihat pada suatu titik tertentu [x,y], maka pada kondisi dimana ∆x<br />
mendekati nol, persamaan (9.1) dapat kita tuliskan<br />
lim<br />
∆x→0<br />
∆y<br />
=<br />
∆x<br />
lim<br />
∆x→0<br />
f ( x + ∆x)<br />
− f ( x)<br />
= f ′(<br />
x)<br />
∆x<br />
(9.2)<br />
f ′(x)<br />
merupakan fungsi dari x karena untuk setiap posisi titik yang kita<br />
tinjau f ′(x)<br />
memiliki nilai berbeda; f ′(x)<br />
disebut fungsi turunan dari<br />
f (x) , <strong>dan</strong> kita tahu bahwa dalam hal garis lurus, f ′(x)<br />
bernilai konstan<br />
<strong>dan</strong> merupakan kemiringan garis lurus tersebut. Jadi formulasi (9.1) tidak<br />
hanya berlaku untuk garis lurus. Jika ∆x mendekati nol, maka ia dapat<br />
diaplikasikan juga untuk garis lengkung, dengan pengertian bahwa<br />
kemiringan m adalah kemiringan garis lurus yang menyinggung kurva<br />
lengkung di titik [x,y]. Perhatikan Gb. 9.2.<br />
y<br />
(x 2 ,y 2 )<br />
(x 1 ,y 1 )<br />
Gb.9.2. Garis singgung pada garis lengkung.<br />
Jika fungsi garis lengkung adalah y = f (x)<br />
maka f ′(x)<br />
pada titik [x 1 ,y 1 ]<br />
adalah kemiringan garis singgung di titik [x 1 ,y 1 ], <strong>dan</strong> f ′(x) di titik (x 2 ,y 2 )<br />
adalah kemiringan garis singgung di [x 2 ,y 2 ]. Bagaimana mencari f ′(x)<br />
akan kita pelajari lebih lanjut.<br />
∆y<br />
Jika pada suatu titik x 1 di mana lim seperti yang dinyatakan oleh<br />
∆x→0<br />
∆x<br />
(9.2) benar ada, fungsi f(x) memiliki turunan di titik tersebut <strong>dan</strong><br />
dikatakan sebagai “dapat didiferensiasi di titik tersebut” <strong>dan</strong> nilai<br />
x<br />
106 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
∆y<br />
lim merupakan nilai turunan di titik tersebut (ekivalen dengan<br />
∆x→0<br />
∆x<br />
kemiringan garis singgung di titik tersebut).<br />
Persamaan (9.2) biasanya ditulis<br />
dy<br />
dx<br />
=<br />
=<br />
lim<br />
d<br />
dx<br />
∆x→0<br />
∆y<br />
( y)<br />
= lim<br />
∆ x→0<br />
∆x<br />
(9.3)<br />
f ( x + ∆x)<br />
− f ( x)<br />
= f ′(<br />
x)<br />
∆x<br />
dy kita baca “turunan terhadap x dari fungsi y”, atau “turunan fungsi y<br />
dx<br />
terhadap x”. Penurunan ini dapat dilakukan jika y memang merupakan<br />
fungsi x. Jika tidak, tentulah penurunan itu tidak dapat dilakukan.<br />
Misalnya y merupakan fungsi t , y = f (t)<br />
; maka penurunan y hanya bisa<br />
dilakukan terhadap t, tidak terhadap x.<br />
9.2. <strong>Fungsi</strong> Mononom<br />
Kita lihat uraian-uraian berikut ini.<br />
dy df ( t)<br />
y ′ = = = f ′(<br />
t)<br />
dt dt<br />
1). y 0 = f ( x)<br />
= k , bernilai konstan. Di sini<br />
2). y1 = f1 ( x)<br />
= 2x<br />
f ( x + ∆x)<br />
− f ( x)<br />
0<br />
y0 ′ = lim<br />
= = 0<br />
∆x→0<br />
∆x<br />
∆x<br />
⇒<br />
2( x + ∆x)<br />
− 2x<br />
2∆x<br />
f1 ′(<br />
x)<br />
= lim<br />
= = 2<br />
∆x→0<br />
∆x<br />
∆x<br />
107
y<br />
10<br />
8<br />
6<br />
4<br />
2<br />
f ( x)<br />
2x<br />
1<br />
=<br />
f 1 ′(<br />
x)<br />
= 2<br />
Gb.9.3. <strong>Fungsi</strong> mononom y = 2x <strong>dan</strong> turunannya.<br />
Kurva f 1′ ( x ) membentuk garis lurus sejajar sumbu-x; ia bernilai<br />
konstan 2 untuk semua x.<br />
3). 2<br />
y 2 = f2( x)<br />
= 2x<br />
0<br />
2 2<br />
2<br />
2 2<br />
2( x + ∆x)<br />
− 2x<br />
2( x + 2x∆x<br />
+ ∆x<br />
) − 2x<br />
f2′<br />
( x)<br />
= lim<br />
= lim<br />
∆ x→0<br />
∆x<br />
∆x→0<br />
∆x<br />
= lim (2 × 2x<br />
+ 2∆x)<br />
= 4x<br />
∆x→0<br />
Turunan fungsi ini membentuk kurva garis lurus dengan kemiringan<br />
4.<br />
4). 3<br />
y 3 = f3( x)<br />
= 2x<br />
0 1 2 3 4 5<br />
x<br />
3 3<br />
2( x + ∆x)<br />
− 2x<br />
f3′<br />
( x)<br />
= lim<br />
∆x→0<br />
∆x<br />
3 2<br />
3 3 3<br />
2( x + 3x<br />
∆x<br />
+ 3x∆x<br />
+ ∆x<br />
) − 2x<br />
= lim<br />
∆x→0<br />
∆x<br />
= lim<br />
2<br />
2 2 2<br />
2 × 3x<br />
+ 2 × 3x∆x<br />
+ 2∆x<br />
= 6x<br />
∆x→0<br />
Turunan fungsi ini membentuk kurva parabola.<br />
108 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
′′′<br />
5). Secara umum, turunan mononom<br />
adalah<br />
n<br />
y = f ( x)<br />
= mx<br />
(9.4)<br />
′ ( n−1)<br />
y = ( m × n)<br />
x<br />
(9.5)<br />
Jika n pada (9.4) bernilai 1 maka kurva fungsi y = f (x)<br />
akan<br />
berbentuk garis lurus <strong>dan</strong> turunannya akan berupa nilai konstan,<br />
y ′ = f ′(<br />
x)<br />
= k<br />
Jika n > 1, maka turunan fungsi akan merupakan fungsi x,<br />
y ′ = f ′(x)<br />
. Dengan demikian maka fungsi turunan ini dapat<br />
diturunkan lagi <strong>dan</strong> kita mendapatkan fungsi turunan berikutnya<br />
y ′′ = f ′<br />
(x)<br />
yang mungkin masih juga merupakan fungsi x <strong>dan</strong> masih dapat<br />
diturunkan lagi untuk memperoleh fungsi turunan berikutnya lagi<br />
<strong>dan</strong> demikian seterusnya.<br />
Contoh:<br />
y ′′ ′ = f ′′′<br />
(x)<br />
dy<br />
y ′ = f ′( x)<br />
= kita sebut turunan pertama,<br />
dx<br />
2<br />
d y<br />
y = f ′′ ( x)<br />
=<br />
2<br />
dx<br />
′′ turunan kedua,<br />
3<br />
d y<br />
y = f ′′′ ( x)<br />
=<br />
3<br />
dx<br />
′′′ turunan ke-tiga, dst.<br />
3<br />
y 4 = f4( x)<br />
= 2x<br />
′ (3−1)<br />
2<br />
(2 1)<br />
4 2(3)<br />
6 ; 4′′<br />
−<br />
y = x = x y = 6(2) x = 12x;<br />
y4<br />
= 12<br />
6) Dari (9.4) <strong>dan</strong> (9.5) kita dapat mencari titik-potong antara kurva suatu<br />
fungsi dengan kurva fungsi turunannya.<br />
<strong>Fungsi</strong> mononom n<br />
y = f ( x)<br />
= mx memiliki turunan<br />
′ ( n−1)<br />
y = ( m × n)<br />
x . Koordinat titik potong P antara kurva mononom<br />
f(x) dengan turunan pertamanya diperoleh dengan<br />
109
′ n<br />
( n−1)<br />
y = y → mx = ( m × n)<br />
x<br />
⇒ x P = n <strong>dan</strong> n<br />
yP = mxP<br />
Koordinat titik potong kurva mononom dengan kurva-kurva turunan<br />
selanjutnya dapat pula dicari.<br />
Gb.9.4. memperlihatkan kurva mononom<br />
4<br />
y = x <strong>dan</strong> turunanturunannya<br />
3<br />
y ′ 2<br />
= 4x , y ′′ =12x , y ′′ ′ = 24x<br />
, y ′′′′ = 24 .<br />
2<br />
y ′′ = 12x<br />
4<br />
y = x<br />
200<br />
100<br />
0<br />
y ′′ = 12x<br />
3<br />
y ′ = 4x<br />
y ′′′ = 24x<br />
2<br />
y ′′′ ′ = 24<br />
3<br />
y ′ = 4x<br />
-3 -2 -1 0 1 2 3 4<br />
-100<br />
9.3. <strong>Fungsi</strong> Polinom<br />
Gb.9.4. Mononom <strong>dan</strong> fungsi turunan-nya.<br />
Polinom merupakan jumlah terbatas dari mononom. Kita lihat contohcontoh<br />
berikut.<br />
1). y 1 = f1 ( x)<br />
= 4x<br />
+ 2<br />
{ 4( x + ∆x)<br />
+ 2} − { 4x<br />
+ 2}<br />
f1 ′(<br />
x)<br />
= lim<br />
= 4<br />
∆x→x<br />
∆x<br />
Kurva fungsi ini <strong>dan</strong> turunannya terlihat pada Gb.9.5.<br />
110 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
y<br />
10<br />
8<br />
6<br />
4<br />
2<br />
f 1 (x) = 4x + 2<br />
f 1 ′(x) = 4<br />
0<br />
-1 -0,5 0 0,5 1 1,5 x 2<br />
-2<br />
Gb.9.5. f 1 (x) = 4x + 2 <strong>dan</strong> turunannya.<br />
Suku yang bernilai konstan pada f 1 (x), berapapun besarnya, positif<br />
maupun negatif, tidak memberikan kontribusi dalam fungsi turunannya.<br />
2). y 2 = f2 ( x)<br />
= 4( x − 2)<br />
⇒ f 2(<br />
x)<br />
= 4x<br />
− 8<br />
10<br />
-10<br />
-15<br />
3). 2<br />
y 3 = f3(<br />
x)<br />
= 4x<br />
+ 2x<br />
− 5<br />
y<br />
⇒ f 2 ′(<br />
x)<br />
= 4<br />
Gb.9.6. f 2 (x) = 4(x – 2) <strong>dan</strong> turunannya.<br />
2<br />
2<br />
{ 4( x + ∆x)<br />
+ 2( x + ∆x)<br />
− 5} − { 4x<br />
+ 2x<br />
− 5}<br />
y3′<br />
= lim<br />
∆x→0<br />
= 4 × 2x<br />
+ 2 = 8x<br />
+ 2<br />
4). 3 2<br />
y 4 = f4(<br />
x)<br />
= 5x<br />
+ 4x<br />
+ 2x<br />
− 5<br />
5<br />
f 2 ′(<br />
x)<br />
= 4<br />
0<br />
-1 0 1 2 3<br />
x<br />
4<br />
-5<br />
f 2 ( x)<br />
= 4( x − 2)<br />
∆x<br />
3<br />
2<br />
3 2<br />
{ 5( x + ∆x)<br />
+ 4( x + ∆x)<br />
+ 2( x + ∆x)<br />
− 5} − { 5x<br />
+ 4x<br />
+ 2x<br />
− 5}<br />
y4′<br />
= lim<br />
∆x→0<br />
∆x<br />
2<br />
2<br />
= 5 × 3x<br />
+ 4 × 2x<br />
+ 2 = 15x<br />
+ 8x<br />
+ 2<br />
-4<br />
111
5) Secara Umum: Turunan suatu polinom, yang merupakan jumlah<br />
beberapa mononom, adalah jumlah turunan masing-masing<br />
mononom dengan syarat setiap mononom yang membentuk polinom<br />
itu memang memiliki turunan.<br />
9.4. ilai Puncak<br />
Kita telah melihat bahwa turunan fungsi di suatu nilai x merupakan<br />
kemiringan garis singgung terhadap kurva fungsi di titik [x,y]. Jika titik<br />
[x p ,y p ] adalah titik puncak suatu kurva, maka garis singgung di titik<br />
[x p ,y p ] tersebut akan berupa garis mendatar yang kemiringannya nol.<br />
Dengan kata lain posisi titik puncak suatu kurva adalah posisi titik di<br />
mana turunan pertama fungsi bernilai nol.<br />
Polinom Orde Dua. Kita ambil contoh fungsi polinom orde dua (fungsi<br />
kuadrat):<br />
Turunan pertama fungsi ini adalah<br />
y = 2x<br />
2 + 15x<br />
+ 13<br />
y ′ = 4 x +15<br />
Jika kita beri y ′ = 0 maka kita dapatkan nilai x p dari titik puncak yaitu<br />
x p = −(15/4) = −3,75<br />
Jika nilai x p ini kita masukkan ke fungsi asalnya, maka akan kita<br />
dapatkan nilai puncak y p .<br />
2<br />
y p = 2x<br />
p + 15xp<br />
+ 13<br />
2<br />
= 2(-3,75) + 15×<br />
( −3,75)<br />
+ 13 = −15,125<br />
Secara umum, x p dari fungsi kuadrat<br />
dengan membuat<br />
2<br />
y = ax + bx + c<br />
dapat diberoleh<br />
y ′ = 2 ax + b = 0<br />
(9.6)<br />
sehingga diperoleh<br />
b<br />
x p = −<br />
(9.7)<br />
2a<br />
112 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Nilai puncak, y p dari fungsi kuadrat<br />
dengan memasukkan x p<br />
2<br />
y = ax + bx + c<br />
dapat diperoleh<br />
y<br />
p<br />
2 2<br />
2 b b − 4ac<br />
= axp<br />
+ bxp<br />
+ c = − + c = −<br />
(9.8)<br />
4a<br />
4a<br />
Maksimum <strong>dan</strong> Minimum. Bagaimanakah secara umum menentukan<br />
apakah suatu nilai puncak merupakan nilai minimum atau maksimum?<br />
Kita manfaatkan karakter turunan kedua di sekitar nilai puncak. Lihat<br />
Gb.9.7.<br />
P<br />
y<br />
y′<br />
y′<br />
x<br />
Q<br />
Gb.9.7. Garis singgung di sekitar titik puncak.<br />
Turunan pertama di suatu titik pada kurva adalah garis singgung pada<br />
kurva di titik tersebut. Di sekitar titik maksimum, mulai dari kiri ke<br />
kanan, kemiringan garis singgung terus menurun sampai menjadi nol di<br />
titik puncak kemudian menjadi negatif. Ini berarti turunan pertama y′ di<br />
sekitar titik maksimum terus menurun <strong>dan</strong> berarti pula turunan kedua di<br />
titik maksimum bernilai negatif.<br />
Sebaliknya, di sekitar titik minimum, mulai dari kiri ke kanan,<br />
kemiringan garis singgung terus meningkat sampai menjadi nol di titik<br />
puncak kemudian menjadi positif. Ini berarti turunan pertama y′ di sekitar<br />
titik minimum terus menurun <strong>dan</strong> berarti pula turunan kedua di titik<br />
minimum bernilai positif.<br />
Jadi apabila turunan kedua di titik puncak bernilai negatif, titik puncak<br />
tersebut adalah titik maksimum. Apabila turunan kedua di titik puncak<br />
bernilai positif, titik puncak tersebut adalah titik minimum.<br />
113
2<br />
Dalam kasus fungsi kuadrat y = ax + bx + c , turunan pertama adalah<br />
y ′ = 2 ax + b <strong>dan</strong> turunan kedua adalah y′ = 2a<br />
. Jadi pada fungsi<br />
kuadrat, apabila a bernilai positif maka ia memiliki nilai minimum; jika a<br />
negatif ia memiliki nilai maksimum.<br />
Contoh: Kita lihat kembali contoh fungsi kuadrat yang dibahas di<br />
atas.<br />
y = 2x<br />
2 + 15x<br />
+ 13<br />
Nilai puncak fungsi ini adalah y p = −15, 125 <strong>dan</strong> ini merupakan<br />
nilai minimum, karena turunan keduanya y ′′ = 4 adalah positif.<br />
Lihat pula Gb.10.5.c.<br />
Contoh: Kita ubah contoh di atas menjadi:<br />
y = −2x<br />
2 + 15x<br />
+ 13<br />
Turunan pertama fungsi menjadi<br />
y ′ = −4 x + 15 , yang jika y′<br />
= 0 memberi x p = + 3,75<br />
Nilai puncak adalah<br />
y p<br />
= −2 (3,75)^2 + 15 × 3,75 + 13 = + 41,125<br />
Turunan kedua adalah y ′′ = −4<br />
bernilai negatif. Ini berarti<br />
bahwa nilai puncak tersebut adalah nilai maksimum.<br />
Contoh: Dua buah bilangan positif berjumlah 20. Kita diminta<br />
menentukan kedua bilangan tersebut sedemikian rupa<br />
sehingga perkaliannya mencapai nilai maksimum,<br />
sementara jumlahnya tetap 20.<br />
Jika salah satu bilangan kita sebut x maka bilangan yang<br />
lain adalah (20−x). Perkalian antara keduanya menjadi<br />
2<br />
y = x( 20 − x)<br />
= 20x<br />
− x<br />
Turunan pertama yang disamakan dengan nol akan<br />
memberikan nilai x yang memberikan y puncak .<br />
y ′ = 20 − 2x<br />
= 0 memberikan x = 10<br />
114 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
<strong>dan</strong> nilai puncaknya adalah<br />
y puncak<br />
= 200 −100<br />
= 100<br />
Turunan kedua adalah y ′′ = −2<br />
; ia bernilai negatif. Jadi<br />
y puncak yang kita peroleh adalah nilai maksimum; kedua<br />
bilangan yang dicari adalah 10 <strong>dan</strong> (20−10) = 10. Kurva<br />
dari fungsi dalam contoh ini terlihat pada Gb.9.8.<br />
120<br />
y<br />
100<br />
80<br />
60<br />
40<br />
20<br />
-5 -20 0 5 10 15 20 x 25<br />
-40<br />
0<br />
Gb.9.8. Kurva y = x( 20 − x)<br />
Kurva tersebut memotong sumbu-x di<br />
y = x( 20 − x)<br />
= 0 ⇒ x1 = 0 <strong>dan</strong> x2<br />
= 20<br />
Dalam contoh di atas kita memperoleh hanya satu nilai maksimum;<br />
semua nilai x yang lain akan memberikan nilai y dibawah nilai<br />
maksimum y puncak yang kita peroleh. Nilai maksimum demikian ini kita<br />
sebut nilai maksimum absolut.<br />
Jika seandainya y puncak yang kita peroleh adalah nilai minimum, maka ia<br />
akan menjadi minimum absolut, seperti pada contoh berikut.<br />
Contoh: Dua buah bilangan positif berselisih 20. Kita diminta<br />
menentukan kedua bilangan tersebut sedemikian rupa<br />
sehingga perkaliannya mencapai nilai minimum, sementara<br />
selisihnya tetap 20.<br />
Jika salah satu bilangan kita sebut x (positif) maka bilangan<br />
yang lain adalah (x + 20). Perkalian antara keduanya<br />
menjadi<br />
115
y = x(<br />
x + 20) = x<br />
2 + 20x<br />
Turunan pertama yang disamakan dengan nol akan<br />
memberikan nilai x yang memberikan y puncak .<br />
y ′ = 2 x + 20 = 0 sehingga x = −10<br />
<strong>dan</strong> nilai puncak adalah<br />
y puncak<br />
= 100 − 200 = −100<br />
Turunan kedua adalah y ′′ = + 2 ; ia bernilai positif. Jadi<br />
y puncak yang kita peroleh adalah nilai minimum; kedua<br />
bilangan yang dicari adalah −10 <strong>dan</strong> (−10+20) = +10.<br />
Kurva fungsi dalam contoh ini terlihat pada Gb.9.9.<br />
y 40<br />
-25 -20 -15 -10 -5 -20 0 x 5<br />
-100<br />
-120<br />
Gb.9.9. Kurva y = x( x + 20)<br />
Polinom Orde Tiga. <strong>Fungsi</strong> pangkat tiga diberikan secara umum oleh<br />
20<br />
0<br />
-40<br />
-60<br />
-80<br />
3 2<br />
y = ax + bx + cx + d<br />
(9.10)<br />
Turunan dari (10.29) adalah<br />
y ′ = 3ax<br />
2 + 2bx<br />
+ c<br />
(9.11)<br />
Dengan membuat y ′ = 0 kita akan mendapatkan x p .<br />
y′ 2<br />
= 0 = 3axp + 2bxp<br />
+ c<br />
Ada dua posisi nilai puncak, yaitu<br />
116 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
x<br />
p1<br />
, x<br />
p2<br />
− 2b<br />
±<br />
=<br />
− b ±<br />
=<br />
b<br />
2<br />
3a<br />
4b<br />
6a<br />
2<br />
− 3ac<br />
−12ac<br />
(9.12)<br />
Dengan memasukkan x p1 <strong>dan</strong> x p2 ke penyataan fungsi (10.11) kita peroleh<br />
nilai puncak y p1 <strong>dan</strong> y p2 . Namun bila x p1 = x p2 berarti dua titik puncak<br />
berimpit atau kita sebut titik belok.<br />
Contoh: Kita akan mencari di mana letak titik puncak dari kurva<br />
3 2<br />
fungsi y = 2x<br />
− 3x<br />
+ 3 <strong>dan</strong> apakah nilai puncak<br />
merupakan nilai minimum atau maksimum.<br />
Jika turunan pertama fungsi ini kita samakan dengan nol,<br />
akan kita peroleh nilai x di mana puncak-puncak kurva<br />
terjadi.<br />
y′<br />
= 6x<br />
2 − 6x<br />
= 6x(<br />
x −1)<br />
= 0<br />
memberikan x = 0 <strong>dan</strong> x = 1<br />
Memasukkan nilai x yang diperoleh ke persamaan asalnya<br />
memberikan nilai y, yaitu nilai puncaknya.<br />
x = 0<br />
x = 1<br />
memberikan<br />
memberikan<br />
y<br />
y<br />
puncak<br />
puncak<br />
= + 3<br />
= + 2<br />
Jadi posisi titik puncak adalah di P[0,3] <strong>dan</strong> Q[1,2]. Apakah<br />
nilai puncak y puncak minimum atau maksimum kita lihat dari<br />
turunan kedua dari fungsi y<br />
y ′′ = 12x<br />
− 6<br />
Untuk x = 0 ⇒ y ′′ = −6<br />
Untuk x = 1⇒<br />
y ′′ = + 6<br />
Jadi nilai puncak di P[0,3] adalah suatu nilai maksimum,<br />
se<strong>dan</strong>gkan nilai puncak di Q[1,2] adalah minimum. Kurva<br />
dari fungsi dalam contoh ini terlihat pada Gb.9.10.<br />
117
15<br />
y<br />
10<br />
5<br />
P[0,3] Q[1,2]<br />
R<br />
0<br />
-2 -1,5 -1 -0,5 0 0,5 1 1,5 2 2,5<br />
-5<br />
x<br />
-10<br />
-15<br />
y s<br />
9.5. Garis Singgung<br />
-20<br />
3 2<br />
Gb.9.10. Kurva y = 2x<br />
− 3x<br />
+ 3 <strong>dan</strong> garis singgung di R.<br />
Persamaan garis singgung pada titik R yang terletak di kurva suatu fungsi<br />
y = f (x) secara umum adalah y s = mx dengan kemiringan m adalah<br />
turunan pertama fungsi di titik R.<br />
3 2<br />
Contoh: Lihat fungsi y = 2x<br />
− 3x<br />
+ 3 yang kurvanya diberikan<br />
pada Gb.9.10.<br />
Turunan pertama adalah y ′ = 6x<br />
2 − 6x<br />
= 6x(<br />
x −1)<br />
. Titik R dengan<br />
absis x R = 2 , memiliki ordinat y R = 2 × 8 − 3 × 4 + 3 = 7 ; jadi<br />
koordinat R adalah R(2,7). Kemiringan garis singgung di titik R<br />
adalah m = 6 × 2 × 1=<br />
12 .<br />
Persamaan garis singgung y s =12 x + K . Garis ini harus melalui<br />
R(2,7) dengan kata lain koordinat R harus memenuhi persamaan<br />
garis singgung. Jika koordinat R kita masukkan ke persamaan<br />
garis singgung akan kita dapatkan nilai K.<br />
y s =12 x + K ⇒ 7 = 12 × 2 + K ⇒ K = 7 − 24 = −17<br />
.<br />
Persamaan garis singgung di titk R adalah y s = 12x<br />
−17<br />
118 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
9.6. Contoh Hubungan <strong>Diferensial</strong><br />
Berikut ini adalah beberapa contoh relasi diferensial. (ref. [3] Bab-2)<br />
Arus Listrik. Arus litrik adalah jumlah muatan listrik yang mengalir per<br />
detik, melalui suatu luas penampang tertentu. Ia merupakan laju aliran<br />
muatan. Kalau arus diberi simbol i <strong>dan</strong> muatan diberi simbol q maka<br />
dq<br />
i =<br />
dt<br />
Satuan arus adalah ampere (A), satuan muatan adalah coulomb (C). Jadi<br />
1 A = 1 C/detik.<br />
Tegangan Listrik. Tegangan listrik didefinisikan sebagai laju perubahan<br />
energi per satuan muatan. Kalau tegangan diberi simbol v <strong>dan</strong> energi<br />
diberi simbol w, maka<br />
dw<br />
v =<br />
dq<br />
Satuan daya adalah watt (W). Satuan energi adalah joule (J). Jadi 1 W =<br />
1 J/detik.<br />
Daya Listrik. Daya listrik didefinisikan sebagai laju perubahan energi.<br />
Jika daya diberi simbol p maka<br />
dw<br />
p =<br />
dt<br />
Dari definisi tegangan <strong>dan</strong> arus kita dapatkan<br />
dw dw dq<br />
p = = = vi<br />
dt dq dt<br />
Karakteristik Induktor. Karakteristik suatu piranti listrik dinyatakan<br />
dengan relasi antara arus yang melewati piranti dengan tegangan yang<br />
ada di terminal piranti tersebut. Jika L adalah induktansi induktor, v L <strong>dan</strong><br />
i L masing-masing adalah tegangan <strong>dan</strong> arus-nya, maka relasi antara arus<br />
<strong>dan</strong> tegangan induktor adalah<br />
di<br />
v L<br />
L<br />
L =<br />
dt<br />
Karakteristik Kapasitor. Untuk kapasitaor, jika C adalah kapasitansi<br />
kapasitor, v C <strong>dan</strong> i C adalah tegangan <strong>dan</strong> arus kapasitor, maka<br />
i<br />
C =<br />
dv<br />
C<br />
dt<br />
c<br />
119
Soal-Soal<br />
1. Carilah turunan fungsi-fungsi berikut untuk kemudian menentukan<br />
nilai puncak<br />
2<br />
y1<br />
= 5x<br />
− 10x<br />
− 7;<br />
2<br />
y2<br />
= 3x<br />
− 12x<br />
+ 2 ;<br />
2<br />
y3<br />
= −4x<br />
+ 2x<br />
+ 8<br />
2. Carilah turunan fungsi-fungsi berikut untuk kemudian menentukan<br />
nilai puncak<br />
3 2<br />
y1<br />
= 2x<br />
− 5x<br />
+ 4x<br />
− 2 ;<br />
4 3 2<br />
y2<br />
= x − 7x<br />
+ 2x<br />
+ 6 ;<br />
7 3 2<br />
y3<br />
= 3x<br />
− 7x<br />
+ 21x<br />
120 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 10<br />
Turunan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> (2)<br />
(<strong>Fungsi</strong> Perkalian <strong>Fungsi</strong>, <strong>Fungsi</strong> Pangkat Dari<br />
<strong>Fungsi</strong>, <strong>Fungsi</strong> Rasional, <strong>Fungsi</strong> Implisit)<br />
10.1. <strong>Fungsi</strong> Yang Merupakan Perkalian Dua <strong>Fungsi</strong><br />
Misalkan kita memiliki dua fungsi x, v (x)<br />
<strong>dan</strong> w (x)<br />
, <strong>dan</strong> kita hendak<br />
mencari turunan terhadap x dari fungsi y = vw . Misalkan nilai x berubah<br />
sebesar ∆x, maka fungsi w berubah sebesar ∆w, fungsi v berubah sebesar<br />
∆v, <strong>dan</strong> fungsi y berubah sebesar ∆y. Perubahan ini terjadi sedemikian<br />
rupa sehingga setelah perubahan sebesar ∆x hubungan y = vw tetap<br />
berlaku, yaitu<br />
( y + ∆y)<br />
= ( v + ∆v)(<br />
w + ∆w)<br />
(10.1)<br />
= ( vw + v∆w<br />
+ w∆v<br />
+ ∆w∆v)<br />
Dari sini kita dapatkan<br />
∆ y ( y + ∆y)<br />
− y ( wv + v∆w<br />
+ w∆v<br />
+ ∆w∆v<br />
− vw<br />
=<br />
=<br />
)<br />
∆x<br />
∆x<br />
∆x<br />
∆w<br />
∆v<br />
∆v∆w<br />
= v + w +<br />
∆x<br />
∆x<br />
∆x<br />
Jika ∆x mendekati nol maka demikian pula ∆v <strong>dan</strong> ∆w, sehingga<br />
juga mendekati nol. Persamaan (10.2) akan memberikan<br />
(10.2)<br />
∆v∆w<br />
∆x<br />
dy d( vw)<br />
dw dv<br />
= = v + w<br />
(10.3)<br />
dx dx dx dx<br />
Inilah formulasi turunan fungsi yang merupakan hasilkali dari dua<br />
fungsi.<br />
Contoh: Kita uji kebenaran formulasi ini dengan melihat suatu fungsi<br />
mononom 5<br />
y = 6x yang kita tahu turunannya adalah 4<br />
y ′ = 30x . Kita<br />
pan<strong>dan</strong>g sekarang fungsi y sebagai perkalian dua fungsi y = vw<br />
dengan 3<br />
v = 2x <strong>dan</strong> 2<br />
w = 3x . Menurut (10.3) turunan dari y menjadi<br />
121
3 2<br />
d(2x<br />
× 3x<br />
) 3 2 2 4 4 4<br />
y ′ =<br />
= 2x<br />
× 6x<br />
+ 3x<br />
× 6x<br />
= 12x<br />
+ 18x<br />
= 30x<br />
dx<br />
Ternyata sesuai dengan apa yang diharapkan.<br />
Bagaimanakah<br />
d ( uvw)<br />
jika u, v, w ketiganya adalah fungsi x. Kita<br />
dx<br />
aplikasikan (10.3) secara bertahap seperti berikut.<br />
d(<br />
uvw)<br />
d(<br />
uv)(<br />
w)<br />
dw d(<br />
uv)<br />
= = ( uv)<br />
+ w<br />
dx dx dx dx<br />
dw ⎧ dv du ⎫<br />
= ( uv)<br />
+ w⎨u<br />
+ v ⎬<br />
dx ⎩ dx dx ⎭<br />
dw dv du<br />
= ( uv)<br />
+ ( uw)<br />
+ ( vw)<br />
dx dx dx<br />
(10.4)<br />
Contoh: Kita uji formula ini dengan mengambil fungsi penguji<br />
sebelumnya, yaitu 5<br />
y = 6x yang kita tahu turunannya adalah<br />
4<br />
y ′ = 30x . Kita pan<strong>dan</strong>g sekarang fungsi y sebagai perkalian tiga<br />
fungsi y = uvw dengan u = 2x<br />
,<br />
(10.9) turunan dari y adalah<br />
2<br />
v = 3x , <strong>dan</strong> w = x . Menurut<br />
dy d(<br />
uvw)<br />
2 2 2<br />
= = (2x<br />
× 3x<br />
)(1) + (2x<br />
× x)(6x)<br />
dx dx<br />
2<br />
4 4 4 4<br />
+ (3x × x)(4x)<br />
= 6x<br />
+ 12x<br />
+ 12x<br />
= 30x<br />
Ternyata sesuai dengan yang kita harapkan.<br />
10.2. <strong>Fungsi</strong> Yang Merupakan Pangkat Dari Suatu <strong>Fungsi</strong><br />
Yang dimaksud di sini adalah bagaimana turunan<br />
dy jika y = v n dengan<br />
dx<br />
v adalah fungsi x, <strong>dan</strong> n adalah bilangan bulat. Kita ambil contoh fungsi<br />
6 3 2<br />
y 1 = v = v × v × v dengan v merupakan fungsi x. Jika kita<br />
aplikasikan formulasi (10.4) akan kita dapatkan<br />
122 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
2<br />
3<br />
dy1<br />
3 2 dv 3 dv 2 dv<br />
= ( v v ) + ( v v)<br />
+ ( v v)<br />
dx dx dx dx<br />
2<br />
5 dv 4 ⎛ dv dv ⎞ ⎛ dv dv ⎞<br />
3 2<br />
= v + v ⎜v<br />
+ v ⎟ + v ⎜v<br />
+ v ⎟<br />
dx ⎝ dx dx ⎠ ⎜ dx dx ⎟<br />
⎝<br />
⎠<br />
5 dv 5 dv 5 dv 4⎛<br />
dv dv ⎞<br />
= v + 2v<br />
+ v + v ⎜v<br />
+ v ⎟<br />
dx dx dx ⎝ dx dx ⎠<br />
5<br />
= 6v<br />
dv<br />
dx<br />
Contoh ini memperlihatkan bahwa<br />
yang secara umum dapat kita tulis<br />
6 6<br />
dv dv dv 5<br />
= = 6v<br />
dx dv dx<br />
dv<br />
n<br />
dx<br />
dv<br />
dx<br />
n−1<br />
dv<br />
= nv<br />
(10.5)<br />
dx<br />
Contoh: Kita ambil contoh yang merupakan gabungan antara<br />
perkalian <strong>dan</strong> pangkat dua fungsi.<br />
2 3 3 2<br />
y = ( x + 1) ( x −1)<br />
Kita gabungkan relasi turunan untuk perkalian dua fungsi <strong>dan</strong><br />
pangkat suatu fungsi.<br />
dy<br />
= ( x<br />
dx<br />
= ( x<br />
2<br />
= 6x<br />
2<br />
2<br />
( x<br />
= 6x(<br />
x<br />
+ 1)<br />
+ 1) 2( x<br />
3<br />
2<br />
3<br />
3<br />
+ 1) ( x<br />
−1)(<br />
x<br />
d(<br />
x −1)<br />
dx<br />
3<br />
3<br />
2<br />
3<br />
−1)(3x<br />
3<br />
+ ( x<br />
−1)<br />
+ 6x(<br />
x<br />
2<br />
2<br />
2<br />
+ 1) (2x<br />
) + ( x<br />
3<br />
3<br />
−1)<br />
3<br />
3<br />
2<br />
+ x −1)<br />
d(<br />
x + 1)<br />
dx<br />
2<br />
−1)<br />
3( x<br />
2<br />
2<br />
2<br />
−1)<br />
( x<br />
2<br />
3<br />
+ 1) 2x<br />
+ 1)<br />
2<br />
2<br />
123
10.3. <strong>Fungsi</strong> Rasional<br />
<strong>Fungsi</strong> rasional merupakan rasio dari dua fungsi<br />
v<br />
y = (10.6)<br />
w<br />
Tinjauan atas fungsi demikian ini hanya terbatas pada keadaan w ≠ 0 .<br />
Kita coba meman<strong>dan</strong>g fungsi ini sebagai perkalian dari dua fungsi:<br />
−1<br />
y = vw<br />
(10.7)<br />
Kalau kita aplikasikan (10.3) pada (10.7) kita peroleh<br />
atau<br />
−1<br />
dy d ⎛ v ⎞ d(<br />
vw ) dw −<br />
= ⎜ ⎟ = = v + w<br />
dx dx ⎝ w ⎠ dx dx<br />
−2<br />
dv −1<br />
dv − v dv 1 dv<br />
= −vw<br />
+ w = +<br />
dx dx 2<br />
w dx w dx<br />
1 ⎛ dv dw ⎞<br />
= ⎜ w − v ⎟<br />
2<br />
w ⎝ dx dx ⎠<br />
d<br />
dx<br />
⎛<br />
⎜<br />
⎝<br />
v<br />
w<br />
⎛ dv dw ⎞<br />
⎜w<br />
− v ⎟<br />
⎞ ⎝ dx dx ⎠<br />
⎟ =<br />
⎠<br />
2<br />
w<br />
124 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
−1<br />
1<br />
dv<br />
dx<br />
(10.8)<br />
Inilah formulasi turunan fungsi rasional. <strong>Fungsi</strong> v <strong>dan</strong> w biasanya<br />
merupakan polinom dengan v mempunyai orde lebih rendah dari w.<br />
(Pangkat tertinggi peubah x dari v lebih kecil dari pangkat tertinggi<br />
peubah x dari w).<br />
Contoh:<br />
2<br />
1).<br />
x − 3<br />
y =<br />
3<br />
x<br />
2).<br />
2 1<br />
2<br />
y = x +<br />
x<br />
3 2 2<br />
dy x (2x)<br />
− ( x − 3)(3x<br />
)<br />
=<br />
dx<br />
6<br />
x<br />
4 4 2 2<br />
2x<br />
− (3x<br />
− 9x<br />
) − x + 9<br />
=<br />
=<br />
6<br />
4<br />
x<br />
x
2<br />
dy x × 0 −1×<br />
2x<br />
2<br />
= 2x<br />
+<br />
= 2x<br />
−<br />
dx<br />
4<br />
3<br />
x<br />
2<br />
3).<br />
x + 1 2<br />
y = ; dengan x ≠ 1 (agar penyebut tidak nol)<br />
2<br />
x −1<br />
2<br />
2<br />
dy ( x −1)2<br />
x − ( x + 1)2 x<br />
=<br />
dx<br />
2 2<br />
( x −1)<br />
3<br />
3<br />
2x<br />
− 2x<br />
− 2x<br />
− 2x<br />
− 4x<br />
=<br />
=<br />
2 2<br />
2 2<br />
( x −1)<br />
( x −1)<br />
10.4. <strong>Fungsi</strong> Implisit<br />
Sebagian fungsi implisit dapat diubah ke dalam bentuk explisit namun<br />
sebagian yang lain tidak. Untuk fungsi yang dapat diubah dalam bentuk<br />
eksplisit, turunan fungsi dapat dicari dengan cara seperti yang sudah kita<br />
pelajari di atas. Untuk mencari turunan fungsi yang tak dapat diubah ke<br />
dalam bentuk eksplisit perlu cara khusus, yang disebut diferensiasi<br />
implisit. Dalam cara ini kita menganggap bahwa fungsi y dapat<br />
didiferensiasi terhadap x. Kita akan mengambil beberapa contoh.<br />
Contoh:<br />
1). 2 2<br />
x + xy + y = 8 . <strong>Fungsi</strong> implisit ini merupakan sebuah<br />
persamaan. Jika kita melakukan operasi matematis di ruas kiri,<br />
maka operasi yang sama harus dilakukan pula di ruas kanan agar<br />
kesamaan tetap terjaga. Kita lakukan diferensiasi (cari turunan) di<br />
kedua ruas, <strong>dan</strong> kita akan peroleh<br />
dy dx dy<br />
2x<br />
+ x + y + 2y<br />
= 0<br />
dx dx dx<br />
dy<br />
( x + 2y)<br />
= −2x<br />
− y<br />
dx<br />
Untuk titik-titik di mana ( x + 2y)<br />
≠ 0 kita peroleh turunan<br />
dy<br />
dx<br />
= −<br />
2x<br />
+ y<br />
x + 2y<br />
Untuk suatu titik tertentu, misalnya [1,2], maka<br />
125
dy 2 + 2<br />
= − = −0,8<br />
.<br />
dx 1 + 4<br />
Inilah kemiringan garis singgung di titik [1,2] pada kurva fungsi y<br />
bentuk implisit yang se<strong>dan</strong>g kita hadapi.<br />
2). 4 3 4<br />
x + 4xy<br />
− 3y<br />
= 4 . <strong>Fungsi</strong> implisit ini juga merupakan sebuah<br />
persamaan. Kita lakukan diferensiasi pada kedua ruas, <strong>dan</strong> kita<br />
akan memperoleh<br />
3<br />
4<br />
3 dy 3 d(4x)<br />
d(3y<br />
)<br />
4x<br />
+ 4x<br />
+ y − = 0<br />
dx dx dx<br />
3 2 dy 3 3 dy<br />
4x<br />
+ 4x(3y<br />
) + 4y<br />
−12y<br />
= 0<br />
dx<br />
dx<br />
2 3 dy 3 3<br />
(12xy − 12y<br />
) = −4(<br />
x + y )<br />
dx<br />
Di semua titik di mana 2 3<br />
( xy − y ) ≠ 0 kita dapat memperoleh<br />
turunan<br />
3 3<br />
dy − ( x + y )<br />
=<br />
dx 2 3<br />
3( xy − y )<br />
10.5. <strong>Fungsi</strong> Berpangkat Tidak Bulat<br />
Pada waktu kita mencari turunan fungsi yang merupakan pangkat dari<br />
suatu fungsi lain, y = v n , kita syaratkan bahwa n adalah bilangan bulat.<br />
Kita akan melihat sekarang bagaimana jika n merupakan sebuah rasio<br />
p<br />
n = dengan p <strong>dan</strong> q adalah bilangan bulat <strong>dan</strong> q ≠ 0, serta v adalah<br />
q<br />
fungsi yang bisa diturunkan.<br />
<strong>Fungsi</strong> (10.9) dapat kita tuliskan<br />
y<br />
p / q<br />
= v<br />
(10.9)<br />
q p<br />
y = v<br />
(10.10)<br />
yang merupakan bentuk implisit fungsi y. Jika kita lakukan diferensiasi<br />
terhadap x di kedua ruas (10.10) kita peroleh<br />
qy<br />
dy<br />
= pv<br />
dx<br />
q−1 p−1<br />
126 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
dv<br />
dx
Jika y ≠ 0, kita dapatkan<br />
p / q p−1<br />
dy d(<br />
v ) pv dv<br />
= =<br />
(10.11)<br />
dx dx q−1<br />
qy dx<br />
Akan tetapi dari (10.9) kita lihat bahwa<br />
sehingga (10.11) menjadi<br />
y<br />
p / q q−1<br />
p−(<br />
p / )<br />
( v ) = v<br />
q−1 q<br />
p / q p−1<br />
dy d(<br />
v ) pv<br />
= =<br />
dx dx p−(<br />
p / q)<br />
qv<br />
=<br />
=<br />
=<br />
p<br />
q<br />
p<br />
q<br />
( p / q)<br />
−1<br />
v<br />
dv<br />
dx<br />
( p−1)<br />
− p+<br />
( p / q)<br />
v<br />
dv<br />
dx<br />
dv<br />
dx<br />
(10.12)<br />
Formulasi (10.12) ini mirip dengan (10.5), hanya perlu persyaratan<br />
bahwa v ≠ 0 untuk p/q < 1.<br />
10.6. Kaidah Rantai<br />
Apabila kita mempunyai persamaan<br />
x = f ( t)<br />
<strong>dan</strong> y = f ( t)<br />
(10.13)<br />
maka relasi antara x <strong>dan</strong> y dapat dinyatakan dalam t. Persamaan demikian<br />
disebut persamaan parametrik, <strong>dan</strong> t disebut parameter. Jika kita<br />
eliminasi t dari kedua persamaan di atas, kita dapatkan persamaan yang<br />
berbentuk<br />
y = F(x)<br />
(10.14)<br />
Bagaimanakah<br />
dy<br />
= F ′(x)<br />
dari (10.14) ber-relasi dengan<br />
dx<br />
dy<br />
dx<br />
= g′<br />
( t)<br />
<strong>dan</strong> = f ′(<br />
t)<br />
?<br />
dt<br />
dt<br />
Pertanyaan ini terjawab oleh kaidah rantai berikut ini.<br />
127
Jika y = F(x)<br />
dapat diturunkan terhadap x <strong>dan</strong><br />
x = f (t) dapat diturunkan terhadap t, maka<br />
y = F( f ( t)<br />
) = g(<br />
t)<br />
dapat diturunkan terhadap t<br />
menjadi<br />
dy dy dx =<br />
dt dx dt<br />
(10.15)<br />
Relasi ini sudah kita kenal.<br />
10.7. <strong>Diferensial</strong> dx <strong>dan</strong> dy<br />
Pada pembahasan fungsi linier kita tuliskan kemiringan garis, m, sebagai<br />
∆y<br />
( y2<br />
− y1)<br />
m = =<br />
∆x<br />
( x2<br />
− x1)<br />
kita lihat kasus jika ∆x mendekati nol namun tidak sama dengan nol.<br />
Limit ini kita gunakan untuk menyatakan turunan fungsi y(x) terhadap x<br />
pada formulasi<br />
dy<br />
dx<br />
=<br />
lim<br />
∆x→0<br />
∆y<br />
=<br />
∆x<br />
f ′(<br />
x)<br />
Sekarang kita akan melihat dx <strong>dan</strong> dy yang didefinisikan sedemikian rupa<br />
sehingga rasio dy/dx , jika dx≠ 0, sama dengan turunan fungsi y terhadap<br />
x. Hal ini mudah dilakukan jika x adalah peubah bebas <strong>dan</strong> y merupakan<br />
fungsi dari x:<br />
Kita ambil definisi sebagai berikut<br />
y = F(x)<br />
(10.16)<br />
1. dx, kita sebut sebagai diferensial x, merupakan bilangan nyata<br />
berapapun nilainya, <strong>dan</strong> merupakan peubah bebas yang lain<br />
selain x;<br />
2. dy, kita sebut sebagai diferensial y, adalah fungsi dari x <strong>dan</strong> dx<br />
yang dinyatakan dengan<br />
dy = F'<br />
( x)<br />
dx<br />
(10.17)<br />
Kita telah terbiasa menuliskan turunan fungsi y terhadap x sebagai<br />
128 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
dy<br />
= f ′(x)<br />
.<br />
dx<br />
Perhatikanlah bahwa ini bukanlah rasio dari dy terhadap dx melainkan<br />
turunan fungsi y terhadap x. Akan tetapi jika kita bersikukuh meman<strong>dan</strong>g<br />
relasi ini sebagai suatu rasio dari dy terhadap dx maka kita juga akan<br />
memperoleh relasi (10.17), namun sesungguhnya (10.17) didefinisikan<br />
<strong>dan</strong> bukan berasal dari relasi ini.<br />
Pengertian terhadap dy lebih jelas jika dilihat secara geometris seperti<br />
terlihat pada Gb.10.1. Di titik P pada kurva, jika nilai x berubah sebesar<br />
dx satuan, maka di sepanjang garis singgung di titik P nilai y akan<br />
berubah sebesar dy. <strong>Diferensial</strong> dx dianggap bernilai positif jika ia<br />
“mengarah ke kanan” <strong>dan</strong> negatif jika “mengarah ke kiri”. <strong>Diferensial</strong> dy<br />
dianggap bernilai positif jika ia “mengarah ke atas” <strong>dan</strong> negatif jika<br />
“mengarah ke bawah”.<br />
y<br />
y<br />
dy<br />
dx<br />
P dx dy<br />
P<br />
θ<br />
θ<br />
x<br />
x<br />
y<br />
dx<br />
P<br />
dy<br />
θ<br />
x<br />
Gb.10.1. Penjelasan geometris tentang diferensial.<br />
dy<br />
= tan θ ; dy = (tan θ)<br />
dx<br />
dx<br />
dy<br />
1. adalah laju perubahan y terhadap perubahan x.<br />
dx<br />
2. dy adalah besar perubahan nilai y sepanjang garis<br />
singgung di titik P pada kurva, jika nilai x berubah<br />
sebesar dx skala.<br />
y<br />
dy<br />
dx<br />
P<br />
θ<br />
x<br />
129
Dengan pengertian diferensial seperti di atas, kita kumpulkan formula<br />
turunan fungsi <strong>dan</strong> formula diferensial fungsi dalam Tabel-10.1. Dalam<br />
tabel ini v adalah fungsi x.<br />
Tabel-10.1<br />
Turunan <strong>Fungsi</strong><br />
<strong>Diferensial</strong><br />
dc<br />
1. = 0 ; c = konstan 1. dc = 0 ; c = konstan<br />
dx<br />
2.<br />
dcv dv = c<br />
2. dcv = cdv<br />
dx dx<br />
d( v + w)<br />
dv dw<br />
3. = +<br />
3. d ( v + w)<br />
= dv + dw<br />
dx dx dx<br />
4.<br />
dvw dw dv<br />
= v + w 4. d ( vw)<br />
= vdw + wdv<br />
dx dx dx<br />
⎛ v ⎞<br />
d⎜<br />
⎟<br />
⎝ w ⎠<br />
5. =<br />
dx<br />
dv<br />
w<br />
dx<br />
− v<br />
2<br />
w<br />
dw<br />
dx<br />
⎛<br />
5. d⎜<br />
⎝<br />
v<br />
w<br />
⎞ wdv − vdw<br />
⎟ =<br />
⎠<br />
2<br />
w<br />
n<br />
dv<br />
6.<br />
dx<br />
n−1<br />
dv<br />
n n−1<br />
= nv<br />
6. dv = nv dv<br />
dx<br />
−1<br />
7.<br />
dcx n<br />
n<br />
= cnx<br />
7. n n−1<br />
d(<br />
cx ) = cnx dx<br />
dx<br />
Ada dua cara untuk mencari diferensial suatu fungsi.<br />
1. Mencari turunannya lebih dulu (kolom kiri Tabel-10.1),<br />
kemudian dikalikan dengan dx.<br />
2. Menggunakan langsung formula diferensial (kolom kanan<br />
Tabel-10.1)<br />
Kita ambil suatu contoh: cari dy dari fungsi<br />
3 3 2 −<br />
y = x − x + 5x<br />
6<br />
130 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Turunan y adalah : y ′ = 3x<br />
2 − 6x<br />
+ 5<br />
sehingga<br />
2<br />
dy = (3x<br />
− 6x<br />
+ 5)<br />
dx<br />
Kita dapat pula mencari langsung dengan menggunakan formula dalam<br />
tabel di atas:<br />
3 2<br />
2<br />
dy = d(<br />
x ) + d(<br />
−3x<br />
) + d(5x)<br />
+ d(<br />
−6)<br />
= 3x<br />
dx − 6xdx<br />
+ 5dx<br />
2<br />
= (3x<br />
− 6x<br />
+ 5) dx<br />
131
Soal-Soal : Carilah turunan fungsi-fungsi berikut.<br />
3 2<br />
y = ( x − 1) ( x + 3) ;<br />
3 4<br />
y = ( x − 2x)<br />
;<br />
2 2 −3<br />
y = ( x + 2) ( x + 1)<br />
2x<br />
+ 1<br />
y = ;<br />
2<br />
x − 1<br />
2<br />
⎛ x + 1⎞<br />
y = ⎜ ⎟ ;<br />
⎝ x − 1⎠<br />
2x<br />
y =<br />
2<br />
3x<br />
+ 1<br />
2xy<br />
+ y<br />
x<br />
x<br />
2<br />
3<br />
y<br />
2<br />
+ y<br />
3<br />
2<br />
= x<br />
= 1;<br />
x − y<br />
= 2<br />
x − 2y<br />
= x + y;<br />
2<br />
+ y<br />
2<br />
;<br />
132 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 11<br />
Turunan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> (3)<br />
(<strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> Trigonometri, Trigonometri<br />
Inversi, Logaritmik, Eksponensial)<br />
11.1. Turunan <strong>Fungsi</strong> Trigonometri<br />
Jika<br />
y = sin x maka<br />
dy d sin x sin( x + ∆x)<br />
− sin x<br />
= =<br />
dx dx<br />
∆x<br />
sin x cos∆x<br />
+ cos xsin<br />
∆x<br />
− sin x<br />
=<br />
∆x<br />
Untuk nilai yang kecil, ∆x menuju nol, sin∆x = ∆x <strong>dan</strong> cos∆x = 1. Oleh<br />
karena itu<br />
Jika<br />
y = cos x maka<br />
d sin x = cos x<br />
(11.1)<br />
dx<br />
dy d cos x cos( x + ∆x)<br />
− cos x cos x cos ∆x<br />
− sin xsin<br />
∆x<br />
− cos x<br />
= =<br />
=<br />
dx dx<br />
∆x<br />
∆x<br />
Jik ∆x menuju nol, maka sin∆x = ∆x <strong>dan</strong> cos∆x = 1. Oleh karena itu<br />
d cos x<br />
= − sin x<br />
(11.2)<br />
dx<br />
Turunan fungsi trigonometri yang lain tidak terlalu sulit untuk dicari.<br />
2<br />
d tan x d ⎛ sin x ⎞ cos x − sin x(<br />
−sin<br />
x)<br />
1 2<br />
= ⎜ ⎟ =<br />
= = sec x<br />
dx dx cos x<br />
2<br />
2<br />
⎝ ⎠ cos x cos x<br />
2<br />
d 2<br />
cot x d ⎛ cos x ⎞ − sin<br />
= ⎜ ⎟ =<br />
dx dx ⎝ sin x ⎠<br />
d sec x<br />
=<br />
dx<br />
d csc x<br />
=<br />
dx<br />
d<br />
dx<br />
d<br />
dx<br />
⎛<br />
⎜<br />
⎝<br />
⎛<br />
⎜<br />
⎝<br />
x − cos x(cos<br />
x)<br />
−1<br />
= = −csc<br />
2<br />
2<br />
sin x sin x<br />
1 ⎞ 0 − ( −sin<br />
x)<br />
sin x<br />
⎟ =<br />
= = sec x tan x<br />
cos x<br />
2<br />
2<br />
⎠ cos x cos x<br />
1 ⎞ 0 − (cos x)<br />
− cos x<br />
⎟ = = = −csc<br />
x cot x<br />
sin x 2<br />
2<br />
⎠ sin x sin x<br />
x<br />
133
Soal-Soal: Carilah turunan fungsi-fungsi berikut.<br />
2<br />
y = tan( 4x<br />
) ; y = 5sin (3x) ; y = 3cos<br />
y = cot(3x<br />
+ 6) ;<br />
4<br />
4<br />
2<br />
3<br />
y = sin (2x)<br />
− cos(2x)<br />
y = sec x − tan x ; y = (csc x + cot x)<br />
Contoh-Contoh Dalam Praktik Rekayasa. Berikut ini kita akan melihat<br />
turunan fungsi trigonometri dalam rangkaian listrik. (ref. [3] Bab-4).<br />
1). Tegangan pada suatu kapasitor merupakan fungsi sinus v C =<br />
200sin400t volt. Kita akan melihat bentuk arus yang mengalir pada<br />
kapasitor yang memiliki kapasitansi C = 2×10 -6 farad ini.<br />
Hubungan antara tegangan kapasitor v C <strong>dan</strong> arus kapasitor i C adalah<br />
i<br />
C =<br />
Arus yang melalui kapasitor adalah<br />
dv<br />
d<br />
dt<br />
dv<br />
C<br />
dt<br />
6<br />
C<br />
C<br />
C = = 2 × 10 ×<br />
=<br />
i<br />
dt<br />
C<br />
2<br />
( 200sin 400t) 0,160cos400t<br />
ampere<br />
Daya adalah perkalian tegangan <strong>dan</strong> arus. Jadi daya yang diserap<br />
kapasitor adalah<br />
pC<br />
= vCiC<br />
= 200sin 400t<br />
× 0,16cos 400t<br />
= 32cos 400t<br />
sin 400t<br />
= 16sin 800t<br />
watt<br />
Bentuk kurva tegangan <strong>dan</strong> arus terlihat pada gambar di bawah ini.<br />
v C<br />
i C<br />
p C<br />
200<br />
100<br />
i C<br />
v C<br />
p C<br />
2<br />
x<br />
-100<br />
0<br />
0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05<br />
t [detik]<br />
-200<br />
Pada waktu tegangan mulai naik pada t = 0, arus justru sudah mulai<br />
menurun dari nilai maksimumnya. Dengan kata lain kurva arus<br />
mencapai nilai puncak-nya lebih dulu dari kurva tegangan; dikatakan<br />
134 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
ahwa arus kapasitor mendahului tegangan kapasitor. Perbedaan<br />
kemunculan ini disebut perbedaan fasa yang untuk kapasitor<br />
besarnya adalah 90 o ; jadi arus mendahului tegangan dengan beda<br />
fasa sebesar 90 o .<br />
Kurva daya bervariasi secara sinusoidal dengan frekuensi dua kali<br />
lipat dari frekuensi tegangan maupun arus. Variasi ini simetris<br />
terhadap sumbu waktu. Kapasitor menyerap daya selama setengah<br />
perioda <strong>dan</strong> memberikan daya selama setengah perioda berikutnya.<br />
Secara keseluruhan tidak akan ada penyerapan daya netto; daya ini<br />
disebut daya reaktif.<br />
2). Arus pada suatu inductor L = 2,5 henry merupakan fungsi sinus<br />
terhadap waktu sebagai i L = −0,2cos400t ampere. Berapakah<br />
tegangan antara ujung-ujung induktor <strong>dan</strong> daya yang diserapnya ?<br />
Hubungan antara tegangan induktor v L <strong>dan</strong> arus induktor i L adalah<br />
diL<br />
vL = L<br />
dt<br />
diL<br />
d<br />
vL = L = 2 ,5 × − 0,2 cos 400t<br />
= 2,5 × 0,2 × sin 400t<br />
× 400 = 200sin 400<br />
dt dt<br />
( ) t<br />
Daya yang diserap inductor adalag tegangan kali arusnya.<br />
pL<br />
= vLiL<br />
= 200sin 400t<br />
× ( −0.2cos 400t)<br />
= −40sin 400t<br />
cos 400t<br />
= −20sin 800t<br />
W<br />
Kurva tegangan, arus, <strong>dan</strong> daya adalah sebagai berikut.<br />
v L<br />
i L<br />
p L<br />
200<br />
100<br />
v L i L<br />
p L<br />
0<br />
0<br />
-100<br />
0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 t[detik]<br />
-200<br />
Kurva tegangan mencapai nilai puncak pertama-nya lebih awal dari<br />
kurva arus. Jadi tegangan mendahului arus atau lebih sering<br />
dikatakan bahwa arus ketinggalan dari tegangan (hal ini merupakan<br />
kebalikan dari kapasitor). Perbedaan fasa di sini juga 90 o , artinya<br />
arus ketinggalan dari tegangan dengan sudut fasa 90 o .<br />
Daya bervariasi secara sinus <strong>dan</strong> simetris terhadap sumbu waktu,<br />
yang berarti tak terjadi transfer energi netto; ini adalah daya reaktif.<br />
135
11.2. Turunan <strong>Fungsi</strong> Trigonometri Inversi<br />
1) y = sin −1 x<br />
1<br />
y<br />
2<br />
1 − x<br />
x<br />
x = sin y ⇒ dx = cos ydy ⇒<br />
dy<br />
dx<br />
=<br />
1<br />
1 − x<br />
2<br />
dy<br />
dx<br />
=<br />
1<br />
cos<br />
y<br />
2) y = cos −1 x<br />
3) y = tan −1 x<br />
4) y = cot −1 x<br />
1 2<br />
1 − x<br />
y<br />
x<br />
2<br />
1+<br />
x<br />
y<br />
1<br />
2<br />
1+<br />
x<br />
y<br />
x<br />
x<br />
1<br />
x = cos y ⇒ dx = −sin<br />
ydy ⇒<br />
dy −1<br />
=<br />
dx sin y<br />
dy<br />
dx<br />
=<br />
−1<br />
1 − x<br />
1<br />
x = tan y ⇒ dx = dy ⇒<br />
2<br />
cos y<br />
dy = cos<br />
2 y<br />
dx<br />
dy 1<br />
=<br />
dx 1+<br />
x<br />
2<br />
−1<br />
x = cot y ⇒ dx = dy ⇒<br />
2<br />
sin y<br />
dy = −sin<br />
2 y<br />
dx<br />
dy<br />
dx<br />
−1<br />
=<br />
1+<br />
x<br />
2<br />
2<br />
136 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
5) y = sec −1 x ⇒<br />
x<br />
y<br />
1<br />
1<br />
0 − ( −sin<br />
x)<br />
x = sec y = ⇒ dx =<br />
dy<br />
cos y<br />
2<br />
cos y<br />
2<br />
dy cos y 1 ⎛ ⎞<br />
⎜ x<br />
= = × ⎟<br />
x 2 − 1 dx sin y 2<br />
x ⎜ 2 ⎟<br />
⎝ x − 1 ⎠<br />
1<br />
=<br />
2<br />
x x − 1<br />
6) y = csc −1 x<br />
x<br />
y<br />
x 2 − 1<br />
1<br />
1 0 − (cos x)<br />
x = csc y = ⇒ dx = dy<br />
sin y<br />
2<br />
sin y<br />
2<br />
dy sin y 1<br />
= = − ×<br />
dx − cos y 2<br />
x<br />
=<br />
x<br />
− 1<br />
x<br />
2<br />
− 1<br />
x<br />
x<br />
2<br />
− 1<br />
Soal-Soal<br />
1). Jika α = sin −1<br />
(0.5)<br />
carilah cos α , tan α , sec α , <strong>dan</strong> csc α .<br />
−<br />
2). Jika α = cos 1 ( −0.5)<br />
carilah<br />
sin α , tan α , sec α , <strong>dan</strong> csc α .<br />
−1<br />
−1<br />
3). Hitunglah sin (1) − sin ( −1)<br />
.<br />
−1<br />
−1<br />
4). Hitunglah tan (1) − tan ( −1)<br />
.<br />
−1<br />
−1<br />
5). Hitunglah sec (2) − sec ( −2)<br />
.<br />
11.3. <strong>Fungsi</strong> Trigonometri Dari Suatu <strong>Fungsi</strong><br />
Jika v = f(x), maka<br />
d(sin<br />
v)<br />
d(sin<br />
v)<br />
=<br />
dx dv<br />
d(cosv)<br />
d(cosv)<br />
=<br />
dx dv<br />
dv<br />
dx<br />
dv<br />
dx<br />
= cosv<br />
dv<br />
dx<br />
= −sin<br />
v<br />
dv<br />
dx<br />
137
Jika w = f(x), maka<br />
d(tan<br />
v)<br />
d ⎛ sin v ⎞ cos x + sin x dv 2<br />
= ⎜ ⎟ =<br />
= sec v<br />
dx dx cosv<br />
2<br />
⎝ ⎠ cos x dx<br />
d 2<br />
(cot v)<br />
d ⎛ cosv<br />
⎞ dv<br />
= ⎜ ⎟ = −csc<br />
v . (Buktikan!).<br />
dx dx ⎝ sin v ⎠ dx<br />
d(secv)<br />
=<br />
dx<br />
d<br />
dx<br />
⎛<br />
⎜<br />
⎝<br />
1<br />
cos<br />
2<br />
⎞ 0 + sin v<br />
⎟ =<br />
v 2<br />
⎠ cos v<br />
dv<br />
dx<br />
2<br />
= secv<br />
tan v<br />
dv<br />
dx<br />
d(cscv)<br />
d ⎛ 1 ⎞<br />
dv<br />
= ⎜ ⎟ = −cscv<br />
cot v . (Buktikan!).<br />
dx dx ⎝ sin v ⎠<br />
dx<br />
−1<br />
d(sin<br />
w)<br />
=<br />
dx<br />
−1<br />
d(cos<br />
w)<br />
= −<br />
dx<br />
−1<br />
d(tan<br />
dx<br />
−1<br />
d(cot<br />
dx<br />
−1<br />
d(sec<br />
dx<br />
−1<br />
d(csc<br />
dx<br />
1<br />
1 − w<br />
w)<br />
1<br />
=<br />
1 + w<br />
1<br />
2<br />
1 − w<br />
2<br />
w)<br />
1<br />
= −<br />
1 + w<br />
w)<br />
=<br />
w<br />
w)<br />
= −<br />
w<br />
1<br />
w<br />
2<br />
dw<br />
dx<br />
2<br />
dw<br />
dx<br />
2<br />
1<br />
w<br />
dw<br />
dx<br />
−1<br />
2<br />
dw<br />
dx<br />
. (Buktikan!).<br />
. (Buktikan!).<br />
. (Buktikan!).<br />
. (Buktikan!).<br />
dw<br />
dx<br />
. (Buktikan!).<br />
dw<br />
. (Buktikan!).<br />
−1<br />
dx<br />
dv<br />
dx<br />
Soal-Soal : Carilah turunan fungsi-fungsi berikut.<br />
y = sin<br />
−1<br />
1<br />
y = tan<br />
3<br />
(0,5x) ;<br />
−1<br />
x<br />
;<br />
3<br />
y = cos<br />
y = sec<br />
−1<br />
−1<br />
(2x)<br />
4x<br />
138 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
11.4. Turunan <strong>Fungsi</strong> Logaritmik<br />
Walaupun kita belum membicarakan tentang integral, kita telah<br />
mengetahui bahwa fungsi f ( x)<br />
= ln x didefinisikan melalui suatu<br />
integrasi (lihat bahasan tentang fungsi logaritmik sub-bab 8.1)<br />
x 1<br />
f ( x)<br />
= ln x =<br />
∫<br />
dt ( x > 0)<br />
1 t<br />
y = ln x adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh kurva (1/t) <strong>dan</strong> sumbu-t, di<br />
selang antara t = 1 <strong>dan</strong> t = x pada Gb.11.1.<br />
6<br />
5<br />
y<br />
4<br />
3<br />
2<br />
1<br />
1/t lnx<br />
ln(x+∆x)−lnx<br />
Kita lihat pula<br />
0<br />
0 1 2 x 3 t<br />
x<br />
4<br />
1/x<br />
x+∆x 1/(x+∆x)<br />
Gb.11.1. Definisi lnx <strong>dan</strong> turunan lnx secara grafis.<br />
ln( x + ∆x)<br />
− ln( x)<br />
1 ⎛ ∆ ⎞<br />
= ⎜ ⎟<br />
∆ ∆ ∫<br />
x+ x 1<br />
dt<br />
(11.3)<br />
x x ⎝ x t ⎠<br />
Apa yang berada dalam tanda kurung (11.3) adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang<br />
dibatasi oleh kurva (1/t) <strong>dan</strong> sumbu-t, antara t = x <strong>dan</strong> t = x + ∆x. Luas<br />
bi<strong>dan</strong>g ini lebih kecil dari luas persegi panjang (∆x × 1/x). Namun jika<br />
∆x makin kecil, luas bi<strong>dan</strong>g tersebut akan makin mendekati (∆x × 1/x);<br />
<strong>dan</strong> jika ∆x mendekati nol luas tersebut sama dengan (∆x × 1/x). Pada<br />
keadaan batas ini (11.3) akan bernilai (1/x). Jadi<br />
d ln x 1 = (11.4)<br />
dx x<br />
139
Jika v adalah v = f(x), kita mencari turunan dari lnv dengan<br />
memanfaatkan kaidah rantai. Kita ambil contoh: v = 3x<br />
2 + 4<br />
d ln v d ln v<br />
=<br />
dx dv<br />
dv<br />
dx<br />
1 d(3x<br />
+ 4) 6x<br />
=<br />
=<br />
2<br />
2<br />
3x<br />
+ 4 dx 3x<br />
+ 4<br />
Soal-Soal: Carilah turunan fungsi-fungsi berikut.<br />
ln( 2<br />
x<br />
y = x + 2x) ; y = ln ; y = ln(cos x) ; y = ln(ln x)<br />
2 + 2x<br />
11.5. Turunan <strong>Fungsi</strong> Eksponensial<br />
<strong>Fungsi</strong> eksponensial berbentuk<br />
140 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
2<br />
x<br />
y = e<br />
(11.5)<br />
Persamaan (11.5) berarti ln y = x ln e = x , <strong>dan</strong> jika kita lakukan<br />
penurunan secara implisit di kedua sisinya akan kita dapatkan<br />
d ln y 1<br />
=<br />
dx y<br />
dy<br />
dx<br />
= 1<br />
atau<br />
dy<br />
dx<br />
x<br />
= =<br />
(11.6)<br />
Jadi turunan dari e x adalah e x itu sendiri. Inilah fungsi eksponensial yang<br />
tidak berubah terhadap operasi penurunan yang berarti bahwa penurunan<br />
dapat dilakukan beberapa kali tanpa mengubah bentuk fungsi. Turunanturunan<br />
dari<br />
x<br />
y = e adalah<br />
x<br />
y ′<br />
x<br />
= e y ′′<br />
x<br />
= e y ′′′<br />
= e dst.<br />
Formula yang lebih umum adalah jika eksponennya merupakan suatu<br />
fungsi, v = v(x)<br />
.<br />
Kita ambil contoh:<br />
y = e<br />
v<br />
v<br />
y<br />
e<br />
de de dv v dv<br />
= = e<br />
(11.7)<br />
dx dv dx dx<br />
tan −1 x<br />
dy tan<br />
= e<br />
dx<br />
−1<br />
x<br />
d tan<br />
−1<br />
−1<br />
tan x<br />
x e<br />
=<br />
dx<br />
2<br />
+ x<br />
Soal-Soal: Carilah turunan fungsi-fungsi berikut.<br />
x −x<br />
x −x<br />
2 x e − e e − e<br />
−1<br />
sin x 1/ x<br />
y = x e ; y = ; y = ; y = e ; y = e<br />
2<br />
x −x<br />
e + e<br />
1
Bab 12<br />
Integral (1)<br />
(Macam Integral, Pendekatan umerik)<br />
Dalam bab sebelumnya, kita mempelajari salah satu bagian utama<br />
kalkulus, yaitu kalkulus diferensial. Berikut ini kita akan membahas<br />
bagian utama kedua, yaitu kalkulus integral.<br />
Dalam pengertian sehari-hari, kata “integral” mengandung arti<br />
“keseluruhan”. Istilah “mengintegrasi” bisa berarti “menunjukkan<br />
keseluruhan” atau “memberikan total”; dalam matematika berarti<br />
“menemukan fungsi yang turunannya diketahui”.<br />
Misalkan dari suatu fungsi f(x) yang diketahui kita diminta untuk<br />
mencari suatu fungsi y sedemikian rupa sehingga dalam rentang nilai x<br />
tertentu, misalnya a< x < b, dipenuhi persamaan<br />
dy = f (x)<br />
(12.1)<br />
dx<br />
Persamaan seperti (12.1) ini, yang menyatakan turunan fungsi sebagai<br />
fungsi x (dalam beberapa hal ia mungkin juga merupakan fungsi x <strong>dan</strong> y)<br />
disebut persamaan diferensial. Sebagai contoh:<br />
dy 2<br />
= 2x<br />
+ 5x<br />
+ 6<br />
dx<br />
2<br />
d y dy 2 2<br />
+ 6xy<br />
+ 3x<br />
y = 0<br />
2<br />
dx dx<br />
Pembahasan yang akan kita lakukan hanya mengenai bentuk persamaan<br />
diferensial seperti contoh yang pertama.<br />
12.1. Integral Tak Tentu<br />
Suatu fungsi y = F(x)<br />
dikatakan sebagai solusi dari persamaan<br />
diferensial (12.1) jika dalam rentang a< x < b ia dapat diturunkan <strong>dan</strong><br />
dapat memenuhi<br />
dF(<br />
x)<br />
= f ( x)<br />
(12.2)<br />
dx<br />
Perhatikan bahwa jika F(x) memenuhi (12.2) maka F ( x)<br />
+ K dengan K<br />
adalah suatu nilai tetapan sembarang, juga akan memenuhi (12.2) sebab<br />
141
d<br />
[ F(<br />
x)<br />
+ K]<br />
dx<br />
dF(<br />
x)<br />
dK<br />
= +<br />
dx dx<br />
Jadi secara umum dapat kita tuliskan<br />
dF(<br />
x)<br />
= + 0<br />
dx<br />
(12.3)<br />
∫<br />
f ( x)<br />
dx = F(<br />
x)<br />
+ K<br />
(12.4)<br />
yang kita baca: integral f(x) dx adalah F(x) ditambah K.<br />
Persamaan (12.2) dapat pula kita tulisan dalam bentuk diferensial, yaitu<br />
dF ( x)<br />
= f ( x)<br />
dx<br />
yang jika integrasi dilakukan pada ruas kiri <strong>dan</strong> kanan akan memberikan<br />
∫<br />
dF x)<br />
=<br />
∫<br />
f ( x)<br />
dx<br />
( (12.5)<br />
Jika kita bandingkan (12.5) <strong>dan</strong> (12.4), kita dapat menyimpulkan bahwa<br />
∫<br />
dF ( x)<br />
= F(<br />
x)<br />
+ K<br />
(12. 6)<br />
Jadi integral dari diferensial suatu fungsi adalah fungsi itu sendiri<br />
ditambah suatu nilai tetapan. Integral semacam ini disebut integral tak<br />
tentu; masih ada nilai tetapan K yang harus dicari.<br />
Kita ambil dua contoh untuk inegrasi integrasi tak tentu ini<br />
1) Cari solusi persamaan diferensial<br />
dy = 5x<br />
dx<br />
Kita tuliskan persamaan tersebut dalam bentuk diferensial<br />
dy = 5x<br />
Menurut relasi (9.4) <strong>dan</strong> (9.5) di Bab-9,<br />
Oleh karena itu<br />
5<br />
142 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
4<br />
d( x ) = 5x<br />
dx<br />
4<br />
dx<br />
4<br />
5 5<br />
y =<br />
∫<br />
5 x dx =<br />
∫<br />
d(<br />
x ) = x + K<br />
2). Carilah solusi persamaan dy = x<br />
2 y<br />
dx<br />
Kita tuliskan dalam bentuk diferensial<br />
4<br />
2<br />
dy = x ydx<br />
<strong>dan</strong> kita<br />
kelompokkan peubah dalam persamaan ini sehingga ruas kiri
mengandung hanya peubah tak bebas y <strong>dan</strong> ruas kanan hanya<br />
mengandung peubah bebas x. Proses ini kita lakukan dengan membagi<br />
kedua ruas dengan √y.<br />
y<br />
−1 / 2<br />
dy = x<br />
Ruas kiri memberikan diferensial d( 2y<br />
) y dy<br />
memberikan diferensial<br />
2<br />
dx<br />
1/ 2 −1/<br />
2<br />
= <strong>dan</strong> ruas kanan<br />
⎛ 1 3 ⎞ 2<br />
d⎜<br />
x ⎟ = x dx , sehingga<br />
⎝ 3 ⎠<br />
( 1/ 2 ⎛ 1 3 ⎞<br />
2y<br />
) = d⎜<br />
x ⎟<br />
⎠<br />
d<br />
⎝ 3<br />
Jika kedua ruas diintegrasi, diperoleh<br />
1<br />
2y + K<br />
3<br />
1/ 2<br />
3<br />
+ K1<br />
= x 2 atau<br />
1 / 2 1 3<br />
1 3<br />
2 y = x + K2<br />
− K1<br />
= x + K<br />
3<br />
3<br />
Dua contoh telah kita lihat. Dalam proses integrasi seperti di atas terasa<br />
a<strong>dan</strong>ya keharusan untuk memiliki kemampuan menduga jawaban.<br />
Beberapa hal tersebut di bawah ini dapat memperingan upaya pendugaan<br />
tersebut.<br />
1. Integral dari suatu diferensial dy adalah y ditambah konstanta<br />
sembarang K.<br />
∫<br />
dy = y + K<br />
2. Suatu konstanta yang berada di dalam tanda integral dapat<br />
dikeluarkan<br />
∫<br />
ady = a∫<br />
dy<br />
3. Jika bilangan n ≠ −1, maka integral dari y n dy diperoleh dengan<br />
menambah pangkat n dengan 1 menjadi (n + 1) <strong>dan</strong> membaginya<br />
dengan (n + 1).<br />
n+<br />
1<br />
n y<br />
∫<br />
y dy = + K,<br />
jika n ≠ −1<br />
n + 1<br />
Penggunaan Integral Tak Tentu. Dalam integral tak tentu, terdapat<br />
suatu nilai K yang merupakan bilangan nyata sembarang. Ini berarti<br />
143
ahwa integral tak tentu memberikan hasil yang tidak tunggal melainkan<br />
banyak hasil yang tergantung dari berapa nilai yang dimiliki oleh K.<br />
Dalam pemanfaatan integral tak tentu, nilai K diperoleh dengan<br />
menerapkan apa yang disebut sebagai syarat awal atau kondisi awal.<br />
Kita akan mencoba memahami melalui pengamatan kurva. Jika kita<br />
2<br />
gambarkan kurva y = 10x kita akan mendapatkan kurva bernilai<br />
tunggal seperti Gb.12.1.a. Akan tetapi jika kita melakukan integrasi<br />
10x<br />
∫<br />
3 dx tidak hanya satu kurva yang dapat memenuhi syarat akan<br />
3<br />
tetapi banyak kurva seperti pada Gb.12.1.b; kita akan mendapatkan satu<br />
kurva jika K dapat ditentukan.<br />
y i = 10x 2 +K i<br />
y = 10x 2 50<br />
100<br />
y<br />
100<br />
y<br />
50<br />
K 3<br />
K 2<br />
K 1<br />
-5 -3 -1 1 3 x 5 -5 -3 -1 1 3 x 5<br />
a) b)<br />
Gb.12.1. Integral tak tentu memberikan banyak solusi.<br />
Sebagai contoh kita akan menentukan posisi benda yang bergerak dengan<br />
kecepatan sebagai fungsi waktu yang diketahui. Kecepatan sebuah benda<br />
bergerak dinyatakan sebagai v = at = 3t<br />
, dengan v adalah kecepatan, a<br />
adalah percepatan yang dalam soal ini bernilai 3, t waktu. Kalau posisi<br />
awal benda adalah s 0 = 3 pada waktu t = 0, tentukanlah posisi benda<br />
pada t = 4.<br />
Kita ingat pengertian-pengertian dalam mekanika bahwa kecepatan<br />
ds<br />
adalah laju perubahan jarak, v = ; se<strong>dan</strong>gkan percepatan adalah laju<br />
dt<br />
dv<br />
perubahan kecepatan, a = . Karena kecepatan sebagai fungsi t<br />
dt<br />
diketahui, <strong>dan</strong> kita akan mencari posisi (jarak), maka kita gunakan relasi<br />
ds<br />
v = yang memberikan ds = vdt<br />
dt<br />
144 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
sehingga integrasinya memberikan<br />
2<br />
t<br />
2<br />
s =<br />
∫<br />
atdt = 3 + K = 1,5t<br />
+ K<br />
2<br />
Kita terapkan sekarang kondisi awal, yaitu s 0 = 3 pada t = 0.<br />
3 = 0 + K yang memberikan K = 3<br />
Dengan demikian maka s sebagai fungsi t menjadi s = 1,5t<br />
2 + 3<br />
sehingga pada t = 4 posisi benda adalah s 4 = 27<br />
Luas Sebagai Suatu Integral. Kita akan mencari luas bi<strong>dan</strong>g yang<br />
dibatasi oleh suatu kurva y = f (x)<br />
, sumbu-x, garis vertikal x = p, <strong>dan</strong> x<br />
= q. Sebagai contoh pertama kita ambil fungsi tetapan y = 2 seperti<br />
terlihat pada Gb.12.2.<br />
2<br />
y<br />
y = f(x) =2<br />
A px<br />
∆A px<br />
0<br />
Gb.12.2. Mencari luas bi<strong>dan</strong>g di bawah y = 2.<br />
Jika luas dari p sampai x adalah A px , <strong>dan</strong> kita bisa mencari fungsi<br />
pertambahan luas ∆A px yaitu pertambahan luas jika x bertambah menjadi<br />
x+∆x, maka kita dapat menggunakan fungsi pertambahan tersebut mulai<br />
dari x = p sampai x = q untuk memperoleh A pq yaitu luas dari p sampai q.<br />
Pertambahan luas yang dimaksud tentulah<br />
∆A px<br />
∆A px = 2 ∆x atau = 2 = f ( x)<br />
∆x<br />
Jika ∆x diperkecil menuju nol maka kita dapatkan limit<br />
lim<br />
∆x→0<br />
Dari (12.8) kita peroleh<br />
A<br />
p x x+∆x q<br />
∆A<br />
px<br />
∆x<br />
dA<br />
=<br />
dx<br />
px<br />
= f ( x)<br />
= 2<br />
(12.7)<br />
(12.8)<br />
=<br />
∫<br />
dApx<br />
=<br />
∫<br />
2 dx = 2x<br />
K<br />
(12.9)<br />
px +<br />
x<br />
145
Kondisi awal (kondisi batas) adalah A px = 0 untuk x = p. Jika kondisi ini<br />
kita terapkan pada (12.9) kita akan memperoleh nilai K yaitu<br />
sehingga<br />
0 = 2 p + K atau K = −2<br />
p<br />
(12.10)<br />
A px = 2x<br />
− 2 p<br />
(12.11)<br />
Kita mendapatkan luas A px (yang dihitung mulai dari x = p) merupakan<br />
fungsi x. Jika perhitungan diteruskan sampai x = q kita peroleh<br />
A pq<br />
= 2q<br />
− 2 p = 2( q − p)<br />
(12.12)<br />
Inilah hasil yang kita peroleh, yang sudah kita kenal dalam planimetri<br />
yang menyatakan bahwa luas segi empat adalah panjang kali lebar yang<br />
dalam kasus kita ini panjang adalah (q − p) <strong>dan</strong> lebar adalah 2.<br />
Bagaimanakah jika kurva yang kita hadapi bukan kurva dari fungsi<br />
tetapan? Kita lihat kasus fungsi sembarang dengan syarat bahwa ia<br />
kontinyu dalam rentang p ≤ x ≤ q seperti digambarkan pada Gb.12.3.<br />
y<br />
f(x)<br />
f(x+∆x )<br />
y = f(x)<br />
A px<br />
∆A px<br />
Gb.12.3. <strong>Fungsi</strong> sembarang kontinyu dalam a ≤ x ≤ b<br />
Dalam kasus ini, ∆A px bisa memiliki dua nilai tergantung dari apakah<br />
dalam menghitungnya kita memilih ∆A px = f(x)∆x atau ∆A px = f(x+∆x)∆x.<br />
Namun kita akan mempunyai nilai<br />
∆ = f ( x)<br />
∆x<br />
≤ f ( x0 ) ∆x<br />
≤ f ( x + ∆x)<br />
∆x<br />
(12.13)<br />
A px<br />
dengan x 0 adalah suatu nilai x yang terletak antara x <strong>dan</strong> x+∆x. Jika ∆x<br />
kita buat mendekati nol kita akan mempunyai<br />
∆ = f ( x)<br />
∆x<br />
= f ( x0 ) ∆x<br />
= f ( x + ∆x)<br />
∆x<br />
(12.14)<br />
A px<br />
0<br />
p x x+∆x q<br />
Dengan demikian kita akan mendapatkan limit<br />
x<br />
146 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
lim<br />
∆x→0<br />
Dari sini kita peroleh<br />
A<br />
∆A<br />
px<br />
∆x<br />
dA<br />
=<br />
dx<br />
px<br />
= f ( x)<br />
(12.15)<br />
=<br />
∫<br />
dApx<br />
=<br />
∫<br />
f ( x)<br />
dx = F(<br />
x)<br />
K<br />
(12.16)<br />
px +<br />
Dengan memasukkan kondisi awal A px = 0 untuk x = p <strong>dan</strong> kemudian<br />
memasukkan nilai x = q kita akan memperoleh<br />
A<br />
pq = F( q)<br />
− F(<br />
p)<br />
= F(<br />
x)<br />
] q p<br />
(12.17)<br />
12.2. Integral Tentu<br />
Integral tentu merupakan integral yang batas-batas integrasinya jelas.<br />
Konsep dasar integral tentu adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang dipan<strong>dan</strong>g sebagai<br />
suatu limit. Kita akan menghitung luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh suatu<br />
kurva y = f(x), sumbu-x, garis x = p, <strong>dan</strong> x = q, yaitu luas bagian yang<br />
diarsir pada Gb.12.4.a.<br />
Sebutlah luas bi<strong>dan</strong>g ini A pq . Bi<strong>dan</strong>g ini kita bagi dalam n segmen <strong>dan</strong><br />
kita akan menghitung luas setiap segmen <strong>dan</strong> kemudian<br />
menjumlahkannya untuk memperoleh A pq . Jika penjumlahan luas segmen<br />
kita lakukan dengan menghitung luas segmen seperti tergambar pada<br />
Gb.12.4.b, kita akan memperoleh luas yang lebih kecil dari dari luas<br />
yang kita harapkan; sebutlah jumlah luas segmen ini A pqb (jumlah luas<br />
segmen bawah).<br />
Jika penjumlahan luas segmen kita lakukan dengan menghitung luas<br />
segmen seperti tergambar pada Gb.12.4.c, kita akan memperoleh luas<br />
yang lebih besar dari dari luas yang kita harapkan; sebutlah jumlah luas<br />
segmen ini A pqa (jumlah luas segmen atas).<br />
Kedua macam perhitungan tersebut di atas akan mengakibatkan<br />
terjadinya error. Antara A pqb <strong>dan</strong> A pqa ada selisih seperti terlihat pada<br />
Gb.12.4.d. Jika x 0k adalah suatu nilai x di antara kedua batas segmen kek,<br />
yaitu antara x k <strong>dan</strong> (x k +∆x), maka berlaku<br />
f ( x ) ≤ f ( x0 ) ≤ f ( x + ∆x)<br />
(12.18)<br />
k<br />
k<br />
k<br />
147
y<br />
y = f(x)<br />
(a)<br />
0<br />
p x 2 x k x k+1 x n<br />
x<br />
y<br />
y = f(x)<br />
(b)<br />
0<br />
p x 2 x k x k+1 x n<br />
x<br />
y<br />
y = f(x)<br />
(c)<br />
0<br />
y<br />
p x 2 x k x k+1 x n<br />
y = f(x)<br />
x<br />
(d) 0 p x 2 x k x k+1 x n x<br />
Gb.12.4. Menghitung luas bi<strong>dan</strong>g di bawah kurva.<br />
Jika pertidaksamaan (12.18) dikalikan dengan ∆x k yang yang cukup kecil<br />
<strong>dan</strong> bernilai positif, maka<br />
f<br />
( xk<br />
) ∆ xk<br />
≤ f ( x0 k ) ∆xk<br />
≤ f ( xk<br />
+ ∆x)<br />
∆xk<br />
(12.19)<br />
Jika luas segmen di ruas kiri, tengah, <strong>dan</strong> kanan dari (12.19) kita<br />
jumlahkan dari 1 sampai n (yaitu sebanyak jumlah segmen yang kita<br />
buat), kita akan memperoleh<br />
148 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
n<br />
n<br />
n<br />
∑ f ( xk<br />
) ∆xk<br />
≤∑<br />
f ( x0k<br />
) ∆xk<br />
≤ ∑ f ( xk<br />
+ ∆x)<br />
∆xk<br />
(12.20)<br />
k = 1<br />
k = 1<br />
k = 1<br />
Ruas paling kiri adalah jumlah luas segmen bawah, A pqb ; ruas paling<br />
kanan adalah jumlah luas segmen atas, A pqa ; ruas yang di tengah adalah<br />
jumlah luas segmen pertengahan, kita namakan A n . Jelaslah bahwa<br />
A<br />
pqb ≤ An<br />
≤ Apqa<br />
(12.21)<br />
Nilai A n dapat dipakai sebagai pendekatan pada luas bi<strong>dan</strong>g yang kita<br />
cari. Error yang terjadi sangat tergantung dari jumlah segmen, n. Jika n<br />
kita perbesar menuju tak hingga <strong>dan</strong> semua ∆x k menuju nol, maka luas<br />
bi<strong>dan</strong>g yang kita cari adalah<br />
A<br />
pq = lim Apqb<br />
= lim An<br />
= lim Apqa<br />
(12.22)<br />
∆x<br />
→0<br />
∆x<br />
→0<br />
∆x<br />
→<br />
k k<br />
k<br />
0<br />
Jadi apabila kita menghitung limitnya, kita akan memperoleh nilai limit<br />
yang sama, apakah kita menggunakan penjumlahan segmen bawah, atau<br />
atas, atau pertengahannya. Limit yang sama ini disebut integral tertentu,<br />
dituliskan<br />
∫<br />
A f ( x)<br />
dx<br />
(12.23)<br />
= q pq<br />
p<br />
Integral tertentu (12.23) ini terkait dengan integral tak tentu (9.12)<br />
A<br />
pq<br />
q<br />
=<br />
∫<br />
f ( x)<br />
dx = F(<br />
x)<br />
] = F(<br />
q)<br />
− F(<br />
p)<br />
(12.24)<br />
p<br />
q<br />
p<br />
Jadi untuk memperoleh limit bersama dari penjumlahan segmen bawah,<br />
penjumlahan segmen atas, maupun penjumlahan segmen pertengahan<br />
dari fungsi f(x) dalam rentang p ≤ x ≤ q, kita cukup melakukan:<br />
a. integrasi untuk memperoleh F ( x)<br />
=<br />
∫<br />
f ( x)<br />
dx ;<br />
b. masukkan batas atas x = q untuk mendapat F(q);<br />
c. masukkan batas bawah x = p untuk mendapat F(p);<br />
d. kurangkan perolehan batas bawah dari batas atas, F(q) − F(p).<br />
Walaupun dalam pembahasan di atas kita mengambil contoh fungsi yang<br />
bernilai positif dalam rentang p ≤ x ≤ q , namun pembahasan itu<br />
berlaku pula untuk fungsi yang dalam rentang p ≤ x ≤ q sempat<br />
bernilai negatif. Kita hanya perlu mendefinisikan kembali apa yang<br />
disebut dengan A px dalam pembahasan sebelumnya. Pendefinisian yang<br />
baru ini akan berlaku umum, yaitu<br />
149
A px adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh y = f (x)<br />
<strong>dan</strong><br />
sumbu-x dari p sampai x, yang merupakan jumlah luas bagian<br />
yang berada di atas sumbu-x dikurangi dengan luas bagian<br />
yang di bawah sumbu-x.<br />
Agar lebih jelas kita mengambil contoh pada Gb 13.2. Kita akan<br />
menghitung luas antara y = x<br />
3 −12x<br />
<strong>dan</strong> sumbu-x dari x = −3 sampai x<br />
= +3. Bentuk kurva diperlihatkan pada Gb.12.5.<br />
3 −<br />
y = x 12 x<br />
20<br />
Di sini terlihat bahwa dari x = −3 sampai 0 kurva berada di atas sumbu-x<br />
<strong>dan</strong> antara x = 0 sampai +3 kurva ada di bawah sumbu-x. Untuk bagian<br />
yang di atas sumbu-x kita mempunyai luas<br />
0<br />
0<br />
4<br />
3 x ⎤<br />
2<br />
A a =<br />
∫<br />
( x −12x)<br />
dx = − 6x<br />
⎥ = −0<br />
− (20,25 − 54) = 33,75<br />
−3<br />
4 ⎥⎦<br />
−3<br />
Untuk kurva yang di bawah sumbu-x kita dapatkan<br />
3<br />
3<br />
4<br />
3 x ⎤<br />
2<br />
A b =<br />
∫<br />
( x −12x)<br />
dx = − 6x<br />
⎥ = 20,25 − 54 − (0) = −33,75<br />
0<br />
4 ⎥⎦<br />
0<br />
Luas yang kita cari adalah luas bagian yang berada di atas sumbu-x<br />
dikurangi dengan luas bagian yang di bawah sumbu-x<br />
A<br />
- 20<br />
Gb.12.5. Kurva y = x<br />
3 −12x<br />
pq<br />
0<br />
x<br />
- 4 - 3 -2 -1 0 1 2 3 4<br />
= Aa<br />
− Ab<br />
10<br />
- 10<br />
= 33 ,75 − ( −33,755)<br />
= 67,5<br />
Contoh ini menunjukkan bahwa dengan pengertian yang baru mengenai<br />
A px , formulasi<br />
q<br />
A =<br />
∫<br />
f ( x)<br />
dx = F(<br />
q)<br />
− F( p)<br />
)<br />
p<br />
tetap berlaku untuk kurva yang memiliki bagian baik di atas maupun di<br />
bawah sumbu-x.<br />
150 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Dengan demikian maka untuk bentuk kurva seperti pada Gb.12.6. kita<br />
dapatkan<br />
A pq = −A<br />
+<br />
1 + A2<br />
− A3<br />
A4<br />
yang kita peroleh dari A f ( x)<br />
dx = F(<br />
q)<br />
− F( p)<br />
)<br />
pq<br />
=<br />
∫<br />
q<br />
p<br />
y<br />
y = f(x)<br />
p<br />
A 1<br />
A 2<br />
A 3<br />
A 4<br />
q<br />
x<br />
Gb.12.6. Kurva memotong sumbu-x di beberapa titik.<br />
Luas Bi<strong>dan</strong>g Di Antara Dua Kurva. Kita akan menghitung luas bi<strong>dan</strong>g<br />
di antara kurva y 1 = f1 ( x)<br />
<strong>dan</strong> y 2 = f2 ( x)<br />
pada batas antara x = p <strong>dan</strong> x<br />
= q . Kurva yang kita hadapi sudah barang tentu harus kontinyu dalam<br />
rentang p ≤ x ≤ q . Kita tetapkan bahwa kurva y 1 = f1 ( x)<br />
berada di atas<br />
y 2 = f2 ( x)<br />
meskipun mungkin mereka memiliki bagian-bagian yang<br />
berada di bawah sumbu-x. Perhatikan Gb.12.7.<br />
y<br />
y 1<br />
p 0<br />
x x+∆x<br />
q<br />
y 2<br />
x<br />
Gb.12.7. Menghitung luas bi<strong>dan</strong>g antara dua kurva.<br />
Rentang p ≤ x ≤ q kita bagi dalam n segmen, yang salah satunya<br />
diperlihatkan pada Gb.12.7. dengan batas kiri x <strong>dan</strong> batas kanan (x+∆x),<br />
dimana ∆ x = ( q − p)<br />
/ n .<br />
151
Luas segmen dapat didekati dengan<br />
A segmen = { f1 ( x)<br />
− f2(<br />
x)<br />
} ∆x<br />
(12.25)<br />
yang jika kita jumlahkan seluruh segmen akan kita peroleh<br />
n<br />
x=<br />
q−∆x<br />
∑ A segmen = ∑{ f1 ( x)<br />
− f2(<br />
x)<br />
} ∆x<br />
(12.25)<br />
1<br />
x=<br />
p<br />
Dengan membuat n menuju tak hingga sehingga ∆x menuju nol kita<br />
sampai pada suatu limit<br />
n→∞<br />
q<br />
A pq = lim ∑ Asegmen<br />
=<br />
∫ { f1(<br />
x)<br />
− f2(<br />
x)<br />
} dx (12.26)<br />
p<br />
1<br />
Kita lihat beberapa contoh.<br />
1). Jika y 1 = 4 <strong>dan</strong> y 2 = − 2 berapakah luas bi<strong>dan</strong>g antara y 1 <strong>dan</strong> y 2<br />
dari x 1 = p = −2 sampai x 2 = q = +3.<br />
+ 3<br />
+ 3<br />
A pq =<br />
∫<br />
({ 4 − ( −2)<br />
} dx = 6x] − 2 = 18 − ( −12)<br />
= 30<br />
−2<br />
Hasil ini dengan mudah dijakinkan menggunakan planimetri. Luas<br />
yang dicari adalah luas persegi panjang dengan lebar y 1 − y2<br />
= 6<br />
<strong>dan</strong> panjang x 2 − x1<br />
= 5 .<br />
2<br />
2). Jika y 1 = x <strong>dan</strong> y 2 = 4 berpakah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh y 1<br />
<strong>dan</strong> y 2 .<br />
Terlebih dulu kita cari batas-batas integrasi yaitu nilai x pada<br />
perpotongan antara y 1 <strong>dan</strong> y 2 .<br />
2<br />
y 1 = y2<br />
→ x = 4 ⇒ x1<br />
= p = −2,<br />
x2<br />
= q = 2<br />
Perhatikan bahwa y 1 adalah fungsi pangkat dua dengan titik puncak<br />
minimum yang berada pada posisi [0,0]. Oleh karena itu bagian<br />
kurva y 1 yang membatasi bi<strong>dan</strong>g yang akan kita cari luasnya, berada<br />
di di bawah y 2 = 4.<br />
2<br />
2<br />
⎛ 3 ⎞⎤<br />
2<br />
8 8 16 16 32<br />
(4 ) ⎜<br />
x ⎛ ⎞ ⎛ − ⎞ −<br />
A pq = 4 ⎟⎥<br />
∫<br />
− x dx = x − = ⎜8<br />
− ⎟ − ⎜−<br />
8 − ⎟ = − =<br />
− 2<br />
⎜ 3 ⎟<br />
⎝ ⎠⎥<br />
⎝ 3 ⎠ ⎝ 3 ⎠ 3 3 3<br />
⎦-2<br />
Jika kita terbalik dalam meman<strong>dan</strong>g posisi y 1 terhadap y 2 kita akan<br />
melakukan kesalahan:<br />
152 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
2<br />
2<br />
⎛ 3 ⎞⎤<br />
2<br />
8 8 16 16<br />
* ( 4) ⎜<br />
x<br />
⎛ ⎞ ⎛ − ⎞ − +<br />
A pq = 4 ⎟⎥<br />
∫<br />
x − dx = − x = ⎜ − 8⎟ − ⎜ + 8⎟<br />
= − = 0<br />
− 2<br />
⎜ 3 ⎟<br />
⎝ ⎠⎥<br />
⎝ 3 ⎠ ⎝ 3 ⎠ 3 3<br />
⎦-2<br />
2<br />
3). Jika y 1 = −x<br />
+ 2 <strong>dan</strong> y2 = −x<br />
berapakah luas bi<strong>dan</strong>g yang<br />
dibatasi oleh y 1 <strong>dan</strong> y 2 .<br />
Terlebih dulu kita perhatikan karakter fungsi-fungsi ini. <strong>Fungsi</strong><br />
y 1 adalah fungsi kuadrat dengan titik puncak maksimum yang<br />
memotong sumbu-y di y = 2. <strong>Fungsi</strong> y 2 adalah garis lurus<br />
melalui titik asal [0,0] dengan kemiringan negatif −1, yang<br />
berarti ia menurun pada arah x positif. Dengan demikian maka<br />
bagian kurva y 1 yang membatasi bi<strong>dan</strong>g yang akan kita cari<br />
luasnya berada di atas y 2 .<br />
Batas integrasi adalah nilai x pada perpotongan kedua kurva.<br />
y = y<br />
1<br />
2<br />
⇒ −x<br />
2<br />
+ 2 = −x<br />
atau<br />
− x<br />
2<br />
+ x + 2 = 0<br />
2<br />
2<br />
−1<br />
+ 1 + 8<br />
−1<br />
− 1 + 8<br />
x1<br />
= p =<br />
= −1;<br />
x2<br />
= q =<br />
= 2<br />
− 2<br />
− 2<br />
2<br />
2<br />
⎛ 3 2 ⎞⎤<br />
2<br />
( 2 ) ⎜ x x<br />
A 2 ⎟<br />
pq =<br />
⎥<br />
∫<br />
−x<br />
+ + x dx = − + + x<br />
−1<br />
⎜ 3 2 ⎟<br />
⎝<br />
⎠⎥<br />
⎦−1<br />
⎛ 8 ⎞ ⎛ −1<br />
1 ⎞<br />
= ⎜−<br />
+ 2 + 4⎟<br />
− ⎜−<br />
+ − 2⎟ = 4,5<br />
⎝ 3 ⎠ ⎝ 3 2 ⎠<br />
Penerapan Integral Tentu. Pembahasan di atas terfokus pada<br />
penghitungan luas bi<strong>dan</strong>g di bawah suatu kurva. Dalam praktik kita tidak<br />
selalu menghitung luas melainkan menghitung berbagai besaran fisis,<br />
yang berubah terhadap waktu misalnya. Perubahan besaran fisis ini dapat<br />
pula divisualisasi dengan membuat absis dengan satuan waktu <strong>dan</strong><br />
ordinat dengan satuan besaran fisis yang dimaksud. Dengan demikian<br />
seolah-olah kita menghitung luas bi<strong>dan</strong>g di bawah kurva. Berikut ini dua<br />
contoh dalam kelistrikan.<br />
1). Sebuah piranti menyerap daya 100 W pada tegangan konstan<br />
200V. Berapakah energi yang diserap oleh piranti ini selama 8<br />
jam ?<br />
153
Daya adalah laju perubahan energi. Jika daya diberi simbol p<br />
<strong>dan</strong> energi diberi simbol w, maka<br />
dw<br />
p = yang memberikan w =<br />
dt<br />
∫<br />
pdt<br />
Perhatikan bahwa peubah bebas di sini adalah waktu, t. Kalau<br />
batas bawah dari wktu kita buat 0, maka batas atasnya adalah 8,<br />
dengan satuan jam. Dengan demikian maka energi yang diserap<br />
selama 8 jam adalah<br />
8 8<br />
w =<br />
∫<br />
pdt = 100 = 100<br />
0 ∫<br />
dt t<br />
0<br />
8<br />
0<br />
= 800 Watt.hour [Wh]<br />
= 0,8 kilo Watt hour [kWh]<br />
2). Arus yang melalui suatu piranti berubah terhadap waktu sebagai<br />
i(t) = 0,05 t ampere. Berapakah jumlah muatan yang<br />
dipindahkan melalui piranti ini antara t = 0 sampai t = 5 detik ?<br />
Arus i adalah laju perubahan transfer muatan, q.<br />
dq<br />
i = sehingga q =<br />
dt ∫<br />
idt<br />
Jumlah muatan yang dipindahkan dalam 5 detik adalah<br />
5 5<br />
5<br />
0,05 2 1,25<br />
q =<br />
∫<br />
idt = 0,05 = = = 0,625 coulomb<br />
0 ∫<br />
tdt t<br />
0 2 0 2<br />
Pendekatan umerik. Dalam pembahasan mengenai integral tentu, kita<br />
fahami bahwa langkah-langkah dalam menghitung suatu integral adalah:<br />
1. Membagi rentang f(x) ke dalam n segmen; agar proses<br />
perhitungan menjadi sederhana buat segmen yang sama lebar,<br />
∆x.<br />
2. Integral dalam rentang p ≤ x ≤ q dari f(x) dihitung sebagai<br />
∫<br />
q<br />
n<br />
f ( x)<br />
dx = lim ∑ f ( xk<br />
) ∆xk<br />
p<br />
∆x→0<br />
k = 1<br />
dengan f(x k ) adalah nilai f(x) dalam interval ∆x k yang<br />
besarnya akan sama dengan nilai terendah <strong>dan</strong> tertinggi<br />
dalam segmen ∆x k jika ∆x menuju nol.<br />
154 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Dalam aplikasi praktis, kita tentu bisa menetapkan suatu nilai ∆x<br />
sedemikian rupa sehingga jika kita mengambil f(x k ) sama dengan nilai<br />
terendah ataupun tertinggi dalam ∆x k , hasil perhitungan akan lebih rendah<br />
ataupun lebih tinggi dari nilai yang diharapkan. Namun error yang terjadi<br />
masih berada dalam batas-batas toleransi yang dapat kita terima. Dengan<br />
cara ini kita mendekati secara numerik perhitungan suatu integral, <strong>dan</strong><br />
kita dapat menghitung dengan bantuan komputer.<br />
Sebagai ilustrasi kita akan menghitung kembali luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi<br />
oleh kurva y = x<br />
3 −12x<br />
dengan sumbu-x antara x = −3 <strong>dan</strong> x = +3. Luas<br />
ini telah dihitung <strong>dan</strong> menghasilkan A pq = 67, 5 . Kali ini perhitungan<br />
=<br />
∫ 3 3<br />
A pq ( x −12x)<br />
dx akan kita lakukan dengan pendekatan numerik<br />
− 3<br />
dengan bantuan komputer. Karena yang akan kita hitung adalah luas<br />
antara kurva <strong>dan</strong> sumbu-x, maka bagian kurva yang berada di bawah<br />
sumbu-x harus dihitung sebagai positif. Jika kita mengambil nilai ∆x =<br />
0,15 maka rentang −3 ≤ x ≤ 3 akan terbagi dalam 40 segmen.<br />
Perhitungan menghasilkan<br />
A<br />
pq<br />
40<br />
= ∑ ( x<br />
k = 1<br />
3<br />
k<br />
−12x<br />
Error yang terjadi adalah sekitar 0,15%.<br />
k<br />
) = 67,39875 ≈ 67,4<br />
Jika kita mengambil ∆x = 0,05 maka rentang −3 ≤ x ≤ 3 akan terbagi<br />
dalam 120 segmen. Perhitungan menghasilkan<br />
A<br />
pq<br />
120<br />
(<br />
= ∑<br />
k =<br />
1<br />
3<br />
k<br />
−12x<br />
Error yang terjadi adalah sekitar 0,02%.<br />
x<br />
k<br />
) = 67,48875 ≈ 67,5<br />
Jika kita masih mau menerima hasil perhitungan dengan error 0,2%,<br />
maka hasil pendekatan numerik sebesar 67,4 cukup memadai.<br />
Perhitungan numerik di atas dilakukan dengan menghitung luas setiap<br />
segmen sebagai hasilkali nilai minimum ataupun nilai maksimum<br />
masing-masing segmen dengan ∆x. Satu alternatif lain untuk menghitung<br />
luas segmen adalah dengan melihatnya sebagai sebuah trapesium. Luas<br />
setiap segmen menjadi<br />
155
( f ( x min ) + f ( x )) × ∆x<br />
/ 2<br />
Asegmen<br />
= k<br />
kmaks<br />
(12.27)<br />
Perhitungan pendekatan numerik ini kita lakukan dengan bantuan<br />
komputer. Kita bisa memanfaatkan program aplikasi yang ada, ataupun<br />
menggunakan spread sheet jika fungsi yang kita hadapi cukup sederhana.<br />
Soal-Soal:<br />
1. Carilah titik-titik perpotongan fungsi-fungsi berikut dengan<br />
sumbu-x kemudian cari luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh kurva<br />
fungsi dengan sumbu-x.<br />
2 3<br />
y = 2 x − x<br />
2 ; y − y = x<br />
2. Carilah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh kurva <strong>dan</strong> garis berikut.<br />
2<br />
Luas antara kurva y = x <strong>dan</strong> garis x = 4<br />
2<br />
Luas antara kurva y = 2x<br />
− x <strong>dan</strong> garis x = −3<br />
3. Carilah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh dua kurva berikut.<br />
4 2<br />
y = x − 2x <strong>dan</strong><br />
12.3. Volume Sebagai Suatu Integral<br />
2<br />
y = 2x<br />
y = 2x<br />
2 − 5 <strong>dan</strong> y = −2x<br />
2 + 5<br />
Di sub-bab sebelumnya kita menghitung luas bi<strong>dan</strong>g sebagai suatu<br />
integral. Berikut ini kita akan melihat penggunaan integral untuk<br />
menghitung volume.<br />
Balok. Kita ambil contoh sebuah balok<br />
seperti tergambar pada Gb.12.8. Balok ini<br />
dibatasi oleh dua bi<strong>dan</strong>g datar paralel di p<br />
<strong>dan</strong> q. Balok ini diiris tipis-tipis dengan tebal<br />
irisan ∆x sehingga volume balok, V,<br />
merupakan jumlah dari volume semua irisan.<br />
Gb.12.8. Balok<br />
Jika A(x) adalah luas irisan di sebelah kiri <strong>dan</strong> A(x+∆x) adalah luas irisan<br />
di sebelah kanan maka volume irisan ∆V adalah<br />
Volume balok V adalah<br />
A(<br />
x)<br />
∆ x ≤ ∆V<br />
≤ A(<br />
x + ∆x)<br />
∆x<br />
156 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
∆x
∑<br />
q<br />
V = A(<br />
x)<br />
∆ x<br />
p<br />
dengan A (x)<br />
adalah luas rata-rata irisan antara A(x) <strong>dan</strong> A(x+∆x).<br />
Apabila ∆x cukup tipis <strong>dan</strong> kita mengambil A(x) sebagai pengganti A (x)<br />
maka kita memperoleh pendekatan dari nilai V, yaitu<br />
q<br />
V ≈ A(<br />
x)<br />
∆ x<br />
∑<br />
p<br />
Jika ∆x menuju nol <strong>dan</strong> A(x) kontinyu antara p <strong>dan</strong> q maka<br />
q<br />
q<br />
V = lim ∑ A(<br />
x)<br />
∆x<br />
=<br />
∆x→o<br />
∫<br />
A(<br />
x)<br />
dx<br />
(12.28)<br />
p<br />
p<br />
Rotasi Bi<strong>dan</strong>g Segitiga Pada Sumbu-x.<br />
Satu kerucut dapat dibayangkan sebagai<br />
segitiga yang berputar sekitar salah satu<br />
sisinya. Sigitiga ini akan menyapu satu<br />
volume kerucut seperti terlihat pada<br />
Gb.12.9. Segitiga OPQ, dengan OQ<br />
y<br />
O<br />
P<br />
Q<br />
x<br />
berimpit dengan sumbu-x, berputar<br />
∆x<br />
mengelilingi sumbu-x.<br />
Gb.12.9. Rotasi Segitiga OPQ<br />
mengelilingi sumbu-x<br />
Formula (12.28) dapat kita terapkan disini. Dalam hal ini A(x) adalah<br />
luas lingkaran dengan jari-jari r(x); se<strong>dan</strong>gkan r(x) memiliki persamaan<br />
garis OP.<br />
h<br />
h<br />
2<br />
h<br />
2 2<br />
V =<br />
∫<br />
A( x)<br />
dx =<br />
∫<br />
π[ r(<br />
x)<br />
] dx =<br />
∫<br />
πm<br />
x dx (12.29)<br />
0<br />
0<br />
0<br />
dengan m adalah kemiringan garis OP <strong>dan</strong> h adalah jarak O-Q. Formula<br />
(12.29) akan memberikan volume kerucut<br />
2 3<br />
2 3<br />
πm<br />
h π(PQ/OQ)<br />
h 2 h<br />
Vkerucut<br />
= =<br />
= πr<br />
(12.30)<br />
3 3<br />
3<br />
dengan OQ = h <strong>dan</strong> r adalah nilai PQ pada x = h.<br />
Bagaimanakah jika OQ tidak berimpit dengan sumbu-x? Kita akan<br />
memiliki kerucut yang terpotong di bagian puncak. Volume kerucut<br />
157
terporong demikian ini diperoleh dengan menyesuaikan persamaan garis<br />
OP. Jika semula persamaan garis ini berbentuk y = mx berubah menjadi<br />
y = mx + b dengan b adalah perpotongan garis OP dengan sumbu-y.<br />
Rotasi Bi<strong>dan</strong>g Sembarang. Jika f(x)<br />
kontinyu pada a ≤ x ≤ b , rotasi bi<strong>dan</strong>g<br />
antara kurva fungsi ini dengan sumbu-x<br />
antara a ≤ x ≤ b sekeliling sumbu-x akan<br />
membangun suatu volume benda yang<br />
dapat dihitung menggunakan relasi (12.10).<br />
y<br />
f(x)<br />
0 a b<br />
∆x<br />
x<br />
Gb.12.10. Rotasi bi<strong>dan</strong>g<br />
mengelilingi sumbu-x<br />
Dalam menghitung integral (12.28) penyesuaian harus dilakukan pada<br />
A(x) <strong>dan</strong> batas-batas integrasi.<br />
A( x)<br />
= π r(<br />
x)<br />
2 = π f ( x)<br />
( ) ( ) 2<br />
= ∫ b π a<br />
sehingga V ( f x)<br />
)<br />
Gabungan <strong>Fungsi</strong> Linier. Jika f(x) pada<br />
(12.31) merupakan gabungan fungsi linier,<br />
kita akan mendapatkan situasi seperti pada<br />
Gb.12.11.<br />
2<br />
( dx<br />
(12.31)<br />
Gb.12.11. <strong>Fungsi</strong> f(x) merupakan<br />
gabungan fungsi linier.<br />
<strong>Fungsi</strong> f(x) kontinyu bagian demi bagian. Pada Gb.12.11. terdapat tiga<br />
rentang x dimana fungsi linier kontinyu. Kita dapat menghitung volume<br />
total sebagai jumlah volume dari tiga bagian.<br />
<strong>Fungsi</strong> f(x) Memotong Sumbu-x. Formula (12.29) menunjukkan bahwa<br />
dalam menghitung volume, f(x) dikuadratkan. Oleh karena itu jika ada<br />
bagian fungsi yang bernilai negatif, dalam penghitungan volume bagian<br />
ini akan menjadi positif.<br />
12.4. Panjang Kurva Pada Bi<strong>dan</strong>g Datar<br />
Jika kurva y = f (x)<br />
kita bagi dalam n segmen masing-masing selebar<br />
∆x, maka ∆l dalam segmen tersebut adalah<br />
158 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
y<br />
2000<br />
0 a b<br />
∆x<br />
x
∆ l = PQ =<br />
∆x<br />
2<br />
+ ∆y<br />
2<br />
Salah satu segmen diperlihatkan pada Gb.12.12.<br />
Ada satu titik P′ yang terletak pada kurva di segmen ini yang terletak<br />
antara P <strong>dan</strong> Q di mana turunan fungsi y ′(P′)<br />
, yang merupakan garis<br />
singgung di P′, sejajar dengan PQ. Menggunakan pengertian y ′(P′)<br />
ini,<br />
∆l dapat dinyatakan sebagai<br />
∆l<br />
=<br />
y<br />
∆x<br />
2<br />
+<br />
2<br />
2<br />
[( y′<br />
( P ′))<br />
∆x] = 1+<br />
( y′<br />
(P′)) ∆x<br />
y = f(x)<br />
Q<br />
P<br />
∆l ∆y<br />
∆x<br />
x<br />
a<br />
b<br />
Gb.12.12. Salah satu segmen pada kurva y = f (x)<br />
.<br />
Setiap segmen memiliki y ′(P′)<br />
masing-masing yaitu y′<br />
k , <strong>dan</strong> ∆l<br />
masing-masing yaitu ∆l k . Jika n dibuat menuju ∞, panjang kurva dari x =<br />
a ke x = b adalah<br />
n<br />
n<br />
n<br />
lab<br />
= 2<br />
∆lk<br />
= + ( yk′<br />
) ∆x<br />
= ∑<br />
2<br />
lim ∑ lim ∑ 1<br />
lim 1 + ( yk′<br />
) ∆x<br />
n→∞<br />
n→∞<br />
∆x→0<br />
k = 1<br />
k = 1<br />
k = 1<br />
atau<br />
2<br />
b ⎛ dy ⎞<br />
lab =<br />
∫<br />
1 + ⎜ ⎟ dx<br />
(12.32)<br />
a ⎝ dx ⎠<br />
Perlu kita ingat bahwa panjang suatu kurva tidak tergantung dari posisi<br />
sumbu koordinat. Oleh karena itu (12.32) dapat ditulis juga sebagai<br />
b dx<br />
lab ∫ ′<br />
2<br />
⎛<br />
dy<br />
a′ dy<br />
⎟ ⎞<br />
= 1 +<br />
⎜ dengan a′ <strong>dan</strong> b′ adalah batas-batas peubah<br />
⎝ ⎠<br />
bebas.<br />
159
12.5. ilai Rata-Rata Suatu <strong>Fungsi</strong><br />
Untuk fungsi y = f (x)<br />
yang kontinyu dalam rentang p ≤ x ≤ q nilai<br />
rata-rata fungsi ini didefinisikan sebagai<br />
y 1 q<br />
( rr ) x =<br />
− ∫<br />
f ( x dx<br />
q p<br />
)<br />
(12.33)<br />
p<br />
(Penulisan (y rr ) x untuk menyatakan nilai rata-rata fungsi x)<br />
Definisi (12.33) dapat kita tuliskan<br />
q<br />
( y rr ) x ⋅(<br />
q − p)<br />
=<br />
∫<br />
f ( x)<br />
dx<br />
(12.34)<br />
p<br />
Ruas kanan (12.34) adalah luas bi<strong>dan</strong>g antara kurva fungsi y = f (x)<br />
dengan sumbu-x mulai dari x = p sampai x = q. Ruas kiri (12.34) dapat<br />
ditafsirkan sebagai luas segi empat dengan panjang (q − p) <strong>dan</strong> lebar<br />
(y rr ) x . Namun kita perlu hati-hati sebab dalam menghitung ruas kanan<br />
(12.34) sebagai luas bi<strong>dan</strong>g antara kurva fungsi y = f (x)<br />
dengan sumbux<br />
bagian kurva yang berada di bawah sumbu-x memberi kontribusi positif<br />
pada luas bi<strong>dan</strong>g yang dihitung; se<strong>dan</strong>gkan dalam menghitung nilai ratarata<br />
(12.33) kontibusi tersebut adalah negatif.<br />
Sebagai contoh, kita ambil fungsi<br />
y = x<br />
3 −12x<br />
. Luas bi<strong>dan</strong>g antara<br />
y = x<br />
3 −12x<br />
dengan sumbu-x dari x = −3 sampai x = +3 adalah positif,<br />
A pq = 67,5 (telah pernah kita hitung). Sementara itu jika kita<br />
menghitung nilai rata-rata fungsi ini dari x = −3 sampai x = +3 hasilnya<br />
adalah (y rr ) x = 0 karena bagian kurva yang berada di atas <strong>dan</strong> di bawah<br />
sumbu-x akan saling meniadakan.<br />
160 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 13<br />
Integral (2)<br />
(Integral Tak Tentu)<br />
Dalam bab sebelumnya kita telah mengenal macam-macam perhitungan<br />
integral. Salah satu cara mudah untuk menghitung integral adalah dengan<br />
pendekatan numerik, walaupun cara ini memberikan hasil yang<br />
mengandung error. Namun error dalam pendekatan numerik bisa ditekan<br />
sampai pada batas-batas toleransi. Dalam bab ini kita akan melihat<br />
perhitungan integral tak tentu secara analitis dari macam-macam fungsi.<br />
13.1. Integral <strong>Fungsi</strong> Tetapan:<br />
∫ adx<br />
∫ adx = ax + K karena dax = adx<br />
Contoh:<br />
y =<br />
∫<br />
2 dx = 2x<br />
+ K<br />
13.2. Integral <strong>Fungsi</strong> Mononom:<br />
∫<br />
x n dx<br />
n+<br />
1<br />
n n−1<br />
n x<br />
Karena dx = x dx dengan syarat n ≠ −1, maka<br />
∫<br />
x dx = + K<br />
n + 1<br />
2 2 2 3<br />
Contoh: y =<br />
∫<br />
2 x dx = 2∫<br />
x dx = x + K<br />
3<br />
n m<br />
13.3. Integral <strong>Fungsi</strong> Polinom<br />
∫<br />
( x + x ) dx<br />
Polinom merupakan jumlah terbatas dari mononom. Integral suatu<br />
polinom sama dengan jumlah integral mononom yang menyusunnya.<br />
n m n m<br />
Karena d( x + x ) = x dx + x dx maka<br />
∫<br />
( x<br />
n<br />
+ x<br />
m<br />
n+<br />
1<br />
m+<br />
1<br />
x x<br />
) dx = + + K,<br />
n + 1 m + 1<br />
Soal-Soal : Carilah integral tak tentu berikut ini.<br />
∫<br />
5dx<br />
;<br />
∫<br />
∫<br />
2xdx;<br />
1<br />
2<br />
( x − 2x<br />
+ 4) dx ;<br />
0<br />
∫<br />
∫<br />
4<br />
4x<br />
dx;<br />
dengan syarat n ≠ −1,<br />
m ≠ −1<br />
∫<br />
(2x<br />
+ 5) dx ;<br />
3 2<br />
(4x<br />
+ 6x<br />
+ 4x<br />
+ 2) dx<br />
161
13.4. Integral <strong>Fungsi</strong> Pangkat Dari <strong>Fungsi</strong>:<br />
∫<br />
v n dx<br />
n+<br />
1<br />
n v<br />
Jika v adalah polinom, maka<br />
∫<br />
v dv = dv + K<br />
n + 1<br />
n+<br />
1<br />
v<br />
d = v<br />
n + 1<br />
n<br />
dv<br />
mencari<br />
∫<br />
v n dx .<br />
karena<br />
dengan syarat n ≠ −1. Formulasi ini digunakan untuk<br />
2<br />
Contoh: Hitunglah y =<br />
∫<br />
( 2x<br />
+ 1) dx<br />
dv<br />
Misalkan v = 2 x + 1 → dv = 2dx<br />
→ dx =<br />
2<br />
2 3<br />
3 2<br />
2 v v 8x<br />
+ 12x<br />
+ 6x<br />
+ 1<br />
y =<br />
∫<br />
(2x<br />
+ 1) dx =<br />
∫<br />
dv = + K =<br />
+ K<br />
2 6<br />
6<br />
4 3 2 1<br />
= x + 2x<br />
+ x + + K<br />
3<br />
6<br />
Kita coba untuk meyakinkan hasil ini dengan hasil yang akan<br />
diperoleh jika polinom kita kuadratkan lebih dulu.<br />
2<br />
2<br />
4x<br />
4x<br />
y = x + dx = x + x + dx = + + x + K′<br />
∫<br />
(2 1)<br />
∫<br />
(4 4 1)<br />
3 2<br />
Hasil perhitungan sama dengan hasil sebelumnya,<br />
Contoh: Hitunglah<br />
2<br />
Misalkan 1 − x = v →<br />
K ′ = K + 1/ 6 .<br />
3x<br />
y =<br />
∫<br />
dx<br />
2<br />
1 − x<br />
dv<br />
dx<br />
dv<br />
= −2x<br />
→ dx =<br />
− 2x<br />
1/ 2<br />
3x<br />
3x<br />
dv 3 − 1/ 2 3 v<br />
y =<br />
∫<br />
dx = = − v dv = − = −3<br />
2 1/ 2<br />
1−<br />
x v − 2x<br />
2 ∫<br />
2 1/ 2<br />
Soal-Soal : Carilah integral tak tentu berikut ini.<br />
2<br />
∫<br />
( 1) dx ;<br />
∫<br />
4x<br />
+<br />
3<br />
2<br />
2<br />
1−<br />
x<br />
x + 1 dx ;<br />
1<br />
x<br />
∫<br />
2 + 5xdx<br />
;<br />
∫<br />
dx ;<br />
+<br />
∫<br />
dx<br />
2<br />
(3x<br />
2)<br />
2<br />
2x<br />
+ 1<br />
162 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
13.5. Integral <strong>Fungsi</strong> Berpangkat -1:<br />
∫ v<br />
dv<br />
Karena<br />
dv<br />
dv<br />
d (ln v)<br />
= , maka v K<br />
v ∫<br />
= ln + . Integrasi ini<br />
v<br />
memecahkan masalah persyaratan n ≠ −1 pada integrasi<br />
∫<br />
v n dx .<br />
2x<br />
Contoh: Carilah integral y =<br />
∫<br />
dx<br />
2<br />
x + 1<br />
2 dv<br />
dv<br />
Misalkan v = x + 1→<br />
= 2x<br />
→ dx =<br />
dx<br />
2x<br />
2x<br />
2x<br />
dv<br />
2<br />
y =<br />
∫<br />
dx =<br />
∫<br />
= ln v + K = ln( x + 1)<br />
+ K<br />
2<br />
x + 1 v 2x<br />
Soal-Soal: Carilah integral tak tentu berikut ini.<br />
2<br />
dx x dx dx xdx xdx xdx<br />
+ 1<br />
∫<br />
;<br />
∫<br />
;<br />
∫<br />
;<br />
∫<br />
;<br />
− − + ∫<br />
;<br />
2x<br />
3<br />
3<br />
4 2 3 1 2<br />
1 −<br />
∫ 2<br />
x x x x 4x<br />
+<br />
13.6. Integral <strong>Fungsi</strong> Eksponensial:<br />
∫<br />
e v dv<br />
Karena de<br />
v = v<br />
e dv maka v v<br />
e dv = e + K<br />
Soal-Soal:<br />
2<br />
2x<br />
x<br />
x / 3<br />
∫<br />
e dx ;<br />
∫<br />
xe dx ;<br />
∫<br />
e dx ;<br />
∫<br />
1 +<br />
∫<br />
e<br />
x<br />
dx<br />
2e<br />
13.7. Integral Tetapan Berpangkat <strong>Fungsi</strong> :<br />
∫<br />
a v dv<br />
v<br />
v v<br />
v a<br />
Karena da = a ln adv maka<br />
∫<br />
a dv = + K<br />
ln a<br />
Contoh: Carilah<br />
Misalkan v = 2x →<br />
∫<br />
2x<br />
y = 3 dx<br />
dv<br />
dv<br />
= 2 → dx =<br />
dx<br />
2<br />
v<br />
2x<br />
3 1 3<br />
y =<br />
∫<br />
3 dx =<br />
∫<br />
dv = + K<br />
2 2 ln 3<br />
x<br />
2x<br />
163
13.8. Integral <strong>Fungsi</strong> Trigonometri<br />
∫<br />
∫<br />
Karena d sin v = cosvdv<br />
maka cos v dx = sin v + K<br />
Karena d cosv<br />
= −sin<br />
vdx maka sin v dx = −cosv<br />
+ K<br />
Relasi diferensial <strong>dan</strong> integral fungsi trigonometri yang lain<br />
termuat dalam Tabel-13.1.<br />
Contoh: Carilah integral tak tentu<br />
164 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
∫<br />
y = sin 2xdx<br />
dv<br />
dv<br />
Misalkan v = 2x<br />
→ = 2 → dx =<br />
dx<br />
2<br />
sin v −cosv<br />
cos 2x<br />
y =<br />
∫<br />
sin 2xdx<br />
=<br />
∫<br />
dv = = −<br />
2 2 2<br />
Soal-Soal : Carilah integral tak tentu berikut ini.<br />
∫<br />
sin 4xdx ;<br />
∫<br />
cos(2x<br />
+ 2) dx ;<br />
∫<br />
4cos3xdx<br />
.<br />
∫<br />
∫<br />
∫<br />
2sin x cos xdx ;<br />
2<br />
sin xdx ;<br />
∫<br />
∫<br />
2<br />
cos axdx<br />
2<br />
sin x cos xdx .<br />
sin 2x<br />
cos 2 xsin<br />
xdx ;<br />
∫<br />
dx .<br />
2 − cos 2x<br />
13.9. Integral <strong>Fungsi</strong> Hiperbolik<br />
∫<br />
∫<br />
Karena d(sinh v)<br />
= cosh v maka cosh vdv = sinh v + K<br />
Karena d(cosh v)<br />
= sinh vdv maka sinh vdv = cosh v + K<br />
Relasi diferensial <strong>dan</strong> integral fungsi hiperbolik yang lain termuat<br />
dalam Tabel-13.1.<br />
Contoh: Carilah y =<br />
∫<br />
cosh( 2x<br />
+ 1)<br />
dx<br />
dv<br />
dv<br />
Misalkan v = 2x<br />
+ 1→<br />
= 2 → dx =<br />
dx<br />
2<br />
1<br />
y =<br />
∫<br />
cosh(2x<br />
+ 1) dx =<br />
∫<br />
cosh( v)<br />
dv =<br />
2<br />
1<br />
= sinh(2x<br />
+ 1) + K<br />
2<br />
1<br />
sinh<br />
2<br />
v + K
Soal-Soal: Carilah integral berikut<br />
∫<br />
sinh x 2 sinh x<br />
2<br />
dx ;<br />
∫<br />
tanh xdx ;<br />
∫<br />
cosh 2xdx<br />
;<br />
∫<br />
dx ;<br />
∫<br />
tanh xdx<br />
4<br />
x<br />
cosh x<br />
13.10. Integral Menghasilkan <strong>Fungsi</strong> Trigonometri Inversi<br />
Integral fungsi-fungsi yang berbentuk<br />
∫<br />
dv<br />
1 − v<br />
2<br />
dv<br />
,<br />
∫ +<br />
2<br />
1 v<br />
dv<br />
∫<br />
<strong>dan</strong> setrusnya mulai nomer 20 sampai 31,<br />
2<br />
v v −1<br />
menghasilkan fungsi-fungsi trigonometri inversi.<br />
Contoh: Carilah<br />
dx<br />
y =<br />
∫<br />
2<br />
1 − 4x<br />
2 dv<br />
Jika kita membuat pemisalan v = 1 − 4x<br />
maka = −8x<br />
atau<br />
dx<br />
dv<br />
dx = . Kalau pemisalan ini kita masukkan dalam persoalan<br />
− 8x<br />
integral yang diberikan, kita akan mendapatkan bentuk<br />
1 / 2 dv<br />
∫<br />
v<br />
−<br />
− 8x<br />
yang tidak dapat diproses lebih lanjut; persoalan integral tidak dapat<br />
ter-transformasi menjadi integral dalam peubah v.<br />
Namun bentuk<br />
dx<br />
ini dapat kita transformasi menjadi bentuk<br />
∫ 2<br />
1 − 4x<br />
yang termuat dalam Tabel-13.1, yaitu nomer 20. Kita misalkan v = 2x<br />
dv<br />
dv<br />
yang akan memberikan = 2 atau dx = . Persoalan integral kita<br />
dx<br />
2<br />
menjadi<br />
dx dv 1 dv<br />
y =<br />
∫<br />
=<br />
∫<br />
=<br />
2<br />
2 ∫ 2<br />
1 − 4x<br />
2 1 − v<br />
2<br />
1 − v<br />
yang menghasilkan y =<br />
1 −1<br />
1 −<br />
sin v + K = sin<br />
1 (2x)<br />
+ K<br />
2<br />
2<br />
Soal-Soal: Carilah integral tak tentu berikut ini.<br />
dx dx dx dx dx<br />
∫<br />
;<br />
∫<br />
;<br />
∫<br />
;<br />
∫<br />
;<br />
2 2<br />
2<br />
2 ∫ 2<br />
1 + 4x<br />
1 − x 4 + x x 4 + x 1 − x<br />
,<br />
165
13.9. Relasi <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
Berikut ini daftar formula untuk deferensial beserta pasangan integralnya.<br />
Beberapa di antaranya perlu untuk diingat, misalnya formula 1 sampai 9<br />
<strong>dan</strong> 16, 17 yang sering kita temui.<br />
Tabel-13.1.<br />
dv<br />
1. dv = dx<br />
dx<br />
1. dv = v + K<br />
2. d ( kv)<br />
= kdv<br />
2.<br />
∫<br />
kdv = k∫<br />
dv<br />
3. d v + w)<br />
= dv + dw<br />
3. ∫<br />
( dv + dw)<br />
=<br />
∫<br />
dv +<br />
∫ dw<br />
n n−1<br />
4. dv = nv dv<br />
n+<br />
1<br />
n v<br />
4.<br />
∫<br />
v dv = + C ; n≠1<br />
n + 1<br />
dv<br />
dv<br />
5. d (ln v)<br />
=<br />
5. v K<br />
v<br />
∫<br />
= ln +<br />
v<br />
6. de<br />
v = v<br />
e dv<br />
6. v v<br />
e dv = e + K<br />
v v<br />
7. da = a ln adv<br />
v a<br />
7.<br />
∫<br />
a dv = + K<br />
ln a<br />
8. d(sin v)<br />
= cosvdv<br />
8. cos vdv = sin v + K<br />
9. d(cosv)<br />
= −sin<br />
vdv<br />
9. sin vdv = −cosv<br />
+ K<br />
2<br />
10. d(tan v)<br />
= sec vdv 10.<br />
∫<br />
sec 2 vdv = tan v + K<br />
2<br />
11. d(cotv)<br />
= −csc<br />
vdv 11. csc 2 vdv = −cotv<br />
+ K<br />
12. d(sec v)<br />
= secv<br />
tan vdv 12. sec tan vdv = secv<br />
+ K<br />
13. d(cscv)<br />
= −cscvcot<br />
vdv 13. csc cotvdv = −cscv<br />
+ K<br />
14. d(sinh v)<br />
= cosh v<br />
14. cosh vdv = sinh v + K<br />
15. d(cosh v)<br />
= sinh vdv 15. sinh vdv = cosh v + K<br />
2<br />
16. d(tanh v)<br />
= sech vdv 16. sec h<br />
2 vdv = tanh v + K<br />
∫<br />
∫<br />
∫<br />
∫<br />
∫<br />
∫<br />
∫<br />
∫<br />
∫<br />
∫<br />
166 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
v
2<br />
17. d(coth<br />
v)<br />
= −csch<br />
vdv 17. csch<br />
2 vdv = −cothv<br />
+ K<br />
18. d( sechv)<br />
= −sechv<br />
tanh vdv<br />
19. d( cschv)<br />
= −cschvcoth<br />
vdv<br />
∫<br />
∫<br />
∫<br />
18. sec hv tanhvdv<br />
= −sechv<br />
+ K<br />
19. csch v cothvdv<br />
= −coshv<br />
+ K<br />
1 dv<br />
20. d(sin<br />
− v)<br />
=<br />
20. ∫ dv −1<br />
= sin v + K<br />
2<br />
2<br />
1−<br />
v<br />
1 − v<br />
1 dv<br />
21. d(cos<br />
− −<br />
v)<br />
=<br />
21. ∫ dv −1<br />
= − cos v + K ′<br />
2<br />
2<br />
1−<br />
v<br />
1 − v<br />
−1<br />
dv<br />
dv −1<br />
22. d tan v =<br />
22.<br />
2<br />
1+<br />
v<br />
∫<br />
= tan v + K<br />
2<br />
1 + v<br />
−1<br />
−dv<br />
dv −1<br />
23. d cot v =<br />
23.<br />
2<br />
1 + v<br />
∫<br />
= −cot<br />
v + K<br />
2<br />
1+<br />
v<br />
−1<br />
dv<br />
dv −1<br />
24. d sec v =<br />
24.<br />
2 ∫<br />
= sec v + K , v >0<br />
2<br />
v v −1<br />
v v −1<br />
−1<br />
−dv<br />
dv<br />
25. d csc v =<br />
−1<br />
25.<br />
2 ∫ = − csc v + K , v >0<br />
v v −1<br />
2<br />
v v −1<br />
1 dv<br />
26. d(sinh<br />
− v)<br />
=<br />
26. ∫ dv −1<br />
= sinh v + K<br />
2<br />
2<br />
1+<br />
v<br />
1 + v<br />
−1<br />
dv<br />
27. d (cosh v)<br />
=<br />
27.<br />
dv −1<br />
∫<br />
= cosh v + K<br />
2<br />
2<br />
v −1<br />
v − 1<br />
1 dv<br />
28. d(tanh<br />
− v)<br />
=<br />
28. ∫ dv −1<br />
= tanh v<br />
2<br />
+ K ; jika |v|1<br />
2<br />
1−<br />
v<br />
−1<br />
−dv<br />
dv<br />
−1<br />
30. d(sech<br />
v)<br />
=<br />
30.<br />
2 ∫<br />
= −sech<br />
v + K;<br />
2<br />
v 1−<br />
v<br />
v 1−<br />
v<br />
−1<br />
31. d(csch<br />
v)<br />
=<br />
v<br />
−dv<br />
2<br />
1+<br />
v<br />
dv<br />
−1<br />
31.<br />
∫<br />
= −csch<br />
v + K;<br />
2<br />
v 1+<br />
v<br />
167
Catatan Tentang Isi Tabel-13.1.<br />
Dengan menggunakan relasi-relasi dalam Tabel-13.1 kita dapat<br />
melakukan proses integrasi fungsi-fungsi mencakup:<br />
<strong>Fungsi</strong> mononom <strong>dan</strong> polinom:<br />
∫ vdv<br />
<strong>Fungsi</strong> polinom berpangkat:<br />
<strong>Fungsi</strong> exponensial:<br />
∫<br />
v<br />
e dv ;<br />
∫<br />
v n dv ;<br />
∫<br />
v<br />
a dv<br />
2<br />
2<br />
<strong>Fungsi</strong> trigonometri:<br />
∫<br />
cos vdv ;<br />
∫sin vdv ;<br />
∫sec vdv ;<br />
∫<br />
csc vdv ;<br />
∫<br />
sec tan vdv ;<br />
∫csc cot vdv .<br />
∫<br />
dv<br />
v<br />
tetapi tidak:<br />
∫<br />
tan vdv ;<br />
∫<br />
cot vdv ;<br />
∫sec vdv ;<br />
∫<br />
csc vdv .<br />
<strong>Fungsi</strong> hiperbolik:<br />
∫<br />
cosh vdv ;<br />
∫<br />
vdv<br />
∫<br />
2<br />
csc h vdv ;<br />
∫<br />
sec hv tanh vdv ;<br />
∫<br />
csch v coth vdv .<br />
2<br />
sinh ;<br />
∫<br />
sec h vdv ;<br />
tetapi tidak:<br />
∫<br />
tanh vdv ;<br />
∫<br />
coth vdv ;<br />
∫sec hvdv<br />
;<br />
∫<br />
csc hvdv<br />
.<br />
Integrasi fungsi aljabar yang menghasilkan fungsi trigonometri<br />
inversi <strong>dan</strong> fungsi hiperbolik inversi, seperti<br />
∫<br />
∫<br />
dv<br />
1 − v<br />
2<br />
dv<br />
2<br />
v<br />
− 1<br />
dv<br />
;<br />
∫ +<br />
2<br />
1 v<br />
dv<br />
;<br />
∫ −<br />
2<br />
1 v<br />
;<br />
∫<br />
v<br />
;<br />
∫<br />
v<br />
dv ;<br />
2 ∫<br />
v −1<br />
dv<br />
1 − v<br />
2<br />
;<br />
∫<br />
v<br />
dv<br />
1 + v<br />
2<br />
dv<br />
1 + v<br />
2<br />
tetapi tidak mengintegrasi fungsi inversi seperti<br />
∫<br />
sin<br />
− 1<br />
vdv<br />
;<br />
∫<br />
tan<br />
− 1<br />
xdx<br />
;<br />
∫sinh<br />
−1<br />
vdv<br />
;<br />
.<br />
;<br />
∫<br />
tanh<br />
−1<br />
vdv<br />
Tabel-13.1 tidak memuat relasi integrasi fungsi-fungsi aljabar yang<br />
dv<br />
berbentuk<br />
2 2<br />
2 2<br />
∫<br />
;<br />
∫<br />
a ± v dv;<br />
∫<br />
v − a dv;<br />
dsb<br />
2 2<br />
a + v<br />
168 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 14<br />
Integral (3)<br />
(Integral Tentu)<br />
14.1. Luas Sebagai Suatu Integral. Integral Tentu<br />
Integral tentu merupakan integral yang batas-batas integrasinya jelas.<br />
Konsep dasar dari integral tertentu adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang dipan<strong>dan</strong>g<br />
sebagai suatu limit.<br />
Kita akan menghitung luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh suatu kurva y =<br />
f(x), sumbu-x, garis vertikal x = p, <strong>dan</strong> x = q, yaitu luas bagian yang<br />
diarsir pada Gb.14.1.a.<br />
Sebutlah luas bi<strong>dan</strong>g ini A pq . Bi<strong>dan</strong>g ini kita bagi dalam n segmen <strong>dan</strong><br />
kita akan menghitung luas setiap segmen <strong>dan</strong> kemudian<br />
menjumlahkannya untuk memperoleh A pq .<br />
Jika penjumlahan luas segmen kita lakukan dengan menghitung luas<br />
segmen seperti tergambar pada Gb.14.1.b, kita akan memperoleh luas<br />
yang lebih kecil dari dari luas yang kita harapkan; sebutlah jumlah luas<br />
segmen ini A pqb (jumlah luas segmen bawah).<br />
Jika penjumlahan luas segmen kita lakukan dengan menghitung luas<br />
segmen seperti tergambar pada Gb.14.1.c, kita akan memperoleh luas<br />
yang lebih besar dari dari luas yang kita harapkan; sebutlah jumlah luas<br />
segmen ini A pqa (jumlah luas segmen atas).<br />
Kedua macam perhitungan tersebut di atas akan mengakibatkan<br />
terjadinya galat (error). Antara mereka ada selisih seperti digambarkan<br />
pada Gb.14.1.d.<br />
Jika x 0k adalah suatu nilai x di antara kedua batas segmen ke-k, yaitu<br />
antara x k <strong>dan</strong> (x k +∆x), maka berlaku<br />
f ( xk<br />
) ≤ f ( x0k<br />
) ≤ f ( xk<br />
+ ∆x)<br />
(14.1)<br />
Jika pertidaksamaan (14.1) dikalikan dengan ∆x k yang yang cukup kecil<br />
<strong>dan</strong> bernilai positif, maka<br />
f ( xk<br />
) ∆ xk<br />
≤ f ( x0 k ) ∆xk<br />
≤ f ( xk<br />
+ ∆x)<br />
∆xk<br />
(14.2)<br />
169
y<br />
y = f(x)<br />
(a)<br />
y<br />
0<br />
p x 2 x k x k+1 x n q<br />
y = f(x)<br />
x<br />
(b)<br />
y<br />
0<br />
p x 2 x k x k+1 x n q<br />
y = f(x)<br />
x<br />
(c)<br />
0<br />
y<br />
p x 2 x k x k+1 x n q<br />
y = f(x)<br />
x<br />
(d) 0 p x 2 x k x k+1 x n q x<br />
Gb.14.1. Menghitung luas bi<strong>dan</strong>g di bawah kurva.<br />
170 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Sekarang luas segmen di ruas kiri, tengah, <strong>dan</strong> kanan dari (14.2) kita<br />
jumlahkan dari 1 sampai n (yaitu sebanyak jumlah segmen yang kita<br />
buat), kita akan memperoleh<br />
n<br />
n<br />
n<br />
∑ f ( xk<br />
) ∆xk<br />
≤∑<br />
f ( x0k<br />
) ∆xk<br />
≤∑<br />
f ( xk<br />
+ ∆x)<br />
∆xk<br />
(14.3)<br />
k = 1<br />
k = 1<br />
k = 1<br />
Ruas paling kiri adalah jumlah luas segmen bawah, A pqb ; ruas paling<br />
kanan adalah jumlah luas segmen atas, A pqa ; ruas yang di tengah adalah<br />
jumlah luas segmen pertengahan, kita namakan A n . Jelaslah bahwa<br />
Apqb<br />
≤ An<br />
≤ Apqa<br />
(14.4)<br />
Nilai A n dapat dipakai sebagai pendekatan pada luas bi<strong>dan</strong>g yang kita<br />
cari. Galat (error) yang terjadi sangat tergantung dari jumlah segmen, n.<br />
Jika n kita perbesar menuju tak hingga, seraya menjaga agar semua ∆x k<br />
menuju nol, maka luas bi<strong>dan</strong>g yang kita cari adalah<br />
Apq<br />
= lim Apqb<br />
= lim An<br />
= lim Apqa<br />
(14.5)<br />
Jadi apabila kita menghitung limitnya, kita akan memperoleh nilai limit<br />
yang sama, apakah kita menggunakan penjumlahan segmen bawah, atau<br />
atas, atau pertengahannya. Limit yang sama ini disebut integral tertentu,<br />
dituliskan<br />
∫<br />
A = q pq f ( x)<br />
dx<br />
(14.6)<br />
p<br />
Integral tertentu (14.6) ini terkait dengan integral tak tentu (9.12)<br />
q<br />
q<br />
Apq<br />
=<br />
∫<br />
f ( x)<br />
dx = F(<br />
x)<br />
] p = F(<br />
q)<br />
− F(<br />
p)<br />
(14.7)<br />
p<br />
Jadi untuk memperoleh limit bersama dari penjumlahan segmen bawah,<br />
penjumlahan segmen atas, maupun penjumlahan segmen pertengahan<br />
dari fungsi f(x) dalam rentang p ≤ x ≤ q, kita cukup melakukan:<br />
a. integrasi untuk memperoleh F ( x)<br />
=<br />
∫<br />
f ( x)<br />
dx ;<br />
b. masukkan batas atas x = q untuk mendapat F(q);<br />
c. masukkan batas bawah x = p untuk mendapat F(p);<br />
d. kurangkan perolehan batas bawah dari batas atas, F(q) − F(p).<br />
171
Walaupun dalam pembahasan di atas kita mengambil contoh fungsi yang<br />
bernilai positif dalam rentang p ≤ x ≤ q , namun pembahasan itu berlaku<br />
pula untuk fungsi yang dalam rentang p ≤ x ≤ q sempat bernilai negatif.<br />
Kita hanya perlu mendefinisikan kembali apa yang disebut dengan A px<br />
dalam pembahasan sebelumnya. Pendefinisian yang baru ini akan<br />
berlaku umum, yaitu<br />
A px adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh y = f (x)<br />
<strong>dan</strong> sumbu-x<br />
dari p sampai x, yang merupakan jumlah luas bagian yang berada di<br />
atas sumbu-x dikurangi dengan luas bagian yang di bawah sumbu-x.<br />
Agar lebih jelas kita mengambil contoh pada Gb 14.2.<br />
y = x3−12x 20<br />
0<br />
x<br />
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4<br />
-10<br />
-20<br />
Gb.14.2. Kurva<br />
y = x<br />
3 − 12x<br />
Kita akan menghitung luas antara y = x<br />
3 − 12x<br />
<strong>dan</strong> sumbu-x dari x = −3<br />
sampai x = +3. Bentuk kurva diperlihatkan pada Gb.14.2<br />
Di sini terlihat bahwa dari x = −3 sampai 0 kurva berada di atas sumbu-x<br />
<strong>dan</strong> antara x = 0 sampai +3 kurva ada di bawah sumbu-x. Untuk bagian<br />
yang di atas sumbu-x kita mempunyai luas<br />
0<br />
0<br />
4<br />
3 x ⎤<br />
2<br />
A a =<br />
∫<br />
( x −12x)<br />
dx = − 6x<br />
⎥<br />
−3<br />
4 ⎥⎦<br />
−3<br />
= −0<br />
− (20,25 − 54) = 33,75<br />
Untuk kurva yang di bawah sumbu-x kita dapatkan<br />
3<br />
3<br />
4<br />
3 x ⎤<br />
2<br />
A b =<br />
∫<br />
( x −12x)<br />
dx = − 6x<br />
⎥<br />
0<br />
4 ⎥⎦<br />
0<br />
= 20,25 − 54 − (0) = −33,75<br />
10<br />
y<br />
172 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Luas yang kita cari adalah luas bagian yang berada di atas sumbu-x<br />
dikurangi dengan luas bagian yang di bawah sumbu-x<br />
A pq = Aa<br />
− Ab<br />
= 33 ,75 − ( −33,755)<br />
= 67,5<br />
Contoh ini menunjukkan bahwa dengan pengertian yang baru mengenai<br />
A px , formulasi<br />
q<br />
A =<br />
∫<br />
f ( x)<br />
dx = F(<br />
q)<br />
− F p<br />
p<br />
( ))<br />
tetap berlaku untuk kurva yang memiliki bagian baik di atas maupun di<br />
bawah sumbu-x.<br />
Dengan demikian maka untuk bentuk kurva seperti pada Gb.14.3. kita<br />
dapatkan<br />
yang kita peroleh dari<br />
A pq = −A1 + A2<br />
− A3<br />
+ A4<br />
q<br />
Apq<br />
=<br />
∫<br />
f ( x)<br />
dx = F(<br />
q)<br />
− F p<br />
p<br />
y<br />
y = f(x)<br />
( ))<br />
p<br />
A 4<br />
A 1<br />
A 2<br />
A 3<br />
q<br />
x<br />
Gb.14.3. Kurva memotong sumbu-x di beberapa titik.<br />
173
14.2. Luas Bi<strong>dan</strong>g Di Antara Dua Kurva<br />
Kita akan menghitung luas bi<strong>dan</strong>g di antara kurva y 1 = f1 ( x)<br />
<strong>dan</strong><br />
y 2 = f2 ( x)<br />
pada batas antara x = p <strong>dan</strong> x = q . Kurva yang kita hadapi<br />
sudah barang tentu harus kontinyu dalam rentang p ≤ x ≤ q . Kita<br />
tetapkan bahwa kurva y 1 = f1 ( x)<br />
berada di atas y 2 = f2 ( x)<br />
meskipun<br />
mungkin mereka memiliki bagian-bagian yang berada di bawah sumbu-x.<br />
Perhatikan Gb.14.4.<br />
Rentang<br />
p ≤ x ≤ q kita bagi dalam n segmen, yang salah satunya<br />
diperlihatkan pada Gb.14.4. dengan batas kiri x <strong>dan</strong> batas kanan (x+∆x),<br />
dimana ∆ x = ( q − p)<br />
/ n .<br />
y<br />
y 1<br />
p<br />
0<br />
y 2<br />
x<br />
∆A px<br />
x+∆x<br />
q<br />
x<br />
Gb.14.4. Menghitung luas bi<strong>dan</strong>g antara dua kurva.<br />
Luas segmen dapat didekati dengan<br />
A segmen = { f1 ( x)<br />
− f2(<br />
x)<br />
} ∆x<br />
(14.8)<br />
yang jika kita jumlahkan seluruh segmen akan kita peroleh<br />
n<br />
x=<br />
q−∆x<br />
∑ A segmen = ∑{ f1 ( x)<br />
− f2(<br />
x)<br />
} ∆x<br />
(14.9)<br />
1<br />
x=<br />
p<br />
Dengan membuat n menuju tak hingga sehingga ∆x menuju nol kita<br />
sampai pada suatu limit<br />
n→∞<br />
q<br />
A pq = lim ∑ Asegmen<br />
=<br />
∫ { f1(<br />
x)<br />
− f2(<br />
x)<br />
} dx (14.10)<br />
p<br />
1<br />
Kita akan melihat beberapa contoh<br />
Contoh 1: Jika y 1 = 4 <strong>dan</strong> y 2 = − 2 berapakah luas bi<strong>dan</strong>g antara y 1<br />
<strong>dan</strong> y 2 dari x 1 = p = −2 sampai x 2 = q = +3.<br />
+ 3<br />
+ 3<br />
A pq =<br />
∫<br />
({ 4 − ( −2)<br />
} dx = 6x] − 2 = 18 − ( −12)<br />
= 30<br />
−2<br />
174 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Hasil ini dengan mudah dijakinkan menggunakan planimetri. Luas<br />
yang dicari adalah luas persegi panjang dengan lebar y 1 − y2<br />
= 6<br />
<strong>dan</strong> panjang x 2 − x1<br />
= 5 .<br />
2<br />
1 x<br />
Contoh 2: Jika y = <strong>dan</strong> y 2 = 4 berpakah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi<br />
oleh y 1 <strong>dan</strong> y 2 .<br />
Terlebih dulu kita cari batas-batas integrasi yaitu nilai x pada<br />
perpotongan antara y 1 <strong>dan</strong> y 2 .<br />
2<br />
y1<br />
= y2<br />
→ x = 4<br />
⇒ x1<br />
= p = −2,<br />
x2<br />
= q = 2<br />
Perhatikan bahwa y 1 adalah fungsi pangkat dua dengan titik puncak<br />
minimum yang berada pada posisi [0,0]. Oleh karena itu bagian<br />
kurva y 1 yang membatasi bi<strong>dan</strong>g yang akan kita cari luasnya, berada<br />
di di bawah y 2 = 4.<br />
2<br />
2<br />
⎛ 3 ⎞<br />
2<br />
(4 ) 4<br />
2<br />
3 ⎥ ⎥ ⎤<br />
⎜<br />
x<br />
A pq = ⎟<br />
∫<br />
− x dx == x −<br />
− ⎜ ⎟<br />
⎝ ⎠⎦-2<br />
⎛ 8 ⎞ ⎛ − 8 ⎞ 16 −16<br />
32<br />
⎜8<br />
− ⎟ − ⎜−<br />
8 − ⎟ = − =<br />
⎝ 3 ⎠ ⎝ 3 ⎠ 3 3 3<br />
Jika kita terbalik dalam meman<strong>dan</strong>g posisi y 1 terhadap y 2 kita akan<br />
melakukan kesalahan:<br />
2<br />
2<br />
⎛ 3 ⎞⎤<br />
2<br />
* ( 4) ⎜ x<br />
A 4 ⎟<br />
pq = ⎥<br />
∫<br />
x − dx = − x<br />
− 2<br />
⎜ 3 ⎟<br />
⎝ ⎠⎥<br />
⎦-2<br />
⎛ 8 ⎞ ⎛ − 8 ⎞ −16<br />
+ 16<br />
⎜ − 8⎟<br />
− ⎜ + 8⎟<br />
= − = 0<br />
⎝ 3 ⎠ ⎝ 3 ⎠ 3 3<br />
2<br />
Contoh 3: Jika y 1 = −x<br />
+ 2 <strong>dan</strong> y2 = −x<br />
berapakah luas bi<strong>dan</strong>g yang<br />
dibatasi oleh y 1 <strong>dan</strong> y 2 .<br />
Terlebih dulu kita perhatikan karakter fungsi-fungsi ini. <strong>Fungsi</strong> y 1<br />
adalah fungsi kuadrat dengan titik puncak maksimum yang<br />
memotong sumbu-y di y = 2. <strong>Fungsi</strong> y 2 adalah garis lurus melalui<br />
titik asal [0,0] dengan kemiringan negatif −1, yang berarti ia<br />
menurun pada arah x positif. Dengan demikian maka bagian kurva y 1<br />
yang membatasi bi<strong>dan</strong>g yang akan kita cari luasnya berada di atas y 2 .<br />
175
Batas integrasi adalah nilai x pada perpotongan kedua kurva.<br />
2<br />
y1<br />
= y2<br />
→ −x<br />
+ 2 = −x<br />
2<br />
atau − x + x + 2 = 0<br />
2<br />
2<br />
−1<br />
+ 1 + 8<br />
−1<br />
− 1 + 8<br />
x1<br />
= p =<br />
= −1;<br />
x2<br />
= q =<br />
= 2<br />
− 2<br />
− 2<br />
2<br />
2<br />
⎛ 3 2 ⎞⎤<br />
2<br />
( 2 ) ⎜<br />
x x<br />
A pq =<br />
2 ⎟⎥<br />
∫<br />
−x<br />
+ + x dx = − + + x<br />
−1<br />
⎜ 3 2 ⎟<br />
⎝<br />
⎠⎥<br />
⎦−1<br />
⎛ 8 ⎞ ⎛ −1<br />
1 ⎞<br />
= ⎜−<br />
+ 2 + 4⎟<br />
− ⎜−<br />
+ − 2⎟<br />
= 4,5<br />
⎝ 3 ⎠ ⎝ 3 2 ⎠<br />
14.3. Penerapan Integral<br />
Pembahasan di atas terfokus pada penghitungan luas bi<strong>dan</strong>g di bawah<br />
suatu kurva. Demikian juga di bab sebelumnya. Hal tersebut dilakukan<br />
untuk memudahkan visualisasi. Dalam praktek kita tidak selalu<br />
menghitung luas melainkan menghitung berbagai besaran fisis yang<br />
berubah terhadap waktu misalnya. Perubahan besaran fisis ini dapat pula<br />
divisualisasi dengan membuat absis dengan satuan waktu <strong>dan</strong> ordinat<br />
dengan satuan besaran fisis yang dimaksud. Dengan demikian seolaholah<br />
kita menghitung luas bi<strong>dan</strong>g di bawah kurva. Berikut ini dua contoh<br />
dalam kelistrikan.<br />
Contoh 1: Sebuah piranti menyerap daya 100 W pada tegangan konstan<br />
200V. Berapakah energi yang diserap oleh piranti ini selama 8 jam ?<br />
Daya adalah laju perubahan energi. Jika daya diberi simbol p <strong>dan</strong><br />
energi diberi simbol w, maka<br />
dw<br />
p = yang memberikan w =<br />
dt<br />
∫<br />
pdt<br />
Perhatikan bahwa peubah bebas di sini adalah waktu, t. Kalau batas<br />
bawah dari waktu kita buat 0, maka batas atasnya adalah 8, dengan<br />
satuan jam. Dengan demikian maka energi yang diserap selama 8<br />
jam adalah<br />
8 8<br />
8<br />
w =<br />
∫<br />
pdt = 100 100<br />
0 ∫<br />
dt = t<br />
0<br />
0<br />
= 800 Watt.hour [Wh] = 0,8 kilo Watt hour [kWh]<br />
176 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Contoh 2: Arus yang melalui suatu piranti berubah terhadap waktu<br />
sebagai i(t) = 0,05 t ampere. Berapakah jumlah muatan yang dipindahkan<br />
melalui piranti ini antara t = 0 sampai t = 5 detik ?<br />
Arus i adalah laju perubahan transfer muatan, q.<br />
dq<br />
i = sehingga q =<br />
dt ∫idt<br />
Jumlah muatan yang dipindahkan dalam 5 detik adalah<br />
5 5<br />
5<br />
0,05 2 1,25<br />
q =<br />
∫<br />
idt = 0,05 = = = 0,625<br />
0 ∫<br />
tdt t<br />
0 2 0 2<br />
coulomb<br />
14.4. Pendekatan umerik<br />
Dalam pembahasan mengenai integral tentu, kita fahami bahwa langkahlangkah<br />
dalam menghitung suatu integral adalah:<br />
1. Membagi rentang f(x) ke dalam n segmen; agar proses<br />
perhitungan menjadi sederhana buat segmen yang sama lebar,<br />
∆x.<br />
2. Integral dalam rentang p ≤ x ≤ q dari f(x) dihitung sebagai<br />
q<br />
n<br />
∫<br />
f ( x)<br />
dx = lim ∑ f ( xk<br />
) ∆xk<br />
p<br />
∆x→0<br />
k = 1<br />
dengan f(x k ) adalah nilai f(x) dalam interval ∆x k yang besarnya akan<br />
sama dengan nilai terendah <strong>dan</strong> tertinggi dalam segmen ∆x k jika ∆x<br />
menuju nol.<br />
Dalam aplikasi praktis, kita tentu bisa menetapkan suatu nilai ∆x<br />
sedemikian rupa sehingga jika kita mengambil f(x k ) sama dengan nilai<br />
terendah ataupun tertinggi dalam ∆x k , hasil perhitungan akan lebih rendah<br />
ataupun lebih tinggi dari nilai yang diharapkan. Namun error yang terjadi<br />
masih berada dalam batas-batas toleransi yang dapat kita terima. Dengan<br />
cara ini kita mendekati secara numerik perhitungan suatu integral, <strong>dan</strong><br />
kita dapat menghitung dengan bantuan komputer.<br />
Sebagai ilustrasi kita akan menghitung kembali luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi<br />
oleh kurva y = x<br />
3 −12x<br />
dengan sumbu-x antara x = −3 <strong>dan</strong> x = +3. Lauas<br />
177
ini telah dihitung <strong>dan</strong> menghasilkan A pq = 67, 5 . Kali ini kita melakukan<br />
perhitungan pendekatan secara numerik dengan bantuan komputer.<br />
=<br />
∫ 3 3<br />
A pq ( x −12x)<br />
dx<br />
− 3<br />
Karena yang akan kita hitung adalah luas antara kurva <strong>dan</strong> sumbu-x,<br />
maka bagian kurva yang berada di bawah sumbu-x harus dihitung sebagai<br />
positif. Jika kita mengambil nilai ∆x = 0,15 maka rentang −3 ≤ x ≤ 3<br />
akan terbagi dalam 40 segmen. Perhitungan menghasilkan<br />
A<br />
pq<br />
40<br />
= ∑ ( x<br />
k = 1<br />
k<br />
3<br />
− 12x<br />
Error yang terjadi adalah sekitar 0,15%.<br />
k<br />
) = 67,39875 ≈ 67,4<br />
Jika kita mengambil ∆x = 0,05 maka rentang −3 ≤ x ≤ 3 akan terbagi<br />
dalam 120 segmen. Perhitungan menghasilkan<br />
120<br />
3<br />
A pq = ∑ ( xk<br />
−12xk<br />
) = 67,48875 ≈ 67,5<br />
k = 1<br />
Error yang terjadi adalah sekitar 0,02%.<br />
Jika kita masih mau menerima hasil perhitungan dengan error 0,2%,<br />
maka hasil pendekatan numerik sebesar 67,4 cukup memadai.<br />
Perhitungan numerik di atas dilakukan dengan menghitung luas setiap<br />
segmen sebagai hasilkali nilai minimum ataupun nilai maksimum<br />
masing-masing segmen dengan ∆x. Satu alternatif lain untuk menghitung<br />
luas segmen adalah dengan melihatnya sebagai sebuah trapesium. Luas<br />
setiap segmen menjadi<br />
( f ( x min ) + f ( x )) × ∆x<br />
/ 2<br />
Asegmen<br />
= k<br />
kmaks<br />
(14.13)<br />
Perhitungan pendekatan numerik ini kita lakukan dengan bantuan<br />
komputer. Kita bisa memanfaatkan program aplikasi yang ada, ataupun<br />
menggunakan spread sheet jika fungsi yang kita hadapi cukup sederhana.<br />
178 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
15.1. Pengertian<br />
Bab 15<br />
Persamaan <strong>Diferensial</strong><br />
(Orde Satu)<br />
Persamaan diferensial adalah suatu persamaan di mana terdapat satu atau<br />
lebih turunan fungsi. Persamaan duferensial diklasifikasikan sebagai:<br />
1. Menurut jenis atau tipe: ada persamaan diferensial biasa <strong>dan</strong><br />
persamaan diferensial parsial. Jenis yang kedua tidak kita<br />
pelajari di buku ini, karena kita hanya meninjau fungsi dengan<br />
satu peubah bebas.<br />
2. Menurut orde: orde persamaan diferensial adalah orde tertinggi<br />
3<br />
d y<br />
turunan fungsi yang ada dalam persamaan. adalah orde<br />
3<br />
dx<br />
2<br />
d y<br />
dy<br />
tiga; adalah orde dua; adalah orde satu.<br />
2<br />
dx<br />
dx<br />
3. Menurut derajat: derajat suatu persamaan diferensial adalah<br />
pangkat tertinggi dari turunan fungsi orde tertinggi.<br />
2 5<br />
⎛ 3<br />
d y ⎞ ⎛ 2<br />
d y ⎞ y x<br />
Sebagai contoh: ⎜ ⎟ + ⎜ ⎟ + = e adalah persamaan<br />
⎜ 3<br />
dx ⎟ ⎜ 2<br />
dx ⎟ 2<br />
⎝ ⎠ ⎝ ⎠ x + 1<br />
diferensial biasa, orde tiga, derajat dua.<br />
Dalam buku ini kita hanya akan membahas persamaan diferensial biasa,<br />
orde satu <strong>dan</strong> orde dua, derajat satu.<br />
15.2. Solusi<br />
Suatu fungsi y = f(x) dikatakan merupakan solusi suatu persamaan<br />
diferensial jika persamaan tersebut tetap terpenuhi dengan digantikannya<br />
y <strong>dan</strong> turunannya dalam persamaan tersebut oleh f(x) <strong>dan</strong> turunannya.<br />
Kita ambil satu contoh:<br />
179
−x<br />
dy<br />
y = ke adalah solusi dari persamaan + y = 0 karena turunan<br />
dt<br />
−x<br />
dy<br />
y = ke adalah<br />
− x<br />
= −ke<br />
, <strong>dan</strong> jika ini kita masukkan dalam<br />
dt<br />
−x<br />
−x<br />
persamaan akan kita peroleh − ke + ke = 0<br />
Persamaan terpenuhi.<br />
Pada contoh di atas kita lihat bahwa persamaan diferensial orde satu<br />
mempunyai solusi yang melibatkan satu tetapan sembarang yaitu k. Pada<br />
umumnya suatu persamaan orde n akan memiliki solusi yang<br />
mengandung n tetapan sembarang. Pada persamaan diferensial orde dua<br />
yang akan kita bahas di bab berikutnya, kita akan menemukan solusi<br />
dengan dua tetapan sembarang. Nilai dari tetapan ini ditentukan oleh<br />
kondisi awal.<br />
15.3. Persamaan <strong>Diferensial</strong> Orde Satu Dengan Peubah Yang Dapat<br />
Dipisahkan<br />
Solusi suatu persamaan diferensial bisa diperoleh apabila peubah-peubah<br />
dapat dipisahkan; pada pemisahan peubah ini kita mengumpulkan semua<br />
y dengan dy <strong>dan</strong> semua x dengan dx. Jika hal ini bisa dilakukan maka<br />
persamaan tersebut dapat kita tuliskan dalam bentuk<br />
f ( y)<br />
dy + g(<br />
x)<br />
dx = 0<br />
(15.1)<br />
Apabila kita lakukan integrasi kita akan mendapatkan solusi umum<br />
dengan satu tetapan sembarang K, yaitu<br />
Kita ambil dua contoh.<br />
∫<br />
f y)<br />
dy<br />
∫<br />
g(<br />
x)<br />
dx)<br />
=<br />
( + K<br />
(15.2)<br />
1).<br />
x<br />
dy x−<br />
y<br />
dy e<br />
= e . Persamaan ini dapat kita tuliskan =<br />
dx<br />
dx y<br />
e<br />
sehingga kita dapatkan persamaan dengan peubah terpisah<br />
sehingga<br />
y x<br />
e dy − e dx = 0<br />
<strong>dan</strong><br />
y x<br />
y x<br />
e − e = K atau e = e + K<br />
∫<br />
y<br />
e dy −<br />
x<br />
∫<br />
e dx = K<br />
180 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
dy<br />
2).<br />
dx<br />
= 1<br />
xy<br />
. Pemisahan peubah akan memberikan bentuk<br />
dx<br />
dx<br />
ydy − = 0 <strong>dan</strong> K<br />
x ∫<br />
ydy −<br />
∫<br />
=<br />
x<br />
sehingga<br />
2<br />
y<br />
2<br />
− ln x = K<br />
atau<br />
2<br />
y = ln x + K′<br />
15.4. Persamaan <strong>Diferensial</strong> Homogen Orde Satu<br />
Suatu persamaan disebut homogen jika ia dapat dituliskan dalam bentuk<br />
dy ⎛ y ⎞<br />
= F⎜<br />
⎟<br />
dx ⎝ x ⎠<br />
(15.3)<br />
Persamaan demikian ini dapat dipecahkan dengan membuat peubah<br />
bebas baru<br />
y<br />
v =<br />
x<br />
Dengan peubah baru ini maka<br />
dy dv<br />
y = vx <strong>dan</strong> = v + x<br />
dx dx<br />
Persamaan (14.2) menjadi<br />
dv<br />
v + x = F(v)<br />
(15.4)<br />
dx<br />
yang kemudian dapat dicari solusinya melalui pemisahan peubah.<br />
dx dv<br />
+ = 0<br />
x v − F(<br />
v)<br />
(15.5)<br />
Solusi persamaan aslinya diperoleh dengan menggantikan v dengan y/x<br />
setelah persamaan terakhir ini dipecahkan.<br />
2 2<br />
Kita ambil contoh: ( x + y ) dx + 2xydy<br />
= 0<br />
Persamaan ini dapat kita tulis 2 y<br />
x (1 + ) dx + 2xydy<br />
= 0 atau<br />
2<br />
x<br />
2<br />
181
2<br />
2<br />
y y<br />
(1 + ) dx = −2<br />
dy sehingga<br />
dy 1 + ( y / x)<br />
= − = F(<br />
y / x)<br />
2<br />
x x<br />
dx 2( y / x)<br />
yang merupakan bentuk persamaan homogen.<br />
Peubah baru v = y/x memberikan<br />
y = vx <strong>dan</strong><br />
<strong>dan</strong> membuat persamaan menjadi<br />
2<br />
dv 1 + v<br />
v + x = − atau<br />
dx 2v<br />
Dari sini kita dapatkan<br />
dv dx<br />
= −<br />
2<br />
(1 + 3v<br />
) / 2v<br />
x<br />
dy<br />
dx<br />
= v +<br />
dv<br />
x<br />
dx<br />
2<br />
2<br />
dv 1 + v 1 + 3v<br />
x = −v<br />
− = −<br />
dx 2v<br />
2v<br />
dx 2vdv<br />
atau + 0<br />
x 2<br />
1 + 3v<br />
=<br />
Kita harus mencari solusi persamaan ini untuk mendapatkan v<br />
sebagai fungsi x. Kita perlu pengalaman untuk ini.<br />
Kita tahu bahwa<br />
d(ln<br />
x)<br />
1<br />
= . Kita coba hitung<br />
dx x<br />
2<br />
2<br />
2<br />
d ln(1 + 3x<br />
) d ln(1 + 3x<br />
) d(1<br />
+ 3x<br />
) 1<br />
=<br />
= (6x)<br />
dx<br />
2<br />
2<br />
d(1<br />
+ 3x<br />
) dx 1 + 3x<br />
Kembali ke persamaan kita. Dari percobaan perhitungan di atas<br />
kita dapatkan solusi dari<br />
dx 2vdv<br />
+ 0<br />
x 2<br />
1 + 3v<br />
=<br />
1 2 1<br />
adalah ln x + ln(1 + 3v<br />
) = K = ln K′<br />
atau<br />
3<br />
3<br />
2<br />
3ln x + ln(1 + 3v<br />
) = K = ln K′<br />
3 2<br />
sehingga x (1 + 3v<br />
) = K′<br />
Dalam x <strong>dan</strong> y solusi ini adalah<br />
2<br />
2 2<br />
( 1 + 3( y / x)<br />
) = K atau ( x + 3 y ) = K<br />
3<br />
x ′<br />
x ′<br />
182 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
15.5. Persamaan <strong>Diferensial</strong> Linier Orde Satu<br />
Dalam persamaan diferensial linier, semua suku berderajat satu atau nol.<br />
Dalam menentukan derajat ini kita harus memperhitungkan pangkat dari<br />
peubah <strong>dan</strong> turunannya; misal y(dy/dx) adalah berderajat dua karena y<br />
<strong>dan</strong> dy/dx masing-masing berpangkat satu <strong>dan</strong> harus kita jumlahkan<br />
untuk menentukan derajat dari y(dy/dx).<br />
Persamaan diferensial orde satu yang juga linier dapat kita tuliskan<br />
dalam bentuk<br />
dy<br />
+ Py = Q<br />
(15.6)<br />
dx<br />
dengan P <strong>dan</strong> Q merupakan fungsi x atau tetapan. Persamaan diferensial<br />
bentuk inilah selanjutnya akan kita bahas <strong>dan</strong> kita akan membatasi pada<br />
situasi dimana P adalah suatu tetapan. Hal ini kita lakukan karena kita<br />
akan langsung melihat pemanfaatan praktis dengan contoh yang terjadi<br />
pada analisis rangkaian listrik.<br />
Dalam analisis rangkaian listrik, peubah fisis seperti tegangan <strong>dan</strong> arus<br />
merupakan fungsi waktu. Oleh karena itu persamaan diferensial yang<br />
akan kita tinjau kita tuliskan secara umum sebagai<br />
dy<br />
a + by = f (t)<br />
(15.7)<br />
dt<br />
Persamaan diferensial linier orde satu seperti ini biasa kita temui pada<br />
peristiwa transien (atau peristiwa peralihan) dalam rangkaian listrik. Cara<br />
yang akan kita gunakan untuk mencari solusi adalah cara pendugaan.<br />
Peubah y adalah keluaran rangkaian (atau biasa disebut tanggapan<br />
rangkaian) yang dapat berupa tegangan ataupun arus se<strong>dan</strong>gkan nilai a<br />
<strong>dan</strong> b ditentukan oleh nilai-nilai elemen yang membentuk rangkaian.<br />
<strong>Fungsi</strong> f(t) adalah masukan pada rangkaian yang dapat berupa tegangan<br />
ataupun arus <strong>dan</strong> disebut fungsi pemaksa atau fungsi penggerak.<br />
Persamaan diferensial seperti (15.7) mempunyai solusi total yang<br />
merupakan jumlah dari solusi khusus <strong>dan</strong> solusi homogen. Solusi khusus<br />
adalah fungsi yang dapat memenuhi persamaan (15.7) se<strong>dan</strong>gkan solusi<br />
homogen adalah fungsi yang dapat memenuhi persamaan homogen<br />
dy<br />
a + by = 0<br />
(15.8)<br />
dt<br />
183
Hal ini dapat difahami karena jika f 1 (t) memenuhi (15.7) <strong>dan</strong> fungsi f 2 (t)<br />
memenuhi (15.8), maka y = (f 1 +f 2 ) akan memenuhi (15.7) sebab<br />
( f + f )<br />
dy d<br />
a + by = a 1 2 + b(<br />
f1<br />
+ f2)<br />
dt<br />
dt<br />
df<br />
= 1 df<br />
+ 2 df<br />
a bf<br />
1<br />
1 + a + bf2<br />
= a + bf1<br />
+ 0<br />
dt dt dt<br />
Jadi y = (f 1 +f 2 ) adalah solusi dari (15.7), <strong>dan</strong> kita sebut solusi total yang<br />
terdiri dari solusi khusus f 1 dari (15.7) <strong>dan</strong> solusi homogen f 2 dari (15.8).<br />
Peristiwa Transien. Sebagaimana telah disebutkan, persamaan<br />
diferensial seperti (14.7) dijumpai dalam peristiwa transien, yaitu selang<br />
peralihan dari suatu keadaan mantap ke keadaan mantap yang lain..<br />
Peralihan kita anggap mulai terjadi pada t = 0 <strong>dan</strong> peristiwa transien yang<br />
kita tinjau terjadi dalam kurun waktu setelah mulai terjadi perubahan<br />
yaitu dalam kurun waktu t > 0. Sesaat setelah mulai perubahan kita beri<br />
tanda t = 0 + <strong>dan</strong> sesaat sebelum terjadi perubahan kita beri tanda t = 0 − .<br />
Solusi Homogen. Persamaan (15.8) menyatakan bahwa y ditambah<br />
dengan suatu koefisien konstan kali dy/dt, sama dengan nol untuk semua<br />
nilai t. Hal ini hanya mungkin terjadi jika y <strong>dan</strong> dy/dt berbentuk sama.<br />
<strong>Fungsi</strong> yang turunannya mempunyai bentuk sama dengan fungsi itu<br />
sendiri adalah fungsi eksponensial. Jadi kita dapat menduga bahwa solusi<br />
dari (15.8) mempunyai bentuk eksponensial y = K 1 e st . Jika solusi dugaan<br />
ini kita masukkan ke (15.8), kita peroleh<br />
( as + b) 0<br />
st st<br />
aK1 se + bK1e<br />
= 0 atau K1<br />
y =<br />
(15.9)<br />
Peubah y tidak mungkin bernilai nol untuk seluruh t <strong>dan</strong> K 1 juga tidak<br />
boleh bernilai nol karena hal itu akan membuat y bernilai nol untuk<br />
seluruh t. Satu-satunya cara agar persamaan (15.9) terpenuhi adalah<br />
as + b = 0<br />
(15.10)<br />
Persamaan (15.10) ini disebut persamaan karakteristik sistem orde<br />
pertama. Persamaan ini hanya mempunyai satu akar yaitu s = −(b/a). Jadi<br />
solusi homogen yang kita cari adalah<br />
st −(<br />
b / a)<br />
t<br />
ya<br />
= K1e<br />
= K1e<br />
(15.11)<br />
Nilai K 1 masih harus kita tentukan melalui penerapan suatu persyaratan<br />
tertentu yang kita sebut kondisi awal yaitu kondisi pada t = 0 + sesaat<br />
184 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
setelah mulainya perubahan keadaan. Ada kemungkinan bahwa y telah<br />
mempunyai nilai tertentu pada t = 0 + sehingga nilai K 1 haruslah<br />
sedemikian rupa sehingga nilai y pada t = 0 + tersebut dapat dipenuhi.<br />
Akan tetapi kondisi awal ini tidak dapat kita terapkan pada solusi<br />
homogen karena solusi ini baru merupakan sebagian dari solusi. Kondisi<br />
awal harus kita terapkan pada solusi total <strong>dan</strong> bukan hanya untuk solusi<br />
homogen saja. Oleh karena itu kita harus mencari solusi khusus lebih<br />
dulu agar solusi total dapat kita peroleh untuk kemudian menerapkan<br />
kondisi awal.<br />
Solusi khusus. Solusi khusus dari (15.7) tergantung dari bentuk fungsi<br />
pemaksa f(t). Seperti halnya dengan solusi homogen, kita dapat<br />
melakukan pendugaan pada solusi khusus. Bentuk solusi khusus haruslah<br />
sedemikian rupa sehingga jika dimasukkan ke persamaan (15.7) maka<br />
ruas kiri <strong>dan</strong> ruas kanan persamaan itu akan berisi bentuk fungsi yang<br />
sama. Jika solusi khusus kita sebut y p , maka y p <strong>dan</strong> turunannya harus<br />
mempunyai bentuk sama agar hal tersebut terpenuhi. Untuk berbagai<br />
bentuk f(t), solusi khusus dugaan y p adalah sebagai berikut.<br />
Jika f ( t)<br />
= 0 , maka y p = 0<br />
Jika f ( t)<br />
= A = konstan, maka y p = konstan = K<br />
Jika<br />
Jika<br />
αt<br />
f ( t)<br />
= Ae = eksponensial, maka<br />
αt<br />
y p = eksponensial = Ke<br />
f ( t)<br />
= Asin<br />
ωt<br />
, atau f ( t)<br />
= Acosωt<br />
, maka<br />
y p = Kc<br />
cosωt<br />
+ Ks<br />
sin ωt<br />
Perhatikan : y = Kc<br />
cosωt<br />
+ Ks<br />
sin ωt<br />
adalah<br />
bentuk umum fungsi sinus maupun cosinus.<br />
Solusi total. Jika solusi khusus kita sebut y p , maka solusi total adalah<br />
s t<br />
y = y p + ya<br />
= y p + K1e<br />
(15.12)<br />
Pada solusi lengkap inilah kita dapat menerapkan kondisi awal yang akan<br />
memberikan nilai K 1 .<br />
Kondisi Awal. Kondisi awal adalah kondisi pada awal terjadinya<br />
perubahan yaitu pada t = 0 + . Dalam menurunkan persamaan diferensial<br />
pada peristiwa transien kita harus memilih peubah yang disebut peubah<br />
185
status. Peubah status harus merupakan fungsi kontinyu. Nilai peubah ini,<br />
sesaat sesudah <strong>dan</strong> sesaat sebelum terjadi perubahan harus bernilai sama.<br />
Jika kondisi awal ini kita sebut y(0 + ) maka<br />
−<br />
y (0<br />
+ ) = y(0<br />
)<br />
(15.13)<br />
Jika kondisi awal ini kita masukkan pada dugaan solusi lengkap (14.12)<br />
akan kita peroleh nilai K 1 .<br />
+ +<br />
+ +<br />
y ( 0 ) = y p(0<br />
) + K1<br />
→ K1<br />
= y(0<br />
) − y p(0<br />
) (15.14)<br />
y p (0 + ) adalah nilai solusi khusus pada t = 0 + . Nilai y(0 + ) <strong>dan</strong> y p (0 + ) adalah<br />
tertentu (yaitu nilai pada t = 0 + ). Jika kita sebut<br />
+ +<br />
y( 0 ) − y p (0 ) = A0<br />
(15.15)<br />
maka solusi total menjadi<br />
s t<br />
y = y p + A0<br />
e<br />
(15.16)<br />
15.6. Solusi Pada Berbagai <strong>Fungsi</strong> Pemaksa<br />
Tanpa <strong>Fungsi</strong> Pemaksa, f(t) = 0. Jika f(t) =0 maka solusi yang akan kita<br />
peroleh hanyalah solusi homogen saja. Walaupun demikian, dalam<br />
mencari soluai kita akan menganggap bahwa fungsi pemaksa tetap ada,<br />
akan tetapi bernilai nol. Hal ini kita lakukan karena kondisi awal harus<br />
diterapkan pada solusi total, se<strong>dan</strong>gkan solusi total harus terdiri dari<br />
solusi homogen <strong>dan</strong> solusi khusus (walaupun mungkin bernilai nol).<br />
Kondisi awal tidak dapat diterapkan hanya pada solusi homogen saja<br />
atau solusi khusus saja.<br />
Contoh: Dari suatu analisis rangkaian diperoleh persamaan<br />
dv<br />
+ 1000 v = 0<br />
dt<br />
untuk t > 0. Kondisi awal adalah v(0 + ) = 12 V.<br />
Persamaan karakteristik : s + 1000 = 0 → s = −1000<br />
Dugaan solusi homogen :<br />
Dugaan solusi khusus:<br />
Dugaan solusi total<br />
−1000t<br />
va<br />
= A0e<br />
v p = 0 (karena tidak ada<br />
st<br />
−1000t<br />
: v = v p + A0e<br />
= 0 + A0e<br />
fungsi pemaksa)<br />
186 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Kondisi awal : v(0<br />
) = v(0<br />
) = 12 V.<br />
Penerapan kondisi awal pada<br />
memberikan : 12 = 0 + A<br />
Solusi total<br />
+<br />
0<br />
−<br />
menjadi : v = 12 e<br />
dugaan solusi total<br />
→ A = 12<br />
0<br />
−1000<br />
t<br />
V<br />
Contoh: Pada kondisi awal v(0 + ) = 10<br />
menghasilkan persamaan<br />
dv<br />
+ 3 v = 0<br />
dt<br />
V, analisis transien<br />
Persamaan karakteristik : s + 3 = 0 → s = −3<br />
Dugaan solusi homogen :<br />
Dugaan solusi khusus :<br />
Dugaan solusi total:<br />
+<br />
Kondisi awal : v(0<br />
) = 10 V<br />
−3<br />
t<br />
va<br />
= A0e<br />
v p = 0<br />
−3t<br />
v = vp<br />
+ A0e<br />
Penerapan kondisi awal memberikan: 10 = 0 + A0<br />
−3t<br />
Solusi total menjadi: v = 10 e V<br />
<strong>Fungsi</strong> Pemaksa Berbentuk Anak Tangga. Kita telah mempelajari<br />
bahwa fungsi anak tangga adalah fungsi yang bernilai 0 untuk t < 0 <strong>dan</strong><br />
bernilai konstan untuk t > 0. Jadi jika kita hanya meninjau keadaan<br />
untuk t > 0 saja, maka fungsi pemaksa anak tangga dapat kita tuliskan<br />
sebagai f(t) = A (tetapan).<br />
Contoh: Suatu analisis rangkaian memberikan persamaan<br />
−<br />
10 3 dv<br />
+ v =12<br />
dt<br />
dengan kondisi awal v(0 + ) = 0 V.<br />
−3<br />
−3<br />
Persamaan karakteristik : 10 s + 1 = 0 → s = −1/10<br />
= −1000<br />
Dugaan solusi homogen :<br />
−1000<br />
t<br />
va<br />
= A0e<br />
187
Karena f(t) = 12 konstan, kita dapat menduga bahwa solusi khusus<br />
akan bernilai konstan juga karena turunannya akan nol sehingga<br />
kedua ruas persamaan tersebut dapat berisi suatu nilai konstan.<br />
Dugaan solusi khusus:<br />
Masukkan v p<br />
vp<br />
= K<br />
dugaan ini ke persamaan :<br />
−1000<br />
t<br />
Dugaan solusi total : v = 12 + A0e<br />
V<br />
+<br />
Kondisi awal : v(0<br />
) = v(0−)<br />
= 0.<br />
0 + K = 12 ⇒ vp<br />
= 12<br />
Penerapan kondisi awal memberikan: 0 = 12 + A0<br />
→ A0<br />
= −12<br />
−1000t<br />
Solusi total menjadi : v = 12 −12<br />
e V<br />
Contoh: Pada kondisi awal v(0 + ) = 11 V, analisis transien<br />
menghasilkan persamaan<br />
dv<br />
+ 5 v = 200<br />
dt<br />
Persamaan karakteristik : s + 5 = 0 → s = −5<br />
Dugaan solusi homogen :<br />
Dugaan solusi khusus:<br />
Dugaan solusi lengkap:<br />
Kondisi awal :<br />
−5<br />
t<br />
va<br />
= A0e<br />
v p = K → 0 + 5K<br />
= 200 → v p = 40<br />
−5t<br />
−5t<br />
v = v p + A0e<br />
= 40 + A0e<br />
+<br />
v(0<br />
) = 11V. Penerapan kondisi awal memberikan:<br />
11 = 40 + A0<br />
→ A0<br />
= −29<br />
−5t<br />
Tanggapan total: v = 40 − 29 e V.<br />
<strong>Fungsi</strong> Pemaksa Berbentuk Sinus. Berikut ini kita akan mencari solusi<br />
jika fungsi pemaksa berbentuk sinus. Karena solusi homogen tidak<br />
tergantung dari bentuk fungsi pemaksa, maka pencarian solusi homogen<br />
dari persamaan ini sama seperti apa yang kita lihat pada contoh-contoh<br />
sebelumnya. Jadi dalam hal ini perhatian kita lebih kita tujukan pada<br />
pencarian solusi khusus.<br />
Dengan pengertian bahwa kita hanya meman<strong>dan</strong>g kejadian pada t > 0,<br />
bentuk umum dari fungsi sinus yang muncul pada t = 0 kita tuliskan<br />
y = Acos( ωt<br />
+ θ)<br />
188 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Melalui relasi<br />
{ cosωt<br />
cosθ − sin ωt<br />
θ}<br />
y = Acos(<br />
ωt<br />
+ θ)<br />
= A<br />
sin<br />
bentuk umum fungsi sinus dapat kita tuliskan sebagai<br />
y = Ac<br />
cosωt<br />
+ As<br />
sin ωt<br />
dengan Ac<br />
= Acosθ<br />
<strong>dan</strong><br />
As<br />
= −Asin<br />
θ<br />
Dengan bentuk umum seperti di atas kita terhindar dari perhitungan<br />
sudut fasa θ, karena sudut fasa ini tercakup dalam koefisien A c <strong>dan</strong> A s .<br />
Koefisien A c <strong>dan</strong> A s tidak selalu ada. Jika sudut fasa θ = 0 maka A s = 0<br />
<strong>dan</strong> jika θ = 90 o maka A c = 0. Jika kita memerlukan nilai sudut fasa θ dari<br />
fungsi sinus yang dinyatakan dengan pernyataan umum, kita dapat<br />
As<br />
menggunakan relasi tan θ = .<br />
Ac<br />
Turunan fungsi sinus akan berbentuk sinus juga. Oleh karena itu,<br />
penjumlahan y = sinωt <strong>dan</strong> turunannya akan berbentuk fungsi sinus juga.<br />
y = A cosωt<br />
+ A sin ωt<br />
;<br />
c<br />
dy<br />
= −Ac<br />
ωsin<br />
ωt<br />
+ Asω<br />
cosωt<br />
dt<br />
2<br />
d y<br />
= −Ac<br />
ω<br />
2<br />
dt<br />
2<br />
s<br />
cosωt<br />
− A ω<br />
s<br />
2<br />
;<br />
sin ωt<br />
Contoh: Pada kondisi awal v(0 + ) = 0 V suatu analisis transien<br />
dv<br />
menghasilkan persamaan + 5 v =100cos10t<br />
dt<br />
Persamaan karakteristik : s + 5 = 0 → s = −5<br />
Dugaan solusi homogen :<br />
v<br />
a<br />
= A e<br />
−5<br />
t<br />
0<br />
<strong>Fungsi</strong> pemaksa berbentuk sinus. Solusi khusus kita duga akan<br />
berbentuk sinus juga.<br />
189
Dugaan solusi khusus:<br />
v p = Ac<br />
cos10t<br />
+ As<br />
sin10t<br />
Substitusi solusi khusus ini ke persamaan memberikan:<br />
− 10Ac<br />
sin10t<br />
+ 10As<br />
cos10t<br />
+ 5Ac<br />
cos10t<br />
+ 5As<br />
sin10t<br />
= 100cos10t<br />
→ −10Ac<br />
+ 5As<br />
= 0 <strong>dan</strong> 10As<br />
+ 5Ac<br />
= 100<br />
→ As<br />
= 2Ac<br />
→ 20Ac<br />
+ 5Ac<br />
= 100 ⇒ Ac<br />
= 4 <strong>dan</strong> As<br />
= 8<br />
Solusi khusus: v p = 4cos10t<br />
+ 8sin10t<br />
−5<br />
t<br />
Dugaan solusi total : v = 4cos10t<br />
+ 8sin10t<br />
+ A0e<br />
+<br />
Kondisi awal v(0<br />
) = 0.<br />
Penerapan kondisi awal : 0 = 4 + A0<br />
→ A0<br />
= −4<br />
−5t<br />
Jadi: v = 4cos10t<br />
+ 8sin10t<br />
− 4e<br />
V<br />
Contoh: Apabila kondisi awal adalah v(0 + ) = 10 V, bagaimanakah<br />
solusi pada contoh sebelum ini?<br />
Solusi total telah diperoleh; hanya kondisi awal yang berubah.<br />
−5t<br />
Solusi total : v = 4 cos10t<br />
+ 8sin10t<br />
+ A0e<br />
+<br />
Kondisi awal v(0<br />
) = 10 → 10 = 4 + A0<br />
→ A0<br />
= 6<br />
−5<br />
t<br />
Jadi : v = 4 cos10t<br />
+ 8 sin10t<br />
+ 6 e V<br />
Ringkasan. Solusi total terdiri dari solusi khusus <strong>dan</strong> solusi homogen.<br />
Solusi homogen merupakan bagian transien dengan konstanta waktu<br />
yang ditentukan oleh tetapan-tetapan dalam persamaan, yang dalam hal<br />
rangkaian listrik ditentukan oleh nilai-nilai elemen rangkaian. Solusi<br />
khusus merupakan solusi yang tergantung dari bentuk fungsi pemaksa,<br />
yang dalam hal rangkaian listrik ditentukan oleh masukan dari luar;<br />
solusi khusus merupakan bagian mantap atau kondisi final.<br />
190 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
− τ<br />
= ( ) t /<br />
y y p t + A0<br />
e<br />
Solusi khusus :<br />
ditentukan oleh fungsi pemaksa.<br />
merupakan komponen mantap;<br />
tetap ada untuk t →∞.<br />
Solusi homogen :<br />
tidak ditentukan oleh fungsi pemaksa.<br />
merupakan komponen transien; hilang pada t<br />
→∞; sudah dapat dianggap hilang pada t = 5τ.<br />
konstanta waktu τ = a/b pada (14.10)<br />
Soal-Soal:<br />
1. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />
dv<br />
+<br />
a). + 10v<br />
= 0 , v(0<br />
) = 10 ;<br />
dt<br />
dv<br />
+<br />
b). + 15v<br />
= 0 , v(0<br />
) = 5<br />
dt<br />
2. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />
di<br />
+<br />
a). + 8i<br />
= 0 , i(0<br />
) = 2 ;<br />
dt<br />
di 4<br />
+<br />
b). + 10 i = 0 , i(0<br />
) = −0,005<br />
dt<br />
191
3. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />
dv<br />
+<br />
a). + 10v<br />
= 10u(<br />
t)<br />
, v(0<br />
) = 0 ;<br />
dt<br />
dv<br />
+<br />
b). + 10v<br />
= 10u(<br />
t)<br />
, v(0<br />
) = 5<br />
dt<br />
4. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />
di 4<br />
+<br />
a). + 10 i = 100u(<br />
t)<br />
, i(0<br />
) = 0 ;<br />
dt<br />
di 4<br />
+<br />
b). + 10 i = 100u(<br />
t)<br />
, i(0<br />
) = −0,02<br />
dt<br />
5. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />
dv<br />
+<br />
a). + 5v<br />
= 10cos(5t)<br />
u(<br />
t)<br />
, v(0<br />
) = 0 ;<br />
dt<br />
dv<br />
+<br />
b). + 10v<br />
= 10cos(5t)<br />
u(<br />
t)<br />
, v(0<br />
) = 5<br />
dt<br />
192 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 16<br />
Persamaan <strong>Diferensial</strong> (2)<br />
(Orde Dua)<br />
16.1. Persamaan <strong>Diferensial</strong> Linier Orde Dua<br />
Secara umum persamaan diferensial linier orde dua berbentuk<br />
2<br />
d y dy<br />
a + b + cy = f ( t)<br />
(16.1)<br />
2<br />
dt dt<br />
Pada persamaan diferensial orde satu kita telah melihat bahwa solusi<br />
total terdiri dari dua komponen yaitu solusi homogen <strong>dan</strong> solusi khusus.<br />
Hal yang sama juga terjadi pada persamaan diferensial orde dua yang<br />
dengan mudah dapat ditunjukkan secara matematis seperti halnya pada<br />
persamaan orde pertama. Perbedaan dari kedua macam persamaan ini<br />
terletak pada kondisi awalnya. Pada persamaan orde dua terdapat dua<br />
kondisi awal <strong>dan</strong> kedua kondisi awal ini harus diterapkan pada dugaan<br />
solusi total. Dua kondisi awal tersebut adalah<br />
+ − dy + −<br />
y (0 ) = y(0<br />
) <strong>dan</strong> (0 ) = y'(0<br />
)<br />
(16.2)<br />
dt<br />
Solusi homogen. Solusi homogen diperoleh dari persamaan rangkaian<br />
dengan memberikan nilai nol pada ruas kanan dari persamaan (4.25),<br />
sehingga persamaan menjadi<br />
2<br />
d y dy<br />
a + b + cy = 0<br />
(16.3)<br />
2<br />
dt dt<br />
Agar persamaan ini dapat dipenuhi, y <strong>dan</strong> turunannya harus mempunyai<br />
bentuk sama sehingga dapat diduga y berbentuk fungsi eksponensial y a =<br />
Ke st dengan nilai K <strong>dan</strong> s yang masih harus ditentukan. Kalau solusi<br />
dugaan ini dimasukkan ke (16.3) akan diperoleh :<br />
2<br />
( as + bs + ) = 0<br />
2 st st st<br />
st<br />
aKs e + bKse + cKe = 0 atau Ke<br />
c<br />
(16.4)<br />
193
<strong>Fungsi</strong> e st tidak boleh nol untuk semua nilai t . Kondisi K = 0 juga tidak<br />
diperkenankan karena hal itu akan berarti y a = 0 untuk seluruh t. Satusatunya<br />
jalan agar persamaan ini dipenuhi adalah<br />
2<br />
as + bs + c = 0<br />
(16.4)<br />
Persamaan ini adalah persamaan karakteristik persamaan diferensial<br />
orde dua. Secara umum, persamaan karakteristik yang berbentuk<br />
persamaan kwadrat itu mempunyai dua akar yaitu:<br />
2<br />
− b ± b − 4ac<br />
s1,<br />
s2<br />
= (16.5)<br />
2a<br />
Akar-akar persamaan ini mempunyai tiga kemungkinan nilai, yaitu: dua<br />
akar riil berbeda, dua akar sama, atau dua akar kompleks konjugat.<br />
Konsekuensi dari masing-masing kemungkinan nilai akar ini terhadap<br />
bentuk solusi akan kita lihat lebih lanjut. Untuk sementara ini kita<br />
melihat secara umum bahwa persamaan karakteristik mempunyai dua<br />
akar.<br />
Dengan a<strong>dan</strong>ya dua akar tersebut maka kita mempunyai dua solusi<br />
homogen, yaitu:<br />
s1t<br />
s t<br />
a1 = K1e<br />
<strong>dan</strong> ya2<br />
= K2e<br />
(16.6)<br />
y<br />
2<br />
Jika y a1 merupakan solusi <strong>dan</strong> y a2 juga merupakan solusi, maka jumlah<br />
keduanya juga merupakan solusi. Jadi solusi homogen yang kita cari<br />
akan berbentuk<br />
Konstanta K 1<br />
solusi total.<br />
s1t<br />
s t<br />
a = K1 e + K2e<br />
(16.7)<br />
y<br />
2<br />
<strong>dan</strong> K 2 kita cari melalui penerapan kondisi awal pada<br />
Solusi Khusus. Sulusi khusus kita cari dari persamaan (16.1). Solusi<br />
khusus ini ditentukan oleh bentuk fungsi pemaksa, f(t). Cara menduga<br />
bentuk solusi khusus sama dengan apa yang kita pelajari pada persamaan<br />
orde satu. Kita umpamakan solusi khusus y khusus = y p .<br />
Solusi Total. Dengan solusi khusus y p maka solusi total menjadi<br />
s1t<br />
s t<br />
= y p + ya<br />
= y p + K1 e + K2e<br />
(16.8)<br />
y<br />
2<br />
194 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
16.2. Tiga Kemungkinan Bentuk Solusi<br />
Sebagaimana disebutkan, akar-akar persamaan karakteristik yang<br />
berbentuk umum as 2 + bs + c = 0 dapat mempunyai tiga kemungkinan<br />
nilai akar, yaitu:<br />
a). Dua akar riil berbeda, s 1 ≠ s 2 , jika {b 2 − 4ac } > 0;<br />
b). Dua akar sama, s 1 = s 2 = s , jika {b 2 −4ac } = 0<br />
c). Dua akar kompleks konjugat s 1 , s 2 = α ± jβ , jika {b 2 −4ac } < 0.<br />
Tiga kemungkinan nilai akar tersebut akan memberikan tiga<br />
kemungkinan bentuk solusi yang akan kita lihat berikut ini, dengan<br />
contoh solusi pada persamaan diferensial tanpa fungsi pemaksa.<br />
Dua Akar yata Berbeda. Kalau kondisi awal y(0 + ) <strong>dan</strong> dy/dt (0 + ) kita<br />
terapkan pada solusi total (16.8), kita akan memperoleh dua persamaan<br />
yaitu<br />
+ +<br />
+<br />
y( 0 ) y p (0 ) K1 K2<br />
<strong>dan</strong> y'(0<br />
) y′<br />
+<br />
= + +<br />
= p (0 ) + s1K1<br />
+ s2K2<br />
yang akan menentukan nilai K 1 <strong>dan</strong> K 2 . Jika kita sebut<br />
(16.9)<br />
+<br />
+ +<br />
A 0 = y( 0<br />
+ ) − y p (0 ) <strong>dan</strong> B0<br />
= y′<br />
(0 ) − y ′ p (0 ) (16.10)<br />
maka kita peroleh<br />
<strong>dan</strong> dari sini kita memperoleh<br />
K 1 + K2<br />
= A0<br />
<strong>dan</strong> s1K1<br />
+ s2K2<br />
= B0<br />
s2A0<br />
− B0<br />
K1 =<br />
<strong>dan</strong><br />
s2<br />
− s1<br />
sehingga solusi total menjadi<br />
s1<br />
A0<br />
− B0<br />
K2<br />
=<br />
s1<br />
− s2<br />
s2A0<br />
− B0<br />
s t s A B<br />
1 1 0 − 0 s t<br />
= y p + e + e (16.11)<br />
s2<br />
− s1<br />
s1<br />
− s2<br />
y<br />
2<br />
Berikut ini kita lihat suatu contoh. Seperti halnya pada persamaan orde<br />
pertama, pada persamaan orde dua ini kita juga mengartikan solusi<br />
persamaan sebagai solusi total. Hal ini didasari oleh pengertian tentang<br />
kondisi awal, yang hanya dapat diterapkan pada solusi total. Persamaan<br />
yang hanya mempunyai solusi homogen kita fahami sebagai persamaan<br />
dengan solusi khusus yang bernilai nol.<br />
195
Contoh: Dari analisis transien suatu rangkaian listrik diperoleh<br />
persamaan<br />
2<br />
d v<br />
3 dv 6<br />
+ 8,5 × 10 + 4 × 10 v = 0<br />
2<br />
dt<br />
dt<br />
dengan kondisi awal v(0 + )=15 V <strong>dan</strong> dv/dt(0 + ) = 0<br />
2<br />
3 6<br />
Persamaan karkteristik : s + 8,5 × 10 s + 4 × 10 = 0<br />
3 2<br />
→ akar - akar : s1,<br />
s2<br />
= −4250<br />
± 10 (4,25) − 4<br />
s1<br />
= −500,<br />
s2<br />
= −8000<br />
( dua akar riil berbeda).<br />
Dugaan solusi total:<br />
Kondisi awal :<br />
−500t<br />
−8000t<br />
v = 0 + K1e<br />
+ K2e<br />
(solusi homogen nol)<br />
+ −<br />
a). v(0<br />
) = v(0<br />
) = 15 V →15<br />
= K1<br />
+ K2<br />
⇒ K2<br />
= 15 − K1<br />
dv +<br />
b). (0 ) = 0 → 0 = K1s1<br />
+ K2s2<br />
= K1s1<br />
+ (15 − K1)<br />
s2<br />
dt<br />
− 15s2<br />
− 15( −8000)<br />
⇒ K1<br />
= =<br />
= 16 ⇒ K2<br />
= 15 − K1<br />
= −1<br />
s1<br />
− s2<br />
− 500 + 8000<br />
−500<br />
t −8000<br />
t<br />
Solusi total: v = 16e<br />
− e V<br />
(hanya terdiri dari solusi homogen).<br />
Dua Akar yata Sama Besar. Kedua akar yang sama besar tersebut<br />
dapat kita tuliskan sebagai<br />
s 1 = s <strong>dan</strong> s2<br />
= s + δ ; dengan δ → 0<br />
(16.12)<br />
Dengan demikian maka solusi total dapat kita tulis sebagai<br />
s1t<br />
s2t<br />
y = y p + K1e<br />
+ K2e<br />
st ( s+δ)<br />
t<br />
= y p + K1e<br />
+ K2e<br />
(16.13)<br />
Kalau kondisi awal pertama y(0 + ) kita terapkan, kita akan memperoleh<br />
+ +<br />
y(0<br />
) = y p (0 ) + K1<br />
+ K2<br />
+ +<br />
→ K1<br />
+ K2<br />
= y(0<br />
) − y p (0 ) = A0<br />
Jika kondisi awal kedua dy/dt (0 + ) kita terapkan, kita peroleh<br />
196 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
y′<br />
+<br />
(0 ) y′<br />
+<br />
= p (0 ) + K1s<br />
+ K2(<br />
s + δ)<br />
( K1<br />
K2)<br />
s K2<br />
y′<br />
+<br />
(0 ) y′<br />
+<br />
→ + + δ = − p (0 ) = B0<br />
Dari kedua persamaan ini kita dapatkan<br />
A0<br />
s + K2δ = B0<br />
Solusi total menjadi<br />
Karena<br />
⎡⎛<br />
B0<br />
= y p + ⎢⎜<br />
A0<br />
−<br />
⎣⎝<br />
B0<br />
− A0<br />
s<br />
→ K2<br />
=<br />
δ<br />
B0<br />
→ K1<br />
= A0<br />
−<br />
−<br />
δ<br />
A0<br />
s<br />
⎛ B0<br />
− A0<br />
s ⎞ st B0<br />
− A0<br />
s ( s+δ)<br />
t<br />
y = y p + ⎜ A0<br />
− ⎟e<br />
+ e<br />
⎝ δ ⎠ δ<br />
−<br />
δ<br />
A0<br />
s ⎞ B0<br />
⎟ +<br />
⎠<br />
−<br />
δ<br />
A0<br />
s δ t ⎤ st<br />
e ⎥ e<br />
⎦<br />
⎡<br />
⎛ δ t<br />
1 e ⎞⎤<br />
st<br />
= y p + ⎢A0<br />
+ ( B0<br />
− A0<br />
s)<br />
⎜−<br />
+ ⎟⎥<br />
e<br />
⎢<br />
⎜ ⎟<br />
⎣<br />
⎝<br />
δ δ<br />
⎠⎥<br />
⎦<br />
⎛ δ t<br />
1 e ⎞ ⎛ δt<br />
e 1⎞<br />
lim ⎜<br />
lim ⎜ −<br />
− + ⎟ =<br />
⎟ = t<br />
δ→0⎜<br />
⎟ 0⎜<br />
⎟<br />
⎝<br />
δ δ δ→<br />
⎠ ⎝<br />
δ<br />
⎠<br />
maka solusi total dapat kita tulis<br />
[ A + B A s)<br />
t] e<br />
st<br />
(16.14)<br />
(16.15.a)<br />
y = y p + 0 ( 0 − 0<br />
(16.15.b)<br />
Solusi total seperti dinyatakan oleh (16.15.b) merupakan bentuk khusus<br />
yang diperoleh jika persamaan karakteristik mempunyai dua akar sama<br />
besar. A 0 <strong>dan</strong> B 0 mempunyai nilai tertentu yang ditetapkan oleh kondisi<br />
awal. Dengan demikian kita dapat menuliskan (16.15.b) sebagai<br />
[ K + K t] e<br />
st<br />
y = y p + a b<br />
(16.15.c)<br />
dengan nilai K a yang ditentukan oleh kondisi awal, <strong>dan</strong> nilai K b<br />
ditentukan oleh kondisi awal <strong>dan</strong> s. Dalam rangkaian listrik, nilai s<br />
tergantung dari elemen-elemen yang membentuk rangkaian <strong>dan</strong> tidak ada<br />
kaitannya dengan kondisi awal. Dengan kata lain, jika kita mengetahui<br />
bahwa persamaan karakteristik rangkaian mempunyai akar-akar yang<br />
sama besar (akar kembar) maka bentuk tanggapan rangkaian akan seperti<br />
yang ditunjukkan oleh (16.15.c).<br />
197
Contoh: Pada kondisi awal v(0 + )=15 V <strong>dan</strong> dv/dt(0 + )=0, analisis<br />
transien rangkaian listrik memberikan persamaan<br />
2<br />
d v 3 dv 6<br />
+ 4 × 10 + 4 × 10 v = 0<br />
2<br />
dt dt<br />
2<br />
6<br />
Persamaan karakteristik : s + 4000s<br />
+ 4 × 10 = 0<br />
Di sini<br />
solusi total<br />
6 6<br />
s1,<br />
s2<br />
= −2000<br />
± 4 × 10 − 4 × 10 = −2000<br />
= s<br />
terdapat dua akar sama besar; oleh karena itu<br />
akar - akar :<br />
v = vp<br />
+<br />
Jadi : v =<br />
akan<br />
berbentuk :<br />
st<br />
st<br />
( K + K t) e = 0 + ( K + K t) e , karena v = 0.<br />
a<br />
b<br />
Aplikasi kondisi awal pertama pada solusi total ini memberikan<br />
+<br />
v(0<br />
) = 15 = Ka.<br />
dv +<br />
Aplikasi kondisi awal kedua (0 ) = 0<br />
dt<br />
dv st<br />
st<br />
memberikan = Kbe<br />
+ ( Ka<br />
+ Kbt)<br />
s e<br />
dt<br />
dv +<br />
→ (0 ) = 0 = Kb<br />
+ Kas<br />
→<br />
dt<br />
−2000 t<br />
( 15 + 30000t<br />
) e V<br />
a<br />
b<br />
Kb<br />
= −Kas<br />
= 30000<br />
Akar-Akar Kompleks Konjugat. Kita belum membahas bilangan<br />
kompleks di buku ini. Kita baru meman<strong>dan</strong>g fungsi-fungsi yang<br />
memiliki nilai bilangan nyata. Namun agar pembahasan menjadi<br />
lengkap, berikut ini diberikan solusinya.<br />
Dua akar kompleks konjugat dapat dituliskan sebagai<br />
Solusi total dari situasi ini adalah<br />
s1 = α + jβ<br />
<strong>dan</strong> s2<br />
= α − jβ<br />
p<br />
( α+ jβ)<br />
t ( α− jβ)<br />
t<br />
y = y p + K1e<br />
+ K2e<br />
= y p +<br />
+ jβ<br />
t − jβ<br />
t αt<br />
( K e + K e ) e<br />
Aplikasikan kondisi awal yang pertama, y(0 + ),<br />
1<br />
2<br />
(16.16)<br />
198 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
+ +<br />
y(0<br />
) = y p (0 ) +<br />
→<br />
( K + K )<br />
1<br />
+ +<br />
K1<br />
+ K2<br />
= y(0<br />
) − y p (0 ) = A0<br />
dv + +<br />
Aplikasi kondisi awal yang kedua, (0 ) = y′<br />
(0 ) ,<br />
dt<br />
dy dy p<br />
jβt<br />
− jβt<br />
αt<br />
= + ( jβK1e<br />
− jβK2e<br />
) e<br />
dt dt<br />
jβt<br />
− jβt<br />
αt<br />
+ ( K1e<br />
+ K2e<br />
) α e<br />
Kita akan memperoleh<br />
dy +<br />
(0 ) y′<br />
+<br />
(0 ) y′<br />
+<br />
= = p (0 ) +<br />
dt<br />
→ jβ<br />
jβ<br />
2<br />
( jβK<br />
− jβK<br />
) + ( K + K )<br />
( K1<br />
K2<br />
) ( K1<br />
K2<br />
) y′<br />
+<br />
(0 ) y′<br />
+<br />
− + α + = − p (0 ) = B0<br />
K1<br />
+ K2<br />
= A0<br />
( K − K ) + α( K + K )<br />
1<br />
2<br />
1<br />
1<br />
B0<br />
− αA0<br />
2 = B0<br />
→ K1<br />
− K2<br />
=<br />
jβ<br />
A0<br />
+ ( B0<br />
− αA0<br />
) / jβ<br />
A0<br />
− ( B0<br />
− αA0<br />
) / jβ<br />
K 1 =<br />
K2<br />
=<br />
2<br />
2<br />
Solusi total menjadi<br />
y = y<br />
= y<br />
= y<br />
p<br />
p<br />
p<br />
⎛ A + B<br />
+<br />
0 ( 0<br />
⎜<br />
⎝<br />
⎛<br />
+ ⎜ A<br />
⎜<br />
⎝<br />
0<br />
e<br />
+ jβ<br />
t<br />
+ e<br />
2<br />
− jβ<br />
t<br />
⎛ ( B<br />
+<br />
⎜ A cosβt<br />
+<br />
0<br />
0<br />
⎝<br />
− αA0<br />
) / jβ<br />
e<br />
2<br />
( B<br />
+<br />
+ jβ<br />
t<br />
0<br />
− αA0<br />
) e<br />
β<br />
− αA0<br />
) ⎞<br />
sinβt<br />
⎟ e<br />
β ⎠<br />
αt<br />
2<br />
A − ( B<br />
+<br />
0 0<br />
+ jβ<br />
t<br />
− e<br />
2 j<br />
1<br />
− jβ<br />
t<br />
2<br />
⎞<br />
⎟ e<br />
⎟<br />
⎠<br />
α<br />
− αA0<br />
) / jβ<br />
e<br />
2<br />
αt<br />
− jβ<br />
t<br />
⎞<br />
⎟ e<br />
⎠<br />
αt<br />
(16.17)<br />
A 0 <strong>dan</strong> B 0 mempunyai nilai tertentu yang ditetapkan oleh kondisi awal<br />
se<strong>dan</strong>gkan α <strong>dan</strong> β memiliki nilai tertentu (dalam rangkaian listrik<br />
ditentukan oleh nilai elemen rangkaian). Dengan demikian solusi total<br />
dapat kita tuliskan sebagai<br />
y = y p +<br />
αt<br />
( K βt<br />
+ K sinβt) e<br />
a cos b<br />
(16.18)<br />
199
dengan K a <strong>dan</strong> K b yang masih harus ditentukan melalui penerapan<br />
kondisi awal. Ini adalah bentuk solusi total khusus untuk persamaan<br />
diferensial yang memiliki persamaan karakteristik dengan dua akar<br />
kompleks konjugat.<br />
Persamaan (16.8) menunjukkan bahwa bila persamaan karakteristik<br />
memberikan dua akar kompleks konjugat, maka solusi persamaan<br />
diferensial orde dua akan terdiri dari solusi khusus y p ditambah fungsi<br />
sinus yang teredam.<br />
Soal-Soal:<br />
1. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />
2<br />
d v dv<br />
+ dv +<br />
a). + 7 + 10v<br />
= 0 ; v(0<br />
) = 0, (0 ) = 15<br />
2<br />
dt dt<br />
dt<br />
b).<br />
2<br />
d v dv<br />
+ dv +<br />
+ 4 + 4v<br />
= 0 ; v(0<br />
) = 0 , (0 ) = 10<br />
2<br />
dt dt<br />
dt<br />
c).<br />
2<br />
d v dv<br />
+ dv +<br />
+ 4 + 5v<br />
= 0 ; v(0<br />
) = 0 , (0 ) = 5<br />
2<br />
dt dt<br />
dt<br />
2. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />
2<br />
d v dv<br />
+ dv(0)<br />
a). + 10 + 24v<br />
= 100u(<br />
t) ; v(0<br />
) = 5, = 25<br />
2<br />
dt dt<br />
dt<br />
b).<br />
2<br />
d v dv<br />
+ dv(0)<br />
+ 10 + 25v<br />
= 100u(<br />
t);<br />
v(0<br />
) = 5, = 10<br />
2<br />
dt dt<br />
dt<br />
c).<br />
2<br />
d v dv<br />
+ dv(0)<br />
+ 8 + 25v<br />
= 100u(<br />
t);<br />
v(0<br />
) = 5, = 10<br />
2<br />
dt dt<br />
dt<br />
3. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />
2<br />
d v dv<br />
+ dv +<br />
a). + 6 + 8v<br />
= 100[cos1000 t]<br />
u(<br />
t)<br />
, v(0<br />
) = 0, (0 ) = 0<br />
2<br />
dt dt<br />
dt<br />
b).<br />
2<br />
d v dv<br />
+ dv +<br />
+ 6 + 9v<br />
= 100[cos1000 t]<br />
u(<br />
t)<br />
, v(0<br />
) = 0, (0 ) = 0<br />
2<br />
dt dt<br />
dt<br />
c).<br />
2<br />
d v dv<br />
+ dv +<br />
+ 2 + 10v<br />
= 100[cos1000 t]<br />
u(<br />
t) , v(0<br />
) = 0, (0 ) = 0<br />
2<br />
dt dt<br />
dt<br />
200 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Bab 17<br />
Koordinat Polar<br />
Sampai dengan Bab-16 kita membicarakan fungsi dengan kurva-kurva<br />
yang digambarkan dalam koordinat sudut-siku, x-y. Di bab ini kita akan<br />
melihat sistem koordinat polar.<br />
17.1. Relasi Koordinat Polar <strong>dan</strong> Koordinat Sudut-siku<br />
Pada pernyataan posisi satu titik P[x P ,y P ] pada sistem koordinat sudutsiku<br />
terdapat hubungan<br />
y P = r sin θ ; x P = r cosθ<br />
(17.1)<br />
dengan r adalah jarak antara titik P dengan titik-asal [0,0] <strong>dan</strong> θ adalah<br />
sudut yang dibentuk oleh arah r dengan sumbu-x, seperti terlihat pada<br />
Gb. 17.1.<br />
y<br />
y P<br />
r<br />
P[r,θ]<br />
θ<br />
[0,0] x P x<br />
Gb.17.1. Posisi titik P pada sistem koordinat polar.<br />
Dalam koordinat polar, r <strong>dan</strong> θ inilah yang digunakan untuk menyatakan<br />
posisi titik P. Posisi titik P seperti pada Gb. 17.1. dituliskan sebagai<br />
P[r,θ].<br />
17.2. Persamaan Kurva Dalam Koordinat Polar<br />
Di Bab-5 kita telah melihat persamaan lingkaran berjari-jari c berpusat di<br />
O[a,b] dalam koordinat sudut-siku, yaitu<br />
2 2 2<br />
( x − a)<br />
+ ( y − b)<br />
= c<br />
201
Kita dapat menyatakan lingkaran ini dalam koordinat polar dengan<br />
mengganti x <strong>dan</strong> y menurut relasi (17.1), yaitu<br />
yang dapat dituliskan sebagai<br />
2<br />
2 2<br />
( r cosθ − a)<br />
+ ( r sin θ − b)<br />
= c<br />
(17.2.a)<br />
2 2<br />
2 2 2<br />
2 2<br />
( r cos θ − 2ra<br />
cosθ + a ) + ( r sin θ − 2rbsin<br />
θ + b ) − c = 0<br />
2<br />
( r − 2r(<br />
a cosθ + bsin<br />
θ)<br />
)<br />
r<br />
2 2 2<br />
+ a + b − c = 0<br />
2 2 2<br />
( r − 2( a cosθ + bsin<br />
θ)<br />
) + a + b − c = 0<br />
dengan bentuk kurva seperti Gb.17.2.a<br />
(17.2.b)<br />
Jika lingkaran ini berjari-jari c = a <strong>dan</strong> berpusat di O[a,0] maka<br />
persamaan (17.2.b) menjadi<br />
r ( r − 2a<br />
cosθ)<br />
= 0<br />
(17.2.c)<br />
Pada faktor pertama, jika kita mengambil r = 0 , kita menemui titik<br />
pusat. Faktor ke-dua adalah<br />
r − 2 a cosθ<br />
= 0<br />
(17.2.d)<br />
merupakan persamaan lingkaran dengan bentuk kurva seperti pada<br />
Gb.17.2.b.<br />
b<br />
y<br />
[0,0]<br />
θ<br />
r<br />
a<br />
(a)<br />
P[r,θ]<br />
[0,0]<br />
Gb.17.2. Lingkaran<br />
Berikut ini tiga contoh bentuk kurva dalam koordinat bola.<br />
x<br />
y<br />
θ<br />
r<br />
a<br />
(b)<br />
P[r,θ]<br />
x<br />
202 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Contoh: r = 2(1<br />
− cosθ)<br />
. Bentuk kurva fungsi ini terlihat pada Gb.17.3<br />
yang disebut kardioid (cardioid) karena bentuk yang seperti hati.<br />
Gb.17.3 Kurva kardioid, r = 2(1<br />
− cosθ)<br />
Perhatikan bahwa pada θ = 0, r = 0; pada θ = π/2 , r = 2; pada θ = π,<br />
r = 4; pada θ = 1,5π, r = 2.<br />
Contoh:<br />
P[r,θ]<br />
r<br />
0<br />
-5 -3 -1 1 x<br />
-1<br />
2<br />
r = 16cosθ<br />
. Bentuk kurva fungsi ini terlihat pada Gb.17.4<br />
3<br />
2<br />
1<br />
0<br />
-5 -3 -1 1 3 x 5<br />
-1<br />
-2<br />
-3<br />
Gb.17.4 Kurva<br />
2<br />
r = 16cosθ<br />
Perhatikan bahwa pada θ = 0, r = 4; pada θ = π/2 , r = 0; pada θ = π,<br />
r = 4; pada θ = 1,5π, r = 0.<br />
Contoh: r θ = 2 . Untuk θ > 0 bentuk kurva fungsi ini terlihat pada<br />
Gb.17.5<br />
y<br />
3<br />
2<br />
1<br />
-2<br />
-3<br />
r<br />
θ<br />
y<br />
θ<br />
P[r,θ]<br />
203
2<br />
y<br />
1,5<br />
1<br />
0,5<br />
r<br />
θ<br />
P[r,θ]<br />
0<br />
-1 0 1 2 x 3<br />
θ = π<br />
-0,5<br />
θ = 3π θ = 4π θ = 2π<br />
-1<br />
Gb.17.5 Kurva r θ = 2<br />
y = 2<br />
Pada persamaan kurva ini jika θ = 0 maka 0 = 2; suatu hal yang tidak<br />
benar. Ini berarti bahwa tidak ada titik pada kurva yang bersesuaian<br />
dengan θ = 0. Akan tetapi jika θ mendekati nol maka r mendekati ∞;<br />
garis y = 2 merupakan asimptot dari kurva ini. Perhatikanlah bahwa<br />
perpotongan kurva dengan sumbu-x tidak berarti θ = 0 <strong>dan</strong> terjadi pada θ<br />
= π, 2π, 3π, 4π, dst.<br />
17.3. Persamaan Garis Lurus<br />
Salah satu cara untuk menyatakan persamaan kurva dalam koordinat<br />
polar adalah menggunakan relasi (17.1) jika persamaan dalam koordinat<br />
sudut-siku diketahui. Hal ini telah kita lakukan misalnya pada persamaan<br />
lingkaran (17.2.a) menjadi (17.2.b) atau (17.2.c). Berikut ini kita akan<br />
menurunkan persamaan kurva dalam koordinat polar langsung dari<br />
bentuk / persyaratan kurva.<br />
Gb.17.6 memperlihatkan kurva dua garis lurus l 1 sejajar sumbu-x <strong>dan</strong> l 2<br />
sejajar sumbu-y.<br />
y<br />
l 1<br />
y<br />
O<br />
r<br />
θ<br />
a<br />
P[r,θ]<br />
x<br />
b<br />
O<br />
l 2<br />
r<br />
θ<br />
P[r,θ]<br />
x<br />
Gb.17.6 Garis lurus melalui titik-asal [0,0].<br />
Garis l 1 berjarak a dari titik-asal; setiap titik P yang berada pada garis ini<br />
harus memenuhi<br />
204 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Inilah persamaan garis l 1 .<br />
r cos θ = a<br />
(17.3)<br />
Garis l 2 berjarak b dari titik-asal; setiap titik P yang berada pada garis ini<br />
harus memenuhi<br />
Inilah persamaan garis l 2 .<br />
r sin θ = b<br />
(17.4)<br />
Kita lihat sekarang garis l 3 yang berjarak a dari titik asal dengan<br />
kemiringan positif seperti terlihat pada Gb.17.7. Karena garis memiliki<br />
kemiringan tertentu maka sudut antara garis tegak-lurus ke l 3 , yaitu β<br />
juga tertentu. Kita manfaatkan β untuk mencari persamaan garis l 3 . Jika<br />
titik P harus terletak pada l 3 maka<br />
Inilah persamaan garis l 3 .<br />
r cos( β − θ)<br />
= a<br />
(17.5)<br />
y<br />
P[r,θ]<br />
A<br />
α<br />
l 3<br />
a<br />
β<br />
r<br />
θ<br />
O<br />
x<br />
Gb.17.7. Garis lurus l 3 berjarak a dari [0,0], memiliki kemiringan positif.<br />
Jika kita bandingkan persamaan ini dengan persamaan (17.3) terlihat<br />
bahwa persamaan (17.5) ini adalah bentuk umum dari (17.3), yang akan<br />
kita peroleh jika kita melakukan perputaran sumbu. Jika perputaran kita<br />
lakukan sedemikian rupa sehingga memperoleh kemiringan garis positif,<br />
maka akan kita peroleh persamaan garis seperti (17.5). Apabila<br />
perputaran sumbu kita lakukan sehingga garis yang kita hadapi, l 4 ,<br />
memiliki kemiringan negatif, seperti pada Gb.17.8., maka persamaan<br />
garis adalah<br />
r cos( θ − β)<br />
= a<br />
(17.6)<br />
205
y<br />
P[r,θ]<br />
r a<br />
θ<br />
β<br />
O<br />
l 4<br />
x<br />
Gb.17.8. Garis lurus l 4 berjarak a dari [0,0], kemiringan negatif.<br />
17.4. Parabola, Elips, Hiperbola<br />
Ketiga bangun geometris ini telah kita lihat pada Bab-5 dalam koordinat<br />
sudut-siku. Kita akan melihatnya sekarang dalam koordinat polar.<br />
Eksentrisitas. Pengertian sehari-hari dari istilah eksentrik adalah<br />
menyimpang dari yang umum. Dalam matematika, eksentrisitas adalah<br />
rasio antara jarak suatu titik P terhadap titik tertentu dengan jarak antara<br />
titik P terhadap garis tertentu. Titik tertentu itu disebut titik fokus <strong>dan</strong><br />
garis tertentu itu disebut direktriks; kedua istilah ini telah kita kenal pada<br />
waktu pembahasan mengenai parabola di Bab-5. Sesungguhnya, dengan<br />
pengertian eksentrisitas ini kita dapat membahas sekaligus parabola,<br />
elips, <strong>dan</strong> hiperbola.<br />
Perhatikan Gb.17.8. Jika e s adalah eksentrisitas, maka<br />
PF<br />
e s =<br />
(17.7)<br />
PD<br />
D<br />
A<br />
direktriks<br />
r<br />
θ<br />
F<br />
Gb.17.8. Titik fokus <strong>dan</strong> garis direktriks.<br />
Jika kita mengambil titik fokus F sebagai titik asal, maka<br />
k<br />
y<br />
PF = r<br />
B<br />
P[r,θ]<br />
x<br />
206 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
<strong>dan</strong> dengan (17.7) menjadi<br />
r = e s PD ; se<strong>dan</strong>gkan<br />
PD = AB = AF + FB = k + r cosθ<br />
sehingga r = es<br />
( k + r cosθ)<br />
= esk<br />
+ esr<br />
cosθ<br />
Dari sini kita dapatkan<br />
esk<br />
r =<br />
(17.8)<br />
1 − es<br />
cosθ<br />
Nilai e s menentukan persamaan bangun geometris yang kita akan<br />
peroleh.<br />
Parabola. Jika e s = 1, yang berarti PF = PD, maka<br />
k<br />
r =<br />
(17.9)<br />
1−<br />
cosθ<br />
Inilah persamaan parabola.<br />
Perhatikan bahwa jika θ mendekati nol, maka r mendekati tak hingga.<br />
Jika θ = π/2 maka r = k. Jika θ = π titik P akan mencapai puncak kurva<br />
<strong>dan</strong> r = k/2, yang berarti bahwa puncak parabola berada di tegah-tengah<br />
antara garis direktriks <strong>dan</strong> titik fokus. Hal ini telah kita lihat di Bab-5.<br />
Elips. Jika e s < 1, misalnya e s = 0, 5 , PF = PD/2, maka<br />
k<br />
r =<br />
(17.10)<br />
2 − cosθ<br />
Inilah persamaan elips.<br />
Perhatikan bahwa karena − 1 ≤ cosθ ≤ + 1 maka penyebut pada<br />
persamaan (17.10) tidak akan pernah nol. Oleh karena itu r selalu<br />
mempunyai nilai untuk semua nilai θ. Jika θ = 0 maka r = k, titik P<br />
mencapai jarak terjauh dari F. <strong>dan</strong> jika θ = π/2 maka r = k/2 . Jika θ = π<br />
maka r = k/3, titik P mencapai jarak terdekat dengan F.<br />
Hiperbola. Jika e s > 1, misal e s = 2 , berarti PF = 2 × PD , maka<br />
2k<br />
r =<br />
(17.11)<br />
1 − 2cosθ<br />
Inilah persamaan hiperbola.<br />
207
Jika θ mendekati π/3 maka r menuju tak hingga. Jika θ = π / 2 maka r =<br />
2k. Jika θ = π , titik P ada di puncak kurva, <strong>dan</strong> r = k/3 = PF.<br />
17.4. Lemniskat <strong>dan</strong> Oval Cassini<br />
Di laut Aegea di hadapan selat Dar<strong>dan</strong>ella, terdapat sebuah pulau yang<br />
penting dalam mitologi Yunani yaitu pulau Lemnos atau Limnos. Pulau<br />
vulkanik ini berbentuk tak beraturan dengan dua teluk yang menjorok<br />
dalam ke daratan di pantai utara <strong>dan</strong> pantai selatan.<br />
Giovanni Domenico Cassini dikenal juga dengan nama Jean Dominique<br />
Cassini (1625 – 1712) adalah astronom Italia. Cassini menemukan empat<br />
di antara sembilan atau sepuluh satelit planet Saturnus. Ia pula yang<br />
menemukan celah cincin Saturnus, antara cincin terluar dengan cincin<br />
ke-dua yang paling terang; celah itu kemudian disebut Cassini’s division.<br />
Bangun-geometris yang disebut lemniskat <strong>dan</strong> oval Cassini merupakan<br />
situasi khusus dari kurva yang merupakan tempat kedudukan titik-titik<br />
yang hasil kali jaraknya terhadap dua titik tertentu bernilai konstan.<br />
Misalkan dua titik tertentu tersebut adalah F 1 [a,π] <strong>dan</strong> F 2 [a,0]. Lihat<br />
Gb.17.9.<br />
θ = π<br />
Gb.17.9. Menurunkan persamaan kurva dengan<br />
persyaratan PF 1 ×PF 2 = konstan<br />
Dari Gb.17.9. kita dapatkan<br />
2<br />
2<br />
( PF ) = ( r sin θ) + ( a + r cosθ)<br />
1<br />
2 2<br />
= r + a + 2ar<br />
cosθ<br />
2<br />
2<br />
( PF ) = ( r sin θ) + ( a − r cosθ)<br />
2<br />
F 1 [a,π]<br />
θ = π/2<br />
2 2<br />
= r + a − 2ar<br />
cosθ<br />
r<br />
P[r,θ]<br />
θ θ = 0<br />
F 2 [a,0]<br />
2<br />
2<br />
Misalkan hasil kali<br />
2<br />
PF1 × PF 2 = b , maka kita peroleh relasi<br />
208 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
4<br />
b =<br />
2 2<br />
2 2<br />
( r + a + 2ar<br />
cosθ) × ( r + a − 2ar<br />
cosθ)<br />
4 4 2 2<br />
2<br />
= r + a + 2a<br />
r − (2ar<br />
cosθ)<br />
4 4 2 2 2<br />
= r + a + 2a<br />
r (1 − 2cos θ)<br />
(17.12)<br />
Kita manfaatkan identitas trigonometri<br />
2 2 2<br />
cos2θ<br />
= cos θ − sin θ = 2cos θ −1<br />
untuk menuliskan (17.12) sebagai<br />
4<br />
4<br />
4<br />
2<br />
2<br />
b = r + a − 2a<br />
r cos2θ<br />
(17.13)<br />
Jika b kita buat ber-relasi dengan a yaitu b = ka maka persamaan (17.13)<br />
ini dapat kita tuliskan<br />
Untuk r > 0, persamaan ini menjadi<br />
r<br />
2<br />
4 2 2<br />
4 4<br />
0 = r − 2a<br />
r cos 2θ + a (1 − k )<br />
2<br />
2<br />
2<br />
= a cos 2θ ± a cos 2θ − (1 − k )<br />
(17.14)<br />
Lemniskat. Bentuk kurva yang disebut lemniskat ini diperoleh pada<br />
kondisi khusus (17.14) yaitu k = 1, yang berarti b = a atau<br />
2<br />
PF1 × PF 2 = a . Pada kondisi ini persamaan (17.14) menjadi<br />
2 2 2<br />
0 = r ( r − 2a<br />
cos2θ)<br />
Faktor pertama r = 0 akan memberikan sebuah titik. Faktor yang ke-dua<br />
memberikan persamaan<br />
r<br />
2 2a<br />
2<br />
= cos 2θ<br />
Dengan mengambil a = 1, kurva dari persamaan ini terlihat pada<br />
Gb.17.10.<br />
4<br />
209
θ = π/2<br />
0,6<br />
θ = π<br />
0,2<br />
θ = 0<br />
0<br />
-1,5 -1 -0,5 0 0,5 1 1,5<br />
-0,2<br />
Gb.17.10. Kurva persamaan (17.14), k = 1 = a.<br />
Bentuk lemniskat masih akan diperoleh pada k > 1, misalnya k = 1,1.<br />
Pada keadaan ini, dengan tetap mengambil a = 1, bentuk kurva yang<br />
akan diperoleh terlihat seperti pada Gb.17.11.<br />
θ = π<br />
-0,6<br />
θ = π/2<br />
1,5<br />
1<br />
0,5<br />
0<br />
-1<br />
θ = 0<br />
-2 -1 0 1 2<br />
-0,5<br />
-1,5<br />
Gb.17.11. Kurva persamaan (17.14), k = 1,1 & a = 1.<br />
Oval Cassini. Kondisi khusus yang ke-tiga adalah k < 1, misalkan k =<br />
0,8. Dengan tetap mengambil a = 1, bentuk kurva yang diperoleh adalah<br />
seperti pada Gb.17.12, yang disebut “oval Cassini”. Kurva ini terbelah<br />
menjadi dua bagian, mengingatkan kita pada Cassini’s division di planet<br />
Saturnus.<br />
210 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
θ = π/2<br />
1,5<br />
1<br />
0,5<br />
θ = π<br />
0<br />
θ = 0<br />
-2 -1 0 1 2<br />
-0,5<br />
-1<br />
-1,5<br />
Gb.17.12. Kurva persamaan (17.14), k = 0,8 & a = 1.<br />
17.5. Luas Bi<strong>dan</strong>g Dalam Koordinat Polar<br />
Kita akan menghitung luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh suatu kurva <strong>dan</strong><br />
dua garis masing-masing mempunyai sudut kemiringan α <strong>dan</strong> β. Lihat<br />
Gb.17.12<br />
y<br />
θ = β<br />
∆θ<br />
Gb.17.12. Mencari luas bi<strong>dan</strong>g antara kurva <strong>dan</strong> dua garis.<br />
Antara α <strong>dan</strong> β kita bagi dalam n segmen.<br />
β − α<br />
∆ θ =<br />
n<br />
Luas setiap segmen bisa didekati dengan luas sektor lingkaran. Antara θ<br />
<strong>dan</strong> (θ + ∆θ) ada suatu nilai θ k sedemikian rupa sehingga luas sektor<br />
lingkaran adalah<br />
2<br />
A k = ( r k ∆θ<br />
) / 2<br />
Luas antara θ = α <strong>dan</strong> θ = β menjadi<br />
θ<br />
θ = α<br />
x<br />
211
2<br />
2<br />
∑(<br />
r k ∆θ)<br />
/ 2 = ∑( f ( θk<br />
))<br />
∆θ<br />
A αβ =<br />
/ 2<br />
Jika n menuju ∞, ∆θ menuju nol, kita dapat menuliskan luas bi<strong>dan</strong>g<br />
menjadi<br />
atau<br />
Aαβ<br />
= lim<br />
∆θ→0<br />
1 β<br />
=<br />
2 ∫α<br />
∑<br />
[ f ( θ)<br />
]<br />
2<br />
( rk<br />
∆θ) / 2 = lim<br />
∆θ→0<br />
2<br />
dθ<br />
∫ β 2<br />
r<br />
Aαβ<br />
= dθ<br />
α 2<br />
∑<br />
[ f ( θ)<br />
]<br />
2<br />
∆θ / 2<br />
(17.15)<br />
Penutup<br />
Bab-17 adalah bab terakhir tulisan ini. Penulis rasa cukup<br />
ringan untuk dibaca. Sudah barang tentu untuk memahami<br />
lebih jauh kalkulus pembaca perlu mempelajari buku-buku<br />
referensi matematika yang memang ditujukan untuk<br />
belajar matematika; bahkan mengikuti kuliah matematika.<br />
212 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
IDEKS<br />
a<br />
akar kompleks 198<br />
akar nyata 195, 196<br />
anak tangga 27, 187<br />
antilogaritma 97<br />
b<br />
banyak 11, 12<br />
c<br />
cardioid 203<br />
cosecan 72, 76, 81<br />
cosinus 70, 74, 78, 85<br />
cotangent 71, 75, 80<br />
d<br />
diferensial 166<br />
domain 2<br />
e<br />
eksentrisitas 206<br />
eksponensial 97, 98, 140,<br />
163<br />
elips 61, 207<br />
f<br />
fungsi 1<br />
fungsi pemaksa 186, 187<br />
g<br />
garis lurus 15, 204<br />
garis singgung 113, 118<br />
geometris 55<br />
gigi gergaji 32<br />
h<br />
hiperbola 63, 207<br />
hiperbolik 100, 101, 164<br />
i<br />
implisit 7<br />
integral 141, 143, 145, 147,<br />
153, 156, 161, 166, 169, 176<br />
inversi 77, 82, 136, 165<br />
k<br />
kekontinyuan 5<br />
kemiringan 15<br />
kondisi awal 185<br />
kurva 2<br />
l<br />
lebar pita 88, 92<br />
lemniskat 208<br />
lingkaran 59, 202<br />
linier 15<br />
logarithma natural 95<br />
logaritmik 133, 139<br />
luas bi<strong>dan</strong>g 174, 211<br />
m<br />
mononom 37, 39, 41, 42, 48,<br />
107, 161<br />
nilai puncak 112<br />
nilai rata-rata 160<br />
numerik 141, 177<br />
o<br />
orde dua 193, 195<br />
orde satu 179, 181, 183<br />
oval cassini 210<br />
213
p<br />
parabola 58, 207<br />
parametrik 14<br />
pergeseran 16, 87<br />
perpotongan 21<br />
persamaan diferensial 179,<br />
193<br />
peubah 1<br />
peubah-bebas 1, 12<br />
peubah-tak-bebas 1<br />
polar 13, 201<br />
polinom 37, 43, 48, 110, 161<br />
pulsa 29, 31<br />
r<br />
ramp 29, 31<br />
rantai 127<br />
rasional 124<br />
rentang 2<br />
s<br />
secan 72, 76, 81<br />
simetri 6<br />
sinus 70, 73, 77, 85, 88, 188<br />
spektrum 88, 91<br />
t<br />
tangent 71, 74, 79<br />
tetapan 15, 161<br />
trigonometri 69, 164, 165<br />
tunggal 9<br />
turunan 105, 136, 139<br />
214 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong> – <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
Referensi<br />
1. Catatan-catatan penulis dalam kuliah matematika di Institut<br />
Teknologi Bandung, tahun 1963 – 1964, sebagai bahan utama tulisan<br />
dalam buku ini.<br />
2. Ge<strong>org</strong>e B Thomas, “Calculus And Analytic Geometry”, addison<br />
Wesley, 1956, buku pegangan dalam mengikuti kuliah matematika<br />
di ITB, tahun 1963 - 1964.<br />
3. Sudaryatno Sudirham: ”Analisis Rangkaian Listrik”, Penerbit ITB,<br />
ISBN 979-9299-54-3, 2002.<br />
4. Sudaryatno Sudirham: ”Analisis Rangkaian Elektrik”, e-book, 2010.<br />
5. Sudaryatno Sudirham, “Mengenal Sifat Material 1”, e-book, 2010.<br />
215
Biodata Penulis<br />
Nama: Sudaryatno Sudirham<br />
Lahir: di Blora pada 26 Juli 1943<br />
Istri: Ning Utari<br />
Anak: Arga Aridarma<br />
Aria Ajidarma.<br />
1971 : Jurusan Teknik Elektro – Institut Teknologi Bandung.<br />
1972 – 2008 : Dosen Institut Teknologi Bandung.<br />
1974 : Tertiary Education Research Center – UNSW − Australia<br />
1979 : EDF – Paris Nord <strong>dan</strong> Fontainbleu − Perancis<br />
1981 : INPT - Toulouse − Perancis; DEA 1982; Doktor 1985.<br />
Mata Kuliah yang pernah diberikan: “Pengukuran Listrik”; “Pengantar<br />
Teknik Elektro”; “Pengantar Rangkaian Elektrik”; “Material<br />
Elektroteknik”; “Phenomena Gas Terionisasi”; “Dinamika Plasma”;<br />
“Dielektrika”; “Material Biomedika”.<br />
Buku <strong>dan</strong> Artikel: “Analisis Rangkaian Listrik”, Penerbit ITB, 2002,<br />
2005; “Metoda Rasio TM/TR Untuk Estimasi Susut Energi Jaringan<br />
Distribusi”; Penerbit ITB, 2009; “<strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> Dan<br />
Integral”; Penerbit ITB, Penerbit ITB, 2009, e-book 2010; “Analisis<br />
Rangkaian Elektrik (1)”, e-book, 2010; “Analisis Rangkaian Elektrik<br />
(2)”, e-book, 2010; ”Mengenal Sifat Material (1)”, e-book, 2010;<br />
216 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong> – <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral
<strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong><br />
<strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />
217