22.01.2014 Views

Fungsi dan Grafik Fungsi dan Grafik Diferensial dan ... - Ee-cafe.org

Fungsi dan Grafik Fungsi dan Grafik Diferensial dan ... - Ee-cafe.org

Fungsi dan Grafik Fungsi dan Grafik Diferensial dan ... - Ee-cafe.org

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

Sudaryatno Sudirham<br />

Studi Mandiri<br />

<strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong><br />

<strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

Darpublic<br />

ii


Studi Mandiri<br />

<strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong><br />

<strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

oleh<br />

Sudaryatno Sudirham<br />

i


Hak cipta pada penulis, 2010<br />

SUDIRHAM, SUDARYATNO<br />

<strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

Oleh: Sudaryatmo Sudirham<br />

Darpublic, Bandung<br />

fdg-1110<br />

http://www.ee-<strong>cafe</strong>.<strong>org</strong><br />

Alamat pos: Kanayakan D-30, Bandung, 40135.<br />

Fax: (62) (22) 2534117<br />

ii


Kata Pengantar<br />

Dalam buku ini penulis mencoba menyajikan bahasan matematika bagi<br />

pembaca untuk memperoleh pengertian dengan lebih mudah tentang<br />

kalkulus. Walaupun materi yang dibahas adalah materi matematika,<br />

namun uraian dengan bahasa matematika telah dicoba untuk sangat<br />

dibatasi. Pendefinisian <strong>dan</strong> pembuktian formula-formula diganti dengan<br />

pernyataan-pernyataan serta gambaran grafis yang lebih mudah difahami.<br />

Penulis berharap bahwa pengertian dasar yang bisa diperoleh dari buku<br />

ini akan mendorong minat untuk mendalami materi lebih lanjut.<br />

Buku ini dutujukan untuk umum. Bahan utama isi buku adalah catatan<br />

penulis sewaktu mengikuti kuliah di Institut Teknologi Bandung,<br />

se<strong>dan</strong>gkan contoh-contoh hubungan diferensial <strong>dan</strong> soal-soal persamaan<br />

diferensial penulis ambil dari buku “Analisis Rangkaian Elektrik”.<br />

Bahasan dibatasi pada fungsi-fungsi dengan peubah bebas tunggal<br />

berupa bilangan nyata.<br />

Karakterisasi fungsi-fungsi serta perhitungan diferensial <strong>dan</strong> integral<br />

sangat dipermudah dengan bantuan komputer. Hal demikian banyak<br />

dilakukan dalam meghadapi persoalan yang kompleks. Namun buku ini<br />

tidak membahas cara perhitungan dengan menggunakan komputer<br />

tersebut, melainkan menyajikan bahasan mengenai pengertian-pengertian<br />

dasar tentang fungsi serta hitungan diferensial <strong>dan</strong> integral.<br />

Akhir kata, penulis harapkan tulisan ini ada manfaatnya. Saran-saran<br />

pembaca sangat diharapkan untuk perbaikan lebih lanjut.<br />

Bandung, Nopember 2010<br />

Wassalam,<br />

Penulis<br />

iii


A. Schopenhauer, 1788 – 1860<br />

dari<br />

Mini-Encyclopédie, France Loisirs<br />

ISBN 2-7242-1551-6<br />

iv


Daftar Isi<br />

Kata Pengantar<br />

Daftar Isi<br />

Bab 1: Pengertian Tentang <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong> 1<br />

<strong>Fungsi</strong>. Domain. Kurva, Kekontinyuan, Simetri. Bentuk<br />

Implisit. <strong>Fungsi</strong> Bernilai Tunggal <strong>dan</strong> Bernilai Banyak.<br />

<strong>Fungsi</strong> dengan Banyak Peubah Bebas. Koordinat Polar.<br />

Pembatasan Bahasan <strong>dan</strong> Sajian Bahasan.<br />

Bab 2: <strong>Fungsi</strong> Linier 15<br />

<strong>Fungsi</strong> Tetapan. <strong>Fungsi</strong> Linier – Persamaan Garis<br />

Lurus. Pergeseran Kurva. Perpotongan Garis.<br />

Bab 3: Gabungan <strong>Fungsi</strong> Linier 27<br />

<strong>Fungsi</strong> anak Tangga. <strong>Fungsi</strong> Ramp. Pulsa. Perkalian<br />

Ramp <strong>dan</strong> Pulsa. Gabungan <strong>Fungsi</strong> Ramp.<br />

Bab 4: Mononom <strong>dan</strong> Polinom 37<br />

Mononom: Mononom Pangkat Dua; Mononom Pangkat<br />

Tiga. Polinom: <strong>Fungsi</strong> Kuadrat. Penambahan Mononom<br />

Pangkat Tiga.<br />

Bab 5: Bangun Geometris 55<br />

Persamaan Kurva. Jarak Antara Dua Titik. Parabola.<br />

Lingkaran. Elips. Hiperbola. Kurva berderajat Dua.<br />

Perputaran Sumbu.<br />

Bab 6: <strong>Fungsi</strong> Trigonometri 69<br />

Peubah Bebas Bersatuan Derajat. Peubah Bebas<br />

Bersatuan Radian. <strong>Fungsi</strong> Trigonometri Inversi.<br />

Bab 7: Gabungan <strong>Fungsi</strong> Sinus 85<br />

<strong>Fungsi</strong> Sinus Dan Cosinus. Kombinasi <strong>Fungsi</strong> Sinus.<br />

Spetrum Dan Lebar Pita.<br />

Bab 8: <strong>Fungsi</strong> Logaritma. Natural, Eksponensial, Hiperbolik 95<br />

<strong>Fungsi</strong> Logaritma Natural. <strong>Fungsi</strong> Exponensial. <strong>Fungsi</strong><br />

Hiperbolik.<br />

Bab 9: Turunan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> (1) 105<br />

Pengertian Dasar. Mononom. Polinom. Nilai Puncak.<br />

Garis Singgung.<br />

iii<br />

v<br />

v


Bab 10: Turunan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> (2) 121<br />

<strong>Fungsi</strong> Perkalian Dua <strong>Fungsi</strong>. <strong>Fungsi</strong> Pangkat Dari<br />

Suatu <strong>Fungsi</strong>. <strong>Fungsi</strong> Rasional. <strong>Fungsi</strong> Implisit. <strong>Fungsi</strong><br />

Berpangkat Tidak Bulat. Kaidah Rantai. <strong>Diferensial</strong> dx<br />

<strong>dan</strong> dy.<br />

Bab 11: Turunan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> (3) 133<br />

<strong>Fungsi</strong> Trigonometri. <strong>Fungsi</strong> Trigonimetri Inversi.<br />

<strong>Fungsi</strong> Trigonometri Dari Suatu <strong>Fungsi</strong>. <strong>Fungsi</strong><br />

Logaritmik. <strong>Fungsi</strong> Eksponensial.<br />

Bab 12: Integral (1) 141<br />

Integral Tak Tentu. Penggunaan Integral Tak Tentu.<br />

Luas Sebagai Suatu Integral. Penggunaan Dalam<br />

Praktek.<br />

Bab 13: Integral (2) 161<br />

Luas Sebagai Suatu Integral - Integral Tentu. Penerapan<br />

Integral. Luas Bi<strong>dan</strong>g Di Antara Dua Kurva.<br />

Bab 14: Integral (3) 169<br />

Volume Sebagai Suatu Integral. Panjang Kurva. Nilai<br />

Rata-Rata Suatu <strong>Fungsi</strong>. Pendekatan Numerik.<br />

Bab 15: Persamaan <strong>Diferensial</strong> 179<br />

Pengertian. Solusi. Persamaan <strong>Diferensial</strong> Orde Satu<br />

Dengan Peubah Yang Dapat Dipisahkan. Persamaan<br />

<strong>Diferensial</strong> Homogen Orde Satu. Persamaan <strong>Diferensial</strong><br />

Linier Orde Satu. Solusi Pada Berbagai <strong>Fungsi</strong><br />

Pemaksa.<br />

Bab 16: Persamaan <strong>Diferensial</strong> (2) 193<br />

Persamaan <strong>Diferensial</strong> Linier Orde Dua. Tiga<br />

Kemungkinan Bentuk Solusi.<br />

Bab 17: Koordinat Polar 201<br />

Relasi koordinat Polar <strong>dan</strong> Koordinat Sudut-siku.<br />

Persamaan Kurva Dalam Koordinat Polar. Persamaan<br />

Garis Lurus. Parabola, Elips, Hiperbola. Lemniskat <strong>dan</strong><br />

Oval Cassini. Luas Bi<strong>dan</strong>g.<br />

Indeks 213<br />

Referensi 215<br />

Biodata penulis 216<br />

vi Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 1<br />

Pengertian Tentang <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong><br />

1.1. <strong>Fungsi</strong><br />

Apabila suatu besaran y memiliki nilai yang tergantung dari nilai besaran<br />

lain x, maka dikatakan bahwa besaran y tersebut merupakan fungsi<br />

besaran x. Contoh: panjang batang logam merupakan fungsi temperatur.<br />

Secara umum suatu fungsi dituliskan sebagai sebuah persamaan<br />

y = f (x)<br />

(1.1)<br />

Perhatikan bahwa penulisan y = f (x)<br />

bukanlah berarti y sama dengan f<br />

kali x, melainkan untuk menyatakan bahwa y merupakan fungsi dari x<br />

yang tidak lain adalah sebuah aturan atau sebuah ketentuan berapakah y<br />

akan memiliki nilai jika kepada x kita berikan suatu nilai.<br />

y <strong>dan</strong> x adalah peubah (variable) yang dibedakan menjadi peubah-takbebas<br />

(y) <strong>dan</strong> peubah-bebas (x). Peubah-bebas x adalah simbol dari suatu<br />

besaran yang bisa memiliki nilai sembarang dari suatu set bilangan.<br />

Sementara peubah-tak-bebas y memiliki nilai yang tergantung dari nilai<br />

yang dimiliki x.<br />

Dilihat dari nilai yang dimiliki oleh ruas kiri <strong>dan</strong> ruas kanan, (1.1) adalah<br />

sebuah persamaan. Namun kedua ruas itu memiliki peran yang berbeda.<br />

Kita ambil contoh dalam relasi fisis<br />

L T = L 0 (1 + λT<br />

)<br />

dengan L T adalah panjang sebatang logam pada temperatur T, L 0 adalah<br />

panjang pada temperatur nol, T temperatur <strong>dan</strong> λ adalah koefisien muai<br />

panjang. Panjang batang tergantung dari temperatur; makin tinggi<br />

temperatur makin panjang batang logam. Namun sebaliknya, makin<br />

panjang batang logam tidak selalu berarti temperaturnya makin tinggi.<br />

Jika logam tersebut mengalami beban tarikan misalnya, ia akan<br />

bertambah panjang namun tidak bertambah temperaturnya.<br />

Walaupun nilai x di ruas kanan (1.1) bisa berubah secara bebas,<br />

sementara ruas kiri tergantung dari ruas kanan, namun nilai x tetap harus<br />

ditenttukan sebatas mana ia boleh bervariasi.<br />

1


1.2. Domain<br />

Domain ialah rentang nilai (interval nilai) di mana peubah-bebas x<br />

bervariasi. Dalam kebanyakan aplikasi, rentang nilai ini bisa berbentuk<br />

sebagai berikut:<br />

a). rentang nilai berupa bilangan-nyata yang terletak antara dua nilai a<br />

<strong>dan</strong> b. Kita tuliskan rentang nilai ini sebagai<br />

a < x < b<br />

Ini berarti bahwa x bisa memiliki nilai lebih besar dari a namun<br />

lebih kecil dari b. Rentang ini disebut rentang terbuka, yang dapat<br />

kita gambarkan sebagi berikut:<br />

a<br />

b<br />

a <strong>dan</strong> b tidak termasuk dalam rentang tersebut.<br />

b). rentang nilai<br />

a ≤ x < b<br />

yang kita gambarkan sebagai<br />

a<br />

b<br />

Di sini a masuk dalam rentang nilai, tetapi b tidak. Ini merupakan<br />

rentang setengah terbuka.<br />

c). rentang nilai<br />

a ≤ x ≤ b<br />

Dalam rentang ini baik a maupun b masuk dalam rentang nilai. Ini<br />

adalah rentang tertutup, <strong>dan</strong> kita gambarkan<br />

a<br />

b<br />

1.3. Kurva, Kekontinyuan, Simetri<br />

Kurva. <strong>Fungsi</strong> y = f (x)<br />

dapat divisualisasikan secara grafis. Dalam<br />

visualisasi ini kita memerlukan koordinat. Suatu garis horisontal<br />

memanjang dari −∞ ke arah kiri sampai +∞ ke arah kanan, ditetapkan<br />

sebagai sumbu-x atau absis. Pada garis ini ditetapkan pula titik referensi<br />

2 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


0 serta panjang satuan skala, sedemikian rupa sehingga kita dapat<br />

menggambarkan nilai-nilai x pada garis ini (lihat Gb.1.1); peubah x<br />

memiliki nilai yang berupa bilangan-nyata.<br />

y 3<br />

Q[-2,2]<br />

2<br />

1<br />

0<br />

-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 x 4<br />

III -1 IV<br />

R[-3,-3]<br />

II<br />

-2<br />

-3<br />

P[2,1]<br />

S[3,-2]<br />

-4<br />

Gb.1.1. Sistem koordinat x-y atau koordinat sudut-siku.<br />

Catatan: Suatu bilangan-nyata dapat dinyatakan dengan desimal<br />

terbatas maupun desimal tak terbatas. Contoh: 1, 2, 3, ......adalah<br />

bilangan-nyata bulat; 1,586 adalah bilangan-nyata dengan desimal<br />

terbatas; π adalah bilangan-nyata dengan desimal tak terbatas, yang<br />

jika dibatasi sampai sembilan angka di belakang koma nilainya<br />

adalah 3,141592654.<br />

Selain sumbu-x ditetapkan pula sumbu-y yang tegak lurus pada sumbu-x,<br />

memanjang ke −∞ arah ke bawah <strong>dan</strong> +∞ arah ke atas, yang melewati<br />

titik referensi 0 di sumbu-x <strong>dan</strong> disebut ordinat. Titik perpotongan<br />

sumbu-y dengan sumbu-x merupakan titik referensi yang disebut titikasal<br />

<strong>dan</strong> kita tulis berkoordinat [0,0]. Pada sumbu-y ditetapkan juga<br />

satuan skala seperti halnya pada sumbu-x, yang memungkinkan kita<br />

untuk menggambarkan posisi bilangan-nyata di sumbu-y. Besaran fisik<br />

yang dinyatakan dengan peubah-tak-bebas dalam skala sumbu-y tidak<br />

harus sama dengan besaran fisik <strong>dan</strong> skala sumbu-x; misalnya sumbu-x<br />

menunjukkan waktu dengan satuan detik/skala, se<strong>dan</strong>gkan sumbu-y<br />

menunjukkan jarak dengan satuan meter/skala.<br />

Bi<strong>dan</strong>g datar di mana kita menggambarkan sumbu-x <strong>dan</strong> sumbu-y,<br />

selanjutnya kita sebut bi<strong>dan</strong>g x-y, akan terbagi dalam 4 kuadran, yaitu<br />

kuadran I, II, III <strong>dan</strong> IV seperti terlihat pada Gb.1.1.<br />

I<br />

3


Setiap titik K pada bi<strong>dan</strong>g datar ini dapat kita nyatakan posisinya sebagai<br />

K[x k ,y k ], dengan x k <strong>dan</strong> y k berturut-turut menunjukkan jumlah skala di<br />

sumbu-x <strong>dan</strong> di sumbu-y dari titik K yang se<strong>dan</strong>g kita tinjau. Pada<br />

Gb.1.1. misalnya, posisi empat titik yang digambarkan di kuadran I, II,<br />

III, IV, masing-masing kita tuliskan sebagai P[2,1], Q[-2,2], R[-3,-3] <strong>dan</strong><br />

S[3,-2].<br />

Dengan demikian setiap pasangan bilangan-nyata akan berkaitan dengan<br />

satu titik di bi<strong>dan</strong>g x-y. Dengan cara inilah pasangan nilai yang dimiliki<br />

oleh ruas kiri <strong>dan</strong> ruas kanan suatu fungsi y = f(x) dapat divisualisasikan<br />

pada bi<strong>dan</strong>g x-y. Visualisasi itu akan berbentuk kurva fungsi y di bi<strong>dan</strong>g<br />

x-y, <strong>dan</strong> kurva ini memiliki persamaan y = f(x), sesuai dengan<br />

pernyataan fungsi yang divisualisasikannya.<br />

Contoh: sebuah fungsi<br />

y = 0, 5x<br />

(1.2)<br />

Setiap nilai x akan menentukan satu nilai y. Jika kita muatkan dalam<br />

suatu tabel, nilai x <strong>dan</strong> y akan terlihat seperti pada Tabel-1.1.<br />

Tabel-1.1.<br />

x -1 0 1 2 3 4 dst.<br />

y -0,5 0 0,5 1 1,5 2 dst.<br />

<strong>Fungsi</strong> y = 0, 5x<br />

yang memiliki pasangan nilai x <strong>dan</strong> y seperti<br />

tercantum dalam Tabel-1.1. di atas akan memberikan kurva seperti<br />

terlihat pada Gb.1.2. Kurva ini berbentuk garis lurus melalui titikasal<br />

[0,0] <strong>dan</strong> memiliki kemiringan tertentu (yang akan kita pelajari<br />

lebih lanjut), <strong>dan</strong> persamaan garis ini adalah y = 0, 5x<br />

.<br />

2,5<br />

y<br />

2<br />

R<br />

1,5<br />

Q ∆y<br />

1<br />

∆x<br />

0,5<br />

P<br />

0<br />

-0,5<br />

-1<br />

0 1 2 3 x 4<br />

Gb.1.2. Kurva dari fungsi<br />

y = 0, 5x<br />

4 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Dengan contoh ini, relasi (1.2) yang merupakan relasi fungsional,<br />

setelah berbentuk kurva berubah menjadi sebuah persamaan yaitu<br />

persamaan dari kurva yang diperoleh. Ruas kiri <strong>dan</strong> kanan<br />

persamaan ini menjadi berimbang karena melalui kurva tersebut kita<br />

bisa mendapatkan dengan mudah nilai y jika diketahui nilai x, <strong>dan</strong><br />

sebaliknya kita juga dapat memperoleh nilai x jika diketahui nilai y.<br />

Dengan contoh di atas kita mengerti bahwa fungsi y = 0, 5x<br />

membentuk<br />

kurva dengan persamaan y = 0, 5x<br />

di bi<strong>dan</strong>g x-y. Dalam contoh ini titiktitik<br />

P, Q, <strong>dan</strong> R terletak pada garis tersebut dengan koordinat P[-1,-0,5],<br />

Q[2,1], R[3,1.5]. Pengertian tentang fungsi <strong>dan</strong> persamaan kurva ini<br />

perlu kita fahami benar karena kedua istilah ini akan muncul secara<br />

paralel dalam pembahasan bentuk-bentuk geometris.<br />

Kekontinyuan. Suatu fungsi yang kontinyu dalam suatu rentang nilai x<br />

tertentu, akan membentuk kurva yang tidak terputus dalam rentang<br />

tersebut. Syarat untuk terjadinya fungsi yang kontinyu dinyatakan<br />

sebagai berikut:<br />

Suatu fungsi y = f(x) yang terdefinisi di sekitar x = c dikatakan<br />

kontinyu di x = c jika dipenuhi dua syarat:<br />

(1) fungsi tersebut memiliki nilai yang terdefinisi sebesar f(c) di x =<br />

c;<br />

(2) nilai f(x) akan menuju f(c) jika x menuju c; pernyataan ini kita<br />

tuliskan sebagai lim f ( x)<br />

= f ( c)<br />

yang kita baca limit f(x)<br />

x→c<br />

untuk x menuju c sama dengan f(c).<br />

Contoh: Kita lihat misalnya fungsi y = 1/x. Pada x = 0 fungsi ini<br />

tidak terdefinisi karena 1/0 tidak dapat kita tentukan berapa nilainya;<br />

lim f ( x)<br />

tidak terdefinisi jika x menuju nol. Kedua persyaratan<br />

x→c<br />

kekontinyuan tidak dipenuhi; ia merupakan fungsi tak-kontinyu di x<br />

= 0. Hal ini berbeda dengan fungsi yang terdefinisikan di x = 0<br />

(lihat selanjutnya ulasan di Bab-3) sebagai<br />

y = u(<br />

x),<br />

y = 1 untuk x ≥ 0<br />

y = 0 untuk x < 0<br />

5


yang bernilai 0 untuk x < 0 <strong>dan</strong> bernilai 1 untuk x ≥ 0. Perhatikan<br />

Gb.1.3.<br />

1<br />

y<br />

y = 1/x<br />

0<br />

-10 -5 0 5 x 10<br />

y = 1/x<br />

-1<br />

Tak terdefinikan di x = 0.<br />

y<br />

1<br />

0<br />

0<br />

y = u(x)<br />

Gb.1.3. <strong>Fungsi</strong><br />

x<br />

Terdefinisikan di x = 0<br />

y = 1/<br />

x <strong>dan</strong> y =u(x)<br />

Simetri. Kurva suatu fungsi mungkin simetris terhadap garis atau titik<br />

tertentu<br />

a) jika fungsi tidak berubah apabila x kita ganti dengan −x maka<br />

kurva fungsi tersebut simetris terhadap sumbu-y;<br />

b) jika fungsi tidak berubah apabila x <strong>dan</strong> y dipertukarkan, kurva<br />

fungsi tersebut simetris terhadap garis-bagi kuadran I <strong>dan</strong> III.<br />

c) jika fungsi tidak berubah apabila y diganti dengan −y, kurva<br />

fungsi tersebut simetris terhadap sumbu-x.<br />

d) jika fungsi tidak berubah jika x <strong>dan</strong> y diganti dengan −x <strong>dan</strong> −y,<br />

kurva fungsi tersebut simetris terhadap titik-asal [0,0].<br />

Contoh: Perhatikan contoh pada Gb.1.4. berikut ini.<br />

Kurva y = 0,3x 2 simetris terhadap sumbu-y. Jika kita ganti nilai x =<br />

2 dengan x = - 2, nilai tidak berubah karena x berpangkat genap.<br />

6 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Kurva y = 0,05x 3 simetris terhadap titik-asal [0,0]. Di sini x<br />

berpangkat ganjil sehingga fungsi tidak akan berubah jika x diganti<br />

– x <strong>dan</strong> y diganti – y.<br />

2 2<br />

Kurva x + y = 9 simetris terhadap sumbu-x, simetris terhadap<br />

sumbu-y, simetris terhadap garis-bagi kuadran I <strong>dan</strong> III, <strong>dan</strong> juga<br />

simetris terhadap garis-bagi kuadran II <strong>dan</strong> IV.<br />

y = 0,3x 2<br />

6<br />

3<br />

y<br />

tidak berubah bila x diganti −x<br />

tidak berubah jika x <strong>dan</strong> y<br />

diganti dengan −x <strong>dan</strong> −y<br />

0<br />

-6 -3 0 3 6<br />

-3 y 2 + x 2 = 9<br />

y = 0,05x 3 tidak berubah jika<br />

x diganti −x<br />

x <strong>dan</strong> y diganti dengan −x <strong>dan</strong> −y<br />

-6<br />

x <strong>dan</strong> y dipertukarkan<br />

y diganti dengan −y<br />

Gb.1.4. Contoh-contoh kurva fungsi yang memiliki simetri.<br />

1.4. Bentuk Implisit<br />

Suatu fungsi kebanyakan dinyatakan dalam bentuk eksplisit dimana<br />

peubah-tak-bebas y secara eksplisit dinyatakan dalam x, seperti<br />

y = f (x) . Namun sering kali kita jumpai pula bentuk implisit di mana<br />

nilai y tidak diberikan secara eksplisit dalam x. Berikut ini adalah<br />

beberapa contoh bentuk implisisit.<br />

x<br />

x<br />

2<br />

xy = 1<br />

y<br />

x<br />

2<br />

2<br />

+ y<br />

2<br />

= x<br />

= 1<br />

+ xy + y<br />

2<br />

= 8<br />

(1.3)<br />

7


Walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit, setiap nilai peubah-bebas x<br />

akan memberikan satu atau lebih nilai peubah-tak-bebas y. Contoh<br />

pertama sampai ke-tiga pada (1.3) dengan mudah kita ubah dalam bentuk<br />

eksplisit sehingga untuk menggambarkan fungsi tersebut kedalam sistem<br />

koordinat x-y dengan menggunakan tabel tidaklah terlalu sulit. Contoh<br />

yang ke-empat agak sulit, namun persamaan tersebut dapat dijadikan<br />

bentuk persamaan kuadrat<br />

yang akar-akarnya adalah<br />

2<br />

2<br />

2 ( 2 =<br />

x + xy + y = 8 ⇒ y + xy + x −8)<br />

0<br />

y , y<br />

1<br />

2<br />

− x ±<br />

=<br />

x<br />

2<br />

− 4( x<br />

2<br />

2<br />

− 8)<br />

Nilai y 1 <strong>dan</strong> y 2 dapat dihitung untuk setiap x yang masih memberikan<br />

nilai nyata untuk y. Perhatikan bahwa akar-akar persamaan ini dapat kita<br />

tuliskan sebagai<br />

2<br />

2<br />

− x x − 4( x − 8)<br />

y = ±<br />

(1.4)<br />

2 2<br />

yang merupakan bentuk pernyataan eksplisit y = f (x)<br />

. Kurva fungsi<br />

ini terlihat pada Gb.1.5.<br />

y 8<br />

4<br />

0<br />

-4 -2 0 2 4<br />

x<br />

-4<br />

Gb.1.5. Kurva<br />

-8<br />

− x<br />

y = ±<br />

2<br />

x<br />

2<br />

− 4( x<br />

2<br />

2<br />

−8)<br />

8 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


1.5. <strong>Fungsi</strong> Bernilai Tunggal <strong>dan</strong> <strong>Fungsi</strong> Bernilai Banyak<br />

<strong>Fungsi</strong> Bernilai Tunggal. <strong>Fungsi</strong> yang hanya memiliki satu nilai<br />

peubah-tak-bebas untuk setiap nilai peubah-bebas, disebut fungsi<br />

bernilai tunggal. Berikut ini contoh fungsi bernilai tunggal.<br />

1).<br />

2<br />

y = 0,5x<br />

.<br />

Pada fungsi ini setiap nilai x hanya memberikan satu nilai y. Kurva<br />

dari fungsi ini diperlihatkan pada Gb.1.6. Kita tahu bahwa kurva<br />

fungsi ini simetris terhadap sumbu-y namun dalam gambar ini<br />

terutama diperlihatkan rentang x ≥ 0.<br />

8<br />

y<br />

6<br />

4<br />

2<br />

0<br />

-1 0 1 2 3 x 4<br />

2<br />

Gb.1.6. Kurva y = 0,5x<br />

2). y = + x .<br />

Pada fungsi ini, y hanya mengambil nilai positif. Oleh karena itu ia<br />

bernilai tunggal dengan kurva seperti terlihat pada Gb 1.7.<br />

y<br />

1,6<br />

1,2<br />

0,8<br />

0,4<br />

0<br />

0 0,5 1 1,5 x 2<br />

Gb.1.7. Kurva<br />

y = +<br />

x<br />

9


3). y = − x .<br />

Peubah tak-bebas y hanya mengambil nilai negatif. Oleh karena itu<br />

ia bernilai tunggal dengan kurva seperti terlihat pada Gb.1.8.<br />

Sesungguhnya kurva fungsi ini adalah pasangan dari kurva<br />

y = + x . Hal ini terlihat pada Gb.1.11 di mana y mengambil nilai<br />

baik positif maupun negatif.<br />

0<br />

0 0, 1 1, x 2<br />

-0,4<br />

-0,8<br />

4). y = log10<br />

x .<br />

-1,2<br />

y<br />

-1,6<br />

Gb.1.8. Kurva<br />

y = −<br />

x<br />

Sebelum melihat kurva fungsi ini ada baiknya kita mengingat<br />

kembali tentang logaritma.<br />

log 10 adalah logaritma dengan basis 10; log 10 a berarti<br />

berapakah 10 harus dipangkatkan agar diperoleh a. Jadi<br />

y = log10<br />

x berarti 10<br />

y = x<br />

y 1 = log 10 1 = 0 ;<br />

y 2 = log 10 1000 = 3 ;<br />

y 3 = log 10 2 = 0,30103; ...dst.<br />

Kurva fungsi<br />

y = log10<br />

x terlihat pada Gb.1.9.<br />

0,8<br />

y<br />

0,4<br />

0<br />

-0,4<br />

0 1 2 3 x 4<br />

-0,8<br />

Gb.1.9. Kurva<br />

y = log10<br />

x<br />

10 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


5). 2<br />

y = x = x .<br />

<strong>Fungsi</strong> ini berlaku untuk nilai x negatif maupun positif.<br />

2<br />

Perhatikanlah bahwa x tidak hanya sama dengan x, melainkan<br />

± x. Kurva fungsi ini terlihat pada Gb.1.10.<br />

Gb.1.10. Kurva y = |x| = √x 2<br />

<strong>Fungsi</strong> Bernilai Banyak. Jika untuk satu nilai peubah-bebas terdapat<br />

lebih dari satu nilai peubah-tak-bebas, fungsi tersebut disebut bernilai<br />

banyak. Berikut ini adalah contoh fungsi bernilai banyak.<br />

1). <strong>Fungsi</strong> y = ± x .<br />

Perhatikan bahwa ada dua nilai y untuk setiap nilai x. Sesungguhnya<br />

x bernilai ± x <strong>dan</strong> bukan hanya x saja. Kurva fungsi ini terlihat<br />

pada Gb.1.11. Jika y hanya mengambil nilai positif atau negatif<br />

saja, fungsi akan menjadi bernilai tunggal, sebagaimana disebutkan<br />

pada contoh 2 <strong>dan</strong> 3 pada fungsi bernilai tunggal .<br />

y<br />

2<br />

1,5<br />

1<br />

0,5<br />

0<br />

-0,5<br />

-1<br />

y 4<br />

3<br />

2<br />

1<br />

0<br />

-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 x 4<br />

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3<br />

x<br />

-1,5<br />

-2<br />

Gb.1.11. Kurva<br />

y = ±<br />

x<br />

11


2). <strong>Fungsi</strong> y<br />

2 1<br />

= .<br />

x<br />

<strong>Fungsi</strong> ini bernilai banyak; ada dua nilai y untuk setiap nilai x.<br />

Kurva fungsi ini diperlihatkan pada Gb.1.12.<br />

10<br />

y<br />

5<br />

0<br />

-5<br />

0 1 2 3<br />

x<br />

-10<br />

Gb.1.12. Kurva<br />

y 2 = 1/<br />

x ⇒ y = ± 1/<br />

x<br />

1.6. <strong>Fungsi</strong> Dengan Banyak Peubah Bebas<br />

<strong>Fungsi</strong> dengan banyak peubah bebas tidak hanya tergantung dari satu<br />

peubah bebas saja, x, tetapi juga tergantung dari peubah bebas yang lain.<br />

Misalkan suatu fungsi dengan dua peubah bebas x <strong>dan</strong> t dinyatakan<br />

sebagai<br />

y = f ( x,<br />

t)<br />

(1.5)<br />

Sesungguhnya dalam peristiwa fisis banyak fungsi yang merupakan<br />

fungsi dengan peubah-bebas banyak, misalnya persamaan gelombang<br />

berjalan. Simpangan gelombang berjalan merupakan fungsi dari posisi<br />

(x) <strong>dan</strong> waktu (t).<br />

Secara umum kita menuliskan fungsi dengan peubah-bebas banyak<br />

sebagai<br />

w = f ( x,<br />

y,<br />

z,<br />

u,<br />

v)<br />

(1.6)<br />

untuk menyatakan secara eksplisit fungsi w dengan peubah bebas x, y,<br />

z,u,<strong>dan</strong> v.<br />

<strong>Fungsi</strong> dengan peubah bebas banyak juga mungkin bernilai banyak,<br />

misalnya<br />

12 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


2 2 2 2<br />

ρ = x + y + z<br />

(1.7)<br />

<strong>Fungsi</strong> ini akan bernilai tunggal jika kita hanya meninjau nilai positif<br />

dari ρ <strong>dan</strong> kita nyatakan fungsi yang bernilai tunggal ini sebagai<br />

2 2 2<br />

ρ = + x + y + z<br />

(1.8)<br />

1.7. Sistem Koordinat Polar<br />

Selain sistem koordinat sudut-siku di mana posisi titik dinyatakan dalam<br />

skala sumbu-x <strong>dan</strong> sumbu-y, kita mengenal pula sistem koordinat polar.<br />

Dalam sistem koordinat polar ini posisi titik dinyatakan oleh jarak titik<br />

ke titik asal [0,0] yang diberi simbol r, <strong>dan</strong> sudut yang terbentuk antara r<br />

dengan sumbu-x yang diberi simbol θ. Kalau dalam koordinat sudut-siku<br />

posisi titik dinyatakan sebagai P(x,y) maka dalam koordinat polar<br />

dinyatakan sebagai P(r,θ).<br />

Hubungan antara koordinat susut siku <strong>dan</strong> koordinat polar adalah<br />

y = r sin θ ;<br />

x = r cosθ ;<br />

2<br />

r = x + y<br />

2<br />

−<br />

θ = tan 1 ( y / x)<br />

Hubungan ini terlihat pada Gb.1.13.<br />

y<br />

rcosθ<br />

θ<br />

r<br />

Gb.1.13. Hubungan koordinat sudut-siku <strong>dan</strong> koordinat polar.<br />

P<br />

rsinθ<br />

x<br />

13


1.8. <strong>Fungsi</strong> Parametrik<br />

Dalam koordinat sudut-siku fungsi y = f (x)<br />

mungkin juga dituliskan<br />

sebagai<br />

y = y(t) x = x(t)<br />

(1.10)<br />

jika y <strong>dan</strong> x masing-masing tergantung dari peubah lain t. <strong>Fungsi</strong> yang<br />

demikian disebut fungsi parametrik dengan t sebagai parameter.<br />

1.9. Pembatasan Bahasan <strong>dan</strong> Sajian Bahasan<br />

Dalam buku ini kita hanya akan membahas fungsi-fungsi dengan peubah<br />

bebas tunggal se<strong>dan</strong>gkan fungsi dengan banyak peubah bebas dibahas di<br />

buku lain. Kita juga membatasi diri hanya pada bilangan nyata. Bilangan<br />

kompleks belum akan kita bahas sehingga fungsi-fungsi kompleks tidak<br />

dicakup oleh buku ini.<br />

Bahasan dari Bab-2 mengenai fungsi linier sampai dengan Bab-16<br />

mengenai persamaan diferensial dilakukan dalam pengertian koordinat<br />

sudut-siku. Koordinat polar dibahas pada Bab-17.<br />

14 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 2<br />

<strong>Fungsi</strong> Linier<br />

2.1. <strong>Fungsi</strong> Tetapan<br />

<strong>Fungsi</strong> tetapan bernilai tetap untuk rentang nilai x dari −∞ sampai +∞.<br />

Kita tuliskan<br />

y = k<br />

[2.1]<br />

dengan k bilangan-nyata. Kurva fungsi ini terlihat pada Gb.2.1. berupa<br />

garis lurus mendatar sejajar sumbu-x, dalam rentang nilai x dari −∞<br />

sampai +∞.<br />

y 5<br />

y = 4<br />

0<br />

-5 0 x 5<br />

-4<br />

y = −3,5<br />

Gb.2.1. <strong>Fungsi</strong> tetapan (konstan):<br />

y = 4 <strong>dan</strong> y = −3, 5 .<br />

2.2. <strong>Fungsi</strong> Linier - Persamaan Garis Lurus<br />

Persamaan (2.1) adalah satu contoh persamaan garis lurus yang<br />

merupakan garis mendatar sejajar sumbu-x, dengan kurva seperti<br />

terlihat pada Gb.2.1. Kurva yang juga merupakan garis lurus tetapi tidak<br />

sejajar sumbu-x adalah kurva yang memiliki kemiringan tertentu.<br />

Kemiringan garis ini adalah perbandingan antara perubahan y terhadap<br />

perubahan x, atau kita tuliskan<br />

∆y<br />

⎛ "delta y"<br />

⎞<br />

kemiringan = m = , ⎜dibaca : ⎟ (2.2)<br />

∆x<br />

⎝ "delta x"<br />

⎠<br />

15


Dalam hal garis lurus, rasio<br />

∆y<br />

memberikan hasil yang sama di titik<br />

∆x<br />

manapun kita menghitungnya. Artinya suatu garis lurus hanya<br />

mempunyai satu nilai kemiringan, yaitu yang diberikan oleh m pada<br />

fungsi y = mx . Gb.2.2. berikut ini memperlihatkan empat contoh kurva<br />

garis lurus yang semuanya melewati titik-asal [0,0] akan tetapi dengan<br />

kemiringan yang berbeda-beda. Garis y = x lebih miring dari<br />

y = 0, 5x , garis y = 2x<br />

lebih miring dari y = x <strong>dan</strong> jauh lebih miring<br />

dari y = 0, 5x<br />

, <strong>dan</strong> ketiganya miring ke atas. Makin besar nilai m, garis<br />

akan semakin miring. Garis yang ke-empat memiliki m negatif −1,5 <strong>dan</strong><br />

ia miring ke bawah (menurun).<br />

8<br />

y<br />

6<br />

4<br />

2<br />

0<br />

-1 0<br />

-2<br />

1 2 3 x 4<br />

-4<br />

-6<br />

y = 2x<br />

y = -1,5 x<br />

Gb.2.2. Empat contoh kurva garis lurus<br />

y = mx .<br />

Secara umum, persamaan garis lurus yang melalui titik-asal [0,0] adalah<br />

y = mx<br />

(2.3)<br />

dengan m menunjukkan kemiringan garis; makin besar nilai m garis akan<br />

semakin miring. Jika m bernilai positif, garis miring ke atas (naik). Jika<br />

m bernilai negatif, garis akan miring ke bawah (menurun).<br />

2.3. Pergeseran Kurva <strong>dan</strong> Persamaan Garis<br />

y = x<br />

y = 0,5x<br />

Bagaimanakah persamaan garis lurus jika ia tidak melalui titik-asal [0,0]<br />

melainkan memotong sumbu-y misalnya di titik [0,2]? Misalkan garis ini<br />

memiliki kemiringan 2. Setiap nilai y pada garis ini untuk suatu nilai x,<br />

sama dengan nilai y pada garis yang melalui [0,0], yaitu y = 2x, ditambah<br />

2. Oleh karena itu kita dapat menuliskan persamaa garis ini sebagai<br />

y = 2 x + 2 . Perhatikan Gb.2.3.<br />

16 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


10<br />

8<br />

6<br />

4<br />

2<br />

-4<br />

Gb.2.3. Garis lurus melalui titik [0,2], kemiringan 2.<br />

Secara umum, persamaan garis dengan kemiringan m <strong>dan</strong> memotong<br />

sumbu-y di [0,b] adalah<br />

( y − b)<br />

= mx<br />

(2.4)<br />

b bisa positif ataupun negatif. Jika b positif, maka garis tergeser ke arah<br />

sumbu-y positif (ke atas) yang berarti garis memotong sumbu-y di atas<br />

titik [0,0]. Jika b negatif, garis tergeser kearah sumbu-y negatif (ke<br />

bawah); ia memotong sumbu-y di bawah titik [0,0]. Secara singkat, b<br />

pada (2.4) menunjukkan pergeseran kurva y sepanjang sumbu-y.<br />

Kita lihat sekarang garis yang memiliki kemiringan 2 <strong>dan</strong> memotong<br />

sumbu-x di titik [a,0], misalnya di titik [1,0]. Lihat Gb.2.4.<br />

Dibandingkan dengan garis yang melalui titik [0,0] yaitu garis y = 2x<br />

,<br />

setiap nilai y pada garis ini terjadi pada (x−1) pada garis y = 2x<br />

; atau<br />

dengan kata lain nilai y pada garis ini diperoleh dengan menggantikan<br />

nilai x pada garis y = 2x<br />

dengan (x−1). Contoh: y = 2,8 pada garis ini<br />

terjadi pada x = x 1 <strong>dan</strong> hal ini terjadi pada x = ( x 1 −1)<br />

pada kurva<br />

y = 2x .<br />

y 8<br />

y = 2x + 2<br />

y = 2x<br />

0<br />

-1 0<br />

-2<br />

1 2 3 x 4<br />

6<br />

y = 2x<br />

4<br />

2<br />

y =2(x–1)<br />

0<br />

-1 0 1 2 3 x<br />

-2 x 1 −1 x 1<br />

4<br />

-4<br />

Gb.2.4. Garis lurus melalui titik [1,0].<br />

17


Secara umum persamaan garis yang melalui titik [a,0] dengan<br />

kemiringan m kita peroleh dengan menggantikan x pada persamaan<br />

y = mx dengan (x−a). Persamaan garis ini adalah<br />

y = m( x − a)<br />

(2.5)<br />

Pada persamaan (2.5), jika a positif garis y = mx tergeser ke arah<br />

sumbu-x positif (ke kanan); <strong>dan</strong> jika a negatif garis itu tergeser ke arah<br />

sumbu-x negatif (ke kiri). Secara singkat a pada (2.5) menunjukkan<br />

pergeseran kurva y sejajar sumbu-x.<br />

Pada contoh di atas, dengan tergesernya kurva ke arah kanan <strong>dan</strong><br />

memotong sumbu-x di titik [1,0] ia memotong sumbu-y di titik [0,-2].<br />

Suatu garis yang titik perpotongannya dengan kedua sumbu diketahui,<br />

pastilah kemiringannya diketahui. Dalam contoh di atas, kemiringannya<br />

adalah<br />

∆y<br />

0 − ( −2)<br />

2<br />

m = = = = 2<br />

∆x 1 1<br />

<strong>dan</strong> persamaan garis adalah<br />

y = 2x<br />

− 2<br />

(2.6)<br />

Bandingkanlah persamaan ini dengan persamaan (2.4), dengan<br />

memberikan m = 2 <strong>dan</strong> b = −2.<br />

Secara umum, persamaan garis yang memotong sumbu-sumbu koordinat<br />

di [a,0] <strong>dan</strong> [0,b] adalah<br />

Contoh:<br />

y<br />

8<br />

6<br />

4<br />

2<br />

0<br />

-4<br />

y = mx + b<br />

-1 0 1 2 3 x 4<br />

-2<br />

b<br />

dengan m = −<br />

(2.7)<br />

a<br />

garis memotong sumbu x di 2,<br />

<strong>dan</strong> memotong sumbu y di 4<br />

4<br />

Persamaan garis: y = − x + 4 = −2x<br />

+ 4<br />

2<br />

18 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bagaimanakah persamaan garis lurus yang tidak terlihat perpotongannya<br />

dengan sumbu-sumbu koordinat? Persamaan garis demikian ini dapat<br />

dicari jika diketahui koordinat dua titik yang ada pada garis tersebut.<br />

Lihat Gb.2.5.<br />

Pada Gb.2.5. kemiringan garis dengan mudah kita peroleh, yaitu<br />

∆y<br />

( y2<br />

− y1)<br />

m = =<br />

(2.8)<br />

∆x<br />

( x2<br />

− x1<br />

)<br />

y<br />

8<br />

6<br />

4<br />

2<br />

-4<br />

[x 1 ,y 1 ]<br />

[x 2 ,y 2 ]<br />

0<br />

-1 0 1 2 x 3<br />

-2<br />

Gb.2.5. Garis lurus melalui dua titik.<br />

Persamaan (2.8) ini harus berlaku untuk semua garis yang melalui dua<br />

titik yang diketahui koordinatnya. Jadi secara umum harus berlaku<br />

y2<br />

− y1<br />

m = (2.9)<br />

x2<br />

− x1<br />

Dengan demikian maka persamaan garis yang memiliki kemiringan ini<br />

adalah<br />

y2<br />

− y1<br />

y = mx = x<br />

(2.10)<br />

x1<br />

− x1<br />

Persamaan (2.10) inilah persamaan garis lurus melalui titik asal <strong>dan</strong><br />

sejajar dengan garis melalui dua titik (x 1 ,y 1 ) <strong>dan</strong> (x 2 ,y 2 ).<br />

Contoh: Carilah persamaan garis yang melalui dua titik P(5,7)<br />

<strong>dan</strong> Q(1,2).<br />

19


yP<br />

− yQ<br />

7 − 2<br />

Kemiringan garis ini adalah y = = = 1, 25<br />

x p − xQ<br />

5 − 1<br />

Garis dengan kemiringan ini <strong>dan</strong> melalui titik asal adalah<br />

y = 1, 25x<br />

Perhatikan bahwa persamaan ini adalah persamaan garis yang<br />

melalui titik asal, <strong>dan</strong> sejajar dengan garis yang melalui titik<br />

P(5,7) <strong>dan</strong> Q(1,2) . Kita masih harus mencari perpotongannya<br />

dengan salah satu sumbu agar kita dapatkan persamaan garis yang<br />

melalui titik P <strong>dan</strong> Q tersebut. Untuk itu kita perhatikan hal<br />

berikut lebih dulu.<br />

Kita bisa melihat secara umum, bahwa kurva suatu fungsi<br />

y = f (x)<br />

akan tergeser sejajar sumbu-x sebesar x 1 skala jika x diganti dengan (x −<br />

x 1 ), <strong>dan</strong> tergeser sejajar sumbu-y sebesar y 1 skala jika y diganti dengan (y<br />

− y 1 )<br />

y = f (x) menjadi y = f ( x − x 1)<br />

atau y − y1 = f ( x ) (2.11)<br />

Walaupun (2.11) diperoleh melalui pembahasan fungsi linier, namun ia<br />

berlaku pula untuk fungsi non linier. <strong>Fungsi</strong> non linier memberikan<br />

kurva garis lengkung yang akan kita pelajari dalam bab-bab selanjutnya.<br />

y<br />

Contoh:<br />

8<br />

6<br />

4<br />

-4<br />

y = 2x<br />

2<br />

0<br />

-1 0<br />

-2<br />

1 2 3 x 4<br />

kurva semula<br />

y + 2 = 2x (pergeseran –2<br />

searah sumbu-y)<br />

atau<br />

y = 2(x – 1) (pergeseran +1<br />

searah sumbu-x)<br />

20 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Contoh: Kita kembali pada contoh sebelumnya, yaitu persamaan<br />

garis yang melalui titik P(5,7) <strong>dan</strong> Q(1,2). Persamaan garis<br />

seharusnya adalah y − b =1, 25x<br />

atau y = 1,25(<br />

x − a)<br />

. Nilai a <strong>dan</strong><br />

b dapat kita peroleh jika kita masukkan koordinat titik yang<br />

diketahui, misalnya P(5,7). Dengan memasukkan koordinat titik<br />

ini kita dapatkan persamaan 7 − b = 1,25 × 5 atau 7 = 1,25(5 − a)<br />

.<br />

Dari sini kita akan mendapatkan nilai a = −0,6 <strong>dan</strong> juga b = 0,75<br />

sehingga persamaan garis yang melalui titik P(5,7) <strong>dan</strong> Q(1,2)<br />

dapat diperoleh, yaitu y − 0 ,75 = 1, 25x<br />

atau y = 1 ,25( x + 0,6)<br />

.<br />

Garis ini memotong sumbu-y di +0,75 <strong>dan</strong> memotong sumbu-x di<br />

−0,6.<br />

2.4. Perpotongan Garis<br />

Dua garis lurus<br />

y 1 = a1x<br />

+ b1<br />

<strong>dan</strong> y 2 = a2x<br />

+ b2<br />

berpotongan di titik P sehingga koordinat P memenuhi y 1 = y2<br />

sehingga<br />

b2<br />

− b<br />

⇒ x 1<br />

P =<br />

a1<br />

− a2<br />

⇒ yP<br />

= a1xP<br />

+ b1<br />

Contoh:<br />

a +<br />

1xP<br />

+ b1<br />

= a2xp<br />

b2<br />

atau<br />

yP<br />

= a2xP<br />

+ b2<br />

Titik potong dua garis y 1 = 2x<br />

+ 3 <strong>dan</strong> y2<br />

= 4x<br />

− 8<br />

y 1 = y2<br />

→ 2x<br />

+ 3 = 4x<br />

− 8 → 2x<br />

= 11<br />

(2.12)<br />

11<br />

x P = = 5,5 ; y P = 2x<br />

+ 3 = 2 × 5,5 + 3 = 14<br />

2<br />

atau y P = 4 × 5,5 − 8 = 14<br />

Jadi titik potong adalah 14] P[(5,5), . Perhatikan Gb.2.6. berikut<br />

ini.<br />

21


y<br />

30<br />

20<br />

y 1<br />

y 2<br />

10<br />

0<br />

-10 -5 0 5 10<br />

-10<br />

P ⇒ Koordinat P memenuhi<br />

persamaan y 1 maupun y 2 .<br />

x<br />

-20<br />

-30<br />

Gb.2.6. Perpotongan dua garis.<br />

Jika kedua garis memiliki kemiringan yang sama sudah barang tentu kita<br />

tak akan memperoleh titik potong karena mereka sejajar; dikatakan juga<br />

mereka berpotongan di ∞.<br />

Contoh: Dua garis y 1 = 4x<br />

+ 3 <strong>dan</strong> y2<br />

= 4x<br />

− 8 adalah<br />

sejajar.<br />

2.5. Pembagian Skala Pada Sumbu Koordinat<br />

Pada penggambaran kurva-kurva di atas, panjang per skala kedua sumbu<br />

koordinat tidak sama. Apabila panjang per skala dibuat sama kita akan<br />

memiliki kemiringan garis<br />

m = tan θ<br />

(2.13)<br />

dengan θ adalah sudut yang dibentuk oleh garis lurus dengan sumbu-x<br />

atau dengan garis mendatar, seperti pada Gb.2.7.<br />

y<br />

5 −<br />

m = tan θ<br />

θ<br />

|<br />

|<br />

5<br />

x<br />

−5 −<br />

Gb.2.7. Panjang per skala sama di sumbu-x <strong>dan</strong> y.<br />

22 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Sesungguhnya formulasi (2.13) berlaku umum, baik untuk pembagian<br />

skala di kedua sumbu koordinat sama besar ataupun tidak. Namun jika<br />

pembagian skala tersebut sama besar, sudut θ yang terlihat dalam grafik<br />

menunjukkan kemiringan garis sebenarnya; jika pembagian tidak sama<br />

besar sudut θ yang terlihat pada grafik bukanlah sudut sebenarnya<br />

sehingga sudut θ sebenarnya harus dihitung dari formula (2.13) <strong>dan</strong><br />

bukan dilihat dari grafik.<br />

2.6. Domain, Kekontinyuan, Simetri<br />

Pada fungsi linier<br />

y = m( x − a)<br />

+ b , peubah y akan selalu memiliki nilai,<br />

berapapun x. Peubah x bisa bernilai dari −∞ sampai +∞. <strong>Fungsi</strong> ini juga<br />

kontinyu dalam rentang tersebut.<br />

Kurva fungsi<br />

y = mx simetris terhadap titik asal [0,0] karena fungsi ini<br />

tak berubah jika y diganti dengan −y <strong>dan</strong> x diganti dengan −x.<br />

2.7. Contoh-Contoh <strong>Fungsi</strong> Linier<br />

Contoh-contoh fungsi linier berikut ini mamberikan gambaran bahwa<br />

fungsi linier dengan kurva yang kita gambarkan berbentuk garis lurus,<br />

merupakan bentuk fungsi yang biasa kita jumpai dalam praktik rekayasa.<br />

1). Suatu benda dengan massa m yang mendapat gaya F akan<br />

memperoleh percepatan.<br />

F = ma ; a adalah percepatan<br />

Jika tidak ada gaya lain yang melawan F, maka dengan percepatan a<br />

benda akan memiliki kecepatan sebagai fungsi waktu sebagai<br />

v ( t)<br />

= v 0 + at<br />

v kecepatan gerak benda, v 0 kecepatan awal, t waktu. Jika kecepatan<br />

awal adalah nol maka kecepatan gerak benda pada waktu t adalah<br />

v ( t)<br />

= at<br />

2) Dalam tabung katoda, jika beda tegangan antara anoda <strong>dan</strong> katoda<br />

adalah V , <strong>dan</strong> jarak antara anoda <strong>dan</strong> katoda adalah l maka antara<br />

anoda <strong>dan</strong> katoda terdapat me<strong>dan</strong> listrik sebesar<br />

23


Elektron yang<br />

muncul di<br />

permukaan katoda<br />

akan mendapat<br />

percepatan dari<br />

a<strong>dan</strong>ya me<strong>dan</strong><br />

listrik sebesar<br />

anoda<br />

V<br />

E =<br />

l<br />

a = eE<br />

a adalah percepatan yang dialami elektron, e muatan elektron, E<br />

me<strong>dan</strong> listrik. Jika kecepatan awal elektron adalah nol, <strong>dan</strong> waktu<br />

tempuh dari anoda ke katoda adalah t, maka kecepatan elektron pada<br />

waktu mencapai katoda adalah<br />

v k = at<br />

3) Suatu pegas, jika ditarik kemudian dilepaskan akan kembali pada<br />

posisi semula jika tarikan yang dilakukan masih dalam batas<br />

elastisitas pegas. Gaya yang diperlukan untuk menarik pegas<br />

sepanjang x merupakan fungsi linier dari x.<br />

dengan k adalah konstanta pegas.<br />

F = kx<br />

4) Dalam sebatang logam sepanjang l, akan mengalir arus listrik sebesar i<br />

jika antara ujung-ujung logam diberi perbedaan tegangan sebesar V.<br />

Arus yang mengalir merupakan fungsi linier dari tegangan dengan<br />

relasi<br />

V<br />

i = GV = , dengan G =<br />

1<br />

R<br />

R<br />

G adalah tetapan yang disebut konduktansi listrik <strong>dan</strong> R disebut<br />

resistansi listrik.Persamaan ini juga bisa dituliskan<br />

V = iR<br />

yang dikenal sebagai relasi hukum Ohm dalam kelistrikan.<br />

Jika penampang logam adalah A <strong>dan</strong> rata sepanjang logam, maka<br />

resistansi dapat dinyatakan dengan<br />

R =<br />

ρl<br />

A<br />

24 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

]<br />

l<br />

katoda


ρ disebut resistivitas bahan logam.<br />

Kerapatan arus dalam logam adalah<br />

atas kita peroleh<br />

j =<br />

i<br />

A<br />

=<br />

V<br />

RA<br />

1<br />

=<br />

ρ<br />

i<br />

j = <strong>dan</strong> dari persamaan di<br />

A<br />

V<br />

l<br />

= σE<br />

dengan E = V / l adalah kuat me<strong>dan</strong> listrik dalam logam, σ = 1 / ρ<br />

adalah konduktivitas bahan logam.<br />

Secara infinitisimal kuat me<strong>dan</strong> listrik adalah gradien potensial atau<br />

dV<br />

gradien dari V yang kita tuliskan E = . Mengenai pengertian<br />

dx<br />

gradien akan kita pelajari di Bab-9.<br />

5). Peristiwa difusi. Secara thermodinamis, faktor pendorong untuk<br />

terjadinya difusi,<br />

yaitu penyebaran<br />

materi menembus<br />

materi lain, adalah<br />

a<strong>dan</strong>ya perbedaan<br />

materi masuk<br />

di x a C a<br />

konsentrasi. Situasi<br />

ini analog dengan<br />

C x<br />

peristiwa aliran<br />

muatan listrik di mana<br />

faktor pendorong<br />

x a ∆x x<br />

untuk terjadinya aliran muatan adalah perbedaan tegangan.<br />

materi keluar<br />

di x<br />

Analog dengan peristiwa listrik, fluksi materi yang berdifusi dapat<br />

kita tuliskan sebagai<br />

dC<br />

J x = −D<br />

dx<br />

D adalah koefisien difusi, dC/dx adalah variasi konsentrasi dalam<br />

keadaan mantap di mana C 0 <strong>dan</strong> C x bernilai konstan. Relasi ini<br />

disebut Hukum Fick Pertama yang secara formal menyatakan bahwa<br />

fluksi dari materi yang berdifusi sebanding dengan gradien<br />

konsentrasi; dengan kata lain fluksi materi yang berdifusi merupakan<br />

fungsi linier dari gradien konsentrasi.<br />

25


Berikut ini tersaji soal-soal untuk latihan. Soal-soal ini hanya berkenaan<br />

dengan kurva garis lurus. Namun dengan contoh-contoh di atas kita<br />

menyadari bahwa fungsi linier bukan hanya sekedar pernyataan suatu<br />

garis lurus melainkan suatu bentuk fungsi yang banyak dijumpai dalam<br />

praktik rekayasa.<br />

Soal-Soal<br />

1. Tentukan persamaan garis-garis yang membentuk sisi segi-lima<br />

yang tergambar di bawah ini.<br />

5<br />

4<br />

y<br />

3<br />

y 1 y 2<br />

2<br />

1<br />

0<br />

-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5<br />

-1<br />

y 5<br />

y 3<br />

-2<br />

-3<br />

y 4<br />

-4<br />

-5<br />

x<br />

2. Carilah koordinat titik-titik potong dari garis-garis tersebut pada<br />

soal nomer-1 di atas.<br />

3. Carilah persamaan garis yang<br />

a) melalui titik asal (0,0) <strong>dan</strong> sejajar garis y 2 ;<br />

b) melalui titik asal (0,0) <strong>dan</strong> sejajar dengan garis y 3 .<br />

4. Carilah persamaan garis yang melalui<br />

a) titik potong y 1 − y 2 <strong>dan</strong> titik potong y 3 – y 4 ;<br />

b) titik potong y 3 − y 4 <strong>dan</strong> titik potong y 1 – y 5 ;<br />

c) titik potong y 1 − y 2 <strong>dan</strong> titik potong y 4 – y 5 .<br />

5. Carilah persamaan garis yang<br />

a) melalui titik potong y 1 – y 5 <strong>dan</strong> sejajar dengan garis y 2 ;<br />

b) melalui titik potong y 4 – y 5 <strong>dan</strong> sejajar dengan garis y 1 .<br />

26 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 3<br />

Gabungan <strong>Fungsi</strong> Linier<br />

<strong>Fungsi</strong>-fungsi linier banyak digunakan untuk membuat model dari<br />

perubahan-perubahan besaran fisis. Perubahan besaran fisis mungkin<br />

merupakan fungsi waktu, temperatur, tekanan atau yang lain. Artinya<br />

waktu, temperatur, tekanan <strong>dan</strong> lainnya itu menjadi peubah bebas, x,<br />

se<strong>dan</strong>gkan besaran fisis yang tergantung pa<strong>dan</strong>ya merupakan peubah tak<br />

bebas, y.<br />

Pada umumnya perubahan besaran fisis terjadi secara tidak linier. Jika<br />

dalam batas-batas tertentu perubahan tersebut dapat dianggap linier,<br />

besaran fisis tersebut dapat dimodelkan dengan memanfaatkan fungsifungsi<br />

linier <strong>dan</strong> model ini kita sebut model linier dari besaran fisis<br />

tersebut. <strong>Fungsi</strong>-fungsi berikut ini biasa dijumpai dalam analisis<br />

rangkaian listrik.<br />

3.1. <strong>Fungsi</strong> Anak Tangga<br />

<strong>Fungsi</strong> tetapan membentang pada nilai x dari −∞ sampai +∞. Jika kita<br />

menginginkan fungsi bernilai konstan yang muncul pada x = 0 <strong>dan</strong><br />

membentang hanya pada arah x positif, kita memerlukan fungsi lain yang<br />

disebut fungsi anak tangga satuan yang didefinisikan bernilai nol untuk<br />

x < 0, <strong>dan</strong> bernilai satu untuk x ≥ 0 <strong>dan</strong> dituliskan sebagai u (x)<br />

. Jadi<br />

u(<br />

x)<br />

= 1 untuk x ≥ 0<br />

= 0 untuk x < 0<br />

(3.1)<br />

Jika suatu fungsi tetapan y = k dikalikan dengan fungsi anak tangga<br />

satuan, akan kita peroleh suatu fungsi lain yang kita sebut fungsi anak<br />

tangga (disebut juga undak), yaitu<br />

y = ku(x)<br />

(3.2)<br />

<strong>Fungsi</strong> anak tangga (3.2) bernilai nol untuk x < 0, <strong>dan</strong> bernilai k untuk x<br />

≥ 0. Gb.3.1. memperlihatkan kurva dua fungsi anak tangga. <strong>Fungsi</strong><br />

y = 3,5u<br />

( x)<br />

<strong>dan</strong> fungsi y = −2,5u(<br />

x)<br />

yang bernilai nol untuk x < 0<br />

<strong>dan</strong> bernilai 3,5 <strong>dan</strong> −2,5 untuk x ≥ 0.<br />

27


y<br />

5<br />

y = 3,5 u(x)<br />

0<br />

-5 0 x 5<br />

-4<br />

y = −2,5 u(x)<br />

Gb.3.1. <strong>Fungsi</strong> anak tangga.<br />

<strong>Fungsi</strong> anak tangga seperti (3.2) dikatakan mulai muncul pada x = 0 <strong>dan</strong><br />

k disebut amplitudo. Kita lihat sekarang fungsi anak tangga yang baru<br />

muncul pada x = a. Ini tidak lain adalah fungsi anak tangga tergeser.<br />

<strong>Fungsi</strong> demikian ini dinyatakan dengan mengganti peubah x dengan<br />

( x − a) . Dengan demikian maka fungsi anak tangga<br />

y = ku( x − a)<br />

(3.3)<br />

merupakan fungsi yang mulai muncul pada x = a <strong>dan</strong> disebut fungsi anak<br />

tangga tergeser dengan pergeseran sebesar a. Jika a positif fungsi ini<br />

bergeser ke arah positif sumbu-x <strong>dan</strong> jika negatif bergeser ke arah negatif<br />

sumbu-x. Gb.3.2. memperlihatkan kurva fungsi seperti ini.<br />

y 5<br />

y = 3,5 u(x−1)<br />

0<br />

-5 0 1<br />

x 5<br />

-4<br />

Gb.3.2. Kurva fungsi anak tangga tergeser.<br />

Perhatikanlah bahwa fungsi anak tangga memiliki nilai yang terdefinisi<br />

di x = 0. Oleh karena itu fungsi ini kontinyu di x = 0, berbeda dengan<br />

fungsi y = 1/x yang tidak terdefinisi di x = 0 (telah disinggung di Bab-1).<br />

28 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


3.2. <strong>Fungsi</strong> Ramp<br />

Telah kita lihat bahwa fungsi y = ax berupa garis lurus dengan<br />

kemiringan a, melalui titik [0,0], membentang dari x = -∞ sampai x = +∞.<br />

<strong>Fungsi</strong> ramp terbentuk jika persamaan garis tersebut bernilai nol untuk x<br />

< 0, yang dapat diperoleh dengan mengalikan ax dengan fungsi anak<br />

tangga satuan u(x) (yang telah didefisisikan lebih dulu bernilai nol untuk<br />

x < 0). Jadi persamaan fungsi ramp adalah<br />

y = axu(x)<br />

(3.4)<br />

Jika kemiringan a = 1, fungsi tersebut menjadi fungsi ramp satuan.<br />

<strong>Fungsi</strong> ramp tergeser adalah<br />

y = a( x − g)<br />

u(<br />

x − g)<br />

(3.5)<br />

dengan g adalah pergeserannya. Perhatikanlah bahwa pada (3.5)<br />

bagian y1 = a(<br />

x − g)<br />

adalah fungsi linier tergeser se<strong>dan</strong>gkan<br />

y2 = u(<br />

x − g)<br />

adalah fungsi anak tangga satuan yang tergeser. Gb.3.3.<br />

memperlihatkan kurva fungsi ramp satuan y 1 = xu(<br />

x)<br />

, fungsi ramp<br />

y 2 = 2xu(<br />

x)<br />

, <strong>dan</strong> fungsi ramp tergeser y 3 = 1,5( x − 2) u(<br />

x − 2)<br />

.<br />

3.3. Pulsa<br />

y<br />

6<br />

5<br />

4<br />

3<br />

2<br />

1<br />

y 2 = 2xu(x)<br />

y 1 = xu(x)<br />

0<br />

-1 0 1 2 3 x 4<br />

Gb.3.3. Ramp satuan y 1 = xu(x), ramp y 2 = 2xu(x),<br />

ramp tergeser y 3 = 1,5(x-2)u(x-2).<br />

y 3 = 1,5(x-2)u(x-2)<br />

Pulsa merupakan fungsi yang muncul pada suatu nilai x 1 tertentu <strong>dan</strong><br />

menghilang pada x 2 >x 1 . Bentuk pulsa ini dapat dinyatakan dengan<br />

gabungan dua fungsi anak tangga, yang memiliki amplitudo sama tetapi<br />

29


erlawanan amplitudo <strong>dan</strong> berbeda pergeserannya. Persamaan umumnya<br />

adalah<br />

y = au( x − x1 ) − au(<br />

x − x2)<br />

(3.6)<br />

x 1 menunjukkan pergeseran fungsi anak tangga yang pertama <strong>dan</strong> x 2<br />

adalah pergeseran fungsi anak tangga yang ke-dua, dengan x 2 > x 1 .<br />

Penjumlahan kedua fungsi anak tangga inilah yang memberikan bentuk<br />

pulsa, yang muncul pada x = x 1 <strong>dan</strong> menghilang pada x = x 2 . Selisih<br />

( x2 − x1 ) disebut lebar pulsa<br />

lebar pulsa = x 2 − x 1<br />

(3.7)<br />

Gb.3.4. memperlihatkan pulsa dengan amplitudo 2, yang muncul pada x<br />

= 1 <strong>dan</strong> menghilang pada x = 2, yang persamaannya adalah<br />

y = 2u(<br />

x −1)<br />

− 2u(<br />

x − 2)<br />

= 2<br />

{ u(<br />

x −1)<br />

− u(<br />

x − 2) }<br />

lebar<br />

pulsa<br />

2<br />

1<br />

y 1 =2u(x-1)<br />

y 1 +y 2 = 2u(x-1)-2u(x-2)<br />

0<br />

-1 0 1 2 3 x 4<br />

-1<br />

y 2 =-2u(x-2)<br />

-2<br />

Gb.3.4. <strong>Fungsi</strong> pulsa 2u(x-1)-2u(x-2)<br />

Apa yanga berada dalam tanda kurung pada persamaan terakhir ini, yaitu<br />

y ′ = { u( x −1)<br />

− u(<br />

x − 2) }, adalah pulsa beramplitudo 1 yang muncul pada<br />

x = 1 <strong>dan</strong> berakhir pada x = 2. Secara umum pulsa beramplitudo A yang<br />

muncul pada x = x 1 <strong>dan</strong> berakhir pada x = x 2 adalah<br />

y′ = A{ u( x − x1 ) − u(<br />

x − x2)<br />

}; lebar pulsa ini adalah (x 2 – x 1 ).<br />

Contoh lain: Pulsa yang muncul pada x = 0, dengan lebar pulsa 3<br />

y = 4 u(<br />

x)<br />

− u(<br />

x − 3) .<br />

<strong>dan</strong> amplitudo 4, memiliki persamaan { }<br />

30 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


<strong>Fungsi</strong> pulsa memiliki nilai hanya dalam selang tertentu yaitu sebesar<br />

lebar pulsanya, ( x2 − x1)<br />

, <strong>dan</strong> di luar selang ini nilanya nol. Oleh karena<br />

itu fungsi apapun yang dikalikan dengan fungsi pulsa, akan memiliki<br />

nilai hanya dalam selang di mana fungsi pulsanya juga memiliki nilai.<br />

Dalam praktek, fungsi pulsa terjadi berulang secara periodik. Gb.3.5.<br />

memperlihatkan deretan pulsa<br />

perioda<br />

y<br />

Gb.3.5. Deretan Pulsa.<br />

Peubah x biasanya adalah waktu. Selang waktu di mana pulsa muncul<br />

biasa diberi simbol t on se<strong>dan</strong>gkan selang waktu di mana ia menghilang<br />

diberi simbol t off . Satu perioda T = t on + t off . Nilai rata-rata deretan pulsa<br />

adalah<br />

ton<br />

y rr pulsa = ymaks<br />

(3.8)<br />

T<br />

dengan y maks adalah amplitudo pulsa.<br />

x<br />

3.4. Perkalian Ramp <strong>dan</strong> Pulsa.<br />

Persamaan umumnya adalah<br />

{ ( x − x ) − u(<br />

x − )}<br />

y = mxu( x)<br />

× A u 1 x2<br />

(3.9)<br />

dengan m <strong>dan</strong> A berturut-turut adalah kemiringan kurva ramp <strong>dan</strong><br />

amplitudo pulsa. Persamaan (3.9) dapat kita tulis<br />

y = mAx<br />

{ u x − x ) − u(<br />

x − )}<br />

( 1 x2<br />

Perhatikan bahwa u ( x)<br />

= 1 karena ia adalah fungsi anak tangga satuan.<br />

Gb.3.6. memperlihatkan perkalian fungsi ramp y 1 = 2xu(<br />

x)<br />

dengan<br />

fungsi pulsa y 2 = 1,5{ u(<br />

x −1)<br />

− u(<br />

x − 3) } yang hanya memiliki nilai<br />

antara x = 1 <strong>dan</strong> x = 3. Perhatikan bahwa hasil kalinya hanya memiliki<br />

31


nilai antara x = 1 <strong>dan</strong> x = 3, dengan kemiringan yang merupakan hasil<br />

kali antara amplitudo pulsa dengan kemiringan ramp.<br />

y<br />

10<br />

3<br />

= y<br />

1<br />

= 3x<br />

y2<br />

= 2xu(<br />

x)<br />

× 1,5{ u(<br />

x −1)<br />

− u(<br />

x − 3) }<br />

{ u(<br />

x −1)<br />

− u(<br />

x − 3) }<br />

8<br />

6<br />

4<br />

2<br />

y 3 = y 1 y 2<br />

y 1 =2xu(x)<br />

y 2 =1,5{u(x-1)-u(x-3)}<br />

0<br />

-1 0 1 2 3 4 x 5<br />

Gb.3.6. Perkalian fungsi ramp y 1 <strong>dan</strong> pulsa y 2 .<br />

Perkalian fungsi ramp 1 mxu(<br />

x)<br />

y = dengan pulsa y2 = 1{ u(<br />

x)<br />

− u(<br />

x − b)<br />

}<br />

membentuk fungsi gigi gergaji y = ( m × 1) x{ u(<br />

x)<br />

− u(<br />

x − b)<br />

} yang<br />

muncul pada t = 0 dengan kemiringan m <strong>dan</strong> lebar b. (Gb.3.7).<br />

y<br />

10<br />

8<br />

y 1 =mxu(x)<br />

6<br />

4<br />

2<br />

y 3 = y 1 y 2 =mx{u(x)-u(x-b)}<br />

y 2 ={u(x)-u(x-b)}<br />

0<br />

b<br />

-1 0 1 2 3 4xx<br />

5<br />

Gb.3.7. Kurva gigi gergaji<br />

Seperti halnya pada pulsa, fungsi gigi gergaji biasanya terjadi secara<br />

periodik, dengan perioda T, seperti terlihat pada Gb.3.8.<br />

Nilai rata-rata fungsi gigi gergaji adalah<br />

y rr gigi - gergaji =<br />

ymaks<br />

2<br />

(3.10)<br />

32 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


dengan y maks adalah nilai puncak gigi gergaji.<br />

y<br />

6<br />

4<br />

2<br />

0<br />

0 1 2 3 4 x 5<br />

Gb.3.8. Gigi gergaji terjadi secara periodik.<br />

3.5. Gabungan <strong>Fungsi</strong> Ramp<br />

Penjumlahan fungsi ramp akan berbentuk<br />

y = axu(<br />

x)<br />

+ b(<br />

x − x1)<br />

u(<br />

x − x1<br />

)<br />

+ c(<br />

x − x2)<br />

u(<br />

x − x2)<br />

+ .......<br />

(3.11)<br />

Kita ambil contoh penjumlahan dua fungsi ramp, y 1 = 2xu(<br />

x)<br />

<strong>dan</strong><br />

y 2 = −2(<br />

x − 2) u(<br />

x − 2) seperti terlihat pada Gb.3.9. Gabungan dua<br />

fungsi ramp ini akan memiliki nilai konstan mulai dari x = 2, karena<br />

mulai dari titik itu jumlah kedua fungsi adalah nol sehingga fungsi<br />

gabungan akan bernilai sama dengan nilai fungsi yang pertama pada saat<br />

mencapai x = 2.<br />

y<br />

y<br />

12<br />

10<br />

8<br />

6<br />

4<br />

2<br />

0<br />

-2<br />

-4<br />

-6<br />

-8<br />

y 1 =2xu(x)<br />

y 3 = 2xu(x)−2(x−2)u(x−2)<br />

0 1 2 3 4 5 x<br />

y 2 = −2(x−2)u(x−2)<br />

Gb.3.9. Gabungan ramp y 1 <strong>dan</strong> ramp tergeser y 2 .<br />

Gb.3.10. memperlihatkan kurva gabungan dua fungsi ramp, y 1 = 2xu(<br />

x)<br />

<strong>dan</strong> y = −4(<br />

x − 2) u(<br />

x − 2)<br />

. Di sini, fungsi kedua memiliki kemiringan<br />

33


negatif dua kali lipat dari kemiringan positif fungsi yang pertama. Oleh<br />

karena itu fungsi gabungan y 3 = y 1 + y 2 akan menurun mulai dari x = 2.<br />

y<br />

15<br />

10<br />

5<br />

0<br />

-5<br />

-10<br />

y 1 =2xu(x)<br />

y 2 = −4(x−2)u(x−2)<br />

y 3 = 2xu(x)−4(x−2)u(x−2)<br />

0 1 2 3 4 5<br />

x<br />

Gb.3.10. Gabungan ramp y 1 <strong>dan</strong> ramp tergeser y 2 .<br />

Apabila fungsi gabungan ini kita kalikan dengan fungsi pulsa<br />

y pulsa = u( x −1)<br />

− u(<br />

x − 3) akan kita peroleh bentuk kurva seperti<br />

terlihat pada Gb.3.11.<br />

y<br />

15<br />

10<br />

5<br />

0<br />

5<br />

0 1 2 3 4 5<br />

-5<br />

x<br />

-10<br />

y 2 = −4(x-2)u(x-2)<br />

y 3 = {2xu(x)−4(x-2)u(x-2)}{u(x-1)-u(x-3)}<br />

y 1 =2xu(x)<br />

Gb.3.11. Kurva {2xu(x)−4xu(x−2)}{u(x-1)-u(x-3)}<br />

Gabungan fungsi ramp dapat digunakan untuk menyatakan bentuk<br />

gelombang segitiga seperti terlihat pada Gb.3.12.<br />

Gb.3.12. Gelombang segitiga.<br />

x<br />

34 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bentuk-bentuk kurva gabungan fungsi linier banyak kita jumpai dalam<br />

bentuk gelombang sinyal di rangkaian listrik, terutama elektronika.<br />

Rangkaian elektronika yang membangkitkan gelombang gigi gergaji<br />

misalnya, kita jumpai dalam osciloscope.<br />

3.6. Domain, Kekontinyuan, Simetri<br />

<strong>Fungsi</strong> anak tangga satuan yang tergeser y = u( x − a)<br />

hanya mempunyai<br />

nilai untuk x ≥ a. Oleh karena itu semua bentuk fungsi yang dikalikan<br />

dengan fungsi anak tangga ini juga hanya memiliki nilai pada rentang x ≥<br />

a. Dalam rentang ini pula fungsi anak tangga kontinyu.<br />

<strong>Fungsi</strong> anak tangga tidak memiliki sumbu simetri. Hanya fungsi yang<br />

memiliki sumbu-x sebagai sumbu simetri yang akan tetap simetris<br />

terhadap sumbu-x apabila dikalikan dengan fungsi anak tangga satuan<br />

yang tergeser.<br />

35


Soal-Soal<br />

Bentuk-bentuk kurva gabungan fungsi linier banyak kita jumpai pada<br />

bentuk gelombang sinyal dalam rangkaian listrik.<br />

1. Gambarkan <strong>dan</strong> tentukan persamaan bentuk kurva fungsi anak<br />

tangga berikut ini :<br />

a) y 1 : y maks = 5, muncul pada x = 0.<br />

b) y 2 : y maks = 10 , muncul pada x = 1.<br />

c) y 3 : y maks = −5 , muncul pada x = 2.<br />

2. Dari fungsi-fungsi di soal nomer 3, gambarkanlah kurva fungsi<br />

berikut ini.<br />

a). y 4 = y1<br />

+ y2<br />

; b). y5<br />

= y1<br />

+ y3<br />

; c). y6<br />

= y1<br />

+ y2<br />

+ y3<br />

3. Gambarkan <strong>dan</strong> tentukan persamaan bentuk pulsa berikut ini :<br />

a). Amplitudo 5, lebar pulsa 1, muncul pada x = 0.<br />

b). Amplitudo 10, lebar pulsa 2, muncul pada x=1.<br />

c). Amplitudo −5, lebar pulsa 3, muncul pada x=2.<br />

4. Gambarkan bentuk kurva fungsi periodik yang berupa deretan<br />

pulsa dengan amplitudo 10, lebar pulsa 20, perioda 50.<br />

5. Gambarkan bentuk kurva fungsi periodik gigi gergaji dengan<br />

amplitudo 10 <strong>dan</strong> perioda 0,5.<br />

6. Tentukan persamaan siklus pertama<br />

dari kurva periodik yang<br />

digambarkan di samping ini.<br />

7. Tentukan persamaan siklus pertama<br />

dari bentuk kurva periodik yang<br />

digambarkan di samping ini.<br />

y<br />

y<br />

5<br />

perioda<br />

0<br />

1 2 3 4 5 6<br />

x<br />

−3<br />

perioda<br />

5<br />

0 x<br />

1 2 3 4 5 6<br />

−5<br />

36 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 4<br />

Mononom <strong>dan</strong> Polinom<br />

Mononom adalah pernyataan tunggal yang berbentuk kx n , dengan k<br />

adalah tetapan <strong>dan</strong> n adalah bilangan bulat termasuk nol.<br />

<strong>Fungsi</strong> polinom merupakan jumlah terbatas dari mononom. Berikut ini<br />

beberapa contoh fungsi polinom dalam bentuk eksplisit<br />

3 2<br />

y1<br />

= x + 5x<br />

− 3x<br />

+ 7<br />

2 2<br />

y2<br />

= ( x − 5)<br />

y3<br />

= 10x<br />

y4<br />

= 5<br />

Contoh yang pertama, y 1 , adalah fungsi polinom berpangkat tiga, yaitu<br />

pangkat tertinggi dari peubah bebas x. Contoh ke-dua, y 2 , adalah fungsi<br />

berpangkat empat. Contoh y 3 <strong>dan</strong> y 4 adalah fungsi mononom berpangkat<br />

satu <strong>dan</strong> berpangkat nol yang telah kita kenal sebagai fungsi linier <strong>dan</strong><br />

fungsi tetapan yang memiliki kurva berbentuk garis lurus.<br />

4.1. Mononom<br />

Mononom Pangkat Dua. Mononom pangkat dua kita pan<strong>dan</strong>g sebagai<br />

fungsi genap, kita tuliskan<br />

2<br />

y = kx<br />

(4.1)<br />

Karena x di-kuadratkan, maka mengganti x dengan −x tidak akan<br />

mengubah fungsi. Kurva akan simetris terhadap sumbu-y. Nilai y hanya<br />

akan negatif manakala k negatif.<br />

Kita ingat bahwa pada fungsi linier y = kx nilai k merupakan<br />

kemiringan dari garis lurus. Jika k positif maka garis akan naik ke arah<br />

positif sumbu-x, <strong>dan</strong> jika negatif garis akan menurun. Jika k makin besar<br />

kemiringan garis makin tajam.<br />

Pada fungsi mononom pangkat dua, kurva akan berada di atas sumbu-x<br />

jika k positif <strong>dan</strong> akan berada di bawah sumbu-x jika k negatif . Jika k<br />

makin besar lengkungan kurva akan semakin tajam. Gb. 4.1.<br />

memperlihatkan kurva fungsi (4.1) untuk tiga macam nilai positif k.<br />

37


Makin besar nilai k akan membuat lengkungan kurva makin tajam.<br />

Perhatikanlah bahwa pada x = 1, nilai y sama dengan k.<br />

10<br />

y y = 5x 2 y = 3x 2<br />

9<br />

8<br />

7<br />

y = x 2<br />

6<br />

5<br />

4<br />

3<br />

2<br />

1<br />

-3 -2 -1<br />

0<br />

0 1 2 3<br />

Gb.4.1. Kurva fungsi<br />

2<br />

y = kx dengan k positif.<br />

Gb.4.2 memperlihatkan bentuk kurva jika k bernilai negatif. Jika kurva<br />

dengan nilai k positif menunjukkan a<strong>dan</strong>ya nilai y minimum, yaitu pada<br />

titik [0,0], kurva untuk k negatif menunjukkan a<strong>dan</strong>ya nilai y maksimum<br />

pada titik [0,0].<br />

x<br />

0<br />

-5 -4 -3 -2 -1 0<br />

-20<br />

1 2 3 4 5<br />

-40<br />

-60<br />

-80<br />

y<br />

-100<br />

y = −10x 2<br />

y = −2x 2<br />

Gb.4.2. Kurva fungsi<br />

2<br />

y = kx dengan k negatif.<br />

Peninjauan pada fungsi polinom akan kita lakukan pada k yang positif;<br />

kita akan melihat bagaimana jika kurva ini digeser. Pergeseran kurva<br />

sebesar a skala sejajar sumbu-x diperoleh dengan menggantikan peubah x<br />

dengan (x − a), <strong>dan</strong> pergeseran sejajar sumbu-y sebesar b skala diperoleh<br />

dengan mengganti y dengan (y − b). Dengan demikian persamaan<br />

mononom pangkat dua yang tergeser menjadi<br />

2<br />

− b)<br />

= k(<br />

x − )<br />

(4.3)<br />

( y<br />

a<br />

38 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Kurva fungsi seperti ini diperlihatkan pada Gb.4.3. untuk a = 0 <strong>dan</strong> b = 0,<br />

a = 2 <strong>dan</strong> b = 0, serta a = 2 <strong>dan</strong> b = 30. Untuk nilai-nilai ini, dengan k =<br />

10, persamaan dapat kita tuliskan menjadi<br />

2<br />

y 1 = 10x<br />

y<br />

2<br />

2 = 10(<br />

x − 2)<br />

y 3 = 10( x − 2) + 30<br />

2<br />

100<br />

y 3 = 10(x−2) 2 + 30<br />

y 1 = 10x 2 50<br />

y 2 = 10(x−2) 2<br />

0<br />

-5 -3 -1 1 3 5<br />

Gb.4.3. Pergeseran kurva mononom pangkat dua.<br />

Perhatikanlah bahwa y 2 adalah pergeseran dari y 1 ke arah positif sumbu-x<br />

sebesar 2 skala; y 3 adalah pergeseran dari y 2 ke arah positif sumbu-y<br />

sebesar 30 skala. Bentuk lengkungan kurva tidak berubah.<br />

Mononom Pangkat Genap. Mononom pangkat genap yang lain adalah<br />

berpangkat 4, 6 <strong>dan</strong> seterusnya. Semua mononom pangkat genap akan<br />

membentuk kurva yang memiliki sifat seperti pada mononom pangkat<br />

dua yaitu simetris terhadap sumbu-y, berada di atas sumbu-x jika k<br />

positif <strong>dan</strong> berada di bawah sumbu-x jika k negatif. Gb.4.4.<br />

memperlihatkan perbedaan bentuk kurva mononom pangkat genap yang<br />

memiliki koefisien k sama besar.<br />

Kita lihat pada Gb.4.4. bahwa makin tinggi pangkat mononom makin<br />

cepat nilai y bertambah namun hal ini hanya terlihat mulai dari x = 1.<br />

Pada nilai x lebih kecil dari satu, kurva makin landai jika pangkat makin<br />

tinggi. Dengan kata lain lengkungan makin kurang tajam. Hal ini dapat<br />

dimengerti karena pangkat bilangan pecahan bernilai makin kecil jika<br />

pangkat makin besar.<br />

x<br />

39


y<br />

3<br />

2<br />

y 2 = 2x 4<br />

1<br />

y 1 = 2x 2<br />

y 3 = 2x 6 0<br />

-1.5 -1 -0.5 0 0.5 1 x 1.5<br />

Gb.4.4. Kurva mononom pangkat genap dengan koefisien<br />

sama.<br />

Telah kita ketahui dalam kasus mononom pangkat dua, bahwa jika<br />

koefisien k makin besar lengkungan menjadi makin tajam. Hal yang<br />

sama terjadi juga pada kurva mononom pangkat genap yang lebih tinggi.<br />

Gb.4.5. memperlihatkan kurva mononom pangkat genap dengan<br />

koefisien yang yang meningkat dengan meningkatnya pangkat.<br />

y 1 = 6x 6<br />

y 2 = 3x 4<br />

y 3 = 2x 2<br />

Gb.4.5. Kurva mononom pangkat genap dengan koefisien tak sama.<br />

Pada Gb.4.5 terlihat bahwa makin besar k, nilai y juga makin cepat<br />

meningkat. Kecepatan peningkatan y dengan koefisien yang lebih besar<br />

sudah mulai terjadi pada nilai x kurang dari satu. Gejala kelandaian pada<br />

nilai x yang kecil tetap terlihat.<br />

Kurva-kurva pada Gb.4.5 adalah kurva mononom dengan koefisien yang<br />

makin besar pada pangkat yang makin besar. Bila koefisien makin<br />

kecilpada pangkat yang makin besar, situasi yang akan terjadi adalah<br />

seperti terlihat pada Gb.4.6 berikut ini.<br />

6<br />

5<br />

4<br />

3<br />

2<br />

1<br />

0<br />

-1.5 -1 -0.5 0 0.5 1 1.5<br />

y<br />

x<br />

40 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


y = 6x 2<br />

y = 3x 4<br />

y = x 6<br />

Gb.4.6. Kurva mononom pangkat genap dengan<br />

koefisien yang makin rendah pada mononom<br />

berpangkat tinggi.<br />

Kelandaian kurva pangkat tinggi tetap terjadi pada nilai x yang kecil.<br />

Kurva pangkat tinggi baru akan menyusul kurva berpangkat rendah pada<br />

nilai x > 1; perpotongan dengan kurva dari fungsi yang berpangkat<br />

rendah terjadi pada nilai y yang besar.<br />

Contoh <strong>Fungsi</strong> Mononom Pangkat Dua. Kita ambil beberapa contoh<br />

peristiwa fisis.<br />

1). Suatu benda dengan massa m yang mendapat gaya F akan<br />

memperoleh percepatan a sehingga kecepatan benda sebagai fungsi<br />

waktu (apabila kecepatan awal adalah nol) dapat dinyatakan sebagai<br />

v ( t)<br />

= at<br />

(lihat contoh fungsi linier sub-bab-2.7).<br />

Jarak yang ditempuh mulai dari titik awal adalah<br />

8<br />

7<br />

6<br />

5<br />

4<br />

3<br />

2<br />

1<br />

0<br />

-1.5 -1 -0.5 0 0.5 1 1.5<br />

1<br />

s ( t)<br />

= at<br />

2<br />

2). Dalam tabung katoda, jika kecepatan awal elektron adalah nol, <strong>dan</strong><br />

waktu tempuh dari anoda ke katoda adalah t, maka kecepatan<br />

elektron pada waktu mencapai katoda adalah<br />

v k = at<br />

2<br />

41


anoda<br />

]<br />

katoda<br />

l<br />

(lihat contoh fungsi linier sub-bab-2.7).<br />

Waktu tempuh dapat dihitung dari formula<br />

= l.<br />

1<br />

2<br />

2<br />

s ( t)<br />

= at , di mana s(t)<br />

3). Dalam teori atom, di mana elektron dipan<strong>dan</strong>g sebagai gelombang,<br />

fungsi gelombang dari elektron-bebas dibawah pengaruh me<strong>dan</strong><br />

j r<br />

sentral adalah ψ = e k dengan k adalah vektor bilangan gelombang<br />

yang searah dengan rambatan gelombang.<br />

gelombang<br />

Energi kinetik elektron sebagai<br />

gelombang, E k , adalah<br />

E<br />

k<br />

2<br />

h k<br />

=<br />

2m<br />

2<br />

e<br />

k = 2π , λ : panjang<br />

λ<br />

E k<br />

m e massa electron, h suatu konstanta.<br />

E k <strong>dan</strong> k memiliki relasi mononomial<br />

pangkat dua<br />

(Dari Bab-8, ref. [4])<br />

k<br />

Mononom Pangkat Ganjil. Pangkat ganjil paling kecil adalah 1 <strong>dan</strong><br />

dalam hal demikian ini kita mendapatkan persamaan garis y = kx .<br />

Pangkat ganjil berikutnya adalah 3, 5, 7 <strong>dan</strong> seterusnya. Gb.4.5.<br />

memperlihatkan kurva fungsi mononom berpangkat ganjil.<br />

Kurva fungsi mononom pangkat ganjil simetris terhadap titik asal. Ia<br />

bernilai positif untuk x positif <strong>dan</strong> bernilai negatif untuk x negatif. Makin<br />

tinggi pangkat mononom makin cepat perubahan nilai y untuk x > 1.<br />

42 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Untuk x < 1 kurva makin landai yang berarti makin tajam<br />

“pembengkokan” garis lurus yang terjadi di dalam rentang −1 ≤ x ≤ 1.<br />

Gb.4.5. Kurva fungsi mononom pangkat ganjil.<br />

Apabila peningkatan pangkat disertai juga dengan peningkatan koefisien<br />

k, perpotongan kurva dengan garis y = kx bisa terjadi pada nilai x < 1.<br />

4.2. Polinom Pangkat Dua<br />

<strong>Fungsi</strong> polinom pangkat dua berbentuk<br />

2<br />

y = ax + bx + c<br />

(4.4)<br />

Berikut ini kita akan melihat apa yang terjadi pada proses penambahan<br />

mononom demi mononom. Untuk penggambaran kurva masing-masing<br />

mononom dalam tinjauan fungsi (4.4) diambil semua koefisien mononom<br />

positif. Dengan mengambil nilai-nilai a = 2, b = 15, <strong>dan</strong> c = 13, kurva<br />

masing-masing mononom diperlihatkan pada Gb.4.6.<br />

150<br />

y<br />

y 1 =2x 2<br />

0<br />

-10 0<br />

3<br />

2<br />

1<br />

0<br />

-1.5 -1 -0.5 -1 0 0.5 1 1.5<br />

-2<br />

-3<br />

y = 2x y = 2x 5<br />

y 2 =15x<br />

y 3 =13<br />

y = 2x 3<br />

x<br />

-150<br />

Gb.4.6. Kurva masing-masing mononom dari fungsi kuadrat.<br />

43


Jika kurva y 2 = 15x ditambahkan pada y 1 = 2x 2 maka kurva y 1 akan<br />

bertambah tinggi di sebelah kanan titik [0,0] <strong>dan</strong> menjadi rendah di<br />

sebelah kiri titik [0,0] seperti terlihat pada Gb.4.7.a.<br />

y 1 =2x 2<br />

150<br />

y<br />

y 4 =2x 2 +15x<br />

-10 0<br />

0<br />

x<br />

(a)<br />

x = −15/2<br />

y 2 =15x<br />

-150<br />

150<br />

sumbu simetri y<br />

−15/4<br />

y 4 =2x 2 +15x<br />

−15/2<br />

-10 0<br />

0<br />

x<br />

(b)<br />

sumbu simetri<br />

150<br />

y<br />

-150<br />

y 5 = 2x 2 +15x+13<br />

y 4 = 2x 2 +15x<br />

-10 0<br />

0<br />

x<br />

(c)<br />

-150<br />

Gb.4.7. Penjumlahan y 1 = 2x 2 , y 2 = 15x, <strong>dan</strong> y 3 = 13<br />

44 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Karena y2 = 15x<br />

melalui titik [0,0] <strong>dan</strong> y 1 = 2x 2 juga melalui titik [0,0]<br />

maka penjumlahan kedua kurva akan memberikan kurva<br />

y = y + y = x 15x<br />

(4.5)<br />

4 1 2 2 2 +<br />

yang juga melalui titik [0,0]. Selain di x = 0 kurva penjumlahan ini juga<br />

memotong sumbu-x di x = −15/ 2 karena dua titik ini (yaitu x = 0 <strong>dan</strong><br />

x = −15/ 2 ) memenuhi persamaan y 3 = 2x<br />

2 + 15x<br />

= 0 . Kurva ini<br />

memiliki sumbu simetri yang memotong sumbu-x di x = −15/ 4 seperti<br />

terlihat pada Gb.4.7.b. Jika kemudian tetapan 13 ditambahkan pada y 4<br />

tebentuklah<br />

y = x + 15x<br />

13<br />

(4.6)<br />

5 2 2 +<br />

yang merupakan pergeseran dari y 4 ke arah positif sumbu-y sebesar 13<br />

skala, seperti terlihat pada Gb.4.7.c.<br />

Kita lihat sekarang bentuk umum fungsi pangkat dua (4.4)<br />

yang dapat kita tuliskan sebagai<br />

⎛ 2<br />

y = a⎜<br />

x +<br />

⎝<br />

⎛<br />

= a⎜<br />

x +<br />

⎝<br />

b<br />

a<br />

b<br />

2a<br />

2<br />

y = ax + bx + c<br />

b<br />

a<br />

⎞ ⎛<br />

x⎟<br />

+ c = a⎜<br />

x +<br />

⎠ ⎝ 2<br />

2 2<br />

⎞ b − 4ac<br />

⎟ −<br />

⎠ 4a<br />

2 2<br />

⎞ b<br />

⎟ − + c<br />

⎠ 4a<br />

(4.7)<br />

Kurva dari fungsi (4.7) ini dapat kita fahami sebagai berikut: kurva y<br />

adalah kurva y = ax 2<br />

b<br />

yang tergeser sejajar sumbu-x sejauh −<br />

2a<br />

kemudian tergeser lagi sejajar sumbu-y sejauh<br />

Perhatikan Gb.4.8.<br />

⎛ 2 ⎞<br />

⎜<br />

b − 4ac<br />

− ⎟ .<br />

⎜ ⎟<br />

⎝<br />

4a<br />

⎠<br />

45


y<br />

y = ax 2 +bx +c<br />

x 1<br />

x 2<br />

y = ax 2<br />

b<br />

−<br />

2a<br />

}<br />

Gb.4.8. Pergeseran kurva y = ax 2 sejajar sumbu-x ke kiri<br />

sejauh<br />

–b/2a kemudian tergeser lagi sejajar sumbu-y ke bawah<br />

sejauh –(b 2 −4ac)/4a.<br />

b<br />

Sumbu simetri terletak pada x = − <strong>dan</strong> kurva memotong sumbu-x di<br />

2a<br />

sebelah kiri <strong>dan</strong> kanan sumbu simetri ini, yaitu di x 1 <strong>dan</strong> x 2 . Dari<br />

persamaan (4.7) kita dapatkan<br />

0<br />

-50<br />

0<br />

⎛<br />

⎜<br />

b<br />

−<br />

⎝<br />

2<br />

x<br />

− 4ac<br />

⎞<br />

⎟<br />

4a<br />

⎠<br />

2 2<br />

⎛ b ⎞ b − 4ac<br />

y = a⎜<br />

x + ⎟ − = 0 →<br />

⎝ 2a<br />

⎠ 4a<br />

⎛<br />

a⎜<br />

x +<br />

⎝<br />

b<br />

2a<br />

2 2<br />

⎞ b − 4ac<br />

⎟ =<br />

⎠ 4a<br />

2 2<br />

2<br />

⎛ b ⎞ b − 4ac<br />

⎛ b ⎞ b − 4ac<br />

→ ⎜ x + ⎟ = → ⎜ x + ⎟ = ±<br />

2a<br />

2<br />

2<br />

⎝ ⎠ 4a<br />

⎝ 2a<br />

⎠ 4a<br />

x , x<br />

1<br />

2<br />

2<br />

b b − 4ac<br />

= − ±<br />

(4.8)<br />

2a<br />

2a<br />

yang kita kenal sebagai akar-akar persamaan kuadrat.<br />

Keadaan kritis terjadi pada waktu kurva fungsi kuadrat bersinggungan<br />

dengan sumbu-x; dua akar nyata dari persamaan kuadrat menjadi sama<br />

besar. Hal ini terjadi jika pergeseran sejajar sumbu-y bernilai nol<br />

46 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


−<br />

2<br />

− ac<br />

= 0 ⇒ ( b<br />

4a<br />

4 2<br />

− 4ac)<br />

= 0<br />

(4.9)<br />

Jika ( b 2 − 4ac)<br />

< 0 maka kurva tidak memotong sumbu-x. Keadaan ini<br />

memberikan akar kompleks yang belum akan kita bahas.<br />

Tinjauan di atas memberikan hal-hal berikut:<br />

2<br />

1. Jika c = 0, maka fungsi menjadi y = ax + bx yang memotong sumbu-<br />

b<br />

b<br />

x di x = 0 <strong>dan</strong> x = − <strong>dan</strong> memiliki sumbu simetri di x = −<br />

a<br />

2a<br />

yang juga menjadi sumbu simetri kurva fungsi kuadrat<br />

2<br />

y = ax + bx + c .<br />

2<br />

2. Nilai puncak fungsi y = ax + bx + c<br />

2<br />

y = ax + bx ditambah c yaitu<br />

2<br />

b<br />

y = − + c<br />

4 a<br />

adalah nilai puncak<br />

2<br />

b − 4 ac<br />

atau − .<br />

4a<br />

2<br />

3. <strong>Fungsi</strong> kuadrat y = ax + bx + c<br />

memotong sumbu-x di<br />

x<br />

1,2<br />

= −<br />

b<br />

±<br />

2a<br />

b<br />

2<br />

− 4ac<br />

2a<br />

47


4.3. Mononom <strong>dan</strong> Polinom Pangkat Tiga<br />

3<br />

<strong>Fungsi</strong> mononom pangkat tiga kita tuliskan y = kx . Jika k positif, fungsi<br />

ini akan bernilai positif untuk x positif <strong>dan</strong> bernilai negatif untuk x<br />

negatif. Jika k negatif maka keadaan akan menjadi sebaliknya. Kurva<br />

fungsi ini diperlihatkan pada Gb.4.9.<br />

y<br />

y =−3x 3<br />

500<br />

400<br />

300<br />

200<br />

100<br />

y = 2x 3<br />

0<br />

-5 -4 -3 -2 -1 0<br />

-100<br />

1 2 3 4 5<br />

x<br />

-200<br />

y = 2x 3<br />

-300<br />

-400<br />

-500<br />

y =−3x 3<br />

Gb.4.9. Kurva fungsi y = kx 3 .<br />

<strong>Fungsi</strong> mononom yang tergeser sejajar dengan sumbu-x dengan<br />

pergeseran sebesar a skala diperoleh dengan mengganti peubah x dengan<br />

(x − a), <strong>dan</strong> jika tergeser sejajar sumbu-y sebesar b skala kita peroleh<br />

dengan mengganti y dengan (y − b) . <strong>Fungsi</strong> mononom pangkat tiga yang<br />

tergeser akan menjadi<br />

dengan bentuk kurva diperlihatkan pada Gb.4.10.<br />

3<br />

y = k( x − a)<br />

+ b<br />

(4.10)<br />

48 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


600<br />

y<br />

400<br />

y = 10x 3<br />

200<br />

0<br />

-5 -3 -1 1 3 5<br />

-200<br />

y = 10(x−2) 3<br />

x<br />

-400<br />

y = 10(x−2) 3 + 100<br />

-600<br />

Gb.4.10. Kurva fungsi pangkat tiga tergeser.<br />

Jika mononom pangkat tiga ditambahkan pada polinom pangkat dua,<br />

terbentuklan polinom pangkat tiga, dengan persamaan umum yang<br />

berbentuk<br />

3 2<br />

y = ax + bx + cx + d<br />

(4.11)<br />

3<br />

Karena y = kx naik untuk x positif (pada k positif) maka penambahan<br />

ke fungsi kuadrat akan menyebabkan kurva fungsi kuadrat naik di<br />

sebelah kanan titik-asal [0,0] <strong>dan</strong> turun di sebelah kiri [0,0].<br />

3<br />

Kita ambil a = 4 untuk menggambarkan y 1 = ax <strong>dan</strong> b =19, c = −80, d<br />

2<br />

= −200 untuk menggambarkan kurva fungsi y 2 = bx + cx + d seperti<br />

terlihat pada Gb.4.11.a.<br />

49


y2 = 19x<br />

2 − 80x<br />

− 200<br />

2000<br />

y<br />

y 1 =<br />

4x 3<br />

-<br />

10<br />

0<br />

0 10<br />

x<br />

(a)<br />

-2000<br />

y<br />

3<br />

= y<br />

1<br />

3<br />

= 4x<br />

+ y<br />

2<br />

+ 19x<br />

2<br />

− 80x<br />

− 200<br />

y 2<br />

2000<br />

y<br />

0<br />

-10 0 10<br />

x<br />

(b)<br />

y 1<br />

-2000<br />

Gb.4.11. Mononom pangkat tiga y 1 <strong>dan</strong> fungsi kuadrat y 2 .<br />

Dengan a positif maka kurva y 1 bernilai positif untuk x > 0 <strong>dan</strong> bernilai<br />

negatif untuk x < 0. Kurva fungsi kuadrat y 2 telah kita kenal. Jika y 1<br />

ditambahkan pada y 2 maka nilai-nilai y 2 di sebelah kiri titik [0,0] akan<br />

berkurang se<strong>dan</strong>gkan yang di sebelah kanan titik [0,0] akan bertambah.<br />

Kurva yang kita peroleh akan terlihat seperti pada Gb.4.9.b.<br />

Terlihat pada gambar ini bahwa penjumlahan y 1 <strong>dan</strong> y 2 menghasilkan<br />

kurva y 3 yang memotong sumbu-x di tiga titik. Ini berarti bahwa<br />

3 2<br />

persamaan pangkat tiga ax + bx + cx + d = 0 (dengan nilai koefisien<br />

yang kita ambil) memiliki tiga akar nyata, yang ditunjukkan oleh<br />

perpotongan fungsi y 3 dengan sumbu-x tersebut.<br />

50 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Hal demikian tidak selalu terjadi. Jika koefisien a kurang positif,<br />

penurunan kurva y 1 di daerah x negatif tidak terlalu tajam. Hal ini<br />

menyebabkan pengurangan nilai y 2 didaerah ini juga tidak terlalu banyak.<br />

Kita akan memperoleh kurva seperti ditunjukkan pada Gb.4.12.a. Di sini<br />

fungsi pangkat tiga memotong sumbu-x di tiga tempat akan tetapi yang<br />

terlihat hanya dua. Titik potong yang ke-tiga berada jauh di x negatif.<br />

Makin kecil nilai a (tetap positif) akan makin jauh letak titik perpotongan<br />

yang ke-tiga ini.<br />

2000<br />

y 2<br />

y 3 = y 1 + y 2<br />

y 1<br />

-2000<br />

-10 10<br />

(a) a kurang positif<br />

2000<br />

y 2<br />

-10 15<br />

(b) a terlalu positif<br />

y 3 = y 1 +y 2<br />

y 1<br />

-2000<br />

Gb.4.12. Pengaruh nilai a kurva fungsi pangkat tiga y = y 1 + y 2 .<br />

Jika koefisien a terlalu positif, penurunan y 1 di daerah negatif sangat<br />

tajam. Pengurangan y 2 di daerah ini terjadi sangat besar. Kurva yang kita<br />

51


peroleh akan terlihat seperti pada Gb.4.12.b. Di sini kurva tidak<br />

memotong sumbu-x di daerah negatif. Hanya ada satu titik potong di<br />

sumbu-x positif. Jika a = 0 akan terjadi fungsi kuadrat yang sudah kita<br />

bahas di sub-bab sebelumnya.<br />

Kita lihat sekarang keadaan di mana a bernilai negatif. Nilai a negatif<br />

akan membuat kurva y 1 bernilai positif di daerah x negatif <strong>dan</strong> bernilai<br />

negatif di daerah x positif. Hal ini menyebabkan nilai y 2 akan bertambah<br />

di daerah negatif <strong>dan</strong> akan berkurang di daerah positif. Jika a tidak<br />

terlalu negatif, kurva yang kita peroleh akan berbentuk seperti terlihat<br />

pada Gb.4.13.a.<br />

y 3 = y 1 + y 2<br />

2000<br />

y 1<br />

y 2<br />

0<br />

-10 0 15<br />

(a)<br />

-2000<br />

y 3 = y 1 + y 2<br />

y 2<br />

15<br />

y 1<br />

0<br />

-10 0<br />

(b)<br />

-2000<br />

Gb.4.13. <strong>Fungsi</strong> pangkat tiga y 3 = y 1 + y 2 dengan a negatif.<br />

Kurva berpotongan dengan sumbu-x di tiga tiga tempat. Akan tetapi<br />

perpotongan yang ke-tiga berada jauh di daerah x positif. Makin negatif a<br />

52 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


makin jauh letak titik perpotongan tersebut. Jika a terlalu negatif kurva<br />

berpotongan dengan sumbu-x di satu tempat, seperti terlihat pada<br />

Gb.4.13.b.<br />

CATATA: Sesungguhnya perpotongan kurva fungsi pangkat tiga<br />

dengan sumbu-x tidak semata-mata ditentukan oleh nilai koefisien<br />

a pada mononom pertama ax 3 . Bentuk <strong>dan</strong> posisi kurva fungsi<br />

kuadratnya, juga akan menentukan letak titik potong.<br />

4.4. Domain, Kekontinyuan, Simetri<br />

Peubah x pada semua fungsi polinom dapat mengambil nilai dari −∞<br />

sampai +∞. Nilai peubah y akan mengikuti nilai x. <strong>Fungsi</strong> polinom<br />

kontinyu dalam rentang x tersebut. Demikian pula halnya jika kita<br />

mempunyai fungsi yang merupakan hasilkali antara polinom dengan<br />

polinom, y = y 1 × y2<br />

.<br />

Kita telah melihat bahwa kurva mononom pangkat dua<br />

2<br />

y = kx simetris<br />

terhadap sumbu-y karena penggantian x dengan −x tidak mengubah<br />

fungsi ini. Hal ini juga akan berlaku untuk semua kurva mononom yang<br />

berpangkat genap. Kenyataan ini menimbulkan istilah simetri genap<br />

untuk fungsi-fungsi yang simetris terhadap sumbu-y; misalnya fungsi<br />

cosinus yang akan kita pelajari di bab lain.<br />

Kita juga telah melihat bahwa kurva mononom pangkat tiga<br />

3<br />

y = kx<br />

simetris terhadap titik asal [0,0]. Penggantian y dengan −y <strong>dan</strong><br />

penggantian x dengan −x tidak akan mengubah fungsi ini. Hal ini berlaku<br />

pula untuk semua kurva mononom berpangkat ganjil. Istilah simetri<br />

ganjil diberikan pada fungsi yang simetris terhadap titik asal [0,0],<br />

seperti fungsi sinus yang akan kita pelajari di Bab-6.<br />

Penjumlahan antara mononom berpangkat genap dengan mononom<br />

berpangkat ganjil tidak menghasilkan kurva yang memiliki sumbu<br />

simetri. Hal ini disebabkan karena kaidah untuk terjadinya simetri bagi<br />

mononom berpangkat genap tidak sama dengan kaidah yang diperlukan<br />

untuk terjadinya simetri pada kurva mononom berpangkat ganjil.<br />

Keadaan khusus terjadi pada mononom berpangkat satu yang juga<br />

merupakan mononom berpangkat ganjil. Kurva dari fungsi ini juga<br />

simetris terhadap titik asal [0,0]. Namun fungsi ini adalah fungsi linier<br />

dengan kurva yang berbentuk garis lurus, berbeda dengan kurva fungsi<br />

mononom pangkat tiga. Kelinieran ini menyebabkan penjumlahan<br />

53


dengan kurva mononom pangkat dua menghasilkan pergeseran kurva<br />

fungsi pangkat dua; kurva yang tergeser ini memiliki sumbu simetri<br />

yang sejajar dengan sumbu-y.<br />

Soal-Soal<br />

1. Tentukanlah koordinat titik puncak <strong>dan</strong> perpotongan dengan<br />

sumbu-y kurva fungsi-fungsi berikut ini.<br />

2<br />

y1<br />

= 4x<br />

;<br />

2<br />

y2<br />

= 5x<br />

− 7 ;<br />

2<br />

y3<br />

= 3x<br />

−12 ;<br />

2<br />

y4<br />

= −4x<br />

+ 8<br />

2. Dari soal nomer-1, tentukanlah koordinat titik perpotongan<br />

antara kurva-kurva fungsi berikut ini<br />

y<br />

1 <strong>dan</strong> y2<br />

; y2<br />

<strong>dan</strong> y3<br />

; y3<br />

<strong>dan</strong><br />

3. Tentukanlah koordinat titik puncak <strong>dan</strong> perpotongan dengan<br />

sumbu-y kurva fungsi-fungsi berikut ini.<br />

2<br />

2<br />

2<br />

1 2<br />

3 +<br />

y = 5x<br />

−10x<br />

; y = 3x<br />

−12x<br />

; y = −4x<br />

2x<br />

4. Dari soal nomer-3, selidikilah koordinat titik perpotongan<br />

kurva-kurva fungsi berikut.<br />

y<br />

1 <strong>dan</strong> y2<br />

; y2<br />

<strong>dan</strong> y3<br />

; y1<br />

<strong>dan</strong><br />

5. Tentukanlah koordinat titik puncak <strong>dan</strong> perpotongan dengan<br />

sumbu-y kurva fungsi-fungsi berikut ini.<br />

2<br />

2<br />

y 1 = 5x<br />

−10x<br />

− 7 ; y2<br />

= 3x<br />

−12x<br />

+ 2 ; y3<br />

= −4x<br />

+ 2x<br />

+ 8<br />

6. Dari soal nomer-5, selidikilah koordinat titik perpotongan<br />

kurva-kurva fungsi berikut.<br />

y<br />

1 <strong>dan</strong> y2<br />

; y2<br />

<strong>dan</strong> y3<br />

; y1<br />

<strong>dan</strong><br />

y<br />

y<br />

3<br />

4<br />

y<br />

3<br />

2<br />

54 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 5<br />

Bangun Geometris<br />

5.1. Persamaan Kurva<br />

Persamaan suatu kurva secara umum dapat kita tuliskan sebagai<br />

F ( x,<br />

y)<br />

= 0<br />

(5.1)<br />

Persamaan ini menentukan tempat kedudukan titik-titik yang memenuhi<br />

persamaan tersebut. Jadi setiap titik pada kurva akan memenuhi<br />

persamaan <strong>dan</strong> setiap titik yang memenuhi persamaan harus pula terletak<br />

pada kurva.<br />

Berikut ini adalah karakteristik umum suatu kurva. Beberapa di<br />

antaranya telah kita pelajari di bab pertama.<br />

Simetri. Kurva suatu fungsi mungkin simetris terhadap garis atau titik<br />

tertentu<br />

a) jika fungsi tidak berubah apabila x kita ganti dengan −x maka<br />

kurva fungsi tersebut simetris terhadap sumbu-y;<br />

b) jika fungsi tidak berubah apabila x <strong>dan</strong> y dipertukarkan, kurva<br />

funsi tersebut simetris terhadap garis-bagi kuadran I <strong>dan</strong> III.<br />

c) jika fungsi tidak berubah apabila y diganti dengan −y, kurva<br />

funsi tersebut simetris terhadap sumbu-x.<br />

d) jika fungsi tidak berubah jika x <strong>dan</strong> y diganti dengan −x <strong>dan</strong> −y,<br />

kurva fungsi tersebut simetris terhadap titik-asal [0,0].<br />

ilai Peubah. Dalam melihat bentuk-bentuk geometris hanya nilai-nyata<br />

dari y <strong>dan</strong> x yang kita perhatikan. Apabila dalam suatu persamaan<br />

terdapat pangkat genap suatu peubah maka akan terlibat suatu nilai yang<br />

berasal dari akar pangkat dua (pangkat genap) dari peubah tersebut.<br />

Dalam keadaan demikian kita anggap bahwa bilangan negatif tidak<br />

memiliki akar, karena kita belum membahas bilangan kompleks. Hal ini<br />

telah dikemukakan di bab pertama dalam sub-bab pembatasan<br />

pembahasan.<br />

2 2<br />

Contoh: y + x = 1. Jika kita cari nilai y kita dapatkan<br />

y = ±<br />

1−<br />

x<br />

2<br />

55


Apabila nilai mutlak x lebih besar dari 1, maka nilai bilangan di<br />

bawah tanda akar akan negatif. Dalam hal demikian ini kita<br />

membatasi x hanya pada rentang −1 ≤ x ≤ 1. Karena kurva ini<br />

simetris terhadap garis y = x, maka ia memiliki nilai juga terbatas<br />

pada rentang −1≤<br />

y ≤1<br />

.<br />

Titik Potong Dengan Sumbu Koordinat. Koordinat titik potong dengan<br />

sumbu-x dapat diperoleh dengan memberi nilai y = 0, se<strong>dan</strong>gkan<br />

koordinat titik potong dengan sumbu-y diperoleh dengan memberi nilai x<br />

= 0.<br />

2 2<br />

Contoh: y + x = 1 . Titik potong dengan sumbu-x adalah P[1,0]<br />

<strong>dan</strong> Q[−1,0]. Titik potong dengan sumbu-y adalah R[0,1] <strong>dan</strong><br />

S[0,−1].<br />

Contoh: xy = 1. Dengan memberi nilai x = 0 kita tidak akan<br />

mendapatkan solusi untuk y. Demikian pula memberi y = 0 tidak<br />

akan memberi solusi untuk x. Kurva persamaan ini tidak<br />

memotong sumbu-x maupun sumbu-y.<br />

Asimptot. Suatu titik P[x,y] pada kurva yang bergerak sepanjang kurva<br />

menjauhi titik-asal mungkin akan semakin dekat dengan suatu garis<br />

tertentu, namun tidak akan menyentuhnya. Garis tersebut merupakan<br />

asimptot dari kurva.<br />

2<br />

2<br />

Contoh: y ( x − x)<br />

= x + 10 .<br />

2<br />

Persamaan ini memberikan<br />

y = ±<br />

2<br />

x + 10<br />

x(<br />

x − 1)<br />

Apa yang berada di dalam tanda akar, tidak boleh negatif. Hal ini<br />

berarti jika x harus positif maka ia tidak boleh lebih kecil dari satu<br />

agar x(x−1) positif; jika x negatif maka x(x−1) akan tetap positif.<br />

Jadi haruslah x < 0 atau x > 1. Tidak ada bagian kurva yang berada<br />

antara x = 0 <strong>dan</strong> x = 1. Garis vertikal x = 0 <strong>dan</strong> x = 1 adalah<br />

asimptot dari kurva. Lihat Gb.5.1.<br />

56 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


4<br />

y<br />

0<br />

-4 0 4<br />

Soal-Soal:<br />

-4<br />

Gb.5.1. Garis asimptot (ditunjukkan oleh garis patah-patah).<br />

Persamaan kurva ini juga bisa dituliskan sebagai<br />

2<br />

2<br />

2 x + 10 1 + 10 / x<br />

y = =<br />

2<br />

x − x 1 − 1/ x<br />

Jika x → ±∞ maka y 2 = 1, <strong>dan</strong> y = ±1. Garis mendatar y = 1 <strong>dan</strong> y<br />

= −1 juga merupakan asimptot dari kurva.<br />

Tentukan sumbu simetri, titik-titik potong dengan sumbu<br />

koordinat, <strong>dan</strong> garis asimptot kurva-kurva dari fungsi berikut:<br />

1<br />

y = x + ; y = x 2 + 1 ;<br />

x<br />

y 1<br />

=<br />

x<br />

2 + 1<br />

;<br />

y = x 2 −1;<br />

y 1<br />

=<br />

x<br />

2 −1<br />

.<br />

5.2. Jarak Antara Dua Titik<br />

Jika koordinat dua titik diketahui, misalnya P[x p ,y p ) <strong>dan</strong> Q[x q ,y q ], maka<br />

jarak antara keduanya adalah<br />

PQ<br />

2<br />

2<br />

= ( x p − xq<br />

) + ( y p − yq)<br />

(5.2)<br />

Formula ini sangat bermanfaat jika kita hendak mencari tempat<br />

kedudukan titik yang berjarak tertentu dari suatu titik lain. Kita akan<br />

melihatnya pada ulasan bentuk-bentuk geometris berikut ini.<br />

57


Soal-Soal:<br />

1). Diketahui dua titik P(-2,1) <strong>dan</strong> Q(2,-3). Dengan menggunakan<br />

persamaan persamaan (5.2) tentukan tempat kedudukan titik-titik<br />

yang berjarak sama terhadap P <strong>dan</strong> Q.<br />

2). Diketahui dua titik P(-1,0) <strong>dan</strong> Q(2,0). Dengan menggunakan<br />

persamaan persamaan (5.2) tentukan tempat kedudukan R yang<br />

sedemikian rupa sehingga RP = 2× RQ.<br />

5.3. Parabola<br />

Kita telah melihat bentuk kurva<br />

2<br />

y = kx<br />

(5.3)<br />

yang simetris terhadap sumbu-y. Bentuk kurva ini disebut parabola.<br />

Dalam persamaan ini, ada suatu nilai k sedemikian rupa sehingga jarak<br />

antara satu titik P yang terletak pada kurva dengan titik Q yang terletak<br />

di sumbu-y sama dengan jarak antara titik P <strong>dan</strong> suatu garis tertentu,<br />

seperti diperlihatkan pada Gb.5.2. Titik Q disebut titik fokus parabola,<br />

<strong>dan</strong> garis tertentu y = −p disebut garis direktriks <strong>dan</strong> titik puncak<br />

parabola berada di tengah antara titik fokus <strong>dan</strong> direktriknya.<br />

y<br />

y=kx 2<br />

Q[0,p]<br />

P[x,y]<br />

[0,0]<br />

x<br />

R[x,−p]<br />

Gb.5.2. Titik fokus <strong>dan</strong> garis direktriks.<br />

Hubungan antara k <strong>dan</strong> p dapat dicari sebagai berikut.<br />

2 2<br />

2 2 2<br />

2 2<br />

PQ = (PR − p)<br />

+ x = ( y − p)<br />

+ x = y − 2 py + p + x<br />

PR = (y + p)<br />

58 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Karena PQ = PR, maka<br />

2<br />

2 2<br />

y − 2 py + p + x = y + p<br />

2<br />

2 2 2<br />

2<br />

y − 2 py + p + x = y + 2 py + p<br />

+<br />

2<br />

x<br />

y = yang berarti<br />

4 p<br />

2<br />

x = + 4 py<br />

atau<br />

k = 1<br />

4 p<br />

atau<br />

1<br />

p =<br />

4k<br />

Dengan demikian persamaan parabola dapat kita tuliskan<br />

dengan direktiks y = −p <strong>dan</strong> titik fokus Q[0,p].<br />

1 2<br />

y = x<br />

(5.4)<br />

4 p<br />

Contoh: Persamaan parabola<br />

2<br />

y = 0,5x<br />

dapat kita tuliskan<br />

Soal-Soal:<br />

1 2 1 2<br />

y = x = x<br />

2 4 × 0,5<br />

<strong>dan</strong> parabola ini memiliki direktrik y = − p = −0, 5 <strong>dan</strong><br />

titik fokus di Q[0,(0,5)].<br />

Tentukan titik fokus <strong>dan</strong> direktrik parabola-parabola berikut:<br />

5.4. Lingkaran<br />

2<br />

2<br />

y + 4x<br />

= 8 ; x − 8y<br />

= 4 ;<br />

2<br />

2<br />

x + 2x<br />

− 4y<br />

− 3 = 0 ; y + x + y = 0<br />

Lingkaran merupakan tempat kedudukan titik-titik yang berjarak sama<br />

terhadap satu titik tertentu. Titik tertentu itu disebut titik pusat lingkaran.<br />

Jika titik tertentu itu adalah titik-asal [0,0] maka jarak suatu titik X[x,y]<br />

ke titik-asal adalah<br />

XO =<br />

2 2<br />

x + y<br />

59


Jika jarak ini tertentu, r misalnya, maka<br />

x 2 + y<br />

2 = r<br />

Oleh karena itu persamaan lingkaran dengan titik pusat [0,0] adalah<br />

dengan r adalah jari-jari lingkaran.<br />

2 2 2<br />

x + y = r<br />

(5.5)<br />

Jika titik pusat lingkaran tidak berimpit dengan titik asal, kita dapat<br />

melihatnya sebagai lingkaran tergeser. Lingkaran dengan titik pusat di<br />

P[a,b] mempunyai persamaan<br />

2 2 2<br />

( x − a)<br />

+ ( y − b)<br />

= r<br />

(5.6)<br />

Gb.5.3. memperlihatkan bentuk lingkaran dengan jari-jari 1 yang disebut<br />

2 2<br />

lingkaran-satuan, berpusat di [0,0] dengan persamaan x + y = 1 .<br />

y 1<br />

y<br />

1<br />

0,5<br />

-1 [0,0]<br />

0,5<br />

1 x<br />

-1<br />

Gb.5.3. Lingkaran<br />

Pada Gb.5.3 ini pula diperlihatkan lingkaran dengan r 2 = 0,4 berpusat di<br />

[(0,5),(0,5)] yang berarti lingkaran tergeser sejajar sumbu-x sebesar 0,5<br />

skala <strong>dan</strong> sejajar sumbu-y sebesar 0,5 skala, dengan persamaan<br />

2<br />

2<br />

( x − 0,5) + ( y − 0,5) = 0,4<br />

60 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Soal-Soal:<br />

Tentukan persamaan <strong>dan</strong> cari titik-titik potong dengan sumbu-sumbu<br />

koordinat lingkaran berikut<br />

5.5. Elips<br />

1) Titik pusat di P(1,2), jari-jari 4.<br />

2) Titik pusat di Q(-2,1), jari-jari 5.<br />

3) Titik pusat R(2,3) jari-jari 3.<br />

4) Titik pusat S(3,2) jari-jari 2.<br />

Elips adalah tempat kedudukan titik yang jumlah jarak terhadap dua titik<br />

tertentu adalah konstan. Kedua<br />

titik tertentu tersebut merupakan<br />

X[x,y]<br />

dua titik fokus dari elips.<br />

Perhatikan Gb.5.4. Misalkan<br />

diketahui posisi dua titik P[−a,0]<br />

<strong>dan</strong> Q(a,0]. Jarak antara titik<br />

sembarang X[x,y] dengan kedua<br />

titik tersebut masing-masing<br />

adalah<br />

2 2<br />

XP = ( x + c)<br />

+ y <strong>dan</strong><br />

P[-c, 0] Q[c, 0] x<br />

Gb.5.4. Elips<br />

XQ =<br />

2 2<br />

( x − c)<br />

+ y<br />

Jika jumlah antara keduanya adalah konstan, misalkan 2a, maka<br />

2 2<br />

2 2<br />

( x + c)<br />

+ y + ( x − c)<br />

+ y = 2a<br />

Jika suku kedua ruas kiri dipindahkan ke ruas kanan <strong>dan</strong> kedua ruas di<br />

kuadratkan, akan kita peroleh<br />

2 2 2<br />

2 2 2 2<br />

( x + c)<br />

+ y = 4a<br />

− 4a<br />

( x − c)<br />

+ y + ( x − c)<br />

+ y<br />

yang dapat disederhanakan menjadi<br />

c<br />

2 2<br />

a − x = ( x − c)<br />

+ y<br />

a<br />

61


Jika kedua ruas di kuadratkan kita dapatkan<br />

2<br />

2 c 2 2 2 2<br />

a − 2cx<br />

+ x = x − 2cx<br />

+ c + y<br />

2<br />

a<br />

yang dapat disederhanakan menjadi<br />

2 2<br />

x y<br />

+ = 1<br />

2 2 2<br />

a a − c<br />

Kita perhatikan penyebut pada suku ke-dua ruas kiri persamaan terakhir<br />

ini, dengan melihat pada Gb.5.4. Pada segitiga XPQ, jumlah dua sisi<br />

selalu lebih besar dari sisi yang ketiga, (XP + XQ) > PQ atau 2a > 2c,<br />

sehingga penyebut suku ke-2 di ruas kiri selalu positif <strong>dan</strong> memiliki akar<br />

nyata; misalkan<br />

persamaan elips<br />

a 2 − c<br />

2 = b . Dengan demikian kita mendapatkan<br />

2 2<br />

x y<br />

+ = 1<br />

2 b<br />

2<br />

a<br />

(5.7)<br />

Titik-titik potong dengan sumbu-x adalah [±a,0] <strong>dan</strong> titik-titik potong<br />

dengan sumbu-y adalah [0,±b]. Jadi suatu elips dilingkupi oleh satu segi<br />

panjang 2a×2b; 2a adalah sumbu panjang elips <strong>dan</strong> 2b adalah sumbu<br />

pendeknya. (Perhatikan bahwa jika a = b yang berarti c = 0, kita<br />

mendapatkan persamaan lingkaran).<br />

Apabila titik fokus elips tidak terletak pada sumbu-x, kita bisa<br />

melihatnya sebagai elips tergeser. Persamaan elips tergeser adalah<br />

2<br />

2<br />

( x − p)<br />

( y − q)<br />

+ = 1<br />

2<br />

2<br />

a b<br />

(5.8)<br />

dengan p adalah pergeseran sejajar sumbu-x <strong>dan</strong> q adalah pergeseran<br />

sejajar sumbu-y. Gb.5.5. adalah elips dengan persamaan<br />

2<br />

2<br />

( x − 0,5) ( y − 0,25)<br />

+<br />

1<br />

2<br />

0,5<br />

= 1<br />

62 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


1<br />

y<br />

0<br />

-1 0 1 2 x<br />

Soal-Soal:<br />

-1<br />

Gb.5.5. Elips tergeser.<br />

Tentukan titik-titk fokus <strong>dan</strong> gambarkan (skets) elips berikut:<br />

5.6. Hiperbola<br />

2 2<br />

1) 9x + 4x<br />

= 36 ;<br />

2 2<br />

2) 4x + 9y<br />

= 144 ;<br />

2 2<br />

3) 4x + y = 1;<br />

2<br />

2<br />

4) 16( x − 2) + 9( y + 3) = 144<br />

Hiperbola merupakan tempat kedudukan titik-titik yang selisih jaraknya<br />

antara dua titik tertentu adalah konstan. Penurunan persamaan hiperbola<br />

dapat dilakukan seperti halnya dengan penurunan persamaan elips di<br />

atas.<br />

Perhatikan Gb.5.6. Misalkan diketahui posisi dua titik P[−c,0] <strong>dan</strong><br />

Q(c,0].<br />

Jarak antara titik sembarang X[x,y] dengan kedua titik tersebut masingmasing<br />

adalah<br />

2 2<br />

XP = ( x + c)<br />

+ y <strong>dan</strong><br />

XQ =<br />

2 2<br />

( x − c)<br />

+ y<br />

63


y<br />

X(x,y)<br />

P[-c,0]<br />

Q[c,0]<br />

x<br />

Gb.5.6. Posisi titik X terhadap P[-c,0] <strong>dan</strong> Q[c,0].<br />

Jika selisih antara XP <strong>dan</strong> XQ harus tetap, misalnya 2a, maka<br />

2<br />

2<br />

( x + c)<br />

+ y − ( x − c)<br />

+ y = 2a<br />

Suku kedua ruas kiri dipindahkan ke ruas kanan <strong>dan</strong> kedua ruas di<br />

kuadratkan, kemudian dilakukan penyederhanaan<br />

( c / a)<br />

x − a = ( x − c)<br />

+ y<br />

Jika kedua ruas dikuadratkan akan diperoleh<br />

x<br />

a<br />

2<br />

2<br />

−<br />

c<br />

2<br />

y<br />

2<br />

− a<br />

2<br />

2<br />

2<br />

= 1<br />

Kita lihat lagi Gb.5.6. Dalam segitiga PXQ, selisih (XP−XQ) = 2a selalu<br />

lebih kecil dari PQ = 2c. Jadi a < c sehingga penyebut pada suku kedua<br />

2 2 2<br />

ruas kiri selalu positif, misalkan c − a = b . Dengan demikian kita<br />

dapatkan persamaan<br />

x<br />

a<br />

2<br />

2<br />

−<br />

b<br />

y<br />

2<br />

2<br />

= 1<br />

Inilah persamaan hiperbola, dengan bentuk kurva seperti pada Gb.5.7.<br />

2<br />

2<br />

(5.9)<br />

64 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


y<br />

+∞<br />

X(x,y)<br />

-c -a a c<br />

x<br />

Gb.5.7. Kurva hiperbola<br />

Dengan memberi nilai y = 0, kita dapatkan titik potong hiperbola dengan<br />

sumbu-x yaitu [±a,0]. Dengan memberikan nilai x = 0, kita tidak<br />

memperoleh solusi untuk y. Kurva tidak memotong sumbu-y; tidak ada<br />

bagian kurva yang terletak antara x = −a <strong>dan</strong> x = a.<br />

Soal-Soal:<br />

Gambarkan (skets) hiperbola berikut:<br />

1) x 2 2<br />

− y = 1<br />

9 16<br />

; 2) y 2 2<br />

− x =<br />

9 16<br />

1 ;<br />

3) x 2 2<br />

− y = 1<br />

16 9<br />

; 4) x 2 2<br />

− y = −<br />

9 16<br />

1<br />

5.4. Kurva Berderajat Dua<br />

Parabola, lingkaran, elips, <strong>dan</strong> hiperbola adalah bentuk-bentuk khusus<br />

kurva berderajat dua, atau kurva pangkat dua. Bentuk umum persamaan<br />

berderajat dua adalah<br />

−∞<br />

2<br />

2<br />

Ax + Bxy + Cy + Dx + Ey + F = 0<br />

(5.10)<br />

Persamaan parabola adalah bentuk khusus dari (5.10) dengan<br />

B = C = D = F = 0;<br />

A = 1; E = −4<br />

p<br />

65


1 2<br />

sehingga diperoleh persamaan (5.4) y = x .<br />

4 p<br />

Lingkaran satuan adalah bentuk khusus dari (5.10) dengan<br />

B = D = E = 0 ; A = 1; C = 1; F = −1<br />

Bahkan persamaan garis luruspun merupakan keadaan khusus dari<br />

(5.10), di mana<br />

A = B = C = 0 ;<br />

D = −a;<br />

E = 1;<br />

F = −b<br />

yang memberikan persamaan garis lurus y = ax + b . Namun dalam<br />

kasus terakhir ini persamaan berderajat dua (5.10) berubah status menjadi<br />

persamaan berderajat satu.<br />

Bentuk Ax 2 <strong>dan</strong> Cy 2 adalah bentuk-bentuk berderajat dua yang telah<br />

sering kita temui pada persamaan kurva yang telah kita bahas. Namun<br />

bentuk Bxy, yang juga merupakan bentuk berderajat dua, belum pernah<br />

kita temui. Dalam sub-bab berikut ini hal tersebut akan kita lihat.<br />

5.5. Perputaran Sumbu Koordinat<br />

Dalam bangun geometris yang sudah kita lihat, mulai dari parabola<br />

sampai hiperbola, tidak satupun mengandung bentuk Bxy. Hal Ini<br />

sesungguhnya merupakan konsekuensi dari pemilihan koordinat. Dalam<br />

bangun hiperbola misalnya, kita telah memilih titik-titik fokus P[−c,0]<br />

<strong>dan</strong> Q[c,0] sehingga hiperbola simetris terhadap sumbu-x <strong>dan</strong> memotong<br />

sumbu-x di x = ±a. Sekarang akan kita coba memilih titik fokus di<br />

P[−a,−a] <strong>dan</strong> Q[a,a] seperti pada Gb.5.8.<br />

y<br />

P[-a,-a]<br />

Q[a,a]<br />

x<br />

Gb.5.8. Titik fokus di P[-a.-a] <strong>dan</strong> Q[a,a]<br />

Selisih jarak XP <strong>dan</strong> XQ yang tetap kita misalkan 2a<br />

2<br />

2<br />

( x + a)<br />

+ ( y + a)<br />

− ( x − a)<br />

+ ( y − a)<br />

= 2a<br />

66 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

2<br />

2


Jika suku kedua ruas kiri dipindahkan ke ruas kanan kemudian kedua<br />

ruas dikuadratkan <strong>dan</strong> dilakukan penyederhanaan, akan kita peroleh<br />

x + y − a =<br />

2 2<br />

( x − a)<br />

+ ( y − a)<br />

Jika ruas kanan <strong>dan</strong> kiri dikuadratkan lagi kita dapatkan<br />

2<br />

2xy = a<br />

(5.11)<br />

Mempetukarkan x dengan y tidak mengubah persamaan ini. Kurva<br />

persamaan ini simetris terhadap garis y = x, yaitu garis bagi kuadran II<br />

<strong>dan</strong> III seperti terlihat pada Gb.5.9.<br />

5<br />

0<br />

-5 0<br />

-5<br />

Gb.5.9. Kurva 2xy = a 2 .<br />

Kalau kita bandingkan kurva Gb.5.9 ini dengan kurva hiperbola<br />

sebelumnya pada Gb.5.7. terlihat bahwa kurva pada Gb.5.9. memiliki<br />

sumbu simetri yang terputar 45 o berlawanan dengan arah perputaran<br />

jarum jam, dibandingkan dengan sumbu simetri Gb.5.7 yaitu sumbu-x.<br />

Apakah memang demikian? Kita akan lihat secara umum mengenai<br />

perputaran sumbu ini. Perhatikan Gb.5.10.<br />

y’<br />

y<br />

P[x,y]<br />

P[x’,y’]<br />

x’<br />

O<br />

β<br />

α<br />

Q<br />

Q’<br />

Gb.5.10. Perputaran sumbu.<br />

x<br />

67


Sumbu x-y diputar sebesar α menjadi sumbu x’-y’. Titik P dapat<br />

dinyatakan dengan dua koordinat P[x,y] dengan referensi sumbu x-y, atau<br />

P[x’,y’] dengan referensi sumbu x’-y’. Dari Gb.5.10. kita dapatkan<br />

Sementara itu<br />

x = OQ = OPcos( α + β)<br />

y = PQ = OPsin( α + β)<br />

x'<br />

= OQ' = OPcosβ<br />

y'<br />

= PQ' = OPsinβ<br />

Dengan kesamaan (lihat fungsi trigonometri di Bab-6)<br />

cos( α + β)<br />

= cosαcosβ − sin αsinβ<br />

sin( α + β)<br />

= sin αcosβ + cosαsinβ<br />

Dengan (5.13) <strong>dan</strong> (5.14), maka (5.12) menjadi<br />

x = x'cosα − y'sin<br />

α<br />

y = x'sin<br />

α + y'cosα<br />

Persamaan (5.15) inilah persamaan rotasi sumbu.<br />

(5.12)<br />

(5.13)<br />

(5.14)<br />

(5.15)<br />

Kita coba aplikasikan (5.15) pada (5.11) yang memiliki kurva pada<br />

Gb.5.10, di mana rotasi sumbu terjadi pada sudut 45 o sehingga<br />

cos α = sin α = 1/ 2 . Oleh karena itu kita peroleh<br />

x' −y'<br />

x' + y'<br />

x = <strong>dan</strong> y =<br />

2<br />

2<br />

Nilai x <strong>dan</strong> y ini kita masukkan ke (5.11) <strong>dan</strong> kita mendapatkan<br />

x'<br />

−y'<br />

x'<br />

+ y'<br />

2 2 2<br />

2 × = ( x')<br />

− ( y')<br />

= a<br />

2 2<br />

Bentuk persamaan ini sama dengan bentuk persamaan (5.9); pada (5.9)<br />

sumbu simetri adalah sumbu-x, se<strong>dan</strong>gkan di sini sumbu simetri adalah<br />

sumbu-x’ yaitu sumbu-x yang diputar 45 o .<br />

Dengan pembahasan mengenai perputaran sumbu ini, menjadi<br />

lengkaplah pergeseran kurva yang kita bahas. Pergeseran kurva sejajar<br />

sumbu-x <strong>dan</strong> sumbu-y yang telah kita bahas sebelumnya dapat pula kita<br />

pan<strong>dan</strong>g sebagai pergeseran atau translasi sumbu koordinat. Dengan<br />

demikian kita mengenal translasi <strong>dan</strong> rotasi sumbu koordinat, di mana<br />

sumbu-sumbu simetri dari suatu kurva tidak berimpit dengan sumbu<br />

koordinat, <strong>dan</strong> titik simetri tidak berimpit dengan titik asal [0,0].<br />

68 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 6<br />

<strong>Fungsi</strong> Trigonometri<br />

6.1. Peubah Bebas Bersatuan Derajat<br />

Berikut ini adalah fungsi-fungsi trigonometri dengan sudut θ sebagai<br />

peubah-bebas.<br />

y = sin θ;<br />

y<br />

y<br />

1<br />

3<br />

5<br />

y<br />

2<br />

= cosθ<br />

sin θ<br />

= tan θ = ;<br />

cos θ<br />

1<br />

= secθ = ;<br />

cosθ<br />

y<br />

y<br />

4<br />

6<br />

cosθ<br />

= cot θ =<br />

sin θ<br />

1<br />

= cscθ = .<br />

sin θ<br />

(6.1)<br />

Untuk menjelaskan fungsi trigonometri, kita gambarkan lingkaransatuan,<br />

yaitu lingkaran berjari-jari satu. Bentuk lingkaran ini<br />

diperlihatkan pada Gb.6.1. Kita menggunakan referensi arah positif<br />

berlawanan dengan arah jarum jam; artinya sudut θ makin besar jika jarijari<br />

r berputar berlawanan dengan arah perputaran jarum jam.<br />

y<br />

1<br />

O<br />

θ<br />

-1 [0,0] -θ Q 1 x<br />

r<br />

P<br />

-1<br />

P’<br />

Gb.6.1. Lingkaran berjari-jari 1.<br />

69


<strong>Fungsi</strong> sinus. Dengan membuat jari-jari r = OP = 1, maka<br />

PQ<br />

sin θ = = PQ<br />

(6.2)<br />

r<br />

PQ = 0 pada waktu θ = 0 o , <strong>dan</strong> membesar jika θ membesar sampai<br />

mencapai maksimum PQ = 1 pada waktu θ = 90 o . Kemudian PQ<br />

menurun lagi <strong>dan</strong> mencapai PQ = 0 pada waktu θ = 180 o . Sesudah itu PQ<br />

menjadi negatif (arah ke bawah) <strong>dan</strong> mencapai minimum PQ = −1 pada<br />

waktu θ = 270 o , kemudian meningkat lagi mencapai PQ = 0 pada waktu<br />

θ = 360 o . Setelah itu keadaan akan berulang, <strong>dan</strong> satu siklus berikutnya<br />

terjadi pada waktu θ = 720 o . Kejadian berulang lagi <strong>dan</strong> demikian<br />

seterusnya. Kejadian satu siklus kita sebut satu perioda. Secara singkat<br />

kita memperoleh<br />

o<br />

o<br />

o<br />

sin 0 = 0; sin 90 = 1; sin180 = 0;<br />

o<br />

o<br />

sin 270 = −1;<br />

sin 360 = 0<br />

<strong>Fungsi</strong> Cosinus. Karena telah ditetapkan r = 1, maka<br />

OQ<br />

cos θ = = OQ<br />

r<br />

70 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

(6.3)<br />

OQ = 1 pada waktu θ = 0, <strong>dan</strong> mengecil jika θ membesar sampai<br />

mencapai minimum OQ = 0 pada waktu θ = π/2. Kemudian OQ<br />

meningkat lagi tetapi negatif <strong>dan</strong> mencapai OQ = −1 pada waktu θ = π.<br />

Sesudah itu OQ mengecil <strong>dan</strong> tetap negatif <strong>dan</strong> mencapai minimum OQ<br />

= 0 pada waktu θ = 1,5π, kemudian meningkat lagi mencapai OQ = 1<br />

pada waktu θ = 2π. Setelah itu keadaan akan berulang, <strong>dan</strong> satu siklus<br />

berikutnya terjadi pada waktu θ = 4π. Kejadian berulang lagi <strong>dan</strong><br />

demikian seterusnya. Secara singkat<br />

o<br />

cos0 = 1;<br />

o<br />

cos270 = 0;<br />

o<br />

cos90 = 0;<br />

o<br />

cos360 = 1<br />

o<br />

cos180 = −1;<br />

Pada Gb.6.1, jika sin(θ) = PQ <strong>dan</strong> cos(θ) = OQ, se<strong>dan</strong>gkan dalil<br />

Pitagoras memberikan PQ 2 + OQ 2 = OP 2 =1, maka<br />

Dari Gb.6.1. dapat kita peroleh juga<br />

2 2<br />

sin ( θ ) + cos ( θ)<br />

= 1<br />

(6.4.a)


P′<br />

Q −PQ<br />

sin( −θ)<br />

= = = −sin<br />

θ<br />

r r<br />

OQ<br />

cos( −θ)<br />

= = cosθ<br />

r<br />

(6.4.b)<br />

(6.4.c)<br />

Pada segitiga siku-siku OPQ maupun OP’Q sisi tegak selalu lebih kecil<br />

dari sisi miring. Oleh karena itulah sinθ maupun cosθ akan bernilai<br />

antara −1 <strong>dan</strong> +1.<br />

<strong>Fungsi</strong> Tangent.<br />

PQ<br />

tan θ =<br />

(6.4.d)<br />

OQ<br />

P′<br />

Q −PQ<br />

tan( −θ)<br />

= = = − tan θ<br />

(6.4.e)<br />

OQ OQ<br />

Nilai tanθ akan menjadi 0 jika θ = 0 o , <strong>dan</strong> akan menuju +∞ jika θ menuju<br />

90 o karena pada waktu itu PQ juga ∞ <strong>dan</strong> tan(−θ) akan menuju −∞ pada<br />

waktu θ menuju −90 o . Jadi tanθ bernilai antara −∞ sampai +∞.<br />

Nilai tanθ = 1 bila θ = 45 o karena pada waktu itu PQ = OQ; tan(−θ) = −1<br />

jika θ = −45 o . Lihat pula kurva pada Gb.6.5.<br />

<strong>Fungsi</strong> Cotangent.<br />

OQ<br />

cot θ =<br />

(6.4.f)<br />

PQ<br />

OQ OQ<br />

cot( −θ)<br />

= = = −cot<br />

θ<br />

(6.4.g)<br />

P′<br />

Q − PQ<br />

Nilai cotθ akan menuju +∞ jika θ menuju 0 o karena PQ akan menuju 0<br />

walau OQ menuju 0; cotθ = 0 jika θ = 90 o karena OQ = 0.<br />

Sebaliknya cotθ akan menuju −∞ jika θ menuju −0 karena P’Q akan<br />

menuju −0; cotθ = 0 jika θ = −90 o karena P’Q menuju −∞. Lihat pula<br />

kurva Gb.6.6.<br />

71


<strong>Fungsi</strong> Secan <strong>dan</strong> Cosecan<br />

1 r<br />

secθ = =<br />

(6.4.h)<br />

cosθ<br />

OQ<br />

1 r<br />

cscθ = =<br />

(6.4.i)<br />

sin θ PQ<br />

Nilai secθ menuju ∞ jika θ menuju 90 o karena OQ menuju 0 <strong>dan</strong> secθ =<br />

1 pada waktu θ = 0 o karena pada waktu itu OQ = r atau cosθ = 1.<br />

Sementara itu cscθ akan menuju ∞ jika θ menuju 0 karena sinθ menuju<br />

0. Lihat pula Gb.6.7.<br />

Relasi-Relasi. Relasi-relasi yang lain dapat kita turunkan dengan<br />

mengunakan Gb.6.2., yaitu<br />

cosα<br />

y<br />

1<br />

sinα cosβ<br />

β<br />

sinα<br />

sinα sinβ<br />

α<br />

cosα sinβ<br />

β<br />

-1 [0,0] 1 x<br />

cosα cosβ<br />

-1<br />

Gb.6.2. Relasi-relasi<br />

sin( α + β)<br />

= sin αcosβ + cosαsinβ<br />

cos( α + β)<br />

= cosαcosβ − sin αsinβ<br />

(6.5)<br />

Karena<br />

sin( −β)<br />

= −sinβ<br />

<strong>dan</strong> cos( −β)<br />

= cosβ<br />

maka kita peroleh pula<br />

sin( α − β)<br />

= sin αcosβ − cosαsinβ<br />

cos( α − β)<br />

= cosαcosβ + sin αsinβ<br />

(6.6)<br />

72 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


6.2. Kurva <strong>Fungsi</strong> Trigonometri Dalam Koordinat x-y<br />

r<br />

θ<br />

s<br />

Bilangan-nyata dengan desimal yang tidak terbatas,<br />

π, digunakan untuk menyatakan besar sudut dengan<br />

satuan radian. Jumlah radian dalam sudut θ<br />

didefinisikan dengan persamaan<br />

θ =<br />

s , s = rθ<br />

(6.7)<br />

r<br />

Jika θ = 360 o maka s menjadi penuh satu keliling lingkaran, atau s = 2πr .<br />

Jadi jumlah radian dalam sudut 360 o adalah 2π. Dengan demikian maka<br />

ukuran sudut<br />

θ 1 = 180 o adalah π rad.<br />

θ 2 = 90 o adalah 0,5π<br />

rad.<br />

θ 3 = 1 o adalah ( π /180) rad. dst.<br />

<strong>Fungsi</strong> Sinus. Dengan menggunakan satuan radian, fungsi trigonometri<br />

akan kita gambarkan pada sistem koordinat x-y, yang kita ketahui bahwa<br />

sumbu-x adalah sumbu bilangan-nyata, termasuk π. Bentuk kurva fungsi<br />

sinus<br />

y = sin(x)<br />

(6.8)<br />

terlihat pada Gb.6.3. yang dibuat untuk nilai x dari −2π sampai +2π.<br />

<strong>Fungsi</strong> ini mencapai nilai maksimum +1 pada x = π/2 atau θ = 90 o ,<br />

mencapai nilai nol pada x = π atau θ = 180 o , mencapai minimum −1 (arah<br />

negatif) pada x = 1,5π atau θ = 270 o , kembali nol pada x = 2π atau θ =<br />

360 o ; inilah satu perioda.<br />

−2π<br />

1,5<br />

y<br />

1<br />

0,5<br />

0<br />

−π 0 π 2π<br />

-0,5<br />

-1<br />

-1,5<br />

Gb.6.3. Kurva fungsi sinus dalam dua perioda.<br />

x<br />

73


<strong>Fungsi</strong> Cosinus. Kurva fungsi cosinus<br />

y = cos(x)<br />

(6.9)<br />

terlihat pada Gb.6.4. <strong>Fungsi</strong> ini mencapai nilai maksimum +1 pada x = 0<br />

atau θ = 0 o , mencapai nilai nol pada x = π/2 atau θ = 90 o , mencapai<br />

minimum −1 (arah negatif) pada x = π atau θ = 180 o , kembali nol pada x<br />

= 1,5π atau θ = 270 o , <strong>dan</strong> ke nilai maksimum +1 lagi setelah satu<br />

perioda, 2π.<br />

−π<br />

1,5<br />

y<br />

1<br />

0,5<br />

-1,5<br />

Gb.6.4. Kurva fungsi cosinus.<br />

<strong>Fungsi</strong> sinus maupun fungsi cosinus adalah fungsi periodik dengan<br />

perioda sama sebesar 2π, dengan nilai maksimum <strong>dan</strong> minimum yang<br />

sama yaitu +1 <strong>dan</strong> −1. Perbedaan antara keduanya terlihat, yaitu<br />

sin( x)<br />

= −sin(<br />

−x)<br />

se<strong>dan</strong>gkan cos( x)<br />

= cos( −x)<br />

(6.10)<br />

<strong>Fungsi</strong> sinus simetris terhadap titik-asal [0,0], <strong>dan</strong> disebut memiliki<br />

simetri ganjil. <strong>Fungsi</strong> cosinus simetris terhadap sumbu-y <strong>dan</strong> disebut<br />

memiliki simetri genap.<br />

Dengan memperbandingkan Gb.6.3. <strong>dan</strong> Gb.6.4 kita lihat bahwa fungsi<br />

sinus dapat dipan<strong>dan</strong>g sebagai fungsi cosinus yang tergeser sejajar<br />

sumbu-x sebesar π/2. Oleh karena itu fungsi sinus dapat kita nyatakan<br />

dalam cosinus<br />

y = sin( x)<br />

= cos( x − π / 2)<br />

(6.11)<br />

<strong>Fungsi</strong> Tangent. Selanjutnya kita lihat fungsi<br />

-1<br />

perioda<br />

0<br />

0 π 2π x<br />

-0,5<br />

sin( x)<br />

y = tan( x)<br />

=<br />

(6.12)<br />

cos( x)<br />

74 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Karena cos(x) = 0 pada x = +π/2 <strong>dan</strong> −π/2, maka tan(x) bernilai tak<br />

hingga pada x = +π/2 <strong>dan</strong> −π/2.<br />

y<br />

3<br />

2<br />

1<br />

0<br />

-1,5π -π -0,5π 0<br />

-1<br />

0,5π π 1,5π<br />

-2<br />

-3<br />

Gb.6.5. Kurva y = tan(x)<br />

<strong>Fungsi</strong> Cotangent. <strong>Fungsi</strong> ini adalah kebalikan dari fungsi tangent.<br />

cos( x)<br />

1<br />

y = cot( x)<br />

= =<br />

(6.13)<br />

sin( x)<br />

tan( x)<br />

Karena sin(x) = 0 pada x = 0, maka cot(x) bernilai tak hingga pada x = 0.<br />

Lihat Gb.6.6.<br />

3<br />

2<br />

1<br />

0<br />

-1,5π -π -0,5π 0 0,5π π 1,5π<br />

-1<br />

-2<br />

-3<br />

Gb.6.6. Kurva y = cot (x)<br />

75


<strong>Fungsi</strong> Secan. <strong>Fungsi</strong> ini adalah kebalikan fungsi cosinus.<br />

1<br />

y = sec( x)<br />

=<br />

(6.14.a)<br />

cos( x)<br />

Kurva fungsi ini terlihat pada Gb.6.7.a. Perhatikan bahwa sec(x) bernilai<br />

1 pada x = 0 karena pada nilai x itu cos(x) juga bernilai 1.<br />

<strong>Fungsi</strong> Cosecan. <strong>Fungsi</strong> ini adalah kebalikan fungsi sinus.<br />

1<br />

y = csc( x)<br />

=<br />

(6.14.b)<br />

sin( x)<br />

Kurva fungsi ini terlihat pada Gb.6.7.b. csc(x) bernilai ∞ pada x = 0 kara<br />

pada nilai x ini sin(x) bernilai 0.<br />

3<br />

2<br />

1<br />

-1,5π -π<br />

0<br />

-0,5π 0 0,5π π 1,5π<br />

-1<br />

-2<br />

(a) y = sec(x)<br />

-3<br />

3<br />

2<br />

1<br />

-1,5π -π<br />

0<br />

-0,5π 0<br />

-1<br />

0,5π π 1,5π<br />

-2<br />

(b) y = csc(x)<br />

-3<br />

Gb.6.7. Kurva y = sec(x) <strong>dan</strong> y = csc(x)<br />

76 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Soal-Soal: Skets kurva fungsi-fungsi berikut:<br />

y = 2sin x ; y = 3sin 2x<br />

; y = 2cos3x<br />

;<br />

y = 3cos(2x<br />

+ π / 4) ; y = 2 tan( x / 3)<br />

6.3. <strong>Fungsi</strong> Trigonometri Inversi<br />

y = sin(x<br />

Sinus Inversi. Jika fungsi sinus kita tuliskan ) , maka fungsi<br />

sinus inversi dituliskan sebagai<br />

−1<br />

y = arcsin x atau y = sin x<br />

(6.15)<br />

Perhatikan bahwa sin −1 x bukan berarti 1/sinx, melainkan inversi sinus x<br />

yang bisa kita baca sebagai: y adalah sudut yang sinusnya sama dengan<br />

x.<br />

Karena fungsi sinus adalah periodik dari −∞ sampai +∞ maka fungsi<br />

y = sin −1 x tidaklah bernilai tunggal. Kurva fungsi ini terlihat pada<br />

Gb.6.8.a.<br />

Ia akan terlihat bernilai tunggal jika kita membatasi nilai y; kita hanya<br />

meninjau fungsi sinus inversi pada<br />

π π<br />

− ≤ y ≤ . Dengan pembatasan ini<br />

2 2<br />

maka kita hanya terlibat dengan nilai-nilai utama dari sin −1 x. Jadi nilai<br />

utama y = sin −1 x terletak pada<br />

π −1 π<br />

− ≤ sin x ≤ . Kurva fungsi<br />

2 2<br />

y = sin −1 x yang dibatasi ini terlihat pada Gb.6.8.b.<br />

Perhatikanlah bahwa pada x = 0, y = sin −1 x = 0 karena pada y = 0 sin(y) =<br />

0 = x. Pada x = 1, y = sin −1 x = π/2 karena sin(y) = sin(π/2) = 1 = x.<br />

Contoh:<br />

−<br />

y = sin 1 (1) = 0,5π<br />

;<br />

−<br />

y = sin 1 ( −1)<br />

= −0,5π<br />

−<br />

sin 1 π<br />

y = (0,5) = ;<br />

6<br />

−<br />

sin 1 π<br />

y = ( −0,5)<br />

= −<br />

6<br />

77


2π<br />

y<br />

π<br />

-1<br />

0<br />

0<br />

1<br />

x<br />

y<br />

0,5π<br />

0,25π<br />

−π<br />

−2π<br />

0<br />

-1 -0,5 0 0,5 1<br />

-0,25π<br />

-0,5π<br />

x<br />

a) b)<br />

Gb.6.8. Kurva y = sin −1 x<br />

Jika kita bandingkan Gb.6.8. (fungsi sinus inversi) dengan Gb.6.3.<br />

(fungsi sinus) terlihat bahwa jika sumbu-y pada Gb.6.8. kita gambarkan<br />

horizontal se<strong>dan</strong>gkan sumbu-x kita gambarkan vertikal, maka kita akan<br />

memperoleh bentuk kurva fungsi sinus pada Gb.6.3. pada rentang<br />

π π<br />

− ≤ y ≤ , yaitu rentang di mana kita membatasi nilai y pada fungsi<br />

2 2<br />

sinus inversi, atau rentang nilai utama fungsi sinus inversi.<br />

Cosinus Inversi. <strong>Fungsi</strong> cosinus inversi kita peroleh melalui hubungan<br />

−1<br />

π −1<br />

y = cos x = − sin x<br />

(6.16)<br />

2<br />

Hubungan ini berasal dari relasi segitiga siku-siku. Jika sudut lancip<br />

segitiga siku-siku adalah α <strong>dan</strong> β, maka β = π/ 2 − α <strong>dan</strong> sin α = cosβ<br />

.<br />

Oleh karena itu jika sin α = x maka cos β = x sehingga<br />

−1<br />

cos x<br />

= β = π<br />

−1<br />

/ 2 − α = π / 2 − sin x<br />

78 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Karena dengan pembatasan<br />

π π<br />

− ≤ y ≤ pada fungsi sinus inversi<br />

2 2<br />

memberikan<br />

π −1 π<br />

1<br />

− ≤ sin x ≤ maka nilai-nilai utama dari cos − x akan<br />

2 2<br />

terletak pada ≤<br />

− 1<br />

0 cos x ≤ π . Gb.6.9.b. memperlihatkan kurva fungsi<br />

cosinus inversi pada nilai utama.<br />

Perhatikan bahwa jika sumbu-x digambar vertikal se<strong>dan</strong>g sumbu-y<br />

digambar horizontal, kita dapatkan fungsi cosinus seperti pada Gb.6.4.<br />

dalam rentang 0 ≤ x ≤ π .<br />

y<br />

-1<br />

π<br />

0<br />

0<br />

1<br />

x<br />

y<br />

1π<br />

0,75π<br />

0,5π<br />

−π<br />

0,25π<br />

a) b)<br />

Gb.6.9. Kurva y = cos −1 x<br />

Tangent Inversi. <strong>Fungsi</strong> tangent inversi adalah<br />

0<br />

-1 -0,5 0 0,5 1<br />

y = tan −1 x<br />

(6.17)<br />

π<br />

dengan nilai utama<br />

1 π<br />

− < tan<br />

− x <<br />

2<br />

2<br />

Untuk fungsi ini, nilai y = ±(π / 2)<br />

tidak kita masukkan pada<br />

pembatasan untuk y karena nilai tangent akan menjadi tak hingga pada<br />

nilai y tersebut. Gb.6.10.a. memperlihatkan kurva y = tan −1 x lengkap<br />

se<strong>dan</strong>gkan Gb.6.10.b. dibatasi pada nilai − 0,5π < y < 0. 5π<br />

.<br />

x<br />

79


1,5π<br />

y<br />

π<br />

0,5π<br />

-3 -2<br />

0<br />

-1 0 1 2 3<br />

-0,5π<br />

-π<br />

x<br />

0,5π<br />

y<br />

0,25π<br />

0<br />

-10 -5 0 5 x 10<br />

-0,25π<br />

-1,5π<br />

a) b)<br />

Gb.6.10. Kurva<br />

y = tan −1 x<br />

Jika kita mempertukarkan posisi sumbu-x <strong>dan</strong> sumbu-y pada Gb.6.10.b<br />

ini, kita akan memperoleh kurva pada Gb.6.5. yaitu kurva fungsi tangent,<br />

dalam rentang<br />

π −1 π<br />

− < tan x <<br />

2 2<br />

Inilah batas nilai-nilai utama fungsi tangent inversi.<br />

Cotangent inversi. <strong>Fungsi</strong> ini diperoleh melalui hubungan<br />

−1<br />

π −1<br />

y = cot x = − tan x<br />

(6.18)<br />

2<br />

dengan nilai utama <<br />

− 1<br />

0 cot x < π<br />

0 <strong>dan</strong> π tidak masuk dalam pembatasan y karena pada nilai tersebut y<br />

menjadi tak hingga.<br />

Hubungan (6.18) diperoleh dari segitiga siku-siku. Jika sudut lancip<br />

segitiga siku-siku adalah α <strong>dan</strong> β, maka β = π/ 2 − α <strong>dan</strong> tan α = cotβ<br />

.<br />

Oleh karena itu jika tan α = x maka cot β = x sehingga<br />

−1<br />

cot x<br />

= β = π<br />

-0,5π<br />

−1<br />

/ 2 − α = π / 2 − tan x<br />

Kurva fungsi cotangent inversi terlihat pada Gb.6.11.<br />

80 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


1π<br />

y<br />

0,5π<br />

0<br />

-10 -5 0 5 x 10<br />

Gb.6.11. Kurva<br />

y<br />

= cot −1<br />

Pertukaran posisi sumbu-x <strong>dan</strong> sumbu-y Gb.6.11. ini akan memberikan<br />

bentuk kurva fungsi cotangent pada Gb.6.6.<br />

<strong>Fungsi</strong> Secan Inversi. Selanjutnya kita memperoleh fungsi secan inversi<br />

x<br />

1<br />

y = sec<br />

−1 x = cos<br />

−1<br />

(6.19)<br />

x<br />

dengan nilai utama<br />

π<br />

− 1<br />

0 ≤ sec x ≤ π .<br />

0,75π<br />

0,5π<br />

0,25<br />

0<br />

-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4<br />

Gb.6.12. Kurva<br />

y<br />

= sec −1<br />

x<br />

<strong>Fungsi</strong> Cosecan Inversi.<br />

1<br />

csc<br />

−1 x = sin<br />

−1<br />

(6.20)<br />

x<br />

dengan nilai utama<br />

π −1 π<br />

− ≤ csc x ≤<br />

2 2<br />

81


Pertukaran posisi sumbu-x <strong>dan</strong> sumbu-y pada gambar kurva kedua fungsi<br />

terakhir ini juga akan memberikan bentuk kurva fungsi non-konversinya.<br />

0,5π<br />

y<br />

0,25π<br />

0<br />

-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 x 4<br />

-0,25π<br />

-0,5π<br />

Gb.6.12. Kurva<br />

y = csc −1 x<br />

Hubungan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> Inversi. Hubungan antara fungsi inversi<br />

dengan fungsi-fungsi non-inversi dapat kita cari dengan menggunakan<br />

gambar segitiga siku-siku.<br />

1). Dari fungsi y = sin −1 x , yaitu sudut y yang sinus-nya adalah x<br />

dapat kita gambarkan segitiga siku-siku dengan sisi miring sama<br />

dengan 1 seperti terlihat di bawah ini.<br />

y<br />

1<br />

x<br />

Dari gambar ini selain fungsi<br />

dapat peroleh<br />

cos<br />

2<br />

y = − x ,<br />

1<br />

2<br />

1 − x<br />

y = sin −1 x <strong>dan</strong> sin y = x , kita<br />

x<br />

y = , dst.<br />

2<br />

− x<br />

82 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

tan<br />

2). Dari fungsi cosinus inversi y = cos −1 x dapat kita gambarkan<br />

segitiga siku-siku seperti di bawah ini.<br />

1


1 2<br />

1 x −<br />

y<br />

x<br />

Selain<br />

cos y = x dari gambar ini kita dapatkan<br />

sin<br />

2<br />

y = − x ,<br />

1<br />

2<br />

1 − x<br />

tan y = , dst.<br />

x<br />

3). Dari fungsi y = tan −1 x , kita gambarkan segitiga seperti di<br />

bawah ini.<br />

Selain<br />

tan y =<br />

sin<br />

x , kita peroleh<br />

x<br />

y = ,<br />

2<br />

+ x<br />

1<br />

2<br />

1 + x<br />

y<br />

1<br />

cos<br />

y = , dst<br />

2<br />

+ x<br />

1<br />

x<br />

1<br />

4). Dari fungsi y = sec −1 x kita gambarkan<br />

y<br />

x<br />

x 2 − 1<br />

1<br />

Dari gambar ini kita peroleh<br />

tan<br />

2<br />

y = − x ,<br />

1<br />

x<br />

2 −1<br />

sin y = , dst.<br />

x<br />

83


Soal-Soal:<br />

1) Dari fungsi y = cot −1 x tentukan sin y <strong>dan</strong> cos y<br />

2) Dari fungsi y = csc −1 x tentukan tan y <strong>dan</strong> cos y<br />

84 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 7<br />

Gabungan <strong>Fungsi</strong> Sinus<br />

7.1. <strong>Fungsi</strong> Sinus Dan Cosinus<br />

Banyak peristiwa terjadi secara siklis sinusoidal, seperti misalnya<br />

gelombang cahaya, gelombang radio pembawa, gelombang tegangan<br />

listrik sistem tenaga, dsb. Peristiwa-peristiwa itu merupakan fungsi<br />

waktu, sehingga kita akan melihatnya dengan menggunakan waktu<br />

sebagai peubah bebas, dengan simbol t, satuan detik.<br />

Dalam peristiwa sinusoidal, jumlah siklus yang terjadi setiap detik<br />

disebut frekuensi siklus, dengan simbol f , dengan satuan Hertz (1 Hz = 1<br />

siklus per detik). Jadi jika fungsi sinus memiliki perioda T 0 maka<br />

1<br />

f 0 = (7.1)<br />

T0<br />

Sebagaimana dikemukakan di bab sebelumnya, kita menggunakan<br />

jumlah radian untuk menyatakan sudut. Karena satu siklus perubahan<br />

sudut bersesuaian dengan perubahan sebesar 2π radian, maka f siklus per<br />

detik bersesuaian dengan 2πf radian per detik. Jadi di samping frekuensi<br />

siklus f kita memiliki frekuensi sudut dengan simbol ω, dengan satuan<br />

radian per detik. Relasi antara frekuensi siklus (f) dengan frekuensi sudut<br />

(ω), <strong>dan</strong> juga dengan perioda (T 0 ), adalah<br />

2π<br />

ω = 2πf0<br />

=<br />

(7.2)<br />

T0<br />

Suatu fungsi cosinus yang memiliki amplitudo (nilai puncak) A<br />

dituliskan sebagai<br />

⎛ 2πt<br />

⎞<br />

y = Acosωt<br />

= Acos⎜<br />

⎟<br />

(7.3)<br />

⎝ T0<br />

⎠<br />

Catatan: Sebelum kita lanjutkan pembahasan kita, ada sedikit catatan<br />

yang perlu dicermati. Di bab sebelum ini kita menyatakan fungsi<br />

sinus y = sin(x)<br />

atau fungsi cosinus y = cos(x)<br />

dengan x sebagai<br />

peubah bebas dengan satuan radian. Pada (7.3) kita menyatakan<br />

fungsi cosinus y = cos ωt<br />

dengan t sebagai peubah bebas dengan<br />

satuan detik. Faktor ω-lah yang membuat satuan detik menjadi<br />

radian; ω disebut frekuensi susut, satuan rad/detik.<br />

85


Gb.7.1. memperlihatkan kurva fungsi cosinus. Jika fungsi cosinus ini kita<br />

geser ke arah positif sebesar ¼ perioda kita akan mendapatkan fungsi<br />

sinus. Gb.7.2.<br />

⎛ π ⎞<br />

⎛ 2πt<br />

⎞<br />

y = Acos⎜<br />

ωt<br />

− ⎟ = Asin<br />

ωt<br />

= Asin⎜<br />

⎟<br />

⎝ 2 ⎠<br />

(7.4)<br />

⎝ T0<br />

⎠<br />

y<br />

A<br />

T 0<br />

0<br />

0 t<br />

-A<br />

Gb.7.1. <strong>Fungsi</strong> cosinus<br />

y<br />

⎛ 2πt<br />

⎞<br />

y = Acosωt<br />

= Acos⎜<br />

⎟<br />

⎝ T0<br />

⎠<br />

A<br />

T 0<br />

0<br />

0 t<br />

-A<br />

Gb.7.2. <strong>Fungsi</strong> sinus<br />

⎛ 2πt<br />

⎞ ⎛ π ⎞<br />

y = Asin<br />

ωt<br />

= Asin⎜<br />

⎟<br />

= Acos⎜ωt<br />

− ⎟<br />

⎝ T0<br />

⎠ ⎝ 2 ⎠<br />

Pergeseran fungsi cosinus sebesar T s diperlihatkan pada Gb.7.3.<br />

Persamaan kurva cosinus tergeser ini adalah<br />

y = Acosω<br />

⎛ 2πt<br />

( t − T ) = Acos⎜<br />

− s<br />

s<br />

T ⎟ 0 T0<br />

⎠<br />

⎝<br />

2πT<br />

⎞<br />

86 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


y<br />

A<br />

T 0<br />

0<br />

0 T s<br />

t<br />

-A<br />

Gb.7.3. <strong>Fungsi</strong> cosinus tergeser<br />

Kita perhatikan bahwa puncak pertama fungsi cosinus menunjukkan<br />

pergeseran. Pada Gb.7.1. pergeseran adalah nol. Pada Gb.7.3. pergeseran<br />

adalah T s . Pada Gb.7.2. pergeseran adalah π/2 yang kemudian menjadi<br />

kurva fungsi sinus. Jadi akan sangat mudah menuliskan persamaan suatu<br />

fungsi sinusoidal sembarang, yaitu dengan menuliskannya dalam bentuk<br />

cosinus, dengan memasukkan pergeseran yang terjadi yaitu yang<br />

ditunjukkan oleh posisi puncak yang pertama.<br />

Untuk selanjutnya, peristiwa-peristiwa yang berubah secara sinusoidal<br />

kita nyatakan dengan menggunakan fungsi cosinus, yang dianggap<br />

sebagai bentuk normal<br />

Perhatikanlah bahwa T s adalah pergeseran waktu dalam detik, sehingga<br />

fungsi sinusoidal dengan pergeseran T s kita tuliskan (Gb.7.3)<br />

yang dapat pula kita tuliskan<br />

y = Acos<br />

ω<br />

y = Acos<br />

( t − )<br />

T s<br />

( ωt<br />

− ω )<br />

Pada penulisan terakhir ini, ωT s mempunyai satuan radian, sama dengan<br />

satuan ωt. Selanjutnya<br />

2πTs<br />

ϕ = ωTs<br />

=<br />

(7.5)<br />

T0<br />

disebut sudut fasa dari fungsi cosinus <strong>dan</strong> menunjukkan posisi puncak<br />

pertama dari fungsi cosinus. <strong>Fungsi</strong> cosinus dengan sudut fasa ϕ kita<br />

tuliskan<br />

( ω − ϕ)<br />

T s<br />

y = cos t<br />

(7.6)<br />

87


Jika ϕ = π/2 maka kita mempunyai fungsi sinus. Jadi untuk mengubah<br />

fungsi sinus ke dalam format normal (menggunakan fungsi cosinus) kita<br />

menambahkan pergeseran sebesar π/2 pada fungsi cosinus.<br />

7.2. Kombinasi <strong>Fungsi</strong> Sinus.<br />

Dalam tinjauan selanjutnya, jika disebut fungsi sinus, yang dimaksudkan<br />

adalah fungsi sinus yang dinyatakan dalam bentuk normal, yaitu cosinus.<br />

<strong>Fungsi</strong> sinus adalah fungsi periodik. <strong>Fungsi</strong>-fungsi periodik lain yang<br />

bukan sinus, dapat dinyatakan sebagai jumlah dari fungsi-fungsi sinus.<br />

Atau dengan kata lain suatu fungsi periodik dapat diuraikan menjadi<br />

jumlah dari beberapa komponen sinus, yang memiliki amplitudo, sudut<br />

fasa, <strong>dan</strong> frekuensi yang berlainan satu sama lain. Dalam penguraian itu,<br />

fungsi akan terdiri dari komponen-komponen yang berupa komponen<br />

searah (nilai rata-rata dari fungsi), komponen sinus dengan frekuensi<br />

dasar f 0 , <strong>dan</strong> harmonisa yang memiliki frekuensi harmonisa nf 0 .<br />

Sebaliknya dapat juga dikatakan bahwa jumlah dari beberapa fungsi<br />

sinus yang memiliki amplitudo, frekuensi, serta sudut fasa yang<br />

berlainan, akan membentuk fungsi periodik, walaupun bukan berbentuk<br />

sinus. Gb.7.4. memperlihatkan beberapa bentuk fungsi periodik; bentuk<br />

fungsi-fungsi periodik ini tergantung macam komponen sinus yang<br />

menyusunnya.<br />

Frekuensi harmonisa adalah nilai frekuensi yang merupakan kelipatan<br />

bulat n dari frekuensi dasar f 0 . Frekuensi f 0 kita sebut sebagai frekuensi<br />

dasar karena frekuensi inilah yang menentukan perioda T 0 = 1/f 0 .<br />

Frekuensi harmonisa dimulai dari harmonisa kedua (2f o ), harmonisa<br />

ketiga (3f 0 ), <strong>dan</strong> seterusnya, yang secara umum kita katakan harmonisa<br />

ke-n mempunyai frekuensi nf 0 .<br />

7.3. Spektrum Dan Lebar Pita.<br />

Spektrum. Jika kita menghadapi suatu fungsi periodik, kita bisa<br />

mempertanyakan bagaimana komponen-komponen sinusoidalnya.<br />

Bagaimana penyebaran amplitudo <strong>dan</strong> sudut fasa setiap komponen, atau<br />

dengan singkat bagaimana spektrum fungsi tersebut. Kita juga<br />

mempertanyakan bagaimana sebaran frekuensi dari komponenkomponen<br />

tersebut.<br />

88 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


4<br />

y<br />

y<br />

4<br />

0<br />

-5 15 t<br />

-4 y = 3 cos 2f 0 t<br />

-5<br />

0<br />

15 t<br />

-4 y = 1 + 3 cos 2f 0 t<br />

y<br />

4<br />

- 5<br />

0<br />

15<br />

t<br />

- 4<br />

y = 1+<br />

3cos 2πf0t<br />

− 2cos(2π(2<br />

f0)<br />

t)<br />

1<br />

-5 15<br />

-4<br />

y = 1+<br />

3cos 2π f0t<br />

− 2cos(2π(2<br />

f0)<br />

t + π / 4)<br />

Gb.7.4. Beberapa fungsi periodik.<br />

Berikut ini kita akan melihat suatu contoh fungsi yang dinyatakan<br />

dengan persamaan<br />

( 2πf<br />

t) + 15sin( 2π(2<br />

f ) t) − 7,5cos( 2 (4 f t)<br />

y = 10 + 30 cos 0 0<br />

π 0)<br />

<strong>Fungsi</strong> ini merupakan jumlah dari satu komponen konstan <strong>dan</strong> tiga<br />

komponen sinus. Komponen konstan sering disebut komponen<br />

berfrekuensi nol karena y(t) = A cos(2πft) = A jika f = 0. Komponen<br />

sinus yang pertama adalah komponen sinus dasar karena komponen<br />

inilah yang mempunyai frekuensi paling rendah tetapi tidak nol. Suku<br />

ketiga <strong>dan</strong> keempat adalah harmonisa ke-2 <strong>dan</strong> ke-4; harmonisa ke-3<br />

tidak ada.<br />

<strong>Fungsi</strong> ini dinyatakan dengan campuran fungsi sinus <strong>dan</strong> cosinus. Untuk<br />

melihat bagaimana spektrum fungsi ini, kita harus menuliskan tiap suku<br />

dengan bentuk yang sama yaitu bentuk normal (standar). Telah dikatakan<br />

89


di depan bahwa bentuk normal pernyataan fungsi sinusoidal adalah<br />

menggunakan fungsi cosinus, yaitu y = Acos(<br />

2πft<br />

+ ϕ)<br />

.<br />

Dengan menggunakan kesamaan<br />

sin( 2πft ) = cos(2πft<br />

− π / 2) <strong>dan</strong> −cos(<br />

2πft<br />

) = cos(2πft<br />

+ π)<br />

persamaan fungsi di atas dapat kita tulis<br />

y = 10 + 30 cos(2πf0t)<br />

+ 15cos(2π2<br />

f0t<br />

− π / 2) + 7,5cos(2π4<br />

f0t<br />

+ π)<br />

Dalam pernyataan terakhir ini semua suku telah kita tuliskan dalam<br />

bentuk standar, <strong>dan</strong> kita dapat melihat amplitudo <strong>dan</strong> sudut fasa dari tiap<br />

komponen seperti dalam tabel berikut.<br />

Frekuensi 0 f 0 2 f 0 4 f 0<br />

Amplitudo 10 30 15 7,5<br />

Sudut fasa − 0 −π/2 π<br />

<strong>Fungsi</strong> yang kita ambil sebagai cintoh mungkin merupakan pernyataan<br />

suatu sinyal (dalam rangkaian listrik misalnya). Tabel ini menunjukkan<br />

apa yang disebut sebagai spektrum dari sinyal yang diwakilinya. Suatu<br />

spektrum sinyal menunjukkan bagaimana komposisi baik amplitudo<br />

maupun sudut fasa dari semua komponen cosinus sebagai fungsi dari<br />

frekuensi. Sinyal yang kita bahas ini berisi empat macam frekuensi, yaitu<br />

: 0, f 0 , 2f 0 , <strong>dan</strong> 4f 0 . Amplitudo dari setiap frekuensi secara berturut-turut<br />

adalah 10, 30, 15, <strong>dan</strong> 7,5 satuan (volt misalnya, jika ia adalah sinyal<br />

tegangan). Sudut fasa dari komponen sinus yang berfrekuensi f 0 , 2f 0 <strong>dan</strong><br />

4f 0 berturut turut adalah 0, −π/2, <strong>dan</strong> π radian.<br />

Dari tabel tersebut di atas kita dapat menggambarkan dua grafik yaitu<br />

grafik amplitudo <strong>dan</strong> grafik sudut fasa, masing-masing sebagai fungsi<br />

frekuensi. <strong>Grafik</strong> yang pertama kita sebut spektrum amplitudo (Gb.7.5.a)<br />

<strong>dan</strong> grafik yang kedua kita sebut spektrum sudut fasa (Gb.7.5.b).<br />

90 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


40<br />

Amplitudo<br />

30<br />

20<br />

10<br />

0<br />

0 1 2 3 4 5<br />

Frekuensi [×f 0]<br />

Gb.7.5.a. Spektrum Amplitudo<br />

2π<br />

Sudut Fasa<br />

π/2<br />

0<br />

0 1 2 3 4 5<br />

−π/2<br />

−2π<br />

Frekuensi [×f 0]<br />

Gb.7.5.b. Spektrum sudut fasa.<br />

Penguraian fungsi periodik menjadi penjumlahan harmonisa sinus, dapat<br />

dilakukan untuk semua bentuk fungsi periodik dengan syarat tertentu.<br />

<strong>Fungsi</strong> persegi misalnya, yang juga periodik, dapat diuraikan menjadi<br />

jumlah harmonisa sinus. Empat suku pertama dari persamaan hasil uraian<br />

fungsi persegi ini adalah sebagai berikut :<br />

A<br />

y = Acos(2πf<br />

0t<br />

− π / 2) + cos(2π3<br />

f0t<br />

− π/<br />

2)<br />

3<br />

A<br />

A<br />

+ cos(2π5<br />

f0t<br />

− π/<br />

2) + cos(2π7<br />

f0t<br />

− π/<br />

2) + ....<br />

5<br />

7<br />

Dari persamaan ini, terlihat bahwa semua harmonisa mempunyai sudut<br />

fasa sama besar yaitu –π/2; amplitudonya menurun dengan meningkatnya<br />

frekuensi dengan faktor 1/n; tidak ada komponen konstan <strong>dan</strong> tidak ada<br />

harmonisa genap. Tabel amplitudo <strong>dan</strong> sudut fasa adalah seperti berikut.<br />

91


Frekuensi: 0 f 0 2f 0 3f 0 4f 0 5f 0 .. nf 0<br />

Amplitudo: 0 A 0 A/3 0 A/5 .. A/n<br />

Sudut Fasa: - -π/2 - -π/2 - -π/2 .. -π/2<br />

Gb.7.6. berikut ini memperlihatkan bagaimana fungsi persegi dibangun<br />

dari harmonisa-harmonisanya.<br />

a) b)<br />

c)<br />

d)<br />

e)<br />

Gb.7.10. Uraian fungsi persegi.<br />

a). sinus dasar. b). harmonisa-3 <strong>dan</strong> sinus dasar + harmonisa-3.<br />

c). harmonisa-5 <strong>dan</strong> sinus dasar + harmonisa-3 + harmonisa-5.<br />

d). harmonisa-7 <strong>dan</strong> sinus dasar + harmonisa-3 + harmonisa-5 +<br />

harmonisa-7. e) hasil penjumlahan yang dilakukan sampai pada<br />

harmonisa ke-21.<br />

Lebar Pita. Dari contoh fungsi persegi di atas, terlihat bahwa dengan<br />

menambahkan harmonisa-harmonisa pada sinus dasarnya kita akan<br />

makin mendekati bentuk persegi. Penambahan ini dapat kita lakukan<br />

terus sampai ke suatu harmonisa tinggi yang memberikan bentuk fungsi<br />

yang kita anggap cukup memuaskan artinya cukup dekat dengan bentuk<br />

yang kita inginkan.<br />

Pada spektrum amplitudo, kita juga dapat melihat bahwa makin tinggi<br />

frekuensi harmonisa akan makin rendah amplitudonya. Hal ini tidak<br />

hanya berlaku untuk fungsi persegi saja melainkan berlaku secara umum.<br />

Oleh karena itu secara umum kita dapat menetapkan suatu batas<br />

92 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


frekuensi tertinggi dari suatu fungsi periodik, dengan menganggap<br />

amplitudo harmonisa-harmonisa yang frekuensinya di atas frekuensi<br />

tertinggi ini dapat diabaikan. Batas frekuensi tertinggi tersebut dapat kita<br />

tetapkan, misalnya frekuensi harmonisa yang amplitudonya tinggal 2%<br />

dari amplitudo sinus dasar.<br />

Jika batas frekuensi tertinggi kita tetapkan, batas frekuensi terendah juga<br />

perlu kita tetapkan. Batas frekuensi terendah adalah frekuensi sinus dasar<br />

jika bentuk fungsi yang kita tinjau tidak mengandung komponen konstan.<br />

Jika mengandung komponen konstan maka frekuensi terendah adalah<br />

nol. Selisih dari frekuensi tertinggi <strong>dan</strong> terendah disebut lebar pita (band<br />

width).<br />

93


Soal-Soal: <strong>Fungsi</strong> Sinus, Gabungan Sinus, Spektrum<br />

1. Tentukan persamaan bentuk kurva fungsi sinus berikut ini<br />

dalam format cosinus y = Acos(<br />

x − xs<br />

) :<br />

a). Amplitudo 10, puncak pertama terjadi pada x = 0, frekuensi<br />

siklus 10 siklus/skala.<br />

b). Amplitudo 10, puncak pertama terjadi pada x = 0,02,<br />

frekuensi siklus 10 siklus/skala.<br />

c). Amplitudo 10, pergeseran sudut fasa 0 o , frekuensi sudut 10<br />

rad/skala.<br />

d). Amplitudo 10, pergeseran sudut fasa +30 o , frekuensi sudut<br />

10 rad/skala.<br />

2. Carilah spektrum amplitudo <strong>dan</strong> sudut fasa dari fungsi gabungan<br />

sinus berikut ini<br />

y = 4 + 5sin 2π2000t<br />

− 2cos 2π4000t<br />

+ 0,2sin 2π8000t<br />

Dengan mengambil batas amplitudo harmonisa tertinggi 5%,<br />

tentukan lebar pita fungsi ini.<br />

3. Ulangi soal sebelumnya untuk fungsi berikut.<br />

o<br />

y = 3cos(2π1000t<br />

− 60 ) - 2sin2π2000t<br />

+ cos2π8000t<br />

4. Ulangi soal sebelumnya untuk fungsi berikut.<br />

y = 10cos100t<br />

+ 2cos300t<br />

+ cos500t<br />

+ 0.2cos1500t<br />

+ 0,02cos5000t<br />

5. Ulangi soal sebelumnya untuk fungsi berikut.<br />

y = 10 + 10cos 2π500t<br />

+ 3cos 2π1000t<br />

+ 2cos 2π1500t<br />

+ 0,2cos 2π2000t<br />

94 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 8<br />

<strong>Fungsi</strong> Logaritma atural, Eksponensial,<br />

Hiperbolik<br />

8.1. <strong>Fungsi</strong> Logarithma atural.<br />

Definisi. Logaritma natural adalah logaritma dengan menggunakan basis<br />

bilangan e. Bilangan e ini, seperti halnya bilangan π, adalah bilangannyata<br />

dengan desimal tak terbatas. Sampai dengan 10 angka di belakang<br />

koma, nilainya adalah<br />

e = 2,7182818284<br />

Bilangan e merupakan salah satu bilangan-nyata yang sangat penting<br />

dalam matematika:<br />

ln e = 1<br />

(8.1)<br />

ln e a = a ln e = a<br />

(8.2)<br />

Kita lihat sekarang fungsi logaritma natural. <strong>Fungsi</strong> logaritma natural<br />

dari x dituliskan sebagai<br />

y = ln x<br />

(8.3)<br />

<strong>Fungsi</strong> ini didefinisikan melalui integral (mengenai integrasi akan kita<br />

pelajari pada Bab-12), yaitu<br />

=<br />

∫<br />

x 1<br />

ln x dt<br />

(8.4)<br />

1 t<br />

Di sini kita akan melihat definisi tersebut secara grafis di mana integral<br />

dengan batas tertentu seperti (8.4) berarti luas bi<strong>dan</strong>g antara fungsi 1/t<br />

<strong>dan</strong> sumbu-x yang dibatasi oleh t = 1 <strong>dan</strong> t = x . Perhatikan Gb.8.1. Nilai<br />

fungsi y = ln x adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh kurva (1/t) <strong>dan</strong><br />

sumbu-t, dalam rentang antara t = 1 <strong>dan</strong> t = x.<br />

6<br />

y<br />

5<br />

4<br />

3<br />

2<br />

1<br />

1/t<br />

ln x<br />

0<br />

t<br />

0 1 2 x 3 4<br />

Gb.8.1. Definisi ln x ditunjukkan secara grafis.<br />

95


Kurva fungsi y = ln x dalam koordinat x-y adalah seperti pada Gb.8.2.<br />

Nilai ln x = 1 terjadi pada nilai x = e.<br />

2<br />

y<br />

1,5<br />

1<br />

0,5<br />

-1<br />

-1,5<br />

-2<br />

Gb.8.2. Kurva y = ln x.<br />

y = ln x<br />

0<br />

0<br />

-0,5<br />

1 2 e 3 x 4<br />

Sifat-Sifat. Sifat-sifat logaritma natural mirip dengan logaritma biasa.<br />

Jika x <strong>dan</strong> a adalah positif <strong>dan</strong> n adalah bilangan rasional, maka:<br />

ln ax = ln a + ln x<br />

ln<br />

ln x<br />

ln e = 1<br />

ln e<br />

x<br />

= ln x − ln a;<br />

a<br />

n<br />

x<br />

= nln<br />

x<br />

= x<br />

ln x bernilai negatif untuk x < 1<br />

(8.5)<br />

Soal-Soal<br />

Dengan membagi luas bi<strong>dan</strong>g di bawah kurva (1/t) pada Gb.8.1<br />

dalam segmen-segmen selebar ∆t = 0,1 <strong>dan</strong> mendekati luas segmen<br />

sebagai luas trapesium, hitunglah<br />

1). ln 1,5 2). ln 2 ; 3). ln 0,5<br />

96 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


8.2. <strong>Fungsi</strong> Eksponensial<br />

Antilogaritma <strong>dan</strong> <strong>Fungsi</strong> Eksponensial. Antilogaritma adalah inversi<br />

dari logaritma; kita melihatnya sebagai suatu fungsi<br />

x = ln y<br />

(8.6)<br />

Mengingat sifat logaritma sebagaimana disebutkan di atas, ekspresi ini<br />

ekivalen dengan<br />

yang disebut fungsi eksponensial.<br />

x<br />

y = e<br />

(8.7)<br />

<strong>Fungsi</strong> eksponensial yang penting <strong>dan</strong> sering kita jumpai adalah fungsi<br />

eksponensial dengan eksponen negatif; fungsi ini dianggap mulai muncul<br />

pada x = 0 walaupun faktor u(x), yaitu fungsi anak tangga satuan, tidak<br />

dituliskan.<br />

−bx y = ae ; x ≥ 0<br />

(8.8)<br />

Eksponen negatif ini menunjukkan bahwa makin besar bx maka nilai<br />

fungsi makin kecil. untuk suatu nilai b tertentu, makin besar x fungsi ini<br />

akan makin menurun. Makin besar b akan makin cepat penurunan<br />

tersebut.<br />

Dengan mengambil nilai a = 1, kita akan melihat bentuk kurva fungsi<br />

eksponensial (8.8) untuk beberapa nilai b, dalam rentang x ≥ 0 seperti<br />

terlihat pada Gb.8.3. Pada Gb.8.3. ini terlihat bahwa makin besar nilai b,<br />

makin cepat fungsi menurun.<br />

y<br />

1<br />

0,8<br />

0,6<br />

e − x<br />

e −2x<br />

0,4<br />

0,2<br />

0<br />

0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 x 4<br />

Gb.8.3. Perbandingan kurva y = e −x <strong>dan</strong> y = e −2x .<br />

97


Penurunan kurva fungsi eksponensial ini sudah mencapai sekitar 36%<br />

dari nilai awalnya (yaitu nilai pada x = 0), pada saat x = 1/b. Pada saat x<br />

= 5b kurva sudah sangat menurun mendekati sumbu-x, nilai fungsi sudah<br />

di bawah 1% dari nilai awalnya. Oleh karena itu fungsi eksponensial<br />

biasa dianggap sudah bernilai nol pada x = 5/b.<br />

Persamaan umum fungsi eksponensial dengan amplitudo A adalah<br />

−at<br />

y = Ae u(t)<br />

(8.9)<br />

Faktor u(t) adalah fungsi anak tangga satuan untuk menyatakan bahwa<br />

kita hanya meninjau keadaan pada t ≥ 0. <strong>Fungsi</strong> ini menurun makin cepat<br />

jika a makin besar. Didefinisikanlah<br />

sehingga (8.9) dituliskan<br />

1<br />

τ =<br />

(8.10)<br />

a<br />

/<br />

y = Ae u(<br />

t)<br />

(8.11)<br />

−t τ<br />

τ disebut konstanta waktu; makin kecil τ, makin cepat fungsi<br />

eksponensial menurun.<br />

Gabungan <strong>Fungsi</strong> Eksponensial. Gabungan fungsi eksponensial yang<br />

banyak dijumpai dalam rekayasa adalah eksponensial ganda yaitu<br />

penjumlahan dua fungsi eksponensial. Kedua fungsi mempunyai<br />

amplitudo sama tetapi berlawanan tanda; konstanta waktu dari keduanya<br />

juga berbeda. Persamaan fungsi gabungan ini adalah<br />

−t<br />

/ τ1 −t<br />

/ τ2<br />

( − e ) u(<br />

t)<br />

y = A e<br />

(8.12)<br />

Bentuk kurva dari fungsi ini terlihat pada Gb.8.4.<br />

<strong>Fungsi</strong> ini dapat digunakan untuk memodelkan surja. Gelombang surja<br />

(surge) merupakan jenis pulsa yang awalnya naik dengan cepat sampai<br />

suatu nilai maksimum tertentu kemudian menurun dengan agak lebih<br />

lambat. Surja tegangan yang dibangkitkan untuk keperluan laboratorium<br />

berbentuk “mulus” namun kejadian alamiah yang sering dimodelkan<br />

dengan surja tidaklah mulus, misalnya arus terpaan petir.<br />

98 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


5<br />

A<br />

4<br />

3<br />

y<br />

1<br />

= Ae<br />

y<br />

2<br />

−t<br />

/ τ<br />

= Ae<br />

1<br />

−t<br />

/ τ<br />

y = A e<br />

2<br />

−t<br />

/ τ1 −t<br />

/ τ2<br />

( − e )<br />

2<br />

1<br />

0<br />

0<br />

0 1 2 3 4 5<br />

t/τ<br />

Gb.8.4. Kurva gabungan dua fungsi eksponensial.<br />

Soal-Soal<br />

1. Gambarkan <strong>dan</strong> tentukan persamaan kurva fungsi eksponensial<br />

yang muncul pada x = 0 <strong>dan</strong> konstanta τ , berikut ini :<br />

a). y a = amplitudo 5, τ = 2.<br />

b). y b = amplitudo 10, τ = 2.<br />

c). y c = amplitudo −5, τ = 4.<br />

2. Dari fungsi pada soal 10, gambarkanlah bentuk kurva fungsi<br />

berikut.<br />

a). y<br />

c). y<br />

d<br />

b). y<br />

e<br />

f<br />

= y<br />

= y<br />

a<br />

a<br />

= y<br />

a<br />

+ y<br />

+ y<br />

b<br />

c<br />

+ y<br />

b<br />

+ y<br />

3. Gambarkanlah bentuk kurva fungsi berikut.<br />

a).<br />

b).<br />

y<br />

y<br />

c<br />

−0,5x<br />

10{ 1−<br />

e }<br />

−0,2x<br />

{ 10 − 5e<br />

}<br />

u(<br />

1 =<br />

x<br />

u(<br />

2 =<br />

x<br />

)<br />

)<br />

99


8.3. <strong>Fungsi</strong> Hiperbolik<br />

Definisi. Kombinasi tertentu dari fungsi eksponensial membentuk fungsi<br />

hiperbolik, seperti cosinus hiperbolik (cosh) <strong>dan</strong> sinus hiperbolik (sinh)<br />

v −v<br />

v −v<br />

e + e<br />

e − e<br />

cosh v = ; sinh v =<br />

(8.13)<br />

2<br />

2<br />

Persamaan (8.13) ini merupakan definisi dari cosinus hiperbolik <strong>dan</strong><br />

sinus hiperbolik. Definisi ini mengingatkan kita pada fungsi trigonometri<br />

biasa cosinus <strong>dan</strong> sinus. Pada fungsi trigonometri biasa, jika x = cosθ <strong>dan</strong><br />

y = sinθ maka fungsi sinus <strong>dan</strong> cosinus ini memenuhi persamaan<br />

“lingkaran satuan” (berjari-jari 1), yaitu<br />

2 2 2 2<br />

x + y = 1 = sin θ + cos θ .<br />

Pada fungsi hiperbolik, jika x = cosh v <strong>dan</strong> y = sinh v, maka fungsifungsi<br />

ini memenuhi persamaan “hiperbola satuan”:<br />

2 2<br />

x − y = 1<br />

Hal ini dapat kita uji dengan mensubstitusikan cosh v untuk x <strong>dan</strong> sinh v<br />

untuk y <strong>dan</strong> kita akan mendapatkan bahwa persamaan “hiperbola satuan”<br />

akan terpenuhi. Kita coba:<br />

2v<br />

−2v<br />

2v<br />

−2v<br />

2 2 2 2 e + 2 + e e − 2 + e 4<br />

x − y = cosh v − sinh v =<br />

−<br />

= = 1<br />

4<br />

4 4<br />

Bentuk kurva fungsi hiperbolik satuan terlihat pada Gb. 8.5. dengan<br />

v −v<br />

v −v<br />

e + e<br />

e − e<br />

x = cosh v = ; y = sinh v =<br />

2<br />

2<br />

4<br />

y 3<br />

2<br />

1<br />

v = 0<br />

v = ∞<br />

P[x,y]<br />

0<br />

-1 0 1 2 3<br />

x<br />

4<br />

-2<br />

-3<br />

-4<br />

Gb.8.5. Kurva fungsi hiperbolik satuan.<br />

100 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Jika kita masukkan<br />

v −v<br />

e + e<br />

x = cosh v = ;<br />

2<br />

v −v<br />

e − e<br />

y = sinh v =<br />

2<br />

maka titik P[x,y] akan berada di bagian positif kurva tersebut. Karena e v<br />

selalu bernilai positif <strong>dan</strong> e −v = 1/e v juga selalu positif untuk semua nilai<br />

nyata dari v, maka titik P[x,y] selalu berada di bagian positif (sebelah<br />

kanan sumbu-y) kurva hiperbolik.<br />

Mirip dengan fungsi trigonometri, fungsi hiperbolik yang lain<br />

didefinisikan sebagai<br />

v −v<br />

v −v<br />

sinh v e − e<br />

cosh v e + e<br />

tanh v = = ; coth v = =<br />

(8.14)<br />

v −v<br />

v −v<br />

cosh v<br />

e<br />

+ e<br />

sinh v<br />

e<br />

− e<br />

1 2<br />

1 2<br />

sech v = = ; csch v = = (8.15)<br />

cosh v v −v<br />

v v −v<br />

e + e<br />

sinh e − e<br />

Identitas. Beberapa identitas fungsi hiperbolik kita lihat di bawah ini.<br />

1). 2 2<br />

cosh v − sinh v = 1 . Identitas ini telah kita buktikan di atas.<br />

Identitas ini mirip dengan identitas fungsi trigonometri biasa.<br />

2 2<br />

2). 1 − tanh v = sech v . Identitas ini diperoleh dengan membagi<br />

identitas pertama dengan cosh 2 v.<br />

2<br />

2<br />

3). coth v − 1 = csch v . Identitas ini diperoleh dengan membagi<br />

identitas pertama dengan sinh 2 v.<br />

4).<br />

5).<br />

cosh v + sinh v = e<br />

u<br />

. Ini merupakan konsekuensi definisinya.<br />

−u<br />

cosh v − sinh v = e . Ini juga merupakan konsekuensi<br />

definisinya.<br />

101


Kurva-Kurva <strong>Fungsi</strong> Hiperbolik. Gb.8.6 berikut ini memperlihatkan<br />

kurva fungsi-fungsi hiperbolik.<br />

(a)<br />

1<br />

e<br />

2<br />

x<br />

y<br />

4<br />

3<br />

2<br />

1<br />

0<br />

y = sinh x<br />

-2 -1 0 1 2<br />

-1<br />

1<br />

− e − x<br />

-2<br />

2<br />

-3<br />

-4<br />

y = cosh x<br />

4<br />

y<br />

3<br />

x<br />

2<br />

c)<br />

b)<br />

1<br />

y = sech x<br />

0<br />

-2 -1 0 1 x 2<br />

-1<br />

4<br />

y = cosh x y<br />

3<br />

2<br />

1<br />

1 x<br />

e<br />

y = sinh x<br />

2<br />

0<br />

-2 -1 0 1 2<br />

-1<br />

-2<br />

-3<br />

-4<br />

x<br />

102 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


y<br />

4<br />

3<br />

2<br />

y = coth x<br />

1<br />

y = tanh x<br />

0<br />

-2 -1 0 1 x 2<br />

-1<br />

y = coth x<br />

-2<br />

-3<br />

d)<br />

-4<br />

y<br />

4<br />

3<br />

2<br />

y = cschx<br />

y = sinh x<br />

1<br />

-2 -1<br />

0<br />

0<br />

-1<br />

1 x 2<br />

-2<br />

e)<br />

y = cschx<br />

-3<br />

-4<br />

Gb.8.6. Kurva-kurva fungsi hiperbolik.<br />

103


Soal-Soal<br />

1). Turunkan relasi sinh( u + v)<br />

<strong>dan</strong> cosh( u + v)<br />

.<br />

2). Diketahui sinh v = −3/ 4 . Hitung cosh v, coth v, <strong>dan</strong> csch v.<br />

3). Diketahui sinh v = −3/ 4 . Hitung cosh v, tanhv, <strong>dan</strong> sech v.<br />

104 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 9<br />

Turunan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> (1)<br />

(<strong>Fungsi</strong> Mononom, <strong>Fungsi</strong> Polinom)<br />

9.1. Pengertian Dasar<br />

Kita telah melihat bahwa apabila koordinat dua titik yang terletak pada<br />

suatu garis lurus diketahui, misalnya [x 1, y 1 ] <strong>dan</strong> [x 2 ,y 2 ], maka kemiringan<br />

garis tersebut dinyatakan oleh persamaan<br />

∆y<br />

( y2<br />

− y1)<br />

m = =<br />

(9.1)<br />

∆x<br />

( x2<br />

− x1)<br />

Untuk garis lurus, m bernilai konstan dimanapun titik [x 1, y 1 ] <strong>dan</strong> [x 2 ,y 2 ]<br />

berada. Bagaimanakah jika yang kita hadapi bukan garis lurus melainkan<br />

garis lengkung? Perhatikan Gb.9.1.<br />

y<br />

y = f(x)<br />

P 2<br />

∆y<br />

P 1<br />

∆x<br />

(a)<br />

y<br />

y = f(x)<br />

x<br />

P 1<br />

P′ 2<br />

∆y′<br />

x<br />

(b)<br />

Gb.9.1. Tentang kemiringan garis.<br />

Pada Gb.9.1.a. ∆y/∆x merupakan kemiringan garis lurus P 1 P 2 <strong>dan</strong> bukan<br />

kemiringan garis lengkung y = f(x). Jika ∆x kita perkecil, seperti terlihat<br />

pada Gb.9.1.b., ∆y/∆x menjadi ∆y′/∆x′ yang merupakan kemiringan<br />

garis lurus P 1 P′ 2 . Jika ∆x terus kita perkecil maka kita dapatkan<br />

∆x′<br />

105


kemiringan garis lurus yang sangat dekat dengan titik P 1 , <strong>dan</strong> jika ∆x<br />

mendekati nol maka kita mendapatkan kemiringan garis singgung kurva<br />

y di titik P 1 . Jadi jika kita mempunyai persamaan garis y = f (x)<br />

<strong>dan</strong><br />

melihat pada suatu titik tertentu [x,y], maka pada kondisi dimana ∆x<br />

mendekati nol, persamaan (9.1) dapat kita tuliskan<br />

lim<br />

∆x→0<br />

∆y<br />

=<br />

∆x<br />

lim<br />

∆x→0<br />

f ( x + ∆x)<br />

− f ( x)<br />

= f ′(<br />

x)<br />

∆x<br />

(9.2)<br />

f ′(x)<br />

merupakan fungsi dari x karena untuk setiap posisi titik yang kita<br />

tinjau f ′(x)<br />

memiliki nilai berbeda; f ′(x)<br />

disebut fungsi turunan dari<br />

f (x) , <strong>dan</strong> kita tahu bahwa dalam hal garis lurus, f ′(x)<br />

bernilai konstan<br />

<strong>dan</strong> merupakan kemiringan garis lurus tersebut. Jadi formulasi (9.1) tidak<br />

hanya berlaku untuk garis lurus. Jika ∆x mendekati nol, maka ia dapat<br />

diaplikasikan juga untuk garis lengkung, dengan pengertian bahwa<br />

kemiringan m adalah kemiringan garis lurus yang menyinggung kurva<br />

lengkung di titik [x,y]. Perhatikan Gb. 9.2.<br />

y<br />

(x 2 ,y 2 )<br />

(x 1 ,y 1 )<br />

Gb.9.2. Garis singgung pada garis lengkung.<br />

Jika fungsi garis lengkung adalah y = f (x)<br />

maka f ′(x)<br />

pada titik [x 1 ,y 1 ]<br />

adalah kemiringan garis singgung di titik [x 1 ,y 1 ], <strong>dan</strong> f ′(x) di titik (x 2 ,y 2 )<br />

adalah kemiringan garis singgung di [x 2 ,y 2 ]. Bagaimana mencari f ′(x)<br />

akan kita pelajari lebih lanjut.<br />

∆y<br />

Jika pada suatu titik x 1 di mana lim seperti yang dinyatakan oleh<br />

∆x→0<br />

∆x<br />

(9.2) benar ada, fungsi f(x) memiliki turunan di titik tersebut <strong>dan</strong><br />

dikatakan sebagai “dapat didiferensiasi di titik tersebut” <strong>dan</strong> nilai<br />

x<br />

106 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


∆y<br />

lim merupakan nilai turunan di titik tersebut (ekivalen dengan<br />

∆x→0<br />

∆x<br />

kemiringan garis singgung di titik tersebut).<br />

Persamaan (9.2) biasanya ditulis<br />

dy<br />

dx<br />

=<br />

=<br />

lim<br />

d<br />

dx<br />

∆x→0<br />

∆y<br />

( y)<br />

= lim<br />

∆ x→0<br />

∆x<br />

(9.3)<br />

f ( x + ∆x)<br />

− f ( x)<br />

= f ′(<br />

x)<br />

∆x<br />

dy kita baca “turunan terhadap x dari fungsi y”, atau “turunan fungsi y<br />

dx<br />

terhadap x”. Penurunan ini dapat dilakukan jika y memang merupakan<br />

fungsi x. Jika tidak, tentulah penurunan itu tidak dapat dilakukan.<br />

Misalnya y merupakan fungsi t , y = f (t)<br />

; maka penurunan y hanya bisa<br />

dilakukan terhadap t, tidak terhadap x.<br />

9.2. <strong>Fungsi</strong> Mononom<br />

Kita lihat uraian-uraian berikut ini.<br />

dy df ( t)<br />

y ′ = = = f ′(<br />

t)<br />

dt dt<br />

1). y 0 = f ( x)<br />

= k , bernilai konstan. Di sini<br />

2). y1 = f1 ( x)<br />

= 2x<br />

f ( x + ∆x)<br />

− f ( x)<br />

0<br />

y0 ′ = lim<br />

= = 0<br />

∆x→0<br />

∆x<br />

∆x<br />

⇒<br />

2( x + ∆x)<br />

− 2x<br />

2∆x<br />

f1 ′(<br />

x)<br />

= lim<br />

= = 2<br />

∆x→0<br />

∆x<br />

∆x<br />

107


y<br />

10<br />

8<br />

6<br />

4<br />

2<br />

f ( x)<br />

2x<br />

1<br />

=<br />

f 1 ′(<br />

x)<br />

= 2<br />

Gb.9.3. <strong>Fungsi</strong> mononom y = 2x <strong>dan</strong> turunannya.<br />

Kurva f 1′ ( x ) membentuk garis lurus sejajar sumbu-x; ia bernilai<br />

konstan 2 untuk semua x.<br />

3). 2<br />

y 2 = f2( x)<br />

= 2x<br />

0<br />

2 2<br />

2<br />

2 2<br />

2( x + ∆x)<br />

− 2x<br />

2( x + 2x∆x<br />

+ ∆x<br />

) − 2x<br />

f2′<br />

( x)<br />

= lim<br />

= lim<br />

∆ x→0<br />

∆x<br />

∆x→0<br />

∆x<br />

= lim (2 × 2x<br />

+ 2∆x)<br />

= 4x<br />

∆x→0<br />

Turunan fungsi ini membentuk kurva garis lurus dengan kemiringan<br />

4.<br />

4). 3<br />

y 3 = f3( x)<br />

= 2x<br />

0 1 2 3 4 5<br />

x<br />

3 3<br />

2( x + ∆x)<br />

− 2x<br />

f3′<br />

( x)<br />

= lim<br />

∆x→0<br />

∆x<br />

3 2<br />

3 3 3<br />

2( x + 3x<br />

∆x<br />

+ 3x∆x<br />

+ ∆x<br />

) − 2x<br />

= lim<br />

∆x→0<br />

∆x<br />

= lim<br />

2<br />

2 2 2<br />

2 × 3x<br />

+ 2 × 3x∆x<br />

+ 2∆x<br />

= 6x<br />

∆x→0<br />

Turunan fungsi ini membentuk kurva parabola.<br />

108 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


′′′<br />

5). Secara umum, turunan mononom<br />

adalah<br />

n<br />

y = f ( x)<br />

= mx<br />

(9.4)<br />

′ ( n−1)<br />

y = ( m × n)<br />

x<br />

(9.5)<br />

Jika n pada (9.4) bernilai 1 maka kurva fungsi y = f (x)<br />

akan<br />

berbentuk garis lurus <strong>dan</strong> turunannya akan berupa nilai konstan,<br />

y ′ = f ′(<br />

x)<br />

= k<br />

Jika n > 1, maka turunan fungsi akan merupakan fungsi x,<br />

y ′ = f ′(x)<br />

. Dengan demikian maka fungsi turunan ini dapat<br />

diturunkan lagi <strong>dan</strong> kita mendapatkan fungsi turunan berikutnya<br />

y ′′ = f ′<br />

(x)<br />

yang mungkin masih juga merupakan fungsi x <strong>dan</strong> masih dapat<br />

diturunkan lagi untuk memperoleh fungsi turunan berikutnya lagi<br />

<strong>dan</strong> demikian seterusnya.<br />

Contoh:<br />

y ′′ ′ = f ′′′<br />

(x)<br />

dy<br />

y ′ = f ′( x)<br />

= kita sebut turunan pertama,<br />

dx<br />

2<br />

d y<br />

y = f ′′ ( x)<br />

=<br />

2<br />

dx<br />

′′ turunan kedua,<br />

3<br />

d y<br />

y = f ′′′ ( x)<br />

=<br />

3<br />

dx<br />

′′′ turunan ke-tiga, dst.<br />

3<br />

y 4 = f4( x)<br />

= 2x<br />

′ (3−1)<br />

2<br />

(2 1)<br />

4 2(3)<br />

6 ; 4′′<br />

−<br />

y = x = x y = 6(2) x = 12x;<br />

y4<br />

= 12<br />

6) Dari (9.4) <strong>dan</strong> (9.5) kita dapat mencari titik-potong antara kurva suatu<br />

fungsi dengan kurva fungsi turunannya.<br />

<strong>Fungsi</strong> mononom n<br />

y = f ( x)<br />

= mx memiliki turunan<br />

′ ( n−1)<br />

y = ( m × n)<br />

x . Koordinat titik potong P antara kurva mononom<br />

f(x) dengan turunan pertamanya diperoleh dengan<br />

109


′ n<br />

( n−1)<br />

y = y → mx = ( m × n)<br />

x<br />

⇒ x P = n <strong>dan</strong> n<br />

yP = mxP<br />

Koordinat titik potong kurva mononom dengan kurva-kurva turunan<br />

selanjutnya dapat pula dicari.<br />

Gb.9.4. memperlihatkan kurva mononom<br />

4<br />

y = x <strong>dan</strong> turunanturunannya<br />

3<br />

y ′ 2<br />

= 4x , y ′′ =12x , y ′′ ′ = 24x<br />

, y ′′′′ = 24 .<br />

2<br />

y ′′ = 12x<br />

4<br />

y = x<br />

200<br />

100<br />

0<br />

y ′′ = 12x<br />

3<br />

y ′ = 4x<br />

y ′′′ = 24x<br />

2<br />

y ′′′ ′ = 24<br />

3<br />

y ′ = 4x<br />

-3 -2 -1 0 1 2 3 4<br />

-100<br />

9.3. <strong>Fungsi</strong> Polinom<br />

Gb.9.4. Mononom <strong>dan</strong> fungsi turunan-nya.<br />

Polinom merupakan jumlah terbatas dari mononom. Kita lihat contohcontoh<br />

berikut.<br />

1). y 1 = f1 ( x)<br />

= 4x<br />

+ 2<br />

{ 4( x + ∆x)<br />

+ 2} − { 4x<br />

+ 2}<br />

f1 ′(<br />

x)<br />

= lim<br />

= 4<br />

∆x→x<br />

∆x<br />

Kurva fungsi ini <strong>dan</strong> turunannya terlihat pada Gb.9.5.<br />

110 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


y<br />

10<br />

8<br />

6<br />

4<br />

2<br />

f 1 (x) = 4x + 2<br />

f 1 ′(x) = 4<br />

0<br />

-1 -0,5 0 0,5 1 1,5 x 2<br />

-2<br />

Gb.9.5. f 1 (x) = 4x + 2 <strong>dan</strong> turunannya.<br />

Suku yang bernilai konstan pada f 1 (x), berapapun besarnya, positif<br />

maupun negatif, tidak memberikan kontribusi dalam fungsi turunannya.<br />

2). y 2 = f2 ( x)<br />

= 4( x − 2)<br />

⇒ f 2(<br />

x)<br />

= 4x<br />

− 8<br />

10<br />

-10<br />

-15<br />

3). 2<br />

y 3 = f3(<br />

x)<br />

= 4x<br />

+ 2x<br />

− 5<br />

y<br />

⇒ f 2 ′(<br />

x)<br />

= 4<br />

Gb.9.6. f 2 (x) = 4(x – 2) <strong>dan</strong> turunannya.<br />

2<br />

2<br />

{ 4( x + ∆x)<br />

+ 2( x + ∆x)<br />

− 5} − { 4x<br />

+ 2x<br />

− 5}<br />

y3′<br />

= lim<br />

∆x→0<br />

= 4 × 2x<br />

+ 2 = 8x<br />

+ 2<br />

4). 3 2<br />

y 4 = f4(<br />

x)<br />

= 5x<br />

+ 4x<br />

+ 2x<br />

− 5<br />

5<br />

f 2 ′(<br />

x)<br />

= 4<br />

0<br />

-1 0 1 2 3<br />

x<br />

4<br />

-5<br />

f 2 ( x)<br />

= 4( x − 2)<br />

∆x<br />

3<br />

2<br />

3 2<br />

{ 5( x + ∆x)<br />

+ 4( x + ∆x)<br />

+ 2( x + ∆x)<br />

− 5} − { 5x<br />

+ 4x<br />

+ 2x<br />

− 5}<br />

y4′<br />

= lim<br />

∆x→0<br />

∆x<br />

2<br />

2<br />

= 5 × 3x<br />

+ 4 × 2x<br />

+ 2 = 15x<br />

+ 8x<br />

+ 2<br />

-4<br />

111


5) Secara Umum: Turunan suatu polinom, yang merupakan jumlah<br />

beberapa mononom, adalah jumlah turunan masing-masing<br />

mononom dengan syarat setiap mononom yang membentuk polinom<br />

itu memang memiliki turunan.<br />

9.4. ilai Puncak<br />

Kita telah melihat bahwa turunan fungsi di suatu nilai x merupakan<br />

kemiringan garis singgung terhadap kurva fungsi di titik [x,y]. Jika titik<br />

[x p ,y p ] adalah titik puncak suatu kurva, maka garis singgung di titik<br />

[x p ,y p ] tersebut akan berupa garis mendatar yang kemiringannya nol.<br />

Dengan kata lain posisi titik puncak suatu kurva adalah posisi titik di<br />

mana turunan pertama fungsi bernilai nol.<br />

Polinom Orde Dua. Kita ambil contoh fungsi polinom orde dua (fungsi<br />

kuadrat):<br />

Turunan pertama fungsi ini adalah<br />

y = 2x<br />

2 + 15x<br />

+ 13<br />

y ′ = 4 x +15<br />

Jika kita beri y ′ = 0 maka kita dapatkan nilai x p dari titik puncak yaitu<br />

x p = −(15/4) = −3,75<br />

Jika nilai x p ini kita masukkan ke fungsi asalnya, maka akan kita<br />

dapatkan nilai puncak y p .<br />

2<br />

y p = 2x<br />

p + 15xp<br />

+ 13<br />

2<br />

= 2(-3,75) + 15×<br />

( −3,75)<br />

+ 13 = −15,125<br />

Secara umum, x p dari fungsi kuadrat<br />

dengan membuat<br />

2<br />

y = ax + bx + c<br />

dapat diberoleh<br />

y ′ = 2 ax + b = 0<br />

(9.6)<br />

sehingga diperoleh<br />

b<br />

x p = −<br />

(9.7)<br />

2a<br />

112 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Nilai puncak, y p dari fungsi kuadrat<br />

dengan memasukkan x p<br />

2<br />

y = ax + bx + c<br />

dapat diperoleh<br />

y<br />

p<br />

2 2<br />

2 b b − 4ac<br />

= axp<br />

+ bxp<br />

+ c = − + c = −<br />

(9.8)<br />

4a<br />

4a<br />

Maksimum <strong>dan</strong> Minimum. Bagaimanakah secara umum menentukan<br />

apakah suatu nilai puncak merupakan nilai minimum atau maksimum?<br />

Kita manfaatkan karakter turunan kedua di sekitar nilai puncak. Lihat<br />

Gb.9.7.<br />

P<br />

y<br />

y′<br />

y′<br />

x<br />

Q<br />

Gb.9.7. Garis singgung di sekitar titik puncak.<br />

Turunan pertama di suatu titik pada kurva adalah garis singgung pada<br />

kurva di titik tersebut. Di sekitar titik maksimum, mulai dari kiri ke<br />

kanan, kemiringan garis singgung terus menurun sampai menjadi nol di<br />

titik puncak kemudian menjadi negatif. Ini berarti turunan pertama y′ di<br />

sekitar titik maksimum terus menurun <strong>dan</strong> berarti pula turunan kedua di<br />

titik maksimum bernilai negatif.<br />

Sebaliknya, di sekitar titik minimum, mulai dari kiri ke kanan,<br />

kemiringan garis singgung terus meningkat sampai menjadi nol di titik<br />

puncak kemudian menjadi positif. Ini berarti turunan pertama y′ di sekitar<br />

titik minimum terus menurun <strong>dan</strong> berarti pula turunan kedua di titik<br />

minimum bernilai positif.<br />

Jadi apabila turunan kedua di titik puncak bernilai negatif, titik puncak<br />

tersebut adalah titik maksimum. Apabila turunan kedua di titik puncak<br />

bernilai positif, titik puncak tersebut adalah titik minimum.<br />

113


2<br />

Dalam kasus fungsi kuadrat y = ax + bx + c , turunan pertama adalah<br />

y ′ = 2 ax + b <strong>dan</strong> turunan kedua adalah y′ = 2a<br />

. Jadi pada fungsi<br />

kuadrat, apabila a bernilai positif maka ia memiliki nilai minimum; jika a<br />

negatif ia memiliki nilai maksimum.<br />

Contoh: Kita lihat kembali contoh fungsi kuadrat yang dibahas di<br />

atas.<br />

y = 2x<br />

2 + 15x<br />

+ 13<br />

Nilai puncak fungsi ini adalah y p = −15, 125 <strong>dan</strong> ini merupakan<br />

nilai minimum, karena turunan keduanya y ′′ = 4 adalah positif.<br />

Lihat pula Gb.10.5.c.<br />

Contoh: Kita ubah contoh di atas menjadi:<br />

y = −2x<br />

2 + 15x<br />

+ 13<br />

Turunan pertama fungsi menjadi<br />

y ′ = −4 x + 15 , yang jika y′<br />

= 0 memberi x p = + 3,75<br />

Nilai puncak adalah<br />

y p<br />

= −2 (3,75)^2 + 15 × 3,75 + 13 = + 41,125<br />

Turunan kedua adalah y ′′ = −4<br />

bernilai negatif. Ini berarti<br />

bahwa nilai puncak tersebut adalah nilai maksimum.<br />

Contoh: Dua buah bilangan positif berjumlah 20. Kita diminta<br />

menentukan kedua bilangan tersebut sedemikian rupa<br />

sehingga perkaliannya mencapai nilai maksimum,<br />

sementara jumlahnya tetap 20.<br />

Jika salah satu bilangan kita sebut x maka bilangan yang<br />

lain adalah (20−x). Perkalian antara keduanya menjadi<br />

2<br />

y = x( 20 − x)<br />

= 20x<br />

− x<br />

Turunan pertama yang disamakan dengan nol akan<br />

memberikan nilai x yang memberikan y puncak .<br />

y ′ = 20 − 2x<br />

= 0 memberikan x = 10<br />

114 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


<strong>dan</strong> nilai puncaknya adalah<br />

y puncak<br />

= 200 −100<br />

= 100<br />

Turunan kedua adalah y ′′ = −2<br />

; ia bernilai negatif. Jadi<br />

y puncak yang kita peroleh adalah nilai maksimum; kedua<br />

bilangan yang dicari adalah 10 <strong>dan</strong> (20−10) = 10. Kurva<br />

dari fungsi dalam contoh ini terlihat pada Gb.9.8.<br />

120<br />

y<br />

100<br />

80<br />

60<br />

40<br />

20<br />

-5 -20 0 5 10 15 20 x 25<br />

-40<br />

0<br />

Gb.9.8. Kurva y = x( 20 − x)<br />

Kurva tersebut memotong sumbu-x di<br />

y = x( 20 − x)<br />

= 0 ⇒ x1 = 0 <strong>dan</strong> x2<br />

= 20<br />

Dalam contoh di atas kita memperoleh hanya satu nilai maksimum;<br />

semua nilai x yang lain akan memberikan nilai y dibawah nilai<br />

maksimum y puncak yang kita peroleh. Nilai maksimum demikian ini kita<br />

sebut nilai maksimum absolut.<br />

Jika seandainya y puncak yang kita peroleh adalah nilai minimum, maka ia<br />

akan menjadi minimum absolut, seperti pada contoh berikut.<br />

Contoh: Dua buah bilangan positif berselisih 20. Kita diminta<br />

menentukan kedua bilangan tersebut sedemikian rupa<br />

sehingga perkaliannya mencapai nilai minimum, sementara<br />

selisihnya tetap 20.<br />

Jika salah satu bilangan kita sebut x (positif) maka bilangan<br />

yang lain adalah (x + 20). Perkalian antara keduanya<br />

menjadi<br />

115


y = x(<br />

x + 20) = x<br />

2 + 20x<br />

Turunan pertama yang disamakan dengan nol akan<br />

memberikan nilai x yang memberikan y puncak .<br />

y ′ = 2 x + 20 = 0 sehingga x = −10<br />

<strong>dan</strong> nilai puncak adalah<br />

y puncak<br />

= 100 − 200 = −100<br />

Turunan kedua adalah y ′′ = + 2 ; ia bernilai positif. Jadi<br />

y puncak yang kita peroleh adalah nilai minimum; kedua<br />

bilangan yang dicari adalah −10 <strong>dan</strong> (−10+20) = +10.<br />

Kurva fungsi dalam contoh ini terlihat pada Gb.9.9.<br />

y 40<br />

-25 -20 -15 -10 -5 -20 0 x 5<br />

-100<br />

-120<br />

Gb.9.9. Kurva y = x( x + 20)<br />

Polinom Orde Tiga. <strong>Fungsi</strong> pangkat tiga diberikan secara umum oleh<br />

20<br />

0<br />

-40<br />

-60<br />

-80<br />

3 2<br />

y = ax + bx + cx + d<br />

(9.10)<br />

Turunan dari (10.29) adalah<br />

y ′ = 3ax<br />

2 + 2bx<br />

+ c<br />

(9.11)<br />

Dengan membuat y ′ = 0 kita akan mendapatkan x p .<br />

y′ 2<br />

= 0 = 3axp + 2bxp<br />

+ c<br />

Ada dua posisi nilai puncak, yaitu<br />

116 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


x<br />

p1<br />

, x<br />

p2<br />

− 2b<br />

±<br />

=<br />

− b ±<br />

=<br />

b<br />

2<br />

3a<br />

4b<br />

6a<br />

2<br />

− 3ac<br />

−12ac<br />

(9.12)<br />

Dengan memasukkan x p1 <strong>dan</strong> x p2 ke penyataan fungsi (10.11) kita peroleh<br />

nilai puncak y p1 <strong>dan</strong> y p2 . Namun bila x p1 = x p2 berarti dua titik puncak<br />

berimpit atau kita sebut titik belok.<br />

Contoh: Kita akan mencari di mana letak titik puncak dari kurva<br />

3 2<br />

fungsi y = 2x<br />

− 3x<br />

+ 3 <strong>dan</strong> apakah nilai puncak<br />

merupakan nilai minimum atau maksimum.<br />

Jika turunan pertama fungsi ini kita samakan dengan nol,<br />

akan kita peroleh nilai x di mana puncak-puncak kurva<br />

terjadi.<br />

y′<br />

= 6x<br />

2 − 6x<br />

= 6x(<br />

x −1)<br />

= 0<br />

memberikan x = 0 <strong>dan</strong> x = 1<br />

Memasukkan nilai x yang diperoleh ke persamaan asalnya<br />

memberikan nilai y, yaitu nilai puncaknya.<br />

x = 0<br />

x = 1<br />

memberikan<br />

memberikan<br />

y<br />

y<br />

puncak<br />

puncak<br />

= + 3<br />

= + 2<br />

Jadi posisi titik puncak adalah di P[0,3] <strong>dan</strong> Q[1,2]. Apakah<br />

nilai puncak y puncak minimum atau maksimum kita lihat dari<br />

turunan kedua dari fungsi y<br />

y ′′ = 12x<br />

− 6<br />

Untuk x = 0 ⇒ y ′′ = −6<br />

Untuk x = 1⇒<br />

y ′′ = + 6<br />

Jadi nilai puncak di P[0,3] adalah suatu nilai maksimum,<br />

se<strong>dan</strong>gkan nilai puncak di Q[1,2] adalah minimum. Kurva<br />

dari fungsi dalam contoh ini terlihat pada Gb.9.10.<br />

117


15<br />

y<br />

10<br />

5<br />

P[0,3] Q[1,2]<br />

R<br />

0<br />

-2 -1,5 -1 -0,5 0 0,5 1 1,5 2 2,5<br />

-5<br />

x<br />

-10<br />

-15<br />

y s<br />

9.5. Garis Singgung<br />

-20<br />

3 2<br />

Gb.9.10. Kurva y = 2x<br />

− 3x<br />

+ 3 <strong>dan</strong> garis singgung di R.<br />

Persamaan garis singgung pada titik R yang terletak di kurva suatu fungsi<br />

y = f (x) secara umum adalah y s = mx dengan kemiringan m adalah<br />

turunan pertama fungsi di titik R.<br />

3 2<br />

Contoh: Lihat fungsi y = 2x<br />

− 3x<br />

+ 3 yang kurvanya diberikan<br />

pada Gb.9.10.<br />

Turunan pertama adalah y ′ = 6x<br />

2 − 6x<br />

= 6x(<br />

x −1)<br />

. Titik R dengan<br />

absis x R = 2 , memiliki ordinat y R = 2 × 8 − 3 × 4 + 3 = 7 ; jadi<br />

koordinat R adalah R(2,7). Kemiringan garis singgung di titik R<br />

adalah m = 6 × 2 × 1=<br />

12 .<br />

Persamaan garis singgung y s =12 x + K . Garis ini harus melalui<br />

R(2,7) dengan kata lain koordinat R harus memenuhi persamaan<br />

garis singgung. Jika koordinat R kita masukkan ke persamaan<br />

garis singgung akan kita dapatkan nilai K.<br />

y s =12 x + K ⇒ 7 = 12 × 2 + K ⇒ K = 7 − 24 = −17<br />

.<br />

Persamaan garis singgung di titk R adalah y s = 12x<br />

−17<br />

118 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


9.6. Contoh Hubungan <strong>Diferensial</strong><br />

Berikut ini adalah beberapa contoh relasi diferensial. (ref. [3] Bab-2)<br />

Arus Listrik. Arus litrik adalah jumlah muatan listrik yang mengalir per<br />

detik, melalui suatu luas penampang tertentu. Ia merupakan laju aliran<br />

muatan. Kalau arus diberi simbol i <strong>dan</strong> muatan diberi simbol q maka<br />

dq<br />

i =<br />

dt<br />

Satuan arus adalah ampere (A), satuan muatan adalah coulomb (C). Jadi<br />

1 A = 1 C/detik.<br />

Tegangan Listrik. Tegangan listrik didefinisikan sebagai laju perubahan<br />

energi per satuan muatan. Kalau tegangan diberi simbol v <strong>dan</strong> energi<br />

diberi simbol w, maka<br />

dw<br />

v =<br />

dq<br />

Satuan daya adalah watt (W). Satuan energi adalah joule (J). Jadi 1 W =<br />

1 J/detik.<br />

Daya Listrik. Daya listrik didefinisikan sebagai laju perubahan energi.<br />

Jika daya diberi simbol p maka<br />

dw<br />

p =<br />

dt<br />

Dari definisi tegangan <strong>dan</strong> arus kita dapatkan<br />

dw dw dq<br />

p = = = vi<br />

dt dq dt<br />

Karakteristik Induktor. Karakteristik suatu piranti listrik dinyatakan<br />

dengan relasi antara arus yang melewati piranti dengan tegangan yang<br />

ada di terminal piranti tersebut. Jika L adalah induktansi induktor, v L <strong>dan</strong><br />

i L masing-masing adalah tegangan <strong>dan</strong> arus-nya, maka relasi antara arus<br />

<strong>dan</strong> tegangan induktor adalah<br />

di<br />

v L<br />

L<br />

L =<br />

dt<br />

Karakteristik Kapasitor. Untuk kapasitaor, jika C adalah kapasitansi<br />

kapasitor, v C <strong>dan</strong> i C adalah tegangan <strong>dan</strong> arus kapasitor, maka<br />

i<br />

C =<br />

dv<br />

C<br />

dt<br />

c<br />

119


Soal-Soal<br />

1. Carilah turunan fungsi-fungsi berikut untuk kemudian menentukan<br />

nilai puncak<br />

2<br />

y1<br />

= 5x<br />

− 10x<br />

− 7;<br />

2<br />

y2<br />

= 3x<br />

− 12x<br />

+ 2 ;<br />

2<br />

y3<br />

= −4x<br />

+ 2x<br />

+ 8<br />

2. Carilah turunan fungsi-fungsi berikut untuk kemudian menentukan<br />

nilai puncak<br />

3 2<br />

y1<br />

= 2x<br />

− 5x<br />

+ 4x<br />

− 2 ;<br />

4 3 2<br />

y2<br />

= x − 7x<br />

+ 2x<br />

+ 6 ;<br />

7 3 2<br />

y3<br />

= 3x<br />

− 7x<br />

+ 21x<br />

120 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 10<br />

Turunan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> (2)<br />

(<strong>Fungsi</strong> Perkalian <strong>Fungsi</strong>, <strong>Fungsi</strong> Pangkat Dari<br />

<strong>Fungsi</strong>, <strong>Fungsi</strong> Rasional, <strong>Fungsi</strong> Implisit)<br />

10.1. <strong>Fungsi</strong> Yang Merupakan Perkalian Dua <strong>Fungsi</strong><br />

Misalkan kita memiliki dua fungsi x, v (x)<br />

<strong>dan</strong> w (x)<br />

, <strong>dan</strong> kita hendak<br />

mencari turunan terhadap x dari fungsi y = vw . Misalkan nilai x berubah<br />

sebesar ∆x, maka fungsi w berubah sebesar ∆w, fungsi v berubah sebesar<br />

∆v, <strong>dan</strong> fungsi y berubah sebesar ∆y. Perubahan ini terjadi sedemikian<br />

rupa sehingga setelah perubahan sebesar ∆x hubungan y = vw tetap<br />

berlaku, yaitu<br />

( y + ∆y)<br />

= ( v + ∆v)(<br />

w + ∆w)<br />

(10.1)<br />

= ( vw + v∆w<br />

+ w∆v<br />

+ ∆w∆v)<br />

Dari sini kita dapatkan<br />

∆ y ( y + ∆y)<br />

− y ( wv + v∆w<br />

+ w∆v<br />

+ ∆w∆v<br />

− vw<br />

=<br />

=<br />

)<br />

∆x<br />

∆x<br />

∆x<br />

∆w<br />

∆v<br />

∆v∆w<br />

= v + w +<br />

∆x<br />

∆x<br />

∆x<br />

Jika ∆x mendekati nol maka demikian pula ∆v <strong>dan</strong> ∆w, sehingga<br />

juga mendekati nol. Persamaan (10.2) akan memberikan<br />

(10.2)<br />

∆v∆w<br />

∆x<br />

dy d( vw)<br />

dw dv<br />

= = v + w<br />

(10.3)<br />

dx dx dx dx<br />

Inilah formulasi turunan fungsi yang merupakan hasilkali dari dua<br />

fungsi.<br />

Contoh: Kita uji kebenaran formulasi ini dengan melihat suatu fungsi<br />

mononom 5<br />

y = 6x yang kita tahu turunannya adalah 4<br />

y ′ = 30x . Kita<br />

pan<strong>dan</strong>g sekarang fungsi y sebagai perkalian dua fungsi y = vw<br />

dengan 3<br />

v = 2x <strong>dan</strong> 2<br />

w = 3x . Menurut (10.3) turunan dari y menjadi<br />

121


3 2<br />

d(2x<br />

× 3x<br />

) 3 2 2 4 4 4<br />

y ′ =<br />

= 2x<br />

× 6x<br />

+ 3x<br />

× 6x<br />

= 12x<br />

+ 18x<br />

= 30x<br />

dx<br />

Ternyata sesuai dengan apa yang diharapkan.<br />

Bagaimanakah<br />

d ( uvw)<br />

jika u, v, w ketiganya adalah fungsi x. Kita<br />

dx<br />

aplikasikan (10.3) secara bertahap seperti berikut.<br />

d(<br />

uvw)<br />

d(<br />

uv)(<br />

w)<br />

dw d(<br />

uv)<br />

= = ( uv)<br />

+ w<br />

dx dx dx dx<br />

dw ⎧ dv du ⎫<br />

= ( uv)<br />

+ w⎨u<br />

+ v ⎬<br />

dx ⎩ dx dx ⎭<br />

dw dv du<br />

= ( uv)<br />

+ ( uw)<br />

+ ( vw)<br />

dx dx dx<br />

(10.4)<br />

Contoh: Kita uji formula ini dengan mengambil fungsi penguji<br />

sebelumnya, yaitu 5<br />

y = 6x yang kita tahu turunannya adalah<br />

4<br />

y ′ = 30x . Kita pan<strong>dan</strong>g sekarang fungsi y sebagai perkalian tiga<br />

fungsi y = uvw dengan u = 2x<br />

,<br />

(10.9) turunan dari y adalah<br />

2<br />

v = 3x , <strong>dan</strong> w = x . Menurut<br />

dy d(<br />

uvw)<br />

2 2 2<br />

= = (2x<br />

× 3x<br />

)(1) + (2x<br />

× x)(6x)<br />

dx dx<br />

2<br />

4 4 4 4<br />

+ (3x × x)(4x)<br />

= 6x<br />

+ 12x<br />

+ 12x<br />

= 30x<br />

Ternyata sesuai dengan yang kita harapkan.<br />

10.2. <strong>Fungsi</strong> Yang Merupakan Pangkat Dari Suatu <strong>Fungsi</strong><br />

Yang dimaksud di sini adalah bagaimana turunan<br />

dy jika y = v n dengan<br />

dx<br />

v adalah fungsi x, <strong>dan</strong> n adalah bilangan bulat. Kita ambil contoh fungsi<br />

6 3 2<br />

y 1 = v = v × v × v dengan v merupakan fungsi x. Jika kita<br />

aplikasikan formulasi (10.4) akan kita dapatkan<br />

122 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


2<br />

3<br />

dy1<br />

3 2 dv 3 dv 2 dv<br />

= ( v v ) + ( v v)<br />

+ ( v v)<br />

dx dx dx dx<br />

2<br />

5 dv 4 ⎛ dv dv ⎞ ⎛ dv dv ⎞<br />

3 2<br />

= v + v ⎜v<br />

+ v ⎟ + v ⎜v<br />

+ v ⎟<br />

dx ⎝ dx dx ⎠ ⎜ dx dx ⎟<br />

⎝<br />

⎠<br />

5 dv 5 dv 5 dv 4⎛<br />

dv dv ⎞<br />

= v + 2v<br />

+ v + v ⎜v<br />

+ v ⎟<br />

dx dx dx ⎝ dx dx ⎠<br />

5<br />

= 6v<br />

dv<br />

dx<br />

Contoh ini memperlihatkan bahwa<br />

yang secara umum dapat kita tulis<br />

6 6<br />

dv dv dv 5<br />

= = 6v<br />

dx dv dx<br />

dv<br />

n<br />

dx<br />

dv<br />

dx<br />

n−1<br />

dv<br />

= nv<br />

(10.5)<br />

dx<br />

Contoh: Kita ambil contoh yang merupakan gabungan antara<br />

perkalian <strong>dan</strong> pangkat dua fungsi.<br />

2 3 3 2<br />

y = ( x + 1) ( x −1)<br />

Kita gabungkan relasi turunan untuk perkalian dua fungsi <strong>dan</strong><br />

pangkat suatu fungsi.<br />

dy<br />

= ( x<br />

dx<br />

= ( x<br />

2<br />

= 6x<br />

2<br />

2<br />

( x<br />

= 6x(<br />

x<br />

+ 1)<br />

+ 1) 2( x<br />

3<br />

2<br />

3<br />

3<br />

+ 1) ( x<br />

−1)(<br />

x<br />

d(<br />

x −1)<br />

dx<br />

3<br />

3<br />

2<br />

3<br />

−1)(3x<br />

3<br />

+ ( x<br />

−1)<br />

+ 6x(<br />

x<br />

2<br />

2<br />

2<br />

+ 1) (2x<br />

) + ( x<br />

3<br />

3<br />

−1)<br />

3<br />

3<br />

2<br />

+ x −1)<br />

d(<br />

x + 1)<br />

dx<br />

2<br />

−1)<br />

3( x<br />

2<br />

2<br />

2<br />

−1)<br />

( x<br />

2<br />

3<br />

+ 1) 2x<br />

+ 1)<br />

2<br />

2<br />

123


10.3. <strong>Fungsi</strong> Rasional<br />

<strong>Fungsi</strong> rasional merupakan rasio dari dua fungsi<br />

v<br />

y = (10.6)<br />

w<br />

Tinjauan atas fungsi demikian ini hanya terbatas pada keadaan w ≠ 0 .<br />

Kita coba meman<strong>dan</strong>g fungsi ini sebagai perkalian dari dua fungsi:<br />

−1<br />

y = vw<br />

(10.7)<br />

Kalau kita aplikasikan (10.3) pada (10.7) kita peroleh<br />

atau<br />

−1<br />

dy d ⎛ v ⎞ d(<br />

vw ) dw −<br />

= ⎜ ⎟ = = v + w<br />

dx dx ⎝ w ⎠ dx dx<br />

−2<br />

dv −1<br />

dv − v dv 1 dv<br />

= −vw<br />

+ w = +<br />

dx dx 2<br />

w dx w dx<br />

1 ⎛ dv dw ⎞<br />

= ⎜ w − v ⎟<br />

2<br />

w ⎝ dx dx ⎠<br />

d<br />

dx<br />

⎛<br />

⎜<br />

⎝<br />

v<br />

w<br />

⎛ dv dw ⎞<br />

⎜w<br />

− v ⎟<br />

⎞ ⎝ dx dx ⎠<br />

⎟ =<br />

⎠<br />

2<br />

w<br />

124 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

−1<br />

1<br />

dv<br />

dx<br />

(10.8)<br />

Inilah formulasi turunan fungsi rasional. <strong>Fungsi</strong> v <strong>dan</strong> w biasanya<br />

merupakan polinom dengan v mempunyai orde lebih rendah dari w.<br />

(Pangkat tertinggi peubah x dari v lebih kecil dari pangkat tertinggi<br />

peubah x dari w).<br />

Contoh:<br />

2<br />

1).<br />

x − 3<br />

y =<br />

3<br />

x<br />

2).<br />

2 1<br />

2<br />

y = x +<br />

x<br />

3 2 2<br />

dy x (2x)<br />

− ( x − 3)(3x<br />

)<br />

=<br />

dx<br />

6<br />

x<br />

4 4 2 2<br />

2x<br />

− (3x<br />

− 9x<br />

) − x + 9<br />

=<br />

=<br />

6<br />

4<br />

x<br />

x


2<br />

dy x × 0 −1×<br />

2x<br />

2<br />

= 2x<br />

+<br />

= 2x<br />

−<br />

dx<br />

4<br />

3<br />

x<br />

2<br />

3).<br />

x + 1 2<br />

y = ; dengan x ≠ 1 (agar penyebut tidak nol)<br />

2<br />

x −1<br />

2<br />

2<br />

dy ( x −1)2<br />

x − ( x + 1)2 x<br />

=<br />

dx<br />

2 2<br />

( x −1)<br />

3<br />

3<br />

2x<br />

− 2x<br />

− 2x<br />

− 2x<br />

− 4x<br />

=<br />

=<br />

2 2<br />

2 2<br />

( x −1)<br />

( x −1)<br />

10.4. <strong>Fungsi</strong> Implisit<br />

Sebagian fungsi implisit dapat diubah ke dalam bentuk explisit namun<br />

sebagian yang lain tidak. Untuk fungsi yang dapat diubah dalam bentuk<br />

eksplisit, turunan fungsi dapat dicari dengan cara seperti yang sudah kita<br />

pelajari di atas. Untuk mencari turunan fungsi yang tak dapat diubah ke<br />

dalam bentuk eksplisit perlu cara khusus, yang disebut diferensiasi<br />

implisit. Dalam cara ini kita menganggap bahwa fungsi y dapat<br />

didiferensiasi terhadap x. Kita akan mengambil beberapa contoh.<br />

Contoh:<br />

1). 2 2<br />

x + xy + y = 8 . <strong>Fungsi</strong> implisit ini merupakan sebuah<br />

persamaan. Jika kita melakukan operasi matematis di ruas kiri,<br />

maka operasi yang sama harus dilakukan pula di ruas kanan agar<br />

kesamaan tetap terjaga. Kita lakukan diferensiasi (cari turunan) di<br />

kedua ruas, <strong>dan</strong> kita akan peroleh<br />

dy dx dy<br />

2x<br />

+ x + y + 2y<br />

= 0<br />

dx dx dx<br />

dy<br />

( x + 2y)<br />

= −2x<br />

− y<br />

dx<br />

Untuk titik-titik di mana ( x + 2y)<br />

≠ 0 kita peroleh turunan<br />

dy<br />

dx<br />

= −<br />

2x<br />

+ y<br />

x + 2y<br />

Untuk suatu titik tertentu, misalnya [1,2], maka<br />

125


dy 2 + 2<br />

= − = −0,8<br />

.<br />

dx 1 + 4<br />

Inilah kemiringan garis singgung di titik [1,2] pada kurva fungsi y<br />

bentuk implisit yang se<strong>dan</strong>g kita hadapi.<br />

2). 4 3 4<br />

x + 4xy<br />

− 3y<br />

= 4 . <strong>Fungsi</strong> implisit ini juga merupakan sebuah<br />

persamaan. Kita lakukan diferensiasi pada kedua ruas, <strong>dan</strong> kita<br />

akan memperoleh<br />

3<br />

4<br />

3 dy 3 d(4x)<br />

d(3y<br />

)<br />

4x<br />

+ 4x<br />

+ y − = 0<br />

dx dx dx<br />

3 2 dy 3 3 dy<br />

4x<br />

+ 4x(3y<br />

) + 4y<br />

−12y<br />

= 0<br />

dx<br />

dx<br />

2 3 dy 3 3<br />

(12xy − 12y<br />

) = −4(<br />

x + y )<br />

dx<br />

Di semua titik di mana 2 3<br />

( xy − y ) ≠ 0 kita dapat memperoleh<br />

turunan<br />

3 3<br />

dy − ( x + y )<br />

=<br />

dx 2 3<br />

3( xy − y )<br />

10.5. <strong>Fungsi</strong> Berpangkat Tidak Bulat<br />

Pada waktu kita mencari turunan fungsi yang merupakan pangkat dari<br />

suatu fungsi lain, y = v n , kita syaratkan bahwa n adalah bilangan bulat.<br />

Kita akan melihat sekarang bagaimana jika n merupakan sebuah rasio<br />

p<br />

n = dengan p <strong>dan</strong> q adalah bilangan bulat <strong>dan</strong> q ≠ 0, serta v adalah<br />

q<br />

fungsi yang bisa diturunkan.<br />

<strong>Fungsi</strong> (10.9) dapat kita tuliskan<br />

y<br />

p / q<br />

= v<br />

(10.9)<br />

q p<br />

y = v<br />

(10.10)<br />

yang merupakan bentuk implisit fungsi y. Jika kita lakukan diferensiasi<br />

terhadap x di kedua ruas (10.10) kita peroleh<br />

qy<br />

dy<br />

= pv<br />

dx<br />

q−1 p−1<br />

126 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

dv<br />

dx


Jika y ≠ 0, kita dapatkan<br />

p / q p−1<br />

dy d(<br />

v ) pv dv<br />

= =<br />

(10.11)<br />

dx dx q−1<br />

qy dx<br />

Akan tetapi dari (10.9) kita lihat bahwa<br />

sehingga (10.11) menjadi<br />

y<br />

p / q q−1<br />

p−(<br />

p / )<br />

( v ) = v<br />

q−1 q<br />

p / q p−1<br />

dy d(<br />

v ) pv<br />

= =<br />

dx dx p−(<br />

p / q)<br />

qv<br />

=<br />

=<br />

=<br />

p<br />

q<br />

p<br />

q<br />

( p / q)<br />

−1<br />

v<br />

dv<br />

dx<br />

( p−1)<br />

− p+<br />

( p / q)<br />

v<br />

dv<br />

dx<br />

dv<br />

dx<br />

(10.12)<br />

Formulasi (10.12) ini mirip dengan (10.5), hanya perlu persyaratan<br />

bahwa v ≠ 0 untuk p/q < 1.<br />

10.6. Kaidah Rantai<br />

Apabila kita mempunyai persamaan<br />

x = f ( t)<br />

<strong>dan</strong> y = f ( t)<br />

(10.13)<br />

maka relasi antara x <strong>dan</strong> y dapat dinyatakan dalam t. Persamaan demikian<br />

disebut persamaan parametrik, <strong>dan</strong> t disebut parameter. Jika kita<br />

eliminasi t dari kedua persamaan di atas, kita dapatkan persamaan yang<br />

berbentuk<br />

y = F(x)<br />

(10.14)<br />

Bagaimanakah<br />

dy<br />

= F ′(x)<br />

dari (10.14) ber-relasi dengan<br />

dx<br />

dy<br />

dx<br />

= g′<br />

( t)<br />

<strong>dan</strong> = f ′(<br />

t)<br />

?<br />

dt<br />

dt<br />

Pertanyaan ini terjawab oleh kaidah rantai berikut ini.<br />

127


Jika y = F(x)<br />

dapat diturunkan terhadap x <strong>dan</strong><br />

x = f (t) dapat diturunkan terhadap t, maka<br />

y = F( f ( t)<br />

) = g(<br />

t)<br />

dapat diturunkan terhadap t<br />

menjadi<br />

dy dy dx =<br />

dt dx dt<br />

(10.15)<br />

Relasi ini sudah kita kenal.<br />

10.7. <strong>Diferensial</strong> dx <strong>dan</strong> dy<br />

Pada pembahasan fungsi linier kita tuliskan kemiringan garis, m, sebagai<br />

∆y<br />

( y2<br />

− y1)<br />

m = =<br />

∆x<br />

( x2<br />

− x1)<br />

kita lihat kasus jika ∆x mendekati nol namun tidak sama dengan nol.<br />

Limit ini kita gunakan untuk menyatakan turunan fungsi y(x) terhadap x<br />

pada formulasi<br />

dy<br />

dx<br />

=<br />

lim<br />

∆x→0<br />

∆y<br />

=<br />

∆x<br />

f ′(<br />

x)<br />

Sekarang kita akan melihat dx <strong>dan</strong> dy yang didefinisikan sedemikian rupa<br />

sehingga rasio dy/dx , jika dx≠ 0, sama dengan turunan fungsi y terhadap<br />

x. Hal ini mudah dilakukan jika x adalah peubah bebas <strong>dan</strong> y merupakan<br />

fungsi dari x:<br />

Kita ambil definisi sebagai berikut<br />

y = F(x)<br />

(10.16)<br />

1. dx, kita sebut sebagai diferensial x, merupakan bilangan nyata<br />

berapapun nilainya, <strong>dan</strong> merupakan peubah bebas yang lain<br />

selain x;<br />

2. dy, kita sebut sebagai diferensial y, adalah fungsi dari x <strong>dan</strong> dx<br />

yang dinyatakan dengan<br />

dy = F'<br />

( x)<br />

dx<br />

(10.17)<br />

Kita telah terbiasa menuliskan turunan fungsi y terhadap x sebagai<br />

128 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


dy<br />

= f ′(x)<br />

.<br />

dx<br />

Perhatikanlah bahwa ini bukanlah rasio dari dy terhadap dx melainkan<br />

turunan fungsi y terhadap x. Akan tetapi jika kita bersikukuh meman<strong>dan</strong>g<br />

relasi ini sebagai suatu rasio dari dy terhadap dx maka kita juga akan<br />

memperoleh relasi (10.17), namun sesungguhnya (10.17) didefinisikan<br />

<strong>dan</strong> bukan berasal dari relasi ini.<br />

Pengertian terhadap dy lebih jelas jika dilihat secara geometris seperti<br />

terlihat pada Gb.10.1. Di titik P pada kurva, jika nilai x berubah sebesar<br />

dx satuan, maka di sepanjang garis singgung di titik P nilai y akan<br />

berubah sebesar dy. <strong>Diferensial</strong> dx dianggap bernilai positif jika ia<br />

“mengarah ke kanan” <strong>dan</strong> negatif jika “mengarah ke kiri”. <strong>Diferensial</strong> dy<br />

dianggap bernilai positif jika ia “mengarah ke atas” <strong>dan</strong> negatif jika<br />

“mengarah ke bawah”.<br />

y<br />

y<br />

dy<br />

dx<br />

P dx dy<br />

P<br />

θ<br />

θ<br />

x<br />

x<br />

y<br />

dx<br />

P<br />

dy<br />

θ<br />

x<br />

Gb.10.1. Penjelasan geometris tentang diferensial.<br />

dy<br />

= tan θ ; dy = (tan θ)<br />

dx<br />

dx<br />

dy<br />

1. adalah laju perubahan y terhadap perubahan x.<br />

dx<br />

2. dy adalah besar perubahan nilai y sepanjang garis<br />

singgung di titik P pada kurva, jika nilai x berubah<br />

sebesar dx skala.<br />

y<br />

dy<br />

dx<br />

P<br />

θ<br />

x<br />

129


Dengan pengertian diferensial seperti di atas, kita kumpulkan formula<br />

turunan fungsi <strong>dan</strong> formula diferensial fungsi dalam Tabel-10.1. Dalam<br />

tabel ini v adalah fungsi x.<br />

Tabel-10.1<br />

Turunan <strong>Fungsi</strong><br />

<strong>Diferensial</strong><br />

dc<br />

1. = 0 ; c = konstan 1. dc = 0 ; c = konstan<br />

dx<br />

2.<br />

dcv dv = c<br />

2. dcv = cdv<br />

dx dx<br />

d( v + w)<br />

dv dw<br />

3. = +<br />

3. d ( v + w)<br />

= dv + dw<br />

dx dx dx<br />

4.<br />

dvw dw dv<br />

= v + w 4. d ( vw)<br />

= vdw + wdv<br />

dx dx dx<br />

⎛ v ⎞<br />

d⎜<br />

⎟<br />

⎝ w ⎠<br />

5. =<br />

dx<br />

dv<br />

w<br />

dx<br />

− v<br />

2<br />

w<br />

dw<br />

dx<br />

⎛<br />

5. d⎜<br />

⎝<br />

v<br />

w<br />

⎞ wdv − vdw<br />

⎟ =<br />

⎠<br />

2<br />

w<br />

n<br />

dv<br />

6.<br />

dx<br />

n−1<br />

dv<br />

n n−1<br />

= nv<br />

6. dv = nv dv<br />

dx<br />

−1<br />

7.<br />

dcx n<br />

n<br />

= cnx<br />

7. n n−1<br />

d(<br />

cx ) = cnx dx<br />

dx<br />

Ada dua cara untuk mencari diferensial suatu fungsi.<br />

1. Mencari turunannya lebih dulu (kolom kiri Tabel-10.1),<br />

kemudian dikalikan dengan dx.<br />

2. Menggunakan langsung formula diferensial (kolom kanan<br />

Tabel-10.1)<br />

Kita ambil suatu contoh: cari dy dari fungsi<br />

3 3 2 −<br />

y = x − x + 5x<br />

6<br />

130 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Turunan y adalah : y ′ = 3x<br />

2 − 6x<br />

+ 5<br />

sehingga<br />

2<br />

dy = (3x<br />

− 6x<br />

+ 5)<br />

dx<br />

Kita dapat pula mencari langsung dengan menggunakan formula dalam<br />

tabel di atas:<br />

3 2<br />

2<br />

dy = d(<br />

x ) + d(<br />

−3x<br />

) + d(5x)<br />

+ d(<br />

−6)<br />

= 3x<br />

dx − 6xdx<br />

+ 5dx<br />

2<br />

= (3x<br />

− 6x<br />

+ 5) dx<br />

131


Soal-Soal : Carilah turunan fungsi-fungsi berikut.<br />

3 2<br />

y = ( x − 1) ( x + 3) ;<br />

3 4<br />

y = ( x − 2x)<br />

;<br />

2 2 −3<br />

y = ( x + 2) ( x + 1)<br />

2x<br />

+ 1<br />

y = ;<br />

2<br />

x − 1<br />

2<br />

⎛ x + 1⎞<br />

y = ⎜ ⎟ ;<br />

⎝ x − 1⎠<br />

2x<br />

y =<br />

2<br />

3x<br />

+ 1<br />

2xy<br />

+ y<br />

x<br />

x<br />

2<br />

3<br />

y<br />

2<br />

+ y<br />

3<br />

2<br />

= x<br />

= 1;<br />

x − y<br />

= 2<br />

x − 2y<br />

= x + y;<br />

2<br />

+ y<br />

2<br />

;<br />

132 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 11<br />

Turunan <strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> (3)<br />

(<strong>Fungsi</strong>-<strong>Fungsi</strong> Trigonometri, Trigonometri<br />

Inversi, Logaritmik, Eksponensial)<br />

11.1. Turunan <strong>Fungsi</strong> Trigonometri<br />

Jika<br />

y = sin x maka<br />

dy d sin x sin( x + ∆x)<br />

− sin x<br />

= =<br />

dx dx<br />

∆x<br />

sin x cos∆x<br />

+ cos xsin<br />

∆x<br />

− sin x<br />

=<br />

∆x<br />

Untuk nilai yang kecil, ∆x menuju nol, sin∆x = ∆x <strong>dan</strong> cos∆x = 1. Oleh<br />

karena itu<br />

Jika<br />

y = cos x maka<br />

d sin x = cos x<br />

(11.1)<br />

dx<br />

dy d cos x cos( x + ∆x)<br />

− cos x cos x cos ∆x<br />

− sin xsin<br />

∆x<br />

− cos x<br />

= =<br />

=<br />

dx dx<br />

∆x<br />

∆x<br />

Jik ∆x menuju nol, maka sin∆x = ∆x <strong>dan</strong> cos∆x = 1. Oleh karena itu<br />

d cos x<br />

= − sin x<br />

(11.2)<br />

dx<br />

Turunan fungsi trigonometri yang lain tidak terlalu sulit untuk dicari.<br />

2<br />

d tan x d ⎛ sin x ⎞ cos x − sin x(<br />

−sin<br />

x)<br />

1 2<br />

= ⎜ ⎟ =<br />

= = sec x<br />

dx dx cos x<br />

2<br />

2<br />

⎝ ⎠ cos x cos x<br />

2<br />

d 2<br />

cot x d ⎛ cos x ⎞ − sin<br />

= ⎜ ⎟ =<br />

dx dx ⎝ sin x ⎠<br />

d sec x<br />

=<br />

dx<br />

d csc x<br />

=<br />

dx<br />

d<br />

dx<br />

d<br />

dx<br />

⎛<br />

⎜<br />

⎝<br />

⎛<br />

⎜<br />

⎝<br />

x − cos x(cos<br />

x)<br />

−1<br />

= = −csc<br />

2<br />

2<br />

sin x sin x<br />

1 ⎞ 0 − ( −sin<br />

x)<br />

sin x<br />

⎟ =<br />

= = sec x tan x<br />

cos x<br />

2<br />

2<br />

⎠ cos x cos x<br />

1 ⎞ 0 − (cos x)<br />

− cos x<br />

⎟ = = = −csc<br />

x cot x<br />

sin x 2<br />

2<br />

⎠ sin x sin x<br />

x<br />

133


Soal-Soal: Carilah turunan fungsi-fungsi berikut.<br />

2<br />

y = tan( 4x<br />

) ; y = 5sin (3x) ; y = 3cos<br />

y = cot(3x<br />

+ 6) ;<br />

4<br />

4<br />

2<br />

3<br />

y = sin (2x)<br />

− cos(2x)<br />

y = sec x − tan x ; y = (csc x + cot x)<br />

Contoh-Contoh Dalam Praktik Rekayasa. Berikut ini kita akan melihat<br />

turunan fungsi trigonometri dalam rangkaian listrik. (ref. [3] Bab-4).<br />

1). Tegangan pada suatu kapasitor merupakan fungsi sinus v C =<br />

200sin400t volt. Kita akan melihat bentuk arus yang mengalir pada<br />

kapasitor yang memiliki kapasitansi C = 2×10 -6 farad ini.<br />

Hubungan antara tegangan kapasitor v C <strong>dan</strong> arus kapasitor i C adalah<br />

i<br />

C =<br />

Arus yang melalui kapasitor adalah<br />

dv<br />

d<br />

dt<br />

dv<br />

C<br />

dt<br />

6<br />

C<br />

C<br />

C = = 2 × 10 ×<br />

=<br />

i<br />

dt<br />

C<br />

2<br />

( 200sin 400t) 0,160cos400t<br />

ampere<br />

Daya adalah perkalian tegangan <strong>dan</strong> arus. Jadi daya yang diserap<br />

kapasitor adalah<br />

pC<br />

= vCiC<br />

= 200sin 400t<br />

× 0,16cos 400t<br />

= 32cos 400t<br />

sin 400t<br />

= 16sin 800t<br />

watt<br />

Bentuk kurva tegangan <strong>dan</strong> arus terlihat pada gambar di bawah ini.<br />

v C<br />

i C<br />

p C<br />

200<br />

100<br />

i C<br />

v C<br />

p C<br />

2<br />

x<br />

-100<br />

0<br />

0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05<br />

t [detik]<br />

-200<br />

Pada waktu tegangan mulai naik pada t = 0, arus justru sudah mulai<br />

menurun dari nilai maksimumnya. Dengan kata lain kurva arus<br />

mencapai nilai puncak-nya lebih dulu dari kurva tegangan; dikatakan<br />

134 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


ahwa arus kapasitor mendahului tegangan kapasitor. Perbedaan<br />

kemunculan ini disebut perbedaan fasa yang untuk kapasitor<br />

besarnya adalah 90 o ; jadi arus mendahului tegangan dengan beda<br />

fasa sebesar 90 o .<br />

Kurva daya bervariasi secara sinusoidal dengan frekuensi dua kali<br />

lipat dari frekuensi tegangan maupun arus. Variasi ini simetris<br />

terhadap sumbu waktu. Kapasitor menyerap daya selama setengah<br />

perioda <strong>dan</strong> memberikan daya selama setengah perioda berikutnya.<br />

Secara keseluruhan tidak akan ada penyerapan daya netto; daya ini<br />

disebut daya reaktif.<br />

2). Arus pada suatu inductor L = 2,5 henry merupakan fungsi sinus<br />

terhadap waktu sebagai i L = −0,2cos400t ampere. Berapakah<br />

tegangan antara ujung-ujung induktor <strong>dan</strong> daya yang diserapnya ?<br />

Hubungan antara tegangan induktor v L <strong>dan</strong> arus induktor i L adalah<br />

diL<br />

vL = L<br />

dt<br />

diL<br />

d<br />

vL = L = 2 ,5 × − 0,2 cos 400t<br />

= 2,5 × 0,2 × sin 400t<br />

× 400 = 200sin 400<br />

dt dt<br />

( ) t<br />

Daya yang diserap inductor adalag tegangan kali arusnya.<br />

pL<br />

= vLiL<br />

= 200sin 400t<br />

× ( −0.2cos 400t)<br />

= −40sin 400t<br />

cos 400t<br />

= −20sin 800t<br />

W<br />

Kurva tegangan, arus, <strong>dan</strong> daya adalah sebagai berikut.<br />

v L<br />

i L<br />

p L<br />

200<br />

100<br />

v L i L<br />

p L<br />

0<br />

0<br />

-100<br />

0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 t[detik]<br />

-200<br />

Kurva tegangan mencapai nilai puncak pertama-nya lebih awal dari<br />

kurva arus. Jadi tegangan mendahului arus atau lebih sering<br />

dikatakan bahwa arus ketinggalan dari tegangan (hal ini merupakan<br />

kebalikan dari kapasitor). Perbedaan fasa di sini juga 90 o , artinya<br />

arus ketinggalan dari tegangan dengan sudut fasa 90 o .<br />

Daya bervariasi secara sinus <strong>dan</strong> simetris terhadap sumbu waktu,<br />

yang berarti tak terjadi transfer energi netto; ini adalah daya reaktif.<br />

135


11.2. Turunan <strong>Fungsi</strong> Trigonometri Inversi<br />

1) y = sin −1 x<br />

1<br />

y<br />

2<br />

1 − x<br />

x<br />

x = sin y ⇒ dx = cos ydy ⇒<br />

dy<br />

dx<br />

=<br />

1<br />

1 − x<br />

2<br />

dy<br />

dx<br />

=<br />

1<br />

cos<br />

y<br />

2) y = cos −1 x<br />

3) y = tan −1 x<br />

4) y = cot −1 x<br />

1 2<br />

1 − x<br />

y<br />

x<br />

2<br />

1+<br />

x<br />

y<br />

1<br />

2<br />

1+<br />

x<br />

y<br />

x<br />

x<br />

1<br />

x = cos y ⇒ dx = −sin<br />

ydy ⇒<br />

dy −1<br />

=<br />

dx sin y<br />

dy<br />

dx<br />

=<br />

−1<br />

1 − x<br />

1<br />

x = tan y ⇒ dx = dy ⇒<br />

2<br />

cos y<br />

dy = cos<br />

2 y<br />

dx<br />

dy 1<br />

=<br />

dx 1+<br />

x<br />

2<br />

−1<br />

x = cot y ⇒ dx = dy ⇒<br />

2<br />

sin y<br />

dy = −sin<br />

2 y<br />

dx<br />

dy<br />

dx<br />

−1<br />

=<br />

1+<br />

x<br />

2<br />

2<br />

136 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


5) y = sec −1 x ⇒<br />

x<br />

y<br />

1<br />

1<br />

0 − ( −sin<br />

x)<br />

x = sec y = ⇒ dx =<br />

dy<br />

cos y<br />

2<br />

cos y<br />

2<br />

dy cos y 1 ⎛ ⎞<br />

⎜ x<br />

= = × ⎟<br />

x 2 − 1 dx sin y 2<br />

x ⎜ 2 ⎟<br />

⎝ x − 1 ⎠<br />

1<br />

=<br />

2<br />

x x − 1<br />

6) y = csc −1 x<br />

x<br />

y<br />

x 2 − 1<br />

1<br />

1 0 − (cos x)<br />

x = csc y = ⇒ dx = dy<br />

sin y<br />

2<br />

sin y<br />

2<br />

dy sin y 1<br />

= = − ×<br />

dx − cos y 2<br />

x<br />

=<br />

x<br />

− 1<br />

x<br />

2<br />

− 1<br />

x<br />

x<br />

2<br />

− 1<br />

Soal-Soal<br />

1). Jika α = sin −1<br />

(0.5)<br />

carilah cos α , tan α , sec α , <strong>dan</strong> csc α .<br />

−<br />

2). Jika α = cos 1 ( −0.5)<br />

carilah<br />

sin α , tan α , sec α , <strong>dan</strong> csc α .<br />

−1<br />

−1<br />

3). Hitunglah sin (1) − sin ( −1)<br />

.<br />

−1<br />

−1<br />

4). Hitunglah tan (1) − tan ( −1)<br />

.<br />

−1<br />

−1<br />

5). Hitunglah sec (2) − sec ( −2)<br />

.<br />

11.3. <strong>Fungsi</strong> Trigonometri Dari Suatu <strong>Fungsi</strong><br />

Jika v = f(x), maka<br />

d(sin<br />

v)<br />

d(sin<br />

v)<br />

=<br />

dx dv<br />

d(cosv)<br />

d(cosv)<br />

=<br />

dx dv<br />

dv<br />

dx<br />

dv<br />

dx<br />

= cosv<br />

dv<br />

dx<br />

= −sin<br />

v<br />

dv<br />

dx<br />

137


Jika w = f(x), maka<br />

d(tan<br />

v)<br />

d ⎛ sin v ⎞ cos x + sin x dv 2<br />

= ⎜ ⎟ =<br />

= sec v<br />

dx dx cosv<br />

2<br />

⎝ ⎠ cos x dx<br />

d 2<br />

(cot v)<br />

d ⎛ cosv<br />

⎞ dv<br />

= ⎜ ⎟ = −csc<br />

v . (Buktikan!).<br />

dx dx ⎝ sin v ⎠ dx<br />

d(secv)<br />

=<br />

dx<br />

d<br />

dx<br />

⎛<br />

⎜<br />

⎝<br />

1<br />

cos<br />

2<br />

⎞ 0 + sin v<br />

⎟ =<br />

v 2<br />

⎠ cos v<br />

dv<br />

dx<br />

2<br />

= secv<br />

tan v<br />

dv<br />

dx<br />

d(cscv)<br />

d ⎛ 1 ⎞<br />

dv<br />

= ⎜ ⎟ = −cscv<br />

cot v . (Buktikan!).<br />

dx dx ⎝ sin v ⎠<br />

dx<br />

−1<br />

d(sin<br />

w)<br />

=<br />

dx<br />

−1<br />

d(cos<br />

w)<br />

= −<br />

dx<br />

−1<br />

d(tan<br />

dx<br />

−1<br />

d(cot<br />

dx<br />

−1<br />

d(sec<br />

dx<br />

−1<br />

d(csc<br />

dx<br />

1<br />

1 − w<br />

w)<br />

1<br />

=<br />

1 + w<br />

1<br />

2<br />

1 − w<br />

2<br />

w)<br />

1<br />

= −<br />

1 + w<br />

w)<br />

=<br />

w<br />

w)<br />

= −<br />

w<br />

1<br />

w<br />

2<br />

dw<br />

dx<br />

2<br />

dw<br />

dx<br />

2<br />

1<br />

w<br />

dw<br />

dx<br />

−1<br />

2<br />

dw<br />

dx<br />

. (Buktikan!).<br />

. (Buktikan!).<br />

. (Buktikan!).<br />

. (Buktikan!).<br />

dw<br />

dx<br />

. (Buktikan!).<br />

dw<br />

. (Buktikan!).<br />

−1<br />

dx<br />

dv<br />

dx<br />

Soal-Soal : Carilah turunan fungsi-fungsi berikut.<br />

y = sin<br />

−1<br />

1<br />

y = tan<br />

3<br />

(0,5x) ;<br />

−1<br />

x<br />

;<br />

3<br />

y = cos<br />

y = sec<br />

−1<br />

−1<br />

(2x)<br />

4x<br />

138 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


11.4. Turunan <strong>Fungsi</strong> Logaritmik<br />

Walaupun kita belum membicarakan tentang integral, kita telah<br />

mengetahui bahwa fungsi f ( x)<br />

= ln x didefinisikan melalui suatu<br />

integrasi (lihat bahasan tentang fungsi logaritmik sub-bab 8.1)<br />

x 1<br />

f ( x)<br />

= ln x =<br />

∫<br />

dt ( x > 0)<br />

1 t<br />

y = ln x adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh kurva (1/t) <strong>dan</strong> sumbu-t, di<br />

selang antara t = 1 <strong>dan</strong> t = x pada Gb.11.1.<br />

6<br />

5<br />

y<br />

4<br />

3<br />

2<br />

1<br />

1/t lnx<br />

ln(x+∆x)−lnx<br />

Kita lihat pula<br />

0<br />

0 1 2 x 3 t<br />

x<br />

4<br />

1/x<br />

x+∆x 1/(x+∆x)<br />

Gb.11.1. Definisi lnx <strong>dan</strong> turunan lnx secara grafis.<br />

ln( x + ∆x)<br />

− ln( x)<br />

1 ⎛ ∆ ⎞<br />

= ⎜ ⎟<br />

∆ ∆ ∫<br />

x+ x 1<br />

dt<br />

(11.3)<br />

x x ⎝ x t ⎠<br />

Apa yang berada dalam tanda kurung (11.3) adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang<br />

dibatasi oleh kurva (1/t) <strong>dan</strong> sumbu-t, antara t = x <strong>dan</strong> t = x + ∆x. Luas<br />

bi<strong>dan</strong>g ini lebih kecil dari luas persegi panjang (∆x × 1/x). Namun jika<br />

∆x makin kecil, luas bi<strong>dan</strong>g tersebut akan makin mendekati (∆x × 1/x);<br />

<strong>dan</strong> jika ∆x mendekati nol luas tersebut sama dengan (∆x × 1/x). Pada<br />

keadaan batas ini (11.3) akan bernilai (1/x). Jadi<br />

d ln x 1 = (11.4)<br />

dx x<br />

139


Jika v adalah v = f(x), kita mencari turunan dari lnv dengan<br />

memanfaatkan kaidah rantai. Kita ambil contoh: v = 3x<br />

2 + 4<br />

d ln v d ln v<br />

=<br />

dx dv<br />

dv<br />

dx<br />

1 d(3x<br />

+ 4) 6x<br />

=<br />

=<br />

2<br />

2<br />

3x<br />

+ 4 dx 3x<br />

+ 4<br />

Soal-Soal: Carilah turunan fungsi-fungsi berikut.<br />

ln( 2<br />

x<br />

y = x + 2x) ; y = ln ; y = ln(cos x) ; y = ln(ln x)<br />

2 + 2x<br />

11.5. Turunan <strong>Fungsi</strong> Eksponensial<br />

<strong>Fungsi</strong> eksponensial berbentuk<br />

140 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

2<br />

x<br />

y = e<br />

(11.5)<br />

Persamaan (11.5) berarti ln y = x ln e = x , <strong>dan</strong> jika kita lakukan<br />

penurunan secara implisit di kedua sisinya akan kita dapatkan<br />

d ln y 1<br />

=<br />

dx y<br />

dy<br />

dx<br />

= 1<br />

atau<br />

dy<br />

dx<br />

x<br />

= =<br />

(11.6)<br />

Jadi turunan dari e x adalah e x itu sendiri. Inilah fungsi eksponensial yang<br />

tidak berubah terhadap operasi penurunan yang berarti bahwa penurunan<br />

dapat dilakukan beberapa kali tanpa mengubah bentuk fungsi. Turunanturunan<br />

dari<br />

x<br />

y = e adalah<br />

x<br />

y ′<br />

x<br />

= e y ′′<br />

x<br />

= e y ′′′<br />

= e dst.<br />

Formula yang lebih umum adalah jika eksponennya merupakan suatu<br />

fungsi, v = v(x)<br />

.<br />

Kita ambil contoh:<br />

y = e<br />

v<br />

v<br />

y<br />

e<br />

de de dv v dv<br />

= = e<br />

(11.7)<br />

dx dv dx dx<br />

tan −1 x<br />

dy tan<br />

= e<br />

dx<br />

−1<br />

x<br />

d tan<br />

−1<br />

−1<br />

tan x<br />

x e<br />

=<br />

dx<br />

2<br />

+ x<br />

Soal-Soal: Carilah turunan fungsi-fungsi berikut.<br />

x −x<br />

x −x<br />

2 x e − e e − e<br />

−1<br />

sin x 1/ x<br />

y = x e ; y = ; y = ; y = e ; y = e<br />

2<br />

x −x<br />

e + e<br />

1


Bab 12<br />

Integral (1)<br />

(Macam Integral, Pendekatan umerik)<br />

Dalam bab sebelumnya, kita mempelajari salah satu bagian utama<br />

kalkulus, yaitu kalkulus diferensial. Berikut ini kita akan membahas<br />

bagian utama kedua, yaitu kalkulus integral.<br />

Dalam pengertian sehari-hari, kata “integral” mengandung arti<br />

“keseluruhan”. Istilah “mengintegrasi” bisa berarti “menunjukkan<br />

keseluruhan” atau “memberikan total”; dalam matematika berarti<br />

“menemukan fungsi yang turunannya diketahui”.<br />

Misalkan dari suatu fungsi f(x) yang diketahui kita diminta untuk<br />

mencari suatu fungsi y sedemikian rupa sehingga dalam rentang nilai x<br />

tertentu, misalnya a< x < b, dipenuhi persamaan<br />

dy = f (x)<br />

(12.1)<br />

dx<br />

Persamaan seperti (12.1) ini, yang menyatakan turunan fungsi sebagai<br />

fungsi x (dalam beberapa hal ia mungkin juga merupakan fungsi x <strong>dan</strong> y)<br />

disebut persamaan diferensial. Sebagai contoh:<br />

dy 2<br />

= 2x<br />

+ 5x<br />

+ 6<br />

dx<br />

2<br />

d y dy 2 2<br />

+ 6xy<br />

+ 3x<br />

y = 0<br />

2<br />

dx dx<br />

Pembahasan yang akan kita lakukan hanya mengenai bentuk persamaan<br />

diferensial seperti contoh yang pertama.<br />

12.1. Integral Tak Tentu<br />

Suatu fungsi y = F(x)<br />

dikatakan sebagai solusi dari persamaan<br />

diferensial (12.1) jika dalam rentang a< x < b ia dapat diturunkan <strong>dan</strong><br />

dapat memenuhi<br />

dF(<br />

x)<br />

= f ( x)<br />

(12.2)<br />

dx<br />

Perhatikan bahwa jika F(x) memenuhi (12.2) maka F ( x)<br />

+ K dengan K<br />

adalah suatu nilai tetapan sembarang, juga akan memenuhi (12.2) sebab<br />

141


d<br />

[ F(<br />

x)<br />

+ K]<br />

dx<br />

dF(<br />

x)<br />

dK<br />

= +<br />

dx dx<br />

Jadi secara umum dapat kita tuliskan<br />

dF(<br />

x)<br />

= + 0<br />

dx<br />

(12.3)<br />

∫<br />

f ( x)<br />

dx = F(<br />

x)<br />

+ K<br />

(12.4)<br />

yang kita baca: integral f(x) dx adalah F(x) ditambah K.<br />

Persamaan (12.2) dapat pula kita tulisan dalam bentuk diferensial, yaitu<br />

dF ( x)<br />

= f ( x)<br />

dx<br />

yang jika integrasi dilakukan pada ruas kiri <strong>dan</strong> kanan akan memberikan<br />

∫<br />

dF x)<br />

=<br />

∫<br />

f ( x)<br />

dx<br />

( (12.5)<br />

Jika kita bandingkan (12.5) <strong>dan</strong> (12.4), kita dapat menyimpulkan bahwa<br />

∫<br />

dF ( x)<br />

= F(<br />

x)<br />

+ K<br />

(12. 6)<br />

Jadi integral dari diferensial suatu fungsi adalah fungsi itu sendiri<br />

ditambah suatu nilai tetapan. Integral semacam ini disebut integral tak<br />

tentu; masih ada nilai tetapan K yang harus dicari.<br />

Kita ambil dua contoh untuk inegrasi integrasi tak tentu ini<br />

1) Cari solusi persamaan diferensial<br />

dy = 5x<br />

dx<br />

Kita tuliskan persamaan tersebut dalam bentuk diferensial<br />

dy = 5x<br />

Menurut relasi (9.4) <strong>dan</strong> (9.5) di Bab-9,<br />

Oleh karena itu<br />

5<br />

142 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

4<br />

d( x ) = 5x<br />

dx<br />

4<br />

dx<br />

4<br />

5 5<br />

y =<br />

∫<br />

5 x dx =<br />

∫<br />

d(<br />

x ) = x + K<br />

2). Carilah solusi persamaan dy = x<br />

2 y<br />

dx<br />

Kita tuliskan dalam bentuk diferensial<br />

4<br />

2<br />

dy = x ydx<br />

<strong>dan</strong> kita<br />

kelompokkan peubah dalam persamaan ini sehingga ruas kiri


mengandung hanya peubah tak bebas y <strong>dan</strong> ruas kanan hanya<br />

mengandung peubah bebas x. Proses ini kita lakukan dengan membagi<br />

kedua ruas dengan √y.<br />

y<br />

−1 / 2<br />

dy = x<br />

Ruas kiri memberikan diferensial d( 2y<br />

) y dy<br />

memberikan diferensial<br />

2<br />

dx<br />

1/ 2 −1/<br />

2<br />

= <strong>dan</strong> ruas kanan<br />

⎛ 1 3 ⎞ 2<br />

d⎜<br />

x ⎟ = x dx , sehingga<br />

⎝ 3 ⎠<br />

( 1/ 2 ⎛ 1 3 ⎞<br />

2y<br />

) = d⎜<br />

x ⎟<br />

⎠<br />

d<br />

⎝ 3<br />

Jika kedua ruas diintegrasi, diperoleh<br />

1<br />

2y + K<br />

3<br />

1/ 2<br />

3<br />

+ K1<br />

= x 2 atau<br />

1 / 2 1 3<br />

1 3<br />

2 y = x + K2<br />

− K1<br />

= x + K<br />

3<br />

3<br />

Dua contoh telah kita lihat. Dalam proses integrasi seperti di atas terasa<br />

a<strong>dan</strong>ya keharusan untuk memiliki kemampuan menduga jawaban.<br />

Beberapa hal tersebut di bawah ini dapat memperingan upaya pendugaan<br />

tersebut.<br />

1. Integral dari suatu diferensial dy adalah y ditambah konstanta<br />

sembarang K.<br />

∫<br />

dy = y + K<br />

2. Suatu konstanta yang berada di dalam tanda integral dapat<br />

dikeluarkan<br />

∫<br />

ady = a∫<br />

dy<br />

3. Jika bilangan n ≠ −1, maka integral dari y n dy diperoleh dengan<br />

menambah pangkat n dengan 1 menjadi (n + 1) <strong>dan</strong> membaginya<br />

dengan (n + 1).<br />

n+<br />

1<br />

n y<br />

∫<br />

y dy = + K,<br />

jika n ≠ −1<br />

n + 1<br />

Penggunaan Integral Tak Tentu. Dalam integral tak tentu, terdapat<br />

suatu nilai K yang merupakan bilangan nyata sembarang. Ini berarti<br />

143


ahwa integral tak tentu memberikan hasil yang tidak tunggal melainkan<br />

banyak hasil yang tergantung dari berapa nilai yang dimiliki oleh K.<br />

Dalam pemanfaatan integral tak tentu, nilai K diperoleh dengan<br />

menerapkan apa yang disebut sebagai syarat awal atau kondisi awal.<br />

Kita akan mencoba memahami melalui pengamatan kurva. Jika kita<br />

2<br />

gambarkan kurva y = 10x kita akan mendapatkan kurva bernilai<br />

tunggal seperti Gb.12.1.a. Akan tetapi jika kita melakukan integrasi<br />

10x<br />

∫<br />

3 dx tidak hanya satu kurva yang dapat memenuhi syarat akan<br />

3<br />

tetapi banyak kurva seperti pada Gb.12.1.b; kita akan mendapatkan satu<br />

kurva jika K dapat ditentukan.<br />

y i = 10x 2 +K i<br />

y = 10x 2 50<br />

100<br />

y<br />

100<br />

y<br />

50<br />

K 3<br />

K 2<br />

K 1<br />

-5 -3 -1 1 3 x 5 -5 -3 -1 1 3 x 5<br />

a) b)<br />

Gb.12.1. Integral tak tentu memberikan banyak solusi.<br />

Sebagai contoh kita akan menentukan posisi benda yang bergerak dengan<br />

kecepatan sebagai fungsi waktu yang diketahui. Kecepatan sebuah benda<br />

bergerak dinyatakan sebagai v = at = 3t<br />

, dengan v adalah kecepatan, a<br />

adalah percepatan yang dalam soal ini bernilai 3, t waktu. Kalau posisi<br />

awal benda adalah s 0 = 3 pada waktu t = 0, tentukanlah posisi benda<br />

pada t = 4.<br />

Kita ingat pengertian-pengertian dalam mekanika bahwa kecepatan<br />

ds<br />

adalah laju perubahan jarak, v = ; se<strong>dan</strong>gkan percepatan adalah laju<br />

dt<br />

dv<br />

perubahan kecepatan, a = . Karena kecepatan sebagai fungsi t<br />

dt<br />

diketahui, <strong>dan</strong> kita akan mencari posisi (jarak), maka kita gunakan relasi<br />

ds<br />

v = yang memberikan ds = vdt<br />

dt<br />

144 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


sehingga integrasinya memberikan<br />

2<br />

t<br />

2<br />

s =<br />

∫<br />

atdt = 3 + K = 1,5t<br />

+ K<br />

2<br />

Kita terapkan sekarang kondisi awal, yaitu s 0 = 3 pada t = 0.<br />

3 = 0 + K yang memberikan K = 3<br />

Dengan demikian maka s sebagai fungsi t menjadi s = 1,5t<br />

2 + 3<br />

sehingga pada t = 4 posisi benda adalah s 4 = 27<br />

Luas Sebagai Suatu Integral. Kita akan mencari luas bi<strong>dan</strong>g yang<br />

dibatasi oleh suatu kurva y = f (x)<br />

, sumbu-x, garis vertikal x = p, <strong>dan</strong> x<br />

= q. Sebagai contoh pertama kita ambil fungsi tetapan y = 2 seperti<br />

terlihat pada Gb.12.2.<br />

2<br />

y<br />

y = f(x) =2<br />

A px<br />

∆A px<br />

0<br />

Gb.12.2. Mencari luas bi<strong>dan</strong>g di bawah y = 2.<br />

Jika luas dari p sampai x adalah A px , <strong>dan</strong> kita bisa mencari fungsi<br />

pertambahan luas ∆A px yaitu pertambahan luas jika x bertambah menjadi<br />

x+∆x, maka kita dapat menggunakan fungsi pertambahan tersebut mulai<br />

dari x = p sampai x = q untuk memperoleh A pq yaitu luas dari p sampai q.<br />

Pertambahan luas yang dimaksud tentulah<br />

∆A px<br />

∆A px = 2 ∆x atau = 2 = f ( x)<br />

∆x<br />

Jika ∆x diperkecil menuju nol maka kita dapatkan limit<br />

lim<br />

∆x→0<br />

Dari (12.8) kita peroleh<br />

A<br />

p x x+∆x q<br />

∆A<br />

px<br />

∆x<br />

dA<br />

=<br />

dx<br />

px<br />

= f ( x)<br />

= 2<br />

(12.7)<br />

(12.8)<br />

=<br />

∫<br />

dApx<br />

=<br />

∫<br />

2 dx = 2x<br />

K<br />

(12.9)<br />

px +<br />

x<br />

145


Kondisi awal (kondisi batas) adalah A px = 0 untuk x = p. Jika kondisi ini<br />

kita terapkan pada (12.9) kita akan memperoleh nilai K yaitu<br />

sehingga<br />

0 = 2 p + K atau K = −2<br />

p<br />

(12.10)<br />

A px = 2x<br />

− 2 p<br />

(12.11)<br />

Kita mendapatkan luas A px (yang dihitung mulai dari x = p) merupakan<br />

fungsi x. Jika perhitungan diteruskan sampai x = q kita peroleh<br />

A pq<br />

= 2q<br />

− 2 p = 2( q − p)<br />

(12.12)<br />

Inilah hasil yang kita peroleh, yang sudah kita kenal dalam planimetri<br />

yang menyatakan bahwa luas segi empat adalah panjang kali lebar yang<br />

dalam kasus kita ini panjang adalah (q − p) <strong>dan</strong> lebar adalah 2.<br />

Bagaimanakah jika kurva yang kita hadapi bukan kurva dari fungsi<br />

tetapan? Kita lihat kasus fungsi sembarang dengan syarat bahwa ia<br />

kontinyu dalam rentang p ≤ x ≤ q seperti digambarkan pada Gb.12.3.<br />

y<br />

f(x)<br />

f(x+∆x )<br />

y = f(x)<br />

A px<br />

∆A px<br />

Gb.12.3. <strong>Fungsi</strong> sembarang kontinyu dalam a ≤ x ≤ b<br />

Dalam kasus ini, ∆A px bisa memiliki dua nilai tergantung dari apakah<br />

dalam menghitungnya kita memilih ∆A px = f(x)∆x atau ∆A px = f(x+∆x)∆x.<br />

Namun kita akan mempunyai nilai<br />

∆ = f ( x)<br />

∆x<br />

≤ f ( x0 ) ∆x<br />

≤ f ( x + ∆x)<br />

∆x<br />

(12.13)<br />

A px<br />

dengan x 0 adalah suatu nilai x yang terletak antara x <strong>dan</strong> x+∆x. Jika ∆x<br />

kita buat mendekati nol kita akan mempunyai<br />

∆ = f ( x)<br />

∆x<br />

= f ( x0 ) ∆x<br />

= f ( x + ∆x)<br />

∆x<br />

(12.14)<br />

A px<br />

0<br />

p x x+∆x q<br />

Dengan demikian kita akan mendapatkan limit<br />

x<br />

146 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


lim<br />

∆x→0<br />

Dari sini kita peroleh<br />

A<br />

∆A<br />

px<br />

∆x<br />

dA<br />

=<br />

dx<br />

px<br />

= f ( x)<br />

(12.15)<br />

=<br />

∫<br />

dApx<br />

=<br />

∫<br />

f ( x)<br />

dx = F(<br />

x)<br />

K<br />

(12.16)<br />

px +<br />

Dengan memasukkan kondisi awal A px = 0 untuk x = p <strong>dan</strong> kemudian<br />

memasukkan nilai x = q kita akan memperoleh<br />

A<br />

pq = F( q)<br />

− F(<br />

p)<br />

= F(<br />

x)<br />

] q p<br />

(12.17)<br />

12.2. Integral Tentu<br />

Integral tentu merupakan integral yang batas-batas integrasinya jelas.<br />

Konsep dasar integral tentu adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang dipan<strong>dan</strong>g sebagai<br />

suatu limit. Kita akan menghitung luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh suatu<br />

kurva y = f(x), sumbu-x, garis x = p, <strong>dan</strong> x = q, yaitu luas bagian yang<br />

diarsir pada Gb.12.4.a.<br />

Sebutlah luas bi<strong>dan</strong>g ini A pq . Bi<strong>dan</strong>g ini kita bagi dalam n segmen <strong>dan</strong><br />

kita akan menghitung luas setiap segmen <strong>dan</strong> kemudian<br />

menjumlahkannya untuk memperoleh A pq . Jika penjumlahan luas segmen<br />

kita lakukan dengan menghitung luas segmen seperti tergambar pada<br />

Gb.12.4.b, kita akan memperoleh luas yang lebih kecil dari dari luas<br />

yang kita harapkan; sebutlah jumlah luas segmen ini A pqb (jumlah luas<br />

segmen bawah).<br />

Jika penjumlahan luas segmen kita lakukan dengan menghitung luas<br />

segmen seperti tergambar pada Gb.12.4.c, kita akan memperoleh luas<br />

yang lebih besar dari dari luas yang kita harapkan; sebutlah jumlah luas<br />

segmen ini A pqa (jumlah luas segmen atas).<br />

Kedua macam perhitungan tersebut di atas akan mengakibatkan<br />

terjadinya error. Antara A pqb <strong>dan</strong> A pqa ada selisih seperti terlihat pada<br />

Gb.12.4.d. Jika x 0k adalah suatu nilai x di antara kedua batas segmen kek,<br />

yaitu antara x k <strong>dan</strong> (x k +∆x), maka berlaku<br />

f ( x ) ≤ f ( x0 ) ≤ f ( x + ∆x)<br />

(12.18)<br />

k<br />

k<br />

k<br />

147


y<br />

y = f(x)<br />

(a)<br />

0<br />

p x 2 x k x k+1 x n<br />

x<br />

y<br />

y = f(x)<br />

(b)<br />

0<br />

p x 2 x k x k+1 x n<br />

x<br />

y<br />

y = f(x)<br />

(c)<br />

0<br />

y<br />

p x 2 x k x k+1 x n<br />

y = f(x)<br />

x<br />

(d) 0 p x 2 x k x k+1 x n x<br />

Gb.12.4. Menghitung luas bi<strong>dan</strong>g di bawah kurva.<br />

Jika pertidaksamaan (12.18) dikalikan dengan ∆x k yang yang cukup kecil<br />

<strong>dan</strong> bernilai positif, maka<br />

f<br />

( xk<br />

) ∆ xk<br />

≤ f ( x0 k ) ∆xk<br />

≤ f ( xk<br />

+ ∆x)<br />

∆xk<br />

(12.19)<br />

Jika luas segmen di ruas kiri, tengah, <strong>dan</strong> kanan dari (12.19) kita<br />

jumlahkan dari 1 sampai n (yaitu sebanyak jumlah segmen yang kita<br />

buat), kita akan memperoleh<br />

148 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


n<br />

n<br />

n<br />

∑ f ( xk<br />

) ∆xk<br />

≤∑<br />

f ( x0k<br />

) ∆xk<br />

≤ ∑ f ( xk<br />

+ ∆x)<br />

∆xk<br />

(12.20)<br />

k = 1<br />

k = 1<br />

k = 1<br />

Ruas paling kiri adalah jumlah luas segmen bawah, A pqb ; ruas paling<br />

kanan adalah jumlah luas segmen atas, A pqa ; ruas yang di tengah adalah<br />

jumlah luas segmen pertengahan, kita namakan A n . Jelaslah bahwa<br />

A<br />

pqb ≤ An<br />

≤ Apqa<br />

(12.21)<br />

Nilai A n dapat dipakai sebagai pendekatan pada luas bi<strong>dan</strong>g yang kita<br />

cari. Error yang terjadi sangat tergantung dari jumlah segmen, n. Jika n<br />

kita perbesar menuju tak hingga <strong>dan</strong> semua ∆x k menuju nol, maka luas<br />

bi<strong>dan</strong>g yang kita cari adalah<br />

A<br />

pq = lim Apqb<br />

= lim An<br />

= lim Apqa<br />

(12.22)<br />

∆x<br />

→0<br />

∆x<br />

→0<br />

∆x<br />

→<br />

k k<br />

k<br />

0<br />

Jadi apabila kita menghitung limitnya, kita akan memperoleh nilai limit<br />

yang sama, apakah kita menggunakan penjumlahan segmen bawah, atau<br />

atas, atau pertengahannya. Limit yang sama ini disebut integral tertentu,<br />

dituliskan<br />

∫<br />

A f ( x)<br />

dx<br />

(12.23)<br />

= q pq<br />

p<br />

Integral tertentu (12.23) ini terkait dengan integral tak tentu (9.12)<br />

A<br />

pq<br />

q<br />

=<br />

∫<br />

f ( x)<br />

dx = F(<br />

x)<br />

] = F(<br />

q)<br />

− F(<br />

p)<br />

(12.24)<br />

p<br />

q<br />

p<br />

Jadi untuk memperoleh limit bersama dari penjumlahan segmen bawah,<br />

penjumlahan segmen atas, maupun penjumlahan segmen pertengahan<br />

dari fungsi f(x) dalam rentang p ≤ x ≤ q, kita cukup melakukan:<br />

a. integrasi untuk memperoleh F ( x)<br />

=<br />

∫<br />

f ( x)<br />

dx ;<br />

b. masukkan batas atas x = q untuk mendapat F(q);<br />

c. masukkan batas bawah x = p untuk mendapat F(p);<br />

d. kurangkan perolehan batas bawah dari batas atas, F(q) − F(p).<br />

Walaupun dalam pembahasan di atas kita mengambil contoh fungsi yang<br />

bernilai positif dalam rentang p ≤ x ≤ q , namun pembahasan itu<br />

berlaku pula untuk fungsi yang dalam rentang p ≤ x ≤ q sempat<br />

bernilai negatif. Kita hanya perlu mendefinisikan kembali apa yang<br />

disebut dengan A px dalam pembahasan sebelumnya. Pendefinisian yang<br />

baru ini akan berlaku umum, yaitu<br />

149


A px adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh y = f (x)<br />

<strong>dan</strong><br />

sumbu-x dari p sampai x, yang merupakan jumlah luas bagian<br />

yang berada di atas sumbu-x dikurangi dengan luas bagian<br />

yang di bawah sumbu-x.<br />

Agar lebih jelas kita mengambil contoh pada Gb 13.2. Kita akan<br />

menghitung luas antara y = x<br />

3 −12x<br />

<strong>dan</strong> sumbu-x dari x = −3 sampai x<br />

= +3. Bentuk kurva diperlihatkan pada Gb.12.5.<br />

3 −<br />

y = x 12 x<br />

20<br />

Di sini terlihat bahwa dari x = −3 sampai 0 kurva berada di atas sumbu-x<br />

<strong>dan</strong> antara x = 0 sampai +3 kurva ada di bawah sumbu-x. Untuk bagian<br />

yang di atas sumbu-x kita mempunyai luas<br />

0<br />

0<br />

4<br />

3 x ⎤<br />

2<br />

A a =<br />

∫<br />

( x −12x)<br />

dx = − 6x<br />

⎥ = −0<br />

− (20,25 − 54) = 33,75<br />

−3<br />

4 ⎥⎦<br />

−3<br />

Untuk kurva yang di bawah sumbu-x kita dapatkan<br />

3<br />

3<br />

4<br />

3 x ⎤<br />

2<br />

A b =<br />

∫<br />

( x −12x)<br />

dx = − 6x<br />

⎥ = 20,25 − 54 − (0) = −33,75<br />

0<br />

4 ⎥⎦<br />

0<br />

Luas yang kita cari adalah luas bagian yang berada di atas sumbu-x<br />

dikurangi dengan luas bagian yang di bawah sumbu-x<br />

A<br />

- 20<br />

Gb.12.5. Kurva y = x<br />

3 −12x<br />

pq<br />

0<br />

x<br />

- 4 - 3 -2 -1 0 1 2 3 4<br />

= Aa<br />

− Ab<br />

10<br />

- 10<br />

= 33 ,75 − ( −33,755)<br />

= 67,5<br />

Contoh ini menunjukkan bahwa dengan pengertian yang baru mengenai<br />

A px , formulasi<br />

q<br />

A =<br />

∫<br />

f ( x)<br />

dx = F(<br />

q)<br />

− F( p)<br />

)<br />

p<br />

tetap berlaku untuk kurva yang memiliki bagian baik di atas maupun di<br />

bawah sumbu-x.<br />

150 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Dengan demikian maka untuk bentuk kurva seperti pada Gb.12.6. kita<br />

dapatkan<br />

A pq = −A<br />

+<br />

1 + A2<br />

− A3<br />

A4<br />

yang kita peroleh dari A f ( x)<br />

dx = F(<br />

q)<br />

− F( p)<br />

)<br />

pq<br />

=<br />

∫<br />

q<br />

p<br />

y<br />

y = f(x)<br />

p<br />

A 1<br />

A 2<br />

A 3<br />

A 4<br />

q<br />

x<br />

Gb.12.6. Kurva memotong sumbu-x di beberapa titik.<br />

Luas Bi<strong>dan</strong>g Di Antara Dua Kurva. Kita akan menghitung luas bi<strong>dan</strong>g<br />

di antara kurva y 1 = f1 ( x)<br />

<strong>dan</strong> y 2 = f2 ( x)<br />

pada batas antara x = p <strong>dan</strong> x<br />

= q . Kurva yang kita hadapi sudah barang tentu harus kontinyu dalam<br />

rentang p ≤ x ≤ q . Kita tetapkan bahwa kurva y 1 = f1 ( x)<br />

berada di atas<br />

y 2 = f2 ( x)<br />

meskipun mungkin mereka memiliki bagian-bagian yang<br />

berada di bawah sumbu-x. Perhatikan Gb.12.7.<br />

y<br />

y 1<br />

p 0<br />

x x+∆x<br />

q<br />

y 2<br />

x<br />

Gb.12.7. Menghitung luas bi<strong>dan</strong>g antara dua kurva.<br />

Rentang p ≤ x ≤ q kita bagi dalam n segmen, yang salah satunya<br />

diperlihatkan pada Gb.12.7. dengan batas kiri x <strong>dan</strong> batas kanan (x+∆x),<br />

dimana ∆ x = ( q − p)<br />

/ n .<br />

151


Luas segmen dapat didekati dengan<br />

A segmen = { f1 ( x)<br />

− f2(<br />

x)<br />

} ∆x<br />

(12.25)<br />

yang jika kita jumlahkan seluruh segmen akan kita peroleh<br />

n<br />

x=<br />

q−∆x<br />

∑ A segmen = ∑{ f1 ( x)<br />

− f2(<br />

x)<br />

} ∆x<br />

(12.25)<br />

1<br />

x=<br />

p<br />

Dengan membuat n menuju tak hingga sehingga ∆x menuju nol kita<br />

sampai pada suatu limit<br />

n→∞<br />

q<br />

A pq = lim ∑ Asegmen<br />

=<br />

∫ { f1(<br />

x)<br />

− f2(<br />

x)<br />

} dx (12.26)<br />

p<br />

1<br />

Kita lihat beberapa contoh.<br />

1). Jika y 1 = 4 <strong>dan</strong> y 2 = − 2 berapakah luas bi<strong>dan</strong>g antara y 1 <strong>dan</strong> y 2<br />

dari x 1 = p = −2 sampai x 2 = q = +3.<br />

+ 3<br />

+ 3<br />

A pq =<br />

∫<br />

({ 4 − ( −2)<br />

} dx = 6x] − 2 = 18 − ( −12)<br />

= 30<br />

−2<br />

Hasil ini dengan mudah dijakinkan menggunakan planimetri. Luas<br />

yang dicari adalah luas persegi panjang dengan lebar y 1 − y2<br />

= 6<br />

<strong>dan</strong> panjang x 2 − x1<br />

= 5 .<br />

2<br />

2). Jika y 1 = x <strong>dan</strong> y 2 = 4 berpakah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh y 1<br />

<strong>dan</strong> y 2 .<br />

Terlebih dulu kita cari batas-batas integrasi yaitu nilai x pada<br />

perpotongan antara y 1 <strong>dan</strong> y 2 .<br />

2<br />

y 1 = y2<br />

→ x = 4 ⇒ x1<br />

= p = −2,<br />

x2<br />

= q = 2<br />

Perhatikan bahwa y 1 adalah fungsi pangkat dua dengan titik puncak<br />

minimum yang berada pada posisi [0,0]. Oleh karena itu bagian<br />

kurva y 1 yang membatasi bi<strong>dan</strong>g yang akan kita cari luasnya, berada<br />

di di bawah y 2 = 4.<br />

2<br />

2<br />

⎛ 3 ⎞⎤<br />

2<br />

8 8 16 16 32<br />

(4 ) ⎜<br />

x ⎛ ⎞ ⎛ − ⎞ −<br />

A pq = 4 ⎟⎥<br />

∫<br />

− x dx = x − = ⎜8<br />

− ⎟ − ⎜−<br />

8 − ⎟ = − =<br />

− 2<br />

⎜ 3 ⎟<br />

⎝ ⎠⎥<br />

⎝ 3 ⎠ ⎝ 3 ⎠ 3 3 3<br />

⎦-2<br />

Jika kita terbalik dalam meman<strong>dan</strong>g posisi y 1 terhadap y 2 kita akan<br />

melakukan kesalahan:<br />

152 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


2<br />

2<br />

⎛ 3 ⎞⎤<br />

2<br />

8 8 16 16<br />

* ( 4) ⎜<br />

x<br />

⎛ ⎞ ⎛ − ⎞ − +<br />

A pq = 4 ⎟⎥<br />

∫<br />

x − dx = − x = ⎜ − 8⎟ − ⎜ + 8⎟<br />

= − = 0<br />

− 2<br />

⎜ 3 ⎟<br />

⎝ ⎠⎥<br />

⎝ 3 ⎠ ⎝ 3 ⎠ 3 3<br />

⎦-2<br />

2<br />

3). Jika y 1 = −x<br />

+ 2 <strong>dan</strong> y2 = −x<br />

berapakah luas bi<strong>dan</strong>g yang<br />

dibatasi oleh y 1 <strong>dan</strong> y 2 .<br />

Terlebih dulu kita perhatikan karakter fungsi-fungsi ini. <strong>Fungsi</strong><br />

y 1 adalah fungsi kuadrat dengan titik puncak maksimum yang<br />

memotong sumbu-y di y = 2. <strong>Fungsi</strong> y 2 adalah garis lurus<br />

melalui titik asal [0,0] dengan kemiringan negatif −1, yang<br />

berarti ia menurun pada arah x positif. Dengan demikian maka<br />

bagian kurva y 1 yang membatasi bi<strong>dan</strong>g yang akan kita cari<br />

luasnya berada di atas y 2 .<br />

Batas integrasi adalah nilai x pada perpotongan kedua kurva.<br />

y = y<br />

1<br />

2<br />

⇒ −x<br />

2<br />

+ 2 = −x<br />

atau<br />

− x<br />

2<br />

+ x + 2 = 0<br />

2<br />

2<br />

−1<br />

+ 1 + 8<br />

−1<br />

− 1 + 8<br />

x1<br />

= p =<br />

= −1;<br />

x2<br />

= q =<br />

= 2<br />

− 2<br />

− 2<br />

2<br />

2<br />

⎛ 3 2 ⎞⎤<br />

2<br />

( 2 ) ⎜ x x<br />

A 2 ⎟<br />

pq =<br />

⎥<br />

∫<br />

−x<br />

+ + x dx = − + + x<br />

−1<br />

⎜ 3 2 ⎟<br />

⎝<br />

⎠⎥<br />

⎦−1<br />

⎛ 8 ⎞ ⎛ −1<br />

1 ⎞<br />

= ⎜−<br />

+ 2 + 4⎟<br />

− ⎜−<br />

+ − 2⎟ = 4,5<br />

⎝ 3 ⎠ ⎝ 3 2 ⎠<br />

Penerapan Integral Tentu. Pembahasan di atas terfokus pada<br />

penghitungan luas bi<strong>dan</strong>g di bawah suatu kurva. Dalam praktik kita tidak<br />

selalu menghitung luas melainkan menghitung berbagai besaran fisis,<br />

yang berubah terhadap waktu misalnya. Perubahan besaran fisis ini dapat<br />

pula divisualisasi dengan membuat absis dengan satuan waktu <strong>dan</strong><br />

ordinat dengan satuan besaran fisis yang dimaksud. Dengan demikian<br />

seolah-olah kita menghitung luas bi<strong>dan</strong>g di bawah kurva. Berikut ini dua<br />

contoh dalam kelistrikan.<br />

1). Sebuah piranti menyerap daya 100 W pada tegangan konstan<br />

200V. Berapakah energi yang diserap oleh piranti ini selama 8<br />

jam ?<br />

153


Daya adalah laju perubahan energi. Jika daya diberi simbol p<br />

<strong>dan</strong> energi diberi simbol w, maka<br />

dw<br />

p = yang memberikan w =<br />

dt<br />

∫<br />

pdt<br />

Perhatikan bahwa peubah bebas di sini adalah waktu, t. Kalau<br />

batas bawah dari wktu kita buat 0, maka batas atasnya adalah 8,<br />

dengan satuan jam. Dengan demikian maka energi yang diserap<br />

selama 8 jam adalah<br />

8 8<br />

w =<br />

∫<br />

pdt = 100 = 100<br />

0 ∫<br />

dt t<br />

0<br />

8<br />

0<br />

= 800 Watt.hour [Wh]<br />

= 0,8 kilo Watt hour [kWh]<br />

2). Arus yang melalui suatu piranti berubah terhadap waktu sebagai<br />

i(t) = 0,05 t ampere. Berapakah jumlah muatan yang<br />

dipindahkan melalui piranti ini antara t = 0 sampai t = 5 detik ?<br />

Arus i adalah laju perubahan transfer muatan, q.<br />

dq<br />

i = sehingga q =<br />

dt ∫<br />

idt<br />

Jumlah muatan yang dipindahkan dalam 5 detik adalah<br />

5 5<br />

5<br />

0,05 2 1,25<br />

q =<br />

∫<br />

idt = 0,05 = = = 0,625 coulomb<br />

0 ∫<br />

tdt t<br />

0 2 0 2<br />

Pendekatan umerik. Dalam pembahasan mengenai integral tentu, kita<br />

fahami bahwa langkah-langkah dalam menghitung suatu integral adalah:<br />

1. Membagi rentang f(x) ke dalam n segmen; agar proses<br />

perhitungan menjadi sederhana buat segmen yang sama lebar,<br />

∆x.<br />

2. Integral dalam rentang p ≤ x ≤ q dari f(x) dihitung sebagai<br />

∫<br />

q<br />

n<br />

f ( x)<br />

dx = lim ∑ f ( xk<br />

) ∆xk<br />

p<br />

∆x→0<br />

k = 1<br />

dengan f(x k ) adalah nilai f(x) dalam interval ∆x k yang<br />

besarnya akan sama dengan nilai terendah <strong>dan</strong> tertinggi<br />

dalam segmen ∆x k jika ∆x menuju nol.<br />

154 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Dalam aplikasi praktis, kita tentu bisa menetapkan suatu nilai ∆x<br />

sedemikian rupa sehingga jika kita mengambil f(x k ) sama dengan nilai<br />

terendah ataupun tertinggi dalam ∆x k , hasil perhitungan akan lebih rendah<br />

ataupun lebih tinggi dari nilai yang diharapkan. Namun error yang terjadi<br />

masih berada dalam batas-batas toleransi yang dapat kita terima. Dengan<br />

cara ini kita mendekati secara numerik perhitungan suatu integral, <strong>dan</strong><br />

kita dapat menghitung dengan bantuan komputer.<br />

Sebagai ilustrasi kita akan menghitung kembali luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi<br />

oleh kurva y = x<br />

3 −12x<br />

dengan sumbu-x antara x = −3 <strong>dan</strong> x = +3. Luas<br />

ini telah dihitung <strong>dan</strong> menghasilkan A pq = 67, 5 . Kali ini perhitungan<br />

=<br />

∫ 3 3<br />

A pq ( x −12x)<br />

dx akan kita lakukan dengan pendekatan numerik<br />

− 3<br />

dengan bantuan komputer. Karena yang akan kita hitung adalah luas<br />

antara kurva <strong>dan</strong> sumbu-x, maka bagian kurva yang berada di bawah<br />

sumbu-x harus dihitung sebagai positif. Jika kita mengambil nilai ∆x =<br />

0,15 maka rentang −3 ≤ x ≤ 3 akan terbagi dalam 40 segmen.<br />

Perhitungan menghasilkan<br />

A<br />

pq<br />

40<br />

= ∑ ( x<br />

k = 1<br />

3<br />

k<br />

−12x<br />

Error yang terjadi adalah sekitar 0,15%.<br />

k<br />

) = 67,39875 ≈ 67,4<br />

Jika kita mengambil ∆x = 0,05 maka rentang −3 ≤ x ≤ 3 akan terbagi<br />

dalam 120 segmen. Perhitungan menghasilkan<br />

A<br />

pq<br />

120<br />

(<br />

= ∑<br />

k =<br />

1<br />

3<br />

k<br />

−12x<br />

Error yang terjadi adalah sekitar 0,02%.<br />

x<br />

k<br />

) = 67,48875 ≈ 67,5<br />

Jika kita masih mau menerima hasil perhitungan dengan error 0,2%,<br />

maka hasil pendekatan numerik sebesar 67,4 cukup memadai.<br />

Perhitungan numerik di atas dilakukan dengan menghitung luas setiap<br />

segmen sebagai hasilkali nilai minimum ataupun nilai maksimum<br />

masing-masing segmen dengan ∆x. Satu alternatif lain untuk menghitung<br />

luas segmen adalah dengan melihatnya sebagai sebuah trapesium. Luas<br />

setiap segmen menjadi<br />

155


( f ( x min ) + f ( x )) × ∆x<br />

/ 2<br />

Asegmen<br />

= k<br />

kmaks<br />

(12.27)<br />

Perhitungan pendekatan numerik ini kita lakukan dengan bantuan<br />

komputer. Kita bisa memanfaatkan program aplikasi yang ada, ataupun<br />

menggunakan spread sheet jika fungsi yang kita hadapi cukup sederhana.<br />

Soal-Soal:<br />

1. Carilah titik-titik perpotongan fungsi-fungsi berikut dengan<br />

sumbu-x kemudian cari luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh kurva<br />

fungsi dengan sumbu-x.<br />

2 3<br />

y = 2 x − x<br />

2 ; y − y = x<br />

2. Carilah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh kurva <strong>dan</strong> garis berikut.<br />

2<br />

Luas antara kurva y = x <strong>dan</strong> garis x = 4<br />

2<br />

Luas antara kurva y = 2x<br />

− x <strong>dan</strong> garis x = −3<br />

3. Carilah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh dua kurva berikut.<br />

4 2<br />

y = x − 2x <strong>dan</strong><br />

12.3. Volume Sebagai Suatu Integral<br />

2<br />

y = 2x<br />

y = 2x<br />

2 − 5 <strong>dan</strong> y = −2x<br />

2 + 5<br />

Di sub-bab sebelumnya kita menghitung luas bi<strong>dan</strong>g sebagai suatu<br />

integral. Berikut ini kita akan melihat penggunaan integral untuk<br />

menghitung volume.<br />

Balok. Kita ambil contoh sebuah balok<br />

seperti tergambar pada Gb.12.8. Balok ini<br />

dibatasi oleh dua bi<strong>dan</strong>g datar paralel di p<br />

<strong>dan</strong> q. Balok ini diiris tipis-tipis dengan tebal<br />

irisan ∆x sehingga volume balok, V,<br />

merupakan jumlah dari volume semua irisan.<br />

Gb.12.8. Balok<br />

Jika A(x) adalah luas irisan di sebelah kiri <strong>dan</strong> A(x+∆x) adalah luas irisan<br />

di sebelah kanan maka volume irisan ∆V adalah<br />

Volume balok V adalah<br />

A(<br />

x)<br />

∆ x ≤ ∆V<br />

≤ A(<br />

x + ∆x)<br />

∆x<br />

156 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

∆x


∑<br />

q<br />

V = A(<br />

x)<br />

∆ x<br />

p<br />

dengan A (x)<br />

adalah luas rata-rata irisan antara A(x) <strong>dan</strong> A(x+∆x).<br />

Apabila ∆x cukup tipis <strong>dan</strong> kita mengambil A(x) sebagai pengganti A (x)<br />

maka kita memperoleh pendekatan dari nilai V, yaitu<br />

q<br />

V ≈ A(<br />

x)<br />

∆ x<br />

∑<br />

p<br />

Jika ∆x menuju nol <strong>dan</strong> A(x) kontinyu antara p <strong>dan</strong> q maka<br />

q<br />

q<br />

V = lim ∑ A(<br />

x)<br />

∆x<br />

=<br />

∆x→o<br />

∫<br />

A(<br />

x)<br />

dx<br />

(12.28)<br />

p<br />

p<br />

Rotasi Bi<strong>dan</strong>g Segitiga Pada Sumbu-x.<br />

Satu kerucut dapat dibayangkan sebagai<br />

segitiga yang berputar sekitar salah satu<br />

sisinya. Sigitiga ini akan menyapu satu<br />

volume kerucut seperti terlihat pada<br />

Gb.12.9. Segitiga OPQ, dengan OQ<br />

y<br />

O<br />

P<br />

Q<br />

x<br />

berimpit dengan sumbu-x, berputar<br />

∆x<br />

mengelilingi sumbu-x.<br />

Gb.12.9. Rotasi Segitiga OPQ<br />

mengelilingi sumbu-x<br />

Formula (12.28) dapat kita terapkan disini. Dalam hal ini A(x) adalah<br />

luas lingkaran dengan jari-jari r(x); se<strong>dan</strong>gkan r(x) memiliki persamaan<br />

garis OP.<br />

h<br />

h<br />

2<br />

h<br />

2 2<br />

V =<br />

∫<br />

A( x)<br />

dx =<br />

∫<br />

π[ r(<br />

x)<br />

] dx =<br />

∫<br />

πm<br />

x dx (12.29)<br />

0<br />

0<br />

0<br />

dengan m adalah kemiringan garis OP <strong>dan</strong> h adalah jarak O-Q. Formula<br />

(12.29) akan memberikan volume kerucut<br />

2 3<br />

2 3<br />

πm<br />

h π(PQ/OQ)<br />

h 2 h<br />

Vkerucut<br />

= =<br />

= πr<br />

(12.30)<br />

3 3<br />

3<br />

dengan OQ = h <strong>dan</strong> r adalah nilai PQ pada x = h.<br />

Bagaimanakah jika OQ tidak berimpit dengan sumbu-x? Kita akan<br />

memiliki kerucut yang terpotong di bagian puncak. Volume kerucut<br />

157


terporong demikian ini diperoleh dengan menyesuaikan persamaan garis<br />

OP. Jika semula persamaan garis ini berbentuk y = mx berubah menjadi<br />

y = mx + b dengan b adalah perpotongan garis OP dengan sumbu-y.<br />

Rotasi Bi<strong>dan</strong>g Sembarang. Jika f(x)<br />

kontinyu pada a ≤ x ≤ b , rotasi bi<strong>dan</strong>g<br />

antara kurva fungsi ini dengan sumbu-x<br />

antara a ≤ x ≤ b sekeliling sumbu-x akan<br />

membangun suatu volume benda yang<br />

dapat dihitung menggunakan relasi (12.10).<br />

y<br />

f(x)<br />

0 a b<br />

∆x<br />

x<br />

Gb.12.10. Rotasi bi<strong>dan</strong>g<br />

mengelilingi sumbu-x<br />

Dalam menghitung integral (12.28) penyesuaian harus dilakukan pada<br />

A(x) <strong>dan</strong> batas-batas integrasi.<br />

A( x)<br />

= π r(<br />

x)<br />

2 = π f ( x)<br />

( ) ( ) 2<br />

= ∫ b π a<br />

sehingga V ( f x)<br />

)<br />

Gabungan <strong>Fungsi</strong> Linier. Jika f(x) pada<br />

(12.31) merupakan gabungan fungsi linier,<br />

kita akan mendapatkan situasi seperti pada<br />

Gb.12.11.<br />

2<br />

( dx<br />

(12.31)<br />

Gb.12.11. <strong>Fungsi</strong> f(x) merupakan<br />

gabungan fungsi linier.<br />

<strong>Fungsi</strong> f(x) kontinyu bagian demi bagian. Pada Gb.12.11. terdapat tiga<br />

rentang x dimana fungsi linier kontinyu. Kita dapat menghitung volume<br />

total sebagai jumlah volume dari tiga bagian.<br />

<strong>Fungsi</strong> f(x) Memotong Sumbu-x. Formula (12.29) menunjukkan bahwa<br />

dalam menghitung volume, f(x) dikuadratkan. Oleh karena itu jika ada<br />

bagian fungsi yang bernilai negatif, dalam penghitungan volume bagian<br />

ini akan menjadi positif.<br />

12.4. Panjang Kurva Pada Bi<strong>dan</strong>g Datar<br />

Jika kurva y = f (x)<br />

kita bagi dalam n segmen masing-masing selebar<br />

∆x, maka ∆l dalam segmen tersebut adalah<br />

158 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

y<br />

2000<br />

0 a b<br />

∆x<br />

x


∆ l = PQ =<br />

∆x<br />

2<br />

+ ∆y<br />

2<br />

Salah satu segmen diperlihatkan pada Gb.12.12.<br />

Ada satu titik P′ yang terletak pada kurva di segmen ini yang terletak<br />

antara P <strong>dan</strong> Q di mana turunan fungsi y ′(P′)<br />

, yang merupakan garis<br />

singgung di P′, sejajar dengan PQ. Menggunakan pengertian y ′(P′)<br />

ini,<br />

∆l dapat dinyatakan sebagai<br />

∆l<br />

=<br />

y<br />

∆x<br />

2<br />

+<br />

2<br />

2<br />

[( y′<br />

( P ′))<br />

∆x] = 1+<br />

( y′<br />

(P′)) ∆x<br />

y = f(x)<br />

Q<br />

P<br />

∆l ∆y<br />

∆x<br />

x<br />

a<br />

b<br />

Gb.12.12. Salah satu segmen pada kurva y = f (x)<br />

.<br />

Setiap segmen memiliki y ′(P′)<br />

masing-masing yaitu y′<br />

k , <strong>dan</strong> ∆l<br />

masing-masing yaitu ∆l k . Jika n dibuat menuju ∞, panjang kurva dari x =<br />

a ke x = b adalah<br />

n<br />

n<br />

n<br />

lab<br />

= 2<br />

∆lk<br />

= + ( yk′<br />

) ∆x<br />

= ∑<br />

2<br />

lim ∑ lim ∑ 1<br />

lim 1 + ( yk′<br />

) ∆x<br />

n→∞<br />

n→∞<br />

∆x→0<br />

k = 1<br />

k = 1<br />

k = 1<br />

atau<br />

2<br />

b ⎛ dy ⎞<br />

lab =<br />

∫<br />

1 + ⎜ ⎟ dx<br />

(12.32)<br />

a ⎝ dx ⎠<br />

Perlu kita ingat bahwa panjang suatu kurva tidak tergantung dari posisi<br />

sumbu koordinat. Oleh karena itu (12.32) dapat ditulis juga sebagai<br />

b dx<br />

lab ∫ ′<br />

2<br />

⎛<br />

dy<br />

a′ dy<br />

⎟ ⎞<br />

= 1 +<br />

⎜ dengan a′ <strong>dan</strong> b′ adalah batas-batas peubah<br />

⎝ ⎠<br />

bebas.<br />

159


12.5. ilai Rata-Rata Suatu <strong>Fungsi</strong><br />

Untuk fungsi y = f (x)<br />

yang kontinyu dalam rentang p ≤ x ≤ q nilai<br />

rata-rata fungsi ini didefinisikan sebagai<br />

y 1 q<br />

( rr ) x =<br />

− ∫<br />

f ( x dx<br />

q p<br />

)<br />

(12.33)<br />

p<br />

(Penulisan (y rr ) x untuk menyatakan nilai rata-rata fungsi x)<br />

Definisi (12.33) dapat kita tuliskan<br />

q<br />

( y rr ) x ⋅(<br />

q − p)<br />

=<br />

∫<br />

f ( x)<br />

dx<br />

(12.34)<br />

p<br />

Ruas kanan (12.34) adalah luas bi<strong>dan</strong>g antara kurva fungsi y = f (x)<br />

dengan sumbu-x mulai dari x = p sampai x = q. Ruas kiri (12.34) dapat<br />

ditafsirkan sebagai luas segi empat dengan panjang (q − p) <strong>dan</strong> lebar<br />

(y rr ) x . Namun kita perlu hati-hati sebab dalam menghitung ruas kanan<br />

(12.34) sebagai luas bi<strong>dan</strong>g antara kurva fungsi y = f (x)<br />

dengan sumbux<br />

bagian kurva yang berada di bawah sumbu-x memberi kontribusi positif<br />

pada luas bi<strong>dan</strong>g yang dihitung; se<strong>dan</strong>gkan dalam menghitung nilai ratarata<br />

(12.33) kontibusi tersebut adalah negatif.<br />

Sebagai contoh, kita ambil fungsi<br />

y = x<br />

3 −12x<br />

. Luas bi<strong>dan</strong>g antara<br />

y = x<br />

3 −12x<br />

dengan sumbu-x dari x = −3 sampai x = +3 adalah positif,<br />

A pq = 67,5 (telah pernah kita hitung). Sementara itu jika kita<br />

menghitung nilai rata-rata fungsi ini dari x = −3 sampai x = +3 hasilnya<br />

adalah (y rr ) x = 0 karena bagian kurva yang berada di atas <strong>dan</strong> di bawah<br />

sumbu-x akan saling meniadakan.<br />

160 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 13<br />

Integral (2)<br />

(Integral Tak Tentu)<br />

Dalam bab sebelumnya kita telah mengenal macam-macam perhitungan<br />

integral. Salah satu cara mudah untuk menghitung integral adalah dengan<br />

pendekatan numerik, walaupun cara ini memberikan hasil yang<br />

mengandung error. Namun error dalam pendekatan numerik bisa ditekan<br />

sampai pada batas-batas toleransi. Dalam bab ini kita akan melihat<br />

perhitungan integral tak tentu secara analitis dari macam-macam fungsi.<br />

13.1. Integral <strong>Fungsi</strong> Tetapan:<br />

∫ adx<br />

∫ adx = ax + K karena dax = adx<br />

Contoh:<br />

y =<br />

∫<br />

2 dx = 2x<br />

+ K<br />

13.2. Integral <strong>Fungsi</strong> Mononom:<br />

∫<br />

x n dx<br />

n+<br />

1<br />

n n−1<br />

n x<br />

Karena dx = x dx dengan syarat n ≠ −1, maka<br />

∫<br />

x dx = + K<br />

n + 1<br />

2 2 2 3<br />

Contoh: y =<br />

∫<br />

2 x dx = 2∫<br />

x dx = x + K<br />

3<br />

n m<br />

13.3. Integral <strong>Fungsi</strong> Polinom<br />

∫<br />

( x + x ) dx<br />

Polinom merupakan jumlah terbatas dari mononom. Integral suatu<br />

polinom sama dengan jumlah integral mononom yang menyusunnya.<br />

n m n m<br />

Karena d( x + x ) = x dx + x dx maka<br />

∫<br />

( x<br />

n<br />

+ x<br />

m<br />

n+<br />

1<br />

m+<br />

1<br />

x x<br />

) dx = + + K,<br />

n + 1 m + 1<br />

Soal-Soal : Carilah integral tak tentu berikut ini.<br />

∫<br />

5dx<br />

;<br />

∫<br />

∫<br />

2xdx;<br />

1<br />

2<br />

( x − 2x<br />

+ 4) dx ;<br />

0<br />

∫<br />

∫<br />

4<br />

4x<br />

dx;<br />

dengan syarat n ≠ −1,<br />

m ≠ −1<br />

∫<br />

(2x<br />

+ 5) dx ;<br />

3 2<br />

(4x<br />

+ 6x<br />

+ 4x<br />

+ 2) dx<br />

161


13.4. Integral <strong>Fungsi</strong> Pangkat Dari <strong>Fungsi</strong>:<br />

∫<br />

v n dx<br />

n+<br />

1<br />

n v<br />

Jika v adalah polinom, maka<br />

∫<br />

v dv = dv + K<br />

n + 1<br />

n+<br />

1<br />

v<br />

d = v<br />

n + 1<br />

n<br />

dv<br />

mencari<br />

∫<br />

v n dx .<br />

karena<br />

dengan syarat n ≠ −1. Formulasi ini digunakan untuk<br />

2<br />

Contoh: Hitunglah y =<br />

∫<br />

( 2x<br />

+ 1) dx<br />

dv<br />

Misalkan v = 2 x + 1 → dv = 2dx<br />

→ dx =<br />

2<br />

2 3<br />

3 2<br />

2 v v 8x<br />

+ 12x<br />

+ 6x<br />

+ 1<br />

y =<br />

∫<br />

(2x<br />

+ 1) dx =<br />

∫<br />

dv = + K =<br />

+ K<br />

2 6<br />

6<br />

4 3 2 1<br />

= x + 2x<br />

+ x + + K<br />

3<br />

6<br />

Kita coba untuk meyakinkan hasil ini dengan hasil yang akan<br />

diperoleh jika polinom kita kuadratkan lebih dulu.<br />

2<br />

2<br />

4x<br />

4x<br />

y = x + dx = x + x + dx = + + x + K′<br />

∫<br />

(2 1)<br />

∫<br />

(4 4 1)<br />

3 2<br />

Hasil perhitungan sama dengan hasil sebelumnya,<br />

Contoh: Hitunglah<br />

2<br />

Misalkan 1 − x = v →<br />

K ′ = K + 1/ 6 .<br />

3x<br />

y =<br />

∫<br />

dx<br />

2<br />

1 − x<br />

dv<br />

dx<br />

dv<br />

= −2x<br />

→ dx =<br />

− 2x<br />

1/ 2<br />

3x<br />

3x<br />

dv 3 − 1/ 2 3 v<br />

y =<br />

∫<br />

dx = = − v dv = − = −3<br />

2 1/ 2<br />

1−<br />

x v − 2x<br />

2 ∫<br />

2 1/ 2<br />

Soal-Soal : Carilah integral tak tentu berikut ini.<br />

2<br />

∫<br />

( 1) dx ;<br />

∫<br />

4x<br />

+<br />

3<br />

2<br />

2<br />

1−<br />

x<br />

x + 1 dx ;<br />

1<br />

x<br />

∫<br />

2 + 5xdx<br />

;<br />

∫<br />

dx ;<br />

+<br />

∫<br />

dx<br />

2<br />

(3x<br />

2)<br />

2<br />

2x<br />

+ 1<br />

162 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


13.5. Integral <strong>Fungsi</strong> Berpangkat -1:<br />

∫ v<br />

dv<br />

Karena<br />

dv<br />

dv<br />

d (ln v)<br />

= , maka v K<br />

v ∫<br />

= ln + . Integrasi ini<br />

v<br />

memecahkan masalah persyaratan n ≠ −1 pada integrasi<br />

∫<br />

v n dx .<br />

2x<br />

Contoh: Carilah integral y =<br />

∫<br />

dx<br />

2<br />

x + 1<br />

2 dv<br />

dv<br />

Misalkan v = x + 1→<br />

= 2x<br />

→ dx =<br />

dx<br />

2x<br />

2x<br />

2x<br />

dv<br />

2<br />

y =<br />

∫<br />

dx =<br />

∫<br />

= ln v + K = ln( x + 1)<br />

+ K<br />

2<br />

x + 1 v 2x<br />

Soal-Soal: Carilah integral tak tentu berikut ini.<br />

2<br />

dx x dx dx xdx xdx xdx<br />

+ 1<br />

∫<br />

;<br />

∫<br />

;<br />

∫<br />

;<br />

∫<br />

;<br />

− − + ∫<br />

;<br />

2x<br />

3<br />

3<br />

4 2 3 1 2<br />

1 −<br />

∫ 2<br />

x x x x 4x<br />

+<br />

13.6. Integral <strong>Fungsi</strong> Eksponensial:<br />

∫<br />

e v dv<br />

Karena de<br />

v = v<br />

e dv maka v v<br />

e dv = e + K<br />

Soal-Soal:<br />

2<br />

2x<br />

x<br />

x / 3<br />

∫<br />

e dx ;<br />

∫<br />

xe dx ;<br />

∫<br />

e dx ;<br />

∫<br />

1 +<br />

∫<br />

e<br />

x<br />

dx<br />

2e<br />

13.7. Integral Tetapan Berpangkat <strong>Fungsi</strong> :<br />

∫<br />

a v dv<br />

v<br />

v v<br />

v a<br />

Karena da = a ln adv maka<br />

∫<br />

a dv = + K<br />

ln a<br />

Contoh: Carilah<br />

Misalkan v = 2x →<br />

∫<br />

2x<br />

y = 3 dx<br />

dv<br />

dv<br />

= 2 → dx =<br />

dx<br />

2<br />

v<br />

2x<br />

3 1 3<br />

y =<br />

∫<br />

3 dx =<br />

∫<br />

dv = + K<br />

2 2 ln 3<br />

x<br />

2x<br />

163


13.8. Integral <strong>Fungsi</strong> Trigonometri<br />

∫<br />

∫<br />

Karena d sin v = cosvdv<br />

maka cos v dx = sin v + K<br />

Karena d cosv<br />

= −sin<br />

vdx maka sin v dx = −cosv<br />

+ K<br />

Relasi diferensial <strong>dan</strong> integral fungsi trigonometri yang lain<br />

termuat dalam Tabel-13.1.<br />

Contoh: Carilah integral tak tentu<br />

164 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

∫<br />

y = sin 2xdx<br />

dv<br />

dv<br />

Misalkan v = 2x<br />

→ = 2 → dx =<br />

dx<br />

2<br />

sin v −cosv<br />

cos 2x<br />

y =<br />

∫<br />

sin 2xdx<br />

=<br />

∫<br />

dv = = −<br />

2 2 2<br />

Soal-Soal : Carilah integral tak tentu berikut ini.<br />

∫<br />

sin 4xdx ;<br />

∫<br />

cos(2x<br />

+ 2) dx ;<br />

∫<br />

4cos3xdx<br />

.<br />

∫<br />

∫<br />

∫<br />

2sin x cos xdx ;<br />

2<br />

sin xdx ;<br />

∫<br />

∫<br />

2<br />

cos axdx<br />

2<br />

sin x cos xdx .<br />

sin 2x<br />

cos 2 xsin<br />

xdx ;<br />

∫<br />

dx .<br />

2 − cos 2x<br />

13.9. Integral <strong>Fungsi</strong> Hiperbolik<br />

∫<br />

∫<br />

Karena d(sinh v)<br />

= cosh v maka cosh vdv = sinh v + K<br />

Karena d(cosh v)<br />

= sinh vdv maka sinh vdv = cosh v + K<br />

Relasi diferensial <strong>dan</strong> integral fungsi hiperbolik yang lain termuat<br />

dalam Tabel-13.1.<br />

Contoh: Carilah y =<br />

∫<br />

cosh( 2x<br />

+ 1)<br />

dx<br />

dv<br />

dv<br />

Misalkan v = 2x<br />

+ 1→<br />

= 2 → dx =<br />

dx<br />

2<br />

1<br />

y =<br />

∫<br />

cosh(2x<br />

+ 1) dx =<br />

∫<br />

cosh( v)<br />

dv =<br />

2<br />

1<br />

= sinh(2x<br />

+ 1) + K<br />

2<br />

1<br />

sinh<br />

2<br />

v + K


Soal-Soal: Carilah integral berikut<br />

∫<br />

sinh x 2 sinh x<br />

2<br />

dx ;<br />

∫<br />

tanh xdx ;<br />

∫<br />

cosh 2xdx<br />

;<br />

∫<br />

dx ;<br />

∫<br />

tanh xdx<br />

4<br />

x<br />

cosh x<br />

13.10. Integral Menghasilkan <strong>Fungsi</strong> Trigonometri Inversi<br />

Integral fungsi-fungsi yang berbentuk<br />

∫<br />

dv<br />

1 − v<br />

2<br />

dv<br />

,<br />

∫ +<br />

2<br />

1 v<br />

dv<br />

∫<br />

<strong>dan</strong> setrusnya mulai nomer 20 sampai 31,<br />

2<br />

v v −1<br />

menghasilkan fungsi-fungsi trigonometri inversi.<br />

Contoh: Carilah<br />

dx<br />

y =<br />

∫<br />

2<br />

1 − 4x<br />

2 dv<br />

Jika kita membuat pemisalan v = 1 − 4x<br />

maka = −8x<br />

atau<br />

dx<br />

dv<br />

dx = . Kalau pemisalan ini kita masukkan dalam persoalan<br />

− 8x<br />

integral yang diberikan, kita akan mendapatkan bentuk<br />

1 / 2 dv<br />

∫<br />

v<br />

−<br />

− 8x<br />

yang tidak dapat diproses lebih lanjut; persoalan integral tidak dapat<br />

ter-transformasi menjadi integral dalam peubah v.<br />

Namun bentuk<br />

dx<br />

ini dapat kita transformasi menjadi bentuk<br />

∫ 2<br />

1 − 4x<br />

yang termuat dalam Tabel-13.1, yaitu nomer 20. Kita misalkan v = 2x<br />

dv<br />

dv<br />

yang akan memberikan = 2 atau dx = . Persoalan integral kita<br />

dx<br />

2<br />

menjadi<br />

dx dv 1 dv<br />

y =<br />

∫<br />

=<br />

∫<br />

=<br />

2<br />

2 ∫ 2<br />

1 − 4x<br />

2 1 − v<br />

2<br />

1 − v<br />

yang menghasilkan y =<br />

1 −1<br />

1 −<br />

sin v + K = sin<br />

1 (2x)<br />

+ K<br />

2<br />

2<br />

Soal-Soal: Carilah integral tak tentu berikut ini.<br />

dx dx dx dx dx<br />

∫<br />

;<br />

∫<br />

;<br />

∫<br />

;<br />

∫<br />

;<br />

2 2<br />

2<br />

2 ∫ 2<br />

1 + 4x<br />

1 − x 4 + x x 4 + x 1 − x<br />

,<br />

165


13.9. Relasi <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

Berikut ini daftar formula untuk deferensial beserta pasangan integralnya.<br />

Beberapa di antaranya perlu untuk diingat, misalnya formula 1 sampai 9<br />

<strong>dan</strong> 16, 17 yang sering kita temui.<br />

Tabel-13.1.<br />

dv<br />

1. dv = dx<br />

dx<br />

1. dv = v + K<br />

2. d ( kv)<br />

= kdv<br />

2.<br />

∫<br />

kdv = k∫<br />

dv<br />

3. d v + w)<br />

= dv + dw<br />

3. ∫<br />

( dv + dw)<br />

=<br />

∫<br />

dv +<br />

∫ dw<br />

n n−1<br />

4. dv = nv dv<br />

n+<br />

1<br />

n v<br />

4.<br />

∫<br />

v dv = + C ; n≠1<br />

n + 1<br />

dv<br />

dv<br />

5. d (ln v)<br />

=<br />

5. v K<br />

v<br />

∫<br />

= ln +<br />

v<br />

6. de<br />

v = v<br />

e dv<br />

6. v v<br />

e dv = e + K<br />

v v<br />

7. da = a ln adv<br />

v a<br />

7.<br />

∫<br />

a dv = + K<br />

ln a<br />

8. d(sin v)<br />

= cosvdv<br />

8. cos vdv = sin v + K<br />

9. d(cosv)<br />

= −sin<br />

vdv<br />

9. sin vdv = −cosv<br />

+ K<br />

2<br />

10. d(tan v)<br />

= sec vdv 10.<br />

∫<br />

sec 2 vdv = tan v + K<br />

2<br />

11. d(cotv)<br />

= −csc<br />

vdv 11. csc 2 vdv = −cotv<br />

+ K<br />

12. d(sec v)<br />

= secv<br />

tan vdv 12. sec tan vdv = secv<br />

+ K<br />

13. d(cscv)<br />

= −cscvcot<br />

vdv 13. csc cotvdv = −cscv<br />

+ K<br />

14. d(sinh v)<br />

= cosh v<br />

14. cosh vdv = sinh v + K<br />

15. d(cosh v)<br />

= sinh vdv 15. sinh vdv = cosh v + K<br />

2<br />

16. d(tanh v)<br />

= sech vdv 16. sec h<br />

2 vdv = tanh v + K<br />

∫<br />

∫<br />

∫<br />

∫<br />

∫<br />

∫<br />

∫<br />

∫<br />

∫<br />

∫<br />

166 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

v


2<br />

17. d(coth<br />

v)<br />

= −csch<br />

vdv 17. csch<br />

2 vdv = −cothv<br />

+ K<br />

18. d( sechv)<br />

= −sechv<br />

tanh vdv<br />

19. d( cschv)<br />

= −cschvcoth<br />

vdv<br />

∫<br />

∫<br />

∫<br />

18. sec hv tanhvdv<br />

= −sechv<br />

+ K<br />

19. csch v cothvdv<br />

= −coshv<br />

+ K<br />

1 dv<br />

20. d(sin<br />

− v)<br />

=<br />

20. ∫ dv −1<br />

= sin v + K<br />

2<br />

2<br />

1−<br />

v<br />

1 − v<br />

1 dv<br />

21. d(cos<br />

− −<br />

v)<br />

=<br />

21. ∫ dv −1<br />

= − cos v + K ′<br />

2<br />

2<br />

1−<br />

v<br />

1 − v<br />

−1<br />

dv<br />

dv −1<br />

22. d tan v =<br />

22.<br />

2<br />

1+<br />

v<br />

∫<br />

= tan v + K<br />

2<br />

1 + v<br />

−1<br />

−dv<br />

dv −1<br />

23. d cot v =<br />

23.<br />

2<br />

1 + v<br />

∫<br />

= −cot<br />

v + K<br />

2<br />

1+<br />

v<br />

−1<br />

dv<br />

dv −1<br />

24. d sec v =<br />

24.<br />

2 ∫<br />

= sec v + K , v >0<br />

2<br />

v v −1<br />

v v −1<br />

−1<br />

−dv<br />

dv<br />

25. d csc v =<br />

−1<br />

25.<br />

2 ∫ = − csc v + K , v >0<br />

v v −1<br />

2<br />

v v −1<br />

1 dv<br />

26. d(sinh<br />

− v)<br />

=<br />

26. ∫ dv −1<br />

= sinh v + K<br />

2<br />

2<br />

1+<br />

v<br />

1 + v<br />

−1<br />

dv<br />

27. d (cosh v)<br />

=<br />

27.<br />

dv −1<br />

∫<br />

= cosh v + K<br />

2<br />

2<br />

v −1<br />

v − 1<br />

1 dv<br />

28. d(tanh<br />

− v)<br />

=<br />

28. ∫ dv −1<br />

= tanh v<br />

2<br />

+ K ; jika |v|1<br />

2<br />

1−<br />

v<br />

−1<br />

−dv<br />

dv<br />

−1<br />

30. d(sech<br />

v)<br />

=<br />

30.<br />

2 ∫<br />

= −sech<br />

v + K;<br />

2<br />

v 1−<br />

v<br />

v 1−<br />

v<br />

−1<br />

31. d(csch<br />

v)<br />

=<br />

v<br />

−dv<br />

2<br />

1+<br />

v<br />

dv<br />

−1<br />

31.<br />

∫<br />

= −csch<br />

v + K;<br />

2<br />

v 1+<br />

v<br />

167


Catatan Tentang Isi Tabel-13.1.<br />

Dengan menggunakan relasi-relasi dalam Tabel-13.1 kita dapat<br />

melakukan proses integrasi fungsi-fungsi mencakup:<br />

<strong>Fungsi</strong> mononom <strong>dan</strong> polinom:<br />

∫ vdv<br />

<strong>Fungsi</strong> polinom berpangkat:<br />

<strong>Fungsi</strong> exponensial:<br />

∫<br />

v<br />

e dv ;<br />

∫<br />

v n dv ;<br />

∫<br />

v<br />

a dv<br />

2<br />

2<br />

<strong>Fungsi</strong> trigonometri:<br />

∫<br />

cos vdv ;<br />

∫sin vdv ;<br />

∫sec vdv ;<br />

∫<br />

csc vdv ;<br />

∫<br />

sec tan vdv ;<br />

∫csc cot vdv .<br />

∫<br />

dv<br />

v<br />

tetapi tidak:<br />

∫<br />

tan vdv ;<br />

∫<br />

cot vdv ;<br />

∫sec vdv ;<br />

∫<br />

csc vdv .<br />

<strong>Fungsi</strong> hiperbolik:<br />

∫<br />

cosh vdv ;<br />

∫<br />

vdv<br />

∫<br />

2<br />

csc h vdv ;<br />

∫<br />

sec hv tanh vdv ;<br />

∫<br />

csch v coth vdv .<br />

2<br />

sinh ;<br />

∫<br />

sec h vdv ;<br />

tetapi tidak:<br />

∫<br />

tanh vdv ;<br />

∫<br />

coth vdv ;<br />

∫sec hvdv<br />

;<br />

∫<br />

csc hvdv<br />

.<br />

Integrasi fungsi aljabar yang menghasilkan fungsi trigonometri<br />

inversi <strong>dan</strong> fungsi hiperbolik inversi, seperti<br />

∫<br />

∫<br />

dv<br />

1 − v<br />

2<br />

dv<br />

2<br />

v<br />

− 1<br />

dv<br />

;<br />

∫ +<br />

2<br />

1 v<br />

dv<br />

;<br />

∫ −<br />

2<br />

1 v<br />

;<br />

∫<br />

v<br />

;<br />

∫<br />

v<br />

dv ;<br />

2 ∫<br />

v −1<br />

dv<br />

1 − v<br />

2<br />

;<br />

∫<br />

v<br />

dv<br />

1 + v<br />

2<br />

dv<br />

1 + v<br />

2<br />

tetapi tidak mengintegrasi fungsi inversi seperti<br />

∫<br />

sin<br />

− 1<br />

vdv<br />

;<br />

∫<br />

tan<br />

− 1<br />

xdx<br />

;<br />

∫sinh<br />

−1<br />

vdv<br />

;<br />

.<br />

;<br />

∫<br />

tanh<br />

−1<br />

vdv<br />

Tabel-13.1 tidak memuat relasi integrasi fungsi-fungsi aljabar yang<br />

dv<br />

berbentuk<br />

2 2<br />

2 2<br />

∫<br />

;<br />

∫<br />

a ± v dv;<br />

∫<br />

v − a dv;<br />

dsb<br />

2 2<br />

a + v<br />

168 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 14<br />

Integral (3)<br />

(Integral Tentu)<br />

14.1. Luas Sebagai Suatu Integral. Integral Tentu<br />

Integral tentu merupakan integral yang batas-batas integrasinya jelas.<br />

Konsep dasar dari integral tertentu adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang dipan<strong>dan</strong>g<br />

sebagai suatu limit.<br />

Kita akan menghitung luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh suatu kurva y =<br />

f(x), sumbu-x, garis vertikal x = p, <strong>dan</strong> x = q, yaitu luas bagian yang<br />

diarsir pada Gb.14.1.a.<br />

Sebutlah luas bi<strong>dan</strong>g ini A pq . Bi<strong>dan</strong>g ini kita bagi dalam n segmen <strong>dan</strong><br />

kita akan menghitung luas setiap segmen <strong>dan</strong> kemudian<br />

menjumlahkannya untuk memperoleh A pq .<br />

Jika penjumlahan luas segmen kita lakukan dengan menghitung luas<br />

segmen seperti tergambar pada Gb.14.1.b, kita akan memperoleh luas<br />

yang lebih kecil dari dari luas yang kita harapkan; sebutlah jumlah luas<br />

segmen ini A pqb (jumlah luas segmen bawah).<br />

Jika penjumlahan luas segmen kita lakukan dengan menghitung luas<br />

segmen seperti tergambar pada Gb.14.1.c, kita akan memperoleh luas<br />

yang lebih besar dari dari luas yang kita harapkan; sebutlah jumlah luas<br />

segmen ini A pqa (jumlah luas segmen atas).<br />

Kedua macam perhitungan tersebut di atas akan mengakibatkan<br />

terjadinya galat (error). Antara mereka ada selisih seperti digambarkan<br />

pada Gb.14.1.d.<br />

Jika x 0k adalah suatu nilai x di antara kedua batas segmen ke-k, yaitu<br />

antara x k <strong>dan</strong> (x k +∆x), maka berlaku<br />

f ( xk<br />

) ≤ f ( x0k<br />

) ≤ f ( xk<br />

+ ∆x)<br />

(14.1)<br />

Jika pertidaksamaan (14.1) dikalikan dengan ∆x k yang yang cukup kecil<br />

<strong>dan</strong> bernilai positif, maka<br />

f ( xk<br />

) ∆ xk<br />

≤ f ( x0 k ) ∆xk<br />

≤ f ( xk<br />

+ ∆x)<br />

∆xk<br />

(14.2)<br />

169


y<br />

y = f(x)<br />

(a)<br />

y<br />

0<br />

p x 2 x k x k+1 x n q<br />

y = f(x)<br />

x<br />

(b)<br />

y<br />

0<br />

p x 2 x k x k+1 x n q<br />

y = f(x)<br />

x<br />

(c)<br />

0<br />

y<br />

p x 2 x k x k+1 x n q<br />

y = f(x)<br />

x<br />

(d) 0 p x 2 x k x k+1 x n q x<br />

Gb.14.1. Menghitung luas bi<strong>dan</strong>g di bawah kurva.<br />

170 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Sekarang luas segmen di ruas kiri, tengah, <strong>dan</strong> kanan dari (14.2) kita<br />

jumlahkan dari 1 sampai n (yaitu sebanyak jumlah segmen yang kita<br />

buat), kita akan memperoleh<br />

n<br />

n<br />

n<br />

∑ f ( xk<br />

) ∆xk<br />

≤∑<br />

f ( x0k<br />

) ∆xk<br />

≤∑<br />

f ( xk<br />

+ ∆x)<br />

∆xk<br />

(14.3)<br />

k = 1<br />

k = 1<br />

k = 1<br />

Ruas paling kiri adalah jumlah luas segmen bawah, A pqb ; ruas paling<br />

kanan adalah jumlah luas segmen atas, A pqa ; ruas yang di tengah adalah<br />

jumlah luas segmen pertengahan, kita namakan A n . Jelaslah bahwa<br />

Apqb<br />

≤ An<br />

≤ Apqa<br />

(14.4)<br />

Nilai A n dapat dipakai sebagai pendekatan pada luas bi<strong>dan</strong>g yang kita<br />

cari. Galat (error) yang terjadi sangat tergantung dari jumlah segmen, n.<br />

Jika n kita perbesar menuju tak hingga, seraya menjaga agar semua ∆x k<br />

menuju nol, maka luas bi<strong>dan</strong>g yang kita cari adalah<br />

Apq<br />

= lim Apqb<br />

= lim An<br />

= lim Apqa<br />

(14.5)<br />

Jadi apabila kita menghitung limitnya, kita akan memperoleh nilai limit<br />

yang sama, apakah kita menggunakan penjumlahan segmen bawah, atau<br />

atas, atau pertengahannya. Limit yang sama ini disebut integral tertentu,<br />

dituliskan<br />

∫<br />

A = q pq f ( x)<br />

dx<br />

(14.6)<br />

p<br />

Integral tertentu (14.6) ini terkait dengan integral tak tentu (9.12)<br />

q<br />

q<br />

Apq<br />

=<br />

∫<br />

f ( x)<br />

dx = F(<br />

x)<br />

] p = F(<br />

q)<br />

− F(<br />

p)<br />

(14.7)<br />

p<br />

Jadi untuk memperoleh limit bersama dari penjumlahan segmen bawah,<br />

penjumlahan segmen atas, maupun penjumlahan segmen pertengahan<br />

dari fungsi f(x) dalam rentang p ≤ x ≤ q, kita cukup melakukan:<br />

a. integrasi untuk memperoleh F ( x)<br />

=<br />

∫<br />

f ( x)<br />

dx ;<br />

b. masukkan batas atas x = q untuk mendapat F(q);<br />

c. masukkan batas bawah x = p untuk mendapat F(p);<br />

d. kurangkan perolehan batas bawah dari batas atas, F(q) − F(p).<br />

171


Walaupun dalam pembahasan di atas kita mengambil contoh fungsi yang<br />

bernilai positif dalam rentang p ≤ x ≤ q , namun pembahasan itu berlaku<br />

pula untuk fungsi yang dalam rentang p ≤ x ≤ q sempat bernilai negatif.<br />

Kita hanya perlu mendefinisikan kembali apa yang disebut dengan A px<br />

dalam pembahasan sebelumnya. Pendefinisian yang baru ini akan<br />

berlaku umum, yaitu<br />

A px adalah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh y = f (x)<br />

<strong>dan</strong> sumbu-x<br />

dari p sampai x, yang merupakan jumlah luas bagian yang berada di<br />

atas sumbu-x dikurangi dengan luas bagian yang di bawah sumbu-x.<br />

Agar lebih jelas kita mengambil contoh pada Gb 14.2.<br />

y = x3−12x 20<br />

0<br />

x<br />

-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4<br />

-10<br />

-20<br />

Gb.14.2. Kurva<br />

y = x<br />

3 − 12x<br />

Kita akan menghitung luas antara y = x<br />

3 − 12x<br />

<strong>dan</strong> sumbu-x dari x = −3<br />

sampai x = +3. Bentuk kurva diperlihatkan pada Gb.14.2<br />

Di sini terlihat bahwa dari x = −3 sampai 0 kurva berada di atas sumbu-x<br />

<strong>dan</strong> antara x = 0 sampai +3 kurva ada di bawah sumbu-x. Untuk bagian<br />

yang di atas sumbu-x kita mempunyai luas<br />

0<br />

0<br />

4<br />

3 x ⎤<br />

2<br />

A a =<br />

∫<br />

( x −12x)<br />

dx = − 6x<br />

⎥<br />

−3<br />

4 ⎥⎦<br />

−3<br />

= −0<br />

− (20,25 − 54) = 33,75<br />

Untuk kurva yang di bawah sumbu-x kita dapatkan<br />

3<br />

3<br />

4<br />

3 x ⎤<br />

2<br />

A b =<br />

∫<br />

( x −12x)<br />

dx = − 6x<br />

⎥<br />

0<br />

4 ⎥⎦<br />

0<br />

= 20,25 − 54 − (0) = −33,75<br />

10<br />

y<br />

172 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Luas yang kita cari adalah luas bagian yang berada di atas sumbu-x<br />

dikurangi dengan luas bagian yang di bawah sumbu-x<br />

A pq = Aa<br />

− Ab<br />

= 33 ,75 − ( −33,755)<br />

= 67,5<br />

Contoh ini menunjukkan bahwa dengan pengertian yang baru mengenai<br />

A px , formulasi<br />

q<br />

A =<br />

∫<br />

f ( x)<br />

dx = F(<br />

q)<br />

− F p<br />

p<br />

( ))<br />

tetap berlaku untuk kurva yang memiliki bagian baik di atas maupun di<br />

bawah sumbu-x.<br />

Dengan demikian maka untuk bentuk kurva seperti pada Gb.14.3. kita<br />

dapatkan<br />

yang kita peroleh dari<br />

A pq = −A1 + A2<br />

− A3<br />

+ A4<br />

q<br />

Apq<br />

=<br />

∫<br />

f ( x)<br />

dx = F(<br />

q)<br />

− F p<br />

p<br />

y<br />

y = f(x)<br />

( ))<br />

p<br />

A 4<br />

A 1<br />

A 2<br />

A 3<br />

q<br />

x<br />

Gb.14.3. Kurva memotong sumbu-x di beberapa titik.<br />

173


14.2. Luas Bi<strong>dan</strong>g Di Antara Dua Kurva<br />

Kita akan menghitung luas bi<strong>dan</strong>g di antara kurva y 1 = f1 ( x)<br />

<strong>dan</strong><br />

y 2 = f2 ( x)<br />

pada batas antara x = p <strong>dan</strong> x = q . Kurva yang kita hadapi<br />

sudah barang tentu harus kontinyu dalam rentang p ≤ x ≤ q . Kita<br />

tetapkan bahwa kurva y 1 = f1 ( x)<br />

berada di atas y 2 = f2 ( x)<br />

meskipun<br />

mungkin mereka memiliki bagian-bagian yang berada di bawah sumbu-x.<br />

Perhatikan Gb.14.4.<br />

Rentang<br />

p ≤ x ≤ q kita bagi dalam n segmen, yang salah satunya<br />

diperlihatkan pada Gb.14.4. dengan batas kiri x <strong>dan</strong> batas kanan (x+∆x),<br />

dimana ∆ x = ( q − p)<br />

/ n .<br />

y<br />

y 1<br />

p<br />

0<br />

y 2<br />

x<br />

∆A px<br />

x+∆x<br />

q<br />

x<br />

Gb.14.4. Menghitung luas bi<strong>dan</strong>g antara dua kurva.<br />

Luas segmen dapat didekati dengan<br />

A segmen = { f1 ( x)<br />

− f2(<br />

x)<br />

} ∆x<br />

(14.8)<br />

yang jika kita jumlahkan seluruh segmen akan kita peroleh<br />

n<br />

x=<br />

q−∆x<br />

∑ A segmen = ∑{ f1 ( x)<br />

− f2(<br />

x)<br />

} ∆x<br />

(14.9)<br />

1<br />

x=<br />

p<br />

Dengan membuat n menuju tak hingga sehingga ∆x menuju nol kita<br />

sampai pada suatu limit<br />

n→∞<br />

q<br />

A pq = lim ∑ Asegmen<br />

=<br />

∫ { f1(<br />

x)<br />

− f2(<br />

x)<br />

} dx (14.10)<br />

p<br />

1<br />

Kita akan melihat beberapa contoh<br />

Contoh 1: Jika y 1 = 4 <strong>dan</strong> y 2 = − 2 berapakah luas bi<strong>dan</strong>g antara y 1<br />

<strong>dan</strong> y 2 dari x 1 = p = −2 sampai x 2 = q = +3.<br />

+ 3<br />

+ 3<br />

A pq =<br />

∫<br />

({ 4 − ( −2)<br />

} dx = 6x] − 2 = 18 − ( −12)<br />

= 30<br />

−2<br />

174 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Hasil ini dengan mudah dijakinkan menggunakan planimetri. Luas<br />

yang dicari adalah luas persegi panjang dengan lebar y 1 − y2<br />

= 6<br />

<strong>dan</strong> panjang x 2 − x1<br />

= 5 .<br />

2<br />

1 x<br />

Contoh 2: Jika y = <strong>dan</strong> y 2 = 4 berpakah luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi<br />

oleh y 1 <strong>dan</strong> y 2 .<br />

Terlebih dulu kita cari batas-batas integrasi yaitu nilai x pada<br />

perpotongan antara y 1 <strong>dan</strong> y 2 .<br />

2<br />

y1<br />

= y2<br />

→ x = 4<br />

⇒ x1<br />

= p = −2,<br />

x2<br />

= q = 2<br />

Perhatikan bahwa y 1 adalah fungsi pangkat dua dengan titik puncak<br />

minimum yang berada pada posisi [0,0]. Oleh karena itu bagian<br />

kurva y 1 yang membatasi bi<strong>dan</strong>g yang akan kita cari luasnya, berada<br />

di di bawah y 2 = 4.<br />

2<br />

2<br />

⎛ 3 ⎞<br />

2<br />

(4 ) 4<br />

2<br />

3 ⎥ ⎥ ⎤<br />

⎜<br />

x<br />

A pq = ⎟<br />

∫<br />

− x dx == x −<br />

− ⎜ ⎟<br />

⎝ ⎠⎦-2<br />

⎛ 8 ⎞ ⎛ − 8 ⎞ 16 −16<br />

32<br />

⎜8<br />

− ⎟ − ⎜−<br />

8 − ⎟ = − =<br />

⎝ 3 ⎠ ⎝ 3 ⎠ 3 3 3<br />

Jika kita terbalik dalam meman<strong>dan</strong>g posisi y 1 terhadap y 2 kita akan<br />

melakukan kesalahan:<br />

2<br />

2<br />

⎛ 3 ⎞⎤<br />

2<br />

* ( 4) ⎜ x<br />

A 4 ⎟<br />

pq = ⎥<br />

∫<br />

x − dx = − x<br />

− 2<br />

⎜ 3 ⎟<br />

⎝ ⎠⎥<br />

⎦-2<br />

⎛ 8 ⎞ ⎛ − 8 ⎞ −16<br />

+ 16<br />

⎜ − 8⎟<br />

− ⎜ + 8⎟<br />

= − = 0<br />

⎝ 3 ⎠ ⎝ 3 ⎠ 3 3<br />

2<br />

Contoh 3: Jika y 1 = −x<br />

+ 2 <strong>dan</strong> y2 = −x<br />

berapakah luas bi<strong>dan</strong>g yang<br />

dibatasi oleh y 1 <strong>dan</strong> y 2 .<br />

Terlebih dulu kita perhatikan karakter fungsi-fungsi ini. <strong>Fungsi</strong> y 1<br />

adalah fungsi kuadrat dengan titik puncak maksimum yang<br />

memotong sumbu-y di y = 2. <strong>Fungsi</strong> y 2 adalah garis lurus melalui<br />

titik asal [0,0] dengan kemiringan negatif −1, yang berarti ia<br />

menurun pada arah x positif. Dengan demikian maka bagian kurva y 1<br />

yang membatasi bi<strong>dan</strong>g yang akan kita cari luasnya berada di atas y 2 .<br />

175


Batas integrasi adalah nilai x pada perpotongan kedua kurva.<br />

2<br />

y1<br />

= y2<br />

→ −x<br />

+ 2 = −x<br />

2<br />

atau − x + x + 2 = 0<br />

2<br />

2<br />

−1<br />

+ 1 + 8<br />

−1<br />

− 1 + 8<br />

x1<br />

= p =<br />

= −1;<br />

x2<br />

= q =<br />

= 2<br />

− 2<br />

− 2<br />

2<br />

2<br />

⎛ 3 2 ⎞⎤<br />

2<br />

( 2 ) ⎜<br />

x x<br />

A pq =<br />

2 ⎟⎥<br />

∫<br />

−x<br />

+ + x dx = − + + x<br />

−1<br />

⎜ 3 2 ⎟<br />

⎝<br />

⎠⎥<br />

⎦−1<br />

⎛ 8 ⎞ ⎛ −1<br />

1 ⎞<br />

= ⎜−<br />

+ 2 + 4⎟<br />

− ⎜−<br />

+ − 2⎟<br />

= 4,5<br />

⎝ 3 ⎠ ⎝ 3 2 ⎠<br />

14.3. Penerapan Integral<br />

Pembahasan di atas terfokus pada penghitungan luas bi<strong>dan</strong>g di bawah<br />

suatu kurva. Demikian juga di bab sebelumnya. Hal tersebut dilakukan<br />

untuk memudahkan visualisasi. Dalam praktek kita tidak selalu<br />

menghitung luas melainkan menghitung berbagai besaran fisis yang<br />

berubah terhadap waktu misalnya. Perubahan besaran fisis ini dapat pula<br />

divisualisasi dengan membuat absis dengan satuan waktu <strong>dan</strong> ordinat<br />

dengan satuan besaran fisis yang dimaksud. Dengan demikian seolaholah<br />

kita menghitung luas bi<strong>dan</strong>g di bawah kurva. Berikut ini dua contoh<br />

dalam kelistrikan.<br />

Contoh 1: Sebuah piranti menyerap daya 100 W pada tegangan konstan<br />

200V. Berapakah energi yang diserap oleh piranti ini selama 8 jam ?<br />

Daya adalah laju perubahan energi. Jika daya diberi simbol p <strong>dan</strong><br />

energi diberi simbol w, maka<br />

dw<br />

p = yang memberikan w =<br />

dt<br />

∫<br />

pdt<br />

Perhatikan bahwa peubah bebas di sini adalah waktu, t. Kalau batas<br />

bawah dari waktu kita buat 0, maka batas atasnya adalah 8, dengan<br />

satuan jam. Dengan demikian maka energi yang diserap selama 8<br />

jam adalah<br />

8 8<br />

8<br />

w =<br />

∫<br />

pdt = 100 100<br />

0 ∫<br />

dt = t<br />

0<br />

0<br />

= 800 Watt.hour [Wh] = 0,8 kilo Watt hour [kWh]<br />

176 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Contoh 2: Arus yang melalui suatu piranti berubah terhadap waktu<br />

sebagai i(t) = 0,05 t ampere. Berapakah jumlah muatan yang dipindahkan<br />

melalui piranti ini antara t = 0 sampai t = 5 detik ?<br />

Arus i adalah laju perubahan transfer muatan, q.<br />

dq<br />

i = sehingga q =<br />

dt ∫idt<br />

Jumlah muatan yang dipindahkan dalam 5 detik adalah<br />

5 5<br />

5<br />

0,05 2 1,25<br />

q =<br />

∫<br />

idt = 0,05 = = = 0,625<br />

0 ∫<br />

tdt t<br />

0 2 0 2<br />

coulomb<br />

14.4. Pendekatan umerik<br />

Dalam pembahasan mengenai integral tentu, kita fahami bahwa langkahlangkah<br />

dalam menghitung suatu integral adalah:<br />

1. Membagi rentang f(x) ke dalam n segmen; agar proses<br />

perhitungan menjadi sederhana buat segmen yang sama lebar,<br />

∆x.<br />

2. Integral dalam rentang p ≤ x ≤ q dari f(x) dihitung sebagai<br />

q<br />

n<br />

∫<br />

f ( x)<br />

dx = lim ∑ f ( xk<br />

) ∆xk<br />

p<br />

∆x→0<br />

k = 1<br />

dengan f(x k ) adalah nilai f(x) dalam interval ∆x k yang besarnya akan<br />

sama dengan nilai terendah <strong>dan</strong> tertinggi dalam segmen ∆x k jika ∆x<br />

menuju nol.<br />

Dalam aplikasi praktis, kita tentu bisa menetapkan suatu nilai ∆x<br />

sedemikian rupa sehingga jika kita mengambil f(x k ) sama dengan nilai<br />

terendah ataupun tertinggi dalam ∆x k , hasil perhitungan akan lebih rendah<br />

ataupun lebih tinggi dari nilai yang diharapkan. Namun error yang terjadi<br />

masih berada dalam batas-batas toleransi yang dapat kita terima. Dengan<br />

cara ini kita mendekati secara numerik perhitungan suatu integral, <strong>dan</strong><br />

kita dapat menghitung dengan bantuan komputer.<br />

Sebagai ilustrasi kita akan menghitung kembali luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi<br />

oleh kurva y = x<br />

3 −12x<br />

dengan sumbu-x antara x = −3 <strong>dan</strong> x = +3. Lauas<br />

177


ini telah dihitung <strong>dan</strong> menghasilkan A pq = 67, 5 . Kali ini kita melakukan<br />

perhitungan pendekatan secara numerik dengan bantuan komputer.<br />

=<br />

∫ 3 3<br />

A pq ( x −12x)<br />

dx<br />

− 3<br />

Karena yang akan kita hitung adalah luas antara kurva <strong>dan</strong> sumbu-x,<br />

maka bagian kurva yang berada di bawah sumbu-x harus dihitung sebagai<br />

positif. Jika kita mengambil nilai ∆x = 0,15 maka rentang −3 ≤ x ≤ 3<br />

akan terbagi dalam 40 segmen. Perhitungan menghasilkan<br />

A<br />

pq<br />

40<br />

= ∑ ( x<br />

k = 1<br />

k<br />

3<br />

− 12x<br />

Error yang terjadi adalah sekitar 0,15%.<br />

k<br />

) = 67,39875 ≈ 67,4<br />

Jika kita mengambil ∆x = 0,05 maka rentang −3 ≤ x ≤ 3 akan terbagi<br />

dalam 120 segmen. Perhitungan menghasilkan<br />

120<br />

3<br />

A pq = ∑ ( xk<br />

−12xk<br />

) = 67,48875 ≈ 67,5<br />

k = 1<br />

Error yang terjadi adalah sekitar 0,02%.<br />

Jika kita masih mau menerima hasil perhitungan dengan error 0,2%,<br />

maka hasil pendekatan numerik sebesar 67,4 cukup memadai.<br />

Perhitungan numerik di atas dilakukan dengan menghitung luas setiap<br />

segmen sebagai hasilkali nilai minimum ataupun nilai maksimum<br />

masing-masing segmen dengan ∆x. Satu alternatif lain untuk menghitung<br />

luas segmen adalah dengan melihatnya sebagai sebuah trapesium. Luas<br />

setiap segmen menjadi<br />

( f ( x min ) + f ( x )) × ∆x<br />

/ 2<br />

Asegmen<br />

= k<br />

kmaks<br />

(14.13)<br />

Perhitungan pendekatan numerik ini kita lakukan dengan bantuan<br />

komputer. Kita bisa memanfaatkan program aplikasi yang ada, ataupun<br />

menggunakan spread sheet jika fungsi yang kita hadapi cukup sederhana.<br />

178 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


15.1. Pengertian<br />

Bab 15<br />

Persamaan <strong>Diferensial</strong><br />

(Orde Satu)<br />

Persamaan diferensial adalah suatu persamaan di mana terdapat satu atau<br />

lebih turunan fungsi. Persamaan duferensial diklasifikasikan sebagai:<br />

1. Menurut jenis atau tipe: ada persamaan diferensial biasa <strong>dan</strong><br />

persamaan diferensial parsial. Jenis yang kedua tidak kita<br />

pelajari di buku ini, karena kita hanya meninjau fungsi dengan<br />

satu peubah bebas.<br />

2. Menurut orde: orde persamaan diferensial adalah orde tertinggi<br />

3<br />

d y<br />

turunan fungsi yang ada dalam persamaan. adalah orde<br />

3<br />

dx<br />

2<br />

d y<br />

dy<br />

tiga; adalah orde dua; adalah orde satu.<br />

2<br />

dx<br />

dx<br />

3. Menurut derajat: derajat suatu persamaan diferensial adalah<br />

pangkat tertinggi dari turunan fungsi orde tertinggi.<br />

2 5<br />

⎛ 3<br />

d y ⎞ ⎛ 2<br />

d y ⎞ y x<br />

Sebagai contoh: ⎜ ⎟ + ⎜ ⎟ + = e adalah persamaan<br />

⎜ 3<br />

dx ⎟ ⎜ 2<br />

dx ⎟ 2<br />

⎝ ⎠ ⎝ ⎠ x + 1<br />

diferensial biasa, orde tiga, derajat dua.<br />

Dalam buku ini kita hanya akan membahas persamaan diferensial biasa,<br />

orde satu <strong>dan</strong> orde dua, derajat satu.<br />

15.2. Solusi<br />

Suatu fungsi y = f(x) dikatakan merupakan solusi suatu persamaan<br />

diferensial jika persamaan tersebut tetap terpenuhi dengan digantikannya<br />

y <strong>dan</strong> turunannya dalam persamaan tersebut oleh f(x) <strong>dan</strong> turunannya.<br />

Kita ambil satu contoh:<br />

179


−x<br />

dy<br />

y = ke adalah solusi dari persamaan + y = 0 karena turunan<br />

dt<br />

−x<br />

dy<br />

y = ke adalah<br />

− x<br />

= −ke<br />

, <strong>dan</strong> jika ini kita masukkan dalam<br />

dt<br />

−x<br />

−x<br />

persamaan akan kita peroleh − ke + ke = 0<br />

Persamaan terpenuhi.<br />

Pada contoh di atas kita lihat bahwa persamaan diferensial orde satu<br />

mempunyai solusi yang melibatkan satu tetapan sembarang yaitu k. Pada<br />

umumnya suatu persamaan orde n akan memiliki solusi yang<br />

mengandung n tetapan sembarang. Pada persamaan diferensial orde dua<br />

yang akan kita bahas di bab berikutnya, kita akan menemukan solusi<br />

dengan dua tetapan sembarang. Nilai dari tetapan ini ditentukan oleh<br />

kondisi awal.<br />

15.3. Persamaan <strong>Diferensial</strong> Orde Satu Dengan Peubah Yang Dapat<br />

Dipisahkan<br />

Solusi suatu persamaan diferensial bisa diperoleh apabila peubah-peubah<br />

dapat dipisahkan; pada pemisahan peubah ini kita mengumpulkan semua<br />

y dengan dy <strong>dan</strong> semua x dengan dx. Jika hal ini bisa dilakukan maka<br />

persamaan tersebut dapat kita tuliskan dalam bentuk<br />

f ( y)<br />

dy + g(<br />

x)<br />

dx = 0<br />

(15.1)<br />

Apabila kita lakukan integrasi kita akan mendapatkan solusi umum<br />

dengan satu tetapan sembarang K, yaitu<br />

Kita ambil dua contoh.<br />

∫<br />

f y)<br />

dy<br />

∫<br />

g(<br />

x)<br />

dx)<br />

=<br />

( + K<br />

(15.2)<br />

1).<br />

x<br />

dy x−<br />

y<br />

dy e<br />

= e . Persamaan ini dapat kita tuliskan =<br />

dx<br />

dx y<br />

e<br />

sehingga kita dapatkan persamaan dengan peubah terpisah<br />

sehingga<br />

y x<br />

e dy − e dx = 0<br />

<strong>dan</strong><br />

y x<br />

y x<br />

e − e = K atau e = e + K<br />

∫<br />

y<br />

e dy −<br />

x<br />

∫<br />

e dx = K<br />

180 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


dy<br />

2).<br />

dx<br />

= 1<br />

xy<br />

. Pemisahan peubah akan memberikan bentuk<br />

dx<br />

dx<br />

ydy − = 0 <strong>dan</strong> K<br />

x ∫<br />

ydy −<br />

∫<br />

=<br />

x<br />

sehingga<br />

2<br />

y<br />

2<br />

− ln x = K<br />

atau<br />

2<br />

y = ln x + K′<br />

15.4. Persamaan <strong>Diferensial</strong> Homogen Orde Satu<br />

Suatu persamaan disebut homogen jika ia dapat dituliskan dalam bentuk<br />

dy ⎛ y ⎞<br />

= F⎜<br />

⎟<br />

dx ⎝ x ⎠<br />

(15.3)<br />

Persamaan demikian ini dapat dipecahkan dengan membuat peubah<br />

bebas baru<br />

y<br />

v =<br />

x<br />

Dengan peubah baru ini maka<br />

dy dv<br />

y = vx <strong>dan</strong> = v + x<br />

dx dx<br />

Persamaan (14.2) menjadi<br />

dv<br />

v + x = F(v)<br />

(15.4)<br />

dx<br />

yang kemudian dapat dicari solusinya melalui pemisahan peubah.<br />

dx dv<br />

+ = 0<br />

x v − F(<br />

v)<br />

(15.5)<br />

Solusi persamaan aslinya diperoleh dengan menggantikan v dengan y/x<br />

setelah persamaan terakhir ini dipecahkan.<br />

2 2<br />

Kita ambil contoh: ( x + y ) dx + 2xydy<br />

= 0<br />

Persamaan ini dapat kita tulis 2 y<br />

x (1 + ) dx + 2xydy<br />

= 0 atau<br />

2<br />

x<br />

2<br />

181


2<br />

2<br />

y y<br />

(1 + ) dx = −2<br />

dy sehingga<br />

dy 1 + ( y / x)<br />

= − = F(<br />

y / x)<br />

2<br />

x x<br />

dx 2( y / x)<br />

yang merupakan bentuk persamaan homogen.<br />

Peubah baru v = y/x memberikan<br />

y = vx <strong>dan</strong><br />

<strong>dan</strong> membuat persamaan menjadi<br />

2<br />

dv 1 + v<br />

v + x = − atau<br />

dx 2v<br />

Dari sini kita dapatkan<br />

dv dx<br />

= −<br />

2<br />

(1 + 3v<br />

) / 2v<br />

x<br />

dy<br />

dx<br />

= v +<br />

dv<br />

x<br />

dx<br />

2<br />

2<br />

dv 1 + v 1 + 3v<br />

x = −v<br />

− = −<br />

dx 2v<br />

2v<br />

dx 2vdv<br />

atau + 0<br />

x 2<br />

1 + 3v<br />

=<br />

Kita harus mencari solusi persamaan ini untuk mendapatkan v<br />

sebagai fungsi x. Kita perlu pengalaman untuk ini.<br />

Kita tahu bahwa<br />

d(ln<br />

x)<br />

1<br />

= . Kita coba hitung<br />

dx x<br />

2<br />

2<br />

2<br />

d ln(1 + 3x<br />

) d ln(1 + 3x<br />

) d(1<br />

+ 3x<br />

) 1<br />

=<br />

= (6x)<br />

dx<br />

2<br />

2<br />

d(1<br />

+ 3x<br />

) dx 1 + 3x<br />

Kembali ke persamaan kita. Dari percobaan perhitungan di atas<br />

kita dapatkan solusi dari<br />

dx 2vdv<br />

+ 0<br />

x 2<br />

1 + 3v<br />

=<br />

1 2 1<br />

adalah ln x + ln(1 + 3v<br />

) = K = ln K′<br />

atau<br />

3<br />

3<br />

2<br />

3ln x + ln(1 + 3v<br />

) = K = ln K′<br />

3 2<br />

sehingga x (1 + 3v<br />

) = K′<br />

Dalam x <strong>dan</strong> y solusi ini adalah<br />

2<br />

2 2<br />

( 1 + 3( y / x)<br />

) = K atau ( x + 3 y ) = K<br />

3<br />

x ′<br />

x ′<br />

182 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


15.5. Persamaan <strong>Diferensial</strong> Linier Orde Satu<br />

Dalam persamaan diferensial linier, semua suku berderajat satu atau nol.<br />

Dalam menentukan derajat ini kita harus memperhitungkan pangkat dari<br />

peubah <strong>dan</strong> turunannya; misal y(dy/dx) adalah berderajat dua karena y<br />

<strong>dan</strong> dy/dx masing-masing berpangkat satu <strong>dan</strong> harus kita jumlahkan<br />

untuk menentukan derajat dari y(dy/dx).<br />

Persamaan diferensial orde satu yang juga linier dapat kita tuliskan<br />

dalam bentuk<br />

dy<br />

+ Py = Q<br />

(15.6)<br />

dx<br />

dengan P <strong>dan</strong> Q merupakan fungsi x atau tetapan. Persamaan diferensial<br />

bentuk inilah selanjutnya akan kita bahas <strong>dan</strong> kita akan membatasi pada<br />

situasi dimana P adalah suatu tetapan. Hal ini kita lakukan karena kita<br />

akan langsung melihat pemanfaatan praktis dengan contoh yang terjadi<br />

pada analisis rangkaian listrik.<br />

Dalam analisis rangkaian listrik, peubah fisis seperti tegangan <strong>dan</strong> arus<br />

merupakan fungsi waktu. Oleh karena itu persamaan diferensial yang<br />

akan kita tinjau kita tuliskan secara umum sebagai<br />

dy<br />

a + by = f (t)<br />

(15.7)<br />

dt<br />

Persamaan diferensial linier orde satu seperti ini biasa kita temui pada<br />

peristiwa transien (atau peristiwa peralihan) dalam rangkaian listrik. Cara<br />

yang akan kita gunakan untuk mencari solusi adalah cara pendugaan.<br />

Peubah y adalah keluaran rangkaian (atau biasa disebut tanggapan<br />

rangkaian) yang dapat berupa tegangan ataupun arus se<strong>dan</strong>gkan nilai a<br />

<strong>dan</strong> b ditentukan oleh nilai-nilai elemen yang membentuk rangkaian.<br />

<strong>Fungsi</strong> f(t) adalah masukan pada rangkaian yang dapat berupa tegangan<br />

ataupun arus <strong>dan</strong> disebut fungsi pemaksa atau fungsi penggerak.<br />

Persamaan diferensial seperti (15.7) mempunyai solusi total yang<br />

merupakan jumlah dari solusi khusus <strong>dan</strong> solusi homogen. Solusi khusus<br />

adalah fungsi yang dapat memenuhi persamaan (15.7) se<strong>dan</strong>gkan solusi<br />

homogen adalah fungsi yang dapat memenuhi persamaan homogen<br />

dy<br />

a + by = 0<br />

(15.8)<br />

dt<br />

183


Hal ini dapat difahami karena jika f 1 (t) memenuhi (15.7) <strong>dan</strong> fungsi f 2 (t)<br />

memenuhi (15.8), maka y = (f 1 +f 2 ) akan memenuhi (15.7) sebab<br />

( f + f )<br />

dy d<br />

a + by = a 1 2 + b(<br />

f1<br />

+ f2)<br />

dt<br />

dt<br />

df<br />

= 1 df<br />

+ 2 df<br />

a bf<br />

1<br />

1 + a + bf2<br />

= a + bf1<br />

+ 0<br />

dt dt dt<br />

Jadi y = (f 1 +f 2 ) adalah solusi dari (15.7), <strong>dan</strong> kita sebut solusi total yang<br />

terdiri dari solusi khusus f 1 dari (15.7) <strong>dan</strong> solusi homogen f 2 dari (15.8).<br />

Peristiwa Transien. Sebagaimana telah disebutkan, persamaan<br />

diferensial seperti (14.7) dijumpai dalam peristiwa transien, yaitu selang<br />

peralihan dari suatu keadaan mantap ke keadaan mantap yang lain..<br />

Peralihan kita anggap mulai terjadi pada t = 0 <strong>dan</strong> peristiwa transien yang<br />

kita tinjau terjadi dalam kurun waktu setelah mulai terjadi perubahan<br />

yaitu dalam kurun waktu t > 0. Sesaat setelah mulai perubahan kita beri<br />

tanda t = 0 + <strong>dan</strong> sesaat sebelum terjadi perubahan kita beri tanda t = 0 − .<br />

Solusi Homogen. Persamaan (15.8) menyatakan bahwa y ditambah<br />

dengan suatu koefisien konstan kali dy/dt, sama dengan nol untuk semua<br />

nilai t. Hal ini hanya mungkin terjadi jika y <strong>dan</strong> dy/dt berbentuk sama.<br />

<strong>Fungsi</strong> yang turunannya mempunyai bentuk sama dengan fungsi itu<br />

sendiri adalah fungsi eksponensial. Jadi kita dapat menduga bahwa solusi<br />

dari (15.8) mempunyai bentuk eksponensial y = K 1 e st . Jika solusi dugaan<br />

ini kita masukkan ke (15.8), kita peroleh<br />

( as + b) 0<br />

st st<br />

aK1 se + bK1e<br />

= 0 atau K1<br />

y =<br />

(15.9)<br />

Peubah y tidak mungkin bernilai nol untuk seluruh t <strong>dan</strong> K 1 juga tidak<br />

boleh bernilai nol karena hal itu akan membuat y bernilai nol untuk<br />

seluruh t. Satu-satunya cara agar persamaan (15.9) terpenuhi adalah<br />

as + b = 0<br />

(15.10)<br />

Persamaan (15.10) ini disebut persamaan karakteristik sistem orde<br />

pertama. Persamaan ini hanya mempunyai satu akar yaitu s = −(b/a). Jadi<br />

solusi homogen yang kita cari adalah<br />

st −(<br />

b / a)<br />

t<br />

ya<br />

= K1e<br />

= K1e<br />

(15.11)<br />

Nilai K 1 masih harus kita tentukan melalui penerapan suatu persyaratan<br />

tertentu yang kita sebut kondisi awal yaitu kondisi pada t = 0 + sesaat<br />

184 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


setelah mulainya perubahan keadaan. Ada kemungkinan bahwa y telah<br />

mempunyai nilai tertentu pada t = 0 + sehingga nilai K 1 haruslah<br />

sedemikian rupa sehingga nilai y pada t = 0 + tersebut dapat dipenuhi.<br />

Akan tetapi kondisi awal ini tidak dapat kita terapkan pada solusi<br />

homogen karena solusi ini baru merupakan sebagian dari solusi. Kondisi<br />

awal harus kita terapkan pada solusi total <strong>dan</strong> bukan hanya untuk solusi<br />

homogen saja. Oleh karena itu kita harus mencari solusi khusus lebih<br />

dulu agar solusi total dapat kita peroleh untuk kemudian menerapkan<br />

kondisi awal.<br />

Solusi khusus. Solusi khusus dari (15.7) tergantung dari bentuk fungsi<br />

pemaksa f(t). Seperti halnya dengan solusi homogen, kita dapat<br />

melakukan pendugaan pada solusi khusus. Bentuk solusi khusus haruslah<br />

sedemikian rupa sehingga jika dimasukkan ke persamaan (15.7) maka<br />

ruas kiri <strong>dan</strong> ruas kanan persamaan itu akan berisi bentuk fungsi yang<br />

sama. Jika solusi khusus kita sebut y p , maka y p <strong>dan</strong> turunannya harus<br />

mempunyai bentuk sama agar hal tersebut terpenuhi. Untuk berbagai<br />

bentuk f(t), solusi khusus dugaan y p adalah sebagai berikut.<br />

Jika f ( t)<br />

= 0 , maka y p = 0<br />

Jika f ( t)<br />

= A = konstan, maka y p = konstan = K<br />

Jika<br />

Jika<br />

αt<br />

f ( t)<br />

= Ae = eksponensial, maka<br />

αt<br />

y p = eksponensial = Ke<br />

f ( t)<br />

= Asin<br />

ωt<br />

, atau f ( t)<br />

= Acosωt<br />

, maka<br />

y p = Kc<br />

cosωt<br />

+ Ks<br />

sin ωt<br />

Perhatikan : y = Kc<br />

cosωt<br />

+ Ks<br />

sin ωt<br />

adalah<br />

bentuk umum fungsi sinus maupun cosinus.<br />

Solusi total. Jika solusi khusus kita sebut y p , maka solusi total adalah<br />

s t<br />

y = y p + ya<br />

= y p + K1e<br />

(15.12)<br />

Pada solusi lengkap inilah kita dapat menerapkan kondisi awal yang akan<br />

memberikan nilai K 1 .<br />

Kondisi Awal. Kondisi awal adalah kondisi pada awal terjadinya<br />

perubahan yaitu pada t = 0 + . Dalam menurunkan persamaan diferensial<br />

pada peristiwa transien kita harus memilih peubah yang disebut peubah<br />

185


status. Peubah status harus merupakan fungsi kontinyu. Nilai peubah ini,<br />

sesaat sesudah <strong>dan</strong> sesaat sebelum terjadi perubahan harus bernilai sama.<br />

Jika kondisi awal ini kita sebut y(0 + ) maka<br />

−<br />

y (0<br />

+ ) = y(0<br />

)<br />

(15.13)<br />

Jika kondisi awal ini kita masukkan pada dugaan solusi lengkap (14.12)<br />

akan kita peroleh nilai K 1 .<br />

+ +<br />

+ +<br />

y ( 0 ) = y p(0<br />

) + K1<br />

→ K1<br />

= y(0<br />

) − y p(0<br />

) (15.14)<br />

y p (0 + ) adalah nilai solusi khusus pada t = 0 + . Nilai y(0 + ) <strong>dan</strong> y p (0 + ) adalah<br />

tertentu (yaitu nilai pada t = 0 + ). Jika kita sebut<br />

+ +<br />

y( 0 ) − y p (0 ) = A0<br />

(15.15)<br />

maka solusi total menjadi<br />

s t<br />

y = y p + A0<br />

e<br />

(15.16)<br />

15.6. Solusi Pada Berbagai <strong>Fungsi</strong> Pemaksa<br />

Tanpa <strong>Fungsi</strong> Pemaksa, f(t) = 0. Jika f(t) =0 maka solusi yang akan kita<br />

peroleh hanyalah solusi homogen saja. Walaupun demikian, dalam<br />

mencari soluai kita akan menganggap bahwa fungsi pemaksa tetap ada,<br />

akan tetapi bernilai nol. Hal ini kita lakukan karena kondisi awal harus<br />

diterapkan pada solusi total, se<strong>dan</strong>gkan solusi total harus terdiri dari<br />

solusi homogen <strong>dan</strong> solusi khusus (walaupun mungkin bernilai nol).<br />

Kondisi awal tidak dapat diterapkan hanya pada solusi homogen saja<br />

atau solusi khusus saja.<br />

Contoh: Dari suatu analisis rangkaian diperoleh persamaan<br />

dv<br />

+ 1000 v = 0<br />

dt<br />

untuk t > 0. Kondisi awal adalah v(0 + ) = 12 V.<br />

Persamaan karakteristik : s + 1000 = 0 → s = −1000<br />

Dugaan solusi homogen :<br />

Dugaan solusi khusus:<br />

Dugaan solusi total<br />

−1000t<br />

va<br />

= A0e<br />

v p = 0 (karena tidak ada<br />

st<br />

−1000t<br />

: v = v p + A0e<br />

= 0 + A0e<br />

fungsi pemaksa)<br />

186 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Kondisi awal : v(0<br />

) = v(0<br />

) = 12 V.<br />

Penerapan kondisi awal pada<br />

memberikan : 12 = 0 + A<br />

Solusi total<br />

+<br />

0<br />

−<br />

menjadi : v = 12 e<br />

dugaan solusi total<br />

→ A = 12<br />

0<br />

−1000<br />

t<br />

V<br />

Contoh: Pada kondisi awal v(0 + ) = 10<br />

menghasilkan persamaan<br />

dv<br />

+ 3 v = 0<br />

dt<br />

V, analisis transien<br />

Persamaan karakteristik : s + 3 = 0 → s = −3<br />

Dugaan solusi homogen :<br />

Dugaan solusi khusus :<br />

Dugaan solusi total:<br />

+<br />

Kondisi awal : v(0<br />

) = 10 V<br />

−3<br />

t<br />

va<br />

= A0e<br />

v p = 0<br />

−3t<br />

v = vp<br />

+ A0e<br />

Penerapan kondisi awal memberikan: 10 = 0 + A0<br />

−3t<br />

Solusi total menjadi: v = 10 e V<br />

<strong>Fungsi</strong> Pemaksa Berbentuk Anak Tangga. Kita telah mempelajari<br />

bahwa fungsi anak tangga adalah fungsi yang bernilai 0 untuk t < 0 <strong>dan</strong><br />

bernilai konstan untuk t > 0. Jadi jika kita hanya meninjau keadaan<br />

untuk t > 0 saja, maka fungsi pemaksa anak tangga dapat kita tuliskan<br />

sebagai f(t) = A (tetapan).<br />

Contoh: Suatu analisis rangkaian memberikan persamaan<br />

−<br />

10 3 dv<br />

+ v =12<br />

dt<br />

dengan kondisi awal v(0 + ) = 0 V.<br />

−3<br />

−3<br />

Persamaan karakteristik : 10 s + 1 = 0 → s = −1/10<br />

= −1000<br />

Dugaan solusi homogen :<br />

−1000<br />

t<br />

va<br />

= A0e<br />

187


Karena f(t) = 12 konstan, kita dapat menduga bahwa solusi khusus<br />

akan bernilai konstan juga karena turunannya akan nol sehingga<br />

kedua ruas persamaan tersebut dapat berisi suatu nilai konstan.<br />

Dugaan solusi khusus:<br />

Masukkan v p<br />

vp<br />

= K<br />

dugaan ini ke persamaan :<br />

−1000<br />

t<br />

Dugaan solusi total : v = 12 + A0e<br />

V<br />

+<br />

Kondisi awal : v(0<br />

) = v(0−)<br />

= 0.<br />

0 + K = 12 ⇒ vp<br />

= 12<br />

Penerapan kondisi awal memberikan: 0 = 12 + A0<br />

→ A0<br />

= −12<br />

−1000t<br />

Solusi total menjadi : v = 12 −12<br />

e V<br />

Contoh: Pada kondisi awal v(0 + ) = 11 V, analisis transien<br />

menghasilkan persamaan<br />

dv<br />

+ 5 v = 200<br />

dt<br />

Persamaan karakteristik : s + 5 = 0 → s = −5<br />

Dugaan solusi homogen :<br />

Dugaan solusi khusus:<br />

Dugaan solusi lengkap:<br />

Kondisi awal :<br />

−5<br />

t<br />

va<br />

= A0e<br />

v p = K → 0 + 5K<br />

= 200 → v p = 40<br />

−5t<br />

−5t<br />

v = v p + A0e<br />

= 40 + A0e<br />

+<br />

v(0<br />

) = 11V. Penerapan kondisi awal memberikan:<br />

11 = 40 + A0<br />

→ A0<br />

= −29<br />

−5t<br />

Tanggapan total: v = 40 − 29 e V.<br />

<strong>Fungsi</strong> Pemaksa Berbentuk Sinus. Berikut ini kita akan mencari solusi<br />

jika fungsi pemaksa berbentuk sinus. Karena solusi homogen tidak<br />

tergantung dari bentuk fungsi pemaksa, maka pencarian solusi homogen<br />

dari persamaan ini sama seperti apa yang kita lihat pada contoh-contoh<br />

sebelumnya. Jadi dalam hal ini perhatian kita lebih kita tujukan pada<br />

pencarian solusi khusus.<br />

Dengan pengertian bahwa kita hanya meman<strong>dan</strong>g kejadian pada t > 0,<br />

bentuk umum dari fungsi sinus yang muncul pada t = 0 kita tuliskan<br />

y = Acos( ωt<br />

+ θ)<br />

188 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Melalui relasi<br />

{ cosωt<br />

cosθ − sin ωt<br />

θ}<br />

y = Acos(<br />

ωt<br />

+ θ)<br />

= A<br />

sin<br />

bentuk umum fungsi sinus dapat kita tuliskan sebagai<br />

y = Ac<br />

cosωt<br />

+ As<br />

sin ωt<br />

dengan Ac<br />

= Acosθ<br />

<strong>dan</strong><br />

As<br />

= −Asin<br />

θ<br />

Dengan bentuk umum seperti di atas kita terhindar dari perhitungan<br />

sudut fasa θ, karena sudut fasa ini tercakup dalam koefisien A c <strong>dan</strong> A s .<br />

Koefisien A c <strong>dan</strong> A s tidak selalu ada. Jika sudut fasa θ = 0 maka A s = 0<br />

<strong>dan</strong> jika θ = 90 o maka A c = 0. Jika kita memerlukan nilai sudut fasa θ dari<br />

fungsi sinus yang dinyatakan dengan pernyataan umum, kita dapat<br />

As<br />

menggunakan relasi tan θ = .<br />

Ac<br />

Turunan fungsi sinus akan berbentuk sinus juga. Oleh karena itu,<br />

penjumlahan y = sinωt <strong>dan</strong> turunannya akan berbentuk fungsi sinus juga.<br />

y = A cosωt<br />

+ A sin ωt<br />

;<br />

c<br />

dy<br />

= −Ac<br />

ωsin<br />

ωt<br />

+ Asω<br />

cosωt<br />

dt<br />

2<br />

d y<br />

= −Ac<br />

ω<br />

2<br />

dt<br />

2<br />

s<br />

cosωt<br />

− A ω<br />

s<br />

2<br />

;<br />

sin ωt<br />

Contoh: Pada kondisi awal v(0 + ) = 0 V suatu analisis transien<br />

dv<br />

menghasilkan persamaan + 5 v =100cos10t<br />

dt<br />

Persamaan karakteristik : s + 5 = 0 → s = −5<br />

Dugaan solusi homogen :<br />

v<br />

a<br />

= A e<br />

−5<br />

t<br />

0<br />

<strong>Fungsi</strong> pemaksa berbentuk sinus. Solusi khusus kita duga akan<br />

berbentuk sinus juga.<br />

189


Dugaan solusi khusus:<br />

v p = Ac<br />

cos10t<br />

+ As<br />

sin10t<br />

Substitusi solusi khusus ini ke persamaan memberikan:<br />

− 10Ac<br />

sin10t<br />

+ 10As<br />

cos10t<br />

+ 5Ac<br />

cos10t<br />

+ 5As<br />

sin10t<br />

= 100cos10t<br />

→ −10Ac<br />

+ 5As<br />

= 0 <strong>dan</strong> 10As<br />

+ 5Ac<br />

= 100<br />

→ As<br />

= 2Ac<br />

→ 20Ac<br />

+ 5Ac<br />

= 100 ⇒ Ac<br />

= 4 <strong>dan</strong> As<br />

= 8<br />

Solusi khusus: v p = 4cos10t<br />

+ 8sin10t<br />

−5<br />

t<br />

Dugaan solusi total : v = 4cos10t<br />

+ 8sin10t<br />

+ A0e<br />

+<br />

Kondisi awal v(0<br />

) = 0.<br />

Penerapan kondisi awal : 0 = 4 + A0<br />

→ A0<br />

= −4<br />

−5t<br />

Jadi: v = 4cos10t<br />

+ 8sin10t<br />

− 4e<br />

V<br />

Contoh: Apabila kondisi awal adalah v(0 + ) = 10 V, bagaimanakah<br />

solusi pada contoh sebelum ini?<br />

Solusi total telah diperoleh; hanya kondisi awal yang berubah.<br />

−5t<br />

Solusi total : v = 4 cos10t<br />

+ 8sin10t<br />

+ A0e<br />

+<br />

Kondisi awal v(0<br />

) = 10 → 10 = 4 + A0<br />

→ A0<br />

= 6<br />

−5<br />

t<br />

Jadi : v = 4 cos10t<br />

+ 8 sin10t<br />

+ 6 e V<br />

Ringkasan. Solusi total terdiri dari solusi khusus <strong>dan</strong> solusi homogen.<br />

Solusi homogen merupakan bagian transien dengan konstanta waktu<br />

yang ditentukan oleh tetapan-tetapan dalam persamaan, yang dalam hal<br />

rangkaian listrik ditentukan oleh nilai-nilai elemen rangkaian. Solusi<br />

khusus merupakan solusi yang tergantung dari bentuk fungsi pemaksa,<br />

yang dalam hal rangkaian listrik ditentukan oleh masukan dari luar;<br />

solusi khusus merupakan bagian mantap atau kondisi final.<br />

190 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


− τ<br />

= ( ) t /<br />

y y p t + A0<br />

e<br />

Solusi khusus :<br />

ditentukan oleh fungsi pemaksa.<br />

merupakan komponen mantap;<br />

tetap ada untuk t →∞.<br />

Solusi homogen :<br />

tidak ditentukan oleh fungsi pemaksa.<br />

merupakan komponen transien; hilang pada t<br />

→∞; sudah dapat dianggap hilang pada t = 5τ.<br />

konstanta waktu τ = a/b pada (14.10)<br />

Soal-Soal:<br />

1. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />

dv<br />

+<br />

a). + 10v<br />

= 0 , v(0<br />

) = 10 ;<br />

dt<br />

dv<br />

+<br />

b). + 15v<br />

= 0 , v(0<br />

) = 5<br />

dt<br />

2. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />

di<br />

+<br />

a). + 8i<br />

= 0 , i(0<br />

) = 2 ;<br />

dt<br />

di 4<br />

+<br />

b). + 10 i = 0 , i(0<br />

) = −0,005<br />

dt<br />

191


3. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />

dv<br />

+<br />

a). + 10v<br />

= 10u(<br />

t)<br />

, v(0<br />

) = 0 ;<br />

dt<br />

dv<br />

+<br />

b). + 10v<br />

= 10u(<br />

t)<br />

, v(0<br />

) = 5<br />

dt<br />

4. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />

di 4<br />

+<br />

a). + 10 i = 100u(<br />

t)<br />

, i(0<br />

) = 0 ;<br />

dt<br />

di 4<br />

+<br />

b). + 10 i = 100u(<br />

t)<br />

, i(0<br />

) = −0,02<br />

dt<br />

5. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />

dv<br />

+<br />

a). + 5v<br />

= 10cos(5t)<br />

u(<br />

t)<br />

, v(0<br />

) = 0 ;<br />

dt<br />

dv<br />

+<br />

b). + 10v<br />

= 10cos(5t)<br />

u(<br />

t)<br />

, v(0<br />

) = 5<br />

dt<br />

192 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 16<br />

Persamaan <strong>Diferensial</strong> (2)<br />

(Orde Dua)<br />

16.1. Persamaan <strong>Diferensial</strong> Linier Orde Dua<br />

Secara umum persamaan diferensial linier orde dua berbentuk<br />

2<br />

d y dy<br />

a + b + cy = f ( t)<br />

(16.1)<br />

2<br />

dt dt<br />

Pada persamaan diferensial orde satu kita telah melihat bahwa solusi<br />

total terdiri dari dua komponen yaitu solusi homogen <strong>dan</strong> solusi khusus.<br />

Hal yang sama juga terjadi pada persamaan diferensial orde dua yang<br />

dengan mudah dapat ditunjukkan secara matematis seperti halnya pada<br />

persamaan orde pertama. Perbedaan dari kedua macam persamaan ini<br />

terletak pada kondisi awalnya. Pada persamaan orde dua terdapat dua<br />

kondisi awal <strong>dan</strong> kedua kondisi awal ini harus diterapkan pada dugaan<br />

solusi total. Dua kondisi awal tersebut adalah<br />

+ − dy + −<br />

y (0 ) = y(0<br />

) <strong>dan</strong> (0 ) = y'(0<br />

)<br />

(16.2)<br />

dt<br />

Solusi homogen. Solusi homogen diperoleh dari persamaan rangkaian<br />

dengan memberikan nilai nol pada ruas kanan dari persamaan (4.25),<br />

sehingga persamaan menjadi<br />

2<br />

d y dy<br />

a + b + cy = 0<br />

(16.3)<br />

2<br />

dt dt<br />

Agar persamaan ini dapat dipenuhi, y <strong>dan</strong> turunannya harus mempunyai<br />

bentuk sama sehingga dapat diduga y berbentuk fungsi eksponensial y a =<br />

Ke st dengan nilai K <strong>dan</strong> s yang masih harus ditentukan. Kalau solusi<br />

dugaan ini dimasukkan ke (16.3) akan diperoleh :<br />

2<br />

( as + bs + ) = 0<br />

2 st st st<br />

st<br />

aKs e + bKse + cKe = 0 atau Ke<br />

c<br />

(16.4)<br />

193


<strong>Fungsi</strong> e st tidak boleh nol untuk semua nilai t . Kondisi K = 0 juga tidak<br />

diperkenankan karena hal itu akan berarti y a = 0 untuk seluruh t. Satusatunya<br />

jalan agar persamaan ini dipenuhi adalah<br />

2<br />

as + bs + c = 0<br />

(16.4)<br />

Persamaan ini adalah persamaan karakteristik persamaan diferensial<br />

orde dua. Secara umum, persamaan karakteristik yang berbentuk<br />

persamaan kwadrat itu mempunyai dua akar yaitu:<br />

2<br />

− b ± b − 4ac<br />

s1,<br />

s2<br />

= (16.5)<br />

2a<br />

Akar-akar persamaan ini mempunyai tiga kemungkinan nilai, yaitu: dua<br />

akar riil berbeda, dua akar sama, atau dua akar kompleks konjugat.<br />

Konsekuensi dari masing-masing kemungkinan nilai akar ini terhadap<br />

bentuk solusi akan kita lihat lebih lanjut. Untuk sementara ini kita<br />

melihat secara umum bahwa persamaan karakteristik mempunyai dua<br />

akar.<br />

Dengan a<strong>dan</strong>ya dua akar tersebut maka kita mempunyai dua solusi<br />

homogen, yaitu:<br />

s1t<br />

s t<br />

a1 = K1e<br />

<strong>dan</strong> ya2<br />

= K2e<br />

(16.6)<br />

y<br />

2<br />

Jika y a1 merupakan solusi <strong>dan</strong> y a2 juga merupakan solusi, maka jumlah<br />

keduanya juga merupakan solusi. Jadi solusi homogen yang kita cari<br />

akan berbentuk<br />

Konstanta K 1<br />

solusi total.<br />

s1t<br />

s t<br />

a = K1 e + K2e<br />

(16.7)<br />

y<br />

2<br />

<strong>dan</strong> K 2 kita cari melalui penerapan kondisi awal pada<br />

Solusi Khusus. Sulusi khusus kita cari dari persamaan (16.1). Solusi<br />

khusus ini ditentukan oleh bentuk fungsi pemaksa, f(t). Cara menduga<br />

bentuk solusi khusus sama dengan apa yang kita pelajari pada persamaan<br />

orde satu. Kita umpamakan solusi khusus y khusus = y p .<br />

Solusi Total. Dengan solusi khusus y p maka solusi total menjadi<br />

s1t<br />

s t<br />

= y p + ya<br />

= y p + K1 e + K2e<br />

(16.8)<br />

y<br />

2<br />

194 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


16.2. Tiga Kemungkinan Bentuk Solusi<br />

Sebagaimana disebutkan, akar-akar persamaan karakteristik yang<br />

berbentuk umum as 2 + bs + c = 0 dapat mempunyai tiga kemungkinan<br />

nilai akar, yaitu:<br />

a). Dua akar riil berbeda, s 1 ≠ s 2 , jika {b 2 − 4ac } > 0;<br />

b). Dua akar sama, s 1 = s 2 = s , jika {b 2 −4ac } = 0<br />

c). Dua akar kompleks konjugat s 1 , s 2 = α ± jβ , jika {b 2 −4ac } < 0.<br />

Tiga kemungkinan nilai akar tersebut akan memberikan tiga<br />

kemungkinan bentuk solusi yang akan kita lihat berikut ini, dengan<br />

contoh solusi pada persamaan diferensial tanpa fungsi pemaksa.<br />

Dua Akar yata Berbeda. Kalau kondisi awal y(0 + ) <strong>dan</strong> dy/dt (0 + ) kita<br />

terapkan pada solusi total (16.8), kita akan memperoleh dua persamaan<br />

yaitu<br />

+ +<br />

+<br />

y( 0 ) y p (0 ) K1 K2<br />

<strong>dan</strong> y'(0<br />

) y′<br />

+<br />

= + +<br />

= p (0 ) + s1K1<br />

+ s2K2<br />

yang akan menentukan nilai K 1 <strong>dan</strong> K 2 . Jika kita sebut<br />

(16.9)<br />

+<br />

+ +<br />

A 0 = y( 0<br />

+ ) − y p (0 ) <strong>dan</strong> B0<br />

= y′<br />

(0 ) − y ′ p (0 ) (16.10)<br />

maka kita peroleh<br />

<strong>dan</strong> dari sini kita memperoleh<br />

K 1 + K2<br />

= A0<br />

<strong>dan</strong> s1K1<br />

+ s2K2<br />

= B0<br />

s2A0<br />

− B0<br />

K1 =<br />

<strong>dan</strong><br />

s2<br />

− s1<br />

sehingga solusi total menjadi<br />

s1<br />

A0<br />

− B0<br />

K2<br />

=<br />

s1<br />

− s2<br />

s2A0<br />

− B0<br />

s t s A B<br />

1 1 0 − 0 s t<br />

= y p + e + e (16.11)<br />

s2<br />

− s1<br />

s1<br />

− s2<br />

y<br />

2<br />

Berikut ini kita lihat suatu contoh. Seperti halnya pada persamaan orde<br />

pertama, pada persamaan orde dua ini kita juga mengartikan solusi<br />

persamaan sebagai solusi total. Hal ini didasari oleh pengertian tentang<br />

kondisi awal, yang hanya dapat diterapkan pada solusi total. Persamaan<br />

yang hanya mempunyai solusi homogen kita fahami sebagai persamaan<br />

dengan solusi khusus yang bernilai nol.<br />

195


Contoh: Dari analisis transien suatu rangkaian listrik diperoleh<br />

persamaan<br />

2<br />

d v<br />

3 dv 6<br />

+ 8,5 × 10 + 4 × 10 v = 0<br />

2<br />

dt<br />

dt<br />

dengan kondisi awal v(0 + )=15 V <strong>dan</strong> dv/dt(0 + ) = 0<br />

2<br />

3 6<br />

Persamaan karkteristik : s + 8,5 × 10 s + 4 × 10 = 0<br />

3 2<br />

→ akar - akar : s1,<br />

s2<br />

= −4250<br />

± 10 (4,25) − 4<br />

s1<br />

= −500,<br />

s2<br />

= −8000<br />

( dua akar riil berbeda).<br />

Dugaan solusi total:<br />

Kondisi awal :<br />

−500t<br />

−8000t<br />

v = 0 + K1e<br />

+ K2e<br />

(solusi homogen nol)<br />

+ −<br />

a). v(0<br />

) = v(0<br />

) = 15 V →15<br />

= K1<br />

+ K2<br />

⇒ K2<br />

= 15 − K1<br />

dv +<br />

b). (0 ) = 0 → 0 = K1s1<br />

+ K2s2<br />

= K1s1<br />

+ (15 − K1)<br />

s2<br />

dt<br />

− 15s2<br />

− 15( −8000)<br />

⇒ K1<br />

= =<br />

= 16 ⇒ K2<br />

= 15 − K1<br />

= −1<br />

s1<br />

− s2<br />

− 500 + 8000<br />

−500<br />

t −8000<br />

t<br />

Solusi total: v = 16e<br />

− e V<br />

(hanya terdiri dari solusi homogen).<br />

Dua Akar yata Sama Besar. Kedua akar yang sama besar tersebut<br />

dapat kita tuliskan sebagai<br />

s 1 = s <strong>dan</strong> s2<br />

= s + δ ; dengan δ → 0<br />

(16.12)<br />

Dengan demikian maka solusi total dapat kita tulis sebagai<br />

s1t<br />

s2t<br />

y = y p + K1e<br />

+ K2e<br />

st ( s+δ)<br />

t<br />

= y p + K1e<br />

+ K2e<br />

(16.13)<br />

Kalau kondisi awal pertama y(0 + ) kita terapkan, kita akan memperoleh<br />

+ +<br />

y(0<br />

) = y p (0 ) + K1<br />

+ K2<br />

+ +<br />

→ K1<br />

+ K2<br />

= y(0<br />

) − y p (0 ) = A0<br />

Jika kondisi awal kedua dy/dt (0 + ) kita terapkan, kita peroleh<br />

196 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


y′<br />

+<br />

(0 ) y′<br />

+<br />

= p (0 ) + K1s<br />

+ K2(<br />

s + δ)<br />

( K1<br />

K2)<br />

s K2<br />

y′<br />

+<br />

(0 ) y′<br />

+<br />

→ + + δ = − p (0 ) = B0<br />

Dari kedua persamaan ini kita dapatkan<br />

A0<br />

s + K2δ = B0<br />

Solusi total menjadi<br />

Karena<br />

⎡⎛<br />

B0<br />

= y p + ⎢⎜<br />

A0<br />

−<br />

⎣⎝<br />

B0<br />

− A0<br />

s<br />

→ K2<br />

=<br />

δ<br />

B0<br />

→ K1<br />

= A0<br />

−<br />

−<br />

δ<br />

A0<br />

s<br />

⎛ B0<br />

− A0<br />

s ⎞ st B0<br />

− A0<br />

s ( s+δ)<br />

t<br />

y = y p + ⎜ A0<br />

− ⎟e<br />

+ e<br />

⎝ δ ⎠ δ<br />

−<br />

δ<br />

A0<br />

s ⎞ B0<br />

⎟ +<br />

⎠<br />

−<br />

δ<br />

A0<br />

s δ t ⎤ st<br />

e ⎥ e<br />

⎦<br />

⎡<br />

⎛ δ t<br />

1 e ⎞⎤<br />

st<br />

= y p + ⎢A0<br />

+ ( B0<br />

− A0<br />

s)<br />

⎜−<br />

+ ⎟⎥<br />

e<br />

⎢<br />

⎜ ⎟<br />

⎣<br />

⎝<br />

δ δ<br />

⎠⎥<br />

⎦<br />

⎛ δ t<br />

1 e ⎞ ⎛ δt<br />

e 1⎞<br />

lim ⎜<br />

lim ⎜ −<br />

− + ⎟ =<br />

⎟ = t<br />

δ→0⎜<br />

⎟ 0⎜<br />

⎟<br />

⎝<br />

δ δ δ→<br />

⎠ ⎝<br />

δ<br />

⎠<br />

maka solusi total dapat kita tulis<br />

[ A + B A s)<br />

t] e<br />

st<br />

(16.14)<br />

(16.15.a)<br />

y = y p + 0 ( 0 − 0<br />

(16.15.b)<br />

Solusi total seperti dinyatakan oleh (16.15.b) merupakan bentuk khusus<br />

yang diperoleh jika persamaan karakteristik mempunyai dua akar sama<br />

besar. A 0 <strong>dan</strong> B 0 mempunyai nilai tertentu yang ditetapkan oleh kondisi<br />

awal. Dengan demikian kita dapat menuliskan (16.15.b) sebagai<br />

[ K + K t] e<br />

st<br />

y = y p + a b<br />

(16.15.c)<br />

dengan nilai K a yang ditentukan oleh kondisi awal, <strong>dan</strong> nilai K b<br />

ditentukan oleh kondisi awal <strong>dan</strong> s. Dalam rangkaian listrik, nilai s<br />

tergantung dari elemen-elemen yang membentuk rangkaian <strong>dan</strong> tidak ada<br />

kaitannya dengan kondisi awal. Dengan kata lain, jika kita mengetahui<br />

bahwa persamaan karakteristik rangkaian mempunyai akar-akar yang<br />

sama besar (akar kembar) maka bentuk tanggapan rangkaian akan seperti<br />

yang ditunjukkan oleh (16.15.c).<br />

197


Contoh: Pada kondisi awal v(0 + )=15 V <strong>dan</strong> dv/dt(0 + )=0, analisis<br />

transien rangkaian listrik memberikan persamaan<br />

2<br />

d v 3 dv 6<br />

+ 4 × 10 + 4 × 10 v = 0<br />

2<br />

dt dt<br />

2<br />

6<br />

Persamaan karakteristik : s + 4000s<br />

+ 4 × 10 = 0<br />

Di sini<br />

solusi total<br />

6 6<br />

s1,<br />

s2<br />

= −2000<br />

± 4 × 10 − 4 × 10 = −2000<br />

= s<br />

terdapat dua akar sama besar; oleh karena itu<br />

akar - akar :<br />

v = vp<br />

+<br />

Jadi : v =<br />

akan<br />

berbentuk :<br />

st<br />

st<br />

( K + K t) e = 0 + ( K + K t) e , karena v = 0.<br />

a<br />

b<br />

Aplikasi kondisi awal pertama pada solusi total ini memberikan<br />

+<br />

v(0<br />

) = 15 = Ka.<br />

dv +<br />

Aplikasi kondisi awal kedua (0 ) = 0<br />

dt<br />

dv st<br />

st<br />

memberikan = Kbe<br />

+ ( Ka<br />

+ Kbt)<br />

s e<br />

dt<br />

dv +<br />

→ (0 ) = 0 = Kb<br />

+ Kas<br />

→<br />

dt<br />

−2000 t<br />

( 15 + 30000t<br />

) e V<br />

a<br />

b<br />

Kb<br />

= −Kas<br />

= 30000<br />

Akar-Akar Kompleks Konjugat. Kita belum membahas bilangan<br />

kompleks di buku ini. Kita baru meman<strong>dan</strong>g fungsi-fungsi yang<br />

memiliki nilai bilangan nyata. Namun agar pembahasan menjadi<br />

lengkap, berikut ini diberikan solusinya.<br />

Dua akar kompleks konjugat dapat dituliskan sebagai<br />

Solusi total dari situasi ini adalah<br />

s1 = α + jβ<br />

<strong>dan</strong> s2<br />

= α − jβ<br />

p<br />

( α+ jβ)<br />

t ( α− jβ)<br />

t<br />

y = y p + K1e<br />

+ K2e<br />

= y p +<br />

+ jβ<br />

t − jβ<br />

t αt<br />

( K e + K e ) e<br />

Aplikasikan kondisi awal yang pertama, y(0 + ),<br />

1<br />

2<br />

(16.16)<br />

198 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


+ +<br />

y(0<br />

) = y p (0 ) +<br />

→<br />

( K + K )<br />

1<br />

+ +<br />

K1<br />

+ K2<br />

= y(0<br />

) − y p (0 ) = A0<br />

dv + +<br />

Aplikasi kondisi awal yang kedua, (0 ) = y′<br />

(0 ) ,<br />

dt<br />

dy dy p<br />

jβt<br />

− jβt<br />

αt<br />

= + ( jβK1e<br />

− jβK2e<br />

) e<br />

dt dt<br />

jβt<br />

− jβt<br />

αt<br />

+ ( K1e<br />

+ K2e<br />

) α e<br />

Kita akan memperoleh<br />

dy +<br />

(0 ) y′<br />

+<br />

(0 ) y′<br />

+<br />

= = p (0 ) +<br />

dt<br />

→ jβ<br />

jβ<br />

2<br />

( jβK<br />

− jβK<br />

) + ( K + K )<br />

( K1<br />

K2<br />

) ( K1<br />

K2<br />

) y′<br />

+<br />

(0 ) y′<br />

+<br />

− + α + = − p (0 ) = B0<br />

K1<br />

+ K2<br />

= A0<br />

( K − K ) + α( K + K )<br />

1<br />

2<br />

1<br />

1<br />

B0<br />

− αA0<br />

2 = B0<br />

→ K1<br />

− K2<br />

=<br />

jβ<br />

A0<br />

+ ( B0<br />

− αA0<br />

) / jβ<br />

A0<br />

− ( B0<br />

− αA0<br />

) / jβ<br />

K 1 =<br />

K2<br />

=<br />

2<br />

2<br />

Solusi total menjadi<br />

y = y<br />

= y<br />

= y<br />

p<br />

p<br />

p<br />

⎛ A + B<br />

+<br />

0 ( 0<br />

⎜<br />

⎝<br />

⎛<br />

+ ⎜ A<br />

⎜<br />

⎝<br />

0<br />

e<br />

+ jβ<br />

t<br />

+ e<br />

2<br />

− jβ<br />

t<br />

⎛ ( B<br />

+<br />

⎜ A cosβt<br />

+<br />

0<br />

0<br />

⎝<br />

− αA0<br />

) / jβ<br />

e<br />

2<br />

( B<br />

+<br />

+ jβ<br />

t<br />

0<br />

− αA0<br />

) e<br />

β<br />

− αA0<br />

) ⎞<br />

sinβt<br />

⎟ e<br />

β ⎠<br />

αt<br />

2<br />

A − ( B<br />

+<br />

0 0<br />

+ jβ<br />

t<br />

− e<br />

2 j<br />

1<br />

− jβ<br />

t<br />

2<br />

⎞<br />

⎟ e<br />

⎟<br />

⎠<br />

α<br />

− αA0<br />

) / jβ<br />

e<br />

2<br />

αt<br />

− jβ<br />

t<br />

⎞<br />

⎟ e<br />

⎠<br />

αt<br />

(16.17)<br />

A 0 <strong>dan</strong> B 0 mempunyai nilai tertentu yang ditetapkan oleh kondisi awal<br />

se<strong>dan</strong>gkan α <strong>dan</strong> β memiliki nilai tertentu (dalam rangkaian listrik<br />

ditentukan oleh nilai elemen rangkaian). Dengan demikian solusi total<br />

dapat kita tuliskan sebagai<br />

y = y p +<br />

αt<br />

( K βt<br />

+ K sinβt) e<br />

a cos b<br />

(16.18)<br />

199


dengan K a <strong>dan</strong> K b yang masih harus ditentukan melalui penerapan<br />

kondisi awal. Ini adalah bentuk solusi total khusus untuk persamaan<br />

diferensial yang memiliki persamaan karakteristik dengan dua akar<br />

kompleks konjugat.<br />

Persamaan (16.8) menunjukkan bahwa bila persamaan karakteristik<br />

memberikan dua akar kompleks konjugat, maka solusi persamaan<br />

diferensial orde dua akan terdiri dari solusi khusus y p ditambah fungsi<br />

sinus yang teredam.<br />

Soal-Soal:<br />

1. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />

2<br />

d v dv<br />

+ dv +<br />

a). + 7 + 10v<br />

= 0 ; v(0<br />

) = 0, (0 ) = 15<br />

2<br />

dt dt<br />

dt<br />

b).<br />

2<br />

d v dv<br />

+ dv +<br />

+ 4 + 4v<br />

= 0 ; v(0<br />

) = 0 , (0 ) = 10<br />

2<br />

dt dt<br />

dt<br />

c).<br />

2<br />

d v dv<br />

+ dv +<br />

+ 4 + 5v<br />

= 0 ; v(0<br />

) = 0 , (0 ) = 5<br />

2<br />

dt dt<br />

dt<br />

2. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />

2<br />

d v dv<br />

+ dv(0)<br />

a). + 10 + 24v<br />

= 100u(<br />

t) ; v(0<br />

) = 5, = 25<br />

2<br />

dt dt<br />

dt<br />

b).<br />

2<br />

d v dv<br />

+ dv(0)<br />

+ 10 + 25v<br />

= 100u(<br />

t);<br />

v(0<br />

) = 5, = 10<br />

2<br />

dt dt<br />

dt<br />

c).<br />

2<br />

d v dv<br />

+ dv(0)<br />

+ 8 + 25v<br />

= 100u(<br />

t);<br />

v(0<br />

) = 5, = 10<br />

2<br />

dt dt<br />

dt<br />

3. Carilah solusi persamaan diferensial berikut.<br />

2<br />

d v dv<br />

+ dv +<br />

a). + 6 + 8v<br />

= 100[cos1000 t]<br />

u(<br />

t)<br />

, v(0<br />

) = 0, (0 ) = 0<br />

2<br />

dt dt<br />

dt<br />

b).<br />

2<br />

d v dv<br />

+ dv +<br />

+ 6 + 9v<br />

= 100[cos1000 t]<br />

u(<br />

t)<br />

, v(0<br />

) = 0, (0 ) = 0<br />

2<br />

dt dt<br />

dt<br />

c).<br />

2<br />

d v dv<br />

+ dv +<br />

+ 2 + 10v<br />

= 100[cos1000 t]<br />

u(<br />

t) , v(0<br />

) = 0, (0 ) = 0<br />

2<br />

dt dt<br />

dt<br />

200 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Bab 17<br />

Koordinat Polar<br />

Sampai dengan Bab-16 kita membicarakan fungsi dengan kurva-kurva<br />

yang digambarkan dalam koordinat sudut-siku, x-y. Di bab ini kita akan<br />

melihat sistem koordinat polar.<br />

17.1. Relasi Koordinat Polar <strong>dan</strong> Koordinat Sudut-siku<br />

Pada pernyataan posisi satu titik P[x P ,y P ] pada sistem koordinat sudutsiku<br />

terdapat hubungan<br />

y P = r sin θ ; x P = r cosθ<br />

(17.1)<br />

dengan r adalah jarak antara titik P dengan titik-asal [0,0] <strong>dan</strong> θ adalah<br />

sudut yang dibentuk oleh arah r dengan sumbu-x, seperti terlihat pada<br />

Gb. 17.1.<br />

y<br />

y P<br />

r<br />

P[r,θ]<br />

θ<br />

[0,0] x P x<br />

Gb.17.1. Posisi titik P pada sistem koordinat polar.<br />

Dalam koordinat polar, r <strong>dan</strong> θ inilah yang digunakan untuk menyatakan<br />

posisi titik P. Posisi titik P seperti pada Gb. 17.1. dituliskan sebagai<br />

P[r,θ].<br />

17.2. Persamaan Kurva Dalam Koordinat Polar<br />

Di Bab-5 kita telah melihat persamaan lingkaran berjari-jari c berpusat di<br />

O[a,b] dalam koordinat sudut-siku, yaitu<br />

2 2 2<br />

( x − a)<br />

+ ( y − b)<br />

= c<br />

201


Kita dapat menyatakan lingkaran ini dalam koordinat polar dengan<br />

mengganti x <strong>dan</strong> y menurut relasi (17.1), yaitu<br />

yang dapat dituliskan sebagai<br />

2<br />

2 2<br />

( r cosθ − a)<br />

+ ( r sin θ − b)<br />

= c<br />

(17.2.a)<br />

2 2<br />

2 2 2<br />

2 2<br />

( r cos θ − 2ra<br />

cosθ + a ) + ( r sin θ − 2rbsin<br />

θ + b ) − c = 0<br />

2<br />

( r − 2r(<br />

a cosθ + bsin<br />

θ)<br />

)<br />

r<br />

2 2 2<br />

+ a + b − c = 0<br />

2 2 2<br />

( r − 2( a cosθ + bsin<br />

θ)<br />

) + a + b − c = 0<br />

dengan bentuk kurva seperti Gb.17.2.a<br />

(17.2.b)<br />

Jika lingkaran ini berjari-jari c = a <strong>dan</strong> berpusat di O[a,0] maka<br />

persamaan (17.2.b) menjadi<br />

r ( r − 2a<br />

cosθ)<br />

= 0<br />

(17.2.c)<br />

Pada faktor pertama, jika kita mengambil r = 0 , kita menemui titik<br />

pusat. Faktor ke-dua adalah<br />

r − 2 a cosθ<br />

= 0<br />

(17.2.d)<br />

merupakan persamaan lingkaran dengan bentuk kurva seperti pada<br />

Gb.17.2.b.<br />

b<br />

y<br />

[0,0]<br />

θ<br />

r<br />

a<br />

(a)<br />

P[r,θ]<br />

[0,0]<br />

Gb.17.2. Lingkaran<br />

Berikut ini tiga contoh bentuk kurva dalam koordinat bola.<br />

x<br />

y<br />

θ<br />

r<br />

a<br />

(b)<br />

P[r,θ]<br />

x<br />

202 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Contoh: r = 2(1<br />

− cosθ)<br />

. Bentuk kurva fungsi ini terlihat pada Gb.17.3<br />

yang disebut kardioid (cardioid) karena bentuk yang seperti hati.<br />

Gb.17.3 Kurva kardioid, r = 2(1<br />

− cosθ)<br />

Perhatikan bahwa pada θ = 0, r = 0; pada θ = π/2 , r = 2; pada θ = π,<br />

r = 4; pada θ = 1,5π, r = 2.<br />

Contoh:<br />

P[r,θ]<br />

r<br />

0<br />

-5 -3 -1 1 x<br />

-1<br />

2<br />

r = 16cosθ<br />

. Bentuk kurva fungsi ini terlihat pada Gb.17.4<br />

3<br />

2<br />

1<br />

0<br />

-5 -3 -1 1 3 x 5<br />

-1<br />

-2<br />

-3<br />

Gb.17.4 Kurva<br />

2<br />

r = 16cosθ<br />

Perhatikan bahwa pada θ = 0, r = 4; pada θ = π/2 , r = 0; pada θ = π,<br />

r = 4; pada θ = 1,5π, r = 0.<br />

Contoh: r θ = 2 . Untuk θ > 0 bentuk kurva fungsi ini terlihat pada<br />

Gb.17.5<br />

y<br />

3<br />

2<br />

1<br />

-2<br />

-3<br />

r<br />

θ<br />

y<br />

θ<br />

P[r,θ]<br />

203


2<br />

y<br />

1,5<br />

1<br />

0,5<br />

r<br />

θ<br />

P[r,θ]<br />

0<br />

-1 0 1 2 x 3<br />

θ = π<br />

-0,5<br />

θ = 3π θ = 4π θ = 2π<br />

-1<br />

Gb.17.5 Kurva r θ = 2<br />

y = 2<br />

Pada persamaan kurva ini jika θ = 0 maka 0 = 2; suatu hal yang tidak<br />

benar. Ini berarti bahwa tidak ada titik pada kurva yang bersesuaian<br />

dengan θ = 0. Akan tetapi jika θ mendekati nol maka r mendekati ∞;<br />

garis y = 2 merupakan asimptot dari kurva ini. Perhatikanlah bahwa<br />

perpotongan kurva dengan sumbu-x tidak berarti θ = 0 <strong>dan</strong> terjadi pada θ<br />

= π, 2π, 3π, 4π, dst.<br />

17.3. Persamaan Garis Lurus<br />

Salah satu cara untuk menyatakan persamaan kurva dalam koordinat<br />

polar adalah menggunakan relasi (17.1) jika persamaan dalam koordinat<br />

sudut-siku diketahui. Hal ini telah kita lakukan misalnya pada persamaan<br />

lingkaran (17.2.a) menjadi (17.2.b) atau (17.2.c). Berikut ini kita akan<br />

menurunkan persamaan kurva dalam koordinat polar langsung dari<br />

bentuk / persyaratan kurva.<br />

Gb.17.6 memperlihatkan kurva dua garis lurus l 1 sejajar sumbu-x <strong>dan</strong> l 2<br />

sejajar sumbu-y.<br />

y<br />

l 1<br />

y<br />

O<br />

r<br />

θ<br />

a<br />

P[r,θ]<br />

x<br />

b<br />

O<br />

l 2<br />

r<br />

θ<br />

P[r,θ]<br />

x<br />

Gb.17.6 Garis lurus melalui titik-asal [0,0].<br />

Garis l 1 berjarak a dari titik-asal; setiap titik P yang berada pada garis ini<br />

harus memenuhi<br />

204 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Inilah persamaan garis l 1 .<br />

r cos θ = a<br />

(17.3)<br />

Garis l 2 berjarak b dari titik-asal; setiap titik P yang berada pada garis ini<br />

harus memenuhi<br />

Inilah persamaan garis l 2 .<br />

r sin θ = b<br />

(17.4)<br />

Kita lihat sekarang garis l 3 yang berjarak a dari titik asal dengan<br />

kemiringan positif seperti terlihat pada Gb.17.7. Karena garis memiliki<br />

kemiringan tertentu maka sudut antara garis tegak-lurus ke l 3 , yaitu β<br />

juga tertentu. Kita manfaatkan β untuk mencari persamaan garis l 3 . Jika<br />

titik P harus terletak pada l 3 maka<br />

Inilah persamaan garis l 3 .<br />

r cos( β − θ)<br />

= a<br />

(17.5)<br />

y<br />

P[r,θ]<br />

A<br />

α<br />

l 3<br />

a<br />

β<br />

r<br />

θ<br />

O<br />

x<br />

Gb.17.7. Garis lurus l 3 berjarak a dari [0,0], memiliki kemiringan positif.<br />

Jika kita bandingkan persamaan ini dengan persamaan (17.3) terlihat<br />

bahwa persamaan (17.5) ini adalah bentuk umum dari (17.3), yang akan<br />

kita peroleh jika kita melakukan perputaran sumbu. Jika perputaran kita<br />

lakukan sedemikian rupa sehingga memperoleh kemiringan garis positif,<br />

maka akan kita peroleh persamaan garis seperti (17.5). Apabila<br />

perputaran sumbu kita lakukan sehingga garis yang kita hadapi, l 4 ,<br />

memiliki kemiringan negatif, seperti pada Gb.17.8., maka persamaan<br />

garis adalah<br />

r cos( θ − β)<br />

= a<br />

(17.6)<br />

205


y<br />

P[r,θ]<br />

r a<br />

θ<br />

β<br />

O<br />

l 4<br />

x<br />

Gb.17.8. Garis lurus l 4 berjarak a dari [0,0], kemiringan negatif.<br />

17.4. Parabola, Elips, Hiperbola<br />

Ketiga bangun geometris ini telah kita lihat pada Bab-5 dalam koordinat<br />

sudut-siku. Kita akan melihatnya sekarang dalam koordinat polar.<br />

Eksentrisitas. Pengertian sehari-hari dari istilah eksentrik adalah<br />

menyimpang dari yang umum. Dalam matematika, eksentrisitas adalah<br />

rasio antara jarak suatu titik P terhadap titik tertentu dengan jarak antara<br />

titik P terhadap garis tertentu. Titik tertentu itu disebut titik fokus <strong>dan</strong><br />

garis tertentu itu disebut direktriks; kedua istilah ini telah kita kenal pada<br />

waktu pembahasan mengenai parabola di Bab-5. Sesungguhnya, dengan<br />

pengertian eksentrisitas ini kita dapat membahas sekaligus parabola,<br />

elips, <strong>dan</strong> hiperbola.<br />

Perhatikan Gb.17.8. Jika e s adalah eksentrisitas, maka<br />

PF<br />

e s =<br />

(17.7)<br />

PD<br />

D<br />

A<br />

direktriks<br />

r<br />

θ<br />

F<br />

Gb.17.8. Titik fokus <strong>dan</strong> garis direktriks.<br />

Jika kita mengambil titik fokus F sebagai titik asal, maka<br />

k<br />

y<br />

PF = r<br />

B<br />

P[r,θ]<br />

x<br />

206 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


<strong>dan</strong> dengan (17.7) menjadi<br />

r = e s PD ; se<strong>dan</strong>gkan<br />

PD = AB = AF + FB = k + r cosθ<br />

sehingga r = es<br />

( k + r cosθ)<br />

= esk<br />

+ esr<br />

cosθ<br />

Dari sini kita dapatkan<br />

esk<br />

r =<br />

(17.8)<br />

1 − es<br />

cosθ<br />

Nilai e s menentukan persamaan bangun geometris yang kita akan<br />

peroleh.<br />

Parabola. Jika e s = 1, yang berarti PF = PD, maka<br />

k<br />

r =<br />

(17.9)<br />

1−<br />

cosθ<br />

Inilah persamaan parabola.<br />

Perhatikan bahwa jika θ mendekati nol, maka r mendekati tak hingga.<br />

Jika θ = π/2 maka r = k. Jika θ = π titik P akan mencapai puncak kurva<br />

<strong>dan</strong> r = k/2, yang berarti bahwa puncak parabola berada di tegah-tengah<br />

antara garis direktriks <strong>dan</strong> titik fokus. Hal ini telah kita lihat di Bab-5.<br />

Elips. Jika e s < 1, misalnya e s = 0, 5 , PF = PD/2, maka<br />

k<br />

r =<br />

(17.10)<br />

2 − cosθ<br />

Inilah persamaan elips.<br />

Perhatikan bahwa karena − 1 ≤ cosθ ≤ + 1 maka penyebut pada<br />

persamaan (17.10) tidak akan pernah nol. Oleh karena itu r selalu<br />

mempunyai nilai untuk semua nilai θ. Jika θ = 0 maka r = k, titik P<br />

mencapai jarak terjauh dari F. <strong>dan</strong> jika θ = π/2 maka r = k/2 . Jika θ = π<br />

maka r = k/3, titik P mencapai jarak terdekat dengan F.<br />

Hiperbola. Jika e s > 1, misal e s = 2 , berarti PF = 2 × PD , maka<br />

2k<br />

r =<br />

(17.11)<br />

1 − 2cosθ<br />

Inilah persamaan hiperbola.<br />

207


Jika θ mendekati π/3 maka r menuju tak hingga. Jika θ = π / 2 maka r =<br />

2k. Jika θ = π , titik P ada di puncak kurva, <strong>dan</strong> r = k/3 = PF.<br />

17.4. Lemniskat <strong>dan</strong> Oval Cassini<br />

Di laut Aegea di hadapan selat Dar<strong>dan</strong>ella, terdapat sebuah pulau yang<br />

penting dalam mitologi Yunani yaitu pulau Lemnos atau Limnos. Pulau<br />

vulkanik ini berbentuk tak beraturan dengan dua teluk yang menjorok<br />

dalam ke daratan di pantai utara <strong>dan</strong> pantai selatan.<br />

Giovanni Domenico Cassini dikenal juga dengan nama Jean Dominique<br />

Cassini (1625 – 1712) adalah astronom Italia. Cassini menemukan empat<br />

di antara sembilan atau sepuluh satelit planet Saturnus. Ia pula yang<br />

menemukan celah cincin Saturnus, antara cincin terluar dengan cincin<br />

ke-dua yang paling terang; celah itu kemudian disebut Cassini’s division.<br />

Bangun-geometris yang disebut lemniskat <strong>dan</strong> oval Cassini merupakan<br />

situasi khusus dari kurva yang merupakan tempat kedudukan titik-titik<br />

yang hasil kali jaraknya terhadap dua titik tertentu bernilai konstan.<br />

Misalkan dua titik tertentu tersebut adalah F 1 [a,π] <strong>dan</strong> F 2 [a,0]. Lihat<br />

Gb.17.9.<br />

θ = π<br />

Gb.17.9. Menurunkan persamaan kurva dengan<br />

persyaratan PF 1 ×PF 2 = konstan<br />

Dari Gb.17.9. kita dapatkan<br />

2<br />

2<br />

( PF ) = ( r sin θ) + ( a + r cosθ)<br />

1<br />

2 2<br />

= r + a + 2ar<br />

cosθ<br />

2<br />

2<br />

( PF ) = ( r sin θ) + ( a − r cosθ)<br />

2<br />

F 1 [a,π]<br />

θ = π/2<br />

2 2<br />

= r + a − 2ar<br />

cosθ<br />

r<br />

P[r,θ]<br />

θ θ = 0<br />

F 2 [a,0]<br />

2<br />

2<br />

Misalkan hasil kali<br />

2<br />

PF1 × PF 2 = b , maka kita peroleh relasi<br />

208 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


4<br />

b =<br />

2 2<br />

2 2<br />

( r + a + 2ar<br />

cosθ) × ( r + a − 2ar<br />

cosθ)<br />

4 4 2 2<br />

2<br />

= r + a + 2a<br />

r − (2ar<br />

cosθ)<br />

4 4 2 2 2<br />

= r + a + 2a<br />

r (1 − 2cos θ)<br />

(17.12)<br />

Kita manfaatkan identitas trigonometri<br />

2 2 2<br />

cos2θ<br />

= cos θ − sin θ = 2cos θ −1<br />

untuk menuliskan (17.12) sebagai<br />

4<br />

4<br />

4<br />

2<br />

2<br />

b = r + a − 2a<br />

r cos2θ<br />

(17.13)<br />

Jika b kita buat ber-relasi dengan a yaitu b = ka maka persamaan (17.13)<br />

ini dapat kita tuliskan<br />

Untuk r > 0, persamaan ini menjadi<br />

r<br />

2<br />

4 2 2<br />

4 4<br />

0 = r − 2a<br />

r cos 2θ + a (1 − k )<br />

2<br />

2<br />

2<br />

= a cos 2θ ± a cos 2θ − (1 − k )<br />

(17.14)<br />

Lemniskat. Bentuk kurva yang disebut lemniskat ini diperoleh pada<br />

kondisi khusus (17.14) yaitu k = 1, yang berarti b = a atau<br />

2<br />

PF1 × PF 2 = a . Pada kondisi ini persamaan (17.14) menjadi<br />

2 2 2<br />

0 = r ( r − 2a<br />

cos2θ)<br />

Faktor pertama r = 0 akan memberikan sebuah titik. Faktor yang ke-dua<br />

memberikan persamaan<br />

r<br />

2 2a<br />

2<br />

= cos 2θ<br />

Dengan mengambil a = 1, kurva dari persamaan ini terlihat pada<br />

Gb.17.10.<br />

4<br />

209


θ = π/2<br />

0,6<br />

θ = π<br />

0,2<br />

θ = 0<br />

0<br />

-1,5 -1 -0,5 0 0,5 1 1,5<br />

-0,2<br />

Gb.17.10. Kurva persamaan (17.14), k = 1 = a.<br />

Bentuk lemniskat masih akan diperoleh pada k > 1, misalnya k = 1,1.<br />

Pada keadaan ini, dengan tetap mengambil a = 1, bentuk kurva yang<br />

akan diperoleh terlihat seperti pada Gb.17.11.<br />

θ = π<br />

-0,6<br />

θ = π/2<br />

1,5<br />

1<br />

0,5<br />

0<br />

-1<br />

θ = 0<br />

-2 -1 0 1 2<br />

-0,5<br />

-1,5<br />

Gb.17.11. Kurva persamaan (17.14), k = 1,1 & a = 1.<br />

Oval Cassini. Kondisi khusus yang ke-tiga adalah k < 1, misalkan k =<br />

0,8. Dengan tetap mengambil a = 1, bentuk kurva yang diperoleh adalah<br />

seperti pada Gb.17.12, yang disebut “oval Cassini”. Kurva ini terbelah<br />

menjadi dua bagian, mengingatkan kita pada Cassini’s division di planet<br />

Saturnus.<br />

210 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


θ = π/2<br />

1,5<br />

1<br />

0,5<br />

θ = π<br />

0<br />

θ = 0<br />

-2 -1 0 1 2<br />

-0,5<br />

-1<br />

-1,5<br />

Gb.17.12. Kurva persamaan (17.14), k = 0,8 & a = 1.<br />

17.5. Luas Bi<strong>dan</strong>g Dalam Koordinat Polar<br />

Kita akan menghitung luas bi<strong>dan</strong>g yang dibatasi oleh suatu kurva <strong>dan</strong><br />

dua garis masing-masing mempunyai sudut kemiringan α <strong>dan</strong> β. Lihat<br />

Gb.17.12<br />

y<br />

θ = β<br />

∆θ<br />

Gb.17.12. Mencari luas bi<strong>dan</strong>g antara kurva <strong>dan</strong> dua garis.<br />

Antara α <strong>dan</strong> β kita bagi dalam n segmen.<br />

β − α<br />

∆ θ =<br />

n<br />

Luas setiap segmen bisa didekati dengan luas sektor lingkaran. Antara θ<br />

<strong>dan</strong> (θ + ∆θ) ada suatu nilai θ k sedemikian rupa sehingga luas sektor<br />

lingkaran adalah<br />

2<br />

A k = ( r k ∆θ<br />

) / 2<br />

Luas antara θ = α <strong>dan</strong> θ = β menjadi<br />

θ<br />

θ = α<br />

x<br />

211


2<br />

2<br />

∑(<br />

r k ∆θ)<br />

/ 2 = ∑( f ( θk<br />

))<br />

∆θ<br />

A αβ =<br />

/ 2<br />

Jika n menuju ∞, ∆θ menuju nol, kita dapat menuliskan luas bi<strong>dan</strong>g<br />

menjadi<br />

atau<br />

Aαβ<br />

= lim<br />

∆θ→0<br />

1 β<br />

=<br />

2 ∫α<br />

∑<br />

[ f ( θ)<br />

]<br />

2<br />

( rk<br />

∆θ) / 2 = lim<br />

∆θ→0<br />

2<br />

dθ<br />

∫ β 2<br />

r<br />

Aαβ<br />

= dθ<br />

α 2<br />

∑<br />

[ f ( θ)<br />

]<br />

2<br />

∆θ / 2<br />

(17.15)<br />

Penutup<br />

Bab-17 adalah bab terakhir tulisan ini. Penulis rasa cukup<br />

ringan untuk dibaca. Sudah barang tentu untuk memahami<br />

lebih jauh kalkulus pembaca perlu mempelajari buku-buku<br />

referensi matematika yang memang ditujukan untuk<br />

belajar matematika; bahkan mengikuti kuliah matematika.<br />

212 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


IDEKS<br />

a<br />

akar kompleks 198<br />

akar nyata 195, 196<br />

anak tangga 27, 187<br />

antilogaritma 97<br />

b<br />

banyak 11, 12<br />

c<br />

cardioid 203<br />

cosecan 72, 76, 81<br />

cosinus 70, 74, 78, 85<br />

cotangent 71, 75, 80<br />

d<br />

diferensial 166<br />

domain 2<br />

e<br />

eksentrisitas 206<br />

eksponensial 97, 98, 140,<br />

163<br />

elips 61, 207<br />

f<br />

fungsi 1<br />

fungsi pemaksa 186, 187<br />

g<br />

garis lurus 15, 204<br />

garis singgung 113, 118<br />

geometris 55<br />

gigi gergaji 32<br />

h<br />

hiperbola 63, 207<br />

hiperbolik 100, 101, 164<br />

i<br />

implisit 7<br />

integral 141, 143, 145, 147,<br />

153, 156, 161, 166, 169, 176<br />

inversi 77, 82, 136, 165<br />

k<br />

kekontinyuan 5<br />

kemiringan 15<br />

kondisi awal 185<br />

kurva 2<br />

l<br />

lebar pita 88, 92<br />

lemniskat 208<br />

lingkaran 59, 202<br />

linier 15<br />

logarithma natural 95<br />

logaritmik 133, 139<br />

luas bi<strong>dan</strong>g 174, 211<br />

m<br />

mononom 37, 39, 41, 42, 48,<br />

107, 161<br />

nilai puncak 112<br />

nilai rata-rata 160<br />

numerik 141, 177<br />

o<br />

orde dua 193, 195<br />

orde satu 179, 181, 183<br />

oval cassini 210<br />

213


p<br />

parabola 58, 207<br />

parametrik 14<br />

pergeseran 16, 87<br />

perpotongan 21<br />

persamaan diferensial 179,<br />

193<br />

peubah 1<br />

peubah-bebas 1, 12<br />

peubah-tak-bebas 1<br />

polar 13, 201<br />

polinom 37, 43, 48, 110, 161<br />

pulsa 29, 31<br />

r<br />

ramp 29, 31<br />

rantai 127<br />

rasional 124<br />

rentang 2<br />

s<br />

secan 72, 76, 81<br />

simetri 6<br />

sinus 70, 73, 77, 85, 88, 188<br />

spektrum 88, 91<br />

t<br />

tangent 71, 74, 79<br />

tetapan 15, 161<br />

trigonometri 69, 164, 165<br />

tunggal 9<br />

turunan 105, 136, 139<br />

214 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong> – <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


Referensi<br />

1. Catatan-catatan penulis dalam kuliah matematika di Institut<br />

Teknologi Bandung, tahun 1963 – 1964, sebagai bahan utama tulisan<br />

dalam buku ini.<br />

2. Ge<strong>org</strong>e B Thomas, “Calculus And Analytic Geometry”, addison<br />

Wesley, 1956, buku pegangan dalam mengikuti kuliah matematika<br />

di ITB, tahun 1963 - 1964.<br />

3. Sudaryatno Sudirham: ”Analisis Rangkaian Listrik”, Penerbit ITB,<br />

ISBN 979-9299-54-3, 2002.<br />

4. Sudaryatno Sudirham: ”Analisis Rangkaian Elektrik”, e-book, 2010.<br />

5. Sudaryatno Sudirham, “Mengenal Sifat Material 1”, e-book, 2010.<br />

215


Biodata Penulis<br />

Nama: Sudaryatno Sudirham<br />

Lahir: di Blora pada 26 Juli 1943<br />

Istri: Ning Utari<br />

Anak: Arga Aridarma<br />

Aria Ajidarma.<br />

1971 : Jurusan Teknik Elektro – Institut Teknologi Bandung.<br />

1972 – 2008 : Dosen Institut Teknologi Bandung.<br />

1974 : Tertiary Education Research Center – UNSW − Australia<br />

1979 : EDF – Paris Nord <strong>dan</strong> Fontainbleu − Perancis<br />

1981 : INPT - Toulouse − Perancis; DEA 1982; Doktor 1985.<br />

Mata Kuliah yang pernah diberikan: “Pengukuran Listrik”; “Pengantar<br />

Teknik Elektro”; “Pengantar Rangkaian Elektrik”; “Material<br />

Elektroteknik”; “Phenomena Gas Terionisasi”; “Dinamika Plasma”;<br />

“Dielektrika”; “Material Biomedika”.<br />

Buku <strong>dan</strong> Artikel: “Analisis Rangkaian Listrik”, Penerbit ITB, 2002,<br />

2005; “Metoda Rasio TM/TR Untuk Estimasi Susut Energi Jaringan<br />

Distribusi”; Penerbit ITB, 2009; “<strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong>, <strong>Diferensial</strong> Dan<br />

Integral”; Penerbit ITB, Penerbit ITB, 2009, e-book 2010; “Analisis<br />

Rangkaian Elektrik (1)”, e-book, 2010; “Analisis Rangkaian Elektrik<br />

(2)”, e-book, 2010; ”Mengenal Sifat Material (1)”, e-book, 2010;<br />

216 Sudaryatno Sudirham, <strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong> – <strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral


<strong>Fungsi</strong> <strong>dan</strong> <strong>Grafik</strong><br />

<strong>Diferensial</strong> <strong>dan</strong> Integral<br />

217

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!