Views
3 years ago

Makalah Seminar Hasil Penelitian TA 2007 KAJI ULANG SISTEM ...

Makalah Seminar Hasil Penelitian TA 2007 KAJI ULANG SISTEM ...

II. METODA PENELITIAN

II. METODA PENELITIAN 3.1. Perencanaan Sampling Lokasi Sesuai dengan tujuan penelitian, pemilihan provinsi lokasi penelitian ditentukan secara purposive dengan kriteria sebagai daerah sentra produksi padi di pulau bersangkutan. Provinsi-provinsi yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Responden Sesuai dengan tujuan penelitian, dalam penelitian ini akan digunakan baik data primer maupun data sekunder. Data primer akan dikumpulkan dari pelaku distribusi pupuk bersubsidi, pengguna pupuk bersubsidi dalam hal ini petani padi, dan Penyuluh Pertanian Lapang (PPL). Pelaku distribusi pupuk bersubsidi terdiri dari produsen pupuk, distributor, pengecer resmi, dan kelompok tani. Dengan demikian ada 6 (lima) jenis responden yang merupakan sumber data primer, yaitu (a) produsen pupuk, (b) distributor, (c) pengecer resmi, (d) kelompok tani, (e) petani padi, dan PPL. Agar diperoleh informasi berkesinambungan dan konsisten maka pelaku distribusi pupuk bersubsidi yang dipilih sebagai responden adalah mereka yang berada dalam satu rantai pemasaran. Data sekunder akan dikumpulkan dari sejumlah instansi pemerintah yang terkait dengan kebijaksanaan subsidi pupuk, yaitu (a) Departemen Pertanian baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten, (b) Departemen Perdagangan baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten, dan (c) BUMN produsen pupuk (PT Pupuk Sriwijaya, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Pupuk Kujang Cikampek, dan PT Petrokimia Gresik). Data dan Cara Pengumpulannya Pengumpulan informasi dari responden-responden yang merupakan sumber data primer (produsen pupuk, distributor, pengecer resmi, kelompok tani, petani padi, dan PPL) dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Sementara itu pengumpulan informasi dari responden-responden yang merupakan sumber data sekunder (sejumlah instansi pemerintah dan produsen pupuk) dilakukan 11

lewat wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan yang berisi pokok-pokok informasi yang hendak digali. 3.2. Analisa Data Review tentang evolusi kebijakan modus subsidi dan sistem distribusi pupuk bersubsidi akan dilakukan secara deskriptif. Evaluasi modus subsidi dan sistem distribusi pupuk bersubsidi yang berlaku saat ini juga akan dilakukan secara deskriptif dengan mempergunakan tabulasi. IV. HASIL PENELITIAN. 4.1. Review Evolusi Kebijakan Modus Subsidi dan Sistem Distribusi Pupuk Bersubsidi 4.1.1.Modus Subsidi: Tunai Ke Produsen vs Tunai Ke Petani Subsidi pupuk pertama kali diberikan kepada petani Indonesia pada tahun 1979 1 dengan modus subsidi harga yang diberikan langsung kepada produsen. Selama periode tahun 1979-1998, subsidi pupuk diberikan dalam bentuk subsidi harga dengan menetapkan harga eceran tertinggi (HET) di tingkat petani yang lebih rendah dari harga pasar dan selisih HET dengan harga pasar ditanggung oleh pemerintah dan diberikan kepada produsen karena produsen menjual sesuai dengan HET dibawah harga pasar. Pupuk bersubsidi disalurkan melalui Koperasi Unit Desa (KUD) di bawah koordinasi dan tanggung jawab PT. Pusri. Pembelian pupuk oleh petani dilakukan dengan sistem kredit bersubsidi yang disalurkan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI). 1 Sebelum tahun 1979, kebutuhan pupuk petani disediakan oleh swasta. Sejak awal berproduksi, pada Bulan Oktober 1963 sampai dengan tahun 1967, PT Pusri hanya sebagai produsen, sedangkan PT Pertani sebagai pembeli tunggal yang memasarkan kepada konsumen. Pada tahun 1968-1969, pembayaran dari PT Pertani mengalami kemacetan, sejak itu PT Pusri mulai memasarkan sendiri dengan menggunakan jasa perusahaan-perusahaan tertentu (CV Tulus Karya, FA Taman Sari, CV Tiga Daya dan CV Toyamas). Tahun 1970, Unit Pemasaran PT Pusri dibentuk dengan fungsinya mendistribusikan dan menyalurkan sarana produksi pertanian. Tahun 1970-1971, mulai dibentuk KPW di beberapa propinsi antara lain Jatim, Jateng, Jabar, Sumsel, Sumut dan Sulsel. Pembentukan ini berhubungan dengan ditetapkannya PT Pusri sebagai distributor/ importir pupuk TSP dan Urea untuk memenuhi program BIMAS/INMAS tanaman pangan sesuai surat Mentan/Ketua BP.Bimas No.380/KP/UM/7/70 tanggal 17 Juli 1970 bersama-sama dengan importir/distributor lainnya yaitu PN Pertamina, PT Panca Niaga, PT Cipta Niaga, PT Intrada, PT Lamtoro Agung dan PT Jaya NIaga. PT Pusri diharuskan bertanggungjawab atas kelancaran penyediaan pupuk. Berdasarkan Keputusan Pemerintah Nomor : 56/KP/II/1979 tanggal 15 Februari 1979, PT Pusri ditunjuk sebagai Distributor Nasional untuk seluruh jenis pupuk bersubsidi (Urea, TSP, & DAP). Fungsinya mendistribusikan dan menyalurkan pupuk bersubsidi baik produksi dalam negeri maupun impor untuk kebutuhan sektor pertanian sampai Lini IV. Dalam perjalanan waktu, jenis pupuk ditambah dengan pupuk ZA, KCl, ZK, KS, KNO3 dan SP-36 (Sumber : www.pusri.co.id) 12

Kaji Ulang Kebijakan Subsidi dan Distribusi Pupuk - Pusat Sosial ...
makalah seminar 2007-kaji tindak - Pusat Sosial Ekonomi dan ...
makalah seminar 2007-pembiayaan - Pusat Sosial Ekonomi dan ...
Kaji Ulang Program Pembangunan Pertanian - Pusat Sosial ...