Views
4 years ago

Makalah Seminar Hasil Penelitian TA 2007 KAJI ULANG SISTEM ...

Makalah Seminar Hasil Penelitian TA 2007 KAJI ULANG SISTEM ...

4.2. Evaluasi Modus

4.2. Evaluasi Modus Subsidi dan Sistem Distribusi Pupuk Bersubsidi di Tingkat Petani 4.2.1. Jenis Pupuk yang Digunakan Petani, Tingkat Partisipasi, dan Tingkat Penggunaannya per Hektar Jenis pupuk yang digunakan petani di provinsi-provinsi lokasi penelitian meliputi Urea, SP-36, ZA, NPK dan KCL. Tingkat partisipasi petani dalam penggunaan pupuk adalah bervariasi menurut jenis pupuk. Tingkat partisipasi tertinggi ditunjukkan dalam penggunaan urea (98,60 %), selanjutnya berturut-turut diikuti oleh SP-36 (73 %), NPK (41,10 %), ZA (33,34 %) dan tingkat partisipasi terendah ditunjukkan dalam penggunaan KCL (28,67 %) (Tabel Lampiran 1). Hal ini menunjukkan bahwa dalam berusahatani petani secara umum lebih mengandalkan pupuk urea dalam meningkatkan produktivitas. Seperti halnya tingkat partisipasi petani dalam penggunaan pupuk, tingkat penggunaan pupuk per hektar juga bervariasi menurut jenis pupuk. Tingkat pengggunaan tertinggi ditunjukkan dalam penggunaan urea (209,32 kg per hektar), selanjutnya berturut-turut diikuti oleh NPK (111,77 kg per hektar), SP-36 (85,82 kg per hektar), KCL (51,27 kg per hektar), dan tingkat penggunaan terendah ditunjukkan dalam penggunaan ZA (49,41 kg per hektar) (Tabel Lampiran 1). Dalam pembelian pupuk ada 2 (dua) cara pembayaran yang dilakukan responden, yaitu bayar secara tunai dan bayar setelah panen (yarnen). Diantara dua cara pembayaran ini, bayar secara tunai relatif lebih banyak dilakukan responden daripada bayar setelah panen baik dalam pembelian pupuk urea, SP-36, ZA, NPK maupun KCL. Proporsi cara pembayaran dalam pembelian setiap jenis pupuk adalah sebagai berikut: urea (62,05 % tunai dan 37,95 % yarnen), SP-36 (59,91 % tunai dan 40,10 % yarnen), ZA (67,67 % tunai dan 32,26 % yarnen), NPK (64,27 % tunai dan 35,73 % yarnen), dan KCL (55,36 % tunai dan 44,04 % yarnen). Secara umum harga beli secara yarnen relatif lebih mahal daripada harga beli secara tunai (Tabel Lampiran 1). Masih relatif tingginya proporsi responden yang melakukan pembayaran setelah panen (yarnen) dalam pembelian pupuk mengindikasikan bahwa harga pupuk bersubsidi masih dianggap mahal ditinjau dari segi daya beli mereka. Secara umum pangsa nilai pupuk urea, SP-36, ZA, NPK dan KCL terhadap biaya total tunai dengan sewa lahan adalah 16,22 persen, sedangkan terhadap biaya total tunai tanpa sewa lahan adalah 18,24 persen. Angka pangsa ini adalah relatif tinggi. Setiap kali HET dinaikkan atau besaran subsidi pupuk per satuan berat diturunkan maka pangsa nilai pupuk terhadap biaya total tunai dengan maupun tanpa sewa lahan juga akan meningkat. Dengan perkataan lain kenaikan HET atau penurunan besaran subsidi 19

pupuk per satuan berat akan meningkatkan beban petani khususnya yang berskala kecil dalam menanggung biaya usahatani. 4.2.2. Evaluasi Sistem Distribusi Pupuk Bersubsidi Di Tingkat Petani Kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi sistem distribusi pupuk bersubsidi di tingkat petani adalah terpenuhi tidaknya azas 6 tepat (harga, tempat, waktu, jumlah, kualitas, dan jenis) dalam distribusi pupuk bersubsidi di tingkat petani. Dalam hubungan ini tepat harga didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana harga pembelian pupuk oleh petani secara kontandi tingkat pengecer/kios resmi per saknya sama dengan harga eceran tertinggi (HET). Tepat tempat didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana pupuk tersedia di dekat/di sekitar rumah.lahan petani yang diindikasikan dengan pembelian pupuk oleh petani dilakukan di kios di dalam desa. Tepat waktu didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana pupuk secara fisik tersedia pada saat dibutuhkan oleh petani. Hal ini didasarkan jawaban subyektif petani. Tepat jumlah/dosis didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana jumlah/dosis pupuk yang dibutuhkan petani terpenuhi yang diindikasikan oleh terpenuhinya dosis rekomendasi atau terpenuhinya dosis kebiasaan petani. Tepat jenis didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana jenis-jenis pupuk yang dibutuhkan petani tersedia. Sementara itu tepat mutu didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana mutu pupuk yang dukehendaki oleh petani terpenuhi. Karena jenis-jenis pupuk yang secara resmi direkomendasikan oleh pemerintah untuk digunakan oleh petani adalah urea, SP-36, ZA, NPK dan KCL maka apabila responden di provinsi lokasi penelitian menggunakan jenis-jenis pupuk tersebut maka dianggap bahwa tepat jenis dalam distribusi pupuk di tingkat petani telah terwujud. Demikian pula karena sulit mencari variabel yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas pupuk yang didistribusikan ke petani, maka kita harus percaya bahwa pupuk yang didistribusikan ke petani oleh BUMN telah memiliki kualitas sesuai dengan yang dibutuhkan petani. Berdasarkan pertimbangan ini, dari 6 tepat hanya 4 tepat yang akan dijadikan kriteria dalam mengevaluasi sistem distribusi pupuk di tingkat petani, yaitu: tepat harga, tepat tempat, tepat waktu dan tepat jumlah/dosis. Perlu diketahui bahwa sistem subsidi maupun sistem distribusi berpengaruh terhadap terpenuhinya azas 6 tepat dalam distribusi pupuk di tingkat petani. Hal ini secara jelas diilustrasikan pada Gambar 4.1. Sistem subsidi mencakup antara lain modus subsidi (ke pabrik vs ke petani), penerima subsidi (semua skala usahatani vs usahatani berskala tertentu), dan besarnya dana subsidi (terbatas vs tidak terbatas). 20

makalah seminar 2007-kaji tindak - Pusat Sosial Ekonomi dan ...
makalah seminar 2007-pembiayaan - Pusat Sosial Ekonomi dan ...
Kaji Ulang Program Pembangunan Pertanian - Pusat Sosial ...
Daftar Peserta Seminar Hasil Penelitian Strategis ... - DP2M Dikti