Views
3 years ago

Makalah Seminar Hasil Penelitian TA 2007 KAJI ULANG SISTEM ...

Makalah Seminar Hasil Penelitian TA 2007 KAJI ULANG SISTEM ...

4.2.3. Evaluasi Modus

4.2.3. Evaluasi Modus Subsidi Pada Tabel Lampiran 7 ditampilkan opini responden tentang modus subsidi di provinsi-provinsi lokasi penelitian. Dari tabel lampiran tersebut dapat ditunjukkan bahwa sebagian besar responden (85,40 persen) menyatakan cocok dengan modus subsidi yang berlaku saat ini. Konsisten dengan pernyataan ini, sebagian besar responden (78,14 persen) juga menyatakan memilih subsidi lewat pabrik (modus subsidi yang berlaku saat ini) daripada memilih subsidi langsung kepada petani (modus subsidi lewat voucher). Data ini sudah barang tentu dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk memutuskan bahwa modus subsidi yang berlaku saat ini tidak perlu diganti. V. KESIMPULAN Tingkat partisipasi petani dalam penggunaan pupuk urea adalah relatif tinggi (98,60%), sedangkan tingkat partisipasi petani dalam penggunaan pupuk non-urea adalah relatif rendah (28,67 % - 73,04 %). Hal ini mengindikasikan bahwa dalam berusahatani padi petani secara umum lebih mengandalkan pupuk urea dalam meningkatkan produktivitas. Proporsi responden yang melakukan pembayaran setelah panen (yarnen) dalam pembelian pupuk masih relatif tinggi (32,26 % - 44,04%). Hal ini mengindikasikan bahwa harga pupuk bersubsidi yang berlaku saat ini masih dianggap mahal ditinjau dari segi daya beli petani. Pangsa nilai pupuk urea, SP-36, ZA, NPK dan KCL terhadap biaya total tunai dengan maupun tanpa sewa lahan adalah relatif tinggi (16,22 % - 18,24 %). Angka yang relatif tinggi ini ini mengindikasikan bahwa kenaikan HET atau penurunan besaran subsidi pupuk per satuan berat akan meningkatkan beban petani padi khususnya yang berskala kecil dalam menanggung biaya usahatani. Sebagian besar responden (78,98 %) menyatakan puas terhadap sistem distribusi pupuk yang berlaku saat ini. Data ini sudah barang tentu dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan bahwa sistem distribusi yang berlaku saat ini tidak perlu diganti. Sebagian besar responden (85,40 persen) menyatakan cocok dengan modus subsidi yang berlaku saat ini. Konsisten dengan pernyataan ini, sebagian besar responden (78,14 persen) juga menyatakan memilih subsidi lewat pabrik (modus subsidi yang berlaku saat ini) daripada memilih subsidi langsung kepada petani (modus subsidi lewat voucher). Data ini sudah barang tentu dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk memutuskan bahwa modus subsidi yang berlaku saat ini tidak perlu diganti. 25

DAFTAR PUSTAKA Pasaribu, B. 2006. Sistem Distribusi Pupuk Yang Berkerakyatan. Makalah dalam Seminar Membangun Sistem Distribusi Pupuk Yang Efisien dan Berkeadilan. Jakarta, 16 Pebruari 2006. Simatupang, P. 2004. Kembalikan Subsidi Pupuk Kepada Petani dalam Isu Kontemporer Kebijakan Pembangunan Pertanian 2000-2004: Pandangan Peneliti. PSE-KP, Bogor. Simatupang, P., et.al. 2004. Analisis Kelayakan Pengalihan Subsidi Pupuk Menjadi Penjaminan Harga Gabah: Subsidi Input vs Output. Memorandum Pertimbangan dan Rekomendasi Kebijakan (Tidak Dipublikasikan). Syafa’at, N., et.al. 2006. Analisis Besaran Subsidi Pupuk dan Pola Distribusinya. Laporan Penelitian. PSE-KP, Bogor. Yusdja, Y., et. al. 2005. Kajian Sistem Distribusi Pupuk dan Usulan Penyempurnaannya: Kasus di Tiga Propinsi di Jawa. Laporan Penelitian. PSE-KP, Bogor. 26

Kaji Ulang Kebijakan Subsidi dan Distribusi Pupuk - Pusat Sosial ...
makalah seminar 2007-kaji tindak - Pusat Sosial Ekonomi dan ...
makalah seminar 2007-pembiayaan - Pusat Sosial Ekonomi dan ...
Kaji Ulang Program Pembangunan Pertanian - Pusat Sosial ...