Views
3 years ago

Makalah Seminar Hasil Penelitian TA 2007 KAJI ULANG SISTEM ...

Makalah Seminar Hasil Penelitian TA 2007 KAJI ULANG SISTEM ...

Ketidakefektifan HET

Ketidakefektifan HET menyebabkan petani dirugikan karena harus membayar harga pupuk lebih tinggi daripada HET. Disamping petani, pemerintah yang sudah mengeluarkan subsidi juga dirugikan dalam bentuk turunnya kredibilitas pemerintah di mata petani. Satu-satunya pihak yang tidak dirugikan sehubungan dengan ketidakefektifan HET pupuk adalah produsen pupuk. Hal ini karena produsen pupuk sekurang-kurangnyua masih memperoleh keuntungan normal sesuai dengan negosiasi yang disepakati antara mereka dengan pemerintah. Bertitik tolak dari fakta diatas muncul wacana untuk mengubah modus subsidi harga pupuk yang semula diberikan langsung kepada produsen pupuk menjadi diberikan langsung kepada petani. Hal ini sejalan dengan kesepakatan antara pemerintah derngan DPR bahwa subsidi harga pupuk adalah untuk membantu petani, bukan pabrik pupuk (Simatupang, 2004). Dengan modus subsidi harga pupuk langsung kepada petani, petani akan membeli pupuk sesuai dengan harga pasar. Disamping itu, akan tercipta kesamaan harga pupuk di pasar domestik dengan pasar internasional sehingga diharapkan akan mengurangi penyelundupan pupuk untuk ekspor. Sistem Distribusi Perlu diketahui bahwa sistem distribusi pupuk bersubsidi yang berlaku saat ini bersifat terbuka dan pasif. Yang dimaksud bersifat pasif adalah bahwa penyaluran pupuk bersubsidi dilakukan oleh produsen mulai dari pabrik sampai ke tingkat pengecer yang selanjutnya dijual di pasar secara pasif dalam arti siapapun baik petani yang berhak maupun bukan secara sendiri-sendiri maupun berkelompok dapat membeli pupuk dengan cara datang ke kios pengecer yang berlokasi di kecamatan atau desa. Yang dimaksud bersifat terbuka adalah bahwa sistem distribusi hanya memiliki delivery system (sistem distribusi dari produsen sampai pengecer (lini IV)) dan tidak memiliki receiving system (sistem penerimaan oleh petani). Akibatnya, pengecer resmi dapat menjual pupuk bersubsidi kepada siapa saja termasuk kepada mereka yang tidak berhak. Sistem distribusi pupuk bersubsidi yang bersifat terbuka dan pasif tersebut menyebabkan petani berpeluang besar tidak mendapatkan jumlah pupuk bersubsidi sesuai dengan yang dibutuhkan. Dengan perkataan lain sistem distribusi tersebut seringkali menyebabkan terjadinya langka pasok. Terjadinya langka pasok berarti sejumlah azas dalam pendistribusian pupuk bersubsidi, seperti tepat jumlah, jenis, mutu, waktu dan tempat, akan dilanggar. Menurut Pasaribu (2006), ketersediaan pupuk bersubsidi seringkali lebih kecil daripada kebutuhan petani (Pasaribu, 2006). Dengan demikian, langka pasok akan semakin mengurangi ketersediaan pupuk bersubsidi dan 3

pada gilirannya akan semakin memicu terjadinya peningkatan harga pupuk bersubsidi. Akibatnya, tingkat penggunaan pupuk di tingkat usahatani menurun dan pada gilirannya kuantitas produksi pun juga menurun. Bertitik tolak dari fakta diatas muncul wacana untuk mengubah sistem distribusi pupuk bersubsidi dari bersifat terbuka dan pasif menjadi bersifat tertutup dan aktif. Yang dimaksud bersifat aktif adalah bahwa ada kewajiban secara eksplisit bagi pengecer resmi untuk menyalurkan/menjual habis pupuk bersubsidi yang sudah diterima dari distributor kepada petani dalam kurun waktu tertentu. Yang dimaksud bersifat tertutup adalah bahwa sistem distribusi pupuk bersubsidi paling tidak terdiri dari delivery system (sistem distribusi dari produsen sampai pengecer (lini IV)) dan receiving system (sistem penerimaan oleh petani). Kedua segmen tersebut harus menyatu agar aliran pupuk dari produsen kepada petani tidak bocor terutama dari pengecer (lini IV) ke petani. Pengalaman kebijakan subsidi harga pupuk yang dilakukan pada era 1980 – 1990-an menunjukkan bahwa penerapan sistem distribusi pupuk bersubsidi yang bersifat tertutup terbukti efektif dalam mencegah langka pasok dan menjamin HET (Simatupang dkk, 2004). 2.2. Subsidi Langsung Ke Produsen Pupuk vs Subsidi Langsung Ke Petani Walaupun telah ada wacana untuk mengubah modus subsidi harga pupuk yang semula diberikan langsung kepada produsen pupuk menjadi diberikan langsung kepada petani, namun agaknya tidak mudah memilih diantara kedua modus tersebut. Hal ini karena masing-masing modus memiliki kekuatan/kelebihan dan kelemahan/ kekurangan. Berikut akan diuraikan kekuatan/kelebihan dan kelemahan/kekurangan dari masing-masing modus. 4

Kaji Ulang Kebijakan Subsidi dan Distribusi Pupuk - Pusat Sosial ...
makalah seminar 2007-kaji tindak - Pusat Sosial Ekonomi dan ...
makalah seminar 2007-pembiayaan - Pusat Sosial Ekonomi dan ...
Kaji Ulang Program Pembangunan Pertanian - Pusat Sosial ...