LAPORAN AKHIR - KM Ristek

km.ristek.go.id

LAPORAN AKHIR - KM Ristek

-.

....

LAPORAN AKHIR

UJI MULTILOKASI MASING-MASING 5-6 GALUR HARAPAN PADI

TOLERAN SALINITAS TINGGI DAN JAGUNG TOLERAN KEKERINGAN

(> 2 MINGGU) DENGAN PRODUKTIVITAS (>20%) DARI KONDISI

EKSISTING DI PAPUA

PROGRAM INSENTIF RISET TERAPAN

Fokus Bidang Prioritas : Ketahanan Pangan

Kode Produk Target : 1.01

Kode Kegiatan 1.01.02, 1.01.05

Peneliti Utama

Dr. Jr. Fadjry Djufry, MSi

BALAI PENGKAJIAN TEKNOlOGI PERTANIAN PAPUA

BALAI BESAR PENGKAlIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN

BADAN PENELmAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN

11. Yahim Sentani - Jayapura Papua 99352

Telepon. 0967 592179, Fax. 0967 591235

Email: bDtppapua@yahoo.com.

22 November 2010


· ...

...

LAPORAN AKHIR

.

U1I MULTILOKASI MASING-MASING 5-6 GALUR HARAPAN PADI

TOLERAN SALINITAS TINGGI DAN lAGUNG TOLERAN KEKERINGAN

(> 2 MINGGU) DENGAN PRODUKTMTAS (>20%) DARI KONDISI

EKSISTING DI PAPUA

PROGRAM INSENTIF RISET TERAPAN

Fokus Bidang Prioritas : Ketahanan Pangan

Kode Produk Target 1.01

Kode Kegiatan 1.01.02, 1.01.05

Peneliti Utama

Dr. Ir. Fadjry Djufry, MSi

BALAI PENGKAlIAN TEKNOLOGI PERTANIAN PAPUA

BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN

BADAN PEN ELmAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN

JI. Yahim Sentani - Jayapura Papua 99352

Telepon. 0967 592179, Fax. 0967 591235

Email: bptppapua@yahoo.com.

22 November 2010

1


...

...

LAPORAN HASIL PENELITIAN dan PENGEMBANGAN,

KEKAYAAN INTELEKTUAL, dan HASIL PENGELOLAANNYA

(Laporan Ringkas Hasil Litbang sesuai PP No. 20 TH 2005)

Identitas Perguruan Tinggi/Lembaga Penelitian dan Pengembangan

Nama Perguruan

nnggi/Lembaga

Pe.nelitian dan

Pengembangan

Pimpinan

Alamat

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua, Badan

Penelitian dan Pengembangan Pertanian

.

Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si

Jln. Komp. BPTP Papua Yahim No. 49 Sentani Jayapura

Identitas Kegiatan

Judul

Abstraksi

Tim Peneliti

1. Peneliti Utama

2. AJamat

3. Anggota

Uji Multilokasi Masing-Masing 5-6 Galur Harapan Padi Toleran

Salinitas Tlnggi dan Jagung Toleran Kekeringan (> 2 Minggu)

denqan Produktivitas (>20%) dari Kondisi Eksisting Di Papua

Provinsi Papua memiliki berbagai macam agroekosistem

dan potensi lahan pertanian yang sangat luas. Salah satu

faktor penghambat pemanfaatan lahan tersebut adalah

adanya salinitas dan kekeringan. Suatu genotype

sebelum dilepas menjadi varietas unggul baru

memerlukan uji miltilokasi untuk menentukan daya

adaptasi dan daya hasil serta stabilitasnya. Penelitian

dilaksanakan di tiga kabupaten dengan menguji 17 galur

harapan padi sawah toleran salinitas, 10 galur harapan

jagung hibrida toleran kekeringan, 8 galur harapan

kedelai berdaya hasil tinggi dengan 2-3 varietas

pembanding padi, jagung dan kedelai. Pengujian galur

harapan padi sawah dilaksanakan di kabupaten Merauke

mulai bulan Juli-Oktober 2010. Uji multilokasi galur

harapan jagung dan kedelai masing-masing dilaksanakan

di tiga kabupaten. Uji multilokasi galur harapan kedelai

dan jagung dilaksanakan mulai bulan Agustus/September

sampai November/Desember 2010 di kabupaten.

Jayapura, Keerom, dan kota Jayapura. Penelitian

menggunakan rancangan acak kelompok dan diulang tiga

kali. Peubah yang diamati meliputi komponen

pertumbuhan dan produksi tanaman yang diuji.

1. Dr. Ir. Fadjry Djufry

2. Ir. Martina Sri Lestari, MP

3. Ir. Darsono

4. Ir. Herman Masbaitubun

5. Ir. Arifuddin

6. Ir. Nicolas M.Si

Walttu Pelaksanaan Juli - Desember 2010

Publikasi


-.

Identitas Kekayaan Intelektual dan Hasil Litbang

Nama Penemuan Baru

Nama Penemuan Baru Non Komersial

D. Cara Alih Teknolo i

Rj n kasan Hasil Penelitian

1. Hasil Penelitian dan Pengembanga~

Hasil penelitian menunjukkan untuk tanaman padi ada 2 galur dan 1 varietas

pembanding yang tidak dapat tumbuh dan berproduksi pada kondisi salinitas tinggi

ya ftu galur IR72593-B-13-3-3-1 dan BW267-3 serta varietas Ciherang. Produktivitas

galur padi tertinggi diperoleh pada galur IR77674-3B-8-2-2-8-3-AJY4 sebesar 6.6 ton/ha

GKG sedangkan yang terendah pada galur IR71829-3R-28-1 sebesar 3.14 ton/ha GKG.

Tanaman jagung di kabupaten Keerom mempunyai rata-rata tinggi tanaman berkisar

antara 175-210 em, umur berbunga jagung berkisar antara umur 33-43 hari.

P oduktivitas tertinggi dicapai pada galur jagung No.6 sebesar 6.7 ton/ha, sedangkan

""alur jagung yang terendah yaitu No. 7 dengan hasil 3.5 ton/ha. Penampilan tanaman

'",edel,ai pada 2 lokasi menunjukan perbedaan, tanaman kedelai di Jayapura lebih eepat

engalami pembungaan (27 - 38 hari) dan tinggi tanaman agak lebih pendek (57 - 73

) dengan jumlah pereabangan relatif lebih banyak (2.9 - 5.4 eabang). Sedangkan di

• eerom umur berbungga 28.67 - 38.33 hari, dan tinggi tanaman lebih tinggi 67 - 81 em

dengan jumlah eabang 2.3 - 4.7 eabang. Produksi tertinggi di Jayapura dieapai pada V­

92-1-2 (1,29 tonjha) dan terendah V-421-1-2 (0.66 tonjha), sedangkan di Keerom

od ksi kedelai tertinggi dapat dicapai oleh galur V-284-2-2 (1,78 t/ha) dan terendah

Jada galur U-505-1-1 (0.88 t/ha).

L. Produk, Spesifikasi, dan pemanfaatannya

Galur-galur padi yang toleran terhadap salinitas, galur-galur jagung hibrida yang

toleran kekeringan dan galur-galur kedelai yang mempunyai potensi hasil tinggi.

3. GambarjPhoto Produk Hasil Peneltian dan Pengembangan

Pen eloaan

1. Sumber Pembiayaan Penelitian dan Mitra Kerja

APBN : R . 200.000.000 ­

2. Pemanfaatan Sarana dan Prasarana Penelitian:

Sarana : Benih padi,jagung, dan kedelai, pupuk Urea, SP 36, KCI, pestisida,

herbisida dll.


...

....

Prasarana : Refraktometer timban an observatorium dll.

3. Pendokumentasian: CD dan Buku

Jayapura, '" November 2010

Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si

NIP. 19690314 199403 1 001


-.

...

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian

Uji Multilokasi Masing-Masing 5-6 Galur Harapan

Padi Toleran Salinitas Tinggi dan Jagung Toleran

Kekeringan (> 2 Minggu) dengan Produktivitas

(~20%) dari Kondisi Eksisting Oi Papua

Fokus Bidang Prioritas

Kode Produk Target 1.01

Kode Kegiatan 1.01.02, 1.01.05

LokasJ Penelitian

Penelitian Tahun ke

~ Ketahanan Pangan

2. Sumber energi baru dan terbarukan

3. Teknologi dan manajemen transportasi

4. Teknologi informasi dan komunikasl

5. Teknologi pertahanan dan keamanan

6. Teknologi kesehatan dan obat

Kota Jayapura, Kab. Jayapura, Keerom dan

Merauke

I

Keterangan Lembaga Pelaksana IPengelola Penelitian

A. Lembaga Pelaksana Penelitian

• = ~a Koordinator/Peneliti Utama Dr. Ir. Fadjry Djufry, MSi

rt : a Lembaga/Institusi

Urn Organisasi

Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan

Teknologi Pertanian

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua

I ','e at JI. Yahim Sentani Jayapura Papua 99352

~ ep


-..

Rekapitulasi Biaya Tahun 2010

No. Uraian Jumlah (Rp.)

1. Gaji dan Upah 81.800.000

2. Bahan Habis Pakai 49.050.000

3. Perjalanan . 69.150.000

Jumlah Biaya Tahun yang

200,000,000

diusulkan

epala

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Koordinator/Peneliti Utama ,

Teknologi Pertanian,

. \

Dr. Ir. Fadjry Djufry, MSi

NIP. 19690314 199403 1 001

3


-.

DAFTAR 151

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN

2

DAFTAR lSI ...............................................................................................

4

ABSTRAK .... .............................................................................................. 5

PENDAHULUAN ......................................................................................... 6

A. Latar Belakang ................................................................................ 6

B. Tujuan ............................................................................................ 8

C. Keluaran ..... ................................................................................... 8

PERUMUSAN MASALAH ............................................................................. 8

'. ETOOOLOGI .......................................................................................... 9

CANGAN RISET .................................................................................... 14

-L YANG DIHARAPKAN .......................................................................... 20

-ERSONIL PELAKSANA PENELITIAN ........................................................... 33

.VAL PENELITIAN ................................................................................. 34

-, .~ FTAR PUSTAKA ...................................................................................... 35

4


-.

RINGKASAN

Provinsi

Papua memiliki berbagai maeam agroekosistem dan potensi lahan

pertanian yang sangat luas. Salah satu faktor penghambat pemanfaatan lahan

tersebut adalah adanya salinitas. dan kekeringan. Suatu genotype sebelum dilepas

menjadi varietas unggul baru memerlukan uji miltilokasi untuk menentukan daya

adaptasi dan daya hasil serta stabilitasnya. Penelitian dilaksanakan di tiga

kabupaten dengan menguji 17 galur harapan padi sawah toleran salinitas, 10 galur

harapan jagung hibrida toleran kekeringan, 8 galur harapan kedelai berdaya hasil

tinggi dengan 2-3 varietas pembanding padi, jagung dan kedelai. Pengujian galur

arapan padi sawah dilaksanakan di kabupaten Merauke mulai bulan JuJi-Oktober

2010. Uji multilokasi galur harapan jagung dan kedelai masing-masing dilaksanakan

di tiga kabupaten. Uji multilokasi galur harapan kedelai dan jagung dilaksanakan

mulai bulan Agustus/September sampai November/Desember 2010 di kabupaten.

Jayapura, Keerom, dan kota Jayapura. Penelitian menggunakan raneangan aeak

el ompok dan diulang tiga kali.

;:Ie

Peubah yang diamati meliputi komponen

mbuhan dan produksi tanaman yang diuji. Hasil penelitian menunjukkan untuk

:0, aman padi ada 2 galur dan 1 varietas pembanding yang tidak dapat tumbuh

~n berproduksi pada kondisi salinitas tinggi yaitu galur IR72593-B-13-3-3-1 dan

8\ 267-3 serta varietas Ciherang. Produktivitas galur padi tertinggi diperoleh pada

:: = . IR77674-38-8-2-2-8-3-AJY4 sebesar 6.6 ton/ha GKG sedangkan yang

---.: dah pada galur IR71829-3R-28-1 sebesar 3.14 ton/ha GKG. Tanaman jagung

.: ~ bu paten Keerom mempunyai rata-rata tinggi tanaman berkisar antara 175­

: 0 an, umur berbunga jagung berkisar antara umur 33-43 hari. Produktivitas

tertinggi dieapai pada galur jagung No. 6 sebesar 6.7 ton/ha, sedangkan galur

~ agung yang terendah yaitu No.7 dengan hasil 3.5 ton/ha. Penampilan tanaman

edelai pada 2 lokasi menunjukan perbedaan, tanaman kedelal di Jayapura lebih

cepat mengalami pembungaan (27 -

38 hari) dan tinggi tanaman agak lebih

pendek (57 - 73 em) dengan jumlah pereabangan relatif lebih banyak (2.9 - 5.4

cabang). Sedangkan di Keerom umur berbungga 28.67 - 38.33 hari, dan tinggi

tanaman lebih tinggi 67 - 81 em dengan jumlah eabang 2.3 - 4.7 eabang. Produksi

tertinggi di Jayapura dieapai pada V-92-1-2 (1,29 tonjha) dan terendah V-421-1-2

5


-.

(0.66 ton/ha), sedangkan di Keerom produksi kedelai tertinggi dapat dicapai oleh

galur V-284-2-2 (1,78 t/ha) dan terendah pada galur U-505-1-1 (0.88 t/ha)

Kata Kunci : Multilokasi, galur harapan, padi, jagung, kedelai, Papua

SUMMARY

Papua province has a variety of agroekosystem and potential agricultural land is very

largest. One of the limiting factors the utilization of those lands is the presence of

salinity and drought. A genotype before being released into new varieties require

'ttilokasi test to determine the adaptability and yield and stability. The experiment was

co ducted in three districts hope that by testing 17 promising lines of salinity tolerant

. , 10 promising lines of drought tolerant maize hybrid, 8 promising lines of high

/ eJdi ng soybean expectations, F6rcQmpIir1 s(ffF~1$qJest$dz~a vaJfeties )5en~t:i1faiz~

a- soybeans. Testing of promising lines of rice fields conducted in Merauke district

':.£l ' g in July-Dctober 2010. Multilocation test promising lines of maize and soybeans

cc conducted in three districts. Multilocation test promising lines of soybean and

- -' e held from August / September to November / December 2010 in the district.

ra, Keerom, and the city of Jayapura. The study used a randomized block design

ree replications. Variables measured included growth and yield components were

e result was showed for the rice plants have 2 genotype and 1 varieties that

t grow and produce in high salinity conditions of genotype IR72593-B-13-3-3-1

BW267-3 and Oherang. The highest paddy production in Merauke achieved at

pe IR77674-3B-8-2-2-8-3-AJY4 (6.6 ton / ha) and the lowest IR71829-3R-28-1

on / ha). Maize crop in the district Keerom had an average plant height ranged

=-- _75-210 cm, age flowering corn ranged from age 33-43 days. The highest maize

_ :'on in Keerom achieved at genotype number six (6.7 -ton/ha) and the lowest

- -:Je( seven (3.5 ton/ha). Performance of soybean plants at 2 locations showed

--=?reJ)ces, soybean plants more rapidly in Jayapura flowering (27-38 days) and

s.: - ,elNhat shorter plant height (57-73 em) with relatively more number of branches (2.9

- 5.4 branch). While in Keerom age flowering 28.67 - 38.33 days, and higher plant

--'9 t 67-81 cm, with the number of branch 2.3 - 4.7 branch. The highest soybean

Jroduction in Jayapura achieved at genotype V-92-1-2 (1.29 ton / ha) and the lowest V­

421 -1-2 (0.66 ton / ha). The highest soybean production in Keerom achieved at

f enotype V-284-2-2 (1,78 ton/ha) and the lowest U-505-1-1 (0.88 ton/ha)

Key word: Multilocation, Promising line, Rice, Maize,Soybean, Papua

6


-.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemuliaaan bertujuan untuk menghasilkan genotype baru yang lebih baik

da ripada genotype yang telah berkembang luas dan dibudidayakan petani. Genotype

baru sering disebut sebagai varietas unggul Genotipe unggul baru mempunyai sifat lebih

baik dibandingkan genotipe standar (Harahap, 1982). Kelebihan sifat terse but di

3 taranya dalam hal daya hasil, umur, ketahanan terhadap hama dan penyakit,

~ eransj terhadap cekaman lingkungan dan mutu beras ata nasi.

Pelepasan varietas merupakan salah satu tahapan penting dalam pembentukan

baru, Sebelum dilepas dan dikembangkan ke masyarakat sebagai varietas

~'9 I{ gebotipe perlu mendapat pengujian daya hasil pada berbagai lokasi. Uji

I °10 asi bertujuan untuk mengetahui daya hasil dan daya adaptasi dari genotype­

9 notipe diberbagai lokasi yang berbeda.

Uji multilokasi genotype baru sering menampilkan perbedaan hasil yang

.:>a -ubah dari satu lokasi dengan lokasi lainnya. Suatu genotype memberikan hasil

i di lokasi tertentu namun belum tentu di lokasi lainnya. Terdapatnya perbedaan

=- :2'0 rata-rata hasil dengan potensi hasil disebabkan karena adanya kerentanan

dap berbagai cekaman biotik dan abiotik (Shah et aI., 2005).

Faktor abiotik utama yang menyebabkan rendahnya produksi padi di Papua

-- 2' faktor biotik adalah temperatur rata-rata tahunan, ketersediaan air, ketersediaan

- -:0 dan toksisitas. Dengan adanya variabilitas lingkungan yang mempengaruhi

ktivitas tanaman tersebut, maka diperlukan suatu cultivar tanaman yang toleran

:zradap variabilitas lingkungan tertentu. Singh dan Bejiga, 1990) menyatakan bahwa

.c °abilitas lingkungan merupakan faktor utama yang mempengaruhi penampilan suatu

_ otipe tanaman.

Sistem produksl padi saat inl sangat rentan terhadap penyimpangan iklim sistem

didaya padi yang diterapkan oleh petani selama ini di Papua masih sangat sederhana.

Produktivitas padi, jagung dan kedelai juga masih rendah, yaitu masing-masing 3,4

t/ha, 1,9 tjha, dan 1,0 tjha (Distan Papua, 2008). Sementara hasil-hasil penelitian

menunjukkan produktivitas padi dengan menerapkan pola PIT di Papua dapat mencapai

7


-.

...

ata-rata 6,72 t/ha, Jagung 7,2-5,5 t/ha dan kedelai 2,10 t/ha (Rauf et al., 2009). Hal

ini menunjukkan bahwa potensi untuk meningkatkan produktivitas pangan tersebut

masih sangat memungkinkan.

Luas lahan rawa di Indonesia yang tersebar pada empat pulau besar, Sumatera,

Kalimantan dan Papua, mencapai 33,4 juta ha, yang terdiri dari lahan rawa pasang

surut 20,1 juta ha dan lahan non pasang surut atau lebak 13,3 juta ha (Widjaja Ashi el

ai, 1998). Lahan rawa merupakan salah satu sumberdaya lahan yang berpotensi untuk

di kembangkan menjadi kawasan pertanian tanaman pangan kini dan masa depan

ususnya padi. Namun menurut Alihamsyah et ai, (2003) pengembangan lahan rawa

ya ng besar ini dihadapkan pada berbagai masalah fisiko-kimia lahan, dinamika kondisi

tanah dan air dan beragamnya kesuburan alami tanah. Olehnya itu untuk keberhasilan

an keberlanjutan pengembangan pertanian di lahan rawa memerlukan dukungan

:.eknologi maju tepat guna serta rekayasa sosial ekonomi dan kelembangaan agribisnis.

Merauke salah satu daerah di Papua yang memiliki lahan rawa yang luas. Luas

rawa sekitar 850 ha tersebar pada tiga distrik (Distan Merauke 2007). Lahan

e ·,a. di Merauke tergolong lahan rawa pasang surut yang mendapat pengaruh salinitas

-; ~an adanya intrusi air laut. Pemanfaatan lahan pasang surut mulai dibuka pada

2006 untuk tanaman pangan khususnya padi dan palawija. Namun demikian

anfaatan lahan pasang surut tersebut masih menghadapi berbagai kendala,

-- ungga masin belum mencapai hasil yang optimal. Kendala tersebut diantaranya

~:~ I ah tingkat kesuburan tanah rendah dengan keragaman yang tinggi kemasaman

~-a

yang tinggi, potensi racun hara (besi dan Alminium), kondisi air tanah, laju

_~ edasi kualitas lahan yang sangat cepat terutama jika terjadi salah kelola

• lmihardja et aI., 1999).

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendapatkan tanaman yang

IT' miliki keunggulan pada kondisi lingkungan yang luas adalah dengan melakukan uji

ultilokasi. Uji multilokasi umumnya digunakan untuk mengevaluasi tanaman pada

suatu hamparan yang· luas yang merupakan target untuk lingkungan pertumbuhan

tanaman (Berger et aI., 2007). Tanaman yang memperlihatkan stabilitas tinggi terhadap

li ngkungan yang luas adalah merupakan suatu strategi bagi pemulia untuk

mengembangkan varietas yang memiliki inteaksi genotipe-lingkungan rendah (Tai,

8


-.

...

1971). Stabilitas hasil diukur berdasarkan variasi hasil dari berbagai kondisi lingkungan

(Oeveland, 2001). Berdasarkan hal terse but maka dilakukan uji multilokasi beberapa

galur harapan padi, jagung, dan kedelai untuk mendapatkan galur harapan yang

berdaya hasil tinggi pada beberapa kondisi lingkungan, khususnya kondisi lingkungan di

provinsi Papua.

Untuk memenuhi permintaan atas kebutuhan padi, jagung dan kedelai yang

semakin tinggi, Badan Utbang Pertanian melalui Balai Komoditas merakit dan melepas

beberapa varietas unggul baru padi, jagung dankedelai yang berpotensi hasil lebih

tinggi, serta tahan terhadap hama dan penyakit Melalui jaringan litkaji Balai _

Komoditas bekerja sama dengan BPTP melakukan kegiatan pemuliaan partisipatif dan

- 'i multi lokasi galur-galur harapan padi, jagung dan kedelai - dl Papua. Tujuan

oeneJitian ini adalah untuk mengamati potensi hasil galur-galur harapan padi toleran

salinitas tinggi, jagung toleran kekeringan dan galur harapan kedelai berdaya hasil

. ggi pada berbagai lokasi dan menentukan pilihan terhadap galur-galur yang sesuai

_c gan agroekosistem di Papua.

Tujuan 2010

engetahui daya adaptasi, daya hasil dan stabilitas 5 galur harapan padi sawah

toleran salinitas tinggi dengan produktivitas tinggi (> 5 ton/ha) dari kondisi

eksisting di kabupaten Merauke

Mengetahui daya adaptasi, daya hasil dan stabilitas 5 galur harapan jagung toleran

" 2 minggu) dengan produktivitas tinggi (>6 ton/ha) dari kondisi

eksisting di kota Jayapura, dan kabupaten Jayapura.

Mengetahui daya adaptasi, daya hasil dan stabilitas 5 galur harapan kedelai

produktivitas tinggi ( > 2 ton/ha) dari kondisi eksisting di kabupaten Jayapura dan

Kabupaten Keerom.

Keluaran 2010

1. Diperoleh 2-3 galur harapan padi sawah toleran salinitas tinggi dengan

produktivitas tinggi (> 5 ton/ha) di Kab. Merauke.

9


-.

2. Diperoleh 2-3 galur harapan jagung toleran kekeringan dengan produktivitas tinggi

(>6 ton/ha) di Kota Jayapura dan Kab. Jayapura.

3. Diperoleh 2-3 galur harapan kedelai berproduktivitas tinggi ( > 2 ton/ha) di Kab.

Jayapura dan Keerom.

PERUMUSAN MASALAH

Uji multilokasi genotype baru sering menampilkan perbedaan hasil yang

berubah-ubah dari satu lokasi dengan lokasi lainnya. Suatu genotype memberikan hasil

tertinggi di lokasi tertentu namun belum tentu di lokasi lainnya. Terdapatnya perbedaan

an~.~__

rata-rata hasil dengan potensi hasil disebabkan karena adanya kerentanan

terhadap berbagai cekaman biotik dan abiotik.

Faktor abiotik utama yang menyebabkan rendahnya produksi padi di Papua

selain faktor biotik adalah temperatur rata-rata tahunan, ketersediaan air, ketersediaan

i ara dan toksisitas. Dengan adanya variabilitas lingkungan yang mempengaruhi

oduktivitas tanaman tersebut, maka diperlukan suatu cultivar tanaman yang toleran

:.:: adap variabilitas lingkungan tertentu. Singh dan Bejiga, 1990) menyatakan bahwa

ta riabilitas lingkungan merupakan faktor utama yang mempengaruhi penampilan suatu

genotipe tanaman.

Provinsi Papua merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi lahan untuk

J€ ngembangan tanaman pangan cukup luas. Namun belum dimanfaatkan secara

pti mal. Selain itu produktivitas tanaman khususnya tanaman pangan masih rendah.

eh sebab itu diperlukan pemanfaatan lahan, teknologi budidaya tanaman secara

ptimal dengan memperhatikan variabilitas lingkungan yang dapat mempengaruhi

roduktivitas tanaman dan tenaga peneliti yang mempunyai kapasitas dan

pengamalamannya dibidang penelitian siap melaksanakan penelitian sesuai dengan

tujuan yang diharapkan.

10


-.

TINJAUAN PUSTAKA

Pemuliaan di Indonesia secara umum bertujuan untuk menghasilkan varietas

unggul berdaya hasil tinggi dan beradaptasi untuk berbagai agroekologi. Sejak tahun

1990 program perakitan varietas pad~ jagung dan kedelai mulai diarahkan untuk

beradaptasi spesifik agroekologi seperti lahan sawah (irigasi dan tadah hujan), lahan

kering (masam dan bukan masam), lahan rawa, dan sebagainya (Arsyad et aI., 2007).

Kegiatan pemuliaan tanaman diawali dengan melakukan seleksi terhadap varietas lokal

dan introduksi. Introduksi adalah suatu upaya mendatangkan suatu kultivar tanaman

dari suatu wilayah ke wilayah baru. Introduksi memegang peranan penting dalam

perkembangan tanaman kedelai di I~donesia (Somaatmadja, 1985). Tanaman introduksi

ini dapat langsung dikembangkan melalui proses adaptasi langsung. Selain itu,

pengembangan tanaman introduksi dapat dilakukan dengan seleksi dan persilangan

(Poespodarsono, 1988).

cara pemilihan tanaman dapat dilakukan dengan seleksi massa atau galur murni.

Seleksi massa didasarkan pada penampilan luar (fenotipe). Biji tanaman-tanaman yang

terpilih disatukan dan dijadikan sebagai benih untuk generasi berikutnya. Seleksi galur

murni dilakukan dengan memilih tanaman terbaik dari barisan terbaik. Tanaman yang

terpilih secara individual dipanen terpisah dan diberi nomor sendiri untuk bahan tanam

musim berikutnya (Mangoendidjojo, 2003). Poespodarsono (1988) menyatakan bahwa

varietas yang dihasilkan dari seleksi massa tidak seseragam varietas yang dihasilkan

dari seleksi galur murni, namun memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap perubahan

lingkungan. Arsyad et al. (2007) menambahkan bahwa saat ini metode seleksi massa

telah jarang digunakan untuk perakitan suatu varietas.

Selain dengan metode seleksi pada plasma nutfah yang telah ada, pemuliaan

dapat dilakukan melalui persilangan di antara individu-individu yang berbeda sifatnya

lalu dilanjutkan dengan seleksi.

Pengujian daya hasil meliputi tiga tahap pengujian, yaitu uji daya hasil

pendahuluan (UDHP), uji daya hasil lanjutan (UDHL), dan uji multi lokasl (UML). Tahap

uji daya hasil pendahuluan membutuhkan galur dalam jumah yang besar agar peluang

untuk memperoleh galur yang hasilnya tinggi cukup besar pula. Tahap uji daya hasil

11


- ..

~ anjutan umumnya galur yang diuji berjumlah 10 - 20 galur, termasuk varietas unggul

pembanding. Jumlah lokasi sekurang-kurangnya empat lokasi, selama 2 - 4 musim . .

Selanjutnya, dilakukan uji multi lokasi terhadap 5 - 10 galur harapan dengan tujuan

mengetahui daya adaptasi dari galur-galur harapan yang akan dilepas sebagai varietas

baru (Sumarno, 1985).

Perakitan varietas kedelai bertujuan untuk mendapatkan varietas kedelal yang

berdaya hasil tinggi serta sesuai pada berbagai agroekosistem. Menurut Arsyad etal.

(2007) dasar pertimbangan perakitan varietas unggul kedelai adalah (a) spesifik

agroekosistem, (b) kesesuaian potensi hasil dan kualitas produk dengan kebutuhan

konsumen, (c) stabilitas hasil tinggi (tahan hama-penyakit, toleran kekeringan, dan

'Keracunan hara), (d) memiliki kemampuan aktivitas fotosintesis yang tinggi, (e) umur

genjah untuk lahan sawah « 75 hari), (f) umur sedang dengan daya hasil tinggi, (g)

pengembangan untuk daerah luar Jawa, seperti Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara,

Papua, dan Kalimantan.

12


- ..

METODOLOGI

Uji multilokasi masing-masing 5-6 galur harapan padi toleran salinitas tinggi,

kedelai dengan produktivitas tinggidan jagung toleran kekeringan (> 2 Minggu)

dengan produktivitas (>20%) dari ko'ndisi eksisting di Papua dilaksanakan pada daerah

pengembangan utama padi di kampung Kuprik, Distrik Semangga, Kab. Merauke., dan

daerah pengembangan kedelai dan jagung di kabupaten Jayapura, Keerom dan kota

Jayapura. Penelitian akan dilaksanakan pada MK 2010 selama 10 bulan mulai bulan

Maret - Desember 2010.

Kegiatan lapangan dilaksanakan pada MK 2010 yang terdiri dari 3 kegiatan yaitu:

Uj; Multilokasi Galur-Galur Harapan Padi Toleran Salinitas.

Pengkajian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK)

dengan tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan terdiri dari 17 galur harapan padi

toleran salinitas yaitu IR72049-B-R-22-3-1-1, IR78788-B-B-l0-1-2-4-AJY1, IR77674-3B­

8-1-3-13-12-AJY2, IR77664-B-25-1-2-1-3-12-5-AJY1, IR74099-AC7, IR79879-B-P-2-2,

IR51499-2B-29-2B-l-l, IR72593-B-13-3-3-1, IR66946-3R-178-1-1 (FL478), BW267-3,

IR58427-5B-15, IR68653-3B-22-3, CSR-90IR-2, IR77674-3B-8-2-14-4-AJY2, IR71829­

3R-28-1, IR72046-B-R-8-3-1-2, IR77674-3B-8-2-2-8-3-AJY4, dan 3 varietas pembanding

yaitu Ciherang, Lambur dan IR-29.

Kegiatan ini dilaksanakan secara on farm dengan rakitan-rakitan teknologi

spesifik lokal. - Komponen-komponen teknologi yang diterapkan, seperti terlihat pada

Tabel 1. berikut ini.

13


Tabel 1. Komponen teknologi yang diterapkan pada Padi, di Kab Merauke tahun 2010

No. Komponen Teknologi Pengelolaan Tanaman

1. Pengolahan tanah Sempurna, dibuat saluran drainase

2. va rietas/GaI ur . ~7 Galur harapan padi yaitu IR72049-B-R-22-3-1­

·1, IR78788-B-B-10-1-2-4-AJY1, IR77674-3B-8-1­

3-13-12-AJY2, IR77664-B-25-1-2-1-:-3-12-5-AJY1,

IR74099-AC7, IR79879-B-P-2-2, IR51499-2B-29­

2B-1-1, IR72593-B-13-3-3-1, IR66946-3R-178-1-1

(FL478), BW267-3, IR58427-5B-15, IR68653-3B­

22-3, CSR-90IR-2, IR77674-3B-8-2-14-4-AJY2,

IR71829-3R:-28-1, IR72046-B-R-8-3-1-2,

IR77674-3B-8-2-2-8-3-AJY4,dan 3 varietas

pendamping yaitu Oherang, Lambur dan IR-29.

3 Kebutuhan benih 20-25 kg/ha

4. Pembibitan/pesemaian Pesemaian basah

5. Jumlah tanaman/benih per 1-2 tan/lubang

lubang tanam

4. Jarak tanam Tegel 20cm x 20 em

5. Pemupukan Urea: 250kg/ha

SP36: 100kg/ha

KCI : 100kg/ha

(Pupuk Nitrogen berdasarkan BWO)

6. Pengairan Intermitten

7. Penyiangan Pengendalian gulma terpadu

8. Pengendalian

Pengendalian hama terpadu

hama/penyakit

9. Panen dan Pascapanen Tepat waktu dan prosessing dengan alat dan

mesin

Cakupan ana/isis

Analisis yang digunakan adalah fasilitas uji: analisis varians, uji beda, analisis

regresi dan analisis kuantifatif. Cakupan analisis meliputi analisis data pertumbuhan dan

produktivitas tanaman, cita rasa, dan tanggapan petani melalui organoleptik. Varietas

galur yang dianggap stabil berarti lebih tahan terhadap perubahan lingkungan atau

daya adaptasinya tinggi.

14


-..

..

Pengumpulan data

Data yang dikumpulkan meliputi :

1. Pengukuran tingkat salinitas lahan.

Dilakukan pada saat pindah tanam, primordial bunga dan fase pembungaan.

2. Toleransi galur terhadap cekaman salinitas pada fase vegetatif

Diamati satu bulan setelah pindah tanam. Penilaian mengacu pada SES (IRRI,

1996) sebagai berikut :

: ([tiE] .( (eGti1t

1 Pertumbuhan nonnal tidak ada Qeiala keracunan pada daun

3 Pertumbuhan normal, tetapi ujung daun atau beberapa daun memutih

dan menggulung.

5 Pertumbuhan daun terhambat, sebagian besar daun menggulung, hanya

beberapa memanjang.

7 Pertumbuhan terhenti, sebagian besar daun mengering, beberapa

rumpun tanaman mati.

9 Hampir semua tanaman mati

,

3. Tingkat toleransi galur terhadad cekaman salinitas pada fase generatif.

4. Tinggi tanaman.

Diukur dari permukaan tanah sampai ujung malai paling tinggi, dilakukan terhadap

10 (sepuluh) rumpun tanaman per plot yang dipilih secara acak.

5. Jumlah anakan.

Jumlah anakan yang dimiliki oleh sebagian besar tanaman, dilakukan terhadap 10

(sepuluh) rumpun tanaman per plot secara acak

6. Bentuk rumpun

Kompak atau berserak

7. Umur berbunga 50%.

15


-.

Dihitung jumlah hari mulai dan tanggal sebar benih sampai 50% dari rumpun

berbunga.

8. PACP (Phenotypic acceptability at Maturity)

Skoring yang . mencerminkan penerimaan penampilan varietas oleh petani dimana

percobaan dilakukan.

9. SP Felt (Fertilisasi malai)

Dihitung jumlah gabah hampa dan gabah isi per rumpun contoh dilakukan terhadap

4 (empat) rumpun tanaman tanaman per plot yang dipilih secara acak.

10. Bobot 1.000 butir gabah (g)

limbang 1.000 butir gabah isi dan ukur kadar airnya segera setelah penimbangan

tersebut

11. Hama dan Penyakit

Skonng keberadaan hama dan penyakit pada saat galur diuji sesuai dengan scoring

SES (IRRI, 1996).

12. Hasil per plot

Hitung jumlah rumpun terpanen pada saat panen, kemudian dirontok, ditampi dan

ditimbang hasil gabah bersih per plot pada kadar air 14%.

13. Jumlah rumpun tanaman per petak saat panen

14. Pengukuran kadar salinitas air tiap 7 han.

Uji Multilokasi Galur-Galur Harapan Jagung Toleran Kekeringan

Penelitian dilaksanakan pada MK 2010 mulai bulan Juli/Agustus­

Oktober/November 2010 pada lahan petani di wilayah pengembangan tanaman pangan

yaitu kabupaten Jayapura, Kabupaten Keerom dan Kota Kota Jayapura dengan

menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Perlakuan yang

digunakan terdiri dari 10 galur harapan jagung toleran kekeringan dan dua varietas

pembanding yaitu Sukmaraga dan Srikandi Putih .

Kegiatan ini dilaksanakan secara on farm dengan rakitan-rakitan teknologi

spesifik· loka!. Komponen-komponen teknologi yang diterapkan, seperti terlihat pada

Tabel 2, berikut ini.

16


-..

Tabel 2.

Komponen teknologi yang . diterapkan pada jagung, · di Kab dan · kota

Jayapura, serta Kab. Keerom tahun 2010

No. .Komponen Teknologi PengelolaanTanaman

1. Pengolahan tanah Sempurna dibuat saluran drainase

.

2. Varietas 10 Galur Harapan Jagung , 2 varietas

pembanding Sukmaraga dan Srikandi putih

3 Kebutuhan benih 15-20 kg/ha

4. Pembibitan/pesemaian Tanam langsung

5. Jumlah tanaman/benih per 2-3 benih/lubang

lubang tanam

4. Jarak tanam 75cmx45cm

5. Pemupukan Urea: 250kg/ha

SP36: 100kg/ha

KCI : 100kg/ha

6.

(Pupuk Nitrogen berdasarkan BWD)

Pengairan -

7. Penyiangan Pengendalian gulma terpadu

8. Pengendalian

Pengendalian hama terpadu

hama/penyakit

9. Panen dan Pascapanen Tepat waktu dan prosessing dengan alat dan

mesin

Cakupan ana/isis

Analisis yang digunakan adalah fasilitas uji: analisis varians, uji beda, analisis

regresi dan analisis kuantifatif. cakupan analisis meliputi analisis data pertumbuhan dan

produktivitas tanaman, cita rasa, dan tanggapan petani melalui organoleptik. Varietas

galur yang dianggap stabil berarti lebih tahan terhadap perubahan lingkungan atau

daya adaptasinya tinggi.

Pengumpu/an data

Data yang dikumpulkan meliputi : linggi tanaman 30 HST, linggi Tanaman saat

panen, jumlah tongkol, Panjang tongkol, Jumlah baris per tongkol, Berat 100 bijl, Hasil

Ctjha).

17


....

...

UjiMultilokasi Galur-Galur Harapan kedelai produktivitas tinggi.

Penelitian dilaksanakan mulai bulan Juli/Agustus- Oktober/November 2010 pada

lahan petani di wilayah pengembangan tanaman pangan di tiga Kabupaten yaitu

Kabupaten Jayapura dan Kabupeten Keerom serta kota Jayapura dengan menggunakan

raneangan aeak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan terdiri

dari 8 galur harapan kedelai produktivitas tinggi yaitu U-SOS-l-l, U-80S-1-1, V-92-1-2,

V-129-1-2, V-1S9-1-3, V-284-2-2, V-421-1-2, V-933-2-2,

dan 3 varietas pembanding

yaitu Anjasmoro, Grobongan dan Tanggamus.

. . .

Kegiatan ini dilaksanakan secara on farm dengan rakitan-rakitan teknologi

spesifik loka!. Komponen-komponen teknologi yang diterapkan, seperti terlihat pada

Tabel 1, berikut ini.

Tabel3.

Komponen teknologi yang diterapkan pada kedelai, di Kab. Jayapura dan

Kota Jayapura, serta Kab. Keerom tahun 2010

No. Komponen Teknologi Pengelolaan Tanaman

1. Penqolahan tanah Sempurna dibuat saluran drainase

2. Varietas 8 Galur Harapan kedelai · yaitu U-SOS-l-l, U-80S­

1-1, V-92-1-2, V-129-1-2, V-1S9-1-3, V-284-2-2,

V-421-1-2, V-933-2-2, dan 3 varietas pembanding

Anjasmoro Brobogan dan Tanggamus.

3 Kebutuhan benih 40-60 kq/ha

4. Penanaman Tanam dengan eara ditugal

5. Jumlah tanaman/benih per 2 benih/lubang

lubang tanam

4. Jarak tanam 40 x 15 em

5. Ukuran Petak 3,2 x 4,5 m (8 baris tan/petak, 30 rumpun/baris)

atau 14,4 m 2 •

6. Pemupukan Urea: 50 kg/ha

SP36: 75 kg/ha

KCI : 100 kg/ha

7. Penyiangan Pengendalian -.9ulma terpadu

8. Pengendalian

Pengendalian ham a terpadu

hama/penyakit

Panen dan Pascapanen Tepat waktu dan prosessing dengan alat dan

mesin

18


-..

cakupan ana/isis

Analisis yang digunakan adalah fasilitas uji: analisis varians, uji beda, analisis

regresi dan analisis kuantifatif. cakupan analisis meliputi analisis data pertumbuhan dan

produktivitas tanaman, cita rasa, daJ1 tanggapan petani melalui organoleptik. Varietas

galur yang dianggap stabil berartilebih tahan terhadap perubahan lingkungan atau

daya adaptasinya tinggi.

Pengumpu/an data

Data yang dikumpulkan meliputi : Umur berbunga, tinggi tanaman saat berbunga, umur

masak, tinggi tanaman saat masak, jumlah cabang, jumlah polong, hasil (bobot)

berangkasan kering (gram/plot), hasil biji (gram/plot), bobot 100 biji (gram), gangguan

hama dan penyakit, analisis tanah, curah hujan dsb.

19


-.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji Multilokasi Galur-Galur Harapan Padi Toleran Salinitas

Lokasi penelitian dilaksanakan di Kampung Kuprik, Distrik Semangga, Kab.

Merauke. Lokasi terse but berada dekat dari sungai Maro. Tanggal semai : 4 Jull 2010.

Daya kecambah setiap galur dan varietas padi yang toleran pada lahan-Iahan salinitas

di kabupaten Mereuke menunjukkan daya kecambah yang berbeda (Tabel 4).

Tabel 4. Daya kecambah benih setelah perendaman padi.

[Jt~-:--l'- .- ~--,-- - --(~;{iirrm.~::

"~!,.!;!! ~"- ..... ­

• r ;-;:

,

,~~

- -- -.­

~. -."_ .... x , .,I • . - .' , , ­

1. IR72049-B-R -22-3-1-1

2. IR78788-B-B-l0-1-2-4-AJYl

3. IR77674-3B-8-1-3-13-12-AJY2

4. IR77664-B-25-1-2-1-3-12-5-AJYl

5. IR74099-AC7

6. IR79879-B-P-2-2

7. IR51499-2B-29-2B-l-l

8. IR72593-B-13-3-3-1

9. IR66946-3R-178-1-11FL478)

10. BW267-3

11. IR58427-5B-15

12. IR68653-3B-22-3

13. CSR-90IR-2

14. IR77674-3B-8-2-14-4-AJY2

15. IR71829-3R-28-1

16. IR72046-B-R-8-3-1-2

17. IR77674-3B-8-2-2-8-3-AJY4

18. Ciherang

19. Lambur

20. IR-29

-"-, .- -, . - - -

l~r..\rr:-1~(:"(·~Ji.lir.ll

_((VI!)

100

100

100

100

100

100

100

100

100

25

25

75

95

100

100

95

35

25

95

75

Daya kecambah benih padi toleren salinitas sebagian besar (14 galur)

menunjukan kemampuan berkecambahan yang baik atau 100% benih berkecambah, 1

galur dan 1 varietas berdaya kecambah 75% serta 3 galur dan 1 varietas mempunyai

daya kecambah yang kurang baik atau hanya 35-25%. Hal ini diduga karena

kemampuan daya kecambah benih kurang toleran pada lahan-Iahan salinitas, dan

20


sesuai dengan hasil analisis air pada saat persemaian menunjukan kadar sanilitas yang

cukup tinggi (1 promil) yang tergolong dalam air payau dan melebih kadar maksimum

(0,5 promil) untuk air bukan payau (Tabel 7).

Setelah 10 hari benih disebar, terdapat beberapa beberapa galur yang

menunjukan pertumbuhan yang tidak "normal yaitu galur BW267-3 tidak tumbuh, galur

IR77674-3B-8-2-2-8-3-AJY4 dan varietas Oherang menujukan pertumbuhan yang

kurang bagus. Kondisi bibit padi setelah 10 hari dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Keadaan bibit padi pada umur 10 hari setelah semai

: I.'Ct ,

., , ' ..... (~~fiB~JiY~

~ • ~ J.,. _

~;i·i;(rf~~ j : jl~ll ",

.'

j

. J~Q

- ,;.:-.: ~ ,i ;.1)";1",

.

1. IR72049-B-R-22-3-1-1 Baik

2. IR78788-B-B-l0-1-2-4-AJYl baik

3. IR77674-3B-8-1-3-13-12-AJY2 Sedang

4. IR77664-B-25-1-2-1-3-12-5-AJYl Baik

5. IR74099-AC7 Baik

6. IR79879-B-P-2-2 Baik

7. IR51499-2B-29-2B-l-l Sedan~

8. IR72593-B-13-3-3-1 Baik

9. IR66946-3R-178-1-1 (FL478) Sedang

10. BW267-3 Tidak tumbuh

11. IR58427-5B-15 Kurang

12. IR68653-3 B-22-3 Kuranq

13. CSR-90IR-2 Baik

14. IR77674-3B-8-2-14-4-AJY2 Sedang

15. IR71829-3R-28-1 Baik

16. IR72046-B-R-8-3-1-2 Baik

17. IR77674-3B-8-2-2-8-3-AJY4 Sangat kurang

18. Ciherang Sangat kurang

19. Lambur Kuranq

20. IR29 Sedang

-

Bibit padi pada umur 10 hari menujukan pertumbuhan yang berbeda setiap galur

dan varietas. Galur dan varietas padi yang mempunyai daya . kecambah rendah

mempunyai pertumbuhan bibit yang kurang baik bahkantidak tumbuh. Terlihat pada

galur BW267-3 tidak tumbuh dan yang sangat kurang pertumbuhanya galur IR77674­

3B-8-2-2-8-3-AJY4 dan varietas Oherang. Kondisi bibit di persemaian yang tergolong

sangat kurang sampai kurang menunjukan jumlah bibit yang rendah atau sedikit,

21


~,

....

sehingga penanaman di lakukan hanya 1 bibitjlubang. Hal ini disebabkan karena benih

yang berkecambah dan tumbuh jumlahnya menurun karena kemampuan bibit

beradaptasi pada lahan-Iahan salinitas tinggi.

Toleransi tanaman terhadap cekaman salinitas setiap fase pertumbuhan

tanaman tidak menunjukan adanya ' g~jala pertumbuhan tidak normal hal ini dapat

dilihat dari hasil scoring toleransi pada Tabel 6.

Tabel 6. Skoring Toleransi terhadap cekaman salinitas pada fase vegetatif dan

generative.

' .. ,

Fase Tanamanj;'

" ,' .. ,. '~:.

,

~~

Genotipe "

Veg~tatif .

G~H,eratif

1 IR72049-B-R-22-3-1-1

0 0

2 IR78788-B-B-l0-1-2-4-AJY1 0

0

3 IR77674-3B-8-1-3-13-12-AJY2

0 0

4 IR77664-B-25-1-2-1-3-12-5-AJY1

0 0

5 IR74099-AC7

0

0

6 IR79879-B-P-2-2 0

0

7 IR51499-2B-29-2B-1-1 0

0

8 IR72593-B-13-3-3-1 0 0

9 IR66946-3R-178-1-1 (FL478) 0 0

10 BW267-3

-

-

11 IR58427-5B-15

0

0

12 IR68653-3B-22-3

0

0

13 CSR-90IR-2 0

0

14 IR77674-3B-8-2-14-4-AJY2

0

0

15 IR71829-3R-28-1 0

0

16 IR72046-B-R-8-3-1-2

0

0

17 IR77674-3B-8-2-2-8-3-AJY4

0

0

18 Oherang -

-

19 Lambur 0

0

20 IR29 0

0

Dari hasil skoring yang dilakukan pada daun bendera terlihat bahwa baik pada

fase vegetative dan generative tidak menunjukan adanya pertumbuhan yang t1dak

normal atau gejala keracunan pada daun bendera, hal ini menunjukan bahwa semua

galur dan varietas yang diujicobakan sangat toleran terhadap cekaman salinitas kecuali

galur IR77674-3B-8-2-2-8-3-AJY4 dan varietas Oherang.

22


Galur dan varietas yang diuji mempunyai respon terhadap pertumbuhan tinggi

tanaman dan jumlah malai yang terbentuk berbeda-beda hal ini dapat dilihat pada Tabel

dibawah ini.

Tabel 7. Rata-rata linggiTanaman mefljelang panen dan jumlah malai

No

Galur/Veriatas

linggi Tanaman

Maksimum (cm)

Jumlah malai

1 IR72049-B-R-22-3-1-1 126.70 1"h5

2 IR78788-B-B-l0-1-2-4-AJYl 132.70 1~4

3 IR77674-3B-8~1-3-13-12-AJY2 123.80 13r4

4 IR77664-B-25-1-2-1-3-12-5-AJYl 94.00 1910

5 IR74099-AC7 102.40 12,2

6 IR79879-B-P-2-2 109.50 12,9

7 IR51499-2B-29-2B-l-l 113.40 14/8

8 IR72593-B-13-3-3-1 102.40 11/7

9 IR66946-3R-178-1-1 (FL478) 105.90 1212

10 BW267-3 - -

11 IR58427-5B-15 107.30 137

12 IR68653-3B-22-3 114.40 127

13 CSR-90IR-2 128.20 16,4

14 IR77674-3B-8-2-14-4-AJY2 125.80 12,0

15 IR71829-3R-28-1 113.30 1"h6

16 IR72046-B-R-8-3-1-2 108.90 1513

17 IR77674-3B-8-2-2-8-3-AJY4 113.60 12 L

5

18 Ciherang - -

19 Lambur 114.00 13,4

..

20 IR-29

94.60 152

Respon pertumbuhan terhadap tinggi tanaman dan jumlah malai menunjukan

perbedaan genetik tiap galur dan varietas. Galur dan varietas yang mampu beradaptasi

pada lahan-Iahan salinitas tinggi marnpu tumbuh dan berkembang serta membentuk

malai. Galur BW267-3 dan varietas Ciherang tidak mampu tumbuh dan berkembang

pada kondisi lahan dengan salinitas tinggi sehingga tanaman-tanaman tersebut mati.

Tanaman padi yang mempunyai tinggi tanaman paling tinggi di capai pada IR78788-B­

B-lo-l-2-4-AJYl (132.07 cm) dan terendah galur IR77664-B-25-1-2-1-3-12-5-AJYl

(94,00 cm) dan varietas IR-29 (94,06 cm). Walaupun galur IR77664-B-2S-1-2-1-3-12­

23


5-AJYl dan varietas lR-29 mempunyai penampilan tanaman lebih rendah dari pada

galur dan varietas lainnya namun kedua genotype ini mampu membentuk jumlah malai

paling tinggi (19,00 dan 15,7 helai) dibandingkan dengan genotype yang lainnya.

Perturnbuhan tanaman yang berjalan normal akan mampu menghasilkan

panjang malai, jumlah gabah dan persentase gabah isi yang maksimal pula. Hal ini

terlihat dari Tabel 8, setiap galur dan varietas berbeda akan menghasilkan jumlah yang

berbeda.

Tabel 8. Rata-rata Panjang malai, jumlah gabah dan persentase gabah isi.

No

--_. ,-

Galur/Veriatas

Panjang

Malai (em)

Jumlah

Gabah/malai

(butir)

Gabah lsi

(%).

1 lR72049-B-R -22-3-1-1 250 139,3 722

2 lR78788-B-B-l0-1-2-4-AJYl 26,3 131,5 692

3 IR77674-3B-8-1-3-13-12-AJY2 267 922 679

4 lR77664-B-25-1-2-1-3-12-5-AJYl 225 1214 653

5 lR74099-AC7 22,7 1111 84,1

6 IR79879-B-P-2-2 23,2 1259 74,2

7 IR51499-2B-29-2B-l-l 24,2 917 72 L 5

8 IR72593-B-13-3-3-1 23,1 1190 78,6

9 IR66946-3R-178-1-1 (FL478) 22,3 1477 74,8

10 BW267-3 - - -

11 lR58427-5B-15 24,9 1065 66 J 8

12 lR68653-3B-22-3 23,0 104 3 80,4

13 CSR-90IR-2 25,4 112,6 56,7

14 IR77674-3B-8-2-14-4-AJY2 25,8 1134 63[0

15 lR71829~3R-28-1 25 1 138,8 378

16

17

lR72046-B-R-8-3-1-2 23,9 103 J 2 834

lR77674-3B-8-2-2-8-3-AJY4 245 112,5 819

18 Ciherang - - -

19 Lambur 232 138,0 535

20 IR-29 . 227 98,7 729

Dari tabel diatas terlihat bahwa galur lR77674-3B-8-1-3-13-12-AJY2 dan galur

IR78788-B-B-1O-1-2-4-AJYl mempunyai panjang malai paling panjang yaitu 26,3 - 26,7

an, jumlah gabah/malai tertlnggi diperoleh galur IR72049-B-R-22-3-1-1 (139,3 butir)

24


dan terendah galur IR51499-2B-29-2B-l-l (91,7 butir)i demikian pula dengan

persentase gabah isi diperoleh galur IR74099-AC7 (84,1 %) dan yang terendah

pesentase gabah isinya adalah galur IR71829-3R-28-1 (37,8%) persentase gabah isi

yang diperoleh tidak mencapai 50%.

Besar kecilnya ukuran padi ditentukan oleh berat 1000 butir gabah, setiap galur

dan varietas mempunyai ukuran yang berbeda-beda, hal ini dapat terlihat pada Tabel 9

dibawah ini.

Tabel 9. Rata-rata Berat 1000 butir gabah, Produktivitas.

No

Galur/Veriatas

Berat 1000 butir

gabah (g)

Produksl GKG

(t/ha)

1 IR72049-B-R-22-3-1-1 20,0 3.85

2 IR78788-B-B-l0-1-2-4-AJYl 24,7 5,83

3 IR77674-3B-8-1-3-13-12-AJY2 28,7 6,25

4 IR77664-B-25-1-2-1-3-12-5-AJYl 21,3 6,14

5 IR74099-AC7 22,0 5,62

6 IR79879-B-P-2-2 26,7 556

7 IR51499-2B-29-2B-l-l 24,7 490

8 IR72593-B-13-3-3-1 22,0 3.90

9 IR66946-3R-178-1-1 (FL478) 25,3 456

10 BW267-3 - -

11 IR58427-5B-15 22,0 593

12 IR68653-3B-22-3 22,0 4,12

13 CSR-90IR-2 260 625

14 IR77674-3B-8-2-14-4-AJY2 28,0 644

15 IR71829-3R- 28-1 22,7 314

16 IR72046-B-R-8-3-1-2 20,7 631

17 IR77674-3B-8-2-2-8-3-AJY4 24,7 6,60

18 Ciherang - -

19 Lambur 24,7 6,14

20 IR-29 22,0 643

Tabel 9 memperlihatkan berat tertinggi 1000 butir gabah diperoleh pada galur

IR77674-3B-8-1-3-13-12-AJY2 (28,7 gr) dan terendah pada galur IR72046-B-R-8-3-1-2

(20,7 gr). Hal ini menunjukan bahwa galur IRn674-3B-8-1-3-13-12-AJY2 mempunyai

butir padi lebih besar dan galur IR72046-B-R-8-3-1-2 mempunyai butir gabah paling

25


kecil bila dibandingkan dengan yang lainnya. Sedangkan produkti tertinggi diperoleh

pada galur IR77674-3B-S-2-2-S-3-AJY4 (6,60 ton/ha) dan terendah pada galur IR71S29­

3R-2S-1(3.14 ton/ha)

Untuk mengetahui kadar salinitas air dan tanah selama pertumbuhan dilakukan

pula analsis terhadap air di areal persemaian dan areal penanaman serta analisis tanah

persemaian. Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 10 dan 11.

Tabel 10. Hasil analisis tanah pada areal persemaian padi toleran salinitas tinggi

Parameter

Hasil Penguiian

• pH

• H 2 O 5.68

• KCI 5.01

• Tekstur 3 fraksi (Texture 3 fractions) :

• Pasir (Sand), % 25

• Debu (Silt), % 51

• Uat (Gay), % 24

• P 2 0 S potensial (P 2 0 S potential1 mg/lOO J]r.· 54

• K 2 0 potensial (K 2 0 potentialh mJ]/100 JJr 167

• P 2 0 S tersedia (P 2 0 S available), ppm 21

• K 2 0 tersedia (K 2 0 available), ppm 259

• C-organik (Organic Carbon), % 3.75

• N (Nitrogen), % 0.35

• _


5. Zn 2+ (mg/L) .

6. Cb (Chlorine Total) (mg/L)

7. Cu 2 + (mg/L)

8. Kejenuhan Oksigen dim air

(%)

0.1

0.1

100

0.04

0.04

0.08

91

0.01

0.14

0.25

90

Uji Multilokasi Galur-Galur Harapan Jagung Toleran Kekeringan

Uji multilokasi galur harapan jagung toleran kekeringan

produktivitas tinggl

dilaksanakan di Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom dengan

waktu tanam yang berbeda pada setiap kabupaten, sehingga penanaman tidak dapat

dilakukan seeara bersamaan. Rata-rata umur berbunga, tinggi tanaman pada umur 35

HSf dan jumlah tongkal dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12.

Lokasi

Rata-rata tinggi tanaman pada umur 35 HSf, umur berbunga, dan jumlah

tongkal per tanaman jagung.

Galur/

varietas

Tinggi

tanaman 35

HSf (em)

Tinggi

tanaman 40

HSf (em)

Umur

berbunga

(hari)

Tongkol per

tanaman

Arso 1 210.20 164.03 41.67 1.00

Keerom 2 201.93 172.47 35.67 1.00

3 208.13 169.37 43.33 1.00

4 175.13 149.37 42.33 1.00

5 174.23 167.83 37.67 1.00

6 177.47 153.57 37.67 2.00

7 196.40 167.67 40.00 1.00

8 181.60 141.43 37.00 1.00

9 193.47 140.37 37.00 1.00

10 191.40 162.83 33.00 1.00

11 182.87 142.03 42.33 1.00

12 185.20 158.20 37.00 1.00

Respon pertumbuhan dan produksi setiap galur dan varietas jagung menunjukan

adanya perbedaan. Rata-rata tinggi tanaman setiap galur dan varietas berkisar antara

175.13-210.20 em, umur berbunga jagung berkisar antara umur 33.00-43.33 hari,

27


.. .

sedangkan jumlah tongkol yang terbentuk rata-rata hanya mampu membentuk 1

tongkal kecuali galur No.6 mampu membentuk 2 tongkol.

Setiap galur dan varietas akan menghasilkan produksi yang berbeda, hal ini

terlihat pada Tabel 13, dimana berat tongkol kering, berat 100 biji, berat per petak dan

jumlah tongkol per petak pada pertanaman jagung menghasilkan jumlah yang berbeda

setiap jenis yang berbeda.

Tabel 13.

Lokasi

Rata-Rata Berat Tongkol Kering, Berat 100 Biji, Berat Per Petak dan Jumlah

Tongkol Per Petak Per Tanaman Jagung.

Galur/

varietas

Berat

tongkol ·

kering

(qr)

Berat

100 biji

(gr)

Berat per

petak (~g)

Jumlah

Tongkol

- per petak

Produktivitas

(ton/ha)

Arso 1 122.00 30.46 8.05 83.57 5,4

Keerom 2 123.26 22.60 5.96 66.50 4,0

3 126.43 19.45 8.67 96.37 5,8

4 136.41 24.47 7.32 66.93 4,9

5 105.65 16.56 5.05 60.73 3,4

6 151.82 22.57 10.11 80.97 6,7

7 102.15 21.24 5.20 62.23 3,5

8 95.88 21.21 7.60 95.09 51

9 122.90 20.73 9.14 . 91.78 6,1

10 165.33 27.10 ·8.41 65.77 56

11 116.74 21.39 5.87 67.73 39

12 156.82 20.76 9.86 73.93 6,6

Dari tabel diatas terlihat bahwa galur/varietas no 10 dan 12 dapar menghasilkan

berat tongkol tertinggi yaitu 156,82 gr dan 165,33 gr bila dibandingkan dengan

galur/varietas lainnya dan yang terendah pada galur/varietas no 8 yaitu 95.88 gr. Pada

berat 100 biji tertinggi diperoleh pada galur/varietas no 1 (30.46 gr) dan terendah no 5

(16.56 gr), sedangkan pada jumlah tongkol per petak galur/varietas no 3 (96,37 buah)

menghasilkan jumlah tonggol yang tertinggi dan yang paling rendah adalah

galur/varietas no 7 (62,23 buah) dan berat per petak tertinggi di peroleh galur/varietas

no 6 (10,11 kg) dan terendah pada galur/varietas no. 5 (5.05 kg). Hal ini menujukan

bahwa galur/varietas no 6 tersebut lebih toleran terhadap cekaman lingkung bila

dibandingkan galur/varietas yang dicobakan.

28


Hasil pertumbuhan dan produksi jagung ini belum dapat dibandingkan dengan

lokasilainnya di Nimbokrang dan Koya Barat karena pada saat ini tanaman pada 2

lokasi tersebut masih berumur 35 hari setelah tanam.

UjiMultilokasiGalur-Galur Harapan kedelaiproduktivitas tinggi.

Uji multilokasi galur harapan kedelai produktivitas tinggi dilaksanakan di

Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom dengan waktu tanam yang

berbeda padasetiap kabupaten, sehingga penanaman tidak dapat dilakukan secara

bersamaan. Rata-rata umur berbunga, tinggi tanaman pada umur 30 HST dan saat

panen serta jumlah cabang dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel14. Rata-rata umur berbunga, tinggi tanaman pada umur 30 HST da"c$~

serta jumlah cabang tanaman kedelai.

u Tinggi Tinggi ,

Lokasi GalurIVarietas B :;,ur Tanaman 30 Tanaman Jumlah l

er unga HST (cm) ' Panen (cm) Cabang

Nimbokrang U-505-1-1 33.33 60.17 68.70 3.57

Jayapura U-805-1-1 32.67 62.23 68.73 3.70

V-92-1-2 34.00 59.47 71.67 4.50

V-129-1-2 36.67 77.20 73.13 3.67

V-159-1-3 38.00 60.90 63.67 4.50

V-284-2-2 37.00 58.80 69.33 3.53

V-421-1-2 36.00 62.63 66.57 5.37

V-933-2-2 34.33 62.10 63.90 4.27

Anjasmoro 32.33 65.63 65.87 4.23

Grobogan 26.67 55.33 57.39 2.87

Arso 2 U-505-1-1 34.33 75.00 77.68 4.07

Keerom U-805-1-1 35.00 70.60 81.05 3.92

V-92-1-2 34.00 71.13 72.13 2.34

V-129-1-2 38.33 76.60 78.65 3.45

V-159-1-3 38.00 63.87 69.17 4.86

V-284-2-2 37.00 67.47 70.72 3.77

V-421-1-2 36.00 . 62.33 66.98 4.54

V-933-2-2 35.67 68.67 70.87 3.31

Anjasmoro 36.67 69.27 79.92 3.48

Grobogan 28.67 69.27 70.41 3.55

29


Respon pertumbuhan setiap galur dan varietas pada lokasi yang berbeda

menujukan respon pertumbuhan yang berbeda. Umur berbungga tanaman kedelai di

Jayapura dan Keerom terlihat pada varietas Grobosan lebih eepat berbunganya yaitu

26.67 hari dan 28.67 hari dari pada galur dan varietas yang lainnya. Tinggi tanaman

kedelai pada umur 30 HST di 2 lok~si

tinggi tanaman tertinggi pada varietas Anjasmoro (65.63 em)

menunjukan perbedaan di Jayapura rata-rata

dan terendah varietas

Gbrobogan (55.33 em), sedangkan di Keerom rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada

galur V-129-1-2 (76.60 em) dan terendah galur V-421-1-2 (62.33 em). Demikian pula

dengan jumlah pereabangan di Jayapura jumlah eabang tertinggi diperoleh pada galur

V-421-1-2 (5.37 eabang) dan terendah pada varietas Grobogan (2.87 eabang),

sedangkan di Keerom jumlah eabang tertinggi pada galur V-159-1-3 (4.86 em) dan

terendah pada galur (V-92-1-2 2.34). Penampilan tanaman secara umum pada 210kasi

menunjukan perbedaan, tanaman kedelai di Jayapura lebih eepat mengalami

pembungaan (26.67 - 38.33 hari) dan tinggi tanaman agak lebih pendek (57.39 - 73.13

em) dengan jumlah pereabangan relatif lebih banyak (2.87 - 5.37 eabang). Sedangkan

di Keerom umur berbungga 28.67 - 38.33 hari, dan tinggi tanaman lebih tinggi 66.98 ­

81.05 em dengan jumlah cabarig 2.34 - 4.86 eabang.

Respon pertumbuhan tanaman kedelai setiap galur dan varietas pada 2 lokasi

terhadap produksi tanaman menujukan adanya perbedaan. Rata-rata jumlah polong,

Berat 100 biji, Berat per petak dan berat brankasan kering terlihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Rata-rata jumlah polong, Berat 100 biji, Berat per petak dan berat brankasan

kering tanaman kedelai.

Berat

100 blji

(gr)

Berat Biji

Per

petak

Produksi

(ton/ha)

Lokasi

Galur/ lumlah

Berat

Varietas Polong

Brankasan

(kg} Kering

Nimbokrang U-505-1-1 69.53 13.36 1.27 2.04 0.91

Jayapura U-805-1-1 80.37 13.05 1.61 2.23 1.15

V-92-1-2 71.63 16.28 1.81 2.90 1.29

V-129-1-2 72.20 14.75 1.54 3.40 1.10

V-159-1-3 61.57 14.22 1.03 1.83 0.74

V-284-2-2 86.57 14.93 1.47 3.15 1.05

V-421-1-2 78.63 14.50 0.93 2.37 0.66

V-933-2-2 76.43 16.15 1.14 1.78 0.82

Anjasmoro 74.40 15.05 1.15 2.27 0.82

30


Grobogan 51.60 18.41 1.38 2.13 0.99

Arso2 U-505-1-1 59.00 16.53 1.24 5.90 0.88

Keerom U-805-1-1 40.65 16.89 1.61 4.94 1.25

V-92-1-2 49.72 17.87 1.81 3.91 1.31

V-129-1-2 52.49· 15.66 .1.57 3.40 1.12

V-159-1-3 56.21 17.63 1.60 3.45 1.14

V-284-2-2 45.79 16.86 2.50 4.29 1.78

V-421-1-2 35.01 17.01 1.68 3.26 1.20

V-933-2-2 19.30 20.43 1.41 3.68 1.00

Anjasmoro 50.72 16.46 1.30 3.23 0.93

Grobogan 63.62 20.66 2.03 4.08 1.45

Respon terhadap produksi menujukan perbedaan pula pada 2 lokasi. Jumlah

polong yang diperoleh di Jayapura lebih banyak (51.60 - 86.57 polong) bila

dibandingkan dengan di Keerom (19.30 - 63.62 polong). Jumlah polong terbanyak di

Jayapura di peroleh pada galur V-284-2-2 (86.57 polong) dan yang paling rendah

membentuk polong varietas Grobogan (51.60 polong). Sedangkan di Keerom jumlah

polong terbanyak diperoleh pada varietas Grobogan (63.62 polong) dan yang paling

sedikit membentuk polong galur V-933-2-2 (16.30 polong).

Parameter produksi yang lainnya belum bisa dibandingkan antar 2 lokasi karena

panen baru di lakukan di Keerom. Berat 100 biji tertinggi di Jayapura pada varietas

Grobogan (18.41 gr) dan terendah galur U-805-1-1 (13.05 gr). Hal ini menandakan

bahwa varietas Grobogan mempunyai bentuk biji lebih besar dari pada galur dan

varietas lainnya.

Hama yang menyerang tanaman kedelai adalah belalang (Oxya spp.), ulat

grayak (Spodoptera /itura), ulat jengkal (Chrysodeixis cha/cites), ulat penggulung daun

(Lamprosema indicata), Riptortus /inearis, Nezara viridu/a, Piezodorus rubrofasciatus,

dan Etie//a zinckene//a. Pengendalian hama dilakukan dengan menggunakan

Deltamethrin 25 EC yang diaplikasikan sebanyak tiga kali, yaitu pada 21 HST, 42 HST,

dan 80 HST.

Preferensi petani terhadap biji kedelai di Jayapura pada umumnya menyukai biji

kedelai berukuran kecil, karena permintaan dari proclusen tahu dan tempe setempat,

disamping itu biji kedelai berukuran kecil lebih tahan disimpan dalam waktu lebih lama.

Produksi tertinggi di Jayapura dicapai pada V-92-1-2 (1,29 t/ha) dan terendah V-421-1­

31


2 (0.66 t/ha), sedangkan di Keerom produksi kedelai tertinggi dapat dieapai oleh galur

V-284-2-2 (1,78 t/ha) dan terendah pada galur U-505-1-1 (0.88 t/ha). Hal ini

menunjukan bahwa kedelei yang di tanam di Kabupaten Keerom lebih toleran dan

eekaman lingkungan sehingga dapat mampu menghasilkan produksi yang lebih baik dan

pada di Kabupaten Jayapura.

KESIMPULAN

Hasil kesimpulan sementara yang dapat di peroleh bahwa :

- 1. Tanaman padi Galur IR72593-8-13-3-3-1, 8W267-3 dan varietas Oherang tidak

mampu tumbuh dan berkembang pada lahan-Iahan dengan salinitas tinggi.

2. Tanaman jagung di Arso Keerom mempunyai rata-rata tinggi tanaman berkisar

antara 175.13-210.20 em, umur berbunga jagung berkisar antara umur 33.00­

43.33 hari, sedangkan jumlah tongkol yang · terbentuk rata-rata hanya mampu

membentuk 1 tongkal keeuali galur NO.6 marnpu membentuk 2 tonggol.

Produktivitas tertinggi dieapai pada galur jagung No. 6 sebesar 6.7 ton/ha,

sedangkan galur jagung yang terendah yaitu No.7 dengan hasil 3.5 ton/ha.

3. Penampilan tanaman kedelai pada 2 lokasi menunjukan perbedaan, tanaman

kedelai di Jayapura lebih eepat mengalami pembungaan (26.67 - 38.33 hari) dan

tinggi tanaman agak lebih pendek (57.39 - 73.13 em) dengan jumlah pereabangan

relatif lebih banyak (2.87 - 5.37 eabang). Sedangkan di Keerom umur berbungga

28.67 - 38.33 hari, dan tinggi tanaman lebih tinggi 66.98 - 81.05 em dengan jumlah

eabang 2.34 - 4.86 eabang.

4. Produksi tertinggi di Jayapura dieapai pada V-92-1-2 (1,29 t/ha) dan terendah V­

421-1-2 (0.66 t/ha), sedangkan di Keerom produksi kedelai tertinggi dapat dicapai

oleh galur V-284-2-2 (1,78 t/ha) dan terendah pada galur U-505-1-1 (0.88 t/ha).

32


Nama, Gelar / Bidang

Keahlian

Personil Pelaksana Kegiatan

P/W / Alokasi

Waktu

(Jam/Minggu)

Pendidikan

Akhir / Unit

Kerja

Tugas dalam

11m

Nama

Lembaga

Dr. Ir. Fadjry Djufri, M5i P 53 Penanggung Pertanian

AfjrokJimatologi 10 BPTP Papua Jawab Deptan

Ir. Martina 5ri Lestari, MP P 52 Pelaksana Pertanian

Hama~yakit 10 BPTP Papua Deptan

5udarsono, 5P L 51 Pelaksana Pertanian

Hama Penyakit 10 BPTP Papua Deptan

Ir. Herman Masbaitubun MP L 52 Pelaksana Pertanian

Pasca Panen 10 BPTP Papua Deptan

Jadual Penelitian

Kegiatan

Bulan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Perencanaan

x

5urvei Lokasi dan Ploting Lokasi x x

Pelaksanaan Kegiatan Uji .

x x x x x

Multilokasi Padi

Pelaksanaan Kegiatan

x x x x x

Uji multilokasi Jagung

Pelaksanaan Kegiatan Uji

x x x x x

Multilokasi Kedelai

Pengamatan dan Pengumpulan

x x x x

data

Monev x x

Analisis data dan pelaporan x x x

Diskusi/Seminar Hasil x x

33


DAFTAR PUSTAKA

Abbas, G., Atta, B.M., Shah, T.M., Sadiq, M.S. and Haq, M.A. 2008. Stability analysis for

seed yield in mungbean, Vigna radiata L. Wilczek. J. Agric.Res. 46(3): 223-228

Admihardja, A, A. Bambang, K. Sudarman dan D.A. Suriadikarta, 1999. Prespektif

pengembangan pertanian di lahan rawa. Pros, Temu Pakar dan Lokakarya

Nasional Desiminasi dan Optimasi Pemanfaatan Sumber Daya Lahan Rawa.

Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.pp. 42,51.

Alihamsyah T., M. Sarwani, dan I. Ar-Riza. 2003. Lahan pasang surut sebagai sumber

pertumbuhan produksi padi masa depan. Oa/am B. Suprihatno et a/ (Eds).

Kebijakan Perberasan dan Inovasi Teknologi Padi. Buku 2. Hal: 263-287.

Puslitbangtan Tanaman Pangan Bogor.

Allard. R.W. and A.D. Bradshaw, 1964. Implication of genotype-environment I

nteraction in applied plant breeding. Crop Sci. 4. 503-507.

Arsyad, D. M., M. Adie, dan Kuswantoro. 2007. Perakitan varietas unggul kedelai

spesifik agroekologi, hal 205 - 228. Oa/am Sumarno, Suyamto, A. Widjono,

Hermanto, H. Kasi (£ds). Kedelai, Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan

Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Berger, J.D., Speijers, J., Sapra, R.L., and Sood, U.C .2007. Genotype by environment

interaction and chickpea improvement. In: Chickpea Breeding and Management.

Yadav 55, Redden RJ, Chen W, Sharma B (eds), CAB International, pp. 617-629.

Cleveland, D.A. 2001. Is plant breeding science objevtive truth or social construction:

The case of yield stability. Agriculture and Human Value 18:251-170

Distan Merauke 2007. Laporan Tahunan. Dinas Pertanian tanaman Pangan Dati II

Merauke.70 Hal.

Harahap, Z. 1982. Pedoman pemuliaan padi. LBN-UPI. Bogor. 30p

Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar-dasar Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta. Penerbit

Kanisius. 182 hal.

Poespodarsono, S. 1988. Dasar-dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. Pusat Antar Universitas

Institut Pertanian Bogor. Bogor. 169 hal.

Shah, T.M., Hassan, M., Haq, M.A., Atta, B.M., Alam, 5.5., and Ali, H. 2005. Evaluation

of Ocerspecies for resistance to Ascochyta Blight. Pak. J. Bot. 37(2):431-438.

Singh, K.B. and Bejiga, G. 1990. Analysis of stability forsome characters in kabul!

ch'ickpea.Euphytica 49:223-227.

Soewito T., 2003. Stabilitas Hasil beberapa Genotipe padl sawah umur genjah.

Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Vol 22. NO.2. 2003. Hal 77-80

34


••

....

Sornaatmadja, S. 1985. Peningkatan produksi kedelai melalui perakitan varietas, hal 243

- 261. Da/am S. Sornaatmadja, M. Ismunadji, Surnamo, M. Syarn, S. O.

Manurung, Yuswadi (Eds). Kedelai. Badan Penelitian dan Pengernbangan

Pertanian. Bogor.

Sumamo dan A.G. Manshuri. 2007. Persyaratan turnbuh dan wilayah produksi kedelal di

Indonseia, hal 74 - 103. Da/am Surnamo, Suyarnto, A. Widjono, Hennanto, H.

Kasi (EdSj. Kedelai, Teknik Produksi dan Pengernbangan. Badan Penelitian dan

Pengernbangan Pertanian. Bogor

Subandi, A. Harsono, dan H. Kuntyastuti. 2007. Areal pertanarnan dan sistern produksi

kedelai di Indonesia, hal 104 - 129. Da/am Surnamo, Suyarnto, A. Widjono,

Hennanto, dan H. Kasirn (EdSj. Kedelai: Teknik Produksi dan Pengernbangan.

Badan Penelitlan dan Pengernbangan Pertanian. Bogor.

35

More magazines by this user
Similar magazines