Ustadz Ghufron: Memperjuangkan Madrasah ... - Kemenag Jatim

jatim.kemenag.go.id

Ustadz Ghufron: Memperjuangkan Madrasah ... - Kemenag Jatim

Ustadz Ghufron

Memperjuangkan

Madrasah Kelas Bawah

Surabaya adalah sebuah ironi. Di kota metropolis ini kini

telah tumbuh ratusan gedung pencakar langit nan megah. Penuh

dengan fasilitas modern berteknologi canggih. Tapi siapa sangka,

di balik kemegahan dan kemewahannya Surabaya masih memiliki

sekolah yang jauh dari kesan layak.

Sekolah itu bernama MI Al-Ikhsan. Berdiri tepat di

belakang gedung megah milik Perhutani. Sekolah ini berada di

ujung gang buntu pemukiman padat nan kumuh di kawasan

Dupak Masigit gang 9. MI Al-Ikhsan saat ini hanya memiliki 4

kelas pembelajaran. Ruang kelas itu pun dipisahkan oleh rumah

penduduk yang sangat rapat.

Dua kelas bertingkat berdiri di atas lahan seluas 4 x 5

meter. Tepat di kelokan gang sempit rumah warga yang hanya

cukup dilewati satu orang. Ruang kelas itu dibangun dari papan

sederhana. Anak tangga menuju ruang atas pun menyisakan

sedikit tempat untuk kaki. Bahkan lorong atas menuju kelas,

tak mungkin bisa dilewati oleh siswa berbadan gemuk. Mereka

yang lewat pun harus memiringkan badannya agar muat ketika

masuk melewati pagar tangga. Sementara kelas lainnya, berdiri

melintang di atas jalan kampung. Papan nama MI Al-Ikhsan

bertengger di sana.

Jangan berharap melihat fasilitas pembelajaran yang memadai

di sekolah ini. Apalagi fasilitas berteknologi canggih

seperti komputer dan sarana pendukung lainnya. Mampu bertahan

dalam kondisi yang demikian ini saja, pihak pengelola

sudah sangat bersyukur. Para

siswa yang bersekolah di sini

berasal dari ekonomi menengah

ke bawah.

Mayoritas penduduk

Dupak Masigit adalah

warga etnis Madura

yang berprofesi sebagai

pedagang. Warga di

sini juga lebih senang

jika anaknya bisa menempuh

pendidikan

agama di pesantren daripada menempuh pendidikan formal.

Mereka berkeyakinan, lulus MI sudah cukup bagi anak-anaknya

untuk bekal masuk ke pesantren. Itu pun bagi mereka yang

mampu membiayai beban hidup anaknya selama belajar di

pesantren.

Lontar sejarah berdirinya MI Al-Ikhsan sebenarnya telah

diukir sejak menjelang berakhirnya tahun 60-an. Adalah Malidji,

pria asal Kab. Sampang yang merintisnya bersama sang istri,

Sayyidah. Keduanya merupakan alumni dari pesantren yang

sama di Sampang. Sempat mengabdi beberapa tahun di pesantren

tempat mereka menimba ilmu agama, Malidji dan Sayyidah

lantas memutuskan untuk menikah dan merantau ke Surabaya.

Kala itu, Sayyidah baru saja melahirkan. Usia bayinya

masih berumur 40 hari, ketika Ghufron – anak semata wayangnya

itu – diboyong ke kota pahlawan. Tempat jujugan pertama

adalah di Krembangan Masigit. Di daerah inilah mereka lantas

melanjutkan perjuangan dakwahnya. Keduanya membuka

pangajian Diniyah di mushala. Saat itu, hanya merekalah satusatunya

guru ngaji di kampung itu.

Hingga pertengahan tahun 70-an, yang mengaji masih

bapak-bapak dan ibu-ibu. Tapi setelahnya, banyak dari anakanak

yang turut pula mengaji. Guna memperluas area dakwahnya,

keluarga Malidji pun pindah ke kawasan Dupak Masigit.

Bergabung pula pemuda-pemuda yang kuliah di perguruan tinggi

di Surabaya yang memiliki latar belakang pesantren turut berjuang

untuk mengajar di kampung ini. “Pemuda-pemuda itu

adalah santri ayah sendiri,” terang ustadz Ghufron, anak Malidji

yang kini meneruskan perjuangan ayahnya itu.

Maka selain mengaji kitab-kitab salaf, anak-anak di kampung

ini juga diajari ilmu umum. Menjelang akhir tahun 70-an,

dibukalah secara resmi lembaga pendidikan formal setingkat

MI yang kemudian diberi nama MI Al-Ikhsan. Rumah Malidji

lah yang lantas dipergunakan untuk kelas belajar. Meski demikian,

tak banyak yang merespon baik saat pertama kali lembaga

formal ini didirikan. “Warga masih belum sadar akan pentingnya

sekolah formal. Sebab bagi mereka, pendidikan agama di

pesantren lebih penting daripada sekolah formal,” tuturnya.

Walau demikian, keluarga Malidji dan para guru tak pernah

patah arang. Ustadz Ghufron menuturkan, betapa gigihnya ayah

dan ibunya berjuang waktu itu. Sang ayah, katanya, selalu istiqamah

mengajar mulai terbit fajar hingga malam hari. Bahkan

untuk menghidupi sekolah MI ini, ayahnya tak segan-segan

merogoh koceknya sendiri untuk membayar gaji para guru. Sebab

menggantungkan SPP dari siswa, jelas itu sangat tak mungkin.

“Ada orangtua yang mau menyekolahkan anaknya di

MI ini saja, ayah sudah sangat bersyukur,” ujarnya.

Sementara sang ibu, selain membantu mengajar,

juga dengan sabar dan telaten mengurusi

kebutuhan sehari-hari para guru. “Setiap

34 MPA 308 / Mei 2012


Ustadz Ghufron,

di antara kesibukan

membimbing para santri

serta perjuangan dakwahnya,

masih diberi kecukupan oleh

Allah Swt.

hari ibu memasak banyak untuk keperluan para guru. Itu pun

dari uang ayah sendiri,” kenangnya.

Keluarga Malidji, memang tak sekedar berjuang dengan

tenaga dan ilmunya, tapi juga dengan seluruh harta dan jiwa

raganya. Maka bagi Malidji waktu itu, SPP siswa tak begitu

dipedulikannya. Sebab yang terpenting baginya, anak-anak di

kampung ini bisa sekolah dan mendapat ilmu yang cukup untuk

bekal di kehidupannya kelak.

Seperti ghalibnya anak-anak di kampungnya, Ghufron

juga ikut mengaji dan bersekolah di MI ini. Ia belajar kepada

orangtua dan teman-teman ayahnya. Meski memiliki jiwa

dakwah dan garis perjuangan yang kokoh, Malidji ternyata tak

serta merta mengharuskan Ghufron mengikuti jejaknya. Ghufron

dibesarkan oleh ayah dan ibunya dengan alam pikiran modern

yang menyerahkan sepenuhnya pilihan hidup kepadanya.

“Ayah hanya menunjukkan mana yang baik dan yang tidak.

Beliau juga berpesan agar saya bisa memiliki ilmu yang cukup.

Tidak perlu terlalu tinggi, tapi yang penting barokah dan bermanfaat,”

katanya. “Sementara medan perjuangan dakwah, bisa di

mana pun dan kapan pun, tidak mesti melalui lembaga formal

seperti ini,” tandasnya.

Hubungan di antara mereka, terjalin erat sebagai kawan

ataupun guru dan murid – di luar pertalian mereka sebagai anak

dan orangtua. Melalui mata ayahnya, Ghufron belajar banyak

hal: perjuangan hidup, ketekunan, pengabdian, istiqamah dalam

mengajar, hingga memahami alam pikiran modern. Melalui hati

ibunya, ia juga belajar tentang proses kesabaran, keteguhan hati

dan kemuliaan hidup.

Setamat MI Al-Ikhsan, Ghufron melanjutkan ke MTs

Wachid Hasyim yang saat itu berada di Jl. Tuban Raya Surabaya.

Setelahnya, ia memilih mondok di Pesantren Sukorejo Situbondo.

Tapi di tengah kenyamanannya menempuh studi di pesantren,

dirinya dikejutkan oleh berita ibunya yang sakit keras.

Ghufron pulang untuk menengok ibunya. Namun waktu perjumpaan

itu terasa kian singkat. Ibunya meninggal tepat tengah

malam menjelang fajar subuh.

Perjuangan sang Ayah kian berat sepeninggal ibunya.

Ghufron pun harus kembali ke pondok menyelesaikan studinya.

Setelah 10 tahun menimba ilmu di pesantren, Ghufron pun

pulang. Tahun 1994, ketika usia ayahnya sudah beranjak senja,

Ghufron menggantikan peran ayahnya. Tak ada paksaan dari

siapa pun agar dia meneruskan perjuangan sang ayah.

Dengan bekal keilmuan yang dimiliki – meski tak sempat

mengenyam pendidikan di perguruan tinggi – Ghufron sebetulnya

berkesempatan mengembangkan karir dan mendapat

penghidupan yang layak di luar sana. Tapi sama seperti

ayahnya, Ghufron menilai, perjuangannya di Kampung Dupak

Masigit adalah pilihan hidupnya. Bahkan tantangannya jauh

lebih berat saat ini. “Di tempat lain kan sudah banyak yang

menangani. Sementara daerah-daerah seperti ini lah yang butuh

perhatian kita, karena tak semua orang mau peduli dengan

kehidupan warga ekonomi menengah ke bawah seperti di sini,”

ujarnya.

Untuk mendukung langkah perjuangannya, Ghufron rela

menjadikan ruang di lantai bawah rumahnya sebagai kantor MI.

Sementara ia dan istri, serta anak-anaknya tinggal di atas. “Kalau

ada tamu, siapa pun itu, ya kami terima di ruang kantor ini,”

ucapnya sambil senyum dikulum.

Walau demikian, lelaki kelahiran Sampang, 3 April 1968

itu menyadari, bahwa keluarganya pantas untuk menerima kehidupan

yang lebih layak dari ini. Karena itulah, dirinya selalu

menghibur keluarganya dengan ganjaran yang telah dijanjikan oleh

Allah bagi mereka yang mau berjuang di jalan-Nya. “Toh senyatanya,

kami masih diberi kecukupan oleh Allah. Banyak rezeki

tak terduga yang kami dapatkan,” terang suami Siti Asiyah ini.

Seiring perjalanan sang waktu, kini di tempat ini juga

didirikan lembaga non formal TPQ yang diasuh oleh istrinya.

“Alhamdulillah, istri pun turut berjuang mengamalkan ilmu dan

menegakkan agama Allah,” ujar ayah dua anak ini penuh syukur.

Selain lewat jalur formal, ustadz Ghufron juga dikenal

masyarakat setempat berdakwah lewat kesederhanaannya.

Barangkali karena itulah, yang membuat dirinya hingga sekarang

tetap dipercaya masyarakat mendidik anak-anak mereka. Ustadz

Ghufron pun tak canggung menemani warga duduk dan mengobrol

di warung kopi. “Di setiap kesempatan akan saya sampaikan

ajaran Allah. Sebab tak jarang, di warung itu, orangorang

minta penjelasan terkait persoalan agama,” paparnya.

Akhir Desember lalu, perjuangan Ustadz Ghufron menghidupi

madrasah mendapat apresiasi dari Kementerian Agama

Prov. Jawa Timur. “Alhamdulillah, kami mendapat bantuan

dana untuk mendirikan gedung baru berisi 2 kelas bertingkat.

Warga pun mulai peduli dengan memberikan bantuan sumbangan

pembangunan,” ucapnya penuh syukur.

Kisah keluarga Ustadz Ghufron berjuang melalui madrasah

sungguh melambangkan bahwa di bawah keangkuhan tembok

gedung megah kota Surabaya, masih ada orang yang peduli

terhadap kehidupan masyarakat kelas bawah. Surabaya memang

ironi. Tapi bagaimana pun juga, walau kerap menampakkan

kegetiran batin warganya, sejarah kota Pahlawan selalu melahirkan

para pejuang kehidupan.• Dedy Kurniawan

MPA 308 / Mei 2012

35

More magazines by this user
Similar magazines