Lokus Peradaban Islam Masih Sekitar Mushalla - Kemenag Jatim

jatim.kemenag.go.id

Lokus Peradaban Islam Masih Sekitar Mushalla - Kemenag Jatim

Dekadensi moral telah

merebak kemana-mana; di

segala tempat, di segala ruang,

di segala keadaan. Baik yang

dilakukan orang dewasa, para

pemuda, maupun kaum remaja.

Bahkan yang miris, moralitas

yang dekaden itu telah pula

ditiru anak-anak. Lantas yang

menjadi pertanyaan

pentingnya, apa sesungguhnya

yang menjadi penyebab

merebaknya dekadensi moral

tersebut

Dekadensi Moral

Merebak

Lokus Peradaban Islam

Masih Sekitar Mushalla

Drs. Marzuki Mustamar, M.Ag

mencoba memetakan analisis. Menurutnya,

pertama hal itu disebabkan

kurangnya kesadaran orangtua dalam

mendidik anak-anak. Mungkin

saja itu dilatarbelakangi mudanya

usia pernikahan dan wawasan agama

yang kurang. Yang kedua, orangtua

sekarang lebih disibukkan dengan

masalah ekonomi. Suami dan istri

sama-sama sibuk bekerja, sehingga

anak-anak kurang mendapatkan perhatian,

komunikasi dan kasih sayang.

Yang ketiga, lanjut dosen Fakultas

Humaniora dan Budaya UIN Maliki

Malang ini, karena kurang harmo-

nisnya hubungan suami-istri. Dan

keempat, karena faktor lingkungan.

Bahkan masyarakat yang hidup di

lingkungan pesantren, masjid maupun

TPQ, tak serta merta memperoleh

jaminan menjadi baik. Sebab jumlah

kiai, ustadz dan guru ngaji tidaklah

sebanyak dulu. Sebab kini kalau tidak

bekerja tak bisa memenuhi kebutuhan

keluarganya sendiri. Sementara

masyarakat pun tidak peduli dengan

keberadaan mereka.

Faktor yang kelima, diperparah

dengan merebaknya pornografi dan

pornoaksi di tengah-tengah masyarakat,

kebiasaan cangkrukan yang

10 MPA 321 / Juni 2013


Kedua, dengan melakukan kerja

sama dari berbagai pihak dengan dilandasi

niat semata-mata karena Allah

SWT. Antar kiai, guru dan yang

lainnya harus saling bekerja sama, saling

mendukung untuk mewujudkan

tujuan bersama. Dan bukan sebaliknya,

justru saling mencurigai dan

menjatuhkan. Dan itu membutuhkan

kesabaran dan kesepakatan dengan

orangtua siswa dalam mendidik anak.

Yang ketiga, di tingkat eksekutif

pemerintahan hendaknya membuat

regulasi atau aturan-aturan yang mengikat

orangtua atau siapapun ikut

bertanggung jawab terhadap moralitas

anak. “Ketika anak melakukan

perbuatan yang melanggar, maka

Drs. Marzuki Mustamar, M.Ag Nadjib Hamid, S.Sos. M.Si Prof. M. Mas’ud Said, P.hD

disertai minum-minuman keras, serta

penyalahgunaan narkoba. Yang keenam,

lingkungan yang tidak islami.

Oleh karenanya, sangat sulit untuk

membiasakan anak-anak mengenal

dan mempraktekkan kehidupan yang

islami.

Apalagi, lanjut pria kelahiran

Blitar 22 September 1966 ini, saat ini

benar-benar sulit mencari sosok pemimpin

shaleh yang bisa menjadi panutan.

“Lha bagaimana bisa memperbaiki

dan memimpin masyarakat

kalau pemimpinnya sendiri tidak bisa

dijadikan uswah,” tukasnya bernada

tanya.

Di sisi lain, tutur Ketua Tanfidziyah

PCNU Kota Malang ini, orangtua

dan guru sulit untuk mencegah

dampak negatif kemajuan dan kecanggihan

teknologi. Anak-anak begitu

bebas mengakses informasi dari

internet. Suguhan tayangan TV pun

lebih banyak mempertontokan perilaku

dan sifat antagonis, dengan tujuan

untuk merusak karakter anak

bangsa. “Pada akhirnya mereka sulit

menemukan figur teladan dalam kehidupan

sehari-hari,” ujarnya.

Pengasuk PP Sabilurrosyad Gasek

Karangbesuki Malang ini mencoba

menelorkan solusi. Pertama,

dengan ibda’ binafsik yakni memperbaiki

diri sendiri sebelum berbicara

atau menyeru kepada orang lain. Ini

bisa dimulai dari para kiai, ulama’, pejabat

dan guru sehingga muncul kewibawaannya.

orangtua ikut bertanggung jawab.

Termasuk ketika pemerintah menelantarkan

warganya, juga harus ikut bertanggung

jawab,” katanya penuh harap.

Demi menyelamatkan generasi

bangsa, tutur Nadjib Hamid, S.Sos.

M.Si, peran keluarga sangat besar

dan penting dalam penanggulangan

moralitas. Namun seberapa banyak

di antara kita yang masih teguh memelihara

keluarga. “Bacaan kita, lingkungan

kita, tontonan kita, telah demikian

mendominasi waktu anak-anak

kita. Seberapa banyak bila dibandingkan

degan waktu pertemuan dengan

orang tuanya,” paparnya. “Itu semua

tentu akan sangat mempengaruhi pola

pikir dan perilaku anak. Faktanya, teknologi

sudah demikian menyandera

kehidupan keluarga,” simpulnya.

Menurut Sekretaris Pimpinan

Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

ini, fenomena kemerosotan atau dekadensi

moral di masyarakat memang

terasa ironis. Syiar dan dakwah Islam

yang tiap pagi tayang di TV, di

setiap khutbah jum’at, di majlis-majlis

taklim, seolah sia-sia. “Semuanya lebih

terkesan pada aspek formal dan

material saja,” kritiknya.

Suami Luluk Humaidah dengan

tiga anak ini lantas menelisik; apa sih

hubungannya atau pengaruh para

sarjana lulusan agama yang begitu

banyak dengan dekadensi moral Seolah

para sarjana itu kok tidak punya

pengaruh apa-apa. Sebab menurutnya,

pendekatannya masih bersifat

materialistik. Padahal ada aspekaspek

spiritualitas yang harus dimiliki

oleh setiap orang.

Diakuinya, hal itu memang tidak

mudah dan tak setiap orang bisa mengimplementasikan.

Banyak orang

yang secara material tidak lulus sarjana,

tetapi dakwahnya lebih mudah

diterima di masyarakat. Sebaliknya,

yang secara formal dan material tercukupi

malah tidak mampu mengubah

perilaku masyarakat.

Ini merupakan pelajaran penting

bahwa tidak secara otomatis bila lulusan

sarjana agama mesti akan lebih

baik, karena itu hanya sekedar formalitas

dan materialistik. Oleh karenanya,

anggota KPU Jatim ini mengingatkan

bahwa amat penting setiap

MPA 321 / Juni 2013

11


orang, instansi, lembaga, institusi

apapun untuk dimi’rajkan agar terbangun

masyarakat yang lebih bermoral,

jauh dari perilaku korup, dan

sebagainya.

Maka yang menjadi lebih bermakna,

adalah bagaimana menjaga

dan menanamkan nilai-nilai keislaman.

Artinya, nilai-nilai islami itu jauh

lebih penting dari formalitas Islam.

“Kalau bisa ya memang harus mengemban

keduanya.. secara formal

Islam dan sekaligus islami,” imbuhnya.

Kalau merujuk pada sejarah Isra’

Mi’raj, sambung anggota FKUB dan

BAZ Jatim ini, dalam konteksnya

adalah membenahi perilaku masyarakat.

Bila itu dianggap sebagai

simbol perubahan, maka Nabi Muhammad

saja sebelum melaksanakan

tugasnya musti dimi’rajkan dulu oleh

Allah SWT. “Bisa dibayangkan, Nabi

SAW saja yang sudah mendapat

bimbingan masih harus dikuatkan

mentalnya dengan dimi’rajkan,” tandasnya.

Itu merupakan prasyarat, jika

kita ingin membenahi masyarakat

yang lebih baik maka kita harus

dimi’rajkan lebih dulu. Gampangnya,

Mi’raj itu bisa dianalogkan sebagai

‘naik kelas’. Jadi seseorang harus

melalui berbagai tahapan, ujian, jika

ingin berjuang mengubah dan memperbaiki

kehidupan masyarakat.

Sementara kita, kata pria yang

tengah menempuh S3 di IAIN jurusan

Hukum Islam ini, malah merasa sudah

cukup dengan apa yang kita miliki.

Dalam hal shalat misalnya, masih

banyak orang yang mengerjakan shalat

sebatas struktural saja; sekedar

gugur kewajiban. Padahal seharusnya,

bagaimana mewujudkan shalat

itu lebih fungsional. Shalat untuk

melawan kemungkaran. “Shalat kita

belum memberi ruh pada amaliah kita,”

tukasnya singkat.

Prof. M. Mas’ud Said, P.hD

menyodorkan telaah, bahwa dekadensi

moral sesungguhnya bukan semata

karena kurangnya ajaran agama.

Namun juga disebabkan pengajaran

agama yang tidak merasuk sebagai

sistem sosial. Ini menunjukkan praktek

keberagamaan kita tidak kontekstual.

“Kita hanya mengajarkan dogma

yang terpisah dengan proses sosial

dan proses sistem kepemerintahan,”

12 MPA 321 / Juni 2013

Munculnya dendam kesumat

dan api amarah masyaratat,

sesungguhnya juga disulut

kesumpegan dan

ketidakadilan sosial,

ditopang pula oleh

keputusasaan sosial, serta

ajaran ananiyah yang justru

dilembagakan oleh sebagian

pemimpin kelompok dan

bahkan lembaga keagamaan.

terangnya.

Munculnya dendam kesumat

dan api amarah masyaratat, tutur

Asisten Staf Khusus Presiden RI bidang

Otonomi Daerah dan Pembangunan

Daerah di Sekretariat Kabinet

ini, sesungguhnya juga disulut

kesumpegan dan ketidakadilan sosial,

ditopang pula oleh keputusasaan

sosial, serta ajaran ananiyah yang

justru dilembagakan oleh sebagian

pemimpin kelompok dan bahkan lembaga

keagamaan.

Doktor bidang Ilmu Pemerintahan

dari School of Political and International

Studies Flinders University

Australia ini pun menyodorkan fakta

lain. Bahwa modernitas juga ikut andil

paling besar dalam memecah kepribadian,

serta menyapu adat istiadat luhur

kita. “Seseorang dengan berpengetahuan

agama di tempat tertentu,

karakternya bisa berubah ketika berada

dalam situasi yang mainstream

kebudayaannya berbeda dengan asal

dimana mereka berada,” katanya mengingatkan.

Untuk mencegahnya, sambung

Ketua Yayasan Sabilillah Malang ini,

maka lembaga pendidikan agama harus

meletakkan dirinya pada aras

yang lebih tinggi. Dengan demikian

agama akan dipakai sebagai sistem

berkeluarga dan sistem sosial. Sayangnya,

agama di Indonesia belum

menjadi arus utama lingkungan pemerintahan

dan sistem sosial.

Yang tampak ironi, saat ini masjid

sudah ramai orang shalat. Pengajian

pun sudah marak dimana-mana.

Tapi anehnya, kata pria kelahiran Sidoarjo

8 Maret 1964 ini, kenapa kemunkaran

masih saja banyak terjadi.

Menurutnya, karena selama ini kita

mengajarkan agama tanpa keteladanan.

Menurut Wakil Ketua PP Lakspesdam

NU ini, shalat kita masih teraleniasi

dari kehidupan yang lebih

luas dan nyata yang terfleksi dalam

kerja, bersosial dan bernegara. Keberagamaan

kita rupanya masih berputar

pada panggung masjid, lantai

mushalla, dan di pelataran tempattempat

yang dianggap suci. “Jadi

belum berada di panggung kehidupan

secara lebih luas. Belum menjadi

arus utama kebudayaan dunia,” paparnya.

“Kita ini hanyalah konsumen

nilai. Kita belum menjadi penyebar

nilai yang baik,” kritiknya jujur.

Untuk itulah, sambung anggota

Dewan Pakar MIPI ini, perlu adanya

reformasi kegeragamaan. Termasuk

pembangunan peradaban besar Islam

yang bisa dimulai dari lembaga pendidikan

Islam. Sebab hanya sedikit

lembaga pendidikan tinggi Islam

yang memiliki reputasi intelektualime

pembaharu secara internasional.

Selama berabad-abad nilai ibadah

mahdhah telah menjadi ukuran

tunggal hingga sekarang. Jadi perlu

gerakan mentransformasi penyatuan

iman dan amal dalam bentuk keberagamaan

bil hal. “Jadi tak hanya membangun

masjid atau mushalla, tetapi

tempat pendidikan dan rumah sakit,

menolong yang lemah, menegakkan

keadilan, demokrasi, anti korupsi dan

sebagainya,” urainya.

Sebab sejak dulu, lanjut Ketua

Litbang PW NU Jawa Timur ini, pengertian

ibadah kerap dipahami dengan

pelaksanaan apa yang ada dalam

rukun Islam. Secara sosial, nilai

umat Islam yang baik itu ialah individu.

“Sing sregep shalat, bayar zakat

dengan timbangan yang benar, mampu

melaksanakan haji, serta mengaji

yang lancar dan benar,” ungkapnya.

“Nah, itulah yang membuat lokus

peradaban Islam masih hanya sekitar

Mushallah,” pungkasnya.•

Laporan: Mey.S, Dedy

Kurniawan (Surabaya), Syaifudin

Ma’arif (Malang).

More magazines by this user
Similar magazines