Selalu ada semangat dan jalan_lowres - psflibrary.org
Selalu ada semangat dan jalan_lowres - psflibrary.org
Selalu ada semangat dan jalan_lowres - psflibrary.org
Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!
Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.
SELALU<br />
ADA SEMANGAT<br />
DAN JALAN<br />
PADAT KARYA PEMULIHAN<br />
PASCA BENCANA MERAPI<br />
PNPM MANDIRI<br />
1
Penanggung jawab: Ir. Sujana Royat, DEA<br />
Koordinator : Threesia Mariana Siregar<br />
Penyusun:<br />
Suhadi Hadiwinoto<br />
Catrini Pratihari Kubontubuh<br />
Narasumber :<br />
G Sahl Wahono<br />
Retno Agustin<br />
Diah Ari Fika<br />
Rose Merry Indrasari<br />
Alief Basuki<br />
Baskara Febrianto<br />
Ilma Fadjar<br />
ISBN: 978-602-95071-9-5<br />
Diterbitkan oleh<br />
Kementerian Koordinator Bi<strong>dan</strong>g Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia<br />
<strong>dan</strong> PNPM Support Facility (PSF)<br />
Copyright 2011 Kemenko Kesra<br />
All right reserved<br />
Hak cipta dilindungi oleh un<strong>dan</strong>g-un<strong>dan</strong>g<br />
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian<br />
atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit<br />
Kantor Kementerian Koordinator Bi<strong>dan</strong>g Kesejahteraan Rakyat<br />
Jalan Me<strong>dan</strong> Merdeka Barat no. 3<br />
Jakarta, Indonesia<br />
www.menkokesra.go.id<br />
2
DAFTAR ISI<br />
6<br />
9<br />
17<br />
23<br />
37<br />
103<br />
111<br />
120<br />
121<br />
Sambutan Menko Bi<strong>dan</strong>g Kesejahteraan Rakyat<br />
Pengantar Ketua TPKEM<br />
Ketika Merapi Murka<br />
Tenda Pengungsian, Hunian Sementara, Hunian Tetap<br />
P<strong>ada</strong>t Karya<br />
Penutupan TPKEM<br />
Melangkah ke Depan<br />
Kontributor Foto<br />
Daftar Pustaka<br />
4
MENTERI KOORDINATOR<br />
BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT<br />
REPUBLIK INDONESIA<br />
SAMBUTAN<br />
Assalamu’alaikum wr.wb<br />
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha<br />
Esa atas berkah <strong>dan</strong> rahmatnya, Tim Pemulihan Kegiatan Ekonomi<br />
Masyarakat dapat menyelesaikan tugas <strong>dan</strong> tanggung jawabnya dalam<br />
melaksanakan kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya dengan mekanisme PNPM<br />
Mandiri di daerah erupsi gunung Merapi, yaitu Kabupaten Magelang,<br />
Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sleman <strong>dan</strong> Kota<br />
Yogyakarta.<br />
Sebagaimana diketahui, Gunung Merapi merupakan gunung api<br />
teraktif di dunia. P<strong>ada</strong> tanggal 20 September 2010 status Gunung<br />
Merapi berubah dari Normal ke Wasp<strong>ada</strong>. P<strong>ada</strong> tanggal 21 Oktober,<br />
terjadi perubahan status dari Wasp<strong>ada</strong> ke Siaga, <strong>dan</strong> p<strong>ada</strong> tanggal<br />
25 Oktober 2010 pukul 06.00 status Siaga menjadi Awas. Menyikapi<br />
ke<strong>ada</strong>an tersebut, Bapak Wakil Presiden memberikan arahan bahwa<br />
salah satu kebijakan yang mendesak <strong>ada</strong>lah penyediaan pendapatan<br />
bagi masyarakat miskin yang menjadi korban <strong>dan</strong> kehilangan<br />
pekerjaan. Kementerian Koordinator Bi<strong>dan</strong>g Kesejahteraan Rakyat<br />
diberikan mandat untuk melaksanakan arahan tersebut. Oleh karena<br />
itu perlu dilakukan upaya segera untuk merancang program bagi<br />
kelompok tersebut. Program PNPM Mandiri dipan<strong>dan</strong>g telah memiliki<br />
6
mekanisme yang tepat untuk merespon kebijakan tersebut, dengan<br />
dibantu oleh PNPM Support Facility (PSF) yang telah berkomitmen<br />
untuk menyalurkan hibah dari negara donor dengan mengalokasikan<br />
<strong>dan</strong>a bagi program PNPM Mandiri.<br />
Kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya ini merupakan bentuk kegiatan untuk<br />
memastikan proses transisi dari tanggap darurat ke tahap rehabilitasi<br />
<strong>dan</strong> rekonstruksi supaya dapat ber<strong>jalan</strong> berkesinambungan. Kegiatan<br />
p<strong>ada</strong>t karya ini telah memampukan masyarakat untuk memiliki<br />
pendapatan dari kerja yang bermartabat. Program ini memiliki makna<br />
dalam mendukung kebangkitan pemulihan kehidupan masyarakat<br />
terdampak bencana Merapi.<br />
Melalui buku “SELALU ADA SEMANGAT DAN JALAN: P<strong>ada</strong>t<br />
Karya Pemulihan Pasca Bencana Merapi – PNPM Mandiri”, kita dapat<br />
melihat optimisme para warga masyarakat korban erupsi gunung<br />
Merapi dalam menatap ke depan, tidak larut dalam kesedihan <strong>dan</strong><br />
selalu bersyukur atas ke<strong>ada</strong>an yang terjadi. Itulah prinsip-prinsip yang<br />
dapat kita contoh bersama. Harapan kami, semoga apa yang disajikan<br />
dalam buku ini, dapat menjadi lecutan <strong>semangat</strong> untuk kita semua<br />
dalam upaya perbaikan <strong>dan</strong> peningkatan kesejahteraan masyarakat.<br />
Wassalamu’alaikum wr.wb,<br />
Menteri Koordinator Bi<strong>dan</strong>g Kesejahteraan Rakyat<br />
AGUNG LAKSONO<br />
7
PENGANTAR<br />
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb,<br />
Salam Sejahtera bagi kita semua,<br />
Puji syukur kita panjatkan ke Hadirat Allah SWT atas terbitnya buku<br />
“SELALU ADA SEMANGAT DAN JALAN: P<strong>ada</strong>t Karya Pemulihan<br />
Pasca Bencana Merapi – PNPM Mandiri” ini. Buku ini menceritakan<br />
pengalaman masyarakat yang terkena bencana <strong>dan</strong> dampak letusan<br />
Gunung Merapi di perbatasan Provinsi Jawa Tengah <strong>dan</strong> DI Yogyakarta<br />
p<strong>ada</strong> tanggal 26 Oktober 2011 serta tanggal 1, 4 <strong>dan</strong> 5 November<br />
2011, yang disusul juga oleh lahar dingin dalam jangka waktu yang<br />
lama, mampu bangkit kembali dalam waktu yang relatif singkat. Salah<br />
satu kunci dari keberhasilan masyarakat untuk bangkit dari bencana<br />
<strong>ada</strong>lah program yang mampu merespon cepat kebutuhan masyarakat<br />
pasca bencana yakni program p<strong>ada</strong>t karya pemulihan (cash for work<br />
program). Program ini merupakan program p<strong>ada</strong>t karya pertama yang<br />
diterapkan p<strong>ada</strong> penanggulangan bencana.<br />
Bencana yang ditimbulkan oleh letusan Gunung Merapi p<strong>ada</strong> tahun<br />
2010 ini sangat dahsyat. Tidak saja letusannya me-muntahkan<br />
material yang diperkirakan sekitar 410 juta meter kubik, namun juga<br />
bencana tersebut mengakibatkan bencana ikutan berupa lahar dingin<br />
yang menghantam banyak permukiman penduduk, menghancurkan<br />
berbagai prasarana / infrastruktur vital yang berdampak terganggunya<br />
roda per-ekonomian daerah bahkan nasional. Lebih dari 199 penduduk<br />
tewas akibat awan panas maupun oleh lahar dingin <strong>dan</strong> sekitar 275 ribu<br />
lebih warga mengungsi. Letusan pertama yang terjadi p<strong>ada</strong> tanggal<br />
26 Oktober 2010, kemudian disusul oleh beberapa letusan lainnya<br />
<strong>dan</strong> yang paling besar <strong>ada</strong>lah letusan p<strong>ada</strong> tanggal 5 November 2010<br />
yang memuntahkan material yang besar volumenya, <strong>dan</strong> kemudian<br />
ditambah dengan lahar dingin yang mengalirkan sekitar 20% material<br />
yang masih tertahan di Gunung Merapi melalui Kali Putih, Kali<br />
Gendol, Kali Adem <strong>dan</strong> Kali Code yang melewati Kota Yogyakarta.<br />
9
P<strong>ada</strong> akhir November 2010, dalam suatu Rapat Koordinasi<br />
Penanggulangan Bencana Merapi, Bapak Wakil Presiden menginstruksikan<br />
agar menjelang selesainya tahap tanggap darurat,<br />
<strong>dan</strong> sambil menunggu persiapan masuk ke tahap rehabilitasi <strong>dan</strong><br />
rekonstruksi, masyarakat perlu diberikan bantuan agar memiliki<br />
pendapatan. Dengan pendapatan ini maka masyarakat bisa memulai<br />
bangkit kembali mulai membangun kembali kehidupan, usaha <strong>dan</strong><br />
pekerjaannya. Kegiatan p<strong>ada</strong>t karya ini dipilih agar masyarakat<br />
memiliki pendapatan dari kerja yang bermartabat serta perlahan mulai<br />
bangkit membangun <strong>dan</strong> memulihkan kehidupan mereka. Kegiatan<br />
p<strong>ada</strong>t karya pemulihan ini p<strong>ada</strong> prinsipnya <strong>ada</strong>lah berupa perbaikan<br />
awal <strong>dan</strong> sederhana terh<strong>ada</strong>p rumah warga yang terkena bencana,<br />
prasarana <strong>dan</strong> fasilitas umum serta pembersihan lahan-lahan usaha<br />
penduduk agar prasarana <strong>dan</strong> fasilitas umum bisa berfungsi kembali<br />
meskipun belum sepenuhnya.<br />
Tanggal 3 Desember 2010, Bapak Menko Kesra menindak lanjuti<br />
arahan Bapak Wakil Presiden. P<strong>ada</strong> Rapat Koordinasi Penanggulangan<br />
Bencana Merapi di Kantor Lapangan BNPB di Yogyakarta, Bapak<br />
Menko Kesra menetapkan pembentukan Tim Pemulihan Kegiatan<br />
Ekonomi Masyarakat atau TPKEM, <strong>dan</strong> dikukuhkan dengan Surat<br />
Keputusan Menko Kesra nomor 53/KEP/MENKO/KESRA/XI/2010<br />
tanggal 20 November 2010 tentang Pembentukan Tim Pemulihan<br />
Kegiatan Ekonomi Masyarakat di Lokasi Bencana P<strong>ada</strong> Masa Transisi<br />
Darurat ke Pemulihan. Tim ini dipimpin oleh Deputi Bi<strong>dan</strong>g Koordinasi<br />
Penanggulangan Kemiskinan <strong>dan</strong> Pemberdayaan Masyarakat,<br />
Kemenko Kesra <strong>dan</strong> beranggotakan perwakilan dari kementerian/<br />
lembaga serta pemerintah provinsi DIY <strong>dan</strong> Jawa Tengah serta dari<br />
pemerintah Kabupatan/Kota terkait.<br />
Kegiatan p<strong>ada</strong>t karya ini dicanangkan p<strong>ada</strong> tanggal 15 Desember<br />
2010, dengan sehari sebelumnya yakni p<strong>ada</strong> tanggal 14 Desember<br />
2010 dilaksanakan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya khusus untuk penyelamatan<br />
tanaman salak pondoh di Srumbung, Kabupaten Magelang. Kegiatan<br />
p<strong>ada</strong>t karya ini kemudian berlanjut sepanjang tahun 2011. Kegiatan<br />
10
p<strong>ada</strong>t karya ini hanya diperuntukkan bagi warga yang terkena bencana<br />
Merapi. Warga yang merupakan kelompok sasaran program dijaring<br />
melalui proses sosialisasi, pendataan pekerja yang mendasarkan<br />
p<strong>ada</strong> keanggotaan KK <strong>dan</strong> atau KTP. Selain pelaksanaan warga juga<br />
dilibatkan dalam perencanaan <strong>dan</strong> pertanggungjawaban.<br />
Pen<strong>dan</strong>aan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan ini p<strong>ada</strong> dasarnya terdiri<br />
atas dua tahap. Tahap pertama pen<strong>dan</strong>aannya diambilkan dari Dana<br />
Tanggap Darurat yang dikelola BNPB sebesar 15 milyar rupiah. Tahap<br />
kedua ini berlangsung sampai dengan bulan Desember 2011. Kegiatan<br />
p<strong>ada</strong>t karya pemulihan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah<br />
yang besar, yakni sekitar 14.000 tenaga kerja p<strong>ada</strong> tahap pertama <strong>dan</strong><br />
sekitar 195.936 tenaga kerja p<strong>ada</strong> tahap kedua. Standar upah yang<br />
diberlakukan <strong>ada</strong>lah dari Rp.30.000,- sampai dengan Rp 70.000,-/hari/<br />
tenaga kerja tergantung dari tingkat keahlian pekerja.<br />
Untuk memantau pelaksanaan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan ini,<br />
Bapak Gubernur DIY membantu menyediakan salah satu ruangan di<br />
Kompleks Kantor Pemprov di Kepatihan, Yogyakarta untuk digunakan<br />
sebagai Kantor Sekretariat Lapangan Tim Pemulihan Kegiatan<br />
Ekonomi Masyarakat (TPKEM). Beberapa tenaga konsultan yang<br />
membantu di Sekretariat ini bertugas untuk melakukan pemantauan<br />
pelaksanaan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya <strong>dan</strong> sebagai penghubung dengan<br />
pemerintah daerah terkait. Operasional kegiatan TPKEM didukung<br />
melalui pen<strong>dan</strong>aan dari PSF (PNPM Support Facility).<br />
Sebagaimana pesan dari Bapak Wakil Presiden, bahwa kegiatan<br />
p<strong>ada</strong>t karya ini harus secara bersama dilaksanakan dalam skala yang<br />
besar. Tujuannya <strong>ada</strong>lah untuk menjembatani kemungkinan <strong>ada</strong>nya<br />
kekosongan p<strong>ada</strong> masa transisi dari tahap Tanggap Darurat (Emergency<br />
Relief) ke Tahap Rehabilitasi <strong>dan</strong> Rekonstruksi (Rehabilitation &<br />
Reconstruction). Kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan ini merupakan<br />
tahap transisi dari Tahap Tanggap Darurat ke Tahap Rehabilitasi <strong>dan</strong><br />
Rekonstruksi, atau sering disebut sebagai Tahap Awal Pemulihan<br />
(Early Recovery). Kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan ini kemudian<br />
11
masuk menjadi bagian dari prosedur standar operasi penanggulangan<br />
bencana p<strong>ada</strong> tahap pemulihan awal, yaitu tahap transisi antara tahap<br />
tanggap darurat <strong>dan</strong> tahap rehabilitasi <strong>dan</strong> rekonstruksi.<br />
P<strong>ada</strong> masa transisi ini, seringkali warga yang terkena bencana harus<br />
menunggu lama proses penyiapan berbagai pembangunan kembali<br />
dikarenakan <strong>ada</strong>nya perbedaan kelembagaan yang menangani. P<strong>ada</strong><br />
tahap tanggap darurat, seluruh kegiatan dikoordinasikan oleh BNPB,<br />
kemudian p<strong>ada</strong> tahap Rehabilitasi <strong>dan</strong> Rekonstruksi, pelaksanaannya<br />
dilakukan oleh kementerian <strong>dan</strong> lembaga teknis masing-masing.<br />
Proses transisi ini yang memakan waktu <strong>dan</strong> seringkali bantuan bagi<br />
masyarakat terhenti. Dengan <strong>ada</strong>nya kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan<br />
p<strong>ada</strong> tahap pemulihan awal ini, maka masyarakat tidak perlu<br />
menderita menunggu berbagai bantuan ataupun program pemerintah<br />
terlalu lama. Karena itu, kegiatan yang harus diisikan p<strong>ada</strong> tahap<br />
pemulihan awal ini haruslah yang sifatnya dapat langsung sampai ke<br />
masyarakat, dikerjakan oleh masyarakat <strong>dan</strong> masyarakat pun dapat<br />
segera memperoleh pendapatan yang dapat digunakan untuk memulai<br />
kehidupan <strong>dan</strong> usahanya.<br />
Buku ini tidak menyampaikan informasi <strong>dan</strong> aspek-aspek teknis dari<br />
kegiatan p<strong>ada</strong>t karya ini. Sebaliknya, buku ini sarat dengan berbagai<br />
pembelajaran (lessons learnt) yang dapat dipetik dari pelaksanaan<br />
kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan. Ada nilai-nilai kemanusiaan,<br />
<strong>semangat</strong>, keberanian/courage, optimisme, bangkit kembali dari<br />
keterpurukan p<strong>ada</strong> pelaksanaan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan ini.<br />
Nilai-nilai inilah yang akan dikupas <strong>dan</strong> ditonjolkan dalam buku ini.<br />
Bagaimana seorang nenek tua usia 78 tahun dengan <strong>semangat</strong>nya<br />
ikut dalam kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan ini, meskipun ia hanya<br />
mencabuti rumput <strong>dan</strong> mengumpulkan sampah, namun dilihat dari<br />
wajahnya! Sang nenek dengan wajah sumringah sangat menikmati<br />
bekerja bersama, bergotong-royong, di tengah senda gurau dengan<br />
kelompoknya. Bisakah jenis kebahagiaan ini diukur dengan uang Roh<br />
dari buku ini justru menampilkan sisi-sisi kemanusiaan serta nilainilai<br />
kearifan <strong>dan</strong> sikap masyarakat untuk bangkit kembali menata<br />
kembali kehidupan <strong>dan</strong> kegiatan sehari-hari mereka.<br />
12
Mungkin harta benda yang dimiliki masyarakat sudah musnah<br />
dihancurkan oleh bencana, namun mereka tidak pernah kehi-langan<br />
<strong>semangat</strong> untuk memulai kembali kehidupannya. Mereka tidak pernah<br />
kehilangan mimpi-mimpi mereka untuk membangun kehidupan <strong>dan</strong><br />
masa depan yang jauh lebih baik. Kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan ini<br />
memberikan setitik <strong>jalan</strong> keluar bagi masyarakat yang terkena bencana<br />
untuk bangkit kembali, membangun mulai dari awal kehidupan mereka<br />
<strong>dan</strong> juga masa depan yang baik bagi anak-anaknya. Masyarakat ternyata<br />
mampu menyikapi bencana <strong>dan</strong> kehilangan harta ben<strong>dan</strong>ya ini dengan<br />
sangat arif. Melalui kegiatan berkelompok, mereka menentukan<br />
sendiri apa yang harus diperbaiki, <strong>dan</strong> apa yang harus mereka bangun<br />
kembali karena hal itu sangat vital untuk mendukung kehidupan<br />
mereka p<strong>ada</strong> masa-masa mendatang. Air bersih, tanggul sungai,<br />
saluran irigasi, bahkan perbaikan sederhana dari sekolah dasar anakanaknya,<br />
lahan-lahan usaha mereka <strong>dan</strong> juga perbaikan bangunan pos<br />
pelayanan kesehatan, pasar, warung, <strong>dan</strong> juga rumah-rumah mereka,<br />
merupakan sasaran dari banyak kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan yang<br />
dilaksanakan oleh masyarakat. Terdapat pembelajaran baik serta nilainilai<br />
kemanusiaanp<strong>ada</strong> pelaksanaan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan<br />
di lokasi-lokasi yang terkena bencana Merapi. Inilah yang ingin kami<br />
ungkapkan dalam buku ini agar juga menjadi cerminan bagi kita<br />
semua, bahwa di dalam keterpurukan selalu <strong>ada</strong> <strong>semangat</strong> <strong>dan</strong> selalu<br />
<strong>ada</strong> <strong>jalan</strong> untuk suatu kehidupan yang lebih baik (there is spirit and<br />
there is a way for a better life).<br />
Sebagai Ketua Tim Pemulihan Kegiatan Ekonomi Masyarakat, saya atas<br />
nama kerabat Tim ini menghaturkan terima kasih <strong>dan</strong> penghargaan<br />
yang setinggi-tingginya kep<strong>ada</strong> semua pihak, terutama kep<strong>ada</strong> Bapak<br />
Menko Kesra yang telah mempercayakan amanah yang sangat mulia ini<br />
kep<strong>ada</strong> kami semua. Rasa terima kasih kami haturkan kep<strong>ada</strong> Bapak<br />
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang dengan kebaikannya<br />
membantu <strong>dan</strong> mendukung kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan ini dengan<br />
memberikan berbagai fasilitas yang sangat bermanfaat termasuk<br />
ruangan yang diperuntukkan bagi Sekretariat Tim kami ini; kep<strong>ada</strong><br />
Kepala BNPB Bapak Dr. Syamsul Ma’arif beserta jajarannya yang<br />
13
telah membantu pelaksanaan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan tahap<br />
I. Tak lupa pula kami sampaikan terimakasih kep<strong>ada</strong> Bapak Bambang<br />
Widianto, Sekretaris Eksekutif TNP2K Percepatan Penanggulangan<br />
Kemiskinan beserta jajarannya terutama Bapak Tonno Supranoto, Bapak<br />
Sudarno, Bapak Rinaldi yang sejak awal membantu <strong>dan</strong> memperlancar<br />
tugas Tim kami ini, serta mempercepat proses pencairan pen<strong>dan</strong>aan<br />
dari berbagai sumber pen<strong>dan</strong>aan. Kami haturkan terima kasih kep<strong>ada</strong><br />
Dirjen Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum beserta jajarannya<br />
yang mengelola PNPM Perkotaan, Dirjen PMD Kementrian Dalam<br />
Negeri beserta jajarannya yang mengelola PNPM Perdesaan, Bapak Jan<br />
Weetjens, Co-Chairperson PNPM Support Facility <strong>dan</strong> juga temanteman<br />
di PSF, terutama Bapak Sentot Satria, Ibu Threesia Siregar <strong>dan</strong><br />
teman-teman lainnya yang tidak henti-hentinya <strong>dan</strong> dengan kesabaran<br />
yang luar biasa membantu mempercepat pemrosesan <strong>dan</strong> pencairan<br />
<strong>dan</strong>a hibah yang diperuntukkan agar segera dapat dimanfaatkan oleh<br />
masyarakat penerima.<br />
Kami juga mengucapkan terimakasih kep<strong>ada</strong> Para Bupati <strong>dan</strong> Walikota<br />
serta jajaran pemerintah daerah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta di<br />
Provinsi DIY <strong>dan</strong> Kabupaten Magelang, Kabupaten Klaten, Kabupatan<br />
Boyolali atas perhatian, dukungan <strong>dan</strong> bantuannya membantu<br />
Tim dalam menyelenggarakan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan di<br />
daerahnya masing-masing; kep<strong>ada</strong> para Camat, Kepala Desa, Kepala<br />
Dusun, relawan KSM, TPK, KPMD yang dengan sabar memberikan<br />
penjelasan mengenai dampak bencana kep<strong>ada</strong> Tim yang seringkali<br />
datang ke Desa maupun ke Kantor Kecamatan tidak mengenal<br />
waktu. Kami mengucapkan terimakasih kep<strong>ada</strong> para Konsultan,<br />
Koordinator Kota, Fasilitator Kabupaten, pengurus UPK <strong>dan</strong> BKM<br />
PNPM Mandiri yang sangat membantu pelaksanaan kegiatan ini <strong>dan</strong><br />
ikut mensosialisasikan serta memantau pelaksanaan kegiatan ini. Dan<br />
last but not least, kep<strong>ada</strong> Rekan-rekan di Sekretariat Pokja Pengendali<br />
PNPM Mandiri <strong>dan</strong> kep<strong>ada</strong> rekan-rekan sejawat di Kedeputian VII<br />
14
serta seluruh jajaran di Kemenko Kesra yang sangat membantu Tim<br />
kami ini dalam melaksanakan tugas, serta kep<strong>ada</strong> semua pihak yang<br />
tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah membantu <strong>dan</strong><br />
memfasilitasi pelaksanaan tugas Tim ini. Kami juga atas nama Tim<br />
memohon maaf bilamana sepanjang kami memenuhi amanah <strong>dan</strong><br />
melaksanakan tugas ini <strong>ada</strong> hal-hal yang kurang berkenan. Mohon<br />
dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.<br />
Semoga Buku ini memberikan manfaat, berkah, pencerahan <strong>dan</strong><br />
rahmah bagi siapa saja <strong>dan</strong> semoga seluruh kerja keras <strong>dan</strong> amal ib<strong>ada</strong>h<br />
kita semua senantiasa memperoleh ridho dari Allah SWT, Tuhan Yang<br />
Maha Pengasih <strong>dan</strong> lagi Maha Pemurah.<br />
Billahi taufiq wal hidayah<br />
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.,<br />
Sujana Royat<br />
Ketua Tim Pemulihan Kegiatan Ekonomi Masyarakat<br />
Pasca Bencana Merapi<br />
PNPM Mandiri<br />
15
KETIKA MERAPI MURKA<br />
17
18<br />
Gunung Merapi <strong>ada</strong>lah gunung yang paling aktif di Indonesia<br />
yang telah meletus berulang-ulang sejak ribuan tahun yang lalu.<br />
Letusan p<strong>ada</strong> bulan November 2010 <strong>ada</strong>lah yang terdahsyat sejak<br />
tahun 1870an. 275.000 orang terpaksa mengungsi. Sampai dengan 3<br />
Desember tercatat lebih dari 199 orang meninggal dunia. 45 rumah<br />
sakit <strong>dan</strong> lebih dari 100 Puskesmas serta pos darurat di berbagai<br />
desa melayani korban letusan. Ribuan orang luka-luka, banyak yang<br />
menjadi cacat. Banyak pula yang menderita stress <strong>dan</strong> trauma serta<br />
beberapa gangguan kejiwaan. Jalan, jembatan, saluran, bangunan<br />
fasilitas umum, <strong>dan</strong> rumah penduduk hancur atau rusak. Sawah,<br />
l<strong>ada</strong>ng, <strong>dan</strong> hutan rusak diterjang lahar <strong>dan</strong> awan panas. Tempat<br />
kerja rusak <strong>dan</strong> sumber penghasilan masyarakat terputus. Berbagai<br />
kesulitan bertumpuk <strong>dan</strong> menimpa warga masyarakat di sekitar<br />
Gunung Merapi
Berbagai prasarana hancur<br />
Gempa dari Merapi dirasakan sejak awal September 2011 <strong>dan</strong> terus<br />
meningkat. Tanggal 13 September asap putih membubung setinggi<br />
800 meter. 23 Oktober lahar mengalir dari puncak Merapi ke sungai<br />
Gendol. Merapi meletus 3 kali p<strong>ada</strong> tanggal 25 Oktober <strong>dan</strong> meletus<br />
lagi tanggal 29, <strong>dan</strong> 30 Oktober, 1 November <strong>dan</strong> 5 November yang<br />
merupakan letusan terbesar. Masih banyak lagi terjadi letusan-letusan<br />
besar yang kemudian menurun setelah pertengahan November <strong>dan</strong><br />
p<strong>ada</strong> tanggal 3 Desember status bahaya Merapi diturunkan ke tingkat III.<br />
Semula masih banyak warga yang tidak mau mengungsi, mereka ingin<br />
tetap tinggal di desanya meskipun bahaya jelas mengancam. Mereka<br />
tergerak untuk mengungsi setelah mendengar berita meninggalnya<br />
mbah Marijan terserang awan panas yang menerjang desanya.<br />
Sejauh mata meman<strong>dan</strong>g terlihat kerusakan akibat letusan Merapi itu.<br />
19
Jalan-<strong>jalan</strong> dip<strong>ada</strong>ti warga yang mengungsi, <strong>ada</strong> yang ber<strong>jalan</strong> kaki,<br />
<strong>ada</strong> yang menggunakan sepeda motor, <strong>ada</strong> pula yang naik truk dari<br />
Pemda <strong>dan</strong> sumbangan beberapa yayasan sosial. Ada pula yang turun<br />
menggiring ternak sapinya. Mereka hanya membawa hartanya yang<br />
terpenting. Selebihnya mereka tinggalkan di rumah. Hujan abu<br />
semakin pekat <strong>dan</strong> masih terasa hangat sewaktu menyentuh kulit.<br />
Rambut, pakaian, kendaraan, <strong>dan</strong> daun-daun semua dilapisi selaput<br />
tipis keabuan. Suara gemuruh dari gunung Merapi, <strong>dan</strong> berita-berita<br />
turunnya wedhus gembel atau awan panas membuat mereka selalu<br />
waswas.<br />
Para pengungsi bergegas mengikuti arus ribuan manusia menuju<br />
barak pengungsian. Tidak jelas apa yang akan mereka temukan di<br />
sana. Yang penting mencari tempat berteduh yang aman dari serangan<br />
lahar <strong>dan</strong> awan panas.<br />
20
Banyak juga ternak yang menjadi korban<br />
Se<strong>jalan</strong> dengan gemuruh letusan gunung, lahar <strong>dan</strong><br />
awan panas dimuntahkan dari kawahnya, manyapu<br />
semua yang dilaluinya. Awan panas oleh warga<br />
setempat disebut “wedhus gembel” yang sangat<br />
ditakuti karena kecepatannya menyergap korban.<br />
Manusia, ternak, rumah seisinya, hutan, <strong>dan</strong><br />
apapun yang dilaluinya terbakar hangus. Beberapa<br />
sungai dialiri larutan belerang yang mengepulkan<br />
uap berbau.<br />
Setelah gemuruh letusan Merapi tak terdengar, masih terlihat kepulan<br />
asap pekat membubung tinggi. Merapi masih menyimpan tenaga<br />
untuk letusan berikutnya. Sementara itu jutaan kubik lumpur <strong>dan</strong><br />
abu vulkanik masih tertimbun di puncaknya, yang sewaktu-waktu<br />
dapat meluncur turun jika di kawasan puncak turun hujan lebat yang<br />
memicu aliran lahar dingin menerjang desa-desa di bawahnya.<br />
Beberapa sungai dialiri larutan belerang panas<br />
21
TENDA PENGUNGSIAN<br />
HUNIAN SEMENTARA<br />
DAN HUNIAN TETAP<br />
23
SITUASI DI TEMPAT PENGUNGSIAN<br />
Setelah melalui per<strong>jalan</strong>an panjang<br />
yang melelahkan, para pengungsi<br />
tiba di lokasi penampungan dalam<br />
ke<strong>ada</strong>an lelah, bingung, sedih, risau,<br />
tidak tahu bagaimana nasib mereka<br />
selanjutnya. Yang penting mereka<br />
mendapat tempat berteduh yang<br />
aman dari ancaman lahar <strong>dan</strong> awan<br />
panas.<br />
Ada yang kebetulan bertemu <strong>dan</strong><br />
berkumpul dengan saudara atau<br />
tetangga dekat dikampungnya.<br />
Sebagian lagi tidur bersebelahan<br />
dengan kenalan baru yang datang<br />
dari kampung lain. Itu semua tidak<br />
menjadi soal, mereka ingin istirahat<br />
melepas lelah, menenangkan fikiran<br />
yang kalut. Ada yang harus mengobati<br />
luka-luka. Ada juga yang mencari<br />
anggota keluarga yang hilang, yang<br />
terpisah saat di per<strong>jalan</strong>an.<br />
24
Tenda besar menampung beberapa keluarga bersama-sama<br />
Para pengungsi yang sudah kehilangan rumah <strong>dan</strong> harta ben<strong>dan</strong>ya<br />
harus segera mendapat tempat berteduh. Mereka ditampung di tendatenda<br />
besar yang biasa dipakai oleh tentara <strong>dan</strong> pertolongan dalam<br />
ke<strong>ada</strong>an darurat. Di tenda ini berteduh banyak keluarga bersama-sama<br />
dengan fasilitas se<strong>ada</strong>nya. Tinggal bersama banyak keluarga dibawah<br />
satu atap tanpa privasi tentu saja tidak senyaman seperti di rumah<br />
sendiri.<br />
Sementara itu <strong>ada</strong> pula tenda kecil untuk masing-masing keluarga,<br />
sumbangan dari berbagai <strong>org</strong>anisasi sosial. Di sini <strong>ada</strong> sedikit privasi<br />
tetapi ruangnya sempit, tanpa ventilasi, <strong>dan</strong> terasa pengap. Ada yang<br />
terpaksa berlama-lama tinggal di tenda pengungsian, <strong>dan</strong> <strong>ada</strong> yang<br />
beruntung dapat segera pindah ke hunian sementara (Huntara)<br />
dimana masing-masing keluarga tinggal di rumah sementara yang<br />
lebih mem<strong>ada</strong>i.<br />
Umumnya keluarga pengungsi ingin kembali ke “rumah normal”<br />
dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ada yang dapat kembali ke<br />
lokasi semula, tetapi <strong>ada</strong> yang tidak dapat kembali karena lahannya<br />
termasuk dalam lokasi yang sangat rawan bencana. Mereka ini terpaksa<br />
menunggu dibangunnya hunian tetap (Huntap) yang membutuhkan<br />
waktu cukup lama untuk penyiapannya<br />
Tenda kecil masing-masing untuk satu keluarga<br />
25
26 Hunian sementara se<strong>dan</strong>g disiapkan
Hunian Sementara<br />
26<br />
27
Berbagai perusahaan <strong>dan</strong> yayasan sosial bergotong-royong<br />
menyumbang untuk pembangunan hunian sementara. Sumbangan<br />
mereka sangat membantu untuk mempercepat normalisasi kehidupan<br />
keluarga pengungsi, agar tidak lagi harus tinggal di tenda pengungsian<br />
secara masal. Meskipun sangat sederhana, berdinding bilik bambu<br />
<strong>dan</strong> beratap asbes tetapi kamar-kamarnya sudah mem<strong>ada</strong>i untuk<br />
kehidupan keluarga. Hunian sementara juga di lengkapi dengan<br />
fasilitas lingkungan seperti Balai Dusun, PAUD, mushola, penghijauan<br />
<strong>dan</strong> sebagainya.<br />
Hunian sementara Gon<strong>dan</strong>g Tiga<br />
28
Hunian Sementara Gon<strong>dan</strong>g Tiga<br />
Musholla<br />
29
Suasana hunian sementara di Jumoyo<br />
Hunian sementara di Jumoyo dibangun tidak jauh dari rumah mereka<br />
yang lama di tepi Kali Putih yang tersapu oleh lahar dingin. Hunian<br />
sementara ini dilengkapi dengan ruang terbuka hijau, tempat bermain<br />
anak <strong>dan</strong> pelatihan pengolahan sampah ramah lingkungan.<br />
permukiman lama di Jumoyo yang tertimbun pasir lahar dingin<br />
30
Hunian Sementara tipe lain yang dikembangkan oleh Tim UGM<br />
31
32<br />
Beberapa alternatif hunian sementara digagas para arsitek
Beberapa keluarga sudah mulai berangsur-angsur membersihkan <strong>dan</strong><br />
memperbaiki rumah lama mereka yang rusak di lokasi yang lama.<br />
Tetapi penetapan rencana tata ruang tentang daerah mana yang aman<br />
serta daerah mana yang rawan bencana <strong>dan</strong> tidak boleh dibangun<br />
masih diproses. Penetapan ini membutuhkan kesepakatan dari<br />
berbagai lembaga terkait <strong>dan</strong> mengandung masalah sosial yang pelik.<br />
33
Meskipun kelengkapan hunian sementara cukup mem<strong>ada</strong>i, tetapi<br />
tentunya tidak sama dengan tinggal di hunian tetap milik sendiri<br />
yang sudah permanen <strong>dan</strong> jelas statusnya. Di beberapa lokasi telah<br />
disiapkan lahan untuk hunian tetap seperti terlihat di desa Kepuharjo,<br />
Kabupaten Sleman.<br />
Beberapa keluarga telah membangun hunian tetap mandiri, yaitu<br />
rumah yang dibangun diatas tanah sendiri. Mereka membangun secara<br />
bertahap dengan bantuan pemerintah atau yayasan sosial. Mereka juga<br />
menggunakan bahan bangunan sisa dari rumah mereka yang rusak.<br />
Warga yang mempunyai lahan di kawasan yang aman dapat relatif<br />
cepat kembali <strong>dan</strong> membangun rumahnya. Ada bantuan dari berbagai<br />
pihak. Tersedia juga bantuan bimbingan teknis lama karena masalah<br />
tanah <strong>dan</strong> posisi lahannya yang rawan bencana.<br />
Lahan untuk hunian tetap yang disiapkan di desa Kepuharjo<br />
34
Hunian Tetap Mandiri yang dibangun diatas tanah milik sendiri dapat lebih cepat digarap.<br />
32<br />
35
PADAT KARYA<br />
untuk pemulihan kegiatan ekonomi masyarakat<br />
37
Setelah Merapi tenang kembali, roda ekonomi tidak segera kembali berputar<br />
Proses formal untuk pemulihan kehidupan <strong>dan</strong> rehabilitasi desa<br />
membutuhkan waktu yang cukup lama, sementara para pengungsi<br />
bingung termanggu-manggu memikirkan apa yang harus diperbuat<br />
karena keti<strong>ada</strong>an <strong>dan</strong>a <strong>dan</strong> belum jelasnya status kerawanan lahan.<br />
P<strong>ada</strong> umumnya pengungsi ingin segera kembali ke lokasi asalnya,<br />
tetapi beberapa hal perlu disiapkan lebih dahulu.<br />
Berbagai kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi <strong>dan</strong> tentunya<br />
mereka tidak dapat sepenuhnya menggantungkan diri p<strong>ada</strong> tim<br />
penanggulangan bencana. Jelas mereka memerlukan pendapatan yang<br />
meskipun kecil <strong>dan</strong> darurat tetapi sungguh merupakan kebutuhan<br />
mutlak. Mereka tidak dapat segera kembali p<strong>ada</strong> pekerjaannya semula<br />
karena l<strong>ada</strong>ngnya tertimbun lahar, irigasinya rusak, ternaknya habis,<br />
<strong>dan</strong> peralatannya juga rusak semua.<br />
Mereka harus segera terlepas dari renungan kelabu, kesedihan,<br />
kebingungan <strong>dan</strong> keputusasaan. Mereka harus segera punya kegiatan<br />
<strong>dan</strong> harapan. Mereka harus segera mempunyai sesuatu, mempunyai<br />
kegiatan, mempunyai kehidupan normal sebagai keluarga <strong>dan</strong> warga<br />
masyarakat. Paling tidak suatu pekerjaan darurat harus segera<br />
diselenggarakan. Dalam situasi demikian sangat diperlukan suatu<br />
pekerjaan sederhana, yang dapat dikerjakan oleh semua orang tanpa<br />
memerlukan pendidikan <strong>dan</strong> keterampilan canggih, tanpa proses<br />
administrasi yang panjang.<br />
38
Tua muda antusias mengikuti p<strong>ada</strong>t karya<br />
Dengan bekerja mereka merasa berguna, produktif, <strong>dan</strong> percaya diri.<br />
Dengan bekerja mereka lebih merasakan eksistensinya, berperan di<br />
masyarakatnya, membangun <strong>dan</strong> memperbaiki lingkungan kehidupan<br />
bersama. Dalam keterbatasan mereka merasa mulai mampu menafkahi<br />
keluarganya, sementara sawah l<strong>ada</strong>ng <strong>dan</strong> pekerjaannya semula masih<br />
belum dapat digarap. Yang penting mesin kehidupan <strong>dan</strong> penghidupan<br />
ber<strong>jalan</strong> terus, tidak dibiarkan berhenti <strong>dan</strong> mogok berkarat.<br />
Dalam skema ini dikembangkan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya untuk<br />
menanggulangi kesulitan yang dih<strong>ada</strong>pi warga setempat seperti<br />
memperbaiki <strong>jalan</strong> yang rusak atau penuh dengan batu <strong>dan</strong> pasir<br />
semburan dari letusan gunung. Irigasi <strong>dan</strong> saluran drainase harus<br />
segera dibersihkan <strong>dan</strong> difungsikan kembali. Sawah l<strong>ada</strong>ng perlu<br />
dipulihkan. Banyak pekerjaan sederhana yang dapat dikerjakan oleh<br />
warga untuk memulihkan kehidupan masyarakat. Pekerjaan ini dapat<br />
digarap oleh semua warga tua-muda, pria-wanita p<strong>ada</strong> usia produktif.<br />
Setiap keluarga dapat mengirim wakilnya untuk turut ber-partisipasi.<br />
Itu merupakan hak, bukan paksaan.<br />
Laki-laki <strong>dan</strong> perempuan ber<strong>semangat</strong> membangun desanya<br />
39
Sukacita menerima hasil jerih payah<br />
Tua muda menyambut p<strong>ada</strong>t karya ini dengan antusias. Dalam masa<br />
serba sulit ini mereka bisa bekerja <strong>dan</strong> mendapat penghasilan. Ini benarbenar<br />
merupakan berkah pelepas dahaga. Yang menggembirakan<br />
<strong>ada</strong>lah prosesnya sederhana, tidak berbelit-belit, transparan, <strong>dan</strong><br />
semua warga turut mengawasi agar tidak terjadi penyimpangan.<br />
Biasanya di desa-desa kegiatan berlangsung 5 sampai 10 hari.<br />
Terasa sekali kegembiraan warga saat menerima upah setelah<br />
mengikuti gerakan P<strong>ada</strong>t Karya. Ini dapat dipahami karena waktu itu<br />
uang memang sangat langka <strong>dan</strong> pekerjaan lain hampir tidak <strong>ada</strong>. Ibu<br />
Parjinah (35) warga desa Tlogolele Selo yang ikut p<strong>ada</strong>t karya karena<br />
menggantikan suaminya, menyatakan bahwa pembayaran upah tidak<br />
<strong>ada</strong> potongan dari pihak manapun. “Saya ikut 8 hari mendapatkan Rp.<br />
240.000 karena seharinya dibayar Rp.30.000 sesuai pengumuman Pak<br />
RT dulu”.<br />
Setelah proses kegiatan <strong>dan</strong> pembayaran upah p<strong>ada</strong>t karya selesai,<br />
TPKD melakukan Musyawarah Desa Serah Terima Pelakasnaan P<strong>ada</strong>t<br />
Karya kep<strong>ada</strong> kepala desa disertai dengan pertang-gungjawabannya<br />
di h<strong>ada</strong>pan para warga <strong>dan</strong> tokoh masyarakat desa. Dibahas tingkat<br />
partisipasi <strong>dan</strong> peran warga untuk masukan bagi desa <strong>dan</strong> TPKD.<br />
Kegembiraan bersama setelah bekerja keras<br />
40
Pak Slamet (43), Ibu Tukinah (52) <strong>dan</strong> Pak Suwarto (49) dari desa<br />
Pusporenggo, kecamatan Musuk mengatakan bahwa mereka telah<br />
ikut “GERAKAN”, maksudnya P<strong>ada</strong>t Karya ini. Setiap kali bekerja<br />
peserta diambil foto <strong>dan</strong> cap jempolnya, ini akan dipakai untuk<br />
pertanggungjawaban p<strong>ada</strong> waktu penerimaan uang. Ini merupakan<br />
cara yang praktis <strong>dan</strong> akurat untuk mencegah berbagai penyimpangan.<br />
Transparansi <strong>dan</strong> kelancaran prosesnya sangat dipuji warga. Tidak<br />
mungkin <strong>ada</strong> penyimpangan karena warga turut mencer-matinya.<br />
Ini <strong>ada</strong>lah berkat kesungguhan <strong>dan</strong> konsistensi seluruh warga dalam<br />
men<strong>jalan</strong>kan berbagai kegiatan bersama di desanya. Semangat guyub<br />
<strong>dan</strong> kegotongroyongan memang sudah lama dipupuk <strong>dan</strong> dibina<br />
bersama antara pamong <strong>dan</strong> seluruh warganya. Dengan berbekal<br />
persatuan <strong>dan</strong> kesatuan ini, berbagai masalah yang lalu dapat diatasi,<br />
demikian pula diharapkan kedepannya.<br />
Kegiatan p<strong>ada</strong>t karya membawa suasana segar. Disamping memperbaiki<br />
lingkungannya mereka berkumpul bersama bersilaturahmi, ngobrol,<br />
menyisihkan sejenak duka erupsi Merapi. Suasana gotong royong<br />
ini sangat positif disamping hasil fisik berupa perbaikan desanya.<br />
Kebersamaan ini membangun <strong>semangat</strong> <strong>dan</strong> keyakinan memecahkan<br />
masalah bersama, sesuatu yang tak dapat diukur dengan uang.<br />
Membubuhkan cap jempol sebagai tanda terima<br />
41
42<br />
Karena daerah ini <strong>ada</strong>lah daerah pertanian maka dapat dipahami bahwa<br />
kegiatan p<strong>ada</strong>t karya banyak berkisar p<strong>ada</strong> usaha pertanian seperti<br />
pembersihan lahan, perbaikan saluran irigasi, atau menyingkirkan<br />
batu-batu besar yang akibat erupsi telah menggelinding masuk ke<br />
sawah, irigasi, atau <strong>jalan</strong> desa.
Kegiatan Normalisasi saluran di Demakijo, Karangnongko, Klaten<br />
43
44<br />
Rehabilitasi saluran yang merupakan kebutuhan vital petani
Pemulihan kebun salak di desa Srumbung<br />
45<br />
41
PERAN PEMDES SARIHARJO DALAM KEGIATAN PADAT KARYA<br />
Sariharjo terletak 19 Km dari puncak Merapi <strong>dan</strong> terkena dampak<br />
langsung Merapi. Masyarakat pedukuhan yang mendiami utara desa<br />
sempat diungsikan p<strong>ada</strong> saat merapi meletus. P<strong>ada</strong> sisi lain balai<br />
desa Sariharjo juga dijadikan daerah pengungsian. Sebagai wilayah<br />
yang dilalui sungai Boyong yang berhulu di Merapi, Sariharjo rawan<br />
terkena bencana banjir lahar dingin. Terdapat 10 pedukuhan yaitu<br />
padukuhan : Rejon<strong>dan</strong>i 1, Rejon<strong>dan</strong>i 2, Ngetiran, Tegalrejo, Wonorejo,<br />
Tawangkerto, Karangmloko, Mudal, Sumberan <strong>dan</strong> Tegalsari. Lahar<br />
dingin di Sariharjo mengakibatkan lima rumah hanyut, longsor di<br />
beberapa kawasan, <strong>dan</strong> saluran irigasi yang tertutup luapan banjir<br />
sungai Boyong.<br />
BKM berupaya meringankan beban penderitaan masyarakat yang<br />
terkena bencana. Dicari informasi tentang p<strong>ada</strong>t karya yang kemudian<br />
digunakan untuk mengajukan proposal BKM. Peran pemdes Sariharjo<br />
dalam kegiatan p<strong>ada</strong>t karya terlihat dari awal. Dimulai dari kesigapan<br />
penyajian data awal <strong>dan</strong> fasilitasi p<strong>ada</strong> masyarakat dalam penentuan<br />
lokasi <strong>dan</strong> pekerja agar tidak timbul konflik. Pemdes <strong>dan</strong> BKM dapat<br />
bekerjasama dengan baik menyusun proposal pengajuan p<strong>ada</strong>t karya<br />
walaupun harus tersaji dalam waktu yang sangat singkat.<br />
Pekerjaan p<strong>ada</strong>t karya bukanlah program yang mudah untuk<br />
dikerjakan p<strong>ada</strong> awalnya. Berbagai perubahan kebijakan menjadikan<br />
masyarakat setengah frustasi <strong>dan</strong> hampir menolak program p<strong>ada</strong>t<br />
karya. Ada sebuah tel<strong>ada</strong>n yang di tampilkan oleh pemdes selaku<br />
pembin a kegiatan PNPM di tingkat desa. Berbagai perubahan<br />
kebijakan yang disampaikan BKM ditanggapi dengan bijaksana untuk<br />
kemudian diteruskan dengan mengajak koordinasi bersama berbagai<br />
pihak yang terlibat diantaranya dukuh <strong>dan</strong> tokoh masyarakat untuk<br />
kemudian diteruskan p<strong>ada</strong> masyarakat calon peserta p<strong>ada</strong>t karya.<br />
46
Dana p<strong>ada</strong>t karya akhirnya turun p<strong>ada</strong> bulan April sebesar Rp<br />
129.600.000,- yang terdiri dari biaya operasional Rp 3.500.000,- <strong>dan</strong><br />
<strong>dan</strong>a pelaksanaan sebesar Rp 126.100.000,-. Dana tersebut dicairkan<br />
melalui tiga termin yaitu termin 1 sebesar 30%, termin 2 sebesar 50%<br />
<strong>dan</strong> termin 3 sebesar 20%. Rencana perbaikan semula sepanjang 20.000<br />
m, dilaksanakan sepanjang 24.500 m dengan jangka waktu 27 hari.<br />
Penyerapan tenaga kerja 192 orang tenaga unskill dengan upah selama<br />
6 jam Rp 30.000,- mandor 3 orang dengan upah 6 jam Rp 70.000,- <strong>dan</strong><br />
semi skill 1 orang dengan upah selama 6 jam Rp 30.000,-. Peserta p<strong>ada</strong>t<br />
karya terdiri dari tenaga laki-laki 135 orang <strong>dan</strong> perempuan 57orang,<br />
dengan dikoordinasikan oleh POKJA yang terdiri atas relawanrelawan<br />
Desa Sariharjo. Pelaksanaan program p<strong>ada</strong>t karya terfokus<br />
p<strong>ada</strong> tiga titik diantaranya, Rejon<strong>dan</strong>i yang terletak di pinggiran kali<br />
Boyong yang mendapat dampak erupsi Merapi terbesar, Karangmloko<br />
<strong>dan</strong> Mudal. Pemdes bersama dengan BKM <strong>dan</strong> Pokja melakukan<br />
monitoring bersama.<br />
Pelaksanaan P<strong>ada</strong>t Karya di Desa Sariharjo mengikuti prinsip-prinsip<br />
pengelolaan p<strong>ada</strong>t karya diantaranya :<br />
1. Partisipatif, dimana dalam setiap tahapan proses perencanaan,<br />
pelaksanaan <strong>dan</strong> pertanggungjawaban pemulihan pasca bencana<br />
selalu melibatkan masyarakat sebagai pelaku sekaligus penerima<br />
manfaat.<br />
2. Transparan <strong>dan</strong> akuntabel, dimana dalam setiap langkah kegiatan<br />
pemulihan pasca bencana dilakukan secara terbuka <strong>dan</strong> dapat<br />
dipertanggung-jawabkan hasil-hasilya kep<strong>ada</strong> masyarakat.<br />
3. Sederhana <strong>dan</strong> mudah dikerjakan, artinya pelaksanaan proses<br />
kegiatan diupayakan semudah mungkin <strong>dan</strong> sistematis serta dapat<br />
dilakukan masyarakat dengan tetap mengacu p<strong>ada</strong> tujuan <strong>dan</strong><br />
ketentuan dasar pelaksanaan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya.<br />
4. Berkualitas secara layak, agar pelaksanaan p<strong>ada</strong>t karya tetap<br />
mengacu p<strong>ada</strong> standar kualitas pekerjaan, tidak asal mengerjakan<br />
p<strong>ada</strong>t karya.<br />
47
MERDIKOREJO HEBAT<br />
Desa Merdikorejo terrmasuk salah satu desa yang<br />
memperoleh program p<strong>ada</strong>t karya fase kedua, Desa<br />
tersebut hanya berjarak 11-18 KM dari Gunung<br />
Merapi. Desa Merdikorejo <strong>ada</strong>lah desa yang terkenal<br />
dengan hasil salak pondohnya. Akibat erupsi Merapi<br />
pertanian salak pondoh mengalami kegagalan panen<br />
<strong>dan</strong> juga terancam kekeringan karena banyaknya<br />
saluran irigasi yang tertimbun endapan abu erupsi<br />
Merapi.<br />
Berhubung sebagian besar masyarakat Desa<br />
Merdikorejo menggantungkan hidupnya dari<br />
pertanian salak pondok, maka untuk meringankan<br />
beban masyarakat BKM Manunggal melalui program<br />
p<strong>ada</strong>t karya melaksanakan kegiatan program p<strong>ada</strong>t<br />
karya pembersihan saluran irigasi.<br />
Dengan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya tersebut diharapkan<br />
p<strong>ada</strong> musim kemarau yang akan datang tidak terjadi<br />
kekeringan <strong>dan</strong> masyarakat akan mudah untuk<br />
mengaliri tanaman salak pondohnya, sehingga<br />
kerusakan <strong>dan</strong> kehancuran yang mengakibatkan<br />
kerugian <strong>dan</strong> kesengsaraan yang besar bagi seluruh<br />
masyarakat dapat dihindari. Semoga masyarakat<br />
Desa Merdikorejo lebih cepat bangkit <strong>dan</strong> bisa<br />
membuktikan bahwa masyarakat Desa Merdikorejo<br />
Memang Hebat !<br />
Pekerjaan p<strong>ada</strong>t karya melibatkan seluruh masyarakat<br />
miskin <strong>dan</strong> warga yang kehilangan mata pencaharian<br />
48
pasca erupsi. Keterlibatan pekerja bukan hanya lakilaki<br />
namun juga perempuan, tua <strong>dan</strong> muda ikut<br />
berpartisipasi Program p<strong>ada</strong>t karya ini bagai air di<br />
p<strong>ada</strong>ng gurun yang sangat dibutuhkan oleh seluruh<br />
masyarakat.<br />
Pelaksanaan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya ini dilaksanakan<br />
dalam tiga termin, <strong>dan</strong> dalam tiap termin dilaksanakan<br />
selama 6 hari kerja, termin pertama dimulai tanggal 4<br />
– 9 April 2011 dengan melibatkan 11 pedukuhan ,<br />
dengan total <strong>dan</strong>a Rp 38.925.000,- se<strong>dan</strong>gkan tahap<br />
kedua dimulai 2-7 Mei 2011 dengan melibatkan 17<br />
padukuhan, dengan total <strong>dan</strong>a Rp 64.875.000,-.<br />
Tahap ketiga dengan melibatkan 6 padukuhan dengan<br />
total <strong>dan</strong>a Rp 25.950.000.- Total <strong>dan</strong>a yang digunakan<br />
untuk kegiatan program p<strong>ada</strong>t karya ini <strong>ada</strong>lah<br />
sebesar Rp 129.750.000,- dengan kategori yang telah<br />
ditentukan oleh Program PNPM p<strong>ada</strong>t.<br />
Dengan <strong>dan</strong>a tersebut p<strong>ada</strong>t karya di Merdikorejo<br />
melibatkan tenaga kerja sejumlah 280 orang p<strong>ada</strong><br />
termin pertama, 337 orang p<strong>ada</strong> termin kedua,<strong>dan</strong><br />
136 orang p<strong>ada</strong> termin ke tiga. Setelah p<strong>ada</strong>t karya,<br />
saluran irigasi sudah bersih <strong>dan</strong> dapat mengalir dengan<br />
lancar, walaupun masih <strong>ada</strong> catatan bagi desa, bahwa<br />
padukuhan yang mungkin masih akan dilewati lahar<br />
dingin, berpotensi mengalami kerusakan kembali.<br />
Namun hal tersebut di luar kuasa masyarakat, karena<br />
entah kapan bencana beruntun ini akan selesai,<br />
sementara itu masyarakat harus tetap men<strong>jalan</strong>i<br />
kehidupan sosial <strong>dan</strong> ekonominya sehari-hari,<br />
menjawab berbagai kebutuhan <strong>dan</strong> tantangannya.<br />
49
PERAN POKJA MENSUKSESKAN PROGRAM PADAT KARYA.<br />
Di desa Bangunkerto, Kecamatan<br />
Turi abu vulkanik menyelimuti<br />
prasarana irigasi yang mengakibatkan<br />
penyumbatan saluran air, yang<br />
membawa masalah serius bagi<br />
penduduk yang bermata pencaharian<br />
sebagai petani salak. Disamping<br />
itu abu vulkanik yang menyelimuti<br />
lahan <strong>dan</strong> pohon salak mengancam<br />
terjadinya gagal panen. Pemerintah<br />
Pusat bekerja sama dengan Pemerintah<br />
Daerah Sleman meluncurkan Program<br />
P<strong>ada</strong>t Karya bagi pemulihan kondisi<br />
ekonomi <strong>dan</strong> kondisi lingkungan bagi<br />
daerah yang terimbas dampak erupsi<br />
Merapi.<br />
Disamping memberi kesempatan kerja bagi penduduk miskin, p<strong>ada</strong>t<br />
karya juga membawa manfaat memperkuat <strong>semangat</strong> gotong royong,<br />
membawa suasana guyub <strong>dan</strong> cerah dalam kesuraman dampak<br />
Merapi. Program p<strong>ada</strong>t karya di Bangunkerto dilaksanakan mulai 27<br />
April 2011 , dengan alokasi <strong>dan</strong>a Rp 125.180.000,- dengan perincian<br />
untuk upah tenaga kerja Rp.121.680.000,- <strong>dan</strong> Rp.3.500.000,- untuk<br />
biaya oprasional projek. Pencairan <strong>dan</strong>a melalui 3 termin yaitu 30%,<br />
50% <strong>dan</strong> 20%. Yang telah dicairkan Tahap Pertama Rp. 37.554.000,-<br />
diperuntukan bagi 3 pedukuhan yaitu Karangwuni, Bangunharjo,<br />
Jurugan, dengan masing-masing dusun menyerap 26 orang KK miskin.<br />
Tahap II <strong>dan</strong>a P<strong>ada</strong>t Karya diperuntukan bagi dusun Ngentak,<br />
Kelor, Rejodadi, Wonosari, Gadung, Kawe<strong>dan</strong>, dengan alokasi <strong>dan</strong>a<br />
Rp.62.590.000,- yang direncanakan p<strong>ada</strong> hari Rabu tanggal 8 Juni 2011<br />
selesai. Tahap 3 dimulai 2 Juni 2011 - 16 juni 2011 dengan alokasi<br />
50
<strong>dan</strong>a Rp.25.036.000,- yaitu diperuntukan bagi pedukuhan Ganggong,<br />
Bangunsari <strong>dan</strong> Kendal. Program ini bisa ber<strong>jalan</strong> secara baik dengan<br />
peran aktif dari POKJA, Kelompok Kerja, yang berperan sebagai panitia<br />
dalam pelaksanaan program p<strong>ada</strong>t karya. Kegiatan Pembersihan<br />
saluran irigasi di 12 dusun direncanakan mencapai 50.000,- meter,<br />
<strong>dan</strong> masih <strong>ada</strong> 30.000 meter yang masih memerlukan pembersihan<br />
saluran irigasi.<br />
Pokja merupakan panitia pelaksana kegiatan p<strong>ada</strong>t karya di tingkat<br />
desa yang beranggotakan dari unsur UPL, UPK, Seretariat <strong>dan</strong> angota<br />
LKM. Pokja juga merupakan motor penggerak untuk kegiatan p<strong>ada</strong>t<br />
karya. Keberhasilan program p<strong>ada</strong>t karya di desa Bangunrejo terutama<br />
berkat dukungan Pokja yang sangat aktif dalam proses sosialisasi <strong>dan</strong><br />
pendampingannya.<br />
Kegiatan yang telah dilakukan Pokja Mekar untuk mensukseskan<br />
program p<strong>ada</strong>t karya meliputi:<br />
1. Melakukan sosialisasi kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya kep<strong>ada</strong> masyarakat<br />
2. Melakukan Koordinasi dengan Pemerintah Desa, dukuh untuk<br />
menentukan lokasi pelaksanaan program p<strong>ada</strong>t karya.<br />
3. Penyusunan Proposal Program P<strong>ada</strong>t Karya<br />
4. Melakukan verifikasi calon tenaga kerja<br />
bersama dukuh <strong>dan</strong> Pemerintah<br />
Desa yaitu diprioritaskan untuk<br />
warga miskin.<br />
5. Melakukan monitoring, pengawasan<br />
kegiatan p<strong>ada</strong>t karya yang berwujud<br />
pembersihan saluran air di 12<br />
pedukuhan.<br />
6. Melakukan pembayaran upah tenaga<br />
kerja p<strong>ada</strong> hari keenam <strong>dan</strong> ketujuh<br />
p<strong>ada</strong> masa kerja.<br />
7. Melakukan pengadministrasian <strong>dan</strong><br />
pembuatan laporan pertanggungjawaban<br />
pelaksanaan program P<strong>ada</strong>t<br />
Karya.<br />
51
SLEMAN BANGKIT BERSAMA PADAT KARYA<br />
“SLEMAN BANGKIT” kata-kata itu bukan hanya<br />
slogan semata yang banyak kita jumpai di pinggir<br />
<strong>jalan</strong> <strong>dan</strong> media cetak. Kata-kata itu mengandung<br />
pengaruh magis bagi masyarakat Sleman.<br />
Slogan tersebut menjadi spirit kebangkitan dari<br />
keterpurukan.<br />
Banyak masalah yang harus diselesaikan pasca<br />
erupsi, salah satunya perbaikan infrastruktur <strong>dan</strong><br />
pembersihan yang tak pernah habisnya. Karena<br />
ternyata “habis gelap terbitlah terang” tidak<br />
berlaku bagi erupsi merapi, yang <strong>ada</strong> <strong>ada</strong>lah habis<br />
erupsi terbitlah lahar dingin disusul kerusakan<br />
infrastruktur, <strong>dan</strong> menyusul kesengsaraan bagi<br />
warga yang tinggal di bantaran sungai.<br />
Sleman Bangkit, bersama bergandeng tangan, <strong>semangat</strong> <strong>dan</strong><br />
menggalang kesetiakawanan, bahwa bangkit harus bersama-sama,<br />
karena permasalahan yang <strong>ada</strong> akan terasa lebih ringan bila kita saling<br />
bahu-membahu dalam penyelesaiannya.<br />
PNPM salah satu program yang<br />
membawa kegiatan p<strong>ada</strong>t karya,<br />
melakukan launching p<strong>ada</strong> Februari<br />
2011 untuk sebelas desa pertama,<br />
yang terkena dampak langsung erupsi<br />
Merapi, tentunya setelah itu menyusul<br />
desa-desa yang terkena dampak tidak<br />
langsung atau dampak lanjutan pasca<br />
erupsi yakni dampak lahar dingin.<br />
53
Desa Hargobinangun <strong>dan</strong> Candibinangun <strong>ada</strong>lah<br />
dua desa yang mendapatkan program p<strong>ada</strong>t karya<br />
tahap pertama. Desa tersebut hanya berjarak 5-20<br />
km dari Gunung Merapi.<br />
Desa Hargobinangun <strong>ada</strong>lah desa yang terkenal<br />
sebagai desa wisata. Tempat wisata tersebut<br />
terkena dampak langsung erupsi dengan rusaknya<br />
tempat wisata tersebut, hancurnya infrastruktur<br />
<strong>dan</strong> terganggunya ekonomi masyarakat desa<br />
Hargobinangun. Air bersih tidak mengalir <strong>dan</strong> tidak<br />
berfungsi lagi, saluran irigasi rusak tertimbun debu<br />
Merapi. Mata pencaharian warga yaitu pertanian<br />
<strong>dan</strong> perternakan mengalami kerusakan yang<br />
mengakibatkan kerugian <strong>dan</strong> kesengsaraan yang<br />
besar bagi seluruh masyarakat.<br />
Prioritas perbaikan pertama pasca erupsi <strong>ada</strong>lah air<br />
bersih. Alhamdulillah, dua desa tersebut mendapatkan<br />
bantuan pipa air bersih dari UGM <strong>dan</strong><br />
Kabupaten. Program p<strong>ada</strong>t karya PNPM sangat<br />
dinanti untuk digunakan sebagai upah tenaga kerja<br />
pemasangan pipa <strong>dan</strong> pembuatan bak sumber<br />
air bersih. Selain itu <strong>dan</strong>a juga digunakan untuk<br />
pembersihan saluran irigasi. Yang merupakan<br />
kebutuhan vital masyarakat petani.<br />
Pelaksanaan legiatan p<strong>ada</strong>t karya ini lebih kurang<br />
empat minggu, dimulai tanggal 28 Februari –<br />
28 Maret 2011, dengan total <strong>dan</strong>a, untuk Desa<br />
Hargobinangun sebesar Rp. 237.263.500,- <strong>dan</strong> Desa<br />
Candibinangun sebesar Rp 200.000.000,- dengan<br />
dua kegiatan yakni pemasangan pipa air bersih <strong>dan</strong><br />
pembersihan saluran irigasi yang tertimbun lumpur<br />
Merapi.<br />
54
Pekerja yang dilibatkan lebih kurang 15.000<br />
orang setiap desanya. Pembagian upah<br />
menurut kategori yang telah ditentukan<br />
oleh Program PNPM P<strong>ada</strong>t Karya, yakni<br />
mandor sebesar Rp 70.000,-, tukang sebesar<br />
Rp 50.000,- <strong>dan</strong> buruh sebesar Rp 30.000,-<br />
Setelah p<strong>ada</strong>t karya di dua desa tersebut<br />
selesai, air bersih sudah bisa mengalir<br />
ke rumah warga <strong>dan</strong> tidak perlu lagi<br />
pasokan air bersih dari Kabupaten.<br />
Saluran irigasi sudah bersih <strong>dan</strong> air dapat<br />
mengalir dengan lancar, walau masih<br />
<strong>ada</strong> catatan bahwa sewaktu-waktu lahar<br />
dingin dapat meluncur lagi dari puncak<br />
Merapi. Meskipun <strong>ada</strong> ancaman kerusakan<br />
lagi akibat luncuran lahar dingin yang<br />
tidak diketahui kapan datangnya, tetapi<br />
perbaikan harus segera dilakukan karena<br />
sangat penting bagi keberlangsungan<br />
kehidupan masyarakat.<br />
Pemasangan pipa air bersih<br />
Perbaikan saluran<br />
55
SOEGITO, RELAWAN DESA WONOKERTO<br />
“Kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya sangat bermanfaat bagi kami warga Desa<br />
Wonokerto,” kata Soegito berusia 35an tahun, seorang ketua kelompok<br />
pelayanan air bersih masyarakat kep<strong>ada</strong> Bapak Arief Achdiat, Kepala<br />
PMU P2KP, p<strong>ada</strong> waktu melakukan monitoring pelaksanaan kegiatan<br />
P<strong>ada</strong>t Karya di Desa Wonokerto. Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman.<br />
Pernyataan ini disampaikan sebagai ketua Pokja Pemasangan Pipa Air<br />
Bersih. Soegito yang tinggal di dusun Tunggul Arum, Wonokerto, <strong>dan</strong><br />
memiliki 2 orang anak ini bersama-sama dengan warga desa bekerja<br />
keras untuk memperbaiki sarana air bersih yang rusak akibat erupsi<br />
Gunung Merapi.<br />
Saat sebelum bencana “KELOMPOK AIR BERSIH KRASAK LESTARI”<br />
yang dikelolanya ini dapat melayani sekitar hampir 500an KK yang<br />
ber<strong>ada</strong> di 3 desa yaitu: Wonokerto <strong>dan</strong> Giriketo di Kabupaten Sleman<br />
serta desa Srumbung di Kabupaten Magelang. Setelah terjadi erupsi<br />
gunung Merapi sarana itu mengalami kemacetan total. A<strong>dan</strong>ya kegiatan<br />
P<strong>ada</strong>t Karya melalui PNPM Mandiri Perkotaan membuat <strong>semangat</strong>nya<br />
berkobar untuk melakukan perbaikan-perbaikan agar masyarakat dapat<br />
kembali mendapatkan air bersih khususnya di Wonokerto. Kegiatan<br />
ini dilakukan dengan memadukan 2 program, yaitu P<strong>ada</strong>t karya <strong>dan</strong><br />
Program Pamdes (Program Air Minum Pedesaaan) dari Dinas PU <strong>dan</strong><br />
ESDM Provinsi DIY, dimana masyarakat yang bekerja menerima upah<br />
dari kegiatan p<strong>ada</strong>t karya <strong>dan</strong> pipa pralon yang digunakan disediakan<br />
oleh Program Pamdes.<br />
Pemasangan jaringan air bersih.<br />
56
Pemasangan jaringan pipa air bersih dilaksanakan sendiri oleh<br />
masyarakat sepanjang 6,50 kilometer dari pintu pengambilan hingga<br />
ke bangunan pembagi yang berlokasi di wilayah permukiman yang<br />
kemudian langsung melayani ke rumah- rumah warga. Pemasangannya<br />
menjadikan tantangan bagi masyarakat karena countour tanahnya<br />
yang tinggi rendah, harus melintasi sungai serta membelah tanjakan<br />
yang harus dilakukan secara manual demi terwujudnya layanan<br />
air bersih hingga sampai ke rumah. Namun demikian masyarakat<br />
sebagai pekerja dalam kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya berhasil melakukannya<br />
sehingga pipa-pipa yang merupakan bantuan dari Program Pamdes<br />
(Program Air Minum Pedesaaan) dari Dinas PU <strong>dan</strong> ESDM Provinsi<br />
DIY dapat terpasang di lapangan, meskipun masih <strong>ada</strong> kekurangankekurangan<br />
kecil misalnya klem-klem pipa yang nampak belum<br />
menyempurnakan pemasangannya <strong>dan</strong> perlu dirapikan kemudian<br />
untuk pengamananannya. Sementara Bangunan Pembagi yang <strong>ada</strong><br />
masih bisa difungsikan kembali. Pekerjaan ini dilaksanakan selama<br />
12 hari mulai 28 Februari sampai dengan 12 Maret 2011 dengan biaya<br />
Rp. 30 Juta untuk membayar tenaga kerja sejumlah 720 HOK <strong>dan</strong><br />
melibatkan kaum perempuan sebesar 23 %. P<strong>ada</strong> saat ini, pasca P<strong>ada</strong>t<br />
Karya sejumlah 200an KK di Wonokerto sudah mendapatkan air bersih<br />
kembali karena setiap 1 unit Bangunan Pembagi dapat melayani 20<br />
KK, namun sebagian lagi masih belum dapat terlayani oleh karena itu<br />
Soegito sebagai tokoh air bersih <strong>dan</strong> irigasi Wonokerto ini berharap<br />
agar kegiatan p<strong>ada</strong>t karya ini masih terus dapat ber<strong>jalan</strong> agar air bersih<br />
ini dapat kembali termanfaatkan oleh seluruh warga Wonokerto.<br />
57
PEMULIHAN SALAK NGLUMUT<br />
Desa Nglumut terkenal sebagai penghasil salak yang berkualitas<br />
prima. Desa seluas 140 hektar itu hampir seluruhnya dipenuhi kebun<br />
salak. Kemanapun kita pergi di kiri kanan <strong>jalan</strong> terlihat pohon salak.<br />
Menurut pak Toharjo kebun salak ini pesat berkembang setelah tahun<br />
1980.<br />
Sewaktu erupsi Merapi menghamburkan abu vulkanik yang kemudian<br />
tertiup angin ke beberapa arah, desa Nglumut terkena dampaknya.<br />
Lapisan abu menutup daun, batang, <strong>dan</strong> tunas pohon salak serta<br />
seluruh lahannya sehingga menghambat pertumbuhannya.<br />
P<strong>ada</strong> bulan Desember 2010 <strong>ada</strong> bantuan Rp 300 juta untuk menyiangi<br />
<strong>dan</strong> memangkas pohon salak serta membersihkan lahannya.<br />
Kemudian <strong>ada</strong> lagi bantuan Rp 200 juta untuk p<strong>ada</strong>t karya 25 hari.<br />
Para petani dalam posisi sulit karena kebun salak mereka belum dapat<br />
menghasilkan. Paling cepat empat bulan lagi<br />
Saat ini diperlukan kesempatan kerja <strong>dan</strong> pendapatan darurat agar<br />
mereka dapat bertahan. Dibutuhkan upaya kreatif untuk mengatasi<br />
hal ini.<br />
58
PAK DIRO DENGAN SAPINYA<br />
Pak Diro Utomo, warga dusun Sambungrejo desa Balerante dekat<br />
puncak Merapi, teringat ketika sehari setelah mbah Marijan meninggal<br />
mereka memutuskan untuk mengungsi <strong>dan</strong> hari esoknya terjadi<br />
letusan dahsyat yang menghancurkan kampungnya. Ketika mengungsi<br />
ia membawa enam sapinya, harta milik yang sangat penting bagi<br />
kehidupan keluarganya. Mereka sangat beruntung bisa lolos tepat<br />
p<strong>ada</strong> p<strong>ada</strong> saat terakhir. Cucunya sangat terkesan dengan pengalaman<br />
itu <strong>dan</strong> menggambarnya dikertas untuk hiasan dinding.<br />
Sekarang mereka sudah kembali ke kampung <strong>dan</strong> mulai membangun<br />
rumah dengan bantuan beberapa yayasan sosial. Anak-anaknya bekerja<br />
menambang pasir di sungai, tetapi Pak Diro merasa tidak kuat <strong>dan</strong><br />
memilih mengurus ternak sapimya. Masalah utama sekarang <strong>ada</strong>lah<br />
air bersih yang sangat minim, tergantung hujan yang tertampung di<br />
tandon <strong>dan</strong> sekali-sekali <strong>ada</strong> kiriman air dengan mobil tangki.<br />
59
DESA JUMOYO DISAPU LAHAR DINGIN.<br />
Desa Jumoyo ditepi <strong>jalan</strong> raya Jogja-Magelang di tepi Kali<br />
Putih jauh dari puncak Merapi tidak terkena dampak langsung<br />
letusan Merapi yang sangat hebat. Bencana justru datang<br />
sebulan kemudian p<strong>ada</strong> waktu lahar dingin membawa batu<br />
<strong>dan</strong> lumpur menyapu semua permukiman disekitar Kali Putih.<br />
Lumpur menimbun rumah sampai setinggi langit-langit.<br />
Sekarang mereka tinggal di hunian sementara yang dibangun<br />
tidak jauh dari lokasi itu. Karena tepi sungai itu masih rawan<br />
bencana, mereka ditawari pindah ke hunian tetap yang lebih<br />
aman tetapi agak jauh. Mereka hanya bersedia kalau seluruh<br />
warga “bedol desa”, tidak sendiri-sendiri. Hal ini se<strong>dan</strong>g dalam<br />
proses musyawarah yang mungkin masih akan berlangsung<br />
lama. Sebagian anggota keluarga mereka bekerja menambang<br />
pasir atau memecah batu. Pekerjaan ini berat tetapi membawa<br />
penghasilan yang cukup besar. Pekerjaan lain sangat langka.<br />
Perlu diusahakan peluang pekerjaan lain diluar menambang<br />
pasir <strong>dan</strong> memecah batu.<br />
60
Di beberapa lokasi kegiatan p<strong>ada</strong>t karya bersinergi dengan kegiatan besar dari<br />
instansi lain yang menggunakan alat-alat besar. Dengan demikian p<strong>ada</strong>t karya dapat<br />
berdampak lebih luas p<strong>ada</strong> kesejahteraan masyarakat di lingkungannya.<br />
58<br />
62
59 63
SATU TEKAD : BANGKIT BERSAMA !<br />
KIPRAH MASYARAKAT KELURAHAN KEPARAKAN<br />
Dua bulan sesudah letusan gunung Merapi, ternyata masih <strong>ada</strong> bencana<br />
besar lain yang mengancam warga, yang jangkauan dampaknya lebih<br />
jauh lagi. Jutaan ton pasir, batu-batu besar <strong>dan</strong> material lain yang telah<br />
dimuntahkan Merapi bertumpuk <strong>dan</strong> memenuhi sungai-sungai yang<br />
berpangkal di gunung ini membawa bencana baru yang tak kalah<br />
membahayakan yaitu banjir lahar dingin.<br />
Sungai Code, yang memiliki hulu sungai di gunung<br />
Merapi, berpotensi sangat besar untuk terjadinya<br />
bencana banjir lahar dingin. Lebar sungai Code<br />
yang mengalir di tengah kota Yogyakarta, tidak<br />
mem<strong>ada</strong>i karena <strong>ada</strong> bagian yang lebarnya hingga<br />
20 meter lebih, tapi juga <strong>ada</strong> bagian yang sangat<br />
sempit, kurang dari 15 meter karena desakan<br />
kebutuhan lahan untuk permukiman penduduk..<br />
Di titik penyempitan sungai inilah biasanya<br />
terjadi bencana banjir. Mulai dari wilayah<br />
Jogoyu<strong>dan</strong> di kecamatan Jetis hingga wilayah<br />
Sorosutan di kecamatan Umbulharjo, masyarakat<br />
yang bermukim di daerah bantaran sungai ini<br />
sering menjadi korban bencana banjir, termasuk<br />
banjir lahar dingin ini. Bahkan di beberapa titik,<br />
ketinggian air bercampur lumpur <strong>dan</strong> pasir ini<br />
bisa mencapai 2 meter yang menggenangi rumah<br />
warga.<br />
Pen<strong>dan</strong>gkalan yang sangat cepat semakin<br />
memperkecil daya tangkap air disepanjang aliran<br />
sungai. Kedalaman sungai yang semula antara 4<br />
– 5 meter di beberapa wilayah bahkan tinggal 1<br />
meter saja.<br />
64
Di kelurahan Keparakan, tidak kurang <strong>ada</strong><br />
6 RW yang rata-rata warganya menghuni<br />
daerah bantaran sungai Code ini. Sudah<br />
lebih dari 5 kali, wilayah di bantaran sungai<br />
Code mengalami banjir bercampur lumpur<br />
bahkan pernah suatu kali, ketinggian air <strong>dan</strong><br />
lumpur ini mencapai 1,5 meter masuk ke<br />
pemukiman warga. Berkali-kali warga secara<br />
sporadis membersihkan sumbatan-sumbatan<br />
p<strong>ada</strong> saluran ini, namun dikarenakan jumlah<br />
saluran yang harus dibersihkan sangat banyak,<br />
maka kegiatan ini tidak berdampak signifikan mengurangi banjir.<br />
BKM sebagai lembaga yang dibentuk masyarakat kelurahan, berupaya<br />
mengangkat persoalan ini dalam forum rembug warga, sehingga<br />
dapat menjadi suatu program kerja yang akan dikerjakan bersamasama<br />
semua unsur masyarakat. Ditingkat masyarakatpun tidak kalah<br />
antusiasnya.<br />
Setelah dilakukan sosialisasi program p<strong>ada</strong>t karya masyarakat<br />
kelurahan Keparakan bersepakat membentuk suatu kelompok kerja<br />
yang mereka pilih diantara warga sendiri. Maka dimulailah suatu<br />
kegiatan yang melibatkan secara aktif masyarakat disepanjang bantaran<br />
sungai code untuk saling membantu melakukan perbaikan drainase di<br />
wilayah mereka.<br />
Kegiatan p<strong>ada</strong>t karya di<br />
kelurahan Keparakan ini,<br />
melibatkan pemerintah<br />
kelurahan, disamping BKM<br />
Wiramukti sebagai lembaga<br />
yang secara langsung<br />
bertanggungjawab terh<strong>ada</strong>p<br />
lancarnya kegiatan p<strong>ada</strong>t<br />
karya ini. Kegiatan<br />
p<strong>ada</strong>t karya di kelurahan<br />
Keparakan tidak mengenal<br />
65
hari libur, hal ini disebabkan <strong>ada</strong>nya keinginan yang sangat kuat dari<br />
masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran sungai Code untuk<br />
meminimalkan dampak banjir lahar dingin. Kekuatan kebersamaan,<br />
kesetiakawanan <strong>dan</strong> kepedulian sosial masyarakat tumbuh se<strong>jalan</strong><br />
dengan <strong>semangat</strong> yang ingin dimunculkan dari program p<strong>ada</strong>t karya<br />
ini.<br />
Bahkan karena kearifan lokal yang <strong>ada</strong>, masyarakat rela membangun<br />
bersama sebuah rumah warga miskin yang kondisinya sangat<br />
memprihatinkan karena di dalam rumahnya selalu tergenang air baik<br />
ketika banjir maupun dalam kondisi tidak banjir. Warga bergotong<br />
royong membongkar rumah ini, meninggikan lantainya <strong>dan</strong><br />
mempercantik interior rumah demi mewujudkan rumah sehat.<br />
P<strong>ada</strong> saat tulisan ini dibuat, rumah warga tersebut telah selesai<br />
dibangun <strong>dan</strong> telah ditempati. Hal ini membuahkan suatu kebanggaan<br />
<strong>dan</strong> rasa syukur yang sangat besar dari warga kelurahan Keparakan<br />
yang <strong>ada</strong> di bantaran sungai, hidup bertetangga, merasakan dampak<br />
banjir lahar dingin bersama, mengatasi <strong>dan</strong> mengurangi dampak<br />
banjir lahar dingin bersama.<br />
BKM Wiramukti, bersama-sama masyarakat<br />
kelurahan Keparakan terutama yang hidup<br />
di bantaran sungai Code, telah merasakan<br />
semakin tumbuhnya rasa kebersamaan,<br />
kesetiakawanan <strong>dan</strong> kepedulian sosial<br />
di kalangan masyarakat dalam kegiatan<br />
p<strong>ada</strong>t karya ini. Bahkan besar harapan<br />
masyarakat, bahwa BKM sebagai lembaga sosial<br />
kemasyarakatan yang dibentuk oleh warga,<br />
menjadi pelopor kegiatan – kegiatan sejenis ini.<br />
66
BENCANA MEMBAWA KEBERSAMAAN<br />
Erupsi Merapi yang terjadi November<br />
tahun 2010 menyisakan berbagai<br />
permasalahan di Kota Yogyakarta.<br />
Meskipun tidak terkena letusan secara<br />
langsung namun dampak erupsi<br />
Merapi sampai kini masih dirasakan<br />
masyarakat Kota Yogyakarta terutama<br />
mereka yang tinggal di bantaran<br />
sungai Code.<br />
Masyarakat kelurahan Prawirodirjan<br />
menyikapi ancaman ini dengan bahu<br />
membahu bergotongroyong bersama<br />
Pemerintah Kota yang menurunkan<br />
alat berat untuk pengerukan sedimen<br />
di sungai, sementara meskipun<br />
agak terlambat Pemerintah Pusat<br />
meluncurkan program p<strong>ada</strong>t karya<br />
yang bertujuan untuk menggerakkan<br />
kembali roda perekonomian<br />
masyarakat bantaran sungai yang<br />
sempat terganggu akibat bencana<br />
banjir.<br />
Program p<strong>ada</strong>t karya ini dilaksanakan<br />
melalui PNPM Mandiri Perkotaan<br />
<strong>dan</strong> dikelola Kelompok Kerja p<strong>ada</strong>t<br />
karya yang dibentuk oleh B<strong>ada</strong>n Kesw<strong>ada</strong>yaan Masyarakat (BKM)<br />
melalui Unit Pengelola Lingkungan (UPL) bersama–sama dengan Unit<br />
Pengelola Sosial (UPS).<br />
67
Kelurahan Prawirodirjan <strong>ada</strong>lah<br />
salah satu diantara 14 kelurahan<br />
di Kota Yogyakarta yang<br />
mendapat program p<strong>ada</strong>t karya<br />
yang memberi kesempatan kerja<br />
<strong>dan</strong> memperbaiki lingkungan.<br />
Setelah beberapa kali melakukan<br />
sosialisasi, BKM Prawirodirjan<br />
membentuk pokja p<strong>ada</strong>t karya<br />
sebagai kelompok masyarakat<br />
yang bertang-gungjawab atas<br />
pengelolaan keuangan <strong>dan</strong><br />
pelaksanaan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya.<br />
Pokja ini merekrut tenaga kerja,<br />
membuat pe-rencanaan kegiatan, menghitung rencana anggaran<br />
biaya, menyusun proposal kegiatan, melakukan pembelian peralatan,<br />
men-distribusikan pembayaran upah pekerja melakukan monitoring<br />
pelaksanaan kegiatan hingga penyusunan laporan pertanggungjawaban.<br />
Sambutan masyarakat terh<strong>ada</strong>p program ini cukup baik, mereka<br />
memanfaatkan secara maksimal bantuan dari pemerintah ini untuk<br />
memperbaiki beberapa prasarana yang rusak akibat banjir.<br />
Dari pengawasan yang dilakukan UPL Pelaksanaan kegiatan ber<strong>jalan</strong><br />
dengan baik, jam kerja yang berdurasi enam jam, dimulai dari<br />
pukul 07.00 hingga pukul 13.00, dipatuhi dengan tertib oleh tenaga<br />
kerja. Pekerjaan kotor <strong>dan</strong> bau tidak mengurangi animo partisipasi<br />
perempuan, keterlibatan mereka cukup terasa bahkan sesekali tidak<br />
segan-segan melakukan pekerjaan berat memindahkan material<br />
endapan. Suasana seperti ini mengembalikan ingatan kita p<strong>ada</strong> masa<br />
lalu dimana masyarakat guyub rukun, bersama-sama, bahu-membahu<br />
mengatasi permasalahan. Ternyata memang <strong>ada</strong> hikmah dibalik<br />
suatu kejadian, seperti bencana banjir yang melanda Jogja membuat<br />
masyarakat perkotaan kembali menemukan apa yang selama ini hilang<br />
<strong>dan</strong> terlupakan yaitu sikap kebersamaan, gotong-royong. Semoga<br />
proses ini menjadi pemicu untuk melestarikan nilai-nilai luhur bangsa<br />
kita.<br />
68
Suasana di kelurahan Tegalpanggung <strong>dan</strong> Suryatmajan.<br />
69<br />
6
70 Dua anak meman<strong>dan</strong>g kampung mereka di tepi sungai<br />
66
Kegiatan : Pembersihan <strong>dan</strong> Peninggian<br />
Talud<br />
Lokasi : Terban, Yogyakarta<br />
Dana : Rp. 49.000.000,-<br />
Volume : 656 m’<br />
Kegiatan : Pemasangan Pipa Air Bersih<br />
Lokasi : Wonokerto, Sleman<br />
Dana : Rp. 30.000.000,-<br />
Volume : 6.500 m’<br />
Kegiatan : Pemulihan Lahan Kebun Salak<br />
Lokasi : Girikerto, Sleman<br />
Dana : Rp. 195.000.000,-<br />
Volume : 104 ha<br />
Kegiatan : Pembersihan Jaringan Irigasi<br />
Lokasi : Hargobinangun, Sleman<br />
Dana : Rp. 66.230.000,-<br />
Volume : 11.000 m’<br />
72
Kegiatan : Perbaikan Saluran Irigasi<br />
Lokasi : Wonokerto, Yogyakarta<br />
Dana : Rp. 178.500.000,-<br />
Volume : 28.200 m’<br />
Kegiatan : Pembersihan Jalan <strong>dan</strong> Saluran<br />
Irigasi<br />
Lokasi : Menayu, Muntilan, Magelang<br />
Dana : Rp. 178.500.000,-<br />
Volume : 28.200 m’<br />
Kegiatan : Pembersihan Jalan <strong>dan</strong> Saluran<br />
Irigasi<br />
Lokasi : Cokrodiningratan, Jetis<br />
Dana : Rp. 48.220.000,-<br />
Volume : 752 M2<br />
Kegiatan : Peninggian Talud Kali Code<br />
Lokasi : Tegalpanggung, Danurejan<br />
Dana : Rp. 105.730.000,-<br />
Volume : 849 M<br />
73
Perbaikan saluran di dusun Menayu<br />
Pembersihan sumber air Pokja Tirta Asri, desa Congkrang<br />
74
Normalisasi saluran di Klaten<br />
kakek yang ber<strong>semangat</strong><br />
75
76<br />
Perbaikan <strong>jalan</strong> di desa Gumul
Perbaikan saluran di Demak Ijo<br />
77
GAMBARAN UMUM<br />
Kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya atau Cash for Work mmerupakan kegiatan<br />
pemulihan ekonomi masyarakat terdampak erupsi Gunung Merapi<br />
yang dilaksanakan p<strong>ada</strong> tahap transisi dari tahap tanggap darurat<br />
menuju tahap rehabilitasi <strong>dan</strong> rekonstruksi. Kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya<br />
dilakssanakan dalam dua tahap, tahap pertama menggunakan <strong>dan</strong>a<br />
tangggap darurat yang dikelola dari B<strong>ada</strong>n Nasional Penanggulangan<br />
Bencana (BNPB) <strong>dan</strong> tahap kedua menggunakan <strong>dan</strong>a hibah dari<br />
lembaga donor yang terhimpun dalam PNPM Support Facility (PSF)<br />
<strong>dan</strong> dilakssanakan dengan mengggunakan skema PNPM Mandiri<br />
Perkotaan <strong>dan</strong> PNPM Mandiri Perdesaan.<br />
Tujuan dari kegiatan p<strong>ada</strong>t karya <strong>ada</strong>lah:<br />
. Memberikan pekeerjaan dengan imbalan uang tunai bagi masyarakat<br />
sehingga mempunyai daya beli <strong>dan</strong> dapat memulai kegiatan<br />
ekonominya.<br />
. Memperbaiki prasarana <strong>dan</strong> sarana umum dengan kerusakan ringan<br />
sehingga dapat digunakan kembali meskipun dengan kondisi yang<br />
masih terbatas.<br />
Tahap pertama kegiatan p<strong>ada</strong>t karya pemulihan ini dilakssanakan dari<br />
tanggal 13 Desember 2010 sampai dengan akhir Desember 2010. Total<br />
tenaga kerja yang terserap sebesar 18.294 orang di 10 Kecamatan yang<br />
tersebar di empat Kabupaten. Kegiatan p<strong>ada</strong>t karya dengan <strong>dan</strong>a dari<br />
BNPB sampai p<strong>ada</strong> akhir tahun 2010 telah menyerap <strong>dan</strong>a Rp. 8,7 miliar<br />
dari Rp. 15 miliar yang disediakan. Singkatnya periode pelaksanaan<br />
menyebabkan tidak semua <strong>dan</strong>a dapat terserap. Namun demikian,hal<br />
ini telah cukup menggambarkan bahwa masyarakat korban beencana<br />
sangat membutuhkan program ini <strong>dan</strong> telah mendapat kucuran <strong>dan</strong>a<br />
untuk membantu mereka untuk tidak sekedar memenuhi kebutuhan<br />
konsumsi agar mereka dapat bertahan hidup,namun juga memiliki<br />
uang pegangan.<br />
79
Tahap kedua kegiataan p<strong>ada</strong>t karya bersumber dari <strong>dan</strong>a hibah PSF<br />
sebesar 4,33 juta dollar Amerika. Pelaksanaan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya ini<br />
menggunakan skema PNPM Mandiri Perdesaan <strong>dan</strong> PNPM Mandiri<br />
Perkotaan dengan area kerja di 235 desa/ kelurahan yang ber<strong>ada</strong> di<br />
empat Kabupaten <strong>dan</strong> satu Kota,yakni Kabupaten Magelang, Kabupaten<br />
Boyolali, <strong>dan</strong> Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah <strong>dan</strong> Kabupaten<br />
Sleman serta Kota Yogyakarta, Propinsi D.I. Yogyakarta.<br />
Pelaksanaan P<strong>ada</strong>t Karya dengan skema PNPM Mandiri Perkotaan<br />
dimulai p<strong>ada</strong> bulan Februari <strong>dan</strong> berakhir bulan Juli 2011. Se<strong>dan</strong>gkan<br />
P<strong>ada</strong>t Karya Perdesaan dimulai p<strong>ada</strong> Juli hingga Desember 2011.<br />
Kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya tahap II ini telah menyerap <strong>dan</strong>a Bantuan<br />
Langsung Masyarakat (BLM) sebesar Rp. 33.412.458.3300,-dengan<br />
total Hari Orang Kerja (HOK)sebesar 978.889 HOK dengan total<br />
angkatan kerja sebesar 203.9668 orang. P<strong>ada</strong> kegiatan p<strong>ada</strong>t karya<br />
tahap kedua ini kegiatan tidak lagi hanya sekedar pembersihan<br />
sebagaimana kegiatan p<strong>ada</strong>t karya tahap pertama, melainkan juga<br />
melakukan perbaikan infrastruktur ringan seperti perbaikan <strong>jalan</strong> <strong>dan</strong><br />
lapangan serta normalisasi saluran.<br />
Kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya atau Cash for Work telah menjadi langkah<br />
strategis untuk mengisi masa transisi dari kondisi darurat ke tahap<br />
pemulihan. Kegiatan p<strong>ada</strong>t karya ini telah memampukan masyarakat<br />
untuk memiliki pendapatan dari kerja yang bermar-tabat. Program<br />
ini memiliki makna dalam meendukung kebangkitan pemulihan<br />
kehidupan maasyarakat terdampak bencana Merapi. Pen<strong>dan</strong>aan<br />
kegiaatan oleh PSF yang diharapkan dapat dilaksanaakan mulai bulan<br />
Maret atau April ternyata mengalami berbagai kendala administrasi,<br />
ehinggga pelaksanaan untuk PNPM Mandiri Perdesaan, kegiatan fisik<br />
baru dapat dilaksanakan mulai bulan Agustus. Meskipun demikian, di<br />
lapangan tidak terjadi kekosongan kegiatan, karena <strong>ada</strong>nya berbagai<br />
kegiatan PNPM reguler yang dapat dilaksanakan dengan bentuk p<strong>ada</strong>t<br />
karya. PNPM Perkotaan bahkan sejak bulan Februari sampai Juli telah<br />
melaksanakan keegiatan p<strong>ada</strong>t karya.<br />
80
82<br />
Alokasi <strong>dan</strong> Realisasi BLM P<strong>ada</strong>t Karya Perkotaan <strong>dan</strong> Prdesaan
Kabupaten Magelang<br />
Perbandingan penggunaan <strong>dan</strong>a<br />
83
84<br />
Kabupaten Magelang
Pengaruh erupsi Merapi ke daerah sekitarnya<br />
85
86<br />
Kabupaten Magelang, laporan Faskab Desember 2011
PERAN PEREMPUAN<br />
Dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa <strong>dan</strong> berbagai<br />
kegiatan lainnya kaum perempuan banyak berperan aktif. Demikian<br />
pula dalam perencanaan <strong>dan</strong> pelaksanaan p<strong>ada</strong>t karya ini, kaum<br />
perempuan <strong>ada</strong>lah pasukan yang ulet, tekun, cermat <strong>dan</strong> tangguh.<br />
Mereka telaten menggarap pekerjaan yang rumit.<br />
Di lingkungan keluarga jelas peran perempuan sebagai ibu, pemelihara<br />
<strong>dan</strong> pengasuh yang penuh kasing sayang. Ada pula yang berperan<br />
sebagai kepala keluarga <strong>dan</strong> pencari nafkah yang tangguh. Demikian<br />
pula dalam ber<strong>org</strong>anisasi, banyak yang menunjukkan kemampuan<br />
manajemen yang handal, sering pula mereka mengambil inisiatif yang<br />
berani.<br />
Setelah proyek p<strong>ada</strong>t karya ini selesai modal dasar perempuan <strong>dan</strong><br />
perkumpulan gotong royong dapat diteruskan dengan kegiatan yang<br />
lebih maju seperti seni kerajinan <strong>dan</strong> industri kreatif. Kelompokkelompok<br />
dapat bekerja dengan keterampilan kreatif yang lebih maju.<br />
Kepekaan <strong>dan</strong> ketekunannya dapat menyumbang banyak p<strong>ada</strong> cabangcabang<br />
kegiatan yang sesuai.<br />
89<br />
Pekerja Perempuan di kegiatan P<strong>ada</strong>t karya di Kabupaten Boyolali
Kaum perempuan yang tangguh <strong>dan</strong> ulet<br />
84<br />
90
Meskipun fokus kegiatan p<strong>ada</strong>t karya ini <strong>ada</strong>lah memajukan ekonomi<br />
keluarga melalui peng<strong>ada</strong>an pekerjaan sederhana yang dapat diikuti<br />
oleh siapa saja diantara korban bencana Merapi yang dalam usia<br />
produktif tetapi dis<strong>ada</strong>ri bahwa kesejahteraan keluarga hanya tercapai<br />
jika seluruh anggota keluarga dalam ke<strong>ada</strong>an sehat <strong>dan</strong> bahagia, rukun<br />
<strong>dan</strong> sentausa.<br />
Melalui kerjasama dengan program lain <strong>dan</strong> <strong>org</strong>anisasi mitra<br />
dikembangkan upaya meningkatkan kesejahteraan “balita”, anakanak,<br />
<strong>dan</strong> remaja agar secara utuh terbangun keluarga sejahtera yang<br />
p<strong>ada</strong> gilirannya akan membentuk masyarakat sejahtera. Sinergi antara<br />
program pokok <strong>dan</strong> kegiatan kemitraan ini sangat penting untuk<br />
mencapai hasil yang optimal.<br />
Kegiatan ini perlu dilanjutkan setelah proyek p<strong>ada</strong>t karya selesai.<br />
Kecukupan penghasilan saja tidak akan membawa kebahagiaan jika<br />
<strong>ada</strong> anggota keluarga yang tidak sehat atau tidak harmonis dalam<br />
kehidupannya. Perlu selalu diupayakan kesejahteraan keluarga <strong>dan</strong><br />
masyarakat seutuhnya diseluruh lapisan masyarakat.<br />
85<br />
91
92<br />
Disamping anak-anak dibawah<br />
lima tahun tentu saja para remaja<br />
juga perlu mendapat perhatian<br />
<strong>dan</strong> bimbingan. Justru masa<br />
remaja ini <strong>ada</strong>lah masa paling<br />
kritis. Para pengurus program<br />
p<strong>ada</strong>t karya perlu memperhatikan<br />
program paralel atau kemitraan<br />
yang dapat membantu tercapainya<br />
kesejahteraan keluarga yang utuh.
Komunikasi <strong>dan</strong> koordinasi antara Pusat <strong>dan</strong> Daerah<br />
87<br />
93
Seni budaya lokal tidak dilupakan<br />
95
96<br />
Membatik <strong>dan</strong> seni kriya dapat juga memberi nafkah
Berbagai lembaga <strong>dan</strong> yayasan sosial banyak membantu korban<br />
bencana. Universitas Gajah M<strong>ada</strong> membantu membangun pasar desa<br />
<strong>dan</strong> balai pelatihan untuk melatih keterampilan membatik, membuat<br />
tas <strong>dan</strong> kerajinan lainnya, disertai pemasaran produk-produk itu ke<br />
toko yang membelinya. Selanjutnya diharapkan warga dapat mandiri<br />
berkelanjutan bekerja <strong>dan</strong> memasarkan hasil karyanya.<br />
97
Sebagian warga memasarkan hasil karyanya di pasar desa, lainnya<br />
menyalurkan ke toko-toko yang telah dibina untuk bekerjasama.<br />
Sebagian lagi berjualan se<strong>ada</strong>nya dengan tikar <strong>dan</strong> payung di lokasi<br />
yang banyak dikunjungi tamu yang ingin melihat kawasan bencana<br />
Merapi. Ada juga yang bekerja menggali pasir muntahan Merapi di<br />
sungai.<br />
Saat ini lapangan kerja yang banyak menyerap tenaga kerja <strong>ada</strong>lah<br />
menambang pasir <strong>dan</strong> memecah batu. Disamping pekerjaan lain<br />
yang sudah umum berkembang sebelumnya, kegiatan ini semakin<br />
banyak berkembang akhir-akhir ini karena banyaknya material yang<br />
dimuntahkan oleh erupsi Merapi. Disamping membawa bencana,<br />
Merapi juga membawa berkah berupa ribuan ton material yang<br />
tersedia gratis.<br />
98
Banyak tenaga kerja muda yang masih kuat tertarik mengerjakan<br />
pekerjaan ini karena upahnya cukup menarik, meskipun harus<br />
memeras keringat di terik matahari, mengerahkan seluruh kekuatan<br />
ototnya.<br />
99
100<br />
Penambangan pasir <strong>dan</strong> batu perlu perencanaan <strong>dan</strong> pengendalian yang lebih cermat.
Pekerjaan lain yang juga berkembang <strong>ada</strong>lah sebagai Tukang Ojek.<br />
Sarana transportasi ini sangat dibutuhkan warga perdesaan. Selain<br />
itu <strong>ada</strong> juga yang bekerja mencari pakan ternak yang kemudian dijual<br />
kep<strong>ada</strong> peternak yang l<strong>ada</strong>ngnya rusak tertimbun abu.<br />
101
ACARA PENUTUPAN<br />
PROGRAM PADAT KARYA<br />
PEMULIHAN KEGIATANEKONOMI MASYARAKAT<br />
PASCA BENCANA MERAPI<br />
PNPM MANDIRI<br />
103
104
Dalam pertemuan ini disampaikan pan<strong>dan</strong>gan, kesan, <strong>dan</strong> saran dari<br />
lembaga terkait di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten <strong>dan</strong> Kota serta<br />
saran perbaikan jika kegiatan semacam ini dilanjutkan di masa yang<br />
akan datang.<br />
P<strong>ada</strong> kesempatan ini juga disampaikan buku kenangan <strong>dan</strong> catatan dari<br />
kegiatan p<strong>ada</strong>t karya untuk pemulihan kegiatan ekonomi masyarakat<br />
pasca bencana merapi. Buku tersebut masih akan dilengkapi <strong>dan</strong><br />
disempurnakan lebih lanjut.<br />
105
Beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian <strong>ada</strong>lah bencana<br />
lahar dingin yang terus mengancam. Meskipun Merapi sudah tenang<br />
kembali, tetapi tidak berarti bahwa masalah sudah selesai.<br />
Jutaan meter kubik lumpur, abu vukanik, <strong>dan</strong> batu-batu besar masih<br />
tertumpuk di puncak <strong>dan</strong> lereng Merapi yang dapat turun dibawa<br />
aliran air sewaktu hujan lebat turun di atas. Banjir lahar dingin ini<br />
akan menyapu banyak permukiman di tepi sungai.<br />
Berbagai lembaga harus bersiap-siap dengan bencana yang sangat<br />
mungkin terjadi ini. Sumber daya manusia, perlengkapan, <strong>dan</strong>a,<br />
<strong>dan</strong> prosedur standar harus sudah sepenuhnya siap untuk bergerak<br />
sewaktu-waktu.<br />
Dalam situasi bencana prosedur penetapan <strong>dan</strong> pencairan anggaran<br />
perlu dapat segera bergerak <strong>dan</strong> berfungsi mengatasi ke<strong>ada</strong>an darurat<br />
yang tak dapat ditunda-tunda. Prosedur penanganan bencana harus<br />
dapat mengatasi situasi itu.<br />
Koordinasi <strong>dan</strong> kerjasama antar lembaga pusat, daerah, tim pelaksana,<br />
konsultan, <strong>dan</strong> masyarakat harus dapat ber<strong>jalan</strong> mulus, tidak tergagapgagap<br />
<strong>dan</strong> terhambat oleh keraguan atau skema penanganan rutin.<br />
Dalam situasi darurat diperlukan kecepatan <strong>dan</strong> ketepatan, dengan<br />
tetap mencegah terjadinya kebocoran <strong>dan</strong> pemborosan. Partisipasi,<br />
keterbukaan, <strong>dan</strong> akuntabilitas merupakan kunci utama.<br />
Mekanisme bantuan yang menggunakan skema jalur PNPM<br />
Perdesaan ini dilaksanakan secara partisipatif bagi keterlibatan warga<br />
106
dalam perencanaanya meskipun <strong>ada</strong> beberapa desa yang keterlibatan<br />
warganya dalam p<strong>ada</strong>t karya kurang terjaring semuanya dikarenakan<br />
lemahnya informasi yang disampaikan TPKD (Tim Pelaksana Kegiatan<br />
Desa) ke masyarakat atas <strong>ada</strong>nya program p<strong>ada</strong>t karya ini.<br />
Transparansi <strong>dan</strong> akuntabilitas dari penggunaan <strong>dan</strong> penyaluran <strong>dan</strong>a<br />
BLM ini cukup baik, karena tidak <strong>ada</strong> potongan sedikitpun dari KPPN<br />
hingga ke masyarakat. Berbeda dengan bantuan-bantuan yang selama<br />
ini <strong>ada</strong> misalkan BLT ataupun bantuan lainnya, hal ini dikarenakan<br />
salah satunya peran kontrol <strong>dan</strong> pengendalian yang dilakukan langsung<br />
oleh semua tim baik ditingkat pusat maupun ditingkat kecamatan.<br />
Meskipun pencairan (pembayaran HOK) sangat mundur dari jadwal<br />
yang direncanakan, akan tetapi dengan momentum pra <strong>dan</strong> pasca<br />
lebaran ini justru kemanfaatan BLM bagi masyarakat sangat dirasakan<br />
untuk membantu mereka bagi yang sudah menerima sebelum lebaran<br />
untuk tambahan lebaran, <strong>dan</strong> yang belum menerima menjadi bekal<br />
mengh<strong>ada</strong>pi hari pasca lebaran, meskipun jumlah BLM sedikit<br />
bagi warga sangat bermakna, terutama bagi keluarga miskin karena<br />
mata pencaharian ternak <strong>dan</strong> pertanian mereka tidak baik hasilnya<br />
dibandingkan sebelum erupsi Merapi sehingga mereka p<strong>ada</strong> berharap<br />
akan <strong>ada</strong>nya p<strong>ada</strong>t karya lanjutan.<br />
Kejelasan PTO hingga sampai mekanisme pencairannya perlu<br />
dibuatkan acuan secara terperinci (detail) lagi sehingga memudahkan<br />
dalam operasional di lapangan.<br />
Masih berharapnya masyarakat akan <strong>ada</strong>nya p<strong>ada</strong>t karya lanjutan,<br />
untuk menambah penghasilan <strong>dan</strong> mengurangi beban ekonomi<br />
mereka dalam pelaksanaannya seharusnya memang terseleksi peserta,<br />
terutama bagi desa-desa yang tidak masuk dalam daerah bencana tetapi<br />
desa tersebut masuk dalam skema wilayah bencana karena tergabung<br />
dalam kecamatan lokasi bencana.<br />
107
Peran tim monitoring (semacam TPKEM) dalam melakukan<br />
pemantauan perlu mendapatkan kewenangan tambahan karena<br />
ketika dilapangan justru menjadi peran supervisi, advokasi, pensuplai<br />
informasi <strong>dan</strong> fasilitasi kegiatan-kegiatan dilapangan.<br />
Disamping kegiatan p<strong>ada</strong>t karya fisik seperti pembersihan puing,<br />
penataan lokasi serta memfungsikan kembali prasarana <strong>dan</strong> sarana<br />
perlu dipertimbangkan jenis kegiatan yang lebih luas <strong>dan</strong> berkelanjutan<br />
seperti kegiatan jasa <strong>dan</strong> industri kreatif.<br />
Jenis kegiatan ini meskipun prosesnya agak lebih rumit tetapi dapat lebih<br />
berkelanjutan, tidak terlalu tergantung p<strong>ada</strong> proyek pemerintah, <strong>dan</strong><br />
lebih mudah diikuti kaum perempuan <strong>dan</strong> usia lanjut. Pelaksanaannya<br />
dapat dikerjasamakan dengan fihak lain.<br />
Di beberapa kelurahan/desa bersamaan dengan kegiatan p<strong>ada</strong>t karya<br />
<strong>ada</strong> juga kegiatan dari lembaga lain seperti Dinas Sosial, Disnakertrans,<br />
Dinas Pertanian <strong>dan</strong> lain-lain yang aturannya tidak sama sehingga<br />
menimbulkan pertanyaan p<strong>ada</strong> masyarakat.<br />
Beberapa beberapa peserta berpendapat bahwa beberapa kegiatan<br />
lebih sesuai dilaksanakan melalui Rehabilitasi <strong>dan</strong> Rekonstruksi. Perlu<br />
evaluasi <strong>dan</strong> kesepakatan yang mantap antar warga mengenai berbagai<br />
kegiatan <strong>dan</strong> prioritasnya.<br />
Tertun<strong>dan</strong>ya pencairan <strong>dan</strong>a membuat warga frustrasi. Dana datang<br />
ketika saat paling kritis sudah berlalu. Sementara itu pencairan <strong>dan</strong>a<br />
yang berubah menjadi 3 termin membuat pelaksanaan kegiatan di<br />
lapangan terputus.<br />
Pengalaman pertama p<strong>ada</strong>t karya pasca bencana sangat berharga.<br />
Diperlukan evaluasi yang cermat disertai upaya penyem-purnaannya.<br />
108
Tukar Fikiran dengan Sri Sultan<br />
109
MELANGKAH KE DEPAN<br />
111
112 Merapi kembali tenang
Merapi mulai tenang kembali. Proses pemulihan alam berlangsung.<br />
Rumput mulai tumbuh <strong>dan</strong> pohon bertunas. Monyet <strong>dan</strong> satwa lainnya<br />
juga berusaha memulihkan kehidupannya. Demikian pula masyarakat<br />
dengan berbagai kegiatannya.<br />
113
114
Masyarakat tradisional sejak dahulu sudah sering sekali mengalami<br />
bencana erupsi gunung. Mereka belajar dari pengalaman <strong>dan</strong><br />
membangun kearifan lokal yang s<strong>ada</strong>r akan risiko bencana, siap<br />
mengh<strong>ada</strong>pi bencana, serta memahami manfaat jangka panjang<br />
letusan gunung berapi. Dengan arif mereka menghindari lokasi rawan<br />
bencana <strong>dan</strong> memahami isyarat alam sebelum terjadi bencana.<br />
Namun kearifan itu sudah banyak dilupakan. Banyak yang lebih tertarik<br />
p<strong>ada</strong> kemudahan <strong>dan</strong> keuntungan jangka pendek. Tradisi <strong>dan</strong> kearifan<br />
yang bersahabat dengan alam perlu diingat <strong>dan</strong> diperkuat kembali<br />
melalui sistim pendidikan masyarakat <strong>dan</strong> berbagai sarana lainnya.<br />
Perlu dikembangkan pula kesiapan untuk mengh<strong>ada</strong>pi bencana,<br />
kesiapan langkah yang cepat <strong>dan</strong> tepat, serta kesiapan kelembagaan<br />
<strong>dan</strong> prosedur tetapnya.<br />
Bencana letusan gunung Merapi tahun 2011 <strong>dan</strong> langkah-langkah kita<br />
menanggapinya telah membawa banyak pelajaran yang seharusnya<br />
kita simpan <strong>dan</strong> kembangkan terus untuk mengh<strong>ada</strong>pi berbagai<br />
kemungkinan bencana yang mungkin akan datang, agar kita tidak<br />
terkejut <strong>dan</strong> tergopoh-gopoh, salah langkah atau terlambat bereaksi<br />
mengh<strong>ada</strong>pi bencana besar.<br />
Berbagai pelajaran yang kita serap dari bencana yang lalu harus dapat<br />
memberi bekal kearifan <strong>dan</strong> manfaat dalam membangun ke masa<br />
depan. Jangan sampai kita begitu cepat melupakan pelajaran mahal<br />
yang dibayar degan jiwa <strong>dan</strong> air mata.<br />
115
108<br />
Sumber: TNGM 2010<br />
116
Dari situasi bencana kemarin ............<br />
117
118 kita lanjutkan per<strong>jalan</strong>an menuju hari esok yang lebih cerah
hari esok yang damai <strong>dan</strong> sejahtera<br />
119
KONTRIBUTOR FOTO:<br />
Catrini P Kubontubuh:<br />
8, 20 c; 33 b; 100 a-b; 119;<br />
G. Sahl Wahono:<br />
25 b-c; 27 b; 45 a; 59 c; 81 a-b ; 82 a-b ; 83 a-b; 84 a-b; 90 a-b-c-d-e-f;<br />
91 a-b-c-d-e; 92 a-b-c-d-e-f; 93 e-i; 95 a-b; 104 e; 109 a;<br />
Ikaputra:<br />
26;<br />
Laretna Adishakti:<br />
19 a; 21 b; 32 a-b-c-d-e; 33 a-c; 33 a-c; 38 a; 94 ; 96 a-b-c ; 97 a-b-c-de-f;<br />
98 a-b-c-d-; 109 b-c ; 112; 113 a-b-c; 114;<br />
Renee P Manoppo:<br />
5, 18, 24 a; 25 a; 31 a-b-c-d;<br />
Retno Agustin:<br />
63, 89 a-b;<br />
Sekretariat TPKEM, Tim Lapangan, UPK, TPK, PL : 19 b; 21 a; 27<br />
a-c; 39 a-b-c-d; 40 a-b-c-d; 41 a-b; 42 a-b; 43 a-b; 44 a-b; 45 b; 46 a-bc-d;<br />
48 a-b-c; 49 a-b-c; 50; 51; 52 a-b; 53 a-b; 54 a-b-c; 55 a-b-c; 56<br />
a-b-c; 57; 62 a-b; 62 a-b; 64 a-b; 65 a-b; 66; 67 a-b; 68; 72 a-b-c; 75<br />
a-b; 76 a-b; 77; 78; 86; 87; 88; 94 c; 104 j;<br />
Suhadi Hadiwinoto:<br />
20 b-c; 28 a-b-c-d-e; 29 a-b-c-d-e-f; 30 a-b-c-d-e-f; 34 a-b-c-d; 35 a-b-c;<br />
38 b; 58 a-b-c-d-e; 59 a-b-d; 60 a-b-c-d-e-f; 69 a-b; 70; 99 a-b; 101 a-b;<br />
104 a-b-c-d-f-g-h-i-k-l-m-n; 105 a-b-c; 106 a-b-c; 115; 117;<br />
Sujana Royat<br />
61 a-b-c; 71 a; 89 d; 118;<br />
Slamet Riyadi: Sampul muka; 24 b-c;<br />
Kompas / Pemenang Sayembara BI: 20 a<br />
ESDM: 85<br />
TNGM: 116<br />
120
DAFTAR PUSTAKA :<br />
Adishakti, L.T. et al, (2011) . Kawasan Merapi: Taman Pendidikan<br />
Letusan Gunung Berapi. Pusat Pelestarian Pusaka, Jurusan Arsitektur<br />
<strong>dan</strong> Perencanaan FT UGM.<br />
Adishakti, L.T. et al, (2010), Menuju Pendekatan Komprehensif Hunian<br />
Antara.<br />
Alief (2011), Kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya PNPM Mandiri Perdesaan<br />
Kabupaten Boyolali. TPKEM.<br />
Baskara (2011), Sekilas Kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya di Klaten. TPKEM.<br />
Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum <strong>dan</strong> PNPM Mandiri.<br />
(2011). Progres Pelaksanaan Kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya Pemulihan Pasca<br />
Erupsi Merapi di Lokasi PNPM Perkotaan. Ditjen Cipta Karya<br />
Cipta karya Kementerian Pekerjaan Umum <strong>dan</strong> PNPM Mandiri (2011).<br />
Gambaran Pelaksanaan Kegiatan Penanganan Pasca Erupsi Merapi,<br />
Ditjen Cipta Karya<br />
Diah Arifika (2011), Kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya PNPM Mandiri Perdesaan<br />
<strong>dan</strong> PNPM Mandiri PerkotaanKabupaten Magelang - Propinsi Jawa<br />
Tengah. TPKEM.<br />
Pelaksana PNPM Mandiri Perdesaan & PNPM Mandiri Perkotaan<br />
(2012), Laporan Akhir P<strong>ada</strong>t KArya Pasca Erupsi Merapi Melalui<br />
PNPM Mandiri di Prop. D.I. Yogyakarta.<br />
Retno Agustin & Ilma Fajar (2011), Kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya PNPM<br />
Mandiri Perkotaan Kota Yogyakarta - Propinsi D.I Yogyakarta. TPKEM.<br />
Rose Merry (2011), Kegiatan P<strong>ada</strong>t Karya PNPM Mandiri Perdesaan<br />
<strong>dan</strong> PNPM Mandiri Perkotaan Kabupaten Sleman - Propinsi D.I<br />
Yogyakarta. TPKEM.<br />
Sekretariat TPKEM (2011), Laporan Pelaksanaan PNPM P<strong>ada</strong>t Karya<br />
II di Lima Kabupaten/Kota Terdampak Bencana Merapi. Sekretariat<br />
TPKEM<br />
Sekretariat TPKEM (2011), Laporan Pelaksanaan Program P<strong>ada</strong>t Karya<br />
Pasca Erupsi Merapi DIY <strong>dan</strong> Jawa Tengah. Sekretariat TPKEM<br />
121