LEMBAGA PI DAN RADIKALISME oleh IMAM ... - Kemenag Sumsel

sumsel.kemenag.go.id

LEMBAGA PI DAN RADIKALISME oleh IMAM ... - Kemenag Sumsel

LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

DAN FENOMENA RADIKALISME AGAMA

Oleh: Imam Nasruddin 1

Pendahuluan

Lembaga Pendidikan Islam pada saat diidentikkan dengan sarang/lembaga

yang mengajarkan ajaran radikalisme (walaupun memang ada lembaga pendidikan

Islam dalam hal ini pondok pesantren ada yang mengajarkan kekerasan itu, tapi

tidak seperti yang dituduhkan oleh negara lain). Hal ini bisa dilihat dengan adanya

kasus Ngruki Solo, dimana pimpinan pondok pesantrennya dituding sebagai orang

yang mengajarkan kekerasan. Walaupun memang sampai saat ini belum ada bukti

yang menguatkannya.

Dunia pesantren dan terorisme merupakan dua entitas yang sebenarnya

bertolak belakang. Pesantren merupakan satu lembaga pendidikan yang

diejawantahkan dari ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam, dengan tetap memberikan

penekanan pada ajaran moral, etika dan perilaku yang baik, luhur dan agung. Tidak

ada dalam kitab kuning yang menjadi acuan (fiqh, tasawuf dan lain-lain) dalam

pelajaran pesantren yang mengajarkan tindak kekerasan. Pendidikan di pesantren

membekali dan mengajarkan kepada santri untuk berperilaku baik berdasarkan al-

Qur‟an dan al-hadist. Sebab, salah satu ajaran Islam adalah menebar kedamaian

kepada siapapun (Majalah Hidayah, Februari 2006: 106).

Al-Qur‟an sendiri mengajarkan perdamaian misalnya dapat kita temukan di

dalamnya (8: 61) “ … dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka

condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah swt …” , dan Al-Quran

(49: 9-10), (9)“… dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu‟min berperang,

maka damaikanlah antara keduanya… (10) “Sesungguhnya orang-orang mu‟min itu

bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu …”.

Prof. Amien Rais (Unmuh, 2006) mengatakan munculnya radikalisme itu

bukan karena diinspirasi oleh agama Islam, tetapi karena adanya penderitaan sosial,

politik dan ekonomi yang dialami sejumlah anak bangsa. Selanjutnya ia pun

1 Pendidik di MAN Sakatiga Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan.

1


mengatakan bahwa gejala radikalisme, ekstremisme dan terorisme memang menjadi

fenomena modern yang akar permasalahannya harus ditemukan supaya diperoleh

keterangan yang jelas, hanya saja orang-orang Barat tidak pernah menggunakan

kausalitas dalam menghadapi persoalan termasuk radikalisme, ekstremisme, dan

terorisme melainkan hanya memperhatikan akibatnya saja, sedang sebab sesuatu

persoalan tidak pernah digali.

Peran dan Fungsi Lembaga Pendidikan Islam

Ada dua lembaga yang banyak terdapat di masyarakat Indonesia yang

sangat berperan dalam rangka menanamkan nilai-nilai agama dan etika umat Islam,

yaitu pondok pesantren dan madrasah. Sebagai lembaga pendidikan, kedua

perguruan ini berkembang di daerah-daerah yang mempunyai nilai strategis dalam

pembangunan masyarakat karena pada umumnya sebagian besar madrasah dan

pondok pesantren berada di daerah pedesaan (Muzayyin Arifin, 2003: 219).

Masih menurut Muzayyin Arifin (2003, 225), Pondok pesantren adalah

lembaga pendidikan di negara kita yang sudah berkembang sejak jaman penjajah

Belanda, walaupun memang lembaga ini dikembangkan oleh umat Islam sendiri

tanpa restu pemerintah kolonial pada saat itu. Pada awalnya pondok pesantren

merupakan tempat belajar membaca dan menulis semata-mata dan setelah

tersebarnya Islam atau datangnya Islam, kegunaan pondok pesantren ini pun

bertambah luas menjadi tempat menghafal al-Qur‟an dan pelajaran agama Islam,

tulis menulis, ilmu hitung, tata bahasa, dan juga kesenian (Muhammad Athiyyah Al-

Abrasyi, 2003: 65). Berdasarkan dua pendapat tersebut diatas, dapatlah dimengerti

bahwa keberadaan pondok pesantren itu sudah ada sejak masa kolonial atau jauh

sebelum itu, bahkan mungkin dapat disimpulkan pondok pesantren adalah lembaga

pendidikan yang tertua di Indonesia. Mengingat lamanya lembaga itu berdiri maka

sampai dengan sekarang jumlahnya sudah tak terbilang, setiap daerah dipastikan

ada pondok pesantren, lebih-lebih di pulau jawa dan sumatera.

Menurut Soekama Karya (1996: 118), Pesantren adalah lembaga tradisional

Islam untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan

menekankan pentingnya moral agama Islam sebagai pedoman perilaku sehari-hari.

Penyelenggaraan pendidikan sehari-hari menggunakan pendekatan holistik, yaitu

2


kegaiatan belajar mengajar yang merupakan kesatupaduan dalam totalitas kegiatan

hidup sehari-hari.

Selanjutnya Soekama Karya (1996: 118) mengatakan bahwa pesantren

paling tidak mempunyai 5 elemen dasar, yaitu asrama (pondok), masjid sebagai

pusat kegiatan peribadatan keagamaan, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik,

dan kiyai

Keberadaan pondok pesantren pun terus mengalami methamorfosis baik

dari penampilan fisik maupun non-fisik, mulai yang ala pedesaan seperti pondok

pesantren salafiah yang ada di pulau jawa sampai pondok pesantren yang super

modern seperti pondok pesantren al-Zaytun, pondok pesantren Gontor dan lainlain.

Madrasah, sebagaimana dimaklumi lahir dari sebuah keinginan sebagian

umat Islam untuk menampilkan sebuah sistem pendidikan alternatif untuk menutupi

berbagai kelemahan baik dalam sistem pendidikan yang didirikan oleh pemerintah

Belanda maupun sistem pendidikan tradisional pondok pesantren. Sebagai lembaga

pendidikan alternatif madrasah dituntut untuk tampil secara sempurna, di satu

pihak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dalam persoalan kehidupan yang

bersifat duniawi, sementara di pihak lain tetap dapat mempertahankan aspek-aspek

ajaran Islam yang pokok dan prinsipil (Ismail, tt: 1).

Berkenaan dengan banyaknya madrasah swasta di Indonesia, Masykuri

mengatakan bahwa motivasi utama mendirikan Madrasah adalah melaksanakan

dakwah. Namun sayangnya, motivasi tanpa disertai dengan persiapan yang matang

baik dari segi tenaga pengajar maupun dana serta sarana dan prasarana.

Senada dengan Masykuri diatas, Mastuhu pun menegaskan bahwa kualitas

madrasah swasta masih belum menggembirakan. Lokasi madrasah pada umumnya

berada di tempat kumuh dengan fasilitas seadanya. Guru-gurunya tidak kualifaid

dan kurang kesejahteraan. Demikian juga Husni Rahim (dalam Rosidi, tt: 4-5)

menyimpulkan bahwa kebanyakan lokasi madrasah menurut data Biro Pusat

Statistik (BPS) berada didaerah IDT (Inpres Desa Tertinggal).

Walaupun keadaan madrasah swasta jauh lebih memprihatinkan

dibandingkan dengan madrasah negeri, namun tak bisa dipungkiri bahwa potensi

untuk mengharumkan dan mengangkat harkat dan martabat madrasah secara

3


keseluruhan sesungguhnya justru terletak pada madrasah swasta bukan pada

madrasah negeri karena jumlah relatif kecil dan di sisi lain ditopang sepenuhnya

oleh pemerintah.

Ada satu kebiasaan atau katakanlah kebanggaan yang ada pada masyarakat

kita bahwa hampir setiap kiyai/ulama‟/ustadz yang ada di daerah pada waktu

mengirimkan anaknya belajar ke pesantren ketika pulang kampung, tidak dikatakan

berhasil apabila tidak mendirikan madrasah. Kebiasaan seperti ini tidak selama baik,

memang dari segi da‟wah/jihad kita patut mengacungkan jempol, akan tetapi

seharusnya manajemen yang baik pun harus disiapkan sedini mungkin. Karena

menurut hemat penulis mendirikan sebuah madrasah tidak cukup hanya dengan

semangat jihat saja, akan tetapi harus berpikir bagaimana dengan pendanaan, SDM,

sarana prarasana, kurikulum dan lain-lainnya. Inilah yang disinyalir oleh M. Sirozi

(2004: 65) dalam bukunya Agenda strategis pendidikan Islam bahwa lembagalembaga

pendidikan Islam sebagian besar belum siap memasuki era milinium ketiga.

Jika tidak segera berbenah, pada era ini dapat menjadi medan kematian bagi

lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Akar-akar Radikalisme

Menurut Kamus Umum bahasa Indonesia (1999: 788) disebutkan bahwa Radikal

adalah :

1. (hilang) sampai ke akar-akarnya sekali – dengan sempurna ; misalnya

perubahan yang -; belum – obatnya buat membersihkan jiwaku.

2. (haluan politik yang) amat keras menuntut perubahan undang-undang,

ketatanegaraan dsb, misalnya kebijakan pemerintah disanggah oleh anggotaanggota

DPR, sedang menurut kamus besar bahasa Indonesia edisi ke 3

disebutkan bahwa :

1. Radikalisme adalah 1). Paham atau alian yang radikal dalam politik, 2).

paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial

dan politik dengan cara kekerasan atau drastis, 3). Sikap ekstrem dalam

aliran politik (KBBI, 2001: 919).

2. Agama : n). ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan

peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang

4


erhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungan

(KBBI, 2001: 12).

Dari pengertian-pengertian tersebut diatas, dapatlah disimpulkan bahwa

radikalisme agama adalah paham atau aliran yang keras dalam suatu ajaran agama

tertentu. Menurut aliran ini setiap permasalahan/persoalan harus disikapi dengan

tegas dan keras, tidak setengah-setengan apalagi ragu-ragu dalam bertindak demi

tegaknya ajaran agama tersebut. Namun terkadang aliran ini dalam bertindak

melebihi aturan yang ada atau bahkan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan.

Selanjutnya radikalisme atau kekerasan agama terjadi dari ujung timur

hingga ujung barat (Yasir Al-Za‟atirah, 2006: 1), pun juga radikalisme dapat terjadi

dimana-mana bukan hanya dalam dimensi agama tertentu akan tetapi sudah

merambah ke hampir sendi kehidupan sosial manusia.

Ada pendapat dari Anthony Storr yang mengatakan bahwa kekerasan dan

kekejaman merupakan sesuatu yang potensial dalam manusia normal . Berdasarkan

pendapat tersebut menunjukkan bahwa kekerasan dan kekejaman itu adalah

merupakan bagian yang tak terelakkan dalam kehidupan manusia (sunnatullah).

Kekerasan dan kekejaman yang dilakukan manusia banyak macamnya, salah

satunya yang sangat ekstrim adalah tindakan terorisme yang telah dilakukan oleh

Dr. Azhari (almarhum), Noordin M. Top, Imam Samudra dan lainnya yang

meresahkan bangsa Indonesia saat ini (Hidayah, Januari 2006 : 104).

Sebenarnya tindakan semacam itu telah banyak terjadi dari zaman dahulu

kala sampai sekarang ini misalnya apa yang telah dilakukan oleh Xenophon (431-

350 SM) yang menggunakan tindakan terorisme untuk mengalalahkan musuh,

Kaisar Roma (14-37 SM) dan Caligula (37-41 SM) mempraktekkan terorisme dalam

pembuangan, perampasan harta, dan menghukum lawan-lawan politiknya.

Selanjutnya Adolf Hitler dan Joseph Stalin juga tidak mau ketinggalan meneror

musuhnya. Bahkan akhir-akhir ini muncul nama Osama bin Laden, seorang Muslim

Radikal yang dicap teroris oleh Amerika dan antek-anteknya (Hidayah, Januari

2006 : 105).

Jalan yang ditempuh oleh para teroris tentu saja salah, tapi itu merupakan

alternatif yang tidak bisa dihindari, untuk membuat lawan-lawannya ketakutan.

Menurut Godlif O. Carm dalam bukunya Terorisme, mengatakan bahwa terorisme

5


itu dianggap salah, karena Pertama menggunakan kekerasan dan ancaman untuk

menciptakan ketakutan publik. Kedua, memerintahkan anggota-anggotanya dengan

cara teror juga. Ketiga, melakukan kekerasan dengan maksud untuk mendapat

dukungan(Hidayah, Januari 2006 : 105).

Barangkali fenomena „terorisme‟ yang paling menonjol yang dihadapkan

oleh kelompok Islam di Mesir, dan perlu mendapat perhatian pemerintah yang

membasmi segala bentuk „terorisme‟ ialah fenomena „terorisme pemikiran‟.

Fenomena yang satu ini mungkin sekali dianggap sebagai salah satu pendorong

terorisme yang menyebar di berbagai lapangan politik dan sosial saat ini. Paling

tidak merupakan alasan lahiriyahnya (Ma‟rifah, 1994: 66-67).

Lembaga Pedidikan Islam dan Radikalisme

Ada tudingan yang mengatakan bahwa dunia pesantren adalah merupakan

sarangnya teroris. Hal ini memang cukup memanaskan telinga bila didengar umat

Islam, namun itulah adanya. Memang, kitapun masih ingat bahwa bukan hanya

jaman reformasi ini saja bahwa dunia pesantren selalu mendapat cap yang kurang

baik dari orang-orang yang tidak senang dengan Islam.

Pada jaman penjajahan kalangan orang Islam dan pesantrennya dipojokkan

dan dituduh sebagai sarang pemberontak. Karena itu pesantren diawasai dengan

ketat. Kiyai yang dianggap bahaya langsung ditangkap dan pesantrennya langsung

dibubarkan. Adapun motif dibalik penangkapan dan pembubaran pesentren

tersebut tidak lain adalah untuk meredam gejolak dan semangat perlawanan ulama

(kiyai) kepada pemerintah kolonilal (Hidayah, Februari 2006 : 104).

Saat orde lama dengan presiden Soekarno, orang Islam dengan

pesantrennya lagi-lagi dituduh menjadi pemberontak, karena memang adanya

segelintir orang Islam yang tergabung dalam pemberontakan DI/TII yang berusaha

menggulingkan pemerintahan yang resmi dan menggantinya dengan pemerintahan

Islam pada waktu itu, selanjutnya pada masa orde baru, ternyata pemerintah

memiliki penyakit yang sama dalam melihat orang Islam dan pesantrennya. Pada

saat ini Islam dituduh, dipojokkan, serta dituding sebagai kelompok yang kurang

mendukung Pancasila dan pembangunan. Umat Islam dicurigai tidak mau menerima

Pancasila sebagai asas tunggal, karena memang ada organisasi Islam yang tidak

6


erasaskan Pancasila. Sementara pada jaman reformasi ini, pesantren kembali

dituduh, dipojokan dan dan dicurigai sebagai sarang teroris. Padahal hanya

segelintir alumni pesantren yang terlibat dalam jaringan ini (Hidayah, Februari

2006 : 105).

Kata mantan Menteri Agama Maftuh Basyuni, Departemen Agama tidak

akan mengontrol pesantren, akan tetapi akan menyelesaikan masalah pesantren

dengan cara kunjungan dan dialog sehingga apa yang terjadi bisa dijelaskan secara

transparan dan tidak ada yang perlu ditutup-tutupi, selanjutnya dia minta semua

pihak untuk ikut membantu meluruskan persoalan secara objektif dengan tidak

menyudutkan salah satu lembaga termasuk lembaga pesantren. Terakhir menteri

pun meminta jika ada alumni pondok pesantren yang terlibat teroris, itu tidak bisa

dikaitkan dengan pondok pesantren tempat mereka belajar, jadi bukan institusinya

yang harus ditutup (Pinmas: 2006).

Mengembalikan Citra Lembaga Pendidikan Islam

Menurut penulis ada beberapa agenda strategis untuk mengembalikan

lembaga pendidikan pada posisinya yang semula, agar lembaga ini berperan

sebagaimana mestinya. Adapun agenda tersebut adalah :

1. Putar haluan dan poisisi lembaga pendidikan Islam ini termasuk pondok

pesantren pada posisi semula sebagai tempat untuk mencari dan

mengembangkan ilmu pengetahuan, belajar bagi siswa dan mengajar bagi guru,

2. Kelola lembaga pendidikan Islam dengan baik dan benar. Karena tanpa

pengelolaan yang baik, maka lembaga ini akan tertinggal jauh dan yang pasti

akan ditinggalkan oleh peminatnya termasuk masyarakat. Senada dengan hal

tersebut M. Sirozi (2004: 63-64) mengatakan bahwa lembaga pendidikan yang

dikelola dengan manajemen yang profesional akan tumbuh sehat dan kuat,

sehingga dapat terus berimprovisasi, mengembangkan program-program yang

credible dan marketable. Pada gilirannya menjadi program-program unggulan

pilihan masyarakat.

3. Bentengi semua siswa/guru/pegawai yang ada di lembaga ini dengan berbagai

ilmu, baik ilmu dunia terlebih ilmu akhirat, karena bagaimanapun kedua ilmu

adalah merupakan sarana kehidupan kita. Teknologi sangat penting termasuk di

7


dalamnnya informasi, karena orang menguasai informasi itulah orang yang

akan menguasai dunia.

Sehubungan dengan Terorisme ini, presiden Susilo Bambang Yudoyono

(2006: 1) meminta kepada dunia internasional untuk berlaku bijaksana dalam

menjalin kerjasama dalam melawan terorisme, sehingga upaya tersebut tidak justru

menimbukan ketegangan baru antar bangsa, penganut agama dan peradaban.

Selanjutnya SBY pun mengingingatkan perang melawan terorisme selain tentang

akar dan penyebabnya, juga sebenarnya menyangkut „hati dan pikiran‟ yang

mengharuskan semua pihak untuk tidak hanya menunjukkan kebebasan, tetapi juga

meningkatkan teloransi.

Senada dengan SBY diatas, menteri luar negeri Australia, Alexander Downer

(2006: 1) berharap agar masyarakat tidak mendefinisikan perjuangan melawan

teroris sebagai perang terhadap agama tertentu, karena akibat salah tafsir dapat

memicu perpecahan antara peradaban tetapi juga memperluas dukungan pada

teroris dan selanjutnya ia berkata bahwa menurut penelitian dari Robert Pape yang

menerbitkan sebuah buku bank data tentang para pelaku bom bunuh diri sejak

1980-an menunjukkan kenyataan bahwa dalam sejarah tidak ada hubungan spesial

antara pelaku bom bunuh diri dengan Islam. Akhirnya ia pun merasa kasihan

kepada anak-anak muda yang telah dicuci otaknya sehingga percaya bahwa aksi

mereka adalah demi melayani Tuhan.

Simpulan

Untuk mentransfer nilai-nilai Islam kepada generasi yang akan datang,

diperlukan lembaga pendidikan Islam. Karena Islam akan jaya bila ditopang oleh

pemuda yang berilmu pengetahuan yang luas dan beretika yang baik, baik kepada

musuh Islam apalagi kepada orang Islam sendiri. Tanpa menyiapkan generasi ini,

maka tidak dipungkiri lagi bahwa pada masa yang akan datang Islam hanya tinggal

nama saja.

Lembaga Pendidikan Islam yang sekarang mulai dijadikan sarana

radikalisme oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, seyogyanya harus

dikembalikan pada posisi semula. Posisi ideal lembaga pendidikan Islam adalah

tempat untuk belajar bagi siswa dan tempat mengajar bagi guru.

8


Radikalisme agama akan selalu ada di dalam setiap kehidupan manusia dari

dahulu kala sampai kapan pun juga. Bahkan radikalisme itu tidak hanya terjadi

pada agama saja, akan tetapi sudah meluas ke segala sudut kehidupan manusia dari

barat sampai timur, dari utara sampai selatan. Agar pemahaman radikalisme yang

salah yang ada pada setiap manusia hilang, maka kita harus memberikan pengertian

yang sebenarnya tentang apa itu radikalisme itu, keuntungan dan kerugiannya

apabila radikalisme itu diterapkan dalam kehidupan. Terakhir marilah kita

memperkokoh fondasi keimanan, agar tidak goyang oleh ombak kehidupan yang

glamour ini dan rayuan gombal yang menggoda kita untuk berbuat yang tidak

benar dan menentang agama kita.

9

More magazines by this user
Similar magazines