tulisan disinui - Kemenag Sumsel

sumsel.kemenag.go.id

tulisan disinui - Kemenag Sumsel

PENGEMBANGAN MODEL BAHAN AJAR MEMBACA TEKS CERITA DI

KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI 8 INDRALAYA OGAN ILIR

HASIL SEBUAH PENELITIAN

OLEH:

Hodidjah

Widyaiswara

ABSTRAK

Tujuaan penelitian ini adalah terbentuknya prototype model bahan ajar membaca

teks cerita di kelas IV SDN 8 Indralaya Ogan Ilir. Prototipe model bahan ajar

berupa buku siswa lengkap dengan teknik pembelajaran dan tes hasil belajar,

Penelitian ini menggunakan metode peneliian pengembangan. Langkah-langkah

penelitian ini adalah (1) studi pendahuluan tentang model bahan ajar, (2)

merencanakan penelitian dengan deskripsi analisis kebutuhan, (3) desain draf

awal dengan uji validasi, (4) uji coba lebih luas, (7) revisi, (8) model hipotesis, (9)

revisis, (10) model final. Iji validsi dilakukan oleh dua orang validator yaitu ahli

di bidang pembelajaran dan ahli sastra. Teknik pengumpulan data dilakukan

dengan angket, tes dan observasi. Angket dilakukan untk mengetahui analisis

kebutuhan. Tes dilakukan ketika uji coba terbatas. Lebih luas dan model hipotetik.

Tes dilakukan dengan pretes dan postes. Analisis data tes dihitung dengan

menggunakan tes 1 dengan membandingkan 1 hitung atau 1 observasi dengan 1

tabel. Kesimpulan dari penelitian in adalah hasil 1 hitung dari ketiga uji coba

diperoleh. t0 lebih besar daripada t1. Pengemangan produk model bahan ajar

membaca teks cerita di keas IV secara signifikan dapat dipakai di sekolah sebagai

pengembangan model bahan ajar

Kata kunci: model bahan ajar, membaca teks cerita, teknik pembelajaran

1


LATAR BELAKANG

Pembinaan kemampuan berbahasa yang diupayakan di sekolah

berorientasi pada empat jenis keterampilan berbahasa, yaitu ketermpilan

menyimak, keterampilan berbicara, ketermpilan membaca, dan keterampilan

menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut berhubungan erat satu dengan

yang lain. Keempat keterampilan berbahasa ini sangat penting untuk dapat

mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolgi yang maju pesat.

Perkembangan tingkat penguasaan keterampilan berbahasa siswa dalam

masing-masing keterampilan berbahasa akan mempengaruhi penguasaan

keterampilan berbahasa yang lain. Dengan kata lain, pengajaran keterampilan

berbahasa tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Pengajaran keterampilan

berbahasa mendorong siswa sepenuhnya pada pelatihan dan praktek pemakaian

bahasa sebagai alat komunikasi melalui belajar yang efektif sehingga kelk ia

mahir berkomunikasi secara nyata di masyarakat . Proses belajar yang efektif

antara lain dilakukan melalui membaca (Rahim, 2008:2).

Membaca merupakan sesuatu yang sangat vital dalam suatu masyarakat

yang terpelajar (Burn, dkk, dikutif Rahim, 2008:1). Membaca juga merupakan

sebuah jembatan bagi siapa saja dan di mana saja yang berkeinginan meraih

kemajuan bagi siapa saja dan dimana saja yang berkeinginan meraih kemajuan

dan kesuksesan. Membaca menurut Spodek dan Saracho (dikutif

Sulistiyo,2006:12) merupakan proses memperoleh makna dari barang cetak

sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era informasi

2


dan komunikasi sekarang ini, membaca menduduki possi serta peran yang sangat

penting dalam konteks kehidupan umat manusia.

Kemampuan dasar membaca sisswa SD di Indonesia masih perlu

mendapat perhatian khusus. Perhatian ini perlu diberikan secara intensf, Masduki

tAssociatitio for the Evaluation of Education Assesment (IAEA) tentang

kemampuan membaca siswa Indonesia terungkap hasil siswa SD 36,1%

(peringkat 26 dan 27 negara) yang disurvei. Temua survey ini menggambarkan

bahwa kemampuan membaca masih belum berkembang secara maksimal. Oleh

karena itu masih perlu diupayakan peningkatan kemmpuan membaca siswa.

Kemampuan membaca di SD terutama membaca pemahaman cendrung

doabaikan. Hal ini disebabkan umumnya guru SD menganggap bahwa pengajaran

membaca telah berhasil bila siswa sudah dapat membaca dan menulis pada

jenjang kelas rendah serta pada kelas tinggi siswa sudah dapat membaca nyaring

dengan menyuarakan bunyi-bunyi bahasa dan mencari kata-kata sulit dalam suatu

teks. Kegiatan membaca merupakan kegiatan kompleks untuk memahami teks

bacaan secara keseluruhan (Rahim,2008:V).

Berdasarkan uraian tersebut diperlukan pengembangan bahan ajar.

Pengembangan bahan ajar dapat dilakukan dengan pengembangan model bahan

ajar yang domodifikasi dengan menggunakan variasi bahan ajar berupa teks

bacaan lengkap dengan teknik pembelajaran yang bervariasi. Teknik pembelajaran

baru yang lebih memberdayakan anak didik, sebuah teknik belajar yang tidak

mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, namun bagaimana mendorong siswa

membangun pengetahuan dipikiran dengan kata-kata mereka sendiri dengan

3


suasana belajar yang menyenangkan. Sebagai langkah untuk memberikan

peembelajaran kemampuan dasar`membaca yang menyenangkan bagi anak didik,

pengembang mencoba menerapkan beberapa teknik pembelajaran kemampuan

dasar`membaca yang menyenangkan bagi anak didik, pengembang mencoba

menerapkan beberapa teknik pembelajaran yang menyenangkan bagi anak didik,

pengembang mencoba menerapkan beberapa teknik pembelajaran membaca

diantaranya teknik CIRC (cooperative Integrated Reading and Compotition),

KWI, (Know-Want to Know-Learned), DRA (Directed Reading Actyvity), teknik

DRTA (Directed Reading Thingking Activity), dan CLE (Concentrated Language

Encounter). Bahan ajar berua teks cerita diambil dari cerita yang kontekstual yaitu

teks cerita yang ada di lingkungan sekitar siswa terutama sekitar Ogan Ilir

umumnya Sumatera Selatan. Pengembangan model bahan ajar seperti

dikemukakan terdahulu dilakukan peneliti karena belum ada penyusunan dan

penelitan model bahan ajar tersebut.

MASALAH

Berdasarkan latar belkang masalah di atas, permsalahan yang berkaitan

dengan hal itu adalah bagaimana pengembangan bahan ajar membaca teks cerita

yang dapat digunakan di kelas IV SDN 8 Indralaya Ogan Ilir Secara lebih rinci

rumusan masalah adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana persepsi siswa terhadap pengembangan (kajian teoritik,

identifikasi kebutuhan, dan analisiss bahan ajar) sebagai berikut:model

4


ahan ajar membaca teks cerita yang akan dijadikan bahan pengembangan

pembelajaran.

2. Bagaimna rancanga model bahan ajar membaca teks cerita, serta hasil uji

coba pengembangan bahan ajar

METODELOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian

pengembangan (Researc & Development ). Botg dan Gall (1983:772) mengatakan

“Edicational research and Development (R &D). Berdasarkan pengertian tersebut

yaitu penelitau pengeambangan (R &D) dalam pendidikan merupakan suatu

proses yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk

pendidian, maka serangkaian langkah penelitian dan pengembangan dilakukan

secara siklis, setiap langkah yang akan dilalui atau dilakukan selalu mengacu pada

hasil langka sebelumnya sehingga pada akhirnya diprolh suatu produk pendidikan

yang baru.

Metode penelitian pengembagan menurut Sugiyon (2010:407) atau dalam

bahasa Inggris research & Development adalah metode penelitian yang digunakan

untuk menghasilkan produk tersebut, dan menguji keefektifan produk tersebut.

Penelitian ini menggunakan pengembangan Sogyono dengan melakukan

beberapa mdifikasi tanpa mengurangi makna daro pengembangan tersebut.

5


HASIL PENELITIAN

1. Studi Lapangan

Kegiatan studi lapangan adalah kegiatan pegumpulan informasi yang

meliputi analisis kebutuhan, studi pustaka dan studi literature yang berhubunga

dengan teknik pengajaran membaca dengan menggunakan berbagai teknik dan

observasi lapangan (pengamatan kelas) untuk mendapatkan /mengumpulkan

permsalahan yang dalam pembelajaran membaca pemahaman di SD Negeri 8

Indralaya Ogan Ilir. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk pebgealan sementara

terhadap produk yang akan dikembangkan. Selain itu, untuk mengumpulkan

temuan riset dan informasi lain yang bersangkutan dengan mengembangkan

produk yang direncanakan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui prinsip

pengembagan model bahan ajar berdasarkan kajian teoritik, identifikasi

kebutuhan, dan analisis bahan ajar.

2. Analisis Kebutuhan

Kegiatan analisis kebutuhan dilakukan dengan cara memberikan angka

kepada 30 orang siswa SDN 8 Indralaya. Pertanyaan angket terdiri 24 pertanyaan.

Penyebaran angket dilakukan untuk mengetahui kebutuha siswa dalam

pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pembelajaran membaca. Hasil dari

penyebaran angket diperoleh data berikut ini.

Pertanyaan nomor satu untuk mengetahui suka atau tidak suka siswa

belajar bahasa Indonesia. Data yang diperoleh 30 siswa menyukai pelajaran

bahasa Indonesia. Hal ini berarti 100% siswa menyukai pelajaran Bahasa

Indonesia.

6


Pertanyaan nomor dua untuk mengetahui perhaian siswa dalam mengikuti

pelajaran. Hasil yang didapat sebanyak 29 siswa memperhatikan atau 97% dan 1

orang siswa atau 3% tidak memperhatikan pelajaran Bahasa Indonesia.

Pertanyaan nomor tiga tentang tujuan mempelajari bahasa Indonesia, 1

orang atau 3% bertujuan agar dapat berkomunikasi secara efektif, 22 atau 73%

bertujuan agar dapat mempelajari buku-buku pelajaran dan ilmu pengetahuan

lainnya, 7 orang sisiwa atau 24% bertujuan agar tumbuh kesadaran tentang

pentingnya bahasa dan sastra Indonesia.

Pertanyaan nomor empat 100% siswa menyatakan setuju bahwa tujuan

pembelajaran bahasa Indonesia di SD adalah agar siswa memiliki keteramplan

berbahasa (mendengar, berbicara, membaca, dan menulis) dan keteramplan

bersastra.

Pertanyaan nomor lima 26 sisw atau 87% menyatakan memerlukan

pengetahuan bahasa seperti tata bahasa, pemakaina tanda baca dan sebanyak 4

orang atau 13 % siswa menyatakan tidak memerlukn pengetahua bahsa seperi tata

bahasa, pemakaian tanda baca.

Pertanyaan nomor enam 20 orang siswa atau 66% mengetahui bahwa

guru bahasa Indonesiandi SD ini membuat RPP, 2 orang siswa atau 27% tidak

mengetahui,

Ertnyaan nomor tujuh sebanyak 18 orang siswa atau 60% menyatakan

bahwa guru bahasa Indonesia menggunakan bahan ajar lain selain buku paket, 7

siswa atau 24 % menyatakan guru bahasa Indonesia tidak menggunakan bahan

7


ajar lain selain buku paket, 5 orang siswa atau 16% menyatakan tidak tahu apakah

guru bahasa Indonesia menggunakan bahan ajar lain selain buku paket.

Pertanyaan nomor delapan sebanyak 13 orang siswa atau 43 % setuju

ketika pembelajaran membaca, 17 orang siswa atau 57% tidak setuju.

Pertanyaan nomor Sembilan sebanyak 27 orang siswa atau 90% aktif

belajar dan melaksanakan tugas, sebanyak 3 orang siswa atau 10% guru aktif

mengejar siswa mendengarkan saja.

Pertanyaan nomor sepuluh 27 orang siswa atau 90% memuaskan, 3 orang

siswa atau 10% guru aktif mengajar, siswa mendengarkan saja,

Pertanyaan nomor sebelas 7 orang siswa atau 23 % menyenangi teks

cerita imiah, 23 orang siswa atau 77% menyenangi teks atau 77% menyenngi teks

cerita fiksi.

Pertanyaan nomor dua belas 27 orang siswa atau 90% menyenangi teks

cerita tentang ilmu pengetahuan, 3 orang siswa atau 10$ menyenangi teks cerita

tentang kejadian sehari-hari.

Pertanyaan nomor tiga belas 21 orang siswa atau 70% menyenangi teks

cerita tentang legenda dan dongeng, 9 orang siswa atau 30% menyenagi teks

cerita fable/tentang binatang.

Pertanyaan nomor empat belas sebanyak 14 orang siswa atau 47%

menyatakan cerita dari pulau Jawa, 10 orang siswa atau 33% cerita dari pulau

Sumatera:, 6 orang siwa atau 20% dari daerah sekitar lingkungan siswa.

8


Pertanyaan nomor lima beas sebanyak 11 orang siswa atau 37%

menginginkan sebanyak tiga halaman; 7 orang siswa atau 23% sebanyak dua

halaman; 12 orang siswa atau sbanyak 40% sebanyak satu halaman.

Pertanyaan nomor enam belas sebanyak 7 orang siswa atau 23% siswa

menyatakan sebaiknya bahasa yang digunakan bahasa ilmiah; 23 orang siswa atau

77% menyatakan sebaiknya bahasa yang digunakan bahasa sehari-hari yaitu

bahasa yang mudah dimengert.

Pertanyaan nomor tujuh belas sebanyak 11 orang siswa atau 37%

menyatakan menggunakan kalimat majemuk yang panjang; 19 orang siswa atau

63% menyatakan kalimat sederhana yang pendek.

Pertanyaan nomor delapan belas sebanyak 24 orang siswa atau 80%

menyatakan guru menjelaskan topics teks cerita yang dibaca; 6 orang siswa atau

20% menyatakan tidak dijelaskan, sswa menentukan sendiri apa topik cerita yang

dibacakannya.

Pertanyaan nomor Sembilan belas sebanyak 12 orang siswa atau 24%

menyukai topic kepahlawanan; 3 orang siwa atau 10% menyukai topic tentang

anak-anak, 15 orang siswa atau 50% menyukai topic tentang keluarga.

Pertanyaan nomor dua puluh sebanyak 17 orang siswa atau 57%

menyatakan dilakukan dengan cara siswa membac sendiri lalu menjawab

pertanyaan; 4 orang siswa atau 30% menyatakan guru membaca, siswa menyimak

lalu menjawab pertanyaan; 9 orang siswa atau 13% menyatakan guru mengadakan

permainan tentang teks cerita lalu menjelaskan teks cerita dan siswa menjawab

pertanyaan tentang teks cerita.

9


Pertanyaan nomor dua puluh satu sebanyak 7 siswa atau 23% menyatakan

tidak pernah guru menyuruh menceritakan kembali isi teks cerita di depan kelas; 8

orang siswa atau 27% menyatakan kadang-kadang guru menyuruh mencerutakan

kembali isi teks cerita di depan kelas; 15 orang siswa atau 50% menyatakan sering

guru menyuruh menceritak kembali isi teks di depan kelas.

Pertanyaan nomor dua puluh dua sebanyak 13 orang siswa atau 43% guru

selalu mengadakan evaluasi setiap selesai pembelajaran; 12 orang siswa atau 40%

kadang-kadang mengadakan evaluasi; 5 orang siswa atau 17% tidak pernah

mengadakan evaluasi.

Pertanyaan nomor dua puluh tiga sebanyak 24 orang siswa atau 80%

menyatakan gruru mengambil teks cerita yang akan dibaca dari buku paket yang

ada di sekolah; 2 orang siswa atau 7% menyatakan guru mengambil dari mjalah

anak-anak; 4 orang siswa atau 13% menyatakan guru mengambil cerita dari ceria

sekitar siswa yang dibuat oleh guru’ dan tidak pernah guru mengambil cerita dari

internet.

Pertanyaan nomor 24 sebanyak 20 orang siswa atau 67% menyatakan

hanya 1 buku; 3 orang siswa atau 10% dua buku; 7 orang siswa atau 23% tiga

buku.

B. PEMBAHASAN

Penelitian ini berfokus pada pengembangan model bahan ajar membaca

teks cerita terutama pada komvetensi dasar menemukan fikiran pokok teks agak

panjang dengan cara membaca sekilas. Metodologi pengembangan model bahan

10


ajar membaca teks cerita ini menggunakan langkah-langkh menurut Soegiono

(2010:434) dengan melakukan beberapa modifikasi.

Peneliti mendesain produk dengan merancang berbagai model

pembelajaran yang digunakan dalam mengajarkan teks cerita. Hal ini dilakukan

karena berdasaran pengamatan penliti buku bahan ajar yang ada Selama ini hanya

menyiapkan bahan ajarnya saja. Model bahan ajar yang dikembankan penelii ini

sudah mencatumkan teksnik pembelajaran berupa langkah-langkah yang harus

dilakukan guru bersama siswa di dalam kelas. Teknik pembelajaran yang

digunakan peneliti bervariasi antara satu cerita dengan cerita lainnya. Peneliti

memilih teknik pembelajaran yang menarik minat siswa. Hal ini sejalan dengan

manfaat bahan ajar yang dikemukakan Bandono (2009) bahwa menggunakan

bahan ajar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik. Teknk pembelajaran

yang digunakan peneliti ada ada enam teknik pembelajaran. Teknik tersebut yaitu

(CIRC), teknik (KWI), teknik (DRA), teknik (DRTA), dan teknik CLE.

Model bahan ajar yang dibuat peneliti membuat siswa mempunyai

kesempata untuk belajar secara mandiri. Model bahan ajar ini mengambil ceritacerita

di sekitar lingkungan siswa. Cerita yang diambil merupakan cerita rakyat di

sekitar Ogan Ilir dan Sumatera Selatan. Cerita ini diambil dari internet, buku dan

majalah. Cerita-cerita tersebut merupakan cerita yang kntekstual. Peneliti

mengamati cerita-cerita yang ada pada buku teks sebagian besar erita dri daerah

Jawa. Siswa tidak mengenal verita dari daerahnya sendiri. Daerah Ogan Ilir kaya

dengan cerita-cerita rakyat. Buku siswa yang dibuat peneliti ini selain sebagai

11


ahan ajar juga hendak megenalkan pada siswa tentang cerita dari daerahnya

sendiri. Hal ini diharapkan siswa dapat mengapresiasisastra daerahnya.

Desain produk berupa model bahan ajarsebelum dilakukan uji coba

terlebih dahulu dilakukan validasi oleh dua orang ahli, yaitu ahli di bidang

pengjaran dan ahli di bidang sastra. Berdasarkan hasil validasi peneliti melakukn

revisi ini menghasilkan prototype pertama.

Selanjutnya dari perhitungan koefisen realibilitas dengan menggunakan

rumus koefisen alpha diperoleh koefisen reabilitas = 0,72 karena r n=0,72 lebih

besar dari0,70, maka tes hasil belajar bentuk uraian yang menyajikan butir soal

dan diikuti oleh 20 orang siswa tersebut sudah memiliki reliabilitas tes yang

tinggireliabilitas.

Pada saat dilakukan uji coba terbatas peneliti juga meminta seorang guru

sebagai seorang observer untuk mengamati kegiatan belajar-mengajar. Observer

tersebut yaitu Ibu Rogaya guru SDN 13 Indralaya, beliau menyarankan agar

waktu yang digunakan sebaiknya empat jam peajaran kurang cukup melakukan

aktivitas siswa.

Setelah dilakukan perhitungan hasil uji coba terbatas dan saran-saran dari

observer maka peneliti melakukan revisi dengna mengubah alokasi jumlah jam.

Mengajar menjadi empat jam pelajaran, Revisi pada hasil uji coba terbatas

merupakan revisi kedua. Hasil dari revisi ini diperoleh prototype ketiga.

Pada saat dilakukan uji coba lebih luas peneliti juga meminta seorang guru

sebagai observer untuk mengamati kegiatan belajar mengajar. Observer tersebut

12


yaitu ibu Rustuti guru SDN 16 Indralaya. Beliau menyarankan agar huruf pada

kartu paragraph yang dunakan untuk media pengajaran diperbesar.

Setelah dilakukan penghitungan hasil uji coba lebih luas dan saran-saran

dari observer maka peneliti melakukan revisi dengan mengubah tulisan pada kartu

paragraph sehingga tulisan pada media hurufnya diperbesar. Revisi pada hasil uji

coba lebih luas merupakan revisi ketiga. Hasil dari revisi ini diperoleh prototype

keempat.

Pada saat dilakukan uji keterampilan peneliti juga meminta seoang guru

sebagai observer untuk mengamati kegiatan belajar-mengajar. Observer tersebut

yaitu Ibu Harti Roewaningsh guru SDN 08 Indralaya. Beliau menyatakan bahwa

siswa-siswa sangat antusia membaca cerita pad buku produk pengembangan

karena cerita tersebut ada di lingkungan sekitar siswa. Bliau enyarankn agar tidak

hanya tiga cerita yang dibagikan kepada siswa tapi sepuluh cerita yng ada pada

prduk pengembangn diberikan pada siswa sebagai tambahan bacaan. Setelah

melakukan ftocopi cerita dan membagikan kesepuluh cerita tersebut pada siswa,

peneliti merevisi hasil uji roduk terakhir sebagai model final yang siap digunakan

sebagai buku sswa di sekolah.

Berdasarkan tiga kali uji coba yang dilakukan dengan menghitung

perbandingan antara t hitung dengan tabl maka dapat dinytakan bahwa produk

model bahan ajar berupa buku siswa dapat dipakai sebagai pengembangan model

bahan ajar karena sudah sesuai dengan prinsip pengembangan model bahan ajar

(Bandoo, 2009) yang perkuat pemahamana, umpan balik yang positif, motivasi

belajar yang tinggi, serta mendorong peserta didik untuk mencapai tujuan.

13


Selain itu model bahan ajar in juga bermanfaat bagi guru berupa

penyediaan bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum, tidak selalu tergantung

pada buku teks, memperkaya referensi dan membangun komunikasi pembelajaran

yang efektif. Model bahan ajar ini juga bermanfaa bagi siswa karena kegiatan

pembelajaran menjadi lebih menarik dengan menggunakan berbagai teknik

pembelajaran. Kesempatan untuk belajar mndiri, meskipun mendapat kemudahan

dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasai.

Berdasarkan penelitian dan pengembangan produk model bahan ajar maka

dapat disimpulkan bahwa model bahan ajar membaca teks cerita ini dapt dipakai

di sekolah sebagai pengembangan model bahan ajar.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Penelitian ini telah menghasilkan suatu produk model

bahan ajar

membaca teks cerita dengan pokok bahasan menemukan pikiran pokok teks agar

panjang dengan dengan cara membaca sekilas berupa buku siswa lengkap dengan

tes hasil belajar. Berdasarkan hasil penelitian terhadap model bahan ajar, maka

diperoleh berupa hal ang dapat disimpulkan sebagai hasil penelitian ini

Pertana, model bahan ajar membaca teks cerita ini telah dikembangkan

dalam penelitian yang sudah diuji validasi oleh dua orang validator yang

menyatakan bahwa model bahan ajar ini layak untuk dipakai.

Kedua, model bahan ajar disusun dengan prinsip pengembangan model

bahan ajar yang memperkuat pemahaman, umpan balik yang psitif, motivasi

14


elajar yang tinggi, serta mendorong peserta didik untuk mencapai tujuan. Selain

itu model bahan ajar ini juga bermanfaat bagi guru berupa penyediaan bahan ajar

yang sesuai kurikulum, tidak selalu tergabtung pada buku teks, memperkaya

referensi dan membangun komunikasi pembelajaran yang efektif. Model bahan

ajar ini juga bermanfaat bagi siswa karena kegiatan pembelajaran menjadi lebih

menarik dengan menggunakan berbgai teknik pembelajaran, kesempatan untuk

belajar mandiri, mendapat kemudahan dalm mempelajari setiap kompetensi yang

harus dikuasai. Model bahan ajar berisi cerita yang kontekstua.

Ketiga, model bahan ajar membaca teks cerita yang telah dikembangkan

dalam penelitin ini telah diuji kebenaran atau kepalsuan hipotesisi nihil yang

menyatakan bahwa antara niali pretes dan nilai postes terdapat perbedaan yang

signifikan melalui tes 1. Tes ini diberlakukan pada uji coba terbatas, uji coba lebih

luas dan uji keterterapan. Msing-masing uji coba dilakukan dengan tiga cerita

yang sama. Nilai yang diambil dari masing-masing uji tersebut yaitu nilai pretes

dan niai postes. Setiap melakukan uji coba peneliti melakukan revisi-revisi untuk

menghasilkan prototype selanjutnya. Revisi dilakukan berdasarkan hasil proses

pembelajaran dan saran-saran dari observer.

Keempat, soal tes hasil belajar juga telah diuji validasi dan realiilitasnya

berdasarkan hasil uji coba validasi dan reliabilitas diketahui bahwa kalimat soal

yang digunakan sudah valid dan reliable.

Berdasarkan penelitian dan pengembangan produk model bahan ajar maka

dapat disimpulkan bahwa model bahan ajar membaca teks cerita ini secara

signifikan dapat dipakai di sekolah sebagai pengembangan model bahan ajar.

15


B. SARAN

Pengembangan model bahan ajar membaca teks cerita di kelas IV SDN 8

Indralaya Ogan Ilir yang penerapannya terfokus pada menemukan pikiran poko

teks cerita agak panjang dengan cara membaca sekilas sebelum sempurna masih

terdapat kekurangan secara isi materi maupun teksni, sehingga diharapkan ada

pengembangan lebih lanjut untuk menyempurnakan penelitian ini. Peneliti dalam

laporan penelitian ini memberikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Siswa seharusnya dibiasakan belajar secara mandiri dalam situasi yang

menyenangkan agar proses pembelajaran dapat mencapai hasil yang

diharapkan,

2. Guru seharusnya menyiapkan model bahan ajar yang sesuai dengan

karakteristik siswa,

3. Guru eharusnya menggunakan berbagai teknik pembelajaran sehingga

tidak membosankan siswa.

4. Guru seharusnya membiasakan diri membuat sendiri model bahan ajar

untuk melatih kemampuan menbuat karya tulis yang juga merupakan salah

satu kemampuan guru dalam mencapai angka kredit maupun mencapai

kompetensi pedagogic.

5. Sekolah seharusnya memerikan dukungan pada guru untuk membuat

model bahan ajar.

16


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini,2006. Prosedur Penelitian suatu pendekatan Prakti, Jakarta:

Rineka Cipta.

Bandono,2009, “Pengembangn Bahan Ajar”, Http://bandono.web.id. Diakses 12

Januari 2010.

Berlian, Saudi,2003, Mengenal Seni Budaya Ogan Komering Ilir, Kayuagung:

Pemerintah Kabupaten OKI.

----------, 2003. Ogan Komering Ilir dalam Lintasan Sejarah, Kayuagung:

Pemerintah Kabupaten OKI.

Borg, W.R, And Gall, M.D. 1983. Education Research an Inroduction. London:

Longman, Inc.

Nurgiantoro, Burhan, 1988, Penlaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra,

Yogyakarta: BPEE.

17

More magazines by this user
Similar magazines