program studi supervisi pendidikan jurusan kependidikan islam - idb4

idb4.wikispaces.com

program studi supervisi pendidikan jurusan kependidikan islam - idb4

PELAKSANAAN SUPERVISI INTERNAL DALAM

PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

DI MTS YAYASAN PONDOK KARYA PEMBANGUNAN

CIRACAS JAKARTA TIMUR

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat-Syarat

Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu

Oleh :

Ela Nurlaela

102018124056

PROGRAM STUDI SUPERVISI PENDIDIKAN

JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2006


PELAKSANAAN SUPERVISI INTERNAL

DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM

BERBASIS KOMPETENSI DI MTS YAYASAN

PONDOK KARYA PEMBANGUNAN

CIRACAS JAKARTA TIMUR

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat-Syarat

Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu

Oleh :

Ela Nurlaela

102018124056

Pembimbing,

Drs. H. Nurochim, MM

NIP 050 046 643

PROGRAM STUDI SUPERVISI PENDIDIKAN

JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2006


PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang berjudul “PELAKSANAAN SUPERVISI INTERNAL

DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI DI

MTS YAYASAN PONDOK KARYA PEMBANGUNAN CIRACAS JAKARTA

TIMUR” telah diujikan dalam sidang munaqasah Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 20 November

2006. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

sarjana program strata satu (SI) pada Jurusan Supervisi Pendidikan.

Sidang Munaqasah

Jakarta, 20 November 2006

Dekan

Ketua Merangkap Anggota

Pembantu Dekan II

Sekretaris Merangkap Anggota

Dr. Dede Rosyada, MA

Prof. Dr. H. Aziz Fahrurozi, MA

NIP : 150 231 356 NIP : 150 202 343

Penguji 1

Anggota

Penguji II

Prof. Dr. H. Aziz Fahrurozi, MA

Mu’arif Syam, M.Pd

NIP : 150 202 343 NIP : 150 268 585


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang Maha Karim atas segala rahmat dan

hidayah-Nya yang dianugerahkan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Shalawat serta salam senantiasa penulis sampaikan kepada nabi besar Muhammad

SAW.

Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi persyaratan guna

memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan jurusan KI-Supervisi

Pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis tidak terlepas dari bantuan dan

dorongan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini

penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Dra. Yefnelty,M.Pd. Ketua Jurusan KI-Supervisi Pendidikan yang telah memberi

arahan dan bimbingan dalam penyelesaian skripsi ini.

3. Mu’arif Syam, MPd Sekretaris Jurusan KI-Supervisi pendidikan yang telah

meluangkan waktunya menjadi penguji skripsi ini.

4. Drs. H. Nurochim, MM selaku pembimbing yang telah meluangkan waktunya

untuk membimbing serta memberikan motivasi kepada penulis dalam

menyelesaikan penulisan skripsi ini.

5. Kepala MTs Yayasan Pondok Karya Pembangunan, Nanang Ahmad Hasan, S.Ag

beserta para staf pengajar di MTs PKP, terima kasih atas bantuan dan

kesediaannya memberikan data guna melengkapi penelitian ini.

6. Bapak dan Ibu dosen yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan yang

bermanfaat pada penulis

7. Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah beserta stafnya yang telah membantu

dalam penyediaan buku-buku yang diperlukan penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.


8. Ayahanda H. Dedi Rusmana dan Ibunda Hj. Nyai Sa’diah, Teh Erna dan Kak

Holis dan Eli yang senatiasa memberikan dorongan dan do’a kepada penulis

9. Teman-teman satu angkatan yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah

membantu penulis secara langsung maupun tidak langsung hingga selesainya

skripsi ini.

10. Teman-teman SMA yang telah memberikan motivasi kepada penulis

Akhirnya, dengan segala keterbatasan penulis hanya dapat mengembalikan

segalanya kepada Allah SWT untuk membalas kebaikan mereka, semoga skripsi ini

bermanfaat bagi penulis khusunya dan pembaca pada umumnya. Amin

Jakarta, 4 Oktober 2006

Penulis


PELAKSANAAN SUPERVISI INTERNAL DALAM

PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

DI MTS YAYASAN PONDOK KARYA PEMBANGUNAN

CIRACAS JAKARTA TIMUR

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah……………………………………………………….

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah………………………………………….

C. Tujuan Penelitian……………………………………………………………....

D. Sistematika Penulisan………………………………………………………….

BAB II. KERANGKA TEORITIS

A. Kurikulum Berbasis Kompetensi

1. Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi…………………………...

2. Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi………………………...

3. Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi……………………...

4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum………

5. Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi…….

6. Pendekatan Dalam Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi..

B. Supervisi Pendidikan

1. Pengertian Supervisi Pendidikan………………………………………

2. Tujuan Supervisi Pendidikan

3. Fungsi Supervisi Pendidikan

4. Prinsip Supervisi Pendidikan

5. Teknik Supervisi Pendidikan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

B. Populasi dan Sampel


C. Teknik Pengumpulan Data

D. Definisi Operasional

E. Teknik Analisis Data

BAB IV. HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Obyek Penelitian

B. Deskripsi Data

C. Analisis dan Interpretasi Data

BAB V. PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN


Lampiran

INSTRUMEN WAWANCARA

1. Apakah bapak menyusun dan mengembangkan silabus mapel sesuai dengan

kemampuan peserta didik

2. Strategi apa yang bapak gunakan untuk mengembangkan kompetensi individual

peserta didik

3. Apakah pembelajaran selama ini mendorong terjadinya kerjasama antara sekolah,

masyarakat dan dunia kerja dalam membentuk kompetensi peserta didik

4. Apakah bapak dalam pengembangan kurikulum dilakukan sendiri atau dibantu

pihak lain

5. Apakah ada proses evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan dalam proses

belajar mengajar

6. Apakah bapak merekruit sendiri tenaga kerja yang ada disekolah ini

7. Apakah sarana dan sumber belajar untuk kepentingan pembelajaran sudah

mencukupi

8. Apakah bapak melakukan pembinaan kepada peserta didik untuk memasuki dunia

kerja /melanjutkan sekolah

9. Apakah lingkungan sekolah dapat menunjang kegiatan-kegiatan yang ada

disekolah

10. Apakah ada kendala dalam mengembangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi

yang ada

11. Bagaimana bapak mengatasi kendala tersebut


Lampiran

HASIL WAWANCARA

1. Yang menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran adalah guruguru

bidang studi dibantu dengan guru bidang kurikulum. Guru-guru

diharapkan dapat membuat silabus sendiri sesuai dengan bidang atau mata

pelajaran yang diajarkan

2. Bapak mencoba mengembangkan kompetensi individual peserta didik dengan

mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler yang ada seperti olah raga futsal,

pramuka dan kegiatan lain selain itu dikembangkan juga dibidang komputer

dan laboratorium bahasa dan kami sudah mulai menerapkan penggunaan

bahasa inggris dalam percakapan sehari-hari

3. Sekarang ini baru mengarah kesana, yaitu dengan mengikuti

pertandingan/lomba antar sekolah

4. Dibantu oleh Induk KKM (Kelompok Kerja Madrasah), disini kami

menginduk ke sekolah MTs 7

5. Setiap MID semester dan akhir semester saya dan guru-guru mengadakan

evaluasi untuk melakukan perbaikan selain itu juga saya selalu mensupervisi

kedalam kelas pada saat guru mengajar dan melakukan evaluasi berbasis kelas

6. Yang merekrut tenaga kerja ditangani oleh kepala bidang pendidikan atas

rekomendasi dari yayasan

7. Sarana dan sumber belajar masih ada yang kurang diantaranya saya

mengajukan dana kepada yayasan untuk diadakannya laboratorium sains


8. Yang melakukan pembinaan kepada peserta didik untuk memasuki dunia

kerja atau melanjutkan sekolah ditangani langsung oleh guru BP

9. Dari lingkungan sekolah tidak ada masalah, kami juga ada kepedulian dengan

masyarakat sekitar seperti mengadakan acara santunan dan zakat fitrah

sehingga lingkungan sekolah dapat menunjang kegiatan-kegiatan yang ada.

10. Kendalanya banyak, dari sumber daya manusia, dana dan juga tenaga ahli

11. Cara mengatasinya dengan mengundang tenaga ahli untuk datang kesekolah

untuk mengadakan workshop dan masalah dana kami mengajukan kepihak

yayasan.

Jakarta 13 September 2006

Kepala Sekolah

Nanang Ahmad Hasan, S.Ag


Lampiran

Petunjuk Pengisian

ANGKET PENELITIAN

1. Bacalah pertanyaan dan berita wawancara ini dengan teliti

2. Isilah dengan memberikan tanda lingkaran atau tanda silang (X) pada jawaban

yang bapak/Ibu pilih dengan keadaan sebenarnya.

3. Atas kerjasama dan partisipasi bapak/Ibu saya ucapkan terima kasih.

A. Kuesioner tentang Supervisi Internal

1. Apakah kepala sekolah memeriksa satpel guru sebelum mengajar

a. Selalu c. Kadang-kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

2. Apakah kepala sekolah memeriksa kehadiran guru

a. Selalu c. Kadang-Kadang

Sering

d. Tidak Pernah

3. Apakah kepala sekolah membuat program tahunan

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

4. Apakah kepala sekolah mengadakan penilaian secara kontinyu setiap

semester

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

5. Apakah kepala sekolah memberikan pengarahan dan bimbingan kepada guru

dalam mengajar

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

6. Apakah kepala sekolah memperhatikan kesejahteraan guru

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

7. Apakah kepala sekolah mengadakan penilaian terhadap tugas guru

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

8. Apakah kepala sekolah memberikan kesempatan kepada guru untuk

mengikuti studi banding

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

9. Apakah kepala sekolah memberikan kesempatan untuk melanjutkan studi

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

10. Apakah kepala sekolah memberikan kemudahan kenaikan pangkat guru

a. Selalu c. Kadang-Kadang


. Sering d. Tidak Pernah

B. Kuesioner Tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi

1. Apakah kepala sekolah mengadakan rapat untuk membahas tentang

kurikulum

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

2. Apakah kepala sekolah mengenalkan kepada bapak/Ibu tentang KBK

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

3. Apakah kepala sekolah ikut serta dalam melaksanakan program KBK

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

4. Apakah kepala sekolah menyediakan sarana yang menunjang pelaksanaan

KBK

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

5. Apakah kepala sekolah membimbing Bapak/Ibu dalam menyusun satpel

terutama dalam menerapkan KBK

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

6. Apakah kepala sekolah mengontrol (mensupervisi) kedalam kelas ketika

sedang berlangsung proses belajar mengajar

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

7. Apakah kepala sekolah memberikan bantuan dalam pemecahan masalah yang

dihadapi pada pelaksanaan program KBK

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

8. Apakah kepala sekolah menganjurkan Bapak/Ibu untuk mempelajari lebih

dalam tentang KBK

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

9. Apakah kepala sekolah mengikutsertakan Bapak/Ibu dalam diskusi

kependidikan khususnya tentang KBK

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah

10. Apakah kepala sekolah menganjurkan Bapak/Ibu untuk lebih meningkatkan

kemampuan mengajarnya

a. Selalu c. Kadang-Kadang

b. Sering d. Tidak Pernah


Surat Keterangan

Nomor :

Yang bertanda tangan dibawah ini kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah

Yayasan Pondok Karya Pembangunan menerangkan bahwa :

Nama

: Ela Nurlaela

Tempat /Tgl Lahir : Bogor 04 Oktober 1983

Nim : 102018124056

Program Studi : Kependidikan Islam

Jurusan : Supervisi Pendidikan

Telah mengadakan penelitian disekolah kami mulai September 2006 s/d

Oktober 2006 untuk melengkapi data penyusunan skripsi dengan judul :

“Efektivitas Supervisi Internal Dalam Pengembangan Kurikulum Berbasis

Kompetensi Di MTs Yayasan Pondok Karya Pembangunan Ciracas Jakarta Timur”

Demikianlah surat keterangan ini kami buat dengan sebenarnya agar dapat

dipergunakan sebagaimana mestinya.

Jakarta, September 2006

Kepala sekolah

Nanang A. Hasan. S.Ag


1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan suatu negara pendidikan memegang peranan penting untuk

mrenjamin kelangsungan hidup suatu negara dan bangsa, karena pendidikan

merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya

manusia. Masyarkat Indonesia dengan laju pembangunannya masih menghadapi

masalah pendidikan yang berat, terutama berkaitan dengan kualitas, relevansi dan

efisiensi pendidikan.

Sekolah merupakan lembaga formal sesuai dengan misinya yaitu

melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Kegiatan belajar mengajar ini akan berjalan lancar jika komponen-komponen dalam

lembaga ini terpenuhi dan berfungsi sebagaimana mestinya. Komponen-komponen

tersebut antara lain: sarana dan prasarana yang memadai, terpenuhinya tenaga

pendidikan yang kualified, adanya struktur organisasi yang teratur, dan yang tak kalah

pentingnya adalah peranan kepala sekolah sebagai supervisor internal dalam

mengembangkan komponen-komponen tersebut agar berjalan sesuai dengan tujuan

yang diharapkan.

Dengan demikian standar kompetensi pendidikan diperlukan agar tidak terjadi

penyimpangan, dan kesalahan dalam menafsirkan dan mengimplementasikan

kurikulum. Jika standar kompetensi dan standar mutu pendidikan telah dikembangkan

sesuai dengan visi, misi dan tujuan pendidikan nasional dan kemudian dituangkan

kedalam kurikulum (Kurikulum Berbasis Kompetensi), maka diharapkan Indonesia

mampu memasuki Era Globalisasi.


2

E. Mulyasa mengartikan bahwa Kompetensi adalah “pengetahuan,

keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seorang yang telah menjadi bagian

dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku yang afektif, kognitif dan

psikomotorik dengan sebaik-baiknya. 1

Dlerik Castle mendefinisikan “Competency is the knowledge, skill, attitude,

motive, beahvior, self image social role, traits or intellectual strategy that underlies

effective performance. Jadi, Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap,

motif, perilaku, citra diri, peran sosial, sifat atau strategi ientelektual yang mendasari

performansi yang efektif. 2

Pada dasarnya kompetensi adalah kewenangan ataupun penguasaan untuk

menentukan dan memutuskan sesuatu. 3

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah seperangkat rencana dan

pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai peserta didik,

penilaian kegiatan belajar mengajar dan pemberdayaan sumberdaya pendidikan dalam

pengembangan kurikulum disekolah. 4

Rumusan kompetensi dalam KBK merupakan pernyataan apa yang diharapkan

dapat diketahui, disikapi atau dilakukan peserta didik dalam setiap tingkatan kelas dan

sekolah dan sekaligus menggambarkan kemajuan peserta didik yang dicapai secara

bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten.

KBK merupakan inovasi kurikulum yang berbeda dari kurikulum yang

sebelumnya. Kurikulum yang dulu lebih menekankan pada apa yang diajarkan oleh

guru (teacher centered). Sedangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi selain

1

E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, dan Implementasi,

(Bandung : PT. Rosdakarya, 20020, h.23

2

N.A Ametembun, Kepengawasan Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Suatu Refleksi Bagi

Para Penilik, Kepala Sekolah dan Guru-guru, (Bandung : Suri, 2000) h. 92

3

Depdikbud, kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1990) Cet. Ke-3, h. 453,

W.J.S Poerwadaminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1997), h. 518

4

Balitbang Depdiknas, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta : Pusat Kurikulum, 2003) h. 1


3

memberikan materi juga penekanan lebih pada apa yang harus dikerjakan oleh

peserta didik (student centered).

Dengan demikian Kurikulum Berbasis Kompetensi memberikan keleluasaan

kepada sekolah untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran sesuai

dengan potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik serta kebutuhan

masyarakat disekitar sekolah.

Peran kepala sekolah dalam hal ini adalah sebagai supervisor seorang

pemimpin dalam suatu lembaga pendidikan, harus mampu mengembangkan potensi

yang ada pada staf atau guru disekolah agar dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis

Kompetensi berjalan secara efektif dan efektivitas pelaksanaan supervisi oleh kepala

sekolah akan mempengaruhi kinerja guru dalam melaksanakan kurikulum.

Dalam ensiklopedi Indonesia, Efektivitas berarti menunjukan taraf tercapainya

suatu tujuan, suatu usaha dikatakan efektif kalau usaha itu mencapai tujuannya. 5 Jadi,

jika seseorang melakukan perbuatan dengan tujuan tertentu, maka orang tersebut

dikatakan efektif apabila sasaran atau tujuannya dapat tercapai sesuai dengan

direncanakan sebelumnya.

Berdasarkan hal tersebut diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian

berkaitan dengan : ”EFEKTIVITAS SUPERVISI INTERNAL DALAM

PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI DI MTS

YAYASAN PONDOK KARYA PEMBANGUNAN CIRACAS JAKARTA

TIMUR”

5

Hasan Syadily, Ensiklopedi Indonesia, (Jakarta : Ichtiar Baru-VanHoeve) Jilid 2, h.883


4

B. Identifikasi Masalah

Beberapa masalah yang ada kaitannya dengan judul karya ilmiah ini adalah

sebagai berikut

1. Belum berperannya kepala sekolah sebagai supervisor internal

2. Belum adanya peningkatan kualitas pembelajaran

3. Belum diketahuinya tingkat efektivitas Kurikulum yang ada pada sekolah

tersebut

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Untuk memperjelas bahasan dalam penulisan skripsi ini maka penulis perlu

membatasi tulisan inipada “Peranan Supervisor dalam Pengembangan Kurikulum

Berbasis Kompetensi kepada staff pengajar di MTs Yayasan Pondok Karya

Pembangunan Ciracas Jakarta Timur”

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan

diatas maka penulis mencoba merumuskan masalah sebagai berikut:

³Bagaimanakah peranan supervisor dalam pengembangan Kurikulum Berbasis

Kompetensi di MTs Yayasan Pondok Karya Pembangunan Ciracas Jakarta Timur ´ "

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui bagaimana peranan supervisor dalam pengembangan

Kurikulum Berbasis Kompetensi

2. Untuk mengetahui apakah kepala sekolah selaku supervisor aktif dalam

pengembangan dan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi

3. Untuk mengetahui bagaimana Kurikulum Berbasis Kompetensi berperan

dalam meningkatkan mutu pendidikan.


5

E. Sistematika Penulisan

Keseluruhan pembahasan dalam skripsi ini terdiri dari 5 Bab dengan

sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan. Bab ini mengemukakan tentang latar belakang masalah,

pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian dan sistematika

penulisan.

BAB II : Kajian Teori. Bab ini terdiri dari 5 sub pokok bahasan yaitu

pengertian supervisi, syarat-syarat sebagai supervisor, tugas dan fungsi

supervisor, prinsip-prinsip pelaksanaan supervisi, dan teknik supervisi.

BAB III : Metodologi Penelitian. Bab ini menerangkan tentang langkahlangkah

dan prosedur penelitian yang digunakan penulis meliputi: waktu dan

tempat penelitian, tujuan penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan

data dan teknik analisis data.

BAB IV : Hasil Penelitian. Pada bab ini penulis menerangkan tentang hasil

penelitian yang terdiri dari Gambaran Umum (Objek Penelitian, sejarah

berdirinya, Visi, Misi, Keadaan Guru, Karyawan, Siswa, Keadaan Sarana dan

Prasarana, struktur Organisasi Sekolah), Deskripsi Data, Analisis dan

Intrepetasi Data.

BAB V : Penutup. Pada bab penutup ini meliputi : Kesimpulan dan Saran.


BAB II

KAJIAN TEORI

A. Kurikulum Berbasis Kompetensi

1. Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kompetensi berasal dari kata competency (bahasa inggris), berarti ability

(kemampuan), capability (kesanggupan), proficiency (keahlian), qualification

(kecakapan), eliqibility (memenuhi persyaratan), readiness (kesiapan), skill

(kemahiran), dan adequency (kepadanan). 1

Sedangkan menurut Drs. M. Uzer Usman, Kompetensi adalah suatu hal yang

menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik kualitatif maupun

kuantitatif. 2

Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang

direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus

menerus, sehingga memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam arti

memiliki pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. 3

Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah seperangkat rencana dan pengaturan

tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai peserta didik, penilaian

1

David Marshal, Dictionary of Synonym and Antonym, (Kuala Lumpur : Golden Books Center

SDN BHD, 1994), h. 66

2

Moh. Uzer Usman, menjadi Guru Profesional, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya), 1997,

Cet. Ke-8, h. 8

3

Balitbang Depdiknas, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta : Pusat Kurikulum, 2003),

h.1


7

kegiatan belajar mengajar dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam

pengembangan kurikulum disekolah. 4

Kurikulum Berbasis Kompetensi diartikan suatu konsep kurikulum yang

menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas

dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta

didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu.

Ada beberapa unsur yang terkandung dalam kompetensi, Gordo menjelaskan

beberapa ranah dalam konsep kompetensi :

a. Pengetahuan, kesadaran dalam kognitif

b. Pemahaman, kedalaman kognitif dan afektif individu

c. Kemampuan, sesuatu yang dimiliki peserta didik untuk melaksanakan tugas

yang dibebankan kepadanya.

d. Nilai, standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah

menyatu dalam diri sesorang

e. Sikap, perasaan atau reaksi terhadapsuatu rangsangan yang datang dari luar

f. Minat, kecenderungan seseorang untuk melakukan perbuatan. 5

2. Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum berbasis kompetensi memiliki sejumlah kompetensi yang harus

dikuasai oleh peserta didik, penilaian dilakukan berdasarkan standar khusus sebagai

hasil demonstrasi kompetensi yang ditunjukan oleh peserta didik. Karakteristik

kurikulum berbasis kompetensi antara lain mencakup seleksi kompetensi yang sesuai,

spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan kesuksesan pencapaian

kompetensi dan pengembangan sistem pembelajaran.

4

Ibid. h.1

5

E. Mulyasa, Kurikulum, Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, (Bandung : PT. Remaja

Rosdakarya, 2005), Cet. Ke-7, h. 38


8

Depdiknas (2002) mengemukakan bahwa Kurikulum berbasis kompetensi

memiliki karakteristik sebagai berikut :

1. Menekankan kepada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual

maupun klasikal

2. Berorientasi pada hasil belajar (Learning Outcome) dan keberagaman

3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang

bervariasi

4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang

memenuhi unsur edukatif

5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan

atau pencapaian suatu kompetensi. 6

Lebih lanjut, dari berbagai sumber sedikitnya dapat diidentifikasikan enam

karakteristik kurikulum berbasis kompetensi, yaitu :

1. Sistem belajar dengan modul

Tujuan utama sistem modul adalah untuk meningkatkan efisisensi dan

efektivitas pembelajaran disekolah baik waktu, dana, fasilitas maupun tenaga guna

mencapai tujuan secara optimal. Dengan sistem pembelajaran dengan modul peserta

didik mendapat kesempatan lebih banyak untuk belajar sendiri, membaca uraian dan

petunjuk didalam lembaran kegiatan, menjawab pertanyaan-pertanyaan serta

melaksanakan tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam setiap tugas.

6

Ibid, h. 42


9

2. Menggunakan keseluruhan sumber belajar

Dalam kegiatan pembelajaran pemanfaatan sumber belajar seoptimal mungkin

sangatlah penting, karena keefektifan proses pembelajaran ditentukan pula oleh

kemampuan peserta didik dalam mendayagunakan sumber-sumber belajar.

Pemakaian sumber belajar yang berbeda dan alat peraga yang ada disekolah

memungkinkan adanya berbagai pola organisasi dan implementasi kurikulum.

Pada umumnya terdapat dua cara memanfaatkan sumber belajar dalam

pembelajaran disekolah.

1). Membawa sumber belajar kedalam kelas

2). Membawa kelas kelapangan dimana sumber belajar berada

3. Pengalaman lapangan

Kurikulum berbasis kompetensi lebih menekankan pada pengalaman lapangan

untuk mengakrabkan hubungan antara guru dengan peserta didik. Keterlibatan

anggota tim guru dalam pembelajaran disekolah memudahkan mereka untuk

mengikuti perkembangan yang terjadi selama peserta didik mengikuti pembelajaran.

Disamping itu, mereka juga dapat meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan

pengalaman dalam ruang lingkup yang lebih luas untuk menumpang profesinya

sebagai guru.

4. Strategi Belajar Individual

Belajar Individual adalah berdasarkan tempo belajar peserta didik sedangkan

belajar personal adalah interaksi edukatif berdasarkan keunikan peserta didik, bakat,

minat dan kemampuan (personalisasi). Kurikulum berbasis kompetensi tidak akan


10

berhasil secara optimal tanpa individualisasi dan personalisasi. Individualisasi dan

personalisasi dalam konteks ini tidak hanya sekedar individualisasi dalam

pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan kognitif peserta didik tetapi mencakup

respons-respons terhadap perasaan pribadi dan kebutuhan pertumbuhan psikososial

peserta didik.

5. Kemudahan Belajar

Kemudahan belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi diberikan melalui

kombinasi antara pembelajaran individual personal dengan pengalaman lapangan dan

pembelajaran secara tim (team teaching). Hal tersebut dilakukan melalui berbagai

saluran komunikasi yang dirancang untuk itu seperti video, televisi, radio, buletin,

jurnal,dan surat kabar.

6. Belajar Tuntas

Belajar tuntas merupakan strategi pembelajaran yang dapat dilaksanakan

didalam kelas dengan asumsi bahwa didalam kondisi yang tepat semua peserta didik

akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil belajar secara maksimal

pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis.

3. Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Dalam memberikan penjelasan mengenai pengertian pengembangan

kurikulum, maka akan dibahas mengenai pengertian kurikulum terlebih dahulu. Hal

ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam memahami pengertian pengembangan

kurikulum itu sendiri.


11

Kurikulum dalam arti sempit, ialah sejumlah mata pelajaran atau sejumlah

pengetahuan yang harus dikuasai oleh anak didik untuk mencapai suatu tingkat atau

ijazah pada suatu lembaga pendidikan. 7

Berdasarkan pengertian yang demikian, seolah-olah memberi gambaran

bahwa kurikulum itu hanya merupakan rencana pengajaran atau silabus dari beberapa

mata pelajaran yang hendak diajarkan disuatu kelas pada suatu lembaga pendidikan.

Terlihat bahwa proses kegiatan belajar mengajar murid dengan guru terbatas pada apa

yang dicantumkan pada rencana pengajaran artinya segala kegiatan belajar mengajar

yang ada hubungannya dengan pencapaian tujuan yang tercantum dalam rencana

pengajaran tidak termasuk kurikulum.

Pengertian kurikulum secara luas, Drs. Nazhary mengemukakan bahwa

“kurikulum ialah semua pengalaman yang dialami dan dilakukan oleh anak didik

dibawah tanggung jawab sekolah, baik didalam maupun diluar kelas dalam rangka

pencapaian tujuan pendidikan. 8

Istilah pengembangan menunjukan pada suatu kegiatan yang menghasilkan

suatu alat atau cara yang baru, dimana selama kegiatan tersebut penilaian dan

penyempurnaan terhadap cara atau alat tersebut terus dilakukan. Bila telah mengalami

penyempurnaan-penyempurnaan akhirnya alat atau cara tersebut dipandang cukup

7

Nazhary, Pengorganisasian, pembinaan dan Pengembangan kurikulum, (Jakarta :

Dermaga,1993), Cet. Ke-3, h.1

8

Ibid., h.2


12

mantap untuk digunakan seterusnya, maka berakhirlah kegiatan pengembangan

tersebut. 9

Pengertian pengembangan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah

proses, cara, perbuatan mengembangkan. Sedangkan pengembangan kurikulum

adalah proses atau cara dalam mengembangkan kurikulum. Pada dasarnya

pengembangan kurikulum ialah mengarahkan kurikulum sekarang ketujuan

pendidikan yang diharapkan karena adanya berbagai pengaruh yang sifatnya positif

yang datangnya dari luar atau dari dalam sendiri, dengan harapan agar peserta didik

dapat menghadapi masa depannya dengan baik.

Subandijah mengemukakan pengertian pengembangan kurikulum yaitu

“Suatu proses yang direncanakan menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan

didasarkan pada suatu hasil penilaian terhadap kurikulum yang berlaku, sehingga

dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang lebih baik.” Dengan kata lain

pengembangan kurikulum adalah kegiatan yang menghasilkan kurikulum kurikulum

baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang

dilakukan selama periode tertentu. 10

Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) memfokuskan pada

kompetensi tertentu, berupa paduan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat

9

Hendyat Soetopo dan Wasty Soemantoro, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum

(Sebagai Substansi problem Administrasi), Jakarta : PT. Bumi Aksara, 1993), cet. Ke-4, h.45

10

Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,

1993), Cet. Ke-1, h.45


13

didemontrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang

dipelajarinya. 11

Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi mempunyai beberapa

keunggulan dibandingkan model-model lainnya. Pertama, pendekatan ini bersifat

alamiah (konstektual), karena berangkat, berfokus dan bermuara pada hakekat peserta

didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensinya masingmasing.

kedua, kurikulum berbasis kompetensi boleh jadi mendasari pengembangan

kemampuan-kemampuan lain. Penguasaan ilmu pengetahuan, dan keahlian tertentu

dalam suatu pekerjaan, kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan seharihari,

serta pengembangan aspek-aspek kepribadian dapat dilakukan secara optimal

berdasarkan standar kompetensi tertentu. ketiga, ada bidang-bidang studi mata

pelajaran tertentu yang dalam pengembangannya lebih tepat menggunakan

pendekatan kompetensi, terutama yang berkaitan dengan keterampilan.

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum

Sekolah mendapatkan pengaruh dari kekuatan-kekuatan yang ada dalam

masyarakat, terutama dari perguruan tinggi dan masyarakat.

1. Perguruan Tinggi

Kurikulum mendapat dua pengaruh dari perguruan tinggi. Pertama, dari

pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan diperguruan

tinggi umum. Kedua, dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta

11

E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi,

(Bandung : PT. Rosdakarya, 2002), h.61-69


14

penyiapan guru-guru di Perguruan Tinggi Keguruan (Lembaga Pendidikan Tenaga

Kependidikan). Jenis pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di Perguruan

Tinggi akan mempengaruhi isi pelajaran yang akan dikembangkan dalam kurikulum.

Kurikulum lembaga pendidikan tenaga kependidikan juga mempengaruhi

pengembangan kurikulum, terutama melalui penguasaan ilmu dan kemampuan

keguruan dari guru-guru yang dihasilkannya.

2. Masyarakat

Sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan mempersiapkan anak untuk

kehidupan dimasyarakat. Sebagai bagian dari masyarakat, sekolah sangat dipengaruhi

oleh lingkungan masyarakat dimana sekolah tersebut berada. Isi kurikulum

hendaknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan

masyarakat disekitarnya.

3. Sistem Nilai

Dalam kehidupan masyarakat terdapat sistem nilai, baik nilai moral,

keagamaan, sosial, budaya maupun nilai politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat

juga bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan penerusan nilai-nilai. Sistem nilai

yang akan dipelihara dan diteruskan tersebut harus terintegrasikan dalam kurikulum.

Masyarakat memiliki berbagai aspek sosial ekonomi, politik dan sebagainya. Aspekaspek

tersebut juga mengandung nilai-nilai yang berbeda. Ada beberapa hal yang

perlu diperhatikan guru dalam mengajarkan nilai : (1) guru hendaknya menegtahui

dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat, (2) guru hendaknya

berpegang pada prinsip demokrasi, etis, dan moral, (3) Guru berusaha menjadikan


15

dirinya sebagai teladan yang patut ditiru, (4) guru menghargai nilai-nilai kelompok

lain, (5) Memahami dan menerima keragaman kebudayaan sendiri. 12

5. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Dalam usaha mengembangkan kurikulum, ada beberapa prinsip dasar yang

harus diperhatikan agar kurikulum yang dihasilkan sesuai dengan apa yang

diharapkan oleh semua pihak yaitu, sekolah itu sendiri, murid beserta orang tua,

masyarakat dan pemerintah. 13

Prinsip-prinsip dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi harus

sesuai dengan kondisi negara, kebutuhan masyarakat, dan berbagai perubahan yang

sedang berlangsung dewasa ini.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2002), prinsip-prinsip

pengembangan KBK yaitu sebagai berikut:

1. Keimanan, nilai, dan budi pekerti luhur

2. Penguatan Integrasi Nasional

3. Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika.

4. Kesamaan memperoleh kesempatan

5. Abad Pengetahuan dan Teknologi Informasi

6. Pengembangan keterampilan untuk hidup

7. Belajar sepanjang hayat

8.Berpusat pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan komprehensif

9. Pendekatan menyeluruh dan kemitraan. 14

Prinsip-prinsip utama yang harus diperhatikan adalah prinsip relevansi,

efektivitas, efisiensi dan prinsip kesinambungan (kontinuitas).

12

Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, Teori, dan Praktek, (Bandung : PT.

Remaja Rosdakarya, 2004), Cet. Ke-6, h. 158

13

Hendyat Sotopo dan Wasty Soemantoro, Loc.cit. h.48

14

E. Mulyasa, Op.Cit. h.70


16

1. Prinsip Relevansi

Secara umum, istilah relevan dapat diartikan sebagai kesesuaian atau

keserasian pendidikan dengan tuntutan kehidupan. Dengan kata lain pendidikan

dipandang relevan bila hasil yang diperoleh dari pendidikan tersebut berguna atau

fungsional bagi kehidupan.

Masalah relevansi pendidikan dengan kehidupan dapat ditinjau sekurangkurangnya

dari tiga segi. Pertama, relevansi pendidikan dengan lingkungan hidup

murid. Kedua, relevansi dengan perkembangan kehidupan masa sekarang dan masa

yang akan datang. Ketiga, relevansi pendidikan dengan tuntutan dalam dunia

pekerjaan.

a. Relevansi pendidikan dengan lingkungan hidup murid

Dalam menetapkan bahan pendidikan yang akan dipelajari murid,

hendaknya dipertimbangkan sejauh mana bahan tersebut sesuai dengan

kehidupan nyata yang ada disekitar murid.

b. Relevansi dengan perkembangan kehidupan masa sekarang dan masa yang

akan datang.

Dalam menetapkan bahan pendidikan, disamping mempertimbangkan

lingkungan hidup murid, perlu diperhatikan pula perkembangan yang

terjadi dalam kehidupan dimasa sekarang maupun dimasa yang akan

datang.

c. Relevansi dengan tuntutan dalam dunia pekerjaan


17

Disamping relevansi dari segi isi pendidikan, tidaklah kalah pentingnya

juga adalah relevansi dari segi kegiatan belajar mengajar. Kurangnya

relevansi dari segi kegiatan belajar ini sering mengakibatkan sukarnya

lulusan dalam menghadapi tuntutan dari dunia pekerjaan. 15

2. Prinsip Efektivitas

Efektivitas dalam suatu kegiatan berkenaan dengan apa yang direncanakan

dan diinginkan, dapat terlaksana atau tercapai. Bila ada 10 jenis kegiatan yang

direncanakan dan tercapai 4 kegiatan yang dilaksanakan, maka efektivitas kegiatan

tersebut kurang memadai didalam bidang pendidikan, efektivitas ini ditinjau dari dua

segi efektivitas mengajar guru dan efektivitas belajar murid.

a. Efektivitas Mengajar Guru

Efektivitas mengajar guru terutama mencakup sejauh mana jenis-jenis

kegiatan belajar mengajar yang direncanakan dapat dialaksanakan dengan baik.

Dalam rangka pengembangan kurikulum, usaha untuk meningkatkan efektivitas

mengajar guru perlu dipertahankan.

b. Efektivitas Belajar Murid

Efektivitas belajar murid terutama menyangkut sejauhmana tujuan-tujuan

pelajaran yang diinginkan telah dapat dicapai melalui kegiatan belajar mengajar yang

ditempuh. Dalam rangka pengembangan kurikulum, usaha untuk meningkatkan

15

Hendyat Soetopo dan Wasty Soemantoro, Op.Cit., h. 49


18

efektivitas belajar murid dilakukan dengan memilih jenis-jenis metode dan alat yang

dipandang paling ampuh didalam mencapai tujuan yang diinginkan.

3. Prinsip Efisiensi

Efisiensi suatu usaha pada dasarnya merupakan perbandingan antara hasil

yang dicapai (out put) dan usaha yang telah dikeluarkan (input). Dalam dunia

pendidikan, tentu saja sukar untuk membandingkan nilai hasil dan usaha yang telah

dikeluarkan. Sekalipun demikian, dalam pengembangan kurikulum dalam pendidikan

pada umumnya, prinsip efisiensi ini perlu diperhatikan, baik efisiensi dari segi waktu,

tenaga, peralatan, dan efisiensi dari segi biaya. 16

4. Prinsip Kesinambungan (Kontinuitas)

Yang dimaksud adalah hubungan antara berbagai tingkat dan jenis atau

lembaga pendidikan.

a. Kesinambungan antar berbagai tingkat sekolah

Dalam menyusun kurikulum sekolah hendaknya dipertimbangkan hal-hal

sebagai berikut:

1). Bahan-bahan pelajaran yang diperlukan untuk belajar lebih lanjut pada

tingkat sekolah yang berikutnya hendaknya sudah diajarkan pada

tingkat sekolah sebelumnya.

2). Bahan-bahan pelajaran yang sudah diajarkan pada tingkat lebih rendah

tidak perlu diajarkan pada sekolah yang lebih tinggi

16

Ibid., h. 50-51


19

b. Keseimbangan antara berbagai bidang studi

Bahan yang diajarkan pada berbagai bidang studi sering mempunyai

hubungan satu sama lainnya. Sehubungan dengan hal itu, urutan dalam penyajian

berbagai bidang studi hendaknya diusahakan sedemikian rupa agar hubungan tersebut

dapat terjain dengan baik. 17

6. Pendekatan Dalam Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Pendekatan dalam pengembangan kurikulum merefleksikan pandangan

seseorang terhadap sekolah dan masyarakat. Para pendidik pada umumnya tidak

berpegang pada salah satu pendekatan secara murni, tetapi menganut beberapa

pendekatan yang sesuai. Pendekatan dalam pengembangan kurikulum mempunyai

arti yang sangat luas. Hal tersebut bisa berarti penyusunan kurikulum baru

(curriculum construction), bisa juga penyempurnaan terhadap kurikulum yang sedang

berlaku (curriculum improvement).

Dalam hal ini, Syaodih mengemukakan pendekatan pengembangan kurikulum

berdasarkan sistem pengelolaan dan berdasarkan fokus sasaran.

1. Pendekatan Pengembangan Kurikulum Berdasarkan Sistem Pengelolaan

Dilihat dari pengelolaanya pengembangan kurikulum dibedakan antara sistem

pengelolaan yang terpusat (sentralisasi) dan tersebar (desentralisasi). Dengan adanya

kebijakan otonomi daerah maka pengelolaan kurikulum tidak lagi sentralisasi tetapi

desentralisasi sehingga pengembangan kurikulum lebih berbasis daerah atau

17

Ibid., h. 52


20

kewilayahan. Model kurikulumnya akan beragam sesuai dengan tujuan, fungsi, dan

isi program pendidikan.

2. Pendekatan Pengembangan Kurikulum Berdasarkan Fokus Sasaran

Berdasarkan fokus sasaran, pengembangan kurikulum dibedakan antara

pendekatan yang mengutamakan penguasaan ilmu pengetahuan yang menekankan

pada isi atau materi, penguasaan kemampuan standar yang menekankan pada

penguasaan kemampuan potensial yang dimiliki peserta didik sesuai dengan tahaptahap

perkembangannya, penguasaan kompetensi yang menekankan pada

pemahaman dan kompetensi tertentu disekolah, pembentukan pribadi yang

menekankan pada pengembangan atau pembentukan aspek-aspek kepribadian secara

utuh, baik pengetahuan, keterampilan, maupun nilai dan sikap, dan penguasaan

kemampuan memecahkan masalah sosial kemasyarakatan yang menekankan pada

pengembangan kemampuan memecahkan masalah-masalah yang ada dimasyarakat. 18

Keterkaitan kurikulum berbasis kompetensi dengan pendekatan lain adalah

bahwa keduanya sama-sama menekankan pada kemampuan, hanya berbeda jenis

kemampuannya. Dalam pendekatan kompetensi kemampuan yang dikembangkan

adalah kemampuan yang mengarah pada pekerjaan, sedang dalam pendekatan

kemampuan standar pada kemampuan umum. Pendekatan kemampuan standar dapat

dipandang sebagai bagian dari pendekatan kompetensi atau sebaliknya pendekatan

kemampuan standar mencakup kompetensi umum dan kompetensi kerja.

18

E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik, dan Implementasi,

(Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2004), Cet. Ke-5, h. 65


21

B. Supervisi Pendidikan

1. Pengertian Supervisi Pendidikan

Dilihat dari sudut etimologi supervisi berasal dari kata “super dan vision yang

masing-masing kata itu berarti atas dan penglihatan. Jadi secara etimologis, Supervisi

adalah penglihatan dari atas. Pengertian itu merupakan arti kiasan yang

menggambarkan suatu posisi yang melihat berkedudukan lebih tinggi dari pada yang

dilihat”. 19

Orang yang berfungsi memberi bantuan kepada guru-guru dalam menstimulir

guru-guru kearah usaha mempertahankan suasana belajar mengajar yang lebih baik

kita sebut Supervisor. Semua guru tetap pada statusnya sebagai guru, tetapi bila suatu

saat ia berfungsi membantu guru memecahkan persoalan belajar dan mengajar dalam

rangka mencapai tujuan pendidikan, maka pada saat itu ia berfungsi sebagai

Supervisor.

Dalam bukunya Good Carter, Dictionary of Education, supervisi adalah

“usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas

lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi

pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan

pendidikan, bahan-bahan pengajaran dan metode mengajar dan evaluasi

pengajaran”. 20

19

Subari, Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Perbaikan Situasi Belajar Mengajar, (Jakarta :

Bumi Aksara, 1994) h. 1

20

Piet. A. Sahertian dan Frans Mataheru, Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, (Surabaya :

Usaha Nasional, 1981) Cet Ke-1. h. 18


22

Menurut H. Burton dan Leo J. Bruckner, supervisi adalah “suatu teknik yang

tujuan utamanya mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama faktor-faktor

yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak”. 21 Sedangkan menurut

Kimball Wiles, mendefinisikan “supervisi yaitu bantuan dalam perkembangan dari

belajar mengajar yang baik”. 22

Menurut Ngalim Purwanto, “supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang

direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam

melakukan pekerjaan mereka secara efektif”. 23

Supervisi diartikan “sebagai pelayanan yang disediakan oleh pemimpin untuk

membantu guru-guru, orang yang dipimpin agar menjadi guru (personil) yang cakap

sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan pendidikan

khususnya agar mampu meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar

disekolah”. 24 Jadi, supervisi adalah sebagai suatu usaha layanan dan bantuan berupa

bimbingan dari atasan (kepala sekolah) kepada personil sekolah (guru-guru) dan

petugas sekolah lainnya.

Supervisor sebagai pengawas pendidikan bertindak sebagai stimulator,

pembimbing dan konsultan bagi guru-guru dalam perbaikan pengajaran dan

menciptakan situasi belajar mengajar yang baik. Selain itu juga supervisi diharapkan

21

Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, Pedoman penyelenggaraan Administrasi pendidikan,

(Surabaya : Usaha Nasional, 1981) cet Ke-1. H. 18

22

Piet A. Sahertian dan frans Mataheru, Op.cit. h. 21

23

Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta : Remaja Rosdakarya,

2000), h. 76

24

Hadari Nawawi, Administrasi pendidikan, (Jakarta : CV. Haji Masagung, 1989). Cet. Ke-1 h.

109


23

mampu membawa dampak perkembangan yang baik bagi kemajuan proses

pengajaran melalui peningkatan kurikulum yang ada disekolah sebagai salah satu

sarana dalam meningkatkan mutu pendidikan.

2. Tujuan Supervisi Pendidikan

Dalam melakukan suatu pekerjaan orang yang terlibat dalam pekerjaan itu

harus mengetahui dengan jelas apakah tujuan pekerjaan itu, yaitu apa yang hendak

dicapai. Dibidang pendidikan dan pengajaran seorang supervisor pendidikan harus

mempunyai pengetahuan yang cukup jelas tentang apakah tujuan supervisi itu.

Tujuan umum supervisi pendidikan adalah memperbaiki situasi belajar

mengajar, baik belajar para siswa, maupun situasi mengajar guru. 25

Wiles dan W.H. Burton sebagaimana dikutip oleh Burhanuddin

mengungkapkan bahwa tujuan supervisi pendidikan adalah “membantu

mengembangkan situasi belajar mengajar kearah yang lebih baik. Tujuan supervisi

pendidikan tidak lain adalah untuk meningkatkan pertumbuhan siswa dan dari sini

sekaligus menyiapkan bagi perkembangan masyarakat”. 26

25

Imam Soepandi, Dasar-dasar Administrasi Pendidikan, Universitas Jember Depdikbud

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga

Kependidikan, (Jakarta : 1998), h. 65

26

Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan pendidikan (Jakarta :

Bumi Aksara, 1994), h. 29


24

Amatembun merumuskan tujuan supervisi pendidikan (dalam hubungannya

dengan tujuan pendidikan nasional) yaitu “membina orang-orang yang disupervisi

menjadi manusia-manusia pembangunan yang dewasa yang berpancasila”. 27

Yushak Burhanuddin mengemukakan bahwa tujuan supervisi pendidikan

adalah “dalam rangka mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik

melalui pembinaan dan peningkatan profesi mengajar, secara rinci sebagai berikut:

a. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi belajar mengajar

b. Mengendalikan penyelenggaraan bidang teknis edukatif disekolah sesuai

dengan ketentuan-ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan

c. Menjamin agar kegiatan sekolah berlangsung sesuai dengan ketentuan yang

berlaku, sehingga berjalan lancar dan memperoleh hasil optimal.

d. Menilai keberhasilan sekolah dalam pelaksanaan tugasnya

e. Memberikan bimbingan langsung untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan,

dan kehilafan serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi sekolah,

sehingga dapat dicegah kesalahan yang lebih jauh”. 28

Pelaksanaan supervisi dalam lapangan pendidikan pada dasarnya bertujuan

“memperbaiki proses belajar mengajar secara total”. 29 Dalam hal ini bahwa tujuan

supervisi tidak hanya memperbaiki mutu mengajar guru, akan tetapi juga membina

pertumbuhan profesi guru dalam arti luas termasuk

pengadaan fasilitas yang

menunjang kelancaran pembelajaran, meningkatkan mutu pengetahuan dan

keterampilan guru, memberikan bimbingan dan pembinaan dalam pelaksanaan

kurikulum, pemilihan dan penggunaan metode mengajar dan teknik evaluasi

pengajaran.

27

N.A. Ametembun, Supervisi Pendidikan Penuntun Para Penilik Pengawas dan Guru-guru

(Bandung : Suri, 2000), Edisi ke-5, h. 24-25

28

Yushak Burhanuddin, Administrasi Pendidikan, (Bandung : CV. Pustaka Setia) cet. Ke-1, h.

100

29

Ngalim Purwanto. Op.Cit. h. 77


25

3. Fungsi Supervisi Pendidikan

Tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu proses kerjasama hanyalah

merupakan cita-cita yang masih perlu diwujudkan melalui tindakan-tindakan yang

nyata. Begitu juga seorang supervisor dalam merealisasikan program supervisinya

memiliki sejumlah tugas dan tanggungjawab yang harus dijalankan secara sistematis.

Menurut W.H. Burton dan Leo. J. Bruckner sebagaimana dikutip oleh Piet A.

Sahertian menjelaskan bahwa fungsi utama supervisi adalah menilai dan

memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi hal belajar. 30

Menurut Swearingen, terdapat 8 (delapan) hal yang menjadi fungsi supervisi

pendidikan yakni:

a. Mengkoordinasikan semua usaha sekolah

b. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah

c. Memperluas pengalaman guru-guru

d. Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif

e. Memberi fasilitas dan penilaian yang terus menerus

f. Menganalisis situasi belajar mengajar

g. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staf

h. Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan mengajar

guru-guru. 31

Sesuai dengan fungsinya, supervisi harus bisa mengkoordinasikan semua

usaha-usaha yang ada dilingkungan sekolah. Ia bisa mencakup usaha setiap guru

dalam mengaktualisasikan diri dan ikut memperbaiki kegiatan-kegiatan sekolah.

Dengan demikian perlu dikoordinasikan secara terarah agar benar-benar mendukung

30

Piet A. Sahertian, Supervisi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta 2000), Cet. Ke-1. H.23

31

Piet A. Sahertian dan frans Mataheru, Prinsip dan teknik Supervisi Pendidikan (Surabaya :

Usaha Nasional, 1981), h. 25


26

kelancaran program secara keseluruhan. Usaha-usaha tersebut baik dibidang

administrasi maupun edukatif, membutuhkan keterampilan supervisor untuk

mengkoordinasikannya, agar terpadu dengan sasaran yang ingin dicapai.

Oteng Sutisna mengemukakan beberapa fungsi supervisi :

a. Sebagai penggerak perubahan

b. Sebagai program pelayanan untuk memajukan pengajaran

c. Sebagai keterampilan dalam hubungan manusia

d. Sebagai kepemimpinan kooperatif. 32

Supervisi sebagai penggerak perubahan ditujukan untuk menghasilkan

perubahan manusia kearah yang dikehendaki, kemudian kegiatan supervisi harus

disusun dalam suatu program yang merupakan kesatuan yang direncanakan dengan

teliti dan ditujukan kepada perbaikan pembelajaran.

Terkait dengan itu, proses bimbingan dan pengendali maka supervisi

pendidikan menghendaki agar proses pendidikan dapat berjalan lebih baik efektif dan

optimal. Adapun indikasi lebih baik itu diantaranya adalah:

a. Lebih mempercepat tercapainya tujuan

b. Lebih memantapkan penguasaan materi

c. Lebih menarik minat belajar siswa

d. Lebih baik daya serapnya

e. Lebih banyak jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar

f. Lebih mantap pengelolaan administrasinya

g. Lebih mantap pemanfaatan media belajarnya. 33

32

Oteng Sutisna, Administrasi dan Supervisi Pendidikan Dasar dan Teoritis Untuk Praktek

Profesional, (Bandung : Angkasa 1989), Edisi Ke-5, h. 27

33

Departemen Agama RI Supervisi Madrasah Aliyah (Jakarta : Direktorat Jendral Pembinaan

Lembaga Islam Proyek Pembinaan Perguruan Agama Islam Tingkat Menengah 1998), h.5


27

Menurut Zakiah Drajat ada tiga fungsi supervisor yaitu “fungsi

kepemimpinan, fungsi pembinaan dan fungsi pengawasan”. 34

Fungsi kepemimpinan kepala sekolah bertindak sebagai pencipta hubungan

yang harmonis dikalangan guru-guru dan karyawan, pendorong bagi kepribadian guru

dan karyawan sebagai pelaksana kegiatan belajar, pelaksana dalam pengawasan, dan

pelaksana dalam penempatan atau pemberian tugas dan tanggung jawab terhadap

guru dan karyawan.

Fungsi pembinaan berarti kepala sekolah meningkatkan kemampuan profesi

guru dalam bidang pengajaran, bimbingan dan penyuluhan dalam bidang pengelolaan

kelas.

Sedangkan fungsi pengawasan diartikan sebagai membina pengertian melalui

komunikasi dua arah lebih menjamin terlaksananya kegiatan sesuai dengan program

kerja.

Jadi dari beberapa pendapat diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa inti

dari fungsi supervisi pendidikan adalah ditujukan untuk perbaikan dan peningkatan

pembelajaran.

4. Prinsip Supervisi Pendidikan

Seorang pemimpin pendidikan yang berfungsi sebagai supervisor dalam

melaksanakan supervisi hendaknya bertumpu pada prinsip supervisi sebagai berikut:

a. Ilmiah (scientific) yang mencakup unsur-unsur sebagai berikut

1). Sistematis, yaitudilaksanakan secara teratur, berencana dan kontinyu

34

Zakiyah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara 1996), Cet. Ke-3, h.14


28

2). Objektif artinya data yang didapat berdasarkan pada observasi nyata,

bukan tafsiran pribadi

3). Menggunakan alat/instrumen yang dapat memberikan informasi sebagai

umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses belajar

mengajar.

b. Demokratis

Menjunjung tinggi asas musyawarah. Memiliki jiwa kekeluargaan yang

kuat, serta sanggup menerima pendapat orang lain

c. Kooperatif

Seluruh staf sekolah dapat bekerja sama, mengembangkan usaha bersama

dalam menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik.

d. Konstruktif dan kreatif

Membina inisiatif guru serta mendorongnya untuk aktif

menciptakan suasana dimana tiap orang merasa aman dan dapat

mengembangkan potensi-potensinya. 35

Disamping prinsip itu dapat dibedakan juga prinsip positif dan prinsip

negatif.

a. Prinsip positif, yaitu prinsip yang patut kita ikuti

1). Supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif

2). Supervisi harus kreatif dan konstruktif

3). Supervisi harus scientific dan efektif

4). Supervisi harus dapat memberi perasaan aman kepada guru-guru

5). Supervisi harus berdasarkan kenyataan

6). Supervisi harus memberi kesempatan kepada guru mengadakan Self

Evolution. 36

b. Prinsip Negatif, yaitu prinsip yang tidak patut kita ikuti

1). Seorang supervisor tidak boleh bersifat otoriter

2). Seorang supervisor tidak boleh mencari kesalahan pada guru-guru

3). Seorang supervisor bukan inspektur yang ditugaskan memeriksa apakah

peraturan dan instruksi yang telah diberikan dilaksanakan dengan baik.

4). Seorang supervisor tidak boleh menganggap dirinya lebih tinggi dari para

guru.

35

Piet A. Sahertian dan Frans Mataheru, Loc.cit

36

Hendiyat Soetopo dan Wasti Soemanto, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta

Bumi Aksara, 1998), Cet Ke-2, h. 42


29

5). Seorang supervisor tidak boleh terlalu banyak memperhatikan hal kecil

dalam cara guru mengajar.

6). Seorang supervisor tidak boleh lekas kecewa jika mengalami kegagalan. 37

Bila prinsip-prinsip diatas diterima maka perlu diubah sikap para pemimpin

pendidikan yang hanya memaksa bawahannya, menakut-nakuti dan melumpuhkan

kreatifitas dari anggota staf. Sikap korektif harus diganti dengan sikap kreatif yaitu

sikap yang menciptakan situasi dan relasi dimana orang merasa aman dan tenang

untuk mengembangkan kreatifitasnya.

5. Teknik Supervisi Pendidikan

Dalam usaha meningkatkan program sekolah, kepala sekolah sebagai

supervisor dapat menggunakan berbagai teknik atau metode supervisi pendidikan.

Supervisi dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan tujuan agar apa yang

diharapkan bersama dapat tercapai.

Teknik supervisi pendidikan berarti suatu cara atau jalan yang digunakan

supervisor pendidikan dalam memberikan pelayanan atau bantuan kepada para

supervisor. 38 Hendyat Soetopo membagi teknik supervisi menjadi empat bagian yaitu

: “Teknik Kelompok, Teknik Perseorangan, Teknik langsung, dan Teknik Tidak

Langsung”. 39

Kemudian Baharuddin Harahap mengemukakan teknik supervisi

37

Soekarto Indra Fachrudi, Bagaimana Memimpin Sekolah Yang Baik, (Jakarta : Ghalia

Indonesia), Cet. Ke-3, h.73

38

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga

Kependidikan, (Jakarta 1998), h.78

39

Hendyat Soetopo dan Wasti Soemanto, Loc.cit


30

meliputi : “Teknik Individual, Teknik Kelompok, Teknik Lisan, Teknik Tulisan,

Teknik langsung dan Teknik Tak Langsung”. 40

Yang dimaksud dengan teknik perseorangan adalah supervisi yang dilakukan

secara individual. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan yaitu :

a. Mengadakan Kunjungan Kelas (Class room Visitation)

Ada 3 macam kunjungan kelas

1). Kunjungan tanpa diberitahu (unannounced visitation), supervisor tiba-tiba

datang kekelas tanpa diberitahu terlebih dahulu.

2). Kunjungan dengan cara memberitahu terlebih dahulu (announced

visitation)

3). Kunjungan atas undangan

b. Mengadakan kunjungan observasi (Observation Visit).

Ada 2 macam observasi kelas

1). Observasi langsung (direck observation)

2). Observasi tak langsung (indireck observation)

c. Membimbing guru-guru tentang cara-cara mempelajari pribadi

siswa atau mengatasi masalah yang dialami siswa.

d. Membimbing guru-guru dalam hal-hal yang berhubungan dengan

pelaksanaan kurikulum sekolah antara lain :

40

Baharuddin Harahap, Supervisi Pendidikan, (Jakarta : PT. Ciawi Jaya, 1983), h. 11


31

1) Menyusun program catur wulan/ program semester

2) Menyusun atau membuat program satuan pelajaran

3) Mengorganisasi kegiatan-kegiatan pengelolaan kelas

4) Melaksanakan teknik-teknik evaluasi pengajaran

5) Menggunakan media dan sumber dalam PBM

6) Mengorganisasi kegiatan siswa dalam bidang ektrakurikuler, studi tour dan

sebagainya. 41

Sedangkan teknik kelompok adalah suatu cara pelaksanaan program supervisi

yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Bentuk-bentuk teknik yang bersifat

kelompok ini, diantaranya yang paling pokok adalah :

a. Dengan mengadakan pertemuan atau rapat dengan guru-guru untuk

membicarakan berbagai hal yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar

siswa.

b. Mengadakan dan membimbing diskusi kelompok diantara guru-guru bidang

studi.

c. Memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk mengikuti penataran yang

sesuai dengan bidangnya.

d. Membimbing guru-guru dalam mempraktekkan hasil-hasil penataran yang

telah diikuti. 42

Adapun teknik kelompok diantaranya yang umum dikenal adalah :

a. Pertemuan orientasi bagi guru baru.

b. Kepanitiaan

c. Rapat Guru

d. Diskusi

e. Tukar menukar pengalaman (sharing of experience).

f. Loka Karya (workshop)

g. Diskusi Panel

h. Seminar

i. Simposium. 43

41

Parsono, et.al, Landasan Kependidikan, (Jakarta : Universitas Terbuka 1992), h. 32

42

Ngalim Purwanto, Loc.cit

43

Piet A. Sahertian, Loc.cit


32

Teknik langsung adalah teknik yang digunakan secara langsung seperti

penyelenggaraan rapat guru, workshop, kunjungan kelas, mengadakan converence.

Sedangkan teknik tidak langsung adalah teknik yang dilakukan secara tidak langsung

misalnya melalui bulletin board, questioner.

Teknik lisan adalah supervisi yang dilakukan secara tatap muka misalnya,

supervisor mendiskusikan hasil observasi yang dilakukan guru, rapat dengan guru

membicarakan hasil evaluasi belajar. Sedangkan teknik tulisan adalah supervisi yang

dilakukan dengan menggunakan tulisan misalnya dalam kegiatan observasi untuk

memperoleh data

yang objektif tentang situasi belajar mengajar, supervisi

menggunakan alat-alat observasi berbentuk chek-list atau daftar sejumlah pertanyaan

(evaluatif chek-list).


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MTs Yayasan Pondok Karya Pembangunan

mulai bulan September 2006 sampai bulan Oktober 2006

B. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian, dimana seseorang ingin

meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian tersebut, dan penelitiannya

disebut penelitian populasi. 1

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh guru di MTs

Yayasan Pondok karya Pembangunan yang berjumlah 19 orang yang terdiri dari 9

orang perempuan dan 10 orang laki-laki.

Sedangkan Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. 2

Penelitian ini mengambil sampel kepada sebagian guru di MTs Yayasan Pondok

Karya Pembangunan sebanyak 15 0rang.

C. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data dan informasi ini penulis menggunakan beberapa

teknik pengumpulan data yaitu :

1

Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian Suatu Pendekatan praktek, (Jakarta : PT. Rineka

Cipta, 2002), Edisi Revisi V, h. 108

2

Ibid., h. 109


34

1. Observasi; observasi dilakukan dengan dan mengamati keadaan sekolah,

sarana dan prasarana serta data yang mendukung lainnya di MTs Yayasan Pondok

Karya Pembangunan.

2. Angket; yaitu teknik pengumpulan data dengan memberikan pertanyaan

disertai pilihan jawaban yang sudah disediakan. Bentuk angket yang digunakan

adalah angket langsung yang bersifat tertutup dengan bentuk pilihan ganda, dan

responden diminta untuk memilih salah satu jawaban yang telah tersedia. Yang

menjadi responden adalah guru di MTs Yayasan Pondok Karya Pembangunan

berjumlah 15 0rang guru.

3. Wawancara; yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan tanya

jawab antara peneliti dengan kepala sekolah Yayasan pondok Karya Pembangunan

berkaitan dengan masalah yang dibahas dan diteliti.

D. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data merupakan suatu cara yang digunakan untuk

menguraikan keterangan-keterangan atau data yang diperoleh agar data tersebut dapat

dipahami bukan saja oleh orang yang meneliti, akan tetapi juga oleh orang lain yang

ingin mengetahui hasil penelitian ini.

Penggunaan teknik analisis data dalam penelitian ini disesuaikan dengan

tujuan yang ingin dicapai untuk mengetahui pelaksanaan tugas kepala sekolah

sebagai pemimpin pendidikan dan peranannya dalam mengembangkan Kurikulum

Berbasis Kompetensi di MTs Yayasan Pondok Karya Pembangunan, maka data yang


35

penulis peroleh dari angket yang disebarkan, diolah dengan menggunakan langkahlangkah

sebagai berikut

1. Pengeditan

Dalam pengolahan data, yang pertama kali yang dilakukan adalah Editing

yaitu meneliti satu persatu kelengkapan pengisian dan kejelasan penulisannya, dalam

tahap ini dilakukan pengecekkan terhadap kelengkapan dan kebenaran pengisian dan

kejelasan penulisannya.

2. Pentabulasian

Tabulasi ini bertujuan untuk mendapatkan frekuensi dalam tahap item yang

penulis kemukakan. Untuk itu dibuatlah suatu tabel yang mempunyai kolom pada

setiap bagian angket sehingga terlihat jawaban responden yang satu dengan yang lain.

3. Persentase

Perhitungan ini digunakan untuk mengetahui besar kecilnya tingkat

keberhasilan yang diperoleh kepala sekolah Madrasah Pondok Karya Pembangunan

dalam mengembangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Angka persentase ini

diperoleh dengan cara frekuensi jawaban dibagi jumlah responden dikalikan 100%

dengan rumus statistik persentase sebagai berikut:

f

P = x 100

N

Keterangan :

P = Persentase

f = Frekuensi jawaban responden


36

N = Jumlah data responden

Data yang didapat dari setiap item pertanyaan akan dibuat satu tabel yang

didalam langsung dibuat frekuensi dan prosentase.

E. Definisi Operasional dan Kisi-kisi Instrumen

1. Definisi Operasional

Supervisi Internal yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kepala

sekolah dalam menjalankan tugas-tugas kesupervisian yaitu memberikan bantuan dan

bimbingan kepada guru-guru untuk meningkatkan profesinya.

Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi maksudnya ialah upaya dan

inisiatif dari kepala sekolah untuk melakukan pengembangan kurikulum terhadap

komponen kurikulum dan bersifat kelembagaan dalam upaya meningkatkan kualitas

hasil lulusan

2. Kisi-kisi Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket yang bertujuan

untuk memperoleh data mengenai pelaksanaan supervisi internal yaitu kepala sekolah

dalam mengembangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Angket ini terdiri dari

pertanyaan-pertanyaan yang memiliki empat pilihan alternatif jawaban yaitu selalu

(SL), sering (SR), Kadang-kadang (KK) dan tidak pernah (TP)

Responden hanya memilih satu dari empat alternatif jawaban tersebut sesuai

dengan pendapat atau keadaan sebenarnya. Angket yang digunakan terdiri dari 20

butir soal yang disebarkan kepada 15 orang guru.


37

Kisi-Kisi Kuesioner

Variabel Dimensi Indikator No Item

Supervisi

Internal

Perencanaan

Pelaksanaan

Perbaikan

Kepala sekolah memeriksa

satpel guru sebelum mengajar

Kepala sekolah memeriksa

kehadiran guru

Kepala sekolah membuat

program tahunan

Kepala sekolah mengadakan

penilaian secara kontinyu

setiap semester

Kepala sekolah memberikan

pengarahan dan bimbingan

dalam mengajar kepada guru

Kepala sekolah

memperhatikan kesejahteraan

guru

Kepala sekolah mengadakan

penilaian terhadap tugas guru

Kepala sekolah memberikan

kesempatan kepada guru

untuk mengikuti studi banding

Kepala sekolah memberikan

kesempatan untuk

melanjutkan studi

Kepala sekolah memberikan

kemudahan kenaikan pangkat

guru

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10


38

Variabel Dimensi Indikator No Item

Kurikulum

Berbasis

Kompetensi

Sosialisasi

Peningkatan

Kepala sekolah mengadakan

rapat untuk membahas

tentang kurikulum

Kepala sekolah mengenalkan

kepada Bapak/Ibu tentang

KBK

Kepala sekolah ikut

melaksanakan program KBK

Kepala sekolah menyediakan

sarana yang menunjang dalam

pelaksanaan KBK

Kepala sekolah membimbing

Bapak/Ibu dalam menerapkan

satpel terutama dalam

menerapkan KBK

Kepala sekolah mengontrol

(mensupervisi) kedalam kelas

ketika sedang berlangsung

proses belajar mengajar

Kepala sekolah memberikan

bantuan dalam pemecahan

masalah yang dihadapi pada

pelaksanaan program KBK

Kepala sekolah menganjurkan

Bapak/Ibu untuk mempelajari

lebih dalam tentang KBK

Kepala sekolah

mengikutsertakan Bapak/Ibu

dalam diskusi kependidikan

khususnya tentang KBK

Kepala sekolah menganjurkan

Bapak/Ibu untuk lebih

meningkatkan kemampuan

mengajarnya

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20


BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Sejarah berdirinya MTs Yayasan Pondok karya Pembangunan (PKP)

Awal mula berdirinya MTs Yayasan Pondok Karya Pembangunan (PKP)

adalah pada tahun 1976 yang berlokasi di wilayah Kelapa Dua Wetan Kecamatan

Pasar Rebo Jakarta Timur. Gagasan awal berdirinya PKP berasal dari Yayasan PTDI

(Pusat Pendidikan Dakwah Islam) yang dipimpin Letjen TNI (Pur) H. M. Sarbini,

Letjen TNI (Pur) H. Soedirman, Jend. (Pur) H. Soetjipto Judodihardjo dan Laksda

TNI (Pur) dr. H. M. Sukmadi.

Nama “ Pondok Karya Pembangunan” mengandung harapan bagi para

pendiri. PKP merupakan lembaga independent dan bebas dari kepentingan politik.

Pendirian PKP DKI Jakarta sebagai proyek Monumental MTQ Nasional V tahun

1972 sekaligus untuk syiar islam pada masa kepemimpinan gubernur H. Ali

Sadikin. 1

2. Keadaan Guru

Guru merupakan salah satu komponen kependidikan, karena dengan adanya

gurulah proses pembelajaran dapat berjalan. Demikian juga dalam keberhasilan

proses pembelajaran gurulah faktor pendidikan yang menentukan. Setiap guru

mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda.

1

Azhari Baedlawie, dkk. 30 Tahun Perjalanan Kampus DKI Jakarta, (Jakarta : Kampus PKP

DKI Jakarta), h. 10-12

39


40

Mengingat keberadaannya sangat penting dalam menunjang kegiatan belajar

mengajar dan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan serta untuk menentukan

maju mundurnya suatu lembaga pendidikan, maka peranan guru sangat penting dan

sangat menentukan. Oleh karena itu guru yang berkompetensi dan berdedikasi sangat

dibutuhkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

Jumlah guru di MTs Yayasan Pondok Karya Pembangunan berjumlah 19

orang guru yang terdiri dari 9 orang guru perempuan dan 10 orang guru laki-laki.

Tabel 1

Staff Pengajar Di MTs Pondok Karya Pembangunan

No Nama Guru Bidang Studi Lulusan

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

Nanang Ahmad Hasan S.Ag

H. Masykur Herdianto S.Ag

Syabani S.Ag

Tuti Alawiyah S.Ag

Sukarno

Eko Muchdiyanto

Euis Srihayati

Kiki Rizki Diah P S.Ag

Sulastri S.Pd

Pujianto

Reni Ariyanti S.Pd

Soimun

Suwarto S.Pd

Yusmawati S.Pd

Euis Mulyani S.Pd

Iin Sofiani S.Pd

Anatta Sanai S.Pd

Suheli S.Pd

Atjih S.Pd

Sejarah Kebudayaan Islam

Aqidah Akhlaq

Bahasa Arab

Fiqh

Elektronik

Matematika

Biologi

BP

Sejarah

Pendidikan Jasmani

Matematika

Geografi

Ekonomi

Pend. Kewarganegaraan

Kesenian

Bahasa Inggris

Teknik Komputer

Alqur’an Hadits

Bahasa Indonesia

SI Tarbiyah

SI Tarbiyah

SI Tarbiyah

SI Tarbiyah

D3 IKIP

D3 IKIP

D3 IKIP

SI Dakwah

SI IKIP

D3 IKIP

SI IKIP

D3 IKIP

SI IKIP

SI IKIP

SI IKIP

SI IKIP

SI IKIP

SI Tarbiyah

SI IKIP

Sumber Data : Formulir Madrasah Tsanawiyah Tahun 2005/2006


41

3. Sarana dan Prasarana

Sarana adalah suatu alat yang secara langsung mempengaruhi proses

pencapaian tujuan, sedangkan prasarana yaitu semua fasilitas yang diperlukan dalam

proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun tidak bergerak agar pencapaian

tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien. Jadi

sarana dan prasarana merupakan faktor penunjang keberhasilan dalam proses belajar

mengajar.

Tabel 2

Sarana dan Prasarana MTs PKP

No Sarana dan Prasarana Jumlah

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

Ruang Kelas

Ruang Kepala Sekolah

Ruang Guru

Ruang TU

Lab Komputer

Lab Bahasa

Ruang perpustakaan

Ruang UKS

Koperasi

Aula

Masjid/Mushalla

Kantin

Dapur

WC Guru

WC Siswa

8

1

1

1

4

2

1

1

1

1

1

1

1

1

4

Sumber Data : Formulir Statistik Madrasah

Tsanawiyah Tahun 2005/2006


42

B. Deskripsi Data

Seperti yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya bahwa salah satu

teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan

menggunakan angket, untuk memperoleh data mengenai pelaksanaan supervisi

internal dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Angket disusun berdasarkan dimensi dan indikator dari variabel yang diteliti,

angket ini terdiri dari 20 item. 10 pertanyaan mengenai supervisi internal dan 10

pertanyaan tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Pembahasan mengenai hasil angket penulis awali dengan melakukan proses

kualifikasi data (memberi nilai terhadap jawaban angket) dalam bentuk tabel, langkah

penting selanjutnya adalah menganalisa dan menginterpretasikannya.

C. Analisis dan Interpretasi Data

Pembahasan mengenai hasil angket ini yaitu membuatkan tabulasi yang

merupakan proses pengubah data dari instrumen pengumpulan data angket menjadi

tabel-tabel sebagai berikut :

Tabel 3

Memeriksa Satpel Sebelum Mengajar

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

0

0

7

8

0

0

47

53

Jumlah 15 100


43

Pada tabel 3 tampak bahwa kepala sekolah tidak pernah memeriksa satpel

guru sebelum mengajar. Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden yang menjawab

selalu 0 %, sering 0 %, dan yang menjawab kadang-kadang 47 %, dan yang

menjawab tidak pernah 53 %. Dari data yang dihimpun dapat disimpulkan kepala

sekolah menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada masing-masing guru

bidang studi

Tabel 4

Memeriksa Kehadiran Guru

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

11

4

0

0

73

27

0

0

Jumlah 15 100

Pada tabel diatas terungkap bahwa kepala sekolah selalu memeriksa

kehadiran guru dan menanyakan alasannya apabila bapak/ibu guru tidak hadir. Hal ini

dapat dilihat dari jawaban responden yang menjawab selalu 73 %, menjawab sering

27 %, yang menjawab kadang-kadang 0 %, dan yang menjawab tidak pernah 0 %.

Dari data yang dihimpun dapat disimpulkan kepala sekolah bertanggung jawab

terhadap kedisiplinan dan profesionalitas para staf pengajarnya.

Tabel 5

Membuat Program Tahunan

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

11

3

1

0

73

20

7

0

Jumlah 15 100


44

Pada tabel 5 tampak bahwa kepala sekolah selalu membuat program

tahunan. Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden yang memberikan jawaban

selalu 73 %, yang menjawab sering 20 %, menjawab kadang-kadang 7 %, dan

menjawab tidak pernah 0 %. Dari data yang dihimpun dapat disimpulkan kepala

sekolah memiliki program tahunan yang menjadi acuan dalam meningkatkan kualitas

pembelajaran disekolah.

Tabel 6

Melakukan Penilaian

Secara Kontinyu Setiap Semester

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

7

2

5

1

47

13

33

7

Jumlah 15 100

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa kepala sekolah selalu mengadakan

penilaian terhadap guru secara kontinyu setiap semester . Hal ini dilihat dari jawaban

responden yang menjawab selalu 47 %, menjawab sering 13 %, yang menjawab

kadang-kadang 33 %, dan yang menjawab tidak pernah 7 %. Dari data yang dihimpun

dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah selalu mengevaluasi kinerja para staf

pengajarnya secara kontinyu sehingga kepala sekolah dapat mengetahui meningkat

atau tidaknya hasil pembelajaran pada setiap semester.


45

Tabel 7

Memberikan Pengarahan dan

Bimbingan Kepada Guru Dalam Mengajar

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

3

2

10

0

20

13

67

0

Jumlah 15 100

Pada tabel 7 tampak bahwa kepala sekolah kadang-kadang memberikan

pengarahan dan bimbingan kepada guru dalam mengajar. Hal ini dapat dilihat dari

jawaban responden yang memberikan jawaban selalu 20 %, sering 13 %, yang

menjawab kadang-kadang 67 %, dan menjawab tidak pernah 0 %. Dari data yang

dihimpun dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah memberikan tanggung jawab

sepenuhnya kepada guru dalam mengajar dan

kepala sekolah berhak untuk

memberikan arahan dan bimbingan kepada guru.

Tabel 8

Memperhatikan Kesejahteraan Guru

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

6

0

7

2

40

0

47

13

Jumlah 15 100

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa kepala sekolah kadang-kadang

memperhatikan kesejahteraan guru. Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden yang

menjawab selalu 40 %, sering 0 %, yang menjawab kadang-kadang 47 %, dan yang

menjawab tidak pernah 13 %.Dari data yang dihimpun dapat disimpulkan bahwa


46

salah satu faktor penunjang kinerja seorang guru adalah dengan meningkatkan

kesehjateraannya, untuk itu kepala sekolah harus memperhatikan kesejateraan para

staf pengajarnya.

Tabel 9

Mengadakan Penilaian Terhadap Tugas Guru

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

1

3

10

1

7

20

66

7

Jumlah 15 100

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa kepala sekolah kadang-kadang

mengadakan penilaian terhadap tugas guru. Hal ini dilihat dari jawaban responden

yang menjawab selalu 7 %, sering 20 %, yang menjawab kadang-kadang 66 %, dan

yang menjawab tidak pernah 7 %. Dari data yang dihimpun dapat disimpulkan bahwa

kepala sekolah kurang memperhatikan tugas yang dilakukan seorang guru apakah

sudah dilakukan dengan baik atau tidak.

Tabel 10

Memberikan Kesempatan Kepada Guru

Untuk Mengikuti Studi Banding

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

1

0

10

4

7

0

66

27

Jumlah 15 100


47

Pada tabel diatas tampak bahwa kepala sekolah kadang-kadang memberikan

kesempatan kepada guru untuk mengikuti studi banding. Hal ini dapat dilihat dari

jawaban responden yang menjawab selalu 7 %, sering 0 %, yang menjawab kadangkadang

66 %, dan yang menjawab tidak pernah 27 %. Dari data yang dihimpun dapat

disimpulkan bahwa studi banding salah satu cara untuk memperluas wawasan ilmu

pengetahuan untuk itu, kepala sekolah harus selalu memberi kesempatan kepada guru

untuk mengikuti studi banding.

Tabel 11

Memberikan Kesempatan Untuk Melanjutkan Studi

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

6

2

7

0

40

13

47

0

Jumlah 15 100

Pada tabel 11 tampak bahwa kepala sekolah kadang-kadang memberikan

kesempatan kepada guru untuk melanjutkan studi/sekolah. Hal ini dapat dilihat dari

jawaban responden yang menjawab selalu 40 %, sering 13 %, yang menjawab

kadang-kadang 47 %, dan yang menjawab tidak pernah 0 %. Dari data yang dihimpun

dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah harus memberikan kesempatan kepada guru

untuk melanjutkan studi atau sekolah agar guru dapat bertambah ilmu pengetahuan

dan tingkat kesejahteraannya.


48

Tabel 12

Memberikan Kemudahan Kenaikan Pangkat

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

6

5

4

0

40

33

27

0

Jumlah 15 100

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa kepala sekolah selalu memberikan

kemudahan kenaikan pangkat kepada guru. Hal ini dapat dilihat dari jawaban

responden yang menjawab selalu 40 %, sering 33 %, yang menjawab kadang-kadang

27 %, dan yang menjawab tidak pernah 0 %. Dari data yang dihimpun dapat

disimpulkan kepala sekolah tidak mempersulit guru dalam kenaikan pangkat.

Tabel 13

Mengadakan Rapat

Untuk Membahas Tentang Kurikulum

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

7

8

0

0

47

53

0

0

Jumlah 15 100

Pada tabel diatas terungkap bahwa kepala sekolah sering mengadakan rapat

untuk membahas tentang kurikulum. Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden

yang menjawab selalu 47 %, sering 53 %, yang menjawab kadang-kadang 0 %, dan

yang menjawab tidak pernah 0 %. Dari data yang dihimpun dapat disimpulkan bahwa

dengan seringnya diadakan rapat untuk membahas tentang kurikulum maka kepala

sekolah dapat mengevaluasi setiap program yang ada dalam kurikulum tersebut.


49

Tabel 14

Mengenalkan Kepada Bapak/Ibu

Tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

8

6

1

0

53

40

7

0

Jumlah 15 100

Pada tabel diatas tampak bahwa kepala sekolah selalu mengenalkan kepada

guru tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi. Hal ini tampak pada tabel dari

jawaban responden yang menjawab selalu 53 %, menjawab sering 40 %, yang

menjawab kadang-kadang 7 %, dan yang menjawab tidak pernah 0 %.Dari data yang

dihimpun dapat disimpulkan kepala sekolah telah mengenalkan Kurikulum Berbasis

Kompetensi kepada guru

Tabel 15

Ikut Serta Dalam Melaksanakan Program

Kurikulum Berbasis Kompetensi

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

9

5

1

0

60

33

7

0

Jumlah 15 100

Dari tabel diatas tampak bahwa kepala sekolah selalu ikut serta dalam

melaksanakan program yang ada dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Hal ini

dapat dilihat dari jawaban responden yang menjawab selalu 60 %, menjawab sering

33 %, yang menjawab kadang-kadang 7 %, dan yang menjawab tidak pernah 0 %.

Dari data yang dihimpun disimpulkan kepala sekolah merupakan salah satu staf


50

pengajar yang wajib ikut serta dalam melaksanakan program yang ada dalam

Kurikulum Berbasis kompetensi.

Tabel 16

Menyediakan Sarana Yang Menunjang

Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

3

8

4

0

20

53

27

0

Jumlah 15 100

Kepala sekolah sering menyediakan sarana yang dapat menunjang

pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Hal ini tampak dari jawaban

responden yang menjawab selalu 20 %, menjawab sering 53 %, yang menjawab

kadang-kadang 27 %, dan yang menjawab tidak pernah 0 %. Dari data yang dihimpun

dapat disimpulkan kepala sekolah bertanggung jawab terhadap sarana yang

menunjang dalam proses belajar mengajar.

Tabel 17

Membimbing Bapak/Ibu Dalam Menyusun Satuan Pelajaran

Terutama Dalam Menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

2

2

10

1

13

13

67

7

Jumlah 15 100

Pada tabel diatas tampak bahwa kepala sekolah kadang-kadang membimbing

guru dalam menyusun satuan pelajaran terutama dalam menerapkan Kurikulum

Berbasis Kompetensi. Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden yang menjawab


51

selalu 13 %, sering 13 %, kadang-kadang 67 %, dan yang menjawab tidak pernah 7

%. Dari data yang dihimpun dapat disimpulkan bahwa dalam menyusun satuan

pelajaran terutama dalam menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi kepala

sekolah menyerahkan sepenuhnya kepada guru.

Tabel 18

Mensupervisi Kedalam Kelas

Ketika Sedang Berlangsung Proses Belajar Mengajar

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

2

1

12

0

13

7

80

0

Jumlah 15 100

Pada tabel diatas tampak bahwa kepala sekolah kadang-kadang mensupervisi

kedalam kelas ketika sedang berlangsung proses belajar mengajar. Hal ini dilihat dari

jawaban responden menjawab selalu 13 %, sering 7 %, yang menjawab kadangkadang

80 %, dan menjawab tidak pernah 0 %. Dari data yang dihimpun dapat

disimpulkan bahwa salah satu tugas kepala sekolah adalah mensupervisi. Untuk

mengetahui bagaimana seorang guru berinteraksi dengan peserta didik maka kepala

sekolah harus mensupervisi kedalam kelas ketika berlangsung proses belajar

mengajar.


52

Tabel 19

Memberikan Bantuan Dalam Pemecahan Masalah Yang Dihadapi Pada

Pelaksanaan Program Kurikulum Berbasis Kompetensi

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

6

4

3

2

40

27

20

13

Jumlah 15 100

Pada tabel 19 diatas kepala sekolah selalu memberikan bantuan dalam

pemecahan masalah yang dihadapi oleh guru terutama dalam pelaksanaan program

Kurikulum Berbasis Kompetensi. Hal ini dilihat dari jawaban responden yang

menjawab selalu 40 %, sering 27 %, yang menjawab kadang-kadang 20 %, dan

menjawab tidak pernah 13 %. Dari data yang dihimpun dapat disimpulkan bahwa

salah satu tugas dan tanggung jawab seorang supervisor internal adalah membantu

dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh guru.

Tabel 20

Menganjurkan Bapak/Ibu Untuk Mempelajari Lebih Dalam Tentang

Kurikulum Berbasis Kompetensi

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

5

6

4

0

33

40

27

0

Jumlah 15 100

Pada tabel diatas tampak bahwa kepala sekolah sering menganjurkan kepada

guru untuk mempelajari lebih dalam tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi. Hal ini

dilihat dari jawaban responden yang menjawab selalu 33 %, sering 40 %, yang

menjawab kadang-kadang sebanyak 27 %, dan yang menjawab tidak pernah 0 %.


53

Dari data yang dihimpun dapat disimpulkan bahwa untuk menambah wawasan

tentang kurikulum maka kepala sekolah menganjurkan guru untuk mempelajari lebih

dalam tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi

Tabel 21

Mengikutsertakan Bapak/Ibu Dalam Diskusi Kependidikan

Khususnya Tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

8

4

1

2

53

27

7

13

Jumlah 15 100

Pada tabel diatas tampak bahwa kepala sekolah selalu mengikutsertakan para

guru dalam diskusi kependidikan khususnya tentang Kurikulum Berbasis

Kompetensi. Hal ini dilihat dari jawaban responden yang menjawab selalu 53 %,

sering 27 %, yang menjawab kadang-kadang sebanyak 7 %, dan yang menjawab

tidak pernah 13 %. Dari data yang dihimpun dapat disimpulkan bahwa salah satu cara

untuk menambah wawasan tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah dengan

ikut serta dalam diskusi kependidikan.

Tabel 22

Menganjurkan Bapak/Ibu Untuk

Lebih Meningkatkan Cara Mengajarnya

No Jawaban Alternatif F %

1

2

3

4

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Tidak Pernah

8

2

4

1

53

13

27

7

Jumlah 15 100


54

Kepala sekolah selalu menganjurkan kepada guru untuk lebih meningkatkan

cara mengajarnya. Hal ini dilihat dari jawaban responden yang menjawab selalu 53

%, sering 13 %, yang menjawab kadang-kadang 27 %, dan yang menjawab tidak

pernah 7 %. Dari data yang dihimpun dapat disimpulkan kepala sekolah dapat

memberikan masukan kepada guru bagaimana cara meningkatkan kualitas dalam

mengajar.

Rekapitulasi

Frekuensi Jawaban Angket

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat secara umum pelaksanaan supervisi

internal dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi di MTs Yayasan

Pondok Karya Pembangunan, seperti tergambar dalam tabel berikut ini :

NO

Pertanyaan/Indikator

Frekuensi Jawaban

SL SR KK TP

1 Kepala sekolah memeriksa satpel sebelum 0 0 7 8

mengajar

2 Kepala sekolah memeriksa kehadiran guru 11 4 0 0

3 Kepala sekolah membuat program tahunan 11 3 1 0

4 Kepala sekolah mengadakan penilaian 7 2 5 1

secara kontinyu setiap semester

5 Kepala sekolah memberikan pengarahan 3 2 10 0

dan bimbingan kepada guru

6 Kepala sekolah memperhatikan 6 0 7 2

keejahteraan guru

7 Kepala sekolah mengadakan penilaian 1 3 10 1

terhadap guru

8 Kepala sekolah memberikan kesempatan 1 0 10 4

kepada guru untuk mengikuti studi

banding

9 Kepala sekolah memberikan kesempatan 6 2 7 0

untuk melanjutkan studi

10 Kepala sekolah memberikan kemudahan 6 5 4 0


55

kenaikan pangkat guru

11 Kepala sekolah mengadakan rapat untuk 7 8 0 0

membahas tentang kurikulum

12 Kepala sekolah mengenalkan kepada guru 8 6 1 0

tentang KBK

13 Kepala sekolah ikut serta dalam 9 5 1 0

melaksanakan program KBK

14 Kepala sekolah menyediakan sarana yang 3 8 4 0

menunjang pelaksanaan KBK

15 Kepala sekolah membimbing guru dalam 2 2 10 1

menyusun satpel terutama dalam

menerapkan KBK

16 Kepala sekolah mensupervisi kedalam 2 1 12 0

kelas ketika sedang berlangsung proses

belajar mengajar

17 Kepala sekolah memberikan bantuan 6 4 3 2

dalam pemecahan masalah yang dihadapi

pada pelaksanaan program KBK

18 Kepala sekolah menganjurkan guru untuk 5 6 4 0

mempelajari lebih dalam tentang KBK

19 Kepala sekolah mengikutsertakan guru 8 4 1 2

dalam diskusi kependidikan khususnya

tentang KBK

20 Kepala sekolah menganjurkan guru untuk 8 2 4 1

lebih meningkatkan cara mengajarnya

Jumlah 110 67 101 22

Berdasarkan perhitungan penulis melalui analisis presentasi maka

selanjutnya penulis melakukan interpretasi data. Dari data yang penulis analisa

mengenai Pelaksanaan Supervisi Internal Dalam Pengembangan Kurikulum Berbasis

Kompetensi di MTs Yayasan Pondok Karya Pembangunan sebagai berikut:

Dalam menjalankan tugas kesupervisian yang dilaksanakan oleh kepala

sekolah berjalan cukup baik. Hal ini dapat dilihat pada tabel 2,3,4,10 yaitu kepala

sekolah selalu memeriksa kehadiran guru, membuat program tahunan, mengadakan

penilaian secara kontinyu setiap semester dan terkadang kepala sekolah memberi


56

arahan dan bimbingan kepada guru, memperhatikan kesejahteraan guru dan juga

memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti studi banding dan

melanjutkan studi. Hal ini dapat dilihat pada tabel 5,6,8,9.

Kepala sekolah dalam mengembangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi

sudah cukup baik. Hal ini dapat dilihat pada tabel 11,12,13,14,17,18,19,20 yaitu

kepala sekolah selalu dan sering mengadakan rapat untuk membahas tentang

kurikulum, mengenalkan guru tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi,

menyediakan sarana yang menunjang pelaksanaan KBK, memberi bantuan dalam

pemecahan masalah yang dihadapi pada pelaksanaan program KBK kemudian

menganjurkan guru untuk mempelajari lebih dalam tentang KBK, mengikutsertakan

guru dalam diskusi kependidikan khusunya tentang KBK dan selau menganjurkan

guru untuk lebih meningkatkan cara mengajarnya. Namun terkadang, kepala sekolah

membimbing guru dalam menyusun satpel terutama dalam menerapkan KBK dan

mensupervisi kedalam kelas ketika sedang berlangsung proses belajar mengajar, hal

ini dapat dilihat pada tabel 15 dan 16.


57

BAB V

PENUTUP

Dari hasil penelitian ini penulis dapat menarik kesimpulan dan

mengemukakan beberapa saran.

A. Kesimpulan

Dalam pelaksanaan supervisi pendidikan oleh kepala sekolah dalam

pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi sudah berjalan relatif cukup baik

dan efektif, namun masih ada hal-hal yang perlu lebih ditingkatkan lagi antara lain :

1. Sarana dan sumber belajar masih ada yang kurang diantaranya tidak

adanya lab. Sains.

2. Sering terjadinya perubahan kurikulum.

3. Kurikulum yang digunakan tidak tetap, kurikulum yang digunakan

disesuaikan dengan kondisi.

4. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi Kurang maksimal hanya

dilaksanakan sekitar 20-30%.

5. Materi yang dikembangkan dan diajarkan sekolah disesuaikan dengan

sekolah yang dijadikan induk oleh sekolah


58

B. Saran

1. Kepala sekolah sebagai supervisor hendaknya lebih bertanggung jawab

terhadap semua kegiatan pendidikan disekolah sehingga aktivitas

supervisi berjalan secara efektif dan efisien.

2. Kepala sekolah hendaknya dapat mengambil suatu kebijakan dan

keputusan yang baik terutama terhadap perubahan-perubahan yang

terjadi dalam kurikulum pendidikan

3. Kepala sekolah hendaknya lebih meningkatkan pengetahuannya

mengenai kurikulum pendidikan

4. Kepala sekolah lebih mengoptimalkan lagi kinerjanya agar kualitas

pendidikan disekolah tersebut menjadi lebih baik.

More magazines by this user
Similar magazines