ISSN: 2086-4779 - perpustakaan universitas riau

lib.unri.ac.id

ISSN: 2086-4779 - perpustakaan universitas riau

Volume 1, Nomor 2, Oktober 2010 ISSN: 2086-4779

Pembelajaran Berdasarkan Masalah pada Mata Kuliah Kimia Dasar I

Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia FKIP UNRI

Rasmiwetti Miharty .................................................... 1-12

Potensi Pembelajaran Kontekstual Ranka pada Pengembangan

Keterampilan Proses, Sikap Ilmiah dan Hasil Belajar Biologi

Evi Suryawati ............................................................ 13-22

Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Pemberian Tugas

Membuat Peta Pikiran (Mind Map) pada Mata Kuliah Kimia Organik I

Herdini ...................................................................... 23-31

Peningkatan Hasil Belajar Mata Kuliah Speaking Melalui Penerapan

Strategi Drama pada Mahasiswa Bahasa Inggris FKIP UNRI

Jismulatif ................................................................... 32-39

Peningkatan Proses Belajar-Mengajar Kimia Melalui Pemanfaatan

VCD di SMA Muhammadiyah Pekanbaru

Asmadi Muhammad Noer ........................................ 40-47

Penggunaan Bahan Ajar Berbasis Contextual Teaching and Learning

(CTL) untuk Meningkatkan Sikap Kerja Ilmiah Siswa Kelas VII SMP

Negeri 21 Pekanbaru

Mariani Natalina ........................................................ 48-56

J. PENDIDIKAN VOL. 1 NO. 2 PEKANBARU,

OKTOBER 2010

ISSN:

2086-4779 0


JURNAL PENDIDIKAN

JOURNAL OF EDUCATION

Penanggung Jawab

Prof. Dr. Usman M. Tang, MS

(Ketua Lembaga Penelitian Universitas Riau)

Ketua Dewan Editor

Dr. Caska, M.Si

Anggota Dewan Editor

Prof. Dr. Almasdi Syahza, SE. MP.

Dr. Zulfaan Saam, MS

Dr. Gimin, M.Pd

Dr. Hasnah Fauziah, M.Hum

Dr. Dudung Burhanuddin, M.Pd

Mitra Bestari

Prof. Dr. Irwan Effendi, M.Sc (Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau)

Prof. Dr. Isjoni, M.Si (Ketua PGRI Provinsi Riau)

Prof. Dr. Suryana, M.Si (UPI Bandung)

Prof. Dr. Wahjoedi, ME (UNM Malang)

Prof. Dr. Rusdarti, M.Si (UNES Semarang)

Prof. Dr. Yunia Wardi, M.Si ( UNP Padang)

Prof. Dr. Dede Ruslan, M.Si (UNIMED Medan)

Editor Teknik

Drs.Jismulatif,M.Hum

Alamat Penerbit/Redaksi:

Lembaga Penelitian Universitas Riau

Kampus Binawidya Simpang Panam Pekanbaru

Telp. (0761) 567093

Fax (0761) 63279

Email: ur_jurnal_pendidikan@yahoo.com

Email: riodirgantoro@yahoo.com

Terbit 2 kali dalam satu tahun: April, Oktober

1


Miharty

Jurnal Pendidikan

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH PADA MATA KULIAH

KIMIA DASAR I MAHASISWA SI PRODI PENDIDIKAN KIMIA

FKIP UNRI

Miharty, Rasmiwetti

Program Studi Pendidikan Kimia MIPA FKIP UNRI

ABSTRAK Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, yang bertujuan untuk

menuntaskan kemampuan hasil belajar mahasiswa dalam mata kuliah Kimia Dasar I melalui

penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah. Subjek penelitian, mahasiswa Program

Studi Pendidikan Kimia PMIPA FKIP UR semester satu yang mengambil mata kuliah Kimia

Dasar I Tahun ajaran 2009/2010. Data penelitian ini dari evaluasi belajar dan lembaran

aktivitas pembelajaran setiap siklus. Kriteria ketuntasan secara klasikal ditetapkan 75%.

Penelitian ini dilaksanakan 3 siklus, pada Siklus I ketuntasan klasikal 52 %, Siklus II 62 %,

dan Siklus III 86 %. Jadi ketuntasan tercapai pada Siklus III. Ketuntasan belajar dilaksakan

dengan proses; 1) pengajaran secara kelompok yang terdiri dari 5 atau 6 orang, 2)

menggunakan media pembelajaran berupa buku bacaan Kimia Dasar dan Lembaran Kerja

Mahasiswa (LKM), 3) semua anggota kelompok harus diaktifkan, 4) dosen memberikan

arahan materi dan pembahasan LKM, dan 5) menjelaskan materi yang didiskusikan baik

secara kelompok maupun secara klasikal.

Kata Kunci: Penelitian tidakan kelas, Kimia Dasar I, Pembelajaran berdasarkan masalah,

ABSTRACT This research is classroom action research, which the aim is to completing the

result study of student’s ability in Chemistry I in use learning by problem method. The

sample respondents were first year students of chemistry study program, PMIPA FKIP UR

that engaged in this subject in academic year 2009/2010. Data of this research from evaluate

and activity sheet in each cycle of learning from student with criteria of students’ mastery

learning is 75%. This research doing in 3 cycles, in cycle 1 students’ mastery learning is 52%,

cycle II is 62%, and cycle III is 86%. So, the students’ mastery learning is taken in cycle III.

The process of students’ mastery learning is; 1) teaching by group of work that consists of 5

or 6 person, 2) using reading book of basic chemistry and students’ worksheet, 3) all member

of group must be active, 4) lecture explained the material and students’ worksheet, and 5)

explaining the material that discuss whether in group of work or classical.

Keywords: Action research, Chemestry I, Problem Method

1


Miharty

Jurnal Pendidikan

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

PENDAHULUAN

Kimia Dasar merupakan suatu

mata kuliah wajib bagi mahasiswa S1

Program Studi Pendidikan Kimia

PMIPA FKIP Universitas Riau. Mata

kuliah ini terdiri dari Kimia Dasar I

dan Kimia Dasar II dan Praktikum

Kimia Dasar I, serta Praktikum Kimia

Dasar II. Mata kuliah Kimia Dasar ini

merupakan pemantapan materi

pelajaran kimia yang telah dipelajari

sewaktu di sekolah menengah dan

merupakan mata kuliah bersama di

Jurusan PMIPA FKIP UR. Oleh sebab

itu mata kuliah Kimia Dasar ini

seharusnya mahasiswa Program Studi

Kimia mendapat nilai yang tinggi.

Dari pengalaman peneliti,

mahasiswa kesulitan dalam

pemecahkan masalah dan tidak aktif

dalam pembelajaran. Gejala-gejala ini

mungkin disebabkan oleh salah satu

proses pembelajaran yang tidak sesuai

dengan sifat materi pelajaran. Menurut

Dimyati dan Mudjiono (2002), salah

satu faktor penting untuk mencapai

tujuan pembelajaran adalah

pembelajaran yang lebih menekankan

pada keterlibatan siswa secara optimal.

Salah satu model pembelajaran

yang dapat meningkatkan keaktifan

mahasiswa adalah model berdasarkan

masalah. Pembelajaran berdasarkan

masalah ini yaitu jenis pembelajaran

yang menghubungkan informasi

dengan konsep yang telah dimiliki

siswa. Seperti yang dikemukakan

Arends (1997), model pembelajaran

berdasarkan masalah merupakan

pendekatan pembelajaran siswa pada

masalah autentik untuk mencari

penyelesaian nyata terhadap masalah

nyata.

Belajar yang efektif dapat

membantu siswa untuk meningkatkan

kemampuan yang diharapkan sesuai

dengan tujuan instruksional yang ingin

dicapai dan yang harus diperhatikan

diantaranya adalah strategi belajar.

Belajar yang efektif dapat tercapai

apabila dapat mengunakan strategi

belajar yang tepat. Strategi belajar

diperlukan untuk dapat mencapai hasil

yang semaksimal mungkin (Slameto,

2003).

Keberhasilan belajar dapat

dilihat dari prestasi yang dicapai

siswa/mahasiswa. Carrol dalam

Angkowo dan Kosasi (2007),

berpendapat bahwa prestasi belajar

mahasiswa dipengaruhi oleh lima

faktor yaitu; bakat belajar, waktu yang

tersedia untuk belajar, kemampuan

individu, kualitas pengajaran dan

lingkungan.

Kegiatan belajar dikatakan

berhasil apabila dalam pelaksanaanya

dapat mencapai tingkat ketuntasan

belajar (Suryosubroto, 2002). Slameto

(2003), mengatakan ketuntasan belajar

adalah pencapaian taraf penguasaan

minimal yang ditetapkan untuk setiap

unit bahan pelajaran baik secara

perorangan maupun secara kelompok.

Faktor-faktor yang mempengaruhi

penguasaan penuh antara lain bakat

untuk menguasai, mutu pelajaran,

kemampuan untuk menerima

pelajaran, ketekunan dan kesempatan

untuk belajar.

Pembelajaran adalah suatu

kombinasi yang tersusun meliputi

unsur-unsur manusiawi, material,

fasilitas, perlengkapan, dan prosedur

yang saling mempengaruhi mencapai

tujuan pembelajaran (Hamalik, 2007).

Prinsip-prinsip dalam

pembelajaran yang perlu diperhatikan

adalah; 1) siswa harus berperanaktif

dalam belajar, 2) siswa akan belajar

sesuai dengan kemampuannya, 3)

siswa akan belajar dengan lebih baik

apabila mendapat penguatan langsung

2


Miharty

pada setiap kegiatan proses belajar, 4)

proses belajarnya akan lebih berarti

bila penguasaannya sempurna, dan 5)

motivasi belajarnya akan lebih baik

meningkat bila dia diberi tanggung

jawab serta kepercayaan penuh untuk

belajar. (Neviyarni, 2005).

Menurut Sanjaya (2008)

strategi pembelajaran berdasarkan

masalah (SPBM) dapat diartikan

sebagai rangkaian aktivitas

pembelajaran yang menekankan

kepada proses penyelesaikan masalah

yang dihadapi secara ilmiah.

Kelebihan model pembelajaran

berdasarkan masalah mempunyai

kelebihan, (1) Siswa dilibatkan pada

kegiatan belajar sehingga pengetahuan

benar-benar diserapnya dengan baik,

(2) dilatih untuk dapat bekerja sama

dengan siswa lain, dan (3) dapat

memperoleh dari berbagai sumber

(Kiranawati, 2007)

PENGARUH MODEL

PEMBELAJARAN

BERDASARKAN MASALAH

TERHADAP KETUNTASAN

BELAJAR

Pembelajaran berdasarkan masalah

terdiri dari 5 (lima) tahap; (1) Orientasi

siswa kepada masalah, (2)

Mengorganisasikan siswa, (3)

Membimbing penyelidikan individual

dan kelompok, (4) Mengembangkan

hasil karya, dan (5) Menganalisa dan

mengevaluasi proses pemecahan

masalah. Kegiatan siswa; (1)

Memperhatikan penjelasan guru, (2)

Membaca pelajaran, berdiskusi dan

berbagi tugas dalam kelompok, (3)

Mengumpulkan informasi, melakukan

penyelidikan, berdiskusi dalam

kelompok, (4) Membuat hasil

penyelidikan/diskusi dari kesimpulan

masalah yang diberikan, dan

menyajikannya, dan (5) Berdiskusi,

mendengarkan penjelasan guru, teman,

merangkum materi pembelajaran.

Jurnal Pendidikan

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Sedangkan kegiatan guru adalah; (1)

menjelaskan tujuan pembelajaran,

mengajukan masalah dan memotivasi,

(2) Membantu siswa mendefinisikan

dan mengorganisasikan tugas yang

berkaitan dengan masalah, (3)

Mendorong siswa dalam

mengumpulkan

informasi,

melaksanakan eksperimen, dan

penyelidikan untuk menyelesaikan

masalah, (4) Membantu siswa

merencanakan, menyiapkan karya

seperti laporan dan membantu mereka

menyiapkan penyajian, dan (5)

Membantu siswa merefleksi dan

mengevaluasi tahap penyelidikan

(Ibrahim, 2002).

Model pembelajaran

berdasarkan masalah bertumpu pada

pengembangan kemampuan berpikir

lewat latihan penyelesaian masalah dan

mengembangkan keterampilan berpikir

lewat fakta empiris maupun

kemampuan berpikir rasional, sehingga

latihan yang berulang-ulang dapat

membina keterampilan intelektual dan

sekaligus mendewasakan siswa

(Anonim, 2008).

Belajar yang efisien dapat

tercapai apabila dapat menggunakan

strategi belajar yang tepat. Strategi

belajar diperlukan untuk dapat

mencapai hasil yang semaksimal

mungkin (Slameto, 2003). Strategi

mengajar agar tiap siswa dapat

berkembang sepenuhmya serta

mengusai bahan pelajaran secara

tuntas, pembelajaran yang diharapkan

adalah; (1) berpusat pada siswa, (2)

bersifat top-down, dimulai dari

masalah yang autentik, (3) dilakukan

secara terintegrasi, multidisipliner, (4)

relefan dengan kebutuhan masyarakat,

dan (5) merupakan alternativ

pengalaman belajar yang dapat dipilih

oleh siswa yang belajar, dirancang

secara sistematik dan berkelanjutan

(Nasution, 2000).

Berdasarkan uraian di atas

dapat disimpulkan bahwa dengan

3


Miharty

model pembelajaran berdasarkan

masalah dapat menuntaskan hasil

belajar siswa.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini penelitian

tindakan kelas. Yang menjadi subjek

adalah mahasiswa Program Studi

Pendidikan Kimia PMIPA FKIP UR

Semester I yang mengambil mata

kuliah Kimia Dasar I Tahun ajaran

2009/2010.

Penelitian ini direncanakan tiga

siklus. Materi siklus I adalah Struktur

Atom dan Sistem Periodik (2 kali

pertemuan ). Materi siklus II Ikatan

Kimia (2 kali pertemuan) dan materi

siklus III Stoikiometri (2 kali

pertemuan) Data pada penelitian ini

diambil dari hasil evaluasi belajar dan

lembaran aktivitas pembelajaran untuk

setiap pertemuan.

Pengolahan data dilakukan

dengan analisis deskriptif yaitu untuk

mendapatkan gambaran ketuntasan

belajar mahasiswa, dan aktivitas

mahasiswa dan dosen dalam

pembelajaran. Ketuntasan belajar

individu ditetapkan 65 % dan

ketuntasan klasikal 85 %.

Untuk mengetahui tuntas atau

tidaknya belajar digunakan rumus

sebagai berikut:

SS

KI = ------ X 100 %

SM

Dimana: KI = persentase

ketuntasan belajar secara individual

SS = skor yang

diperoleh mahasiswa

SM = Skor maksimal

Ketuntasan belajar secara

kalsikal dapat diketahui dengan

mengunakan rumus;

JL

KK = ------ X 100 %

JS

Jurnal Pendidikan

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Dimana KK = persentase

ketuntasan belajar secara klasikal

JI = jumlah mahasiswa

yng tuntas secara individu

JS = jumlah mahasiswa

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Tindakan Siklus I

Hasil belajar mahasiswa pada

Siklus I diperoleh nilai tertinggi 83 dan

nilai terendah 30. Penyebaran dan

frekwensi data hasil belajar dari materi

Struktur Atom dan Sistem Periodik

dapat dilihat pada Table1. Dari hasil

analisis data, individu yang tuntas 52

%, hal ini berarti ketuntasan belajar

mahasiswa pada Siklus I ini belum

tuntas seperti dicantum pada Tabel 4.2.

Berdasarkan observasi pada

pembelajaran Siklus I dengan materi

Struktur Atom dan Sistem Periodik

adalah; Pertama; strategi pembelajaran

yang dilaksanakan secara klasikal

dengan model pembelajaran

berdasarkan masalah. Kedua,

mahasiswa tidak semuanya

mempunyai bahan bacaan kimia dan

tidak ada lembaran kerja. Ketiga,

pembagian waktu pembelajaran , yaitu

persiapan pembelajaran 5 menit,

penjelasan materi secara umum oleh

dosen 15 menit, diskusi belajar secara

klasikal selama 70 menit dan

penjelasan dosen merangkum materi

10 menit.

Ketuntasan belajar Siklus I

belum tercapai. Untuk pembelajaran

berikutnya perlu diperbaiki yaitu pada

Siklus II dengan materi Ikatan Kimia.

Kegiatan pembelajaran Siklus

II dilaksanakan dengan diskusi

kelompok, mahasiswa mengerjakan

LKM, dosen membimbing secara

kelompok ataupun klasikal, dan

perobahan waktu pembelajaran.

Hasil Tindakan Siklus II

4


Miharty

Hasil belajar mahasiswa pada

Siklus II nilai tertinggi 89 dan nilai

terendah 40. Hasil analisis data hasil

belajar mahasiswa pada pokok bahasan

Ikatan Kimia ini dapat dilihat dalam

Tabel 3. Dari hasil analisis data,

individu yang tuntas 62 %, hal ini

berarti ketuntasan belajar mahasiswa

pada Siklus II belum tuntas seperti

dicantum pada Tabel 4.

Berdasarkan observasi pada

pembelajaran Siklus II dengan materi

Ikatan Kimia adalah; Pertama; strategi

pembelajaran yang dilaksanakan secara

kelompok dengan model pembelajaran

berdasarkan masalah. Kedua, tidak

semua mahasiswa mempunyai bahan

bacaan kimia. Ketiga, pembagian

waktu pembelajaran , yaitu persiapan

5 menit, penjelasan materi secara

umum 25 menit, diskusi belajar secara

klasikal selama 60 menit dan

penjelasan dosen merangkum materi

10 menit.

Ketuntasan belajar Siklus II

belum tercapai. Untuk pembelajaran

berikutnya diperbaiki di Siklus III

dengan materi Stoikiometri. Kegiatan

pembelajaran Siklus III dilaksanakan

dengan diskusi kelompok,

mengerjakan LKM, dosen

membimbing secara kelompok

ataupun klasikal, dan waktu diskusi

kelompok selama 40 menit.

Hasil Tindakan Siklus III

Hasil belajar mahasiswa pada

Siklus II nilai tertinggi 95 dan nilai

terendah 40. Hasil analisis data hasil

belajar mahasiswa pada pokok bahasan

Ikatan Kimia ini dapat dilihat dalam

Tabel 5. Dari hasil analisis data

individu yang tuntas 86 %, hal ini

berarti ketuntasan belajar mahasiswa

pada Siklus II belum tuntas seperti

dicantum pada Tabel 6.

Berdasarkan observasi pada

pembelajaran Siklus III dengan materi

Stoikiometri adalah; Pertama; strategi

Jurnal Pendidikan

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

pembelajaran yang dilaksanakan secara

kelompok dengan model pembelajaran

berdasarkan masalah. Kedua, sebagian

besar mahasiswa mempunyai bahan

bacaan kimia. Ketiga, pembagian

waktu pembelajaran , yaitu persiapan

pembelajaran 5 menit, penjelasan

materi secara umum oleh dosen 25

menit, diskusi belajar secara klasikal

selama 40 menit dan penjelasan dosen

merangkum materi 30 menit.

Ketuntasan belajar Siklus III

sudah tercapai. Untuk pembelajaran

berikutnya pembelajaran materi Kimia

Dasar I dengan materi Unsur-unsur

transisi dan senyawa komplek,

Larutan, Kesetimbangan dalam larutan,

dan Termokimia dan termodinamika

untuk mencapai ketuntasan belajar

dapat dilaksanakan dengan cara

pelaksanaan Siklus III

Pembahasan

Hasil belajar mahasiswa pada

Siklus I dengan pokok bahasan

Struktur Atom dan Sistem Periodik,

dari hasil penelitian tindakan kelas ini

ternyata rendah, hanya 26 orang yang

memperoleh nilai ketuntasan secara

individu dan ketuntasan secara klasikal

hanya 62 %. Hal ini berarti bahwa

tujuan pembelajan tidak tercapai atau

pengajaran belum tuntas baik

mahasiswa secara individu maupun

ketuntasan secara klasikal.

Ketidak tuntasan belajar

mahasiswa ini dapat dijelaskan dari

hasil observasi sewaktu proses

pembelajaran sebagai berikut:

Pertama, proses pembelajaran

dilaksanakan secara klasikal. Waktu

proses pembelajaran pada Siklus I

mahasiswa banyak yang pasif, hanya

beberapa orang saja yang terlibat aktif

dalam pembelajaran. Dengan pasifnya

mahasiswa ini dosen memberikan

jawaban dari permasalahan yang

diajukan artinya disini dosen

mendominasi proses pembelajaran.

5


Miharty

Disamping dominasi dari dosen

pembahansan materi kurang

terorganisir dengan baik. Satu hal lagi

yang menyebabkan tidak tercapainya

ketuntasan belajar ini adalah tidak

adanya media dan sarana

pembelajaran. Hal ini terlihat bahwa

pada proses pembelajaran Siklus I

dengan materi Struktur Atom dan

Sistem Periodik mahasiswa sebagian

besar tidak memiliki buku atau bahan

bacaan sebagai alat bantu dalam

membahas masalah yang diajukan

dosen. Mahasiswa pasif dan tidak ada

alat bantu pengajaran, hal ini

merupakan penyebab rendahnya

penyerapan materi dari mahasiswa,

karena aktifan mahasiswa dalam

proses pembelajaran berpengaruh

terhadap pemahaman mahasiswa

terhadap materi yang dibahas. Alat

bantu pengajaran adalah merupakan

sarana pembelajaran yang

mempermudah komunikasi antara

dosen mahasiswa dalam proses

pembelajaran.

Kedua, penggunaan waktu

untuk diskusi kelompok belajar secara

klasikal relatif lama dan pembelajaran

lebih didominasi oleh dosen dan

mahasiswa tidak aktif. Penggunaan

waktu yang relatif lama

mengakibatkan mahasiswa motivasi

belajar mahasiswa berkurang. Dari

pengamatan sewaktu proses

pembelajaran kurang termotivasi

karena kurang merasa terlibat dalam

proses pembelajaran dan tidak semua

siswa terlihat aktif pada akhir

pertemuan. Dalam hal ini kelihatan

tidak efisiennya pengunaan waku

untuk diskusi belajar secara klasikal.

Ketiga, dalam kegiatan

pembelajaran tidak adanya media

pembelajaran dan mahasiswa juga

tidak semua memiliki bahan bacaan.

Pada Siklus I pembelajaran dilakukan

dengan kegiatan tanya jawab dan

diskusi secara klasikal. Karena tidak

adanya alat bantu sehingga proses

Jurnal Pendidikan

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

pembelajaran belum mencapai

ketuntasan, sebab alat bantu dalam

proses pembelajaran merupakan alat

yang dapat meningkatkan pemahaman

mahasiswa dalam proses pembelajaran.

Hal ini juga penyebab kurangnya

pemahaman materi pembelajaran,

sehingga hasil evaluasi pada Siklus I

ini belum tuntas.

Keempat, waktu yang

digunakan oleh dosen dalam

merangkum materi tentang Struktur

Atom dan Sistem Periodik relatif

sedikit yaitu selama 10 menit. Jadi ada

kemungkinan ada materi yang tidak

terangkum sehingga mahasiswa kurang

memahami materi pembelajaran. Hal

juga penyebab belum tuntasnya hasil

belajar mahasiswa.

Kelimat, disamping dari aspekaspek

yang diamati, juga ada faktor

lain, yaitu waktu pelaksaaan evaluasi

sesudah proses pembelajaran. Hal ini

berpengaruh terhadap hasil belajar

mahasiswa, sebab mahasiswa

membutuhkan waktu untuk membahas

materi pelajaran secara individu lagi

diluar waktu proses pembelajaran

secara kelompok belajar maupun

secara belajar klasikal.

Pada Siklus I ternyata

ketuntasan belajar mahasiswa secara

individu dan katuntasan belajar

mahasiswa secara klasikal belum

mencapai tercapai, untuk ini perlu

diperbaiki proses pembelajaran pada

Siklus II. Pembelajaran pada Siklus II

ini diperbaiki berdasarkan kelemahan

yang ditemui pada Siklus I. Kelemahan

pada Siklus I adalah pembelajaran

secara klasikal, pengarahan dosen,

media pembelajaran dan pembagian

waktu pada waktu proses pembeljaran.

Sedangkan model pembelajaran

berdasarkan masalah tetap

dilaksanakan pada Siklus II. Materi

pelajaran pada Siklus II adalah Ikatan

Kimia dengan dua kali pertemuan

Hasil belajar mahasiswa pada

Siklus II dengan pokok bahasan Ikatan

6


Miharty

Kimia, adalah 32 orang yang

memperoleh nilai ketuntasan secara

individu dan ketuntasan secara klasikal

64%. Hal ini berarti tujuan

pembelajaran belum mencapai

ketuntasan baik secara individu

maupun ketuntasan belajar secara

klasikal, tetapi lebih baik dari Siklus I.

Ketidak tuntasan belajar

mahasiswa pada Siklus II ini dapat

dijelaskan dari hasil observasi sewaktu

proses pembelajaran sebagai berikut:

Pertama, proses pembelajaran

pada kegiatan ini dilakukan dengan

diskusi kelompok kecil yaitu setiap

kelompok ada 5 orang. Sebelum

kegiatan diskusi dosen memberikan

pengarahan tentang langkah-langkah

kegiatan pembealajaran dan

menjelaskan tentang tujuan

pembelajaran dari Ikatan kimia. Dalam

kegiatan diskusi kelompook kecil ini

banyak mahasiwa yang aktif, tetapi ada

sebagian yang tidak ikut aktif dalam

kegiatan diskusi. Kemungkinan yang

tidak aktif mahasiswa inilah salah satu

penyebab belum tuntasnya hasil belajar

secara individu.

Kedua, pembelajaran materi

pada Siklus II, menggunakan alat

bantu berupa LKM dan buku bacaan

yang berhubungan materi Ikatan

Kimia. LKM ini menutut setiap

kelompok belajar untuk; 1)

merumuskan hipotesis berdasarkan

masalah yang telah dirumuskan, 2)

membahas masalah berdasarkan

hipotesis yang dirumuskan oleh

kelompok mahasiswa, 3) menjawab

pertanyaan yang dajukan, dan 4)

membuat kesimpulan. Dengan adanya

LKM ini mahasiswa lebih terarah

dalam memhami materi pelajaran dan

dosen mengamati aktifitas mahasiswa

dalam kelompok.

Ketiga, Pada Siklus I dosen

memberikan pengarahan dari diskusi

secara klasikal, pada Siklus II dosen

memberi pengarahan secara umum

pada awal kegiatan pembelajaran, dan

Jurnal Pendidikan

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

mengamati mahasiswa pada kegiatan

diskusi kelompok kecil. Tetapi pada

kegiatan pengamatan dari dosen belum

maksimal artinya dosen belum banyak

berinteraksi dengan kelompok kecil

mahasiswa. Dari hasil LKM setiap

kelompok belum maksimum, artinya

tujuan LKM khusus pada Ikatan Kimia

belum tercapai. Hal ini juga diduga

belum tercapainya ketuntasan belajar

mahasiswa.

Keempat, waktu yang

digunakan oleh dosen dalam

merangkum materi tentang Ikatan

Kimia untuk tiap pertemuan masih

relatif sedikit yaitu selama 20 menit.

Jadi ada kemungkinan ada materi yang

tidak terangkum sehingga mahasiswa

kurang memahami materi

pembelajaran. Hal juga penyebab

belum tuntasnya hasil belajar

mahasiswa.

Pada Siklus II ternyata

ketuntasan belajar mahasiswa secara

individu dan katuntasan belajar

mahasiswa secara klasikal juga belum

mencapai tercapai, untuk ini perlu

diperbaiki proses pembelajaran pada

Siklus III. Pembelajaran pada Siklus

III ini diperbaiki berdasarkan

kelemahan yang ditemui pada Siklus

II. Kelemahan pada Siklus II adalah

belum semua mahasiswa aktif dalam

diskusi kelompok, pengarahan dosen

secara kelompok belum maksimal, dan

pembagian waktu pada waktu proses

pembeljaran. Sedangkan model

pembelajaran berdasarkan masalah

tetap dilaksanakan pada Siklus III.

Materi pelajaran pada Siklus III adalah

Stoikiometri dengan dua kali

pertemuan

Hasil belajar mahasiswa pada

Siklus III dengan pokok bahasan

Stokiometri, dari hasil penelitian

tindakan kelas ini mahasiswa yang

telah tuntas hasil belajarnya sebanyak

43 dan ketuntasan secara klasikal 86

%. Hal ini berarti bahwa pengajaran

sudah tuntas baik mahasiswa secara

7


Miharty

individu maupun ketuntasan secara

klasikal.

Ketuntasan belajar mahasiswa

ini dapat dijelaskan dari hasil observasi

sewaktu proses pembelajaran sebagai

berikut:

Pertama, pembelajaran dilaksanakan

secara kelompok kecil, sehingga

keterlibatan mahasiswa dalam proses

belajar tinggi, artinya sebagian besar

mahasiswa aktif dalam proses

pembelajaran.

Kedua, pembelajaran menggunakan

alat bantu mengajara berupa LKM dan

bahan bacaan yang disesuaikan dengan

materi pembelajaran

Ketiga, dosen lebih banyak waktunya

dalam mengarahkan mahasiswa secara

kelompok kecil.

Keempat, waktu yang digunakan untuk

menjelaskan pada awal dan akhir

pembelajaran relatif lebih lama dari

pada Siklus I dan Siklus II.

Faktor pembelajaran secara

kelompok kecil, pengunaan alat bantu

dalam proses pembelajaran dan

keterlibatan dosen adalah faktor-faktor

yang ikut menentukan ketuntasan hasil

belajar mahasiswa khususnya

mahasiswa Program Studi Kimia

PMIPA FKIP Universitas Riau.

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian tindakan kelas

dengan pelaksanaan pembelajaran

berdasarkan masalah pada mata

pelajaran Kimia Dasar I pada Program

Studi Pendidikan Kimia FKIP

Universitas Riau ini adalah sebagai

berikut:

Pertama, pembagian waktu

yang digunakan proses pembelajaran,

dalam hal kegiatan awal, kegiatan inti

dan kegiatan penutup, dirangkum pada

Grafik 1. Dari Grafik 1 dapat

dijelaskan bahwa waktu yang

digunakan pada waktu proses

pembelajaran Siklus I, Siklus II dan

Siklus III ada perobahan. Waktu untuk

Jurnal Pendidikan

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

mengarahkan pada kegiatan awal

diperpanjang, waktu untuk diskusi

pembelajaran dikurangi dan diskusi

untuk menjelas dan merangkum materi

juga diperpanjang

Kedua, ketuntasan hasil belajar

mahasiswa dari Siklus I, Siklus II dan

Siklus III dirangkum dalam Grafik 2.

Hal ini dapat dijelaskan bahwa

ketuntasan belajar mahasiswa secara

klasikal dari Siklus III lebih tingi dari

Siklus II, dan ketuntasan belajar

mahasiswa secara klasikal dari Siklus

II lebih tinggi dari Siklus I. Hal ini

berarti bahwa perobahan yang

dilaksanakan pada proses belajar dari

setiap siklus pembelajaran terdapat

peningkatan dan dapat mencapai

ketuntasan

Dari temuan penelitian ini

dirangkum bahwa dalam proses

pembelajaran keterlibatan dosen dalam

pembelajaran sangat berperanan untuk

menuntaskan hasil belajar. Faktor lain

yang juga berpengaruh terhadap hasil

belajar dalam penelitian ini adalah alat

bantu pembelajaran yang berupa

bacaan dan lembaran kerja mahasiswa.

Lembaran kerja mahasiswa ini

menuntut pola pikir tingkat tinggi

artinya permasalahan yang diajukan

adalah menjawab bagaimana suatu

fenomena yang diamati terjadi.

KESIMPULAN DAN

REKOMENDASI

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian

dan pembahasan yang telah

dikemukakan dapat diambil

kesimpulan bahwa hasil belajar

mahasiswa dari penelitian tindakan

kelas mata kuliah Kimia Dasar I ini

pada Siklus I individu yang tuntas

sebanyak 26 orang dengan ketuntasan

belajar secara klasikal 52 %. Pada

Siklus II individu yang tuntas sebayak

31 orang dengan ketuntasan beajar

8


Miharty

secara klasikal 62 %. Pada Siklus III

individu yang tuntas sebayak 43 orang

dengan ketuntasan beajar secara

klasikal 86,00 %.

Pengajaran Kimia Dasar I pada

Program Studi Pendidikan Kimia FKIP

UR Tahun ajaran 2009/2010 yang

dilaksanakan dengan model

pembelajaran berdasarkan masalah

akan memberikan hasil belajar yang

dapat menuntaskan hasil belajar

individu maupun menuntaskan

pembelajaran secara klasikal adalah

dengan cara-cara sebagai berikut:

1. Pengajaran dilaksanakan

secara kelompok kecil yang

terdiri dari 5 atau 6 orang.

2. Menggunakan media

pembelajaran yang berupa

buku bacaan Kimia Dasar dan

Lembaran Kerja Mahasiswa

(LKM)

3. Aktivitas kegiatan kelompok

belajar harus tinggi, artinya

semua anggota kelompok

harus diaktifkan.

4. Dosen memberikan arahan,

serta menjelaskan dari materi

yang didiskusikan baik secara

kelompok maupun secara

klasikal sewaktu proses

pembelajaran.

Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian

tidakan kelas pada mata kuliah Kimia

Dasar I ini disarankan: dalam proses

pembelajaran berdasarkan masalah

dosen perlu memberikan dorongan dan

arahan kepada mahasiswa dalam

membahas materi pelajaran, dan untuk

meningkatkan keaktifkan mahasiswa

dalam pembelajaran berdasarkan

masalah serta meningkatkan kualitas

pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Pendidikan

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Media Pembelajaran,

Grasindo, Jakarta.

Anonim, 2008, Inovasi Pembelajaran

MIPA di Sekolah dan Alternatif

Implimentasinya-Problem

Based

Instruktions

(Pembelajaran berdasar

Masalah), Direct Intruktions

(Pembelajaran

Langsung)http://pembelajaranguru.wordpress.com.

(6 Januari

2009).

Arends, R, 1997, Classroom

Instruction and Management,

New York Mc Grow Hill

Compagnies

Arikonto, S, dkk., 2006, Penelitian

Tindakan Kelas, Bumi Aksara, Jakarta.

Depdiknas, 2004, Rambu-rambu

Penetapan Standar Ketuntasan

Belajar Minimum dan Analisis

Hasil Pencapaian Standar

Ketuntasan Belajar. Direktorat

Jendral Pendidikan Dasar dan

Menengah, Jakarta.

Djamarah, B.S dan Zein, Aswan. 2002,

Strategi Belajar Mengajar,

Rineka Cipta, Jakarta.

Hamalik. Oemar, 2007, Kurikulum dan

Pembelajaran, Bumi Aksara, Jakarta.

Ibrahim, Muslimin dan Muhammad

Nur, 2002, Pembelajaran

Berdasarkan Masalah,

Universiti Press. Surabaya.

Isjoni ,2002, Mengajar Efektif

Pedoman Praktis Bagi Guru

dan Calon Guru, Unri Press,

Pekanbaru

Dimyati dan Mudjiono , 2002, Belajar

dan Pembelajaran, Rineka Cipta,

Jakarta.

Angkowo, R.A, 2007, Optimalisasikan

9


Miharty

Kiranawati, 2007, Pembelajaran

Berdasarkan Masalah

http://gurupkn..wordpress.com.

(6 Januari, 2009).

Mudzakir, Ahmad. Sutrisno. 1997.

Psikologi Pendidikan. Pustaka Setia,

Bandung.

Nasution, 2000, Berbagai Pendekatan

Dalam Proses Belajar

Mengajar, Bumi Aksara

Jakarta.

Neviyarni, 2005, Strategi

Pembelajaran, Pustekom,

Diknas, Pekanbaru.

Pusat Kurikulum, 2002, Penilaian

Berbasis Kelas, Balitbang Depdiknas,

Jakarta.

Jurnal Pendidikan

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Sanjaya. Wina, 2008, Strategi

Pembelajaran, Kencana, Jakarta

Slameto, 2003, Belajar dan Faktorfaktor

Yang Mempengaruhinya,

Rineka Cipta, Jakarta

Sudjana, N., 2005, Dasar-dasar Proses

Belajar Mengajar, Sinar

Baru Muda Algensindo,

Bandung.

Sudjana, N., 2008, Penilaian Hasil

Proses Mengajar, Remaja

Rosdakarya, Bandung.

Usman, U., 1993, Upaya Optimalisasi

Kegiatan Belajar Mengajar ,

PT Remaja Rosda Karya,

Bandung.

10


Miharty

Jurnal Pendidikan

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

LAMPIRAN

Tabel 1 Nilai Hasil Belajar dan Frekwensi Mahasiswa Pada Siklus I

No. Nilai Frekwensi % Frek. Kumulatif % Kumulatif

1. 75 - 84 5 10 5 10

2 65 - 74 21 42 26 52

3 55 - 64 10 20 36 72

4. 45 - 54 10 20 46 82

5. 35 - 44 1 2 47 94

6. 25 - 34 3 6 50 100

Jumlah 50 100

Tabel 4.2 Ketuntasan Belajar Mahasiswa Pada Siklus I

No. Kategori Jumlah %

1 Individu yang tuntas 26 0rang 52

2 Individu yang tidak tuntas 24 orang 48

Jumlah 50 orang 100

Tabel 3 Nilai Hasil Belajar dan Frekwesi Mahasiswa Pada Siklus II

No Nilai Frekwensi % Frek. Kum. % Kum.

1 85 - 94 8 16 8 16

2 75 - 84 7 14 15 30

3 65 - 74 16 32 31 62

4 55 - 64 14 28 45 90

5 45 - 54 2 4 47 94

6 35 - 44 3 6 50 100

Jumlah 50 100

Tabel 4 Ketuntasan Belajar Mahasiswa Pada Siklus II

No. Kategori Jumlah %

1 Individu yang tuntas 31 0rang 62

2 Individu yang tidak tuntas 19 orang 38

Jumlah 50 orang 100

Tabel 5 Nilai Hasil Belajar dan Frekwesi Mahasiswa Pada Siklus III

No Nilai Frekwensi % Frek. Kum. % Kum.

1 85 - 94 8 16 8 16

2 75 - 84 10 20 18 32

3 65 - 74 25 50 43 86

4 55 - 64 3 6 46 92

5 45 - 54 2 4 48 96

6 35 - 44 2 4 50 100

Jumlah 50 100

11


Miharty

Jurnal Pendidikan

Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Tabel 4.6 Ketuntasan Belajar Mahasiswa Pada Siklus III

No. Kategori Jumlah %

1 Individu yang tuntas 43 0rang 86

2 Individu yang tidak tuntas 7 orang 14

Jumlah 50 orang 100

70

60

50

%

40

30

20

10

0

persiapan

pembelajaran

Penjelasan materi oleh

dosen

Diskusi

Penjelasan dosen

siklus I siklus siklus

merangkum materi

Grafik II 1. Pembagian III Waktu Pembelajaran

90

80

70

60

50

% Tuntas

40

Tidak tuntas

30

20

10

0

Awal Siklus I Siklus II Siklus III

Grafik 2. Persentase Ketuntasan

12


Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Potensi Pembelajaran Kontekstual Rangka

POTENSI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL RANGKA PADA

PENGEMBANGAN KETERAMPILAN PROSES , SIKAP ILMIAH DAN

HASIL BELAJAR BIOLOGI

Evi Suryawati

evien_riau@yahoo.com

Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pembelajaran kontekstual

RANGKA terhadap keterampilan proses, sikap ilmiah dan hasil belajar Biologi.

Penelitian kuasi eksperimen sebagai penelitian awal telah dilaksanakan di SMPN 7

Pekanbaru, sampel terdiri dari 35 siswa kelompok eksperimen dan 36 orang siswa

kelompok kontrol. Data keterampilan proses, sikap ilmiah, dan hasil belajar diperoleh

melalui observasi, kuesioner, dan tes kinerja. Analisis data secara deskriptif dan

inferensial dengan t-test. Rata- rata peningkatan melalui uji ternormalisasi (N-gain)

diperoleh 0,31 untuk kelompok eksperimen dan 0,24 untuk kelompok kontrol. Secara

keseluruhan rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen 73,55 dan kelompok kontrol

62,4. Analisis uji-t menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen

dan kontrol. Hasil ini menunjukkan pembelajaran kontekstual RANGKA berpotensi

untuk pengembangan keterampilan proses , sikap ilmiah, dan hasil belajar.

Kata Kunci : Pembelajaran Kontekstual, Keterampilan Proses, Sikap Ilmiah.

THE POTENTIAL OF CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING

STRATEGY ON BIOLOGY STUDENT’S SCIENCE PROCESS SKILL,

SCIENTIFIC ATTITUDE AND ACHIEVEMENT

ABSTRACT The objective this research to know the potential of Contextual Teaching

and Learning Strategy on Biology student’s process science skill, scientific attitude and

achievement. Sample in this research is students of class VII.1 (experiment) as much 35

people and class VII.3 (control) as much 35 people. Parameter in this research are process

science skill, scientific attitude, and Achievement. The data science process skill,

scientific attitude, and achievement was collect with observation sheets, questionaire and

performance test. From result of this research is indicate that applying Contextual

Teaching and Learning strategy can be increase of science process skill, scientific

attitude, and achievement.

Keywords : Contextual Teaching and Learning Strategy,

13


Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Potensi Pembelajaran Kontekstual Rangka

PENDAHULUAN

Penerapan Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan di

Indonesia tahun 2006 memberikan

otonomi pada guru untuk dapat

merencanakan sendiri materi

pelajaran untuk mencapai

kompetensi yang telah ditetapkan.

Mempelajari Sains berkaitan dengan

cara mencari tahu tentang alam

secara sistematis, sehingga sains

bukan hanya penguasaan kumpulan

pengetahuan yang berupa faktafakta,

konsep-konsep, atau prinsipprinsip

saja tetapi juga merupakan

suatu proses penemuan

(Susilo,2003). Pendidikan sains

diharapkan dapat menjadi wahana

bagi peserta didik untuk mengenal

diri sendiri dan alam sekitar. Proses

pembelajarannya menekankan pada

pemberian pengalaman langsung

untuk mengembangkan kompetensi

agar dapat menjelajahi dan

memahami alam sekitar secara

ilmiah.

Sains diperlukan dalam

kehidupan sehari-hari untuk

memenuhi keperluan manusia

melalui penyelesaian masalahmasalahyang

dapat diidentifikasikan.

Penerapan sains perlu dilakukan

secara bijaksana untuk menjaga dan

memelihara kelestarian alam sekitar.

Pada peringkat Sekolah Menengah

Rendah, diharapkan ada penekanan

kepada pembelajaran Salingtemas

(Sains, lingkungan, teknologi, dan

masyarakat) secara terpadu yang

diarahkan pada pengalaman belajar

untuk merancang dan membuat suatu

karya melalui penerapan konsep

sains dan kompetensi bekerja ilmiah

secara bijaksana (Depdiknas, 2003).

Faktor utama dalam

pembelajaran sains, bahwa siswa

belajar melalui proses inkuiri,

sehingga mereka dapat belajar

dengan semangat dan pada suasana

yang menyenangkan (Zemelman,

1998 ). Siswa akan belajar dari apa

yang mereka kerjakan dan dari

pengalaman mereka (Schelecty,

1997). Pada pembelajaran

kontekstual, tugas utama guru

sebagai fasilitator untuk meluaskan

persepsi siswa dan memberi

pengalaman nyata dalam

pembelajaran agar dapat segera

difahami (Parnell,1995). Parnell

menjelaskan tujuh prinsip untuk

diaplikasikan ke dalam

pengembangan pembelajaran di

dalam kelas yaitu prinsip tujuan,

membina, aplikasi, pemecahan

masalah, kerja kelompok, penemuan,

dan menghubungkan. Pembelajaran

kontekstual di Indonesia meliputi

pada tujuh prinsip (Depdiknas,

2002), yaitu: konstruktivisme,

inkuiri, bertanya, masyarakat belajar,

pemodelan, refleksi, dan penilaian

autentik. Menurut Crawford (2001),

pembelajaran kontekstual dapat

dilaksanakan dengan 5 strategi ,

yaitu (1) menghubungkan (relating) ,

(2) mengalami (experiencing), (3)

menggunakan (applying), (4)

bekerjasama (collaborating), dan (5)

memindahkan (transferring).

Mata pelajaran Biologi

merupakan salah satu mata pelajaran

yang dipelajari di Sekolah

Menengah Pertama dan berada satu

rumpun dengan mata pelajaran

Fisika yaitu Ilmu Pengetahuan

Alam/Sains. Secara umum tujuan

pendidikan biologi adalah agar siswa

menguasai

materi,

mengorganisasikan metode ilmiah

14


Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Potensi Pembelajaran Kontekstual Rangka

yang dilandasi sikap ilmiah untuk

menyelesaikan masalah yang

dihadapinya sehingga menyadari

kekuasaan dan kebesaran pencipta

Nya (Depdiknas, 2003). Pada

pembelajaran biologi diperlukan

keterlibatan pelajar secara optimal

sehingga pembelajaran menjadi lebih

bermakna. Untuk memperoleh hasil

belajar yang diharapkan, guru harus

dapat mengamati dan mengetahui

keadaan serta situasi belajar siswa

dalam kegiatan belajar mengajar.

Pembelajaran Biologi (life science)

sewajarnya dikembangkan melalui

hands-on activity dan minds-on

activity (Ibrahim, 2004).

Menurut Depdiknas (2003)

pelaksanaan pembelajaran

menekankan pemberian pengalaman

belajar kepada siswa secara langsung

melalui pengembangan keterampilan

proses dan sikap dengan tujuan agar

siswa memahami konsep-konsep dan

mampu memecahkan masalah

diarahkan dengan pendekatan

kontekstual (Contextual Teaching

and Learning/CTL). Kenyataannya

pelaksanaan Pembelajaran Biologi

secara kontekstual masih berhadapan

dengan banyak hambatan, antara lain

ialah ketersediaan bahan

pembelajaran, kondisi sekolah,

kemampuan siswa, dan kemampuan

guru membina pembelajaran masih

rendah (Evi Suryawati, 2007). Hasil

pengamatan peneliti pada beberapa

Sekolah Menengah Pertama di kota

Pekanbaru yang telah melaksanakan

pendekatan

kontekstual

pembelajaran biologi didapati dalam

pembelajaran masih seperti

pembelajaran konvensional. Dalam

menjalankan pembelajaran, guru

belum sepenuhnya melaksanakan

skenario pembelajaran yang telah

dibuat, akibatnya siswa hanya

menganggap pembelajaran biologi

hanya sekedar hafalan. Dapatan lain

di sekolah, walaupun telah ada buku

pelajaran biologi yang berasaskan

kompetensi, namun keterampilan

proses dan pemecahan masalah

secara kontekstual kurang diberi

penekanan. Aktivitas siswa dalam

kegiatan belajar mengajar belum

optimal, oleh karena itu

keterampilan proses dan pemecahan

masalah, dan sikap ilmiah perlu

diberi penekanan kerana

dapatmelatih kemahiran berfikir

kritis. Penelitian ini dilaksanakan

untuk mengkaji potensi

pembelajaran kontekstual RANGKA

pada pengembangan keterampilan

proses, sikap ilmiah dan hasil belajar

siswa khususnya SMPN 07

Pekanbaru.

METODE

Penelitian kuasi eksperimen ini

dilaksanakan pada kelas VII SMPN

07 Pekanbaru dari bulan Pebruari –

April 2008 sebanyak 8 kali

pertemuan dengan 3 Kompetensi

Dasar pada Standar Kompetensi

Keanekaragaman Makhluk Hidup.

Jumlah siswa kelompok eksperimen

35 orang, kelompok kontrol 36 orang

dengan rata- rata kemampuan rendah

(56.9). Guru yang mengajar pada

kelompok eksperimen dan kontrol

adalah Sutayanti, S.Pd dengan

pengalaman mengajar 18 tahun.

Pelaksanaan pembelajaran

dilaksanakan melalui pembelajaran

kontekstual yang dimodifikasi dari

Strategi REACT (Relating,

Experiencing,

Applying,

Cooperating, Transferring)

(Crawford, 2001), dengan

15


Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Potensi Pembelajaran Kontekstual Rangka

mengintergrasikan keterampilan

proses dan pemecahan masalah yang

dinamai dengan strategi RANGKA

yaitu akronim dari Rumuskan,

Amati,

Nyatakan,

Gabungkan/kerjasama, Komunikasi

dan Amalkan. Strategi ini

dikembangkan berdasarkan filosofi

bahwa RANGKA pada pembelajaran

sains merupakan akronim yang

mudah diingat. Selain itu pada

makhluk hidup, RANGKA berfungsi

untuk memperkuat, memperkokoh

dan memberi bentuk pada tubuh.

Demikian pula strategi RANGKA

yang dikembangkan ini diharapkan

dapat menyokong dan memberi

manfaat pada pembelajaran sains

khususnya biologi agar pembelajaran

menjadi bermakna. Bagan alir

pelaksanaan pembelajaran dengan

strategi RANGKA seperti pada

Gambar 1.

16


Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Potensi Pembelajaran Kontekstual Rangka

Relating

Pelajar menanggapi pertanyaan guru

Pelajar menganalisa soalan (fase 1 Rumuskan)

Guru memotivasi,

menyampaikan

objektif dan

memberi soalan

situasi sebenar

Memerhatikan objek dan melaksanakan aktiviti

(fasa 2 Amati dan Alami)

Experiencing, Applying

Menuliskan hasil pemerhatian dan aktiviti pada

buku log (fasa 3 Nyatakan)

Guru memberi

contoh, dan

memberi panduan

dalam diskusi

Cooperating

Berbagi informasi dengan ahli dalam

kumpulan (fasa 4 Gabungkan)

Wakil kumpulan melapor penyelesaian masalah

(fasa 5 Komunikasi)

Transferring

Pelajar merangkum, mengerjakan soalan dan

tugasan lanjut (fasa 6 Amalkan)

Guru membimbing

membuat rangkuman,

memberi evaluasi dan

tugasan lanjut

Gambar 1. Bagan Alir Pembelajaran Kontekstual Dengan Strategi RANGKA

17


Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Potensi Pembelajaran Kontekstual Rangka

Data keterampilan proses

dasar yaitu : observasi, klasifikasi,

prediksi, pengukuran dan

komunikasi, selanjutnya sikap ilmiah

meliputi tanggung jawab,

keingintahuan, kerjasama,

kecermatan, disiplin, toleransi, dan

percaya diri. Data keterampilan

proses dan sikap ilmiah diperoleh

melalui observasi dan tes kinerja saat

proses pembelajaran berlangsung,

dan data hasil belajar diperoleh dari

tes tertulis pada akhir pembelajaran.

Selanjutnya data yang diperoleh

dianalisis secara deskriptif dan

inferensial denga uji-t.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

penelitian

memperlihatkan keterampilan proses

yang berkembang adalah mengamati,

mengelompokkan, mengukur,

inferensi, dan komunikasi. Data

keterampilan proses seperti pada

Tabel 1

Tabel 1. Rata-Rata Keterampilan Proses melalui Strategi RANGKA

Keterampilan

Proses

Kumpulan KD 1 KD 2 KD 3

1 2 3 4 5 6 7 8 Rerata K

Observasi Eksperimen 96,08 84,85 100 95,59 95,59 93,23 92,93 85,19 88,66 BS

Kontrol 44,76 33,33 100 100 90,17 100 61,26 33,33 67,32 C

Klasifikasi Rawatan 98,04 95,96 67,65 66,67 96,08 97,92 87,88 78,70 92,34 BS

Kawalan 62,86 59,46 71,17 82,88 88,03 65,77 58,56 33,33 69,69 C

Komunikasi Rawatan 76,47 88,89 92,16 91,43 97,06 77,08 72,73 94,44 86,74 BS

Kawalan 71,43 55,86 60,36 84,68 74,36 78,38 63,96 72,38 71,76 B

Prediksi Rawatan 81,37 90,91 82,35 93,33 81,37 58,33 88,89 89,87 75,28 B

Kawalan 56,19 69,37 70,27 82,88 74,36 55,86 67,57 73,33 63,79 C

Inferensi Rawatan 77,45 82,83 68,63 76,19 61,76 50,13 67,64 77,78 68,04 C

Kawalan 45,71 67,57 64,86 70,27 62,35 52,25 60,36 59,05 56,97 K

R Rawatan 87,58 88,05 82,16 85,52 87,91 91,37 81,21 85,37 86,12

BS

(BS)

Kawalan 54,29

(K)

Ket: KD: Kompetensi Dasar

BS : Baik Sekali

B : Baik

C : Cukup

K : Kurang

(BS)

53,15

(K)

(B)

73,33

(B)

(BS)

84,14

(B)

(BS)

79,91

(B)

(BS)

75,38

(B)

(B)

62,34

(C)

(BS)

54,28

(K)

(BS)

67,10

(C)

C

Dari Tabel 1 di atas rata-rata

keterampilan proses pada kelompok

eksperimen 86,12 (baik sekali), dan

pada kelompok kontrol 67,10

(Cukup). Ini memperlihatkan bahwa

strategi pembelajaran kontekstual

yang dilaksanakan pada materi

Keanekaragaman makhluk hidup

telah memberi dampak pada siswa

untuk mengembangkan keterampilan

proses, terutama klasifikasi dan

observasi. Keterampilan membuat

inferensi belum berkembang baik

baik pada kelompok eksperimen dan

kontrol. Dari penilaian buku kerja

siswa didapati siswa mengalami

kesulitan untuk membuat hubungan

18


Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Potensi Pembelajaran Kontekstual Rangka

topik yang dipelajari dengan

kehidupan nyata.

Data sikap ilmiah siswa pada

pembelajaran kontekstual meliputi

tanggung jawab, keingintahuan,

kerjasama, kecermatan, disiplin,

toleransi, dan percaya diri

Dari Tabel 2 di atas rata-rata sikap

ilmiah pada kelompok eksperimen

89,87 (baik sekali), dan pada

kelompok kontrol 60,36 (Cukup). Ini

memperlihatkan bahwa strategi

pembelajaran kontekstual yang

dillaksanakan pada materi

Keanekaragaman makhluk hidup

telah memberi kesan pada siswa

untuk mengembangkan sikap ilmiah,

terutama disiplin, kerjasama, dan

tanggung jawab. Pada kelompok

Tabel 2. Rata-rata Sikap Ilmiah melalui Strategi

kontrol yang tidak melaksanakan

pembelajaran kontekstual, sikap

ilmiah ini cukup baik. Hasil ini

menunjukkan bahwa siswa dapat

membangun pengetahuan dan sikap

mereka, dalam hal ini tentu saja

peranan guru sangat menentukan.

Semestinya guru dapat melaksanakan

pembelajaran yang melibatkan

aktivitas pelajar, sehingga sikap

ilmiah mereka dapat berkembang.

Menurut Bricheno et al. (2000),

sikap ilmiah dan sikap terhadap sains

yang positif adalah diwujudkan dari

pengalaman langsung siswa dengan

aktivitas pembelajaran sains

khususnya dalam aktivitas-aktivitas

yang memberi kesempatan untuk

penglibatan aktif siswa.

RANGKA

Sikap Ilmiah

Tanggung

jawab

Keingintahuan

Kerja sama

Kecermatan

Disiplin

Toleransi

Percaya diri.

Rata-Rata

Kelompok

Pertemuan

Rata- Kategori

KD 6.1 KD 6.2 KD 6.3

Rata

1 2 3 4 5 6 7 8

Eksperimen 87,62 79,41 94,29 91,18 91,18 97,67 93,94 97,22 91,56 BS

Kontrol 33,33 33,33 49,57 60,53 48,72 64,86 63,06 41,44 49,36 K

Eksperimen 77,14 86,27 77,14 84,31 86,27 87,50 90,91 90,74 85,04 BS

Kontrol 66,67 41,23 54,70 58,77 58,12 59,86 54,95 58,56 56,61 K

Eksperimen 92,38 89,22 94,29 93,14 97,06 96,88 94,95 96,30 94,28 BS

Kontrol 73,87 59,65 56,41 64,91 69,23 71,17 50,45 58,56 63,03 C

Eksperimen 85,71 87,25 93,33 94,12 92,16 90,63 96,97 96,30 92,06 BS

Kontrol 70,27 63,16 61,54 64,04 64,10 63,06 66,67 61,26 64,26 C

Eksperimen 93,33 91,18 95,24 91,18 94,12 92,71 92,93 98,15 93,61 BS

Kontrol 72,97 57,89 64,10 62,28 66,67 59,46 63,96 69,37 64,59 C

Eksperimen 77,14 80,39 78,10 83,33 88,24 87,50 86,87 91,67 84,16 BS

Kontrol 55,86 66,67 64,10 65,79 67,52 67,57 72,07 58,56 64,77 C

Eksperimen 85,71 89,22 84,76 84,31 92,16 92,71 88,89 95,37 89,07 BS

Kontrol 67,57 70,18 67,52 73,68 76,92 68,47 69,37 65,77 69,94 C

Eksperimen

85,58 86,13 88,16 88,80 91,60 91,37 92,21 95,11

(BS) (BS) (BS) (BS) (BS) (BS) (BS) (BS)

89,87 BS

Kontrol

62,93 56,02 59,71 64,29 64,47 64,35 62,93 60,36

(C) (K) (K) (C) (C) (C) (C) (C)

61,88 C

Keterangan :

KD 6.1 = Ciri-Ciri Makhluk Hidup

KD 6.2 = Klasifikasi Makhluk Hidup

KD 6.3 = Keragaman pada sistem organisasi kehidupan

Selanjutnya dapatan penguasaan konsep dilakukan analisis secara statistik inferensial

terhadap dengan uji ternormalisasi, seperti pada Gambar 1 di bawah ini :

19


Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Potensi Pembelajaran Kontekstual Rangka

60

50

40

30

20

10

0

37.26 36.07

31

Eks

56.57

51.36

Kontrol

Gambar 1. Penguasaan Konsep melalui Strategi

RANGKA

24

Pre-test

Post-test

N-gain

Dari uji ternormalisasi (Ngain),

diperoleh peningkatan pada

kelompok eksperimen lebih tinggi

dari kelompok kontrol. Selanjutnya

hasil belajar secara keseluruhan

meliputi keterampilan proses, sikap

ilmiah, dan penguasaan konsep

dilakukan analisis uji –t seperti pada

Tabel 3 berikut

:

Tabel 3. Perbedaan Rata-rata Hasil Belajar dengan Uji-t melalui Strategi RANGKA

Kelompok Penguasaan Konsep Kategori

Eksperimen 73,55 Cukup

Kontrol 56,24 Kurang

t hitung 9,57*

t tabel 2,00

Data di atas memperlihatkan

bahwa dengan strategi kontekstual

RANGKA dapat meningkatan

keterampilan proses, sikap ilmiah,

dan penguasaan konsep. Dengan

pembelajaran kontekstual, siswa

akan mengkonstruksi pengetahuan

mereka sendiri dari penemuan

(inkuiri) yang mereka lakukan

terhadap dunia nyata, sehingga

mereka tidak semata-mata hanya

menghafal saja melainkan

mengalami dan mengkonstruksi

sendiri suatu konsep atau

pengetahuan yang merupakan proses

belajar bagi siswa sehingga belajar

menjadi bermakna. Hal ini sesuai

dengan pendapat Ausubel bahwa

belajar bermakna merupakan proses

mengaitkan informasi baru pada

konsep-konsep relevan yang terdapat

dalam struktur kognitif seseorang.

Dari hasil penelitian terdapat

perbedaan keterampilan proses dan

sikap ilmiah antara kelompok

eksperimen dengan kelompok

kontrol. Keterampilan proses dan

sikap ilmiah pada kelompok

eksperimen lebih tinggi

dibandingkan dengan sikap ilmiah

pada kelas kontrol. Hal ini dapat

terjadi karena pada kelompok

eksperimen dalam pembelajaran

siswa dilatih untuk mengamati,

mengklasifikasi, mengukur,

mengiferensi

dan

mengkomunikasikannya. Saat

melaksanakan keterampilan proses,

tanggung jawab, keingintahuan,

kerjasama, kecermatan, disiplin,

20


Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Potensi Pembelajaran Kontekstual Rangka

toleransi dan percaya diri sebagai

aspek pengamatan dari sikap ilmiah

juga berkembang baik. Manakala

pada setiap pembelajaran misalnya

pada materi tentang Organ dan

Sistem Organ pada Tumbuhan dan

Hewan. Pada topik ini siswa dilatih

untuk dapat mengamati organ-organ

yang dimiliki oleh tumbuhan dan

hewan termasuk manusia

menggunakan contoh yang

ditemukan dalam kehidupan seharihari.

Oleh karena itu, siswa dapat

mengaitkan konsep yang mereka

peroleh dengan dunia nyata,

sehingga proses belajar mengajar

akan lebih bermakna, yang

selanjutnya akan meningkatkan hasil

belajar. Seperti pendapat Hari

(2004), dengan pendekatan

kontekstual proses belajar mengajar

akan lebih nyata, realistis, aktual,

nyata, menyenangkan, dan

bermakna. Proses belajar dan

mengajar yang ditunjukkan oleh

perilaku guru dan perilaku siswa

yang bernuansa kontekstual

merupakan inti dari pembelajaran.

Perilaku siswa, seperti misalnya

semangat belajar, keseriusan,

perhatian, aktivitas, dan

keingintahuan perlu didorong dari

waktu ke waktu. Jika dilihat dari

masing-masing aspek sikap ilmiah

tertinggi yaitu aspek kerjasama dan

keterampilan proses pada aspek

observasi dan klasifikasi.

Penguasaan konsep pada

kelompok eksperimen 56,5, dan

kelompok kontrol 51,4. Jika

dibandingkan dengan pre test,

pennguasaan konsep antara keduadua

kelompok mengalami

peningkatan. Tetapi jika dilihat dari

ketuntasan belajar, rata-rata hasil

belajar berada pada kategori rendah.

Hal ini dapat difahami karena siswa

rata- rata memang berada pada

kemampuan rendah. Untuk itu peran

guru sebagai fasilitator dengan

mencobakan berbagai alternatif

strategi pembelajaran sangat

diharapkan sehingga potensi siswa

dapat dioptimalkan.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dapat

disimpulkan bahwa rerata

keterampilan proses, sikap ilmiah

dan hasil belajar pada kelompok

eksperimen mengalami peningkatan.

Berdasarkan hasil ini disarankan

pada guru untuk selalu mencoba

berbagai strategi pembelajaran yang

sesuai dengan karakteristik siswa,

untuk melatih siswa berfikir kritis

dan kreatif.

DAFTAR PUSTAKA

Bricheno, P., Johnson, J. Sears, J.

2000. Children’s attitudes to

science: beyond the men in

white coats. In Issues in

science teaching. J. Sears and

P. Sorensen (eds). Routledge:

London.

Crawford,M.L. (2001). Teaching

contextually: Research,

rationale, and techniques for

improving student motivation

and achievement in

Mathematics and Science.

Texas: CORD

Depdiknas. 2002. Pengelolaan

Kurikulum Berbasis Sekolah.

Jakarta: Pusat Kurikulum

Balitbang Depdiknas.

Depdiknas.(2003). Standar

Kompetensi Mata Pelajaran

Sains SMP. Jakarta:Pusat

Kurikulum, Balitbang

Depdiknas.

Dick,W.,Carey,L., & Carey,J.O.,

(2005). The Systematic

21


Evi Suryawati

Jurnal Pendidikan

Potensi Pembelajaran Kontekstual Rangka

Design of Instruction. Sixth

Edition.Boston: Pearson.

Evi Suryawati. 2007. The Challenge

and Problems of Biology

Teachers in Conducting

Innovation on Learning.

Seminar Proceeding of The

First International Seminar

of Science Education.

Science Education facing

Against The Challenge of The

21 st Century Saturday 27

October 2007. Science

Education Program

Graduate School. Indonesia

University of Education

Bandung.

Hari, S. 2004. Implementasi

Kurikulum Berbasis

Kompetensi. Jakarta: Cipta

Cekas Grafika.

Ibrahim, M. 2003. Pengajaran

Berdasarkan Masalah. Jakarta :

Direktorat Pendidikan Lanjutan

Pertama Dirjen Dikdasmen

Departemen Pendidikan

Nasional.

Occupational Research Group

College of Education The

University Georgia,(2003).

Contextual Teaching and

Learning: Lessons Learned

from Teacher Preparation

Through Novice Teacher.

Retrieved Jul 8,2007, from

http://www.Coe Uga.edu/ctl.

Parnell,D. (1995 a). Why do I have to

learn this. Waco Texas:

Center for Occupational

Research and Development

(CORD).

Parnell,D. (1995 b). Contextual

Teaching Work Increasing

Student Achievement. Waco

Texas: Center for

Occupational Research and

Development (CORD).

Susilo, H., 2003. Kapita Selekta

Pembelajaran Biologi.

Jakarta: Pusat Penerbitan

Universitas Terbuka.

Zemelman, S., Daniel, H.,Hyde, A.

(1998). Best Practice: New

Standards for teaching and

learning in America’s School.

2nd ed. New Hampshire:

Heinemann.

22


Herdini

Jurnal Pendidikan

Pemberian Tugas Membuat Peta Pikiran (Mind Map)

Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Pemberian Tugas Membuat Peta

Pikiran (Mind Map) pada Mata Kuliah Kimia Organik I

Herdini* ) , Asmadi, Nurmayati

Program Studi Pendidikan Kimia FKIP UNRI

ABSTRAK Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas, yang bertujuan

meningkatkan aktifitas dan hasil belaja mahasiswa, dan dilaksanakan dalam 3 siklus. Subjek

penelitian adalah mahasiswa program studi pendidikan kimia semester tiga tahun akademis

2007/2008, yang berjumlah 23 orang. Data yang dikumpulkan dari hasil penelitian ini adalah

data aktifitas belajar mahasiswa, aktifitas mengajar dosen, lembar tugas mahasiswa (LTM),

dan ketuntasan belajar mahasiswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisa

deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil berturut-turut untuk siklus I, II, dan

III sebagai berikut : Aktifitas belajar mahasiswa 43, 48%, 43, 78%, dan 44,94%, aktifitas

dosen 67,05%, 67,43%, dan 69,70%, rata-rata nilai LTM 46,55%, 71,65%, dan 78,84%,

sedangkan ketuntasan belajar mahasiswa yang didapat adalah 52,17 %, 73,91 %, dan 78, 26

%. Dari gambaran hasil yang diperoleh terlihat bahwa peningkatan yang cukup berarti adalah

pada hasil LTM dan Ketuntasan belajar. Peningkatan hasil LTM diiringi dengan peningkatan

ketuntasan belajar, sedangkan aktifitas belajar mahasiswa terjadi peningkatan, tetapi sangat

kecil.

Kata Kunci: Peta Pikiran, Mind Map,.LTM

ABSTRACT This research was a clasroom action research, with aim to increase activity and

result of student learning, and applied in three cycle. The subject of the reasearch were

students on Department of Chemistry Education in third semester on 2007/2008 amount 23

students. Data which colected from this research were students learning activities, activity of

lecturer in teacheng. Students duty sheet, and mastery learning of students. Technique of data

analysis was applied descrtptive analysing. Based on results of data analysis obtained

succesvely for I, II, III cycles as followed : students learning activities are 43, 48%, 43, 78%,

dan 44,94%, activity of lecturer in teacheng are 67,05%, 67,43%, dan 69,70%, Averege of

duty sheet were 46,55%, 71,65%, dan 78,84%, and mastery learning of students are 52,17

%, 73,91 %, dan 78, 26 %. The Averege of duty sheets was accompanied with increasing

learnt, while students learning activities happened increasing, but small.

Key Words : Mind Map,. Mastery learnung,

23


Herdini

Jurnal Pendidikan

Pemberian Tugas Membuat Peta Pikiran (Mind Map)

PENDAHULUAN

Kimia organik yang didefinisikan

sebagai kimia senyawa karbon (Fessenden,

1990) merupakan mata kuliah wajib bagi

mahasiswa S-1 program studi pendidikan

kimia, FKIP UNRI, yaitu terdiri dari

Kimia Organik I, II, dan Kimia Organik

III. Secara umum mata kuliah ini

mempelajari tentang struktur, sifat,

komposisi, reaksi, dan sintesis senyawa

organik..

Konsep-konsep yang terdapat

dalam kimia organik cukup sulit dipahami

mahasiswa. Dalam mempelajari Kimia

Organik, di samping harus mengingat

jenis-jenis senyawa, juga harus bisa

mengenal struktur dan gugus fungsi, serta

dituntut memahami berbagai reaksi yang

terjadi. Khusus mata kuliah Kimia

Organik I mempelajari tentang atom

karbon dan Ikatan kovalen, alkana dan

sikloalkana, alkena dan alkuna, senyawa

aromatis dan tata nama benzena, alkohol

dan eter, senyawa alkil halida, aldehid dan

keton, serta amina.

Pengalaman selama ini dalam

mengajar mata kuliah kimia organik,

hampir setiap tahun rata-rata hasil belajar

mahasiswa rendah. Sebagai gambaran,

rata-rata nilai kimia organik I mahasiswa

mulai semester ganjil 2004/2005 sampai

semester ganjil 2006/2007 berturut-turut

adalah 51,5, 61,6, dan 47,5. Hal ini

mencerminkan masih sedikit sekali

mahasiswa yang sudah mencapai

ketuntasan belajar. Menurut aturan

penilaian yang dikeluarkan UNRI (2003),

ketuntasan belajar tercapai, apabila

mahasiswa telah mencapai taraf

penguasaan ≥ 56 % (nilai C). Di samping

itu keaktifan mahasiswa dalam proses

pembelajaran juga kurang, terlihat dari

kurangnya keinginan mahasiswa untuk

bertanya dan menjawab pertanyaan.

Permasalahan ini juga terjadi pada

mahasiswa yang sedang mengikuti mata

kuliah kimia organik I semester ganjil

2007/2008. Aktiffitas mahasiswa di awal

perkuliahan sangat kurang

Berbagai usaha telah dilakukan

untuk memperbaiki hasil belajar tersebut,

antara lain menggunakan media

pembelajaran yang memberikan gambaran

struktur molekul tiga dimensi, pemberian

tugas menyelesaikan soal=soal latihan,

tetapi hasil yang dicapai belum

memuaskan.

Hasil wawancara dengan

mahasiswa yang pernah dan sedang

mengikuti pembelajaran mata kuliah kimia

organik I ini, ditemukan bahwa sebahagian

besar mahasiswa cenderung belajar

dengan hafalan. Kenyataan ini sesuai

dengan pernyataan yang dikemukakan

oleh Slameto (1995) bahwa kebanyakan

mahasiswa hanya mencoba menghafal

pelajaran, sehingga mereka tidak

membangun konsep-konsep yang

fundamrntal pada awal mereka belajar.

Hasil wawancara juga ditemukan bahwa

umumnya mahasiswa belajar untuk

mengulang materi atau bahan ajar ketika

hari menjelang ujian tiba, dan tidak punya

catatan yang sistematis. Hasil wawancara

tersebut terungkap juga dosen kurang

memberikan arahan dalam membuat

catatan penting selama pembelajaran..

Untuk memecahkan masalah

tersebut, perlu dicari suatu metode atau

strategi pembelajaran yang dapat

meningkatkan keaktifan belajar

mahasiswa. Salah satu metoda yang dapat

digunakan adalah metode pemberian tugas

membuat peta fikiran (mind Map).

Peta fikiran merupakan suatu

diagram warna-warni yang terdiri dari

24


Herdini

Jurnal Pendidikan

Pemberian Tugas Membuat Peta Pikiran (Mind Map)

sebuah gagasan sentral yamg diletakkan

pada bagian tengah secarik kertas,

kemudian dibubuhi cabang-cabang yang

menyerupai bentuk cabang pohon (Buzan,

2001).. Peta fikiran ini merupakan alat

yang ampuh dalam membantu otak

berfikir secara teratur, dapat membantu

dengan mudah memasukkan informasi ke

dalam otak dan mengambil kembali

informasi tersebut dari otak. Dengan

membuat peta fikiran akan meningkatkan

kreatifitas dan efektifitas mahasiswa

dalam mencatat materi perkuliahan.

Informasi yang panjang dan menjemukan

dapat diubah menjadi diagram yang

menarik. Untuk membuat peta fikiran,

seorang siswa/mahasiswa harus membaca

dan sekaligus menulis, dengan kata lain,

mereka akan mengaktifkan panca indra

dan fikirannya dalam menghasilkan suatu

peta fikiran yang baik, sehingga

pemahamannya sendiri terhadap suatu

materi pelajaran.

Byers (2001), mengatakan bahwa

segala sesuatu yang menghasilkan

keterlibatan aktif siswa/mahasiswa dapat

meningkatkan kuantitas dan kualitas

belajar, seperti halnya membaca akan

menunjukkan pengalaman yang lebih kaya

dibandingkan hanya mendengarkan

pembelajaran di kelas. Menurut teori

konstruktivisme, pengalaman tidak

dipindah secara utuh dari guru kepada

siswa, melainkan dibangun secara aktif

dalam fikiran siswa. Selanjutnya Clow

(1998), menyatakan bahwa belajar yang

sesungguhnya hanya terjadi jika siswa

menciptakan pemahamannya sendiri,

namun guru diperlukan untuk menciptakan

situasi yang memungkinkan hal itu terjadi.

Menulis juga mempunyai peranan

yang tidak kalah pentingnya dari

membaca. Hal ini sesuai dengan pendapat

Kovac dan Sherwood (1998) yang

mengatakan bahwa menulis mempunyai

fungsi komplementerdalam pendidikan

dan profesi. Pertama menulis merupakan

alat belajar yang ampuh, kedua menulis

adalah suatu kemampuan profesi yang

penting.

Jadi dari uraian di atas jelaslah

bahwa membuat peta fikiran mempunyai

peranan yang sangat penting dalam proses

pembelajaran, karena peta fikiran

memadukan berbagai aspek yang

mengaktifkan siswa dan lebih kompleks

dari sekedar membaca dan menulis.

Hasil penelitian Farrand (2002),

menyimpulkan bahwa teknik belajar

membuat peta fikiran lebih efektif dan

manjur dalam meningkatkan pemahaman

mahasiswa terhadap informasi yang

mereka peroleh, dan hasil penelitian

D’Antoni dan Pinto (2006) memberikan

data yaitu 10 dari 14 orang mahasiswa

setuju bahwa teknik belajar peta fikiran

mampu memperbaiki cara belajar mereka,

dimana memudahkan mereka

mengorganisasikan materi yang

dipresentasikan dalam rangkaian

pembelajaran, sedangkan hasil penelitian

Sadi (2006) menunjukkan bahwa

pemberian tugas membuat peta fikiran

mampu meningkatkan hasil belajar sampai

25,39%.

Berdasarkan uraian yang telah

dikemukakan di atas, maka rumusan

masalah dalam penilitian ini adalah:

Apakah pemberian tugas membuat peta

pikiran (mind map) dapat keaktifan dan

belajar mahasiswa pada mata kuliah kimia

organik I tahun akademis 2007/2008

Selanjutnya berdasarkan rumusan

masalah tersebut, dapat diajukan hipoitesis

tindalan sebagai berikut : Jika pada proses

pembelajaran kimia organik I diterapkan

pemberian tugas membuat peta fikiran,

maka keaktifan dan ketuntasan belajar

mahasiswa akan meningkat

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan

Penelitian Tindakan Kelas (Classroom

Action Research), karena dilaksanakan

berdasarkan refleksi diri dan bertujuan

memperbaiki proses pembelajaran.

Menurut Wardani (2007), penelitian

tindakan kelas adalah penelitian yang

dilakukan oleh guru/dosen di kelasnya

25


Herdini

Jurnal Pendidikan

Pemberian Tugas Membuat Peta Pikiran (Mind Map)

sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan

untuk memperbaiki kinerjanya sehingga

hasil belajar siswa meningkat.

Subjek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di

Program Studi Pendidikan Kimia FKIP

UNRI semester ganjil 2007/2008. Subjek

penelitian adalah mahasiswa semester III

Program Studi Pendidikan Kimia T.A

2007/2008 yang berjumlah 34 orang.

Indikator Kinerja

1. Aktivitas mahasiswa dalam proses

perkuliahan menggunakan lembar

observasi, yang meliputi

2. Aktivitas dosen dalam proses

perkuliahan menggunakan lembar

observasi

3. Hasil belajar mahasiswa yang berupa

ketuntasan belajar pada setiap siklus.

Ketuntasan belajar terdiri dari

ketuntasan belajar secara individual

dan ketuntasan belajar secara

klasikal.

Instrumen Penelitian

Ada dua Instrumen penelitian

yang digunakan, yaitu perangkat

pembelajaran dan instrumen pengumpulan

data.

1. Perangkat pembelajaran yang terdiri

atas : Garis-garis besar program

pengajaran (GBPP), silabus mata

kuliah kimia organik I, satuan acara

Perkuliahan (SAP), dan lembar

tugas mahasiswa (LTM)

2. Instrumen Pengumpulan Data

antara lain adalah lembar observasi

dosen, dan mahasiswa, yang

berguna untuk menjaring aktivitas

dosen dan mahasiswa, tes hasil

belajar yang dilakukan setiap akhir

siklus.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam 3

siklus, setiap siklus melalui 4 tahap

pelaksanaan sesuai langkah penelitian

tindakan kelas, yaitu perencanaan,

pelaksanaan tindakan, pengamatan dan

refleksi. Siklus I dilakukan untuk pokok

bahasan alkohol dan eter, siklus II aldehid

dan keton, dan siklus III, asam karboksilat

dan turunannya.

Untuk masing-masing siklus pada

tahap perencanaan dipersiapkan antara lain

SAP, peta pikiran (mind map) acuan,

lembar tugas dan lembar observasi. Untuk

siklus II persiapan yang dilakukan telah

disesuaikan dengan hasil refleksi siklus I,

dan hal yang sama dilakukan untuk siklus

III.

Tahap Pelaksanaan dilakukan sesuai

dengan skenario pembelajaran yang telah

disusun, dengan menerapkan pemberian

tugas membuat peta fikiran di akhir

pembelajaran. Secara umum model

pembelajaran yang digunakan untuk setiap

siklus sama, hanya saja pada siklus II

ditambahkan perbaikan dari hasil siklus I

dan untuk siklus III ditambahkan

perbaikan dari hasil siklus II

Tahap Observasi dilaksanakan

bersamaan dengan pelaksanaan tindakan

untuk mengetahui aktivitas mahasiswa dan

dosen dalam pembelajaran. Aktivitas

mahasiswa yang diamati berupa

keseriusan belajar, mengajuka pertanyaan,

menanggapi dan menjawab pertanyaan.

Sedangkan aktivitas dosen yang diamati

meliputi kegiatan selama proses

pembelajaran, mulai dari membuka sampai

menutup pembelajaran, Untuk proses

pengamatan ini dibantu oleh pengamat

yang juga anggota peneliti.

Tahap Refleksi dilaksanakan setelah

pelaksanaan tindakan dan pengamatan

pada masing-masing siklus selesai

dilakukan, guna untuk evaluasi dan tindak

lanjut pelaksanaan berikutnya.

Teknik Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan

analisis deskriptif yaitu untuk

26


Herdini

Jurnal Pendidikan

Pemberian Tugas Membuat Peta Pikiran (Mind Map)

mendapatkan gambaran ketuntasan belajar

mahasiswa, aktivitas mahasiswa dan dosen

dalam pembelajaran.

1. Ketuntasan Belajar Mahasiswa

Mengukur penguasaan terhadap

materi kuliah atau konsep mengacu kepada

ketuntasan belajar secara individual dan

ketuntasan belajar secara klasikal. Untuk

mengetahui tuntas atau tidaknya

mahasiswa belajar digunakan rumus

sebagai berikut:

SS

KI = x100%

SM

Dimana: KI = persentase ketuntasan

belajar secara individual

SS = skor yang diperoleh

mahasiswa

SM = skor maksimal

Dalam penelitian ini ketuntasan

belajar mahasiswa secara individual

ditetapkan nilai 56, mahasiswa dikatakan

tuntas jika telah menguasai materi minimal

56% (nilai C). Nilai ini berdasarkan

ketentuan patokan penilaian UNRI

(2003)..

Ketuntasan belajar klasikal dapat

diketahui dengan persamaan sebagai

berikut:

JI

KK = x100%

JS

Dimana: KK = persentase ketuntasan

belajar secara klasikal, JI = jumlah

mahasiswa yang tuntas secara individual,

JS = jumlah mahasiswa, Dengan kategori

ketuntasan adalah sebagai berikut:

Interval(%)

Kategori

81%-100% Baik

Sekali

66%-80% Baik

56%-65%

Cukup (PAP UNRI,

2003)

2. Aktivitas Mahasiswa Dalam

Pembelajaran

Untuk mengetahui aktivitas

mahasiswa dapat diketahui dengaan

menggunakan rumus sebagai berikut:

F

P = x100%

N

Dimana: P = angka persentase aktivitas,

F = frekuensi aktivitas, serta

N = banyaknya individu

(Modifikasi sudijono,

2004)

3. Aktivitas Dosen Dalam

Pembelajaran

Aktivitas dosen dalam pembelajaran

dilihat pada setiap tahap pelaksanaan

belajar-mengajar yaitu pendahuluan,

kegiatan inti dan penutup. Setiap aktivitas

dosen diberikan nilai dengan bobot dan

ketentuan sebagai berikut: Nilai 0 tidak

melakukan, 1 kurang, 2 cukup, 3 baik, 4

baik sekali. kategori untuk aktivitas adalah

: 75%-100% baik sekali, 65%-74% baik,

55%-64% cukup, ≤ 54%, kurang

(Modifikasi Anonimus, 1991)

HASIL PENELITIAN DAN

PEMBAHASAN

Hasil pengukuran yang diperoleh

dalam penelitian ini sesuai dengan

indikator kinerja yang telah ditetapkan ,

yaitu :aktivitas mahasiswa dan dosen pada

setiapsiklus, hasil belajar mahasiswa

dalam bentuk ketuntasan belajar untuk

setiap siklus, yaitu meliputi ketuntasan

individual dan ketuntasan klasikal, serta

nilai peta pikiran mahasiswa dalam bentuk

nilai LTM (lembar tugas mahasiswa)

untuk setiap siklus

1. Hasil Tindakan Siklus I

Hasil analisis data nilai LTM,

aktifitas mahasiswa dan dosen, serta

27


Herdini

Jurnal Pendidikan

Pemberian Tugas Membuat Peta Pikiran (Mind Map)

ketuntasan belajar mahasiswa dapat dilihat pada garafik 1.

80

60

40

20

0

P1 P2 Siklus I

Ketuntasan

Nilai LTM

Aktivitas

Mahasiswa

Grafik 1 : Hasil Tindakan Siklus I

Berdasarkan grafik tersebut

terlihat bahwa aktivitas mahasiswa dan

nilai peta pikiran yang dibuat oleh

mahasiswa (nilai LTM) masih memiliki

nilai rata-rata ≤ 50 %. Hal ini menjadi

fokus perbaikan pada siklus II. Sebelum

proses pembelajaran siklus II dilakukan,

dijelaskan kembali tentang pembuatan

peta pikiran, diantaranya mengenai

pentingnya keindahan, kata kunci, dan

bahwa isi peta pikiran harus mencakup

indikator yang akan dicapai dalam

pembelajaran, Untuk meningkatkan

aktifitas mahasiswa, diberikan tambahan

tugas baca materi yang akan dipelajari dan

mengkaitkan dengan tugas yang telah

dikerjakan.

2. Hasil Tindakan Siklus II

Hasil analisis data nilai LTM,

aktifitas mahasiswa dan dosen, serta

ketuntasan belajar mahasiswa dapat dilihat

pada garafik 2.

80

70

60

50

40

30

20

10

0

P1 P2 P3 Siklus II

Ketuntasan

Nilai LTM

Aktivitas

Mahasiswa

Grafik 2 : Hasil Tindakan Siklus II

Berdasarkan grafik tersebut

terlihat bahwa aktivitas dosen, nilai LTM,

dan Ketuntasan belajar sudah cukup baik,

yaitu sekitar 67,43, 71, 65, dan 33,91 %,

namun aktifitas mahasiswa masih < 50 %,

sehingga diusahakan lagi perbaikan

aktifitas mahasiswa pada siklus 3, di

samping meningkatkan indikator lain..

Sebagaimana siklus II, pada siklus III

diberikan tugas rumah kepada mahasiswa

untuk membaca materi pertemuan

berikutnya.

3. Hasil Tindakan Siklus III

Pada siklus III, dari 4 indikator

yang diamati, 3 indikator sudah

menunjukkan nilai baik, yaitu aktivitas

dosen, nilai LTM, dan Ketuntasan belajar,

dan menunjukkan peningkatan dari siklus

sebelumnya. Yang masih kurang adalah

aktifitas mahasiswa, walaupun mengalami

peningkatan juga dari siklus sebelumnya,

hal ini dapat dilihat pada grafik 3.

28


Herdini

Jurnal Pendidikan

Pemberian Tugas Membuat Peta Pikiran (Mind Map)

80

70

60

50

40

30

20

10

0

Grafik 3 : Gabungan Hasil

Tindakan Siklus I-III

Secara keseluruhan, mulai dari

sikluis I sampai siklus III, Dari grafik 3

dapat dijelaskan bahwa nilai LTM dan

hasil belajar mahasiswa mengalami

peningkatan dari siklus I sampai III.

Sedangkan aktivitas mahasiswa dan dosen

memiliki nilai yang bervariasi, yaitu

mengalami penurunan pada siklus II,

kemudian meningkat pada siklus III.

Secara keseluruhan aktivitas mahasiswa

dan dosen tersebut mengalami

peningkatan dari siklus I sampai III,

namun peningkatan yang terjadi pada

aktifitas mahasiswa masih sangat kecil,

dan masih memerlukan perbaikan. Dari

hasil refleksi secara keseluruhan

kemungkinan penyebanya adalah karena

tugas diberikan di akhir pembelajaran, jadi

siswa terfokus mengerjakan tugas dan

kekurangan waktu untuk membaca materi

yang akan dipelajari.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Siklus I Siklus II Siklus III

Berdasarkan hasil penelitian yang

telah dkemukakan dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut ::

1. Pemberian tugas membuat peta

pikiran (mind map) dapat

meningkatkan aktivitas dan hasil

belajar mahasiswa pada mata

kuliah kimia organik I tahun

akademis 2007/2008.

Saran

2. Peningkatan aktivitas mahasiswa

dalam proses pembelajaran adalah

1,45 %, sedangkan hasil belajar

mahasiswa

mengalami

peningkatan hingga 26,09 %.

Bagi peneliti lain yang berminat,

dengan metode pemberian tugas membuat

peta fikiran ini, agar dapat menerapkan di

awal pembelajaran, supaya dapat lebih

meningkatkan aktifitas mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 1991 Petunjuk Operasional

Peningkatan Mutu Pendidikan,

Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan Kantor Wilayah

Provinsi Riau, Pekanbaru.

Buzan. T., 2001, How To Mind Map-Mind

Map Untuk Meningkatkan

Kreativitas, Terjemahan Eric

Suryaputra, PT Gramedia Pustaka

Utama, Jakarta.

Byerrs, W., 2001, Using questions to

promote active learning in lectures,

University Chemistry Educations, 5

(1) ; 35-39.

Clow, D., 1998, Teaching, larning, and

computing, University Chemistry

Educations, 2 (1) ; 21-28

D’Antoni and Pinto Zipp, (2006)

Application of the Mind Mip

Learning Technique in Chiropractic

Education: A Pilot Study and

Literature

Review.

http:www_13/JChiropHumanit200

6- 13-2-11.pdf (11 agustus 2007)

Farrand. P., Hussain F.& Hennessy. E.,

(2002), The Efficacy of the “Mind

Map” Study Technique.

http://www.blackwellsynergy.com/doi/abs/10.1046/j.136

5-

2923.2002.01205.xjournalCode=

med

(11 agustus 2007)

30


Herdini

Jurnal Pendidikan

Pemberian Tugas Membuat Peta Pikiran (Mind Map)

Fessenden. J, fessenden, 1982, Kimia

Organik, edisi ketiga- jilid I,

Erlangga, Jakarta

Sadi. S., 2006 Pemberian Tugas Membuat

Mind Map (Peta Pikiran) Untuk

Meningkatkan Prestasi Belajar

Siswa Pada Pokok Bahasan Koloid

di SMAN 1 Sungai Apit,

Universitas Riau, Pekanbaru.

Slameto, (1987), Belajar Dan Faktor-

Faktor Yang Mempengaruhinya,

Rineke Cipta, Jakarta

Sudijono, A., 2004, Peniulaian Hasil

Proses Belajar Mengajar, Raja

Grafindo Persada, Jakarta

UNRI, 2003, Peraturan Akademik

Universitas Riau, Universitas

Riau

Wardani, I. G. A. K dkk, 2004, Penelitan

Tindakan Kelas, Universitas

Terbuka, Jakarta.

31


Jismulatif

Jurnal Pendidikan

Tekhnik Drama dalam Peningkatan Belajar Speaking

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATA KULIAH SPEAKING

MELALUI PENERAPAN STRATEGI DRAMA PADA

MAHASISWA BAHASA INGGRIS FKIP UNRI

Jismulatif

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni

Fakultas Keguruan Ilmu dan Pendidikan –Universitas Riau

Kampus Bina Widya Simpang Baru-Pekanbaru

e-mail.faizjis@yahoo.co.id

ABSTRAK Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk melihat keefektifan

drama dalam meningkatkan kemampuan speaking mahasiswa bahasa Inggris FKIP

UNRI. Hasil observasi pada siklus I rata-rata kemampuan speaking mahasiswa

(49,40%) dan skor hasil test siswa rata-rata (65,50). Hasil ini belum memenuhi

kriteria yang ditetapkan untuk ketuntasan siswa yaitu 70. Sehingga diadakan tindakan

ke dua (II) dengan melanjutkan pengajaran dengan menggunakan teknik bermain

drama. Mahasiswa juga diberi kesempatan latihan untuk adegan drama diluar kelas.

Setelah diadalan tindakan pada siklus ke II berdasarkan observasi dan tes yang

dilakukan ternyata kemampuan siswa meningkat menjadi (78,32%) dan skor hasil

post test mahasiswa rata-rata menjadi 75,00. Hasil penelitian ini memperlihatkan

bahwa hasil yang telah dicapai siswa melebihi kriteria yang ditentukan. Dengan

demikian teknik Drama dapat meningkatkan prestasi siswa dalam mata kuliah

speaking.

Kata kunci : keefektifan, drama, berbicara (speaking)

INCREASING THE STUDENT’S ABILITY IN SPEAKING SUBJECT

THROUGH DRAMA TECHNIC AT ENGLISH DEPARTMENT FKIP UNRI

ABSTRACT The aim of this classroom action research is to see the effectiveness of

Drama to increase student’s ability in speaking. Before the treatment was conducted,

the sample was given pre-test and after the treatment, post-test was also held. The

result of observation (49,40%) and mean score of test of cycle I (65,50) cannot full fill

the minimum criteria applied,70. The action is continued at cycle II by continuing to

apply drama activities at cycle I and give more motivation and support to be more

active in doing drama activities. Beside that, special guidance for those who need is

also provided outside class. In fact, there is a high increase of observation and test

result at cycle II compare to the increase in cycle I. The student’s ability in doing

drama activities becomes (78,32 %) and the mean score of the post test is 75,00. The

result this research shows that the criteria applied has been achieved and this means

that drama technique is very active to increase student’s ability in comprehending

content subject Speaking.

Key words : Effectiveness, Drama, Speaking,

32


Jismulatif

Pendahuluan

Ada empat skill atau keahlian yang

harus dimiliki siswa dalam belajar

bahasa inggris, keempat skill itu

adalah, Speaking (menulis), Reading

(membaca), Speaking (berbicara) dan

Listening (mendengar). Dari keempat

keahlian tersebut speaking merupakan

keahlian yang terlihat jelas

perlakuanya dan merupakan ukuran

terhadap seorang siswa apakah bisa

atau tidak berbahasa Inggris.

Pada program studi pendidikan

Bahasa Inggris, mata kuliah speaking

sering dianggap sebagai pelajaran

yang menakutkan dan sulit untuk

dipelajari oleh mahasiswa, karena

dalam bahasa Inggris antara

pengucapan (pronunciation) dan

tulisan (speaking) berbeda. Disamping

itu siswa sering mengalami kesulitan

untuk berbicara (speaking) yang

disebabkan pertama, kesulitan

mengungkapkan ide; sehingga siswa

bingung apa yang akan mereka

sampaikan. Kedua, terbatasnya

kosakata (vocabulary) dan grammar

(tata bahasa); sehingga peserta didik

sulit berbicara dengan lancar. Ketiga

keterbatasan melafalkan/mengucapkan

kata-kata (pronunciation); sehingga

sulit mengucapkan kata dengan benar

dan yang keempat tidak adanya

keberanian berbicara karena takut

salah. Dari permasalahan ini berakibat

pada hasil pembelajaran speaking

siswa yang kurang memuaskan.

Berdasarkan pra-refleksi atas

pengalaman belajar secara langsung

melalui tatap muka (observasi interaksi

belajar mengajar) maupun

pemerolehan nilai mahasiswa selama

ini (ujian mid dan semester serta ujian

dan kemampuan berbicara dalam

bahasa Inggris), terungkap bahwa

speaking merupakan pokok bahasan

sangat sukar dilaksanakan mahasiswa

dalam belajar bahasa asing. Kesulitan

Jurnal Pendidikan

Tekhnik Drama dalam Peningkatan Belajar Speaking

yang banyak dilakukan oleh

mahasiswa lebih tertuju kepada kurang

berani dan takut salah dalam berbicara.

Umumnya mata kuliah

speaking yang disampaikan di prodi

bahasa Inggris, dari sisi teknik

pengajaranya kurang inovatif dan

bervariasi, sehingga daya serap

mahasiswa rendah. Penyampaian

materi kuliah lebih bersifat monoton,

mahasiswa kurang diberi motivasi dan

kepercayaan diri untuk berbicara di

dalam kelas. Dalam metode

penyampain materi, dosen sering

bersifat pasif, sehingga hal ini

berdampak pada rendahnya

keterampilan siswa untuk berbicara

dalam bahasa Inggris.

Banyak strategi pembelajaran

speaking yang telah ditawarkan dalam

upaya memperbaiki kemampuan siswa

berbicara dalam bahasa Inggris.

Bermain drama merupakan salah satu

strategi yang belakangan dipandang

sangat bermanfaat dan berdaya guna

dalam pembelajaran speaking karena

drama dapat membangkitkan semangat

dan memotivasi siswa serta

memberikan suntikan untuk berbicara

dalam bahasa Inggris. Penerapan

drama dalam pembelajaran bukan hal

yang baru tetapi sudah lama diterapkan

sebagaimana dikatakan oleh Nellie

(2006) The use of drama as a tool for

teaching is not new: historically, both

drama and theatre have long been

recognized as potent means of

education.

Menurut Fajar (2005), drama adalah

media yang menarik dan komunikatif

untuk merangsang pembelajaran dan

perolehan bahasa dengan membuat

pelajar bahasa Inggris terlibat secara

intelektual, emosional, dan fisikal

dalam bahasa target. Vygotsky (1987)

menambahkan bahwa pemain drama

terlibat secara personal dalam kegiatan

sehingga keraguan dan rasa malunya

berkurang serta mereka diberdayakan

33


Jismulatif

untuk mengeskpresikan diri melalui

berbagai karakter. Potensi drama yang

amat besar membuat Bolton (1984)

menganjurkan agar drama ditempatkan

dalam posisi sentral dalam kurikulum

belajar bahasa Inggris.

METODE PENELITIAN

1. Teknik Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini

dirancang dan dilaksanakan di

Program Studi Pendidikan Bahasa

Inggris, Jurusan Pendidikan bahasa dan

seni FKIP Universitas Riau pada

Semester Ganjil Tahun Ajaran

2009/2010 oleh dua orang dosen

bahasa Inggris secara kolaboratif.

Subjek penelitian adalah mahasiswa

Program S1 Pendidikan Bahasa Inggris

yang mengambil mata kuliah speaking

berjumlah 30 orang. Secara

keseluruhan, penelitian tindakan yang

dirancang terdiri dari dua siklus

Penelitian ini dikembangkan dengan

prosedur spiral penelitian tindakan

kelas yang meliputi phase-phase :

perencanaaan, melakukan tindakan,

pengamatan, dan refleksi. Secara lebih

rinci penelitian tindakan ini dapat

dijabarkan sebagai berikut :

(a) Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan pada

tahap perencanaaan ini adalah

sebagai berikut : menyiapkan

skenario pembelajaran sesuai

dengan prosedur pelaksanaan

penelitian, menyiapkan rencana

pembelajaran,

materi

pembelajaran, menyiapkan

instrument untuk pretest dan posttest,

dan menyiapkan lembaran

observasi.

(b) Pelaksanaaan Tindakan

Rencana yang telah disusun

dicobakan sesuai dengan langkah

yang telah dibuat yaitu proses

peningkatan prestasi dan gairah

belajar mahasiswa dalam mata

Jurnal Pendidikan

Tekhnik Drama dalam Peningkatan Belajar Speaking

kuliah speaking. Kegiatan yang

dilaksanakan dalam tahap ini

adalah melakukan pre-test,

melaksanakan

skenario

pembelajaran

dengan

menggunakan strategi Drama,

yang telah direncanakan, dan

diakhir tindakan diberikan posttest.

(c) Observasi.

Pada tahap ini dilaksanakan

observasi

terhadap

pelaksanaaan tindakan untuk

mengamati pelaksanaan

pembelajaran dengan strategi

Drama. Observasi ini

dilakukan untuk melihat

pelaksanaan apakah semua

rencana yang telah dibuat

dengan baik tidak ada

penyimpangan – penyimpangan

yang dapat memberikan hasil

yang kurang maksimal dalam

peningkatan prestasi dan gairah

belajar mahasiswa pada mata

kuliah speaking.

(d) Refleksi

Pada tahap refleksi dilakukan

pembahasan hasil kegiatan dari

tindakan siklus I, dan II. Kemudian

dianalisis untuk mengetahui tentang

kondisi pembelajaran dengan

menggunakan teknik Drama, dan juga

refleksinya terhadap mahasiswa. Hasil

analisa tersebut dibandingkan dengan

kriteria keberhasilan yang ditetapkan

yaitu ≥ 70 %. Ini berarti, penelitian

tindakan kelas ini dianggap sudah

berhasil apabila paling kurang 70%

dari mahasiswa sudah mencapai nilai ≥

70 (nilai B). Kalau hasil analisa belum

mencapai kriteria keberhasilan yang

ditetapkan, maka selanjutnya akan

dianalisa strategi penggunaan Drama

dalam pembelajaranama speaking.

Analisa pada tahap ini akan

dipergunakan untuk melaksanakan

siklus selanjutnya.

2. Variabel yang diselidiki

34


Jismulatif

Variabel yang diselidiki untuk

menjawab permasalahan penelitian ini

adalah meliputi komponen-komponen

yang ada dalam speaking, yaitu :

Kemampuan mahasiswa dalam

Grammar, Vocabulary, Pronunciation

dan Fluency atau kelancaran

mahasiswa dalam berbicara.

3. Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini dikumpulkan

menggunakan lembar pengamatan dan

tes hasil belajar speaking. Pengamatan

dilakukan terhadap aktivitas yang

dilakukan dosen dan mahasiswa

selama proses pembelajaran. Teknik

pengumpulan data menggunakan

intsrument sebagai berikut :

a. Lembaran Observasi, untuk

mengumpulkan data tentang situasi

pembelajaran siswa.

b. Hasil test berbicara, untuk

mengumpulkan data tentang

kemampuan mahasiswa berbicara

dalam Bahasa Inggris.

4. Kriteria Keberhasilan

Kriteria keberhasilan dalam penelitian

ini dilihat dari hasil observasi, jika

telah mencapai rata-rata kualitas cukup

atau mampu lebih besar dari 70%, dan

hasil test yang juga mencapai

kompetensi minimal 70 %.

Kompetensi minimal yang dimaksud

adalah nilai rata-rata yang diperoleh

mahasiswa dimana kalau nilai rata-rata

mereka sudah mencapai 70 maka nilai

tersebut dianggap sudah memenuhi

kriteria keberhasilan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pre-test

Pre-test dilaksanakan pada pertemuan

pertama. Pretes ini dilaksanakan untuk

mengetahui kemampuan speaking

Jurnal Pendidikan

Tekhnik Drama dalam Peningkatan Belajar Speaking

mahasiswa sebelum teknik drama

diterapkan. Dari hasil pre-test

diperoleh skor rata-rata mahasiswa

adalah 50,55. Ini berarti tingkat

penguasaan mahasiswa pada pre test

mencapai 50,55 %.

2. Hasil Penelitian Siklus 1

Dari hasil observasi yang dilakukan

pada siklus 1 selama proses

perkuliahan pada pertemuan 2, 3, 4,

dan 5, diperoleh rata-rata kemampuan

speaking mahasiswa dengan

mengikuti aktifitas bermain drama

adalah sebesar 49,40 %. Dari post –

test pada siklus I didapat rata rata skor

mahasiswa adalah 65,50%. Ini berarti

rata-rata tingkat penguasaan

mahasiswa pada siklus I baru

mencapai 65,50

Dari hasil observasi terlihat

kemampuan siswa dalam berbicara

dalam bahasa Inggris (speaking)

dengan menggunakan teknik drama

dapat dianalisa bahwa siswa masih

agak ragu-ragu dalam berbicara

berbahasa Inggris dan siswa belum

100% berani mengatakan atau

mengeluarkan pendapat dan idenya

ketika berdialog dengan temantemanya.

Pada siklus satu rata-rata

mahasiswa mampu menggunakan

grammar dengan baik berjumlah 13%,

sedangkan mahasiswa yang mampu

menggunakan kosa kata (Vocabulary)

yang baik berjumlah 13,20 %, dan

mahasiswa yang mampu mengucapkan

kata-kata dengan pronunciation yang

benar 12,20%. Dilihat dari kecepatan

dan kelancaran siswa dalam berbicara

students’ability in fluency berjumlah

11%.

Dari hasil analisa di atas, dapat

dikemukakan bahwa hasil penelitian

pada siklus 1 dengan menggunakan

penerapan teknik drama untuk

meningkatkan kemampuan mahasiswa

dalam berbicara dalam bahasa Inggris.

35


Jismulatif

belum memuaskan. Hal ini dapat

dilihat dari:

1. Kemampuan mahasiswa dalam

mengikuti kegiatan-kegiatan

perkuliahan

dengan

menerapkan teknik Drama

belum memuaskan, baru

mencapai rata-rata 49,40 %.

2. Nilai rata-rata post- test pada

siklus 1 adalah 65,50%. Ini

berarti rata-rata tingkat

penguasaan mahasiswa baru

mencapai 65,50%,

Dari hasil analisa tersebut, pertanyaan

yang direfleksi adalah: Mengapa

dengan menggunakan teknik Drama

dalam pengajaran speaking hasil

belajar mahasiswa belum mencapai

nilai 70

Hasil refleksi berupa tindakan yang

akan di implementasikan pada siklus II

adalah sebagai berikut :

1. Tetap mempertahankan cara

kerja tindakan pada siklus I.

2. Memberi bimbingan kepada

mahasiswa yang terlihat kurang

percaya diri ketika berbicara

menggunakan bahasa Inggris

dengan ucapan yang benar.

3. Memotivasi mahasiswa untuk

lebih giat dalam mengikuti

permainan drama dan

menjauhkan sifat-sifat malu

dan kurang percaya diri.

4. Membantu mahasiswa yang

mengalami kesulitan dalam

pengucapan, pemilihan kosa

kata, dan struktur kalimat yang

benar ketika hendak

mengucapkanya.

4. Hasil Penelitian Siklus II

Pada siklus II, observasi dilaksanakan

selama pertemuan 6, 7, 8 dan 9

Variabel yang diobservasi pada siklus

II sama dengan variable yang

diobservasi pada siklus I. Dari hasil

observasi diperoleh rata-rata

Jurnal Pendidikan

Tekhnik Drama dalam Peningkatan Belajar Speaking

kemampuan speaking mahasiswa

dengan menggunakan teknik drama

adalah 78,32%. Dan hasil Post Test

pada siklus 2, diperoleh rata-rata

kemampuan mahasiswa sebesar 75,00

Dengan mengaplikasikan hasil

refleksi siklus 1, hasil observasi pada

siklus 2 menunjukan bahwa siswa telah

mampu meningkatkan kemampuan

speaking mereka dengan mengikuti

teknik bermain drama. Pada siklus 1,

mahasiswa yang mampu mengikuti

perkuliahan dengan penerapan teknik

drama hanya 49,40% adapun pada

siklus II meningkat menjadi 78,32%.

Dari hasil observasi siklus II,

ditemukan bahwa mahasiswa yang

mampu berbicara dalam bahasa Inggris

dengan menggunakan teknik drama

apabila dilihat dari komponen yang

terdapat dalam Speaking adalah.

Kemampuan siswa menggunakan

grammar dengan baik berjumlah

17.10%, sedangkan mahasiswa yang

mampu menggunakan pemilihan kosa

kata (Vocabulary) yang baik berjumlah

20,22 %, dan mahasiswa yang mampu

mengucapkan kata-kata dengan

pronunciation yang baik berjumlah

22.%. Dilihat dari kecepatan dan

kelancaran siswa dalam berbicara

(students’ability in fluency) berjumlah

19%.

Hasil Post-test siklus 2 menunjukan

bahwa rerata skor mahasiswa adalah

75,00 (rerata skor mahasiswa pada

siklus 1 adalah 65,50). Jika

dihubungkan dengan kriteria

keberhasilan, jelaslah bahwa hasil

observasi dan hasil Post-test pada

siklus 2 sudah memenuhi kriteria

tersebut. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa penerapan teknik

Drama dalam mata kuliah speaking

dapat meningkatkan kemampuan

mahasiswa berbicara dalam bahasa

Inggris disamping itu juga dapat

menumbuhkan kepercayaan diri

mahasiswa.

36


Jismulatif

5. Pembahasan

Hasil Penelitian tindakan kelas dengan

menerapkan teknik drama dalam

pembelajaran speaking yang terdiri 2

siklus ternyata dapat menjawab tujuan

penelitian yang dikemukan

sebelumnya. Dengan kata lain,

kemampuan mahasiswa dalam

berbicara dalam bahasa Inggris telah

miningkat secara signifikan setelah

Jurnal Pendidikan

Tekhnik Drama dalam Peningkatan Belajar Speaking

teknik drama diterapkan dalam

perkuliahan. Hal ini dapat dibuktikan

dengan hasil observasi dan hasil posttest

pada siklus 2. Untuk lebih jelasnya

berikut disajikan hasil observasi pada

siklus 1 dan 2 dan hasil post test siklus

1 & 2.

Tabel .1. Rekaman data hasil

observasi siklus 1 dan 2

Hasil Observasi (%)

No Variabel yang diamati Siklus I Siklus II

1 Kemampuan siswa berbicara dengan 13% 17.10%

menggunakan grammar yang benar

2 Kemampuan siswa berbicara dengan 13,20% 20,22%

pemilihan kosa kata yang baik.

3. Kemampuan siswa berbicara dengan 12.20% 22,00%

pengucapan kata-kata yang benar.

4. Kecepatan dan kejelasan siswa berbicara 11% 19.00%

Dari tabel diatas dapat dilihat

peningkatan skor mahasiswa dari

siklus 1 dan siklus 2, yang rata-rata

sudah memenuhi kriteria yang

ditetapkan. Ini menunjukan bahwa

teknik drama sangat tepat digunakan

untuk meningkatkan kemampuan

speaking siswa dalam berbahasa

Inggris.

Tabel.2. Rata-rata Skor pre- Tes, Post- Test 1 (siklus 1), Post-test 2 (Siklus 2)

Pre-test Post –test 1 Post –test 2

∑ 1547 ∑ 1682 ∑ 1944

Rata-rata : 50,55 Rata-rata 65,50 Rata-rata : 75,00

Jumlah siswa 30 Jumlah siswa 30 Jumlah siswa 30

Pembelajaran speaking dengan

menerapkan teknik drama selain dapat

meningkatkan kemampuan mahasiswa

dalam berbicara juga dapat

meningkatkan aktifitas dan hasil

belajar. Disamping itu penerapan

drama dalam pembelajaran dapat

meningkatkan daya imaginasi sebagai

mana yang dikatakan oleh Nellie

(2006) in drama we are trying to

release students into finding their own

questions…… a capacity for

courageous, imaginative, and

authentic engagement with students in

the co-creation of an imagined world.

KESIMPULAN DAN SARAN

37


Jismulatif

1. Kesimpulan

Penerapan teknik drama dalam mata

kuliah speaking tidak hanya meningkatkan

skor pembelajaran tetapi juga dapat

meningkatkan semangat, percaya diri dan

motivasi belajar siswa. Hal ini terlihat dari

hasil test akhir siswa, kalau siswa

semangat belajar dan menyenangkan akan

berakibat baik terhadap prestasi belajar

mereka.

Kemampuan mahasiswa mengikuti

kegiatan perkuliahan sesuai dengan

variable yang diobservasi baru mencapai

49.40 % dan rata-rata hasil post–test

adalah 65,50 yang berarti penguaasaan

mahasiswa baru 65,50 %

Penerapan Srategi Drama pada siklus 2

sudah dapat meningkatkan kemampuan

siswa sesuai dengan kriteria yang

ditetapkan. Kemampuan mahasiswa

mengikuti kegiatan sesuai dengan variable

yang diobservasi sudah mencapai 78,32%,

dan rata – rata hasil post test pada siklus 2

adalah 75,00. hasil penelitian ini sudah

melebihi kriteria yang ditetapkan yaitu

70.00. Dengan demikian, tujuan penelitian

tindakan ini sudah tercapai dimana

penerapan teknik drama dapat

meningkatkan kemampuan berbicara siswa

dalam Bahasa Inggris terutama dalam mata

kuliah speaking.

2. Saran

Dengan hasil penemuan ini dimana

penerapan teknik drama dapat

meningkatkan kemampuan berbicara siswa

dalam mata kuliah Speaking, kemudian

kegairahan siswa dan percaya diri siswa

dalam berbicara Bahasa Inggris juga

sangat meningkat. Dari hasil temuan

tersebut dapat disarankan bahwa teknik

drama, dapat diaplikasikan dalam

pengajaran Speaking.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi,& Supardi. (2006).

Penelitian Tindakan Kelas.

Jakarta:Sinar Grafika Offset.

Jurnal Pendidikan

Tekhnik Drama dalam Peningkatan Belajar Speaking

Bello, T. (1997). Speaking topics for adult

ESL students. Paper presented at

the 31th Annual Teachers of

English to Speakers of Other

Languages Convention,Orlanco,

FL.

Brumfit, Christopher (1984):

Communicative Methodology in

Language Teaching.

Cambridge:Cambridge University

Press

Bolton, G. 1984. Drama as Education: An

Argument for placing Drama at the

Centre of the Curriculum. London:

Longman.

Chauhan, Vani (2004): Drama Techniques

for Teaching English. In: The

Internet TESOL Journal 1/10.

March 10, 2005.

Dougill, John (1987). Drama Activities for

Language Learning. London:

Macmillan

Dodge, David (1998): Creative Drama in

the Second Language Classroom.

Queen’s University Faculty of

Education: Action Research. June

7, 2004.


Fajar, Yusri. 2005. From Text to Stage:

Improving Students’ English

through Drama Education. Paper,

presented at 53 rd TEFLIN

International Seminar, Ahmad

Dahlan University, Yogyakarta,

December 2005

Fleming, Michael (1994). Starting Drama

Teaching. London: David Fulton

Healy, Celine (2004): Drama in Education

for Language Learning. In:

Humanising Language Teaching

38


Jismulatif

Jurnal Pendidikan

Tekhnik Drama dalam Peningkatan Belajar Speaking

6/3. March 10, 2005 (page numbers

not supplied)


Maley, A. & Duff A (1982). Drama

Teaching in Language Learning.

London: CUP

Nellie, McCaslin.2006.Creative drama in

the Classroom And Beyond,8/E.

Newyork University.

Vygotsky, L.S. 1987. Mind in society: The

development of higher ychological

processes. Cambridge: Harvard

University Press.

Ur, Penny. 1996. A Course in Language

Teaching. Practice and Theory.

Cambridge:

Cambridge University Press.

Wessels, Charlyn. 1995. Drama. Oxford

University Press.

39


Asmadi Muhammad Noer

Jurnal Pendidikan

Pemanfaatan Program Media Audio Visual

PENINGKATAN PROSES BELAJAR-MENGAJAR KIMIA MELALUI

PEMANFAATAN VCD DI SMA MUHAMMADIYAH PEKANBARU

Asmadi Muhammad Noer

Program Studi Pendidikan Kimia

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, Pekanbaru 28292

ABSTRAK. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di sekolah menegah atas (SMA)

Muhammadiyah, Pekanabaru dengan tujuan untuk meningkatakan proses belajar-mengajar (sekaligus

untuk meningkatkan hasil belajar). Penelitian tindakan kelas ini memfaatkan VCD dalam proses

pembelajaran (kimia, sain). Hasil penelitian menunjukan peningkatan minat (motivasi) siswa dalam

pembelajaran kimia dan hal ini ditunjukan pula dengan hasil evaluasi belajar yang meningkat. Nilai

rata-rata siswa dengan pemanfaatan program VCD sebesar 74,23 dengan Ketuntasan Belajar siswa

71,16 (%). Sedangkan Nilai rata-rata siswa tanpa VCD sebesar 62, 20 and Ketuntasan Belajar siswa

45, 30 (%). Peningkatan hasil belajar sebesar 22, 9 (%). . Program VCD ini sangat menarik bagi

siswa dan ini ditunjukkan dari hasil penilaian angket siswa. Dimana penilaian sebesar 3,95 (skala 5).

Dengan pemanfaatan program VCD kimia membuat minat/motivasi siswa meningkat begitu pula hasil

belajar meningkat.

Kata Kunci : Pendidikan Kimia SMA, VCD, Motivasi

INCREASING TEACHING AND LEARNING CHEMISTRY THROUGH VCD AT SMA

MUHAMMADIYAH PEKANBARU

ABSTRACT. The classroom action research conducted in private senior high school, SMA

Muhamadiyah Pekanbaru is purposed to improve the teaching-learning process (students’ evaluation

result). In the action result also mention that the audio visual media (Video-CD) has predominant role

in teaching and learning process. The fact shows not only most students having motivation by

watching in learning a new one but also increase their evaluation results. The topic lesson applied to

the research is Perubahan Materi (The changing matters). The students’s average score by

empowering VCD in teaching- learning process is around 74,23 and the students’ mastery learning

71,16 (%) Meanwhile, student’s average score by without VCD is 62, 20 and the students’ mastery

learning 45, 30 (%). The increasing evaluation result is 22, 9 (%). The interesting VCD program is

indicated by 3.95 (scale 5) reflects that most students be exited. By empowering the audio visual

(Chemistry VCD) program, the enthusiasm becomes higher and the students evaluation results

becomes higher also.

Key words: Chemistry lesson in SMA, VCD, Motivation.

40


Asmadi Muhammad Noer

Jurnal Pendidikan

Pemanfaatan Program Media Audio Visual

PENDAHULUAN

Prinsip pembelajaran kimia

(sains) tidak hanya mendengar atau

melihat, tetapi lebih ditekankan pada

pemahaman konsep dan sekaligus

menumbuh kembangkan kemahiran

generik peserta didik/ siswa

(Santoso, 2000). Sejalan dengan

kurikulum 1994 bahwa pendekatan

pengajaran IPA (kimia) di SMA

diarahkan pada pendekatan proses,

artinya penanaman konsep dilakukan

melalui ketrampilan proses.

Maksudnya, siswa dibekali

ketrampilan proses seperti

kemampuan untuk pengamatan,

klasifikasi, identifikasi variable,

prediksi, dan inferensi (Nur, 2003).

Untuk itu siswa dibiasakan dan

terbiasa terlibat, ikut aktif dalam

proses pembelajaran. Idealnya

rancangan pembelajaran (RP) yang

dibuat hendaklah melibatkan siwa

dalam proses berfikir,

mengerjakan/merakit alat dan aktif

terlibat diskusi dan aktivitas lain

yang sejalan sesua dengan tujuan

pembelajaran yang ingin dicapai.

Namun masalah yang sering

terjadi di lapangan dan dijumpai

dibanyak sekolah, proses

pembelajaran kurang/tidak kondusif,

karena guru lebih mendominasi. Hal

ini terjadi dikarenakan seperti:

kondisi sekolah (sarana dan

prasarana pendukung yang

kurang atau tidak ada samasekali,

seperti lab.),

keterbatasan jumlah guru bidang

studi atau guru yang tidak

berkompetensi dibidangnya.

Seperti kimia yang diempu oleh

bukan bidang studi.

tuntutan materi yang mesti

diajarkan (materi padat dan sarat)

sesuai kurikulum dan jumlah

siswa yang relatif besar dalam

satu kelas ( rata-rata 40 orang ).

Jadi masalah proses pembelajaran

kimia tidak bejalan sebagaimana

diharapkan karena bahan/materi

pelajaran yang padat disertai tuntutan

kurikulum yang mesti dipenuhi serta

jumlah siswa yang besar (rata-rata 40

orang /kelas) sehingga proses

pembelajaran yang melibatkan siwa

tidak

tercapai/terpenuhi.

Kondisi/keadaan serupa ditemui juga

pada SMA Muhammadiyah, Jl. K.H.

Ahmad Dahlan, Pekanbaru , tempat

penelitian tindakan diadakan.

Dari sekian banyak masalah

yang berhasil diidentifikasi maka tim

mencoba mengatasi (intervernsi)

untuk beberapa masalah yaitu

dengan dengan memanfaatkan

(menggunakan)

media.....Penggunaan/pemanfaatan

atau penyiapan media merupakan

satu dari kompetensi yang mesti

dimiliki guru agar sukses dalam

proses pembelajaran (T.Raka Joni,

1983). Sehingga dalam hal ini

pemilihan media yang tepat untuk

membantu proses pembelajaran paa

pokok bahasan tertentu ( yang

abstrak, menunjukan suatu

perubahan) maka pemilihan media

yang sesuai ( seperti media VCD=

media jenis audio visual) mestilah

dilakukan. Media Pendidikan berasal

dari bahasa latin dan merupakan

bentuk jamak dari kata medium yang

berarti perantara atau pengantar.

Berkaitan dengan media, Schramm

(dalam Joni (1983) mengemukakan

bahwa; “ Information carrying

41


Asmadi Muhammad Noer

Jurnal Pendidikan

Pemanfaatan Program Media Audio Visual

technologies that can be used for

instruction… the media instruction,

consequently are extension of the

teacher.” Lebih jauh Yusuf Hadi

(1984) dlam pemanfaatan media

pendidikan yang efektif dalam

pembelajaran mengemukaan

beberapa prinsip yang perlu

diperhatikan sebagai berikut:

(1) Tidak ada suatu metode dan

media yang harsu dipakai

denagn meniadakan yang lain

(2) Media tertentu cenderung

untuk lebih tepat dipakai

dalam menyajikan sesuatu

unit pelajaran dari pada

media lain.

(3) Tidak adasautu mediapun

yang dapat sesuai untk segala

macam kegiatan belajar.

(4) Penggunaan media yang

telalu banyak secara

sekaligus

akan

membinggunkan dan tidak

memperjelas pelajaran.

(5) Harus senantiasa dilakukan

persiapan yang cukup untuk

menggunakan

mediapendiidkan

(6) Media harus merupakan

bagian integral dari

pembelajaran

(7) Anak didik/siswa harus

dipersiapkan

dan

diperlakukan sebagai peserta

yang aktif.

(8) Murid /siswa harus ikut seta

bertanggung jawab untuk apa

yang terjadi selama

pembelajaran berlangsung.

(9) Secara umum perlu

diusahakan penampilan secaa

positip dari pada yang

negative.

(10) Hendaknya tidak

menggunakan media

pembelajaran sekedar

selingan atau hiburan, pengisi

waktu, kecuali tujuan

pengajaran memang

demikian.

(11) Pergunakan kesempatan

menggunakan media yang

dapat ditanggapi untuk

melatih perkembangan

bahasa baik lisan maupun

tertulis.

Dalam proses komunikasi , media

merupakan salah satu dari empt

komponen yang harus ada yaitu: (1)

sumber informasi, (2) informasi, (3)

penerima informasi, dan (4)media.

Dalam proses instruksional sebagai

sumber informasi adalah guru,

siswa/peserta diidk, bahan bacaan

dan sebagainya. Schramm (1977)

lebih lanjut mendefinisikan media

secara khusus yaitu: “teknologi

pembawa pesan (informasi) yang

dapat dimanfaatkan untuk keperluan

dosenan”/. Pendapat senada

dikemukan oleh Briggs (1977) yang

mendefinisikan media sebagai

´sarana fisik untuk menyampaian

isi/materi pelajaran. Berkaitan

dengan media, Molenda (1982)

mengemukaan beberapa keuntungan

penggunaan media dalam kegiatan

proses belajar mengajar sebagai

berikut: (1) media pembelajaran

dapat pengkongkritkan ide-ide ata

gagaan yang bersifat konseptual ,

sehingga

mengurangi

kesalahpahaman siswa dalam

mempelajarai materi yang disajikan,

(2). Media pembelajaran dapat

meningkat minat/motivasi siswa

dalam mempelajari materi pelajaran,

(3). Media pembelajaran

memberikan pengalaman nyata untuk

belajar; (4) media pembelajaran

42


Asmadi Muhammad Noer

Jurnal Pendidikan

Pemanfaatan Program Media Audio Visual

dapat mengembangkan jalan pikiran

yang berkelanjutan; (5) media

pembelajaran menyediakan

pengalaman-pengalaman yang tidak

mudah didapat melalui materi-materi

lain dan menjadikan prose belajar

mendasar dan beragam.

Media pembelajaran yang

digunakan/terpilh adalah Media

audio-visual, Video Compact Disk

(VCD), dimana VCD ini dikemas

dalam format interaktif.

. Penyampai konsep ilmu kimia tidak

hanya hanya dilakukan melalui guru

atau buku teks tetapi juga dapat

melalui pengamatan/demonstrasi

atau praktikum (yang termuat pada

Program VCD dimamfaatkan sebagai

pengganti praktikum). Sehingga

pembelajaran atau penyampaian

materi lebih bermakna. Termasuk

memudahkan siswa untuk

memahami materi abstrak seperti

teori atom, teori tumbukan

Lebih jauh Susanto (2000)

menyatakan hakikat pembelajaran

kimia adalah penggunaan

demonstrasi atau peraga untuk

menunjukkan berbagai sifat kimia

(seperti reaksi nyala/ perubahan

materi, tes warna, bentuk molekul)

sehingga rasa ingin tahu dan

motivasi siswa akan meningkat.

Idealnya sub-pokok bahasan

perubahan materi disamping teorinya

diberikan di kelas, untuk pemahaman

konsep yang lebih baik, dilakukan

juga praktikum di lab. Kimia

sekolah.(Sukamto.(1997) & Irawan

(1977). Namun, tidak semua sekolah

memiliki kelengkapan sarana seperti

yang telah disampaikan di atas.

Banyak sekolah yang tak punya lab.

Atau kalaupun punya, kadangkala

alat-alatnya terbatas, tidak

mencukupi untuk siswa

berpraktikum dengan satu alat satu

siswa. Untuk masalah semacam ini,

dengan pemanfaatan program media

audio-visual (VCD), masalah proses

pembelajaran dicoba diatasi atau

sekurangnya masalah dipersempit.

Pendapat ini sejalan dengan

Pannen (2002) yang menjelaskan

bahwa proses pembelajaran MIPA

(kimia) dan menerapkan MIPA

(IPA) secara konstektual, siswa harus

diperkenalkan beragam sumber

informasi-cetak, non cetak, media,

alat-alat, foto dan juga internet.

“Faktor-faktor perancangan

Pembelajaran MIPA berbasis

Budaya” dimana sumber-sumber

tersebut diharapkan dapat membantu

mereka membuat analisis, mencari

informasi dan penjelasan pendukung

atas penjelasan alternatif serta

mengenal konteks komunitas budaya

mereka.

Dalam rangka memberi

pengayaan sumber belajar dan

pembelajaran yang “meanigful”

maka seharusnya pembelajaran

MIPA (kimia) disamping teori dan

adanya praktikum di lab, namun

praktikum belum dan tidak bisa

dilakukan di sekolah

Muhammadiyah karena ketidak

tersedianya lab (masalah) serta

jumlah siswa yang besar dalam satu

kelas dan banyak kelas yang parallel

( kelas satu ada enam kelas), maka

alternatif penyediaan program VCD

sebagai ganti materi praktikum

merupakan intervensi/ terobosan bagi

sekolah .

43


Asmadi Muhammad Noer

Jurnal Pendidikan

Pemanfaatan Program Media Audio Visual

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian

tindakan kelas (classroom actionresearch)

yang dilakukan pada kelas

I- 3 ( kelas 10- 3 ) SMA

Muhammadiyah. Jl K.H. Ahmad

Dahlan no. 70 Pekanbaru. Penelitian

Tindakan Kelas ini dilakukan pada

pelajaran Kimia pada pokok bahasan

Perubahan Materi.

Aspek-Aspek penelitian yang yang

akan diselidiki, yaitu:

a. Ketuntasan belajar siswa untuk

ranah kognitif dinilai melalui

hasil tes pada setiap siklus yang

diberikan.sedangkan untuk ranah

afektif dinilai sewaktu proses

pembelajaran berlangsung

b. Pendapat dan penilaian siswa

mengenai program pembelajaran

program melalui VCD

(lembaran penilaian-data

obervasi)

Rencana Tindakan : dari hasil

observasi awal yang dilakukan di

SMA Muhammaditah, Pekanbaru,

maka dalam refleksi ditetapkan

bahwa tindakan yang akan

dilaksanakan untuk meningkatkan

kualitas pembelajaran Kimia adalah

pemanfaatan program media audiovisual

(Video Compact Disk), maka

berdasarkan hasil refleksi awal

tersebut, dilaksanakan penelitian

tindakan kelas dengan prosedur

sebagai berikut: (1) perencanaan, (2)

pelaksanaan, (3) observasi dan

evaluasi, (4) refleksi. Dengan tahap

sebagai berikut

1. Perencanaan

Perencanaan tindakan yang

dilakukan dalam penelitian ini

adalah:

a. Membuat perangkat

pembelajaran dengan

penerapan pembelajaran

biasa, berupa: Rencana

Pembelajaran (RP), Lembar

Kerja Siswa (LKS), Buku

siswa berupa kompilasi dari

berbagai sumber bacaan

sesuai dengan topik yang

dibahas, dan Lembar

Penilaian untuk ranah

kognitif, dan lembaran

observasi untuk penilaian

sikap (afektif)

b. Instrumen (perangkat)

penilaian siswa berupa soal

test (penilaian kognitif) dan

lembaran observasi (penilaian

afektif) di isi oleh pengamat

dan lembaran isian mengenai

penilaian program VCD oleh

siswa..

.

2. Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan yang dilaksanakan pada

tahap ini adalah melaksanakan

kegiatan pembelajaran oleh guru

(Guru kimia SMA-

Muhammadiyah yang biasa

mengempu bidang studi ) sesuai

dengan skenario pembelajaran

yang telah disusun, yaitu

pembelajaran biasa/klasikal

3. Observasi dan Evaluasi

Kegiatan observasi dilaksanakan

bersamaan dengan pelaksanaan

tindakan yaitu sewaktu kegiatan

pembelajaran berlangsung.

Observasi dilakukan untuk

mengamati proses belajar

berlangsung

dengan

44


Asmadi Muhammad Noer

Jurnal Pendidikan

Pemanfaatan Program Media Audio Visual

menggunakan/memanfaatkan

VCD.

.4. Refleksi

Data dari hasil observasi,

nilai hasil evaluasi belajar siswa

selama proses pembelajaran,

dianalisis pada tahap ini untuk

menentukan ketercapaian tujuan

pembelajaran dan selanjutnya untuk

menentukan tindakan/ perbaikan

pada siklus berikutnya

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian tindakan kelas yang

dilaksanakan di SMA-

Muhamadiyah-Pekanbaru, Kelas I- 3

(kelas 10- 3 ) dengan 42 siswa.

Pemanfaatan program media Video

Compact Disk dengan judul pokok

bahasa: Perubahan Kimia.

Secara umum peningkatan hasil

belajar siswa dengan pemnafaatan

VCD: terdapat 26 siswa (61,9%)

yang hasil evaluasi belajarnya

meningkat. Sedangkan yang tidak

meningkat sebanyak 16 orang

(38,1%). Hasil analisis sementara,

siswa yang tidak ada peningkatan

nilai evaluasi belajarnya karena:

kurang berkonsentrasi pada materi

pelajaran pada saat menonton VCD.

Hal lain dikarenakan tabiat malas

mencatat dan tidak pernah/jarang

mau mengulang kembali pelajaran

sehingga tidak bisa mengerjakan soal

tes (evalausi belajar) yang diberikan.

Nilai rata-rata siswa dengan

pemanfaatan program VCD sebesar

74,23 dengan Ketuntasan Belajar

siswa 71,16 (%). Sedangkan Nilai

rata-rata siswa tanpa VCD sebesar

62, 20 and Ketuntasan Belajar siswa

45, 30 (%). Peningkatan hasil

belajar sebesar 22, 9 (%)

.

Pembelajaran dengan pemamfaatan

VCD mampu meningkatkan antusias

siswa (exited) dengan minta replay

program VCD, disamping

pengamatan menunjukan hal yang

sama, karena menonton VCD apalagi

dilakukan

bersama-sama

menimbulkan rasa gembira dan

menyenangkan. Hal ini juga ditunjuk

dari hasil angket lembaran penilaian

siswa yang dikumpulkan bahwa

minat menonton program VCD

sebesar 3,95 (skala 5) pada topik

Perubahan Kimia,

Pembelajaran melalui VCD hanya

salah satu mode/preference yang

sering dilakukan pada institusi,

sekolah, atau individu. Namun

hingga saat ini masih ada anggapan

bahwa untuk belajar, Gurulah yang

mendatangi rumah, sekolah atau

kantor. Guru masuk ke bilik-kamar

menyajikan materi pembelajaran,

membagi pengalaman atau

menginformasikan sesuatu.

Anggapan ini tidak sepenuhnya

benar karena belajar dapat melalui

media audio-visual seperti: Televisi,

Video Cassette, Video Compact Disc

(VCD) atau melalui Computer, CBT

(Computer Based Training), CAI

(Computer Asssited Instruction) dan

IMI (Interactive Multimedia

Instruction). Di samping itu

informasi dapat pula diperoleh

melalui kegiatan membaca yang

bersumber dari buku, jurnal, majalah,

surat kabar, taboloid, bulletin,

selebaran. Dst, Jadi untuk

memperkaya pengetahuan atau

45


Asmadi Muhammad Noer

Jurnal Pendidikan

Pemanfaatan Program Media Audio Visual

wawasan banyak cara dan sumber

media pembelajaran yang dapat

diakses. Lebih jauh Azis Ahmad

(2003) mengemukaan bahwa trend

belajar (Sains dan Iptek) saat ini

melalui sumber beraneka ragam

dimana setiap individu dapat

memilih cara belajar dan

menyesuaikan diri dengan tipe

(Learning Types) masing, apakah

tipe audio, visual atau keduanya.

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

1. Pengaruh terhadap hasil evaluasi

belajar dengan adanya variasi

method pembelajaran/

penyampaian materi Pengenalan

Ilmu Kimia pada siswa kelas 1-3

SMU-Muhammadiyah sebagai

berikut: terdapat 26 siswa

(61,9%) yang hasil evaluasi

belajarnya meningkat. Sedangkan

yang tidak meningkat sebanyak

16 orang (38,1%). Nilai ratarata

siswa dengan pemanfaatan

program VCD sebesar 74,23

dengan Ketuntasan Belajar siswa

71,16 (%). Sedangkan Nilai ratarata

siswa tanpa VCD sebesar

62, 20 and Ketuntasan Belajar

siswa 45, 30 (%). Peningkatan

hasil belajar sebesar 22, 9 (%)

2. Hasil evaluasi belajar Perubahan

Materi dari soal yang diambil

melalui media audio visual (V-

CD) menunjukkan hasil belajar

yang lebih baik dibandingkan

bila materi disampaikan secara

klasikal/guru di kelas. Indikasi

ini merupakan sesuatu yang

positif bagi proses pembelajaran

kimia khususnya untuk dimasamasa

datang.

Hal lain yang patut diketahui

oleh para guru/pendidik bidang

studi khususnya kimia,

pengamatan dilapangan

menunjukkan bahwa dengan

pemanfaatan media pembelajaran

V-CD, minat dan antusias siswa

meningkat, hal ini terefleksi dari

permintaan diputar ulang

(replay). Karena siswa merasa

belum puas menonton,

menangkap isi/materi dan

kandungan pesan yang

disampaikan.

SARAN

Penelitian dengan pemanfaatan

media audio-visual (V-CD) ini perlu

ditindak lanjuti dengan kelas atau

sekolah yang berbeda, agar

signifikansi dan hasil yang diperoleh

lebih terjamin dan akhirnya lebih

bermanfaat.

1. program V-CD memiliki

keterbatasan seperti bergerak

terus tanpa berhenti dan tidak

interaktif. Sebaiknya program

pembelajaran media audio-visual

menggunakan CD-interaktif

(CD-Rom), sehingga siswa dapat

mengatur “pace”aktu sesuka hati.

Kebetulan materi Perubahan

Materi baru tersedia dalam

format VCD, belum ada program

CD-interaktif.

2. penelitian ini dapat dilanjutkan

untuk poko-pokok bahasan lain

yang memiliki tingkat kesukaran

tinggi, yang biasanya siswa

mengalami kesulitan memahami

atau sulit mengerti, seperti

46


Asmadi Muhammad Noer

Jurnal Pendidikan

Pemanfaatan Program Media Audio Visual

konsep abstrak: teori atom, reaksi

senyawa kompleks, dsb.

Ucapan

Terimakasih

(Acknowledgment):

Proyek PGSM-Dikti, atas

bantuan dana penelitian.

Pusat Teknologi Komunikasi-

Pendidikan Nasional, Diknas-

Jakarta yang telah membantu

mengirimkan program VCD yang

berjudul Perubahan Materi.

Kimia kelas 1 SMU.

DAFTAR PUSTAKA

Santoso,I.R. (2000). Dalam Hakekat

Pembelajaran MIPA dan Kiat

Pembelajaran Kimia di

Perguruan Tinggi. Pekerti

MIPA.

Proyek

Pengembangan Universitas

Terbuka, Dirjen Dkiti.

Departemen Pendidikan

Nasional.

Nur, M., 2003, Ide-Ide Inovatif

dalam KBK.dan Ide-Ide

Inovatif dalam Mengajar,

Belajar, dan Asesmen Mata

Pelajaran Matematika dan

Sains. Makalah disajikan

pada seminar nasional bidang

MIPA dalam Menyongsong

Pelaksanaan KBK 2004 yang

diselenggarakan oleh jurusan

MIPA FKIP UNRI pada

tanggal 23 Oktober 2003

Sukamto,T. (1997). Teori Belajar

dan

Model-model

Pembelajaran. Pusat Antar

Universitas

untuk

Peningkatan

dan

Pengembangan Aktivitas

Instruksional, Dirjen Dikti.

Departemen Pendidikan

Nasional.

Irawan, P. (1997). Teori Belajar,

Motivasi dan Keterampilan

Mengajar. Pusat Antar

Universitas

untuk

Peningkatan

dan

Pengembangan Aktivitas

Instruksional, Dirjen Dikti.

Departemen Pendidikan

Nasional.

Raka, Joni T. (1980). Pengelolaan

Kelas. Jakarta, Depdikbud

T.Raka Joni, 1983

Suparman, AM. (2001). Desain

Instruksional. Pusat Antar

Universitas

untuk

Peningkatan

dan

Pengembangan Aktivitas

Instruksional, Dirjen Dikti.

Departemen Pendidikan

Nasional.

Pannen P. (2003). Faktor-faktor

Perencanaan Pembelajaran

MIPA Berbasis Budaya.

Dalam prosiding Teknologi

Pembelajaran: upaya

Peningkatan Kualitas dan

Produktivitas

SDM, Jakarta: Pusat penerbit UT.

7. Aziz Ahmad (2003). Belajar

Berbasis Aneka Sumber.

Dalam prosiding Teknologi

Pembelajaran: upaya Peningkatan

Kualitas dan Produktivitas

SDM, Jakarta: Pusat

penerbit UT.

47


Mariani

Jurnal Pendidikan

CTL untuk meningkatkan Sikap Ilmiah Siswa Kelas VII SMP

PENGGUNAAN BAHAN AJAR BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING

AND LEARNING (CTL)UNTUK MENINGKATKAN SIKAP ILMIAH

SISWA KELAS VII SMP NEGERI 21 PEKANBARU

Mariani Natalina, Yustini Yusuf dan Maifitri

Laboratorium Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA

FKIP Universitas Riau Pekanbaru

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian yang bertujuanuntuk meningkatkan sikap ilmiah

sains biologi siswa kelas VII 4 SMP Negeri 21 Pekanbaru melalui Penggunaan Bahan Ajar

Berbasis CTL.Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian

dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2010. Subjek penelitian yaitu siswa kelas VII 4,

dengan jumlah siswa 41 orang (22 orang laki-laki dan 19 orang perempuan). Dengan

parameter sikap ilmiah. Instrumen pengumpulan datanyadengan menggunakan lembar

observasi dan angket. Hasil penelitian dengan menggunakam lembar observasi

menunjukkan bahwa sikap ilmiah siswa mengalami peningkatan, rata-rata sikap ilmiah

pada siklus I yaitu sebesar 65 % (kategori cukup) dan pada siklus II menjadi 80%

(kategori baik). Rata-rata sikap ilmiah siswa dengan mengunakan angket mengalami

peningkatan, sikap ilmiah siswa sebelum penggunaan yaitu sebesar 69.67% (kategori

cukup) sedangkan sesudah penggunaan yaitu sebesar 82.76 % (kategori baik). Uji

ternormalisasi (N-gain)menunjukkan peningkatan skor sikap ilmiah siswa sesudah

penggunaan bahan ajar berbasis CTL dengan rata-rata sebesar 0.44 (kategori sedang).Dari

hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahan ajar berbasis CTL dapat

meningkatkan sikap ilmiah sains biologi siswa kelas VII 4 SMP Negeri 21 Pekanbaru

Tahun Ajaran 2009/2010.

Kata kunci : Bahan ajar, CTL dan Sikap Ilmiah

INCREASING STUDENTS CIENTIFIC ATTITUDE THROUGH CTL ON THE

FOURTH GRADE OF SMP N 12 PEKANBARU

ABSTRACT The purpose of this research is for increasing scientific attitude students in

VII 4 class at SMP N 21 Pekanbaru, through using substance teach base on CTL. The kind

of this research is research of class action (PTK). Research was held on may until june

2010. Subject of this research is the students of VII 4 class with 41 students (22 men and

19 women), with parameter scientific attitude.Instruments is sheet observation and

questionnaire. Research outcome showed that scientific attitude of students has increased,

average on first cycle is equal to 65% (enough category) and on second cycle become

80% (good category). Average students’scientific attitude by using questionnaire was

increased, students’ scientific attitude before is equal to 69,67% (enough category) while

after using questionnaire is equal to 82,67% (good category). Ternomalisation test (Ngain)

showed increasing score of students’ scientific attitude after using substance teach

base on CTL with average is equal to 0,44 (mid category)/ learning outcome of students’

based on absorption on first cycle is equal to 70, 43% (enough category) increase on

second cycle is equal to 81,03% (goog category). Based on this research, we can conclude

about using substance teach base on CTL can increase scientific attitude sains biology

students in VII 4 class at SMP N 21 Pekanbaru school year 2009/2010.

Keyword : Substance teach biology. CTL and Scientific attitude

48


Mariani

Jurnal Pendidikan

CTL untuk meningkatkan Sikap Ilmiah Siswa Kelas VII SMP

PENDAHULUAN

Biologi merupakan salah satu

cabang IPA yang turut memberikan

peranan dalam usaha menciptakan

manusia yang berkualitas. Dengan

menyadari pentingnya peranan

biologi dalam dunia pendidikan

dibutuhkan peranan guru dalam

memilih inovasi dalam

pembelajaran, baik dari model

pembelajaran maupun bahan ajar

yang digunakan, sehingga siswa

dapat belajar secara efektif dan

efisien sehingga mampu menemukan

konsep-konsep yang terdapat dalam

pelajaran biologi tersebut.

Menurut Syah (2007),

berdasarkan tujuan Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

dalam proses pembelajaran dituntut

siswa dan guru lebih aktif. Siswa

harus aktif dalam kegiatan belajar

dan mengajar, sedangkan guru juga

aktif dalam memancing kreatifitas

anak didiknya sehingga dialog dua

arah terjadi sangat dinamis.

Tujuan-tujuan pembelajaran

yang dimaksud tidak dapat dicapai

sepenuhnya bila guru hanya

mengunakan model pembelajaran

yang monoton dan hanya

menggunakan buku pelajaranyang

umumnya cenderung berisikan

informasi bidang studi saja dan tidak

terorganisasi dengan baik. Kualitas

buku pelajaran yang rendah dengan

pembelajaran konvensional akan

berakibat rendahnya sikap ilmiah.

Berdasarkan pada hasil

observasi dan wawancara penulis di

SMP N 21 Pekanbaru bahwa masih

kurangnya sikap ilmiah siswa seperti

sikap ingin tahu, sikap ingin

menemukan sesuatu yang baru,

berpikir kritis dan percaya diri

sewaktu belajar. Hal ini disebabkan

oleh Pola pembelajaran yang

menempatkan guru sebagai satusatunya

sumber informasi yang

menjadikan guru memilih metode

ceramah untuk menginformasikan

fakta dan konsep-konsep biologi

akibatnya para siswa memiliki

sedikit pengetahuan, tidak bisa

menemukan konsep-konsep

pembuktiannya dan menggaitkan

materi pelajaran yang sedang

dipelajarinya dengan materi

pelajaran yang lalu. Kurang

lengkapnya buku pelajaran yang

digunakan

menyebabkan

siswa kurang aktif dan kreatif dalam

belajar untuk menemukan dan

mengembangkan konsep sains

biologi.

Dengan memperhatikan kondisi

yang ada, guru dituntut melakukan

inovasi-inovasi terbaru dalam proses

belajar mengajar. Inovasi yang

dipilih hendaknya dapat melibatkan

siswa secara aktif sehingga dapat

diterapkan untuk meningkatkan sikap

ilmiah dan hasil belajar siswa. Salah

satu inovasi yang dapat diterapkan

adalah Bahan ajar

berbasisContextual Teaching and

Learning (CTL). Keunggulan Bahan

ajar berbasisCTLini adalah dapat

mengembangkan sikap ilmiah siswa

yaitu sikap ingin tahu, ingin

menemukan suatu yang baru dan

sikap berpikir kritis, membantu siswa

memahami konsep-konsep sains dan

menggaitkannya dengan kehidupan

sehari-hari sehingga bisa

memecahkan suatu masalah.

Hakikat sains sebagai sikap

ilmiah adalah pelajaran sains dapat

mempengaruhi pola fikir dan

pemahaman siswa kearah lebih baik

sehingga dapat membangkitkan daya

49


Mariani

Jurnal Pendidikan

CTL untuk meningkatkan Sikap Ilmiah Siswa Kelas VII SMP

kreatifitas siswa. Dalam melakukan

kegiatan sains, sikap ilmiah akan

terbentuk dengan sendirinya dalam

diri siswa itu sendiri (Yuliana, 2008).

Adapun permasalahan yang

dirumuskan dalam penelitian ini

adalah Apakah Penggunaan Bahan

Ajar Berbasis CTLdapat

Meningkatkan Sikap ilmiah sains

biologi siswa Kelas VII 4 SMP Negeri

21 Pekanbaru Tahun Ajaran

2009/2010

Tujuan penelitian ini adalah

untuk Meningkatkan Sikap ilmiah

sains biologi siswa Kelas VII 4 SMP

Negeri 21 PekanbaruTahun Ajaran

2009/2010melalui Penggunaan

Bahan Ajar Berbasis CTL.

METODE PENELITIAN

Penataan Penelitian

Penelitian dilakukan di SMP

Negeri 21 Pekanbaru pada bulan Mei

sampai Juni 2010. Subjek dalam

penelitian ini adalah siswa kelas VII 4

Tahun ajaran 2009/2010 Dengan

jumlah siswa 41 orang yang terdiri

dari 22 orang laki-laki dan 19 orang

perempuan.

Parameter Penelitian

Parameter yang digunakan

dalam penelitian ini adalah Sikap

ilmiah siswa dalam proses belajar

mengajar yaitu keingintahuan, sikap

ingin menemukan sesuatu yang baru,

berpikir kritis, bertanggung jawab,

kerjasama, kecermatan dalam

bekerja dan percaya diri.

Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan

dalam penelitian ini yaitu perangkat

pembelajaran dan instrument

pengumpul data adalah lembaran

observasi sikap ilmiah siswa dan

angketsikap ilmiah siswa

Prosedur Penelitian

Secara sistematis prosedur

penelitian meliputi 4 tahap yaitu

:perencanaan, pelaksanaan, observasi

dan refleksi.

Teknik Pengumpul Data

Data penelitian sikap ilmiah

dikumpulkan dengan cara mengamati

sikap ilmiah siswa selama proses

belajar berlangsung yaitu dengan

mengunakan lembar observasi sikap

ilmiah siswa dan angket sikap ilmiah

sebelum dan sesudah penggunaan

bahan ajar berbasis CTL.

Analisis Data

Pengolahan data dilakukan

dengan teknik analisis deskriptif,

yang bertujuan untuk menganalisis

data tentang sikap ilmiah siswa

sebelum dan sesudah menggunakan

bahan ajarberbasis CTL.

Sikap Ilmiah

Untuk data sikap ilmiah siswa

berdasarkan lembar observasi

dianalisis berdasarkan skala

bertingkat yaitu skor 3 (BS), 2 (S)

dan 1 (K). Hasil analisis dihitung

dengan menggunakan rumus sebagai

berikut :

Selanjutnya data hasil

observasi sikap ilmiah siswa

dikelompokan berdasarkan kategori

sebagai berikut :

BS = Baik sekali : 85-100%

B = Baik : 75-84%

50


Mariani

Jurnal Pendidikan

CTL untuk meningkatkan Sikap Ilmiah Siswa Kelas VII SMP

C = Cukup : 65-74%

Jumlah skor yang diperoleh X 100%

K = Kurang : < 65%

Jumlah skor maksimal

Data sikap ilmiah siswa

berdasarkan angket dianalisis

berdasarkan keterangan berikut :

Skala likert dengan

pernyataan positif diberi

penilaian :

Sangat setuju (SS) = 5

Setuju (S) = 4

Kurang Setuju = 3

Tidak setuju (TS) = 2

Sangat Tidak Setuju = 1

Sedangkan skala likert

dengan pernyataan negatif,

nilai dibalikkan :

Sangat setuju (SS) = 1

Setuju (S) = 2

Kurang Setuju = 3

Tidak setuju (TS) = 4

Sangat Tidak Setuju = 5

Dengan Rumus :

Penilaian angket sikap ilmiah

siswa diperoleh dengan rumus :

Keterangan :

P = Angka persentase

F = Frekuensi setiap jawaban

N = Jumlah skor maksimal

Data hasil angket sikap ilmiah

siswa juga dikelompokan

berdasarkan kategori seperti pada

data hasil observasi.

Selanjutnya rata-rata sikap

ilmiah siswa yang diperoleh dari

angket sebelum dan sesudah bahan

ajar berbasisCTL dianalisis secara

statistik untuk mengetahui

peningkatan yang diperoleh dengan

mengunakan rumus N-gain :

g = S.Sesudah - .Sebelum

S. maksimal – S. Sebelum

Dari perhitungan yang

dilakukan,

selanjutnya

dikelompokkan berdasarkan tingkat

peroleh skor berikut :

Tinggi : g > 0,7

Sedang : 0,3 < g < 0,7

Rendah : g < 0,3

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian

penggunaan bahan ajar berbasis CTL

terhadap sikap ilmiah sains biologi

siswa kelas VII 4 SMP Negeri 21

Pekanbaru, berdasarkan hasil

observasi diperoleh rata-rata

persentase sikap ilmiah siswa selama

2 siklus untuk setiap indikator dapat

dilihat pada tabel 1.

Tabel 1 : Rata-Rata Persentase Sikap Ilmiah sains biologi Siswa Melalui

Penggunaan Bahan Ajar Berbasis CTL Setiap Indikator

Aspek

Siklus I

Siklus II

Ratarata

Pertemuan

Pertemuan

Kat

1 2 1 2 3 4

Ratarata

I 70.08 71.05 70,6 C 78.04 85.00 89.17 90.24 85,6 BS

II 44.44 62.28 53,4 K 72.35 73.33 76.67 78.86 75,3 B

III 45.29 61.40 53,4 K 71.54 71.67 78.33 80.48 75,5 B

IV 66.67 69.29 68 C 76.42 79.17 80.83 82.92 79,8 B

V 67.52 72.80 70,2 C 79.67 80.00 85.83 90.24 83,9 B

VI 65.81 70.17 68,3 C 77.23 76.67 79.17 82.92 79 B

Kat

51


Mariani

Jurnal Pendidikan

CTL untuk meningkatkan Sikap Ilmiah Siswa Kelas VII SMP

VII 70.08 71.05 70,6 C 77.23 78.33 82.50 85.36 80,9 B

Ratarata

61.41 68.29 65 C 76.07 77.73 81.78 84.43 80 B

Kategori K C B B B B

Keterangan :

I = Keinggintahuan Kat = Kategori

II = Ingin menemukan sesuatu yang baru BS = Baik sekali

III = Berpikir Kritis B = Baik

IV = Tanggung jawab C = Cukup

V = Bekerjasama K = Kurang

VI = Kecermatan dalam bekerja

VII= Percaya diri

Dari tabel diatas dapat di lihat

bahwa, rata-rata persentase sikap

ilmiah sains biologi berdasarkan

indikator mengalami peningkatan

dari siklus I ke siklus II. Rata-rata

Indikator sikap ilmiah yang pertama

yaitu keingintahuan, dimana rata-rata

pada siklus 1 adalah 70.6 % (kategori

cukup) meningkat menjadi 85.6 %

(kategori baik sekali) pada siklus II.

Anonimus (2008)

menyatakan bahwa keingintahuan

merupakan keinginan untuk

mengetahui secara alami, bila pada

diri siswa telah ada keinginan maka

siswa akan memiliki motivasi dalam

belajar dan sikap ilmiah. Oleh karena

itu dengan bahan ajar berbasis CTL

siswa akan memiliki keinggintahuan

yang tinggi, dimana bahan ajar ini

dibuat dengan penampilan menarik

dan materi yang merangsang rasa

ingin tahu siswa.

Rata-rata persentase sikap

ingin menemukan sesuatu yang baru

pada siklus I adalah 53.4 % (kategori

kurang) meningkat menjadi 75.3 %

(kategori Baik) pada siklus II.

Kurangnya sikap ingin menemukan

sesuatu yang baru siswa pada siklus I

ini disebabkan karena siswa sudah

terbiasa menerima semua pelajaran

dari guru, guru tidak membiasakan

siswa untuk menemukannya sendiri

atau mengunakan alat atau media

yang merangsang siswa untuk

berpikir dan menemukan sesuatu hal

yang baru mengenai pembelajaran

tersebut. Dengan demikian dengan

adanya bahan ajar berbasis CTL kita

sebagai guru dapat meningkatkan

sikap ingin menemukan sesuatu yang

baru pada siswa. CTL adalah suatu

strategi pembelajaran yang

menekankan pada proses keterlibatan

siswa secara penuh untuk dapat

menemukan materi yang dipelajari

dan menghubungkannya dengan

situasi kehidupan nyata sehingga

mendorong siswa untuk dapat

menerapkannya dalam kehidupan

mereka (Sanjaya, 2008).

Rata-rata persentase sikap

berpikir kritis pada siklus I yaitu 53,4

% (kategori kurang) kemudian pada

siklus II meningkat menjadi 75.5 %

(kategori baik). Pada siklus 1 sikap

berpikir kritis siswa masih kurang.

Pada siklus II terjadi peningkatan

sikap berpikir kritis siswa.

Rata-rata persentase sikap

bertanggung jawab pada siklus I

yaitu 68 % (kategori cukup)

meningkat pada siklus II menjadi

79.8 (kategori baik ). Hal ini dapat

dilihat dari ketika siswa mengerjakan

LKS, Masing-masing siswa

memberikan kontribusi terhadap

kelompoknya sehingga pekerjaan

mereka menyelesaikan LKS cepat.

52


Mariani

Jurnal Pendidikan

CTL untuk meningkatkan Sikap Ilmiah Siswa Kelas VII SMP

Rata-rata persentase sikap

ilmiah siswa pada indikator sikap

bekerja sama pada siklus I adalah

70.2 % (kategori cukup), kemudian

meningkat menjadi 83.9 % (kategori

baik) pada siklus II. Indikator kerja

sama pada siklus II memiliki ratarata

tertinggi dibandingkan dengan

rata-rata indikator yang lain. Hal ini

menunjukkan bahwa siswa memiliki

rasa kerjasama yang baik sekali.

Rata-rata persentase sikap

ilmiah siswa pada indikator

kecermatan dalam bekerja pada

siklus I yaitu 68,3 % (kategori

kurang), kemudian meningkat pada

siklus II menjadi 79 % (kategori

baik). Hal ini menunjukkan bahwa

kecermatan dalam bekerja siswa

mengalami peningkatan ke arah yang

lebih baik.

Rata-rata persentase sikap

ilmiah siswa pada indikator sikap

percaya diri pada siklus I yaitu 70.6

% (kategori cukup), kemudian

meningkat pada siklus II menjadi

80.9 % (kategori baik). Hal ini

menunjukkan bahwa sikap percaya

diri siswa mengalami peningkatan ke

arah yang lebih baik lagi.

Penggunaan Bahan Ajar Berbasis

CTL Terhadap Sikap Ilmiah sains

biologi Siswa Untuk Setiap

Pertemuan

Dari hasil penelitian

penggunaan bahan ajar berbasis CTL

terhadap sikap ilmiah sains biologi

siswa kelas VII 4 SMP Negeri 21

Pekanbaru. Berdasarkanlembar

observasi diperoleh rata-rata

persentase sikap ilmiah untuk tiaptiap

pertemuan pada siklus I dan

siklus II dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 : Sikap ilmiah sains biologi siswa pada siklus I dan siklus II setelah

Penggunaan Bahan Ajar CTL di SMP Negeri 21 Pekanbaru

Rata-rata 61.41 68.29 65 76.07 77.73 81.78 84.43 80

Kategori K C C B B B B B

Keterangan :

BS: Baik Sekali : (85-100 %)

B : Baik : (75-84 %)

C : Cukup : (65-74 %)

K : Kurang : > 65 %

Siklus I

Sikus II

N

Kategori

o

Pertemuan Ratarata

1 2 3 4

Pertemuan

1 2

1 BS 0 (0) 0 (0) 5 (12.2) 6 (15) 10 (25) 21

(51.2)

2 B 6 (15.4) 8 (21.1 21 25 30 (75) 20

(51.2) (62.5)

(48.8)

3 C 7 (17, 9) 22

15 9 (22.5) 0 (0) 0 (0)

(57.8)

(36.6)

4 K 26 (66.7) 8 ( 21.1) 0 (0) 0 (0) 0 (0) 0 (0)

Ratarata

Dari tabel diatas, dapat dilihat

bahwa rata-rata rata-rata sikap ilmiah

sains biologi siswa dari siklus I ke

siklus II mengalami peningkatan,

dimana rata-rata persentase sikap

ilmiah siswa pada siklus I adalah

65% (kategori cukup) kemudian

pada siklus II meningkat menjadi

53


Mariani

Jurnal Pendidikan

CTL untuk meningkatkan Sikap Ilmiah Siswa Kelas VII SMP

80% (kategori baik). Peningkatan ini

disebabkan karena siswa semakin

terbiasa dengan penggunaan bahan

ajar ini, sehingga berpengaruh pada

sikap imiah siswa. Meningkatnya

sikap ilmiah siswa setelah

penggunaan bahan ajar ini,

dipengaruhi oleh unsur-unsur yang

ada dalam bahan ajar yaitu CTL.

Johnson (2002) menyatakan bahwa

CTL membantu siswa membuat

keterkaitan-keterkaitan yang

bermakna, melakukan pekerjaan

yang berarti, melakukan

pembelajaran yang diatur sendiri,

bekerjasama dan berpikir kritis dan

kreatif.

Penggunaan bahan ajar

berbasis CTL dalam proses

pembelajaran menjadikan

pembelajaran lebih kreatif karena

pembelajaran berorientasi pada

aktivitas siswa. Proses pembelajaran

menekankan agar siswa menghayati

proses belajar dengan melakukan

sesuatu bermakna. Siswa harus

mampu mengkontruksi pengetahuan

dengan menghubungkan pengalaman

sehari-hari yang berkaitan dengan

materi yang diajarkan. Proses

pembelajaran dikelas menuntut siswa

tidak hanya berpikir (berupa

hapalan) tetapi pembelajaran dikelas

memungkinkan siswa mengerti

makna belajar sehingga proses

belajar lebih penting (Nina, 2010)

Selanjutnya dari hasil

penelitian penggunaan Bahan Ajar

Berbasis CTL, terhadap Sikap Ilmiah

sains biologi siswa Kelas VII 4 SMP

Negeri 21 Pekanbaru dengan

mengunakan angket diperoleh skor

sikap ilmiah sebelum dan sesudah

penggunaan bahan ajar berbasis

CTL. Untuk sikap ilmiah siswa

sebelum dan sesudah penggunaan

bahan ajar berbasis CTL berdasarkan

indikator sikap ilmiah sains biologi

siswa. Secara ringkas skor sikap

ilmiah siswa berdasarkan indikator

sikap ilmiah siswa disajikan pada

tabel 3 dibawah ini

Tabel 3. Skor Rata-rata Indikator Sikap Ilmiah Sains Biologi Siswa Kelas

VII 4 SMP Negeri 21 Pekanbaru melalui Penggunaan Bahan Ajar Berbasis

CTL

N

o

Indikator sikap ilmiah siswa

Sebelum

penerapan

Kat

Sesudah

penerapan

Kat

N-

gain

1 Keinggintahuan 69.59 C 83.09 B 0.44

Ingin menemukan sesuatu yang

2 baru 67.32 C 80.49 B 0.40

3 Berpikir kritis 69.43 C 82.60 B 0.47

4 Tanggung jawab 70.89 C 83.58 B 0.44

5 Kerjasama 71.54 C 85.69 BS 0.49

6 Kecermatan dalam bekerja 69.33 C 81.79 B 0.41

7 Percaya diri 69.59 C 82.11 B 0.41

Rata-rata 69.67 C 82.76 B 0.44

54


Dari tabel 3 data yang diperoleh dari

angket sikap ilmiah siswa, dapat dilihat

adanya perbedaan persepsi sikap ilmiah

siswa antara sebelum dan sesudah

penggunaan bahan ajar berbasis CTL.

Sikap ilmiah siswa sebelum penggunaan

pada setiap indikator masih dalam kategori

cukup yaitu rata-rata sikap ilmiah siswa

sebesar 69.77%. Indikator keingintahuan

(69.59 %), ingin menemukan sesuatu yang

baru (67.32%), berpikir kritis (69,43%).

Tanggung jawab (70.89%), kerjasama

(71.54%), kecermatan dalam bekerja

(69.33%) dan percaya diri (69.59%).

Sikap ilmiah siswa sesudah

penggunaan bahan ajar berbasis CTL,

mengalami peningkatan dengan kategori

baik yaitu dengan rata-rata sikap ilmiah

sebesar 82.76%. Indikator keingintahuan

(83.09 %), ingin menemukan sesuatu yang

baru (80.49%), berpikir kritis (82.60 %).

Tanggung jawab (83.58%), kerjasama

(85.69%), kecermatan dalam bekerja

(81.79%) dan percaya diri (82.11%). Hal

ini disebabkan karena siswa sudah terbiasa

menggunakan dan memahami bahan ajar

ini.

Bahan ajar berbasis CTL atau

didalam suatu bahan ajar yang terdapat

komponen CTL memberikan peluang

kepada siswa untuk mengembangkan sikap

ilmiah. Hal ini disebabkan karena langkahlangkah

kegiatan pemebelajaran yang

dirancang dalam RPP mengutamakan

untuk menimbulkan sikap ilmiah siswa.

Kegiatannya mengacu pada komponenkomponen

CTL yaitu konstruktivisme,

inquiri, bertanya, masyarakat belajar,

pemodelan, refleksi dan penilaian autentik.

Jika komponen tersebut dilaksanakan

dengan baik maka sikap ilmiah dan hasil

belajar juga dapat meningkat karena ada

keterkaitan diantara keduannya. Misalnya

komponen inquiry, untuk dapat

menemukan suatu konsep maka siswa

harus melakukan pengamatan (observasi)

atau membaca bahan ajar berbasis CTL.

(Wati, 2009)

Selanjutnya dilakukan analisis

secara statistik terhadap sikap ilmiah

sebelum dan sesudah penggunaan bahan

ajar berbasis CTL dengan uji

ternormalisasi (N-gain) diperoleh rata-rata

peningkatan sebesar 0.44 (kategori

sedang). Jika dilihat dari masing-masing

indikator, N-gain tertinggi terdapat pada

indikator kerjasama yaitu sebesar 0.49

(kategori sedang). Hal ini disebabkan

karena pada penggunan bahan ajar

berbasis CTL ini siswa dibagi menjadi

beberapa kelompok belajar untuk

berdiskusi sehingga terjalin kerjasama

untuk saling berbagi pendapat.

Skor N-gain terendah terdapat pada

indikator ingin menemukan sesuatu yang

baru yaitu sebesar 0.40 (kategori sedang).

Hal ini disebabkan karena sebagian siswa

masih belum bisa mengkontruksi

pengetahuannya sehingga mereka sulit

mengaitkan pelajaran yang lama dengan

yang baru dipelajarinya dan jarang

mengajukan pertanyaan dalam proses

belajar mengajar berlangsung.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil pembahasan diatas dapat

diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Sikap ilmiah sains biologi siswa

mengalami peningkatan yaitu ratarata

sikap ilmiah pada siklus I

sebesar 65% (kategori cukup)

meningkat pada siklus II dengan

rata-rata sikap ilmiah sebasar 80%

(kategori baik).

2. Rata-rata sikap ilmiah sains biologi

siswa dengan mengunakan angket

mengalami peningkatan, sikap

ilmiah siswa sebelum penggunaan

yaitu sebesar 69.67% (kategori

cukup) sedangkan sesudah

penggunaan yaitu sebesar 82.76%

(kategori baik)

Diharapkan guru-guru biologi dapat

menggunakan bahan ajar berbasis CTL ini

atau membuat bahan ajar yang sesuai

dengan kurikulum dan kebutuhan siswa,

55


sehingga bisa dijadikan alternatif media

pembelajaran untuk membantu proses

belajar mengajar sains dengan tujuan

meningkatkan hasil belajar sains siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Bandono. 2009. Pengembangan Bahan

Ajar. http:// bandono.web. id/2010/4/1

Ibrahim, M. 2002. Belajar Secara Efektif.

Puspa swara. Jakarta

Johson, Elaine.B. 2002. Contextual

Teaching & Learning. MLC. Bandung

Nina, K. 2010.Pengembangan Bahan Ajar

IPA Terpadu dengan Tema

Pencemaran Air Sungai untuk Siswa

SMP/MTs Kelas VII. Universitas

Malang. Malang

Purwanto, N. 2008. Prinsip-prinsip dan

Teknik Evaluasi Pengajaran. PT

Remaja offiset. Bandung.

Sudijono. 2007. Pengantar Evaluasi

Pendidikan. Depdikbud. Jakarta.

Bandung.

Syah,M. 2007. Profesionalisasi Guru dan

Implementasi KTSP. GP Press. Jakarta.

Yuhera. Y.S. Pengembangan Modul

pembelajaran biologi bagi siswa SMP

kelas VII Materi Pokok organisasi

kehidupan. Jurnal pendidikan IPA.

Wati, I. 2009.Pengembangan Bahan Ajar

Materi Struktur dan Fungsi Jaringan

Tumbuhan dengan Pendekatan Jelajah

Alam Sekitar (JAS). Jurnal Pendidikan

IPA 1.

56


PANDUAN UNTUK PENULIS

Tujuan dan Ruang Lingkup

Jurnal Pendidikan adalah suatu jurnal monodisipliner berskala nasional yang

mencakup berbagai pokok persoalan dalam kajian ilmu pendidikan. Secara khusus jurnal

pendidikan menaruh perhatian pada pokok-pokok persoalan tentang perkembangan ilmu

pendidikan dan keguruan serta pembangunan bidang pendidikan dan keguruan. Tujuan dari

jurnal pendidikan ini adalah menyebarluaskan pemikiran-pemikiran konseptual maupun

hasil-hasil penelitian yang telah dicapai dalam bidang Pendidikan.

Penyerahan Naskah

Penulisan menyerahkan 3 (tiga) ekslemplar naskah disertai dengan file elektronik

dalam disket atau compact dist kepada: Redaksi Jurnal Pendidikan, Lembaga Penelitian

Universitas Riau Kampus Binawidya Simpang Panam Pekanbaru Telp. (0761)567093 Fax

(0761) 63279 Email: ur_jurnal_pendidikan@yahoo.com atau riodirgantoro@yahoo.com,

disertai dengan surat pernyataan bahwa naskah belum pernah diterbitkan dan tidak sedang

dalam proses penerbitan pada jurnal lain. Setelah melewati proses review yang dilakukan

oleh 2 penelaah, penulis diharuskan menyerahkan 1 (satu) eksemplar naskah yang telah

direvisi oleh penulis (naskah akhir), disertai file elektronik dalam disket atau campact disc.

Format Naskah

Artikel yang dimuat dalam jurnal ini dapat berupa kajian konseptual dan atau hasilhasil

penelitian pada disiplin ilmu pendidikan. Secara umum, sistematika artikel terdiri atas

pendahuluan /introduksi yang menguraikan latar belakang dan permasalahan yang dikaji

yang ditunjang oleh referensi yang relevan, metode, hasil, dan pembahasan, dan

simpulan/rekomendasi. Pada kajian yang bersifat konseptual, bagian metodologi dapat

ditiadakan bila dianggap tidak perlu.

Naskah ditulis pada kertas berukuran A4 , dengan panjang tulisan maksimal 20

halaman berspasi ganda, termasuk daftar pustaka, tabel, dan lampiran. Setiap halaman

memiliki batas kiri-kanan dan atas-bawah 3 cm. Naskah ditulis dengan menggunakan bahasa

Indonesia yang baik dan benar. Naskah juga dapat ditulis dalam bahasa Inggris.

Naskah dimulai dengan halaman pertama yang memuat:

- Judul singkat ( running head). Penulis diminta untuk membuat judul singkat.

- Judul lengkap (dalam bahasa Indonesia dan Inggris)

- Nama penulis, afiliasi dan alamat korespondensi (mis.E-mail)

Abstrak

- Abstrak dalam bahasa Indonesia, tidak lebih dari 250 kata. Absrak mencakup

permasalahan , metode , dan temuan serta kesimpulan

- Abstrak dalam bahasa Iinggris, tidak lebih dari 200 kata.

Kata Kunci

- Tuliskan maksimal 5 kata-kata kunci (key words)

57


Gambar dan Tabel

- Untuk kepentingan penyuntingan, gambar dan tabel disertakan secara terpisah dari

badan karangan (tidak dimasukan ke dalam teks). Dalam hal ini, penulis menunjukkan

di mana gambar dan atau tabel harus diletakkan pada badan karangan.

- Gambar yang akan ditampilkan dalam jurnal adalah gambar hitam-putih. Bila

menginginkan, penulis dapat menyertakan gamabar berwarna, namun penulis akan

dikenai biaya percetakan gambar berwarna tersebut.

- Gambar dalam bentuk file elektronik, diharapkan ditulis di dalam MS Power Point

atau dengan format.JPG

- Gambar dan tabel diberi nomor sebagai berikut : Gambar 1, Gambar 2 dan seterusnya.

Tabel 1, Tabel 2, dan seterusnya.

- Gambar dan Tabel yang substansinya sama, ditampilkan salah satu.

- Tabel berbentuk pivot table.

Penulisan sub judul (heading) pada setiap bagian

- Subjudul tingkat pertama semuanya dicetak tebal ditulis dengan huruf kapital,

misalnya: PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MELALUI METODE

SIMULASI.

- Subjudul tingkat kedua, semuanya dicetak tebal dan ditulis dengan huruf kecil,

kecuali huruf pertama dari setiap kata, misalnya: Faktor-faktor yang

Mempengaruhi Hasil Belajar

- Subjudul tingkat ketiga, semuanya ditulis dengan huruf miring dan huruf kecil kecuali

huruf pertama dari setiap kata, misalnya: Faktor Tingkat Kecerdasan Siswa

Ucapan Terimakasih

- Penulis dapat menuliskan ucapan terimakasih kepada individu, lembaga pemberi dana

penelitian dan sebagainya. Ucapan terimakasih ditulis sebelum Daftar Pustaka.

Daftar Pustaka

Kepustakaan yang dicantumkan dalam daftar pustaka hanya kepustakaan yang dikutip

atau yang dijadikan rujukan dan ditulis dalam teks. Penulisan rujukan dalam badan karangan

dilakukan sebagai berikut:

- Apabila terdiri dari satu orang penulis, ditulis sebagai berikut: McNeely (2010) atau

(McNeely, 2010).

- Apabial terdiri dari 2 orang penulis, ditulis sebagai berikut: McNeely & McCurdy

(2010) atau ( McNeely & McCurdy, 2010).

- Apabila terdiri dari tiga orang penulis atau lebih, ditulis sebagai berikut: McNeely et

all. (2010) atau (McNeely et all, 2010). Kata/ istilah et al., hanya digunakan untuk

referensi berbahasa asing. Untuk referensi berbahasa Indonesia digunakan istilah dkk.,

misalnya Suparman, dkk. (2010).

Penusisan daftar pustaka dilakukan sebagai berikut:

Sumber Buku:

- Strahler, A.N. (1957). Physical geography. New York: Wiley.

- Farrington, J., Turton, C., & James, A.J. (Eds.). (1999). Participatory wareshed

development: Challenges for the twenty–first century. New Delhi: Oxford University

Press.

58


- Shaxson, T. F. (2000). People’s invovement in watershed management: Lessons from

working among resource-poor farmers. In R.Lal (Ed.), Intergated watershed

management in the global ecosystem (pp.345 – 363). Boca Raton, FL :CRC Press.

- Van Noordwijk, M., van Roode, M., McCallie, E.L., & Lusiana, B.(1998). Erosion

and sedimentation as multiscale, fractal processes: Implications for models,

eksperiments and the real world. In F.W.T. Penning de Vries, F. Agus , & J. Kerr

(Eds.), Soil erosion at multiple scales (pp. 223–253). New York: CAB International.

Sumber Jurnal:

- Tomich, T.P., Fagi, A. M., de Foresta, H. Michon, G., Michon, G., Murdiyarso, D.,

Stolle, F., & Van Nooordwijk, M. (1988). Indonesia’s fires:smoke as a problem,

smoke as a symptom. Agroforestry Today, 10(1), 4-7.

Sumber Prosiding Seminar:

- Fay, C., de Foresta, H, & Sirait, M. (1998). Progress towards recognizing the rights

and management potensials of local communities in Indonesian state-defined forest

area. Peper presented at the workshop of participatory natural resource management

in developing countries, Mansfield College, Oxford, April 6-7.

Sumber Internet

- Knox McCulloch, A., Meinzen-Dick, R., & Hazell, P. (1998). Property rights,

collective action and technologies for natural resource management: A conceptual

framework. CAPRi Working Paper No. 1. Washington DC, USA: International Food

Policy Research Institute. http://www. Capri.cgiar.org/pdf/capriwp01.pdf.

Sumber Disertasi/Thesis:

- Zandbergen, P. (1998). Urban watershed assesment: Linking watershed healt indicator

to mangement. Ph.D. Thesis. Resource Management and Environmetal Studies,

University of British Columbia, Vancaouver.

Satuan, singkatan, nomenklatur, dan lambing:

- Satuan dan singkatan menggunakan sistem SI ( System International)

- Nomenklatur nama ilmiah tumbuhan dan hewan ditulis lengkap dengan nama authornya.

Nama ilmiah sesuai dengan aturan nomenklatur harus digunakan nama

penulisnya yang pertama kali, selanjutnya dapat disingkat sesuai dengan aturan yang

berlaku dan atau menggunakan nama daerah.

- Penggunaan lambang ditulis sebagai berikut: contoh, lambang alpha ditulis dengan

bukan dengan huruf a.

59

More magazines by this user
Similar magazines