Laporan Transgender Day_INDO

rhiiiiiiiiii

Laporan Transgender Day_INDO

LAPORAN kegiatan

HARI

Transgender

2014

indonesia

www.idahotindonesia.net


Laporan Kegiatan

Hari Transgender 2014

Indonesia


Laporan Kegiatan Hari Transgender 2014 Indonesia

@suara kita 2014

ISBN 978-602-71755-2-5

Editor :

Hartoyo & Teguh

Penulis :

Yatna, Yudi, Melinda Siahaan, Astrida, Rikky

Produksi : Suara Kita 2014

Desain dan lay-out: Cyprianus Jaya Napiun

www.idahotindonesia.netw w.idahotindonesia.net


Laporan Kegiatan

Hari Transgender 2014

Indonesia

Komunitas Diskusi

Kritis Oase-Tarutung

w w w.idahotindonesia.net

Jakarta 2014


Daftar isi

Sebuah Pengantar 1

Rangkaian kegiatan Transgender Day 4

Response public 23

Lampiran 31


Sebuah Pengantar

Peringatan Hari Transgender Tahun 2014 yang diorganisir oleh Suara Kita melibatkan 11 organisasi

di 8 propinsi di Indonesia. Kegiatan dilaksanakan mulai 19 November sampai dengan 27 November

2014, meliputi diskusi publik, diskusi komunitas, nonton film, pameran foto, launching buku,

kampanye media sosial dan aksi damai turun ke jalan.

Hari Transgender diperingati setiap tanggal 20 November, biasanya disebut dengan International

Transgender Day of Remembrance (TDOR). Sejarah peringatan Hari Transgender berawal dari

mengenang kematian Rita Hester. Dia adalah seorang aktivis transgender dari San Francisco,

Amerika Serikat yang dibunuh orang tak dikenal pada 20 November 1998. Kematian Rita

bukanlah kasus pembunuhan pertama terhadap transgender yang dilakukan kelompok nontranseksual.

Maka moment ini dijadikan kampanye dan advokasi bersama untuk hak-hak warga

negara khususnya kelompok transgender.

Transgender di Indonesia biasanya ditujukan pada kelompok Waria (laki-laki yang berpenampilan

perempuan). Pada perkembangannya ada kelompok lain yang biasa disebut transgender female

to male, yang sebagian pihak menyebutnya sebagai Priawan (perempuan yang berpenampilan

laki-laki).

Berangkat dari sejarah kebudayaan nusantara, keberagaman identitas dan ekspresi gender

sudah ada di negeri ini sebelum ada yang namanya Indonesia dan agama yang “diakui” di

Indonesia. Masyarakat Bone, Sulawesi Selatan mengakui berbagai gender, bukan hanya lakilaki

dan perempuan. Ada yang dinamakan Calalai maupun Bissu untuk mengakui identitas

gender selain laki-laki dan perempuan. Begitu juga di kebudayaan Jawa, beberapa kesenian

dapat mengekspresikan sosok laki-laki yang berpenampilan layaknya perempuan, begitu juga

sebaliknya, perempuan berpenampilan layaknya laki-laki, contohnya dalam Kesenian Ludruk,

Ketoprak dan Tarian Lengger. Tapi sayangnya generasi muda sekarang sering “lupa” akan akar

budayanya sendiri.

Peringatan Hari Transgender tahun ini bukan hanya simbol semata. Kegiatan-kegiatan yang

dilaksanakan merupakan salah satu cara untuk mengingatkan publik khususnya generasi muda,

bahwa Indonesia mempunyai akar budaya yang sangat menghargai perbedaan identitas gender,

selain untuk mengingatkan negara bahwa masih ada warga negara yang mengalami diskriminasi

dan kekerasan hanya karena identitas gendernya.

Semoga melalui dokumentasi ini, setiap orang secara terus menerus menghentikan segala bentuk

stigma, diskriminasi dan kekerasan atas dasar identitas-ekspresi gender maupun alasan apapun di

negeri ini. Karena tindakan memanusiakan manusia berarti secara langsung telah memanusiakan

diri sendiri dan orang lain. Sehingga Indonesia akan menjadi Indonesia yang beradab.

Selamat Hari Transgender 2014.

1


Transgender

19

20

21

20

21

22

November

2014

November

2014

November

2014

November

2014

Diskusi Publik

Topik Diskusi: Mari Mengenal Keberagaman

Gender dan Seksualitas (diskusi bagi pemula)

Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan

Negeri (STAKPN) –Tarutung

Kampanye Antibullying

Human Care Community Gorontalo

Pemutaran Film

“Madam X”

Yayasan Teratai Hati Papua

Talk Show Radio

Topik Talk Show: “Ideologi Tubuh Transgender

106 FM, Radio Komunitas Marsinah

Diskusi dan Pemutaran Film

Judul Film: “Albert Nobs”

Topik Diskusi: “Seksualitas Priawan”

Pembicara: TalitaKum

Jejer Wadon

Pameran Foto, Peluncuran Buku Photosory dan

Diskusi Publik (Acara di Unila)

Topik Diskusi: “Ekspresi untuk Identitas”

Pembicara: Tanti Noor Said

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)

Universitas Negeri, Lampung

Diskusi dan Pemutaran Film

Judul Film: “All About My Mother”

Topik Diskusi: "Diskriminasi dan Kekerasan

Terhadap Transgender di Indonesia"

Pembicara: Yuli Rustinawati

Suara Kita

Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan

Negeri (STAKPN) –Tarutung

Melinda Siahaan, 0813-7552-0750

Terminal Kota Gorontalo – Sulawesi Utara

Melky, 0852-4034-3888

Wamena - Papua

Astrida, 0852-385-14633

Cakung, Jakarta Utara

Thin Koesna, 0852-8393-2027

Solo – Jawa Tengah

Eliza, 0818-0584-1001

Universitas Lampung (Universitas di Sumatra)

Fahri, 0853-6943-4262

Kalibata – Jakarta Selatan

Yatna, 0877-7779-7334

2


Day

2014

23

24

25

26

November

2014

November

2014

November

2014

26 November

2014

27

Diskusi Komunitas

Topik Diskusi: “Keberagaman Identitas Gender

dan SOGIE.”

Maleo, Palu

Pameran Foto

Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

Pemutaran Film

Judul Film: “All About My Mother”

Sanubari Sulawesi Utara (SALUT)

Pameran Foto

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

(FISIP), Universitas Indonesia

Kabupaten Sigi – Palu, Sulawesi Tengah

Suharlin, 0852-4196-6860

STT Jakarta

Pendeta Stephen, 0818-0600-9779

Menado, Sulawesi Utara

Coco, 0813-5678-4402

FISIP, UI Depok

Tika, 0811-815-930

Komunitas Diskusi

Kritis Oase-Tarutung

3


19 November

Meretas Stigma

Di Sumatra Utara Peringatan Hari Transgender diadakan di Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN)

Tarutung. Kegiatan diskusi ini diinisiasi oleh kelompok diskusi Oase Tarutung yang bekerja sama dengan temanteman

jurusan Pastoral Konseling yang mengambil mata Kuliah “Psikologi Keluarga” dan “Psikologi Pastoral”, dengan

mengundang Wanda Shahab, seorang transgender (waria) dan pekerja sosial di kota Medan.

Mendengarkan dan didengarkan menjadi sebuah proses mengkikis kecurigaan satu sama lain. Stigma-stigma

telah mendominasi cara pandang melihat ‘yang lain’ lebih rendah dan kadangkala tidak manusiawi. Kecurigaan

dan stigma semestinya memiliki ruang untuk dijumpai atau berjumpa dengan realita sesungguhnya. Shock, aneh,

takut, orang jahat, tidak normal adalah ungkapan kejujuran dari setiap stigma yang meresap dalam bawah sadar

manusia. Demikianlah stigma tersebut selama ini telah dilekatkan kepada teman-teman transgender.

Dalam diskusi Wanda, mencoba memberikan jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta diskusi

dengan rasionalitas dan pengalamannya. Semua pertanyaan yang diajukan peserta coba ditanggapi, menurut

Wanda seperti seseorang sedang mengupas kulit bawang, terlalu banyak lapisan yang meminta untuk diberikan

kejelasan. “Mahasiswa yang sangat kritis” itulah yang diungkapkan Wanda terhadap teman-teman diskusi yang

dihadiri sekitar 40 orang tersebut.

“Apa yang menyebabkan Kakak (Wanda- red) menjadi seperti ini, Apakah Kakak merasa bersalah kepada Tuhan

dengan situasi sekarang ini Apakah ada trauma masa kecil Apakah Kakak tidak takut kalau ini dosa Apakah

benar waria itu jahat Apakah Kakak jatuh cinta melihat perempuan seksi Apakah Kakak sudah punya pacar”,

itulah beberapa pertanyaan yang muncul di awal diskusi. Kemudian ada juga yang mengungkapkan: “Bagi saya

waria itu menyalahi kodrat ilahi. Apa pun yang diberikan Tuhan kepada kita patut untuk disyukuri. Rambut di kepala

ini sekalipun tidak boleh untuk diwarnai karena itu pemberian Tuhan.” Situasi semakin bergejolak, rasa ingin tahu

memaksa hasrat untuk dipuaskan. Tunjukan tangan untuk bertanya tak hentinya terputus, ada yang dua, tiga,

bahkan empat kali bertanya yang diajukan oleh lebih dari satu orang; hingga waktu harus memutuskan pertanyaanpertanyaan

dihentikan.

Wanda seperti oase yang menyegarkan. Satu per satu pertanyaan diuraikan sejelas mungkin. Mengupas stigma

ketakutan terhadap waria dengan penampilannya yang hangat. Mengupas stigma waria yang jahat dengan karyakarya

untuk masyarakat melalui kepeduliannya terhadap realita HIV/AIDS di Sumatera Utara. Wanda mengubah

pandangan bahwa semua transgender terjadi karena ada trauma masa kecil, ternyata tidak semua demikian terjadi.

Wanda berasal dari keluarga yang justru menopang kehidupannya dan tidak memiliki trauma yang menyakitkan

di masa kecil. Wanda mengurai konsep bahwa waria itu adalah dosa dengan memperlihatkan kedekatan dirinya

dengan Tuhan dalam ibadah dan penyerahan hidupnya yang tulus kepada Tuhan. Semua kesempatan hidupnya

yang sekarang ini adalah bagian dari ungkapan syukurnya yang tidak henti kepada Sang Khalik yang terus meridhoi

segala pekerjaan tangannya.

4


Wanda pun memperlihatkan keanggunan pemikirannya dan kepedulian sosialnya yang tinggi kepada masyarakat

sebagai seorang aktivis sosial.

Di akhir sesi, para peserta diskusi membuat testimoni dari perjumpaan yang mungkin seperti cambuk bahkan petir

menyadarkan mereka bahwa tidak selamanya benar transgender itu begini dan begitu. Inilah beberapa testimoni

mereka;

“Awalnya saya mengira transgender adalah sosok orang yang aneh dan kurang baik. Tapi dengan pertemuan kali ini

akhirnya saya tahu bahwa setiap orang punya hak menentukan jati diri mereka sendiri. Kita tidak boleh menjauhinya

karena menolak kodrat yang ada padanya, melainkan kita harus menerima mereka sama halnya seperti orang-orang

yang ada di sekeliling kita. Banyak hal juga yang bersifat positif yang dilakukan oleh narasumber dan saya sangat

berterima kasih kepada kak Wanda.”, ujar Irene Friskila mahasiswa semester 1.

“Dulunya saya takut dengan waria, tetapi melihat kak Wanda, saya tidak merasa takut. Waria itu tidak perlu ditakuti,

dia juga sama seperti kita. Untuk diskusi selanjutnya, kalau boleh kita juga membahas tentang HIV/AIDS.” Kata Vera

Oktaviana Munthe, mahasiswa semester 1.

“Pelajaran dari kak Wanda bahwa orang tidak berhak untuk menghakimi atau mengatakan bahwa ia telah berdosa,

tapi Tuhanlah yang berhak untuk menjawabnya. Transgender sama seperti kita yang juga memiliki kebutuhan sama

dan berhak untuk dilindungi oleh negara maupun masyarakat.”, ujar Soedami, mahasiswa semester 1.

Setiap perjumpaan pasti menghasilkan perubahan. Perjumpaan itu masih terus menerus digumuli sebab itu

merupakan proses.

5


20 November

Mengkikis Stigma Untuk Kesetaraan

Dalam rangka memperingati Hari Transgender, Komunitas Human Care Community (HCC), Gorontalo mengadakan

diskusi komunitas dengan tema ”Mengkikis Stigma Senioritas Waria Gorontalo”.

Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 19 November 2014 pukul 20.00 WITA di Kafe Senyum Dunia, Sulawesi Utara.

Dihadiri oleh sebelas kawan-kawan waria dan enam orang Gay. Kelompok waria yang hadir dari berbagai generasi,

“dewasa, muda, dan belia”.

Menurut Melky koordinator HCC, kegiatan ini dilakukan karena selama ini senioritas di kawan-kawan waria gorontalo

sangat kuat. Kelompok waria muda dan waria dewasa cenderung tidak mau menyatu, padahal jika bersatu tentulah

akan membuat gerakan yang ada semakin solid, ungkap Melky. Sehingga peringatan transgender day kali ini

merupakan sebuah moment yang tepat untuk membuka dialog yang salama ini sulit dipertemukan.

Di akhir pertemuan para peserta yang hadir berkomitmen untuk saling bergandengan tangan untuk berjuang

bersama melawan diskriminasi dan kekerasan yang kerap dialami oleh kawan-kawan waria di kota Gorontalo.

7


20 November

Selamat Dari Tanah Papua

Yayasan Teratai Hati Papua (YTH), dalam rangka memperingati Hari Transgender melaksanakan diskusi dan

pemutaran film “Madame X”, sebuah film tentang perjuangan seorang transgender. Acara dihadiri kurang lebih dua

puluh orang.

Sehari sebelum pemutaran film, YTH berdiskusi dahulu dengan seorang Transgender bernama Tama. Tama adalah

seorang Transgender yang bekerja pada sebuah lembaga bernama Kampung Halaman. Kampung Halaman adalah

sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat ( LSM) yang beralamat di Yogyakarta. Mereka ke Wamena dalam rangka

melaksanakan kegiatan Sekolah Remaja 2014 di Hepuba Wamena. Selama sebulan Tama yang ditemani oleh

rekannya Oyik memberikan pelatihan membuat film dokumenter dan pemetaan kampung dengan menggunakan

teknologis alat GPS.

“Saya itu female to male, saya jarang sekali membicarakan identitas saya dimuka umum, dan Ini tempat coming out

saya yang paling jauh”, ungkap Tama dengan senyuman saat membuka diri dihadapan kawan-kawan.

“Selama ini kita lihat hanya laki-laki yang jadi perempuan, ini baru kita lihat perempuan yang jadi laki-laki. Dan di

kampung ini ada. Namanya Very. Dia itu laki-laki tapi macam perempuan. Pintar anyam-anyam rambut. Dia tidak

bisa kerja kebun. Tapi pekerjaan yang perempuan punya macam tanam atau gali hiperekah, petik sayurkah, dia

macam pintar sekali” jelas Frans salah seorang masyarakat Papua.

Diakhir diskusi kawan-kawan bernyanyi bersama, dan keesokan harinya, semua mengantar Tama dan Oyik ke

Bandara. Dalam perjalanan, kawan-kawan tetap memanggil Tama dengan “Mas Tama” (sebutan untuk laki-laki

pada suku Jawa). Tidak ada yang berbeda dari sebelum mengetahui identitas Tama sebagai female to male.

8


20 November

Pameran Foto Bersama Mahasiswa Lampung

Suara Kita bekerja sama dengan Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Lampung (FISIP UNILA)

mengadakan pameran foto yang diberi tajuk “Ekspresi untuk Identitas” untuk memperingati Hari Transgender, pada

20 - 22 November 2014.

Pameran dibuka secara simbolik oleh staf Suara Kita, Sussan Magi dengan menyerahkan buku photostory kepada

Ikram Baadila (Dosen Sosiologi UNILA), dan panitia pelaksana kegiatan, di gedung B.31 FISIP UNILA.

“Pameran foto yang dilaksanakan dikampus UNILA merupakan sebuah kegiatan yang memperkenalkan keragaman

identitas gender kepada mahasiswi dan mahasiswa agar kelak ketika para mahasiswa berada di ruang publik mereka

tidak “gagap” menghadapi segala keragaman yang ada di sekelilingnya”, ungkap Sussan.

Andri, seorang mahasiswa UNILA sekaligus panitia mengatakan bahwa ini adalah kegiatan pameran foto bertema

transgender yang pertama kali dilakukan oleh departemen FISIP UNILA.

9


21 November

Diskusi Dan Launching Buku “Ekspresi Untuk Identitas” Di Unila-

Lampung

Bertempat di gedung B.31. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila), Suara Kita

bekerja sama dengan Jurusan Sosiologi FISIP-Unila, mengadakan diskusi publik dengan tema Ekspresi Untuk

Identitas. Diskusi kali ini menghadirkan pembicara: Tanti Noor Said (antropolog-Belanda), Ikram Baadila (dosen

FISIP UNILA) dan Marisa (Transgender asal Bandar Lampung) dengan moderator Arif Moenandar, S.sos.

Ada 150 mahasiswa dan mahasiswi UNILA hadir dalam diskusi ini. Ikram Baadila (dosen FISIP Unila) membuka

diskusi dengan memberikan paparan tentang keragaman identitas gender yang ada di masyarakat Indonesia.

Kemudian ia menjelaskan bahwa trangender sebagai sebuah identitas gender sudah ada sejak dahulu kala. Ini

bukanlah seperti yang banyak didengungkan sebagian orang yang menyatakan bahwa transgender adalah budaya

barat. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa budaya yang ada di Nusantara, diantaranya; ada Bissu (di Sulawesi),

warok gemblak (di Jawa Timur). Pada masa itu masyarakat nusantara begitu menghargai keberagaman gender

tersebut. Namun masa kini justru terjadi kemunduran pola pikir hingga hampir semua transgender yang ada di

Indonesia kerap mendapatkan diskriminasi dan bahkan berujung pada kekerasan.

Selanjutnya Tanti Noor Said memaparkan makalahnya berjudul Waria; Ancaman Pada Kategori ‘Normal’ Dalam

Struktur Sosial Di Indonesia. Dalam makalah ini, Tanti mengatakan tradisi transgenderisme ditekan secara

10


dramatis karena tidak sesuai dengan versi modernitas yang

dianggap mewakili identitas Indonesia sejati. Namun, ideologi

modern dan kekuasaan pemerintahan, tentu saja tidak

menjangkau setiap masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu,

praktek transgenderisme ini masih ada di beberapa masyarakat

pedesaan dan pedalaman. Sementara itu, di Jakarta dan kotakota

besar lain, pekerjaan waria paling umum adalah sebagai

pemilik dan pekerja salon kecantikan, sebagai penyanyi jalanan

(pengamen), penghibur atau pekerja seks. Peluang karir dalam

pekerjaan formal tetap terbatas, bahkan di kota besar sekalipun,

ungkap Tanti.

Di sesi akhir diskusi Marisa memberikan testimoni tentang

pengalaman hidupnya sebagai seorang transgender di

tengah-tengah keluarga dan masyarakat Lampung. Marisa

menceritakan bahwa hingga detik ini, ia masih belum diterima

oleh keluarga karena ia memiliki identitas gender yang berbeda.

Walau demikian ia tetap bertahan untuk tetap tinggal bersama

keluarganya di rumah orang tuanya di Bandar Lampung. Butuh

proses agar orang tua bisa menerima perbedaan tapi ia tetap

berusaha semampunya untuk membuktikan bahwa memiliki

identitas gender yang berbeda juga bisa banyak melakukan

hal-hal yang positif dan membanggakan keluarga dan negara.

11


21 November

Talk Show Radio Komunitas Marsinah

Radio Marsinah bekerja sama dengan Suara Kita mengadakan talkshow dengan tema transgender di program

radio Cermin. Acara yang dipandu oleh Thin Koesna ini mengupas tema “Ideologi Tubuh Transgender”. Acara yang

berlangsung pada Hari Jum’at, 21 November 2014 ini mengundang dua narasumber transgender, Pritz (transman,

female to male) dan Khanza Vhina (waria, male to female). Acara ini berlangsung dari pukul 19:00 – 20:00 WIB ini.

Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi dengan komunitas buruh sampai pukul 21:30 WIB.

Talkshow ini secara live mengupas tentang Waria dan transman di mana pewancara bertanya tentang kehidupan

para narasumber secara pribadi. Sedangkan dalam diskusi dengan komunitas buruh, teman buruh merasa senang

dapat mengenal langsung waria dan transman dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga menghilangkan

stigma satu sama lain.

12


21 November

Diskusi Publik Seksualitas Priawan

Komunitas Jejer Wadon dan Talita Kum mengadakan pemutaran film Albert Nobs dalam rangka memperingati Hari

Transgender. Kegiatan yang diadakan pada tanggal 21 November 2014 di Lembaga Pengabdian Hukum (LPH) YAPHI

, Surakarta ini menghadirkan 2 narasumber, yaitu : Reny Kristanti (Direktur Talita kum) dan Dewi Candraningrum

(Jurnal Perempuan).

Untuk membuka wacana, Reny Kristanti menjelaskan konsep seksualitas berbasis SOGIEB (Sexual Orientation,

Gender Identity, Expression and Body) sebagai konsep yang tidak kaku melihat keberagaman gender. Misalnya

adanya Priawan , wanita yang merasa laki-laki, sebagai sesuatu yang alamiah sifatnya.

Diskusi menjadi semakin menarik ketika Dewi Candraningrum memaparkan bahwa konsep “kenormalan” yang ada

saat ini adalah konsep yang diciptakan oleh modernitas padahal jika kita mencoba melihat bahwa homoseksual

(yang dianggap abnormal) sudah ada sejak dulu kala dalam budaya nusantara.

Foto Jejer Wadon 1

Foto Jejer Wadon 2

13


22 November

Diskusi dan Pemutaran Film All About My Mother

Dalam rangka memperingati hari Transgender , Suara Kita mengadakan pemutaran film All About My Mother di

sekretariat Suara Kita, Kalibata pada 22 November 2014. Sebuah Film yang menceritakan, seorang Ibu bernama

Manuela setelah putranya wafat melakukan perjalanan menemui mantan suaminya seorang transgender yang

bekerja sebagai pekerja sex dipinggiran kota Barcelona, Spanyol. Pertemuan dengan mantan suaminya tersebut

membuka mata Manuela tentang kehidupan transgender yang rentan terhadap diskriminasi dan kekerasan yang

tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Setelah melakukan pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bertema Diskriminasi dan Kekerasan yang

dialami Transgender di Indonesia dengan naraasumber Yuli Rustinawati, ketua Arus Pelangi, organisasi hak-hak LGBT

Indonesia. Dalam acara tersebut dihadiri 25 orang dari komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT),

mahasiswa dan masyarakat umum yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya.

Dalam diskusi tersebut, Yuli mengatakan secara umum diskriminasi dapat dibagi menjadi 2 jenis yakni; diskriminasi

langsung dan diskriminasi tidak langsung. Diskriminasi langsung yaitu diskriminasi yang terjadi pada saat hukum,

14


peraturan, kebijakan jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu seperti jenis kelamin, orientasi seksual, ras

sehingga menghambat peluang yang sama bagi individu yang mempunyai karekteristik yang disebutkan di dalam

hukum, peraturan atau kebijakan tersebut. Sedangkan diskriminasi tidak langsung yaitu diskriminasi yang terjadi

pada saat peraturan yang bersifat netral namun menjadi diskriminatif pada saat diterapkan.

Kekerasan, stigma dan diskriminasi yang dialami LGBT ada berbagai bentuk, mulai dari perilaku agresif, bullying,

kekerasan fisik, psikis, penyiksaan, ataupun penculikan. Berdasarkan penelitian Arus pelangi di 3 kota tahun 2013,

89,3% LGBT mengalami kekerasan di ruang publik dan domestik. Sedangkan 79,1 % kekerasan dalam bentuk

psikologi, 46,3 % kekerasan dalam bentuk fisik, 45,1 % kekerasan seksual, 26,3% kekerasan ekonomi, 63,3 %

kekerasan budaya.

15


22 November

Pawai Budaya Transgender Gorontalo

Dalam rangka memperingati hari

Transgender, Ikatan Waria Indonesia

Gorontalo (IWIG) mengikuti kegiatan

pawai budaya yang diadakan oleh

Pemerintah Kabupaten Gorontalo,

Propinsi Sulawesi Gorontalo. Kegiatan

tahunan ini bernama Carnival Danau

Limboto 2014.

Festival ini menyuguhkan budaya dan

adat istiadat orang Gorontalo, mulai

pakaian khas Karawo, makanan, tata cara

sunat, pernikahan, tarian, sampai tata

cara adat dan doa hamil tujuh bulanan.

Event ini mulai pertama kali pada 2012

dan menjadi bagian dalam rangkaian

HUT Kabupaten Gorontalo ke-341.

16


Ratusan warga berdiri di pinggir jalan melihat kawan-kawan IWIG berpawai dengan busana hasil kreasinya. Para

waria itu berjalan bersama peserta lainnya dari berbagai komunitas dengan menggunakan busana penuh warna.

Dalam karnaval ini hadir, Direktur Promosi Wisata Dalam Negeri, Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Bupati Gorontalo dan juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat

Gorontalo, Ibu Rahmijati ikut dalam pawai tersebut. Beliau selama ini selalu melibatkan waria dalam kegiatankegiatan

budaya yang diselengarakan oleh pemerintah setempat.

17


23 November

Diskusi Komunitas Tentang Keberagaman Identitas

Pada Peringatan Hari Transgender 2014, Gema Lentera Tadulako (Maleo), sebuah organisasi gay di kota Palu,

Sulawesi Tengah, mengadakan kegiatan yang diberi tajuk Maleo Visit Community, merupakan kunjungan dan

diskusi ke komunitas waria di Desa Sibalaya Selatan, Kecamatan Tanambulawa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Jarak menuju desa ini kurang lebih 45 menit dari kota Palu, dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Kegiatan yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang SOGIEB (Sexual Orientation, Gender Identity,

Expression and Body) dan sosialisasi HIV/AIDS ini dilaksanakan pada 23 November 2014, pukul 13.00- 15.00 Wita,

di Balai Desa Sibalaya Selatan. Para peserta cukup antusias terutama saat membicarakan HIV/AIDS karena selama ini

kawan-kawan waria belum pernah mendapatkan informasi SOGIEB dan HIV/AIDS secara komprehensif.

Di dalam diskusi muncul pernyataan dari salah satu peserta bahwa mereka sulit mendapatkan akses pemeriksaan

kesehatan yang ramah terhadap waria. Sehingga kebanyakan waria menahan diri untuk melakukan pemeriksaan

kesehatan ke klinik. Selain masalah kesehatan, dalam diskusi juga muncul tentang konsep kecantikan. Selama

ini kawan-kawan waria beranggapan bahwa menjadi waria harus mempesona dan terlihat cantik dengan

menggunakan segala atribut feminim. Bahkan mereka melakukan suntik silikon agar bisa diterima oleh masyarakat.

Namun setelah diberikan pengetahun tentang identitas gender, menjadi waria ternyata tidak selamanya harus

terlihat feminim, menjadi waria bisa saja berjanggut dan berbadan kekar.

Setelah mengikuti diskusi yang cukup panjang, kawan-kawan waria berharap kegiatan diskusi seperti ini bisa

diadakan secara rutin. Maleo akan menindak-lanjuti permintaan kawan-kawan waria untuk diskusi tiga bulan

kedepan. Acara diskusi diakhiri dengan pertandingan bola voli antara Maleo dengan komunitas waria Sibalaya.

18


24 dan 25 November

Pameran Fotostory “Ekspresi Untuk Identitas”

Dalam rangka memperingati Hari Transgender , Suara Kita mengadakan pameran foto di Kampus Sekolah Tinggi

Teologi (STT) Jakarta, Jakarta Pusat. STT Jakarta adalah kampus yang akan “melahirkan” pemimpin agama Kristen

protestan (baca: pendeta). Pameran dibuka pukul: 10.00.WIB hinga 16.00 selama dua hari, 24-25 November 2014.

Di saat yang bersamaan, STT Jakarta sedang mengadakan pertemuan International Consultation on Church and

Homophobia. Acara ini berlangsung dari tanggal 23 hingga 26 November 2014. Dalam acara tersebut terdapat

beberapa diskusi dan workshop yang bertemakan Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, dan Queer (LGBTIQ)

serta remaja dan keberagaman. Acara ini dihadiri oleh perwakilan sejumlah gereja dan sekolah-sekolah teologi baik

dari Indonesia maupun berbagai negara lain diantaranya: India, Jerman dan Filipina.

Di sela-sela acara, para peserta yang ikut dalam pertemuan tersebut menyaksikan pameran foto yang dilaksanakan

oleh Suara Kita. Menurut salah satu peserta transgender dari India, Bharati, pameran foto yang ia saksikan sangat

menarik dan ia berharap kegiatan ini harus terus dilakukan tidak hanya dikampus-kampus tapi juga di tempat publik

lainnya, agar masyarakat tahu tentang eksistensi waria.

19


Dede Oetomo, Aktivis LGBT Indonesia, menyambut baik kegiatan ini sebagai bentuk apresiasi terhadap kaum

transgender. Sedangkan Pendeta Stephen Suleman mengatakan bahwa acara pameran foto ini dilaksanakan sebagai

upaya mendekatkan kelompok transgender ke publik terutama mahasiswa dan kaum gereja, karena transgender

juga manusia yang mempunyai hak sama sperti manusia lainnya. Sementara Lizi, ketua panitia acara tersebut,

mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan upaya “menyadarkan” gereja akan hak-hak LGBTIQ sebagai manusia.

20


26 November

Pemutaran Film dan Diskusi LGBT Di Manado

Dalam rangka Peringatan Hari Transgender, Sanubari Sulawesi Utara (Salut) mengadakan pemutaran film berjudul

Carllota, sebuah film yang bercerita tentang kisah nyata seorang artis transgender Australia (Carlotta Spencer) yang

menceritakan identitas dan penerimaan diri transgender di dunia hiburan dan publik pada tahun 1960an di Australia.

Kegiatan dilaksanakan di Kantor Lembaga Kesejahteraan Keluarga Nahdahtul Ulama (LKKNU) Manado. Berbagai

komunitas LGBT di kota Manado, Sulawesi Utara hadir dalam kegiatan ini. Mereka adalah Kelompok Dukungan

Sebaya (KDS) Satu Hati; Gay, Waria , LSL (GWL) Kawanua, Waria Manado, Manado Man. Kegiatan dihadiri oleh

kurang lebih 30 orang dari komunitas LGBT kota Manado.

Menurut Coco Jerico, koordinator SALUT, kegiatan memperingati Hari Transgender dilakukan oleh komuitas SALUT

sebagai bentuk keprihatinan SALUT atas seringnya masyarakat melakukan stigma dan diskriminasi terhadap orang

yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) dan waria. Padahal kawan-kawan ODHA dan waria adalah warga negara

yang punya hak yang sama dalam segala aspek kehidupan, ungkap Coco saat dihubungi oleh Suara Kita.

21


26 dan 27 November

Pameran Fotostory di FISIP UI Depok

Himpunan Mahasiswa Sosiologi Universitas Indonesia (HMS UI) bekerja sama dengan Suara kita mengadakan

pameran foto “Ekspresi Untuk Identitas”. Acara bertempat di Selasar FISIP UI Depok, 26-27 November 2014 dengan

menampilkan foto-foto transgender dalam kehidupan sehari-hari yang terkumpul dalam Buku Foto “Ekspresi Untuk

Identitas”.

Umumnya respon pengunjung (mahasiswa) positif terhadap kegiatan ini. Hal ini dapat dilihat dari komentar para

mahasiswa, misalnya komentar dari Anendya Niervana, mahasiswi Kriminologi UI, “Mereka (transgender) sama kok

dengan kita, mari dukung hak yang setara bagi para transgender”, ungkapnya. Sedangkan Tara Swasti mahasiswi

Sosiologi UI mengatakan, jangan langsung menghakimi kaum transgender, selalu ada dua sisi dibalik suatu hal,

katanya dalam account twitter @suarakita. Sementara Irwan M Hidayana, Ketua Departemen Antropologi Fisip UI,

menyambut baik kegiatan pameran foto ini sebagai bentuk apresiasi terhadap kelompok transgender.

22


RESPON PUBLIK

23


EKSPRESI

IDENTITAS

24


Berikut ini adalah beberapa tanggapan publik dibeberapa kampus

tempat penyelenggaraan Pameran Phostory “Ekpresi Untuk Identitas” :

Respon Publik UNILA Lampung

25


Respon Publik Sekolah Tinggi Teologi, Jakarta

27


Respon Publik

di FISIP Universitas Indonesia, Depok

28


l a m p i r a n

31


www.idahotindonesia.net

Similar magazines