06.02.2015 Views

Download - Ditjen Cipta Karya

Download - Ditjen Cipta Karya

Download - Ditjen Cipta Karya

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

LIPUTAN KHUSUS<br />

Gebyar Pamsimas Kabupaten Kuningan Langkah<br />

Awal Promosi Kesehatan 9<br />

INFO BARU 2<br />

BKM Gerbang Permata Pakis : Lingkungan Hijau<br />

Melalui Pengelolaan Sampah 16<br />

Reformasi Birokrasi<br />

Is in the House<br />

Edisi 06/Tahun VIII/Juni 2010<br />

Era Baru Pendanaan<br />

Pengembangan Air Minum<br />

PDAM Gandeng<br />

Perbankan


daftar isi<br />

JUNI 2010<br />

Berita Utama<br />

http://ciptakarya.pu.go.id<br />

Pelindung<br />

Budi Yuwono P<br />

Penanggung Jawab<br />

Danny Sutjiono<br />

Dewan Redaksi<br />

Antonius Budiono, Tamin M. Zakaria<br />

Amin, Susmono, Guratno Hartono,<br />

Joessair Lubis,<br />

Budi Hidayat<br />

Pemimpin Redaksi<br />

Dwityo A. Soeranto, Sudarwanto<br />

Penyunting dan Penyelaras Naskah<br />

T.M. Hasan, Bukhori<br />

Bagian Produksi<br />

Djoko Karsono, Emah Sadjimah,<br />

Radja Mulana MP. Sibuea,<br />

Djati Waluyo Widodo, Aulia UI Fikri,<br />

Indah Raftiarty<br />

Bagian Administrasi & Distribusi<br />

Sri Murni Edi K, Ilham Muhargiady,<br />

Doddy Krispatmadi, A. Sihombing,<br />

Ahmad Gunawan, Didik Saukat Fuadi,<br />

Harni Widayanti, Deva Kurniawan,<br />

Mitha Aprini, Nurfhatiah<br />

Kontributor<br />

Panani Kesai, Rina Agustin Indriani,<br />

Nieke Nindyaputri, Hadi Sucahyono,<br />

Amiruddin, Handy B. Legowo,<br />

Endang Setyaningrum, Syamsul Hadi,<br />

Didiet. A. Akhdiat, Muhammad Abid,<br />

Siti Bellafolijani, Djoko Mursito,<br />

Ade Syaeful Rahman,<br />

Th. Srimulyatini Respati,Alex A.Chalik,<br />

Bambang Purwanto,<br />

Edward Abdurahman, Alfin B. Setiawan,<br />

Deddy Sumantri,<br />

M. Yasin Kurdi, Lini Tambajong<br />

Alamat Redaksi<br />

Jl. Patimura No. 20, Kebayoran Baru<br />

12110 Telp/Fax. 021-72796578<br />

Email<br />

publikasi_djck@yahoo.com<br />

Redaksi menerima artikel, berita,<br />

karikatur yang terkait bidang cipta<br />

karya dan disertai gambar/foto<br />

serta identitas penulis. Naskah<br />

ditulis maksimal 5 halaman A4,<br />

Arial 12. Naskah yang dimuat akan<br />

mendapat insentif.<br />

4 Era Baru Pendanaan<br />

Pengembangan Air Minum<br />

PDAM Gandeng Perbankan<br />

7 Jaminan Pemerintah Halau<br />

Keraguan Bank<br />

Liputan Khusus<br />

9 Gebyar Pamsimas<br />

Kabupaten Kuningan<br />

Langkah Awal Promosi<br />

Kesehatan<br />

Info Baru<br />

13 Keteledoran Engineer<br />

Membawa Bencana<br />

16 BKM Gerbang Permata Pakis<br />

Kota Surabaya:Lingkungan<br />

Hijau Melalui Pengelolaan<br />

Sampah<br />

Inovasi<br />

19 Unit Layanan Pengadaan<br />

(ULP) Barang dan Jasa Kota<br />

Surabaya: Hidupkan Ruh<br />

Reformasi PBJ di Indonesia<br />

16<br />

23 Reformasi Birokrasi<br />

Is in The House<br />

Pojok Hukum<br />

27 Permen PU No. 18 Tahun<br />

2007 Penyelenggaraan<br />

Pengembangan SPAM<br />

Resensi<br />

29 Menuju Pencapaian Target<br />

MDG’s Bidang Air Minum<br />

4<br />

27


Foto Cover : IPA PDAM Tirta<br />

Mountala, Aceh Besar<br />

editorial<br />

Akses PDAM ke Perbankan Akhirnya Dibuka<br />

Sebagai penyalur bantuan, apapun lembaganya akan berpikir ulang jika kondisi pihak yang akan dibantu<br />

dalam kondisi sakit, atau kurang sehat. Demikian pula dengan perbankan, dalam mendukung percepatan<br />

pengembangan air minum melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) harus diikuti dengan peraturan<br />

dan jaminan yang meyakinkan dari pemerintah karena memang pemerintah lah yang bertanggung jawab<br />

akan hal ini. Pada saat masih banyak perbankan berpikir ulang untuk melirik bisnis air minum, keputusan<br />

Bank BRI, BNI, dan Bank Jabar Banten patut diacungi jempol.<br />

Baru saja (di bulan ini), ketiga bank itu menandatangani Perjanjian Kerjasama Pembiayaan (PKP)<br />

untuk PDAM yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, Kementerian Pekerjaan Umum. Mereka<br />

mengucurkan total dana segar Rp 3,7 triliun, terdiri dari Rp 1,8 triliun dari BNI, Rp 1,8 triliun dari BRI, dan<br />

Rp 100 miliar dari Bank Jabar Banten. Gelontoran dana untuk menyehatkan PDAM itu dibarengi dengan<br />

perangkat kebijakan pemerintah seperti penjaminan gagal bayar (70%) dan subsidi bunga yang dikemas<br />

dalam Perpres Nomor 29 Tahun 2009. Tahun ini juga Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> mengalokasikan dana<br />

Rp 50 miliar untuk mensubsidi bunga bank tersebut. Lebih jauh ke depan, <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> juga sudah<br />

menganggarkan Rp 11,8 triliun melalui Rencana Strategis 2009-2014 untuk mengejar target MDGs.<br />

Meski sudah diringankan oleh pemerintah, nyatanya masih ada beberapa bank yang berpandangan lain.<br />

Resiko yang ditanggung bank sebesar 30% tetap saja masih dianggap besar. Karena itu, apa yang dilakukan<br />

Bank Jatim misalnya, hanya akan berinvestasi ke PDAM secara kasus per kasus sangat bisa dipahami dan<br />

wajar jika akan ditiru bank-bank lainnya. Bank Jatim hanya akan siap menyalurkan pembiayaan kepada PDAM<br />

yang memiliki kemampuan secara financial. Minimal BUMD tersebut membukukan laba dalam tiga tahun<br />

berturut-turut. Selain itu, tidak semua PDAM sehat minat meminjam ke bank karena kepercayaan dirinya<br />

untuk mengembangkan pelayanannya dengan dananya sendiri. Jika sudah seperti itu, kepercayaan kepada<br />

PDAM untuk bisa mengembalikan harus juga dimunculkan. <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> sudah mensosialisasikan<br />

keuntungan kerjasama ini kepada seluruh PDAM di Indonesia, meskipun pada tahun ini baru terjaring lima<br />

PDAM yang siap dan layak dibiayai diterima tiga bank itu. Lima PDAM itu adalah PDAM Kota Tangerang,<br />

PDAM Kota Malang, PDAM Kabupaten Bandung, PDAM Kabupaten Ciamis, dan PDAM Kabupaten Bogor.<br />

Berita utama Edisi Juni 2010 ini mengambil topik air minum karena sedang gencar dilaksanakan<br />

pemerintah, bank, dan PDAM. Tentu saja tidak menghilangkan daya tarik tema lain, seperti gebyar program<br />

Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS), peringatan kepada profesional<br />

Engineer untuk berhati-hati agar karyanya tidak menimbulkan korban saat terjadi bencana, pelajaran dari<br />

Unit Layanan Pengadaan (ULP) yang diprakarsai Urban Sector Development Reform Project (USDRP) <strong>Ditjen</strong><br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, dan masih banyak lagi informasi lainnya.<br />

Selamat membaca dan berkarya!<br />

.....Suara Anda<br />

Raperda Bangunan Gedung<br />

Saya sekarang sedang menyusun Raperda Bangunan Gedung, masih<br />

kesulitan terkait dengan pengaturan bangunan non gedung. Mungkin<br />

ada yang bisa kasih saran terkait dengan referensi bangunan non<br />

gedungnya, terimakasih<br />

Edy<br />

Kepada Saudara Edy, menurut UU 28/2002 tentang Bangunan Gedung<br />

Pasal 1 Angka 1. “Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan<br />

konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau<br />

seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau di air, yang<br />

berfungis sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk<br />

hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha,<br />

kegiatan sosial, budaya maupun kegiatan khusus.”<br />

Bangunan non gedung (bangun-bangunan) yang tidak dihuni oleh<br />

manusia tidak diatur oleh UU No. 28 Tahun 2002, namun di daerah<br />

pengaturan bangun-bangunan dapat disatukan dalam perda bangunan<br />

gedung dengan memasukkan peraturan perundang-undangan terkait<br />

sebagai konsideran.<br />

Apabila bangunan-bangunan menjadi satu kesatuan konstruksi (misal<br />

menara BTS di atas bangunan gedung maka terkena IMB/SLF Bangunan<br />

Gedung. Bila terpisah dapat dikenai IMB/SLF tersendiri.<br />

Demikian kami sampaikan, terima kasih.<br />

Redaksi menerima saran maupun tanggapan terkait bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> ke email publikasi_djck@yahoo.com atau saran dan pengaduan di www.pu.go.id<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/Juni 2010 3


Berita Utama<br />

Era Baru Pendanaan Pengembangan<br />

Air Minum<br />

PDAM Gandeng<br />

Perbankan<br />

Sudah sejak 2008 lalu, masyarakat dan<br />

pemerintah menunggu momen Perusahaan<br />

Daerah Air Minum (PDAM) berlari kencang<br />

menuju level maju, sehat, dan mampu mening<br />

katkan pelayanan air minum kepada<br />

masyarakat secara mandiri. Jauh sebelum<br />

2008, pemerintah juga sudah memfasilitasi<br />

PDAM melalui upaya restrukturisasi utang<br />

PDAM. Upaya yang sejatinya bakal meringankan<br />

beban PDAM tersebut sebelumnya<br />

sudah diberikan perhatian besar dari Menteri<br />

Keuangan saat itu, Sri Mulyani Indrawati<br />

(SMI).<br />

“Kita lihat apakah program restrukturisasi<br />

ini bisa memajukan PDAM, karena ini adalah<br />

upaya kita agar PDAM diringankan bebannya.<br />

Selebihnya urusan PDAM untuk lebih mandiri.<br />

Jika ada Walikota/Bupati atau Ketua DPRD<br />

yang datang ke saya, saya minta mereka untuk<br />

mantapkan dulu visi misi dan komitmennya,<br />

baru bicarakan masalah keuangan,” ujar SMI<br />

kepada Menteri Pekerjaan Umum Djoko<br />

Kirmanto pada suatu kesempatan.<br />

Tidak cukup dengan restrukturisasi, Ketua<br />

Persatuan Perusahaan Air Minum seluruh<br />

Indonesia (Perpamsi) saat itu, Achmad<br />

Mardju Kodri, ikut melobi pemerintah<br />

agar di bukakan akses permodalan dengan<br />

Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> (tengah) bergandengan tangan dengan para Direktur Perbankan setelah acara Penandatanganan Perjanjian Kerjasama<br />

Pendanaan Pengembangan Air Minum<br />

4 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


BERITAUTAMA<br />

perbankan nasional. Bak gayung bersambut,<br />

pemerintah pun mengeluarkan Peraturan<br />

Pre siden Nomor 29 Tahun 2009 tentang<br />

Pem berian Jaminan dan Subsidi yang kemudian<br />

didukung dengan Peraturan Men teri<br />

Keuangan Nomor 229 Tahun 2009 tentang<br />

Tata Cara Pelaksanaan Pembinaan Jaminan<br />

dan Subsidi Bunga dan dilanjutkan dengan<br />

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.21<br />

tahun 2009 tentang Pedoman Kelayakan<br />

Investasi Pengembangan SPAM oleh PDAM.<br />

Pada akhirnya, 11 Juni 2010, gong ditabuh<br />

melalui penandatanganan Perjanjian<br />

Kerjasama Pendanaan (PKP) antara Pemerintah<br />

dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum<br />

C.q. Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dengan<br />

para Direksi Bank Nasional Indonesia (BNI),<br />

Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Jabar<br />

Banten. Dalam Perpres tersebut pemerintah<br />

akan mensubsidi bunga yang ditetapkan<br />

tiga bank tersebut berdasarkan BI (Bank<br />

Indonesia) rate.<br />

“Sebetulnya kita terlambat, kita kehilangan<br />

satu tahun pertama untuk persiapan. Perpres<br />

29/2009 memberikan paket pertama untuk<br />

percobaan selama lima tahun (hingga 2004,<br />

red). Masih ada satu klausul lagi agar bola yang<br />

sudah dipegang perbankan dan PDAM bisa<br />

dimainkan, yaitu sebuah umbrella agreement,<br />

diantaranya melibatkan DPRD,” jelas Direktur<br />

Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kementerian Pekerjaan<br />

Umum, Budi Yuwono, usai menandatangani<br />

perjanjian di ruang kerjanya.<br />

Menurut Budi, mengajak PDAM ke era<br />

baru pendanaan dengan menggandeng perbankan<br />

ibarat mengubah pola pikir men dasar<br />

yang selama ini menjangkit. PDAM selama<br />

Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, Budi Yuwono sedang mencoba air siap minum<br />

ini ‘disuapin’ dengan dana APBN dan APBD.<br />

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, lanjut<br />

Budi, PDAM yang mandiri adalah PDAM yang<br />

berani mengambil langkah maju untuk membenahi<br />

tarif, dan manajemen kebocoran air.<br />

Budi melanjutkan, dana yang dibutuhkan<br />

untuk mencapai target MDGs 2015 sebesar<br />

kurang lebih Rp 34 triliun. Kementerian Pekerjaan<br />

Umum sudah menganggarkan Rp<br />

11,8 triliun melalui Rencana Strategis 2009-<br />

2014, selebihnya sekitar Rp 22 triliun sudah<br />

dipastikan berkurang berkat kepedulian tiga<br />

bank di atas yang menggelontorkan Rp 3,7<br />

triliun.<br />

“Jumlah itu masih ada kemungkinan<br />

ber tambah karena BNI dan BRI sanggup<br />

me ngucurkan tambahan jika diperlukan. Kita<br />

tung gu dari Bank lainnya. Sementara pemerintah<br />

pada tahun 2010 ini telah menyediakan<br />

dana Rp 50 miliar untuk mensubsidi<br />

bunga dalam PKP ini” kata Budi.<br />

Dana Kementerian PU sebesar Rp 11<br />

triliun akan diprioritaskan untuk Masyarakat<br />

Berpenghasilan Rendah (MBR) dan daerah rawan<br />

air. Selain itu dikucurkan juga Rp 7 triliun<br />

untuk penyediaan air baku. Begitu banyak alternatif<br />

pembiayaan untuk pengembangan<br />

air minum bagi masyarakat, diantaranya Budi<br />

menyebutkan terbukanya peraturan pemerintah<br />

dengan paket Kerjasama Peme rintah<br />

Swasta, serta hibah bagi MBR.<br />

“Paket pertama sudah dibuka oleh Men teri<br />

Keuangan sebesar Rp 202 miliar, dan tahun ini<br />

akan diluncurkan juga dari AusAID sebesar Rp<br />

106 miliar untuk 22 PDAM dengan penekanan<br />

hibahnya adalah untuk masyarakat kurang<br />

mampu. Dalam hal ini sistemnya out<br />

based aid, PDAM harus membangun dulu<br />

infrastrukturnya, dan AusAID akan membayar<br />

hasilnya yang disalurkan kepada masyarakat.<br />

Dan banyak lagi terobosan lain dalam<br />

mengembangkan air minum,” papar Budi.<br />

Budi Yuwono mengingatkan, peran Direktorat<br />

Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> hanya sam pai<br />

pada penandatanganan PKP antara Per -<br />

bankan dengan 15 PDAM yang sudah siap<br />

dan menyatakan minat. Selebihnya, proses<br />

yang dilakukan kedua pihak tersebut<br />

akan difasilitasi oleh Badan Pendukung<br />

Pe ngembangan Sistem Penyediaan Air Minum<br />

(BPPSPAM) Ke men terian Pekerjaan<br />

Umum. Dit jen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> selanjutnya akan<br />

memfasilitasi hal serupa kepada 40 PDAM<br />

yang berpotensi memasuki era baru ini.<br />

Jumlah PDAM secara nasional saat ini<br />

392 dan yang sudah mengikuti program<br />

restrukturisasi utang sebanyak 15 PDAM.<br />

Selain sehat, keikutsertaan PDAM dalam<br />

prog ram Kementerian Keuangan tersebut<br />

menjadi syarat utama bagi PDAM untuk bisa<br />

mendapatkan kredit dari perbankan. Dalam<br />

waktu dekat, Kementerian Keuangan akan<br />

segera memproses 50 PDAM dalam program<br />

restrukturisasi, sehingga sejumlah 65 PDAM<br />

bisa dikatakan siap antre di meja direksi tiga<br />

Perbankan di atas.<br />

“Kita harus mengakui dalam diri PDAM<br />

masih banyak ruang yang bisa diefisiensikan,<br />

seperti menurunkan angka kebocoran, dan<br />

lain-lain. Saat ini rata-rata kebocoran air PDAM<br />

secara nasional mencapai 33%,” tambah Budi.<br />

Dana Rp 3,7 triliun yang siap diberikan<br />

bank adalah untuk PDAM yang layak secara<br />

syarat dan besaran proyek yang sudah lolos<br />

studi kelayakannya. Selain memberikan jaminan<br />

pinjaman dan subsidi bunga, Kementerian<br />

PU juga menyediakan fasilitasi<br />

pe nyiapan proposal pengembangan SPA M<br />

PDAM pa da per bankan nasional dan dukungan<br />

ketersediaan air baku.<br />

Sementara dikatakan Direktur Sistem Manajemen<br />

Investasi Kementerian Keuangan,<br />

Anandy Wati, sampai saat ini Bank Mandiri<br />

sudah melayangkan kesanggupannya akan<br />

kerjasama pendanaan untuk pengembangan<br />

PDAM, namun Bank Mandiri belum menentukan<br />

nominal pagu yang akan disalurkan.<br />

Target MDGs<br />

Program percepatan penyediaan air minum<br />

perkotaan melalui pebiayaan pinjaman bank<br />

nasional merupakan salah satu Program<br />

Percepatan Pencapaian Target MDGs bidang<br />

air minum dan sanitasi yang disusun oleh<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/Juni 2010 5


BERITAUTAMA<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> untuk periode 2009-2014.<br />

Selain program pinjaman PDAM tersebut,<br />

percepatan juga mencakup kegiatan penyediaan<br />

air minum perkotaan di 820 Ibu Kota<br />

Kecamatan (IKK), 577 kawasan MBR/RSH/<br />

Rusuna, ibukota pemekaran, serta kegiatan<br />

penyediaan air minum perdesaan di 4.650<br />

desa rawan air/terpencl/pulau kecil terluar<br />

termasuk desa PAMSIMAS, pengembangan<br />

prasarana dan sarana air limbah sistem offsite<br />

di 11 kota, sistem onsite di 210 kabupaten/<br />

kota, serta persampahan, program DAK air<br />

minum dan sanitasi sebesar Rp 3,4 triliun,<br />

program hibah air minum dan air limbah,<br />

serta percepatan sanitasi untuk mendorong<br />

swadaya masyarakat.<br />

Sesuai dengan penjabarannya, target<br />

MDGs bidang air minum nasional adalah<br />

meningkatkan proporsi jumlah penduduk<br />

terhadap akses air minum sebesar 60,3%<br />

yang harus dicapai pada 2015 dengan air<br />

minum perpipaan kota sebesar 47,39%,<br />

per pipaan perdesaan 19,76% dan sisanya<br />

dengan nonperpipaan terlindungi.<br />

Sampai tahun 2009, pencapaian bidang air<br />

minum perpipaan perkotaan dan perdesaan<br />

adalah 35% dan 14,29%. Dalam lima tahun<br />

ke depan, pemerintah pusat mentargetkan<br />

penambahan 6 juta sambungan rumah baru<br />

senilai kurang lebih Rp 33 triliun. (bcr)<br />

‘Bergantung Sharing Dana PDAM’<br />

Dituturkan Direktur Bisnis Kelembagaan Bank BRI, Asmawi Syam, PDAM banyak juga yang<br />

bagus dan sehat, belum tentu mereka menerima tawaran kredit perbankan. Namun ada juga<br />

yang bisa karena memang nilai proyeknya besar dan bakal menjanjikan prospek bisnis yang<br />

besar pula. “Kami bisa memulai hari ini sejak ditandatanganinya PKP, tentu saja setelah kita melihat<br />

studi kelayakan dan eligibilitas program yang ditawarkan PDAM. Dan tentu kita juga membutuhkan<br />

green light DPRD dan walikota/Bupati setempat untuk legalitasnya,” tukas Asmawi.<br />

Tentang besaran pinjaman yang akan diberikan bank pada masing-masing PDAM dengan<br />

Rp 1,8 triliun yang akan diberikan, Asmawi mengungkapkan tergantung dari sharing program<br />

yang diajukan PDAM. Ada kemungkinan 60% bank 40% PDAM, atau 50% bank 50% PDAM.<br />

Lain jika PDAM tertentu mempunyai fresh money yang cukup, tentu mereka tidak mau<br />

menambah daftar utangnya. (bcr)<br />

‘Prospek Bisnis Air Minum Tidak Kalah Menarik’<br />

Menjawab mengapa baru kali ini perbankan tertarik membiayai sektor pengembangan<br />

air minum, Direktur Bisnis Banking BNI, Krishna Suparto, menjelaskan bahwa bank adalah<br />

BUMN yang dibiayai oleh masyarakat dan dipastikan ketika ingin melabuhkan biayanya<br />

harus mempertimbangkan prospek bisnisnya. “Setelah dilakukan pembenahan dan juga<br />

proses restrukturisasi utang, ke depan industri air minum tidak kalah menariknya dengan<br />

infrastruktur dasar lainnya, seperti listrik. Air minum juga menjadi target utama dalam<br />

target MDGs. Kita menyambut itu harus diprioritaskan, apalagi kami mendapatkan fakta<br />

bahwa pemerintah akan mensubsidi bunganya. Dengan itu kami tak ragu kucurkan Rp<br />

1,8 triliun,” kata Krishna.<br />

Hubungan baik BNI dengan PDAM menurut Krishna sudah terjadi 20 tahun lalu,<br />

di mana BNI memfasilitasi beberapa PDAM dalam hal tata laksana penerusan<br />

pinjaman pemerintah kepada PDAM. Dalam proses itu, BNI menilai banyak<br />

potensi dalam bisnis hajat orang banyak itu. (bcr)<br />

‘Lebih Dulu Kerjasama dengan PDAM’<br />

Entis Sukendar dari Direktur Kredit Bank Jabar Banten menyebut pihaknya telah lebih<br />

dulu mengucurkan pinjaman kepada PDAM, contohnya untuk PDAM Kota Bogor sebesar<br />

Rp 25 miliar, dan PDAM Cilegon sekitar Rp 2,5 miliar. Dari pengalaman, performa kedua<br />

PDAM tersebut sangat baik di mata Bank Jabar Banten. “Kami semakin yakin dengan<br />

investasi Rp 100 miliar ini, karena selain jaminan bunga dan syarat hanya PDAM yang<br />

sehat, juga kami selama ini berpengalaman melayani setoran air minum di wilayah<br />

Jabar dan Banten,” ujar Entis. (bcr)<br />

6 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


BERITAUTAMA<br />

Jaminan Pemerintah<br />

Halau Keraguan<br />

Bank<br />

Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun<br />

2009 tentang Pemberiaan Jaminan dan Subsidi<br />

Suku Bunga oleh Pemerintah Pusat telah<br />

diterbitkan pertengahan 2009 lalu. Bagaimana<br />

kelanjutan dari Perpres tersebut Apakah<br />

PDAM antusias dengan hal itu Apakah bermanfaat<br />

untuk mencapai target MDGs Berikut<br />

wawancara redaksi dengan Direktur<br />

Pengembangan Air Minum Direktorat Jenderal<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kementerian Pekerjaan<br />

Umum, Tamin M. Zakaria Amin.<br />

Perpres 29/2009 telah terbit, apakah<br />

sampai disitu saja<br />

Tentu saja tidak. Kita akan mengadakan<br />

roadshow di empat kota yang di pim pin Dirjen<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> untuk men sosialisasikan dan<br />

berdialog me ngenai perpres tersebut bulan<br />

Juni ini.<br />

Apakah sosialisasi tersebut efektif<br />

Saya optimistis. Pasalnya tidak hanya unsur<br />

dari PDAM yang kita undang, tapi seluruh<br />

sta keholder yang terkait, se perti DPRD, Kepala<br />

Dae rah, pihak perbankan dan juga<br />

Kementerian ter kait. Ten tunya keluaran<br />

yang diharapkan adalah per samaan persepsi<br />

dan juga kesepakatan ber sa ma dalam percepatan<br />

air mi num. Hal ini juga dalam rangka<br />

pencapaian tar get MSD’s 2015.<br />

Substansi Perpres ter sebut seperti<br />

apa<br />

Intinya adalah pinjaman investasi<br />

PDAM ke per bankan akan dijamin oleh<br />

pemerintah pusat. Se lisih BI rate<br />

maksimal 5% akan ditanggung oleh<br />

pemerintah pusat. Tahun ini Kita sudah<br />

siapkan anggaran Rp 50 miliar<br />

untuk mensubsidi bunga tersebut.<br />

Rp 50 miliar ter sebut ekuivalen<br />

dengan pinjaman Rp 1 triliun.<br />

Tamin M. Zakaria Amin<br />

Direktur Pengembangan Air<br />

Minum Direktorat Jen deral<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kementerian<br />

Pekerjaan Umum<br />

Bagaimana jika PDAM ngemplang membayar<br />

utang<br />

Kita sudah atur semuanya. Pemerintah akan<br />

menanggung 70%, sedangkan perbankan<br />

30%. Angka 70% tersebut masih dibagi lagi<br />

dengan Pemda 30% dan pusat 40%. Makanya<br />

dalam pinjaman ini harus ada persetujuan<br />

dari Pemda dan juga DPRD setempat.<br />

Jadi, seluruh stakeholder harus ber komitmen<br />

dalam hal ini<br />

Semua harus memiliki komitmen. Jika PDAM<br />

saja tanpa didukung Pemda tidak akan jalan.<br />

Begitu pula sebaliknya. Masa lalu PDAM yang<br />

buruk akibat tidak bisa bayar utang dan harus<br />

restrukturisasi tidak boleh terulang lagi.<br />

Apakah ada masa berlaku untuk Perpres<br />

tersebut<br />

Fasilitas ini bisa dimanfatkan sampai Desember<br />

2014. Sedangkan mengenai jangka<br />

kredit periodenya sekitar 10 tahun dengan<br />

grass periode 2 tahun. Kalau PDAM itu<br />

sadarnya telat, maka tidak bisa pinjam lagi.<br />

Kecuali diperpanjang. Kita harapkan PDAM<br />

berinvestasi dan memakai fasilitas ini.<br />

Terkait dengan pihak perbankan, adakah<br />

yang tertarik<br />

11 Juni 2010 kemarin kita telah menandatangani<br />

Perjanjian Kerjasama Pembiayaan<br />

(PKP) senilai Rp 3,7 triliun dengan pihak perbankan.<br />

Itu merupakan hal yang luar biasa.<br />

Dana sebesar Rp 3,7 triliun terdiri dari Rp 1,8<br />

triliun Bank BNI, Rp 1,8 triliun Bank BRI, dan Rp<br />

100 miliar Bank Jabar Banten. Dalam waktu<br />

dekat Bank Mandiri akan menyusul dengan<br />

menyipakan dana Rp 1,8 triliun.<br />

Menurut Bapak, apa yang membuat<br />

per bankan mau mengucurkan dana<br />

investasi<br />

Jaminan dari pemerintah pusat, itu yang<br />

membuat perbankan tidak ragu lagi. Disamping<br />

itu, investasi di bidang air minum tak<br />

kalah menarik dibandingkan dengan listrik<br />

atau yang lainnya. Asal tahu saja, perbankan<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/Juni 2010 7


BERITAUTAMA<br />

sebenarnya juga telah mengucurkan dana<br />

untuk PDAM. Contohnya PDAM Bogor dan<br />

Cilegon.<br />

Berapa jumlah PDAM saat ini, dan<br />

bagaiman kondisinya<br />

Tahun 2005 jumlah PDAM sebanyak 335.<br />

Seiring dengan pemekaran wilayah yang terjadi<br />

dimana-mana, jumlah PDAM me ningkat<br />

menjadi 394 sampai tahun 2010 ini. Dari<br />

jumlah tersebut sebanyak 104 PDAM sehat.<br />

Sisanya masih banyak PDAM yang kurang<br />

sehat dan sakit.<br />

Bagaimana bisa ada yang tidak sehat<br />

Kebijakan PDAM itu sangat ditentukan oleh<br />

politiknya kepala daerah. Pemerintah pusat<br />

tidak bisa mengintervensi PDAM. Banyak<br />

PD AM yang tidak sehat karena belum menggunakan<br />

tarif full cost recovery, tarif yang<br />

digunakan masih dibawah biaya produksi.<br />

Karena jika tarif naik maka masyarakat<br />

akan protes. Sehingga PDAM terus merugi.<br />

Disamping itu, kelembagaan PDAM juga<br />

masih lemah sehingga kurang profesional.<br />

Upaya yang dilakukan pemerintah seperti<br />

apa<br />

Pemerintah pusat hanya sebatas Fasilitator.<br />

“Masa lalu PDAM yang buruk akibat tidak bisa bayar utang<br />

dan harus restrukturisasi tidak boleh terulang lagi. “<br />

Tamin M. Zakaria Amin<br />

Fasilitasi dalam penyusunan business plan<br />

untuk pinjaman perbankan, penyedian<br />

air baku un tuk kebutuhan PDAM maupun<br />

failitasi bantuan kelembagaan supaya lebih<br />

profesional.<br />

Kenaikan tarif sebenarnya bukan solusi<br />

satu-satunya. Intinya adalah efisiensi dari<br />

PDAM. Asal tahu saja PDAM yang efektif itu<br />

pegawainya 3,5/1000 pelanggan. Saat ini<br />

PDAM rata-rata masih 9/1000 pelanggan<br />

bahkan ada yang diatas 10/1000 pelanggan.<br />

Selain itu penggunaan listrik juga bisa dihemat.<br />

Contoh yang bisa menekan biaya<br />

listrik adalah PDAM Surabaya.<br />

Seberapa penting investasi bagi PDAM<br />

Tanpa invesatasi PDAM tidak bisa berkembang.<br />

Memang tujuan PDAM bukan profit<br />

tapi PDAM harus dapat laba. Satu untuk<br />

menggantikan aset yang usang seperti pipa,<br />

untuk pengembangan dan untuk bantuan<br />

luar biasa ke daerah lain seperti bencana<br />

gempa bumi. Sesuai dengan Permendagri<br />

No 23 Tahun 2006, PDAM adalah pelayanan<br />

public, profitnya di batasi oleh return of<br />

asset yang tidak lebih dari 10%. Kalau tidak,<br />

pelayanan PDAM makin menurun. Kalau<br />

pipa pecah misalnya tidak bisa langsung<br />

diperbaiki.<br />

Terakhir, bagaimana gambaran air minum<br />

di Indonesia menurut Bapak<br />

Saat ini cakupan air minum nasional baru<br />

mencapai 25,49%. Hal tersebut masih rendah<br />

untuk mencapai target MDGs yaitu sebesar<br />

66%. Selain itu, berdasarkan data 34 dari 1000<br />

kelahiran bayi meninggal akibat buruknya<br />

air minum, di negara maju sekitara 10/ 1000<br />

kelahiran. Untuk mencapai target MDGs kita<br />

mengarah ke 22/1000 kelahiran.<br />

Infrastruktur air minum pada intinya<br />

ada lah pemakaian secara bersama. Air minum<br />

harus diberikan seadilnya. Di Jakarta<br />

misalnya, masyarakat tanjung priuk sana<br />

masih membeli air Rp 8000/gallon sementara<br />

warga Pondok indah hanya membayar sekitar<br />

Rp 3000/ m3. Melalui perpres ini, PDAM<br />

sebagai ujung tombak pelayanan air minum<br />

saya harap dapat memberikan pelayanan<br />

seluas-luasnya kepada masyarakat dengan<br />

terus difasilitasi oleh pemerintah pusat.<br />

(dvt)<br />

IPA Pramuka PDAM Banjarmasin17<br />

8 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


LIPUTANKHUSUS<br />

Liputan Khusus<br />

Gebyar Pamsimas Kabupaten Kuningan<br />

Langkah Awal<br />

Promosi Kesehatan<br />

A<br />

Air minum dan sanitasi merupakan<br />

sektor pelayanan publik yang berkaitan erat<br />

dengan usaha pengentasan kemiskinan.<br />

Tidak memadainya prasarana dan sarana air<br />

minum dan sanitasi, khususnya di perdesaan<br />

dan daerah pinggiran kota, mempengaruhi<br />

kondisi kesehatan dan lingkungan masyarakat<br />

yang selanjutnya akan berdampak terhadap<br />

tingkat perekonomian keluarga. Penyediaan<br />

prasarana dan sarana air minum dan sanitasi<br />

yang berkualitas akan berdampak pada<br />

pening katan kualitas lingkungan dan kesehatan<br />

masyarakat, yang tentunya berpe<br />

ngaruh pada peningkatan produktivitas<br />

masyarakat.<br />

Berangkat dari keinginan itu, Program<br />

Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis<br />

Masyarakat (PAMSIMAS) digagas dengan<br />

tujuan utama meningkatkan akses pelayanan<br />

air minum dan sanitasi bagi masyarakat<br />

S. Bellafolijani*), Dessi Irdina**) dan Widya Anantya***)<br />

miskin perdesaan dan daerah pinggiran kota.<br />

PAMSIMAS juga membiasakan masyarakat<br />

untuk menerapkan praktek hidup bersih<br />

dan sehat dengan membangun model<br />

penyediaan prasarana dan sarana air minum<br />

dan sanitasi berbasis masyarakat yang<br />

berkelanjutan dan mampu diadaptasi oleh<br />

masyarakat sendiri. Melalui realisasi pelaksanaan<br />

program PAMSIMAS, diharapkan kebutuhan<br />

masyarakat akan air minum dan<br />

sanitasi yang layak dapat terpenuhi sehingga<br />

akhirnya mampu meningkatkan kesehatan<br />

dan tingkat sosial ekonomi mereka.<br />

Menjadi salah satu lokasi PAMSIMAS,<br />

Kabupaten Kuningan Jawa Barat mengadakan<br />

Gebyar PAMSIMAS pada akhir 27 – 28 Maret<br />

2010 lalu. Acara yang diprakarsai oleh<br />

Praktek CTPS oleh anak SD di Gebyar Pamsimas<br />

Kabupaten Kuningan<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/Juni 2010 9


Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM)<br />

15 desa penerima PAMSIMAS 2009 ini<br />

merupakan wujud apresiasi warga yang<br />

telah menyelesaikan pembangunan sarana<br />

penyediaan air minum dan sanitasi.<br />

Jerih payah masyarakat terbayar dengan<br />

dirasakanya manfaat PAMSIMAS. Air minum<br />

sekarang sudah mudah didapatkan, derajat<br />

kesehatan masyarakat pun meningkat dengan<br />

di terap kannya Perilaku Hidup Bersih<br />

dan Sehat (PHBS). Mereka tidak lagi Buang<br />

Air Besar (BAB) sembarangan, dan mulai<br />

menerapkan praktek cuci tangan pakai sabun<br />

di rumah dan sekolah.<br />

Dalam laporannya, Kadis Tata Ruang dan<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kabupaten Kuningan Lili Suherli<br />

menyampaikan bahwa Kabupaten Kuningan<br />

telah memulai PAMSIMAS di sembilan desa<br />

pada tahun 2008 yang kemudian di 15 desa<br />

pada tahun 2009. Lili menuturkan, PAMSIMAS<br />

telah berhasil menyentuh berbagai aspek,<br />

seperti sektor kesehatan, pendidikan, pember<br />

dayaan masyarakat, ekonomi, dan pembangunan.<br />

Dari pelaksanaan PAMSIMAS 2009, sebanyak<br />

5.332 KK atau 44.584 jiwa telah mendapatkan<br />

pelayanan air minum. Selain itu,<br />

sarana sanitasi seperti jamban dan tempat<br />

cuci tangan telah dibangun di sekolahsekolah<br />

yang terdapat di desa-desa sasaran<br />

PAMSIMAS.<br />

Usai membuka acara Gebyar PAMSIMAS,<br />

Bupati Kuningan Aang Hamid Suganda<br />

men jelaskan bahwa Gebyar PAMSIMAS merupakan<br />

langkah awal promosi kesehatan<br />

di sekolah dan masyarakat. Kegiatan ini juga<br />

dapat digunakan sebagai ajang pelatihan<br />

kader untuk ikut mempromosikan kesehatan<br />

dan mendorong budaya PHBS di masyarakat.<br />

“Diharapkan momentum ini menjadi awal<br />

penerapan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat<br />

(STBM) dan tentunya dapat dijadikan contoh<br />

bagi desa lain,” lanjut Aang.<br />

Acara Gebyar PAMSIMAS diramaikan<br />

dengan gebyar Cuci Tangai Pakai Sabun<br />

(CTPS), Deklarasi open defecation free (ODF),<br />

dialog dengan Muspida Kabupaten Kuningan<br />

dengan Lembaga Keswadayaan Masyarakat<br />

(LKM) sebagai wakil masyarakat, dan<br />

penghancuran jamban cemplung sebagai<br />

tanda dimulainya pembangunan saranan<br />

sanitasi yang sehat melalui PAMSIMAS.<br />

Seluruh aksi kreatif ini menggambarkan<br />

keberhasilan pelaksanaan PAMSIMAS serta<br />

komitmen masyarakat untuk membudayakan<br />

lima pilar STBM yang menjadi pendukung<br />

program PAMSIMAS. Kelima pilar STBM<br />

Pembacaan ikrar lima pilar STBM oleh siswa SD<br />

tersebut yaitu, stop BAB sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan<br />

makanan, serta pengelolaan sampah dan limbah cair rumah tangga. Dalam acara itu juga<br />

diadakan berbabagai perlombaan seperti membaca puisi PHBS, pidato PHBS, cerdas cermat<br />

sehat, menggambar poster PHBS, kebersihan dan keindahan tenda, lomba kreasi seni, lomba<br />

opera PHBS dan jelajah alam.<br />

Ulasan berikut menggambarkan keber hasilan Program PAMSIMAS di Kabupaten Kuningan,<br />

Jawa Barat:<br />

Program PAMSIMAS 2008<br />

Program PAMSIMAS di Kabupaten Kuningan periode tahun 2008 – 2009 telah dilaksanakan<br />

di 24 desa pada 18 kecamatan. Desa Program PAMSIMAS Tahun 2008 Kabupaten Kuningan<br />

sejumlah 9 desa yang tersebar di tujuh kecamatan. Semua desa telah menyelesaikan semua<br />

kegiatan Program PAMSIMAS. Gam bar an pelaksanaan Program PAMSIMAS di desa tahun 2008<br />

dapat dilihat pada tabel-tabel berikut:<br />

No<br />

1<br />

2<br />

3<br />

4<br />

5<br />

6<br />

7<br />

8<br />

9<br />

Kecamatan<br />

Sindang Agung<br />

Garawangi<br />

Garawangi<br />

Karangkencana<br />

Karangkencana<br />

Kramatmulya<br />

Nusaherang<br />

Ciwaru<br />

Salajambe<br />

Tabel 1. Hasil Pelaksanaan Program PAMSIMAS<br />

Kabupaten Kuningan Tahun 2008<br />

Desa<br />

Kabupaten Kuningan<br />

Taraju<br />

Pakembangan<br />

Gewok<br />

Tanjungkerta<br />

Simpayjaya<br />

Cilowa<br />

Kertayuga<br />

Sumberjaya<br />

Bagawat<br />

Jumlah Penduduk<br />

(Jiwa) (KK)<br />

4,184<br />

2,275<br />

3,096<br />

2,913<br />

1,468<br />

3,026<br />

1,509<br />

2,770<br />

1,509<br />

22,750<br />

1,101<br />

595<br />

878<br />

972<br />

468<br />

725<br />

283<br />

703<br />

485<br />

6,210<br />

Akses Awal<br />

Air Minum Sanitasi<br />

50%<br />

48%<br />

44%<br />

42%<br />

45%<br />

42%<br />

53%<br />

40%<br />

45%<br />

Akses Akhir<br />

Air Minum Sanitasi<br />

70%<br />

84%<br />

69%<br />

94%<br />

96%<br />

92%<br />

93%<br />

77%<br />

87%<br />

Dari tabel-tabel di atas dapat dilihat bahwa pelaksanaan Program PAMSIMAS Kabupaten<br />

Kuningan tahun 2008 di sembilan desa telah meningkatkan akses air minum dari 45% menjadi<br />

85% dan akses sanitasi dari 33% menjadi 69%.<br />

Semua sarana air minum telah berfungsi dan dikelola oleh Badan Pengelola Sarana<br />

Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (BP-SPAMS) yang dibentuk di setiap desa. Hasil pemicuan<br />

CLTS telah menambah akses jam ban di seluruh desa. Saat ini 3 desa yang telah mencapai status<br />

ODF, yaitu Desa Bagawat, Sumberjaya dan Gewok. Melalui kegiatan pemicuan CLTS, diharapkan<br />

jumlah jamban di masyarakat akan terus bertambah dan diharapkan seluruh desa dapat<br />

45%<br />

29%<br />

13%<br />

18%<br />

26%<br />

29%<br />

55%<br />

44%<br />

28%<br />

56%<br />

33%<br />

85%<br />

70%<br />

60%<br />

100%<br />

55%<br />

60%<br />

65%<br />

61%<br />

100%<br />

100%<br />

75%<br />

10 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


LIPUTANKHUSUS<br />

Foto Atas : Bupati Kuningan membuka<br />

gebyar pamsimas<br />

Foto Bawah : Dialog Bupati dan masyarakat<br />

mencapai status ODF. Untuk mendukung<br />

kegiatan PHBS di sekolah, di desa tahun 2008<br />

telah dibangun 16 unit jamban sekolah dan<br />

36 unit tempat cuci tangan.<br />

Program PAMSIMAS 2009<br />

Gambaran pelaksanaan Program PAMSIMAS<br />

di desa tahun 2009 dapat dilihat pada tabeltabel<br />

berikut.<br />

No<br />

1<br />

2<br />

3<br />

4<br />

5<br />

6<br />

7<br />

8<br />

9<br />

10<br />

11<br />

12<br />

13<br />

14<br />

15<br />

Kecamatan<br />

Darma<br />

Darma<br />

Darma<br />

Hantara<br />

Maleber<br />

Maleber<br />

Pasawahan<br />

Mandirancan<br />

Pancalang<br />

Ciawigebang<br />

Ciawigebang<br />

Cidahu<br />

Kadugede<br />

Ciwaru<br />

Cipicung<br />

Kabupaten Kuningan<br />

Tabel 2. Hasil Pelaksanaan Program PAMSIMAS<br />

Kabupaten Kuningan Tahun 2009<br />

Desa<br />

Cikupa<br />

Cipasung<br />

Kawahmanuk<br />

Hantara<br />

Padamulya<br />

Cikahuripan<br />

Padamatang<br />

Randobawailir<br />

Tarikolot<br />

Cihaur<br />

Cigarukgak<br />

Cikeusik<br />

Cisukadana<br />

Ciwaru<br />

Salareuma<br />

Jumlah Penduduk<br />

(Jiwa) (KK)<br />

2,218<br />

3,587<br />

1,575<br />

1,924<br />

3,158<br />

3,895<br />

1,121<br />

3,713<br />

1,395<br />

4,254<br />

4,021<br />

2,814<br />

979<br />

7,139<br />

2,353<br />

44,146<br />

421<br />

797<br />

315<br />

504<br />

533<br />

1,142<br />

326<br />

1,039<br />

381<br />

1,137<br />

998<br />

598<br />

231<br />

1,666<br />

502<br />

10,590<br />

Akses Awal<br />

Air Minum Sanitasi<br />

23%<br />

52%<br />

18%<br />

53%<br />

45%<br />

48%<br />

50%<br />

26%<br />

35%<br />

51%<br />

55%<br />

48%<br />

11%<br />

50%<br />

22%<br />

39%<br />

30%<br />

67%<br />

83%<br />

68%<br />

56%<br />

68%<br />

32%<br />

21%<br />

21%<br />

53%<br />

54%<br />

70%<br />

32%<br />

75%<br />

47%<br />

52%<br />

Akses Akhir<br />

Air Minum Sanitasi<br />

90%<br />

81%<br />

90%<br />

100%<br />

71%<br />

100%<br />

100%<br />

79%<br />

100%<br />

80%<br />

100%<br />

100%<br />

100%<br />

90%<br />

99%<br />

92%<br />

100%<br />

100%<br />

100%<br />

75%<br />

60%<br />

70%<br />

41%<br />

100%<br />

25%<br />

100%<br />

100%<br />

71%<br />

53%<br />

100%<br />

100%<br />

Dari tabel-tabel di atas dapat dilihat bahwa pelaksanaan Program PAMSIMAS Kabupaten<br />

Kuningan tahun 2009 telah menyelesaikan seluruh kegiatannya. Pemba ngunan sarana air<br />

80%<br />

minum di 15 desa telah meningkatkan akses<br />

air minum dari 39% menjadi 92%. Sedangkan<br />

akses sanitasi meningkat dari 52% menjadi<br />

80%. Ada 8 desa telah mencapai ODF, yaitu<br />

desa Cikupa, Cipasung, Kawahmanuk,<br />

Radobawailir, Ciha ur, Cigarukgak, Ciwaru<br />

dan Salareuma. Badan Pengelola Sarana<br />

Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (BP-<br />

SPAMS) telah di bentuk di semua desa. Melalui<br />

kegiatan pemicuan CLTS, diharapkan jumlah<br />

jamban di masyarakat akan terus bertambah<br />

dan diharapkan seluruh desa dapat mencapai<br />

status ODF. Untuk mendukung kegiatan PHBS<br />

di sekolah, di desa tahun 2009 telah dibangun<br />

34 unit jamban sekolah dan 180 unit tempat<br />

cuci tangan.<br />

PROGRAM PAMSIMAS 2010<br />

Kabupaten Kuningan sedang mempersiapkan<br />

pelaksanaan Program PAMSIMAS<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/Juni 2010 11


LIPUTANKHUSUS<br />

Tahun 2010. Desa-desa tahun 2010 telah ditetapkan melalui SK Bupati Kuningan No. 690/719/<br />

BAPPEDA tanggal 22 Maret 2010. Berikut daftar desa Program PAMSIMAS dan Desa Replikasi<br />

Kabupaten Kuningan tahun 2010.<br />

No<br />

1<br />

2<br />

3<br />

4<br />

5<br />

6<br />

7<br />

8<br />

9<br />

10<br />

11<br />

12<br />

13<br />

14<br />

15<br />

Kecamatan<br />

Padabeunghar<br />

Sumbakeling<br />

Babakan Jati<br />

Tundagan<br />

Bakon<br />

Gunung Sirah<br />

Paninggaran<br />

Situ Sari<br />

Kutawaringin<br />

Subang<br />

Karangkancana<br />

Gunung Sari<br />

Babakan Mulya<br />

Pinara<br />

Rambatan<br />

Tabel 4. Daftar Desa Program Pamsimas & Replikasi<br />

Kabupaten Kuningan Tahun 2010<br />

Desa<br />

Pasawahan<br />

Pancalang<br />

Cigandamekar<br />

Hantara<br />

Darma<br />

Darma<br />

Darma<br />

Darma<br />

Selajambe<br />

Subang<br />

Karangkancana<br />

Cimahi<br />

Cigugur<br />

Ciniru<br />

Ciniru<br />

Keterangan<br />

Desa Replikasi<br />

Desa Replikasi<br />

Desa Replikasi<br />

Pemerintah Kabupaten Kuningan telah me ngalokasikan anggaran untuk Program Pam simas<br />

Penyediaan prasarana<br />

dan sarana air minum dan<br />

sani tasi yang berkualitas<br />

akan berdampak pada<br />

pening katan kualitas<br />

lingkungan dan kesehatan<br />

masyarakat,<br />

yang tentunya ber pengaruh<br />

pada peningkatan<br />

produktivitas masyarakat.<br />

dalam APBD tahun 2010 sebesar Rp. 1,25<br />

milyar dengan rincian sebagai berikut :<br />

1. Dana pendamping APBN untuk 12 desa<br />

sebesar Rp. 330.000.000,-<br />

2. Dana desa replikasi untuk 3 desa sebesar<br />

Rp. 660.000.000,-, dan<br />

3. Biaya operasional sebesar Rp.<br />

260.000.000,-<br />

*) Ketua CPMU Pamsimas<br />

**) & ***) PMC Pamsimas Provinsi Jawa Barat dan<br />

Banten<br />

Suasana semarak Gebyar Pamsimas di Kabupaten Kuningan<br />

12 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


INFOBARU 1<br />

Info Baru 1<br />

Keteledoran Engineer<br />

Membawa Bencana<br />

Zulmadi*)<br />

Salah satu bangunan yang terkena musibah gempa bumi di Padang<br />

Kasus pemberian dana talangan (bailout)<br />

terhadap Bank Century memang membuat<br />

banyak orang terhenyak dengan nilai kerugi<br />

an negara yang tak sedikit. Namun kejahatan<br />

“Engineer” atau kita bisa haluskan<br />

dengan istilah keteledoran Engineer, juga<br />

perlu mendapat sorotan bersama karena<br />

dampaknya bisa berkali lipat dibanding kasus<br />

Bank Century.<br />

Kerugian akibat kerusakan bangunan<br />

yang begitu besar telah berulang terjadi di<br />

Indonesia, dari yang paling segar diingat<br />

seperti gempa dan tsunami Aceh, Nias, Tasikmalaya,<br />

Manokwari, dan Padang, Suma tera<br />

Barat. Semua itu terang-terangan “menelan”<br />

uang rakyat, mungkin sudah lebih dari<br />

puluhan triliun. Tentu tidak banyak orang<br />

sadar berapa tiliun kerugian yang diakibatkan.<br />

Apa ini akan dilupakan<br />

Demikian ungkapan dari dua pakar<br />

konstruksi Indonesia ketika bicara di seminar<br />

nasional sehari yang diadakan oleh Universitas<br />

Negeri Padang (UNP) bekerjasama dengan<br />

JICA di Gedung Serba Guna Fakultas Teknik<br />

pada Maret 2010 lalu, serta pada kursus<br />

singkat yang dilakukan oleh HAKI (Himpunan<br />

Ahli Konstruksi Indonesia) Provinsi Sumatera<br />

Barat di INA Muaro, akhir Maret 2010 lalu.<br />

Sudah berapa banyak korban jiwa<br />

dan harta yang sudah ditelan saat terjadi<br />

bencana-bencana besar tersebut. Semuanya<br />

menurut para ahli itu diduga “ada” akibat<br />

keteledoran para Engineer dalam melakukan<br />

aktivitas profesinya. Baik sebagai perencana,<br />

pelaksana, maupun sebagai pengawas di<br />

bangunan-bangunan dan rumah-rumah<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/Juni 2010 13


yang runtuh dan pada akhirnya memakan korban jiwa pengunjung, pemilik, dan penyewa. Di<br />

Sumatera Barat saja misalnya pada gempa 2007 dan 2009 yang lalu, kerusakan atas konstruksi<br />

dapat dilihat pada tabel berikut ini:<br />

No<br />

Kota/Kabupaten<br />

Kerusakan Unit Rumah Akibat Gempa September 2007<br />

6 Maret 2007 12, 13 September 2009<br />

Kerusakan Unit Rumah<br />

Akibat gempa<br />

30 September 2009<br />

A<br />

Kota<br />

RB<br />

RS<br />

RR<br />

RB<br />

RS<br />

RR<br />

RB<br />

RS<br />

RR<br />

1<br />

2<br />

3<br />

4<br />

5<br />

6<br />

Padang<br />

Pariaman<br />

Bukittinggi<br />

Padang Panjang<br />

Solok<br />

Payakumbuh<br />

23<br />

4<br />

10<br />

707<br />

307<br />

76<br />

40<br />

4<br />

39<br />

1.519<br />

-<br />

-<br />

47<br />

15<br />

0<br />

1.843<br />

-<br />

99<br />

1898<br />

54<br />

0<br />

0<br />

-<br />

0<br />

1646<br />

50<br />

0<br />

0<br />

-<br />

5<br />

2892<br />

84<br />

0<br />

0<br />

-<br />

28<br />

37.587<br />

8.619<br />

-<br />

17<br />

-<br />

-<br />

38.485<br />

1.633<br />

-<br />

164<br />

-<br />

-<br />

40.406<br />

13.376<br />

50<br />

413<br />

-<br />

-<br />

B<br />

Kabupaten<br />

1<br />

2<br />

3<br />

4<br />

5<br />

6<br />

7<br />

8<br />

9<br />

10<br />

Tanah Datar<br />

Pdg. Pariaman<br />

Agam<br />

Solok<br />

Pasaman<br />

Pasaman Barat<br />

Pesisir Selatan<br />

50 Kota<br />

Solok Selatan<br />

Kep. Mentawai<br />

4.586<br />

3.885<br />

2.679<br />

978<br />

0<br />

0<br />

0<br />

47<br />

0<br />

0<br />

5.191<br />

3.291<br />

1.894<br />

914<br />

0<br />

0<br />

0<br />

0<br />

0<br />

0<br />

6.870<br />

5.001<br />

1.656<br />

2.190<br />

0<br />

0<br />

0<br />

158<br />

0<br />

0<br />

0<br />

3.767<br />

3<br />

5<br />

0<br />

0<br />

3.590<br />

-<br />

-<br />

2.644<br />

0<br />

4.672<br />

8<br />

6<br />

0<br />

0<br />

4.891<br />

-<br />

44<br />

0<br />

0<br />

4.853<br />

59<br />

70<br />

0<br />

0<br />

5.594<br />

-<br />

-<br />

2.145<br />

29<br />

70.833<br />

12.634<br />

145<br />

171<br />

3240<br />

2.173<br />

-<br />

-<br />

-<br />

-<br />

12.630<br />

3.653<br />

243<br />

-<br />

3.046<br />

5.410<br />

-<br />

-<br />

-<br />

105<br />

4.442<br />

4.265<br />

357<br />

920<br />

2.862<br />

11.386<br />

-<br />

-<br />

-<br />

Total<br />

13.302<br />

12.892<br />

17.897<br />

11.961<br />

11.322<br />

15.725<br />

135.448<br />

65.264<br />

78.804<br />

Sumber : Data Kesbang Linmas 25 Oktober 2009; 26 September 2007; 13 Maret 2007<br />

Besar kerugian pada tiap gempa bisa dihitung sediri oleh para penulis. Anggaplah untuk<br />

kerusakan ringan mesti dibayar senilai 35% dari total biaya bangunan. Sedangkan untuk rusak<br />

sedang sebesar 45% dan untuk kerusakan berat lebih kurang sebesar 60% dari total nilai<br />

bangunan yang penyusutannya diperkirakan rata-rata 2,5% pertahun. Dengan luas rata-rata<br />

bangunan yang rusak anggap saja 36 m2, dan biaya bangunan per meternya Rp. 1.500.000,<br />

maka besar kerugian dapat penulis hitung sendiri.<br />

Keteledoran<br />

Engineer, dalam arti singkat adalah manusia yang memiliki keahlian tertentu di bidang<br />

perancangan dan perekayasaan, atas alat-alat tertentu, dengan menggunakan me to de-metode<br />

tertentu, serta peralatan ter tentu untuk membuat konstruksi tertentu. Apakah itu, Mesin,<br />

Tenaga Pembangkit, dan Penghancur, Bangunan Gedung, Bendungan, dan sebagainya.<br />

Dengan keahlian yang dimilikinya itu, para Engineer itu dalam menjalankan profesi<br />

keahliannya ada yang melibatkan dirinya, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hing ga ke<br />

pemanfaatan dan penghapusan atau penghancuran dari produk rekayasa yang diciptakannya<br />

itu. Namun karena aturan dan kebijakan pemerintah kita, saat ini para Engineer perencana tidak<br />

dapat ter libat dan melibatkan diri secara penuh dalam pelaksanaan maupun pengawasan.<br />

Perencana hanya dapat ikut serta sebatas monitoring dan pengawasan dan rapat-rapat berkala<br />

saja pada saat pelaksanaan konstruksi itu dimulai.<br />

Perencanaan<br />

Pada tahap perencanaan, para Engineer biasa nya lebih banyak melakukan kegiatan nya di atas<br />

meja atau di ruang kantor. Sesekali untuk mendapatkan data-data untuk diolah, mereka mesti<br />

turun ke lapangan, seperti dalam perencanaan konstruksi bangunan, mulai dari penentuan<br />

titik atau tapak bangunan hingga ke penentuan daya dukung lahan untuk memikul konstruksi<br />

bangunan yang akan didirikan.<br />

Keteledoran para engineer pada saat perencanaan ini, biasanya terjadi akibat kemalasan dan<br />

takut rugi alias ingin untung nya secara sepihak. Semua data yang mesti didapat dari lapangan<br />

cukup diambil dari referensi melalui media tertentu saja. Misalnya data sondir atau pengujian<br />

tanah dan daya dukung tanah, diambil dari dokumen – dokumen yang sudah ada dan sudah<br />

dibuat oleh si perencana sebelumnya. Begitu juga untuk ukuran-ukuran dimensi struktur, apa-<br />

kah itu kolom dan balok, adakalanya si<br />

engineer “serakah”. Mereka hanya cukup meli<br />

hat gambar-gambar perencanaan lama<br />

yang sudah direncanakan oleh engineer<br />

sebelumnya untuk lokasi bangunan yang<br />

berbeda. Misalnya untuk bangunan tiga atau<br />

empat lantai, para Engineer cukup mencari<br />

gambar-gambar bangunan tiga lantai dan<br />

empat lantai yang sudah ada, dan dia cukup<br />

melihat berapa dimensi untuk masing-masing<br />

strukturnya tadi. Itulah yang dijadikannya<br />

sebagai bahan untuk pelaksanaan struktur<br />

bangunan, yang kini telah banyak memakan<br />

korban jiwa dan harta itu.<br />

Pelaksanaan<br />

Pada saat pelaksanaan, dengan bertolak<br />

kepada kebijakan yang ada si perencana mulai<br />

“lepas” tangan. Menjelang pelaksanaan<br />

penentuan tapak bangunan. Pihak pelaksana<br />

sudah diikat dengan kontrak yang dimulai dari<br />

Surat Penunjukan Pemenang yang ada kalanya<br />

di ikuti dengan Surat Perintah Kerja, dimana<br />

se suai pula dengan ketentuan yang ada<br />

yang mesti dituruti dan diikuti, bahwa pihak<br />

pelaksana paling lambat seminggu sesudah<br />

turunnya surat perintah kerja harus memulai<br />

pekerjaan. Dan saat memulai pekerjaan itu,<br />

pihak perencana mungkin secara kebetulan<br />

juga sedang melakukan presentasi di tem-<br />

14 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


INFOBARU 1<br />

dilapangan besi 16 dan 19 pun masih ada<br />

yang polos.<br />

Keteledoran para engineer pada saat perencanaan ini,<br />

biasanya terjadi akibat kemalasan dan takut rugi alias<br />

ingin untung nya secara sepihak.<br />

pat yang lain, sehingga saat pendirian dan<br />

penentuan tapak bangunanpun tidak diikuti<br />

oleh pihak perencana tadi. Jika alasannya<br />

tepat, dan misalnya berdalih menghindari<br />

biaya transportasi dan biaya lainnya untuk<br />

mengikuti penempatan titik lokasi tadi,<br />

bagaimana Begitu juga halnya dalam menentukan<br />

ukuran-ukuran atau dimensi kolom<br />

dan pembesian lainnya yang diragukan<br />

oleh pihak pelaksana atas karya dari pihak<br />

perencana tadi. Na’udzubillahi min dzalik!<br />

Salah satu bangunan yang terkena musibah gempa bumi yang terjadi di Padang<br />

Pengawasan<br />

Keteledoran terjadi dimulai dari tak sebanding<br />

nya jumlah tenaga yang ada di pihak si<br />

pemberi jasa dengan produk-produk yang<br />

disediakan oleh pengguna jasa, dalam hal ini<br />

pengguna jasa konsultan pengawasan. Hal itu<br />

juga disebabkan oleh beberapa hal, antara lain<br />

mahalnya biaya pembuatan perlengkapan<br />

administrasi ketenagaan pengawasan yang<br />

mesti ditanggung oleh pemberi jasa konsultan<br />

pengawasan, maka hal itu menyebabkan<br />

kurang nya keberadaan tenaga pengawas<br />

di lapangan. Untuk satu bidang pekerjaan<br />

bangunan saja, pihak konsultan harus menurun<br />

kan tenaga-tenaga pengawasan dengan<br />

keahlian yang berbeda, misalnya ada ahli<br />

arsitektur, ahli struktur, ahli Mekanikal dan<br />

Elektrikal, dan ahli pertamanan serta ahli<br />

– ahli ukur lainnya. Dalam kenyataannya,<br />

mungkin karena keterbatasan dana dan juga<br />

keserakahan, maka ahli-ahli yang diturunkan<br />

oleh konsultan pengawaspun juga tidak<br />

sebagaimana yang diharapkan untuk suatu<br />

konstruksi bangunan.<br />

Kontroversi<br />

Kerusakan dan keruntuhan bangunan akibat<br />

bencana bukan disebabkan oleh para<br />

engineer saja, tapi juga tidak lepas dari tanggungjawab<br />

si produsen produk, seperti produsen<br />

yang bergerak untuk memproduksi<br />

besi beton. Ketentuan pemerintah jelas menegaskan<br />

pada tulangan-tulangan pokok<br />

di larang menggunakan besi polos, tapi mutlak<br />

besi ulir. Dalam kenyataannya, untuk<br />

bangunan-bangunan sederhana yang juga<br />

meng gunakan tulangan pokok dengan diameter<br />

tertentu kenapa masih diproduksi.<br />

Misalnya besi diameter 12 semestinya juga<br />

harus berulir, tapi dalam kenyataan yang ada<br />

Pembebanan<br />

Fakta di lapangan menjelaskan, kerusakan<br />

bangunan akibat bencana gempa juga<br />

disebabkan oleh pembebanan yang tidak<br />

seimbang pada tiap lantai. Artinya semakin<br />

tinggi lantai bangunan maka semestinya<br />

pembebanan pada lantai yang lebih atas<br />

mesti lebih ringan dari lantai yang dibawah.<br />

Tapi dalam kenyataannya pada lantai atas juga<br />

selalu diberikan fasilitas dan penggunaan dan<br />

pembebanan yang berlebihan. Seperti pada<br />

hotel-hotel mewah di kota-kota besar, pada<br />

lantai atas jumlah kamar juga jauh lebih besar<br />

dari pada lantai di bawahnya. Hal ini mungkin<br />

juga karena komersialisasi view, karena pada<br />

lantai yang lebih tinggi biasanya viewnya jauh<br />

menarik dari lantai yang di bawahnya.<br />

Pada lembaran yang sederhana dan terbatas<br />

ini, sebagaimana yang diuraian secara<br />

singkat di atas, maka ada beberapa hal<br />

yang perlu penulis tekankan. Sudah saatnya<br />

pihak-pihak terkait untuk memikirkan segera<br />

mungkin mendirikan Laboratorium Forensick<br />

Konstruksi Bangunan Runtuh akibat kelalaian<br />

para Engineer. Perlu juga dipikirkan untuk<br />

peninjauan kembali kebijakan pemerintah<br />

atas tanggungjawab profesi dalam menjalankan<br />

tugasnya, mulai dari perencana, pelaksana,<br />

dan pengawas.<br />

Keterpaduan lembaga dalam hal me rencakan<br />

dan produksi, contohnya dalam ketentuan<br />

Kementerian Pekerjaan Umum, untuk<br />

tulangan pokok tidak boleh menggunakan<br />

besi polos, tapi besi polos untuk diameter<br />

yang juga untuk tulangan pokok masih<br />

diproduksi. Sudah saatnya pihak-pihak terkait<br />

untuk mempermudah proses pengeluaran<br />

sertifikat-sertifikat keahlian, tanpa memberatkan<br />

pihak tenaga-tenaga ahli, dan<br />

pe rusahaan. Hal itu juga perlu diikuti<br />

oleh pa ra engineer untuk mengatur tugas<br />

harian dan membuatkan laporan aktifitas<br />

harian dalam penyelenggaraan tugas profesinya<br />

untuk meng hadapi proses-proses<br />

pe ngadilan. Sudah saatnya juga lembagalembaga<br />

teknis non pemerintahan dan<br />

ben tukan pemerintahan untuk ikut aktif<br />

dalam pemantauan, terakhir, untuk para<br />

Engineer, sadarlah bahwa membangun adalah<br />

menjamin keselamatan. Semoga HAKI<br />

(Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia), dapat<br />

menjaga nama baik, seluruh anak bangsa.<br />

*) Kepala Sekretariat Masyarakat Peduli Peru mah an<br />

dan Pemukiman (MP3I) Sumatera Barat<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/Juni 2010 15


Info Baru 2<br />

Badan Keswadayaan Masyarakat<br />

(BKM) Gerbang Permata Pakis:<br />

Lingkungan Hijau<br />

Melalui Pengelolaan<br />

Sampah<br />

Gerbang masuk menuju BKM Gerbang Permata Pakis<br />

16 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


INFOBARU 2<br />

Memasuki wilayah Kelurahan Pakis<br />

di Kecamatan Sawahan, Surabaya, kesan<br />

pertama yang didapat adalah hijau dan sejuk.<br />

Seperti menapaki sebuah kebun tanaman<br />

hias. Di hampir setiap bagian depan rumah<br />

terdapat berbagai tanaman, baik tanaman<br />

hias maupun tanaman obat. Tanaman yang<br />

tumbuh subur di pot-pot itu, tertata sangat<br />

rapi dan bersih.<br />

Hal lain yang menonjol dari kawasan ini<br />

adalah, tidak mudah bagi kita untuk melihat<br />

secuil sampah pun yang mengganggu pemandangan.<br />

Hampir di berbagai sudut terlihat<br />

tempat sampah dengan warna-warna<br />

cerah yang diimbuhi teks petunjuk untuk<br />

memisahkan sampah organik dan nonorganik.<br />

Padahal beberapa tahun sebelumnya<br />

wilayah ini sangat kotor, tidak indah, dan tidak<br />

terawat.<br />

Perjuangan berat dari para anggota<br />

BKM Gerbang Permata Pakis yang dibentuk<br />

untuk menjalankan program P2KP tidaklah<br />

sia-sia. Berbagai hasil telah dicapai, bahkan<br />

kelurahan ini berhasil menjuarai berbagai<br />

perlombaan lingkungan. BKM yang didirikan<br />

pada 10 September tahun 2003 ini dan beranggotakan<br />

13 orang, kini telah memiliki<br />

beberapa divisi yang berkembang pesat dan<br />

mulai memberi manfaat nyata kepada warga<br />

di kelurahan ini.<br />

Jumlah penduduk Kelurahan Pakis<br />

sebanyak 39 ribu jiwa dengan mata pencarian<br />

utama masyarakatnya menjadi pertukangan,<br />

peda gang, menjadi pegawai, dll. Kelurahan<br />

ini memiliki luas 246 Ha dan memiliki 93 RT<br />

dan 10 RW.<br />

perlombaan tersebut, sebanyak 83 KK yang<br />

menghuni Gang Kembang Kuning Kulon<br />

III, RW IV/ RT 6, pada tahun 2005 berhasil<br />

menduduki posisi ke-10. Kemudian pada<br />

tahun 2006 berhasil memperbaiki prestasinya<br />

dengan menduduki posisi ke-8.<br />

Komunitas Merdeka Sampah<br />

Setiap anggota BKM Pakis berusaha memberikan<br />

informasi sebanyak-banyak nya tentang<br />

manfaat dan pengertian neigbourhood<br />

development kepada ma sya rakat. Tujuannya<br />

agar anggota dan masyarakat secara bersama<br />

dapat menciptakan lingkungan yang tertata<br />

asri guna meningkatkan kesejahteraan komunitas.<br />

Sejak tahun 2004, program pengelolaan<br />

sampah mandiri berbasis komunitas telah<br />

melahirkan relawan-relawan warga yang<br />

berkomitmen membangun lingkungan sehat.<br />

Berkat kerja keras, pada tahun 2006, kawasan<br />

ini berhasil memperoleh posisi ke tiga dalam<br />

kategori Komunitas Merdeka Sampah.<br />

Kegiatan membersihkan lingkungan<br />

itu sen diri sebetulnya hanya dianggap sebagai<br />

batu loncatan semata. Menurut mere-<br />

Foto Atas : Salah satu sudut Kelurahan Pakis Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya yang tampak asri<br />

Foto Bawah : Pembibitan Adenium<br />

Pembudidayaan Tanaman Hias Secara<br />

Swadaya<br />

Tujuan awal BKM Gerbang Permata Pakis<br />

adalah mencari solusi untuk mengelola lingkungan<br />

agar hijau dan sehat. Kemudian diputuskan<br />

untuk melangkah dengan melakukan<br />

budidaya tanaman hias secara swadaya.<br />

Tanaman yang dibudidayakan antara lain:<br />

adenium, lumeria, paprika, jahe merah, serai,<br />

mahkota dewa, kumis kucing, daun dewa,<br />

dan pecut kuda.<br />

Kegiatan bersih-bersih dan menghijaukan<br />

lingkungan menjadi acara yang sangat menarik<br />

dan menyenangkan bagi warga setelah<br />

mereka sendiri melihat dan merasakan hasilnya.<br />

Ditambah lagi dengan adanya lom ba<br />

‘lingkungan yang hijau dan bersih (green<br />

and clean)’ yang diadakan setiap tahun<br />

oleh Pemerintah Daerah dalam rangka Hari<br />

Ulang Tahun Kota Surabaya. Hasilnya, pada<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/Juni 2010 17


INFOBARU 2<br />

No.<br />

1<br />

2<br />

3<br />

4<br />

Program Kemitraan dengan Dinas di Lingkungan Pemerintah Kota Surabaya<br />

Dinas<br />

Dinas Pekerjaan Umum dan Permukiman<br />

Pemerintah Kota Surabaya melalui dana APBD<br />

Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP)<br />

Program Kemitraan dengan Lembaga Swasta<br />

Lembaga<br />

Yayasan Uli Peduli (Unilever Indonesia)<br />

World Vision (Wahana Visi Indonesia)<br />

Penghargaan yang Diterima<br />

Penghargaan<br />

BKM Award tingkat Nasional 2005 dalam rangka Hari Habitat Dunia<br />

Program<br />

Bantuan Pembangunan Perumahan Swadaya berupa<br />

dana bergulir untuk pembangunan/rehabilitasi<br />

perumahan swadaya bagi warga yang kurang<br />

mampu.<br />

Saat ini sudah berkembang menjadi 48 peminjam<br />

dengan total asset sebesar Rp 75.403.295,-<br />

• Pembangunan Puskesmas Baru di wilayah RW VI<br />

termasuk fasilitas rawat inap (24 jam);<br />

• Pavingisasi jalan kampong;<br />

• Rehabilitasi TK & SD Pakis Jaya (RW III) menjadi<br />

bangunan dua lantai;<br />

• Pembuatan jogging track;<br />

• Perencanaan penghijauan dan pembuatan hutan<br />

kota di jalur hijau Dukuh Kupang Timur I RW IX<br />

Kelurahan Pakis;<br />

• Bantuan berupa komposter aerob skala rumah<br />

tangga. Warga menyebutnya keranjang sakti<br />

takakura. Fungsinya sangat efektif dalam mengurai<br />

sampah basah serta sampah kering. Sampah<br />

basah diurai menjadi kompos, sampah kering<br />

didaur ulang;<br />

• Saat ini sedang dikembangkan komposter aerob<br />

skala komunal untuk ditempatkan di setiap RT/<br />

RW wilayah Kelurahan Pakis;<br />

Program<br />

Mengadakan pelatihan pengelolaan sampah setiap<br />

dua minggu sekali dengan tema ’paradigma hidup<br />

sehat dan perilaku ramah lingkungan’;<br />

Demi menjadikan lingkungan bersih sebagai bagian<br />

dari gaya hidup sehat masyarakat, maka pengelolaan<br />

sampah dan lingkungan dipertandingkan antar<br />

kelurahan.<br />

Kelurahan Pakis termasuk diantara 12 kelurahan<br />

terbaik;<br />

Pengadaan 115 gerobak sampah. Kerjasama ini<br />

dilakukan sejak tahun 2005;<br />

Juara I pengelolaan sampah konvensional (pengelolaan sampah melalui<br />

pemilahan secara manual oleh warga) tingkat Kota Surabaya<br />

Proposal terbaik pengelolaan sampah mandiri (dengan bantuan BKM) yang<br />

mendapatkan penghargaan dari Energi Globe (melalui Yayasan Uli Peduli<br />

Unilever), untuk wilayah RW III<br />

RW VI sebagai Juara 3 pengelolaan sampah mandiri (pengelolaan sampah<br />

dengan sentuhan teknologi melalui pemanfaatan media Takakura dan KRT)<br />

tingkat kota Surabaya.<br />

Tahun<br />

2005<br />

2005<br />

2005, 2006<br />

2006, 2006<br />

ka, setelah lingkungan bersih dan sehat,<br />

akan lebih mudah untuk mencapai tujuan<br />

utamanya yaitu bagaimana meningkatkan<br />

aktivitas di semua aspek kehidupan yang lain,<br />

seperti aspek ekonomi dan aspek kesehatan.<br />

Kemitraan BKM<br />

BKM Gerbang Permata Pakis sejak tahun 2004<br />

telah membuka diri untuk melakukan kerja<br />

sama dengan berbagai pihak. Diantaranya<br />

melalui program Musrenbang, yaitu Prog ram<br />

Penanggulangan Kemiskinan Milik Ma s ya rakat<br />

(PJM PRONANGKIS) yang telah disinkronkan<br />

dengan Pemerintah Kelurahan. Selain itu,<br />

ker jasama antara BKM dengan Kelompok Peduli<br />

yang dilakukan melalui Jaring Aspirasi<br />

Masyarakat (Jaring Asmara).<br />

Keranjang takakura digunakan un tuk me<br />

nampung sampah olahan tiga pe nam pungan.<br />

Keranjang ini diproduksi oleh Pusat Pemberdayaan<br />

Masyarakat Kota (PPM) Uni versitas<br />

Surabaya dan dijual dengan harga Rp. 75.000<br />

per buah. Untuk seluruh Kelurahan Pakis telah<br />

didistribusikan sebanyak 800 keranjang<br />

untuk 800 KK. Seluruh warga telah dilatih<br />

untuk memanfaatkannya;<br />

Karena keberhasilan BKM Gerbang Permata<br />

Pakis, banyak BKM dan instansi dari<br />

pelosok Indonesia kemudian tertarik untuk<br />

mempelajari hal-hal apa saja yang sudah berhasil<br />

diraih oleh BKM ini. Mereka adalah dari<br />

BKM-BKM dari Jawa Timur, Sumatera Selatan<br />

dan Kalimantan Selatan, serta Bap peko, Bappeprop,<br />

dan Bappenas.<br />

Para anggota BKM Gerbang Permata<br />

Pakis juga sering diminta untuk menjadi narasumber<br />

dalam berbagai sosialisasi dan<br />

lo kakarya pengelolaan sampah mandiri berbasis<br />

komunitas.<br />

BKM Gerbang Permata Pakis terus menyusun<br />

dan mengajukan proposal ker ja sa -<br />

ma demi keberlanjutan program penge lolaan<br />

lingkungan kepada berbagai LSM dan<br />

perusahaan swasta, baik asing maupun nasional.<br />

Langkah ini dilakukan demi memantapkan<br />

gerakan penanggulangan kemiskinan<br />

dengan memanfaatkan Social Responsibility<br />

(tanggung jawab sosial) perusahaan-pe r-<br />

usahaan. Antara lain proposal Program Stra<br />

tegis Pengembangan Ekonomi berbasis<br />

Ke masyarakatan (Prospek) yang ditujukan<br />

un tuk meraih investasi Citizen Base Initiative<br />

(CBI) dari Asoka Foundation dan penguatan<br />

kelompok perempuan dari Golden Fund for<br />

Women yang bermarkas di San Fransisco<br />

USA.<br />

Tim Sosialisasi PNPM Mandiri Perkotaan<br />

18 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


Inovasi 1<br />

Procurement Unit Kota Surabaya<br />

Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) masih<br />

mem butuhkan agenda reformasi yang seri<br />

us. Karena itu dibutuhkan sebuah Unit<br />

Layanan Pengadaan (ULP) sebagai indikator<br />

pencapaian reformasi serta publikasi berkala<br />

sebagai wujud transparansi kepada rekanan<br />

yang berkinerja baik. Inilah yang sedang<br />

diupayakan Urban Sector Development Reform<br />

Project (USDRP) Direktorat Jenderal<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kementerian Pekerjaan Umum<br />

kepada para pesertanya. Upaya ini pernah<br />

berjalan baik di Filipina. USDRP sedang<br />

meng hidupkan kembali ruh reformasi pengadaan<br />

barang dan jasa dari negeri itu ke<br />

Indonesia.<br />

Inisiatif pembentukan ULP sudah dimulai<br />

INOVASI 1<br />

Unit Layanan Pengadaan (ULP)<br />

Barang dan Jasa Kota Surabaya<br />

Hidupkan Ruh Reformasi PBJ<br />

di Indonesia<br />

M. Reva Sastrodiningrat *)<br />

di beberapa Pemerintah kabupaten/kota peserta<br />

USDRP, seperti Kota Palangkaraya, Kota<br />

Cimahi, Kabupaten Sidenreng Rappang, Kota<br />

Palopo, Kabupaten Barru dan Kota Banda<br />

Aceh. Sedangkan publikasi untuk rekanan<br />

yang mempunyai kinerja baik salah satunya<br />

telah dilakukan oleh Pemda yang bukan<br />

peserta USDRP, yaitu Kota Blitar.<br />

Sebagian besar Pemda berinisiatif membentuk<br />

ULP dengan dasar pertimbangan<br />

untuk mengantisipasi berlakunya aturan di<br />

Keppres 80/2003 dan perubahannya, bahwa<br />

seluruh panitia pengadaan harus mempunyai<br />

sertifikasi pengadaan nasional. Saat ini, secara<br />

rata-rata baru sekitar 20% dari staf Pemda<br />

yang mempunyai sertifikat tersebut.<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/Juni 2010 19


Pedoman pembentukan ULP barang/jasa<br />

mengacu pada Keppres 80/2003 dan perubahannya,<br />

Perpres 8/2006 dan Per aturan<br />

Kepala LKPP No. 002/PRT/KA/VII/2009 mengenai<br />

Pedoman Pembentukan ULP Barang/<br />

jasa Pemerintah. Selain itu, berdasarkan Draft<br />

Perpres Pengadaan Barang dan Jasa yang<br />

me rupakan Revisi dari Keppres 80/2003, selambat-lambatnya<br />

akhir tahun 2014, Pemda<br />

diharapkan telah membentuk ULP.<br />

Melalui agenda reformasi USDRP di<br />

bidang pengadaan barang dan jasa, diharapkan<br />

pemda kota/kabupaten peserta<br />

USDRP yang belum membentuk ULP agar<br />

dapat meningkatkan pemahaman mengenai<br />

mekanisme ULP serta kelebihan dari pembentukan<br />

unit tersebut. Sedangkan bagi<br />

Pem da yang telah membentuk ULP, akan<br />

lebih fokus dalam meningkatkan kualitas<br />

pelayanan agar pelaksanaan ULP dapat<br />

lebih profesional, kelembagaan ULP dapat<br />

lebih independen, dan terdapatnya peluang<br />

pengembangan karir yang diimbangi dengan<br />

sistem kompensasi yang memadai bagi<br />

panitia pengadaan. Selain itu terkait dengan<br />

mekanisme publikasi kepada rekanan yang<br />

mempunyai kinerja baik, terutama dalam<br />

pe laksanaan paket kegiatan di Pemda, diharapkan<br />

dapat direalisasikan oleh Pemda<br />

Kota/Kabupaten peserta USDRP yang mencakup<br />

penetapan kriteria, aturan main, sosialisasi,<br />

yang tentunya akan berdampak<br />

terhadap peningkatan profesionalisasi penga<br />

daan barang dan jasa (PBJ).<br />

Berbagi Pengalaman dengan Filipina<br />

Pemerintah Philipina memiliki 43.500 unit<br />

pelayanan pengadaan yang ha rus diorganisir<br />

di bawah undang-undang reformasi pe ngadaan<br />

barang dan jasa yang dikeluarkan tahun<br />

2003. Undang-undang re formasi barang<br />

dan jasa ini menyatukan kurang lebih 150<br />

peraturan atau undang-undang pengadaan<br />

barang dan jasa yang sudah dikeluarkan, baik<br />

oleh lembaga-lem baga di tingkat pemerin tah<br />

pusat/pemerintah daerah, BUMN maupun<br />

BUMD dan lembaga-lambaga lainnya yang<br />

ada di Philipina.<br />

Pada awal berdirinya Unit PBJ terpusat<br />

yang berada di bawah Departemen Anggaran<br />

dan Manajemen, unit ini memiliki<br />

fungsi untuk memberikan penyediaan suplai<br />

peralatan kantor yang digunakan secara<br />

ru tin setiap harinya (seperti kertas, folder,<br />

ballpoint, pensil sampai dengan komputer)<br />

oleh lembaga negara/departemen/pemda.<br />

Setiap lembaga negara/departemen/pemda<br />

membeli 350 jenis peralatan kantor melalui<br />

unit tersebut.<br />

Unit ini tidak mendapatkan subsidi dari<br />

pe me rintah, tetapi diperbolehkan me narik<br />

service fee dari lembaga negara/ departemen/<br />

pemda yang menggunakan jasa unit tersebut<br />

maksimal 5 %, yang digunakan untuk biaya<br />

operasional seperti membayar gaji dan biayabiaya<br />

sewa yang diperlukan. Hal tersebut<br />

membuat unit ini terbebas dari desakan<br />

ataupun tekanan politik yang biasanya mengintervensi<br />

transaksi-transaksi PBJ.<br />

Permasalahan yang dihadapi pada saat<br />

itu adalah ; 1) keengganan melakukan<br />

perubahan, 2) keengganan supplier untuk ikut<br />

PBJ melalui unit ini dikarenakan pengalaman<br />

buruk masa lalu, 3) merubah pola pikir, 4)<br />

keengganan kehilangan kewenangan dalam<br />

PBJ dan 4) membuat standar kualitas barang<br />

yang dapat diterima semua pihak.<br />

Tantangan<br />

Tantangan utama pada awal terbentuknya<br />

unit ini diantaranya: pertama, masih kurangnya<br />

pengalaman dalam melaksanakan PBJ<br />

secara terpusat, hal tersebut dikarenakan unit<br />

ini belum terlalu lama terbentuk sehingga<br />

masih butuh beberapa penyesuaian dalam<br />

pelaksanaannya. Kedua, belum adanya mandat<br />

bagi unit ini untuk menginstitusikan<br />

pe ngadaan secara terpusat. Ketiga, bagaimana<br />

meyakinkan para supplier untuk berpartisipasi<br />

dalam kegiatan PBJ yang diadakan<br />

unit ini. Ini disebabkan adanya pengalaman<br />

buruk terkait dengan unit sejenis di masa<br />

lalu. Keempat, kurangnya kesadaran lembaga<br />

negara/departemen/pemda terkait dengan<br />

adanya unit ini. Kelima, tantangan yang terbesar<br />

adalah, banyak peraturan yang dikeluarkan<br />

lembaga negara/departemen/pemda<br />

yang masih menginginkan proses PBJ tetap<br />

dibawah kendali mereka<br />

Strategi Hadapi Tantangan<br />

Strategi yang dilakukan untuk menghadapi<br />

tantangan tersebut, diantaranya melakukan<br />

20 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


INOVASI 1<br />

serangkaian proyek percontohan PBJ terpusat<br />

untuk 4 lembaga pemerintahan (Depar<br />

temen Anggaran dan Manajemen, COA,<br />

Departemen Keuangan dan Universitas<br />

Phi li pina) pada tahun 1976 untuk menda<br />

patkan umpan balik dari pelaksanaan<br />

PBJ terpusat dan mendapatkan dukungan<br />

untuk dapat menginstitusikan PBJ terpusat.<br />

Strategi ini mendapat respon dari presiden<br />

dengan dikeluarkannya aturan LOI 775 pada<br />

tahun 1978, yang diantaranya berisikan<br />

; 1) membentuk Procurement Council<br />

sebagai badan yang menyusun kebijakan<br />

untuk PBJ pemerintah, 2) membentuk<br />

Inter-Agency Bids and Award (IABAC) yang<br />

memiliki tugas melakukan PBJ terpusat untuk<br />

peralatan-peralatan kantor yang sehari-hari<br />

dipergunakan oleh pemerintah,<br />

dan 3) mem bentuk Unit PBJ yang bertugas<br />

mengimplementasikan kebijakan PBJ terpusat<br />

dan melaksanakan kontrak pemenang<br />

yang dihasilkan oleh IABAC.<br />

Strategi kedua dijawab dengan menun juk<br />

orang-orang yang berpengaruh dari anggota<br />

kabinet (Pimpinan Komisi Audit, Menteri<br />

Anggaran, Menteri Keuangan dan Pimpinan<br />

Universitas Philipina) untuk menempati<br />

posi si kunci dalam unit ini. Strategi ketiga,<br />

yaitu membuat standar terhadap kualitas<br />

barang yang akan diadakan melalui unit ini<br />

sehingga dapat diterima oleh semua pihak.<br />

Strategi kempat yaitu dengan melaksanakan<br />

PBJ khusus dengan tetap mengacu pada<br />

peraturan-peraturan dasar PBJ, seperti ; 1)<br />

hanya melakukan pengadaan dalam volume<br />

besar, 2) melakukan pengadaan langsung<br />

dari pabrik (tidak boleh melalui perataraan)<br />

untuk mendapatkan harga yang terbaik<br />

dan 3) melakukan pembayaran secara tepat<br />

waktu (tidak lebih dari 4 hari setelah barang<br />

diterima), dengan mempersingkat proses<br />

persetujuan pembayaran.<br />

Reformasi PBJ di Filipina<br />

Undang-Undang reformasi PBJ yang baru<br />

tahun 2003, mengatur pembentukan Government<br />

Procurement Policy Board yang berfungsi<br />

melakukan pengawasan terhadap kantor/<br />

unit pemerintahan agar mereka mematuhi<br />

UU reformasi PBJ tersebut. UU ini juga membatalkan<br />

pembentukan Procurement Council<br />

yang dihasilkan melalui UU LOI 755 tahun<br />

1978 dan Procurement Policy Board yang<br />

dihasilkan melalui UU E.O. 359 tahun 1989,<br />

serta mengukuhkan mempertegas bentuk<br />

dan fungsi IABAC dan Unit PBJ terpusat.<br />

Di bawah UU yg baru, unit PBJ ini diakui<br />

sebagai satu-satunya unit yang mengadakan<br />

PBJ bagi lembaga negara/departemen/<br />

pem da yang tidak memiliki panitia PBJ<br />

ataupun tenaga-tenaga yang berkompetensi<br />

dibidang PBJ. Sebagai contoh ; unit ini<br />

pernah melakukan pengadaan persenjataan<br />

dan amunisi untuk Departemen Pertahan,<br />

pengadaan obat-obatan untuk Departemen<br />

Kesehatan dan buku-buku untuk Departemen<br />

Pendidikan.<br />

UU reformasi PBJ di Filipina juga<br />

mengharuskan adanya pengamat dari sektor<br />

swasta yang berasal dari organisiasi<br />

non pemerintahan, organisasi profesi dan<br />

organiasi masyarakat sipil, yang memiliki<br />

tugas mengamati setiap kegiatan panitia<br />

dalam melaksanakan pengadaan. Kegiatan<br />

PBJ di Filipina pada dasarnya sangat terdesentralisasi,<br />

di mana setiap lembaga ditingkat<br />

pemerintah pusat/daerah mem punyai<br />

panitia PBJ yang terdiri dari 5-7 orang<br />

Foto Kiri : Unit Layanan Pengadaan (ULP) Barang & Jasa Kota Surabaya<br />

Foto Kanan : Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, Budi Yuwono memberikan sambutan dalam acara Lokakarya Peningkatan Pelayanan Pengadaan Barang dan Jasa di Surabaya<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/Juni 2010 21


INOVASI 1<br />

Direktur Eksekutif Procurement Service Filipina, Estanislao C. Granados Jr., membagi pengalaman kepada<br />

peserta Lokakarya Peningkatan Pelayanan Pengadaan Barang dan Jasa di Surabaya<br />

yang mewakili institusi anggaran, hukum,<br />

pelayanan umum dan teknis yang ada<br />

disetiap tingkatan wilayah.<br />

Pada setiap lembaga pemerintahan sebenar<br />

nya hanya diperbolehkan memiliki 1<br />

unit panitia PBJ, kecuali jika pada lembaga<br />

tesebut terdapat kegiatan yang kompleks<br />

dan memerlukan begitu banyak kegiatan<br />

PBJ, maka diperbolehkan untuk membentuk<br />

lebih dari 1 Panitia PBJ, dan setiap kegiatan<br />

PBJ dilaksanakan dengan prinsip-prinsip<br />

trans paransi, kompetisi, simpilfikasi cara/<br />

pro sedur yang menggunakan teknologi modern,<br />

akuntabilitas publik dan monitoring<br />

pengawasan publik.<br />

Setiap kegiatan PBJ dari tingkat pusat<br />

sampai daerah harus dipublikasi secara<br />

detail melalui sistem pengadaan berbasis<br />

internet. Demikian juga para suppliers/kontraktor<br />

yang akan melakukan kegiatan transaksi<br />

dengan pemerintah harus terdaftar<br />

di dalam sistem tersebut. Salah satu keuntungan<br />

menggunakan sistem tersebut<br />

ada lah terwujudnya prinsip transparansi,<br />

di mana setiap supplier/kontraktor yang terdaftar<br />

secara otomatis akan mendapatkan<br />

informasi mengenai kegiatan PBJ yang akan<br />

dilaksanakan baik oleh pemerintah pusat<br />

mau pun daerah dengan tepat waktu. Begitu<br />

juga dengan pengumuman pemenang le lang<br />

yang dipublikasikan secara terbuka melalui<br />

sistem ini, sehingga seluruh peserta lelang<br />

dapat mengetahui hasilnya. Dengan cara<br />

ini maka tidak saja dapat terhindar dari over<br />

pricing, tetapi juga mampu meningkatnya<br />

daya saing yang merupakan perwujudan dari<br />

prinsip kompetisi, serta mendapatkan biaya/<br />

harga dan kondisi terbaik, walaupun hasil<br />

yang dikeluarkan oleh panitia pengadaan<br />

hanya berupa rekomendasi, keputusan akhir<br />

tetap ditangan kepala eksekutif pemerintahan<br />

terkait.<br />

Permasalahan ULP di Filipina<br />

Kesuksesan ULP di Filipina bukan tanpa masa<br />

lah. Sebut saja, ketersediaan tenaga ahli<br />

pengadaaan. Sama seperti di Indonesia,<br />

Philipina juga menerapkan sertifikasi untuk<br />

tenaga ahli PBJ, saat ini sedang di lakukan<br />

pelatihan untuk mencetak tenaga<br />

ahli pengadaan yang dapat memahami<br />

per aturan-peraturan terbaru PBJ, karena sesuai<br />

dengan target pemerintah pada setiap<br />

3 tahun dapat dihasilkan 1 juta tenaga ahli<br />

PBJ. Target ini berkaitan dengan peraturan<br />

yang mengatur bahwa kepanitian PBJ hanya<br />

bertugas selama 1 tahun, setelah itu akan<br />

diganti dengan kepanitiaan yang baru.<br />

Dalam hal ini pemerintah juga melibatkan<br />

perguruan tinggi dan asosiasi professional<br />

untuk mensosialisasikan peraturan-peraturan<br />

terbaru PBJ.<br />

ULP di Surabaya<br />

Berbagi pengalaman dengan pemerintah<br />

kota Manila, bahwa di Indonesia sebenarnya<br />

sudah mulai menerapkan sistem ULP secara<br />

terpusat, walaupun mungkin masih terdapat<br />

hal-hal yang belum tentu dapat diaplikasikan<br />

di Indonesia. Di satu sisi bahkan ada beberapa<br />

hal yang sudah lebih maju dibandingkan<br />

Filipina. Contohnya Kota Surabaya yang sudah<br />

menerapkan fungsi ULP dan menjadi<br />

salah satu contoh terbaik terutama di bidang<br />

E-Procurement. Salah satu tugasnya adalah<br />

mengawasi serta melaksanaan kegiatan pengadaan<br />

barang dan jasa, menyampaikan<br />

hasil evaluasi dan usulan calon pemenang<br />

dari satuan tugas pengadaan melalui koordinator<br />

utama kepada pejabat pembuat<br />

komitmen yang memiliki pekerjaan, serta<br />

melaporkan hasil pelaksanaan tugas secara<br />

periodik setiap bulan dan atau sewaktu –<br />

waktu bilamana diperlukan kepada Walikota<br />

Surabaya.<br />

Manfaat diterapkannya ULP di Surabaya<br />

sudah dirasakan, contohnya membuat proses<br />

Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah<br />

men ja di lebih terpadu, efektif dan efesien,<br />

meningkatkan efektifitas tugas dan fungsi<br />

SKPD dalam menjalankan tugas pokok dan<br />

fungsi, menjamin persamaan kesempatan,<br />

ak ses dan hak bagi Penyedia Barang/Jasa agar<br />

tercipta persaingan usaha yang sehat, serta<br />

menjamin proses Pengadaan Barang/Jasa<br />

Pemerintah yang dilakukan oleh Aparatur<br />

yang Profesional.<br />

Selain itu Surabaya juga diuntungkan<br />

de ngan keunggulan dari ULP itu sendiri yaitu;<br />

Standarisasi harga untuk Barang/Jasa<br />

da lam penyusunan HPS/OE dan Dokumen<br />

Lelang, efesiensi dan efektifitas Pengadaan<br />

Barang/Jasa menjadi lebih terintegritasi,<br />

me minimalisir potensi terjadinya penyakit<br />

Peng adaan Barang/Jasa, berkurangnya jumlah<br />

proyek fisik yang tidak terselesaikan di<br />

akhir Tahun Anggaran, Controlling Pengadaan<br />

Barang/Jasa tersentralisasi, transparansi<br />

proses Pengadaan Barang/Jasa, Efesiensi<br />

Ang gar an Pengadaan Barang/Jasa, tahun<br />

2008 mencapai 23.68% (Rp. 80 Miliar dari<br />

Budget Rp. 340 Miliar), dan pada tahun 2009<br />

mencapai 29.97% (Rp. 384 Miliar dari Budget<br />

Rp. 1.2 Triliun).<br />

Pemerintah Kota Surabaya sangat mendukung<br />

keberadaan ULP sebagai unit pengadaan<br />

yang terpusat, hal ini juga dapat dilihat<br />

dengan dianggarkannya biaya operasional<br />

un tuk ULP sekitar kurang lebih Rp 2 miliar per<br />

tahun. Pada akhirnya memang pembentuk an<br />

ULP ini kembali lagi kepada komitmen pe merintah<br />

daerah kota/kabupaten, karena tan pa<br />

dukungan dan keinginan untuk me re for masi<br />

bidang pengadaan barang dan jasa maka hal<br />

tersebut hanya sebagai wacana diskusi yang<br />

tidak terlaksana.<br />

*) Asisten CPMU Urban Sector Develpoment Reform<br />

Project (USDRP)<br />

22 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


INOVASI 2<br />

Inovasi 2<br />

Reformasi Birokrasi<br />

Is in the House<br />

Masyarakat sudah banyak mendengar<br />

Reformasi Birokrasi. Namun apakah istilah itu<br />

dipahami sesuai dengan yang seharusnya<br />

Mungkin birokrasi bisa direformasi Birokrasi<br />

memegang peranan penting dalam perumus<br />

an, pelaksanaan, dan pengawasan berbagai<br />

kebijakan. Dengan posisi yang strategis<br />

seperti itu, sebenarnya adalah logis bahwa<br />

reformasi pasti akan dapat dilakukan dan<br />

dinikmati hasilnya. Pesimis Tidak sedikit<br />

yang berpikir seperti itu. Namun sugesti dan<br />

persepsi positif pasti akan menjadi amunisi<br />

yang mampu mengubahnya menjadi hasil<br />

yang diinginkan.<br />

Reformasi Birokrasi sejatinya diarahkan<br />

pada upaya-upaya mencegah dan memperc<br />

e p a t pemberantasan korupsi secara<br />

b e r - kelanjutan, dalam menciptakan<br />

tata pe me -<br />

rintahan yang baik<br />

dan berwibawa<br />

Eka Yulia Widyanti *), Siti Aliyah Junaedi **)<br />

(good governance), pemerintah yang bersih<br />

(clean government), dan bebas KKN. Dengan<br />

de mikian diyakini bahwa reformasi birokrasi<br />

adalah langkah strategis untuk membangun<br />

aparatur negara agar lebih berdaya guna<br />

dan berhasil guna dalam mengemban tugas<br />

umum pemerintahan dan pembangunan<br />

nasional.<br />

Hal ini ditunjang dengan visi reformasi<br />

birokrasi yaitu terciptanya tata kelola pemerintahan<br />

yang baik tahun 2025. Selain<br />

itu, dengan pesatnya ke ma juan ilmu pengetahuan<br />

dan teknologi infor masi dan<br />

ko munikasi, serta pe r u bahan lingkungan<br />

stra tegis menuntut birokrasi pe me rintahan<br />

untuk di reformasi dan disesuaikan dengan<br />

dinamika dan tuntutan masyarakat. Re formasi<br />

dilakukan secara ber tahap dan berkelanjutan<br />

dan bukan upaya yang radikal dan<br />

revolusioner.<br />

Manfaat<br />

Sejak dicanangkan pada tahun 2004, organisasi<br />

Ke men terian Pekerjaan Umum secara<br />

bertahap telah men coba melakukan<br />

perbaikan dalam memenuhi misi<br />

reformasi di bidang birokrasi<br />

yang mensyaratkan banyak<br />

hal. Diantaranya yang<br />

penting ada lah perubahan<br />

mind-set<br />

(sumber<br />

d a y a


manu sia) dan culture-set (ke tatalaksanaan),<br />

ser ta manajemen kelem ba gaan (organisasi).<br />

Perbaikan dalam kelem bagaan merupakan<br />

prasyarat mutlak yang diperlukan untuk<br />

men jamin berlangsungnya pengelolaan peme<br />

rintahan yang demokratis serta sistem<br />

ekonomi yang dapat menciptakan keadilan<br />

sosial bagi semua.<br />

Organisasi (Kelembagaan)<br />

Reformasi yang diharapkan dari bidang organisasi<br />

antara lain; pertama, organisasi<br />

ram ping struktur dan banyak/kaya fungsi,<br />

rasional, proporsional, efisien, dan efektif.<br />

Kedua, disusun berdasarkan visi, misi, dan<br />

strategi yang jelas (structure follows strategy).<br />

Ketiga, pembidangan sesuai beban dan sifat<br />

tugas dengan kontrol yang ideal. Keempat,<br />

banyak diisi jabatan-jabatan fungsional (menge<br />

depankan kompetensi dan profesio nalitas<br />

dalam pelaksanaan tugas). Dan ke li ma,<br />

menerapkan strategi organisasi pem belajaran<br />

(learning organization) yang cepat beradaptasi<br />

terhadap perubahan.<br />

Culture Set (Tata Laksana atau Mana jemen)<br />

Empat reformasi yang ingin disasar dari<br />

culture set adalah; pertama, ketatalaksanaan<br />

aparatur pemerintah yang disederhanakan,<br />

ditandai oleh mekanisme, sistem, prosedur,<br />

dan tata kerja yang tertib, efisien, dan efektif,<br />

pada proses perencanaan, pelaksanaan,pe -<br />

man tauan, evaluasi dan pengendalian, pe -<br />

ng elolaan sarana dan prasarana kerja, serta<br />

penerapan perkantoran elektronis. Ini<br />

di dukung oleh pemanfaatan teknologi informasi<br />

(e-government), apresiasi kearsipan yang<br />

transparan, akuntabel, hemat, disiplin, dan<br />

penerapan pada pola hidup sederhana.<br />

Sasaran kedua, efisiensi kerja aparatur<br />

dan peningkatan budaya kerja melalui terwujudnya<br />

sistem dan mekanisme kerja<br />

yang efe ktif dan efisien (dalam administrasi<br />

pemerintahan maupun pelayanan kepada<br />

masyarakat). Ketiga, sistem kearsipan yang<br />

andal (tepat guna, tepat sasaran, tepat waktu,<br />

efektif dan efisien). Dan sasaran keempat<br />

adalah otomatisasi administrasi perkantoran,<br />

dan sistem manajemen yang efisien dan<br />

efektif.<br />

Mind Set (Sumber Daya Manusia Aparatur) :<br />

Mau tahu apa saja reformasi bidang SDM<br />

Pertama, SDM yang ingin dibangun adalah<br />

PNS yang memahami dan menganut sistem<br />

manajemen kepegawaian modern, sejahtera,<br />

berdayaguna, berhasilguna, produktif, transparan,<br />

bersih dan bebas KKN. Kedua, jumlah<br />

dan komposisi pegawai yang ideal (sesuai<br />

dengan tugas, fungsi dan beban kerja yang<br />

ada di masing-masing instansi pemerintah).<br />

Ketiga, Penerapan sistem merit dalam ma najemen<br />

PNS, klasifikasi jabatan, standar kompetensi,<br />

sistem diklat yang mantap, standar<br />

kinerja, penyusunan pola karier PNS, pola karir<br />

terbuka, membangun sistem manajemen<br />

kepegawaian unified berbasis kinerja.<br />

Keempat, dukungan pengembangan<br />

da ta base kepegawaian guna menghasilkan<br />

sistem informasi manajemen kepegawaian<br />

yang menggambarkan jumlah pegawai<br />

yang re al di dasarkan oleh data detail dari<br />

tiap-tiap pegawai. Kelima, sistem remunerasi<br />

yang layak dan adil, menuju manajemen<br />

modern didukung oleh teknologi berbasis<br />

TI (Teknologi Informasi) yang handal seperti<br />

Sistem untuk Absensi pegawai, Sistem persuratan<br />

dan informasi yang mudah diperoleh<br />

dengan tersedianya Bank informasi secara<br />

on-line serta masih banyak lagi kecanggihan<br />

Teknologi Informasi yang bisa dimanfaatkan<br />

guna mendukung pekerjaan.<br />

Bayangkan apa saja yang akan dapat<br />

kita nikmati jika reformasi ini mulai terlihat<br />

hasilnya. Ada banyak langkah yang dapat<br />

dilakukan, utamanya dalam bidang kinerja<br />

organisasi (kelembagaan) yaitu melakukan<br />

penataan dalam sistem sebagai jembatan<br />

untuk merubah pola pikir, budaya, dan nilai<br />

nilai organisasi.<br />

Sistem yang ada sekarang atau yang akan<br />

dibangun tidak akan dapat berkembang dan<br />

24 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


INOVASI 2<br />

menunjukkan tugas, tanggung jawab,<br />

we wenang, dan hak seorang Pegawai<br />

Negeri Sipil dalam rangka memimpin<br />

sua tu satuan organisasi negara. Jabatan<br />

struktural bekerja dalam ranah manajerial<br />

yang mengatur dan mengelola tata laksana<br />

dan program organisasi. Jabatan ini<br />

tercantum dalam struktur organisasi.<br />

• Jabatan fungsional tertentu menurut PP<br />

No. 16 tahun 1994 adalah kedudukan<br />

yang menunjukkan tugas, tanggung jawab,<br />

wewenang dan hak seorang Pega -<br />

wai Negeri Sipil dalam suatu satuan<br />

or ga nisasi yang dalam pelaksanaan tugas<br />

nya didasarkan pada keahlian/dan<br />

atau keterampilan tertentu serta bersifat<br />

man diri, yang pada ha kekatnya tidak tercantum<br />

dalam struktur organisasi, na mun<br />

sangat diperlukan dalam tugas-tu gas pokok<br />

dalam organisasi Pemerintah. Saat ini<br />

sudah ada 101 Jabatan fungsional ter tentu<br />

di seluruh Indonesia<br />

• Jabatan fungsional umum adalah jabatan<br />

selain jabatan fungsional tertentu dan<br />

jabatan struktural.<br />

Foto Kiri : Sejak dicanangkan pada tahun 2004, or ganisasi Kementerian Pekerjaan Umum se cara<br />

bertahap telah mencoba melakukan perbaikan dalam memenuhi misi reformasi di bidang birokrasi yang<br />

mensyaratkan banyak hal<br />

Foto Kanan Atas : Rapat pembahasan reformasi birokrasi di lingkunagn <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Foto Kanan Bawah : Pegawai Kementerian Pekerjaan Umum Sedang mengikuti upacara<br />

berjalan dengan optimal jika tools yang ada<br />

tersebut tidak dapat digunakan secara optimal<br />

oleh penggunanya. Mestinya ada sebuah<br />

unit yang dikhususkan untuk mengelola dan<br />

mengembangan sistem berbasis Teknologi<br />

Informasi yang dapat digunakan oleh unit<br />

lain untuk mengelola data dan menghasil kan<br />

suatu informasi yang handal.<br />

Bagaimana Caranya <br />

Mengingat cakupan reformasi birokrasi sangat<br />

luas, maka diperlukan tahapan dan<br />

program prioritas yang disesuaikan dengan<br />

kondisi lembaga. Berikut adalah langkah awal<br />

yang sedang dilakukan :<br />

1. Melakukan Analisa Jabatan<br />

Analisisa jabatan adalah suatu proses<br />

dan metode untuk memperoleh informasi<br />

tentang suatu jabatan yang diperlukan dalam<br />

suatu unit organisasi, dan disiapkan untuk<br />

kepentingan program-program kepegawaian,<br />

kelembagaan, dan ketatalaksanaan. Sedang<br />

kan jabatan adalah suatu kedudukan<br />

atau pekerjaan yang melekat padanya tugas,<br />

we wenang, dan tanggung jawab yang diakui<br />

secara legal formal dalam suatu instansi/organisasi<br />

dalam upaya melaksanakan tugas<br />

dan fungsi organisasi.<br />

Dalam Undang-Undang Nomor 43/1999<br />

Tentang Pokok-pokok Kepegawaian disebutkan<br />

dua Jenis Jabatan yaitu Jabatan Struktural<br />

dan Jabatan Fungsional dimana Jabatan<br />

Fung sional terbagi dalam 2 jenis yaitu<br />

Ja bat an Fung sional Tertentu, dan Jabatan<br />

Fungsional Umum.<br />

• Jabatan struktural menurut PP No. 13<br />

tahun 2002 Jo No. 100 tahun 2000 tentang<br />

pengangktan PNS dalam Jabatan<br />

st ruk tural adalah suatu kedudukan yang<br />

Sebenarnya dalam melakukan analisisa<br />

jabatan, kita telah dipermudah dengan segala<br />

pekerjaan atau tugas yang kita lakukan<br />

sehari-hari. Atau bahasa kerennya kita melakukan<br />

suatu analisa organisasi, yaitu ki ta<br />

menjabarkan atau menggambarkan fung -<br />

si-fungsi yang ada di setiap unit kerja kita,<br />

berikut bahan-bahan yang digunakan, peralat<br />

an kerja, keadaan tempat kerja, dan halhal<br />

lain yang dapat mempengaruhi ke mampu<br />

an kerja.<br />

Sedangkan yang disebut dengan tugas/<br />

pekerjaan adalah kegiatan atau usaha yang<br />

dilakukan oleh pegawai dalam memproses<br />

bahan kerja menjadi hasil kerja dengan<br />

meng gunakan alat kerja dalam kondisi pelaksanaan<br />

tertentu dan dalam hubungan<br />

dengan pemegang jabatan lainnya.<br />

Di sini kita diminta untuk ”memberikan<br />

nama” pada setiap pekerjaan yang kita lakukan.<br />

Mulai dari hal yang detil dan teknis rutin<br />

hingga tugas konseptual. Kita bisa ambil<br />

contoh untuk jabatan Kepala Subbagian<br />

Pe ngembangan Pegawai dan Administrasi<br />

Jabatan Fungsional :<br />

Tugas pokok :<br />

1. Memfasilitasi proses administrasi pengusulan<br />

dan perizinan pendidikan formal/<br />

infomal dalam rangka peningkatan kompetensi<br />

pegawai.<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/Juni 2010 25


INOVASI 2<br />

1.1 Menerima surat – surat yang masuk<br />

ke Bagian Kepegawaian dan Ortala<br />

melalui Sekretaris <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

atas disposisi yang diberikan oleh<br />

Kepala Bagian Kepegawaian dan Ortala<br />

Staf (surat – surat tersebut sudah<br />

dibuka dan diberikan nomor agenda<br />

oleh Arsiparis ).<br />

1.2 Memeriksa dengan membaca isi su -<br />

rat, dan kemudian memilah-mi lah<br />

su rat tersebut sesuai dengan isi surat<br />

dan tujuannya, dan kemudian<br />

memarafnya dan memberikan perintah.<br />

1.3 Menyerahkan surat-surat ke staf untuk<br />

menjawab atau memproses surat<br />

masuk.<br />

Peranan:<br />

Pengontrolan proses administrasi.<br />

Indikator Prestasi:<br />

Administrasi surat – surat dapat<br />

diproses dengan cepat.<br />

Sehingga bisa kita katakan bahwa analisa<br />

jabatan bukanlah analisisa pribadi atau<br />

in dividu pemangku jabatan, melainkan ana -<br />

lisa atau penilaian terhadap suatu ja batan.<br />

Analisisa jabatan dapat dimulai dengan<br />

mem buat rincian detil untuk jabatan struktural<br />

eselon IV, yang kemudian menjadi rincian<br />

tugas bagi jabatan non struktural di<br />

bawahnya. Dalam proses ini, setiap pegawai<br />

menghimpun dan menganalisis jabatannya<br />

dengan cara melengkapi kuisioner analisisa<br />

MANAJEMEN PERUBAHAN<br />

PROSES SOSIALISASI DAN INTERNALISASI<br />

KONSEP REFORMASI BIROKRASI<br />

LATAR BELAKANG<br />

• Dasar Hukum<br />

• Kondisi Objektif<br />

ORGANISASI<br />

• Redefinisi visi,<br />

misi & strategi<br />

• Restrukturisasi<br />

• Analisa beban<br />

kerja<br />

• PENGUATAN UNIT<br />

ORGANISASI KEPEGAWAIAN<br />

• PENGUATAN UNIT KERJA<br />

KEDIKLATAN<br />

TATA LAKSANA<br />

• Business Process<br />

• Standard Operating<br />

Procedure (SOP)<br />

• PERATURAN<br />

PERUNDANG<br />

UNDANGAN<br />

jabatan dimana hasilnya kemudian digunakan<br />

sebagai bahan untuk melakukan eva lua si<br />

jabatan.<br />

2. Evaluasi jabatan<br />

Evaluasi Jabatan adalah penentuan nilai atau<br />

harga dari suatu jabatan dalam organisasi<br />

tertentu, yang hasilnya kemudian dapat dijadikan<br />

sebagai patokan untuk menyusun<br />

skala atau skema penggajian. Harus ditekankan<br />

disini bahwa evaluasi jabatan tidaklah<br />

bertujuan untuk mengukur atau menilai<br />

ha sil kerja seseorang, melainkan nilai jabatan<br />

nya siapapun pemegangnya. Namun kare<br />

na proses ini melibatkan pekerja dalam<br />

suatu jabatan tertentu, ia harus merasa bebas<br />

dari perasaan akan dinilai, sehingga didapatkan<br />

gambaran yang objektif tentang<br />

nilai pekerjaannya. Untuk dapat melakukan<br />

evaluasi jabatan, organisasi harus sudah<br />

mempunyai deskripsi dan spesifikasi jabatan<br />

yang diperoleh dari proses analisa jabatan.<br />

Tujuan utama dari proses ini adalah untuk<br />

me nentukan tingkat upah yang tepat dan adil<br />

diantara jabatan-jabatan yang ada. Karena itu<br />

dapat pula dikatakan bahwa evaluasi jabatan<br />

merupakan kelanjutan dari proses analisa<br />

jabatan/pekerjaan.<br />

3. Remunerasi<br />

Mungkin remunerasi menjadi salah satu kata<br />

yang diminati oleh pegawai negeri sipil ka re na<br />

ber kaitan dengan tunjangan yang diberikan.<br />

Wa laupun terbayang hal yang menyenang-<br />

• PENEGAKAN DISIPLIN<br />

• PENEGAKAN KODE ETIK<br />

SASARAN<br />

• Perubahan Pola Pikir<br />

• Perubahan Budaya Kerja<br />

• Perubahan Perilaku<br />

PROSES PENCAPAIAN SASARAN REFORMASI BIROKRASI<br />

Tahapan, program dan aktivitas yang harus dilakukan kementerian/lembaga<br />

PENILAIAN KINERJA<br />

ORGANISASI SAAT INI<br />

PROGRAM PERCEPATAN (QUICK WINS)<br />

ANALISA JABATAN<br />

Keluaran : Uraian Jabatan<br />

Evaluasi<br />

Jabatan<br />

Sistem<br />

Remunerasi<br />

S.D.M<br />

• Asesmen Kompetensi Individu<br />

• Sistem Penilaian Kerja<br />

• Pengadaan dan Seleksi<br />

• Pengembangan dan Pelatihan<br />

• Pola Promosi, Rotasi & Mutasi<br />

• Pola Karir<br />

• Database Pegawai<br />

(Permen PAN No : PER/15/M.PAN/7/2008)<br />

POSTUR<br />

BIROKRASI 2025<br />

• PERBAIKAN PENGADAAN<br />

SARANA DAN PRASARANA<br />

ARAHAN<br />

STRATEGI<br />

PENATAAN SISTEM<br />

PENJAMIN<br />

PELAKSANAAN SISTEM<br />

kan namun sesungguhnya remunerasi atau<br />

tun jangan kinerja mensyaratkan tingginya<br />

ki nerja secara kualitatif dan kuantitatif, efisien<br />

dan efektif. Dalam Permenpan No.15/2008<br />

digambarkan alur reformasi birokrasi, bahwa<br />

sistem remunerasi adalah salah satu dari komponen<br />

penataan sistem birokrasi yang sehat.<br />

Hingga saat ini sudah terdapat 3 lembaga<br />

negara yang telah mengaplikasikan sistem<br />

remunerasi yaitu Mahkamah Agung, Badan<br />

Pengawas Keuangan, dan Kementerian Keuangan.<br />

Menurut Undang-Undang No. 43 tahun<br />

1999 tentang pokok-pokok kepegawaian<br />

me ng amanatkan sistem penggajian yang<br />

berdasarkan merit sistem untuk memacu<br />

ki nerja pegawai. Di dalam pasal 7 ayat 1<br />

disebutkan bahwa setiap Pegawai Negeri Sipil<br />

berhak memperoleh gaji yang adil dan<br />

layak sesuai dengan beban pekerjaan dan<br />

tanggung jawabnya. Selanjutnya di dalam<br />

ayat (2) disebutkan bahwa gaji yang<br />

di terima oleh Pegawai Negeri Sipil ha rus<br />

mampu memacu produktivitas dan men jamin<br />

kesejahteraannya. Sehingga dapat di katakan<br />

bahwa visi penggajian PNS adalah mewujudkan<br />

sistem penggajian yang adil dan<br />

layak sesuai dengan beban pekerjaan dan<br />

tanggung jawabnya, serta mampu memacu<br />

pro duktifitas dan menjamin kesejahteraan<br />

PNS. Sistem penggajian atau remunerasi yang<br />

berlaku saat ini adalah gaji dengan sistem<br />

ga bungan yaitu gaji pokok yang ditetapkan<br />

berdasarkan pangkat dan masa kerja tanpa<br />

memperhatikan sifat pekerjaan dan tanggung<br />

jawab.<br />

Sebagai tindak lanjut arahan Kementerian<br />

Pendayagunaan Aparatur Negara melalui<br />

Bi ro Ke pegawaian dan Ortala Kementerian<br />

Pe kerjaan Umum, saat ini Direktorat Jenderal<br />

<strong>Cipta</strong> karya sedang melakukan penyusunan<br />

analisa jabatan. Hal ini penting agar uraian<br />

tugas pada jabatan non struktural di bawah<br />

eselon IV dapat terisi lengkap sehingga dapat<br />

memberikan informasi tentang jabatan yang<br />

ada karena dalam setiap unit eselon II memiliki<br />

karakteristik yang berbeda satu dengan<br />

lainnya. Sehingga sangat tepat jika proses penyusunan<br />

analisa jabatan ini turut meminta<br />

peran serta dari segenap Pegawai Negeri Sipil<br />

di lingkungan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Dan jika pegawai<br />

memiliki kesadaran dan kepahaman<br />

ten tang apa dan bagaimana jabatan yang<br />

di pang kunya, maka kita bisa katakan bahwa<br />

reformasi birokrasi is in the house!!<br />

*) Jabfung Analis Kepegawaian Ahli Pertama<br />

**) Jabfung Pranata Komputer Ahli Muda<br />

26 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


Pojok Hukum<br />

Permen PU No. 18 Tahun 2007<br />

Penyelenggaraan<br />

Pengembangan SPAM<br />

Prasetyo Budi Luhur *)<br />

Pemerintah daerah sebagai pemilik wewenang<br />

dalam pembangunan Sistem Penyediaan<br />

Air Minum (SPAM) wajib menyusun Kebijak<br />

an dan Strategi Pengembangan SPAM<br />

Daerah yang mengacu pada Kebijakan dan<br />

Stra tegi Nasional Pengembangan SPAM dan<br />

peraturan pemerintah yang berlaku. Kebijakan<br />

dan Strategi Pengembangan SPAM Daerah<br />

memuat antara lain rencana strategis<br />

dan program pengembangan SPAM. Dalam<br />

pe nyusunan rencana strategis dan program<br />

pengembangan SPAM, Pemerintah dan/atau<br />

Pemerintah Daerah harus mengikutsertakan<br />

penyelenggara SPAM dan para pemangku<br />

kepentingan dalam bentuk konsultasi publik.<br />

Air minum merupakan urusan wajib pemerintah<br />

daerah, sebagaimana ditegaskan<br />

da lam Pasal 7 PP 38 tahun 2007 tentang<br />

Pem ba gi an Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,<br />

Pemerintah Daerah Provinsi, dan<br />

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Dalam<br />

rangka menyelenggarakan pengembangan<br />

Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) seperti<br />

yang diamanatkan pada Pasal 40 UU<br />

no 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air,<br />

maka disusunlah PP 16 tahun 2005 tentang<br />

Pengembangan SPAM. Salah satu turunan<br />

dari PP 16 tahun 2005 yang menjabarkan<br />

amanat pasal 13, 30, 31, 34, 35, dan 36<br />

yaitu Peraturan Menteri Pekerjaan Umun<br />

(Permen PU) No. 18/PRT/M/ 2007 tentang<br />

Penyelenggaraan Pengembangan SPAM. Mak -<br />

sud dan tu juan pe nga turan da lam pe nyelenggaraan<br />

pe ngembangan SPAM adalah<br />

se ba gai pe doman bagi pemerintah, pemerin<br />

tah daerah, penyelenggara, dan para<br />

ahli dalam perencanaan, pelaksanaan, dan<br />

pengelolaan SPAM untuk: (i) mewujudkan<br />

pengelolaan dan pelayanan SPAM yang<br />

berkualitas dengan harga terjangkau; (ii)<br />

POJOKHUKUM<br />

mencapai kepentingan yang seimbang antara<br />

konsumen dan penyedia jasa layanan; (iii)<br />

mencapai peningkatan efisiensi dan cakupan<br />

pelayanan air minum; dan (iv) mendorong<br />

upaya penghematan pemakaian air.<br />

Secara definitif penyelenggaraan SPAM<br />

dengan ja ring an perpipaan adalah kegiat -<br />

an yang meliputi: (1) perencanaan, (2) pelak<br />

sanaan konstruksi, (3) pengelolaan, (4)<br />

pemeliharaan dan rehabilitasi, serta (5) pemantauan<br />

dan evaluasi sistem fisik (teknik)<br />

dan nonfisik penyediaan air minum yang<br />

melalui sistem jaringan perpipaan. Permen<br />

ini lebih mengatur SPAM dengan jaringan<br />

perpipaan, sedangkan untuk SPAM Bukan<br />

Jaringan Perpipaan (BJP) diatur tersendiri<br />

dalam Permen PU yang lain.<br />

Perencanaan<br />

Perencanaan pengembangan SPAM terdiri<br />

dari penyusunan: (i) Rencana Induk; (ii)<br />

Studi Kelayakan; (iii) Perencanaan Teknis<br />

Pe ngembangan SPAM. Ren cana Induk Pengem<br />

bangan (RIP – SPAM) adalah suatu<br />

ren cana jangka panjang (15-20 tahun) yang<br />

merupakan tahap awal dari perencanaan<br />

air minum jaringan perpipaan dan bukan<br />

jaringan perpipaan berdasarkan proyeksi<br />

kebutuhan air minum pada satu periode.<br />

Rencana Induk ini dibagi dalam beberapa<br />

tahapan dan memuat komponen utama<br />

sistem dan dimensi-dimensinya (pasal 5).<br />

Periode Perencanaan RIP – SPAM adalah<br />

15 – 20 tahun, dan harus dikaji ulang setiap<br />

5 tahun atau dapat diubah bila ada halhal<br />

khusus dengan memperhatikan pengembangan<br />

penataan ruang wilayah nasional,<br />

provinsi, dan/atau kabupaten atau kota<br />

(Pasal 8). Sebelum ditetapkan, RIP – SPAM<br />

wajib disosialisasikan oleh penyelenggara<br />

ber sama dengan pemerintah terkait melalui<br />

konsultasi publik. Konsultasi publik dimaksud<br />

harus dilakukan sekurang-kurangnya ti ga<br />

kali dalam kurung waktu 12 bulan dan harus<br />

dihadiri oleh masyarakat di wilayah layanan<br />

dan masyarakat di wilayah yang diperkira kan<br />

terkena dampak dengan mengundang to koh<br />

masyarakat, LSM, dan perguruan tinggi (Pasal<br />

10).<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/Juni 2010 27


POJOKHUKUM<br />

Studi kelayakan pengembangan SPAM<br />

dilakukan untuk mengetahui tingkat kelayakan<br />

usulan pembangunan SPAM di suatu<br />

wilayah pelayanan ditinjau dari aspek teknis<br />

teknologis, lingkungan, sosial, budaya, eko no -<br />

mi, kelembagaan, dan finansial (Pa sal 15). Studi<br />

kelayakan dapat berupa: (a) Studi Kelayakan<br />

Lengkap; (b) Studi Kelayakan Sederhana; (c)<br />

Justifikasi Teknis Dan Biaya. Studi Kelayakan<br />

Lengkap adalah kajian kelayakan terhadap<br />

suatu kegiatan pengembangan sebagian atau<br />

seluruh SPAM yang mempunyai pengaruh<br />

atau dipengaruhi oleh perkembangan finansial,<br />

ekonomi, teknis, dan lingkungan pada<br />

area kajian, serta perkiraan besaran cakupan<br />

layanan lebih besar dari 10.000 jiwa. Studi Kelayakan<br />

Sederhana adalah kaji an kelayakan<br />

terhadap suatu kegiatan pengembangan<br />

sebagian SPAM yang mem pu nyai pengaruh<br />

atau dipengaruhi oleh per kembangan finansial,<br />

ekonomi, teknis, dan lingkungan pada<br />

area kajian, serta perkiraan besaran cakupan<br />

layanan sampai dengan 10.000 jiwa. Justifikasi<br />

Teknis dan Biaya adalah kajian kelayakan<br />

teknis dan biaya terhadap suatu kegiatan<br />

peningkatan sebagian SPAM (Pasal 16).<br />

Perencanaan teknis terinci pengembang -<br />

an SPAM yang selanjutnya disebut perencanaan<br />

teknis, adalah suatu rencana rinci<br />

pem ba ngunan SPAM di suatu kota atau kawasan<br />

meliputi unit air baku, unit produk si,<br />

unit distribusi, dan unit pelayanan. Pe renca<br />

naan teknis pengembangan SPAM disusun<br />

berdasarkan: RIP – SPAM yang telah<br />

di te tapkan; hasil studi kelayakan; jadwal<br />

pe laksanaan konstruksi; kepastian sumber<br />

pembiayaan; serta hasil konsultasi teknis<br />

dengan dinas teknis terkait (Pasal 21).<br />

Penyelenggaraan pengembangan SPAM<br />

ha rus dilaksanakan secara terpadu dengan pengembangan<br />

prasarana dan sarana sani tasi,<br />

baik air limbah maupun persampahan, sejak<br />

dari penyiapan rencana induk sampai dengan<br />

operasi dan pemeliharaan sebagai salah satu<br />

upaya perlindungan dan pelestarian sumber<br />

air (Pasal 27). Keterpaduan pengembangan<br />

SPAM dilaksanakan sekurang-kurang nya<br />

pa da tahap pe rencanaan. Keterpaduan peng<br />

embangan dilaksanakan melalui; per tama,<br />

untuk daerah dengan kualitas air tanah<br />

dangkal yang baik serta tidak terdapat pe -<br />

layanan SPAM dengan jaringan perpipaan,<br />

maka pengelolaan sanitasi dilakukan dengan<br />

sistem sanitasi terpusat; kedua, untuk permukiman<br />

dengan kepadatan 300 orang/<br />

Ha atau lebih, di daerah dengan daya<br />

dukung lingkungan yang rendah meskipun<br />

Dalam pe nyusunan rencana strategis dan program<br />

pengembangan SPAM, Pemerintah atau Pemerintah<br />

Daerah harus mengikutsertakan penyelenggara<br />

SPAM dan para pemangku kepentingan dalam bentuk<br />

konsultasi publik.<br />

penyediaan air minum dilayani dengan sistem<br />

perpipaan, pengelolaan sanitasi menggunakan<br />

sis tem sanitasi terpusat.<br />

Pelaksanaan Konstruksi SPAM<br />

Pelaksanaan konstruksi SPAM dilakukan berdasarkan<br />

hasil perencanaan teknis yang telah<br />

ditetapkan (Pasal 28). Tahapan pelaksanaan<br />

konstruksi SPAM terdiri dari; persiapan pelak<br />

sanaan konstruksi; Pelaksanaan konstruksi,<br />

pengawasan dan uji material; Uji coba<br />

laboratorium dan uji coba lapangan (trial<br />

run); Uji coba sistem instalasi pengolahan air<br />

(Commissioning Test); Masa pemeliharaan;<br />

dan Serah terima pekerjaan.<br />

Kegiatan pelaksanaan konstruksi SPAM<br />

harus memperhatikan Rencana Mutu Kontrak/Kegiatan<br />

(RMK) dan (Rencana K3 Kontrak/Kegiatan<br />

(RK3K) yang telah disusun<br />

oleh penyelenggara atau penyedia jasa pelaksanaan<br />

konstruksi (Pasal 29). Kegiatan pelaksanaan<br />

konstruksi SPAM dilaksanakan oleh<br />

penyelenggara, dapat dilaksanakan sendiri<br />

atau melalui penyedia jasa pelaksanaan<br />

konstruksi (Pasal 30).<br />

Pengelolaan SPAM<br />

Pengelolaan SPAM dilaksanakan apabila prasarana<br />

dan sarana SPAM yang telah terbangun<br />

siap untuk dioperasikan dengan membentuk<br />

organisasi penyelenggara SPAM. Pengelolaan<br />

SPAM meliputi kegiatan pengoperasian dan<br />

pemanfaatan; dan kegiatan administrasi dan<br />

kelembagaan.<br />

Dalam rangka efisiensi dan efektifitas<br />

pe ngelolaan SPAM, maka dapat dilakukan<br />

kerjasama antar pemerintah daerah. Peng<br />

e lolaan SPAM harus memenuhi standar<br />

pelayanan minimal dan memenuhi syarat<br />

kualitas sesuai Peraturan Menteri Kesehatan<br />

yang berlaku, serta pelayanan secara penuh<br />

24 jam per hari. Pengelolaan SPAM harus<br />

berdasarkan kaidah sistem akuntansi air minum<br />

Indonesia (Pasal 35).<br />

Pengelolaan SPAM dilaksanakan oleh penyelenggara<br />

berupa BUMN, BUMD, koperasi,<br />

badan usaha swasta dan masyarakat,<br />

yang khusus bergerak di bidang air minum.<br />

Kelembagaan penyelenggara SPAM harus<br />

dilengkapi dengan sumber daya manusia<br />

yang kompeten di bidang pengelolaan SPAM<br />

sesuai dengan peraturan perundangan yang<br />

berlaku. Kelembagaan penyelenggara harus<br />

disiapkan dan dibentuk sebelum SPAM selesai<br />

dibangun agar SPAM dapat langsung<br />

beroperasi (Pasal 42).<br />

Pemeliharaan dan Rehabilitasi SPAM<br />

Pemeliharaan dan rehabilitasi SPAM adalah<br />

tang gungjawab penyelenggara. Ke giatan<br />

pe meliharaan dan rehabilitasi yang di la kukan<br />

oleh penyelenggara SPAM tidak diperkenankan<br />

menghentikan seluruh pela yanan<br />

air minum kepada masyarakat (Pasal 44).<br />

Pemeliharaan adalah kegiatan perawatan<br />

dan perbaikan unsur-unsur sarana secara<br />

rutin dan berkala yang bertujuan untuk menjaga<br />

agar prasarana dan sarana air minum<br />

dapat diandalkan kelangsungannya (Pasal<br />

45). Rehabilitasi SPAM adalah perbaikan atau<br />

penggantian sebagian atau seluruh unit SPAM<br />

yang perlu dilakukan agar dapat berfungsi<br />

secara normal kembali (Pasal 48).<br />

Pemantauan dan Evaluasi<br />

Pemantauan kinerja penyelenggaraan pengem<br />

bangan SPAM dilaksanakan baik secara<br />

langsung maupun tidak langsung dalam<br />

rang ka mendapatkan data dan/atau informasi<br />

kondisi dan kinerja baik sistem fisik maupun<br />

sistem non-fisik dalam waktu tertentu (Pasal<br />

54). Sistem fisik meliputi: unit air baku; unit<br />

produksi; unit distribusi, dan unit pelayanan.<br />

Sedangkan sistem non fisik sekurang-kurang<br />

nya meliputi: data kelembagaan, data<br />

manajemen, data keuangan, peran ser ta<br />

masyarakat, dan hukum. Evaluasi la poran<br />

kinerja didasarkan pada indikator ki ner ja<br />

pe nyelenggaraan pengembangan SPAM.<br />

In di kator kinerja tersebut meliputi aspek<br />

ke uangan, ope rasional, pelayanan pelang -<br />

gan, dan sumber daya manusia (Pa sal 59).<br />

Berikut adalah alur pelaporan peman tau an<br />

dan evaluasi penyelenggaraan dan pengembangan<br />

SPAM (Pasal 60) :<br />

Untuk pedoman pelaksanaan penyediaan<br />

prasarana dan sarana air minum di daerah,<br />

maka akan lebih efektif bila dibuat Peraturan<br />

Daerah yang didasarkan pada ketentuan<br />

dalam Permen ini.<br />

*) Staf Subdit Pengelolaam dan Pengusahaan, Dit.<br />

Pengembangan Air Minum<br />

28 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


RESENSI<br />

Menuju Pencapaian Target MDG’s<br />

Bidang Air Minum<br />

DDirektorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> adalah salah satu instansi yang<br />

bertanggung jawab dalam penyediaan infrastruktur permukiman baik<br />

diperkotaan maupun di perdesaan dalam skala lingkungan mau pun<br />

skala kawasan. Termasuk didalamnya Sistem Penyediaan Air Minum.<br />

Kawasan rawan penyediaan air minum di seluruh nusantara<br />

men dapat perhatian serius dari pemerintah cq. Kementeriaan Pekerjaan<br />

Umum cq. Direktoral Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> melalui program<br />

pengembangan SPAM-IKK. Pemerintah berharap agar hasil-hasil<br />

pembangunan dapat secara langsung memenuhi kebutuhan dalam<br />

rangka menunjang perkembangan sosial-ekonomi masyarakat menjadi<br />

lebih sejahtera.<br />

Untuk itu langkah-langkah dan upaya yang telah dilaksanakan oleh<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> ini perlu diketahui dan dipahami oleh masyarakat<br />

luas dalam rangka memenuhi prinsip transparasi, meningkatkan<br />

keterlibatan masyarakat serta menunjukkan keseriusan pemerintah<br />

dalam upaya penyediaan infrastruktur permukiman, khususnya<br />

SPAM IKK, dimana program penyediaan air minum IKK, mewujudkan<br />

pelayanan air minum bagi masyarakat di segala penjuru tanah air.<br />

Program ini diharapkan dapat member dukungan untuk mencapai<br />

tujuan pembangunan IKK sesuai RPJM 2004-2009 yaitu pe ningkatan<br />

keberdayaan masyarakat perdesaan dan peningkatan kapasitas<br />

pemerintah di tingkat lokal dalam mengelola pembangunan<br />

perdesaan sesuai dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik<br />

secara kuantitatif.<br />

Program pengembangan SPAM IKK dapat meningkatkan kapasitas<br />

produksi kumulatif dari tahun 2005-2009 sebesar 9.607 L/dt. Kapasitas<br />

produksi diharapkan mampu melayani hampir sebesar 7 juta jiwa.<br />

Program dititikberatkan pada IKK rawan air yang masih memiliki tingkat<br />

pelayanan SPAM rendah.<br />

Kaidah pelaksanaan program secara umum akan mengacu pada<br />

ketentuan-ketentuan teknis yang telah ditetapkan dalam peraturan<br />

dan NSPM SPAM dengan lebih menekankan partisipasi aktif dari<br />

masyarakat, pemangku kepentingan (stakeholder) dan pemerintah<br />

daerah serta pembelajaran dari pelaksanaan.<br />

Buku ini merupakan potret perjalanan pelaksanaan program<br />

pengembangan SPAM IKK 2005-2009 di Indonesia. Terdapat delapan<br />

bab dalam buku setebal 100 halaman ini. Mulai dari latar belakang,<br />

Kriteria pemilihan lokasi SPAM IKK, penyelenggaraan pembangunan<br />

SPAM IKK, Organisasi penyelenggaraan SPAM IKK, mekanisme pelaksanaan<br />

pengendalian pekerjaan pembangunan SPAM IKK, pelaksana<br />

pembangunan SPAM IKK, lembaga pengelola SPAM IKK dan terakhir<br />

permasalahan dan langkah-langkah penanganan pembangunan<br />

SPAM IKK.<br />

Buku ini dilengkapi dengan foto, grafik dan juga data-data pembangunan<br />

SPAM IKK selama kurun waktu 2005-2009. Tak luput juga<br />

beberapa foto peresmian SPAM IKK oleh Presiden Susilo Bambang<br />

Yudhoyono.<br />

Mudah mudahan buku ini dapat memberikan gambaran tentang:<br />

maksud, tujuan dan sasaran dibangunnya SPAM IKK, upaya pemerintah<br />

(dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum) dalam menyebarkan<br />

layanan air minum ke seluruh pelosok tanah air dan dalam rangka<br />

upa ya kesinambungan pelayanan, masalah kelembagaan yang akan<br />

menjadi pengelola SPAM IKK tersebut sudah direncanakan sejak awal<br />

(sejak lokasi ditetapkan), termasuk didalamnya kegiatan pelatihan bagi<br />

calon operator. Dengan demikian, buku ini dapat dijadikan sumber informasi<br />

dan pegangan bagi semua pihak yang memerlukannya.<br />

(dvt)<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/Juni 2010 29


SEPUTARKITA<br />

Seputar Kita<br />

Para anggota parlemen Dewan Perwakilan<br />

Rakyat maupun Dewan Perwakilan Daerah (DPD)<br />

RI yang tergabung dalam Kaukus Perempuan Parlemen<br />

Republik Indonesia (KPPRI) mengundang<br />

Parlemen Perempuan RI Peduli<br />

Soal Sanitasi dan Air Minum<br />

Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> untuk menjelaskan masalah sanitasi dan air minum<br />

di Gedung Nusantara V DPR RI, Jakarta, Kamis (17/6).<br />

Ketua KPPRI Timo Pangerang mengatakan, maksud dari acara ini<br />

adalah untuk mengetahui kondisi sanitasi dan juga air minum serta<br />

kebijakan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> terkait hal tersebut. Selain itu juga untuk<br />

menyamakan pemahaman antara Pemerintah pusat dan anggota<br />

parlemen.<br />

“Setelah paham betul, maka kita akan pulang ke daerah konstituen<br />

kita masing-masing sebagai juru bicara mengenai masalah sanitasi<br />

dan air minum. Kami juga akan memberi penguatan kepada bupati<br />

maupun walikota agar memperhatikan masalah sanitasi,” katanya.<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Menuju Tata Naskah<br />

Dinas Elektronis<br />

Pemerintah Kucurkan Hibah<br />

119 Miliar<br />

Untuk Air Minum dan Sanitasi<br />

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum mengucurkan<br />

dana hibah sebesar Rp 119 miliar untuk air minum dan sanitasi ke 29<br />

kota di Indonesia. Penandatanganan Naskah Perjanjian Penerusan<br />

Hibah (NPPH) dilakukan di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum,<br />

Jumat (18/6). Acara penandatanganan disaksikan oleh Menteri Pekerjaan<br />

Umum Djoko Kirmanto dan Duta Besar Australia Bill Farmer<br />

selaku negara donor.<br />

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengakui, akses pelayanan<br />

dibidang air minum dan sanitasi masih jauh dari target MDGs.<br />

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut pemerintah harus berupaya<br />

keras untuk memenuhinya. Dukungan pemerintah terhadap program<br />

ini berupa program penyehatan bagi Perusahaan Daerah Air Minum<br />

(PDAM) berupa pinjaman bersubsidi kepada pihak bank.<br />

“Karena masih jauh dari target. Sehingga perlu upaya keras agar<br />

ketertinggalan bisa terpenuhi,” tegas Djoko Kirmanto, usai menyaksikan<br />

penandatangan pemberian banatuan hibah kepada 29 Walikota dan<br />

Bupati dibidang Program Air Minum dan Air Limbah hari ini (18/6) di<br />

Jakarta.<br />

Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> saat ini sedang gencar mensosialisasikan<br />

Tertib Tata Naskah Dinas Elektronis dengan menyelenggarakan<br />

pelatihan untuk semua petugas sekretaris di lingkungan<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, Selasa (8/6). Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk<br />

memperlancar arus informasi yang diproses melalui naskah dinas<br />

sehingga dapat disajikan dengan cepat, tepat, efisien dan efektif.<br />

Sekretaris <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Antonius Budiono dalam sambutannya<br />

mengatakan, untuk dapat mengambil keputusan yang tepat,<br />

salah satu unsur pendukungnya adalah dokumen atau arsip yang<br />

tertata dengan baik. Dalam rangka menindaklanjuti arahan pimpinan<br />

Kementerian Pekerjaan Umum untuk meningkatkan Manajemen<br />

Per kantoran, khususnya percepatan arus informasi bagi Pimpinan<br />

serta mendukung pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan<br />

Kementerian PU, maka harus dikembangkan aplikasi tata naskah dinas<br />

elektronis Kementerian PU.<br />

”Tahun 2010, Tata Naskah Dinas Elektronik (TNDE) ditargetkan<br />

dapat diimplementasikan sampai pada Unit Eselon II. Selanjutnya<br />

pada tahun berikutnya akan dikembangkan sampai pada Eselon-IV<br />

dilingkungan Kementerian PU,” jelasnya.<br />

30 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 06/Tahun VIII/ Juni 2010


Ingat<br />

dalam<br />

Pembangunan<br />

Infastruktur<br />

PENGELOLAAN PENGADUAN MASYARAKAT (PPM)<br />

SMS:0817 148 048 Po BOX 2222 JKPMT<br />

Website:www.p2kp.org<br />

E-mail:ppmp2kp@indosat.net.id & ppm_p2kp3@indosat.net.id


Segenap Pimpinan<br />

dan Staf Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Mengucapkan<br />

Selamat Menyelenggarakan<br />

3 rd Asia Pacific Ministerial Conference<br />

on Housing and Urban Development<br />

(APMCHUD) 2010<br />

Solo, June 22-24, 2010<br />

(APMCHUD)<br />

Empowering Communities for Sustainable Urbanization

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!