06.02.2015 Views

Download - Ditjen Cipta Karya

Download - Ditjen Cipta Karya

Download - Ditjen Cipta Karya

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

LIPUTAN KHUSUS<br />

Membangun Nilai Tambah<br />

di Kawasan Wisata Raja Ampat 13<br />

INFO BARU 1<br />

Menebar Infrastruktur<br />

di Kawasan Transmigrasi 16<br />

Strategi Komunikasi<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

2010-2014<br />

Edisi 01/Tahun IX/Januari 2011<br />

Memastikan Program <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Sinergi<br />

Dengan Daerah


daftar isi<br />

JANUARI 2011<br />

http://ciptakarya.pu.go.id<br />

Pelindung<br />

Budi Yuwono P<br />

Penanggung Jawab<br />

Danny Sutjiono<br />

Dewan Redaksi<br />

Antonius Budiono, Tamin M. Zakaria<br />

Amin, Susmono, Guratno Hartono,<br />

Joessair Lubis,<br />

Budi Hidayat<br />

Pemimpin Redaksi<br />

Dwityo A. Soeranto, Sudarwanto<br />

Penyunting dan Penyelaras Naskah<br />

T.M. Hasan, Bukhori<br />

Bagian Produksi<br />

Djoko Karsono, Emah Sadjimah,<br />

Radja Mulana MP. Sibuea,<br />

Djati Waluyo Widodo, Aulia UI Fikri,<br />

Indah Raftiarty<br />

Bagian Administrasi & Distribusi<br />

Sri Murni Edi K, Ilham Muhargiady,<br />

Doddy Krispatmadi, A. Sihombing,<br />

Ahmad Gunawan, Didik Saukat Fuadi,<br />

Harni Widayanti, Deva Kurniawan,<br />

Mitha Aprini, Nurfhatiah<br />

Kontributor<br />

Panani Kesai, Rina Agustin Indriani,<br />

Nieke Nindyaputri, Hadi Sucahyono,<br />

Amiruddin, Handy B. Legowo,<br />

Endang Setyaningrum, Syamsul Hadi,<br />

Didiet. A. Akhdiat, Muhammad Abid,<br />

Siti Bellafolijani, Djoko Mursito,<br />

Ade Syaeful Rahman,<br />

Th. Srimulyatini Respati,Alex A.Chalik,<br />

Bambang Purwanto,<br />

Edward Abdurahman, Alfin B. Setiawan,<br />

Deddy Sumantri,<br />

M. Yasin Kurdi, Lini Tambajong<br />

Alamat Redaksi<br />

Jl. Patimura No. 20, Kebayoran Baru<br />

12110 Telp/Fax. 021-72796578<br />

Email<br />

publikasi_djck@yahoo.com<br />

Redaksi menerima artikel, berita,<br />

karikatur yang terkait bidang cipta<br />

karya dan disertai gambar/foto<br />

serta identitas penulis. Naskah<br />

ditulis maksimal 5 halaman A4,<br />

Arial 12. Naskah yang dimuat akan<br />

mendapat insentif.<br />

Berita Utama<br />

4 Memastikan Program<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Sinergi dengan<br />

Daerah<br />

10 Menuju Wajar Tanpa<br />

Pengecualian (WTP)<br />

11 Jangan Kesampingkan<br />

Penyiapan Program 2012<br />

Liputan Khusus<br />

13 Membangun Nilai Tambah<br />

di Kawasan Wisata Raja<br />

Ampat<br />

4<br />

Info Baru<br />

16 Menebar Infrastruktur<br />

di Kawasan Transmigrasi<br />

Inovasi<br />

21 Strategi Komunikasi <strong>Ditjen</strong><br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> 2010-2014<br />

Pojok Hukum<br />

25 Harmonisasi Peraturan<br />

Rumah Negara<br />

Gema PNPM<br />

29 Penantian Panjang Warga<br />

Steling untuk Air Minum<br />

31 PPIP Buka Isolasi Batu Tulis<br />

Resensi<br />

33 Pencapaian Renstra <strong>Cipta</strong><br />

<strong>Karya</strong> 2005-2009<br />

29<br />

16


editorial<br />

Persempit Kesenjangan di Kawasan Transmigran<br />

dan Pulau Terpencil<br />

Foto Cover : Karena keterbatasan infra<br />

struktur, para siswa sekolah<br />

di Polewali Mandar Sulawesi<br />

Barat harus menyeberangi<br />

sungai menuju sekolahnya.<br />

Pengembangan Kota Terpadu Mandiri (KTM) menjadi tonggak awal pemerataan kesejahteraan di<br />

pelosok tanah air. Jika KTM sudah berkembang dengan dukungan infrastruktur yang mantap, maka bukan<br />

tidak mungkin fase selanjutnya adalah mendongkrak investasi.<br />

Saat ini memang baru berfikir bagaimana membangun dan menata infrastruktur dengan benar.<br />

Pemerintah pusat yang terlibat juga pasti tak mau gegabah menebar anggaran di daerah tanpa sinergi<br />

dan komitmen yang serius dari pemerintah daerah dan masyarakatnya. Percuma saja, jika semua prasarana<br />

ada, namun masyarakat dan Pemdanya belum siap.<br />

Pemda dan masyarakat transmigran sepatutnya bersyukur karena kegiatan KTM ini diusung bersama<br />

oleh banyak kementerian dan lembaga, seperti Kementerian Transmigrasi dan Tenaga Kerja, Kementerian<br />

Pekerjaan Umum, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian<br />

Perdagangan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Agama, BKPM, Dinas Kehutanan,<br />

Kantor Menteri Negara Koperasi, BPN, Kementerian Kesehatan, kementerian Pendidikan Nasional, dan<br />

PLN.<br />

Pembangunan KTM yang dirancang di 44 kawasan layaknya membangun kawasan transmigrasi yang<br />

bernuansa perkotaan. Dari sini diharapkan terjadai akselerasi perekonomian perdesaan dan terwujudnya<br />

kawasan transmigrasi yang mandiri yang memberi peluang investasi dan membuka kesempatan kerja,<br />

yang pada akhirnya akan mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Tentang ini, kami mengulasnya<br />

dalam Info Baru Edisi perdana tahun 2011.<br />

Selamat tahun baru 2011. Semoga perubahan ke arah lebih baik tidak bosan-bosannya kita upayakan,<br />

seperti tampilan Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> yang akan lebih mempercantik wajahnya sedikit demi sedikit.<br />

Selamat membaca dan berkarya!<br />

.....Suara Anda<br />

Rusunawa<br />

Yth: Direktur Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kementerian Pekerjaan Umum;<br />

1. Saya mohon penjelasan bagaimana pelaksanaan Rusunawa di kotakota<br />

yang padat Berdasarkan survey yang saya lakukan, kondisi<br />

massa bangunan itu bentuknya hampir sama yakni blok2. Ketika<br />

saya tanyakan di DPU Surakarta, sistem yang dilakukan dalam pembangunan<br />

Rusunawa adalah sistem top down alias semua de sain<br />

dilakukan oleh pusat Apakah itu benar<br />

2. Mengapa desain yang diajukan tidak melalui sayembara yang dilakukan<br />

oleh arsitek, atau mahasiswa setempat Bukannya itu lebih<br />

bisa menunjukkan kekreatifitasan mahasiswa/arsitek dan de sain<br />

bangunan rusunawa juga bisa menandakan ciri khas kota tersebut<br />

Ita Dwijayanti (Mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Gadjah<br />

Mada, Yogyakarta)<br />

Kepada Yth. Ita Dwijayanti<br />

1. Kementerian PU sudah memulai membangun Rusunawa sejak tahun<br />

2003, diawali dengan mangadakan sayembara desain Rusunawa,<br />

hasilnya sudah dibukukan yang terbit yahun 2004, tetapi tidak bisa<br />

sepenuhnya diimplementasikan mengingat berbagai keterbatasan.<br />

2. Sejak tahun 2003, desain Rusunawa dibuat untuk masing-masing<br />

Kota/Kabupaten dengan melibatkan pemerintah daerah setempat,<br />

desain langsung di konsultasikan bahkan ada yang dibuat sendiri<br />

oleh perguruan tinggi setempat (contoh ITS yang mendesain sendiri<br />

bangunan Rusunawa untuk asrama mahasiswa ITS tahun 2006)<br />

3. Dengan hasil yang beraneka ragam ternyata kontrol dalam<br />

menjaga mutu pada saat proses maupun pasca kontruksi menjadi<br />

sulit karena antara satu dan lainnya bisa sangat berbeda baik<br />

cara penyelesaiannya maupun nanti pasa saat pemeliharaannya.<br />

Untuk itu, mulai tahun 2007 dikembangkan desain prototype yang<br />

kemudian mulai diujicobakan pada tahun 2009 dan mulai tahun<br />

2010 sudah diterapkan.<br />

4. Meskipun dengan desain prototype, arsitektur lokal masih diberi<br />

kesempatan untuk memberikan kesan pada tampak melalui aksesoris<br />

dan warna, bahkan tampilan-tampilan spesifik lainnya yang tidak<br />

memengaruhi struktur dasar prototype yang sudah ditetapkan. Perlu<br />

diketahui bahwa Rusunawa Kementerian PU konstruksinya dibangun<br />

sengan sistem precast (yang sudah diverifikasi) yang dapat menjamin<br />

kekuatan struktur termasuk ke andalan dalam mengantisipasi<br />

bencana gempa bumi.<br />

Terima Kasih<br />

Redaksi menerima saran maupun tanggapan terkait bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> ke email publikasi_djck@yahoo.com atau saran dan pengaduan di www.pu.go.id<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 3


Berita Utama<br />

Memastikan<br />

Program <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Sinergi dengan Daerah<br />

“Masalah <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> tidak hanya menyelesaikan DIPA saja, tapi bagaimana pasca<br />

DIPA selesai dengan infrastruktur terbangun, stimulan kita benar-benar bersinergi<br />

dengan yang diprogramkan Pemerintah Daerah”.<br />

Lebih dari 150 peserta Rapat Kerja ta hu n -<br />

an <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> di awal 2011 me nampakkan<br />

raut muka datar. Sepertinya tidak<br />

ada tanda-tanda mereka akan berlebihan<br />

menyikapi informasi yang akan disampaikan<br />

Direktur Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kementerian<br />

Pekerjaan Umum, Budi Yuwono. Benar saja,<br />

atas hasil capaian <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Tahun<br />

Anggaran 2010 yang berhasil menembus<br />

angka 94 persen, para peserta tak bergeming.<br />

Tepuk paling gemuruh hanya bersumber<br />

dari para punggawa Program Penyediaan<br />

Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat<br />

(PAMSIMAS) yang sempat dipuji Pak Dirjen<br />

karena performance yang prima selama 2010.<br />

“Masalah <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> tidak hanya menyelesaikan<br />

DIPA saja, tapi bagaimana pasca<br />

DIPA selesai dengan infrastruktur terbangun,<br />

stimulan kita benar-benar bersinergi dengan<br />

4 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


BERITAUTAMA<br />

Foto Kiri : Anak-anak Desa Turaiskin Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur kini bisa menikmati<br />

air minum dari SPAM Perdesaan.<br />

Foto Kanan : Anak-anak Desa Kumbasa, Kec. Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah harus<br />

mengambil air dari sungai meskipun sudah tersedia air bersih dari program PAMSIMAS.<br />

Budaya sebagian masyarakat desa masih sulit berpaling dari sungai dalam memenuhi<br />

kebutuhan air minum.<br />

yang diprogramkan Pemerintah Daerah. Misalnya<br />

bagaimana mengisi Rusunawa, memastikan<br />

air minum dinikmati masyarakat<br />

setelah dibangunnya SPAM, dan seterusnya”,<br />

papar Budi Yuwono mengawali arahan.<br />

Menurutnya, DIPA hanya salah satu alat<br />

untuk mencapai sasaran. Ukurannya tetap<br />

Rencana Strategis <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dan<br />

kesepakatan internasional yang tertuang dalam<br />

Millennium Development Goals (MDGs).<br />

Untuk mencapai sasaran tersebut tidak hanya<br />

dicapai dari APBN, tapi harus menggerakkan<br />

APBD, dana luar melalui swasta, atau dengan<br />

perusahaan multi nasional. Salurannya bi sa<br />

dengan banyak program seperti yang pernah<br />

dilakukan AusAID melalui Naskah Perjanjian<br />

Penerusan Hibah (NPPH) bidang air<br />

minum dan air limbah, Coorporate Social<br />

Responsibility (CSR), dll.<br />

Pelaksanaan pembangunan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong><br />

<strong>Karya</strong> di tahun 2010 ini merupakan yang<br />

terbaik selama ini, yaitu mencapai 94,40%<br />

dari pagu yang mencapai Rp 8,4 triliun, terdiri<br />

dari rupiah murni Rp 5,4 triliun dan pinjaman<br />

luar negeri hampir Rp 3 triliun. Capaian itu<br />

diharapkan masih dapat bertambah mengingat<br />

terdapat beberapa Satker Kabu paten/Kota<br />

yang belum melaporkan melalui<br />

e-Monitoring.<br />

Tahun 2010 dapat dijalani dengan baik.<br />

Bahkan luar biasa. Apresiasi dari Menteri<br />

Pekerjaan Umum dan Wakilnya mengiringi<br />

usaha-usaha itu. Secara konsisten, sejak<br />

oktober 2010, <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> memimpin dalam<br />

pen capaian sasaran.<br />

“Renstra kita cukup besar kurang lebih RP<br />

50 Triliun, dan anggaran paling tinggi selama<br />

lima tahun ke depan ada di depan mata, yaitu<br />

tahun 2011. Tentu saja ada maksud di balik<br />

ini,” kata Budi Yuwono.<br />

Tahun 2011 adalah puncak anggaran<br />

APBN. Sebelumnya pada 2009 RP 7 Triliun,<br />

tahun 2010 Rp 8 Triliun, dan tahun 2011<br />

menjadi Rp 13 Triliun, untuk selanjutnya<br />

menurun kembali pada 2012 dan sete rusnya.<br />

“Maksudnya agar out come <strong>Cipta</strong> Kar ya<br />

tercapai pada 2014. Jika pun cak dilakukan<br />

pada 2014, maka outcome tidak tercapai,<br />

walaupun outputnya bisa saja tercapai. Tentu<br />

syaratnya 2011 dapat tercapai dengan baik<br />

agar pada 2014 outcome dapat tercapai<br />

dengan baik,” lanjut Budi.<br />

Capaian MDGs<br />

Data capaian MDGs bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> sektor<br />

air minum pada akhir 2009 dapat dijelaskan<br />

sebagai berikut; untuk akses penduduk terhadap<br />

air minum yang aman mencapai 47,7%<br />

(target 2015 sebesar 68,87%), dan melalui<br />

perpipaan telah tercapai 25,56% dari target<br />

2015 41%. Sedangkan di sektor sanitasi, kita<br />

sudah mencapai angka 69,55% untuk akses<br />

sanitasi yang layak di perkotaan, dan 34%<br />

untuk penduduk di perdesaan.<br />

Capaian MDGs air minum dan sanitasi<br />

ang kanya sering dipaparkan. Angka-angka<br />

tersebut, menurut Budi Yuwono, masih harus<br />

diperjuangkan dengan keras, tidak hanya<br />

dengan tugas DIPA semata tetapi juga<br />

mendorong pihak lainnya terlibat. Disini<br />

be lum terasa banyak. Upaya pembinaan terhadap<br />

APBD, KPS, dan pelibatan masya rakat,<br />

masih belum berjalan sesuai rencana.<br />

Permasalahan<br />

Faktor klasik yang memengaruhi capaian<br />

2010 antara lain; pertama, lemahnya persiapan<br />

pelaksanaan yang mencakup, adanya<br />

revisi DED, adanya pemindahan lokasi, terlambatnya<br />

penetapan lokasi, dan belum efektifnya<br />

Loan Agreement. Kedua, masih terdapat<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 5


eberapa paket yang diblokir (tanda bintang)<br />

oleh <strong>Ditjen</strong> Anggaran. Ketiga, kurangnya koordinasi<br />

dengan pihak Pemerintah Daerah.<br />

Keempat, keterlambatan proses penyiapan<br />

masyarakat Program Pemberdayaan dan<br />

pe nye rapan BLM baru akan dimulai secara<br />

signifikan pada Bulan September 2010. Kelima,<br />

tidak patuhnya Satker Kabupaten/<br />

Kota dalam pengiriman laporan kemajuan<br />

ke giatan melalui mekanisme e-Monitoring<br />

(pe riksa Lampiran Sandingan progres e-Moni<br />

toring dan Manual). Dan keenam, tidak<br />

ter sedianya dana DDUB oleh Pemda Kabupaten/Kota.<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> bukannya tidak mengupayakan.<br />

Mereka sudah menin daklanjuti<br />

permasalahan tersebut dengan upaya-upaya<br />

antara lain; Pertama, masing-masing direktorat<br />

telah membuat alat kendali untuk memantau<br />

pelaksanaan kegiatan per paket<br />

kegiatan/per Satker; Kedua, dilakukan peman<br />

tauan secara ketat untuk Satker-Satker<br />

yang penyerapan keuangannya masih di<br />

bawah rata-rata <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>; Ketiga,<br />

di la kukan pengiriman tim pemantauan ke<br />

daerah yang dipimpin oleh Eselon I dan<br />

Eselon II khususnya untuk 20 provinsi yang<br />

Satkernya masuk kategori kritis; dan keempat,<br />

dilakukan pemantauan tengah bulanan oleh<br />

Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> ke masing-masing Unit<br />

Kerja Eselon 2 Bulan Oktober dan Nopember<br />

2010.<br />

Yang perlu didorong adalah kemitraan.<br />

Kemitraan masih perlu digarap karena poten<br />

sinya sangat besar. “Saya ingin menugasi<br />

kemitraan khusus pada satu subdit<br />

menjadi ujung tombaknya. Saya masih sering<br />

mendengar bahwa kemitraan identik dengan<br />

salah satu kementerian, misalnya Kalbe Farma<br />

pada kemenkes. Maka harapan saya<br />

2011 seluruh potensi dapat kita manfaatkan,”<br />

pungkas Budi.<br />

Bidang Air Minum<br />

Sekali lagi, Direktorat Pengembangan Air<br />

Minum diingatkan oleh Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

untuk terus berkoordinasi dengan Badan<br />

Pendukung Pengembangan (BPP) SPAM untuk<br />

mensinergikan program dan sasaran,<br />

agar implementasinya tepat sasaran dan hasil<br />

nya menjadi lebih baik.<br />

Untuk mencapai kualitas yang lebih baik,<br />

perlu peninjauan terhadap Sertifikasi IPA yang<br />

dilakukan bersama dengan Puslitbangkim.<br />

Secara umum, untuk urusan melayani<br />

jum lah jiwa untuk mengakses air minum<br />

yang layak, kinerja pengembangan SPAM<br />

Tahun 2011 adalah puncak anggaran APBN. Sebelumnya pada<br />

2009 RP 7 Triliun, tahun 2010 Rp 8 Triliun,<br />

dan tahun 2011 menjadi Rp 13 Triliun,<br />

untuk selanjutnya menurun kembali pada 2012 dan seterusnya<br />

oleh direktorat ini belum sesuai dengan sasaran<br />

Renstra. Capaian itu tidak terlepas dari<br />

kontribusi Pemda yang belum maksimal<br />

untuk memperluas distribusi pelayanan. Penye<br />

bab mendasarnya adalah ketika banyak<br />

kota yang mengusulkan bantuan air minum<br />

tapi belum memiliki rencana induk SPAM<br />

yang dipersyaratkan. Bappenas meminta setiap<br />

daerah untuk punya rencana aksi MDGs,<br />

dimana bahan untuk itu dari ada di Dit. PAM<br />

yang telah merinci berdasarkan propinsi.<br />

Seperti yang dipaparkan Dirjen <strong>Cipta</strong><br />

<strong>Karya</strong>, banyak kapasitas terbangun namun<br />

banyak Pemda belum mendukung distri businya.<br />

Dari catatan capaian sektor air mi num,<br />

kapasitas terbangun selama 2010 mencapai<br />

2.793 liter per detik, lebih tinggi dari target<br />

1.675 liter per detik. Namun dari jumlah jiwa<br />

6 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


BERITAUTAMA<br />

PDAM sampai dengan 2010. Namun upaya<br />

ini baru mengangkat 50 PDAM menjadi<br />

sehat, yang lain karena keterbatasan dana<br />

masih berkutat dengan penyakitnya, se perti<br />

tarif yang tidak full recovery, masih tingginya<br />

tingkat kebocoran, belum mampu menyiapkan<br />

business plan yang baik, dan tentu<br />

saja kurangnya komitmen Pemda.<br />

Upaya lain dengan mencari sumber pendanaan<br />

alternatif seperti hibah luar negeri<br />

dan pinjaman perbankan. Pada 2011 sudah<br />

tercatat 35 PDAM menjalankan program<br />

hibah air minum, beberapa kendala di dae rah<br />

seperti Pekalongan adalah ditolaknya pencairan<br />

oleh Kementerian Keuangan ka rena<br />

Perdanya tidak sesuai dengan aturan Ke menkeu.<br />

Pemerintah juga telah memfasilitasi 15<br />

PDAM untuk merealisasikan kerjasama dengan<br />

perbankan. Lima PDAM diantaranya<br />

sudah maju ke Kemenkeu, yaitu PDAM Lombok<br />

Timur, PDAM Kudus, PDAM Tasikmalaya,<br />

PDAM Ciamis, dan PDAM Kota Malang. Tapi<br />

10 lainnya masih terkendala persetujuan<br />

DPRD, dan bahkan ada yang mengundurkan<br />

diri. Tahun 2011 ini pula sebanyak 80 PDAM<br />

didorong melalui Kerjasama Pemerintah<br />

Swa s ta (KPS) agar lebih sehat.<br />

Di tahun 2011, Dit. Pengembangan Air<br />

Minum memiliki kegiatan prioritas antara<br />

lain; Pembangunan SPAM untuk MBR di 171<br />

kawasan, Pembangunan SPAM IKK di 164<br />

kawasan, Pembangunan SPAM di 57 kawasan<br />

Khusus (perbatasan, pemekaran, KA-<br />

PET), Pembangunan SPAM di 10 kawasan<br />

Pelabuhan perikanan, Pembangunan SPAM<br />

di 1.530 desa, dan Pembinaan 98 PDAM<br />

dalam rangka penyehatan PDAM.<br />

yang terlayani masih belum mengejar angka<br />

target 2.077.400, sinergi <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dan<br />

Pemda hanya mampu melayani 1.783.775<br />

jiwa, terdiri dari 254.520 jiwa di perkotaan,<br />

dan 1.529.255 jiwa di perdesaan.<br />

Dari fakta tersebut bisa dimaknai bahwa<br />

bantuan stimulan <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> melalui APBN<br />

kepada Pemda/PDAM hanya mampu dikembangkan<br />

untuk melayani sekitar 254 ribu jiwa.<br />

Sedangkan program air minum di perdesaan<br />

melesat mencapai 1,5 juta jiwa.<br />

Upaya terus dilakukan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

melalui program penyehatan PDAM dengan<br />

memberikan Bantek (Bantuan Teknis) di 261<br />

Rusunawa Menteng Asri, Bogor.<br />

Bidang Pengembangan PLP<br />

Beban berat harus dipanggul direktorat ini.<br />

Anggarannya pada 2011 meningkat hampir<br />

200%, yaitu sebesar Rp 3 triliun, sedangkan<br />

tahun sebelumnya (2010) sebesar Rp 1,5<br />

triliun. Ancang-ancang langsung disiapkan<br />

diantaranya dengan peningkatan kualitas<br />

dan penambahan jumlah SDM, perbaikan<br />

dan peningkatan sarana kerja, peningkatan<br />

sis tem monev, peningkatan pemantauan dan<br />

pengawasan kualitas pekerjaan, dan pe ngendalian<br />

progres fisik dan keuangan secara<br />

ketat.<br />

Beberapa permasalahan tahun 2010 an -<br />

tara lain seputar lokasi lahan yang dibe baskan<br />

tidak sesuai dengan lokasi rencana seperti<br />

kasus TPA Tapanuli Tengah dan IPAL<br />

RSH Sukabumi akan diupayakan dengan<br />

Pe rencanaan Program Pem bangu nan meme<br />

nuhi Readiness criteria. Lokasi yang bermasalah<br />

di IPAL Manado perlu penge cekan<br />

kesiapan lahan dan Surat Kepu tusan Bupati/<br />

Walikota, perlu sosialisasi, Rencana Tata Ruang<br />

Kota (RTRW).<br />

Dengan anggaran Rp 3 triliun dan tambahan<br />

dari Pinjaman Luar Negeri (PLN),<br />

PLP memiiki kegiatan strategis antara lain<br />

pembangunan drainase di Banda Aceh (ex.<br />

BRR NAD-NIAS), Metropolitan Sanitation<br />

and Health Management Project (MSMHP) –<br />

Loan ADB DI Medan dan Yogyakarta, Jakarta<br />

Urgent Flood and Mitigation Project (JUFMP)<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 7


– Loan World Bank, Dredging untuk Lower<br />

Angke & Cideng (PLN), Semarang Urban<br />

Drainage – Loan JICA, dan Regional Solid<br />

Waste Management for Mamminasata – Loan<br />

JICA.<br />

PLP juga harus berjibaku dengan pembangunan<br />

TPA Mamminasata (PLN), Denpasar<br />

Sewerage Develoment Project (DSDP)<br />

Jilid II – Loan JICA, Indonesia Water Sanitation<br />

Sub Program D (WASAB.D) – Grant Belanda<br />

– World Bank di Pusat dan 6 Kota (HIBAH<br />

LN), Persiapan Greater Bandung, MP persampahan/air<br />

limbah Kab. Bandung Barat,<br />

Kab. Bandung, Kota Bandung (RM=Rupiah<br />

Murni), TPA Nambo (RM), dan TPA Legok<br />

Nang ka (RM).<br />

Di tahun 2011, Dit. Pengembangan PLP<br />

mematok kegiatan prioritas yang harus dise<br />

lesaikan antara lain; Peningkatan TPA di<br />

130 kab/kota, Pengembangan persampahan<br />

ter padu 3R di 92 lokasi, Pembangunan Air<br />

limbah sistem off site dan sistem on site di 160<br />

Kawasan, dan Pembangunan drainase di 78<br />

kabupaten/kota.<br />

Bidang Bangkim<br />

Direktorat Pengembangan Permukiman agak -<br />

n ya masih berkutat seputar upaya me na ngani<br />

kekumuhan dengan Prog ram Rusu nawanya.<br />

Rendahnya komit men Pem da da lam pemanfaatan<br />

Rusu nawa me mer lukan Me mo randum<br />

of Agreement yang lebih jelas dan lebih<br />

mengi kat. Bangkim juga men dam pingi Pemda<br />

dalam penyusunan SPPIP dan RPKPP, dan<br />

hampir sepertiga pagu bang kim, yaitu sekitar<br />

Rp 500 miliar difo kuskan untuk Program<br />

Infrastruktur So sial Eko nomi Wilayah (PISEW).<br />

Rusunawa saja ha nya dialokasikan Rp 300<br />

miliar, dan berhasil penuhi target 40 Twin<br />

Block.<br />

Tahun 2011 Dit. Bangkim mendapatkan<br />

tugas baru menjalankan Program Pem bangunan<br />

Infrastruktur Perdesaan (PPIP) yang<br />

semula dilaksanakan oleh Dit. Bina Program.<br />

PPIP akan dilaksanakan oleh Dit Bangkim,<br />

bersama dengan program-program pembangunan<br />

in fra struktur perdesaan, seperti agropolitan,<br />

pengembangan kawasan ter pen cil,<br />

per ba tasan, dan pulau terpencil di Bangkim.<br />

Sebanyak 63 SPPIP dan 54 RPKPP berusaha<br />

diwujudkan di tahun 2011, sehingga RPIJM<br />

yang disusun di daerah sudah dapat memasukkan<br />

hasil SPPIP. Upayanya dengan<br />

pe nguatan Tim Korwil dan anggotanya, mela<br />

lui diskusi intensif tentang pemahaman<br />

SPPIP dan RPKPP, pendampingan intensif<br />

untuk optimalisasi hasil SPPIP/ RPKPP 2010<br />

(Januari – Maret), Penajaman TOR SPPIP dan<br />

RPKPP untuk mendapatkan hasil penyusunan<br />

dengan standar yang sama antara Kab/Kota,<br />

penyempurnaan dan penyederhanaan panduan<br />

pelaksanaan, penyiapan sosialisasi dan<br />

pelaksanaan di 3 wilayah, dan penyiapan management<br />

koordinasi di pusat (dibantu konsultan).<br />

Untuk tahun 2011 ini Direktorat Bangkim<br />

menetapkan program prioritas antar alain;<br />

Pembangunan Rusunawa sebanyak 70 Twin<br />

Block, Pengembangan infrastruktur per mukim<br />

an di 112 Kws. Kumuh, Pengem ba ngan<br />

infrastruktur permukiman Perdesaan (PPIP)<br />

di 2.000 desa yang terdiri dari 1.000 desa<br />

PPIP dan 1.000 desa untuk mendukung<br />

Daerah Tertinggal, serta pengembangan<br />

infrastruktur permukiman perdesaan yang<br />

dibiayai ADB (RIS PNPM) di 1.987 desa, Pengembangan<br />

Kawasan Agropolitan, Minapolitan,<br />

KTM, serta kawasan Perbatasan dan<br />

pulau kecil terluar di 115 kawasan.<br />

Bidang PBL<br />

Inilah direktorat yang berhasil mendongkrak<br />

capaian penyerapan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>,<br />

pada akhir Desember 2010 lalu Dit. Penataan<br />

Bangunan dan Lingkungan berhasil menembus<br />

angka 95,32%. Namun tidak usah jumawa<br />

dulu, karena permasalahan masih banyak<br />

menanti, seperti fasilitasi peraturan terkait<br />

Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan<br />

(RTBL) di daerah masih jauh dari harapan. Pun<br />

demikian dengan Peraturan Daerah tentang<br />

Bangunan Gedung, diharapkan tahun 2012<br />

semua Pemda sudah memilikinya.<br />

Catatan dari pimpinan agar pemanfaatan<br />

gedung Pusat Informasi Pengembangan<br />

Per mukiman dan Bangunan (PIP2B) yang telah<br />

dibangun perlu ditinjau kembali sesuai<br />

rencana dan cita-cita semula sebagai Center<br />

of Excelent <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> di propinsi. Untuk itu<br />

perlu penguatan peran PIP2B di kota-kota<br />

Jogja, Bali, Makassar, Semarang sebagai lesson<br />

learned pada lokasi lain.<br />

“Konsolidasikan, mana yang bisa difungsikan<br />

segera. Termasuk kelembagaan, ter masuk<br />

isinya (perabotan). Perlu ada ke lompokkelompok<br />

yang nyata, jangan ber ambisi<br />

se mua berfungsi, tapi selesaikan 1,2 atau 3.<br />

Mungkin diawali dari Yogyakarta, Ba li, Semarang,<br />

dan Makassar,” pesan Budi Yu wono.<br />

Masih ada kegiatan prioritas yang menantang<br />

PBL di tahun 2011, yaitu Pem binaan<br />

Bangunan Gedung di 65 kabu paten/kota,<br />

Peningkatan kualitas kawa san/revitalisasi dan<br />

RTH di 240 kawasan, dan Penanggulangan<br />

Kemisikinan di Perko taan melalui PNPM Perkotaan<br />

(P2KP) di 10.948 Kel/desa.<br />

Bidang Bina Program<br />

Direktorat Bina Program diharapkan tidak<br />

hanya berfokus pada APBN saja, tetapi harus<br />

menggali sumber dana lain melalui kemitraan,<br />

hibah, CSR, dan masyarakat melalui<br />

peningkatan kualitas RPIJM. Dengan<br />

le pas nya PPIP ke Bangkim, penguatan Randal<br />

Pusat dan Propinsi perlu dilakukan agar<br />

tugas-tugas pembinaan program baik melalui<br />

monitoring pelaksanaan maupun penyusunan<br />

RPIJM lebih baik lagi.<br />

Tahun 2011 ini Dit. Bina Program mestinya<br />

tidak lagi menemui masalah kua litas<br />

dokumen RPIJM dan memusingkan komitmen<br />

kabupaten/kota serta kemampuan Satgas<br />

Kabupaten/Kota dan Propinsi karena<br />

8 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


BERITAUTAMA<br />

berbagai alasan. Belum semua kab/kota<br />

me miliki komitmen untuk menyediakan<br />

DDUB, kedepan hal ini harus didorong agar<br />

ko mitmen DDUB bisa dipenuhi, ka re na<br />

didukung Randal yang makin solid. Tu gas<br />

Randal harus memfasilitasi ke giatan perencanaan<br />

program bidang Cip ta <strong>Karya</strong> TA.<br />

2012 dengan program jangka menengah;<br />

mengkoordinasi pemantauan pe laksanaan<br />

kegiatan Randal propinsi; mem fasilitasi perkuatan<br />

tim pemantauan pelak sa na an program<br />

bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> TA. 2011 se cara efektif<br />

dan efisien; dan memfasilitasi ke giatan<br />

evaluasi program bidang <strong>Cipta</strong> Kar ya TA.<br />

2010.<br />

Bidang Setditjen<br />

Untuk meningkatkan kinerja DJCK, harus disiapkan<br />

personil secara baik (kuantitas dan<br />

Yang perlu didorong adalah kemitraan. Kemitraan<br />

masih perlu digarap karena potensinya sangat besar.<br />

kualitas) dengan mulai diterapkan Reformasi<br />

Birokrasi untuk menuju DJCK sebagai kantor<br />

modern dengan WTP (pengurusan aset &<br />

pertanggungjawaban harus baik, wajar tanpa<br />

pengecualian).<br />

Reformasi birokrasi memerlukan manajer<br />

perubahan di tiap ditrektorat, dan harus<br />

sudah ditentukan para direktur. Reformasi<br />

ini juga harus berdampak agar komunkiasi<br />

antar unit, antar subdit, antar direktorat<br />

yang selama ini masih lemah bisa ada<br />

Revitalisasi kawasan Kota Lama Singaraja, Bali.<br />

solusinya. Diharapkan perangkat yang telah<br />

dibangun dapat berfungsi cepat. Setditjen<br />

juga harus mengatur kebijakan pimpinan<br />

untuk menyebarluaskan tenaga baru (234<br />

CPNS) maupun PNS yang sebelumnya ke<br />

Satker Wilayah yang sangat membutuhkan,<br />

khususnya daerah yang mendapatkan dana<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> paling besar. Dengan demikian<br />

harus segera dirancang satker wilayah mana<br />

saja yang membutuhkan tenaga CPNS baru.<br />

(bcr)<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 9


BERITAUTAMA<br />

Menuju Wajar<br />

Tanpa Pengecualian (WTP)<br />

Kinerja yang semakin membaik ditandai dengan opini atas laporan keuangan<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dari status disclaimer pada tahun 2008 menjadi Wajar<br />

Dengan Pengecualian (WDP) pada tahun 2009. Tekad 2010 ini memiliki predikat<br />

Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dengan melakukan sinkronisasi antara Sistem<br />

Akuntansi Keuangan (SAK) dan SIMAK BMN.<br />

U“Untuk menuju wajar tanpa pengecualian<br />

ada banyak faktor, selain laporan keuangan<br />

yang harus mantap ternyata harus<br />

diperkuat pencatatan dan penataan nilai<br />

asset riil yang semula tidak ada nilainya.<br />

Laporan keuangan sudah kita perkuat<br />

dengan peran Satker Randal yang mulai<br />

tahun 2011 ini semua Satker sektoral tiap<br />

propinsi harus melaporkan dahulu ke Satker<br />

Randal baru kemudian ke pusat,” tegas<br />

Budi Yuwono.<br />

Selain upaya itu, perlu juga menyelesaikan<br />

kasus/masalah, baik di bidang<br />

ke uangan maupun asset dan semakin diper<br />

kuatnya kelembagaan/personil yang<br />

menangani SAI pada tingkat Satker/Wilayah<br />

(untuk Satker yang berada di kabupaten/<br />

kota).<br />

“Membiarkan aset tidak optimal meru pakan<br />

suatu kesalahan. Saya harapkan segera<br />

selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama,”<br />

kata Budi Yuwono saat memberi arahan dalam<br />

“Workshop Penyelesaian Alih Status/<br />

Hibah Aset BMN Rusunawa” di Jakarta pertengahan<br />

Januari lalu.<br />

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004<br />

tentang Perbendaharaan Negara dan PP No.<br />

6/2006 tentang Pengelolaan Barang Milik<br />

Ne gara menjadi pijakan selanjutnya untuk<br />

Kementerian PU untuk memproses status<br />

asset Rusunawa dengan Kementerian<br />

Ke uangan, hingga ditetapkan<br />

status akhir<br />

sesuai aturan yang<br />

berlaku.<br />

D i r e k t u r<br />

P e n g e m b a n g a n<br />

Permukiman, Amwazi<br />

Idrus menerangkan, menin<br />

daklanjuti amanah<br />

pe raturan tersebut,<br />

saat ini sebanyak 164,5<br />

twin block (TB) rumah<br />

susun sederhana sewa<br />

(rusunawa) di 112 lokasi<br />

(meliputi 55 kabupaten/<br />

kota) milik PU sedang<br />

dalam proses untuk bisa<br />

segera diserahterimakan<br />

kepada pemerintah daerah<br />

(pemda). Selain itu, sebanyak<br />

22 TB rusunawa di 11 lokasi<br />

akan di-alih status-kan kepada<br />

Perguruan Tinggi Negeri (PTN)<br />

melalui kuasa pengguna barang<br />

Kementerian Pendidikan Nasional.<br />

Untuk itu, Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> mentargetkan<br />

di tahun 2011 ini, sebagian rusunawa dapat<br />

segera diserahterimakan agar dapat<br />

difungsikan secara optimal.<br />

Berdasarkan hasil verifikasi Kemen terian<br />

PU dan Kementerian Ke uangan (Kemenkeu),<br />

terdapat 15 TB rusunawa yang<br />

telah memiliki dokumen pendukung lengkap,<br />

37 TB yang hampir lengkap dan 134,5<br />

TB yang belum memiliki dokumen lengkap.<br />

Untuk dokumen yang telah lengkap<br />

dan hampir lengkap, tahun 2011 ini ditargetkan<br />

bisa dilakukan serah terima.<br />

Budi Yuwono mengakui, serah terima<br />

Rusunawa ini memang menghadapi banyak<br />

permasalahan. Hal ini juga menjadi<br />

salah satu penyebab yang membuat<br />

Kementerian PU masih men da pat<br />

penilaian Wajar Dengan Pengecua lian dari<br />

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Masalah<br />

prosedur dan administrasi dalam serah<br />

terima rusunawa yang belum dilakukan<br />

secara tertib menjadi beberapa permasalahan<br />

dalam penilaian BPK. “Saya<br />

harap tahun ini masalah tersebut bisa<br />

diatasi dan Kementerian PU dapat naik<br />

peringkatnya menjadi Wajar Tanpa Pengecualiaan<br />

(WTP),” tambahnya. (bcr)<br />

10 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


BERITAUTAMA<br />

Jangan Kesampingkan<br />

Penyiapan Program 2012<br />

Djuang Fadjar Sodikin *)<br />

Pada awal tahun seperti saat ini, sebagian besar perhatian kita tertuju pada<br />

penyiapan pelaksanaan kegiatan tahun 2011 dan evaluasi pelaksanaan kegiatan<br />

tahun 2010. Barangkali tidak terlalu populer bila kita membicarakan penyiapan<br />

program untuk tahun anggaran 2012. Namun demikian, belajar dari pengalaman<br />

tahun-tahun sebelumnya, penyiapan program yang layak didanai semestinya<br />

dilakukan jauh hari sebelum pelaksanaan kegiatan, bahkan sebelum proses<br />

penganggaran dilakukan.<br />

Pengalaman memperlihatkan bahwa proses<br />

penyiapan kegiatan, beserta penyusunan<br />

anggarannya, seringkali dilakukan dengan<br />

kurang matang. Indikasi ini dapat terlihat dari<br />

banyaknya usulan revisi dokumen anggaran,<br />

baik Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran<br />

(DIPA) maupun di level Petunjuk Operasional<br />

Kegiatan (POK). Pada tahun 2010 lebih<br />

dari 120 Satuan Kerja mengusulkan revisi<br />

anggaran, dengan jumlah total sebanyak 200<br />

usulan. Usulan revisi tersebut disampaikan<br />

dengan berbagai alasan mulai dari kesalahan<br />

teknis dalam input data aplikasi anggaran<br />

sampai pada pemindahan lokasi kegiatan<br />

yang dirasa tidak siap, yang bahkan beberapa<br />

di antaranya diusulkan pada awal tahun<br />

anggaran.<br />

Banyaknya revisi anggaran tersebut berdampak<br />

pada terhambatnya pelaksanaan<br />

kegiatan yang berujung pada tertundanya<br />

penyerapan anggaran. Pada akhirnya k e-<br />

te rlambatan penyerapan anggaran ini berkontribusi<br />

terhadap terhambatnya laju pertumbuhan<br />

ekonomi nasional, yang salah<br />

satu penopang utamanya adalah belanja<br />

(investasi dan konsumsi) Pemerintah. (Lihat<br />

kurva S ).<br />

Penyiapan Program 2012<br />

“Program” berbeda dengan apa yang dahulu<br />

diistilahkan sebagai “proyek”. Mengacu pada<br />

struktur anggaran yang baru, istilah proyek<br />

dapat disamakan dengan rincian pekerjaan.<br />

Program pembangunan Direktorat Jenderal<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, yaitu Program Pem binaan dan<br />

Pengembangan Infrastruktur Permukiman,<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 11


BERITAUTAMA<br />

DALAM JUTAAN RUPIAH<br />

9000000<br />

8000000<br />

7000000<br />

6000000<br />

5000000<br />

4000000<br />

3000000<br />

2000000<br />

7702730<br />

RENCANA DAN REALISASI PENYERAPAN KEUANGAN<br />

DITJEN CIPTA KARYA<br />

TAHUN ANGGARAN 2010<br />

1243900.657<br />

1690925.636<br />

8292881.689 8372544.304<br />

7873440.857 8016249.2578046649.257 8178407.386<br />

8036257.48<br />

7934017.942<br />

7279774.675<br />

4795415.714<br />

3649233.469<br />

3862903.717<br />

3406432.324<br />

3080912.872<br />

2624127.158<br />

2905370.33<br />

2361626.303<br />

2131543.703<br />

6867517.705 7069971.058<br />

7094854.839<br />

6553753.179<br />

6546277.035<br />

5937388.952<br />

6037535.301<br />

5780277.625<br />

5490273.678<br />

4943012.0565129813.967<br />

4339388.72<br />

4439214.572<br />

697205.9676<br />

1127994.96<br />

1000000<br />

128771.8217 302098.2298 10552.68117<br />

660024.8107<br />

0<br />

27140.70288 46845.43893 271230.4907<br />

JANF EB MARA PR MEIJ UN JULA GT SEPO KT NOPD ES<br />

memiliki tujuan meningkatkan kualitas lingkungan<br />

permukiman dan cakupan pelayanan<br />

(dasar) infrastruktur permukiman untuk meningkatkan<br />

kesejahteraan masyarakat.<br />

Penyusunan Program dapat didefinisikan<br />

sebagai suatu rangkaian aktivitas penyiapan<br />

kegiatan berupa identifikasi permasalahan<br />

dan kebutuhan, formulasi operasionalisasi<br />

ke bijakan dan strategi, serta sinkronisasi antar<br />

komponen output kegiatan, termasuk sinkronisasi<br />

multi-pihak, multi-pendanaan, dan<br />

waktu pelaksanaan. Penyusunan program<br />

harus dilakukan dalam suatu kerangka menyeluruh<br />

dengan mempertimbangkan latar<br />

belakang dan kondisi eksisting daerah, sinkro<br />

nisasi dengan strategi pembangunan<br />

ke wilayahan yang lebih luas, dan analisa<br />

kapasitas keuangan Pemerintah, Pemerintah<br />

Daerah, dan sumber pendanaan lainnya yang<br />

dilakukan dengan cermat.<br />

Agar program yang disusun dapat tuntas<br />

menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhan<br />

pelayanan infrastruktur permu kiman<br />

yang dihadapi, hendaknya komponen<br />

waktu atau berapa lama waktu pelaksanaan<br />

kegiatan beserta alokasi anggarannya tidak<br />

menjadi batasan terlebih dulu. Dengan<br />

de mikian, para perencana dan penyusun<br />

program dapat secara leluasa dan tajam<br />

me rancang desain program yang sesuai.<br />

Namun demikian efisiensi dan efektifitas<br />

pe manfaatan sumber daya, termasuk pendanaan,<br />

tetap menjadi prinsip yang harus<br />

diacu.<br />

BULAN<br />

PAGU<br />

RENCANA<br />

REALISASI<br />

PERCEPATAN<br />

Untuk menghindari intervensi Pemerintah<br />

yang dilakukan secara sporadis dan mencegah<br />

kemanfaatan infrastruktur yang tidak<br />

berkelanjutan, penyusunan program harus<br />

dilakukan dalam kerangka jangka menengah,<br />

yang kita kenal dengan Rencana<br />

Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)<br />

Bidang PU/<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Penyusunan rencana<br />

program pembangunan infrastruktur permu<br />

kiman ini sudah semestinya berawal dari<br />

inisiatif Pemerintah Kabupaten/Kota se bagai<br />

pengemban tanggung jawab utama,<br />

se bagaimana diamanatkan dalam Undangundang<br />

No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah<br />

Daerah.<br />

Guna menerjemahkan rencana program<br />

jangka menengah kedalam program dan anggaran<br />

tahunan, perlu dilakukan sinkro nisasi<br />

kebutuhan program dan indikasi alokasi anggaran<br />

tiap tahunnya. Penyusunan tingkat<br />

pri oritas rincian dan lokasi kegiatan akan<br />

menjadi referensi penting dalam memberikan<br />

justifikasi rencana pengalokasian anggaran<br />

dan waktu pelaksanaan kegiatannya.<br />

Penyusunan prioritas rincian kegiatan<br />

di dasarkan pada urgensi output kegiatan,<br />

jumlah penduduk pemanfaat, luas wila yah<br />

yang tertangani, tingkat kesiapan pelaksanaan<br />

kegiatan, kesesuaian perun tukan lokasi<br />

dalam Rencana Tata Ruang, perhatian<br />

Pemerintah Daerah setempat, kebutuhan<br />

ang garan, serta dampak positif ikutannya.<br />

Penyusunan kegiatan prioritas ini perlu dilakukan<br />

dan disepakati secara bersama, serta<br />

dituangkan kedalam suatu kesepakatan (memorandum)<br />

program antara <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong><br />

Kar ya, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah<br />

Kabupaten/Kota.<br />

Idealnya, kegiatan-kegiatan yang akan<br />

di anggarkan adalah kegiatan yang sudah<br />

di nilai benar-benar layak untuk didanai, baik<br />

dilihat dari sisi perencanaan, pelaksanaan<br />

kegiatan, maupun pemanfaatannya. Kegiatan<br />

penyusunan program semestinya dilakukan<br />

2 tahun sebelum pelaksanaan kegiatan (T-2),<br />

sehingga dapat siap dianggarkan pada tahun<br />

berikutnya.<br />

Proses Penganggaran<br />

Untuk menjamin terlaksananya kegiatan<br />

yang diprioritaskan, proses penganggaran<br />

per lu dilakukan secara tertib. Setiap rincian<br />

pekerjaan harus diterjemahkan dengan benar<br />

kedalam aplikasi anggaran.<br />

Sudah menjadi rahasia umum bahwa<br />

penyusunan dan penelaahan anggaran kita<br />

masih dilakukan dengan kurang matang dan<br />

cenderung tergesa-gesa, sehingga waktu<br />

yang diperlukan untuk kontrol kualitas doku<br />

men anggaran menjadi tidak memadai.<br />

Pekerjaan penyusunan aplikasi Rencana Kegiatan<br />

Anggaran Kementerian/Lembaga<br />

(RKA-KL) lebih sering menumpuk pada bulan<br />

November, padahal Peraturan Pemerintah<br />

No. 90 tahun 2010 tentang Penyusunan<br />

RKA-KL mengatur agar penyiapan (aplikasi)<br />

RKA-KL sudah dilakukan pada bulan Juni-Juli<br />

se telah menerima Pagu Sementara, sebagai<br />

bahan lampiran nota keuangan.<br />

Rincian pekerjaan untuk semua kegiatan<br />

yang layak didanai seharusnya sudah siap<br />

pa ling lambat pada awal Januari di tahun<br />

penganggaran, sehingga masih cukup waktu<br />

untuk melakukan konsolidasi dalam pengisian<br />

aplikasi dan penelaahan dokumen<br />

RKA-KL. Dengan demikian diharapkan dapat<br />

menghasilkan dokumen anggaran yang lebih<br />

baik, sehingga dapat meminimalisir kebutuhan<br />

revisi anggaran yang dapat menghambat<br />

peningkatan pelayanan infra struktur<br />

permukiman.<br />

Penyusunan program dan anggaran yang<br />

dilakukan secara tertib dan akuntabel merupakan<br />

perwujudan penerapan tata pe merintahan<br />

yang baik (good governance), dan<br />

salah satu bentuk respon terhadap tuntutan<br />

reformasi birokrasi yang saat ini semakin menguat.<br />

*) Staf Subdit Program dan Anggaran,<br />

Direktorat Bina Program, DJCK<br />

12 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


LIPUTANKHUSUS<br />

Liputan Khusus<br />

Membangun Nilai Tambah<br />

di Kawasan Wisata Raja Ampat<br />

Heri Supriyanta *)<br />

Seperti halnya dengan kondisi infrastruktur di kawasan wisata potensial di tanah<br />

air ini, Raja Ampat masih mendambakan sentuhan ekstra dari Pemerintah Pusat<br />

dan Pemerintah Daerah. Namun sedikit demi sedikit kawasan Raja Ampat sudah<br />

mendapatkan sentuhan infrastruktur dari Kementerian Pekerjaan Umum berupa jalan<br />

poros desa, pasar desa, dan MCK Umum. Dua hal ini minimal bermanfaat untuk<br />

meningkatkan akses masyarakat, menggeliatkan perekonomian, dan memperbaiki<br />

derajat kesehatan.<br />

Kabupaten Raja Ampat dikenal dengan<br />

perairannya yang menakjubkan. Kabupaten<br />

ini terletak di kepala burung Papua, jika kita<br />

sepakat mengibaratkan pulau paling timur<br />

wilayah Indonesia ini mirip seekor burung.<br />

Kabupaten Raja Ampat memiliki 610 pulau.<br />

Empat di antaranya, yakni Pulau Misool,<br />

Salawati, Batanta dan Waigeo, merupakan<br />

pulau-pulau besar. Dari seluruh pulau hanya<br />

35 pulau yang berpenghuni sedangkan pulau<br />

lainnya tidak berpenghuni dan sebagian<br />

besar belum memiliki nama.<br />

Sebagai daerah kepulauan, satu-satunya<br />

transportasi antar pulau dan penunjang<br />

kegiatan masyarakat Raja Ampat adalah<br />

ang kutan laut. Demikian juga untuk menjangkau<br />

Waisai, ibu kota kabupaten. Bila<br />

meng gunakan pesawat udara, lebih dulu<br />

menuju Kota Sorong. Setelah itu, dari Sorong<br />

perjalanan ke Waisai dilanjutkan dengan<br />

trans portasi laut. Sarana yang tersedia adalah<br />

kapal cepat berkapasitas 10, 15 atau 30 orang.<br />

Dengan biaya sekitar Rp. 2 juta, Waisai dapat<br />

dijangkau dalam waktu 1,5 hingga 2 jam.<br />

Medio Nopember 2010 lalu, penulis berkesempatan<br />

menjejakkan kaki di kabu paten<br />

kepulauan ini. Perjalanan dimulai dari Kota<br />

Sorong, ujung barat kepala burung Papua<br />

di Provinsi Papua Barat, yang sebenarnya<br />

ber-ibukota di Manokwari. Perjalanan kali ini<br />

dilaksanakan untuk mengunjungi Kabupaten<br />

Raja Ampat dalam rangka pengawasan dan<br />

pengendalian terhadap pembangunan infra<br />

struktur TA. 2010 untuk mendukung Minapolitan<br />

Kawasan Selat Segawin, yang dilaksanakan<br />

di Pulou Batanta, dengan Distrik<br />

Yenanas.<br />

Di lokasi ini telah terbangun infrastruktur<br />

berupa Jalan Poros Desa dan satu unit Pasar<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 13


Kunjungan ke Kabupaten Raja Ampat dalam rangka<br />

pengawasan dan pengendalian terhadap pembangunan<br />

infrastruktur TA. 2010 untuk mendukung Minapolitan Kawasan<br />

Selat Segawin.<br />

Desa, dimana pada saat kunjungan kami ke<br />

lokasi ini, kedua infrastruktur tersebut telah<br />

terbangun dan sudah dimanfaatkan oleh<br />

war ga disekitar kawasan.<br />

Pasar Desa<br />

Desa Yenanas, di Distrik Batanta, Kawasan<br />

Selat Segawin, Kabupaten Raja Ampat beruntung<br />

mendapatkan prasarana bantuan<br />

be rupa satu unit Pasar Desa dan bangunan<br />

Kamar Mandi (toilet dua pintu). Kedua prasarana<br />

dan sarana tersebut bernilai lebih<br />

hampir Rp 700 juta.<br />

Dilihat dari aspek kualitas, bangunan Pasar<br />

Desa dinilai cukup baik, yaitu dengan<br />

konstruksi kayu, atap seng, dan lantai rabat<br />

beton di aci. Hanya saja di beberapa tempat<br />

masih terlihat adanya genangan air. Setelah<br />

dikonfirmasi ternyata akibat angin laut yang<br />

besar sehingga naik ke lantai pasar. Tidak<br />

mengherankan karena lokasi pasar ini berada<br />

di pinggir pantai disebelah dermaga perahu/<br />

speedboat.<br />

Sesuai informasi pegawai Distrik Batan -<br />

ta setempat yang menemani kami da lam<br />

berkeliling kawasan ini, lokasi pemba ngunan<br />

memang di tepi pantai yang di setujui berbagai<br />

pihak. Sehingga dalam pe ren ca naan<br />

dan pembangunannya memer lukan pe nyelesaian<br />

secara teknis, paling tidak peil lan tai<br />

harus mengantisipasi air pasang laut ter tinggi,<br />

atau ombak musim angin utara. Mereka<br />

memang kemudian mengusulkan ada nya<br />

ba ngunan talud disepanjang bangu nan gedung<br />

Pasar Desa ini.<br />

Perlu diketahui, pasar ini adalah satusatunya<br />

pasar desa yang ada di kawasan ini,<br />

dan pasar saat ini dimanfaatkan oleh para<br />

pedagang kelontong (meskipun belum penuh),<br />

bukan para penjual jual sayur mayur<br />

atau ikan hasil tangkapan. Hal ini di sebabkan<br />

bahwa produksi sayur maupun ikan hasil<br />

tangkapan sudah habis sebelum mencapai<br />

pantai. Bahkan sebelum sempat mendarat,<br />

para nelayan sudah dihampiri para pe ngumpul<br />

ditengah laut.<br />

Namun kini, tidak hanya ikan dan sayur,<br />

pasar desa ini juga sudah ramai dengan para<br />

penjual kebutuhan rumah tangga seperti<br />

peralatan dapur, pakaian dan lain-lain. Silah<br />

kan perhatikan foto-foto berikut ini. Beberapa<br />

foto kondisi pasar Desa Yenanas,<br />

di Distrik Batanta, Kawasan Selat Segawin,<br />

Kabupaten Raja Ampat, dan kualitas kayu<br />

yang dipergunakan untuk struktur, dan masyarakat<br />

yang memanfaatkan untuk berjualan<br />

kebutuhan-kebutuhan rumah tang ga,<br />

seperti peralatan dapur dan pakaian/ba ju/<br />

kaos,dll.<br />

Jalan Poros Desa<br />

Dari hasil pengamatan di lapangan, jalan<br />

yang dibangun di kawasan ini menggunakan<br />

konstruksi rigit semen beton, dengan lebar 3<br />

M dan tebal 20 cm sepanjang 532,51 m. Biaya<br />

pembangunannya lebih dari Rp 885 juta.<br />

Dari aspek kualitas sudah cukup baik.<br />

Terbukti dengan kualitas beton di pinggiran<br />

cukup keras dan tidak mudah pecah. Namun<br />

demikian, di beberapa titik masih ditemukan<br />

kondisi beton yang patah memanjang dan<br />

lebar, sehingga diperlukan penanganan lebih<br />

lanjut.<br />

Sementara itu draninase kawasan yang<br />

berada di sepanjang jalan ini dibangun<br />

dengan menggunakan alokasi perdesaan<br />

skala kawasan (APBN) sehingga terlihat kawasan<br />

ini menjadi semakin baik. Masya rakat<br />

pun sangat senang dengan pem ba ngunan<br />

jalan ini, terlihat semakin banyak masyarakat<br />

14 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


LIPUTANKHUSUS<br />

yang mulai membangun atau merenovasi<br />

rumah mereka.<br />

Satu catatan, untuk jalan poros desa<br />

ini dibangun pada kawasan permukiman<br />

masyarakat nelayan. Namun kalau dilihat<br />

perbedaan peil antara jalan dan drainase,<br />

nampak bahu jalan tidak diisi dengan tanah<br />

lagi, sehingga berpeluang untuk rusak/patah.<br />

Diharapkan masyarakat di sekitar kawasan<br />

melakukan gotong royong mengisi bahu<br />

jalan itu dengan tanah atau pasir setempat<br />

sehingga memperpanjang umur konstruksi.<br />

Untuk tahun ketiga kawasan Selat Segawin<br />

ini, pada TA.2011 akan dialokasikan<br />

pembangunan jalan poros lanjutan untuk<br />

menuntaskaan kawasan ini. Selain itu ada<br />

beberapa titik kawasan, di mana masyarakat<br />

menghendaki dibangunnya talud penahan<br />

badan jalan.<br />

Dilihat dari kondisi eksisting, rencana<br />

pem bangunan jalan cukup baik dan lurus,<br />

sehingga kemungkinan memudahkan dalam<br />

pelaksanaan. Hanya saja, menurut catatan<br />

Ke pala Satker PKP Provinsi Papua Barat,<br />

Abdul Halil Kastella, kendala pelaksanaan<br />

ha nya dalam proses mobilisasi material dari<br />

Sorong ke lokasi ini membutuhkan waktu<br />

tempuh laut selama 2-3 jam perjalanan<br />

dengan menggunakan perahu atau ponton.<br />

Tak pelak biaya menjadi relatif lebih tinggi.<br />

Namun demikian, lagi-lagi Kementerian<br />

Pe kerjaan Umum, melalui Direktorat Jenderal<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> terus berupaya meningkatkan<br />

infrastruktur perdesaan berpotensi ini. Sehingga<br />

di masa yang akan datang ma sya rakat<br />

di sekitar kawasan ini mampu melaksanakan<br />

kehidupan ekonominya de ngan baik, dan<br />

memiliki infrastruktur per mukiman yang lebih<br />

lengkap.<br />

Sharing APBD<br />

Dari pemantauan di lapangan juga ditemui<br />

adanya bangunan talud penahan pantai<br />

yang dibangun pada TA. 2010 dari APBD Kab.<br />

Raja Ampat. Namun secara teknis bangunan<br />

ini kurang tahan terhadap ombak, sehingga<br />

didapatkan di satu titik yang sudah roboh/<br />

ambruk karena konstruksinya tak didukung<br />

dengan struktur yang memadai.<br />

Demikian catatan perjalanan kami, se moga<br />

dapat menjadikan masukan dalam pengambilan<br />

putusan pimpinan di masa yang<br />

akan datang.<br />

*) Asisten Perencanaan Program<br />

Pengembangan Kawasan Agropolitan,<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 15


Info Baru 1<br />

Menebar Infrastruktur<br />

di Kawasan Transmigrasi<br />

Penyebaran penduduk Indonesia melalui program transmigrasi bukan urusan<br />

gampang. Kawasan transmigrasi harus didukung infrastruktur yang mantap<br />

agar geliat ekonomi berjalan lancar. Tantangan ini dengan serius didukung oleh<br />

Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kementerian Pekerjaan Umum bekerjasama dengan<br />

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi melalui pengembangan Kawasan<br />

Terpadu Mandiri (KTM).<br />

16 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


INFOBARU 1<br />

Komitmen ini diperkuat dengan penanda<br />

ta nganan Nota Kesepahaman tentang<br />

pengembangan ekonomi lokal dan per desaan<br />

melalui pembangunan infra struktur di<br />

kawasan KTM. Dalam 2-3 tahun ke depan,<br />

dua kementerian tersebut ditargetkan mampu<br />

mengembangkan 44 kawasan Kota Terpadu<br />

Mandiri (KTM) yang sudah dite tapkan<br />

dengan Keputusan Mena kertrans No mor<br />

Kep.293/MEN/IX/2009.<br />

Penandatanganan tersebut menyambung<br />

upaya yang sudah dilakukan sejak 2007.<br />

Selama empat tahun, dua kementerian ini<br />

ber hasil membangun infrastruktur di 32<br />

ka wasan transmigrasi. Beberapa kawasan<br />

itu antara lain KTM Mesuji Lampung, KTM<br />

Rambutan Parit, KTM Belitang dan KTM Telang<br />

Sumatera Selatan.<br />

Menurut Djoko, upaya ini akan terus<br />

berlanjut, dan untuk 2011 Kementerian PU<br />

telah mengalokasikan program pendukung<br />

KTM untuk lokasi di KTM Kawasan Way Tuba<br />

Lampung dan KTM Cahaya Baru Kalimantan<br />

Selatan.<br />

“Pusat-pusat pertumbuhan ini berperan<br />

penting sebagai motor penggerak ekonomi<br />

wilayah, karena fungsinya sebagai pusat<br />

pelayanan pengolahan, dan pemasaran produk.<br />

Upaya itu perlu didorong terus dengan<br />

dukungan infrastruktur,” ujar Djoko Kir manto.<br />

Menakertrans Muhaimin Iskandar menam<br />

bahkan, nota kesepahaman dan perjanjian<br />

kerjasama itu dimaksudkan untuk mengembangkan<br />

infrastruktur permukiman di<br />

kawasan KTM agar terpelihara dan tetap berfungsi<br />

sesuai dengan standar pelayanan yang<br />

dibutuhkan.<br />

“Nantinya, secara teknis, Kementerian PU<br />

akan mengkaji usulan rencana (masterplan)<br />

pembangunan kawasan, pembangunan infra<br />

struktur permukiman di kawasan transmigrasi,<br />

pendampingan dan pembinaan<br />

tek nis serta pelatihan operasional dan pe me -<br />

li ha raan infrastruktur,” kata Muhaimin.<br />

Integrasi KTM dan RPIJM<br />

Sementara itu Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Budi Yuwono<br />

menjelaskan, <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> akan<br />

mengintegrasikan slot program yang ada<br />

dalam dukungan untuk KTM dengan Rencana<br />

Program dan Investasi Jangka Menengah<br />

daerah yang bersangkutan. Program<br />

yang bisa didukung oleh <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong><br />

<strong>Karya</strong> seperti penyediaan air minum, sanitasi,<br />

jalan lingkungan, penataan bangunan dan<br />

lingkungan tetap melalui RPIJM agar pasca<br />

program ada yang mengurus infrastruktur<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 17


yang sudah dibangun.<br />

“Jangan sampai kita meninggalkan<br />

dae rah. Ini menjadi bagian penting dari<br />

pembelajaran pembangunan di daerah agar<br />

mam pu menyusun program dengan baik<br />

dan bertanggung jawab. Jangan ada lagi<br />

infrastruktur terbangun tidak terurus, termasuk<br />

dalam rangka dukungan untuk KTM ,”<br />

tegasnya.<br />

Direktur Pengembangan Permukiman,Am -<br />

wazi Idrus menyatakan, dengan penandata<br />

ngan MoU antara dua menteri ini di harapkan<br />

bantuan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> lebih<br />

tepat sasaran karena ada penekanan harus<br />

masuk dalam Rencana Program dan Investasi<br />

Jangka Menengah (RPIJM) masing-masing<br />

daerah. Ada 44 lokasi KTM yang diusulkan<br />

Kemenakertrans dan akan dipelajari oleh<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> agar dapat dimasukkan ke RPIJM.<br />

Pernyataan Amwazi tentang kesiapan Pemda<br />

didukung oleh Dirjen Pembinaan Pe ngembangan<br />

Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi<br />

(PPMKT) Kemenakertrans, Djo ko<br />

Sidiq Pramono. Dia mengatakan bah wa<br />

Pemda me miliki keterbatasan dalam pemeliharaan<br />

aset yang dibangun di kawasan KTM.<br />

Ka rena itu diharapkan tidak saja dari Pem da,<br />

masyarakat juga perlu terlibat.<br />

“Jika MoU ini sudah berjalan, maka asetaset<br />

prasarana dan sarana yang sudah dibangun<br />

bisa didukung dengan operational<br />

dan maintenance (OM) oleh <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong><br />

<strong>Karya</strong> agar pemeliharaannya tidak tersendat.<br />

Kesepakatan bersama (MoU0 ini akan berlaku<br />

untuk jangka waktu 4 tahun, dan untuk<br />

mengawasi pelaksanaan kesepakatan ini<br />

akan dilakukan monitoring dan evaluasi se cara<br />

terpadu setiap tahun,” ujarnya.<br />

Tujuan KTM<br />

Kota Terpadu Mandiri adalah desa atau kawasan<br />

yang tumbuh dan berkembang<br />

sebagai pusat koleksi, pengolahan hasil, distri<br />

busi dan jasa dari WPT (Wilayah Pengembangan<br />

Transmigrasi) yang didesain sebagai<br />

arahan pengembangan terstruktur dari unit-unit<br />

permukiman transmigrasi dan desa-desa<br />

sekitar dalam satu satuan jaringan<br />

in fra struktur dan satuan ekonomi wilayah<br />

yang dalam operasionalnya dibangun secara<br />

terencana dan terpadu dengan melibatkan<br />

lintas sektor dan multidisiplin baik pusat,<br />

provinsi maupun kabupaten.<br />

Sehingga dalam pelaksanaannya membutuhkan<br />

koordinasi, sinkronisasi, dan integrasi<br />

yang sangat intensif dengan instansi lintas<br />

sektor terkait, yang memberi dukungan<br />

sesuai kewenangan dan tupoksinya masingmasing.<br />

Instansi lintas sektor yang terkait<br />

diantaranya Pemerintah Kabupaten dan<br />

Propinsi, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian<br />

Pekerjaan Umum, Kementerian<br />

Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kemen<br />

terian Perdagangan, Kementerian Per hubungan,<br />

Kementerian Agama, BKPM, Dinas<br />

Kehutanan, Kantor Menteri Negara Koperasi,<br />

BPN, Kementerian Kesehatan, kementerian<br />

Pendidikan Nasional, PLN, dan Perusahaan<br />

Daerah Air Minum (PDAM).<br />

Tujuan umum KTM di kawasan transmigrasi<br />

adalah; pertama, meningkatkan kemudahan<br />

dalam memenuhi berbagai kebutuhan dasar<br />

yang memungkinkan terbukanya kesempatan<br />

pertumbuhan ekonomi lokal dan<br />

sosbud daerah transmigrasi. Kedua, menciptakan<br />

sentra-sentra aktifitas bisnis yang<br />

menarik Investor sebagai upaya menumbuh<br />

kembangkan kegiatan ekonomi transmigran<br />

dan masyarakat sekitarnya.<br />

Sedangkan sasarannya antara lain; pertama,<br />

tersedianya sarana sosial, ekonomi<br />

dan pemerintahan untuk melayani kebutuhan<br />

dasar para transmigran dan desa<br />

sekitar. Kedua, tersedianya prasarana dan<br />

Peta sebaran KTM<br />

KTM Samar Kilang<br />

Bener Meriah, NAD<br />

KTM Semanggaris<br />

Nunukan, Kal-Tim<br />

KTM Sebatik<br />

Nunukan, Kal-Tim<br />

KTM Ketagang Nusantara<br />

Aceh Tengah, NAD<br />

KTM Lunang Silaut<br />

Pesisir Selatan, Sumbar<br />

KTM Lagita<br />

Bengkulu Utara, Bengkulu<br />

KTM Rupat<br />

Bengkalis,Riau<br />

KTM Parit Rambutan<br />

Ogan Ilir, Sum-Sel<br />

KTM Way Tube<br />

Way Kanan, Lampung<br />

KTM Peuh Mandiangin<br />

Sarolangun, Jambi<br />

KTM Geragai<br />

Tanjung Jabung, Jambi<br />

KTM Telang<br />

Banyu Asin, Sum-Sel<br />

KTM Belitang<br />

Oku Timur, Sum-Sel<br />

KTM Rasau Jaya<br />

Kubu Raya, Kal-Bar<br />

KTM Subah<br />

Sambas, Kal-Bar<br />

KTM Batu Belumpang<br />

Bangka Selatan, Ba-Bel<br />

KTM Labanan<br />

Berau, Kal-Tim<br />

KTM Kalorang<br />

Kutai Timur, Kal-Tim<br />

KTM Lamuni<br />

Kapuas, Kal-Teng<br />

KTM Salim Batu<br />

Bulungan, Kal-Tim<br />

KTM Cahaya Baru<br />

Bakola, Kal-Sel<br />

KTM Tampolore<br />

Poso, Sul-Teng<br />

KTM Tobudak<br />

Mamuju, Sul-Teng<br />

KTM Air Tenang<br />

Buci, Sul-Teng<br />

KTM Parimo<br />

Parimo, Sul-Teng<br />

KTM Punaga<br />

Takalar, Sul-Sel<br />

KTM Pasonsari<br />

Boalemo, Gorontalo<br />

KTM Pada Joyo<br />

Tojo Uma-uma, Sul-Teng<br />

KTM Bungku<br />

Morowali, Sul-Teng<br />

KTM Mahalona<br />

Luwu Timur, Sul-Sel<br />

KTM Malu/Lamonae<br />

Konawe Utara, Sul-Tra<br />

KTM Karnisa<br />

Muna, Sul-Tra<br />

KTM Morotai<br />

Morotai, Maluku Utara<br />

KTM Kobisonta<br />

Maluku Tengah, Maluku<br />

KTM Senggi<br />

Keenom, Papua<br />

KTM Muting<br />

Merauke, Papua<br />

Keterangan :<br />

KTM Mesuji<br />

Tulang Bawang, Lampung<br />

KTM Sarudu Baros<br />

Mamuju Utara, Sul-Teng<br />

KTM Labangka<br />

SUmbawa, NTB<br />

KTM Tambora<br />

Bima, NTB<br />

KTM Nageleo<br />

Nageleo, NTT<br />

KTM Penu<br />

Tim-Teng Utara, NTT<br />

KTM Salor<br />

Merauke, Papua<br />

Lokasi Kota Terpadu Mandiri<br />

Kawasan Kota Terpadu Mandiri Generasi I Generasi II Generasi II Rencana Program 2009<br />

18 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


INFOBARU 1<br />

terdiri dari transmigran dan penduduk<br />

sekitar;<br />

d. WPT terdiri dari 4-5 SKP (Satuan Kawasan<br />

Pengembangan) yang memiliki Pusat/<br />

Desa Utama. Setiap SKP terdiri dari 4 — 6<br />

SP (Satuan Permukiman) yang memiliki<br />

Pusat Desa;<br />

e. KTM membawahi Desa Utama dan Desa<br />

Utama membawahi Pusat Desa;<br />

f. Usulan pembangunan dan pengem bangan<br />

KTM merupakan kesepakatan bersama<br />

antara pemerintah Kabupaten/Kota,<br />

dikoordinasikan oleh pemerintah Propinsi,<br />

serta lolos seleksi Tim pemerintah;<br />

g. Kebutuhan lahan yang diperlukan untuk<br />

pem bangunan dan pengembangan KTM<br />

ada lah untuk pusat benih/bibit dan<br />

dem farm 230 ha, pembangunan sarana<br />

dan prasarana pusat KTM 120 ha, pengembangan<br />

permukiman transmigrasi<br />

baru minimal 1000 ha, pengembangan<br />

trans migrasi swakarsa mandiri minimal<br />

500 ha.<br />

sa rana untuk mendukung kegiatan usaha<br />

para transmigran dan desa sekitar. Ketiga,<br />

terbangunnya sentra-sentra kegiatan bisnis<br />

untuk menumbuhkan kegiatan ekonomi di<br />

daerah transmigrasi.<br />

Struktur tata ruang KTM<br />

Secara garis besar tata ruang KTM akan<br />

dibentuk melalui tiga hirarki pusat pela yanan,<br />

yaitu Pusat KTM, Desa Utama dan Pusat Desa.<br />

Ketiga pusat-pusat pertumbuhan tersebut<br />

akan dibentuk dan berfungsi sesuai dengan<br />

hirarkinya. Pusat-pusat ter se but di lengkapi<br />

berbagai fasilitas yang men du kungnya yaitu:<br />

= Pertama, Pusat KTM terdiri dari; Pusat<br />

Penjualan Produk, Pusat Informasi, Galeri,<br />

Ruang Pamer, Perbankan, Terminal Umum<br />

dan Terminal Agribisnis, Industri Pengolahan,<br />

Packaging, Labelling, Pergu dangan,<br />

Tempat Pembuangan Limbah Sementara,<br />

Perbengkelan, Show Room (elektronik, automotif),<br />

Super Mar ket, Pertokoan, Grosir,<br />

Pasar Induk, Hotel, Puskesmas/Rumah<br />

Sakit Tipe C, TK, SD, SLTP, SMU, Balai<br />

Latihan dan Perpustakaan Umum, Listrik,<br />

Telepon, Rumah Ibadah, Air Bersih, Sarana<br />

Olah Raga dan RTH, Perkantoran, Ruang<br />

Rapat dan Balai Pertemuan.<br />

= Kedua, Pusat Desa Utama terdiri dari ;<br />

Fasilitas Perbankan, Test Farm, Seed Farm,<br />

Pasar Pengumpul, Koperasi dan Sub Terminal,<br />

Pergudangan/Pabrikasi (barang<br />

men tah sampai setengah jadi, tempat<br />

sampah hasil olahan, industri rumah<br />

tangga), Kios Tani, Gudang Saprotan,<br />

Gudang Penyimpanan, Bengkel, Toko, Pasar,<br />

Penginapan, Puskesmas/Pustu, TK, SD,<br />

SLTP, Rumah Ibadah, Sarana Olah Raga<br />

Kantor Pos Pembantu, Listrik, Telepon, Air<br />

Bersih, Perkantoran dan Balai Pertemuan.<br />

= Ketiga, Pusat Desa terdiri dari ; Gudang<br />

Pengumpul, Kios Tani, Lantai Jemur Demplot,<br />

KUD, Warung/Kios/Toko, TK, SD,<br />

Balai Pengobatan Rumah Ibadah, Listrik,<br />

Telepon, Air Bersih, Kotak Pos dan RTH.<br />

Kriteria yang ditetapkan Kementerian Tenaga<br />

Kerja dan Transmigrasi untuk suatu Kawasan<br />

transmigrasi akan dikembangkan melalui<br />

pembangunan dan pengembangan Kota<br />

Ter padu Mandiri (KTM) apabila memenuhi<br />

persyaratan sebagai berikut:<br />

a. Masuk ke dalam Kawasan budidaya non<br />

kehutanan atau termasuk ke dalam Areal<br />

Penggunaan Lain (APL) dan Hutan Produksi<br />

yang dapat dikonversi (HPK) serta<br />

sesuai dengan yang diperuntukkan oleh<br />

RTRWP dan RTRWK;<br />

b. Luas wilayah KIM minimal ± 18.000 ha,<br />

yang diasumsikan berdaya tampung<br />

10.000 jiwa yang terdiri dari transmigran<br />

dan penduduk sekitar;<br />

c. Luas WPT (Wilayah Pengembangan Transmigrasi)<br />

± 50.000 ha, yang di asumsikan<br />

berdaya tampung ± 9.000 KK / 50.000 jiwa,<br />

Setelah dipenuhinya kriteria di atas, Kemen<br />

terian PU melalui Direktorat Jenderal<br />

Cip ta <strong>Karya</strong> membantu dana stimulan tiap<br />

usulan dari Bupati/Pemda dengan telah masuk<br />

dalam RPIJM, mempunyai Master Plan,<br />

DED dan lahan dalam penguasaan Pemda<br />

dan juga menyediakan dana pendamping<br />

serta sesuai RTRW Kabupaten dan Provinsi.<br />

Landasan Hukum<br />

Penyelanggaraan pengembangan kawasan<br />

KTM dilandasi oleh beberapa hukum dan<br />

peraturan sebagai berikut;<br />

= Pertama, Surat Keputusan Bersama (SKB)<br />

tiga Menteri mengenai KTM, yaitu No.03/<br />

SKB/M/2006; No. KEP-135/MEN/III/2006;<br />

No. 02/PKS/M/2006 tentang Pengadaan<br />

Pe ru mahan dan Pengembangan Permukiman<br />

Pekerja/ Buruh, Tenaga Kerja Indonesia<br />

(TKI) dan Transmigrasi.<br />

= Kedua, Surat Keputusan Bersama (SKB)<br />

tiga Menteri tersebut diperbaharui dengan<br />

dilaksanakan penandatanganan No -<br />

ta Ke sepahaman (NK) antara kedua Men -<br />

teri (Kementerian Nakertrans dan Ke menteri<br />

an PU) tentang Pengembangan Eko -<br />

nomi Lokal dan Perdesaan Melalui Pem -<br />

bangu nan Infrastruktur di Kawasan Transmig<br />

rasi, dan penandatangan PKS antara<br />

Dirjen. P2MKT dengan <strong>Ditjen</strong>. <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

tentang Pengembangan Infra struktur Permu<br />

kiman di Kawasan Kota Terpadu Mandiri,<br />

pada tanggal 23 Desem ber 2010.<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 19


INFOBARU 1<br />

= Ketiga, Keputusan Menakertrans No. 214<br />

tahun 2007, tentang Pedoman Umum<br />

Pembangunan dan Pengembangan KTM<br />

di Kawasan eks transmigrasi.<br />

= Keempat, sebagai instrumen untuk kelancaran<br />

koordinasi, sinkronisasi dan integrasi,<br />

Kementerian Tenaga Kerja dan<br />

Transmigrasi telah membuat Keputusan<br />

Menteri Nomor Kep. 110/MEN/II/2007<br />

ten tang Pembentukan Kelompok Kerja<br />

Pembangunan dan Pengembangan Kota<br />

Terpadu Mandiri.<br />

Lingkup Kegiatan<br />

Kegiatan dalam mendukung KTM memiliki<br />

ruang lingkup sebagai berikut, antara lain<br />

yang dilakukan Kementerian Pekerjaan<br />

Umum melalui Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong><br />

Kar ya dengan memberikan fasilitasi berupa<br />

bantuan teknis, sosialisasi pelaksanaan mau -<br />

Secara garis besar tata ruang KTM akan dibentuk melalui tiga<br />

hirarki pusat pela yanan, yaitu Pusat KTM, Desa Utama dan Pusat<br />

Desa.<br />

pun stimulan pengadaan fisik bidang Prasarana<br />

dan Sarana Dasar PU pada Kawasan KTM.<br />

Stimulan tersebut meliputi; jaringan sirkulasi<br />

meliputi jalan produksi/poros dalam kawasan;<br />

Sistem Penyediaan Air Minum ka wasan,<br />

dengan fasilitasi penyediaan air ba ku,<br />

unit produksi dan perpipaan distribusi utama;<br />

dan sistem sanitasi lingkungan yang<br />

dilaksanakan secara pemberdayaan ma syarakat<br />

berupa penyediaan prasarana penyehatan<br />

lingkungan permukiman berba sis masya<br />

rakat (IPAL, MCK, pola sampah 3R, sistem<br />

drainase berwawasan lingkungan).<br />

Dengan adanya sinergitas dan dukungan<br />

lintas sektoral, terutama Kementerian Pekerjaan<br />

Umum, diharapkan dapat mem per cepat<br />

pembanguan pusat-pusat pertumbuhan kawa<br />

san transmigrasi dan dapat mewu judkan<br />

KTM dalam 15 – 20 tahun ke depan, bahkan<br />

bisa lebih cepat lagi. Upaya itu semua dipersembahkan<br />

untuk mengangkat per ekonomian<br />

masyarakat transmigran yang ma sih<br />

berkubang keterbatasan.<br />

Lokasi Sasaran<br />

Lokasi kegiatan yang menjadi sasaran bantuan<br />

stimulan pada KTM eks transmigrasi<br />

yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Kota<br />

Terpadu Mandiri sejak Tahun Anggaran 2007<br />

– 2010 (lihat di peta) dan mengacu kepada<br />

Keputusan Menakertrans Nomor Kep.293/<br />

MEN/IX/2009. (bcr)<br />

Contoh Lokasi KTM Mesuji sampai dengan Tahun 2009<br />

mengalami kemajuan seperti berikut:<br />

20 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


INOVASI 1<br />

Inovasi 1<br />

Strategi Komunikasi <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> memanfaatkan anak-anak sekolah sebagai duta sanitasi.<br />

HHumas atau biasa disebut PR (Public Relation)<br />

memiliki peran penting dalam mengelola<br />

sebuah informasi dalam suatu institusi pemerintah.<br />

Seperti layaknya di perusahaan,<br />

Strategi Komunikasi<br />

da lam pemerintahan pun humas sangat diperlukan<br />

karena pemerintah memiliki kepen<br />

tingan dan tujuan yang bahkan lebih<br />

kompleks dari sebuah perusahaan. Fungsi<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> 2010-2014<br />

hu mas tidak hanya sekadar menjaga citra<br />

Dwityo A. Soeranto *) baik pemerintahan, tapi juga untuk men sosialisasikan<br />

kebijakan maupun prog ram yang<br />

dijalankan.<br />

Di era globalisasi, keterbukaan informasi yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan Sebagai institusi pemerintah, Kemen terian<br />

Pekerjaan Umum sudah tentu memiliki<br />

oleh seluruh komponen masyarakat. Kecepatan dan keakuratan informasi<br />

merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Tuntutan masyarakat akan tanggung jawab untuk menja lankan fungsi<br />

transparansi informasi dan akuntabilitas semakin tinggi dari penyelenggara negara. kehumasan. Sebagai kementerian teknis,<br />

Semakin cepat dan akurat berita diterima masyarakat, akan dapat mengurangi citra dengan ribuan pembangunan infrastruktur<br />

buruk pelayanan birokrasi yang berkembang saat ini. yang dilakukan, peran humas menjadi sangat<br />

vital dalam mengawal maupun me nyebar<br />

luaskan infor masi kepada masya rakat.<br />

Dengan peran humas yang handal maka<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 21


citra institusi dan juga pembangunan yang<br />

dilakukan dapat mengena, diterima, serta<br />

dipa hami oleh masyarakat. Alhasil, citra maupun<br />

keberhasilan institusi yang positif akan<br />

terangkat.<br />

Dalam menjalankan fungsi kehumasan,<br />

saat ini Kementerian PU memiliki Pusat<br />

Komukasi Publik (PuskomPU) di bawah Sekretariat<br />

Jenderal sebagai ‘corong’ kemente<br />

rian. Puskompu didukung juga oleh bagian<br />

kehumasan di tiap satminkal ataupun<br />

direktorat jenderal dalam menjalankan fungsi<br />

kehumasan. Dalam menjalankan fungsi<br />

kehumasan, tiap-tiap satminkal dalam<br />

KemenPU tentunya memiliki tantangan dan<br />

ken dalanya masing-masing, termasuk di <strong>Ditjen</strong><br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>.<br />

Dalam menjalankan fungsi kehumasan,<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> sebagai bagian dari Kementerian<br />

PU memiliki tantangan dan hambatan<br />

yang lebih kompleks daripada satminkal<br />

lain di KemenPU. Bagaimana ti dak, sebagai<br />

satminkal yang memiliki ratu san satuan kerja,<br />

lingkup tugas kompleks (persampahan, air<br />

limbah, air minum, drainase, permukiman<br />

dan penataan bangunan), pembangunan<br />

‘abs trak’ (pemberdayaan masyarakat, fasi litasi<br />

program, fasiltasi pemda) dan lain-lain<br />

membuat <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> sulit untuk mengenalkan<br />

pembangunan bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

kepada masyarakat luas.<br />

Untuk itu, dibutuhkan suatu strategi komu<br />

nikasi yang handal. Tanpa adanya strategi<br />

komunikasi yang handal maka pembangunan<br />

maupun kebijakan yang dilakukan oleh <strong>Ditjen</strong><br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> tidak akan dikenal dan mengena<br />

kepada masyarakat. Untuk menghadapi hal<br />

tersebut, segala upaya pun dilakukan. Saat<br />

ini <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> telah menyusun strategi komunikasi<br />

untuk lima tahun ke depan (2010-<br />

2014).<br />

Beberapa hal yang menjadi fokus utama<br />

ke depan adalah penguatan komitmen pemerintah<br />

daerah untuk menempatkan pembangunan<br />

prasarana dan sarana bidang <strong>Cipta</strong><br />

<strong>Karya</strong> sebagai salah satu prioritas utama<br />

dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat,<br />

memperkuat kerjasama dan pemahaman<br />

akan pentingnya pembangunan bidang<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, serta partisipasi unsur-unsur<br />

lintas sektoral dan antar stakeholders dalam<br />

menciptakan infrastruktur permukiman yang<br />

layak huni.<br />

Fakta di lapangan memang menunjukkan<br />

bahwa bidang ke-<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>-an kurang<br />

dikenal oleh masyarakat. Dalam suatu kesempatan,<br />

Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Budi Yuwono<br />

mengakui, pembangunan bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> memang masih kurang mendapat apresiasi<br />

dari masyarakat. Masyarakat masih menganggap pembangunan sanitasi, sampah maupun<br />

air minum kurang menarik dibandingkan jalan maupun jembatan. Meskipun demikian,<br />

menurutnya, komitmen pemerintah daerah sangatlah penting dalam mengkampanyekan<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Untuk itu <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> harus secara kontinyu dan berksesinambungan mengedukasi<br />

masyarakat, khususnya dalam hal pembangunan Bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, dengan begitu persepsi<br />

masyarakat akan bergerak dengan sendirinya.<br />

Permasalahan Lingkup <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Dalam menyusun strategi komunikasi publik <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, dilakukan penelitian dengan<br />

metodologi eksploratif, baik secara internal maupun eksternal. Secara internal dilakukan<br />

dengan mengadakan diskusi dengan seluruh sektor di <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dan “indepth<br />

interview” dengan pejabat eselon 1 dan 2 di lingkungan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Eksplorasi internal<br />

ini digunakan untuk mendapat gambaran organisasi dan permasalahan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dari<br />

internal organisasi.<br />

Selain itu juga dilakukan eksplorasi secara eksternal. Eksplorasi eksternal dilakukan dengan<br />

melakukan interview terhadap para stakeholder <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> seperti walikota, akademisi<br />

maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), utamanya yang berprestasi dan peduli akan<br />

masalah ke-<strong>Cipta</strong><strong>Karya</strong>-an. Masukan dan pandangan dari para stakeholder ini diharapkan dapat<br />

memetakan permasalahan organisasi <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Dari hasil eksplorasi tersebut dapat<br />

dirumuskan permasalahan yang dihadapi oleh <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> seperti bagan dibawah ini:<br />

Kerjasama<br />

antar<br />

stakeholders<br />

yang masih lemah<br />

Persepsi<br />

terhadap nilai<br />

produk<br />

ke <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>an<br />

belum maksimal<br />

DJCK<br />

1. Kualitas hidup di-klaim oleh banyak sektor<br />

kesehatan, perumahan, cipta karya<br />

2. Perbedaan kepentingan stakeholder dalam<br />

bekerjasama<br />

3. Pemahaman dan komitmen peran dan<br />

tanggung jawab antar stakeholders pusat<br />

daerah<br />

4. Belum memahami pentingnya<br />

permukiman layak huni bagi kesejahteraan<br />

masyarakat<br />

1. Pemahaman yang rendah akan manfaat<br />

Permukiman Layak huni terhadap<br />

peningkatan kualitas hidup<br />

2. Membutuhkan waktu untuk merasakan<br />

manfaat<br />

3. Konsep permukiman layak huni masih<br />

merupakan konsep abstrak bagi banyak<br />

orang<br />

4. Belum menganggap permukiman layak<br />

huni sebagai hak dasar<br />

Komitmen<br />

pemimpin<br />

yang masih<br />

rendah<br />

1. Lebih mengutamakan pembangunan sektor2 yang<br />

manfaat ekonomis dan sosialnya terasa langsung<br />

2. Pemimpin belum merasakan demand/tuntutan atas<br />

ke <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>an<br />

3. Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap<br />

tanggung jawab pemda dalam menyediakan<br />

infrastruktur Permukiman Layak Huni<br />

4. Belum dapat menggali manfaat ekonomis, politis<br />

dan sosial dari pembangunan ke cipta karyaan<br />

5. Keterbatasan sumber daya finansial dan manusia<br />

dalam membangun Permukiman Layak Huni<br />

Berdasarkan hasil pemetaan permasalahan tersebut, maka terdapat tiga fokus utama yang<br />

harus dilakukan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dalam strategi komunikasi 2010 – 2014-nya: yaitu value<br />

enhancement (meningkatkan nilai <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>), commitment building (mendorong<br />

komitmen pemimpin) dan cooperation strengthening (memperkuat kerjasama).<br />

Meningkatkan Nilai Produk <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Infrastruktur bidang cipta karya saat ini memang masih kurang mendapat apresiasi dari<br />

masyarakat. Pembangunan bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> masih dianggap kurang “seksi” dibanding<br />

infrastruktur bidang lainnya. Upaya peningkatan nilai jual produk <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> mutlak dilakukan.<br />

Caranya tentu saja dengan edukasi yang dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan.<br />

Edukasi ini dilakukan untuk menyadarkan dan juga memberitahu tokoh maupun masyarakat<br />

akan manfaat dari pembangunan bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Salah satu aksi yang akan dilakukan<br />

22 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


INOVASI 1<br />

Roadmap Strategi Komunikasi <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> 2010-2014<br />

1<br />

2<br />

VALUE<br />

ENHACEMENT<br />

COMMITMENT<br />

BUILDING<br />

NO<br />

1<br />

2<br />

PROGRAM/KEGIATAN<br />

Periklanan TV<br />

CK Resource Center<br />

2010<br />

2011 2012 2013 2014<br />

I II I II I II I II I II<br />

3<br />

COOPERATION<br />

STRENGTHENING<br />

3<br />

4<br />

5<br />

Publikasi PKPD PU<br />

Lomba liputan media daerah<br />

CSR for quality of life<br />

Keterangan:<br />

Warna muda : Conditioning (persiapan)<br />

Warna sedang : Pelaksanaan (intensitas tinggi)<br />

Warna pekat : Pemeliharaan (maintenance)<br />

adalah dengan membuat iklan tentang<br />

manfaat dan hasil pembangunan <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

yang dipublikasikan di media elektronik<br />

mau pun cetak secara berkelanjutan dan ter<br />

atur. Dengan komunikasi yang dilakukan<br />

secara intens maka diharapkan image <strong>Cipta</strong><br />

<strong>Karya</strong> dapat dikenal baik di mata masyarakat,<br />

sehingga paling tidak masyarakat tahu apa<br />

itu <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>.<br />

Selain itu, untuk lebih mengenalkan masyarakat<br />

perlu dibentuk sebuah <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Information Center. Information Center ini<br />

me ru pakan sarana yang memungkinkan akses<br />

data yang lebih mudah bagi masya rakat.<br />

Sarana ini bisa diwujudkan dengan kerja sama<br />

antara pemerintah dae rah de ngan Dit jen<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>.<br />

Dalam <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Information Center<br />

akan tersedia bahan-bahan mengenai CK,<br />

baik berupa buku petunjuk pelaksanaan,<br />

modul pelatihan, sampai dengan bahan siap<br />

cetak untuk flyer atau brosur. Diharapkan<br />

melalui <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Information Center ini<br />

juga memungkinkan adanya akses internet.<br />

Sehingga ke depannya, <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Resource<br />

Center ini merupakan pusat infor masi<br />

segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya<br />

meningkatkan kualitas hidup masyarakat<br />

yang dampaknya akan me ngu atkan image<br />

DJCK sebagai mitra dan nara sumber dalam<br />

me ningkatkan kualitas hidup.<br />

Mendorong Komitmen Pemimpin<br />

Membangun komitmen memang bukan<br />

per kara mudah. Bisa dibilang masalah komitmen,<br />

dalam hal ini komitmen pemerintah<br />

daerah merupakan masalah uta ma<br />

pembangunan bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Perlu<br />

diingat bahwa pembangunan bidang <strong>Cipta</strong><br />

karya merupakan tanggung jawab Pe merintah<br />

Daerah. Perhatian para pe mang ku<br />

kepentingan di daerah dalam bidang <strong>Cipta</strong><br />

<strong>Karya</strong> seperti sampah, air minum maupun<br />

permukiman masih kurang. Dalam berbagai<br />

kesempatan baik workshop, seminar maupun<br />

rapat koordinasi, Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Budi Yuwono selalu mengingatkan akan<br />

pentingnya penguatan komitmen pe merin<br />

tah daerah terhadap bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>.<br />

Ia juga selalu menghimbau kepada pa ra<br />

pemangku kepentingan di daerah agar masalah<br />

ke-<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>-an mendapat porsi yang<br />

lebih.<br />

Untuk itu perlu adanya sebuah upaya<br />

memacu kepala daerah di kabupaten/kota<br />

untuk meningkatkan kualitas hidup masya<br />

rakat dengan memprioritaskan pemba -<br />

ngunan bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> di dae rahnya.<br />

Aksi yang dilakukan adalah dengan<br />

memberikan apresiasi kepada kepala daerah<br />

yang berprestasi yang kemudian dipub likasikan<br />

ke media agar menjadi pemicu semangat<br />

kepada kepala daerah lainnya.<br />

Implementasi lainnya yaitu dengan mengadakan<br />

lomba liputan media daerah.<br />

Tujuannya adalah memberi ego insentif ba gi<br />

kepala daerah yang berprestasi dalam bidang<br />

CK dan public opinion pressure bagi<br />

setiap kepala daerah untuk memprioritaskan<br />

pemenuhan permukiman layak huni sebagai<br />

hak dasar setiap warga negara.<br />

Memperkuat Kerjasama<br />

Tugas pemerintah tidak akan berjalan dengan<br />

efektif tanpa adanya dukungan dari<br />

pi hak lain, dalam hal ini swasta. Dengan<br />

semakin berkembangnya perusahaan di Indonesia,<br />

semakin besar pula potensi kepedulian<br />

mereka dalam wadah Corporate Social<br />

Responsibility (CSR) yang bisa dibe rikan.<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> adalah masalah bersama dan<br />

membutuhkan kerjasama dalam mengatasinya.<br />

Fakta saat ini, bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

,yaitu permukiman sebagai hak dasar yang<br />

harus dipenuhi, belum menjadi prioritas CSR.<br />

Kerjasama ini masuk dalam strategi komunikasi,<br />

untuk menjadikan permukiman<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 23


INOVASI 1<br />

www.bp.blogspot.com<br />

Dalam berbagai kesempatan baik workshop, seminar maupun<br />

rapat koordinasi, Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Budi Yuwono selalu<br />

mengingatkan akan pentingnya penguatan komitmen<br />

pemerintah daerah terhadap bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>.<br />

Contoh: Apresiasi yang diberikan kepada pemerintah daerah melalui publikasi<br />

di media cetak.<br />

layak huni sebagai salah satu bidang yang<br />

diminati program CSR. Selain itu juga untuk<br />

menggali potensi program CSR swasta dalam<br />

mengembangkan prasarana dan sa rana<br />

bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>.<br />

Dalam strategi komunikasi ke depan<br />

akan dilakukan upaya “pemasaran” kegiatan<br />

pengembangan sarana ke-<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>-an.<br />

Hal ini dilakukan dengan mapping, membuat<br />

pemetaan potensi CSR dan ke giatan<br />

pengembangan sarana ke-<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>-an di<br />

berbagai daerah. Selain itu, juga dilakukan<br />

dengan membuat branding, design dan<br />

packaging, seperti program “CSR for Quality of<br />

Life”. Untuk lebih mengenalkan kepada pihak<br />

swasta nantinya <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> akan<br />

menyediakan pusat informasi bagi pihak<br />

swasta mengenai proyek-proyek pengembangan<br />

CK yang dapat didanai.<br />

Untuk melihat sejauh mana keberhasilan<br />

strategi yang dijalankan, terdapat indikator<br />

pencapaian yang digunakan, dimana dari<br />

3 tahap pengelompokan ditargetkan menga<br />

lami kenaikan sebesar 5 % tiap tahun.<br />

Misalnya dari value enhancement (peningkatan<br />

nilai ditjen cipta karya), outputnya<br />

adalah pemahaman masyarakat tentang <strong>Cipta</strong><br />

<strong>Karya</strong> yang dinilai meningkat 5% tiap tahunnya,<br />

begitu juga dengan tahap lainnya.<br />

Dengan adanya Strategi Komunikasi<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> 2010-2014, diharapkan kegiatan<br />

yang dilakukan akan lebih fokus dan terarah.<br />

Bidang ke-<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>-an seperti persampahan,<br />

air minum, pemberdayaan, penataan<br />

bangunan dan lingkungan maupun permukiman<br />

dapat dikenal dan mengena oleh<br />

ma syarakat luas. Ironis memang, ratusan<br />

program pemberdayaan yang menyasar ribuan<br />

desa di seluruh Indonesia, bantuan<br />

air minum yang telah dimaanfaatkan oleh<br />

ribuan bahkan jutaan rakyat indonesia dan<br />

segala pembangunan bidang ke <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>an<br />

yang bersentuhan langsung dengan<br />

mayarakat akar rumput justru malah kurang<br />

mendapat apresiasi masyarakat, media dan<br />

stakeholder lainnya.<br />

Dengan adanya komunikasi yang handal,<br />

nama cipta karya yang kurang dikenal dan<br />

masih dianggap sebagai sebuah pe ru sahaan,<br />

bengkel las, dan sebagainya se cara<br />

ber angsur-angsur dapat hilang di ma syarakat.<br />

Tentunya hal ini juga menjadi pe micu<br />

semangat para “pekerja” <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

agar lebih bekerja keras lagi. Semoga.<br />

*) Kasubdit Data dan Informasi, Dit. Bina<br />

Program<br />

24 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


POJOKHUKUM<br />

www.bp.blogspot.com<br />

Pojok HUkum<br />

Perumahan Griya Mutiara Asri di Cibarusah, Cikarang, Bekasi yang diperuntukan untuk Prajurit TNI/POLRI<br />

dan Pegawai Negeri Sipil.<br />

Harmonisasi<br />

Peraturan Rumah Negara<br />

Setelah disahkannya PMK 138 / 2010, proses pembelian Rumah Negara Golongan<br />

III oleh Pegawai Negeri menjadi tersendat. Terdapat 110 proses pengalihan Rumah<br />

Negara Golongan III tertunda karena menunggu persetujuan dari Kementerian<br />

Keuangan.<br />

K<br />

Andry Marulitua *)<br />

Kementerian Keuangan menganggap adanya<br />

kekosongan hukum yang mengatur<br />

secara rinci mengenai Barang Milik Negara<br />

(BMN) berupa Rumah Negara, sedangkan<br />

Kementerian Pekerjaan Umum sebagai instansi<br />

yang secara khusus memiliki kewenangan<br />

dan sebagai Pembina rumah negara<br />

sesuai yang dituangkan dalam Hierarki Peraturan<br />

tentang Rumah Negara memiliki tugas<br />

sebagai pelaksana penjualan rumah negara<br />

kepada pegawainya untuk membantu Pegawai<br />

Negeri, khususnya Pegawai Negeri Sipil<br />

untuk bisa memiliki rumah sebagai tempat<br />

tinggal.<br />

Kementerian Keuangan kemudian mene -<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 25


tapkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor<br />

138/PMK.06/2010 tentang Penge lola an<br />

BMN berupa Rumah Negara, dimana peratu<br />

ran ini memerlukan harmonisasi dengan<br />

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum<br />

Nomor 22/PRT/M/2008 tentang Pedoman<br />

Teknis Pengadaan, Pendaftaran, Penetapan<br />

Status, Penghunian, Pengalihan Status, dan<br />

Pengalihan Hak Atas Rumah Negara. Kedua<br />

peraturan ini mengatur tentang objek yang<br />

sama yaitu Rumah Negara.<br />

Setelah disahkannya PMK 138 / 2010,<br />

proses pembelian Rumah Negara Golongan<br />

III oleh Pegawai Negeri menjadi tersendat.<br />

Terdapat 110 proses pengalihan Rumah<br />

Negara Golongan III tertunda prosesnya<br />

me nunggu persetujuan dari Kementerian<br />

Keuangan.<br />

Dengan adanya artikel ini penulis berharap<br />

untuk bisa memperbaiki proses pengalihan<br />

hak Rumah Negara Golongan III agar<br />

bisa kembali berjalan dengan baik sehingga<br />

bisa mengakhiri adanya hambatan dalam<br />

pelaksanaan peraturan mengenai rumah<br />

negara yang sangat merugikan Pegawai<br />

Negeri dalam usaha memenuhi kebutuhan<br />

dasarnya untuk memiliki rumah sebagai<br />

tempat tinggal.<br />

Satu hal utama yang menjadi permasalahan<br />

adalah mengenai persetujuan yang<br />

diberikan Kementerian Keuangan dalam<br />

me nindaklanjuti permohonan pembelian<br />

Ru mah Negara Golongan III oleh Pegawai<br />

Negeri.<br />

Jiwa dari UU No. 72 / 1957 yaitu ingin<br />

memberikan kemudahan bagi Pegawai Negeri<br />

untuk memiliki rumah adalah cukup<br />

dengan menerima rekapitulasi Rumah Negara<br />

Golongan III yang telah di data oleh<br />

Kementerian Pekerjaan Umum yang selanjutnya<br />

Kementerian Keuangan akan mener<br />

bitkan persetujuan pengalihan Rumah<br />

Ne gara Golongan III. Sedangkan dalam<br />

PMK 138 / 2010 memiliki kebijakan yang<br />

berbeda dan cenderung menyulitkan pihak<br />

yang ingin mengajukan permohonan untuk<br />

membeli Rumah Negara Golongan III, karena<br />

masing-masing proses Rumah Negara, baik<br />

Golongan I, II, maupun III dokumennya<br />

secara fisik dibawa ke Instansi Kementerian<br />

Keuangan untuk diperiksa lagi. Karena hal<br />

ini merupakan hal yang baru di Kementerian<br />

Keuangan, masih banyak permasalahan dan<br />

pandangan yang berbeda dalam memproses<br />

dokumen permohonan Rumah Negara ini.<br />

Akibatnya, banyak Pegawai Negeri yang<br />

dirugikan akibat adanya peristiwa ini.<br />

Berikut penjelasan mengenai peraturan rumah negara yang diatur dalam Permen PU No. 22<br />

/ 2008 serta PMK 138 / 2010:<br />

Kepmen Kimpraswil<br />

No. 373/KPTS/M/2001<br />

Ttg Sewa Rumah Negara<br />

Family Tree Pengaturan Rumah Negara<br />

UU No. 72/1957 Ttg Penetapan UU Drt No. 19/1955<br />

Ttg Penjualan Rumah-Rumah Negeri kepada<br />

Pegawai Negeri sebagai UU<br />

UU No. 4/1992 Ttg Perumahan dan Permukiman<br />

PP No. 40/1994 Ttg Rumah Negara<br />

Perpres No. 11/2008 Ttg Tata Cara<br />

Pengadaan, Penetapan Status, Pengalihan<br />

Status, dan Pengalihan hak atas Rumah Negara<br />

Permen PU No. 22/PRT/M/2008 Ttg Pedoman<br />

Teknis Pengadaan, Pendaftaran, Penetapan<br />

Status, Penghunian, Pengalihan Status, dan<br />

Pengalihan Hak Atas Rumah Negara<br />

PP No. 31/2005 Ttg Perubahan<br />

Atas PP No. 40/1994<br />

Kepmen Agraria/Kep BPN No. 2 th 1998 Ttg<br />

Pemberian Hak Milik Tanah Untuk Rumah<br />

Tinggal yang Telah dibeli oleh Pegawai Negeri<br />

dan Pemerintah<br />

Materi yang diatur dalam hierarki peraturan ini adalah proses pengelolaan Rumah Negara,<br />

mulai dari proses pengadaan, pendaftaran, penetapan status, penghunian, pengalihan status,<br />

sampai dengan pengalihan hak atas rumah negara serta penghapusan.<br />

Dalam hierarki peraturan ini, yang mempunyai wewenang dalam bidang pengelolaan<br />

Rumah Negara adalah Menteri Pekerjaan Umum, seperti tercantum pada :<br />

1. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 72 Tahun 1957 : Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga<br />

dengan persetujuan Menteri Keuangan dapat menjual rumah‐rumah Negeri termasuk<br />

golongan III, dst.<br />

2. Pasal 1 angka (4) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1994 : Menteri adalah menteri yang<br />

bertanggung jawab dalam bidang pekerjaan umum.<br />

Hubungan antara Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Keuangan dalam<br />

hal kewenangan mengenai pengelolaan rumah negara adalah dalam hal persetujuan<br />

permohonan penjualan Rumah Negara Golongan III (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 72<br />

Tahun 1957).<br />

Bentuk persetujuan ini juga telah diatur dalam Perpres No. 11 / 2008 dan Permen PU No. 22 /<br />

2008, yaitu :<br />

1. Menurut Perpres No. 11 / 2008 BAB V Pasal 13 bentuk persetujuan dari Menteri Keuangan<br />

adalah :<br />

(3) Menteri mengajukan permintaan persetujuan Pengalihan Hak Rumah Negara Golongan<br />

III sebagaimana dimaksud pada ayat (2) beserta atau tidak beserta tanahnya baik yang<br />

berdiri sendiri dan/atau berupa Satuan Rumah Susun kepada Menteri Keuangan dengan<br />

melampirkan daftar rekapitulasi Rumah Negara Golongan III yang diusulkan untuk dialihkan<br />

haknya kepada penghuni.<br />

(4) Menteri Keuangan memberikan persetujuan Pengalihan Hak Rumah Negara Golongan III<br />

sebagaimana dimaksud pada ayat (3).<br />

2. Dalam Permen PU No. 22 / 2008 dijabarkan format surat permohonan persetujuan<br />

pengalihan hak Rumah Negara Golongan III kepada Menteri Keuangan.<br />

Perpres 11 / 2008 memberikan wewenang kepada Menteri Pekerjaan Umum selaku Pembina<br />

Rumah Negara.<br />

Inti dari hierarki peraturan ini adalah memberikan kemudahan bagi Pegawai Negeri untuk<br />

bisa memiliki rumah. Jadi untuk pegawai ne geri yang memiliki masa kerja minimal 10 tahun<br />

bisa mengajukan permohonan sewa beli rumah, yang mana diberikan kemudahan mencicil<br />

selama jangka waktu minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun serta harga rumah yang akan<br />

dibayarkan oleh pegawai negeri tersebut dikenakan potongan harga yaitu sebesar 50% dari<br />

nilai jual objek pajak (NJOP).<br />

26 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


POJOKHUKUM<br />

www.mariarina.files.wordpress.com<br />

Pembangunan Unit Perumahan di komplek Perumahan CItra Asri Magelang. Perumahan diperuntukan untuk Pegawai Negeri Sipil.<br />

Analisa terhadap Peraturan Menteri Keuangan<br />

Nomor 138/PMK.06/2010 ten tang<br />

Pengelolaan Barang Milik Negara Berupa<br />

Rumah Negara.<br />

Dasar hukum dalam PMK 138 / 2010 dalam<br />

konsideran ‘Mengingat’ yang mencantumkan<br />

antara lain :<br />

1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004<br />

tentang Perbendaharaan Negara;<br />

2. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun<br />

1994 tentang Rumah Negara jo. Peraturan<br />

Pemerintah Nomor 31 Tahun 2005 tentang<br />

Perubahan Atas Peraturan Pemerintah<br />

Nomor 40 Tahun 1994 tentang Rumah<br />

Negara;<br />

3. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun<br />

2006 tentang Pengelolaan Barang Milik<br />

Negara/Daerah jo. Peraturan Pemerintah<br />

Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan<br />

Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6<br />

Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang<br />

Milik Negara/Daerah;<br />

4. Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2008<br />

tentang Tata Cara Pengadaan, Penetapan<br />

Status, Pengalihan Status, dan Pengalihan<br />

Hak Atas Rumah Negara.<br />

Dalam peraturan tersebut di atas tidak satu<br />

pun yang memberikan kewenangan pe -<br />

ng aturan mengenai Rumah Negara ke pa da<br />

Kementerian Keuangan, karena we we nang<br />

untuk itu sudah diberikan kepada Kementerian<br />

Pekerjaan Umum.<br />

Bahkan dalam PP No. 6 / 2006 pada<br />

penjelasan pasal 51 ayat (3) huruf (a) :<br />

“Yang termasuk barang milik negara/daerah<br />

yang bersifat khusus adalah barang-barang<br />

yang diatur secara khusus sesuai dengan<br />

peraturan perundangan yang berlaku; misalnya,<br />

rumah negara golongan III yang<br />

dijual kepada penghuni, dan kendaraan dinas<br />

perorangan pejabat negara yang dijual<br />

kepada pejabat negara.”<br />

Dari dua analisa terhadap dua peraturan<br />

menteri tersebut dapat disimpulkan<br />

bahwa hubungan antara UU No. 1 / 2004<br />

dengan UU No. 72 / 1957 dan UU No. 4 /<br />

1992 adalah lex spesialis dan lex generalis<br />

yang mana sesuai asas hukum dinyatakan<br />

bahwa lex spesialis derogate legi generalis.<br />

Itu artinya, peraturan yang mengatur secara<br />

khusus mengesampingkan peraturan yang<br />

mengatur secara umum.<br />

Bahwa sejak mulai dilaksanakannya penjualan<br />

Rumah Negara Golongan III tahun<br />

1955 sampai dengan sekarang (kurang lebih<br />

telah berlangsung selama 55 tahun), penjualan<br />

Rumah Negara Golongan III yang<br />

dilakukan dibawah pembinaan Kementerian<br />

Pekerjaan Umum telah berjalan dengan<br />

baik, dimana keikutsertaan Kementerian Keuangan<br />

sebagai instansi yang memberikan<br />

per setujuan diatur secara lebih lanjut dalam<br />

SKB.<br />

Dalam proses penyusunan Permen PU<br />

No. 22 / 2008 sudah ikut serta pihak interdep<br />

yang salah satunya adalah perwakilan dari<br />

Kementerian Keuangan, dan pada saat itu<br />

telah disepakati bahwa yang dimaksud dengan<br />

persetujuan pembelian rumah ne gara<br />

oleh Kementerian Keuangan diwu judkan<br />

dalam bentuk surat persetujuan per mohonan<br />

pembelian Rumah Negara Go lo ngan III dan<br />

lampirannnya.<br />

Dalam membuat suatu peraturan perundang-undangan<br />

di Indonesia ber pe doman<br />

kepada Undang-Undang Nomor 10<br />

Tahun 2004 tentang Pembentukan Per aturan<br />

Perundang-Undangan, pada Bab II yang<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 27


POJOKHUKUM<br />

berbunyi sebagai berikut :<br />

ASAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN<br />

1. Pasal 5<br />

Dalam membentuk Peraturan Perundangundangan<br />

harus berdasarkan pada asas<br />

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan<br />

yang baik yang meliputi :<br />

a. kejelasan tujuan;<br />

b. kelembagaan atau organ pembentuk<br />

yang tepat;<br />

c. kesesuaian antara jenis dan materi<br />

muatan;<br />

d. dapat dilaksanakan;<br />

e. kedayagunaan dan kehasilgunaan;<br />

f. kejelasan rumusan; dan<br />

g. keterbukaan.<br />

2. Pasal 7<br />

(1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundangundangan<br />

adalah sebagai<br />

berikut :<br />

a. Undang-Undang Dasar Negara<br />

Republik Indonesia Tahun 1945;<br />

b. Undang-Undang/Peraturan<br />

Pemerintah Pengganti Undang-<br />

Undang;<br />

c. Peraturan Pemerintah;<br />

d. Peraturan Presiden;<br />

e. Peraturan Daerah.<br />

Berdasarkan ketentuan di atas pada Pasal 5<br />

huruf (b), tidak tepat bagi Instansi Kementerian<br />

Keuangan untuk mengatur ten tang<br />

Rumah Negara karena kelembagaan atau<br />

organ pembentuk yang tepat adalah Kementerian<br />

Pekerjaan Umum, yang mana hal<br />

ini secara jelas dinyatakan dalam Perpres<br />

No. 11 / 2008 bahwa Kementerian Pekerjaan<br />

Umum adalah Pembina Rumah Negara, hal<br />

ini juga sekaligus menyatakan bahwa PMK<br />

138 bertentangan dengan hierarki peraturan<br />

diatasnya.<br />

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, menurut<br />

kesimpulan saya perlu diadakan harmonisasi<br />

PMK 138 dengan Permen PU No. 22<br />

tahun 2008, tiap stakeholder harus berkumpul<br />

dan duduk bersama dan me la kukan focus<br />

group discussion.<br />

*) Staff Subdit Pengelolaan Gedung dan<br />

Rumah Negara, Dit. Penataan Bangunan<br />

dan Lingkungan, <strong>Ditjen</strong>. <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>,<br />

Kementerian Pekerjaan Umum.<br />

(Tulisan ini telah dikonsultasikan dengan<br />

Sri Hastuti, SH dan D. Sitorus, SH sebagai<br />

bahan dalam rapat kasus-kasus rumah<br />

negara Direktorat Penataan Bangunan dan<br />

Lingkungan,Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong><br />

<strong>Karya</strong>, 11 Januari 2011)<br />

Pokok-pokok Pengaturan PMK Rumah Negara<br />

RN Golongan I<br />

K/L<br />

- Pengadaan, Penetapan<br />

Status dan izin Penghunian<br />

- Pendaftaran dan<br />

Pengawasan<br />

- Penetapan besaran nilai sewa<br />

PU<br />

- Pendaftaran rumah negara<br />

- Penetapan formula sewa<br />

MK<br />

- Pengawasan Pemungutan<br />

formula sewa<br />

MK/DJKN (PMK)<br />

- Penetapan status<br />

penggunaan<br />

- Persetujuan alih Status BMN<br />

- Persetujuan<br />

pemindahtanganan<br />

- Persetujuan penghapusan<br />

- Penatausahaan<br />

RN Golongan II<br />

K/L<br />

- Pengadaan, Penetapan<br />

Status dan izin Penghunian<br />

- Pendaftaran dan<br />

Pengawasan<br />

- Penetapan besaran nilai sewa<br />

PU<br />

- Pendaftaran rumah negara<br />

- Penetapan formula sewa<br />

MK<br />

- Pengawasan Pemungutan<br />

sewa (DJPB)<br />

- Pengawasan Pemungutan<br />

formula sewa<br />

MK/DJKN (PMK)<br />

- Penetapan status<br />

penggunaan<br />

- Persetujuan alih Status BMN<br />

- Persetujuan<br />

pemindahtanganan<br />

- Persetujuan penghapusan<br />

- Penatausahaan<br />

RN Golongan III<br />

K/L<br />

- Mengajukan penetapan<br />

pengalihan status RN gol II ke<br />

gol III<br />

- Persetujuan tertulis pengalihan<br />

status RN gol II ke gol III<br />

- Melakukan penghapusan RN gol II<br />

PU<br />

- Penetapan status RN gol III<br />

- Penetapan formula sewa<br />

- Penetapan Nilai jual (sewa beli)<br />

- Mengajukan Persetujuan<br />

Pengalihan Hak ke Menkeu<br />

- Pelaksanaan pengalihan Hak<br />

MK<br />

- Pengawasan Pemungutan sewa<br />

(DJPB)<br />

- Persetujuan Pengalihan Hak<br />

(perpres 11/2008)<br />

MK/DJKN (PMK)<br />

- Alih statsus dan penetapan status<br />

RN gol III di PU<br />

- Persetujuan penjualan<br />

- Persetujuan penghapusan<br />

- Penatausahaan<br />

28 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


Gema PNPM 1<br />

Warga Desa Steling kini bisa mendapatkan air minum yang memadai.<br />

Penantian Panjang Warga Steling<br />

untuk Air Minum<br />

M.Supriaddin *)<br />

Desa Steling berada di wilayah Kecamatan Keliang Utara, kabupaten Lombok<br />

Tengah ini, merupakan desa miskin yang dihuni oleh 5.000 jiwa penduduk. Desa ini<br />

terdiri 9 dusun. Dari Jumlah penduduk tersebut, 60%nya adalah penduduk miskin.<br />

Kemiskinan di desa ini ditandai dengan pendapatan masyarakatnya yang kurang<br />

dari Rp.10.000 per hari. Mayoritas masyarakat adalah buruh tani dan dengan<br />

mengandalkan lahan garapan yang tidak seberapa luas, mereka terkadang hanya<br />

mampu makan sekali dalam sehari.<br />

GEMAPNPM 1<br />

D<br />

Desa ini hampir separuh wilayahnya tertutup<br />

pohon mahoni, menjadikan desa ini masuk<br />

sebagai kawasan hutan lindung yang dimiliki<br />

oleh pemerintah. Tetapi, masyarakat juga<br />

memiliki lahan garapan yang sebagian besar<br />

ditanami durian, pisang, manggis dll. Inilah<br />

yang menjadi sumber penghasilan mereka.<br />

Di samping tidak tersedianya lahan pekerjaan<br />

yang memadai sebagai penyebab<br />

kemiskinan di desa ini, hal lain yang lebih<br />

krusial adalah tidak tersedianya infrastruktur<br />

yang memadai. Salah satunya adalah prasarana<br />

air minum. Desa ini tergolong rawan<br />

air, walaupun desa ini sebagian besar<br />

wilayahnya merupaka kawasan hutan lindung<br />

dan memiliki banyak sumber mata<br />

air. Ada yang berjarak sekitar 7 kilometer,<br />

ada yang berjarak 5 km dan ada pula yang<br />

berjarak hanya 2 kmr dari permukimannya,<br />

tetapi untuk membuat sumur gali di sekitar<br />

rumahnya, baru dapat ditemukan mata air<br />

pada jarak lebih dari 120 m.<br />

“Sejak saya lahir, untuk memenuhi kebutuhan<br />

air minumnya, masyarakat disini harus<br />

memikul air dari mata air yang berjarak 2 km,<br />

dan harus turun dan naik bukit karena mata<br />

air tersebut terletak di bawah bukit,” ungkap<br />

Imran, Kepala Dusun Lingkuk Lima yang juga<br />

dipercaya oleh masyarakat sebagai Ketua<br />

OMS.<br />

Selama berpuluh-puluh tahun masyarakat<br />

desa steling memanggul air dengan jerigen<br />

atau ember. Dalam kesehariannya, masyarakat<br />

desa ini bisa menghabiskan wak tu<br />

setengah hari hanya untuk mengambil air<br />

untuk kebutuhan minum dan memasak.<br />

Baru pada tahun 1995, masyarakat mempunyai<br />

ide untuk membangun sistem air<br />

minum dari sumber yang berjarak 7 km.<br />

Karena sumber inilah yang mempunyai ketinggian<br />

yang cukup, agar air dapat me ngalir<br />

secara gravitasi. Dengan sukarela masyarakat<br />

mengumpulkan uang untuk mem beli semen.<br />

Setiap ada upah untuk pe ng angkutan kayu<br />

sampai ke truk-truk pe ngangkut, masyarakat<br />

kumpulkan untuk membeli semen dan pasir.<br />

Semen ini mereka gunakan untuk membuat<br />

pipa semen.<br />

Dengan telaten dan sabar masyarakat<br />

mem buat pipa-pipa semen, karena jika harus<br />

membeli pipa yang didatangkan dari kota,<br />

biayanya cukup mahal. Masyarakat juga<br />

mem bangun bak penangkap air dan bak-bak<br />

pengumpulnya. Tetapi sangat disayangkan,<br />

masyarakat pun gagal mengalirkan air minum<br />

tersebut, karena air yang mengalir tersebut<br />

habis di tengah jalan sebelum sampai<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 29


GEMAPNPM 1<br />

Warga Desa Steling bergotong royong membangun sarana air minum untuk keperluan mereka sehari-hari.<br />

Keresahan masyarakat memudar, ketika pemerintah Kabupaten<br />

Lombok Tengah akan membangun sistem air minum di desa ini.<br />

ke permukiman warga. Pipa semen yang<br />

dimungkinkan berpori-pori telah menelan<br />

air tersebut. Dengan rasa sesal yang sangat<br />

dalam, masyarakat pun kembali harus memikul<br />

air dari jauh.<br />

Keresahan masyarakat memudar, ketika<br />

pemerintah Kabupaten Lombok Tengah<br />

akan membangun sistem air minum di desa<br />

ini. Pada tahun 2004, melalui dana DAK yang<br />

di terima kabupaten ini, sebagian dananya<br />

di gunakan untuk membangun sistem air minum<br />

di Desa Steling.<br />

Namun upaya pemerintah pun belum<br />

dapat dirasakan manfaatnya oleh warga.<br />

Ka rena keterbatasan dana, sistem tersebut<br />

tidak dibangun dengan tuntas. Pemerintah<br />

kabupaten baru membangun pipa sepanjang<br />

3,5 km dari 7 km pipa yang dibutuhkan.<br />

Akhirnya, setelah lima tahun kemudian, yaitu<br />

pada tahun 2009, pembangunan sistem<br />

air minum ini dilanjutkan oleh pemerintah<br />

kabupaten hingga selesai sepanjang 7 km.<br />

Tetapi sangat disayangkan, keberuntungan<br />

belum berpihak kepada masyarakat desa<br />

secara keseluruhan. Rumah yang jauh dari<br />

pipa jaringan harus membangun sambungan<br />

ke rumahnya masing-masing.<br />

Dengan semangat yang menggebu, seluruh<br />

warga pun berantusias untuk menyediakan<br />

pipa-pipa sampai ke rumahnya. Air<br />

pun telah berhasil mengalir ke area permukiman<br />

warga tetapi hanya dapat dinikmati<br />

di sebagian kecil warga saja. Hal<br />

ini disebabkan oleh debit air yang tidak<br />

mencukupi. Sedangkan untuk 3 dusun yaitu<br />

Dusun Lingkuk Lima, Dusun Umbak Dalam,<br />

dan Dusun Sakedek yang seluruhnya dihuni<br />

oleh 458 KK belum dapat menikmati air<br />

minumnya.<br />

Alhamdulilah, kini keberuntungan telah<br />

berpihak kepada masyarakat Desa Steling,<br />

karena menjadi desa sasaran PPIP tahun<br />

2010. Dari dana Rp. 250 juta yang diterimanya,<br />

masyarakat memutuskan untuk<br />

mengoptimalkan sistem air minum yang sudah<br />

ada, disamping juga untuk mem ba ngun<br />

jalan lingkungan sepanjang 1.370 m.<br />

Optimalisasi sistem air minum yang dilaksanakan<br />

adalah dengan menambah kapa<br />

sitas air yang ada di bak penampung.<br />

Hal ini dilakukan dengan cara melakukan<br />

pe masangan pipa sepanjang 1.200 m dari<br />

sumber air lainnya ke bak penampung yang<br />

sudah ada.<br />

Kali ini masyarakat tiga dusun ini tidak<br />

ingin pengalaman buruknya terjadinya lagi.<br />

Masayarakat tidak ingin gagal lagi. Oleh<br />

karena itu, segenap masyarakat sangat<br />

mendukung kegiatan pembangunan air<br />

minum ini. Dengan berbondong-bondong<br />

masyarakat di tiga dusun membawa pipa,<br />

menggali dan memasang pipa dengan tidak<br />

diberi upah serupiah pun. Dalam pe rencanaannya,<br />

pembangunan ini tidak diperhitungkan<br />

untuk upah, hal ini dilakukan<br />

agar dana PPIP bisa mencukupi untuk pemasangan<br />

pipa sepanjang 1.200 meter dan<br />

pembangunan bak penangkap air.<br />

Alhamdulillah, rasa syukur pun tak henti-hentinya<br />

diucapkan warga, ketika air minum<br />

ini telah berhasil sampai ke rumahrumah<br />

warga desa. Bahkan ada warga yang<br />

menyumbangkan se-ekor kambingnya untuk<br />

diselenggarakan doa bersama masyarakat.<br />

Akhirnya, dari penantian yang panjang ini,<br />

pada tahun 2010 setelah mendapatkan PPIP<br />

masyarakat Desa Steling benar-benar dapat<br />

menikmati air bersih secara langsung sampai<br />

ke rumahnya.<br />

*) Staf Teknis Bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, Dinas PU<br />

Kabupaten Lombok Tengah<br />

30 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


GEMAPNPM 2<br />

Gema PNPM 2<br />

PPIP<br />

Buka Isolasi Batu Tulis<br />

Yudi Gatot *)<br />

Batu Tulis adalah desa yang terletak di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok<br />

Tengah. Desa ini tidak mendapatkan akses langsung ke kecamatan yang berada di<br />

Desa Ubung karena terpisah oleh Sungai Tiwu Galih. Padahal, Desa Ubung, selain<br />

merupakan pusat dari kota kecamatan Jonggat, juga merupakan pusat ekonomi<br />

(pemasaran), pendidikan dan kegiatan lainnya.<br />

HHamparan hijau terlihat begitu menyejukkan meter dan jalan yang dilalaui masih berupa<br />

mata ketika menuju lokasi Desa Batu Tulis. Hal jalan setapak.<br />

ini tidak mengherankan mengingat mayoritas Fajaruddin, salah seorang masyarakat Desa<br />

Batu Tulis mengatakan untuk menuju ke<br />

masyarakat Desa Batu Tulis menggantungkan<br />

kehidupannya pada sektor pertanian. Namun<br />

sangat sangat disayangkan, potensi sekolah harus memutar dengan jarak 10 km<br />

kantor kecamatan, pasar, Puskesmas, dan<br />

pertanian yang cukup tinggi tersebut tidak dengan melintasi desa-desa lain terlebih<br />

dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakatnya<br />

karena hasil-hasil pertanian Sejak tahun 1972, masyarakat Batu<br />

dahulu, baru sampai ke pusat kota.<br />

tidak dapat dipasarkan dengan mudah. Hal Tulis telah berusaha untuk mengatasi permasalahan<br />

transportasi ini dengan me rintis<br />

ini disebabkan karena akses menuju pusat<br />

pemasaran belum tersedia. Satu-satunya jalan<br />

akses desa menuju Desa Ubung sebagai tahun jalan ini terus diperbaiki melalui swa-<br />

jalan tembus menuju Desa Ubung. Setiap<br />

pusat pemasaran terputus oleh Sungai Tiwu daya masyarakat secara bertahap. Sampai<br />

Galih yang lebarnya mencapai lebih dari 20 tahun 1985, dengan adanya ABRI Masuk Desa<br />

Jembatan Desa Batu Tulis.<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 31


GEMAPNPM 2<br />

Warga Desa Batu Tulis sedang bergotong royong membangun sarana jalan.<br />

Semangat masyarakat yang menggebu dan dengan diiringi oleh<br />

doa-doa para sesepuh desa, akhirnya pelaksanaan pem bukaan<br />

jalan dan jembatan dapat ter lak sanakan dengan baik.<br />

(AMD), jalan ini dapat terselesaikan. Namun<br />

jalan ini tetap tidak dapat menembus Desa<br />

Ubung karena memerlukan jembatan yang<br />

cukup panjang dengan biaya yang sangat<br />

tinggi.<br />

Selama lima periode pergantian kepemimpinan<br />

desa, kepala desanya selalu<br />

mengusulkan pembangunan jembatan tersebut<br />

ke tingkat kabupaten dan provinsi<br />

serta melalui Musrenbangdes. Namun upaya<br />

tersebut belum dapat terealisasi.<br />

Sampai akhirnya di tahun 2009, desa ini<br />

mendapatkan alokasi dana bantuan Program<br />

Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP),<br />

barulah jembatan tersebut dapat direa lisasikan.<br />

Dengan dana sebesar Rp 250 juta<br />

yang diberikan dari PPIP, masyarakat Desa<br />

Batu Tulis secara bergotong-royong untuk<br />

dapat melakukan pembangunan jembatan<br />

yang telah lama mereka impikan dengan baik<br />

dan tepat waktu.<br />

Pelaksanaan pembangunan jembatan ini<br />

bukanlah hal yang mudah. Perencanaan yang<br />

sudah disusun dan mendapatkan verifikasi<br />

dari Tenaga Ahli Konsultan dan Satker di<br />

tingkat kabupaten, ternyata membutuhkan<br />

biaya yang melebihi dari dana bantuan sebesar<br />

Rp. 250 juta, yaitu mencapai lebih dari<br />

350 juta.<br />

Dengan optimis, jembatan ini dapat diselesaikan<br />

asalkan dukungan masyarakat dapat<br />

dilaksanakan secara optimal. Keku rangan<br />

biaya tersebut dapat didukung dengan adanya<br />

swadaya masyarakat melalui gotong<br />

royong, dan bersama-sama mengumpulkan<br />

bahan material yang ada di desa, seperti batu,<br />

kayu/bambu perancah dan tenaga kerja.<br />

Disisi lain, perencanaan jembatan dilakukan<br />

pengurangan ketinggiannya namun masih<br />

dalam batas aman terhadap muka air banjir<br />

maksimal.<br />

Semangat masyarakat yang menggebu<br />

dan dengan diiringi oleh doa-doa para<br />

sesepuh desa, akhirnya pelaksanaan pembukaan<br />

jalan dan jembatan dapat ter laksanakan<br />

dengan baik. Bahkan pada saat<br />

pengecoran, hampir 70 warga masya ra kat<br />

baik laki-laki dan perempuan tu rut membantu.<br />

Kerja keras masyarakat selama tiga bulan<br />

telah membuahkan hasil seperti yang<br />

diharapkan. Kini telah terbangun jembatan<br />

sepanjang 35 meter dengan lebar 7 meter<br />

dan jalan tembus yang menghubungkan<br />

Desa Batutulis dan Desa Ubung.<br />

Keberhasilan pelaksanaan PPIP tahun<br />

2009 di desa ini telah menggugah pemerintah<br />

pu sat, sehingga pada tahun 2010 desa ini<br />

diberikan bantuan dana PPIP yang ke-dua<br />

sebagai apresiasi atas keberhasilannya.<br />

Dana bantuan PPIP tahun 2010 ini digunakan<br />

untuk membangun jalan aspal sepanjang<br />

1000 meter. Jalan ini pun telah<br />

selesai dilaksanakan. Sehingga keterisolasian<br />

Desa Batu Tulis dan desa-desa sekitarnya<br />

se perti Desa Ubung dan beberapa desa di<br />

Kuripan.<br />

Sungguh luar biasa manfaat dari pelaksanaan<br />

Program Pembangunan Infra struktur<br />

Perdesaan (PPIP) ini, hanya dengan<br />

mem berikan dana dua kali bantuan telah<br />

memberikan dorongan kepada masyarakat<br />

untuk membangun desanya. Ber sa ma kita<br />

bisa, itulah slogan yang cocok un tuk pelaksanaan<br />

program ini. Dengan ke ber sa maan,<br />

masyarakat dapat menye lesaikan ber bagai<br />

permasalahan yang selama ini tidak sanggup<br />

dilaksanakan.<br />

Selayaknya, program-program pember dayaan<br />

ini tetap terus dilaksanakan, minimal 2<br />

tahun berturut-turut, sehingga permasalahan<br />

prioritas terutama terkait infrastruktur ini<br />

dapat diselesaikan. Selanjutnya, keberlangsungan<br />

dan pengembangan infra struktur<br />

ini dapat diteruskan oleh masya rakat sendiri.<br />

Terlalu berat, jika masya rakat harus mengemban<br />

tugas untuk mengatasi masa lah<br />

infrastrukturnya sendiri. Sementara, kemampuan<br />

PAD Kabupaten yang tidak mampu<br />

menyokong pengentasan kemis kinan sampai<br />

ke desa-desa.<br />

Kini masyarakat telah memperlihatkan<br />

manfaatnya jalan ini, pada saat panen<br />

tiba, sudah banyak mobil angkutan yang<br />

masuk. Aktifitas masyarakat pun kian ramai.<br />

Mudahan-mudahan dengan terbukanya kete<br />

risolasian desa ini akan mendorong pertumbuhan<br />

ekonomi masyarakatnya, yang<br />

juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi<br />

lokal bahkan nasional.<br />

*) Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Program<br />

Pembangunan Infrastruktur Perdesaan<br />

(PPIP) Provinsi NTB<br />

32 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


RESENSI<br />

Resensi<br />

Pencapaian<br />

Renstra <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

2005-2009<br />

Selama periode 2005-2009, bidang pengembangan<br />

permukiman <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> (DJCK) Kementerian<br />

Pekerjaan Umum telah menetapkan rumusan sasaran<br />

dalam Renstra, berikut program-program utama<br />

yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan<br />

masyarakat, khususnya masyarakat miskin dan berpenghasilan<br />

rendah, melalui peningkatan kualitas dan penyediaan perumahan<br />

dan permukiman yang layak.<br />

Selama periode itu pula, DJCK telah berhasil mencapai targettarget<br />

yang ditetapkan. Bahkan, pada sebagian program berhasil<br />

melebihi angka-angka yang telah ditargetkan sebelumnya.<br />

Sebagian lainnya, meskipun telah menunjukkan adanya<br />

peningkatan, masih belum mencapai target yang ditetapkan. Hal<br />

ini dikarenakan berbagai kendala, baik teknis maupun<br />

nonteknis, yang kerap terjadi saat pelaksanaan di<br />

lapangan seperti keterbatasan anggaran dan lahan yang<br />

tersedia.<br />

Kendati demikian, ketidakberhasilan tersebut<br />

diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi<br />

keberlangsungan program-program DJCK<br />

selanjutnya. Semoga, program-program DJCK<br />

dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya<br />

kepada masyarakat Indonesia secara luas. Yang<br />

pada akhirnya, akan meningkatkan kesejahteraan<br />

dan kualitas hidup bangsa ini, sesuai dengan<br />

Millenium Developments Goals (MDGs).<br />

Pencapaian-pencapaian selama kurun waktu<br />

tersebut dijabarkan secara terperinci dalam<br />

buku ini. Semua sektor bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

baik persampahan, penataan bangunan dan<br />

lingkungan, air minum maupun permukiman.<br />

Buku setebal 253 halaman ini dilengkapi dengan berbagai foto,<br />

grafik, tabel dan juga data-data lengkap pembangunan <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

selama periode 2005-2009.<br />

Kebehasilan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi<br />

masyarakat secara tepat sasaran. Diharapkan pula, masyarakat<br />

dapat menjaga kelangsungan infrastruktur terbangun dan<br />

menjaga keberlanjutan dari setiap program yang telah terlaksana<br />

selama ini. Kendala-kendala yang ditemui selama periode lalu dapat<br />

menjadi bekal dan pembelajaran pada periode berikutnya.<br />

Meski mengatasnamakan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, keberhasilan<br />

ini bukan semata-mata <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Berkat dukungan<br />

stakeholder, mulai dari pemerintah pusat, propinsi dan daerah serta<br />

kalangan swasta hingga masyarakat setempat yang dilibatkan<br />

secara langsung maupun tidak program-program ini dapat berjalan<br />

dengan baik.<br />

Buku ini wajib dimiliki oleh seluruh pemangku kepentingan<br />

di lingkungan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> sebagai bahan referensi<br />

pembangunan <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> yang telah dilakukan selama ini. (dvt)<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 33


Seputar Kita<br />

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak<br />

membuka expo dan forum terbesar di bidang air<br />

minum dan air limbah yang diberi nama Indonesia<br />

Water and Wastewater Expo and Forum (IWWEF) di<br />

Birawa Assembly Hall Bidakara, Jakarta, Selasa<br />

(18/1). Pameran yang berlangsung selama tiga<br />

Wamen PU<br />

Buka IWWEF 2011<br />

SEPUTARKITA<br />

hari ini diikuti oleh 66 peserta, terdiri dari para pabrikan (supplier)<br />

perusahaan pelaku air minum perpipaan (dalam dan luar negeri),<br />

pemerintah dan Universitas. Pameran tersebut diselenggarakan oleh<br />

Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI) dan<br />

Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI)<br />

yang didukung oleh Kementerian PU, Kementerian Dalam Negeri,<br />

Bappenas dan Kementerian Keuangan.<br />

Selain pameran, IWWEF akan mengusung agenda utama yakni forum<br />

(konferensi dan seminar). Selain itu, ajang ini juga mempertemukan<br />

para Direktur Utama PDAM seluruh Indonesia dalam acara temu mitra<br />

Dana Pensiun Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (DAPENMA-<br />

PAMSI).<br />

“Saya harap pameran ini dapat menjadi ajang tukar menukar<br />

informasi para pemangku kepentingan bidang air minum maupun<br />

air limbah. Pemerintah akan selalu mendukung badan usaha dalam<br />

pengembangan SPAM dengan prinsip yang sehat dan transparan,” kata<br />

Hermanto Dardak. (dvt)<br />

Sertijab Eselon III<br />

di Lingkungan<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Sehari setelah pelantikan eselon III oleh Menteri Pekerjaan Umum<br />

Djoko Kirmanto, dilanjutkan dengan serah terima jabatan pejabat<br />

(sertijab) eselon III di Lingkungan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, Kamis (20/1).<br />

Sertijab dipimpin oleh Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Budi Yuwono di Ruang<br />

Sapta Taruna Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta. Dalam<br />

arahannya, Budi Yuwono mengatakan, dengan anggaran <strong>Cipta</strong><br />

<strong>Karya</strong> yang meningkat hampir 60% tantangan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

tahun 2011 ini sangat besar. Untuk itu diperlukan kerja keras, sinergi<br />

dan koordinasi dengan baik.<br />

“Beban berat ada di pundak bapak ibu sekalian, meskipun<br />

demikian, beban tersebut harus dilaksanakan dengan kaidahkaidah<br />

good governance, tidak seenaknya. Untuk masalah koordinasi<br />

disini perlu digarisbawahi, koordinasi penting baik koordinasi ke<br />

atas maupun koordinasi ke bawah,” katanya.<br />

Beberapa pejabat yang dirotasi antara lain, Kun Hidayat Soeratno<br />

Kabag Keuangan, Deddy Sumantri Kabag Hukum, Raja Mulana<br />

Mangiring sebagai Kasubdit PA, Dwityo Akoro Soeranto Kasubdit<br />

KLN, Di lingkungan Dit. PBL; Adjar Prayudi Kasubdit Rentek, Eko<br />

Djuli Sasongko Kasubdit Gedung dan Rumah Negara, Dedy Permadi<br />

Kasubdit Wilayah I, Didiet Arief Akhdiat Kasubdit Wilayah II, Rina<br />

Farida Kasubdit Pengaturan dan Pembinaan Kelembagaan. (dvt)<br />

2011, Peran Satker Randal<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Sangat Vital<br />

Sebagai kepanjangan tangan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> untuk memperpendek<br />

jangkauan koordinasi kepada Pemerintah Kabupaten/Kota, peran<br />

Satuan Kerja Perencanaan dan Pengendalian (Satker Randal) tahun<br />

2011 ini sangat vital. Berbeda dengan tahun 2010 yang mengandalkan<br />

sakter sektoral di propinsi dalam berkoordinasi, mulai 2011 ini semua<br />

satker sektoral tiap propinsi harus melaporkan dahulu ke Satker Randal<br />

baru kemudian ke pusat.<br />

Demikian disampaikan Direktur Bina Program Antonius Budiono<br />

pada saat membuka acara Rapat Koordinasi Persiapan dan Pelaksanaan<br />

Kegiatan Perencanaan dan Pengendalian Tahun 2011 di Jakarta, Kamis<br />

(13/1). Rapat tersebut diikuti oleh PPK Randal dan Kasatker Propinsi<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> di 27 propinsi.<br />

“Dengan kenaikan anggaran <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> yang meningkat 60%,<br />

peran randal akan menjadi tumpuan. Kenaikan anggaran tersebut<br />

menjadikan tugas dan tanggungjawab semakin besar. Minimal<br />

penyerapan anggaran <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> tahun 2011 ini sama dengan tahun<br />

lalu yaitu sekitar 94%,” katanya. (dvt)<br />

34 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011


Redaksi Buletin <strong>Cipta</strong> K arya Mengucapkan<br />

Selamat atas Dilantiknya para Pejabat Eselon III dan IV<br />

di Lingkungan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> K arya<br />

Nama<br />

Kun Hidayat Soeratno<br />

Deddy Sumantri<br />

Sudarwanto<br />

Bambang Sudiatmo<br />

Djoko Murwanto<br />

Hadi Sucahyono<br />

R. Mulana MP. Sibuea<br />

Dwityo Akoro Soeranto<br />

Dian Irawati<br />

Nieke Nindyaputri<br />

Adjar Prayudi<br />

Eko Djuli Sasongko<br />

Dedy Permadi<br />

Didiet Arief Akhdiat<br />

Rina Farida<br />

Theresia Sri Mulyatini Respati<br />

Joerni Makmoerniati<br />

Syamsul Hadi<br />

Hendarko Rudi Susanto<br />

Iwan Dharma Setiawan<br />

Rina Agustin<br />

Handy Bambang Legowo<br />

Dodi Krispatmadi<br />

Rudi Arifin<br />

Endang Setyaningrum<br />

Alex A. Chalik<br />

Djoko Mursito<br />

Oloan M. Simatupang<br />

Ngatiman Sardjiono<br />

Hilwan<br />

Lain-lain:<br />

Sitti Bellafolijani Adimihardja<br />

Adi Susetyo<br />

Setio Djuwono<br />

Panani Kesai<br />

Savitri Rusdyanti<br />

Dewi Chomistriana<br />

Jabatan Baru<br />

Kabag Keuangan, Setditjen CK<br />

Kabag Hukum, Setditjen CK<br />

Kabag Umum, Setditjen CK<br />

Kepala Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi Wilayah I<br />

Kepala Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi Wilayah II<br />

Kasubdit Kebijakan dan Strategi, Dit. Bina Program<br />

Kasubdit Program dan Anggaran, Dit. Bina Program<br />

Kasubdit Kerjasama Luar Negeri, Dit. Bina Program<br />

Kasubdit Data dan Informasi, Dit. Bina Program<br />

Kasubdit Evaluasi Kinerja, Dit. Bina Program<br />

Kasubdit Perencanaan Teknis, Dit. PBL<br />

Kasubdit Gedung dan Rumah Negara, Dit. PBL<br />

Kasubdit Wilayah I, Dit. PBL<br />

Kasubdit Wilayah II, Dit. PBL<br />

Pengaturan dan Pembinaan Kelembagaan, Dit. PBL<br />

Kasubdit Perencanaan Teknis, Dit. Bangkim<br />

Kasubdit Bangkim Baru, Dit. Bangkim<br />

Kasubdit Wilayah I, Dit. Bangkim<br />

Kasbudit Wilayah II, Dit. Bangkim<br />

Kasubdit Pengaturan Kelembagaan, Dit. Bangkim<br />

Kasubdit Perencanaan Teknis, Dit. PPLP<br />

Kasubdit Air Limbah, Dit. PPLP<br />

Kasbudit Kasubdit Drainase, Dit. PPLP<br />

Kasubdit Persampahan, Dit. PPLP<br />

Kasubdit Pengaturan dan Pembinaan Kelembagaan, Dit. PPLP<br />

Kasubdit Perencanaan Teknis, Dit. PAM<br />

Kasubdit Investasi, Dit. PAM<br />

Kasubdit Wilayah I, Dit. PAM<br />

Kasubdit Wilayah II, Dit. PAM<br />

Kasubdit Pengaturan dan Pembinaan Kelembagaan, Dit. PAM<br />

Kepala Bidang Kajian Kebijakan dan Program, BPPSPAM<br />

Kabid Pemantauan dan Evaluasi Kinerja, BPPSPAM<br />

Kabid Analisa Keuangan, Promosi dan Investasi, BPPSPAM<br />

Kabag Program dan Anggaran Biro Perencanaan, Setjen<br />

Kabag Tata Usaha, Puskompu, Setjen<br />

Kabid Konstrusi Berkelanjutan, Badan Pembinaan Konstruksi


Selamat dan Sukses<br />

International Water and Waste Water Expo<br />

and Forum (IWWEF) 2011<br />

Jakarta, 18 - 20 Januari 2011

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!