Download - Ditjen Cipta Karya
Download - Ditjen Cipta Karya
Download - Ditjen Cipta Karya
Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!
Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.
LIPUTAN KHUSUS<br />
Membangun Nilai Tambah<br />
di Kawasan Wisata Raja Ampat 13<br />
INFO BARU 1<br />
Menebar Infrastruktur<br />
di Kawasan Transmigrasi 16<br />
Strategi Komunikasi<br />
<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
2010-2014<br />
Edisi 01/Tahun IX/Januari 2011<br />
Memastikan Program <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
Sinergi<br />
Dengan Daerah
daftar isi<br />
JANUARI 2011<br />
http://ciptakarya.pu.go.id<br />
Pelindung<br />
Budi Yuwono P<br />
Penanggung Jawab<br />
Danny Sutjiono<br />
Dewan Redaksi<br />
Antonius Budiono, Tamin M. Zakaria<br />
Amin, Susmono, Guratno Hartono,<br />
Joessair Lubis,<br />
Budi Hidayat<br />
Pemimpin Redaksi<br />
Dwityo A. Soeranto, Sudarwanto<br />
Penyunting dan Penyelaras Naskah<br />
T.M. Hasan, Bukhori<br />
Bagian Produksi<br />
Djoko Karsono, Emah Sadjimah,<br />
Radja Mulana MP. Sibuea,<br />
Djati Waluyo Widodo, Aulia UI Fikri,<br />
Indah Raftiarty<br />
Bagian Administrasi & Distribusi<br />
Sri Murni Edi K, Ilham Muhargiady,<br />
Doddy Krispatmadi, A. Sihombing,<br />
Ahmad Gunawan, Didik Saukat Fuadi,<br />
Harni Widayanti, Deva Kurniawan,<br />
Mitha Aprini, Nurfhatiah<br />
Kontributor<br />
Panani Kesai, Rina Agustin Indriani,<br />
Nieke Nindyaputri, Hadi Sucahyono,<br />
Amiruddin, Handy B. Legowo,<br />
Endang Setyaningrum, Syamsul Hadi,<br />
Didiet. A. Akhdiat, Muhammad Abid,<br />
Siti Bellafolijani, Djoko Mursito,<br />
Ade Syaeful Rahman,<br />
Th. Srimulyatini Respati,Alex A.Chalik,<br />
Bambang Purwanto,<br />
Edward Abdurahman, Alfin B. Setiawan,<br />
Deddy Sumantri,<br />
M. Yasin Kurdi, Lini Tambajong<br />
Alamat Redaksi<br />
Jl. Patimura No. 20, Kebayoran Baru<br />
12110 Telp/Fax. 021-72796578<br />
Email<br />
publikasi_djck@yahoo.com<br />
Redaksi menerima artikel, berita,<br />
karikatur yang terkait bidang cipta<br />
karya dan disertai gambar/foto<br />
serta identitas penulis. Naskah<br />
ditulis maksimal 5 halaman A4,<br />
Arial 12. Naskah yang dimuat akan<br />
mendapat insentif.<br />
Berita Utama<br />
4 Memastikan Program<br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Sinergi dengan<br />
Daerah<br />
10 Menuju Wajar Tanpa<br />
Pengecualian (WTP)<br />
11 Jangan Kesampingkan<br />
Penyiapan Program 2012<br />
Liputan Khusus<br />
13 Membangun Nilai Tambah<br />
di Kawasan Wisata Raja<br />
Ampat<br />
4<br />
Info Baru<br />
16 Menebar Infrastruktur<br />
di Kawasan Transmigrasi<br />
Inovasi<br />
21 Strategi Komunikasi <strong>Ditjen</strong><br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> 2010-2014<br />
Pojok Hukum<br />
25 Harmonisasi Peraturan<br />
Rumah Negara<br />
Gema PNPM<br />
29 Penantian Panjang Warga<br />
Steling untuk Air Minum<br />
31 PPIP Buka Isolasi Batu Tulis<br />
Resensi<br />
33 Pencapaian Renstra <strong>Cipta</strong><br />
<strong>Karya</strong> 2005-2009<br />
29<br />
16
editorial<br />
Persempit Kesenjangan di Kawasan Transmigran<br />
dan Pulau Terpencil<br />
Foto Cover : Karena keterbatasan infra<br />
struktur, para siswa sekolah<br />
di Polewali Mandar Sulawesi<br />
Barat harus menyeberangi<br />
sungai menuju sekolahnya.<br />
Pengembangan Kota Terpadu Mandiri (KTM) menjadi tonggak awal pemerataan kesejahteraan di<br />
pelosok tanah air. Jika KTM sudah berkembang dengan dukungan infrastruktur yang mantap, maka bukan<br />
tidak mungkin fase selanjutnya adalah mendongkrak investasi.<br />
Saat ini memang baru berfikir bagaimana membangun dan menata infrastruktur dengan benar.<br />
Pemerintah pusat yang terlibat juga pasti tak mau gegabah menebar anggaran di daerah tanpa sinergi<br />
dan komitmen yang serius dari pemerintah daerah dan masyarakatnya. Percuma saja, jika semua prasarana<br />
ada, namun masyarakat dan Pemdanya belum siap.<br />
Pemda dan masyarakat transmigran sepatutnya bersyukur karena kegiatan KTM ini diusung bersama<br />
oleh banyak kementerian dan lembaga, seperti Kementerian Transmigrasi dan Tenaga Kerja, Kementerian<br />
Pekerjaan Umum, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian<br />
Perdagangan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Agama, BKPM, Dinas Kehutanan,<br />
Kantor Menteri Negara Koperasi, BPN, Kementerian Kesehatan, kementerian Pendidikan Nasional, dan<br />
PLN.<br />
Pembangunan KTM yang dirancang di 44 kawasan layaknya membangun kawasan transmigrasi yang<br />
bernuansa perkotaan. Dari sini diharapkan terjadai akselerasi perekonomian perdesaan dan terwujudnya<br />
kawasan transmigrasi yang mandiri yang memberi peluang investasi dan membuka kesempatan kerja,<br />
yang pada akhirnya akan mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Tentang ini, kami mengulasnya<br />
dalam Info Baru Edisi perdana tahun 2011.<br />
Selamat tahun baru 2011. Semoga perubahan ke arah lebih baik tidak bosan-bosannya kita upayakan,<br />
seperti tampilan Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> yang akan lebih mempercantik wajahnya sedikit demi sedikit.<br />
Selamat membaca dan berkarya!<br />
.....Suara Anda<br />
Rusunawa<br />
Yth: Direktur Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kementerian Pekerjaan Umum;<br />
1. Saya mohon penjelasan bagaimana pelaksanaan Rusunawa di kotakota<br />
yang padat Berdasarkan survey yang saya lakukan, kondisi<br />
massa bangunan itu bentuknya hampir sama yakni blok2. Ketika<br />
saya tanyakan di DPU Surakarta, sistem yang dilakukan dalam pembangunan<br />
Rusunawa adalah sistem top down alias semua de sain<br />
dilakukan oleh pusat Apakah itu benar<br />
2. Mengapa desain yang diajukan tidak melalui sayembara yang dilakukan<br />
oleh arsitek, atau mahasiswa setempat Bukannya itu lebih<br />
bisa menunjukkan kekreatifitasan mahasiswa/arsitek dan de sain<br />
bangunan rusunawa juga bisa menandakan ciri khas kota tersebut<br />
Ita Dwijayanti (Mahasiswa Teknik Arsitektur Universitas Gadjah<br />
Mada, Yogyakarta)<br />
Kepada Yth. Ita Dwijayanti<br />
1. Kementerian PU sudah memulai membangun Rusunawa sejak tahun<br />
2003, diawali dengan mangadakan sayembara desain Rusunawa,<br />
hasilnya sudah dibukukan yang terbit yahun 2004, tetapi tidak bisa<br />
sepenuhnya diimplementasikan mengingat berbagai keterbatasan.<br />
2. Sejak tahun 2003, desain Rusunawa dibuat untuk masing-masing<br />
Kota/Kabupaten dengan melibatkan pemerintah daerah setempat,<br />
desain langsung di konsultasikan bahkan ada yang dibuat sendiri<br />
oleh perguruan tinggi setempat (contoh ITS yang mendesain sendiri<br />
bangunan Rusunawa untuk asrama mahasiswa ITS tahun 2006)<br />
3. Dengan hasil yang beraneka ragam ternyata kontrol dalam<br />
menjaga mutu pada saat proses maupun pasca kontruksi menjadi<br />
sulit karena antara satu dan lainnya bisa sangat berbeda baik<br />
cara penyelesaiannya maupun nanti pasa saat pemeliharaannya.<br />
Untuk itu, mulai tahun 2007 dikembangkan desain prototype yang<br />
kemudian mulai diujicobakan pada tahun 2009 dan mulai tahun<br />
2010 sudah diterapkan.<br />
4. Meskipun dengan desain prototype, arsitektur lokal masih diberi<br />
kesempatan untuk memberikan kesan pada tampak melalui aksesoris<br />
dan warna, bahkan tampilan-tampilan spesifik lainnya yang tidak<br />
memengaruhi struktur dasar prototype yang sudah ditetapkan. Perlu<br />
diketahui bahwa Rusunawa Kementerian PU konstruksinya dibangun<br />
sengan sistem precast (yang sudah diverifikasi) yang dapat menjamin<br />
kekuatan struktur termasuk ke andalan dalam mengantisipasi<br />
bencana gempa bumi.<br />
Terima Kasih<br />
Redaksi menerima saran maupun tanggapan terkait bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> ke email publikasi_djck@yahoo.com atau saran dan pengaduan di www.pu.go.id<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 3
Berita Utama<br />
Memastikan<br />
Program <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
Sinergi dengan Daerah<br />
“Masalah <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> tidak hanya menyelesaikan DIPA saja, tapi bagaimana pasca<br />
DIPA selesai dengan infrastruktur terbangun, stimulan kita benar-benar bersinergi<br />
dengan yang diprogramkan Pemerintah Daerah”.<br />
Lebih dari 150 peserta Rapat Kerja ta hu n -<br />
an <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> di awal 2011 me nampakkan<br />
raut muka datar. Sepertinya tidak<br />
ada tanda-tanda mereka akan berlebihan<br />
menyikapi informasi yang akan disampaikan<br />
Direktur Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kementerian<br />
Pekerjaan Umum, Budi Yuwono. Benar saja,<br />
atas hasil capaian <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Tahun<br />
Anggaran 2010 yang berhasil menembus<br />
angka 94 persen, para peserta tak bergeming.<br />
Tepuk paling gemuruh hanya bersumber<br />
dari para punggawa Program Penyediaan<br />
Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat<br />
(PAMSIMAS) yang sempat dipuji Pak Dirjen<br />
karena performance yang prima selama 2010.<br />
“Masalah <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> tidak hanya menyelesaikan<br />
DIPA saja, tapi bagaimana pasca<br />
DIPA selesai dengan infrastruktur terbangun,<br />
stimulan kita benar-benar bersinergi dengan<br />
4 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
BERITAUTAMA<br />
Foto Kiri : Anak-anak Desa Turaiskin Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur kini bisa menikmati<br />
air minum dari SPAM Perdesaan.<br />
Foto Kanan : Anak-anak Desa Kumbasa, Kec. Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah harus<br />
mengambil air dari sungai meskipun sudah tersedia air bersih dari program PAMSIMAS.<br />
Budaya sebagian masyarakat desa masih sulit berpaling dari sungai dalam memenuhi<br />
kebutuhan air minum.<br />
yang diprogramkan Pemerintah Daerah. Misalnya<br />
bagaimana mengisi Rusunawa, memastikan<br />
air minum dinikmati masyarakat<br />
setelah dibangunnya SPAM, dan seterusnya”,<br />
papar Budi Yuwono mengawali arahan.<br />
Menurutnya, DIPA hanya salah satu alat<br />
untuk mencapai sasaran. Ukurannya tetap<br />
Rencana Strategis <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dan<br />
kesepakatan internasional yang tertuang dalam<br />
Millennium Development Goals (MDGs).<br />
Untuk mencapai sasaran tersebut tidak hanya<br />
dicapai dari APBN, tapi harus menggerakkan<br />
APBD, dana luar melalui swasta, atau dengan<br />
perusahaan multi nasional. Salurannya bi sa<br />
dengan banyak program seperti yang pernah<br />
dilakukan AusAID melalui Naskah Perjanjian<br />
Penerusan Hibah (NPPH) bidang air<br />
minum dan air limbah, Coorporate Social<br />
Responsibility (CSR), dll.<br />
Pelaksanaan pembangunan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong><br />
<strong>Karya</strong> di tahun 2010 ini merupakan yang<br />
terbaik selama ini, yaitu mencapai 94,40%<br />
dari pagu yang mencapai Rp 8,4 triliun, terdiri<br />
dari rupiah murni Rp 5,4 triliun dan pinjaman<br />
luar negeri hampir Rp 3 triliun. Capaian itu<br />
diharapkan masih dapat bertambah mengingat<br />
terdapat beberapa Satker Kabu paten/Kota<br />
yang belum melaporkan melalui<br />
e-Monitoring.<br />
Tahun 2010 dapat dijalani dengan baik.<br />
Bahkan luar biasa. Apresiasi dari Menteri<br />
Pekerjaan Umum dan Wakilnya mengiringi<br />
usaha-usaha itu. Secara konsisten, sejak<br />
oktober 2010, <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> memimpin dalam<br />
pen capaian sasaran.<br />
“Renstra kita cukup besar kurang lebih RP<br />
50 Triliun, dan anggaran paling tinggi selama<br />
lima tahun ke depan ada di depan mata, yaitu<br />
tahun 2011. Tentu saja ada maksud di balik<br />
ini,” kata Budi Yuwono.<br />
Tahun 2011 adalah puncak anggaran<br />
APBN. Sebelumnya pada 2009 RP 7 Triliun,<br />
tahun 2010 Rp 8 Triliun, dan tahun 2011<br />
menjadi Rp 13 Triliun, untuk selanjutnya<br />
menurun kembali pada 2012 dan sete rusnya.<br />
“Maksudnya agar out come <strong>Cipta</strong> Kar ya<br />
tercapai pada 2014. Jika pun cak dilakukan<br />
pada 2014, maka outcome tidak tercapai,<br />
walaupun outputnya bisa saja tercapai. Tentu<br />
syaratnya 2011 dapat tercapai dengan baik<br />
agar pada 2014 outcome dapat tercapai<br />
dengan baik,” lanjut Budi.<br />
Capaian MDGs<br />
Data capaian MDGs bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> sektor<br />
air minum pada akhir 2009 dapat dijelaskan<br />
sebagai berikut; untuk akses penduduk terhadap<br />
air minum yang aman mencapai 47,7%<br />
(target 2015 sebesar 68,87%), dan melalui<br />
perpipaan telah tercapai 25,56% dari target<br />
2015 41%. Sedangkan di sektor sanitasi, kita<br />
sudah mencapai angka 69,55% untuk akses<br />
sanitasi yang layak di perkotaan, dan 34%<br />
untuk penduduk di perdesaan.<br />
Capaian MDGs air minum dan sanitasi<br />
ang kanya sering dipaparkan. Angka-angka<br />
tersebut, menurut Budi Yuwono, masih harus<br />
diperjuangkan dengan keras, tidak hanya<br />
dengan tugas DIPA semata tetapi juga<br />
mendorong pihak lainnya terlibat. Disini<br />
be lum terasa banyak. Upaya pembinaan terhadap<br />
APBD, KPS, dan pelibatan masya rakat,<br />
masih belum berjalan sesuai rencana.<br />
Permasalahan<br />
Faktor klasik yang memengaruhi capaian<br />
2010 antara lain; pertama, lemahnya persiapan<br />
pelaksanaan yang mencakup, adanya<br />
revisi DED, adanya pemindahan lokasi, terlambatnya<br />
penetapan lokasi, dan belum efektifnya<br />
Loan Agreement. Kedua, masih terdapat<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 5
eberapa paket yang diblokir (tanda bintang)<br />
oleh <strong>Ditjen</strong> Anggaran. Ketiga, kurangnya koordinasi<br />
dengan pihak Pemerintah Daerah.<br />
Keempat, keterlambatan proses penyiapan<br />
masyarakat Program Pemberdayaan dan<br />
pe nye rapan BLM baru akan dimulai secara<br />
signifikan pada Bulan September 2010. Kelima,<br />
tidak patuhnya Satker Kabupaten/<br />
Kota dalam pengiriman laporan kemajuan<br />
ke giatan melalui mekanisme e-Monitoring<br />
(pe riksa Lampiran Sandingan progres e-Moni<br />
toring dan Manual). Dan keenam, tidak<br />
ter sedianya dana DDUB oleh Pemda Kabupaten/Kota.<br />
<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> bukannya tidak mengupayakan.<br />
Mereka sudah menin daklanjuti<br />
permasalahan tersebut dengan upaya-upaya<br />
antara lain; Pertama, masing-masing direktorat<br />
telah membuat alat kendali untuk memantau<br />
pelaksanaan kegiatan per paket<br />
kegiatan/per Satker; Kedua, dilakukan peman<br />
tauan secara ketat untuk Satker-Satker<br />
yang penyerapan keuangannya masih di<br />
bawah rata-rata <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>; Ketiga,<br />
di la kukan pengiriman tim pemantauan ke<br />
daerah yang dipimpin oleh Eselon I dan<br />
Eselon II khususnya untuk 20 provinsi yang<br />
Satkernya masuk kategori kritis; dan keempat,<br />
dilakukan pemantauan tengah bulanan oleh<br />
Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> ke masing-masing Unit<br />
Kerja Eselon 2 Bulan Oktober dan Nopember<br />
2010.<br />
Yang perlu didorong adalah kemitraan.<br />
Kemitraan masih perlu digarap karena poten<br />
sinya sangat besar. “Saya ingin menugasi<br />
kemitraan khusus pada satu subdit<br />
menjadi ujung tombaknya. Saya masih sering<br />
mendengar bahwa kemitraan identik dengan<br />
salah satu kementerian, misalnya Kalbe Farma<br />
pada kemenkes. Maka harapan saya<br />
2011 seluruh potensi dapat kita manfaatkan,”<br />
pungkas Budi.<br />
Bidang Air Minum<br />
Sekali lagi, Direktorat Pengembangan Air<br />
Minum diingatkan oleh Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
untuk terus berkoordinasi dengan Badan<br />
Pendukung Pengembangan (BPP) SPAM untuk<br />
mensinergikan program dan sasaran,<br />
agar implementasinya tepat sasaran dan hasil<br />
nya menjadi lebih baik.<br />
Untuk mencapai kualitas yang lebih baik,<br />
perlu peninjauan terhadap Sertifikasi IPA yang<br />
dilakukan bersama dengan Puslitbangkim.<br />
Secara umum, untuk urusan melayani<br />
jum lah jiwa untuk mengakses air minum<br />
yang layak, kinerja pengembangan SPAM<br />
Tahun 2011 adalah puncak anggaran APBN. Sebelumnya pada<br />
2009 RP 7 Triliun, tahun 2010 Rp 8 Triliun,<br />
dan tahun 2011 menjadi Rp 13 Triliun,<br />
untuk selanjutnya menurun kembali pada 2012 dan seterusnya<br />
oleh direktorat ini belum sesuai dengan sasaran<br />
Renstra. Capaian itu tidak terlepas dari<br />
kontribusi Pemda yang belum maksimal<br />
untuk memperluas distribusi pelayanan. Penye<br />
bab mendasarnya adalah ketika banyak<br />
kota yang mengusulkan bantuan air minum<br />
tapi belum memiliki rencana induk SPAM<br />
yang dipersyaratkan. Bappenas meminta setiap<br />
daerah untuk punya rencana aksi MDGs,<br />
dimana bahan untuk itu dari ada di Dit. PAM<br />
yang telah merinci berdasarkan propinsi.<br />
Seperti yang dipaparkan Dirjen <strong>Cipta</strong><br />
<strong>Karya</strong>, banyak kapasitas terbangun namun<br />
banyak Pemda belum mendukung distri businya.<br />
Dari catatan capaian sektor air mi num,<br />
kapasitas terbangun selama 2010 mencapai<br />
2.793 liter per detik, lebih tinggi dari target<br />
1.675 liter per detik. Namun dari jumlah jiwa<br />
6 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
BERITAUTAMA<br />
PDAM sampai dengan 2010. Namun upaya<br />
ini baru mengangkat 50 PDAM menjadi<br />
sehat, yang lain karena keterbatasan dana<br />
masih berkutat dengan penyakitnya, se perti<br />
tarif yang tidak full recovery, masih tingginya<br />
tingkat kebocoran, belum mampu menyiapkan<br />
business plan yang baik, dan tentu<br />
saja kurangnya komitmen Pemda.<br />
Upaya lain dengan mencari sumber pendanaan<br />
alternatif seperti hibah luar negeri<br />
dan pinjaman perbankan. Pada 2011 sudah<br />
tercatat 35 PDAM menjalankan program<br />
hibah air minum, beberapa kendala di dae rah<br />
seperti Pekalongan adalah ditolaknya pencairan<br />
oleh Kementerian Keuangan ka rena<br />
Perdanya tidak sesuai dengan aturan Ke menkeu.<br />
Pemerintah juga telah memfasilitasi 15<br />
PDAM untuk merealisasikan kerjasama dengan<br />
perbankan. Lima PDAM diantaranya<br />
sudah maju ke Kemenkeu, yaitu PDAM Lombok<br />
Timur, PDAM Kudus, PDAM Tasikmalaya,<br />
PDAM Ciamis, dan PDAM Kota Malang. Tapi<br />
10 lainnya masih terkendala persetujuan<br />
DPRD, dan bahkan ada yang mengundurkan<br />
diri. Tahun 2011 ini pula sebanyak 80 PDAM<br />
didorong melalui Kerjasama Pemerintah<br />
Swa s ta (KPS) agar lebih sehat.<br />
Di tahun 2011, Dit. Pengembangan Air<br />
Minum memiliki kegiatan prioritas antara<br />
lain; Pembangunan SPAM untuk MBR di 171<br />
kawasan, Pembangunan SPAM IKK di 164<br />
kawasan, Pembangunan SPAM di 57 kawasan<br />
Khusus (perbatasan, pemekaran, KA-<br />
PET), Pembangunan SPAM di 10 kawasan<br />
Pelabuhan perikanan, Pembangunan SPAM<br />
di 1.530 desa, dan Pembinaan 98 PDAM<br />
dalam rangka penyehatan PDAM.<br />
yang terlayani masih belum mengejar angka<br />
target 2.077.400, sinergi <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dan<br />
Pemda hanya mampu melayani 1.783.775<br />
jiwa, terdiri dari 254.520 jiwa di perkotaan,<br />
dan 1.529.255 jiwa di perdesaan.<br />
Dari fakta tersebut bisa dimaknai bahwa<br />
bantuan stimulan <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> melalui APBN<br />
kepada Pemda/PDAM hanya mampu dikembangkan<br />
untuk melayani sekitar 254 ribu jiwa.<br />
Sedangkan program air minum di perdesaan<br />
melesat mencapai 1,5 juta jiwa.<br />
Upaya terus dilakukan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
melalui program penyehatan PDAM dengan<br />
memberikan Bantek (Bantuan Teknis) di 261<br />
Rusunawa Menteng Asri, Bogor.<br />
Bidang Pengembangan PLP<br />
Beban berat harus dipanggul direktorat ini.<br />
Anggarannya pada 2011 meningkat hampir<br />
200%, yaitu sebesar Rp 3 triliun, sedangkan<br />
tahun sebelumnya (2010) sebesar Rp 1,5<br />
triliun. Ancang-ancang langsung disiapkan<br />
diantaranya dengan peningkatan kualitas<br />
dan penambahan jumlah SDM, perbaikan<br />
dan peningkatan sarana kerja, peningkatan<br />
sis tem monev, peningkatan pemantauan dan<br />
pengawasan kualitas pekerjaan, dan pe ngendalian<br />
progres fisik dan keuangan secara<br />
ketat.<br />
Beberapa permasalahan tahun 2010 an -<br />
tara lain seputar lokasi lahan yang dibe baskan<br />
tidak sesuai dengan lokasi rencana seperti<br />
kasus TPA Tapanuli Tengah dan IPAL<br />
RSH Sukabumi akan diupayakan dengan<br />
Pe rencanaan Program Pem bangu nan meme<br />
nuhi Readiness criteria. Lokasi yang bermasalah<br />
di IPAL Manado perlu penge cekan<br />
kesiapan lahan dan Surat Kepu tusan Bupati/<br />
Walikota, perlu sosialisasi, Rencana Tata Ruang<br />
Kota (RTRW).<br />
Dengan anggaran Rp 3 triliun dan tambahan<br />
dari Pinjaman Luar Negeri (PLN),<br />
PLP memiiki kegiatan strategis antara lain<br />
pembangunan drainase di Banda Aceh (ex.<br />
BRR NAD-NIAS), Metropolitan Sanitation<br />
and Health Management Project (MSMHP) –<br />
Loan ADB DI Medan dan Yogyakarta, Jakarta<br />
Urgent Flood and Mitigation Project (JUFMP)<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 7
– Loan World Bank, Dredging untuk Lower<br />
Angke & Cideng (PLN), Semarang Urban<br />
Drainage – Loan JICA, dan Regional Solid<br />
Waste Management for Mamminasata – Loan<br />
JICA.<br />
PLP juga harus berjibaku dengan pembangunan<br />
TPA Mamminasata (PLN), Denpasar<br />
Sewerage Develoment Project (DSDP)<br />
Jilid II – Loan JICA, Indonesia Water Sanitation<br />
Sub Program D (WASAB.D) – Grant Belanda<br />
– World Bank di Pusat dan 6 Kota (HIBAH<br />
LN), Persiapan Greater Bandung, MP persampahan/air<br />
limbah Kab. Bandung Barat,<br />
Kab. Bandung, Kota Bandung (RM=Rupiah<br />
Murni), TPA Nambo (RM), dan TPA Legok<br />
Nang ka (RM).<br />
Di tahun 2011, Dit. Pengembangan PLP<br />
mematok kegiatan prioritas yang harus dise<br />
lesaikan antara lain; Peningkatan TPA di<br />
130 kab/kota, Pengembangan persampahan<br />
ter padu 3R di 92 lokasi, Pembangunan Air<br />
limbah sistem off site dan sistem on site di 160<br />
Kawasan, dan Pembangunan drainase di 78<br />
kabupaten/kota.<br />
Bidang Bangkim<br />
Direktorat Pengembangan Permukiman agak -<br />
n ya masih berkutat seputar upaya me na ngani<br />
kekumuhan dengan Prog ram Rusu nawanya.<br />
Rendahnya komit men Pem da da lam pemanfaatan<br />
Rusu nawa me mer lukan Me mo randum<br />
of Agreement yang lebih jelas dan lebih<br />
mengi kat. Bangkim juga men dam pingi Pemda<br />
dalam penyusunan SPPIP dan RPKPP, dan<br />
hampir sepertiga pagu bang kim, yaitu sekitar<br />
Rp 500 miliar difo kuskan untuk Program<br />
Infrastruktur So sial Eko nomi Wilayah (PISEW).<br />
Rusunawa saja ha nya dialokasikan Rp 300<br />
miliar, dan berhasil penuhi target 40 Twin<br />
Block.<br />
Tahun 2011 Dit. Bangkim mendapatkan<br />
tugas baru menjalankan Program Pem bangunan<br />
Infrastruktur Perdesaan (PPIP) yang<br />
semula dilaksanakan oleh Dit. Bina Program.<br />
PPIP akan dilaksanakan oleh Dit Bangkim,<br />
bersama dengan program-program pembangunan<br />
in fra struktur perdesaan, seperti agropolitan,<br />
pengembangan kawasan ter pen cil,<br />
per ba tasan, dan pulau terpencil di Bangkim.<br />
Sebanyak 63 SPPIP dan 54 RPKPP berusaha<br />
diwujudkan di tahun 2011, sehingga RPIJM<br />
yang disusun di daerah sudah dapat memasukkan<br />
hasil SPPIP. Upayanya dengan<br />
pe nguatan Tim Korwil dan anggotanya, mela<br />
lui diskusi intensif tentang pemahaman<br />
SPPIP dan RPKPP, pendampingan intensif<br />
untuk optimalisasi hasil SPPIP/ RPKPP 2010<br />
(Januari – Maret), Penajaman TOR SPPIP dan<br />
RPKPP untuk mendapatkan hasil penyusunan<br />
dengan standar yang sama antara Kab/Kota,<br />
penyempurnaan dan penyederhanaan panduan<br />
pelaksanaan, penyiapan sosialisasi dan<br />
pelaksanaan di 3 wilayah, dan penyiapan management<br />
koordinasi di pusat (dibantu konsultan).<br />
Untuk tahun 2011 ini Direktorat Bangkim<br />
menetapkan program prioritas antar alain;<br />
Pembangunan Rusunawa sebanyak 70 Twin<br />
Block, Pengembangan infrastruktur per mukim<br />
an di 112 Kws. Kumuh, Pengem ba ngan<br />
infrastruktur permukiman Perdesaan (PPIP)<br />
di 2.000 desa yang terdiri dari 1.000 desa<br />
PPIP dan 1.000 desa untuk mendukung<br />
Daerah Tertinggal, serta pengembangan<br />
infrastruktur permukiman perdesaan yang<br />
dibiayai ADB (RIS PNPM) di 1.987 desa, Pengembangan<br />
Kawasan Agropolitan, Minapolitan,<br />
KTM, serta kawasan Perbatasan dan<br />
pulau kecil terluar di 115 kawasan.<br />
Bidang PBL<br />
Inilah direktorat yang berhasil mendongkrak<br />
capaian penyerapan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>,<br />
pada akhir Desember 2010 lalu Dit. Penataan<br />
Bangunan dan Lingkungan berhasil menembus<br />
angka 95,32%. Namun tidak usah jumawa<br />
dulu, karena permasalahan masih banyak<br />
menanti, seperti fasilitasi peraturan terkait<br />
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan<br />
(RTBL) di daerah masih jauh dari harapan. Pun<br />
demikian dengan Peraturan Daerah tentang<br />
Bangunan Gedung, diharapkan tahun 2012<br />
semua Pemda sudah memilikinya.<br />
Catatan dari pimpinan agar pemanfaatan<br />
gedung Pusat Informasi Pengembangan<br />
Per mukiman dan Bangunan (PIP2B) yang telah<br />
dibangun perlu ditinjau kembali sesuai<br />
rencana dan cita-cita semula sebagai Center<br />
of Excelent <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> di propinsi. Untuk itu<br />
perlu penguatan peran PIP2B di kota-kota<br />
Jogja, Bali, Makassar, Semarang sebagai lesson<br />
learned pada lokasi lain.<br />
“Konsolidasikan, mana yang bisa difungsikan<br />
segera. Termasuk kelembagaan, ter masuk<br />
isinya (perabotan). Perlu ada ke lompokkelompok<br />
yang nyata, jangan ber ambisi<br />
se mua berfungsi, tapi selesaikan 1,2 atau 3.<br />
Mungkin diawali dari Yogyakarta, Ba li, Semarang,<br />
dan Makassar,” pesan Budi Yu wono.<br />
Masih ada kegiatan prioritas yang menantang<br />
PBL di tahun 2011, yaitu Pem binaan<br />
Bangunan Gedung di 65 kabu paten/kota,<br />
Peningkatan kualitas kawa san/revitalisasi dan<br />
RTH di 240 kawasan, dan Penanggulangan<br />
Kemisikinan di Perko taan melalui PNPM Perkotaan<br />
(P2KP) di 10.948 Kel/desa.<br />
Bidang Bina Program<br />
Direktorat Bina Program diharapkan tidak<br />
hanya berfokus pada APBN saja, tetapi harus<br />
menggali sumber dana lain melalui kemitraan,<br />
hibah, CSR, dan masyarakat melalui<br />
peningkatan kualitas RPIJM. Dengan<br />
le pas nya PPIP ke Bangkim, penguatan Randal<br />
Pusat dan Propinsi perlu dilakukan agar<br />
tugas-tugas pembinaan program baik melalui<br />
monitoring pelaksanaan maupun penyusunan<br />
RPIJM lebih baik lagi.<br />
Tahun 2011 ini Dit. Bina Program mestinya<br />
tidak lagi menemui masalah kua litas<br />
dokumen RPIJM dan memusingkan komitmen<br />
kabupaten/kota serta kemampuan Satgas<br />
Kabupaten/Kota dan Propinsi karena<br />
8 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
BERITAUTAMA<br />
berbagai alasan. Belum semua kab/kota<br />
me miliki komitmen untuk menyediakan<br />
DDUB, kedepan hal ini harus didorong agar<br />
ko mitmen DDUB bisa dipenuhi, ka re na<br />
didukung Randal yang makin solid. Tu gas<br />
Randal harus memfasilitasi ke giatan perencanaan<br />
program bidang Cip ta <strong>Karya</strong> TA.<br />
2012 dengan program jangka menengah;<br />
mengkoordinasi pemantauan pe laksanaan<br />
kegiatan Randal propinsi; mem fasilitasi perkuatan<br />
tim pemantauan pelak sa na an program<br />
bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> TA. 2011 se cara efektif<br />
dan efisien; dan memfasilitasi ke giatan<br />
evaluasi program bidang <strong>Cipta</strong> Kar ya TA.<br />
2010.<br />
Bidang Setditjen<br />
Untuk meningkatkan kinerja DJCK, harus disiapkan<br />
personil secara baik (kuantitas dan<br />
Yang perlu didorong adalah kemitraan. Kemitraan<br />
masih perlu digarap karena potensinya sangat besar.<br />
kualitas) dengan mulai diterapkan Reformasi<br />
Birokrasi untuk menuju DJCK sebagai kantor<br />
modern dengan WTP (pengurusan aset &<br />
pertanggungjawaban harus baik, wajar tanpa<br />
pengecualian).<br />
Reformasi birokrasi memerlukan manajer<br />
perubahan di tiap ditrektorat, dan harus<br />
sudah ditentukan para direktur. Reformasi<br />
ini juga harus berdampak agar komunkiasi<br />
antar unit, antar subdit, antar direktorat<br />
yang selama ini masih lemah bisa ada<br />
Revitalisasi kawasan Kota Lama Singaraja, Bali.<br />
solusinya. Diharapkan perangkat yang telah<br />
dibangun dapat berfungsi cepat. Setditjen<br />
juga harus mengatur kebijakan pimpinan<br />
untuk menyebarluaskan tenaga baru (234<br />
CPNS) maupun PNS yang sebelumnya ke<br />
Satker Wilayah yang sangat membutuhkan,<br />
khususnya daerah yang mendapatkan dana<br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> paling besar. Dengan demikian<br />
harus segera dirancang satker wilayah mana<br />
saja yang membutuhkan tenaga CPNS baru.<br />
(bcr)<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 9
BERITAUTAMA<br />
Menuju Wajar<br />
Tanpa Pengecualian (WTP)<br />
Kinerja yang semakin membaik ditandai dengan opini atas laporan keuangan<br />
<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dari status disclaimer pada tahun 2008 menjadi Wajar<br />
Dengan Pengecualian (WDP) pada tahun 2009. Tekad 2010 ini memiliki predikat<br />
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dengan melakukan sinkronisasi antara Sistem<br />
Akuntansi Keuangan (SAK) dan SIMAK BMN.<br />
U“Untuk menuju wajar tanpa pengecualian<br />
ada banyak faktor, selain laporan keuangan<br />
yang harus mantap ternyata harus<br />
diperkuat pencatatan dan penataan nilai<br />
asset riil yang semula tidak ada nilainya.<br />
Laporan keuangan sudah kita perkuat<br />
dengan peran Satker Randal yang mulai<br />
tahun 2011 ini semua Satker sektoral tiap<br />
propinsi harus melaporkan dahulu ke Satker<br />
Randal baru kemudian ke pusat,” tegas<br />
Budi Yuwono.<br />
Selain upaya itu, perlu juga menyelesaikan<br />
kasus/masalah, baik di bidang<br />
ke uangan maupun asset dan semakin diper<br />
kuatnya kelembagaan/personil yang<br />
menangani SAI pada tingkat Satker/Wilayah<br />
(untuk Satker yang berada di kabupaten/<br />
kota).<br />
“Membiarkan aset tidak optimal meru pakan<br />
suatu kesalahan. Saya harapkan segera<br />
selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama,”<br />
kata Budi Yuwono saat memberi arahan dalam<br />
“Workshop Penyelesaian Alih Status/<br />
Hibah Aset BMN Rusunawa” di Jakarta pertengahan<br />
Januari lalu.<br />
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004<br />
tentang Perbendaharaan Negara dan PP No.<br />
6/2006 tentang Pengelolaan Barang Milik<br />
Ne gara menjadi pijakan selanjutnya untuk<br />
Kementerian PU untuk memproses status<br />
asset Rusunawa dengan Kementerian<br />
Ke uangan, hingga ditetapkan<br />
status akhir<br />
sesuai aturan yang<br />
berlaku.<br />
D i r e k t u r<br />
P e n g e m b a n g a n<br />
Permukiman, Amwazi<br />
Idrus menerangkan, menin<br />
daklanjuti amanah<br />
pe raturan tersebut,<br />
saat ini sebanyak 164,5<br />
twin block (TB) rumah<br />
susun sederhana sewa<br />
(rusunawa) di 112 lokasi<br />
(meliputi 55 kabupaten/<br />
kota) milik PU sedang<br />
dalam proses untuk bisa<br />
segera diserahterimakan<br />
kepada pemerintah daerah<br />
(pemda). Selain itu, sebanyak<br />
22 TB rusunawa di 11 lokasi<br />
akan di-alih status-kan kepada<br />
Perguruan Tinggi Negeri (PTN)<br />
melalui kuasa pengguna barang<br />
Kementerian Pendidikan Nasional.<br />
Untuk itu, Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> mentargetkan<br />
di tahun 2011 ini, sebagian rusunawa dapat<br />
segera diserahterimakan agar dapat<br />
difungsikan secara optimal.<br />
Berdasarkan hasil verifikasi Kemen terian<br />
PU dan Kementerian Ke uangan (Kemenkeu),<br />
terdapat 15 TB rusunawa yang<br />
telah memiliki dokumen pendukung lengkap,<br />
37 TB yang hampir lengkap dan 134,5<br />
TB yang belum memiliki dokumen lengkap.<br />
Untuk dokumen yang telah lengkap<br />
dan hampir lengkap, tahun 2011 ini ditargetkan<br />
bisa dilakukan serah terima.<br />
Budi Yuwono mengakui, serah terima<br />
Rusunawa ini memang menghadapi banyak<br />
permasalahan. Hal ini juga menjadi<br />
salah satu penyebab yang membuat<br />
Kementerian PU masih men da pat<br />
penilaian Wajar Dengan Pengecua lian dari<br />
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Masalah<br />
prosedur dan administrasi dalam serah<br />
terima rusunawa yang belum dilakukan<br />
secara tertib menjadi beberapa permasalahan<br />
dalam penilaian BPK. “Saya<br />
harap tahun ini masalah tersebut bisa<br />
diatasi dan Kementerian PU dapat naik<br />
peringkatnya menjadi Wajar Tanpa Pengecualiaan<br />
(WTP),” tambahnya. (bcr)<br />
10 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
BERITAUTAMA<br />
Jangan Kesampingkan<br />
Penyiapan Program 2012<br />
Djuang Fadjar Sodikin *)<br />
Pada awal tahun seperti saat ini, sebagian besar perhatian kita tertuju pada<br />
penyiapan pelaksanaan kegiatan tahun 2011 dan evaluasi pelaksanaan kegiatan<br />
tahun 2010. Barangkali tidak terlalu populer bila kita membicarakan penyiapan<br />
program untuk tahun anggaran 2012. Namun demikian, belajar dari pengalaman<br />
tahun-tahun sebelumnya, penyiapan program yang layak didanai semestinya<br />
dilakukan jauh hari sebelum pelaksanaan kegiatan, bahkan sebelum proses<br />
penganggaran dilakukan.<br />
Pengalaman memperlihatkan bahwa proses<br />
penyiapan kegiatan, beserta penyusunan<br />
anggarannya, seringkali dilakukan dengan<br />
kurang matang. Indikasi ini dapat terlihat dari<br />
banyaknya usulan revisi dokumen anggaran,<br />
baik Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran<br />
(DIPA) maupun di level Petunjuk Operasional<br />
Kegiatan (POK). Pada tahun 2010 lebih<br />
dari 120 Satuan Kerja mengusulkan revisi<br />
anggaran, dengan jumlah total sebanyak 200<br />
usulan. Usulan revisi tersebut disampaikan<br />
dengan berbagai alasan mulai dari kesalahan<br />
teknis dalam input data aplikasi anggaran<br />
sampai pada pemindahan lokasi kegiatan<br />
yang dirasa tidak siap, yang bahkan beberapa<br />
di antaranya diusulkan pada awal tahun<br />
anggaran.<br />
Banyaknya revisi anggaran tersebut berdampak<br />
pada terhambatnya pelaksanaan<br />
kegiatan yang berujung pada tertundanya<br />
penyerapan anggaran. Pada akhirnya k e-<br />
te rlambatan penyerapan anggaran ini berkontribusi<br />
terhadap terhambatnya laju pertumbuhan<br />
ekonomi nasional, yang salah<br />
satu penopang utamanya adalah belanja<br />
(investasi dan konsumsi) Pemerintah. (Lihat<br />
kurva S ).<br />
Penyiapan Program 2012<br />
“Program” berbeda dengan apa yang dahulu<br />
diistilahkan sebagai “proyek”. Mengacu pada<br />
struktur anggaran yang baru, istilah proyek<br />
dapat disamakan dengan rincian pekerjaan.<br />
Program pembangunan Direktorat Jenderal<br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, yaitu Program Pem binaan dan<br />
Pengembangan Infrastruktur Permukiman,<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 11
BERITAUTAMA<br />
DALAM JUTAAN RUPIAH<br />
9000000<br />
8000000<br />
7000000<br />
6000000<br />
5000000<br />
4000000<br />
3000000<br />
2000000<br />
7702730<br />
RENCANA DAN REALISASI PENYERAPAN KEUANGAN<br />
DITJEN CIPTA KARYA<br />
TAHUN ANGGARAN 2010<br />
1243900.657<br />
1690925.636<br />
8292881.689 8372544.304<br />
7873440.857 8016249.2578046649.257 8178407.386<br />
8036257.48<br />
7934017.942<br />
7279774.675<br />
4795415.714<br />
3649233.469<br />
3862903.717<br />
3406432.324<br />
3080912.872<br />
2624127.158<br />
2905370.33<br />
2361626.303<br />
2131543.703<br />
6867517.705 7069971.058<br />
7094854.839<br />
6553753.179<br />
6546277.035<br />
5937388.952<br />
6037535.301<br />
5780277.625<br />
5490273.678<br />
4943012.0565129813.967<br />
4339388.72<br />
4439214.572<br />
697205.9676<br />
1127994.96<br />
1000000<br />
128771.8217 302098.2298 10552.68117<br />
660024.8107<br />
0<br />
27140.70288 46845.43893 271230.4907<br />
JANF EB MARA PR MEIJ UN JULA GT SEPO KT NOPD ES<br />
memiliki tujuan meningkatkan kualitas lingkungan<br />
permukiman dan cakupan pelayanan<br />
(dasar) infrastruktur permukiman untuk meningkatkan<br />
kesejahteraan masyarakat.<br />
Penyusunan Program dapat didefinisikan<br />
sebagai suatu rangkaian aktivitas penyiapan<br />
kegiatan berupa identifikasi permasalahan<br />
dan kebutuhan, formulasi operasionalisasi<br />
ke bijakan dan strategi, serta sinkronisasi antar<br />
komponen output kegiatan, termasuk sinkronisasi<br />
multi-pihak, multi-pendanaan, dan<br />
waktu pelaksanaan. Penyusunan program<br />
harus dilakukan dalam suatu kerangka menyeluruh<br />
dengan mempertimbangkan latar<br />
belakang dan kondisi eksisting daerah, sinkro<br />
nisasi dengan strategi pembangunan<br />
ke wilayahan yang lebih luas, dan analisa<br />
kapasitas keuangan Pemerintah, Pemerintah<br />
Daerah, dan sumber pendanaan lainnya yang<br />
dilakukan dengan cermat.<br />
Agar program yang disusun dapat tuntas<br />
menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhan<br />
pelayanan infrastruktur permu kiman<br />
yang dihadapi, hendaknya komponen<br />
waktu atau berapa lama waktu pelaksanaan<br />
kegiatan beserta alokasi anggarannya tidak<br />
menjadi batasan terlebih dulu. Dengan<br />
de mikian, para perencana dan penyusun<br />
program dapat secara leluasa dan tajam<br />
me rancang desain program yang sesuai.<br />
Namun demikian efisiensi dan efektifitas<br />
pe manfaatan sumber daya, termasuk pendanaan,<br />
tetap menjadi prinsip yang harus<br />
diacu.<br />
BULAN<br />
PAGU<br />
RENCANA<br />
REALISASI<br />
PERCEPATAN<br />
Untuk menghindari intervensi Pemerintah<br />
yang dilakukan secara sporadis dan mencegah<br />
kemanfaatan infrastruktur yang tidak<br />
berkelanjutan, penyusunan program harus<br />
dilakukan dalam kerangka jangka menengah,<br />
yang kita kenal dengan Rencana<br />
Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM)<br />
Bidang PU/<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Penyusunan rencana<br />
program pembangunan infrastruktur permu<br />
kiman ini sudah semestinya berawal dari<br />
inisiatif Pemerintah Kabupaten/Kota se bagai<br />
pengemban tanggung jawab utama,<br />
se bagaimana diamanatkan dalam Undangundang<br />
No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah<br />
Daerah.<br />
Guna menerjemahkan rencana program<br />
jangka menengah kedalam program dan anggaran<br />
tahunan, perlu dilakukan sinkro nisasi<br />
kebutuhan program dan indikasi alokasi anggaran<br />
tiap tahunnya. Penyusunan tingkat<br />
pri oritas rincian dan lokasi kegiatan akan<br />
menjadi referensi penting dalam memberikan<br />
justifikasi rencana pengalokasian anggaran<br />
dan waktu pelaksanaan kegiatannya.<br />
Penyusunan prioritas rincian kegiatan<br />
di dasarkan pada urgensi output kegiatan,<br />
jumlah penduduk pemanfaat, luas wila yah<br />
yang tertangani, tingkat kesiapan pelaksanaan<br />
kegiatan, kesesuaian perun tukan lokasi<br />
dalam Rencana Tata Ruang, perhatian<br />
Pemerintah Daerah setempat, kebutuhan<br />
ang garan, serta dampak positif ikutannya.<br />
Penyusunan kegiatan prioritas ini perlu dilakukan<br />
dan disepakati secara bersama, serta<br />
dituangkan kedalam suatu kesepakatan (memorandum)<br />
program antara <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong><br />
Kar ya, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah<br />
Kabupaten/Kota.<br />
Idealnya, kegiatan-kegiatan yang akan<br />
di anggarkan adalah kegiatan yang sudah<br />
di nilai benar-benar layak untuk didanai, baik<br />
dilihat dari sisi perencanaan, pelaksanaan<br />
kegiatan, maupun pemanfaatannya. Kegiatan<br />
penyusunan program semestinya dilakukan<br />
2 tahun sebelum pelaksanaan kegiatan (T-2),<br />
sehingga dapat siap dianggarkan pada tahun<br />
berikutnya.<br />
Proses Penganggaran<br />
Untuk menjamin terlaksananya kegiatan<br />
yang diprioritaskan, proses penganggaran<br />
per lu dilakukan secara tertib. Setiap rincian<br />
pekerjaan harus diterjemahkan dengan benar<br />
kedalam aplikasi anggaran.<br />
Sudah menjadi rahasia umum bahwa<br />
penyusunan dan penelaahan anggaran kita<br />
masih dilakukan dengan kurang matang dan<br />
cenderung tergesa-gesa, sehingga waktu<br />
yang diperlukan untuk kontrol kualitas doku<br />
men anggaran menjadi tidak memadai.<br />
Pekerjaan penyusunan aplikasi Rencana Kegiatan<br />
Anggaran Kementerian/Lembaga<br />
(RKA-KL) lebih sering menumpuk pada bulan<br />
November, padahal Peraturan Pemerintah<br />
No. 90 tahun 2010 tentang Penyusunan<br />
RKA-KL mengatur agar penyiapan (aplikasi)<br />
RKA-KL sudah dilakukan pada bulan Juni-Juli<br />
se telah menerima Pagu Sementara, sebagai<br />
bahan lampiran nota keuangan.<br />
Rincian pekerjaan untuk semua kegiatan<br />
yang layak didanai seharusnya sudah siap<br />
pa ling lambat pada awal Januari di tahun<br />
penganggaran, sehingga masih cukup waktu<br />
untuk melakukan konsolidasi dalam pengisian<br />
aplikasi dan penelaahan dokumen<br />
RKA-KL. Dengan demikian diharapkan dapat<br />
menghasilkan dokumen anggaran yang lebih<br />
baik, sehingga dapat meminimalisir kebutuhan<br />
revisi anggaran yang dapat menghambat<br />
peningkatan pelayanan infra struktur<br />
permukiman.<br />
Penyusunan program dan anggaran yang<br />
dilakukan secara tertib dan akuntabel merupakan<br />
perwujudan penerapan tata pe merintahan<br />
yang baik (good governance), dan<br />
salah satu bentuk respon terhadap tuntutan<br />
reformasi birokrasi yang saat ini semakin menguat.<br />
*) Staf Subdit Program dan Anggaran,<br />
Direktorat Bina Program, DJCK<br />
12 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
LIPUTANKHUSUS<br />
Liputan Khusus<br />
Membangun Nilai Tambah<br />
di Kawasan Wisata Raja Ampat<br />
Heri Supriyanta *)<br />
Seperti halnya dengan kondisi infrastruktur di kawasan wisata potensial di tanah<br />
air ini, Raja Ampat masih mendambakan sentuhan ekstra dari Pemerintah Pusat<br />
dan Pemerintah Daerah. Namun sedikit demi sedikit kawasan Raja Ampat sudah<br />
mendapatkan sentuhan infrastruktur dari Kementerian Pekerjaan Umum berupa jalan<br />
poros desa, pasar desa, dan MCK Umum. Dua hal ini minimal bermanfaat untuk<br />
meningkatkan akses masyarakat, menggeliatkan perekonomian, dan memperbaiki<br />
derajat kesehatan.<br />
Kabupaten Raja Ampat dikenal dengan<br />
perairannya yang menakjubkan. Kabupaten<br />
ini terletak di kepala burung Papua, jika kita<br />
sepakat mengibaratkan pulau paling timur<br />
wilayah Indonesia ini mirip seekor burung.<br />
Kabupaten Raja Ampat memiliki 610 pulau.<br />
Empat di antaranya, yakni Pulau Misool,<br />
Salawati, Batanta dan Waigeo, merupakan<br />
pulau-pulau besar. Dari seluruh pulau hanya<br />
35 pulau yang berpenghuni sedangkan pulau<br />
lainnya tidak berpenghuni dan sebagian<br />
besar belum memiliki nama.<br />
Sebagai daerah kepulauan, satu-satunya<br />
transportasi antar pulau dan penunjang<br />
kegiatan masyarakat Raja Ampat adalah<br />
ang kutan laut. Demikian juga untuk menjangkau<br />
Waisai, ibu kota kabupaten. Bila<br />
meng gunakan pesawat udara, lebih dulu<br />
menuju Kota Sorong. Setelah itu, dari Sorong<br />
perjalanan ke Waisai dilanjutkan dengan<br />
trans portasi laut. Sarana yang tersedia adalah<br />
kapal cepat berkapasitas 10, 15 atau 30 orang.<br />
Dengan biaya sekitar Rp. 2 juta, Waisai dapat<br />
dijangkau dalam waktu 1,5 hingga 2 jam.<br />
Medio Nopember 2010 lalu, penulis berkesempatan<br />
menjejakkan kaki di kabu paten<br />
kepulauan ini. Perjalanan dimulai dari Kota<br />
Sorong, ujung barat kepala burung Papua<br />
di Provinsi Papua Barat, yang sebenarnya<br />
ber-ibukota di Manokwari. Perjalanan kali ini<br />
dilaksanakan untuk mengunjungi Kabupaten<br />
Raja Ampat dalam rangka pengawasan dan<br />
pengendalian terhadap pembangunan infra<br />
struktur TA. 2010 untuk mendukung Minapolitan<br />
Kawasan Selat Segawin, yang dilaksanakan<br />
di Pulou Batanta, dengan Distrik<br />
Yenanas.<br />
Di lokasi ini telah terbangun infrastruktur<br />
berupa Jalan Poros Desa dan satu unit Pasar<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 13
Kunjungan ke Kabupaten Raja Ampat dalam rangka<br />
pengawasan dan pengendalian terhadap pembangunan<br />
infrastruktur TA. 2010 untuk mendukung Minapolitan Kawasan<br />
Selat Segawin.<br />
Desa, dimana pada saat kunjungan kami ke<br />
lokasi ini, kedua infrastruktur tersebut telah<br />
terbangun dan sudah dimanfaatkan oleh<br />
war ga disekitar kawasan.<br />
Pasar Desa<br />
Desa Yenanas, di Distrik Batanta, Kawasan<br />
Selat Segawin, Kabupaten Raja Ampat beruntung<br />
mendapatkan prasarana bantuan<br />
be rupa satu unit Pasar Desa dan bangunan<br />
Kamar Mandi (toilet dua pintu). Kedua prasarana<br />
dan sarana tersebut bernilai lebih<br />
hampir Rp 700 juta.<br />
Dilihat dari aspek kualitas, bangunan Pasar<br />
Desa dinilai cukup baik, yaitu dengan<br />
konstruksi kayu, atap seng, dan lantai rabat<br />
beton di aci. Hanya saja di beberapa tempat<br />
masih terlihat adanya genangan air. Setelah<br />
dikonfirmasi ternyata akibat angin laut yang<br />
besar sehingga naik ke lantai pasar. Tidak<br />
mengherankan karena lokasi pasar ini berada<br />
di pinggir pantai disebelah dermaga perahu/<br />
speedboat.<br />
Sesuai informasi pegawai Distrik Batan -<br />
ta setempat yang menemani kami da lam<br />
berkeliling kawasan ini, lokasi pemba ngunan<br />
memang di tepi pantai yang di setujui berbagai<br />
pihak. Sehingga dalam pe ren ca naan<br />
dan pembangunannya memer lukan pe nyelesaian<br />
secara teknis, paling tidak peil lan tai<br />
harus mengantisipasi air pasang laut ter tinggi,<br />
atau ombak musim angin utara. Mereka<br />
memang kemudian mengusulkan ada nya<br />
ba ngunan talud disepanjang bangu nan gedung<br />
Pasar Desa ini.<br />
Perlu diketahui, pasar ini adalah satusatunya<br />
pasar desa yang ada di kawasan ini,<br />
dan pasar saat ini dimanfaatkan oleh para<br />
pedagang kelontong (meskipun belum penuh),<br />
bukan para penjual jual sayur mayur<br />
atau ikan hasil tangkapan. Hal ini di sebabkan<br />
bahwa produksi sayur maupun ikan hasil<br />
tangkapan sudah habis sebelum mencapai<br />
pantai. Bahkan sebelum sempat mendarat,<br />
para nelayan sudah dihampiri para pe ngumpul<br />
ditengah laut.<br />
Namun kini, tidak hanya ikan dan sayur,<br />
pasar desa ini juga sudah ramai dengan para<br />
penjual kebutuhan rumah tangga seperti<br />
peralatan dapur, pakaian dan lain-lain. Silah<br />
kan perhatikan foto-foto berikut ini. Beberapa<br />
foto kondisi pasar Desa Yenanas,<br />
di Distrik Batanta, Kawasan Selat Segawin,<br />
Kabupaten Raja Ampat, dan kualitas kayu<br />
yang dipergunakan untuk struktur, dan masyarakat<br />
yang memanfaatkan untuk berjualan<br />
kebutuhan-kebutuhan rumah tang ga,<br />
seperti peralatan dapur dan pakaian/ba ju/<br />
kaos,dll.<br />
Jalan Poros Desa<br />
Dari hasil pengamatan di lapangan, jalan<br />
yang dibangun di kawasan ini menggunakan<br />
konstruksi rigit semen beton, dengan lebar 3<br />
M dan tebal 20 cm sepanjang 532,51 m. Biaya<br />
pembangunannya lebih dari Rp 885 juta.<br />
Dari aspek kualitas sudah cukup baik.<br />
Terbukti dengan kualitas beton di pinggiran<br />
cukup keras dan tidak mudah pecah. Namun<br />
demikian, di beberapa titik masih ditemukan<br />
kondisi beton yang patah memanjang dan<br />
lebar, sehingga diperlukan penanganan lebih<br />
lanjut.<br />
Sementara itu draninase kawasan yang<br />
berada di sepanjang jalan ini dibangun<br />
dengan menggunakan alokasi perdesaan<br />
skala kawasan (APBN) sehingga terlihat kawasan<br />
ini menjadi semakin baik. Masya rakat<br />
pun sangat senang dengan pem ba ngunan<br />
jalan ini, terlihat semakin banyak masyarakat<br />
14 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
LIPUTANKHUSUS<br />
yang mulai membangun atau merenovasi<br />
rumah mereka.<br />
Satu catatan, untuk jalan poros desa<br />
ini dibangun pada kawasan permukiman<br />
masyarakat nelayan. Namun kalau dilihat<br />
perbedaan peil antara jalan dan drainase,<br />
nampak bahu jalan tidak diisi dengan tanah<br />
lagi, sehingga berpeluang untuk rusak/patah.<br />
Diharapkan masyarakat di sekitar kawasan<br />
melakukan gotong royong mengisi bahu<br />
jalan itu dengan tanah atau pasir setempat<br />
sehingga memperpanjang umur konstruksi.<br />
Untuk tahun ketiga kawasan Selat Segawin<br />
ini, pada TA.2011 akan dialokasikan<br />
pembangunan jalan poros lanjutan untuk<br />
menuntaskaan kawasan ini. Selain itu ada<br />
beberapa titik kawasan, di mana masyarakat<br />
menghendaki dibangunnya talud penahan<br />
badan jalan.<br />
Dilihat dari kondisi eksisting, rencana<br />
pem bangunan jalan cukup baik dan lurus,<br />
sehingga kemungkinan memudahkan dalam<br />
pelaksanaan. Hanya saja, menurut catatan<br />
Ke pala Satker PKP Provinsi Papua Barat,<br />
Abdul Halil Kastella, kendala pelaksanaan<br />
ha nya dalam proses mobilisasi material dari<br />
Sorong ke lokasi ini membutuhkan waktu<br />
tempuh laut selama 2-3 jam perjalanan<br />
dengan menggunakan perahu atau ponton.<br />
Tak pelak biaya menjadi relatif lebih tinggi.<br />
Namun demikian, lagi-lagi Kementerian<br />
Pe kerjaan Umum, melalui Direktorat Jenderal<br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> terus berupaya meningkatkan<br />
infrastruktur perdesaan berpotensi ini. Sehingga<br />
di masa yang akan datang ma sya rakat<br />
di sekitar kawasan ini mampu melaksanakan<br />
kehidupan ekonominya de ngan baik, dan<br />
memiliki infrastruktur per mukiman yang lebih<br />
lengkap.<br />
Sharing APBD<br />
Dari pemantauan di lapangan juga ditemui<br />
adanya bangunan talud penahan pantai<br />
yang dibangun pada TA. 2010 dari APBD Kab.<br />
Raja Ampat. Namun secara teknis bangunan<br />
ini kurang tahan terhadap ombak, sehingga<br />
didapatkan di satu titik yang sudah roboh/<br />
ambruk karena konstruksinya tak didukung<br />
dengan struktur yang memadai.<br />
Demikian catatan perjalanan kami, se moga<br />
dapat menjadikan masukan dalam pengambilan<br />
putusan pimpinan di masa yang<br />
akan datang.<br />
*) Asisten Perencanaan Program<br />
Pengembangan Kawasan Agropolitan,<br />
<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 15
Info Baru 1<br />
Menebar Infrastruktur<br />
di Kawasan Transmigrasi<br />
Penyebaran penduduk Indonesia melalui program transmigrasi bukan urusan<br />
gampang. Kawasan transmigrasi harus didukung infrastruktur yang mantap<br />
agar geliat ekonomi berjalan lancar. Tantangan ini dengan serius didukung oleh<br />
Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kementerian Pekerjaan Umum bekerjasama dengan<br />
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi melalui pengembangan Kawasan<br />
Terpadu Mandiri (KTM).<br />
16 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
INFOBARU 1<br />
Komitmen ini diperkuat dengan penanda<br />
ta nganan Nota Kesepahaman tentang<br />
pengembangan ekonomi lokal dan per desaan<br />
melalui pembangunan infra struktur di<br />
kawasan KTM. Dalam 2-3 tahun ke depan,<br />
dua kementerian tersebut ditargetkan mampu<br />
mengembangkan 44 kawasan Kota Terpadu<br />
Mandiri (KTM) yang sudah dite tapkan<br />
dengan Keputusan Mena kertrans No mor<br />
Kep.293/MEN/IX/2009.<br />
Penandatanganan tersebut menyambung<br />
upaya yang sudah dilakukan sejak 2007.<br />
Selama empat tahun, dua kementerian ini<br />
ber hasil membangun infrastruktur di 32<br />
ka wasan transmigrasi. Beberapa kawasan<br />
itu antara lain KTM Mesuji Lampung, KTM<br />
Rambutan Parit, KTM Belitang dan KTM Telang<br />
Sumatera Selatan.<br />
Menurut Djoko, upaya ini akan terus<br />
berlanjut, dan untuk 2011 Kementerian PU<br />
telah mengalokasikan program pendukung<br />
KTM untuk lokasi di KTM Kawasan Way Tuba<br />
Lampung dan KTM Cahaya Baru Kalimantan<br />
Selatan.<br />
“Pusat-pusat pertumbuhan ini berperan<br />
penting sebagai motor penggerak ekonomi<br />
wilayah, karena fungsinya sebagai pusat<br />
pelayanan pengolahan, dan pemasaran produk.<br />
Upaya itu perlu didorong terus dengan<br />
dukungan infrastruktur,” ujar Djoko Kir manto.<br />
Menakertrans Muhaimin Iskandar menam<br />
bahkan, nota kesepahaman dan perjanjian<br />
kerjasama itu dimaksudkan untuk mengembangkan<br />
infrastruktur permukiman di<br />
kawasan KTM agar terpelihara dan tetap berfungsi<br />
sesuai dengan standar pelayanan yang<br />
dibutuhkan.<br />
“Nantinya, secara teknis, Kementerian PU<br />
akan mengkaji usulan rencana (masterplan)<br />
pembangunan kawasan, pembangunan infra<br />
struktur permukiman di kawasan transmigrasi,<br />
pendampingan dan pembinaan<br />
tek nis serta pelatihan operasional dan pe me -<br />
li ha raan infrastruktur,” kata Muhaimin.<br />
Integrasi KTM dan RPIJM<br />
Sementara itu Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Budi Yuwono<br />
menjelaskan, <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> akan<br />
mengintegrasikan slot program yang ada<br />
dalam dukungan untuk KTM dengan Rencana<br />
Program dan Investasi Jangka Menengah<br />
daerah yang bersangkutan. Program<br />
yang bisa didukung oleh <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong><br />
<strong>Karya</strong> seperti penyediaan air minum, sanitasi,<br />
jalan lingkungan, penataan bangunan dan<br />
lingkungan tetap melalui RPIJM agar pasca<br />
program ada yang mengurus infrastruktur<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 17
yang sudah dibangun.<br />
“Jangan sampai kita meninggalkan<br />
dae rah. Ini menjadi bagian penting dari<br />
pembelajaran pembangunan di daerah agar<br />
mam pu menyusun program dengan baik<br />
dan bertanggung jawab. Jangan ada lagi<br />
infrastruktur terbangun tidak terurus, termasuk<br />
dalam rangka dukungan untuk KTM ,”<br />
tegasnya.<br />
Direktur Pengembangan Permukiman,Am -<br />
wazi Idrus menyatakan, dengan penandata<br />
ngan MoU antara dua menteri ini di harapkan<br />
bantuan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> lebih<br />
tepat sasaran karena ada penekanan harus<br />
masuk dalam Rencana Program dan Investasi<br />
Jangka Menengah (RPIJM) masing-masing<br />
daerah. Ada 44 lokasi KTM yang diusulkan<br />
Kemenakertrans dan akan dipelajari oleh<br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> agar dapat dimasukkan ke RPIJM.<br />
Pernyataan Amwazi tentang kesiapan Pemda<br />
didukung oleh Dirjen Pembinaan Pe ngembangan<br />
Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi<br />
(PPMKT) Kemenakertrans, Djo ko<br />
Sidiq Pramono. Dia mengatakan bah wa<br />
Pemda me miliki keterbatasan dalam pemeliharaan<br />
aset yang dibangun di kawasan KTM.<br />
Ka rena itu diharapkan tidak saja dari Pem da,<br />
masyarakat juga perlu terlibat.<br />
“Jika MoU ini sudah berjalan, maka asetaset<br />
prasarana dan sarana yang sudah dibangun<br />
bisa didukung dengan operational<br />
dan maintenance (OM) oleh <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong><br />
<strong>Karya</strong> agar pemeliharaannya tidak tersendat.<br />
Kesepakatan bersama (MoU0 ini akan berlaku<br />
untuk jangka waktu 4 tahun, dan untuk<br />
mengawasi pelaksanaan kesepakatan ini<br />
akan dilakukan monitoring dan evaluasi se cara<br />
terpadu setiap tahun,” ujarnya.<br />
Tujuan KTM<br />
Kota Terpadu Mandiri adalah desa atau kawasan<br />
yang tumbuh dan berkembang<br />
sebagai pusat koleksi, pengolahan hasil, distri<br />
busi dan jasa dari WPT (Wilayah Pengembangan<br />
Transmigrasi) yang didesain sebagai<br />
arahan pengembangan terstruktur dari unit-unit<br />
permukiman transmigrasi dan desa-desa<br />
sekitar dalam satu satuan jaringan<br />
in fra struktur dan satuan ekonomi wilayah<br />
yang dalam operasionalnya dibangun secara<br />
terencana dan terpadu dengan melibatkan<br />
lintas sektor dan multidisiplin baik pusat,<br />
provinsi maupun kabupaten.<br />
Sehingga dalam pelaksanaannya membutuhkan<br />
koordinasi, sinkronisasi, dan integrasi<br />
yang sangat intensif dengan instansi lintas<br />
sektor terkait, yang memberi dukungan<br />
sesuai kewenangan dan tupoksinya masingmasing.<br />
Instansi lintas sektor yang terkait<br />
diantaranya Pemerintah Kabupaten dan<br />
Propinsi, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian<br />
Pekerjaan Umum, Kementerian<br />
Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kemen<br />
terian Perdagangan, Kementerian Per hubungan,<br />
Kementerian Agama, BKPM, Dinas<br />
Kehutanan, Kantor Menteri Negara Koperasi,<br />
BPN, Kementerian Kesehatan, kementerian<br />
Pendidikan Nasional, PLN, dan Perusahaan<br />
Daerah Air Minum (PDAM).<br />
Tujuan umum KTM di kawasan transmigrasi<br />
adalah; pertama, meningkatkan kemudahan<br />
dalam memenuhi berbagai kebutuhan dasar<br />
yang memungkinkan terbukanya kesempatan<br />
pertumbuhan ekonomi lokal dan<br />
sosbud daerah transmigrasi. Kedua, menciptakan<br />
sentra-sentra aktifitas bisnis yang<br />
menarik Investor sebagai upaya menumbuh<br />
kembangkan kegiatan ekonomi transmigran<br />
dan masyarakat sekitarnya.<br />
Sedangkan sasarannya antara lain; pertama,<br />
tersedianya sarana sosial, ekonomi<br />
dan pemerintahan untuk melayani kebutuhan<br />
dasar para transmigran dan desa<br />
sekitar. Kedua, tersedianya prasarana dan<br />
Peta sebaran KTM<br />
KTM Samar Kilang<br />
Bener Meriah, NAD<br />
KTM Semanggaris<br />
Nunukan, Kal-Tim<br />
KTM Sebatik<br />
Nunukan, Kal-Tim<br />
KTM Ketagang Nusantara<br />
Aceh Tengah, NAD<br />
KTM Lunang Silaut<br />
Pesisir Selatan, Sumbar<br />
KTM Lagita<br />
Bengkulu Utara, Bengkulu<br />
KTM Rupat<br />
Bengkalis,Riau<br />
KTM Parit Rambutan<br />
Ogan Ilir, Sum-Sel<br />
KTM Way Tube<br />
Way Kanan, Lampung<br />
KTM Peuh Mandiangin<br />
Sarolangun, Jambi<br />
KTM Geragai<br />
Tanjung Jabung, Jambi<br />
KTM Telang<br />
Banyu Asin, Sum-Sel<br />
KTM Belitang<br />
Oku Timur, Sum-Sel<br />
KTM Rasau Jaya<br />
Kubu Raya, Kal-Bar<br />
KTM Subah<br />
Sambas, Kal-Bar<br />
KTM Batu Belumpang<br />
Bangka Selatan, Ba-Bel<br />
KTM Labanan<br />
Berau, Kal-Tim<br />
KTM Kalorang<br />
Kutai Timur, Kal-Tim<br />
KTM Lamuni<br />
Kapuas, Kal-Teng<br />
KTM Salim Batu<br />
Bulungan, Kal-Tim<br />
KTM Cahaya Baru<br />
Bakola, Kal-Sel<br />
KTM Tampolore<br />
Poso, Sul-Teng<br />
KTM Tobudak<br />
Mamuju, Sul-Teng<br />
KTM Air Tenang<br />
Buci, Sul-Teng<br />
KTM Parimo<br />
Parimo, Sul-Teng<br />
KTM Punaga<br />
Takalar, Sul-Sel<br />
KTM Pasonsari<br />
Boalemo, Gorontalo<br />
KTM Pada Joyo<br />
Tojo Uma-uma, Sul-Teng<br />
KTM Bungku<br />
Morowali, Sul-Teng<br />
KTM Mahalona<br />
Luwu Timur, Sul-Sel<br />
KTM Malu/Lamonae<br />
Konawe Utara, Sul-Tra<br />
KTM Karnisa<br />
Muna, Sul-Tra<br />
KTM Morotai<br />
Morotai, Maluku Utara<br />
KTM Kobisonta<br />
Maluku Tengah, Maluku<br />
KTM Senggi<br />
Keenom, Papua<br />
KTM Muting<br />
Merauke, Papua<br />
Keterangan :<br />
KTM Mesuji<br />
Tulang Bawang, Lampung<br />
KTM Sarudu Baros<br />
Mamuju Utara, Sul-Teng<br />
KTM Labangka<br />
SUmbawa, NTB<br />
KTM Tambora<br />
Bima, NTB<br />
KTM Nageleo<br />
Nageleo, NTT<br />
KTM Penu<br />
Tim-Teng Utara, NTT<br />
KTM Salor<br />
Merauke, Papua<br />
Lokasi Kota Terpadu Mandiri<br />
Kawasan Kota Terpadu Mandiri Generasi I Generasi II Generasi II Rencana Program 2009<br />
18 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
INFOBARU 1<br />
terdiri dari transmigran dan penduduk<br />
sekitar;<br />
d. WPT terdiri dari 4-5 SKP (Satuan Kawasan<br />
Pengembangan) yang memiliki Pusat/<br />
Desa Utama. Setiap SKP terdiri dari 4 — 6<br />
SP (Satuan Permukiman) yang memiliki<br />
Pusat Desa;<br />
e. KTM membawahi Desa Utama dan Desa<br />
Utama membawahi Pusat Desa;<br />
f. Usulan pembangunan dan pengem bangan<br />
KTM merupakan kesepakatan bersama<br />
antara pemerintah Kabupaten/Kota,<br />
dikoordinasikan oleh pemerintah Propinsi,<br />
serta lolos seleksi Tim pemerintah;<br />
g. Kebutuhan lahan yang diperlukan untuk<br />
pem bangunan dan pengembangan KTM<br />
ada lah untuk pusat benih/bibit dan<br />
dem farm 230 ha, pembangunan sarana<br />
dan prasarana pusat KTM 120 ha, pengembangan<br />
permukiman transmigrasi<br />
baru minimal 1000 ha, pengembangan<br />
trans migrasi swakarsa mandiri minimal<br />
500 ha.<br />
sa rana untuk mendukung kegiatan usaha<br />
para transmigran dan desa sekitar. Ketiga,<br />
terbangunnya sentra-sentra kegiatan bisnis<br />
untuk menumbuhkan kegiatan ekonomi di<br />
daerah transmigrasi.<br />
Struktur tata ruang KTM<br />
Secara garis besar tata ruang KTM akan<br />
dibentuk melalui tiga hirarki pusat pela yanan,<br />
yaitu Pusat KTM, Desa Utama dan Pusat Desa.<br />
Ketiga pusat-pusat pertumbuhan tersebut<br />
akan dibentuk dan berfungsi sesuai dengan<br />
hirarkinya. Pusat-pusat ter se but di lengkapi<br />
berbagai fasilitas yang men du kungnya yaitu:<br />
= Pertama, Pusat KTM terdiri dari; Pusat<br />
Penjualan Produk, Pusat Informasi, Galeri,<br />
Ruang Pamer, Perbankan, Terminal Umum<br />
dan Terminal Agribisnis, Industri Pengolahan,<br />
Packaging, Labelling, Pergu dangan,<br />
Tempat Pembuangan Limbah Sementara,<br />
Perbengkelan, Show Room (elektronik, automotif),<br />
Super Mar ket, Pertokoan, Grosir,<br />
Pasar Induk, Hotel, Puskesmas/Rumah<br />
Sakit Tipe C, TK, SD, SLTP, SMU, Balai<br />
Latihan dan Perpustakaan Umum, Listrik,<br />
Telepon, Rumah Ibadah, Air Bersih, Sarana<br />
Olah Raga dan RTH, Perkantoran, Ruang<br />
Rapat dan Balai Pertemuan.<br />
= Kedua, Pusat Desa Utama terdiri dari ;<br />
Fasilitas Perbankan, Test Farm, Seed Farm,<br />
Pasar Pengumpul, Koperasi dan Sub Terminal,<br />
Pergudangan/Pabrikasi (barang<br />
men tah sampai setengah jadi, tempat<br />
sampah hasil olahan, industri rumah<br />
tangga), Kios Tani, Gudang Saprotan,<br />
Gudang Penyimpanan, Bengkel, Toko, Pasar,<br />
Penginapan, Puskesmas/Pustu, TK, SD,<br />
SLTP, Rumah Ibadah, Sarana Olah Raga<br />
Kantor Pos Pembantu, Listrik, Telepon, Air<br />
Bersih, Perkantoran dan Balai Pertemuan.<br />
= Ketiga, Pusat Desa terdiri dari ; Gudang<br />
Pengumpul, Kios Tani, Lantai Jemur Demplot,<br />
KUD, Warung/Kios/Toko, TK, SD,<br />
Balai Pengobatan Rumah Ibadah, Listrik,<br />
Telepon, Air Bersih, Kotak Pos dan RTH.<br />
Kriteria yang ditetapkan Kementerian Tenaga<br />
Kerja dan Transmigrasi untuk suatu Kawasan<br />
transmigrasi akan dikembangkan melalui<br />
pembangunan dan pengembangan Kota<br />
Ter padu Mandiri (KTM) apabila memenuhi<br />
persyaratan sebagai berikut:<br />
a. Masuk ke dalam Kawasan budidaya non<br />
kehutanan atau termasuk ke dalam Areal<br />
Penggunaan Lain (APL) dan Hutan Produksi<br />
yang dapat dikonversi (HPK) serta<br />
sesuai dengan yang diperuntukkan oleh<br />
RTRWP dan RTRWK;<br />
b. Luas wilayah KIM minimal ± 18.000 ha,<br />
yang diasumsikan berdaya tampung<br />
10.000 jiwa yang terdiri dari transmigran<br />
dan penduduk sekitar;<br />
c. Luas WPT (Wilayah Pengembangan Transmigrasi)<br />
± 50.000 ha, yang di asumsikan<br />
berdaya tampung ± 9.000 KK / 50.000 jiwa,<br />
Setelah dipenuhinya kriteria di atas, Kemen<br />
terian PU melalui Direktorat Jenderal<br />
Cip ta <strong>Karya</strong> membantu dana stimulan tiap<br />
usulan dari Bupati/Pemda dengan telah masuk<br />
dalam RPIJM, mempunyai Master Plan,<br />
DED dan lahan dalam penguasaan Pemda<br />
dan juga menyediakan dana pendamping<br />
serta sesuai RTRW Kabupaten dan Provinsi.<br />
Landasan Hukum<br />
Penyelanggaraan pengembangan kawasan<br />
KTM dilandasi oleh beberapa hukum dan<br />
peraturan sebagai berikut;<br />
= Pertama, Surat Keputusan Bersama (SKB)<br />
tiga Menteri mengenai KTM, yaitu No.03/<br />
SKB/M/2006; No. KEP-135/MEN/III/2006;<br />
No. 02/PKS/M/2006 tentang Pengadaan<br />
Pe ru mahan dan Pengembangan Permukiman<br />
Pekerja/ Buruh, Tenaga Kerja Indonesia<br />
(TKI) dan Transmigrasi.<br />
= Kedua, Surat Keputusan Bersama (SKB)<br />
tiga Menteri tersebut diperbaharui dengan<br />
dilaksanakan penandatanganan No -<br />
ta Ke sepahaman (NK) antara kedua Men -<br />
teri (Kementerian Nakertrans dan Ke menteri<br />
an PU) tentang Pengembangan Eko -<br />
nomi Lokal dan Perdesaan Melalui Pem -<br />
bangu nan Infrastruktur di Kawasan Transmig<br />
rasi, dan penandatangan PKS antara<br />
Dirjen. P2MKT dengan <strong>Ditjen</strong>. <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
tentang Pengembangan Infra struktur Permu<br />
kiman di Kawasan Kota Terpadu Mandiri,<br />
pada tanggal 23 Desem ber 2010.<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 19
INFOBARU 1<br />
= Ketiga, Keputusan Menakertrans No. 214<br />
tahun 2007, tentang Pedoman Umum<br />
Pembangunan dan Pengembangan KTM<br />
di Kawasan eks transmigrasi.<br />
= Keempat, sebagai instrumen untuk kelancaran<br />
koordinasi, sinkronisasi dan integrasi,<br />
Kementerian Tenaga Kerja dan<br />
Transmigrasi telah membuat Keputusan<br />
Menteri Nomor Kep. 110/MEN/II/2007<br />
ten tang Pembentukan Kelompok Kerja<br />
Pembangunan dan Pengembangan Kota<br />
Terpadu Mandiri.<br />
Lingkup Kegiatan<br />
Kegiatan dalam mendukung KTM memiliki<br />
ruang lingkup sebagai berikut, antara lain<br />
yang dilakukan Kementerian Pekerjaan<br />
Umum melalui Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong><br />
Kar ya dengan memberikan fasilitasi berupa<br />
bantuan teknis, sosialisasi pelaksanaan mau -<br />
Secara garis besar tata ruang KTM akan dibentuk melalui tiga<br />
hirarki pusat pela yanan, yaitu Pusat KTM, Desa Utama dan Pusat<br />
Desa.<br />
pun stimulan pengadaan fisik bidang Prasarana<br />
dan Sarana Dasar PU pada Kawasan KTM.<br />
Stimulan tersebut meliputi; jaringan sirkulasi<br />
meliputi jalan produksi/poros dalam kawasan;<br />
Sistem Penyediaan Air Minum ka wasan,<br />
dengan fasilitasi penyediaan air ba ku,<br />
unit produksi dan perpipaan distribusi utama;<br />
dan sistem sanitasi lingkungan yang<br />
dilaksanakan secara pemberdayaan ma syarakat<br />
berupa penyediaan prasarana penyehatan<br />
lingkungan permukiman berba sis masya<br />
rakat (IPAL, MCK, pola sampah 3R, sistem<br />
drainase berwawasan lingkungan).<br />
Dengan adanya sinergitas dan dukungan<br />
lintas sektoral, terutama Kementerian Pekerjaan<br />
Umum, diharapkan dapat mem per cepat<br />
pembanguan pusat-pusat pertumbuhan kawa<br />
san transmigrasi dan dapat mewu judkan<br />
KTM dalam 15 – 20 tahun ke depan, bahkan<br />
bisa lebih cepat lagi. Upaya itu semua dipersembahkan<br />
untuk mengangkat per ekonomian<br />
masyarakat transmigran yang ma sih<br />
berkubang keterbatasan.<br />
Lokasi Sasaran<br />
Lokasi kegiatan yang menjadi sasaran bantuan<br />
stimulan pada KTM eks transmigrasi<br />
yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Kota<br />
Terpadu Mandiri sejak Tahun Anggaran 2007<br />
– 2010 (lihat di peta) dan mengacu kepada<br />
Keputusan Menakertrans Nomor Kep.293/<br />
MEN/IX/2009. (bcr)<br />
Contoh Lokasi KTM Mesuji sampai dengan Tahun 2009<br />
mengalami kemajuan seperti berikut:<br />
20 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
INOVASI 1<br />
Inovasi 1<br />
Strategi Komunikasi <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> memanfaatkan anak-anak sekolah sebagai duta sanitasi.<br />
HHumas atau biasa disebut PR (Public Relation)<br />
memiliki peran penting dalam mengelola<br />
sebuah informasi dalam suatu institusi pemerintah.<br />
Seperti layaknya di perusahaan,<br />
Strategi Komunikasi<br />
da lam pemerintahan pun humas sangat diperlukan<br />
karena pemerintah memiliki kepen<br />
tingan dan tujuan yang bahkan lebih<br />
kompleks dari sebuah perusahaan. Fungsi<br />
<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> 2010-2014<br />
hu mas tidak hanya sekadar menjaga citra<br />
Dwityo A. Soeranto *) baik pemerintahan, tapi juga untuk men sosialisasikan<br />
kebijakan maupun prog ram yang<br />
dijalankan.<br />
Di era globalisasi, keterbukaan informasi yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan Sebagai institusi pemerintah, Kemen terian<br />
Pekerjaan Umum sudah tentu memiliki<br />
oleh seluruh komponen masyarakat. Kecepatan dan keakuratan informasi<br />
merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Tuntutan masyarakat akan tanggung jawab untuk menja lankan fungsi<br />
transparansi informasi dan akuntabilitas semakin tinggi dari penyelenggara negara. kehumasan. Sebagai kementerian teknis,<br />
Semakin cepat dan akurat berita diterima masyarakat, akan dapat mengurangi citra dengan ribuan pembangunan infrastruktur<br />
buruk pelayanan birokrasi yang berkembang saat ini. yang dilakukan, peran humas menjadi sangat<br />
vital dalam mengawal maupun me nyebar<br />
luaskan infor masi kepada masya rakat.<br />
Dengan peran humas yang handal maka<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 21
citra institusi dan juga pembangunan yang<br />
dilakukan dapat mengena, diterima, serta<br />
dipa hami oleh masyarakat. Alhasil, citra maupun<br />
keberhasilan institusi yang positif akan<br />
terangkat.<br />
Dalam menjalankan fungsi kehumasan,<br />
saat ini Kementerian PU memiliki Pusat<br />
Komukasi Publik (PuskomPU) di bawah Sekretariat<br />
Jenderal sebagai ‘corong’ kemente<br />
rian. Puskompu didukung juga oleh bagian<br />
kehumasan di tiap satminkal ataupun<br />
direktorat jenderal dalam menjalankan fungsi<br />
kehumasan. Dalam menjalankan fungsi<br />
kehumasan, tiap-tiap satminkal dalam<br />
KemenPU tentunya memiliki tantangan dan<br />
ken dalanya masing-masing, termasuk di <strong>Ditjen</strong><br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>.<br />
Dalam menjalankan fungsi kehumasan,<br />
<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> sebagai bagian dari Kementerian<br />
PU memiliki tantangan dan hambatan<br />
yang lebih kompleks daripada satminkal<br />
lain di KemenPU. Bagaimana ti dak, sebagai<br />
satminkal yang memiliki ratu san satuan kerja,<br />
lingkup tugas kompleks (persampahan, air<br />
limbah, air minum, drainase, permukiman<br />
dan penataan bangunan), pembangunan<br />
‘abs trak’ (pemberdayaan masyarakat, fasi litasi<br />
program, fasiltasi pemda) dan lain-lain<br />
membuat <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> sulit untuk mengenalkan<br />
pembangunan bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
kepada masyarakat luas.<br />
Untuk itu, dibutuhkan suatu strategi komu<br />
nikasi yang handal. Tanpa adanya strategi<br />
komunikasi yang handal maka pembangunan<br />
maupun kebijakan yang dilakukan oleh <strong>Ditjen</strong><br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> tidak akan dikenal dan mengena<br />
kepada masyarakat. Untuk menghadapi hal<br />
tersebut, segala upaya pun dilakukan. Saat<br />
ini <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> telah menyusun strategi komunikasi<br />
untuk lima tahun ke depan (2010-<br />
2014).<br />
Beberapa hal yang menjadi fokus utama<br />
ke depan adalah penguatan komitmen pemerintah<br />
daerah untuk menempatkan pembangunan<br />
prasarana dan sarana bidang <strong>Cipta</strong><br />
<strong>Karya</strong> sebagai salah satu prioritas utama<br />
dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat,<br />
memperkuat kerjasama dan pemahaman<br />
akan pentingnya pembangunan bidang<br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, serta partisipasi unsur-unsur<br />
lintas sektoral dan antar stakeholders dalam<br />
menciptakan infrastruktur permukiman yang<br />
layak huni.<br />
Fakta di lapangan memang menunjukkan<br />
bahwa bidang ke-<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>-an kurang<br />
dikenal oleh masyarakat. Dalam suatu kesempatan,<br />
Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Budi Yuwono<br />
mengakui, pembangunan bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> memang masih kurang mendapat apresiasi<br />
dari masyarakat. Masyarakat masih menganggap pembangunan sanitasi, sampah maupun<br />
air minum kurang menarik dibandingkan jalan maupun jembatan. Meskipun demikian,<br />
menurutnya, komitmen pemerintah daerah sangatlah penting dalam mengkampanyekan<br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Untuk itu <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> harus secara kontinyu dan berksesinambungan mengedukasi<br />
masyarakat, khususnya dalam hal pembangunan Bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, dengan begitu persepsi<br />
masyarakat akan bergerak dengan sendirinya.<br />
Permasalahan Lingkup <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
Dalam menyusun strategi komunikasi publik <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, dilakukan penelitian dengan<br />
metodologi eksploratif, baik secara internal maupun eksternal. Secara internal dilakukan<br />
dengan mengadakan diskusi dengan seluruh sektor di <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dan “indepth<br />
interview” dengan pejabat eselon 1 dan 2 di lingkungan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Eksplorasi internal<br />
ini digunakan untuk mendapat gambaran organisasi dan permasalahan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dari<br />
internal organisasi.<br />
Selain itu juga dilakukan eksplorasi secara eksternal. Eksplorasi eksternal dilakukan dengan<br />
melakukan interview terhadap para stakeholder <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> seperti walikota, akademisi<br />
maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), utamanya yang berprestasi dan peduli akan<br />
masalah ke-<strong>Cipta</strong><strong>Karya</strong>-an. Masukan dan pandangan dari para stakeholder ini diharapkan dapat<br />
memetakan permasalahan organisasi <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Dari hasil eksplorasi tersebut dapat<br />
dirumuskan permasalahan yang dihadapi oleh <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> seperti bagan dibawah ini:<br />
Kerjasama<br />
antar<br />
stakeholders<br />
yang masih lemah<br />
Persepsi<br />
terhadap nilai<br />
produk<br />
ke <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>an<br />
belum maksimal<br />
DJCK<br />
1. Kualitas hidup di-klaim oleh banyak sektor<br />
kesehatan, perumahan, cipta karya<br />
2. Perbedaan kepentingan stakeholder dalam<br />
bekerjasama<br />
3. Pemahaman dan komitmen peran dan<br />
tanggung jawab antar stakeholders pusat<br />
daerah<br />
4. Belum memahami pentingnya<br />
permukiman layak huni bagi kesejahteraan<br />
masyarakat<br />
1. Pemahaman yang rendah akan manfaat<br />
Permukiman Layak huni terhadap<br />
peningkatan kualitas hidup<br />
2. Membutuhkan waktu untuk merasakan<br />
manfaat<br />
3. Konsep permukiman layak huni masih<br />
merupakan konsep abstrak bagi banyak<br />
orang<br />
4. Belum menganggap permukiman layak<br />
huni sebagai hak dasar<br />
Komitmen<br />
pemimpin<br />
yang masih<br />
rendah<br />
1. Lebih mengutamakan pembangunan sektor2 yang<br />
manfaat ekonomis dan sosialnya terasa langsung<br />
2. Pemimpin belum merasakan demand/tuntutan atas<br />
ke <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>an<br />
3. Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap<br />
tanggung jawab pemda dalam menyediakan<br />
infrastruktur Permukiman Layak Huni<br />
4. Belum dapat menggali manfaat ekonomis, politis<br />
dan sosial dari pembangunan ke cipta karyaan<br />
5. Keterbatasan sumber daya finansial dan manusia<br />
dalam membangun Permukiman Layak Huni<br />
Berdasarkan hasil pemetaan permasalahan tersebut, maka terdapat tiga fokus utama yang<br />
harus dilakukan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dalam strategi komunikasi 2010 – 2014-nya: yaitu value<br />
enhancement (meningkatkan nilai <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>), commitment building (mendorong<br />
komitmen pemimpin) dan cooperation strengthening (memperkuat kerjasama).<br />
Meningkatkan Nilai Produk <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
Infrastruktur bidang cipta karya saat ini memang masih kurang mendapat apresiasi dari<br />
masyarakat. Pembangunan bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> masih dianggap kurang “seksi” dibanding<br />
infrastruktur bidang lainnya. Upaya peningkatan nilai jual produk <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> mutlak dilakukan.<br />
Caranya tentu saja dengan edukasi yang dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan.<br />
Edukasi ini dilakukan untuk menyadarkan dan juga memberitahu tokoh maupun masyarakat<br />
akan manfaat dari pembangunan bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Salah satu aksi yang akan dilakukan<br />
22 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
INOVASI 1<br />
Roadmap Strategi Komunikasi <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> 2010-2014<br />
1<br />
2<br />
VALUE<br />
ENHACEMENT<br />
COMMITMENT<br />
BUILDING<br />
NO<br />
1<br />
2<br />
PROGRAM/KEGIATAN<br />
Periklanan TV<br />
CK Resource Center<br />
2010<br />
2011 2012 2013 2014<br />
I II I II I II I II I II<br />
3<br />
COOPERATION<br />
STRENGTHENING<br />
3<br />
4<br />
5<br />
Publikasi PKPD PU<br />
Lomba liputan media daerah<br />
CSR for quality of life<br />
Keterangan:<br />
Warna muda : Conditioning (persiapan)<br />
Warna sedang : Pelaksanaan (intensitas tinggi)<br />
Warna pekat : Pemeliharaan (maintenance)<br />
adalah dengan membuat iklan tentang<br />
manfaat dan hasil pembangunan <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
yang dipublikasikan di media elektronik<br />
mau pun cetak secara berkelanjutan dan ter<br />
atur. Dengan komunikasi yang dilakukan<br />
secara intens maka diharapkan image <strong>Cipta</strong><br />
<strong>Karya</strong> dapat dikenal baik di mata masyarakat,<br />
sehingga paling tidak masyarakat tahu apa<br />
itu <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>.<br />
Selain itu, untuk lebih mengenalkan masyarakat<br />
perlu dibentuk sebuah <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
Information Center. Information Center ini<br />
me ru pakan sarana yang memungkinkan akses<br />
data yang lebih mudah bagi masya rakat.<br />
Sarana ini bisa diwujudkan dengan kerja sama<br />
antara pemerintah dae rah de ngan Dit jen<br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>.<br />
Dalam <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Information Center<br />
akan tersedia bahan-bahan mengenai CK,<br />
baik berupa buku petunjuk pelaksanaan,<br />
modul pelatihan, sampai dengan bahan siap<br />
cetak untuk flyer atau brosur. Diharapkan<br />
melalui <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Information Center ini<br />
juga memungkinkan adanya akses internet.<br />
Sehingga ke depannya, <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Resource<br />
Center ini merupakan pusat infor masi<br />
segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya<br />
meningkatkan kualitas hidup masyarakat<br />
yang dampaknya akan me ngu atkan image<br />
DJCK sebagai mitra dan nara sumber dalam<br />
me ningkatkan kualitas hidup.<br />
Mendorong Komitmen Pemimpin<br />
Membangun komitmen memang bukan<br />
per kara mudah. Bisa dibilang masalah komitmen,<br />
dalam hal ini komitmen pemerintah<br />
daerah merupakan masalah uta ma<br />
pembangunan bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Perlu<br />
diingat bahwa pembangunan bidang <strong>Cipta</strong><br />
karya merupakan tanggung jawab Pe merintah<br />
Daerah. Perhatian para pe mang ku<br />
kepentingan di daerah dalam bidang <strong>Cipta</strong><br />
<strong>Karya</strong> seperti sampah, air minum maupun<br />
permukiman masih kurang. Dalam berbagai<br />
kesempatan baik workshop, seminar maupun<br />
rapat koordinasi, Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
Budi Yuwono selalu mengingatkan akan<br />
pentingnya penguatan komitmen pe merin<br />
tah daerah terhadap bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>.<br />
Ia juga selalu menghimbau kepada pa ra<br />
pemangku kepentingan di daerah agar masalah<br />
ke-<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>-an mendapat porsi yang<br />
lebih.<br />
Untuk itu perlu adanya sebuah upaya<br />
memacu kepala daerah di kabupaten/kota<br />
untuk meningkatkan kualitas hidup masya<br />
rakat dengan memprioritaskan pemba -<br />
ngunan bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> di dae rahnya.<br />
Aksi yang dilakukan adalah dengan<br />
memberikan apresiasi kepada kepala daerah<br />
yang berprestasi yang kemudian dipub likasikan<br />
ke media agar menjadi pemicu semangat<br />
kepada kepala daerah lainnya.<br />
Implementasi lainnya yaitu dengan mengadakan<br />
lomba liputan media daerah.<br />
Tujuannya adalah memberi ego insentif ba gi<br />
kepala daerah yang berprestasi dalam bidang<br />
CK dan public opinion pressure bagi<br />
setiap kepala daerah untuk memprioritaskan<br />
pemenuhan permukiman layak huni sebagai<br />
hak dasar setiap warga negara.<br />
Memperkuat Kerjasama<br />
Tugas pemerintah tidak akan berjalan dengan<br />
efektif tanpa adanya dukungan dari<br />
pi hak lain, dalam hal ini swasta. Dengan<br />
semakin berkembangnya perusahaan di Indonesia,<br />
semakin besar pula potensi kepedulian<br />
mereka dalam wadah Corporate Social<br />
Responsibility (CSR) yang bisa dibe rikan.<br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> adalah masalah bersama dan<br />
membutuhkan kerjasama dalam mengatasinya.<br />
Fakta saat ini, bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
,yaitu permukiman sebagai hak dasar yang<br />
harus dipenuhi, belum menjadi prioritas CSR.<br />
Kerjasama ini masuk dalam strategi komunikasi,<br />
untuk menjadikan permukiman<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 23
INOVASI 1<br />
www.bp.blogspot.com<br />
Dalam berbagai kesempatan baik workshop, seminar maupun<br />
rapat koordinasi, Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Budi Yuwono selalu<br />
mengingatkan akan pentingnya penguatan komitmen<br />
pemerintah daerah terhadap bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>.<br />
Contoh: Apresiasi yang diberikan kepada pemerintah daerah melalui publikasi<br />
di media cetak.<br />
layak huni sebagai salah satu bidang yang<br />
diminati program CSR. Selain itu juga untuk<br />
menggali potensi program CSR swasta dalam<br />
mengembangkan prasarana dan sa rana<br />
bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>.<br />
Dalam strategi komunikasi ke depan<br />
akan dilakukan upaya “pemasaran” kegiatan<br />
pengembangan sarana ke-<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>-an.<br />
Hal ini dilakukan dengan mapping, membuat<br />
pemetaan potensi CSR dan ke giatan<br />
pengembangan sarana ke-<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>-an di<br />
berbagai daerah. Selain itu, juga dilakukan<br />
dengan membuat branding, design dan<br />
packaging, seperti program “CSR for Quality of<br />
Life”. Untuk lebih mengenalkan kepada pihak<br />
swasta nantinya <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> akan<br />
menyediakan pusat informasi bagi pihak<br />
swasta mengenai proyek-proyek pengembangan<br />
CK yang dapat didanai.<br />
Untuk melihat sejauh mana keberhasilan<br />
strategi yang dijalankan, terdapat indikator<br />
pencapaian yang digunakan, dimana dari<br />
3 tahap pengelompokan ditargetkan menga<br />
lami kenaikan sebesar 5 % tiap tahun.<br />
Misalnya dari value enhancement (peningkatan<br />
nilai ditjen cipta karya), outputnya<br />
adalah pemahaman masyarakat tentang <strong>Cipta</strong><br />
<strong>Karya</strong> yang dinilai meningkat 5% tiap tahunnya,<br />
begitu juga dengan tahap lainnya.<br />
Dengan adanya Strategi Komunikasi<br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> 2010-2014, diharapkan kegiatan<br />
yang dilakukan akan lebih fokus dan terarah.<br />
Bidang ke-<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>-an seperti persampahan,<br />
air minum, pemberdayaan, penataan<br />
bangunan dan lingkungan maupun permukiman<br />
dapat dikenal dan mengena oleh<br />
ma syarakat luas. Ironis memang, ratusan<br />
program pemberdayaan yang menyasar ribuan<br />
desa di seluruh Indonesia, bantuan<br />
air minum yang telah dimaanfaatkan oleh<br />
ribuan bahkan jutaan rakyat indonesia dan<br />
segala pembangunan bidang ke <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>an<br />
yang bersentuhan langsung dengan<br />
mayarakat akar rumput justru malah kurang<br />
mendapat apresiasi masyarakat, media dan<br />
stakeholder lainnya.<br />
Dengan adanya komunikasi yang handal,<br />
nama cipta karya yang kurang dikenal dan<br />
masih dianggap sebagai sebuah pe ru sahaan,<br />
bengkel las, dan sebagainya se cara<br />
ber angsur-angsur dapat hilang di ma syarakat.<br />
Tentunya hal ini juga menjadi pe micu<br />
semangat para “pekerja” <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
agar lebih bekerja keras lagi. Semoga.<br />
*) Kasubdit Data dan Informasi, Dit. Bina<br />
Program<br />
24 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
POJOKHUKUM<br />
www.bp.blogspot.com<br />
Pojok HUkum<br />
Perumahan Griya Mutiara Asri di Cibarusah, Cikarang, Bekasi yang diperuntukan untuk Prajurit TNI/POLRI<br />
dan Pegawai Negeri Sipil.<br />
Harmonisasi<br />
Peraturan Rumah Negara<br />
Setelah disahkannya PMK 138 / 2010, proses pembelian Rumah Negara Golongan<br />
III oleh Pegawai Negeri menjadi tersendat. Terdapat 110 proses pengalihan Rumah<br />
Negara Golongan III tertunda karena menunggu persetujuan dari Kementerian<br />
Keuangan.<br />
K<br />
Andry Marulitua *)<br />
Kementerian Keuangan menganggap adanya<br />
kekosongan hukum yang mengatur<br />
secara rinci mengenai Barang Milik Negara<br />
(BMN) berupa Rumah Negara, sedangkan<br />
Kementerian Pekerjaan Umum sebagai instansi<br />
yang secara khusus memiliki kewenangan<br />
dan sebagai Pembina rumah negara<br />
sesuai yang dituangkan dalam Hierarki Peraturan<br />
tentang Rumah Negara memiliki tugas<br />
sebagai pelaksana penjualan rumah negara<br />
kepada pegawainya untuk membantu Pegawai<br />
Negeri, khususnya Pegawai Negeri Sipil<br />
untuk bisa memiliki rumah sebagai tempat<br />
tinggal.<br />
Kementerian Keuangan kemudian mene -<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 25
tapkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor<br />
138/PMK.06/2010 tentang Penge lola an<br />
BMN berupa Rumah Negara, dimana peratu<br />
ran ini memerlukan harmonisasi dengan<br />
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum<br />
Nomor 22/PRT/M/2008 tentang Pedoman<br />
Teknis Pengadaan, Pendaftaran, Penetapan<br />
Status, Penghunian, Pengalihan Status, dan<br />
Pengalihan Hak Atas Rumah Negara. Kedua<br />
peraturan ini mengatur tentang objek yang<br />
sama yaitu Rumah Negara.<br />
Setelah disahkannya PMK 138 / 2010,<br />
proses pembelian Rumah Negara Golongan<br />
III oleh Pegawai Negeri menjadi tersendat.<br />
Terdapat 110 proses pengalihan Rumah<br />
Negara Golongan III tertunda prosesnya<br />
me nunggu persetujuan dari Kementerian<br />
Keuangan.<br />
Dengan adanya artikel ini penulis berharap<br />
untuk bisa memperbaiki proses pengalihan<br />
hak Rumah Negara Golongan III agar<br />
bisa kembali berjalan dengan baik sehingga<br />
bisa mengakhiri adanya hambatan dalam<br />
pelaksanaan peraturan mengenai rumah<br />
negara yang sangat merugikan Pegawai<br />
Negeri dalam usaha memenuhi kebutuhan<br />
dasarnya untuk memiliki rumah sebagai<br />
tempat tinggal.<br />
Satu hal utama yang menjadi permasalahan<br />
adalah mengenai persetujuan yang<br />
diberikan Kementerian Keuangan dalam<br />
me nindaklanjuti permohonan pembelian<br />
Ru mah Negara Golongan III oleh Pegawai<br />
Negeri.<br />
Jiwa dari UU No. 72 / 1957 yaitu ingin<br />
memberikan kemudahan bagi Pegawai Negeri<br />
untuk memiliki rumah adalah cukup<br />
dengan menerima rekapitulasi Rumah Negara<br />
Golongan III yang telah di data oleh<br />
Kementerian Pekerjaan Umum yang selanjutnya<br />
Kementerian Keuangan akan mener<br />
bitkan persetujuan pengalihan Rumah<br />
Ne gara Golongan III. Sedangkan dalam<br />
PMK 138 / 2010 memiliki kebijakan yang<br />
berbeda dan cenderung menyulitkan pihak<br />
yang ingin mengajukan permohonan untuk<br />
membeli Rumah Negara Golongan III, karena<br />
masing-masing proses Rumah Negara, baik<br />
Golongan I, II, maupun III dokumennya<br />
secara fisik dibawa ke Instansi Kementerian<br />
Keuangan untuk diperiksa lagi. Karena hal<br />
ini merupakan hal yang baru di Kementerian<br />
Keuangan, masih banyak permasalahan dan<br />
pandangan yang berbeda dalam memproses<br />
dokumen permohonan Rumah Negara ini.<br />
Akibatnya, banyak Pegawai Negeri yang<br />
dirugikan akibat adanya peristiwa ini.<br />
Berikut penjelasan mengenai peraturan rumah negara yang diatur dalam Permen PU No. 22<br />
/ 2008 serta PMK 138 / 2010:<br />
Kepmen Kimpraswil<br />
No. 373/KPTS/M/2001<br />
Ttg Sewa Rumah Negara<br />
Family Tree Pengaturan Rumah Negara<br />
UU No. 72/1957 Ttg Penetapan UU Drt No. 19/1955<br />
Ttg Penjualan Rumah-Rumah Negeri kepada<br />
Pegawai Negeri sebagai UU<br />
UU No. 4/1992 Ttg Perumahan dan Permukiman<br />
PP No. 40/1994 Ttg Rumah Negara<br />
Perpres No. 11/2008 Ttg Tata Cara<br />
Pengadaan, Penetapan Status, Pengalihan<br />
Status, dan Pengalihan hak atas Rumah Negara<br />
Permen PU No. 22/PRT/M/2008 Ttg Pedoman<br />
Teknis Pengadaan, Pendaftaran, Penetapan<br />
Status, Penghunian, Pengalihan Status, dan<br />
Pengalihan Hak Atas Rumah Negara<br />
PP No. 31/2005 Ttg Perubahan<br />
Atas PP No. 40/1994<br />
Kepmen Agraria/Kep BPN No. 2 th 1998 Ttg<br />
Pemberian Hak Milik Tanah Untuk Rumah<br />
Tinggal yang Telah dibeli oleh Pegawai Negeri<br />
dan Pemerintah<br />
Materi yang diatur dalam hierarki peraturan ini adalah proses pengelolaan Rumah Negara,<br />
mulai dari proses pengadaan, pendaftaran, penetapan status, penghunian, pengalihan status,<br />
sampai dengan pengalihan hak atas rumah negara serta penghapusan.<br />
Dalam hierarki peraturan ini, yang mempunyai wewenang dalam bidang pengelolaan<br />
Rumah Negara adalah Menteri Pekerjaan Umum, seperti tercantum pada :<br />
1. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 72 Tahun 1957 : Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga<br />
dengan persetujuan Menteri Keuangan dapat menjual rumah‐rumah Negeri termasuk<br />
golongan III, dst.<br />
2. Pasal 1 angka (4) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1994 : Menteri adalah menteri yang<br />
bertanggung jawab dalam bidang pekerjaan umum.<br />
Hubungan antara Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Keuangan dalam<br />
hal kewenangan mengenai pengelolaan rumah negara adalah dalam hal persetujuan<br />
permohonan penjualan Rumah Negara Golongan III (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 72<br />
Tahun 1957).<br />
Bentuk persetujuan ini juga telah diatur dalam Perpres No. 11 / 2008 dan Permen PU No. 22 /<br />
2008, yaitu :<br />
1. Menurut Perpres No. 11 / 2008 BAB V Pasal 13 bentuk persetujuan dari Menteri Keuangan<br />
adalah :<br />
(3) Menteri mengajukan permintaan persetujuan Pengalihan Hak Rumah Negara Golongan<br />
III sebagaimana dimaksud pada ayat (2) beserta atau tidak beserta tanahnya baik yang<br />
berdiri sendiri dan/atau berupa Satuan Rumah Susun kepada Menteri Keuangan dengan<br />
melampirkan daftar rekapitulasi Rumah Negara Golongan III yang diusulkan untuk dialihkan<br />
haknya kepada penghuni.<br />
(4) Menteri Keuangan memberikan persetujuan Pengalihan Hak Rumah Negara Golongan III<br />
sebagaimana dimaksud pada ayat (3).<br />
2. Dalam Permen PU No. 22 / 2008 dijabarkan format surat permohonan persetujuan<br />
pengalihan hak Rumah Negara Golongan III kepada Menteri Keuangan.<br />
Perpres 11 / 2008 memberikan wewenang kepada Menteri Pekerjaan Umum selaku Pembina<br />
Rumah Negara.<br />
Inti dari hierarki peraturan ini adalah memberikan kemudahan bagi Pegawai Negeri untuk<br />
bisa memiliki rumah. Jadi untuk pegawai ne geri yang memiliki masa kerja minimal 10 tahun<br />
bisa mengajukan permohonan sewa beli rumah, yang mana diberikan kemudahan mencicil<br />
selama jangka waktu minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun serta harga rumah yang akan<br />
dibayarkan oleh pegawai negeri tersebut dikenakan potongan harga yaitu sebesar 50% dari<br />
nilai jual objek pajak (NJOP).<br />
26 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
POJOKHUKUM<br />
www.mariarina.files.wordpress.com<br />
Pembangunan Unit Perumahan di komplek Perumahan CItra Asri Magelang. Perumahan diperuntukan untuk Pegawai Negeri Sipil.<br />
Analisa terhadap Peraturan Menteri Keuangan<br />
Nomor 138/PMK.06/2010 ten tang<br />
Pengelolaan Barang Milik Negara Berupa<br />
Rumah Negara.<br />
Dasar hukum dalam PMK 138 / 2010 dalam<br />
konsideran ‘Mengingat’ yang mencantumkan<br />
antara lain :<br />
1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004<br />
tentang Perbendaharaan Negara;<br />
2. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun<br />
1994 tentang Rumah Negara jo. Peraturan<br />
Pemerintah Nomor 31 Tahun 2005 tentang<br />
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah<br />
Nomor 40 Tahun 1994 tentang Rumah<br />
Negara;<br />
3. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun<br />
2006 tentang Pengelolaan Barang Milik<br />
Negara/Daerah jo. Peraturan Pemerintah<br />
Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan<br />
Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6<br />
Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang<br />
Milik Negara/Daerah;<br />
4. Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2008<br />
tentang Tata Cara Pengadaan, Penetapan<br />
Status, Pengalihan Status, dan Pengalihan<br />
Hak Atas Rumah Negara.<br />
Dalam peraturan tersebut di atas tidak satu<br />
pun yang memberikan kewenangan pe -<br />
ng aturan mengenai Rumah Negara ke pa da<br />
Kementerian Keuangan, karena we we nang<br />
untuk itu sudah diberikan kepada Kementerian<br />
Pekerjaan Umum.<br />
Bahkan dalam PP No. 6 / 2006 pada<br />
penjelasan pasal 51 ayat (3) huruf (a) :<br />
“Yang termasuk barang milik negara/daerah<br />
yang bersifat khusus adalah barang-barang<br />
yang diatur secara khusus sesuai dengan<br />
peraturan perundangan yang berlaku; misalnya,<br />
rumah negara golongan III yang<br />
dijual kepada penghuni, dan kendaraan dinas<br />
perorangan pejabat negara yang dijual<br />
kepada pejabat negara.”<br />
Dari dua analisa terhadap dua peraturan<br />
menteri tersebut dapat disimpulkan<br />
bahwa hubungan antara UU No. 1 / 2004<br />
dengan UU No. 72 / 1957 dan UU No. 4 /<br />
1992 adalah lex spesialis dan lex generalis<br />
yang mana sesuai asas hukum dinyatakan<br />
bahwa lex spesialis derogate legi generalis.<br />
Itu artinya, peraturan yang mengatur secara<br />
khusus mengesampingkan peraturan yang<br />
mengatur secara umum.<br />
Bahwa sejak mulai dilaksanakannya penjualan<br />
Rumah Negara Golongan III tahun<br />
1955 sampai dengan sekarang (kurang lebih<br />
telah berlangsung selama 55 tahun), penjualan<br />
Rumah Negara Golongan III yang<br />
dilakukan dibawah pembinaan Kementerian<br />
Pekerjaan Umum telah berjalan dengan<br />
baik, dimana keikutsertaan Kementerian Keuangan<br />
sebagai instansi yang memberikan<br />
per setujuan diatur secara lebih lanjut dalam<br />
SKB.<br />
Dalam proses penyusunan Permen PU<br />
No. 22 / 2008 sudah ikut serta pihak interdep<br />
yang salah satunya adalah perwakilan dari<br />
Kementerian Keuangan, dan pada saat itu<br />
telah disepakati bahwa yang dimaksud dengan<br />
persetujuan pembelian rumah ne gara<br />
oleh Kementerian Keuangan diwu judkan<br />
dalam bentuk surat persetujuan per mohonan<br />
pembelian Rumah Negara Go lo ngan III dan<br />
lampirannnya.<br />
Dalam membuat suatu peraturan perundang-undangan<br />
di Indonesia ber pe doman<br />
kepada Undang-Undang Nomor 10<br />
Tahun 2004 tentang Pembentukan Per aturan<br />
Perundang-Undangan, pada Bab II yang<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 27
POJOKHUKUM<br />
berbunyi sebagai berikut :<br />
ASAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN<br />
1. Pasal 5<br />
Dalam membentuk Peraturan Perundangundangan<br />
harus berdasarkan pada asas<br />
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan<br />
yang baik yang meliputi :<br />
a. kejelasan tujuan;<br />
b. kelembagaan atau organ pembentuk<br />
yang tepat;<br />
c. kesesuaian antara jenis dan materi<br />
muatan;<br />
d. dapat dilaksanakan;<br />
e. kedayagunaan dan kehasilgunaan;<br />
f. kejelasan rumusan; dan<br />
g. keterbukaan.<br />
2. Pasal 7<br />
(1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundangundangan<br />
adalah sebagai<br />
berikut :<br />
a. Undang-Undang Dasar Negara<br />
Republik Indonesia Tahun 1945;<br />
b. Undang-Undang/Peraturan<br />
Pemerintah Pengganti Undang-<br />
Undang;<br />
c. Peraturan Pemerintah;<br />
d. Peraturan Presiden;<br />
e. Peraturan Daerah.<br />
Berdasarkan ketentuan di atas pada Pasal 5<br />
huruf (b), tidak tepat bagi Instansi Kementerian<br />
Keuangan untuk mengatur ten tang<br />
Rumah Negara karena kelembagaan atau<br />
organ pembentuk yang tepat adalah Kementerian<br />
Pekerjaan Umum, yang mana hal<br />
ini secara jelas dinyatakan dalam Perpres<br />
No. 11 / 2008 bahwa Kementerian Pekerjaan<br />
Umum adalah Pembina Rumah Negara, hal<br />
ini juga sekaligus menyatakan bahwa PMK<br />
138 bertentangan dengan hierarki peraturan<br />
diatasnya.<br />
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, menurut<br />
kesimpulan saya perlu diadakan harmonisasi<br />
PMK 138 dengan Permen PU No. 22<br />
tahun 2008, tiap stakeholder harus berkumpul<br />
dan duduk bersama dan me la kukan focus<br />
group discussion.<br />
*) Staff Subdit Pengelolaan Gedung dan<br />
Rumah Negara, Dit. Penataan Bangunan<br />
dan Lingkungan, <strong>Ditjen</strong>. <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>,<br />
Kementerian Pekerjaan Umum.<br />
(Tulisan ini telah dikonsultasikan dengan<br />
Sri Hastuti, SH dan D. Sitorus, SH sebagai<br />
bahan dalam rapat kasus-kasus rumah<br />
negara Direktorat Penataan Bangunan dan<br />
Lingkungan,Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong><br />
<strong>Karya</strong>, 11 Januari 2011)<br />
Pokok-pokok Pengaturan PMK Rumah Negara<br />
RN Golongan I<br />
K/L<br />
- Pengadaan, Penetapan<br />
Status dan izin Penghunian<br />
- Pendaftaran dan<br />
Pengawasan<br />
- Penetapan besaran nilai sewa<br />
PU<br />
- Pendaftaran rumah negara<br />
- Penetapan formula sewa<br />
MK<br />
- Pengawasan Pemungutan<br />
formula sewa<br />
MK/DJKN (PMK)<br />
- Penetapan status<br />
penggunaan<br />
- Persetujuan alih Status BMN<br />
- Persetujuan<br />
pemindahtanganan<br />
- Persetujuan penghapusan<br />
- Penatausahaan<br />
RN Golongan II<br />
K/L<br />
- Pengadaan, Penetapan<br />
Status dan izin Penghunian<br />
- Pendaftaran dan<br />
Pengawasan<br />
- Penetapan besaran nilai sewa<br />
PU<br />
- Pendaftaran rumah negara<br />
- Penetapan formula sewa<br />
MK<br />
- Pengawasan Pemungutan<br />
sewa (DJPB)<br />
- Pengawasan Pemungutan<br />
formula sewa<br />
MK/DJKN (PMK)<br />
- Penetapan status<br />
penggunaan<br />
- Persetujuan alih Status BMN<br />
- Persetujuan<br />
pemindahtanganan<br />
- Persetujuan penghapusan<br />
- Penatausahaan<br />
RN Golongan III<br />
K/L<br />
- Mengajukan penetapan<br />
pengalihan status RN gol II ke<br />
gol III<br />
- Persetujuan tertulis pengalihan<br />
status RN gol II ke gol III<br />
- Melakukan penghapusan RN gol II<br />
PU<br />
- Penetapan status RN gol III<br />
- Penetapan formula sewa<br />
- Penetapan Nilai jual (sewa beli)<br />
- Mengajukan Persetujuan<br />
Pengalihan Hak ke Menkeu<br />
- Pelaksanaan pengalihan Hak<br />
MK<br />
- Pengawasan Pemungutan sewa<br />
(DJPB)<br />
- Persetujuan Pengalihan Hak<br />
(perpres 11/2008)<br />
MK/DJKN (PMK)<br />
- Alih statsus dan penetapan status<br />
RN gol III di PU<br />
- Persetujuan penjualan<br />
- Persetujuan penghapusan<br />
- Penatausahaan<br />
28 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
Gema PNPM 1<br />
Warga Desa Steling kini bisa mendapatkan air minum yang memadai.<br />
Penantian Panjang Warga Steling<br />
untuk Air Minum<br />
M.Supriaddin *)<br />
Desa Steling berada di wilayah Kecamatan Keliang Utara, kabupaten Lombok<br />
Tengah ini, merupakan desa miskin yang dihuni oleh 5.000 jiwa penduduk. Desa ini<br />
terdiri 9 dusun. Dari Jumlah penduduk tersebut, 60%nya adalah penduduk miskin.<br />
Kemiskinan di desa ini ditandai dengan pendapatan masyarakatnya yang kurang<br />
dari Rp.10.000 per hari. Mayoritas masyarakat adalah buruh tani dan dengan<br />
mengandalkan lahan garapan yang tidak seberapa luas, mereka terkadang hanya<br />
mampu makan sekali dalam sehari.<br />
GEMAPNPM 1<br />
D<br />
Desa ini hampir separuh wilayahnya tertutup<br />
pohon mahoni, menjadikan desa ini masuk<br />
sebagai kawasan hutan lindung yang dimiliki<br />
oleh pemerintah. Tetapi, masyarakat juga<br />
memiliki lahan garapan yang sebagian besar<br />
ditanami durian, pisang, manggis dll. Inilah<br />
yang menjadi sumber penghasilan mereka.<br />
Di samping tidak tersedianya lahan pekerjaan<br />
yang memadai sebagai penyebab<br />
kemiskinan di desa ini, hal lain yang lebih<br />
krusial adalah tidak tersedianya infrastruktur<br />
yang memadai. Salah satunya adalah prasarana<br />
air minum. Desa ini tergolong rawan<br />
air, walaupun desa ini sebagian besar<br />
wilayahnya merupaka kawasan hutan lindung<br />
dan memiliki banyak sumber mata<br />
air. Ada yang berjarak sekitar 7 kilometer,<br />
ada yang berjarak 5 km dan ada pula yang<br />
berjarak hanya 2 kmr dari permukimannya,<br />
tetapi untuk membuat sumur gali di sekitar<br />
rumahnya, baru dapat ditemukan mata air<br />
pada jarak lebih dari 120 m.<br />
“Sejak saya lahir, untuk memenuhi kebutuhan<br />
air minumnya, masyarakat disini harus<br />
memikul air dari mata air yang berjarak 2 km,<br />
dan harus turun dan naik bukit karena mata<br />
air tersebut terletak di bawah bukit,” ungkap<br />
Imran, Kepala Dusun Lingkuk Lima yang juga<br />
dipercaya oleh masyarakat sebagai Ketua<br />
OMS.<br />
Selama berpuluh-puluh tahun masyarakat<br />
desa steling memanggul air dengan jerigen<br />
atau ember. Dalam kesehariannya, masyarakat<br />
desa ini bisa menghabiskan wak tu<br />
setengah hari hanya untuk mengambil air<br />
untuk kebutuhan minum dan memasak.<br />
Baru pada tahun 1995, masyarakat mempunyai<br />
ide untuk membangun sistem air<br />
minum dari sumber yang berjarak 7 km.<br />
Karena sumber inilah yang mempunyai ketinggian<br />
yang cukup, agar air dapat me ngalir<br />
secara gravitasi. Dengan sukarela masyarakat<br />
mengumpulkan uang untuk mem beli semen.<br />
Setiap ada upah untuk pe ng angkutan kayu<br />
sampai ke truk-truk pe ngangkut, masyarakat<br />
kumpulkan untuk membeli semen dan pasir.<br />
Semen ini mereka gunakan untuk membuat<br />
pipa semen.<br />
Dengan telaten dan sabar masyarakat<br />
mem buat pipa-pipa semen, karena jika harus<br />
membeli pipa yang didatangkan dari kota,<br />
biayanya cukup mahal. Masyarakat juga<br />
mem bangun bak penangkap air dan bak-bak<br />
pengumpulnya. Tetapi sangat disayangkan,<br />
masyarakat pun gagal mengalirkan air minum<br />
tersebut, karena air yang mengalir tersebut<br />
habis di tengah jalan sebelum sampai<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 29
GEMAPNPM 1<br />
Warga Desa Steling bergotong royong membangun sarana air minum untuk keperluan mereka sehari-hari.<br />
Keresahan masyarakat memudar, ketika pemerintah Kabupaten<br />
Lombok Tengah akan membangun sistem air minum di desa ini.<br />
ke permukiman warga. Pipa semen yang<br />
dimungkinkan berpori-pori telah menelan<br />
air tersebut. Dengan rasa sesal yang sangat<br />
dalam, masyarakat pun kembali harus memikul<br />
air dari jauh.<br />
Keresahan masyarakat memudar, ketika<br />
pemerintah Kabupaten Lombok Tengah<br />
akan membangun sistem air minum di desa<br />
ini. Pada tahun 2004, melalui dana DAK yang<br />
di terima kabupaten ini, sebagian dananya<br />
di gunakan untuk membangun sistem air minum<br />
di Desa Steling.<br />
Namun upaya pemerintah pun belum<br />
dapat dirasakan manfaatnya oleh warga.<br />
Ka rena keterbatasan dana, sistem tersebut<br />
tidak dibangun dengan tuntas. Pemerintah<br />
kabupaten baru membangun pipa sepanjang<br />
3,5 km dari 7 km pipa yang dibutuhkan.<br />
Akhirnya, setelah lima tahun kemudian, yaitu<br />
pada tahun 2009, pembangunan sistem<br />
air minum ini dilanjutkan oleh pemerintah<br />
kabupaten hingga selesai sepanjang 7 km.<br />
Tetapi sangat disayangkan, keberuntungan<br />
belum berpihak kepada masyarakat desa<br />
secara keseluruhan. Rumah yang jauh dari<br />
pipa jaringan harus membangun sambungan<br />
ke rumahnya masing-masing.<br />
Dengan semangat yang menggebu, seluruh<br />
warga pun berantusias untuk menyediakan<br />
pipa-pipa sampai ke rumahnya. Air<br />
pun telah berhasil mengalir ke area permukiman<br />
warga tetapi hanya dapat dinikmati<br />
di sebagian kecil warga saja. Hal<br />
ini disebabkan oleh debit air yang tidak<br />
mencukupi. Sedangkan untuk 3 dusun yaitu<br />
Dusun Lingkuk Lima, Dusun Umbak Dalam,<br />
dan Dusun Sakedek yang seluruhnya dihuni<br />
oleh 458 KK belum dapat menikmati air<br />
minumnya.<br />
Alhamdulilah, kini keberuntungan telah<br />
berpihak kepada masyarakat Desa Steling,<br />
karena menjadi desa sasaran PPIP tahun<br />
2010. Dari dana Rp. 250 juta yang diterimanya,<br />
masyarakat memutuskan untuk<br />
mengoptimalkan sistem air minum yang sudah<br />
ada, disamping juga untuk mem ba ngun<br />
jalan lingkungan sepanjang 1.370 m.<br />
Optimalisasi sistem air minum yang dilaksanakan<br />
adalah dengan menambah kapa<br />
sitas air yang ada di bak penampung.<br />
Hal ini dilakukan dengan cara melakukan<br />
pe masangan pipa sepanjang 1.200 m dari<br />
sumber air lainnya ke bak penampung yang<br />
sudah ada.<br />
Kali ini masyarakat tiga dusun ini tidak<br />
ingin pengalaman buruknya terjadinya lagi.<br />
Masayarakat tidak ingin gagal lagi. Oleh<br />
karena itu, segenap masyarakat sangat<br />
mendukung kegiatan pembangunan air<br />
minum ini. Dengan berbondong-bondong<br />
masyarakat di tiga dusun membawa pipa,<br />
menggali dan memasang pipa dengan tidak<br />
diberi upah serupiah pun. Dalam pe rencanaannya,<br />
pembangunan ini tidak diperhitungkan<br />
untuk upah, hal ini dilakukan<br />
agar dana PPIP bisa mencukupi untuk pemasangan<br />
pipa sepanjang 1.200 meter dan<br />
pembangunan bak penangkap air.<br />
Alhamdulillah, rasa syukur pun tak henti-hentinya<br />
diucapkan warga, ketika air minum<br />
ini telah berhasil sampai ke rumahrumah<br />
warga desa. Bahkan ada warga yang<br />
menyumbangkan se-ekor kambingnya untuk<br />
diselenggarakan doa bersama masyarakat.<br />
Akhirnya, dari penantian yang panjang ini,<br />
pada tahun 2010 setelah mendapatkan PPIP<br />
masyarakat Desa Steling benar-benar dapat<br />
menikmati air bersih secara langsung sampai<br />
ke rumahnya.<br />
*) Staf Teknis Bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, Dinas PU<br />
Kabupaten Lombok Tengah<br />
30 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
GEMAPNPM 2<br />
Gema PNPM 2<br />
PPIP<br />
Buka Isolasi Batu Tulis<br />
Yudi Gatot *)<br />
Batu Tulis adalah desa yang terletak di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok<br />
Tengah. Desa ini tidak mendapatkan akses langsung ke kecamatan yang berada di<br />
Desa Ubung karena terpisah oleh Sungai Tiwu Galih. Padahal, Desa Ubung, selain<br />
merupakan pusat dari kota kecamatan Jonggat, juga merupakan pusat ekonomi<br />
(pemasaran), pendidikan dan kegiatan lainnya.<br />
HHamparan hijau terlihat begitu menyejukkan meter dan jalan yang dilalaui masih berupa<br />
mata ketika menuju lokasi Desa Batu Tulis. Hal jalan setapak.<br />
ini tidak mengherankan mengingat mayoritas Fajaruddin, salah seorang masyarakat Desa<br />
Batu Tulis mengatakan untuk menuju ke<br />
masyarakat Desa Batu Tulis menggantungkan<br />
kehidupannya pada sektor pertanian. Namun<br />
sangat sangat disayangkan, potensi sekolah harus memutar dengan jarak 10 km<br />
kantor kecamatan, pasar, Puskesmas, dan<br />
pertanian yang cukup tinggi tersebut tidak dengan melintasi desa-desa lain terlebih<br />
dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakatnya<br />
karena hasil-hasil pertanian Sejak tahun 1972, masyarakat Batu<br />
dahulu, baru sampai ke pusat kota.<br />
tidak dapat dipasarkan dengan mudah. Hal Tulis telah berusaha untuk mengatasi permasalahan<br />
transportasi ini dengan me rintis<br />
ini disebabkan karena akses menuju pusat<br />
pemasaran belum tersedia. Satu-satunya jalan<br />
akses desa menuju Desa Ubung sebagai tahun jalan ini terus diperbaiki melalui swa-<br />
jalan tembus menuju Desa Ubung. Setiap<br />
pusat pemasaran terputus oleh Sungai Tiwu daya masyarakat secara bertahap. Sampai<br />
Galih yang lebarnya mencapai lebih dari 20 tahun 1985, dengan adanya ABRI Masuk Desa<br />
Jembatan Desa Batu Tulis.<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 31
GEMAPNPM 2<br />
Warga Desa Batu Tulis sedang bergotong royong membangun sarana jalan.<br />
Semangat masyarakat yang menggebu dan dengan diiringi oleh<br />
doa-doa para sesepuh desa, akhirnya pelaksanaan pem bukaan<br />
jalan dan jembatan dapat ter lak sanakan dengan baik.<br />
(AMD), jalan ini dapat terselesaikan. Namun<br />
jalan ini tetap tidak dapat menembus Desa<br />
Ubung karena memerlukan jembatan yang<br />
cukup panjang dengan biaya yang sangat<br />
tinggi.<br />
Selama lima periode pergantian kepemimpinan<br />
desa, kepala desanya selalu<br />
mengusulkan pembangunan jembatan tersebut<br />
ke tingkat kabupaten dan provinsi<br />
serta melalui Musrenbangdes. Namun upaya<br />
tersebut belum dapat terealisasi.<br />
Sampai akhirnya di tahun 2009, desa ini<br />
mendapatkan alokasi dana bantuan Program<br />
Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP),<br />
barulah jembatan tersebut dapat direa lisasikan.<br />
Dengan dana sebesar Rp 250 juta<br />
yang diberikan dari PPIP, masyarakat Desa<br />
Batu Tulis secara bergotong-royong untuk<br />
dapat melakukan pembangunan jembatan<br />
yang telah lama mereka impikan dengan baik<br />
dan tepat waktu.<br />
Pelaksanaan pembangunan jembatan ini<br />
bukanlah hal yang mudah. Perencanaan yang<br />
sudah disusun dan mendapatkan verifikasi<br />
dari Tenaga Ahli Konsultan dan Satker di<br />
tingkat kabupaten, ternyata membutuhkan<br />
biaya yang melebihi dari dana bantuan sebesar<br />
Rp. 250 juta, yaitu mencapai lebih dari<br />
350 juta.<br />
Dengan optimis, jembatan ini dapat diselesaikan<br />
asalkan dukungan masyarakat dapat<br />
dilaksanakan secara optimal. Keku rangan<br />
biaya tersebut dapat didukung dengan adanya<br />
swadaya masyarakat melalui gotong<br />
royong, dan bersama-sama mengumpulkan<br />
bahan material yang ada di desa, seperti batu,<br />
kayu/bambu perancah dan tenaga kerja.<br />
Disisi lain, perencanaan jembatan dilakukan<br />
pengurangan ketinggiannya namun masih<br />
dalam batas aman terhadap muka air banjir<br />
maksimal.<br />
Semangat masyarakat yang menggebu<br />
dan dengan diiringi oleh doa-doa para<br />
sesepuh desa, akhirnya pelaksanaan pembukaan<br />
jalan dan jembatan dapat ter laksanakan<br />
dengan baik. Bahkan pada saat<br />
pengecoran, hampir 70 warga masya ra kat<br />
baik laki-laki dan perempuan tu rut membantu.<br />
Kerja keras masyarakat selama tiga bulan<br />
telah membuahkan hasil seperti yang<br />
diharapkan. Kini telah terbangun jembatan<br />
sepanjang 35 meter dengan lebar 7 meter<br />
dan jalan tembus yang menghubungkan<br />
Desa Batutulis dan Desa Ubung.<br />
Keberhasilan pelaksanaan PPIP tahun<br />
2009 di desa ini telah menggugah pemerintah<br />
pu sat, sehingga pada tahun 2010 desa ini<br />
diberikan bantuan dana PPIP yang ke-dua<br />
sebagai apresiasi atas keberhasilannya.<br />
Dana bantuan PPIP tahun 2010 ini digunakan<br />
untuk membangun jalan aspal sepanjang<br />
1000 meter. Jalan ini pun telah<br />
selesai dilaksanakan. Sehingga keterisolasian<br />
Desa Batu Tulis dan desa-desa sekitarnya<br />
se perti Desa Ubung dan beberapa desa di<br />
Kuripan.<br />
Sungguh luar biasa manfaat dari pelaksanaan<br />
Program Pembangunan Infra struktur<br />
Perdesaan (PPIP) ini, hanya dengan<br />
mem berikan dana dua kali bantuan telah<br />
memberikan dorongan kepada masyarakat<br />
untuk membangun desanya. Ber sa ma kita<br />
bisa, itulah slogan yang cocok un tuk pelaksanaan<br />
program ini. Dengan ke ber sa maan,<br />
masyarakat dapat menye lesaikan ber bagai<br />
permasalahan yang selama ini tidak sanggup<br />
dilaksanakan.<br />
Selayaknya, program-program pember dayaan<br />
ini tetap terus dilaksanakan, minimal 2<br />
tahun berturut-turut, sehingga permasalahan<br />
prioritas terutama terkait infrastruktur ini<br />
dapat diselesaikan. Selanjutnya, keberlangsungan<br />
dan pengembangan infra struktur<br />
ini dapat diteruskan oleh masya rakat sendiri.<br />
Terlalu berat, jika masya rakat harus mengemban<br />
tugas untuk mengatasi masa lah<br />
infrastrukturnya sendiri. Sementara, kemampuan<br />
PAD Kabupaten yang tidak mampu<br />
menyokong pengentasan kemis kinan sampai<br />
ke desa-desa.<br />
Kini masyarakat telah memperlihatkan<br />
manfaatnya jalan ini, pada saat panen<br />
tiba, sudah banyak mobil angkutan yang<br />
masuk. Aktifitas masyarakat pun kian ramai.<br />
Mudahan-mudahan dengan terbukanya kete<br />
risolasian desa ini akan mendorong pertumbuhan<br />
ekonomi masyarakatnya, yang<br />
juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi<br />
lokal bahkan nasional.<br />
*) Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Program<br />
Pembangunan Infrastruktur Perdesaan<br />
(PPIP) Provinsi NTB<br />
32 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
RESENSI<br />
Resensi<br />
Pencapaian<br />
Renstra <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
2005-2009<br />
Selama periode 2005-2009, bidang pengembangan<br />
permukiman <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> (DJCK) Kementerian<br />
Pekerjaan Umum telah menetapkan rumusan sasaran<br />
dalam Renstra, berikut program-program utama<br />
yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan<br />
masyarakat, khususnya masyarakat miskin dan berpenghasilan<br />
rendah, melalui peningkatan kualitas dan penyediaan perumahan<br />
dan permukiman yang layak.<br />
Selama periode itu pula, DJCK telah berhasil mencapai targettarget<br />
yang ditetapkan. Bahkan, pada sebagian program berhasil<br />
melebihi angka-angka yang telah ditargetkan sebelumnya.<br />
Sebagian lainnya, meskipun telah menunjukkan adanya<br />
peningkatan, masih belum mencapai target yang ditetapkan. Hal<br />
ini dikarenakan berbagai kendala, baik teknis maupun<br />
nonteknis, yang kerap terjadi saat pelaksanaan di<br />
lapangan seperti keterbatasan anggaran dan lahan yang<br />
tersedia.<br />
Kendati demikian, ketidakberhasilan tersebut<br />
diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi<br />
keberlangsungan program-program DJCK<br />
selanjutnya. Semoga, program-program DJCK<br />
dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya<br />
kepada masyarakat Indonesia secara luas. Yang<br />
pada akhirnya, akan meningkatkan kesejahteraan<br />
dan kualitas hidup bangsa ini, sesuai dengan<br />
Millenium Developments Goals (MDGs).<br />
Pencapaian-pencapaian selama kurun waktu<br />
tersebut dijabarkan secara terperinci dalam<br />
buku ini. Semua sektor bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
baik persampahan, penataan bangunan dan<br />
lingkungan, air minum maupun permukiman.<br />
Buku setebal 253 halaman ini dilengkapi dengan berbagai foto,<br />
grafik, tabel dan juga data-data lengkap pembangunan <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
selama periode 2005-2009.<br />
Kebehasilan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi<br />
masyarakat secara tepat sasaran. Diharapkan pula, masyarakat<br />
dapat menjaga kelangsungan infrastruktur terbangun dan<br />
menjaga keberlanjutan dari setiap program yang telah terlaksana<br />
selama ini. Kendala-kendala yang ditemui selama periode lalu dapat<br />
menjadi bekal dan pembelajaran pada periode berikutnya.<br />
Meski mengatasnamakan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, keberhasilan<br />
ini bukan semata-mata <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Berkat dukungan<br />
stakeholder, mulai dari pemerintah pusat, propinsi dan daerah serta<br />
kalangan swasta hingga masyarakat setempat yang dilibatkan<br />
secara langsung maupun tidak program-program ini dapat berjalan<br />
dengan baik.<br />
Buku ini wajib dimiliki oleh seluruh pemangku kepentingan<br />
di lingkungan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> sebagai bahan referensi<br />
pembangunan <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> yang telah dilakukan selama ini. (dvt)<br />
Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011 33
Seputar Kita<br />
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak<br />
membuka expo dan forum terbesar di bidang air<br />
minum dan air limbah yang diberi nama Indonesia<br />
Water and Wastewater Expo and Forum (IWWEF) di<br />
Birawa Assembly Hall Bidakara, Jakarta, Selasa<br />
(18/1). Pameran yang berlangsung selama tiga<br />
Wamen PU<br />
Buka IWWEF 2011<br />
SEPUTARKITA<br />
hari ini diikuti oleh 66 peserta, terdiri dari para pabrikan (supplier)<br />
perusahaan pelaku air minum perpipaan (dalam dan luar negeri),<br />
pemerintah dan Universitas. Pameran tersebut diselenggarakan oleh<br />
Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI) dan<br />
Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI)<br />
yang didukung oleh Kementerian PU, Kementerian Dalam Negeri,<br />
Bappenas dan Kementerian Keuangan.<br />
Selain pameran, IWWEF akan mengusung agenda utama yakni forum<br />
(konferensi dan seminar). Selain itu, ajang ini juga mempertemukan<br />
para Direktur Utama PDAM seluruh Indonesia dalam acara temu mitra<br />
Dana Pensiun Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (DAPENMA-<br />
PAMSI).<br />
“Saya harap pameran ini dapat menjadi ajang tukar menukar<br />
informasi para pemangku kepentingan bidang air minum maupun<br />
air limbah. Pemerintah akan selalu mendukung badan usaha dalam<br />
pengembangan SPAM dengan prinsip yang sehat dan transparan,” kata<br />
Hermanto Dardak. (dvt)<br />
Sertijab Eselon III<br />
di Lingkungan<br />
<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
Sehari setelah pelantikan eselon III oleh Menteri Pekerjaan Umum<br />
Djoko Kirmanto, dilanjutkan dengan serah terima jabatan pejabat<br />
(sertijab) eselon III di Lingkungan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, Kamis (20/1).<br />
Sertijab dipimpin oleh Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Budi Yuwono di Ruang<br />
Sapta Taruna Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta. Dalam<br />
arahannya, Budi Yuwono mengatakan, dengan anggaran <strong>Cipta</strong><br />
<strong>Karya</strong> yang meningkat hampir 60% tantangan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
tahun 2011 ini sangat besar. Untuk itu diperlukan kerja keras, sinergi<br />
dan koordinasi dengan baik.<br />
“Beban berat ada di pundak bapak ibu sekalian, meskipun<br />
demikian, beban tersebut harus dilaksanakan dengan kaidahkaidah<br />
good governance, tidak seenaknya. Untuk masalah koordinasi<br />
disini perlu digarisbawahi, koordinasi penting baik koordinasi ke<br />
atas maupun koordinasi ke bawah,” katanya.<br />
Beberapa pejabat yang dirotasi antara lain, Kun Hidayat Soeratno<br />
Kabag Keuangan, Deddy Sumantri Kabag Hukum, Raja Mulana<br />
Mangiring sebagai Kasubdit PA, Dwityo Akoro Soeranto Kasubdit<br />
KLN, Di lingkungan Dit. PBL; Adjar Prayudi Kasubdit Rentek, Eko<br />
Djuli Sasongko Kasubdit Gedung dan Rumah Negara, Dedy Permadi<br />
Kasubdit Wilayah I, Didiet Arief Akhdiat Kasubdit Wilayah II, Rina<br />
Farida Kasubdit Pengaturan dan Pembinaan Kelembagaan. (dvt)<br />
2011, Peran Satker Randal<br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />
Sangat Vital<br />
Sebagai kepanjangan tangan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> untuk memperpendek<br />
jangkauan koordinasi kepada Pemerintah Kabupaten/Kota, peran<br />
Satuan Kerja Perencanaan dan Pengendalian (Satker Randal) tahun<br />
2011 ini sangat vital. Berbeda dengan tahun 2010 yang mengandalkan<br />
sakter sektoral di propinsi dalam berkoordinasi, mulai 2011 ini semua<br />
satker sektoral tiap propinsi harus melaporkan dahulu ke Satker Randal<br />
baru kemudian ke pusat.<br />
Demikian disampaikan Direktur Bina Program Antonius Budiono<br />
pada saat membuka acara Rapat Koordinasi Persiapan dan Pelaksanaan<br />
Kegiatan Perencanaan dan Pengendalian Tahun 2011 di Jakarta, Kamis<br />
(13/1). Rapat tersebut diikuti oleh PPK Randal dan Kasatker Propinsi<br />
<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> di 27 propinsi.<br />
“Dengan kenaikan anggaran <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> yang meningkat 60%,<br />
peran randal akan menjadi tumpuan. Kenaikan anggaran tersebut<br />
menjadikan tugas dan tanggungjawab semakin besar. Minimal<br />
penyerapan anggaran <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> tahun 2011 ini sama dengan tahun<br />
lalu yaitu sekitar 94%,” katanya. (dvt)<br />
34 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 01/Tahun IX/Januari 2011
Redaksi Buletin <strong>Cipta</strong> K arya Mengucapkan<br />
Selamat atas Dilantiknya para Pejabat Eselon III dan IV<br />
di Lingkungan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> K arya<br />
Nama<br />
Kun Hidayat Soeratno<br />
Deddy Sumantri<br />
Sudarwanto<br />
Bambang Sudiatmo<br />
Djoko Murwanto<br />
Hadi Sucahyono<br />
R. Mulana MP. Sibuea<br />
Dwityo Akoro Soeranto<br />
Dian Irawati<br />
Nieke Nindyaputri<br />
Adjar Prayudi<br />
Eko Djuli Sasongko<br />
Dedy Permadi<br />
Didiet Arief Akhdiat<br />
Rina Farida<br />
Theresia Sri Mulyatini Respati<br />
Joerni Makmoerniati<br />
Syamsul Hadi<br />
Hendarko Rudi Susanto<br />
Iwan Dharma Setiawan<br />
Rina Agustin<br />
Handy Bambang Legowo<br />
Dodi Krispatmadi<br />
Rudi Arifin<br />
Endang Setyaningrum<br />
Alex A. Chalik<br />
Djoko Mursito<br />
Oloan M. Simatupang<br />
Ngatiman Sardjiono<br />
Hilwan<br />
Lain-lain:<br />
Sitti Bellafolijani Adimihardja<br />
Adi Susetyo<br />
Setio Djuwono<br />
Panani Kesai<br />
Savitri Rusdyanti<br />
Dewi Chomistriana<br />
Jabatan Baru<br />
Kabag Keuangan, Setditjen CK<br />
Kabag Hukum, Setditjen CK<br />
Kabag Umum, Setditjen CK<br />
Kepala Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi Wilayah I<br />
Kepala Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi Wilayah II<br />
Kasubdit Kebijakan dan Strategi, Dit. Bina Program<br />
Kasubdit Program dan Anggaran, Dit. Bina Program<br />
Kasubdit Kerjasama Luar Negeri, Dit. Bina Program<br />
Kasubdit Data dan Informasi, Dit. Bina Program<br />
Kasubdit Evaluasi Kinerja, Dit. Bina Program<br />
Kasubdit Perencanaan Teknis, Dit. PBL<br />
Kasubdit Gedung dan Rumah Negara, Dit. PBL<br />
Kasubdit Wilayah I, Dit. PBL<br />
Kasubdit Wilayah II, Dit. PBL<br />
Pengaturan dan Pembinaan Kelembagaan, Dit. PBL<br />
Kasubdit Perencanaan Teknis, Dit. Bangkim<br />
Kasubdit Bangkim Baru, Dit. Bangkim<br />
Kasubdit Wilayah I, Dit. Bangkim<br />
Kasbudit Wilayah II, Dit. Bangkim<br />
Kasubdit Pengaturan Kelembagaan, Dit. Bangkim<br />
Kasubdit Perencanaan Teknis, Dit. PPLP<br />
Kasubdit Air Limbah, Dit. PPLP<br />
Kasbudit Kasubdit Drainase, Dit. PPLP<br />
Kasubdit Persampahan, Dit. PPLP<br />
Kasubdit Pengaturan dan Pembinaan Kelembagaan, Dit. PPLP<br />
Kasubdit Perencanaan Teknis, Dit. PAM<br />
Kasubdit Investasi, Dit. PAM<br />
Kasubdit Wilayah I, Dit. PAM<br />
Kasubdit Wilayah II, Dit. PAM<br />
Kasubdit Pengaturan dan Pembinaan Kelembagaan, Dit. PAM<br />
Kepala Bidang Kajian Kebijakan dan Program, BPPSPAM<br />
Kabid Pemantauan dan Evaluasi Kinerja, BPPSPAM<br />
Kabid Analisa Keuangan, Promosi dan Investasi, BPPSPAM<br />
Kabag Program dan Anggaran Biro Perencanaan, Setjen<br />
Kabag Tata Usaha, Puskompu, Setjen<br />
Kabid Konstrusi Berkelanjutan, Badan Pembinaan Konstruksi
Selamat dan Sukses<br />
International Water and Waste Water Expo<br />
and Forum (IWWEF) 2011<br />
Jakarta, 18 - 20 Januari 2011