06.02.2015 Views

Download - Ditjen Cipta Karya

Download - Ditjen Cipta Karya

Download - Ditjen Cipta Karya

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

LIPUTAN KHUSUS<br />

Jalur Cepat Mencapai MDGs<br />

Bersama PAMSIMAS 12<br />

INFO BARU 2<br />

Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur<br />

Dalam RUU Perumahan dan Permukiman 19<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Dukung<br />

Sarana dan Prasarana<br />

Desa Wisata Cibatutiga<br />

Edisi 08/Tahun VIII/Agustus 2010<br />

Menghindari Pemborosan<br />

Investasi Pembangunan dengan<br />

SPPIP


daftar isi<br />

AGUSTUS 2010<br />

Berita Utama<br />

http://ciptakarya.pu.go.id<br />

4 Strategi Pembangunan<br />

Permukiman dan In frastruktur<br />

Perkotaan (SPPIP)<br />

Hindari Pemborosan Investasi<br />

Pembangunan<br />

Pelindung<br />

Budi Yuwono P<br />

Penanggung Jawab<br />

Danny Sutjiono<br />

Dewan Redaksi<br />

Antonius Budiono, Tamin M. Zakaria<br />

Amin, Susmono, Guratno Hartono,<br />

Joessair Lubis,<br />

Budi Hidayat<br />

Pemimpin Redaksi<br />

Dwityo A. Soeranto, Sudarwanto<br />

Penyunting dan Penyelaras Naskah<br />

T.M. Hasan, Bukhori<br />

Bagian Produksi<br />

Djoko Karsono, Emah Sadjimah,<br />

Radja Mulana MP. Sibuea,<br />

Djati Waluyo Widodo, Aulia UI Fikri,<br />

Indah Raftiarty<br />

Bagian Administrasi & Distribusi<br />

Sri Murni Edi K, Ilham Muhargiady,<br />

Doddy Krispatmadi, A. Sihombing,<br />

Ahmad Gunawan, Didik Saukat Fuadi,<br />

Harni Widayanti, Deva Kurniawan,<br />

Mitha Aprini, Nurfhatiah<br />

Kontributor<br />

Panani Kesai, Rina Agustin Indriani,<br />

Nieke Nindyaputri, Hadi Sucahyono,<br />

Amiruddin, Handy B. Legowo,<br />

Endang Setyaningrum, Syamsul Hadi,<br />

Didiet. A. Akhdiat, Muhammad Abid,<br />

Siti Bellafolijani, Djoko Mursito,<br />

Ade Syaeful Rahman,<br />

Th. Srimulyatini Respati,Alex A.Chalik,<br />

Bambang Purwanto,<br />

Edward Abdurahman, Alfin B. Setiawan,<br />

Deddy Sumantri,<br />

M. Yasin Kurdi, Lini Tambajong<br />

Alamat Redaksi<br />

Jl. Patimura No. 20, Kebayoran Baru<br />

12110 Telp/Fax. 021-72796578<br />

Email<br />

publikasi_djck@yahoo.com<br />

Redaksi menerima artikel, berita,<br />

karikatur yang terkait bidang cipta<br />

karya dan disertai gambar/foto<br />

serta identitas penulis. Naskah<br />

ditulis maksimal 5 halaman A4,<br />

Arial 12. Naskah yang dimuat akan<br />

mendapat insentif.<br />

7 SPPIP Mengarahkan Pembangunan<br />

Kota (Kasus<br />

Empat Kabupaten/Kota di<br />

Jawa Timur)<br />

9 Penataan Permukiman<br />

Pesisir di Kaki Jembatan<br />

Suramadu<br />

Liputan Khusus<br />

12 Jalur Cepat Mencapai<br />

MDGs Bersama PAMSIMAS<br />

Info Baru<br />

16 Permukiman Vertikal untuk<br />

Perdesaan Pulau Jawa<br />

19 Keterpaduan Pembangunan<br />

Infrastruktur Dalam RUU<br />

Perumahan dan Permukiman<br />

23 <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Dukung Sarana<br />

dan Prasarana Desa Wisata<br />

Cibatutiga<br />

Inovasi<br />

23 GPS dalam Pembangunan<br />

Bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Gema RPIJM<br />

28 SPPIP Memperkuat<br />

Dokumen RPIJM<br />

Resensi<br />

29 Rencana Strategis Direktorat<br />

Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

2010-2014<br />

9<br />

28<br />

16


Foto Cover : Foto Udara Kota Banda Aceh<br />

editorial<br />

Perencanaan Pembangunan Daerah Milik Siapa<br />

Kita harus berhati-hati mengatakan bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di daerah kadang<br />

dirampok oleh kepentingan tertentu. Namun, meskipun pahit harus berani diungkapkan. RTRW adalah buku<br />

putih Pemerintah Daerah dalam melakukan perencanaan pembangunan yang berbasis tata ruang dengan<br />

tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya karena ada kekhawatiran tentang kondisi lingkungan<br />

sekarang dan masa depan. Kepentingan ekonomi biasanya menjadi raja. Atas kepentingan tertentu, suatu<br />

kawasan yang mestinya menjadi wajib dikonservasi bahkan dilestarikan, akhirnya dijual kepada kapitalisme<br />

karena buntut gejolak politik. Seorang kepada daerah, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, harus<br />

mengeluarkan dana yang besar. Dengan embel-embel mendanai pencalonan bakal kepala daerah tersebut,<br />

swasta pun meminta ‘gain’ berupa sebuah keputusan seorang kepala daerah yang merugikan masyarakat<br />

dan lingkungannya. Itu dari yang besar, dan yang secara sadar dilakukan.<br />

Kini kita tengok yang terkadang secara tidak sadar, dan dilakukan oleh masyarakat awam dan berefek<br />

langsung pada pelaksanaan pembangunan. Sudah menyita waktu berlarut-larut, dari mulai survey, penetapan<br />

lokasi, desain, penyiapan lahan, hingga mendapat restu AMDAL, namun ada saja pihak-pihak, baik<br />

dari dalam maupun luar yang mencoba mengambil keuntungan dengan memanfaatkan properti berupa<br />

kemiskinan, pendidikan, dll. Contoh kecil saja, pembangunan boezem dan pengeruk sampah (trash rack)<br />

sungai di kawasan Morokrembangan Surabaya. Secara eksisting, padatnya permukiman penduduk memang<br />

menyulitkan. Ditambah lagi dengan teror terhadap alat-alat berat yang masuk kawasan ini untuk membawa<br />

sampah. Ada pula yang dengan sengaja mematikan motor pengeruk sampah agar sampah tetap menumpuk<br />

tidak terkeruk agar bisa mereka ambil, mereka bisa kita sebut pemulung sampah di sungai. Masih banyak<br />

karut marut perencanaan pembangunan di daerah yang implementasinya belum sesuai harapan.<br />

Lalu pertanyannya, perencanaan pembangunan daerah yang banyak tertuang dalam ribuan lembar<br />

dokumen itu milik siapa Karena masih banyak yang harus dibenahi oleh kepala daerah selain memenuhi<br />

janji politiknya pada segelintir pengusaha. Sebut saja tingkat pengangguran yang tinggi, tingkat pendapatan<br />

rendah atau kurangnya peluang investasi terkait erat dengan berbagai masalah fisik dan sosial, termasuk<br />

tingkat kesehatan yang rendah dan kaena kondisi prasarana permukimannya yang rendah, ketidakmampuan<br />

dalam infrastruktur fisik (misalnya, pasokan air, pembuangan limbah, fasilitas transportasi), polusi lingkungan,<br />

dan kekurangan dalam pendidikan, jasa rekreasi dan sosial. Sebuah program pembangunan<br />

daerah direncanakan biasanya mencoba untuk mendudukkan permasalahan tersebut secara komprehensif.<br />

Namum banyaknya peraturan yang tumpang tindih dan memerlukan koordinasi semua pihak pun kadang<br />

menyulitkan implementasinya.<br />

Karena itu perlu strategi untuk mensinkronkan banyaknya perencanaan pembangunan, khususnya<br />

bidang permukiman yang dimiliki oleh daerah. <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kementerian Pekerjaan Umum menjawab<br />

hal ini dengan memfasiltasi penyusunan Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan<br />

(SPPIP) sebagai sinkronisasi kebijakan perencanaan dan pembangunan perkotaan yang telah dimiliki oleh<br />

pemerintah kota/ kabupaten. SPPIP dituangkan sebagai strategi untuk pelaksanaan pembangunan dengan<br />

mempertimbangkan sumberdaya dan sumberdana serta ‘tantangan’ yang ada.<br />

Selamat membaca dan berkarya!<br />

.....Suara Anda<br />

Lowongan dan mutasi di Dirjen <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Nama Saya Dede Kosri Mafazan, ST. Saya PNS di Dinas Pekerjaan Umum<br />

Kota Sungai Penuh - Jambi. Golongan IIIa, Sarjana S1 Teknik Arsitektur -<br />

Universitas Mercu Buana - Jakarta.<br />

Saya mau menanyakan apakah ada lowongan (Mutasi) di Dirjen <strong>Cipta</strong><br />

<strong>Karya</strong>. Kalau ada bagaimana caranya. Terimakasih<br />

Dede Kosri Mafazan, ST-Jambi<br />

Kepada Yth. Saudara Dede Kosri Mafazan, ST.<br />

Berdasarkan pertanyaan yang Saudara ajukan maka saya berusaha<br />

dengan ini menjawabnya :<br />

1. Apakah ada lowongan (Mutasi) di <strong>Ditjen</strong>. <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> <br />

Jawab : Lowongan (Mutasi) ada jika Formasi dibutuhkan.<br />

2. Persyaratannya <br />

Jawab : Melengkapi persyaratan dapat dilihat pada http://www.<br />

pu.go.id/publik/Ind/pengumuman/Ntc_100521141535.pdf<br />

Diajukan ke Sekretaris Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> dengan me lampiri<br />

CV dan persyaratan tadi.<br />

Demikian jawaban dari kami, semoga informasi ini dapat berguna buat<br />

Saudara. Terima Kasih.<br />

Redaksi menerima saran maupun tanggapan terkait bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> ke email publikasi_djck@yahoo.com atau saran dan pengaduan di www.pu.go.id<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 3


Berita Utama<br />

Strategi Pembangunan Permukiman<br />

dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP)<br />

Hindari Pemborosan Investasi<br />

Pembangunan<br />

Joerni Makmoerniaty*)<br />

Untuk menghindari pemborosan, maka pembangunan perkotaan harus dilakukan berdasarkan perencanaan yang mempertimbangkan<br />

tata ruang, sumberdaya, dan kemampuan sumber dananya.<br />

Pada setiap pertengahan tahun anggaran<br />

pembangunan, kita selalu disibukkan untuk<br />

menyusun rencana kerja dan rencana alokasi<br />

dana kegiatan pembangunan untuk tahun<br />

anggaran berikutnya. Rencana tersebut tidak<br />

lain akan dialokasikan pada sebagian<br />

kota/kabupaten maupun perdesaan di seluruh<br />

propinsi di Indonesia dalam rangka dukungan<br />

pemerintah pada pembangunan<br />

dae rah.<br />

Aktivitas penyusunan dokumen Rencana<br />

Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga<br />

(RKAKL) tersebut umumnya sangat menyita<br />

waktu, mulai dari menentukan lokasi, kegiatan,<br />

biaya, sampai jangka waktu pe laksanaan.<br />

Hal ini karena banyaknya usulan<br />

dari pemerintah daerah dan usulan lainnya<br />

yang tentunya belum terintegrasi satu dengan<br />

yang lainnya. Setiap sektor kegiatan<br />

mempunyai tumpukan usulan dan hasil<br />

‘stu di’ yang akan mengikuti ‘antrean’ untuk<br />

mendapatkan alokasi dana pembangunan<br />

(APBN).<br />

Ironisnya, manfaat hasil pembangunan<br />

tersebut masih banyak yang belum dapat<br />

menggambarkan secara nyata peran fasilitasi<br />

pembangunan infrastruktur <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> bagi<br />

pembangunan kota itu sendiri, sesuai dengan<br />

potensi dan kendalanya. Bahkan masih sulit<br />

menyatakannya dalam satu ukuran, apakah<br />

fasilitasi yang diberikan telah mendorong<br />

per kembangan kota ke arah yang sesuai dengan<br />

rencana penataan ruangnya Mam pukah<br />

mendukung pertumbuhan ekonomi kota<br />

serta meningkatkan kesejahteraan ma syarakatnya<br />

4 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010


BERITAUTAMA<br />

Foto Kiri : Kantong-kantong permukiman padat di kawasan pusat kota Surabaya<br />

Foto Kanan : Kondisi kawasan permukiman, turut menentukan masa depan generasi mendatang<br />

Strategi pembangunan mutlak diperlukan<br />

Kota sebagai pusat pertumbuhan ekonomi<br />

sekaligus juga sebagai kawasan permukiman<br />

penduduk dengan segala aktivitasnya sangat<br />

memerlukan dukungan prasarana dan<br />

sarana dasar perkotaan. Pertumbuhan akti<br />

vitas ekonomi perkotaan yang ditandai<br />

dengan meningkatnya aktivitas pergerakan<br />

orang, barang dan jasa keluar maupun masuk<br />

kawasan perkotaan tersebut, telah memicu<br />

meningkatnya kebutuhan infrastruktur penun<br />

jangnya.<br />

Permasalahan akan muncul apabila percepatan<br />

pertumbuhan aktivitas tersebut tidak<br />

diimbangi dengan percepatan penyediaan<br />

prasarana dan sarana penunjangnya, se hingga<br />

akan terjadi banyak pemborosan, baik<br />

dana, waktu, ruang, energi dan sumberdaya<br />

lainnya. Keadaan ini terlihat ham pir di semua<br />

kota di Indonesia, terutama di kota-kota<br />

besar, dan seakan-akan menjadi hal biasa<br />

bagi perkotaan di Indonesia dan selalu menjadi<br />

keluhan/hambatan pem ba ngunan kota.<br />

Sesungguhnya keterbatasan kemampuan<br />

pemerintah, baik dana maupun sumber daya<br />

lainnya, untuk melaksanakan dan mengelola<br />

pembangunan perkotaan harus dipandang<br />

sebagai ‘tantangan’ yang dimanfaatkan untuk<br />

membangkitkan energi positif dalam<br />

me laksanakan pembangunan. Semakin meningkat<br />

pertumbuhan ekonomi di suatu ko -<br />

ta, semakin cepat pula perkembangan fisik<br />

ruangnya, bahkan perkembangan ter sebut<br />

seringkali mengabaikan ‘tantangan’ sumber<br />

daya yang ada. Disinilah pemborosan<br />

tersebut secara tak disadari terjadi, atau<br />

bahkan sa dar namun tidak mampu mencari<br />

solusinya.<br />

Untuk menghindari pemborosan, maka<br />

pem bangunan perkotaan harus dilaku kan<br />

berdasarkan perencanaan yang mempertimbangkan<br />

tata ruang, sumberdaya, dan<br />

kemampuan sumber dananya. Hal ini bukanlah<br />

suatu langkah baru, namun sudah<br />

menjadi pengetahuan bagi para pemangku<br />

kepentingan, namun kemauan/kemampuan<br />

pelak sanaannya yang masih banyak terkendala.<br />

Permasalahan yang terjadi adalah,<br />

apa kah perencanaan tersebut dibuat dan<br />

disepakati dengan proses yang benar Apakah<br />

keter libatan warga masyarakat terwakilkan<br />

dalam kesepakatan tersebut Apakah strategi<br />

pem bangunan sudah dibuat berdasarkan<br />

pe rencanaan yang ada dan telah disepakati<br />

oleh semua pemangku kepentingan kota/<br />

kabupaten terebut. Apakah prioritas pem -<br />

bangunan telah ditentukan dengan pertimbangan<br />

sumberdana dan sumberdaya, serta<br />

merespons ‘tantangan’ yang dihadapi<br />

Dengan dalih pembangunan harus terus<br />

berjalan, maka seringkali pembangunan dilaksanakan<br />

secara responsif terhadap hambatan<br />

yang muncul. Hal ini akan memunculkan<br />

permasalahan-per masalah an baru<br />

yang terakumulasi menjadi permasalahan<br />

umum yang sedang dihadapi kota-kota besar,<br />

pada umumnya, dan kota metropolitan<br />

pada khususnya. Untuk itu diperlukan suatu<br />

strategi yang menjabarkan kebijakan<br />

yang telah ada dan menentukan prioritas<br />

pelaksanaannya berdasarkan kesepakatan<br />

da ri semua pemangku kepentingan kota/kabupaten<br />

yang bersangkutan.<br />

Tanpa adanya strategi pelaksanaan kebijakan<br />

pembangunan yang konsisten dan<br />

seiring dengan rencana Penataan Ruang<br />

Wilayah yang telah disepakati, dikhawatirkan<br />

terjadi pembangunan kota yang menggiring<br />

perkembangan kota yang tidak sesuai dengan<br />

daya dukung dan pola ruang yang<br />

ada. Hal ini akan diperburuk dengan terlaksananya<br />

investasi pembangunan yang<br />

ti dak termanfaatkan dan bahkan akan menimbulkan<br />

permasalahan baru pada kawasan<br />

yang bersangkutan, sehingga akan terjadi<br />

in-efisiensi atau pemborosan dana, ruang,<br />

waktu, serta sumberdaya yang dimiliki.<br />

Mengingat peran kota sebagai pusat pertumbuhan<br />

ekonomi dan permukiman bagi<br />

warganya, maka infrastruktur perkotaan<br />

menjadi salah satu aspek perkotaan yang<br />

harus mendapatkan prioritas pena nganan -<br />

nya. Hal ini berkaitan dengan laju percepatan<br />

pembangunan ekonomi itu sendiri<br />

yang diikuti dengan laju percepatan<br />

permintaan akan akses pada jaringan pelayanan,<br />

serta tuntutan peningkatan kesejahteraan<br />

masyarakat, terutama mereka yang<br />

bermukim pada kawasan perkotaan dan<br />

me reka yang terkena dampak dari de nyut<br />

eko nomi perkotaan. Untuk itulah, stra tegi<br />

pengembangan permukiman dan in fra struktur<br />

perkotaan yang mendukung pe ran ko ta<br />

tersebut, harus menjadi prioritas pem bangunan.<br />

Apa yang dimaksud SPPIP<br />

Strategi Pembangunan Permukiman dan<br />

In frastruktur Perkotaan (SPPIP) merupakan<br />

sinkronisasi kebijakan perencanaan dan pem -<br />

bangunan perkotaan yang telah dimi liki<br />

oleh pemerintah kota/kabupaten. SPPIP di -<br />

tuangkan sebagai strategi untuk pe lak sanaan<br />

pembangunan dengan mem per timbangkan<br />

sumberdaya dan sumber dana serta<br />

‘tantangan’ yang ada. Proses penyusunan<br />

strategi tersebut harus dapat melibatkan pemahaman<br />

semua pemangku kepentingan,<br />

ser ta diketahui oleh warganya, sehingga dapat<br />

ditentukan prioritas pelaksanaan yang<br />

efisien dan efektif bagi perkembangan kota/<br />

kabupaten itu sendiri, serta mendukung kesejahteraan<br />

masyarakatnya.<br />

Adapun kebijakan yang dimaksud dalam<br />

sinkronisasi tersebut di atas antara lain<br />

adalah kebijakan berkaitan dengan ren cana<br />

tata ruang wilayah, Rencana Prog ram<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 5


BERITAUTAMA<br />

Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana<br />

Pengembangan Perumahan dan Permukiman<br />

Daerah (RP4D), Strategi Sanitasi<br />

Kota (SSK), kebijakan yang bersangkutan<br />

dengan pendanaan pembangunan daerah<br />

yang bersangkutan, Rencana Anggaran dan<br />

Belanja Daerah (RAPBD) dan kebijakan pembangunan<br />

lainnya.<br />

Mengingat salah satu peran kota sebagai<br />

permukiman, maka pembangunan<br />

infrastruktur perkotaan selain diarahkan<br />

un tuk mendukung pertumbuhan ekonomi<br />

ko ta/kabupaten, juga diarahkan untuk memenuhi<br />

kebutuhan pelayanan dasar masyarakatnya<br />

yang diarahkan pada kawasan-kawasan<br />

permukiman. Hal tersebut di<br />

atas akan tercapai apabila pengembangan<br />

permukiman perkotaannya diilakukan dengan<br />

memperhatikan pertimbangan pri o-<br />

ritas pembangunan sesuai dengan stra tegi<br />

yang telah ditelaah berdasarkan se mua<br />

kebijakan yang ada.<br />

Oleh sebab itu, maka penyusunan rencana<br />

pembangunan pada kawasan permukiman<br />

prioritas juga perlu ditentukan terlebih dahulu,<br />

agar pengembangannya sesuai dengan<br />

investasi pembangunan prasarana dan<br />

sarana perkotaannya. Apabila investasi dalam<br />

pembangunan infrastruktur perkotaan telah<br />

dilaksanakan, maka permukiman di ka wasan<br />

perkotaan akan mendapatkan dam pak pada<br />

terlayaninya masyarakat me la lui penyediaan<br />

infrastruktur pelayanan dasar. Apabila hal ini<br />

dapat terlaksana dengan seimbang, ma ka per -<br />

masalahan per kotaan dapat diminimalkan,<br />

ka rena arah dan tujuan pembangunan se jalan<br />

de ngan arah dan tujuan kebijakan, serta<br />

ren cana pengembangan kota/kabupaten ter -<br />

sebut. Kesejahteraan masyarakatnya pun me -<br />

ningkat dan akan berdampak pada me ningkatkan<br />

produktivitas masyarakat.<br />

Mewujudkan Visi dan Misi Pembangunan<br />

Perkotaan<br />

Sejak terbitnya UU no. 32 tahun 2004 tentang<br />

Pemerintahan Daerah, maka urusan<br />

wa jib pemerintah daerah antara lain adalah<br />

perencanaan dan pengendalian pembangunan,<br />

perencanaan pemanfaatan dan<br />

pengawasan tata ruang. Oleh sebab itu, maka<br />

pemerintah kota/ kabupaten bersama semua<br />

pemangku kepentingan pembangunan kota/<br />

kabupaten yang bersangkutan harus dapat<br />

mensinkronkan kebijakan perencanaan dan<br />

pembangunan agar visi dan misi kota/ kabupaten<br />

dapat terwujud searah dengan kebijakan<br />

pendukung lainnya.<br />

Pemangku kepentingan secara ber sama-sama<br />

berkoordinasi untuk dapat mewujudkan<br />

kebijakan yang telah dibuat un tuk<br />

disinkronisasikan dan dituangkan dalam strategi<br />

pembangunan dengan mem per hatikan<br />

ruang, sumberdaya dan sumber dana yang<br />

tersedia serta rentang waktu pelaksanaan<br />

se suai target dalam rencana program jangka<br />

menengah daerah (RPJMD) kota/ kabupaten<br />

tersebut.<br />

Seperti telah disampaikan sebelumnya,<br />

bahwa kota sebagai tempat bermukim dan<br />

beraktivitas ekonomi maupun sosial, maka<br />

setiap warga yang turut terlibat secara langsung<br />

maupun tak langsung dalam pro ses<br />

pembangunan akan menjadi pe neri ma manfa<br />

at pembangunan kota/ka bu patennya,per -<br />

lu untuk mengetahui dan mem berikan masukan<br />

pada setiap kebijakan pem ba ngunan<br />

yang akan dilaksanakan. Bah kan pa da<br />

suatu tahapan tertentu, warga kota/kabupaten<br />

mempunyai hak untuk me nyam paikan<br />

pendapat/masukan pada ren cana pelaksanaan<br />

kebijakan pemerintahnya.<br />

Dalam rangka menjaga keterbukaan kebijakan<br />

pembangunan, maka dalam setiap<br />

proses penyusunan kebijakan pembangunan<br />

semaksimal mungkin kelompok pemangku<br />

kepentingan kota/kabupaten bersangkutan<br />

harus selalu diikutsertakan, terutama warga<br />

yang tinggal di kawasan perencanaan.<br />

Hal ini sangat diperlukan agar terbangun<br />

nilai-nilai kepedulian masyarakat dan atau<br />

pemangku kepentingan kota/kabupaten<br />

yang bersangkutan. Hal ini akan berdampak<br />

pada terbangunnya pengawasan/kontrol<br />

pe m bangunan, sehingga diharapkan pembangunan<br />

dapat menghasilkan output yang<br />

bermanfaat dan berkesinambungan, baik<br />

ter hadap ruang, waktu dan sumberdaya<br />

yang dimiliki serta dapat mewujudkan pertumbuhan<br />

ekonomi dan kesejahteraam masyarakat<br />

yang berkesinambungan.<br />

*) Kasubdit Pengembangan Permukiman Ba ­<br />

ru, Direktorat Pengembangan Permukim an,<br />

DJCK<br />

STRATEGI PEMBANGUNAN PERKOTAAN<br />

KSPN : Kebijakan & Strategi Perkotaan Nasional<br />

KSPD : Kebijakan & Strategi Perkotaan Daerah<br />

RTRW : Rencana Tata Ruang Wilayah<br />

RPJPD : Rencana program jangka Panjang Daerah<br />

RPJMD : Rencana Program Jangka Menengah daerah<br />

SPPIP : Strategi Pembangunan Permukiman & Infrastruktur Perkotaan<br />

RPKPP : Rencana Pembangunan kawasan Permukiman Perkotaan<br />

RPIJM : Rencana Program Investasi Jangka Menengah<br />

6 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010


BERITAUTAMA<br />

Berita Utama<br />

Pelaksanaan Bantuan Teknis (Bantek) penyusunan<br />

Strategi Pengembangan Permukiman<br />

dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP) di Provinsi<br />

Jawa Timur telah dilaksanakan sejak<br />

pertengahan bulan Mei 2010, dengan demikian<br />

proses penyusunan SPPIP sampai<br />

dengan saat ini telah berjalan 3 bulan. Secara<br />

umum, proses yang dilakukan di 4 kota/<br />

kabupaten yang terdapat di provinsi Jawa<br />

Timur, yaitu Surabaya, Pasuruan, Probolinggo<br />

dan Blitar telah berjalan sesuai dengan proses<br />

yang dijadwalkan.<br />

Keseluruhan kota/kabupaten telah melak<br />

sanakan penyamaan pemahaman an ta ra<br />

Bantuan teknis penyusunan SPPIP di Jawa Timur masih berjalan sesuai jadwal<br />

SPPIP Mengarahkan<br />

Pembangunan Kota<br />

(Kasus Empat Kabupaten/Kota<br />

di Jawa Timur)<br />

Zaenal Arifin*)<br />

SPPIP adalah strategi yang mengacu pada dokumen perencanaan yang telah<br />

ada. Sehingga muatan yang akan dihasilkan lebih sebagai bentuk adopsi dan<br />

sinkronisasi dari dokumen yang ada dari pada sebuah dokumen yang baru.<br />

Hal ini mensyaratkan pentingnya ketersediaan akan dokumen-dokumen<br />

perencanaan dengan kondisi baik dan legal, dalam artian kesiapan untuk<br />

dijadikan sebagai acuan, baik secara substansi maupun aspek legalitasnya.<br />

pemangku kepentingan yang di rep re senta<br />

sikan ke dalam Kelompok Kerja Teknis Kota/Kabupaten<br />

(PokJaNis) dengan para tenaga<br />

ahli konsultan yang ber fungsi sebagai<br />

pendamping/fasilitator ban tu an tek nis kepada<br />

para PokJaNis dalam me nyusun SPPIP.<br />

Pe nyamaan pemahaman baik terhadap proses,<br />

pendekatan dan ke luaran SPPIP sangat<br />

penting dilakukan di awal kegiatan. Hal ini<br />

dikarenakan perlunya penekanan pada pendekatan<br />

yang esensial, dimana pemangku<br />

kepentingan kota dan pokjanisnya sebagai<br />

aktor utama.<br />

Penyusunan SPPIP adalah sebuah kegiatan<br />

yang lebih menekankan pada pencapaian<br />

proses dibandingkan produk. Kesepakatan<br />

antar pemangku kepentingan yang menjadi<br />

dasar legitimasi dari capaian keluaran, men -<br />

jadi hal pokok yang dipersyaratkan. Me mahami<br />

bahwa setiap kota dengan dimensi dan<br />

kelasnya memiliki kompleksitas permasalahan<br />

yang berbeda, maka akan memiliki potensi<br />

perbedaan tingkat capaian keluaran. Akan<br />

tetapi dalam prosesnya, seluruh kota akan<br />

memiliki rangkaian/siklus logis yang sama<br />

dan bertahap dalam menghasilkan SPPIP<br />

yang disepakati. Karenanya, dari minimum<br />

4 FGD, 2 Konsultasi Publik dan Diseminasi<br />

yang harus dilakukan selama proses, maka<br />

keseluruhannya harus dilakukan secara aktif<br />

oleh PokJaNis dengan difasilitasi oleh tenaga<br />

ahli konsultan pendamping.<br />

Pada kegiatan FGD 1 dan FGD 2, proses<br />

penentuan permasalahan permukiman hing -<br />

ga penentuan kawasan prioritas ber ikut<br />

de ngan penentuan kriteria yang akan digu<br />

nakan telah berhasil dilaksanakan dengan<br />

pendekatan pelibatan pemangku ke -<br />

pentingan (stakeholder approach) de ngan<br />

sa ngat baik. Penentuan lokasi per mukiman<br />

yang akan ditangani beserta de ngan<br />

per masalahan infrastruktur kota te lah dihasilkan<br />

dari kesepakatan antar pe mangku<br />

kepentingan di tingkat Pokjanis, bahkan<br />

hingga penentuan kriteria yang akan di gunakan<br />

dalam menentukan skala prioritas<br />

kawasan yang akan ditangani dalam skala<br />

kota.<br />

Dalam hal ini, hambatan yang tim bul<br />

umumnya lebih disebabkan pada perma -<br />

salahan adaptasi terhadap paradigma pendekatan<br />

keaktifan pemangku kepen ting an<br />

yang diba wa oleh<br />

SPPIP ini, dimana pemangku ke pentingan<br />

kota seringkali dihadapkan pada kondisi<br />

se bagai penerima program atau tidak terlalu<br />

diberikan ruang dalam pengambilan<br />

keputusan untuk menentukan program yang<br />

terkait dengan sumber pendanaan lain. Sehingga<br />

interpretasi yang masih ter biasa dengan<br />

pendekatan lama, menjadi halyang<br />

harus dibenahi secara bertahap. Akan tetapi<br />

secara keseluruhan rasa memiliki da ri<br />

kegiatan ini, sebagai konsekuensi pen dekatan<br />

pelibatan yang intensif, telah mem berikan semangat<br />

tersendiri dari pe mang ku kepentingan.<br />

Hal ini tercermin da ri keaktifan yang<br />

semakin tinggi dalam mengikuti setiap<br />

prosesnya.<br />

SPPIP adalah strategi yang mengacu pada<br />

dokumen perencanaan yang telah ada.<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 7


BERITAUTAMA<br />

Sehingga muatan yang akan dihasilkan lebih<br />

ke dalam bentuk adopsi dan sinkronisasi<br />

dari dokumen yang ada daripada membuat<br />

sesuatu yang baru. Hal ini mensyaratkan<br />

ketersediaan dokumen-dokumen peren cana<br />

an dengan kondisi baik dan legal, dalam<br />

artian kesiapan untuk dijadikan sebagai<br />

acu an, baik secara substansi maupun aspek<br />

legalitasnya.<br />

Terkait dalam hal ini, tiga dari empat kota<br />

di Jawa Timur (Surabaya, Pasuruan dan Blitar)<br />

tengah menjalani proses pemilihan Kepala<br />

Daerah yang berkonsekuensi pada tengah<br />

disusunnya Rencana Pembangunan Daerah<br />

(RJPD,RPJMD), disisi lain revisi terhadap<br />

rencana penataan ruang yang baru (RTRW<br />

Kota/Kabupaten) juga tengah berlangsung.<br />

Kondisi tersebut memiliki dampak negatif<br />

maupun positif dalam proses penyusunan<br />

SPPIP. Dampak negatifnya yaitu proses yang<br />

lebih lama dalam pengambilan keputusan<br />

disebabkan karena belum siapnya dokumen<br />

yang akan dijadikan acuan, baik secara<br />

substansi maupun legalitasnya. Sedangkan<br />

dampak positifnya adalah masih tersedianya<br />

ruang yang cukup besar bagi SPPIP untuk<br />

memberikan masukan, khususnya terkait<br />

dalam sinkronisasi antar dokumen pe -<br />

rencanaan (pada beberapa dokumen yang<br />

terdapat perbedaan), dan potensi untuk<br />

menjadi pertimbangan (input) dalam penyiapan<br />

kebijakan yang akan menjadi payung<br />

pada dokumen yang lebih tinggi. Hal<br />

ini dikarenakan penyusunan SPPIP dilakukan<br />

secara paralel dengan kegiatan penyusunan<br />

dokumen-dokumen tersebut.<br />

Beberapa hal teknis lain yang perlu dicermati<br />

adalah kesan daerah bahwa akan<br />

terdapat banyak sekali Pokjanis yang harus<br />

dibentuk untuk setiap program. Biasa<br />

dalam hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi<br />

bila setiap pihak khususnya pemangku kepentingan<br />

kota tidak memahami PokJaNis<br />

sebagai suatu panitia Ad-Hoc, akan tetapi<br />

dipahami lebih sebagai mekanisme dalam<br />

menjalankan fungsi pemangku kepentingan<br />

(sesuai Tupoksinya) yang memang sebagai<br />

pihak yang memiliki kewenangan dalam<br />

menyusun setiap dokumen yang terkait<br />

dengan pembangunan kotanya. Akan tetapi<br />

tetap dibutuhkan dukungan koordinasi yang<br />

baik antara pemerintah pusat, propinsi dan<br />

kota/kabupaten dalam ikut mendukung ke -<br />

beradaan mekanisme pokjanis sebagai pen -<br />

dekatan yang memang seharusnya di lakukan,<br />

dan menjamin tidak terjadinya tumpang<br />

tindih dalam pelaksanaannya.<br />

Sebagai suatu kegiatan yang membutuhkan<br />

intensitas tinggi terutama dalam mendam<br />

pingi pemangku kepentingan kota da -<br />

lam menghasilkan kesepakatan pada se tiap<br />

prosesnya, maka keberadaan tenaga ahli<br />

dalam memberikan fasilitasi secara in te n sif di<br />

setiap kota menjadi persyaratan utama<br />

dalam mendukung keberhasilan program.<br />

Permasalahan yang dihadapi adalah ketersediaan<br />

tenaga ahli sesuai yang dibutuhkan<br />

pada setiap kota/kabupaten di mana SPPIP<br />

ini disusun. Pada beberapa kota besar atau<br />

ibukota provinsi, ketersediaan tenaga ahli<br />

masih memungkinkan. Akan tetapi perlu<br />

dicermati bahwa sebaran tenaga ahli saat<br />

ini belum merata sesuai distribusi dari kota/<br />

kabupaten pelaksana SPPIP. Hal ini pada<br />

gilirannya akan menyebabkan rendahnya<br />

efektifitas pelaksanaan di kota/kabupaten.<br />

Belum meratanya kemampuan tenaga ahli<br />

terkait dengan pendekatan perencanaan<br />

partisipatif, stakeholder approach dan fasilitatif,<br />

merupakan hambatan teknis lain yang<br />

perlu dicermati dalam mendukung ke berhasilan<br />

pelaksanaan SPPIP di masa yang akan<br />

datang.<br />

Berdasarkan pada penerapan kegiatan<br />

Penyusunan Strategi Pengembangan Permukim<br />

an dan Infrastruktur Perkotaan (SPP-<br />

IP) dan Rencana Penyusunan Kawasan Permukiman<br />

Prioritas (RPKPP) di Jawa Timur,<br />

terdapat beberapa hal yang dapat ditarik<br />

benang merahnya untuk dapat dijadikan<br />

pelajaran bersama, baik oleh pemerintah<br />

pusat maupun pemerintah daerah. Adapun<br />

pelajaran pertama yang dapat diambil adalah<br />

terkait dengan proses pelaksanaan kegiatan<br />

sekaligus dokumen keluaran yang dihasilkan.<br />

Disain proses pelaksanaan kegiatan yang<br />

diimplementasikan pada situasi keberadaan<br />

dokumen acuan (RPJPD, RPJMD, dan RTRW)<br />

yang belum terlegitimasi sedangkan telah<br />

banyak dokumen perencanaan sektoral yang<br />

disusun, sebagaimana yang terjadi di Kota<br />

Surabaya, Pasuruan menjadikan kebe ra da an<br />

proses pelaksanaan kegiatan beri kut doku<br />

men yang dihasilkannya me n jadi sangat<br />

strategis. Dalam hal ini, pro ses yang<br />

dilakukan dapat menjadi sarana un tuk melakukan<br />

sinkronisasi dan integrasi terhadap<br />

semua dokumen yang ada, sehing ga ketidaksinergian<br />

kebijakan, stra tegi, dan program<br />

pembangunan dapat ditengarai dan<br />

dikoreksi dari awal. Selain itu, dokumen<br />

SPPIP yang dikeluarkan dari suatu proses<br />

pelaksanaan kegiatan yang dilakukan sebagai<br />

mana mestinya dapat menjadi masukan<br />

bagi penyusunan dokumen acuan yang belum<br />

terlegitimasi tersebut.<br />

Terkait dengan proses pelaksanaan kegiatannya,<br />

secara garis besar, penerapan<br />

yang dilakukan di Jawa Timur dengan berbagai<br />

situasi dan kondisinya masih sejalan<br />

dengan disain awal yang dikembangkan.<br />

Namun proses ini membutuhkan dukungan<br />

dari semua pihak yang terlibat. Desain awal<br />

kegiatan yang mengedepankan pendekatan<br />

partisipatif, fasilitatif, dan teknis akademis<br />

ini, dalam implementasinya perlu didukung<br />

dengan kapasitas pengetahuan yang baik<br />

dari semua pihak yang terlibat, terutamanya<br />

dari anggota PokJaNis sebagai penentu<br />

perumusan hasil SPPIP. Dukungan kapasitas<br />

pengetahuan ini diperlukan terkait dengan<br />

kebutuhan untuk membangun diskusi yang<br />

lebih intensif sehingga dapat menghasilkan<br />

substansi yang benar-benar sesuai dengan<br />

kebutuhan kota. Terkait dengan hal ini, maka<br />

upaya peningkatan kapasitas menjadi suatu<br />

yang penting untuk diperhatikan pada saat<br />

awal pembentukan PokJaNis dan pelibatan<br />

pihak-pihak lain dalam proses penyusunan.<br />

Hal ini sekaligus merupakan pelajaran kedua<br />

yang dapat diambil dari penerapan kegiatan<br />

ini di Jawa Timur.<br />

Selain kedua hal tersebut, pelajaran lain<br />

yang juga dapat diambil adalah ketersediaan<br />

tenaga ahli. Fungsi Kota Surabaya sebagai<br />

ibukota Provinsi Jawa Timur sekaligus salah<br />

satu kota besar di Indonesia, menjadikan<br />

ketersediaan tenaga ahli yang kompeten<br />

yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan<br />

ini bukan menjadi suatu kendala yang<br />

berarti. Tenaga ahli yang kompeten yang<br />

membantu Pokjanis dalam perumusan SP-<br />

P IP dan RPKPP masih memungkinkan untuk<br />

berasal dari kota yang bersangkutan,<br />

sehingga pemahaman terhadap kota dan<br />

intensitas pertemuan menjadi lebih baik.<br />

Kondisi ini akan memungkinkan untuk terjadi<br />

sebaliknya pada kota/kabupaten di luar Jawa.<br />

Ketersediaan tenaga ahli yang kompeten<br />

dapat menjadi kendala dalam pelaksanaan<br />

kegiatan, sehingga tenaga ahli akan banyak<br />

dipenuhi dari kota-kota besar di sekitarnya<br />

yang secara lokasi jauh dari kota/kabupaten<br />

yang sedang melakukan penyusunan SPPIP<br />

dan RPKPP. Terkait dengan hal ini maka perlu<br />

adanya pemikiran yang lebih mendalam<br />

oleh pemerintah pusat maupun pemerintah<br />

daerah mengenai mekanisme penyediaan<br />

tenaga ahli.<br />

*) Kepala Satuan Kerja Pengembangan<br />

Kawa san Permukiman Propinsi Jawa Timur<br />

8 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010


BERITAUTAMA<br />

Berita Utama<br />

Permukiman nelayan Tambak Wedi di kaki jembatan suramadu<br />

Penataan Permukiman Pesisir<br />

di Kaki Jembatan Suramadu<br />

Sugianto Tarigan*)<br />

Di balik kebanggaan bangsa terhadap Jembatan Suramadu dan segala aspek keuntungannya, ternyata masih menyisakan<br />

cerita pahit bagi permukiman nelayan di sekitarnya, terutama di wilayah pinggiran Kota Surabaya. Kawasan pesisir pantai<br />

di sekitar Jembatan Suramadu juga tak luput dari pembangunan kota metropolitan ini, seperti permukiman mewah di<br />

sekitar Jembatan Suramadu, tepatnya di Kelurahan Tambak Wedi Kecamatan Kenjeran yang akan dikembangkan menjadi<br />

Waterfront Central Bussines Distric (Waterfront CBD). Masyarakat di sana rawan terhadap pergeseran (relokasi) akibat<br />

rencana pengembangan Waterfront CBD tersebut.<br />

Rencana perubahan peruntukan kawasan<br />

yang didisain dalam tata ruang kota di lakukan<br />

untuk mendukung tumbuhnya in dustrialisasi<br />

dan perdagangan pasca pem bangunan<br />

Jem batan Suramadu. Na mun, hal ini akan<br />

menyebabkan ruang hi dup war ga pesisir<br />

semakin menyempit dan mung kin akan<br />

me ngalami pergeseran me la lui kebijakan<br />

relokasi. Selain itu, per u bah an disain peruntukan<br />

kawasan yang le bih modern, mengancam<br />

kaum nelayan kehilangan sumber<br />

penghidupan dari per airan laut. Akibatnya,<br />

kemiskinan bagi mereka adalah sebuah<br />

keniscayaan.<br />

Pembangunan jembatan ini pun menyisakan<br />

cerita pahit bagi keberlanjutan sumber<br />

penghidupan masyarakat pesisir. Masalah<br />

BBM (Bahan Bakar Minyak) menjadi kendala<br />

serius. Tingkat konsumsi bahan bakar semakin<br />

bertambah sebagai konsekuensi untuk menjangkau<br />

jarak dan wilayah yang makin jauh.<br />

Jarak yang makin jauh itu disebabkan karena<br />

perahu layar tidak bisa lagi leluasa melintasi<br />

wilayah perairan, karena terhalang oleh keber<br />

adaan Jembatan Suramadu yang melintasi<br />

perairan dengan kokohnya.<br />

Seperti kita ketahui, kawasan pesisir<br />

ada lah lokasi strategis yang dimiliki oleh<br />

ma syarakat, sehingga berpotensi mening -<br />

katkan kualitas masyarakat dan ling kungannya<br />

jika dikelola dengan baik. Pada sisi<br />

lain, pengembangan Kawasan Kaki Jembatan<br />

Suramadu (KKJS) bisa jadi bu merang<br />

jika tidak mampu bersaing de ngan<br />

lingkungan sekitarnya dan kemudian tercipta<br />

kesenjangan.<br />

Untuk meminimalisir konflik di tingkat<br />

komunitas maka pola penataan kawasan Kelurahan<br />

Tambak Wedi Kecamatan Kenjeran,<br />

khususnya pada Kawasan Kaki Jembatan<br />

Su ramadu (KKJS) hendaknya melibatkan masyarakat<br />

sekitar. Dengan melibatkan ma syarakat,<br />

diharapkan akan timbul rasa me miliki<br />

(sense of belonging) untuk tetap memelihara<br />

lingkungannya pasca penataan.<br />

Pada sisi lain, isu lingkungan yang berkelanjutan<br />

(sustainability) memiliki prinsip<br />

meng hargai dan melibatkan peng guna da -<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 9


lam memecahkan masalah sehingga diper -<br />

lukan respon lokal mengenai bentuk pola<br />

penataan kawasan permukiman agar<br />

ha sil nya sesuai dengan pola hidup ma syarakat<br />

dan mudah diadaptasi. Proses ini disebut<br />

environmental probabilism, yaitu sebuah<br />

proses yang me libatkan pengguna di<br />

dalamnya melalui se rangkaian diskusi dan<br />

tanya jawab yang ak an menghasilkan respon<br />

pengguna untuk dipertimbangkan dalam<br />

bentuk penataan.<br />

Penataan Permukiman<br />

Pola Penataan Permukiman yang baik dan<br />

tertata akan tercipta apabila memenuhi kriteria<br />

ideal aspek fisik dan non fisik. Aspek fisik<br />

meliputi letak geografis, lingkungan alam<br />

dan binaan, serta sarana dan infrastruktur.<br />

Sedangkan aspek non fisik meliputi aspek<br />

politik, ekonomi, sosial dan budaya.<br />

Selain aspek tersebut di atas, ada satu<br />

aspek yang perlu diperhatikan, yaitu aspek<br />

psikologis. Aspek psikologis meliputi rasa<br />

aman, tentram, senang, atau ketakutan<br />

yang dirasakan oleh masyarakat penghuni<br />

permukiman. Kriteria yang telah disebutkan<br />

di atas sebaiknya terpenuhi, karena jika tidak<br />

terpenuhi dengan baik, maka permukiman<br />

tersebut belum dapat dikatakan sebagai tempat<br />

hunian yang baik atau permukiman tidak<br />

tertata.<br />

Aspek fisik didukung oleh permukiman<br />

nelayan yang tertata setidaknya perlu mencakup<br />

hal-hal berikut: tidak mengganggu<br />

ekosistem pesisir pantai dan laut, memiliki<br />

drainase terhadap pola pasang surut air<br />

laut, keberadaan air bersih, serta sistem<br />

pengolahan limbah.<br />

Arahan Penataan Permukiman Tambak<br />

Wedi<br />

Arahan penataan permukiman nelayan<br />

Tam bak Wedi dibagi dalam dua aspek, fisik<br />

dan non fisik. Variabel fisik sebagai arahan<br />

penataan permukiman nelayan, dapat digambarkan<br />

sebagai berikut;<br />

· Pertama, Lo kasi geografis yang meliputi;<br />

aksesibilitas me madai keluar dan ke dalam<br />

permukiman; aksesibilitas nelayan<br />

terhadap shoreline melalui jalur khusus;<br />

dan ketersediaan der maga yang dekat<br />

dengan permukiman.<br />

· Kedua, lingkungan alam yang meliputi;<br />

penetapan garis sempadan pantai minimal<br />

100 meter dari titik pasang tertinggi;<br />

penetapan daratan pantai dengan fungsi<br />

permukiman dan pengolahan selebar<br />

Peta udara penataan kawasan permukiman di kaki jembatan suramadu<br />

Pola Penataan Permukiman yang baik dan tertata akan tercipta<br />

apabila memenuhi kri teria ideal aspek fisik dan non fisik. Aspek<br />

fisik meliputi letak geografis, lingkungan alam dan binaan, serta<br />

sarana dan infrastruktur. Sedangkan aspek non fisik meliputi<br />

aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya.<br />

400m – 2km dari GSP; dan pemikiran<br />

terhadap isu pemanasan global dan<br />

antisipatif terhadap kenaikan muka air<br />

laut.<br />

· Ketiga, Lingkungan permukiman. Hal<br />

ini meliputi; orientasi dua arah bagi permukiman<br />

nelayan tangguh dan pe ngolah<br />

ikan, yaitu waterfront dan inside-out<br />

tersusun dalam komposisi ruang yang<br />

berulang (continuity of space); penggunaan<br />

central place dalam cluster sebagai ruang<br />

pengolahan dengan barier tertentu; dan<br />

mempertahankan struktur ruang sosial<br />

yang telah tercipta sebelumnya dalam<br />

per mukiman eksisting.<br />

· Keempat, prasarana dan sarana. Aspek<br />

ini meliputi; penyediaan air minum di<br />

permukiman dan ruang pengolahan;pe -<br />

nyediaan jalan sebagai sarana trans por tasi<br />

sekaligus pencegah perambat an kebakaran<br />

dan jalur evakuasi mela lui jarak<br />

yang sudah ditetapkan. Mem per tahankan<br />

sis tem IPAL yang ada dan mengem bangkan<br />

sistem UASP pada kawasan pe sisir<br />

yaitu; pemberdayaan masyarakat da lam<br />

pengolahan sampah organik dan pengu<br />

atan sistem koperasi sebagai sarana<br />

ekonomi pendukung kehidupan nelayan.<br />

Variabel Non fisik sebagai arahan pengem<br />

bangan potensi permukiman ne la yan<br />

dari hasil eksplorasi potensi se tem pat, dapat<br />

digambarkan sebagai be r ikut; pertama,potensi<br />

kelembagaan ne layan. Mem per tahan<br />

kan kelembagaan nela yan lokal yang<br />

su dah terbentuk dan memacu persaingan<br />

sehat serta pembinaan kenelayanan sejak<br />

dini. Kedua, potensi kemandirian ekonomi<br />

nelayan. Mengembangkan sentra industri<br />

pengasapan melalui konsep smoked fish-to-go<br />

yaitu proses, kemas, dan jual dalam satu area;<br />

Memudahkan akses nelayan dalam kegiatan<br />

pemasaran ikan dan olahannya melalui kope<br />

rasi. Ketiga, potensi kemasyarakatan. Mengasah<br />

kemampuan formal dan informal<br />

kenelayanan sejak dini melalui ekstrakurikuler<br />

tingkat SD. Dan keempat, potensi keunikan<br />

dan budaya pariwisata. Adat larung sesajen<br />

sebagai point of interest ; Lomba perahu layar<br />

yang dilaksanakan setiap Agustus menjadi<br />

10 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010


BERITAUTAMA<br />

atraksi yang menarik di bawah kaki Jembatan<br />

Suramadu.<br />

Rekomendasi penataan permukiman pesisir<br />

Tambak Wedi<br />

Dalam Penanganan penataan permukiman<br />

pesisir di Kelurahan Tambak Wedi, Kecamatan<br />

Kenjeran, Kota Surabaya, direkomendasi bebe<br />

rapa upaya sebagai berikut:<br />

· Pertama, Memperhatikan fungsi dan kebutuhan<br />

kawasan. Dalam pengem bangan<br />

kawasan harus memperhatikan fungsi<br />

kawasan itu sendiri. Permukiman pesisir<br />

Tambak Wedi memiliki aktivitas utama nelayan<br />

selain aktivitas lainnya. Oleh karena<br />

itu pengembangan permukiman harus<br />

mendukung perkembangan aktivitas ini.<br />

Pola nearby relocation yang akan dite rapkan<br />

seharusnya tetap memberikan akses<br />

yang memadai bagi aktivitas nelayan.<br />

· Kedua, memperhatikan peran kawasan<br />

terhadap perkembangan kawasan Sura<br />

madu. Jembatan Suramadu telah terbangun,<br />

selanjutnya akan dikem bangkan<br />

Waterfront CBD yang dapat mendongkrak<br />

aktivitas ekonomi Kota Surabaya dan<br />

regional Jawa Timur secara lebih luas.<br />

Oleh karena itu, kawasan permukiman<br />

pesisir Tambak Wedi harus ditingkatkan<br />

kualitasnya agar dapat berfungsi maksimal<br />

dan dapat mendukung kegiatan<br />

wisata Suramadu. Ketersediaan dermaga<br />

kapal nelayan, tempat pelelangan ikan,<br />

pasar, dan layanan lainnya perlu diperhatikan<br />

agar permukiman nelayan<br />

dapat berkembang.<br />

· Ketiga, pengelolaan lahan. Prinsip near<br />

by relocation dan land sharing yang<br />

akan diterapkan di dalam pena ta an permukiman<br />

pesisir yang akan dikembangkan<br />

sebagai kawasan water front CBD<br />

Suramadu, permukiman pe si sir di Tambak<br />

Wedi terpaksa harus di pindahkan<br />

dengan syarat tetap memiliki akses ke<br />

laut. Mengingat sebagian masyarakat<br />

berprofesi sebagai nelayan.<br />

Menurut wawancara yang dilakukan ter -<br />

hadap sampel warga Tambak Wedi, diperoleh<br />

kesimpulan bahwa pada dasar nya<br />

penduduk tidak keberatan dipin dahkan<br />

selama masih dapat menjalankan aktivitas<br />

seperti semula. Dalam proses relokasi yang<br />

dekat dengan lokasi awal, masyarakat<br />

juga perlu diberikan kebebasan untuk<br />

menentukan komunitas mereka sendiri<br />

yang didasarkan atas ta tanan sosial, ikatan<br />

keluarga dan jenis pekerjaan. Land sharing<br />

merupakan alter natif penyelesaian pembagian<br />

lahan di an tara masyarakat melalui<br />

kesepakatan masing-masing pihak<br />

dengan diketahui oleh pihak yang berwenang<br />

atas pen catatan lahan, yakni BPN<br />

(Badan Per tanahan Nasional)<br />

· Keempat, pengelolaan Prasarana dan<br />

Sa rana. Arahan pembangunan prasara -<br />

na dan sarana yang dilakukan di permukiman<br />

pesisir Tambak Wedi, harus<br />

mem perhatikan kebutuhan masya rakat<br />

se tempat yang sebagian besar pen duduknya<br />

merupakan nelayan.<br />

Dalam proses pembangunan infrastruktur<br />

harus melibatkan sepenuhnya masyarakat<br />

sebagai pengguna dan agar masyarakat<br />

mempunyai rasa memiliki lingkungannya.<br />

Kondisi prasarana dan sarana harus didesain<br />

sedemikian rupa sehingga dapat<br />

berfungsi dengan baik di lokasi yang<br />

dekat dengan laut.<br />

Prasarana yang mesti disediakan dalam<br />

permukiman pesisir Tambak Wedi meliputi<br />

: jalan akses, akses menuju laut, saluran<br />

drainase, saluran limbah, pengelolaan<br />

sam pah, air bersih, sarana pengolahan dan<br />

pengeringan produk tangkapanla ut, pasar<br />

atau tempat pelelangan ikan, dan lain-lain.<br />

Dalam pengelolaan prasarana dan sarana<br />

diperlukan dukung an pemerintah daerah<br />

dalam hal ini Pemerintah Kota Surabaya<br />

dan juga ma sya rakat sendiri sebagai<br />

peng guna. Peran kedua belah pihak<br />

ini diperlukan agar kondisi prasarana<br />

dan sarana yang sudah tersedia dapat<br />

terpelihara secara maksimal.<br />

· Kelima, pembiayaan perumahan. Peme -<br />

rintah Kota Surabaya juga mengenal<br />

lem baga keuangan yang dapat membiayai<br />

pembangunan perumahan seperti<br />

bank pemerintah maupun swasta,<br />

ko pe rasi, dan lain-lain. Dalam kasus relokasi<br />

permukiman Tambak Wedi, masyarakat<br />

mempunyai hak atas lahan<br />

yang saat ini mereka tempati, sehingga<br />

penggantian lahan di lokasi lain menjadi<br />

hal mutlak, karena masyarakat memang<br />

menghendaki demikian. Pembiayaan ter -<br />

hadap penggantian lahan dapat di la ku -<br />

kan oleh pemerintah kota, sedang pem bangunan<br />

perumahan dapat dilaku kan oleh<br />

swasta sebagai kom pensasi di ijinkannya<br />

berinvestasi di kawasan ter se but.<br />

· Keenam, kelembagaan dalam Pe ngembangan<br />

Perumahan. Kelompok-ke lompok<br />

masyarakat di Kelurahan Tam bak Wedi<br />

perlu diberdayakan agar dapat ter libat<br />

se cara aktif dalam proses pe ren canaan<br />

pembangunan per mukiman Tambak<br />

Wedi. Untuk itu, perlu adanya arahan<br />

pen dampingan agar merekamam pu meren<br />

canakan dan memelihara ling kungan<br />

permukimannya dengan du kung an pe merintah<br />

kota. Kemitraan de ngan kelompokkelompok<br />

di luar Tam bak We di perlu pula<br />

dijalin dan ditingkatkan, agar terjadi saling<br />

tukar informasi dan perkembangan di<br />

daerah lainnya.<br />

Peran perguruan tinggi ITS (Institut Teknologi<br />

Surabaya) dalam hal ini sangat di harapkan<br />

untuk menjembatani an ta ra ma syarakat,<br />

dengan Pemerintah Kota Sura baya, Pengelola<br />

Kawasan Suramadu, in vestor dan<br />

lembaga lainnya yang terkait. Pe me rin tah<br />

Kota Surabaya diharapkan dapat me netapkan<br />

peraturan dan regulasi yang berpihak<br />

kepada masyarakat Tambak Wedi serta<br />

mampu mengakomodasi kepentingan<br />

investasi bagi perkembangan perekonomian<br />

Kota Surabaya.<br />

Diharapkan dengan arahan penataan<br />

per mukiman pesisir di bawah kaki Jembatan<br />

Suramadu, dapat memberikan manfaat bagi<br />

masyarakat pesisir di kaki untuk meningkatkan<br />

kehidupan yang lebih baik pasca<br />

pembangunan Jembatan Suramadu.<br />

*) Staf Subdit Pengembangan Permukiman<br />

Baru, Dit. Pengembangan Permukiman,<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 11


Liputan Khusus<br />

Apa kata dunia jika mendengar sebanyak 100<br />

juta orang Indonesia belum mendapatkan<br />

akses air minum dan sanitasi yang layak<br />

Itu artinya sama dengan seluruh penduduk<br />

Filipina ramai-ramai ambil air dan buang air di<br />

Sungai Pasig. Kondisi sanitasi Indonesia saat<br />

ini banyak yang mengamini sedang terpuruk.<br />

Makanya perlu akselerasi program yang<br />

cepat dan dukungan dana dan komitmen<br />

antar pihak.<br />

Status Pencapaian Millenium Development<br />

Goals (MDGs) Indonesia 2009, menurut<br />

Jalur Cepat Mencapai MDGs<br />

Bersama PAMSIMAS<br />

PAMSIMAS Desa Petanang Kecamatan Lembat,Kabupaten Muara Enim.<br />

sumber dari Direktorat Evaluasi Kinerja Pembangunan<br />

Sektoral, Bappenas, penduduk<br />

dengan akses air minum yang layak (perpipaan<br />

dan non perpipaan terlindungi) sebesar<br />

47,3% dari target tahun 2015 sebesar<br />

60,3%. Sedangkan akses sanitasi yang layak<br />

sudah tercapai 51% dari target sebesar 62,4%.<br />

Ada dua jalur utama yang saat ini ditempuh<br />

pemerintah Indonesia dalam mencapai target<br />

MDGs bidang air minum dan sanitasi,<br />

yaitu jalur normal dan jalur cepat. Termasuk<br />

jalur normal antara lain; peningkatan cakupan<br />

pelayanan maupun kualitas yang dimulai<br />

dari fase perencanaan advokasi maupun<br />

reformasi kebijakan, pendanaan dari<br />

berbagai sumber termasuk hibah, dan on<br />

going program seperti PPSP (Percepatan<br />

Pembangunan Sanitasi Perkotaan), STBM<br />

(Sa nitasi Total Berbasis Masyarakat), WAS-<br />

POLA, INDII, maupun JICA. Sedangkan the<br />

fast track terdiri dari on going program seperti<br />

Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi<br />

Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS), Sanitasi<br />

Berbasis Masyarakat (SANIMAS), CWSH<br />

(Community Water Supply and Health), Pro Air,<br />

dan Denpasar Sewerage Development Project<br />

(DSDP).<br />

Di bidang air minum, Pemerintah telah<br />

menetapkan rencana tindak pengembangan<br />

Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) baik<br />

melalui sistem cost recovery dan non<br />

cost recovery. Di tengah perjalanan cepat<br />

pemerintah mencapai titik target MDGs pada<br />

2015, rasanya tak salah jika dilakukan langkah<br />

dan cara apa saja asal benar, salah satunya<br />

mendorong SPAM berbasis masyarakat, termasuk<br />

PAMSIMAS. Akses air minum dan<br />

sanitasi dari PAMSIMAS mulai banyak menjawab<br />

problem kesehatan masyarakat perdesaan,<br />

terpencil dan marjinal.<br />

Pengembangan SPAM dengan sistem<br />

cost recovery meliputi fasilitasi penyediaan<br />

air baku untuk air minum dan fasilitasi<br />

penyediaan air minum (PDAM). Sistem yang<br />

satu itu memang penting, tapi sambil menguji<br />

kemandirian PDAM, pemerintah sebaiknya<br />

mulai memaksimalkan sistem non<br />

cost recovery yang selama ini tak terjangkau<br />

pemodal. Sistem non cost recovery meliputi<br />

pengembangan SPAM skala kecil (perdesaan)<br />

yang pembiayaannya didorong melaluiDAK;<br />

fasilitasi pengembangan SPAM pada IKK;<br />

kawasan perbatasan/pulau terdepan; fasilitasi<br />

pengembangan SPAM bagi kawa s-<br />

an-kawasan tertinggal; dan fasilitasi peng -<br />

em bangan SPAM bagi perdesaan (desa<br />

ra wan air) melalui pemicuan perubahan pe -<br />

ri laku menjadi hidup bersih dan sehat, pembangunan<br />

modal so sial, capacity building<br />

bagi masyarakat, serta pembangunan dan<br />

pe ngelolaan SPAM berbasis masyarakat.<br />

Direktur Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kemente<br />

rian Pekerjaan Umum, Budi Yuwono, saat<br />

membuka Road Show PAMSIMAS di Pa-<br />

12 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010


LIPUTANKHUSUS<br />

Di bidang air minum, Pemerintah telah menetapkan rencana<br />

tindak pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)<br />

ba ik melalui sistem cost recovery dan non cost recovery.<br />

lembang akhir Juli lalu mengatakan, sebagai<br />

motor penggerak program PAMSIMAS telah<br />

dibentuk perangkat kerja mulai dari tingkat<br />

pusat hingga desa/kelurahan sasaran. Kunci<br />

keberhasilan program PAMSIMAS menurut<br />

Budi Yuwono, adalah kuatnya koordinasi stake<br />

holder terkait, baik lintas sektor (Bap peda,<br />

Dinas PU <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, Dinkes, Dinas/Badan<br />

Pemberdayaan Masyarakat, Konsultan) maupun<br />

lintas wilayah (Pusat, Provinsi, Kab/kota<br />

hingga desa/kelurahan sasaran).<br />

Selain itu, tata penyelenggaraan program<br />

yang baik, program terselenggara sesuai<br />

urutan proses yang benar (diawali<br />

pem berdayaan dan promosi kesehatan un -<br />

tuk mengubah perilaku masyarakat, baru<br />

pelaksanaan fisik dan pengelolaan sarana<br />

air minum dan sanitasi) serta proses pembentukan<br />

Rencana Kerja Masyarakat (RKM)<br />

secara partisipatif dan demokratis guna<br />

menghindari potensi konflik pelaksanaan di<br />

masyarakat juga merupakan salah satu dari<br />

kunci keberhasilan program PAMSIMAS ini.<br />

Pada kesempatan yang sama, Budi Yuwono<br />

juga menegaskan bahwa pe nguasaan<br />

lapangan dan standar kualitas pe laksanaan<br />

fisik air minum dan sanitasi, untuk<br />

menjamin keberlanjutan pemanfaatan dan<br />

pemeliharaan sarana yang terbangun dan<br />

kesiapan Badan Pengelola Sarana setelah<br />

pelaksanaan fisik selesai, untuk memelihara<br />

dan mengembangkan cakupan pelayanan<br />

air minum yang telah terbangun serta monitoring<br />

dan pencatatan keseluruhan rangkaian<br />

progres program turut menjadi kunci<br />

sukses.<br />

”PAMSIMAS merupakan peran ban tu Pemerintah<br />

Pusat dalam rangka memper cepat<br />

daerah dalam memenuhi layanan AMPL, oleh<br />

karenanya PAMSIMAS perlu di ke lola dengan<br />

baik dengan prinsip ke berlanjutan oleh Pemerintah<br />

Daerah sendiri,” tegasnya.<br />

Road show di wilayah Sumatera ini merupakan<br />

road show pertama program PAM-<br />

SIMAS Tahun 2010, yang nanti akan disusul<br />

dengan road show lainnya secara marathon di<br />

wilayah Jawa, Sulawesi dan Kalimantan dan<br />

wilayah timur yang akan diadakan di Kupang,<br />

NTT.<br />

Dalam sambutan yang diwakili oleh Staf<br />

Ahli Gubernur Bidang Pembangunan, H.<br />

Ru s li Nawi, road show ini betul-betul dapat<br />

dimanfaatkan dan dioptimalkan, sehingga<br />

dapat menghasilkan keputusan-keputusan<br />

yang berguna bagi program PAMSIMAS<br />

di daerah kita masing-masing. Karena keber<br />

hasilan kegiatan ini tidak terlepas dari<br />

dukungan dan partisipasi pemerintah pu sat,<br />

pemerintah provinsi dan terutama pemerintah<br />

Kabupaten/Kota, serta dukungan riil<br />

masyarakat.<br />

”Oleh karena itu kami sangat mengharapkan<br />

para Bupati/Walikota dan DPRD<br />

Kabupaten/Kota memberikan dukungan da -<br />

lam penyelenggaraan pengembangan PAM-<br />

SIMAS yang lebih baik, terutama me nyiapkan<br />

desa sasaran 2011, APBD, Dana Daerah<br />

untuk Kegiatan Bersama (DDUB) dan Biaya<br />

Operasional (BOP),” tuturnya pada acara pembukaan<br />

road show di Palembang, 19/7.<br />

Pada kesempatan itu juga, Rusli Nawi<br />

berharap, program Pamsimas tahun 2011<br />

disiapkan sedari dini, terutama dalam menyiapkan<br />

desa sasaran tahun 2011 dan<br />

menyiapkan anggaran pendamping. Begitu<br />

juga terhadap hasil program Pamsimas<br />

tahun 2008 dan 2009, seyogyanya dapat<br />

dikelola dan dimanfaatkan dengan baik guna<br />

meningkatkan kesejahteraan dan derajat<br />

kesehatan masyarakat miskin di perdesaan<br />

dan pinggiran perkotaan.<br />

Kepala Satker PPIP Tanozisochi Lase<br />

me ng ungkapkan, melalui road show ini dila<br />

kukan sosialisasi ulang kepada para pengambil<br />

kebijakan di daerah mengenai<br />

prin sip, pendekatan, serta strategi Program<br />

PAMSIMAS. “Diharapkan dengan adanya<br />

ro ad show akan terbangun pemahaman<br />

yang sama dan melahirkan kepedulian para<br />

pengambil kebijakan di daerah terhadap<br />

implementasi dan keberlanjutan Program<br />

PAMSIMAS.”<br />

Keberlanjutan<br />

Setelah setahun penyiapan dan dua ta hun<br />

terakhir dilaksanakan, PAMSIMAS mu lai mendapatkan<br />

sorotan dari aspek ke ber lan jutan<br />

manfaat prasarana dan sarana air minum dan<br />

sanitasi yang dihasilkan. Apalagi program<br />

ini akan berakhir pada 2011 sesuai yang<br />

dicanangkan Bank Dunia sebagai pendonor.<br />

Tak kurang, Direktur Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Kementerian Pekerjaan Umum Budi Yuwono<br />

menegaskan hal itu saat meninjau<br />

lokasi PAMSIMAS di Kabupaten Ogan Ilir<br />

dan Kabupaten Muaran Enim Sumatera Se-<br />

latan, akhir bulan lalu. Buah karya bersama<br />

masyarakat dalam PAMSIMAS akan sa ngat<br />

disayangkan jika tidak dipikirkan keber lanjutnnya.<br />

“Kunci keberhasilan PAMSIMAS ini adalah<br />

bagaimana kontribusi masyarakat dalam<br />

me ngelola infrastruktur ini. Ada banyak hal,<br />

salah satunya kepedulian warga untuk menyediakan<br />

dana operasional melalui pe netapan<br />

tarif atau retribusi yang adil dan wajar<br />

untuk mengantisipasi kerusakan mesin pompa,<br />

bahkan bagaimana jika cadangan air semakin<br />

berkurang. Dalam hal ini Pemda harus<br />

turun tangan untuk membantu, jangan hanya<br />

jadi penonton diam,” terang Budi Yuwono.<br />

Seperti tekad yang ditunjukkan warga<br />

Ulak Segeulung, Kabupaten Ogan Ilir,<br />

Sumatera Selatan. Lewat Lembaga Keswadayaan<br />

Masyarakat (LKM) <strong>Karya</strong> Bersama<br />

yang dipimpin Awaluddin, mereka berhasil<br />

membangun 6 unit sumur bor yang dilengkapi<br />

menara penampung air, 1 unit MCK<br />

Umum, dan 8 unit sarana Cuci Tangan Pakai<br />

Sabun (CTPS) di Sekolah Dasar Ulak Segelung.<br />

Mereka menerima manfaat ini sejak tahun<br />

2009 dengan bantuan langsung sebesar Rp<br />

250 juta dari pemerintah pusat dan APBD,<br />

serta swadaya masyarakat baik berupa dana<br />

(in cash) maupun material dan tenaga (in<br />

kind).<br />

“Kami menetapkan tarif kepada kelompok<br />

masyarakat pemakai Rp 4.500 per bulan. Jika<br />

dirata-ratakan sebulan memerlukan Rp 120<br />

ribu untuk operasional mesin per unitnya,<br />

maka sisa per bulannya didapat sebesar Rp 20<br />

ribu. Sisanya akan dikumpulkan jika sewaktuwaktu<br />

ada kerusakan mesin,” jelas Awaludin<br />

kepada rombongan.<br />

Lain di Ulak Segelung, lain pula di Desa<br />

Petanang Kecamatan Lembat Kabupaten<br />

Mua ra Enim. Dengan dana kurang lebih<br />

sama, LKM Bersama membangun 11 unit<br />

sumur bor plus menara penampung air.<br />

Selain dipakai masyarakat di tempat, LKM<br />

juga menyalurkannya sepanjang 1.000 meter<br />

ke rumah warga. Dari 11 penampungan,<br />

cuma 2 unit saja yang belum disalurkan ke<br />

sambungan rumah.<br />

Bahkan di desa ini pemeliharaannya lebih<br />

efisien, yakni Rp 105 ribu per unit per bulan.<br />

Sedangkan tarif yang dikenakan masyarakat<br />

pemakai sebesar Rp 5000 hingga Rp<br />

10.000. Pompa mampu mengaliri air ke bak<br />

penampung hingga penuh selama enam jam<br />

per hari. Dengan kemampuan ini, 80% dari<br />

sekitar 520 KK sudah menikmati air minum<br />

dari PAMSIMAS ini. (bcr)<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 13


Bupati Padang Pariaman, Muslim Kasim:<br />

“Rp 30 Miliar dari Padang<br />

Pariaman untuk PAMSIMAS”<br />

Membangun prasarana dan sarana kesehatan seperti PAMSIMAS jauh lebih baik dibandingkan<br />

membangun banyak rumah sakit dan menambah anggaran pengobatan.<br />

“Jadikan PAMSIMAS se perti Program<br />

Keluarga Berencana (KB) yang didukung<br />

oleh semua kalangan, baik dari pemerintah<br />

hingga pemuka agama,”<br />

Bupati Padang Pariaman, Muslim Kasim<br />

14 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010<br />

Dalam rangka persiapan program Penyediaan<br />

Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat<br />

(PAMSIMAS) tahun 2011, Bupati<br />

dan Ketua DPRD Padang Pariaman beserta 2<br />

perwakilan kepala daerah dari Propinsi Riau<br />

dan Sumatera Selatan menandatangani Nota<br />

Kesepakatan PAMSIMAS pada acara road<br />

show program Pamsimas 19-22 Juli 2010 lalu.<br />

PAMSIMAS memberikan sumbangsih pe -<br />

ning katan kesehatan masyarakat Indo nesia<br />

dengan indikator menurunnya angka<br />

ke ma tian anak. Perlu diperhatikan oleh semua<br />

pihak, membangun prasarana dan<br />

sa rana kesehatan seperti PAMSIMAS jauh<br />

lebih baik dibandingkan membangun<br />

banyak rumah sakit dan menambah<br />

ang garan pengobatan. Seperti yang<br />

diungkapkan oleh seorang pa kar di<br />

Amerika, memberikan anggaran<br />

US $ 1 untuk olahraga dan kesehatan<br />

akan mengurangi US<br />

$ 3,5 biaya pengobatan.


LIPUTANKHUSUS<br />

oleh permukiman di sekitarnya. PAMSIMAS<br />

juga tidak terlepas dari kampanye perubahan<br />

perilaku, percuma saja jika prasarananya<br />

sudah dibangun tapi budaya masyarakat<br />

lebih memilih BAB di sungai karena perilaku<br />

turun temurun dan sambil silaturahmi dengan<br />

yang lain. “Jadikan PAMSIMAS seperti<br />

Program Keluarga Berencana (KB)<br />

yang didukung oleh semua kalangan, dari<br />

pemerintah hingga pemuka agama,” ujar<br />

Kasim.<br />

PAMSIMAS Ulak Segeulung, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan juga menyediakan prasana Cuci Tangan<br />

Pakai Sabun di SD setempat<br />

“Pengetahuan masyarakat ten tang sanitasi<br />

dan kesehatan masih minim sehingga<br />

perlu sosialisasi yang intens. Pe merintah<br />

dae rah juga harus mempertegas wilayah<br />

mana yang harus mendapatkan PAMSIMAS,<br />

dan wilayah mana lagi yang harus diberikan<br />

program-program PNPM Mandiri lainnya,”<br />

tegas Kasim yang baru saja terpilih menjadi<br />

Wakil Gubernur Sumatera Barat periode<br />

2010-2014.<br />

Anggaran pemda memang masih minim.<br />

Seperti DAU yang sudah habis separuhnya<br />

lebih untuk belanja aparat. Sehingga perlu<br />

kreatifitas untuk menganggarkan programprogram<br />

sejenis PAMSIMAS ini. “Kalau di<br />

Kabupaten Padang Pariaman, tahun ini saja<br />

kami menganggarkan Rp 30 miliar untuk<br />

PAMSIMAS, padahal APBD kami sekitar Rp<br />

800 miliar. Komitmen kami ini tentu saja<br />

didukung oleh DPRD, tidak bisa Pemdanya<br />

saja,” ucap Kasim.<br />

Penentuan lokasi PAMSIMAS di Kabupaten<br />

Padang Pariaman dipengaruhi oleh<br />

banyaknya jumlah sungai (kali) yang diikuti<br />

Nota Kesepakatan<br />

Bupati/Walikota dan Ketua DPRD Kabupaten/<br />

Kota pelaksana Program PAMSIMAS Region<br />

1 menandatangani nota kesepakatan se ba -<br />

gai bentuk komitmen mendukung pelaksanaan<br />

Program Pamsimas. Ada 7 butir<br />

yang merupakan isi dari kesepakatan yang<br />

dibacakan oleh Ketua CPMU PAMSIMAS,<br />

S. Bellafolijani. Nota kesepakatan ini di tandatangani<br />

secara bergantian di hadapan<br />

peserta Road Show Pamsimas yang dilaksanakan<br />

pada 19-22 Juli kemarin di Palembang,<br />

Sumatera Selatan. Selain Bupati/<br />

Walikota dan Ketua DPRD, nota kesepakatan<br />

juga ditandatangani (mengetahui) Kepala<br />

Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan<br />

Air Minum (PK-PAM) dari provinsi masingmasing.<br />

(bcr/berbagai sumber)<br />

Inilah isi Nota Kesepakatan sebagai bentuk komitmen mendukung pelaksanaan program PAMSIMAS :<br />

1. Penyediaan air minum dan sanitasi dasar merupakan tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah sesuai Undang-Undang No. 32 Tahun<br />

2004. Melalui road show ini, kami menegaskan kembali komitmen dalam mendukung Program Nasional PAMSIMAS sebagai upaya untuk<br />

meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar, dan sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan tujuan Millennium<br />

Development Goals (MDGs).<br />

2. Merujuk Surat Edaran Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Departemen Dalam Negeri No. 900/1307/IV/Bangda tanggal 11<br />

September 2006 tentang Pelaksanaan Kegiatan dan Kebutuhan Dana Pendamping Program PAMSIMAS; dengan ini Pemerintah Daerah<br />

menegaskan kembali komitmen atas partisipasinya dalam Program PAMSIMAS dan akan menyediakan dana pendukung APBD untuk<br />

Dana Daerah untuk Program Bersama (DDUB), biaya operasional proyek (BOP) untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan<br />

monitoring, evaluasi dan supervisi program PAMSIMAS tahun 2011.<br />

3. Pemerintah Daerah akan melakukan sosialisasi Program PAMSIMAS kepada masyarakat guna memberi pemahaman yang benar terhadap<br />

konsep dan pendekatan Program PAMSIMAS. Hal ini akan dilakukan dalam rangka mempersiapkan desa sasaran untuk TA 2011. Terhadap<br />

desa sasaran TA 2011 dan tahun selanjutnya akan dilakukan sosialisasi dan promosi Program PAMSIMAS secara lebih baik.<br />

4. Beberapa daerah telah memiliki dokumen rencana strategi (RENSTRA) pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis<br />

Masyarakat (AMPL BM). Meski demikian banyak daerah pelaksana Program PAMSIMAS belum memiliki dokumen RENSTRA di bidang<br />

AMPL BM. Oleh karena itu guna mendukung pelaksanaan Program PAMSIMAS, kami akan segera mengupayakan terwujudnya dokumen<br />

perencanaan pembangunan AMPL BM guna mendukung pengadopsian dan perluasan pendekatan PAMSIMAS.<br />

5. Untuk keberhasilan Program PAMSIMAS mendatang, kami akan menyerahkan daftar usulan desa sasaran (shortlist) TA 2011 selambatlambatnya<br />

sebelum akhir bulan September tahun 2010, yang disertai dengan kesanggupan kami untuk menyediakan dana pendamping<br />

APBD sesuai jumlah desa sasaran yang kami usulkan.<br />

6. Melaksanakan program replikasi dengan rincian pendanaan RKM (Rencana Kerja Masyarakat), 80% dari APBD dan 20% dari kontribusi<br />

masyarakat (4% in-cash dan 16% in-kind) sesuai ketentuan yang berlaku.<br />

7. Menyediakan biaya perekrutan, pelatihan dan gaji fasilitator, serta biaya operasional bagi Bappeda, Dinas PU, Dinas Kesehatan, dan BPMD<br />

serta Tim Kecamatan dalam rangka pelaksanaan program PAMSIMAS. (bcr/berbagai sumber)<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 15


Info Baru 1<br />

Permukiman vertikal identik dengan daerah<br />

perkotaan. Dalam Pedoman Pelaksanaan<br />

Pe ngelolaan Rusunawa (Rumah Susun Sederhana<br />

Sewa), <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, Kementerian<br />

Pekerjaan Umum, juga dise butkan<br />

bahwa pembangunan Rusunawa adalah<br />

“da lam rangka peningkatan penye diaan perumahan<br />

khususnya pada daerah-daerah<br />

perkotaan dan daerah-daerah in dustri”.<br />

Sedangkan dalam Undang-undang nomor<br />

16 tahun 1985 tentang Rumah Susun<br />

disebutkan pada bagian menimbang: “bahwa<br />

dalam rangka peningkatan daya guna dan<br />

hasil guna tanah bagi pembangunan perumahan<br />

dan untuk lebih meningkatkan<br />

kualitas lingkungan pemukiman terutama<br />

di daerah-daerah yang berpenduduk padat<br />

tetapi hanya tersedia luas tanah yang<br />

terbatas”. Daerah berpenduduk padat dengan<br />

luas tanah yang terbatas ini memang<br />

merupakan salah satu ciri khas daerah perkotaan.<br />

Namun, dengan adanya Undang-undang<br />

no mor 41 tahun 2009 tentang Per lin dungan<br />

Lahan Pertanian Pangan Berke lanjutan, masa<br />

lah keterbatasan lahan un tuk per mukiman<br />

tidak akan menjadi ma salah daerah perkotaan<br />

saja. Daerah per desaan pun, ter utama<br />

di Pulau Jawa akan mengalaminya.<br />

Undang-undang ini bertujuan untuk<br />

men jamin ketersediaan pangan bagi masyara<br />

kat Indonesia dengan cara melindungi<br />

la han pertanian tanaman pangan dari alih<br />

fungsi lahan. Laju alih fungsi lahan perta<br />

nian produktif di Indonesia mencapai<br />

35.000 hekar per tahun, dan untuk Pulau<br />

16 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010


INFOBARU 1<br />

Permukiman Vertikal<br />

untuk Perdesaan<br />

Pulau Jawa<br />

Nurdien Adji*)<br />

Dengan adanya Undang-undang nomer 41 tahun 2009 tentang Perlindungan<br />

Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, di mana UU ini menjamin ketersediaan<br />

pangan bagi masyarakat Indonesia dengan cara melindungi lahan pertanian<br />

tanaman pangan dari alih fungsi lahan, maka masalah keterbatasan lahan<br />

untuk permukiman tidak akan menjadi masalah daerah perkotaan saja. Daerah<br />

perdesaan pun, terutama di Pulau Jawa akan mengalaminya.<br />

Foto Kiri : Rusunawa Cimahi II<br />

Foto Kanan : Permukiman perdesaan yang padat<br />

Jawa saja mencapai 13.400 hektar per tahun<br />

untuk lahan pertanian dengan irigasi teknis<br />

(Keynote Speech Menteri Pekerjaan Umum<br />

pada Rapat Kerja Daerah Se-Pulau Jawa-Bali<br />

dan Sumatera di Semarang, Desember 2005).<br />

Lahan pertanian ini menjadi lahan cadangan<br />

bagi pertumbuhan kebutuhan atas permukiman<br />

akibat laju pertumbuhan penduduk.<br />

Pada kurun waktu 1994 hingga 1999,<br />

terjadi alih fungsi lahan sawah menjadi<br />

permukiman sebesar 9.334 hektar. (Agenda<br />

dan Roadmap Riset Pangan 2008-2012, Lokakarya<br />

Agenda Riset Pangan dan Energi,<br />

http://web.ipb.ac.id/).<br />

Perlindungan lahan pertanian dari alih<br />

fungsi ini dilakukan dengan menetapkan<br />

se bagian lahan pertanian sebagai Lahan<br />

Per tanian Pangan Berkelanjutan, di mana lahan<br />

pertanian yang sudah ditetapkan menjadi<br />

Lahan Pertanian Pangan Ber kelanjutan<br />

dilarang untuk dialihfungsikan (pasal 44 ayat<br />

1).<br />

Pada pasal 44 ayat 3 disebutkan bahwa<br />

“Dalam hal untuk kepentingan umum, La-<br />

han Pertanian Pangan Berkelanjutan seba -<br />

gaimana dimaksud pada ayat (1) dapat<br />

di alihfungsikan, dan dilaksanakan sesuai de -<br />

ngan ketentuan peraturan perundang-undangan”.<br />

Di mana dalam bagian penjelasan,<br />

penggunaan sebagai permukiman tidak termasuk<br />

dalam kepentingan umum.<br />

Sedangkan, penjelasan mengenai ketentuan<br />

alih fungsi lahan, salah satunya adalah<br />

mengenai penggantian lahan:<br />

Penyediaan lahan pengganti terhadap<br />

Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 17


INFOBARU 1<br />

www.keprinews.files.wordpress.com<br />

Kawasan Perkotaan yang padat<br />

dialihfungsikan sebagaimana dimaksud dalam<br />

Pasal 44 ayat (3) huruf d dilakukan atas<br />

dasar kesesuaian lahan, dengan ketentuan<br />

sebagai berikut:<br />

a. Paling sedikit tiga kali luas lahan dalam hal<br />

yang dialihfungsikan lahan beririgasi;<br />

b. Paling sedikit dua kali luas lahan dalam<br />

hal yang dialihfungsikan lahan reklamasi<br />

rawa pasang surut dan nonpasang surut<br />

(lebak); dan<br />

c. Paling sedikit satu kali luas lahan dalam hal<br />

yang dialihfungsikan lahan tidak beririgasi<br />

(Pasal 46 ayat 1);<br />

Dengan mempertimbangkan hal-hal di<br />

atas, dapat disimpulkan bahwa alih fungsi<br />

terhadap lahan pertanian yang sudah ditetapkan<br />

sebagai Lahan Pertanian Pangan<br />

Ber kelanjutan menjadi lahan permukiman<br />

sangat sulit untuk dilakukan.<br />

Sementara, Pulau Jawa yang merupakan<br />

7% wilayah daratan Indonesia menampung<br />

130 juta penduduk atau 62% penduduk<br />

Indonesia dan menjadi pulau dengan kepadatan<br />

penduduk tertinggi di dunia dengan<br />

1.026 penduduk per km 2 , dan terus tumbuh<br />

de ngan kecepatan tinggi. Pada tahun 2025,<br />

BPS memprediksikan bahwa Pulau Jawa akan<br />

dihuni oleh 151 juta jiwa.<br />

Bersamaan dengan itu, Pulau Jawa memiliki<br />

lahan sawah sebesar 3,3 juta hektar,<br />

atau hampir 50% dari luas lahan sawah di<br />

Indonesia. Hal ini ditambah dengan kondisi<br />

tanah Pulau Jawa yang sangat cocok untuk<br />

pertanian padi sebagai makanan pokok<br />

ma yoritas masyarakat Indonesia dan memiliki<br />

jaringan irigasi yang lebih lengkap jika<br />

dibandingkan dengan lahan pertanian di luar<br />

Pulau Jawa.<br />

Tingginya populasi penduduk di Pulau<br />

Jawa menciptakan kebutuhan akan lahan<br />

permukiman yang tinggi. Menurut Ke menterian<br />

Perumahan Rakyat, Indonesia me m -<br />

butuhkan 800.000 unit rumah per tahun,<br />

sedangkan menurut REI, kebutuhan riilnya<br />

adalah 1,2 juta unit rumah per tahun. Dari situ<br />

dapat diasumsikan bahwa kebutuhan rumah<br />

di Pulau Jawa sebesar 60% dari kebutuhan<br />

rumah Indonesia, yaitu sebesar 720.000 unit<br />

per tahun.<br />

Dengan kondisi Pulau Jawa yang memiliki<br />

luas wilayah yang kecil menimbulkan ke cenderungan<br />

untuk terjadi alih fungsi la han<br />

(ter utama lahan pertanian) menjadi per mukiman<br />

untuk memenuhi kebutuhan yang ada<br />

tersebut.<br />

Namun, Pulau Jawa sebagai lumbung<br />

pangan nasional yang memproduksi 40%<br />

total produksi beras nasional menyebabkan<br />

lahan pertanian di Pulau Jawa sangat penting<br />

untuk ketahanan pangan nasional, dan kare<br />

nanya sangat mungkin untuk nantinya ditetapkan<br />

sebagai bagian dari Lahan Pertanian<br />

Pangan Berkelanjutan.<br />

Kondisi seperti ini mengakibatkan alih<br />

fungsi lahan pertanian menjadi lahan permukiman<br />

akan sulit untuk terjadi (untuk<br />

tidak mengatakan mustahil). Hal ini mengakibatkan<br />

berkurangnya secara drastis keter<br />

sediaan lahan potensial untuk lahan permukiman,<br />

terutama di wilayah perdesaan,<br />

di mana mayoritas lahan pertanian berada.<br />

Keterbatasan lahan untuk permukiman ini<br />

dapat mengakibatkan munculnya permukiman<br />

kumuh akibat tingginya ke bu tuhan<br />

lahan untuk permukiman akibat pertumbuhan<br />

jumlah penduduk.<br />

Sebenarnya kondisi permukiman perdesaan<br />

yang kumuh akibat keterbatasan<br />

lahan permukiman ini sudah terjadi di beberapa<br />

tempat. Area perdesaan dengan lahan<br />

pertanian milik masyarakat yang ter batas,<br />

seperti misalnya daerah perdesaan yang<br />

berada di dekat daerah perkebunan besar,<br />

di mana lahan pertanian sebagian besar<br />

merupakan lahan milik perusahaan, banyak<br />

memiliki permukiman yang padat dan kumuh.<br />

Hal ini terjadi karena masyarakat tidak<br />

memiliki lahan cadangan untuk per mukiman,<br />

karena lahan pertanian yang ada tidak bisa<br />

dialihfungsikan menjadi lahan permukiman.<br />

Dengan adanya potensi keterbatasan<br />

la han permukiman di daerah perdesaan Pulau<br />

Jawa yang disebabkan adanya UU no.<br />

41/2009 ini, perlu disiapkan konsep un tuk<br />

memenuhi kebutuhan lahan untuk permukiman<br />

di perdesaan dalam rangka mencegah<br />

timbulnya permukiman kumuh di<br />

per desaan, di mana salah satunya adalah<br />

berupa permukiman vertikal bagi masyarakat<br />

perdesaan.<br />

Karakteristik sosial masyarakat perdesaan<br />

yang jauh berbeda dengan masyarakat perkotaan<br />

memang memerlukan pendekatan<br />

yang mungkin jauh berbeda pula, sehingga<br />

konsep permukiman vertikal di perdesaan<br />

pun akan berbeda dengan permukiman vertikal<br />

di perkotaan.<br />

Kebutuhan-kebutuhan masyarakat perde<br />

saan yang perlu ditampung dalam permukiman<br />

vertikal, misalnya: kebutuhan yang<br />

berkait dengan pertanian sebagai mata<br />

pen caharian utama penduduk perdesaan,<br />

ruang-ruang sosialisasi yang cukup untuk<br />

mewadahi karakteristik masyarakat perde -<br />

saan yang guyup, dan desain yang bisa<br />

meng akomodasi gegar budaya akibat transisi<br />

dari permukiman horisotal ke permukiman<br />

vertikal.<br />

Dengan adanya permukiman vertikal<br />

un tuk perdesaan Pulau Jawa, diharapkan dapat<br />

memecahkan masalah ketersediaan lahan<br />

untuk permukiman tanpa mengganggu<br />

ketahanan pangan nasional melalui Lahan<br />

Pertanian Pangan Berkelanjutan.<br />

*) Staf Subdit Evaluasi Kinerja, Direktorat Bina<br />

Program, DJCK<br />

18 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010


INFOBARU 2<br />

Info Baru 2<br />

Perumahan Ayodya Purwodadi Grobogan<br />

Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur<br />

dalam RUU Perumahan dan<br />

Permukiman<br />

Deva Kurniawan Rahmadi dan Andreas Budi Wirawan *)<br />

www.flickr.com<br />

Dalam RUU tentang Perumahan dan Permukiman, penyelenggaraan perumahan dan permukiman harus dilaksanakan<br />

sebagai satu kesatuan sistem. Dimana pelaksanaannya secara berkelanjutan dan dapat memanfaatkan berbagai<br />

pendekatan yang relevan serta implementasinya dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat.<br />

Pengembangan perumahan dan per mukiman<br />

merupakan kegiatan dalam menata<br />

suatu kawasan agar sesuai dengan rencana<br />

tata ruang. Apabila sesuai dengan tata ruang<br />

otomatis didukung peningkatan kualitas<br />

hi dup berupa tempat hunian, fasilitas pendukung<br />

dan lingkungan sekitar.<br />

Upaya pengembangan perumahan dan<br />

permukiman yang telah dilakukan hing ga<br />

kini adalah hasil proses panjang dan akan<br />

berlangsung terus sejalan dengan perkembangan<br />

peradaban dan merupakan<br />

per masalahan yang tak bisa langsung diselesaikan<br />

karena kompleks. Kompleks, karena<br />

bukan semata-mata aspek fisik dalam<br />

membangun rumah, tetapi banyak sektor<br />

seperti sosial budaya, ekonomi, pertanahan,<br />

perindustrian, ilmu pengetahuan, teknologi<br />

dan lingkungan sekitarnya.<br />

Seiring dengan diberlakukannya ke bijakan<br />

desentralisasi serta otonomi daerah,<br />

terjadi perubahan dalam sistem pengelolaan<br />

pembangunan di daerah. Baik dalam hal<br />

penyediaan prasarana sarana, utilitas umum<br />

maupun pelayanan perkotaan. Kesemuanya<br />

itu telah diatur dalam Undang-undang<br />

No. 4 tahun 1992 tentang perumahan dan<br />

permukiman.<br />

Materi pengaturan dalam Undang-Un -<br />

dang Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan<br />

dan Permukiman saat ini di rasa<br />

perlu penyempurnaan. Karena per a tur an<br />

perundangan tersebut kurang men dukung<br />

dan belum dapat menjawab berbagai<br />

permasalahan yang sedang terjadi<br />

ser ta tantangan rencana ke depan dalam<br />

pembangunan perumahan dan permukiman.<br />

Aturan itu juga belum memuat aturan soal<br />

peningkatan dan pemerataan kesejahteraan<br />

dalam mewujudkan perumahan dan permukiman<br />

yang layak dan terjangkau dalam<br />

lingkungan masyarakat. Serta belum secara<br />

tegas membahas tentang infrastruktur, hanya<br />

sebagai fasilitas dan utilitas ikutan dari<br />

perumahan dan permukiman.<br />

Khususnya, dalam materi pengaturan<br />

bidang pengembangan permukiman be lum<br />

secara komprehensif menunjukkan pengaturan<br />

penyelenggaraan sebagai kesa tuan<br />

antar kawasan yang terpadu dan saling mendukung<br />

baik infrastruktur, fungsi dan bentuk<br />

kawasan.<br />

Materi pengaturan<br />

Dilatarbelakangi oleh permasalahan serta<br />

kebijakan desentralisasi, maka dirasa perlu<br />

untuk melakukan revisi UU 4/92 yang telah<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 19


menjadi inisiatif DPR RI. Berbagai tahapan<br />

proses perumusan telah dilalui dengan menyerap<br />

aspirasi para stakeholder melalui<br />

berbagai forum RDP, FGD, Perumusan dalam<br />

PANJA, Perumusan dalam Draf Peripurna<br />

bersama antara fraksi-fraksi, unsur<br />

pemerintahan, instansi/ lembaga terkait, para<br />

pakar dan pemerhati, pihak akademis, LSM<br />

dan wakil masyarakat yang berhubungan<br />

dengan perumahan dan permukiman Ser -<br />

ta yang terakhir dilakukan adalah pe nyia<br />

pan dalam penyusunan DIM (Daftar Inventaris<br />

Masalah) dengan muatan/materi<br />

pengaturan yang disusun telah mendudukan<br />

permasalahan permukiman atau perumahan<br />

khususnya penyediaan infrastruktur dengan<br />

keterpaduan penyelenggaraannya.<br />

Dalam muatan RUU disebutkan bahwa<br />

perumahan dan permukiman di se lenggarakan<br />

dengan berasaskan pada as as keterpaduan.<br />

Yang dimaksud dengan “asas<br />

keterpaduan” adalah penyelenggaraan peru<br />

mahan dan permukiman dengan memperhatikan<br />

keterpaduan kebijakan antar instansi<br />

dan sektor terkait.<br />

Penyelengaraan perumahan permukiman<br />

harus memperhatikan keterpaduan di dalam<br />

sistem infrastruktur baik yang berada dalam<br />

kawasan terbangun tertentu dan dengan<br />

sistem infrastruktur yang lebih besar pada<br />

jaringan tingkat kota, propinsi ataupun nasional.<br />

Termasuk juga keterpaduan dalam<br />

pembangunan keberlanjutan melalui as pek<br />

ekonomi, sosial dan lingkungan yang dilanjutkan<br />

dengan fase berikutnya sebagai<br />

implementasi berupa penyelenggaraan permukiman.<br />

Pembangunan berkelanjutan<br />

Dalam RUU tentang Perumahan dan Permukiman,<br />

penyelenggaraan perumahandan<br />

permukiman harus dilaksanakan se bagai<br />

sa tu kesatuan sistem. Dimana pelak sana -<br />

annya secara berkelanjutan dan dapat memanfaatkan<br />

berbagai pendekatan yang re levan<br />

serta implementasinya dapat di se suaikan<br />

dengan kondisi masyarakat se tempat.<br />

Pembangunan berkelanjutan dilak sana -<br />

kan dengan pencapaian tujuan pem bangun<br />

an lingkungan, pembangunan sosial<br />

dan pembangunan ekonomi. Secara praktis,<br />

konsep pembangunan berkelanjutan, yang<br />

sudah berkembang sebagai asas pelaksanaan<br />

pembangunan perumahan dan permukiman,<br />

secara prinsip bertujuan memberdayakan<br />

masyarakat, secara sosial dan ekonomi serta<br />

lingkungan. Pendekatan ini dilakukan<br />

Eksisting Kawasan Kota Jakarta Tahun 2010<br />

de ngan memadukan kegiatan-kegiatan penyiapan<br />

dan pemberdayaan masyarakat,<br />

pemberdayaan kegiatan usaha ekonomi,<br />

serta pendayagunaan prasarana dan sarana<br />

dasar perumahan dan permukiman sebagai<br />

satu kesatuan sistem yang tak terpisahkan.<br />

Pembangunan perumahan dan per mukim<br />

an, yang memanfaatkan ruang ter besar<br />

dari kawasan perkotaan, merupakan kegiatan<br />

yang bersifat berkelanjutan. Oleh karena itu,<br />

pengelolaan pembangunan perumahan dan<br />

permukiman senantiasa memperhatikan ke -<br />

ter sediaan daya du kung serta dampak terhadap<br />

kelestarian lingkungan. Kesadaran<br />

ter sebut harus dimulai sejak tahap pe rencanaan,<br />

perancangan dan pelaksanaan pem -<br />

bangunan sampai dengan tahap pe nge lo laan<br />

dan pengembangannya. Hal itu dilakukan agar<br />

tetap selaras dengan prin sip-prinsip pembangunan<br />

berkelanjutan se cara eko no mi,<br />

sosial dan lingkungan.<br />

Dalam fase perencanaan kawasan permukiman<br />

yang diatur didalam RUU tentang<br />

Perumahan dan Permukiman, ditekankan<br />

bah wa Perencanaan kawasan permukiman<br />

(Pasal 63 Draf RUU Tentang Perumahan dan<br />

Permukiman) harus terhubung dengan keterpaduan<br />

sarana dan jaringan prasarana<br />

yang terstruktur dan hierarkis. Dengan begitu<br />

akan meningkatkan hubungan/keterkaitan<br />

fungsional di antara kawasan-kawasan tersebut,<br />

terintegrasi dengan sistem jaringan<br />

primer dan memperhatikan keterpaduan serta<br />

keserasian secara hierarkis dan fung sional<br />

dengan kawasan di sekitarnya.<br />

Keterpaduan sarana dan jaringan pra -<br />

sarana ini dimaksudkan sebagai ke ter hubungan<br />

antara permukiman per kotaan dan<br />

permukiman perdesaan yang diarahkan<br />

un tuk menciptakan keseimbangan antara<br />

desa dan kota sesuai dengan fungsi dan<br />

peranannya masing-masing. Hal tersebut<br />

di lakukan dengan mengakomodir fungsi<br />

dan peranan kota, optimalisasi sumber daya<br />

alam yang berkelanjutan dan berwawasan<br />

lingkungan serta memperhatikan kondisi sosial<br />

budaya setempat dan kearifan lokal.<br />

Tahapan perencanaan kawasan per mu ki-<br />

Penyelengaraan perumahan permukiman harus memperhatikan<br />

keterpaduan di dalam sistem infrastruktur baik yang berada<br />

dalam kawasan terbangun tertentu dan dengan sistem<br />

infrastruktur yang lebih besar pada jaringan tingkat kota,<br />

propinsi ataupun na sional.<br />

20 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010


INFOBARU 2<br />

man dalam mendukung keterpaduan me liputi<br />

penyiapan dan pematangan la han, peren<br />

canaan keterpaduan sarana dan jaring an<br />

prasarana pendukung serta tentunya di sertai<br />

pembiayaan dan pembinaan. Pe nyiapan dan<br />

pematangan lahan harus di dahului dengan<br />

penetapan lokasi dan pe nyiapan kawasan<br />

sesuai dengan rencana tata ruang wilayah.<br />

Perencanaan kawasan permukiman di lakukan<br />

dalam rangka memenuhi keleng kapan<br />

dan kelayakan prasarana, sarana dan utilitas<br />

umum; dan dukungan sistem sarana dan<br />

jaringan prasarana. Perencanaan prasarana,<br />

sarana dan utilitas umum per mukiman tersebut<br />

dimaksudkan untuk:<br />

a. Menyiapkan kawasan permukiman yang<br />

layak huni.<br />

b. Mendukung terpadunya pengembangan<br />

kawasan permukiman, baik di dalam<br />

kawasan maupun antar kawasan.<br />

c. Membentuk struktur ruang kawasan ser -<br />

ta mengarahkan pola pemanfaatan ru -<br />

ang sebuah kawasan permukiman ser -<br />

ta memiliki sistem penghubung an tar<br />

kawasan Berupa sistem sarana dan jaringan<br />

prasarana sesuai dengan rencana<br />

tata ruang wilayah perkotaan dan/atau<br />

perdesaan .<br />

Keterkaitan Perumahan dan Permukiman<br />

dengan Lingkungan Hidup dan Penataan<br />

Ruang<br />

Salah satu tujuan pengelolaan lingkungan<br />

hidup menurut Undang-Undang Nomor 32<br />

Tahun 2009 adalah menjamin kelangsungan<br />

kehidupan makhluk hidup dan kelestarian<br />

ekosistem, menjaga kelestarian fungsi ling -<br />

kungan hidup, mencapai keserasian, kese<br />

larasan, dan keseimbangan lingkungan<br />

hidup, mengendalikan pemanfaatan sumber<br />

daya alam secara bijaksana, mewujudkan<br />

pembangunan berkelanjutan, serta mengantisipasi<br />

isu lingkungan global. Dengan<br />

demikian, penyelenggaraan kegiatan ha rus<br />

berdasarkan prinsip pembangunan ber kelanjutan<br />

dan berwawasan lingkungan.<br />

Sedangkan pembangunan berkelanjutan<br />

da pat diartikan upaya sadar dan terencana<br />

yang memadukan aspek lingkungan hidup,<br />

sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan<br />

untuk menjamin keutuhan lingkungan<br />

hidup serta keselamatan, kemampuan,<br />

kesejahteraan, dan mutu hidup ge ne<br />

rasi masa kini dan generasi masa depan.<br />

Adapun salah satu tujuan penye lenggaraan<br />

penataan ruang adalah untuk mewujudkan<br />

ruang wilayah nasional yang aman,<br />

nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Pena<br />

taan ruang juga harus berlandaskan wawasan<br />

nusantara dan ketahanan nasional<br />

yang harmonis antara lingkungan alam dan<br />

lingkungan buatan, terpadu dalam penggunaan<br />

sumber daya alam dan sumber daya<br />

buatan, serta perlindungan fungsi ruang<br />

dan pencegahan dampak negatif terhadap<br />

lingkungan. Pe nataan ruang dilakukan dalam<br />

beberapa tingkatan dengan tingkat<br />

ke rincian yang berbeda dari yang sangat<br />

makro, mencakup seluruh wilayah Negara<br />

dan menjadi we wenang Pemerintah sampai<br />

dengan pena taan ruang wilayah provinsi<br />

yang menjadi wewenang pemerintah ka bupaten<br />

dan kota.<br />

Pengaturan penyelenggaraan per muki -<br />

man merupakan turunan terhadap pe ngaturan<br />

penataan ruang dan sekaligus memiliki<br />

peran pengelolaan lingkungan hidup<br />

dengan pe ngaturan penyelenggaraan bangunan<br />

tempat berbagai kegiatan. Pe ngaturan<br />

penataan ruangnya dilakukan pada<br />

tingkat pengaturan pola pemanfaatan ruang<br />

secara garis besar. Pengaturan bangunannya<br />

mencakup jaringan primer prasarana yang<br />

menggambarkan hubungan antar berbagai<br />

kawasan peruntukan, yang meliputi jaringan<br />

jalan primer dan arteri sekunder, saluran<br />

primer pembuangan air hujan dan air limbah,<br />

serta tempat pembuangan akhir sampah.<br />

Dalam kerangka itu, penyelenggaraan<br />

perumahan dan permukiman termasuk ta -<br />

ta ruang, pengadaan prasarana dan sarana<br />

lingkungan, serta utilitas umum di lakukan<br />

untuk menunjang kegiatan sosial<br />

eko nomi masyarakat. Hal ini diperlukan<br />

agar dapat mendorong terwujudnya ke seimbangan<br />

pe m bangunan perkotaan dan<br />

per desaan. Dengan begitu perkotaan maupun<br />

pedesa an akan tumbuh secara se la ras<br />

dan sa ling mendukung dalam me nciptakan<br />

pe ngembangan kawasan secara komprehensif<br />

dan terpadu baik dalam an tar hunian,<br />

lingkungan, permukiman, in frastruktur, antar<br />

kawasan serta fungsi lain yang mendukung.<br />

Oleh karenanya, diperlukan pengembang<br />

an perencanaan dan perancangan,ser ta<br />

pembangunan perumahan dan per mu kiman<br />

yang kontributif terhadap pen capaian penataan<br />

ruang yang disusun se cara transparan<br />

dan partisipatif serta mem berdayakan masyarakat<br />

sebagai pelaku utama.<br />

Peran Kementerian Pekerjaan Umum<br />

Kementerian Pekerjaan Umum dalam menjalankan<br />

tugas dan fungsinya (tupoksi)<br />

mem butuhkan aspek keterpaduan yang<br />

me megang peranan penting dalam penyelenggaraan<br />

pembangunan, khususnya di<br />

bidang pekerjaan umum. Aspek ini sangat<br />

dibutuhkan karena diharapkan akan terwu<br />

jud kesamaan persepsi di antara pelaku<br />

pembangunan yang dapat meningkatkan<br />

efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan bidang<br />

pekerjaan umum.<br />

Dalam pelaksanaannya, Kementerian<br />

Pe kerjaan Umum telah berusaha meng-<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 21


INFOBARU 2<br />

melalui pelaksanaan bantuan teknis dan<br />

sosialisasi kepada stakeholders terutama peme<br />

rintah daerah dan masyarakat.<br />

Foto Atas : Rapat Dengar Pendapat dengan Komite II DPD RI<br />

Foto Bawah : Salah satu tim perumus RUU sedang diskusi penyusunan Daftar Inventaris Masalah (DIM)<br />

upayakan keterpaduan pembangunan dalam<br />

menyelenggarakan urusan bidang Pe kerja<br />

an Umum, namun masih ditemui ba -<br />

nyak hambatan di antaranya terlebih pada<br />

koordinasi yang kurang maksimal antar<br />

per sonil baik pada tingkatan perencanaan/<br />

kebijakan dan tingkatan pelaksanaan. Hambatan-hambatan<br />

ini menjadikan keterpaduan<br />

pembangunan bidang pekerjaan umum saat<br />

ini belum dapat dicapai secara optimal.<br />

Banyak terdapat kelemahan-kelemahan, baik<br />

dari segi internal maupun segi eksternal di<br />

luar Kementerian Pekerjaan Umum. Dari segi<br />

internal, di antaranya disebabkan oleh :<br />

· Kompleksitas pelaksanaan kegiatan, kesulitan<br />

bersinergi.<br />

· Belum adanya konsep keterpaduan yang<br />

dapat diacu.<br />

Sedangkan dari segi eksternal, di anta ranya<br />

disebabkan oleh :<br />

· Peraturan perundang-undangan yang tidak<br />

mendukung.<br />

· Kelemahan kebijakan dan perencanaan<br />

pembangunan nasional.<br />

· Tidak/kurang adanya koordinasi perencanaan<br />

dan program yang efektif di antara<br />

para pengambil keputusan sehingga menyulitkan<br />

pelaksanaan di daerah.<br />

· Ego-sektoral Kemeterian/Lembaga, yang<br />

masih ingin menonjolkan dominansi sektornya.<br />

Dalam rangka keterpaduan pem ba ngunan<br />

lintas “pelaku”, Kementerian Pe ker jaan<br />

Umum telah menggalang peran stakeholders,<br />

Peranan Pemerintah Daerah<br />

Pemerintah daerah dalam hal ini me me gang<br />

peranan penting, yang sangat di harapkan<br />

dalam penggalangan peran stake holders untuk<br />

optimalisasi keterpaduan pembangun an<br />

bidang pekerjaan umum. Ke giatan-ke giatan<br />

khusus di daerah mem butuhkan sharing<br />

pen danaan antara pe merintah pusat dan<br />

pe me rintah daerah, termasuk dalam hal ini<br />

peng galangan da na dari kalangan investor.<br />

Di sam ping itu pula penggalangan partisipasi<br />

ma sya rakat sebagai subyek pembangunan<br />

ju ga sangat membutuhkan komitmen dari<br />

pe me rintah daerah.<br />

Dalam meningkatkan efektifitas pe nyelenggaraan<br />

Pengembangan Per mukiman<br />

di bu tuhkan koordinasi antar wilayah khu -<br />

susnya antar kabupaten dan antar ka wasanlingkungan,<br />

terutama menyangkut batasan<br />

administratif serta jaringan pada skala perkotaan.<br />

Tingkat koordinasi ini me nuntut peran<br />

pemerintah daerah untuk banyak ter libat<br />

dalam penyusunan program per mukiman<br />

yang melibatkan kerjasama antar daerah dan<br />

stakeholders.<br />

Dalam tatanan perencanaan, diperlukan<br />

suatu strategi pengembangan kawasan/<br />

ko ta yang menitikberatkan pada peranan<br />

Pemda untuk mengatasi persoalan di daerahnya<br />

yaitu strategi pengembangan kota<br />

pada pengembangan permukiman dan strategi<br />

perkotaan atau yang dikenal sebagai<br />

Strategi Pengembangan Permukiman dan<br />

Infrasturktur Perkotaan (SPPIP). SPPIP ini pada<br />

dasarnya merupakan bagian integral dari<br />

kerangka pembangunan daerah (provinsi,<br />

ko ta/kabupaten) yang memuat rancangan<br />

tata cara pembangunan permukiman dan<br />

in frastruktur perkotaan. Sektor permukiman<br />

dan infrastruktur perkotaan akan menjadi<br />

bagian penting yang mendukung tercapainya<br />

ruang kota sebagai wahana berkehidupan<br />

yang ramah layanan bagi masyarakat perkotaan.<br />

Kedepannya, SPPIP ini nantinya diharapkan<br />

akan menjadi instrumen penting<br />

untuk menjamin terwujudnya pembangunan<br />

yang serasi dan terpadu antar sektor dan<br />

alokasi ruangnya terutama yang berkaitan<br />

dengan pengembangan permukiman dan<br />

infrastruktur perkotaan.<br />

*) Staf Perencanaan Teknis dan Pengaturan<br />

Di rektorat Pengembangan Permukiman<br />

Dit jen. <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

22 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010


INFOBARU3<br />

Info Baru 3<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Dukung Sarana dan Prasarana<br />

Desa Wisata Cibatutiga<br />

Direktur PAM Tamin Z. Amin mempresentasikan dukungan infrastruktur cipta karya di kawasan MMNI kepada Ibu Ani Yudhoyono<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kementerian Pekerjaan<br />

Umum mendukung pembangunan sarana<br />

dan prasarana untuk para pengrajin di<br />

Padepokan Mutu Manikam Nusantara Indonesia<br />

(MMNI) di Desa Wisata Cibatutiga,<br />

Cariu, Bogor, Jawa Barat. Dukungan tersebut<br />

berupa pembangunan jalan akses ke<br />

area MMNI, pembuatan area parkir serta<br />

pembangunan sarana air minum yaitu pembangunan<br />

reservoir berkapasitas 30 m 3 dan<br />

6 unit Hidran umum. Peresmian Padepokan<br />

MMNI sendiri, dilakukan oleh Ibu Ani Yudhoyono<br />

di Bogor akhir Juli lalu.<br />

Bukan hanya itu saja, <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> beren<br />

cana menambah dukungan sarana dan<br />

prasarana dengan membangunan Sanimas<br />

(Sanitasi berbasis masyarakat) berupa sarana<br />

MCK yang rencana dimulai tahun 2011. Pembangunan<br />

tersebut menggunkan dana APBN<br />

sebesar Rp 300 juta.<br />

Pembentukan MMNI diprakarsai oleh<br />

Ibu Ani sejak 3,5 tahun lalu tepatnya pada<br />

Desember 2006. “Dengan MMNI diharapkan<br />

dapat meningkatkan kesejahteraan pengrajin<br />

dan masyarakat pada umumnya,” kata Ibu<br />

Ani.<br />

Menurut Pengawas MMNI Prihadi Santosa,<br />

MMNI adalah organisasi nirlaba yang<br />

merupakan perkumpulan para pencinta<br />

dan pengrajin perhiasan dengan tujuan<br />

uta ma menciptakan lapangan kerja bagi<br />

buruh perajin lepas yang tidak bekerja pada<br />

perusahaan.<br />

Mereka bisa diberdayakan melalui pengembangan<br />

industri mutu manikam In donesia<br />

serta membantu program pe me rin tah<br />

dalam upaya mengentaskan ke miskinan.<br />

Se jak dibentuk, kata dia, MMNI telah melatih<br />

lebih kurang 750 perajin dari berbagai daerah<br />

di seluruh Indonesia dengan instruktur dari<br />

dalam dan luar negeri.<br />

Menurut Gubernur Jawa Barat Ahmad<br />

Heryawan, keberadaan Padepokan Mutumanikam<br />

Nusantara Indonesia di kawasan<br />

Cariu Bogor diharapkan membantu Pemerintah<br />

Daerah dan masyarakat dalam mengatasi<br />

masalah fundamental yang dihadapi,<br />

khususnya pada bidang pendidikan, layanan<br />

kesehatan, penyediaan sarana air bersih, pengelolaan<br />

lahan secara lestari, pembukaan<br />

lapangan kerja, pengembangan kreatifitas<br />

dan pemberdayaan masyarakat.<br />

Pada saat yang sama. Heryawan berha<br />

rap Desa Cibatu Tiga dapat tumbuh dan<br />

ber kembang menjadi desa wisata baru di<br />

Kabupaten Bogor. Sehingga, diharapkan menjadi<br />

tambahan destinasi wisata unggulan di<br />

Jawa Barat dan bahkan nasional. Hal ini tentunya<br />

sejalan dengan Program Visit Bogor<br />

2011 yang dicanangkan Bupati Bogor, serta<br />

sesuai pula dengan arah pengembangan<br />

kepariwisataan Jawa Barat “Kataji”, yaitu Krea<br />

tivitasnya yang Andal, Timpal wisatanya Aman<br />

dijelajah dan Indah.<br />

Dalam rangkaian peresmian Padepokan<br />

tersebut, Direktur Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Kementerian<br />

Pekerjaan Umum, Budi Yuwono,<br />

memberikan bantuan infrastruktur keciptakaryaan<br />

berupa tangki-tangki air kepada Bupati<br />

Bogor H. Rachmat Yasin dan selanjutnya<br />

diserahkan kepada Kepala Desa Cibatutiga<br />

Narja Hermawan untuk pengoperasiannya.<br />

Diserahkan pula bantuan berupa satu unit<br />

sepeda motor pintar yang diterima oleh<br />

Kepala Desa Cibatutiga Narja Hermawan<br />

untuk dipergunakan bagi kepentingan masyarakat<br />

terutama dalam upaya meng apresiasi<br />

dan mengoptimalkan mutu prog ramprogram<br />

rumah pintar.<br />

(dvt/berbagai sumber)<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 23


Inovasi 1<br />

GPS dalam Pembangunan<br />

Bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Wayan Lindu Suwara*)<br />

Penggunaan GPS dalam pembangunan infrastruktur ke-<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>-an bertujuan untuk memberikan informasi letak<br />

koordinat, posisi, satuan terbangun dan bisa ditambahkan informasi nilai alokasi yang telah diinvestasikan sehingga para<br />

pengambil keputusan dapat mengetahui prasarana dan sarana yang sudah terbangun dengan tepat, akurat dan tepat<br />

sasaran.<br />

Jauh sebelum Permintaan Unit Kerja Presiden<br />

bidang Pengawasan dan Pengen dalian<br />

Pembangunan (UKP-PPP), untuk menginformasikan<br />

pelaksanaan kegiatan dalam<br />

bentuk WebGIS yang dapat ditampilkan pada<br />

Situation Room Bina Graha (23 Pebruari<br />

2010), Kementerian Pekerjaan Umum sudah<br />

melakukan inovasi dengan menandai prasarana<br />

dan sarana yang telah terbangun.<br />

Menindaklanjuti hal itu, pada akhir Maret<br />

2010 Sekjen Kementerian PU menerbitkan<br />

surat edaran kepada seluruh Eselon I teknis<br />

di lingkungan Kementerian PU untuk melaksanakan<br />

permintaan UKP-PPP tersebut. Kepala<br />

UKP-PPP kemudian mempertegasnya<br />

dengan melayangkan surat kepada Menteri<br />

PU pada 6 Mei 2010 perihal menginformasikan<br />

pelaksanaan kegiatan dalam bentuk WebGIS<br />

yang dapat ditampilkan pada Station Room<br />

Bina Graha. Secara legalitas Kementerian Pekerjaan<br />

Umum segera menerbitkan Surat<br />

Edaran Menteri PU Nomor 13/2010 tentang<br />

kewajiban pencantuman koordinat geografis<br />

untuk lokasi pelaksanaan paket kegiatan di<br />

Lingkungan Kementerian PU.<br />

Peran GPS<br />

Peranan Global Positioning System (GPS)<br />

pada pembangunan infrastruktur bidang<br />

cipta karya adalah sebagai penanda telah<br />

terbangun prasarana dan sarana, data informasi<br />

ini dibutuhkan tidak terlepas dari<br />

penggunaan GIS (Geographical Infor mation<br />

System), atau istilah umumnya ada lah pemetaan.<br />

Penggunaan GPS dalam pem bangunan<br />

infrastruktur ke-<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>-an bertujuan<br />

untuk memberikan informasi le tak<br />

koordinat, posisi, satuan terbangun dan bisa<br />

ditambahkan informasi nilai alokasi yang telah<br />

diinvestasikan sehingga para pe ng ambil<br />

keputusan dapat mengetahui pra sarana dan<br />

sarana yang sudah terbangun de ngan tepat,<br />

akurat dan tepat sasaran.<br />

Saat ini, sudah banyak pihak yang menggunakaan<br />

alat navigasi berbasis sa telit<br />

dan pemetaan dalam merencanakan, memutuskan,<br />

melaksanakan, dan evaluasi program–program<br />

bidang ke-<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>-an<br />

ter masuk program-program yang berbasis<br />

ma syarakat. Kementerian Pekerjaan Umum<br />

melalui <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> saat ini sedang<br />

24 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010


INOVASI 1<br />

gencar melakukan identifikasi informasi lokasi<br />

dan jenis prasarana dan sarana yang<br />

telah terbangun.<br />

GPS adalah suatu sistem navigasi satelit<br />

yang dipergunakan untuk menentukan koordinat/posisi/titik<br />

suatu obyek di bumi.<br />

Sis tem navigasi satelit mengirimkan data<br />

po sisi (garis bujur, lintang dan ketinggian)<br />

sinyal waktu ke alat penerima di permukaan.<br />

Penerima di permukaan dapat mengetahui<br />

posisinya, serta waktu yang tepat.<br />

Sistem ini menggunakan 24 satelit yang<br />

mengirimkan sinyal gelombang mikro ke<br />

Bumi. Sinyal ini diterima oleh alat pe nerima<br />

di permukaan dan digunakan untuk<br />

menentukan posisi, kecepatan, arah<br />

dan waktu. Sistem ini awal mulanya dikembangkan<br />

oleh Departemen Pertahanan<br />

Amerika Serikat, dengan nama lengkapnya<br />

adalah NAVSTAR GPS nama ini diberikan oleh<br />

John Walsh (seseorang yang mempunyai<br />

peranan penting dalam program GPS).<br />

GPS sering disebut dengan GPS Tracking<br />

adalah teknologi AVL (Automated Vehicle<br />

Locater) yang memungkinkan peng -<br />

guna untuk melacak posisi ken daraan<br />

da lam keadaan Real-Time dan bisa juga dipergunakan<br />

untuk men-trac king infra struktur<br />

jalan dan jaringan per pipaan. GPS Tracking<br />

memanfaatkankom binasi teknologi GSM dan<br />

GPS untukme nentukan koordinat sebuah<br />

obyek, lalu menerjemahkannya dalam bentuk<br />

peta digital.<br />

Cara Kerja<br />

Sistem ini menggunakan sejumlah sa telit<br />

yang berada di orbit bumi, yang memancarkan<br />

sinyalnya ke bumi kemudian<br />

ditangkap oleh sebuah alat penerima. Ada<br />

tiga bagian penting dari sistem ini, yaitu<br />

bagian kontrol, bagian angkasa, dan bagian<br />

pengguna.<br />

1. Bagian Kontrol : seperti namanya, bagian<br />

Pengaplikasian GPS<br />

ini untuk mengontrol. Setiap satelit dapat<br />

berada sedikit diluar orbit, sehingga bagian<br />

ini melacak orbit satelit, lokasi, ketinggian,<br />

dan kecepatan. Sinyal-sinyal da ri<br />

satelit diterima oleh bagian kontrol, di koreksi<br />

dan dikirimkan kembali ke sa telit.<br />

Koreksi data lokasi yang tepat dari satelit<br />

ini disebut dengan data ephemeris yang<br />

nantinya akan di kirimkan kepada alat<br />

navigasi kita.<br />

2. Bagian Angkasa : Bagian ini terdiri dari<br />

kumpulan satelit-satelit yang berada di<br />

orbit bumi, sekitar 12.000 mil di atas permukaan<br />

bumi. Kumpulan satelit-satelit<br />

ini diatur sedemikian rupa sehingga alat<br />

navigasi setiap saat dapat menerima<br />

pa ling sedikit sinyal dari empat buah<br />

satelit. Sinyal satelit ini dapat melewati<br />

awan, kaca, atau plastik, tetapi tidak dapat<br />

melewati gedung atau gunung. Satelit<br />

mempunyai jam atom, dan juga<br />

akan memancarkan informasi waktu/<br />

jam. Data ini dipancarkan dengan kode<br />

random. Masing-masing satelit memiliki<br />

kodenya sendiri-sendiri. Nomor kode ini<br />

biasanya akan ditampilkan di alat navigasi,<br />

maka kita bisa melakukan identifikasi<br />

sinyal satelit yang sedang diterima alat<br />

tersebut. Data ini berguna bagi alat navigasi<br />

untuk mengukur jarak antara alat<br />

navigasi dengan satelit, yang akan<br />

di gunakan untuk mengukur koordinat<br />

lokasi. Kekuatan sinyal satelit juga akan<br />

membantu alat dalam penghitungan. Kekuatan<br />

sinyal ini lebih dipengaruhi oleh<br />

lokasi satelit, sebuah alat akan menerima<br />

sinyal lebih kuat dari satelit yang berada<br />

tepat di atasnya (bayangkan lokasi satelit<br />

seperti posisi matahari ketika jam 12 siang)<br />

dibandingkan dengan satelit yang berada<br />

di garis cakrawala (bayangkan lokasi satelit<br />

seperti posisi matahari terbenam/<br />

terbit).<br />

3. Bagian Pengguna : Bagian ini terdiri dari<br />

alat navigasi yang digunakan. Satelit<br />

ak an memancarkan data almanak dan<br />

ep hemeris yang akan diterima oleh alat<br />

na vigasi secara teratur. Data almanak<br />

ber isikan perkiraan lokasi (approximate<br />

location) satelit yang dipancarkan terus<br />

me nerus oleh satelit. Data ephemeris<br />

dipancarkan oleh satelit, dan valid untuk<br />

sekitar 4-6 jam. Untuk menunjukkan koordinat<br />

sebuah titik (dua dimensi), alat<br />

navigasi memerlukan paling sedikit sinyal<br />

dari 3 buah satelit. Untuk menunjukkan<br />

data ketinggian sebuah titik (tiga dimensi),<br />

diperlukan tambahan sinyal dari 1 buah<br />

satelit lagi.<br />

Sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh kumpulan<br />

satelit tersebut, alat navigasi akan melakukan<br />

perhitungan-perhitungan dan ha sil<br />

akhirnya adalah koordinat posisi alat ter -<br />

sebut. Makin banyak jumlah sinyal sa telit<br />

yang diterima oleh sebuah alat maka<br />

akan membuat alat tersebut menghitung<br />

koordinat posisinya lebih tepat dan akurat.<br />

Karena alat navigasi ini bergantung penuh<br />

pada satelit, maka sinyal satelit menjadi<br />

sangat penting. Alat navigasi berbasis satelit<br />

ini tidak dapat bekerja maksimal ketika ada<br />

gangguan pada sinyal satelit. Ada beberapa<br />

hal yang dapat menghambat kekuatan sinyal<br />

satelit:<br />

a. Kondisi geografis, selama kita masih dapat<br />

melihat langit yang cukup luas, alat ini masih<br />

dapat berfungsi.<br />

b. Hutan, makin lebat hutannya, maka makin<br />

berkurang sinyal yang dapat diterima.<br />

c. Air, mangan berharap dapat meng gu nakan<br />

alat ini ketika menyelam.<br />

d. Kaca film mobil, terutama yang mengandung<br />

metal.<br />

e. Alat-alat elektronik yang dapat mengeluarkan<br />

gelombang elektromagnetik.<br />

f. Gedung-gedung, tidak hanya ketika didalam<br />

gedung, berada diantara 2 buah<br />

gedung tinggi juga akan menyebabkan<br />

efek seperti berada di dalam lembah.<br />

g. Sinyal yang memantul, misal bila berada<br />

diantara gedung-gedung tinggi, dapat<br />

me ngacaukan perhitungan alat navigasi<br />

se hingga alat navigasi dapat menunjukkan<br />

posisi yang salah atau tidak akurat.<br />

Antena<br />

Ada dua jenis antena bawaan alat navigasi<br />

yang paling sering dijumpai, yaitu jenis<br />

patch dan quad helix. Jenis patch, bentuknya<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 25


Aplikasi GIS pembangunan bidang cipta karya dalam website cipta karya<br />

gepeng sedangkan quad helix bentuknya seperti<br />

tabung. Tentunya keduanya memiliki<br />

keunggulan dan kekurangannya masingma<br />

sing. Pada pemakaian sehari-hari, banyak<br />

sekali faktor yang mempengaruhi fungsinya.<br />

Alat navigasi yang memiliki antena patch,<br />

akan lebih baik penerimaan sinyalnya bila<br />

alat dipegang mendatar sejajar dengan bumi.<br />

Sedangkan alat yang memiliki antena<br />

quad helix, akan lebih baik bila dipegang<br />

tegak lurus, bagian atas ke arah langit. Untuk<br />

memastikan, periksalah spesifikasi antena<br />

alat navigasi.<br />

Pada pemakaian sehari-hari, seringkali<br />

di perlukan antena eksternal, contohnya, pemakaian<br />

di dalam kendaraan roda empat. Ada<br />

beberapa jenis antena eksternal yang dapat<br />

dipilih. Perlu diingat bahwa tidak semua tipe<br />

alat navigasi mempunyai slot untuk antena<br />

eksternal.<br />

a. Antena eksternal aktif. Disebut aktif<br />

karena dilengkapi dengan Low Noise<br />

Amplifier (LNA), penguat sinyal, karena<br />

sinyal akan berkurang ketika melewati<br />

ka bel. Artinya, jenis ini memerlukan sumber<br />

listrik untuk melakukan fungsinya,<br />

yang biasanya di ambil dari alat navigasi.<br />

Sehingga baterai alat navigasi akan lebih<br />

cepat habis. Ke untungannya, dapat digunakan<br />

kabel le bih panjang di ban dingkan<br />

tipe pasif.<br />

b. Antena Eksternal Pasif. Karena tidak dilengkapi<br />

oleh penguat sinyal, maka baterai<br />

tidak cepat habis. Tetapi kabel yang<br />

digunakan tidak dapat sepanjang tipe<br />

aktif.<br />

c. Antena Eksternal Re-radiating. Jenis<br />

ini ter diri dari dua bagian, yang pertama<br />

me nangkap sinyal satelit, yang kedua memancarkan<br />

sinyal. Karena sinyal dipancar<br />

kan, maka jenis ini tidak memerlukan<br />

hu bungan kabel ke alat navigasi. Alat navigasi<br />

akan menerima sinyal seperti bia sa.<br />

Tentu saja jenis ini memerlukan sumber<br />

listrik tambahan, tetapi bukan dari alat<br />

navigasi yang dipakai. Bagi tipe alat navigasi<br />

yang tidak mempunyai slot untuk<br />

antena eksternal, jenis ini merupakan<br />

al ternatif yang baik daripada harus memodifikasi<br />

alat navigasi.<br />

d. Antena Combo. Antena jenis ini adalah<br />

penggabungan antara antena untuk alat<br />

navigasi dan telpon genggam. Sumber<br />

listrik diperlukan untuk penggunaannya.<br />

Perlu diingat bahwa koordinat yang ditampilkan<br />

oleh alat navigasi adalah koordinat<br />

posisi antena eksternal. Jadi, penempatan<br />

antena eksternal juga perlu<br />

diperhatikan.<br />

DGPS<br />

DGPS (Differential Global Positioning System)<br />

adalah sebuah sistem atau cara untuk meningkatkan<br />

GPS, dengan menggunakan stasiun<br />

darat, yang memancarkan koreksi lokasi.<br />

Dengan sistem ini, maka ketika alat<br />

na vigasi menerima koreksi dan me ma sukkannya<br />

ke dalam perhitungan, ma ka akurasi<br />

alat navigasi tersebut akan me ningkat. Oleh<br />

karena menggunakan sta siun darat, maka<br />

si nyal tidak dapat mencakup area yang luas.<br />

Walaupun mempunyai per bedaan dalam cara<br />

kerja, SBAS (Satelite Based Augmentation<br />

System) secara umum dapat dikatakan adalah<br />

DGPS yang menggunakan satelit. Cakupan<br />

areanya jauh lebih luas dibandingkan dengan<br />

DGPS yang memakai stasiun darat. Ada beberapa<br />

SBAS yang selama ini dikenal, yaitu<br />

WAAS (Wide Area Augmentation System),<br />

EGNOS (European Geostationary Navigation<br />

Overlay Service), dan MSAS (Multi-functional<br />

Satellite Augmentation System). WAAS dike lola<br />

oleh Amerika Serikat, EGNOS oleh Uni Eropa,<br />

dan MSAS oleh Jepang. Ketiga sistem ini saling<br />

kompatibel satu dengan lainnya, artinya alat<br />

navigasi yang dapat menggunakan salah<br />

satu sistim, akan dapat menggunakan kedua<br />

sistem lainnya juga. Pada saat ini hanya<br />

WAAS yang sudah operasional penuh dan<br />

dapat dinikmati oleh pengguna alat navigasi<br />

di dunia. Walaupun begitu, sebuah DGPS<br />

dengan stasiun darat yang berfungsi baik,<br />

dapat meningkatkan akurasi melebihi/sama<br />

26 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010


INOVASI 1<br />

dengan peningkatan yang dapat dicapai oleh<br />

SBAS.<br />

Secara umum, bisa dibagi menjadi dua<br />

bagian besar, yaitu “real time (langsung)”<br />

dan “Post processing (setelah kegiatan sele<br />

sai)”. Maksud dari ‘real time’ adalah alat<br />

navigasi yang menggunakan sinyal SBAS<br />

atau pun DGPS secara langsung saat di gunakan.<br />

Sedangkan ‘post processing’ maksudnya<br />

adalah data yang dikumpulkan oleh<br />

alat navigasi di proses ulang dengan menggunakan<br />

data dari stasiun darat DGPS. Ada<br />

banyak stasiun darat DGPS di seluruh dunia<br />

yang dapat kita pakai untuk hal ini, baik versi<br />

yang gratis maupun berbayar, bahkan kita<br />

dapat langsung menggunakannya mela lui<br />

internet.<br />

Walaupun DGPS ataupun SBAS dapat<br />

me ningkatkan akurasi, tetapi dengan syarat<br />

sinyal yang dipancarkan berisikan koreksi<br />

untuk wilayah dimana kita menggunakan<br />

alat navigasi. Bila tidak berisikan koreksi data<br />

bagi wilayah tersebut, tidak akan terjadi<br />

peningkatan akurasi.<br />

Beberapa pengertian istilah<br />

• Cold & Warm start<br />

Pada detail spesifikasi alat navigasi, biasanya<br />

tertulis waktu yang diperlukan<br />

un tuk cold dan warm start. Ketika alat<br />

na vigasi dimatikan, alat tersebut masih<br />

menyimpan data-data satelit yang ‘terkunci’<br />

sebelumnya. Salah satu data yang<br />

tersimpan adalah data ephemeris, dan<br />

data ini masih valid untuk sekitar 4-6 jam<br />

(untuk lebih mudah, pakai acuan waktu<br />

4 jam saja). Ketika dinyalakan kembali,<br />

maka alat navigasi tersebut akan mencari<br />

satelit berdasarkan data simpanan. Bila<br />

data yang tersimpan masih dalam<br />

ku run waktu tersebut, maka data-data<br />

tersebut masih bisa dipakai oleh alat<br />

navigasi untuk mengunci satelit, dan<br />

me nyebabkan alat navigasi lebih cepat<br />

‘mengunci’ satelit. Inilah yang disebut<br />

“Warm start”. Ketika data yang tersimpan<br />

sudah kadaluwarsa, artinya melebihi kurun<br />

waktu di atas, maka alat navigasi tidak<br />

dapat memakainya. Sehingga alat<br />

navigasi harus memulai seluruh proses<br />

dari awal, dan menyebabkan waktu yang<br />

diperlukan menjadi lebih lama lagi. Inilah<br />

yang disebut “Cold start”. Seluruh proses<br />

ini hanya berlangsung dalam beberapa<br />

menit saja.<br />

• Waterproof IPX7<br />

Standar ini dibuat oleh IEC (International<br />

Electrotechnical Commission), angka pertama<br />

menjelaskan testing ketahanan alat<br />

terhadap benda padat, dan angka kedua<br />

menjelaskan ketahanan terhadap benda<br />

cair (air). Bila alat hanya diuji terhadap<br />

salah satu kondisi (benda padat atau<br />

benda cair), maka huruf ‘X’ ditempatkan<br />

pada angka pertama atau kedua. IP X7<br />

artinya: X menunjukkan alat tersebut tidak<br />

diuji terhadap benda padat, sedangkan<br />

angka 7 berarti dapat direndam dalam air<br />

dengan kedalaman 15 cm – 1 meter .<br />

• Geocaching<br />

Istilah ini berasal dari kata ‘Geo’ yang<br />

diambil dari geografi, dan ‘caching’ yang<br />

diambil dari kegiatan menyimpan/menyembunyikan<br />

sesuatu. Geocaching sebenarnya<br />

adalah sebuah permainan untuk<br />

menemukan ‘harta karun’ tersembunyi<br />

dengan menggunakan alat navigasi berbasis<br />

satelit.<br />

Kegiatannya sederhana, pertama sembunyi<br />

kan beberapa barang kecil (pen,<br />

pensil, dan lain lain) pada beberapa<br />

tempat yang terpisah, sedemikian rupa<br />

sehingga tidak mudah terlihat. Ca tat<br />

koordinat masing-masing tempat ters<br />

e but. Lalu beberapa kelompok berusaha<br />

menemukan semua barang yang<br />

disembunyikan. Tentunya tidak akan terlalu<br />

mudah untuk menemukannya, karena<br />

masing-masing alat memiliki akurasi yang<br />

berbeda.<br />

Kegiatan ini dapat digabungkan dengan<br />

aktivitas lainnya, sebagai contoh, aktivitas<br />

membersihkan sampah di taman, atau<br />

kegiatan outbound, dan sebagainya.<br />

• DOP<br />

Merupakan singkatan dari ‘Dillution of<br />

Pre cision’, berhubungan erat dengan lo -<br />

kasi satelit di angkasa. Nilai DOP di dapatkan<br />

dari perhitungan matematis, yang<br />

menunjukkan ‘tingkat kepercayaan’ perhitungan<br />

sebuah lokasi. Ketika satelit-satelit<br />

terletak berdekatan, maka nilai DOP<br />

akan meningkat, yang menyebabkan akurasi<br />

alat navigasi berbasis satelit menjadi<br />

berkurang. Ketika satelit-satelit ter le tak<br />

ber jauhan, maka nilai DOP akan ber kurang<br />

sehingga alat navigasi menjadi lebih<br />

akurat. Bila nilai DOP lebih kecil dari 5<br />

(ada yang mengatakan di bawah 4), maka<br />

akurasi yang akan didapatkan cukup<br />

akurat. Ada beberapa nilai akan sering<br />

dijumpai, yaitu HDOP (Horizontal Dilution<br />

of Precision), VDOP (Vertical Dilution of<br />

Precision), dan PDOP (Positional Dilution of<br />

Precision – posisi tiga dimensi).<br />

• Koordinat lokasi<br />

Sebuah titik koordinat dapat ditampilkan<br />

dengan beberapa format. Masing-masing<br />

pengguna dapat mengatur format ini<br />

pada alat navigasi, program mapsource,<br />

ataupun program komputer lainnya.<br />

Format ini dapat diatur dari bagian<br />

setting dari masing-masing program/alat<br />

navigasi.<br />

Ada beberapa format yang umum digunakan:<br />

hddd.ddddd0 ; hddd0mm,mmm’<br />

; hddd0mm’ss.s” ; +ddd,ddddd0. Sehingga<br />

sebuah titik dapat ditunjukkan dengan<br />

beberapa cara, sebagai contoh: titik<br />

S6010.536’ E106049.614’ sama dengan titik<br />

S6.175600 E106.826910 sama dengan titik<br />

S6010’32.2” E106049’36.9” sama dengan<br />

-6.175600 106.826910. Bagian pertama adalah<br />

koordinat Latitude, yang diikuti oleh<br />

koordinat Longitude atau sering disingkat<br />

Lat/Long.<br />

Kegunaan<br />

• Militer<br />

GPS digunakan untuk keperluan perang,<br />

seperti menuntun arah bom, atau<br />

mengetahui posisi pasukan berada. De<br />

ngan cara ini maka kita bisa mengeta<br />

hui mana teman mana lawan untuk<br />

menghindari salah target, ataupun menen<br />

tukan pergerakan pasukan.<br />

• Navigasi<br />

GPS banyak juga digunakan sebagai<br />

alat navigasi seperti kompas. Beberapa<br />

jenis kendaraan telah dilengkapi dengan<br />

GPS untuk alat bantu nivigasi, dengan<br />

menambahkan peta, maka bisa digunakan<br />

untuk memandu pengendara, sehingga<br />

pengendara bisa mengetahui jalur mana<br />

yang sebaiknya dipilih untuk mencapai<br />

tujuan yang diinginkan.<br />

• Sistem Informasi Geografis<br />

Untuk keperluan Sistem Informasi Geografis,<br />

GPS sering juga diikutsertakan dalam<br />

pembuatan peta, seperti mengukur<br />

jarak perbatasan, ataupun sebagai referensi<br />

pengukuran.<br />

• Sistem pelacakan kendaraan.<br />

Kegunaan lain GPS adalah sebagai pelacak<br />

kendaraan, dengan bantuan GPS pemilik<br />

kendaraan atau pengelola armada bisa<br />

mengetahui keberadaan kendaraannya.<br />

*) Asisten Monev Satker Pembinaan Pembangunan<br />

Infrastruktur Perdesaan Direktorat<br />

Bina Program <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 27


GEMARPIJM<br />

Gema RPIJM<br />

Pembangunan di bidang keciptakaryaan<br />

me merlukan panduan yang jelas antara rencana<br />

Pemerintah, pemerintah propinsi serta<br />

pemerintah kabupaten/kota agar dapat ter -<br />

capai pembangunan infrastruktur yang terpadu,<br />

efektif, dan efisien. Untuk mencapai<br />

hasil yang maksimal, setiap pembangunan<br />

harus melewati tahapan evaluasi seperti diatur<br />

pada Peraturan Pemerintah Nomor 39<br />

Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian<br />

dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pem bangunan.<br />

Rencana Program Investasi Jangka Menengah<br />

(RPIJM) lahir dalam rangka mengatasi<br />

kebingungan Pemerintah (Di rek torat Jen deral<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>) dalam memadukan ren cana<br />

strategisnya dengan rencana pem ba ngunan<br />

infrastruktur daerah. RPIJM me rupakan usaha<br />

DJCK dalam menjaring usu lan dari daerah<br />

untuk pembangunan di bi dang keciptakaryaan<br />

(bottom up). Karena usulan tersebut<br />

merupakan usulan yang akan didanai<br />

oleh APBN, maka tidak semua usulan dapat<br />

langsung disetujui melainkan harus disesuaikan<br />

dengan pagu dan target renstra<br />

serta memenuhi readiness criteria. RPIJM<br />

Suasana Kota Bandung<br />

SPPIP Memperkuat<br />

Dokumen RPIJM<br />

Ratih Fitriani*)<br />

Sebagian besar dokumen Rencana Program dan Investasi Jangka<br />

Menengah (RPIJM) yang dibuat oleh pemerintah daerah terkesan<br />

kurang serius terutama dalam melakukan analisis kebutuhan<br />

infrastrukturnya. Tahun 2010, DJCK memberikan bantuan teknis<br />

kepada daerah untuk menyusun dokumen SPPIP (Strategi<br />

Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan)<br />

sebagai dokumen pendukung RPIJM untuk memperkuat analisis<br />

kebutuhan pembangunan infrastruktur daerah.<br />

merupakan salah satu alat DJCK dalam menyusun<br />

dan mengusulkan kegiatan serta<br />

alokasi anggarannya.<br />

Sebagai informasi, Readiness criteria meru<br />

pakan kriteria yang disusun DJCK dalam<br />

menyaring usulan dari pemerintah daerah.<br />

Adapun readiness criteria tersebut adalah :<br />

Terdapat rencana kegiatan rinci (Jelas); terdapat<br />

Indikator kinerja untuk monitoring;<br />

kesiapan lahan/sudah tersedia lahan; tersedia<br />

DED; khusus pembangunan TPA dan IPAL<br />

sudah tersedia dokumen AMDAL; tersedia<br />

Dana Daerah Untuk Bersama (DDUB); jelas<br />

unit pelaksana kegiatan; jelas institusi pengelola<br />

pasca konstruksi.<br />

RPIJM berisi tentang analisis kelayakan<br />

program (feasibility study) untuk rencana<br />

pem bangunan infrastruktur bidang keciptakaryaan.<br />

Analisis kelayakan ini harus dilakukan<br />

dengan melihat kondisi, potensi<br />

mau pun peluang yang dapat dimanfaatkan<br />

pada kabupaten/kota yang bersangkutan sehingga<br />

dapat mencapai tujuan dan sasaran<br />

pembangunan perkotaan yang diinginkan.<br />

Oleh karena itu, RPIJM harus disusun secara<br />

profesional dengan tetap menekankan pro-<br />

ses partisipasi melalui dialog kebijakan antar<br />

aparat pemerintah daerah dengan pihakpihak<br />

terkait, masyarakat, profesional serta<br />

dialog investasi dengan masyarakat dunia<br />

usaha.<br />

Dari segi pendanaan, program investasi<br />

yang diusulkan tersebut dapat melibatkan<br />

atau memerlukan sumber dana baik dari<br />

pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/<br />

kota, badan usaha, swasta ataupun masyarakat.<br />

Analisis kebutuhan infrastruktur harus<br />

dilakukan secara tepat agar dokumen<br />

RPIJM tersebut dapat dengan lebih tegas<br />

menggambarkan kondisi dan kebutuhan<br />

dae rah terhadap infrastruktur keciptakaryaan.<br />

Terlaksananya kegiatan DJCK yang sesuai<br />

dengan RPIJM merupakan salah satu upaya<br />

pemenuhan kebutuhan infrastruktur daerah.<br />

Pembangunan yang sesuai dengan<br />

RPIJM akan bermanfaat bagi masyarakat.<br />

Tercapainya kinerja DJCK diukur berdasarkan<br />

pemanfaatan hasil pembangunannya oleh<br />

masyarakat (outcome). Dengan demikian dokumen<br />

RPIJM dapat dimanfaatkan sebagai<br />

langkah awal dalam mengevaluasi kinerja<br />

DJCK. RPIJM dapat menjadi salah satu alat<br />

ukur tercapainya kinerja DJCK.<br />

Kondisi yang terjadi saat ini adalah<br />

sebagian besar dokumen RPIJM yang dibuat<br />

oleh daerah terkesan kurang serius<br />

terutama dalam melakukan analisis kebutuhan<br />

infrastrukturnya. Hasil akhir dari doku<br />

men tersebut ternyata hanya berupa<br />

daf tar rencana pembangunan infrastruktur<br />

tanpa ada keterkaitan yang jelas dengan<br />

analisis yang dilakukan pada bab-bab sebe<br />

lumnya. Selain itu, dokumen RPIJM belum<br />

memperlihatkan tindak lanjut dari usulan<br />

tersebut, belum terlihat apa rencana<br />

pembangunan yang akan dilakukan oleh<br />

daerah tersebut untuk membuat infrastruktur<br />

yang telah terbangun dapat bermanfaat bagi<br />

masyarakat. Dengan kata lain, dokumen<br />

RPIJM saat ini belum menggambarkan secara<br />

tepat kebutuhan infrastruktur daerah. Untuk<br />

mengatasi kondisi itu, maka DJCK pada tahun<br />

2010 memberikan bantuan teknis kepada<br />

daerah untuk menyusun dokumen SPPIP<br />

(Stra tegi Pengembangan Permukiman dan<br />

Infrastruktur Perkotaan) sebagai dokumen<br />

pendukung RPIJM. Dokumen tersebut diha<br />

rapkan dapat memperkuat analisis kebutuhan<br />

pembangunan infrastruktur pada<br />

RPIJM masing-masing daerah.<br />

*) Staf Subdit Evaluasi Kinerja, Dit. Bina Program,<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

28 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010


RESENSI<br />

Resensi<br />

Rencana Strategis<br />

Direktorat Jenderal<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

2010-2014<br />

Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Na sional<br />

tahun 2010-2014 yang tercantum dalam Peraturan Presiden Republik<br />

Indonesia nomor 5 tahun 2010 maka perlu disusun Rencana Strategis<br />

Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> tahun 2010-2014. Rencana Strategis<br />

Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> tahun 2010-2014 dibuat dengan<br />

mengacu kepada Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum<br />

Tahun 2010-2014 yang telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri<br />

Pekerjaan Umum Nomor 02/PRT/M/2010 tanggal 29 Januari 2010.<br />

Rencana Strategis Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> tahun 2010-<br />

2014 ini memuat arahan mandat undang-undang, tugas, fungsi,<br />

kewenangan, visi, misi dan tujuan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>, serta rincian<br />

program dan kegiatan <strong>Ditjen</strong> tahun 2010-2014 dapat menjadi acuan<br />

bagi setiap Satminkal/Direktorat di lingkungan <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

dalam menyusun program dan kegiatan setiap tahun mulai tahun<br />

2010 hingga 2014.<br />

Susunan Renstra <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> 2010-2014 dimulai dengan<br />

pemaparan tentang kondisi dan tantangan penyelenggaraan bidang<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>; visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>;<br />

strategi penyelenggaraan <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>; serta program dan kegiatan.<br />

Pembangunan infrastruktur bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> (permukiman)<br />

mempuanyai manfaat langsung untuk peningkatan taraf hidup masyarakat<br />

dan kualitas lingkungan, karena semenjak tahap konstruksi<br />

telah dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekaligus<br />

menggerakkan sektor riil.<br />

Sementara pada masa layanan, berbagai multiplier<br />

ekonomi dapat dibangkitkan melalui kegiatan pengoperasian<br />

dan pemeliharaan in fastruktur. Infrastrktur bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

(permukiman) yang te lah terbangun tersebut pada akhirnya<br />

juga memperbaiki kualitas per mukiman.<br />

Dengan demikian, pembangunan infrastruktur bidang <strong>Cipta</strong><br />

<strong>Karya</strong> (permukiman) pada dasarnya dimaksudkan untuk mencapai 3<br />

(tiga) strategic goals yaitu; a) meningkatkan pertumbuhan ekonomi<br />

kota dan desa, hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan peran<br />

pusat-pusat pertumbuhan ekonomi desa dan meningkatkan akses<br />

infrastruktur bagi pertumbuhan ekonomi lokal; b) meningkatkan<br />

kesejahteraan masyarakat, dimaksudkan untuk mengurangi kemiskinan<br />

dan memperluas lapangan kerja; c) meningkatkan kualitas<br />

lingkungan, yang bermaksud untuk mengurangi luas kawasan kumuh,<br />

meningkatkan kualitas penyelenggaraan penataan kawas an<br />

permukiman dan peningkatan pelayanan dan infrastruktur permukiman.<br />

Untuk mewujudkan tiga strategic goal di atas tugas pembangunan<br />

infrastruktur bidang <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> (permukiman) diwujudkan dengan<br />

dua pendekatan: i) pendekatan skala kabupaten kota melalui tugas<br />

pengaturan, pembinaan dan pengawasan bidang permukiman; ii)<br />

pendekatan skala kawasan melalui tugas pembangunan infrastruktur<br />

permukiman.<br />

Buku ini dilengkapi dengan diagram dan tabel seluruh kegiatan<br />

2010-2014. Buku ini wajib dimiliki oleh semua pejabat di lingkungan<br />

<strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>. Karena dalam buku ini memuat acuan dalam<br />

penyusunan program, rencana kerja serta Anggaran <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

mulai tahun 2010, 2011, 2012, 2013 sampai dengan 2014. (dvt)<br />

Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010 29


SEPUTARKITA<br />

Seputar Kita<br />

2010, 14 TPA Uji Coba<br />

Sistem Sanitary Landfill<br />

Pada tahun 2010 ini, sebanyak 14 Tempat Pembuangan Akhir<br />

(TPA) sampah di 13 propinsi telah melakukan uji coba operasi dan<br />

pemeliharaan dengan menggunakan sistem sanitary landfill. Beberapa<br />

TPA yang sudah menjalankan uji coba diantaranya adalah TPA Bengkala<br />

di Propinsi Bali, TPA Kota Manado, TPA Malang di Provinsi Jawa Timur<br />

dan TPA Kota Kupang di Provinsi NTT. Uji coba ini merupakan hasil<br />

bantuan teknis yang dilakukan oleh <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong>.<br />

“Beberapa TPA saat ini sudah selesai melakukan uji coba, sedangkan<br />

lainnya sedang berjalan. Untuk tahun ini <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

akan melakukan bantuan teknis di 14 TPA, sisanya akan dilakukan di<br />

tahun 2011. TPA Bengkala di Bali akan menjadi contoh sukses sistem<br />

sanitary landfill,” kata Kasubdit Pengelolaan dan Pengusahaan Dit.<br />

PLP Endang Setyaningrum dalam acara “Konsinyasi Bantuan Teknis<br />

Operasi dan Pemeliharaan TPA Sanitary Landfill” di Jakarta, Jumat (6/8).<br />

(dvt)<br />

Pemerintah Susun<br />

RUU Pengelolaan Air Limbah<br />

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum tengah<br />

me nyusun Rancangan Undang-Undang tentang Pengelolaan Air<br />

Limbah. Sampai saat ini, penyiapan RUU tersebut sudah sampai pada<br />

tahap penyusunan draft rancangan undang-undang. Draft RUU ini<br />

diharapkan dapat menjadi bahan pemenuhan syarat pengajuan<br />

sebuah RUU sesuai dengan tata cara pembentukan Peraturan<br />

Perundangan yang berlaku di Indonesia.<br />

Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman<br />

(PLP) <strong>Ditjen</strong> <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Syukrul Amien mengatakan, Draft RUU ini<br />

merupakan kelanjutan dari Penyusunan Naskah Akademik RUU<br />

Pengelolaan Air Limbah pada 2009 lalu. Penyusunan legal drafting ini<br />

merupakan langkah awal pembuatan undang-undang tentang air<br />

limbah.<br />

“Memang perlu waktu panjang untuk menjadi undang-undang,<br />

tapi yang penting kita sudah memulai,” katanya, saat membuka<br />

“Diskusi Pakar I Pemantapan Muatan Naskah Akademik Penyusunan<br />

Draft Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Air Limbah,” di Jakarta,<br />

Rabu (18/8). (dvt)<br />

DWP <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Berikan Bantuan Pendidikan<br />

Hipno.JPGDharma Wanita Persatuan (DWP) <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> peduli<br />

pada masalah pendidikan. Hal ini ditunjukkan dengan diserahkannya<br />

beasiswa pendidikan kepada tujuh orang pelajar di lingkungan <strong>Ditjen</strong><br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> masing-masing sebesar 250 ribu rupiah. Penyerahan<br />

dilakukan secara simbolik kepada orang tua pelajar oleh Ketua DWP<br />

<strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> Erna Budi Yuwono di Ruang Rapat Direktur Air Minum,<br />

Senin (9/8).<br />

Dalam kesempatan tersebut, Erna Budi Yuwono mengatakan,<br />

uang beasiswa ini agar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. “Jumlah<br />

uangnya memang tidak besar, tapi saya harap dapat menjadi motivasi<br />

bagi anak untuk sukses dan meraih cita-cita yang diinginkan,” katanya.<br />

(dvt)<br />

30 Buletin <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong> - 08/Tahun VIII/Agustus 2010


Segenap Pimpinan dan Staf<br />

Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Mengucapkan<br />

selamat menunaikan<br />

ibadah puasa ramadhan<br />

1431 h


Segenap Pimpinan<br />

dan Staf Direktorat Jenderal <strong>Cipta</strong> <strong>Karya</strong><br />

Mengucapkan<br />

dirgahayu kemerdekaan RI<br />

ke-65<br />

semangat kemerdekaan<br />

untuk membangun bangsa<br />

www.flickr.com/photos/memet/3703041609

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!