07.02.2015 Views

m49s9xe

m49s9xe

m49s9xe

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

TEROR BEGAL MOTOR<br />

SNIPER<br />

INDONESIA<br />

LEGENDARIS<br />

SIMSALABIM<br />

FERIYANI<br />

LIM<br />

EDISI 167 | 9 - 15 FEBRUARI 2015


DAFTAR ISI<br />

EDISI 167 9 - 15 FEBRUARI 2015<br />

FOKUS<br />

JURUS MABUK<br />

MANTAN TEMAN<br />

OPENG<br />

BUKAN CUMA HASTO DAN POLISI,<br />

DUA SAHABAT ABRAHAM SAMAD<br />

DI MAKASSAR IKUT-IKUTAN<br />

MELEMPAR SERANGAN. “APAKAH<br />

DIBELI ORANG TERTENTU”<br />

NASIONAL<br />

CRIME STORY<br />

n DILEMA JOKOWI KARENA BUDI<br />

n ‘DON CORLEONE’ MENOLAK BUI<br />

INTERNASIONAL<br />

n BEGAL BERULAH BIKIN RESAH<br />

KRIMINAL<br />

n DENDAM DI BALIK PENEMBAKAN<br />

EKONOMI<br />

n MAAF, TAK ADA SENJATA UNTUK UKRAINA<br />

n SUPERJENDERAL DARI TEHERAN<br />

n ADA UANG, ADA DARAH<br />

INTERVIEW<br />

n PILIH PEJABAT NEGARA YANG TIDAK KORUP<br />

KOLOM<br />

n PRAPERADILAN SEBAGAI PENANGKAL PROSES HUKUM<br />

SELINGAN<br />

n PERTARUHAN MOBIL MURAH TIONGKOK<br />

n MENEROBOS MEREK ASING<br />

n TETAP WULING, BUKAN CHEVROLET<br />

n GENJOT INVESTASI DENGAN MOBIL MURAH<br />

n KARENA BATU BARA DIBATASI DI TIONGKOK<br />

BISNIS<br />

n MAJU TAK GENTAR TOKO TRADISIONAL<br />

INSPIRING PEOPLE<br />

n JAWARA SAMPAH DARI LANGIT<br />

LENSA<br />

n SNIPER<br />

TEATER<br />

n GELIAT IMLEK 2566<br />

n ARYATI DAN DRAMA MUSIKAL RINGAN<br />

FILM<br />

n DONNA | ANANDA SUKARLAN | MARTINA HINGIS<br />

GAYA HIDUP<br />

n JUPITER NAIK KE MANA<br />

n FILM PEKAN INI<br />

n AGENDA<br />

Cover:<br />

Ilustrasi: Kiagus Auliansyah<br />

@majalah_detik<br />

majalah detik<br />

n BERKEBUN DI BELANTARA KOTA<br />

n LUPA SEDANG DI SINGAPURA<br />

n KHAS SOLO YANG DISUKA<br />

Pemimpin Redaksi: Arifin Asydhad. Wakil Pemimpin Redaksi: Iin Yumiyanti. Redaksi: Dimas Adityo, Irwan<br />

Nugroho, Nur Khoiri, Sapto Pradityo, Sudrajat, Oktamandjaya Wiguna, Arif Arianto, Aryo<br />

Bhawono, Deden Gunawan, Hans Henricus, Silvia Galikano, Nurul Ken Yunita, Kustiah, M<br />

Rizal, Budi Alimuddin, Pasti Liberti Mappapa, Monique Shintami, Isfari Hikmat, Bahtiar<br />

Rifai, Jaffry Prabu Prakoso, Ibad Durohman, Aditya Mardiastuti. Bahasa: Habib Rifa’i,<br />

Rahmayoga Wedar. Tim Foto: Dikhy Sasra, Ari Saputra, Haris Suyono, Agus Purnomo. Product<br />

Management & IT: Sena Achari, Sofyan Hakim, Andri Kurniawan. Creative Designer: Mahmud Yunus,<br />

Galih Gerryaldy, Desy Purwaningrum, Suteja, Mindra Purnomo, Zaki Al Farabi, Fuad Hasim,<br />

Luthfy Syahban. Illustrator: Kiagus Aulianshah, Edi Wahyono.<br />

Kontak Iklan: Arnie Yuliartiningsih, Email: sales@detik.com Telp: 021-79177000, Fax: 021-79187769<br />

Direktur Utama: Budiono Darsono Direktur: Nur Wahyuni Sulistiowati, Heru Tjatur, Warnedy Kritik dan Saran:<br />

appsupport@detik.com Alamat Redaksi: Gedung Aldevco Octagon Lantai 2, Jl. Warung Jati Barat Raya<br />

No.75 Jakarta Selatan, 12740 Telp: 021-7941177 Fax: 021-7944472 Email: redaksi@majalahdetik.com<br />

Majalah detik dipublikasikan oleh PT Agranet Multicitra Siberkom, Grup Trans Corp.


LENSA<br />

GELIAT IMLEK 2566<br />

TAP UNTUK MELIHAT FOTO UKURAN BESAR<br />

Geliat perayaan tahun baru Imlek 2566 mulai terasa kendati masih lebih dari satu pekan lagi. Tahun baru dalam penanggalan Cina tersebut<br />

akan dirayakan di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia, pada 19 Februari. Lihat persiapannya, yuk.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


LENSA<br />

Pekerja mengeringkan hio di Teluk Naga, Tangerang, Rabu (4/2). Tahun ini merupakan Tahun Kambing Kayu dalam sistem penanggalan<br />

Cina. (Agung Pambudhy/DETIKCOM)


LENSA<br />

Menjelang Imlek sampai perayaan Cap Go Meh, produksi dupa hio meningkat tiga kali lipat dari hari biasa. (Agung Pambudhy/DETIKCOM)


LENSA<br />

Pemasangan lampion di kampung Tionghoa-Melayu, Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (3/2). Kampung Tionghoa-Melayu merupakan permukiman<br />

Tionghoa tertua sekaligus cagar budaya di Pekanbaru yang menjadi pusat perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek pada 19 Februari. (F.B.<br />

Anggoro/ANTARAFOTO)


LENSA<br />

Peragaan busana karya Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese dalam peragaan busana bertajuk Moon Dance di Jakarta, Selasa (3/2).<br />

Menyambut Imlek, sebanyak 68 gaun dan 2 gaun pengantin dibawakan dalam peragaan busana bertema oriental tersebut. (Rosa Panggabean/<br />

ANTARAFOTO)


LENSA<br />

Model memperagakan busana karya Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese dalam peragaan busana bertajuk Moon Dance di Jakarta,<br />

Selasa (3/2). | Tim kesenian Himpunan Keluarga Lim memainkan tarian naga setelah memberi penghormatan di Kelenteng See Hin Kiong,<br />

Padang, Rabu (4/2). (Rosa Panggabean/ANTARAFOTO, Iggoy el Fitra/ANTARA FOTO)


LENSA<br />

Geliat Imlek di sebuah mal di Jakarta Selatan | Pembuatan lampion di Malang, Jawa Timur | Produksi kue keranjang di Yogyakarta. (Ari Saputra/<br />

DETIKCOM, Noveradika&Ari Bowo Sucipto/ANTARAFOTO)


NASIONAL<br />

DILEMA JOKOWI<br />

KARENA<br />

BUDI<br />

SYAFII MAARIF MENGUNGKAP<br />

PERNYATAAN JOKOWI YANG TAK<br />

AKAN MELANTIK BUDI GUNAWAN.<br />

DIANGGAP MEMBANGKANG<br />

PERINTAH PARTAI<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Koordinator Tim 9 Syafii<br />

Maarif (tengah) beserta<br />

anggota tim menjawab<br />

pertanyaan wartawan<br />

setelah bertemu dengan<br />

Presiden Jokowi di Istana<br />

Merdeka, Rabu (28/1).<br />

WIDODO S. JUSUF/ANTARA<br />

TELEPON seluler Ahmad Syafii Maarif<br />

tiba-tiba berdering. Di layar ponsel,<br />

muncul nama Presiden Joko Widodo.<br />

Kepada mantan Ketua Umum Pengurus<br />

Pusat Muhammadiyah itu, Jokowi mengatakan<br />

baru bertemu dengan Ketua Umum<br />

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati<br />

Soekarnoputri dan para petinggi Koalisi<br />

Indonesia Hebat di Istana Merdeka, Jakarta.<br />

Dalam percakapan telepon pada Selasa,<br />

3 Februari, malam itu, Jokowi juga memberi<br />

kabar mengejutkan. Ia tidak akan melantik Komisaris<br />

Jenderal Budi Gunawan sebagai Kepala<br />

Kepolisian RI. “Jokowi bilang, ‘Saya tidak akan<br />

melantik BG,’” kata Maarif. Percakapan dengan<br />

sang presiden diceritakan Maarif di hadapan<br />

peserta seminar yang digelar di Universitas<br />

Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu pekan lalu.<br />

Cerita Buya—demikian pria berusia 79 tahun<br />

itu disapa—tentu mengejutkan. Sebab, berulang<br />

kali Jokowi mengatakan baru akan memutuskan<br />

soal pelantikan Budi Gunawan setelah<br />

hakim memutuskan gugatan praperadilan yang<br />

diajukan kubu Kepala Lembaga Pendidikan dan<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Sidang praperadilan yang<br />

diajukan Budi Gunawan di<br />

Pengadilan Negeri Jakarta<br />

Selatan, Senin (2/2).<br />

RACHMAN HARYANTO/DETIKCOM<br />

Latihan Polri itu terkait penetapan statusnya<br />

sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan<br />

Korupsi.<br />

Sidang praperadilan itu semestinya berjalan<br />

sejak Senin, 2 Februari lalu, di Pengadilan<br />

Negeri Jakarta Selatan. Namun sidang yang<br />

dibuka oleh hakim tunggal Sarpin Rizaldi itu<br />

ditunda hingga Senin pekan ini karena KPK<br />

selaku termohon tidak hadir.<br />

Alasan ketidakhadiran itu, menurut Deputi<br />

Pencegahan KPK Johan Budi, adalah perubahan<br />

materi gugatan dari pemohon yang diajukan<br />

mendadak sehingga KPK belum siap.<br />

Materi gugatan baru diterima KPK pada Kamis<br />

malam, 29 Januari lalu. Setelah dibaca, ternyata<br />

ada tambahan materi sehingga membutuhkan<br />

persiapan lebih lanjut.<br />

“Ketidakhadiran ini sebenarnya normalnormal<br />

saja,” ujar Johan, Senin pekan lalu, di<br />

gedung KPK.<br />

Gugatan praperadilan yang dilayangkan<br />

pihak Budi Gunawan menjadi sangat penting.<br />

Sebab, putusannya akan menentukan kelanjutan<br />

proses hukum yang akan dihadapi mantan<br />

ajudan presiden kelima Indonesia, Megawati<br />

Soekarnoputri, itu. Partai pimpinan Megawati<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Unjuk rasa mendukung<br />

KPK di Makassar, Kamis<br />

(5/2).<br />

Deputi pencegahan KPK<br />

Johan Budi.<br />

YUSRAN UCCANG/ANTARA<br />

RACHMAN HARYANTO/DETIKCOM<br />

pulalah yang mendukung Budi Gunawan untuk<br />

dilantik sebagai Kepala Polri.<br />

Maarif sebelumnya mengungkapkan bahwa<br />

pengajuan nama Budi Gunawan sebagai calon<br />

Kapolri ke Dewan Perwakilan Rakyat sejatinya<br />

bukan atas inisiatif Presiden Jokowi. Maarif,<br />

yang merupakan Koordinator Tim Independen,<br />

yang dibentuk Jokowi untuk memberi masukan<br />

soal konflik KPK-Polri, juga menyebut Presiden<br />

mendapat tekanan dari partai pengusungnya<br />

terkait polemik calon Kapolri tersebut.<br />

Inilah yang membuat posisi Jokowi menjadi<br />

dilematis. Di satu sisi ia ditekan partai pengusung,<br />

sementara di sisi lain tuntutan publik<br />

yang menolak pelantikan Budi Gunawan semakin<br />

hari kian kencang. “Menunda pelantikan<br />

dengan dalih menunggu sidang praperadilan<br />

adalah cara Jokowi untuk mereduksi tekanan,”<br />

tutur sumber majalah detik di lingkaran Jokowi.<br />

Perhitungannya, kata sumber itu, jika gugatan<br />

praperadilan ditolak hakim, Presiden pu-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Komjen Budi Waseso (kiri)<br />

dan Komjen Dwi Priyatno<br />

DOK. DETIKCOM<br />

nya cukup alasan untuk<br />

membatalkan pelantikan<br />

Budi. Namun, jika gugatan<br />

praperadilan diterima,<br />

Budi Gunawan tetap tidak<br />

dilantik karena Jokowi<br />

sudah mendapat rekomendasi<br />

dari tim yang<br />

berjumlah sembilan orang<br />

itu, selain adanya tekanan<br />

publik.<br />

Isu pembatalan pelantikan<br />

Komjen Budi semakin<br />

santer setelah Komisi<br />

Kepolisian Nasional pekan<br />

lalu kembali mengusulkan nama calon Kapolri.<br />

Di antara sejumlah nama, Kompolnas kabarnya<br />

sudah mengerucutkan ke satu nama, yakni Budi<br />

Waseso, kini menjabat Kepala Badan Reserse<br />

Kriminal Polri. Kamis pekan lalu, Budi resmi menyandang<br />

pangkat komisaris jenderal (bintang<br />

tiga), sehingga berhak diusulkan sebagai calon<br />

Kepala Polri.<br />

Sumber majalah detik di kalangan internal<br />

PDI Perjuangan tak menampik kuatnya dukungan<br />

terhadap Budi Waseso. Selain Waseso,<br />

nama Komjen Dwi Priyatno, yang kini menjabat<br />

Inspektur Pengawasan Umum Mabes<br />

Polri, juga menguat. Nama Dwi muncul seusai<br />

pertemuan Megawati dengan Jokowi.<br />

“Komjen Dwi cukup acceptable buat banyak<br />

orang,” ucap politikus PDIP yang duduk di DPR<br />

tersebut.<br />

Namun, kata sumber itu, pencalonan Budi<br />

Waseso tak lantas membuat hubungan Jokowi<br />

dengan partai pendukungnya, terutama PDI<br />

Perjuangan, kembali harmonis. Pasalnya, sejumlah<br />

elite partai berlambang banteng itu sudah<br />

menunjukkan ketidaksenangan jika Jokowi<br />

batal melantik Budi Gunawan.<br />

“Apalagi Jokowi kan terima mandat dari<br />

partai untuk maju di pilpres. Sebagai petugas<br />

partai, Jokowi harus patuh pada keputusan<br />

ketua umum,” begitu ujar sang sumber.<br />

Namun peneliti Lingkaran Survei Indonesia,<br />

Rully Akbar, mengatakan, bagaimanapun,<br />

Jokowi harus melepas atribut sebagai petugas<br />

partai. Sebab, saat ini Jokowi menjadi presiden<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Presiden Joko Widodo<br />

saat melakukan inspeksi<br />

pasukan dalam kunjungan<br />

kenegaraan ke Kuala<br />

Lumpur, Malaysia, Kamis<br />

(5/2).<br />

OLIVIA HARRIS /REUTERS<br />

bagi seluruh rakyat Indonesia. Menurut Rully,<br />

Jokowi bakal kehilangan kepercayaan dari rakyat<br />

jika tetap memaksakan diri memilih Budi<br />

sebagai Kapolri.<br />

Pertimbangan Jokowi membentuk Tim Independen,<br />

menurut Rully, sudah tepat. “Melantik<br />

atau tidak Komjen Budi sebagai Kapolri akan<br />

membuktikan apakah benar Jokowi tegas dan<br />

tidak terpengaruh oleh tekanan dari dalam<br />

(partai pengusung),” tuturnya.<br />

Senada dengan Rully, Direktur Eksekutif<br />

Lembaga Survei Indonesia Kuskridho Ambardi<br />

mengatakan Jokowi memang harus merespons<br />

tuntutan dari dua kelompok pendukungnya,<br />

yakni massa atau publik dan elite partai politik<br />

pendukungnya.<br />

“Namun, pada akhirnya, saya kira Jokowi<br />

akan menimbang dukungan populer massa<br />

yang lebih serius,” ucapnya. n<br />

JAFFRY PRABU PRAKOSO | DEDEN G.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

‘DON CORLEONE’<br />

MENOLAK BUI<br />

TERPIDANA KASUS PENCUCIAN UANG AIPTU LABORA<br />

SITORUS DIIMBAU MENYERAHKAN DIRI. OKNUM<br />

YANG TERLIBAT DALAM PEMBEBASAN TERPIDANA 15<br />

TAHUN ITU TERANCAM SANKSI BERAT.<br />

ARI SAPUTRA/DETIKFOTO<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Lahan perbukitan yang<br />

diduga dimiliki oleh<br />

Labora Sitorus di Sorong,<br />

Papua Barat.<br />

DETIKCOM<br />

SEORANG reporter televisi swasta<br />

menjalani “pemeriksaan” saat<br />

akan memasuki rumah Ajun Inspektur<br />

Satu Labora Sitorus, Kamis<br />

pekan lalu. Ia bersama sejumlah wartawan<br />

tengah menjalankan tugas jurnalistik untuk<br />

mewawancarai terpidana kasus penimbunan<br />

bahan bakar minyak dan pencucian uang itu<br />

di rumahnya, Kelurahan Rufei, Distrik Sorong<br />

Barat, Kota Sorong, Papua Barat.<br />

Namun tak mudah “menembus” kediaman<br />

anggota Kepolisian Resor Raja Ampat di<br />

kawasan Tampa Garam itu. Sebab, rumah<br />

bintara polisi pemilik rekening gendut dengan<br />

transaksi sampai Rp 1,5 triliun tersebut dijaga<br />

ketat oleh para pengikut dan karyawannya.<br />

Ada puluhan pria yang selalu berjaga di<br />

rumah Labora, yang sekaligus tempat usaha<br />

pengolahan kayu dengan nama PT Rotua. Para<br />

tetamu, termasuk wartawan, wajib diperiksa.<br />

“Setelah dipastikan aman, baru boleh masuk,”<br />

kata wartawan yang bertugas di wilayah Sorong<br />

itu.<br />

Di dalam rumahnya yang jembar, Labora<br />

mengaku sakit setelah terserang stroke ringan.<br />

Raut wajahnya lesu. Kedua telapak tangannya<br />

dibebat perban. “Dia seperti menderita diabetes<br />

juga,” ujar jurnalis tersebut.<br />

Akhir-akhir ini Labora Sitorus kembali menjadi<br />

sorotan publik. Ia semestinya sudah berada<br />

di balik jeruji besi untuk menjalani hukuman<br />

yang sudah berkekuatan hukum tetap (in<br />

kracht). Mahkamah Agung pada 17 September<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Don Vito Corleone dalam<br />

karakter film yang<br />

diperankan aktor Marlon<br />

Brando, 1972.<br />

GETTY IMAGES<br />

2014 menjatuhkan vonis 15 tahun penjara serta<br />

denda Rp 5 miliar subsider satu tahun penjara<br />

kepada Labora.<br />

Namun ia menolak menjalani hukuman. Alasannya,<br />

ia sudah mengantongi surat keterangan<br />

bebas hukum yang dikeluarkan Lembaga<br />

Pemasyarakatan Sorong pada Agustus 2014.<br />

Meskipun diketahui berada di rumahnya di<br />

Sorong, aparat kejaksaan sulit melakukan<br />

eksekusi. Labora berkukuh sudah bebas<br />

dari hukum hanya berbekal surat itu.<br />

Ia juga mendapat “perlindungan”<br />

dari para pengikutnya,<br />

termasuk warga setempat.<br />

“Banyak yang melindungi<br />

dia,” tutur Menteri Hukum dan Hak<br />

Asasi Manusia Yasonna Laoly saat<br />

ditemui di Jakarta, Rabu, 4 Februari lalu.<br />

Informasi yang diperoleh majalah detik,<br />

Labora bahkan dilindungi para<br />

tetua adat di Raja Ampat. Labora<br />

dianggap bagian<br />

dari keluarga adat<br />

di sana, bermarga<br />

Salambesi. Begitu berpengaruhnya sampaisampai<br />

Menteri Yasonna menyebut Labora<br />

bak tokoh mafia Amerika Serikat masa lalu,<br />

Don Vito Corleone, yang difilmkan dengan<br />

judul The Godfather.<br />

“Kelompok masyarakat ini mengatakan dia<br />

(Labora) (seperti) raja kecil di Papua Barat. Dia<br />

semacam Don Corleone di sana,” ucap Yasonna.<br />

Kasus Labora mencuat setelah Pusat Pelaporan<br />

dan Analisis Transaksi Keuangan mengendus<br />

transaksi jumbo di rekening Labora<br />

lebih dari Rp 1 triliun. Angka fantastis itu dianggap<br />

tak sesuai dengan profilnya sebagai<br />

bintara polisi. Kasus itu pun berlanjut, dan<br />

Labora ditetapkan sebagai tersangka kasus<br />

penimbunan BBM lewat perusahaannya, PT<br />

Seno Adi Wijaya, serta penyelundupan kayu<br />

dengan perusahaan PT Rotua.<br />

Namun, pada pertengahan Februari 2014,<br />

Labora lolos dari dakwaan kasus pencucian<br />

uang dalam sidang di Pengadilan Negeri Sorong.<br />

Ia hanya dijerat dengan Undang-Undang<br />

Minyak dan Gas serta UU Kehutanan karena<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Persidangan Labora Sitorus<br />

di Pengadilan Negeri<br />

Sorong.<br />

DETIKCOM<br />

menimbun BBM dan melakukan pembalakan<br />

liar. Ia pun “cuma” divonis 2 tahun penjara dan<br />

denda Rp 50 juta subsider 6 bulan bui oleh<br />

majelis hakim yang diketuai Martinus Bala.<br />

Jaksa lalu meminta banding ke Pengadilan<br />

Tinggi Papua, yang lalu hukumannya diperberat<br />

menjadi 8 tahun penjara. Jaksa kembali<br />

mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.<br />

Hasilnya, majelis kasasi yang dipimpin Artidjo<br />

Alkostar menjatuhkan vonis 15 tahun penjara<br />

dan denda Rp 5 miliar subsider satu tahun<br />

penjara.<br />

Nah, masalah mencuat saat kejaksaan akan<br />

mengeksekusi vonis Labora pada Oktober<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Aiptu Labora Sitorus saat<br />

ditemui wartawan di<br />

rumahnya di Sorong, Kamis<br />

(5/2)<br />

ISTIMEWA<br />

2014. Saat eksekusi akan dibacakan, terpidana<br />

ternyata sudah tidak berada di Lapas Sorong.<br />

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan<br />

Agung, Tony Spontana, mengatakan pihaknya<br />

tidak tahu-menahu soal surat bebas hukum<br />

yang dikeluarkan lapas. Kejaksaan juga tidak<br />

pernah merekomendasikan soal itu.<br />

Karena menjadi “urusan” Kementerian Hukum,<br />

kejaksaan hanya bersikap menunggu<br />

hasil investigasi tim Kementerian terhadap<br />

keluarnya surat bebas bagi Labora tersebut.<br />

“Kejaksaan hanya sebagai eksekutor,” kata<br />

Tony.<br />

Untuk melakukan eksekusi putusan MA, kejaksaan<br />

dan kepolisian akan melakukan upaya<br />

persuasif. Hal itu disepakati dalam pertemuan<br />

antara kejaksaan, Kementerian Hukum, dan<br />

Kepolisian Daerah Papua Barat. Labora juga<br />

dicegah untuk bepergian keluar, termasuk<br />

melalui operasi intelijen. “Kami ingin yang<br />

bersangkutan menyerahkan diri,” ujar Tony.<br />

Menteri Yasonna memberi tenggat dua pekan<br />

kepada jaksa dan polisi untuk melakukan<br />

upaya persuasif. Ia juga telah menugasi Direktur<br />

Jenderal Pemasyarakatan Kementerian<br />

Hukum Muhammad Sueb ke Sorong untuk<br />

berkoordinasi dengan Kejaksaan Tinggi Papua<br />

Barat dan Polda Papua Barat.<br />

Adapun soal surat keterangan bebas hukum<br />

yang diterbitkan Lapas Sorong, Yasonna<br />

menyebut surat itu tidak sah dan menyalahi<br />

ketentuan perundang-undangan. Apalagi<br />

sudah keluar putusan MA yang berkekuatan<br />

hukum tetap.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Menteri Hukum dan Hak<br />

Asasi Manusia Yasonna Laoly<br />

dalam rapat kerja dengan<br />

Komisi III DPR.<br />

LAMHOT ARITONANG/DETIKCOM<br />

Surat pembebasan Labora juga dianggap<br />

janggal lantaran tak mencantumkan nomor<br />

surat, dan cuma diteken seorang Pelaksana<br />

Harian Kepala Lapas Sorong. Surat tembusan<br />

juga tak dikirimkan kepada Kepala Kantor<br />

Wilayah Kementerian Hukum di Sorong.<br />

Apalagi Labora sudah keluar dari penjara<br />

jauh hari sebelum surat itu keluar pada Agustus<br />

2014. Ia izin keluar dari penjara dengan<br />

alasan berobat pada Maret-April tahun lalu.<br />

Namun ia tak pernah kembali ke lapas.<br />

“(Maka) diaturlah surat keterangan bebas<br />

itu,” tutur menteri dari Partai Demokrasi Indonesia<br />

Perjuangan tersebut.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Ilustrasi pembalakan liar<br />

DETIKCOM<br />

Tim inspektorat Kementerian Hukum kini tengah<br />

menyelidiki soal surat tersebut. Yasonna<br />

berjanji akan menjatuhkan sanksi kepada oknum<br />

yang terlibat dalam pembebasan Labora. “Itu<br />

(akan dikenai) sanksi berat,” ucapnya.<br />

Kepala Polda Papua Barat Brigadir Jenderal<br />

Paulus Waterpauw mengakui Labora masih<br />

berpedoman pada surat bebas hukum yang dipegangnya.<br />

Hal itu menjadi penghalang utama<br />

aparat dalam melakukan eksekusi vonis. Paulus<br />

telah meminta Dirjen Pemasyarakatan memastikan<br />

keabsahan pembebasan Labora. Lalu,<br />

mengeluarkan surat yang menyatakan sah atau<br />

tidaknya surat bebas hukum tersebut.<br />

“Tapi sampai saat ini (surat) itu belum ada,”<br />

kata Paulus saat dihubungi secara terpisah, Jumat,<br />

6 Februari lalu.<br />

Paulus membenarkan pihaknya mengedepankan<br />

tindakan persuasif dalam membantu kejaksaan<br />

melakukan eksekusi. Ia sudah menugasi<br />

sebuah tim untuk melakukan negosiasi de ngan<br />

pihak Labora. “Ja ngan sampai ada kekerasan,<br />

itu harus dihindari,” kata perwira tinggi bintang<br />

satu tersebut. n M. RIZAL, JAFFRY PRABU P. | DIM<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

KALAPAS DAN JAKSA<br />

PUN KUNJUNGI LABORA<br />

TERPIDANA kasus penimbunan<br />

bahan bakar minyak, pembalakan<br />

liar, dan pencucian uang,<br />

Ajun Inspektur Satu Labora Sitorus,<br />

menolak eksekusi hukuman penjara<br />

yang akan dilakukan kejaksaan. Padahal<br />

Mahkamah Agung menghukumnya<br />

dengan pidana penjara 15 tahun dan<br />

denda Rp 5 miliar.<br />

Bintara polisi pemilik rekening gendut<br />

ini berkukuh tak bersalah seperti<br />

yang dituduhkan. Ia juga menolak<br />

masuk daftar pencarian orang (DPO)<br />

karena selama ini ia tinggal di rumah<br />

saja. Labora juga menjalani terapi kesembuhan<br />

untuk penyakit stroke yang<br />

dideritanya.<br />

Mengapa ia begitu yakin sudah bebas<br />

dari hukum Dan bagaimana ia bisa lolos<br />

dari penjara sejak Maret tahun lalu<br />

Berikut ini penuturan Fredy Fakdawer,<br />

pria yang selama ini mendampingi Labora<br />

di Sorong dan bertindak sebagai<br />

juru bicaranya. Wawancara dilakukan<br />

via telepon, Jumat, 6 Februari lalu.<br />

Sebagian pertanyaan majalah detik<br />

dijawabnya dengan nada tinggi dan<br />

penuh penekanan.<br />

Pak Labora sakit apa<br />

Pak Labora stroke ringan, (dampaknya)<br />

pada tangan. Intinya (ada) komplikasi,<br />

gula tinggi, rematik, juga pada<br />

lutut sebelah kiri. Penyakit lainnya kan<br />

sudah lama (diderita), cuma<br />

terus berobat karena sakit<br />

lagi. Kalau stroke-nya sudah<br />

5-8 bulan ini.<br />

Jadi dengan alasan<br />

sakit itu dia belum<br />

mau kembali ke<br />

lapas<br />

Begini, saya<br />

jelaskan supaya<br />

jangan salah.<br />

Ini kan beliau<br />

sakit, minta<br />

izin dari lapas<br />

untuk berobat<br />

ke RS Angkatan<br />

Laut. Di ru-<br />

DETIKNEWS<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

mah sakit, stroke-nya ini harus diterapi<br />

di air laut. Makanya RS Angkatan Laut<br />

kasih izin (Labora) untuk keluar karena<br />

rumahnya dekat laut, dekat pantai. Jadi<br />

dia di rumah tadi pagi berenang, sore<br />

dia juga berenang di air laut, selama<br />

20 menit. Karena itu, dia selama ini<br />

tinggal di rumah.<br />

Dari lapas, terutama Kalapas<br />

(Sorong), hampir setiap hari datang<br />

berkunjung melihat kondisi beliau (Labora).<br />

Kemudian dari kejaksaan juga<br />

sering datang, berkunjung, bersilaturahmi,<br />

melihat kondisi Pak Labora di<br />

rumah.<br />

Makanya, kalau ada statement<br />

bahwa dia DPO, itu berdasarkan apa<br />

(Labora) Tidak ke mana-mana, dia<br />

cuma di rumah, mereka datang sendiri<br />

lihat (Labora) di rumah kok DPO Ini<br />

pembohongan publik!<br />

Soal putusan MA<br />

Putusan pengadilan (Pengadilan<br />

Negeri) di Sorong kan (dihukum<br />

penjara) 2 tahun. Tapi jaksa tidak<br />

terima, dan banding ke pengadilan<br />

tinggi kemudian (dihukum) 8 tahun.<br />

Lalu jaksa tidak puas lagi dan kasasi<br />

lagi ke Mahkamah Agung. Jadi, kalau<br />

putusan 2 tahun dari pengadilan itu<br />

belum in kracht, (tahanan) kan masih<br />

titipan di lapas.<br />

Karena perpanjangan masa tahanan<br />

itu belum turun lagi, makanya lapas<br />

mengeluarkan surat bebas hukum. Itu<br />

kan diatur dalam Pasal 29 KUHAP. Jadi,<br />

kalau misalnya narapidana ditahan<br />

dalam masa penahanannya sudah<br />

lewat, belum ada perpanjangan masa<br />

tahanan, ya bebas dari hukum. Itu<br />

haknya, dari lapas juga mengatakan<br />

itu. Jadi beliau itu keluar (dari penjara)<br />

berdasarkan itu, surat bebas hukum<br />

untuk berobat. Dia ini kan di rumah,<br />

tidak lari, tidak ke mana-mana sampai<br />

sekarang.<br />

Dia sakit sejak dipenjara<br />

Iya, iya, (dia) stroke, ditambah stres<br />

karena (merasa) tidak punya kesalahan.<br />

Jadi, kalau dipaksakan, kan salah<br />

namanya.<br />

Apa dampak dari stroke itu<br />

Dia punya saraf di tangan kanan,<br />

jari-jarinya tangan kiri dan kanan tidak<br />

bisa digerakkan. Kalau bergerak sakit<br />

sekali. Apalagi kalau kena dingin. Yang<br />

di lutut sebelah kiri rematik, apalagi<br />

dia ditambah gula tinggi.<br />

Apa kegiatan Pak Labora seharihari<br />

Ya, di rumah saja. Berobat sambil<br />

te rapi setiap hari. Pagi jam 09.00 dan<br />

sore jam 16.00 itu 20 menit harus (terapi)<br />

di air laut.<br />

Dia masih polisi aktif atau sudah<br />

diberhentikan<br />

Dia masih berdinas, belum dipecat!<br />

Dia masih (anggota) polisi. n<br />

ADITYA MARDIASTUTI | DIM<br />

MAJALAH MAJALAH DETIK DETIK 9 2 - 15 - 8 FEBRUARI 2015


KRIMINAL<br />

DENDAM DI BALIK<br />

PENEMBAKAN<br />

DIDUGA TERLIBAT DALAM<br />

KASUS PENEMBAKAN AKTIVIS<br />

ANTIKORUPSI, “ORANG DEKAT”<br />

KETUA DPRD BANGKALAN FUAD<br />

AMIN IMRON DITANGKAP.<br />

BARU BERSTATUS TERSANGKA<br />

PENCABULAN.<br />

MUHAMMAD ADIMAJA/ANTARA FOTO<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KRIMINAL<br />

Korban Mathur Husairi<br />

dijenguk oleh anggota Dewan<br />

Pertimbangan Presiden,<br />

Hasyim Muzadi, beberapa<br />

waktu lalu.<br />

ROIS JAJELI/DETIKCOM<br />

KERJA “Tim Cobra” Kepolisian Daerah<br />

Jawa Timur rupanya tak sia-sia.<br />

Penyelidikan tim ini dalam kasus<br />

penembakan aktivis antikorupsi asal<br />

Bangkalan, Madura, Mathur Husairi, membuahkan<br />

hasil dengan ditangkapnya orang dekat<br />

mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron,<br />

Aldi Alfarisi alias Kasmo.<br />

Mathur, 47 tahun, ditembak orang tak dikenal<br />

pada Selasa dini hari, 20 Januari lalu. Ia ditembak<br />

di depan rumahnya, Jalan Teuku Umar III,<br />

Kelurahan Kemayoran, Bangkalan, ketika pulang<br />

dari Surabaya dengan mengendarai mobil.<br />

Ia ditembak saat akan membuka pintu pagar<br />

oleh dua pelaku yang berboncengan sepeda<br />

motor. Meski mengalami luka tembak di bagian<br />

pinggang, Mathur selamat, dan menjalani perawatan<br />

di Rumah Sakit dr Soetomo, Surabaya.<br />

Mathur adalah Direktur Center for Islam<br />

Democracy sekaligus Sekretaris Jenderal Corruption<br />

Watch Bangkalan. Penembakan tersebut<br />

diduga kuat berkaitan dengan aktivitas<br />

dan upaya Mathur membeberkan bukti serta<br />

kesiapannya menjadi saksi kasus korupsi Fuad<br />

Amin Imron, yang kini ditahan Komisi Pemberantasan<br />

Korupsi.<br />

Fuad, yang juga Ketua Dewan Perwakilan<br />

Rakyat Daerah Bangkalan, ditangkap karena<br />

diduga menerima suap dari Direktur PT Media<br />

Karya Sentosa, Antonius Bambang Djatmiko.<br />

Suap diduga berkaitan dengan jual-beli gas di<br />

Blok Madura Barat, yang dikendalikan PT Pertamina<br />

Hulu Energi West Madura Offshore,<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KRIMINAL<br />

Fuad Amin Imron mengenakan<br />

rompi tahanan KPK.<br />

LAMHOT ARITONANG/DETIKCOM<br />

anak perusahaan Pertamina.<br />

Namun saat itu kuasa hukum Fuad Amin,<br />

Bakhtiar Pradinata, menolak kliennya dikaitkan<br />

dengan kasus penembakan Mathur. Meski begitu,<br />

keterangan yang digali dari tempat kejadian<br />

dan pemeriksaan sejumlah saksi merujuk ke<br />

sejumlah orang, salah satunya Aldi Alfarisi, 42<br />

tahun.<br />

Tim Cobra di bawah Subdirektorat Kejahatan<br />

dengan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal<br />

Umum Polda Jawa Timur itu pun memantau<br />

gerak-gerik Aldi. Termasuk saat politikus Partai<br />

Gerindra itu menginap di kamar nomor 605<br />

Hotel Oval, Jalan Diponegoro, Surabaya, sejak<br />

Ahad, 1 Februari lalu. Ia datang bersama sopirnya,<br />

S alias R, 27 tahun, yang menginap di<br />

kamar 612.<br />

Dan... gotcha! Saat Tim Cobra akan menggeledah<br />

kamar 605, Aldi didapati tengah bersama<br />

LCD, 16 tahun. Gadis yang masih di bawah umur<br />

itu diduga dicabuli oleh Ketua Komisi A, yang<br />

membidangi hukum, tersebut. Dari pengusutan,<br />

diketahui bahwa LCD adalah anak mantan<br />

istri pertama Aldi alias Kasmo.<br />

Menurut informasi yang diperoleh majalah<br />

detik dari kepolisian, LCD berhubungan dekat<br />

dengan Kasmo. Gadis itu kerap curhat kepada<br />

mantan suami ibunya tersebut di saat menghadapi<br />

masalah. Sebelum ke Hotel Oval, Kasmo<br />

menjemput LCD di halaman Delta Plaza,<br />

Surabaya. Diduga, gadis tersebut sedang ada<br />

masalah keluarga.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KRIMINAL<br />

Kepala Bidang Humas Polda<br />

Jawa Timur Kombes Awi<br />

Setiyono menunjukkan barang<br />

bukti senjata api yang diduga<br />

digunakan untuk menembak<br />

Mathur Husairi, Kamis (5/2).<br />

ROIS JAJELI/DETIKCOM<br />

Kasmo pun ditetapkan sebagai tersangka.<br />

Ia dijerat pasal pencabulan anak di bawah<br />

umur di dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun<br />

2014 tentang Perlindungan Anak. Ia juga<br />

diduga memalsukan identitas karena memiliki<br />

dua kartu tanda penduduk berbeda, yakni<br />

atas nama Kasmo yang beralamatkan di Dusun<br />

Trebung Barat, Desa Pekadan, Kecamatan<br />

Galis, Bangkalan, dan satu lagi bernama Aldi<br />

Alfarisi, yang dipakainya saat menyewa kamar<br />

hotel.<br />

“Tersangka dikenai pelanggaran Undang-<br />

Undang Perlindungan Anak dan pemalsuan<br />

dokumen negara,” kata Kepala Bidang Humas<br />

Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar<br />

Awi Setiyono, Selasa, 3 Februari lalu.<br />

Sedangkan untuk kasus penembakan Mathur,<br />

polisi masih mendalaminya. Status Kasmo<br />

dalam kasus ini masih sebatas saksi. “Tapi, untuk<br />

kasus pencabulannya, (Kasmo) sudah kami<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KRIMINAL<br />

Sebuah rumah milik Ketua<br />

DPRD Bangkalan Fuad Amin<br />

Imron yang disita Komisi<br />

Pemberantasan Korupsi di<br />

Jalan Kertajaya Indah Blok G<br />

Nomor 110, Surabaya.<br />

M RISYAL HIDAYAT/ANTARA FOTO<br />

tetapkan sebagai tersangka,” ujar Awi.<br />

Kendati begitu, polisi menduga kuat Kasmo<br />

terlibat dalam kasus penembakan Ma thur,<br />

karena sudah lama ia menjadi orang dekat<br />

Fuad Amin. “Dia itu ‘orang'-nya Ketua DPRD<br />

Bangkalan yang ditangkap KPK,” tutur Kepala<br />

Subdirektorat Kejahatan dengan Kekerasan<br />

Polda Jawa Timur Ajun Komisaris Besar Hanny<br />

Hidayat.<br />

Sedangkan R, yang juga sempat ditangkap<br />

di Hotel Oval, diduga berperan sebagai “penggambar”<br />

situasi rumah Mathur Husairi. Setelah<br />

mencokok warga Desa Kajian, Kecamatan Blega,<br />

Bangkalan, itu, polisi menangkap M dan S,<br />

yang diduga sebagai “eksekutor”.<br />

“Motif (penembakan)-nya dendam, sebab<br />

korban (Mathur) melaporkan Ketua DPRD<br />

Bangkalan ke KPK,” ucap Hanny.<br />

Dari pengembangan penyidikan, pada Rabu<br />

pekan lalu polisi berhasil menemukan barang<br />

bukti senjata api rakitan di rumah M di Bangkalan,<br />

yang digunakan untuk menembak Mathur.<br />

Senjata rakitan itu mirip pistol revolver,<br />

tapi pelurunya berkaliber 9 milimeter, bukan<br />

38 milimeter. Saat ditemukan, di dalam pistol<br />

masih tersisa dua peluru.<br />

Barang bukti senjata api berikut amunisinya<br />

itu sudah dikirim ke Laboratorium Forensik<br />

Markas Besar Kepolisian RI cabang Surabaya<br />

untuk diuji apakah rakitan atau bukan. Namun,<br />

dari uji balistik, peluru 9 milimeter yang<br />

ditemukan itu identik dengan yang ditemu-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KRIMINAL<br />

Hasyim Muzadi (kanan)<br />

berbincang dengan<br />

Mutmainah, istri Mathur<br />

Husairi, di RS dr Soetomo,<br />

Surabaya, Rabu (21/1).<br />

M RISYAL HIDAYAT/ANTARAFOTO<br />

kan di tubuh Mathur setelah tertembak tiga<br />

pekan lalu.<br />

M saat ini ditahan dan bakal dijerat dengan<br />

Pasal 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12<br />

Tahun 1951. Namun, hingga Kamis pekan lalu,<br />

statusnya belum dijadikan tersangka. Termasuk<br />

R dan S, yang saat ini sudah dibebaskan<br />

dengan wajib lapor dan masih berstatus sebagai<br />

saksi.<br />

Menurut Awi Setiyono, polisi masih melakukan<br />

rekonstruksi hukum terhadap orangorang<br />

yang ditangkap tersebut. “Tidak mudah<br />

merekonstruksi hukum. Siapa berbuat apa,<br />

harus betul-betul, biar tidak dianggap rekayasa<br />

kasus,” begitu kata Awi.<br />

Sementara itu, Sukur, paman Mathur Husairi,<br />

mengatakan selama ini Kasmo memang dikenal<br />

sebagai orang dekat dan loyalis Fuad Amin<br />

Imron sejak Kasmo menjabat Kepala Desa<br />

Pekadan, Kecamatan Galis, Bangkalan, hingga<br />

menjadi Ketua Komisi A di DPRD. Karena itu,<br />

keluarga menyambut gembira pengungkapan<br />

kasus penembakan tersebut.<br />

Mereka juga berharap polisi mengungkap<br />

kasus-kasus kekerasan yang dialami aktivis<br />

antikorupsi lainnya di Bangkalan. “Semoga,<br />

dengan tertangkapnya Kasmo, kasus pembacokan<br />

terhadap aktivis antikorupsi lain juga terungkap,”<br />

ujar Sukur, yang juga Ketua Madura<br />

Corruption Watch. ■ ROIS JAJELI (SURABAYA) | M. RIZAL<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


CRIME STORY<br />

BAGIAN 1<br />

BEGAL BERULAH<br />

BIKIN RESAH<br />

AKSI PEMBEGALAN MARAK DI DEPOK, PENGENDARA SEPEDA MOTOR<br />

WASWAS. EMPAT ORANG DITANGKAP, DAN SATU PELAKU DITEMBAK<br />

MATI. DARI KOMPLOTAN YANG BERBEDA.<br />

ILUSTRASI: EDI WAHYONO<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


CRIME STORY<br />

Saya pikir mereka bercanda.<br />

Enggak lama, ada teriakan minta<br />

tolong.<br />

BULE—bukan nama sebenarnya―<br />

ingat betul kejadian pembegalan<br />

seorang pengendara sepeda motor<br />

di Depok, Jawa Barat, pada Minggu<br />

dini hari, 25 Januari lalu. Saat itu pukul 02.40<br />

WIB. Pemuda itu baru pulang dari luar kota,<br />

dan memarkir mobil di rumahnya ketika mendengar<br />

teriakan orang meminta tolong dari Jalan<br />

Margonda, dekat kampus Universitas Bina<br />

Sarana Informatika.<br />

Di tengah kegelapan malam, Bule melihat seorang<br />

pria yang terjatuh di aspal sedang dibacok<br />

tanpa ampun oleh<br />

salah satu dari empat<br />

pelaku. “Saya lihat 2-3<br />

kali pelaku membacok<br />

korban,” kata Bule saat<br />

ditemui majalah detik<br />

di rumahnya, Senin pekan lalu.<br />

Sebelumnya, Bule sekilas melihat tiga sepeda<br />

motor berjalan beriringan. Dua sepeda motor,<br />

masing-masing ditumpangi dua orang, mengapit<br />

sebuah motor yang dikendarai seorang<br />

pria. Beberapa orang di antaranya terlihat<br />

mengayun-ayunkan helmnya.<br />

Belakangan, Bule menyadari pengendara<br />

sepeda motor yang diapit dua motor lain itu<br />

ternyata sedang dirampok. Pelaku berusaha<br />

menghentikan sepeda motor korban dengan<br />

cara memukulkan helmnya, tapi korban melawan.<br />

“Saya pikir mereka bercanda. Enggak<br />

lama, ada teriakan minta tolong,” ujarnya.<br />

Tiga pelaku tetap di atas sepeda motor, dan<br />

seorang yang mengenakan masker warna gelap<br />

turun membacok korban. Helm si pembacok<br />

terlepas, sehingga Bule melihat jelas perawakan<br />

pelaku yang masih berusia muda. Rambut<br />

belakangnya agak tebal dan berombak.<br />

Bule pun berlari ke arah korban. Namun ia<br />

tak berani mendekat karena pelaku menenteng<br />

parang sepanjang kira-kira 80 sentimeter, dan<br />

mungkin saja membawa senjata api. Pada saat<br />

bersamaan, sebuah mobil melintas. Saat itu pelaku<br />

panik karena pengendara mobil tersebut<br />

melambatkan kendaraannya, lalu mengedipngedipkan<br />

lampu dim ke arah pelaku.<br />

Mereka berusaha kabur, tapi entah mengapa<br />

mesin salah satu sepeda motor pelaku tak me-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


CRIME STORY<br />

nyala ketika distarter. Pelaku akhirnya meninggalkan<br />

kendaraan itu dan menggondol sepeda<br />

motor korban. Setelah pelaku kabur, Bule baru<br />

berani menghampiri korban yang bersimbah<br />

darah.<br />

Korban lalu dilarikan ke Rumah Sakit Bunda,<br />

Depok. Sayang, baru 15 menit ditangani, ia<br />

mengembuskan napas terakhir. Nyawanya<br />

tak tertolong. Luka bacokan di punggung dan<br />

pinggangnya sangat parah. “Dokter bilang<br />

paru-parunya pecah dan terjadi perdarahan,”<br />

tutur Bule, yang ikut mengantar korban.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


CRIME STORY<br />

Dua dari tiga tersangka yang<br />

ditangkap diketahui baru berusia 18<br />

tahun dan berstatus pelajar sekolah<br />

menengah kejuruan.<br />

Belakangan, korban diketahui bernama Abdul<br />

Rahman, warga Bogor, Jawa Barat. Dari keluarganya,<br />

diketahui Abdul bekerja di Jalan Wahid<br />

Hasyim, Jakarta Pusat.<br />

Kasus pembegalan di dekat jalan layang<br />

Universitas Indonesia itu bukan yang pertama<br />

di Depok pada awal 2015 ini. Dua pekan sebelumnya,<br />

pembegalan terjadi di Jalan Juanda, tak<br />

jauh dari proyek tol Cinere-Jagorawi (Cijago).<br />

Kejadiannya juga dini hari. Korban, Bambang<br />

Syarif Hidayatullah,<br />

23 tahun,<br />

tewas dibacok<br />

komplotan pelaku.<br />

Kejadian berulang<br />

tepat sepekan<br />

setelah kejadian di dekat jalan layang UI.<br />

Minggu, 1 Februari 2015, sekitar pukul 03.30<br />

WIB, sepasang muda-mudi yang sedang nongkrong<br />

di Jalan Boulevard Perumahan Grand<br />

Depok City, Cilodong, Kota Depok, ditodong<br />

komplotan berjumlah lima orang. Mereka<br />

memaksa korban menyerahkan sepeda motor<br />

Honda CBR miliknya.<br />

Beruntung, korban tak dilukai. Sebab, setelah<br />

pelaku ber upaya merampas sepeda motor<br />

sembari mengacungkan senjata tajam, korban,<br />

S, warga Sukmajaya, Depok, berteriak meminta<br />

tolong. Satu tim polisi yang memang sudah<br />

mengintai komplotan itu langsung bergerak.<br />

Dua pelaku, D dan IS, berhasil dibekuk. Sedangkan<br />

tiga lainnya lolos. Saat akan disergap,<br />

D melawan menggunakan sangkur. Namun ia<br />

menyerah setelah petugas memberi tembakan<br />

peringatan. Minggu paginya, sekitar pukul<br />

07.00 WIB, satu pelaku lain, ADP, dicokok di<br />

rumahnya, Jalan Merawan Raya, Depok II Timur.<br />

Komplotan ini digulung setelah tim Buru<br />

Sergap Kepolisian Sektor Sukmajaya, yang sedang<br />

berpatroli di kawasan Grand Depok City,<br />

mencurigai gerak-gerik mereka. Pelaku yang<br />

menunggang tiga sepeda motor itu berkeliling<br />

seperti mencari “mangsa”. Benar saja, saat<br />

dikuntit, para pelaku menghampiri korban dan<br />

merampas sepeda motornya.<br />

Dua dari tiga tersangka yang ditangkap diketahui<br />

baru berusia 18 tahun dan berstatus pe-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


CRIME STORY<br />

lajar sekolah menengah kejuruan. Dari tangan<br />

mereka, disita tiga unit sepeda motor yang<br />

diduga hasil rampasan. Sepeda motor tersebut<br />

satu unit Honda CBR berwarna putih serta<br />

Yamaha Mio dan Yamaha Xeon berkelir merah<br />

dan hitam. Sejumlah senjata tajam, antara lain<br />

sebilah sangkur dan satu buah kapak, turut<br />

menjadi barang bukti.<br />

“Kami masih kembangkan soal dua Yamaha<br />

itu. Milik pelaku atau korban lainnya,” ucap<br />

Kepala Kepolisian Resor Kota Depok Komisaris<br />

Besar Ahmad Subarkah, Ahad pekan lalu.<br />

Para tersangka yang masih belia itu dijerat<br />

Pasal 365 dan 368 Kitab Undang-Undang Hukum<br />

Pidana tentang pencurian dengan kekerasan<br />

serta pemerasan. Ancamannya 9 hingga 12<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


CRIME STORY<br />

tahun penjara. Sementara ini, mereka ditahan<br />

di Markas Polsek Sukmajaya.<br />

Selain di Grand Depok City, ternyata para<br />

pelaku beraksi di tiga lokasi lain. Lokasi itu adalah<br />

di Jalan Raya Krukut, Kecamatan Limo; Jalan<br />

Margonda Beji; dan Jalan Raya Siak, Depok<br />

Timur. Perampasan di Krukut dilakukan pelaku<br />

sehari sebelum ditangkap. Korbannya bernama<br />

Kartumi.<br />

Penangkapan itu hanya berselang beberapa<br />

hari setelah polisi<br />

menggerebek<br />

tempat persembunyian<br />

komplotan<br />

begal di Sukamaju,<br />

Cilodong, Depok,<br />

pada Selasa dini<br />

hari, 27 Januari<br />

lalu. Penggerebekan dilakukan Polresta Depok<br />

bersama aparat Polresta Tangerang, karena<br />

kelompok ini juga menjadi buruan polisi di<br />

wilayah hukum Tangerang.<br />

Satu orang ditangkap dan satu tersangka<br />

ditembak mati karena melawan. Sedangkan<br />

Memakai motor lawas yang bukan<br />

“incaran” dan berusaha mengendarai<br />

motornya beriringan dengan<br />

pengendara lain saat pulang, meski<br />

kita tidak saling kenal.<br />

beberapa pelaku diduga kabur saat tahu digerebek<br />

polisi. Komplotan inilah yang diduga<br />

membegal Abdul Rahman di dekat jalan layang<br />

UI.<br />

“Salah satu sepeda motor yang ada pada pelaku<br />

mirip de ngan motor korban di flyover UI,”<br />

kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta<br />

Depok Komisaris Agus Salim.<br />

Adapun Kepala Humas Polresta Depok Inspektur<br />

Dua Bagus Suwandi menjelaskan komplotan<br />

yang digerebek di Sukamaju itu berasal<br />

dari Lampung, atau dikenal dengan sebutan<br />

“Kelompok Lampung”. Mereka berbeda komplotan<br />

dengan yang ditangkap di Grand Depok<br />

City.<br />

Maraknya pembegalan jelas membikin resah<br />

warga Depok. Banyak pengendara sepeda motor<br />

waswas saat keluar pada malam hari. Erwin<br />

salah satunya. Apalagi karyawan event organizer<br />

di kawasan Jakarta Selatan ini kerap pulang<br />

kerja hingga larut malam. Bukan hanya sepeda<br />

motor yang ia khawatirkan menjadi incaran<br />

pembegal. “Kalau pulang kantor kan bawa tas<br />

isi laptop juga,” ujar warga Jalan Juanda ini.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


CRIME STORY<br />

TAP/KLIK UNTUK BERKOMENTAR<br />

Suteja, warga Cipayung Jaya, Depok, punya<br />

trik tersendiri agar tak menjadi korban<br />

pembegalan. Ia memilih memakai motor<br />

lawas yang bukan “incaran”. Pekerja kreatif<br />

yang sering bekerja hingga dini hari ini juga<br />

berusaha mengendarai motornya beriringan<br />

dengan pengendara lain saat pulang. “Meski<br />

kita tidak saling kenal,” tutur pria berambut<br />

gondrong ini. Setidaknya, itu membuat penjahat<br />

berpikir dua kali untuk beraksi. (bersambung)<br />

■<br />

ADITYA MARDIASTUTI, HENDRIK I. RASEUKIY | M. RIZAL<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

JAWARA<br />

SAMPAH<br />

DARI<br />

LANGIT<br />

“GUA BERJUANG UNTUK KAMPUNG GUA,<br />

BUAT JAKARTA.... ENGGAK ADA MOTIVASI<br />

APA-APA.”<br />

GRANDYOS ZAFNA/DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

Tap untuk melihat<br />

Video<br />

SIAPA yang menyangka, Jakarta yang<br />

begitu padat gedung dan bangunan<br />

ternyata masih punya “surga hijau”.<br />

Terselip di balik belantara beton di<br />

pojok Jakarta, ada hutan kota Pesanggrahan<br />

Sangga Buana.<br />

Di hutan seluas 120 hektare itu, ada segala<br />

macam pohon buah-buahan. Pada Selasa pekan<br />

lalu, ada belasan anak berlari riang di antara<br />

rimbunnya pohon, mengejar angsa dan kelinci,<br />

menyusuri jalan setapak menuju Kali Pesanggrahan.<br />

“Lihat, banyak sekali buah nangkanya,”<br />

ujar seorang anak berteriak kepada temannya<br />

seraya menunjuk buah nangka yang bergelantungan.<br />

Rosita, 52 tahun, sengaja datang bersama<br />

suaminya dari Bogor karena penasaran ingin<br />

melihat hutan Sangga Buana. Dia tak habis pikir<br />

di hutan di Jakarta ini masih ada pohon berumur<br />

ratusan tahun yang bisa lolos dari tangantangan<br />

usil. “Yang membuat hutan ini pastilah<br />

bukan orang biasa dan ‘gila’,” ujar Bambang, 62<br />

tahun, suami Rosita.<br />

Ya, orang yang nekat membuat hutan seluas<br />

itu di Jakarta barangkali memang hanya orang<br />

yang benar-benar “gila”. “Orang gila” itu bernama<br />

Chairudin, 62 tahun, biasa disapa Bang Idin.<br />

“Saya ini hanya orang gila yang SD saja tidak<br />

lulus,” ujar Bang Idin pekan lalu.<br />

Sehari-hari Bang Idin punya “seragam kebesaran”:<br />

peci merah marun, tas butut dari bekas<br />

karung tepung terigu, celana batik komprang,<br />

kaus hitam, sandal jepit, dan parang menggantung<br />

di pinggang. Suaranya lantang, tak ada<br />

yang namanya basa-basi. Gayanya persis si<br />

Pitung, pendekar kondang dari Betawi. Semen-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

GRANDYOS ZAFNA/DETIKCOM<br />

tara musuh si Pitung adalah penjajah Belanda,<br />

musuh Bang Idin adalah sampah.<br />

Sekitar 25 tahun lalu, hutan Sangga Buana<br />

masih berupa gunung sampah. Selama<br />

bertahun-tahun, sampah dari daerah Velbak,<br />

Kebayoran, dan sekitarnya selalu dibuang oleh<br />

pemerintah daerah ke tempat itu. Lama-lama<br />

sampah itu semakin menggunung, berbau busuk,<br />

dan meluber hingga ke Kali Pesanggrahan.<br />

Bang Idin, yang tinggal tak jauh dari gunung<br />

sampah itu, kesal bukan main.<br />

Sungai adalah dunia Bang Idin kecil dan teman-temannya.<br />

Mereka biasa mandi, memancing,<br />

dan bermain di sungai. Tetangganya biasa<br />

memanfaatkan air sungai untuk mencuci dan<br />

sebagainya. Gara-gara sampah, hilanglah dunia<br />

Bang Idin. Air sungai menjadi keruh, berbau<br />

busuk, dan penuh sampah. Tak ada lagi yang<br />

mau bermain, apalagi mandi dan mencuci di<br />

Kali Pesanggrahan.<br />

Bersama 17 temannya, dia menghadang dan<br />

menghalau pergi barisan truk yang berniat menimbun<br />

sampah di Pesanggrahan. Setelah truk<br />

sampah tak lagi datang, masih ada sisa sampah<br />

yang menggunung. Bersama temannya, dia<br />

memilah, menyingkirkan sampah, dan menanami<br />

lahan itu dengan aneka pohon.<br />

Selesai perkara Sama sekali belum. Setelah<br />

mengubah bukit sampah menjadi tempat hijau<br />

dan rindang, Bang Idin masih sering melihat<br />

tumpukan sampah hanyut di Kali Pesanggrahan.<br />

Dia penasaran betul, dari mana sumber<br />

sampah itu. Selama lima hari, dengan menum-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

Yang membuat hutan<br />

ini pastilah bukan<br />

orang biasa dan<br />

‘gila’.<br />

GRANDYOS ZAFNA/DETIKCOM<br />

pang rakit gedebok pisang, Bang Idin dan teman-temannya<br />

menyusuri Kali Pesanggrahan<br />

dari daerah hulu di Bogor.<br />

Sepanjang perjalanan, dia terus mengomel.<br />

Kesal melihat daerah sepanjang Kali Pesanggrahan<br />

yang telah rusak, jengkel melihat kebiasaan<br />

buruk orang yang memperlakukan sungai<br />

sebagai tempat sampah raksasa.<br />

“Tapi marah saya bukan dengan teriak-teriak<br />

di Bundaran HI atau di Sudirman. Tapi dengan<br />

cara kerja, kerja, dan terus bekerja,” katanya.<br />

Berulang kali dia mencebur mengambil sampah,<br />

membongkar sampah yang menumpuk<br />

di pinggiran kali, bahkan menyelam. “Orangorang<br />

mengira saya sedang belajar ilmu hitam.”<br />

Menurut Bang Idin, ada yang salah dengan<br />

cara pandang orang mengenai sungai di Jakarta,<br />

juga mungkin kota-kota lain. “Gua kesal<br />

dengan cara pandang orang bahwa membangun<br />

itu hanya fisik.... Kalau banjir, sungai yang<br />

disalahkan. Bukan salah air dong, la jalan airnya<br />

mereka bikin rumah,” kata Bang Idin.<br />

Sekarang orang membangun kota dan rumah<br />

dengan membelakangi kali. Padahal, di negara<br />

maju, menurut Bang Idin, pembangunan dimulai<br />

dari kali dan menjadikan sungai sebagai pemandangan<br />

di depan rumah. “Ini menandakan<br />

bahwa masyarakat Indonesia saat ini sudah<br />

kehilangan karakter dan tak berbudaya. Menganggap<br />

sungai yang dulu dipercaya sebagai<br />

rumah Tuhan sebagai tempat pembuangan<br />

sampah,” katanya.<br />

Tanpa digaji, tak ada honor, juga tak ada yang<br />

menyuruh, hidup Bang Idin dihabiskan untuk<br />

menanam pohon dan membersihkan Kali<br />

Pesanggrahan dari sampah. Dia dan temantemannya<br />

hidup de ngan memilah, mengolah,<br />

dan mendaur ulang sampah-sampah menjadi<br />

kompos dan barang yang bernilai ekonomi.<br />

“Gua berjuang untuk kampung gua, buat Jakarta.<br />

Ya gitu saja. Enggak ada motivasi apa-apa,”<br />

kata Bang Idin, lugas.<br />

Walaupun suaranya lantang dan nadanya<br />

galak, Bang Idin tak berniat memusuhi siapa<br />

pun. Berulang kali berurusan dengan polisi<br />

juga tak membuatnya kecut. “Karena mental<br />

sang jawara, berperang itu bukan untuk membunuh,<br />

tetapi untuk menaklukkan. Jangankan<br />

memusuhi manusia, mengusir semut yang<br />

sedang mengambil makan saja saya tak tega,”<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

GRANDYOS ZAFNA/DETIKCOM<br />

kata penyuka musik orkes Melayu ini.<br />

Suatu pagi buta pada 1996, Bang Idin ditangkap<br />

bak seorang teroris. Ia ingat bagaimana<br />

lima truk tentara menggiringnya ke markas<br />

mereka lantaran beberapa hari sebelumnya<br />

ia membongkar paksa beton di bantaran kali<br />

yang ternyata milik salah seorang pejabat. Bang<br />

Idin tak gentar. Kali lain, dia menggantungkan<br />

berkarung-karung sampah di pagar rumah seorang<br />

pejabat yang membuang sampahnya<br />

sembarangan.<br />

Saat diinterogasi dan ditanya siapa yang<br />

membayarnya dan menanyakan SK, anak<br />

pertama dari tiga bersaudara ini menjawab<br />

lantang. “Saya jawab kalau SK saya datang<br />

dari langit,” kata Bang Idin. “Saya hanya ingin<br />

seperti setitik embun yang punya nilai di padang<br />

pasir. Saya tak punya pamrih.”<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

GRANDYOS ZAFNA/DETIKCOM<br />

Ada yang menugasi atau tidak, ada yang<br />

memberi penghargaan atau tidak, bagi Bang<br />

Idin sama sekali tak penting. Dia terus menanam<br />

pohon. Supaya tidak menggerutu terus<br />

karena kiriman sampah dan banjir dari hulu,<br />

dia bekerja sama dengan temannya di Bogor<br />

menanam bambu di atas lahan seluas 20 hektare<br />

di Megamendung, di kaki kawasan Puncak.<br />

Tujuannya supaya tanah kosong tak terus<br />

dikuasai para pemilik vila. “Kita tidak bisa hanya<br />

menyalahkan, tapi bagaimana juga bisa berbuat<br />

sesuatu,” katanya, bijak. ■ KUSTIAH, ISFARI HIKMAT<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

BIODATA<br />

H CHAIRUDIN<br />

LAHIR<br />

Jakarta, 13 April 1952<br />

SEKOLAH<br />

● Tidak lulus sekolah dasar<br />

PENGHARGAAN:<br />

● Kalpataru dari Kementerian Lingkungan<br />

Hidup, 2013.<br />

● Penyelamatan Air Sektor Masyarakat<br />

dari Departemen Permukiman dan<br />

Prasarana Wilayah, 2003.<br />

● Penghargaan Internasional Dubai untuk<br />

kategori “Best Practice”, Februari 2000.<br />

● Pemenang I Puncak Penghijauan dan<br />

Konservasi Alam Nasional (PPKAN) ke-41<br />

Tingkat Provinsi DKI Jakarta, Desember<br />

2001.<br />

● Piagam Penghargaan Kalpataru 2000<br />

Tingkat Provinsi DKI Jakarta sebagai Penyelamat<br />

Lingkungan, 2000.<br />

GRANDYOS ZAFNA/DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015<br />

MAJALAH DETIK 919 - 15 - 25 FEBRUARI JANUARI 2015


FOKUS<br />

JURUS<br />

MABUK<br />

MANTAN<br />

TEMAN OPENG<br />

BUKAN CUMA HASTO DAN POLISI,<br />

DUA SAHABAT ABRAHAM SAMAD<br />

DI MAKASSAR IKUT-IKUTAN<br />

MELEMPAR SERANGAN. “APAKAH<br />

DIBELI ORANG TERTENTU”<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Tap untuk melihat<br />

Video<br />

babak-belur difitnah sama<br />

sahabat ini,” begitu curhat Abraham<br />

Samad. “SAYA<br />

Sahabatnya, Kiblat Said, yang<br />

mendapat curhat itu, lantas memberikan saran,<br />

“Kamu yang sabar saja, karena perjuangan itu<br />

pasti ada pengkhianatnya.”<br />

Kiblat sudah lama kenal dengan Abraham.<br />

Ia bekerja sebagai wartawan di surat kabar<br />

nasional di Makassar, sedangkan Abraham<br />

meniti karier dari LSM Anticorruption Committee<br />

hingga pengacara di kota itu. Kiblat sering<br />

mampir ke kantor Abraham. Abraham, yang sering<br />

dipanggil dengan sebutan Openg, curhat<br />

kepada Kiblat tidak lama setelah dua sahabatnya<br />

asal Makassar, Supriansa dan Zainal Tahir,<br />

menyerang kredibilitasnya di tengah panasnya<br />

perseteruan Komisi Pemberantasan Korupsi<br />

dengan Mabes Polri. Abraham heran karena<br />

mereka bertiga sebelumnya rukun, bahkan<br />

sempat ke Tanah Suci Mekah bersama-sama.<br />

Abraham tidak putus digempur masalah<br />

setelah menetapkan Komisaris Jenderal Budi<br />

Gunawan, calon Kepala Polri yang dijagokan<br />

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan<br />

Partai Nasional Demokrat, sebagai tersangka<br />

kasus suap sehari sebelum menjalani fit and<br />

proper test di DPR.<br />

Polisi, dalam waktu tidak lama dari penetapan<br />

tersangka Budi itu, lantas membidik Abraham<br />

dan pimpinan KPK lainnya dengan sejumlah kasus.<br />

Yang terbaru adalah kasus dugaan pemalsuan<br />

dokumen. Pelaporan kasus ini berliku-liku.<br />

Seorang perempuan bernama Feriyani Lim<br />

melaporkan Abraham dalam kasus pemalsuan<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Abraham Samad, Supriansa<br />

(kiri), dan Zainal Tahir (kanan)<br />

saat umrah bersama.<br />

DOK. DETIKNEWS<br />

dokumen ke Mabes Polri pada Minggu, 1 Februari<br />

2015, malam. Ia mengaku “terpaksa”<br />

melaporkan Abraham karena takut dipenjara 6<br />

tahun setelah dijadikan tersangka dalam kasus<br />

yang sama.<br />

Chairil Chaidar Said dari sebuah LSM melaporkan<br />

Feriyani ke Mabes Polri pada 29 Januari.<br />

Siapa Chairil Hingga kini sosoknya masih<br />

gelap. Tapi dialah yang memberi kesaksian<br />

bahwa dokumen paspor atas nama Feriyani<br />

Lim diduga palsu.<br />

Kartu tanda penduduk dan kartu keluarga<br />

yang didaftarkan sebagai pengantar permohonan<br />

paspor oleh Aling—sapaan akrab Feriyani<br />

Lim—ditandatangani oleh Camat Panakkukang<br />

Imran Samad, kakak Abraham. Nah,<br />

di dokumen itu, nama Feriyani masuk dalam<br />

kartu keluarga Abraham.<br />

Dalam paspor keluaran 2007 itu, Feriyani<br />

ditulis beralamat di Jalan Boulevard Ruby II<br />

Nomor 48 RT 003 RW 005, Kecamatan Panakkukang,<br />

Makassar. Data orang tua Feriyani<br />

ditulis Ngadiyanto dan Hariyanti. Pelapor dan<br />

kepolisian menduga itu adalah rumah keluarga<br />

Samad.<br />

Alamat tersebut ternyata palsu. Di Jalan Boulevard<br />

Ruby, tidak ada rumah tinggal. Yang ada<br />

hanya ruko. Pihak kelurahan menyebut tidak<br />

ada nama Feriyani maupun Abraham Samad di<br />

wilayah tersebut.<br />

Sedangkan identitas asli Aling beralamat di<br />

Apartemen Kusuma Candra Tower 3/22-K, Senayan,<br />

Jakarta. Nama ayahnya adalah Ng Chiu<br />

Bwe dan ibunya bernama Miaw Tian.<br />

Chairil mendaftarkan dua terlapor, yakni<br />

Abraham Samad sebagai kepala keluarga pada<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Klien kita merasa, ‘Saya<br />

cuma bikin paspor, cuma tahu<br />

terima beres, kok tiba-tiba<br />

saya sampai dilaporin polisi,<br />

salah saya apa<br />

Pengacara Feriyani Lim, Haris<br />

Septiansyah.<br />

BAHTIAR/MAJALAH DETIK<br />

kartu keluarga Aling sesuai dengan dokumen<br />

paspor dan Aling. Setelah mempelajari kasus<br />

itu, Mabes Polri lantas melimpahkannya ke<br />

Polda Sulawesi Selatan Barat.<br />

Pengacara Aling, Haris Septiansyah, mengaku<br />

kliennya sudah duduk sebagai tersangka.<br />

“Klien kita merasa, ‘Saya cuma bikin paspor,<br />

cuma tahu terima beres, kok tiba-tiba saya<br />

sampai dilaporin polisi, salah saya apa,’” kata<br />

Aling ditirukan Haris.<br />

Aling mengaku tidak tahu-menahu soal<br />

pemalsuan dokumen itu. Perempuan kelahiran<br />

Pontianak dan kemudian tinggal di Jakarta itu<br />

memutuskan membuat paspor di Makassar<br />

karena saran seorang pria yang<br />

biasa dipanggil Awi, yang mungkin<br />

merupakan calo. “Siapa nama lengkap<br />

Awi ini klien saya tidak tahu, mungkin<br />

nama panggilan saja,” cerita Haris.<br />

Saat itu, pada 19 Februari 2007,<br />

Aling bingung karena mendadak harus pergi<br />

ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada 26 Februari<br />

2007. Kakak Aling, Eka, yang menikah dengan<br />

orang Brunei Darussalam, tinggal di Malaysia.<br />

Awi menyarankan Aling untuk mengajukan<br />

permohonan paspor dari Makassar. Namun,<br />

karena Awi tidak mampu menyelesaikan secara<br />

cepat, proses ini kemudian diurus oleh orang<br />

lain bernama Uki di Makassar.<br />

Aling kemudian diajak berkenalan dengan<br />

seorang pria berinisial AS, yang kala itu berprofesi<br />

sebagai pengacara di Makassar. Lewat<br />

bantuan AS ini, mereka dapat menyelesaikan<br />

pembuatan paspor dalam dua hari.<br />

Haris heran, kepolisian justru baru mempermasalahkan<br />

keabsahan paspor itu saat ini, lima<br />

tahun kemudian. “Selama 2007 ke 2012, kalau<br />

paspor 5 tahun, itu ya dipakai terus ke manamana,<br />

enggak ada masalah,” ujarnya.<br />

Setelah berkonsultasi dengan pengacara,<br />

Aling lantas melaporkan orang-orang yang<br />

membantunya membuat paspor secara kilat<br />

itu, Uki dan Abraham, ke polisi.<br />

Keesokan hari setelah laporan Aling itu, sebuah<br />

akun di Twitter dengan nama @patungpolisi<br />

mengunggah foto-foto Aling dan foto pria mirip<br />

Abraham Samad bersama perempuan yang<br />

disebut sebagai Aling sedang di ranjang. “Abra-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Zainal Tahir saat memberi<br />

keterangan soal foto mesum<br />

mirip Abraham Samad kepada<br />

Komisi III DPR RI.<br />

LAMHOT ARITONANG/DETIKCOM<br />

ham Samad tuduh saya fitnah beliau. Belum<br />

tahu, Feriyani Lim sudah ke Mabes Polri hari ini<br />

minta perlindungan dan beri kesaksian” cuit<br />

akun itu.<br />

Dalam dua foto pria mirip Abraham dan mirip<br />

Feriyani, @patungpolisi mencuit, “Dua gambar<br />

ini capture dari video yang dapat dibuka sewaktu-waktu.<br />

Abraham Samad, nasib anda di<br />

tangan anda.”<br />

Dua hari kemudian, Zainal ujug-ujug menggelar<br />

jumpa pers mengaku sebagai pihak yang<br />

memotret foto mesra tersebut. Zainal mengaku<br />

lelaki dalam foto itu adalah Abraham.<br />

Ia mengabadikannya ketika kolega LSM se-Makassar<br />

tengah berkumpul di sebuah kamar Grand<br />

Clarion Hotel di Jalan A.P. Pettarani Nomor 3,<br />

Makassar, pada 23-24 Februari 2007.<br />

“Saya sama AS (Abraham Samad) datang ke<br />

situ. Tiba-tiba dia melompat naik tempat tidur,<br />

masuk selimut, iseng-iseng saya foto,” ujarnya<br />

ketika memberikan jumpa pers di Restoran<br />

Pulau Dua, Senayan, Jakarta.<br />

Saat itu Zainal memiliki tiga telepon seluler.<br />

Adegan mesra itu ia abadikan melalui salah satu<br />

teleponnya, Nokia seri E90. Ponsel ini hilang<br />

ketika ia bertandang ke Senayan City, Jakarta,<br />

pada 2012. Namun foto itu sudah ditransfer ke<br />

e-mail pribadinya.<br />

Zainal menyatakan tidak pernah menyebarluaskan<br />

foto tersebut. Namun ia sering<br />

memamerkan foto itu kepada sejumlah rekan<br />

politiknya. Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan<br />

Wilayah NasDem Sulawesi Selatan Dahlan<br />

Gege mengaku foto itu pernah dipamerkan<br />

Zainal pada akhir 2013. Saat itu, partainya te-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Kepala Dinas Kependudukan dan<br />

Catatan Sipil Kota Pontianak,<br />

Suparma, menunjukkan data<br />

kependudukan Feriyani Lim.<br />

ADI SAPUTRA/DETIKCOM<br />

ngah sibuk-sibuknya menjaring calon legislator.<br />

Zainal turut mendaftar sebagai bakal calon<br />

legislator.<br />

Zainal sengaja mengumpulkan beberapa rekan<br />

separtai untuk melihat foto itu. Dahlan hanya<br />

melihatnya sekilas. “Jadi saat itu ada acara,<br />

hanya beberapa orang yang tahu. Ya, kami<br />

tertawa saja karena memang hanya candaan,”<br />

tuturnya.<br />

Anggota Komisi III dari Fraksi Partai NasDem,<br />

Akbar Faizal, menyatakan hal yang sama. Foto<br />

itu dilihatnya sekitar dua tahun lalu. Kebetulan<br />

Akbar berasal dari daerah pemilihan Sulawesi<br />

Selatan II, yang berdekatan dengan Makassar.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Doa bersama tokoh lintas<br />

agama mendukung KPK di<br />

Jakarta.<br />

HASAN ALHABSY/DETIKCOM<br />

Namun pengakuan Zainal ini janggal. Nokia seri<br />

E90 baru diluncurkan di Barcelona, Spanyol, pada<br />

11 Februari 2007. Telepon ini tiba pertama kali di<br />

Jakarta pada 17 Mei 2007, dilelang dengan harga<br />

US$ 5.000 atau setara dengan Rp 45 juta.<br />

Feriyani sendiri, kata Zainal, merupakan seorang<br />

perempuan kenalan Abraham. Zainal<br />

baru kenal beberapa saat sebelum pemotretan<br />

itu di sebuah mal di kawasan Black Canyon, Makassar.<br />

Saat itu Abraham mengatakan Feriyani<br />

adalah seorang teman yang meminta bantuan<br />

untuk dibuatkan paspor.<br />

Pihak Feriyani membantah keras atas foto<br />

yang diaku oleh Zainal itu. Haris menyatakan<br />

kliennya tidak pernah memiliki hubungan sedekat<br />

itu dengan Abraham.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Pelaksana Tugas Sekretaris<br />

Jenderal PDIP Hasto<br />

Kristiyanto.<br />

LAMHOT ARITONANG/DETIKCOM<br />

“Mengenai gosip foto, klien kami<br />

dengan tegas mengatakan enggak<br />

pernah ada foto itu,” ujarnya.<br />

Mereka hanya bertemu dua kali,<br />

perkenalan di tempat makan dan di<br />

tempat pembuatan paspor.<br />

Kakak Feriyani, Fendy Lim, juga<br />

menilai foto yang diakui Zainal<br />

tersebut rekayasa. “Itu saya enggak<br />

percaya. Bohong itu,” ujarnya.<br />

Hal yang sama juga disampaikan<br />

Abraham. Ia menyatakan tim forensik<br />

KPK sudah melakukan penyidikan<br />

dan foto itu, seperti sebelumnya<br />

foto mirip Abraham dengan Puteri<br />

Indonesia Elvira Devinamira, merupakan<br />

rekayasa. "Saya dibesarkan dalam keluarga<br />

yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral,"<br />

ujar Abraham.<br />

Bukan hanya Zainal yang mempersulit Abraham.<br />

Kolega asal Makassar lainnya, Supriansa,<br />

juga membuat pengakuan yang menyudutkan<br />

Abraham.<br />

Anca—sebutan akrab Supriansa—memperkuat<br />

olok-olok terhadap Abraham sebagai lelaki<br />

dengan ambisi politik besar seperti ditudingkan<br />

Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal PDIP Hasto<br />

Kristiyanto.<br />

Ia menyebutkan Abraham ingin menjadi calon<br />

wakil presiden berdampingan dengan Joko<br />

Widodo. Untuk memenuhi ambisinya jadi cawapres,<br />

Abraham melakukan enam kali pertemuan<br />

dengan tokoh PDI Perjuangan. Salah satu lokasi<br />

pertemuan adalah di apartemen Anca.<br />

Setelah keluarnya pengakuan Hasto inilah<br />

Anca unjuk bicara. Lelaki yang kini meniti<br />

karier sebagai konsultan hukum ini mengaku<br />

apartemen tempat pertemuan itu miliknya.<br />

“Pertemuan ada Hasto dan Tjahjo Kumolo.<br />

Pertemuan itu dua kali. Saya tidak ikut pertemuan,”<br />

tuturnya.<br />

Pengakuan Anca membuat kasus penyalahgunaan<br />

kewenangan yang menjerat Abraham<br />

bergulir kian kencang. Anca turut diperiksa oleh<br />

penyidik Bareskrim Mabes Polri.<br />

Perilaku Zainal dan Anca ini membuat Kiblat<br />

mengelus dada. Ia menduga keduanya hanya<br />

memanfaatkan keadaan. Maklum, mereka tidak<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Jauh-jauh kau, Bos (Zainal Tahir). Kau<br />

caleg. (Sedangkan Abraham Ketua KPK)<br />

Tidak enak (kalau) dilihat orang.<br />

seberuntung Abraham dalam meniti karier.<br />

“Sampai sekarang tidak ada yang bisa menjawab<br />

apa yang ada di benak Zainal. Apakah itu<br />

dibeli orang tertentu Kenapa ada orang yang<br />

mengaku sahabat kok mengkhianati persahabatan<br />

itu,” ujar Kiblat.<br />

Rekan Abraham dan Zainal di Makassar, Tomi<br />

Lebang, menduga Zainal menyimpan dendam<br />

kepada Abraham. Ia sakit hati karena tidak diperlakukan<br />

dengan baik oleh Abraham.<br />

Pada 2013, Abraham<br />

sempat menampik kehadiran<br />

Zainal dalam<br />

sebuah pertemuan di<br />

Makassar. Penolakan<br />

Abraham disampaikan<br />

melalui pesan singkat ponsel seorang rekan<br />

aktivis kepada Zainal.<br />

Lantas, pada 2014, Zainal mencoba peruntungan<br />

politiknya dengan menjadi caleg Nas-<br />

Dem. Upayanya mendekati Abraham pun ditampik<br />

keras. Alasannya, Zainal duduk sebagai<br />

caleg, sehingga Abraham sebagai ketua KPK<br />

harus menjaga jarak.<br />

“Jauh-jauh ko kau, Bos. Kau caleg. Tidak enak<br />

(aku) dilihat orang,” kata Abraham seperti diceritakan<br />

Zainal kepada Tomi.<br />

Bahkan, saat melayat ke pemakaman ibu<br />

salah satu tokoh Makassar pada 2014, keduanya<br />

tidak berjalan beriringan. Abraham naik<br />

mobil bersama rekan-rekan, sedangkan Zainal<br />

memilih berjalan kaki.<br />

Sementara itu, Direktur Anticorruption Committee<br />

Abdul Mutholib mencatat hubungan<br />

Abraham dengan Anca tidak begitu dekat. Anca<br />

terkenal sebagai pengacara yang sering membekingi<br />

pengusaha di Makassar. Sedangkan Abraham<br />

lebih khusyuk dengan permasalahan antikorupsi.<br />

“Mungkin mereka berteman, tetapi tidak<br />

akrab,” tuturnya.<br />

Anca tercatat sebagai pendukung Abraham<br />

ketika pilpres 2014. Namun beberapa aktivis<br />

pernah memberi pesan kepada Abraham agar<br />

tidak terlalu dekat dengan Anca. Abraham pun<br />

sedari dulu menjaga jarak.<br />

●●●<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Pejalan kaki melintas di dekat<br />

spanduk yang berisi dukungan<br />

untuk KPK di Perempatan<br />

Gondomanan, Yogyakarta,<br />

Selasa (3/2). Dukungan<br />

penyelamatan KPK dari<br />

masyarakat terus mengalir agar<br />

tidak terjadi kasus Cicak Vs<br />

Buaya jilid 2.<br />

NOVERADIKA /ANTARA<br />

Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri<br />

Komjen Budi Waseso menyebutkan penyidiknya<br />

masih mendalami beberapa kasus yang<br />

menjerat Abraham. Kakak Abraham, Imran Samad,<br />

pun sudah diperiksa. Namun Ketua KPK<br />

itu belum berstatus tersangka.<br />

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud<br />

Md. menilai kasus pemalsuan dokumen yang<br />

ditudingkan kepada Abraham terlalu sepele. Pemalsuan<br />

tersebut bukan serius pemalsuan yang<br />

merugikan orang lain. “Harus dibedakan antara<br />

mala in se dengan mala prohibita,” kata Mahfud.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Mahfud Md. usai bertemu<br />

pimpinan KPK membahas kisruh<br />

KPK-Polri 6/02/2015.<br />

ANTARA<br />

Mala in se adalah melakukan tindakan hukum<br />

melanggar aturan resmi dan aturan dalam masyarakat.<br />

Sedangkan mala prohibita ialah orang<br />

melanggar aturan tapi sebenarnya tidak ada<br />

yang dirugikan.<br />

Banyak orang melakukan pemalsuan data<br />

kartu keluarga, KTP, ataupun paspor untuk menolong<br />

orang atau sekadar kepraktisan. Mahfud,<br />

misalnya, mengaku pernah memasukkan<br />

nama pembantunya dalam KK-nya.<br />

“Begitu-begitu kalau dijadikan pidana yang<br />

serius menimbulkan kesan kriminalisasi,” kata<br />

Mahfud. ■<br />

MONIQUE SHINTAMI, BAHTIAR RIFAI, ISFARI HIKMAT | ARYO BHAWONO<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

JERAT KASUS<br />

YANG MELUMPUHKAN KPK<br />

KPK terancam kehilangan semua<br />

komisionernya. Setelah Wakil Ketua<br />

KPK Bambang Widjojanto mengundurkan<br />

diri karena ditetapkan sebagai<br />

tersangka kasus kesaksian palsu, ketiga<br />

koleganya berpotensi nonaktif jika<br />

ikut dijadikan tersangka. “Ya, kalau<br />

soal tersangka, itu nanti. Tapi, artinya,<br />

arah ke sana sudah ada,” kata Kepala<br />

Badan Reserse Kriminal Mabes Polri<br />

Komisaris Jenderal Budi Waseso.<br />

Berikut ini perjalanan kasus yang<br />

membelit keempat petinggi KPK yang<br />

dianggap banyak kalangan merupakan<br />

kriminalisasi sebagai balasan atas<br />

ditetapkannya calon Kapolri, Komisaris<br />

Jenderal Budi Gunawan, sebagai<br />

tersangka kasus gratifikasi.<br />

Kasus:<br />

1. PEMALSUAN DOKUMEN<br />

Dugaan pemalsuan dokumen kependudukan<br />

atas nama Feriyani Lim di Kecamatan<br />

Panakkukang, Makassar, pada 2007<br />

Dilaporkan:<br />

• Chairil Chaidar Said (29 Januari 2015)<br />

Mengaku sebagai aktivis LSM di Makassar.<br />

• Feriyani Lim (2 Februari 2015)<br />

Pengusaha butik<br />

Kata Samad:<br />

Belum ada komentar soal kasus ini.<br />

ABRAHAM<br />

SAMAD<br />

Status kasus:<br />

Dilimpahkan ke Polda Sulawesi Selatan.<br />

2. PENYALAHGUNAAN WEWENANG<br />

Dugaan melanggar UU KPK dengan<br />

menawarkan bantuan meringankan hukuman<br />

buat tersangka korupsi Izedrik Emir Moeis<br />

pada 2014<br />

Dilaporkan:<br />

M. Yusuf Sahide (22 Januari 2015)<br />

Ketua KPK Watch, lulusan Fakultas Hukum<br />

Universitas Hasanuddin. Laporannya hanya<br />

berbekal cetakan artikel berjudul “Rumah<br />

Kaca Abraham Samad” dari Internet.<br />

Kata Samad:<br />

“Saya sama sekali tidak pernah<br />

menjanjikan atau membantu penanganan<br />

salah satu kasus yang sedang ditangani<br />

KPK.”<br />

Status:<br />

Bareskrim Polri menerbitkan surat perintah<br />

penyelidikan.<br />

BAMBANG<br />

WIDJOJANTO<br />

Kasus:<br />

KESAKSIAN PALSU<br />

Dugaan mengarahkan keterangan palsu<br />

para saksi dalam sidang sengketa pilkada<br />

Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, di<br />

Mahkamah Konstitusi pada 2010. Sempat<br />

dilaporkan ke polisi pada 2010, tapi dicabut<br />

pada 2012.<br />

Dilaporkan:<br />

Sugianto Sabran (19 Januari 2015)<br />

Calon Bupati Kotawaringin Barat, mantan<br />

anggota Fraksi PDIP DRPD RI, dan dipenjara<br />

dengan hukuman percobaan penjara satu<br />

setengah bulan akibat penganiayaan aktivis<br />

yang menyelidiki kasus pembalakan liar<br />

perusahaannya, Tanjung Lingga Group.<br />

Kata Bambang:<br />

“Saya merasa dizalimi, ada<br />

rekayasa.”<br />

Status kasus:<br />

Bareskrim Polri menetapkan Bambang<br />

sebagai tersangka.<br />

Kasus:<br />

PERAMPASAN SAHAM DAN ASET<br />

Diduga terlibat merekayasa pengambilalihan<br />

kepemilikan saham dan aset PT Daisy<br />

Timber saat perusahaan mengalami<br />

dualisme kepemilikan. Adnan dituding<br />

membuat akta perusahaan palsu dan<br />

menggelar RUPS tidak sah. Sempat<br />

dilaporkan pada 2008 dan 2009 di<br />

Kalimantan Timur, tapi penyelidikannya tidak<br />

berlanjut.<br />

Dilaporkan:<br />

Mukhlis Ramlan (24 Januari 2015)<br />

Mewakili pemilik PT Teluk Sulaiman, Muiz<br />

Murad, yang mengklaim punya 60 persen<br />

saham PT Daisy Timber. Mantan aktivis HMI<br />

dan calon legislator DPRD Kalimantan Timur<br />

dari Partai Hanura pada Pemilu 2009.<br />

ADNAN PANDU<br />

PRAJA<br />

Kata Adnan:<br />

“Ini rekayasa.”<br />

Status kasus:<br />

Bareskrim Polri menerbitkan surat perintah<br />

penyelidikan.<br />

ZULKARNAIN<br />

Kasus:<br />

SUAP<br />

Diduga pada 2010 menerima suap Rp 5 miliar<br />

saat menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa<br />

Timur dengan balasan menyetop penyidikan<br />

terhadap pejabat Pemerintah Provinsi Jawa<br />

Timur dalam kasus dugaan korupsi dana<br />

hibah Program Penanganan Sosial-Ekonomi<br />

Masyarakat (P2SEM) Jawa Timur 2008.<br />

Pelapor mengadukan kasus ini ke KPK pada<br />

2013 dan 2014.<br />

Dilaporkan:<br />

Fathorrasjid (28 Januari 2015)<br />

Ketua Aliansi Masyarakat Jawa Timur,<br />

mantan Ketua DPRD Jawa Timur, dan<br />

politikus PKNU yang divonis penjara empat<br />

tahun dalam kasus korupsi P2SEM. Bebas<br />

pada Desember 2013.<br />

Kata Zulkarnain:<br />

“Tidak benar dan tidak<br />

logis. Kalau ada informasi<br />

negatif, perlu telusuri sumber<br />

informasinya apakah bisa<br />

dipercaya atau tidak.”<br />

Status:<br />

Bareskrim Polri menerbitkan surat perintah<br />

penyelidikan.<br />

OKTA WIGUNA | INFOGRAFIS: MINDRA PURNOMO<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

SISI GELAP<br />

SI CINDERELLA<br />

FERIYANI BIKIN KAGET ORANG-ORANG<br />

DEKATNYA. MENDADAK MODIS DAN<br />

TAJIR. PUNYA TIGA BUTIK, GAUL DI<br />

KALANGAN SOSIALITA DAN SELEBRITAS.<br />

SIAPA YANG MENYULAPNYA<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Feriyani Lim (kiri) bersama artis<br />

Syahrini (kanan) saat berlibur<br />

ke New York, Amerika Serikat,<br />

pada 2014.<br />

RUSMAN JHONY/DETIKCOM<br />

GADIS Tionghoa itu baru berumur<br />

sekitar 19 tahun ketika pertama kali<br />

menginjakkan kaki di Jakarta. Tak<br />

punya banyak kenalan di Ibu Kota,<br />

gadis dari Pontianak itu mantap dengan citacitanya<br />

membuka butik.<br />

Gadis itu bernama Feriyani Lim. Joe, seorang<br />

teman masa kecil Feriyani, mengenang<br />

sahabatnya itu mengontaknya pada 2005 dan<br />

minta bantuannya. Sang teman memang lebih<br />

dulu datang ke Jakarta untuk berkuliah. “Cariin<br />

gue rumah dong,” kata Feriyani saat itu, seperti<br />

ditirukan temannya, kepada majalah detik.<br />

Sedari dulu Feriyani memang dikenal sangat<br />

gemar mode dan berdandan. Maka berangkatlah<br />

Joe, Feriyani, dan seorang teman perempuan<br />

Feriyani berkeliling mencari rumah kontrakan<br />

dan kios.<br />

Berkeliling Jakarta dengan hanya bercelana<br />

pendek, Feriyani akhirnya memilih Wisma<br />

Mangga Besar, Jakarta Pusat, yang pas dengan<br />

kantongnya. Setelah itu, Joe tidak banyak tahu<br />

lagi soal kehidupan Feriyani di Jakarta.<br />

Karena itu, ia kaget saat Feriyani ramai diberitakan<br />

dalam kasus dugaan pemalsuan dokumen<br />

dan foto mesum yang menyerang Ketua<br />

Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad.<br />

Foto itu pertama kali diunggah oleh akun<br />

Twitter @patungpolisi.<br />

Akun yang sama juga menyebut Feriyani<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Ruko milik keluarga<br />

Feriyani Lim di Gang<br />

Suez Dalam, Pontianak,<br />

Kalimantan Barat.<br />

ADI SAPUTRO/DETIKCOM<br />

punya butik, bergaul di kalangan sosialita,<br />

berpenampilan modis, dan gemar belanja ke<br />

mancanegara. Penggambaran yang jauh sekali<br />

dari gadis yang dikenal Joe. “Dia itu dulu masih<br />

cupu (culun punya) dan dari keluarga sederhana,”<br />

kata Joe.<br />

Joe mengingat, Feriyani sering bolos sekolah,<br />

bahkan sempat tidak naik kelas. Berbeda dengan<br />

cerita pengacara Feriyani, Haris Septiansyah,<br />

yang menyebut kliennya sempat berkuliah<br />

di Taiwan, Joe meyakini kawannya itu tidak<br />

sampai lulus SMA.<br />

“Sebab, di Kalimantan memang kayak gitu,<br />

kesadaran untuk sekolahnya masih rendah,”<br />

kata Joe. “Mereka lebih berpikir dagang dan<br />

bisnis.”<br />

Meski sering diejek karena tidak naik kelas,<br />

bukan berarti Feriyani tak populer. Bahkan, di<br />

sekolah dan di antara teman sepermainannya<br />

di Pontianak, Feriyani memang yang paling<br />

cantik dan banyak yang menaksir.<br />

Feriyani lahir di Pontianak pada 5 Februari<br />

1986 dan menghabiskan masa kecilnya di kota<br />

asalnya itu. Ia tinggal di Gang Suez Dalam,<br />

Kelurahan Benua Melayu Darat, Pontianak,<br />

Kalimantan Barat.<br />

Rumah itu berada di pusat Kota Pontianak,<br />

tak jauh dari Mal Ramayana. Seperti bangunan<br />

yang berbaris di kiri dan kanannya, tempat<br />

tinggal Feriyani adalah rumah-toko tanpa<br />

halaman depan dan pagar, sehingga langsung<br />

menempel dengan jalan yang bisa dilalui dua<br />

mobil.<br />

Saat disambangi pada Rabu, 4 Februari 2015,<br />

ruko dua lantai bercat krem itu tidak berpenghuni.<br />

Para tetangga menceritakan rumah itu<br />

sudah lama kosong tetapi tidak dijual ataupun<br />

disewakan.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Dia itu<br />

dulu masih<br />

cupu<br />

dan dari<br />

keluarga<br />

sederhana.<br />

Hanya sesekali keluarga Feriyani datang, yakni<br />

saat Imlek atau pada hari ritual sembahyang<br />

kubur. Mereka biasa mampir ke rumah untuk<br />

menggelar hajatan dan berdoa.<br />

Warga Gang Suez Dalam yang mengenal<br />

Feriyani kecil dengan panggilan Aling itu<br />

mengaku kaget melihat penampilan modis dan<br />

glamor Feriyani dalam pemberitaan. Namun<br />

mereka memilih menutup mulut ketika ditanya<br />

soal perempuan itu dan keluarganya.<br />

Ketua RT setempat, Rida, menjelaskan Feriyani<br />

semasa kecil tinggal bersama orang tua,<br />

dua kakak perempuan, dan satu kakak lelaki.<br />

“Setelah menamatkan sekolah, tak diketahui<br />

keberadaannya karena pindah ke Jakarta dan<br />

tidak pernah lapor ke saya,” ujarnya.<br />

Ayah Feriyani, Ng Chiu Bwe, dan ibunya yang<br />

bernama Lim Miaw Tian disebut-sebut sempat<br />

berjualan bahan kebutuhan pokok di daerah<br />

Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan<br />

Barat. Namun usia lanjut membuat mereka<br />

berhenti dan pindah ke Jakarta mengikuti ketiga<br />

anaknya, Aping, Fendy Lim, dan Feriyani.<br />

Kakak tertua Feriyani, Eka, yang menikah<br />

dengan pengusaha asal Brunei Darussalam,<br />

sempat menjadi tulang punggung keluarga.<br />

Setelah bercerai, Eka dan anaknya menyusul ke<br />

Ibu Kota.<br />

Lurah Benua Melayu Barat, Fransiskus X. Ijuk,<br />

mengatakan Feriyani masih ada dalam catatan<br />

kantornya. “Sejauh ini pihak kelurahan tidak<br />

pernah mengeluarkan surat apa pun terkait<br />

kepindahan Feriyani Lim,” ujarnya.<br />

Sementara itu, Kepala Dinas Kependudukan<br />

dan Catatan Sipil Pemerintah Kota Pontianak,<br />

Suparma, menjelaskan Feriyani telah tercatat<br />

sebagai warga Kebayoran Baru, Jakarta. Namun<br />

kepindahan itu, kata dia, tidak mengikuti<br />

prosedur yang benar.<br />

lll<br />

Joe bercerita ia bak bertemu dengan Cinderella<br />

ketika pada 2012 bertemu lagi dengan<br />

Feriyani di Mal Grand Indonesia, Jakarta. Feriyani,<br />

yang dulu berpenampilan sekenanya, kini<br />

berbaju modis dengan riasan tebal.<br />

Namanya pun bukan lagi Feriyani, melainkan<br />

Fransisca. Ditanya alasan berganti nama, Feriyani<br />

hanya tertawa.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Butik Dress Me Darling milik<br />

Feriyani Lim di ITC Mangga<br />

Dua, Jakarta.<br />

YUDHI MAHATMA/ANTARA<br />

Sementara dulu minta diantar G keliling<br />

Jakarta, kali ini Feriyani wira-wiri diantar sopir.<br />

Seingat Joe, saat itu mobilnya Honda Freed<br />

berwarna putih.<br />

Ketika mengobrol itu, Feriyani mengeluh<br />

baru saja kehilangan Rp 200 juta akibat bermain<br />

Forex. Ia mengaku kapok bermain uang<br />

seperti itu.<br />

Lewat pertemuan itu jugalah Joe baru tahu<br />

bahwa Feriyani dulu tak sekadar sesumbar<br />

ingin punya butik. Rupanya niatan itu diwujudkan<br />

dengan membuka toko Dress Me Darling<br />

di Mal ITC Mangga Dua.<br />

Toko baju yang berada di lantai 4 Blok C<br />

Nomor 11 de ngan luas sekitar 8 meter persegi<br />

itu mengklaim hanya menjual pakaian impor.<br />

Dagangannya dibanderol mulai Rp 500 ribu<br />

dan termahal Rp 700 ribu.<br />

Menurut pegawai toko, bos mereka dikenal<br />

dengan dua nama, Fransisca Lim dan Feriyani<br />

Lim. Kasir toko ini, pria Tionghoa paruh baya<br />

yang enggan menyebutkan namanya, mengaku<br />

masih kerabat Feriyani. “Iya, ini butiknya (Feriyani),<br />

tapi dia sudah lama tidak datang,” ujarnya.<br />

Satu lantai di atas butik Dress Me Darling,<br />

yang tutup sejak Kamis, 5 Februari 2015, itu,<br />

ada toko baju milik kakak Feriyani, Fendy Lim.<br />

Fendy membenarkan butik itu milik adiknya<br />

dan sebelumnya Feriyani juga punya toko di<br />

lantai lima tapi sudah tutup.<br />

Menurut Fendy, selain di Mangga Dua itu,<br />

Feriyani juga punya toko di beberapa mal di<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Apartemen Kusuma Candra<br />

di kawasan SCBD, Jakarta<br />

Selatan. Unit dua kamar<br />

yang ditempati Feriyani biaya<br />

sewanya mencapai Rp 29 juta<br />

per bulan.<br />

GRANDYOS ZAFNA/DETIKCOM<br />

Jakarta. Orang-orang dekat Feriyani menyebut<br />

gadis itu punya butik di Mal Ambassador dan<br />

satu di mal dekat Bundaran Hotel Indonesia.<br />

Bisnis inilah yang meroketkan Feriyani ke kalangan<br />

sosialita dan selebritas. Setidaknya itu<br />

menurut Reindhy, manajer artis Syahrini yang<br />

pernah membeli baju dari butik Feriyani.<br />

Selain membeli, Reindhy mengatakan, artisartis<br />

yang dimanajerinya memang kerap ditawari<br />

pakaian oleh Feriyani. “Hubungan Syahrini<br />

dan Fransisca hanya sebatas penjual dan<br />

pembeli,” ujar Reindhy kepada majalah detik.<br />

Soal beredarnya foto-foto Feriyani bersama<br />

Syahrini, termasuk saat melancong ke New<br />

York, Amerika Serikat, Reindhy membenarkannya.<br />

Keduanya memang beberapa kali bertemu<br />

dan pada 2014 pernah liburan bersama ke<br />

Amerika.<br />

Feriyani juga tampaknya bukan orang sembarangan<br />

di kalangan sosialita Jakarta. Mengenakan<br />

mini-dress hijau menyala dan menenteng<br />

tas birkin Hermes, Feriyani menghadiri acara<br />

terbatas untuk 350 undangan yang diadakan<br />

produsen jam tangan dari Swiss, Hublot, di<br />

pusat belanja The Foundry, SCBD, Jakarta.<br />

Berdasarkan beberapa situs jual-beli jam, harga<br />

jam tangan mewah merek Hublot ini di kisaran<br />

Rp 50 juta hingga Rp 1 miliar.<br />

Selain pada acara premier event Hublot, ia<br />

tercatat sebagai tamu undangan di acara fashion<br />

and jewelry show pada Oktober 2013 di<br />

Hotel Grand Hyatt, Jakarta.<br />

Ditanya soal sumber modal adiknya sehingga<br />

punya banyak butik dan bergaul dengan<br />

kalangan elite Jakarta itu, Fendy cepat-cepat<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Tiba-tiba ada<br />

gosip sudah<br />

16 tahunlah<br />

jadi simpanan.<br />

Jadi kan<br />

kaget.<br />

mengunci bibir. “Jangan tanya itu, saya enggak<br />

tahu,” ujarnya sambil menundukkan kepala.<br />

“Saya enggak mau ngomong banyak, ya. No<br />

comment aja.”<br />

Fendy hanya mau bercerita bahwa dulu<br />

keluarganya tinggal bersama di Jakarta. Namun,<br />

beberapa tahun lalu, Feriyani pindah ke<br />

Apartemen Kusuma Candra di bilangan SCBD,<br />

Jakarta Selatan.<br />

Feriyani berbagi dua kamar di unit 22K Tower<br />

3 apartemen itu dengan orang tuanya. “Feriyani<br />

belum menikah,” kata pengacara Feriyani,<br />

Haris Septiansyah.<br />

Apartemen Kusuma Candra lebih banyak<br />

ditinggali kalangan ekspatriat. Tidak mengherankan<br />

jika harga sewanya memakai tarif dolar<br />

Amerika, yaitu di kisaran US$ 2.100 sampai US$<br />

3.000 per bulan. Unit dua kamar seperti milik<br />

Feriyani, jika kondisinya masih prima, harga<br />

sewanya ditaksir sekitar US$ 2.300 atau kini<br />

sekitar Rp 29 juta per bulan.<br />

Dalam catatan Tenant Relation Officer<br />

Apartemen Kusuma Candra, Rizal, Feriyani<br />

memang tinggal di sana. Namun Rizal, yang<br />

mengaku baru setahun bekerja di sana, tak bisa<br />

memberitahukan status kepemilikan unit dan<br />

sudah berapa lama dihuni karena komputer<br />

penyimpan data itu tengah rusak.<br />

Menurut Rizal, Feriyani menyatakan kepada<br />

pengelola apartemen bahwa ia tinggal sendiri.<br />

Namun Rizal sempat melihat seorang perempuan<br />

paruh baya bersama Feriyani dan sesekali<br />

pembantunya kelihatan mengambil baju di<br />

binatu. Pembantu juga sering berganti-ganti.<br />

Sepengetahuan Rizal, tak pernah ada tamu<br />

lelaki datang ke apartemen Feriyani. Ia tak<br />

pernah melihat Ketua KPK Abraham Samad<br />

di sana ataupun pria yang menyembunyikan<br />

identitas seperti memakai masker. “Pastinya,<br />

kalau seperti itu, tidak akan pernah diizinkan<br />

masuk,” ujarnya.<br />

Setidaknya, sekali dalam seminggu, Rizal<br />

melihat Feriyani. “Tapi, sejak tiga bulan lalu,<br />

saya tidak pernah lagi melihat beliau dan tidak<br />

melihat ada aktivitas di unit beliau,” ujarnya.<br />

Pengelola apartemen belum menerima informasi<br />

soal pindah tangan unit itu. Sejauh ini,<br />

kata Rizal, unit itu masih terdaftar atas nama<br />

Feriyani.<br />

Sejak melaporkan Ketua KPK Abraham Samad<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Pengacara Feriyani Lim, Haris<br />

Septiansyah<br />

ANDIKA WAHYU/ANTARA<br />

karena merasa jadi korban kasus pemalsuan<br />

dokumen kependudukan di Kecamatan Panakkukang,<br />

Makassar, Feriyani tak pernah muncul di<br />

muka publik dan keberadaannya jadi misteri.<br />

Haris menyatakan kliennya masih ada di<br />

Apartemen Kusuma Candra. Namun Feriyani,<br />

kata dia, belum bersedia ditemui karena lelah<br />

menjalani pemeriksaan oleh penyelidik yang<br />

didatangkan Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan<br />

ke Jakarta.<br />

“Jadi, beliau mengaku ke kami beliau tidak<br />

tidur,” kata Haris. “Kondisinya capek dan sering<br />

melihat media, beliau susah ditemui sampai<br />

sekarang.”<br />

Feriyani juga masih shock mengetahui ia<br />

digosipkan jadi perempuan nakal. Pengacara<br />

menegaskan harta yang dimiliki Feriyani berasal<br />

dari keuntungan bisnis butiknya. “Tiba-tiba<br />

ada gosip sudah 16 tahunlah jadi simpanan. Jadi<br />

kan kaget,” kata Haris. ■<br />

ADI SAPUTRO, BAHTIAR RIFAI, IBAD DUROHMAN, MONIQUE SHINTAMI |<br />

OKTA WIGUNA<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

DULU ADA<br />

SERANGAN<br />

RANI<br />

KISAH Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi diserang<br />

dengan isu perempuan bukan pertama kali ini terjadi.<br />

Isu perempuan selalu ditembakkan saat KPK menangani<br />

kasus besar.<br />

Sebelum Abraham Samad, kredibilitas Antasari Azhar<br />

juga dicabik-cabik oleh perempuan bernama Rani Juliani.<br />

Rani adalah istri siri Nasrudin Zulkarnaen, Direktur PT<br />

Putra Rajawali Banjaran, yang juga teman Antasari bermain<br />

golf.<br />

Nasrudin kemudian jadi korban pembunuhan. Antasari<br />

dituduh sebagai dalang pembunuhan suami Rani<br />

tersebut. Antasari juga didakwa punya hubungan spesial<br />

dengan Rani. Selama penanganan kasus, caddy golf itu<br />

mendapat perlindungan ketat polisi. Ia juga mendapat<br />

perlakuan istimewa dengan diperiksa di hotel, restoran,<br />

dan apartemen.<br />

Antasari membantah tudingan punya hubungan khusus<br />

dengan Rani. Istri Antasari juga tidak percaya suaminya<br />

punya affair dengan si caddy.<br />

Namun nasib Antasari tragis, majelis hakim Pengadilan<br />

Negeri Jakarta Selatan menyatakan dia bersalah dan dihukum<br />

penjara selama 18 tahun. Sampai sekarang, Antasari<br />

selalu mengatakan tidak bersalah dan tidak ada bukti<br />

kuat bahwa ia adalah dalang pembunuhan Nasrudin.<br />

Awal Februari ini, Antasari meluncurkan buku Saya Dikorbankan.<br />

Peluncuran buku dilakukan secara sederhana<br />

di gedung Pengadilan Negeri Tangerang, Banten.<br />

Dalam buku itu, Antasari mengungkapkan ada pelaku<br />

yang menembak Nasrudin mengiriminya surat pengakuan<br />

dosa.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

“Adanya surat pengakuan dari pelaku penembak asli.<br />

Memohon maaf kepada Pak Antasari bahwa dia yang<br />

melakukan semua itu (membunuh Nasrudin Zulkarnaen),”<br />

ujar Antasari.<br />

Perlu diingat, pada saat Antasari dijerat polisi dengan<br />

kasus pembunuhan, ia sedang menangani sejumlah kasus<br />

besar yang bakal menyeret sejumlah pejabat negara<br />

menjadi tersangka.<br />

Abraham Samad berada dalam situasi serupa karena<br />

menetapkan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai<br />

tersangka kasus rekening tak wajar.<br />

Budi Gunawan menyandang status tersangka justru<br />

saat Presiden Joko Widodo memilihnya sebagai calon<br />

tunggal Kapolri menggantikan Jenderal Sutarman.<br />

Menghajar pimpinan KPK dengan memunculkan isu<br />

perempuan, bagi aktivis antikorupsi, jelas-jelas hanya modus<br />

untuk menghambat penyidikan kasus korupsi besar<br />

yang ditangani lembaga antirasuah itu.<br />

“Ini kan jelas, saat KPK sedang menangani kasus yang<br />

berdimensi politik tinggi dan terkait aparat penegak hukum,<br />

selalu saja ada gangguan, tekanan, dan sebagainya,”<br />

ujar peneliti Indonesia Corruption Watch, Ade Irawan.<br />

Menurut Ade, saat ini ada upaya sistematis untuk<br />

mengusik konsentrasi dalam menangani kasus rekening<br />

gendut dan pada akhirnya melemahkan KPK untuk melanjutkan<br />

kasus itu.<br />

Sedangkan Hifdzil Alim,<br />

peneliti Pusat Kajian Antikorupsi<br />

UGM, menilai<br />

persoalan yang membelit<br />

pimpinan KPK adalah upaya<br />

kriminalisasi.<br />

“Ini terang-benderang<br />

kasusnya coba diada-adain.<br />

Kami sih ingin Jokowi memerintahkan<br />

SP3 (surat<br />

perintah penghentian<br />

penyidikan) kasus<br />

ini,” kata Ade. ■<br />

HANS HENRICUS B.S. ARON<br />

Antasari Azhar<br />

AGUNG PAMBUDHY/DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

PENGACARA:<br />

TAK PERNAH<br />

FERIYANI<br />

FOTO MESRA<br />

DENGAN SAMAD<br />

“FERIYANI TIDAK MAU<br />

DIKATAKAN BERSEKONGKOL<br />

DAN DISALAHKAN DALAM<br />

MASALAH PASPOR.”<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

BAHTIAR/MAJALAHDETIK<br />

Saya cuma bikin<br />

paspor, cuma<br />

tahu terima<br />

beres, kok tibatiba<br />

saya sampai<br />

dilaporin polisi,<br />

salah saya apa.<br />

FERIYANI Lim mengaku terpaksa<br />

melaporkan Ketua Komisi Pemberantasan<br />

Korupsi Abraham Samad dalam<br />

kasus pemalsuan dokumen. Ia tidak<br />

mau dihukum 6 tahun penjara gara-gara didakwa<br />

bersekongkol membuat dokumen palsu<br />

dalam pembuatan paspor.<br />

Soal foto mesra mirip dirinya dan Abraham,<br />

Feriyani membantah pernah melakukan adegan<br />

seperti itu. Ia mengaku bertemu dengan<br />

Abraham di rumah makan dan saat pembuatan<br />

kartu tanda penduduk serta paspor. Setelah itu,<br />

ia tidak pernah lagi bertemu dengan Abraham.<br />

“Klien kita dengan tegas mengatakan tidak<br />

pernah ada foto itu. Enggak pernah dia foto<br />

kayak begitu,” kata pengacara Feriyani, Haris<br />

Septiansyah.<br />

Bagaimana kronologi Feriyani Lim melaporkan<br />

Ketua KPK Abraham Samad<br />

Tanggal 29 Januari 2015, ada laporan dari LSM,<br />

dugaan tindak pidananya adalah pelanggaran<br />

Pasal 93 UU Administrasi Negara juncto Pasal<br />

263 juncto Pasal 264 KUHP. Maksimal pidana<br />

6 tahun penjara. Di situ klien kita (Feriyani)<br />

sebagai terlapor satu dan terlapor dua adalah<br />

Saudara AS (Abraham Samad).<br />

Laporan tanggal 29 Januari itu diserahkan ke<br />

Mabes Polri. Kemudian Mabes Polri melimpahkan<br />

ke Polda Sulawesi Selatan-Barat. Klien kita<br />

merasa, “Saya cuma bikin paspor, cuma tahu<br />

terima beres, kok tiba-tiba saya sampai dilaporin<br />

polisi, salah saya apa.”<br />

Sebagai kuasa hukum, kita rekomendasikan<br />

lapor balik saja karena, kalau sebagai terlapor,<br />

berarti kita bersekongkol. Makanya, pas 1 Februari,<br />

kita melaporkan ke Mabes Polri.<br />

Jadi ada dua laporan. Pertama, kita sebagai<br />

terlapor di Mabes Polri yang dilimpahkan ke<br />

Polda Sulawesi Selatan Barat. Laporan kedua<br />

kita sebagai pelapor, dengan terlapornya Uki<br />

dan AS.<br />

Bagaimana Feriyani membuat paspor<br />

tersebut<br />

Klien kita kan cuma nyari orang. Dia domisili<br />

di Pontianak. Dia bingung, tanggal 26 Februari<br />

2007 mau ke Kuala Lumpur. Kelimpungan, beliau<br />

nanya teman ke teman, muncullah teman,<br />

namanya Awi. Awi bilang, “Lo mau bikin paspor,<br />

sudah lo ikut gua, tapi lo mesti ke Makassar.”<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Ketua KPK Abraham<br />

Samad saat konferensi pers<br />

menjelaskan foto mirip dia dan<br />

Feriyani Lim yang beredar di<br />

media sosial, Senin (2/2).<br />

ANTARA FOTO/DADUNG SUNJAYA<br />

Awi orang Makassar.<br />

Berangkatlah mereka, klien kita dengan temannya<br />

yang bernama Dewi, kemudian pergi<br />

ke Makassar. Di sana sama Awi yang mengurus.<br />

Hari pertama sampai di Makassar, diurus,<br />

Awi nyerah. Ternyata enggak bisa.<br />

Bingung punya bingung, besoknya si Awi<br />

ngenalin ke teman yang namanya U (Uki).<br />

U bilang, “Ya sudah, coba gua carikan teman<br />

yang bisa.” Nah, kemudian U ini ngenalin ke<br />

AS, yang saat itu profesinya sebagai pengacara<br />

di Makassar. Ketemu mereka di tempat makan,<br />

ngobrol-ngobrol, okelah dibantu.<br />

Besoknya, klien kita cuma disuruh datang<br />

ke tempat foto. Klien kita juga enggak tahu itu<br />

kantor pemerintahan mana. Nah, yang pertama<br />

dia cuma ingat disuruh dua kali foto.<br />

Yang pertama dia ingat foto pertama itu<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

BAHTIAR/MAJALAHDETIK<br />

Klien kita<br />

dengan tegas<br />

mengatakan<br />

tidak pernah ada<br />

foto itu. Enggak<br />

pernah dia foto<br />

kayak begitu.<br />

sama ibu-ibu pakai kerudung, pakai baju cokelat.<br />

Nah, klien kita enggak tahu ini kantor<br />

pemerintahan mana, enggak ngerti dia. Yang<br />

dia ingat foto pertama selesai, jadi KTP.<br />

Terus sorenya disuruh foto lagi, cuma belum<br />

jadi barangnya pada saat itu. Baru keesokan<br />

harinya jadi itu paspor atas nama klien kami.<br />

Lokasi foto sama<br />

Menurut pengakuan beliau, foto di dua tempat<br />

yang berbeda. Yang dia ingat cuma ibu-ibu<br />

kerudung yang ngambil foto.<br />

Klien kita enggak pernah megang yang namanya<br />

KK (kartu keluarga). Kan kalau bikin KTP<br />

harus ada, KK-nya mana nih, alamatnya mana<br />

nih. Klien kita enggak pernah pegang itu KK.<br />

Klien kita cuma datang, duduk, foto, selesai.<br />

Berapa lama nih KTP. Sudah, selesai, sore foto<br />

lagi, besoknya paspor jadi.<br />

Sudah tenang semua sampai saat 29 Januari<br />

itu.<br />

Setelah bikin paspor itu dari Makassar<br />

terus ke mana<br />

Setelah dari Makassar pulang ke Jakarta. Itu<br />

hari Jumat atau Sabtu dia pulang. Senin berangkat<br />

ke Malaysia.<br />

Sempat ketemu Uki<br />

Sempat, begitu di Makassar itu, Uki enggak<br />

kenal serta-merta, dikenalkan sama temannya,<br />

sama Awi itu. Dikenalin U, si U ini yang ngenalin,<br />

dan terima beres. Ya, pasti ketemu, plus<br />

ketemu sama AS ini.<br />

Ketemu di mana<br />

Dia cuma ingat ketemu di rumah makan, ini<br />

berdasarkan BAP kemarin, ya. Tempat makan<br />

dan beliau tidak menyebutkan rumah makan.<br />

Pada saat itu ada seseorang datang, teman<br />

Uki, yang diperkenalkan sebagai pengacara, AS<br />

itu.<br />

Sebelumnya Feriyani tak kenal AS<br />

Enggak, karena si U ini dikenalin sama temannya<br />

Awi tadi.<br />

Setelah di tempat makan tadi, di mana<br />

Feriyani bertemu Abraham Samad lagi<br />

Saat pengurusan KTP dan paspor.<br />

Soal isu foto mesra bagaimana<br />

Ini harus dibedakan isu hukum dan gosip.<br />

ýKlien kita datang bukan karena masalah<br />

foto. Ini karena ada pemalsuan dokumen dan<br />

6 tahun penjara ancamannya. Itu sudah saya<br />

terangkan.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Data kependudukan Feriyani<br />

Lim. Ia tercatat sebagai warga<br />

Kecamatan Kebayoran Baru,<br />

Jakarta Selatan.<br />

DETIKNEWS<br />

Mengenai gosip foto, klien kita dengan tegas<br />

mengatakan tak pernah ada foto itu. Enggak<br />

pernah dia foto kayak begitu. Bahkan, kalau<br />

sempat mengikuti perkembangan media, dari<br />

pihak seberang (Abraham) kan sudah ada pernyataan<br />

bahwa foto itu tidak benar.<br />

Kalau misalkan ada laporan mengenai foto<br />

dan Mabes sudah bereaksi, ya kita tunggu saja.<br />

Bahkan klien kita, saking polosnya dan takut,<br />

sempat bilang sama kita, “Bisa-enggak ahli<br />

telematika disewa.” Dilihat benar-enggak tuh<br />

foto kita yang disebar ke media.<br />

Sekarang Feriyani di mana<br />

Di Jakarta.<br />

Keadaannya<br />

Dengan pemberitaan yang ada, beliau sabar<br />

saja. Sambil menunggu proses yang jelas kemarin<br />

dibikin BAP. Dan di BAP-nya itu sudah<br />

jadi tersangka.<br />

Jadi waktu 3 Februari kita datang sebagai<br />

pelapor. Ternyata sekalian sama BAP sebagai<br />

tersangka.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Apartemen Kusuma Candra di<br />

bilangan SCBD, Jakarta Selatan.<br />

Feriyani Lim tinggal di Tower 3<br />

bersama kedua orang tuanya.<br />

GRANDYOS/DETIKCOM<br />

Aktivitas Feriyani sehari-hari apa<br />

Beliau punya butik dan yang beli bukan<br />

orang sembarangan. Jadi beliau sering ke luar<br />

negeri beli bahan dan baju, diolah di sini, terus<br />

dijual ke teman-temannya. Yang beli termasuk<br />

kalangan artis.<br />

Apakah Feriyani pernah cerita soal musuh<br />

Tidak pernah cerita soal musuh. Beliau orang<br />

biasa yang suka belanja dan punya butik. Dan<br />

tiba-tiba ada gosip sudah 16 tahun-lah jadi simpanan.<br />

Jadi kan kaget. Sebelumnya ya aman<br />

saja.<br />

Sudah menikah<br />

Belum.<br />

Soal informasi rekeningnya yang tidak<br />

sesuai dengan profil<br />

Klien kita tidak memberikan keterangan mengenai<br />

rekening. Fokus beliau saat ini adalah<br />

tidak mau dikatakan bersekongkol dan disalahkan<br />

dalam masalah paspor. Jadi beliau lagi<br />

fokus mengenai itu. Termasuk masalah foto,<br />

akan mengambil jalur hukum lainnya. n<br />

MONIQUE SHINTAMI, BAHTIAR RIFAI<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

AMUKAN<br />

PENGUSAHA<br />

ALMUGADA<br />

ZAINAL BARU BANGKRUT RP 2,9 MILIAR<br />

GARA-GARA SAHAM BAKRIE. IA JUGA GAGAL JADI<br />

CALEG NASDEM. SEMPAT DISANDERA MASSA<br />

SAAT JADI KETUA KPUD GOWA.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Layar Indeks Harga Saham<br />

Gabungan (IHSG) di Bursa<br />

Efek Indonesia, Jakarta, Senin<br />

(29/09/2014).<br />

GRANDYOS ZAFNA/DETIKCOM<br />

ZAINAL Tahir pusing bukan main.<br />

Duitnya senilai Rp 2,9 miliar amblas.<br />

Harga saham PT Bumi Resources Tbk<br />

(BUMI) yang dibelinya terjun bebas.<br />

Pada Desember 2014 itu, harga saham perusahaan<br />

milik Grup Bakrie tersebut anjlok hingga<br />

mendekati Rp 50 per lembar.<br />

Zainal tergiur membeli saham BUMI saat<br />

ditawarkan kepada publik pada 2007. Saat itu<br />

harganya Rp 4.159 per lembar. Pria 39 tahun<br />

asal Gowa, Sulawesi Selatan, itu sampai menjual<br />

aneka properti dan harta lainnya untuk<br />

memborong saham sekitar 4.000 lembar.<br />

Sempat melonjak hingga menjadi Rp 8.750<br />

ribu per lembar, harga saham yang dulu dikenal<br />

sebagai “saham sejuta umat” itu terus menurun<br />

sejak krisis ekonomi 2008. Zainal pun menelan<br />

kerugian. “Kalau dihitung-hitung rugi sampai<br />

Rp 2,9 miliar,” kata trader itu akhir tahun lalu.<br />

Zainal, yang namanya belakangan jadi sorotan<br />

setelah mengaku sebagai pengambil foto<br />

syur mirip Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi<br />

Abraham Samad dan wanita mirip Feriyani<br />

Lim, adalah pemain lama di lantai Bursa Efek<br />

Indonesia (BEI). Ia menekuni bisnis saham itu<br />

dari 2007 hingga sekarang.<br />

“Saya wiraswasta,” ujar Zainal saat jumpa<br />

pers tentang foto mirip Abraham itu di Restoran<br />

Pulau Dua, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2015.<br />

Zainal memiliki klub trader yang anggotanya<br />

lebih dari 200 orang. Mereka berasal dari berbagai<br />

daerah di Indonesia. Namun, di kalangan<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

pialang saham BEI, Zainal adalah pemain saham<br />

skala kecil. Jual-beli saham yang dilakukannya<br />

hanya Rp 1-2 miliar. “Pemain besar itu di atas<br />

Rp 10 miliar,” kata Ketua Umum Asosiasi Analis<br />

Efek Indonesia, yang juga mentor Zainal, Haryajid<br />

Ramelan, kepada majalah detik.<br />

Selain main saham, sudah lama Zainal dikenal<br />

sebagai pebisnis di Makassar. Ia antara lain<br />

memiliki usaha di bidang properti dan punya<br />

toko busana. Namun yang paling dikenal oleh<br />

teman-temannya di Makassar adalah Zainal<br />

pengusaha yang cukup sukses di periklanan.<br />

Salah satu titik papan reklame milik Zainal berdiri<br />

kokoh di jalan poros A.P. Pettarani, Makassar.<br />

“Dia pengusaha almugada: apa lu mau gua<br />

ada,” ujar teman Zainal, Tomi Lebang, lewat<br />

tulisannya di Internet.<br />

Zainal mengenal bisnis sejak menjadi kar-<br />

Zainal Tahir saat diundang<br />

Komisi III DPR terkait<br />

beredarnya foto mesum mirip<br />

Ketua KPK Abraham Samad,<br />

Rabu (4/2/2015).<br />

LAMHOT ARITONANG/DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Ketua KPK Abraham Samad<br />

membantah keaslian foto mirip<br />

dirinya dengan Feriyani Lim,<br />

Senin (2/2).<br />

DADUNG SUNJAYA/ANTARA FOTO<br />

yawan bagian iklan di surat kabar lokal Makassar,<br />

Harian Fajar. Sebelumnya, saat baru lulus<br />

dari Jurusan Administrasi Negara Universitas<br />

Sultan Hasanuddin pada 1993, pria yang memiliki<br />

empat anak itu sempat menjadi petugas<br />

pencatat meteran listrik PLN. Dari bisnisnya<br />

yang berkembang, Zainal dapat mengentaskan<br />

kehidupan keluarganya di Gowa.<br />

Sembari menjalankan bisnis, Zainal, yang<br />

sejak bersekolah di SMA Negeri 1 Sungguminasa<br />

aktif di berbagai organisasi, mulai merintis<br />

karier politik. Ia terpilih menjadi Ketua Komisi<br />

Pemilihan Umum Daerah Gowa pada 2005.<br />

Gowa menggelar pilkada langsung pada<br />

2005. Pilkada ini diwarnai banyak protes dari<br />

para pendukung calon bupati yang bertarung<br />

sejak awal pendaftaran hingga penghitungan<br />

suara.<br />

“Itu yang saya dengar karena dia meloloskan<br />

salah satu pasangan, lalu ribut. Saya tidak<br />

begitu ingat, tapi sudah lama. Yang saya ingat,<br />

calon bupati bermasalah dia loloskan,” kata<br />

Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah<br />

Partai NasDem Sulawesi Selatan Dahlan Gege.<br />

Berdasarkan data detikcom, pada 23 Mei 2005<br />

massa Partai Keadilan Sejahtera mendemo<br />

Pengadilan Negeri Gowa. Mereka memprotes<br />

tindakan KPUD Gowa yang mengesahkan pasangan<br />

Syahrir Syafruddin-Abdul Jabbar Hijjaz<br />

sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Gowa.<br />

PKS meminta pencalonan pasangan itu<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Feriyani Lim<br />

@PATUNGPOLISI<br />

dianulir karena partai ini tidak pernah mengusung<br />

pasangan yang mengklaim didukung<br />

PKS bersama Partai Demokrat dan PDI Perjuangan<br />

tersebut.<br />

Pada 26 Juni 2005, kantor KPUD Gowa<br />

ditutup massa dan Zainal disandera massa.<br />

Sehari sebelum pilkada digelar itu, ratusan<br />

orang memprotes data pemilih karena sebanyak<br />

7.000 warga tidak terdaftar. Warga juga<br />

mengeluhkan kartu pemilih palsu. Seusai pilkada,<br />

warga kembali berdemo dan meminta agar<br />

pengumuman pemenang pilkada diundurkan.<br />

Zainal pada masa itu mengaku sudah terbiasa<br />

menghadapi teror dan tekanan. “Saya sudah<br />

terbiasa diteror. Paling banyak telepon kantor.<br />

Salah satu isinya, mereka mengancam akan<br />

mendatangi rumah saya dan membakarnya,”<br />

kata Zainal.<br />

Pascakisruh pilkada itu, Zainal menyatakan<br />

mundur dari KPUD Gowa sebelum masa<br />

jabatannya habis. Ia kemudian masuk Partai<br />

Demokrat. Beberapa bulan menjelang pemilu<br />

legislatif 2014, Zainal melihat peluang maju<br />

sebagai calon anggota legislatif Partai Nasional<br />

Demokrat (NasDem). Karena itu, ia meloncat<br />

ke NasDem.<br />

Zainal lolos sebagai caleg NasDem daerah<br />

pemilihan I Sulawesi Selatan (Makassar, Gowa,<br />

Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar)<br />

dengan urutan nomor 3.<br />

Zainal pun berkampanye dengan mendatangi<br />

pasar-pasar di dapilnya. Zainal, yang<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Ketua Umum Asosiasi Analis<br />

Efek Indonesia Haryajid<br />

Ramelan (tengah).<br />

PUSPA PERWITASARI/ANTARA<br />

mengusung tagline “Jagalah Kebersihan”, juga<br />

memasang poster dan baliho di banyak tempat<br />

di Makassar. “Jadi, sewaktu di NasDem itu,<br />

balihonya di mana-mana di Makassar,” kata<br />

Haryajid.<br />

Namun langkah Zainal itu membentur dinding.<br />

Ia gagal menjadi anggota DPR. Setelah<br />

gagal di NasDem, Zainal tidak aktif lagi di partai<br />

besutan Surya Paloh itu.<br />

Ia lantas sibuk dengan bisnisnya. Menurut<br />

Tomi, Zainal memilih berada di Jakarta. Ia<br />

memang mempunyai sebuah rumah di Jakarta.<br />

Kabar lainnya, ia memiliki satu unit apartemen<br />

di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.<br />

Zainal lantas muncul mengagetkan saat<br />

menggelar jumpa pers tentang foto mirip Abraham<br />

Samad dengan seorang wanita di tempat<br />

tidur pada Rabu, 4 Februari. Zainal mengakui ia<br />

adalah caleg gagal. “Iya, memang saya mantan<br />

caleg gagal Makassar I untuk DPR RI,” katanya.<br />

Ia sadar langkahnya muncul dengan mengaku<br />

sebagai pemotret adegan heboh mirip<br />

Samad itu sungguh berisiko.<br />

“Saya pernah menjadi sahabat dan teman<br />

dekat AS—yang dibesarkan oleh keluarga yang<br />

menjunjung nilai moral. Saya memahami jika ia<br />

akan marah sekali kepada saya,” tulis Zainal di<br />

akun Facebook-nya. ■<br />

GUNAWAN MASHAR, MONIQUE SHINTAMI, IBAD DURROHMAN,<br />

BAHTIAR RIFAI | IRWAN NUGROHO<br />

MAJALAH DETIK 9 - - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

YANG<br />

DULU<br />

DIPUJI<br />

KINI<br />

DIMAKI<br />

SUPRIANSA sebetulnya<br />

menyimpan nama baik di<br />

sebagian masyarakat Kota<br />

Makassar, Sulawesi Selatan.<br />

Pria yang berprofesi sebagai pengacara<br />

sekaligus pegiat antikorupsi itu dikenal<br />

sebagai pembela rakyat kecil.<br />

Contohnya ketika Supriansa memperjuangkan<br />

hak-hak warga Dusun<br />

Bado-bado, Kecamatan Mandai, Maros.<br />

Saat itu tahun 2000, warga setempat<br />

terlibat sengketa lahan dengan<br />

PT Angkasa Pura I, yang hendak<br />

membangun Bandar Udara Sultan<br />

Hasanuddin.<br />

Supriansa, yang membela warga lewat<br />

lembaga swadaya masyarakat Makassar<br />

Intelektual Law (MIL), berhasil<br />

memenangkan warga. Masyarakat Bado-bado<br />

pun mendapatkan ganti rugi<br />

yang cukup tinggi. “Nama Anca harum<br />

waktu itu,” kata Kiblat Said, sahabat<br />

Anca—sapaan Supriansa.<br />

Selain di MIL, mantan aktivis Himpunan<br />

Mahasiswa Islam itu aktif di gerakan<br />

antinarkoba. Bahkan ia menjadi Ketua<br />

Gerakan Nasional Anti Narkotika Kota<br />

Makassar.<br />

Terakhir, ia mendirikan Indonesia<br />

Monitoring Center, LSM antikorupsi<br />

di Makassar. Melalui<br />

lembaga itulah Anca intens<br />

bekerja sama dengan Ketua<br />

Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham<br />

Samad, yang bernaung di bawah<br />

lembaga Anticorruption Committee<br />

(ACC). Sepak terjang keduanya banyak<br />

diapresiasi.<br />

Namun itu dulu. Kini warga Makas-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

sar ramai-ramai mengecam sikap Anca.<br />

Tak lain akibat aksinya mengumbar<br />

pengakuan tentang pertemuan Samad<br />

dengan elite PDI Perjuangan semasa<br />

pilpres. Pertemuan di apartemen miliknya,<br />

Capital, di Sudirman Center Business<br />

District (SCBD).<br />

“Sekarang warga memaki-maki dia.<br />

Orang memang bisa berubah karena<br />

keadaan,” tutur Said, yang juga mengaku<br />

berteman akrab dengan Samad.<br />

Menurut Said, sejak pindah ke Jakarta<br />

beberapa tahun lalu, gaya hidup Anca<br />

memang berubah. Salah satunya kepemilikan<br />

apartemen mewah tersebut.<br />

“Ya, sebetulnya sebagai teman bangga<br />

juga,” tuturnya.<br />

Abdul Mutholib, Direktur ACC,<br />

mengatakan Anca cenderung dekat<br />

dengan banyak pejabat dan kalangan<br />

pengusaha di Makassar. “Dia banyak<br />

mem-back-up pengusaha-pengusaha di<br />

Makassar,” kata Mutholib.<br />

Selain itu, lulusan Universitas Muslim<br />

Indonesia itu mulai terseret ke politik.<br />

Pada 2010, Anca bahkan maju menjadi<br />

Wakil Bupati Soppeng, yang merupakan<br />

kampung halamannya. Ia berpasangan<br />

dengan Andi Sulham Hasan. Pasangan<br />

yang diusung Partai Demokrat ini menempati<br />

posisi ketiga dari tujuh calon<br />

yang berlaga.<br />

Pada Pemilu 2014, Anca kembali<br />

mengadu peruntungan di dunia politik.<br />

Ia menjadi calon anggota DPR dari<br />

Partai Demokrat. Ia maju sebagai caleg<br />

nomor 5 dari daerah pemilihan II Sulawesi<br />

Selatan, yang meliputi Kabupaten<br />

Sinjai, Bone, Soppeng, Parepare, Barru,<br />

Pangkep, dan Maros.<br />

Pencalonannya sebagai anggota DPR<br />

didukung tokoh-tokoh dan pengusaha<br />

Makassar. Aksa Mahmud, pemilik<br />

Bosowa Group, beberapa kali memberikan<br />

pernyataan yang mendukung.<br />

Anca mengakui Bosowa adalah salah<br />

satu kliennya.<br />

Tak seperti calon lainnya, kampanye<br />

yang dilakukan Supriansa disorot oleh<br />

masyarakat. Pasalnya, dari kabupaten<br />

ke kabupaten di dapilnya itu, Supriansa<br />

menggunakan helikopter. “Dia foto di<br />

depan helikopter. Itu buat ramai,” Mutholib<br />

menambahkan.<br />

Dalam kampanye, Anca tak segan<br />

memberikan bantuan-bantuan, antara<br />

lain ia disebut-sebut memberikan<br />

bantuan marmer untuk pembangunan<br />

masjid dengan nilai yang cukup fantastis.<br />

Supriansa banyak disebut sebagai<br />

penantang tangguh caleg DPR incumbent,<br />

seperti Tamsil Linrung (PKS). Namun,<br />

toh, Anca kembali gagal di politik.<br />

Ia tak mampu merebut kursi DPR. Ia<br />

menuduh telah terjadi pencurian suara,<br />

terutama di Kecamatan Kajang. ■<br />

ADI SAPUTRO, BAHTIAR RIFAI, IBAD DUROHMAN, MONIQUE<br />

SHINTAMI |IRWAN NUGROHO<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

SRI ADININGSIH:<br />

PILIH<br />

PEJABAT<br />

NEGARA<br />

YANG TIDAK<br />

KORUP<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

MESKI MEMBUAT GADUH KONDISI SOSIAL-POLITIK, KISRUH KPK-POLRI TAK<br />

BERDAMPAK SIGNIFIKAN PADA EKONOMI.<br />

DARI sembilan anggota Dewan Pertimbangan<br />

Presiden (Wantimpres), sosok Sri Adiningsih<br />

menjadi istimewa. Bukan cuma karena dia perempuan<br />

satu-satunya, tapi juga lantaran guru<br />

besar ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,<br />

itu punya kedekatan pribadi dengan<br />

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan<br />

Megawati dan teman Presiden Joko<br />

Widodo semasa SMP di Solo. Mungkin karena<br />

itu dia secara aklamasi terpilih menjadi Ketua<br />

Wantimpres, yang dilantik Presiden pada 19<br />

Januari lalu.<br />

Meski dikritik sebagai lembaga balas budi dan<br />

didominasi perwakilan partai politik, mereka<br />

cukup trengginas bekerja. Enam hari setelah<br />

dilantik, mereka menyampaikan rekomendasi<br />

terkait kisruh Komisi Pemberantasan Korupsi<br />

dengan Polri. Namun, dengan alasan rahasia,<br />

Sri menolak membeberkan rekomendasi itu.<br />

“Kalau saya menyampaikan kepada publik,<br />

saya bisa dipenjara, he-he-he…,” kata Sri saat<br />

menerima majalah detik di ruang kerjanya,<br />

Senin (2/2). Kertas-kertas masih bertebaran<br />

di meja rapat. Begitu juga kotak-kotak bekas<br />

makan siang. Sri mengaku baru selesai rapat<br />

dengan timnya mempersiapkan masukan<br />

untuk Presiden. Ia menjamin kedekatannya<br />

dengan Megawati dan Jokowi tak mempengaruhi<br />

sikap profesionalnya sebagai akademisi.<br />

Anda perempuan pertama yang menjadi<br />

Ketua Dewan Pertimbangan Presiden<br />

Suatu kehormatan bagi saya bisa menjadi<br />

anggota Dewan Pertimbangan Presiden, apalagi<br />

menjadi ketuanya, karena posisinya sangat<br />

strategi. Apalagi, kalau dicermati, Presiden<br />

pada waktu menjadi calon presiden punya visimisi<br />

atau buku putih yang ingin menjadikan<br />

bangsa Indonesia berdaulat di bidang politik,<br />

berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian<br />

dalam budaya. Itu kan pengejawantahan<br />

Trisakti Bung Karno yang perlu disesuaikan<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

Saya tidak tahu apakah ada mekanisme<br />

pemilihan secara informal. Tapi saya yakin ada<br />

diskusi dan negosiasi antara Presiden dan anggota<br />

Wantimpres lainnya untuk menentukan<br />

satu nama yang dipercaya oleh Presiden untuk<br />

pada akhirnya menjadi ketua.<br />

Video<br />

dengan kondisi saat ini. Saya percaya Trisakti<br />

merupakan ideologi yang relevan dan diperlukan<br />

Indonesia, terutama pada masa ekonomi<br />

dan liberalisasi teknologi informasi yang luar<br />

biasa.<br />

Proses penunjukan Anda seperti apa<br />

Ada rasa pekewuh memimpin tokohtokoh<br />

senior<br />

Tentu saja menyadari saya cukup muda dan<br />

kurang pengalaman dibandingkan de ngan<br />

bapak-bapak yang lain. Tapi saya pernah berpengalaman<br />

sebagai sekretaris tim ahli MPR<br />

pada waktu proses amendemen UUD 1945.<br />

(Saya) juga banyak berinteraksi de ngan beliaubeliau<br />

sebelumnya. Sejauh ini tidak ada masalah<br />

yang muncul. Kita bekerja sama dengan<br />

baik, meskipun tentu saja tidak berarti semua<br />

punya suara dan pandangan yang sama untuk<br />

suatu permasalahan atau isu yang menjadi<br />

fokus diskusi kita.<br />

Termasuk tidak bulatnya suara dalam<br />

menyikapi kisruh KPK-Polri<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

Saya ingin menyampaikan bahwa semua<br />

yang kami diskusikan dan pertimbangan<br />

kepada Presiden itu oleh Undang-Undang<br />

(Nomor 19 Tahun 2006) merupakan hal yang<br />

rahasia. Tentu saja saya tidak bisa menyampaikan<br />

kepada publik apa yang terjadi dan<br />

apa pertimbangan kita kepada Presiden. Kalau<br />

saya menyampaikan kepada publik, saya bisa<br />

dipenjara, he-he-he….<br />

Dinamikanya seperti apa<br />

Saya tidak bisa menyampaikan isi materi<br />

yang kami diskusikan.<br />

Saya percaya Trisakti merupakan ideologi yang<br />

relevan dan diperlukan Indonesia, terutama<br />

dalam masa ekonomi dan liberalisasi teknologi<br />

informasi yang luar biasa.<br />

Presiden sudah meminta pertimbangan<br />

lanjutan<br />

Yang jelas, Wantimpres tugasnya memberi<br />

pertimbangan kepada Presiden, baik diminta<br />

maupun tidak. Bisa diberikan secara perorangan<br />

atau bersama-sama. Di Wantimpres<br />

itu, kami dibagi-bagi menjadi empat bidang.<br />

Untuk ekonomi, saya bersama Pak Suharso<br />

(Monoarfa), Pak Rusdi (Kirana), dan Pak Jan<br />

(Darmadi). Untuk Kesra itu Pak Hasyim, politik<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

Pengukuhan Sri Adiningsih<br />

sebagai guru besar Fakultas<br />

Ekonomi dan Bisnis UGM pada<br />

2013.<br />

DOK. PRIBADI<br />

dan hukum itu Pak Sidarto (Danusubroto) dan<br />

Pak Malik Fajar, untuk pertahanan-keamanan<br />

Pak Subagyo (H.S.) dan Pak Yusuf (Kartanegara).<br />

Anda melihat kisruh kasus ini berdampak<br />

pada perekonomian<br />

Yang terjadi antara KPK dan Polri memang<br />

telah membuat suasana, terutama sosialpolitik,<br />

agak menghangat. Hanya, saya<br />

bersyukur Indonesia sudah cukup dewasa<br />

menyikapi perkembangan yang terjadi meskipun<br />

mungkin, kalau kita baca, dengar, dan<br />

lihat, suaranya bisa keras, pertentangannya<br />

bisa tajam, tapi tidak anarkistis. Ini kan luar<br />

biasa.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

Saya tidak khawatir dampaknya pada ekonomi<br />

akan signifikan. Kita lihat di pasar saham,<br />

rupiah, begitu juga investasi tidak banyak terganggu.<br />

Sebenarnya Indonesia ini sudah siap<br />

bangkit dan menuju ekonomi yang lebih maju<br />

dengan daya saing yang lebih tinggi dan mandiri.<br />

Gangguan-gangguan pada energi bangsa,<br />

Presiden sampai menteri-menterinya dan masyarakat,<br />

jika habis untuk mengurusi masalahmasalah<br />

non-ekonomi yang berkepanjangan,<br />

tentunya sayang sekali. Saya berharap (konflik)<br />

bisa segera diselesaikan agar kita bisa segera<br />

membangun.<br />

Saya diusulkan oleh PDI Perjuangan. Saya<br />

membantu sejak Ibu Mega menjadi presiden.<br />

Saya kenal secara pribadi dengan Bu Mega.<br />

Apakah Wantimpres punya kewenangan<br />

juga untuk memberikan pertimbangan<br />

(siapa) pejabat negara yang akan ditunjuk<br />

Presiden<br />

Kami punya kewenangan memberi pertimbangan<br />

apa saja yang dianggap secara bersama-sama<br />

atau perorangan perlu disampaikan<br />

kepada Presiden. Termasuk terkait dengan<br />

suatu kementerian, isu ekonomi, atau nonekonomi.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

Peluncuran Gama Leading<br />

Economic Indicators di<br />

Fakultas Ekonomi dan Bisnis<br />

UGM, Yogyakarta.<br />

DOK. PRIBADI<br />

Secara pribadi, bagaimana pandangan<br />

Anda terkait pemberantasan korupsi<br />

Saya dulu Direktur Pelatihan dan Penelitian<br />

Ekonomika dan Bisnis UGM. Saat itu<br />

kami mengembangkan Gematih, gerakan<br />

dari masyarakat akademisi di dalam<br />

memberantas korupsi. Saya menjadi salah<br />

satu bagian dari Gematih di UGM. Itu kan<br />

didirikan di kantor saya.<br />

Kondisi pemberantasan korupsi di Indonesia<br />

seperti apa<br />

Saya takut nanti salah menyampaikan karena<br />

bukan bagian saya. Tapi saya cukup prihatin<br />

melihat bahwa korupsi sudah berjalan lama<br />

dan juga mengakar. Tentunya merugikan pembangunan<br />

ekonomi, membuat kesejahteraan<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

Saya kira semua lembaga penegak hukum<br />

dan pemberantasan korupsi sama pentingnya.<br />

Apabila penegakan hukum berjalan dengan<br />

baik, korupsi bisa diberantas, kita akan mampu<br />

membangun ekonomi dengan lebih baik dan<br />

cepat.<br />

Menjadi salah satu<br />

narasumber pada Focus<br />

Group Discussion di<br />

Kementerian Keuangan.<br />

DOK. PRIBADI<br />

masyarakat tidak bisa meningkat. Karena proyek<br />

dikorup, dana-dana untuk pembangunan<br />

dikorup, tentunya secara ekonomi dampaknya<br />

negatif. Pembangunan ekonomi terganggu,<br />

peningkatan pertumbuhan ekonomi terganggu.<br />

Anda setuju penguatan lembaga pemberantasan<br />

korupsi sangat dibutuhkan<br />

Jadi dibutuhkan pejabat negara dan<br />

penegak hukum yang berkomitmen serta<br />

bebas dari korupsi<br />

Saya berharap pejabat negara di Indonesia<br />

punya komitmen. Pertama, tentunya bekerja<br />

untuk bangsa dan negara. Bersih dari tindak<br />

pidana atau tindak yang etikanya buruk, serta<br />

tentunya tidak korup.<br />

Ada kritik lembaga Wantimpres sekadar<br />

untuk balas budi….<br />

Silakan masyarakat menilai, kalau kami tidak<br />

bisa menjalankan tugas dan kewenangan<br />

dengan baik, ya tentu saja mungkin kami memang<br />

hanya balas budi. Tetapi kami berusaha<br />

memberi pertimbangan kepada Presiden<br />

dengan konstruktif dan berguna untuk ke-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

lebih banyak dari partai ketimbang pakar<br />

Itu hak Presiden untuk memilih orang-orang<br />

yang dianggap bisa masuk ke Wantimpres.<br />

Tetapi, yang saya tahu, teman-teman punya<br />

komitmen dan kami ingin bekerja untuk<br />

memberikan pertimbangan dengan sungguhsungguh.<br />

Anda diusulkan siapa<br />

Semua ada yang mengusulkan. Tidak ada<br />

yang jatuh dari langit. Ada yang diusulkan<br />

Presiden langsung, ada yang dari partai politik.<br />

Kalau saya diusulkan oleh PDI Perjuangan.<br />

Berjabat tangan dengan<br />

Prof Emil Salim, Ketua<br />

Wantimpres periode 2009-<br />

2014, seusai serah-terima<br />

jabatan, Selasa (3/2).<br />

AGUNG/DETIKCOM<br />

putusan-keputusan strategis. Semua pejabat<br />

memang ada yang mengusulkan, tetapi yang<br />

lebih penting, setelah diusulkan, apakah kami<br />

bisa, berani, dan mampu memberikan pertimbangan<br />

kepada Presiden yang dibutuhkan<br />

dalam menyelesaikan permasalahan bangsa<br />

atau membangun bangsa ini.<br />

Kritik lainnya terkait komposisi yang<br />

Karena Anda dekat dengan Megawati<br />

Saya membantu sejak Ibu Mega menjadi<br />

presiden, dan saya aktif sebagai dewan pakar<br />

ekonomi di Megawati Institute yang dibentuk<br />

PDI Perjuangan. Lembaga ini (didirikan) untuk<br />

menampung profesional yang ingin memberikan<br />

pemikirannya kepada bangsa melalui<br />

PDI Perjuangan. Saya aktif di sana kuranglebih<br />

10 tahun, kenal secara pribadi dengan<br />

Bu Mega. Tetapi, sebagai seorang profesional,<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

guru besar di bidang ekonomi, saya diminta<br />

untuk berada di sini dan dipilih oleh Presiden<br />

untuk menjadi Ketua Dewan Pertimbangan<br />

Presiden.<br />

Pak Jokowi itu teman seangkatan di SMP 1 Solo.<br />

Kami relatif dekat karena sering reuni tiap<br />

tahun di rumah dinas beliau di Loji Gandrung.<br />

GRANDYOS ZAFNA/DETIKCOM<br />

Padahal Anda sempat masuk bursa<br />

kabinet sebagai Menkeu….<br />

Saya tidak tahu karena saya berada di<br />

Yogya. Saya dengar ada yang bilang saya<br />

masuk kandidat A atau B, tetapi saya tidak<br />

tahu karena saya tidak pernah dihubungi,<br />

sehingga saya benar-benar tidak tahu apa<br />

yang terjadi di Jakarta. Sama sekali saya tidak<br />

pernah dihubungi oleh siapa pun untuk berbicara<br />

mengenai hal itu. Karena kan saya juga<br />

tinggalnya di Yogya, banyak di kampus, jauh<br />

dari hiruk-pikuk politik di Jakarta.<br />

Kenal dekat dengan Presiden<br />

Pak Jokowi itu teman seangkatan di SMP<br />

1 Solo meskipun tidak sekelas. Sebenarnya<br />

kami relatif dekat karena sering reuni tiap<br />

tahun di rumah dinas beliau di Loji Gandrung.<br />

Sewaktu (beliau) menjadi Gubernur DKI juga<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

Presiden Joko Widodo<br />

didampingi Menteri-Sekretaris<br />

Negara Pratikno menerima<br />

anggota Wantimpres di Istana<br />

Merdeka, Rabu (28/1).<br />

WIDODO S. JUSUF/REI/ANTARAFOTO<br />

pernah reuni di rumah beliau, juga di rumah dinas<br />

beliau. Teman-teman saya sudah berumur,<br />

jadi hobinya reuni, he-he-he…. (Hubungan)<br />

beliau dengan temannya tidak ada yang berubah<br />

sejak jadi presiden.<br />

Kami tidak tahu apakah tahun ini ada reuni,<br />

biasanya hari ketiga setelah Lebaran di rumah<br />

dinas. Masak sekarang di Istana Teman-teman<br />

sih pinginnya begitu, cuma ya tidak mudah<br />

kalau di Istana.<br />

Beliau juga sekarang kalau menyapa seperti<br />

biasa saja, sehingga kadang-kadang tidak enak<br />

sendiri. Biasanya kalau orang dengan Presiden<br />

kan “siap-grak-hormat” gitu ya, sementara<br />

dengan teman, beliau memperlakukan sebagai<br />

seorang teman pada umumnya. Mudahmudahan<br />

beliau tidak berubah karena menjadi<br />

seorang presiden. ■ PASTI LIBERTI MAPPAPA<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


BIODATA<br />

NAMA: Prof Sri Adiningsih, PhD<br />

TEMPAT/TANGGAL LAHIR: Surakarta, Jawa Tengah, 11 De sember<br />

1960<br />

PENDIDIKAN<br />

• Doktor Ekonomi Universitas Illinois, Amerika Serikat, 1996<br />

• Master Ekonomi Universitas Illinois, Amerika Serikat, 1989<br />

• Sarjana Ekonomi Pembangunan Universitas Gadjah Mada,<br />

Yogyakarta, 1985<br />

GRANDYOS ZAFNA/DETIKCOM<br />

KARIER<br />

• Anggota Dewan Pengawas Bank Indonesia, 2013-2015<br />

• Direktur Pelatihan dan Penelitian Ekonomika dan<br />

Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, 2013-<br />

2015<br />

• Ketua Jurusan Ekonomi Makro Fakultas Ekonomi<br />

UGM, 2012-2015<br />

• Anggota Dewan Pengurus Universitas<br />

Kristen Duta Wacana, Yogyakarta,<br />

2009 sampai sekarang<br />

• Kepala Pusat Studi Asia-Pasifik<br />

UGM, 2003-2009<br />

MAJALAH DETIK 2 - 8 FEBRUARI 2015


KOLOM<br />

PRAPERADILAN<br />

SEBAGAI PENANGKAL<br />

PROSES HUKUM<br />

DALAM MENANGANI PRAPERADILAN, PARA HAKIM HARUS KEMBALI PADA NORMA<br />

YANG TELAH DIGARISKAN. TIDAK USAH MENGIKUTI KREATIVITAS PENAFSIRAN PARA<br />

PENASIHAT HUKUM ATAU ADVOKAT.<br />

OLEH: DJOKO SARWOKO<br />

BIODATA<br />

Nama: Djoko Sarwoko<br />

Tempat/Tanggal Lahir:<br />

Boyolali, 21 Desember 1943<br />

Pendidikan dan Pelatihan:<br />

● Fakultas Hukum Universitas<br />

Gadjah Mada<br />

● Kursus dan Pelatihan Internasional<br />

Angkatan ke-31 di<br />

TIGA puluh lima tahun usia Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana<br />

(KUHAP) Nomor 8 Tahun 1981 tidak menjadi semakin mantap implementasinya.<br />

Sebaliknya, justru makin melebar sisi penyimpangannya. Praperadilan<br />

misalnya. Secara konseptual, praperadilan adalah instrumen hukum<br />

untuk pengawasan horizontal antara penyidik, penuntut umum, dan pihak ketiga<br />

yang berkepentingan.<br />

Pasal 1 butir 10 KUHAP menyatakan, praperadilan adalah wewenang pengadilan<br />

negeri untuk memeriksa dan memutus (bukan memeriksa dan mengadili karena<br />

masih berbicara tentang formalitas proses perkara) tentang sah-tidaknya penangkapan,<br />

penahanan, penghentian penyidikan, penghentian penuntutan (tidak termasuk<br />

penyampingan suatu perkara untuk kepentingan umum oleh Jaksa Agung),<br />

ganti kerugian, dan/atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkaranya dihentikan di<br />

tingkat penyidikan atau penuntutan sebagaimana digariskan di dalam Pasal 77.<br />

Sekalipun ketentuannya sudah cukup jelas, barangkali, karena kurang mendalam<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KOLOM<br />

●<br />

●<br />

●<br />

UNAFE Fuchu, Jepang,<br />

1986<br />

Kursus dan Seminar<br />

Internasional tentang<br />

Juvenile Delinquency di<br />

Bangkok, Hong Kong,<br />

Shanghai, Beijing, Tokyo,<br />

1990<br />

Konferensi Asia-Pasifik<br />

tentang Pencucian Uang<br />

di Singapura, 2004<br />

Pelatihan masalah HAM<br />

di East West Center,<br />

Hawaii2006, 2011, 2012<br />

Karier:<br />

● Hakim Pengadilan Negeri<br />

Bangli, Bali, 1973-1978<br />

● Panitera Kepala Pengadilan<br />

Negeri Jakarta Utara,<br />

Jakarta Timur, Jakarta<br />

Barat, dan Jakarta Pusat,<br />

1978-1986<br />

● Hakim Pengadilan Negeri<br />

Tanjungpinang, Riau,<br />

pemahamannya atau karena begitu kreatifnya penasihat hukum atau hakim, lalu<br />

untuk menyelamatkan kliennya kemudian membuat penafsiran-penafsiran baru<br />

yang berakibat memperluas atau menambah obyek praperadilan secara tidak<br />

benar dan yang paling sering adalah “meminta agar proses hukum perkara yang<br />

sedang dijalaninya dihentikan penyidikannya”.<br />

Pada 2014, ada dua kasus terkait praperadilan semacam ini. Pertama di Pengadilan<br />

Negeri Jakarta Selatan. Di sana, tersangka perpajakan berinisial TC, Manajer<br />

Keuangan PHS Group, mempraperadilankan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).<br />

Dia memohon agar pengadilan menghentikan penyidikan dengan alasan prosesnya<br />

berlarut-larut hingga mendekati lima tahun. Padahal Undang-Undang Perpajakan<br />

tidak membatasi berapa lama batas waktu penyidikan. Tindak pidana pajak dapat<br />

dikatakan “kedaluwarsa dalam tenggang waktu 10 tahun”, seperti diatur Pasal 40<br />

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983.<br />

Tapi hakim PN Jakarta Selatan mengabulkan permohonan tersebut sehingga penyidikan<br />

tidak dapat berlanjut. Direktorat Jenderal Pajak kemudian melaporkan si<br />

hakim ke Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial. Konon, berdasarkan hasil pemeriksaan<br />

dari Badan Pengawasan (Bawas MA), hakim M. Razzad terbukti melakukan<br />

perbuatan tidak profesional. Dia pun dimutasikan dan menjadi ketua pengadilan di<br />

Nusa Tenggara Barat.<br />

Pengadilan Negeri Jambi pun pernah menangani praperadilan terhadap PPNS<br />

Perpajakan yang diajukan wajib pajak PT NGK. Obyek praperadilan adalah tentang<br />

“tidak sahnya penyitaan pembukuan keuangan perusahaan” yang sebenarnya<br />

dipinjam dalam rangka penyidikan di bidang perpajakan. Hakim mengabulkan<br />

permohonan tersebut. Akibatnya, semua buku yang disita untuk mencari bukti<br />

permulaan harus dikembalikan. Ketika pihak kantor pajak menolak karena masih<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KOLOM<br />

●<br />

●<br />

●<br />

●<br />

●<br />

1986-1990<br />

Hakim Pengadilan Negeri<br />

Surabaya, 1993-1995<br />

Ketua Pengadilan Negeri<br />

Bogor, 1995-1997<br />

Hakim Tinggi Pengadilan<br />

Tinggi Medan, 1997-1998<br />

Direktur Pidana Mahkamah<br />

Agung, 1998-2001<br />

Ketua Muda Pidana Khusus<br />

Mahkamah Agung<br />

Republik Indonesia,<br />

2009-2014<br />

dipergunakan dalam proses penyidikan, mereka pun dilaporkan ke Polda Jambi<br />

dan telah ditetapkan sebagai tersangka. Kepala kantor pajak dan para penyidiknya<br />

disangka melanggar Pasal 263, 372, 335, dan 429 KUHP.<br />

Bagaimana mungkin PPNS yang sedang menjalankan tugas berbalik dijadikan<br />

tersangka Sungguh sangat menyedihkan. Saya menilai PPNS di bidang perpajakan<br />

Jambi tersebut telah dikriminalisasi. Sedangkan hakim yang memutus praperadilan<br />

telah dilaporkan ke MA dan KY. Tapi, menurut informasi Direktorat Jenderal Pajak,<br />

hingga kini laporan tersebut belum ada kelanjutannya. Di sisi lain, ada isu yang<br />

perlu dibuktikan kebenarannya. Konon, di belakang, wajib pajak adalah pembesar<br />

dari kepolisian di Polda Jambi.<br />

Pasal 36 A ayat (5) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan<br />

Umum dan Tata Cara Perpajakan, yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 16<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KOLOM<br />

Tahun 2009, menegaskan bahwa “pegawai pajak tidak dapat dituntut, baik secara<br />

perdata maupun pidana, apabila dalam melaksanakan tugasnya didasarkan pada<br />

iktikad baik dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan”.<br />

Ke depan, “sektor pajak” menjadi andalan dan tulang punggung APBN. Tapi,<br />

jika mereka dikriminalisasi seperti itu, saya pesimistis tidak akan dapat menaikkan<br />

pendapatan negara dari sektor pajak.<br />

Dari beberapa contoh kasus tersebut, saya mengimbau para hakim agar sangat<br />

berhati-hati dalam menangani perkara praperadilan. Kembalikan saja pada norma<br />

yang telah menggariskannya dan tidak usah mengikuti kreativitas penafsiran para<br />

penasihat hukum. Sebab, mereka sejatinya memang dibayar oleh kliennya. Hakim<br />

tidak boleh berpikir kreatif karena akan mengakibatkan penyimpangan. Hakim<br />

wajib berpikir normatif di saat aturan undang-undang sudah jelas.<br />

Jangan menganggap kecil perkara praperadilan karena, jika salah memutus<br />

dan mengikuti pola berpikir advokad, dampaknya sangat luas dan dapat merusak<br />

sistem (hukum acara). Pada gilirannya, akan banyak praperadilan yang sampai<br />

tingkat kasasi dan peninjauan kembali. Padahal secara normatif undang-undang<br />

tidak memungkinkan. Akibat yang lain lagi adalah munculnya kecenderungan baru<br />

terjadinya pergeseran tujuan praperadilan, yang semula sebagai alat kontrol menjadi<br />

“upaya hukum” sebagai alat menangkal proses hukum. Mau ke mana sistem<br />

hukum kita Sekali lagi, para hakim harus “back to law and order”. n<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


GAYA HIDUP<br />

BERKEBUN<br />

DI BELANTARA KOTA<br />

THINKSTOCK<br />

KEPUNGAN GEDUNG-GEDUNG BERTINGKAT DI KOTA<br />

METROPOLITAN BUKAN HALANGAN. LAHAN NONPRODUKTIF<br />

DISULAP MENJADI KEBUN HIJAU NAN ASRI.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


GAYA HIDUP<br />

MELAKUKAN kegiatan berkebun<br />

di rumah menjadi hal yang sulit<br />

dilakukan bagi Annisa Paramita,<br />

wanita yang sehari-hari bekerja<br />

sebagai karyawan swasta.<br />

Rumahnya di Bekasi tak punya lahan yang<br />

cukup luas untuk “melampiaskan” hobinya<br />

bercocok tanam. Namun perempuan 32 tahun<br />

ini tak berkecil hati.<br />

Annisa pun berinisiatif membeli media tanam<br />

siap pakai di tukang tanaman di pinggir<br />

jalan. Meski tergolong pemula, ia merawat<br />

dengan telaten satu per satu tanaman hijau<br />

yang dibeli agar tumbuh subur.<br />

Namun kendala tetap ditemui. Karena miskin<br />

pengalaman, Annisa sering menjumpai<br />

tanamannya mati akibat hama. Inilah musuh<br />

utama tanaman.<br />

Karena ia tak paham betul bagaimana<br />

mengusir hama, tanamannya pun tak tumbuh<br />

sesuai dengan harapan. “Tanamannya bantet,”<br />

ujarnya saat berbincang dengan majalah<br />

detik.<br />

Annisa pun mulai mencari tahu mengapa<br />

tanamannya selalu gagal panen. Hingga dia<br />

menemukan komunitas peduli lingkungan,<br />

THINKSTOCK<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


GAYA HIDUP<br />

INDONESIABERKEBUN<br />

Indonesia Berkebun.<br />

Komunitas ini memang tengah naik daun<br />

beberapa tahun terakhir. Mereka tersebar di<br />

kota-kota metropolitan Indonesia. Tujuan utama<br />

mereka satu: menanami lahan tak terpakai<br />

dengan tanaman hijau.<br />

Yang bikin Annisa senang, komunitas ini<br />

juga secara sukarela memberikan edukasi<br />

mengenai cara bercocok tanam yang baik dan<br />

benar. Aha, inilah yang dia cari, he-he-he.....<br />

Pada awal 2014, Annisa memutuskan bergabung<br />

dengan salah satu jejaring Indonesia<br />

Berkebun, yaitu Bekasi Berkebun.<br />

Lokasinya di pusat kota, tepatnya di rumah<br />

dinas Wakil Wali Kota Bekasi Syaikhu Ahmad<br />

di Jakapermai. Lahannya kira-kira hanya 60<br />

meter persegi. Tidak terlalu luas memang.<br />

Mereka juga berkebun di Perumahan Grand<br />

Bekasi. Tanah seluas 500 meter persegi itu<br />

menjadi tempat bagi para penggiat untuk<br />

melakukan aktivitas berkebun dan saling bertukar<br />

ilmu.<br />

Dari komunitas Bekasi Berkebun, Annisa<br />

tahu bahwa ternyata media tanam yang digunakannya<br />

tidak memiliki unsur hara yang<br />

cukup untuk berkebun sayuran.<br />

Selain itu, untuk mengusir hama secara<br />

organik, Annisa belajar meracik pestisida<br />

nabati. Pestisida ini terbuat dari bahan-bahan<br />

tumbuhan atau dedaunan.<br />

“Aku biasanya buat pestisida dengan bahan<br />

baku bawang putih dan kunyit, dihaluskan<br />

dan diendapkan semalam. Besoknya disaring<br />

dan disemprot dengan perbandingan 1:1,” ujar<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


GAYA HIDUP<br />

DIKHY/DETIKCOM<br />

Annisa.<br />

Kini tanaman hijau mulai menghiasi halaman.<br />

Saat ini perempuan yang menjadi juru<br />

bicara Bekasi Berkebun itu baru menguasai<br />

tanaman yang tergolong mudah, seperti<br />

kangkung dan cabai.<br />

Ide Indonesia Berkebun ini berawal dari keinginan<br />

Ridwan Kamil, seorang arsitek yang<br />

kini menjabat Wali Kota Bandung, untuk memanfaatkan<br />

lahan tidur di perkotaan.<br />

Pada 2010, pria yang turut memprakarsai<br />

berdirinya Indonesia Berkebun<br />

ini mulai memperkenalkan konsep<br />

urban farming lewat akun Twitternya.<br />

Tak disangka, cuitan Ridwan<br />

mendapat sambutan positif dari<br />

para netizen. Bersama beberapa<br />

inisiator lainnya, Ridwan memanfaatkan<br />

lahan pertamanya<br />

di Spring Hills, Kemayoran.<br />

Lahan seluas 10 ribu meter<br />

persegi itu dialihfungsikan menjadi<br />

lahan hijau yang produktif. Rupanya<br />

upaya itu berhasil dan peminatnya makin banyak.<br />

Latar belakang para inisiator dan penggiat<br />

yang bukan berasal dari pertanian membuat<br />

mereka harus berusaha ekstra untuk memaksimalkan<br />

penggunaan lahan di Spring Hills.<br />

“Awalnya enggak ngerti apa-apa, tukang<br />

kebun di Spring Hills malah ngajarin kita,” ujar<br />

salah satu inisiator, Sigit Kusumawijaya.<br />

Mereka mencoba menanam tanaman yang<br />

tahan hama dan gampang panen. Misalnya<br />

kangkung. Untuk tahap pertama, mereka<br />

menanami lahan seluas 4.000 meter persegi<br />

dengan tanaman itu.<br />

Antusiasme warga untuk ikut menghijaukan<br />

lahan kosong semakin tak terbendung. Pada<br />

awal 2012, dibentuklah Indonesia Berkebun<br />

untuk menaungi seluruh kegiatan tersebut.<br />

Saat ini komunitas Indonesia Berkebun telah<br />

memiliki 42 jejaring yang tersebar di 33 kota<br />

dan 9 kampus. Sebut saja Jakarta Berkebun,<br />

Makassar Berkebun, Bali Berkebun, hingga<br />

Fakfak Berkebun.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


GAYA HIDUP<br />

BERKEBUN WITH FUN<br />

Komunitas ini tidak membeli lahan untuk<br />

berkebun. Mereka hanya meminjam lahan<br />

tidur kepada developer atau pemerintah.<br />

Lahan itu kemudian diolah sedemikian rupa<br />

hingga layak ditanami.<br />

Mula-mula tanah digemburkan. Puingpuing<br />

dan sampah disingkirkan hingga tanah<br />

menjadi subur. Bila lahan sudah siap untuk<br />

tanam perdana, warga yang tertarik “ngebon”<br />

dapat turut serta.<br />

Hasilnya, mulai tanaman kangkung, tomat,<br />

cabai, sawi, hingga wortel, yang sejatinya tidak<br />

dapat tumbuh di dataran rendah, berhasil<br />

mereka tanam.<br />

“Kita memang konsepnya mengajak orang<br />

lebih peduli lingkungan, menanamnya pun<br />

juga bukan estetik, ya. Kita menanam tanaman<br />

produktif yang bisa dikonsumsi,” kata Sigit.<br />

Berbagai kegiatan dilakukan oleh para<br />

INDONESIABERKEBUN<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


GAYA HIDUP<br />

INDONESIABERKEBUN<br />

penggiat Indonesia Berkebun. Acara biasanya<br />

dimulai dengan pemaparan dan edukasi<br />

singkat tentang berkebun, hal ini sangat<br />

bermanfaat bagi pemula.<br />

Selain itu, kegiatan berkebun sering dikolaborasikan<br />

dengan program-program yang<br />

menyenangkan. Alhasil, berkebun ini juga<br />

bisa dijadikan kegiatan “melepas penat” atau<br />

refreshing.<br />

“Mereka setiap hari sudah hectic, ya. Kita<br />

ngajak di akhir pekan ke kebun dengan cara<br />

yang fun. Misalnya, kalau panen, ada cooking<br />

on the spot, rame,” kata Sigit.<br />

Indonesia Berkebun juga mengadakan<br />

Kelas Akademi Berkebun, pelatihan satu hari<br />

penuh untuk belajar cara menanam, merawat,<br />

dan memanen hasil kebunnya secara<br />

intensif.<br />

Kelas ini biasanya diselenggarakan di<br />

daerah Bumi Serpong Damai setiap dua<br />

bulan sekali. “Biasanya ada biaya snack saja,<br />

tapi edukasinya gratis,” ujar Winartania,<br />

koordinator Bekasi Berkebun. n<br />

MELISA MAILOA | KEN YUNITA<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

LUPA SEDANG DI<br />

SINGAPURA<br />

RIVERSAFARI.COM.SG<br />

LIDAH JERAPAH BIKIN NYETRUM SAMPAI UBUN-UBUN<br />

DAN AIR LIUR BADAK MEMBASAHI TANGAN SEPERTI<br />

KUCURAN KERAN. EUUW!<br />

WIKIPEDIA<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

WIKIPEDIA<br />

SELAIN rimba beton perkantoran<br />

dan shopping mall yang jadi<br />

“identitas”, Singapura ternyata menyisihkan<br />

sebagian lahannya untuk<br />

tempat hidup satwa.<br />

Tengoklah peta Singapura bagian barat pusat<br />

kota. Kawasan ini ditandai dengan warna<br />

hijau. Di sinilah terdapat Jurong Bird, Singapore<br />

Zoo, River Safari, dan Night Safari.<br />

Kawasan luas nan hijau ini menjadi habitat<br />

satwa berbagai latar belakang geografis dan<br />

iklim. Semua berkonsep terbuka, tak ada<br />

satu pun hewan hidup dalam kerangkeng.<br />

Demi keamanan, pengelola hanya membuat<br />

parit agar manusia tak mendekat. Satwa<br />

langka yang hidup di sini mendapat perhatian<br />

khusus. Selain dirawat, mereka dilindungi dan<br />

dibiakkan.<br />

Wildlife Reserves Singapore menjadi badan<br />

independen swadana yang menginduki empat<br />

taman margasatwa ini. Mereka mendedikasikan<br />

diri untuk menjaga keanekaragaman<br />

hayati lokal dan global.<br />

Majalah detik berkesempatan mengunjungi<br />

keempat lokasi wisata tersebut atas<br />

undangan pengelola. Dan Singapore Zoo<br />

SILVIA/DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

SILVIA/DETIKCOM<br />

menjadi lokasi pertama yang dikunjungi.<br />

Ingin merasakan juluran lidah jerapah yang bikin nyetrum<br />

sampai ubun-ubun Atau memberi makan badak putih yang air<br />

liurnya membasahi tangan seperti kucuran keran Datanglah ke<br />

kebun binatang ini.<br />

Pada jam-jam memberi makan, kita dapat ikut menyodorkan<br />

seporsi sayur-sayuran ke jerapah, badak, gajah, dan babun. Namun<br />

jangan coba-coba ikut memberi makan singa. Lebih baik jadi<br />

penonton saja.<br />

Untuk hewan yang satu ini, hanya petugas berpengalaman yang<br />

boleh melemparkan potongan-potongan ayam mentah ke arah<br />

dua ekor singa di seberang parit.<br />

Singapore Zoo berada di seputar Upper Seletar Reservoir, salah<br />

satu kawasan tangkapan air Singapura. Di kawasan<br />

seluas 26 hektare inilah, 2.800 ekor hewan<br />

dari 300 spesies bermukim, 26 persen<br />

spesies di antaranya terancam punah.<br />

Kebun binatang berusia 42 tahun<br />

itu menggunakan program pemberian<br />

makan sebagai salah satu cara<br />

mendekatkan pengunjung dengan<br />

hewan-hewan.<br />

Setelah terkenal dengan konsep<br />

terbuka, belakangan Singapore Zoo<br />

DETIKTRAVEL<br />

WIKIPEDIA<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

melangkah lebih jauh menjadi kebun binatang<br />

pendidikan (learning zoo) agar dapat maksimal<br />

menyampaikan pesan tentang konservasi.<br />

Singapore Zoo membuka pintu untuk<br />

rombongan siswa berusia 8-10 tahun<br />

yang datang didampingi guru. Mereka<br />

dapat mengenal hewan secara langsung<br />

dan menggunakan seluruh indra, hal<br />

yang tak dapat dilakukan di sekolah.<br />

“Kami ingin mengubah cara pandang<br />

bahwa guru membawa murid ke kebun<br />

binatang hanya untuk belajar sains,” ujar<br />

kurator dan pendidikan Wildlife Reserves Singapore<br />

Rekha K.R. Nair saat mengantar beberapa<br />

wartawan asal Indonesia berkeliling.<br />

Menurut Rekha, Jurong Bird Park, Singapore<br />

Zoo, Night Safari, dan River Safari dapat<br />

digunakan untuk macam-macam pelajaran:<br />

matematika, sains, bahasa Inggris, bahkan<br />

bahasa ibu.<br />

Perihal bahasa ibu tak lepas dari empat ras<br />

besar yang menghuni Singapura, yakni Melayu,<br />

Tionghoa, Tamil, dan Eurasia, yang punya<br />

bahasa masing-masing.<br />

SILVIA/DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

DETIKTRAVEL<br />

SILVIA/DETIKCOM<br />

Jadi, jika yang datang salah satu kelompok<br />

itu, bahasa pengantarnya adalah bahasa<br />

kelompok etnis itu. Namun sejauh ini baru<br />

bahasa Inggris dan Mandarin yang digunakan.<br />

Program berbahasa Melayu dan Tamil belum<br />

diterapkan.<br />

Atraksi burung selalu menarik untuk anakanak<br />

sampai orang dewasa. Seperti yang ditampilkan<br />

kakatua bernama Butter serta dua<br />

beo bernama Hippie dan Michael.<br />

Dipandu seorang pelatih, ketiganya beratraksi<br />

di sebuah panggung rendah. Hippie<br />

pandai memilah sampah. Menggunakan paruh,<br />

beo ini memungut kaleng minuman, lalu<br />

memasukkannya ke tempat sampah khusus<br />

kaleng.<br />

Dia kemudian mengambil kertas yang diremuk<br />

dan memasukkannya ke tempat sampah<br />

khusus kertas. Kawannya, Butter, selalu tahu<br />

ke mana harus terbang, yakni ke siapa saja<br />

yang membawa mangkuk makanannya.<br />

Dia akan hinggap ke mana saja mangkuk<br />

makanannya itu berada, walau itu di tangan<br />

penonton. Sedangkan Michael lihai menang-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

SILVIA/DETIKCOM<br />

kap kacang yang dilemparkan pelatih, ke mana<br />

pun arahnya dan seberapa pun tingginya.<br />

Aktivitas tersebut ada di Jurong Bird Park,<br />

taman burung terbesar di Asia (luas 20,2<br />

hektare) yang dibuka pada 1971. Lokasinya di<br />

Bukit Jurong yang berkontur.<br />

Hingga kini, taman burung ini menyimpan<br />

lebih dari 5.000 ekor burung dari 400-an<br />

spesies dari seluruh dunia, yang 15 persen di<br />

antaranya terancam punah.<br />

Kekhawatiran adanya penyiksaan hewan<br />

selalu muncul setiap kali hewan ditampilkan<br />

dalam atraksi, tak terkecuali atraksi burung.<br />

Namun kekhawatiran ini ditepis General Manager<br />

Jurong Bird Park R. Raja Segran.<br />

Dia mengatakan bentuk pelatihan di sini<br />

positif, tak ada yang negatif, semisal memukul<br />

atau membuat hewan kelaparan. Pelatihan<br />

justru punya dampak bagus untuk burung.<br />

“Burung lebih mandiri dan cerdas dibanding<br />

hewan peliharaan lain, seperti kucing dan<br />

anjing,” ujarnya.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

Menurut Sagran, beo memiliki IQ setara<br />

dengan manusia umur 3 tahun dan hanya<br />

mengerti yang positif. Jika kita melakukan hal<br />

negatif, seperti memukul atau kekerasan lain,<br />

kita tak akan mendapatkan apa-apa.<br />

Karena itu, yang dibangun hanyalah kepercayaan<br />

dan komunikasi serta sebuah keharusan<br />

bagi pelatih untuk mengetahui perilaku alami<br />

hewan. Respons tiap burung yang dilatih pun<br />

berbeda-beda.<br />

Tak aneh jika ada burung yang hanya butuh<br />

3-6 bulan pelatihan, ada yang tiga tahun baru<br />

siap tampil, tapi ada juga burung yang tak<br />

berbakat untuk tampil dalam atraksi.<br />

Berjalan di bawah ikan-ikan raksasa, tenggelam<br />

di tengah banjir, dan berperahu menyusuri<br />

“Sungai Amazon” yang berliku sambil<br />

menikmati aneka hewan di kanan-kiri adalah<br />

keasyikan tersendiri di River Safari.<br />

Letak River Safari bertetangga dengan Singapore<br />

Zoo di seputar Upper Seletar Reservoir.<br />

Inilah taman margasatwa bertema sungai<br />

pertama dan satu-satunya di Asia.<br />

Luasnya 12 hektare, dihuni 400 spesies<br />

SILVIA/DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

SILVIA/DETIKCOM<br />

tanaman dari 200 spesies (40 persennya<br />

terancam punah). River Safari didesain<br />

menampilkan habitat air tawar dari sungai-sungai<br />

terkenal di dunia.<br />

Misalnya Sungai Amazon, Sungai Mekong,<br />

dan Sungai Nil. Hewan air dan darat<br />

dari habitat sungai ikonik tersebut ditampilkan<br />

bersama budaya yang mengelilinginya.<br />

Seperti Amazon Flooded Forest, akuarium<br />

air tawar terbesar di dunia yang menampilkan<br />

ekosistem Sungai Amazon pada<br />

musim hujan (Desember hingga Juni).<br />

Saat itu air sungai meluap hingga kedalaman<br />

10 meter, dan lebarnya bertambah<br />

dari yang hanya 4-5 kilometer pada musim<br />

panas jadi 50 kilometer pada musim hujan.<br />

Alhasil, ada pemandangan unik tiap musim<br />

hujan, yakni ikan, manati (lembu laut),<br />

atau berang-berang raksasa berenang<br />

di antara dahan pepohonan yang pada<br />

musim panas merupakan tempat tinggal<br />

burung.<br />

Walau namanya River Safari, bukan ber-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

arti lokasi ini hanya berisi hewan air. Ada pula<br />

sepasang panda menggemaskan bernama Kai<br />

Kai (jantan) dan Jia Jia (betina). Kai Kai dan Jia<br />

Jia tinggal di dalam ruangan yang dibuat mirip<br />

alam asal mereka di kawasan Sungai Yangtze,<br />

Tiongkok, yang rindang dengan tanaman,<br />

berbatu-batu, dialiri air, dan dengan suhu<br />

tetap 18-22 derajat Celsius.<br />

Maka lihatlah, seberapa sibuk pengunjung<br />

memotret dan memanggil nama mereka,<br />

keduanya tetap asyik mengunyah bambu,<br />

kadang sambil berguling-guling, seperti tak<br />

terganggu.<br />

Jangan salah, Night Safari bukan Singapore<br />

Zoo di waktu malam. Night Safari, yang mulai<br />

beroperasi pada 26 Mei 1994, adalah taman<br />

safari pertama di dunia yang mengkhususkan<br />

diri pada hewan malam (nokturnal).<br />

Karena itu, kebun binatang ini baru mulai<br />

buka pukul 19.30 waktu setempat dan tutup<br />

pukul 12.00 tengah malam. Letaknya persis<br />

bersebelahan dengan River Safari.<br />

Hewan ikonik di sini antara lain gajah Asia<br />

bernama Chawang, yang lahir lewat program<br />

SILVIA/DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 15 FEBRUARI 2015<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

penangkaran, macan Malaya, kucing bakau<br />

(Prionailurus viverrinus), anjing hutan, macan<br />

dahan (Neofelis nebulosa), anoa, banteng,<br />

tapir, dan singa Asia (Panthera leo persica).<br />

Taman safari ini dapat dijelajahi dengan berjalan<br />

kaki (walking trail) selama dua jam atau<br />

naik trem selama 35 menit. Karena beroperasi<br />

malam, Night Safari relatif ketat dibanding Singapore<br />

Zoo dengan pertimbangan keamanan.<br />

Night Safari bukanlah hutan yang gelapgulita,<br />

tetap ada lampu bercahaya lembut di<br />

tempat tergelap sekalipun. Dan di antara<br />

suara hiena di kejauhan, Walter, pemandu<br />

kami, tak henti menjelaskan hewan yang kami<br />

lewati.<br />

Tentang bison yang jadi lambang minuman<br />

berenergi, tentang babi rusa yang malam itu<br />

kekenyangan, juga tentang kerbau Afrika yang<br />

agresif sehingga Walter harus menurunkan<br />

suaranya serendah mungkin.<br />

Hingga kemudian lampu semakin banyak<br />

dan semakin terang, gerbang Night Safari<br />

pun tampak lagi. Artinya, perjalanan sudah<br />

mencapai akhir. Hari ini menjadi penutup dari<br />

tiga hari menyenangkan yang membuat kami<br />

lupa sedang berada di Singapura. n<br />

SILVIA GALIKANO | KEN YUNITA<br />

SILVIA/DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 15 FEBRUARI 2015<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KULINER<br />

KHAS SOLO<br />

YANG DISUKA<br />

SELAIN NASI LIWET,<br />

SOLO TERKENAL<br />

DENGAN NASI LANGGI<br />

YANG MERIAH.<br />

FOTO-FOTO: GRANDYOS/DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KULINER<br />

NIAT awalnya cuma iseng. Namun,<br />

yang sebelumnya hanya untuk<br />

mengisi waktu luang, kini menjadi<br />

bisnis yang menghasilkan banyak<br />

uang.<br />

Pada 1998, Swan iseng membuka warung<br />

sederhana di garasi rumah. Modalnya cuma<br />

cobek dan blender. Dia menjual rujak dan aneka<br />

jus untuk anak-anak yang pulang sekolah.<br />

Lama-kelamaan, jualan warungnya berkembang.<br />

Hingga akhirnya dia mendirikan restoran<br />

hidangan khas Solo, yang kini telah memiliki<br />

lima cabang di Jakarta dan Tangerang.<br />

Salah satu cabangnya berada di Jalan Panglima<br />

Polim, Jakarta Selatan, tempat saya dan<br />

teman saya mampir hari itu. Jam sudah menunjukkan<br />

lewat jam makan siang, tapi Dapur<br />

Solo masih ramai.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KULINER<br />

Terlihat beberapa tamu tengah<br />

asyik menyantap nasi liwet,<br />

menu khas Solo. Hmm…<br />

melihat betapa lahapnya<br />

mereka makan, saya<br />

hampir yakin nasi itu<br />

lezat.<br />

Ada dua pilihan area<br />

tempat makan, indoor<br />

dan outdoor. Namun,<br />

meski di area outdoor,<br />

pengunjung tak perlu takut<br />

terkena sengatan sinar matahari<br />

berlebih.<br />

Area ini dilindungi terpal putih tebal. Udaranya<br />

juga tidak panas karena sirkulasi<br />

udara di area ini lancar. Untuk<br />

yang suka angin sepoi-sepoi,<br />

pasti suka duduk di area<br />

ini.<br />

Seperti layaknya<br />

area outdoor, terlihat<br />

sejumlah tanaman hijau.<br />

Menurut saya, suasananya<br />

nyaman dan menyenangkan. Saya bisa<br />

berlama-lama di sini.<br />

Area indoor-nya lebih kecil. Meja-kursi untuk<br />

tamu terbuat dari kayu cokelat tua. Kehadiran<br />

motif batik parang di lampu gantung menghadirkan<br />

suasana tradisional sekaligus modern.<br />

Di sudut kiri ruangan terdapat etalase kaca<br />

berisi aneka ragam bahan untuk membuat<br />

rujak, tahu gejrot, es Solo, dan bubur Jawa.<br />

Terlihat menggiurkan.<br />

Saking asyiknya melihat suasana, saya sampai<br />

lupa memilih tempat duduk. Seorang pelayan<br />

berseragam batik mendatangi saya dengan<br />

ramah. Dia menawari saya tempat duduk.<br />

Dia lalu menyerahkan satu buku menu. Di<br />

dalamnya tentu saja berisi aneka pilihan menu<br />

masakan khas Solo. Eh, ternyata ada juga masakan<br />

khas Jawa yang bukan berasal dari Solo.<br />

Wah.<br />

Pertama-tama, mata saya sibuk melihat menu-menu<br />

minuman. Wedang Wuh atau Wedang<br />

Uwuh menjadi salah satu yang menarik<br />

dan ingin saya coba.<br />

Minuman yang dihargai Rp 20 ribu itu meru-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KULINER<br />

pakan minuman tradisional Jawa, terbuat dari<br />

bahan-bahan berupa dedaunan. Sekilas mirip<br />

sampah. Karena itulah minuman ini disebut<br />

Wedang Uwuh.<br />

Dalam bahasa Jawa, uwuh berarti sampah.<br />

Menurut salah satu pelayan, minuman ini punya<br />

khasiat menghangatkan badan. Wah, cocok<br />

diminum saat musim hujan seperti sekarang,<br />

nih.<br />

Tampilannya memang tak terlalu menarik.<br />

Berwarna merah cerah dengan “ampas” aneka<br />

bahan, seperti jahe, serutan kayu manis, cengkeh,<br />

daun jeruk, pala, dan kapulaga. Aromanya<br />

khas.<br />

Begitu minuman itu masuk mulut, aroma<br />

khas rempah-rempah langsung terasa pada sesapan<br />

pertama. Rasa manis gula batu bercampur<br />

dengan rasa pedas yang menghangatkan<br />

tubuh.<br />

Teman saya juga tak mau kalah. Berhubung<br />

hari itu hujan dan cuaca Jakarta cukup dingin,<br />

teman saya juga memesan minuman yang<br />

berfungsi menghangatkan badan.<br />

Bandrek memang sudah biasa, tapi bagaimana<br />

dengan bandrek kelapa (Rp 20 ribu)<br />

Minuman kecokelatan berupa campuran jahe<br />

dengan gula merah ini punya cita rasa gurih<br />

karena adanya serutan kelapa.<br />

Untuk camilan, saya memesan tahu gejrot<br />

(Rp 18 ribu). Satu porsi tahu Sumedang dipotong<br />

kecil yang disiram dengan saus gula merah<br />

dicampur potongan bawang merah, bawang<br />

putih, dan cabai.<br />

Hidangan tahu gejrot ini juga dilengkapi satu<br />

potong belimbing wuluh yang dimemarkan.<br />

Rasa manis-pedas begitu meresap dalam setiap<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KULINER<br />

gigitan tahunya.<br />

Nah, sekarang<br />

giliran saya<br />

menyantap<br />

hidangan Solo<br />

yang melegenda,<br />

Selat<br />

Solo (Rp 32<br />

ribu). Sekilas,<br />

hidangan<br />

ini menyerupai<br />

steak, tapi telah berakulturasi dengan<br />

makanan khas Solo.<br />

Satu piring Selat Solo berisi daging sapi,<br />

selada, kentang, wortel, buncis, telur pindang,<br />

keripik kentang, dan acar mentimun. Dibanding<br />

steak, selat Solo lebih mirip daging semur.<br />

Rasanya sedikit asam karena terdapat campuran<br />

sedikit mustard. Potongan daging sapinya<br />

tidak terlalu besar. Teksturnya empuk dan<br />

lembut. Saya suka.<br />

Selain nasi liwet, nasi langgi merupakan hidangan<br />

khas Solo. Saya memesan Nasi Langgi<br />

Kuning Spesial (Rp 33 ribu). Tampilannya sangat<br />

meriah.<br />

Mengapa Selain nasinya berwarna kuning,<br />

lauk-pauk yang menyertai nasi amat sangat<br />

beragam. Ada sambal goreng kentang, ayam,<br />

abon sapi, telur dadar potong tipis, dan serundeng<br />

kelapa. Kering kentang berwarna keemasan,<br />

lalapan, sambal, dan kerupuk udang.<br />

Benar-benar ramai dan tentu saja menggoda<br />

untuk segera disantap.<br />

Mulailah menyantap masing-masing lauk<br />

dan nasinya. Resapi tiap-tiap rasanya. Baru<br />

setelah itu, campurlah seluruh komponen dan<br />

dimakan bersamaan.<br />

Rasa gurih, pedas, dan segar bercampur<br />

menjadi satu. Dijamin nikmat. Sayang, daging<br />

ayamnya agak alot. Mungkin kurang lama dimasak.<br />

Untuk penutup, saya memesan es cincau (Rp<br />

20 ribu). Cincau hijau berkolaborasi de ngan<br />

gurihnya santan kelapa dan sirop gula putih<br />

benar-benar menjadi penutup mulut yang manis<br />

untuk saya. n MELISA MAILOA | KEN YUNITA<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

PERTARUHAN<br />

MOBIL<br />

MURAH<br />

TIONGKOK<br />

SETELAH SUKSES DI NEGERI SENDIRI,<br />

SAIC-GM-WULING AUTOMOBILE IKUT PROGRAM<br />

MOBIL MURAH INDONESIA.<br />

MAJALAH DETIK 92 - 15 - 8 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

Pameran otomotif terbesar<br />

di Tanah Air, Indonesia<br />

International Motor Show<br />

2014, memperlihatkan<br />

deretan mobil murah. Kelas<br />

ini memancing produsen<br />

Tiongkok untuk datang.<br />

AGUNGPAMBUDHY/DETIKCOM<br />

KEDATANGAN rombongan perusahaan<br />

otomotif terbesar Tiongkok,<br />

SAIC-GM-Wuling Automobile, di<br />

Kementerian Perindustrian seperti<br />

mendadak. Tidak banyak yang tahu bahwa pada<br />

Jumat petang tersebut para petinggi pabrik<br />

mobil yang di negeri asalnya sanggup melawan<br />

raksasa otomotif dunia itu bakal bertemu dengan<br />

Menteri Saleh Husin.<br />

Baru beberapa hari kemudian informasi<br />

pertemuan itu menyeruak ke permukaan. Rombongan<br />

petinggi Wuling itu membawa kabar<br />

mengejutkan. Mereka akan mengikuti program<br />

mobil murah (low cost green car atau LCGC)<br />

yang digelar Indonesia. Program ini sebelumnya<br />

membuat sejumlah merek Jepang membuka<br />

pabrik baru, mulai Toyota, Nissan, Suzuki,<br />

sampai Honda, dan mobil seperti Toyota Agya<br />

atau Datsun Go mondar-mandir di jalanan.<br />

Wuling sudah menyiapkan dana sampai US$<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

Pekerja di pabrik<br />

SAIC-GM-Wuling Automobile<br />

sedang merakit minibus di<br />

Liuzhou, Tiongkok. Merek lokal<br />

paling top di sana ini mulai<br />

masuk Indonesia.<br />

QILAI SHEN/GETTY IMAGES<br />

700 juta (sekitar Rp 8,4 triliun) untuk membuat<br />

pabrik baru seperti disyaratkan dalam program<br />

itu. “Rencananya pada Agustus 2017 sudah<br />

mulai produksi mobil,” ujar Pelaksana Tugas<br />

Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis<br />

Teknologi Tinggi, Panggah Susanto.<br />

Ini mengejutkan karena selama ini merekmerek<br />

Tiongkok tidak “bunyi” di pasar Indonesia,<br />

tapi Wuling berani mempertaruhkan<br />

triliunan rupiah. Merek yang sempat berusaha<br />

menerobos pasar Indonesia, yaitu Geely dengan<br />

sejumlah seri sedan dan Chery dengan<br />

mobil kecil QQ, tidak bisa banyak berbuat. Tak<br />

cuma di Indonesia sebenarnya. Di pasar dalam<br />

negeri mereka sendiri, sebenarnya merek lokal<br />

juga kesulitan menembus merek dari Amerika,<br />

Eropa, Korea, atau Jepang.<br />

Mungkin yang membuat Wuling berani masuk<br />

pasar Indonesia adalah posisi mereka sangat<br />

bagus di dalam negeri mereka. Geely dan<br />

Chery tidak masuk daftar 10 merek terlaris di<br />

sana, sedangkan Wuling—bersama Changan—<br />

berhasil masuk peringkat 10 besar merek paling<br />

laris tahun lalu. Malah, Wuling berada di posisi<br />

kedua, hanya kalah dari VW.<br />

Tak cuma itu, produk MPV mereka, Wuling<br />

Hongguang, yang menjadi mobil terlaris di<br />

Tiongkok dan ketiga sedunia tahun lalu setelah<br />

diproduksi 750 ribu unit, juga sudah berani diekspor,<br />

yakni ke India. Hanya, di India, “mocin”<br />

alias mobil dari Cina ini diberi cap “Chevrolet<br />

Enjoy”. General Motors memberi cap “Chevro-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

Petugas sedang memeriksa<br />

mobil kecil Mitsubishi Mirage<br />

di Jakarta. Mobil produksi<br />

Thailand ini termasuk salah<br />

satu pemain utama di<br />

Indonesia.<br />

YUDHI MAHATMA/ANTARA<br />

let” karena memegang 40 persen saham SAIC-<br />

GM-Wuling Automobile.<br />

Panggah Susanto mengatakan pabrik Wuling<br />

akan dibangun di 60 hektare lahan di kawasan<br />

industri Kota Delta Mas, Cikarang, Jawa Barat.<br />

Peletakan batu pertama bakal dilaksanakan<br />

Agustus dan butuh sekitar dua tahun untuk<br />

membawa peralatan pabrik dari Tiongkok ke<br />

sana. Jika sudah beroperasi penuh, 150 ribu<br />

mobil bisa dibuat di sana setiap tahunnya.<br />

Ia mengatakan Wuling mendirikan pabrik<br />

agar bisa memenuhi syarat diskon pajak dalam<br />

program mobil murah alias LCGC. Selain<br />

ditentukan kapasitas mesin dan harga yang hanya<br />

puluhan juta rupiah, program ini memang<br />

mensyaratkan pemilik merek mesti membuat<br />

pabrik baru di Indonesia.<br />

Selain memenuhi pasar dalam negeri, menurut<br />

Panggah, Wuling akan menjadikan pabrik di<br />

Cikarang itu pijakan untuk pasar ASEAN, yang<br />

mulai terbuka penuh tahun depan. “Mereka<br />

juga ingin masuk ke pasar ASEAN dalam rangka<br />

Masyarakat Ekonomi ASEAN,” kata Panggah.<br />

Untuk urusan mobil murah, Wuling sangat<br />

menguasai triknya. Di Tiongkok, mereka biasa<br />

membuat mobil dengan harga jual di kisaran<br />

US$ 5.000 hingga US$ 10 ribu (Rp 63-126 juta).<br />

Produk mereka, selain MPV, adalah minibus<br />

kecil semacam Suzuki Carry atau Daihatsu<br />

Espass. Seperti dikutip Reuters, bos General<br />

Motors Cina Matt Tsien mengatakan produk<br />

yang akan dihasilkan di Indonesia ini sesuai se-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

Mobil murah produksi<br />

Daihatsu, Ayla, saat<br />

diluncurkan. Ayla dan<br />

kembarannya, Toyota Agya,<br />

menjadi produk awal mobil<br />

murah di Indonesia.<br />

YUDHI MAHATMA/ANTARA<br />

lera sini, yakni mobil dengan tiga baris tempat<br />

duduk penumpang.<br />

Persaingan berebut pasar mobil murah di Indonesia<br />

pun semakin ketat. Tapi produsen Jepang,<br />

yang merajai jalanan Indonesia, agaknya tidak<br />

gentar. Ketua III Gabungan Industri Kendaraan<br />

Bermotor Indonesia Johnny Darmawan mengatakan<br />

selama ini mereka sudah bersaing. “Kalau<br />

bersaing itu mah biasa, tapi yang penting jangan<br />

ada privilese-privilese dari pemerintah,” ujar<br />

Johnny, yang hingga tahun lalu menjadi Direktur<br />

Utama PT Toyota Astra Motor.<br />

Pihak Wuling, menurut Panggah, tidak meminta<br />

insentif kepada pemerintah. “Kami sampaikan kepada<br />

mereka, ikuti semua regulasi yang berlaku,”<br />

kata Panggah. n HANS HENRICUS B.S. ARON<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

MENEROBOS MEREK ASING<br />

TIDAK gampang membuat<br />

mobil dan menerobos<br />

pasar yang didominasi<br />

merek dari Jepang, Korea,<br />

Eropa, atau Amerika Serikat. Ini juga<br />

terjadi di Tiongkok. Di negeri itu, 10<br />

merek teratas terlaris tahun lalu nyaris<br />

semuanya asing. Hanya dua merek lokal<br />

yang berhasil menembus dominasi<br />

asing itu. Salah satu merek lokal itu<br />

adalah Wuling, yang penjualannya hanya<br />

kalah dari VW.<br />

Itu dari merek terlaris. Di daftar<br />

model yang laku lebih dari 200 ribu<br />

unit—ada 17 model di sana—hanya<br />

dua bermerek Tiongkok. Dan Wuling<br />

Hongguang malah menjadi bintang<br />

di kategori ini. Mobil MPV ini terjual<br />

sampai 750 ribu buah tahun lalu alias<br />

terlaris di Tiongkok dan terlaris ketiga<br />

di dunia.<br />

Bagaimana dengan Chery dan<br />

Geely, dua merek yang sempat mencoba<br />

peruntungan di Indonesia Di<br />

negeri asalnya, Chery menjual 476<br />

ribu dan Geely 426 ribu unit selama<br />

setahun. Banyak Untuk ukuran Indonesia<br />

memang banyak. Tapi, untuk<br />

ukuran Tiongkok, itu sangat kecil<br />

karena VW bisa menjual 2,7 juta unit<br />

dan SGMW (Wuling) bisa menjual 1,4<br />

juta unit selama setahun saja. Posisi<br />

Chery dan Geely ini kalah dari merekmerek<br />

Jepang, Korea, dan Amerika<br />

Serikat. Chery pun harus puas di peringkat<br />

14 dan Geely di peringkat 17.<br />

10 MOBIL TERLARIS DI TIONGKOK<br />

MOBIL dengan merek lokal di Tiongkok memang harganya jauh lebih miring. Meski begitu, hanya dua merek yang<br />

sanggup menembus 10 besar mobil terlaris di sana. Merek nomor satu di sana adalah Wuling Hongguang, yang harga<br />

termurahnya hanya 45 ribu yuan (sekitar Rp 91 juta). Dengan harga seperti ini, MPV sekelas Avanza yang sudah masuk<br />

India dengan cap Chevrolet Enjoy ini bisa menyisihkan merek-merek global lain. Berikut ini daftar 10 mobil terlaris di sana.<br />

1<br />

1. WULING HONGGUANG<br />

Mobil produksi SAIC-GM-Wuling<br />

Automobile ini tak cuma terlaris di Tiongkok,<br />

tapi juga menjadi mobil terlaris<br />

ketiga dunia. Selain di Tiongkok, Wuling<br />

Hongguang dijual di India dengan nama<br />

Chevrolet Enjoy. Produsen inilah yang<br />

akan membuka pabrik di Indonesia<br />

untuk memproduksi mobil murah.<br />

Harga: 45 ribu yuan (Rp 91 juta)<br />

Terjual: 750 ribu unit<br />

2<br />

2. VW LAVIDA SEDAN<br />

Sedan empat pintu ini diproduksi<br />

Shanghai Volkswagen Automotive untuk<br />

pasar Tiongkok saja. Sedan kecil ini,<br />

dengan ukuran mesin 1.400-2.000 cc,<br />

sangat laris dan pernah menjadi mobil<br />

terlaris di sana.<br />

Harga: 134 ribu yuan (Rp 270 juta)<br />

Terjual: 372 ribu unit<br />

3<br />

3. HAVAL H6<br />

Mobil SUV menengah ini produksi<br />

merek lokal Great Wall. Mobil ini mulai<br />

diproduksi sejak 2011. Selain diproduksi<br />

di Tianjin, Tiongkok, Haval H6 dirakit<br />

di Bulgaria untuk pasar Eropa. Meski<br />

berpenampilan sangar, SUV ini hanya<br />

bermesin 1.500-2000 cc.<br />

Harga: 96 ribu yuan (Rp 194 juta)<br />

Terjual: 316 ribu unit<br />

4<br />

4. VW SAGITAR<br />

Sedan lain dari VW ini pada dasarnya<br />

mirip dengan VW Jetta dengan mesin<br />

1.400-2.000 cc. Meski begitu, harganya<br />

diposisikan lebih mahal. VW Sagitar<br />

diproduksi joint venture lain VW di<br />

Tiongkok, yakni FAW-Volkswagen<br />

Harga: 142 ribu yuan (Rp 286 juta)<br />

Terjual: 300 ribu unit<br />

5<br />

5. NISSAN SYLPHY<br />

Di Indonesia, sedan ini serupa dengan<br />

Nissan Almera, sedan yang digunakan<br />

salah satu operator taksi di Jakarta. Sedan<br />

ini bermesin 1.600-2.000 cc.<br />

Harga: 100 ribu yuan (Rp 201 juta)<br />

Terjual: 300 ribu unit<br />

6<br />

6. VW JETTA<br />

Bermesin 1.400-1.600 cc, sedan kecil ini<br />

menjadi salah satu andalan jualan VW<br />

di Tiongkok.<br />

Harga: 83 ribu yuan (Rp 167 juta)<br />

Terjual: 297 ribu unit<br />

7<br />

7. BUICK EXCELLE<br />

General Motors masih “memelihara”<br />

merek Buick khusus untuk Tiongkok,<br />

karena di negara itu sudah populer<br />

sebelum Perang Dunia II. Buick Execelle<br />

pada dasarnya mirip dengan Chevrolet<br />

Cruze.<br />

Harga: 97 ribu yuan (Rp 195 juta)<br />

Terjual: 293 ribu unit<br />

8<br />

8. VW SANTANA<br />

VW ini merupakan versi sedan dari VW<br />

Passat. Ukuran mesin serupa dengan<br />

sedan-sedan VW lain yang laris, yakni<br />

1.400-1.600 cc.<br />

Harga: 85 ribu yuan (Rp 171 juta)<br />

Terjual: 285 ribu unit<br />

9<br />

9. CHEVROLET CRUZE<br />

Sedan kecil andalan General Motors ini<br />

dipasarkan di banyak negara dunia sejak<br />

2008.<br />

Harga: 110 ribu yuan (Rp 221 juta)<br />

Terjual: 268 ribu unit<br />

10<br />

10. HYUNDAI ELANTRA<br />

LANGDONG<br />

Di Tiongkok, Hyundai Elantra memiliki<br />

dua versi. Versi Langdong, seperti Elantra<br />

di negara lain, dan versi Yue Dong<br />

untuk yang modelnya sudah diubah<br />

sedikit.<br />

Harga: 140 ribu yuan (Rp 282 juta)<br />

Terjual: 252 ribu unit<br />

SUMBER: CHINAAUTOWEB.COM / CHINA ASSOCIATION OF AUTOMOBILE MANUFACTURERS / CHINAUTOWEB.COM / VW.COM.CN<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

TETAP WULING,<br />

BUKAN CHEVROLET<br />

BERBEDA DENGAN DI INDIA, DI<br />

INDONESIA WULING TAK AKAN<br />

BERGANTI NAMA MENJADI<br />

CHEVROLET.<br />

FOTO: THIKSTOCK<br />

FOTO: REUTERS/BEAWIHARTA<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

Wuling Hongguang, yang<br />

diberi nama Chevrolet<br />

Enjoy, saat peluncuran<br />

di India dua tahun silam.<br />

MPV ini adalah mobil<br />

terlaris di Tiongkok dan<br />

terlaris ketiga dunia.<br />

AFP PHOTO/ SAM PANTHAKY<br />

MOBIL bernama Chevrolet<br />

Enjoy itu dipasarkan di India<br />

sejak pertengahan 2013. Bentuknya<br />

MPV yang agak tinggi,<br />

cenderung mirip minibus seperti<br />

Nissan Evalia. Kapasitas penumpangnya<br />

tidak berbeda dengan MPV kecil yang juga<br />

populer di Indonesia, seperti Toyota Avanza.<br />

Media-media India menyebut mobil ini sebagai<br />

pesaing Ertiga, mobil MPV yang juga cukup<br />

laris di Indonesia.<br />

Jangan kaget, meski ada logo Chevrolet<br />

pada grill-nya, sejatinya mobil itu bermerek<br />

Tiongkok, Wuling, model Wuling Hongguang.<br />

Ini mobil terlaris di Tiongkok dan terlaris ketiga<br />

dunia dengan penjualan mencapai 750 ribu unit<br />

tahun lalu. Hanya, untuk pasar India mereknya<br />

diganti menjadi Chevrolet Enjoy. Wuling<br />

Hongguang diproduksi SGMW, perusahaan<br />

patungan dua pabrik Tiongkok, yakni CAIC<br />

dan Wuling, bersama pabrikan Amerika Serikat<br />

General Motors.<br />

Nah, pabrik patungan inilah yang bakal babat<br />

alas membuka pabrik di Cikarang, Jawa Barat,<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

Kendaraan yang dibuat di<br />

pabrik Indonesia yang baru<br />

akan diberi cap Wuling,<br />

bukan Chevrolet.<br />

untuk masuk pasar Indonesia. Dan berbeda<br />

dengan di India, pabrik di Indonesia ini tidak<br />

akan mengusung merek Chevrolet, tapi percaya<br />

diri dengan merek mereka sendiri: Wuling.<br />

“Kendaraan yang dibuat di pabrik Indonesia<br />

yang baru akan diberi cap Wuling, bukan<br />

Chevrolet,” kata Dayna Hart, Direktur Komunikasi<br />

General Motors Cina, kepada majalah<br />

detik, memberi kepastian.<br />

Bukan pertama kalinya merek kendaraan<br />

dari Tiongkok masuk Indonesia. Pada awal<br />

2000-an, Indonesia pernah dibanjiri sepeda<br />

motor buatan negeri itu. Dengan harga murah,<br />

sepeda motor itu cepat populer. Tapi dengan<br />

cepat pula tren ini surut karena kemudian<br />

pembeli mengeluhkan kualitasnya.<br />

Mobil Tiongkok juga beberapa sudah masuk<br />

Indonesia. Chery QQ misalnya. Mobil kecil<br />

yang mirip sekali dengan Daewoo Spark (dan<br />

kemudian dipasarkan sebagai Chevrolet Spark)<br />

itu dijual Indomobil. Tapi, pada 2011, Indomobil<br />

memutuskan menghentikan penjualan mobil<br />

imut buatan Tiongkok itu. “Kasihan juga<br />

bengkel yang harus terus memperbaikinya,”<br />

kata Presiden Direktur Indomobil Group Jusak<br />

Kertowidjojo saat itu kepada oto.detik.com.<br />

Tapi General Motors agaknya yakin dengan<br />

strategi tetap mempertahankan merek Wuling<br />

untuk mobil murah yang bakal diproduksi<br />

di Indonesia itu. Mereka akan memisahkan<br />

merek Chevrolet dengan Wuling. Mirip dengan<br />

langkah Nissan, yang memisahkan mobil<br />

murah mereka dengan merek Datsun.<br />

Bos General Motors di Tiongkok, Matt Tsien,<br />

mengatakan merek Wuling dan Chevrolet itu<br />

saling melengkapi, bukan bersaing. Ini karena<br />

kedua merek dibedakan dari sisi harga, kualitas,<br />

dan spesifikasi kendaraannya.<br />

“Wuling memusatkan perhatian pada fungsi,<br />

gaya yang atraktif, dan value for money,”<br />

kata Tsien seperti dikutip Reuters. “Itu adalah<br />

hal utama yang berjalan baik di Tiongkok dan<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

Pabrikan India, Tata<br />

Motors, mencoba pasar<br />

mobil niaga kecil di<br />

Indonesia dengan melansir<br />

Tata Ace EX 2.<br />

ANTARA FOTO/AUDY ALWI<br />

kami percaya, di bawah kendali SGMW, ini<br />

juga akan berhasil di Indonesia.”<br />

General Motors agaknya cukup percaya<br />

karena Wuling berhasil menerobos deretan<br />

merek global di pasar Tiongkok. Dari 10 besar<br />

merek terlaris di Tiongkok, misalnya, hanya<br />

ada dua merek lokal dan Wuling salah satunya.<br />

Untuk menjaga mutu ini, General Motors<br />

membagikan keahlian dan kemampuan teknisnya<br />

ke pabrik Wuling di Tiongkok. “Ini juga<br />

akan dipakai di pabrik dekat Jakarta,” kata Hart<br />

via e-mail.<br />

Kedatangan Wuling di kategori mobil murah<br />

ini akan menjadikan persaingan semakin<br />

panas. Saat ini pasar mobil murah dikuasai<br />

merek-merek Jepang, yakni Toyota Agya, Daihatsu<br />

Ayla, Honda Brio, Suzuki Karimun, dan<br />

Datsun Go.<br />

Salah satu keunggulan merek-merek Jepang<br />

ini adalah memiliki infrastruktur bengkel.<br />

Penjualan dan penyediaan layanan purnajual<br />

dikombinasikan perusahaan otomotif asal<br />

Jepang selama di Indonesia. “Kompetisi nanti<br />

dalam aspek tersebut dan, yang jelas, dominasi<br />

produk Jepang itu sampai sekarang masih<br />

kuat,” kata Ketua IV Gabungan Industri Kendaraan<br />

Bermotor Indonesia Rizwan Alamsjah.<br />

Pemain lain menyatakan hal sama. “Kalau<br />

jaringan purnajual tidak siap, tidak bisa berkom-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

Salah satu dealer Toyota<br />

di Jakarta. Merek Jepang<br />

ini sekarang unggul<br />

infrastruktur, seperti<br />

layanan purnajual.<br />

REUTERS/BEAWIHARTA<br />

petisi dengan merek-merek yang sudah<br />

established,” kata Davy J. Tulian, Direktur<br />

Pemasaran Mobil PT Suzuki Indomobil<br />

Sales. Apalagi ia tahu andalan Wuling di<br />

Tiongkok adalah mobil mikro yang mengandalkan<br />

pemasaran dari pinggiran dan<br />

kota kecil. “Sanggupkah mereka menciptakan<br />

jaringan servis di kota-kota kecil itu”<br />

Tapi, meski mungkin jaringan purnajual<br />

belum sebagus produsen Jepang, produk<br />

Tiongkok ini memiliki kelebihan lain:<br />

harga. Di Tiongkok, Wuling Hongguang,<br />

yang masuk kelas MPV kecil, harganya<br />

hanya 45 ribu yuan (sekitar Rp 91 juta).<br />

Di Indonesia, uang sebanyak itu hanya<br />

cukup untuk membeli mobil murah yang<br />

kecil, bukan kelas MPV.<br />

Begitu murahnya Wuling Hongguang,<br />

bahkan ketika masuk India dengan nama<br />

Chevrolet Enjoy, mobil ini bisa dijual<br />

dengan harga hanya 54 ribu rupee (sekitar<br />

Rp 111 juta). Harga ini masih sekitar<br />

Rp 11 juta lebih murah dibanding pemain<br />

utama kelas ini di sana, Suzuki Ertiga. n<br />

HANS HENRICUS B.S. ARON<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

GENJOT INVESTASI DENGAN<br />

MOBIL MURAH<br />

PROGRAM MOBIL<br />

MURAH BERHASIL<br />

MENGUNDANG<br />

PULUHAN TRILIUN<br />

RUPIAH.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

Pekerja SAIC-GM-Wuling<br />

Automobile di Liuzhou,<br />

Tiongkok, sedang merakit<br />

versi lokal Chevrolet Spark.<br />

Perusahaan patungan ini<br />

gatal ikut investasi mobil<br />

murah di Indonesia.<br />

QILAI SHEN/BLOOMBERG VIA GETTY<br />

IMAGES<br />

DALAM setahun ini, penampilan<br />

jalanan Jakarta sedikit berubah. Banyak<br />

mobil kecil berseliweran di<br />

jalanan. Pemandangan ini sedikit<br />

berubah karena sebelumnya, dalam 10 tahun<br />

terakhir, bisa dibilang jalanan dikuasai mobil<br />

keluarga—atau kadang disebut MPV.<br />

Mobil-mobil kecil ini hasil program mobil<br />

murah ramah lingkungan (LCGC) yang digagas<br />

pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Salah<br />

satu tujuan program ini adalah menggenjot<br />

investasi bidang otomotif dan hasilnya sudah<br />

mulai tampak.<br />

Saat ini nilai investasi di pabrik mobil yang diundang<br />

lewat program mobil murah ini sudah<br />

mencapai US$ 3 miliar (sekitar Rp 37 triliun).<br />

Sedangkan pabrik komponen yang datang dan<br />

mendirikan pabrik mencapai US$ 3,5 miliar (Rp<br />

44 triliun). “Kedua angka ini masih bisa terus<br />

berkembang,” kata Soerdjono, Direktur Industri<br />

dan Transportasi Darat Kementerian Perindustrian.<br />

Tidak aneh jika kedatangan delegasi pabrik<br />

dari Tiongkok, SGMW, yang akan membuat<br />

pabrik mobil di sekitar Cikarang, Jawa Barat,<br />

itu disambut gembira oleh Kementerian Per-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

Bukan hanya Tiongkok,<br />

India juga ingin menikmati<br />

pasar Indonesia yang<br />

besar. Pekerja Tata Motors<br />

sedang mendata mobil<br />

asal India di Cakung,<br />

Bekasi, Jawa Barat, untuk<br />

dijual di sini.<br />

AUDY ALWI/ANTARA<br />

industrian. Apalagi pabrik mobil dengan merek<br />

Wuling itu akan memboyong pabrik komponen<br />

juga.<br />

“Selain mendirikan pabrik mobil, SGMW<br />

menggandeng perusahaan komponen otomotif<br />

dari Tiongkok,” kata Pelaksana Tugas<br />

Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis<br />

Teknologi Tinggi Panggah Susanto.<br />

Pabrik komponen itu diboyong agar bisa<br />

mencapai kadar kandungan lokal seperti<br />

yang disyaratkan. “Perusahaan komponen<br />

itu akan memproduksi 8.000 hingga 10 ribu<br />

jenis komponen mobil setiap tahun,” kata<br />

Panggah.<br />

Ia belum bisa memastikan berapa jumlah<br />

perusahaan komponen yang akan diboyong<br />

SGMW ke Indonesia. Dia hanya mengatakan<br />

perusahaan komponen mitra SGMW akan<br />

datang ke Indonesia secara bertahap, mulai<br />

proses pembangunan hingga pabrik mulai beroperasi.<br />

Otomatis, kedatangan pabrik mobil dan<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

TIONGKOK<br />

Mobil murah ramah<br />

lingkungan Datsun Go,<br />

yang dibuat Nissan<br />

Indonesia, sedang<br />

menjalani pengecekan<br />

terakhir di Purwakarta,<br />

Jawa Barat.<br />

BEAWIHARTA/REUTERS<br />

komponen ini menambah lapangan kerja secara<br />

signifikan. Direktur Pemasaran Toyota Astra<br />

Motor Rahmat Samulo mengatakan, “Jumlah<br />

komponen yang cukup tinggi akan meningkatkan<br />

produksi dalam negeri secara komponen<br />

dan kendaraan, sehingga membuka kesempatan<br />

bagi orang Indonesia untuk bekerja.”<br />

Sampai saat ini, program mobil murah ramah<br />

lingkungan ini berhasil menaikkan produksi<br />

sekitar 200 ribu unit. “Kalau totalnya nanti ya,<br />

totalnya nanti untuk kapasitas produksi optimal<br />

itu 600 ribu unit,” kata Soerdjono.<br />

Data di Gabungan Industri Kendaraan Bermotor<br />

Indonesia memperlihatkan saat ini Toyota<br />

Agya menguasai penjualan mobil murah<br />

dan ramah lingkungan. Tahun lalu mobil ini<br />

terjual sampai 67 ribu unit dan kembarannya,<br />

Daihatsu Ayla, terjual hampir 41 ribu. Penjualan<br />

terlaris ketiga Honda Brio Satya dengan 26<br />

ribu unit dan diikuti Datsun Go sebanyak 20<br />

ribu unit. Suzuki Karimun Wagon R berhasil<br />

menjual 17 ribu unit. n HANS HENRICUS B.S. ARON<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI<br />

KARENA<br />

BATU BARA DIBATASI<br />

DI TIONGKOK<br />

SULAWESI KEBANJIRAN INVESTOR SMELTER.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI<br />

Asap mengepul dari pabrik<br />

di Tangshan, Tiongkok,<br />

beberapa waktu lalu.<br />

Parahnya polusi membuat<br />

pemerintah setempat<br />

membatasi pabrik dengan<br />

batu bara. Akibatnya,<br />

sejumlah pabrik smelter<br />

melirik Indonesia untuk<br />

dijadikan lokasi pabrik.<br />

PETAR KUJUNDZIC/REUTERS<br />

KEMENTERIAN Perindustrian<br />

kedatangan tamu dari Tiongkok,<br />

bos Virtue Dragon Nickel Industry,<br />

Andrew Zhu. Ia datang dengan<br />

janji mengucurkan dana sampai US$ 5 miliar<br />

(Rp 63 triliun) untuk membangun kilang yang<br />

mengolah tambang mineral mentah menjadi<br />

feronikel di Sulawesi Tenggara. Tahap pertama<br />

pabrik bakal diselesaikan pada 2017 dan seluruh<br />

pabrik akan kelar pada 2019.<br />

Virtue Dragon bukan satu-satunya smelter<br />

yang datang ke Sulawesi dan bukan satusatunya<br />

yang datang dari Tiongkok. Puluhan<br />

perusahaan pengolahan mineral, terutama<br />

pengolah mineral nikel asal Tiongkok, tampaknya<br />

menjadikan Indonesia, terutama Pulau<br />

Sulawesi, sebagai “koloni” baru bagi industri<br />

pengolahan pertambangan mineral mereka.<br />

Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara<br />

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral<br />

mengungkapkan, sedikitnya ada 65 perusahaan<br />

yang akan, sedang, dan telah membangun<br />

pabrik pemurnian hasil tambang mineral di Indonesia.<br />

Dari jumlah itu, 30 di antaranya pabrik<br />

pengolah nikel.<br />

Setiap smelter membutuhkan dana Rp 200<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI<br />

Perusahaan Tiongkok itu<br />

agresif karena produsen<br />

metal di negara tersebut<br />

membutuhkan sedikitnya<br />

100 ton nikel per tahun.<br />

R. Sukhyar<br />

TERESIA MAY/ANTARA<br />

miliar hingga Rp 2 triliun. “Tergantung produk<br />

yang akan dihasilkan,” ujar R. Sukhyar, Direktur<br />

Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian<br />

Energi. Total investasi smelter yang sudah dijanjikan<br />

senilai US$ 17,5 miliar. “Total investasi<br />

dari Tiongkok mencapai US$ 3 miliar,” katanya.<br />

Sebagian perusahaan itu sedang mengurus<br />

izin analisis dampak lingkungan, sebagian lagi<br />

sudah mulai membangun konstruksi. “Tapi<br />

yang konstruksi masih sangat sedikit,” ucap<br />

Sukhyar. Ada pula yang<br />

tahun ini bakal beroperasi<br />

dan semuanya ada di Konawe,<br />

Sulawesi Tenggara.<br />

“Semuanya beroperasi<br />

di Pulau Sulawesi dan<br />

kepulauan Maluku Utara<br />

(Halmahera Utara).”<br />

Perusahaan Tiongkok<br />

itu agresif karena produsen<br />

metal di negara<br />

tersebut membutuhkan<br />

sedikitnya 100 ton nikel per tahun. Apalagi di<br />

negara itu mulai ada pembatasan penggunaan<br />

batu bara, yang dipakai ekstensif di sana. “Jadi<br />

smelter di sana banyak yang nyaris tutup,” katanya.<br />

Karena itu, kata Sukhyar, perusahaan-perusahaan<br />

penopang industri metal di Tiongkok<br />

butuh ekspansi ke luar negerinya untuk dapat<br />

mengolah nikel dan mineral lain.<br />

Hal mirip diungkap Sekretaris Jenderal<br />

Indonesian Mining Association Tony Wenas.<br />

Ia mengatakan investor Tiongkok banyak<br />

menanamkan modalnya di Sulawesi sebagai<br />

konsekuensi dari kebutuhan Tiongkok akan<br />

nikel yang begitu besar setiap tahun.<br />

Selain itu, perusahaan Tiongkok agresif mengejar<br />

nikel, bauksit, mangan, zirkon, dan seng<br />

di Indonesia karena larangan ekspor bahan<br />

mentah. Hal ini membuat pabrik di Tiongkok<br />

kehilangan bahan baku. Mereka pun lari ke<br />

Sulawesi, yang memang menjadi lumbung<br />

tambang mineral. “Sulawesi memang basis<br />

tambang nikel terbesar di Indonesia,” ucapnya.<br />

Meski banyak investor Tiongkok yang datang<br />

membangun smelter, pihak Asosiasi Perusahaan<br />

Mineral Indonesia (Apemindo) masih<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


EKONOMI<br />

Di Indonesia, penggunaan<br />

batu bara terus diperbesar,<br />

termasuk di pembangkit<br />

listrik di Pangkalan Bun<br />

ini. Asosiasi Perusahaan<br />

Mineral Indonesia<br />

meminta investor<br />

smelter dari Tiongkok<br />

menggunakan mesin baru<br />

agar tidak terlalu banyak<br />

menghasilkan polutan.<br />

MUHAMMAD YAMIN/REUTERS<br />

buta peta sesungguhnya. Sekretaris Jenderal<br />

Apemindo Ladjiman Damanik mengatakan<br />

informasi tentang di mana saja di Sulawesi<br />

perusahaan Tiongkok menanamkan modalnya<br />

untuk membangun smelter terbilang minim.<br />

“Pada umumnya teman-teman tidak melaporkan,<br />

pada proses mana mereka sedang berjalan,<br />

baik itu saat masih meminta izin lokasi,<br />

amdal, atau izin-izin lainnya ke pemerintah<br />

daerah,” ucapnya. Ia juga mengklaim pemerintah<br />

daerah provinsi di Sulawesi dan Kepulauan<br />

Maluku Utara tak memiliki data lengkap. “Kecuali<br />

kamu (datang) ke setiap kabupaten yang<br />

ada di sana,” ucapnya.<br />

Meski kedatangan investor Tiongkok ini<br />

memberi angin segar, Ladjiman meminta pemerintah<br />

tegas mengharuskan seluruh pabrik<br />

itu menggunakan mesin baru, bukan sekadar<br />

memindah peralatan dari Tiongkok.<br />

“Pemerintah tegas, minta yang baru,” katanya.<br />

Ia mengatakan, jika mereka menggunakan<br />

mesin lama yang menggunakan batu bara,<br />

polusinya akan sangat tinggi. “Polusinya akan<br />

gila-gilaan kalau pakai mesin lama.” n BUDI ALIMUDDIN<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

MAJU TAK GENTAR<br />

TOKO TRADISIONAL<br />

KEHADIRAN TOKO ONLINE<br />

TAK MEMBUAT GENTAR TOKO<br />

TRADISIONAL. SEBAGIAN MALAH<br />

NAIK OMZET DENGAN MENJADI<br />

PEMASOK TOKO ONLINE, SEPERTI<br />

LAZADA ATAU RAKUTEN.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

Sepeda motor antaran<br />

Lazada saat mengantar<br />

barang ke kawasan<br />

Bintaro, Jakarta Selatan.<br />

ARI SAPUTRA/DETIKCOM<br />

JULIE Halim terus memandangi layar<br />

laptopnya sambil sesekali mengetikkan<br />

sesuatu, sementara suaminya,<br />

Hamid Halim, sibuk merapikan<br />

sejumlah kotak barang yang siap dikirim via<br />

ekspedisi antarpulau. Kotak-kotak itu berisi<br />

berbagai barang elektronik—dari teko listrik<br />

sampai alat kejut—sedang dipak dan dirapikan<br />

di salah satu ruko di kawasan Serpong,<br />

Tangerang Selatan.<br />

Suami-istri ini memiliki toko elektronik<br />

tradisional di kawasan Klender, Jakarta Timur,<br />

bernama Utama Mega Elektrik. Tapi labellabel<br />

alamat yang dikirim dari kotak-kotak<br />

itu tidak menunjuk alamat mereka. Alih-alih,<br />

alamat pengirim tertulis toko online terkenal,<br />

Lazada.<br />

Bagi mereka, kehadiran toko online itu tidak<br />

membuat sebagian pelanggannya pergi. Tapi<br />

malah mendatangkan pelanggan baru dengan<br />

omzet kira-kira seperti toko tradisionalnya.<br />

“Bersama Lazada, saya jadi punya satu toko<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

Kalau online, ramai<br />

transaksinya pas<br />

hari kerja, sementara<br />

offline, pas hari libur.<br />

lagi,” ucap Julie sambil terkekeh.<br />

Tren toko online besar di Indonesia memang<br />

menguat dalam sekitar lima tahun terakhir.<br />

Selama bertahun-tahun, hanya nama-nama<br />

seperti Glodokshop.com dan Bhinneka.com<br />

yang populer. Tapi belakangan, muncul nama<br />

seperti Lazada, Rakuten, atau Berrybenka,<br />

yang dimodali investor luar negeri. Para investor<br />

asing ini lebih agresif sehingga,<br />

setidaknya, merek toko<br />

online ini cepat populer.<br />

Nah, Lazada atau Rakuten<br />

memiliki program bagi pedagang<br />

tradisional untuk bergabung.<br />

Seperti keluarga Julie dan<br />

Hamid Halim. Produk mereka<br />

dipasang di situs Lazada atau Rakuten dan<br />

pembeli merasa bertransaksi dengan toko<br />

serbaada di Internet ini. Begitu ada pesanan,<br />

toko online itu akan memberi tahu Julie dan<br />

Hamid. Mereka kemudian akan mengirim barang<br />

dan kemudian mendapat kiriman uang<br />

pembelian—setelah dipotong persenan.<br />

Julie dan Hamid tidak sendirian. Pemasok<br />

lain, yang juga memiliki toko elektronik tradisional<br />

di kawasan Klender, malah mengatakan<br />

toko tradisional ini kadang kedatangan<br />

pembeli yang tahu dari toko online. Beda<br />

toko tradisional dan yang bergabung dengan<br />

situs belanja online itu satu: hari ramai. “Kalau<br />

online, ramai transaksinya pas hari kerja, sementara<br />

offline pas hari libur,” ucap Fielienna,<br />

yang lebih sering dipanggil Yenni, si pemilik<br />

toko yang terletak di samping pasar Klender.<br />

Menurut dia, untuk barang besar, biasanya<br />

hanya pembeli dari Jakarta dan sekitarnya.<br />

Mungkin pembelinya sudah “ngeri” dengan<br />

biaya kirim barang seperti kulkas. “Kalau<br />

barang kecil lainnya ke seluruh Indonesia,”<br />

ucapnya.<br />

Yenni mengaku bergabung dengan Lazada<br />

sejak 2013. Sedangkan Julie bergabung dengan<br />

Lazada gara-gara memiliki situs Internet<br />

sendiri, mengikuti nama toko tradisionalnya,<br />

yakni www.utamamega.com. Dari situs<br />

ini, Lazada kemudian mengajak bergabung.<br />

“Kami diundang ke Menara Bidakara, mereka<br />

memaparkan potensi pengunjung dan bisnis<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

Seorang pramuniaga<br />

membenahi komputer di<br />

pameran elektronik di Mal<br />

Tangerang City, Tangerang.<br />

Toko elektronik tradisional<br />

yang memanfaatkan toko<br />

online berhasil menaikkan<br />

omzet.<br />

LUCKY R./.ANTARA<br />

Lazada,” ucapnya.<br />

Memandang bisnis ini sangat menjanjikan,<br />

Julie kemudian menyetujui semua syarat-syarat<br />

Lazada. Syarat tersebut antara lain margin<br />

komisi lebih dari 3 persen, menyediakan<br />

barang yang gambarnya telah diunggah ke<br />

situs Lazada, bersedia didenda Rp 100 ribu<br />

per barang jika ternyata barangnya tidak ada,<br />

dan harga harus lebih murah dari supermarket.<br />

“Gambarnya juga harus bagus dan jernih.<br />

Kalau jelek, ditolak sama Lazada,” ucapnya.<br />

Ia masih ingat, di hari pertama buka lapak<br />

di Lazada, seorang pelanggan dari luar Jawa<br />

membeli penyedot debu sebanyak lima unit<br />

langsung.<br />

Per hari, Julie memperkirakan rata-rata<br />

penjualan toko online-nya mencapai 200 unit.<br />

Namun toko offline-nya di Klender juga punya<br />

pelanggan sendiri, sehingga jumlah penjualan<br />

per harinya juga hampir sama.<br />

Toko pemasok ini jumlahnya cukup banyak<br />

di Lazada. Di seluruh Asia Tenggara, menurut<br />

Kepala Komersial Lazada Indonesia Rene<br />

Janssen, ada sekitar 11 ribu pemasok. Secara<br />

regional, kata Rene, kontribusi pemasok<br />

individu maupun toko mencapai 70 persen.<br />

“Penjualan yang berasal dari marketplace<br />

telah meningkat sebanyak 20 kali dari Januari<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

Calon pembeli Lazada<br />

mengecek e-banking di<br />

ponselnya, Kamis (5/2).<br />

ARI SAPUTRA/DETIKCOM<br />

hingga Desember 2014,” ucapnya.<br />

Yang ditawarkan Lazada atau Rakuten kepada<br />

para pemasok ini terutama kepercayaan<br />

dari pelanggan. Dengan nama besarnya, pelanggan<br />

tidak cemas tertipu oleh pedagang<br />

online yang bodong. Transaksi dengan kartu<br />

kredit pun dirasa cukup aman bagi mereka.<br />

Untuk memastikan kualitasnya, Lazada<br />

mengecek para pemasok. “Kami selalu mengaudit<br />

calon penjual sebelum produknya muncul<br />

secara online di website Lazada dan terus<br />

memonitor proses dan performa mereka,”<br />

ucap Rene. “Kami melakukan cek kualitas<br />

untuk setiap produk sebelum ditampilkan di<br />

website.”<br />

Menurut Rene, jika ada komplain dari<br />

pelanggan, pihaknya akan cepat merespons.<br />

Pihaknya, kata dia, memiliki sistem respons<br />

yang ketat, di mana pihaknya akan bertindak<br />

langsung berdasarkan feedback dari konsumen<br />

maupun penjual.<br />

Tapi tak semua toko online top memilih cara<br />

seperti Lazada atau Rakuten ini. Berrybenka<br />

misalnya. Semua barang yang dijual dikirim<br />

dari gudang mereka sendiri. Tidak ada yang<br />

mengirim dari tempat lain. “Jadi semua under<br />

control kami,” kata Jason Lamuda, pendiri dan<br />

pemimpin Berrybenka.<br />

Karena semua ditangani sendiri, Berrybenka<br />

berusaha mati-matian agar produk yang<br />

dijual—semua adalah busana—sesuai dengan<br />

selera pembeli. “Karena itu, setiap harinya tim<br />

buyer kami selalu mencari yang sesuai dengan<br />

visi-misi kami,” katanya. n BUDI ALIMUDDIN<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

SNIPER<br />

ONE SHOT, one kill. Untuk bisa memenuhi kredo itu, seorang<br />

penembak jitu atau sniper harus cermat, akurat, tenang,<br />

dan sabar. Berbekal senjata laras panjang plus teleskop<br />

khusus, aksi sniper bak malaikat<br />

pencabut nyawa. Bukan cuma<br />

Amerika, Rusia, atau Jerman,<br />

Indonesia pun memiliki sniper<br />

legendaris yang diakui<br />

dunia. Simak lika-liku<br />

kisahnya berikut<br />

ini....<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

SNIPER<br />

PAHLAWAN ATAU<br />

PENGECUT<br />

HARUS MAMPU MELUMPUHKAN LAWAN<br />

DARI JARAK RATUSAN METER, SEORANG<br />

SNIPER HARUS BERGERAK TANPA<br />

TERLACAK.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

Tap Untuk<br />

Melihat Video<br />

SEORANG bocah Irak berusia sekitar<br />

10 tahun keluar dari rumah<br />

bersama ibunya. Sambil mengepit<br />

sebuah granat RKG Rusia, ia berjalan<br />

tergesa menuju konvoi pasukan Amerika.<br />

Belum sempat granat dilontarkan, tubuhnya<br />

ambruk. Sebuah peluru menembus dadanya<br />

hingga punggung. Darah segar pun muncrat.<br />

Sang ibu berusaha mengambil alih. Dia<br />

bergegas memungut granat itu, lalu melemparkannya<br />

ke arah pasukan Amerika. Tapi<br />

lemparannya lemah dan, selang sepersekian<br />

detik, tubuhnya pun ambruk bersimbah darah.<br />

Adegan itu menjadi pembuka film American<br />

Sniper karya Clint Eastwood, yang men-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

PASUKAN IRAK MENGHARGAI KEPALA<br />

CHRIS KYLE US$ 20 RIBU.<br />

jadi box office di Amerika Serikat. Sejak dirilis<br />

pertengahan Januari lalu hingga 2 Februari,<br />

menurut LA Times, film ini telah mengumpulkan<br />

keuntungan US$ 31,9 juta atau setara Rp<br />

406 miliar. Di ajang<br />

Academy Awards<br />

ke-87, film ini masuk<br />

dalam enam<br />

nominasi Oscar, di<br />

antaranya kategori film terbaik, film adaptasi<br />

terbaik, dan aktor terbaik untuk Cooper.<br />

Tapi tak sedikit yang mengkritik film ini<br />

karena dinilai terlalu menyederhanakan persoalan<br />

di Irak. Film ini gagal membedakan antara<br />

milisi Syiah dan Sunni, sehingga seluruh<br />

warga Irak terkesan sebagai teroris.<br />

American Sniper diangkat dari autobiografi<br />

Chris Kyle, anggota pasukan Navy SEALs<br />

yang terlibat dalam perang di Irak, 1999-<br />

2009. Dalam film ini, aktor Bradley Cooper<br />

memerankan sosok Kyle, yang mencatat<br />

“rekor” membunuh 255 musuh. Dari<br />

jumlah itu, 160 tembakan mematikan<br />

telah dikonfirmasi Departemen Pertahanan<br />

Amerika. Dua di antaranya adalah ibu<br />

dan anak yang menjadi pembuka film ini. Kyle<br />

membidiknya dari jarak 200 yard, sekitar 182<br />

meter.<br />

Kehadiran Kyle sebagai sniper di sejumlah<br />

arena pertempuran di Irak membuat gundah<br />

para pemberontak di Irak. Ia layaknya<br />

malaikat pencabut nyawa sehingga mereka<br />

mengincar Kyle, yang dijuluki “Iblis Ramadi”,<br />

dengan iming-iming hadiah US$ 20 ribu.<br />

Sebagai manusia, ayah dua anak, dan suami,<br />

Kyle tak lepas dari dilema. Sebab, target yang<br />

menjadi sasaran adakalanya juga anak-anak<br />

dan perempuan.<br />

Kyle sudah mahir menembak sebelum<br />

masuk marinir. Maklum, semasa anak-anak,<br />

ia biasa ikut berburu rusa dengan ayahnya di<br />

Odessa, Texas. Saat kuliah, ia dikenal sebagai<br />

pemain rodeo.<br />

Selepas bertugas di Irak, Kyle mendirikan<br />

Craft International. Perusahaan ini menyediakan<br />

pelatihan penembak jitu bagi militer dan<br />

penegakan hukum. Dia juga menjadi relawan<br />

bagi yayasan prajurit yang mengalami cacat<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

tengah menjalani terapi karena mengidap<br />

PTSD (post-traumatic stress disorder). Tragis!<br />

●●●<br />

Bradley Cooper sebagai Chris<br />

Kyle dalam American Sniper.<br />

MOVIE CAPTURE<br />

fisik maupun gangguan emosional.<br />

Pada 2 Februari 2013, Chris Kyle tewas<br />

ditembak di lapangan tembak di Glen Rose,<br />

Texas. Pelakunya, Eddie Ray Routh, 25 tahun,<br />

adalah mantan marinir berpangkat kopral<br />

yang bertugas di Irak pada 2006-2010. Dia<br />

Chris Kyle tentu bukan sniper legendaris<br />

pertama. Setiap negara dan setiap kesatuan<br />

elitenya atau dalam setiap peperangan selalu<br />

ada peran sniper. Dalam Perang Dunia I dan<br />

II, misalnya, tercatat nama Simo Hayha, Erwin<br />

Konig, dan Vasily Zaitsev. Kisah Konig dan<br />

Zaitsev diabadikan lewat film Enemy at the<br />

Gates, 2001, yang dibintangi Jude Law dan Ed<br />

Harris.<br />

Nama Simo Hayha, petani Finlandia kelahiran<br />

17 Desember 1905, menjadi legendaris<br />

setelah berhasil membunuh lebih dari 500<br />

tentara Rusia saat menyerang negerinya di<br />

musim dingin pada 1939. Soviet menjuluki<br />

Hayha, yang meninggal pada 1 April 2002<br />

pada umur 96 tahun, sebagai “White Death”.<br />

Indonesia pun memiliki seorang sniper<br />

legendaris yang prestasinya diabadikan<br />

dalam buku Sniper: Training, Techniques and<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

Aktor Jude Law (bertopi)<br />

memerankan tokoh Vasily<br />

Zaitsev<br />

Weapons karya<br />

Peter Brookesmith,<br />

2000. Namanya<br />

Peltu Tatang Koswara,<br />

yang pernah<br />

berdinas dalam<br />

Operasi Seroja di<br />

Timor Timur pada<br />

1977-1978. (baca:<br />

"Siluman Pencabut<br />

Nyawa Fretilin").<br />

Dalam buku Sang<br />

Pembunuh dalam Kesunyian—Sniper—Senyap<br />

dan Mematikan<br />

karya Huda Efendi,<br />

istilah sniper berasal<br />

dari nama burung<br />

snipe. Burung berbulu<br />

cokelat berbintik<br />

aneka warna ini memiliki bentuk sangat kecil,<br />

lincah, gesit, dan banyak ditemukan di rawarawa<br />

daratan Skotlandia dan Inggris. Saking<br />

lincahnya, burung ini sangat sukar untuk<br />

dijadikan sebagai sasaran tembak sehingga<br />

setiap orang yang dapat menembaknya dianggap<br />

sebagai ahli menembak.<br />

Pada akhir abad ke-18, ungkapan sniper sering<br />

disebut dalam surat-surat yang dikirim ke<br />

rumah oleh orang-orang Inggris yang bertugas<br />

di India. Pada abad ke-19, kata sniper digunakan<br />

secara umum untuk menyebut seseorang<br />

yang mahir dalam olahraga menembak.<br />

Istilah sniper juga dipakai untuk mendefinisikan<br />

seseorang yang mahir dalam melakukan<br />

pembunuhan dengan menggunakan senapan<br />

laras panjang. Dalam perkembangannya, kata<br />

sniper merujuk pada seorang prajurit tempur<br />

yang bertugas untuk membidik dan menumbangkan<br />

targetnya.<br />

Dalam sebuah pertempuran, tugas sniper<br />

berbeda dari prajurit infanteri pada umumnya.<br />

Ia tak bergerombol dalam sebuah kelompok<br />

pasukan, tapi lebih banyak menyendiri.<br />

Bergerak dalam senyap tanpa boleh meninggalkan<br />

jejak. Targetnya pun tak asal musuh,<br />

melainkan merupakan obyek terpilih.<br />

Dari pengalaman Tatang Koswara, target<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

REPRO: GRADYOS SAFNA<br />

seorang sniper biasanya adalah sniper<br />

kelompok musuh, para<br />

komandan pasukan,<br />

pembawa perlengkapan<br />

komunikasi, dan<br />

pembawa senapan<br />

mesin. “Target-target<br />

pilihan itu dimaksudkan<br />

untuk mengacaukan soliditas<br />

dan meruntuhkan<br />

moral pasukan musuh,”<br />

ujar Tatang.<br />

Perlengkapan seorang<br />

sniper juga berbeda. Selain<br />

dibekali senjata otomatis,<br />

dia juga menggunakan<br />

senjata laras panjang yang<br />

dilengkapi teleskop khusus.<br />

Hal itu diperlukan karena<br />

mereka harus bisa melumpuhkan<br />

lawan dari jarak<br />

ratusan meter.<br />

Dalam sebuah operasi, seorang sniper adakalanya<br />

didampingi oleh spotter. Kualifikasinya<br />

sama dengan sniper. Dia bertugas sebagai<br />

observer, mengamati situasi, mencari sasaran,<br />

menghitung jarak, mengoreksi tembakan,<br />

serta melindungi si penembak runduk itu<br />

sendiri.<br />

Selain harus mahir menembak, seorang sniper<br />

harus memiliki kemampuan menyamarkan<br />

diri sehingga posisinya tidak diketahui musuh.<br />

Dia harus punya nyali lebih guna menyusup<br />

ke balik garis pertahanan lawan. Pakaian atau<br />

perlengkapan khusus untuk menyamar ini<br />

biasa disebut ghillie suit. Awalnya, pakaian ini<br />

digunakan penjaga hutan Skotlandia untuk<br />

menangkap pencuri dan pemburu satwa liar.<br />

Mungkin karena menembak dari lokasi tersembunyi,<br />

sebagian orang justru menilai para<br />

sniper adalah pengecut yang menghabisi lawan,<br />

bahkan perempuan. Mereka tak layak diberi<br />

penghargaan, apalagi gelar pahlawan. ■<br />

PASTI LIBERTI MAPPAPA | SUDRAJAT<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015<br />

MAJALAH DETIK 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

SILUMAN<br />

CIBADUYUT<br />

INCAR<br />

FRETILIN<br />

DIAKUI DUNIA SEBAGAI SNIPER<br />

TERBAIK. HILANGKAN JEJAK<br />

DENGAN HAK SEPATU TERBALIK.<br />

FOTO-FOTO: GRANDY/DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

PADA usia 68 tahun, bukan cuma<br />

perawakannya yang masih tampak<br />

bugar dan kekar, ingatan Tatang<br />

Koswara pun masih jernih.<br />

Dengan penuh ekspresi, kakek tujuh<br />

cucu itu mengisahkan pengalamannya<br />

bertempur di Timor Timur pada<br />

1977-1978. Remexio, Lautem,<br />

Viqueque, Aileu, Becilau, dan<br />

Bobonaro adalah daerah operasinya<br />

di bawah komando<br />

Letnan Kolonel Edi Sudrajat.<br />

“Saya waktu itu menjadi<br />

pengawal Pak Edi,<br />

sekaligus ditugasi<br />

sebagai sniper,” kata<br />

Tatang saat ditemui<br />

majalah detik di<br />

kediamannya di<br />

lingkungan Kompleks<br />

TNI Angkatan Laut,<br />

Cibaduyut, Bandung,<br />

Selasa (3/2).<br />

Meski di Tanah Air tak banyak yang mengenalnya,<br />

di dunia militer internasional reputasi<br />

Tatang sebagai sniper justru diakui. Dalam buku<br />

Sniper Training, Techniques and Weapons karya<br />

Peter Brookesmith, yang terbit pada 2000,<br />

nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat<br />

dunia. Di situ disebutkan, dalam tugasnya,<br />

Tatang berhasil melumpuhkan 41 target orang<br />

Fretilin.<br />

“Itu sebetulnya cuma dalam satu misi operasi.<br />

Saya pernah tiga kali menjalankan misi,<br />

termasuk seorang diri,” ujar pemilik sandi S-3<br />

alias Siluman 3 ini.<br />

Kata “siluman” dimaksudkan karena misi<br />

yang diembannya bersifat sangat rahasia, sementara<br />

angka 3 merujuk pada peringkat yang<br />

didapatnya saat mengikuti pendidikan sniper<br />

dari Kapten Conway, anggota Green Berets<br />

Amerika Serikat, pada 1973.<br />

Menurut Tatang, setiap kali menjalankan<br />

misi, ia biasanya dibekali 50 butir peluru. Dari<br />

jumlah itu, cuma satu yang boleh tersisa untuk<br />

digunakan pada dirinya sendiri bila dalam kondisi<br />

terjepit.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

lll<br />

Tatang masuk tentara melalui jalur tamtama di Banten pada<br />

1966. Kala itu sebetulnya dia cuma mengantar sang adik, Dadang,<br />

yang ingin menjadi tentara. Tapi, karena saat di lokasi<br />

pendaftaran banyak yang menyarankan agar dirinya ikut, ia pun<br />

mendaftar. Saat tes, ternyata cuma dia yang lulus.<br />

Meski punya ijazah Sekolah Teknik (setara dengan SMP),<br />

Tatang melamar sebagai prajurit tamtama menggunakan ijazah<br />

Sekolah Rakyat atau setara dengan SD. Selang beberapa tahun,<br />

ia mengikuti penyesuaian pangkat sesuai dengan ijazah yang dimilikinya.<br />

Sebagai bintara, ia ditempatkan di Pusat Kesenjataan<br />

Infanteri. Di sana pula ia mendapatkan berbagai pelatihan, mulai<br />

kualifikasi raider hingga sniper.<br />

Seorang sniper, kata Tatang, harus berani berada di wilayah<br />

musuh. Fungsinya antara lain mengacaukan sekaligus melemahkan<br />

semangat tempur musuh. Selain sniper musuh, target<br />

utamanya adalah komandan, pembawa senapan mesin, dan<br />

pembawa peralatan komunikasi.<br />

“Saya biasa membidik kepala. Cuma sekali saya menembak<br />

bagian jantung, dia pembawa alat komunikasi. Sekali tembak,<br />

alat komunikasi rusak, orangnya pun langsung ambruk,” kata<br />

Tatang, yang biasa menggunakan senjata laras panjang Win-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

chester M-70 selama bertugas. Senjata ini<br />

mampu membidik sasaran hingga jarak 900-<br />

1.000 meter.<br />

Kemahiran Tatang menembak secara alami<br />

terlatih sejak remaja. Setiap Jumat, ia biasa<br />

membantu orang tuanya berburu bagong (babi<br />

hutan), yang kerap merusak lahan pertanian<br />

dan perkebunan. Bidikannya lewat senapan<br />

locok nyaris tak pernah meleset.<br />

Berbeda dengan warga lain, yang biasa<br />

bergerombol saat memburu babi, Tatang lebih<br />

suka menyendiri. Ia juga sengaja mengejar babi<br />

yang lari ke hutan. “Sasaran bergerak lebih<br />

menantang saya. Itu terbawa saat memburu<br />

Fretilin di Timtim,” ujarnya.<br />

Ada satu trik unik yang dilakukan Tatang<br />

untuk mengelabui pasukan patroli musuh. Dia<br />

membuat sepatu khusus dengan alas dalam<br />

posisi terbalik sehingga jejak yang ditinggalkan<br />

menjadi berbalik arah. “Cibaduyut kan dikenal<br />

sebagai pabrik sepatu, saya juga mampu membuat<br />

sendiri,” ujarnya.<br />

Tentu misi yang diembannya tak selalu berjalan<br />

mulus. Suatu kali ia pernah terjebak dan<br />

terkepung banyak personel Fretilin. Dua peluru<br />

pantulan pernah bersarang di betis kanannya.<br />

“Sambil bersembunyi di kegelapan, saya congkel<br />

sendiri kedua peluru itu dengan gunting<br />

kuku,” ujar Tatang seraya memperlihatkan<br />

bekas luka di kakinya.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

lll<br />

Selepas pensiun dari ketentaraan pada 1994<br />

dengan pangkat terakhir pembantu letnan<br />

satu, Tatang dan Tati Hayati, yang dinikahi<br />

pada 1968, tinggal di sebuah rumah sederhana<br />

di Cibaduyut. Di ruang tamu berjejer sejumlah<br />

medali, sertifikat, dan brevet tanda pendidikan<br />

yang diikutinya.<br />

Untuk menyambung hidup, selain mengandalkan<br />

pensiunan yang tak seberapa, ia membuka<br />

warung makan di lingkungan Komando<br />

Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI<br />

AD. Juga sesekali memberi latihan tembak<br />

kepada para prajurit di kesatuan-kesatuan elite<br />

Angkatan Darat maupun Angkatan Udara.<br />

“Tahun lalu saya dua bulan melatih 60-an calon<br />

sniper Kopassus. Juga ada permintaan dari<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

Komandan Paskhas di Soreang untuk melatih,”<br />

kata Tatang.<br />

Setahun sebelum pensiun, ia pernah<br />

memamerkan kemahirannya sebagai sniper<br />

dengan menembak pita balon di atas kepala<br />

Jenderal Wismoyo Arismunandar. “Waktu itu<br />

saya diminta memutus pita dengan peluru<br />

yang melintas di atas kepala KSAD (Kepala<br />

Staf Angkatan Darat). Pak Wismoyo tak marah,<br />

malah memberi saya uang, ha-ha-ha….,”<br />

ujar Tatang.<br />

Mantan Inspektur Jenderal Mabes TNI<br />

Letnan Jenderal (Purnawirawan) Geerhan<br />

Lantara mengakui reputasi Tatang sebagai<br />

pelatih sniper. “Pak Tatang adalah salah satu<br />

pelatih menembak runduk terbaik yang<br />

dimiliki Indonesia. Mungkin saya salah satu<br />

muridnya yang terbaik, he-he-he…,” ujarnya.<br />

Sedangkan Kolonel (Purnawirawan) Peter<br />

Hermanus, 74 tahun, mantan ahli senjata di<br />

Pindad, menyebut Tatang sebagai prajurit<br />

yang lurus. Dia mengingatkan agar bekas<br />

anak buahnya itu tetap mensyukuri kondisi<br />

yang ada sekarang. “Dia hidup sederhana<br />

karena tidak pandai korupsi, tapi itu lebih<br />

baik ketimbang punya rekening gendut, haha-ha…,”<br />

ujar Peter melalui telepon. n<br />

SUDRAJAT<br />

MAJALAH MAJALAH DETIK 26 DETIK JANUARI 9 - 15 - 1 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

CANTIK, CERDAS,<br />

MEMATIKAN<br />

DI SURIAH, SEORANG GURU BAHASA INGGRIS<br />

MENJADI SNIPER UNTUK MEMBALAS DENDAM<br />

KEMATIAN KEDUA ANAKNYA.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

SUDAH lima bulan lamanya Denis<br />

Sipan berada di garis depan medan<br />

pertempuran. Perempuan muda itu<br />

meninggalkan pekerjaannya sebagai<br />

seorang guru sekolah dasar di Kurdi dan memilih<br />

bertarung di Kobane, Suriah, sebagai sniper.<br />

Ia bergabung dengan milisi Kurdi atau dikenal<br />

sebagai Unit Perlindungan Rakyat (YPG), kelompok<br />

pembela tiga kelompok kecil Kurdi di<br />

wilayah utara Suriah.<br />

Milisi Kurdi tersebut selama setahun ini memerangi<br />

ISIS, kelompok “jihad” garis keras yang<br />

ingin menciptakan negara Islam di seluruh<br />

wilayah Irak dan Suriah.<br />

“Jika kami tidak melakukannya, seluruh tempat<br />

akan penuh ISIS dan mereka akan menghancurkan<br />

segalanya,” kata Denis kepada CBS<br />

News, Kamis, 5 Februari lalu.<br />

Denis dan YPG dalam beberapa minggu<br />

terakhir berhasil merebut kembali 50 desa di<br />

wilayah Kobane. Padahal perlengkapan tempur<br />

mereka sangat terbatas. Denis pun harus ber-<br />

Guevara mengintai target.<br />

REUTERS/ MUZAFFAR SALMAN<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

Denis Sipan<br />

CBS NEWS<br />

bagi senapan dengan anggota milisi setiap kali<br />

akan beraksi. Ia bertempur bersama-sama relawan<br />

lokal, kelompok yang terdiri atas petani<br />

gandum, ibu rumah tangga, dan pemilik toko,<br />

dengan menggunakan senjata yang mereka<br />

beli di pasar gelap.<br />

Sebelum ISIS dibungkam, Denis menyatakan<br />

tak akan kembali mengajar. Prioritasnya saat<br />

ini adalah melindungi diri, teman-teman, dan<br />

negaranya. “Aku tak berpikir kembali ke sekolah,”<br />

ujarnya.<br />

Berbeda dengan Denis Sipan, Guevara menjadi<br />

sniper setelah anak lelakinya yang berusia 7<br />

tahun dan anak perempuannya yang berumur<br />

10 tahun tewas oleh serangan udara pesawat<br />

tempur rezim Bashar al-Assad. Sejak itu, ia berhenti<br />

mengajar bahasa Inggris dan memilih ke<br />

medan pertempuran. Senapan FN Belgia menjadi<br />

andalannya untuk melumpuhkan tentara<br />

pendukung rezim pemerintahan Assad.<br />

“Aku menyukai peperangan. Ketika menyaksikan<br />

salah satu temanku di Katiba (divisi pemberontak)<br />

tewas, aku merasa harus memegang<br />

senjata dan membalas dendam,” ujar wanita<br />

berusia 36 tahun itu kepada Ruth Sherlock di<br />

harian The Telegraph terbitan 4 Februari 2013.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

Guevara di Aleppo, Suriah, 19<br />

Januari 2013.<br />

REUTERS/ MUZAFFAR SALMAN<br />

Meskipun sedang berperang, Guevara selalu<br />

tampil rapi—alis yang sempurna, perona<br />

pipi, dan sedikit penegas garis mata. Sepatu<br />

bot kulit kecil dengan tumit dan gelang emas<br />

memperlihatkan sisi femininnya. Kaum pria<br />

yang memanggul senjata melawan pemerintah<br />

amat menghormatinya.<br />

Tidak mudah menjadi seorang sniper. Selain<br />

harus cepat, cermat, dan cerdas untuk tidak<br />

membiarkan musuh menembak terlebih dulu,<br />

“Perlu bersabar. Saya (pernah) menunggu berjam-jam<br />

pada suatu waktu,” ujarnya.<br />

Melalui lubang kecil di tempat persembunyian,<br />

Guevara melihat tentara pemerintah<br />

kurang dari 700 meter di seberang jalan, berbaur<br />

di antara warga sipil yang bergerak cepat,<br />

mencoba melanjutkan kehidupan mereka meskipun<br />

dalam kondisi perang.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

Roza Shanina<br />

RAREHISTORICALPHOTOS<br />

Perempuan asal Palestina yang pernah kuliah<br />

di Aleppo University itu mahir menggunakan<br />

pistol dan beroperasi dalam perang setelah<br />

mengikuti kamp pelatihan militer di Libanon<br />

yang dijalankan oleh faksi militan Palestina,<br />

Hamas.<br />

Guevara meninggalkan suami pertamanya<br />

karena dianggap tidak cukup “revolusioner”. Ia<br />

menikah lagi dengan komandan brigade milisi.<br />

Semula sang suami pun tidak mengizinkan<br />

Guevara bertempur di garis depan. Izin didapat<br />

setelah ia mengancam akan meninggalkannya.<br />

“Aku punya kekuatan untuk memegang senjata,<br />

jadi mengapa aku tidak boleh bertempur”<br />

Suaminya pun takluk dan mengajari Guevara<br />

seni menembak jitu.<br />

Di dunia militer, Roza Shanina, 19 tahun, dikenal<br />

sebagai sniper perempuan pertama. Gadis<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SELINGAN<br />

Lyudmila Pavlichenko (ketiga<br />

dari kiri)<br />

DOK. CONGRESS LIBRARY<br />

Rusia itu terjun ke medan perang setelah saudara<br />

lelakinya tewas oleh tentara Jerman pada<br />

1941. Salah satu kisah Shanina yang melegenda<br />

adalah kemampuannya menembak dua target<br />

bergerak dalam satu tarikan pelatuk senapan.<br />

Catatan harian Shanina yang banyak menginspirasi<br />

para sniper perempuan Rusia di era<br />

berikutnya dipublikasikan secara luas pada<br />

1965. Shania meraih penghargaan “Order of<br />

Glory”.<br />

Selama Perang Dunia I dan II, Rusia diketahui<br />

paling banyak menggembleng warganya nan<br />

cantik, cerdas, tapi punya naluri membunuh<br />

tinggi sebagai penembak jitu. Sniper perempuan<br />

yang paling legendaris adalah Lyudmila<br />

Pavlichenko. Dia lahir di Belaya Tserkov, wilayah<br />

Ukraina, pada 12 Juli 1916. Mahasiswi Jurusan<br />

Sejarah Universitas Kiev ini ikut terjun dalam<br />

perang Dunia II saat Jerman menyerang Rusia.<br />

Pavlichenko yang tomboi sebetulnya melamar<br />

untuk menjadi perawat di divisi infanteri.<br />

Tapi, di tengah jalan, ia dipindahkan ke divisi<br />

sniper. Dia bergabung dengan 2.000 perempuan<br />

lainnya yang akan dilatih menjadi sniper.<br />

Prestasinya melumpuhkan lawan mengalahkan<br />

legendaris sniper Rusia, Vasily Zaytsev. Pavlichenko<br />

telah membunuh 309 prajurit Jerman,<br />

termasuk 36 sniper tentara Jerman. Sedangkan<br />

Vasily Zaytsev cuma membunuh 148 tentara<br />

Nazi.<br />

Pavlichenko berpulang pada 10 Oktober 1974<br />

pada usia 58 tahun. n PASTI LIBERTI MAPPAPA | SUDRAJAT<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

MAAF<br />

TAK ADA SENJATA<br />

UNTUK<br />

UKRAINA<br />

“BERI KAMI ALATNYA, MAKA KAMI AKAN MENANG.”<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

Menteri Luar Negeri<br />

Amerika Serikat John<br />

Kerry tiba di Bandara<br />

Internasional Boryspil,<br />

Kiev, Kamis (5/2),<br />

di tengah tekanan<br />

supaya Amerika<br />

mengirimkan senjata<br />

untuk Ukraina.<br />

JIM WATSON/REUTERS<br />

MARINA sudah hampir kehilangan<br />

segalanya akibat perang di<br />

Ukraina. Saudara laki-lakinya mati<br />

ditembak milisi pro-Rusia, demikian<br />

pula ayah baptis putrinya. Sekarang giliran<br />

suaminya, Ruslan, yang akan bertaruh nyawa,<br />

siap berangkat ke medan perang di wilayah<br />

timur Ukraina.<br />

“Keluarga kami sudah banyak kehilangan....<br />

Itulah yang membuat kami tak takut lagi. Kami<br />

hanya tinggal merasakan sakit,” kata Marina<br />

pekan lalu. Padahal putrinya baru lima bulan<br />

lalu lahir. Sekarang dia harus melepas suaminya<br />

ke medan perang. “Pilihannya hanya berangkat<br />

berperang atau masuk penjara.... Suamiku sudah<br />

berjanji akan pulang kembali.”<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

PILIHANNYA HANYA<br />

BERANGKAT BERPERANG<br />

ATAU MASUK PENJARA.”<br />

Setelah berulang kali dipermalukan oleh<br />

milisi pro-Rusia, pemerintah Ukraina di Kiev<br />

memutuskan memobilisasi warganya lewat<br />

wajib militer. Pertengahan Januari lalu, parlemen<br />

Ukraina telah memberikan izin kepada<br />

pemerintah untuk merekrut paling tidak 100<br />

ribu pemuda untuk berperang melawan milisi<br />

pro-Rusia. Sejak pecah konflik di wilayah timur<br />

Ukraina hampir setahun lalu, sudah lebih dari<br />

1.300 prajurit Ukraina tewas.<br />

Di kampung Marina di Kota<br />

Kiev, ada puluhan pemuda<br />

yang bergabung bersama<br />

Ruslan. Mengenakan seragam<br />

ala kadarnya, mereka<br />

berpamit kepada keluarga<br />

masing-masing. “Kemenangan<br />

untuk Ukraina,” teriak<br />

mereka.<br />

“Semangat kami sangat<br />

tinggi untuk berperang. Sebab,<br />

jika bukan kami, lalu siapa lagi” kata Viktor<br />

Rybalko, 35 tahun. Sehari-hari, Viktor bekerja<br />

sebagai karyawan di gudang. “Aku memang tak<br />

punya pengalaman bertempur. Tapi aku akan<br />

belajar dan kemudian berangkat mengikuti<br />

peta di mana terjadi pertempuran.”<br />

Demi memperkuat pasukan, pemerintah<br />

Ukraina tak ragu memenjarakan mereka yang<br />

sengaja lari dari wajib militer. Lebih dari 1.300<br />

kasus kabur dari wajib militer tengah diselidiki<br />

polisi Ukraina. Yuri Biryukov, penasihat Presiden<br />

Ukraina, menduga mereka yang menghindari<br />

wajib militer bersembunyi di hotel-hotel di<br />

daerah perbatasan.<br />

“Tugas semua laki-laki untuk membela negaranya,<br />

membela tanah airnya,” kata Stepan Poltorak,<br />

Menteri Pertahanan Ukraina. “Memang<br />

ada sejumlah kasus, mereka yang tak punya<br />

semangat patriot, lari ke luar negeri untuk<br />

menghindari wajib militer.”<br />

Untuk menggenjot semangat tempur pasukannya,<br />

Stepan royal membagikan bonus.<br />

Mereka yang bisa menghancurkan kendaraan<br />

tempur musuh akan mendapatkan tambahan<br />

bonus 12 ribu hryvnia atau sekitar Rp 6,2 juta.<br />

Prajurit yang bisa meledakkan tank milisi pro-<br />

Rusia bakal memperoleh bonus lebih besar<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

Prajurit Ukraina berlatih<br />

di luar Kota Luhansk,<br />

Ahad (1/2).<br />

MAKSIM LEVIN/REUTERS<br />

lagi, 48 ribu hryvnia atau Rp 25 juta.<br />

Wajib militer dengan taruhan nyawa ini tentu<br />

membuat keluarga yang ditinggalkan cemas.<br />

Sukar bagi mereka untuk merelakan keluarganya<br />

menyabung nyawa. “Bagaimana mungkin<br />

pemerintah membiarkan hal seperti ini terjadi<br />

Benar-benar memalukan,” kata Valentina Alexandrovna,<br />

68 tahun. Dia tak sanggup menahan<br />

air mata saat melepas seorang kerabatnya.<br />

●●●<br />

Tak perlu menunggu lama setelah perundingan<br />

damai antara pemerintah Ukraina dan<br />

kelompok separatis pro-Rusia di Kota Minsk,<br />

Belarus, menemui jalan buntu, senapan dan<br />

mortir langsung menyalak galak di medan<br />

tempur di Ukraina timur.<br />

Milisi separatis pro-Rusia menghujani pasukan<br />

Ukraina di Yenakieve dan Vuhlegirsk dengan<br />

tembakan artileri. Kedua kota itu menempati<br />

posisi strategis sebagai akses utama menuju<br />

Debalteve, kota yang menjadi penghubung<br />

jalur kereta ke Ukraina timur. Puluhan prajurit<br />

Ukraina gugur, demikian pula penduduk sipil.<br />

“Seperti inilah kondisinya setiap hari. Aku<br />

menyembunyikan anak kami di gudang bawah<br />

tanah. Aku ingin bertanya kepada Presiden Petro<br />

Poroshenko: Apakah kami ini warga Ukraina<br />

atau hanya target tembakan,” kata Anatoly<br />

Pomazanov, warga Yenakieve. Sepertinya hanya<br />

tinggal menghitung hari, Yenakieve bakal<br />

jatuh ke tangan milisi separatis. Jika Debalteve<br />

bisa dikuasai oleh milisi separatis, itu bakal jadi<br />

pukulan telak bagi pemerintah di Kiev. Sebab,<br />

kota itu merupakan penghubung Luhansk dan<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

KAMI TAK INGIN<br />

MENAMBAHKAN PERANG<br />

DI ATAS PERANG.”<br />

Donetsk, dua wilayah yang dikuasai separatis,<br />

dengan Rusia.<br />

Pemerintah Kiev menuduh, pasokan senjata<br />

dan suntikan tentara dari Rusia membuat pasukan<br />

separatis mendadak sangat perkasa. “Kami<br />

menyaksikan serangan besar-besaran gabungan<br />

milisi separatis dan tentara Rusia,” kata Oleksandr<br />

Turchynov, Ketua Dewan Keamanan dan Pertahanan<br />

Ukraina. Seperti biasa, Menteri Luar Negeri<br />

Rusia Sergei Lavrov membantah tudingan bahwa<br />

ada tangan Kremlin di balik milisi<br />

pro-Rusia.<br />

Dengan sokongan Rusia,<br />

milisi separatis melibas pasukan<br />

Ukraina yang hampir<br />

kalah segalanya. Kalah pengalaman dan kalah<br />

persenjataan. “Mereka terus menembaki kami<br />

dengan roket Grad atau apa pun yang mereka<br />

punya,” kata Alexander Verushkin, prajurit Ukraina.<br />

Dia tak sanggup banyak bergerak setelah<br />

kakinya terluka terkena serpihan mortir. Menurut<br />

Verushkin, mereka kewalahan menghadapi<br />

serangan milisi pro-Rusia. “Kami butuh suku<br />

cadang. Kendaraan perang kami rusak. Beri<br />

kami alatnya, maka kami akan menang.”<br />

Pavlo Klimkin, Menteri Luar Negeri Ukraina,<br />

mendesak negara-negara sekutunya di Eropa<br />

dan Amerika Serikat menyuntikkan tambahan<br />

bantuan militer untuk menghadang laju kelompok<br />

separatis.<br />

“Ini bukan soal membeli tank-tank baru,<br />

melainkan peralatan dan logistik yang lebih<br />

modern,” kata Klimkin. Perkakas itu diperlukan<br />

tentara Ukraina untuk mencegah supaya komunikasi<br />

mereka di medan perang tak disadap<br />

oleh Rusia dan milisi pro-Kremlin. “Kami tak<br />

mungkin menang perang melawan Rusia...<br />

tapi untuk mempertahankan Ukraina, kami tak<br />

boleh kalah perang.”<br />

Pemerintah Prancis sudah tegas menolak<br />

mengirimkan senjata mematikan untuk Kiev.<br />

“Kami tak ingin menambahkan perang di atas<br />

perang,” ujar seorang diplomat Prancis. Jean<br />

Yves Le Drian, Menteri Pertahanan Prancis,<br />

mengatakan sanksi politik dan ekonomi masih<br />

merupakan jalan terbaik untuk menekan Rusia.<br />

Di Washington, DC, suara pemerintah Amerika<br />

masih simpang-siur. “Kami masih berpikir<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

Batalion Santa<br />

Maria yang baru<br />

saja dibentuk oleh<br />

Kementerian Dalam<br />

Negeri Ukraina berbaris<br />

di depan Katedral Saint<br />

Sophia, Kiev, Selasa<br />

(3/2).<br />

VALENTUN OGIRENKO/REUTERS<br />

bahwa jalan terbaik untuk mempengaruhi<br />

kalkulus Moskow adalah sanksi ekonomi yang<br />

menusuk dalam ke jantung perekonomian<br />

mereka,” ujar Ben Rhodes, Wakil Penasihat<br />

Keamanan di Gedung Putih. Dia tak yakin pasokan<br />

senjata ke Ukraina bisa menyelesaikan<br />

persoalan pelik di negara itu.<br />

Gedung Putih belum mengambil keputusan<br />

soal pengiriman senjata mematikan ke Ukraina.<br />

Namun sikap Ashton Carter, calon Menteri Pertahanan<br />

Amerika, berseberangan dengan Ben<br />

Rhodes. “Aku condong setuju untuk mengirimkan<br />

senjata, termasuk senjata mematikan,” kata Ashton.<br />

Melihat gelagatnya, sepertinya pemerintah<br />

di Kiev harus siap berperang dengan senjata seadanya.<br />

■ SAPTO PRADITYO | REUTERS | BBC | GUARDIAN | CNN<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

SUPERJENDERAL<br />

DARI TEHERAN<br />

“DIA JAUH LEBIH BERANI DARI PARA KOMANDAN PASUKAN IRAK...<br />

JENDERAL QASSEM ADALAH KOMANDAN TERBAIK DI DUNIA.”<br />

FOTO: KERMAN<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

BUSINESSINSIDER<br />

BAGI Jenderal (Purnawirawan) John<br />

M. “Jack” Keane, Qassem Suleimani<br />

bak duri yang harus segera dicabut.<br />

Di depan anggota Subkomite Antiterorisme<br />

dan Intelijen DPR Amerika Serikat tiga<br />

tahun lalu, mantan Wakil Kepala Staf Angkatan<br />

Darat Amerika itu menyarankan supaya pemerintah<br />

Amerika tak ragu untuk membunuh<br />

Mayor Jenderal Qassem, Komandan Pasukan<br />

Quds di kesatuan Garda Revolusi Iran.<br />

“Mengapa kita membiarkan komandan Pasukan<br />

Quds yang merancang operasi pembunuhan<br />

warga Amerika selama 30 tahun bebas<br />

ke mana-mana Mengapa kita tak membunuh<br />

dia Kita telah membunuh para pemimpin<br />

organisasi tero ris yang melawan kepentingan<br />

Amerika. Orang ini telah membunuh ribuan<br />

warga Amerika, tapi mengapa kita tak membunuh<br />

dia” kata Jenderal Jack Keane kala itu.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

Bukan cuma Jenderal Keane yang sepakat<br />

dengan ide untuk menamatkan hidup Jenderal<br />

Qassem. Reuel Marc Gerecht, mantan agen<br />

Dinas Intelijen Amerika (CIA), juga menyokong<br />

proposal Jenderal Keane. Supaya “pesan”<br />

mereka mendapat perhatian serius penguasa<br />

QASSEM SULEIMANI MERUPAKAN SALAH<br />

SATU OPERATOR MILITER PALING BERKUASA<br />

DI TIMUR TENGAH SAAT INI.”<br />

di Teheran, ibu kota Iran, menurut Gerecht,<br />

mereka tak bisa mengirimkan “pesan” biasabiasa<br />

saja.<br />

“Aku pikir kalian tak bisa mengintimidasi<br />

dan mendapatkan perhatian mereka, kecuali<br />

kalian menembak seseorang.... Jika kalian pikir<br />

Garda Revolusi yang bertanggung jawab,<br />

kalian harus mengejar Qassem Suleimani. Dia<br />

sering bepergian, tangkap atau bunuh dia,”<br />

kata Mister Gerecht.<br />

Posturnya tak seberapa tinggi, hanya 167<br />

sentimeter. Namun reputasi Jenderal Qassem<br />

mengalir sampai jauh. “Qassem Suleimani<br />

merupakan salah satu operator militer paling<br />

berkuasa di Timur Tengah saat ini.... Dan sangat<br />

sedikit orang yang kenal dengannya,”<br />

kata John Maguire, mantan intel CIA di Irak.<br />

Dalam pelbagai kesempatan di sejumlah acara,<br />

Jenderal Qassem sangat jarang menonjolkan<br />

diri. Dia juga sangat irit dalam bersuara.<br />

“Biasanya dia datang, mengambil tempat<br />

duduk di pojok, dan diam. Tak bicara, tak berkomentar,<br />

hanya duduk dan menyimak,” ujar<br />

seorang pejabat keamanan senior di Bagdad.<br />

Tapi jejak Jenderal Qassem ada di mana-mana.<br />

Dia ada di Damaskus, dia muncul di Bagdad<br />

dan Amerli, jejaknya tercium di Sana’a, Yaman,<br />

dan dia juga tampak saat pemakaman petinggi<br />

Hizbullah di Libanon yang menjadi korban<br />

serangan Israel beberapa pekan lalu.<br />

Bagi Amerika, Jenderal Qassem adalah lawan<br />

berat, tapi sekaligus juga kawan. Entah berapa<br />

banyak tentara Amerika di Irak yang mati<br />

dibunuh milisi Syiah yang disokong Pasukan<br />

Quds. Tapi mereka juga pernah bersama-sama<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

NYPOST<br />

bertempur melawan Taliban di Afganistan.<br />

Ryan Crocker, mantan diplomat senior<br />

Amerika, menuturkan dia bertemu dengan<br />

utusan Jenderal Qassem alias Haji Qassem di<br />

Jenewa pada akhir 2001. Dua pihak dari dua<br />

kubu yang biasa bermusuhan itu bertemu untuk<br />

membicarakan kerja sama bagaimana melawan<br />

musuh bersama mereka, yakni Taliban.<br />

Dan kini mau tak mau Amerika juga terpaksa<br />

berkawan lagi dengan Jenderal Qassem demi<br />

menumpas milisi Negara Islam alias ISIS.<br />

“Jenderal Qassem seorang komandan yang<br />

pragmatis.... Dia siap bekerja sama dengan<br />

negara Barat jika hal itu menguntungkan bagi<br />

kepentingan Iran,” kata Hossein Mousavian,<br />

analis Timur Tengah di Universitas Princeton.<br />

●●●<br />

“Dia tak punya bos militer, juga tak punya<br />

patron politik,” Reuel Marc Gerecht, mantan<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

agen Dinas Intelijen Amerika, menunjuk sosok<br />

Jenderal Qassem Suleimani. Jenderal Qassem<br />

hanya tunduk kepada satu orang: pemimpin<br />

spiritual dan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah<br />

Ali Hosseini Khamenei.<br />

Dengan restu dari Ali Khamenei, Jenderal<br />

Qassem dan pasukan elite Quds menjadi lengan<br />

Teheran melebarkan pengaruhnya di Irak,<br />

Libanon, Suriah, dan Yaman. Pasukan Quds,<br />

yang berkekuatan sekitar 20 ribu prajurit, juga<br />

KAMI TAK MENINGGALKAN TEMAN KAMI....<br />

KAMI AKAN MENYOKONG SURIAH SAMPAI<br />

AKHIR.<br />

menjadi tulang punggung operasi intelijen Iran<br />

di pelbagai negara di dunia.<br />

Saat posisi sekutu utama mereka di Timur<br />

Tengah, Presiden Suriah Bashar al-Assad, semakin<br />

terpojok oleh serangan milisi dari pelbagai<br />

kelompok dua tahun lalu, Jenderal Qassem<br />

dan Pasukan Quds bersama milisi Hizbullah<br />

bahu-membahu mempertahankan Damaskus.<br />

Teheran khawatir, jika mereka kehilangan Assad,<br />

mereka bakal kehilangan pangkalan untuk<br />

menghadapi kemungkinan serangan Israel.<br />

“Jika kita sampai kehilangan Suriah, kita<br />

bakal sulit mempertahankan Teheran,” kata<br />

seorang ulama Iran. Tak mengherankan jika<br />

Teheran habis-habisan membela Assad. Jenderal<br />

Qassem terbang ke Irbil di Kurdistan untuk<br />

meminta izin pemimpin Kurdi supaya mereka<br />

boleh memakai wilayah itu sebagai jalur pasokan<br />

senjata ke Suriah.<br />

Bagi Jenderal Qassem, menyelamatkan<br />

Assad sudah menjadi misi pribadi. Dia punya<br />

markas sendiri di Damaskus, tempat dia<br />

memantau operasi ribuan prajurit Quds dan<br />

milisi Hizbullah. “Kami tak seperti Amerika.<br />

Kami tak meninggalkan teman kami.... Kami<br />

akan menyokong Suriah sampai akhir,” Jenderal<br />

Qassem memberi jaminan kala itu. Setelah<br />

merebut Kota Qusayr, satu demi satu pasukan<br />

Assad kembali merebut wilayah Suriah dari<br />

tangan milisi.<br />

Ketika Kota Mosul dan sejumlah kota di<br />

wilayah utara Irak jatuh direbut milisi Negara<br />

Islam alias ISIS beberapa bulan lalu, hanya<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

RUJHAAN<br />

dalam hitungan jam Jenderal Qassem sudah<br />

mendarat di Bagdad. Ketika tentara Irak<br />

tunggang-langgang kabur dihajar prajurit ISIS,<br />

milisi Syiah menjadi tulang punggung pasukan<br />

yang menghadang laju mereka menuju Bagdad.<br />

Milisi Syiah di Irak, seperti Brigade Badr<br />

dan Asaib ahl al-Haq, terbukti lebih efektif<br />

menghadang laju milisi ISIS. “Mereka punya<br />

pengalaman panjang bertempur melawan<br />

tentara Amerika,” kata Safa Hussein al-Sheikh,<br />

Wakil Ketua Penasihat Keamanan Irak.<br />

Namun setoran dana dan pasokan senjata<br />

dari Teheran serta kiriman prajurit dari kesatuan<br />

elite Pasukan Quds-lah yang menyuntikkan<br />

darah segar ke Bagdad. Teheran mengirimkan<br />

bertumpuk-tumpuk rupa-rupa jenis senjata.<br />

Mantan seteru lama Irak itu juga mengizinkan<br />

lima pesawat Sukhoi Su-25, yang sempat ditahan<br />

di Teheran, pulang ke Bagdad.<br />

Tak aneh jika Jenderal Qassem dipuja-puji<br />

seperti pahla wan. “Siapa yang datang ke sini<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

NYPOST<br />

untuk menyelamatkan kami saat Kota Mosul<br />

jatuh Jelas bukan tentara Amerika,” kata<br />

Mowaffak al-Rubaie, mantan anggota Dewan<br />

Keamanan Irak. “Amerika hanya mengirimkan<br />

serangan udara beberapa bu lan kemudian.<br />

Sedangkan bantuan Iran sudah tiba di Bagdad<br />

dan Irbil tiga hari setelah Mosul jatuh.”<br />

Jenderal Qassem terjun langsung memimpin<br />

operasi serangan balik untuk memukul mundur<br />

milisi ISIS. Beberapa bulan lalu, beredar<br />

foto Jenderal Qassem bersama milisi Syiah<br />

dan tentara Irak di garis depan pertempuran.<br />

“Dia jauh lebih berani dari para komandan<br />

pasukan Irak.... Jenderal Qassem adalah komandan<br />

terbaik di dunia,” seorang komandan<br />

milisi Syiah menyanjung Jenderal Qassem.<br />

“Dia mengatakan kepada kami bahwa kematian<br />

merupakan permulaan hidup, bukan akhir<br />

hidup.” n SAPTO PRADITYO | NEW YORKER | GUARDIAN | REUTERS |<br />

BBC | AL-MONITOR | CSM<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

ADA UANG,<br />

ADA DARAH<br />

“TIGA RIBU RUPEE PER DONOR....<br />

AKU AKAN ATUR SEMUA.”<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

MIRROR<br />

SEPULUH tahun lalu, hidup Hari Kamat<br />

sedang menukik menuju dasar<br />

jurang. Sudah hampir setahun tukang<br />

cat itu kesulitan mendapatkan<br />

pekerjaan. Hari memutuskan mengadu nasib<br />

dan meninggalkan desanya di Negara Bagian<br />

Bihar, India.<br />

Merantau tak tentu arah, Hari terdampar di<br />

Gorakhpur, kota di perbatasan India dengan<br />

Nepal. Begitu ia turun dari bus, sudah ada orang<br />

yang menawarinya pekerjaan. Namun, dua bulan<br />

kemudian, sang majikan memecatnya tanpa<br />

alasan. “Tak usah khawatir, ada pekerjaan<br />

lain yang lebih bagus,” seorang temannya di<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

BAHKAN AKU PERNAH MELIHAT<br />

PASIEN YANG MENERIMA<br />

TRANSFUSI DARAH LANGSUNG<br />

DARI DONOR.”<br />

Gorakhpur menghibur Hari.<br />

Pekerjaannya gampang, tak perlu memeras<br />

otak dan keringat, dengan pendapatan lumayan.<br />

Hari juga tak perlu melewati ujian masuk<br />

yang berbelit, cukup tes darah saja. Gampang<br />

sekali, bukan Hasil tes darah tak ada masalah.<br />

Hari bisa langsung “bekerja”. Kerja yang dimaksud<br />

temannya itu memang tak perlu banyak<br />

berkeringat. Dia hanya<br />

perlu merelakan<br />

darahnya disedot.<br />

Majikan barunya<br />

menjanjikan dia bakal<br />

menerima upah 500-<br />

1.000 rupee atau sekitar<br />

Rp 100-200 ribu<br />

untuk setiap kantong<br />

darah yang disedot<br />

dari tubuhnya. Hari<br />

tak sadar, dia telah terjerumus dalam jaringan<br />

“mafia” penyedot darah. Bersama 16 orang lainnya—mereka<br />

laki-laki berumur 25 tahun hingga<br />

40 tahun—Hari disekap di sebuah rumah di<br />

Shahpur, tak jauh dari Gorakhpur.<br />

Mereka diperlakukan seperti sapi perah.<br />

Bedanya, bukan susu yang diperah dari tubuh<br />

mereka, melainkan darah. Dua kali setiap pekan,<br />

anggota jaringan penjual darah itu menyedot<br />

darah Hari dan teman-temannya. Padahal,<br />

menurut panduan Badan Kesehatan Dunia<br />

(WHO), setiap orang hanya boleh mendonorkan<br />

darah paling cepat tiga bulan sekali.<br />

Akibatnya gampang ditebak. Setelah hampir<br />

dua setengah tahun jadi “sapi perah”, berat<br />

badan mereka anjlok dan bisa dibilang darah<br />

mereka hampir kering. Ketika polisi datang<br />

menggerebek kompleks itu pada April 2008,<br />

Hari dan teman-temannya tergolek tak berdaya<br />

di atas kasur. Bahkan untuk bangun pun<br />

mereka tak sanggup. Hemoglobin mereka,<br />

menurut hasil pemeriksaan rumah sakit, hanya<br />

4 miligram per 100 mililiter. Jauh di bawah<br />

rata-rata laki-laki dewasa yang sehat. Menurut<br />

dokter, mereka sudah ada di tepi maut. “Kalian<br />

bisa menekan kulit mereka dan posisinya tak<br />

akan pulih kembali, hampir menyerupai tanah<br />

lempung,” kata B.K. Shuman, dokter di Shahpur.<br />

Dengan jumlah penduduk 1,2 miliar jiwa,<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

BORGENMAGAZINE<br />

menurut standar WHO, paling tidak India mestinya<br />

punya stok darah 12 juta unit per tahun.<br />

Tapi, pada prakteknya, rata-rata stok darah India<br />

hanya berkisar 9 juta unit. Celah inilah yang<br />

membuka peluang di pasar gelap. Walaupun<br />

Mahkamah Agung India sudah melarang donor<br />

“profesional” alias berbayar sejak 1996, di<br />

bawah tangan, praktek jual-beli darah ini jalan<br />

terus.<br />

Calo-calo penjual darah ini gampang sekali<br />

ditemui di rumah-rumah sakit di India. “Tiga<br />

ribu rupee per donor.... Aku akan atur semua,”<br />

kata Rajesh, seorang calo penjual darah di rumah<br />

sakit New Delhi, kepada wartawan BBC,<br />

beberapa pekan lalu.<br />

Praktek jual-beli darah ini bukan cuma membuat<br />

pasien dan keluarganya kesulitan mencari<br />

darah murah, tapi juga membuat bank darah<br />

susah mendapatkan donor sukarela. Sebagian<br />

warga India yang berasal dari kasta tinggi juga<br />

tak rela darahnya bercampur dengan warga<br />

dari kasta yang lebih rendah.<br />

Sejak 1996, pemerintah India menerapkan<br />

sistem “donor pengganti”. Tujuannya untuk<br />

mendorong donor sukarela. Setiap pasien yang<br />

membutuhkan darah dari rumah sakit diminta<br />

mencari penggantinya dari kerabat atau temantemannya.<br />

Tapi sistem ini sulit diterapkan, terutama<br />

pada pasien yang membutuhkan donor<br />

darah berulang kali.<br />

“Tak sedikit pasien yang berasal dari tempat<br />

jauh. Mereka pasti kesulitan mencari kerabat<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

AKU BENAR-BENAR MARAH. TEGA-<br />

TEGANYA MEREKA MEMBUAT<br />

ANAKKU TAMBAH SAKIT.”<br />

atau teman yang bersedia mendonorkan<br />

darah,” kata Asha Bazaz, Direktur Teknik Bank<br />

Darah Rotary.<br />

●●●<br />

Di pasar gelap darah di India, pasien dan<br />

keluarganya hampir selalu menjadi korban.<br />

Bukan cuma mereka harus membayar ongkos<br />

berobat yang jauh lebih<br />

mahal, tak jarang sang<br />

pasien harus “membayar”<br />

dengan nyawanya.<br />

Namanya pasar gelap,<br />

jangan harap proses donor dan transfusi darah<br />

dilakukan dengan prosedur semestinya. Uji penyakit<br />

yang bisa menular lewat darah Lupakan<br />

saja. “Bahkan aku pernah melihat pasien<br />

yang menerima transfusi darah langsung dari<br />

donor,” kata Dr J.S. Arora, Sekretaris Jenderal<br />

Masyarakat Nasional Thalassemia India.<br />

Alok Kumar baru saja berumur 8 tahun. Sejak<br />

kecil, bocah itu menyandang penyakit kelainan<br />

darah talasemia. Untuk menyambung hidupnya,<br />

setiap bulan dia butuh transfusi darah.<br />

Gara-gara proses donor dan tranfusi darah<br />

yang dilakukan serampangan, bocah itu tertular<br />

penyakit hepatitis C. Tanpa pengobatan<br />

yang memadai, penyakit itu bisa berkembang<br />

menjadi sirosis hati atau kanker hati.<br />

“Padahal kami sudah sangat menderita....<br />

Aku benar-benar marah. Tega-teganya mereka<br />

membuat anakku tambah sakit,” kata Kishore<br />

Umar, sang ayah, menahan geram tanpa daya.<br />

Ya, tanpa hepatitis C pun hidup keluarga Kumar<br />

sudah sangat sulit. Penghasilan Kishore setiap<br />

bulan hanya sekitar Rp 1,5 juta.<br />

Orang-orang seperti Alok Kumar ini sangat<br />

rentan tertular penyakit lewat transfusi darah.<br />

Keluarganya tak akan sanggup membayar<br />

ongkos uji penyakit sebelum darah disuntikkan<br />

ke tubuhnya. Di sebuah rumah sakit swasta di<br />

India, ongkos untuk uji laboratorium itu sekitar<br />

Rp 750 ribu.<br />

“Jika kalian bagian dari keluarga kelas menengah-atas<br />

India, mungkin kalian mampu membayarnya.<br />

Tapi sebagian besar warga India tak<br />

seberuntung itu,” kata Neha Dixit, wartawan<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

HUFFINGTONPOST<br />

majalah Tehelka. Neha pernah menelusuri<br />

liku-liku pasar gelap darah di India. J.S. Arora<br />

memperkirakan sekitar 8 persen pasien talasemia<br />

terinfeksi virus, seperti HIV dan hepatitis,<br />

lewat transfusi darah. ■<br />

SAPTO PRADITYO | BBC | WIRED | INDIA TODAY | TEHELKA<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


ANANDA<br />

SUKARLAN<br />

BREAK PIPIS<br />

DONNA HARUN<br />

DIGODA<br />

ABG<br />

MARTINA HINGIS<br />

AKHIRNYA<br />

GRAND SLAM<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


PEOPLE<br />

DONNA HARUN<br />

DOK. DETIKHOT<br />

ASIH terlihat muda dan<br />

cantik. Itulah Donna Harun.<br />

Pada usianya yang<br />

sudah menginjak 47<br />

tahun, nenek satu cucu ini masih sering digoda<br />

anak baru gede alias ABG.<br />

Namun ibunda Ricky Harun ini tak menganggap<br />

godaan itu sebagai sesuatu yang negatif. Dia<br />

justru menerimanya sebagai sebuah apresiasi.<br />

“Apresiasi saja, enjoy moment saja. Di luar negatif<br />

atau positif, aku bersyukur diberi kesehatan,”<br />

ujar mantan model kelahiran 21 Februari 1968 ini<br />

di Jakarta beberapa waktu lalu.<br />

Penampilan Donna memang menipu mata.<br />

Banyak orang takjub melihat Donna yang masih<br />

terlihat muda. Namun dia malah tak merasa<br />

awet muda.<br />

“Jangan salah, aku nikah muda, punya anaknya<br />

cepat, jadi punya cucunya juga cepat. Aku bukan<br />

awet muda, tapi kawin muda,” ujarnya tertawa.<br />

Ah, Mbak Donna bisa saja. n KEN YUNITA<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


PEOPLE<br />

MARTINA HINGIS<br />

GUSTAVO CABALLERO/GETTY IMAGES<br />

ARTINA Hingis akhirnya<br />

“kembali”. Petenis asal Swiss ini<br />

meraih gelar juara grand slam<br />

pertamanya di Australia Terbuka<br />

2015 setelah merebutnya<br />

sembilan tahun lalu.<br />

Hingis merebut gelar juara di nomor ganda campuran<br />

bersama Leander Paes, petenis asal India. Pasangan<br />

itu menang dua set langsung atas Kristina Mladenovic<br />

dan Nestor, 6-4 dan 6-3.<br />

“Siapa yang menyangka, ini lebih dari yang bisa saya<br />

mimpikan,” ujarnya seperti dilansir BBC.<br />

Hingis memutuskan pensiun dari dunia tenis pada<br />

2002 saat usianya baru 22 tahun akibat cedera pergelangan<br />

kaki yang tak kunjung sembuh.<br />

Pada 2006, Hingis kembali dan berhasil meraih gelar<br />

juara grand slam di kejuaraan Australia Terbuka untuk<br />

nomor ganda campuran. Namun, setahun kemudian,<br />

dia harus gantung raket kembali.<br />

Hingis terbukti menggunakan kokain saat mengikuti<br />

Wimbledon Terbuka. Namun kariernya ternyata belum<br />

tamat. Perempuan kelahiran 30 September 1980 ini<br />

kembali ke lapangan pada Juli 2013.<br />

Di nomor tunggal, Hingis punya tiga gelar juara Australia<br />

Terbuka, yang dia raih pada 1997, 1998, dan 1999.<br />

Dia telah mengumpulkan total lima trofi grand slam<br />

dari berbagai turnamen dunia. n KEN YUNITA<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


PEOPLE<br />

ANANDA SUKARLAN<br />

DOK. PRIBADI<br />

EDANG tampil di atas<br />

panggung dan kebelet<br />

pipis Pasti tak enak.<br />

Serbasalah. Itulah<br />

yang dialami Ananda<br />

Sukarlan, pianis andal Indonesia.<br />

Saking tak bisa menahan hasrat ke kamar<br />

kecil, Ananda terpaksa minta time out. “Sedikit<br />

intermezo, ini kita ada break Oh, enggak,<br />

ya Soalnya, saya kebelet pipis banget,” ujarnya.<br />

Penonton pergelaran bertajuk “Rapsodia<br />

Indonesia” di Bentara Budaya Jakarta pun<br />

langsung terbahak-bahak mendengar ungkapan<br />

blak-blakan pria kelahiran 10 Juni 1968<br />

ini.<br />

Tanpa menunggu diiyakan, pria berkacamata<br />

ini langsung ngacir ke belakang panggung.<br />

“Insiden” kebelet pipis saat manggung<br />

ternyata bukan pertama kalinya dialami<br />

Ananda.<br />

Sebelumnya, pria yang gemar berpenampilan<br />

kasual ini juga izin pipis saat mengisi<br />

acara di televisi. Hal itu diungkapkan lewat<br />

akun Twitter-nya, @anandasukarlan, dua<br />

tahun silam.<br />

Ananda dikenal sebagai pianis yang sudah<br />

mendunia. Dia adalah salah satu dari sedikit<br />

pianis yang mampu dan sukses memainkan<br />

karya kolosal dengan virtuositas tinggi di<br />

beberapa negara di Eropa. n KEN YUNITA<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

TEATER<br />

FOTO: AGUNG/DETIKFOTO<br />

INTERPRETASI YANG TERBUKA<br />

MEMBUAT PEMENTASAN INI<br />

SEGAR. LAGU-LAGU ISMAIL<br />

MARZUKI PUN MENEMUKAN<br />

KEBARUANNYA.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

TEATER<br />

G<br />

ELORA<br />

api<br />

merdeka sedang<br />

menyala di dada<br />

tiap pemuda.<br />

Sentimen keindonesiaan<br />

bergaung<br />

di manamana.<br />

Di masa<br />

itulah Aryati (Cantika Abigail) bertanya-tanya<br />

tentang kekasihnya, Kopral Jono. Sudah lama<br />

Jono meninggalkan Yogyakarta serta Aryati,<br />

pergi berperang melawan Jepang, dan kini tak<br />

ada kabar beritanya.<br />

Di tengah rusuh hati, Aryati mendapat surat<br />

dari Jono, mengabarkan tengah berada di<br />

pinggir Jakarta hingga waktu yang tak ditentukan.<br />

Timbul keinginannya menyusul Jono.<br />

Namun Aryati, yang tak pernah pergi keluar<br />

dari kota kelahirannya, disergap panik, bagaimana<br />

cara bisa sampai ke Jakarta. Dia pun<br />

bertanya kepada penonton, “Dari Yogya ke<br />

Jakarta naik apa, ya”<br />

“Becaaak.” “Sepedaaaa.” “Keretaaa.” “Delmaaan.”<br />

Semua jawaban itulah yang diberikan<br />

penonton secara serempak.<br />

Inilah khasnya drama musikal interaktif<br />

yang disuguhkan Threebute, yakni melibatkan<br />

penonton. Sashi Gandarum bertindak sebagai<br />

pengarah kreatif. Selain tanya-jawab dengan<br />

pemain, penonton kebagian tugas membacakan<br />

surat-surat lain dari Jono dan Aryati.<br />

Caranya, surat diestafetkan saat sebuah<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

TEATER<br />

lagu dimainkan. Begitu lagu usai, surat pun<br />

berhenti berpindah tangan, dan orang terakhir<br />

yang memegang surat bertugas membacakan<br />

isinya. Seru juga.<br />

4 Wanita: Surat-surat Aryati dipentaskan<br />

di auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta,<br />

Sabtu, 31 Januari 2015, dalam durasi satu<br />

setengah jam. Penonton penuh, bahkan ada<br />

sekitar 10 orang masuk daftar tunggu. Lagulagu<br />

ciptaan Ismail Marzuki dijadikan “rambu”<br />

cerita dan semacam pengantar tiap adegan,<br />

di antaranya Rayuan Pulau Kelapa, Aryati,<br />

Selendang Sutra, Sepasang Mata Bola, Sabda<br />

Alam, Juwita Malam, dan Kopral Jono.<br />

Aryati tiba di stasiun di Jakarta tanpa tahu<br />

ke mana harus pergi. Dia beristirahat dulu,<br />

minum jamu. Si penjual jamu (Monita Tahalea),<br />

yang ternyata juga pernah kenal Jono,<br />

menyarankan Aryati pergi ke rawa-rawa yang<br />

letaknya di pinggir Jakarta.<br />

Kehadiran orang asing mengusik Gadis<br />

Rawa (Yura Yunita), penguasa rawa yang centil<br />

dan selalu gembira. Gadis Rawa membenarkan,<br />

Jono dulu pernah ke situ, tapi sekarang<br />

kabarnya dia berada di rumah Madam Dira di<br />

kawasan Kota, Jakarta.<br />

Mbok penjual jamu dan Gadis Rawa pun<br />

mengantar Aryati ke rumah Madam Dira<br />

(Dira Sugandi), yang ramai pada malam hari<br />

dan berisi perempuan-perempuan muda<br />

berdandan menor. Walau Madam Dira mem-<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

TEATER<br />

benarkan ada Jono di rumahnya, penentunya<br />

ada di penonton.<br />

Di antara katalog pertunjukan, yang masingmasing<br />

dipegang penonton, ada satu yang<br />

bertanda cap bibir. Pemegang katalog bercap<br />

bibir itulah Jono yang dicari.<br />

Surat-surat Aryati pernah dipentaskan juga<br />

pada April 2014 tapi tidak sepenuhnya sama<br />

dengan yang sekarang disajikan. Sementara<br />

Aryati sekarang pergi ke Jakarta, Aryati yang<br />

dulu pergi ke Surakarta. Dulu tak ada lagu Juwita<br />

Malam (dinyanyikan Dira Sugandi secara<br />

memukau), melainkan Payung Fantasi.<br />

Pementasan yang dibintangi penyanyi-penyanyi<br />

muda ini ringan dan banyak celetukan<br />

lucu. Lagu-lagu Ismail Marzuki juga dibawakan<br />

para pemain dengan interpretasi masing-masing.<br />

Naskah yang ditulis Aprishi Allita itu sebenarnya<br />

serius, tapi Sashi membebaskan pemain<br />

untuk berimprovisasi. Itu sebabnya Sashi<br />

menolak disebut sebagai sutradara, “Karena<br />

saya tidak men-direct apa pun.” Alhasil, Sashi<br />

sendiri pun dibuat tertawa-tawa kecil melihat<br />

improvisasi bebas pemain karena tak mengira<br />

bisa demikian lucunya.<br />

Contoh saja, seperti ini Monita mendeskripsikan<br />

isi bakulnya, “Ada mijon, ada obat<br />

tinggi langsing, ada obat herbal. Jamunya juga<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

TEATER<br />

ada yang kadarnya 20 persen, 40 persen, 80<br />

persen.” Atau ketika pemain sudah begitu panjang<br />

berimprovisasi, ada seruan dari bangku<br />

penonton, “Balik ke script,” yang menimbulkan<br />

tawa penonton sekaligus pemain.<br />

“Yang tadi ditampilkan itu beda lo dengan<br />

waktu latihan. Sejak reading mereka sudah<br />

bercanda,” ujar Sashi seusai pementasan.<br />

Genre drama musikal interaktif bisa dibilang<br />

tak butuh banyak penonton, sehingga<br />

ideal dengan auditorium Galeri Indonesia<br />

Kaya, yang berkapasitas 150 orang. Jika saja<br />

dipanggungkan di tempat yang lebih besar<br />

dengan penonton lebih banyak, tek-tok antara<br />

pemain dan penonton akan sulit dan<br />

keintiman hilang.<br />

Bisa bayangkan bagaimana kacaunya (atau<br />

malah garing) gedung pertunjukan besar menanggapi<br />

kalimat Aryati berikut ini:<br />

…<br />

Pengetahoeankoe tak besar<br />

Mengenai doenia loear<br />

Apa jang haroes koelakoekan<br />

Koe ingin bertemoe kembali dengan Jono<br />

Maoekah kalian membantoekoe ■<br />

SILVIA GALIKANO<br />

MAJALAH DETIK 9 -- 15 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

FILM<br />

JUPITER NAIK KE MANA<br />

KABAR DARI GALAKSI LAIN DATANG. JUPITER, SI PEMBERSIH<br />

TOILET, TERNYATA REINKARNASI RATU SEMESTA. JUPITER PANIK,<br />

PENONTON BINGUNG.<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

FILM<br />

Judul: Jupiter Ascending<br />

Genre: Action | Adventure | Fantasy<br />

Sutradara: Andy Wachowski, Lana<br />

Wachowski<br />

Skenario: Andy Wachowski, Lana<br />

Wachowski<br />

Tap untuk melihat Video<br />

Produksi: Warner Bros. Pictures<br />

Pemain: Channing Tatum, Mila<br />

Kunis, Eddie Redmayne<br />

Durai: 2 jam 5 menit<br />

PEKERJAAN sehari-hari Jupiter Jones<br />

(Mila Kunis) membersihkan rumahrumah,<br />

termasuk toilet, orang kaya<br />

di Chicago. Sehari bisa sampai empat<br />

rumah, dari pagi buta hingga petang. Dia tak<br />

mengerjakannya bersama ibu dan bibi. Ini bisnis<br />

keluarga yang dipegang sang paman.<br />

Jupiter generasi kedua imigran Rusia di Amerika.<br />

Ibu, bibi, dan pamannya berdarah Rusia<br />

dan sehari-hari masih berbahasa Rusia. Jupiter<br />

sendiri lahir di atas kapal di tengah Samudra<br />

Atlantik saat keluarga ibunya lari dari Rusia<br />

setelah ayahnya, yang astrofisikawan Amerika,<br />

mati ditembak orang tak dikenal di Rusia.<br />

MAJALAH MAJALAH DETIK 23 DETIK - 293 DESEMBER - 9 MAJALAH MARET 2013 2014<br />

DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

FILM<br />

Irama keseharian Jupiter berubah seketika<br />

setelah sekelompok alien yang menyamar jadi<br />

dokter dan paramedis menemukan DNA-nya<br />

persis sama seperti yang selama ini dicari. Jupiter<br />

hendak diculik, tapi seorang pemuda ganteng<br />

berotot, Caine (Channing Tatum), melesat<br />

masuk ruang operasi, mengalahkan para alien,<br />

dan menyelamatkan Jupiter.<br />

Caine menjelaskan dirinya sebagai tentara<br />

dari galaksi lain yang ditugasi melindungi Jupiter<br />

dari pasukan hitam yang hendak menculiknya.<br />

Dia diyakini sebagai reinkarnasi Ratu Semesta,<br />

penguasa semua galaksi, yang tewas terbunuh<br />

setelah 100 ribu tahun berkuasa. Dengan<br />

demikian, Jupiter-lah yang berhak mewarisi<br />

kekuasaan sebagai Ratu Semesta.<br />

Caine kemudian mengajak Jupiter ke galaksi<br />

lain tempat tinggal tiga anak mendiang Ratu<br />

Semesta, yakni Titus (Douglas Booth), yang<br />

kata-katanya halus tapi bermuka dua; si seksi<br />

Kalique (Tuppence Middleton), dan Balem<br />

(Eddie Redmayne), yang pemarah. Merekalah<br />

yang menugasi Caine ke bumi.<br />

Tiga bangsawan ini mengundang Jupiter<br />

untuk diberi mahkota, tapi ada rencana lain di<br />

belakangnya, yakni mengenyahkan perempuan<br />

itu sehingga kekuasaan ada pada mereka. Tiga<br />

bersaudara mengerahkan kemampuan masingmasing<br />

untuk mendekati Jupiter, tanpa mereka<br />

sadari ada Caine yang loyal mengawal Sang<br />

“Tuan Putri” dan menjamin keselamatannya.<br />

Bukan Wachowskis (sebutan untuk dua bersaudara<br />

Andy dan Lana Wachowski) jika tak<br />

ambisius. Sekali lagi mereka membuat teori eksistensi<br />

tentang gagasan bahwa, dalam sistem<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

FILM<br />

Film ini secara “licik”<br />

mendaur ulang atau<br />

mengisi ulang cerita<br />

utama dari masterpiece<br />

Wachowskis, The Matrix<br />

(1999).<br />

kosmis, kita pion yang bahkan lebih kecil dari<br />

yang kita bayangkan, semata-mata<br />

ternak bagi klan penguasa yang<br />

berada entah di mana.<br />

Film ini secara “licik” mendaur<br />

ulang atau mengisi ulang cerita<br />

utama dari masterpiece Wachowskis, The Matrix<br />

(1999), dengan pembukaan yang mengingatkan<br />

kita pada The Terminator (1984) dan<br />

beberapa kostum serta tata rambutnya diambil<br />

dari Galaxy Quest (1999). Kali ini, daun telinga<br />

prostetiknya ajaib.<br />

Mila Kunis, yang bola mata bulatnya mempesona,<br />

mampu mempertahankan ketenangannya<br />

tanpa kesulitan. Channing<br />

Tatum kembali lagi ke peran<br />

he-man, yang menjual otot dan<br />

ketampanan, padahal dari Foxcatcher<br />

(2015) kita tahu Tatum bisa berakting.<br />

Justru Eddie Redmayne, yang bukan<br />

bintang utama, yang menyedot perhatian<br />

lewat aktingnya sebagai Lord Balem, penguasa<br />

jahat antargalaksi berwajah murung<br />

dan pucat. Dengan sedikit saja mengangkat<br />

alis atau melemparkan pandangan sinis, Redmayne<br />

menaklukkan karakternya.<br />

Selain action-nya familiar, efek khususnya<br />

kurang segar, dan plotting-nya sulit dicerna, elemen<br />

paling membingungkan adalah kehidupan<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

FILM<br />

manusia sudah ada lebih dari miliar tahun tapi<br />

mengapa masih dipimpin keluarga bangsawan<br />

bergaya Inggris yang berebut kuasa seakan<br />

abad ke-16<br />

Atau, jika bumi benar-benar koloni yang secara<br />

ekonomi dieksploitasi penguasa sehingga<br />

dapat secara instan pergi antargalaksi berbekal<br />

teknologi supercanggih, bagaimana cara kerjanya<br />

Apa akibat bagi warganya Toh, semua<br />

tampak normal-normal saja.<br />

Teknologi masa depan (maunya) ditampilkan<br />

secara masif, tapi seperti disimpan dalam bungkus<br />

dan tak tampak oleh pandangan manusia<br />

biasa yang tak kunjung paham. Adegan action<br />

final yang berpanjang-panjang hampir terjun<br />

bebas jadi adegan konyol.<br />

Roman yang secara perlahan tumbuh antara<br />

Jupiter dan penjaganya bisa sedikit menghibur<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

FILM<br />

penggemar muda Kunis dan Tatum, sementara<br />

karakter-karakter lain seperti berayun-ayun<br />

saja di udara.<br />

Efek khusus dan karya teknis Jupiter Ascending<br />

berada di tingkat kedua, di bawah Interstellar<br />

(2014), Gravity (2013), dan produksi sci-fi<br />

lain. Tak seperti The Matrix, pastinya, tak ada<br />

yang konseptual yang bisa merebut perhatian<br />

penonton, hanya melihat perempuan muda<br />

biasa yang dibawa ke kondisi luar biasa. Bagi<br />

yang berharap keajaiban Matrix berulang lagi<br />

setelah 15 tahun, oh, akan pangkat dua kecewanya.<br />

■<br />

SILVIA GALIKANO<br />

MAJALAH MAJALAH DETIK 26 DETIK JANUARI 9 - 15 - 1 FEBRUARI 2015


FILM PEKAN INI<br />

ETIKA sihir dan legenda berbenturan, satu-satunya<br />

pra jurit mistis yang tersisa (Jeff Bridges) berkelana<br />

mencari pemuda dengan kekuatan yang luar biasa, yaitu<br />

Putra Ketujuh yang terakhir, Tom Ward (Ben Barnes).<br />

Keluar dari kehidupannya yang damai, Tom ditantang<br />

untuk bertualang mengalahkan ratu penyihir jahat (Julianne Moore) dan<br />

pasukannya yang ingin menguasai dunia.<br />

JENIS FILM: ADVENTURE,<br />

FAMILY | PRODUSER:<br />

BASIL IWANYK, LIONEL<br />

WIGRAM, THOMAS<br />

TULL | PRODUKSI:<br />

UNIVERSAL PICTURES |<br />

DURASI: 102 MENIT<br />

ICK Wild (Jason Statham)<br />

adalah petarung tangguh<br />

yang memiliki masalah<br />

pribadi dengan judi.<br />

Saat seorang temannya<br />

dianiaya sekelompok preman, Nick akhirnya<br />

membantu temannya untuk membalas<br />

dendam.<br />

Namun masalah Nick menjadi besar saat<br />

belakangan diketahui salah satu preman adalah<br />

anak seorang bos mafia besar di Las Vegas.<br />

Nick kini menjadi target utama sang bos<br />

mafia. Nick pun terlibat permainan berbahaya<br />

dan sekali lagi bertaruh untuk hidupnya.<br />

JENIS FILM: BIOGRAPHY, DRAMA, THRILLER<br />

| PRODUSER: TEDDY SCHWARZMAN, NORA<br />

GROSSMAN, IDO OSTROWSKY | PRODUKSI:<br />

ELEVATION PICTURES | SUTRADARA:<br />

MORTEN TYLDUM | DURASI: 114 MENIT<br />

EKELOMPOK siswa SMA menemukan kamera tua dan menyadari ada yang aneh dari isi<br />

kamera tersebut. Isi video membawa mereka menemukan sebuah alat untuk menjelajah<br />

waktu.<br />

Saat kelompok ini mulai memanfaatkan alat tersebut untuk melintasi waktu dan bersenang-senang,<br />

mereka tak menyadari yang mereka lakukan ternyata berakibat fatal di<br />

masa depan. Kini kelompok ini berusaha memperbaiki kesalahannya sebelum dunia hancur akibat perbuatan<br />

mereka.<br />

JENIS FILM: SCI-FI,<br />

THRILLER | PRODUSER:<br />

ANDREW FORM, BRAD<br />

FULLER, MICHAEL BAY<br />

| PRODUKSI: UNIVERSAL<br />

PICTURES | SUTRADARA:<br />

DEAN ISRAELITE |<br />

DURASI: 106 MENIT<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KATALOG<br />

NOVEL HOROR<br />

KARYA PAK POLISI<br />

HAL menarik dari novel ini sebetulnya bukan cuma jalinan ceritanya<br />

yang terinspirasi dari kisah nyata, tapi juga sang penulis sendiri. Pijar88<br />

adalah nama pena Hadiyanto M.S. Ia anggota kesatuan di lingkungan<br />

kepolisian. Ini adalah novel keduanya setelah 4 Tahun Tinggal di<br />

Rumah Hantu, yang tahun lalu diangkat ke layar lebar.<br />

Di novel pertama, kisah horor murni berdasarkan pengalaman pribadinya, tapi<br />

kali ini Hadiyanto mengangkat kehidupan penari sintren di Pemalang, Jawa Tengah,<br />

yang penuh mistis. Karena berasal dari daerah yang sama, tak aneh bila<br />

ia bisa bercerita sangat detail dan mendalam soal sintren. Juga soal romantika<br />

hidup dan percintaan di kampungnya.<br />

JUDUL: MISTERI BAHU SANG PENARI<br />

| PENULIS: PIJAR 88 | PENERBIT: MEDIA KITA<br />

| TERBITAN: NOVEMBER 2014 | TEBAL: 279 HALAMAN<br />

MAJALAH DETIK 29 SEPTEMBER - 5 OKTOBER 2014<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KATALOG<br />

STRAW,<br />

PADUKAN<br />

PSYCHOTHRILLER<br />

DAN SAINS-FIKSI<br />

JUDUL: STRAW | PENULIS: NOORCA M.<br />

MASSARDI | PENERBIT: KAKILANGIT<br />

KENCANA | TERBITAN: DESEMBER 2014 |<br />

TEBAL: 261 HALAMAN<br />

LEWAT novel kelimanya ini, Noorca M. Massardi mencoba<br />

menawarkan genre baru, psychothriller. Genre ini belum banyak<br />

digali penulis Indonesia. Noorca mengaku butuh waktu<br />

hingga tujuh tahun untuk meriset dan menulis novel yang<br />

mengisahkan pembunuhan misterius. Korbannya rata-rata para akademisi<br />

terkenal, dengan modus seolah berdiri sendiri-sendiri. Setidaknya<br />

tim dokter dan pakar forensik menyimpulkan kematian para korban<br />

terjadi secara wajar.<br />

Namun Banyan, wartawan sebuah<br />

penerbitan di Bali, mencurigai<br />

adanya keterkaitan pada setiap<br />

kasus tersebut. Didukung atasannya,<br />

ia melakukan investigasi ke<br />

pelbagai kota di Indonesia.<br />

Sayang, novel berbau sains-fiksi<br />

ini tak mencantumkan catatan<br />

kaki yang memungkinkan pembaca<br />

untuk mempelajari lebih jauh<br />

teori-teori yang disampaikan di dalamnya.<br />

Selain itu, deskripsi yang<br />

dibuat Noorca agak terbata-bata,<br />

sehingga mengurangi keleluasaan<br />

pembaca untuk berimajinasi.<br />

MAJALAH DETIK 29 SEPTEMBER - 5 OKTOBER 2014<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KATALOG<br />

INI adalah novel pertama karya Rayni, yang sebelumnya lebih banyak<br />

menulis cerita pendek. Seakan tak mau kalah dengan sang suami,<br />

Noorca M. Massardi, ia pun menulis novel psikologi. Bedanya, Rayni<br />

lebih mengeksplorasi kondisi kejiwaan seorang gadis yang mengalami<br />

banyak pasang-surut dalam hidupnya. Sila, tokoh utama dalam novel Langit<br />

Terbuka, adalah gadis yang berusaha bangkit kembali setelah diempas badai<br />

dalam hidup.<br />

Dia pergi ke tempat baru, berharap menemukan hati yang baik dan sebuah<br />

ketulusan. Menikmati Langit Terbuka, pembaca seolah diajak menyelami<br />

pikiran, amarah, juga kegembiraan yang dilontarkan Sila dalam kata-katanya.<br />

“Gaya bertutur Rayni mengantar tokoh Sila, anak bungsu keluarga modern,<br />

pada konflik batin yang mengarah obsesif kompulsif. Gejala psikologis inilah<br />

yang membuat Langit Terbuka memberi kejutan-kejutan tak terduga,” kata<br />

sastrawan Prasetyohadi saat membedah novel ini di Pusat Dokumentasi<br />

Sastra H.B. Jassin, Jumat, 2 Februari lalu.<br />

JUDUL: LANGIT TERBUKA | PENULIS: RAYNI N. MASSARDI |<br />

PENERBIT: KAKILANGIT KENCANA | TERBITAN: DESEMBER 2014 |<br />

TEBAL: 130 HALAMAN<br />

MAJALAH DETIK 29 SEPTEMBER - 5 OKTOBER 2014<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


KATALOG<br />

GARUDA,<br />

DARI FILM KE KOMIK<br />

JUDUL: GARUDA | PENULIS:<br />

OYASUJIWO | PENERBIT: NOURA<br />

COMIC | CETAKAN: I, DESEMBER 2014<br />

| TEBAL: 100 HALAMAN<br />

SETELAH komik Pendekar Tongkat Emas, yang mengiringi beredarnya<br />

film dengan judul yang sama pada Desember tahun lalu, giliran komik<br />

Garuda terbitan Noura Books yang beredar di pasaran. Komik karya<br />

Oyasujiwo ini mengiringi film Garuda, yang dirilis 8 Januari lalu. Tapi<br />

isi cerita di komik tak seutuh dalam film. Komik ini hanya mengambil salah satu<br />

fragmen adegan dari film Garuda tanpa membocorkan isi filmnya.<br />

Karena target pembacanya anak-anak, cerita dalam komik dikemas dengan<br />

ringan khas gaya khas keseharian anak sekolah, seperti bagaimana anak-anak<br />

sekolah menyelamatkan diri saat terjadi suatu serangan dengan peralatan<br />

seadanya. Pesan moral yang hendak disampaikan adalah setiap orang sebetulnya<br />

berpotensi menjadi pahlawan di bidang masing-masing.<br />

Kisah anak-anak bahu-membahu melawan serangan makhluk asing dengan<br />

peralatan yang ada menumbuhkan semangat kebersamaan. Juga memberi keyakinan<br />

bahwa setiap orang bisa menjadi pahlawan. Walau ada sosok superhero,<br />

Garuda, mereka tak bergantung padanya saat melawan musuh. n SUDRAJAT<br />

MAJALAH DETIK MAJALAH 29 SEPTEMBER DETIK 9 - - 155 OKTOBER FEBRUARI 2015 2014


AGENDA<br />

SALIHARA JAZZ BUZZ 2015<br />

“Yang Muda yang Ngejazz”,<br />

SABTU-MINGGU SEPANJANG FEBRUARI 2015<br />

PRESENTATION: GOD IS EVERYWHERE:<br />

REFLECTIONS ON SPIRITUAL PASSAGES<br />

THROUGH SACRED SPACES IN JAVA<br />

KAMIS, 5 FEBRUARI 2015, PUKUL 14.00 WIB, @america,<br />

Pacific Place Mall lt. 3, Jakarta<br />

PAMERAN SENIMAN PEREMPUAN NORWE-<br />

GIA: EXTENSIVE—THE OTHER SIDE<br />

Seniman: Gitte Saetre, Mona Nordaas, Ingeborg Annie<br />

Lindahl, Anne Knutsen, Kurator: Kjell-Erik Ruud, Pembukaan:<br />

SABTU, 7 FEBRUARI 2015, PUKUL 19.00 WIB,<br />

Pameran: 8-28 FEBRUARI 2015, Galeri Salihara, Terbuka<br />

untuk umum<br />

CONCERT:<br />

BEJAZZLED WITH DIRA SUGANDI<br />

SABTU, 7 FEBRUARI 2015, PUKUL 14.00 WIB, @america,<br />

Pacific Place Mall lt 3, Jakarta<br />

PAMERAN AKU DIPONEGORO:<br />

SANG PANGERAN DALAM INGATAN BANGSA<br />

5 FEBRUARI-8 MARET 2015 , Galeri Nasional, Jakarta<br />

MAJALAH DETIK 9 - 15 FEBRUARI 2015


Alamat Redaksi : Aldevco Octagon Building Lt. 4<br />

Jl. Warung Jati Barat Raya No. 75, Jakarta 12740 , Telp: 021-7941177 Fax: 021-7944472<br />

Email: redaksi@majalahdetik.com<br />

Majalah detik dipublikasikan oleh PT Agranet Multicitra Siberkom, Grup Trans Corp.<br />

@majalah_detik<br />

majalah detik

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!