13.02.2015 Views

o_19e0vpuladrs18bdabbigppjsa.pdf

You also want an ePaper? Increase the reach of your titles

YUMPU automatically turns print PDFs into web optimized ePapers that Google loves.

TAUSIAH

Ihwal “Tahlil”

-- Hazrat Mirza Ghulam Ahmad --

T

elah berulang kali kunyatakan,

janganlah kalian merasa

senang dan puas hanya

dengan mengaku sebagai muslim

dan menjadi pengikrar lafadz “lâ

ilâha illallâh”. Orang yang membaca

Qur’an Suci pasti paham benar,

bahwa Allah Ta’ala tak mungkin

berkenan dengan pengakuan-pengakuan

yang hanya terbatas pada lisan belaka.

Dalam Qur’an Suci tercantum kisah Umat

Yahudi. Mulanya mereka mendapat limpahan

anugrah dari Allah Ta’ala. Tapi, setelah nyata

benar iman mereka hanya sebatas di bibir

saja, sementara hati mereka penuh dengan kebohongan,

khianat, serta pikiran buruk terhadapNya,

maka Allah Ta’ala mendatangkan

berbagai adzab kepada mereka. Sebagian dari

mereka bahkan disebut “kera” dan “babi”.

Padahal, di tangan mereka terdapat Taurat dan

Zabur. Mereka menyatakan iman kepada kedua

Kitab Suci itu, dan kepada para Nabi pembawanya.

Akan tetapi Allah tidak mencintai

mereka, sebab iman mereka hanya tinggal di

bibir saja, sedang hatinya kosong.

Tahlil adalah intisari Qur’an Suci yang diajarkan

kepada setiap muslim. Bagi kebanyakan

orang, mungkin menghafalkan kitab-kitab

yang tebal itu sulit. Oleh sebab itu, Allah Yang

Maha Bijaksana mengajarkan kalimat yang

singkat ini. Tetapi banyak orang sesat pikir,

karena mengira bahwa hanya dengan membaca

kalimat tahlil saja sudah cukup

membuat mereka masuk sorga.

Mereka salah paham atas sabda

Nabi Suci, “barangsiapa mengucapkan

lâ ilâha illallâh, maka dia

akan masuk dalam Sorga.”

Sungguh, bukanlah demikian!

Tahlil yang sesungguhnya adalah

ketika manusia mengikrarkan “lâ

ilâha illallâh” dalam lisannya, dan membenarkan

ucapan itu dengan hatinya, dengan kesadaran

bahwa tiada sesembahan (ma’bûd), kekasih

( mahbûb), dan tujuan sejati (maqshûd), kecuali

Allah.

Apabila manusia mengikrarkan kalimat

tahlil dengan sungguh-sungguh, maka baginya

tidak mungkin ada kekasih yang mutlak kecuali

Allah, tidak ada sesembahan yang mutlak

selain Allah, dan tidak akan ada tujuan akhir

selain Allah. Dengan kata lain, selama Allah

tidak diutamakan atau diprioritaskan, selama

Allah tidak dijadikan sebagai sesembahan, selama

Allah tidak dipandang sebagai titik tujuan

kehidupannya, maka tidak mungkin manusia

dapat mencapai keselamatan.

Tahlil adalah meniadakan semua Ilâh kecuali

Allah Yang Esa. Karena itu, hendaknya

manusia menyucikan hatinya dengan mengeluarkan

semua Ilâh yang mendekam dalam

dirinya, dan hanya mengabadikan dalam hatinya

satu Ilâh semata, yakni Allah Ta’ala!***

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|1


ARTIKEL

Kecerdasan Berfikir

Yang Dilandasi Penghayatan Ketuhanan

Oleh: Fathurrachman Irshad

GAI Cabang Jakarta

Buku Rahasia Hidup, karya Khawaja

Kamaluddin, menurut kesimpulan

Moehammad Bachroen dalam pengantar

buku itu, menyeru kaum muslimin

untuk kembali menjadi “Manusia Ahli Perbuatan”

(Man of Action), dengan modal “Tenaga

Perbuatan” (Power of Action) dan “Kehendak

untuk Beramal” (Will to Action).

Ini sangat menarik. Karena, saat ini banyak

orang Islam yang menjalani hidupnya

tidak didasari sistem hidup yang benar, yang

diajarkan Islam sendiri, tetapi hanya sekedar

melampiaskan instingnya saja. Seharusnya

apa yang dilakukannya di dalam kehidupan

adalah hasil olah batin dirinya, sebagai akibat

dari pemahamannya atas ajaran Islam, yang

dilakukan secara cermat dan mendalam.

Memaknai Kehidupan

Kehidupan tidaklah seperti air mengalir,

yang terombang-ambing dan meliuk-liuk

dengan lemah gemulai ke kanan dan ke kiri,

tanpa daya setelah membentur dinding-dinding

batu. Kehidupan adalah ketetapan dan

pilihan hati. Allah tidak akan mengantarkan

kita sampai tempat tujuan. Tapi Allah memberi

petunjuk jalan mana yang seyogyanya

harus kita tempuh.

“Allah mengilhamkan dua jalan yaitu, jalan kebaikan

dan jalan keburukan.” (QS 91:8)

Artinya bahwa manusia, yang di dalam

jiwanya memiliki dua sifat, yaitu sifat mulia

dan sifat hina, memegang kendali ke arah mana

dirinya itu akan dibawa. Apakah akan dibawa

pada jalan kebaikan (kemuliaan) atau dibawa

pada jalan keburukan (kehinaan). Jadi, manusia

memiliki otoritas yang sangat bebas dan

sangat kuat untuk menentukan pilihannya.

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa,

kecuali bangsa itu sendiri yang mengubah nasibnya”

(QS 13:11)

Jadi, segala fenomena hidup seperti kegembiraan

dan kenestapaan, kesengsaraan dan

kebahagiaan, kekayaan dan kemiskinan, kemudahan

dan kesulitan itu pada dasarnya merupakan

pantulan atau tampiasan dari pada

perbuatan manusia itu sendiri.

Dalam kaitan dengan hal itu, Allah menurunkan

seperangkat petunjuk kehidupan yang

mengatur segala tingkah laku manusia, baik

sebagai makhluk sosial yang harus menjalin

hubungan baik dengan sesamanya, atau sebagai

hamba dalam kaitan dan hubungannya dengan

Sang Khalik. Petunjuk itu berupa wahyu

yang disampaikan kepada Nabi Muhammad

saw., melalui perantaraan Malaikat Jibril, yang

kemudian dikodifikasi dalam sebuah Kitab,

yakni Al-Qur’an, yang menjadi pusaka kita

semua. Petunjuk pelaksanaan teknisnya di-

2|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015


praktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh

Nabi Muhammad saw., sebagai contoh bagi

kita dalam menjalankan kehidupan yang benar.

(Lihat QS 2:2-4).

Islam mengajari manusia untuk menghayati

Tuhan Sang Pencipta, dengan metoda

penyucian hati (tazkiyatul-qalb) dan pembersihan

jiwa (tazkiyatun-nafs), sehingga sifat-sifat

yang kurang baik yang melekat pada dirinya

dapat terkikis habis. Karena itu, Islam pada

hakekatnya adalah metode yang benar dan terarah

bagi manusia untuk mengenal Tuhannya.

Kecerdasan Ilahiah

Semua manusia pasti memiliki impian,

dan berkeinginan untuk mewujudkannya.

Dan semua manusia tahu bahwa Tuhan Yang

Maha Pemurah pasti dapat membantunya mewujudkan

impian itu. Akan tetapi tidak semua

manusia tahu bagaimana cara merekayasa dan

memanfaatkan kemurahan Tuhan itu menjadi

“sesuatu” yang berdaya guna untuk mewujudkan

impiannya.

Untuk merekayasa dan memanfaatkan

Kemurahan Tuhan itu, diperlukan sebuah tenaga

atau kekuatan. Tetapi tenaga atau kekuatan

itu tidak datang begitu saja. Ia tidak jatuh

dari langit. Tenaga atau kekuatan itu bisa didapatkan

dengan suatu metode atau cara. Dan

satu-satunya cara adalah melalui kedekatannya

kepada Allah, pemilik kekuatan itu sendiri.

Islam adalah agama fitrah, artinya ajaran

yang sesuai dan selaras dengan tingkat kecerdasan

berfikir dan derajat akhlak manusia. Sehingga

manusia mampu mempelajari, mencerna,

meneliti, menelaah dan memahami serta

menjalankan ajaran Islam melalui akal dan hatinya.

Karena itu, dengan mempelajari Islam,

manusia dapat menjadi makhluk yang memiliki

kecerdasan Ilahiah.

Kecerdasan Ilahiah adalah kecerdasan berfikir

yang dilandasi oleh penghayatan manusia

atas Tuhannya. Kecerdasan ilahiah dapat menumbuhkan

keinginan dalam diri kita untuk

mempelajari lembar demi lembar Al-Qur’an,

serta mengkaji segala ketentuan yang ada di

dalamnya dengan alam pikir dan mata hati,

kemudian mengaktualisasikan petunjuk Ilahi

itu dengan mengerahkan segenap ekspresi kemanusiaan

yang dibarengi kesadaran dan ketulusan.

Dengan begitu kita tengah menjadi

Manusia Ahli Perbuatan (Man of Action).

Kecerdasan Ilahiah menumbuhkan sifat

yang spesifik pada diri manusia, yaitu sifat

refleksi diri. Adalah sifat manusia untuk berusaha

mengenali dirinya sendiri, dengan berkontemplasi,

bertafakur, merenung atau berkaca

diri, untuk menilik perbuatan yang dilakukannya

(flash back) dan mengkaji serta

menumbuhkan keinginannya untuk melakukan

aktivitas dengan benar (Will to Action),

sesuai petunjuk Al Qur’anul Karim.

Kecerdasan Ilahiah menyadarkan kita bahwa

Allah, yang memiliki segala kesempurnaan

(al-Asma al-Husna) itu, adalah sumber kekuatan

bagi kehidupan (la hawla wa la quwwata

illa billaah), sehingga hanya kepada-Nya saja

kita patut mengabdi dan memohon pertolongan

(QS 1:4).

Dengan begitu, kita akan mendapatkan kekuatan

atau tenaga penggerak (Power of Action)

guna merekayasa dan memanfaatkan kemurahan

Tuhan untuk mewujudkan segala impian

kita itu.[]

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|3


ARTIKEL

Pendidikan Umat

Melalui Shalat Jum’at

Oleh : Drs. Yatimin A.S.

GAI Cabang Yogyakarta

Sebagai orang beriman, sudah seharusnya

kita selalu berprasangka baik kepada

Allah SWT . Kita harus yakin bahwa

apa pun yang diperintahkan Allah itu pasti

penting dan bermanfaat. Sebaliknya, apa pun

yang dilarang Allah itu pasti berbahaya dan

merugikan kehidupan kita.

Salah satu hal yang diperintahkan Allah

kepada kita, selaku orang yang beriman, adalah

Shalat Jum’at. Ini berarti, Shalat Jum’at

memang penting dan mengandung manfaat

besar bagi kita. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diserukan

panggilan shalat pada hari Jumat, maka

bergegaslah kamu untuk mengingat Allah, dan

tinggalkanlah (urusan) perdagangan. Itu lebih

baik bagi kamu jika kamu mengerti. Tetapi jika

shalat telah selesai, bertebaranlah kamu di bumi,

dan carilah karunia Allah, dan ingatlah kepada

Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”

(QS 62:9-10).

Melalui wahyu tersebut, dapat kita pahami

bahwa tatkala sudah tiba waktu Shalat

Jum’at, atau terdengar seruan adzan untuk

Shalat Jum’at, sikap terbaik bagi kita pada

waktu itu adalah segera meninggalkan pekerjaan

atau aktivitas apa pun, dan bergegas menuju

ke masjid atau tempat Shalat Jum’at diselenggarakan.

Di sana kita melaksanakan

Shalat Jum’at dan mengingat Allah. Sebaliknya,

usai Shalat Jum'at kita hendaknya menyebar

kembali di muka bumi, bekerja sesuai

dengan profesi kita masing-masing atau menghadapi

serta menangani urusan apa saja untuk

mencari karunia Allah Ta’ala.

Namun perlu diingat, dalam bekerja atau

beraktivitas apapun kita dianjurkan untuk

tetap banyak ingat kepada Allah. Artinya, kita

hendaknya selalu ingat sifat-sifat Allah, kehendak

Allah, ketentuan-ketentuan Allah, perintah

dan larangan Allah, dan apa yang disukai

Allah serta apa yang dibenci olehNya.

Kita sepatutnya ingat bahwa Allah Maha-

Tahu terhadap apapun yang kita lakukan, sekalipun

orang lain tidak ada yang mengetahuinya.

Kita sebaiknya ingat bahwa Allah akan

membalas semua perbuatan kita sekecil apapun.

Tidak ada perbuatan kita yang luput dari

perhatian Allah dan tanpa terbalas. Jadi ingat

kepada Allah (dzikrullah) tidak hanya terbatas

sewaktu kita berada di masjid, tetapi di mana

pun kita berada selayaknya kita senantiasa

ingat kepada Allah. Karena ingat kepada Allah

adalah kunci untuk menggapai keselamatan,

kesuksesan, keberuntungan, dan ketentraman

hati.

Mungkin orang yang dangkal pemahaman

dan penghayatan agamanya menganggap

4|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015


ahwa Shalat Jum'at yang dilaksanakan pada

siang hari, setelah matahari tergelincir itu,

akan mengurangi produktivitas kerja dan

penghasilan. Terlebih bagi orang yang sedang

asyik bekerja, dan pekerjaan yang digelutinya

menjanjikan keuntungan materi yang besar;

dia akan merasa enggan meninggalkan pekerjaannya

untuk bergegas ke masjid menjalankan

Shalat Jum'at.

Sungguh salah anggapan ini. Menurut pernyataan

Allah, meninggalkan pekerjaan sementara

untuk menjalankan Shalat Jum'at itu

lebih baik daripada meninggalkan Shalat Jum-

'at untuk terus bekerja. Shalat Jum'at sama

sekali tidak akan mengurangi produktivitas

kerja dan penghasilan.

Sebagai ilustrasi, saya sampaikan kisah seorang

penebang pohon. Di tempat yang sama,

pada hari yang berbeda, dia bekerja selama

enam jam, mulai pukul 08.00 hingga pukul

14.00. Untuk menebang pohon, dia menggunakan

peralatan kapak. Pada hari pertama, dia

bekerja nonstop (tanpa henti). Dia tidak mau

istirahat meski hanya lima belas menit sekali

pun. Karena, dia beranggapan istirahat itu

hanya memboroskan waktu dan mengurangi

produktivitas kerja. Sedangkan dia ingin memperoleh

hasil kerja sebanyak-banyaknya.

Pada hari kedua, dia bekerja dengan sikap

yang berbeda. Selama bekerja dia beberapa

kali mengambil waktu selang selama sepuluh

hingga lima belas menit untuk istirahat, sambil

mengasah kapak, makan-minum, lalu shalat.

Setelah dihitung-hitung, ternyata hasil kerja

pada hari kedua lebih banyak daripada hasil

kerja hari pertama.

Hal ini menunjukkan bahwa mengurangi

durasi waktu kerja untuk shalat, istirahat dan

membenahi alat kerja tidak mengurangi pro-

duktivitas dan hasil kerja. Oleh karena itu,

janganlah merasa rugi bila kita menggunakan

sebagian waktu untuk shalat. Apalagi Allah

telah mengatur waktu shalat sedemikian rupa.

Waktu shalat jatuh pada saat menjelang

tidur, usai bangun tidur, dan pada saat orang

yang bekerja atau beraktivitas mencapai titik

lelah. Penggunaan waktu untuk shalat, termasuk

Shalat Jum'at, benar-benar menguntungkan

untuk peningkatan mutu dan hasil kerja.

Selain sebagai ibadah dan bukti ketaatan kita

kepada Allah, shalat dapat juga berfungsi sebagai

wahana relaksasi dan introspeksi. Shalat

dapat menyegarkan jasmani dan ruhani, menetralisir

pikiran dan perasaan negatif, dan menenteramkan

hati. Doa atau bacaan dalam

shalat dapat menimbulkan harapan baru dan

mengingatkan komitmen moral.

Mudah-mudahan dengan menyadari betapa

pentingnya shalat, kita akan bersemangat

untuk melaksanakannya. Bila shalat kita anggap

penting, niscaya kita akan menemukan

jalan untuk melaksanakannya. Sebaliknya, bila

shalat kita anggap tidak penting, maka kita

akan menemukan alasan untuk menunda atau

bahkan meninggalkannya.

Pentingnya Shalat Jum'at

Shalat berjamaah mengandung hikmah dan

manfaat yang besar bagi kita, umat Islam. Berikut

ini beberapa hikmah dan manfaat shalat

berjamaah:

1. Shalat jamaah membiasakan umat Islam

untuk senantiasa bersatu dan tidak berpecah

belah.

2. Dalam shalat jamaah ada imam dan ada

makmum, masing-masing harus mengikuti

ketentuan tertentu. Hal ini mengingatkan

kita untuk mengetahui bagaimana peran

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|5


dan sikap yang semestinya bila menjadi

pemimpin (imam), atau bila menjadi orang

yang dipimpin (makmum).

3. Ketika kita menjadi imam, perlu memperhatikan

dan mempertimbangkan keadaan

makmum. Jika makmumnya banyak orang

tua dan orang yang terikat waktu kerja, sebaiknya

kita tidak membaca surat atau ayat

dalam shalat yang terlalu panjang. Begitu

pula ketika kita menjadi makmum, kita harus

mengikuti imam, tidak boleh mendahului

imam. Tetapi bila imam salah, kita

tidak boleh mengikuti imam, bahkan sebaliknya

kita harus mengingatkannya.

Pendek kata, ketika berjamaah kita tidak

boleh bersikap atau berbuat semau kita.

Berarti shalat jamaah berfungsi membiasakan

kita untuk dapat menahan diri, tidak

selalu menuruti ego kita.

4. Dalam shalat jamaah tidak ada pengistimewaan

tempat bagi orang kaya, penguasa,

pejabat tinggi, dsb. Orang miskin bisa berdampingan

dengan orang kaya, rakyat jelata

bisa berbaur dengan penguasa. Jadi shalat

jamaah berguna untuk menumbuhkan

perasaan sama dan sederajat, menghilangkan

kesenjangan status sosial yang bisa

menjadi penghalang untuk terciptanya

keakraban bersama.

5. Dalam hadis riwayat Muslim dinyatakan,

“Shalat berjamaah itu lebih utama 27 derajat

daripada shalat sendirian (munfarid).”

Hal ini menunjukkan bahwa shalat jamaah

mengandung pengaruh yang dahsyat untuk

kebaikan kehidupan kita.

6. Dengan berjamaah ada saling kenal-mengenal

(ta’aruf), dan bisa terjalin hubungan

persaudaraan dan kasih sayang.

7. Kesempatan berjamaah dapat menjadi

sarana untuk dakwah dan syiar Islam, baik

dengan ucapan maupun perbuatan.

8. Berjamaah menjadi sarana turunnya rahmat

dan keberkahan dari Allah swt.

Begitu pentingnya shalat berjamaah, sehingga

Allah menetapkan beberapa macam

shalat jamaah, yaitu:

1. Shalat jamaah harian, setiap lima waktu,

yang dilaksanakan dalam sehari semalam.

2. Shalat jamaah mingguan, yang dilaksanakan

sekali dalam seminggu, yaitu Shalat

Jum'at.

3. Shalat jamaah tahunan, yang dilaksanakan

sekali atau dua kali dalam setahun. Misalnya:

Shalat ‘Idul Fitri, shalat ‘Idul Adha,

dan wukuf di Arafah (bagi orang yang menunaikan

ibadah haji).

4. Shalat jamaah insidental, yang dilaksanakan

pada kondisi tertentu. Misalnya: Shalat

minta hujan (istisqa’), shalat gerhana

matahari, dan shalat gerhana bulan.

Shalat Jum'at adalah kewajiban bagi setiap

orang Islam, yang dikerjakan dengan berjamaah

(HR Abu Daud). Idealnya jumlah orang

dalam shalat jamaah Jum’at adalah lebih banyak

daripada jumlah orang dalam shalat jamaah

Maghrib, ‘Isya, Subuh, Zuhur dan ‘Asar.

Namun bila kondisinya memang tidak memungkinkan,

berapapun jumlahnya, mereka

dapat mendirikan Shalat Jum'at, yang penting

ada imam/khatib dan makmum.

Dalam rangkaian Shalat Jum'at, selain

Shalat dua rakaat, ada juga khotbah Jumat yang

merupakan tarbiyah atau pendidikan masyarakat.

Agar khotbah Jumat benar-benar berdaya

guna bagi umat dan berfungsi sebagai pendidikan

masyarakat, ada beberapa hal yang

perlu diperhatikan:

6|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015


1. Khotbah Jumat, selain memenuhi rukun

khotbah, sebaiknya disampaikan dengan

bahasa yang bisa difahami oleh jamaah

yang mendengarkannya. Misalnya, kalau

jamaahnya lebih mengerti bahasa Indonesia,

maka khotbah Jumat itu selayaknya

disampaikan dalam bahasa Indonesia.

Nabi Suci Muhammad saw. dulu biasa berkhotbah

Jumat dengan bahasa Arab, karena

jamaah yang dihadapi lebih faham dengan

bahasa Arab.

2. Topik khotbah Jumat sebaiknya disesuaikan

dengan kebutuhan dan permasalahan

masyarakat. Sehingga masyarakat merasa

selalu terbimbing dan memperoleh solusi

bagi problema kehidupannya.

3. Khotbah Jumat jangan dianggap hanya

sebagai pelengkap dalam rangkaian Shalat

Jum'at, tetapi betul-betul berperan penting

sebagai bimbingan, arahan, dan peringatan

bagi masyarakat. Sehingga peri kehidupan

masyarakat sesuai dengan kehendak serta

tuntunan Ilahi. Hal ini sepantasnya menjadi

perhatian serius bagi para khatib dan

takmir masjid.

Setelah ada khotbah Jum’at yang betulbetul

memenuhi standar sebagai pendidikan

umat, tidak ada salahnya jika kita mendorong

ibu-ibu dan anak-anak untuk bersama-sama

kita melaksanakan Shalat Jum'at. Dalam kehidupan

keluarga, kadang-kadang orang tua

tidak dapat atau tidak sempat memberikan

pendidikan dan bimbingan agama secara intensif

kepada anak-anaknya. Padahal kewajiban

orang tua kepada anak-anaknya yang terpenting

adalah memberikan pendidikan yang

terbaik. Dengan mengajak isteri dan anak-anak

untuk Shalat Jum'at bersama-sama, setidaknya

mereka pun bisa menyerap secara langsung

pendidikan umat lewat khotbah Jumat, yang

mungkin kita sendiri tidak dapat atau tidak

sempat memberikannya.

Seandainya orang tua diibaratkan seperti

tukang taman, untuk menghasilkan taman yang

indah, dia perlu merawat taman itu dengan

sebaik-baiknya. Dia mengairi, menyiangi,

menjauhkan berbagai hama, dan memangkas

ranting-ranting yang liar. Sehingga akhirnya

terwujudlah taman yang indah. Begitu pula

bagi orang tua, untuk mendapatkan anak yang

saleh, berguna dan menyejukkan pandangan

mata, dia perlu merawat dan mendidik dengan

baik. Dia perlu memberikan ilmu, suri tauladan

yang baik, memberi nasehat dan peringatan,

menjauhkan pengaruh-pengaruh buruk dan

menghentikan perilaku yang menyimpang.

Sehingga akhirnya terwujudlah anak saleh,

yang taat pada Allah serta berbakti kepada kedua

orang tuanya, dan dapat menjadi kebanggaan

orang tua.

Ketika anak itu durhaka kepada orang tua,

maka orang tuanya akan merasa sedih. Apalagi

bila anak itu juga mengabaikan dan tidak taat

kepada Allah, betapa hancur dan kecewanya

hati orang tua. Untuk mencegah agar hal itu

tidak terjadi, alangkah baiknya jika anak diperkenalkan

dengan pendidikan agama Islam

sejak dini. Kita perlu mendisiplinkan anakanak

kita dengan amalan shalat dan ikut Shalat

Jum'at di masjid. Karena di sana mereka dapat

mendengarkan secara langsung dan mengambil

manfaat berbagai petunjuk Allah dan

Rasul-Nya yang terkandung dalam khotbah

Jumat. Semoga kita bisa meraih berkah dari

Shalat Jum'at. Amin.***

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|7


PROFIL

Soedewo Partoadi Kusumo

(1906 -1971)

Soedewo Partoadi Kusumo, adalah tokoh

pendiri GAI yang boleh dibilang paling

berjasa pada Gerakan ini. Sebab,

dari tangannyalah banyak buku, majalah, dan

kartya tulis lainnya, baik terjemah maupun karangan

sendiri, yang menjadi tulang punggung

dakwah GAI di bidang penerbitan.

Soedewo lahir di Jember pada Februari

1906, dan wafat di Jakarta pada bulan Ramadhan,

22 November 1971, dan dikebumikan

di Bogor. Sedari kecil, Soedewo dididik dalam

suasana pendidikan Belanda. Beliau menyelesaikan

pendidikan dasarnya di Hollands Inlandse

School (HIS) pada tahun 1919, dan menempuh

pendidikan keguruan di Kwekschool

(1923) dan Hogore Kweekschool (1926). Beliau

kemudian kursus bahasa Belanda (1934) dan

menjadi lulusan terbaik (hoofdakte). Beliau

menjadi guru di berbagai tempat, termasuk di

antaranya HIS Muhammadiyah Yogyakarta.

Sebagai pengajar, beliau mencapai jabatan tingkat

tertinggi sampai pada masa pensiun sebagai

Inspektor Sekolah Rakyat.

Soedewo sangat menyukai karya puisi, termasuk

yang berbahasa Inggris sekalipun. Dari

inilah beliau berkenalan dengan Mirza Wali

Ahmad Baig, mubaligh Ahmadiyya Anjuman

Isha’ati Islam Lahore (AAIIL) yang diundang

oleh Muhammadiyah kala itu di Yogyakarta,

yang kebetulan memiliki kesenangan yang

serupa dengan Soedewo dalam hal puisi. Suatu

waktu, Soedewo menemui Ahmad Baig untuk

menanyakan koplet-koplet puisi dalam bahasa

Inggris. Tetapi, Ahmad Baig menawarkan kepadanya

karya puisi yang ia sebut “lebih megah

dan indah” dari karya puisi lainnya. Kemudian,

Ahmad Baig memperlihatkan The Holy

Qur’an karya Maulana Muhammad Ali.

Soedewo pun tertarik untuk mempelajari

Qur’an Suci yang sudah diterjemahkan ke

dalam bahasa Inggris itu. Ia pun mulai mendalami

Qur’an Suci sembari berlatih bahasa

Inggris di bawah bimbingan Ahmad Baig. Ia

kemudian mengajak beberapa sahabatnya untuk

ikut serta, seperti Moehammad Irshad dan

Raden Syamsurizal.

Karena ketertarikannya yang sangat kuat

dalam mempelajari Qur’an Suci, beliau menerjemahkan

karya Maulana Muhammad Ali itu

ke dalam bahasa Belanda. Hingga akhirnya,

dalam usia 28 tahun, Soedewo telah berhasil

menyelesaikan karya terjemah The Holy Qur’an

ke dalam bahasa Belanda, dengan judul De

Heliege Qur’an. Kitab ini di kemudian hari

menjadi rujukan kaum intelektual pada masa

itu.

Sedari muda, Soedewo aktif dalam berbagai

organisasi. Pada 1 Januari 1925, bersama

sahabat karibnya, Raden Syamsurizal, beliau

mendirikan organisasi Jong Islamieten Bond

(JIB) dan menjadi wakil ketua yang pertama

dari organisasi tersebut. Organisasi ini banyak

menerbitkan buku hasil karya Soedewo dalam

bahasa Belanda. Selain itu juga menerbitkan

majalah Het Licht yang menjadi bahan diskusi

kaum muda intelektual saat itu. Mewakili JIB,

8|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015


eliau hadir dalam Ikrar Sumpah Pemuda pada

tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta.

Soedewo juga aktif dalam organisasi Moeslem

Broderschaap (MB), yang didirikan oleh

Djojosoegito dan Moehammad Hoesni. Beliau

menjadi redaktur pelaksana majalah Correspondentie

Blad, yang diterbitkan sebulan sekali

oleh organisasi ini. Tahun 1928, Gerakan Ahmadiyah

Indonesia berdiri. Soedewo diangkat

menjadi sekretaris PB GAI, mendampingi

Moehammad Hoesni sebagai Sekretaris Jenderal

dan Minhadjurrahman Djojosoegito sebagai

Ketua Umum. Beliau kemudian menjadi

redaktur dari berbagai majalah yang diterbitkan

oleh GAI, antar lain seperti As-Salam (bahasa

Belanda), Risalah Ahmadiyah, dan Safinatu

Nuh.

Pada bulan Februari 1930, Soedewo pindah

ke Sukabumi karena mendapat tugas menjadi

dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB). Beliau

kemudian mendirikan GAI cabang Bandung,

bersama dengan Moehammad Hoesni, yang

pindah ke kota itu pada tahun yang sama.

Pada kongres tahun 1933, GAI memutuskan

untuk menerbitkan De Heliege Qur’an,

karya terjemah Qur’an Suci dalam bahasa Belanda

yang dikerjakan oleh Soedewo. Kemudian

dibentuklah Hofd-Comite Qur’an Fonds,

yang diketuai oleh Abdul-Rajab, dengan anggota

Moehammad Hoesni, Pringgonoto, Abdul

Rajab, Ahmad Wongsosewojo, Bintoro, Soerono,

dan K.R.A.A Wiranata Kusuma. Di tiaptiap

cabang, dibentuk juga Sub-Comite Fonds

yang membantu menyiarkan prospectus dan

mencari pesanan.

Soedewo sendiri ditugaskan menyiapkan

copy karya terjemahnya. Beliau pun mengambil

cuti besar dan mengorbankan gaji bulanannya

sebagai dosen sampai habis masa cuti.

Mirza Wali Ahmad Baig, yang saat itu sudah

tinggal di Purwokerto, diminta pindah ke

Jakarta untuk membantu pekerjaan Soedewo.

Tahun 1934, pencetakan Qur’an Suci Terjemah

dan Tafsir dalam Bahasa Belanda itu

mulai dikerjakan, dan baru selesai pada Maret

1935. Penerbitan Terjemah Qur’an Suci ini

ternyata menimbulkan berbagai reaksi di tengah

masyarakat. Surat kabar ADIL, misalnya,

antara lain menyatakan bahwa “Qur’an berbahasa

Belanda itu semata-mata menjerumuskan

kepada kesesatan. Anak cucu dijerumuskan

ke Jahanam; tafsir beracun bagi umat Islam.”

(No. 105, 8 Februari 1934). Namun demikian,sambutan

positif atas terbitnya Qur’an

ini lebih besar, utamanya dari kaum intelektual

berpendidikan Belanda. Kitab ini pun tersebar

luas hingga Belanda dan Suriname.

Soedewo kemudian juga menerjemahkan

buku The Religion of Islam karya Maulana Muhammad

Ali ke dalam bahasa Belanda, dengan

judul De Religie van den Islam, yang terbit pertama

kali pada Desember 1938. Dengan terbitnya

dua kitab itu, GAI menginisiasi sebuah

misi tabligh ke Belanda. Pada akhir tahun 1938,

GAI pun membentuk Comite Holland Islamic

Mission (HIM), yang bertujuan mengirimkan

muballigh ke negeri Belanda untuk menyiarkan

Islam di sana. Sayangnya, pada akhir tahun

1939, pecah Perang Dunia Kedua, yang

menyebabkan rencana pemberangkatan muballigh

ke negeri Belanda itu terpaksa ditunda.

Tahun 1942, Belanda menyerahkan kekuasaannya

kepada Jepang. Dan selama tiga setengah

tahun Indonesia berada dalam kekuasaan

Dai Nippon. Pada masa pemerintahannya, Jepang

membekukan banyak organisasi, termasuk

GAI. GAI mengalami kevakuman hingga

masa kemerdekaan awal.

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|9


Tahun 1945, Perang Dunia II berakhir

dengan kemenangan di pihak sekutu. Pada 17

Agustus 1945, dalam masa genting perebutan

kekuasaan antara Jepang dan Belanda, Indonesia

memproklamirkan kemerdekaannya.

Jepang menyerahkan kekuasaannya pada rakyat

Indonesia, namun Belanda berusaha merebutnya

kembali. Terjadilah agresi militer Belanda.

Dalam masa ini, banyak anggota GAI

ikut aktif dalam barisan pertahanan Negara

Republik Indaonesia, baik sebagai tentara

nasional maupun sebagai tentara rakyat. Soedewo

pun ikut aktif bergerilya bersama tentara

rakyat. Atas jasanya ini, beliau mendapat anugerah

penghargaan dari Pemerintah RI berupa

“Satya Lencana Karya” Kelas III.

Tahun 1947, GAI mengadakan Muktamar

di Purwokerto. Dalam Muktamar ini antara

lain diputuskan dua hal penting. Pertama, GAI

menerima Pancasila sebagai Dasar Negara

Republik Indonesia. Hal ini untuk menegaskan

posisi GAI di tengah perdebatan panjang kala

itu menyangkut soal dasar negara Indonesia.

Kedua, mendirikan lembaga pendidikan di

bawah naungan GAI. Atas dasar itu, pada September

1947 di Yogyakarta, GAI mendirikan

Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI).

Namun, PIRI dibekukan oleh Belanda pada

masa agresi tahun 1948. Baru pada tahun 1949,

PIRI kembali aktif ditandai dengan pendirian

Masjid dan Pondok Pesantren di kawasan Baciro,

Yogyakarta, dengan Kepala Pondok Minhadjurrahman

Djojosoegito.

Sampai beberapa tahun lamanya, kegiatan

GAI berpusat di PIRI. Kegiatan lain di berbagai

Cabang GAI, boleh dikata hampir mati.

Sebagian besar anggota GAI di berbagai cabang

terjun ke dalam politik praktis. Berikut

adalah kutipan pidato Bapak Soedewo, dalam

10|Fathi Islam

Muktamar GAI tahun 1957, yang menggambarkan

keadaan GAI pada masa itu:

“Sejak pengakuan kedaulatan Negara RI, GAI

dalam menunaikan kewajiban pokoknya, yaitu

menegakan Kedaulatan Ilahi, kalaupun tak dapat

dikatakan mati, kian lama kian mendekati matinya

juga. Keadaan ini berulangkali dilaporkan

oleh Pengurus Cabang dengan nada yang mineur,

diam saja, tidur, merana, seperti kerakap di atas

batu, mati enggan hidup tak mau, dsb. GAI yang

dahulu mempunyai majalah “Assalam”, “Muslim”,

“Risalah Ahmadiyah” dan “Wasita Islam”,

kini tidak dapat menerbitkan satu majalah pun.

Buku kecil yang dahulu pernah berpuluh-puluh

diterbitkan kini tak ada satu pun yang diterbitkan.

Hanya Qur’an Suci Jarwa Jawi saja yang sekarang

sedang dicetak di negeri Belanda, yang Insya Allah

akan terbit pada bulan Februari 1958.

GAI yang dahulunya dapat menerbitkan berpuluh-puluh

buku sampai dengan penerbitan De

Heliege Qur’an dalam jangka waktu 7 tahun, kini

sesudah 17 tahun GAI baru akan menerbitkan

Qur’an Suci Jarwa Jawi saja. Dengan demikian

beranikah kita berkata, bahwa GAI setia pada

sumpahnya kepada Tuhan Apalagi selama ini,

iklim dan suasana di kalangan GAI, tidak memungkinkan

bekerja dengan kesatuan dan kebulatan

tekad. Perhatian dan hasrat kita berceraiberai.

Semangat dakwah Islam yang dahulu pernah

menggelora, kini sudah padam. Akibatnya,

beratus-ratus terbitan buku Lahore dan London,

tak dapat diterjemahkan dan diterbitkan. Maka

jelaslah bahwa selama ini GAI menderita kemunduran

terus-menerus. Proses kemunduran dipercepat

dengan masuknya paham Materialistis dan

Komunistis. Maka dari itu semangat menjunjung

agama melebihi dunia, diganti semangat menjunjung

dunia saja. Sudah barang tentu hasrat berdakwah

Islam, bukan mundur lagi melainkan

mendekati liang kuburnya” (Majalah Safinatu

Nuh, 1957)

Selama hidupnya, Soedewo sangat aktif

menerjemahkan dan menulis berbagai buku,

dalam bahasa Inggris, Belanda dan Indonesia.

lanjut ke hal. 28

Edisi 005 | Februari 2015


WARTA KELUARGA

Mengais Asa di Era Baru

(Reportase Jalsah Salanah 2014 & Muktamar XVII GAI)

Puji syukur sudah semestinya kita panjatkan

ke hadirat Allah Ta’ala, atas terselenggaranya

Pengajian Tahunan (Jalsah

Salanah) Keluarga Besar Gerakan Ahmadiyah

Indonesia (GAI) dan Yayasan Perguruan Islam

Republik Indonesia (PIRI), bertempat di

Kompleks PIRI Baciro, Yogyakarta pada 20-

22 Desember 2014 silam. Kegiatan Jalsah itu

juga berbarengan dengan Muktamar GAI yang

ke-17, dengan agenda utama pemilihan kepengurusan

baru di tingkat Pedoman Besar untuk

periode 2014-2019.

Antusiasme warga GAI untuk mengikuti

Jalsah yang lalu itu terbilang luar biasa. Meski

secara formal agenda Jalsah baru dimulai pada

Sabtu malam, tetapi peserta sudah berdatangan

sejak sehari sebelumnya. Peserta dari Jakarta

bahkan sudah hadir sejak Kamis malam.

Panitia penyelenggara sempat dibuat agak

panik di hari pertama kegiatan, dengan membludaknya

jumlah peserta. Kepanikan itu disebabkan

lebih karena fasilitas kepesertaan, seperti

ruang tidur dan kelengkapannya, yang

disediakan sesuai dengan jumlah peserta yang

terdaftar sebelumnya, berdasarkan pemberitahuan

dari tiap-tiap pengurus cabang. Sehingga

ketika jumlah peserta bertambah hampir dua

kali lipat dari perkiraan sebelumnya, panitia

harus menyediakan tambahan fasilitas secara

dadakan.

Namun, di sisi lain, kepanikan itu tak sebanding

dengan kegembiraan yang dirasakan,

karena banyaknya sanak saudara yang hadir

dalam perhelatan tahunan itu. Tercatat lebih

dari 600 peserta terdaftar, belum termasuk

anak-anak yang tak terhitung jumlahnya.

Sabtu sore (20/12), ba’da shalat berjamaah

Maghrib, peserta Jalsah berkhidmat dalam

do’a, yang khusus diperuntukkan bagi segenap

warga dan pinisepuh yang telah mendahului

berpulang ke rahmatullah. Dua tahun belakangan

(2013-2014), GAI memang cukup banyak

kehilangan tokoh panutan, baik di tingkat Pedoman

Besar maupun Cabang, seperti Bapak

Fathurrahman Ahmadi (Bandung), Bapak

Mardiyono, Ibu Sudiyono, Bapak Danang Legowo,

Bapak Iwan Yusuf (Jogja), Bapak Rahmat

Basuki (Jakarta), Bapak Yazid Burhani

(Kediri), Bapak Kyai Muharto (Wonosobo),

Bapak Rakoen Ahmadi (Purwokerto), dan lainlain.

Ba’da Isya, dilangsungkan Upacara Pembukaan

Jalsah, yang dipandu oleh Ibu Anis

Farikhatin. Dalam acara pembukaan ini, Bapak

Muslich Zainal Asikin, mewakili Ketua

Umum PB GAI yang telah mangkat, memberikan

sambutan sekaligus membuka secara resmi

penyelenggaraan jalsah. Sesudahnya, peserta

menyimak ceramah umum yang disampaikan

oleh Ketua Majelis Amanah GAI, Bapak Nanang

Rahmatullah. Upacara pembukaan berlangsung

hingga sekitar pukul 23.00 wib.

Selama Jalsah, selain mendapatkan siraman

ruhani yang dilaksanakan setiap habis ber-

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|11


jamaah shalat Subuh dan Magrib, yang diisi

oleh berbagai mubaligh dari Jakarta, Purbalingga,

Purwokerto, Wonosobo dan Kediri,

para peserta juga mendapatkan wawasan keorganisasian

melalui dua kali forum sarasehan.

Sarasehan pertama berlangsung pada Minggu

pagi (21/12) hingga menjelang waktu Dzuhur,

mengangkat tema “Membangun Organisasi

GAI yang Efektif.” Acara yang dipandu

oleh Bapak Arifin Budiharjo itu menampilkan

empat orang pemrasaran, yakni Ibu Ida Rochani

(PB GAI), Bapak Agung Budiyono (Ketua

GAI cabang Purwokerto), Bapak Sulardi Notopertomo

(Ketua GAI cabang Jakarta), dan

Bapak Mutohir Alabas (Sekretaris GAI Cabang

Kediri).

Sarasehan kedua berlangsung pada Minggu

malam selepas Isya. Sarasehan kedua ini mengangkat

tema “Strategi Membangun Generasi

Muda Ahmadi”, dengan menampilkan tiga

orang pemrasaran, yakni Bapak Muhammad

Sardiman (Majelis Amanah Organisasi), Bapak

Asadi Alfatah (Ketua GAI cabang Kediri), dan

Bapak Marah Rusli Salim (GAI cabang Jakarta).

Acara yang dipandu oleh Bapak Purwiyadi

ini, berakhir sekitar pukul 22.30 wib. Kemudian

dilanjutkan dengan pengumpulan dana

spontanitas yang disambut dengan antusias

oleh peserta Jalsah, dan dipandu dengan gaya

santai Bapak Purwiyadi. Alhamdulillah, terkumpul

dana sebesar Rp. 54.000.000,- dari sebanyak

134 donatur, baik perorangan, keluarga,

maupun lembaga.

Di samping itu, peserta jalsah juga disuguhi

acara spesial yang diprakarsai oleh para santriwan/santriwati

Pondok Pesantren Minhajurrahman.

Acara yang mempertunjukkan berbagai

potensi minat dan bakat para santri itu berlangsung

pada Minggu siang ba’da Dzuhur

hingga menjelang waktu shalat ‘Ashar. Selama

lebih kurang dua jam, para santri bergantian

menampilkan kemampuan mereka. Selain dua

orang yang berceramah dan dua orang lagi yang

menyampaikan testimoni mengenai pengalaman

kepesantrenan, ada juga tampilan apik dari

group hadrah, teater, dan band.

Di tengah-tengah acara pengajian yang berlangsung

selama dua hari itu, diselenggarakan

juga Muktamar GAI yang ke-17, dalam rangka

membentuk kepengurusan di tingkat Pedoman

Besar untuk periode lima tahun ke depan. Rapat

Muktamar berlangsung di ruang aula Yayasan

PIRI, seusai upacara pembukaan Jalsah. Rapat

ini dihadiri oleh perwakilan anggota GAI dari

unsur Majelis Amanah, Pedoman Besar dan

Pengurus Cabang. Rapat yang berlangsung

hingga dini hari itu menelurkan keputusan dengan

diangkatnya Bapak Muslich Zainal Asikin

sebagai Ketua Umum PB GAI yang baru. Selain

itu, Bapak Nanang R.I. Iskandar dikukuhkan

kembali sebagai Ketua Majelis Amanah

Organisasi untuk periode yang sama.

Dalam rapat itu dibentuk juga tim formatur

yang bertugas menyusun struktur kepengurusan

dan personalia PB GAI. Tim formatur terdiri

dari Ketua Umum PB GAI yang baru plus

lima orang terpilih, yakni Bapak Sulardi Notopertomo

(Jakarta), Bapak Mutohir Alabas (Kediri),

Bapak Suratman, Bapak Ali Arie Susanto,

dan Bapak Mulyono (Yogyakarta).

Selain menetapkan Ketua Umum PB GAI

dan Ketua MAO beserta jajaran kepengurusannya,

Rangkaian Muktamar juga menghasilkan

beberapa keputusan lain, antara lain memberikan

amanat kepada Pengurus PB GAI yang

baru untuk menunaikan tugas sebagai berikut:

1. Penyempurnaan dan penyelarasan AD-

ART hingga berupa Akte Notaris, selam-

12|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015


at-lambatnya 1 April 2015.

2. Revisi redaksional naskah Bai’at dan Janji

Sepuluh, serta prosedur pelaksanaannya,

selambat-lambatnya sudah ditetapkan pada

Jalsah tahun 2015.

3. Penyesuain Susunan Pengurus Pedoman

Besar dengan AD-ART yang sudah ditetapkan.

4. Melaksanakan Penyesuaian dan Pembentukan

Badan dan Lembaga Kelengkapan

Organisasi sesuai dengan AD-ART yang

sudah ditetapkan.

5. Melakukan sosialisasi tentang AD-ART

yang sudah ditetapkan dan Hasil-hasil Muktamar.

6. Menyelenggarakan Rapat Pleno PB diperluas

selambat-lambatnya 31 Mei 2015.

Di samping itu, Muktamar XVII juga menetapkan

Garis Besar Haluan Program Kerja

GAI tahun 2014-2019, antara lain:

1. Pembangunan dan pengembangan Program

Pesantren dalam rangka kaderisasi.

2. Konsolidasi organisasi berupa pemekaran

jumlah cabang dalam rangka penguatan organisasi.

3. Penerbitan Qur’an, Penerjemahan Buku

dan penerbitannya.

4. Penggalakan Program Orang Tua Asuh.

5. Konsolidasi Organisasi dalam rangka pendataan

anggota.

Rangkaian acara Jalsah dan Muktamar

GAI berakhir pada Senin siang (22/12). Dalam

Upacara Penutupan, Sekjen GAI yang terpilih

untuk kedua kalinya di periode ini, Bapak

M. Ali Arie Susanto, menyampaikan hasil

keputusan Muktamar, sebagaimana tertulis

sebagiannya di atas.

Menilik berbagai keputusan Muktamar

itu, bolehlah kita, warga GAI seumumnya,

bersama mengais asa di era baru ini, untuk

perubahan ke arah yang lebih baik, setidaknya

dimulai pada masa lima tahun mendatang.

Tapi tentu saja, tugas kita bukanlah hanya menunggu

perubahan itu datang menghampiri,

melainkan harus ada kemauan untuk bergerak

bersama meraih asa itu. Semoga Allah meridhai

dan menguatkan langkah kita.[bas]

DONATUR FATHI ISLAM

JULI 2014 - JANUARI 2015

1. Ibu Mufidatun Ali Muchtar Yogyakarta Rp. 100.000

2. Drs. H. Yatimin AS & Hj. Tina Afiatin Yogyakarta Rp. 250.000

3. GAI Cabang Kediri Kediri Rp. 350.000

4. Ibu Siti Khoiriyah Blitar Rp. 500.000

5. GAI Cabang Magelang Magelang Rp. 550.000

6. Bapak Muslim Yogyakarta Rp. 120.000

7. Bapak Marsetyo Yogyakarta Rp. 50.000

8. Ibu Sunaryatni Yogyakarta Rp. 50.000

9. Bapak Mulyono Yogyakarta Rp. 50.000

Jumlah Rp. 2.020.000

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|13


Artikel Jalsah

Organisasi GAI yang Efektif Bisakah

Oleh: Drs. Agung Budiyono, M.Pd

Ketua GAI Cabang Purwokerto

“Aku berkata dengan sunguh-sungguh bahwa di dalam diri setiap jiwa terdapat hasrat mencari

kebenaran dan setiap hari digandrungi kehausan untuk mencari jalan kebenaran itu. Akan

tetapi, bagaimana caranya merambah jalan ini dan dengan alat apa tirai ini dapat tersingkap

Aku meyakinkanmu akan sebuah kebenaran, bahwa Islamlah yang memberi kabar suka

mengenai cara mengenali jalan itu. Seperti halnya mustahil kita dapat melihat tanpa bantuan

mata, atau mustahil kita dapat berbicara tanpa bantuan lidah, demikian pula halnya mustahil

kita dapat menyaksikan wajah sang Kekasih tanpa bantuan Al-Qur’an. Aku pernah menjadi

seorang belia, dan kini aku telah menjadi orang yang tua. Namun, aku tak pernah berjumpa

dengan seorang yang mencicipi makrifat yang jernih kemilau tanpa adanya pancaran mata air

al-Qur’an ini.” (Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Ruhani Khazain, Jilid II, hal. 19)

P

ada saat saya membaca tema Jalsah,

“Membangun organisasi GAI yang

efektif ”, maka permasalahan yang

muncul adalah tafsir atas maksud dari tema

antara yang diminta panitia dengan yang saya

pahami. Maka, untuk mengurangi perbedaan

tafsir itu, saya perlu uraikan terlebih dulu berbagai

istilah dalam kalimat tema tersebut.

1. Organisasi. Menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia (KBBI), organisasi adalah kesatuan

yang terdiri atas bagian-bagian dalam

perkumpulan dan sebagainya, untuk tujuan

tertentu. Juga berarti kelompok kerjasama

antara orang-orang yang diadakan

untuk mencapai tujuan. Jadi yang dimaksud

organisasi adalah suatu wadah yang dibentuk

oleh sekelompok orang untuk memudahkan

mencapai tujuan bersama “yang

sama”. Suatu wadah atau perkumpulan dapat

dikatakan organisasi bila memiliki:

a. Aturan/norma organisasi (AD/ART)

b. Struktur dan pengurus

c. Tujuan

d. Anggota

e. Program/kegiatan

f. Sumber pengelolaan/dana

2. Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI).

GAI atau yang populer dengan sebutan

Ahmadiyah Lahore, adalah organisasi

mandiri, dan bukan bagian dari organisasi

apapun dan dimana pun. Organisasi ini sepenuhnya

bergerak dalam usaha penyiaran

Islam di Indonesia, antara lain melalui penerbitan

buku-buku keislaman dan penyelenggaraan

pendidikan formal (Mulyono,

Fathi Islam, Edisi 002, 2014 hal. 3).

3. Efektif. Menurut KBBI, artinya dapat

membawa hasil, berhasil guna, atau mulai

berlaku, atau dapat berjalan sebagaimana

mestinya.

14|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015


Dari pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan

bahwa “Organisasi GAI yang Efektif

” adalah organisasi GAI yang dalam menjalankan

fungsinya, yakni usaha penyiaran

Islam di Indonesia sesuai pandangan Ahmadiyah

Lahore, dapat berjalan sebagaimana

mestinya untuk dapat membawa hasil atau

berhasil guna dalam mencapai tujuannya.

Dapat dan tidaknya membangun organisasi

GAI yang efektif adalah menyangkut halhal

abstrak, tidak kasat mata, tapi mempunyai

daya kekuatan yang sangat menentukan bagaimana

komponen-komponen, unsur-unsur dan

alat kelengkapan organisasi GAI itu berfungsi.

Hal-hal yang abstrak itu adalah manusianya,

yakni pengurus dan anggotanya. Apakah orangorang

yang ada di dalam organisasi itu masih

mempunyai:

1. Semangat dan kebanggaan

2. Kesediaan untuk berjuang

3. Ketaatan pada komitmen

4. Keyakinan pada tujuannya

5. Penegakan aturan organisasi

Selain persyaratan di atas, beberapa kendala

dalam membangun GAI yang efektif antara

lain:

1. GAI adalah organisasi keagamaan yang

tidak presisi dengan profesi masing-masing

anggota dan pengurusnya, sehingga dari

segi waktu pasti sering berbenturan.

2. Organisasi GAI mendapatkan tantangan

dari dalam diri umat Islam sendiri meskipun

sama-sama menyiarkan Islam di Indonesia.

3. Regenerasi dan kaderisasi yang macet atau

tersendat-sendat dalam organisasi GAI.

4. Belum terumuskannya atau terpenuhinya

peta jalan antar elemen di GAI dalam mencapai

tujuan/dalam menjalankan roda organisasi.

Asal prasarat di atas terpenuhi atau masih

dimiliki oleh pengurus dan anggota GAI,

maka membangun organisasi GAI yang efektif

itu pasti bisa dilakukan. Meskipun ada kendala-kendala,

tetap harus kita coba dengan

langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menghidupkan kembali sekretariat GAI

dari pusat sampai cabang dan ranting, kalau

perlu mengangkat pegawai sekretariat.

2. Menegakkan kembali aturan-aturan organisasi

beserta sistem administrasinya.

3. Mengoptimalkan komunikasi di antara

jenjang kepengurusan dengan memanfaatkan

fasilitas teknologi informasi.

4. Mempererat silaturahmi dengan organisasi

muslim yang lain sebagai mata rantai

perjuangan umat Islam di Indonesia.

5. Regenerasi, dengan cara menyuntikkan

darah segar pada generasi yang mempunyai

visi dan komitmen yang kuat.[]

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan

Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup,

supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.

Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

(QS Al-Mulk : 1-2)

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|15


Artikel Jalsah

Strategi Membangun

Organisasi GAI yang Efektif

Oleh: Mutohir Alabas | Sekretaris GAI Cabang Kediri

Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI)

didirikan dengan tujuan yang amat

luhur, yang bermuara pada “Kemenangan

Islam”. Usaha mencapai tujuan itu diringkas

dalam sebuah slogan ideal yang sangat

indah dan mulia, “membela dan menyiarkan

Islam dengan keindahan”.

Namun, untuk mencapai tujuan tersebut,

tentu kita tak bisa mengandalkan faktor keberuntungan,

tapi pasti diperlukan niat yang kuat

dan kerja keras. Di samping itu, diperlukan

juga sarana dan metode yang efektif serta semangat

para kader pejuangnya. Karena itu, jikalau

kita ingin GAI menjadi besar, maka kita

harus menyiapkan konsep dan strategi perjuangan

yang matang.

GAI bisa diibaratkan dagangan yang teramat

istimewa dan unggul tiada tanding. Tapi

mengapa GAI belum bisa laku keras seperti

yang lain Boleh jadi itu terjadi karena kita

sebagai pengelola organisasi memang belum

ada niat memperkenalkan, menawarkan dan

mempromosikan GAI kepada umat. Atau,

jangan-jangan kita berpikir, karena GAI ini

organisasi yang istimewa, pastilah Allah sendiri

yang akan turun tangan menyebarkannya,

sehingga tanpa ditawarkan pun akan dicaricari

dan diikuti orang Tentunya tidak demikian.

Kita semua harus bergerak dan harus

bertindak. GAI harus kita perjuangkan dengan

segenap kemampuan yang kita miliki.

16|Fathi Islam

Didirikannya Ahmadiyah adalah bagian

dari rencana Allah sebagai perintis pergerakan

Islam di zaman akhir. Ahmadiyah adalah

pelopor perjuangan untuk kemenangan Islam.

Imam zaman telah memberikan metode perjuangan

untuk menyebarluaskan gerakan ini

demi tujuan “kemenangan Islam”. Tetapi selama

ini kita belum bergerak! Kita belum bersungguh-sungguh

bekerja meluaskan gerakan

ini! Kita masih setengah hati dalam memperjuangkan

Islam!

Marilah kita mengevaluasi diri: apa yang

telah kita kerjakan dan kita sumbangkan untuk

perjuangan Islam ini Masing-masing dari kita

pasti punya kemampuan dan kelebihan yang

berbeda-beda, sudahkah sebagian dari yang

kita punya diberikan untuk keperluan perjuangan

ini Sudahkah kita mengelola GAI ini

dengan benar Itulah yang harus kita evaluasi

sekarang!

Sementara itu, coba kita lihat lembaga lain

yang bisa maju berkembang menjadi besar.

Tentu itu bukan karena kebetulan, tapi karena

mereka memang membuat rencana dan aktif

menggerakkan organisasinya. GAI jelas ormas

unggulan dan sudah lama didirikan, tetapi

mengapa masih tertinggal jauh dari yang lain

Apa karena salah urus, sehingga stagnasi, jalan

di tempat, atau barangkali bahkan jalan mundur

Edisi 005 | Februari 2015


Mari sekarang kita lakukan otokritik, self

correction, mengkritik dan mengoreksi diri sendiri.

Apa yang kurang di tubuh GAI ini Ibarat

pepatah, “banyak jalan menuju Roma”, banyak

pula cara membesarkan dan memajukan

GAI. Pertanyaannya, adakah pada diri kita

niat dan kemauan Punyakah kita kemampuan

Kita yakin semua punya niat dan kemampuan,

yang belum ada adalah kemauan

untuk membesarkan dan memajukan GAI

karena keengganan untuk bergerak.

Sebelum melangkah pada strategi membangun

organisasi, terlebih dahulu kita menata

manajemen induk organisasi beserta cabangcabangnya.

Sejauh mana kepedulian dan kinerja

para pengurusnya, karena laju roda organisasi

lebih ditentukan oleh para pengurus yang

punya sifat amanah dan progresif, tidak sekedar

mampu dan bisa, tapi juga cerdas dalam

mengambil kebijakan dan keputusan. Para

pengurus organisasi tidak cuma mampu mengelola

keuangan dengan benar, tapi harus juga

mampu berpikir dan bekerja supaya organisasi

itu bisa mendapatkan uang. Para pengurus

harus bisa merumuskan program kerja untuk

kemajuan organisasi dan bisa mencapai target.

Insya allah, dengan demikian GAI yang kita

cintai ini benar-benar akan menjadi pelopor

dalam memenangkan Islam.

Yang amat penting adalah hendaknya setiap

pengurus mengajak anak-anak dan anggota

keluarganya menjadi para pendukung GAI.

Pengkaderan dimulai dari anak-anak kita dan

keluarga kita. Seorang kader tidak harus pandai

bicara atau ceramah, barangkali cukup bisa

aktif dalam kegiatan GAI dan sekurang-kurangnya

bisa menjadi pendukungnya. Akan

sangat ironi jika anggota keluarganya tidak

pernah dikenalkan bahkan tidak tahu apa itu

Ahmadiyah. Dengan segala kemampuan yang

ada, saatnya sekarang kita mulai membulatkan

tekad menyusun strategi, bagaimana cara

membesarkan dan memajukan GAI, dimulai

dari potensi yang ada sekarang.

Berikut ini adalah beberapa strategi yang

mungkin bisa dilakukan ke depan.

Strategi melalui pendidikan

PIRI adalah amal usaha GAI yang sedikit

banyak telah memberi kontribusi. Ke depan

PIRI harus ada perekrutan siswa/siswi yang

potensial untuk dibina menjadi kader. Jika

perlu, ada kelas intensif sebagai ladang persemaian

kader GAI pada jalur sekolah umum.

Selama ini pada umumnya lulusan sekolah

PIRI sekedar mengenal dan memahami apa

itu Ahmadiyah saja, tapi relatif jarang yang

bisa menjadi kader dan pendukung GAI.

Di tingkat cabang, bilamana memungkinkan,

didirikan lembaga pendidikan semacam

PIRI atau setidak-tidaknya dimulai dengan

mendirikan PAUD atau TK yang tidak memerlukan

biaya besar. Ini adalah langkah menebar

benih di ladang persemaian. Dalam lembaga

itu kita bisa mengenalkan kepada para

anak didik dan orangtua mereka apa itu paham

Ahmadiyah, sehingga pada akhirnya orang

tidak lagi pobia dengan Ahmadiyah.

Pondok Pesantren Minhadjurrahman,

yang telah didirikan pada pertengahan 2014

lalu, segera dipikirkan bagaimana pengembangan

dan kelangsungannya ke depan. Tujuan

pondok tersebut secara khusus dipersiapkan

menjadi ladang persemaian kader forming

(kader yang dibentuk), maka harus secepatnya

dibuatkan kurikulum khusus tentang keahmadiyahan

dan ditambah segala fasilitas pendukungnya.

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|17


Strategi melalui media sosial dan umum

Website yang dimiliki GAI dirasa sudah

cukup, barangkali hanya perlu ditambah konten

yang menarik perhatian publik. Misalnya

menyuguhkan kalimat-kalimat mutiara yang

diucapkan oleh para tokoh atau ilmuwan terkenal

zaman dulu, atau apa saja yang sifatnya

mendidik, yang disukai pengunjung. Sehingga

lebih banyak pengunjung yang ingin mengetahui

apa itu ahmadiyah.

Di samping menerbitkan buku-buku keagamaan,

perlu juga menerbitkan majalah umum

atau majalah keagamaan yang bisa dipasarkan

kepada masyarakat luas dari semua kalangan,

sehingga pada saat-saat tertentu kita bisa memasukkan

artikel tentang keahmadiyahan secara

detail. Karena, selama ini jarang atau bahkan

tidak ada media yang mau memuat artikel

tentang ahmadiyah. Ini adalah sarana pengenalan

yang lazim digunakan oleh setiap ormas.

Perlu juga dipikirkan untuk mendirikan

sebuah pemancar radio komunitas atau radio

komersial umum. Dari media itu kita punya

peluang seluas-luasnya dalam menyosialisasikan

Ahmadiyah. Kita suguhkan siaran menarik

dari semua kalangan, misalnya lagu-lagu

hits masa kini dan lagu kenangan masa lalu,

siaran ajang kreasi muda-mudi, siaran pendidikan

dan agama, dan lain sebagianya, yang

bisa menarik pendengar. Sehingga sarana tersebut

di samping bisa menghasilkan, juga menjadi

media dakwah GAI. Terlebih lagi jika kita

bisa mendirikan pemancar televisi.

Strategi interaksi langsung dengan pihak lain

Perlu kiranya diadakan sarasehan umum

atau seminar rutin, yang mengundang pihak

luar sebagai sarana dakwah ilmiah. Kita bisa

menyampaikan ide-ide dakwah dari pemahaman

Ahmadiyah kepada kalangan terpelajar,

birokrat dan pengurus lembaga yang lain, juga

para tokoh masyarakat sehingga mereka dan

para tokoh sentral setidak-tidaknya mengenal

paham Ahmadiyah dari sumber resmi dan bisa

menghilangkan kesalahpahaman yang dibuat

dari pihak yang anti dengan Ahmadiyah.

Para kader dan anggota GAI harus melibatkan

diri di masyarakat dalam kegiatan-kegiatan

sosial, bisa menjadi panutan dan teladan

masyarakat. Para kader atau mubaligh GAI

harus terbiasa mengisi ceramah umum dan

menjadi juru dakwah di seluruh kalangan,

misalnya jadi khatib di masjid-masjid milik

umum. Jadi pengisi acara-acara pada majelis

ta’lim dan ikut aktif dalam jama’ah/perkumpulan

masyarakat lainnya. Inilah metode dakwah

langsung yang efektif.

Strategi bersifat komersial

Seperti halnya yang dilakukan oleh para

pedagang Gujarat dalam mengenalkan agama

Islam di Indonesia, mereka dengan jalan berdakwah

sambil berdagang. Maka para kader

GAI hendaknya juga dibekali keahlian kewirausahaan

agar bisa berdakwah menyebarkan

Islam di berbagai medan sambil bekerja.

Kita juga bisa membentuk jaringan bisnis

kontemporer, yang mana jaringan itu mulai

hulu sampai hilir dipegang oleh para anggota

dan simpatisan GAI, karena badan usaha tersebut

bisa menjadi pengikat satu sama lain

hingga terbentuklah ukhuwah ahmadiyah.

Dalam kegiatan usaha tersebut ada kewajiban

membayar jariyah/nafkah kepada GAI, sehingga

organisasi ini mendapat pemasukan

keuangan untuk kelangsungan dan pengembangannya,

dan memudahkan pembentukan

cabang GAI di daerah.[]

18|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015


Artikel Jalsah

Strategi Membangun

Generasi Muda Ahmadi

Oleh: Drs. Asadi Alfatah | Ketua GAI Cabang Kediri

Lingkungan keluarga sangatlah menentukan

untuk meletakkan dasar-dasar

kepribadian anak. Orangtua harus

bisa menjadi panutan dan memberi contoh

yang baik kepada anak-anaknya. Ucapan dan

perbuatan orangtua akan menjadi cermin bagi

anak dan anak merupakan bayangan dalam

cermin bagi orangtuanya.

Dalam lingkungan keluarga, terdapat hakhak

anak, sebagai amanah dari Allah, yang

harus dipenuhi oleh orangtua, antara lain:

1. Mendidik anak dengan baik. “Orang yang

mendidik anaknya itu lebih baik baginya

daripada bersedekah satu sha’ setiap hari”

(HR Tirmidzi)

2. Memberi pelajaran budi pekerti yang mulia.

Orangtua harus memberi contoh yang

baik kepada anak-anaknya tentang caracara

bergaul, sopan santun, berbicara yang

baik, dan lain sebagainya. “Tidak ada pemberian

orangtua kepada anak yang lebih

utama daripada budi pekerti yang baik”

(HR Tirmidzi)

3. Mengajarkan kepada anak segala sesuatu

yang bisa memberi manfaat kepada agamanya,

tanah airnya dan sumber penghidupannya.

Seperti yang telah dicontohkan oleh

Luqman dalam menasehati anaknya agar

selalu menjalankan shalat dan amar ma’ruf

nahyi munkar. “Wahai putraku, tegakkan-

lah shalat, dan suruhlah berbuat baik, dan

laranglah berbuat jahat, dan bersabarlah

terhadap apa yang menimpa engkau. Sesungguhnya

ini adalah golongan perkara

besar yang harus diniati dengan kuat.” (QS

31:17)

4. Jika anak tidak diberi bekal pendidikan

atau ilmu maka akan merepotkan orangtua:

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan

anak-anakmu adalah cobaan, dan bahwa

Alah itu, di sisi-Nya, adalah ganjaran yang

besar” (QS 8:28)

5. Kasih sayang yang hakiki adalah mengasuh

dan membimbing anak hingga menjadi

orang saleh: “Dan hendaklah orang-orang

takut kalau-kalau di belakang hari, mereka

meninggalkan keturunan yang lemah, yang

mereka merasa cemas akan nasib mereka,

maka hendaklah mereka bertaqwa kepada

Allah dan berkata dengan kata-kata yang

benar” (QS 4:9)

Layaknya sebuah keluarga, organisasi juga

perlu menyiapkan generasi baru yang akan

meneruskan gerak langkahnya ke depan, yang

kita kenal dengan istilah kaderisasi. Dalam

hal ini, perlu adanya metode yang terencana

dan sistematis. Perhatikanlah beberapa ayat

al-Qur’an di bawah ini:

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|19


“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan

yang menyeru berbuat benar dan melarang berbuat

salah. Dan itulah orang yang beruntung”

(QS 3:104)

“Berangkatlah baik ringan maupun berat dan

berjuanglah di jalan Allah dengan harta dan jiwa

kamu. Ini adalah baik bagimu, jika kamu mengetahui”

(QS 9:41)

“Dan janganlah kaum mukmin perti semuanya

(ke medan tempur). Mengapa tidak pula berangkat

satu rombongan dari tiap-tiap golongan di

antara mereka, agar mereka dapat mengusahakan

diri untuk memperoleh pengetahuan agama,

dan agar mereka dapat memberi ingat kepada

kaum mereka setelah mereka kembali kepada

mereka, agar mereka berhati-hati” (QS 9:122)

“Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan

adalah umat yang memberi petunjuk dengan kebenaran,

dan dengan kebenaran itu mereka menjalankan

keadilan” (QS 7:181)

Memperhatikan ayat-ayat Qur’an di atas,

ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Semua ide atau faham perlu dikembangkan

terus menerus.

2. Pengembangan ide atau faham itu membutuhkan

kader atau mubaligh

3. Kader ada dua macam. Pertama, kader yang

tumbuh secara alami, bersifat insidental,

atas kesadaran sendiri, tidak direncanakan,

dan kemunculannya tergantung situasi

dan kondisi. Kedua, kader yang dididik/

diprogram, bersifat kontinyu, atas kesepakatan

bersama, terencana/terprogram,

dan mampu mengatasi situasi yang berbeda-beda.

4. Semua ide/faham harus dibarengi dengan

mencetak para kader, ini sesuai dengan sistem

kehidupan organisasi modern untuk

menjaga eksistensinya.

5. Kebenaran yang tidak terorganisir sangat

mungkin terkalahkan oleh kebatilan yang

terorganisir rapi, dengan penataan kader

yang sistematis.

6. Pengkaderan secara organisatoris, terencana,

tertstuktur, wajib dilakukan oleh organisasi

modern dan diperlukan orang-orang

yang sanggup mengusahakan diri untuk

belajar memperoleh pengetahuan agama.

***

Adalah sebuah keprihatinan yang mendalam

bagi saya, selama bertahun-tahun, ketika

memperhatikan organisasi ini, yang tidak bersegera

membangun fondasi yang kuat dalam

tubuh generasi mudanya.

Layaknya bangunan, sebuah organisasi

akan terlihat berdiri tegak dan kokoh apabila

fondasinya dipersiapkan dengan baik dan benar.

Berdiri tegaknya sebuah organisasi dapat

terwujud bila regenerasinya dipersiapkan dengan

baik.

Sangatlah jauh dari kemungkinan mengharapkan

tumbuh kembangnya benih-benih baru

apabila hanya disebar pada tanah padang yang

tandus dan gersang. Sebaliknya, benih-benih

itu akan tumbuh dengan baik jika ditabur pada

tanah yang gembur dan subur, serta dirawat,

dipelihara, dan dijaga dari gangguan-gangguan

penyakit dan hama. Dengan demikian, barulah

ada harapan akan menghasilkan bibit-bibit

baru yang unggul dan baik juga tahan dari berbagai

serangan penyakit dan hama.

Tapi sungguh, ada harapan baru yang menggembirakan

bagi saya saat sekarang ini, dengan

sudah dimulainya pengkaderan terpadu, berupa

Pondok Pesantren Minhajurrahman. Ada

sebagian dari anak-anak kita yang dipondokkan

di Pesantren Minhadjurrahman, yang diharapkan

kelak akan tumbuh menjadi genera-

20|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015


si baru yang unggul, yang dapat meneruskan

perjuangan Gerakan ini. Karena itu, wajib hukumnya

bagi kita semua warga GAI untuk

ikut menyukseskan program kaderisasi ini

dengan melalui berbagai bentuk bantuan, baik

berupa dana, tenaga, pikiran maupun do’a.

Saya meyakini, bahwa pola pengkaderan

yang efektif dan nyata berhasil, adalah sistem

pondok seperti ini. Namun ada beberapa hal

yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan

pondok pesantren, antara lain sebagai berikut:

1.Asrama. Diperlukan tempat yang aman dan

nyaman untuk para santri agar merasa enjoy

(senang) dalam menerima kajian keagamaan.

2.Tenaga pengajar. Diambil dari para senior,

ustad, kyai yang sesuai dengan keahliannya

masing-masing dan bisa diambilkan ustad

dari luar jamaah jika diperlukan untuk materi

non tajdid.

3.Standar calon santri. Calon santri harus sudah

bisa membaca Qur’an, mengenal huruf

Arab, lulusan smp/mts dengan nilai akademik

rata-rata, dan sanggup disekolahkan di

PIRI.

4.Waktu pendidikan. Lama pendidikan minimal

tiga tahun, menyesuaikan masa sekolah

SLTA dan bisa ditambah empat tahun lagi

bagi yang mampu melanjutkan kuliah dan

sekaligus sebagai tenaga pengajar bagi juniornya.

5.Biaya. Para santri harus dibebaskan dari segala

biaya. Karena itu diperlukan sumber

dana pendukung dari berbagai pihak. Bisa

dari nafakah, infak dari anggota ahmadi, para

donator atau usaha-usaha lain.

Selain hal di atas, diperlukan juga kurikulum

dan rumusan khusus materi ajar untuk

para santri, yang dibuat secara baku, antara

lain sebagai berikut:

1.Qur’an dan Hadits. Materi ini mutlak diperlukan

karena menyangkut akidah, fikih,

tajwid, karena seluruh sumber agama Islam

berasal dari dua kitab tersebut

2.Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Bahasa

merupakan alat komunikasi, ilmu pengetahuan

modern banyak ditulis menggunakan

dua bahasa tersebut. Buku-buku karya mujaddid,

dan para ulama besar banyak menggunakan

bahasa Arab dan Inggris.

3.Tarikh dan Sosiologi. Sangat penting untuk

mendalami sejarah perkembangan dan peradaban

Islam zaman permulaan hingga kini,

untuk diambil pelajaran dan teladan masa

lampau serta mengambil hikmahnya

4.Politik dan Manajemen. Pengetahuan dasar

politik dan manajemen dimaksudkan agar

para santri nantinya mampu membantu memecahkan

problem sosial dan mengetahui

arus zaman

5.Tajdid–Keahmadiyahan (ajaran Islam yang

ditajdid). Ahmadiyah adalah organisasi

pembaharu dalam Islam, maka materi tajdid

harus menjadi kajian yang mendalam agar

para santri faham dan menguasai dalil-dalil

tajdid yang menjadi ciri khas ahmadiyah.

6.Pengembangan metode dakwah. Antara

lain melatih pidato, diskusi, komunikasi

efektif, jurnalistik, dan metode lain yang sesuai

dengan kemampuan masing-masing

santri

Mudah-mudahan pesantren ini akan terus

ada selama gerakan ini masih ada, dan semoga

rencana ini berhasil sesuai harapan kita bersama.

Amin.[]

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|21


Artikel Jalsah

Kehancuran Manusia

Akibat Mengabaikan Qur’an

Oleh: Ahmad Muntoha

Wakil Ketua GAI Cabang Purbalingga

I

slam adalah agama yang lengkap dan

sempurna (QS 5:3). Demikianlah firman

Allah, sang Pencipta alam semesta dengan

segala isinya, termasuk semua manusia, yang

jumlahnya sudah mencapai enam milyar lebih,

yang tersebar di segala penjuru bumi.

Sumber ajaran Islam adalah Al-Qur’an, satusatunya

Kitab Suci dimana kumpulan firmanfirman

Allah diabadikan. Dipandu oleh kitab

Hadits sahih, dimana kata-kata dan perbuatan

Nabi Suci Muhammad saw. diabadikan pula.

Nabi Suci Muhammad saw. (570-632 M)

adalah satu-satunya orang yang mampu memimpin

peradaban manusia yang mengalami

kerusakan pada zamannya, yang dikenal sebagai

zaman kegelapan (dark age), atau lebih populer

dengan sebutan zaman jahiliyah, suatu

zaman yang penuh duka nestapa bagi kaum

lemah dan penuh permusuhan bagi kaum yang

punya kemampuan (QS 30:41). Beliau berhasil

memenangkan dan menegakkan tatanan

kehidupan yang baik dan benar, agar manusia

hidup damai sejahtera, baik lahir maupun

batin.

Perihal kemenangan Nabi Suci tersebut

diuraikan dalam Surat Al-Bayyinah (QS 98),

surat yang diwahyukan di zaman permulaan

Mekah. Wahyu-wahyu yang tercantum di dalam

surat ini adalah nubuat mengenai tatanan

kehidupan manusia dalam bingkai nilai-nilai

luhur Islam yang akan mewujud menjadi kenyataan.

Allah memberi petunjuk mengenai

apa yang harus dilakukan untuk mencapai

kemenangan itu.

Pada ayat kelima surat tersebut, Allah

memberikan petunjuk bagaimana menjalani

kehidupan yang benar, yakni dengan cara

mengabdi kepada Allah dengan perasaan tulus

ikhlas serta patuh pada tata aturan agama yang

diwahyukanNya, menegakkan shalat dan

membayar zakat. Ketentuan tersebut merangkum

tatanan hidup yang mengatur hubungan

manusia dengan sesama manusia dan hubungan

manusia dengan Allah. Yang demikian itulah

yang disebut sebagai agama yang benar.

Bukti kemenangan Nabi Suci dijelaskan

secara rinci pada ayat 6 sampai 8, dimana

orang kafir akan mengalami kehidupan yang

buruk, dan sebaliknya orang yang beriman dan

berbuat baik akan mengalami sukses.

Lantas, mengapa kehancuran terjadi kembali

dalam kehidupan manusia Jawaban singkatnya

adalah karena Al-Qur’an, yang merupakan

tuntunan yang paling benar (QS 17:9),

ditinggalkan begitu saja. Peringatan-peringatan

serta tata aturan hidup yang diwahyukan

kepada utusan Allah itu diabaikan. Sampaisampai,

Rasulullah berkata, “Tuhanku, kaumku

sudah memperlakukan Qu’ran ini sebagai

barang yang ditinggalkan” (QS 25:30)

22|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015


Dalam Qur’an Suci, kita mendapati berbagai

kisah hikmah mengenai berbagai bangsa

yang mengalami kehancuran karena mendustakan

peringatan Allah. Contohnya adalah

Kaumnya Musa, Nuh, ‘Ad, Tsamud, sebagai

berikut:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab

kepada Musa, dan Kami telah membuat saudaranya,

Harun, sebagai pembantu menyertainya.

Lalu kami berfirman: Pergilah kepada kaum

yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka mereka

kami binasakan sama sekali.

Dan kaum Nuh, mereka kami tenggelamkan

tatkala mereka mendustakan para Utusan. Dan

mereka Kami buat sebagai tanda bukti bagi manusia.

Dan Kami telah menyiapkan siksaan yang

pedih bagi kaum lalim.

Dan pula kaum ‘Ad dan kaum Tsamud dan

para penghuni Rass dan banyak generasi di antara

mereka. Masing-masing mereka kami jadikan

percontohan, dan masing-masing Kami binasakan

sama sekali.

Dan sesungguhnya mereka telah mendatangi

suatu kota yang dihujani dengan hujan yang jahat.Apakah

mereka tak melihat itu Tidak, malahan

mereka tak mengharap dibangkitkan

kembali” (QS 25:35-40).

Peringatan Qur’an ditujukan juga kepada

perseorangan/individual. Sebagai contoh peringatan

kepada Qarun, yang dikaruniai kelimpahan

harta, namun Ia mendurhaka terhadap

peringatan Allah.

“Sesungguhnya Qarun itu kaumnya Musa, tetapi

ia mendurhaka terhadap mereka. Dan Kami

berikan harta kepadanya begitu banyak sehingga

timbunan hartanya terasa berat sekalipun dipikul

oleh segerombolan orang-orang yang kuat. Tatkala

kaumnya berkata kepadanya: jangan berfoya-foya,

sesungguhnya Allah tak suka pada orang

yang suka berfoya-foya.

Dan carilah tempat tinggal di akhirat dengan

barang yang diberikan oleh Allah kepada engkau,

dan janganlah engkau lupakan bagian engkau

tentang keduniaan dan berbuatlah baik kepada

(orang lain) sebagaimana Alah berbuat baik kepada

engkau, dan jangan mencari kerusakan di

bumi. Sesungguhnya Allah tak suka pada orang

yang berbuat rusak.

Ia (Qarun) berkata: Aku diberi harta ini karena

aku memiliki pengetahuan. Apakah ia tak tahu

bahwa Allah telah membinasakan sebelum dia,

banyak generasi yang lebih hebat kekuatannya

daripada dia dan lebih banyak jumlah hartanya.

Dan orang yang salah tak akan ditanya tentang

dosa mereka.

Maka keluarlah ia dengan pakaian yang bagusbagus

kepada kaumnya. Orang-orang yang mendambakan

kehidupan dunia berkata: oh, sekiranya

kami diberi seperti apa yang diberikan kepada

Qarun. Sesungguhnya dia mempunyai nasib

yang baik sekali.

Dan orang-orang yang diberi ilmu berkata:

celaka sekali kamu! Ganjaran Allah itu lebih baik

bagi orang yang beriman dan berbuat baik. Dan

tiada yang mendapat itu kecuali orang yang sabar.

Maka Qarun Kami benamkan dengan tempat

tinggalnya dalam bumi. Dan ia tak mempunyai

pasukan yang membantu dia melawan Allah dan

tiada pula ia golongan orang yang membela diri.”

(QS 28: 76-81)

Ayat-ayat di atas merupakan rambu-rambu

peringatan bagi orang yang beriman kepada

kitab suci Al-Qur’an, agar mengambil posisi

jalan hidup yang terhindar dari kehancuran,

yaitu jalan yang dilindungi oleh Allah dari

segala penyebab kehancuran. Orang beriman

dan berbuat kebaikan pasti dilindungi dari

segala bencana.

Agama Islam merupakan proyek untuk

membangun akhlak manusia. Nabi Muhammad

saw. bersabda, “Aku diutus untuk membangun

akhlak yang mulia.” Mengapa akhlak

Karena Akhlak mempunyai fungsi yang dominan

untuk menentukan baik dan buruknya

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|23


keadaan hidup manusia, yang dalam istilah

agama disebut neraka atau sorga, bagi kehidupan

manusia di dunia dan akhirat kelak setelah

kita ada di haribaan sang Maha Hidup.

Nabi Muhammad saw. adalah seorang

ilmuwan, panglima perang, negarawan, guru

besar yang berhasil sukses, membangun manusia

yang sudah rusak akhlak dan mati ruhaninya.

Sehingga kebiasaan sehari-harinya hanya

pemuasan nafsu biologis semata, seperti mabuk-mabukan.

Otaknya mati tak berfungsi.

Kehidupan mereka tidak ada bedanya dengan

binatang.

Gerakan yang dilakukan oleh Nabi Suci

Muhammad saw. mampu menggetarkan bangsa

Arab pada saat itu, suatu bangsa yang membanggakan

dirinya dengan pedang sebagai

sarana untuk membela kepentingan hidupnya.

Semuanya disapu bersih menjadi bangsa yang

bersatu, saling bantu-membantu satu sama

lain, sehingga disegani oleh bangsa lain yang

ingin menguasainya. Dalam kurun waktu dua

puluh tiga tahun terhitung sejak beliau menerima

wahyu dari Allah, sang pencipta makhluk

yang namanya manusia, umat Islam menjadi

umat yang super power.

Lalu power apa yang dimiliki oleh umat Islam

pada saat itu Menurut Khawaja Kamaluddin

dalam bukunya “Rahasia Hidup”, adalah

power of action, yakni Qur’an Suci. Dan

untuk mendapatkannya harus ada will to action,

yakni kemauan untuk mempelajari dan

mengamalkannya.[]

Sekilas Riwayat Penulis

Penulis berbai’at tahun 1960 melalui Bapak R. Sumardi, senior yang termasuk generasi

Bapak Djojosoegito. Sejak masuk menjadi warga GAI, penulis selalu mengikuti pengajian

yang disajikan oleh Bapak R. Sumardi. Dari beliaulah penulis menjadi paham ilmu agama

Islam. Tahun 1970, penulis pergi ke Tarakan, Kalimantan Timur, untuk mencari nafkah,

dan kembali ke kampung halaman pada tahun 1978. Sejak itu, penulis berlanjut mengikuti

pengajian yang disajikan oleh Ibu Harjo Subroto.

Sejak Purbalingga dibentuk sebagai cabang GAI tersendiri, oleh Bapak Djojosoegito,

saya menjadi pendamping Bapak Imam Suwardi sebagai wakil ketua, sementara Bapak

Sawiroji bertindak sebagai bendahara. Adapun Bapak Sardiman berperan sebagai Guru

Penasehat, karena beliau berdomisili di wilayah Purwokerto. Sejak itu kami berkomitmen

untuk mengadakan pengajian sebulan dua kali (minggu kedua dan keempat) sampai sekarang,

meski hanya diikuti oleh dua orang sekalipun.

Tahun 2010 pernah masuk JAI, sehabis JAI didemo besar-besaran di wilayah Bogor,

dengan alasan ingin tahu lebih banyak ajaran Islam yang dianut oleh JAI. Tapi itu hanya

berlangsung kurang lebih selama tiga bulan, lalu keluar secara baik-baik.

Buku-buku yang penulis miliki antara lain Quran Suci, Islamologi, Keesaan Ilahi, dan

Islam dan Ilmu Pengetahuan. Tetapi banyak juga buku dari luar GAI yang kami jadikan

perbandingan untuk memahami Islam secara keseluruhan. Seluruhnya hampir ada 60

judul buku.[]

24|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015


DANA SPONTANITAS PENGAJIAN TAHUNAN GAI

21 DESEMBER 2014

No Nama A sal Jumlah

1 Dr. Sukasno Kudus 2,000,000

2 Kel. Bp. Iwan Yusuf Yogya 1,000,000

3 Drs. Jumanto SMK PIRI 1 500,000

4 SMK PIRI 1 Yogya 2,000,000

5 Hamba Allah 500,000

6 SMK PIRI 3 Yogya 700,000

7 Ny. Rochmani Prayogo Yogya 200,000

8 ATEKPI Yogya 225,000

9 SMA PIRI 1 Yogya 500,000

10 M. Ali Arie Susanto SMA PIRI 1 200,000

11 Guru SMA PIRI 1 Yogya 50,000

12 Hamba Allah SMA PIRI 1 50,000

13 Guru SMA PIRI 1 SMA PIRI 1 50,000

14 Hamba Allah 50,000

15 Hamba Allah 50,000

16 Diah Rahmawati Imogiri, Bantul 20,000

17 Hamba Allah 100,000

18 SMP PIRI Ngaglik Yogya 500,000

19 Hamba Allah 50,000

20 Hamba Allah 200,000

21 SMK PIRI 2 Yogya 500,000

22 Guru SMK PIRI 2 Yogya 200,000

23 SMK PIRI 2 Yogya 500,000

24 Hamba Allah 50,000

25 Umi Fitri Yogya 50,000

26 Hamba Allah 20,000

27 SD PIRI Yogya 250,000

28 Hartanti SD PIRI 200,000

29 Hamba Allah 10,000

30 Hamba Allah 100,000

31 SMK PIRI Ngaglik Sleman, Yogya 500,000

32 Kel. Asrori Sapen, Yogya 500,000

33 Katana Jombang 200,000

34 Bp. Musni & ibu Pare, Kediri 500,000

35 Nur Laili & Irdina Pare, Kediri 1,000,000

36 SMP PIRI 1 Yogya 750,000

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|25


No Nama A sal Jumlah

37 GAI Cabang Jakarta Jakarta 500,000

38 Ibu Koentadi Jakarta 500,000

39 Hamba Allah Jakarta 50,000

40 Ibu Variny mansyur Jakarta 200,000

41 GAI Cabang Blitar Blitar 500,000

42 Hamba Allah PIRI Baciro 20,000

43 H. Moch. Susin Pare, kediri 1,000,000

44 Bp Asadi Alfatah Kediri 100,000

45 Sabar Lampung 50,000

46 Abdul Rochman Krian, Sidoarjo 500,000

47 Hamba Allah 20,000

48 NN SMP PIRI 2 10,000

49 SMA PIRI Lampung Lampung 150,000

50 Kel. Drs. H. Yatimin As.** Tirtoadi, Mlati, Yk 1,000,000

51 Sulartri SMP PIRI 1 150,000

52 Nurningsih SMP PIRI 1 50,000

53 Hamba Allah 75,000

54 Pardiman SMP PIRI Ngaglik 300,000

55 Muslimat GAI Cab.Kediri Kediri 1,090,000

56 Hj. Kutaji Pare, Kediri 100,000

57 M. Andi Saputra Kediri 100,000

58 Muslimat GAI Yogya Yogya 100,000

59 Bp. Bambang Pare, Kediri 11,000

60 Hamba Allah 50,000

61 Hamba Allah 250,000

62 Bp. Sardiman 200,000

63 Kel. GAI Ranting Kepung 195,000

64 Hamba Allah 15,000

65 Soetedjo 25,000

66 GAI Cab. Purwokerto 1,000,000

67 Bp Muh. Anwar Purwokerto 250,000

68 Hamba Allah 50,000

69 GAI Cabang magelang 120,000

70 Hamba Allah 15,000

71 Hamba Allah 20,000

72 Hamba Allah Kediri 25,000

73 Hamba Allah 50,000

74 Hamba Allah Banda I/9 100,000

** Diperuntukkan bagi Pondok Pesantren Minhadjurrahman

26|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015


No Nama A sal Jumlah

75 Ridwan Dwi Jatmiko Kediri 100,000

76 Ridha Rahmatunafi Kediri 100,000

77 Luluk Nur Fitri Kediri 100,000

78 GAI Cabang Kediri Kediri 500,000

79 Ahmad Hamam Arafi Kediri 100,000

80 Adik Muna Kediri 12,000

81 Ahmad Ervan Habibi Kediri 100,000

82 Andrea Ruli M + Alia R.R. Kediri 100,000

83 Lutfi Yohana S.P. Pranggang, Kediri 100,000

84 Misimin Pranggang, Kediri 100,000

85 Ibu Siti Amanah Supodo Kediri 50,000

86 anak Fino dan Raka Kediri 50,000

87 Ibu Muharsitin Kranggan, Kediri 150,000

88 Hamba Allah 100,000

89 GAI Cabang Purbalingga Purbalingga 300,000

90 Hamba Allah Purbalingga 50,000

91 GAI Cabang Wonosobo Wonosobo 710,000

92 Hamba Allah 10,000

93 Ifka Purbalingga 50,000

94 Hamba Allah 100,000

95 Kel. Cecep Purbalingga 100,000

96 Bp. Radi Pare, kediri 100,000

97 Kel. Sahruji Pare, kediri 500,000

98 Muslimat Wonosobo Wonosobo 400,000

99 Dulmajid Wonosobo 25,000

100 Ibu Harwoto Wonosobo 20,000

101 Ibu Karomah Wonosobo 100,000

102 Fajar Arif S. Purbalingga 50,000

103 Hamba Allah Purbalingga 70,000

104 Hamba Allah Purbalingga 100,000

105 Hamba Allah Purbalingga 50,000

106 Ibu Suwito Purwokerto 100,000

107 Agni Ari Purwokerto 100,000

108 Majlis Studi Islam Wonosobo 500,000

109 Ibu Priyanto Wonosobo 100,000

110 Widiyati Wonosobo 20,000

111 Mustofa Wonosobo 10,000

112 Ibu Sukarno Sokaraja, Banyumas 100,000

113 Rusmiyati Pliken 10,000

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|27

Lanjutkan di halaman 28


No Nama A sal Jumlah

114 Muslimat PD II Purwokerto Purwokerto 100,000

115 Muti Pliken 20,000

116 Hamba Allah 20,000

117 Hamba Allah 20,000

118 Hamba Allah 30,000

119 B. Buseri Pliken 50,000

120 Saefudin Wonosobo 150,000

121 Bimo WW Sembung, Sleman 50,000

122 Hamba Allah PIRI Baciro 10,000

123 Wahyu Sahrul Gunawan Pasarlawas, Wonosobo 30,000

124 SMP PIRI 2 Yogya 300,000

125 SMK Kesatrian Purwokerto 1,000,000

126 Hery Setiawan Wonosobo 30,000

127 S. Anjar Setyono Wonosobo 500,000

128 Mimin Sukaesih Griya Jetis Asri, Yk 1,250,000

129 Bp. Purwiyadi SMP PIRI 1, Yogya 147,000

130 Bp. Muslich ZA & Ib. Ida Yogya 20,000,000

131 Hamba Allah Yogya 40,000

132 Bp. Bakri Kediri 100,000

133 Ibu Si'ah Kediri 100,000

134 Bp. Mustamin Madiun 1,500,000

Jumlah

Terbilang

54,000,000

Lima Puluh Empat Juta Rupiah

Soedewo .... (dari hal. 10)

Dalam profesinya sebagai guru, Soedewo banyak

juga mengarang buku-buku pelajaran

sekolah, membuat atlas sekolah dan atlas sejarah.

Buku-buku terbitan AAIIL yang diterjemahkan

Soedewo antara lain Muhammad de

Profeet, De Leerstellingen van den Islam, De Bronnen

van het Cristendom, Het Geheim van het Bestaan,

Het Nut van God, De Geboorte van Jezus,

Mirza Ghulam Ahmad de Man, De Boodschap

van den Heiligen Profeet to Europa, De Roep van

der Islam, De Islamitische Instelling van het Gebed,

De Waarheid van den Heiligen Profeet, Korte Schet

van het Leven van den Heiligen Profeet, dan De

Inleiding tot de studie van den Qur’an. Sementara

buku-buku karangannya sendiri antara lain

Positive Leenshouding van den Islam, Keur van de

Qur’an Verzen , Handleiding tot de studie van de

Arabische Taal, Gerakan Ahmadiyah, Intisari

Qur’an Suci, Islam Yang Saya Bela, Islam dan Ilmu

Pengetahuan, Cara Mempelajari Qur’an, Jesus

Tidak Mati di Kayu Palang, Ishak atau Ismailkah

yang dikurbankan, Masih hidupkah Nabi Isa

dengan badan jasmaninya di langit, Mi’raj Nabi

Muammad saw., Tuntunan Pelajaran Bahasa

Arab, dan Keesaan Ilahi.[bas ]

28|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015


KOLOM

Sorga dan Neraka

Oleh: Mardiyono

Semua orang akan mati, itu sudah pasti.

Tetapi yang belum pasti ialah orang

akan masuk Sorga atau masuk Neraka.

Ketidakpastian ini membuat banyak orang

segan untuk berpikir tentang Akhirat.

Meski mungkin orang sudah banyak tahu,

bahwa Akhirat adalah hidup sesungguhnya,

yang abadi, yang harus dipersiapkan sekarang

dengan baik, namun intuisi orang seringkali

tetap memilih untuk tidak peduli apa jadinya

nanti. Lha wong ngurusi urusan yang sekarang

saja banyak terbengkalai, sudah itu ditambah

perkara masa lalu, umpama masih harus melunasi

hutang, yang belum juga kelar. Lha kok

masih harus dibebani berpikir tentang yang

bakal datang, rupa-rupanya terlalu berat!

Tetapi, Tuhan Yang Maha Kasih, sesungguhnya

sudah lama memberitahu kita: ada dua

Sorga, yaitu Sorga sekarang dan Sorga Akhirat

(QS 2:25, 55:46). Maka tentu juga ada Neraka

sekarang dan Neraka Akhirat. Sorga di Dunia

akan diteruskan dengan Sorga di Akhirat (QS

2:25). Neraka di dunia akan diteruskan dengan

Neraka di Akhirat (QS 17:72). Sorga dalam

kehidupan sekarang ini ditandai dengan DA-

MAI dan BAHAGIA, serasa TUHAN DE-

KAT. Adapun Neraka disertai dengan TAKUT

dan SUSAH, dengan gejala gelisah, hati ragu,

tidak yakin dengan ibadahnya.

Ada sakit gigi yang membuat kepala serasa

mau pecah dan membikin mata serasa dicungkil.

Sementara, radio-tape di rumah tetangga

suaranya memekakkan telinga, membuat hati

mau meledak. Ditambah lagi, tanggalnya sudah

tua, pikiran macet, dari mana harus cari

uang buat ke dokter gigi. Eh, istri yang tak

biasanya cerewet, teriak-teriak minta uang

belanja bulan ini. Itu, Neraka.

Tapi toh ternyata semua bisa diatasi. Uang

bisa pinjam dari koperasi, lalu segera ke dokter

untuk cabut gigi. Neraka yang dialami jasmani,

hati dan pikiran, sudah lenyap. Bunyi radiotape

yang keras, sekeras teriakan sang istri, kini

sudah tak lagi ambil peduli. Paling, tinggal

terima gaji yang sudah dipotong utang koperasi

akhir bulan ini.

Jasmani, hati, dan pikiran kita dalam kehidupan

sekarang ini, juga dapat mengalami

Sorga. Sehat walafiat, segar bugar, itu Sorga.

Hati legowo, pikiran jernih dan produktif, itu

Sorga. Semua kebutuhan dan keinginan tercukupi,

itu Sorga. Semua tugas selesai dengan

baik, itu Sorga. Mempunyai sahabat karib, itu

Sorga. Maka semua orang dalam kehidupan

sekarang ini tentu pernah mengalami Sorga,

serta pernah juga mengatasi keadaan-keadaan

yang Neraka.

Karena itu, tiap orang sesungguhnya punya

parameter untuk mengetahui, apakah jalan

hidupnya sekarang ini, sebelum pindah ke

Akhirat, sudah beres atau tidak. Parameternya,

ya, Sorga dan Neraka yang ia alami di kehidup-

Edisi 005 | Februari 2015

Fathi Islam|29


an sekarang ini.

Manusia mengalami adanya dua kiblat,

yaitu KEDUNIAAN dan TUHAN. Keduniaan

mempunyai daya tarik yang amat sakti.

Banyak manusia yang merangkulnya seperti

kekasih pujaan hati. Umpama ada dari kita

yang ingin berkiblat melulu kepada Tuhan,

maka kerjakanlah itu juga dengan tidak tanggung-tanggung.

Apalagi, Tuhan berkehendak,

supaya kita sekuat tenaga menuju pada Tuhan,

sampai berjumpa benar denganNya (QS 84:6).

Namun ada juga akibat yang tak terhindari,

yaitu merajalelanya JAHILIAH MOD-

ERN dewasa ini, berupa kemaksiatan dan kelaliman,

bahkan juga oleh manusia Islam, yang

kita lihat berebut kekuasaan, berebut uang dan

kewanitaan yang berkesan kepornoan. TV kita

hari-hari ini semakin “berani” saja menampilkannya.

Manusia yang mencari Tuhan tentu juga

akan mengalami dua macam cobaan, yaitu Keduniaan

dan Kewanitaan, berupa uang, derajat,

dan sex. Itulah pengalaman Nabi SAW dahulu.

Beliau “digiurkan” dengan kekayaan yang melimpah,

kedudukan yang tertinggi dan wanita

yang tercantik oleh kaum Quraisy, asal beliau

berhenti dalam menyebarkan Islam. Penolakan

oleh Nabi SAW atas semua itu telah mengubah

wajah dunia. Dengan segera lenyaplah

jahiliah oleh peradaban dan kebudayaan Islam,

kebodohan diganti dengan Ilmu Pengetahuan,

umat Islam amat sejahtera.

Dengan berkiblat hanya kepada Tuhan,

insya Allah akan terulang kembali KEJAYA-

AN ISLAM. Namun umat Islam yang sedang

gandrung kepada keduniaan kini mengalami

neraka (QS 17:18) berupa macam-macam krisis

yang berat. Akhlak, cinta kasih, keadilan

sudah lenyap. Ditambah lagi dengan turunnya

bencana-bencana alam yang dahsyat dan penyakit-penyakit

yang mewabah.

Mau tidak mau umat Islam haruslah berbenah

diri yang jangan tanggung-tanggung.

Adapun berbenah diri yang kena dan efisien

ialah “KEMBALI KEPADA FITRAH”. Fitrahnya

anak kecil ialah “menempel” pada orang

tua dan polos dalam pikir, hati serta perbuatan.

Maka kembali kepada Fitrah identik

dengan manusia KEMBALI PADA TUHAN

dan KEMBALI PADA KESUCIAN.

Maka dari itu “Tuhan cinta kepada mereka

yang bertaubat, yaitu kembali kepada Tuhan,

dan cinta kepada mereka yang menyucikan

dirinya” (QS 2:222). Taubat dilaksanakan

dengan ASLAMA atau serah diri total pada

Tuhan. Dan menyucikan diri dilaksanakan

dengan ISTIGHFAR.

Maka dengan ASLAMA DAN ISTIGH-

FAR, insya Allah dapat dirasakan di kalbu

cinta kasih Tuhan. Cinta kasih orang tua adalah

Sorga bagi anak. Maka tiada Sorga selain

CINTA KASIH TUHAN. “Tidak, mereka

yang aslama dan muhsin (berbuat baik), ia menerima

ganjaran dari Tuhannya dan baginya

tiada takut, tiada susah” (QS 2:112). Ganjaran

Tuhan insya Allah itulah SORGA. Dan yang

bakal dapat menjamin sorga ialah ASLAMA,

ISTIGHFAR, dan BERBUAT BAIK.

Maka, sekali lagi, mari kita ciptakan Sorga

dalam kehidupan sekarang ini juga.[]

30|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015


ADVERTORI

Pondok Pesantren

“MINHAJURRAHMAN”

Edisi 005 | Februari 2015

Pondok Pesantren Minhajurrahman

secara kelembagaan berada di bawah

naungan Pedoman Besar Gerakan Ahmadiyah

Indonesia (PB GAI). Namun, dalam hal pengelolaan,

pondok ini dikelola bersama dengan

Yayasan PIRI. Pondok ini adalah perwujudan

dari Program Kaderisasi Terpadu yang diinisiasi

sejak lama, sebagai wadah bagi pendidikan

kader-kader GAI.

Nama pondok ini dinisbatkan kepada salah

satu tokoh utama pendiri GAI dan PIRI, yakni

Raden Ngabehi Haji Minhadjurrahman

Djojosoegito. Hal ini sengaja dilakukan

sebagai tanda penghormatan

dan pengkhidmatan atas jasa besar

beliau bagi kedua lembaga yang

beliau dirikan itu.

Di samping itu, nama “minhajurrahman”

juga mengandung makna

filosofis, yang menjadi dasar bagi proses

penyelenggaraan pendidikan di pondok

ini. Istilah minhajurrahmân terdiri dari dua

kata dasar: minhaj dan ar-rahmân. Secara harfiah,

minhaj artinya jalan, sedangkan ar-rahmân

adalah salah satu nama sifat tuhan, yang artinya

Yang Maha Pemurah. Dengan demikian,

Minhajurrahman dapat diartikan sebagai “Perintis

Jalan Menuju Tuhan Yang Maha Pemurah”.

Hal ini mengandung makna bahwa pondok

pesantren ini dirintis dengan maksud supaya

menjadi jalan menuju dan atau menjadi

sarana bagi terbabarnya kasih sayang dan kemurahan

Allah Ta’ala, wabil-khusus bagi penyelenggara

dan peserta, maupun bagi setiap

orang yang memberi kepada maupun memperoleh

manfaat dari Pondok ini.

Gagasan pendirian pondok ini sesungguhnya

telah lahir sejak Eyang Joyo masih hidup,

seiring dengan didirikannya lembaga pendidikan

PIRI, sebagai keputusan Kongres GAI

tahun 1947. Namun, sementara waktu berjalan,

ide itu tak jua terlaksana, bahkan hingga

jauh sesudah Eyang Joyo wafat.

Barulah pada awal periode ketiga dari masa

kepemimpinan Prof. Ir. H. Fathurrahman

Ahmadi, kegiatan ini mulai didialogkan

kembali secara intensif

di tingkat PB GAI. Hingga akhirnya,

mulailah diinisiasi sebuah

gerakan yang mencoba mendesak

terwujudnya Pondok ini. Karena

itu, sejak pertengahan tahun 2012,

PB GAI telah melakukan upaya penjajagan

dengan cara mengunjungi beberapa daerah

yang dianggap potensial dalam hal sumber

daya kader, antara lain Wonosobo, Magelang,

Kediri, Purwokerto, Purbalingga, dan Surakarta.

Sedianya pondok ini akan dimulai pada

tahun ajaran 2013/2014, akan tetapi gagal terlaksana

oleh karena terkendala berbagai hal.

Barulah pada awal tahun 2014, PB GAI meneguhkan

niat untuk memulai penyelenggaraan

pondok, meski dengan persiapan apa adanya,

dan bersiteguh memperjuangkannya dalam

kondisi apa pun.

Fathi Islam|31


Pada Juni 2014, PB GAI melakukan roadshow

dan bersilaturahmi secara berturut-turut

ke dua cabang yang dianggap paling potensial,

yakni Kediri dan Wonosobo. Kepada pengurus

dari kedua daerah tersebut, PB GAI menyampaikan

niatan itu dan meminta dukungan

untuk pelaksanaan pondok ini. Gayung bersambut,

Pengurus Cabang Kediri maupun

Wonosobo menyambut dengan sangat antusias.

Sebab, mereka pun mengaku sudah cukup

lama menanti-nanti program tersebut. Mereka

pun segera mempersiapkan delegasi kader,

yang diambil dari anak-anak warga GAI dari

kedua cabang tersebut. Dalam perkembangan

berikutnya di masa pendaftaran santri, pengurus

cabang dari Purbalingga dan Jakarta pun

mengajukan diri untuk mengirimkan perwakilannya.

Alhamdulillah, dari kerja keras semua pihak,

akhirnya pondok pesantren ini dapat mulai

terselenggara pada awal tahun ajaran baru

2014/2015. Secara resmi pondok pesantren

ini mulai berjalan sejak Juli 2014 ( Ramadhan

1435 H), ditandai dengan serah terima santri

dari orangtua kepada Pengasuh Pondok, yang

dilaksanakan pada Jum’at Malam, 11 Juli

2014.

Santri angkatan pertama berjumlah 31

orang, terdiri dari 10 santri putri dan 21 santri

putra. Mereka adalah anak cucu dari sanak

kerabat warga GAI dari daerah Jakarta, Purbalingga,

Wonosobo, Kediri, dan Wonogiri.

Selain kegiatan pondok, para santri juga menempuh

studi di berbagai lembaga pendidikan

Yayasan PIRI, setingkat SMP, SMA/K dan

Akademi.

Pendidikan diniyah ditentukan melalui

kurikulum yang telah disusun oleh Pengurus

Pondok. Materi pendidikan diniyah bersumber

dari dan bermuara pada Qur’an Suci, yang

digali melalui metoda kajian dalam perspektif

(tafsir) GAI, melalui alat bantu kajian yang

bersumber dari berbagai referensi seperti

kitab hadits, kitab fiqih, dan kitab-kitab lain

yang dilahirkan oleh berbagai ulama lintas

madzhab maupun agama. Di samping itu, juga

diterapkan pendidikan dan pengembangan

kepribadian diri melalui berbagai metoda

seperti AMT, training skill, dll.

Kantor Sekretariat Pondok menjadi satu

dengan Sekretariat Takmir Masjid Darussalam,

yang terletak di Kompleks PIRI Baciro

Yogyakarta. Sebab, kegiatan para santri juga

dipusatkan di Masjid Darussalam PIRI ini.

Pondokan (asrama) santri putra bertempat di

rumah dinas Yayasan PIRI, yang terletak di

Jalan Cendana, Yogyakarta. Dan Pondokan

santri putri sementara ini masih menumpang

di kediaman Ibu Wiratni Ahmadi, Jl. Soka,

Baciro, Yogyakarta.

Kegiatan Pondok ini didanai oleh PB GAI,

melalui support dari Yayasan PIRI. Selain itu,

sumber dana dan material lainnya didapat dari

dukungan yang diusahakan oleh Pengurus Cabang

GAI. Pengelolaan dana kegiatan penyelenggaraan

pondok untuk saat ini terpusat di

LAZIS PIRI. Bagi donatur yang berkenan

memberikan donasi, dapat disalurkan melalui

rekening BTN Syari’ah Yogyakarta No.

7043300040 atas nama LAZIS PIRI.

Semoga Allah Ta’ala, Yang Maha Pemurah

(Ar-Rahman) dan Yang Maha Pengasih (Ar-

Rahim), berkenan melimpahkan kemurahan

serta kasih sayangNya, dan memberikan jalan

kemudahan bagi kita dalam berjuang mencintaiNya

dan mengupayakan kebaikan bagi

sesama makhlukNya. Amin.[bas]

32|Fathi Islam

Edisi 005 | Februari 2015

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!