17.02.2015 Views

3zuizDDtp

3zuizDDtp

3zuizDDtp

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

DUEL POLISI VS TENTARA<br />

PROTON:<br />

MOBNAS ATAU<br />

BUKAN<br />

WASWAS<br />

KOMJEN<br />

BUWAS<br />

EDISI 168 | 16 - 22 FEBRUARI 2015


DAFTAR ISI<br />

EDISI 168 16 - 22 FEBRUARI 2015<br />

TAP PADA KONTEN UNTUK MEMBACA ARTIKEL<br />

FOKUS<br />

KOMJEN BUWAS<br />

BIKIN CEMAS<br />

KEPALA BARESKRIM KOMJEN BUDI<br />

WASESO, YANG MEMERINTAHKAN<br />

PENYELIDIKAN TERHADAP<br />

PIMPINAN KPK, MALAH MASUK<br />

DAFTAR CALON KAPOLRI.<br />

TERBELIT BANYAK MASALAH, TAPI<br />

KARIERNYA TETAP MULUS.<br />

NASIONAL<br />

CRIME STORY<br />

n TEROR DI KOMISI ANTIRASUAH<br />

n ‘TURUN GUNUNG’ UNTUK ZULKIFLI<br />

INTERNASIONAL<br />

n PRIA NECIS ITU TERNYATA BEGAL<br />

HUKUM<br />

n SALING TUDING DI BENGKEL CAFE<br />

EKONOMI<br />

n PUKULAN TERAKHIR UNTUK ANWAR<br />

n PRAJURIT ASING DI PERANG UKRAINA<br />

n RAWABI JADI SANDERA NEGERI YAHUDI<br />

INTERVIEW<br />

n TONY KWOK: KPK TERBAIK KETIGA DI ASIA<br />

KOLOM<br />

n JALAN TENGAH JOKOWI<br />

RUMAH<br />

n MUNGIL RASA BESAR<br />

INSPIRING PEOPLE<br />

n PROGRAM MENIRU PROTON<br />

n BUKAN TIMOR JILID II<br />

n NGEBUT DIBAWA MAHATHIR<br />

n KISAH DUA MOBIL NASIONAL<br />

BISNIS<br />

n MAL TUA BERSALIN RUPA<br />

n MIMPI PUNYA BANK RAKSASA<br />

BUKU<br />

n SALAH JUDUL DALAM PRAM<br />

LENSA<br />

n TUKANG SULAP HUTAN MEGAMENDUNG<br />

MUSIK<br />

n BANJIR JAKARTA<br />

PEOPLE<br />

n SI MUDA BERSIASAT<br />

FILM<br />

n AL GHAZALI | RAYMOND SAPOEN | SONG JI-HYO<br />

GAYA HIDUP<br />

n FLAMBOYAN INGGRIS PALING GRES<br />

n FILM PEKAN INI<br />

n AGENDA<br />

Cover:<br />

Ilustrasi: Kiagus Auliansyah<br />

@majalah_detik<br />

majalah detik<br />

n SI LUCU PENCABUT NYAWA<br />

n BERBURU MASJID DI MANILA<br />

n HOTEL TANPA KAMAR<br />

Pemimpin Redaksi: Arifin Asydhad. Wakil Pemimpin Redaksi: Iin Yumiyanti. Redaksi: Dimas Adityo, Irwan<br />

Nugroho, Nur Khoiri, Sapto Pradityo, Sudrajat, Oktamandjaya Wiguna, Arif Arianto, Aryo<br />

Bhawono, Deden Gunawan, Hans Henricus, Silvia Galikano, Nurul Ken Yunita, Kustiah, M<br />

Rizal, Budi Alimuddin, Pasti Liberti Mappapa, Monique Shintami, Isfari Hikmat, Bahtiar<br />

Rifai, Jaffry Prabu Prakoso, Ibad Durohman, Aditya Mardiastuti. Bahasa: Habib Rifa’i,<br />

Rahmayoga Wedar. Tim Foto: Dikhy Sasra, Ari Saputra, Haris Suyono, Agus Purnomo. Product<br />

Management & IT: Sena Achari, Sofyan Hakim, Andri Kurniawan. Creative Designer: Mahmud Yunus,<br />

Galih Gerryaldy, Desy Purwaningrum, Suteja, Mindra Purnomo, Zaki Al Farabi, Fuad Hasim,<br />

Luthfy Syahban. Illustrator: Kiagus Aulianshah, Edi Wahyono.<br />

Kontak Iklan: Arnie Yuliartiningsih, Email: sales@detik.com Telp: 021-79177000, Fax: 021-79187769<br />

Direktur Utama: Budiono Darsono Direktur: Nur Wahyuni Sulistiowati, Heru Tjatur, Warnedy Kritik dan Saran:<br />

appsupport@detik.com Alamat Redaksi: Gedung Aldevco Octagon Lantai 2, Jl. Warung Jati Barat Raya<br />

No.75 Jakarta Selatan, 12740 Telp: 021-7941177 Fax: 021-7944472 Email: redaksi@majalahdetik.com<br />

Majalah detik dipublikasikan oleh PT Agranet Multicitra Siberkom, Grup Trans Corp.


LENSA<br />

BANJIR JAKARTA<br />

TAP UNTUK MELIHAT FOTO UKURAN BESAR<br />

Hujan deras pada Senin (9/2) membuat sebagian wilayah Ibu Kota Jakarta banjir. Jalur utama, seperti di depan Istana Negara dan jalan<br />

protokol, tak luput dari luapan air hujan.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


LENSA<br />

Banjir menyisakan satu lajur di depan Mal Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta. (Rachman Haryanto/DETIKCOM)


LENSA<br />

Sopir bajaj mendorong kendaraannya yang mogok akibat terjebak banjir di Jalan Medan Merdeka Utara. (Darren Whiteside/REUTERS)


LENSA<br />

Petugas Satpol PP membantu mendorong pengendara sepeda motor yang mogok di depan Istana Negara, Jakarta. (Rachman Haryanto/<br />

DETIKCOM)


LENSA<br />

Sebuah Andong melintasi banjir di Kelapa Gading, Jakarta Utara. (Darren Whiteside/REUTERS)


LENSA<br />

Banjir merendam jalan di bundaran Bank Indonesia, Jakarta. (Zabur Karuru/ANTARAFOTO)


LENSA<br />

Menggunakan gerobak, warga memberikan jasa mengangkut sepeda motor di Jalan S. Parman, Jakarta. (Lamhot Aritonang/DETIKCOM)


NASIONAL<br />

TEROR DI KOMISI ANTIRASUAH<br />

PRESIDEN MEMERINTAHKAN POLRI MENANGKAP PENEBAR TEROR TERHADAP PEGAWAI<br />

DAN PENYIDIK KPK. KOMNAS HAM MENGGELAR PENYELIDIKAN.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Anggota Tim 9, Jimly<br />

Asshiddiqie, menjawab<br />

pertanyaan wartawan<br />

setelah bertemu dengan<br />

KPK, Jumat (13/2).<br />

RACHMAN HARYANTO/DETIKCOM<br />

SEORANG penyidik Komisi Pemberantasan<br />

Korupsi curhat kepada Tim<br />

9 yang menyambangi gedung KPK,<br />

Jakarta, Rabu pekan lalu. Penyidik itu<br />

mengaku diminta oleh pihak tertentu untuk<br />

bersaksi dalam sidang praperadilan Komisaris<br />

Jenderal Budi Gunawan. Di hadapan tim yang<br />

dibentuk Presiden Joko Widodo untuk memberi<br />

masukan terkait perseteruan KPK dengan<br />

Kepolisian RI tersebut, ia juga mengaku ditekan.<br />

Namun penyidik ini tak ingin menyampaikan<br />

hal-hal yang diketahuinya sebagai saksi untuk<br />

Budi Gunawan. Sebab, de ngan begitu, ia harus<br />

mundur dari komisi antikorupsi tersebut.<br />

Keterangannya bisa jadi akan digunakan untuk<br />

memberatkan KPK, tempatnya bertugas saat<br />

ini. Karena itu, di menit-menit terakhir, penyidik<br />

yang berasal dari sebuah instansi penegak hukum<br />

itu akhirnya menolak permintaan untuk<br />

bersaksi di pengadilan.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Bambang Widjojanto,<br />

Nurkholis<br />

RACHMAN HARYANTO/DETIKCOM<br />

Saat ditemui Tim 9, ia<br />

didampingi seluruh pimpinan<br />

komisi antirasuah<br />

itu, yakni Ketua KPK<br />

Abraham Samad serta<br />

Wakil Ketua Bambang<br />

Widjojanto, Zulkarnain,<br />

dan Adnan Pandu Praja.<br />

Sedangkan dari Tim 9,<br />

hadir Jimly Asshiddiqie,<br />

Tumpak Hatorangan<br />

Panggabean, Bambang<br />

Widodo Umar, Hikmahanto<br />

Juwana, dan Imam<br />

Prasodjo.<br />

Tim yang diketuai<br />

Ahmad Syafii Maarif itu<br />

juga mendapat cerita soal adanya ancaman<br />

teror yang dialami KPK. Ancaman juga dialami<br />

staf dan pegawai struktural di KPK, bahkan<br />

melebar hingga ke keluarga mereka. “Ancaman<br />

ini sangat serius,” kata Bambang Widjojanto.<br />

Ancaman itu berupa telepon dan pesan<br />

singkat gelap hingga ancaman pembunuhan.<br />

Bambang menilai ancaman tersebut bersifat<br />

nasional, karena bisa mengganggu seluruh<br />

upaya pemberantasan korupsi yang semestinya<br />

bisa dilakukan optimal oleh KPK. Meski<br />

hal serupa sering dialami KPK, ancaman kali<br />

ini, menurut dia, merupakan sebuah rangkaian<br />

proses yang sistematis.<br />

“Kalau di satu negara demokratis ada orangorang<br />

yang bertindak di luar aturan dan mengambil<br />

tindakan teror, itu tidak bisa dibenarkan,”<br />

tuturnya.<br />

KPK memang tak tinggal diam. Ancaman ini<br />

telah diinformasikan kepada Wakil Kepala Kepolisian<br />

RI Komjen Badrodin Haiti. Adnan Pandu<br />

Praja dan Zulkarnain telah menemui Badrodin.<br />

Menurut Bambang, pimpinan Polri serius menanggapi<br />

informasi itu dan akan mengambil<br />

langkah tepat dan tegas. “Alhamdulillah, kami<br />

mendapat jaminan dan kami percaya atas jaminan<br />

yang diberikan Wakapolri,” ucapnya.<br />

Bambang juga menyebut adanya panggilanpanggilan<br />

terhadap pegawai struktural KPK,<br />

yang disebutnya berasal dari penyidik Badan<br />

Reserse Kriminal Polri. Namun, menurut dia,<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Polri tidak<br />

pernah melakukan<br />

tindakan yang<br />

membahayakan<br />

institusi lain.<br />

Ronny F. Sompie<br />

Wakapolri tidak mengetahui soal panggilan<br />

tersebut.<br />

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia juga<br />

menggelar penyelidikan atas dugaan intimidasi<br />

dan teror yang dialami KPK setelah mendapat<br />

laporan. Namun komisi itu belum bisa menyimpulkan<br />

kebenarannya dan akan menyikapinya<br />

secara hati-hati. “Semua harus didasarkan<br />

fakta dan keterangan saksi,” kata komisioner<br />

Komnas HAM, Nurcholis, Kamis, 12 Februari<br />

lalu.<br />

Adanya ancaman dan teror terhadap KPK<br />

itu diakui Badrodin dapat mengganggu<br />

hubungan antara KPK dan Polri. Sebab,<br />

bisa saja ada pihak lain yang memanfaatkan<br />

situasi. “Bisa saja yang menghendaki<br />

(perseteruan KPK-Polri) ini<br />

tidak selesai-selesai. Mungkin para<br />

koruptor,” ujarnya di Markas Besar<br />

Polri, Kamis pekan lalu.<br />

Secara terpisah, Kepala Divisi Humas<br />

Markas Besar Polri Brigadir Jenderal Ronny<br />

F. Sompie meminta agar Polri tidak dituding<br />

sebagai penebar ancaman atau teror terhadap<br />

KPK. Apalagi dengan mengaitkan hubungan<br />

kedua instansi itu. “Jangan difitnah Polri itu<br />

melakukan penggeledahan, te ror,” tuturnya.<br />

“Polri tidak pernah melakukan tindakan yang<br />

membahayakan institusi lain.”<br />

Harapan senada dilontarkan anggota Komisi<br />

Kepolisian Nasional, M. Nasser. Ia meminta<br />

semua pihak, termasuk KPK, menghindari<br />

pembentukan opini publik untuk berprasangka<br />

kepada Polri. Kompolnas meminta KPK melaporkan<br />

soal ancaman teror itu kepada Kepolisian<br />

Daerah Metro Jaya.<br />

“Karena, polisi yang tahu bagaimana mengatasi<br />

teror, dan ancaman itu bisa diselesaikan<br />

dengan cepat,” ucapnya.<br />

Sebelum ancaman teror dialami penyidik dan<br />

pegawai struktural di KPK, lembaga itu mengalami<br />

“serangan” beruntun. Seluruh pimpinan<br />

KPK, yang saat ini berjumlah empat orang,<br />

telah dilaporkan ke polisi dengan beragam<br />

tuduhan. Bambang Widjojanto adalah yang<br />

pertama dilaporkan atas tuduhan kesaksian<br />

palsu terkait sengketa pemilihan kepala daerah<br />

Kotawaringin Barat di Mahkamah Konstitusi.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Ketua KPK Abraham<br />

Samad berjabat tangan<br />

dengan Wakil Ketua KPK<br />

Bambang Widjojanto<br />

disaksikan Adnan Pandu<br />

Praja (kiri) dan Zulkarnain<br />

(kanan) saat melepas<br />

Bambang yang akan<br />

berangkat ke Mabes Polri<br />

dari gedung KPK, Jakarta,<br />

Selasa (3/2).<br />

SIGID KURNIAWAN/ANTARA<br />

Pelapornya adalah Sugianto Sabran.<br />

Hanya dalam hitungan hari setelah dilaporkan,<br />

Bambang ditetapkan sebagai tersangka,<br />

dan ditangkap saat mengantar anaknya berangkat<br />

ke sekolah pada 23 Januari lalu. Tangannya<br />

diborgol saat dibawa ke Badan Reserse Kriminal.<br />

Namun Bambang urung ditahan setelah<br />

dua pimpinan KPK memberi jaminan.<br />

Abraham Samad juga dilaporkan ke Bareskrim<br />

terkait pertemuannya dengan Pelaksana<br />

Tugas Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi<br />

Indonesia Perjuangan Hasto Kristiyanto. Hasto<br />

menyebut Samad menyodorkan diri sebagai<br />

calon wakil presiden bagi Jokowi dalam pemilihan<br />

presiden tahun lalu. Samad juga dilaporkan<br />

soal kepemilikan senjata api tanpa izin serta<br />

pemalsuan dokumen.<br />

Adnan Pandu dilaporkan atas tuduhan perampasan<br />

saham PT Daisy Timber. Saat itu Pandu<br />

adalah kuasa hukum perusahaan tersebut.<br />

Bareskrim sudah mengeluarkan surat perintah<br />

penyidikan untuk kasus pertemuan Samad<br />

dengan Hasto serta perkara Adnan Pandu. Namun,<br />

hingga pekan lalu, belum ada penetapan<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Penyidik aktif KPK, Ibnu<br />

C. Purba, berjalan ke<br />

luar ruangan dengan<br />

pengawalan setelah<br />

mengikuti sidang<br />

praperadilan tersangka<br />

Komjen Budi Gunawan<br />

sebagai saksi fakta di<br />

Pengadilan Negeri Jakarta<br />

Selatan, Kamis (12/2).<br />

MUHAMMAD ADIMAJA/ANTARA<br />

tersangka kasus tersebut.<br />

Zulkarnain juga tak luput dilaporkan. Ia dituduh<br />

menerima gratifikasi saat menjadi Kepala<br />

Kejaksaan Tinggi Jawa Timur pada 2008. Kasus<br />

ini juga sudah naik ke tahap penyidikan. Belakangan,<br />

Deputi Pencegahan KPK Johan Budi<br />

dan mantan pimpinan KPK Chandra Hamzah<br />

pun dilaporkan ke polisi.<br />

Sejumlah kalangan menilai semua serangan<br />

itu sulit dilepaskan dari langkah KPK menetapkan<br />

Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka<br />

kasus korupsi. Penetapan tersangka bagi<br />

mantan ajudan presiden kelima RI Megawati<br />

Soekarnoputri itulah yang saat ini digugat praperadilan<br />

oleh pengacara Budi Gunawan.<br />

Namun Kepala Bareskrim Polri Komjen Budi<br />

Waseso menyebut tidak ada kriminalisasi terhadap<br />

pimpinan KPK. Meski begitu, penyidikan<br />

terhadap para pimpinan KPK berjalan terus.<br />

Soal kemungkinan polisi menjadikan Samad<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Aktivis Republik Aeng-aeng<br />

memasang poster bertulisan<br />

"Segera Tegas demi Rakyat"<br />

di dekat foto Presiden-Wakil<br />

Presiden di Solo, Jawa<br />

Tengah, Rabu (11/2).<br />

OLIVIA HARRIS /REUTERS<br />

dan Adnan Pandu sebagai tersangka, menurut<br />

Waseso, akan ditentukan oleh penyidik.<br />

“Kalau penyidiknya langsung (menetapkan)<br />

tersangka, ya silakan,” katanya di Mabes Polri,<br />

Kamis pekan lalu. Waseso juga mengakui adanya<br />

pemanggilan terhadap pegawai struktural<br />

di KPK. Namun ia membantah jika dikatakan<br />

pemanggilan itu terkait dengan kasus yang<br />

menjerat para pimpinan KPK.<br />

Adapun Presiden Jokowi mengatakan sudah<br />

bertemu dengan pimpinan KPK dan Polri. Ia<br />

pun memerintahkan Polri menangkap penebar<br />

teror terhadap KPK tersebut. “Kalau betul ada<br />

yang meneror, sudah, tangkap pelakunya!”<br />

begitu kata Jokowi. n<br />

JAFFRY PRABU P., ADITYA MARDIASTUTI, PRINS DAVID S. | DIM<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

‘TURUN GUNUNG’<br />

UNTUK ZULKIFLI<br />

PERTARUNGAN CALON KETUA UMUM PAN<br />

MEMANAS. ZULKIFLI DIDUKUNG PARA MANTAN<br />

KETUA UMUM. POSISI HATTA RAJASA MASIH KUAT.<br />

DETIKFOTO<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Mantan Ketua Umum PAN<br />

Sutrisno Bachir<br />

LAMHOT ARITONANG/DETIKCOM<br />

BERTAHUN-TAHUN sudah Sutrisno<br />

Bachir tak cawe-cawe di partai politik<br />

yang melambungkan namanya.<br />

Ketua Umum Partai Amanat Nasional<br />

periode 2005-2010 itu memilih berfokus di<br />

dunia bisnis yang digelutinya sejak awal, pascalengser<br />

sebagai orang nomor satu di partai<br />

berlambang matahari terbit tersebut.<br />

Bukan hanya absen di dunia politik, pria<br />

kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, pada 10<br />

April 1957 itu bahkan tak lagi mempunyai<br />

hak suara di PAN di masa kepemimpinan<br />

Hatta Rajasa. Sutrisno memang berbeda<br />

pandangan politik dengan Menteri Koordinator<br />

Perekonomian pada era Presiden<br />

Susilo Bambang Yudhoyono itu.<br />

Perbedaan tersebut kian meruncing<br />

setelah Hatta mengambil tampuk kepemimpinan<br />

PAN dari tangan Sutrisno pada<br />

kongres partai itu di Batam pada 2010. Di<br />

era Hatta memimpin PAN, Sutrisno secara<br />

mendadak menghibahkan<br />

kantor Dewan Pimpinan Pusat<br />

PAN kepada Pengurus Pusat<br />

Muhammadiyah.<br />

Gedung di Jalan Warung Jati Barat, Jakarta<br />

Selatan, itu memang milik Sutrisno. Pengurus<br />

PAN sempat terkejut oleh hibah tersebut karena<br />

saat itu masih dipakai sebagai kantor partai.<br />

Namun Hatta akhirnya mencari solusi de ngan<br />

memindahkan kantor PAN ke gedung baru<br />

di Jalan TB Simatupang, yang hanya berjarak<br />

sekitar 5 kilometer dari kantor lama.<br />

Sutrisno juga seakan menunjukkan dirinya<br />

berseberangan dengan Hatta, yang saat<br />

pemilihan presiden 2014 berpasangan dengan<br />

calon presiden Prabowo Subianto. Sutrisno<br />

terang-terangan mendukung pasangan Joko<br />

Widodo dan Jusuf Kalla, yang tidak disokong<br />

PAN.<br />

Nah, menjelang Kongres IV PAN, yang akan<br />

digelar 28 Februari hingga 2 Maret 2015 di<br />

Bali, Sutrisno disebut-sebut “turun gunung”<br />

mendukung Zulkifli Ha san. Zulkifli, yang kini<br />

menjabat Ketua Majelis Permusyawaratan<br />

Rakyat, akan berhadapan dengan Hatta dalam<br />

perebutan kursi Ketua Umum PAN 2015-2020.<br />

Dalam menghadapi sang calon petahana,<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Zulkifli Hasan dalam<br />

sebuah acara PAN di<br />

Rusun Tambora, Jakarta,<br />

2013.<br />

HASAN/DETIKCOM<br />

sejumlah politikus di kubu Zulkifli memang<br />

pernah menyebut akan menggandeng para<br />

tokoh senior partai itu yang sebelumnya meninggalkan<br />

PAN. Salah satunya Sutrisno Bachir.<br />

Sayangnya, Sutrisno masih enggan bicara. Ia<br />

belum terang-terangan menyatakan dukungan<br />

ke Zulkifli.<br />

Saat dimintai konfirmasi majalah detik,<br />

pengusaha bidang properti dan batik ini hanya<br />

berkomentar singkat. “Yang lain saja dulu.<br />

Aku belakangan (menanggapi),” kata Sutrisno<br />

melalui pesan singkat.<br />

Namun, menurut salah satu orang dekatnya,<br />

politikus PAN, Totok Daryanto, Sutrisno<br />

memang sudah memberikan dukungan kepada<br />

Zulkifli. “Sutrisno Bachir percaya kepada<br />

Zulkifli Hasan,” ujarnya. Menurut Totok, selain<br />

berseberangan dengan Hatta, Sutrisno cocok<br />

dengan gaya kepemimpinan Zulkifli, yang<br />

dinilainya mirip dengan gaya Sutrisno saat<br />

memimpin PAN.<br />

“Model kepemimpinan yang egaliter, melayani,<br />

mudah berhubungan dengan kader,<br />

tidak membeda-bedakan. Itulah yang saat ini<br />

dibutuhkan PAN,” tutur Totok.<br />

Terjunnya Sutrisno mendukung Zulkifli membuat<br />

pertarungan dua kandidat semakin seru.<br />

Apalagi lawan yang dihadapi sangat tangguh,<br />

yakni Hatta, bekas calon wakil presiden, dan<br />

pernah menjabat menteri di Kabinet Indonesia<br />

Bersatu Jilid I dan II. Saat ini saja dukungan terhadap<br />

besan SBY itu terus mengalir. Sejumlah<br />

petinggi partai itu berada dalam barisan pen-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Konsolidasi pemenangan<br />

Hatta Rajasa untuk wilayah<br />

timur Indonesia di Manado.<br />

LAMHOT ARITONANG/DETIKFOTO<br />

dukung Hatta. Sebut saja Wakil Ketua Umum<br />

Dradjad Wibowo, Taufik Kurniawan, dan Bima<br />

Arya.<br />

Dalam acara deklarasi dukungan untuk Hatta<br />

di Manado, Sulawesi Utara, Ahad, 8 Februari<br />

lalu, Hatta setidaknya mengantongi 165 pemilik<br />

hak suara yang hadir. Namun, untuk kembali<br />

menjadi ketua umum di periode kedua, Hatta<br />

harus meraup sedikitnya 300 suara. Sebab,<br />

jumlah suara yang diperebutkan mencapai<br />

596, terdiri atas Majelis Pertimbangan Partai<br />

(2 suara), DPP (3 suara), serta dewan pimpinan<br />

wilayah dan dewan pimpinan daerah dengan<br />

585 suara serta organisasi otonomi partai (6<br />

suara).<br />

Meraup jumlah suara itu tak mudah. Apalagi<br />

sedari awal Zulkifli didukung pendiri PAN yang<br />

juga Ketua Majelis Pertimbangan Partai, Amien<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Ketua DPW PAN Nusa<br />

Tenggara Timur Eurico<br />

Guterres<br />

ARI SAPUTRA/DETIKCOM<br />

Rais. Namun keberpihakan Amien dipersoalkan<br />

kubu Hatta. Sebab, sebagai sesepuh PAN,<br />

Amien semestinya netral, bukan mendukung<br />

salah satu calon, sekalipun yang maju adalah<br />

Zulkifli, yang berbesan de ngannya.<br />

“Faktanya, Pak Amien sudah tidak netral. Pak<br />

Amien sudah tidak lagi sebagai tokoh pemersatu,”<br />

ucap Ketua DPW PAN Nusa Tenggara<br />

Timur Eurico Guterres. Bekas pejuang prointegrasi<br />

di Timor Timur itu juga menilai<br />

ketokohan Amien sudah surut.<br />

Serangan ke Amien itu pun menuai<br />

reaksi keras. Sebanyak 13 ketua DPD<br />

PAN se-Nusa Tenggara Timur yang<br />

berada di kubu Zulkifli langsung menyatakan<br />

mosi tidak percaya terhadap<br />

Eurico. Mosi tidak percaya digalang<br />

di tengah konsolidasi tim pemenangan<br />

Zulkifli Hasan seluruh<br />

wilayah timur Indonesia di Hotel<br />

Lombok Jaya, Mataram,<br />

Nusa Tenggara Barat, Senin<br />

pekan lalu.<br />

Adapun Totok Daryanto,<br />

yang ditemui pekan lalu, menyatakan, yang<br />

menyebut Amien Rais semestinya tidak berpihak<br />

adalah orang yang tak mengerti sejarah<br />

PAN. “Amien Rais justru diharapkan memberi<br />

saran. Dan sa ran (dukungan)-nya ke Zul (Zulkifli<br />

Hasan),” katanya.<br />

Menurut Totok, ada alasan Amien condong<br />

ke Zulkifli. Alasan itu antara lain supaya regenerasi<br />

di PAN tetap berjalan. “Malu harusnya<br />

ketua partai maju lagi. Kalau dia (Hatta)<br />

kalah sama Zul, lebih jatuh lagi marwah-nya,”<br />

ujarnya, seraya menilai keinginan Hatta mencalonkan<br />

diri kembali adalah ambisi pribadi,<br />

bukan ambisi partai.<br />

Namun konsultan politik dari Lingkaran<br />

Survei Indonesia, Denny Januar Ali, menilai<br />

dukungan kepada Hatta Rajasa masih lebih<br />

kuat ketimbang kepada Zulkifli, khususnya dari<br />

pemegang hak suara di Jawa dan Sumatera.<br />

Dari sisi dukungan finansial, Hatta dinilai masih<br />

lebih mumpuni. Hubungan Hatta de ngan<br />

Koalisi Merah Putih juga cukup baik.<br />

“Zulkifli bisa dikatakan hanya calon alternatif.<br />

Menurut saya sih, Hatta masih lebih kuat,”<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


NASIONAL<br />

Amien Rais dan Zulkifli<br />

Hasan dalam acara deklarasi<br />

Prabowo-Hatta Rajasa, Mei<br />

tahun lalu.<br />

HASAN/DETIKCOM<br />

tuturnya saat dihubungi Kamis pekan lalu.<br />

Denny mengakui, PAN sebagai partai reformis<br />

belum pernah memiliki ketua umum yang menjabat<br />

sampai dua periode. Karena itu, menjelang<br />

kongres, akan disuarakan soal regenerasi. Pertarungan<br />

menjadi lebih panas karena lawan Hatta<br />

adalah Zulkifli, yang didukung Amien Rais, yang<br />

masih dihormati di PAN. “Kita lihat saja nanti<br />

siapa yang menang,” ucapnya.<br />

Kendati begitu, panasnya pertarungan Hatta<br />

versus Zulkifli dianggap Jon Erizal, Ketua Organizing<br />

Committee Kongres IV PAN, hanyalah<br />

bentuk demokrasi yang berjalan di partainya.<br />

Hal itu tidak menjadi masalah.<br />

“Ada yang minta (Hatta) dilanjutkan, ada<br />

yang minta regenerasi,” kata Erizal, yang mengaku<br />

bersikap netral. “Itulah demokrasi.” n<br />

DEDEN GUNAWAN, JAFFRY PRABU PRAKOSO | DIM<br />

MAJALAH MAJALAH DETIK DETIK 16 2 - 22 - 8 FEBRUARI 2015


HUKUM<br />

SALING TUDING<br />

DI BENGKEL CAFE<br />

KASUS PEMUKULAN PERWIRA<br />

POLRI OLEH ANGGOTA POM TNI<br />

AL DIPROSES HUKUM. VERSI TNI,<br />

SANG POLISI MEMBENTAK DAN<br />

MENODONGKAN SENJATA. ADA<br />

BUKTI VIDEO DAN FOTO.<br />

ILUSTRATOR: EDI WAHYONO<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


HUKUM<br />

JUMAT malam, 6 Februari 2015, menjadi<br />

malam panjang bagi Komisaris<br />

Teuku Arsya Khadafi dan Komisaris<br />

Budi Hermanto. Siapa sangka, saat<br />

menjalankan tugas, dua perwira menengah<br />

Kepolisian Daerah Metro Jaya ini malah terjaring<br />

operasi razia gabungan TNI-Polri. Arsya<br />

bahkan dianiaya oknum tentara. Tangannya<br />

diborgol, diangkut naik truk, dan dalam kondisi<br />

terluka dibawa berkeliling sebelum ke Markas<br />

Polisi Militer TNI Angkatan Laut.<br />

Keduanya sedang menggelar pertemuan<br />

di sebuah tempat karaoke di Bengkel<br />

Cafe, kawasan Sudirman Central Business<br />

District, Jalan Jenderal Sudirman,<br />

Jakarta Selatan, saat razia itu digelar. Di<br />

suatu ruangan, mereka membahas hasil<br />

penyelidikan sebuah perkara.<br />

Operasi penegakan hukum<br />

yang dilakukan aparat Polisi<br />

Militer beberapa waktu lalu<br />

(foto ilustrasi).<br />

DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


HUKUM<br />

Petugas Polisi Militer TNI<br />

mengamankan sembilan orang<br />

dalam penggerebekan miras di<br />

Cawang, Jakarta Timur, akhir<br />

Desember 2014.<br />

HASAN ALHABSHY/DETIKCOM<br />

Selain Arsya, yang<br />

menjabat Kepala Unit II<br />

Subdirektorat Kejahatan<br />

dengan Kekerasan Direktorat<br />

Reserse Kriminal<br />

Umum Polda Metro Jaya,<br />

dan Budi, ada Inspektur<br />

Satu Rovan, anggota<br />

unit yang dipimpin Arsya.<br />

Mereka tergabung<br />

dalam Tim Satuan Tugas<br />

Bareskrim Polri, yang<br />

kabarnya tengah menangani<br />

kasus yang membidik<br />

pimpinan Komisi<br />

Pemberantasan Korupsi.<br />

Namun, belakangan,<br />

informasi itu dibantah<br />

Kepala Bareskrim Polri Komisaris Jenderal<br />

Budi Waseso.<br />

Dari Jumat malam, pertemuan usai pada<br />

Sabtu dini hari. Nah, pukul 00.45 WIB<br />

tiba-tiba datang puluhan aparat gabungan<br />

untuk menggelar Operasi Penegakan<br />

Ketertiban yang diikuti personel dari Polisi<br />

Militer dan Provos Polri. Pelaksanaan razia<br />

saat itu dilakukan oleh Pusat Polisi Militer<br />

(Puspom) TNI AL, meskipun diikuti juga<br />

oleh POM TNI Angkatan Darat, POM<br />

TNI Angkatan Udara, serta dua anggota<br />

Provos Polri. Jumlah aparat gabungan saat<br />

itu 64 personel. Mereka juga memasuki<br />

ruangan tempat perwira polisi itu mengadakan<br />

pertemuan.<br />

Sejumlah personel POM TNI AL kemudian<br />

menanyakan identitas ketiganya.<br />

Saat itu Arsya sudah mengatakan mereka<br />

anggota Polri yang sedang menjalankan<br />

tugas, dan mengaku mengantongi surat<br />

perintah tugas (sprint) dari Kepala Polri.<br />

Arsya juga meminta bertemu dengan perwira<br />

pemimpin operasi. Namun anggota<br />

TNI AL itu memaksa Arsya menunjukkan<br />

kartu tanda identitas Polri dan mencoba<br />

merampas tasnya yang berisi sprint tugas<br />

dan pistol.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


HUKUM<br />

Razia yang dilakukan Polisi<br />

Militer (ilustrasi).<br />

DETIKCOM<br />

Anggota TNI itu lalu memanggil Mayor<br />

Tugi, Wakil Komandan Operasi Gaktib<br />

malam itu. Kepada Tugi, Arsya sempat<br />

menjelaskan keberadaan timnya di tempat<br />

tersebut. Saat itu sebenarnya situasi terkendali.<br />

Namun masalah muncul setelah<br />

beberapa menit Tugi keluar dan Komisaris<br />

Budi masuk toilet.<br />

Tak lama, Kolonel Laut Nazali Lempo,<br />

yang memimpin razia, masuk ruangan<br />

dan menggedor-gedor toilet tersebut. Seorang<br />

anggota POM kemudian ada yang<br />

berteriak, “Itu di dalam mau buang narkoba.”<br />

Beberapa anggota POM TNI AL ke-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


HUKUM<br />

Apa urusannya? Karena<br />

kita (Polri) sendiri punya<br />

provos, kenapa dibawa<br />

ke POM AL?<br />

mudian berusaha mendobrak pintu toilet.<br />

Nah, saat itu, Arsya berusaha menengahi,<br />

tapi malah dipukuli hingga jatuh pingsan.<br />

Arsya dan Budi lalu diborgol dan diangkut<br />

menggunakan truk patroli. Keduanya<br />

dibawa berkeliling mengikuti razia<br />

ke sejumlah kafe dan tempat<br />

hiburan lain di Jakarta. Tempat<br />

hiburan tersebut antara lain<br />

di kawa san Senayan dan<br />

Kemang, Jakarta Selatan.<br />

Dari razia itu, terjaring<br />

sejumlah anggota TNI<br />

dan Polri. Bersama mereka,<br />

Arsya dan Budi baru<br />

dibawa ke Markas POM<br />

TNI AL di Kelapa Gading,<br />

Jakarta Utara.<br />

Mendapat kabar penangkapan<br />

itu, Direktur Reserse Kriminal<br />

Umum Polda Metro Jaya Komisaris<br />

Besar Heru Pranoto datang ke Markas<br />

POM TNI AL untuk menjemput anak buahnya.<br />

Heru mendapati keduanya babakbelur.<br />

Arsya bahkan terluka serius, tulang<br />

rusuknya patah. Perwira menengah Polri<br />

itu lalu dilarikan ke Rumah Sakit Siloam,<br />

Semanggi, Jakarta Selatan.<br />

Heru menyayangkan penganiayaan<br />

yang dialami dua bawahannya. Apalagi<br />

lalu digiring ke Markas POM TNI AL. “Apa<br />

urusannya? Karena kita (Polri) sendiri punya<br />

provos, kenapa dibawa ke POM AL?”<br />

katanya. Saat Heru menjemput, malah<br />

ada oknum TNI berpangkat sersan kepala<br />

berucap kepadanya, “Ada apa, Pak? Masih<br />

kurang dipukulin?”<br />

Senada, Kepala Bidang Penerangan<br />

Umum Markas Besar Polri Komisaris Besar<br />

Rikwanto mengatakan POM TNI AL<br />

tidak berwenang menangkap personel<br />

Polri. Apalagi Arsya dan Budi mengantongi<br />

sprint. “Apalagi sampai melakukan<br />

penganiayaan,” ujar Rikwanto, Senin, 9<br />

Februari lalu.<br />

Berbeda dengan versi polisi, sebaliknya,<br />

pihak TNI menuding dua perwira menengah<br />

Polri itu membentak dan meno-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


HUKUM<br />

Direktur Reserse Kriminal<br />

Umum Polda Metro Jaya<br />

Komisaris Besar Heru Pranoto<br />

DETIKCOM<br />

dongkan pistolnya saat akan diperiksa.<br />

Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI<br />

AL Laksamana Pertama TNI Manahan<br />

Simorangkir, apa yang dilakukan prajurit<br />

POM TNI AL adalah untuk membela<br />

diri. Apalagi saat itu keduanya tak<br />

mau menunjukkan KTA Polrinya.<br />

“Hanya mengaku aparat<br />

negara,” tutur Manahan saat<br />

dimintai konfirmasi.<br />

Sayang, setelah dibawa ke<br />

Markas POM TNI AL, Arsya<br />

baru mengaku anggota Polri.<br />

Keduanya juga menolak<br />

menjalani tes urine. Menurut<br />

Manahan, pihaknya<br />

memiliki bukti-bukti<br />

rekaman video dan foto<br />

yang dilakukan aparat<br />

POM TNI AL saat operasi<br />

tersebut.<br />

“Enggak apa-apa kalau<br />

(sedang) tugas, tapi kenapa enggak<br />

ngaku (polisi)? Operasi ini gabungan<br />

POM TNI AL dan Propam Polri atas perintah<br />

Panglima TNI Jenderal Moeldoko,”<br />

ucapnya.<br />

Adapun Komandan Puspom TNI AL<br />

Brigadir Jenderal Marinir Gunung Heru,<br />

yang awalnya bersedia ditemui di kantornya<br />

pada Rabu pekan lalu, tiba-tiba membatalkan<br />

wawancara. Namun, dari informasi<br />

yang diperoleh di lingkungan POM<br />

TNI AL, penangkapan dan pemukulan itu<br />

tidak begitu saja dilakukan tanpa sebab<br />

yang jelas.<br />

Seorang anggota POM TNI AL yang<br />

ikut dalam operasi mengatakan, saat<br />

aparat gabungan masuk ruangan karaoke,<br />

dua polisi itu mencoba mengusir, bahkan<br />

sempat menodongkan pistol. Secara<br />

spontan, sejumlah petugas POM TNI AL<br />

melumpuhkannya. Ia juga melihat salah<br />

satu perwira polisi itu masuk toilet dan<br />

mengunci pintu. Dan saat diminta mem-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


HUKUM<br />

Kepala Dinas Penerangan TNI<br />

AL Laksamana Pertama TNI<br />

Manahan Simorangkir<br />

DETIKCOM<br />

TAP/KLIK UNTUK BERKOMENTAR<br />

buka pintu, air mengucur<br />

dari keran sampai<br />

membanjiri lantai.<br />

“Apa coba yang<br />

mereka lakukan kalau<br />

enggak menghilangkan<br />

barang bukti? Entah<br />

apa itu,” kata dia,<br />

seraya menyebut ada<br />

empat perempuan<br />

muda di ruangan itu<br />

saat razia.<br />

Majalah detik<br />

berupaya mencari penjelasan kepada<br />

pihak lain. Namun sejumlah karyawan di<br />

lingkungan Bengkel Cafe enggan memberi<br />

keterangan. Manajer tem pat karaoke<br />

itu saat dihubungi menolak permintaan<br />

wawancara.<br />

“Maaf, kami enggak bisa kasih info. Kalau<br />

saya kasih (informasi), artinya saya tidak<br />

menjaga tempat (kerja) saya,” ujarnya.<br />

Masalah ini akhirnya berbuntut panjang.<br />

Arsya melaporkan penganiayaan dan<br />

penangkapan dirinya itu ke Kepolisian<br />

Polda Metro Jaya dengan terlapor Kolonel<br />

Nazali Lempo. Ia dilaporkan dengan<br />

dugaan pelanggaran Pasal 170 Kitab<br />

Undang-Undang Hukum Pidana tentang<br />

pengeroyokan. Arsya juga melapor cincin<br />

dan uangnya hilang.<br />

Namun, menurut Heru Pranoto, bukan<br />

institusi Polri yang melaporkan, melainkan<br />

individu Arsya sebagai korban. Saat<br />

ini sejumlah saksi kasus pengeroyokan<br />

dua anggotanya itu masih dikumpulkan.<br />

“Apakah itu pegawai Bengkel Cafe atau<br />

orang sipil yang melihat kejadian,” tuturnya.<br />

Kasus itu akan ditindaklanjuti bersama<br />

antara Provos Polri dan POM TNI.<br />

Sementara itu, soal dugaan adanya narkoba<br />

dan wanita dibantah oleh Rikwanto.<br />

“Tidak ada perempuan, minuman keras,<br />

apalagi narkotik, senjata atau pisau yang<br />

ditodongkan,” ucapnya. ■<br />

ADITYA MARDIASTUTI | M. RIZAL<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


CRIME STORY<br />

BAGIAN 2<br />

PRIA NECIS ITU<br />

TERNYATA BEGAL<br />

PULUHAN ANGGOTA “KELOMPOK LAMPUNG” BELUM<br />

TERTANGKAP. BERGANTI-GANTI NAMA DAN KTP<br />

UNTUK MENYAMARKAN IDENTITAS.<br />

ILUSTRASI: EDI WAHYONO<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


CRIME STORY<br />

Saya dengar suara tembakan tiga<br />

kali, yang dua katanya kena si Mul<br />

itu.<br />

SUARA keras seperti benda terjatuh<br />

membangunkan Karyo dari tidur lelapnya.<br />

Pedagang makanan ini masih<br />

limbung saat berjalan untuk membuka<br />

pintu rumahnya. Di luar masih gelap-gulita.<br />

Baru pukul 03.20 WIB saat Karyo melihat seorang<br />

pria tersungkur di depan rumah kontrakan<br />

tetangganya, Masduki.<br />

“Waktu itu dia masih pakai helm, jaket kulit<br />

cokelat, celana panjang hitam, sama sepatu<br />

leret (setrip) merah,” kata Karyo, mengisahkan<br />

kejadian pada Selasa dini hari, 27 Januari lalu itu.<br />

“Saya lihat dia gerenggereng<br />

(mengerang),<br />

sekarat, di pojokan.”<br />

Sejumlah aparat bersenjata<br />

ternyata sudah<br />

menyebar di sekitar rumah<br />

kontrakan petak di Jalan KUD, Kelurahan<br />

Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok,<br />

Jawa Barat, itu. Ia baru tersadar kegaduhan<br />

di pagi buta itu ternyata polisi yang sedang<br />

menggerebek kontrakan yang dihuni komplotan<br />

pelaku kejahatan asal Lampung.<br />

Salah satunya Mul, pria yang tersungkur<br />

setelah ditembak polisi. Mul, yang selama ini<br />

tinggal di rumah yang dikontrak Masduki,<br />

akhirnya tewas. “Saya dengar suara tembakan<br />

tiga kali, yang dua katanya kena si Mul itu,” ujar<br />

Karyo, yang tak ingin nama sebenarnya ditulis,<br />

saat ditemui di rumahnya, akhir Januari lalu.<br />

Penggerebekan tersebut memang membuahkan<br />

hasil. Meski satu tewas ditembak<br />

karena melawan, satu anggota komplotan itu,<br />

Masduki, ditangkap. Namun beberapa lainnya<br />

kabur melalui lubang menganga pada tembok<br />

yang memang sudah lama jebol.<br />

Karyo sempat mendengar sang komandan<br />

penggerebekan memarahi anak buahnya yang<br />

terlalu cepat melepas tembakan. Kalau saja tak<br />

buru-buru menembak, mungkin saja anggota<br />

komplotan ini bisa tertangkap semua.<br />

Polisi sebenarnya sudah “menyekap” Masduki<br />

beberapa jam sebelumnya di dalam rumah.<br />

Aparat dari Kepolisian Resor Tangerang<br />

Kabupaten dan Polres Kota Depok sengaja menunggu<br />

teman-temannya datang. Benar saja,<br />

pada dini hari, datang empat anggota kawanan<br />

itu, yang masing-masing menunggang sepeda<br />

motor, termasuk Mul.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


CRIME STORY<br />

“Kata polisi, mereka datang sambil tertawatawa,”<br />

tuturnya.<br />

Polisi juga menyita tujuh sepeda motor. Tiga<br />

sepeda motor disimpan di dalam kontrakan<br />

dan empat unit ditumpangi komplotan itu. Dari<br />

tujuh motor, empat di antaranya bermerek<br />

Suzuki Satria, yang salah satunya mirip dengan<br />

sepeda motor korban pembegalan yang belakangan<br />

ini meresahkan warga Depok.<br />

“Salah satu motor yang ada pada pelaku<br />

mirip dengan motor korban (pembegalan) di<br />

flyover UI,” ucap Kepala Satuan Reserse Kriminal<br />

Polresta Depok Komisaris Agus Salim<br />

beberapa waktu lalu. Korban Abdul Rahman,<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


CRIME STORY<br />

Polisinya bilang, ‘Ibu tahu enggak,<br />

dia itu perampok yang baru bunuh<br />

korbannya di Tangerang. Kalau<br />

enggak percaya, ini pedangnya.<br />

warga Bogor, Jawa Barat, tewas dibacok komplotan<br />

begal berjumlah empat orang.<br />

Saat mengendarai sepeda motornya seorang<br />

diri pada Minggu dini hari, 25 Januari lalu, Rahman,<br />

karyawan sebuah perusahaan swasta,<br />

dipepet para pelaku yang mengendarai dua<br />

sepeda motor di Jalan Margonda Raya, Depok,<br />

dekat flyover Universitas Indonesia (baca "Begal<br />

Berulah Bikin Resah", majalah detik edisi 167).<br />

Setelah dibacok hingga tewas, sepeda motor<br />

korban, Suzuki Satria<br />

berwarna putih,<br />

digasak para<br />

pelaku.<br />

Dua pekan sebelumnya,<br />

begal<br />

juga beraksi di<br />

Jalan Juanda, dekat proyek jalan tol Cinere-<br />

Jagorawi, Depok. Kejadiannya juga dini hari.<br />

Korban yang baru berusia 23 tahun juga tewas<br />

dibunuh komplotan pelaku.<br />

Dalam penggerebekan di Sukamaju itu, polisi<br />

menemukan sebilah pedang yang berlumuran<br />

darah yang sudah mengering. Pedang itu<br />

sempat diperlihatkan kepada Karyo dan istrinya<br />

yang bertanya-tanya, kejahatan apa yang<br />

dilakukan tetangganya tersebut sehingga harus<br />

ditembak mati.<br />

“Polisinya bilang, ‘Ibu tahu enggak, dia itu<br />

perampok yang baru bunuh korbannya di Tangerang.<br />

Kalau enggak percaya, ini pedangnya,’”<br />

kata Karyo, menirukan ucapan seorang<br />

polisi.<br />

Atun―juga bukan nama sebenarnya―anak<br />

perempuan Karyo, juga setengah tak percaya<br />

Masduki dan Mul, tetangga kontrakannya<br />

selama ini, ternyata pelaku pembegalan. Saat<br />

ke luar rumah, Mul selalu berpenampilan rapi<br />

mengenakan kemeja lengan panjang dan bersepatu<br />

kets. “Pakaiannya rapi, necis gitu.”<br />

Keduanya ramah dan kerap menyapa tetangga.<br />

Teman-teman Masduki dan Mul, yang sering<br />

datang ke kontrakan, pun berpenampilan rapi.<br />

Mereka mengaku bekerja di sebuah koperasi.<br />

“Bocahnya putih-putih, ganteng, kagak ada<br />

tatonya, makanya kagak nyangka kalau mereka<br />

perampok sadis,” ujar Atun dengan logat Betawi<br />

kental.<br />

Karyo juga tak pernah menaruh curiga.<br />

Kalaupun polisi menduga mereka komplotan<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


CRIME STORY<br />

begal yang beraksi di wilayah Depok dan Tangerang,<br />

Masduki dan Mul tak pernah terlihat<br />

gonta-ganti motor. Mul sehari-hari mengendarai<br />

motor Yamaha Mio GT berwarna merah.<br />

Sedangkan Masduki menunggang Honda Beat<br />

berwarna hitam.<br />

“Kalau teman-temannya memang ganti-ganti<br />

(motor), tapi kan enggak curiga. Bisa aja pinjam<br />

motor teman,” tuturnya.<br />

Namun Karyo mengakui tetangganya itu<br />

kerap pulang dini hari. Pernah saat istrinya<br />

hendak salat sekitar pukul 02.30 WIB melihat<br />

Masduki baru masuk rumah. “Dia itu pulang<br />

pas orang lain istirahat,” ucapnya.<br />

Soal nama mereka, Karyo mengaku baru<br />

tahu setelah penggerebekan. Sebab, Masduki<br />

dan Mul tak pernah menyebut nama mereka.<br />

Namun bisa jadi itu pun bukan nama asli. Menurut<br />

Kepala Unit Reskrim Kepolisian Sektor<br />

Serpong, Tangerang, Ajun Komisaris Toto Daniyanto,<br />

komplotan yang disebut “Kelompok<br />

Lampung” ini memang kerap berganti-ganti<br />

nama untuk menyamarkan identitas mereka.<br />

Para pelaku tahu dicari polisi dan masuk<br />

daftar pencarian orang (DPO). Karena itu,<br />

hampir setiap pekan mereka berganti-ganti<br />

nama, termasuk kartu tanda penduduk, yang<br />

disesuaikan dengan kontrakan mereka yang<br />

berpindah-pindah. “Seperti (nama) Edi jadi<br />

Agus, Agus jadi Edi, padahal orangnya itu-itu<br />

saja.” kata Toto secara terpisah.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


CRIME STORY<br />

Penggerebekan itu merupakan pengembangan<br />

dari penangkapan sebelumnya terhadap<br />

kelompok Karim di Serpong. Lalu seorang<br />

anggota kelompok ini, yang berniat menyeberang<br />

ke Sumatera di Pelabuhan Penyeberangan<br />

Merak, Banten, tewas ditembak. Dari telepon<br />

seluler pelaku, polisi menelusuri jaringan itu di<br />

Cikupa, Tangerang, hingga Serang.<br />

Beberapa kelompok yang ditangkap, termasuk<br />

yang digerebek di Sukamaju, Depok, semua<br />

berasal dari “Kelompok Lampung”. “Mereka ini<br />

ada beberapa kelompok, tapi masih satu jaringan,”<br />

ujar Toto.<br />

Tidak hanya membegal pengendara dan<br />

melakukan pencurian kendaraan bermotor,<br />

komplotan Lampung juga melakukan berbagai<br />

tindak pidana lain, seperti perampokan nasabah<br />

bank dan menggarong rumah tinggal.<br />

Dari jaringan Lampung, polisi berhasil menangkap<br />

11 orang, dan enam di antaranya tewas<br />

ditembak karena melawan. Namun diduga<br />

masih ada 30 orang lebih yang masih berkeliaran.<br />

Mereka tak lagi hanya beraksi di wilayah<br />

Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi<br />

(Jabodetabek), tapi sudah merambah sampai<br />

ke Sukabumi, Jawa Barat.<br />

“Lolos di sini, mereka bikin kelompok lagi di<br />

kota lain,” ucap Toto. Dan perburuan para begal<br />

belum akan berakhir. ■<br />

ADITYA MARDIASTUTI, M. RIZAL | DIM<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

TUKANG SULAP HUTAN<br />

MEGAMENDUNG<br />

“SAYA TAK MENYANGKA DI PUNCAK YANG<br />

DIPENUHI VILA INI ADA HUTAN RIMBUN.”<br />

FOTO-FOTO: DIKHY SASRA/DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

Tap untuk melihat<br />

Video<br />

PERTAMA kali datang ke rumah<br />

Bambang Istiawan, 60 tahun, pada<br />

Desember tahun lalu, Chaerudin,<br />

52 tahun, langsung melongo. Bapak<br />

tiga anak ini tak menyangka ada hutan lebat<br />

terhampar di depan rumah Bambang.<br />

Yang membuat Chaerudin bertambah takjub,<br />

hutan yang disebut Bambang sebagai hutan organik<br />

ini tumbuh lebat laiknya hutan alam. Warga<br />

Jakarta yang mengenal Bambang di sebuah<br />

seminar tentang lingkungan ini benar-benar<br />

heran bagaimana mungkin hutan selebat dan<br />

seluas itu merupakan hasil menanam sendiri.<br />

“Saya tak menyangka di Puncak yang dipenuhi<br />

vila ini ada hutan rimbun. Apalagi ditanam<br />

dan dibuat sendiri. Ini kan ide gila,” ujar Chaerudin<br />

dua pekan lalu. Bukan cuma Chaerudin<br />

yang terpesona oleh hutan organik Bambang.<br />

Melani Sunito, 51 tahun, dosen di Fakultas<br />

Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, justru<br />

sudah terpesona hanya dengan mendengar<br />

penuturan Bambang soal hutan organik di lingkungan<br />

rumahnya. Penasaran dengan hutan<br />

organik di Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa<br />

Barat, itu, Melani mengajak suaminya bertandang<br />

ke rumah Bambang.<br />

“Dari penjelasan bagaimana kondisi tanah,<br />

proses penanaman, hingga pemetaan lahan<br />

yang didokumentasikan dengan rigid, saya sudah<br />

takjub luar biasa,” ujar Melani. Dan benar,<br />

begitu tiba di rumah Bambang, Melani terheran-heran<br />

melihat hamparan pohon yang mulai<br />

tumbuh menghijau di atas lahan yang semula<br />

tandus dan kering.<br />

Walaupun bukan sarjana pertanian, juga tak<br />

paham soal kehutanan, menurut Melani, Bam-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

bang sudah membuktikan bahwa bermodal<br />

komitmen dan kerja keras, siapa pun bisa menyulap<br />

lahan kritis menjadi hutan yang memberikan<br />

manfaat ekonomi. “Banyak aktivis dan<br />

pakar lingkungan yang melakukan advokasi.<br />

Tapi Bambang mempraktekkan, terjun langsung<br />

menjadi pelaku,” ujarnya.<br />

Melani ingat bagaimana dalam sebuah seminar<br />

seorang peserta mencibir Bambang. Orang<br />

itu mengatakan siapa pun bisa membuat hutan<br />

asalkan punya banyak uang. “Jadi usaha Bapak<br />

membuat hutan itu tidak istimewa,” kata<br />

Melani mengutip pandangan miring orang<br />

itu. Mendapat cibiran seperti itu, Bambang<br />

tetap adem. Justru Melani yang sewot. Sebab,<br />

menurut Melani, tanpa komitmen dan kemauan,<br />

tak mungkin ada hutan organik seperti di<br />

lingkungan rumah Bambang.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

Usaha Bapak<br />

membuat hutan itu<br />

tidak istimewa.<br />

l l l<br />

Sejak 20 tahun lalu, Bambang punya angan-angan<br />

di mana dia akan melewatkan masa<br />

pensiun. Kepada istrinya, Rosita, 52 tahun,<br />

Bambang, yang bekerja di perusahaan minyak,<br />

menyampaikan mimpinya untuk punya rumah<br />

yang dikepung hutan.<br />

Semula ada dua tempat impian yang ia incar,<br />

yakni Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan.<br />

Namun hutan di Kalimantan Timur sudah<br />

banyak yang beralih menjadi permukiman,<br />

sementara hutan di Sumatera sudah berganti<br />

menjadi kebun sawit. “Kalau hutan sudah tidak<br />

ada, ya ayo kita bikin hutan,” Rosita menantang<br />

Bambang.<br />

Kebetulan sekali, ada tanah menganggur di<br />

Megamendung. Gara-gara dihajar krisis ekonomi,<br />

kebun teh seluas 12 hektare milik pengusaha<br />

Probosutedjo jadi tak terurus, tandus<br />

dan gersang ditumbuhi ilalang. Rosita segera<br />

menghubungi orang kepercayaan adik Presiden<br />

Soeharto itu. Bersaing dengan para calo,<br />

Rosita berhasil membeli lahan seluas sekitar<br />

3.000 meter persegi dengan harga Rp 1.000<br />

per meter.<br />

“Jangankan membeli lahan baru, yang sudah<br />

dibeli kalau tidak dijaga saja bisa dikaveling oleh<br />

biong, makelar tanah,” ujar Rosita. Sedikit demi<br />

sedikit Rosita menabung tanah. Bambang,<br />

yang kala itu banyak bertugas di luar negeri,<br />

kaget saat tahu istrinya telah memiliki tanah<br />

yang luas.<br />

Bersama anak bungsunya, Bambang dan<br />

Rosita meneliti kondisi tanah gersang milik<br />

mereka. Bambang tak menyangka, lahan yang<br />

sebagian besar ditumbuhi alang-alang ini<br />

kondisinya benar-benar rusak parah. Tanah itu<br />

sangat asam, bahkan cacing pun tak sanggup<br />

hidup di dalamnya.<br />

Bermodal coba-coba, pada 2001 Bambang<br />

memulai menanami lahannya. Dua pertiga lahannya<br />

dia tanami pohon perintis, sementara<br />

sisanya untuk tanaman endemik dan buah-buahan<br />

supaya lahan bisa hijau lebih dulu. Untuk<br />

memulihkan kesuburan tanah, Bambang 100<br />

persen mengandalkan pupuk kandang. Dia sengaja<br />

memelihara sepasang kambing di sana.<br />

“Itulah bodohnya saya... Saya kira kalau mau<br />

cepat beranak ya pelihara sepasang. Padahal<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

bisa empat kambing betina dengan satu pejantan,”<br />

ujar Bambang terkekeh.<br />

Perlahan tanaman mulai tumbuh. Bambang<br />

beserta anak dan istrinya selama mengolah<br />

lahan berpuasa tak menggunakan pupuk anorganik.<br />

Berkat ketelatenannya, tanaman sudah<br />

terlihat mulai menghijau meskipun tak secepat<br />

bayangan Bambang. Tak sabar melihat pertumbuhan<br />

tanaman yang kelewat pelan, dia sempat<br />

tergoda menggunakan pupuk anorganik.<br />

“Ini tantangan luar biasa. Saya merasa pohon<br />

itu tumbuh sangat lama. Saya mulai bosan,”<br />

katanya.<br />

Kesabaran Bambang terbayar. Pada 2003,<br />

muncul mata air jernih di cekungan lahan<br />

Bambang. Air pompa yang biasa dipakai dia<br />

tinggalkan dan beralih ke mata air di hutan miliknya.<br />

Hati Bambang tambah bungah melihat<br />

tanaman tumpang sari juga memberikan hasil<br />

yang memuaskan.<br />

Panen tanaman, seperti sawi, lobak, bayam,<br />

cabai, terung, jagung, dan aneka tanaman<br />

tumpang sari lainnya, berlimpah. Dan hasilnya<br />

bisa dijual untuk membayar para petani yang<br />

membantu Bambang sekeluarga. Hutan di<br />

depan rumahnya juga mulai jadi persinggahan<br />

rupa-rupa satwa.<br />

Kegigihan keluarga Bambang menghutankan<br />

tanah gersang di Megamendung dan mempertahankan<br />

tanah itu dari incaran calo membuat<br />

mereka jadi tempat mengadu warga sekitar.<br />

Pada 2005, warga tak jauh dari rumah Bambang<br />

mendatangi mereka dan menuturkan<br />

soal rencana seorang pengusaha membuat<br />

penangkaran buaya di bukit seberang rumah<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

Bambang.<br />

“Mereka keberatan karena pasti akan ada<br />

bau bangkai dan kotoran yang akan mengalir ke<br />

permukiman warga,” kata Bambang. Lantaran<br />

didesak warga, Bambang terpaksa merelakan<br />

tabungannya dikuras untuk mengambil alih<br />

lahan seluas 11 hektare itu. Seperti juga tanah<br />

mereka sebelumnya, lahan kosong itu mereka<br />

hutankan kembali. Kini puluhan hektare lahan<br />

itu sudah menjadi hutan lebat. Sebagian berfungsi<br />

sebagai hutan konservasi, sebagian lagi<br />

dia manfaatkan sebagai hutan produksi yang<br />

memberikan manfaat ekonomi.<br />

Tapi sejak dulu tanah di kawasan Puncak<br />

selalu menjadi incaran orang. Suatu ketika pada<br />

2011, rumahnya beberapa kali diancam dibongkar.<br />

Bahkan alat berat sudah berdiri di kawasan<br />

rumahnya. Waktu itu, kata Bambang, seorang<br />

pejabat merasa tersinggung karena menolak<br />

lokasi hutannya digunakan sebagai tempat<br />

kampanye.<br />

“Katanya rumah saya disebut vila tak berizin<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

dan harus dibongkar,” kata Bambang menirukan<br />

salah seorang petugas yang akan membongkar<br />

rumahnya. Padahal, kata Bambang, rumahnya<br />

hanya bangunan kayu yang luasnya tak seberapa<br />

dibanding luas hutan dengan ribuan pohon<br />

besar.<br />

Entah kenapa ancaman itu tak pernah terlaksana.<br />

Bambang menduga ancaman itu merupakan<br />

buntut dari kritik yang sering ia lontarkan<br />

terhadap kebijakan pemerintah daerah yang<br />

tak serius menjaga kawasan Puncak. Alih-alih<br />

difungsikan sebagai kawasan konservasi yang<br />

rimbun dengan pepohonan, Puncak malah<br />

rimbun oleh vila.<br />

Pengalamannya merehabilitasi lahan tandus<br />

menjadi hutan secara organik membuat Bambang<br />

menjadi langganan pembicara seminar<br />

di dalam negeri maupun mancanegara. “Saya<br />

tak punya latar belakang kehutanan, tak punya<br />

banyak uang dan dukungan politik. Yang saya<br />

punya hanyalah semangat. Dan itulah yang bisa<br />

saya bagikan,” katanya. n KUSTIAH<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INSPIRING PEOPLE<br />

BIODATA<br />

BAMBANG ISTIAWAN<br />

LAHIR<br />

Jakarta, 17 Oktober 1954<br />

SEKOLAH<br />

STM, Jakarta, 1973<br />

PENGALAMAN KERJA<br />

● Project Coordinator PT Sinergi Mitra Sejati,<br />

2013<br />

● Technical Advisor PT Radiant Utama, 2010-<br />

2011<br />

● Independent Inspector PT Saripari Pertiwi<br />

Abadi, 2008<br />

● Project Coordinator PT Sillo Maritime Perdana,<br />

2005-2006<br />

● Independent Chief Inspector untuk Caltex<br />

Pacific Indonesia, Huabei Petroleum, Meta<br />

Epsi, PT Bormindo Nusantara, PT Dimas<br />

Drillindo, PT Tridiantara Alvindo, 1995-2005<br />

MAJALAH DETIK 1619 - 22 - 25 FEBRUARI JANUARI 2015


FOKUS<br />

KOMJEN BUWAS<br />

BIKIN<br />

CEMAS<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

KEPALA BARESKRIM KOMJEN BUDI WASESO, YANG MEMERINTAHKAN PENYELIDIKAN<br />

TERHADAP PIMPINAN KPK, MALAH MASUK DAFTAR CALON KAPOLRI. TERBELIT BANYAK<br />

MASALAH, TAPI KARIERNYA TETAP MULUS.<br />

Bambang Widjojanto sebelum<br />

diperiksa di Bareskrim Polri<br />

sebagai tersangka kasus<br />

kesaksian palsu.<br />

RACHMAN HARYANTO/DETIKCOM<br />

ADA satu kursi kosong terselip di antara<br />

17 kursi yang disiapkan di ruang<br />

rapat utama Mabes Polri. Kepala<br />

Badan Reserse Kriminal Komisaris<br />

Jenderal Budi Waseso, yang semestinya duduk<br />

di sana, belum juga datang, padahal sembilan<br />

jenderal yang dipimpin Wakil Kepala Polri Komisaris<br />

Jenderal Badrodin Haiti sudah menanti.<br />

Pagi itu, Rabu, 28 Januari 2015, Badrodin<br />

menerima tujuh delegasi Komisi Nasional Hak<br />

Asasi Manusia. Selang beberapa menit setelah<br />

pertemuan dimulai, Komjen Budi Waseso akhirnya<br />

memasuki ruang rapat.<br />

Melihat Budi datang, komisioner Komnas<br />

HAM, Nur Kholis, bernapas lega. Pasalnya, mereka<br />

hari itu datang untuk melobi Mabes Polri<br />

agar bisa memeriksa Budi Waseso.<br />

Nur Kholis mengakui tidak mudah meminta<br />

keterangan kepada polisi berkaitan dengan penyelidikan<br />

dugaan pelanggaran hak asasi manusia<br />

dalam penangkapan Wakil Ketua Komisi<br />

Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto.<br />

“Kalau dengan Polri, tidak begitu saja memanggil<br />

Budi Waseso yang Kabareskrim,” ujarnya. “Nah,<br />

di pertemuan itulah Waseso sedikit kami sentil<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Kami juga<br />

mempersoalkan<br />

kenapa tidak<br />

melakukan<br />

pemanggilan,<br />

lalu dinyatakan<br />

ditahan.<br />

soal dugaan kriminalisasi.”<br />

Bukan tidak beralasan jika para komisioner<br />

ragu bos reserse itu mau diperiksa. Sebab, dalam<br />

sejarah Komnas HAM, para jenderal memang<br />

ogah memenuhi panggilan lembaga independen<br />

ini. Apalagi Budi Waseso tidak menggubris<br />

desakan agar menyetop penyelidikan terhadap<br />

pimpinan KPK.<br />

Buwas—begitu dia biasa disapa—memang dinanti<br />

penjelasannya oleh Komnas HAM. Adalah<br />

koalisi Masyarakat Sipil Anti-Korupsi yang mengadukan<br />

adanya pelanggaran hak asasi terhadap<br />

Bambang oleh Bareskrim Mabes Polri.<br />

Dugaan pelanggaran yang ditelusuri adalah<br />

berlebihannya jumlah dan persenjataan personel<br />

yang menangkap Bambang. “Kami juga mempersoalkan<br />

kenapa tidak melakukan pemanggilan,<br />

lalu dinyatakan ditahan,” kata Nur Kholis.<br />

Komnas HAM juga menelisik dugaan kesengajaan<br />

mempercepat penetapan tersangka<br />

Bambang yang terjadi setelah KPK menetapkan<br />

calon tunggal Kapolri, Komisaris Jenderal Budi<br />

Gunawan, sebagai tersangka kasus gratifikasi.<br />

Lima hari sejak dilaporkan, Bambang ditetapkan<br />

sebagai tersangka mengarahkan kesaksian palsu<br />

dalam sidang sengketa pemilihan Bupati Kotawaringin<br />

Barat di Mahkamah Konstitusi.<br />

Buwas juga jadi sorotan publik setelah ketahuan<br />

polisi menangkap Bambang saat masih<br />

mengenakan sarung. Saat Bambang memprotes<br />

surat penangkapan, seorang polisi sempat<br />

mengancam akan melakban mulutnya.<br />

Buwas dituding berniat melemahkan KPK<br />

dengan menerbitkan surat perintah penyelidikan<br />

terhadap pimpinan KPK lainnya: Abraham<br />

Samad, Zulkarnain, dan Adnan Pandu Praja. Selain<br />

itu, ia dianggap menghalangi penyelidikan<br />

terhadap Budi Gunawan dengan mengirim telegram<br />

rahasia yang melarang polisi memenuhi<br />

panggilan KPK.<br />

Buwas sendiri membantah pihaknya berlebihan<br />

saat menangkap Bambang Widjojanto. “Mana<br />

bukti pengerahan berlebihan?” kata Buwas saat<br />

ditemui majalah detik di rumah dinas Kabareskrim<br />

pada Jumat, 13 Februari 2015.<br />

Buwas mengatakan sudah menyerahkan video<br />

rekaman penangkapan itu kepada Komnas<br />

HAM. Ia juga menganggap cepatnya Bambang<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

status tersangka Budi Gunawan. Penyelidikan<br />

terhadap pimpinan KPK dilakukan atas laporan<br />

masyarakat dan kebetulan yang tersangkut adalah<br />

petinggi komisi antirasuah itu. “Saya tidak<br />

dendam. Buktikan kalau saya dendam, tidak<br />

perlu waswaslah.”<br />

●●●<br />

Kepala Badan Reserse<br />

Kriminal Mabes Polri Inspektur<br />

Jenderal Budi Waseso sebelum<br />

memberi keterangan di<br />

Komnas HAM Jakarta, Jumat<br />

(30/1).<br />

FANNY OCTAVIANUS/ANTARAFOTO<br />

jadi tersangka bukan hal yang luar biasa.<br />

Soal telegram rahasia, Buwas menyatakan niatnya<br />

bukan buat menghalangi penyidikan KPK.<br />

Isi telegram itu, kata dia, mengingatkan personel<br />

Polri bahwa mereka wajib melapor ke Divisi<br />

Profesi dan Pengamanan serta Divisi Pembinaan<br />

Hukum sebelum memenuhi panggilan KPK.<br />

Buwas menegaskan tidak ada upaya kriminalisasi<br />

oleh Polri terhadap KPK sebagai balasan<br />

Lulus dari Akademi Polisi pada 1984, karier<br />

Budi Waseso baru tertangkap radar saat menjabat<br />

Kepala Kepolisian Resor Barito Utara,<br />

Kalimantan Tengah. Di sana ia terseret pusaran<br />

kasus korupsi pelelangan kayu hasil pembalakan<br />

liar yang melibatkan Kepala Dinas Kehutanan<br />

Toboryano Angga dan Ketua DPRD Barito Utara<br />

H Baslenudin.<br />

Kala itu Budi Waseso dipanggil sebagai saksi<br />

meringankan, tapi ia menolak. Kerabat Buwas<br />

yang menetap di Semarang, Adi Susilo, mendapat<br />

cerita dari pamannya tersebut bahwa dalam<br />

kasus seperti itu ia kerap menghadapi jenderal<br />

yang jadi beking. “Dia dimarah-marahi kok sama<br />

jenderal di Jakarta dan disingkir-singkirkan terus,”<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Kasus itu<br />

bukannya<br />

diselidiki,<br />

tapi malah<br />

diselesaikan<br />

dengan cara<br />

dituduh<br />

pelakunya teman<br />

si korban.<br />

ujarnya.<br />

Dari Barito Utara, Buwas digeser ke Polres<br />

Palangkaraya. Saat menjabat Kepala Polres<br />

Palangkaraya pada 2002 hingga 2005 inilah,<br />

Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang<br />

Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras)<br />

Haris Azhar mencatat, Buwas melakukan pembiaran<br />

atas ada dua kasus.<br />

Buwas dianggap Kontras menutup mata<br />

terhadap Upik, tahanan yang tewas di Markas<br />

Polres Palangkaraya. Kejanggalan kasus kematian<br />

Upik yang terjadi pada 1999 itu sebenarnya<br />

terungkap pada era Buwas. “Ketika terungkap<br />

itu kasusnya tidak diteruskan,” kata Haris.<br />

Lalu pada 2004, Polres Palangkaraya menangani<br />

kasus kematian akibat peluru nyasar.<br />

Menurut keterangan yang dihimpun Kontras,<br />

insiden itu terjadi akibat perebutan senjata di<br />

antara dua anggota Brimob.<br />

“Senjatanya meletus kena orang sipil,” kata<br />

Haris. “Kasus itu bukannya diselidiki, tapi malah<br />

diselesaikan dengan cara dituduh pelakunya<br />

teman si korban.”<br />

Selepas dari Palangkaraya, karier Buwas lebih<br />

banyak di Provos. Ia menjabat rupa-rupa posisi di<br />

Divisi Profesi dan Pengamanan. Puncaknya, saat<br />

menjabat Kepala Pusat Pengamanan Internal<br />

Mabes Polri, Buwas memimpin penangkapan<br />

terhadap Komisaris Jenderal Susno Duadji yang<br />

hendak terbang ke Singapura pada April 2010.<br />

Buwas pada 2011 juga menyemprit polisi yang<br />

juga artis, Norman Kamaru, karena manggung<br />

di televisi tanpa izin atasannya. “Tidak ada (sanksi),<br />

hanya kita suruh pulang untuk urus izin di<br />

sana (Gorontalo),” ujarnya ketika itu.<br />

Kala menapaki karier sebagai provos itulah<br />

Buwas bersinggungan dengan Budi Gunawan.<br />

Saat itu Budi Gunawan menjabat Kepala Divisi<br />

Profesi dan Pengamanan Mabes Polri, yang<br />

membawahi Buwas.<br />

Memang saat itu Buwas dilaporkan Wakil Kepala<br />

Polda Sulawesi Utara Komisaris Besar Jenmard<br />

Mangolui Simatupang ke Mabes Polri dan Komisi<br />

Kepolisian Nasional. Penyelidikan yang dipimpin<br />

Buwas menyimpulkan Jenmard dan dua perwira<br />

Polda Sulawesi Utara lainnya bersalah dan dicopot<br />

dari jabatannya.<br />

Belakangan, Jenmard tidak terima dan menu-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Demo mendukung pengusutan<br />

rekening gendut di depan Istana<br />

Negara, Jakarta, beberapa waktu<br />

lalu.<br />

RACHMAN HARYANTO/DETIKCOM<br />

ding surat pencopotannya palsu. Namun, berdasarkan<br />

penelusuran Kompolnas, surat tersebut<br />

dikeluarkan oleh bidang Sumber Daya Manusia<br />

Polri atas perintah Kapolri Jenderal Timur Pradopo.<br />

Buwas membantah ada permainan dalam<br />

kasus hukum yang ditanganinya, baik di lingkup<br />

internal Polri maupun yang melibatkan masyarakat.<br />

“Begini saja, kalau saya dulu meras, memainkan<br />

perkara, pasti laporan terhadap saya<br />

banyak sekali,” ujarnya.<br />

Bukannya meredup, setelah laporan itu, karier<br />

Buwas malah hidup lagi. Pada 2012, ia mendapat<br />

promosi jadi brigadir jenderal dan memimpin<br />

Polda Gorontalo.<br />

Media-media lokal pun menyanjung Buwas<br />

semasa di Gorontalo karena dianggap berhasil<br />

menekan angka judi togel dan peredaran minuman<br />

keras. Toh, masanya di Gorontalo ternyata<br />

hanya seumur jagung dan dimutasi ke<br />

Jakarta.<br />

Buwas ketika itu membantah dia dipindah<br />

karena tengah menangani kasus korupsi pejabat<br />

pemerintah provinsi. Namun Adi Susilo membisikkan<br />

Buwas dicopot akibat mengusut kasus<br />

korupsi yang diduga melibatkan orang nomor<br />

satu di Gorontalo.<br />

Terlempar dari jabatan Kapolda Gorontalo,<br />

Buwas menjadi dosen di Sekolah Staf Pemimpin<br />

Polri dan tidak lama setelahnya ia jadi Kepala<br />

Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi Polri. Lagi-lagi<br />

ia bertemu dengan Budi Gunawan, yang tengah<br />

jadi Kepala Lembaga Pendidikan Polri.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Kepala Badan Reserse<br />

Kriminal Mabes Polri Komjen<br />

Pol Budi Waseso (kanan)<br />

menerima ucapan selamat<br />

seusai upacara kenaikan<br />

pangkat jadi bintang tiga di<br />

Mabes Polri, Jakarta, Kamis<br />

(5/2).<br />

M AGUNG RAJASA/ANTARAFOTO<br />

“Mas Budi kebetulan habis dari Gorontalo kan<br />

dibuang jadi dosen,” kata Adi. “Otomatis (Budi<br />

Gunawan) jadi pimpinannya. Jadi dia loyal kepada<br />

pimpinan.”<br />

Buwas menyatakan kedekatannya dengan<br />

Budi Gunawan sebatas pekerjaan. “Karena saya<br />

anak buah, kedekatan saya sama beliau itu memang<br />

karena saya anak buahnya,” ujarnya. “Janganlah<br />

kedekatan itu disalahartikan. Yakinlah<br />

kami dekat karena pekerjaan.”<br />

Soal beredarnya foto putrinya bergandengan<br />

tangan dengan anak Budi Gunawan, M. Herviano,<br />

Buwas tidak membantahnya. “Sekarang<br />

begini, seperti kalau saya dalam pendekatan ketika<br />

naksir seseorang, itu kan pasti pendekatan,<br />

sah-sah saja,” ujarnya. “Mesra atau gandengan<br />

tidak apa-apa.”<br />

Namun kedekatan ini jadi ganjalan tersendiri<br />

dalam peluangnya menjadi Kapolri. Setelah naik<br />

pangkat jadi komisaris jenderal pada 5 Februari<br />

lalu, Buwas memang bisa jadi calon orang nomor<br />

satu di kepolisian.<br />

Peluangnya menguat karena ia memegang<br />

jabatan bergengsi Kabareskrim, yang didapatnya<br />

setelah posisi itu ditinggalkan Komjen Suhardi<br />

Alius. Suhardi dicopot bersamaan dengan<br />

pemberhentian Kapolri Jenderal Sutarman oleh<br />

Presiden Joko Widodo.<br />

Beberapa sumber majalah detik menyayangkan<br />

langkah awal Buwas dengan menye-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Teman seangkatan Komjen<br />

Budi Waseso di Akpol, Irjen<br />

Djoko Susilo, saat diperiksa<br />

kasus dugaan korupsi<br />

pengadaan alat uji simulator<br />

SIM, 2012.<br />

ARI SAPUTRA/DETIKCOM<br />

rang KPK. Bahkan ia dinilai kelewat membela<br />

Budi Gunawan saat menyebut polisi pembocor<br />

dokumen yang memungkinkan KPK mendapat<br />

alat bukti buat menjerat atasannya itu sebagai<br />

pengkhianat.<br />

Karena itu, meski namanya masuk daftar<br />

nama calon Kapolri pengganti Budi Gunawan<br />

yang diajukan kepada Jokowi, Kompolnas sedikit<br />

enggan menempatkannya di urutan pertama.<br />

“Jangan pula memilih polisi yang bermasalah<br />

yang banyak mendapatkan resistensi dari masyarakat,”<br />

kata anggota Kompolnas, Edi Hasibuan.<br />

Selain kedekatan dengan Budi Gunawan, Buwas<br />

dianggap terlalu muda. Calon Kapolri lainnya,<br />

Komjen Dwi Priyatno dan Komjen Anang<br />

Iskandar, lebih senior ketimbang Buwas.<br />

Sementara itu, bersaing dengan teman seangkatannya,<br />

Kepala Badan Pemelihara Keamanan<br />

Polri Komjen Putut Eko Bayuseno, Buwas kalah<br />

rekam jejak karena koleganya itu pernah jadi<br />

Kapolda Metro Jaya. Meski tidak ada aturan<br />

tertulis bahwa Kapolri harus pernah memimpin<br />

wilayah “A”, seperti Polda Metro Jaya dan Polda<br />

Sumatera Utara, komisioner Kompolnas, Hamidah,<br />

menyatakan pengalaman itu tetap jadi<br />

pertimbangan mereka.<br />

Masuknya Buwas dalam bursa calon Kapolri<br />

yang diajukan Kompolnas mendapat dua reaksi<br />

kontras. Kubu yang mendukung terutama<br />

teman-teman seangkatan Buwas, antara lain<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Silakan saja,<br />

wong saya<br />

tidak nafsu jadi<br />

pimpinan Polri.<br />

Brigjen I Ketut Untung Yoga Ana, yang menggantikan<br />

Buwas di Sekolah Staf dan Pimpinan<br />

Tinggi Polri.<br />

Yoga menegaskan, angkatannya punya semboyan<br />

“one forever” alias satu untuk selamanya.<br />

“Pasti kami dukung, apalagi angkatan kami, gitu<br />

kan.”<br />

Melesatnya karier Buwas menjadi Kabareskrim<br />

dianggap kembali mencerahkan masa<br />

depan angkatan 1984. Sebelumnya, angkatan ini<br />

terpuruk karena salah satu bintangnya, Inspektur<br />

Jenderal Djoko Susilo, terbukti melakukan<br />

korupsi dalam kasus pengadaan alat uji simulator<br />

surat izin mengemudi.<br />

Karier Buwas juga lebih cerah dari peraih<br />

Adhi Makayasa angkatan 1984, Brigjen<br />

Wahyu Indra Pramugari. Wahyu yang lulusan<br />

terbaik dari kepolisian itu kini "diparkir" jadi<br />

widyaiswara madya Sespimti Polri setelah<br />

KPK mendapati Wahyu juga kecipratan duit<br />

korupsi kasus simulator sebesar Rp 500 juta<br />

dari Irjen Djoko Susilo.<br />

Namun pihak yang menolak Buwas juga<br />

tidak sedikit. Mendatangi Kompolnas, para<br />

advokat yang tergabung dalam Forum Advokat<br />

Pengawal Konstitusi menolak Buwas karena tak<br />

pernah melaporkan hartanya ke KPK dan mengotaki<br />

penangkapan Bambang Widjojanto.<br />

Sementara itu, Kontras dan Indonesia Corruption<br />

Watch sejak Kamis, 12 Februari, menggalang<br />

dukungan buat melaporkan Buwas ke Divisi<br />

Profesi dan Pengamanan Polri. Haris Azhar mengatakan<br />

pihaknya ingin mendorong polisi juga<br />

memproses temuan Komnas HAM soal adanya<br />

dugaan pelanggaran hak asasi dalam proses<br />

penangkapan Bambang Widjojanto. “Nah, kita<br />

ingin Propam kerja dong, kok diam saja, nih,”<br />

ujarnya.<br />

Ditentang, Buwas tak gentar. “Itu hak Komnas<br />

HAM menyatakan saya bersalah. Silakan saja<br />

umumkan, memang kenapa?” ujarnya. “Silakan<br />

saja, wong saya tidak nafsu jadi pimpinan Polri.”<br />

■ ISFARI HIKMAT, BAHTIAR RIFAI, IBAD DUROHMAN, MONIQUE SHINTAMI, ARYO<br />

BHAWONO, IRWAN NUGROHO | OKTA WIGUNA<br />

TAP/KLIK UNTUK BERKOMENTAR<br />

MAJALAH DETIK 16 - - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

SEBULAN<br />

TANPA KEPALA<br />

KEPOLISIAN Republik Indonesia<br />

sudah hampir sebu lan tak<br />

memiliki pemimpin sejak Kepala<br />

Polri Jenderal Sutarman dicopot<br />

pada 16 Januari 2015. Calon<br />

tunggal penggantinya, Komisaris<br />

Jenderal Budi Gunawan, tak<br />

kunjung dilantik Presiden Joko<br />

Widodo karena terganjal status<br />

tersangka kasus gratifikasi.<br />

Desakan untuk melantik Budi<br />

dan juga membatalkan pencalonannya<br />

terus mengalir, tapi<br />

Jokowi belum juga mengambil<br />

keputusan. Berikut ini tarik-ulur<br />

penetapan Kepala Polri baru<br />

selama hampir sebu lan terakhir<br />

ini.<br />

5 Januari<br />

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menggelar<br />

“Kapolri Idol” di situs resminya, calonnya meminta<br />

masukan masyarakat terhadap lima komisaris jenderal,<br />

yakni Badrodin Haiti, Budi Gunawan, Dwi Priyatno,<br />

Putut Eko Bayuseno, dan Suhardi Alius.<br />

13 Januari<br />

Komisi Hukum DPR mempercepat rapat membahas calon<br />

Kapolri yang sedianya baru 19 Januari 2015.<br />

15 Januari<br />

Sidang paripurna DPR menyetujui Komjen Budi Gunawan<br />

sebagai pengganti Kapolri Jenderal Sutarman.<br />

19 Januari<br />

Mabes Polri mengajukan gugatan praperadilan penetapan<br />

tersangka Komjen Budi Gunawan ke Pengadilan Negeri Jakarta<br />

Selatan.<br />

25 Januari<br />

Jokowi membentuk Tim 9, tim independen buat menyelesaikan<br />

konflik KPK dan Polri akibat penetapan Budi Gunawan sebagai<br />

tersangka.<br />

29 Januari<br />

Jokowi menggelar pertemuan estafet dengan Ketua Umum<br />

Gerindra Prabowo Subianto, Wakapolri Komjen Badrodin<br />

Haiti, Kabareskrim Irjen Budi Waseso, serta Kompolnas. Usai<br />

rangkaian pertemuan, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan<br />

Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno menyatakan pengangkatan<br />

Kapolri menunggu putusan sidang praperadilan.<br />

Februari<br />

Mensesneg Pratikno menyarankan Komjen Budi mundur agar<br />

mempermudah penyelesaian masalah pemilihan Kapolri baru.<br />

Petinggi partai koalisi pendukung Jokowi bertemu Presiden di<br />

Istana dan membahas pelantikan Budi Gunawan.<br />

3<br />

Februari<br />

Jokowi janji segera memutuskan Kapolri baru. “Nanti<br />

minggu depan akan kita putuskan. Bisa Senin, Selasa, Rabu,<br />

Kamis, Jumat, atau Sabtu.”<br />

5<br />

Februari<br />

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mulai menyidangkan<br />

gugatan praperadilan penetapan tersangka oleh Komjen Budi<br />

Gunawan.<br />

9<br />

11<br />

Februari<br />

Menteri-Sekretaris Negara Pratikno sudah menyampaikan<br />

berkas calon Kapolri baru dari Kompolnas, tapi Jokowi belum<br />

mau melihatnya.<br />

13<br />

Februari<br />

Santer diberitakan bakal membatalkan pelantikan Komjen Budi<br />

Gunawan, Jokowi kembali menunda karena butuh perhitungan<br />

yang matang. “Secepatnya.”<br />

9 Januari<br />

Jokowi mengajukan Komjen Budi Gunawan sebagai calon<br />

tunggal Kapolri kepada DPR.<br />

12 Januari<br />

KPK menerbitkan surat penetapan Komjen Budi Gunawan<br />

sebagai tersangka kasus gratifikasi saat menjabat Kepala<br />

Biro Pembinaan Karier Deputi SDM Mabes Polri tahun 2006.<br />

14 Januari<br />

DPR tetap melanjutkan uji kepatutan dan kelayakan<br />

terhadap Budi Gunawan.<br />

16 Januari<br />

22 Januari<br />

28 Januari<br />

30 Januari<br />

2 Februari<br />

4 Februari<br />

6 Februari<br />

10 Februari<br />

12 Februari<br />

Jokowi mencopot Kapolri Jenderal Sutarman, tetapi<br />

menunda pelantikan Budi Gunawan. Wakapolri Komjen<br />

Badrodin Haiti dijadikan Pelaksana Tugas Kapolri.<br />

Budi melaporkan pimpinan KPK, Abraham Samad dan<br />

Bambang Widjojanto, ke Kejaksaan Agung dan ke Mabes<br />

Polri dengan tudingan penyalahgunaan wewenang dan<br />

menyalahi prosedur penetapan sebagai tersangka.<br />

Tim 9 menyampaikan rekomendasi agar Jokowi tak<br />

melantik Budi, yang menurut mereka penetapannya<br />

memang bukan inisiatif Presiden. Jokowi dianjurkan<br />

memilih calon Kapolri baru.<br />

Budi Gunawan mangkir dari panggilan pemeriksaan<br />

oleh KPK.<br />

Sidang perdana praperadilan BG ditunda karena KPK<br />

tidak hadir.<br />

Ketua DPR Setya Novanto menemui Jokowi dan<br />

menyatakan pelantikan Budi sepenuhnya hak<br />

prerogatif presiden.<br />

Ketua Tim 9 Syafii Maarif menyatakan diberi<br />

tahu Jokowi tentang pembatalan pelantikan Budi<br />

Gunawan.<br />

Budi Gunawan menyatakan tidak akan mundur<br />

sebelum ada vonis sidang praperadilan.<br />

Kompolnas mulai mewawancarai empat calon<br />

Kapolri baru di Mabes Polri.<br />

Kompolnas menyerahkan enam nama calon<br />

Kapolri baru pengganti Budi Gunawan kepada<br />

Seskab Andi Widjajanto.<br />

Seskab Andi Widjajanto memastikan Jokowi<br />

akan mengumumkan Kapolri paling lambat 15<br />

Februari 2015.<br />

OKTA WIGUNA | INFOGRAFIS: MINDRA PURNOMO<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

PEMUDA PLAYBOY<br />

DARI ‘DANGER FAMILY’<br />

BUDI WASESO BERASAL DARI KELUARGA MILITER.<br />

AYAHNYA, KOLONEL (PURNAWIRAWAN) DANGIR<br />

MARWOTO, ADALAH BEKAS PERSONEL RPKAD DAN<br />

DIREKRUT PANGKOPKAMTIB SUDOMO MENJADI<br />

ANGGOTA OPERASI TERTIB.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Rumah dinas Kabareskrim<br />

Komjen Budi Waseso<br />

ISFARI HIKMAT /DETIKCOM<br />

RUMAH dinas Polri di Jalan Panglima<br />

Polim, Jakarta Selatan, itu<br />

dipermak di sana-sini. Sepekan ini,<br />

sejumlah tukang bekerja lembur<br />

sampai pukul 02.00 WIB. Renovasi rumah<br />

yang lumayan wah itu dikebut karena hendak<br />

ditempati penghuni baru.<br />

Penghuni barunya adalah Komisaris Jenderal<br />

Budi Waseso, Kepala Badan Reserse Kriminal<br />

Mabes Polri. Sudah hampir sebulan lulusan<br />

Akademi Kepolisian 1984 itu menduduki jabatan<br />

yang mentereng tersebut.<br />

Jumat, 13 Februari 2015, malam, mengendarai<br />

Toyota Kijang Innova, pria yang biasa disapa<br />

Buwas itu datang untuk mengecek perkembangan<br />

renovasi rumah dinasnya tersebut.<br />

Maklum, keesokan harinya, ia menggelar syukuran<br />

dengan mengundang kerabat dan anak<br />

yatim.<br />

Menurut Buwas, renovasi rumah dinas tidak<br />

dilakukan secara besar-besaran. Hanya, ia ingin<br />

sedikit menyulap ruangan belakangnya menjadi<br />

semacam bengkel untuk memenuhi hobi<br />

otomotifnya. Berdekatan dengan bengkel, dia<br />

juga akan membangun ruang khusus untuk<br />

para ajudan.<br />

Selama ini Buwas tinggal di rumah mertuanya,<br />

asrama TNI Angkatan Darat Bulak Rantai,<br />

Kramat Jati, Jakarta Timur. Menjadi polisi, ia<br />

mengaku membeli rumah seluas 78 meter<br />

persegi di Bogor. Saat itu pangkatnya masih<br />

komisaris besar.<br />

Namun, meski juga sudah direnovasi, rumah<br />

yang oleh pemilik lama dikredit melalui Bank<br />

Tabungan Negara itu tidak pernah dihuni.<br />

Bahkan lama-kelamaan rumah tersebut dijual.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Budi Waseso (kiri) usai berburu<br />

babi.<br />

REPRO/ARI SAPUTRA<br />

“Terlalu jauh dari kantor,” kata Buwas.<br />

Mertua Buwas bukan polisi sembarangan.<br />

Retno Setyowati, istrinya, adalah anak pensiunan<br />

polisi berpangkat letnan jenderal, Pamoedji.<br />

Pamoedji adalah Deputi Kapolri (Wakil Kepala<br />

Polri) pada 1980-an. Ia juga tercatat sebagai<br />

pendiri PT Asuransi Bhakti Bhayangkara, perusahaan<br />

asuransi anggota Polri, pada 1987.<br />

Lembaga yang masih berdiri sampai sekarang<br />

itu dibentuk oleh Pamoedji setelah gagal<br />

menghidupkan kembali Bank Bhayangkara<br />

Sejahtera, yang sempat ditutup kegiatan operasionalnya.<br />

Nama mantan Kepala Polda Jawa<br />

Timur itu juga beberapa kali muncul di media<br />

pada zaman penembakan misterius (petrus).<br />

Buwas kenal dengan anak sang jenderal saat<br />

kuliah di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.<br />

Baru sebulan menjalin komunikasi, ia memu-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

ARI SAPUTRA/DETIKCOM<br />

Katanya di atas<br />

Rp 1 miliar.<br />

Bima Arya<br />

tuskan menikahi perempuan yang kini sudah<br />

memberinya tiga anak itu. Buwas mengaku sebelumnya<br />

suka ganti-ganti pacar alias playboy.<br />

“Itu masa muda saja, masa memilih,” ucapnya<br />

sambil terbahak.<br />

Tak sulit bagi Buwas mendapatkan Retno,<br />

karena ia sendiri berasal dari keluarga tentara.<br />

Buwas adalah anak ketiga dari seorang veteran<br />

TNI yang lumayan dikenal di Pati, Jawa Tengah,<br />

Kolonel (Purnawirawan) Dangir Marwoto. Dangir<br />

pernah bergabung di Resimen Pasukan<br />

Komando Angkatan Darat, pasukan pimpinan<br />

Sarwo Edhie Wibowo, yang ikut dalam<br />

penumpasan kader simpatisan Partai Komunis<br />

Indonesia.<br />

Dangir lantas dipindahkan ke bagian logistik<br />

AD. Tak lama, ia ditarik oleh Laksamana<br />

Sudomo setelah mantan Pangkopkamtib itu<br />

membentuk Operasi Tertib. Operasi Tertib<br />

adalah lembaga pemberantasan korupsi zaman<br />

Presiden Soeharto. Semacam Komisi Pemberantasan<br />

Korupsi era sekarang. “Itu gabungan<br />

dari TNI, Polri, dan Kejaksaan,” kata Buwas.<br />

Buwas bukan satu-satunya penerus Dangir<br />

sebagai aparat keamanan negara. Adik Buwas,<br />

Adi Wahyudi, adalah perwira di TNI AD dengan<br />

pangkat letkol. Selebihnya, saudara-saudara<br />

kandung Buwas ada yang bekerja di lembaga<br />

pemerintah dan berbisnis. Mereka menyebut<br />

keluarga besar Dangir itu dengan istilah “Danger<br />

Family”.<br />

Saat masih hidup, Dangir banyak menyimpan<br />

mobil kuno. Setelah meninggal tahun 1990,<br />

mobil-mobil itu diwariskan kepada anak dan<br />

cucunya. Salah satu mobil warisan Dangir itu<br />

terlihat dipakai Wali Kota Bogor Bima Arya<br />

untuk upacara peringatan Hari Kemerdekaan<br />

RI 17 Agustus tahun lalu.<br />

Mobil Chevrolet Bel Air keluaran 1955 itu<br />

dipinjamkan secara sukarela oleh Firman<br />

Nugroho, cucu Dangir. Menurut Bima Arya,<br />

mobil jenis sedan itu masih nyaman. Ia sempat<br />

mendapat informasi bahwa harga jual mobil itu<br />

sangat fantastis. “Katanya di atas Rp 1 miliar,”<br />

ujar Bima Arya, yang mengaku menggunakan<br />

mobil itu untuk menampilkan simbol Kota Bogor<br />

akan menjaga heritage.<br />

Adi Susilo, keponakan Buwas, mengatakan<br />

pamannya itu mendapat warisan dua unit jip<br />

dari Dangir. Salah satunya Wrangler CJ7 ber-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Jeep CJ7 1980 milik Budi<br />

Waseso<br />

JIP.CO.ID<br />

warna kuning keluaran 1980. Tiga tahun lalu,<br />

Buwas memodifikasinya di bengkel Hidayat,<br />

Solo, Jawa Tengah. “Saya cuma betulin sedikit,<br />

kok,” kata Hidayat kepada majalah detik.<br />

Dari dua jip itu, koleksi Buwas bertambah.<br />

Rekan seangkatannya di Akademi Kepolisian,<br />

Irjen I Ketut Untung Yoga Ana, mengaku sempat<br />

melihat Budi mengendarai Toyota Hardtop.<br />

Sedangkan Adi Susilo mengatakan, kepadanya<br />

pernah diperlihatkan mobil Suzuki Jimny dan<br />

Daihatsu Taft. “Dia pernah bawa masuk mobil<br />

kunonya ke Mabes Polri,” ujar Adi.<br />

Sampai saat ini, tidak diketahui berapa jumlah<br />

pasti mobil klasik yang dimiliki Buwas. Ia menyebut<br />

bisa membeli mobil-mobil kuno di tepi<br />

jalan yang kondisinya nyaris seperti rongsokan.<br />

Mobil itu lantas dia dandani selama berbulanbulan<br />

dan, setelah jadi, langsung ditunggangi.<br />

Kalau sudah puas, ia akan menjualnya. “(Wrangler<br />

CJ7) itu sudah hilang (terjual),” katanya.<br />

Yang jelas, uang yang dikeluarkan untuk<br />

mendandani mobil itu tidak sedikit. Buwas tak<br />

segan merogoh kocek dalam untuk mengganti<br />

seluruh bagian mobil sesuai dengan seleranya.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Kabareskrim Polri Irjen Pol Budi<br />

Waseso (kiri) bersama Menko<br />

Polhukam Tedjo Edhy (kedua<br />

kiri), Menteri Kebudayaan dan<br />

Pendidikan Dasar Menengah<br />

Anies Baswedan (kedua kanan),<br />

Menkum HAM Yasonna H. Laoly<br />

pada sebuah acara di Mabes<br />

Polri, Jakarta (31/1).<br />

ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN<br />

Mobil CJ7, misalnya, ia ganti seluruh komponennya,<br />

dari kaki-kaki sampai mesin. Modifikasi<br />

mobil itu pernah diulas oleh majalah otomotif<br />

JIP.<br />

Selain maniak mobil klasik, Buwas banyak<br />

mengoleksi senjata api serta pisau komando.<br />

Sampai saat ini, ia tercatat sebagai Ketua Persatuan<br />

Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh<br />

Indonesia (Perbakin) Bidang Tembak Berburu.<br />

“Surat-suratnya lengkap,” kata dia sambil menunjukkan<br />

kartu anggota Perbakin.<br />

Kegemaran berburu itu, tutur Buwas, dimulai<br />

sejak SD. Hobi berburu itu terus berlanjut hingga<br />

menjadi pejabat di Polri. Biasanya ia berburu babi<br />

hutan di kawasan Sukabumi, Jawa Barat. Ia membawa<br />

jip untuk berburu dan mengajak beberapa<br />

anggota keluarga atau teman. Artis pelawak Parto<br />

pernah ikut berburu bareng Buwas.<br />

Kariernya yang moncer membuat Buwas<br />

menjadi salah satu yang dituakan di keluarga<br />

Dangir. Kepada keluarganya, Buwas menasihati<br />

agar menggunakan harta kekayaan di jalan yang<br />

benar. Buwas juga suka menceramahi keluarga<br />

tentang agama. “Dia bilang, kalau sudah punya<br />

uang, langsung haji atau umrah,” kata Adi.<br />

Namun, di samping religius, Buwas ternyata<br />

percaya pada hal-hal yang berbau klenik. Adi<br />

menuturkan Buwas menggaet orang pintar<br />

untuk melindunginya dari serangan makhluk<br />

halus yang dikirim musuh-musuh Buwas. “Di<br />

kantor Bareskrim dapat serangan terus dari<br />

orang-orang yang sudah nyaman. Dia ada yang<br />

ikut bentengi di situ,” tuturnya. n ISFARI HIKMAT, IBAD<br />

DUROHMAN | IRWAN NUGROHO<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

NAMANYA<br />

JUGA USAHA,<br />

JENDERAL<br />

DWI PRIYATNO DISEBUT SEBAGAI CALON<br />

PALING KUAT KAPOLRI. BANYAK DIPUJI. DPR<br />

MERAGUKANNYA.<br />

GRANDYOS ZAFNA/ DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

(Searah jarum jam) Presiden<br />

Jokowi, Ketua DPR Setya<br />

Novanto, Benny K. Harman,<br />

dan Desmond J. Mahesa.<br />

DOK. DETIKCOM<br />

KOMISARIS Jenderal Budi<br />

Gunawan sudah hampir pasti<br />

tidak akan pernah menjadi Kapolri.<br />

Diwarnai perang dingin<br />

dengan partai pendukungnya,<br />

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Presiden<br />

Joko Widodo makin mantap membatalkan<br />

pelantikan tersangka kasus gratifikasi tersebut.<br />

Jokowi memang belum mengumumkan<br />

secara resmi keputusannya. Namun Presiden<br />

sudah berkonsultasi dengan Ketua Dewan Perwakilan<br />

Rakyat Setya Novanto dan Ketua Tim 9<br />

Syafii Maarif untuk menguatkan keputusannya<br />

membatalkan pelantikan calon Kapolri yang<br />

didukung PDI Perjuangan dan sudah disetujui<br />

DPR itu.<br />

Wakil Ketua Komisi III Desmond J. Mahesa<br />

menuturkan Jokowi menelepon Setya pada<br />

Rabu (11/2) malam. Keesokan harinya, Setya<br />

lantas mengundang pimpinan DPR dan anggota<br />

Komisi III untuk rapat membahas telepon<br />

Jokowi itu pada pukul 13.00 WIB.<br />

Desmond tidak bisa menghadiri rapat tersebut<br />

karena sedang berada di Medan. Karena<br />

mendadak, rapat pun akhirnya hanya dihadiri<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Presiden RI Joko Widodo (ketiga<br />

kanan) didampingi Ketua Umum<br />

Hanura Wiranto (kedua kanan)<br />

dan Ketua Umum PDIP Megawati<br />

Soekarnoputri (keempat<br />

kanan) menyanyikan lagu<br />

Indonesia Raya saat pembukaan<br />

Musyawarah Nasional II Partai<br />

Hanura di Solo, Jawa Tengah,<br />

Jumat (13/2). Munas kedua<br />

Partai Hanura berlangsung dari<br />

tanggal 13-15 Februari 2015.<br />

HAFIDZ MUBARAK/ ANTARA<br />

Setya dan Wakil Ketua Komisi III Benny K.<br />

Harman. Namun Setya kemudian membantah<br />

dia ditelepon Jokowi setelah PDI Perjuangan<br />

bersuara keras menyatakan yang menelepon<br />

Setya bukan Jokowi, melainkan Brutus.<br />

“Biarin saja dia berbohong. Biar publik tahu<br />

kebusukannya,” kata Desmond kepada majalah<br />

detik.<br />

Benny tidak membantah melakukan pertemuan<br />

dengan Setya membahas pembatalan<br />

pelantikan Budi Gunawan. Namun ia menolak<br />

membeberkan pertemuan tersebut. “Memang<br />

apa masalahnya? Enggak perlu kalian tahu,”<br />

katanya saat dihubungi majalah detik.<br />

Jokowi mengaku masih membutuhkan waktu<br />

untuk berhitung agar keputusannya tidak<br />

menimbulkan risiko besar, baik dari sisi hukum<br />

maupun politik. “Kalau masalahnya hanya satu,<br />

tidak bertumpukan, 1 X 24 jam sudah kita putuskan,”<br />

kata Jokowi.<br />

Secara politik, kasus Budi Gunawan ini<br />

memang berat bagi Jokowi. Hubungan Presiden<br />

dengan Ketua Umum PDI Perjuangan<br />

Megawati Soekarnoputri menjadi renggang<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Dwi Priyatno<br />

GRANDYOS ZAFNA/ DETIKCOM<br />

gara-gara Budi. Muncul kabar Jokowi sedang<br />

perang dingin dengan Mega. Isu ini seperti<br />

benar ketika kedua tokoh tidak bertegur sapa<br />

dalam acara pembukaan Munas Partai Hanura,<br />

padahal mereka duduk bersebelahan.<br />

Jokowi mengakui<br />

sudah mendapat<br />

Saya jadi Kapolda enam nama pengganti<br />

Budi Gunaw-<br />

Metro Jaya<br />

rasanya sudah<br />

an dari Komisi<br />

Kepolisian Nasional.<br />

alhamdulillah. Di<br />

“Nanti saya kasih<br />

kampung saya, tahu kalau sudah<br />

ini sudah jabatan waktunya,” kata<br />

yang paling<br />

Jokowi di sela-sela<br />

Munas.<br />

tinggi.<br />

Jokowi pada<br />

Selasa, 10 Februari,<br />

memanggil Kompolnas ke Istana, Jakarta.<br />

Namun Kompolnas kemudian hanya bertemu<br />

dengan Menteri-Sekretaris Negara Pratikno<br />

karena Jokowi mendadak menghadiri agenda<br />

lain. Kompolnas lantas menyerahkan amplop<br />

berwarna hijau kepada Pratikno. Isinya daftar<br />

nama calon Kapolri.<br />

Menurut anggota Kompolnas, Syafriadi Cut<br />

Ali, ada enam nama yang diserahkan. Empat<br />

nama, yakni Komjen Dwi Priyatno, Komjen Budi<br />

Waseso, Komjen Badrodin Haiti, dan Komjen<br />

Putut Eko Bayuseno, sudah diwawancarai<br />

Kompolnas. Dua nama, yakni mantan Kepala<br />

Badan Reserse Kriminal Komjen Suhardi Alius<br />

dan Kepala Badan Narkotika Nasional Komjen<br />

Anang Iskandar, ikut dimasukkan meski belum<br />

diwawancarai karena desakan sejumlah kalangan.<br />

Dari keenam nama itu, Jokowi condong<br />

mengusulkan Dwi Priyatno sebagai Kapolri<br />

baru. “Pak Jokowi minta pendapat hukum tentang<br />

Pak Dwi,” ujar Desmond, yang merupakan<br />

politikus Gerindra.<br />

●●●<br />

“Saya jadi Kapolda Metro Jaya rasanya sudah<br />

alhamdulillah. Di kampung saya, ini sudah jabatan<br />

yang paling tinggi.”<br />

Ajun Komisaris Besar Agung Mardjianto ma-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Kapolda Metro Jaya yang baru,<br />

Irjen Pol Dwi Priyatno, bersama<br />

istri melambaikan tangan<br />

saat mengikuti parade pisah<br />

sambut di halaman Polda Metro<br />

Jaya, Jakarta, Selasa (18/3).<br />

Irjen Pol Dwi Priyatno resmi<br />

menjadi Kapolda Metro Jaya<br />

menggantikan Irjen Pol Putut<br />

Eko Bayuseno yang menjadi<br />

Kabaharkam Polri.<br />

DHONI SETIAWAN/ ANTARA<br />

sih ingat ucapan Komjen Dwi Priyatno tersebut.<br />

Kala itu Dwi masih menjabat Kapolda Metro<br />

Jaya dan Agung menjadi sekretaris pribadinya.<br />

Dwi lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, pada<br />

12 November 1959. Namun ia besar di Cipinang,<br />

Jakarta. Lulusan Akademi Polisi 1982 ini<br />

menjabat Kapolda Metro Jaya hanya enam bulan,<br />

18 Maret 2014 hingga 3 September 2014.<br />

Agung mengingat Dwi sebagai kapolda yang<br />

disiplin dan suka mengajak diskusi anak buahnya.<br />

Dwi sering datang ke kantor pukul 05.00<br />

WIB. “Biasanya lantas lari keliling. Selain lari, ia<br />

hobi golf,” kata Agung kepada majalah detik.<br />

Seminggu sekali, Dwi juga mengajak makan<br />

siang jajarannya di ruang kerjanya. Saat menjadi<br />

Kapolda Metro Jaya, Dwi suka memberi<br />

nasihat bahwa yang terpenting bukanlah jabatan,<br />

tapi bermanfaat bagi orang lain.<br />

“Sehebat apa pun kamu, Dik, kalau kamu<br />

tidak memberikan manfaat kepada orang lain,<br />

orang lain juga tak akan peduli dengan kehebatanmu,”<br />

kata Dwi seperti ditirukan Agung.<br />

Meski cuma enam bulan, Dwi dinilai sukses<br />

menjadi Kapolda Metro Jaya. Dwi biasanya turun<br />

langsung saat ada demo di Istana ataupun<br />

saat melakukan pengamanan pemilu.<br />

“Pengamanan pemilu legislatif dan pemilu<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Natalius PigaI<br />

DETIKCOM<br />

presiden 2014 di Jakarta buktinya lancar,” kata<br />

anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia,<br />

Natalius Pigai.<br />

Saat menjadi Kapolda Metro Jaya inilah Dwi<br />

menjalin kedekatan dengan Jokowi, yang saat<br />

itu menjabat Gubernur DKI Jakarta. Jokowi<br />

bertandang ke Markas Polda Metro Jaya pada<br />

19 Maret 2013 atau menjelang pemilu legislatif.<br />

Natalius beberapa kali bertemu dan bekerja<br />

sama dengan Dwi sejak jenderal bintang tiga ini<br />

menjadi Kapolda Jawa Tengah. Pada 2013, Dwi<br />

membuat terobosan dalam penanganan terorisme<br />

yang tidak<br />

melanggar HAM.<br />

Dia selalu bilang,<br />

Bersama Universitas<br />

Diponegoro,<br />

‘Namanya juga<br />

usaha<br />

Semarang, ia mengajak<br />

semua komponen<br />

masyarakat<br />

bertemu untuk membahas pemberantasan<br />

terorisme. “Beliau justru masuk ke wilayah-wilayah<br />

kampus untuk mencari solusi. Saya kira<br />

ini sebuah prestasi yang paling wah di tahun<br />

2013 di Jawa Tengah,” kata Natalius.<br />

Sekarang, saat menjabat Inspektur Pengawasan<br />

Umum, Mabes Polri juga sangat responsif<br />

terhadap penanganan kasus-kasus. Dwi<br />

berprinsip akan memproses semua aduan ke<br />

Mabes Polri. Kepada Natalius, Dwi berkata<br />

mereka yang melapor pasti memiliki harapan<br />

mendapatkan keadilan. “Dia selalu bilang, ‘Namanya<br />

juga usaha.’ Kesannya sederhana tapi<br />

serius,” tutur Natalius.<br />

Kompolnas juga memberi penilaian positif<br />

pada Dwi. Riwayat tugas Dwi, pernah menjabat<br />

Kapolda Jawa Tengah dan Kapolda Metro Jaya<br />

sebelum akhirnya dilantik sebagai Inspektur<br />

Pengawasan Umum pada 2014, dinilai lengkap<br />

dan memadai untuk menjadi Kapolri.<br />

Dwi dinilai mampu mempersatukan Polri,<br />

mampu bekerja sama dengan institusi penegak<br />

hukum lain, dan bersih. “Kita sudah masukkan<br />

dia dari awal. Artinya, kita tidak punya catatan<br />

jelek tentang dia,” kata Komisioner Kompolnas,<br />

M. Nasser.<br />

Dwi menyatakan siap jika ditunjuk jadi Kapolri.<br />

“Saya tidak berandai-andai. Siapa pun yang<br />

ditunjuk harus mampu dan siap menjalankan-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Komjen Dwi Priyatno (kedua<br />

kiri) saat menjadi Kapolda<br />

Metro Jaya dalam rilis kasus<br />

kekerasan seksual di JIS,<br />

Jakarta International School,<br />

(9/6/2014).<br />

GRANDYOS ZAFNA/ DETIKCOM<br />

nya,” kata Dwi.<br />

Di tengah santernya nama Dwi disebut sebagai<br />

calon terkuat Kapolri, ia mendatangi KPK.<br />

Dwi melakukan pertemuan dengan Ketua KPK<br />

Abraham Samad dan Wakil Ketua KPK Bambang<br />

Widjojanto selama dua setengah jam.<br />

Dwi mengaku pertemuan itu hanyalah koordinasi.<br />

Pertemuan itu tidak berkaitan dengan<br />

santernya kabar nama Dwi disebut-sebut sebagai<br />

calon kuat Kapolri. “Bukan soal LHKPN.<br />

Saya sudah lapor pada 16 Desember,” tukas<br />

Dwi.<br />

Berdasarkan LHKPN pada 12 Juli 2002, harta<br />

Dwi tercatat Rp 860,2 juta. Saat itu Dwi menjabat<br />

Wakil Kepala Kepolisian Wilayah Kota<br />

Besar Surabaya. Laporan terbaru Dwi belum<br />

dipublikasikan KPK.<br />

Anggota Tim 9 Komjen Oegroseno mengingatkan<br />

calon Kapolri semestinya dipilih yang<br />

paling senior. Hal ini untuk menjaga hubungan<br />

yang harmonis di kepolisian. Selain itu, calon<br />

Kapolri harus pernah dua kali memimpin Polda<br />

tipe A. Wilayah tipe A meliputi Polda Aceh,<br />

Sumut, Sumsel, Metro Jaya, Jabar, Jateng, Jatim,<br />

Bali, Kaltim, Sulsel, dan Papua. Sehingga, be-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Presiden Jokowi bertemu Ketua<br />

DPR Setya Novanto di Istana<br />

Merdeka, (2/2/2015).<br />

AGUNG PAMBUDHY/DETIKCOM<br />

nar-benar terbukti mampu mengatasi masalah<br />

sulit.<br />

Dari sejumlah kriteria itu, bukan Dwi seorang<br />

yang memenuhi. Suhardi Alius disebut<br />

Oegroseno juga patut diperhitungkan. “Tapi<br />

Tim 9 kan intinya menyarankan seyogianya<br />

tidak melantik Pak Budi Gunawan, kan gitu<br />

aja. Menjaring calon Kapolri, ya kita serahkan<br />

ke Bapak Presiden,” kata Oegro.<br />

DPR akan bersidang membahas calon Kapolri<br />

baru seusai reses pada Maret. Merujuk kontroversi<br />

Budi Gunawan, Desmond menyatakan,<br />

DPR akan lebih berhati-hati memilih Kapolri.<br />

Desmond mendapat laporan Dwi bukan polisi<br />

yang sangat bersih saat menjabat Kapolda Metro<br />

Jaya.<br />

“Kami mengharap Pak Dwi atau siapa pun<br />

yang masuk ke Komisi III, tentunya kami akan<br />

teliti. Lebih baik orang yang punya masalah<br />

jangan berani maju ke Komisi III. Sebab, yang<br />

namanya ada busuk pasti kebongkar,” Desmond<br />

menegaskan. n ADITYA MARDIASTUTI, IBAD DUROHMAN,<br />

BAHTIAR RIFAI | IIN YUMIYANTI<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

EMPAT NAMA<br />

LAIN YANG DITIMANG<br />

ADA empat nama lain yang diajukan<br />

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas)<br />

kepada Presiden Joko Widodo,<br />

selain Komjen Budi Waseso<br />

yang kontroversial dan Komjen Dwi Priyatno<br />

yang disebut-sebut sebagai kandidat kuat<br />

untuk menjadi Kapolri.<br />

Mereka adalah Komjen Badrodin Haiti,<br />

Komjen Suhardi Alius, Komjen Putut Eko<br />

Bayuseno, dan Komjen Anang Iskandar.<br />

Berikut ini profil keempat orang<br />

tersebut.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Badrodin Haiti<br />

ANTARA/JOKO SULISTYO<br />

Badrodin Haiti<br />

Saat ini Komjen Badrodin Haiti adalah Wakil Kepala Kepolisian<br />

Republik Indonesia (Wakapolri). Pada 16 Januari,<br />

Jokowi menunjuk Badrodin Haiti sebagai Pelaksana Tugas<br />

Kapolri.<br />

Usianya 56 tahun, lahir di Jember, Jawa Timur, 24 Juli<br />

1958. Badrodin merupakan alumnus terbaik Akademi Polisi<br />

1982.<br />

Ia tiga kali menjadi Kapolda, yakni Kapolda Banten,<br />

Kapolda Sulawesi Tengah, dan Kapolda Sumatera Utara.<br />

Sebelum jadi Wakapolri, Badrodin menjabat Kepala Badan<br />

Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri.<br />

Badrodin memiliki sejumlah kontroversi. Komnas HAM<br />

menyebut Badrodin mempunyai indikasi pelanggaran<br />

HAM di Poso pada 2007. Pusat Pelaporan dan Analisis<br />

Transaksi Keuangan (PPATK) memasukkan namanya dalam<br />

daftar jenderal yang diduga memiliki rekening mencurigakan.<br />

Menurut Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara<br />

Negara ke KPK, kekayaannya saat ini Rp 8,2 miliar dan US$<br />

4.000.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Suhardi Alius<br />

ARI SAPUTRA/DETIKCOM<br />

Suhardi Alius<br />

Komjen Pol Suhardi Alius menjabat Sekretaris Utama<br />

Lemhannas sejak 16 Januari 2015. Berusia 52 tahun, lahir di<br />

Jakarta, 10 Mei 1962.<br />

Ia menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes<br />

Polri sejak 24 November 2013. Ia dimutasi ke Sekretaris Utama<br />

Lemhannas, kemudian digantikan oleh Komjen Budi Waseso.<br />

Pemutasian ini sempat menimbulkan kontroversi karena dilakukan<br />

tidak lama setelah Komjen Budi Gunawan ditetapkan<br />

sebagai tersangka oleh KPK. Suhardi diisukan sebagai pihak<br />

yang membocorkan data BG ke KPK.<br />

“Saya jelas difitnah. Saya dekat dengan KPK dan PPATK<br />

dalam fungsi dan jabatan saya sebagai Kabareskrim. Saya<br />

prajurit, saya siap,” kata Suhardi.<br />

Lulus Akademi Polisi pada 1985, ia menjadi Kapolda Jabar<br />

(2013), Kadiv. Humas Mabes Polri (2012), dan Wakil Kapolda<br />

Metro Jaya (2011).<br />

Harta Suhardi Alius berdasarkan LHKPN tahun 2013<br />

adalah Rp 5,6 miliar. Sejumlah aktivis antikorupsi mengunggulkan<br />

Suhardi karena dinilai dekat dan mampu bekerja<br />

sama dengan KPK.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Putut Eko Bayuseno<br />

ANTARA /WIDODO S. JUSUF<br />

Putut Eko Bayuseno<br />

Saat ini Putut Eko menjabat sebagai Kepala Badan Pemeliharaan<br />

Keamanan (Kabaharkam) Polri. Pria 54 tahun<br />

ini sering disebut sebagai orang Presiden Susilo Bambang<br />

Yudhoyono (SBY) karena menjadi ajudannya selama lima<br />

tahun, dari 2004 sampai 2009.<br />

Putut Eko lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 28 Mei 1961.<br />

Ia lulus Akademi Polisi pada 1984. Mengawali karier kepemimpinan<br />

dengan menjadi Kapolres Situbondo, Kapolres<br />

Jember, lalu ditarik ke Mapolda Jawa Timur sebagai Korspripim<br />

(2003-2004).<br />

Kariernya terus menanjak dengan tiga kali menjadi Kapolda,<br />

yakni Kapolda Banten, Kapolda Jabar, dan Kapolda<br />

Metro Jaya, sebelum akhirnya menjabat Kabaharkam Polri.<br />

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara<br />

Negara (LHKPN) pada 2009, sebagai Kapolda Metro<br />

Jaya, Putut memiliki harta Rp 7.138.064.067 dan US$ 83.421.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Komjen Anang Iskandar<br />

ANTARA /WIDODO S. JUSUF<br />

Anang Iskandar<br />

Komjen Anang Iskandar saat ini menjadi Kepala Badan<br />

Narkotika Nasional (BNN). Usianya 57 tahun, lahir di Mojokerto,<br />

Jawa Timur, 18 Mei 1958.<br />

Lulusan Akademi Polisi 1983 ini menyatakan siap jika<br />

ditunjuk menjadi Kapolri. “Saya dengar selenting-selenting.<br />

Saya Kepala BNN. Kalau ditugasi, ya saya laksanakan<br />

dengan sebaik-baiknya,” kata Anang.<br />

Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Trisakti ini belum<br />

pernah menjabat sebagai Kapolda di wilayah A. Sebelum<br />

menjadi Kepala BNN, ia pernah menjabat Kapolda Jambi<br />

(2011), Kadiv. Humas Polri (2012), dan Gubernur Akpol<br />

(2012).<br />

Data LHKPN KPK 2009, Anang memiliki harta Rp 5,5<br />

miliar. Namun ia juga memiliki utang Rp 3,1 miliar sehingga,<br />

setelah dikurangi utangnya, harta Anang Rp 2,4 miliar.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

BUDI WASESO:<br />

TIDAK PERLU<br />

WASWAS<br />

DENGAN SAYA<br />

“PAK BW BILANG, ‘SEANDAINYA SAYA<br />

HARI INI MENINGGAL, SAYA SIAP. JASAD<br />

SAYA BERIKAN UNTUK KEBENARAN.’ LA,<br />

SEKARANG BARU TEROR KOK SUDAH<br />

BINGUNG.”<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Komjen Budi Waseso memenuhi<br />

panggilan Komnas HAM, Jumat<br />

(30/1).<br />

RACHMAN HARYANTO/DETIKCOM<br />

KOMISARIS Jenderal Budi Waseso<br />

siap menjadi Kepala Polri bila Presiden<br />

Joko Widodo memilihnya untuk<br />

menggantikan Komjen Budi Gunawan,<br />

yang pencalonannya menuai kontroversi<br />

setelah dijadikan tersangka oleh Komisi Pemberantasan<br />

Korupsi.<br />

Sama seperti Budi Gunawan, pencalonan<br />

Budi Waseso memicu kontroversi. Aktivis antikorupsi<br />

ramai-ramai menolaknya. Budi Waseso<br />

dicemaskan akan semakin memperburuk konflik<br />

KPK dengan polisi bila menjadi Kapolri.<br />

Sebagai Kabareskrim sekarang, Budi Waseso<br />

dianggap mengkriminalisasi para pimpinan<br />

KPK. Pada zaman Budi Waseso inilah empat<br />

pimpinan KPK dilaporkan ke Mabes Polri dan<br />

diproses secara kilat. Ada yang sudah dijadikan<br />

tersangka, bahkan ada kejadian penangkapan.<br />

Budi Waseso membantah memiliki dendam<br />

kepada pimpinan komisi antirasuah itu. Ia<br />

mengklaim hanya menangani oknum pimpinan<br />

KPK yang melanggar hukum.<br />

“Saya tidak ada masalah, jadi tidak perlu<br />

waswas dengan saya,” kata Budi saat ditemui<br />

majalah detik di rumah dinas Kabareskrim, Jalan<br />

Panglima Polim, Jakarta, Jumat, 13 Februari<br />

2015.<br />

Berikut ini wawancara Isfari Hikmat dari<br />

majalah detik dengan Komjen Budi Waseso.<br />

Nama Anda masuk bursa calon Kapolri.<br />

Kabareskrim biasanya merupakan calon<br />

kuat Kapolri. Bagaimana tanggapan Anda?<br />

Ya, kan banyak, ada delapan calon. Oh, (kalau<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Kabareskrim disebut calon kuat) itu kan dugaan<br />

orang. Tinggal penilaian saja, ha-ha-ha….<br />

Kalau nanti terpilih jadi Kapolri, perseteruan<br />

KPK-Polri apakah masih akan berlanjut?<br />

Oh, ndak, yakinlah tidak. Sekali lagi yang saya<br />

tangani ini adalah personnya, pribadi-pribadi<br />

orang, oknum yang melakukan pelanggaran<br />

hukum. Hanya, karena itu, orang ini dilibat-libatkan<br />

dengan lembaga, institusi. Padahal tidak<br />

ada. Saya masih berkoordinasi sampai saat ini<br />

dengan KPK dalam kasus-kasus korupsi yang<br />

saya tangani. Karena KPK punya kewenangan<br />

untuk supervisi, untuk pengawasan. Saya tidak<br />

ada masalah, jadi tidak perlu waswas dengan<br />

saya.<br />

Mungkin karena kedekatan Anda dengan<br />

Budi Gunawan, sehingga dianggap jadi<br />

Sejumlah perwakilan<br />

masyarakat dari Kabupaten<br />

Batang, Jawa Tengah,<br />

berkumpul setelah menggelar<br />

ritual ruwatan di gedung<br />

Komisi Pemberantasan<br />

Korupsi, Jakarta, Sabtu (7/2)<br />

malam.<br />

ISMAR PATRIZKI/ANTARA FOTO<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Kita harus<br />

profesional dalam<br />

menegakkan<br />

hukum.<br />

perpanjangan tangannya?<br />

Cara berpikirnya jangan begitu. (Kepada) setiap<br />

atasan saya, saya harus mendekat karena<br />

saya anak buah. Kedekatan saya sama beliau<br />

itu memang karena saya anak buahnya.<br />

Artinya kedekatan di sini ketika dalam pelaksanaan<br />

tugas, khususnya di lingkungan itu<br />

ya harus dekat, dong. Namanya profesional,<br />

yakinlah. Jangan kedekatan itu disalahartikan.<br />

Ada pihak yang khawatir Anda dendam<br />

dengan KPK?<br />

Oh, ndak. Mengapa harus khawatir? Saya<br />

tidak dendam. Buktinya, anggota saya sampai<br />

saat ini masih berkoordinasi dengan KPK terkait<br />

pelaksanaan penanganan tindak korupsi. Kok<br />

saya dendam, dendam dari mana. Ini tidak ada<br />

dendam.<br />

Kasus yang menjadikan Abraham Samad<br />

sebagai tersangka katanya tinggal difinalisasi?<br />

Ha-ha-ha... ya, gini. Yang pertama, saya harus<br />

teliti dalam kasus apa pun. Pekerjaan harus<br />

saya teliti. Saya tidak berangkat dari suka atau<br />

tidak suka. Dendam tidak boleh. Kita harus<br />

profesional dalam menegakkan hukum. Kalau<br />

dendam, nanti jadi tidak obyektif. Lillahi ta’ala,<br />

saya tidak dendam.<br />

Saat ini situasi KPK-Polri sedang genting?<br />

Saya pikir bukan masalah KPK dan Polri. Saya<br />

hanya bilang ini ada kemungkinan pihak ketiga<br />

yang bermain supaya saya dengan KPK selalu<br />

seteru.<br />

KPK tidak mau berkoordinasi dengan<br />

Polri terkait ancaman?<br />

Mau, tadi sudah lapor, kok. Itu kan saya kira<br />

tidak ada masalah. Makanya saya bilang, masak<br />

iya, sih. Coba kemarin KPK mau mogok, dia<br />

push saya mau mogok semua karyawannya.<br />

Terus, habis itu, KPK mau dikriminalisasi, terus<br />

KPK mau dilumpuhkan, isunya kan begitu.<br />

Terus sekarang KPK diteror. Tidak usah begitu!<br />

Padahal Pak BW (Bambang Widjojanto) kan<br />

bilang, “Seandainya saya hari ini meninggalkan<br />

jasad saya, saya siap.” Betul enggak? “Jasad<br />

saya berikan untuk kebenaran.” La, sekarang<br />

baru teror kok sudah bingung. Kalau toh benar<br />

ada teror, kenapa dia takut.<br />

Tapi apakah teror kepada KPK sudah<br />

ditangani?<br />

Begitu ada laporan, ya kita tangani. Tanpa<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Wakil Ketua KPK Bambang<br />

Widjojanto memberikan<br />

keterangan kepada wartawan<br />

setelah diperiksa di Bareskrim<br />

Polri, Jakarta, Selasa (3/2)<br />

malam.<br />

AGUNG/DETIKCOM<br />

kita menduga-duga dengan pemahaman kita,<br />

jangan. Kita harus bicara obyektif, itulah yang<br />

ayah saya selalu bilang, “Kamu harus jujur.”<br />

Makanya itu saja pedoman saya, buat apa saya<br />

takut kalau jujur.<br />

Soal jujur, apakah harta kekayaan Anda<br />

sudah dilaporkan ke KPK?<br />

Itulah kejujuran saya. Kenapa? Saya kan punya<br />

barang yang tadi susah ditebak. Kalau saya<br />

bilang mobil ini Rp 10 juta, terus ada yang naksir<br />

dengan harga Rp 50 juta, berarti saya bohong,<br />

kan. Jangan di kemudian hari itu dipakai untuk<br />

memukul saya, seperti yang dilakukan sekarang<br />

terhadap Pak Budi Gunawan. Ini pengalaman<br />

saya. Bukan saya tidak mau, tapi saya<br />

harus ditafsir jujur barang saya, yang menaksir<br />

harus ahlinya. Seperti senjata saya kan ada<br />

nilainya. Pisau saya banyak, ada nilainya, harus<br />

dilaporkan. Jangan saya yang melaporkan, yang<br />

menulis harus orang yang mengerti. Saya mau<br />

jujur.<br />

Berapa nilainya menurut Anda?<br />

Tidak tahu.<br />

Mencapai miliaran rupiah?<br />

Tidak tahu. Tergantung nanti yang mengkalkulasi.<br />

Memangnya masih proses sampai sekarang?<br />

Iya, kan mobil saya dikalkulasi, barang rongsokan<br />

kan juga ditaksir kan, yang di bengkel<br />

kan ditaksir.<br />

Termasuk senjata yang dikoleksi?<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Anggota saya<br />

sampai saat<br />

ini masih<br />

berkoordinasi<br />

dengan KPK terkait<br />

pelaksanaan<br />

penanganan tindak<br />

korupsi.<br />

Bukan koleksi, saya ini kan hobi. Kalau koleksi<br />

itu kan tidak dipakai, saya kan pemburu, atlet<br />

menembak, masih aktif. Saya kan Ketua Bidang<br />

Tembak Berburu Perbakin. Saya aktif memang.<br />

Saya juga punya bela diri.<br />

Suratnya lengkap?<br />

Lengkap (mengeluarkan kartu anggota Perbakin<br />

dan izin menembak). Surat (senjata) bela<br />

diri juga lengkap.<br />

Apakah Polri tersinggung karena Budi<br />

Gunawan dijadikan tersangka saat akan<br />

tinggal selangkah menjadi Kapolri. Ada<br />

yang menilai yang dilakukan KPK terhadap<br />

calon pimpinan Polri seperti melempar<br />

kotoran?<br />

Saya nilai bukan begitu. KPK dengan Polisi<br />

itu ada kerja sama, MOU. Ada norma-norma<br />

kelembagaan yang harus saling dijunjung dan<br />

dijaga, seperti tadi saya punya kewajiban melaporkan<br />

penanganan kasus korupsi kepada KPK.<br />

Itu harus saya junjung tinggi. Oleh sebab itu,<br />

setiap perkembangan saya laporkan, dan berjalan.<br />

Itu wujud nyata menghormati lembaga<br />

KPK. Artinya, siapa pun, bukan hanya KPK, di<br />

jaksa dan polisi, kita ada norma kelembagaan<br />

yang tidak bisa ditabrak. Seperti kemarin saya<br />

membuat TR (telegram rahasia) yang katanya<br />

menghalang-halangi penyidikan KPK.<br />

Saya ini mantan Propam (Profesi dan Pengamanan),<br />

saya tahu aturan internal, karena<br />

polisi ini bukan sipil murni. Polisi itu institusi<br />

yang punya aturan internal. Di kala seorang<br />

polisi, di situ sudah jelas, berhubungan atau<br />

berkaitan dengan kewajiban hukum, dia harus<br />

melaporkan ke Propam untuk mendapatkan<br />

pengamanan. Serta berkewajiban melaporkan<br />

ke Divkum (Divisi Hukum) untuk mendapat<br />

bantuan hukum. Itu yang saya punya TR ke<br />

seluruh Indonesia.<br />

TR saya bukan rahasia, terbuka. Tidak apa,<br />

akan saya buktikan. Tidak ada urusan menghalangi.<br />

Supaya norma-norma kelembagaan ini<br />

dihargai, diamankan, diberikan haknya, karena<br />

itu diatur. Saya tidak takut, kok. Ombudsman<br />

sudah datang untuk audit saya tentang kriminalisasi,<br />

silakan dibuktikan.<br />

Komnas HAM juga sudah datang?<br />

Kan saya sudah datang, duduk satu meja.<br />

Termasuk dengan KPK?<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Budi Waseso (tengah belakang)<br />

mengawal calon Kepala<br />

Polri Budi Gunawan saat uji<br />

kelayakan di DPR, Kamis<br />

(15/1).<br />

LAMHOT ARITONANG/DETIKCOM<br />

Untuk apa, inilah akhirnya yang membuat<br />

seolah-olah saya ada masalah dengan KPK,<br />

seolah-olah Komnas HAM yang bisa menjembatani.<br />

Saya tidak mau yang begitu-begitu. Ini<br />

membuat opini yang blunder. Makanya saya<br />

tidak mau, kan tidak ada masalah. Itu hak Komnas<br />

HAM menyatakan saya bersalah. Silakan<br />

saja umumkan, memang kenapa.<br />

Ada yang bilang Anda orangnya sederhana.<br />

Apakah benar?<br />

Tidak tahu saya ya, tapi itulah saya. Saya<br />

tidak ikut-ikut orang, tapi saya selalu bicara<br />

fungsi. Orang kadang-kadang melihat kursi<br />

bekas yang lama tidak bagus, tidak (menarik)<br />

selera. Kan ini fungsinya untuk duduk, masih<br />

bisa digunakan untuk duduk.<br />

Istri tidak protes?<br />

Enggak, istri saya sama dengan saya. Mungkin<br />

itulah kecocokan saya dengan istri saya.<br />

Karena kita tidak pernah mengada-ada, tidak<br />

ingin hidup yang aneh-aneh.<br />

Anda bertemu dengan istri di PTIK?<br />

Ha-ha-ha… (dia) salah satu responden saya<br />

ketika penelitian. Saya mahasiswa PTIK, Ibu<br />

mahasiswi. Karena sering kita tanya untuk<br />

bahan penelitian, lama-lama kan komunikasi.<br />

Saya sama istri saya cuma kenal sebulan saja<br />

langsung jadi, ha-ha-ha....<br />

Kabarnya Anda dulu suka gonta-ganti<br />

pacar?<br />

Oh, ya, waktu saya muda memang iya. Ketika<br />

sudah sama Ibu tidak ada lagi. Kalau kita<br />

berteman, itu wajar-wajar saja. Yang terpenting<br />

kan kita tahu batasannya, kita tahu posisinya.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


FOKUS<br />

Presiden Joko Widodo<br />

menerima anggota Kompolnas,<br />

yaitu Edi Putra Hasibuan<br />

(kedua dari kanan), Logan<br />

Siagian (kanan), Hamidah<br />

Abdurrahman, Syafriadi Cut<br />

Ali (kedua dari kiri), Adrianus<br />

Meliala (kiri), di Istana<br />

Merdeka, Jakarta, Kamis<br />

(29/1).<br />

PRASETYO UTOMO/ANTARAFO<br />

Itu masa muda saja, masa remaja, masa penyesuaian,<br />

masa memilih. Belum menentukan.<br />

Anak Anda dijodohkan dengan putra<br />

Komjen Budi Gunawan?<br />

Sekarang begini, seperti kalau saya dalam<br />

pendekatan ketika naksir seseorang itu kan<br />

pasti pendekatan, sah-sah saja. Terhadap siapa<br />

pun.<br />

Foto mereka mesra sekali sambil gandengan?<br />

Mesra atau gandengan tidak apa-apa. Di kala<br />

dalam penyesuaian pasangan, kita memilih.<br />

Makanya tadi pacar saya banyak, jujur banyak<br />

saya katakan. Dan sekarang hubungannya<br />

tetap baik. ■<br />

ISFARI HIKMAT | PASTI LIBERTI MAPPAPA<br />

MAJALAH DETIK 16 - - 22 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

TONY KWOK:<br />

KPK<br />

TERBAIK<br />

KETIGA<br />

DI ASIA<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

AGAR TAK TERUS DIGANGGU, KPK HARUS DIATUR LEWAT KONSTITUSI DAN DIBUAT<br />

PERMANEN.<br />

DROFESOR Tony Kwok Man-wai adalah suhu<br />

dalam pemberantasan korupsi. Ia selama<br />

27 tahun berkiprah dalam pemberantasan<br />

korupsi di Hong Kong lewat Independent<br />

Commission against Corruption (ICAC) atau<br />

Komisi Pemberantasan Korupsi Hong Kong.<br />

Dia adalah saksi betapa brutalnya tindakan<br />

polisi Hong Kong saat menyerbu kantor ICAC<br />

pada 1977 setelah lembaga itu menyidik kasus<br />

korupsi di kepolisian.<br />

Bedanya, Gubernur Hong Kong Murray<br />

MacLehose tak berpangku tangan. Guna meredakan<br />

ketegangan, MacLehose memberikan<br />

amnesti kepada para perwira polisi yang terlibat<br />

korupsi minor sebelum 1977. Tapi tidak ada<br />

toleransi bila masih melakukan penyimpangan<br />

setelahnya.<br />

“Kalau boleh saya bandingkan, apa yang<br />

terjadi pada KPK di Indonesia ini seperti yang<br />

dialami ICAC pada 1977,” kata Kwok saat dimintai<br />

tanggapan atas kisruh KPK-Polri saat<br />

ini.<br />

Pada 1986, ia memimpin tim gabungan<br />

ICAC dan polisi menginvestigasi bangkrutnya<br />

bank terbesar ketiga di Hong Kong dengan<br />

nilai korupsi dan suap sebesar US$ 385 juta.<br />

Dibantu 30 penyidik, dalam tempo 16 bulan<br />

tim berhasil menyeret tiga top manager bank<br />

itu ke pengadilan, dan mengekstradisi dua<br />

pejabat lainnya dari Amerika Serikat.<br />

Sebagai konsultan pemberantasan korupsi<br />

di 25 negara, ia menyarankan agar KPK menjadi<br />

lembaga independen permanen. Bukan<br />

lagi lembaga ad hoc yang bersifat sementara<br />

dan cuma diatur berdasarkan undang-undang.<br />

Karena itu, keberadaan KPK harus masuk dalam<br />

konstitusi.<br />

Penggemar tai chi, menyelam, dan squash ini<br />

selama sepekan berada di Indonesia. Ia memberikan<br />

kuliah umum di sejumlah kampus di<br />

Jakarta dan Padang serta berbagi pengalaman<br />

dengan kelompok-kelompok penggiat antiko-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

rupsi. Apakah akan bertemu dengan Presiden<br />

Jokowi? “Bila Bapak Presiden berkehendak,<br />

tentu tidak sulit bagi saya untuk meluangkan<br />

waktu bertemu dengan beliau,” katanya diplomatis.<br />

Berikut ini petikan perbincangan majalah<br />

detik dengan Kwok di sebuah kedai di kawasan<br />

Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta, pada<br />

Senin, 9 Februari 2015, dan setelah memberikan<br />

kuliah umum di Universitas Paramadina,<br />

Jakarta, keesokan harinya.<br />

Video<br />

Anda menjadi konsultan pemberantasan<br />

korupsi di 25 negara. Apakah kisruh<br />

KPK dengan Polri juga terjadi di negara<br />

lain?<br />

Di hampir setiap negara yang tingkat korupsinya<br />

merajalela, pasti akan terjadi hambatan<br />

dan serangan. Itu wajar saja dihadapi hampir<br />

semua komisi antikorupsi. Kalau boleh saya<br />

bandingkan, apa yang terjadi pada KPK di<br />

Indonesia ini seperti yang dialami ICAC pada<br />

1977. Kala itu, puluhan anggota kepolisian<br />

Hong Kong mengepung kantor ICAC. Mereka<br />

protes atas pengusutan korupsi di kepolisian<br />

yang dilakukan ICAC.<br />

Menghadapi kondisi tersebut, Gubernur<br />

Hong Kong Murray MacLehose tidak diam.<br />

Dia mengambil langkah nyata untuk meredakan<br />

situasi. Langkah bersejarah itu berupa<br />

pemberian amnesti untuk kasus korupsi minor<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

yang dilakukan perwira-perwira polisi sebelum<br />

1977. Namun polisi diminta kooperatif dengan<br />

penyidikan ICAC untuk kasus korupsi yang<br />

dilakukan setelah tahun tersebut. Tak ada<br />

toleransi lagi bila terjadi korupsi setelah itu.<br />

Mulai 1978, ICAC menyidik kasus korupsi<br />

di kepolisian dan memenjarakan seratusan<br />

perwira polisi dan seorang petugas bea-cukai.<br />

Tapi beberapa perwira yang ringan kesalahannya<br />

hanya dipecat. Setelah itu secara internal<br />

polisi melakukan bersih-bersih massal dan<br />

mereformasi diri menjadi lebih transparan.<br />

Kini kepolisian Hong Kong menjadi salah satu<br />

yang terbersih di dunia.<br />

Badan antikorupsi diserang oleh parlemen atau<br />

partai politik itu lumrah terjadi di negara-negara<br />

korup.<br />

AGUNG PAMBHUDY/DETIKCOM<br />

Kalau di Hong Kong hanya menghadapi<br />

polisi yang korup, di sini KPK masih harus<br />

menghadapi partai politik dan parlemen....<br />

Sangat lumrah sebenarnya apa yang terjadi<br />

pada KPK di Indonesia. Badan antikorupsi<br />

diserang oleh parlemen atau partai politik itu<br />

lumrah terjadi di negara-negara korup.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

Tim Sembilan bentukan<br />

Presiden Joko Widodo untuk<br />

menyelesaikan konflik KPK<br />

dengan Polri bertemu dengan<br />

Komisi Yudisial, Rabu (11/2).<br />

GRANDYOS ZAFNA/DETIKCOM<br />

Terkait kisruh KPK-Polri saat ini, apa<br />

yang seharusnya dilakukan Presiden Jokowi<br />

jika semua komisioner KPK menjadi<br />

tersangka?<br />

Dalam krisis seperti sekarang, kalau saya<br />

ditanya oleh Presiden, tentu saja sebaiknya<br />

menyerahkan penyidikan kasus para komisioner<br />

itu ke tim independen atau komite khusus<br />

yang dibentuk untuk itu. Atau sederhana saja,<br />

Tim Sembilan diberi surat keputusan (keputusan<br />

presiden) untuk dapat mengambil alih<br />

kasus dari kepolisian untuk menyelesaikan investigasi<br />

kasus tersebut dengan sebagaimana<br />

mestinya. Itu saran saya. Sebab, betapapun,<br />

publik melihat ada konflik kepentingan jika<br />

polisi menangani kasus-kasus tersebut.<br />

Salah satu kritik terhadap KPK adalah<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

ICAC di Hong Kong diawasi oleh dua komite<br />

independen yang melayani keluhan warga dan<br />

memantau investigasi untuk memastikan semua<br />

operasi berjalan dengan benar.<br />

DIDI DWI HARYANTO/MY TRANS<br />

tidak adanya pengawas terhadap kinerja<br />

mereka. Kalau di Hong Kong seperti apa?<br />

Kalau berbicara terkait pengalaman Hong<br />

Kong, kami punya ICOC (Independent Complaint<br />

Committee). Jadi setiap warga negara<br />

yang tidak senang terkait kebijakan ICAC dapat<br />

memasukkan komplain lewat komite itu. Ada<br />

juga ORC (Operations Review Committee)<br />

yang memonitor investigasi yang dilakukan<br />

ICAC untuk memastikan semua operasi berjalan<br />

dengan benar.<br />

Sedangkan untuk kepolisian, ada yang namanya<br />

IPCC (Independent Police Complaints<br />

Council). Jadi, jika ada yang merasa polisi menyalahgunakan<br />

kebijakannya, dapat mengadu<br />

ke komite.<br />

Komposisinya seperti?<br />

Mereka bisa berasal dari beragam kelompok<br />

masyarakat atau golongan yang bekerja<br />

secara paruh waktu. Bentuknya mungkin<br />

sama dengan Tim Sembilan yang dibentuk<br />

Presiden. Pembentukan (komite) inilah yang<br />

harus dipertimbangkan oleh Indonesia untuk<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

Mahasiswa berunjuk<br />

rasa mendukung Komisi<br />

Pemberantasan Korupsi.<br />

RACHMAN/DETIKCOM<br />

memiliki IPCC dan ICOC.<br />

Anda pribadi menilai kiprah KPK sejauh<br />

ini?<br />

Anda harus bangga dengan KPK yang Anda<br />

miliki ini. Menurut pendapat saya, bila orang<br />

membicarakan tentang lembaga antikorupsi,<br />

biasanya langsung merujuk Hong Kong, lalu<br />

Singapura. Lantas siapa yang ketiga? Saya harus<br />

katakan, KPK-lah yang terbaik berikutnya.<br />

Apa indikatornya?<br />

Dengan segala keterbatasan yang masih<br />

dimiliki, KPK menjerat para pelaku korupsi<br />

dari lingkup big fish. Ada menteri, elite partai<br />

politik, juga petinggi kepolisian. Semua yang<br />

menjadi tersangka hampir dipastikan tidak<br />

akan lolos dari hukuman. Itu luar biasa. Anda<br />

bandingkan dengan di Malaysia. Mereka memang<br />

pada akhirnya menangani kasus korupsi<br />

big fish, tapi itu baru dicapai setelah beberapa<br />

tahun. Lama sekali.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

parlemen. Begitu juga keberadaan komisionernya,<br />

yang masih harus disetujui parlemen.<br />

Idealnya, KPK benar-benar lembaga permanen<br />

dan independen. Mereka dipilih oleh sebuah<br />

tim independen, bebas dari campur tangan<br />

parlemen dan partai politik.<br />

Ketika Anda melihat lembaga antikorupsi independen<br />

di negara Anda tidak diberi sumber<br />

daya, tidak diberi anggaran dan dasar aturan<br />

yang kuat, ya sudah, pulang saja ke rumah.<br />

Anda jangan mengharapkan apa-apa lagi.<br />

Hakim tunggal Sarpi Rizaldi<br />

menerima berkas barang<br />

bukti dari kuasa hukum<br />

Komjen Budi Gunawan di<br />

Pengadilan Negeri Jakarta<br />

Selatan, Senin (9/2).<br />

LAMHOT ARITONANG/DETIKCOM<br />

Anda ingin mengatakan bahwa KPK<br />

sudah mendekati ideal?<br />

Tentu saja masih harus disempurnakan karena<br />

KPK belum sepenuhnya menjadi lembaga<br />

yang independen, sehingga masih sangat<br />

gampang mendapatkan gangguan seperti<br />

sekarang ini. Misalnya saja soal anggaran,<br />

besarannya kan masih harus dibahas dengan<br />

Bila demikian, berarti KPK harus menjadi<br />

lembaga permanen yang diatur dalam<br />

konstitusi?<br />

Ya, kenapa tidak? Ini bila Anda dan masyarakat<br />

benar-benar serius ingin negaranya bersih<br />

dan bebas dari korupsi. Hong Kong sudah<br />

membuktikannya. Begitu ICAC dimasukkan<br />

dalam konstitusi, dia menjadi lebih kuat dari<br />

sebelumnya yang hanya berlandaskan undang-undang.<br />

Jadi, rakyat sendiri yang harus<br />

memperjuangkannya. Mereka harus mendesak<br />

partai politik dan parlemen. Bagaimana<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERVIEW<br />

agar dapat dukungan parlemen, ya pilihlah<br />

calon anggota Dewan yang benar-benar punya<br />

komitmen untuk memberantas korupsi.<br />

Mereka yang tidak jelas jangan lagi dipilih.<br />

Idealnya, komisioner KPK dipilih oleh sebuah tim<br />

independen, bebas dari campur tangan parlemen<br />

dan partai politik.<br />

AGUNG PAMBHUDY/DETIKCOM<br />

Ada rencana bertemu dengan Presiden<br />

Jokowi?<br />

Saya akan berada di sini selama sepekan.<br />

Memang agenda utama saya selama di Jakarta<br />

adalah memberikan kuliah umum dan<br />

bertemu dengan beberapa pihak lainnya.<br />

Saya juga akan berbicara di Sumatera Barat.<br />

Tapi, bila Bapak Presiden berkehendak untuk<br />

berbagi pengalaman langsung, tentu tidak<br />

sulit bagi saya untuk meluangkan waktu<br />

bertemu dengan beliau. Di beberapa negara<br />

tempat saya menjadi konsultan, saya memang<br />

pernah bertemu dan berdiskusi langsung<br />

dengan mereka. Kami bertukar pandangan<br />

dan pengalaman. Tapi, seandainya tidak<br />

memungkinkan pun, bertemu dengan Anda,<br />

berbicara melalui media-media, di sini pesan<br />

yang saya sampaikan akan sama saja. ■<br />

FAJAR PRATAMA | PASTI L. MAPPAPA | SUDRAJAT<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BIODATA<br />

NAMA: Prof Tony Kwok Man-wai<br />

PENDIDIKAN<br />

• Diploma Manajemen Hong<br />

Kong Polytechnic and City University<br />

• Master of Business Administration<br />

Hong Kong Polytechnic<br />

and City University<br />

• Mengikuti sejumlah pelatihan<br />

di bidang kepolisian di Police<br />

Staff College, Bramshill, Inggris<br />

dan Tsinghua University, Beijing<br />

KARIER<br />

• Bergabung dengan Komisi<br />

Independen Pemberantasan<br />

Korupsi (ICAC) Hong Kong,<br />

1975<br />

• Deputi Komisioner dan Kepala<br />

Operasi ICAC Hong Kong,<br />

1996-2002<br />

• Kepala Penasihat The EU’s 3M<br />

Euro Corruption Prevention<br />

Project di Filipina, 2005-2007<br />

• Konsultan Kepala Asian Development<br />

Bank untuk Country<br />

Governance Assessment di<br />

Mongolia, 2008<br />

• Anggota Chartered Institute<br />

of Management Inggris sejak<br />

1990<br />

• Fellow Chartered Institute of<br />

Management sejak Desember<br />

1994<br />

• Ketua Institute’s Hong Kong<br />

Branch<br />

• Dosen ahli tamu di International<br />

Corruption Control Training<br />

Course of the UN Asia & Far<br />

East Institute on Prevention of<br />

Crime, Jepang, 2002-2008 dan<br />

2011-2013<br />

• Dosen di Akademi Internasional<br />

Antikorupsi di Wina, Austria,<br />

yang dihadiri 70 peserta<br />

dari 60 negara, 2011-2012<br />

KARYA<br />

• Studi Komparatif Sistem Anti<br />

Korupsi dalam 38 Yurisdiksi, 2012<br />

• Practice Meets Science—Contemporary<br />

Anticorruption Dialogue<br />

volume 1, 2011<br />

• 365 Cerita untuk<br />

Anak-anak Perempuanku,<br />

2007<br />

PENGHARGAAN<br />

• ICAC Distinguished<br />

Service Medal,<br />

1998<br />

• Silver Bauhinia<br />

Star, 2002<br />

• Outstanding<br />

Teacher<br />

Award, 2006<br />

AGUNG/DETIKCOM<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


KOLOM<br />

ILUSTRASI: EDI WAHYONO<br />

JALAN TENGAH<br />

JOKOWI<br />

JIKA PARA KOMISIONER KPK MENJADI TERSANGKA,<br />

PRESIDEN BISA MENERBITKAN PERPU UNTUK<br />

MEMILIH PEMIMPIN SEMENTARA KPK.<br />

OLEH: HASYIM ASY’ARI, PhD<br />

BIODATA<br />

Nama: Hasyim Asy’ari<br />

Tempat/Tanggal Lahir:<br />

Pati, 3 Maret 1973<br />

Pendidikan:<br />

1. PhD (Doctor of Philosophy)<br />

dalam bidang Sosiologi Politik<br />

dari University of Malaya,<br />

Malaysia, 2012.<br />

SALAH satu misi dalam Nawa Cita yang diajukan oleh Jokowi-JK adalah<br />

“menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan<br />

hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan tepercaya. Kami akan<br />

memprioritaskan pemberantasan korupsi dengan konsisten dan tepercaya;<br />

pemberantasan mafia peradilan dan penindakan tegas terhadap korupsi di lingkungan<br />

peradilan; dan kejahatan pencucian uang....”<br />

Untuk mencapai visi dan misi tersebut, Jokowi-JK merumuskan program yang<br />

akan memberikan perhatian khusus pada upaya memperbaiki aspek-aspek kehidupan<br />

bernegara, yaitu 8 (delapan) prioritas utama. Untuk mewujudkan sistem dan<br />

penegakan hukum yang berkeadilan dalam kebijakan penegakan hukum, mereka<br />

akan memberi penekanan pada 42 prioritas utama.<br />

Prioritas utama kebijakan keamanan nasional dan ketertiban masyarakat, Jokowi-<br />

JK menggunakan tiga pendekatan, yaitu struktur, substansi hukum, dan kultural.<br />

Ketiga pendekatan itu terlihat dari garis kebijakan yang akan diambil. Pertama, “me-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


KOLOM<br />

2. Magister Sains (MSi) dalam<br />

Ilmu Politik, Program Pascasarjana<br />

dari Universitas<br />

Gadjah Mada, 1998.<br />

3. Sarjana Hukum Tata Negara<br />

dari Universitas Jenderal<br />

Soedirman, 1995.<br />

4. Pondok Pesantren Al-Hidayah,<br />

Karangsuci, Purwokerto,<br />

1991-1995.<br />

5. Sekolah Menengah Atas<br />

Negeri (SMAN) 1 Kudus,<br />

1988-1991.<br />

Karier:<br />

• Dosen pada Bagian Hukum<br />

Tata Negara Universitas Diponegoro,<br />

1998-sekarang.<br />

• Konsultan Senior Ahli<br />

Pendaftaran Pemilih pada<br />

Perkumpulan Pemilu dan<br />

Demokrasi (Perludem),<br />

Jakarta, Juli 2013-November<br />

2014.<br />

mulihkan kepercayaan publik dengan melakukan pembinaan terus-menerus mental<br />

dan disiplin anggota Polri demi membangun Polri yang profesional dan dipercaya<br />

oleh masyarakat”. Kedua, “melakukan evaluasi peraturan perundang-undangan yang<br />

terkait dengan Polri dengan berbasis pada arah kebijakan penataan Polri menjadi institusi<br />

profesional”. Ketiga, “menata kelembagaan dan tata wewenang Polri melalui<br />

pemisahan antara kewenangan pengambilan keputusan dan kewenangan pelaksanaan<br />

keputusan yang hingga saat sekarang masih tumpang-tindih. Hal itu dilakukan<br />

dengan menempatkan Polri dalam Kementerian Negara yang proses perubahan<br />

dilakukan secara bertahap”.<br />

Di antara program kerja Jokowi-JK di bidang penegakan hukum, terutama dalam<br />

pengisian jabatan, relevan kiranya dikutip kembali di sini. Pertama, “mendukung<br />

keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi, yang dalam praktek pemberantasan<br />

korupsi telah menjadi tumpuan harapan masyarakat. KPK harus dijaga sebagai lembaga<br />

yang independen, bebas dari pengaruh kekuatan politik. Independensi KPK<br />

harus didorong melalui langkah-langkah hukumnya yang profesional, kredibel, transparan,<br />

dan akuntabel”. Kedua, “memastikan sinergi di antara kepolisian, Kejaksaan<br />

Agung, dan KPK”.<br />

Ketiga, “membuka keterlibatan publik dan media massa dalam pengawasan terhadap<br />

upaya tindakan korupsi maupun proses penegakan hukum terhadap tindak<br />

pidana korupsi”. Keempat, “memilih Jaksa Agung dan Kapolri yang bersih, kompeten,<br />

antikorupsi, dan komit pada penegakan hukum”. Kelima, “melakukan lelang<br />

jabatan strategis pada lembaga penegak hukum dan pembentukan regulasi tentang<br />

penataan aparat penegak hukum”. Keenam, “membangun sistem penilaian kinerja<br />

lembaga penegak hukum berbasis tingkat kepercayaan publik”.<br />

Dalam konteks pengisian jabatan Kapolri, Jokowi dihadapkan pada situasi Komjen<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


KOLOM<br />

• Ketua Tim Ahli Prakarsa<br />

Pendaftaran Pemilih KPU,<br />

Jakarta, September 2011-<br />

Juni 2013.<br />

• Anggota Tim Seleksi Calon<br />

Anggota Panwaslu Kabupaten/Kota<br />

se-Jawa Tengah,<br />

Oktober 2012.<br />

• Sekretaris Tim Seleksi<br />

Calon Anggota Bawaslu<br />

Provinsi Jawa Tengah, Juli-<br />

September 2012.<br />

• Anggota Komisi Pemilihan<br />

Umum (KPU) Provinsi Jawa<br />

Tengah, 2003-2008.<br />

• Sekretaris Presidium Komite<br />

Independen Pemantau<br />

Pemilu (KIPP) Pemilu 1999,<br />

Kabupaten Kudus, 1998-<br />

1999.<br />

Karya:<br />

• Menulis sekitar 40 buku<br />

dan puluhan artikel di se-<br />

Budi Gunawan, yang diusulkannya mulus disetujui DPR tapi disandera status tersangka<br />

oleh KPK. Sedangkan Jenderal Sutarman sudah diberhentikan dari jabatan<br />

sebagai Kapolri. Terdapat kekosongan jabatan Kapolri di sini.<br />

Di tengah desakan politik, satu sisi para politikus Sena yan mendesak agar Komjen<br />

Budi Gunawan dilantik menjadi Kapolri, di sisi lain publik menolak pelantikannya.<br />

Agaknya Jokowi mengambil jalan tengah. Jabatan Kapolri dikosongkan sementara,<br />

dengan istilah “menunda pelantikan”, dan tugas wewenang Kapolri dilaksanakan<br />

sementara oleh Komjen Badrodin Haiti sebagai Wakapolri.<br />

Bisa jadi politik jalan tengah Jokowi itu akan digunakan kembali untuk mengisi<br />

jabatan Kapolri. Setelah mendengarkan berbagai pertimbangan yang diberikan<br />

oleh Wantimpres, tim independen bentukan Jokowi, partai politik pendukung, dan<br />

pimpinan DPR, tampaknya Jokowi akan mengajukan nama baru calon Kapolri yang<br />

tidak rentan konflik dan menimbulkan kritik tajam publik.<br />

Dalam konteks KPK, sekiranya benar kemudian semua pimpinan KPK terkena ma-<br />

ILUSTRASI: EDI WAHYONO<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


KOLOM<br />

jumlah media massa. Berikut<br />

ini di antaranya:<br />

• Pembreidelan Tempo 1994:<br />

Wajah Hukum Pers Sebagai<br />

Alat Represi Politik Negara<br />

Orde Baru, Cermin Kudus<br />

dan Pensil 324 Jakarta,<br />

2009.<br />

• Sistem Pemerintahan Indonesia<br />

Menuju Presidensil, Diponegoro<br />

University Press,<br />

2007.<br />

• Jejak Para Wali dan Ziarah<br />

Spiritual, Penerbit Buku<br />

Kompas, 2006.<br />

• Sulitnya Memprediksi Demokrasi,<br />

KOMPIP, Surakarta,<br />

2005.<br />

• Abdurrahman Sang Penakluk,<br />

LEPKISS, Surabaya,<br />

2000.<br />

salah pidana dengan status tersangka dan konsekuensinya adalah pemberhentian<br />

sementara serta diberhentikan tetap bila statusnya meningkat menjadi terdakwa.<br />

Tentu situasi ini akan menjadikan KPK lumpuh, mengingat pimpinan KPK adalah<br />

penanggung jawab utama secara kelembagaan.<br />

Pimpinan KPK tinggal empat orang dan bila dua orang, yaitu Bambang Widjojanto<br />

dan Abraham Samad, tersangkut kasus pidana, tidak cukup hanya dua orang pimpinan<br />

KPK mengambil keputusan. Jokowi sebagai presiden, menurut undang-undang,<br />

dapat mengajukan calon pengganti, tetapi proses seleksinya panjang. Sementara<br />

itu, kekosongan satu pimpinan KPK yang ditinggalkan Busyro Muqoddas hingga<br />

kini belum terisi. Wacana yang berkembang di DPR, pengisian jabatan pimpinan<br />

KPK akan dilakukan secara serentak untuk lima pimpinan sekaligus.<br />

Jokowi tampaknya kembali akan menempuh politik jalan tengah dalam memberikan<br />

dukungan kepada KPK. Peraturan pengganti undang-undang (perpu) akan<br />

digunakan sebagai instrumen hukum untuk merevisi sebagian undang-undang KPK,<br />

bukan dalam konteks untuk memberikan imunitas kepada pimpinan KPK, tapi sebaliknya<br />

untuk mengangkat pelaksana tugas pimpinan KPK. Pengisian pelaksana tugas<br />

pimpinan KPK menggunakan perpu ini dengan dua catatan, yaitu bila sebagian besar<br />

atau semua pimpinan KPK terkena kasus pidana dan hanya berlaku sementara<br />

hingga terdapat pimpinan KPK definitif.<br />

Pilihan politik jalan tengah Jokowi ini tidak mudah, penuh perjuangan, karena pasti<br />

banyak tarik-menarik politik di dalamnya. Namun Jokowi telah menggariskan Nawa<br />

Cita, dalam pengisian jabatan penegak hukum, dilakukan dengan kriteria “bersih,<br />

kompeten, antikorupsi, dan komit pada penegakan hukum”. Jokowi pasti paham<br />

bahwa perjuangan itu adalah pelaksanaan kata-kata. n<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


RUMAH<br />

FOTO-FOTO: GRANDY/DETIKCOM<br />

MUNGIL<br />

RASA BESAR<br />

BONA KOMETA<br />

RUMAH IDAMAN<br />

TAK SELALU YANG<br />

LUAS DAN MEGAH.<br />

FINALIS ASIA’S NEXT<br />

TOP MODEL 2014<br />

INI PUNYA KRITERIA<br />

RUMAH IDAMAN<br />

VERSINYA.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


RUMAH<br />

MENJANGKAU kawasan rumah<br />

milik Bona Dea Kometa lumayan<br />

sulit. Mesti melewati jalan berliku<br />

Bekasi dan menembus perkampungan<br />

penduduk.<br />

Permukiman di sini memang tak begitu<br />

padat, tapi cukup membuat saya bingung.<br />

Untung ada tulisan besar “Bukit Jatibening<br />

Town House” di gerbang masuk.<br />

Begitu saya masuk kompleks, rumah Bona<br />

gampang sekali ditemukan. Dari jajaran rumah<br />

town house, rumah finalis Asia’s Next<br />

Top Model 2014 ini memang sedikit berbeda<br />

dibanding rumah-rumah di sekitarnya.<br />

Rumah Bona paling mencolok. Selain karena<br />

lebih besar, rumahnya khas. Bercat cokelat<br />

muda, memiliki lis merah marun campuran<br />

cokelat tua, dan dinding muka rumah menggunakan<br />

batu alam.<br />

Sedangkan rumah lainnya punya warna,<br />

desain, dan bentuk pintu atau jendela yang<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


RUMAH<br />

sama. Untuk tampilan luar saja, Bona sudah<br />

berhasil membuat rumahnya terlihat unik.<br />

Rumah mantan presenter stasiun televisi<br />

swasta ini tak luas. Bangunannya hanya 220<br />

meter persegi, berdiri di atas tanah seluas<br />

240 meter. Namun jangan buru-buru menyimpulkan<br />

rumah mungil ini sempit.<br />

Bona dan suami berhasil mengubah citra<br />

rumah mungil berarti sempit. Justru saya,<br />

yang baru pertama kali bertamu ke rumah ini,<br />

mendapatkan kesan lega.<br />

Apalagi saat saya masuk ruang tengah,<br />

yang digunakan sebagai ruang berkumpul<br />

keluarga seluas 5 x 7 meter persegi. Sebelum<br />

memasuki ruang tengah, kita akan melewati<br />

ruang tamu yang ditata apik.<br />

Ukurannya memang hanya 3 x 2<br />

meter. Bukan lantaran pemilik ru-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


RUMAH<br />

mah pelit dengan menyempitkan ruang tamu,<br />

tapi lebih karena faktor fungsi.<br />

Menurut Bona, ruang tamu hanya diperuntukkan<br />

sebagai tempat transit. Menyadari<br />

ruangan ini tak cukup besar, Bona tak meletakkan<br />

banyak perabot.<br />

Hanya satu sofa panjang dan kursi sofa<br />

yang hanya bisa diduduki satu orang. Sebagai<br />

pembatas ruang tamu dengan ruang tengah,<br />

Bona memberi sekat bilah besi hitam.<br />

Selain supaya tetap terlihat lapang karena<br />

bisa melihat ruang tengah, sekat tembok tak<br />

dipilih supaya tidak mengesankan ruangan<br />

sumpek.<br />

“Saya sengaja membuat rumah minim sekat<br />

karena keterbatasan luas bangunan rumah<br />

kami,” kata Bona kepada majalah detik di<br />

kediamannya, Rabu (14/1).<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


RUMAH<br />

Keistimewaan ruang tengah tak<br />

hanya karena ukurannya yang lebih<br />

luas. Sebuah taman kecil dan tempat bermain<br />

yang berada di belakang rumah menambah<br />

kesan nyaman.<br />

Karena dari taman terbuka ini udara luar<br />

sepoi-sepoi menembus rumah. Jadi jangan<br />

heran jika Anda akan merasakan adem saat<br />

memasuki rumah. Padahal tak ada AC.<br />

Udara menerobos dari pintu dorong yang<br />

menjadi penyekat antara ruang tengah dan taman.<br />

Ditambah, plafon rumah ini cukup tinggi<br />

sehingga udara bisa leluasa keluar-masuk.<br />

Kesan luas dan lapang juga terasa di lantai<br />

dua. Atap di lantai dua yang dibuat bergelombang<br />

dan lebih tinggi dari atap di ruangan<br />

lainnya membuat rumah tak pengap.<br />

Selain itu, jendela kaca besar berdesain<br />

dinamis bisa menembus pemandangan di depan<br />

rumah. Genting rumah tetangga, pohon,<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


RUMAH<br />

dan bangunan rumah di sekitar bisa terlihat dari sini.<br />

Di lantai dua, Bona hanya membagi dua ruang utama:<br />

kamar tidur anak dan kamar tidur utama dengan toilet. Dia<br />

juga membuat ruangan untuk menyimpan koleksi tas, baju,<br />

dan sepatu Bona.<br />

Bona menyediakan ruangan di selasar ruang tidur utama<br />

untuk menyalurkan hobi membaca dan bercengkerama<br />

bersama keluarga. Di sini ada rak buku, tenda camping<br />

anak, televisi, dan sofa.<br />

Ruang tidur utama menjadi magnet. Bona mengaku<br />

sering tak bisa meninggalkan lama-lama ruangan yang ia<br />

anggap sebagai ruangan paling nyaman itu.<br />

Sekalipun pergi ke luar kota, menginap di hotel, kamar<br />

paling nyaman yang sering ia kangeni hanya kamarnya.<br />

Maklum, ruang tidur Bona hampir sama luasnya dengan<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


RUMAH<br />

ruang tengah.<br />

Tak hanya luas, Bona juga mendesain ruangannya<br />

senyaman mungkin dengan memadupadankan<br />

cat dinding bermotif kembang dan<br />

daun hijau. Ia membiarkan cahaya luar masuk<br />

lewat kedua jendela.<br />

Jadi, selain sirkulasi udara yang bagus, rumah<br />

Bona hemat listrik. Rumah ini relatif terang di<br />

siang hari tanpa perlu menyalakan lampu.<br />

Bona sudah menganggap rumah yang ia<br />

tempati sejak 2011 ini sebagai rumah impiannya.<br />

Bukan sekadar bangunan, ia menyebut<br />

rumahnya sebagai “home sweet home”.<br />

Ia dan suami turun tangan langsung<br />

dalam membangun, mendesain, dan menata<br />

rumahnya. Jadi rasa puas terbayar begitu<br />

rumah ditempati.<br />

Di dalam rumahnya juga tak ada ruang yang<br />

tak bermanfaat. Menyadari luas bangunan dan<br />

tanah terbatas, Bona dan suami merancang<br />

semua ruang dan sekat berdasarkan fungsi. n<br />

KUSTIAH | KEN YUNITA<br />

MAJALAH DETIK 16 22 FEBRUARI 2015<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


GAYA HIDUP<br />

SI LUCU<br />

PENCABUT NYAWA<br />

TAMPILANNYA MEMANG LUCU SEKALIGUS MENGGEMASKAN.<br />

TAPI EFEKNYA BISA BERUJUNG PADA KEMATIAN.<br />

THINKSTOCK<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


GAYA HIDUP<br />

FIKRI sudah duduk di kelas tiga sekolah<br />

dasar. Dulu orang tuanya selalu<br />

membekalinya dengan makanan<br />

dari rumah, tapi kini diganti dengan<br />

uang.<br />

Orang tua Fikri berpikir uang lebih praktis.<br />

Mereka juga berharap Fikri bisa belajar memilih<br />

makanan yang hendak dikonsumsi dan<br />

mengatur uang sejak dini.<br />

Niat awal orang tua Fikri memang bagus.<br />

Ingin mengajarkan kemandirian pada anak.<br />

Namun, di balik itu, ternyata ada bahaya yang<br />

mengintai Fikri.<br />

Di sekolah, tak semua makanan “sehat”<br />

untuk anak-anak. Namun anak-anak terlihat<br />

tidak peduli. Mereka tetap lincah dan bebas<br />

memilih apa saja jajanan sekolah.<br />

Padahal baru-baru ini ditemukan jenis narkotik<br />

atau obat-obatan berbahaya (narkoba)<br />

yang dikemas sangat lucu. Sangat menarik<br />

untuk anak-anak. Bisa berbentuk permen<br />

atau potongan gambar.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


GAYA HIDUP<br />

INDONESIABERKEBUN<br />

Narkoba ini berjenis lysergic acid diethylamide<br />

(LSD). Tidak setenar narkoba jenis lainnya.<br />

Di Indonesia, LSD masuk dalam golongan I<br />

narkoba, tertera dalam lampiran 36 Undang-<br />

Undang Narkotika 35 Tahun 2009.<br />

LSD awalnya diracik oleh Hofmann, peneliti<br />

kimia di Laboratorium Sandoz di Basel, Swiss,<br />

pada 1938. Dia berharap sintesis molekul LSD-<br />

25 dapat berguna untuk stimulus pernapasan.<br />

Namun, lima tahun kemudian, ia baru<br />

mengetahui adanya efek psikofarmakologikal<br />

dari LSD ketika ia menelannya. Saat itu dampak<br />

penggunaan LSD diuji pada 19 April 1943.<br />

Sang peneliti menguji coba dengan menelan<br />

0,25 miligram LSD. Dari catatan yang ditulisnya,<br />

direktur laboratorium itu merasakan<br />

efek yang luar biasa.<br />

“Empat puluh menit kemudian, Hofmann<br />

mengalami pusing, perasaan cemas, distorsi<br />

visual, gejala kelumpuhan,<br />

serta keinginan untuk tertawa,”<br />

demikian dikutip<br />

Telegraph.<br />

Kini, untuk meng-<br />

WIKIPEDIA<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


GAYA HIDUP<br />

konsumsinya, narkoba berbentuk kertas sebesar<br />

prangko itu tinggal dimasukkan ke dalam mulut, ditempelkan<br />

di lidah, dan selanjutnya akan larut.<br />

LSD akan mempengaruhi reseptor serotonin dengan<br />

cara mengikat dan mengaktifkan 5-hydroxytryptamine<br />

subtype 2 receptor (5-HT2), yang mengganggu sistem<br />

inhibisi.<br />

Mengkonsumsi narkoba ini dapat mengakibatkan<br />

gangguan persepsi, sebagai dampak dari halusinasi<br />

senyawa tersebut yang sangat kuat. Namun konon<br />

narkoba ini tidak membuat ketagihan.<br />

Namun bukan berarti zat ini aman digunakan. Pakar<br />

adiksi narkoba dr Lula Kamal, Msc, mengatakan LSD<br />

justru berbahaya terutama jika digunakan dalam situasi<br />

tertentu.<br />

Selain itu, orang dalam pengaruh LSD tidak bisa diprediksi<br />

perilakunya. Sumber menyebutkan perasaan<br />

seperti melihat cahaya berpendar, melintasi waktu,<br />

dan halusinasi bisa dirasakan pemakai.<br />

Tapi beberapa sumber lain yang mengkonsumsi<br />

LSD juga menyebutkan halusinasi bisa membuat<br />

pemakainya histeris ketakutan dan paranoid.<br />

“Ada yang tenang-tenang saja, ada juga yang tidak.<br />

Tergantung persepsi orangnya. Jadi, kita enggak bisa<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


GAYA HIDUP<br />

THINKSTOCK<br />

memprediksi apa yang akan ia rasakan,” ujar<br />

dr Lula.<br />

Menurut Kepala Badan Narkotika<br />

Nasional Provinsi Nusa Tenggara<br />

Barat Drs Mufti Djusnir, Msi, Apt,<br />

bila senyawa LSD dikonsumsi<br />

dalam jumlah waktu tertentu,<br />

dapat menimbulkan serangan<br />

hipotermia.<br />

Serangan ini membuat<br />

suhu tubuh turun hingga<br />

menjadi 32 derajat Celsius<br />

atau di bawah suhu<br />

normal (36-37 derajat Celsius).<br />

Tubuh akan mengalami<br />

kesulitan mengatasi tekanan<br />

suhu dingin.<br />

Bila hal ini dibiarkan, akan<br />

menyebabkan kematian<br />

bagi penggunanya. “Perlu<br />

berhati-hati, jika suhu<br />

tubuh menurun<br />

hingga 32 derajat<br />

Celsius,<br />

akan berhadapan dengan malaikat kematian,”<br />

ujar Mufti.<br />

Pada saat suhu tubuh berada di titik ini—<br />

atau kurang dari 32 derajat Celsius—sel-sel<br />

tubuh tak dapat bekerja. Kondisi ini sering<br />

dialami para pendaki gunung.<br />

Karena itu, kepada anak-anak, perlu ditanamkan<br />

kewaspadaan. Mereka sebaiknya<br />

diberi pengertian soal bahaya dan efek yang<br />

bisa diakibatkan oleh LSD.<br />

“Menaruh kertas di bawah lidah itu saja<br />

sudah sangat tidak lazim. Jadi, apa pun yang<br />

bentuknya tidak biasa kita konsumsi, ya jangan<br />

diterima,” kata dr Lula.<br />

Agar anak-anak tidak tergiur LSD yang dikemas<br />

lucu, psikolog Henny Wirawan menyarankan<br />

untuk memberikan pengertian bahwa<br />

tidak semua gambar lucu yang mereka lihat<br />

berarti baik.<br />

Jika anak dipaksa menerima LSD atau<br />

narkoba jenis lain, sebaiknya diterima saja,<br />

untuk selanjutnya dilaporkan dan diserahkan<br />

kepada guru atau orang tua.<br />

Namun, jika anak dipaksa memakan se-<br />

INDONESIABERKEBUN<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


GAYA HIDUP<br />

INDONESIABERKEBUN<br />

suatu yang mencurigakan, ajari anak untuk<br />

segera kabur dan menemui orang dewasa<br />

yang dikenalnya.<br />

“Intinya, kalau kelas yang lebih kecil, lebih baik<br />

anak diajari tidak jajan sembarangan dan tidak<br />

terima barang dari orang lain. Kalau dipaksa, wajib<br />

ditunjukkan kepada orang tua,” kata Henny.<br />

Selain orang tua, peran guru sangat besar<br />

untuk menjaga anak dari paparan<br />

narkoba. Karena itu, pengetahuan guru<br />

tentang narkoba pun perlu diperkuat.<br />

“Ini kasus anak, ya, jadi anak masih perlu senantiasa<br />

didampingi orang tua, karena kematangan<br />

moral juga masih dalam proses,” ujar psikolog<br />

dari Universitas Tarumanagara ini. n<br />

MELISA MAILOA | KEN YUNITA<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

BERBURU MASJID<br />

DI MANILA<br />

MENEMUKAN MASJID DI NEGARA DENGAN MAYORITAS PENDUDUK<br />

NONMUSLIM MERUPAKAN KEBAHAGIAAN UNTUK SAYA.<br />

WIKIPEDIA & THINKSTOCK<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

MENJADI keharusan bagi saya<br />

ketika melakukan perjalanan ke<br />

luar negeri adalah berkunjung ke<br />

masjid-masjid, meskipun negara<br />

tersebut mayoritas penduduknya nonmuslim.<br />

Seperti pada Maret 2014, saat ke Filipina.<br />

Filipina adalah negara yang 80 persen penduduknya<br />

beragama Katolik. Menemukan<br />

sebuah masjid dan makanan halal di negara<br />

itu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri<br />

bagi saya.<br />

Saya dan teman saya, Adam, hari itu, Jumat,<br />

7 Maret 2014, sedang berada di Kota Manila.<br />

Kami berencana menuju Golden Mosque atau<br />

Masjid Al Dahab—masjid terbesar di Manila.<br />

Adam berencana menunaikan salat Jumat di<br />

ESTI MURDIASTUTI (TRAVELER)<br />

WIKIPEDIA<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

ESTI MURDIASTUTI (TRAVELER)<br />

masjid itu. Namun, berhubung tempat menginap kami jauh dari Golden<br />

Mosque dan waktu salat jumat sudah mepet, kami akhirnya memutuskan<br />

mencari masjid lain yang lebih dekat.<br />

Dan ternyata, tak jauh dari Paranaque City, tempat kami menginap,<br />

terdapat masjid kecil bernama Al-Nur. Kami memburu salat jumat di<br />

masjid itu dengan menumpang jeepney, ongkosnya 8 peso (Rp 2.280)<br />

per orang.<br />

Setiba di Baclaran, lokasi masjid, kami celingak-celinguk. Kami sama<br />

sekali tak melihat tanda-tanda masjid di daerah ini. Hingga saya melihat<br />

seorang perempuan berjilbab penjual pernak-pernik.<br />

Dari mbak-mbak itu, akhirnya kami mendapat petunjuk lokasi masjid.<br />

Jaraknya cuma sekitar 100 meter dari tempat kami berdiri. Ah, kesampaian<br />

juga niat Adam melaksanakan salat jumat di salah satu masjid di<br />

Manila.<br />

Lokasi Masjid Al-Nur memang<br />

agak nyempil, terimpit<br />

toko-toko dan jalan kecil. Bangunan<br />

masjid ini memang tidak<br />

terlalu besar, tapi berlantai<br />

dua.<br />

Sambil menunggu salat<br />

Jumat selesai, saya mencari<br />

tempat salat untuk perempuan.<br />

Dari informasi yang<br />

DETIKTRAVEL<br />

WIKIPEDIA<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

ESTI MURDIASTUTI (TRAVELER)<br />

saya terima, masjid-masjid di Filipina sengaja<br />

memisahkan lokasi salat untuk laki-laki dan<br />

perempuan.<br />

Tempat salat wanita terletak di samping<br />

masjid. Di ruangan berukuran<br />

5 x 6 meter itu, para<br />

perempuan bisa mengikuti<br />

salat Jumat dan menyimak<br />

ceramah imam. Saya baru<br />

tahu di sini para perempuan<br />

bisa salat jumat di masjid.<br />

Dan meski sudah berhasil<br />

mewujudkan misi salat<br />

Jum at di masjid Filipina,<br />

saya masih tetap ingin mengunjungi<br />

Golden Mosque.<br />

Masjid ini dari awal kunjungan<br />

ke Manila memang<br />

sangat ingin saya datangi.<br />

Karena hari ini sudah<br />

terlampau sore, kami pun<br />

memutuskan melacak keberadaan<br />

Golden Mosque<br />

keesokan harinya. Kami<br />

berharap bisa dengan mudah menemukan<br />

masjid tersebut.<br />

Masjid Al-Dahab atau Golden Mosque terletak<br />

di ujung Jalan Globo de Oro, nama jalan<br />

yang berarti “bola dunia keemasan”. Distrik<br />

atau wilayah Quiapo banyak didiami komunitas<br />

muslim Metro Manila.<br />

Di sekitar masjid itu banyak terdapat toko,<br />

warung, dan rumah makan yang menyajikan<br />

makanan halal dan buah-buahan segar dari<br />

Pulau Mindanao. Meski begitu, pengunjung<br />

kawasan ini cukup beragam.<br />

Meski sama-sama berada di Kota Manila,<br />

suasana Makati City dan Quiapo sangat<br />

berbeda. Makati adalah daerah elite, banyak<br />

gedung pencakar langit. Sedangkan Quiapo<br />

adalah kota lama, pasarnya penuh pengemis<br />

dan macet.<br />

Kawasan ini bisa dijangkau dengan jeepney<br />

jurusan Quiapo. Jangan lupa berpesan kepada<br />

sopir, dia akan dengan senang hati memberi<br />

tahu jika lokasi masjid sudah dekat, tak jauh<br />

dari istana presiden Malacanang.<br />

Saat memasuki permukiman muslim di<br />

WIKIPEDIA<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

ESTI MURDIASTUTI (TRAVELER)<br />

Quiapo, kami melalui pintu gerbang besar<br />

dengan tulisan “Welcome Muslim Town”.<br />

Halamannya menjadi akses keluar-masuk ke<br />

permukiman penduduk di samping dan belakang<br />

masjid.<br />

Pintu gerbang itu bisa dilintasi mobil, tapi<br />

jalan masuk ke masjid hanya berupa pintu<br />

kecil untuk lalu lalang. Ada kotak sumbangan<br />

dan petugas keamanan yang ramah.<br />

Mereka akan dengan senang hati mengantarkan<br />

jemaah yang mungkin kebingungan<br />

mencari tempat wudu. Seperti yang saya dan<br />

teman saya alami waktu itu.<br />

Yang menarik, saat melewati pintu gerbang,<br />

semua perempuan diwajibkan segera mengenakan<br />

kerudung, walau hanya menutup kepala.<br />

Begitu juga ketika akan masuk area masjid.<br />

Ketika kami sampai di sana, waktu zuhur<br />

sudah lewat. Akhirnya kami memutuskan<br />

makan siang terlebih dulu di warung-warung<br />

yang banyak menyajikan makanan halal.<br />

Sekilas kami lihat warung makan yang berada<br />

di pinggir jalan layaknya rumah makan<br />

Padang. Warung-wa rung tersebut menyaji-<br />

DETIKTRAVEL<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


WISATA<br />

kan berbagai macam menu ikan, daging, dan<br />

sayur.<br />

Saking semangatnya makan, kami menghabiskan<br />

250 peso (Rp 71.250) untuk berdua.<br />

Tapi tak apalah, kami pikir sesekali, mengingat<br />

kami kesulitan mencari makanan yang pas di<br />

sini.<br />

Setelah mengisi perut, kami menuju masjid<br />

untuk salat. Kami berjalan lambat sembari<br />

melihat-lihat. Sungguh disayangkan, masjid ini<br />

kurang terawat.<br />

Bahkan, sewaktu mengambil air wudu, saya<br />

melihat kotoran hewan di tempat wudu. Lantai<br />

masjid juga jauh dari kata bersih. Saya bisa<br />

melihat debu di sana-sini.<br />

Padahal agama Islam mengajarkan untuk<br />

mencintai kebersihan di mana pun kita berada,<br />

termasuk di masjid. Sungguh sangat-sangat<br />

disayangkan. n<br />

ESTI MURDIASTUTI (TRAVELER) | KEN YUNITA<br />

ESTI MURDIASTUTI (TRAVELER)<br />

MAJALAH DETIK 16 22 FEBRUARI 2015<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


KULINER<br />

HOTEL TANPA<br />

KAMAR<br />

FOTO-FOTO : ARI SAPUTRA/MAJALAH DETIK<br />

DESAINNYA MIRIP LOBI<br />

HOTEL. TAPI, KARENA TAK<br />

PUNYA KAMAR UNTUK<br />

MENGINAP, HURUP “H”<br />

DIHILANGKAN.<br />

JADINYA OTEL LOBBY.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


KULINER<br />

AM makan siang sudah hampir<br />

tiba, saya masih berkutat di kawasan<br />

perkantoran Epicentrum,<br />

Jakarta Selatan. Kawasan ini memang<br />

cukup asing bagi saya, yang<br />

bermukim di Tangerang.<br />

Namun, karena sudah kepalang janji untuk<br />

bertemu dengan salah seorang teman, saya<br />

mencoba menembus kemacetan. Memacu kendaraan<br />

lebih cepat.<br />

“Kita ketemu di Otel Lobby,” begitu kira-kira isi<br />

pesan singkat yang ia kirim semalam.<br />

Persis di sebelah restoran Bluegrass, saya melihat<br />

sebuah plang bertulisan “Otel Lobby”. Nah,<br />

ini dia. Dari luar, bangunan dan arsitekturnya<br />

unik. Serbahitam.<br />

Saya sempat kebingungan mencari tempat<br />

parkir. Saya tak melihat ada “lahan” yang dikhususkan<br />

bagi tamu restoran untuk “menyimpan”<br />

kendaraan mereka.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


KULINER<br />

Hingga akhirnya seorang petugas satpam<br />

menghampiri saya. Dia mengarahkan saya memarkir<br />

kendaraan di bangunan di seberang jalan.<br />

Walah.<br />

Setelah urusan parkir beres, saya masuk melalui<br />

pintu hitam berdesain klasik. Meja resepsionis<br />

panjang dan seorang perempuan menyambut<br />

saya.<br />

Saya, yang belum pernah datang kemari,<br />

sempat menyangka tempat ini juga merangkap<br />

sebagai hotel. Bagaimana tidak, di dekat pintu<br />

masuknya, ada troli pengangkut koper seperti di<br />

hotel-hotel.<br />

Dari seorang pelayan, saya tahu restoran ini<br />

memang ditata layaknya lobi hotel. Namanya<br />

juga berasal dari Hotel Lobby. Karena tempat ini<br />

tidak punya kamar untuk menginap, huruf “H”<br />

pun dihilangkan.<br />

Di beberapa sudut, terdapat sofa-sofa. Furnitur<br />

di dining area tidak seragam. Kesan rustique vintage<br />

paling menonjol, berasal dari penggunaan<br />

warna hitam yang maskulin sekaligus elegan.<br />

Kaca besar berterali besi hitam menjadi peng-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


KULINER<br />

Saya merasa tak bosan<br />

karena mata saya<br />

dimanjakan oleh desain<br />

restoran yang elegan.<br />

ganti dinding. Elemen kayunya sukses bergabung<br />

dengan penataan cahaya yang agak temaram.<br />

Lampion putih dari kepompong ulat sutra<br />

menjadi karya seni unik sekaligus menarik. Ada<br />

pula lampion yang terbuat dari ratusan bola<br />

pingpong.<br />

Agaknya tempat ini sering menjadi tempat<br />

para ekspatriat bertemu untuk makan siang atau<br />

sekadar mengobrol. Teman saya melambaikan<br />

tangan dari arah sofa bundar di tengah ruangan.<br />

Tempat duduk ini memang sangat pas dan<br />

nyaman digunakan untuk bersantai sejenak sambil<br />

bersantap ria. Pelayan langsung membawakan<br />

dua buah buku menu yang juga berwarna hitam.<br />

Daftar menunya lebih banyak diisi oleh deretan<br />

minuman cocktail, mocktail, dan bir. Tapi tenang,<br />

ada menu-menu Western dan Indonesia yang<br />

bisa dipesan untuk mengisi perut.<br />

Setelah berdiskusi dengan teman, saya pun<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


KULINER<br />

memutuskan memesan Pigs in The Blanket<br />

(Rp 60 ribu), Local Duck Confit (Rp 95 ribu),<br />

dan Chocolate Souffle (Rp 50 ribu).<br />

Untuk minumannya, saya memilih Otel<br />

Punch (Rp 45 ribu) dan Chamomile Tea (Rp 30<br />

ribu). Saya harus menunggu sekitar 30 menit<br />

sampai satu per satu hidangan yang dipesan<br />

mampir ke meja.<br />

Agak lama memang. Tapi saya merasa tak<br />

bosan karena mata saya dimanjakan oleh desain<br />

restoran yang elegan. Hingga akhirnya seorang<br />

pelayan wanita membawakan hidangan<br />

yang saya pesan.<br />

Minuman pesanan teman saya, Otel Punch,<br />

disajikan dalam gelas cantik. Warnanya merah<br />

menyala karena campuran leci, sitrus stroberi,<br />

nanas, dan jeruk.<br />

Ketika saya mencobanya, rasa asam stroberi<br />

begitu domi nan, sementara cita rasa soda yang<br />

agak tajam membawa sensasi menyegarkan.<br />

Chamomile Tea pesanan saya disajikan dalam<br />

poci porselen berwarna putih. Ketika teh dituangkan<br />

ke cangkir bermotif bunga, tampaklah<br />

airnya yang jernih berwarna kekuningan.<br />

Hiruplah terlebih dahulu aroma teh yang<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


KULINER<br />

menenangkan. Ketika diteguk, teh ini terasa<br />

begitu ringan dan menyegarkan. Jika ingin rasa<br />

yang manis, bisa tambahkan gula pasir atau<br />

brown sugar.<br />

Teh ini punya banyak manfaat untuk menyembuhkan<br />

berbagai penyakit. Salah satunya<br />

menghilangkan stres. Jadi, saya rasa, minuman<br />

ini sangat cocok dinikmati di sela-sela aktivitas<br />

yang padat.<br />

Hidangan pembuka Pigs in The Blanket menjadi<br />

makanan sasaran pertama saya. Meskipun<br />

menu ini menggunakan embel-embel “pigs”,<br />

bahan bakunya sama sekali tidak mengandung<br />

unsur daging babi.<br />

Empat potong sosis sapi gempal disajikan<br />

di atas wadah kayu dibalut lembaran pastry<br />

yang tak terlalu tebal. Bubuk peterseli dan keju<br />

membuat tampilan menu ini makin menggiur-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


KULINER<br />

kan.<br />

Satu potong sosis bisa dimakan<br />

sekaligus. Lidah serasa dimanjakan<br />

oleh tekstur sosisnya yang<br />

juicy berpadu dengan kulit pastry<br />

yang renyah dan berlapis-lapis.<br />

Rasa gurih sosis makin mantap dengan<br />

tambahan saus mustard yang asam.<br />

Menurut saya, hidangan nikmat ini<br />

sungguh wajib dicoba. Tak akan menyesal.<br />

Puas dengan hidangan pembuka,<br />

saya menaruh harapan lebih pada<br />

Local Duck Confit. Tampilannya menarik,<br />

dari potongan kentang, suiran sayur<br />

bayam, bawang bombai, dan bebek goreng<br />

kecokelatan.<br />

Saus berwarna kecokelatan yang saya duga<br />

adalah saus marmalade (hasil awetan buahbuahan<br />

dan kulit jeruk yang dimasak bersama<br />

gula) turut menghiasi satu piring besar Local<br />

Duck Confit.<br />

Ketika saya bongkar susunan ini, green<br />

chillies terlihat menyusup di bawah potongan<br />

kentang goreng. Saya tergoda untuk<br />

mencicipi kentang berbalut sambal hijau ini.<br />

Kentangnya tidak terlalu garing tapi begitu<br />

lembut dan langsung lumer di lidah. Kehadiran<br />

sambal hijau ini efektif membangkitkan selera<br />

makan.<br />

Sementara itu, daging bebeknya tidak terlalu<br />

besar, kulitnya cukup garing dan lembut di bagian<br />

dalam. Selingi dengan bayam dan bawang<br />

bombai sehingga tidak terasa enek.<br />

Rasa dagingnya memang tidak terlalu gurih,<br />

tetapi, saran saya, nikmatilah seluruh komponen<br />

bersamaan. Dijamin, perpaduan cita rasanya<br />

tidak akan mengecewakan.<br />

Saya harus menunggu sekitar 15 menit lagi<br />

untuk mendapatkan satu Chocolate Souffle,<br />

yang menggembung dengan sempurna di atas<br />

wadah keramik.<br />

Meskipun ada sedikit retakan di bagian atasnya,<br />

hidangan cake semipuding yang tergolong<br />

sulit ini sukses dihidangkan Otel Lobby. Ketika<br />

dibelah dengan sendok, Chocolate Souffle<br />

langsung mengempis.<br />

Tekstur souffle memang ringan karena terbu-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


KULINER<br />

at dari kuning telur dan putih telur yang dikocok<br />

hingga kaku. Avocado sauce saya tuangkan ke<br />

atas dessert ini.<br />

Rasa khas cokelat dipadu dengan rasa gurih<br />

gula halus dan avocado sauce menjadi sajian<br />

penutup yang begitu pas. Lain kali, saya akan<br />

memesannya lagi.<br />

Oh iya, Otel Lobby juga punya satu layanan<br />

spesial. Setiap menu bisa disesuaikan dengan<br />

permintaan tamu yang memiliki dietary restrictions.<br />

Tamu yang memiliki kebutuhan khusus bisa<br />

meminta kepada pelayan untuk dibuatkan sajian<br />

yang rendah garam, gula, atau lemak sesuai<br />

dengan kebutuhan. Jadi, jangan ragu untuk<br />

mampir. n MELISA MAILOA | KEN YUNITA<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

PROGRAM<br />

MENIRU<br />

PROTON<br />

ADIPERKASA MENGGAGAS<br />

PRODUKSI MOBIL NASIONAL<br />

DIBANTU PROTON MALAYSIA.<br />

DIBEKINGI PERUSAHAAN<br />

PERTAMBANGAN.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

Pabrik Proton di Shah Alam,<br />

Malaysia.<br />

GOH SENG CHONG/GETTY IMAGES<br />

SALAH satu kantor pengacara di<br />

kawasan Dharmawangsa, Jakarta<br />

Selatan, itu banyak mendapat tamu<br />

wartawan sepekan silam. Bergantiganti<br />

para wartawan cetak, televisi, atau online<br />

datang menyambangi dengan wajah ingin tahu.<br />

Semuanya sama: ingin tahu kantor PT Adiperkasa<br />

Citra Lestari, perusahaan yang mendadak<br />

terkenal karena berencana membangun mobil<br />

nasional dibantu Proton dari Malaysia.<br />

Petugas front office menyatakan kantor itu<br />

bukan kantor Adiperkasa, melainkan kantor<br />

pengacara salah satu anak petinggi Adiperkasa.<br />

“Kemarin juga ada wartawan TV ke sini,” kata<br />

petugas front office yang enggan disebut namanya<br />

itu.<br />

Semua memang penasaran mengapa tibatiba<br />

saja Presiden Joko Widodo dan Perdana<br />

Menteri Malaysia Najib Razak ikut menyaksikan<br />

penandatanganan nota kesepahaman antara<br />

Adiperkasa—yang diwakili Abdullah Mahmud<br />

Hendropriyono—dan Presiden Direktur Proton,<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

Dato’ Abdul Harith Abdullah, di Kuala Lumpur.<br />

Bisa jadi kantor Adiperkasa susah dilacak<br />

karena perusahaan ini pada dasarnya special<br />

vehicle, istilah bisnis untuk merujuk pada perusahaan<br />

yang hanya terdaftar resmi lengkap<br />

dengan direksinya tapi sering kali tidak memiliki<br />

kantor atau karyawan.<br />

Fungsi perusahaan semacam ini untuk mempermudah<br />

kerja sama dengan perusahaan lain<br />

Kalau dengan negara lain, kami hanya jadi<br />

market-nya, sedangkan kami maunya jadi<br />

salah satu produsen juga<br />

atau gampang jika nantinya dipecah kepemilikan<br />

sahamnya. Perusahaan lazimnya memakai<br />

sistem special vehicle karena bisa membatasi<br />

risiko bisnis jika bisnis barunya bermasalah.<br />

“Adiperkasa adalah PT yang baru kami beli,<br />

sebagai special vehicle untuk kerja sama ini saja,”<br />

kata Edi Yosfi, Presiden Komisaris Adiperkasa.<br />

“Kami kan banyak bisnisnya, ada di properti,<br />

ada di pertambangan.”<br />

Edi Yosfi memang bergelut di bisnis pertambangan.<br />

Nama Edi, misalnya, muncul tahun lalu<br />

saat menandatangani nota kerja sama dengan<br />

perusahaan India untuk membangun pembangkit<br />

listrik di Sulawesi. Saat Presiden Susilo<br />

Bambang Yudhoyono mantu di Puncak, Bogor,<br />

namanya juga muncul karena membawa mobil<br />

supermewah Bentley.<br />

Tapi Edi enggan menjelaskan secara terperinci<br />

perusahaan ini atau bagaimana bentuk usaha<br />

patungan dengan Proton jika sudah terlaksana.<br />

Ia hanya mengatakan Adiperkasa memilih<br />

Proton karena perusahaan otomotif asal negeri<br />

jiran itu memiliki tim riset dan pengembangan<br />

mobil nasional yang bagus. Proton juga sukses<br />

menjadi mobil nasional di sana.<br />

Sebaliknya, jika menggandeng produsen<br />

otomotif dari Jepang, Eropa, atau negara lain,<br />

Adiperkasa tidak bisa berkembang menjadi<br />

produsen. “Kalau dengan negara lain, kami hanya<br />

jadi market-nya, sedangkan kami maunya<br />

jadi salah satu produsen juga,” kata Edi.<br />

Kerja sama Adiperkasa dengan Proton akan<br />

diawali dengan studi kelayakan selama enam<br />

bulan. Kajian itu untuk menilai apakah membu-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

Presiden Joko Widodo<br />

mendapat penjelasan soal<br />

mobil nasional Malaysia.<br />

REUTERS<br />

at mobil nasional secara ekonomis layak atau<br />

tidak.<br />

Adiperkasa dan Proton akan bekerja sama<br />

membentuk tim untuk melaksanakan kajian<br />

kelayakan tersebut. Kajian itu antara lain aspek<br />

teknis, kondisi pasar, ketersediaan vendor, serta<br />

lokasi pabrik.<br />

Edi menambahkan, Adiperkasa sudah memiliki<br />

gambaran untuk lokasi pabrik nantinya.<br />

Namun dia menolak menyebut lokasi persisnya<br />

karena harus menunggu hasil feasibility study.<br />

“Kami ingin membuat mobil, tentunya mobil<br />

nasional, tapi mobil nasional itu kami pelajari<br />

dulu. Kalau ekonomis, baru kami jalan,” tutur<br />

Edi.<br />

Rencana Adiperkasa dengan Proton membuat<br />

mobil nasional mengundang pertanyaan<br />

produsen otomotif yang tergabung dalam<br />

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo).<br />

Sebab, kalangan industri otomotif Indonesia—yang<br />

bekerja untuk membuat dan memasarkan<br />

mobil dengan merek asing—selama<br />

ini tidak pernah diajak pemerintah membahas<br />

soal membuat mobil nasional.<br />

Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto mengatakan<br />

Indonesia memang pernah punya aturan<br />

tentang kriteria mobil nasional, tapi pada<br />

pemerintahan Orde Baru. Pemerintah saat itu<br />

meluncurkan proyek mobil nasional dengan<br />

merek Timor pada 1996 dan perusahaan itu<br />

dibebaskan dari bea masuk komponen serta<br />

pajak barang mewah.<br />

Selain masalah kriteria mobil nasional, rekam<br />

jejak Adiperkasa dipertanyakan karena sebe-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

AHMAD YUSNI/GETTY IMAGES<br />

lumnya tidak pernah terdengar di kalangan<br />

pelaku industri otomotif Indonesia, terutama<br />

yang tergabung dalam Gaikindo. “Setahu saya<br />

dia bukan anggota,” tutur Jongkie.<br />

Karena kerja sama ini murni urusan swasta,<br />

pemerintah hanya bisa menunggu. Menteri<br />

Perindustrian Saleh Husin mengatakan, jika<br />

kajian positif dan Adiperkasa-Proton memutuskan<br />

meneruskan proyek, mereka mesti mengajukan<br />

izin kepada Badan Koordinasi Penanaman<br />

Modal dan Kementerian Perindustrian.<br />

Jika tidak layak, kata Saleh, proyek itu harus<br />

berhenti. “Kita lihat saja yang dari Malaysia ini<br />

apakah feasibility study-nya feasible, bisa jalan,”<br />

kata Saleh di hadapan Komisi Industri DPR. n<br />

HANS HENRICUS B.S. ARON<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

BUKAN TIMOR<br />

JILID II<br />

BERBEDA KEPADA TIMOR,<br />

PEMERINTAH TAK MEMBERI<br />

PERLAKUAN KHUSUS<br />

TERHADAP “MOBIL<br />

NASIONAL” VERSI PROTON.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

Penandatanganan nota<br />

kesepahaman Proton<br />

dengan PT Adiperkasa Citra<br />

Lestari.<br />

DOK. PROTON<br />

SEKITAR satu atau dua tahun setelah<br />

pemerintahan Presiden Soeharto<br />

dijatuhkan lewat serangkaian<br />

unjuk rasa, ribuan unit sedan bercap<br />

Timor mangkrak di sebuah lahan di Cikampek,<br />

Jawa Barat, dan sebagian lagi di Sunter, Jakarta<br />

Utara. Debu tebal menutupi deretan mobil itu.<br />

Debu-debu itu seperti menjadi simbol kegagalan<br />

proyek mobil nasional yang diberikan<br />

kepada perusahaan milik Tommy Soeharto<br />

tersebut. Proyek yang bertujuan menciptakan<br />

mobil sendiri akhirnya malah hanya menjadi<br />

importir mobil built-up.<br />

Tak mengherankan jika, begitu kabar dari<br />

Malaysia bahwa PT Adiperkasa Citra Lestari,<br />

perusahaan dari Indonesia yang dipimpin<br />

Abdullah Mahmud Hendropriyono, akan<br />

membuat mobil nasional bekerja sama dengan<br />

Proton dari Malaysia, kontroversi muncul.<br />

Tidak banyak orang yang bisa melupakan nasib<br />

buruk mobil nasional Timor.<br />

Pemerintah pun berusaha meredam kontroversi<br />

ini. “Tidak akan ada perlakuan khusus<br />

(bagi Adiperkasa atau Proton),” kata Menteri<br />

Perindustrian Saleh Husin. “Yang dikhawatirkan<br />

kan takut terjadi seperti zaman dulu, ada<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

Yang dikhawatirkan kan takut<br />

terjadi seperti zaman dulu, ada<br />

perlakuan khusus sehingga<br />

akhirnya (program mobil nasional<br />

Timor) diperingatkan WTO.<br />

Saleh Husin<br />

HASAN/DETIKCOM<br />

perlakuan khusus sehingga akhirnya (program<br />

mobil nasional Timor) diperingatkan WTO.”<br />

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bersikap<br />

galak kepada kasus Timor karena pemerintah<br />

Indonesia dipandang diskriminatif. Mereka<br />

memberi perlakuan khusus hanya pada satu<br />

perusahaan dari Korea Selatan, yakni Kia Motors,<br />

tapi tidak kepada perusahaan lain. Dalam<br />

peraturan WTO, tidak boleh ada perlakuan<br />

khusus kepada satu perusahaan atau negara<br />

tertentu.<br />

Timor mulai dijual pada Oktober 1996 dengan<br />

harga sangat miring, hanya Rp 35 juta. Ini<br />

adalah sedan termurah<br />

karena saat itu<br />

umumnya sedan dijual<br />

dengan harga di<br />

atas Rp 50 juta. Harga<br />

bisa begitu miring<br />

karena pemerintah<br />

memasukkan Timor<br />

dalam program<br />

mobil nasional. Artinya,<br />

Timor tak perlu<br />

membayar pajak bea masuk komponen dan<br />

pajak barang mewah, tak seperti mobil lain.<br />

Lewat program ini, mestinya Timor dibuat<br />

di dalam negeri dengan kandungan lokal naik<br />

bertahap, dari 20 persen di tahun pertama, 40<br />

persen di tahun kedua, dan 60 persen di tahun<br />

ketiga. Sayangnya, syarat itu cuma berlaku di<br />

atas kertas karena kenyataannya justru mengimpor<br />

mobil sedan dari pabrik Kia Motors di<br />

Korea Selatan.<br />

Ini sebabnya WTO geram, mengapa perusahaan<br />

Korea Sela tan mendapat perlakuan<br />

khusus. WTO meminta pemerintah mencabut<br />

fasilitas bebas pajak dan bebas bea masuk karena<br />

hanya diberikan kepada satu perusahaan,<br />

sehingga akan menimbulkan persaingan tidak<br />

sehat. Akhirnya, pemerintah mencabut semua<br />

fasilitas tersebut dan proyek Timor berhenti<br />

pada 1998 seiring kejatuhan rezim Orde Baru.<br />

Berkaca pada peng alaman itu, tak aneh jika<br />

kontroversi kerja sama dengan Proton menyeruak.<br />

Apalagi, saat penandatanganan nota<br />

kesepahaman antara Adiperkasa dan Proton<br />

untuk membuat studi kelayakan, Presiden<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

Mobil Timor yang<br />

mendapat perlakukan<br />

khusus pemerintahan Orde<br />

Baru.<br />

DOK. MOBILTIMOR.COM<br />

Joko Widodo dan Perdana Menteri Malaysia<br />

Najib Tun Abdul Razak ikut datang menyaksikan.<br />

Apalagi Hendropriyono, bos Adiperkasa,<br />

adalah anggota tim sukses saat pemilihan<br />

presiden.<br />

Rapat kerja dengan DPR yang mestinya<br />

membahas anggaran, misalnya, malah menjadi<br />

ajang para legislator menanyakan program ini<br />

kepada Menteri Perindustrian. Salah satunya<br />

adalah Wakil Ketua Komisi VI Azam Azman<br />

Natawijana. Azam meminta Saleh Husin menjelaskan<br />

peran pemerintah karena proyek itu<br />

mengusung mobil nasional Indonesia.<br />

Menurut Saleh, tidak ada pembahasan apa<br />

pun di tingkat pemerintah untuk menghidupkan<br />

kembali proyek mobil nasional. Dia juga<br />

mengatakan tidak tahu detail tentang proyek<br />

mobil nasional itu karena tidak ikut dalam<br />

kunjungan Presiden Jokowi ke Malaysia. Selain<br />

itu, Kementerian Perindustrian belum pernah<br />

bertemu dengan pihak Proton dan Adiperkasa.<br />

“Datang ke kami saja belum, bagaimana mau<br />

tahu?” ujar Saleh.<br />

Justru, menurut Saleh, yang saat ini pemerintah<br />

lakukan adalah mengundang investasi<br />

di sektor otomotif sebanyak-banyaknya. Pemberian<br />

fasilitas khusus kepada satu perusahaan<br />

bisa membuat investor lari. Pemerintah, katanya,<br />

menjamin tidak ada fasilitas khusus bagi<br />

investor tertentu.<br />

Sedangkan Presiden Joko Widodo di tempat<br />

lain mengatakan ia datang ke acara penan-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

Pabrik Proton di Shah<br />

Alam, Malaysia.<br />

GOH SENG CHONG/BLOOMBERG VIA<br />

GETTY IMAGES<br />

datanganan nota kerja sama itu karena diundang.<br />

“Jadi, kemarin karena diundang Doktor<br />

Mahathir dan PM (Perdana Menteri) Najib, ya<br />

saya datang,” kata Jokowi, yang juga menyebut<br />

nama bekas Perdana Menteri Malaysia yang<br />

menjadi Presiden Komisaris Proton.<br />

Pihak Adiperkasa menjamin tidak akan melibatkan<br />

pemerintah ataupun meminta fasilitas<br />

khusus kepada pemerintah dalam kerja samanya<br />

dengan Proton. “Kami tidak akan seperti<br />

sekarang, tahap feasibility study dulu, dan kami<br />

juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan,”<br />

kata Presiden Komisaris Adiperkasa, Edi<br />

Yosfi.<br />

Selain itu, Edi memastikan kerja sama dengan<br />

Proton sama sekali tidak akan memakai dana<br />

pemerintah. Sumber investasi proyek—karena<br />

membuat pabrik mobil sangat mahal—berasal<br />

dari pinjaman. Ia memperkirakan pinjaman<br />

akan mencapai 70 persen biaya. “Nah, yang<br />

30 persen ini nanti kami sharing (patungan)<br />

dengan Proton,” kata Edi. n HANS HENRICUS B.S. ARON<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

NGEBUT<br />

DIBAWA<br />

MAHATHIR<br />

IDE DAN LANGKAH<br />

PROTEKSI MAHATHIR<br />

MEMBUAT PROTON<br />

SUKSES.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

Presiden Joko Widodo saat<br />

menyaksikan pabrik Proton<br />

di Shah Alam, Malaysia.<br />

OLIVIA HARRIS/REUTERS<br />

BERITA ini muncul mungkin di seluruh<br />

media massa Malaysia. Presiden<br />

Indonesia Joko Widodo duduk di<br />

bangku mobil yang ngebut dengan<br />

bekas Perdana Menteri Malaysia Mahathir<br />

Mohamad menginjak gas di belakang kemudi.<br />

Mahathir, pada usia 90 tahun, sangat bangga<br />

dengan kemampuan menyetirnya dan memuji<br />

Presiden Indonesia, yang tetap tenang duduk<br />

di kursi samping. “Biasanya orang tidak suka<br />

disopiri menikung oleh orang 90 tahun, tapi ia<br />

tidak takut,” katanya setelah membawa Jokowi<br />

berkeliling dengan seri Proton terbaru, Proton<br />

Iriz. Ia pun kemudian secara tidak langsung<br />

membanggakan prestasi negaranya. “Dalam<br />

beberapa hal, Malaysia mungkin bisa menjadi<br />

model (bagi Indonesia),” katanya seperti dikutip<br />

The Star dan sejumlah media setempat lain.<br />

Ia memang patut berbangga. Ia berhasil<br />

membawa Malaysia dari negara berkembang<br />

menjadi kelompok menengah, dan salah satu<br />

warisannya adalah industri mobil nasional. Tidak<br />

banyak negara di dunia yang sukses dengan<br />

mobil merek lokal dari industri yang juga dimiliki<br />

warga lokal. Indonesia pernah mencoba,<br />

lewat Timor, tapi gagal total.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

Pabrik mesin Proton<br />

rancangan sendiri, diberi<br />

nama CamPro, di Shah<br />

Alam. Proton baru mulai<br />

menggunakan mesin<br />

rancangan sendiri setelah<br />

dua dekade beroperasi.<br />

GOH SENG CHONG/BLOOMBERG VIA<br />

GETTY IMAGES<br />

Ide mobil nasional pertama kali diungkapkan<br />

oleh Mahathir pada 1979 dan baru tiga tahun<br />

kemudian disetujui resmi oleh pemerintah.<br />

Malaysia memutuskan membuat perusahaan<br />

mobil yang sahamnya dimiliki perusahaan investasi<br />

pemerintah, Khazanah Nasional. Langkah<br />

pertama setelah berdiri adalah mencari<br />

perusahaan otomotif top yang mau menjadi<br />

“induk angkat” dan akhirnya mereka bekerja<br />

sama dengan Mitsubishi.<br />

Mobil pertama didasarkan pada Mitsubishi<br />

Lancer dan diberi nama Proton Saga. Mesin<br />

juga masih menggunakan Mitsubishi. Mobil<br />

yang diluncurkan pada 1985 ini sangat sukses<br />

dan dalam waktu setahun langsung menguasai<br />

60 persen pasar. Produk ini diekspor ke sejumlah<br />

negara, dari Inggris sampai Indonesia. Di<br />

Jakarta, mobil ini dijadikan armada taksi oleh<br />

salah satu operator.<br />

Tapi pemerintah tidak cuma membuat pabrik<br />

mobil begitu saja. Sejumlah langkah dilakukan<br />

agar Proton bisa bertahan melawan merekmerek<br />

global yang kuat. Langkah-langkah ini<br />

membuat mobil bermerek asing tambah mahal,<br />

apalagi jika tidak dirakit di Malaysia.<br />

Sejak 1970-an, Malaysia hanya memberi izin<br />

pabrik perakitan mobil jika saham mayoritas<br />

dimiliki warga Melayu (Bumiputera). Atau, jika<br />

pabriknya itu ada di wilayah terpencil, seperti<br />

Sabah atau Sarawak, yang terletak di Kalimantan<br />

Utara.<br />

Kebijakan ini membuat unit bisnis peme-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

Presiden Joko Widodo<br />

melihat mobil andalan<br />

Proton yang baru, Iriz.<br />

UDDEN ABDUL/ANTARA<br />

rintah Malaysia memegang 70 persen saham<br />

Proton dan sisanya Mitsubishi. Belakangan,<br />

pemerintah melepas kepemilikan dan sekarang<br />

sebagian dimiliki perusahaan swasta. Selain itu,<br />

posisi saham Mitsubishi sudah berubah.<br />

Pemerintah Malaysia juga memberi insentif<br />

perusahaan yang dipandang menjadi pionir<br />

industri tertentu. Insentif ini berupa potongan<br />

pajak yang sangat besar dan ini sangat menguntungkan<br />

Proton.<br />

Langkah proteksi ini membuat harga Proton<br />

menjadi sangat murah dan populer. Tapi, sejak<br />

sekitar satu dekade ini, pasar bebas ASEAN<br />

untuk bidang otomotif mulai dijalankan. Mobil<br />

dari negara ASEAN lain mulai masuk dengan<br />

tarif pajak yang lebih miring.<br />

Mahathir Mohamad, yang sekarang menjadi<br />

Presiden Komisaris Proton, pun mengeluhkan<br />

hilangnya perlindungan bagi mobil nasional<br />

mereka ini. Ia menuduh perusahaan mobil<br />

impor kadang melakukan dumping. “Mereka<br />

bisa jual rugi di Malaysia, karena untungnya<br />

bisa didapat di tempat lain,” katanya tahun lalu<br />

seperti dikutip Malaysia Insider. “(Otomotif)<br />

Malaysia masih kecil, jadi masih butuh perlindungan<br />

bagi industri otomotif kita.”<br />

Meski mobil nasional sukses, ada juga warga<br />

Malaysia yang mengkritik kebijakan ini karena<br />

membuat pabrikan mobil luar enggan menanam<br />

modal di sana. Mereka tidak mau membuat<br />

mobil karena mendapat diskriminasi dari<br />

pemerintah. Akibatnya, investasi membangun<br />

pabrik lebih banyak dikucurkan ke Thailand. n<br />

NUR KHOIRI<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


EKONOMI MOBIL<br />

NASIONAL<br />

KISAH DUA MOBIL NASIONAL<br />

SAMA-SAMA mendapat proteksi pemerintah. Sama-sama mendapat fasilitas khusus<br />

dari negara. Tapi mengapa kisah Timor dan Proton jauh berbeda? Timor, yang digagas<br />

sebagai mobil nasional, kini sudah lenyap dan menjadi salah satu simbol kegagalan<br />

Orde Baru. Sedangkan Proton masih berjaya dan Mahathir Mohamad, yang menjadi penggagasnya,<br />

masih membanggakan kepada siapa saja sampai sekarang.<br />

PROTON<br />

TIMOR<br />

Asal: Malaysia<br />

Merek: Proton<br />

Perusahaan: Perusahaan Otomobil<br />

Nasional Sdn. Bhd.<br />

Pemegang Saham: Perusahaan<br />

pemerintah 70 persen, Mitsubishi 30<br />

persen<br />

Produk Pertama:<br />

• Proton Saga<br />

• Berbasis Mitsubishi Lancer<br />

Asal: Indonesia<br />

Merek: Timor<br />

Perusahaan: PT Timor Putra<br />

Nusantara<br />

Pemegang Saham: Swasta terkait<br />

penguasa (Tommy Soeharto)<br />

Produk Pertama:<br />

• Timor S515<br />

• Di negara lain, mobil serupa<br />

dikenal sebagai Kia Sephia.<br />

Tahun: 1985<br />

Pabrik Produk Pertama:<br />

Dalam negeri di Shah Alam, Malaysia<br />

Kandungan Lokal Produk Pertama:<br />

• 18 persen<br />

• Awalnya menggunakan mesin buatan<br />

Mitsubishi, membuat sendiri<br />

mulai 1989 meski masih desain<br />

Mitsubishi. Lima tahun berdiri,<br />

kandungan lokal sudah 65 persen.<br />

Awal 2000-an mulai menggunakan<br />

mesin desain perusahaan mobil<br />

sport Inggris yang mereka caplok,<br />

Lotus Cars.<br />

Proteksi/Fasilitas Pemerintah:<br />

• Potongan pajak karena industri<br />

pionir<br />

• Pajak tinggi bagi kendaraan impor<br />

Kontroversi:<br />

Merek global enggan berinvestasi di<br />

Malaysia, sehingga modal dipindah ke<br />

Thailand dan negeri itu menjadi “Detroit<br />

Asia”.<br />

Kondisi Saat Ini:<br />

Dengan harga murah, Proton sangat<br />

laris di Malaysia dan sudah diekspor<br />

ke beberapa negara. Sejak 2003, pasar<br />

terbuka ASEAN untuk otomotif sudah<br />

terbuka dan Proton masih cukup bunyi<br />

di pasar dalam negeri Malaysia.<br />

Tahun: 1996<br />

Pabrik Produk Pertama:<br />

Luar negeri, di Hwaseong, Korea Selatan<br />

Kandungan Lokal Produk Pertama:<br />

• 0 persen (?)<br />

• Timor mengimpor utuh dari<br />

Korea Selatan. Hanya cap Kia<br />

Sephia yang diganti menjadi<br />

Timor S515.<br />

Proteksi/Fasilitas Pemerintah:<br />

• Bebas pajak barang mewah<br />

• Bebas pajak bea masuk komponen<br />

Kontroversi:<br />

• Pemerintah hanya memberi fasilitas<br />

ini kepada Timor, yang dimiliki<br />

anak Presiden Soeharto.<br />

• WTO memandang Indonesia<br />

memberi perlakuan khusus kepada<br />

Kia dari Korea Selatan.<br />

Kondisi Saat ini:<br />

Fasilitas untuk Timor dicabut saat<br />

Reformasi 1998. Belakangan, Timor<br />

kembali berubah nama menjadi Kia<br />

kembali.<br />

NASKAH: NUR KHOIRI<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

MAL TUA BERSALIN RUPA<br />

SEJUMLAH MAL TUA YANG SEMPAT DITINGGAL PELANGGAN BERHASIL MEMBALIK<br />

PERUNTUNGAN SETELAH BERALIH RUPA DAN BERGANTI STRATEGI.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

Salah satu mal di<br />

Jakarta Selatan sedang<br />

memperluas bangunan<br />

utama.<br />

ARI SAPUTRA/DETIKCOM<br />

PADA masa kejayaannya, mal itu sangat<br />

ramai. Pengunjungnya begitu<br />

padat. Tak cuma di dalam gedung,<br />

tapi juga meluber ke jalanan sehingga<br />

membuat jalan raya di depannya mampet.<br />

Pengusaha berebut sewa tempat, bahkan<br />

kadang di bagian depan dipasang tenda agar<br />

ada ruang untuk disewa buat memamerkan<br />

mobil, misalnya.<br />

Tapi roda nasib terus berputar. Peruntungan<br />

pusat belanja itu—Mal Depok namanya—terjun<br />

bebas sekitar 10 tahun silam. Gara-garanya<br />

sederhana. Semula mal ini satu-satunya<br />

di Kota Depok, tapi dalam waktu hampir bersamaan<br />

datang dua pesaing baru yang tampil<br />

lebih baru dan segar. Bukan cuma itu, penghuni<br />

utama di mal itu, pusat belanja Matahari,<br />

pindah ke salah satu mal baru itu. “Itu yang<br />

menyebabkan penurunan drastis jumlah pengunjung<br />

kami,” ucap Andi Arifianto, Manajer<br />

Promosi dan Iklan D’Mall—sebutan baru Mal<br />

Depok.<br />

Mal Depok kemudian mengubah diri. Sejak<br />

2010, sejumlah strategi dipasang, mulai memermak<br />

penampilan depan sampai mengubah<br />

segmen pasar, dari mal keluarga menjadi<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

Kegiatan komunitas untuk<br />

menjaring pengunjung di<br />

Blu Plaza, Bekasi.<br />

BUDI ALIMUDDIN/DETIKCOM<br />

mal mahasiswa dan kalangan muda. Langkah<br />

ini cukup berhasil. Semula hanya 5.000-7.000<br />

orang yang datang per hari, kini meningkat<br />

dua kali lipat. “Kini kami dapat limpahan pengunjung<br />

10-15 ribu orang setiap hari,” ucap<br />

Andi.<br />

Nasib mal memang berbeda-beda. Ada<br />

yang karena ketangkasan manajemen, lokasi,<br />

dan sebagainya yang membuat mal terus<br />

ramai selama belasan tahun, bahkan lebih.<br />

Pesaing datang dan pergi, tapi posisi mereka<br />

tidak tergoyahkan. Mereka pun kadang tidak<br />

banyak melakukan perubahan berarti. Blok M<br />

Mall di kawasan Jakarta Pusat atau Citraland<br />

di Jakarta Barat, misalnya. Penampilan dua<br />

mal ini nyaris tidak berubah dibanding pada<br />

1990-an. Mereka yang tidak datang selama<br />

10 tahun, misalnya, tidak akan pangling saat<br />

kembali datang.<br />

Tapi beberapa mal menjadi surut begitu<br />

pesaing datang atau zaman berubah. Maka<br />

beberapa mal tua ini mempercantik diri agar<br />

tidak kalah dengan mal-mal yang masih muda<br />

dan baru. Langkahnya tak cuma memperbaiki<br />

penampilan, tapi juga mengubah strategi agar<br />

pengunjung ramai berdatangan.<br />

Mal Depok salah satunya. Yang lain di antaranya<br />

Plaza Cibubur di kawasan Jalan Transyogi<br />

atau Kramat Jati Indah. Plaza Cibubur<br />

semula tampak agak “kumuh”. Begitu masuk<br />

mal, langsung bertemu pedagang yang menyewa<br />

lapak-lapak kecil. Tapi kini lobi tampak<br />

lega, lantai terlihat mengkilap seperti cermin.<br />

Gedung parkir juga ditambah sehingga mempermudah<br />

pengunjung yang semula sangat<br />

susah mencari tempat untuk memarkir kendaraan.<br />

Mal itu awalnya merupakan satu-satunya<br />

pusat belanja di Cibubur. Tapi belakangan<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

Kami ingin<br />

menguatkan<br />

segmentasi<br />

pusat belanja<br />

anak muda<br />

yang trendi,<br />

fashionable,<br />

dan memiliki<br />

gaya hidup<br />

berbeda.<br />

muncul pesaing, yakni Cibubur Junction dan<br />

Mal Ciputra, yang lokasinya hanya 2-3 kilometer<br />

dari mereka.<br />

Direktur Operasional Plaza Cibubur, Tanto<br />

Djarot, mengakui, sejak 2005 pengunjung<br />

mulai berkurang. Tapi, menurut dia, ini bukan<br />

karena kehadiran mal-mal baru, melainkan<br />

akibat turunnya daya beli masyarakat. “Kalau<br />

sekarang sudah meningkat daya beli masyarakat,”<br />

ucapnya. Ia menunjuk kehadiran mal<br />

baru yang pengaruhnya hanya sesaat. “Paling<br />

kalau ada yang baru goyahnya sebulan saja,”<br />

ucapnya.<br />

Tujuan melakukan renovasi, katanya, “Kami<br />

ingin menguatkan brand kami dan memenuhi<br />

tuntutan zaman.”<br />

Hal ini berbeda dengan Mal Depok, yang<br />

mengakui betul bahwa kehadiran mal baru<br />

sempat memukul mereka. Karena tidak ingin<br />

mengulang kesalahan yang sama, mereka<br />

mengubah penampilan dan strategi. Mal<br />

Depok berusaha meninggalkan citra mal keluarga.<br />

“Kami ingin menguatkan segmentasi<br />

pusat belanja anak muda yang trendi, fashionable,<br />

dan memiliki gaya hidup berbeda dengan<br />

yang lainnya,” ucapnya.<br />

Alasan memilih segmen anak muda adalah<br />

lokasi mal berada di lingkungan beberapa<br />

kampus besar, seperti Universitas Indonesia<br />

dan Universitas Gunadarma. Selain itu, di bagian<br />

belakang dibangun apartemen 23 lantai<br />

yang mengincar para mahasiswa sebagai penyewa.<br />

Maka, toko-toko terkait anak muda—dan<br />

tempat nongkrong, seperti kafe—ditambah.<br />

“Penghuni apartemen akan dimudahkan<br />

dalam urusan belanja kebutuhan sehari-hari,<br />

sandang, dan memenuhi gaya hidupnya, seperti<br />

makan dan bersosialisasi dengan temantemannya<br />

di bawah,” ucapnya.<br />

Kadang kala mal juga diubah karena sedari<br />

awal tidak pernah kebanjiran pengunjung. Ini<br />

seperti Blu Plaza di Bekasi, yang berdiri pada<br />

2006. Grup Lippo, yang mencaplok pusat<br />

belanja ini pada 2013, segera memermak<br />

agar tampil baru. Tempat parkir, misalnya,<br />

diperbaiki. Dinding luar dicat ulang. Taman<br />

diperbaiki.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

Blu Plaza setelah dipermak.<br />

BUDI ALIMUDDIN/DETIKCOM<br />

Tak cuma secara fisik, manajemen juga<br />

agresif mempertajam pasar untuk menggaet<br />

pengunjung. Wisnu Wardana, Manajer Pemasaran<br />

Blu Plaza, mengatakan mereka terus<br />

membuat acara agar target pasar utama<br />

mereka—kalangan keluarga dan komunitas—<br />

gemar datang ke sana. “Kami menyediakan<br />

ruang yang cukup luas bagi semua komunitas<br />

kreatif di Bekasi untuk berkumpul dan mengekspresikan<br />

diri di sini,” ucapnya.<br />

Wisnu mencontohkan, setiap hari Kamis<br />

pihaknya mempersilakan komunitas penari,<br />

baik tari modern maupun tradisional, di Bekasi<br />

untuk melakukan latihan gratis di atrium<br />

Blu Plaza. Rumah makan dan toko peralatan<br />

rumah tangga ditambah. “Kami ingin menguatkan<br />

di segmen keluarga dan komunitas<br />

tadi,” ucapnya. Langkah ini cukup berhasil.<br />

Semula mal ini sangat sepi, sekarang bisa<br />

kedatangan 5.000-7.000 pengunjung setiap<br />

hari. “Pertumbuhannya 4-5 persen setiap<br />

tahun,” katanya. n BUDI ALIMUDDIN<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

MIMPI PUNYA<br />

BANK<br />

RAKSASA<br />

IDE MENGGABUNGKAN<br />

BANK LOKAL MUNCUL<br />

LAGI. AGAR BISA<br />

BERTAHAN SAAT RAKSASA<br />

PERBANKAN ASEAN<br />

MASUK MULAI 2020.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

Nasabah mengambil uang<br />

di ATM bank besar lokal di<br />

Bintaro, Jakarta Selatan,<br />

Minggu (8/2).<br />

ARI SAPUTRA/DETIKCOM<br />

MENTERI Keuangan Bambang<br />

Brodjonegoro datang ke salah<br />

satu rumah makan di Kebayoran<br />

Baru, Jakarta Selatan, pada akhir<br />

pekan awal bulan ini. Acara itu memang sangat<br />

santai sehingga Pak Menteri, yang tinggal<br />

tidak jauh dari kawa san itu, hanya mengajak<br />

istrinya, Irina Justina Zega, tanpa membawa<br />

penggawanya. Datang juga beberapa petinggi<br />

bank di acara itu.<br />

Dengan santai pula tiba-tiba saja Bambang<br />

mengungkapkan kondisi ideal agar bank<br />

besar pemerintah, Mandiri dan BNI, dilebur<br />

saja menjadi satu supaya lebih kuat. Hal ini<br />

membuat Direktur Utama Bank Mandiri Budi<br />

Gunadi Sadikin, yang duduk di sebelahnya,<br />

tertawa kecil. “Saya enggak bisa komentar<br />

kalau soal ini,” kata Budi.<br />

Pemerintah memang berniat menggabungkan<br />

bank pemerintah untuk menghadapi<br />

Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dalam kesepakatan<br />

dengan negara-negara ASEAN, bank-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

Saya enggak<br />

bisa komentar<br />

kalau soal ini.<br />

Budi Gunadi Sadikin<br />

LAMHOT/DETIKCOM<br />

bank dari sesama negara Asia Tenggara akan<br />

diperlakukan seperti bank lokal mulai 2020.<br />

Artinya, bank Malaysia atau Singapura bakal<br />

bisa beroperasi seperti bank lokal di Jakarta.<br />

Begitu pula sebaliknya, BTN atau BRI, misalnya,<br />

bisa pula membuka cabang di Johor atau<br />

di Vientiane.<br />

Dengan menggabungkan kekuatan, bank<br />

Indonesia bakal lebih kuat. Saat ini bank-bank<br />

Indonesia relatif lebih kecil. Bank terbesar<br />

lokal, Mandiri dan BRI, masing-masing hanya<br />

memiliki aset Rp 700-an triliun. Dibandingkan<br />

dengan bank Malaysia, misalnya, kekuatan ini<br />

lebih kecil.<br />

Bank terbesar Malaysia, Maybank, memiliki<br />

aset lebih dari Rp 1.900 triliun. Bank nomor<br />

dua di sana yang juga beroperasi di Indonesia,<br />

CIMB, memiliki aset Rp 1.300 triliun lebih. Malah,<br />

CIMB ini nyaris saja menjadi bank terbesar<br />

Malaysia, dengan aset di atas Rp 2.000 triliun,<br />

kalau rencana merger dengan bank menengah<br />

RHB tidak dibatalkan pada bulan lalu.<br />

Dengan menggabungkan kekuatan, pemerintah<br />

berharap bank-bank lokal ini bisa<br />

melawan bank-bank dari negara anggota<br />

ASEAN lain, termasuk dari Malaysia dan Singapura,<br />

yang memang besar-besar. Pengamat<br />

perbankan Kodrat Wibowo mengatakan<br />

modal maupun aset yang besar akan menjadi<br />

amunisi untuk merebut pasar di Indonesia<br />

maupun ASEAN.<br />

Modal dan aset yang besar merupakan<br />

jaminan keamanan bagi konsumen untuk<br />

menyimpan dana mereka di bank. Sedangkan<br />

untuk menjadi bank dengan kategori tersebut,<br />

tidak ada jalan selain melakukan merger.<br />

“Merger itu sebuah kewajiban, bukan untuk<br />

mengalahkan tetapi agar memiliki posisi tawar<br />

yang lebih kuat,” kata Kodrat.<br />

Kodrat mengatakan pemerintah bisa mengawali<br />

merger itu dengan bank pemerintah<br />

yang memiliki modal besar, misalnya Mandiri<br />

dengan BNI atau BRI dengan BNI. Cuma, dia<br />

meminta agar rencana merger itu dikaji mendalam<br />

supaya tidak memicu kegaduhan seperti<br />

saat Menteri BUMN era pemerintahan<br />

Presiden SBY, Dahlan Iskan, meminta Mandiri<br />

mengakuisisi BTN.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

Serikat Pekerja Bank BNI<br />

menolak rencana merger.<br />

RACHMAN HARYANTO/DETIKCOM<br />

Saat itu direksi dan karyawan BTN menggelar<br />

demonstrasi menolak rencana tersebut.<br />

Akhirnya Sekretaris Kabinet saat itu, Dipo<br />

Alam, menyurati Menteri Koordinator Perekonomian<br />

Hatta Rajasa, Menteri Keuangan<br />

Chatib Basri, dan Dahlan Iskan untuk membatalkan<br />

rencana akuisisi tersebut.<br />

Padahal, menurut Dahlan, aksi korporasi<br />

itu akan membuat BTN dan Mandiri menjadi<br />

bank yang besar. Maksudnya, akan memperbesar<br />

BTN, memperbesar Mandiri untuk jago<br />

di kawasan regional dan internasional, serta<br />

supaya perusahaan besar di Indonesia tidak<br />

harus dilayani bank asing. “Kajian sudah sangat<br />

mendalam. Kalau dibilang kajian harus<br />

mendalam, sudah sangat mendalam,” ujar<br />

Dahlan saat masih menjabat Menteri BUMN.<br />

Belajar dari pengalaman itu, pemerintah era<br />

Presiden Jokowi akan menyikapi rencana merger<br />

itu dengan hati-hati, tetapi tidak menutup<br />

peluang itu. “Indonesia sebagai negara besar<br />

di ASEAN harus memiliki bank yang besar<br />

juga,” kata Sofyan Djalil, Menteri Koordinator<br />

Perekonomian.<br />

Namun dia menolak menjelaskan seperti<br />

apa rencana pemerintah untuk menggabungkan<br />

Mandiri dengan BNI. Dia hanya menjelaskan<br />

saat ini pemerintah sedang mengkaji<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BISNIS<br />

Karyawan Bank BTN saat<br />

menolak bank mereka<br />

digabung dengan Mandiri<br />

tahun lalu.<br />

HASAN/DETIKCOM<br />

upaya menguatkan modal bank BUMN untuk<br />

meningkatkan ekspansi.<br />

Namun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai<br />

merger bukan satu-satunya solusi untuk<br />

bersaing dalam pasar bebas ASEAN. Irwan<br />

Lubis, Deputi Pengawasan Perbankan OJK,<br />

mengatakan selama ini bank besar dari negara<br />

ASEAN, seperti Maybank, UOB, dan DBS,<br />

sudah ada di Indonesia dan berkompetisi<br />

dengan bank BUMN.<br />

Justru yang diperlukan untuk menghadapi<br />

pasar bebas ASEAN, menurut Irwan, adalah<br />

konsolidasi strategis antar-bank BUMN. Tujuan<br />

konsolidasi ini adalah untuk memperkuat<br />

jaringan antar-bank BUMN.<br />

Cakupan konsolidasi itu antara lain di bidang<br />

teknologi informasi, dalam infrastruktur<br />

pelayanan konsumen, misalnya di ATM, mesin<br />

EDC, maupun electronic banking. Selain itu,<br />

melakukan konsolidasi dalam pelatihan dan<br />

pengembangan karyawan sehingga antar-bank<br />

BUMN memiliki kualitas SDM yang sama.<br />

Menurut Irwan, pemerintah lebih baik melakukan<br />

konsolidasi ini sebelum memutuskan<br />

merger. “Merger itu harus dikaji secara mendalam<br />

bagaimana opportunity, benefit, serta<br />

peluang yang diperoleh dibandingkan dengan<br />

konsolidasi strategis ini dengan SWOT analysis,”<br />

kata Irwan. n HANS HENRICUS B.S. ARON, DEWI R. KUSUMA<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

PUKULAN TERAKHIR<br />

UNTUK ANWAR<br />

“SEBAGAI ANAK ANWAR IBRAHIM, KAMI AKAN MENGAMBIL ALIH<br />

MANTELNYA DAN MENERUSKAN PERJUANGAN DAN AMBISINYA”<br />

LATIMES<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

Keluarga Anwar<br />

Ibrahim menjelang<br />

pembacaan putusan<br />

Mahkamah Agung<br />

Malaysia, Selasa (10/2)<br />

MALAYSIAINSIDER<br />

BARANGKALI seperti itulah rasanya<br />

kalah perang. Anwar Ibrahim, 67<br />

tahun, datang ke gedung Mahkamah<br />

Agung Malaysia di Putrajaya bersama<br />

istrinya, Wan Azizah Wan Ismail, diiringi keenam<br />

anaknya, dengan semangat tinggi Selasa<br />

pekan lalu. Walaupun tampak sedikit tegang,<br />

Anwar masih mengumbar senyum.<br />

Dia menyalami dan memeluk teman-temannya<br />

yang datang memberi dukungan. Di<br />

luar gedung Mahkamah, ratusan pendukungnya<br />

berkerumun sejak pagi. Bahkan, sebelum<br />

masuk ruang sidang, mantan Wakil Perdana<br />

Menteri Malaysia itu masih sempat bercanda<br />

dengan polisi dan wartawan.<br />

“Seperti kalian semua, aku juga menunggu<br />

dengan . Aku sudah melewati banyak hal.... .<br />

Apa yang terjadi, terjadilah. Bertawakal dan<br />

berdoa saja,” kata Anwar kepada para wartawan.<br />

Menurut Anwar, dia menyukai lagu yang<br />

dilantunkan Doris Day tersebut. Dengan nada<br />

bercanda, Anwar berjanji akan menyanyikan<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

UNTUK KETIGA KALINYA<br />

AKU AKAN KEMBALI KE<br />

PENJARA, TAPI AKU AKAN<br />

TETAP BERJALAN DENGAN<br />

KEPALA TEGAK.”<br />

lagu itu jika majelis hakim membebaskannya.<br />

“Itu lagu yang sangat cantik.”<br />

Kabar buruk itu mulai dibacakan oleh ketua<br />

majelis hakim Mahkamah Agung Arifin Zakaria<br />

tepat pukul 10.14. Sinyal-sinyal negatif itu segera<br />

terasa begitu hakim menyatakan kesaksian<br />

Mohammad Saiful Bukhari Azlan, 30 tahun,<br />

bisa dipercaya. Akhirnya<br />

putusan majelis diketok.<br />

Mahkamah menolak kasasi<br />

Anwar dan menghukumnya<br />

lima tahun penjara.<br />

Nurul Nuha, 30 tahun,<br />

putri keduanya, tak sanggup<br />

menahan tangis. “Aku<br />

baik-baik saja,” Anwar memeluk<br />

dan menenangkan anak-anaknya. “Ingat<br />

apa yang kakek selalu katakan, kamu harus<br />

terus bersekolah,” kata Anwar kepada cucunya.<br />

Wan Azizah terus menguatkan suaminya. “Kita<br />

harus kuat,” Wan Azizah berbisik.<br />

Untuk kesekian kalinya, putusan pengadilan<br />

Malaysia menusuk telak keluarga Anwar Ibrahim.<br />

Selama 17 tahun, keluarga Anwar hampir<br />

tak sempat bernapas, tak ada jeda berurusan<br />

dengan pengadilan. Padahal, pada 1990-an,<br />

Anwar adalah bintang cemerlang di dunia<br />

politik Malaysia. Pada Desember 1993, Anwar<br />

diangkat sebagai wakil perdana menteri, menjadi<br />

orang kedua di Malaysia, setelah Perdana<br />

Menteri Mahathir Mohamad. Orang-orang<br />

meramal, jarak Anwar dengan kursi nomor<br />

satu di Kuala Lumpur hanya tinggal beberapa<br />

jengkal.<br />

Tapi, ketika krisis ekonomi mendera negara-negara<br />

di Asia, hubungan Anwar dengan<br />

mentor politiknya, Mahathir Mohamad, malah<br />

memburuk. Konon, keduanya semakin sering<br />

berselisih paham. Karier politik Anwar menghunjam<br />

sangat cepat. Polisi menangkapnya<br />

dengan tuduhan korupsi pada September 1998.<br />

Dia juga dinista. Mantan sopirnya, Azizan<br />

Abu Bakar, menuding Anwar telah melakukan<br />

sodomi, satu praktek terlarang menurut hukum<br />

di negeri jiran ini. Pengadilan menjatuhkan<br />

vonis enam tahun dan sembilan tahun penjara<br />

bagi Anwar. Pada 2004, banding Anwar atas<br />

kasus sodomi dikabulkan dan dia bebas dari<br />

penjara.<br />

Hanya empat tahun mencicipi udara bebas,<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

Para pendukung Anwar<br />

Ibrahim berkumpul<br />

di depan gedung<br />

Mahkamah Agung,<br />

Putrajaya, Malaysia,<br />

Selasa (10/2).<br />

OLIVIA HARRIS/REUTERS<br />

Anwar kembali berurusan dengan kasus sodomi.<br />

Kali ini Mohammad Saiful Bukhari Azlan,<br />

salah satu mantan asistennya, yang melaporkan<br />

Anwar ke polisi. Di mata keluarga dan para<br />

pendukung Anwar, kasus-kasus ini hanyalah<br />

akal-akalan untuk menjegal karier politik Anwar,<br />

yang kini menjadi pemimpin utama kelompok<br />

oposisi di Malaysia.<br />

“Tentu saja aku sedih dengan putusan itu.<br />

Aku sudah bekerja dengan dia selama 32 tahun.<br />

Bahkan kami sering tidur bersama, tapi tak<br />

terjadi apa pun,” kata Abdullah Sani, 55 tahun,<br />

salah seorang petugas keamanan di rumah<br />

Anwar. “Dan aku jelas lebih ganteng ketimbang<br />

Saiful.”<br />

Anwar tak sekali pun mengaku bersalah atas<br />

semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya.<br />

“Untuk ketiga kalinya, aku akan kembali ke<br />

penjara, tapi aku akan tetap berjalan dengan<br />

kepala tegak karena aku tak bersalah,” kata<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

KAMI AKAN SELALU<br />

BERSAMA AYAH KAMI<br />

SAMPAI AKHIR.”<br />

Anwar. Sebelum menuju Penjara Sungai Buloh,<br />

kepada majelis hakim Mahkamah, dia berkata,<br />

”Kalian telah memilih untuk berada di sisi kegelapan<br />

dan menenggelamkan pertimbangan<br />

moral serta suara hati kalian di lautan kebohongan.”<br />

l l l<br />

Hari itu, 2 September 1998, Nurul Izzah<br />

tengah belajar untuk ujian matematika di<br />

kampusnya, Universiti Tenaga<br />

Nasional. Sekitar pukul 19.30,<br />

seorang temannya menelepon.<br />

“Aku ikut prihatin,” kata sang teman.<br />

Nurul Izzah kebingungan.<br />

Ada apa? “Apakah kamu belum<br />

dengar? Perdana Menteri telah memecat ayahmu,”<br />

temannya mengabarkan.<br />

Kontan Nurul Izzah berurai air mata. Menjelang<br />

tengah malam, Nurul baru bisa tersambung<br />

lewat telepon dengan ayahnya. “Izzah,<br />

kamu harus berani. Ayah akan melawan. Selesaikan<br />

ujianmu dan tak usah mengkhawatirkan<br />

ayahmu,” Anwar Ibrahim menenangkan putri<br />

sulungnya.<br />

Dari seorang anak sekolah yang hanya tahu<br />

mengurus kuliah, Nurul Izzah menjadi aktivis,<br />

menjadi orator, berjuang membela ayahnya.<br />

“Aku harus membersihkan nama ayahku dan<br />

mengembalikan kehormatan keluarga. Bagaimana<br />

mungkin aku hanya duduk berpangku<br />

tangan?” kata Nurul Izzah, kini Wakil Presiden<br />

Partai Keadilan Rakyat, partai yang didirikan<br />

ayahnya.<br />

Tujuh belas tahun bertarung memperjuangkan<br />

ayahnya, Nurul Izzah dan kelima adiknya<br />

telah kenyang pelajaran politik. Sekarang adik<br />

perempuannya, Nurul Nuha, siap menyusul<br />

jejak Izzah terjun ke arena politik. Nuha akan<br />

memimpin gerakan March to Freedom, menuntut<br />

pembebasan ayahnya.<br />

“Sebagai anak Anwar Ibrahim, kami akan<br />

mengambil alih mantelnya dan meneruskan<br />

perjuangan dan ambisinya.... Selama 17 tahun,<br />

kami sudah melewati emosi. Kami tak tahu berapa<br />

lama lagi mesti berjuang, tapi kami akan<br />

selalu bersama ayah kami sampai akhir,” kata<br />

Nuha, 31 tahun.


INTERNASIONAL<br />

Anwar Ibrahim<br />

bersama keluarganya<br />

berjalan menuju<br />

gedung Mahkamah<br />

Agung Malaysia, Selasa<br />

(10/2).<br />

SAYS<br />

Sebagai tulang punggung Partai Keadilan<br />

Rakyat, peran Anwar dan keluarganya sangat<br />

penting bagi Pakatan Rakyat. Koalisi tiga partai<br />

oposisi itu—Partai Keadilan Rakyat, Partai Islam<br />

se-Malaysia (PAS), dan Parti Tindakan Demokratik<br />

(DAP)—menguasai 89 kursi dari 222 kursi<br />

di parlemen Malaysia. Dengan dijebloskannya<br />

Anwar ke penjara, Pakatan mesti memikirkan<br />

siapa figur penggantinya.<br />

Menurut Lim Kit Siang, pemimpin DAP di<br />

parlemen, satu-satunya jalan untuk menjaga<br />

keutuhan Pakatan selama Anwar dalam penjara<br />

adalah kepatuhan pada fondasi kerja sama<br />

yang telah mereka sepakati. “Penghormatan<br />

terbesar yang bisa kita lakukan untuk pengorbanan<br />

Anwar hanyalah dengan membuat<br />

Pakatan lebih bersatu,” kata Lim Kit Siang.<br />

Soal siapa pengganti Anwar, hingga akhir<br />

pekan lalu para petinggi Pakatan belum memutuskan.<br />

“Kami tak merasa perlu terburu-buru.<br />

Kami masih punya waktu,” kata Lim Guan Eng,<br />

anggota parlemen dari DAP. n<br />

SAPTO PRADITYO | THESTAR | MALAYSIAINSIDER | MALAYSIAKINI | REUTERS<br />

| MYSINCHEW<br />

MAJALAH DETIK 1619 - 22 - 25 FEBRUARI JANUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

PRAJURIT ASING<br />

DI PERANG UKRAINA<br />

LATIMES<br />

“AMERIKA MEMPROVOKASI PERANG DUNIA KETIGA DENGAN RUSIA.”<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

DAILYNEWS<br />

DUA puluh tahun lalu, Adam Osmayev<br />

hanyalah satu di antara ratusan murid<br />

sekolah swasta prestisius, Wycliffe<br />

College, di Stone House, Gloucestershire,<br />

Inggris. Tak beda dengan remaja lainnya<br />

di Wycliffe, Adam lebih suka mengejar anakanak<br />

gadis ketimbang belajar.<br />

“Dia anak yang hebat... sangat bersemangat.<br />

Walaupun kadang agak nakal, dia sangat sopan,”<br />

kata Robert Workman, wali Adam di<br />

Stone House, beberapa pekan lalu. Keluarga<br />

Adam hijrah ke Inggris dari Chechnya setelah<br />

pecah perang di negeri itu pada 1994. Ayahnya,<br />

Aslanbek Osmayev, merupakan eksekutif<br />

di perusahaan minyak di Chechnya.<br />

Berlimpah uang dari ayahnya, Adam sangat<br />

royal kepada teman-temannya. “Kantongnya<br />

selalu penuh uang. Gadis-gadis berkerumun di<br />

sekitar Adam,” kata Mister Workman. Bersama<br />

teman-temannya dari Chechnya, Adam mengajak<br />

gadis-gadis itu ke London untuk berbelanja.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

Pulang dari London, tangannya sudah penuh<br />

tentengan barang bermerek.<br />

Kadang mereka menggelar pesta sembari<br />

membakar daging dan menenggak vodka. “Tapi<br />

dia tak pernah terlibat kekerasan. Mereka hanyalah<br />

remaja yang menikmati hidup,” ujar Robert<br />

Workman. Nilai-nilainya di sekolah juga lumayan<br />

bagus. Lulus dari Wycliffe, Adam diterima di<br />

Jurusan Ekonomi Universitas Buckingham.<br />

“KAMI DATANG KE SINI UNTUK MELINDUNGI<br />

RAKYAT DARI AGRESI IMPERIALIS.”<br />

Menurut Robert, Adam punya cukup modal<br />

untuk sukses dalam karier: percaya diri dan<br />

lumayan pintar. Sayang, dia hanya bertahan<br />

sebentar di bangku kuliah. Semula Adam tak<br />

terlalu peduli soal politik. Sebagai seorang<br />

muslim, dia juga bukan seorang muslim yang<br />

taat.<br />

Tapi, setelah pulang dari Chechnya pada<br />

2001, setelah ayahnya disingkirkan pemimpin<br />

Chechnya, Ramzan Kadyrov, sikap politiknya<br />

semakin keras. Padahal semula Aslanbek ditunjuk<br />

Akhmad Kadyrov, ayah Ramzan, untuk<br />

mengepalai perusahaan minyak Chechnya,<br />

Chechennefteprodukt. Namun Akhmad tewas<br />

dibunuh pada 2004. Setelah Ramzan membelot<br />

dan memihak Rusia, Aslanbek disingkirkan.<br />

Kebencian Adam terhadap penguasa Rusia<br />

di Kremlin, terhadap Presiden Vladimir Putin,<br />

semakin berurat berakar. Adam meninggalkan<br />

kuliahnya di Inggris dan bergabung dengan<br />

ayahnya yang lari dari Chechnya ke Tbilisi,<br />

Georgia. Entah bagaimana ceritanya, dua<br />

tahun lalu Adam ditangkap dengan tuduhan<br />

merencanakan pembunuhan Presiden Putin.<br />

“Ini benar-benar gila dan tak masuk akal....<br />

Tak ada satu pun bukti yang menunjukkan<br />

keterlibatan Adam,” kata Amina Okuyeva, istri<br />

Adam. Setelah beberapa bulan menginap<br />

di penjara, Adam akhirnya dilepas karena tak<br />

cukup bukti. Hampir dua tahun tanpa kabar,<br />

kini Adam muncul kembali sebagai komandan<br />

milisi propemerintah Ukraina di Debaltseve.<br />

Adam menggantikan Isa Munayev, Komandan<br />

Batalion Dzhokhar Dudayev—diberi nama<br />

sesuai dengan Presiden Chechnya yang tewas<br />

dibunuh tentara Rusia—yang mati dalam per-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

FRONTPAGE<br />

tempuran dua pekan lalu. Munayev adalah veteran<br />

perang Chechnya melawan invasi Rusia.<br />

Bersama prajurit Ukraina dan milisi pro-Kiev,<br />

Adam bahu-membahu menghadang serbuan<br />

milisi separatis yang disokong Rusia.<br />

●●●<br />

Di dada kanan dan kiri Angel Davilla Rivas,<br />

22 tahun, tercetak tato dua mantan pemimpin<br />

komunis Uni Soviet, Vladimir Lenin dan Joseph<br />

Stalin. Bersama sobatnya, Rafael Munoz Perez,<br />

27 tahun, Angel berangkat dari rumahnya<br />

di Kota Madrid, Spanyol, dengan naik kereta,<br />

menuju wilayah timur Ukraina.<br />

Tiba di Ukraina, Angel dan Rafael segera<br />

bergabung dengan Batalion Vostok, milisi pro-<br />

Rusia, di Ukraina timur. Untuk apa dua pemuda<br />

Spanyol ini meninggalkan keluarganya dan<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

susah-susah naik kereta beribu-ribu kilometer<br />

dari kampungnya? “Aku anak tunggal. Dan<br />

kepergianku ini tentu menyakiti hati ibu dan<br />

ayahku. Tapi aku tak bisa tidur memikirkan apa<br />

yang terjadi di sini,” kata Angel.<br />

Semua demi menebus utang budi kelompok<br />

Republiken Spanyol kepada Uni Soviet. Sebagai<br />

seorang Republiken, Angel dan Rafael merasa<br />

punya utang budi kepada Uni Soviet dan Rusia.<br />

Saat terjadi perang saudara di Spanyol pada<br />

“AKU TAK AKAN PERNAH TUNDUK DI DEPAN<br />

PUTIN.”<br />

akhir 1930-an, Stalin mengirimkan bantuan<br />

kepada kelompok Republiken.<br />

Angel menyalahkan Amerika Serikat atas<br />

konflik berlarat-larat di Ukraina. “Amerika memprovokasi<br />

Perang Dunia Ketiga dengan Rusia,”<br />

kata Angel. “Akibatnya, warga sipil terjepit di<br />

antara tiga kekuatan raksasa: Rusia, Uni Eropa,<br />

dan Amerika Serikat.”<br />

Tak ada angka pasti berapa banyak prajurit<br />

“legiun asing” yang terlibat dalam pertempuran<br />

di wilayah timur Ukraina. Mereka datang menyabung<br />

nyawa dengan rupa-rupa alasan. Dua<br />

mantan prajurit Prancis punya lagi alasan lain.<br />

Victor Lenta, 25 tahun, kopral dari Resimen Penerjun<br />

Infanteri, dan Nikola Perovic, 25 tahun,<br />

kopral di Batalion Infanteri Pegunungan Ke-13,<br />

memilih memihak milisi pro-Rusia.<br />

Keduanya mengklaim sebagai pendiri gerakan<br />

ultranasionalis di Prancis, Unite Continentale<br />

alias Persatuan Continental. Menurut Lenta,<br />

Rusia merupakan benteng terakhir melawan<br />

liberalisasi global yang, menurut mereka, menggerogoti<br />

nilai-nilai nasionalis Prancis. “Kami datang<br />

ke sini untuk melindungi rakyat dari agresi<br />

imperialis,” kata Lenka. Mereka juga mengaku<br />

menyokong Presiden Suriah Bashar al-Assad.<br />

Lain pula Ruslan Arsayev. Dia sudah karatan<br />

mencicipi perang melawan Rusia di Chechnya.<br />

Sekarang dia kembali berperang melawan milisi<br />

yang disokong Rusia di Ukraina. “Aku tak akan<br />

pernah tunduk di depan Putin,” Ruslan menunjuk<br />

Presiden Vladimir Putin, musuh abadinya. n<br />

SAPTO PRADITYO | INDEPENDENT | BBC | DAILY MAIL | MASHABLE | REUTERS<br />

MAJALAH DETIK 1619 - 22 - 25 FEBRUARI JANUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

RAWABI JADI SANDERA<br />

NEGERI YAHUDI<br />

“JIKA RAWABI SAMPAI GAGAL, ITU AKAN MENJADI<br />

KEGAGALAN PERDAMAIAN DAN SOLUSI DUA NEGARA.”<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

Bashar al-Masri<br />

VITALVOICE<br />

WALAUPUN lahir dari keluarga<br />

kaya di Nablus, Palestina,<br />

Bashar al-Masri tumbuh seperti<br />

pemuda Palestina pada<br />

umumnya. Sejak remaja, dia terseret dalam<br />

arus perlawanan terhadap pendudukan Israel.<br />

Tanpa senjata, hanya bermodalkan batu,<br />

Bashar dan teman-temannya melawan tentara<br />

Israel. Sebagai pemimpin organisasi di<br />

sekolahnya, Bashar berulang kali mencicipi<br />

dinginnya penjara Israel. Setelah pulang dari<br />

kuliah di Amerika Serikat, Bashar memilih<br />

jalan lain untuk “melawan” Israel.<br />

“Setelah kalian tumbuh dewasa, kalian akan<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

TAK ADA PROYEK LAIN<br />

YANG MENDEKATI INI,<br />

BAHKAN SEPARUH NILAINYA<br />

SEKALIPUN.”<br />

punya pemahaman lebih baik.... Aku percaya,<br />

setelah kami menandatangani kesepakatan<br />

damai, kami juga harus melawan dengan cara<br />

yang damai. Kita harus mencari jalan perlawanan<br />

yang lebih cerdas,” kata Bashar. Dia memilih<br />

jalan untuk melawan pendudukan Israel dengan<br />

cara membangun kota di Tepi Barat.<br />

Rawabi, kota yang dibangun Bashar, bukan<br />

kota sembarang kota.<br />

“Ini proyek terbesar<br />

sepanjang sejarah<br />

Palestina.... Tak ada<br />

proyek lain yang<br />

mendekati ini, bahkan<br />

separuh nilainya sekalipun,”<br />

kata Bashar<br />

Masri dengan bangga.<br />

Berada di atas<br />

perbukitan, sekitar<br />

20 kilometer arah utara Yerusalem, berjarak<br />

sekitar 40 kilometer dari Tel Aviv, Israel, jika<br />

proyek ini tuntas, Rawabi akan menampung<br />

lebih dari 40 ribu warga Palestina. Rawabi<br />

merupakan buah kolaborasi perusahaan milik<br />

Bashar al-Masri, Massar International, dan Diar<br />

Real Estate Investment Company, perusahaan<br />

properti milik pemerintah Qatar.<br />

Dibangun di atas lahan kosong, Bashar<br />

membangun Rawabi benar-benar dari nol.<br />

Di kota itu, akan dibangun stadion sepak<br />

bola kecil, amphitheater ala Romawi dengan<br />

kapasitas 12 ribu tempat duduk, taman bermain<br />

air, taman kota, juga pusat belanja. “Aku<br />

membayangkan semuanya sudah komplet....<br />

Aku membayangkan orang-orang kongko di<br />

restoran. Aku melihat orang tinggal di apartemen,”<br />

kata Bashar.<br />

Tak ada kota lain di Palestina yang menyerupai<br />

Rawabi. “Saat mencari model Rawabi,<br />

pertama kali kami melongok konsep kota di<br />

seberang perbatasan,” kata Bashar. Seorang<br />

arsitek kelahiran Israel, Moshe Safdie, mengajak<br />

Bashar menyaksikan model pengembangan<br />

Kota Modi’in Illit, kota yang dibangun Israel<br />

di atas wilayah pendudukan di Tepi Barat,<br />

Palestina.<br />

Modi’in memiliki topografi mirip sekali dengan<br />

Rawabi. Tapi satu kelemahan Modi’in ada-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

lll<br />

VITALVOICE<br />

lah minim sekali aktivitas ekonomi di kota itu.<br />

Rawabi, menurut Bashar, akan dikembangkan<br />

bukan cuma sekadar sebagai permukiman, tapi<br />

juga pusat bisnis. “Sekarang banyak perencana<br />

kota dari Israel yang belajar ke Rawabi,” ujar<br />

pengusaha kaya-raya Palestina itu.<br />

Hingga beberapa bulan lalu, sudah ada 600<br />

orang yang membeli apartemen di Rawabi.<br />

Pasangan Ayman dan Suhad Ibrahim adalah<br />

satu di antara ratusan pembeli pertama yang<br />

terpikat konsep Rawabi. Bashar menjanjikan<br />

akan ada banyak taman dan pohon di Rawabi.<br />

Tak seperti Kota Ramallah, yang sumpek dan<br />

sangat padat, Rawabi akan menjadi kota yang<br />

adem, tenang, dan lapang.<br />

Ayman dan Suhad sudah membayangkan<br />

ketiga anak mereka bakal bisa bermain dengan<br />

leluasa di Rawabi, kegiatan yang tak bisa<br />

mereka lakukan di Ramallah. “Rawabi akan<br />

menjadi model kecil dari negara Palestina,”<br />

kata Suhad. Mereka, kata Ayman, sudah lama<br />

sekali merindukan tempat tinggal yang damai.<br />

“Kami ingin membangun masa depan di sini,<br />

karena ini tanah kami.”<br />

Angan-angan Ayman dan Suhad mendapatkan<br />

tempat tinggal yang damai itu sepertinya<br />

masih jauh dari kenyataan. Dari jendela apartemen<br />

di Rawabi, masalah itu tampak persis<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

PROYEK INI DIBANGUN SWASTA<br />

UNTUK SEKTOR SWASTA DENGAN<br />

UANG SWASTA.”<br />

di depan mata. Di seberang bukit, berkibar<br />

bendera Israel di Ateret, permukiman Yahudi<br />

di wilayah pendudukan Tepi Barat. Di Ateret,<br />

bukan pemerintah Palestina yang berdaulat,<br />

melainkan tentara pendudukan Israel.<br />

Bagi warga Ateret, seperti Chanan dan<br />

Avigail Damri, mereka tak merasa tinggal di<br />

atas wilayah Palestina. “Negara ini negeri<br />

kami. Kami selalu meyakini bahwa ini tanah<br />

kami dan kamilah tuan<br />

atas tanah ini,” kata Avigail<br />

Damri, tegas. Mereka tak<br />

peduli pengakuan hak<br />

mereka atas tanah itu tak<br />

diakui internasional.<br />

Membangun di daerah yang dikepung wilayah<br />

pendudukan Israel—Rawabi berada di<br />

Area A, daerah yang sepenuhnya dikendalikan<br />

otoritas Palestina—Bashar tahu betapa tinggi<br />

risiko yang mesti dia tanggung. “Kami di sini<br />

tak menjanjikan surga. Kami tak menjanjikan<br />

apa pun, kecuali kenyataan bahwa kami masih<br />

hidup di wilayah pendudukan,” kata Bashar.<br />

Padahal luar biasa besar duit yang sudah dia<br />

tanam di proyek itu. Total investasi sekitar<br />

US$ 1 miliar atau Rp 12 triliun sepertinya berasal<br />

dari kantongnya. Sisanya ditanggung Diar<br />

Real Estate.<br />

“Tapi aku ingin membangun proyek yang<br />

memberi dampak besar bagi Palestina dan<br />

aku ingin menunjukkan bahwa kami bisa menciptakan<br />

lapangan kerja,” kata Bashar. Saat ini<br />

proyek Rawabi menyumbang 4.000 lapangan<br />

kerja bagi Palestina. Bukan jumlah yang kecil<br />

untuk negeri yang perekonomiannya masih<br />

morat-marit itu.<br />

Dikepung wilayah yang diduduki Israel, Bashar<br />

tak punya pilihan lain untuk membangun<br />

Rawabi, kecuali bekerja sama dengan negara<br />

Yahudi itu. Dia butuh izin Israel untuk membangun<br />

akses jalan ke daerah lain. Dia juga<br />

butuh tanda tangan pemerintah Israel supaya<br />

Rawabi mendapat pasokan gas dan listrik,<br />

juga air bersih.<br />

Urusan izin dari Israel inilah yang bikin runyam<br />

megaproyek Rawabi. Jalan sudah dibangun,<br />

demikian pula gedung-gedung apartemen<br />

sudah tegak menjulang, tapi belum ada<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

VITALVOICE<br />

air menetes di Rawabi. Izin untuk akses jalan<br />

melewati Area C Tepi Barat yang dikuasai Israel<br />

juga masih terkatung-katung.<br />

Komite Air Gabungan Israel-Palestina sudah<br />

lama sulit bertemu dan bersepakat. Apalagi<br />

setelah meletus perang di Jalur Gaza bebera-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


INTERNASIONAL<br />

VITALVOICE<br />

pa bulan lalu. Israel hanya bersedia memberikan<br />

izin ke Rawabi jika pemerintah Palestina<br />

mengizinkan pasokan air ke permukiman di<br />

wilayah pendudukan. Prasyarat yang mustahil<br />

disetujui pemerintah Palestina.<br />

Di atas meja, kedua pemerintahan selalu<br />

menegaskan bahwa mereka mendukung proyek<br />

Rawabi seratus persen. Rawabi, menurut<br />

Saeb Erekat, juru runding perdamaian Palestina,<br />

akan menjadi pertaruhan perundingan<br />

damai Palestina dan Israel. “Jika Rawabi sampai<br />

gagal, itu akan menjadi kegagalan perdamaian<br />

dan solusi dua negara,” kata Erekat.<br />

Kolonel Grisha Yakubovich, Komandan<br />

Tentara Pendudukan Israel di Tepi Barat, mengatakan<br />

mereka tak pernah pasang syarat<br />

untuk mengalirkan air ke Rawabi. “Air akan<br />

mengalir dalam beberapa hari atau beberapa<br />

minggu lagi,” dia berjanji. Pemerintah<br />

Israel, menurut Kolonel Grisha, menyokong<br />

proyek Rawabi. “Kami ingin rakyat bahagia.”<br />

Tapi prakteknya, urusan akses jalan, pasokan<br />

air, gas, dan listrik untuk Rawabi masih<br />

gelap hingga detik ini.<br />

Berlarut-larutnya urusan izin ini membuat<br />

sejumlah konsumen Rawabi mulai ragu<br />

dengan masa depan proyek ini. Padahal, ujar<br />

Bashar, mereka tak ada sangkut-paut dengan<br />

masalah politik kedua negara. “Proyek ini<br />

dibangun swasta untuk sektor swasta dengan<br />

uang swasta,” ujar Dov Weiss glas, pengacara<br />

Bashar untuk urusan izin di Israel. n<br />

SAPTO PRADITYO | BBC | GUARDIAN | NYTIMES | AL-MONITOR | TIMES OF<br />

ISRAEL<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BUKU<br />

“KALAU ORDE BARU<br />

LEBIH KEJAM LAGI,<br />

MUNGKIN PRAM AKAN<br />

MENULIS LEBIH BAGUS<br />

LAGI.”<br />

SUDRAJAT/DETIKCOM<br />

JUDUL BUKU:<br />

Pram dalam Kelambu<br />

PENULIS:<br />

Soesilo Toer<br />

PENERBIT:<br />

Pataba Press<br />

TERBITAN:<br />

Februari 2015<br />

TEBAL:<br />

xxvi + 164 halaman<br />

SALAH JUDUL<br />

DALAM PRAM<br />

KELAMBU, semua orang mestinya mafhum, itu adalah semacam kain<br />

berpori-pori cukup besar yang menutupi seluruh bagian ranjang atau<br />

tempat tidur. Fungsi utamanya adalah mencegah nyamuk mengganggu<br />

lelap tidur si penghuni di dalamnya.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BUKU<br />

THINKSTOCK<br />

SILVIA/DETIKCOM<br />

Karena itu, lewat judul Pram dalam Kelambu, semula penulis menduga isinya<br />

akan berkisah seputar kebiasaan tidur Pramoedya yang harus di atas ranjang<br />

berkelambu. Atau, yang paling liar, berkisah tentang adegan-adegan roman sang<br />

sastrawan dengan para istrinya. Atau setidaknya bercerita kehidupan rumah<br />

tangga Pram dengan istri-istrinya.<br />

Semua prasangka itu meleset. Soesilo bahkan cuma sekelebat menggambarkan<br />

Pram bersikap mesra kepada istri pertamanya yang tengah hamil muda<br />

dengan cara membimbingnya saat hendak naik becak. Cuma itu.<br />

Padahal, kepada Radar Bojonegoro yang mewawancarainya pada 11<br />

September 2014, Soesilo menyatakan Pram dalam Kelambu bercerita<br />

tentang sosok Pram dalam memandang sebuah perkawinan. Bagaimana<br />

Pram menjalani perkawinannya, termasuk cerita detail<br />

seputar kado perkawinan dan maknanya. “Salah satu hadiah<br />

itu berupa ranjang pengantin yang diberikan kepada istrinya.<br />

Semua ada maknanya,” ujar lelaki kelahiran Blora, Jawa Tengah,<br />

1937, itu.<br />

Dari empat bagian isi buku ini, kesan kuat yang bisa ditangkap<br />

adalah kekaguman Soesilo kepada sang kakak. Sastrawan<br />

besar dengan hampir 50 karya dan pernah tujuh kali dicalonkan<br />

menjadi penerima Hadiah Nobel Sastra. Jadi, mungkinkah<br />

Soesilo telah salah memberi judul buku ini?<br />

Sebagai adik keenam, ia merasa Pram menaruh rasa sayang<br />

tersendiri kepadanya dibanding kepada yang lain. Pram—yang<br />

disapa Mas Moek—pernah mengatainya “kayak maling”. Sebagai<br />

SUDRAJAT/MAJALAHDETIK<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BUKU<br />

kakak tertua, ia juga pernah menempelengnya karena masih asyik mengejar layang-layang<br />

ketika waktu telah magrib. Pram seorang kakak yang penuh disiplin,<br />

mandiri dalam berkarya, dan pekerja keras. Hingga suatu hari sang kakak yang<br />

jarang berkata-kata itu memujinya secara terbuka.<br />

“Tulisanmu keras seperti Steinbeck, pendek-pendek seperti Gorki,” halaman 81.<br />

Meski tak paham dan tak mengenal nama-nama yang disebut itu, Soesilo merasa<br />

itu sebuah pujian. Apalagi ketika karyanya dimuat di sebuah rubrik kesenian yang<br />

diasuh H.B. Jassin.<br />

Hal lain, Pram dikisahkan sebagai pribadi yang tak suka meminta maaf secara<br />

verbal. Ketika sadar telah salah menghukum sang adik, Pram lebih suka memangku<br />

Soesilo selama naik becak untuk menonton film di bios kop. Juga membebaskan<br />

adiknya memilih menu yang disukainya saat di restoran.<br />

Hingga usia mereka beranjak senja, di tahun-tahun terakhir Pram lebih banyak<br />

memberikan sesuatu kepada Soesilo ketimbang kepada adik-adiknya yang lain.<br />

Kenapa? Sayang, Soesilo tak memberikan penjelasan gamblang.<br />

Selain romantisisme hubungan adik-kakak, buku ini mencoba menjelaskan<br />

karakter pribadi Pram, sikap politik, dan ideologinya dalam berkarya. Tentu saja<br />

buku ini juga menyinggung perseteruan Pram dengan para sastrawan lain yang<br />

menandatangani Manifesto Kebudayaan.<br />

Sebagai doktor yang menulis kritik terhadap marxisme dan kapitalisme dalam<br />

disertasinya di Institut Plekhanov Uni Soviet, bertebaran nama filosof kenamaan<br />

yang dirujuk Soesilo untuk membela Pram.<br />

Ia juga menggunakan daftar pustaka yang tak main-main sebagai pangkal tolak.<br />

Sebut saja Considerations on the Causes of the Grandeur and Decadence of the Ro-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


BUKU<br />

mans (1882) yang ditulis Montesquieu, The Indonesian Killings of 1965-1966:<br />

Studies from Java and Bali (1990) oleh Robert Cribb, dan Radicalism After<br />

Communism in Two Southeast Asian Countries (1990) oleh Ben Anderson.<br />

lll<br />

Soesilo Toer adalah adik keenam Pramoedya Ananta Toer. Ia punya ambisi<br />

untuk bisa menyaingi sang kakak dalam berkarya maupun hal lainnya<br />

selama menjalani kehidupan ini. Pram dalam Kelambu adalah karya kedua<br />

dari lima yang disiapkannya untuk menyaingi Pram. Pada 2013, ia menerbitkan<br />

Pram dari Dalam, sedangkan buku lainnya berjudul Pram dalam Bubu,<br />

Pram dalam Belenggu, dan Pram dalam Tungku.<br />

“Ketiganya akan diterbitkan tahun ini,” kata dia saat peluncuran Pram<br />

dalam Kelambu di Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua<br />

Bangsa (Pataba), Blora, Sabtu (7/2) malam. Acara itu menandai 90 tahun<br />

kelahiran Pramoedya, yang wafat di Jakarta pada 30 April 2006.<br />

“Pram menulis makin bagus ketika dia ditahan, karena di luar dia tak bisa<br />

konsentrasi menulis. Dan kalau Orde Baru lebih kejam lagi, mungkin Pram<br />

akan menulis lebih bagus lagi,” tutur Soesilo disambut tawa hadirin. n<br />

SILVIA GALIKANO | SUDRAJAT<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

MUSIK<br />

SI MUDA BERSIASAT<br />

MUSIKUS JAZZ MENDAPAT TANTANGAN ZAMAN YANG TAK RINGAN. DARI MEMBUAT<br />

MUSIK BAGUS, MENJUAL KARYA, HINGGA MEMAHAMI NAIK-TURUN PASAR, JADI<br />

SATU PAKET TAK TERPISAHKAN.<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

MUSIK<br />

MUSIKUS mesti<br />

sadar, memilih<br />

jazz artinya tak<br />

akan “seingar-bingar”<br />

musik lain.<br />

Mentalitas pun<br />

disetel ulang,<br />

tak bisa lagi<br />

cuma sampai launching dan selebihnya menyerahkan<br />

pada pasar. Alhasil, ketika album<br />

jeblok, label disalahkan.<br />

Strategi pun harus matang dan terus bergerak,<br />

bukan hanya bermodal pasang video di<br />

YouTube tanpa tahu metadata. Pasalnya, yang<br />

dijadikan patokan dari YouTube bukanlah<br />

berapa banyak viewer-nya, melainkan berapa<br />

banyak orang bertahan menonton video itu<br />

sampai selesai.<br />

Strategi berjualan jadi bahasan penting<br />

dalam “Diskusi Musik Jazz dan Anak Muda”<br />

di Serambi Salihara, Jakarta Selatan, Rabu,<br />

11 Februari 2015. Musikus adalah sekaligus<br />

tenaga pemasaran bagi karya-karyanya. Diskusi<br />

tersebut menghadirkan dua narasumber:<br />

Adib Hidayat, redaktur majalah Rolling Stone<br />

Indonesia, dan Aldo Sianturi, konsultan bisnis<br />

musik dan manajer Believe Digital.<br />

Acara ini merupakan pemanasan bagi “Salihara<br />

Jazz Buzz: Yang Muda Yang Ngejazz” di<br />

Teater Salihara tiap Sabtu-Minggu sepanjang<br />

Februari 2015, yang menghadirkan musikusmusikus<br />

muda jazz Indonesia, seperti Dion<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

MUSIK<br />

Subiakto, Jessi Mates & Ricad Hutapea, serta Andy Gomez.<br />

Musikus muda diharapkan punya paradigma baru dan segar<br />

yang memanfaatkan teknologi secara maksimal untuk menjual<br />

karya-karyanya. Menurut Aldo, iTunes belum dimanfaatkan<br />

maksimal. Terbukti, yang ada hanya Indra Lesmana dan Oddie<br />

Agam, sedangkan nama-nama besar lain tidak ada, termasuk<br />

Jack dan Mien Lesmana, yang notabene orang tua Indra.<br />

Penjualan album musik secara fisik, dalam hal ini CD, masih<br />

tetap diperhitungkan walau penjualan secara digital marak.<br />

Musikus harus berproduksi, membuat album, agar ada rekam<br />

jejak. Sebaliknya, masyarakat membeli album, bukan hanya<br />

menikmati lewat “ketengan” single.<br />

“Ketika rekam jejak musikus hilang, tak ada cara memperpanjang<br />

komunikasi dengan musikus tersebut dan kita kehilangan<br />

mata rantai serta orang yang menjaga gugusan itu,” kata Aldo.<br />

Dia memberi contoh remaja sekarang tak tahu siapa Jack Lesmana,<br />

apatah lagi Miles Davis atau Wynton Marsalis. Itu sebabnya,<br />

jazz sebaiknya diperdengarkan di tiap rumah karena Jack<br />

Lesmana itu untuk didengar supaya tahu bagaimana rohnya,<br />

bukan hanya dibaca.<br />

Membuat sebuah produksi selalu diikuti pertanyaan akan berapa<br />

banyak lakunya? Selama ini pertanyaan itulah yang membuat<br />

jiper musikus jazz. Namun sekarang, menurut Aldo, ekspektasi<br />

berapa lakunya album bisa diatur, cover album bahkan bisa dibikin<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

MUSIK<br />

dari kertas koran untuk menekan ongkos.<br />

Tinggal lihat lingkaran terdekat si musikus,<br />

apakah mereka mau beli CD tersebut? Kalau<br />

lingkaran terdekat saja tak mau membeli,<br />

jangan berharap banyak pada lingkaran yang<br />

lebih besar.<br />

Setelah album selesai, musikus harus membuka<br />

dan menciptakan sendiri jalur distribusi,<br />

seperti melalui perusahaan kurir atau convenient<br />

store, dan tidak harus masuk restoran<br />

cepat saji karena ini bukan produksi massal.<br />

Banyaknya musik dan musikus non-jazz<br />

yang tampil di festival-festival jazz, ujar Adib,<br />

adalah contoh pemasaran yang sudah lama dipraktekkan.<br />

Slayer yang beraliran metal tampil<br />

di Montreux Jazz Festival 2002 atau Foo Fighters<br />

main di New Orleans Jazz Festival 2014<br />

atau Sheila on 7 di JavaJazz Festival 2015.<br />

Siasat ini untuk menyedot penonton nonjazz<br />

datang ke acara jazz. Jika yang dimainkan<br />

hanya jazz totok, tingkat konsumsinya tak<br />

akan sebanyak jika ada nama-nama populer<br />

lain di luar jazz.<br />

Adib menyebut juga tentang saling menyeberang<br />

genre yang terjadi ketika musikus jazz<br />

berhadapan dengan industri. Musik-musik<br />

Maliq & D’essentials, misalnya, yang semula<br />

kental unsur jazz makin lama makin pop<br />

karena ingin memberi pembelajaran bahwa<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

MUSIK<br />

tak semua jazz harus seperti itu. Andien juga<br />

masuk ke aliran lain dengan alasan tak mau<br />

hanya dianggap sebagai penyanyi jazz.<br />

Fenomena tersebut ditentang Aldo, yang<br />

berpendapat musikus seharusnya konsisten<br />

sejak “ijab-kabul” memilih jazz, tak peduli alasan<br />

pasar, karena pengaruhnya ke katalogisasi.<br />

DNA jazz harus ada, itu syarat bisa diperdengarkan<br />

di luar negeri. Dari DNA jazz bisa<br />

dinilai apakah d’Masiv yang mengisi JavaJazz<br />

2013, misalnya, termasuk jazz atau tidak.<br />

Begitu masuk bisnis, saat itu juga musikus<br />

harus mengontrol ekspektasi, bahwa tiap<br />

musik punya jodoh masing-masing. Tahu kapan<br />

“kenyang”, karena akan berpengaruh pada<br />

kualitas. Tak bisa menargetkan dalam sekian<br />

tahun harus ada sekian produksi karena musik<br />

tak bisa dipaksakan. “Musikus yang tiap tahun<br />

bikin album biasanya tak lama akan kolaps<br />

karena sulit menjaga kualitas,” ujar Aldo.<br />

Cara lain adalah bersiasat di luar musik, yakni<br />

sudah saatnya musikus menganggap dan<br />

menggarap serius merchandise, seperti kaus,<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

MUSIK<br />

mug, jaket, atau topi. Adib memberi contoh<br />

ada sebuah band indie di Salatiga, Jawa Tengah,<br />

yang tak dikenal di Jakarta; manggung<br />

hanya sebu lan sekali; ternyata punya lebih<br />

dari 4.000 follower serta punya toko yang<br />

menjual merchandise dan album-album band<br />

indie lain. Sehingga praktis penjualan merchandise-lah<br />

yang menghidupi mereka.<br />

Di tataran band yang sudah dikenal luas,<br />

Noah punya cara cerdik, yakni membuka distribusi<br />

merchandise di tiap daerah dengan<br />

melibatkan penggemar. Sheila on 7 tiap pekan<br />

mengeluarkan desain baru kaus.<br />

Bandingkan dengan merchandise Slank,<br />

yang hanya ditaruh di Potlot. Penyanyi lain<br />

malah sama sekali tak berminat membuat<br />

merchandise, printilan recehan yang cuma<br />

merepotkan. Dia tak tahu, ada band indie yang<br />

dapat untung Rp 200 juta sebulan, dari kaus<br />

saja. Ya, zaman sudah beda, Masbro! ■<br />

SILVIA GALIKANO<br />

MAJALAH DETIK 16 -- 22 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

FILM<br />

FLAMBOYAN<br />

INGGRIS<br />

PALING<br />

GRES<br />

PENYELIDIKAN ATAS<br />

TEWASNYA SEORANG AGEN<br />

MATA-MATA SAMPAI PADA<br />

MILIUNER EKSENTRIK BIDANG<br />

TELEKOMUNIKASI. APA<br />

TUJUANNYA?<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

FILM<br />

Judul:<br />

Kingsman: The Secret Service<br />

Genre:<br />

Action | Adventure | Comedy<br />

Sutradara: Matthew Vaughn<br />

Tap untuk melihat Video<br />

Skenario:<br />

Jane Goldman, Matthew<br />

Vaughn<br />

Produksi:<br />

20th Century Fox<br />

Pemain:<br />

Colin Firth, Taron Egerton,<br />

Samuel L. Jackson<br />

Durasi:<br />

1 jam 40 menit<br />

SEBUAH misi rahasia gagal di Timur<br />

Tengah pada akhir 1997. Unwin, seorang<br />

Lancelot (sebutan bagi agen<br />

mata-mata Kingsman), tewas demi<br />

melindungi rekan-rekannya sesama Lancelot,<br />

termasuk Harry Hart (Colin Firth).<br />

Sejak itu Harry merasa berutang nyawa kepada<br />

Unwin. Dia menyerahkan medali Kingsman<br />

kepada istri Unwin, Michelle (Samantha<br />

Womack), dan anak mereka yang masih<br />

kanak-kanak, Eggsy. Di balik medali terdapat<br />

nomor telepon berikut kode yang dapat me-<br />

MAJALAH MAJALAH DETIK 23 DETIK - 293 DESEMBER MAJALAH - 9 MARET DETIK 2013 2014<br />

16 - 22 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

FILM<br />

reka hubungi kapan pun butuh bantuan.<br />

Adegan melompat ke 17 tahun kemudian.<br />

Michelle kini lusuh dan punya suami baru, kepala<br />

preman kampung yang sering menyiksa<br />

istri, sedangkan Eggsy (Taron Egerton) jadi<br />

pemuda bandel yang bergaul dengan geng<br />

punk.<br />

Setelah “bersenang-senang” di bar, Eggsy<br />

dan kawan-kawan membawa lari mobil kelompok<br />

pesaing mereka. Polisi berhasil mengejar<br />

dan Eggsy ditangkap. Dia terancam hukuman<br />

penjara 8 tahun.<br />

Dalam kondisi ini, Eggsy ingat pada medali<br />

yang dulu diberikan rekan mendiang ayahnya.<br />

Setelah menelepon dan menyebutkan kode,<br />

ajaib, polisi membebaskannya.<br />

Di luar kantor polisi sudah menunggu Harry<br />

dengan data lengkap di kepala tentang Eggsy,<br />

termasuk catatan kriminalnya. Harry menawari<br />

pemuda itu ikut pelatihan mata-mata<br />

Kingsman karena dia melihat bakat pada diri<br />

Eggsy. Eggsy langsung setuju karena tak perlu<br />

lagi tinggal serumah dengan ayah tiri dan,<br />

yang terpenting, dibayar mahal.<br />

Markas Kingsman diakses lewat rumah jahit<br />

di Savile Row yang terkenal di London. Ini tak<br />

lepas dari sejarah Kingsman, yang berawal<br />

dari kumpulan penjahit kelas atas London<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

FILM<br />

Tak berlebihan jika<br />

Kingsman disebut<br />

puncak karya Vaughn<br />

dengan akting magnetik<br />

serta adegan-adegan<br />

action berdaya ledak<br />

tinggi.<br />

pada abad ke-19. Setelah banyak dari mereka<br />

meninggal tanpa punya ahli waris, uangnya<br />

digunakan untuk operasi matamata<br />

independen, tak terikat pada<br />

negara mana pun.<br />

Eggsy dilibatkan dalam misi<br />

terbaru Kingsman setelah seorang<br />

agen ditemukan tewas terbelah<br />

vertikal dalam sebuah misi. Pada<br />

saat bersamaan, seorang profesor<br />

hilang misterius, menyusul kemudian<br />

Putri Mahkota Swedia juga<br />

hilang.<br />

Penyelidikan Harry membawanya<br />

pada seorang mogul dunia telekomunikasi,<br />

miliuner yang kerap<br />

berpidato tentang pemanasan global, Richmond<br />

Valentine (Samuel L. Jackson). Orang<br />

kepercayaan Richmond adalah Gazelle (Sofia<br />

Boutella, penari Aljazair) yang mahir bela diri<br />

dan kaki palsunya dapat mengeluarkan pisau.<br />

Dari buku komik Kingsman: The Secret Service<br />

karya Mark Millar dan Dave Gibbons, tim<br />

penulisan naskah Kickass, yakni Vaughn dan<br />

Jane Goldman, mengangkatnya ke layar lebar.<br />

Keduanya menggunakan formula vodka martini<br />

dengan tambahan adrenalin, lalu di-shaked,<br />

bukan diaduk. Plotnya terkadang terbang<br />

liar, tapi di saat bersamaan banyak hiburan<br />

melihat gadget ajaib.<br />

Sutradara Matthew Vaughn (Stardust, X-<br />

Men First Class) mengemasnya dalam actionthriller<br />

keras, brutal, penuh gaya, flamboyan,<br />

dan punya pesona visual. Tak berlebihan<br />

jika Kingsman disebut puncak karya Vaughn<br />

dengan akting magnetik serta adegan-adegan<br />

action berdaya ledak tinggi.<br />

Genrenya mata-mata Inggris. Selama puluhan<br />

tahun kita punya James Bond berikut para<br />

imitasinya, tapi tak pernah ada yang benar-<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

FILM<br />

benar satu paket bagusnya.<br />

Pemilihan pemain Kingsman terbilang<br />

sempurna. Colin Firth, yang pastinya sangat<br />

familiar dengan karakter pria Inggris, menyuguhkan<br />

adegan tarung spektakuler. Keras<br />

tapi, itu tadi, penuh gaya dan ciri Inggrisnya<br />

tak boleh hilang, seperti pernah dikatakan<br />

Harry, “Sopan santun menjadikan seseorang<br />

itu pria.”<br />

Petualangan Taron Egerton sebagai Eggsy<br />

pun fantastis, berawal dari pemuda kere yang<br />

sinis hingga kemudian ditemukan bakatnya<br />

yang lain, lalu berubah jadi jagoan.<br />

Penampilan terbaik datang dari sang legenda<br />

hidup Samuel L. Jackson sebagai Richmond<br />

Valentine. Villain karikatur yang punya ciri<br />

khas pengucapan “S” tak sempurna (lisping)<br />

ini berhasil merebut momen-momen penting<br />

film ini. Valentine akan jadi salah satu karakter<br />

paling dikenang yang pernah ditaklukkan Jackson.<br />

Vaughn memberi banyak sentuhan menarik<br />

lewat karakter Putri Mahkota Swedia, ilmuwan<br />

yang diculik, dan omongan tajam tentang mata-mata<br />

antara Harry dan Valentine. Gongnya<br />

adalah adegan makan malam yang disajikan<br />

dalam peranti perak dan layanan berkelas, padahal<br />

di dalamnya cuma burger dan kentang<br />

MacDonald’s. Ya, happy… meal!<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


SENI HIBURAN<br />

FILM<br />

Walau sejumlah adegan kekerasannya bisa<br />

membuat kecewa penggemar genre matamata<br />

klasik, tapi patut diingat, action film ini<br />

menekankan pada keahlian dan kemahiran.<br />

Lagi pula, Kingsman adalah film mata-mata<br />

generasi sekarang, bukan generasi bapak kita.<br />

Jadi hati-hati, kini Bond punya pesaing. ■<br />

SILVIA GALIKANO<br />

MAJALAH DETIK DETIK 22 16 - 28 - 22 SEPTEMBER FEBRUARI 2014<br />

2015


FILM PEKAN INI<br />

UPITER Jones (Mila Kunis) bukanlah siapa-siapa.<br />

Pekerjaannya sebagai pembersih toilet. Namun<br />

semua itu berubah saat Jupiter bertemu dengan Caine<br />

(Channing Tatum), seorang tentara dari planet lain.<br />

Jupiter ternyata sosok penting di alam semesta.<br />

Dialah calon ratu dari seluruh planet yang ada di alam semesta. Tapi<br />

jalan Jupiter menjadi ratu tidaklah mudah saat pemimpin galaksi<br />

yang sedang berkuasa menginginkan Jupiter mati.<br />

JENIS FILM: ACTION,<br />

ADVENTURE, FANTASY<br />

| PRODUSER: GRANT HILL,<br />

ANDY WACHOWSKI, LANA<br />

WACHOWSKI | PRODUKSI:<br />

WARNER BROS. PICTURES |<br />

SUTRADARA: ANDY WACHOWSKI,<br />

LANA WACHOWSKI |<br />

DURASI: 126 MENIT<br />

AWAIZAADA diangkat dari kisah hidup<br />

ilmuwan India, Shivkar Bapuji Talpade, yang<br />

berhasil membangun pesawat terbang<br />

pertama di India. Film ini mengisahkan<br />

perjuangan dan penderitaan Shivkar dalam<br />

menciptakan karyanya itu.<br />

JENIS FILM: BIOGRAFI, DRAMA |<br />

PRODUSER: RAJESH BANGA, VISHAL<br />

GURNANI | PRODUKSI: RELIANCE<br />

ENTERTAINMENT | SUTRADARA:<br />

VIBHU PURI<br />

LAIRE Peterson (Jennifer<br />

Lopez) adalah guru SMA<br />

yang tengah menghadapi<br />

proses perceraian dengan<br />

suaminya. Claire, yang tinggal<br />

bersama anaknya, Kevin (Ian Nelson), berkenalan<br />

dengan Noah (Ryan Guzman), pemuda tampan<br />

yang baru pindah ke sebelah rumahnya.<br />

Tanpa disadari Claire, Noah, yang seusia dengan<br />

Kevin, mulai mendekatinya dan keduanya<br />

terlibat hubungan asmara. Sadar telah membuat<br />

kesalahan, Claire memutuskan untuk mengakhiri<br />

hubungan dengan Noah. Noah, yang tidak terima<br />

dengan keputusan Claire, akhirnya mulai merusak<br />

kehidupan Claire.<br />

JENIS FILM: THRILLER | PRODUSER: JOHN JACOBS,<br />

JASON BLUM, JENNIFER LOPEZ | PRODUKSI:<br />

UNIVERSAL PICTURES | SUTRADARA: ROB COHEN<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


AL GHAZALI<br />

BETAH<br />

DI ITALIA<br />

Tap judul untuk<br />

baca artikel<br />

RAYMOND SAPOEN<br />

CAPRES<br />

BANYUMAS<br />

SONG JI-HYO<br />

TEMBUS<br />

NEW<br />

YORK<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


PEOPLE<br />

AL GHAZALI<br />

BETAH DI ITALIA<br />

W<br />

AKTU tiga minggu<br />

sudah bisa membuat<br />

Al Ghazali jatuh cinta<br />

pada Italia. Anak pertama<br />

musikus Ahmad Dhani ini bahkan<br />

masih penasaran dengan negara sepak<br />

bola itu.<br />

Remaja yang akrab disapa Al ini bertandang<br />

ke Italia dalam rangka syuting film<br />

terbarunya, LDR. Beberapa kota, seperti<br />

Venezia, Roma, dan Verona, dijelajahinya.<br />

“Sulit berkomunikasi di sini, tapi kurang<br />

lama di sana, jadi masih penasaran,”<br />

ujarnya. Al terpaksa kembali ke Jakarta<br />

lebih dulu dibanding pemain dan kru film<br />

karena ada job yang menunggunya.<br />

Di sela-sela syuting, Al menyempatkan<br />

diri menonton pertandingan sepak bola<br />

antara Inter Milan dan Sampdoria. Artis<br />

kelahiran 1 September 1997 ini juga sempat<br />

mengunjungi Colosseum di Roma.<br />

Dalam film bertema cinta garapan<br />

Maxima Pictures itu, Al berperan sebagai<br />

Paul, adik Demas, yang diperankan oleh<br />

Verrell Bramasta. Sang ayah, Ahmad<br />

Dhani, dikabarkan akan tampil pula di<br />

film LDR. n MELISA MAILOA | KEN YUNITA<br />

FOTO : ANTARA/TERESIA MAY<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


PEOPLE<br />

RAYMOND SAPOEN<br />

CAPRES BANYUMAS<br />

SEORANG keturunan Jawa<br />

mungkin akan menjadi orang<br />

nomor satu di Suriname. Dialah<br />

Raymond Sapoen, yang<br />

kini menjadi kandidat Presiden Suriname.<br />

Mantan Menteri Perdagangan dan<br />

Industri Suriname ini menyebut Desa<br />

Kanding sebagai kampung halaman kakek<br />

buyutnya. “Jadi saya generasi ketiga,”<br />

ujarnya.<br />

Raymond menduga, sebelum era kemerdekaan,<br />

kaket buyutnya dikirim pemerintah<br />

kolonial Belanda ke Suriname.<br />

Nama sang kakek ditemukan pada situs<br />

Arsip Nasional Belanda, BBC.<br />

Sapoen ada dalam daftar warga Hindia<br />

Belanda yang diberangkatkan ke Paramaribo<br />

pada 30 Juni 1928. Kakek buyutnya<br />

diberangkatkan menggunakan kapal<br />

bernama Merauke II.<br />

Raymond mengaku belum tahu banyak<br />

mengenai asal-usulnya, yang disebut keturunan<br />

warga Banyumas. Meski begitu,<br />

Raymond masih fasih berbahasa Jawa.<br />

“Aku ra ngerti, yo. Arepe ngerti tenan<br />

aku (Saya tidak tahu, ya. Saya benar-benar<br />

ingin tahu),” katanya.<br />

Dalam bahasa Jawa juga dia mengatakan<br />

sangat ingin pergi ke Banyumas tapi<br />

tidak tahu apakah dirinya masih memiliki<br />

saudara di sana atau tidak.<br />

“Aku perlu di-onderzoek, kudu research,<br />

aku ra ngerti. Menowo yo aku iso diguyubi<br />

nang kono. Ora nduweni sedulur-sedulur<br />

(Saya perlu cari tahu dulu, Saya tidak<br />

tahu. Semoga saya bisa disambut baik<br />

di sana. Tidak ada saudara-saudara).” ujar<br />

Raymond dalam campuran bahasa Jawa<br />

dan Inggris.<br />

Saat ini Raymond merupakan kader<br />

partai oposisi, Partai Pertjaja Luhur.<br />

Hari-harinya kini disibukkan dengan<br />

berkampanye untuk pemilihan presiden<br />

Suriname pada 25 Mei mendatang. n<br />

MELISA MAILOA | KEN YUNITA<br />

FOTO : WWW.DBSURINAME.COM<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


PEOPLE<br />

SONG JI-HYO<br />

TEMBUS NEW YORK<br />

BERKAT peran sebagai Oh Jin<br />

Hee, dokter magang di Emergency<br />

Couple, aktris Korea<br />

Selatan, Song Ji-hyo, berhasil<br />

menembus New York. Dia merebut<br />

trofi aktris terbaik The 3 rd DramaFever<br />

Awards.<br />

Kabar baik itu disampaikan langsung<br />

oleh agensi Ji-hyo, C-JeS Entertainment.<br />

Salah satu member variety show Running<br />

Man ini menyabet dua piala sekaligus<br />

dari dua kategori yang berbeda.<br />

Piala pertama untuk kategori Best<br />

Actress Award, sementara Emergency<br />

Couple menang dalam kategori Drama<br />

Korea Terbaik.<br />

DramaFever Awards merupakan acara<br />

penganugerahan penghargaan yang<br />

diselenggarakan oleh website streaming<br />

drama Korea, DramaFever.<br />

Website ini dikunjungi 22 juta netizen<br />

setiap bulan dari Amerika Utara dan<br />

Selatan. Sedangkan pemenang dalam<br />

13 kategori penghargaan dipilih berdasarkan<br />

voting online dari 1,5 juta netizen<br />

yang telah berpartisipasi.<br />

Ji-hyo langsung merespons kabar<br />

kemenangannya dengan mengucapkan<br />

kata-kata terima kasih kepada para<br />

penggemarnya lewat video yang dirilis<br />

eksklusif DramaFever.<br />

Ji-hyo tampak semringah dengan dandanan<br />

natural sambil mengangkat piala<br />

berbentuk kobaran api. n<br />

MELISA MAILOA | KEN YUNITA<br />

FOTO : CHUNG SUNG-JUN/GETTY IMAGES<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


AGENDA<br />

KONSER LANGGAM JAWA<br />

& KERONCONG<br />

Indra Utami Tamsir, “Langgam<br />

untuk Dunia”<br />

18 FEBRUARI 2015, PUKUL 20.00<br />

WIB<br />

Gedung Kesenian Jakarta<br />

HI 5 HOUSE HITS TOUR 2015<br />

18 FEBRUARI 2015, PUKUL 18.00 WIB<br />

Skenoo Exhibition Hall, Gandaria City Mall 3rd Floor, Jakarta<br />

Promotor: Sorak Gemilang Persada<br />

CONCERT: FROM<br />

ADHITIA SOFYAN<br />

WITH LOVE<br />

JUMAT, 20 FEBRUARI<br />

2015, PUKUL 19.00<br />

WIB<br />

@america, Pacific<br />

Place Mall lantai 3,<br />

Jakarta<br />

DUNIA DAWAI NAN EKSOTIS<br />

Oleh Svarabuana & Nanfeng Nusantara<br />

SABTU, 21 FEBRUARI 2015, PUKUL 15.00 WIB<br />

Galeri Indonesia Kaya, Jakarta<br />

LALA LAND<br />

21 FEBRUARI 2015, PUKUL 10.00 WIB<br />

Hall D, Senayan, Jakarta<br />

Promotor: GPTN-Komunitas Gerakan Pesta Tanpa Narkoba<br />

PENTAS TEATER GANDRIK YOGYAKARTA<br />

“TANGIS”<br />

Berdasarkan dua naskah asli Heru Kesawa Murti (Tangis<br />

dan Juragan Bakso)<br />

JUMAT-SABTU, 20-21 FEBRUARI 2015, PUKUL 20.00<br />

WIB<br />

HTM: Rp 500.000 | Rp 300.000 | Rp 200.000 | Rp<br />

100.000<br />

Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki<br />

PERGELARAN<br />

LEGONG SAM-<br />

PEK ENGTAY<br />

Bengkel Tari Ayu<br />

Bulan<br />

MINGGU, 22 FEB-<br />

RUARI 2015, PUKUL<br />

15.00 WIB<br />

Galeri Indonesia<br />

Kaya, Jakarta<br />

MAJALAH DETIK 16 - 22 FEBRUARI 2015


Alamat Redaksi : Aldevco Octagon Building Lt. 4<br />

Jl. Warung Jati Barat Raya No. 75, Jakarta 12740 , Telp: 021-7941177 Fax: 021-7944472<br />

Email: redaksi@majalahdetik.com<br />

Majalah detik dipublikasikan oleh PT Agranet Multicitra Siberkom, Grup Trans Corp.<br />

@majalah_detik<br />

majalah detik

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!