29.01.2015 Views

Market Brief : HS 1605.20 Udang - ITPC Osaka

Market Brief : HS 1605.20 Udang - ITPC Osaka

Market Brief : HS 1605.20 Udang - ITPC Osaka

SHOW MORE
SHOW LESS

Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!

Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.

Februari 2012<br />

<strong>Market</strong> <strong>Brief</strong> : <strong>HS</strong> <strong>1605.20</strong> <strong>Udang</strong> Olahan<br />

<strong>ITPC</strong> <strong>Osaka</strong>


Daftar Isi<br />

Kata Pengantar 3<br />

Peta Jepang 4<br />

I. Pendahuluan 5<br />

1. Pemilihan Negara 5<br />

2. Pemilihan Produk 6<br />

3. Profil Jepang 7<br />

II. Potensi Pasar Jepang 10<br />

1. Ekspor Impor <strong>Udang</strong> Olahan Jepang ‐ Dunia 10<br />

2. Potensi Pasar Ekspor <strong>Udang</strong> Olahan di Jepang 13<br />

3. Kebijakan Impor <strong>Udang</strong> Olahan di Jepang 15<br />

4. Saluran Distribusi <strong>Udang</strong> Olahan di Jepang 19<br />

5. Hambatan Lainnya 19<br />

III. Peluang dan Strategi 21<br />

1. Peluang 21<br />

2. Strategi 24<br />

IV. Informasi Penting 26<br />

1. TPO dan/atau Kedutaan Negara Jepang di Indonesia 27<br />

2. Kamar Dagang Jepang 27<br />

3. Asosiasi <strong>Udang</strong> Olahan di Jepang 27<br />

4. Daftar Pameran <strong>Udang</strong> Olahan di Jepang 28<br />

5. Perwakilan Indonesia di Jepang 28<br />

6. Daftar Importir <strong>Udang</strong> Olahan di Jepang 29<br />

Referensi 30<br />

Daftar Tabel<br />

Tabel 2.1. Produk Turunan <strong>HS</strong> <strong>1605.20</strong> Berdasarkan BTBMN 10<br />

Tabel 2.2. Ekspor <strong>Udang</strong> Olahan Jepang ke Dunia Periode 2007‐2011 11<br />

Tabel 2.3. Impor <strong>Udang</strong> Olahan Jepang dari Dunia Periode 2007‐2011 12<br />

Tabel 2.4. Potensi Ekspor <strong>Udang</strong> Olahan Indonesia ke Jepang Tahun 2010 15<br />

Tabel 3.1. Harga Ekspor Per Unit <strong>Udang</strong> Olahan ke Jepang Tahun 2010 21<br />

Tabel 3.2. Ekspor <strong>Udang</strong> Olahan Indonesia ke Dunia Periode 2006‐2010 22<br />

Tabel 3.3. Tarif Bea Masuk <strong>Udang</strong> Olahan di Jepang Per 1 Maret 2012 23<br />

Daftar Gambar<br />

Gambar 2.1. Pangsa Pasar Eksportir <strong>Udang</strong> Olahan ke Jepang Thn 2011 14<br />

Gambar 2.2. Alur Distribusi <strong>Udang</strong> Olahan di Jepang 19<br />

2


Kata Pengantar<br />

<strong>ITPC</strong> <strong>Osaka</strong> mengucapkan puji syukur pada hadirat Tuhan yang<br />

Maha Esa karena telah dapat menyelesaikan ”<strong>Market</strong> <strong>Brief</strong>: <strong>HS</strong> <strong>1605.20</strong><br />

<strong>Udang</strong> olahan” untuk Edisi pada bulan Februari 2012 ini. <strong>Market</strong> brief (MB)<br />

merupakan kajian singkat yang memberikan gambaran kondisi dan<br />

potensi pasar komoditi udang olahan di Jepang. Adapun isi dari MB ini<br />

dibuat berdasarkan acuan “Outline <strong>Market</strong> Intelligence dan <strong>Market</strong> <strong>Brief</strong>”<br />

yang disampaikan kepada seluruh Perwakilan Luar Negeri Kementerian<br />

Perdagangan tanggal 8 Maret 2011 di Hotel Borobudur, Jakarta.<br />

Selain merupakan bagian dari tugas dan fungsi perwakilan luar<br />

negeri, MB disusun untuk memberikan informasi terkini mengenai pasar<br />

suatu komoditi, peraturan impor di negara akreditasi setempat, potensi<br />

pasar, negara pesaing, strategi penetrasi pasar dan informasi penting<br />

lainnya. Sehingga diharapkan secara tidak langsung MB ini dapat menjadi<br />

informasi pendukung dalam meningkatkan keunggulan komoditi udang<br />

olahan Indonesia yang bersaing di pasar Jepang.<br />

Akhir kata <strong>ITPC</strong> <strong>Osaka</strong> mengharapkan kiranya informasi dalam MB<br />

ini dapat bermanfaat bagi pemerintah selaku pembuat kebijakan dan para<br />

pelaku usaha dalam menentukan strategi eskpor ke negara Jepang.<br />

<strong>Osaka</strong>, Maret 2012<br />

3


PETA JEPANG<br />

Luas daratan Jepang 378.000 km2, yaitu 1/25 dari luas Amerika Serikat (bandingkan<br />

dengan luas daratan Indonesia 2.027.087 km2).<br />

Jepang berbatasan dengan Rusia di sebelah barat, Korea Utara dan Korea Selatan di<br />

bagian selatan dan China di bagian barat daya.<br />

Empat pulau utama adalah Hokkaido, Honshu, Shikoku, dan Kyushu.<br />

4


BAB I. PENDAHULUAN<br />

1. Pemilihan negara<br />

Jepang merupakan negara mitra dagang yang strategis bagi<br />

Indonesia karena Jepang menduduki peringkat pertama sebagai<br />

tujuan ekspor non-migas Indonesia dan urutan kedua sebagai<br />

negara asal impor non-migas setelah China. Selain itu, Jepang juga<br />

merupakan partner pertama Indonesia dalam perjanjian<br />

perdagangan bebas secara bilateral. Pada tahun 2010 Indonesia<br />

merupakan negara asal impor di peringkat ke-7 dan negara tujuan<br />

ekspor di peringkat ke-12 bagi Jepang.<br />

Berdasarkan data statistik Japan Customs, menyatakan bahwa<br />

nilai ekspor non-migas Jepang ke Indonesia pada tahun 2010 adalah<br />

sebesar US$ 15,84 milyar dan impor non-migas Jepang dari<br />

Indonesia sebesar US$ 18,32 milyar, sehingga Jepang mengalami<br />

defisit sebesar US$ 2,48 milyar. Neraca perdagangan Jepang-<br />

Indonesia secara keseluruhan selama periode 2006 sd 2010 untuk<br />

migas dan non-migas selalu mengalami surplus bagi Indonesia.<br />

Impor non-migas Jepang dari Indonesia selama periode 2006 sd<br />

2010 mengalami peningkatan sebesar 32% dengan trend sebesar<br />

18,32.<br />

Produk ekspor non-migas utama Indonesia ke Jepang meliputi:<br />

(1) copper ores and concentrates; (2) coal; briquettes, ovoids and<br />

5


similar solid fuels manufactured from coal; (3) nickel mattes; (4)<br />

natural rubber,balata,gutta-percha; (5) refined copper and copper<br />

alloys, unwrought; (6) plywood, veneered panels and similar<br />

laminated wood; (7) paper and paperboard, uncoated, for writing; (8)<br />

insulated wire, cable and other insulated electrical conductors; (9)<br />

crustaceans, live, fresh, chilled, frozen; dan (10) unwrought<br />

aluminium. (Kemendag)<br />

Sementara dari Jepang, Indonesia mengimpor beberapa<br />

produk seperti: (1) incompletely knocked down motor vehicles; (2)<br />

parts of accessories of the motor vehicles of headings no.8701 to<br />

8705; (3) self-propelled bulldozers, angledozers; (4) parts, suitable<br />

for use solely or principally with the engines; (5) motor vehicles for<br />

the transport of goods; (6) transmission shafts and cranks; bearing<br />

housings; (7) flat-rolled products of iron or non-alloy steel; (8) refined<br />

copper and copper alloys, unwrought; (9) tubes, pipes and hollow<br />

profiles, seamless, of iron dan (10) parts, suitable for use solely or<br />

principally with the machinery. (Kemendag)<br />

2. Pemilihan produk<br />

<strong>ITPC</strong> <strong>Osaka</strong> memilih komoditi ini dalam pembahasan MB Edisi<br />

Februari 2012 karena :<br />

a. Pada tahun 2012 <strong>ITPC</strong> <strong>Osaka</strong> bermaksud untuk memfokuskan<br />

diri kepada produk makanan dan minuman.<br />

6


. <strong>Udang</strong> merupakan komoditi unggulan Indonesia karena<br />

termasuk dalam program 10-10-3 Kementerian Perdagangan.<br />

c. Indonesia merupakan negara pemasok udang olahan peringkat<br />

ke-5 di dunia setelah Thailand, China, Vietnam dan Denmark,<br />

dengan total eskpor sebanyak 34,358 ton pada tahun 2010.<br />

(ITC)<br />

d. Jepang merupakan negara peringkat ke-2 setelah Amerika<br />

Serikat sebagai pengimpor udang olahan di dunia. (ITC)<br />

Sebagaimana diketahui, masyarakat Jepang sangat<br />

menggemari makanan laut seperti ikan, udang, kerang, dsb. Tak<br />

heran bila Jepang merupakan negara ke-2 terbesar pengimpor<br />

udang olahan di dunia. Melihat trend perdagangan udang olahan di<br />

Jepang yang terus meningkat selama lima tahun terakhir (2007 sd<br />

2011) yaitu sebesar 10.62 (ITC Diolah), maka udang olahan pantas<br />

untuk dibahas pada MB kali ini. Kami akan membahas analisa<br />

komodit ini lebih detail pada Bab II.<br />

3. Profil Jepang<br />

a. Geografi. Berdasarkan keadaan geografis dan sejarahnya, 47<br />

prefektur di Jepan dikelompokkan menjadi 9 kawasan yaitu:<br />

Hokkaido, Tohoku, Kanto, Chubu, Kinki, Chugoku, Shikoku,<br />

Kyushu, dan Okinawa. Setiap kawasan ini mempunyai dialek dan<br />

adat-istiadat sendiri, serta budaya yang unik. Daerah<br />

pegunungan meliputi lebih dari 70% dari daratan Jepang. Kota-<br />

7


kota utama Jepang terletak di tanah datar, yang meliputi: Tokyo,<br />

<strong>Osaka</strong>, Kobe, Kyoto, Sapporo, Sendai, Nagoya, Hiroshima dan<br />

Fukuoka.<br />

b. Pemerintahan. Jepang merupakan negara constitutional<br />

monarchy dimana kekuasaan Kaisar sangat terbatas. Kedudukan<br />

Kaisar hanya sebagai simbol negara dan persatuan bagi seluruh<br />

rakyat Jepang. Kekuasaan tertinggi pemerintahan terletak pada<br />

Perdana Menteri (PM). Badan Legislatif Jepang adalah National<br />

Diet, yang terdiri dari House of Representatives (480 kursi)<br />

dan House of Councillors (242 kursi). PM diangkat oleh Kaisar<br />

setelah mendapat persetujuan dari Diet.<br />

c. Demografi. Populasi Jepang diperkirakan sekitar 127.3 juta jiwa,<br />

dimana 98.5% merupakan etnis asli Jepang, dan sisanya imigran<br />

asing berasal dari Korea, China, Filipina, Brazil, dan Peru.<br />

Jepang merupakan negara yang penduduknya berumur panjang<br />

di dunia. Pada tahun 2009 sekitar 22.7% populasi Jepang sudah<br />

berumur 65 tahun ke atas, sehingga diperkirakan pada tahun<br />

2050 populasi tersebut akan meningkat menjadi 40%. Pemerintah<br />

sedang berusaha keras mencari solusi untuk menyelesaikan isu<br />

ini antara lain dengan memberikan bantuan kepada anak dan<br />

imigran.<br />

d. Infrastruktur. Berdasarkan Data tahun 2008, 46.4% energi di<br />

Jepang berasal dari minyak bumi, 21.4% batubara, 16.7% gas<br />

alam, 9.7% tenaga nuklir dan 2.9% tenaga air. Sebesar 25.1%<br />

8


listrik Jepang dipasok dari tenaga nuklir. Namun sejak gempa<br />

bumi Tohoku dan bencana Fukushima Daiichi Nuclear, beberapa<br />

reaktor nuklir telah diberhentikan sehingga kebutuhan akan<br />

bahan bakar fosil meningkat. Kota besar satu dengan yang lain<br />

disambungkan dengan jalan tol yang memampukan pengendara<br />

berkecepatan tinggi. Kereta juga merupakan transportasi utama<br />

di Jepang yang terkenal dengan tepat waktu dan aman. Jepang<br />

mempunyai 173 bandara, terbesar untuk domestik<br />

adalah Haneda Airport, sedangkan untuk penerbangan<br />

internasional antara lain Narita International Airport, Kansai<br />

International Airport and Chūbu Centrair International Airport.<br />

Pelabuhan terbesarnya adalah Nagoya Port.<br />

e. Ekonomi. Pada tahun 2011 Jepang merupakan negara No. 3<br />

ekonomi terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan China dari<br />

segi nominal GDP. Negara ini merupakan basis dan penghasil<br />

industri besar dan berteknologi tinggi seperti kendaraan bermotor,<br />

elektronika, peralatan mesin, baja dan logam, kapal, bahan kimia,<br />

produk tekstil dan makanan olahan. Selain itu, Jepang adalah<br />

produser mobil No. 2 di dunia. Industri pertanian mencakup 13%<br />

dari lahan Jepang. Jepang mencakup 15% penangkapan ikan<br />

dunia atau No. 2 setelah China. Sektor jasa menyumbang 75%<br />

GDP Jepang.<br />

9


BAB II. POTENSI PASAR JEPANG<br />

Berdasarkan besarnya nilai ekspornya ke dunia, negara utama<br />

pengekspor udang ke dunia adalah (1) Thailand dengan pangsa 34,71%,<br />

(2) China 18,95%, (3) Vietnam 10,45%, (4) Denmark 6,67%, (5) Belanda<br />

6,22%. Indonesia berada di peringkat ke-6 setelah Belanda (5,44%) pada<br />

tahun 2010.<br />

Definisi <strong>HS</strong> <strong>1605.20</strong> dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia adalah<br />

Produk olahan udang kecil dan udang biasa. Turunan produk udang<br />

olahan dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.<br />

Tabel 2.1. Produk Turunan <strong>HS</strong> <strong>1605.20</strong> Berdasarkan BTBMI<br />

<strong>HS</strong> Code 10 dg Deskripsi Description<br />

<strong>1605.20</strong> ‐<strong>Udang</strong> kecil dan udang biasa : ‐Shrimps and prawns :<br />

‐‐Pasta udang kecil : ‐‐Shrimps paste :<br />

<strong>1605.20</strong>.11.00 ‐‐‐Dalam kemasan kedap udara ‐‐‐In airtight containers<br />

<strong>1605.20</strong>.19.00 ‐‐‐Lain‐lain ‐‐‐Other<br />

‐‐Lain‐lain : ‐‐Other :<br />

<strong>1605.20</strong>.91.00 ‐‐‐Dalam kemasan kedap udara ‐‐‐In airtight containers<br />

<strong>1605.20</strong>.99.00 ‐‐‐Lain‐lain ‐‐‐Other<br />

1. Ekspor dan Impor <strong>Udang</strong> Jepang - Dunia<br />

Tabel 2.2. memaparkan rincian kegiatan ekspor udang olahan<br />

Jepang ke dunia selama lima tahun terakhir. Ekspor udang olahan<br />

Jepang ke Dunia selama lima tahun terakhir menunjukkan<br />

penurunan, hal ini terlihat dari trend negatif sebesar 5.3. Nilai ekspor<br />

udang olahan Jepang pada tahun 2007 sebesar US$ 1,4 juta dan<br />

menurun sebesar 22% dengan nilai US$ 1,089 juta pada tahun 2011.<br />

10


Pada tahun 2007 sampai dengan 2008 ekspor udang olahan Jepang<br />

sempat mengalami peningkatan senilai US$ 229 ribu namun<br />

kemudian mengalami penurunan sebanyak US$ 574 ribu pada tahun<br />

2008. Di tahun 2010 ekspor udang olah Jepang ke dunia kembali<br />

bangkit dengan nilai US$ 1,6 juta, namun pada tahun 2011<br />

mengalami penurunan sebanyak US$ 527 ribu sehingga nilai<br />

ekspornya menjadi US$ 1,089 juta.<br />

Tabel 2.2. Ekspor <strong>Udang</strong> Olahan (<strong>HS</strong> <strong>1605.20</strong>) Jepang ke Dunia<br />

Periode 2007‐2011<br />

Rank Importir 2007 2008 2009 2010 2011<br />

Trend Pangsa<br />

07‐11 2011<br />

World 1,403 1,632 1,058 1,616 1,089 ‐5.03 100.00%<br />

1 Chinese Taipei 461 569 236 773 381 ‐0.75 34.99%<br />

2 Thailand ‐ 58 61 82 217 19.93%<br />

3<br />

Hong Kong,<br />

China<br />

331 190 56 127 191 ‐13.95 17.54%<br />

4 Indonesia ‐ ‐ ‐ ‐ 134 12.30%<br />

5 Singapore 11 6 50 28 61 64.32 5.60%<br />

6 Malaysia ‐ 2 ‐ ‐ 41 3.76%<br />

7 USA 225 379 572 226 36 ‐34.18 3.31%<br />

8 Australia 11 ‐ 12 ‐ 12 1.10%<br />

9 China 2 ‐ ‐ 142 8 0.73%<br />

10 Saudi Arabia ‐ ‐ ‐ 3 7 0.64%<br />

23 Philippines 6 5 4 ‐ ‐ 0.00%<br />

26 Viet Nam 108 222 8 205 ‐ 0.00%<br />

Sumber: ITC (Satuan Ribu US$)<br />

Negara tujuan utama ekspor udang olahan Jepang ke Dunia<br />

adalah (1) Taipei yang mencakup 34,99%pangsa pasar ekspor<br />

Jepang ke dunia pada tahun 2011, (2) Thailand dengan pangsa<br />

19,93%, (3) Hong Kong dengan pangsa 17,54%, (4) Indonesia<br />

dengan pangsa 12,30% dan (5) Singapura dengan pangsa 5,6%.<br />

Trend ekspor Jepang selama lima tahun terakhir ke negara Taipei<br />

dan Hong Kong mengindikasikan penurunan. Sedangkan, kinerja<br />

ekspor udang olahan Jepang ke Thailand dan Singapura<br />

11


mengindikasikan pertumbuhan selama periode 2007-2011. Bagi<br />

Indonesia, Jepang baru mulai mengekspor udang olahan ke<br />

Indonesia hanya pada tahun 2011, sehingga belum dapat dianalisa<br />

pertumbuhan eskpor ke depannya.<br />

Selanjutnya, data kegiatan impor udang olahan Jepang ke<br />

dunia selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 2.3. Impor<br />

udang olahan Jepang pada periode 2007-2011 mengalami terus<br />

mengalami peningkatan, hal ini terbukti dengan adanya trend positif<br />

sebesar 10,62. Nilai impor udang olahan Jepang dari Dunia<br />

meningkat 53,5% dari semula US$ 506.47 juta pada tahun 2007<br />

menjadi US$ 777,31 juta pada tahun 2011.<br />

Tabel 2.3. Impor <strong>Udang</strong> Olahan (<strong>HS</strong> <strong>1605.20</strong>) Jepang dari Dunia<br />

Periode 2007‐2011<br />

Rank Eksportir 2007 2008 2009 2010 2011 Trend<br />

07‐11<br />

Pangsa<br />

2011<br />

World 506.47 528.17 552.28 615.13 777.31 10.62 100.00%<br />

1 Thailand 219.77 266.35 298.96 342.66 431.72 17.38 55.54%<br />

2 Viet Nam 107.01 104.47 107.45 125.48 171.62 11.94 22.08%<br />

3 China 105.33 86.72 76.36 77.61 97.97 ‐2.53 12.60%<br />

4 Indonesia 57.75 55.25 54.43 52.26 56.93 ‐0.84 7.32%<br />

5 India 7.06 6.05 6.38 7.53 6.78 1.39 0.87%<br />

6 Myanmar 0.94 0.32 0.84 1.93 2.87 49.55 0.37%<br />

7 Canada 4.42 3.24 4.05 3.76 2.58 ‐8.82 0.33%<br />

8 Denmark 0.44 0.00 0.07 0.13 2.03 0.26%<br />

9 Taipei 1.60 1.76 1.50 1.39 1.82 0.20 0.23%<br />

10 Greenland 1.33 1.59 0.76 1.47 1.71 4.32 0.22%<br />

11 Malaysia 0.34 0.59 0.72 0.49 0.38 0.60 0.05%<br />

12 Philippines 0.07 0.06 0.37 0.13 0.33 46.61 0.04%<br />

17 Singapore 0.05 0.03 0.01 0.01 0.01 ‐42.19 0.00%<br />

Sumber: ITC (Satuan Juta US$)<br />

Negera eksportir utama udang olahan ke Jepang adalah (1)<br />

Thailand menguasai 55,54% pangsa pasar udang olahan di Jepang,<br />

12


(2) Vietnam dengan pangsa 22,08%, (3) China dengan pangsa<br />

12,60%, (4) Indonesia dengan pangsa 7,32%, dan (5) India dengan<br />

pangsa 0,87%. Trend ekspor lima tahun terakhir Thailand, Vietnam<br />

dan India mengindikasikan pertumbuhan ekspor, sedangkan China<br />

dan Indonesia menunjukkan penurunan.<br />

Negara ASEAN lainnya pengekspor udang olahan ke Jepang<br />

adalah (11) Malaysia, (12) Filipina dan (17) Singapura. Trend ekspor<br />

Malaysia dan Filipina selama lima tahun terakhir menunjukkan<br />

pertumbuhan dengan trend sebesar 0,46 dan 46,61.<br />

2. Potensi Pasar Ekspor <strong>Udang</strong> Olahan di Jepang<br />

Setelah menganalisa data pada tabel 2.2. dan 2.3 terlihat<br />

bahwa Jepang lebih cenderung sebagai negara pengimpor udang<br />

olahan. Hal ini terbukti bahwa nilai ekspor Jepang dari dunia hanya<br />

0,14% dari nilai impor udang olahan Jepang dari dunia. Selama<br />

periode 2007-2011 perdagangan udang olahan Jepang terus<br />

meningkat dari US$ 506.47 juta menjadi US$ 777.31 juta dengan<br />

trend sebesar 10.62. Memperhatikan perkembangan selama lima<br />

tahun terakhir dimana pertumbuhan rata-rata per tahunnya sebesar<br />

11,65% dan pertumbuhan impor tahun 2010 - 2011 yang mencapai<br />

26,37%, maka dapat disimpulkan bahwa permintaan udang olahan<br />

dari Jepang ke depannya akan semakin bertambah.<br />

13


7.32%<br />

0.87%<br />

1.58%<br />

12.60%<br />

22.08%<br />

55.54%<br />

Thailand<br />

Viet Nam<br />

China<br />

Indonesia<br />

India<br />

Others<br />

Gambar 2.1. Pangsa Pasar <strong>Udang</strong> Olahan di Jepang<br />

Periode 2007 – 2011<br />

Pada Gambar 2.1. yang memberikan viisualisasi pangsa pasar<br />

eksportir utama udang olahan ke Jepang, Thailand merupakan<br />

eksportir No. 1 ke Jepang dengan menguasai pangsa yang cukup<br />

besar yaitu 55,54%. Di posisi ke-2 adalah Vietnam dengan pangsa<br />

sebesar 22,08%, lalu disusul China dengan 12,60% dan Indonesia<br />

sebanyak 7,32% serta India 0,8%. Dari gambar dimaksud terlihat<br />

bahwa Thailand mendominasi pasar udang olahan Jepang,<br />

dibandingkan dengan pesaing lainnya.<br />

Tabel 2.4. membahas mengenai potensi ekspor udang olahan<br />

Indonesia ke Jepang untuk tahun 2010. Data ekspor Indonesia<br />

diambil pada tahun 2010 karena pada saat MB ini dikerjakan data<br />

ekspor Indonesia tahun 2011 belum tersedia.<br />

14


Tabel 2.4. Potensi Ekspor <strong>Udang</strong> Indonesia ke Jepang<br />

Tahun 2010<br />

Kode <strong>HS</strong> Uraian Impor JPN<br />

dr INA<br />

Ekspor INA<br />

ke Dunia<br />

Impor JPN<br />

dr Dunia<br />

Potensi<br />

Ekspor INA*<br />

160520 Shrimps and<br />

prawns,prepared or<br />

preserved<br />

Sumber: ITC (Satuan Ribu US$)<br />

52,260 237,796 615,134 185,536<br />

* Indicative<br />

Dalam tabel terlihat bahwa ekspor udang olahan Indonesia<br />

pada tahun 2010 sebesar US$ 52,2juta, sedangkan Indonesia<br />

mengekspor udang olahan ke dunia sebesar US$ 237,8 juta.<br />

Sementara itu pada tahun yang sama Jepang mengimpor udang<br />

olahan dari dunia sebesar US$ 615,1 juta. Walaupun Indonesia<br />

belum bisa memasok seluruh kebutuhan udang olahan Jepang,<br />

namun apabila Indonesia memfokuskan kapasitas ekspor udang<br />

olahan hanya ke Jepang, maka indikatif potensi ekspor Indonesia ke<br />

Jepang sebesar US$ 185,5 juta.<br />

3. Kebijakan Impor <strong>Udang</strong> Olahan di Jepang<br />

A. Peraturan Impor terkait dengan impor udang olahan adalah<br />

(1) Foreign Exchange and Foreign Trade Act, (2) Food<br />

Sanitation Act, dan (3) Customs Act.<br />

i. Foreign Exchange and Foreign Trade Act. Pengawasan<br />

impor produk makanan laut dilakukan melalui 3 (tiga) hal<br />

yaitu: Import quota - Import approval - Import<br />

acknowledgment (prior acknowledgment /<br />

acknowledgment at customs clearance) sesuai dengan<br />

ketentuan produk-produk apa saja yang tunduk pada<br />

15


salah satu dari tiga pengawasan dimaksud. Khusus untuk<br />

produk udang olahan tunduk pada prosedur diperlukannya<br />

Import approval, dimana dalam hal ini ijin diperoleh<br />

sebelumnya dari Menteri Perdagangan.<br />

ii.<br />

Food Sanitation Act. Sejak tahun 2011, makanan laut<br />

merupakan salah satu produk yang harus menjalani<br />

compulsory testing dibawah kewenangan Menteri<br />

Kesehatan Jepang. Sebagai contoh: udang hasil budidaya<br />

dari Thailand perlu periksa kadar “oxolinic acid” dan dari<br />

Vietnam perlu diperiksa kadar “chloramphenicol” dan<br />

“nitrofurans”. Ambang batas kadar untuk fenitrothion<br />

adalah 0.002 ppm, sedangkan untuk “oxolinic acid”,<br />

“acetochlor”, dan “triazophos” adalah 0.01 ppm; dan<br />

“nitrofurans” dan “chloramphenicol” tidak boleh terkandung<br />

dalam produk makanan laut tersebut.<br />

iii. Customs Act. Berdasarkan peraturan ini dilarang<br />

mengimpor barang yang tidak sesuai dengan kandungan<br />

yang tertera dalam label Cargo barang tersebut.<br />

B. Peraturan Penjualan Produk<br />

Tidak ada peraturan spesifik mengenai penjualan makanan laut<br />

dan makanan laut olahan. Namun peraturan terkait mengenai<br />

penjualan secara umum adalah sbb:<br />

i. Food Sanitation Act. Dalam peraturan ini dilarang<br />

menjual produk yang mengandung zat berbahaya atau<br />

16


eracun atau produk dengan tingkat kebersihan rendah.<br />

Produk makanan olahan dalam kemasan harus tunduk<br />

dengan aturan labeling dalam FSA dimana wajib<br />

mencantumkan pengawet makanan, informasi alergi,<br />

bahan produk dan modifikasi genetic apabila diperlukan.<br />

ii.<br />

Product Liability Act. Peraturan ini antara lain mencakup<br />

kewajiban perusahaan apabila terjadi kerusakan produk,<br />

dan importir juga tercakup dalam kategori “perusahaan”.<br />

Makanan laut yang dijual sebagai processed-food diatur<br />

dalam peraturan ini dan perusahan bertanggungjawab<br />

wajib melakukan tindakan pengamanan terkait dengan<br />

manajemen pengamanan apabila terjadi hal keracunan<br />

makanan akibat dari kerusakan isi produk, dan kerusakan<br />

wadah serta kemasan.<br />

iii.<br />

Act on Specified Commercial Transactions. Penjualan<br />

produk melalui mail-order, pemasaran langsung (direct<br />

marketing), telemarketing, dsb diatur dalam peraturan ini..<br />

iv.<br />

Act on the Promotion of Sorted Garbage Collection<br />

and Recycling of Containers and Packaging.<br />

Berdasarkan peraturan ini penjualan yang menggunakan<br />

wadah dan packaging yang diatur dalam peraturan ini<br />

harus dapat didaur ulang. Namun perusahan skala kecil<br />

dikecualikan dari peraturan ini.<br />

17


C. Daftar Intansi Terkait Peraturan <strong>Udang</strong> olahan<br />

Foreign Exchange and Foreign Trade Act<br />

Trade Control Policy Division, Trade Control Department,<br />

Trade and Economic Cooperation Bureau, Ministry of<br />

Economy, Trade and Industry<br />

Food Sanitation Act<br />

Inspection and Safety Division, Department of Food Safety,<br />

Pharmaceutical and Food Safety Bureau, Ministry of<br />

Health, Labour and Welfare<br />

TEL: +81‐3‐3501‐1511<br />

http://www.meti.go.jp<br />

TEL: +81‐3‐5253‐1111<br />

http://www.mhlw.go.jp<br />

Customs Tariff Act<br />

Customs and Tariff bureau, Ministry of Finance Japan TEL: +81‐3‐3581‐4111<br />

http://www.mof.go.jp<br />

Act for Standardization and Proper Labeling of Agricultural and Forestry Products<br />

Labelling and Standards Division, Food Safety and<br />

Consumer Affairs Bureau, Ministry of Agriculture, Forestry<br />

and Fisheries<br />

Measurement Act<br />

Measurement and Intellectual Infrastructure Division,<br />

Industrial Science and Technology Policy and Environment<br />

Bureau, Ministry of Economy, Trade and Industry<br />

TEL: +81‐3‐3502‐8111<br />

http://www.maff.go.jp<br />

TEL: +81‐3‐3501‐1511<br />

http://www.meti.go.jp<br />

Health Promotion Act<br />

Food and Labeling Division, Consumer Affairs Agency TEL: +81‐3‐3507‐8800<br />

http://www.caa.go.jp<br />

Act against Unjustifiable Premiums and Misleading Representations<br />

Representation Division, Consumer Affairs Agency TEL: +81‐3‐3507‐8800<br />

http://www.caa.go.jp<br />

Product Liability Act<br />

Consumer Safety Division, Consumer Affairs Agency TEL: +81‐3‐3507‐8800<br />

http://www.caa.go.jp<br />

Act on Specified Commercial Transactions<br />

Consumer Advice Office, Ministry of Economy, Trade and<br />

Industry<br />

TEL: +81‐3‐3501‐1511<br />

http://www.meti.go.jp<br />

Consumer Safety Division, Consumer Affairs Agency TEL: +81‐3‐3507‐8800<br />

http://www.caa.go.jp<br />

Act on the Promotion of Sorted Garbage Collection and Recycling of Containers and<br />

Packaging/Act on the Promotion of Effective Utilization of Resources<br />

Recycling Promotion Division, Industrial Science and<br />

Technology Policy and Environment Bureau, Ministry of<br />

Economy, Trade and Industry<br />

Office for Recycling Promotion, Waste Management and<br />

Recycling Department, Ministry of the Environment<br />

Food Industry Policy Division, General Food Policy Bureau,<br />

Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries<br />

TEL: +81‐3‐3501‐1511<br />

http://www.meti.go.jp<br />

TEL: +81‐3‐3581‐3351<br />

http://www.env.go.jp<br />

TEL: +81‐3‐3502‐8111<br />

http://www.maff.go.jp<br />

18


Unfair Competition Prevention Act/Trademark Act<br />

Intellectual Property Policy Office, Economic and Industrial<br />

Policy Bureau, Ministry of Economy, Trade and Industry<br />

General Affairs Division, Japan Patent Office, Ministry of<br />

Economy, Trade and Industry<br />

TEL: +81‐3‐3501‐1511<br />

http://www.meti.go.jp<br />

TEL: +81‐3‐3581‐1101<br />

http://www.jpo.go.jp<br />

4. Saluran Distribusi Makanan Laut di Jepang<br />

Gambar 2.4. memberikan skema saluran distribusi makanan laut di<br />

Jepang dari produsen di luar negeri sampai ke tangan konsumen.<br />

Gambar 2.4. Alur Distribusi <strong>Udang</strong> di Jepang<br />

5. Hambatan Lainnya<br />

1. Standar Produk <strong>Udang</strong>. Seperti yang telah dijabarkan pada<br />

Food Sanitation Act, ambang batas kadar untuk fenitrothion<br />

adalah 0.002 ppm, sedangkan untuk “oxolinic acid”,<br />

“acetochlor”, dan “triazophos” adalah 0.01 ppm; dan “nitrofurans”<br />

19


dan “chloramphenicol” tidak boleh terkandung dalam produk<br />

makanan laut tersebut. Para pelaku usaha Indonesia<br />

diharapkan dapat mendapatkan bimbingan dan arahan dari<br />

pemerintah<br />

(Kementerian Kelautan dan Perikanan dan<br />

Kementerian Perindustrian) untuk dapat memenuhi ketentuan<br />

standar yang berlaku di Jepang.<br />

2. Negara Pesaing di ASEAN. Negara pesaing utama di bidang<br />

udang olahan adalah Thailand dan Vietnam yang kedua negara<br />

tersebut merupakan saudara bagi Indonesia dalam lingkup<br />

ASEAN. Kedua negara tersebut mendapat perlakuan yang<br />

sama dalam segi tarif bea masuk karena adanya jalinan<br />

kerjasama perdagangan bebas baik secara bilateral maupun<br />

regional.<br />

Apabila Indonesia dapat meningkatkan kualitas<br />

produk udang olahannya, maka Indonesia akan mampu<br />

bersaing untuk meningkatkan pangsa pasarnya di Jepang.<br />

20


BAB III. PELUANG DAN STRATEGI<br />

1. Peluang<br />

a. Harga Per Unit. Seperti yang tertera pada Tabel 3.1, harga<br />

satuan ekspor Thailand selaku eksportir utama udang olahan<br />

ke Jepang adalah sebesar US$ 8.785/ton. Harga tersebut<br />

merupakan US$ 43/ton di atas harga rata-rata ekspor dunia ke<br />

Jepang. Vietnam dan China yang berada di peringkat ke-2 dan<br />

3 mempunyai harga satuan ekspor masing-masing<br />

US$ 8.692/ton dan US$ 8536/ton dimana masih lebih kompetitif<br />

dari harga Thailand.<br />

Tabel 3.1. Harga Ekspor Per Satuan <strong>Udang</strong> Olahan ke Jepang<br />

Tahun 2010<br />

Rank Eksportir Nilai Satuan<br />

(USD/Ton)<br />

Selisih Harga dari<br />

Eksportir Utama<br />

Tarif dikenakan<br />

JPN (%)<br />

World 8,742 (43.00)<br />

1 Thailand 8,785 ‐ 1.3<br />

2 Viet Nam 8,692 (93.00) 4.2<br />

3 China 8,536 (249.00) 4.2<br />

4 Indonesia 7,985 (800.00) 1.3<br />

5 India 40,929 32,144.00 4.2<br />

6 Canada 7,916 (869.00) 5.1<br />

7 Myanmar 10,530 1,745.00 0<br />

8 Greenland 6,708 (2,077.00) 5.1<br />

9 Chinese Taipei 11,471 2,686.00 5.1<br />

10 Malaysia 11,136 2,351.00 1.7<br />

12 Philippines 7,706 (1,079.00) 4.2<br />

16 Singapore 5,000 (3,785.00) 3<br />

Sumber : ITC (Satuan US$/ton)<br />

Demikian juga halnya dengan Indonesia yang berada pada<br />

peringkat ke-4 mempunyai harga satuan ekspor terendah<br />

21


dibandingkan 4 (empat) negara pengekspor udang utama<br />

(Thailand, Vietnam, China dan India) ke Jepang. Harga satuan<br />

eskpor udang olahan asal Indonesia senilai US$ 7.985/ton atau<br />

lebih murah US$ 800 dari Thailand. Kondisi ini mengindikasikan<br />

bahwa harga udang olahan Indonesia sudah kompetitif di pasar<br />

Jepang.<br />

Tabel. 3.2. Ekspor <strong>Udang</strong> Olahan Indonesia ke Dunia<br />

Periode 2006‐2010<br />

Rank Importir 2006 2007 2008 2009 2010 Trend<br />

06‐10<br />

Pangsa<br />

2010<br />

World 142.72 139.42 221.36 244.74 237.80 17.16 100.00%<br />

1 USA 108.60 99.39 158.12 145.38 130.14 7.70 54.73%<br />

2 Japan 3.61 4.34 12.75 29.31 44.52 100.02 18.72%<br />

3 Netherlands 4.23 5.75 16.01 19.43 25.64 61.98 10.78%<br />

4 UK 7.96 7.78 11.41 13.46 13.08 16.66 5.50%<br />

5 Australia 0.49 0.76 1.24 15.99 7.43 133.47 3.12%<br />

6 Belgium 9.50 10.92 11.47 9.32 5.96 ‐10.34 2.51%<br />

7 Canada 1.48 2.48 2.17 3.61 4.79 31.31 2.01%<br />

8 Germany 2.66 3.57 3.38 3.39 2.36 ‐2.91 0.99%<br />

9 France 2.13 1.41 2.38 1.61 1.09 ‐11.33 0.46%<br />

10 Thailand 0.59 0.68 0.36 0.52 0.66 ‐0.73 0.28%<br />

18 Malaysia 0.21 0.30 0.03 0.01 0.07 ‐42.63 0.03%<br />

23 Singapore 0.04 0.08 0.12 0.22 0.02 ‐6.62 0.01%<br />

Sumber: ITC (Satuan Juta US$)<br />

Berdasarkan data ekspor udang olahan Indonesia ke Dunia<br />

pada tahun 2006-2010 pada Tabel 3.2, tampak bahwa<br />

konsentrasi ekspor udang olahan Indonesia adalah ke Amerika<br />

Serikat dimana Indonesia mengekspor sebanyak US$ 130,1<br />

juta atau 54,73% dari cakupan ekspornya ke seluruh dunia.<br />

Jepang merupakan target ekspor Indonesia di peringkat 2<br />

dengan pangsa 18,72 dari seluruh kapasitas ekspor udang<br />

22


olahan Indonesia. Belanda, Inggris dan Australia adalah negara<br />

tujuan utama ekspor udang olahan Indoensia lainnya.<br />

b. Preferensi Tarif. Tabel 3.3. merupakan daftar tarif bea masuk<br />

yang diterapkan oleh Jepang yang berlaku mulai 1 Maret 2012.<br />

Karena adanya harmonisasi tariff tahun 2012, maka pos tarif<br />

udang olahan berubah menjadi 1605.21.<br />

Manfaat Indonesia<br />

menjalin kerjasama perdagangan bebas dengan Jepang dalam<br />

skema bilateral (Indonesia-Japan Enhanced Partnership<br />

Agreement) dan regional (ASEAN-Japan Comprehensive<br />

Economic Partnership), maka untuk pos tarif udang olahan<br />

Indonesia tidak dikenakan tarif impor apabila menggunakan<br />

skema IJEPA ataupun AJCEP.<br />

Tabel. 3.3. Tarif Bea Masuk <strong>Udang</strong> Olahan di Jepang<br />

Per 1 Maret 2012<br />

H.S.<br />

Code<br />

Desription General Temporary WTO GSP Indonesia<br />

(IJEPA)<br />

ASEAN<br />

(AJCEP)<br />

1605.21 Not in airtight container<br />

1 Simply boiled in water 4.80% ‐ 3.20%<br />

or in brine; chilled,<br />

frozen, salted, in brine<br />

or dried, after simply<br />

boiled in water or in<br />

brine<br />

4.80%<br />

11 ‐ Simply boiled in water<br />

Free Free<br />

or in brine; chilled,<br />

frozen after simply<br />

boiled in water or in<br />

brine<br />

19 ‐Other Free Free<br />

2 Other 6% 5.30%<br />

21 ‐Containing rice<br />

29 ‐ Other Free Free<br />

Sumber: Japan Customs<br />

23


Hal ini merupakan peluang bagi Indonesia untuk menjadikan<br />

produk ekspor udang olahan lebih kompetitif dibandingkan negara<br />

pesaing lainnya. Namun, bila eksportir Indonesia tidak<br />

mengenakan skema IJEPA maupun AJCEP maka masih<br />

dikenakan tarif 4,8% atau 5,3% sesuai skema WTO.<br />

2. Strategi<br />

Untuk mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar makanan<br />

laut olahan Indonesia dengan negara pesaing lainnya khususnya di<br />

Jepang, maka pelaku usaha makanan laut hendaknya dapat<br />

melakukan hal-hal sebagai berikut :<br />

a. Sesuai Standard Berlaku. Perlu dicatat bahwa untuk<br />

mengimpor produk olahan makanan laut (processed seafood)<br />

di Jepang wajib memenuhi standard yang tercantum dalam<br />

Food Sanitation Act. Selain itu untuk cultured seafood, perlu<br />

dipastikan bahwa makanan tersebut tidak mengandung<br />

synthetic antibiotics yang dilarang penggunaannya di Jepang<br />

dan memenuhi batas standard residu yang ditentukan.<br />

b. Bekerjasama dengan Importir Perpengalaman. Bagi<br />

pengusaha baru di bidang ini “first entry into the market”<br />

sebaiknya bekerjasama dengan perusahaan importir yang<br />

perngalaman menangani makanan laut dan produk olahan<br />

makanan laut agar lebih efektif dalam penanganan administrasi<br />

impor dan dalam menghubungi prospektif konsumen.<br />

24


c. Pengamanan kapasitas pasokan produk. Bagi perusahan<br />

pengolahan makanan di Jepang mengamankan pasokan bahan<br />

makanan laut adalah suatu tantangan. Sehingga bagi<br />

perusahaan yang mampu memasok bahan makanan laut<br />

secara konsisten berpotensi untuk berkembang di area ini.<br />

d. Aktif Mengikuti Pameran. Asosiasi dan pengusaha makanan<br />

laut olahan Indonesia diharapkan dapat secara aktif<br />

berpartisipasi dalam mengikuti pameran tahunan terkait<br />

makanan laut yang dilaksanakan di Jepang. Daftar pameran<br />

dapat dilihat pada Bab IV.<br />

e. Proaktif dengan Perwakilan Dagang Luar Negeri. Para<br />

pengusaha juga diharapkan secara proaktif menghubungi dan<br />

mengikuti perkembangan produknya dari Perwakilan<br />

Perdagangan Luar Negeri Indonesia di Jepang, dalam hal ini<br />

melalui <strong>ITPC</strong> di <strong>Osaka</strong> ataupun Atase Perdagangan di KBRI<br />

Tokyo.<br />

25


BAB IV. INFORMASI PENTING<br />

1. TPO dan/atau Kedutaan Negara Jepang di Indonesia<br />

Kedutaan Besar Jepang Jakarta<br />

Duta Besar : Yoshinori KATORI<br />

Jl.M. H. Thamrin Kav. 24, Jakarta<br />

Pusat 10350, Indonesia<br />

Phone : (62-21) 3192-4308<br />

Fax : (62-21) 3192-5460<br />

Website : www.id.emb-Jepang.go.jp<br />

Konsulat Jenderal Jepang - Jakarta<br />

Konsul Jenderal : Yoshihiro<br />

TAKESHITA<br />

Jl. M.H. Thamrin Kav. 3,<br />

Jakarta Pusat 10350, Indonesia<br />

Phone : (62-21) 3192-4308<br />

Fax : (62-21) 3192-5460<br />

Konsulat Jenderal Jepang - Surabaya<br />

Konsul Jenderal : Masaaki TAKANO<br />

Jl. Sumatera 93,<br />

Surabaya, Jawa Timur, Indonesia<br />

Phone : (62-31) 503-0008<br />

Fax : (62-31) 503-0007<br />

Konsulat Jenderal Jepang - Medan<br />

Konsul Jenderal : Mr. Hiroshi<br />

HASHI<br />

Wisma BII, 5 th Floor, Jl. Diponegoro<br />

No. 18,<br />

Medan, Sumatera Utara, Indonesia<br />

Phone : (62-61) 457-5193<br />

Fax : (62-061) 457-4560<br />

Konsulat Jenderal Jepang -<br />

Makasar<br />

Konsul Jenderal : Mr. Noboru<br />

NOMURA<br />

Address : Jl. Jenderal Sudirman No.<br />

31,<br />

Makasar, Indonesia<br />

Phone : (62-411) 871-030, 872-323,<br />

851-882<br />

Fax : (63-61) 853-946<br />

Konsulat Jenderal Jepang Cabang<br />

Denpasar<br />

Konsul : Mr. Minoru SHIROTA<br />

Address : Jl. Raya Puputan No.<br />

170,<br />

Renon, Denpasar, Indonesia<br />

Phone : (62-361) 227-628<br />

Fax : (62-21) 231-308, 265-066<br />

2. Kamar Dagang Jepang<br />

Tokyo Chamber of Commerce<br />

& Industry (HQ)<br />

3-2-2 Marunouchi,<br />

Chiyoda-ku,<br />

Tokyo 100-0005<br />

Japan<br />

T : (813) 3283 7523<br />

F : (813) 3216 6497<br />

Fukuyama Chamber of Commerce<br />

and Industry<br />

2-10-1 Nishi-machi<br />

Fukuyama-City<br />

Hiroshima-Prefecture 720-0067<br />

Japan<br />

T : (818) 4921 2345<br />

F : (818) 4922 0100<br />

26


W : www.tokyo-cci.or.jp/<br />

E: kokusai@tokyo-cci.or.jp<br />

Hiroshima Chamber of<br />

Commerce<br />

44 Matomachi 5-chome,<br />

Naka-ku<br />

Hiroshima 730<br />

Japan<br />

T : (818) 2222 6610<br />

F : (818) 2211 0108<br />

W : www.hiroshimacci.or.jp/<br />

Kyoto Chamber of Commerce &<br />

Industry<br />

240 Shoshoicho Ebisugawa-agaru<br />

Karasumadori Nakakyo-ku 604,<br />

Japan<br />

T : (817) 5212 6450<br />

F : (817) 5255 0428<br />

W : www.kyo.or.jp/kyoto/e/<br />

E: shinkou@kyo.or.jp<br />

<strong>Osaka</strong> Chamber of Commerce<br />

& Industry<br />

2-8 Hommachi-Bashi,<br />

Chuo-ku<br />

<strong>Osaka</strong> 540-0029<br />

Japan<br />

T : (816) 6944 6400<br />

F : (816) 6944 6293<br />

W : www.osaka.cci.or.jp/e/<br />

W : www.fukuyama.or.jp/e<br />

E: cci@fukuyama.or.jp<br />

Kawasaki Chamber of Commerce<br />

and Industry<br />

11-2, Ekimae Honcho,<br />

Kawasaki-ku<br />

Kawasaki 210<br />

Japan<br />

T : (814) 4211 4111<br />

F : (814) 4211 4118<br />

W : www.kawasaki-cci.or.jp<br />

Okinawa Chamber of Commerce<br />

and Industry<br />

15-20 Chuo 4-chome<br />

Okinawa-shi 904<br />

Japan<br />

T : (819) 8938 8022<br />

F : (819) 8938 2755<br />

W : www.okinawacci.or.jp<br />

E: info@okinawacci.or.jp<br />

Nagahama Chamber of Commerce<br />

and Industry<br />

10-1 Takada-cho<br />

Nagahama Shiga 526-0037<br />

Japan<br />

T : (817) 4962 2500<br />

F : (817) 4962 8001<br />

W : www.nagahama.or.jp<br />

E: cci@nagahama.or.jp<br />

3. Asosiasi Makanan Laut di Jepang<br />

Japan Fisheries Association http://www.suisankai.or.jp<br />

japan@suisankai.or.jp TEL: +81‐3‐3585‐6681<br />

National Cooperative Association of http://www.zen‐ika.com/index.html<br />

Squid Processors<br />

info@zen‐ika.com TEL: +81‐3‐3834‐3731<br />

27


National Federation of Minced and<br />

Steamed White Fish Meat<br />

Manufacturers Cooperatives<br />

http://www.zenkama.com/<br />

info@zenkama.com TEL: +81‐3‐3851‐1371<br />

National Federation of Processed http://www.zensui.jp/<br />

Seafood Manufacturers<br />

Cooperatives<br />

zensui@soleil.ocn.ne.jp TEL: +81‐3‐3662‐2040<br />

Japan Fish Traders Association<br />

http://www.jfta‐or.jp/<br />

fish@jfta‐or.jp TEL: +81‐3‐5280‐2891<br />

4. Daftar Pameran Makanan Laut di Jepang<br />

Overall food products<br />

FOODEX<br />

http://www3.jma.or.jp/foodex/ja TEL: +81‐3‐3434‐3453<br />

Supermarket Trade Show<br />

http://www.smts.jp TEL: +81‐3‐5209‐1056<br />

Exhibition of seafood and processed products<br />

Japan International Seafood & Technology Expo<br />

http://www.exhibitiontech.com/seafood/ TEL: +81‐3‐5775‐2855<br />

5. Perwakilan Indonesia di Jepang<br />

KBRI Tokyo<br />

Duta Besar : Muhammad Lutfi<br />

Atase Perdagangan : Djatmiko Bris<br />

Witjaksono<br />

2-9 Highashi Gotanda, 5-chome,<br />

Shinagawa-ku, Tokyo-to, 141-0022,<br />

Japan<br />

Phone : (+81-3) 3441-4201<br />

Fax : (+81-3) 3447-1697<br />

Email : info@indonesianembassy.jp<br />

Website : www.indonesianembassy.jp<br />

<strong>ITPC</strong> <strong>Osaka</strong><br />

Kepala : Rosiane C. Frederick<br />

Wakil Kepala : Eko Priyantoro<br />

ITM4 J-8 Asia and Pacific Trade<br />

Center 2-1-10 Nanko Kita, Suminoeku,<br />

<strong>Osaka</strong> 559-0034, Japan<br />

Tel : 06-66155350<br />

Fax : 06-6615-5351<br />

Website : http://www/itpc.or.jp<br />

KJRI <strong>Osaka</strong><br />

Konsul Jenderal : Ibnu Hadi<br />

Resona Semba Building 6th Floor, 4-4-<br />

21, Minami Semba, Chuo-ku, <strong>Osaka</strong><br />

542-0081, Japan<br />

Phone : (81-6) 6252-9826<br />

Fax : (81-6) 6252-9872<br />

Email : kjri-osaka@indonesia-osaka.org<br />

Website : www.indonesia-osaka.org<br />

28


6. Daftar Importir <strong>Udang</strong> di Jepang<br />

No Perusahaan Alamat Telepon Fax<br />

1 Oki Products<br />

Co.,Ltd.<br />

2‐1‐38, Nishikujo, Konohanaku,<br />

<strong>Osaka</strong> 554‐0012<br />

06‐<br />

64610987<br />

06‐6461‐<br />

4445<br />

2 Csmo Shoji Inc. Morimitsu Shinko Bldg 5F, 1‐5‐9<br />

Kotobuki, Taito‐ku, 111‐0042<br />

03‐5827‐<br />

2212<br />

03‐5827‐<br />

2213<br />

3 K. Onishi &<br />

Co.,Ltd.<br />

9‐27 Higashi‐kozu‐cho, Tennojiku,<br />

<strong>Osaka</strong> 543‐0021<br />

06‐6764‐<br />

5169<br />

06‐6764‐<br />

1150<br />

4 Life foods Co.,Ltd 3‐5‐10, Minato, Chuoku, Tokyo 03‐5566‐ 03‐55664660<br />

104‐0043<br />

4681<br />

5 Meikyu Co.,Ltd. 2‐2‐61, Shinoto, Atsuka‐ku, 052‐ 052‐6717144<br />

Nagoya 456‐0018 Aichi<br />

6817131<br />

6 Ocean Foods,<br />

K.K.<br />

3‐3‐13, Kamimuta, Hakata‐ku,<br />

Fukuoka 812‐0006<br />

092‐472‐<br />

0302<br />

092‐471‐<br />

5806<br />

7 T.O. Food<br />

Research Co.,Ltd.<br />

4‐10‐8, Hathobori, Chuoku, 104‐<br />

0032 Tokyo<br />

03‐3553‐<br />

3698<br />

03‐3553‐<br />

3699<br />

8 Eishin Foods Kameda Bldg 7F, 2‐5‐6<br />

03‐ 03‐52961050<br />

Co.,Ltd.<br />

Uchikanda, Chiyoda‐ku, 101‐<br />

0047 Tokyo<br />

52961051<br />

9 Fukui Co.,Ltd. 1560‐1, Yasunaga Kuwana 511‐ 0594‐ 0594‐235215<br />

0839 Mie<br />

235211<br />

10 Ishida Shokuhin 694‐2 Imazu‐cho,imazu, 0740‐ 0740‐224705<br />

Co.,Ltd.<br />

Takashima 520‐1621 Shiga 222535<br />

11 Mrumo Co.,Ltd. 2‐14 Asahi‐machi, Handa 475‐ 0569‐ 0569‐237484<br />

0838 Aichi<br />

214321<br />

12 Intercrest<br />

Co.,Ltd.<br />

2‐6‐12 Shibadaimon Minatoku<br />

105‐0012 Tokyo<br />

03‐3437<br />

0761<br />

03‐3437‐<br />

0776<br />

13 Thank, K.K. 336‐1m iida‐cho, minamiku,<br />

hamamatsu 435‐0028 Shizuoka<br />

053‐<br />

4603678<br />

03‐4603667<br />

14 Ebino Daimaru<br />

Co.,Ltd.<br />

15 Dream Trading<br />

Co.,Ltd.<br />

16 Northan Star<br />

Co.,Ltd.<br />

20 Higashimaru<br />

International<br />

Corporation<br />

Yukimoto Bldg,2‐6 1‐chome,<br />

Higashi nihonbashi, Chuoku,<br />

Tokyo 103‐0004<br />

1‐16, 4‐chome, Yahataya dori,<br />

Chuoku, Kobe‐city, Hyogo 651‐<br />

0085<br />

2‐5‐11‐202, Higure, Matsudocity,<br />

Chiba Pref.<br />

4‐25 1‐chome, 1jho,<br />

Miyanosawa, Nishiku,<br />

Sapporocity, Hokaido 063‐0051<br />

078‐261‐<br />

8937<br />

17 Mar Corporation Kowa Bldg 7F Bekkan, 29, 2‐11‐<br />

24 Chikiji, Chuoku, Tokyo 104‐<br />

0045<br />

18 Toho Bussan Shiba Park A‐8F, 2‐4‐1<br />

Kaisha Ltd. Shibakouen, Tokyo<br />

19 Rougen Co.,Ltd. 1‐21, 3‐chome, Honta, Urawaku,<br />

Saitama‐city, Saitama 330‐0052<br />

03‐3524‐<br />

0211<br />

078‐252‐<br />

2370<br />

047‐394‐<br />

5399<br />

011‐215‐<br />

8404<br />

047‐394‐<br />

5353<br />

011‐215‐<br />

8405<br />

03‐3524‐<br />

0210<br />

0‐3438‐5740<br />

03‐3438‐<br />

5711<br />

048‐882‐<br />

2524<br />

03‐3863‐<br />

5951<br />

048‐881‐<br />

0551<br />

03‐3863‐<br />

5234<br />

29


REFERENSI<br />

1. International Trade Center, Maret 2012. www.trademap.org<br />

2. Japan Customs, Maret 2012. www.customs.go.jp<br />

3. Japan External Trade Organization, Maret 2012. www.jetro.go.jp<br />

4. Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Maret 2012. www.id.embjapan.go.jp<br />

5. Kementerian Luar Negeri, Maret 2012, www.kemlu.go.id<br />

6. Kementerian Perdagangan, Maret 2012, www.kemendag.go.id<br />

7. Kompass: Connect business to business, Japan 2011.<br />

8. Ministry of Finance Japan, Maret 2012. www.mof.go.jp<br />

9. Ministry of Health, Labour and Welfare, Maret 2012. www.mhlw.go.jp<br />

--- 0 ---<br />

30

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!