Edisi 1 - Kanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Selatan

kalsel.kemenag.go.id

Edisi 1 - Kanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Selatan

Sejarah Penyuluh Agama Islam

Tim Redaksi

“IBTIGHA’ FADHLILLAH”

Pembangkit Etos Kerja Menurut Al-Qur’an

Muhammad Rafi’i, S.Ag

Karakteristik Manusia Menurut Al-Quran

Rasyid, S. Ag

Meningkatkan Profesionalisme Penyuluh Agama

Dengan Memanfaatkan Teknologi Informasi

M.Hanafi Ridhani, S.S

Peran Penyuluh Agama Sebagai “DOKTER” Umat

Syahdan, S.H.I

Ringkasan Hukum-Hukum Puasa

Rasyid, S. Ag

Teknik Evaluasi dan Pelaporan Kegiatan Penyuluhan Agama

Hj. Siti Maryam Ahmad, S.Ag, M.Pd

Penyampaian Naskah Melalui Media Elektronik

Drs. Fathurrahman Ketua PWI Cabang Kalsel


TIM REDAKSI JURNAL PENYULUHAN

BIDANG PENAMAS

KEMENTERIAN AGAMA

KANTOR WILAYAH

PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

PENANGGUNG JAWAB :

H. Abdul Halim H. Ahmad, Lc

KETUA :

Drs. H. Amal Fathullah

REDAKTUR :

Drs. H. Faisal, MHI

SEKRETARIS :

Niswati

PENYUNTING :

Dra. Hj. Nurmilati AM, M.AP

LAYOUT :

Rajuddin

SIRKULASI :

Masliah

EDITOR

Ahmad Barjie

EDITORIAL

Peran Penyuluh Agama Islam

pada Era Globalisasi

Pada era globalisasi dewasa ini terkadang

penjungkirbalikkan nilai di masyarakat Indonesia

berlangsung sangat cepat dan tidak diketahui pasti

arahnya karena daya serap masyarakat terhadap

stimulus era global sangat beragam. Modernisasi

ditandai dengan iptek, globalisasi ditandai dengan

penggunaan teknologi informasi yang membuat dunia

ini mengecil menjadi satu kampung.

Persitiwa yang berlangsung di Amerika atau Afrika

hari ini, pada hari ini juga kita bisa

langsung menyaksikan melalui layar kaca atau

internet.

Dunia seperti telanjang, bisa disaksikan seluruh

penduduk bumi. Problemnya bagi Negara erkembang

seperti Indonesia, tingkat pengetahuan dan tingkat

sosialnya belum merata sehingga kemampuannya

menyerap informasi tidak sama.

Sedikitnya ada lima lapisan strata masyarakat;

lapisan ultra modern, masyarakat modern,

masyarakat urban, masyarakat tradisionil, masyarakat

terbelakang bahkan di Papua masih ada masyarakat

yang hidup di zaman batu, belum berpakaian.

Kelimanya menerima stimulus yang sama dari budaya

global, berupa kebebasan, kemewahan, pornografi,

kekerasan

dan lain sebagainya yang berbeda dengan nilai -nilai

tradisi dan budaya Indonesia.

Nah inilah problem berat bagi petugas penyuluh

agama, karena penyuluh agama itu sendiri juga

menjadi korban dari gelombang budaya globalisasi.

Banyak penyuluh agama yang belum masuk

lapisan modern, masih berada pada lapisan urban.

Diperlukan kerja ektra keras untuk mempersiapkan

penyuluh agama mampu berperan dalam membantu

problem masyarakat modern. Kehadiran Jurnal

Penyuluh Agama Islam ini diharapkan menjadi

alternative dalam memberikan referensi untuk para

penyuluh dalam menjalankan tugasnya di lapangan

tugas masing –masing. Mudah – mudahan ada

manfaatnya. Amin.

2

Jurnal Penyuluh Agama Islam terbit empat kali dalam setahun (per triwulan) sebagai sarana pengembangan dakwah dan

pengembangan bakat dan minat dikalangan Penyuluh Agama Islam.

Redaksi menerima artikel , karangan ilmiah yang sesuai dengan jurnal penyuluh pada bidang Penamas Kanwil Kementerian

Agama Kalimantan Selatan.

Naskah yang dikirim maksimal sepuluh halaman dengan kertas A4 spasi 1 setengah disertai dengan gambar dan biodata

penulis.

Bagi penulis yang tulisannya dimuat pada jurnal penyuluh, akan diberikan honorarium sesuai anggaran yang tersedia.

Artikel dikirimkan ke alamat redaksi :

Jl. D.I Panjaitan No. 19 Banjarmasin ( Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan Bidang Penamas

)Email : kemenagkalselpenamas@gmail.com.

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


Daftar Isi

Cover Depan 1

Tim Redaksi & Editorial 2

Daftar Isi 3

Sejarah Penyuluh Agama Islam 4

ARTIKEL :

“IBTIGHA’ FADHLILLAH”

Pembangkit Etos Kerja Menurut Al-Qur’an 8

Karakteristi Manusia Menurut Al-Qur’an 12

Meningkatkan Profesionalisme Penyuluh Agama Dengan Mmemanfaatkan

Teknologi Informasi 14

Peran Penyuluh Agama Sebagai “DOKTER” Umat 18

Ringkasan Hukum-hukum Puasa 23

Teknik Evaluasi dan Pelaporan Kegiatan Penyuluh Agama 26

Penyampaian Naskah Melalui Media Elektronik 28

Cover Belakang 30

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

3


Sejarah Penyuluh Agama Islam

Pengertian Penyuluh Agama Islam dan Peranan.

Penyuluh Agama Islam adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab,wewenang dan hak secara penuh

oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan bimbingan atau penyuluhan agama Islam dan pembangunan melalui

bahasa agama.

Istilah Penyuluh Agama mulai disosialisasikan sejak tahun 1985 yaitu dengan adanya Keputusan Menteri Agama

Nomor 791 Tahun 1985 tentang Honorarium bagi Penyuluh Agama. Istilah Penyuluh Agama dipergunakan untuk menggantikan

istilah Guru Agama Honorer (GAH) yang dipakai sebelumnya di lingkungan kedinasan Departemen Agama.

Sejak semula Penyuluh Agama merupakan ujung tombak Departemen Agama dalam melaksanakan penerangan agama

Islam di tengah pesatnya dinamika perkembangan masyarakat Indonesia. Perannya sangat strategis dalam rangka membangun

mental, moral, dan nilai ketaqwaaan umat serta turut mendorong peningkatan kualitas kehidupan umat dalam berbagai bidang

baik di bidang keagamaan maupun pembangunan.

Dewasa ini, Penyuluh Agama Islam mempunyai peran penting dalam pemberdayaan masyarakat dan pemberdayaan

dirinya masing-masing sebagai insan pegawai pemerintah. Dengan kata lain, keberhasilan dalam bimbingan dan penyuluhan

kepada masyarakat menunjukkan keberhasilan dalam manajemen diri sendiri. Penyuluh Agama Islam sebagai leading sektor

bimbingan masyarakat Islam, memiliki tugas/kewajiban yang cukup berat, luas dan permasalahan yang dihadapi semakin

kompleks. Penyuluh Agama Islam tidak mungkin sendiri dalam melaksanakan amanah yang cukup berat ini, ia harus mampu

bertindak selaku motivator, fasilitator, dan sekaligus katalisator dakwah Islam. Manajemen dakwah harus dapat dikembangkan

dan diaktualisasikan sesuai dengan perkembangan masyarakat yang sedang mengalami perubahan sebagai dampak dari

globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin canggih, yang mengakibatkan pergeseran atau krisis multidimensi.

Disinilah peranan Penyuluh Agama Islam dalam menjalankan kiprahnya di bidang bimbingan masyarakat Islam harus memiliki

tujuan agar suasana keberagamaan, dapat merefleksikan dan mengaktualisasikan pemahaman, penghayatan dan pengamalan

nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

A. Landasan Keberadaan Penyuluh Agama Islam

1. Landasan Filosofis

Sebagai landasan filosofis dari keberadaan Penyuluh Agama adalah:

a) Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 104:

Artinya: “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada

yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”

b) Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 110:

Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan

mencegah dari yang munkar, dan beriuman kepada Allah ......... “

c) Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 125

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka

dengan cara yang baik”

d) Hadits Rasulullah SAW: “ Barang siapa yang melihat kemunkaran, maka rubahlah dengan tangan, apabila tidak

kuasa dengan tangan, maka rubahlah dengan lisan, dan apabila tidak bisa dengan lisan maka dengan hati, walaupun

itulah selemah-lemahnya iman”.

2. Landasan Hukum

Sebagai landasan hukum keberadaan Penyuluh Agama adalah:

a) Keputusan Menteri Nomor 791 Tahun 1985 tentang Honorariumj bagi Penyuluh Agama

b) Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Kepala Badan Kepegawaian Mnegara Nomor 574 Tahun 1999

dan Nomor 178 Tahun 1999 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Agama dan Angka Kreditnya.

c) Keputusan Menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara

Nomor: 54/KEP/MK.WASPAN/9/1999 tentang Jabatan Fungsiopnal Penyuluh Agama dan Angka Kreditnya.

4

C. Jenjang Jabatan dan Jenjang Pangkat Penyuluh Agama.

1. Jenjang Jabatan Penyuluh Agama

a. Penyuluh Agama Terampil, terdiri atas:

1) Penyuluh Agama Pelaksana;

2) Penyuluh Agama Pelaksana Lanjutan;

3) Penyuluh Agama Penyelia.

b. Penyuluh Agama Ahli, terdiri atas:

1) Penyuluh Agama Pertama;

2) Penyuluh Agama Muda;

3) Penyuluh Agama Madya.

2. Jenjang Pangkat Penyuluh Agama, yaitu:

a. Penyuluh Agama Terampil terdiri atas:

1) Penyuluh Agama Pelaksana, dengan jenjang pangkat:

a) Pengatur Muda Tingkat I, golongan ruang II/b

b) Pengatur, golongan ruang II/c

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


c) Pengatur Tingkat I, golongan ruang II/d

2) Penyuluh Agama Pelaksana Lanjutan, dengan jenjang pangkat:

a) Penata Muda, golongan ruang III/a

b) Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b

3) Penyuluh Agama Penyelia, terdiri atas:

a) Penata, golongan III/c

b) Penata Tingkat I, golongan mruang III/d

b. Penyuluh gama Ahli, terdiri dari:

1) Penyuluh Agama Pertama, dengan jenjang pangkat:

a) Penata Muda, golongan ruang III/a

b) Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b

2) Penyuluh Agama Muda, dengan jenjang pangkat:

a) Penata, golongan ruang III/c

b) Penata Tingkat I, golongan ruang III/d

3) Penyuluh Agama Madya, dengan jenjang pangkat:

a) Pembina, golongan ruang IV/a

b) Pembina Tingkat I, golongan ruang IV/b

c) Pembina Utama Muda, golongan uang IV/c.

D. Tugas Pokok, dan Fungsi Penyuluh Agama Islam

1. Tugas pokok Penyuluh Agama Islam

Tugas pokok Penyuluh Agama Islam adalah melakukan dan mengembangkan kegiatan bimbingan atau penyuluhan

agama dan pembangunan melalui bahasa agama.

2. Fungsi Penyuluh Agama Islam

a) Fungsi Informatif dan Edukatif

Penyuluh Agama Islam memposisikan dirinya aebagai da’i yang berkewajiban mendakwahkan Islam, menyampaikan

penerangan agama dan mendidik masyarakat dengan sebaik-baiknya sesuai denga tuntutan Al-Qur’an dan Sunnah

Nabi.

b) Fungsi Konsultatif

Penyuluh Agama Islam menyediakan dirinya untuk turut memikirkan dan memecahkan persoalan-persoalan yang

dihadapi masyarakat, baik persoalan-persoalan pribadi, keluarga atau persoalaqn mqasyarakat secara umum.

c) Fungsi Advokatif

Penyuluh Agama Islam memiliki mtanggung jawab moral dan sosial untuk melakukan kegiatan pembelaan terhadap

umat/masyarakat binaannya terhadap berbagai ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang merugikan

akidah, mengganggu ibadah dan merusak akhlak.

E. Sasaran Penyuluh Agama Islam

Sasaran Penyuluh Agama Islam adalah kelompok-kelompok masyarakat Islam yang terdiri dari berbagai latar belakang

sosial, budaya, pendidikan, dan ciri pengembangan kontemporer yang ditemukan di dalamnya. Termasuk didalam kelompok

sasaran itu adalah masyarakat yang belum menganut salah satu agama yang diakui di Indonesia.

Kelompok sasaran dimaksud adalah:

1. Kelompok sasaran masyarakat umum, terdiri dari kelpompok binaan:

a) Masyarakat pedesaan

b) Masyarakat transmigrasi

c) Masyarakat perkotaan, terdiri dari kelompok binaan:

1) Kelompokm perumahan

2) Real estate

3) Asrama

4) Daerah pemikiman baru

5) Masyarakat pasar

6) Masyarakat daerah rawan

7) Karyawan instansi pemerintah/swasta

8) Masyarakat industri

9) Masyarakat sekitar kawasan industri

2. Kelompok sasaran masyarakat khusus, terdiri dari:

a) Cendekiaan, terdiri dari kelompok binaan:

1) Pegawai/karyawan instansi pemerintah

2) Kelompok profesi

3) Kampus/masyarakat akademis

4) Masyarakat peneliti dan para ahli

b) Generasi muda, terdiri dari kelompok binaan:

1) Remaja Mesjid

2) Karang Taruna

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

5


3) Pramuka

c) LPM, terdiri dari kelompok binaan:

1) Majelis Taklim

2) Pondok Pesantren

3) TKA/TPA

d) Binaan khusus, terdiri dari kelompok binaan:

1) Panti Rehabilitasi/Pondok Sosial

2) Rumah Sakit

3) Masyarakat Gelandangan dan pengemis (gepeng)

4) Komplek wanita tunasusila

5) Lembaga Pemasyarakatan

e) Daerah Terpencil, terdiri dari kelompok binaan:

1) Masyarakat daerah terpencil

2) Masyarakat suku terasing.

D. Materi Penyuluhan

Materi penyuluhan Agama islam pada dasarnya meliputi aagama dan materi pembangunan, meliputi:

1. Materi Agama

Pokok-pokok materi agama meliputi ajaran pokok agama Islam, yaitu:

a. Akidah

Pokok-pokok akidah Islam secara sistematis dirumuskan dalam rukun iman yang enam perkara, yaitu:

1) Iman kepada Allah,

2) Iman kepada Malaikat-Nya,

3) Iman kepada Kitab-kitab-Nya,

4) Iman kepada Rasul-rsul-Nya,

5) Iman kepada Hari Akhirat,

6) Iman kepada Qadha dan Qadhar.

b. Syari’ah.

Dalam garis besarnya syari’ah terdiri dari aspek:

1) Ibadah

Ibadah dalam arti khusus (ibadah khasanah), ialah:

a) Thaharah

b) Shalat,

c) Zakat,

d) Puasa, dan

e) Haji.

Ibadah dalam arti umum (ibadah ‘am-mah), ialah: tiap amal perbuatan yang disukai dan diridhai Allah SWT yang

dilakukan oleh seorang muslim dengan niat karena Allah semata-mata.

6

2) Muamalah meliputi:

a ) Hukum Perdata (Al-qanunu’I khas) terdiri dari:

- hukum niaga;

- hukum nikah;

- hukum waris;

- dan lain-lain.

b) Hukum Publik (Al-qanunul’I ‘am) terdiri dari:

- hukum jinayah (pidana)

- hukum negara;

- hukum perang dan damai;

- dan lain-lain.

c. Akhlak

Dalam garis besarnya akhlak Islam dibagi dalam dua bidang, yakni:

1) Akhlak terhadap Khalik (yaqng menciptakan yaitu Allah SWT), intisarinya ialah sikap kesadaran keagamaan

sebagai berikut:

a) Memuji Allah sebagai tanda bersyukur atas nikmat-Nya yang tiada terhingga;

b) Meresapkan ke dalam jiwa kecintaan dan kasih sayang llah kepada hamba-Nya;

c) Mengakui kekuasaan-Nya yang mutlak dan tunggal yang menentukan posisi manusia di dunia dan di

akhirat;

d) Mengabdi hanya kepada Allah;

e) Memohon pertolongan hanya kepada Allah;

f) Memohon hidayah supaya ditunjukkan ke jalan yang lurus dan dihindarkan dari jalan yang sesat.

2) Akhlak terhadap makhluk (yang diciptakan)

a) Akhlak terhadap manusia, yang meliputi:

- Akhlak terhadap diri sendiri;

- Akhlak terhadap keluarga;

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


- Akhlak terhadap masyarakat.

b) Akhlak terhadap makhluk lain bukan manusia, meliputi:

- Akhlak terhadap tumbuh-tumbuhn (flora);

- Akhlak terhadap hewan (fauna).

2. Materi Pembangunan

Bahan dan informasi untuk materi pembangunan adalah hal-hal yang memiliki keterkaitan langsung dengan masalah:

a. Pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa sekarang dan masa depan;

b. Pembinaan jiwa persatuan, watak dan jatidiri banga (nation) and character building);

c. Meningkatkan peranan partisipasi masyarakat dalam pembangunan menuju hari esok yang lebih baik.

Secara tematis, materti pembangunan dalam garis besarnya meliputi:

1) Pembinaan wawasan kebangsaan;

2) Kesadaran hukum;

3) Kerukunan antar umat beragama;

4) Reformasi kehidupan nasional;

5) Partisipasi masyarakat dalam pembangunan negara. (Tim Redaksi )

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

7


“IBTIGHA’ FADHLILLAH”

PEMBANGKIT ETOS KERJA MENURUT AL-QUR’AN

Disusun oleh : MUHAMMAD RAFI’I, S.AG

Pekerjaan : Penyuluh Agama Islam Fungsional Kec. Simpur Kantor Kemenag

Kab. Hulu Sungai Selatan

N I P. : 19770425 200003 1 003

Alamat Rumah : Batang Kulur Kanan No.3 Rt.01/I Kec. Sungai Raya HSS

Prestasi Terakhir : Penyuluh Agama Islam Fungsional Teladan Tk. Prov. Kal-Sel Tahun

2005

Contact Perssons : 0852 48757368

A. PENDAHULUAN

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang telah mendapat jaminan dari Allah akan

terpeliharanya dari perubahan. Hal ini pantas sekali dalam kedudukannya sebagai

sumber hokum Islam di sepanjang zaman. Begitu juga dalam kedudukannya sebagai

salah satu sumber materi dalam menyampaikan dakwah Islamiyah dan merupakan

tempat kembali bagi para juru dakwah dalam mengambil rujukan dalam melaksanakan

dakwah Islamiyah.

Sebagaimana dimaklumi bahwa kandungan Al-Qur’an bersifat universal, karena memang telah diformulasikan sedemikian

rupa adalah untuk seluruh umat manusia sejak zaman Nabi Muhammad saw sampai akhir zaman. Maka konsekuensinya

adalah Al-Qur’an harus dapat dipahami dan ditransformasikan oleh umat manusia ke dalam kehidupan sehari-harinya demi

tercapainya kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Atau dalam istilah M. Quraisy Shihab adalah bagaimana

membumikan Al-Qur’an.

Kalau dilihat dari kerangka dakwah Islamiyah, yang pertama-tama bersentuhan dan berkompeten untuk

memberikan penafsiran Al-Qur’an agar dapat dipahami oleh manusia adalah para juru dakwah. Kemampuan juru dakwah

dalam menyampaikan semangat Al-Qur’an yang tepat dan kontekstual adalah sangat penting, karena jika terjadi kesalahan

pemahaman terhadap pesan Al Qur’an akibatnya sangat fatal, umat akan statis atau mereka akan lari dari Islam karena

ketidak mengertian mereka terhadap fungsi Al-Qur’an tersebut. Sehingga tidaklah berlebihan jika ada yang berkesimpulan

bahwa maju mundurnya umat Islam ini ditentukan oleh juru dakwahnya.

B. Etos Kerja Menurut Al-Qur’an

Musa Asy’arie memberikan penjelasan tentang Etos Kerja sebagai berikut :

Etos Kerja adalah refleksi dari sikap hidup yang mendasar dalam menghadapi kerja. Sebagai sikap hidup yang mendasar,

maka etos kerja pada dasarnya juga merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai yang

berdimensi transenden. 1 Salah satu hal yang ingin dicari sebagai sumber untuk menemukan etos kerja adalah dari agama 2 .

Salah satu fungsi dari agama karena ia mampu membangun dan membangkitkan kekuatan serta motivasi menuju pada

kenyataan yang riil. 3 Al-Qur’an mendorong manusia agar melakukan pekerjaan yang bisa memakmurkan dunia, dan

mempunyai usaha sebagai azas pencapaian rezeki dan penghidupan. 4

Al Qur’an menggunakan terminology dan untuk

mengungkapkan “mencari rezeki”, penggunaannya di dalam Al-Qur’an merupakan motivasi bagi manusia untuk bekerja

mencari rezeki (karunia Allah) dengan mengeksplorasi sumber daya alam yang telah disediakan oleh Allah SWT.

Ada 12 ayat yang menggunakan terminology

di dalam Al-Qur’an, yaitu : surah Al Baqarah

ayat 198, Al-Maidah ayat 2. An-Nahl ayat 14, Al-Isra’ ayat 12 dan 66, Al-Qashash ayat 73, Ar-ruum ayat 23 dan 64, Fathir

ayat 12, Al-Jatsiah ayat 12, Al-Jumu’ah ayat 10 dan Al-Muzzammil ayat 20.

Dua ayat pertama (surah Al-Baqarah ayat 198 dan Al-Maidah ayat 2) dan ayat 10 surah Al-Jumu’ah adalah termasuk dalam

surah-surah Madaniyyah, selainnya termasuk surah-surah Makkiyyah.

Dua ayat pertama tersebut berkenaan dengan perdagangan di musim haji. Permasalahn ini timbul bukan saja

dikarenakan adanya jamaah haji yang datang ke Mekkah sambil melakukan perdagangan, tetapi juga banyaknya pedagang

non muslim yang datang karena ramainya perdagangan di musim haji tersebut.

Surah Al-Baqarah ayat 198 menjelaskan tentang pembolehan melakukan kegiatan perdagangan di musim haji, ayat

ini turun adalah untuk menjawab permasalahan yang ditanyakan kepada Nabi Muhammad SAW tentang melakukan

perdagangan di musim haji yang mereka merasa berdosa melakukannya. Sebagaimana di riwayatkan oleh Imam Bukhari dari

Abdullah Ibnu Anas :

5

8

1

Musa Asy’arie, Islam, Etos Kerja dan Pemberdayaan Ekonomi Umat, (Yogyakarta, LESFI, 1997), h.34

2

I b I d, 35

3

Clifford Geerts, The Interpretation of Culture, (New York: 1974), h.90.

4

Wahbah Az-zuhaili, Al-Qur’an dan Paradigma Peradaban, Penerjemah : M. Tohir dan Team Tititan Ilahi, (Yoyakarta : Dinamika, 1996),

h.212.

5

Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Bukhari, (Indonesia : Maktabah Dahlan, t.th.), h.677.

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


Imam Muhammad Abduh menjelaskan bahwa hal tersebut tidak berdosa dilakukan asalkan disertai dengan niat yang

ikhlas, bukan berdagang sebagai tujuan utama datang ke Mekkah, bahkan ia menganggap bahwa mencari rezeki disertai

mengingatnya sebagai karunia Allah adalah merupakan ibadah. 6

Tetapi Muhammad Rasyid Ridha berpendapat bahwa pembolehan tersebut hanya rukhshah (keringanan). 7 Dan ia

sependapat dengan Imam Al-Maraghi yang mengatakan bahwa menunaikan manasik semata pada waktu-waktu tersebut

adalah lebih afdhal dan menjauhi kegiatan-kegiatan duniawi adalah terlebih sempurna. 8

Sedangkan surah Al-Maidah ayat 2 menjelaskan tentang larangan perang di bulan haram dan menganggu orangorang

yang mengunjungi Baitullah sedangkan mereka mencari karunia dan keridhaan Allah.

Di dalam surah Al-Jumuah ayat 10 diperintahkan untuk bertebaran mencari rezeki setelah melaksanakan shalat jum’at dan

agar selalu mengingaat Allah dalam segala aktivitasnya.

Imam Al-Maraghi menjelaskan bahwa ayat ini mengisyaratkan kepada dua hal, yaitu :

1. Pengawasan dari Allah pada setiap aktivitas duniawi sehingga tidak melampaui batas dalam mengumpulkan harta

dunia dengan segala macam tanpa memperdulikan apakah cara itu halal atau haram.

2. Berada di dalam pengawasan Allah itu adalah keberuntungan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat. Di dunia adalah

karena barangsiapa yang merasa diawasi oleh Allah SWT maka ia tidak akan melakukan kecurangan dalam takaran dan

timbangan dan tidak akan bersumpah dusta, dengan demikian Allah SWT akan melipat gandakan rezeki baginya,

sedangkan di akhirat ia akan mendapatkan keridha’an Allah SWT. 9

Dan ada satu ayat yang menggunakan uslub yang berbeda dari yang lainnya dalam menganjurkan mencari rezeki,

yaitu surah Al-Qashash ayat 77 :

Artinya :

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,

dan janganlah kamu melupakan kebahagaiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah

(kepada orang lain), dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi, sesungguhnya Allah

tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. 10

Terminologi “

“ digunakan untuk mengungkapkan cara memperoleh harta benda kehidupan

di dunia dengan jalan yang dilarang yaitu dengan menyuruh budak wanita melacur (surah An-Nuur) ayat 33) dan

membunuh orang tanpa haq kemudian merampas hartanya (surah An Nisa’ ayat 94), tetapi di dalam ayat ini adalah

peringatan agar tidak sembarangan membunuh di dalam suasana perang dan belum jelas status yang dibunuh tersebut

dengan maksud memperoleh harta rampasan perang (ghanimah).

Di dalam surah Al-Ankabut ayat 17 Allah memerintahkan untuk meminta rezeki hanya dari sisi Allah dan untuk

menyembah serta bersyukur kepada-Nya, karena Dia-lah satu-satunya yang bias memberi rezeki. Di dalam ayat inilah

terminology

digunakan.

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa ada 12 ayat yang menggunakan terminology “ “, yaitu tiga

ayat di antaranya termasuk ayat madaniyyah dan 9 ayat lainnya termasuk ayat makkiyah. Penggunaan terminology

“ “ tersebut ternyata mempunyai hikmah yang dalam, sebagaimana dijelaskan oleh Quraisy Shihab

sebagai berikut:

Manusia diperintahkan Allah untuk mencari rezeki bukan hanya untuk mencukupi kebutuhannya, tetapi Al-Qur’an

memerintahkan untuk mencari apa yang diistilahkannya fadhl Allah, yang secara harfiah berarti ‘kelebihan yang bersumber

dari Allah’. Kelebihan tersebut dimaksudkan antara lain agar yang memperoleh dapat melakukan ibadah secara sempurna serta

mengulurkan tangan bantuan kepada pihak lain yang oleh karena satu dan lain sebab tidak berkecukupan. 11

Menurut Imam Al-Maraghi pengibaratan rezeki dengan Al-Fadhl , usaha (al-kasb) dengan ibtigha’ disertai

dengan menyebutkan sifat rububiyyah yang menunjukkan bahwa untuk memperoleh rezeki itu berangsur-angsur, adalah

merupakan petunjuk bahwa seseorang tidak akan memperoleh rezeki tanpa berusaha melalui sebab-sebab yang lazim. 12

C. Pengelolaan Sumber Daya Alam

Adapun kesembilan ayat Makkiyyah tersebut mempunyai uslub yang indah untuk sampai kepada perintah mencari

karunia Allah (rezeki), semuanya dimulai dengan mendeskripsikan tentang sunnatullah dan sumber daya alam yang dapat

digali serta diolah oleh manusia. Semua itu disediakan oleh Allah untuk manusia agar dapat dimanfaatkan untuk memenuhi

kebutuhan hidupnya di dunia.

Sebagian ayat menggambarkan tentang penundukkan laut dan berlayarnya kapal di atas lautan tersebut (QS. 16:14,

17:66, 35:12, dan 45:12), dan Allah mengirim angin sehingga layar dapat terkembang (QS. 30:46).

6

Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Qur’an al-Hakim al-Syahir bi-Tafsir Al-Manar, (Beirut : Darul Ma’rifah, 1973), Jld.II, h.231.

7

I b i d

8

Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi,(Beirut: Darul Fikri, t.th.), Jilid I, Juz II, h.102

9

I b i d, Jilid X, h.102.

10

Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an, Al-Qur’an Dan Terjemahnya (Jakarta : DEPAG RI, 1984), h.623.

11

M. Quraisy Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung : Mizan, 1996), h.403.

12

Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Op Cit., Jilid V, h.19.

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

9


Dengan demikian dapatlah manusia menangkap ikan dan mengambil perhiasan yang ada di laut, bahkan di dalam

surah An-nahl ayat 5-14 digambarkan tentang binatang-binatang ternak yang dapat dimanfaatkan bulunya dan sebagiannya

untuk dimakan, dijadikan tunggangan dan pemikul beban-beban manusia. Penurunan air hujan dari langit, sebagian untuk

diminum dan lainnya untuk menyuburkan tumbuh-tumbuhan dan rumput di padang gembalaan. Allah juga menundukkan

malam dan siang, matahari, bulan, bintang dan laut untuk manusia, supaya manusia mencari (keuntungan) dari karunia-Nya

dan supaya bersyukur, karena jika manusia mencoba menghitung nikmat Allah niscaya tidak akan mampu (Surah An-Nahl

ayat 18).

Di dalam surah Faathir ayat 12 Aallah menjelaskan tentang dua macam laut yang berbeda yaitu yang tawar dan segar

lagi sedap diminum, dan yang asin lagi pahit, tetapi dari keduanya manusia dapat memakan daging ikan yang segar dan

mengeluarkan perhiasan yang dapat dipakai manusia.

Dan sebagian ayat menggambarkan tentang penciptaan malam dan siang supaya manusia dapat berusaha pada

siang hari dan beristirahat pada malam hari (QS. 17:12, 28:73, dan 30:23), bahkan penciptaan malam dan siang tersebut

merupakan tanda kekuasaan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surah Ali Imran ayat 190 :

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda

bagi orang-orang yang berakal,” 13

Dan demikian pula di dalam surah Ar-Ruum ayat 23 :

Artinya: “dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari

sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi

kaum yang mendengarkan.” 14

Sehingga penciptaan siang dan malam itu menjadi rahmat bagi manusia yang wajib disyukuri, sebagaimana firman

Allah di dalam surah Al-Qashash ayat 73 :

Artinya: “Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan

supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-

Nya.” 15

Dengan tersedianya sumber daya alam tersebut buat manusia, maka tugas manusialah untuk mengelola dan

memanfaatkan melalui kerja, agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan merupakan manifestasi dari tugasnya sebagai

khalifah di muka bumi ini untuk memakmurkannya.

Tugas manusia adalah bekerja mengelola sumber daya alam tersebut sehingga manusia dapat makan dari rezeki yang

oleh Allah SWT. Allah telah memberikan jaminan rezeki bagi semua hamba-Nya, bahkan rezeki semua yang hidup di muka bumi

ini (QS.Hud ayat 6). Namun, seiring dengan itu, Sunatullah menetapkan bahwa rezeki yang telah dijamin, makanan yang telah

ditakar, dan kehidupan yang telah di mudahkan, tidak akan diperoleh kecuali dengan bekerja. 16 Dan ayat tersebut memberikan

kesan bahwa jaminan rezeki yang dijanjikan Tuhan, ditujukan kepada makhluk yang dinamainya “dabbah”, yang arti harfiahnya

adalah “yang bergerak”. 17

Yusuf Qardhawi menganggap tanah (alam) dan kerja adalah sebagai unsur utama di dalam produksi. Produksi lahir dan

tumbuh dari perkawinan manusia dengan alam, 18 karena itu Allah menggandengkan keduanya dalam firman-Nya surah Al-

Mulk ayat 15 yang berbunyi :

.

Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah

sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. 19

10

13

Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an, Op Cit., h.109.

14

I b i d, h.644.

15

I b i d, h.622

16

Yusuf Qardhawi, Kiat Islam Mengentaskan Kemiskinan, Penerjemah : Syafril Halim, (Jakarta : Gema Insani Press, 1995), h.55

17

M. Quraisy Shihab, Op Cit., h.499-450.

18

Yusuf Qardhawi, Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam,Penerjemah : KH. Dididn Hafidhuddin dkk., (Jakarta : Robbani Press,

1997), h.146.

19

Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an, Op Cit., h.956.

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


Untuk meraih sukses atau sukses yang lebih besar bagi kita sudah ditemukan satu rumus, yaitu kita harus mampu

memanfaatkan sebesar-besar dan sebanyak-banyak anugerah Tuhan itu. 20 Tetapi kegiatan pengeksplorasian kekayaan alam

tersebut hendaknya dengan memperhatikan keseimbangan alam, agar tidak membuat kerusakannya, karena di beberapa ayat

diiringkan larang berbuat kerusakan di muka bumi setelah perintah agar mencari karunia Allah.

Dan hendaknya manusia menjadi pandai bersyukur atas segala karunia Allah SWT yang telah disediakan-Nya

tersebut, di dalam beberapa ayat yang berhubungan dengan etos kerja ini terdapat harapan supaya manusia bersyukur (QS.

16:14, 28:73, 30:46, 35:12, dan 45:12).

D. Penutup

Al-Qur’an memberikan motivasi kepada manusia untuk bekerja disertai dengan menyatakan bahwa Allah SWT telah

menyediakan sumber daya alam yang siap diolah oleh manusia. Al-Qur’an menggunakan kata “Ibtigha fadhl Allah” adalah

sebagai isyarat bahwa bekerja bukan sekedar untuk mencukupi kebutuhan prbadi, tetapi agar memperoleh kelebihan sehingga

dapat membantu kaum miskin, penggunaan kata tersebut juga mengisyaratkan bahwa Fadhlullah atau rezeki hanya akan

diperoleh melalui Ibtigha’ atau Al-Kasb (bekerja). Demikianlah Allah menetapkan aturan-Nya supaya disadari bahwa rezeki

yang didapat adalah hanya anugerah dari Allah semata, untuk itu masyarakat dan pemerintah diminta memberikan bantuan,

baik berupa modal ataupun latihan kerja dan lain-lainnya.

Kemudian tugas juru dakwah adalah agar lebih banyak memperhatikan tentang keadilan sosial dalam Islam tanpa

harus mengurangi penekanan di bidang-bidang lain, dan agar mengkombinasikan antara dakwah bil lisan dengan dakwah bil

hal sehingga angka kemiskinan dapat ditekan.

20

Nadjih Ahjad, Islam Jalan Menuju Hidup Sukses , (Surabaya: Bina Ilmu, 1991), h.26

DAFTAR PUSTAKA

Ahjad, Nadjih, Islam Jalan Menuju Hidup Sukses, Bina Ilmu, Surabaya, 1991.

Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail, Shahih Bukhari, Maktabah Dahlan, Indonesia t.th.

Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa, Tafsir Al-Maraghi, Darul Fikri, Beirut, t.th.

Asy’arie, Musa, Islam, Etos Kerja dan Pemberdayaan Ekonomi Umat, LESFI, Yogyakarta, 1997.

Az-zuhaili, Wahbah, Al-Qur’an dan Paradigma Peradaban, Penerjemah : M. Tohir dan Team Tititan Ilahi, Dinamika,

Yoyakarta, 1996.

Geerts, Clifford, The Interpretation of Culture, New York: 1974.

Qardhawi, Yusuf, Kiat Islam Mengentaskan Kemiskinan, Penerjemah : Syafril Halim, Gema Insani Press, Jakarta,1995.

_____________, Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, Penerjemah : KH. Dididn Hafidhuddin dkk.,

Robbani Press, Jakarta, 1997

Rasyid Ridha, Muhammad, Tafsir Al-Qur’an al-Hakim al-Syahir bi-Tafsir Al-Manar, Darul Ma’rifah, Beirut, 1973 M/

1393 H., cet. Ke-3.

Shihab, M. Quraisy, Wawasan Al-Qur’an, Mizan, Bandung, 1996.

Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, DEPAG RI, Jakarta, 1984.

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

11


12

Karakteristik Manusia Menurut Al-Quran

Rasyid, S. Ag.

(Ketua Pokjaluh Kab. Tabalong.)

Islam melalui Al-Qur’an memberi pengertian bahwa manusia adalah komunitas tunggal, anak cucu Adam

(QS. Al-Baqarah : 213), dan (Al-A’raf : 26-27).

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi

peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia

tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah

didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena

dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang

hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-

Nya kepada jalan yang lurus”.

“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian

indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa, itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tandatanda

kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua

ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya.

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.

Sesungguhnya kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.

Dalam pandangan Islam manusia yang hidup sekarang adalah anak cucu dari dua orang tua yang sama,

yaitu Adam dan Hawa. Dan bukan sebagai makhluk yang mengalami missing link dengan kera sebagaimana teori

Charles Darwin. Sebagai keturunan dan anak cucu Adam dan Hawa maka pastilah manusia mewarisi banyak sifat

dari orang tua pertama yang sama itu. Sifat, watak dan prilaku, juga gena yang dimiliki kedua orang tua pertama

kemudian secara turun temurun dan dari generasi ke genarasi yang kemudian menurun membentuk ciri-ciri dari

manusia sekarang dan Adam – Hawa juga tentunya.

Secara umum, walau manusia berbeda suku bangsa, dipisahkan oleh batas geografis, adat istiadat dan

budaya, bahasa, agama dan kepercayaan, kualitas intelektual dan sebagainya, tetapi manusia tetaplah manusia

yang merupakan keturunan Adan dan Hawa. Perbedaan itu semua tidak menjadi serta merta membedakan mereka

sebagai manusia. Ada ciri-ciri umum dan sekaligus karakteristik manusia yang sama yang terdapat pada setiap

individu.

Banyak hal yang bisa didiskusikan mengenai manusia, baik yang bersifat jasmani ataupun rohani. Hal-hal

yang terkait dengan manusia antara lain sifat, watak, prilaku, pikiran, sebagai makhluk sosial, karakter, jati diri, dan

juga ciri-ciri manusia.

Pada penulisan artikel sekarang mengangkat tema ciri-ciri dan karakteristik yang dimiliki manusia sebagai

keturunan Adam dan Hawa. Artinya ciri-ciri yang sama antara Adam-Hawa dengan umat manusia pada umumnya.

Ciri-ciri dan karakteristik itu antara lain sebagai berikut:

1. Keimanan akan adanya Allah. Keberadaan Adam dan Hawa di surga lalu melakukan pelanggaran atas

larangan Allah, dan tobat mereka yang di-terima Allah hingga diturunkannya mereka ke bumi membuktikan

bahwa Adam dan Hawa ber-iman kepada Allah. Keimanan kepada Allah meru-pakan ciri-ciri manusia yang

diwariskan kepada kita melalui gena-gena berbarengan dengan ciri-ciri lainnya. Simak QS AI-A’raf:23 dan

QS AI-A’raf:172-173.

“Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak

mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang

merugi.”

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah

mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka

menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari

kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap

Ini (keesaan Tuhan)”,

“Atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami Telah mempersekutukan Tuhan

sejak dahulu, sedang kami Ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah

Engkau akan membinasakan kami Karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”

2. Pengetahuan. Adam diberi anugerah pengetahuan oleh Allah sehingga praktis semua umat manusia memiliki

potensi untuk memiliki dan mengembangkan pengetahuan, dan dituntut untuk mencari pengetahuan dan

mengajarkannya. Pada sejumlah orang potensi itu bersifat aktif, sedangkan pada orang-orang lain tertekan.

Simak QS Al-Baqarah : 31-33.

Al Maraghi menjelaskan, kita bisa mengetahui keistimewaan jenis makhluk manusia disbanding jenis makhluk

Allah yang lain. Di samping itu pada diri manusia telah disediakan alat untuk bisa meraih kematangan

secara sempurna dibidang ilmu pengetahuan, lebih jauh pengetahuannya di banding malaikat. Dengan

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


inilah manusia diutamakan untuk menjadi khalifah di muka bumi. (Tafsir Al maraghi, Terj. Bahrun Abu

Bakar, th. 1985, h. 137)

3. Ketergesa-gesaan dan keingintahuan. Adam dan Hawa melakukan eksperimen pertama dengan mendekati

pohon terlarang dan memakan buah-nya. Barangkali ide itu timbul dari keingintahuan mereka apakah janji

setan benar, bahwa jika me-reka makan buah pohon terlarang itu akan menjadi malaikat dan kekal. Mereka

pun tergesa-gesa meng-iy akan rayuan setan dan melalaikan pesan Tuhan, hingga mereka menyadari

kesalahan mereka dan malu, karena tiba-tiba bagian-bagian tertentu dari tubuh mereka terlihat, Keingintahuan

pada anak cucu Adam secara praktik mendorong mereka melakukan segala eksperimen dalam berbagai

ma-cam bidang, sedangkan ketergesa-gesaan menye-babkannya ingin berjalan lebih cepat, dan memperoleh

segala sesuatu lebih cepat, sebagai sisi positif keberhasuan-keberhasilanilmiah. Suatukebetulan

yangmenarik, bahwa banyak eksperimen dilaku-kan para ilmuwan dengan tujuan tertentu, tetapi dalam

banyak kasus menghasilkan hal yang ber-beda. Dan sejarah sains penuh dengan penemuan-penemuan

yang tidak terduga semacam itu. Lihat QS Al-Anbiaya’:37.

“ Manusia Telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda

azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”

4. Status. Adam diberi status sebagai khalifah untuk ‘menguasai’ burni. Karena itulah praktis semua manusia

tergoda dan tergila-gila mengejar status (kekuasaan). Keinginan mengejar status, kekuasa-an dan supremasi

inilah yang sering menimbulkan gangguan stabilitas, baik dalam lingkup kepen-tingankehidupan berpribadi,

bertetangga, bersuku, berbangsa dan bernegara. Renungkan QS AI-Baqarah:30, QS Shad:26, dan QS AI-

An’am : 165.

5. Penguasaan energi. Manusia cenderungmenggali dan hingga batas tertentu mengeksploitasi energi alam

semesta untuk memenuhi kebutuhan dan ketamakan hidup mereka. Salah satu perolehan ilmiah utama

manusia adalah kemampuan untuk menguasai ‘dan memanfaatkan berbagai energi, seperti tenaga nuklir,

tenaga surya, dan sebagainya.

6. Kenikmatan. Adam dan Hawa diperintahkan Allah bertempat tinggal di surga dan menikmati segala macam

makanan dan minuman yang tersedia di sana sesuka hati, kecuali mengkonsumsi makanan dari pohon

terlarang. Adam dan Hawa diberi ke-hidupan ideal yang penuh kenikmatan. Banyak upaya ilmiah ditujukan

untuk mendatangkan ke-nikmatan yang dikejar kepada manusia. Sebagian dari hasil temuan yang

mendatangkan kenikmatan itu membawa manfaat, namun tidak sedikit hal-hal yang dianggap mendatangkan

kenikmatan itu membawa mudarat. Perhatikan QS Al-A’raf:19 dan QS AI-Baqarah:219.

“(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu

berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,

lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.”

7. Panjang umur. Kematian adalah unsur yang meng-hantui manusia. Adam dan Hawa ingin melepaskan diri

dari rasa takut akan kematian ini, dan ingin hidup selama-lamanya dengan memakan buah dari pohon

keabadian’. Ketakutan akan kematian praktis dimiliki oleh semua umat manusia, dan kebanyakan dari

manusia ingin menjalani kehidupan selama mungkin. Kalau bisa seribu tahun! Se-bagian besar penelitian

ilmiah tanpa disadari barangkali ditujukan untuk mendapatkan sarana-sarana meningkatkan rentang umur

manusia. Banyak di antara kita mentaati perintah Tuhan karena ingin sekali berumur panjang dan memperoleh

kenikmatan selama-lamanya dalam surga. Sebagaimana disinyalir dalam QS AI-Baqarah: 96 dan QS

AI-A’raf: 20.

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia),

bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu

tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha

mengetahui apa yang mereka kerjakan”.

8. Pakaian dan rasa malu. Ketika melakukan pelanggaran, tersingkaplah kemaluan Adam dan Hawa, sehingga

mereka berusaha mermtupi organ tubuh mereka dengan dedaunan. Barangkali karena adanya rasa malu

inilah manusia mengenakan kain untuk menyembunyikan dan menutup bagian-bagian tubuh mereka yang

sangat pribadi, di samping adanya faktor lain, untuk menghias dan melindungi tubuh dari panas dan dingin.

Simak penjelasan Allah dalam QS AI-A’raf: 22, 26-27.

9. Tergoda. Adam dan Hawa tergoda setan memakan buah terlarang, kemudian insaf atas kesalahan mereka

dan bertobat memohon ampun kepada Allah. Sebagian besar umat manusia terjerumus dalam perangkap

setan, sehingga melanggar aturan Allah dan melakukan perbuatan dosa, tetapi cepat atau lambat, banyak

di antara mereka lantas bertobat dan memohon ampunan-Nya. Gena-gena yang membawa warisan berbagai

ciri tersebut di atas tampaknya bersifat aktif pada sejumlah orang dan/atau tertekan pada orang lain dengan

kadar yang berbeda-beda. Perhatikan QS AI-Baqarah:35-36 dan QSAI-lsra’:85.

Mari kita jaga kemanusiaan kita. Pertahankan kita sebagai makhluk Allah yang paling mulia.

Manusia jasmani dan rohani. Bukan sekedar manusia fisik jasmani semata, melainkan juga sebagai makhluk

rohani yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan. Wallahua’lam.

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

13


MENINGKATKAN PROFESIONALISME

PENYULUH AGAMA DENGAN

MEMANFAATKAN TEKNOLOGI INFORMASI

BIODATA PENULIS :

Nama

: M.Hanafi Ridhani, S.S

Tempat/Tanggal Lahir : Banjarmasin, 10 Pebruari 1981

NIP : 198102102008011013

Jabatan

: Penyuluh Agama Islam fungional Kab.Tanah Bumbu

Ketua Pokjaluh Kabupaten Tanah Bumbu

No.HP : 081348325958

Pendidikan terakhir

Pengalaman organisasi

: S1 pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas

Adab, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab

: Ketua bidang Jurnalistik Forum Lingkar Pena

Yogyakarta

A. PENGANTAR

Pertama kali komputer ditemukan, ia belum bisa berkomunikasi dengan sesamanya. Pada saat itu komputer masih

sangat sederhana. Berkat kemajuan teknologi di bidang elektronika, komputer mulai berkembang pesat dan semakin dirasakan

manfaatnya dalam kehidupan kita. Saat ini komputer sudah menjamur dimana-mana. Komputer tidak hanya dimonopoli oleh

perusahaan-perusahaan, universitas-universitas atau lembaga-lembaga lainnya, tetapi sekarang komputer, notebook, dan

laptop sudah dapat dimiliki secara pribadi seperti layaknya kita memiliki radio.

Istilah teknologi informasi mulai populer diakhir tahun 70-an. Pada masa sebelumnya istilah teknologi informasi biasa

disebut teknologi komputer atau pengolahan data elektornik (elektronik data processing). Teknologi informasi didefinisikan

sebagai teknologi pengolahan dan penyebaran data menggunakan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software),

komputer, komunikasi, dan elektronik digital.

Perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia selalu berjalan dari masa ke masa. Sebagai negara yang sedang

berkembang, selalu mengadopsi berbagai teknologi informasi hingga akhirnya tiba di suatu masa di mana penggunaan

internet mulai menjadi “makanan” sehari-hari yang dikenal dengan teknologi berbasis intenet (internet based technology).

Teknologi informasi dan komunikasi merupakan elemen penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Peranan

teknologi informasi pada aktivitas manusia pada saat ini memang begitu besar. Teknologi informasi telah menjadi fasilitas

utama bagi kegiatan berbagai sektor kehidupan dimana memberikan andil besar terhadap perubahan-perubahan yang mendasar

pada struktur operasi dan manajemen organisasi, pendidikan, transportasi, kesehatan, metode penelitian, dan model dakwah

dan penyiaran Islam.

Perkembangan teknologi informasi yang terus semakin bergerak maju, selain berdampak positif bagi kemajuan umat

manusia, ternyata juga membawa dampak yang negatif. Bagaikan sebilah pisau yang bermata dua, teknologi berbasis internet

tergantung bagi mereka yang memanfaatkannya.

Oleh karena itu sangatlah penting peningkatan kemampuan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM)

dalam memanfaatkan teknologi informasi utamanya untuk para pengemban dakwah dan penyuluh-penyuluh Agama Islam

karena dengan memanfaatkan teknologi berbasis intenet, dakwah akan menjangkau seluruh lapisan masyarakat dunia dan

menembus batas negara, ras, kelas, dan ideologi. Bahkan, pada perkembangan terkini, dengan memanfaatkan teknologi

informasi, dakwah dapat diperkaya dengan visualisasi multimedia, video animasi, aplikasi ebook, dan digital library.

Tulisan singkat ini bermaksud menguraikan bagaimana meningkatkan profesionalitas kegiatan penyuluhan dengan

memanfaatkan teknologi informasi yang terus semakin berkembang dan bergerak maju. Mengingat luasnya pembahasan,

maka artikel ini akan ditulis secara berseri oleh penulis.

14

B. MANFAAT INTERNET SECARA UMUM

Manfaat internet dewasa ini terasa semakin berperan penting dan sangat luas cakupannya. Bila pada sekitar 10

tahun yang lalu, manfaat internet lebih banyak digunakan oleh kalangan perkantoran dan bisnis, sekarang boleh dikatakan

internet menjadi hal wajib bagi berbagai kalangan dan sebagian besar kalangan muda terutama. Juga akses internet

sekarang jauh lebih mudah di dapat dengan banyak bertebarannya warnet, sekolah yang banyak menyediakan sarana dan

memberikan pelajaran seputar dunia internet. Juga kecanggihan teknologi smartphones, gadget dan akses internet dari

rumahpun sekarang bisa didapat dengan mudah dan dengan biaya yang relatif murah. Internet seolah-olah seperti sebuah

pintu, yang ketika kita melewatinya, akan terbentang berbagai macam hal dari seluruh belahan dunia. Bukan sebatas

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


keterbatasan mata memandang, internet menawarkan kepada kita untuk bisa berkeliling dunia tanpa harus beranjak dari

tempat duduk di depan layar monitor. Seolah dunia internet tanpa batas ruang dan jarak. Lewat internet kita bisa banyak

sekali mendapatkan informasi terbaru tentang berbagai hal. Bertemu lewat internet dengan orang-orang dari berbagai

belahan dunia, saling berbagi, saling berbincang, bertukar ide, bertukar pengetahuan dan tentu akan banyak lagi manfaat

internet yang bisa kita dapat.

Manfaat internet semakin sangat terasa bagi para pemakainya yang tidak bisa lepas dari dunia internet ini. Seperti misalnya

para internet marketing, narablog, blogger, dan juga sekarang toko online semakin mempunyai tempat di mata para

konsumen yang sedang mencari barang tertentu. Konsumen tidak perlu repot lagi untuk memperoleh suatu barang. Bisa

sekedar mencari tambahan informasi seputar barang yang diinginkan atau bahkan sekaligus memesan, membayar dan

menyelesaikan semua transaksi, dan selanjutnya tinggal menunggu barang datang diantar sesuai alamat yang kita minta.

Apakah bisa dipercaya, atau apakah tidak takut resiko untuk dibohongi bila memesan barang lewat internet? Tentu saja

semua kemungkinan bisa terjadi, jangankan di dunia maya (baca: internet), di dunia nyata yang juga nyata kelihatan

barang, penjual dan pembelinya sekalipun tetap saja bisa terjadi resiko tersebut. Seperti hampir semua hal di dunia, internet

juga mempunyai dua sisi yang berbeda. Hitam dan putih, baik dan buruk, manfaat dan mudharat, positif dan negatif.

Beberapa manfaat internet yang sering disalahgunakan dan berdampak secara negatif untuk kehidupan manusia adalah :

1. Cybercrime. Adalah kejahatan yang di lakukan seseorang dengan sarana internet di dunia maya yang bersifat

melintasi batas Negara dan menimbulkan kerugian yang sangat besar.

2. Pornografi

Anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan

penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela.Untuk mengantisipasi hal ini, para produsen

‘browser’ melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis home-page yang dapat di-akses.

3. Violence And Gore

Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi pada dunia internet tidak terbatas,

maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat ‘menjual’ situs mereka.

4. Penipuan

Hal ini memang merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari serangan penipu. Cara yang terbaik

adalah tidak mengindahkan hal ini atau mengkonfirmasi informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi

tersebut.

5. Perjudian

Dampak lainnya adalah meluasnya perjudian. Dengan jaringan yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ke tempat

khusus untuk memenuhi keinginannya. Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, karena umumnya situs

perjudian tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan dari pengunjungnya.

6. Mengurangi sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara

langsung (face to face). Dari sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam

berinteraksi.

Selain dampak dan manfaat negatif tersebut, berbagai dampak positif yang bisa dimanfaatkan dari teknologi internet

adalah :

1. Menambah wawasan dan pengetahuan dari berbagai bidang dari seluruh dunia.

2. Mendapatkan banyak ide baru yang segar dan mempunyai prospek yang bagus di masa depan. Melepaskan pola

pikir yang terkukung dan terpaku. Melihat informasi kemajuan-kemajuan yang dicapai negara lain secara cepat,

melihat kesuksesan orang lain, tips dan triknya, yang bisa menjadi pemacu semangat belajar dan berusaha.

3. Sarana komunikasi, semakin canggihnya internet memungkinkan kita untuk saling berkomunikasi secara tak terbatas.

Tidak terbatas ruang dan tempat, mungkin ini juga bisa dilakukan dengan handphone. Tentu saja, tetapi dengan

jejaring sosial seperti Facebook di internet, memungkinkan kita untuk menemukan teman lama yang tidak pernah

bertemu karena masalah tempat, menemukan teman-teman baru dari berbagai wilayah, bahkan menemukan informasi

orang-orang kita ingin ketahui keberadaanya. Semua bisa dan mungkin dilakukandi jejaring sosial, dan tanpa harus

beranjak tempat.

4. Mencari uang di internet

Sangat mungkin, bisa dan masuk akal. Sudah sangat banyak yang membuktikannya, bekerja online lewat internet

bisa menjadi sumber penghasilan. Meskipun bekerja secara online sebagai internet marketing (misalnya) masih

dipandang sebuah pekerjaan yang tidak umum oleh sebagian orang yang tidak paham. Bagaimana caranya, sangat

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

15


panjang untuk dirinci secara detail, kita bisa menemukan banyak sekali jalan (secara benar) untuk mendapatkan

penghasilan lewat internet.

C. MANFAAT TEKNOLOGI INFORMASI BAGI PENYULUH AGAMA ISLAM

Bernie Trilling menuliskan dalam bukunya Toward Learning Societies, 2006, beberapa hal yang perlu diketahui dan

bisa dilakukan dengan internet adalah:

1. Searching

2. Sharing

Searching adalah pencarian sesuatu hal, bisa dokumen, gambar, video,mp3, voice, berita, dan lain sebagainya

di internet. Searching biasanya menggunakan jasa search engine (mesin pencari) yang dapat digunakan secara

gratis, seperti yahoo dan google. Penelusuran berdasarkan search engine dilakukan berdasarkan kata kunci (keyword)

yang kemudian akan dicocokkan oleh search engine dengan database (basis data) miliknya.

Bagi para penyuluh agama Islam, fasiltas searching ini bisa dimanfaatkan untuk mencari berbagai macam materimateri

penyuluhan seperti gambar-gambar sebagai alat peraga, makalah, artikel, file presentasi power point, video

dan animasi peragaan tatacara ibadah, ceramah-ceramah agama, aplikasi dan program-program Islami. Hasil dari

searching tersebut dapat didownload dan disimpan di harddisk yang kalau perlu bisa diedit kembali sesuai dengan

kebutuhan kita.

Beberapa search engine memiliki algoritma khusus untuk memudahkan dan mengoptimalkan pencarian. Pembahasan

mengenai hal ini akan dibahas oleh penulis dalam tulisan berikutnya mengingat pembahasan tentang hal ini memerlukan

penjelasan detail dengan disertai contoh-contohnya.

Sharing adalah kegiatan berbagi ilmu pengetahuan lewat web pages (situs internet), blog, mailing list.

Seorang penyuluh agama yang ingin membagi ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain dengan jumlah

yang tidak terbatas maka perlu memiliki situs ataupun blog yang akan menampung semua materi dakwah yang ingin

disampaikan. Materi pembelajaran bagaimana membuat blog atau situs banyak tersebar di internet, bisa di searching

dan dapat langsung dipraktekkan. Kalaupun kita tidak memiliki waktu untuk mempelajarinya, kita bisa mengupah

seorang yang profesional untuk membuatnya. Besarnya biaya biasanya ditentukan seberapa rumit dan situs dan

blog yang dibuat

Materi-materi dakwah tersebut tidak hanya terbatas pada bentuk tulisan, tetapi bisa diperkaya dengan video dan

audio dalam bentuk tv internet dan radio internet, yang akan menampilkan rekaman ceramah dalam bentuk video dan

audio yang dapat disaksikan dan didengar oleh mereka yang membuka situs yang kita buat.

Salah satu situs dakwah yang diperkaya dengan video dan audio adalah www.alhabibomar.com. Situs ini adalah

situs resmi Habib Umar bin Hafidz yang memuat materi-materi dakwah beliau baik dalam bentuk tulisan, audio, dan video

yang semuanya itu dapat didownload ataupun disaksikan secara langsung lewat internet. Selain materi dakwah, kegiatan

dan kesibukan beliau mengajar dan berdakwah dapat pula kita ketahui dengan membuka situs ini. Walaupun situs tersebut

ditulis dengan bahasa Arab, dengan mudah kita dapat menerjemahkan ke bahasa Indonesia dengan bantuan aplikasi

penerjemah online dengan membuka http://translate.google.co.id/ dan mengikuti petunjuk yang ada.

Beberapa situs berisi materi-materi dakwah dan berita dunia Islam yang dapat memperkaya variasi materi dakwah

adalah www.eramuslim.com, www.rumahfiqih.com, www.pusatkajianhadis.com, www.islamedia.web.id,

www.pesantrenvirtual.com, www.voa-islam.com, Ada juga situs yang menyediakan ribuan kitab-kitab kuning berbahasa

Arab yang dapat didownload satu kitab utuh seperti www.waqfeya.com, www.shamela.ws, www.saaid.net,

www.almeshkat.net, www.kitabklasik.net/2008/05/download-page.html, www.

Selain materi dakwah, kita juga bisa mengunduh (download) software-software Islami yang dapat membantu

penyuluh Agama dalam melaksanakan tugasnya, antara lain software penghitung harta waris dan zakat, perpustakaan

digital (maktabah syamilah, maraji’ akbar, Jamie fiqih, mausu’at hadits dan lain-lain), software tajwid dan tilawah, aplikasi

kamus bahasa Arab, dan lain-lain.

Beberapa software bisa diunduh secara gratis dan ada juga yang harus berbayar. Situs yang menyediakan software Islami

dan dapat diunduh secara gratis antara lain http://islam-download.net dan http://fathulwahhab.blogspot.com.

3. Communicating

16

Berkomunikasi di internet bisa melalui e-mail, chating , dan mailing list. E-Mail (singkatan dari

electronic mail) atau surat elektronik ialah pesan tertulis yang dikirim dari seorang pengguna komputer kepada

pengguna komputer yang lain dengan menggunakan fasilitas program pengiriman data yang disediakan oleh

sebuah server komputer yang terhubung dengan internet. Beberapa penyedia layanan email yang popular adalah

www.yahoo.co.id, www.yahoo.com, www.gmail.com, www.hotmail.com, www.plasa.com.

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


Chat adalah sebuah fasilitas internet yang memungkinkan sejumlah pengguna yang bergabung di dalamnya untuk

berkomunikasi atau bercakap-cakap secara langsung (real-time) lewat tulisan yang diketikkan oleh masing-masing peserta

chat. Fasiltas chat ini juga tersedia di Facebook. Hanya saja untuk melakukan chat di Facebook, seseorang perlu memiliki

alamat e-mail dan account Facebook dengan mendaftarkannya di www.facebook.com. Fasiltas chat ini dapat dimanfaatkan

oleh penyuluh Agama untuk berdakwah di dunia maya dengan cara diskusi dan mengadakan konsultasi agama online.

Mailing List disingkat Milis yaitu kumpulan atau daftar dari sejumlah alamat e-mail yang digabungkan menjadi satu

alamat e-mail. Email yang dikirim oleh seorang anggota milis ke alamat email milis tersebut akan diterima secara serentak

oleh seluruh anggota milis yang bersangkutan. Dengan demikian akan terjadi semacam diskusi tertulis jarak-jauh antar para

anggota milis. Untuk dapat mengikuti diskusi tersebut diperlukan alamat email dan mendaftar pada grup yang diminati.

Biasanya terdapat pada yahoogoups.com. Pada tahap ini anggota baru akan diminta mengisi database agar informasi dari

semua anggota terangkum dengan rapi.

Beberapa milis Islam yang bisa kita ikuti adalah Daarut-tauhiid-subscribe@yahoogroups.com, Syiar-islamsubscribe@yahoogroups.com,

sabili-subscribe@yahoogroups.com, is-lam-subscribe@milis.isnet.org, mifta-perjuangansubscribe@yahoogroups.com,

ekonomi-syariah-subscribe@yahoogroups.com,pengusaha-muslimsubscribe@yahoogroups.com

D. KESIMPULAN

Perkembangan dakwah di dunia maya pada saat ini cukup menggembirakan. Hal ini dibuktikan dengan

semakin banyaknya orang-orang mancanegara khususnya belahan dunia Eropa dan Amerika masuk Islam karena

membaca dan berdiskusi di internet.

Bagi seorang penyuluh agama perlu untuk mengikuti dan mempelajari perkembangan teknologi inofrmasi

terkini. Dengan internet, seorang penyuluh Agama Islam akan mudah mencari dan mendapatkan materi-materi

penyuluhan yang lebih bervariatif dan up to date.

Beberapa software Islami juga akan sangat membantu penyuluh dalam melaksanakan tugas konsultasi dan

bimbingan keagamaan, misalnya software penghitungan zakat dan waris yang dalam waktu sekian detik mampu

menampilkan perhitungan zakat dan waris secara akurat, sehingga profesionalitas seorang penyuluh akan jelas

terlihat dan manfaatnya dapat dirasakan oleh umat. Diskusi, komentar, atau permintaan software Islami yang dimiliki

oleh penulis, silahkan hubungi penulis via telepon atau kirimkan email ke mdcomp1419h@gmail.com

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

17


PERAN PENYULUH AGAMA SEBAGAI

“DOKTER” UMAT

Oleh ; Syahdan, S.H.I

(Penyuluh Agama Islam Kec. Liang Anggang)

Seperti halnya seorang dokter, maka seorang penyuluh agama perannya di masyarakat juga bisa dikatakan sebagai

“dokter”nya umat. Bahkan kalau dokter mengobati penyakit medis maka seorang penyuluh agama mengobati segala macam

penyakit yang menghinggapi umat bahkan secara medispun penyuluh juga berperan mengobati misalnya penyakit yang

berkaitan dengan faktor psikologis yang seorang dokter kadangkala tidak bisa menanganinya.

Oleh karena itu sungguh profesi sebagai penyuluh agama sangatlah mulia bahkan lebih mulia daripada profesi yang

lain. Penyuluh agama atau dalam bahasa agama disebut sebagai pengemban dakwah (hamlud dakwah), mendapatkan tempat

yang mulia dalam Islam sebagaimana firman Allah SWT :

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh,

dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” QS Fushshilat [41]: 33)

juga sabda Rasulullah SAW

“Siapakah orang-orang yang terasing itu ya Rasulullah ? “Orang-orang yang selalu memperbaiki (amar ma’rur dan nahi

munkar) di saat manusia dalam keadaan rusak”, jawab Rasulullah (HR. Thabrani, dengan periwayat yang terpercaya /

shahih).

Oleh karena itu seorang penyuluh agama harus benar-benar melaksanakan tugas yang mulia ini dengan senantiasa

mempersiapkan segala hal yang terkait dengan penyuluhan itu sendiri. Misalnya mengelompokkan “pasien” yang mau diobati

selanjutnya men”diagnosa” jenis penyakit yang dideritanya

A. Pengelompokan “Pasien” Dakwah

Sama halnya dengan seorang dokter sebelum melakukan pekerjaannya, mereka akan melihat pasien , apakah itu anakanak,

dewasa atau orang tua bahkan masih berupa janin sekalipun, sehingga memudahkan untuk tindakan medis yang

akan diberikan. Begitu pula seorang penyuluh agama harus mengetahui secara detail keadaan “pasien” dakwah atau dalam

bahasa agamanya disebut mad’u, agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai dan tepat sasaran.

1. Janin

Jika seorang dokter bisa mendeteksi janin dengan semacam alat yang disebut USG, sehingga bisa menentukan jenis

kelamin dari si janin. maka sebenarnya seorang penyuluh juga bisa melakukan dakwah/ penyuluhan ketika mad’u masih

berupa janin, tentunya bukan si janin yang diberi penyuluhan tapi dengan cara memberi penyuluhan kepada ibu-ibu yang

sedang hamil agar saat kehamilannya senantiasa selalu mengingat Allah, misal dengan memperbanyak membaca al-Qur’an,

karena menurut penelitian yang sudah tak asing lagi di telinga kita sebuah metoda pendidikan pada janin yang dilakukan

dengan memberi stimulasi (rangsangan) pada sel-sel otak janin. Organ-organ tubuh janin selesai terbentuk pada usia 5

bulan Alameda kandungan. Setelah masa itu, terjadi proses perkembangan atau pematangan dari seluruh sel-sel organ

yang telah terbentuk dan berfungsi secara sempurna. Bersamaan dengan itu, diusia ini otak janin pun sudah mampu

menterjemahkan rangsangan suara. saat ibu hamil yang sering memperdengarkan bacaan Al Quran, dapat merangsang selsel

otak janin sebelum lahir (1)

Saat ini masih ada ibu-ibu hamil yang belum mengetahui hal ini, maka tugas seorang penyuluhlah yang memberi

penjelasan kepada mereka dengan melakukan kerjasama pihak terkait, misalkan dinas kesehatan.

2. Masa Balita dan Anak-anak

18

Saat anak terlahir ke muka bumi, maka Islam pun telah memberikan arahan agar sejak dini mulai ditanamkan kepada

anak tentang ajaran tauhid. Di mulai sejak kelahirannya dengan diperdengarkan Adzan di telinga kanan dan Iqamat di

telinga kiri, memberikan nama yang baik dan menebus (Aqiqah) anak yang merupakan anjuran Islam terhadap setiap orang

tua. Terus dilanjutkan dengan melaksanakan pendidikan anak usia dini yang sudah banyak tersebar di mana-mana

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


Karena pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima

dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik,

mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa

emas anak (golden age).

Saat itulah Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan

kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya

dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau

secara halus, dan seterusnya. Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan

terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak

wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan

menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun

hubungan spiritual dengan Allah SWT (2)

Saat itulah seorang penyuluh dapat terlibat langsung maupun tidak langsung dengan lembaga-lembaga

pendidikan usia dini tersebut baik sebagai tenaga pengajar maupun pembina.

3. Masa Remaja

Sebelum terjun langsung menghadapi permasalahan remaja di era modern sekarang ini yang memang memerlukan

perhatian yang lebih serius dari berbagai pihak terlebih lagi dari seorang penyuluh agama, karena merekalah calon penerus

generasi yang akan datang, maka seorang penyuluh setidaknya harus mengetahui karakteristik mereka yang selalu :

a. Mencari Identitas Diri, Dan mengalami kebingungan Akan perubahannya

b. Sangat antusias Akan sesuatu Yang menarik minatnya

c. Ingin selalu dilibatkan / Tanggung Jawab diberi

d. Sudah Mampu menunjukkan / mengembangkan bakatnya

e. Meningkatnya rasa kemandirian

f. Ingin di dengar / dihargai opininya, Dan mulai berani mengungkapkan ketidaksetujuannya

g. Emosi meledak-ledak

h. Mulai lebih dekat ke teman dari pada keluarga, Dan mulai jarang berada di Rumah

i. Senang meniru therapy terapi idola

j. Mulai berani bereksperimen dengan sesuatu Yang beresiko (3)

Jika sudah mengetahui hal yang tersebut di atas, maka akan sangat mudah dan membantu seorang penyuluh agama

saat melakukan bimbingan dan pembinaan kepada mereka. Dengan kata lain seorang penyuluh harus terjun langsung ke dunia

mereka dengan mempelajari karakteristiknya tersebut dan menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami.

Sehingga terbentuk kepribadian remaja yang bercorak islam sebagaimana remaja-remaja di jaman Rasul yang patut dijadikan

contoh bagi remaja jaman sekarang seperti Ó

1. Zubeir bin Al-Awwam ra

Dialah teman diskusi Rasulullah saw, anggota pasukan berkuda Islam, tentara yang pemberani, juga pemimpin dakwah

Islam di zamannya.Berapa umurnya saat itu? 15 tahun!! Sangat mencengangkan.

2. Thalhah bin Ubaidillah ra

Dia adalah salah seorang pembesar utama barisan Islam di Mekah, singa podium yang handal, tentara berkuda yang

masyhur dengan kepiawaian dan keberaniannya, donatur infaq fi sabilillah, juga seseorang yang dijuluki Rasulullah saw

dengan Thalhatul khair (pohon kebaikan).Usia beliau saat itu, adalah 16 tahun!

3. Sa’ad bin Abi Waqqash.

Seorang sahabat besar, beliaulah yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam. Juga, satu-satu sahabat yang

pernah Rasulullah saw jamin dengan kedua orang tuanya di saat perang Uhud, dengan berkata, “Lepaskan Sa’ad, demi

ayah dan ibuku!” sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib ra. Dan Beliau baru berumur 16 tahun,

ketika itu.

4. Al-Arqam bin Abil Arqam Al-Makhzumi ra

Pemuda yang meninggalkan banyak kenangan indah bagi tiap muslim. Selama 13 tahun penuh, beliaulah yang berani

membuka pintu rumahnya untuk dijadikan markas dakwah di kota Mekah, meski bahaya terus membayangi. Beliau masih

berusia 16 tahun saat itu.

5. Ali bin Abi Thalib ra

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

19


Beliau adalah seorang anak yang masih berumur 10 tahun, hanya 10 tahun! Namun ketika Rasulullah saw mendapat

wahyu yang pertama kali, Rasulullah saw langsung pergi menemui Ali dan memberitahukan kabar gembira itu padanya.

Subhanallah!

6. Zaid bin Tsabit

Tahukan Anda impian sahabat kecil yang umurnya baru 13 tahun dan belum baligh ini? Beliau adalah sahabat yang

masyhur dengan postur tubuh yang kecil. Namun, subhanallah! dengan postur dan usianya yang relatif kecil itu, beliau

selalu menyibukkan hidupnya dengan urusan umat. Saat itu, ketika Zaid kecil mendengar berita bahwa pasukan Islam

bersiap-siap hendak menghadapi tentara musyrikin di medan badar, semangat bela agama di hatinya seketika tergerak. Ya,

sahabat kecil ini kemudian mengusung pedangnya, sebuah pedang yang lebih panjang dari tinggi badannya! Berangkat

dan bergabung dengan tentara muslim yang lain (4)

Itulah sebagian dari remaja-remaja hasil binaan langsung dari Rasulullah yang insya Allah juga akan ada di jaman

sekarang jika pola pembinaan seorang penyuluh agama mencontoh sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dengan

melakukan pembinaan intensif walaupun dengan kelompok kecil namun bisa menghasilkan karakter-karakter yang

berkepribadian Islam sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW di rumah Arqam bin abi Arqam.

Dalam hal ini seorang penyuluh bisa melakukan kerjasama dengan perkumpulan-perkumpulan remaja baik itu disekolah

maupun di masyarakat seperti karang taruna. Insya Allah kalau seorang penyuluh berhasil dalam pembinaannya kepada

kelompok remaja maka akan mudah ke tahap pembinaan masa dewasa dan orang tua.

4. Dewasa dan Orang Tua

Seperti dijelaskan sebelumnya keberhasilan dari pembinaan remaja akan berdampak kepada pembinaan menjelang

mereka dewasa dan menjadi orang tua. Akan tetapi jika kita langsung terjun ke “pasien” (Mad’u) dewasa dan orang tua

tanpa ada pembinaan di masa remajanya, biasanya akan terdapat kesulitan untuk memahamkan mereka kecuali seorang

penyuluh tersebut sudah berkharisma di hadapan mereka.

Dan juga saat “pasien” dakwah sudah dewasa biasanya akan sulit untuk menentukan waktu berkumpul karena

mereka sibuk dengan pekerjaan yang memang merupakan rutinitas mereka sehari-hari terkecuali pada saat even-even

keagamaan seperti Isra mi’raj, maulidur Rasul dan sebagainya. Sehingga pada saat itu bukan penyuluh yang mengatur

binaannya akan tetapi “pasien”nya yang menentukan. Jika seorang dokter di atur oleh pasiennya apa yang akan terjadi ?

Namun bukan berarti penyuluhan terhadap “pasien” dakwah saat mereka dewasa dan orang tua diabaikan begitu

saja, namun tetap saja akan lebih mudah membina mereka semenjak masih remaja seperti kata pepatah “Belajar semasa

muda bagai melukis di atas batu dan belajar saat tua bagai melukis di atas air”

Jika sudah mengelompokkan “pasien” dakwah yang mau kita obati (baca : Bina) maka saatnya seorang penyuluh

“mendiagnosa” penyakit apa yang telah di derita “pasien”nya tersebut.

B. “Mendiagnosa” Jenis Penyakit Umat

Di era modern sekarang ini banyak sekali penyakit-penyakit umat yang perlu ditanggulangi oleh seorang penyuluh

selaku “dokter” umat. Kalau dulu yang dikenal adanya penyakit TBC (Tahayul, Bid’ah dan Churafat) maka saat ini ditambah

lagi dengan penyakit-penyakit umat yang lebih parah lagi, seperti :

1. “Sipilis”

Dalam dunia kesehatan Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh treponema pallidum sangat

kronis dan sejak semula bersifat sistemik dan dapat menyerang hampir semua organ tubuh.(5)

Namun dalam dunia dakwah sipilis yang dimaksud bukanlah seperti yang didefiniskan di atas, namun sipilis di sini

adalah singkatan dari paham Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme yang ternyata imbasnya sangat berbahaya

dibandingkan penyakit sipilis yang sebenarnya, kenapa ?

a. Sekularisme

Ensiklopedi Britania menyebutkan bahwa “sekularisme” adalah sebuah gerakan kemasyarakatan yang

bertujuan memalingkan dari kehidupan akhirat dengan semata-mata berorientasi kepada dunia(6). Paham ini

berusaha menggiring umat agar sedikit demi sedikit mencampakkan agamanya dengan memisahkan agama dari

pengaturan kehidupan dia, sehingga menimbulkan pemahaman bahwa dalam urusan duniawi agama tidak perlu

campur, agama hanya ada saat mereka melaksanakan ibadah ritual belaka.

20

Sehingga membuat sebagian kaum muslimin kian jauh dari agamanya, sehingga begitu mudah di giring

kepada kehancuran aqidah seseorang

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


. Pluralisme

Ketika muncul fatwa dari MUI yang melarang pluralisme sebagai respons atas pemahaman yang tidak

semestinya itu. Dalam fatwa tersebut, MUI menggunakan sebutan pluralisme agama (sebagai obyek persoalan yang

ditanggapi) dalam arti “suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya

kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa

hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa

semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga”. Kalau pengertian pluralisme agama

semacam itu, maka paham tersebut difatwakan MUI sebagai bertentangan dengan ajaran agama Islam (7) . “Semua

agama adalah benar” adalah jargon yang sering mereka lontarkan dengan tujuan menimbulkan keragu-raguan di hati

umat terhadap agamanya sendiri. Sehingga tidak heran saat ini banyak yang umat patut dipertanyakan keimanannya

karena kerjaannya selalu membantah isi kandungan al-Qur’an dan Hadits yang kata mereka tidak sesuai lagi dengan

perubahan jaman

c. Liberalisme

Liberalisme adalah sebuah ideologi yang menekankan bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama.

Visi dan Misi liberalisme adalah terwujudnya masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para

individu. Dengan demikian, ideologi liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama

(8)

Kehidupan yang serba bebas tanpa aturan terutama dari aturan agama. Kehidupan yang tidak lagi menjadikan

halal dan haram sebagai patokan saat mengerjakan sesuatu namun menjadikan asas manfaat sebagai patokan dari

kebenaran. Sehingga memunculkan kebebasan beragama, kebebasan berekspresi yang kelewat batas dan kebebasankebebasan

lainnya yang kian menggerogoti umat dari dalam.

Jika ketiga paham ini (sipilis) sudah menjangkiti umat, maka saat itulah peran seorang penyuluh untuk

menyadarkan mereka dengan memberikan resep-resep mujarab yang bisa menyembuhkan atau paling tidak mencegah

penyakit ini agar tidak menjadi kronis. Jadi penyakit “sipilis” semacam ini sangat berbahaya dari penyakit sipilis

sebenarnya.

2. AIDS (Alergi Islam Dan Syari’atnya)

Kembali kepada dunia kesehatan, selain sifilis ada satu lagi penyakit seksual yang lebih berbahaya lagi bahkan

sampai sekarang belum ditemukan obatnya yakni penyakit AIDS

Di dunia penyuluhan ternyata juga ada penyakit umat yang disebut juga AIDS, bahkan jika penyakit ini sampai

menjakiti umat, maka bisa membuat umat semakin jauh bahkan phobia terhadap agamanya sendiri.

Jika umat sudah alergi terhadap agama beserta aturannya , tentunya akan sangat sulit untuk diajak kejalan kebenaran,

baru mendengar soal Islam dia sudah berusaha menghindar sehingga kita selaku penyuluh agama menemukan kesulitan.

Namun jika dalam dunia kesehatan penyakit AIDS tadi sampai saat ini tidak ditemukan obatnya, maka penyakit umat

AIDS (Alergi Islam Dan Syari’atnya) tentunya Allah telah memberikan obat yang mujarab yang bisa digunakan oleh

seorang penyuluh. Obat itu adalah Al-Qur’an dan As-sunnah, sebagaimana Firman Allah SWT :

…… Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar (obat) bagi orang-orang mukmin. dan orangorang

yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka . mereka

itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”.

Namun bagaimana caranya seorang penyuluh bisa membina sedangkan mereka sudah terlanjur alergi terhadap Islam

apalagi kitab Al-Qur’an. Jawabnya tentu kita teringat dengan cerita Islamnya sang singa padang pasir (Umar Bin Khattab)

sungguh mukjizat yang terkandung dalam al-qur’an akan mampu meluluhkan hati yang sekeras batu. Dan setiap penyuluh

harus menyakini, jika profesi yang dipilihnya sekarang adalah pekerjaan yang mulia di sisi Allah. Bahkan jika seorang penyuluh

mengetahui sifat dakwah itu bagaikan air yang akan bisa melobangi sebongkah batu jika ia menetesinya terus menerus.

3. HIV (Human Individualisme Virus)

Saat ini banyak kaum muslimin yang mementingkan kehidupan pribadinya, mereka tidak peduli dengan keadaan

saudaranya,padahal Allah dan Rasulnya telah mengingatkan bahwa muslim itu dengan muslim lainnya bersaudara.

Sebagaimana firman-Nya

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

21


orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara

kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al Hujuraat : 10)

Dan sabda Rasulullah :

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzhalimi atau mencelakakannya. Barangsiapa

membantu kebutuhan saudaranya sesame Muslim dengan menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya Allah akan

menghilangkan darinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib

seorang Muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (Riwayat Bukhari dari Abdullah bin Umar RA)

Sehingga tidak mengherankan ada seorang muslim yang berkata “ yang penting aku selamat yang lain masa bodoh”

bahkan saat disampingnya ada tetangga yang kesusahan mereka malah tidak menghiraukan dan larut dengan kehidupan

pribadi mereka masing-masing. Belum lagi saat mereka begitu teganya membuat saudaranya kesusahan, misalkan menggusur

lahan pertanian hanya untuk membangun pusat perbelanjaan atau lapangan golf.

Bahkan virus ini Nampak jelas kita saksikan di komplek perumahan mewah yang jangankan hidup bertetangga,

bertemu saja jarang karena keluar masuk hanya menggunakan mobil. Tidak ada lagi kegiatan gotong royong yang dulu marak

dilakukan oleh masyarakat.

Bahkan silaturahmi pun hanya dilakukan saat lebaran saja, hari lain sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Peran

seorang penyuluh saat melihat penyakit ini maka mulailah dengan memahamkan masyarakat akan pentingnya rasa persaudaraan

dan silaturahmi dan lebih banyak dalam forum-forum mereka menyampaikan tentang ukhuwah Islamiyah.

Wallahu’alam bisowaf

Referensi

(1)http://mahfuzhoh.wordpress.com/2008/12/18/pengaruh-al-quran-thd-janin/

(2)http://www.pendidikankarakter.com/membangun-karakter-sejak-pendidikan-anak-usia-dini/

(3)http://trend-sekolahan.blogspot.com/2012/03/karakteristik-remaja.html

(4)http://blog.burhanshadiq.com/remaja-dulu-kini-akan-datang.html

(5)http://wikimedya.blogspot.com/2010/02/tanda-dan-gejala-sifilis.html

(6)http://www.indonesiasekuler.org/pengertian-sekularisme-oleh-rini-lestari/

(7)http://id.wikipedia.org/wiki/Polemik_pluralisme_di_Indonesia

(8)http://id.shvoong.com/social-sciences/political-science/2248368-definisi-liberalisme/

22

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


RINGKASAN HUKUM-HUKUM PUASA

Oleh : Rasyid, S. Ag.

( Ketua Pokjaluh Kab. Tabalong )

Definisi

Shaum atau puasa menurut arti bahasa ialah imsak /

dari berbicara. Menurut istilah syara’ ialah :

(menahan diri) dari berbuat sesuatu perbuatan atau

“Menahan diri dari yang membatalkan menurut cara tertentu.” (Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Kitab

Sabilal Muhtadin,vol. 2 disalin oleh HM. Asywadie Syukur, 2008, h. 841)

Puasa ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan (makan, minum dan bersenggama) mulai

dari terbit fajar yang kedua sampai terbenamnya matahari karena perintah Allah semata-mata, dengaan disertai niat

dan syarat-syarat tertentu. (Muhammad Saifullah Al Aziz S., Fiqih Islam Lengkap, Surabaya, 2005, h. 294.

Berdasarkan juga Firman Allah Ta’ala:

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah Pakaian

bagimu, dan kamupun adalah Pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan

nafsumu, Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka

dan ikutilah apa yang Telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih

dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah

kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu

mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”. (QS.

Al-Baqarah:187)

Kapan Dan Bagaimana Puasa Ramadhan Diwajibkan?

Puasa Ramadhan wajib dikerjakan setelah terlihatnya hilal, atau setelah bulan Sya’ban genap 30 hari.

Puasa Ramadhan wajib dilakukan apabila hilal awal bulan Ramadhan disaksikan seorang yang dipercaya, memiliki

kemampuan dan keahlian bidang astronomi/ilmu falak serta adil, sedangkan awal bulan-bulan lainnya ditentukan

dengan kesaksian dua orang yang dipercaya. Sabda Nabi saw :

Hadis yang berasal dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Nabi saw bersabda :

“Janganlah kamu berpuasa hingga melihat bulan (ru’yat hilal), dan janganlah kamu berbuka (Idul Fitri) hingga melihatnya

pula. Jika penglihatan tertutup awan maka hitunglah.”

“Berpuasalah kamu karena melihat bulan. Berbukalah karena melihat bulan, jika terlindung/mendung hitunglah

menjadi tigapuluh hari.”

(Abi Husain Muslim bin al Hajaj Al Qusyairi An Naisaburi, Shahih Muslim, Vol. 1, 1993, h. 480).

Lafal : “faqduru” (kira-kirakanlah) itu termasuk kalimat perintah. Hamzahnya adalah hamzah washal dan

huruf “dal” dikasrahkan dan didhammahkan. “Faqduru lahu tsalatsin, ialah berbukalah pada hari ke 30 itu dan

perkirakanlah sempurna bulan itu. (Muhammad bin Isma’il Al Kahlani/Ash Shon’ani, Subul As Salam, Terj. Abu

Bakar Muhammad, Vol. 2, 1991, h. 599.

Siapa yang wajib berpuasa Ramadhan?

Puasa Ramadhan diwajibkan atas setiap muslim yang baligh (dewasa), aqil (berakal), dan sanggup untuk

berpuasa. Adapun syarat-syarat wajibnya puasa Ramadhan ada empat, yaitu Islam, berakal, dewasa dan mampu. Para

ulama mengatakan anak kecil disuruh berpuasa jika kuat, hal ini untuk melatihnya, sebagaimana disuruh shalat

pada umur 7 tahun dan dipukul pada umur 10 tahun agar terlatih dan membiasakan diri. (Sulaiman Rasyid, Fiqh

Islam, Bandung, 1987, h. 217, lihat juga Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Kitab Sabilal Muhtadin,vol. 2

disalin oleh HM. Asywadie Syukur, 2008, h. 876-877)

Syarat-Syarat Sahnya Puasa :

1. Islam: tidak sah puasa orang kafir sebelum masuk Islam.

2. Akal: tidak sah puasa orang gila sampai kembali berakal.

3. Tamyiz: tidak sah puasa anak kecil sebelum dapat membedakan (yang balk dengan yang buruk).

4. Tidak haid: tidak sah puasa wanita haid, sebelum berhenti haidnya.

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

23


5. Tidak nifas: tidak sah puasa wanita nifas, sebelum suci dari nifas. (Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, Bandung,

1987, h. 217-218)

Sunah Puasa :

1. Mengakhirkan sahur sampai akhir waktu malam, selama tidak dikhawatirkan terbit fajar.

2. Segera berbuka puasa bila benar-benar matahari terbenam.

3. Memperbanyak amal kebaikan, terutama menjaga shalat lima waktu pada waktunya dengan berjamaah,

menunaikan zakat harta benda kepada orang-orang yang berhak, memperbanyak shalat sunat, sedekah,

membaca Al-Qur’an dan amal kebajikan lainnya.

4. Jika dicaci maki, supaya mengatakan: “Saya berpuasa,” dan jangan membalas mengejek orang yang

mengejeknya, memaki orang yang memakinya, membalas kejahatan orang yang berbuat jahat kepadanya;

tetapi membalas itu semua dengan kebaikan agar mendapatkan pahala dan terhindar dari dosa.

5. Berdo’a ketika berbuka sesuai dengan yang diinginkan. Seperti membaca do’a: “Ya Allah hanya untuk-Mu

aku beupuasa, dengan rizki anugerah-Mu aku berbuka. Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Ya

Allah, terimalah amalku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

6. Berbuka dengan kurma segar, jika tidak punya maka dengan kurma kering, dan jika tidak punya cukup

dengan air.

7. Menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan puasa.

8. Menggosok gigi.

9. Murah hati dan mempelajari Alqur’an.

10. Giat ibadat pada sepuluh hari terakhir. (Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, Vol. 3, Terj. Mahyudin Syaf, Bandung,

1990, h. 212-220)

Hukum orang yang tidak berpuasa Ramadhan

Diperbolehkan tidak puasa pada bulan Ramadhan bagi empat golongan:

a. Orang sakit yang berbahaya baginya jika berpuasa dan orang bepergian yang boleh baginya mengqashar

shalat. Tidak puasa bagi mereka berdua adalah afdhal, tapi wajib mengqadhanya. Namun jika mereka berpuasa

maka puasa mereka sah (mendapat pahala). Firman Allah Ta’ala: “ ….Maka barangsiapa di antara kamu ada

yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari

yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.... “ (QS. Al-Baqarah:184). Maksudnya, jika orang sakit dan

orang yang bepergian tidak berpuasa maka wajib mengqadha (menggantinya) sejumlah hari yang ditinggalkan itu

pada hari lain setelah bulan Ramadhan.

b. Wanita haid dan wanita nifas: mereka tidak berpuasa dan wajib mengqadha. Jika berpuasa tidak sah

puasanya. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Jika kami mengalami haid, maka diperintahkan untuk

mengqadha puasa dan tidak diperintahkan menggadha shalat.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

c. Wanita hamil dan wanita menyusui, jika khawatir atas kesehatan anaknya boleh bagi mereka tidak berpuasa

dan harus meng-qadha serta memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Jika

mereka berpuasa maka sah puasanya. Adapun jika khawatir atas kesehatan diri mereka sendiri, maka

mereka boleh tidak puasa dan harus meng-gadha saja. (Demikian dikatakan Ibnu Abbas sebagaimana

diriwayatkan o!eh Abu Dawud kitab Ar Raudhul Murbi’, Vol. 1, h. 124)

d. Orang yang tidak kuat berpuasa karena tua atau sakit yang tidak ada harapan sembuh. Boleh baginya tidak

berpuasa dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Demikian kata Ibnu

Abbas menurut riwayat Al-Bukhari. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir, 1/215. Sedangkan jumlah makanan yang

diberikan yaitu satu mud (genggam tangan) gandum, atau satu sha’ (+ 3 kg) dari bahan makanan lainnya.

(Lihat kitab ‘Umdatul Fiqh, oleh Ibnu Qudamah, h. 28)

24

Hukum Jima’ Pada Siang Hari Bulan Ramadhan

Diharamkan melakukan jima’ (bersenggama) pada siang hari bulan Ramadhan. Dan siapa yang melanggarnya

harus mengqadha dan membayar kaffarah mughallazhah (denda berat) yaitu membebaskan hamba sahaya. Jika

tidak mendapatkan, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut; jika tidak mampu maka memberi makan 60

orang miskin; dan jika tidak punya maka bebaslah ia dari kaffarah itu. Firman Allah Ta’ala: “Allah tidak membebani

seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...” (Al-Baqarah: 285). (Lihat kitab Majalisu Syahri Ramadhan,

hlm. 102-108)

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa

a. Makan dan minum dengan sengaja. Jika dilakukan karena lupa maka tidak batal puasanya.

b. Jima’ (bersenggama).

c. Memasukkan makanan ke dalam perut. Termasuk dalam hal ini adalah suntikan yang mengenyangkan dan

transfusi darah.

d. Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga karena onani, bersentuhan, ciuman atau sebab lainnya dengan

sengaja. Adapun keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena keluarnya tanpa sengaja.

e. Keluamya darah haid dan nifas. Manakala seorang wanita mendapati darah haid, atau nifas batallah puasanya,

baik pada pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari.

f. Sengaja muntah, dengan mengeluarkan makanan atau minuman dari perut melalui mulut. Hal ini didasarkan

pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak wajib

qadha, sedang barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib qadha.” (HR. Ahmad, Abu Dawud,

Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).

g. Murtad dari Islam -semoga Allah melindungi kita darinya. Perbuatan ini menghapuskan segala amal kebaikan.

Firman Allah Ta’ala: “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan

yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88).

h. Meniatkan berbuka.

i. Jika seorang makan dan minum atau bersenggama, karena menduga matahari telah terbenam atau fajar

belum menyingsing, kemudian ternyata bahwa dugaan itu salah.

11. Tidak batal puasa orang yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak tahu, lupa atau

dipaksa. Demikian pula jika tenggorokannya kemasukan debu, lalat, atau air tanpa disengaja. Jika wanita

nifas telah suci sebelum sempurna empat puluh hari, maka hendaknya ia mandi, shalat dan berpuasa. (Sayid

Sabiq, Fiqh Sunnah, Vol. 3, Terj. Mahyudin Syaf, Bandung, 1990, h. 228-234)

Puasa Sunnat :

Disunatkan puasa 6 hari pada bulan Syawwal, 3 hari pada setiap bulan (yang afdhal yaitu tanggal 13, 14 dan 15;

disebut shaum al-biidh), hari Senin dan Kamis, 9 hari pertama bulan Dzul Hijjah (lebih ditekankan tanggal 9, yaitu

hari Arafah), hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram) ditambah sehari sebelum atau sesudahnya untuk mengikuti jejak

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia serta menyelisihi kaum Yahudi, berpuasa pada

sebagian besar dari bulan Sya’ban, berpuasa pada bulan-bulan suci (Dzulqa’idah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab),

dan berpuasa selang-seling (puasa Nabi Daud as). (Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, Vol. 3, Terj. Mahyudin Syaf,

Bandung, 1990, h. 196-209).

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

25


TEKNIK EVALUASI DAN PELAPORAN

KEGIATAN PENYULUHAN AGAMA

PENGERTIAN EVALUASI

Oleh: Hj. Siti Maryam Ahmad, S.Ag, M.Pd

A. Definisi Evaluasi

Evaluasi mempunyai kata dasar value (satu kata terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah nilai). Penilaian

mempunyai kata dasar nilai, sama dengan evaluasi. Kata penilaian berasal dari kata kerja menilai, dan kata dasar nilai.

Nilai inilah ukuran baik buruk. Dalam kaitan ini, pengertian baik dalam kaitan penyuluhan sering dinyatakan benar, betul,

bagus, berhasil, sopan, memuaskan, memenuhi syarat, berguna, manfaat, kemajuan, menyenangkan, dan kata-kata lain

yang bermakna baik.

Sedang pengertian buruk dinyatakan dengan kurang, merugikan, membosankan, memuakkan, tidak memenuhi syarat,

dan kata-kata lain yang bermakna buruk.

Evaluasi sering diartikan secara sempit, dan memandang evaluasi hanya berdasarkan aktivitas yang penting dan

menonjol. Prof. DR. Atwi Suparman dan DR. Purwanto (Universitas Terbuka) mengutip definisi yang dikemukakan oleh

Departemen Pendidikan Negara Bagian California, Cronbach dan Suppes serta A Joint Commitee on Standard of

evaluation sebagai berikut:

Evaluasi adalah proses menentukan nilai atau efektivitas suatu kegiatan untuk membuat keputusan.(Cronbach &

Suppes, 1989). Evaluasi adalah suatu proses di mana data yang relevan dikumpulkan dan ditransformasikan menjadi

informasi bagi pembuatan keputusan. (Departemen Pendidikan Negara Bagian California). Evaluasi adalah adalah suatu

pemeriksaan atau penyelidikan yang sistematis tentang manfaat atau kegunaan dari sesuatu berdasarkan standar

tertentu. (A Joint Commitee on Standardof Evaluation).

Dari ketiga definnisi tersebut Atwi dan Purwanto (2000) menyimpulkan bahwa:”evaluasi adalah proses penerapan

prosedur ilmiah untuk mengumpulkan informasi yang valid (sahih, benar) dan reliabel (teruji, terpercaya) untuk

membuat keputusan tentang program pendidikan dan pelatihan”.

Juni Pranoto dan Sutrisno (2006) menyimpulkan dari pendapat diatas dengan definisi: “Evaluasi adalah suatu rentetan

kegiatan yang dilakukan secara teratur dan sistematis, dengan menerapkan prosedur ilmiah, dimulai dengan penentuan

tujuan, perencanaan, pengembangan instrumen, pengumpulan data/ informasi yang valid (benar) dan reliabel (teruji),

penganalisaan data dan menafsirkannya dengan tujuan untuk menentukan nilai sesuatu dengan membandingkan

dengan standar penilaian yang sudah disepakati, untuk membuat keputusan tentang program pendidikan dan pelatihan.

Definisi tersebut juga dapat diaplikasikan dalam kegiatan penyuluhan, karena pada hakekatnya penyuluhan juga

termasuk kegiatan atau proses pendidikan.

Berdasrkan definisi tersebut, maka melakukan penilaian atau evaluasi penyuluhan perlu dilakukan secara teratur,

menggunakan prosedur, perlu ada data yang diolah sehingga dapat menjadi informasi. Evaluasi akan menghasilkan

sesuatu yang dapat dijadikan pertimbangan untuk menetapkan kebijakan. Oleh karenanya apabila data yang

dikumpulkan tidak valid, maka akan menjadi informasi yang tidak valid dan reliabel pula. Dampak selanjutnya adalah

akan berakibat salah atau tidak benarnya membuat kesimpulan sebagai bahan untuk mengambil keputusan dan

kebijakan tentang penyuluhan selanjutnya.

B. Fungsi Evaluasi

Untuk dapat menentukan tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran atau penyuluhan, perlu dilakukan evaluasi.

Penyuluhan adalah kegiatan yang bertujuan. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan meningkatnya pengetahuan,

ketrampilan dan tingkah laku yang diharapkan dimiliki tersuluh setelah selesai mengikuti atau menyelesaikan

pengalaman pembelajaran melalui penyuluhan. Hasil yang diperoleh dari penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil

penyuluhan.

26

Adapun fungsi evaluasi adalah:

1. Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan penyuluhan; dalam hal ini tujuan khusus maupun tujuan umum. Tujuan

khusus atau tujuan yang dapat terukur, dibuktikan, setelah proses penyuluhan selesai. Dengan fungsi ini dapat

diketahui tingkat penguasaan bahan pembelajaran yang dikuasai oleh peserta penyuluhan. Dengan kata lain dapat

diketahui hasil belajar yang dicapai peserta penyuluhan. Sedang tujuan umum biasanya bersifat kualitatif dan

hasilnya baru tampak beberapa saat seteleh selesai kegiatan (evaluasi sumatif)

2. Untuk mengetahui keefektifan proses penyuluhan yang dilakukan penyuluh agama; penilaian ini dimaksudkan

sebagai fungsi feed back bagi penyuluhan berikutnya. Dengan fungsi ini penyuluh dapat mengetahui berhasil atau

tidaknya penyuluhan. Rendahnya hasil penyuluhan tidak semata-mata disebabkan kemampuan peserta penyuluhan

dalam menangkap materi, tetapi juga bisa disebabkan kurang berhasilnya penyuluh menyampaikan penyuluhan.

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


Melalui penilaian, berarti menilai kemampuan penyuluh itu sendiri, dan hasilnya dapat dijadikan bahan dalam

memperbaiki uahanya, yaitu pada waktu melakukan penyuluhan berikutnya.

3. Secara komprehensif sebagai pengukur keberhasilan dilihat dari berbagai aspek; misalnya dari aspek peserta, aspek

materi, aspek metoda, aspek sarana dan prasarana sekaligus dari aspek penyuluh sendiri.

Prof. DR. Abudin Nata (Dasar-dasar Pendidikan: 2001) mengutarakan fungsi evaluasi antara lain:

1. Untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran secara komprehensif yaitu dari aspek pengetahuan,

ketrampilan dan perubahan sikap peserta pembelajaran.

2. Sebagai umpan balik atau feedback bagi kegiatan selanjutnya. Umpan balik ini dapat ditujukan kepada pembuat

kebijakan maupun pelaksana kebijakan.

3. Sebagai tolok ukur bagi pendidik sejauh mana keberhasilan proses pembelajaran yang telah dilakukan

4. Bagi peserta didik dijadikan alat untuk mengetahui seberapa banyak materi yang diterima dapat dikuasai

5. Bagi masyarakat dapat dijadikan informasi, dan ikut menilai sejauh mana kegiatan pembelajaran itu berhasil.

6. Sebagai alat seleksi untuk mengamati peserta didik atau pembelajar mana yang punya kemampuan dan perhatian

kurang, lebih atau sekedar mengikuti proses pembelajaran.

7. Sebagai alat diagnostik; Jika alat evaluasinya bagus dapat untuk mengetahui kelemahan peserta pembelajaran,

dan perlu langkah konsultatif berikutnya.

Langkah pertama yang harus ditempuh penyuluh dalam melakukan penilaian adalah menetapkan “Apa yang akan menjadi

sasaran atau obyek penilaian”. Hal ini penting diketahui agar memudahkan penyuluh dalam menyusun alat evaluasi.

C. Sasaran Evaluasi Penyuluhan

Pada umumnya ada tiga sasaran evaluasi penyuluhan (mengadopsi penilaian pada proses pembelajaran)

1. Mengevaluasi segi tingkah laku, artinya segi yang menyangkut sikap, minat, perhatian, ketrampilan peserta

penyuluhan sebagai hasil dari proses penyuluhan.

2. Mengevaluasi isi atau materi penyuluhan, yaitu tentang penguasaan terhadap materi yang disajikan

3. Mengevaluasi proses penyuluhan itu sendiri. Proses penyuluhan perlu dievaluasi secara objektiv oleh penyuluh,

sebab baik buruknya proses juga berpengaruh terhadap hasil penyuluhan yang dicapai peserta.

Dalam paradigma baru , khususnya evaluasi dengan pendekatan andragogy (bukan paedagogi), evaluasi lebih

banyak diarahkan kepada perubahan sikap dan prilaku peserta penyuluhan atau pembelajar. Sedang pada pendekatan

paedagogis evaluasi masih dengan sasaran kemampuan peserta dapat menyerap materi penyuluhan.

Menurut Juni Pranoto (2006) objek atau sasaran evaluasi sangat ditentukan oleh Model evaluasi. Bermacam macam Model

evaluasi pembelajaran salah satunya yang dikemukakan oleh Stuflebeam dalam bukunya Educational Evaluation and

dicision Making, menggolongkan sasaran evaluasi pembelajaran ada pada 4 dimensi yang terkenal dengan evaluasi CIPP

(Contect, Input, Proses dan Product). Dengan model CIPP ini jika diaplikasikan dalam evaluasi penyuluhan maka yang

menjadi sasaran adalah:

1. Contect (konteks) : yaitu evaluasi yang ditujukan kepada sistem dan tujuan

Penyuluhan, kondisi-kondisi aktual yang menjadi pertimbangan mengapa penyuluhan dilakukan dan apa kira-kira

dampak dari program yang akan dicapai

2. Input(masukan) : masukan merupakan faktor yang menentukan kelancaran proses dan kualitas penyuluhan. Beberapa

masukan penting dalam penyuluhan adalah: Peserta penyuluhan, tujuan materi penyuluhan, metoda dan bahan

penyuluhan. Penyuluh, sarana dan prasarana penyuluhan

3. Process (proses) :Aktivitas atau partisipasi peserta, penggunaan media pembelajaran, suasana tempat penyuluhan, cara

penyuluh menyampaikan penyuluhan, konsistensi materi yang disampaikan dengan tujuan yang telah ditetapkan, pola

interaksi antara penyuluh dengan peserta penyuluhan

4. Product (Output) : yaitu hasil yang dapat dicapai oleh peserta penyuluhan, baik

penguasaan pengetahuan, ketrampilan maupun perubahan sikap. Untuk evaluasi aspek produk dapat dibedakan hasil

yang dapat dilihat jangka pendek dan kemampuan jangka panjang. Untuk hasil jangka pendek biasanya aspek prilaku

masih pada taraf pengetahuan dan pemahaman, sedang untuk hasil jangka panjang dapat dilihat apakah hasil

penyuluhan sudah tampat pada aplikasi kehidupan se-hari-hari.

(Meteri Diklat Penyuluh Agama Fungsional) BALAI DIKLAT KEAGAMAAN JAKARTA Jl. Rawa Kuning, Pulo

Gebang, Cakung- Jakarta Timur Tilp. (021) 480 3577- 480 3578

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

27


Penyampaian Naskah Melalui Media Elektronik

28

Oleh : Drs. Fathurrahman

Ketua PWI Cabang Kalsel

Apa itu media elektronik : Media elektronik adalah media yang menggunakan elektronik atau energi elektromekanis bagi

pengguna akhir untuk mengakses kontennya. Istilah ini merupakan kontras dari media statis (terutama media cetak), yang

meski pun sering dihasilkan secara elektronis tapi tidak membutuhkan elektronik untuk diakses oleh pengguna akhir.

Sumber media elektronik yang familier bagi pengguna umum antara lain adalah rekaman video, rekaman audio, presentasi

multimedia, dan konten daring. Media elektronik dapat berbentuk analog maupun digital, walaupun media baru pada

umumnya berbentuk digital.

Konten : Konten (bahasa Inggris: content) adalah informasi yang tersedia melalui media atau produk elektronik [1].

Penyampaian konten dapat dilakukan melalui berbagai medium seperti internet, televisi, CD audio, bahkan acara langsung

seperti konferensi dan pertunjukan panggung. Istilah ini digunakan untuk mengidentifikasi dan menguantifikasi beragam

format dan genre informasi sebagai komponen nilai tambah media.

Dalam jaringan atau daring (bahasa Inggris: online) pada bidang pendidikan[1] dan teknologi informasi[2]. Sambung jaring

adalah keadaan saat sesuatu terhubung ke dalam suatu jaringan atau sistem (umumya internet atau ethernet).

Analog dapat merujuk antara lain pada: sinyal analog, suatu sinyal yang kontinu dan berubah menurut waktu dan ruang

sebagai lawan dari sinyal digital; sirkuit analog, suatu sirkuit yang menggunakan sinyal analog.

Digital berasal dari kata Digitus, dalam bahasa Yunani berarti jari jemari. Apabila kita hitung jari jemari orang dewasa, maka

berjumlah sepuluh (10). Nilai sepuluh tersebut terdiri dari 2 radix, yaitu 1 dan 0, oleh karena itu Digital merupakan

penggambaran dari suatu keadaan bilangan yang terdiri dari angka 0 dan 1 atau off dan on (bilangan biner). Semua sistem

komputer menggunakan sistem digital sebagai basis datanya. Dapat disebut juga dengan istilah Bit (Binary Digit).

Peralatan canggih, seperti komputer, pada prosesornya memiliki serangkaian perhitungan biner yang rumit. Dalam

gambaran yang mudah-mudah saja, proses biner seperti saklar lampu, yang memiliki 2 keadaan, yaitu Off (0) dan On (1).

Misalnya ada 20 lampu dan saklar, jika saklar itu dinyalakan dalam posisi A, misalnya, maka ia akan membentuk gambar

bunga, dan jika dinyalakan dalam posisi B, ia akan membentuk gambar hati. Begitulah kira-kira biner digital tersebut.

Konsep digital ini ternyata juga menjadi gambaran pemahaman suatu keadaan yang saling berlawanan. Pada gambaran

saklar lampu yang ditekan pada tombol on, maka ruangan akan tampak terang. Namun apabila saklar lampu yang ditekan

pada tombol off, maka ruangan menjadi gelap. Kondisi alam semesta secara keseluruhan menganut sistem digital ini. Pada

belahan bumi katulistiwa, munculnya siang dan malam adalah suatu fenomena yang tidak terbantahkan. Secara psikologis,

manusia terbentuk dengan dua sifatnya, yaitu baik dan buruk. Konsep Yin dan Yang ternyata juga bersentuhan dengan

konsep digital ini.

berkomunikasi

Komunikasi adalah “suatu proses dalam mana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat

menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain”.[1]. Pada umumnya,

komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak.[rujukan?] Apabila tidak ada

bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik

badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu.[rujukan?] Cara seperti

ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal

SATELIT KOMUNIKASI

Dampak Perkembangan Teknologi Komunikasi Adalah Globalisasi

dampak GLOBALISASI adalah, GEGAR BUDAYA,DEKADENSI MORAL,Wartawan dengan karya jurnalistik. Wartawan

melaksanakan tugas jurnalistik

TUGAS JURNALISTIK : Mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, menyampaikan informasi memalui

berbagai saluran ; SEKARANG ERA INFORMASI DAN KOMUNIKASI.BERMITRA DENGAN PELAKU INFORMASI

MERUPAKAN ‘’SENJATA’’ UNTUK MENANG

Profesi Terbuka

Jurnalistik merupakan profesi terbuka. Karena sedemikian terbuka, tak salah pula jika ada yang menganggap belum layak

disebut sebagai suatu profesi, seperti halnya dokter, pendeta / pastor, notaris dan sebagainya yang memang menempuh

pendidikan khusus

Disebut intelektual sebab berkaitan dengan informasi dan alam pikiran. Informasi berasal dari masyarakat dan disampaikan

ke dalam alam pikiran anggota masyarakat. Untuk bisa memperoleh informasi, seseorang harus memiliki kepekaan dan

kritisisme sosial. Selanjutnya baru ia mengolah informasi itu dalam kaidah-kaidah teknis dan etis untuk nantinya

disampaikan melalui medianya. Dan informasi itu akan menyusup ke dalam alam pikiran khalayaknya.

Khalayak media massa bersifat heterogen. Tingkat intelegensinya juga bermacam-macam. Dalam menghadapi heterogenitas

inilah pelaku profesi media massa bekerja. Karena yang disampaikannya berupa informasi, ia harus berada selangkah di

depan dibanding dengan khalayak medianya Inteligensia dari pelaku profesi akan tercermin dalam informasi yang

disampaikan oleh institusi media yang sampai pada masyarakat

Seorang wartawan tidak menuliskan apa yang ada dalam kepalanya, tetapi menyampaikan apa yang terjadi dalam kehidupan

dan alam pikiran orang lain

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel


Yang penting adalah ia tahu informasi macam apa yang diperlukan oleh orang dengan inteligensi yang tinggi itu, dan tahu

pula dari mana ia bisa memperoleh informasi tersebut

berada selangkah di depan berarti dapat menjadi mediator yang tepat. Seorang wartawan tidak perlu menjadi doktor, karena

tugasnya adalah menjadi mediator dari para doktor atau orang yang inteligensinya tinggi dalam masyarakat.

Makna, nilai, nalar sosial

Hal yang memiliki makna (meaning) atau nilai (value). Hanya realitas yang memiliki makna atau nilai sajalah yang perlu

diolah sebagai informasi yang akan disampaikan melalui media. Penalaran diharapkan dapat menumbuhkan kepekaan sosial

dari si wartawan.

Apa itu jurnalis warga

Jurnalisme warga, yang juga dikenal sebagai publik atau jurnalisme partisipasi atau jurnalisme demokratik, adalah tindakan

non-profesional yang memainkan peran aktif dalam proses pengumpulan, pelaporan, penelitian dan penyebaran berita dan

informasi,” demikian definisi Jurnalisme Warga oleh Shayne Bowman dan Chris Willis dalam laporannya We Media: How

Audiences are Shaping the Future of News and Information

Tujuan dari keikutsertaan ini adalah untuk menyajikan berita yang bebas, dapat dipercaya, akurat, meliputi banyak hal dan

informasi yang terkait dengan kebutuhan akan demokrasi”

Pengertian Jurnalisme Warga – seharusnya Jurnalisme Warganegara sebagai terjemahan dari Citizen Journalism – tidak

boleh dikacaukan dengan Jurnalisme Kewarganegaraan (Civic Journalism), yang dipraktekkan oleh wartawan-wartawan

profesional. Jurnalisme warga adalah bentuk yang spesifik dari media warga dimana warga berperan sebagai pengguna

sekaligus penghasil isi

Berita dan komentar dari publik secara luas. Menggunakan situs wiki dan blog-blogs, siapapun dapat memberikan

kontribusinya berupa informasi tentang peristiwa yang ada. Juga dikenal sebagai “jurnalisme warga berkolaborasi”

(collaborative citizen journalism/CCJ), “media akar rumput” atau “penerbitan pribadi”.

Konsep di balik jurnalisme warga adalah banyaknya sukarelawan yang membantu untuk memastikan bahwa informasi itu

lebih akurat dibanding kalau dilaporkan hanya oleh satu sumber saja

Tiga unsur kritis atas kebangkitan jurnalisme warga dan media warga

1.Publikasi yang bersifat terbuka

2.Pengeditan yang bersifat kolaborasi sesama pengguna.

3.Pendistribusian isi.

Wartawan warga?

“Orang yang bertindak secara non-profesional dan aktif dalam proses pengumpulan, pelaporan, penelitian, dan

penyebaran berita dan informasi, dengan tujuan menyajikan berita yang bebas, dapat dipercaya, akurat, meliputi banyak

hal dan informasi yang terkait dengan kebutuhan akan demokrasi serta memberikan komentar-komentar atas berita-berita

tersebut pada situs-situs jurnalisme warga atau blog-blog.”

seorang wartawan warga tidak bisa berdiri sendiri. Karena di dalam sebuah jurnalisme warga terdapat berbagai kegiatan

yang memerlukan peran aktif banyak pihak, baik berupa kontribusi tulisan maupun partisipasi memberi komentar–termasuk

juga peran administrator, maka wartawan warga adalah merupakan sebuah komunitas bukan individualitas. Dengan kata

lain seorang wartawan warga tidak bisa menjalankan peran aktifnya, tanpa keberadaan dan peran wartawan warga yang

lain.

Informasi merupakan kebutuhan pokok setiap orang bagi pengembangan pribadi dan lingkungan sosialnya serta

merupakan bagian penting bagi ketahanan nasional.

Hak memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia dan keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri

penting negara demokratis yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang

baik. ‘’Mengajak bukan menghakimi, menginformasikan bukan menggurui. (Disampaikan pada orientasi di Bidang

Penamas Kalsel )

Jurnal Penyuluh Bidang Penamas Kanwil Kemenag Prov. Kalsel

29

More magazines by this user
Similar magazines