o_19l2ab95j4rl1rpj1om31pjdvra.pdf

alj78

Dari Sinilah Mengalir Sastra Dunia!

(Henri Chambert-Loir)

Esei: Wesel, 1981

dan Apresiasi

Sederhana oleh

Syafrizal Sahrun

Cerita-Pendek:Ubi

oleh

Dantje S Moeis dan

Mata Lain oleh Eko

Triono

Cerita-Pendek Terjemahan:

Main di Dua Kaki

oleh Alberto Moravia

Sajak: Muhammad

Asqalani eNeSTe

dan Saifa Abidillah

Sajak Terjemahan:

Puisi-puisi Klasik

Robert Frost

198 MA

Tokoh: Arizal Subur

dalam Melahirkan

Karya

Rehal: The Confes-

sions of Zeno

Tokoh: Meneropong

Gerak Senirupa

Tenas Effendy (Alm)

oleh Dantje S Moeis

Berita Duka:

MARET 2015 | www.majalahsagang.com

Telah Berpulang

ke Rahmatullah

Tokoh Budayawan

Melayu Tenas

Effendy

halaman KULITi


halaman KULITii

i


Penerbit:

PT Sagang Intermedia Pers

SIUPP No. 492/MENPEN/SIUP/1998

ISSN: 1410-8690

Alamat redaksi:

Gedung Riau Pos, Jalan HR Soebrantas

KM 10,5, Pekanbaru 28294, Riau, Indonesia

Telepon Redaksi: (0761) 566810

Tata usaha dan Pemasaran: (0761) 566810,

Faksimili (0761) 64636

www.majalahsagang.com

e-magazine

Harga (Edisi Cetak) Rp 50.000,-

No. 198 •MARET 2015• tahun XVII

Tenas Effendy

merupakan

seorang tokoh

Budayawan

Melayu.

Foto Int

Daftar Isi

• Merindukan Idrus ............................ 2

• Esei

Wesel, 1981 dan Apresiasi Sederhana

oleh Syafrizal Sahrun ............................... 4

• Cerita-Pendek

- Ubi oleh Dantje S Moeis ......................... 8

- Mata Lain oleh Eko Triono ...................15

• Cerita-Pendek Terjemahan

Main di Dua Kaki

oleh Alberto Moravia.............................. 20

• Sajak

- Muhammad Asqalani eNeSTe ............. 29

- Saifa Abidillah ...................................... 36

• Sajak Terjemahan

Puisi-puisi Klasik Robert Frost .............. 47

• Tokoh

Arizal Subur dalam Melahirkan Karya .. 52

• Rehal

The Confessions of Zeno ........................ 58

• Tokoh

Meneropong Gerak Senirupa Tenas

Effendy (Alm.) oleh Dantje S Moeis ...... 60

• Berita Duka

Telah Berpulang ke Rahmatullah

Tokoh Budayawan Melayu

Tenas Effendy ......................................... 63

Perintis: Rida K Liamsi • Pemimpin Umum: Armawi KH • Wakil Pemimpin Umum: Kazzaini Ks, Sutrianto •

Pemimpin Perusahaan: Dra. Erda Yulfi • Pemimpin Redaksi: Kazzaini Ks • Wakil Pemimpin Redaksi: Zuarman

Ahmad • Redaktur: Dantje S Moeis, Zuarman Ahmad, Kazzaini Ks, Fedli Aziz, Sutrianto, Murparsaulian, Armawi

KH • Pra cetak: Rudi Yulisman • Ilustrator Tetap: Purwanto • Manager Keuangan: Erda Yulfi.

Redaksi menerima sumbangan tulisan berupa esei, kritik seni, resensi buku, laporan dan tulisan budaya. Foto

seni, sketsa, karya puisi dan arus menyertakan fotokopi aslinya. Pengiriman naskah harus menyertakan keterangan

alamat yang jelas. Karya dikirim ke e-mail: puisisagang@yahoo.co.id, cerpensagang@yahoo.co.id, eseisagang@yahoo.co.id,

umumsagang@yahoo.co.id. Karya termuat diberikan honorarium yang padan.

halaman 1


Tajuk

Merindukan Idrus

ada bulan Februari dan Maret

2015

ini banyak seniman Riau

yang meninggal-dunia. Sebut saja

Edi Surya (pemusik Saxophone), Yusman

(musisi Saxophone dan musisi Band Riau

Hotel), Yan Antoni (koreografer Sanggar

Dang Merdu, sanggar tari yang tua di

Riau), M Sani Burhan (musisi tradisional,

pemusik Gambus Selodang dan Akordion),

dan terakhir Tennas Effendy (terakhir Ketua

LAM Riau, tokoh adat dan peneliti dan

penulis dan pencatat remah-remah adat dan

tradisi Melayu yang tersisa).

Apa pentingnya para seniman ini

ditulis dan dikenang? Seperti yang pernah

dikatakan oleh Ludwig van Beethoven, jika

raja Austria wafat akan banyak penggantinya,

tetapi kalau Beehoven wafat tidak aka nada

penggantinya. Mungkin, sebagaimana yang

dikemukakan oleh Beethoven ini adalah

alasan yang tepat.

Semenjak Idrus Tintin meninggal-dunia

pada 14 Juli 2003, tidak ada seniman (apalagi

yang bukan seniman) sesudahnya yang

dapat menggantikannya, sebagaimana yang

dirindukan oleh seniman yang masih hidup

yang mengenalnya secara dekat maupun

secara jauh. Seperti apakah Idrus? Pertama,

kepeduliannya kepada seni dan seniman,

seperti melebihi kepeduliannya kepada

keluarganya. Misalnya, kantor Dewan

Kesenian Riau, semasa Idrus masih hidup

dan jadi Ketua Pelaksana Harian, beberapa

seniman yang kurang mampu seakan sudah

tahu jadwal makan dan minum pagi dan

tengah hari datang ke kantor DKR (ketika

masih di komplek Dang Merdu) untuk

memenuhi hasrat dahaga dan lapar yang

mendera, dan dapat dipastikan semua itu

terpenuhi dan dipenuhi oleh Idrus Tintin

dengan berbagai daya dan upaya. Kedua,

keunikan lain dari sosok Idrus Tintin,

yang pemarah namun mambawa berkah

bagi yang dimarahi. Bagaimana pula itu?

halaman 2


Contohnya, Amesya Aryana dan beberapa

seniman papa-kedana lainnya, waktu itu,

datang ke kantor DKR sengaja untuk dapat

dimarahi oleh Idrus Tintin, karena dapat

dipastikan bahwa ia akan mendapat reward

dari maki-hamun Idrus kepadanya dengan

konpensasi mendapat dana sebanyak Rp

5000,- sekali maki, yang masa itu dapat

memenuhi keperluan hidup minimal selama

dua hari. Kemudian, Idrus seakan-akan tak

boleh mendengar seniman-seniman yang

papa-kedana mengeluh tentang keuangan

yang mendera keluarganya. Dengan gigih

ia menjalankan list minta bantuan dana

kepada siapapun yang layak memberi

bantuan. Sebenarnya banyak hal lain tentang

terkait dengan keunikan-keunikan sosok

Idrus Tintin yang dirindukan oleh seniman

sesudahnya, mungkin muat untuk tulisan

sebuah buku.

Merindukan Idrus ini, juga terasa dengan

merindukan Suman HS, Ibrahim Sattah,

B M Syamsuddin, A Soeleman Syafi’ie, M

Daud Kadir, Sudarno Mahyudin, Yusuf

Dang, Abu Bakar, Syamsuddin Tambusai,

Syamsu Hilal, Hanafi Harun (di London),

Bustaman Halimy, Wan Nurdin, Jakfar Bule

(Jakfar Terompet), Sariamin Ismail (Selasih

Seleguri), Ali Anar, Effendi Ananta, Dasri

Al Mubary, Deded R Moerad, Rivai Talut,

Wunulde Syafinal, Bedor Suratmin, Basri

Rais, Broto, Untung, Simanjutak, Siti Hajar,

Raja Nayruddin, Mas Tok, Syahril, A Munir

Khalid, Mufti Edam, Ganti, Wak Setah, M

Yazid, Ediruslam Pe Amanriza, Hasan Junus,

dan seniman Riau lainnya yang tak dapat

diingat lagi, semuanya sudah meninggaldunia,

dan seluruhnya menghiasi resam dan

ragam kesenian Riau.

sudah meningal-dunia, sama dengan

merindukan Tennas Effendy yang jika

seniman meminta bantuan kepadanya

tak akan pulang dengan tangan hampa.

Merindukan Idrus Tintin, sama juga dengan

merindukan Hasan Junus, yang pada bulan

Maret ini sebagai haul meninggal-dunianya.

Semoga kalian mendapat limpahan rahmat

Allah Al-Jamil (Yang Maha Indah, dan

menyukai keindahan), dan segala kebaikan

yang pernah kalian buat akan senantiasa

dikenang dikemudian hari.

Siapakah yang dapat menggantikan

kalian?

***

Redaksi


Merindukan Idrus Tintin, sama dengan

merindukan seluruh seniman Riau yang

halaman 3


Esei

Wesel, 1981 dan

Apresiasi Sederhana

oleh Syafrizal Sahrun

“Pintu itu diketuk perlahan. Ada suara

menyahut dari dalam. Laki-laki muda

itu mengangguk sebelum masuk.

Dan laki-laki berkaca mata, Pak Dekan,

kembali melanjutkan pekerjaannya setelah

memperhatikan sejenak.”

Begitulah paragraf pembuka cerpen

Wesel yang dibicarakan ini. Cerpen yang

di tulis oleh Irwansyah – mahasiswa USU -

yang keluar sebagai juara I lomba penulisan

cerpen pada Porseni tingkat nasional 1981.

Sebagai cerita imajinatif, cerpen yang

dibicarakan ini mewakili permasalahan

yang dialami sebagian besar mahasiswa kita.

Cerpen ini ibarat kunci yang dapat membuka

pengalaman yang bersinggungan dengan

mahasiswa. Terlepas itu pengalaman yang

lahir dari pribadi penulis maupun orang lain,

cerpen ini bisa dikatakan berhasil memikat

pembaca.

Ada beberapa sub masalah yang menjadi

dasar cerpen ini. Pertama, mengenai latar

bekang ekonomi keluarga. Tidak semua

orang yang berkuliah berasal dari keluarga

berada. Ada pula yang berasal dari keluarga

kurang mampu tetapi mempunyai keinginan

kuat untuk meneruskan pendidikan sampai

perguruan tinggi. Bukan berarti ia tidak

paham mengenai biaya yang besar untuk

meraih gelar sarjana, melainkan tuntutan

zaman yang memaksa untuk berbuat

demikian.

Keadaan ekonomi tokoh cerita diwakili

oleh ungkapan yang termuat pada paragraf

cerpen yang diturunkan berikut:

“Laki-laki muda itu berdiri canggung.

Matanya menekuri lantai. Sekilas ia

menatap ujung sepatu kulitnya yang

terkelupas. Peluhnya merambat keluar

memenuhi pori-pori, Dari awal-awal

laki-laki muda itu sebenarnya ragu

untuk menghadap dekannya langsung.

Tapi ‘sikon’ menghendaki dia berbuat

demikian. Hanya Pak Dekanlah yang bisa

memutuskan. Apa boleh buat. ‘Terpaksa’,

keluhnya.”

halaman 4


Ungkapan “ujung sepatu kulitnya yang

terkelupas” merupakan simbol keadaan

ekonomi tokoh utama dalam cerita. Di

sinilah pengarang mengajak pembaca

memainkan intuisinya mengartikan siapa

dan bagaimana si tokoh utama.

Pada paragraf tersebut tergambar pula

bagaimana psikologis tokoh utama. Keraguraguan

yang menghantuinya sebagai

permainan batin manusia. Status sosial

antara mahasiswa dan dekannya begitu

jelas perbedaannya. Perbedaaan itulah

yang membuat si mahasiswa ragu-ragu dan

melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang

harus ia jawab sendiri. Bagaimana cara

menyampaikan permohonan itu? Dari mana

memulainya? Jika permohonan itu ditolak,

kemana lagi meminta bantuan? Sedangkan

Pak Dekan yang bisa memutuskan.

Bagaimanapun dorongan untuk menjumpai

Pak Dekan sangat kuat. Keragu-raguan itu

dapat ia kalahkan.

Pada paragraf lain, pengarang

memperjelas latar belakang tokoh utama

menghadap dekannya. Latar belakang

tersebut mengenai permohonan dispensasi

pembayaran uang kuliah. Ujian semester

sudah dekat. Bila tidak bisa membayar maka

tidak diizinkan mengikuti ujian.

Permasalahan uang kuliah bukanlah hal

baru di lingkungan kampus. Banyak hal

yang mendasari mahasiswa mengajukan

dispensasi. Dalam cerpen ini pengarang

memaparkan dengan jelas hal tersebut

melalui percakapan antara mahasiswa

dengan dekannya. Dikatakan dalam cerpen

tersebut bahwa si mahasiswa menceritakan

tentang weselnya yang belum kunjung

datang, sudah lama dia minta dikirimi

uang kuliah. Lalu tentang balasan orang

tuannya yang minta tempo. Uang belum

dapat dikirimkan. Sawah mereka diserang

wereng. Sementara uang dipakai dulu untuk

membeli racun hama. Akan diusahakan jalan

lain. Jalan lain yang dimaksud adalah dengan

menjual lembu satu-satunya yang mereka

miliki. Tapi itupun gagal bersebab lembu

itu mati termakan rumput yang tertumpah

racun hama. Sedang dicari jalan lain lagi. Si

orang tua memintanya untuk bersabar.

Sub masalah kedua lahir setelah

si mahasiswa sebagai tokoh utama

menceritakan sebab ia meminta dispensasi.

Ternyata si dekan mempunyai permasalahan

yang sama ketika masih menyandang gelar

mahasiswa. Ketika itu wesel kiriman orang

tuanya belum juga datang. Hal itu pula yang

memaksanya untuk mengajukan dispensasi

uang kuliah. Sayangnya dispensasi yang

ditawarkan pada pimpinan fakultasnya gagal.

“Tidak punya uang, jangan kuliah. Perguruan

tinggi bukan jawatan sosial”, kata pimpinan

fakultasnya pada saat itu. Sakit, sakit sekali.

Sungguh sakit jadi orang melarat.

Dari kegagalan tersebut dan

dihadapkan dengan permasalahan yang

sama sebagaimana pengajuan si tokoh

utama kepadanya, munculah perdebatan

batin si dekan. Pengarang menghadirkan

dua sisi kepribadian manusia pada diri

Pak Dekan, sosok jahat dan baik. Dua sisi

itu dimunculkan sebagai pertimbangan

diterima atau tidaknya pengajuan dispensasi

tokoh utama. Sosok jahat mempengaruhinya

untuk membalaskan dendamnya dulu

kepada tokoh utama dengan menggagalkan

pengajuan. Sedangkan sosok baik

mengajarinya untuk membantu mahasiswa

tersebut. “Bantulah orang yang benar-benar

membutuhkan. Ini kesempatan kau berbuat

baik. Kesempatan buat menambah tabungan

amal di akhirat. Jangan kotori lagi hidupmu

halaman 5


yang bersisa”, rayu sosok baik itu.

Kemunculan perdebatan batin dekan

menciptakan keadaan ulurtarik untuk

jawaban diterima atau tidaknya pengajuan.

Begitu sulitnya untuk berkata ‘ya’ atau

‘tidak’ dalam memutuskan suatu perkara.

Berdasarkan alasan si pemohon dengan

pengalaman batin termohon yang akhirnya

menghadirkan konflik batin yang kuat di diri

Pak Dekan.

Dari konflik batin tersebut terlihatlah

kepiawaian pengarang meracik cerita.

Pemberian alur sorot balik laksana garis

tengah yang menyeimbangkan dua sisi

permasalahan. Laksana cermin, alur sorot

balik tersebut mengajarkan kepada pembaca

untuk menepikan sifat dendam di diri

manusia meskipun ada kesempatan untuk

melakukannya.

Pak Dekan akhirnya menyetujui

pengajuan dispensasi si mahasiswa,

walaupun penyerangan sosok jahat dan

sosok baik ke diri Pak Dekan dua berbanding

satu. Si mahasiswa sangat gembira mendapat

persetujuan itu. Pak Dekan begitu haru

bisa memberikan keputusan yang terbaik

berlandaskan pengalamannya yang tidak

baik. Diturunkan penggalan cerpen yang

bernadakan hal tersebut sebagai berikut:

“Laki-laki muda itu tak kuasa menyambut

berita itu dengan kata-kata. Ucapan terima

kasih yang ingin disampaikannya tidak

bisa keluar. Tersekat dikerongkongan.

Dadanya sendat. Pak Dekan membuka

kaca matanya. Mengusap sudut matanya.

Hampir saja butir air mata itu menitik.

Tapi laki-laki muda di depannya tidak

melihat. Dia sendiri sedang menahan air

matanya.

Kedua laki-laki di dalam ruangan itu

sedang dicengkram oleh perasaan masingmasing.

Sungguh maha pemurah engkau,

Ya Tuhan! bisik hati si laki-laki muda.

Syukur atas petunjuk-Mu, Ya Rabbi! bisik

laki-laki tua berkaca mata. Sungguh berat

berjuang melawan hati sendiri. Segala puji

bagi-Mu, Ya Tuhan!

Laki-laki muda itu menyalami Pak Dekan.

Kedua laki-laki yang datang dari derita

yang sama itu saling bertatapan sejenak.

Pak Dekan menepuk bahunya.”

Pada akhir cerita, pengarang

menghadirkan jebakan baru lagi untuk

menyentuh hati pembaca, yaitu sub masalah

ketiga. Di tengah kebahagian si mahasiwa

yang mendapatkan persetujua dispensasi,

datang pula kabar dari kampung yang

dibawa petugas pos. Isinya sebagai berikut:

“Ayah Sudah meninggal. Pulanglah segera.

Ini sekedar ongkos pulang. Kakakmu.”

Konflik batin pada sub masalah ketiga

merupakan akhir dari cerpen. Mulai

dari sub masalah awal sampai akhir,

dalam menyuguhkan cerita pengarang

mengutamakan permainan batin tokoh.

Permainan batin itulah yang seakan

memapah pembaca untuk terjebak dalam

suasana haru. Suasana yang dapat menjadi

juru kunci membuka pengalaman pribadi

pembaca atau memunculkan pengalaman

imajiner lain yang melahirkan pula alur baru

di diri pembaca (terlepas dari alur yang di

buat pengarang), sehingga pembaca merasa

memiliki cerpen itu secara pribadi.

Dari ketiga sub masalah itu, pembaca

dapat menghimpun dan mengetahui

permasalahan utama yang mendasari

cerpen ini tercipta. Permasalahan yang

menjadi tema garapan si pengarang. Dalam

halaman 6


penentuan tema cerita saya kembalikan

pada pendapat Barthers dalam Luxemburg:

Dalam merumuskan tema sebenarnya kita

telah terperangkap ke dalam dikotomi ia –

tidak, benar – salah, dan ini bukan yang itu.

Seolah-olah tema karya sastra tertentu hanya

satu. Padahal menafsirkan teks sastra tidak

boleh menunjukkan satu arti saja, melainkan

membeberkan aneka kemungkinan.

Cerpen Wesel yang dinobatkan sebagai

juara I Porseni tingkat nasional tahun 1981

ini adalah cerpen yang sarat konflik. Baik

konflik yang hadir dari tokoh utama, maupun

yang hadir dari Pak Dekan merupakan satu

kesatuan yang kuat dan padat. Pantaslah bila

cerpen ini juga mencuri perhatian juri dalam

perlombaan. Pantas pulalah ia menjadi

unggulan.

“Matahari sesungguhnya garang kini!”.

Demikianlah kalimat akhir yang menutup

cerpen tersebut. Kata ‘garang’ dapat dimaknai

ke dalam dua arti. Pertama, garang diartikan

sebagai penampilan yang mempesona.

Kedua, garang diartikan sebagai perwajahan

yang bengis. Jika di timbang, pengertian

yang kedua lebih pas untuk mewakilinya.

Semoga apresiasi ini jadi konsumsi yang

baik. Semoga dengan diapresiasi cerpen

Wesel yang muncul 33 tahun yang lalu ini

dapat kembali kita nikmati sebagai bentuk

penghargaan, baik ditinjau dari segi politik

dan budaya. Wassalam.

***

Penemuan Cerpen

Pada tahun 2009, ketika mencari bahan

skripsi di perpustakaan Unimed, saya

menemukan cerpen Wesel karya Irwansyah.

Cerpen itu saya temukan terselip di antara

lembaran sebuah skripsi dengan kondisi

gandaan yang mirip seperti kertas bungkus

cabai. Saya tidak memberikan perhatian

khusus padanya sebab bahan skripsi saya tak

bersangkutpaut dengan karya sastra. Apa

lagi melihat kondisi isinya yang kabur dan

berbercak hitam akibat penggandaan yang

tidak baik. Cerpen itu akhirnya saya bawa

pulang juga melihat masa pemuatannya

yang lebih bangka dari usia saya.

Wesel merupakan cerpen juara I

pada Porseni tingkat Nasional 1981 milik

mahasiswa USU. Untuk juara II jatuh pada

nama Bambang Sudono (UNDIP) dan juara

III diraih oleh Endang S (IKIP Semarang).

Cerpen Wesel dimuatkan pada Warta

Mahasiswa (WM) edisi September 1981

halaman VI oleh redakturnya dengan tujuan

mempermudah memasyarakatkannya.

Begitulah keterangan yang terdapat pada

gandaan tersebut dan gandaan WM itu

pulalah yang ada pada saya.

Siapakah Irwansyah? Apakah dia terus

menulis cerpen setamat kuliah atau sampai

sekarang? Apakah, apakah dan apakah?

Begitulah pertanyaan yang hadir dalam

diri saya. Walau bagaimanapun Irwansyah

sudah membuat bangga masyarakat Sumut

dengan capaian yang diraihnya. Cerpen

psikologi yang bagus. Cerpen yang mampu

mewakili keadaan sebagian besar mahasiswa

kita. Semoga terus berlahiran Irwansyahirwansyah

lain dari Sumut ini.

Syafrizal Sahrun

Tinggal di Desa Percut. Alumni UISU.

Menulis puisi dan esai sastra serta

mempublikasikannya di beberapa media cetak

lokal dan nasional. Bergiat di Komunitas

Home Poetry.


halaman 7


Cerita-pendek

Ubi

oleh Dantje S Moeis

halaman 8


encangkung, duduk di batu miring turap penahan longsor

sungai Indragiri yang membelah ibukota negeri kami

Rengat Kota Bersejarah. Aku agak sedikit masgul setelah

melihat tayangan teve negeri jiran yang baru saja berganti pimpinan

negara, sekaligus para menterinya.

Di Hari Ulang Tahun Korps Pegawai Republik jiran ke-43,

pemerintah mereka mencetuskan ‘Gerakan Nasional Revolusi Mental

Aparatur Sipil Negara’ (ASN). Para Pegawai Negeri Sipil (PNS) diminta

meninggalkan mental priyayi dan stop pemborosan.

Terhitung mulai hari itu, Senin (1/12/2014), PNS mereka dilarang

rapat di hotel-hotel atau tempat mewah lainnya dan harus menggelar

acara di tempat yang sudah disediakan.

“Itu bagus” pikirku. Gerakan tersebut diperkuat dengan Surat Edaran

No. 13/2014. Isinya adalah, PNS dihimbau untuk menyelenggarakan

seluruh kegiatan instansi pemerintah di lingkungan masing-masing

atau di lingkungan instansi pemerintah lainnya.

“Itu juga bagus”. Selain itu, pemerintah negeri jiran juga

menginstruksikan agar pegawai dan pejabat negara mengkonsumsi

makanan lokal. Seperti ubi rebus. Konsumsi ini juga harus disajikan

pada saat rapat pegawai pemerintahan. Perintah berdasarkan Surat

No. 10/2014 ini juga berlaku mulai tanggal 1/12/2014. Begitu menurut

keterangan pers yang disampaikan Menpan negeri jiran itu. “Nah,

ini dia. Apa juga bagus buat semua?” Point terakhir inilah penyebab

masgulnya hati ini, sampai kini dan mencangkung di dinding batu

miring hingga dini-hari kini.

Jauh sebelum mereka mengeluarkan kebijakan tentang perkuatan

sektor makanan-pokok rakyat dan menjadikan ubi sebagai pengganti

beras. Seperti yang pernah kuceritakan di sebuah media massa tiga

belas tahun lalu. Aku yang pernah berperan sebagai pejabat tinggi

di negeri kami ini, tepatnya di tahun 2001. Melalui corong televisi

pemerintah dan swasta malam itu aku menyiarkan kebijakan yang

kuambil dalam banyak hal, terutama tentang perubahan-perubahan

di bidang pangan. Perubahan bertujuan peningkatan strata sosial

maupun ekonomi masyarakat banyak.

Laporan setelah itu, tak satupun terlihat adanya keluhan

masyarakat tentang diversifikasi makanan pokok. Puja dan puji silih

berganti datang yang kesemuanya ditujukan kepadaku Pak Mentut.

Kenapa Pak Mentut? Mentut adalah singkatan dari (Ment)eri (ut)

ama di negeri kami, sebuah negara yang sedang demam perubahan,

pembaharuan di segala lini dan sangat anti gaya lama. “Mentut”,

halaman 9


agaknya semaksud dengan “Perdana Menteri” di pemerintahan gaya

lama atau sama dengan “First Minister,” atau “Prime Minister,” atau

“Principal Minister” di pemerintahan beberapa negeri Eropa dan

Amerika sana. Aku sebagai tokoh utama dalam cerita ini, adalah orang

yang memegang jabatan Mentut terpilih hasil “Pemirak (pemilihan

rakyat)” yang sungguh-sungguh sangat demokratis, konstitusionis,

sedikit dramatis dan yang terpenting adalah Pemirak yang bersifat,

Betaraha (bebas tak rahasia), anti gaya lama. Jadi teranglah segalanya,

bahwa penggantian nama panggilan buatku menjadi Pak Mentut,

sangatlah kuat dan beralasan.

Dampaknya tergambar bersih jelas namun tak mengenakkan buat

aku pribadi, berlangsung terus menerus sejak terpilihnya Menteri

utama baru dan awal pencanangan langkah kerja, aku menerbitkan

Keputusan Menteri Utama disingkat “Kementut.”

Tak lazim bagi perilaku seorang Menteri, apalagi untuk seorang

Mentut. Hal ini sungguh membuat bingung orang dekatku yang

setiap saat selalu mendampingiku kemana-mana, dan ketak-laziman

itu kembali terulang kali ini.

Melanggar rambu-rambu protokoler, meninggalkan setiap

pertemuan resmi maupun tak resmi pulang ke kediaman sebelum

acara benar-benar usai dan anehnya, kulakukan setiap selesai jamuan

makan.

“Mana remote control pembuka pintu pagar!” Tergesa tak sabar,

merangsak ke depan, meraih benda kecil bertombol banyak yang

terletak di dash board mobil dinasku. Menekan salah salah satu tombol

alat otomatis pembuka pintu pagar kediaman. Tak sempat mencapai

car-port, apalagi tindakan lazim ajudan untuk membukakan pintu

kendaraan, aku membuka sendiri pintu mobil, menghambur ke

luar menerajang pintu kediaman, menghilang masuk kamar dan

menguncinya dari dalam.

Tak ada yang tahu, apapula penyakit atau kelainan yang ku-idap

akhir-akhir ini. Pernah pada suatu hari, pada kejadian yang sama, Bu

Mentut isteriku karena rasa khawatir dan cemas melihat perubahan

perilaku aku, bertanya.

“Kenapa bang? Apa yang terjadi, apa abang kurang sehat? Dinda

panggilkan dokter keluarga kita ya.” Beruntun pertanyaan dan jalan

keluar yang diusulkan isteriku, sebagai ungkapan rasa prihatin

seorang isteri tak bertendensi apa-apa. Namun, kalimat itu jadi alat

pemicu meledaknya amarahku.

“Diaaaaaam! Dinda telah menabur pupuk di kebun kemarahanku

halaman 10


yang kini mulai berputik. Jangan dinda ulangi keinginan untuk

memanggil dokter. Aku sehat, sehat lahir bathin. Tak seorangpun

kuizinkan untuk memeriksaku perihal kelainan ini. Aku yakin, ini

akan hilang dengan sendirinya, itu hanyalah bentuk keterkejutan

yang akan mengalami proses penyesuaian.”

“Apa yang sebenarnya terjadi bang, mengapa abang seperti

menyembunyikan sesuatu. Apakah dinda sebagai isterimu tidak

punya hak untuk mengetahui perihal yang terjadi pada abang. Apakah

dinda tak dapat lagi abang percaya? Katakan bang, katakanlah yang

sejujurnya.”

Aku tergelak di sela rasa sakit menghimpit, hingga mataku

yang memang sipit menjadi lebih menyipit, membentuk satu garis

yang kemudian mengeluarkan air mata, merasa ada sesuatu yang

menggelikan dari kalimat panjang isteriku. “Ha…ha… dinda, kalimatkalimat

dinda tadi sangat puitis, mengingatkan abang pada judul

lagu ‘Katakanlah Yang Sejujurnya.’ Ha…ha….dan membangkitkan

kenangan lama pada masa lalu kita, masa kita pacaran dulu. Tak

sebarispun kalimat berbunga dinda ucapkan masa itu, selain hanya

merengek, merajuk dan tertawa lepas, ngakak tanpa sungkan sesuai

umurmu yang masih sangat muda pada saat itu. Ha….ha….”

“Ah abang, dinda jadi malu. Apakah abang menginginkan dinda

tetap seperti dulu? Cengeng, aleman, perajuk dan selalu tertawa

ngakak? Dinda ingin berubah bang. Sebagai seorang Isteri Mentut

yang latar belakang pendidikan cuma SMP, dinda sadar, dinda harus

mengimbangi agar abang tidak malu beristerikan dinda dan kemudian

berpaling ke perempuan lain.” Tanpa sadar isteriku kembali ke sifat

lamanya, merajuk. Aku cepat mengantisipasi agar keadaan itu tidak

berlanjut.

“Ah, hanya bergurau, abang bangga padamu yang kini sangat pesat

kemajuannya. Dinda sekarang sudah bisa aktif berkomunikasi dalam

beberapa bahasa asing, sudah piawai bicara politik, sosial, ekonomi

sampai ke hal-hal yang bersifat ilmiah. Sungguh, sumpah mati dik,

abang bangga.” Aku jujur dan bukan hanya sekedar menghibur.

“Tapi abang ingatkan, untuk hal yang satu ini jangan dinda utik-utik

lagi. Abang tak ingin kelainan yang terjadi pada abang akhir-akhir

ini diketahui banyak orang dan menurut abang, tak perlu dibesar

besarkan karena sangat riskan dan menjadi ancaman yang dapat

menjadi peluang empuk bagi lawan politik kita untuk membantai.”

Semakin bingung dan tak mengerti, isteriku hanya dapat

mengangguk dan berkata lirih. “Ya bang, kalau itu keinginan abang.”

Kemudian kami berpelukan dan berlanjut di sela rasa sakit yang

halaman 11


sementara terkalahkan.

Aku berpeluh dingin, meringis menahan sakit yang tak dapat

diungkapkan dengan kata-kata. Ada rasa perih melilit, kembung

padat, mual nak muntah dan desakan kuat dari dalam, sulit seperti

tumpat dan tak dapat disalurkan dengan kentut atau sendawa.

Berkali-kali aku mengalami hal seperti ini dan aku sudah tahu pasti

penyebabnya. Namun sampai detik ini aku belum mendapatkan cara,

atau obat yang paling efektif untuk menangkal penyebab kelainan

perut ini. Untuk mengelak, adalah sesuatu yang mustahil walau

terkadang, akibat rasa sakit yang begitu hebat menyerang, terlintas

juga di benakku untuk mengangkat gagang telepon, menghubungi

dokter Suarmian, dokter keluarga kami. Aku bersyukur, keinginan

seperti itu sampai saat ini masih dapat kutahan. Untuk hal yang satu

ini, aku takkan mempercayai siapapun dan kuyakin penyakit ini tak

akan menghantarkan aku ke liang kubur.

Terus menekan dan mengusap perut dengan berbagai macam

minyak gosok. Mulai dari berbagai merek minyak kayu putih, balsem,

minyak tanah yang dicampur dengan irisan bawang merah sampai ke

upaya yang sangat tradisional, yaitu menggulung-gulungkan botol

berisi air hangat keseputar perut. Tampaknya usaha tinggal usaha,

namun sakit tak juga berkurang dan ini sangat kusadari. Karena derita

seperti hal ini sudah berulang kali ku-idap. Yang dapat meringankan

hanyalah, kalau aku dapat mengeluarkan gas yang berkecamuk

melalui proses kentut yang berlajut ke buang air besar. Namun itu tak

mudah.

“Sebetulnya untuk menjadi populer dan dianggap sukses mengatasi

krisis ekonomi berkepanjangan, banyak hal yang dapat kulakukan.”

Aku bergumam dalam hati sambil menahan rasa sakit. “Banyak aspek

yang dapat dijadikan solusi pencerahan, demi kepentingan masa

depan sekaligus dapat mengharumkan namaku. Namun kenapa

aku terlalu gegabah mengambil keputusan. Sebuah keputusan yang

berakibat penderitaan panjang bagiku.”

Isteriku, Bu Mentut menahan duka melihat penderitaan yang

ditanggung oleh suaminya tercinta dan pemandangan itupun hanya

dapat ia lihat dari lubang kunci kamar tidur kami yang sengaja

kukunci dari dalam. Tak satupun yang dapat ia perbuat. Ia paham akan

temperamenku yang setiap petuah, pesan maupun kata-kataku sama

sekali tak boleh dibantah, apalagi dilanggar. Terlalu besar resiko yang

ia hadapi apabila hal itu coba-coba dilanggarnya. Namun dibalik itu,

aku adalah orang yang sangat perhatian terhadap isteri, anak maupun

masyarakat. Karena sifat positif itulah, aku, Pak Mentut dengan usia

halaman 12


elatif muda, berhasil dengan karir yang melesat pesat di berbagai

bidang, termasuk di bidang politik dan pemerintahan.

Bu Mentut semakin cemas. Sejak pukul dua belas siang tadi, pulang

menghadiri temu-wicara dengan para petani ubi di desa Sendolas

Rengat Hilir, aku, Pak Mentut tak keluar dari kamar. Tak makan

siang. Tak makan malam dan tak menonton televisi. Dari lubang

kunci di mana selama ini Bu Mentut dapat melihat situasi keadaan

kamar kami. Namun kali ini, hal itu tak dapat ia lakukan. Aku sengaja

membiarkan anak kunci menetap pada lubangnya setelah memutar

dan mengunci pintu.

Resah berbaur pasrah, Bu Mentut tak lain hanya dapat berdoa

semoga hal yang tidak diingini tak terjadi dan hanya itu yang dapat

ia lakukan.

Enam bulan lalu, tepatnya Agustus tahun 2001. Aku, Pak

Mentut di awal masa jabatan, tanpa melalui proses yang berbelit,

tanpa persetujuan staf ahli di bidang gizi dan pangan, serta tanpa

persetujuan parlemen karena yakin keputusanku ini tidak akan

mengalami rintangan berarti dan memang pada kenyataannya,

keputusan ini sangat disambut oleh masyarakat. Keputusan Menteri

utama yang disingkat menjadi Kementut bernomor: 01/mentut-

Indra/Agust./2001 tentang diversifikasi bidang pangan, yang

singkatnya berisikan keputusan tentang keharusan merubah secara

progresif revolusioner, bentuk makanan pokok dari beras ke ubi

kayu (ketela pohon, singkong). Alasan mendasar dari Kementut yang

kukeluarkan adalah, karena semakin tingginya nilai jual beras di pasar

internasional, berarti kalau semua beras yang dihasilkan para petani

negeri ini dilempar ke pasar internasional, maka otomatis akan dapat

lebih mensejahterakan kehidupan petani itu sendiri dan menjadi

sumber devisa terbesar bagi negara. Sebagai alternatif pengganti,

seluruh rakyat diwajibkan untuk mengganti makanan pokoknya ke

ubi, dengan alasan ubi adalah makanan pokok pengganti yang paling

cocok dan atas pertimbangan, bahwa ubi mempunyai kadar gizi dan

karbohidrat yang memenuhi persyaratan untuk dijadikan makanan

utama. Dari sisi lain, ubi juga dengan mudah dapat tumbuh tanpa

proses penanaman, pemeliharaan, pemupukan yang berlebihan

bahkan dapat tumbuh di halaman-halaman rumah dan tepi jalan.

“Ha….ha….ha….ha…..” Terdengar lantang suara tawaku yang

membuat terkejut isteriku yang sedari tadi dirundung resah dan

gelisah.

“Aku korban dari keputusan yang kubuat sendiri.” Aku berkata

dalam hati.

halaman 13


“Ubi tak cocok buat perutku namun sesuai buat rakyatku. Walau

demikian ketidak cocokan ini biarlah menjadi salah satu rahasia dari

sekian rahasia pribadiku dan yang pasti, rahasia yang satu ini akan

kubawa sampai mati.”

Sekali lagi isteriku, Bu Mentut yang berdiri di depan pintu kamar

kami dikejutkan teriakan lantang dari dalam.

“Dindaaaaaaa! Siapkan makan malam, taruh di depan televisi.

Ingat, jangan ada ubi! Aku laparrrrrrrrr!” Disusul derit pintu kamar

yang terbuka, memunculkan wajahku yang lega seiring bau busuk

menghambur keluar. Bau khas yang sangat dikenal isteriku. Bau yang

membuat ia nak muntah. Bau Kentut aku, Pak Mentut suaminya,

yang memadati ruang kamar, melepaskan aku dari siksa “Kementut,”

namun memberi pencerahan pada kehidupan rakyat.

Alamak…sudah pukul setengah empat subuh rupanya. Bergegas

tegak dari mencangkung, aku hanya dapat berharap dalam hati,

“semoga ubi selain cocok buat perut rakyat negeri jiran, cocok pula

bagi perut para pejabat negaranya”.***


halaman 14


Cerita-pendek

Mata Lain

oleh Eko Triono

am berdiri di depan kelas sebelum hal-hal tak terduga muncul

seperti timbunan rahasia. Ia menempelkan poster yang tiap

ujungnya kemudian direkatkan.

“Siapa dong (dia) itu Bapak Guru? Kitorang (kita) trada (tidak)

pernah lihat,” murid keriting tidak sabar.

“Anak-anak, mereka adalah pahlawan. Ini pahlawan kemerdekaan.

Ini pahlawan proklamasi. Ini pahlawan revolusi,” kata Sam sembari

menunjuk baris-baris yang berisi golongan gambar.

Akan tetapi, tidak semudah yang dibayangkan. Tidak semudah

ketika praktik mengajar di sekolah-sekolah Jawa di tempat tinggalnya

dulu. Bukan hanya karena anak-anak merasa tidak pernah melihat

orang-orang dalam kategori yang disebut pahlawan itu, tetapi juga

mereka menyadari bahwa orang-orang dalam gambar itu warna

kulit dan bentuk wajahnya tidak sama dengan kebanyakan mereka,

termasuk dengan orang tua mereka.

Barangkali mereka seolah melihat sesuatu yang datang dari planet

lain dan dengan tiba-tiba mereka diminta mengakui yang asing itu

sebagai saudara, sebagai pahlawan, sebagai penolong, sebelum

kemudian dihafalkan, dan menentukan nilai rapor.

halaman 15


Sam terdiam cukup panjang. Pertanyaan dan kegaduhan silih

seperti hujan yang saling jatuh bergantian.

“Tenang, anak-anak,” kata Sam mengambil situasi, “sekarang

buka buku catatan kalian. Pak Guru akan mendiktekan pengertian

pahlawan. Kalian catat. Di UKK (Ujian Kenaikan Kelas) bulan depan

akan ada soal tentang pahlawan. Kalian paham?”

Dan murid-murid serentak menjawab: paham. Dengan kakikaki

telanjang; dengan atau tanpa seragam yang nyaris abadi di

dalam hari-hari sekolah mereka; seragam yang membuat mereka

takut membebaskan diri, takut kotor apabila bermain lepas; dengan

merasakan lembab tanah di mana cacing dan orong-orong telah

membuat jalur dari bawah meja kayu mereka yang penuh coretan

menembusi tanah dinding kelas yang terbuat dari papan menuju

kebun; dan dengan ketaatan yang menakjubkan, mereka mencatat

apa yang didektekan Pak Guru yang masih muda, berkacamata,

datang dari Jawa ke pedalaman Papua, dan menyukai anak-anak,

sebagaimana seharusnya seseorang yang berzodiak Gemini itu.

Sam masih mendeskripsikan apa itu pahlawan dengan intonasi

yang ketepatannya mendekati nada deklamasi.

“Mereka mengusir penjajah dan membuat kita merdeka,” kata

Sam. Dan mestinya tidak ada masalah dengan kata-kata ini.

Namun, anak-anak memang telah sering mendengar keluh kesah

dari orang tua mereka bahwa; “Tanah kitorang masih dijajah. Emas

pu (punya) nenek moyang diambil tiap hari, dibawa trada tau ke

mana. Kitorang harus merdeka. Kitorang harus miliki tanah ini buat

kitorang sendiri. Biar trada miskin. Trada sengsara.”

Dan hari ini, anak-anak makin bingung, mengapa sudah ada

pahlawan, mengapa Pak Guru bilang telah merdeka, telah bahagia?

Tanpa mengerti gejolak dalam jiwa murid-muridnya, Sam,

sebagaimana dituntut oleh kurikulum, melanjutkan pelajaran. Ia

menyebutkan nama-nama pahlawan dan kehebatan, perjuangan,

pengorbanan jiwa dan raga yang telah mereka persembahkan kepada

bumi pertiwi untuk mengusir penjajah asing; yang hanya datang

untuk mengambil kekayaan tanah air; datang untuk menindas.

Ketika Sam menceritakan tentang penjajah Eropa yang datang

dengan kapal-kapal mengangkut hasil bumi, rempah, emas, dan

kekayaan lainnya dari tanah air ini menuju tanah air penjajah itu

dengan diiringi pasukan-pasukan bersenjata apai, murid-murid

membayangkan kapal-kapal yang orang tua mereka ceritakan.

Kapal-kapal yang datang dengan kosong dan pergi membawa

halaman 16


tumpukan emas. Di sana, di kapal-kapal yang sangat besar itu,

banyak pasukan dengan senjata api. Pasukan yanag tanpa ampun

akan menembak mati siapa saja yang berani mengganggu apalagi

melawan.

Saat Sam sampai pada kisah tentang pahlawan-pahlawan yang

gugur karena mencoba mengambil hak mereka; dengan melawan,

dengan alat-alat seperti bambu runcing, golok, tombak, dan panah

menghadapi senjata api, murid-muridnya mengingat kembali

pertempuran yang pernah diceritakan orang tua mereka, dan beberapa

kali mereka saksikan sendiri.

halaman 17


Ketika itu, mereka melihat orang tua mereka membawa tombak.

Di hadapannya, orang-orang berseragam dengan senjata api; orangorang

dengan nama tentara dan polisi yang wajahnya sebagian besar

memiliki struktur yang sama dengan pahlawan di dalam gambar.

“Ko (kau) lindungi dong yang mau rampas kitorang pu (punya)

harta. Sini kalo ko berani!” teriak ayah mereka.

Dan pertempuran, baku tembak sering terjadi. Terutama di

sekitar pipa jalur emas yang menurut orang-orang apabila mereka

bisa mendapatkannya, mereka bakalan bisa membangun daerah ini;

dengan listrik, dengan mobil, mesin cuci, dan semua-muanya. Tidak

sedikit korban jiwa yang berguguran.

“Nah, anak-anak, pahlawan-pahlawan itu saling bahu membahu.

Mereka kemudian mendirikan negara. Negara Indonesia. Tujuannya

untuk melindungi rakyatnya; melindungi dari penjajahan, melindungi

dari pederitaan, melindungi dari segela yang tidak menyenangkan.

Karena itulah ada tentara, ada polisi,” Sam semakin bersemangat.

Sementara murid-muridnya menghubungkan penjelasan itu

kepada para kepala suku yang dengan gagah melindungi mereka dari

peperangan; dari bentrok yang seringkali mengerikan.

“Jadi, anak-anak,” Sam mulai berniat memberikan tugas, “pahlawan

itu adalah mereka yang pada dasarnya berbuat baik, bertujuan baik,

dan berlaku baik. Dan kebaikan mereka membuat kita bahagia.

Sekarang, kalian tuliskan, sebisa dan sesuka kalian, tentang cara

kalian untuk menjadi seperti para pahlawan.”

Sam sementara meninggalkan kelas, menuju ruang guru untuk

menyelesaikan beberapa soal adiminstrasi.

Ia dengan lega, karena merasa telah menyelesaikan tugas mengajar

tentang nasionalisme, berjalan melintasi kelas yang terbuat dari kayukayu

terbaik. Ia telah dipindahkan dari Jayapura, dan, kini mengajar

lebih dalam ke arah yang seperti waktu; tak terduga sama sekali.

Di kejauhan, burung-burung surga bercinta dan beranak pinak di

udara. Di kejauhan, pohon-pohon tanpa negara, pohon-pohon tanpa

pahlawan, pohon-pohon tanpa agama, tumbuh hijau menyimpan

dingin dan lumut, menyimpan sarang dan telur, menyimpan

kehidupan yang seringkali sandur. Sam terus berjalan.

Sementara di kejauhan, di kelas tiga sekolah dasar yang hanya

berisi lima belas murid itu, hasrat dan rahasia menyalurkan pipa-pipa

yang memuat gejolak dan pengalaman diri.

“Ko harus pintar. Dengan pintar, ko kelak bisa ambil milik kitorang

yang dijajah,” orang tua mereka suatu hari.

halaman 18


“Pahlawan-pahlawan ini terus belajar. Mereka belajar dan belajar,

bahkan sampai ke negeri Eropa. Mereka ingin menjadi pandai.

Karena hanya dengan pandai mereka bisa merebut dan mengelola

kemerdekaan menjadi sebuah negara,” kata Pak Guru mereka ketika

menjelaskan tentang perjuangan pahlawan tadi.

Murid-murid kian bergumul dengan kelidan ingatan. Kepala

mereka sampai terasa berat dan jatuh ke meja; menatap kertaskertas,

memperhatikan huruf; mengendalikan ujung pensil yang

menimbulkan bunyi goresan-goresan menakjubkan.

Tak ada yang bicara dengan temannya. Semua tengah sangat sibuk

dengan diri sendiri.

Murid-murid sangat sibuk membayangkan diri mereka menjadi

seorang pahlawan.

Dan Sam, di ruang guru, membayangkan murid-muridnya sedang

menuliskan diri mereka menjadi pahlawan yang melawan penjajahan,

bertempur hingga titik darah penghabisan, yang pada akhirnya,

sebagaimana tujuan pengajaran ini; mereka sadar akan negera, cinta

pada tanah air, selama-lamanya. Sam tidak pernah membayangkan

bahwa muridnya akan menuliskan diri mereka sebagai pelawan

orang-orang berdasi yang menambang emas dan membawanya

dengan kapal; yang merebut kekayaan; yang dilindungi oleh pasukan

bersenjata api dan mereka melawannya dengan tombak dan panah.

***

Eko Triono, lahir di Cilacap, 11 Juni 1989. Kuliah di Jurusan Pend. Bahasa dan

Sastra Indonesia, UNY. Menulis fiksi di Kompas, Majalah Sastra Horison,

Padang Ekspres, dll. Menulis juga pada buku kumpulan cerpen bersama.

Pemerhati masalah sosial dan individu.


halaman 19


Cerita-pendek Terjemahan

Main di Dua Kaki

oleh Alberto Moravia

“Umberto seperti ini,

Umberto seperti itu,

Umberto peringkat atas di sekolah.

Emaknya bilang dia dapat medali,

Umberto kerja,

Umberto balik membawa duit,

Umberto beli sepeda motor dengan duitnya sendiri,

Umberto baru saja beli mobil...”

halaman 20


eumur hidupku, sejak dari bau cekur, Umberto selalu

membayangbayangi. Hal ini wajar karena kami tinggal di

gedung yang sama di Via Candia, dalam dua flat kecil di lantai

dasar yang satunya milik ayah Umberto yang membuka toko poulterer

(toko unggas).

Lagi pula emakemak kami berkawan dan kami berdua pun tumbuh

besar bersama. Wajar manakala aku tumbuh menjadi seorang

tukang pejalan, pengangguran dan pemalas, emakku akan menunjuk

Umberto sebagai model yang harus kuteladani. Aku cuma bisa bilang,

sungguh bahwa ujung kelingkingku masih lebih berharga daripada

si Umberto yang culas, angkuh dan jahat itu. Tapi apa gunanya?

Sebagaimana lazimnya, para emak selalu saja begitu dan kalau dunia

ini harus mengikuti seperti keinginan para emak-emak tadi maka

di dalamnya akan dipenuhi oleh orangorang yang sama sekali tak

berguna, culas, angkuh, dan jahat seperti Umberto.

Aku sangat menaruh kesumat pada si Umberto, namun hubungan

kami berjalan sopan, kalau berjumpa kami saling menyapa dan

bertukar kabar. Walau di sebalik itu hubungan kami adalah kepurapuraan

dan perang dingin di antara dua orang yang menanti

kesempatan pertama untuk mengawali pertengkaran.

Dan saat itupun tiba pada hari yang sama ketika aku dipecat

karena tidak efisien dari pekerjaan vulcanite di Via Dandolo. Ketika

aku menuruni anak tangga terngiang katakata emak di telingaku;

“Puteraku, kau akan menghancurkan hati emak… sekarang lihatlah si

Umberto itu, dia adalah contoh anak yang baik bagimu…. Jadikanlah

dirimu seperti dia, anakku…!”

Aku berpapasan dengan Umberto yang juga hendak keluar.

Akupun segera menghentikannya. “Hey, katakan sejujurnya padaku,

benarkah kau selalu berbuat baik?” tanyaku.

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, kau tak pernah berbuat satu kesalahanpun, bahwa

kau melakukan sesuatu yang seharusnya tak kau lakukan, misalnya,

kau pakai berjudi uang mingguanmu?”

Sungguh tak bisa dipercaya. Kalaulah orang lain yang berada

pada posisi Umberto saat ini, pastilah akan marah. Namun dia,

dengan wajah liciknya yang seakanakan penuh kearifan, meletakkan

tangannya di bahuku dan berkata, “Peppe, lakukanlah seperti yang

aku lakukan dan nanti kau akan merasakan manfaatnya.”

Aku berkata dengan geram, “Singkirkan tanganmu itu dari

pundakku! Aku menyetopmu bukan untuk dinasihati. Tapi justru

halaman 21


akulah yang akan memberikan nasihat kepadamu, jauhi Clara! Dia

akan bertunangan denganku.”

“Akan bertunangan?”

“Pokoknya, dia itu pacarku dan kau jangan ganggu dia, paham?!”

“Memang apa salahnya kalau aku…?”

“Cukup, yang penting kau sudah kuingatkan!”

Maksudku bilang begitu karena sebenarnya saat ini aku sedang

mengejarngejar Clara. Dia seorang gadis yang samasama tinggal di Via

Candia, di gedung yang sama denganku, sebuah bangunan kuno dan

reot, yang halamannya dikelilingi temboktembok besar seperti piazza

dengan tingkattingkat yang diberi urutan dari A sampai F. Pada salah

satu lantai bangunan ini terdapat flat kecil milik emaknya Clara yang

dipanggil atau menyebut dirinya sendiri Dolores, dan ia melakukan

pekerjaan aneh: meramal retak tangan. Dia seorang perempuan

berusia kirakira lima puluh tahunan yang ringkih, sakitsakitan, putih

seputih hantu dengan wajah yang kelihatan seperti ditutupi tepung

dan dua mata hitam yang membuat wajah ini seperti topeng dari gips.

Kasihan, dulunya dia kaya, begitulah katanya, dan sekarang ia

bersusahpayah bekerja meramal dengan kartukartu dan membaca

retak tangan. Orangorang bilang dia ahli di bidang itu, lagipula para

wanita tetangga sekitar yang konon modern di Via Candia, baik yang

masih lajang ataupun yang sudah menikah, kerap datang padanya.

Adapun Clara, dia sungguh amat berbeda dengan emaknya. Dia

sehat, rapi, cantik, ekspresif, bersih, ceria, kedua bola matanya seperti

bintang dan bibirnya yang ungu muda sungguh indah. Ketika sedang

tersenyum gigigiginya tampak seperti buah badam yang dikupas,

bibir seorang gadis yang masih belum belajar tersenyum mentel.

Clara bekerja di sebuah kantor sebagai juru ketik dan penulis cepat,

kelihatannya dia memang cocok dengan pekerjaannya itu.

Kala sedang berada di rumah dan emaknya melayani para

pelanggan, ia duduk di meja dapur mengetik dengan mesin ketiknya

atau belajar tata bahasa Inggris. Clara, seperti kukatakan tadi, sopan.

Bisa kukatakan bahwa ia begitu sopannya sehingga karena saking

cintanya aku padanya, aku tak dapat membandingkan kesopanannya

dengan air yang tenang. Tidaklah berlebihan bila ada peribahasa

yang mengatakan air tenang menghanyutkan, atau lebih tepat lagi,

laut tenang yang indah di bulan Agustus, pada malam hari di mana

cahaya bulan dan bintangbintang terpantul dari permukaannya dan

menimbulkan hasrat untuk bercinta dengan gaya klasik; bergandengan

tangan, merangkul pinggangnya, meletakkan kepala di pundaknya….

halaman 22


Oh ya, dia memang sungguhsungguh air yang tenang, dalam kedua

pengertian tadi.

Pada hari yang sama kuceritakan pada Clara bahwa aku baru saja

berhadapan dengan Umberto. Ia pun tertawa dengan lembut.

“Masak iya, kamu cemburu sama orang seperti si Umberto itu?”

“Yaah… karena dia kan lelaki.”

“Iya, tapi lelaki seperti apa dulu!”

Sedikit merasa senang, kutanyai apa maksudnya. Dan masih

tertawa dengan caranya yang kekanakkanakan, tenang dan memikat,

ia meneruskan, “Ehm, aku tak mengerti. Mulanya, dia itu seperti si

Fagiolino yang main di teater boneka itu, seseorang yang hobinya

selalu mencela, berwajah lonjong dan rambutnya seperti semat bantal.

Dan andainya kamu tahu betapa sangat membosankannya dia itu!

Dia hanya memikirkan dunianya sendiri. Ia melakukan segala sesuatu

dengan baik, dia cerdas, dia beginilah, dia begitulah. Pokoknya dia

selalu membicarakan tentang dirinya sendiri. Dan lagi pula dia punya

pikiranpikiran aneh. Menurut dia; seorang istri itu harus menjadi

orang rumahan, memasak dan mengasuh anak. Dan betapa hinanya

kalau dia sampai terlalu banyak bicara sama lakilaki lain, meski itu

saudaranya sendiri. Lebih baik aku mati daripada kawin dengannya,

ihh…tak sudi!”

Pendek kata, Clara memberikan gambaran buruk tentang Umberto

sehingga pada akhirnya aku benarbenar tenteram dan kubiarkan dia

bertemu dengan Umberto sesukanya.

Sejak saat itu aku merasa telah membalas dendam atas apa yang

selalu dikatakan emakku dari hari ke hari mengenai Umberto sebagai

model. Emakku memujamujanya, sedangkan Clara justru sebaliknya,

menjelekjelekkannya.

“Aku benarbenar tak suka sama lelaki itu,” katanya lagi padaku di

suatu ketika. “Aku pergi dengannya ke pekarangan di mana dia menjadi

mandor. Dia berbicara kepada para pekerja di sana seakanakan mereka

itu sampah. Ketika sang insinyur datang, mendadak dia pun berubah

seratus delapan puluh derajat: rendah hati, penuh perhatian, menjilat.

Atau, kuceritakan padamu kejadian terakhir, ia memberi seratus lira

kepada seorang pengemis, dan menurutmu kenapa dia melakukan

itu? Karena uang tadi palsu. Atau lagi: dia punya kebiasaan tertentu

yang membuat aku tidak tahan. Kalau dilihatnya aku tidak rapi, iapun

mulai mengorekngorek hidungnya.”

Clara telah merendahkannya sedemikian rupa sehingga

kadangkadang aku hampir sampai pada titik di mana harus

halaman 23


membela Umberto, sematamata hanya karena ingin mendengarnya

mengulangulangi lagi.

“Tapi dia kan anak yang baik,” aku akan bilang begitu. Lalu iapun

membantah, “Namun dia perlakukan emaknya seperti babu?”

“Tapi kan,” kataku, “dia membawa pulang duitnya ke rumah?”

“Bawa pulang duitnya ke rumah?” bantahnya. “Tidak pernah dia

lakukan hal itu, bahkan sekarang ini uangnya disimpan di bank.”

“Ia bekerja keras,” ujarku.

“Bekerja keras?” ulangnya. “Dia pejalan. Dia itu sukanya menyuruh

orang lain yang kerja, sedangkan dirinya sendiri menangguk

keuntungan dari mereka.”

Pada saat ini aku begitu yakin pada Clara sehingga suatu hari

kukatakan padanya bahwa sudah saatnya bagi kami berdua untuk

memperjelas hubungan kami dan bertunangan secara resmi. Diapun

segera berkata, “Akupun sedang memikirkan hal itu, tapi aku tak

berani menyatakannya padamu. Namun hal ini harus dilakukan

dengan semestinya, kau harus pergi dan bilang kepada emakku.

Kamu tahu dia kan?”

Maka kamipun sepakat bahwa aku akan mengunjungi emaknya

sore itu juga, sementara itu Clara akan menemui Umberto, tapi untuk

yang terakhir kalinya. “Aku benarbenar tidak tahan sama dia,” ujar

gadis itu, “dia sungguh membosankan.”

Aku menyetujui rencana ini, meski bukannya tanpa menaruh

setitik rasa iba sama sekali kepada si Umberto malang itu, yang tentu

saja tidak pernah mengharapkan hal ini. Dan sekitar pukul tujuh aku

meninggalkan rumah, menyeberangi Via Candia dan memasuki pintu

utama yang menuju ke blok flat tempat tinggalClara.

Pada lantai tiga D, pintu Signora Dolores tampak terbuka sedikit.

Aku mendorongnya dan masuk ke dalam. Aku mendapati diriku

berada di dalam ruang tunggu yang kecil dan penuh orang. Di situ

ada dua atau tiga orang perempuan botak, warga Via Candia, serta

seorang gadis kulit hitam cantik yang tinggal di bagian yang sama,

dan aku hanya mengenalnya sepintas lalu, juga ada seorang nyonya

setengah baya yang tampaknya agak tua bersolek tebal, terbungkus

mantel bulu warna cokelat.

Tampaknya usahanya bagus, kata hatiku sambil duduk dan

mengambil majalah bergambar dari sebuah meja. Dan memang

Signora Dolores sedang melakukan pekerjaan yang bagus,

kenyataannya menghasilkan banyak uang. Aku menunggu beberapa

saat dan kemudian pintu itu terbuka, seorang wanita muda yang

halaman 24


elok keluar, ia menciumi kedua pipi Signora Dolores dengan antusias

sekali sambil berkata, “Terima kasih, terima kasih, sayangku!”

Emaknya Clara itu, memakai kimono sutera hitam dengan sulaman

gambar naga berwarnawarni pada ujung jaketnya dan pipa cerutu

sepanjang lengan di antara gigigiginya, memandangku sekilas dan

berkata:

“Rinaldi, tunggu sebentar dan setelah ini kamu boleh masuk”.

Iapun mengantar wanita setengah baya bermantel bulu tadi masuk ke

dalam lalu menghilang.

Dari nada bicaranya aku merasa, barangkali ia tidak tahu apa

yang akan kusampaikan padanya. Lalu akupun memperoleh ide

cemerlang: aku akan memintanya meramal nasibku, untuk melihat

kalaukalau pernikahanku dengan Clara ditunjukkan di tanganku,

dan segera sesudah itu barulah akan kusampaikan maksudku. Aku

tersenyum sendirian memikirkan hal ini dan menunggu giliranku

dengan tak sabar. Setelah seperempat jam, nyonya bermantel bulu

tadi menyelinap keluar secara misterius, hatihati, dan tergesagesa,

lalu pergi menjauh. Dan Signora Dolores memberi isyarat agar aku

masuk.

Aku tahu karena sempitnya ruangan, ia bekerja di kamar tidurnya,

meskipun begitu aku kaget juga. Ruangan itu panjang, dalam setengah

bayangan, terdapat sebuah ranjang besar yang ditutupi dengan

selembar benda kuning, aku tak bisa membayangkan bahwa Clara

tidur di ranjang itu bersama emaknya. Sedangkan di jendela terdapat

gorden dengan sulaman burungburung dan keranjangkeranjang

bunga. Sementara di dekat jendela ada meja kecil yang di atasnya

terdapat setumpuk kartu dan kaca pembesar. Seluruh ruangan itu

dipenuhi dengan bendabenda kecil, perhiasan kecil, fotofoto dengan

tandatangan dari para pelanggan penting, piagam dan cendera-mata.

Tanpa berkatakata Signora Dolores duduk di atas meja dan

menyuruhku duduk di depannya. Pertama kali yang dilakukannya

adalah mengambil korek api, menyulutnya dan membakar selembar

kertas hitam kecil, kemudian segera mengeluarkan asap putih yang

wangi.

“Ini namanya carta d’Armenia,” ujarnya dengan suara letih yang

dihaluskan. “Adakah engkau mencium baunya yang harum? Oke,

Rinaldi, apa yang bisa kubantu?”

Kujawab bahwa aku ingin diramal. Kemudian iapun, setelah

meletakkan pipa cerutu di asbak, mengambil telapak tanganku lalu

meletakkan kaca pembesar di atasnya dan memeriksanya dengan

halaman 25


cermat.

Setelah beberapa waktu berlalu kemudian dengan nada hampir

mengejutkan ia berkata, “Dengan lakilaki macam apa aku kini sedang

bicara?”

Dengan bingung aku bertanya, “Kenapa?”

“Ya, karena ini telapak tangannya seorang lakilaki yang sangat suka

main perempuan,” jawabnya.

“Bagaimanapun juga,” ujarku, “saya kan seorang lakilaki muda.”

“Ya,” sahutnya, “tapi untuk hal itu ada batasnya. Dan kau

kelihatannya tidak punya batas tadi. Hatimu seperti kelopak bunga

artichoke.”

“Kalau Anda bilang begitu….”

“Telapak tanganmulah yang bilang begitu: kau adalah seorang

Play Boy!“

“Oh sudahlah, jangan dilebihlebihkan.”

“Aku sama sekali tidak melebihlebihkannya. Perhatikan garis

hatimu ini, seperti sebuah rantai, setiap hubungan dengan seorang

perempuan….”

“Lalu lainnya?”

“Lainnya tak ada apaapa lagi. Sedikit keberuntungan dalam usaha

… sedikit kemauan untuk kerja … karakter yang sedikit serius … minim

rasa tanggung jawab ….”

Mulai tersinggung, akupun berkata, “Anda tidak menemukan

apapun, kecuali keburukankeburukan saja dalam diriku.”

“Itu bukan keburukankeburukan, tapi karakteristik,” katanya.

“Sungguh, kalau aku seorang emak, aku takkan mengijinkan anak

gadisku menikah denganmu.”

Mendengar ini aku jadi panas dan berkata kepadanya, “Ehm,

begitu. Coba lihat dan perhatikan, apakah ada garis pernikahan.”

Dengan sangat cermat iapun memainmainkan kembali kaca

pembesarnya, memutarmutar telapak tanganku ke segala arah,

kemudian berkata, “Petualanganpetualangan, sebanyak yang kamu

mau, tapi tak ada pernikahan.”

“Signora Dolores,” kataku, “mari kita jalin saling pengertian, saya

tidak datang menemui anda untuk minta dibacakan rajah tangan saya,

tapi ingin mengatakan bahwa puteri anda dan saya saling mencintai

dan hari ini kami telah memutuskan untuk bertunangan.”

Mendengar katakataku ini, ia dengan sangat kalem meletakkan

kaca pembesarnya dan menjawab, “Tapi begini, anakku yang

halaman 26


malang….”

“Apa?”

“Anakku yang malang, telapak tangan itu, sebagaimana adanya,

mengatakan kebenaran: kau tidak akan menikah. Setidaknya saat ini.”

“Mengapa, bukankah antara saya dan Clara telah ada kesepakatan?”

“Kalian tidak dalam kesepakatan. Kamu pikir, kamu dalam

kesepakatan bersama Clara, tapi Clara tidak dalam kesepakatan

denganmu.”

“Siapa yang bilang begitu?”

“Aku yang bilang begitu. Clara baru saja bertunangan.”

“Tapi kapan…?”

“Dia telah bertunangan selama sepekan ini dengan Umberto

Pompei. Clara tidak punya keberanian mengatakannya kepadamu

karena dia gadis pemalu dan di samping itu, ia baik hati, tidak suka

menyakiti orang lain. Namun dia sedang cemas, kamu tidak tahu

betapa cemasnya dia. Dan harus kukatakan bahwa dalam keadaan

begini Umberto telah menunjukkan dirinya sebagai seorang perwira

sejati. Clara minta ijin padanya untuk pergi menemuimu selama

beberapa hari lebih lama, sampai ada kejelasan penuh di antara kalian

berdua dan pemuda itupun langsung setuju. Aku tidak tahu berapa

banyak pasangan yang telah bertunangan dalam situasi begini bisa

melakukan hal seperti itu.”

Aku tercengang. Dan ketika wanita itu berkata padaku secara

hipokrit, “Ehemm, ayo kita lihat kartukartunya. Aku bertaruh lebih

banyak lagi perempuan yang akan muncul.”

Secara spontans kurogoh segepuk lira dari sakuku, meletakkannya

di meja dan keluar tanpa sepatah katapun. Aku merasa dipukul telak.

Seolaholah Signora Dolores, bukannya membaca rajah tanganku, tapi

justru memukulkan tukul-besi ke kepalaku. Dan di tengahtengah

perasaan mau pingsan ini, mulai merayap sejumlah kecurigaan,

bagaikan sejumlah ular yang perlahanlahan bangun dari setumpuk

jerami karena sengatan matahari.

Jadi ketika aku berlaku baik kepada Umberto karena membiarkannya

menjumpai Clara, sesungguhnya justru dia sendirilah yang sedang

berbuat baik kepadaku karena mengijinkan Clara menemuiku. Jadi

ketika aku menikmati bagaimana Clara melecehlecehkan Umberto,

barangkali di pihaknya ia pun asyik menikmati betapa Clara

melecehlecehkan diriku. Jadi, pendek kata, Clara telah main di dua

kaki selama ini, hanya buntutnya, akulah yang jadi pecundang.

halaman 27


Sementara pikiranpikiran ini melintasi kepalaku pastilah aku

tampak kusut sehingga tibatiba cewek hitam manis yang menunggu

di ruang depan tadi memberiku isyarat dengan suitan, sst, sst…

seperti dilakukan seseorang kepada seekor kucing, bersamaan dengan

itu matanya ikut pula memberi isyarat. Aku membungkuk ke bawah

dan ia pun bertanya, “Ada apa? Apa dia tadi mengatakan halhal yang

mengerikan?”

“Sangat mengerikan,” jawabku, “terutama bagiku.”

Dengan cepat iapun bangkit dari duduknya.

“Kalau begitu aku tidak jadi masuk saja lah,” katanya. “Aku takut

sekali kalau nanti dia mengatakan hal-hal buruk.”

Secara spontan aku keluar dari pintu dan diapun mengikutiku.

Setelah berada di bawah, aku memandanginya dari samping. Dia

sangat hitam, dan rambutnya dipotong pendek seperti lakilaki,

tampak seperti memeluk dan melingkari wajah bundarnya kemudian

terus menipis bagai sebuah bayangan di seputar kedua belah pipi

dan dagunya. Kupikir dia sangat cantik dan diapun seakan menebak

pikiranku, berpaling ke arahku dan tersenyum lalu berkata:

“Kamu tidak kenal aku, tapi aku mengenalmu. Kita tinggal dalam

satu gedung!”

Tibatiba dari tangga bawah terdengar derai tawa yang jernih,

merdu dan kekanakkanakan, tawanya Clara. Dan pada saat yang sama

juga terdengar suara Umberto yang agak nyaring. Tanpa raguragu

kuletakkan tanganku di pinggang gadis tadi.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Namaku Angela,” katanya sambil memberiku tatapan menantang.

Saat itu juga Clara dan Umberto berjalan ke arah kami. Dan

kuperhatikan ketika Clara menyaksikan kami tengah berangkulan

begitu, dia pun kemudian menundukkan pandangannya dengan

santun. Lihat nih! batinku sengit.

Mereka lanjut berjalan menapaki tangga dan kami turun ke

bawah. Kulepaskan tanganku dari pinggang Angela dan berkata

padanya, “Angela manis, ayo kita pergi dan mencari minuman untuk

merayakan pertemuan kita ini”. Gadis itupun merengkuh lenganku

lalu kami bergandengan keluar bersamasama menuju ke jalan.

***

Alberto Moravia.

Pengarang kelahiran Roma tahun 1907. Terkenal secara internasional

pada umur 22 tahun dengan karya novelnya, The Indifferent Ones.

Banyak menulis novel, cerpen, drama dan esei. Cerita pendek di atas

diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh: S ERDIA PUTRA.

halaman 28


Sajak

Muhammad

Asqalani eNeSTe

Ghazal

kebodohan ini

: Mawadi D.

radif kesalahan

anak haram

hasrat

manekin hati

pemakaman

kepada Penyair Palembang

: Eko Putra

Muhammad Asqalani eNeSTe

Lahir dan besar di Paringgonan 25 Mei ‘88 Rokan Hulu - Riau.

Menulis Puisi sejak kelas 1 Aliyah di PonPes Al-Mukhlishin.

Puisinya meramaikan media seperti: Majalah Sagang, Riau Pos, Batam Pos, dll.

Buku Puisi bersamanya di antaranya:

Kutukan Negeri Rantau, Festival bulan Purnama Majapahit,

Dari Sragen Memandang Indonesia, dll.

Buku Puisi Tunggalnya yang telah terbit

“Tangisan Kanal AnakAnak Nakal” & “Sajak Sembilu tentang Teh Ribuan Gelas”

dan “ABUSIA” Mei 2013.

halaman 29


Ghazal

yang pertama

tentu tuhan paling utama

yang kedua, ketiga dan seterusnya

adalah samar yang berkembang dari taman jantung ke lorong juntung

seseorang yang tak bisa membedakan yang ke empat, kelima dan

seterusnya

berdoa di Altar Takbir, mencoba mencakarcakar takdir. tapi bukankah

siasia?

yang ke tujuh, ke sembilan dan seterusnya…

ada lagi yang mengaji diri, tentang kelebihan dan kekurangan

yang bagaimana pun wajib disyukuri.

yang ke sembilan puluh sembilan (99)

yang mengeja Nama Tuhan, airmatanya luruh penghambaan

mengharapi mati. menyungkupi duniawi

halaman 30


kebodohan ini

: Mawadi D.

kebodohan ini sebentar lagi ungsi, keluar dari liang sesak diri.

bersenggama dengan pitam malam.

kemudian memuat rasi bintang, sebelum fajar kumandang.

saat subuh mengayuh selaksa ruh,

pintar diri akan muncul malumalu.

dari semaksemak sujud yang rancak.

dan matahari membayikan sinarnya, di mataku yang jelaga.

mimpi pun menggusur aral di kepala.

serasa tuhan memelukku akrab.

membantuku menepis siksa fobia.

pada manusia yang kuhidupkan dekat grafiti angkasa raya.

halaman 31


adif kesalahan

Rabbi,

aku kembali memakan sesal yang kumuntahkan sendiri

terperangkap lagi ke jaring jurang bathin sedalam keji

sampai kapan aku benarbenar menjelma Adam sang suci?

Apel merah maha ranum menggoda dengan segala sarinya

duh, mampukah aku menjadi Adam bagi semesta rusukku?

Rabbi….

kelemahan membutababi, sujud tak dapat kutemui

walau sekali

walau sekali

halaman 32


anak haram

pertama lahir dia sudah diazankan

suci dari hadast kecil dan hadast besar

telah diperdengarkan ayatayat tuhan

hasrat

inilah hasrat yang kemarin kautelantarkan kala berhasil memeluk

kesendirian,hasrat yang memantik bibirmu ‘tuk barakan ayatayat

samar.tentang segala yang lepas

tentang segala yang tertahan

tentang dada yang meletupletup terbuka dan terkatup, bagai bunga

larangan sebelum dipetik kumbang pilihan.

halaman 33


manekin hati

kenapa manekin di hati kita

hilang rupa di wajahnya?

bukankah telah lelah kita renda dada doa?

adakah wudhu’ lupa menghapus purapura?

pemakaman

diam dalam tidur membius airmata

terbiar tubuh dan ruh mengangkasa

bunga kamboja menciumi pusara

sendiri lagi di geronggang membara

menjamu ular, kala dan aianai berbisa

halaman 34


kepada Penyair Palembang

: Eko Putra

datanglah Kawan,

agar kita belajar ‘tuk tak saling melupakan

meski tubuh kita kian menjauh,

nafas luruh terbunuh ruh.

setidaknya

kita telah belajar membentuk senyum persahabatan.

bundar hati di nisan


halaman 35


Sajak

Saifa Abidillah

Penjual Koran di Ringroad Selatan

Pada Tumpukan Baju-Baju Bekas

Cemburu

Kemungkinan

Masih di Sekaten

Tukang Parkir

Rumah Hantu

Ada yang Lebih Ditakuti

Bintang Merah Rambutan

Seorang Pertapa di Lembah Kutub

Dalam Ingatan

Saifa Abidillah

Lahir 12 Januari 1993 di Sumenep Madura.

Sekarang belajar di The Faculty of Islamic Theology, UIN Sunan Kalijaga DIY.

Selain itu, bergiat di Lesehan Sastra Kutub,

Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asyi’ari Yogyakarta.

halaman 36


Penjual Koran di Ringroad Selatan

Keberlangsungan untuk esok dan lusa,

tumbuh di atas aspal, Kawan.

Seorang muda, yang telah mulai menyematkan

sayap kuda Megaremeng di punggungnya,

tengah belajar pada panas matahari di pembatas jalan,

tengah belajar pada dingin hujan

ketika bersepeda tanpa mantel menuju Nol Kilometer.

“Kesempatan adalah hari ini,” tegasnya

Ia lebih mengenal dan akrab dengan kenyataan

bahwa hidup dimulai ketika matahari lahir di rahim waktu

pada jagad langit dengan gairah penuh bara

dan tidak berhenti sampai petang menjemputnya

untuk memulai hidup yang lain

untuk esok dan lusa.

halaman 37


Pada Tumpukan Baju-Baju Bekas

Hujan mengantar aku pada tumpukan baju-baju bekas

yang menggunung di bawah tenda-tenda yang berbaris

dan aku masih mencari-cari dingin tanganmu di tumpukan itu

mencari keriangan yang membuat ketukan lain

pada pintu di hati yang lain pula.

Tidak ada yang membuatku mengerti

tentang malam pencarian di tumpukan baju-baju itu

hanya gerimis yang terbaca cuaca, selebihnya malam

adalah kebingungan yang berjalanan tanpa pengantar

dan kutuangkan kelelahan itu, hati yang kalut itu,

pada hangat susu di lesehan, dekat pagar pembatas

sebelum aku memutuskan untuk pulang larut malam.

halaman 38


Cemburu

Adakah manusia bijaksana, mengenal rasa cemburu, tuan?

derap kuda dokar, tiang-tiang listrik dan pohon-pohon di pinggiran

jalan

tidak mampu mengantarkan aku pada pengertian itu

dan jika setiap tindakan adalah cemburu, bagaimana melarikan diri

dari rasa cemburu? orang-orang alim menyebutnya rasa iri

bukan dengki atau cemuru.

aku tidak merasa bahagia pada kenyataan ini

sebab kenyataan hanya melingkar bagai kalung harapan

dari mimpi-mimpi hitam pohon, yang bernama aku.

halaman 39


Kemungkinan

Kalau pun dinda mengingatku dengan berbagai kemungkinan

kemungkinan yang bagaimana yang dinda ulurkan

pada riuh kegelisahanku yang menahun

Kegelisahan yang menggali mimpi dengan kemalasan

tak beraturan pada tingkap-tingkapnya yang gelap dan beracun

mungkin dinda tak ingat, sebuah perhitungan

telah membuat kau menciptakan lingkaran baru, yang lebih gelap

dari hari-hari yang itu-itu saja

dari matahari yang memberi kehidupan lain, yang lebih nyaman dari

kutukan.

Malam Sekaten

Sebenarnya tidak ada yang ingin aku beli di sini

kecuali memang, aku menjauhi kebosanan yang berurutan

menyampaikan maksud dan keinginan binal

yang lebih kental dari kutukan tahun

halaman 40


yang membongkar tanah-tanah kebiasaan

dengan mimpi yang jauh dari bimasakti

yang misteri pada peta Tuhan.

“Adakah kau mengingatku, Ning?”

Sebab, kebingunganku tidak menjadi landasan

bagi pencarian yang membutuhkan

peluh dan darah, untuk kuhadiahkan pada kau

pada hati, yang sejatinya hidup

dengan geliat bayang-bayangmu

yang jauh dari jangkau

halaman 41


Masih di Sekaten

Apa sebenarnya yang kucari disini

jika hidup, hanya berupa kelebat

yang hinggap dan melesat ketingkap gelap

Selebihnya aku lebih mengenal sepi

di tengah keramain orang-orang pasar

yang bertukar mata uang dengan sesuatu

yang diinginkan

atau bertukar kasih sayang pada pinggang

dan tangan pada puncak keriangan

yang tak tergantikan dengan malam-malam

di tengah keramain yang bagai rahim kuburan

halaman 42


Tukang Parkir

Tidak ada jejakmu pada mulut tukang parkir

ia berbicara yang lain, yang lebih licin

dari pintalan gerimis dan hujan

ia hanya menagih dan tidak ingin mengganti kerusakan

pada roda sepeda, yang katanya bukan sepengetahuan

yang ada pada tanggungjawab yang disandangnya

tukang parkir, tukang parkir.

ia hanya mampu menagih

dan tidak ingin mengganti kerugian pengunjungnya

halaman 43


Rumah Hantu

Aku mungkin seutuhnya tak menemukanmu malam ini

suara-suara kuntil pada petak ruang-ruang

itu bukan petunjuk keberadaanmu yang halimun

yang lebih dalam menciptakan ketakutan liar

pada hati digeletar namamu, bukan pada suara-suara kuntil

segalanya menjadi mengerikan

tapi kau, kau dinda.

Ada yang Lebih Ditakuti

Ada yang lebih ditakuti

dari persetubuhan anjing malam, Kunti

adalah ketika petang mengulurkan lengan

dan berusaha membunuh dengan kegelapannya

yang seolah kekar dalam urat-urat birunya yang melar

mungkin seperti itulah, ketika seutuhnya

aku perlahan kau jauhi dengan pejam

yang lebih kejam dari jam pasir

yang menikam cinta kita disini.

halaman 44


Bintang Merah Rambutan

Mimpi tumbuh bagai bintang merah rambutan

yang lebat pada satu pohon kehidupan

di tengah-tengah kenyataan akan kegelapan

malam yang tak bertangkai pada mimpi lain

mimpi yang seringkali kisut, ketika berjalan

menapaki sesuatu di luar yang tak terpikirkan

di luar yang diperkirakan

akan pemahaman sempit jalan

pada pohon yang memilih diam

ketika yang dianggap memberatkan

halaman 45


Seorang Pertapa di Lembah Kutub

Seorang pertapa di lembah kutub, hanya mengenal satu sumur

di antara sumur-sumur di bumi

ia menimba air dan meneguknya ketika matahari puas

melayari langit dengan kesaktian cahaya gaibnya yang menghidupkan

bagi yang membutuhkan.

Dalam Ingatan

dalam ingatan, ada tangan-tangan ibu yang bijak

mengenal kebebasan dengan tangan-tangan yang mematikan

yang pernah hidup dalam katup hari yang simetri

dengan teori-teori fisika yang terbuka

ibu yang mengulurkan langit berasap

pada kubangan hatiku yang terlukai kata-kata

yang berjumpalitan mengerikan

membunuh aku, anaknya sendiri


halaman 46


Sajak Terjemahan

Puisi-puisi Klasik

Robert Frost

“Dalam Putih”

Seekor laba-laba penyok turun seperti putih salju

Pada putih selalu cergas, memegang ngengat

Seperti sepotong putih kain satin tak bernyawa

Mata melihat dengan penasaran sehingga jadi pemandangan aneh? -

Pertanda kecil, kematian berbagai macam dan hawar

Seperti bahan ramuan penyihir?

Seperti manik-manik laba-laba, seperti bunga buih,

Dan ngengat yang dilakukan seperti layang-layang kertas.

Apa yang harus dilakukan bunga hingga menjadi putih,

Prunella biru menyenangkan setiap anak.

Apa yang membawa kerabat laba-laba ke ketinggian itu?

(Membuat kita tidak menyimpulkan penderitaan penggiling.)

Tetapi apa rencana kegelapan dan malam?

Rencana, rencana! Apakah aku menggunakan kata dengan benar?

halaman 47


Kesempatan Tak Berbatas

Dia berhenti di angin dan apa itu

Jauh di mapel, pucat, tetapi bukan hantu?

Dia berdiri di sana membawa Maret di pemikirannya,

Namun terlalu siap untuk paling percaya.

“Oh, itu surga sedang mekar,” kataku;

Dan benar-benar itu cukup adil untuk bunga

setelah kita namun kita mengasumsikan Maret

Kelebatan putih seperti Mei untuk kita.

Kami berdiri sejenak sehingga di dunia yang aneh,

Diriku sendiri menipu sebagai salah satu kepura-puraan;

Dan kemudian saya mengatakan kebenaran (dan kami pindah).

Sebuah beech muda menempel daunnya tahun lalu.

halaman 48


Parit di Suatu Kota

Rumah pertanian tetap hidup, meskipun menolak untuk persegi

Dengan memakai jalan di kota baru

Pada sejumlah. Namun bagaimana sungai

Yang mengikat rumah seperti pada siku-penjahat?

Aku bertanya sebagai salah satu yang tahu tentang kekuatan sungai

Dan dorongan, setelah dicelupkan jari panjang

Dan membuatnya melompati kitabku, setelah melemparkan

sebuah bunga untuk mencoba arus yang dimana mereka

menyeberang.

Padang rumput rumput bisa disemen ke bawah

Dari tumbuh di bawah trotoar kota;

Pohon-pohon apel dikirim ke api perapian batu.

Apakah kayu air untuk melayani sungai yang sama?

Bagaimana lagi membuang kekuatan abadi

Tidak lagi diperlukan? Gigih itu pada sumbernya

Dengan beban abu pembakaran dibuang ke? Sungai dilemparkan

Jauh di penjara selokan di bawah batu

Dalam kegelapan busuk masih dan menjalankan hidup

Dan semua itu untuk apa-apa yang pernah dilakukan

Kecuali lupa mungkin ketakutan untuk pergi.

Tidak ada yang tahu kecuali untuk peta kuno

Sungai itu seperti air berlari. Tapi saya ingin tahu

Jika dari yang disimpan selamanya di bawah,

Pikiran mungkin tidak meningkat begitu tetap

Kota ini baru dibangun dari kerja kedua dan tidur.

halaman 49


Tebing Tempat Tinggal

Ada berpasir tampaknya langit emas

Dan emas tampaknya dataran berpasir.

Tidak ada tempat tinggal memenuhi mata

Kecuali di tepi cakrawala,

Beberapa jalan setengah berdinding batu kapur,

Tempat itu hitam bukanlah noda

Atau bayangan, tapi lubang gua,

Di mana seseorang yang menggunakan untuk memanjat dan

merangkak

Untuk beristirahat dari ketakutan yang menimpa.

Saya melihat kalut pada jiwanya

Terakhir menghilang darinya

Dan ia ras-ramping kelaparan,

Oh tahun lalu - sepuluh ribu tahun.

halaman 50


Mimpi Tengah Malam

Saya telah ditarik dalam hutan, dan lagu saya

Ditelan dalam daun yang selalu meniup;

Dan satu hari dari tepi hutan Anda datang

(Ini adalah mimpi saya) dan tampak dan dalam renungan panjang,

Tapi tidak masuk, meskipun keinginan kuat:

Anda menggeleng termenung

Anda sebagai yang harus mengatakan,

“Saya tidak berani terlalu jauh hingga jejaknya tersesat

Dia harus mencari saya akan salah ia kalau membatalkan.

Tidak jauh, tapi dekat, aku berdiri dan melihat semuanya

Di balik dahan-dahan pohon yang rendah dikecewakan luar;

Dan pang manis tidak menelepon harganya

Dan memberitahu Anda bahwa saya melihat apakah masih

mematuhi.

Tapi ‘tis tidak benar bahwa dengan demikian saya berdiam

menyendiri,

Untuk kayu bangun, dan Anda berada di sini untuk bukti.

Terjemahan dari teks berbahasa Inggris kebahasa Indonesia

oleh: M Amin Ibrahim Amir.


halaman 51


Tokoh

Arizal

Subur dalam Melahirkan Karya

H. ARIZAL, MBA,

lahir di Airmolek,

Indragiri Hulu,

Riau, 11 Januari

1943 – meninggal di

Bekasi, Jawa Barat,

18 Mei 2014 pada

umur 71 tahun.

Arizal adalah seorang

sutradara serba

bisa asal Riau. Dia

merupakan sedikit

dari sutradara Riau

bahkan Indonesia yang mampu membuat

film dan sinetron dalam berbagai genre.

Arizal juga merupakan pencipta lagu dan

wartawan di berbagai media massa.

Ia adalah seorang putra Indragiri, Riau dari

pasangan H. Ibrahim SM dan Hj. Matayam

binti M. Yasin. Setelah menyelesaikan

pendidikan dasar dan

SMP di Airmolek, ia

menamatkan SMA-nya

di Pekanbaru. Setelah

itu ia melanjutkan

pendidikan tingginya

di Fakultas Ekonomi

Universitas Indonesia dan

kemudian West Coast

Institute Of Management

& Technology, Perth,

Australia.

Arizal memulai

kariernya sebagai karikaturis di Majalah

Selecta. Kemudian ia bergabung menjadi

staf redaksi di Majalah Mayapada dan

Panorama. Kariernya di dunia film dimulai

ketika ia menjadi asisten artistik kartun Walt

Disney di Universal Studio, Los Angeles

Amerika Serikat. Setelah itu pada tahun

halaman 52


1971, ia menjadi asisten sutradara pada film

“Pengejaran Ke Neraka”.

Selanjutnya pada tahun 1974, ia dipercaya

menjadi sutradara film anak-anak “Senyum

dan Tangis“. Film ini meraih penghargaan

Piala Citra sebagai film anak-anak terbaik. Di

akhir dekade 1970, ia banyak membuat filmfilm

drama. Karyanya yang berjudul “Gita

Cinta dari SMA” dan “Puspa Indah Taman

Hati” menjadi salah satu film yang banyak

digemari masyarakat. Pada tahun 1980-an,

Arizal juga menggarap film-film komedi.

Bersama kelompok Warkop, Arizal sukses

membuat film-film humor yang ketika

itu belum banyak muncul. Beberapa film

komedinya seperti “Pintar Pintar Bodoh”

dan “Maju Kena Mundur Kena” menjadi film

terlaris di Indonesia. Berkat kesuksesannya

dalam film komedi, Arizal menjadi salah

satu sutradara termahal di Indonesia.

Kemampuannya membuat film dalam

berbagai genre, seperti drama, komedi, dan

laga, semakin mengangkat popularitasnya.

Latar pendidikan formal yang ditempuh

Arizal, tercatat jauh dari profesi yang ia

tekuni hingga akhir hayat. Namun disadari

sangat mempengaruhi keberhasilannya

yang ditunjang pengetahuan formal yang

ia dapatkan terutama dalam persoalan

managemen ekonomi yang ia dapatkan

ketika kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas

Indonesia.

Tercatat jenjang pendidikan yang

dilaluinya adalah:

• Sekolah Rakyat Negeri 1 Tahun 1955 di

Airmolek

• Sekolah Menengah Pertama Negeri 1

Tahun 1958 di Airmolek

• Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Tahun

1962 di Pekanbaru

• Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Tahun 1971 di Jakarta

• West Coast Institute Of Management &

Technology 4 Th Guardian MBA Tahun

2000 di Perth Australia

Perjalanan karier dan karya yang setakat

ini dapat kami himpun berdasarkan sumber

yang ada adalah sebagai berikut:

1. Karikaturis majalah Selecta dan lain

lain, 1963 – 1968 di Jakarta

2. Pemain orkes ”Singgalang Ria” Asuhan

Kapt. TNI Syusamsir, 1958 – 1962 di

Pekanbaru

3. Pelukis cerita bergambar/komik di

Medan dan Jakarta 1958 – 1968

4. Pengarang lagu: Usah Kau Goda - Emie

Djohan 1967; Mengapa - Alfian 1967;

Senyum dan Tangis/Film - Rano Karno

1974; Setulus Hatimu/Film – Tanty

Yosepha & Elly S 1975; dan Main Film –

Benyamin S 1975

5. Desainer mebel dan furnitur PT. Boanez,

1964-1967 di Jakarta

6. Ketua band “Boanez” Melati Room

Proyek Senen, 1967-1968 di Jakarta

7. Figuran film “Skull Duggery” Universal

Studio – Yamaica USA, 1968

8. Asst. Artistic Cartoon Walt Disney

Universal Studio – Los Angeles USA,

1968-1969

9. Staf redaksi majalah “Mayapada”, 1969-

1970 di Jakarta

10. Staf Redaksi Majalah “Panorama”, 1970-

1972 di Jakarta

11. Art. director biro iklan “Yapernas”, 1970-

halaman 53


1972 di Jakarta

12. Asisten sutradara film: “Pengejaran Ke

Neraka”/Widyasari, Mark Sungkar –

Umbara Film 1971; “Kabut Bulan Madu”/

Rahmat Kartolo – Sarinande Film

1972 Jakarta; ”Akhir Sebuah Impian”/

Emilia Kontessa, Broery-Sarinande

Film 1972 Jakarta; “Intan Berduri”/

Rima Melati, Benyamin S – Sarinande

Film 1973 Jakarta; “Si Manis Jembatan

Ancol”/Lenny Marlinam, Farouk Afero

– Sarinande 1973 Jakarta; dan ”Kutukan

Ibu”/Sophia WD, Farouk Afero –

Sarinande Film 1973 Jakarta

Sebagai sutradara atau penulis skenario

dan cerita. Cukup banyak karya-kreatif

yang dihasilkannya dan hampir semuanya

mendapat tempat di hati masyarakat

perfilman kita masa itu antara lain:

1. “Senyum dan Tangis“ PT. Surya Indonesia

Medan 1974 Jakarta. Dibintangi oleh

Rano Karno, Andy Carol, Lenny Marlina,

Bambang Irawan. Meraih Film Anak

Anak Terbaik, mendapat Piala “Citra” di

Medan.

2. “Setulus Hatimu” PT. Surya Indonesia

Medan 1975 Jakarta. Dibintangi oleh

Drg Fadly dan Yanty Yosepha. Meraih

penghargaan Best Actress “Citra

Indonesia” dan Festival Film Asia.

3. “Dr. Firdaus” PT. Tunggal Jaya Film 1976

Jakarta. Dibintangi oleh Drg Fadly dan

Lenny Marlina.

4. “Hanya Untukmu” PT. Surya Indonesia

Medan 1976 Jakarta. Diintangi oleh Drg

Fadly dan Lenny Marlina.

5. “Janji Sarinah” PT. Nusantara Film 1976

Jakarta. Dibintangi oleh Drg Fadly dan

Lenny Marlina.

6. “Aula Cinta” PT. Nusantara Film 1977

Jakarta. Dibintangi oleh Roy Marten,

Yati Octavia, Debby Cyntia Dewi,

7. “Cowok Komersil” PT. Nusantara Film

1977 Jakarta. Dibintangi oleh Robby

Sugara, Yati Octavia, Debby Cyntian

Dewi, Doris Cellebout

8. “Semua Gue” PT. Tiga Sinar Mutiara 1977

Jakarta. Dibintangi oleh Rano Karno,

Yenny Rahman, Yezzy Gusman.

9. “Secerah Senyum” PT. Dharma Putra

Kostrad 1977 Jakarta. Dibintangi oleh

Roy Marten, Yenny Rahman

10. “LakiLaki Binal” PT. Archipelago Film

1978 Jakarta. Dibintangi oleh Roy

Marten, Yenny Rahman

11. “Musim Bercinta” PT. Tiga Sinar Mutiara

Film 1978 Jakarta. Dibintangi oleh Roy

Marten, Eva Arnaz, Rano Karno, Yessy

Guzman

12. “Gita Cinta Di SMA” PT. Tiga Sinar

Mutiara Film 1979 Jakarta. Dibintangi

oleh Rano Karno, Yessy Guzman, Sherly

Malinton

13. “Kecupan Pertama” PT. Cakra Film/

Gobin P 1979 Jakarta. Dibintangi oleh

Yenny Rahman, Roy Marten.

14. “Puspa Indah Taman Hati” PT. Tiga Sinar

Mutiara Film 1979 Jakarta. Dibintangi

oleh Rano Karno, Yessy Guzman.

15. “Remaja Idaman” PT. Tiga Sinar Mutiara

Film 1979 Jakarta. Dibintangi oleh Roy

Marten, Joice Erna.

16. “Remaja Remaja” PT. Tiga Sinar Mutiara

Film 1979 Jakarta. Dibintangi oleh Rano

Karno, Lydia Kandow, Yessy Guzman.

halaman 54


17. “Melody Cinta” PT. Tiga Sinar Mutiara

Film 1979 Jakarta-Medan. Dibintangi

oleh Lydia Kandow, Mangara Siahaan

18. “Nikmatnya Cinta” PT. Tiga Cakra Film

1980 Jakarta. Dibintangi oleh Rano

Karno, Lydia Kandow, Robby Sugara

19. “Pintar Pintar Bodoh” PT. Parkit Film

1980 Jakarta. DIbintangi oleh Dono,

Kasino, Indro, Eva Arnaz, Debby Cyntia

Dewi

20. “Rayuan Gombal” PT. Bola Dunia Film

1980 Jakarta. Dibintangi oleh Monos,

Nany Wijaya, Sandra Ciptadi

21. “Bila Hati Perempuan Menjerit” PT.

Parkit Film 1981 Jakarta. Dibintangi oleh

Dana Christina, Roy Marten

22. “Bodoh Bodoh Mujur” PT. Parkit Film

1981 Jakarta. DIbintangi oleh Otong

Lenon, Eva Arnaz

23. “Membakar Matahari” PT. Parkit Film

1981 Jakarta. Dibintangi oleh Berry

Prima, Eva Arnaz

24. “Dongkrak Antik” PT. Parkit Film 1981

Jakarta. Dibintangi oleh Dono, Indro,

Kasino, Mariam Belina, Mat Solar

25. “Serbuan Halilintar” PT. Parkit Film 1982

Jakarta. Dibintangi oleh Barry Prima,

Eva Arnaz, Dicky Zulkamaen

26. “Bergola Ijo” PT. Virgo Putra Film 1983

Jakarta. Dibintangi oleh Barry Prima,

Eva Arnaz, Anasrul Jangkung

27. “Maju Kena Mundur Kena” PT. Parkit

Film 1983 Jakarta. Dibintangi oleh Dono,

Indro, Kasino, Eva Arnaz, Lydia Kandow

28. “Pokoknya Beres” PT. Parkit Film 1983

Jakarta. Dibintangi oleh Dono, Indro,

Kasino, Eva Arnaz, Lydia Kandow

29. “Itu Bisa Diatur” PT. Parkit Film 1984

Jakarta. Dibintangi oleh Dono, Indro,

Kasino, Ira Wibowo, Lia Waroka

30. “Pencuri Cinta” PT. Parkit Film 1984

Jakarta. Dibintangi oleh Rico Tampatty,

Ira Wibowo

31. “Tahu Diri Dong” PT. Parkit Film 1984

Jakarta. Dibintangi oleh Dono, Indro,

Kasino, Eva Arnaz, Lydia Kandow

32. “Gantian Dong” PT. Parkit Film

1985 Jakarta. Dibintangi oleh Dono,

Indro, Kasino, Lia Waroka, Chintami

Atmanegara

33. “Pengantin Baru” PT. Parkit Film 1986

Jakarta. Dibintangi oleh Lydia Kandow,

Deddy Mizwar, Doyok

34. “Segitiga Emas” PT. Parkit Film 1986

Jakarta. Dibintangi oleh Christina, Harry

Capri, Mark Sunkar, Wilson Peter

35. “Dendam Membara” PT. Rapi Film

1986 Jakarta. Dibintangi oleh Christ

Mitchum, Mike Abbot, Ida Iasya

36. “Sama Sama Enak” PT. Bola Dunia

1987 Jakarta. Dibintangi oleh Sys NS,

Chintami Atmanegara, Krisna

37. “Bayar Tapi Nyicil” PT. Bola Dunia 1988

Jakarta. DIbintangi oleh I Didi Petet,

Mariam Belina, Bagito Droup

38. “Pemburu Berdarah Dingin” PT. Rapi

Film 1990. DIbintangi oleh Christ

Mitchum, Ida Iasya, Roy Marten

39. “Lebih Asyik Sama Kamu” PT. Rapi Film

1989 Jakarta. Dibintangi oleh Paramitha

Rusadi, Sally Marcelina, Ryan Hidayat

40. “Membakar Lingkaran Matahari” PT.

Rapi Film 1989. Dibintangi oleh Ricky

Hosada, Peter John, Agus Melast

41. “Antri Dong” PT. Parkit Film 1990

Jakarta. Dibintangi oleh Nurul Arifin,

halaman 55


Kadir, Doyok, Deddy Mizwar, Lydia

Kandow, Eva Arnaz

42. “Curi Curi Kesempatan” PT. Parkit Film

1990 Jakarta. DIbintangi oleh Nurul

Arifin, Ray Sahepati, Sally Marcelina,

Deddy Mizwar

43. “Mana Bisa Tahan” PT. Soraya Intercine

Film 1990 Jakarta. Dibintangi oleh Dono,

Indro, Kasino, Sally Marcelina, Deddy

Mizwar

44. “Akal Akalan” PT Parkit Film 1991

Jakarta. Dibintangi oleh Doyok, Kadir,

Lia Waroka

45. “Bisa Naik Bisa Turun” PT. Bola Dunia

Film 1991 Jakarta. Dibintangi oleh Dono,

Indro, Kasino, Kiky Fatmala

46. “Sudah Pasti Tahan” PT. Soraya Intercine

Film 1991 Jakarta. DIbintangi oleh Nurul

Arifin, Dono, Indro, Kasino

47. “Masuk Kena Keluar Kena” PT. Soraya

Intercine Film 1992 Jakarta. DIbintangi

oleh Dono, Indro, Kasino, Kiky Fatmala

48. “Salah Masuk” PT. Soraya Intercine

Film 1992 Jakarta. Dibintangi oleh Gitty

Srinita, Dono, Indro, Kasino, Pak Tile,

Fortunella

49. “Salah Pencet” PT. Parkit Film 1992

Jakarta. Dibintangi oleh Kadir, Doyok,

Kiky Fatmala, Tarida Gloria

50. “Gara Gara” PT. Parkit Film 1993 Jakarta.

Dibintangi oleh Jimmy Gideon, Lydia

kandow, Sion Gideon

51. “Mumpung Ada Kesempatan” PT. Parkit

Film 1993 Jakarta. Dibintangi oleh Kadir,

Doyok, Ayu azhari

52. “Kampanye Miliyader” PT. Karisma

Stravison Plus 2004 Jakarta. Dibintangi

oleh Bintang-bintang AFI, Dono, Indro,

Roweina, Diah Permatasari.

Begitu juga di era film sinetron pada layar

kaca. Walau tak sebanyak yang dihasilkannya

pada media layar lebar, namun andilnya

dalam dunia sinetron cukup terlihat seperti

pada karya di bahwah ini:

1. Gara Gara PT.Multivision Plus 1992-

1993 Jakarta 26 Episode. Pemain: Lydia

Kandow, Jimmy Gideon, Sion Gideon,

Pitrajaya Burnama, Nani Wijaya

2. Ada Ada Saja PT. Multivision Plus 1993-

1995 Jakarta130 Episode. Pemain: Nurul

Arifin, Rudy Salam, Kiki Fatmala, Fuad

Alkhar

3. Saling Silang PT. Multivision Plus 1995-

1996 Jakarta 54 Episode. Pemain: Debby

Sahertian, Ida Kusuma, Eeng Saptahadi,

Zainal Abidin

4. Jin dan Jun PT. Multivision 1996-2001

Jakarta 270 Episode. Pemain: Syahrul

Gunawan, Mira Asmara, Misye Arsita,

Fuad Baraja, M.Amin.

5. Tuyul Dan Mbak Yul PT. Multivision

Plus 1997-2002 270 Episode. Pemain:

Onny Syahrial, Slamet Joyo, Dominiq

Sanda, dll.

6. Tuyul Millenium PT.Multivision Plus

2002-2004 108 Episode. Pemain: Jamal

Bulat, Samson, dll.

7. Indra Ke-6 PT. Multivision Plus 2002-

2003 71 Episode. Pemain: Gracia Indri,

Joshua, Rachel Amanda, Dhea Imut, dll.

8. Metropolitan Fantasi PT. Starvision Plus

2003-2006 267 Episode. Pemain: Bintang

- Bintang AFI.

halaman 56


Disamping ketunakannya menggeluti

dunia film layar lebar maupun pada layar

kaca, Arizal mempunyai hobi dengan

beberapa di antaranya memperoleh prestasi

yang membanggakan:

1. Menggambar, melukis, dan main sulap

2. Menulis, membaca, dan bercerita

3. Masa kecil (tahun 1957-1958), Juara

Musabaqah Tilawatil Quran kecamatan

Pasir Penyu – Indragiri Hulu, di Airmolek

4. Ilmu beladiri Yu Yit Su, Ban Coklat di

Pekanbaru dan Jakarta

5. Pernah bergabung dengan Bandot

Lahardo – Jakarta

6. Wartawan lepas “Harian Kami” 1966-

1968 di Jakarta

7. Penulis lepas majalah “Intisari” Jakarta

1968-1970.

8. Juara pertama “Mencipta Model Jaket

Kuning Universitas Indonesia” 1968 di

Jakarta, Dapat Trophy dan Buku berisi

pesan dari dekan Fakultas Sosiologi

Universitas Indonesia, Prof. Dr. Slamet

Imam Santoso.

9. Pengarang dan penulis novel “Perjaka

Ting Ting”, dengan semboyan “Bila Cinta

Sudah Melekat, Tahi Gigipun Terasa

Coklat”. Novel ini difilmkan ke layar

lebar berjudul “Remaja Idaman” tahun

1979.

10. Membuat credit title beberapa film

nasional, antara lain “Ibu Sejati“ di

Jakarta

11. Membuat 8 film kartun “Iklan Melbrosia”

1972 di Jakarta.***


halaman 57


Rehal

The Confessions of Zeno

ITALO SVEVO (1861-1928) Nama aslinya

adalah Ettore Schmitz, seorang dramawan,

cerpenis dan novelis Italia, yang terkenal

dengan novelnya The Confessions of Zeno

(1923). Novel ini dianggap sebagai salah satu

contoh terbaik dari penulisan modernis

eksperimental Eropa.

Judul buku : The Confessions of Zeno

Pengarang : Italo Svevo

Editor

: Marciano Guerrero

Translation editor : MaryMarc

Penerbit : Amazone

ISBN-13 : 978-1494988357

“Confessions of Zeno” adalah catatan

hidup seorang pria setengah baya di Trieste,

Italia (dekat Kroasia, Slovenia dan Austria).

Awalnya ia menggambarkan secara singkat

hubungannya yang tak mulus dengan

ayahnya, pokok masalahnya hanya pada

kehendak berhenti merokok, tapi kemudian

bergerak ke jantung ceritanya, yang

menyangkut hidupnya yang penuh dengan

kesuksesan keluarga sebagai pedagang kelas

atas. Dengan ayahnya ia memiliki hubungan

bisnis, dan dengan dua anak gadis sekaligus

dia menginginkan hubungan pribadi. Pada

proses pengadilan yang bergilir, akhirnya ia

menikahi salah-satu dari dua gadis tersebut.

Namun yang satu lainnya, tetap ia jadikan

simpanan, dan kerap datang hanya dengan

status berteman dengan pria lain yang

halaman 58


menikahi perempuan satunya itu, bahkan

menjalin hubungan bisnis dengannya. Dia

berhasil memiliki anak, dan hidup dengan

pola borjuis yang relatif nyaman.

Masalahnya adalah, dia benar-benar

terpisah, egois, dan munafik. Ketika kita

mengatakan “hubungan bisnis”, kita

menggunakan istilah longgar atau selingkuh.

Buku yang licik dan cerdik, menggambarkan

cerita melalui pandangannya.

Gaya buku jelas, karakter yang dibangun

cukup menarik dan menawan. Banyak

pembaca akan senang mengikuti cerita ini

“tragicomic” dan dapat dipetik manfaatnya

untuk diri sendiri, namun wawasan pembaca

akan dihargai dengan kesimpulan yang

memaksa mereka untuk mempertanyakan

dan merenungkan makna kehidupan , cinta,

keluarga, dan persahabatan.

Italo Svevo lahir pada 19 Desember 1861

di Trieste dari keluarga Yahudi kaya. Dia

mendapat pendidikan di Institut Brüssel

di dekat Würzburg, Jerman. Di sana dia

mulai tertarik dengan sastra dan membaca

karya-karya penulis Jerman seperti Schiller,

Goethe, dan Schopenhauer. Setelah

kembali ke Trieste dia masuk ke Instituto

Superiore Revoltella. Tetapi karena ayahnya

bangkrut dan sakit pada 1880 dia terpaksa

membatalkan studinya dan memutuskan

untuk menjadi penulis. Svevo menikah

dengan Livia Veneziani. Pada 1928 Svevo

mengalami kecelakaan mobil di Motta,

Livenza. Beberapa hari kemudian dia

meninggal, yakni pada 13 September 1928.

pengarang; The Confessions of Zeno (1923),

yang pada awalnya juga bernasib sama

seperti novel-novel terdahulunya. Tetapi

berkat rekomendasi James Joyce, novel itu

diterjemahkan dan diterbitkan oleh Valery

Larbaud da Benjamin Crémieux di Perancis,

dan sejak itu novel tersebut dianggap

sebagai karya besar; dan Terzetto spezzato

(1925). Karya-karya yang diterbitkan setelah

dia meninggal antara lain La Novella del

Buon Vechio e della Bella Fanciulla, e Altre

Prose Inedite e Postume (1930) dan Short

Sentimental Journey and Other Stories

(1949). Surat-menyurat Svevo dengan

penyair Eugenio Montale diterbitkan dengan

judul Lettere (1966).*** (Cik Yatim Kebayan)


Karya-karyanya antara lain Una vita

(1893), sebuah karya yang revolusioner

dalam penyajiannya, dan Senilità (1898) —

kedua novel itu tak mendapat perhatian.

Tetapi pada 1907 Senilitá dipuji oleh James

Joyce, yang saat itu belum tenar sebagai

halaman 59


Tokoh

Meneropong Gerak Senirupa

Tenas Effendy (Alm.)

oleh Dantje S Moeis

erita tentang “kepergian”

almarhum Tenas Effendy

sudah sampai keseluruh

negeri, beriring segala kerjakerasnya

semasa hidup, yang notabene

bertujuan untuk kepentingan

kemaslahatan masyarakat melayu

secara khusus dan nusantara pada

umumnya.

“Hampir” tak satupun yang tersisa dari

catatan tersebar di media massa, atau kata

lisan tentang perjuangan beliau dalam

mengukuhkan tegaknya pancang melayu,

baik di negeri ini maupun di negeri jiran

yang berkebudayaan sama.

Sedikit mengulang tentang beliau,

Tengku Nasaruddin Said Effendy atau

yang lebih dikenal dengan Tenas Effendy,

dilahirkan pada 9 November 1936 di Dusun

Tanjung Malim, Pelalawan.

Motif Pucuk Rebung. Int

Awal ketertarikan Tenas pada dunia

tulis menulis ditularkan oleh ayah beliau

yang menjadi sekretaris pribadi Sultan Said

Hasyim, Sultan Pelalawan ke-8 waktu itu.

Ayahnya selalu menulis mengenai semua

silsilah Kerajaan Pelalawan, adat-istiadat,

dan peristiwa penting lainnya dalam sebuah

buku yang dinamakan Buku Gajah.

Tenas sejak kecil paham betul kegiatan

berladang lengkap dengan ritus budaya

yang mengiringi yang dilakukan masyarakat

halaman 60


desanya sehari-hari. Selain itu, beragam

peristiwa dan aktivitas kebudayaan yang

dilakukan oleh masyarakat di sekitarnya

dapat disaksikan langsung oleh Tenas,

seperti upacara penabalan Sultan, upacara

menuba ikan yaitu sebuah ritual yang juga

sarat dengan adat, upacara mengambil

madu yang sarat dengan magis dan kental

dengan ritual kebudayaan asli, dan berbagai

aktivitas budaya lainnya.

Kebiasaan dalam mendengar, melihat

dan mengamati berbagai khasanah budaya

ini secara berangsur-angsur membuat Tenas

mampu menyerap berbagai unsur budaya

tersebut dan terpatri sangat mendalam di

kehidupannya. Awalnya, kendati belum

memahami benar, namun kebiasaan

masyarakat dengan beragam aktivitas

kebudayaannya itu telah membentuk

pandangan Tenas mengenai kebudayaan

Melayu yang Islami.

Setelah menamatkan pendidikan Sekolah

Guru A, selama 3 tahun di Padang, Tenas

menyelesaikan pendidikannya di tahun 1957,

Tenas pulang kembali ke Riau (Pekanbaru),

aktivitas menulis terus dilakukan, begitu

juga kegiatan berkesenian.

Pancang awal yang dilakukan Tenas

sebagai pernyataan bahwa ia juga adalah

seorang perupa, bersama Muslim Saleh,

Tenas mengadakan pameran lukisan di

Rumbai tahun 1959.

Aktivitas beliau yang satu ini (senirupa)

agaknya memang kurang terperhatikan

oleh masyarakat, sehingga hampir luput

dari pembacaan gerak berkesenian Tenas

yang sebenarnya sangatlah multi talenta.

Peristiwa Rumbai 1959 ini menjadi sangat

penting, karena merupakan kegiatan

pameran lukisan pertama yang dilaksanakan

di Riau waktu itu. Aktivitas senirupanya

terus ia lanjutkan dengan mengisi kolom

karikatur, vignet dan illustrasi diberbagai

media terbitan Riau masa itu, antara lain

harian “SinarMasa”, media dimana ia juga

menjabat sebagai redaktur. Kontributor

karya senirupa di harian “Bahtera” sebuah

media harian terbitan Rengat dan beberapa

media cetak lainnya.

Karya lukis (fine arts) yang dihasilkan

Tenas kebanyakan beraliran realis dan

naturalis. Tenas dengan karyanya pada

bidang kanvas banyak merekam bentuk

kehidupan kampung melayu dengan

segala aspek budaya yang terkandung di

dalamnya. Di sinilah letak kekuatan Tenas

dalam dunia senirupa seperti juga yang

terekam pada karya-karya tulisnya. Karena

pemahamannya tentang dunia kemelayuan

yang sangat kuat hingga detail budaya

melayu mampu dan sempurna ia tuangkan

pada karya lukisannya, walau ada beberapa

karya Tenas yang melompat dari bentuk

aliran naturalis, namun nuansa kemelayuan

masih tampak terlihat pada karyanya yang

beraliran kubisme “Ekspresi” 1971, oil on

canvas 50 x 120 cm. sebuah karya beliau yang

saya (sebagai kurator daerah) pilih untuk

dipamerkan pada event pameran senirupa

bertajuk “Penampang Senirupa Sumatera,

Kekuatan Yang Tersembunyi”, Galeri

Nasional Indonesia Jakarta, 19-30 Januari

2000, bersama dengan karya-karya perupa

Riau lainnya seperti, Armawi KH, Mas Tok,

Dantje S Moeis dan beberapa nama lainnya.

Berpuluh tahun Tenas mengumpulkan

khazanah kepiawaian lokal seniman perupa

melayu masa lalu dalam bentuk ragam hias.

Baik yang melekat sebagai penghias busana

maupun ornamen bangunan masa lalu.

Sadar akan pentingnya upaya pelestarian,

Tenas pun menerbitkan hasil kerja

halaman 61


pendokumentasiannya ke dalam bentuk

buku sekaligus teks muatan filosofi yang

terkandung pada tiap bentuk ragam hias.

Terakhir di ujung tahun 2013, Tenas

dengan beberapa seniman perupa seperti OK

Nizami Jamil, Amron Salmon, Armawi KH,

Dantje S Moeis dan lain-lain yang dianggap

panitia pelaksana pameran (Museum Negeri

Sang Nila Utama Pekanbaru) sebagai perupa

perintis karya senirupa modern di Riau

melakukan pameran bersama.

Sumbangan pemikiran Tenas Effendy

di dunia kemelayuan baik pada karya tulis

maupun senirupa banyak memberikan

sumbangan positif bagi orang-orang Melayu

dan ini jelas terlihat pada karya senirupa

arsitektur dimana Tenas mempunyai

andil besar pada perwajahan bangunan

yang menjadi berpenampakan/bercirikan

melayu, seperti Gedung Anjung Seni Idrus

Tintin, kawasan Bandar Serai dan beberpa

bangunan pemerintah daerah di Riau.

Inti dari pemikiran Tenas Effendy

mengenai Melayu yang kental tertuang pada

karya-karyanya yaitu di antaranya:

Bahwa untuk menghadapi masa depan,

yang penuh cabaran dan tantangan

diperlukan budaya yang tangguh untuk

melandasi sikap dan perilaku masyarakat

pendukungnya agar menjadi manusia

tangguh. Oleh karena itu, budaya Melayu

yang memiliki nilai-nilai luhur yang Islami

yang sudah teruji kehandalannya, harus

dikekalkan dengan menjadikannya sebagai

“jati-diri” bagi masyarakatnya. Nilai-nilai

budaya ini diyakini mampu mengangkat

marwah, harkat dan martabat kemelayuan

dalam arti luas. Di dalam resam Melayu,

nilai-nilai yang dimaksud dipaterikan ke

dalam ungkapan-ungkapan adat, yang

disebut sebagai “Sifat yang Dua-puluh

Lima”, atau “pakaian yang Dua-puluh Lima”.

Jika sifat atau pakaian itu dijadikan sebagai

“jati-diri” , tentu akan menjadi “orang” yang

“sempurna” lahiriah dan batiniah.

Bahwa untuk menjaga nilai kegotongroyongan,

nilai tenggang rasa, dan

nilai keberasamaan dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,

maka yang perlu dilakukakan adalah menjaga

nilai-nilai asas persebatian Melayu (Perekat

Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan

Bernegara). Hal ini selaras dengan ungkapan

adat Melayu yang mengatakan:

Hidup sebanjar ajar mengajar,

hidup sedusun tuntun menuntun,

hidup sekampung tolong-menolong,

hidup senegeri beri memberi,

hidup sebangsa rasa merasa.

“Selamat Jalan Pak Tenas, semoga segala

kerja kerasmu untuk negeri ini, menjadi

amal ibadah dan dapat dijadikan pahala oleh

yang Allah yang maha kuasa”.***


halaman 62


Berita Duka

Telah Berpulang ke Rahmatullah

Tokoh Budayawan Melayu Tenas Effendy

uasana duka

menyelimuti

R

i

a u

dan kawasan

berkebudayaan

Melayu pada

umumnya.

T o k o h

budayawan Melayu Tenas Effendy meninggal

di Rumah Sakit Umum Arifin Ahmad,

Pekanbaru, Riau, Sabtu dini hari, 28 Februari

2015, sekitar pukul 00.25 WIB.

Tenas sempat menjalani perawatan

selama 14 jam di rumah sakit ini akibat infeksi

paru-paru yang dideritanya. “Sebelumnya

beliau sempat di rawat di Malaka,” kata

Ketua Umum Dewan Pengurus Harian

Lembaga Adat Melayu Riau, Al Azhar,

kepada kami, Sabtu,

28 Februari 2015.

Menurut Al Azhar,

Tenas Effendy

sebelumnya juga

sudah menjalani

perawatan di rumah

sakit hampir satu

bulan di Rumah Sakit Santa Maria Pekanbaru

sejak 21 Januari 2015. Kemudian pada 16

Februari 2015 Tenas dirujuk ke Rumah Sakit

Putra, Malaka. Terakhir dia kembali di

rawat di Rumah Sakit Umum Arifin Ahmad,

Pekanbaru.

Al Azhar mengatakan, Tenas Effendy

menghembuskan nafas terakhir tepat pada

usia 79 tahun. Ia lahir di Dusun Tanjung Malim,

Desa Kuala Panduk, Pelalawan, 9 November

halaman 63


1936. Tenas pergi meninggalkan satu

orang istri, delapan anak, 19 cucu dan

satu cicit. Tenas dimakamkan di Tempat

Pemakaman Umum, Jalan Amal, Pasir

Putih, Pekanbaru.

Di mata masyarakat Riau, Tenas

Effendy merupakan seorang budayawan

yang gemar mengkaji sekaligus

mempraktekkan keluhuran budaya

Melayu. Melalui tulisan dan petuahnya

dalam Tunjuk Ajar Melayu, Tenas Efendy

memberikan semangat dan pendidikan

kepada masyarakat dalam sendi

kehidupan berdasarkan kearifan Melayu.

“Beliau suri tauladan masyarakat Riau,”

kata Al Azhar

Sebagai seorang sastrawan, Tenas

Effendy telah banyak membuat makalah

tentang melayu, baik untuk simposium,

lokakarya, diskusi, maupun seminar,

di Malaysia, Brunei Darussalam,

Singapura, Thailand Selatan, Filipina

Selatan, sampai Madagaskar.

Dari perjalanan panjangnya

berkecimpung dengan kajian

kebudayaan dan aktivitasnya dalam

menulis, Tenas berhasil mengumpulkan

lebih kurang 20.000 ungkapan, 10.000

pantun, dan tulisan-tulisan mengenai

kebudayaan Melayu. Kepiawaiannya

dalam menulis dan pengetahuannya

yang mendalam tentang keb sampai

ke Belanda.*** (Red)

Dukacita

Pimpinan dan Karyawan

Turut berdukacita atas meninggalnya:

M Sani Burhan

Musisi Tradisional,

Pemusik Gambus Selodang

dan Akordion

Tenas Effendy

Tokoh Budayawan Melayu

Semoga Almarhum

diterima di sisi Allah SWT dan

keluarga yang ditinggalkan

tabah menerima cobaan ini.

Amin.


halaman 64


halaman lxv


halaman lxvi

Similar magazines