KLIK - BPTP Yogyakarta

yogya.litbang.deptan.go.id

KLIK - BPTP Yogyakarta

TEKNOLOGI PENGOLAHAN PUPUK ORGANIK

DENGAN BAHAN LIMBAH KANDANG ITIK

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Usaha peternakan itik di Propinsi DIY terkonsentrasi di Kabupaten Kulonprogo dan

Kabupaten Sleman. Peternakan itik di kedua wilayah ini sebagian besar diusahakan

secara semi intensif dan dalam skala usaha kecil hingga menengah. Usaha peterrtakan

itik cukup memberikan penghasilan yang layak bagi peternak. Hasil penelitian \Ahrdhani

et al. (2OO3) menyebutkan bahwa kontribusi itik mencapai 72o/o dari total pendapatan

petani. Namun di sisi lain usaha peternakan itik ternyata mengakibatkan polust bagi

lingkungannya. Bau kotoran itik yang menyengat terutama pada musim penghujan dirasa

sangat mengganggu masyarakat sekitarnya. Disamping itu petani sering merasakan

gatal-gatal di kulit apabila memanfaatkan limbah kandang sebagai pupuk pada tanaman,

hal ini disebabkan adanya beberapa ektoparasit yang terdapat pada kotoran itik.

Produksi limbah kandang kering dengan jumlah itik 300-500 ekor sebanyak 1,5 ton / 4

bulan atau 4,5 ton /tahun(Musofie,

et a|.,2005)

Pengolahan kotoran itik menjadi pupuk organik merupakan alternatif untuk

mengatasi polusi. Yulipriyanto (2003) mengemukakan bahwa pengomposan dapat

menghilangkan atau meminimasi bau yang ditimbulkan oleh limbah organik. Selama

pengomposan berjalan, dalam timbunan bahan baku suhunyakan lebih dari70'C. Pada

temperatur ini akan dapat membunuh mikrobia patogen, penyebab penyakit tanaman,

mematikan biji gulma; mematikan serangga dan telurnya, cacing dan telurnya sefta

menghilangkan bau busuk (Bahar, 1986).

Kompos dapat dibuat dengan menambahkan bahan-bahan yang dapat

mempercepat dekomposisi bahan organik, diantaranya adalah pRiMaDec C-1f .

Probiotok pRiMaDec C-1e meruparkan koloni mikrobia yang diisolasi dari alam.

Penambahan aktivator urea diperlukan untuk memacu laju dekomposisi bahan organik

dengan meningkatnya aktivitas mikrobia sekaligus memperbaiki kualitas pupuk organik

yang dihasilkan.

Manfaat dan Keuntungan Teknologi

- Untuk mengurangipolusibau yang ditimbulkan dari kandang itik

- Untuk mencegah bertambahnya populasi lalat

- Untuk mendapatkan kompos yang berkualitas baik dari bahan limbah kandang itik


DESKRIPSI / SPESIFIKSI LOKASI

Lokasi Pengkajian

Pengolahan limbah kandang itik dilaksanakan

dusun Bleberan, Desa Banaran,

Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo dan Desa Tirtohargo Kecamatan Kretek

Kabupaten Bantul. Kedua lokasi pengkajian merupakan daerah pesisit dengarr

pekerjaan utama masyarakatnya sebagai petani dan peternak itik.

Kondisi lahan yang sebagian merupakan beting pasir. Tanah di lahan beting pasir

berdasarkan klasifikasitanah menurut termasuk ordo Entisol. subordo Psamments, gi'up

Ustipsamments dan subgrup Typic Ustipsamments, dan termasuk seritanah Parangtrttis

(Puslit Tanah dan Agroklimat, 1994 dalam Sudihardjo, 2001). Apabila untuk usahatani,

wilayah inimemerlukan inputyang tinggi, yang berupairdan bahan organik

Sebagian besar petani memanfaatkan lahan pasir di desa ini dengan budidaya

tanaman semangka atau melon, dengan cara membangun sumur renteng untuk

memperoleh air, dan memanfaatkan limbah kandang ternak sebagai pupuk organik..

Lahan pasir tersebut, biasanya ditanami semangkatau melon hingga tiga kali dalam

setahun.

Analisis kualitas pupuk organik yang dihasilkan dilakukan di Laboratorium Tanah

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta. Analisis keberadaan ektoparasit

dilaksanakan diLaboratorium Parasitologi Balai BesarVeteriner RegionallVYogyakarta.

Daerah Rekomendasi

Teknologi pengolahan limbah kandang itik inidirekomendasikan untuk daerah yang

memelihara itiksecara intensif maupun semiintensif diekosistem yang sama.

.

PENERAPAN TEKNOLOGI

Bahan yang diperlukan pada pengolahan kotoran itik adalah :

1. Limbah kandang itik = 1 ton

2. pRiMaDeC- Cl 5 * = 2kg

3. Urea 2 kg

= 2kg

Cara Kerja

- Kotoran itikdihamparkan dilantaidengan ketebalan 30 cm

- Tebarkan sebagian campuran probiotikp RiMaDeC- Cl5* dan urea diatasnya

- Tambahkan airjika bahan baku dalam keadaan kering

- Tambahkan bahan baku diatas hamparan pertama setebal30 cm

- Tebarkan sebagian campuran probiotikdan urea diatasnya

- Tambahkan airjika bahan baku dalam keadaan kering

- Demikian seterusnya sehingga tumpukan minimal setinggi 1 m

- Tutuptumpukan dengan karung bekas hingga rapat

- Setelah satu minggu, tumpukan kompos diaduk untuk perbaikan aerasi

- Tambahkan airjika kondisibahan kering

- Tutup kembali tumpukan pengomposan

- Pembalikan diulang pada minggu ke 2 dan ke 3.

- Pada minggu ke 4 kompos telah matang, tutup dibuka


HASIL PENERAPAN TEKNOLOGI

Produktivitas

Kualitas Pupuk

Pupuk organik yang dikomposkan dan digunakan secara in situ di lahan pertanian

tidak memerlukan pengawasan dan pengaturan tertentu, tetapiapabila kompos tersebut

diproduksi dan diedarkan secara luas untuk dijual secara komersial, maka pupuk organik

tersebut perlu mengacu kepada standarmutu yang telah ditetapkan ( Setyorini, 2003).

Pupuk yang berasal dari kotoran unggas dan atau kelelawar disebut sebagai pupuk

Guano (SNl, 1992). Syarat mutu pupuk Guano adalah seperti tertera pada Tabel 1.

Kualitas pupuk organik yang diolah dari limbah kandang itik dalam penerapan teknologi

initertera pada Tabel 1 . Kualitas pupuk hasil pengkajian cukup baikdan telah memenuhi

Standar Nasional I ndonesia (SN | ) No.02-287 1 -1992

Tabell. Kualitas pupuk organik hasil penerapan teknologi, tanpa penerapan teknologi

dan menurut Standar Nasional Indonesia

Nutrient

Kompos dengan Kompos tanpa

penerapan teknologi penerapan teknologi

sNr

Totalnitrooen (o/o) 3,64 3.44 Minimal3.5

PzOs e/") 18,08 20,52 Minimal 1C

tQo (%o) 12,18 u,b4 Minimal 6

ol (%) 0,18 0,18 Maksimal0.5

Sumber : Musofi et al. QAOS)

Ektoparasit

Ektoparasit yang ditemukan selama pengomposan adalah genus Aracus,

Dermanyssus, dan Argas. Jumlah masing-masingenus berkurang sejalan dengan

berakhirnya proses pengomposan karena sebagian telah terdekomposisi. Data genus

ektoparasit yang d item u kan sela ma pengom posan tersaji dala m Tabel 2.

Tabel2. Data genus ektoparasit yang ditemukan mati selama pengomposan.

Perlakuan Awal Minggu I Minggu ll Minggu lll

Dengan

penerapan

teknologi

Tanpa

penerapan

teknologi

Keterangan:

Aracus

Megninia

Dermanyssus

Aracus Aracus Aracus

Dermanyssus Dermanyssus Dermanyssus

Argas Argas

Aracus Aracus

Dermanyssus Dermanyssus DermanyssusAracus

Dermanyssus

Argas

Tungau bahan pakan

Tungau bulu

Gurem fiawa)

Sumber: Musofi et al. (2OOS)


Bau pupuk kompos hasil pengomposan dengan penerapan teknologi telah hilang

dari bau kotoran itik, dan berubah menjadi bau yang khas pupuk kompos. Hasil

pengamatan terhadap wama, bau dan tekstur selama pengomposan seperti tertera pada

Tabel 3.

Tabel3. Warna, bau dan teksturkompos kotoran itik

Perlakuan Parameter Minggu

awal 1 2 3

Dengan Warna Coklat Coklat Coklat Coklat kehitaman

penerapan Tekstur Kasar Kasar Kasar Halus

teknoloqi Bau

Ada

Ada Berkurang Hilang

Tanpa Warna Coklat Coklat Coklat Coklat

penerapan Tekstur Kasar Kasar Kasar Kasar

teknologi Bau

Ada

Ada Ada

Ada

Sumber: Musofi ef a/. (2005)

Sosial

Pengolahan limbah kandang itik dengan probiotik telah diterima dengan baik oleh

masyarakat di lokasi pengkajian dan daerah di sekitar lokasi pengkajian. Teknologi ini

tetap dilaksanakan oleh masyarakat pada saat pengkajian telah selesai.

Ekonomi

Pengolahan kotoran itik menjadi pupuk Guano dengan kualitasesuai dengan SNI

mampu meningkatkan nilaifinansial limbah kandang tersebut sebesarRp. 120.000 / ton,

dengan rincian sepertitertera pada Tabel4.

Tabel4. Analisis finansial pengolahan kotoran itik

I

tl

ill

l'/

Uraian

Dengan penerapan

Teknoloqi (Rp)

50.000

Nilaikotoran itik 1 ton (Rp)

Biaya pengolahan

- Urea (Rp)

3.000

- Probiotik pRiMaDec C75@ (Rp)

12.OOO

- Tenaoa keria (Ro)

40.000

Totalbiava 55.000

Tanpa penerapan

Teknologi(Rp)

50.000

Nilaiproduk

(750 ks x Rp. 300) 225.000 50.000

Kenaikan nilai produk ( lll-ll-l ) 120.000 0

Dampak Lingkungan

Pengolahan limbah kandang menggunakan probiotik mengakibatkan berkurangnya

polusi bau, populasi lalat dan matinya ektoparasit yang terdapatdalam pupu kompos.


KESIMPULAN

Pengolahan limbah kandang itik dengan probiotik menghasilkan pupuk kompos

dengan kualitas baik dan bebas ektoparasit. Pengolahan limbah kandang itik dengan

probiotik akan mengurangi polusi bau, populasi lalat dan meningkatkanilaijual produk

(pupuk organik).

DAFTAR PUSTAKA

Bahar, Y.H. 1986. Teknologi penanganan dan pemanfaatan sampah. Waca

Utama Pramesti. Jakarta

Musofie, A. N.K. Wardhani dan E. Winarti. (2005). Pemanfaatan limbah

kandang itik sebagai pupuk untuk tanaman cabe merah di lahan pantai. Makalah

disampaikan dalam Lokakarya UnggasAir ll. Balitnak Ciawi, Bogor.

Yulipriyanto, H. 2003. Teknologi Pengomposan, Laboratorium Mikrobiologi dan Biologi

Tanah. Makalah. Jurdik Biologi UNY.

Setyorini, D. 2003. Persyaratan mutu pupuk organik untuk mendukung budidaya

pertanian organik. Makalah disampaikan dalam Temu lnformasi Teknologi

Pertanian ll. BPTP Yogyakarta

SNl. 1992. Standar Nasional Indonesia. No, 02-2871-1992

(1992).

Soil Survey Staff. 1998. KunciTaksonomi Tanah. Edisi Kedua Bahasa Indonesia. 1999.

Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan

Pertanian.

Sudihardjo, AM. 2OO1. Budidaya tanaman bawang merah di lahan betingpasir pantai

selatan Yogyakarta untuk mendukung pengembangan wilayah. Proc. Seminar

Nasional Teknolog i Pertanian Mendu kung Agribisnis dalam U paya Pengembangan

Ekonomi \Mlayah. BPTP Yogyakarta kerjasama dengan Bappeda Propinsi

Daerah Istimewa Yogyakarta dan UPN

"Veteran" Yogyakarta

More magazines by this user
Similar magazines