10thn-rcindo

reefcheckindo

10thn-rcindo

Ringkasan Eksekutif

Reef Check sebagai satu metode pemantauan terumbu karang telah dilaksanakan selama

satu dekade di Indonesia. Dari satu dekade survai RC di Indonesia selama tahun 1997-

2006, didapatkan kesimpulan bahwa persentase karang batu (Hard Coral) sebagai

indikator kesehatan terumbu karang berada dalam kategori Sedang (26-50%), dengan

persen kemunculan yang cenderung menurun. Persen kemunculan Live Reef (karang

hidup) berkisar di antara angka 40.90 hingga 56.96 dengan persentase tertinggi tercatat

pada tahun 2000 dan terrendah pada tahun 1999. Sebaliknya, persen kemunculan untuk

Non-living Reef (bukan karang hidup) terrendah ada pada tahun 2000 dan tertinggi tercatat

pada 1999.

Butterflyfish sebagai salah satu indikator untuk mengetahui tekanan terhadap usaha

koleksi akuarium menunjukkan adanya sedikit penurunan jumlah rata-rata per tahun.

Sementara jenis-jenis ikan yang dijadikan sebagai indikator live reef fish (ikan karang

makan hidup) dan overfishing (tangkap lebih) menunjukkan tekanan pemanfaatan yang

sangat tinggi, bahkan untuk Barramundi Cod dan Humphead Wrasse hanya tercatat

antara nol hingga satu ekor yang dijumpai per transek per tahun.

Data avertebrata digunakan untuk menggambarkan empat hal; penangkapan untuk

koleksi akuarium, penangkapan ikan berlebih, pemanenan berlebih serta ledakan

populasi predator karang. Jumlah indikator biota koleksi akuarium cenderung naik,

sementara indikator penangkapan ikan berlebih serta pemanenan berlebih menunjukkan

penurunan yang signifikan. Bulu Seribu atau Acanthaster plancii yang dijadikan sebagai

indikator predator karang, dicatat berada dalam populasi minimal.

Secara umum, dampak yang berakibat pada kerusakan terumbu karang (coral damage) dan

trash (sampah) tidak menunjukkan adanya kecenderungan turun ataupun naik secara jelas.

Mayoritas kerusakan tidak terlalu besar (ada pada level 1) dengan rata-rata jumlah

kerusakan tertinggi disebabkan oleh aktivitas perahu/jangkar, sementara trash juga

terdapat pada level yang sama dan mayoritas berasal dari penyebab lain.

Akhir kata, kita menyadari bahwa tekanan terhadap terumbu karang semakin meningkat

seiring kegiatan pembangunan serta pemanfaatan sumberdaya di Indonesia. Kerjasama

berbagai pihak untuk berbagi tugas dalam pengelolaan ekosistem ini mutlak diperlukan

untuk kelestarian sumberdaya yang pada gilirannya nanti juga akan memberikan

keuntungan bagi kita.

Hormat kami,

Abdullah Habibi

Data Officer, Jaringan Kerja Reef Check Indonesia

iv

More magazines by this user
Similar magazines