Market Perspective October 2013 - Commonwealth Bank

commbank.co.id

Market Perspective October 2013 - Commonwealth Bank

Wealth Management Newsletter - Oktober 2013


1 | Market Perspective | Oktober 2013

Nasabah yang terhormat,

Tanpa terasa kita telah memasuki kuartal terakhir di tahun 2013 ini, dimana semua perencanaan dan target

finansial Anda akan kembali menjalani evaluasi berkaitan dengan tujuan finansial yang telah Anda rencanakan

untuk tahun 2013 ini.

Berbagai kejutan dari sisi ekonomi global dan domestik mewarnai pergerakan pasar di bulan September

kemarin. Di mana di luar dugaan investor, Bank Sentral Amerika Serikat memberikan sinyal untuk menunda

pengurangan dari program pembelian kembali aset obligasi pemerintah Amerika Serikat, sebuah program yang

dikenal dengan nama Quantitative Easing yang telah mengalirkan likuiditas dengan agresif dan mengakibatkan

kenaikan signifikan aset-aset investasi di negara maju dan berkembang dalam 3 tahun terakhir.

Fokus dan perhatian investor pada bulan ini masih akan tertuju pada konflik politik yang saat ini sedang terjadi

di Amerika Serikat untuk menentukan kenaikan batas kredit pemerintah, serta berbagai faktor dari ekonomi

domestik seperti tingkat inflasi, neraca perdagangan, transaksi berjalan, serta stabilitas nilai tukar. Berbagai

upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, baik secara fiskal dan moneter, untuk menstimulasi

perekonomian domestik yang saat ini berada dalam fase konsolidasi.

Mengakhiri sambutan saya di bulan Oktober ini, saya percaya bahwa strategi perencanaan investasi yang

baik, mekanisme diversifikasi, melakukan identifikasi tujuan finansial yang jelas, serta menentukan horison

waktu investasi jangka panjang, akan sangat membantu Anda sekalian, nasabah setia Commonwealth Bank,

untuk melalui siklus yang fluktuatif yang sedang kita hadapi saat ini. Salam sukses untuk Anda dan keluarga.

Salam hangat,

Ian Whitehead

Director of Retail and Business Banking

GLOBAL OUTLOOK

elama bulan September, pergerakan bursa global banyak mengacu pada perkembangan di AS, diantaranya adalah pengunduran

Sdiri Summers yang merupakan kandidat suksesor Bernanke yang selama ini merupakan sosok yang kerap menentang kebijakan

QE. Yellen yang merupakan tangan kanan Bernanke diekspektasi akan meneruskan kebijakan the Fed saat ini yang relatif longgar dan

pro pertumbuhan. Penundaan QE tapering yang diluar ekspektasi menyebabkan euphoria di pasar modal global, mulai dari penurunan

tingkat imbal hasil obligasi serta kenaikan bursa saham negara berkembang dengan ekspektasi akan adanya rotasi dana kembali dari

negara maju. Pasar kemudian juga dikejutkan oleh penghentian sementara operasional pemerintah AS yang menyebabkan beberapa

rilis data ekonomi penting yang menjadi acuan QE tapering menjadi tertunda. Dengan penutupan sementara operasional pemerintah

AS ini, spekulasi akan ditundanya QE tapering semakin kuat, terutama setelah beberapa anggota the Fed pun mengakui adanya

pertimbangan tentang kebijakan fiscal AS yang menjadi hambatan. Walaupun sebenarnya, dengan penundaan QE tapering tidak ada

hal fundamental yang berubah signifikan. Sektor manufaktur global masih memberikan gambaran bahwa tingkat pemulihan ekonomi

global masih belum stabil, sehingga semakin mendukung opini bahwa QE tapering belum tepat untuk dilakukan saat ini. Sampai akhir

tahun ini, masih banyak perkembangan politik dan ekonomi di AS yang akan mempengaruhi pergerakan bursa global serta memicu

volatilitas. Investor dihimbau mencermati perkembangan global dan menyeimbangkan portofolio agar siap untuk menghadapi fluktuasi

yang ditimbulkan akibat perubahan kebijakan moneter, politik, dan fiskal di AS.

Global manufacturing

Data manufaktur global di bulan September masih cenderung bervariatif

dan menunjukkan kondisi pemulihan ekonomi global yang belum stabil.

Sektor manufaktur AS pada bulan September tumbuh pada level tertinggi

selama 2,5 tahun, tetapi pertumbuhan di sektor manufaktur China relatif

moderat, sementara pertumbuhan di Zona Eropa bervariatif.

AS Institute for Supply Management factory index naik dari 55,7 menjadi

56,2, menunjukkan pertumbuhan sektor manufaktur AS yang sehat.

Sedangkan China Flash HSBC PMI mencatat kenaikan 50,1 menjadi 51,2

di bulan September. Official Purchasing Managers’ Index (PMI) China

untuk Non Manufacturing Sector naik ke 55,4 di bulan September. Dari

Zona Eropa data menunjukkan bahwa ekonomi wilayah tersebut sudah

keluar dari resesi di kuartal 2. Ekonomi kedua terbesar yaitu Perancis

melaporkan peningkatan aktifitas untuk pertama kalinya dalam 19 bulan.

Markit’s Eurozone preliminary PMI meningkat dari 51,5 ke 52,1 di bulan

September.

Jepang

Jepang akhirnya menetapkan untuk menaikkan pajak konsumsi dari

5% menjadi 8% efektif bulan April 2014 seperti yang direncanakan

sebelumnya. Untuk menghindari perlambatan konsumsi yang dapat

menekan pertumbuhan ekonomi, Jepang kemungkinan akan memberikan

paket stimulus senilai ¥5tn yang detailnya akan diumumkan di awal bulan

Desember nanti. Jepang juga merencanakan untuk menaikkan pajak

konsumsi ke level 10% pada bulan Oktober 2015 nanti. Hasil survey Kyodo

News melaporkan dukungan untuk PM Abe semakin meningkat dengan

mayoritas responden mendukung kenaikan pajak konsumsi.

Bank of Jepang masih terus melakukan pembelian obligasi bulanan

sebesar ¥7 triliun ($70 miliar) mulai bulan April sampai dua tahun ke depan.

Tambahan likuiditas ini diekspektasi dapat membantu menyeimbangkan

likuiditas yang terkuras dari negara berkembang di Asia jika QE tapering

pemerintah AS dimulai akhir tahun ini.


2 | Market Perspective | Oktober 2013

LOCAL OUTLOOK

etelah the Fed memberikan indikasi akan adanya QE tapering pada tanggal 20 Mei lalu yang memicu rotasi dana investasi dari negara

Sberkembang menuju negara maju, the Fed kembali mengejutkan investor dengan menunda QE tapering yang memberikan dampak

positif bagi IHSG, harga SUN dan nilai tukar rupiah. Aliran dana asing yang keluar dari pasar modal domestik telah relatif melambat

namun belum kembali positif, dikarenakan investor asing masih menunggu membaiknya indikator ekonomi domestik di bulan September.

Laporan tingkat inflasi bulan September yang sudah menurun ke level 8,4% serta neraca perdagangan yang positif memberikan harapan

defisit transaksi berjalan yang akan dilaporkan di akhir bulan Oktober juga akan menurun. Paket kebijakan pemerintah bulan Agustus

lalu dinilai cukup sukses membantu menurunkan permintaan impor, sehingga pemerintah juga berencana memberikan paket kebijakan

tambahan untuk mengantisipasi dampak dari penghentian sementara aktivitas pemerintah AS. Pemerintah juga meningkatkan GWM (Giro

Wajib Minimum) sekunder perbankan mulai bulan Oktober ini untuk mendorong kepemilikan perbankan pada SBN yang akan berdampak

positif pada stabilitas harga SUN. Investor harus menyadari bahwa QE tapering hanya ditunda, bukan dibatalkan. Kenaikan bursa saham

serta harga obligasi Indon maupun FR dari level terendah memberikan kesempatan langka bagi investor untuk melakukan rebalancing

portofolio agar lebih seimbang dalam menghadapi QE tapering yang masih diekspektasi akan dimulai akhir tahun ini.

IHSG, Rupiah dan SUN

Selama bulan September, IHSG meningkat 2,89% dari level 4195,089

menjadi 4316,176 dengan rentang pergerakan yang cukup lebar antara

4050,864 dan 4670,733. Terlihat bahwa sejak bulan Mei, aliran dana asing

yang keluar dari bursa saham cukup agresif dan baru menurun signifikan

sejak pelaku pasar ditenangkan dengan penundaan QE tapering.

USD/IDR masih terus melemah dari level 11184 ke level 11406 walaupun

sempat menguat ke level 10847 pada saat penundaan QE tapering

diumumkan. Sedangkan harga obligasi FR tenor 10 tahun mengalami

penurunan sebanyak 2%, lebih signifikan dari penurunan harga FR tenor

20 tahun sebanyak 0,79% sedangkan harga FR tenor 30 tahun sebaliknya

naik 3.5%, sepanjang bulan September.

Aliran dana asing

Sejak bulan Mei di mana rencana QE tapering diumumkan, outflow yang

deras dari negara berkembang berdampak negatif untuk pasar finansial

negara-negara yang mempunyai current account defisit lebar seperti

Indonesia dan India. Dengan ditundanya keputusan QE tapering, arus

dana asing yang keluar dari bursa saham menjadi lebih perlahan. Arus

keluar dana investasi asing di bulan September hanya mencapai USD

26,7 juta. Sedangkan kepemilikan asing selama bulan September pada

SBN sebaliknya meningkat IDR10 triliun menjadi IDR294,14 triliun atau

31,1%. Tingkat imbal hasil yang relatif tinggi telah cukup menarik bagi

investor asing. Lalu, dari semua lelang SUN yang digelar selama 2 bulan

terakhir, penyerapan yang dilakukan investor juga melampaui target

yang diinginkan oleh pemerintah.

Grafik IHSG vs Aliran dana investasi asing

sejak pengumuman QE tapering

300

200

200

0

-22.645

-100

-200

-300

-400

Sumber: Bloomberg

Aliran dana asing keluar

Aliran dana asing masuk

May 31 Jun 14 Jun 28 Jul 15 Jul 31 Aug 15 Aug 30 Sep 16 Sep 30

2013

Deflasi karena penurunan harga makanan

Indonesia melaporkan deflasi di level -0,35% di bulan September dikarenakan

penurunan harga makanan (-2,9%) dan transportasi (-0,8%). Secara

YoY, headline inflasi menurun dari +8,8% di bulan Agustus menjadi +8,4%

di bulan September. Inflasi Inti sebaliknya meningkat dari +4,5% menjadi

+4,7% di bulan September. Kebijakan pemerintah untuk melonggarkan

impor bahan makanan cukup membantu.

IHSG

5200

5000

4800

4600

4403.969

4200

4000

Surplus neraca perdagangan

karena penurunan permintaan impor migas

Neraca perdagangan berhasil membaik dari rekor defisit bulan Juli yang

mencapai -$2,3milyar menjadi $132 juta di bulan Agustus. Perbaikan

neraca perdagangan terutama karena berkurangnya impor (-5,7% vs

+6,5% di bulan Juli) sedangkan ekspor masih terus menyusut (-6,3%

vs -6,2% di bulan Juli). Pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat serta

pelemahan rupiah menekan permintaan impor. Kenaikan harga BBM

bersubsidi sebanyak +44% berhasil menekan permintaan impor minyak

dan mengurangi defisit perdagangan migas. Tetapi, perlu diwaspadai

penurunan impor barang modal (-27% YoY, Juli: -12,6% YoY) yang

disebabkan menurunkan aktivitas investasi.

Dengan perbaikan pada neraca perdagangan, defisit transaksi berjalan

diekspektasi juga akan menyusut, yang kemudian diharapkan dapat

membantu kembalinya tingkat keyakinan investor pada Indonesia.

BI rate

Sejak bulan Juni, BI sudah meningkatkan suku bunga BI rate secara

kumulatif sebanyak +150bps. BI juga berencana menyesuaikan ketentuan

mengenai GWM Sekunder dan GWM-LDR (Loan to Deposit Ratio)

untuk menyerap likuiditas yang berlebih dan menjaga risiko inflasi.

GWM Sekunder adalah cadangan minimum yang wajib dikelola oleh Bank

dalam bentuk SBI (Sertifikat Bank Indonesia), SDBI (Sertifikat Deposito

Bank Indonesia), SBN (Surat Berharga Negara) dan/atau Excess Reserve,

yang besarnya ditetapkan sebesar persentase tertentu dari DPK. GWM

sekunder rencananya akan dinaikkan menjadi 3% per 1 Oktober, 3,5%

per 1 November dan 4% per 2 Desember, yang dampaknya akan

meningkatkan kepemilikan perbankan pada SBN serta membantu

menjaga kestabilan harganya.

Dengan tingkat inflasi yang sudah menurun serta neraca perdagangan

yang sudah berbalik positif, tekanan terhadap BI untuk lebih mengetatkan

kebijakan moneter sudah lebih ringan. Sampai akhir tahun, BI kemungkinan

masih dapat menaikkan suku bunga sebanyak +25bps ke level 7,5% dan

FASBI di level 5,75% untuk menekan dampak inflasi sekunder.

Paket kebijakan tahap dua

Pemerintah Indonesia berencana memberikan paket kebijakan

ekonomi di bulan Oktober tahapan kedua setelah kebijakan pertama

yang dikeluarkan bulan Agustus. Wakil Menteri Keuangan Bambang

Brodjonegoro mengatakan reformasi struktural akan berlanjut dan paket

kebijakan yang dikeluarkan akan merespon dampak dari penghentian

sementara pemerintah AS.

Pada Paket Kebijakan yang pertama, pemerintah mempercepat proyek

infrastruktur, mendorong investasi dengan memberikan insentif pajak,

menurunkan permintaan impor dengan mengenakan pajak impor pada

barang mewah (termasuk mobil) serta melonggarkan kuota ekspor

tambang dan mineral.


3 | Market Perspective | Oktober 2013

ANALISA VALAS

etelah dibatalkannya pengurangan program QE di AS pada September lalu, major currency cenderung menguat terhadap USD,

Spasalnya para pelaku pasar berpendapat bahwa likuiditas USD akan masih tetap besar dan high yielding asset masih menjadi target

pengalokasian dana. Namun perlu diperhatikan, penguatan pasar tenaga kerja di AS dan pertumbuhan inflasi di AS yang baik bisa jadi

kembali memicu pengurangan QE sebelum akhir tahun 2013. Masalah batas hutang di AS juga menjadi salah satu perhatian para pelaku

pasar dalam membuat keputusan investasi.

Pada bulan Oktober 2013, diperkirakan volatilias akan tetap tinggi seiring dengan keputusan AS yang harus diambil dalam menangani

masalah batas hutangnya. Berita-berita di AS, termasuk berita mengenai pasar tenaga kerja dan inflasi di AS, akan menjadi sorotan

utama para pelaku pasar.

EUR/USD

Sentimen positif juga masih mewarnai perekonomian di Eropa, khususnya

Jerman dan Perancis. Data-data indikator pertumbuhan ekonomi dari

segi manufaktur juga dirilis meningkat pada bulan September 2013.

Diprediksikan EUR/USD masih akan cenderung menguat terbatas

dengan risiko perubahan kebijakan di AS. Diperkirakan EUR/USD akan

bergerak dalam rentang 1,3380 – 1,3750.

USD/IDR

Deflasi pada bulan September sebesar 0,35% dan surplus neraca

perdagangan sebesar US$132 mn, Berdampak pada penguatan IDR

di awal Oktober 2013. Diperkirakan dengan membaiknya fundamental

Indonesia dan terjaganya stabilitas inflasi serta membaiknya neraca

perdagangan Indonesia, cadangan devisa pun berpotensi meningkat.

Faktor eksternal terbesar yang berpotensi mempengaruhi pergerakan

USD/IDR adalah wacana mengenai pengurangan QE di AS. Diprediksikan

USD/IDR akan cenderung turun terbatas dengan rentang harga 11,200 –

11,750 pada bulan Oktober 2013.

GBP/USD

Perekonomian Inggris masih menunjukan pertumbuhan selama bulan

September 2013. Pasar tenaga kerja di Inggris pun menunjukan adanya

pertumbuhan yg positif ditandai dengan turunnya angka pengangguran

di Inggris dari 7,8% ke 7,7% pada bulan September lalu. Pertumbuhan

juga terasa di sektor perumahan Inggris ditandai dengan naiknya harga

perumahan. Diperkirakan GBP/USD cenderung bergerak naik sesuai

dengan pola bullishnya, dengan rentang harga 1,6000 – 1,6475 pada

bulan Oktober 2013.

AUD/USD

Terus membaiknya indeks manufaktur di China dan data – data ekonomi

di Australia berpotensi memberikan AUD daya tarik kembali di pasar

valas. Rendahnya nilai tukar AUD/USD berpotensi memberikan sentiment

positif untuk sektor ekspor Australia, khususnya komoditas. Diperkirakan

AUD/USD akan bergerak naik terbatas dengan rentang harga 0,9280 –

0,9535 pada bulan Oktober 2013. Risiko perubahan kebijakan di AS

mengenai stimulus masih akan sangat mempengaruhi pergerakan AUD/

USD kedepannya.

USD/JPY

Pelemahan JPY terhadap mata uang lainnya cukup membantu

mempersempit defisit neraca perdagangan Jepang. Namun pelemahan

JPY tersebut masih belum bisa membuat neraca perdagangan Jepang

kembali menjadi surplus. Penanganan yang intensif dari pemerintah

Jepang bersama sama dengan BOJ akan cenderung mengarah ke

pelemahan JPY dalam rangka terus memperbaiki neraca perdaganannya.

Diperkirakan USD/JPY akan bergerak dalam rentang 97,50 – 100,00

pada bulan Oktober 2013, dengan kecenderungan naik (JPY melemah

terhadap USD).

Recommendation

USD/IDR EUR/USD GBP/USD AUD/USD USD/JPY

Expected buying level 11.200 - 11.300 1.3400 - 1.3425 1.6000 - 1.6080 0.9120 - 0.9180 97.50 - 98.00

Expected selling level 12.000 - 12.100 1.3750 - 1.3800 1.6745 - 1.6525 0.9480 - 0.9530 101.50 - 102.00

Long profit taking @ 11.650 and above 1.3600 and above 1.6250 and above 0.9400 and above 100.00 and above

Short profit taking @ 11.300 and below 1.3500 and below 1.6200 and below 0.9200 and below 99.00 and below

Long cut loss @ 10.500 - 10.600 1.3250 - 1.3300 1.5875 - 1.5925 0.9000 - 0.9050 96.50 - 97.00

Short cut loss @ 12.300 - 12.500 1.3875 - 1.3925 1.6625 - 1.6675 1.9625 - 1.9700 102.50 - 103.00

Rekomendasi entry level

Profit Taking

Cut Loss

*Data di atas hanya besifat indikatif dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar.


4 | Market Perspective | Oktober 2013

COMMINSIGHT

EQUITY MARKET REVIEW SEPTEMBER 2013

Bersikap rasional. Perilaku yang sangat sulit dilakukan apabila seseorang melibatkan terlalu banyak emosi, perasaan, dan perilaku

subyektif lainnya dalam pengambilan sebuah keputusan, terlebih sebuah keputusan investasi. Melihat kondisi pasar modal di bulan

September 2013, kita dapat melihat bahwa betapa faktor psikologis memainkan peran penting dalam pergerakan pasar saham global.

Investor seolah terjebak dalam euforia pada tanggal 19 September 2013 kemarin, pasca ditundanya program pengurangan stimulus QE

oleh bank sentral AS, yang menjadi faktor utama penurunan pasar saham global semenjak bulan Juni 2013.

IHSG mengalami kenaikan 4,6% pada tanggal tersebut. Namun kemudian, realita berbicara bahwa persoalan pada ekonomi global

dan domestik tidak hanya terletak pada dikuranginya program stimulus QE, namun masih ada tekanan inflasi domestik yang relatif

masih tinggi, defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan yang masih belum menunjukkan peningkatan signifikan, perlambatan

pertumbuhan ekonomi domestik, serta beberapa permasalahan ekonomi global seperti penentuan batas kredit pemerintah Amerika

Serikat serta kondisi kas pemerintah AS yang hampir habis untuk sekedar membiayai operasional pemerintah AS. Secara psikologis,

investor kembali memasuki fase kekhawatiran, setelah baru saja mengalami euforia, sebuah situasi yang sangat fluktuatif dalam jangka

waktu yang sangat pendek.

2013 Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep YTD

2013

JCI Performance (%) 3.17 7.68 3.03 1.88 0.69 -4.93 -4.33 -9.01 2.89 -0.01%

Foreign Net Buy / 587.25 1160.77 189.01 74.23 -31.54 -2034.81 -253.11 -521.13 -26.76 -856.1

Sell (USD million)

Sumber: Bloomberg, as of 1 October 2013

Secara keseluruhan IHSG mencetak kinerja positif 2,89% di bulan

September, yang merupakan kinerja bulanan positif pertama semenjak

bulan Juni. Tekanan jual investor asing juga relatif melambat di bulan

September, dengan transaksi jual bersih sebesar USD26,76 juta, yang

merupakan transaksi jual bersih terendah semenjak bulan Mei. Indikasi

positif juga mulai terlihat dari membaiknya figur inflasi di bulan September

2013, sebagaimana terlihat pada grafik di bawah ini.

Inflasi September mengalami penurunan ke level 8,4% (YoY),

bahkan secara bulanan mengalami deflasi 0,35%,

yang diakibatkan oleh penurunan inflasi bahan pangan

ke level 12,84%

IDCPIY

Indonesia CPI YoY

IDCPIY Index

96) Actions 97) Edit 98) Feedback

G111 - headline vs food cpi

10/31/2008 10/01/2013 11)Compare Local CCY

1D 3D 1M 6M YTD 1Y 5Y Max Daily

Security/Study

Event

Last Price

IDCPIY 8.40 -.39

IDCPF00Y Index- on 9/30/13 12.84 -2.28

IDIFCRIY Index 4.72 +.24

Jun 30 Jun 30 Mar 31 Mar 31 Mar 31

Dec 31 Dec 31 Dec 31 Dec 31 Sep 30 Jun 30

2009

2010

2008 2011 2012 2013

Sumber: Bloomberg, as of 1 October 2013

8.40% For Sep Next Release 01 Nov 11:10

Survey --

Badan Pusat Statistik Indonesia

Meski demikian, ancaman inflasi belum sepenuhnya usai, dikarenakan

secara siklus, dampak kenaikan harga BBM dapat menyebabkan second

round impact of inflation terhadap sektor lainnya, di mana hal ini mulai

terlihat dari inflasi inti (tidak memasukkan inflasi bahan pangan dan BBM

sebagai komponen perhitungannya) yang mengalami kenaikan 20 bps

ke level 4,72%. Di mana hal ini didorong oleh inflasi sandang (pakaian)

yang mencapai level tertingginya semenjak bulan Agustus 2011. Dampak

pelemahan rupiah juga masih memberikan ancaman terhadap kenaikan

inflasi, meskipun saat ini nilai tukar rupiah relatif lebih stabil dibandingkan

bulan-bulan sebelumnya, level nilai tukar rupiah saat ini 22% lebih tinggi

dibandingkan rata-rata nilai tukar rupiah terhadap USD selama 3 tahun

terakhir (9315), yang tentunya berdampak negatif pada industri yang

melakukan impor bahan baku dengan menggunakan mata uang USD

20.00

18.00

16.00

14.00

12.84

12.00

10.00

8.00

8.40

6.00

7.72

4.00

2.00

namun memiliki pendapatan dalam mata uang IDR, yang tentunya akan

mengalihkan kenaikan biaya produksi pada kenaikan harga barang jadi.

Salah satu berita yang disambut positif oleh investor adalah surplus yang

dialami oleh neraca perdagangan domestik di bulan Agustus pada level

USD132 juta, setelah pada bulan sebelumnya mencapai defisit terburuk

dalam 5 tahun terakhir pada level USD2,3 miliar. Namun setelah melihat

komponen di dalam neraca perdagangan tersebut, baik ekspor maupun

impor masih mengalami pertumbuhan negatif (YoY) di bulan tersebut,

masing-masing sebesar 6,3% dan 5,7%. Dari sisi positif, investor dapat

melihat bahwa surplus dalam neraca perdagangan akan memberikan

imbas positif bagi defisit transaksi berjalan pemerintah, yang akan

dilaporkan akhir bulan ini untuk periode Q3 2013. Namun di sisi lain,

perlambatan impor barang modal adalah akibat dari mulai melambatnya

investasi asing ke sektor riil, yang dikhawatirkan merupakan imbas dari

mulai melambatnya konsumsi domestik.

IDBALTOL $132M For Aug Next Release 01 Nov 11:10

Survey --

Indonesia Trade Balance

Badan Pusat Statistik Indonesia

IDBALTOL Index

95) Save As 96) Actions 97) Edit 98) Table Line Chart

10/31/2010 10/02/2013 Last Price 11)Compare Mov.Avgs

No Lower Chart IDR

1D 3D 1M 6M YTD 1Y 5Y Max Daily

Security/Study

Event

Last Price 132.40

High on 12/31/10 3683.20

Average 784.33

Low on 07/31/13 -2329.10

Dec 31

Dec 31 Dec 31

Mar 31 Mar 31 Mar 31

Jun 30 Jun 30 Jun 30

Sep 30 Sep 30 Aug 31

2010 2011 2012 2013

Sumber: Bloomberg, as of 1 October 2013

Tentunya kombinasi hal-hal tersebut berpotensi memperlambat

pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif agresif selama 1 dekade

terakhir, sebagaimana yang telah diestimasi oleh mayoritas analis

untuk tahun 2014 ke depan. Namun apakah hal-hal tersebut di atas

akan membawa Indonesia pada satu fase krisis yang baru seperti yang

pernah dialami Indonesia pada tahun 1998? Permasalahan fundamental

domestik saat ini tidak mencapai level krisis yang dialami pada tahun

1998. Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah saat ini lebih

preventif dan antisipatif untuk memitigasi potensi-potensi risiko yang

akan terjadi.

Investor akan melihat dengan jelas bahwa pada saat ini, ekonomi

Indonesia memiliki ketahanan yang jauh lebih baik secara fundamental

dibandingkan tahun 1998. Sistem perbankan, rasio tingkat hutang

terhadap pertumbuhan ekonomi, serta tingkat cadangan devisa yang

dimiliki pemerintah saat ini telah berada pada level yang jauh lebih baik

dibandingkan tahun 1998 untuk menghindari potensi krisis yang lebih

fatal.

4000

3000

2000

1000

132.40

-1000

-2000


5 | Market Perspective | Oktober 2013

Pertumbuhan investasi langsung ke sektor riil di Indonesia

relatif agresif selama 2 tahun terakhir, yang mendorong total

investasi domestik terhadap total pertumbuhan ekonomi

indonesia bahkan lebih baik dibandingkan Brazil, Russia,

India, dan Korea selatan sebagai sesama kolega negara

berkembang. berdasarkan survey The Economist, indonesia

adalah destinasi favorit investor nomor 3 setelah China

dan India di Asia pada tahun 2013, di mana 53,5% dari

koresponden menyatakan berkeinginan untuk meningkatkan

investasi di indonesia

12.00

10.00

8.00

6.00

4.00

2.00

0.00

4.40 1.56

2011 growth:

20.5%

4.78 2.11

5.16 2.11

Sumber : BKPM

Note: IDR/US exchange rate of 9.000; USD values for convenience only

Direct Investment (US$ billion)

Foreign

5.13 2.67

5.73 2.19

Domestic

2012 growth:

24.6%

2013 growth:

30.1%

1Q 2Q 3Q 4Q 1Q 2Q 3Q 4Q 1Q 2Q

2011

2012 2013

Total: US$27.9 bn US$34.8 bn US$21.4 bn

6.24 2.31

9.29 2.80

6.31 2.94

7.28 3.06

7.41 3.68

Pertumbuhan ekonomi indonesia jauh lebih stabil

dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara-negara ASEAN,

BRIC, dan G20, meskipun telah melambat saat ini

8

6

4

2

0

-2

-4

14

12

10

25

20

15

Sumber: Bloomberg

8

4

2

0

7.5 5.8 4.4 4.4

2.7 2.6

G-20s, Q2 2013 GDP Growth (%, YoY)

Comparison with BRICS and Asean members (GDP Growth, % YoY)

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2

Brazil

Sumber: WEO, Bloomberg

3.28 3 2.3 2

China

Indonesia

Turkey

India

Brazil

Argentina

Saudi Arabia

Australia

S. Korea

S. Africa

USA

UK

1.6 1.5 1.5 1.2 0.9 0.5 0.3 -0.5 -2.1

Mexico

Japan

Canada

Germany

France

2010 2011 2012 2013

Russia India

China Indonesia

EU

Italy

10

Total Investment (%GDP)

5

55.00

Indonesia

India

Brazil

Russia

China

South Korea

0

Indonesia

Malaysia Phillipines Singapore Thailand

2012 Q1 2012 Q2 2012 Q3 2012 Q4 2013 Q1 2013 Q2

50.00

45.00

47.05

Sumber: Bloomberg

40.00

35.00

30.00

25.00

20.00

15.00

10.00

2000

2001

2002

2003

2004

2005

Sumber : IMF, World Economic Outlook Database - April 2013

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Estimate

35.57

35.15

27.35

26.24

18.52

Perbedaan krisis ekonomi domestik 1998 dengan saat ini

Indicators 1998 Now

GDP Growth -13.10% 5.8% (Q2 2013)

Debt to GDP Ratio 56.40% 31.3% (Q2 2013)

FX Reserves USD 33.8 billion USD 93 billion (Aug 2013)

NPL Ratio (Bank) >30%


6 | Market Perspective | Oktober 2013

Valuasi dan profitabilitas IHSG saat ini relatif menarik

dibandingkan negara Asia lainnya

25

20.6

20

15

10

5

7

0

Japan

18.45

15

17.88

13

Phillipine Australia Taiwan Malaysia India Indonesia Thailand Singapore China Hong Kong

Trailing P/E ratio (x) Index’s ROE (2013 estimates -%)

Sumber: Bloomberg, 25 September 2013

OUR PRODUCT RECOMMENDATION

Indikator risiko makro global 0,5590

(rata-rata 10 tahun terakhir : 0,4230)

Sumber: : Bloomberg, 2 October 2013

17.6

12

16.82 17

15.67

14.9

14

21

14

18

13.61

11.14

10

09/30/2003 09/30/2013 Bid Price Li 11)Compare Mov.Avgs

No Lower Chart USD

1D 3D 1M 6M YTD 1Y 5Y Max

Bid Price 0.5590

High on 09/22/11 0.9940

Average 0.4349

Low on 01/11/10 0.0110

Daily

Security/Study

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

16

Event

10.7

9

1.0000

0.8000

0.6000

0.5590

0.4000

0.2000

0.0000

Selera risiko investor global terhadap aset berisiko telah relatif membaik

di bulan September 2013, dibandingkan 2 bulan sebelumnya, meskipun

berdasarkan indeks risiko makro di atas masih berada di atas level ratarata

10 tahun terakhir, yang mengindikasikan investor masih belum

menunjukkan agresivitas yang tinggi dalam memburu aset-aset berisiko

terutama saham dan obligasi negara berkembang. Apabila memilah sektor

demi sektor pada IHSG, kami dapat menyimpulkan bahwa: Kami masih

mewaspadai sektor konsumer dikarenakan valuasi yang relatif tinggi serta

imbas negatif dari pelemahan rupiah yang berdampak negatif terhadap

pendapatan emiten sektor tersebut (dikarenakan mayoritas bahan baku

emiten diimpor dan memiliki beban hutang dalam USD). Kenaikan biaya

produksi akibat naiknya upah minimum domestik, tarif dasar listrik, juga

dapat mempengaruhi pendapatan emiten sektor konsumer. Demikian

pula kami cenderung mewaspadai sektor perbankan dikarenakan

naiknya biaya modal akibat suku bunga acuan dan mulai melambatnya

pertumbuhan kredit, terkecuali pada bank-bank besar yang memiliki

banyak pendanaan murah, atau bank-bank yang memiliki margin profit

tinggi dikarenakan secara spesifik membidik sektor mikro dan usaha

kecil. Kami tetap positif terhadap sektor infrastruktur, dikarenakan tema

defensif, terutama pada sektor telekomunikasi yang memiliki kinerja

relatif stabil, serta beberapa emiten infrastruktur umum yang sejalan

dengan strategi pemerintah jangka panjang untuk meningkatkan kualitas

infrastruktur.

Sektor properti dan industri dasar, pertumbuhannya telah relatif moderat,

dikarenakan kenaikan suku bunga pinjaman dapat mempengaruhi

penjualan dalam jangka pendek. Demikian juga faktor valuasi pada

sektor ini yang relatif tinggi. Namun beberapa emiten industri dasar,

terutama semen, tentunya masih menjadi favorit bagi manajer investasi

dikarenakan tingkat permintaan yang relatif stabil serta konsumsi semen

per kapita yang relatif masih rendah dibandingkan negara maju dan

berkembang lainnya. Investasi pada obligasi pemerintah berdenominasi

IDR lebih disarankan dibandingkan investasi pada obligasi berdenominasi

USD saat ini. Namun diversifikasi pada durasi obligasi tetap disarankan

mengingat potensi second round impact of inflation dari kenaikan harga

BBM bersubsidi dan bahan pangan dapat memicu kembali kenaikan

suku bunga sebesar 25 bps hingga akhir tahun 2013 ini.

Portfolio IDR October 2013

Konsep Portofolio Pilihan Reksa Dana Alokasi pada portofolio

Core Portfolio BNP Paribas Pesona Syariah 40%

Manulife Dana Saham

Schroder Dana Istimewa

Growth Portfolio BNP Paribas Infrastruktur Plus 10%

Manulife Link Dana Ekuitas SMC

Fixed Income Medium to Long duration First State Indonesia Bond Fund 30%

FR68 / FR65 / FR58

Fixed Income Short duration Danareksa Melati Platinum Rupiah 20%

Schroder Dana Andalan 2

FR66 / 63

Portfolio USD October 2013

Konsep Portofolio Pilihan Reksa Dana Alokasi pada portofolio

Core Portfolio Panin SRC Moderate Fund 50%

Fixed Income Long duration Indon 35/42/43 10%

Fixed Income Medium duration Indon 21/22/23 40%

New! Top First State Fund to Pick

Per tanggal 30 September 2013 Standar Deviasi (1Y) Sharpe Ratio (1Y) Kinerja 1 tahun terakhir

First State Dividend Yield Fund 21.64 -0.24 -1.2%

IHSG 20.64 -0.20 1.34%


7 | Market Perspective | Oktober 2013

DISCLAIMER

Kecuali dinyatakan lain, semua data bersumber dari berita media massa, dan tidak diterbitkan oleh PT Bank Commonwealth (PTBC). PTBC harus dijamin untuk dibebaskan dari tanggung jawab, termasuk tetapi tidak terbatas

pada penuntutan hukum oleh pihak ketiga. PTBC beserta direkturnya, karyawannya dan perwakilannya dalam Lampiran ini selanjutnya bersama-sama disebut sebagai “Grup” “Laporan ini diterbitkan semata-mata untuk tujuan

informasi dan tidak boleh ditafsirkan sebagai suatu ajakan atau penawaran untuk membeli efek atau instrumen keuangan. Laporan ini telah disusun tanpa mempertimbangkan tujuan, situasi keuangan dan kapasitas untuk menanggung

kerugian, pengetahuan, pengalaman atau kebutuhan orang-orang tertentu yang mungkin menerima laporan ini. Tidak ada anggota dari Grup yang melakukan atau harus melakukan penilaian kelayakan atau penyesuaian

laporan untuk penerima laporan ini yang karenanya tidak mendapatkan manfaat dari perlindungan peraturan dalam hal ini. Laporan ini bukan nasihat atau petunjuk. Semua penerima laporan ini harus, sebelum bertindak atas dasar

informasi dalam laporan ini, mempertimbangkan kewajaran/kelayakan dan kesesuaian informasi, dengan memperhatikan tujuan-tujuan mereka sendiri, situasi keuangan dan kebutuhan, dan, jika perlu mencari profesional yang

tepat, memperhatikan kondisi valuta asing atau nasihat keuangan tentang isi laporan ini sebelum membuat keputusan investasi. Kami percaya bahwa informasi dalam laporan ini adalah benar dan setiap pendapat, kesimpulan

atau rekomendasi yang cukup telah diadakan atau dibuat, berdasarkan informasi yang tersedia pada saat kompilasi, tetapi tidak ada pernyataan atau jaminan, baik tersurat maupun tersirat, yang dibuat atau disediakan untuk

akurasi, kehandalan atau kelengkapan setiap pernyataan yang dibuat dalam laporan ini. Setiap pendapat, kesimpulan atau rekomendasi yang ditetapkan dalam laporan ini dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan

dan mungkin berbeda atau bertentangan dengan, kesimpulan pendapat atau rekomendasi yang diungkapkan oleh Grup di tempat lain. Kami tidak berkewajiban untuk, dan tidak,memberitahukan perkembangan terkini atau terus

mengikuti informasi terkini yang terdapat dalam laporan ini. Grup tidak menerima tanggung jawab untuk setiap kerugian atau kerusakan yang timbul akibat dari penggunaan seluruh atau setiap bagian dari laporan ini. Setiap

penilaian, proyeksi dan prakiraan yang terkandung dalam laporan ini didasarkan pada sejumlah asumsi dan perkiraan dan tunduk pada kontinjensi dan ketidakpastian. Asumsi dan perkiraan yang berbeda dapat mengakibatkan

hasil material yang berbeda pula. Grup tidak mewakili atau menjamin bahwa salah satu proyeksi penilaian atau prakiraan, atau salah satu dasar asumsi atau perkiraan, akan dipenuhi. Kinerja masa lalu bukan merupakan indikator

yang dapat diandalkan untuk kinerja masa depan Grup tidak menjamin kinerja dari produk investasi atau pembayaran kembali modal dengan produk yang didistribusikan oleh PTBC. Investasi dalam produk ini bukan merupakan

simpanan atau kewajiban lainnya dari Grup atau anak perusahaannya dan setiap jenis produk investasi memiliki risiko investasi termasuk hilangnya pendapatan dan modal yang diinvestasikan. Contoh yang digunakan dalam

komunikasi ini hanya untuk ilustrasi. Semua materi yang disajikan dalam laporan ini, kecuali bila ditentukan lain, berada di bawah hak cipta Grup. Tak satu pun dari materi, maupun isinya, maupun salinannya, dapat diubah

dengan cara apapun, ditransmisikan ke, disalin atau didistribusikan kepada pihak lain, tanpa izin tertulis dari perusahaan terkait yang menjadi bagian dalam Grup. Grup, berikut agennya, asosiasinya dan kliennya memiliki atau

telah memiliki posisi panjang atau pendek pada efek atau instrumen keuangan lainnya yang disebut di sini, dan dapat setiap saat melakukan pembelian dan/atau penjualan terhadap kepentingan atau surat berharga dalam

kapasitasnya sebagai prinsipal atau agen, termasuk menjual atau membeli dari klien atas dasar pokok dan dapat terlibat dalam transaksi yang tidak konsisten dengan laporan ini. Silahkan melihat website kami di www.commbank.co.id

untuk informasi lebih lanjut. Jika Anda ingin berbicara dengan seseorang mengenai instrumen keuangan yang dijelaskan dalam laporan ini, silakan hubungi kami hubungi Call Centre kami di 5000 30 atau email kami

di customercare@commbank.co.id.

www.commbank.co.id

facebook.com/CommbankID

twitter.com/Commbank_ID

More magazines by this user
Similar magazines