Market Perspective November 2011 - Commonwealth Bank

commbank.co.id

Market Perspective November 2011 - Commonwealth Bank

market

PERSPECTIVE

Wealth Management Newsletter • November 2011

Investment Update

• Local Outlook & Global Outlook

• Menjadi yang Terdepan

Bersama First State Investment

• Asuransi Penyakit Kritis,

Kebutuhan yang Semakin Mendesak

FX Update

• Analisa Pasar Forex


1 | Market Perspective | November 2011

Nasabah yang terhormat,

Pada edisi kali ini kami akan memaparkan

kondisi terkini dari gejolak perekonomian

global dan juga lokal, serta tren

perkembangan pasar modal dan valuta

asing yang berlangsung selama bulan

Oktober 2011.

Sentimen positif nampaknya sudah mulai

terlihat pada bulan Oktober, baik untuk

perekonomian lokal, maupun global.

Hal ini dapat dilihat dari bursa global

yang ditutup naik sebesar 10,26% untuk

bulan Oktober, namun investor masih

terus mencermati perkembangan di Uni

Eropa. Untuk perekonomian Indonesia

saat ini sudah berada di posisi yang

lebih baik untuk menghadapi ekspektasi

perlambatan pertumbuhan global, karena

konsumsi domestik masih menjadi pilar

utama pertumbuhan ekonomi. Melihat

kondisi ini, kami menyarankan Anda

sebagai investor untuk mendiversifikasi

instrumen investasi untuk menjaga

portofolio dari fluktuasi pasar.

Pada segmen bancassurance, kami

menjelaskan bagaimana Anda dapat

mengurangi risiko dari dampak negatif

penyakit kritis. Saat ini masyarakat mulai

menyadari pentingnya melakukan salah

satu pilar dalam perencanaan keuangan,

yaitu perlindungan keuangan/kekayaan

(Financial/Wealth Protection). Melalui

produk asuransi jiwa, kebutuhan akan

perlindungan terhadap aset dan tujuan

keuangan ini dapat diakomodir. Terlebih

dengan adanya kombinasi manfaat

proteksi dan investasi melalui produk

unit linked, masyarakat tidak lagi perlu

merasa ”rugi” ketika tidak ada risiko

apapun yang terjadi selama masa

pertanggungan karena dapat menikmati

pertumbuhan dananya secara lebih

optimal.

Dalam segmen FX Update, kami

tampilkan informasi terkini dari

kondisi valuta asing dengan analisa

perkembangan pasar valuta asing dan

strategi investasi valuta asing.

Terima kasih untuk menjadi nasabah setia

kami dan selamat membaca!

Salam hangat,

Liliawati Gunawan

Executive Vice President,

Head of Wealth Management

% dari ekspor

Local Outlook

Dewi Huta Djaja

Research Analyst, Wealth Management Services

Gambar 1: Rentan akan ketergantungan pada

ekspor komoditas

45

40

35

30

25

20

15

10

5

0

Oil & Gas Minerals Palm Oil Rubber Other Manu

Commodity

Sumber: CIC, Barclays Capital

2003-2005 2006-2008 2009-2011

Indonesia

Pada bulan Oktober, IHSG menguat 6,8%

karena sentimen positif dari eurofia global

merespon upaya penyelamatan krisis utang Uni

Eropa yang dinilai sudah mengalami kemajuan.

Dari domestik, sejumlah sentimen positif yang

mendukung aksi beli investor diantaranya

adalah kebijakan BI Rate diturunkan ke

6,5% untuk menunjang pemulihan ekonomi

Indonesia, serta tingkat inflasi tahunan yang

diekspektasi akan sesuai target di bawah 5%.

BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi

Indonesia mencapai 6,6% pada akhir 2011.

Investor juga positif mengantisipasi laporan

kinerja keuangan emiten periode kuartal

III/2011.

Pada bulan Oktober, diluar ekspektasi, Bank

Indonesia (BI) akhirnya menurunkan BI Rate

25 bps menjadi 6,5% setelah selama 8

bulan ditahan di 6,75%. Inflasi di 2011 yang

diekspektasi akan lebih rendah di bawah

5% dan juga di 2012 seiring dengan koreksi

harga komoditas global. BI menilai, ke depan

pertumbuhan ekonomi negara maju akan

turun yang berpengaruh pada lesunya arus

perdagangan dunia. Namun BI meyakini

pertumbuhan ekonomi dan perbankan dalam

negeri masih kuat. Ekonomi domestik di

2011 akan tumbuh 6,6% dan 6,5% di 2012

ditopang konsumsi yang kuat dan investasi

meningkat namun ekspor akan menghadapi

I secara proaktif menurunkan tingkat suku bunga

Bdan menjaga stabilitas pada pasar obligasi untuk

mengantisipasi kemungkinan perlambatan ekonomi Indonesia.

Walaupun Indonesia saat ini sudah berada di posisi yang lebih

baik untuk menghadapi ekspektasi perlambatan pertumbuhan

global, tapi Indonesia masih akan terimbas dampaknya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bergantung pada

arus perdagangan (net ekspor) hanya sekitar 30%, sehingga

konsumsi domestik masih menjadi pilar utama pertumbuhan

ekonomi kedepannya. Namun, fluktuasi ekspektasi investor

tentang pertumbuhan ekonomi global bisa membuat harga

komoditas bergejolak, dan komoditas merupakan 65% dari

porsi pendapatan ekspor Indonesia (lihat gambar 1). Indonesia

harus tetap waspada akan porsi asing pada pasar modal lokal

yang masih cukup besar. Dalam menghadapi fluktuasi dalam

berinvestasi, Investor dihimbau untuk mendiversifikasi alokasi

aset ke berbagai instrumen investasi untuk menjaga agar

kinerja portofolio lebih terjaga dari fluktuasi.

tantangan. Penurunan BI Rate 25 bps menjadi

6,5% direspon positif perbankan dalam

negeri. Pengaruh yang paling terasa adalah

penurunan bunga kredit perumahan (KPR),

sehingga semakin banyak masyarakat yang

mampu mencicil rumah. Keputusan BI ini

memberikan sinyal bahwa BI cukup nyaman

dengan kekuatan ekonomi domestik Indonesia

dan penurunan BI Rate diharapkan tidak akan

memicu keluarnya arus dana asing.

Tingkat inflasi untuk bulan Oktober dilaporkan

cukup terjaga di level -0,12% dari level 0,27%

level September lalu karena penurunan

sejumlah harga komoditas, terutama emas

perhiasan yang tercatat turun hingga 0,11%.

Inflasi inti yoy sebesar 4,43% sedangkan

laju inflasi tahun kalender Januari-Oktober

2011 sebesar 2,85%, masih jauh di bawah

target tahunan BI sekitar 5%. Dengan level

inflasi yang cukup terkendali, BI mempunyai

ruang untuk mempertahankan atau bahkan

menurunkan BI Rate dari level 6,5% saat ini.

Cadangan devisa Indonesia saat ini

sudah berada di level yang jauh lebih kuat

dibandingkan tahun 2008 sehingga dapat

menjaga kestabilan nilai tukar rupiah di saat

gejolak penurunan bursa di bulan Agustus

dan September lalu. Tingkat cadangan devisa

tetap terjaga cukup tinggi di level US$114

miliar per 31 Oktober 2011. Posisi ini lebih

rendah sedikit dari posisi bulan September

yaitu US$114,5 miliar. Cadangan devisa

sempat mencapai US$124,6 miliar pada

bulan Agustus sebelumnya. BI yakin di kuartal

empat, cadangan devisa akan kembali naik

karena positifnya fundamental perekonomian

menjadi alasan utama bagi dana asing masuk

ke Indonesia. Terkait kepemilikan asing di

Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tercatat sebesar

Rp30,9 triliun atau menguasai 21,6% dari

total SBI, lebih rendah dari kepemilikan asing

di akhir September 2011 yang mencapai

27,36%. Sedangkan Surat Berharga Negara

(SBN) tercatat sebesar Rp219,8 triliun atau

menguasai 29,9% dari total SBN, lebih rendah

dari kepemilikan asing di akhir September 2011

yang mencapai 30,4%.


2 | Market Perspective | November 2011

Global Outlook

Dewi Huta Djaja

Research Analyst, Wealth Management Services

alaupun investor masih terus mencermati perkembangan di Uni Eropa. Sentimen investor

Wakan cukup rentan jika ada kekecewaan dalam proses implementasi karena dalam sebulan

terakhir, bursa global sudah ‘price in’ outlook yang lebih positif. Namun, banyak juga sentimen

positif yang bisa mendukung rally. Optimisme bahwa momentum pertumbuhan ekonomi di Cina

berlanjut serta semakin berkurangnya risiko AS masuk resesi dengan harapan yang cukup positif

di kuartal empat. Investor mungkin akan sedikit khawatir kemungkinan inflasi terpicu kembali

dengan kebijakan AS menstimulus pertumbuhan ekonominya dengan melakukan pembelian

sekuritas dalam jumlah besar dalam putaran tiga. Melihat kondisi negara maju yang masih

memerangi berbagai tantangan ekonomi, investor bisa mengalokasikan portofolio ke negara

berkembang seperti Indonesia, Cina dan India, yang mengandalkan konsumsi domestik sebagai

faktor pendorong pertumbuhan ekonominya.

Tabel 1. Indeks Global

Indeks

MSCI Asia Pasific Ex Japan

US S&P

MSCI World

US Dow Jones

Europe FTSE Eurofist 300

IHSG Indonesia

Cina Shanghai

Minyak mentah

Emas

Sumber: Bloomberg

Bursa global ditutup naik 10,26% untuk bulan

Oktober. Reaksi pasar cukup positif sehingga

investor mulai mengoleksi instrumen berisiko

kembali dan mendorong bursa global mencatat

kenaikan cukup signifikan. Di awal bulan, investor

mengkaji kesepakatan pemerintah Prancis,

Belgia, dan Luksemburg untuk penyelamatan

bank Dexia yang terancam bangkrut terkait krisis

utang Zona Euro. Pemimpin Eropa juga akhirnya

menyetujui rencana rekapitalisasi perbankan

eropa serta pemotongan nilai (haircut) obligasi

Yunani sebesar 50%.

AS - Data AS di bulan Oktober cukup positif.

Jumlah tenaga kerja naik 103 ribu orang

walaupun tingkat pengangguran masih tetap

berada di 9,1%. Penjualan ritel di AS dilaporkan

tumbuh sebesar 1,1% dari ekspektasi hanya

0,7%. Lalu, prospek pertumbuhan ekonomi di

AS juga terlihat lebih cerah dengan laporan GDP

kuartal ketiga AS menunjukkan laju pertumbuhan

tercepat dalam setahun yaitu tumbuh 2,5%

sesuai dengan ekspektasi, jauh lebih tinggi dari

laju pertumbuhan di kuartal dua yaitu 1,2%.

Pertumbuhan konsumsi pribadi juga meningkat

2,4% (lihat gambar 2). Halangan pertumbuhan

GDP AS di semester pertama seperti harga

bahan bakar yang tinggi serta gangguan rantai

pasokan pada sektor otomotif sudah mulai pudar,

sehingga pertumbuhan ekonomi AS untuk kuartal

ke empat juga diekspektasi akan terus membaik.

Musim laporan laba emiten juga melaporkan hasil

yang cukup baik dengan 76% dari perusahaan

yang terdaftar pada indeks S&P 500 melaporkan

laba untuk kuartal tiga di atas estimasi analis (lihat

gambar 3). Kedepannya, sektor korporasi terlihat

mulai siap untuk menambah anggaran untuk

investasi lebih lanjut karena laba dan jumlah kas

korporasi tercatat cukup tinggi.

Harga

Oktober 2011 September 2011 Perubahan (%)

427,73

1.253,30

1.217,30

11.955,01

996,01

3.790,85

2.468,25

93,32

1.743,75

377,83

1.131,42

1.104,06

10.913,38

923,41

3.549,03

2.359,22

82,34

1.614,40

13,21%

10,77%

10,26%

9,54%

7,86%

6,81%

4,62%

13,33%

Gambar 2: Pertumbuhan GDP AS didukung

oleh tingkat konsumsi yang lebih kuat

8,01%

Gambar 3: Pertumbuhan laba emiten US masih kuat

90

80

70

60

50

40

%

6

4

2

0

-2

-4

-6

-8

-10

06 07 08 09 10 11

Sumber: Bureu of Economic Analysis, Haver Analytics, Barclays Capital

%

62 60

S&P 500 Earnings Surprise Index

% dari emiten yang mencapai atau melebihi estimasi laba

68

Q3 08 Q1 09 Q3 09 Q1 10 Q3 10 Q1 11 Q3 11

Sumber: Factset, Barclays Capital

GDP US Riil

Konsumsi Privat US Riil

81 83

75 75 79 76 76

74 72 74

Eropa - Pemimpin Uni Eropa akhirnya

menyepakati tiga langkah penyelamatan Yunani

dan Eropa, meliputi penambahan dana talangan

(bailout) dari 440 miliar euro menjadi 1 triliun

euro, memangkas hutang (hair cut) pada obligasi

bermasalah Yunani hingga 50% kepada kreditor

swasta,dan program rekapitalisasi perbankan

Eropa. Reaksi pasar awalnya cukup positif, dan

selanjutnya menunggu proses implementasinya.

UE mengharapkan kerjasama dari Brazil dan

Cina untuk membeli obligasi yang ditawarkan

EFSF. Dengan ‘hair cut’ ini, beban utang Yunani

diproyeksi bisa berkurang sebesar 100 miliar euro

serta mengurangi rasio utang Yunani dari 160%

menjadi 120% terhadap PDB pada 2020. Ketiga

kesepakatan ini dipercaya mampu mencegah

penyebaran krisis utang Yunani ke Italia dan

Perancis. Pertemuan G-20 di Paris pada pekan

depan diharapkan dapat memberikan dorongan

agar UE segera merealisasikan implementasi

kesepakatan tersebut. Untuk jangka panjang,

kesuksesan solusi krisis UE membutuhkan

tingkat pertumbuhan ekonomi serta penurunan

tingkat pengangguran yang signifikan di UE.

Untuk jangka pendek, volatilitas masih ada

sejalan dengan upaya penyelesaian krisis utang

UE.

Cina - Pertumbuhan ekonomi Cina tahunan

sedikit melambat menjadi 9,1% pada kuartal

ketiga dari 9,5% pada kuartal ke dua.

Fixed investment masih menjadi pendorong

pertumbuhan ekonomi, dengan kontribusi 5%

terhadap pertumbuhan 9,4% untuk 3 kuartal

pertama tahun ini. Sedangkan, kontribusi

kekuatan konsumsi domestik sebagai faktor

pendorong pertumbuhan ekonominya juga

tidak kalah kuat, dengan angka konsumsi privat

dan publik, menyumbang 4,5% sedangkan net

ekspor mengambil 0,1%. Secara keseluruhan,

momentum pertumbuhan ekonomi Cina cukup

bertahan di kuartal 3. Namun, pengetatan

likuiditas dan penurunan pada sektor properti

mulai terlihat, kemungkinan laju pertumbuhan

kedepannya akan mendapatkan beberapa

tantangan.

India - Seperti Indonesia dan Cina, India juga

mengandalkan kekuatan konsumsi domestik

sebagai faktor pendorong pertumbuhan

ekonominya sehingga bisa dikatakan lebih

bertahan dari fluktuasi krisis di Uni Eropa dan AS.

Indonesia dan India memiliki populasi besar dan

konsumsi yang terus meningkat. Perbedaannya,

Bank Sentral India (RBI) masih fokus terhadap

ancaman inflasi, dan diekspektasi tidak akan

menurunkan suku bunga sebelum kuartal

kedua 2012. RBI meningkatkan tingkat suku

bunga acuannya sebesar 25 bps ke 8,5%, yaitu

kenaikan ketigabelas sejak bulan Maret 2010.

Dengan pertimbangan kondisi global yang belum

pasti, sepertinya RBI akan menahan kenaikan

suku bunga dibulan Desember nanti. RBI juga

menurunkan angka proyeksi pertumbuhan

ekonomi untuk tahun 2012 menjadi 7,6% dari

8% tapi menahan proyeksi angka inflasi di 7%

sampai Maret 2012 nanti.

Minyak & Emas - Pada bulan Oktober,

harga minyak naik lebih dari 13% karena

maraknya spekulasi pemimpin Uni Eropa (UE)

dapat mencegah menyebaran krisis utang,

pertumbuhan ekonomi dunia bisa kembali

melaju serta permintaan untuk komoditas akan

bertambah. OPEC juga tidak melihat keperluan

untuk merevisi tingkat produksi sampai paling

tidak dipertemuan OPEC selanjutnya pada

tanggal 14 Desember.

Harga emas juga meningkat sebanyak

8% karena pelaku pasar masih menyimak

implementasi dari kesepakatan UE. Permintaan

untuk emas kedepannya dinilai akan terus

besar. Cina dispekulasi akan mengimpor lebih

dari sekitar 400 ton emas tahun ini sedangkan

permintaan emas dari India, negara pembeli

terbesar, akan naik tahun ini. Emas mencapai

angka tertinggi di US$1.921,15 per ons pada

tanggal 9 September lalu.


3 | Market Perspective | November 2011

Menjadi yang Terdepan Bersama

Rheza Karyanto

Investments Unit Head, Product and Marketing

irst State Investments (‘FSI’) merupakan divisi internasional dari bisnis manajemen aset Commonwealth Bank of Australia.

FFSI didukung oleh Colonial First State Global Asset Management, yang merupakan salah satu perusahaan pengelola

aset terbesar di Australia dan memiliki aset kelolaan sebesar US$159,6 miliar per 30 Juni 2011. Di Indonesia, FSI telah

beroperasi selama 8 tahun dan masuk dalam 15 Manajer Investasi terbesar dengan total aset kelolaan lebih dari

Rp2,4 triliun per 30 September 2011.

FSI Indonesia memiliki 6 produk reksa dana yang didistribusikan melalui Commonwealth Bank. Kinerja produkproduk

reksa dana FSI selama tahun 2010-2011 sangat memuaskan, di mana aset kelolaan FSI Indonesia tumbuh

sekitar 20% dalam satu tahun terakhir. Meningkatnya permintaan nasabah juga telah menumbuhkan aset kelolaan

FSI di Commonwealth Bank hingga 32% tahun ini (data per 30 September 2011).

Ingin tahu apa saja produk-produk unggulan dari FSI? Simak penjelasan berikut:

Reksa Dana Saham -

FSI Indoequity Sectoral Fund

Kinerja 2 tahun terakhir *:

47,9% atau setara dengan

21,6% per tahun

Reksa dana yang berorientasi

pada pertumbuhan modal

dimana investasinya akan

menitikberatkan pada sektorsektor

yang strategis.

Keunggulan:

• Potensi return yang tinggi

dengan bobot investasi yang

besar pada saham–saham di

sektor yang memberikan

kinerja terbaik

• Dapat berinvestasi pada efek

luar negeri hingga maksimal

10% dari Nilai Aktiva Bersih.

Reksa Dana Campuran -

FSI Multistrategy Fund

Kinerja 2 tahun terakhir *:

45,7% atau setara dengan

20,4% per tahun

Reksa dana yang memiliki

fleksibilitas dalam menggunakan

strategi untuk menghadapi

berbagai skenario dan kondisi

pasar.

Keunggulan:

• Fleksibilitas yang tinggi

dalam mengatur alokasi

aset (rebalancing) dan strategi

pemilihan sahamnya sehingga

cocok untuk kondisi pasar

yang dinamis.

• Dapat berinvestasi pada efek

luar negeri hingga maksimal

10% dari Nilai Aktiva Bersih.

Reksa Dana Pendapatan Tetap -

FSI Bond Fund

Kinerja 2 tahun terakhir *:

32,6% atau setara dengan

15,2% per tahun

Reksa dana yang dikelola

secara aktif dan menitik

beratkan investasi dalam

obligasi pemerintah.

Keunggulan:

• Risiko kredit yang sangat

kecil karena diinvestasikan

pada Obligasi Pemerintah.

• Pertumbuhan modal yang

relatif lebih stabil dengan

volatilitas yang lebih rendah

dibandingkan reksa dana

saham.

Reksa Dana Pasar Uang -

FSI Money Market Fund

Kinerja 6 bulan terakhir *:

2,72% atau ekuivalen dengan

5,4% setahun.

Reksa dana yang bertujuan

untuk memberikan hasil

investasi lebih dari deposito

melalui investasi di instrumen

pasar uang, khususnya obligasi

pemerintah dan/atau korporasi

yang jatuh tempo kurang dari

1 tahun.

Keunggulan:

• Potensi imbal hasil Obligasi

Korporasi yang lebih tinggi.

• Tingkat likuiditas yang tinggi,

dengan waktu penjualan

kembali (redemption) T+1.

*Data per 30 Oktober 2011; Sumber: Bloomberg & FSI Fund Fact Sheet

Asuransi Penyakit

Kritis, Kebutuhan yang

Semakin Mendesak

Alexander Wiharja

Product Manager, Bancassurance

aat ini masyarakat mulai menyadari

Spentingnya melakukan salah satu

pilar dalam perencanaan keuangan,

yaitu perlindungan keuangan/kekayaan

(Financial/Wealth Protection). Melalui

produk asuransi jiwa, kebutuhan akan

perlindungan terhadap aset dan tujuan

keuangan ini dapat diakomodir. Terlebih

dengan adanya kombinasi manfaat

proteksi dan investasi melalui produk unit

linked, masyarakat tidak lagi perlu merasa

”rugi” ketika tidak ada risiko apapun

yang terjadi selama masa pertanggungan

karena dapat menikmati pertumbuhan

dananya secara lebih optimal daripada

disimpan di tabungan biasa.

Perkembangan lebih lanjut dari kondisi ini

adalah munculnya concern terhadap risiko

hidup, dimana semakin banyak terjadi kasus

penyakit kritis yang menimbulkan potensi

kehilangan atau menurunnya penghasilan

serta biaya yang besar untuk pengobatan

dan pemulihannya. Hal tersebut berpotensi

besar mengganggu tujuan keuangan

jangka menengah-panjang nasabah, terutama

terhadap tujuan-tujuan yang bersifat mutlak/

tidak dapat ditunda lagi seperti kebutuhan

dana pendidikan anak serta persiapan dana

pensiun.

Secara sederhana, definisi penyakit kritis

adalah suatu kondisi medis yang menyebabkan

2 hal sbb :

1. Perubahan gaya hidup seseorang (dari

kondisi mandiri, menjadi bergantung pada

bantuan alat/orang lain dalam melakukan

beberapa aktivitas).

2. Life threatening (mengancam jiwa,

menurunkan tingkat harapan hidup

seseorang).

Berikut beberapa fakta seputar penyakit kritis

yang terjadi di sekitar kita:

• Tiap 1 menit, 2 orang meninggal akibat stroke

di Asia Tenggara.

• Di dunia, setiap dua menit seorang wanita

meninggal dunia akibat kanker serviks.

• Kanker menjadi penyakit mematikan, 7,9 juta

orang meninggal per tahun di Indonesia.

• 6 dari 10 orang (60,44%) orang Indonesia

rentan terkena penyakit kritis.

Di produk COMMLink Premier, kami memiliki

produk asuransi penyakit kritis yang dapat

ditambahkan sebagai manfaat pelengkap

sehingga perlindungan terhadap Nasabah lebih

optimal, yaitu COMM Critical Illness (CI) 50

Plus, dengan manfaat sebagai berikut :

a. Manfaat: uang pertanggungan tidak

mengurangi uang pertanggungan dasar.

b. Manfaat Asuransi: 100% Uang

Pertanggungan (UP) apabila tertanggung

terdiagnosa salah satu dari 53 jenis

penyakit kritis, tambahan 50% UP apabila

tertanggung menderita salah satu dari 10

penyakit kritis utama (khusus penyakit

Angioplasty adalah 10% dari UP). Hasil

riset menunjukan bahwa 90% penyakit

kritis yang dialami termasuk dalam

penyakit kritis utama.

c. Manfaat tambahan: Santunan duka

sebesar Rp10 juta apabila tertanggung

meninggal dunia akibat sakit atau

kecelakaan, pilihan manfaat layanan

bantuan medis darurat.

d. Usia masuk: 6–60 tahun.

e. Masa perlindungan: s/d usia 70 tahun.

f. Besaran UP: min 10%-300% UP dasar,

maksimum Rp2,5 miliar (untuk penyakit

kritis utama).

g. Manfaat akselerasi Terminal Illness,

maksimum 50% UP dasar.

“Risiko Penyakit Kritis bisa terjadi kapan

saja, sementara biaya pengobatannya sangat

mahal”.

Siapkan diri Anda dengan perlindungan

Asuransi Tambahan COMM CI 50 Plus dari

Commonwealth Life.


4 | Market Perspective | November 2011

FX Update

Analisa

Pasar Forex

Mika Martumpal

Senior Market Analyst, Treasury Department

USD masih akan diminati investor saat

persepsi risiko meningkat, karena status USD

sebagai “safe heaven currency”.

Investor yang membeli USD biasanya

menginvestasikan dananya di obligasi

pemerintah Amerika Serikat. Dengan tingkat

suku bunga yang mendekati nol untuk suku

bunga jangka pendek dan kurang lebih 2%

untuk 10 tahun, maka USD lebih tepat untuk

investasi jangka pendek.

EUR saat ini berpeluang melemah akibat

masalah defisit dan utang pemerintah

Yunani yang sangat besar sehingga dapat

menyebabkan gagal bayar.

Keputusan Uni Eropa untuk memperkuat

dana stabilitas Eropa menjadi lebih dari

EUR1 triliun dan kesepakatan dari pemegang

obligasi Yunani untuk menerima sekitar 50%

haircut dari pokok utang adalah satu langkah

positif untuk mengembalikan kepercayaan

investor, namun dibutuhkan perbaikan yang

mendasar pada defisit dan tingkat utang

Eropa untuk memberikan stabilitas yang

berkesinambungan.

Aksi intervensi Bank Sentral Swiss untuk

mempertahankan nilai tukar EUR/CHF pada

1,20 saat ini adalah salah satu faktor yang

menolong EUR dari kejatuhan yang dalam.

GBP saat ini mengalami aksi jual yang besar

akibat naiknya persepsi risiko dan keputusan

dari bank sentral Inggris untuk menambah

suntikan dana ke pasar uang atau yang lebih

dikenal sebagai quantitative easing.

Kondisi ekonomi yang masih sangat lemah

adalah alasan di belakang rencana bank

sentral untuk kembali membeli obligasi

pemerintah dan swasta untuk menurunkan

yield dengan tujuan menyediakan dana murah

untuk investasi. Namun efek negatif program

pembelian obligasi adalah naiknya suplai uang

yang berpotensi meningkatkan inflasi. Saat

ini dengan inflasi di atas 5% dan tingkat suku

bunga mendekati nol, maka GBP di jangka

panjang akan cenderung lemah.

Aksi intervensi Bank of Japan senilai kurang

lebih USD100 miliar pada akhir Oktober 2011

mengakibatkan USD/JPY naik drastis dari

75,50 ke 79,50 hanya dalam hitungan jam.

Penguatan JPY telah mengakibatkan turunnya

nilai ekspor Jepang dan merupakan ancaman

bagi pertumbuhan ekonomi Jepang. Bank

of Japan yang saat ini hanya memiliki

dana terbatas untuk intervensi, sehingga

diperkirakan hanya akan melakukan intervensi

dalam jumlah besar ketika nilai tukar JPY

menguat banyak.

Perekonomian Singapura yang mengandalkan

perdagangan internasional dan jasa sangat

bergantung pada kesehatan perekonomian

negara-negara seperti AS dan Cina.

Dengan kondisi yang tidak menguntungkan

di AS dan melambatnya perekonomian Cina

menyebabkan SGD melemah terhadap USD.

Turunnya tingkat inflasi juga mengurangi

kecenderungan Monetary Authority of

Singapore untuk menjaga SGD tetap kuat.

IDR cenderung melemah terhadap USD

akibat aksi jual di pasar saham dan obligasi

pemerintah yang dilakukan oleh investor asing.

Turunnya nilai rupiah, rendahnya harga saham

dan obligasi pemerintah seharusnya menjadi

peluang investasi yang sangat bagus karena

pada dasarnya perekonomian domestik masih

bertumbuh kuat. Inflasi yang cenderung turun

dan tingkat suku bunga IDR yang masih

menarik dan tingginya belanja konsumen dan

investasi adalah faktor-faktor utama di balik

peluang menguatnya IDR di jangka waktu

menengah dan panjang.

Keputusan Reserve Bank of Australia untuk

menurunkan tingkat suku bunga sebesar 25

bps ke 4,50% adalah akibat kecenderungan

inflasi yang turun dan ancaman melemahnya

perekonomian global.

Dengan tingkat inflasi tahunan di sekitar

3–3,5% dan harga komoditas yang lebih

rendah maka masih terbuka kemungkinan

turunnya suku bunga RBA, hanya saja

dengan tingkat pengangguran yang rendah

maka penurunan suku bunga akan terbatas.

Turunnya tingkat suku bunga RBA tidak

otomatis menyebabkan AUD lemah karena

dengan inflasi yang juga turun maka real

interest rate AUD tetap positif.

Turunnya surplus perdagangan dan

melambatnya inflasi adalah dua faktor

penggerak domestik untuk NZD.

Turunnya surplus perdagangan adalah faktor

yang bersifat negatif sedangkan turunnya

inflasi adalah faktor positif. Dengan tingkat

suku bunga yang masih rendah, maka kecil

kemungkinan bank sentral menurunkan

suku bunga akibat turunnya inflasi. Dengan

turunnya inflasi dan suku bunga yang relatif

stabil maka nilai NZD secara relatif menjadi

lebih menarik.


5 | Market Perspective | November 2011

Strategi Forex Trading

Dengan tingginya fluktuasi pasar, maka disarankan untuk strategy FX adalah jangka pendek dan terus memonitor perkembangan pasar.

Bila pasar saham dan komoditas dunia terus turun sebaiknya kita membeli USD atau JPY dan menjual mata uang yang lain. JPY tidak

terlalu direkomendasikan karena adanya faktor intervensi yang sulit untuk diperkirakan. Hal yang sebaliknya kita lakukan jika pasar saham

dan komoditas dunia naik.

Namun dengan kondisi saat ini di mana mata uang seperti AUD, EUR dan IDR yang walaupun turun, namun secara teknikal masih

cenderung kuat melawan USD, disarankan untuk beli mata uang AUD, NZD dan IDR di saat melemah terhadap USD.

Tapi jika AUD, NZD dan IDR terus melemah di bawah tingkat support utama maka kita harus kembali pegang USD atau JPY.

Keunggulan dari memegang USD saat ini hanyalah harapan bahwa harga saham, komoditas dan mata uang dengan suku bunga tinggi

terus turun terhadap USD sehingga bisa dibeli dengan harga murah. Investor tidak bisa mengandalkan bunga USD karena nilainya hampir

sama dengan nol.

DISCLAIMER

Kecuali dinyatakan lain, semua data bersumber dari berita media massa, dan tidak diterbitkan oleh PT Bank Commonwealth (PTBC). PTBC harus dijamin untuk dibebaskan dari tanggung jawab, termasuk tetapi tidak terbatas

pada penuntutan hukum oleh pihak ketiga. PTBC beserta direkturnya, karyawannya dan perwakilannya dalam Lampiran ini selanjutnya bersama-sama disebut sebagai “Grup” “Laporan ini diterbitkan semata-mata untuk

tujuan informasi dan tidak boleh ditafsirkan sebagai suatu ajakan atau penawaran untuk membeli efek atau instrumen keuangan. Laporan ini telah disusun tanpa mempertimbangkan tujuan, situasi keuangan dan kapasitas

untuk menanggung kerugian, pengetahuan, pengalaman atau kebutuhan orang-orang tertentu yang mungkin menerima laporan ini. Tidak ada anggota dari Grup yang melakukan atau harus melakukan penilaian kelayakan atau

penyesuaian laporan untuk penerima laporan ini yang karenanya tidak mendapatkan manfaat dari perlindungan peraturan dalam hal ini. Laporan ini bukan nasihat atau petunjuk. Semua penerima laporan ini harus, sebelum

bertindak atas dasar informasi dalam laporan ini, mempertimbangkan kewajaran/kelayakan dan kesesuaian informasi, dengan memperhatikan tujuan-tujuan mereka sendiri, situasi keuangan dan kebutuhan, dan, jika perlu

mencari profesional yang tepat, memperhatikan kondisi valuta asing atau nasihat keuangan tentang isi laporan ini sebelum membuat keputusan investasi. Kami percaya bahwa informasi dalam laporan ini adalah benar dan

setiap pendapat, kesimpulan atau rekomendasi yang cukup telah diadakan atau dibuat, berdasarkan informasi yang tersedia pada saat kompilasi, tetapi tidak ada pernyataan atau jaminan, baik tersurat maupun tersirat, yang

dibuat atau disediakan untuk akurasi, kehandalan atau kelengkapan setiap pernyataan yang dibuat dalam laporan ini. Setiap pendapat, kesimpulan atau rekomendasi yang ditetapkan dalam laporan ini dapat berubah sewaktuwaktu

tanpa pemberitahuan dan mungkin berbeda atau bertentangan dengan, kesimpulan pendapat atau rekomendasi yang diungkapkan oleh Grup di tempat lain. Kami tidak berkewajiban untuk, dan tidak,memberitahukan

perkembangan terkini atau terus mengikuti informasi terkini yang terdapat dalam laporan ini. Grup tidak menerima tanggung jawab untuk setiap kerugian atau kerusakan yang timbul akibat dari penggunaan seluruh atau setiap

bagian dari laporan ini. Setiap penilaian, proyeksi dan prakiraan yang terkandung dalam laporan ini didasarkan pada sejumlah asumsi dan perkiraan dan tunduk pada kontinjensi dan ketidakpastian. Asumsi dan perkiraan

yang berbeda dapat mengakibatkan hasil material yang berbeda pula. Grup tidak mewakili atau menjamin bahwa salah satu proyeksi penilaian atau prakiraan, atau salah satu dasar asumsi atau perkiraan, akan dipenuhi.

Kinerja masa lalu bukan merupakan indikator yang dapat diandalkan untuk kinerja masa depan Grup tidak menjamin kinerja dari produk investasi atau pembayaran kembali modal dengan produk yang didistribusikan oleh

PTBC. Investasi dalam produk ini bukan merupakan simpanan atau kewajiban lainnya dari Grup atau anak perusahaannya dan setiap jenis produk investasi memiliki risiko investasi termasuk hilangnya pendapatan dan modal

yang diinvestasikan. Contoh yang digunakan dalam komunikasi ini hanya untuk ilustrasi. Semua materi yang disajikan dalam laporan ini, kecuali bila ditentukan lain, berada di bawah hak cipta Grup. Tak satu pun dari materi,

maupun isinya, maupun salinannya, dapat diubah dengan cara apapun, ditransmisikan ke, disalin atau didistribusikan kepada pihak lain, tanpa izin tertulis dari perusahaan terkait yang menjadi bagian dalam Grup. Grup, berikut

agennya, asosiasinya dan kliennya memiliki atau telah memiliki posisi panjang atau pendek pada efek atau instrumen keuangan lainnya yang disebut di sini, dan dapat setiap saat melakukan pembelian dan/atau penjualan terhadap

kepentingan atau surat berharga dalam kapasitasnya sebagai prinsipal atau agen, termasuk menjual atau membeli dari klien atas dasar pokok dan dapat terlibat dalam transaksi yang tidak konsisten dengan laporan ini.

Silahkan melihat website kami di www.commbank.co.id untuk informasi lebih lanjut. Jika Anda ingin berbicara dengan seseorang mengenai instrumen keuangan yang dijelaskan dalam laporan ini, silakan hubungi kami hubungi

Call Centre kami di 5000 30 atau email kami di customercare@commbank.co.id.

commbank.co.id

More magazines by this user
Similar magazines