o_19plqrmlj1echfae8qr173n1ej9a.pdf

depra

THE AHOK WAY - Hidup adalah Kebenaran, Mati adalah Keuntungan

Oleh Piter Randan Bua

Hak Cipta © 2014, Piter Randan Bua

Managing Editor

Desain cover

Layout

Penyunting Naskah

Proof Reader

: James Yanuar

: Denny Octavianus

: Felly Meilinda

: James Yanuar & Jonathan Arifin

: Sansulung Darsum

Diterbitkan oleh:

PT. VISI ANUGERAH INDONESIA

Jalan Karasak Lama No.2 - Bandung 40235

Telp : 022-522 5739 - Fax : 022-521 1854

Email : visipress@visi-bookstore.com

ISBN 978-602-1315-07-1

Cetakan pertama, Maret 2014

Cetakan kedua, Mei 2014

Cetakan ketiga, November 2014

Indonesian Edition © Visipress 2013

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang

Dilarang memperbanyak sebagian atau

seluruh isi buku ini tanpa seizin Penerbit.

Member of CBA Indonesia

No : 05/PBL-BS/1108/CBA-Ina

Member of IKAPI

No : 185/JBA/2010


PENGANTAR

PENULIS

Di Sungai Sebulu, Kecamatan Gantung, Ahok di masa kecilnya sering

memancing ikan. Sungai yang tenang tapi dihuni buaya-buaya ganas

dan Ahok pernah hampir menjadi korbannya. Walaupun sungai itu

dihuni buaya-buaya berbahaya tapi masyarakat selalu tertarik dengan pesona

dan kekayaannya. Mereka tetap memancing dan mencari ikan di sana. Sudah

banyak yang menjadi korban keganasan buaya Sungai Sebulu itu, tapi ia tetap

dikunjungi. Masyarakat Belitung Timur tak sanggup menahan hasrat untuk menikmati

‘mutiara’ yang terkandung dalam sungai itu walau harus menantang

maut. Kalau tak waspada, akan kehilangan nyawa.

Seperti politik di negeri ini, menawarkan banyak sensasi kenikmatan

tapi juga maut dan penderitaan. Karena itulah, ia tetap dikejar dan yang tak

waspada, menanggung risikonya. Ahok ada dalam iringan para pengejar itu,

tapi keberuntungan masih memihaknya. Rahasianya, ia tetap waspada dengan

melangkah dalam Jalan Kebenaran. Jalan Kebenaran itu sempit, terjal,

gersang, berbatu, dan penuh cadas yang tajam. Di sana pulalah ular-ular beludak

dengan bisa yang mematikan bermukim.

Siap mematuk dan menghancurkan

tumit siapapun, yang berjalan di atasnya.

Siapapun yang berani memilih jalan itu,

ia harus rela kakinya terluka. Menderita

7


THE AHOK WAY

kesakitan dengan risiko dipagut ular

berbisa. Hanya mereka yang tak menyayangi

nyawanya yang berani menempuh

jalan itu.

Ahok menatap jalan itu sembari

membenarkan posisi kacamatanya,

agar pandangannya jelas dan hatinya

mantap. Ia melangkah dengan perlahan

di atas jalan itu, sembari menahan sakit

yang tak tertahankan. Ia mengerang, meringis tapi terus berjalan. Akhirnya ia

terbiasa dengan kesakitan itu dan tak memedulikannya lagi.

Di ujung jalan itu ada oase yang menyegarkan jiwa dan membawa kesejukan.

Jalan Kebenaran, jalan yang diinginkan semua orang tapi jarang dipilih

karena terlalu berisiko. Tapi Ahok memilihnya demi meretas asa mengatasi persoalan

bangsa ini yang semakin menahun. Sebab jalan itu adalah satu-satunya

jalan yang bisa menyelamatkan dirinya dari ‘buaya’ politik yang ganas. Jalan

itu harus ditempuhnya meskipun ia harus mati memperjuangkan kebenaran.

Baginya, ‘Hidup adalah Kebenaran, Mati adalah Keuntungan.’

Seperti benang kusut yang menggumpal, demikianlah sulitnya mengurai

persoalan yang diderita bangsa ini. Telinga kita telah bising dengan kritik dan

solusi yang ditawarkan, tapi tak banyak memberikan jalan keluar. Banyak yang

berteriak bahwa menegakkan kebenaran adalah solusi terbaik tapi para pemimpin

bangsa ini hanya sedikit yang mau berjalan ke sana. Akibatnya rakyat

semakin menderita dan kehilangan harapan. Hak-hak mereka dirampok dan

dijarah oleh segelintir orang. Rakyat menjadi asing di rumah sendiri, karena

bangsa ini tak berpihak kepada mereka. Pemimpin silih berganti, pulang dan

pergi, hilir mudik tapi nasib mereka tetap sama. Miskin dan menderita.

Satu-satunya harapan terakhir adalah penegakan hukum yang berpihak

pada kebenaran. Tapi ia terkulai lemas juga. Hukum telah dikhianati oleh penegak

hukum itu sendiri. Kenyataanya adalah hukum seperti pedang yang telah

8


PENGANTAR PENULIS

diasah, tajam, tapi dibiarkan berkarat tak terpakai. Mereka yang berhak mengayunkannya

tak bisa berbuat apa-apa. Mereka seolah terhipnotis dengan sebuah

mantra. Tak berani mengayunkannya, mungkin karena takut mengenai diri

sendiri.

Di tengah pesimisme rakyat yang semakin menebal karena pemimpin mereka

tak dapat lagi bisa dipercaya, muncullah Ahok seolah membawa harapan

baru. Ia mencoba mengurai benang kusut

yang menggumpal itu. Memulainya

dari Negeri Laskar Pelangi hingga ke

Ibu Kota Negara. Kemunculan Ahok

menyentak banyak orang tapi tak sedikit

juga yang memandangnya sinis.

Meremehkannya. Tapi Ahok tak peduli.

Ia mencoba menarik ‘pedang’ yang

berkarat itu. Mengayunkannya dengan penuh keberanian, sehingga mereka

yang tak berpihak pada kebenaran menjadi berang, tapi akhirnya lari terbiritbirit.

Ahok bersama Jokowi terus berusaha mengurai benang kusut itu di atas

jalan yang bercadas tajam dan dihuni ular berbisa. Merajutnya menjadi sebuah

kekuatan yang memihak pada kebenaran demi keadilan. Tak ayal, duet yang

menyebut dirinya pelayan rakyat ini sedikit demi sedikit mulai membangkitkan

harapan dan semangat rakyat yang telah lama meredup. Dampaknya, siapapun

yang menghujat duet ini, rakyat bereaksi membela mereka. Siapapun yang

mencemooh akan ‘kualat,’ terhempas oleh kekuatan rakyat sebagai pemegang

‘suara Tuhan.’

Kini harapan baru itu membesar menjadi sebuah gerakan yang tak dapat

dibendung. Rakyat banyak menginginkan Jokowi dan Ahok melangkah lebih

besar lagi membenahi Indonesia. Menjadikan Indonesia ‘rumah’ yang nyaman

dihuni. Mengayomi semua dalam harmoni keberagaman.

Semoga asa yang menggebu-gebu itu tak padam di tengah jalan, karena

9


THE AHOK WAY

Jokowi dan Ahok tak sanggup memenuhinya. Atau tersandung dan tersandera

seperti pendahulu-pendahulu mereka. Tapi apapun alasannya, kita perlu

berbangga karena masih ada pemimpin yang muncul yang berpihak pada

kepentingan kebenaran dan keadilan. Setidaknya, melalui jejak yang mereka

toreh. Pemimpin yang memiliki pandangan humanis dan semata-mata untuk

mengembalikan kebenaran itu pada posisi yang seharusnya. Walaupun dengan

tertatih-tatih.

Sayang dalam buku ini, saya hanya bisa melukis secuil dari jejak-jejak kaki

Ahok, sebatas yang muncul di permukaan dan yang dapat saya jangkau. Semoga

menjadi inspirasi dan dapat diuji kemujarabannya mengurai benang kusut permasalahan

bangsa ini. Buku ini tak bermaksud menjadikan Ahok menjadi superior

dari anak-anak bangsa lainnya. Melainkan akan menjadi kontrol baginya

sekaligus akan menamparnya jika berpaling dari Jalan Kebenaran yang telah

dipilihnya.

‘Siapa mengejar kebenaran dan kasih

akan memperoleh kehidupan, kebenaran, dan kehormatan’

Salam Kebenaran,

Piter Randan Bua

10


Jalan Ahok

dalam

Menegakkan

Kebenaran

1


MEMILIH

JALAN KEBENARAN

Ahok berjalan di antara kerumunan rakyat yang mengelu-elukannya.

Di sisi kirinya ada Veronica Tan, istri yang dikasihinya. Ia mengulurkan

tangan menyalami semua orang yang berjejer sepanjang jalan

yang dilaluinya. Beberapa anak kecil berjalan di belakangnya mengelu-elukannya

sambil memanggil-manggil namanya. Itulah yang terjadi saat ia melakukan

kampanye Pilgub 2007 Bangka Belitung, di Pangkal Pinang. Rakyat seperti

dibangkitkan semangatnya. Padahal sebelumnya tulang-tulang mereka lunglai,

lemas tanpa gairah dengan gereget membara di hati. Kecewa. Marah hingga

apatis melihat keseharian pejabat dan wakil mereka yang berkhianat. Mereka

yang di awalnya berjanji dan bersumpah atas nama Tuhan untuk melayani rakyat

sebaik-baiknya, berbalik menjadi pengkhianat dan merampok hak-hak rakyat,

sehingga rakyat menjadi sengsara dan menderita kesusahan besar. Sebuah paradoks

di bangsa yang begitu sensitif dengan isu-isu agama dan memiliki rumah

ibadah bak jamur di musim hujan, begitu gamang kalap mata mencintai kejahatan.

Kenyataan ini semakin memalukan saat institusi agama juga terperosok ke

dalam lubang yang sama–korupsi dan kemunafikan. Bangsa ini dalam kaca mata

para teolog, memuliakan Allah dengan bibirnya, tapi hatinya menjauh dari-

Nya. Entah sampai kapan kenyataan ini akan berlanjut tapi kita tak boleh patah

semangat.

13


THE AHOK WAY

Kehadiran Ahok seolah menjadi penguat bahwa setiap zaman akan selalu

muncul seorang pemimpin yang membawa sebuah pengharapan. Sejarah mencatat

bahwa bangsa-bangsa di dunia yang mengalami pergolakan moral selalu

memunculkan pribadi-pribadi yang membawa kepedulian dan bertekad

melakukan sebuah perubahan. Mereka kadang hadir di tengah kefrustrasian

dan keputusasaan untuk menyerukan kebenaran dan keadilan, menyejukkan

hati yang dahaga dan lapar dengan

kebenaran dan keadilan. Tak sedikit

di antara mereka menyandang nama

seorang politisi sekaligus nabi.

Musa misalnya, ia adalah pemimpin

agama sekaligus pemimpin politik

yang dikenal dalam tiga agama besar:

Yahudi, Kristen, dan Islam. Ia

bertugas membebaskan kaumnya

dari perbudakan di Mesir. Ada pula Muhammad SAW, Nabi kaum muslimin

yang hadir memberikan pencerahan di tengah bejatnya manusia karena degradasi

moral di kejahatan padang pasir. Dan Isa Al Masih (Yesus Kristus) yang

datang membawa rekonsiliasi dengan prinsip kasih dalam kegamangan manusia

terhadap sesamanya. Tak sekadar mengajarkan kasih, tapi membebaskan manusia

dari belenggu dosa sebagaimana kesaksian kitab suci orang Nasrani.

Di deretan masyarakat biasa, ada juga yang melakukan fungsi sama walaupun

tak menyandang nama sebagai nabi, tapi mereka melakukan fungsi ‘kenabian.’

Mereka adalah Mahatma Gandhi di India, yang berusaha mendamaikan

dua faksi yang saling bertikai, walaupun akhirnya ia harus membayar dengan

nyawanya. Bunda Teresa juga di India, yang mengabdikan dirinya untuk masyarakat

miskin dari yang termiskin. Nelson Mandela dan Marthen Luther

King di Afrika dan Amerika, yang berjuang menentang perbudakan dan diskriminasi

terhadap orang-orang kulit hitam dan pelecehan terhadap hak asasi

manusia.

14


Memilih Jalan Kebenaran

Masih banyak lagi deretan nama-nama yang bisa kita ingat, memiliki hati

yang mulia karena kecintaannya kepada nilai-nilai kemanusiaan. Mereka menentang

ketidakadilan walaupun harus membayarnya dengan nyawa. Ada yang

jasadnya masih bisa dikubur dengan terhormat, tapi ada juga yang dibuang begitu

saja sehingga binatang buas melahapnya atau ditumpuk seperti binatang

dalam lubang yang sama tanpa iringan doa dalam liang lahat yang tidak wajar.

Ada pula yang hilang dengan misterius tanpa jejak. Sebut saja Wiji Thukul, di

Indonesia dan beberapa aktivis 1998 yang sampai kini tak tahu di mana rimbanya.

Ada lagi Baharuddin Lopa dan Munir yang kematiannya misterius dan tak

tahu siapa pelaku pembunuhnya. Sampai sekarang masih teka-teki tanpa jawaban.

Mereka meregang nyawa demi memperjuangkan hak-hak hidup mereka

yang dirampas oleh saudara sebangsa sendiri. Mereka dibunuh dan dihabisi

di rumah sendiri yang seharusnya menjadi pelindung mereka. Mereka pergi

dengan kesedihan dan keberuntungan

tidak memihak mereka, karena

mereka memilih menjadi martir kebenaran.

Kini, entah apa yang mereka

akan pikirkan seandainya masih di

sini. Mungkin mereka masih merintih

kesakitan dalam kesunyian

karena perjuangan mereka tak kunjung

tercapai. Kemanusiaan masih diinjak-injak dan dilecehkan. Di negeri yang

katanya beradab ini.

Waktu terus berjalan membawa duka tersendiri bagi para pejuang kebenaran

dan keadilan. Kehadiran mereka dianggap sebagai ancaman. Padahal

sebenarnya tidak. Mereka hanya ingin kebenaran itu dikembalikan ke tempat

yang sesungguhnya untuk mengayomi semua untuk sebuah harmoni. Mereka

dipandang sinis dan dianggap aneh. Tapi tak sedikit juga yang disanjung walau

kadangkala sanjungan itu tak sempat lagi mereka nikmati. Tak sedikit penderi-

15


THE AHOK WAY

taan dan pengorbanan yang mereka harus tanggung. Hanya keteguhan hati yang

sanggup membuat mereka bertahan.

Hal yang sama menimpa Ahok saat mencoba merajut dan membangun

tembok bangsa yang hampir runtuh ini, disobek oleh intoleransi dan diskriminasi

berbau primordial. Tak hanya itu, ia mendapatkan perlawanan sengit

dalam membenahi birokrasi ‘bobrok’ bangsa ini. Tapi tekadnya yang tak

tanggung-tanggung untuk mengubah bangsa ini menjadi lebih baik membuatnya

suka dan berbangga walaupun menanggung banyak penderitaan. Dengar

apa yang dikatakannya, “Saya rela mati demi konstitusi dan menegakkan

kebenaran.” Bagi Ahok tak ada yang lebih tinggi daripada menegakkan kebenaran

walaupun ia harus membayarnya dengan harga yang mahal. Ia tahu duka

yang harus ditanggungnya tapi ia tetap memilih jalan itu. Baginya, melangkah

dalam Jalan Kebenaran yang terjal masih jauh lebih baik dari pada jalan

yang dianggap lurus tapi ujungnya menuju kematian. Jalan kematian itu adalah

korupsi, menjual kebenaran dan keadilan,

manipulasi dan mengorbankan

orang lain, ingkar terhadap

sumpah, Ahok tak mau menempuh

jalan itu. Karena itu, ia mengatakan,

“Saya memilih taat pada konstitusi

daripada konstituen, apapun risikonya.”

Ia melakoninya. Tak sekadar

janji manis yang diucapkan saat berjalan

keliling di antara rakyat yang mengelu-elukannya. Ia tak sekadar berjanji

karena mencari dukungan tapi dibuktikannya dengan pengabdian sepenuh hati

dalam pilihan Jalan Kebenaran yang penuh risiko.

16

More magazines by this user
Similar magazines