Jurnal Teknobiologi, 1(1) - perpustakaan universitas riau

lib.unri.ac.id
  • No tags were found...

Jurnal Teknobiologi, 1(1) - perpustakaan universitas riau

Jurnal Teknobiologi, 1(1) 2010: 01 - 06ISSN : 2087-5428HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KEJADIAN HIPERMETROPIADI POLIKLINIK MATA RSUD ARIFIN ACHMAD PEKANBARU PERIODE 1JANUARI – 31 DESEMBER 2009Laode Burhanuddin Mursali, Asniel Sanatu, dan Tengku AnitaFakultas Kedokteran Universitas Riau, PekanbaruABSTRAKPenglihatan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam seluruh aspekkehidupan termasuk diantaranya pada proses pendidikan. Seorang siswa tanpa penglihatanyang baik akan sulit menyerap dan memahami pelajaran yang diberikan oleh gurunyadalam proses kegiatan belajar mangajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian hipermetrop pada pasien di PoliklinikMata RSUD Arifin achmad Pekanbaru periode Januari – Desember 2009. Dari penelitianini diketahui jumlah penderita hipermetrop yang berkunjung ke poliklinik mata dalamperiode di atas adalah 257 pasien , jumlah penderita yang bukan hiper metrop adalah 1766orang dari total 2023 kunjungan. Berdasarkan tingkat pendidikan yang tertinggi adalahSekolah Menengah Atas (39,74%) dan terendah adalah Sekolah Dasar (15,54%). Tidakdidapatkan hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan kejadianhipermetrop (pvalue = 0,593).Keywords : hipermetrop, tingkat pendidikanPENDAHULUANKelainan pada indera penglihatanakan menjadi suatu hambatan bagiseseorang dalam menjalankan aktivitassehari-hari dan mewujudkan cita-citanya,disamping itu juga menjadi masalahdalam mencapai kemajuan baik secaraindividual ataupun sebagai kelompok/bangsa. Di antara kelainan-kelainan padamata, hipermetrop merupakan kelainanrefraksi terbanyak urutan ke-2 setelahkelainan refraksi miop (rabun jauh) yangdatang berobat ke poliklinik mata(Pamekar, 1992).Hipermetrop adalah kelainanrefraksi dimana sinar sejajar yang berasaldari tak berhingga memasuki matadifokuskan dibelakang retina. Dikatakanjuga mata kekurangan kekuatan (+) plus.Hal ini dapat disebabkan oleh axiallength mata lebih pendek dari normal,sehingga mata tidak cukup mempunyaikekuatan plus untuk memfokuskanbayangan di retina ( Garcia. Etal, 1989 ).Prevalensi hipermetrop menurutjenis kelamin dan tingkat pendidikanbelum diketahui, tetapi tapi terdapat buktibahwa prevalensi hipermetrop1


dipengaruhi oleh etnik. Orang Amerika,Amerika Afrika, dan Pasifik dilaporkanmempunyai prevalensi hipermetrop yangtinggi. Suatu penelitian dari 1880 anaksekolah Cina di Malaysia menunjukkanprevalensi hipermetrop yang lebih dari+1,25 D adalah 1,2% (arno, et al., 2001).Setakat ini belum tersedia datayang jelas mengenai kejadianhipermetrop di kota Pekanbaru, olehkarenanya peneliti tertarik untukmelakukan penelitian di RSUDPekanbaru mengenai Hubungan tingkatpendidikan dengan kejadianhipermetropia di poliklinik mata rsudarifin achmad pekanbaru periode 1januari – 31 Desember 2009?”.Mata merupakan organ inderayang komplek yang peka cahaya. Dalamwadah pelindungnnya, masing-masingmata mempunyai suatu lapisan sel-selreseptor, suatu sistem optik (kornea,lensa, akuos humor, korpus vitreum)untuk memusatkan cahaya pada reseptordan sistem saraf untuk menghantarkaninpuls dari reseptor ke otak (Guyton,2003).Bila semua permukaan refraksimata dijumlahkan menjadi satu secaraaljabar dan dibayangkan sebagai sebuahlensa, susunan optik mata normal akanterlihat secara sederhana dan skemanyasering disebut sebagai reduced eye. 10(Hollwitch, 1993). Skema ini sangatberguna untuk perhitungan sederhana.Pada reduced eye dibayangkan hanyaterdapat satu lensa dengan titik pusatoptic 17 mm di depan retina danmempunyai daya bias total 59 dioptripada saat mata melihat jauh(Sastradiwira, 1998).Gambar 1. Mata sebagai sebuah kameraPembentukan bayangan padaretina terjadi dengan pemusatan suatubayangan benda pada retina. Bayanganini terbalik dari benda benda aslinya.Namun demikian persepsi otak terhadapbenda tetap dalam keadaan tegak., tidakterbalik seperti bayangan yang terjadi diretina. Hal ini terjadi karena otak sudahterlatih menangkap bayangan yangterbalik itu sebagai keadaan normal(Vaughan, et al., 2000).Hipermetrop adalah suatukeadaan kelainan refraksi, dimana sinarsinarsejajar masuk bola mata tanpaakomodasi (dalam keadaan istirahat)akan dibiaskan di belakang retina ( Ilyas,2


200). Definisi serupa menurut Deborah(1995), adalah suatu konsep yang lebihsulit dijelaskan dari miop. Istilahpenglihatan jauh ikut berperanmenimbulkan kesulitan tersebut.Kesalahan konsepsi di antara orang awambahwa presbiop adalah penglhatan jauhdan bahwa seseorang yang melihat jauhdengan baik berpenglihatan jauh.Gambar 2. Pemfokusan bayangan padamata hipermetropPada penderita hipermetropterjadi gejala sebagai berikut (Ilyas,2004).1. Kabur waktu melihat dekat tetapi jelassaat melihat jauh2. Keluhan astenopia antara lain sakitkepala3. Kecenderungan penderita untukmenyempitkan mata saat melihatdekat.BAHAN DAN METODEPenelitian ini adalah penelitiananalitik dengan pendekatan deskriptifretrospektif, yaitu dengan melihatkembali status penderita yang terdapatdalam Rekam Medis RSUD ArifinAchmad Pekanbaru. Dilaksanakan padabulan Maret-April 2010.Populasi dari penelitian ini adalahpenderita hipermetrop yang berobat diPoliklinik Mata RSUD Arifin AchmadPekanbaru Periode 1 Januari 2009- 31Desember 2009. Sampel penelitian iniadalah semua populasi yang memenuhikriteria inklusi, yaitu mempunyai datayang lengkap mengenai umur, jeniskelamin, pekerjaan, pendidikan, danbesarnya diopri koreksi. Sedangkan yangdiluar kriteria di atas adalah kriteriaekslusinya. Teknik pengambilan sampelyang digunakan adalah purposivesampling.HASIL DAN PEMBAHASANBerdasarkan data yang diperolehpeneliti, maka penelitian inimenghasilkan beberapa hasil disajikanpada Tabel berikut.Tabel 1. Distribusi penderita yang datangke Poliklinik Mata RSUD ArifinAchmad Pekanbaru periode 1januari – 31 desember 2009DiagnosisD Jumlah (n)HipermetropBukan Hipermetrop2571766Total 20233


Dari Tabel di atas diketahuibahwa penderita hipermetrop adalah 257orang dari 2023 pasien yang datang kePoliklinik Mata RSUD Arifin Achmaddalam periode 1 januari – 31 desember2009, dengan persentase adalah 12,7 %dari keseluruhan penderita yangmenderita keluhan/ penyakit mata diRSUD Arifin Achmad dalam periodetersebut di atas.Hasil yang lebih tinggi didapatkanRusdayani di RSUP M. Djamil padangyang menyatakan persentase penderitahipermetrop adalah 43,08 % dari 13023pasien yang datang ke Poliklinik padatahun 2000.(RUSDAYANI)Sementara Distribusi penderitahipermetrop berdasarkan tingkatpendidikan di Poliklinik Mata RSUDArifin Achmad Pekanbaru periodeJanuari – Desember 2009 diperlihatkanpada Tabel berikut :Tabel 2. Distribusi frekuensi penderitahipermetrop berdasarkanpendidikanPendidikan Jumlah (n) %SDSMPSMAPT29221027411,5414,1039,7454Total 257 100Dari Tabel di atas terlihat bahwapenderita hipermetrop terbanyak adalahtingkat pendidikan SMA yaitu sebanyak62 orang (39,74%), diikuti perguruantinggi sebanyak 54 orang (34,62%), SMP22 orang (14,10%), dan SD sebanyak 18orang (11,54%). Hal di atas didukungoleh penelitian H. Tanjung di RSUPAdam Malik medan yang menyatakanbahwa penderita terbanyak hipermetropadalah SMA (53,2%). Hal ini mungkindisebabkan oleh gaya hidup danpenggunaan teknologi/ monitor denganwaktu berlebihan, atau membaca terlaludekat, sehingga membuat mata lelahkarena harus bekerja keras dalam waktuyang cukup lama/ tidak ada istirahatkarenan penggunaan yang dominan.Lebih jauh Distribusi penderitaayang bukan hipermetrop berdasarkantingkat pendidikan di Poliklinik MataRSUD Arifin Achmad Pekanbaru periodeJanuari – Desember 2009 diperlihatkanpada tabel berikut :Tabel 3. Distribusi frekuensi penderitabukan hipermetrop berdasarkanpendidikanPendidikan Jumlah (n) %SDSMPSMAPT20642583230311,6624,0647,1217,16Total 1766 100Bila dilihat sebaran distribusifrekuensi pada Tabel 2, maka perludilakukan penggabungan sel padavariabel tingkat pendidikan untuk dapat4


dilakukan uji analisis. Sehingga setelahdilakukan penggabungan sel makavariabel tingkat pendidikan akan terbagiatas :1. Rendah (SD + SMP)2. Tinggi (SMA + Perguruan tinggi)Berdasakan Tabel 4 dapat dilihathubungan antara tingkat pendidikandengan angka kejadian hipermetrop. Darihasil uji statistik didapatkan sehinggadapat dikatakan bahwa tingkatpendidikan tidak memiliki hubunganyang bermakna dengan angka kejadianhipermetrop secara statistik.Tabel 4. Hubungan Tingkat pendidikan dengan kejadian HipermetropDiagnosisTingkat Pendidikan Hipermetrop BukanHipermetropRendah Tinggi 51 (2,52%) 631 (31,19%)176 (8,70%) 1135 (56,10%)p value0,593KESIMPULAN1. Jumlah penderita hipermetrop diPoliklinik Mata RSUD Arifin AchmadPekanbaru periode 1 Januari – 31Desember 2009 adalah 257 pasien.2. Jumlah penderita yang bukanhipermetrop di Poliklinik Mata RSUDArifin Achmad Pekanbaru periode 1Januari – 31 Desember 2009 adalah1766 pasien.3. Menurut tingkat pendidikan padapenderita hipermetrop tertinggi adalahSMA (38,47%) dan terendah adalahSD (11,54%).4. Menurut tingkat pendidikan padapenderita hipermetrop tertinggi adalahSMA (47,12%) dan terendah adalahSD (11,66%).5. Tingkat pendidikan tidak mempunyaihubungan yang bermakna secarastatistik dengan kejadian hipermetrop.DAFTAR PUSTAKAAmo, J. J.F, et al. 2001. Care of thePatient with Hyperopia. In :Optometric Clinical PracticalGuideline. American OptometricAssociatiotl. l-50.Abraham, L.M. & Kuriakose, T. 2005.Sivanandam V : Amplitude ofAccomodation and its Relation toRefractive Errors. IndianOphthalmology 53 (2): 105-8.Arno Nover. 1995. The Ocular FundusMethods of Examination andTypical Findings. Edisi 4. Waliban,Penerjemah. Fundus Okuli.Gambaran Khas dan Metode-Metode Pemeriksaan. Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran,Hipokrates.Dick, H.B. 2005. AccommodativeIntraocular Lenses : Current Status.Curr Opin Ophthalmology. 16(1):8-26.5


Hollwitch, F. & Ophthalmology. 1993.Jakarta : Bina rupa aksara.Deborah Pavan-Langston. 1995. Manualof Okular Diagnosis and Therapy.2 nd Ed. Boston : Harvard MedicalSchool.Ilyas, S. 2000. Penuntun Ilmu PenyakitMata, Edisi 2. Jakarta : BalaiPenerbit FK UI.Ilyas, S. 2004. Ilmu Penyakit Mata, Edisi3. Jakarta : Balai Penerbit FK UI.Pamekar. 1992. Pemeriksaan RefraksiSederhana. Majalah KedokteranIndonesia, 42(11): 654-57Garcia, G.E, Sloane, A.E. 1989.Hyperopia. Handbook ofReffaction.4th Ed. Little Brown andCompany. 23-28.Guyton, Arthur, C. 2003. HumanPhysiology and Mechanism ofDisease. 3 rd Ed. Petrus Andrianto,Penerjemah. Fisiologi Manusia danMekanisme Penyakit. Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran.Sastradiwira. 1998. Anatomi FisiologiTerapan Mata dan Persarafannya.Padang : Laboratorium PenyakitMata FK UA.Schachar, RA. 2006. The Mechanism ofAccommodation and Presbyopia.International OphthalmologyClinics. 46(3): 39-61.Vaughan, D.G, Asburu, T., Eva, P.R.2000. Oftalmologi Umum. Edisi 14.Jakarta : Widya Medika.Sutrisna, E.M., Hanwar, D., IndrayudhaP., Azizah, S. 2007. PelatihanPemeriksaan Tajam PenglihatanPada Siswa Kelas 5 Sd Gedongan I,Colomadu, Karanganyar. WARTA.Vol .10(1): 19 – 24.6


Jurnal Teknobiologi, 1(1) 2010: 07 - 16ISSN : 2087-5428PENGARUH LATIHAN BERJALAN DAN LATIHAN BEBAN TERHADAPKEKUATAN OTOT TUNGKAI BAWAHPADA MANUSIA USIA LANJUTMiftah AzrinPhysiology Division Faculty Of Medicine University Of Riau, PekanbaruABSTRAKAging is not a disease, but it is the same as another normal growth process. In older adultcould be found alteration of physic, mental, cognitive, spiritual, and social. Physiologicaldisorders at old people describe inability to self defend and incapable in some level ofactivity, such as mobilization disorder. Measuring mobility could be done by several ways,which are ability to walk, stair climb, and movement. This is an experimental researchdone to groups of older adult at Puskesmas Koja North Jakarta in 1 September 2008 – 30November 2008. Research subject divide to 2 groups with 24 old people in each group.Result shown that muscle strength increasing 4,5% at walk-training group and 25% atweight-training group.Keywords : muscle strength, walk training, weight trainingPENDAHULUANLanjut usia merupakan tahapakhir perkembangan pada daur kehidupanmanusia. Setiap orang yang dikaruniaiumur panjang akan mengalami tahap ini.Dengan semakin baiknya fasilitaskehidupan termasuk berhasilnyapelayanan di bidang kesehatan yangditandai dengan bertambahnya usiaharapan hidup, maka kesempatan menjadimanusia lanjut usia (manula) akansemakin besar Gunawan, B. (1998).Berdasarkan data dari World HealthOrganization (WHO) Wongkokusumo, B.(1990). Diperkirakan 10 tahun kedepanjumlah manula akan mencapai 400 jutaorang atau 6,4%. Perkiraan jumlahmanula di Indonesia juga selalubertambah, diperkirakan dalam skala 10tahun ke depan sebanyak 4,4%, 5,5%,dan 7,4%, atau jumlahnya diperkirakansekitar 20 juta jiwa Wongkokusumo, B.(1990), Sucipto, T., Tukiran. (1992), BiroPusat Statistik (BPS) Indonesia. (2005).Proses menua buka merupakansuatu penyakit, tetapi sama seperti tahapperkembangan yang lainnya. Padamanula juga ditemukan perubahan fisik,mental, kognitif, spiritual, dan socialyang memerlukan penanganan khususagar manula tetap adaptif Gibbs J,Hughes, S., Dunlop, D., et al., (1996).7


Proses menua juga dapat dikatakansebagai akibat berkurangnya kemampuantubuh dalam proses penyesuaian diriuntuk mempertahankan homeostatistubuh terhadap rangsangan dari dalammaupun dari luar tubuh Lueckenotte.(1996). Pada usia lanjut akan terjadiproses berkurangnya jumlah dan ukuranfungsional pada setiap sistem tubuh,sehingga akan mengurangi kemampuandalam melaksanakan kegiatan fisikGunawan, B. (1998). Salah satudiantaranya adalah berkurangnyakekuatan otot yang disebabkanberkurangnya jumlah dan bersarnyaserabut-serabut otot (Lueckenotte. 1996;Evan, W.J. 1996). Penurunan kekuatanotot ini terjadi secara bertahap mulai dariumur 35-45 tahun, dan pada usia 60tahun kekuatan otot akan berkurang tidakmelebihi 20% dari kekuatanmaksimalnya atau dapat dikatakanberbanding terbalik denganbertambahnya usia Fox, EL., MathewsD.K. 1998; Jones. K, Barker, K. (2000).Olahraga pada prinsipnyadiharapkan dapat meningkatkan kapasitasfungsional individu yang sudahberkurang termasuk pada manula. Halyang diharapkan seperti tersebut di atassesuai dengan pengertian olahraga itusendiri yaitu semua jenis aktifitas fisikyang berguna bagi kesegaran mental danfisik dalam kehidupan sehari-hari(Schwartz RS, Buchner DM. Exercise inElderly. 2005; Somosarjono, S. 1995).Pada latihan fisik akan terjadi redistribusialiran darah dari organ yang kurang aktifke organ yang aktif. Pada manula,mekanisme ini mengalami hambatankarena system saraf otonom yang kurangsensitif, sehingga pada permulaan latihanakan terjadi gangguan pengaturantekanan darah oleh tubuh (Lamp, D.R.1990; Skelton, D.A, Young, A, Greic,C.A. 1995). Kelemahan tersebut menurutWeisfeldt masih mungkin bias di atasipada manula yang normal denganmelakukan latihan.Kekuatan otot adalah tenagamaksimum yang digunakan oleh otot dandapat diukur dengan bermacam metode.Hasil penilalian kekuatan otot tergantungdari kecepatan kontraksi otot apakah padasaat kontraksi memendek dan memanjang(Gunawan, B. 1998; Tilarso, H. 1988).Secara klasik ada tiga kategori latihanfisik pada otot berdasarkan jeniskontraksi yang ditimbulkan :1. Kontraksi isotonik ; proses kontraksiotot yang menyebabkan pemendekanpanjang otot. Pada keadaan initegangan atau tonus otot tidakberubah, hanya terjadi pemendekandari semua sarkomer. Pada jeniskontraksi ini jelas adanya kerja dan8


latihan yang mengutamakan gerakanaktif dari sendi dan otot-otot denganhanya sedikit meningkatkan tekanan.2. Kontraksi isometrik ; pada jeniskontraksi ini tidak terjadi pemendekanotot, tetapi mengutamakanpeningkatan ketegangan dalam ototdan latihan ini bermanfaat untukmemperkuat otot-otot. Beberapapenelitit menyatakan bahwa padakontraksi isometric tidak terdipergeseran dari miofilamen. Namunpeneliti lain berpendapat bahwa padakeadaan ini terjadi pemendekansarkomer disertai pemanjangansarkomer lain.3. Kontraksi isokinetik ; adalah tenagamaksimum yang berkembang menjadikecepatan kontraksi otot dan bersifatrotasi.Penelitian yang dilakukan olehBaltimore Longitudinal Study on Aging(1961), memperlihatkan bahwa kekuatankontraksi tangan yang diukur denganhandgrip test pada 604 pria umur 35tahun adalah 44 kg, sedangkan pada priakelompok umur 90 tahun hanya 23 kg.Ketahanan kontraksi otot yang diukurdengan meminta orang yang diperiksamelakukan handgrip test sekuat-kuatnyadan mempertahankan untuk 1 menitadalah 28 kg untuk pria umur 20 tahundan 20 kg untuk kelompok pria umur 75tahun. Jadi dapat dilihat kemundurunberturut-turut 50% dan 35% TheMoltimore Longitudinal Study ofNational Institute on Aging. (1990).Beberapa penelitian yang telahdilakukan secara cross-sectional jugamemperlihatkan bahwa denganbertambahnya umur terjadi penurunankekuatan otot. Puncak kekuatan ototterjadi pada umur sekitar 30 tahun dankemudian kekuatannya berkurang 30-40% sampai umut 80 tahun. Satu studilongitudinal lain mencatat bahwa terjadipenurunan kekuatan otot kuadrisepsebanyak 10-25% selama 5-7 tahun padausia 70 tahun Siegal, A.J (2004). Rodgerdan Evan pada penelitiannya melaporkanpada usia 50-70 tahun terjadi penurunankekuatan otot sebesar 15% dari kekuatansemula. Sedangkan pada usia 70-80 tahunpenurunan kekuatan otot sebesar 30%Evan, W.J. (1996).Secara mikroskopis padapenelitian terlihat bahwa terjadipenurunan jumlah serabut otot danberkurangnnya luas penampangmelintang otot tungkai bawah yangdimulai pada usia 50 tahun. Sepuluhtahun kemudian akan diikuti pula dengandegenerasi sel kornu anterior yangmensarafi otot-otot tungkai bawah (Fox,E.L., Mathews, D.K. 1998; Jones, K.,9


Barker, K. 2000; Schwartz, R.S., BuchnerD.M., Exercise in Elderly. 2005).Beberapa faktor yang dapatmempengaruhi kekuatan kontraksi ototadalah sebagai berikut (Fox, E.L.,Mathews, D.K. 1998; Jones, K., BarkerK. 2000; Schwartz, R.S., Buchner, D.M.,Exercise in Elderly. 2005; Somosarjono,S. 1995).a. Jumlah serat otot dalam sebuah ototb. Panjang awal otot, yaitu panjang ototsebelum dirangsang. Panjang ototpada waktu istirahat merupakanpanjang otot yang dapatmenghasilkan kontraksi maksimalotot, karena bila panjang otot sebelumkontraksi lebih kecil atau lebih besardari panjang saat istirahat akanmenghasilkan kekuatan kontraksiyang lebih rendah. Hal ini dapatditerangkan dengan jumlah kepalamyosin yang dapat mengadakanhubungan dengan aktin.c. Kecepatan pemendekan otot yangsangat dipengaruhi oleh beban yangdiberikan terhadap otot. Otot akanmengkerut cepat jika beban minimaldan kecepatannya akan berkurangdengan beban yang lebih tinggi.d. Pengaturan kekuatan kerutan, yaitutergantung dari jumlah motor unityang aktif dan frekuensi peransangan.Makin banyak motor unit yang aktifmakin besar kekuatan ototnya danmakin tinggi frekuensi peransanganmasing-masing motor unit makintinggi ketegangan otot.e. Suhu, reaksi kimia pada prosesmetabolism atau proses kontrasi selotot merupakan aktifitas enzim yangdipengaruhi oleh suhu. Peningkatansuhu pada batas tertentu akanmempercepat proses enzimatik dalamtubuh, sehingga kecepatan dankekuatan kontraksi otot akanmeningkat pula. Peningkatan suhuyang lebih tinggi akan menurunkankecepatan dan kekuatan kontraksi,akibatnya terjadi denaturasi protein.Suhu rendah akan menurunkankecepatan dan kekuatan kontraksisesuai dengan tingkat penurunanmetabolisme dalam otot. Suhuoptimum untuk kontraksi otot adalah37-40 0 C.Untuk melakukan latihan beban padamanula tidak perlu keterampilan dan alatkhusus, tetapi dapat dilakukan denganalat yang sederhana. Hal ini telahdibuktikan oleh beberapa penelitiansebelumnya, hanya dengan menggunakankantong pasir atau kantong beras untuklatihan otot tungkai bawah ternyataefektif untuk dilaksanakan dan jenislatihan ini dapat diterima dengan baikoleh manula (Schwartz, R.S, Buchner,10


D.M. Exercise in Elderly. 2005; TheMoltimore Longitudinal Study ofNational Institute on Aging. 1990). Jenisintensitas latihan yang dipilih untukmanula biasanya intensitas sedang atautinggi, karena efek yang dihasilkan cukupbaik Evan, W.J. (1996). Sedangkan untukmanula yang sangat lemah sepertipenderita stroke, penyakit jantungkongestif dan penyakit jantung kronisdianjurkan latihan intensitas rendah,walaupun efektifitasnya kurangSomosarjono, S. (1995).Prinsip dasar dalam melakukanlatihan beban guna mencapaipenyesuaian latihan sebaik mungkin danhasil yang maksimal (Somosarjono, S.1995; Lamp, D.R. 1990; Skelton, D.A.,Young, A, Greic, C.A. 1995; Tilarso, H.1988).a. Latihan didahului pemanansan.b. Terapkan prinsip beban lebih(progressive overload).c. Sebagai patokan dapat dipakai sistimrentang repetisi maksimal (RM) ataumenentukan persentase dari bebanmaksimal.d. Frekuensi latihan 2-3 kali seminggue. Setiap bentuk latihan dilakukandalam 3 set.f. Istirahat aktif antara setiap set 3-4menit.g. Lakukan pendinginan setelah selesailatihan.h. Lakukan latihan dengan teknik yangbenar.Program latihan fisik atauolahraga harus disesuaikan dengankeadaan fisik yang mulai terbatas padamanula. Latihan berjalan merupakanprogram latihan yang terpilih untukmanula, karena selain mudah dilakukanjuga relative aman dan tidakmemerlukanketerampiloan khusus (TheMoltimore Longitudinal Study ofNational Institute on Aging. 1990).Kelebihan olahraga ini adalah resikotrauma orthopedinya jauh lebih rendahdibandingkan dengan olahraga lainseperti lari yang ditinjau dari manfaatyang hamper sama dari kedua jenisolahraga ini (The MoltimoreLongitudinal Study of National Instituteon Aging. 1990; Wongkokusumo, B.1990. Cara latihan berjalan yangdianjurkan yaitu latihan dimulai selama10 menit dan ditingkatkan sesuaikemampuan sampai 30 menit sehari dandipertahankan selama 8 mingggu. 18Sedangkan cara lain adalah berdasarkankecepatan dan jarak tempuh yangditentukan sesuai usia.11


BAHAN DAN METODEJenis penelitian ini adalaheksperimental kuasi, uji sebelum dansesudah perlakuan. Subjek penelitianadalah kelompok manula padaPuskesmas Koja di Jakarta Utara selama8 minggu mulai 1 September 2008 – 30November 2008. Seleksi subjekdilakukan berdasarkan criteria inklusi dancriteria eksklusi. Kemudian secara acaksubjek penelitian dikelomokkan menjadidua kelompok, yaitu kelompok latihanbeban dan kelompok latihan berjalan.Kriteria Inklusia. Subjek wanita dan pria berusia 55 –70 tahun.b. Subjek yang menyatakan persetujuan.c. Uji Romberg tidak terganggu.Kriteria Ekslusia. Subjek berpenyakit jantung baikfungsional maupun anatomi, asma,penyakit gula dan hipertensi yangtidak terkontrol, ditentukanberdasarkan anamesis danpemeriksaan fisik.b. Subjek dengan gangguan motorikataupun sensorik tungkai.c. Subjek oleh karena suatu dan lain haltidak dapat melanjutkan penelitianselama 8 minggu.Besar SampelBesar sampel penelitian ini yang terdiridari 2 kelompok diperoleh denganmenggunakan rumus :zα = batas atas nilai konversi pada tabeldistribusi normal bataskemaknaan.zβ = batas bawah nilai konversi padatable distribusi normal bataskemaknaan.s = standar deviasi perkiraandperbedaan.= rerata deviasi perbedaanHASIL DAN PEMBAHASANSelama kurun waktu 1 September2008 – 30 November 2008 telahdilakukan penetian terhadap 2 kelompokmanula untuk menilai hail latihan bebandan latihan berjalan terhadap peningkatankekuatan otot tungkai bawah padakelompok manula di Puskemas KojaJakarta Utara dan sampel masing-masingkelompok yang dianalisis sebanyak 24orang.n = 2{ (zα + zβ ) s } 2dn = 2{ (1,96 + 1,645 ) 20 } 2 = 23,00133 = 241512


Dari Tabel 1 dapat dilihat datakarakteristik dan data dasar subjekpenelitian sebelum dilakukan intervensilatihan beban dan latihan berjalan.Berdasarkan Tabel 2 terlihatbahwa peningkatan kekuatan otot setiapminggu baik pada kelompok latihanbeban maupun kelompok latihan berjalan,namunpenambahan peningkatan kekuatanotot lebih signifikan pada kelompoklatihan beban dibandingkan latihanberjalan.Pada Tabel 3 terlihat bahwa padakelompok 1 terjadinya peningkatankekuatan otot bermakna secara statisticmulai minggu ke-3, sedangkan padakelompok 2 peningkatannya sudahbermakna pada minggu ke-2. Terlihatpeningkatan kekuatan otot padakelompok beban 5 kali lebih tinggidibandingkan dengan peningkatankekuatan otot pada kelompok denganlatihan berjalan.Kedua kelompok penelitian telahmelakukan program latihan berjalan danlatihan beban terbukti mengalamipeningkatan kekuatan otot, tetapi padakelompok latihan beban peningkatankekuatan otot lebih besar dan lebih cepatterjadi.Karakteristik Subjek PenelitianTabel 1. Karakteristik subjek penelitianVariabel Rerata ± simpang baku Rentang nilaiUmur (tahun)Berat badan (kg)Tinggi badan (cm)Panjang tungkai (cm)Kekuatan otot awal60,96 ± 4,4253,63 ± 8,50156,48 ± 5,9685,42 ± 4,9342,42 ± 21,9755,0 – 70,0035,00 – 75,00145,00 – 170,0074,00 – 98,0015,00 – 115,00Kekuatan Otot Pada Latihan Berjalan dan Latihan BebanTabel 2. Kekuatan otot awal sampai minggu ke-8 pada kedua kelompok latihanKelompok 1 Kelompok 2Variabel Jumlah(orang)Rerata ±(simpang baku)Jumlah(orang)Rerata ±(simpang baku)KO awal (kg)KO 1KO 2KO 3KO 4KO 5KO 6KO 7KO 824242424242424242441,08 ± 17,5041,08 ± 17,5541,17 ± 17,5141, 29 ± 17,4741,88 ± 17,5842,17 ± 17,5942,42 ± 17,6043,04 ± 17,5743,75 ± 18,4324242424242424242443,75 ± 35,9745,21 ± 27,6449,38 ± 29,9053,33 ± 31,1354,17 ± 32,5654,58 ± 32,5056,46 ± 31,8157,92 ± 31,4558,96 ± 33,3613


Peningkatan Kekuatan Otot Setiap Minggu Setelah Latihan Berjalan dan LatihanBebanTabel 3. Hasil uji statistic kekuatan otot setiap minggu dibandingkan dengan kekuatanotot awal pada kedua kelompok latihanKekuatan otot Kelompok 1 (nilai p) Kelompok 2 (nilai p)KO awal – m1KO awal – m2KO awal – m3KO awal – m4KO awal – m5KO awal – m6KO awal – m7KO awal – m8-0,160,020,000,000,000,000,000,110,020,000,000,000,000,000,00Tabel 4. Peningkatan kekuatan otot kedua kelompok setelah menjalani latihan selama 8mingguKelompokVariabelKelompok 1Kelompok 2KO awal41,8043,75KO 843,7558,96Λ1,9515,21%4,5028,80Hasil penelitian ini menunjukkanpeningkatan kekuatan otot padakelompok latihan berjalan sebesar 4,5%,sedangkan pada kelompok latihan bebanmengalami peningktan kekuatan ototsebesar 25,8%. Hasil penelitian ini lebihrendah dibandingkan dengan penelitianyaitu peningkatan kekuatan otot yangmelakukan latihan beban intensitassedang-tinggi bervariasi dari 30-200%Siegal AJ. (2004). Sebelumnya(Fiatarone, et al; Evan, W.J. 1996).membuktikan bahwa makin tua umurmanula yang melakukan latihan bebanmakin besar penambahan kekuatan danukuran otot. Frontera, et al; Skelton,D.A., Young, A, Greic, C.A. 1995).melaporkan bahwa pada latihan intensitassedang-tinggi terjadi peningkatankekuatan otot sebanyak 107% denganumur rata-rata 60-70 tahun.Dengan rentang umur yanghamper sama dengan laporan Schwartz,et al., ternyata peningkatan kekuatan ototrelative lebih tinggi disbanding denganhasil penelitian ini (Schwartz RS,Buchner DM. Exercise in Elderly 2005).Perbedaan hasil tersebut di atasdimungkinkan terjadi karena banyakfactor antara lain metoda pengukurankekuatan otot yang digunakan, metodadan lama latihan, intensitas latihan dankarakteristik sampel.Fisher, et al; Siegal, A.J. 2004melaporkan latihan beban denganintensitas rendah hanya meningkatkan14


kekuatan otot sebesar 15%, sehinggadikatakan bahwa latihan beban denganintensitas sedang-tinggi lebih unggul danefektif, kecuali pada manula yang sangatlemah.Pada latihan berjalan peningkatankekuatan otot relatif rendah yaitu 4,5%.Pada penelitian Gibss dkk dilaporkanbahwa dengan latihan berjalan terjadipeningkatan kekuatan otot kuadrisepsebesar 5-10% (Gibbs, J., Hughes, S.,Dunlop, D., et al. 1996).Hasil penelitian yang khususmelaporkan peningkatan kekuatan otottungkai bawah belum ditemukan penulis,tetapi secara umum banyak pendapatmengatakan bahwa pada latihan berjalanterjadi peningkatan kekuatan otot baiktubuh bagian atas maupun tubuh bagianbawah.KESIMPULANDari penelitian yang telah dilakukandapat diambil simpulan sebagai berikut :1. Kekuatan otot pada subjek penelitianmengalami peningkatan setelahprogram latihan 8 minggu baik padakelompok latihan berjalan maupunlatihan beban.2. Peningkatan kekuatan otot terjadilebih awal pada kelompoklatihanbeban dibandingkan dengankelompok latihan berjalan.3. Kelompok yang mengalami latihanbeban mengalami peningkatankekuatan otot yang lebih besardisbanding dengan kelompok latihanberjalan.DAFTAR PUSTAKABiro Pusat Statistik (BPS) Indonesia.2005.Evan, W.J. 1996. Reversing Sarcopenia :How Weight Training Can BuildStrength and Vitality. Geriatric.51:46-53.Fox, E.L, Mathews, D.K. 1998. ThePhysiological Basic of PhysicalEducation and Athletic, 3 rd ed.Philadelphia : Saunders CollegePublishing. 12-30, 138-174, 260-72.Gunawan, B. 1998. Perubahan FisiologiPada Usia Lanjut. Naskah LengkapSimposium Geriatrik. Jakarta :Balai Penerbit FKUI. 69-78.Gibbs, J., Hughes, S., Dunlop, D., et al.1996. Predictor of Change inWalking Velocity in Older Adult.JAM Geriatr Soc. 44:126-32.Hartono, H., Boestan, I.N. 1992. Manuladan Olahraga Ditinjau dari SistemKardiovaskular. CDK. 78:52-5.Lueckenotte. 1996. Gorontologi Nursing.St. Louis : Mosby. 857-60.Jones, K., Barker, K. 2000. HumanMovement Explanation. St Louis :Butterworth-Heinemann Ltd.311-4.Jarias, W. 1991. Olahraga Pada Manula.CDK. 10:17-9.15


Lamp, D.R. 1990. Physiology of ExerciseResponses and Adaptations, 3 nd ed.New York : Baltimore. 271-3.Sucipto, T., Tukiran. 1992. ProyeksiPenduduk Indonesia tahun 1990-2050. Yogyakarta : Pusat PenelitianKependudukan UGM.Somosarjono, S. 1995. Latihan OlahragaBagi Orang Tua. Dalam :Pengetahuan Praktis KesehatanDalam Olahraga. 143-51.Schwartz, R.S, Buchner, D.M. Exercisein Elderly. 2005. Physiologic andFunctional Effects. Dalam :Hazzard WP, Bierman EL, Bass JP,et al, penyunting. Principle ofGeriatric Medicine andGerontology, 5 th ed. New York :McGraw-Hill Inc. 144-57Skelton, D.A., Young, A., Greic, C.A.1995. Effect of Resistance Trainingon Strength, and SelectedFunctional Abilities of Womenaged 75 and Older. J Am Geriat.43:1081-7.Siegal, A.J. 2004. Exercise and Aging.Dalam : Strauss RH, penyunting.Sport Medicine. Philadelphia :Saunders. 277-80.Tilarso, H. 1988. Latihan Fisik dan UsiaTua. CDK. 48:19-21.The Moltimore Longitudinal Study ofNational Institute on Aging. 1990.NIH Publication; 80:134-5.Wongkokusumo, B. 1990. KesejahteraanLanjut Usia di Indonesia. BullGorontologi & Geriatric; 1990.18:28-9.16


Jurnal Teknobiologi, 1(1) 2010: 17 - 28ISSN : 2087-5428ANALISIS PENGENDALIAN ROBOT PENGANGKUT BARANGDENGAN REMOTE JOYSTICKNoveri Lysbetti M.Fakultas Teknik Universitas Riau, PekanbaruABSTRACTDevelopment in electronic science has improved sophisticated progressed in the use ofrobot in industry such as making stuff lifted by robot. The objective of this study is todesign and construct a prototype of robot that can obtain maximum speed of motor whilebringing about one kg of stuff. Method used in this research is a test to control directionand moving of a stuff lifted robot by remote joystick as a remote control, using acombination of IC l293D, switching, protection motor driver, and half bridge. Thoseequipments are used as DC driver motor that will work when remote control sends input tothe circuit. Robot will move forward, reverse, turn left and turn right if remote controlgives input to direction switch circuit. When remote control sends input to protectioncircuit, the arm of robot will move up or down. Results of this study show that robot cancarry a maximum load of one kg with a maximum speed of 15 rpm, while the speed willincrease to 48 rpm without load.Keywords : Robot, Remote Joystick, Penggerak Motor, Motor DCPENDAHULUANKemajuan teknologi yang pesat saatini, mendorong setiap manusia untukmeningkatkan dan mengembangkan ilmudan pengetahuan di bidang teknologi.Salah satunya adalah dalam bidangRobotika. Perkembangan teknologirobotika telah membuat kualitaskehidupan manusia semakin tinggi.Selain itu, perkembangan teknologirobotika telah mampu meningkatkankualitas maupun kuantitas produksiberbagai pabrik. Teknologi robotika jugatelah menjangkau sisi hiburan danpendidikan bagi manusia.Perkembangan teknologi robotikaseiring dengan perkembangan ilmu dibidang Elektronika. Dampakperkembangan teknologi dibidangelektronika telah banyak membawaperubahan dan kemajuan yang begitucepat dan canggih. Hal ini dibuktikandengan adanya penemuan-penemuanyang baru di segala bidang teknologimulai dari peralatan rumah tangga,industri, teknologi bidang ruang angkasaataupun bidang komunikasi.17


Pada umumnya robot banyakdimanfaatkan untuk membantu kerjamanusia. Dapat dilihat secara kasat mata,dunia industri saat ini telah berbasisteknologi tinggi dengan peralatan yangcanggih dan modern. Sistem robotikadigunakan di dunia industri, gunamembantu dan meringankan kerjamanusia. Salah satu contohnya yaiturobot pengangkut barang, yang dikontroldengan remote joystick. Disamping itu,penggunaan robot dalam lingkup industrisangat efisien untuk menunjang industridalam menghasilkan suatu produkdengan hasil yang baik.Ketertarikan dan rasa ingin tahuakan dunia robotika lebih jauh, yangmengantarkan penulis untuk menganalisaprinsip kerja pengendalian robotpengangkut barang dengan remotejoystick.Adapun batasan masalah dalampenelitian ini adalah :1. Beban maksimal yang bisa diangkutrobot adalah 1 Kg.2. Jarak jangkauan robot ± 10 meter.Remote kontrol (dalam hal iniRemote Joystick) adalah suatu alatelektronika yang bisa mengontrol robot.Remote Joystik merupakan bagian yangberinteraksi langsung dengan penggunadengan memberikan perintah-perintahuntuk menggerakkan robot dengan arahmaju, mundur, belok kiri, belok kanandalam proses mengangkat suatu barang.Untuk jarak yang tidak terlalu jauh,media kabel adalah pilihan yangekonomis dan sederhana. Perangkatremote kontrol yang digunakan diperolehdari perangkat game Play Station (remotejoystick) yang sudah jadi. Untukmenjadikan perangkat tersebut dapatdigunakan maka haruslah dimodifikasi.Adapun fungsi dari beberapa tombolyang terdapat pada remote pengendaliadalah:1. Bagian tengah remote joystick:a. Star (untuk menghidupkan robot)b. Off (untuk mematikan robot)2. Bagian kiri remote joystick:a. Tombol Up bagian kiri berfungsiuntuk menggerakkan robotbergerak maju.b. Tombol Down bagian kiriberfungsi untuk menggerakkanrobot bergerak mundur.c. Tombol Right bagian kiriberfungsi untuk menggerakkanrobot belok kanan.d. Tombol Left bagian kiri berfungsiuntuk menggerakkan robot belokkiri.3. Bagian kanan remote joystick:a. Tombol Up bagian kananberfungsi untuk menggerakkan18


legan robot/ tuas pengangkat yangterletak di bagian depan kearahatas (menggangkat beban).b. Tombol Down bagian kananberfungsi untuk menggerakkanlengan kearah bawah(menurunkan lengan).Bentuk fisik dari remote joystickyang digunakan, dapat dilihat padagambar 1.Gambar 1. Bentuk remote joystick yangdigunakanMediapenghubung terdiri daribeberapa jenis tergantung darikondisi lingkungan1. Media KabelUntuk jarak yang tidak terlalu jauh,media kabel adalah pilihan yangekonomis dan sederhana. Disain danrancangan sangat sederhana karena hanyamerupakan perpanjangan kabel keypadsaja. Namun media ini kurang efektifapabila gerakan robot terlalu banyakmanuver.Bagian KiriBagian TengahBagian Kanan2. Media Infra Merah (Infrared)Untuk kondisi indoor di mana jarakyang dibutuhkan tidak terlalu jauh makamedia infrared merupakan pilihan yangcukup praktis.3. Media Gelombang RadioUntuk kondisi outdoor di manasering kali sinar matahari memberikangangguan-gangguan sinyal infrared yangsangat mungkin mengacaukan proseskendali, maka gelombang radiomerupakan pilihan yang tepat. Selain itu,penggunaan gelombang radio mempunyaikeunggulan di mana data yangdipancarkan dapat dikirimkan pada jarakyang cukup jauh dan bahkan menembushalangan.Rangkaian switching di gunakanuntuk melewatkan arus yang langsung kepenggerak motor. Rangkaian pengendalimemberikan input berupa tegangan 5VDC yang digunakan untuk membiastransistor yang bertipe NPN, dimana kakikolektor tersebut terhubung denganmasukan tegangan 12V DC yangmerupakan tegangan masukan yangdibutuhkan oleh kumparan relay,sehingga terjadi medan elektromagnetispada plunger relay yang mengakibatkanarus mengalir ke motor DC. Keadaantersebut akan tetap tertahan sampairangkaian pengendali tidak lagi memberitegangan DC 5V pada kaki basistransistor. Sedangkan dioda digunakanuntuk mengatasi arus balik dari Vcc.19


Rangkaian switching dapat dilihat padagambar 2.Gambar 2. Rangkaian switchingRangkaian proteksi berfungsisebagai pengontrol dari lengan robotuntuk arah ke atas dan ke bawah. Lenganrobot akan ke atas apabila IN1 berlogika1 dan IN2 berlogika 0 ketika saklar 1ditekan. Lengan robot akan ke bawahapabila IN2 berlogika 1 dan IN1berlogika 0, ketika saklar 2 ditekan.Rangkaian Proteksi merupakansistem kontrol yang berfungsi untukmengolah input yang berasal daripengendali/remote kontrol agarmenghasilkan output, yang mengarahpada pengontrolan dan arah putar motoruntuk melakukan proses kerja robot.Rangkaian proteksi ini terdiri darigerbang-gerbang logika yangdimodifikasi sehingga dapat berfungsisesuai sistem yang diinginkan. Rangkaianproteksi pengontrolan robot pada Gambar3.Gambar 3. Rangkaian proteksipengontrolan robotPenggerak motor DC digunakanuntuk memutar motor DC untukmenghasilkan putaran, sehingga motorbergerak maju atau mundur. Disampingitu, penggerak motor ini juga berfungsimenggerakkan lengan robot ke atas (naik)dan turun (ke bawah).Ada dua putaran motor DC yangdilakukan yaitu :a. Putaran motor (maju-mundur)Penggerak motor berfungsi sebagaipengatur arah putaran motor. Adabeberapa tipe rangkaian penggerakmotor, diantaranya ada yangmenggunakan relay, transistor dan adayang menggunakan IC. Rangkaianpenggerak yang menggunakan IC,memiliki kelebihan, diantaranya tidakterjadi spark (bunga api) seperti padarelay.Penggerak motor dengan L293Dmemiliki prinsip kerja yang hampir samadengan penggerak menggunakan relay.20


Aktivasi input ke L293D,dilakukandengan mengalirkan tegangan 5V DC.Kombinasi data kontrol motorL293D terhadap ban robot, dapat dilihatpada Tabel 1.Tabel 1. Kombinasi data kontrol motorL293D terhadap ban robotIN1 IN2 Arah gerak Posisi ban0 1 Searah jarumjamBelokkanan1 0 Berlawanan Belok kiriarah jarumjamDari Tabel 1, IN1 dan IN2 beruparangkaian switching untuk aktivasikonfigurasi rangkaian yang terdapat didalam L293D, yang dihubungkan denganmotor. Keadaan tersebut akan tetapbertahan sampai pengendali tidak lagimemberi input DC tegangan 5V DC.Tegangan 12 Vdc berfungsi sebagaisumber tegangan untuk mengaktifkanmotor DC agar actuator fungsi mekanikdari robot berjalan dengan baik.IC L293D hanya mampumenyediakan arus sekitar 600 mA secarabersambungan sehingga untuk motoryang menarik arus di atas nilai tersebut,dirancang rangkaian penggerak motorHalf bridge dengan transistor Darlingtonsebagai basisnya. Rangkaian ini dibangundengan beberapa transistor tipe NPNyaitu transistor TIP41 dan C9014 sertatransistor tipe PNP yaitu transistor TIP42dan C9012. Rangkaian ini dapatmenyediakan arus sampai sekitar 5A.b. Putaran motor untuk naik turunApabila transistor PNP yang kiriaktif, maka transistor NPN kanan jugaaktif, PNP kanan dan NPN kiri harus nonaktif sehingga lengan robot akan kebawah. Dalam hal ini, motor bergeraksearah jarum jam. Sebaliknya pada saattransistor PNP kanan yang aktif, makatransistor NPN kiri juga aktif sedangkanPNP kiri dan NPN kanan juga harus nonaktif, sehingga lengan robot akanbergerak ke atas. Dalam hal ini, motorbergerak berlawanan arah jarum jam.Dua buah dioda berfugsi untuk mencegahadanya tegangan reverse akibat induksimotor. Skematik rangkaian penggerakmotor half brigde pada Gambar 4.Gambar 4. Skematik rangkaianpenggerak motor halfbridgeRangkaian penggerak berfungsisebagai penggerak motor sesuai dengan21


input yang diterimanya. Rangkaianpenggerak bertindak sebagai pengaturarah gerak motor DC, forward (searahjarum jam) atau reverse (berlawanan arahjarum jam). Hal ini tergantung dari inputyang diberikan kepada rangkaianpenggerak. Secara teori rangkaianpenggerak bekerja dengan sistemswitching untuk 2 buah motor DC. Darigambar 6, dapat dilihat penggerak untuk2 buah motor DC. Jika input1 diberi highdan input 2 di beri low maka keluaranpada output 1 adalah high dan ouput2adalah low sehingga perputaran motorDC adalah forward (searah jarum jam).Sedangkan jika input 1 diberi low daninput 2 diberi high maka perputaranmotor DC adalah reverse (berlawananarah jarum jam).Penggerak motor half bridge adalahrangkaian yang menggerakkan lenganrobot setelah mendapat input darirangkaian proteksi. Apabila IN1berlogika 1 maka motor akan bergeraksearah jarum jam dan lengan robot akanke bawah (turun). Ketika IN2 berlogika 1maka motor akan bergerak berlawananarah jarum jam dan lengan robot akan keatas (naik).Kombinasi dari keluaran putaranmotor dan gerak lengan robot, dapatdilihat pada Tabel 2.Motor Direct Current (DC) adalah jenismotor yang digerakkan denganmenggunakan tegangan DC/arus searah.Motor DC terdiri dari stator dan rotor.Stator berupa magnet permanentsedangkan rotor berupa kumparan.Apabila kumparan pada rotor dialiri aruslistrik maka akan timbul medan magnet,yang akan bereaksi dengan medanmagnet stator, Akibatnya rotor akanberputar. Pada motor juga terdapatreduction gear untuk memperbesar torsimotor.Motor DC dapat berputar searahjarum jam dan berlawanan arah jarumjam, sesuai dengan terminal sumbertegangan yang diberikan pada motor DC.Apabila terminal sumber tegangan yangdiberikan, sama dengan terminal padamotor DC maka arah putaran motorsearah putaran jarum jam dan sebaliknya.Pada dasarnya mesin listrik yang dapatmengubah daya listrik menjadi dayamekanik.Tabel 2. Kombinasi keluaran putaran motor dan gerak lengan robotInput Keluaran Putaran Motor DC Arah Gerak Gerak LenganIN 1 IN 21 0 1 Searah jarum jam Ke bawah0 1 2 Berlawanan jarum jam Ke atas22


Daya input berupa daya listrik akandiubah menjadi daya mekanik, hubunganantara tegangan sumber (V r ), teganganjangkar (Ea), arus jangkar (Ia) dantahanan jangkar (Ra) dapat dituliskansebagai berikutE a = V r - I a R a ( Volt) ...........persamaan 1Pada saat mengoperasikan motor,motor akan menghasilkan daya mekanik(P m ) dimana daya tersebut dipengaruhioleh besarnya nilai torsi (T ), kecepatansudut (ω), dan putaran motor itu sendiri.Secara jelas hubungan antara dayamekanik (P m ), torsi (T ) dan putaranmotor (n) dapat dilihat dari persamaan 2,dimana:P m = ω.T (Watt) .................. persamaan 2Sehingga,2. . n m/ s 6o……........persamaan 3Maka :2..n P m = . T60 (watt)...........persamaan 4 Selain itu, besarnya torsi yangtimbul pada motor juga ditimbulkan olehgaya yang dihasilkan oleh fluks, dan aruslistrikyang mengalir pada jangkar.Hubungan antara torsi (T), gaya (F), danjari – jari penampang jangkar (r) dapatdilihat pada persamaan 5, dimana :T = F.r (Nm) ……………... persamaan 5BAHAN DAN METODAMetode penelitian yang dilakukandalam Analisis Robot Pengangkut BarangYang Dikendalikan Dengan RemoteJoystick adalah:1. Melakukan studi pustaka.2. Melakukan pengujian mengendalikanarah dan gerak robot pengangkutbarang menggunakan remote joystick.3. Membaca hasilpengujian/pengamatan.4. Menganalisa hasilpengujian/pengamatan.HASIL DAN PEMBAHASAN1. Blok Diagram RangkaianDalam perancangan suatu sistem,dibutuhkan suatu blok diagram yangdapat menerangkan sistem secarakeseluruhan agar sistem yang di buatdapat menjalankan fungsi sebagaimanayang diinginkan. Blok diagram sistemrobot pengangkut barang pada Gambar 5.Dari blok diagram sistem padagambar 5, dapat dilihat bahwa pergerakanrobot sangat terkait dengan operator yangmengendalikan robot dari sebuah remotekontrol dan motor yang digunakanremote kontrol. Dalam hal ini, motoryang digunakan remote kontrol adalahjoystik.23


Media penghubung antara joystikdan sistem robot, menggunakan kabel.Hal ini mempertimbangkan suatu pilihanyang ekonomis dan sederhana. Remotekontrol yang digunakan pada robotberfungsi sebagai input dari rangkaianproteksi pada sistem. Sistem robot terdiridari rangkaian utama yaitu; rangkaianproteksi, rangkaian penggerak motoryang memiliki masing-masing fungsiyang berbeda. Hasil pengontrolan dariremote kontrol mengarah padapengaturan perputaran arah motor.Sebagai penggerak roda, terdapatdua motor DC gearbox. Disamping ituterdapat juga satu motor DC gearboxyang berfungsi sebagai penggerak untukmengangkat beban. Prinsip kerja diagramblok rangkaian keseluruhan, dapat dilihatpada Gambar 6.Dari prinsip kerja diagram blokGambar 6, untuk menggerakkan robotpengangkut barang arah maju, mundur,belok kanan, belok kiri dikontrol olehbeberapa rangkaian, yaitu rangkaianswitching relay, penggerak motor L293D,Gambar 5. Blok diagram sistem robotGambar 6. Prinsip kerja diagram blok rangkaian keseluruhan24


sehingga motor kiri dan kanan akanbergerak sesuai dengan tegangan inputyang sesuai dengan penggerak motorL293D. Untuk lengan robot akanbergerak naik turun, dikontrol juga olehbeberapa rangkaian yaitu rangkaiangerbang proteksi, rangkaian penggerakmotor half bridge sehingga lengan robotakan bergerak naik turun sesuai denganpenggerak motor half bridge.Jika robot ingin maju maka saklarstandby ditekan bersamaan dengan saklarmaju. Demikian juga untuk arah ataugerak robot yang lain. Untukmenggerakkan lengan robot, remotekontrol memberi input ke rangkaianproteksi dan diteruskan ke rangkaianmotor half bridge sehingg lengan robotakan bergerak ke atas/ke bawah.Setelah catu daya disuplai kerangkaian maka user menekan remotejoystik. Penekanan pada remote akanmengaktifkan alat/robot. Jika usermenekan pin 6 pada joystik maka G4pada rangkaian proteksi akanmenghasilkan 1 sehingga penggerakmotor half bridge akan menggerakkanlengan robot ke bawah. Tetapi jika usermenekan pin 8 pada remote joystik, makaG5 pada rangkaian proteksi akan bernilai1, sehingga penggerak motor half bridgeakan menggerakkan lengan robot ke atas.Sedangkan untuk arah gerak robotmaka pin 1 (saklar standby) dari remotejoystik ditekan bersamaan dengan kontakNO dari relay 1 sehingga robot bergerakke kanan. Robot akan bergerak maju, jikapin 9 (saklar standby) remote joytikditekan bersamaan dengan kontak NOdari relay 2. Sedangkan arah gerak robotuntuk mundur, jika pin 11 (saklarstandby) remote joystik ditekanbersamaan dengan kontok NO dari relay3. Jika pin 13 (saklar standby) remotejoystik ditekan bersamaan dengan kontakNO pada relay 4, maka arah gerak robotakan ke kiri.3. Pengujian Dan Analisa RangkaianRangkaian penggerak merupakanrangkaian yang berfungsi sebagai kendalimotor supaya motor dapat begerak duaarah putaran yaitu dalam keadaan hidupdan mati. Pada rangkaian ini, yang akandiuji apakah IC L293D aktif apabiladiberi masukan tegangan.Sebuah IC L293D berisi empatbuah push-pull. Setiap dua buah pushpulldapat digunakan sebagai sebuahrangkaian H-brige dan dapat diaktifkandengan sebuah sinyal enable. Dalampenelitian, sebuah rangkaian H-bridgepada IC L293D, input yang diberi harusberbeda agar motor dapat berputar, tetapijika input yang diberi sama maka motorakan diam.25


Hasil Pengujian dari IC L293Dterhadap pergerakan robot, dapat dilihatpada Tabel 3.Dari hasil pengujian Tabel 3, dapatdilihat bahwa apabila IN 1 dan IN 3bernilai 1 (motor hidup) maka robotbergerak maju. Apabila IN 1, IN 2 , IN 3 danIN 4 bernilai 0 (motor diam), maka kondisirobot akan berhenti atau diam. ApabilaIN 2 dan IN 4 bernilai 1 (motor hidup),maka kondisi robot akan mundur. Danapabila IN 1 dan IN 4 bernilai 0 (motordiam), maka robot akan belok ke kanan.Begitu juga sebaliknya, apabila IN 1 danIN 4 bernilai 1 (motor hidup), maka robotakan belok ke kiri.Hasil pengujian perubahankecepatan motor terhadap beban robot,dapat dilihat pada Gambar 7.Dari hasil pengujian Gambar 7,dapat dilihat bahwa apabila semakinbesar berat beban yang diangkat, makasemakin kecil kecepatan yang dihasilkanoleh motor (motor semakin lambat).Untuk beban 1 Kg maka kecepatanmotor maksimal 15 rpm. Bahkan untukbeban di atas 1 Kg, akan menyebabkanmotor berhenti berputar.Tabel 3. Pengujian IC L293D terhadap pergerakan robotIN 1 IN 2 IN 4 IN 3 Pergerakan Robot1 0 0 1 Maju0 0 0 0 Berhenti0 1 1 0 Mundur0 1 0 1 Belok kanan1 0 1 0 Belok kiriKecepatan Motor Vs Beban RobotKecepatan Motor(rpm)60402000 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1 >1Beban Robot (Kg)Gambar 7. Pengujian perubahan kecepatan motor terhadap beban robot26


Sebaliknya, apabila robot mengangkatbeban kecil atau tanpa beban, makakecepatan yang akan dihasilkan olehmotor menjadi maksimal yaitu 48 rpm.KESIMPULANRobot ini hanya mempunyaikemampuan mengangkat beban 1 Kg,dengan kecepatan maksimal 15 rpm,sedangkan pada kondisi beban lebih ataulebih dari 1 Kg, maka motor akan matidan posisi lengan robot akan diam.Apabila semakin besar berat bebanyang diangkat robot maka semakin kecilkecepatan yang dihasilkan oleh motor(motor semakin lambat). Bahkan untukbeban di atas 1 Kg, akan menyebabkanmotor berhenti berputar. Sebaliknya,apabila robot mengangkat beban kecilatau tanpa beban, maka kecepatan yangakan dihasilkan oleh motor menjadi besar(maksimal) yaitu 48 rpm.DAFTAR PUSTAKAAn, S.K., Han, S.J., Hur, H.R. & Lee., J.M. 1999. Implementation Of ARemote Peg-In_Hole OperationUsing A Two Degrees of FreedomForce-Reflective Joystick, JournalOf Electrical Engineering AndInformation Science, Vol 4. No. 3,June 1999, http://www.IntJou05-99EEIS4-3-06.pdf.Achyanto. & Djoko. 1990. Mesin-MesinListrik, Erlangga, Jakarta.Arnold, Rob. 2009. Building an RFRemote Control System ForRobotics Control, ReynoldsElectronics, http://ruf-bot.htm,Akses.Anonim. 2010. Sistem Gerak Robot LineFollower Menggunakan Motor DCBerbasis_Mikrokontroler_Atmega8535_Dengan_Sensor_Photodioda,http://eprints.undip.ac.id/8550/1/.pdf.Anonim. 2006. Alat Indikator Gigi danLampu Penunjuk Arah SepedaMotor, Universitas Krida Wacana.Anonim. 2010. Robort Arm, http://www.tryengineering.org.Anonim. 2010. Smart PeripheralController DC Motor, MetaLinkCorporationhttp://www.innovativeelectronics.com, Akses.Bolton, W. 2000. Mechatronics, SecondEdition Longman, Malaysia.Huang, Lee, H., Dong, H. & Aghajan, H.2010. Robot-Assisted LocalizationTechniques for Wireless ImageSensor Networks, StanfordUniversity, http://wsnl.stanford.edu,Akses.Junaedi, M. 2006. Robot PendeteksiPerpindahan Objek DenganUltrasonik, Penerbit PoliteknikElektronika Negeri Surabaya.Muchlas. 2005. Rangkaian Digital,Penerbit Gavamedia, Yogyakarta.Naulan, P.A. 2004. An0010 BagianPengendali, ROBO-STORE An-006Delta Soccer Robo Kit, ROBO-STORE.Ogata, Katsuhiko. 1993. Teknik KontrolAutomatik, Jilid 1, Cetakan Kelima,Penerbit Erlangga, Jakarta.Sulasno. 2009. Teknik Konversi EnergiListrik dan Sistem Pengaturan,27


Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta(ISBN: 978-979-756-552-7).TOMIOKA KEI (Toshiba Corp.). 1998.Evaluation Of Usability For RemoteControls On Audio-VideoInstruments, Journal HumanInterface. 14: 67-70, Japan (ISSN :1345-0794).Wijaya. & Mochtar. 2001. Dasar-dasarMesin Listrik dan ElektronikaDaya, Penerbit Gramedia, Jakarta.United Nation. 2006. Peralatan EnergiListrik : Motor Listrik, UnitedNations Environment Programme,www.energyefficiencyasia.org,Akses : 17 Juni 2009.28


Jurnal Teknobiologi, 1(1) 2010: 29 - 35ISSN : 2087-5428The effects density toward growth and survival rate of motan(Thynnicthys thynnoides Blkr)Sukendi, Ridwan Manda Putra dan YurismanLecturer in the Fisheries and Marine Sciene Faculty, Riau University, PekanbaruABSTRACTThis research aim, to understand of effect of density toward growth and survival rate ofmotan fish (Thynnichthys thynnoides Blkr). Fingerlings were oftained from Kampar River(10,35 – 10,43 cm SL). Fingerlings were adapted for 14 days before they were cultured inthe floating net cage. The treatments applied were 40, 50 and 60 fishes/m3. Fishes werereared for 4 months and they were fed on fish pellet, 3 times/day. Results show that thebest results was obtained in density of 50 fishes/m3 with absolute growth weight 8,61g, daily growth rate 0,54 %, absolute growth length 2,43 cm and survival rate 100 %.Keywords : Thynnichthys thynnoides, fingerlings, floating net cagePENDAHULUANIkan motan (Thynnichthysthynnoides Blkr) merupakan ikanekonomis penting di daerah Riau yangselama ini hanya diperoleh dari hasiltangkapan dari alam. Ikan motan yangdapat dimanfaatkan oleh masyarakathanya ikan yang berukuran dewasa,sedangkan ikan yang berukuran kecil ataubenih tidak dapat dimanfaatkan, biasanyadijadikan sebagai makanan ikan yangdipeliharan dalam keramba, terutamaikan-ikan yang bersifat karnivora, hal inidisebabkan karena masyarakat belummenemukan teknologi budidaya ikantersebut. Pertumbuhan ikan dalambudidaya dipengaruhi oleh faktoreksternal yang terdiri dari kepadatan,jumlah pakan, kualitas dan ukuranmakanan yang diberikan, faktor kualitasair, serta faktor internal yang terdiri darijenis kelamin, ukuran dan keturunan(Harris, 1992). Selanjutnya Huet (1986)meyatakan bahwa pertumbuhan jugadipengaruhi oleh padat tebar ikan yangdipelihara. Percepatan pertumbuhandalam budidaya ikan pantau (Rasboralateristrata Blkr) dapat dilakukan denganpemberian hormon tiroksin (T4) dengandosis 2 mg/kg pakan buatan yangdiberikan (Lagimin, 2005). Penelitiantahap awal tentang domestikasi danpematangan gonad ikan motan telahberhasil dilakukan (Sukendi, Putra dan29


Yurisman, 2009), begitu juga teknologibudidaya ikan baung (Mystus nemurusCV) (Sukendi, 2001) dan ikan kapiek(Puntius schwanefeldi Blkr) (Sukendi,Putra. & Yurisman, 2007). Oleh sebab ituperlu ditemukan teknologi budidaya ikanmotan dengan harapan benih-benih yangtertangkap dari alam tidak lagidimanfaatkan untuk pakan ikan dalamkeramba tetapi dapat dibudidayakanmenjadi ikan konsumsi, melalui teknologiyang ditemukan.BAHAN DAN METODAWaktu dan TempatPenelitian ini dilakukan diperairan Sungai Kampar, tepatnya diDesa Lubuk Siam Kecamatan Siak HuluKabupaten Kampar, dari awal bulan Junisampai dengan awal bulan Oktober 2010.Rancangan PercobaanPenelitian ini menggunakanrancangan acak lengkap (RAL) dengan 3tarap perlakuan dan 3 kali ulangan.Perlakuan yang digunakan adalah padattebar berbeda yang terdiri dari : P1 =padat tebar 40 ekor/keramba, P2 = padattebar 50 ekor/keramba dan P 3 = padattebar 60 ekor/keramba. Model rancanganyang digunakan adalah :Yij = + i + ijdimana :Y ij = Hasil pengamatan individuyang mendapat perlakuan ke- i dan ulangan ke- j = Rata-rata umum i = Pengaruh perlakuan ke-i ij = Pengaruh galat perlakuan ke - iulangan ke - jProsedur PenelitianIkan uji yang digunakan adalahbenih ikan motan yang ditangkap darialam, yaitu dari perairan Sungai Kampartepatnya di Desa Lubuk siam, KecamatanSiak Hulu Kabupaten Kampar, Riau. Ikanuji memiliki ukuran berat rata-rata antara9,25 – 9,32 g dan panjang rata-rata antara10,35 – 10,43 cm yang dipelihara dalamkeramba yang telah disiapkan denganukuran 1 x 1 x 1 m pada padat tebarsesuai perlakuan dan ditempatkan diperairan Sungai Kampar.Ikan uji dipelihara selama 16minggu (4 bulan) dengan pemberianpakan pellet udang yang mengandungprotein sebesar 40%, lemak 6%,karbohidrat 2%, air 11% dan abu 3%pada bulan pertama sampai bulan kedua,selanjutnya pada pemeliharaan bulanketiga sampai bulan keempat ikan ujidiberi pakan pellet ikan bibit ungguldengan kandungan protein sebesar 38%,lemak 2%, serat kasar 3% abu 13% danair 12%. Dosis pemberian pakan selamapemeliharaan adalah 5%/kg bobot tubuh30


dan diberikan 3 kali sehari yaitu padapagi, siang dan sore hari. Pengamatandilakukan sekali dalam dua minggudengan cara mengambil sampel sebanyak20 % dari jumlah ikan uji masing-masingperlakuan, selanjutnya dilakukanpengukuran berat dan panjang tubuh ikanuji tersebut. Parameter yang diamatiadalah pertumbuhan bobot mutlak,petumbuhan panjang mutlak, lajupertumbuhan bobot harian,kelulushidupan dan kualitas air.HASIL DAN PEMBAHASANBerdasarkan analisis variansimenunjukkan bahwa perlakuan padattebar berbeda berpengaruh sangat nyata(P0,05).1. Pertumbuhan Bobot MutlakHasil pengamatan terhadappertumbuhan berat tubuh ikan motansetiap pengamatan dari masing-masingperlakuan disajikan pada Gambar 1.Dari Gambar 1 terlihat bahwapertumbuhan berat tubuh ikan motan dariawal hingga minggu kedua tidak begitubesar, hal ini disebabkan karena ikanmotan masih dalam tahap adaptasidengan lingkungan perairan, sehinggaenergi yang diperoleh dari pakansebagian besar hanya digunkan untukadaptasi. Selanjutnya pada minggu keduasampai minggu keempat pertumbuhansudah mulai meningkat, hal inidisebabkan ikan motan sudah mulai dapatberadaptasi dengan lingkungan sehinggaenergi dari pakan yang diberikansebagian sudah dapat digunakan untukpertumbuhan, namun pada minggukeempat sampai minggu kedelapanpertumbuhan kelihatan cukup tinggi,Gambar 1. Grafik pertumbuhan berat tubuh (g) ikan motan setiap pengamatan dari masingmasingperlakuan31


kenyataan ini disebabkan karena ikanmotan sudah dapat beradaptasi denganlingkungan sehingga energi yangdiperoleh dari pakan yang diberikan tidaklagi digunakan untuk adaptasi tetapisudah digunakan untuk pertumbuhan.Pertumbuhan pada minggu ke delapansampai minggu ke 16 mulai kecilkembali, kenyataan ini disebabkan karenaikan motan telah mencapai pertumbuhanyang optimal pada minggu kedelapansehingga dalam pemeliharaan ikan motansebaiknya dilakukan pemanenan padaminggu ke delapan tersebut.Hasil pengamatan rataanpertumbuhan bobot mutlak ikan uji darimasing-masing perlakuan selamapenelitian menunjukkan bahwapertumbuhan bobot mutlak tertinggiterdapat pada perlakuan dengan padat 50ekor/wadah sebesar 8,61 g, diikutiperlakuan padat tebar 40 ekor/wadahsebesar 7,74 g dan yang terendah terdapatpada perlakuan padat tebar 60ekor/wadah sebesar 6,85 g (Gambar 2).Tingginya nilai pertumbuhanbobot mutlak pada perlakuan padat tebar50 ekor/keramba disebabkan karenapadat tebar tersebut yang cocok untukbudidaya/pembesaran ikan ikan motantersebut, sesuai menurut Wardoyo danMuchsin (1990) yang menyatakan bahwapadat tebar yang rendah mengakibatkanpakan dan ruang gerak ikan tidak efisiendan padat tebar yang terlalu tinggimengakibatkan kompetisi dalammendapatkan makanan dan ruang gerakikan yang terbatas sehinggamemungkinkan pertumbuhan pada ikanjuga terhambat. Oleh sebab itu dalampenelitian ini dianggap padat tebar 50ekor/keramba merupakan padat tebaryang cocok untuk budidaya ikan tersebutdan merupakan padat tebar yangmemiliki ruang gerak yang tepat padaikan motan dalam memanfaatkan pakanyang diberikan.Gambar 2. Pertumbuhan bobot mutlak ikan motan (Thynnycthys thynnoides Blkr) pada tiapperlakuan selama penelitian32


Lingga (1985) menyatakan bahwa padattebar tergantung pada kesuburan kolam,luas kolam, debet air, ukuran awalindividu yang akan ditebar, serta jenisdan sifat ikan yang akan dipelihara. Padapenelitian pembesaran ikan baung(Mystus nemurus CV) dalam kerambayang ditempatkan di perairan umummenunjukkan pertumbuhan bobot mutlakantara 59,87 – 60,22 g, laju pertumbuhanbobot harian antara 8,08 – 8,12% danpertumbuhan panjang mutlak antara14,25 – 15,03 cm (Sukendi, 2002).Selanjutnya Sukendi, Putra danYurisman (2007) menyatakan bahwapembesaran ikan kapiek dalam kerambaukuran 1 x 1 x 1 cm dengan padat tebar20 ekor /keramba dan ditempatkan disungai menghasilkan pertumbuhan bobotmutak sebesar 28,29 g, pertumbuhanpanjang mutlak sebesar 6,42 cm, lajupertumbuhan bobot harian sebesar2,95% dan kelulushidupan sebesar93,30%.2. Laju Pertumbuhan Bobot HarianHasil pengamatan rataan lajupertumbuhan bobot harian ikan uji darimasing-masing perlakuan selamapenelitian menunjukkan bahwa lajupertumbuhan bobot harian tertinggiterdapat pada perlakuan dengan padat 50ekor/wadah sebesar0,548%, diikutiperlakuan padat tebar 40 ekor/wadahsebesar 0,504 % dan yang terendahterdapat pada perlakuan padat tebar 60ekor/wadah sebesar 0,461% (Gambar 3).Gambar 3. Laju pertumbuhan bobotharian ikan motan(Thynnycthys thynnoidesBlkr) pada tiap perlakuanselama penelitianBesarnya nilai laju pertumbuhanbobot harian pada perlakuan padat tebar50 ekor/keramba ini sesuai dengan hasilpengukuran pertumbuhan rata-rata bobotmutlak sebelumnya, dimanaperlakuanpadat tebar 50 ekor/keramba ini adalahperlakuan yang cocok untukpembesaran ikan motan dalam memaculaju pertumbuhan bobot harian. MenurutWardoyo dan Muchsin(1990) lajupertumbuhan bobot harian dipengaruhiolehmakanan, suhu lingkungan, umurikan dan zat-zat hara yang terdapat padaperairan. Harris (1992) menjelaskanbahwa pertumbuhan ikan dipengaruhioleh faktor eksternal dan internal.33


Faktor eksternal (lingkungan dimana ikandibudidayakan) seperti kepadatan, jumlahpakan, kualitas serta ukuran makananyang diberikan dan faktor kualitas air,sedangkan faktor internal terdiri dari jeniskelamin, ukuran dan keturunan.Hal ini juga sesuai dengan hasilpenelitian Yurisman, Sukendi dan Putra(2009) yang menyatakan bahwaperlakuan pakan yang terbaik untukpertumbuhan calon induk ikan tapahadalah pakan pellet tenggelam denganmerek dagang 888-S, dimanamenghasilkan pertumbuhan rata-ratabobot mutlak sebesar 647,77 g,pertumbuhan rata-rata panjang mutlaksebesar 9,3933 cm dan laju pertumbuhanrata-rata bobot harian sebesar 0,3200%.3. Pertumbuhan Panjang MutlakHasil pengamatan rataanpertumbuhan panjang mutlak ikan uji darimasing-masing perlakuan selamapenelitian menunjukkan bahwapertumbuhan panjang mutlak tertinggiterdapat pada perlakuan dengan padat 50ekor/wadah sebesar 0,175%, diikutiperlakuan padat tebar 60 ekor/wadahsebesar 0,165% dan yang terendahterdapat pada perlakuan padat tebar 40ekor/wadah sebesar 0,163% (Gambar 4).Dari hasil pengukuran panjangmutlak ini juga menunjukkan bahwaperlakuan P2 (padat tebar 50ekor/keramba) adalah perlakuan yangterbaik untuk pembesaran ikan dalammerangsang pertumbuhan rata-ratapanjang mutlak.Gambar 4. Pertumbuhan panjang mutlakikan motan (Thynnycthysthynnoides Blkr) pada tiapperlakuan selama penelitianIni menunjukkan bahwa selamapemeliharaan ikan uji denganbertambahnya pertumbuhan bobot diikutipula dengan pertambahan panjang.Namun bila dilihat pertumbuhan bobottidak secepat pertumbuhan panjang, halini sesuai dengan bentuk tubuh dari ikantersebut. Selain itu pada waktu tertentuterlihat bahwa pertumbuhan bobot ikantidak lagi diikuti oleh pertumbuhanpanjang, dengan kata lain pertumbuhanbobot masih tetap bertambah tetapipertumbuhan panjang tidak terjadi lagi.Namun dalam budidaya/pembesaranuntuk menghasilkan ikan konsumsi yangselalu diperhitungkan adalahpertumbuhan bobot, bukan pertumbuhanpanjang.34


4. KelulushidupanNilai kelulushidupan ikan ujidarai masing-masing perlakuan selamapenelitian adalah 100%, dengan kata lainikan uji tidak ada yang mati. Hal inimenunjukkan bahwa keadaan lingkungantempat ikan uji diperlakukan cocok untukbudidaya/pembesaran, sehinggaperbedaan yang terjadi pada ikan ujiakibat perlakuan yang diberikan hanyaperbedaan pertumbuhan baikpertumbuhan bobot mutlak, lajupertumbuhan bobot harian maupunpertumbuhan panjang mutlak. Hasilpengukuran kualitas air selama penelitianadalah suhu berkisar antara 29 – 30 0 C,kecerahan antara 1,3 – 3,2 m, pH antara5 – 6 dan Oksigen terlarut antara 2,98 –3,32 ppm.KESIMPULANPadat tebar dalam teknologibudidaya ikan motan akan dapatmempengaruhi pertumbuhan, baikpertumbuhan bobot mutlak, lajupertumbuhan bobot harian maupunpertumbuhan panjang mutlak. Padat tebaryang terbaik untuk teknologi budidayaikan motan adalah 50 ekor/kerambaukuran 1 x 1 x 1 m yang ditempatkan diperairan Sungai Kampar, menghasilkanpertumbuhan bobot mutlak sebesar 8,61g, laju pertumbuhan bobot harian sebesar0,548%, pertumbuhan panjang mutlaksebesar 2,43 cm, dan kelulushidupansebesar 100%.DAFTAR PUSTAKAHarris, E. 1992. Beberapa Usaha dalam eningkatkanBenih. Direktur Jenderal Perikanan.Departemen Pertanian. Jakarta.Huet, M. 1986. Text Book Fish Culture, Breedingand Cultivation of Fish. Fish New (books)Ltd. London. 431 p.Legimin, 2005. Pengaruh Penambahan hormontiroksin (T4) pada pakan buatan terhadappertumbuhan ikan pantau (Rasboralateristrata Blkr). Skripsi FakultasPerikanan dan Ilmu Kelautan UniversitasRiau.Lingga, P. 1985. Ikan hias air tawar. PenebarSwadaya . Jakarta.Sukendi. 2001. Biologi reproduksi danpengendaliannya dalam upaya pembenihanikan baung (Mystus nemurus CV) dariperairan Sungai Kampar Riau. DisertasiProgram Pascasarjana Institut PertanianBogor.Sukendi, R.M., Putra. & Yurisman. 2007. TeknologiBudidaya Ikan Kapiek (Puntiusschwanefeldi Blkr) dari Perairan SungaiKampar. Riau. Universitas RiauPekanbaru.Sukendi, R.M., Putra. & Yurisman. 2009.Pengembangan Teknologi Pembenihan danBudidaya Ikan Motan (Thynnicthysthynnoides Blkr) dalam Rangka MenjagaKelestarianya dari Alam. Universitas RiauPekanbaru.Wardoyo, S. & Muchsin, I. 1990. MemantapkanUsaha Budidaya Perairan Agar Tangguhdalam rangka Menyonsong Era TinggalLandas. Makalah pada SimposiumPerikanan. Fakultas Perikanan dan IlmuKelautan Universitas Riau. Pekanbaru 29.35


Jurnal Teknobiologi, 1(1) 2010: 36 - 50ISSN : 2087-5428PENENTUAN POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBERDAYAPERIKANAN DI PERAIRAN BENGKALIS(Potency and Exploitation level of fisheries resources in Bengkalis Waters)Pareng Rengi, Usman Muhammad Tang dan Hamdan AlawiFakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, PekanbaruABSTRACTFisheries potential and rate of exploitation in Bengkalis Waters was evaluated in 2009.Bengkalis Waters which area was 11.481,77 km 2 had the total waters potencyapproximately 17,886.2 ton / year. Based on its commody, the potency of big plagicspecies was 1,073 tonnes/year, small plagic species 9,544.8 tonnes/year, demersal species5,339.4 tonnes/year and shrimp was about 738.7 tonnes/year. The total exploitation in2009 in Bengkalis waters was aprroximately 46,006 tons/year or 383.8%. Small plagicspecies such as pompino, were the only waters commodies which was under exploitated(99%), while the other commodities (big plagic species, demersal and shrimp) were overexploited. There were seven potential locations for fish cage culture develoemnt, i.e SelatAir Hitam, Selat Panjang, Selat Asam, Selat Morong Rupat, Selat Bengkalis, Selat Suir,and Selat Sodor. The potency of those location was approximately 8625 unit (1 unitconsist of 4 cages of 5x5x4 meter). The potency of pen cockle culture was about 400HA located at the Selatbaru and Anak Setatah beaches.Keywords: ?PENDAHULUANSalah satu sumberdaya alam yangmempunyai potensi ekonomis adalahsumberdaya perikanan dan kelautan yangselama ini telah banyak dimanfaatkansebagai suatu kegiatan dalammenymbangkan devisa negara,menyediakan tenaga kerja danmeningkatkan taraf hidup masyarakat.Namun demikian sumberdaya perikanandan kelautan sebagaimana sumberdayaalam lainnya mempunyai keterbatasandaya dukung, sehingga membutuhkanadanya pengelolaan agar kegiatanperikanan sebagai suatu kegiatanekonomi dapat tetap berkelanjutan.Kabupaten Bengkalis, salah satukabupaten yang terletak di Pesisir TimurSumatera, mempunyai wilayah yangstrategis di Provinsi Riau karenaberbatasan langsung dengan negaraMalaysia. Kabupaten Bengkalismencakup area seluas 11.481,77 km 2dengan batas-batas wilayah sebagai36


erikut : Sebelah Utara dengan SelatMalaka, Sebelah Selatan denganKabupaten Siak, Sebelah Barat denganKota Dumai dan Kabupaten Rokan Hilirdan Sebelah Timur dengan KabupatenKarimun dan Pelalawan. Luas wilayahKabupaten bengkalis adalah 11.481,77km2 atau 1.148.177 ha. KabupatenBengkalis memiliki kawasan pesisir danlaut yang luas dengan keanekaragamansumberdaya alam yang tinggi danpotensial untuk pengembanganperikanan dan kelautan yang selama inibelum dimanfaatkan secara optimal.Kondisi ini lebih disebabkan karenaketersediaan data dan informasi tentangpotensi perikanan dan kelautan kurangakurat sehingga tidak ideal untukdijadikan sebagai dasar pengambilankebijakan bagi pemerintah daerah.Bertitik tolak pada kondisi tersebutmaka sangat diperlukan suatu kegiatanidentifikasi data dan informasiperikanan di Kabupaten Bengkalissecara tepat dan akurat sehingga dalammenentukan kebijakan ke depan dapatdisesuaikan dengan arahan-arahan yangmendukung pembangunan daerah.Permasalahan-permasalahanyang ditimbulkan oleh kegiataneksploitasi dan eksplorasi sumberdayatersebut dapat diatasi denganmelakukan suatu identifikasi terlebihdahulu terhadap potensi sumberdayaperikanan dan kelautan yang ada diKabupaten Bengkalis sehinggadiharapkan nantinya diketahui kondisidan keberadaan jenis-jenis aktifitasyang sedang terlaksana baik itu aktifitasekonomi maupun aktifitas-aktifitaslainnya yang bersinggungan langsungdengan pemanfaatan sumberdayaperikanan dan kelautan di KabupatenBengkalis. Dengan dilakukannyakegiatan identifikasi potensisumberdaya perikanan dan kelautanmaka diperoleh data dan informasi yangdapat dijadikan sebagai dasarpengambilan kebijakan dalampengelolaan sumberdaya bagipemerintah Kabupaten Bengkalis.Tujuan penelitian adalah:Mengidentifikasi potensi sumberdayaalam perikanan dan kelautan baikuntuk usaha penangkapan (laut danperairan umum) maupun usahabudidaya perikanan (budidaya airtawar, air payau dan laut) diseluruhwilayah Kabupaten Bengkalis.METODE PENELITIANData yang dikumpulkan baik itudata primer dari hasil pengumpulan dilapangan maupun data sekunder akanditabulasikan dan dianalisis secaraterpadu terhadap semua data yang37


erhasil dikumpulkan dan akan disusunarah pengembangan dan pemanfaatanyang cocok dan sesuai untuk wilayahKabupaten Bengkalis.Untuk beberapa kondisi tertentuyang berkaitan dengan karakteristikpotensi sumberdaya perikanan dankelautan masing-masing kecamatan diKabupaten Bengkalis akan dilakukanpembuatan peta berdasarkan tema-temayang berkaitan tentang sebaran potensi.Potensi sumberdaya perikanandan kelautan yang diukur adalah; Potensiperikanan tangkap dengan menggunakanPENDEKATAN metode CPUE (Pascoe,etr al. 2003; Ward, et al. 2004; Hoggarthet al. 2006) dan Potensi perikananbudidaya payau, tawar denganmenggunakan metode yangdikembangkan oleh Gesamp, (2001).Hasil tangkapan ikan per unitusaha dari perairan Bengkalis dianalisisberdasarkan data hasil tangkapan dari 10jenis alat tangkap utama yang beroprasidi perairan Bengkalis Nilai Effortdiperoleh dengan mengkonversi alattangkap lain ke Jaring hanyut. Konversike jaring hanyut didasarkan kepada nilaiinvestasi dalan satu unit alat tangkap.Satu unit alat tangkap jaring hanyutterdiri dari satu kapal motor besertamesin dan haul, 40 keping jaring, 2 orangnelayan.Untuk potensi perikanan diKabupaten Bengkalis terdiri dari potensiperikanan tangkap, perikanan budidaya,perikanan pasca panen. Potensi perikanantangkap di Kabupaten Bengkalis tersebardi dua zona penangkapan, yakni zonapenangkapan Selat Antar Pulau (Selat AirHitam, Selat Bengkalis, Selat Rupat,Selat Asam, Selat Panjang, dan SelatMorong) dan zona penangkapan SelatMalaka. Sementara potensi perikananbudidaya di Kabupaten Bengkalisdibedakan atas (a) Potensi BudidayaTambak; (b) Potensi Budidaya KerambaJaring Apung; (c) Potensi BudidayaPantai (Budidaya Kerang Darah); dan (d)Potensi Budidaya Kolam.Dari aspek geografis, topografifisiografi dan demografis, Kab. Bengkalismerupakan daerah yang potensi untukkegiatan yang berhubungan denganperikanan baik perikanan darat maupunperikanan laut.Dengan kandungan logam beratsecara umum tidak melebihi nilai bakumutu serta pH air berkisar antara 7 danditujang oleh iklim tropis yangmempunyai curah hujan antara 336.2 –792 mm/tahun dan temperatur udaraantara 26 °C – 32 °C sangat mendukungkegiatan perikanan baik penangkapanmaupun budi daya, meliputi budidayalaut dalam keramba, tambak dan kolam.38


HASIL DAN PEMBAHASANNilai investasi satu unit alattangkap jaring adalah yang tertinggi yaitusekitar 87.5 juta rupiah. (Tabel 1). Dataproduksi atau hasil tangkapan diperolehdari hasil wawancara dengan nelayan darimasing-masing alat tangkap per unitusaha (Effort) sehingga diperoleh nilaiproduksi (Catch) per tahun. Total HasilTangkapan (Total Catch) diperolehdengan mengalikan hasil tangkapandengan jumlah unit alat tangkap. Daridata tentang hasil tangkap (Catch,ton/tahun) dan nilai unit alat tangkap(Effort) maka diperoleh angka atau nilaihasil tangkapan per unit usaha (Catch perunit effort, CPUE). (Tabel 2).Tabel 1. Rincian hasil tangkap (catch) dan unit usaha (effort) dari 10 jenis alat tangkapyang beroprasi di perairan Bengkalis tahun 2008Jenis alat tangkap ∑ AlatInvestasiTotal∑Alat/∑- unit per unit Konversi Effortunit(x juta)(E)Gill net- keeping 70901 40 1773 87.5 1.00 1773Trammel netkeeping9362 20468 23.5 0.27 126Rawai - (basket) 1489 3 496 11.25 0.13 64Gombang- ktg 6176 15 412 24 0.27 113Ambai - mata 130 10 13 18 0.21 3Pengerih - ktg 2276 8 285 7 0.08 23Sondong- unit 451 1 451 11.5 0.13 59Pukat pantai- unit 236 1 236 8 0.09 22Bubu- unit 3260 10 326 10.5 0.12 39Belat – arau 694 1 694 10.5 0.12 8370901 5153 2304Tabel 2. Analisis CPUE 10 jenis alat tangkap yang beroperasi di perairan Bengkalis tahun2008Jenis alat tangkapProduksiTotalCatch perTotalkg/unit ∑- unit CatchUnit effort,Effortthton/yearton/unit/tahunGill net- keeping 8785 1773 15571.6 1773 8.79Trammel net- keeping 1550 468 725.6 126 5.77Rawai - (basket) 1395 496 692.4 64 10.85Gombang- ktg 24350 412 10025.7 113 88.78Ambai - mata 25000 13 325.0 3 121.53Pengerih - ktg 15650 285 4452.4 23 195.63Sondong- unit 19950 451 8997.5 59 151.79Pukat pantai- unit 16417 236 3874.4 22 179.56Bubu- unit 1235 326 402.6 39 10.29Belat – arau 1412 694 979.9 83 11.77115744 5153 46047 2304 19.9939


Dari Tabel 2 terlihat bahwa jaring hanyut(gill-net) memiliki effort yang tertingiyaitu sebesar 1773 unit sedangkan yangterendah adalah alat tangkap ambai (3unit). Ini berarti hampir 77% alattangkap yang beroperasi di peraianBengkalis termasuk kedalam JaringHanyut. Jumlah effort yang tinggi darijaring hanyut menyebabkan hasiltangkapan per unit usaha (CPUE)menjadi rendah yaitu sekitar 8.79ton/unit/tahun. Sedangkan CPUE yangtertinggi diperoleh dari alat tangkappengerih yaitu sebesar 195,63ton/unit/tahun.Data tentang hasil tangkapan,effort dan CPUE yang digambarkan diatas (Tabel 1 dan 2) menunjukkan statusperikanan tangkap yang terjadi disepanjang tahun 2008. Total hasiltangkapan atau produksi pada tahun 2008adalah sebesar 46.047 ton dengan toaleffort sebesar 2304 unit dan rata-rataCPUE 19.99 ton/unit/tahun. Data CPUEini dapat dijadikan indeks darikelimpahan sumber atau stok suatuperairan. Apakah data CPUE ini telahmencapai maksimum masih harus terusdipantau. CPUE bisa terus naik kalaustok ikan di perairan tersebut masihcukup tersedia dan effort masih kecil.Kalau CPUE terus menurun, maka inisuatu indikasi bahwa eksploitasi telahmencapai optimum dan malah melebihidari potensi lestari. Kalau data effort danCPUE dapat dihitung dalam 10 tahunterakhir, maka akan dapat diprediksibesarnya potensi dan sumber perairan(Horgath et al. 2006).Analisis Jenis Hasil TangkapanJenis hasil tangkapan dianalis darimasing-masing alat tangkap berdasarkankomposisi jenis ikan per alat. Komposisijenis (%) yang tertangkap dari masingmasingalat berdasarkan hasil wawancaradan pengamatan langsung hasiltangkapan masing-masing nelayan dankemudian dikalikan dengan total hasiltangkapan per alat tangkap. Jenis yangdianalisis adalah 20 jenis ikan ekonomispenting, seperti udang dan ikan rucah.Ikan rucah adalah ikan hasil tangkapanGombang, Ambai, Sondong, Pengerihdan Pukat Pantai, yang berukuran kecil,umumnya diolah menjadi terasi ataupakan ikan budidaya KJA.Hasil analisis pada Tabel 3menunjukkan bahwa jumlah hasiltangkapan atau Total catch tahun 2008diperkirakan sebesar 46.047 ton. Alattangkap Jaring Hanyut menempati urutantertinggi dengan hasil tangkapan sekitar15.572 ton, diikuti dari tangkapangombang (10.025.7 ton), sondong (8997ton), pengerih (4.452,4 ton), pukat pantai(3.874,4 ton), belat (980 ton), trammel net40


(725.5 ton), bubu (402.6 ton) dan Ambai(302 ton). Dari 20 jenis ikan ekonomispenting yang tertangkap dari beberapa jenisalat tangkap, ikan senangin menempatihasil tangkapan tertinggi, sedangkan yangterendah adalah ikan merah atau kerapu.Total hasil tangkapan udang yang berasaldari alat tangkap trammel net, gombang,pengerih, ambai, sondong dan pukat pantaisekitar 7.392.2 ton/tahun. Ikan rucahmenempati hasil tangkapan tertinggi yaitusekitar 11.448.2 ton.Analisis Potensi PerikananPotensi Perairan adalah jumlahsumber (Perikanan) yang boleh ditangkapdari suatu perairan. Analisa potensiperairan di Perairan Laut Bengkalismengacu kepada Potensi Perairan SelatMalaka dan kemudian diekstrapolasiberdasarakan luas perairan. PotensiPerairan Selat Malaka hasil dariPerhitungan Nontji (Nontji, A. 2004).yang dilakukan pada tahun 2001 adalahsebesar 276.030 ton dan telahdimanfaatkan sebesar 389.280 ton,sahingga kondisinya telah mencapai lebihpungut (overfishing). Luas Selat Malakaberdasarkan perhitungan berdasarkanpeta adalah 162.000 km 2 , sedangkan luasPerairan Bengkalis (perairan antara pulaudan ZEE adalah 10.497,3 km 2 . Analisispotensi perairan dan tingkat eksploitasi diperaian Bengkalis dapat dilihat padaTabel 4.Hasil analisa pada Tabel 4menunjukkan bahwa perairan Bengkalissecara keseluruhan telah dieksploitasimelebihi potensi perairan yaitu sebesar257,5%, atau telah melebihi 2,5 kali daripotensi lestari perairan. Berdasarkan jeniskomoditi, hanya ikan pelagis kecil,seperti jenis ikan belanak, biang, bawal,selar, yang masih mendekat potensiperairan dengan tingkat eksploitasi 99%,Tabel 4. Analisis Potensi dan tingkat eksploitasi Perikanan laut Bengkalis tahun 2008JeniskomoditasPotensi SelatMalaka*)(t/tahun)Luas SelatMalaka(km 2 )Luas peraianBengkalis(km 2 ) (mt)PotensiBengkalis(ton/tahn)HasilTangkapan(ton)Total 276.030 162.000 10.497,3 17.886,2 46.063Pelagis 27.670 1.973 7.060,2besarPelagis kecil 147.300 9.544,8 9.459.9Demersal 82.400 5.339,4 22.151,1Udang 11.400 738,7 7392,2Lobster 400Cumi-Cumi 186041


Tabel 3. Hasil tangkapan (ton) dari 20 jenis ikan ekonomis penting, udang dan ikan rucah dari 10 alat tangkap utama di perairan Bengkalistahun 2008JenisIkanGill netkeepingTrammelnet- keepingRawai -(basket)Gombang- kantongAmbai- mataPengerih- kantongSondongunitPukatpantai- unitBubuunitBelat –arauTotal catchTonTenggiri 2335.74 69.24 2405.0Senangin 2335.74 108.83 1349.62 387.44 97.99 4279.6Terubuk 155.72 155.7Parang 1557.16 899.75 387.44 97.99 2942.3Bawaql 1557.16 72.56 899.75 387.44 97.99 3014.9Talang 778.58 72.56 851.1Selar 1557.16 1557.2Biang 2335.74 16.25 222.62 2574.6Lomek 778.58 1002.57 16.25 445.24 899.75 387.44 3546.1Belanak 2180.03 1349.62 193.72 146.99 3870.4Kurau 69.24 69.2Gerot 69.24 60.39 129.6Debuk 103.86 60.39 164.2Jenak 69.24 80.52 149.8Kakap 34.62 80.52 115.1duri 108.83 69.24 16.25 193.72 60.39 146.99 595.4Sembilan69.24 387.44 60.39 146.99 664.1gMalung 69.24 69.2Merah 34.62 34.6UDANG 362.78 3007.71 65.00 1780.97 1349.62 581.16 244.98 7392.2Kerapu 34.62 34.6Rucah 6015.42 211.25 2003.59 2249.36 968.60 11448.215571.63 725.555 692.385 10025.71 325 4452.425 8997.45 3874.412 402.61 979.928 46047.1Sumber: Diolah dari berbagai Sumber42


sedangkan jenis lain, seperti pelagis besar(seperti, Tenggri, Parang) sudah jauhmelebihi potensi perairan (383,8%), ikandemersal (kurau, debuk, siakap) dengantingkat eksploitasi 414,9% dan udang1000,7%.Melihat kondisi seperti ini makatindakan yang perlu diambil adalahmengevaluasi jenis alat tangkap ikanplagis besar (jaring), ikan demersal(jaring, rawai) dan alat tangkap udang(trammel net, Gombang, Bubu)agar sesuai dengan jumlah yangdiperbolehkan menurut potensi lestariyang ada.Potensi BudidayaBerdasarkan potensi geografis, lahanserta kondisi perairan yang ada makalokasi perikanan budidaya di kabupatenBengkalis terdiri dari perikanan budidayapantai (Coastal aquaculture) danperikanan budidaya air tawar (Freshwateraquaculture). Perikanan pantai berpotensidikembangkan di kecamatan-kecamatanBengkalis, Bantan, Merbau, RangsangBarat, Rangsang, Tebingtinggi,Tebingtinggi Barat, Rupat Utara, Rupatdan Bukit Batu. Sedangkan untukperikanan budidaya air tawar dapatdikembangkan di Kecamatan Mandau,Pinggir dan Siak Kecil.Budidaya Pantai (CoastalAquaculture). Budidaya Tambak(Brackishwater pond aquaculture).Budidaya tambak mulai diperkenalkandi Kabupaten Bengkalis pada sekitartahun 80-an. Budidaya ini mengambillokasi di kawasan hutan bakau (mangrovearea) di beberapa pulau seperti pulauTebingtinggi, Rangsang, Bengkalis. Luashutan bakau di Kabupaten Bengkalisdiperkirakan sekitar 46.967 Ha,menyebar di sepuluh kecamatan (Tabel6). Kalau dari luas tersebut 5%(berdasarkan rekomendasi GESAMP,2001); untuk budidaya pantaiberkelanjutan (Sustainabel CoastalAquaculture) dijadikan arealpertambakan maka potensi Tambak diKabupaen Bengkalis adalah 2.398 HA.Sampai tahun 2008 luas tambak yangpernah ada dan beroperasi di KabupatenBengkalis adalah 115,4 Ha, atau barudimanfaatkan sebesar 4.8%. (Tabel 6).Tabel 5. Potensi Perikanan Budidaya Pantai di Kabupaten BengkalisJenis Budidaya Potensi Yang Ada PemanfaatanTambak (Brakishwater pond Culture) ( Ha) 2398 115.4 4.8Keramba Jaring Apung (Cage Culture) (Unit) 8625 86 0.99Budidaya kerang (Coockle beach culture) (ha) 720 0 043


Tabel 6. Luas Mangrove dan Potensi Budidaya Tambak (brackishwater Aquaculture) danpersentase pemanfaatan tahun 2008 di Kabupaten BengkalisKecamatanLUAS Perkiraan Potensi Luas tambakPersentasemangrove tambak 5% dari luas yang ada (ha)pemanfaatan(ha)*) hutan bakau (Ha) **)Rupat Utara 12783 639 1,5 0,23Rupat 5806 290,3 13 4.5Bantan 5584 279,2 27.72 9.9Bengkalis 4258 212,9 41 19.25Merbau 6721 336 0 0Rangsang Barat 4506 225,3 2.6 1,15Rangsang 744 37,2 2 5,4Tebingtinggi Barat 2215 110,7 8.5 7.7Tebingtinggi 3452 172,6 16 9,3Bukit Batu 898 44,9 3.08 5Total Luasan 46967 2.398 115.4 4.8*)Sumber : Analisis Citra Satelit 2005 dan Hasil Studi Pengamatan Lapang Tahun 2008.**) Sumber : UPTD dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bengkalis 2007.Budidaya Keramba Jaring Apung(Floating Cage Aquaculture)Budidaya keramba jaring apungdi kabupaten Bengkalis telah dimulaiberkembang pada awal tahun 2000-an.Jenis ikan yang dipelihara dan yangsesuai dengan kondisi perairan adalahikan kakap. Petani 44ndus jugamembesarkan ikan kurau. LokasiBudidaya KJA yang dianggap baikberdasarkan keriteria untuk budiaya ikandalam KJA (GESAMP, 2001) adalahperairan yang aman dari angin dangelombang, salinitas stabil, terhindar darilimbah 44ndustry, aman dari lalu lintaspelayaran. Berdasarkan ini di perairanBengkalis lokasi Budidaya KJA yangsudah beroprasi adalah di selat-selat(selat air hitam dan selat asam). Lokasilain yang berpotensi untuk dikembangkansebagai lokasi Budidaya KJA adalah :Selat panjang (selat antara Tebingtinggidan Pulau Sumatera), Selat MorongRupat, Selat Suir Tebingtinggi, SelatSodor Rangsang. (Tabel 6).Ada 7 lokasi yang diperkirakanmemenuhi potensi untuk dijadikan lokasibudiaya KJA. Potensi dari ketujuh lokasitersebut adalah 8625 unit (1 unit terdiridari 4 kantong ukuran 5x5x4 meter).Data saat ini menunjukkan bahwa jumlahunit keramba yang sudah beroprasi baruterdapat di perairan Selat Air Hitam(lokasi 1 dan 2) sebanyak 74 unit danPerairan Selat Asam Lokasi 1 sebanyak12 unit. Secara keseluruhan pemanfaatanbudidaya KJA baru mencapai sekitar 1%dari potensi yang ada.44


Tabel 7. Luas Selat dan Potensi Budidaya KJA dan tingkat pemanfaatannya tahun 2008 diKabupaten BengkalisLokasi Budidaya KJAPerkiraan PerkiraanLuas KJA yang Pemanluas potensi KJA(km 2 ) Km 2 ada (unit) faatan (%)(unit)1. Selat Air Hitam 60- Lokasi 1- Repan 2 (500) 44 8.8- Lokasi 2- Peranggas 2 (500) 30 6.0- lokasi 3- Tg Sari 2 (500) -- Lokasi 4- P Topang 2 (500) -2. Selat Panjang 150- Lokasi 1- Pulau Jadi 3 (750) -- Lokasi 2- P Panjang 3 (750) -- Lokasi 3- Mengkikip 2 (500) -Lokasi Budidaya KJAPerkiraanluas(km 2 )Perkiraanpotensi KJAKm 2 (unit)Luas KJA yangada (unit)Pemanfaatan (%)3. Selat Asam 37.5- Lokasi 1- Tl Belitung 2 (500) 12 2.4- Lokasi 2- Tg Pulai 2 (500) -4. Selat Bengkalis 180- Lokasi 1- Tameran 3 (750) --Lokasi 2- Kudap 3 (750) -_lokasi 3- Kelapati 3 (750) -5. Selat Morong Rupat 22- Lokasi 1- S. Cingam 2 (500) -- Lokasi 2- R-Utara 2 (500) -6. Selat Suir 6- Lokasi 1- Banglas 1 (250) -7. Selat Sodor, 4- Lokasi 1- M- sodor 0,5 (125) -Jumlah Total 34 (8625) 86 0.99Catatan : 1 unit KJA terdiri dari 4 kantong ukuran (5x5x4 meter)Budidaya Shelfish (Kerang)Sumberdaya moluska (bivalva) diperairan bengkalis pada masa lalu sangatpotensial. Habitat bivalva, terutama jeniskerang dara (Anadara granosa)terkonsentrasi di kawasan pantaimangrove Utara pulau Rangsang danPulau Bengkalis. Pantai yang agak landaimerupakan habitat yang disukai olehkerang dara. Potensi kawasan yang dapatdimanfaatkan untuk budidaya kerangdengan sistem pagar (Fence cockle45


culture) dari kedua lokasi tersebut adalahsekitar 400 Ha di Lokasi Pantai SelatBaru dan sekitar 320 Ha di Pantai AnakSetatah Rangsang.Budidaya Air Tawar (FreshwaterAquauculture)Potensi Budidaya Air Tawar(Freshwater aquaculture) di kabupatenBengkalis terkonsentrasi di KecamatanMandau, Kecamatan Pinggir danKecamatan Siak Kecil. Teknologibudidaya air tawar yang dapatdikembangkan dari 3 kecamatan iniadalah Budidaya kolam (pondaquaculture); budidaya keramba (cageaquaculture) dan budidaya bak (TankAquaculture). Besar kecilnya usaha dariketiga teknologi ini bergantungsepenuhnya pada ketersediaan sumberair; ketersediaan benih; ketersediaanpakan dan prasarana penunjang lain;serta ketersediaan pasar. Namundemikian untuk jangka panjang perludiketahui potensi luas lahan yang dapatdijadikan lokasi budidaya ikan air tawar.Secara umum, potensi budidayakolam dapat ditentukan dari berbagaicara atau metode. Yang paling akuratadalah dengan metode studi kelayakanlokasi (site Feasibility study). Surveidilakukan secara detail ke lokasi-lokasiyang dianggap memenuhi persyaratanteknis, biologis dan soaio-ekonomis.Dari data teknis, biologis dan sosioekonomkisyang dikumpulkan dilapangan dianalisis seberapa besarkelayakan lokasi untuk mendapatkanlokasi budiaya kolam, keramba ataubak. Dari sini dapat dihitung berapapotensi yang dapat dikembangkanberdasarkan kategori sangat baik, baikdan sedang untuk lokasi budiaya.Kategori ini nanti akan berhubungandengan investasi yang akan ditanam.Semakin baik lokasi semakin kecilinvestasi yang ditanam.Metode Perkiraan (SiteEstimation Method) potensi budidaya airtawar dapat juga digunakan berdasarkanluas wilayah. Hal ini memungkinkankarena pada perinsipnya budidaya airtawar dapat dilakukan dimana saja asalada sumber air yang memenuhipersyaratan budidaya tersedia. Sumber airakan menentuan tingkat teknologibudidaya yang akan dikembangkan mulaidari teknologi sederhana (kolam tadahhujan) sampai teknologi modern (kolamair deras). Dalam laporan ini akan dipakaimetode perkiraan dengan memakai angka1-5% dari luas wilayah dan perairandapat dijadikan sebagai lahan atau lokasibudiaya kolam dan budiaya keramba.Angka 1-5% ini adalah patokan yangbiasa digunakan untuk wilayah dataranrendah dimana sumber air umumnya46


ertumpu pada mata air dan air resapan(bukan sumber mata air dari pegununganyang jumlah tidak terbatas).KESIMPULAN1. Total potensi perairan Bengkalisyaitu 17.886,2 ton/tahun.Berdasarkan jenis komoditinya,potensi ikan pelagis besar 1.973ton/tahun, ikan pelagis kecil 9.544,8ton/tahun, ikan demersal 5.339,4ton/tahun, dan udang 738,7ton/tahun.2. Tingkat pemanfaatan total perairanBengkalis 46.063 ton/tahun(383,8%). Berdasarkan jeniskomoditi, hanya ikan pelagis kecil,seperti jenis ikan belanak, biang,bawal, selar, yang masih mendekatpotensi perairan dengan tingkateksploitasi 99%, sedangkan jenislain, seperti pelagis besar(seperti,Tenggri, Parang), ikandemersal (kurau, debuk, siakap)dengan tingkat eksploitasi 414,9%dan udang 1000,7%.3. Ada 7 lokasi yang diperkirakanmemenuhi potensi untuk dijadikanlokasi budiaya KJA yaitu Selat AirHitam, Selat Panjang, Selat Asam,Selat Morong Rupat, SelatBengkalis, Selat Suir, dan SelatSodor. Potensi dari ketujuh lokasitersebut adalah 8625 unit (1 unitterdiri dari 4 kantong ukuran 5x5x4meter).4. Potensi kawasan yang dapatdimanfaatkan untuk budidaya kerangdengan sistem pagar (Fence cockleculture) adalah sekitar 400 Ha diLokasi Pantai Selat Baru dan sekitar320 Ha di Pantai Anak SetatahRangsang.5. Potensi Budidaya Air Tawar(Freshwater aquaculture) dikabupaten Bengkalis terkonsentrasidi Kecamatan Mandau, KecamatanPinggir dan Kecamatan Siak Kecil.Teknologi budidaya air tawar yangdapat dikembangkan dari 3kecamatan ini adalah Budidayakolam (pond aquaculture); budidayakeramba (cage aquaculture) danbudidaya bak (Tank Aquaculture).6. Aktifitas perikanan yangberlangsung di Kecamatan Bengkalismemberikan nilai produksi untuktahun 2007 sebesar 208,80 ton. Nilaiini hanya disumbangkan olehaktifitas perikanan tangkap.Sementara perikanan budidayabelum memberikan sumbanganproduksi.7. Aktifitas perikanan yangberlangsung di Kecamatan Bantanmemberikan nilai produksi untuk47


tahun 2007 sebesar 47,42 ton. Nilaiini disumbangkan oleh aktifitasperikanan tangkap dan tambak.8. Aktifitas perikanan yangberlangsung di Kecamatan BukitBatu memberikan nilai produksiuntuk tahun 2007 sebesar 72,92 ton.Nilai ini disumbangkan oleh aktifitasperikanan tangkap.9. Aktifitas perikanan yangberlangsung di Kecamatan SiakKecil memberikan nilai produksiuntuk tahun 2007 sebesar 32,86 ton.Nilai ini disumbangkan oleh aktifitasperikanan tangkap dan budidaya.10. Aktifitas perikanan yangberlangsung di Kecamatan Rupatmemberikan nilai produksi untuktahun 2007 sebesar 8.642 ton. Nilaiini disumbangkan hanya olehaktifitas perikanan tangkap diperairan laut.11. Aktifitas perikanan yangberlangsung di Kecamatan RupatUtara memberikan nilai produksiuntuk tahun 2007 sebesar 337,7 ton.Nilai ini terbesar disumbangkanhanya oleh aktifitas perikanantangkap di perairan laut.12. Aktifitas perikanan yangberlangsung di Kecamatan BukitBatu memberikan nilai produksiuntuk tahun 2007 sebesar 37,20 ton.Nilai ini hanya disumbangkan olehaktifitas perikanan budidayaperkolaman.13. Aktifitas perikanan yang berlangsungdi Kecamatan Pinggir memberikannilai produksi untuk tahun 2007sebesar 42,40 ton. Nilai inidisumbangkan oleh aktifitas perikananair tawar (penangkapan dan budidaya).14. Aktifitas perikanan yang berlangsungdi Kecamatan Merbau memberikannilai produksi untuk tahun 2007sebesar 144,16 ton. Nilai inidisumbangkan oleh aktifitas perikanantangkap dan Keramba Jaring Apung.15. Aktifitas perikanan yang berlangsungdi Kecamatan Rangsang memberikannilai produksi untuk tahun 2007sebesar 1.707,60 ton. Nilai ini terbesardisumbangkan oleh aktifitas perikanantangkap di perairan laut.16. Aktifitas perikanan yang berlangsungdi Kecamatan Rangsang Baratmemberikan nilai produksi untuktahun 2007 sebesar 941,55 ton. Nilaiini terbesar disumbangkan olehaktifitas perikanan tangkap di perairanlaut.17. Aktifitas perikanan yangberlangsung di Kecamatan TebingTinggi memberikan nilai produksiuntuk tahun 2007 sebesar 33,89 ton.Nilai ini terbesar disumbangkan oleh48


aktifitas perikanan tangkap diperairan laut.18. Aktifitas perikanan yangberlangsung di Kecamatan TebingTinggi Barat memberikan nilaiproduksi untuk tahun 2007 sebesar3,34 ton. Nilai ini terbesardisumbangkan oleh aktifitasperikanan tangkap di perairan laut.DAFTAR PUSTAKABoer, M., Aziz, K.A., Widodo, J.,Djamali, A., Ghofar, A. & Kurnia,R. 2001. Potensi, Pemanfaatandan Peluang PengembanganSumberdaya Ikan Laut di PerairanIndonesia. Direktorat Riset danEksplorasi Sumberdaya Hayati,Direktorat Jenderal PenyerasianRiset dan Eksplorasi Laut,Departemen Kelautan danPerikanan Komisi NasionalPengkajian Sumber DayaPerikanan Laut - Pusat KajianSumberdaya Pesisir dan Lautan,Institut Pertanian Bogor. Bogor.49p.FAO. (2008). Fisheries Management:Managing Fishing capacity. FAOTech. Guidline For ResponsibleFisheries 4 suppl. 3. FoodAgriculture Organization of TheUnited Nation, Rome. 120 p.GESAMP (IMO/FAO/UNESCOIOC/WMO/WHO/IAEA/UN/UNEPJoint Group of Experts on theScientific Aspects of MarineEnvironmental Protection), 2001.Planning and management forsustainable coastal aquaculturedevelopment. Rep.Stud.GESAMP, (68): 90 p.Hoggarth, D.D., Abeyasekera, S. Arthur,R.I., Beddington, J.R., Burn,R.W., Halls, A.S., Kirkwood,G.P., McAllister, M., Medley, P.,Mees, C.C., Parkes, G.B., Pilling,G.M., Wakeford, R.C.,Welcomme, R.L. (2006). Stockassessment for fisherymanagement–A framework guideto the stock assessment tools ofthe Fisheries ManagementScience Programme (FMSP).FAO Fisheries Technical Paper.No. 487. Rome, FAO. 261p.Martosubroto, P., Naamin, N. & Malik,B.B.A. 1991. Potensi danPenyebaran Sumber Daya IkanLaut di Perairan Indonesia.Direktorat Jenderal PerikananPuslitbang Perikanan PuslitbangOseanologi, LIPI. Jakarta. 104p.Nontji, A. 2004. Managing the marineenvironment of the straits ofMalacca. Paper presented in the49


Converence on the Straits ofMalacca, 11-13 October 2004).Pascoe, S., Kirkley, J.E, Gréboval, D.,Morrison-Paul, C.J. 2003.Measuring and assessing capacityin fisheries. 2. Issues andmethods. FAO FisheriesTechnical Paper. No. 433(2).Rome, FAO. 130p.Venema, S.C. 1996. Report on theINDONESIA/FAO/DANIDAWorkshop on the Assessment ofthe Potential of the MarineFishery Resources in Indonesia.Denmark Fund in Trust,FI:GCP/INT/575/DEN. ReportActivity No. 15, FAOUN, Rome.Ward, J.M., Kirkley, J.E., Metzner, R.,Pascoe, S. 2004. Measuring andassessing capacity in fisheries. 1.Basic concepts and managementoptions. FAO Fisheries TechnicalPaper. No. 433/1. Rome, FAO.40p.Jurnal Teknobiologi, 1(1) 2010: 51 - 6150


ISSN : 2087-5428KONTAMINASI LOGAM BERAT PADA IKAN BUDIDAYA DALAM KERAMBAJARING APUNG DI WADUK CIRATAETTY RIANIDepartemen MSP, Laboraturium Ekobiologi & Konservasi, FPIK, Institut PertanianBogor, BogorABSTRACTCirata lake is often used to throw garbage and wasted water (domestic, industrial andagricultural waste). It is causing pollution. One of the pollution subtances is heavy metallike mercury (Hg), plumbum (Pb), Cromium (Cr) and cadmium (Cd). Heavy metalpollution will create negative effect on living organism. Heavy metals may becomecarcinogenic, mutagenic and teratogenic agent. The aim of this research is to evaluateheavy metals in fish that were cultured in pan culture in Cirata Lake. The research wereconducted in three steps, i.e. to determine water quality (physical and chemicalparameters), to determine heavy metals pollution and to determine heavy metalscontamination in fishes were cultured in pan cultured, especially in gill, liver, lymph andmeat. The result of the research revealed that water quality in Cirata Lake was goodenough category, but that lake was polluted by heavy metals (Pb, Cd and Hg). Thecultured fishes in pan cultured (Cyprinus carpio and Oreochromis niliticus) were highcontaminated by heavy metals, especially in gill, liver and lymph; but heavy metalscontamination on meat is lower than gill, liver and lymph. The meat of cultured fishes inpan cultured in Cirata Lake is relatively being safe for consumption.Keywords: ?PENDAHULUANWaduk Cirata adalah salah satuwaduk yang ada di Indonesia yangmempunyai berbagai fungsi (wadukserbaguna). Waduk Cirata terletakdiantara Waduk Saguling dan WadukJuanda-Jatiluhur yang salingberhubungan satu dengan lainnya, yakniWaduk Saguling di bagian hulu, WadukCirata di bagian tengah dan WadukJuanda Jatiluhur di bagian hilir, yangkeseluruhannya terdapat dalam DASCitarum.Seperti halnya waduk yang lain,Waduk Cirata merupakan perairanumum, yang dapat dimanfaatkan olehsetiap orang. Kondisi ini memberipeluang kepada hampir semua oranguntuk melakukan usaha, kesempatan danmemperoleh pendapatan, seperti untukbudidaya ikan. Oleh karena itu makaWaduk Cirata walau awalnya dibangununtuk pembangkit listrik tenaga air,51


namun dengan berjalannya waktu jugadimanfaatkan untuk kegiatan perikanan,baik perikanan tangkap maupun kegiatanperikanan budidaya, serta kegiatan lainseperti pariwisata, dsb.Selain dimanfaatkan untukkegiatan tersebut, Waduk Cirata jugadimanfaatkan (secara tidak sengaja)untuk menampung limbah cair yangberasal dari kegiatan antropogenik sepertilimbah rumah tangga (domestik),pertanian, perkotaan, industri, dan limbahlain, serta seringkali dimanfaatkan untukmembuang sampah yang dibawa olehSungai Citarum. Selain limbah yangberasal dari luar yang masuk ke dalamperairan melalui Sungai Citarum jugaterdapat limbah yang berasal darikegiatan yang ada di dalam waduk,terutama kegiatan budidaya ikan dalamKJA. Oleh karena itu maka Waduk Ciratamerupakan waduk yang sudah jenuhdengan berbagai limbah baik berupalimbah organik, maupun limbahanorganik, sehingga sangat berpotensiuntuk mengakibatkan terjadinyadegradasi lingkungan.Khusus untuk limbah organik,menurut Garno (2002) diantara kesemuapenyumbang bahan organik di WadukCirata, penyumbang paling besar justruberasal dari kegiatan budidaya ikandalam KJA. Selanjutnya dikatakan bahwadi Waduk Cirata, sumbangan bahanorganik dari KJA mencapai 80%.Melimpahnya limbah organik dalamwaduk telah menimbulkan berbagaimasalah, diantaranya adalah masalahumbalan yang seringkali mengakibatkanterjadinya kematian masal pada ikan yangdibudidaya dalam KJA. Namun di lainpihak, limbah anorganik juga cukupmelimpah, terutama berasal dari kegiatanindustri yang membuang limbahnya disepanjang Sungai Citarum atau anakSungai Citarum atau bahkan di sekitarWaduk Cirata. Adapun salah satu jenislimbah anorganik yang cukupmengkhawatirkan mengingat dihasilkandari berbagai kegiatan, terutama kegiatanindustri serta bersifat toksik dan dapatterakumulasi pada tubuh mahluk hidupadalah logam berat.Penelitian logam berat di perairanWaduk Saguling, terutama pada air dansedimennya sudah dilakukan olehbeberapa peneliti, namun kontaminasinyapada biota air yang hidup di dalamnya,informasinya masih sangat minim. Olehkarena itu maka kajian mengenaikontaminasi logam berat pada biota airyang ada di Waduk Cirata menarik untukdilakukan. Mengingat ikan yang ada diWaduk Cirata yang paling dominanadalah ikan budidaya dalam KJA, yakniikan mas dan ikan nila, dan ikan ini52


merupakan ikan konsumsi yang wilayahdistribusinya cukup luas, maka kajiankontaminasi logam berat pada ikan masdan ikan nila menarik untuk dilakukan.Penelitian ini bertujuan untukmempelajari kualitas air secara umum diWaduk Cirata dan mempelajarikontaminasi logam berat pada air danikan.METODA PENELITIANPenelitian ini dilakukan di WadukCirata, Kabupaten Purwakarta yangterbentang dari 6 0 40-- 6 0 48 LS dan107 0 14--107 0 22 BT. Waduk Ciratamerupakan lokasi yang dipilih padapenelitian ini mengingat Waduk Ciratamenghadapi berbagai masalah, terutamakarena keberadaan kegiatan budi dayaikan dalam KJA dapat dikategorikanmelebihi daya dukung lingkunganperairan tersebut serta masuknyaberbagai limbah yang berasal darikegiatan antropogenik yang berada disepanjang Sungai Citarum dan di sekitarWaduk Cirata.Penelitian ini dibagi menjadi dua,yakni penelitian kualitas air dilakukan ditujuh stasiun, sedangkan penelitiankontaminasi logam berat pada ikan hanyadilakukan di satu lokasi. Penelitiankualitas air dilakukan pada tujuh stasiunyang mewakili yakni di Stasiun Tailrace(outlet UP Pintu IV), Stasiun Intake UP,Stasiun Batas daerah bahaya, StasiunZona II Purwakarta (tengah waduk),Stasiun Muara Cisokan, Cilincing,Stasiun Babakan Garut, Cilincing,Stasiun Leuwi Jurig (inlet/pertemuanCimeta-Citarum). Pemilihan ketujuhlokasi pengamatan ini di dasarkan padapertimbangan bahwa lokasi-lokasitersebut dapat mewakili wilayah WadukCirata secara keseluruhan.Alat-alat yang digunakan dalampenelitian adalah peralatan analisis kimiadi laboratorium dan AAS (AtomicAbsorption Spectroscopy), dan peralatanlain yang digunakan untuk analisiskualitas air.Pengambilan Contoh dan PengukuranParameter Fisika-KimiaContoh air untuk sample logamberat yang diambil dari setiap lokasi unitcontoh dimasukkan ke dalam botolsampel dan diawetkan dengan HNO 3serta untuk parameter lainnya dilakukanpengawetan dengan disimpan pada suhu 4 0 C. Sample air dianalisis diLaboratorium Limnologi FPIK-IPB danpemeriksaan logam berat dilakukan diLaboratorium Lingkungan TIN-Fateta-IPB dengan menggunakan metodastandar. Data parameter kualitas air yangdiperoleh pada penelitian ini dianalisadengan membandingkannya dengan baku53


mutu yang tertera pada PP Nomor 82tahun 2001 tentang Pengelolaan KualitasAir dan Pengendalian Pencemaran Airserta dengan hasil dari kajian ilmiah.Parameter Fisika - Kimia AirPada penelitian ini dilakukanpengambilan sampel di tujuh stasiun yangdianggap mewakili daerah sekitarnya.Sampel air diambil dengan menggunakanbotol contoh dilakukan setiap bulanselama tiga bulan. Pengukuran parameterseperti suhu, kecerahan, kekeruhan,warna air, kelarutan oksigen, kandungankarbondioksida dan pH pengukurannyadilakukan secara in situ sedangkan untukmengukur parameter alkalinitas, nitrit,nitrat, amonium, amonia, sulfat, fosfat,kandungan zat organik, BOD 5 , COD,H 2 S, phenol, deterjen, pestisida dankandungan logam berat (Hg, Pb, Cr, danCd) dilakukan di laboratorium denganmenggunakan berbagai peralatan,diantaranya spektrofotometer dan AAS(Atomic Absorption Spectroscopy).Parameter BiologiSelain dilakukan pengambilansampel air dan sedimen, pada penelitianini juga dilakukan pengambilan sampelbiota air berupa ikan di stasiun KJAuntuk dilihat kontaminasi logam beratnyapada ikan. Pada penelitian ini ikancontoh yang diambil adalah ikanbudidaya, dan selanjutnya ikan dibedahuntuk diambil hati, insang ginjal danlimpanya untuk dilihat kandungan logamberatnya (Hg, Pb, Cr, dan Cd)Analisis DataKualitas AirData parameter kualitas air yangdiperoleh pada penelitian ini dianalisisberdasarkan baku mutu air dilakukandengan cara membandingkan nilai darimasing-masing parameter fisika-kimia airdengan Peraturan Pemerintah ProvinsiJawa Barat tentang Baku Mutu AirTawar.Tahapan analisis data :1. Mencari rata-rata dari masing-masingparameter dan standar deviasinyapada setiap stasiun selama dua kalipengamatan.2. Membandingkan data dengan bakumutu kualitas air dan literatur yang adauntuk melihat kualitas perairan.Kandungan logam berat pada organtubuh ikanData logam berat yang di dapatpada setiap organ tubuh ikan dibuat rataratanyaper jenis logam berat dari setiapikan contoh. Selanjutnya kandunganpada dagingnya akan dibandingkandengan baku mutu yang berlaku diNegara Eropa, tepatnya dengan bakumutu Negara Belanda. Pada penelitianini selain dilakukan analisa logam beratpada organ tubuh ikan, juga dilakukan54


analisa terhadap logam berat pada sampelair dan sedimen.HASIL DAN PEMBAHASANWaduk Cirata adalah waduk yangberada diantara Waduk Saguling danWaduk Juanda. Waduk ini terletak diDAS Citarum. Pada DAS Citarumterdapat berbagai kegiatan sepertipertanian, permukiman, perkotaan,industri, dan berbagai kegiatan lainnya,sehingga ke dalam Sungai Cig besaradalah limbah organic, sedangkan limbahanorganiknya dalam jumlah yangreltarum banyak terbawa limbah, baiklimbah domestik, limbah pertanian,limbah perkotaan maupun limbahindustri. Berdasarkan jenis kegiatan yangterdapat di DAS Citarum tersebut, didugalimbah yang berasal dari kegiatankegiatantersebut dalam jumlah yanativesedikit. Berdasarkan jenis kegiatantersebut di atas, limbah anorganik yangdiperkirakan masuk dalam jumlah yangcukup banyak antara lain adalah logamberat. Hal ini disebabkan logam beratdapat dihasilkan dari berbagai kegiatanseperti industri tekstil, industripenyamakan kulit, kegiatan pertanian,kegiatan perkotaan, kegiatan rumahtangga, dsb. Di lain pihak logam beratbersifat akumulatif, oleh karena itu makakajian kontaminasi logam berat pada ikanbudidaya di Waduk Cirata merupakankajian yang menarik.Kualitas Air Waduk CirataKualitas air Waduk Cirata padasaat dilakukan penelitian adalah sebagaiberikut. Kecerahan berkisar 63 cm - 178cm. Rendahnya nilai kecerahan di setiapstasiun juga sudah tercermin dari airnyayang berwarna hijau, akibat tingginyakelimpahan fitoplankton yang akanmenghalangi penetrasi sinar mataharimasuk ke dalam air. Oleh karenanya,walaupun pengukuran kecerahandilakukan pada siang hari dengan cuacacerah (intensitas cahayanya cukuptinggi), tidak serta merta mengakibatkantingginya kecerahan.Suhu perairan di setiap stasiunberkisar dari 25 – 32 0 C. Suhu 25 0 Cterjadi pada pengambilan sample pertama(paling pagi), dan suhu 32 0 C padapengambilan sample siang hari. Kisaransuhu tersebut memperlihatkan bahwaWaduk Cirata cukup mendukungkehidupan yang ada di dalamnya.Kekeruhan Waduk Cirata berkisar135 – 270 NTU. Tingginya kekeruhanair tersebut disebabkan adanya masukanlimbah ke dalam Waduk Cirata yangberasal dari bahan organik sisa pakan danberasal dari sungai yang membawalimbah rumah tangga, limbah perkotaan,55


limbah pertanian, limbah industri, sertatingginya kelimpahan plankton.pH perairan Waduk Cirataberkisar 6,55-7,88. Kondisi inimemperlihatkan bahwa pH perairanWaduk Cirata relatif bersifat basa,sehingga cukup baik untuk mendukungkehidupan yang ada di dalamnya.Oksigen terlarut dalam air (DO)Waduk Cirata berkisar 3,34-7,8 mg/l.Secara umum DO di perairan WadukCirata cukup tinggi. Hal ini terjadi karenapengukuran DO dilakukan pada sianghari, sehingga pada saat itu aktivitasfotosintesis tinggi yang menyebabkantingginya sumbangan oksigen ke dalamperairan. Namun demikian di stasiunsekitar KJA nilai DO-nya rendah. Hal inididuga ada kaitannya dengan banyaknyasisa pakan dari KJA, di lain pihak untukmenguraikan pakan tersebut dibutuhkanoksigen, sehingga mengakibatkanrendahnya DO di stasiun sekitar KJA.Namun demikian nilai-nilai tersebutmasih memenuhi syarat untuk kehidupanbiota air yang hidup di Waduk Cirata.Kandungan total fosfor selamapenelitian memperlihatkan nilai dengankisaran nilai yang cukup tinggi, yakni0,17 – 0,38 mg/l. Tingginya fosfor diWaduk Cirata diduga berasal dari sisapakan ikan budidaya dalam KJA, limbahrumah tangga, limbah pertanian maupunlimbah perkotaan yang masuk ke dalamWaduk Cirata, sehingga kandunganfosfornya melebihi baku mutu yangsudah ditetapkan.Konsentrasi nitrit di WadukCirata berkisar 0,00 – 0,07 mg.Kandungan nitrit yang tinggi terjadi distasiun sekitar KJA, sedangkan di lokasilainnya nitrit tidak terdeteksi. Tingginyanitrit di sekitar KJA berbading lurusdengan kandungan bahan organik dilokasi tersebut serta berbanding terbalikdengan DO yang memungkinkanterjadinya kondisi anaerobic.Konsentrasi nitrat di WadukCirata cukup tinggi, yakni 0,17 – 0,34mg/l. Tingginya nitrat ini berbandinglurus dengan jumlah bahan organik yangterdapat di Waduk Cirata. Dalam hal inibahan organik yang jumlahnya banyaktersebut, dengan adanya oksigen terlarutakan diuraikan dengan hasil akhir nitrat.Berbeda dengan di stasiun lainnya, distasiun sekitar KJA konsentrasi nitratnyarelatif rendah, karena penguraian bahanorganik di lokasi ini tidak sempurna. Halini terbukti dari tingginya nitrit di lokasiini.Nilai amoniak selama penelitianmempunyai kisaran 0,00 – 0,24 mg/l.Seperti halnya nitrit, nilai amoniaktertinggi juga terjadi di stasiun KJA,sedangkan di stasiun lainnya tidak56


terdeteksi. Hal ini terjadi karenakeberadaan oksigen di stasiun selainstasiun KJA cukup tinggi, sehinggaamoniak yang merupakan senyawa labil,teroksidasi menjadi nitrat, yangmengakibatkan amoniak menjadi tidakterdeteksi.Konsentrasi hidrogen sulfida(H 2 S) berkisar 0,00- 0,16 mg/l. Padastasiun lain selain Stasiun KJA H 2 S tidakterdeteksi, dan hanya pada stasiun KJAdengan DO yang relative rendah, yangkonsentrasinya mencapai 0,16 mg/l.Tingginya kandungan sulfida, nitrit danamoniak di Stasiun KJA ini didugasebagai akibat tingginya bahan organiksisa pakan yang kaya akan protein diStasiun KJA, sehingga mengakibatkanrendahnya DO dan tingginya sulfida,nitrit dan amoniak. Di lain pihak sulfida,nitrit dan amoniak yang tinggi ini dapatmengancam ikan budidaya yang adadalam KJA.Kontaminasi Logam Berat Pada Airdan Ikan BudidayaPada penelitian ini dilihat logamberat yang mempunyai toksisitas tinggidan diduga konsentrasinya tinggi, yaknilogam berat Pb, Cr, Hg dan Cd, pada ikanyang dominan dibudidaya, yakni ikannila dan ikan mas pada organ tubuhlimpa, hati, insang dan daging. Adapunhasil pemeriksaan logam berat pada air,sedimen dan organ tubuh ikan dapatdilihat pada Tabel 1.Tabel 1. Rata-rata konsentrasi logam berat Pb, Cr, Cd dan Hg di Waduk CirataNo. Sampel Kandungan logam berat (ppm)Pb Cr Hg Cd1 AirBakumutu*2 Ikan nila:- Limpa- Hati- Insang- Daging3 Ikan mas :- Limpa- Hati- Insang- DagingBakumutuBelanda**0,0360,0301,6241,0970,6580,0761,2961,0200,5600,0980,50,0450,0501,9841,0990,7980,0421,3981,0980,6540,0601,00,0110,0011,3520,8920,5040,0261,0840,9840,5400,0460,30,0320,0101,4031,0280,5280,0301, 4021,0800,5820,0421 Baku mutu PP Nomor 82 tahun 2001 Kelas I2 Standar Kandungan logam berat yang diperbolehkan dalam ikan dan hasil perikananlainnya, khusus untuk ikan yang dimakan di Negeri Belanda0,0557


Konsentrasi merkuri (Hg) padaair rata-rata 0,011 mg/l (Tabel 1).Tingginya kandungan merkuri ini didugaberasal dari industri listrik danelektronik, baterai, bahan peledak,industri fotografi, pelapisan cermin,pelengkap pengukur (termometer,barometer, monometer), industri bahanpengawet, industri pestisida, industrikimia, petrokimia, limbah dari kegiatanlaboratorium serta pembangkit tenagalistrik yang menggunakan bahan bakubakar fosil yang berada di DAS Citarum.Hal ini sesuai dengan pendapat Forstnerdan Prosi (1979) yang mengatakanbahwa sumber Hg adalah industriselulosa, pertanian, elektronika, plastik,farmasi, klor dan soda api, cat danperkapalan. Selain hal tersebut merkurijuga diduga berasal dari serta berasaldari penambangan emas seperti Soreangdan Pangalengan. Berdasarkankonsentrasi tersebut di atas, terlihatbahwa konsentrasi Hg dalam air diWaduk Cirata telah melebihi baku mutuyang sudah ditetapkan (Tabel 1).Konsentrasi timbal (Pb) pada air0,036 mg/l (Tabel 1). Tingginyakonsentrasi timbal ini diduga berasal daribuangan limbah dari kegiatan domestikdan industri ke dalam perairan sertaberasal dari industri baterai, bahan bakarkendaraan bermotor, bahan kabel,sekering listrik, amunisi, solder danindustri percetakan (tinta) serta daripembangkit tenaga listrik yangmenggunakan bahan baku bakar fosilyang berasal dari dalam DAS Citarum.Hal ini sesuai dengan pendapat Mooreand Ramamoorthy (1984), yangmengatakan bahwa timbal dapat masukke dalam perairan melalui prosespengendapan, jatuhan debu yangmengandung timbal yang umumnyaberasal dari pembakaran bensin yangmengandung tetraetil lead, erosi danlimbah industri. Hal ini diperkuat olehFardiaz (1992) yang mengatakan bahwapenggunaan Pb terbesar terjadi padaproduksi baterai dan untuk bahan aditifuntuk meningkatkan kualitas bensin.Konsentrasi Pb dalam air di Waduk Cirataini melebihi baku mutu yang sudahditetapkan.Konsentrasi kromium (Cr) dalamair rata-rata 0,045 mg/l. Kromium inididuga terutama berasal dari industritekstil di Kota dan Kabupaten Bandungserta dari penyamakan kulit yangmerupakan industri rumah tangga disekitar Waduk Cirata. Konsentrasi Cr inibelum melewati baku mutu yang sudahditetapkan, sehingga perairan WadukCirata belum tercemar Cr. Namundemikian konsentrasi tersebut tetap harusdiwaspadai mengingat konsentrasinya58


semakin mendekati nilai baku mutuperairan.Konsentrasi kadmium (Cd) padaair Waduk Cirata rata-rata 0,032 mg/l.Tingginya kadmium ini diduga berasaldari industri cat yang ada di DASCitarum yang dalam prosesnyamenggunakan kadmium sebagai bahanpigmen. Selain itu juga diduga berasaldari industri enamel, keramik, plastik;yang berada tidak jauh dari WadukCirata. Konsentrasi Cd ini telah melebihibaku mutu yang sudah ditetapkan,sehingga keberadaan Cd di Waduk Ciratadapat membahayakan kehidupan yang adadi dalamnya.Berdasarkan pernyataan di atasterlihat bahwa baik logam Hg, Pb, dan Cdyang terdapat pada air Waduk Cirata(Tabel 1) sudah melebihi batas ambang.Hal ini memperlihatkan bahwa WadukCirata sudah tercemar oleh logam beratHg, Pb, dan Cd yang merupakan logamberat yang bersifat toksik, sehingga dapatmembahayakan pada kehidupan yang adadi dalamnya dan pada manusia yangmengkonsumsi biota air (Klaassen andAmdur, 1986) baik ikan budidaya, ikanhasil tangkapan serta biota air lainnyaseperti keong, kerang, dsb. Hal inidisebabkan ketiga jenis logam berattersebut dapat masuk ke dalam tubuhbiota air melalui rantai makanan danbersifat akumulatif, sehingga akanmembahayakan bukan hanya biota airyang ada di dalamnya, namun juga dapatmembahayakan kesehatan manusia(Bryan, 1976 dan Mason, 1981). Selainitu menurut Riani (2004) dan Riani et al.(2005) logam berat yang terdapat padatubuh biota yang produktif terbuktimengakibatkan terjadinya cacat bawaanpada embrio yang dilahirkannya.Tabel 1 memperlihatkankonsentrasi logam berat dalam tubuh ikanmas dan ikan nila yang dibudidaya didalam keramba jaring apung jauh lebihtinggi dibanding konsentrasinya dalamair, terutama pada organ hati, limpa daninsang. Hal ini terjadi karena selainadanya proses fisika dan kimia padaperairan, juga karena adanya berbagaiperistiwa pada ikan dan biota air lainnyayang meliputi difusi biasa,biomagnifikasi dan biokonsentrasi padaikan-ikan tersebut (Klaassen and Amdur,1986), sehingga mengakibatkankonsentrasi logam berat dalam tubuh ikanjauh lebih tinggi dibanding dengan padaair.Kandungan logam berat Pb, Cd,Hg dan Cr pada ikan mas dan ikan nilakonsentrasinya bervariasi pada setiapjenis organ tubuh (Tabel 1). Konsentrasipada hati, limpa dan insang jauh lebihtinggi dibanding pada daging. Hal ini59


tekait dengan fungsi setiap organ tersebutdi atas, yakni hati dan limpa sebagaiorgan yang berperan dalam imunitas sertainsang berperan dalam melakukanrespirasi dengan jalan mengalirkan airmasuk ke dalam insang. Berbeda denganhati, limpa dan insang, daging merupakanproduk hasil anabolisme, sehingga dagingakan terkontaminasi bahan pencemardalam jumlah yang relative sedikitdibanding organ yang berperan dalamimunitas, detoksifikasi dan eksressi.Konsentrasi logam berat Pb, Cd,Hg dan Cr pada ikan mas dan ikan nilakonsentrasinya masih ada di bawah bakumutu yang dikeluarkan oleh PemerintahBelanda. Hal ini mengandung arti bahwadaging ikan mas dan daging ikan nilayang dibudidaya pada KJA Waduk Ciratarelatif aman untuk dikonsumsi. Namundemikian konsentrasi Cd yang sudahmendekati baku mutu perlu segeradiwaspadai. Selain hal itu, walaupunkandungan Pb, Cd, Hg dan Cr pada ikanmas dan ikan nila konsentrasinya masihdi bawah baku mutu, namun konsentrasitersebut dapat dikatakan relative tinggi,sehingga konsumsi ikan mas dan ikannila yang dipelihara dalam KJA diWaduk Cirata harus diperhatikan denganseksama dan jangan berlebihan dalammengkonsumsinya.KESIMPULAN DAN SARAN1. Kualitas air Waduk Cirata, dilihat dariparameter kualitas air selain logamberat cukup baik, sehinggamendukung kehidupan yang ada didalamnya.2. Konsentrasi logam berat air raksa(Hg), timbal (Pb), dan kadmium (Cd)pada air Waduk Cirata berada di atasambang batas yang ditentukan, danhanya kromium (Cr) yang masihberada dibawah ambang batas,sehingga perairan Waduk Cirata dapatdikatakan tercemar logam berat.3. Konsentrasi logam berat pada organhati, limpa dan insang ikan mas danikan nila yang dibudidaya, cukuptinggi, namun kandungannya dalamdaging masih berada di bawahambang batas yang ditentukan,sehingga ikan mas dan ikan nila yangdibudidaya di Waduk Cirata masihcukup aman untuk dikonsumsi.4. Mengingat Waduk Cirata airnyasudah tercemar logam berat Pb, Hgdan Cd yang mempunyai toksisitastinggi, maka di Waduk Cirata harusdilakukan pengelolaan secara seksamaterhadap logam berat, mengingatlogam berat dapat terakumulasi padabiota yang hidup di dalamnya dandapat membahayakan manusia yangmengkonsumsi biota air tersebut.60


DAFTAR PUSTAKABryan, G.W. 1976. Heavy metalcontamination in the sea. Inmarine pollution. Ed. R. Jonhsoneds. Academic press. 185 – 302pp.Forstner U. & F Prosi. 1979. Heavy metalPollution in Freshwaterecosystem, In: O.Ravera:Biological Aspects ofFreshwater Pollution. 272 – 280.Garno, Y.S. 2002. Beban PencemaranLimbah Perikanan Budidaya daneutrofikasi di Perairan Wadukpada DAS Citarum. JurnalTeknologi Lingkungan. P3TL-BPPT 3: 112 - 120.Klaassen, C.D, Doul, J. & Amdur, MO1986. Toxicology. The basicscience of poisons. Thirdedition. Macmillan PublishingCompany. New York. 974 hlm.Mason, C.F. 1981. Biology of fresh waterpollution. Longman. Harlon.250 p.Moore, J.W. & Ramamoorthy, S. 1984.Heavy metals in neutral water.Springer Verlag. New York.Riani, E. 2004. Dampak bahan pencemarterhadap kecacatan dankepunahan organisma laut.http:// www.wwf.or.id (23September 2008).Riani, E., Sudarso, Y. & Amanda, R.2005. Pengaruh PencemaranLogam Berat terhadap CacatBawaan pada Larva Diptera –Chironomidae: Dicrotendipessimpsoni Seminar NasionalPerikanan Indonesia, 21 – 22September 2005. SekolahTinggi Perikanan, Jakarta.PP Nomor 82 tahun. 2001. tentangPengelolaan Kualitas Air danPengendalian Pencemaran Air.61


Jurnal Teknobiologi, 1(1) 2010: 62 – 71ISSN : 2087-5428PEMANFAATAN LIMBAH INDUSTRI MEBEL DAN KUSEN SEBAGAI BAHANBAKU PAPAN PARTIKEL KONVENSIONALRudianda Sulaeman, dan Defri Yoza* )Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian UniversitasRiau, PekanbaruABSTRAKPotensi hutan sebagai penghasil kayu semakin berkurang yang mengakibatkanberkurangnya pasokan kayu sebagai bahan baku. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dicarisolusi dimana salah satunya adalah dengan memanfaatkan limbah-limbah yang dihasilkanoleh industri kayu yaitu limbah dari proses pengetaman (shaving) dan serbuk kayugergajian, yang dijadikan bahan baku papan partikel. Kurangnya peralatan dalam membuatproduk papan partikel, menjadi penghambat dalam pengembangan produk tersebut untukdijadikan industri rumah tangga. Penelitian ini mencoba membuat terobosan denganmembuat papan partikel dengan menggunakan peralatan sederhana atau konvensional.Hasil penelitian menunjukan bahwa sifat fisik papan partikel, yaitu kadar air, kerapatan,pengembangan tebal dan daya serap air berturut-turut sebesar 9,18%, 0,50, 22,76% dan39,76%. Sedangkan nilai kadar air, kerapatan, pengembangan tebal dan daya serap airberturut-turut untuk papan partikel dari bahan baku tipe serbuk kayu sebesar 12,14%,0,42, 29,22% dan 45,90%. Sifat keteguhan lentur statis yang meliputi keteguhan patah(MOR) dan kelenturan (MOE) untuk papan partikel dari bahan baku tipe shaving sebesar85,22 kg/cm 2 dan 9.284,82 kg/cm 2 , sedangkan untuk papan partikel dari bahan baku tipeserbuk kayu sebesar 57,42 kg/cm 2 dan 4993,14 kg/cm 2 .Keywords : papan partikel, limbah, kayu, sifat fisik, sifat mekanikPENDAHULUANPotensi hutan dalammenghasilkan kayu untuk dijadikanbahan bangunan atau produk-produkyang menggunakan kayu sebagai bahanbakunnya semakin berkurang. Untukmengatsi kekurangan bahan baku kayu,perlu dicari solusi dimana salah satunyaadalah dengan memanfaatkan limbahlimbahyang dihasilkan oleh industriperkayuan, menjadi suatu produk yangdapat menggantikan kayu solid. Salahsatu produk yang bisa dibuat adalahpapan partikel.Papan partikel merupakan produkyang didesain untuk mengatasikekurangan bahan baku kayu, yangdihasilkan dengan memampatkanpartikel-partikel kayu sekaligusmengikatnya dengan suatu perekat.Kelemahan dalam pembuatan papanpartikel adalah peralatan yang digunakan62


ABrelatif memerlukan teknologi tinggi dansulit dijangkau oleh industri kecil. Halini menyebabkan pembuatan produk iniharus dikerjakan dengan skala industribesar.Mahalnya teknologi yangdibutuhkan dalam proses pembuatanpapan partikel menjadi penghambatberkembangnya produk ini, khususnyadalam pengembangan skala kecil. Solusiyang dapat ditawarkan adalah bagaimanamembuat papan partikel denganmenggunakan alat-alat yang sederhanaatau sering dikenal dengan carakonvensional.Untuk kualitas papan yang tidakmemerlukan kekuatan tinggi sepertiuntuk mainan anak-anak dan alat-alatrumah tangga, sejatinya bisa dibuatdengan cara sederhana tersebut, untuk ituperlu dilakukan penelitian, sehinggainformasi mutu produk pembuatan papanpartikel dengan cara konvensional dapatdiketahui.Tujuan dan Manfaat PenelitianPenelitian ini bertujuan untukmengukur sifat fisik dan sifat keteguhanlentur statis (sifat Mekanik) papanpartikel dari limbah industri mebel dankusen. Diharapkan dengan adanyapenelitian ini dapat dijadikan referensidalam pemanfaatan limbah industri kayu(industri mebel dan kusen) yang selamaini belum maksimal bahkan hanyadijadikan sampah saja.METODOLOGI PENELITIANBahan dan AlatBahan yang digunakan dalampenelitian ini adalah :a. Limbah industri mebelPartikel yang digunakan dari jeniskayu yang digunakan dari jenis kayuTembesu (Fragraea fragrans Roxb)berbentuk shaving (kikisan) yangdihasilkan dari alat ketam atau alatpotong yang digunakan dalampengerjaan kayu dan serbuk gergajianyang dihasilkan dari mesin potong(Gambar 1).63


Gambar 1. Bahan Baku Papan Partikel dari Kayu Tembesu; A. Serbuk Kayu dan B.Shavingb. Perekat1. Persiapan bahan bakuPerekat yang digunakan adalahperekat thermosething, yaitu phenolformaldehida. Perekat tersebutdiperoleh dari PT. Sola Grasia. Beratperekat yang digunakan 10% dariberat partikel.c. Minyak PelumasMinyak pelumas yang digunakan dariminyak nabati, dengan tujuanmencegah lengketnya papan partikeldengan alat kempa.Peralatan yang digunakan adalahalat kempa manual hidrolik, timbangan ,plat besi dengan tebal 1,2 cm,alumunium foil, kalifer, holder/ cetakanbesiUniversal Testing Machine, alattulis, dan lain-lain.3.3. Metoda penelitian3.3.1. Pembuatan papan partikelBahan baku yang digunakan adalahlimbah kayu Tembesu berupa shavingdan serbuk kayu gergajian. Sebelumdilakukan pembuatan papan, kadar airmasing-masing bahan baku dikeringkansampai KA ± 10%. Kebutuhan akanbahan baku yang digunakan dihitungberdasarkan papan yang dihasilkan yaitua. Ukuran papan yang akan dibuatadalah (15 x 15 x 1) cmb. Kerapatan papan partikel yang dibuatsebesar 0,7 g/ cm³c. Perekat yang digunakan PhenolFormaldehida (PF) sebanyak 10%dari jumlah berat partikel.2. Proses pembuatan papan partikelUntuk lebih jelasnya skemapembuatan papan partikel dapat dilihatpada Gambar 2.64


Limbah Industri MebelPengeringanPemberian perekatPencampuran bahan bakuPengempaan Dinginselama 10 menitPencetakanKlem dan di ovenselama 15 menitPembuatan contohuji sifat fisisPengkondisianselama 24 JamPengujianPembuatan contohuji sifat mekanisPapan partikelGambar 2. Diagram alir proses pembuatan papan partikel konvensional3.3.2. Pembuatan contoh ujiMengacu pada Standar Nasional3.3.2. Pembuatan Contoh UjiPapan partikel yang dihasilkankemudian dipotong-potong sesuai denganukuran yang telah ditetapkan sesuaidengan Standar Nasional (SNI) 07-2105-1996. Parameter yang diuji adalah SifatIndonesia (SNI) 07-2105-1996).- Kadar Air (KA)- Kerapatan- Pengembangan Tebal- Daya Serap Airb. Pengujian Sifat Mekanis KeteguhanFisis (kadar air, kerapatan, Lentur Statis Papan Partikel mengacupengembangan tebal, daya serap air), pada SNI 07-2105-1996).pegujian sifat mekanis (Keteguhan Patah - Keteguhan Patah (Modulus Of(Modulus Of Rupture – MOR), Rupture – MOR)Keteguhan lentur (Modulus of Elasticity-MOE).- Keteguhan lentur (Modulus ofElasticity- MOE)Ukuran contoh uji untuk Analisis Datapengujian sifat fisik dan sifat mekanikdapat dilihat pada gambar 3.Data hasil penelitian dibandingkandengan Standar Nasional Indonesia (SNI)3.3.3. Prosedur Pengujian papan pratikel 07-2105-1996 dan diuraikan secaraa. Pengujian Sifat Fisis Papan Pratikel deskriptif.65B


Gambar 3. Pola pengambilan contoh uji sifat fisis dan mekanis papan partikel menurutbentuk dan ukuran contoh ujiKeterangan :A. Pengujian sifat mekanis (15 x 5 x1 cm)B. Contoh uji kadar air dan kerapatan (5 x 5 x1 cm)C. Contoh uji daya serap air dan pengembangan tebal (5 x 5 x 1 cm)mengubah bentuk dan ukuran papanHASIL DAN PEMBAHASANPapan partikel (Particleboard)merupakan salah satu produk yangdiharapkan dapat sebagai penggantifungsi kayu utuh yang keberadaannyasemakin berkurang. Dalampenggunaannya, papan partikel memilikikriteria mutu tertentu yang meliputisejumlah sifat dari produknya, yaitusifat fisis dan mekanis. Sifat fisisadalah sifat papan partikel yangbanyak ditentukan oleh partikelpembentuknya, sedangkan sifat mekanisadalah sifat yang berhubungan dengankekuatan papan partikel untukmenahan beban yang bekerjapadanya yang cenderung untukpartikel (Haygreen & Bowyer, 1993).Dalam penelitian ini dibahas sifatsifatdari papan partikel yang meliputipengujian beberapa sifatfísika papanpartikel (uji kerapatan, kadar air,pengembangan tebal dan penyerapanair) dan sifat mekanik papan partikelyang diuji meliputi keteguhan lentur(meliputi modulus patah dan moduluselastisitas).Sifat Fisis Papan Partikel Kerapatan(Density)bahwa nilaiDari hasil pengujian ditunjukanpapan partikelrata-rata kerapatan untukberupa serbuk kayusebesar 0,42 dan papan partikel darishaving sebesar 0,50 %. Dibandingkandengan Standar Nasional Indonesia danFAO,kerapatan papan partikel dari66


ahan baku shaving telah memenuhistandar minimal dari SNI dan FAO, yaitu0,5 dan O,4 kg/cm 3 . Sedangkan untukkerapatan papan partikel dari bahan bakuserbuk kayu gergajian hanya memenuhistandar FAO.Dari hasil pengujian diatasditunjukan bahwa bentuk bahan bakumempengaruhi kerapatan akhir daripapan partikel yang dihasilkan. Semakinbesar bentuk bahan baku papan partikel,maka kerapatan papan partikel tersebutsemakin baik. Hal tersebut dikarenakansemakin besar bidang partikel yangdigunakan, maka bidang rekat antarpartikel akan semakin luas (Yusram,2001).Kecilnya nilai kerapatan darikerapatan yang diharapkan yaitu 0,7kg/cm 3 sesuai perhitungan bahan baku,dimungkinkan pada saat prosespemanasan klem yang digunakan memuaisehingga mengurangi kekuatan tekananplat besi yang digunakan.Kadar Air, Pengembangan Tebal danDaya Serap AirHasil pengujianselengkapnya dapat dilihat pada gambar4. Nilai rata-rata kadar air untuk papanpartikel dari limbah kayu Tembesu(Fragraea fragrans Roxb) berupa serbukkayu gergajian sebesar 12,14% dan papanpartikel dari shaving sebesar 9,18%.Dibandingkan dengan Standar NasionalIndonesia dan FAO, kadar air papanpartikel dari bahan baku shaving danserbuk kayu gergajian telah memenuhistandar minimal dari SNI yaitu maks14%, sedangkan yang memenuhi standarFAO dengan kadar air maks 12%, hanyapapan partikel dari bahan baku yangberbentuk shaving. Lebih rendahnyakadar air papan partikel dengan bentukshaving dikarenakan papan partikel darishaving lebih padat. Kadar air papanpartikel akan semakin rendah dengansemakin rapatnya ikatan antar partikel,papan partikel yang dihasilkan darishaving memiliki rongga antar partikelyang lebih sedikit dibanding papanpartikel yang dibuat dari serbuk kayu.Kontak antara partikel semakin rapatmenyebabkan uap air atau air akan sulitmasuk ke dalam papan partikel(Widarmana 1977).Kadar air papan partikel jugaditentukan oleh perekat, dan kadar airawal partikel, jumlah air dalam perekatdan jumlah air yang menguap selamaproses pengempaan (Erwinsyah danDarnoko, 2000 : 416).Nilai rata-rata pengembangantebal papan partikel sebesar 22,76%untuk papan partikel bahan baku shavingdan 29,22% untuk sebuk gergaji.Berdasarkan besaran nilai pengembangan67


papan partikel, maka kedua jenis bahanbaku yang digunakan untuk papanpartikel tersebut, nilai pengembangantebalnya tidak sesuai dengan SNI danFAO, yaitu sebesar maks 12% dan 15%.Papan partikel yang dihasilkanmenunjukan, semakin tinggi kerapatandan semakin besarnya bentuk ukuranpartikel maka sifat pengembangantebalnya menurun.(Dalam%)50454035302520151050KA PT DSASerbuk GergajiShavingSifat Fisika Papan PartikelGambar 4. Perbandingan Nilai rata-rata Kadar Air (KA), Pengembangan Tebal (PT) danDaya Serap Air (DSA) dari papan partikel dengan bahan baku Serbuk kayugergajian dan ShavingSifat pengembangan tebal ini dengan bahan baku shaving 39,76% danberkorelasi dengan sifat penyerapan air,dimana tingginya penyerapan air akandisertai dengan peningkatanpengembangan tebal. Pada papan partikeldengan kerapatan lebih tinggi air yangdiserap lebih banyak dan hal ini akanmempengaruhi pengembangan volumepartikelnya. Kestabilan dimensi papanpartikel akan sangat tergantung padakerataan penyebaran butir partikel padasaat pembentukan lembaran panil danbesarnya tekanan kempa. Kerataanpartikel yang baik akan menghasilkansifat muai, susut dan lenting yang jauhlebih baik dibanding sifat tersebut padakayu utuhnya.Nilai rata-rata besarnyapenyerapan air untuk papan partikel6845,90% pada tipe partikel sebuk gergajitidak memenuhi standar FAO. Sedangkandalam SNI tidak diatur nilai standaruntuk penyerapan air.Meningkatnya kerapatan danmengecilnya ukuran partikel cenderungmengurangi daya serap air yangdihasilkan. Bentuk partikel yangdigunakan sebagai bahan baku papanpartikelmempengaruhi air yang dapatdiserap oleh papan. Ukuran partikel yanglebih kecil akan menghasilkan papanpartikel dengan kerapatan lebih rendahdibandingkan ukuran partikel yang lebihbesar, selain itu juga didukung dengansemakin meningkatnya kerapatan papanpartikel menyebabkan air akan sulit untukmasuk ke dalam rongga-rongga yang ada


didalam, karena memiliki pori yang lebihsedikit.Sifat Mekanis Papan PartikelSifat mekanis dari papan partikelyang diuji hanya keteguhan lenturstatispapan partikel. Perbandingannilaiketeguhan lentur statis papan partikeldapat dilihat pada Tabel 1.Tabel 1. Perbandingan nilaiketeguhan lentur statis papan partikelNo. TipePartikelKeteguhan Patah (MOR)(kg/cm 2 )Keteguhan Lentur (MOE)(kg/cm 2 )Serbuk 56,41 4764,741.61,38 5246,8454,48 4967,84Rata-rata 57,42 4993,142.86,48 9.366,56Shaving83,63 9.142,4485,54 9.345,46Rata-rata 85,22 9.284,82Keteguhan patah (MOR)Nilai keteguhan patah/MORuntuk papan partikel dengan bahan bakutipe shaving lebih besar dibandingkanpapan partikel dengan menggunakanserbuk. Hal tersebut menunjukan bahwapapan partikel dari shaving lebih kuat.Besarnyanilai keteguhan patah antarauntuk tipe bahan baku shaving sebesar85,22 kg/cm² dan 57,42 kg/cm² pada tipepartikel serbuk gergaji. Keteguhan patahlebih disebabkan karena kemampatanantara partikel yang jauh lebih baikterjadi pada tingkat kerapan yang tinggi,selain proses pelaburan ataupencampuran perekat yang lebih baikbias mempengaruhi kekuatan papanpartikel. Dibandingkan dengan SNI,papan partikel dari bahan baku shavingtelah memenuhi standar minimal yaitu 80kg/cm², sedangkan dibandingkan denganstandar yang dikeluarkan oleh FAOsebesar minimal 100 kg/cm², pepanpartikel yang dibuat dari kedua bahantersebut semuanya tidak memenuhistandar. Rendahnya nilai keteguhan patahbisa dikarenakan berkurangnya tekananpada klam akibat pemuaian besi yangterjadi karena panas.Besar kecilnya nilai keteguhanpatah lebih disebabkan karenakepampatan antar partikel yang jauh lebihbaik terjadi pada tingkat kerapatan yangtinggi, selain itu bentuk partikel shavinglebih memungkinakanterlaburi olehperekat lebih merata dibandingkanpartikel dengan bentuk serbuk.Keteguhan lentur (MOE)69


Keteguhan lentur adalahkemampuan papan partikel untukmempertahankan bentuk dan ukuransemula jika dikenakan gaya. Nilaiketeguhan lentur yang dihasilkan untukpapan partikel dari bahan baku shavingsebesar 9.284,82 kg/cm² partikel shavingdan 4.993,14 kg/cm² papan partikel dariserbuk gergaji. Apabila dibandingkandengan SNI dan FAO yang memiliki nilaistandar untuk keteguhan lentur sebesarminimal 15.000 kg/cm² dan 10.000kg/cm², maka papan partikel yang dibuatdari kedua bahan tersebut seluruhnyatidak memenuhi standar. Hasilselengkapnya Dapat dilihat padaLampiran 2. Partikel tipe shaving lebihbaik dibandingkan dengan tipe serbukkayu gergajian dikarenakan tipe partikelshaving ini mempunyai tipe panjang danluas lebih besar dari tipe serbuk gergaji.Menurut Sutigno (1977), sama halnyadengan keteguhan patah, keteguhanlentur juga berkaitan dengan kerapatandimana semakin tinggi kerapatan papanpartikel yang dihasilkan akan semakinpadat dan ruang kosong antara perekatdan partikel akan berkurang.Dari hasil pengujian papanpartikel ditunjukan bahwa meningkatnyanilai keteguhan lentur sejalan denganmeningkatnya nilai kerapatan, didugapada kerapatan papan partikel yang lebihtinggi akan membuat jarak antar partikelsemakin rapat sehingga akanmeningkatkan kekuatan. Selain ituukuran partikel yang lebih besar memilikiluas bidang serat yang lebih luassehingga ikatan antar partikel menjadilebih baik. Menurut Erwinsyah danDarnoko (2000) yang menyatakan bahwasemakin tinggi kerapatan menyebabkansemakin tinggi kemampuan papan untukmempertahankan perubahan bentukakibat beban yang diterima. Dengankerapatan papan partikel dari shavinglebih besar maka papan partikel tersebutlebih kaku dengan kata lain keteguhanlenturnya lebih tinggi disbanding denganpapan partikel dari bahan baku tipeserbuk.KESIMPULAN DAN SARANKesimpulan5.1. KesimpulanDari hasil penelitian dapatdisimpulkan sebagai berikut :1. Sifat fisik papan partikel, yaitu kadarair, kerapatan, pengembangan tebaldan daya serap air berturut-turutuntuk papan partikel dari bahan bakutipe shaving sebesar 9,18%, 0,50,22,76% dan 39,76%. Sedangkan nilaikadar air, kerapatan, pengembangantebal dan daya serap air berturut-turutuntuk papan partikel dari bahan baku70


tipe serbuk kayu sebesar 12,14%,0,42, 29,22% dan 45,90%.2. Sifat keteguhan lentur statis yangmeliputi keteguhan patah (MOR) dankelenturan (MOE) untuk papanpartikel dari bahan baku tipe shavingsebesar 85,22 kg/cm 2 dan 9.284,82kg/cm 2 , sedangkan untuk papanpartikel dari bahan baku tipe serbukkayu sebesar 57,42 kg/cm 2 dan4993,14 kg/cm 2 .3. Apabila dibandingkan dengan setandaryang ada, papan partikel yangdihasilkan memiliki nilai rata-ratadibawah Standar Nasional Indonesiadan FAO. Dari yang ada, penggunaanpapan partikel ini dapat dipakai untukbahan-bahan yang tidak memerlukankekuatan tinggi seperti penyerapsuara dan mainan anak-anak.SaranPerlu dilakukan penelitianlanjutan tentang sifat mekanikselengkapnya dan pengaruh penggunaanperekat pada papan partikel.DAFTAR PUSTAKAAnonim. 1983. Standar papan partikeldatar. SII 0797-83. DepartemenPerindustrian, Jakarta.Dewan Standardisasi Nasional Jakarta.1996. Mutu papan partikel. SNI07-2105-1996.John, G., Haygreen. & Jim, L., Bowyer.1982. Forest Product and WoodScience,an Introduction.Lee, A.W.C. & Chung, Y., Hse. 1998.Efaluation of Cemen – ExelsiorBoart Made from Yello – Poplarand Sweetgum.in AdhesiveTechnology and BondedTropical Wood Product. TaiwanForestry Research InstitutTaipe, Taiwan.Yusram, M. 2000. Penggunaan LimbahPlastik Sebagai KomponenBahan Baku Partikel.Rozikan, A. 2005. Sifat Fisik danMekanis Papan Semen PadaBerbagai Tipe Partikel LimbahKayu. Universitas LancangKuning Pekanbaru. JurusanTeknologi Hasil Hutan (Skiripsitidak dipublikasikan).Sulaiman, R. 2006. Ketahanan KompositSerbuk Kayu-Limbah PlastikPolypropilena TerhadapSerangan Rayap Kayu KeringCryptotermes Cynocephalus.Sutigno, P. 1994. Teknologi papanpartikel datar. Pusat Penelitiandan Pengembangan Hasil Hutandan Sosial Ekonomi Kehutanan,Bogor.71


Jurnal Teknobiologi, 1(1) 2010: 72 – 84ISSN : 2087-5428KANDUNGAN LOGAM Cd, Cu, Pb DAN Zn PADA IKAN GULAMA (Sciaenarusselli) DARI PERAIRAN DUMAI, RIAU: AMANKAH UNTUK DIKONSUMSI?Irvina Nurrachmi* ) , dan Bintal AminJurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UniversitasRiau, PekanbaruABSTRACTDetermination of four heavy metals (Cd, Cu, Pb and Zn) concentration in muscles andbones of edible croacker fish Sciaena russelli collected from Dumai coastal waters withtwo different anthropogenic activities has been carried out. Heavy metal concentrationswere 0.13, 0.21, 2.31, 6.38 and 0.29, 0.37, 5.05, 8.45 µg/g d.w in muscles and bones forCd, Cu, Pb and Zn, respectively. Fish collected from the station with more anthropogenicactivities accumulated more metals in both their muscles and bones than those from lessanthropogenic activities. Negative correlations between metal concentrations and the sizesof fish (length and weight) were observed. Concentrations of all metals in smaller sizes offishes were higher than those in larger sizes and all metals were found to be higher inbones. In general, the concentrations of analyzed metals were still below PTWI and thestandard limit for consumption of seafood established by FAO/WHO. Therefore, theconcentrations of heavy metals in croacker fish from Dumai coastal waters can beconsidered as safe and accordingly there is no risk for the human consumption of this fishspecies.Keywords: Logam berat, Ikan, Standar konsumsi, PTWI, RiauPENDAHULUANPerairan laut Dumai merupakansalah satu perairan di Sumatera yangpadat dengan aktivitas pelayaran dan dipesisir pantainya banyak terdapataktivitas industri dan pemukimanpenduduk. Padatnya aktivitas pelayarandan perindustrian di sekitar perairanDumai serta masuknya limbah domestikmelalui sungai akan mengakibatkanmenurunnya kualitas perairan dantimbulnya pencemaran.Hal seperti ini akan memberikanancaman yang serius terhadapterganggunya keseimbangan ekosistemperairan dan kehidupan biota perairan.Amin et al., (2009) menyatakan bahwakonsentrasi logam berat pada sedimen diperairan pantai Dumai secara umummasih dapat diklasifikasikan sebagaiperairan yang belum tercemar sampaidengan tercemar sedang. Namundemikian kandungan logam berat yanglebih tinggi dijumpai pada kawasan yang72


dekat dengan daerah industri dan pusatkota. Logam berat dalam perairanmenjadi masalah yang serius karena sifattoksiknya dan mempunyaikecenderungan untuk terakumulasi dalamrantai makanan (Friligos, 1985; Masondan Barak, 1990; Barlas, 1999; Parlak etal., 1999). Ikan sebagai top predatordalam rantai makanan dalam suatuperairan dapat mengakumulasi logamdari lingkungannya dan kemudianmentransfernya ke manusia melaluikonsumsi yang dapat menyebabkanpenyakit akut dan kronis (Forstner danWittman, 1981; Fowler et al., 1991; Khandan Weis, 1993; Jargensen dan Pedersen,1994; Adeyeye et al., 1996).Kadar logam dalam tubuh mahlukhidup dalam hal ini hewan, dapatdideteksi melalui daging, urine, darah,dan tulang. Kadar logam dalam dagingdan tulang berhubungan dengan kadarlogam dalam darah dan urine saat dagingdan tulang terbentuk. Dengan demikiandaging dan tulang merupakan bagiantubuh hewan yang banyakmengakumulasi logam berat (Gani,1997). Akumulasi logam berat olehorganisme perairan termasuk ikan dapatdipengaruhi oleh beberapa faktor antaralain umur, ukuran dan kebiasaan makan(Mitra, 1986; Phillips, 1990;Schuhmacher et al., 1992).Penelitian ini bertujuan untukmengetahui kandungan logam beratkadmium (Cd), tembaga (Cu), timbal(Pb), dan seng (Zn) yang terakumulasidalam daging dan tulang ikan Gulama(Sciaena russelli) dengan ukuran berbedayang dikumpulkan dari perairan Dumaipada dua kawasan dengan aktivitasanthropogenik berbeda. Diharapkanpenelitian ini dapat memberikaninformasi tentang pengaruh ukuran ikanGulama dan aktivitas anthropogenik disekitar perairan tersebut terhadapakumulasi logam berat dari perairanDumai, Riau. Disamping itu jugadiharapkan dapat menjadi informasi danrujukan bagi masyarakat yangmengkonsumsi ikan tersebut sihinggatidak berdampak negatif danmembahayakan kesehatan.BAHAN DAN METODASampel ikan Gulamadikumpulkan dari perairan Dumai(Gambar 1) pada tanggal 8 Mei dan 2 Juli2009 dari kawasan perairan denganaktivitas anthropogenik yang lebihbanyak (sekitar Guntung dan KotaDumai) dan dari kawasan denganaktivitas anthropogenik yang relatifsedikit (sekitar Lubuk Gaung danBasilam Baru). Sampel ikan tersebutditangkap dengan jaring dan pengerih73


dengan bantuan nelayan setempat.Sebanyak 54 ekor ikan dengan ukuranberbeda dimasukkan dalam kantongplastik berdasarkan stasiun pengambilansampel dan kemudian dimasukkan dalamice box dan selanjutnya dibawa kelaboratorium. Sesampainya dilaboratorium sampel ikan tersebut segeradimasukkan ke dalam freezer, hal inibertujuan untuk mencegah terjadinyaperubahan dan kerusakan pada sampelikan tersebut. Analisis kandungan logamberat dilakukan di Laboratorium TerpaduFakultas Perikanan dan Ilmu KelautanUniversitas Riau dengan menggunakanAAS (Atomic AbsorbtionSpectrofotometer) Perkin Elmer 3110.Gambar 1. Lokasi penelitian dan pengambilan sampel ikan Gulama (S. russelli)Di laboratorium ikan dikeluarkandari freezer dan dibiarkan hingga es yangmenempel mencair dan diukur panjangdan beratnya. Analisis Kandungan logamberat pada ikan Gulama (S. russelli)dilakukan dengan mengacu padaprosedur Yap et al., (2003). Masingmasingindividu ikan tersebut diambilbagian daging dan tulang secukupnya dandikeringkan pada suhu 80 o C dalam oven.Daging dan tulang yang telah kering ditimbang sebanyak 1 g, kemudiandilarutkan dalam 10 ml asam nitrat pekat(HNO 3 ) dalam tabung destruksi dandiletakkan di atas alat pemanas(hot plate). Sampel kemudian dipanaskanpada suhu 40 0 C selama 1 jam, kemudiansuhu dinaikkan sampai dengan 140 0 C dandipanaskan selama ± 3 jam. Setelahsampel terdestruksi secara sempurna,larutan tersebut didinginkan. Kemudianlarutan sampel ditambah denganaquabides sampai menjadi 25 ml danselanjutnya disaring ke dalam botol74


sampel dengan kertas saring Whattmanberukuran 0,45µm dan sampel tersebutsiap untuk dianalisis kandungan logamberatnya dengan mengunakan AAS.Semua analisis statistik dilakukan denganbantuan software SPSS versi 15. Untukmengetahui hubungan antara ukuran ikandengan konsentrasi logam beratnyadilakukan uji regresi linier sederhanamenurut Sudjana (1992). Sedangkantahap keselamatan pengkonsumsian ikandilakukan menurut standar yangdikemukakan oleh FAO/WHO (2004).HASIL DAN PEMBAHASANPerairan pantai Dumai selaindimanfaatkan sebagai daerah pelabuhan,industri dan jalur pelayaran, jugamerupakan tempat penangkapan ikanoleh penduduk yang tinggal di tepipantai. Kondisi tersebut menjadikanperairan ini sebagai jalur pelayaran antarpulau dan antar negara yang padat.Perusahaan yang berada di kawasanperairan Dumai yang bergerak dalambidang industri tersebut dalam prosesproduksinya banyak menggunakan logamberat Cd, Cu, Pb, dan Zn. Seperti: PT.Pertamina UP II yang menggunakantimbal sebagai salah satu bahan bakudalam pembuatan premium (bensin),Galangan kapal PT. Patra Dock yangbergerak dibidang perawatan kapal danperbaikan, dimana salah satu bahan bakuyang digunakan adalah cat. Bahan bakuyang terdapat dalam cat adalah logamberat Cd, Cu dan Zn yang bergunasebagai zat perwarnaan (pigmen) danpelapis agar mudah kering, dermaga PT.Chevron Pasific Indonesia denganaktivitas bongkar muatnya, sertaperusahaan lain seperti PT. SaranaSawitindo, PT. Salar Cooperation, PT.Bukit Kapur Reksa (BKR), PT. DumaiBulking dan PT. Pelabuhan Indonesiajuga melakukan aktivitas bongkar muatbarang dan arus transportasi. Denganbanyaknya aktivitas tersebut diperkirakanmemberikan andil yang cukup besarterhadap masukan logam berat di perairanDumai (Anggraini, 2007).Kandungan logam beratberdasarkan lokasi sampling. Rata-ratakandungan logam berat pada daging dantulang ikan Gulama lebih tinggi diStasiun I bila dibandingkan denganStasiun II (Tabel 1). Namun demikian ujistatistik menunjukkan bahwa secaraumum kandungan logam Cd, Cu, Pb danZn pada daging dan tulang pada keduastasiun tidak berbeda nyata (p > 0,05).Hanya logam Cu dan Zn pada tulangyang berbeda nyata (p < 0,05) diantarakedua stasiun tersebut.75


Tabel 1. Kandungan Logam Berat Cd, Cu, Pb, dan Zn pada Daging dan Tulang IkanGulama (Rata-rata ± Standar Deviasi) di Setiap Stasiun PenelitianStasiun OrganKandungan Logam Berat (µg/gr)Penelitian Tubuh Cd Cu Pb ZnI Daging 0,14 ± 0,09 0,21 ± 0,22 4,96 ± 2,08 6,60 ± 2,07Tulang 0,34 ± 0,20 0,45 ± 0,19 5,20 ± 3,05 9,76 ± 3,81II Daging 0,12 ± 0,07 0,20 ± 0,15 4,55 ± 1,13 6,20 ± 1,59Tulang 0,25 ± 0,16 0,31 ± 0,21 4,93 ± 1,75 7,40 ± 2,15Aktivitas anthropogenik di sekitarStasiun I yang lebih banyak diperkirakanmenjadi salah satu penyebab lebihtingginya kandungan logam berat padadaging dan tulang pada stasiun Idibandingkan pada Stasiun II. Aktivitastersebut berkaitan dengan perkembanganyang cukup cepat dengan berdirinyapabrik-pabrik dan perumahan penduduk,penyulingan minyak, kegiatan pelabuhanyang berada di kawasan tersebut.Pengembangan Kawasan IndustriPelintung seluas 3500 hektar juga sedangdilaksanakan di kawasan pesisir perairanpantai ini. Kawasan perairan di Stasiun Iini juga menerima limbah dari kotaDumai yang dibawa bersama arus pasangsurut. Sementara itu lebih rendahnyakonsentrasi logam di Stasiun IIdimungkinkan karena lebih rendahnyaaktivitas antropogenik dan pada daerahini didominasi oleh hutan mangrove.Widiowati et al., (2008) menyatakanbahwa pohon bakau (Rhizophoramucronata) dapat mengakumulasi logamberat seperti Cu, Mn, dan Zn. Mangrovejenis Api-api (Avicennia marina) adalahjenis tumbuhan yang dapat menyerapbahan-bahan organik dan nonorganikdimana akar tumbuhan ini dapatmenyerap logam-logam berat yangterdapat pada sedimen maupun kolom air.Hasil penelitian Amin et al.,(2009) menunjukkan bahwa kandunganlogam Cd, Cu, Pb, Zn dan Ni padasedimen lebih tinggi ditemukan padaStasiun I dari pada Stasiun II, hal inidimungkinkan dalam kaitannya denganarah arus yang membawa massa air dariBarat laut Selat Rupat ke arah SelatanSelat Malaka. Pada saat pasang naik, airmengalir dari arah timur kearah selatandan kemudian air itu memutar dari daritimur kearah Selat Malaka. Pada waktuair surut arah aliran massa air kebalikanpada waktu air pasang naik. Tingginyakandungan logam berat pada daging dantulang ikan Gulama (S. russelli) diStasiun I kemungkinan sejalan dengantingginya kandungan logam berat dalamsedimen mengingat bahwa ikan gulamaadalah termasuk dalam ikan dasar.Kandungan logam beratberdasarkan ukuran sampel ikan Gulama.76


Rata-rata kandungan logam berat Cd, Cu,Pb, dan Zn pada daging dan tulang ikanGulama bervariasi dan secara umum ikanyang berukuran kecil menunjukkankandungan logam berat yang lebih tinggidibandingkan dengan ikan yangberukuran besar (Tabel 2).Uji statistik menunjukkan bahwakandungan logam Cd, Cu, Pb, dan logamZn pada daging dan tulang ikan Gulama(S. russelli) tersebut berbeda nyata (p


Dengan demikian akumulasilogam berat biasnaya lebih tinggi padaorganisme yang lebih muda (Elder &Collins, 1991; Douben, 1989; Canli &Furness, 1993; Nussey et al., 2000;Widianarko et al., 2000).Hubungan antara kandunganlogam berat pada daging dan tulangdengan ukuran ikan Gulama (panjang danberat). Untuk melihat pola ataupunkecenderungan hubungan antarakandungan logam Cd, Cu, Pb, dan Znpada daging dan tulang denganpertambahan ukuran tubuh (panjang danberat) ikan Gulama (S. russelli) dilakukandengan uji regresi linear sederhana (Tabel3 dan 4).Uji regresi linear sederhana antarapanjang dan berat ikan Gulama (S.russelli) dengan kandungan logam Cd,Cu, Pb, dan logam Zn yang terakumulasipada daging dan tulang ikan Gulamamenunjukkan hubungan negatif dengannilai koefisien korelasi (r) antara 0,15–0,74. Ini menunjukkan bahwa hubunganantara ukuran panjang dan berat dengankonsentrasi logam pada daging dantulang memiliki hubungan yang sedang,sesuai dengan pendapat Sudjana (1992)yang menyatakan bahwa apabila nilaikoefisien korelasi (r) memiliki nilaiantara 0,2–0,7 maka terdapat hubungankeeratan yang sedang.Tabel 3. Analisis regresi linear sederhana antara ukuran panjang total tubuh Ikan dengankandungan logam berat pada daging dan tulang di setiap stasiun penelitianStasiun Logam Organ Persamaan Regresi R 2 r pIIIns : tidak signifikanCd Daging Y = 0,727 – 0,029x 0,275 0,524 0,006Tulang Y = 1,137 – 0,039x 0,117 0,342 0,067 nsCu Daging Y = 0,669 – 0,022x 0,030 0,173 0,889 nsTulang Y = 1,901 – 0,071x 0,407 0,638 0,000Pb Daging Y = 19,27 – 0,707x 0,328 0,573 0,011Tulang Y = 21,90 – 0,825x 0,207 0,455 0,006Zn Daging Y = 22,24 – 0,772x 0,396 0,629 0,000Tulang Y = 43,61 – 1,672x 0,546 0,739 0,000Cd Daging Y = 0,344 – 0,011x 0,111 0,333 0,029Tulang Y = 0,932 – 0,035x 0,227 0,476 0,014Cu Daging Y = 1,004 – 0,041x 0,365 0,604 0,000Tulang Y = 1,429 – 0,057x 0,371 0,609 0,001Pb Daging Y = 10,34 – 0,296x 0,328 0,573 0,001Tulang Y = 15,79 – 0,555x 0,476 0,690 0,000Zn Daging Y = 12,65 – 0,330x 0,204 0,452 0,012Tulang Y = 10,79 – 0,173x 0,031 0,176 0,490 ns78


Tabel 4. Analisis regresi linear sederhana antara ukuran berat total tubuh Ikan dengankandungan logam berat pada daging dan tulang di setiap stasiun penelitianStasiun Logam Organ Persamaan Regresi R 2 r pCd Daging Y = 0,288 – 0,002x 0,212 0,460 0,003Tulang Y = 0,543 – 0,002x 0,096 0,310 0,044Cu Daging Y = 0,334 – 0,001x 0,025 0,158 0,879 nsITulang Y = 0,800 – 0,004x 0,286 0535 0,000Pb Daging Y = 9,126 – 0,056x 0,340 0,583 0,012Tulang Y = 9,607 – 0,059x 0,176 0,419 0,015Zn Daging Y = 10,73 – 0,056x 0,338 0,623 0,000Tulang Y = 18,64 – 0,120x 0,460 0,678 0,001Cd Daging Y = 0,192 – 0,001x 0,101 0,318 0,032Tulang Y = 0,447 – 0,002x 0,180 0,424 0,028Cu Daging Y = 0,458 – 0,003x 0,349 0,591 0,001IITulang Y = 0,673 – 0,005x 0,366 0,605 0,001Pb Daging Y = 6,408 – 0,025x 0,311 0,558 0,001Tulang Y = 8,630 – 0,051x 0,511 0,715 0000Zn Daging Y = 8,407 – 0,030x 0,221 0,470 0,005Tulang Y = 8,352 – 0,013x 0,022 0,148 0,464 nsns : non signifikanSalah satu penjelasan tentangadanya hubungan negatif antara kandunganlogam berat dengan ukuran ikan padapenelitian ini kemungkinan adalahpebedaan aktivitas metabolisme antaraikan yang berukuran kecil dan besar.Logam yang terakumulasi dalam tubuhikan adalah merupakan hasil dariperbedaan antara penyerapan dan depurasidan hal ini merupakan yang terpentingdalam proses akumulasi logam berat kedalam tubuh organisme termasuk ikan.Douben (1989) menyatakan bahwa bahwaakumulasi logam pada organisme dapatmencapai suatu titik maksimum pada umurdan ukuran tertentu. Namun demikian,faktor pengenceran konsentrasi logamyang disebabkan oleh pertumbuhan ataumenurunnya aktivitas metabolisme padaikan yang berukuran lebih besar tidakselalu harus selalu terjadi jika konsentrasilogam dalam air laut lebih besar dari padafaktor-faktor tersebut. Dalam hal ini makaakumulasi logam oleh ikan akan terusberlangsung dan hubungan positif dapatsaja terjadi antara ukuran organisme dankandungan logam berat dalam organ ikantersebut.Canli dan Atli (2003) menemukanhubungan negatif antara kandungan logamberat dan ukuran ikan dari lautMediterania. Widianarko et al. (2000) jugamengemukakan adanya hubungan antarakandungan logam Pb, Zn dan Cu denganukuran ikan dan menemukan adanyapenurunan secara signifikan kandungan79


logam Sn dengan peningkatan ukuran ikan.Sebaliknya konsentrasi Cu dan Zn tidaktergantung dengan berat tubuh ikan.pada konsentrasi tertentu. Al-Yousuf et al., (2000) juga menyatakanbahwa konsentrasi Cu akan berkurangseiring dengan meningkatnya ukuran ikan,secara fisiologis organ daging dianggapbukanlah merupakan jaringan yang tepatuntuk mengakumulasi logam beratterutama Cu.Kandungan logam berat dalamdaging dan tulang ikan Gulama (S. russelli)lebih tinggi pada ikan Gulama denganukuran (panjang dan berat) yang lebihkecil. Pada ikan dengan ukuran besarkonsentrasi logam beratnya lebih kecildisebabkan karena logam berat yangmasuk kedalam tubuh ikan akanmengalami proses pengenceran melaluiproses pertumbuhan, sehingga peningkatanlogam berat dalam tubuh ikan akansemakin berkurang seiring denganpertambahan ukuran tubuh individu ikantersebut. Nussey et al. (2000) menyatakanbahwa akumulasi logam Cr, Mn, Ni dan Pbakan menurun dengan bertambahnyaukuran panjang ikan labeo umbratus.Hutagalung (1993) menyatakan bahwapenurunan kandungan logam berat yangterakumulasi oleh ikan yang berukuranbesar dikarenakan logam tersebut bereaksidengan gugus –SH dari protein yangterdapat dalam tubuh ikan. Hasil dari80Mereka mengindikasikan bahwakonsentrasi tembaga dan seng di dalamtubuh teregulasi dan terjagareaksi dengan gugus –SH tersebut sebagianakan diekresikan dan sebagian lagi tidak.Reaksi-reaksi ini menyebabkan terjadinyapertambahan ukuran (panjang dan berat)akan menurunkan kadar logam berat yangterakumulasi dalam tubuh ikan. Kecepatanmetabolisme akan berkurang denganbertambahnya ukuran badan, sehinggapertambahan unsur logam berat lebih kecilbila dibandingkan dengan pertambahanukuran tubuh ikan.Kandungan logam berat pada ikanGulama dan kesehatan masyarakat. Unsurunsurlogam berat dapat masuk ke tubuhmanusia melalui makanan dan minumanserta pernafasan dan kulit. Peningkatankadar logam berat dalam air laut akandiikuti oleh peningkatan logam berat dalamtubuh ikan dan biota lainnya, sehinggapencemaran air laut oleh logam berat akanmengakibatkan ikan yang hidup didalamnya tercemar. Pemanfatan ikan danhasil laut yang tercemar sebagai bahanmakanan akan membahayakan kesehatanmanusia (Hutagalung, 1993).Kandungan logam berat yangterkandung dalam daging dan tulang ikanGulama pada umumnya bervariasi. Dari 54ekor ikan Gulama (S. russelli) yang telahdianalisis diketahui bahwa kandunganlogam Cd berkisar antara 0,01 – 0,33


(0,13) dan 0,01 – 0,67 (0,29); logam Cu0,01 – 0,97 (0,21) dan 0,05 – 0,83 (0,37);Pb 0,02 – 9,26 (2,31) dan 0,76 – 9,73(5,05) dan Zn 3,05 – 10,74 (6,38) dan 2,75– 15,80 (8,45) µg/gr berturut-turut padadaging dan tulang. Berdasarkan nilai rataratakandungan logam berat yangterakumulasi di dalam daging dan tulangikan Gulama tersebut, menunjukkan bahwakonsentrasi logam beratnya masih beradadi bawah ambang batas maksimum logamberat yang dapat dikonsumsi oleh manusiayaitu untuk logam Cd dan Pb sebesar 0,5mg/kg dan untuk logam Cu dan Zn sebesar30 mg/kg sebagaimana yang ditetapkanoleh FAO (1983).Rata-rata kandungan logam Cdpada daging ikan Gulama dari perairanDumai adalah 0,14 µg/g berat kering(setara dengan 0,034 µg/g berat basah,berdasarkan konversi menurut Thompson,1990). FAO/WHO (2004) menetapkanstandar PTWI (Provisional TolerableWeekly Intake) logam Cd sebesar 0,49mg/minggu untuk rata-rata 70 kg beratbadan. Dengan demikian maka nilai PTWItersebut akan tercapai apabila seseorangmengkonsumsi ikan Gulama dari perairanDumai sebanyak 14 kg/minggu. StandarPTWI untuk logam Cu adalah 245mg/minggu untuk rata-rata 70 kg beratbadan. Kandungan rata-rata logam Cu padaikan Gulama dari perairan Dumai adalah0,21 µg/g berat basah atau setara dengan810,0525 µg/g berat basah. Dengan demikiannilai PTWI tersebut baru akan tercapaiapabila seseorang mengkonsumsi 4666,7kg ikan Gulama dari perairan Dumai dalamwaktu satu minggu.Untuk logam Pb standar PTWIyang ditetapkan oleh FAO/WHO (2004)adalah 1,725 mg/minggu untuk rata-rata 70kg berat badan. Dengan rata-ratakandungan logam Pb pada daging ikanGulama dari perairan Dumai sebesar 4,96µg/g berat kering (setara dengan 1,24 µg/gberat basah) maka nilai PTWI tersebutakan tercapai apabila seseorangmengkonsumsi ikan Gulama dari perairanDumai sebanyak 1,39 kg/minggu.Selanjutnya standar PTWI untuk logam Znadalah 490 mg/minggu untuk rata-rata 70kg berat badan. Kandungan rata-rata logamCu pada ikan Gulama dari perairan Dumaiadalah 6,60 µg/g berat basah (setaradengan 1,65 µg/g berat basah). Dengandemikian nilai PTWI logam Zn tersebutbaru akan tercapai apabila seseorangmengkonsumsi 296,97 kg ikan Gulamadari perairan Dumai dalam waktu satuminggu. Dari perhitungan tersebutdiketahui bahwa jumlah ikan yang harusdikonsumsi untuk mencapai standar PTWI,baik untuk logam Cd, Cu, Pb dan Zn,masih jauh diatas rata-rata konsumsi ikandi Indonesia secara nasional yaitu 28kg/kapita/tahun atau setara dengan 540g/kapita/minggu. Dengan demikian


pemanfaatan ikan Gulama dari perairanDumai untuk konsumsi tidak akanmembahayakan kesehatan sepanjang tidakmelebihi jumlah yang diperbolehkansebagaimana yang disarankan tersebut.KESIMPULANKandungan logam berat padadaging dan tulang ikan Gulama (S. russelli)dari perairan Dumai adalah logam Cd 0,13dan 0,29 µg/g; Cu 0,21 dan 0,37 µg/g; Pb2,31 dan 5,05 µg/g; Zn 6,38 dan 8,45 µg/gberturut-turut pada daging dan tulang.Kandungan logam berat pada Stasiun I(kawasan yang banyak aktivitasanthropogenik di kawasan pantai danpesisirnya) lebih tinggi bila dibandingkanpada Stasiun II (kawasan dengan aktivitasanthropogenik lebih sedikit, populasimasyarakat dan aktivitas industri yangrelatif rendah serta wilayah pesisirnya yangdidominasi oleh hutan mangrove).Ikan yang berukuran kecil lebihtinggi mengakumulasi logam berat Cd, Cu,Pb, dan Zn bila dibandingkan denganukuran ikan yang berukuran lebih besar.Hubungan antara pertambahan ukuran ikan(panjang dan berat) dengan kandunganlogam Cd, Cu, Pb, dan Zn pada daging dantulang ikan Gulama (S. russelli)menunjukkan hubungan yang negatif,dimana semakin besar ukuran ikan makakandungan logam berat semakin kecil (p


and Oreochromis Niloticus L fishesin a polyculture fresh water pondand their environments.Aquaculture 147(34): 205-214.Al-Yousuf, M.H., El-Shahawi, M.S & Al-Ghais, S.M. 2000. Trace metals inliver, skin and muscle of Lethrinuslentjan fish species in relation tobody length and sex. The Scienceof the Total Environment. 256: 87-94.Amin, B., Ismail, A. & Yap, C.K. 2009.Anthropogenic impacts on heavymetal concentrations in the coastalsediments of Dumai, Indonesia.Journal of EnvironmentalMonitoring and Assessment. 148:291-305Anggraini, D. 2007. Analisis kadar logamberat Pb, Cd, Cu dan Zn pada airlaut, sedimen dan lokan (Geloinacoaxans) di perairan pesisir Dumai,ProvinsiRiau.www.Goggle.id.com.Barak, N.A.E. & Masonm, C.F 1990.Mercury, cadmium and lead in eelsand roach: the effects of size,season and locality on metalconcentration in flesh and liver.The Science of the TotalEnvironment. 92: 249-256.Barlas, M.E. 1999. Determination oforganochlorine pesticides residuesin aquatic systems and organisms inupper sakarya Basin, Turkyia.Bulletin of EnvironmentalContamination Toxicology. 62:278-285.Canli, M & Furness, R.W. 1993. Toxicityof heavy metals dissolved in seawater and influences of sex andsize on metal accumulation andtissue distribution in the Norwaylobster Nephrops norvegicus.Marine Environmental Research36: 217–236.83Canli, M. & Atli, G. 2003. TheRelationships between heavymetals (Cd, Cr, Cu, Fe, Pb, Zn)levels and the size of sixMediterranean fish species.Environmental Pollution 121: 129-136.Douben, P.E. 1989. Lead and cadmium instone loach (Noemacheilusbarbatulus L.) from three rivers inDerbyshire. Ecotoxology andEnvironmental Safety. 18: 35–58.Elder, J.F. & Collins, J.J. 1991. Freshwatermolluscs as indicators ofbioavailability and toxicity ofmetals in surface systems. Reviewof Environmental Contaminationand Toxicology. 122: 37–79.FAO. 1983. Compilation of legal limits forhazardous substances in fish andfishery products. FAO FisheriesCirculation. 464: 5-100.FAO/WHO. 2004. Summary of evaluationperformed by the Joint FAO/WHOExpert Committee on food andadditives (JECFA 1956-2003). ILSIPress International Life SciencesInstitute.Forstner, U. & Wittman, G.T.W. 1981.Metal pollution in the aquaticenvironment. Berlin, Heidelberg,Germany: Springer- Verlag.Fowler, S.W., Readman, J.W., Oregioni,B., Villeneure, J.P. & McKay, K.1991. Petroleum hydrocarbons andtrace metals in near shore Gulfsediments and biota before andafter the 1991 War: an assessmentof temporal and spatial trends.Marine Pollution Bulletin. 27:171-182.Friligos, N. 1985. Nutrient conditions inthe Euboikos Gulf (west Aegean).Marine Pollution Bulletin. 16: 435-442.Gani, A.A. 1997. Studi penentuan kadarTimbal (Pb) dalam rambut,


Universitas Negeri Jember. Tidakdipublikasikan.Heath, A.G. 1987. Water pollution and fishphysiology. CRC press, Florida,USA.Hutagalung, H.P. 1993. Pencemaran lautoleh logam berat. PuslitbangOseanology-LIPI, Jakarta. 49-50.Jargensen, L.A. & Pedersen, S. 1994.Trace metals in fish used for timetrend analysis and as environmentalindicators. Marine PollutionBulletin. 28: 24-32.Khan, T. & Weis, J.S. 1993.Bioaccumulation of heavy metalsin two populations ofMummichog_Fundulusleteroclitus. Bulletin EnvironmentalContamination Toxicology. 51: 1-5.Langston, W.J. 1990. Toxic effects ofmetals and the incidence of marineecosystems. In: Furness, R.W.,Rainbow, P.S. (Eds.), HeavyMetals in the Marine Environment.CRC Press, New York.Mason, C.F. & Barak, N.A.E. 1990. Acatchment survey for heavy metalsusing the eel_Anguilla Anguilla.Chemosphere. 21(43): 695-699.Mitra, B. 1986. Mercury in the ecosystem.Switzerland:Transtech.Publications. 377p.Nussey, G., Van Vuren, J.H.J. & du Preez,H.H. 2000. Bioaccumulation ofChromium, Manganese, Nickel andLead in the tissues of the Moggel,Labeo umbratus (Cyprinidae), fromWitbank Dam, Mpumalanga seawater. Environmental Pollution.121: 129-136.Panjaitan, J. 2006. Kandungan logam beratCu terhadap faktor skala beratjaringan lunak Annadara infrantadi perairan Belawan Sumatra Utara.Skripsi Fakultas Perikanan danIlmu Kelautan Universitas Riau.Pekanbaru: (tidak diterbitkan).Roesijadi, G. & Robinson, W.E. 1994.Metal regulation in aquaticanimals: mechanism of uptake,accumulation and release. In:Malins, D.C., Ostrander, G.K.(Eds.), AquaticToxic ology(Molecular, Biochemical andCellular Perspectives. LewisPublishers, London.Schuhmacher, M., Domingo, J.L.,Corbella, J. & Bosque, M.A. 1992.Heavy metals in marine speciesfrom the Terragona Coast, Spain.Journal of Environmental Scienceand Health (A). 27(7): 1939-1948.Sudjana. 1992. Metoda Statistika. Edisi V.Tarsito Bandung. 89.Thompson, D.R. 1990. Metal levels inmarine vertebrates. In: Heavymetals in the marine environment.pp 143-182. Ed. By R.W Furnessand P.S Rainbow. CRC Press,Florida.Widiowati, W., Sastiono, A. &Rumampuk, R.J. 2008. Efek toksiklogam, pencegahan danpenanggulangan pencemaran. Ed.1. Andi Offset. Yogyakarta. Hal.193-194.Yap, C.K., Ismail, A. & Tan, S.G. 2003.Concentration of Cd, Cu, Pb, Zn inthe green-lipped mussel Linnaeus(Verna viridis) from PeninsulaMalaysia. Marine PollutionBulettin. 46: 1035-1048.Widianarko, B., Van Gestel, C.A.M.,Verweij, R.A. & Van Straalen,N.M. 2000. Associations betweentrace metals in sediment, water, andguppy, Poecilia reticulata (Peters),from urban streams of Semarang,Indonesia. Ecotoxicology andEnvironmental Safety 46: 101–107.84


SIMULASI REKAYASA ALUR SUNGAI DENGAN KRIB UNTUK MEREDUKSIINTRUSI AIR ASIN DI SUNGAI YANG DIPENGARUHI PASANG SURUTBambang SujatmokoJurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas RiauKampus Bina Widya, Jl. HR. Soebrantas KM 12,5 Panam Pekanbaru 28293Email : b_sujatmoko@yahoo.com atau bsujatmoko@unri.ac.idABSTRAKAir payau yang masuk jauh ke daerah hulu sungai pada saat musim kemaraudapat direduksi (didorong ke arah laut) dengan jalan memperbesar kecepatan arus darihulu pada saat debit kecil sehingga mampu mendorong arus yang berasal dari lautakibat pasang. Untuk itu dilakukan rekayasa sungai di daerah muara denganmembangun satu seri rangkaian bangunan krib dengan konfigurasi tertentu (panjangkrib, jarak antar krib dan arah pemasangan krib terhadap arah arus) dan lokasi tertentu.Untuk melihat pengaruh krib terhadap intrusi air asin dilakukan dengan simulasimatematis aliran dua dimensi model RMA2 dan simulasi penyebaran polutan modelRMA4. Kalibrasi model matematis RMA2 dilakukan dengan menentukan nilaipenyimpangan RMS (root-men-square) antara U/Um model numeris dan U/Um modelmatematik. Data pengukuran kalibrasi model menggunakan data penelitian Yeo HongKoo (2006). Konfigurasi krib yang disimulasi adalah 3 variasi panjang (l), 3 variasijarak pemasangan (S) dan 3 variasi debit minimum.Hasil penelitian menunjukkan bahwa model RMA2 yang digunakan cukuphandal untuk mensimulasi aliran di daerah pasang surut, dimana rasio antara RMSU/Um kedua model dengan rerata U/Um yang dihasilkan < 5%. Hasil simulasi pengaruhpemasangan krib terhadap intrusi air asin menunjukkan bahwa pergeseran batas airpayau (BAP) lebih dipengaruhi oleh jarak pemasangan krib dibandingkan olehpengaruh pemasangan panjang krib. Kinerja krib dalam mereduksi intrusi air asin cukupbaik dan menghasilkan pergeseran BAP yang signifikan. Bila parameter ukurnya adalahjarak pergeseran BAP dari letak awal pemasangan krib, maka konfigurasi pemasangankrib yang paling baik adalah l/B = 0,20; S = 8l dan dipasang tegak lurus arus.Kata Kunci : intrusi air asin, model matematis, konfigurasi krib, kalibrasi modelPENDAHULUANAir payau yang masuk semakin jauh kearah hulu sungai pada saat musim kemaraumerupakan fenomena hidrolika aliran,dimana kecepatan aliran dari arah laut jauhlebih besar dibanding kecepatan aliran darihulu sungai. Hipotesa awal, kondisi ini bisadiatasi dengan melakukan rekayasa sungaidi daerah muara sungai terutama di lokasiyang terkena intrusi air asin denganmemperbesar kecepatan dari hulu sungai dilokasi intrusi (pada kondisi debit tetap)sehingga dapat mendorong laju masuknyaintrusi air asin ke arah hulu. Rekayasasungai yang dimaksudkan adalahmembangun satu seri rangkaian konstruksikrib di pinggir sungai pada lokasi yangterkena intrusi.Besarnya kecepatan yang akanmelewati satu seri rangkaian bangunan krib85


dipengaruhi oleh formasi pemasanganrangkaian krib (Sujatmoko (2002);Dumadi (1997)). Formasi tersebut dapatmeliputi : panjang krib, jarak antarabangunan krib, dan arah pemasanganbangunan krib terhadap arah aliran(Przedwojski, 1995). Formasi tertentu akanmemberikan besaran kecepatan tertentu,sehingga dibutuhkan suatu penelitianterhadap formasi yang memberikan dampakoptimal terhadap reduksi masuknya air asin(intrusi) ke muara sungai.Penelitian dampak yang akanditimbulkan oleh pemasangan serangkaianformasi krib ini terhadap intrusi air asin biladilakukan langsung di lapangan (di muarasungai) disamping akan membutuhkanbiaya yang besar juga mengandung resikoyang besar pula, terutama pada saatpengumpulan data di muara. Berdasarkanalasan ini, maka fenomena aliran yangdiakibatkan oleh formasi bangunan kribtermasuk fenomena air asin (polutan cair)akan disimulasi menggunakan softwareSMS (Surface Water Modelling System)menggunakan modul RMA-2(hidrodinamika aliran 2-DH) dan modulRMA-4 (dinamika polutan 2-DH).Karakteristik saluran meliputi panjangsaluran, lebar saluran, kedalaman aliran,kondisi material dasar saluran, muarasungai, dan juga bangunan krib ditentukansecara hipotetik.Model Matematis Aliran DuaDimensi (RMA2). Salah satu modulperangkat lunak BOSS SMS (Surface waterModeling System) yaitu RMA2 versi 4.35,merupakan model numeris untukmenghitung proses hidrodinamika alirandua dimensi pada rerata kedalaman (depthaverage). Perangkat lunak SMS merupakanpost dan pre-processing unit, sedangkanRMA2 merupakan running executionprogram (Boss SMS, 1995). Persamaankontinuitas dan momentum arah sumbu xdan y untuk aliran dua dimensi rata-ratakedalaman dapat dituliskan sebagai berikut(Boss SMS, 1995):2 2uuuh u u ahh hu hv E xx E2 xy ghtxy2 xy xx2gun 2 2 2 1u v 2 V cos 2hvsin 012a 1.486 6 h (1)86


2 2uuuh u u ahh hu hv E xx E2 xy ghtxy2 xy xx2gun 2 2 2 1u v 2 V cos 2hvsin 012a 1.486 6 h (2)h uv u u h u vt xy xy 0(3)dengan : (Sistem koordinat dan variabelyang dipakai lihat Gambar 1.); h =kedalaman, u,v = kecepatan pada arahsumbu x dan y; x,y,t = koordinat cartesiandan waktu, = rapat massa zat cair, dan g= percepatan gravitasi, E = koefisien EddyViscositas,untuk xx adalah arah normalpada sumbu x, untuk yy adalah arahnormal pada sumbu y, untuk xy dan yxadalah arah shear pada tiap-tiappermukaan, a = elevasi dasar, n = nilaikekasaran Manning, 1.486 = konversi dariunit metric ke English unit, = koefisiengesekan angin, V a , = kecepatan angindan arah angin , = tingkat rotasianguler bumi, dan latitude lokal.Uwuzhvhzyxyxa(a)a(b)DatumGambar 1. Sistem koordinat dan variabel yang dipakai (a) dankecepatan rata-rata kedalaman pada arah sumbu x (b).Diskritisasi Model. RMA2 softwaremenggunakan metode elemen hinggaGalerkin dalam menyelesaikan sistempembentuk persamaan differensial, yangdiawali dengan prosedur diskretisasi, yaitumembagi daerah penyelesaian (domainkomputasi) menjadi sejumlah sub-subdomain yang lebih kecil, yang dinamakanelemen. Pada penelitian ini, diskretisasimodel menggunakan elemen gabungansegitiga 6 simpul (six-node triangles) dansegiempat 8 simpul (eight-node87


quadrilateral). Penyiapan data inputkondisi batas (boundary condition), inputparameter aliran dan polutan, dandiskretisasi model dilakukan secarainteraktif menggunakan fasilitas yangtelah disediakan BOSS SMS software.Model Matematis PenyebaranPolutan (RMA4). Model matematik yangdigunakan untuk kajian model penyebaranangkutan polutan dalah RMA4 (ResourceManagement Associates) dari WaterwaysExperiment Station. RMA4 merupakanmodel angkutan polutan yang merupakansalah satu modul SMS. Untukmenjalankannya menggunakan solusihidrodinamik dari RMA2 untukmendefenisikan medan kecepatan aliran.RMA4 merupakan suatu model migrasidan dissipasi dari angkutan polutan.Model Numeris RMA4. Distribusiangkutan polutan dua dimensi dikontrololeh mekanisme konveksi-difusi yangdiformulasikan sebagai berikut:hChChC C C u v S Dx h Dyh khC 0 (4)txyx x y ydengan : h = kedalaman air; u, v =kecepatan horizontal arah x dan y ; C=konsentrasi polutan; D x ,D y = koefisiendifusi turbulen arah x dan y; S = localsource atau sink polutan; k = lajupertambahan polutan. Koefisien turbulesiD x = D y secara fisis dapat didekatiberdasarkan rumus berikut :D 5,93hu(5)*Angka tersebut tidak selalu dapat dipakaiuntuk pedoman hitungan dengan modelnumeris karena begitu rumitnyamekanisme turbulensi dan pengaruhadanya difusi numeris. Dalam praktek,koefisien difusi turbulen diperoleh dalamproses kalibrasi model. Jika tidak dapatdilakukan kalibrasi untuk persamaanangkutan polutan dapat digunakanpersamaan tersebut atau menggunakanangka koefisien difusi turbulen polutanyang terkalibrasi di daerah terdekat ataudengan karakter aliran yang hampir sama.Bangunan Krib. Rekayasa alursungai dengan membangun satu seribangunan krib di daerah muara sungaiakan mempengaruhi penyebaran polutan,baik polutan padat maupun polutan cair(termasuk air asin). Dalam menentukandimensi krib, yaitu menyangkut penentuanpanjang krib, jarak antara krib, arah kribterhadap alur sungai, jumlah banjar dalamsatu sistem rangkaian krib, serta elevasipuncak dan sebagainya, terdapat berbagaimetode yang hampir semuanya bersifatempiris. Panjang krib tergantung padabentuk geometri sungai yang diharapkanakan terjadi, dan tidak ada rumusan yangpasti untuk menetapkannya, tapi ada88


indikasi bahwa perencanaan panjang kribtergantung pada besar kecilnya tingkatpengaruh yang diinginkan terhadap polaarus dan kecepatan aliran di alur utamasungai. Krib kedap air dapat menyebabkanpusaran di sekitar krib dan aliran akanterkonsentrasi di alur utama sungai, hanyajika jarak krib tidak terlalu besar. Jarakmaksimum krib yang mungkin, L, denganadanya pusaran di antara krib, diambillebih kecil dari C 2 h/2g (denganC=koefisien Chezy; h=kedalaman aliran).Nakel (1970) dan Press (1956) (dalamLaksni, 1993) menyatakan bahwa jarakmaksimal dua buah krib antara 1 - 2 kalilebar sungai, sedang pada sungai sempitmenjadi 0,5 - 1 kali lebar sungai.METODE DAN BAHANBahan Penelitian. Untuk kebutuhanpemodelan, dibutuhkan parameter saluran,yang merupakan sungai buatan / rekayasahipotetik yang dapat menggambarkanfenomena hidrolika aliran sungai sertageometrik elevasi dasar saluran. Kondisibatas hulu dan kondisi batas hilirpemodelan berupa data hidrograf debitdan elevasi muka air laut. Karenaketerbatasan peralatan yang tersedia diLaboratorium FT UNRI, sebagian besarbahan penelitian ini akan menggunakandata sekunder yang sudah terverifikasiterutama data parameter aliran danparameter saluran, yang diambil dari89penelitian Hong Koo, Yen (2006) danTesis Dumadi, 1997. Kondisi debit danelevasi muka air laut disimulasikan sesuaikebutuhan penelitian. Data input untuksimulasi polutan (air asin) berupa kondisibatas polutan diambil sama dengan beratjenis air asin yaitu 1,03 gr/cm 3 , kondisiawal polutan diambil sama dengan beratjenis air tawar (fresh water) yaitu 1,00gr/cm 3 dan parameter lain yaitu koefisiendifusi dalam satuan m 2 /det.Peralatan yang digunakan. Untuksimulasi aliran dan polutan menggunakanSoftware produk BOSS International yangdikenal dengan nama Surface waterModeling System (SMS). Penelitian iniditujukan pada perubahan fenomenapenyebaran polutan ke arah dua dimensihorizontal atau arah melebar saluran (2-DH), sehingga diperlukan 2 macamprogram eksekusi yakni untuk simulasihidrodinamika aliran 2D horizontaldigunakan RMA2 versi 4.35 dan untuksimulasi penyebaran polutan cair (air asin)digunakan RMA4 versi 4.31.Langkah/Tahapan Penelitian.Secara skematis, langkah penelitianmemperkirakan perubahan pola aliran danperubahan bentuk dasar denganmenggunakan model matematik duadimensi rerata kedalaman (depthaverage) atau dua dimensi horizontal (2-DH) dapat dilihat dalam Gambar 2.


Proses pemodelan secara fisik danmatematis, didahului dengan suatu prosesfisis. Dari proses fisis tersebut dilakukanpendekatan dengan suatu formulamatematis, yang selanjutnya dibuatdiskritisasi domain model. Domain modeladalah daerah model yang akandisimulasi. Domain model berada padadaerah muara sungai yang di bagianpinggir sungai pada kedua sisinyadipasang bangunan krib saling berhadapandengan formasi yang sudah diatur.Pengaturan formasi bangunan krib padadomain model dilakukan dengan 9alternatif (3 formasi panjang krib, 3formasi jarak antara krib, dan arahpemasangan krib tegak lurus terhadaparah arus (lihat Gambar 3). Panjang kribdibuat 3 alternatif dengan variasi panjangper satuan lebar saluran (l/B) = 0,10; 0,15; dan 0,20. Jarak krib (S) dibuat dengan 3variasi yang merupakan variabel panjangkrib (l) yaitu S=4l, S=6l dan S=8l. Lebarsaluran dibuat tetap sebesar 100 m.Besaran debit yang disimulasikan adalahdebit kecil dan dalam penelitian ini debityang disimulasikan sebesar 2,0; 3,0 dan4,0 m 3 /det.M U LA IP ro ses F isisM odel M atem atikD iskretisasi do m ain m odelP engu m p ulan datasekunder hip otetikU bah param eter inp utR M A 2 versi 4.35H asil Sim ulasi R M A 2T idakR M A 4 versi 4.31K alibrasiM odel sesuai?H asil Sim u lasi R M A 4Y aInterp retasi perub ahanpola aliran danpenyebaran polutanK esim pulanS ELE S A IGambar 2. Prosedur penelitian.Dengan siapnya diskritisasi domainmodel, maka data input kondisi batas,parameter aliran, karateristik polutan danparameter numeris dapat dimasukan,proses ini sering disebut dengan preprocessing unit. Selanjutnya programkomputasi RMA2 dapat disimulasikan,dan hasil dari simulasi tersebut sebagai90


data input hidrodinamik pada programRMA4.Simulasi Model Matematis. Prosespenyiapan data input (pre processing unit)pada model matematis adalah berupadiskritisasi domain model, pengisiankondisi batas hulu berupa nilai debit,kondisi batas hilir berupa fluktuasi elevasimuka air, parameter aliran dan numeris,serta data input karateristik polutan.Simulasi model numeris RMA4 bisadilakukan, bila sudah ada hitunganhidrodinamika yang berasal dari hasilsimulasi RMA2 (file_hyd.sol). Hasilsimulasi program numeris RMA4(file_trn.qsl) ditampilkan melalui softwareBoss SMS yang dikenal dengan istilahPost processing unit. Pada umumnyatampilan dalam bentuk kontur(penyebaran polutan, kecepatan, elevasimuka air), vektor kecepatan dan grafikperubahan parameter fisis pada salah satusimpul terhadap waktu.Diskritisasi Model Numerik. Untukdapat mensimulasi program RMA2 danRMA4, langkah awal penelitian adalahmembuat diskretisasi model, yaitumembagi domain model komputasimenjadi bagian-bagian yang lebih kecil(elemen) dengan menggunakan MetodeElemen Hingga (MEH). Besar dan jumlahelemen yang akan dibuat sangattergantung kepada kemampuan komputeryang dipakai (processor dan RAMmemori). Dalam proses pembuatandiskritisasi model pada penelitian ini,digunakan bentuk elemen gabungansegitiga dengan 6 titik nodal dan segiempat kuadratis dengan 8 titik nodal.Model saluran yang disimulasimerupakan saluran hipotetik lurussepanjang 1700 m, dimana dasar salurandibuat datar (slope=0), lebar salurandibuat 100 m. Model krib dipasang adalahkrib tegak pada kedua sisi tebing salurandengan panjang dan jarak yang sudahditentukan. Diskretisasi model dilkaukandengan membuat elemen segiempat padabagian hulu dan hilir model, sedang padabagian yang ada kribnya, elemendikecilkan dengan kombinasi elemensegitiga dan segiempat. Hal inidimaksudkan agar hasil simulasi didaerahsekitar krib dapat lebih detail. Dikretisasimodel saluran beserta letak pemasangankrib dapat dilihat pada Gambar 3.Kalibrasi Model. Agar hasil simulasiRMA2 dan RMA4 mendekati hasilpengukuran pada simulasi aliran disaluran hipotetik model sungai di lab,maka diperlukan suatu proses kalibrasiterhadap parameter aliran maupunkarateristik polutannya. Proses kalibrasimodel numeris dilakukan mengikutidiagram alir pada Gambar 4.91


material 2material 1BC hulu = debitmaterial 3BC hilir = elevasi muka airSlBKeterangan :l = panjang kribS = jarak KribElemensegiempaKrib/groyneElemensegitigaGambar 3. Diskretisasi model saluran dan kribUntuk mendapatkan suatu hasilsimulasi model numerik yang mendekatisimulasi model fisik hipotetik, diperlukansuatu perubahan-perubahan dalam inputparameter Eddy viscosity (E) dankekasaran dasar (n). Kedua perameter iniakan saling mempengaruhi dalam hasilsuatu simulasi, sehingga untukmendapatkan nilai yang sesuai antarakeduanya diperlukan suatu langk sepertipada Gambar 4.MULAIRubah parameter ETidakRubah parameter nTidakInput parameterE dan n awalSimulasi RMA2 versi 4.35Bandingkan hasil simulasiRMA2 dengan data sekunder,sesuai?YaSimulasi RMA4 versi 4.31Bandingkan hasil simulasiRMA4 dengan data sekunder,sesuai?YaBanding hasil simulasi RMA2 &RMA4 dengan data sekunder,sesuai ?YaSELESAITidakGambar 4. Diagram alir proses kalibrasi.Pada penelitian ini, kalibrasi modelRMA2 dilakukan denganmembandingkan hasil keluaran modelnumeris dengan data hasil penelitian yangsudah ada (data sekunder). Data sekunderyang ada merupakan data hasil penelitianyang dilakukan oleh seorang peneliti92


senior dariWater Resources ResearchDepartment Korea Institute of ConstructionTechnology yang bernama Yeo Hong Koo(2006). Dalam penelitiannya yangberjudul : Nature-friendly River-trainingStructure Using Groynes, Yeomensimulasi aliran di antara dua buahkrib yang dipasang pada satu sisi tebingsaluran. Data yang akan digunakan untukkalibrasi model RMA2 adalah hasilsimulasi penelitian Yeo dengan jarak kribsama dengan 4 kali panjang krib (S/l = 4)dan panjang krib sama dengan 20% lebarsaluran (l/B=0,2). Data sekunder tersebutdisajikan dalam Gambar 5.Gambar 5. Distribusi Kecepatan padaS=4l (Sumber : Yeo Hong Koo, 2006)HASIL DAN PEMBAHASAN1. Kalibrasi ModelNilai koefisien Manning n dankoefisien tubulensi E diperoleh dari hasilkalibrasi simulasi model numeris aliranRMA2 dengan data sekunder hasilsimulasi penelitian Yeo Hong Koo(2006), hasilnya seperti pada Tabel 1 :Tabel 1. Nilai parameter hitungan yang sudah dikalibrasiNo Parameter Materal 1 *) Material 2 Material 31 n 0,035 0,025 0,0202 E (m 2 /det) 1000 1000 500Data penelitianhasil simulasinumeris RMA2Simulasi RMA2(a)(b)Gambar 6. Hasil kalibrasi (a) secara kualitatif; (b) secara kuantitatif93


Kalibrasi secara kualitatif (Gambar6.a) dilakukan dengan melihatkecenderungan pola arus yang terjadi diantara dua buah krib hasil simulasi modelnumeris dan hasil pengukuran pada modelfisik (data sekunder hasil penelitian YeoHong Koo, 2006). Kesesuaian hasilsimulasi kedua model terlihat dari pusaranarus di antara dua buah krib yaitu pusatpusaran pada aliran kedua model terletakpada daerah yang sama dan memilikidimensi pusaran arus yang sama.Hasil kalibrasi kuantitatif (Gambar6.b dan Tabel 2) menunjukkan bahwakecepatan yang terjadi pada simulasialiran model numeris memiliki tingkatkesesuaian yang memadai dengankecepatan yang terjadi pada simulasimodel fisik Yeo Hong Koo. Nilaisimpangan (RMS, root-mean-square)U/Um antara kedua model diperolehsebesar 0,05081 dan bila nilai RMS inidibandingkan dengan nilai U/Um reratamenghasilkan nilai 4,388% (U=kecepatandi daerah krib, Um=kecepatan di hulusaluran). Artinya nilai penyimpanganRMS antara simulasi model numerisRMA2 dengan simulasi aliran pada modelfisik cukup kecil (tidak lebih dari 5%),sehingga secara kuantitatif hasil simulasikedua model memiliki kesesuaian yangmemadai.Tabel. 2. Nilai RMS antara model numeris RMA2 dengan data pengukuran YeoPosisi Pengukuran, y/BNilai U/UmHasil Simulasi Penelitian YeoError (RMS)1 1,335 1,32 0,000240,95 1,410 1,38 0,000920,9 1,432 1,39 0,001730,85 1,453 1,42 0,001090,8 1,464 1,45 0,000190,75 1,485 1,47 0,000230,7 1,496 1,49 0,000030,65 1,496 1,5 0,000020,6 1,506 1,5 0,000040,55 1,538 1,53 0,000070,5 1,571 1,55 0,000420,45 1,581 1,57 0,000130,4 1,624 1,6 0,000570,35 1,560 1,56 0,000000,3 1,410 1,42 0,000090,25 1,207 1,2 0,000050,2 0,556 0,75 0,037810,15 0,244 0,3 0,003180,1 0,064 0,08 0,000250,05 -0,043 0,005 0,0022894


0 -0,075 -0,005 0,00487RMS = 0,05081Nilai U/Um rata-rata = 1,158Nilai RMS dibandingkan nilai U/Um rata2 = 4,388 % < 5%2. Pengaruh Pemasangan Kribterhadap Pola Arus dan KecepatanHasil simulasi pengaruh variasipemasangan panjang krib terhadap polaarus dan kecepatan menunjukan bahwapola aliran yang terjadi memiliki polayang hampir sama terutama pada Resaluran yang sama. Yang berbeda adalahbesar kecepatan di lintasan arusmaksimum, dimana pada Re saluran yangsama, semakin panjang krib makakecepatannya semakin besar. Hal ini dapatterjadi karena semakin panjang krib makapenampang basah saluran antara kribsemakin kecil sehingga Q/A semakinbesar.Pada Re saluran yang sama, terdapatseparasi (pemisahan) aliran antara vektorkecepatan dari hulu akibat debit denganvektor kecepatan dari hilir akibat pasangsurut. Terlihat pada Re saluran yang kecil(R e sal = 16.750), separasi aliran terjadisebelum memasuki daerah pemasangankrib, sedangkan pada Re saluran yanglebih besar (R e sal = 33.250), separasialiran terjadi di hilir daerah krib (Gambar7). Hal ini dapat terjadi karena kecepatanakibat debit lebih kecil dibandingkankecepatan akibat arus pasang surut.Semakin besar debit yang disimulasi,maka kecepatannya akan mampumendorong kecepatan akibat pasut ke arahhilir.Separasi aliran(a) Re sal = 16.750(b) Re Sal = 25.000(c) Re sal = 33.250Gambar 7. Separasi aliran akibat perubahan arah kecepatan95


Hasil simulasi pengaruh jarak pengaruh pasang surut. Dari gambar hasilpemasangan krib terhadap pola arus dankecepatan memiliki trend yang hampirsama, di mana pada Re saluran yangsama, terdapat separasi aliran di daerahyang sama (sama dengan di daerahpengaruh panjang krib). Semakin panjangjarak krib, maka kecepatan pada daerahpengaruh pemasangan krib terhadap polaarus, dapat diperkirakan bahwa batasperubahan arah kecepatan dari hulu dandari hilir masih didominasi oleh besarkecilnya debit yang terjadi.Berdasarkan kondisi tersebut, makadalam menganalisa perubahan garis bataspaling hilir yang paling besar. Hal ini intrusi air asin (batas air payau)terjadi karena debit yang disimulasi dikelompokkan menurut besaran debitmenghasilkan kecepatan yang lebih kecil yang disimulasi, atau dalam bentukdari kecepatan akibat arus pasang surut, bilangan tak berdimensi Reynold saluransehingga daerah separasi aliran terjadi di (R e sal ). Hasil simulasi pengaruhtengah-tengah daerah krib dan daerahpaling hilir dilewati debit dari arus pasangsurut.pemasangan krib terhadap intrusi air asindalam upaya merubah batas air payau,dapat dilihat pada gambar-gambar berikut.3. Pengaruh Pemasangan Krib Untuk mempermudah pembacaan gambar,terhadap Intrusi Air AsinDengan melihat gambar hasil vektormaka perlu dijelaskan bahwa parameterl1=l/B=0,10; l2=0,15; l3=0,20; s1=S=4l;dan kontur pola arus yang terjadi di s2=6l; s3=8l dan q1=R e sal =16.750;sekitar pemasangan krib, dapat q2=25.000; q3=33.250. Contohdiperkirakan perubahan kecepatan danbatas arah kecepatan aliran akibat debitpemakaian : l2s2q3 = simulasi model padal/B=0,15, S=6l dan R e sal =33.250.dari hulu dan kecepatan akibat adanyaHasil simulasi pada R e sal = 16.750.Batas Air Payau (BAP)l0s0q1l1s1q1l1s2q1l2s1q1l3s1q1l1s3q196


l2s2q1l2s3q1l3s2q1Hasil simulasi pada R e sal = 25.000l3s3q1l0s0q2l1s1q2l1s2q2l2s1q2l3s1q2l1s3q2l2s2q2l2s3q2l3s2q2Hasil simulasi pada R e sal = 33.250l3s3q2l0s0q3l1s1q3l1s2q3l2s1q3l3s1q3l1s3q3l2s2q3l2s3q3l3s2q3l3s3q397


Penempatan bangunan krib dilakukandengan pertimbangan bahwa awal/pangkal satu seri bangunan krib harusdipasang pada daerah dimana pada daerahtersebut terjadi pergeseran batas air payau.Dalam penelitian ini, pangkal satu seribangunan krib diletakkan pada titik +300m dari batas daerah hulu simulasi,sehingga batas payau yang terjadi minimalberjarak lebih besar terhadap batas hulu.Batas air payau dinotasikan dengan BAP,dan bilangan tak berdimensinya ditulissebagai perbandingan batas air payaudengan jarak awal pemasangan ((BAP-JA)/JA).Hasil simulasi pengaruh pemasangankrib terhadap intrusi air asin menunjukkanbahwa pergeseran batas air payau (BAP)lebih dipengaruhi oleh jarak pemasangankrib dibandingkan oleh pengaruhpemasangan panjang krib. Hal ini terlihatdari simulasi perubahan panjang darisimulasi l2s3q1 dengan l3s2q1 memilikiBAP yang sama. Berbeda denganpengaruh pemasangan jarak krib terhadapintrusi air asin memberikan nilai BAPyang signifikan.Simulasi aliran dengan Re saluranyang lebih kecil menghasilkan batas airpayau (BAP) yang lebih pendek (lebihdekat ke hulu) dibandingkan simulasialiran dengan Re saluran lebih besar. Halini berkaitan dengan separasi aliran yangterjadi, di mana pada Re saluran yangkecil separasi aliran lebih dekat ke huludibandingkan separasi aliran yang terjadipada simulasi aliran dengan Re saluranyang lebih besar.98


Tabel 3. Pengaruh Pemasangan satu seri Krib terhadap intrusi air asinNo Re sal SimulasiBAP(m)Jarakawal JA(m)(BAP-JA) /JAl(m)S(m)(BAP-JA) /3S1 16.750 l0s0q1 0 0 0 0 0 02 16.750 l1s1q1 340 300 0,133 10 40 0,3333 16.750 l1s2q1 350 300 0,167 10 60 0,2784 16.750 l2s1q1 360 300 0,200 15 60 0,3335 16.750 l3s1q1 365 300 0,217 20 80 0,2716 16.750 l1s3q1 370 300 0,233 10 80 0,2927 16.750 l2s2q1 380 300 0,267 15 90 0,2968 16.750 l2s3q1 405 300 0,350 15 120 0,2929 16.750 l3s2q1 405 300 0,350 20 120 0,29210 16.750 l3s3q1 440 300 0,467 20 160 0,29211 25.000 l0s0q2 0 0 0 0 0 012 25.000 l1s1q2 425 300 0,417 10 40 1,04213 25.000 l1s2q2 460 300 0,533 10 60 0,88914 25.000 l2s1q2 460 300 0,533 15 60 0,88915 25.000 l3s1q2 480 300 0,600 20 80 0,75016 25.000 l1s3q2 485 300 0,617 10 80 0,77117 25.000 l2s2q2 490 300 0,633 15 90 0,70418 25.000 l2s3q2 520 300 0,733 15 120 0,61119 25.000 l3s2q2 520 300 0,733 20 120 0,61120 25.000 l3s3q2 560 300 0,867 20 160 0,54221 33.250 l0s0q3 355 0 0,0 0 0 022 33.250 l1s1q3 485 300 0,617 10 40 1,54223 33.250 l1s2q3 500 300 0,667 10 60 1,11124 33.250 l2s1q3 505 300 0,683 15 60 1,13925 33.250 l3s1q3 535 300 0,783 20 80 0,97926 33.250 l1s3q3 540 300 0,800 10 80 1,00027 33.250 l2s2q3 550 300 0,833 15 90 0,92628 33.250 l2s3q3 600 300 1,000 15 120 0,83329 33.250 l3s2q3 600 300 1,000 20 120 0,83330 33.250 l3s3q3 650 300 1,167 20 160 0,729Dari hasil simulasi pada Gambar danTabel 3, menunjukkan bahwa kinerjakrib dalam mereduksi intrusi air asincukup baik dan menghasilkan pergeseranbatas air payau yang signifikan biladibandingkan dengan simulasi di salurantanpa adanya krib. Bila parameterukurnya adalah jarak pergeseran batas airpayau (BAP) dari letak awal pemasangankrib ((BAP-JA)/JA), maka konfigurasipemasangan krib yang paling baik adalahl/B = 0,20; S = 8l dan dipasang tegaklurus arus. Bila parameter ukurnya adalahefektifitas pemasangan krib dimanaperbandingan jarak batas air payau (BAP)dengan total panjang satu seri99


pemasangan krib paling besar, makakonfigurasi pemasangan krib yang palingbaik adalah l/B = 0,10; S = 4l dan kribdipasang tegak lurus arus.KESIMPULAN1. Hasil kalibrasi model numeris RMA2menunjukkan tingkat kesesuaian yangmemadai dengan model fisik, baiksecara kualitatif maupun secarakuantitatif, dengan rasio antara RMSU/Um dengan rerata U/Um yangdihasilkan < 5%.2. Hasil simulasi pengaruh pemasangankrib terhadap intrusi air asinmenunjukkan bahwa pergeseran batasair payau (BAP) lebih dipengaruhioleh jarak pemasangan kribdibandingkan oleh pengaruhpemasangan panjang krib.3. Hasil simulasi menunjukkan bahwakinerja krib dalam mereduksi intrusiair asin cukup baik dan menghasilkanpergeseran batas air payau yangsignifikan. Bila parameter ukurnyaadalah jarak pergeseran batas airpayau (BAP) dari letak awalpemasangan krib, maka konfigurasipemasangan krib yang paling baikadalah l/B = 0,20; S = 8l dan dipasangtegak lurus arus.UCAPAN TERIMA KASIHUcapan terima kasih disampaikankepada Lembaga Penelitian UNRI atasdana penelitian yang telah diberikanmelalui dana bersaing rutin SPP/DPPUniversitas Riau Tahun Anggaran 2007,sehingga penelitian ini dapat diselesaikandengan baik.DAFTAR PUSTAKABoss SMS, 1995, User’s Manual Suuface waterModelling System, Version 5.02, EngineeringComputer Graphics Laboratory, BrighamYoung University: Madison.Dumadi, A. Ig., 1997, Studi Kinerja Hidraulik KribTerhadap Pola Arus dan Dinamika DasarSaluran yang Dipengaruhi Pasang Surut, tesisS2 Jurusan Pengutamaan Rekayasa SumberDaya Air, Program Studi Teknik sipil,Bandung : ITB.Hong Koo, Yeo, 2006, Nature-friendly RivertrainingStructure Using Groynes, WaterResources Research Department, Korea : KoreaInstitute of Construction TechnologyJansen, Pph, Van Bondegom,L., M de Vries,Zanen, A., 1979, Principles of RiverEngineering, Melbourne : Pitman PublishingPty Ltd.Laksni S., 1993, Kajian Aliran Dua Dimensi diBelokan (model fisik dan model matematik),Tesis S2, Program Studi Teknik Sipil,Yogyakarta : UGMPrzedwojski, B., Btazejewski, R., dan Pilarzyk,K. W., 1995, River Training Techniques,Netherland : Rotterdam, A. A. Balkema.Sujatmoko,B., Rahardjo, A. P., dan Legono, D.,2002, Kajian Pengaruh Konfigurasi Kribterhadap Pola Arus di Belokan, Jurnal MediaTeknik, No. 2 Th. XXIV, Mei, hal. 32 – 39,Yogyakarta : UGM100


101

More magazines by this user
Similar magazines